• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Rkk8
 

Rkk8

on

  • 1,513 views

 

Statistics

Views

Total Views
1,513
Views on SlideShare
1,513
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
0
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Rkk8 Rkk8 Presentation Transcript

    • 1
      TINJAUAN PUSTAKA HEMATOLOGI
      TROMBOSITOPENIA
      PADA
      DEMAM BERDARAH DENGUE
      dr. Ety Retno S
      dr. Juli Soemarsono, SpPK
    • 2
      I. PENDAHULUAN
      Masalah
      Kesehatan Nasional
      Angka Kesakitan
      dan Kematian
      masih Tinggi
      DEMAM
      BERDARAH
      DENGUE
      (DBD)
      Infeksi
      virus Dengue
      Kasus Meningkat
      Diagnosis
      Kriteria laboratorium
      Trombositopenia
    • 3
    • 4
      II. DEMAM BERDARAH DENGUE
      II.1 VIRUS DENGUE
      • Arthropod Borne virus (Arboviruses)
      • Genus : Flavivirus
      • Famili : Flaviviridae
      • 4 jenis serotipe : DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4.
      Gambar 1. Virus dengue dilihat pada mikroskop
      elektron (Rigav-Perez, 2006)
    • 5
      II.2 PATOGENESIS DBD
      Dua teori yang banyak dianut pada DBD:
      1. Infeksi sekunder (secondary heterologous infection) atau immune enhancement.
      2. Virulensi Virus Dengue
    • 6
      Infeksi Sekunder
      Replikasi virus
      Respon antibodi anamnestik
      Kompleks virus antibodi
      Aktivasi komplemen
      Komplemen 
      Anafilatoksin (C3a, C5a)
      Histamin urine 
      Permeabilitas kapiler me
      Htc ↑
      >30% pada
      kasus syok 24-28 jam
      Perembesan plasma
      Natrium ↓
      Hipovolemi
      Cairan dalam
      Rongga serosa
      Syok
      Anoksia
      Asidosis
      Meninggal
      Gambar 2. Patogenesis terjadinya syok pada DBD (Hadinegoro, 1999)
    • 7
      Gambar 3. Patogenesis Perdarahan pada DBD (Hadinegoro, 1999)
    • 8
      II.3 DIAGNOSIS DBD(WHO,1997)
      Kriteria klinis
      Demam mendadak tanpa sebab jelas 2-7 hari
      Manifestasi perdarahan (uji Rumpel Leed +, petekie, ekimosis, purpura, epistaksis, perdarahan gusi)
      Hepatomegali
      Gangguan sirkulasi/syok
      Kriteria laboratorium
      Trombositopenia ( < 100.000/mm3)
      Hemokonsentrasi (kenaikan Ht > 20%)
    • 9
      Definisi kasus
      Dua kriteria klinis dan 2 kriteria laboratorium:
      • Demam mendadak tinggi 2-7 hari
      • Manifestasi perdarahan (min. positif tourniquet test)
      • Trombosit < 100.000/mm3
      • Hemokonsentrasi (Kenaikan Ht >20%)
    • 10
      II.4 DERAJAT BERAT DBD (WHO, 1999)
    • 11
      III.1 TROMBOPOISIS
      Gambar 4. Trombopoisis(Lee, 2001)
    • 12
      Gambar 5. Trombopoisis (Lee,2001)
    • 13
      Gambar 6. Proses trombopoisis (Weyrich AS, 2004 )
    • 14
      Gambar 7. Regulasi trombopoitin (Kaushansky, 1998)
    • 15
      III.2 FISIOLOGI TROMBOSIT
      Gambar 8. Ultrastruktur trombosit (Yeaman, 1997)
    • 16
      IV.1 TROMBOSITOPENIA PADA DBD
      Definisi trombositopenia pada DBD :
      * WHO (1997) :
      trombosit < 100 x 109/l
      * Kelompok kerja DBD : trombosit < 150 x 109/l
    • 17
      IV.2 MEKANISME TROMBOSITOPENIA DBD
      Penurunan produksi
      Supresi sumsum tulang
      • Kerusakan sel
      progenitor
      • Infeksi sel stromal
      • Inhibitor sitokin
      Pe↑an destruksi perifer /
      Pe↑an penggunaan
      trombosit
      • Aktivasi perifer
      • Destruksi trombosit
      • Disfungsi trombosit
    • 18
      Supresi sumsum tulang
      Infeksi virus dengue
      Kerusakan
