TUTORIAL HEMATOLOGI  DASAR-DASAR PEMBACAAN   HASIL FLOW CYTOMETRYMENGGUNAKAN SYSMEX XT 2000i             Dr. MEITI MULJANT...
I. PENDAHULUAN           Alat canggih pemeriksaan hematologi                Metode flow cytometrySYSMEX           Diagnosi...
II. METODE PEMERIKSAAN Alat hematologi otomatis di Instalasi Patologi Klinik RS.Dr.Soetomo : Sysmex XE 2100, produksi TOA ...
Gambar 1. Metode Pemeriksaan pada Sysmex XT-2000i   4
1. METODE FLOW CYTOMETRY DGN LASER SEMIKONDUKTOR Sysmex XT-2000i menyinari bhn pemeriksaan dg laser semikonduktor pd  633...
2. METODE DETEKSI DC DGN HYDRODYNAMIC FOCUSING•   Tujuan HDF : menghilangkan coincidence loss & variant pulses krn    alir...
3. Metode SLS –Hb•   Metode cyanmethemoglobin    – Perubahan hemoglobin lambat & proses rumit    – Senyawa sianida (racun ...
Metode SLS-Hb  Sodium Lauryl Sulfate (SLS:C12H25SO4Na)Reaksi kimia: 1. Hemolisis eritrosit 2. Perubahan molekul globin 3....
III. PROSEDUR PEMERIKSAAN                     HGB                     2RBC/ PLT   1                      3   4 DIFF       ...
1. Prosedur pemeriksaan RBC/ PLT                    Ratio 1:500                           11,7 µL diluted sample          ...
2. Prosedur pemeriksaan HGB                               Hemolisis eritrosit              Ratio 1:250                    ...
3. Prosedur pemeriksaan 4 DIFF                            Diluted                            sample                       ...
DIFF CHANNEL•   Stromatolyser-4DL melisis eritrosit & trombosit ; melubangi    membran lekosit.•   Cat polymethine Stromat...
4. Prosedur pemeriksaan WBC/ BASO                       Ratio 1:50,14 detik,                       hemolisis eritrosit    ...
WBC/ BASO CHANNEL•   Stromatolyser-FB menghasilkan eritrosit, trombosit (ghosts) & bare    nuclei of WBC kecuali basofil.•...
5. Prosedur pemeriksaan RET                       Ratio 1:255,                       31 detik                             ...
RET CHANNEL•   Retikulosit intensitas fluoresensinya dibagi: LFR, MFR & HFR.•   MFR + HFR  fraksi retikulosit imatur (IRF...
III. CARA MEMBACA HASIL FCM SYSMEX XT 2000i                             SFL                 FCS                           ...
19Gambar 14. Hsl sysmex XE 2100 di Inst. PK. RS. Dr. Soetomo
2. SCATTERGRAM        DIFF Scattergram    DIFF Scattergram menggambarkan lokasi sel hitung jenis :    –   limfosit, monosi...
WBC/ BASO Scattergram•   WBC/ BASO Scattergram khusus menunjukkan lokasi sel basofil &    WBC serta kelompok ghost eritros...
RET & PLT-O Scattergram•   RET scattergram khusus menunjukkan adanya retikulosit berikut    diferensiasinya yaitu LFR, MFR...
PERBEDAAN DENGAN SYSMEX XE 2100                         SYSMEX                         XE-21001. NRBC CHANNEL             ...
Scattergram abnormalGambar 20. Scattergram abnormal                                  24
3. HISTOGRAM•   Histogram RBC, menggunakan grs batas 100 fL (grs merah).    –   ditengah  normositer,    –   bergeser ke ...
Histogram PLT•   Histogram PLT : semakin tinggi gunung histogram  jml PLT ↗ &    semakin rendah gunung histogram  jml PL...
4. Messages•   Terdapat 3 IP Message(s) pd hsl pemeriksaan FCM :    –   WBC IP Message(s),    –   RBC/RET IP Message(s) & ...
•   Abnormal RBC IP Messages: RBC Abn Distribution,    Dimorphic Population, RET Abn Scattergram,    Retikulositosis, Anis...
IV. CONTOH HASIL FCM ABNORMAL1. Acute Myeloid Leukemia (AML)  Limfosit & monosit bergabung dlm kelompok besar (DIFF Scatte...
