Your SlideShare is downloading. ×
  • Like
  • Save
Rkk26
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Now you can save presentations on your phone or tablet

Available for both IPhone and Android

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply
Published

 

Published in Technology , Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
No Downloads

Views

Total Views
1,714
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
0
Comments
0
Likes
2

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. TINJAUAN PUSTAKA KIMIA KLINIK
    Aspek Klinis dan Laboratorium
    Hipotiroidisme
    Suluh Widyanarwan,dr/ Dr.Sidarti Soehita SFHS,M.S,dr.SpPK(K)
  • 2. Pendahuluan
    2
    Kelenjar Tiroid
    • Kelenjar dg fungsi endokrin terbesar pd manusia
    • 3. Mensekresi 2 macam hormon tiroid yaitu 3,5,3’,5’ tetraiodotironine (T4) dan 3,5,3” (T3)
    • 4. Fungsi hormon tiroid mengatur metabolisme, mengatur homeostasis dan membantu proses pertumbuhan
  • Pendahuluan
    Kelainan Hormon Tiroid
    • Kelainan endokrin tersering kedua setelah DM
    • 5. Insidens hipertiroidisme dan hipotiroidisme 2 dan 1% dr populasi seluruh dunia, wanita : pria = 1: 10
    • 6. Bisa merupakan penyakit serius bahkan mengancam jiwa
    • 7. Gejala dan tanda mudah diketahui dan dikenali
    keadaan subklinis lebih sulit diketahui
    3
  • 8. Pendahuluan
    Kelainan Hormon Tiroid
    • Hipotiroidisme pada kehamilan dpt mengakibatkan kretinisme pd bayi yang dilahirkan  skrining bayi baru lahir di beberapa negara
    • 9. Evaluasi Px dicurigai hipotiroidisme, mulai ditemukannya tanda hipotiroidisme
    • 10. Diagnosis didasarkan klinis dan laboratorium
    4
  • 11. Produksi dan sekresi hormon tiroid
    Gambar 2. Folikel kelenjar tiroid (Paulev.2000)
    Merupakan unit fungsional klj tiroid
    Terdiri dr satu lapis epitel kubus
    Didalamnya berupa koloid yg banyak berisi tiroglobulin (Tg)
  • 12. Produksi dan sekresi hormon tiroid
  • 13. Tahapan produksi & sekresi hormon tiroid
    Iodium dr makanan mengalami reaksi reduksi menjadi I- dlm sal cerna, diabsorbsi masuk sirkulasi
    2.Iodida msk sel folikel melawan gradien elektrokimia dg Na+-I-simport (NIS) dg energi dr ATP. Dari folikel Iodida masuk kedalam koloid , mengalami oksidasi oleh H2O2 dg katalis TPO menjadi atom/ molekul Iodium (I0 /I2 )
  • 14. Tahapan produksi & sekresi hormon tiroid
    Pada membran apeks sel folikel, Iodium terikat pd unit tirosin (L-tyrosine) pd tiroglobulin pd 1 atau 2 posisi membentuk mono-iodotirosin (MIT) atau di-iodotirosin (DIT).
    MIT dpt bergabung dg DIT membentuk tri iodotironin (3,5,3’-T3), dua molekul DIT bergabung membentuk tetra-iodotironin (T4).
    DIT bergabung MIT membentuk reverse T3 (3,3’,5’-T3) yg merupakan hormon inaktif (dlm jumlah kecil).
  • 15. Tahapan produksi & sekresi hormon tiroid
    5. Tiroglobulin kembali masuk sel folikel sbg Colloid droplets , bergabung dg lisosome membentuk fagolisosom.
    Lisosomal exopeptidase memecah ikatan antara tiroglobulin dg T4 atau T3. T4 dan T3 masuk sirkulasi, Tg kembali masuk kedalm sel folikel
    Juga dilepaskan MIT dan DIT  deiodinasi oleh enzim deiodinase Iodida dpt digunakan lagi.
  • 16. Regulasi produksi & sekresi hormon tiroid
    Gambar 3. Aksis hipotalamus-hipofisis-tiroid
  • 17.
    • Sebagai respon thd sekresi TRH oleh hipotalamus, hipofisis mengeluarkan TSH yang bekerja pada kelenjar tiroid diproduksi dan disekresi hormon tiroid (T3 dan T4)