      sel progenitor
      Infeksi sel
      stromal
      sitokin
      Hemopoisis ↓
    • 19
      Aktivasi dan destruksi trombosit
      Infeksi virus dengue
      Kerusakan endotel
      Agregasi & lisis
      Trombosit
      Komplemen
      Antibodi
      Antidengue
      Antigen pada permukaan
      Trombosit
      Trombositopenia
      Sekuastrasi di hati & limpa
    • 20
      Disfungsi trombosit
      Pelepasan ADP (-)
      oleh trombosit
      Pe ↑ agregrasi
      primer trombosit
      Pe ↓ agregrasi
      trombosit
      Sekuastrasi di
      hati & limpa
      Trombositopenia
    • 21
      IV.3 GAMBARAN KLINIS TROMBOSITOPENIA PADA DBD
      • Tes torniket positip
      • Petekie
      • Purpura
      • Ekimosis
      • Epistaksis
      • Perdarahan gusi
      • Perdarahan gastrointestinal : melena & hematemesis
    • 22
      Gambar 9. Hubungan jumlah trombosit dengan derajat berat DBD (Srichaikul, 2000)
    • 23
      V. PEMERIKSAAN TROMBOSITPADA DBD
      I. Cara tidak langsung :
      Metoda evaluasi hapusan darah tepi
      II. Cara langsung :
      1. Penghitungan langsung secara manual:
      Metoda Rees and Ecker
      2. Penghitungan secara otomatis :
      a. Metoda impedansi elektrik
      b. Metoda optikal / light-scattering
    • 24
      VI. TERAPI TROMBOSITOPENIA PADA DBD
      • Transfusi trombosit profilaksis bila jumlah trombosit < 20x109/l
      • Konsensus manajemen DBD :
      Transfusi trombosit profilaksis tidak direkomendasikan -> diberikan bila terdapat DIC dan perdarahan.
    • 25
      Terima Kasih
    • 26
    • 27
      Gambar 1. Spekrum klinisinfeksi virus dengue (WHO,1997)
    • 28
      Gambar 2. Spektrum klinis infeksi virus dengue (WHO,1997)
    • 29
      Gambar 3. Gejala Sindroma Syok Dengue
    • 30
      Gambar 4. Perubahan Ht, trombosit, LPB pada DBD (Rezeki Sri, 2004)
    • 31
      “Endotel pembuluh darah pada DBD”
      Terjadi disfungsi endotel & aktivasi endotel
      Aktivasi PMN, Stimulasi sitokin & mediator lain
      Kebocoran vaskuler
      Aktivasi koagulasi (jalur TF/ F VII)
      Terbentuk trombus trombositopenia
      Perdarahan
      Syok hipovolemik
    • 32
      Gambar 5. Perdarahan pada trombositopenia (Lee, 2001)
    • 33
      Gambar 6. Penyebab trombositopenia (Lee, 2001)
    • 34
    • 35
    • 36
      PERDARAHAN PADA DBD
      Penyebab perdarahan multifaktor :
      trombositopenia
      kelainan pembuluh darahdarah (vaskulopati)
      kelainan koagulasi
      DIC
      Penting diingat
      perdarahan sal cerna masif mengikuti syok berat, dapat mematikan
    • 37
      Gambar 7. Tata laksana DB/DBD (Rezeki Sri, 2004)
    • 38
      Gambar 8. Tata laksana DBD (Rezeki Sri, 2004)
    • 39
      Gambar 9. Tata laksana DBD (Rezeki Sri, 2004)
    • 40
      Gambar 10. Tata laksana DBD dengan syok (Rezeki Sri, 2004)
    • 41
      “Pemeriksaan laboratorium rutin untuk skrining DBD”
      • Uji Rumpel Leede/Tourniquet Test  gangguan vaskuler dan jumlah trombosit
      • Kadar hematokrit  hemokonsentrasi bila hematokrit meningkat  20% atau menurun  20% setelah diterapi cairan
      • Jumlah trombosit  trombositopenia bila jumlah trombosit < 100.000/Ul biasanya pada hari ke 3-7
      • (Jumlah leukosit  menurun di awal, normal, meningkat)
      • (Enzim hati meningkat : SGOT&SGPT)
    • 42
      “Indikasi rawat inap penderita DBD”
       Terdapat tanda kegawatan
       Pada pemantauan dijumpai
      kadar Ht berkala meningkat
      trombosit < 100.000 sel/mm3
      perdarahan spontan (selain petekie)
    • 43
      “Kriteria memulangkan pasien”
      • Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik
      • Nafsu makan membaik
      • Klinis tanpa perbaikan
      • Hematokrit stabil
      • Tiga hari setelah renjatan teratasi
      • Jumlah trombosit > 50.000/l
      • Tidak dijumpai distres pernafasan
    • 44
      “Pemeriksaan jumlah trombosit”
      I. Cara tidak langsung :
      1. Metoda evaluasi hapusan darah tepi
      2. Metoda rasio eritrosit/trombosit
      II. Cara langsung :
      1. Penghitungan langsung secara manual:
      a. Metoda Rees and Ecker
      b. Metoda Brecher and Cronkite
      2. Penghitungan secara otomatis :
      a. Metoda impedansi elektrik
      b. Metoda optikal / light-scattering
    • 45
      Metoda Rees and Ecker
      Prinsip : darah diencerkan dengan Brilliant
      cresil blue->trombosit kebiruan terang.
      Dihitung dengan hemositometer
      Cara penghitungan
      Hitung Trombosit Pada 4 area W -> R
      Volume 4 area W = 0,4 mm³.
      Pengenceran 200x
      ∑ trombosit/mm³= R x 1/0,4 x 200
      = 500 R /mm³
    • 46
      Metoda Brecher and Cronkite
      Prinsip:
      Darah diencerkan dengan amonium Oxalat-> eritrosit lisis. Trombosit dihitung dengan hemositometer pada mikroskop fasekontras. Hasil dikonfirmasi dengan pemeriksaan hapusan
      Cara penghitungan
      Hitung trombosit pada 10 area P->Q
      Volume 10 area P-> 0,04 mm³
      Pengenceran 100x
      Maka jumlah trombosit /mm³ = Q x 1/0,04 x 100
      -> ∑ trombosit = 2.500 Q/mm³
    • 47
      Metoda Impendasi Elektrik
      Prinsip : Menghitung dan mengukur partikel/ sel -> deteksi perubahan tahanan listrik -> saat sel melewati apertura
      Cara pengukuran :
      Trombosit diukur pada 1 chanel dengan sdm
      Apertura : 70 – 100 µm
      Sel berukuran : 1-35 fl -> trombosit
      36 < -> eritrosit
    • 48
      Metoda optikal / light-scattering
      Prinsip :
      Sel darah yang dialirkan disinari sumber cahaya-> dipendarkan. Fotodetektor menilai dan mengumpulkan pendaran sinar pada sudut yang berbeda pada setiap sel-> dianalisis atau dikonversi bentuk data
    • 49
      Evaluasi Hapusan Darah
      Prinsip : memperkirakan jumlah trombosit
      per lapang pandang mikroskop
      Perkiraan ∑ trombosit
      FN 18 -> Normal : 8-25 trombosit/lp
      ∑ /mm³-> ∑ 18 lapang pandang x 1000
      FN 22 -> Normal : 13-40 trombosit/lp
      ∑ /mm³->∑ 11 lapang pandang x 1000
    • 50
      Metoda rasio eritrosit/trombosit
      Reagen dan alat:
      1. Fluorescent flow cytometer
      2. Alat semiotomatis impedansi
      3. Alat-alat dengan bahan polypropylene/
      polystyrene
      4. Reagen :
      a. Diluent : Phosphat buffer saline (PBS) 0,01mol/l
      ph 7,2-7,4 dgn Bovin serum albumin (BSA) 0,1%
      b. Larutan pewarna :Antibodi terhadap CD41 dan CD 61 berlabel fluoresen isothiocyanat
    • 51
      Prosedur
      5 µl darah + 5 µl larutan pewarna thd CD41
      + 5 µl larutan pewarna thd CD61

      100 µl diluent PBS-BSA (yang sudah disaring)
      ↓ inkubasi 15 mnt (18-22ºC)
      tambah diluent PBS-BSA 4,85 ml
      ↓ kocok perlahan
      dihitung dengan flow cytometer
    • 52
      Penentuan kadar eritrosit : menggunakan alat semiotomatis impedansi
      Penentuan hitung trombosit
      Dari flow cytometer ->rasio sdm/trombosit -> R
      R = event sdm/event trombosit
      Kadar sdm spesimen asli -> E
      Jumlah trombosit-> P = E/R
      Contoh: Diketahui: hitung sdm 5,44. 10 6/µl
      R = 20,4896
      Maka P = 265,5. 10³/µl
      Nilai referen : Rasio sdm/trombosit 21,572 ± 5,134