Gambar 23. HDT AML                     30
2. Chronic Myeloid Leukemia (CML)Cluster meluas dr daerah Netrofil  daerah SFL kuat (DIFF Scattergram)  IG.IG 32 % (myel...
Gambar 24. HDT CML                     32
3. Acute Lymphocytic Leukemia (ALL)Daerah limfosit & monosit  satu kelompok pd DIFF Scattergram, diduga bhwjml limfoblas ...
Gambar 25. HDT ALL                     34
4. Anemia Defisiensi BesiLuas distribusi RBC meluas menunjukkan anisositosis. Daerah RBC maturtampak pada daerah forward s...
Gambar 26. HDT Anemia Defisiensi Besi                                        36
38
Penghitungan konstanta RBC :•   MCV (Mean Corpuscular Volume) dihitung dari: RBC dan HCT dalam satuan    femtoliter (fL), ...
Rasio retikulosit :RET% =              jumlah partikel di zona retikulosit                  X 100           Jumlah partike...
Distribusi ukuran partikel RBC.•   RDW-SD : tinggi puncak diasumsikan 100%, luas distribusi terletak pada    tingkat freku...
Distribusi ukuran partikel PLT.•   MPV (Mean Platelet Volume) dihitung dari :    MPV (fL) =                PCT (%)        ...
NILAI NORMAL HEMATOLOGINO   HEMATOLOGI     NORMAL                       SATUAN1    HGB            L: 13,4-17,7/ P: 11,4-15...
NO   HEMATOLOGI        NORMAL        SATUAN15   Mono              2-5           %16   PLT               142-424       103/...
45
46
47
48
49
Tutor hema meiti baru [compatibility mode]
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Tutor hema meiti baru [compatibility mode]

5,367 views
5,143 views

Published on

Published in: Technology, Business
0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
5,367
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
22
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Tutor hema meiti baru [compatibility mode]

  1. 1. TUTORIAL HEMATOLOGI DASAR-DASAR PEMBACAAN HASIL FLOW CYTOMETRYMENGGUNAKAN SYSMEX XT 2000i Dr. MEITI MULJANTI Pembimbing : Dr. ARIFOEL HAYAT, SpPK
  2. 2. I. PENDAHULUAN Alat canggih pemeriksaan hematologi Metode flow cytometrySYSMEX Diagnosis penyakit hematologiXT 2000i Menunjang diagnosis penyakit non hematologi Interpretasi benar dalam membaca hasil 2
  3. 3. II. METODE PEMERIKSAAN Alat hematologi otomatis di Instalasi Patologi Klinik RS.Dr.Soetomo : Sysmex XE 2100, produksi TOA Medical Electronic Company, Kobe, Jepang. 3
  4. 4. Gambar 1. Metode Pemeriksaan pada Sysmex XT-2000i 4
  5. 5. 1. METODE FLOW CYTOMETRY DGN LASER SEMIKONDUKTOR Sysmex XT-2000i menyinari bhn pemeriksaan dg laser semikonduktor pd  633 nm dg pengecatan polymethine. Intensitas sinar scatter tgt: diameter partikel & sudut pandang. – sinar forward scatter  ukuran sel – sinar side scatter  kompleksitas sel: inti & granul sitoplasma – side fluorescence  jumlah DNA & RNA (maturitas). Gambar 2. Flow cytometry dgn laser semikonduktor 5
  6. 6. 2. METODE DETEKSI DC DGN HYDRODYNAMIC FOCUSING• Tujuan HDF : menghilangkan coincidence loss & variant pulses krn aliran non-axial & resirkulasi sel ke zona sensor.• Prinsip HDF : dibuat aliran cepat&diberi tekanan ringan pd sekeliling menghasilkan aliran sempit (satu grs aliran)satu persatu mll celah• Bbrp sel mll celah bersama & membentur dinding celahvariant pulsesdideteksi sbg interferen. Gambar 3. Metode Deteksi DC dengan Hydrodynamic Focusing 6