    • 18. Kadar T4 dan T3 disirkulasi meningkat, dikenali reseptor pada hipofisis & hipotalamus  sekresi TSH dan TRH menurun (negative feedback)
    • 19. Kadar T4 dan T3 disirkulasi rendah, hipofisis meningkatkan sekresi TSH  produksi hormon tiroid meningkat
    Regulasi produksi hormon tiroid
  • 20. Metabolisme hormon tiroid
    • thyroxine binding globulin (TBG) ±10 mg /L, afinitas tinggi terhadap T4 berikatan lbh kuat
    • 21. Albumin memiliki afinitas tinggi dg T3 berikatan lbh lemah
    • 22. ± 70% T4 dan 20% T3 terikat dengan TBG , sisanya dengan thyroxine binding albumin (TBA) dan transtiretin.
    12
  • 23.
    • Saat metabolisme meningkat,sebagian besar T4 mengalami deiodinasi oleh enzim deiodinase  T3.
    • 24. Beberapa molekul bergabung dg sulfat & asam glukoronat  diekskresi melalui empedu  dalam usus sebagian besar dihidrolisis & hormon direabsorbsi kedalam sirkulasi masuk sirkulasi enterohepatik
    • 25. Waktu paruh T4 :7 hari, T3: 24 jam
    Metabolisme hormon tiroid
    13
  • 26. Sindroma klinis ok. defisiensi hormon tiroid
    anak : komplikasi serius retardasi mental
    HIPO
    TIROIDISME
    Dewasa : miksedema
    Salah satu kel tiroid tersering
    Primer , sentral , subklinis
  • 27. Hipotiroidisme
    • Tersering : kelainan pada kelenjar tiroid  penurunan produksi dan sekresi hormon tiroid (tiroksin/T4 & triiodotironin /T3) hipotiroidisme primer
    • 28. Lebih jarang : penurunan stimulasi o/ TSH  hipotiroidisme sentral/hipotiroidisme sekunder atau hipotiroidisme hipotropik
    • 29. Penyebab tersering :
    • 30. Dibeberapa negara :defisiensi iodium
    • 31. Daerah dengan asupan iodium cukup: tiroiditis autoimun kronis
  • Penyebab hipotiroidisme
  • 32. Gambaran klinis hipotiroidisme
    • Manifestasi klinis tidak tergantung penyebabnya dan dapat terjadi pada semua usia dan jenis kelamin.
    • 33. Gambaran klinis hipotiroidisme mempunyai spektrum sangat luas, beberapa penderita dg gejala & tanda yang jelas, yg lainnya menunjukkan gejala & tanda sangat sedikit/ tidak tampak sama sekali  hipotiroidisme subklinis.
    • 34. Gejala dan tanda hipitiroidisme (tabel 2)
  • Gejala dan tanda hipotiroidisme
  • 35. Klasifikasi hipotiroidisme
    Primer
    Sentral
    Subklinis
    TSH meningkat, hormon tiroid normal
    Gejala Klinis -
    Prevalensi 1-10%
    Terbanyak pd wanita > 60 tahun
    Sering ditemukan scr tdk sengaja
    Kelainan pd klj tiroid
    Pd populasi defisiensi maupun cukup iodium
    Penyebab tersering : tiroiditis autoimun kronis, Tx ablasi I131, Tx radiasi eksternal
    Stimulasi TSH <
    Kelainan hipofisis / hipotalamus
    Jarang merupakan kelainan tunggal
  • 36. Tabel 3. Penyebab hipotiroidisme sentral (Lania. 2008)
  • 37. Diagnosis hipotiroidisme
    • Diagnosis dan penatalaksanaan hipotiroidisme memerlukan integrasi gejala klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium.
    • 38. Ketepatan diagnosis : perlu ketelitian dari pemeriksaan klinis & laboratorium yang biasa digunakan (TSH dan free thyroxine ( fT4 )) pd penderita yang beresiko hipotiroidisme
  • Tabel 4. Gambaran laboratorium hipotiroidisme (Paulev.2000)
  • 39. Periksa TSH
    Normal
    Meningkat
    Periksa free T4
    Ya
    Rendah
    Tidak
    Normal
    Periksa free T4
    Hipotiroidisme ringan
    r
    Stop
    Hipotiroidisme primer
    Normal
    Rendah
    TPO Ab +
    TPO Ab -
    TPO Ab – or Gejala +
    TPO Ab – or Gejala -
    Stop
    Rule out sebab hipotiroidisme lainnya
    Hipotiroidisme autoimun