  7. 7. 3. Metode SLS –Hb• Metode cyanmethemoglobin – Perubahan hemoglobin lambat & proses rumit – Senyawa sianida (racun sbg reagen) tdk ramah lingkungan• Metode oksihemoglobin, – Hemoglobin cepat diubah mjd oksihemoglobin – Tdk menggunakan racun – Tdk dpt mengubah methemoglobin  oksihemoglobin, nilai <• Metode SLS-Hb ; – Kecepatan perubahan hemoglobin cepat – Tdk menggunakan racun – Dpt utk mengukur methemoglobin. 7
  8. 8. Metode SLS-Hb  Sodium Lauryl Sulfate (SLS:C12H25SO4Na)Reaksi kimia: 1. Hemolisis eritrosit 2. Perubahan molekul globin 3. Oksidasi Fe 4. Pembentukan SLS-Hb.SLS-Hb :abs. maks pd  535nm & pundak pd  560 nm dg fotometer. 8 Gambar 4. Metode SLS
  9. 9. III. PROSEDUR PEMERIKSAAN HGB 2RBC/ PLT 1 3 4 DIFF Prosedur RET 5 4 WBC/ BASO
  10. 10. 1. Prosedur pemeriksaan RBC/ PLT Ratio 1:500 11,7 µL diluted sample HDF Hitung RBC, PLT, HCT Gambar 5. Prosedur pemeriksaan RBC/ PLT 10
  11. 11. 2. Prosedur pemeriksaan HGB Hemolisis eritrosit Ratio 1:250 1:375 diluted sample, Hb  SLS-Hb  555 nm Gambar 6. Prosedur pemeriksaan HGB 11
  12. 12. 3. Prosedur pemeriksaan 4 DIFF Diluted sample Ratio 1:52, 22 det Flow cytometry dg laser semikonduktor hemolisis eritrosit & lekosit tercat 40 µL diluted sample Gambar 7. Prosedur pemeriksaan 4 DIFF 12
  13. 13. DIFF CHANNEL• Stromatolyser-4DL melisis eritrosit & trombosit ; melubangi membran lekosit.• Cat polymethine Stromatolyser-4DS masuk dlm lekosit ; mengikat asam nukleat & organel sitoplasma.• Diberi sinar laser  633 nm.• Asam organik Stromatolyser-4DL mengikat granul eosinofil, membedakan dg netrofil mll side scatter . Gambar 8. DIFF Channel. 13
  14. 14. 4. Prosedur pemeriksaan WBC/ BASO Ratio 1:50,14 detik, hemolisis eritrosit Flow cytometry dg laser semikonduktor 40 µL diluted sample Gambar 9. Prosedur pemeriksaan WBC/ BASO 14
  15. 15. WBC/ BASO CHANNEL• Stromatolyser-FB menghasilkan eritrosit, trombosit (ghosts) & bare nuclei of WBC kecuali basofil.• Sel yg lisis & basofil dibedakan secara jelas oleh FSC & SSC.• Hsl akhir basofil & bare nuclei merupakan jml total lekosit. Gambar 10. WBC/ BASO Channel. 15
  16. 16. 5. Prosedur pemeriksaan RET Ratio 1:255, 31 detik Flow cytometry dg laser semikonduktor 2,8 µL sampel yg tercat Gambar 11. Prosedur pemeriksaan RET 16
  17. 17. RET CHANNEL• Retikulosit intensitas fluoresensinya dibagi: LFR, MFR & HFR.• MFR + HFR  fraksi retikulosit imatur (IRF).• Optical platelet count (PLT-O) jg dihitung pd channel ini.• RET-SEARCH (II) berisi cat polymethine&oxazine msk membran sel & mengecat RNA retikulosit& DNA/RNA sel berinti.• Retikulosit dipisahkan dr eritrosit matur  RNA & dipisahkan dr sel berinti berdasarkan  RNA/DNA. Gambar 12. RET Channel 17
  18. 18. III. CARA MEMBACA HASIL FCM SYSMEX XT 2000i SFL FCS ssc ssc FSC FSC SFL SFLGambar 13. Gambaran FCM Sysmex XT-2000i pd org normal 18
  19. 19. 19Gambar 14. Hsl sysmex XE 2100 di Inst. PK. RS. Dr. Soetomo
  20. 20. 2. SCATTERGRAM DIFF Scattergram DIFF Scattergram menggambarkan lokasi sel hitung jenis : – limfosit, monosit, netrofil, eosinofil dan kelompok ghost eritrosit.• Sumbu x menggambarkan intensitas sinar side scatter, &• sumbu y intensitas sinar side fluorescence. Gambar 15. DIFF Scattergram 20
  21. 21. WBC/ BASO Scattergram• WBC/ BASO Scattergram khusus menunjukkan lokasi sel basofil & WBC serta kelompok ghost eritrosit.• Sumbu x menggambarkan intensitas sinar side scatter & sumbu y menggambarkan intensitas sinar forward scatter. Gambar 16. WBC/ BASO Scattergram 21
  22. 22. RET & PLT-O Scattergram• RET scattergram khusus menunjukkan adanya retikulosit berikut diferensiasinya yaitu LFR, MFR & HFR.• Membedakan eritrosit dws, retikulosit & trombosit tmsk menghitung rasio retikulosit, jml retikulosit, jml eritrosit & jml trombosit.• PLT-O scattergram terlihat kelainan retikulosit & trombosit. Gambar 17. RET & PLT-O Scattergram 22
  23. 23. PERBEDAAN DENGAN SYSMEX XE 2100 SYSMEX XE-21001. NRBC CHANNEL 2. IMI CHANNELMembedakan lekosit dgn NRBC Menggunakan reagen Stromatolyser-IM IG diproteksi dr lisis dgn adanya asam amino. Gambar 18. NRBC Channel Gambar 19. IMI Channel 23
  24. 24. Scattergram abnormalGambar 20. Scattergram abnormal 24
  25. 25. 3. HISTOGRAM• Histogram RBC, menggunakan grs batas 100 fL (grs merah). – ditengah  normositer, – bergeser ke kiri  mikrositer, – bergeser ke kanan  makrositer.• Distribusi RBC meluas  RBC anisositosis.• MCHC abnormal tinggi krn data RBC & HCT menurun palsu.• Referensi utk mendeteksi hemaglutinasi. Gambar 21. Histogram RBC 25
  26. 26. Histogram PLT• Histogram PLT : semakin tinggi gunung histogram  jml PLT ↗ & semakin rendah gunung histogram  jml PLT ↙.• Fokuskan pd bagian kanan histogram• Luas distribusi PLT mjd besar, dpt disebabkan kesalahan data PLT.• Pada gambar terlihat platelet agglutination, large platelets dan schizocytes terjadi antara 20 fL sampai 40 fL. Gambar 22. Histogram PLT 26
  27. 27. 4. Messages• Terdapat 3 IP Message(s) pd hsl pemeriksaan FCM : – WBC IP Message(s), – RBC/RET IP Message(s) & – PLT IP Message(s).• Stp IP Message(s) tdd 2 bag : Abnormal & Suspek.• Abnormal WBC IP Messages: Netropenia, Netrofilia, Limfopenia, Limfositosis, Monositosis, Eosinofilia, Basofilia, Leukositopenia, Leukositosis.• Suspek WBC IP Messages: Blast, Immature Gran (IG), Left Shift, Atypical Lympho/ Blast, NRBC, RBC Lyse resistance. 27
  28. 28. • Abnormal RBC IP Messages: RBC Abn Distribution, Dimorphic Population, RET Abn Scattergram, Retikulositosis, Anisositosis, Mikrositosis, Makrositosis, Hipokromia, Anemia, Eritrositosis.• Suspek dari RBC IP Messages: RBC Agglutination, Turbidity/ HGB Interference, Iron Deficiency, HGB Defect, Fragments.• Abnormal PLT IP Messages: PLT Abn Scattergram, PLT Abn Distribution, Trombositopenia, Trombositosis.• Suspek PLT IP Messages: PLT Clumps, PLT Clumps (s). 28
  29. 29. IV. CONTOH HASIL FCM ABNORMAL1. Acute Myeloid Leukemia (AML) Limfosit & monosit bergabung dlm kelompok besar (DIFF Scattergram). Pd suspek IP Messages : Blast? Hasil lbh tepat dr HDT. 29
  30. 30. Gambar 23. HDT AML 30
  31. 31. 2. Chronic Myeloid Leukemia (CML)Cluster meluas dr daerah Netrofil  daerah SFL kuat (DIFF Scattergram)  IG.IG 32 % (myelo 16% + meta 16%) dg metode manual & 16,8 % dg XT 2000i.Cluster bergerombol di daerah BASO pd WBC/ BASO Scattergram  immature 31cells/ morphologically large cells. Hasil lbh tepat dr HDT.
  32. 32. Gambar 24. HDT CML 32
  33. 33. 3. Acute Lymphocytic Leukemia (ALL)Daerah limfosit & monosit  satu kelompok pd DIFF Scattergram, diduga bhwjml limfoblas > 90% pd HDT. Pd WBC IP Messages : Blasts ? Hsl lbh tepat dr HDT. 33
  34. 34. Gambar 25. HDT ALL 34
  35. 35. 4. Anemia Defisiensi BesiLuas distribusi RBC meluas menunjukkan anisositosis. Daerah RBC maturtampak pada daerah forward scatter pada RET Scattergram, menunjukkan RBCmikrositik. Namun tidak menunjukkan pengaruh RBC mikrositik pada data PLT-O, sebagai indikasi pemisahan antara daerah RBC matur dan daerah plateletpada PLT-O scattergram. Hasil lbh tepat dr HDT. 35
  36. 36. Gambar 26. HDT Anemia Defisiensi Besi 36
  37. 37. 38
  38. 38. Penghitungan konstanta RBC :• MCV (Mean Corpuscular Volume) dihitung dari: RBC dan HCT dalam satuan femtoliter (fL), 1 fL sama dengan 10-15L. MCV = HCT (%) x 10 RBC (x 106 /µl)• MCH (Mean Corpuscular Haemoglobin) dihitung dari: RBC dan Hb dalam satuan pikogram (pg), 1 pg sama dengan 10-12 g MCH = Hb (g/dL) x 10 RBC (x 106 /µl)• MCHC (Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration) dihitung dari: HCT dan Hb dalam satuan g/dL MCHC = Hb (g/dL) x 100 HCT (%) 39
  39. 39. Rasio retikulosit :RET% = jumlah partikel di zona retikulosit X 100 Jumlah partikel di zona RBC dewasa + jumlah partikel di zona retikulositJumlah retikulosit : RET# = RET% X RBC 100Low Fluorescence Ratio (LFR) : LFR = 100 – HFR – MFRMiddle Fluorescence Ratio (MFR) : MFR = Jumlah partikel di zona MFR X 100 Jumlah partikel di zona retikulositHigh Fluorescence Ratio (HFR) : HFR = Jumlah partikel di zona HFR X 100 Jumlah partikel di zona retikulositImmature Reticulocyte Fraction (IRF) : IRF = MFR + HFR 40
  40. 40. Distribusi ukuran partikel RBC.• RDW-SD : tinggi puncak diasumsikan 100%, luas distribusi terletak pada tingkat frekuensi 20%.• RDW-CV : pada titik L1 dan L2 ditemukan pada frekuensi 68,26% dari luas distribusi total. Dihitung dengan rumus : RDW-CV (%) = L2 – L1 x 100 L2 + L 1 41
  41. 41. Distribusi ukuran partikel PLT.• MPV (Mean Platelet Volume) dihitung dari : MPV (fL) = PCT (%) X 10.000 PLT (X 103 /µµL)• PDW (Platelet Distribution Width) dengan tinggi puncak diasumsikan 100%, luas distribusi pada tingkat frekuensi 20% adalah PDW. Satuan dinyatakan dalam fL.• P-LCR (Platelet Large Cell Ratio) adalah rasio trombosit besar dari diskriminator > 12 fL. P-LCR dihitung sebagai rasio yang membandingkan jumlah partikel antara diskriminator tetap dan UD, dengan jumlah partikel antara LD dan UD. 42
  42. 42. NILAI NORMAL HEMATOLOGINO HEMATOLOGI NORMAL SATUAN1 HGB L: 13,4-17,7/ P: 11,4-15,1 g/ dL2 RBC L: 4 – 5,5/ P: 4 - 5 106/ µL3 HCT L: 40-47/ P: 38-42 %4 MCV 80-93 fL5 MCH 27-31 Pg6 MCHC 32-36 g/dL7 RDW-SD 35-47 fL8 RDW-CV 11,5-14,5 %9 WBC L: 4,3-10,3/ P: 4,7-11,3 103/µL10 Eo 0-4 %11 Baso 0-2 %12 Neut 51-67 %13 Lymph 25-33 % 43
  43. 43. NO HEMATOLOGI NORMAL SATUAN15 Mono 2-5 %16 PLT 142-424 103/ µL17 PDW 9-13 fL18 MPV 7,2-11,1 fL19 P-LCR 15-25 %20 PCT 0,150-0,400 %21 NRBC 103/ µL22 Ret 106/ µL23 IRF,LFR,MFR,HFR % 44
  44. 44. 45
  45. 45. 46
  46. 46. 47
  47. 47. 48
  48. 48. 49

×