    Rule out pengaruh obat, euthyroid syndrome & evaluasi fungsi hipofisis anterior
    Follow up
    tiap tahun
    Terapi T4
    Terapi T4
    Dugaan kelainan hipofisis
    Gambar 4. Algoritme pemeriksaan penderita diduga hipotiroidisme (Harrison’s.2008)
    23
  • 40. Pemeriksaan TSH metode Chemiluminescence
    • Antibodi monoklonal terhadap TSH dari tikus pada fase padat (sumuran) dan antibodi anti-TSH dari domba berlabel enzim peroksidase(antibodi kedua)
    • 41. TSH dlm sampel bereaksi secara simultan dengan kedua antibodi, molekul TSH terikat diantara antibodi fase padat dan antibodi berlabel enzim membentuk sandwich
    • 42. Setelah inkubasi selama 60 menit/suhu ruangan, sumuran dicuci 5x dengan larutan pencuci untuk melepaskan anti-TSH berlabel enzim yang tidak terikat
    24
  • 43. ChemiluminescenceTSH
    • Larutan berisi substrat chemiluminescence ditambahkan, stl inkubasi 20 mnt , relative light units(RLU) dibaca pada Luminometer
    • 44. Intensitas cahaya yang berpendar setara dengan jumlah enzim yang ada dan berkorelasi langsung dengan jumlah TSH pada sampel
    • 45. Hasil dinyatakan dalam µIU/ml
    Nilai rujukan : 0,4 – 7,0 µIU/ml
    Daya lacak minimal : 0,2 µIU/ml
    25
  • 46. Chemiluminescence T4
    • Dengan metode CLIA, antibodi anti-T4 yang sudah ditentukan jumlahnya dilapiskan pada fase padat
    • 47. ditambahkan serum penderita dan T4 berlabel enzim dengan horseradish peroxidase pada sumuran
    • 48. Selama inkubasi, T4 pada sampel dan T4 yang berlabel enzim berkompetisi dalam mengikat antibodi anti T4 pada fase padat
    26
  • 49. T4 Chemiliminescence
    • Setelah 60 menit inkubasi pada suhu ruang, sumuran dicuci lima kali untuk menghilangkan T4 beralbel enzim yang tidak terikat antibodi anti T4
    • 50. Larutan substrat chemiluminescence ditambahkan, stl inkubasi relative light units(RLU) dibaca dg luminometer.
    • 51. Intensitas cahaya yang berpendar setara dengan jumlah enzim yang ada dan berkorelasi langsung dengan jumlah T4 pada sampel.
    • 52. Hasil dinyatakan dalam µg/dl.
    Nilai rujukan : 5,0 – 13,0 µg/dl
    27
  • 53. fT4 Chemiluminescence
    • Pemeriksaan T4 bebas mengukur fraksi T4 yang tidak terikat thyroxine binding proteins(TBP).
    • 54. Hampir semua T4 terikat TBG,±0.03% sebagai T4 yang bebas (fT4) hormon yang aktif.
    • 55. Kadar fT4
    • 56. imunoasai
    • 57. estimasi dg free thyroxine index (dr total T4 dan T4 yang tidak terikat protein serum)
    28
  • 58. fT4 Chemiluminescence
    Prinsip pemeriksaan T4 bebas adalah dengan CLIA kompetitif . Reaksinya sebagai berikut :
    ka
    EnzAg + Ag + AbC.W+ Ag EnzAgAbC.W + AgAbC.W
    k-a
    AbC.W. = Antibodi Monospesifikyang dilapis pada sumuran(dalam jumlah konstan)
    Ag = Antigen pada serum yang akan diukur
    EnzAg= antigen yang berlabel enzim ( jumlah konstan )
    AgAbC.W. = kompleks antigen-antibodi
    EnzAgAbC.W. = kompleks antigen yang berlabel enzim – antibodi
    ka = konstanta asosiasi
    k‑a = konstanta disasosiasi
    K = ka / k-a = konstanta keseimbangan
    29
  • 59.
    • Setelah dicapai keseimbangan, fraksi ikatan antibodi - antigen berlabel enzim dipisahkan dengan antigen yang tidak terikat.
    • 60. Aktivitas enzim pada fraksi ikatan antibodi –antigen berlabel enzim berbanding terbalik dg kadar antigen bebas.
    • 61. Dengan beberapa serum referens fT4 yang kadarnya berbeda-beda dibuat kurva konsentrasi antigen bebas dapat diketahui.
    • 62. Hasil dinyatakan dalam ng/dl.
    • 63. Nilai rujukan : 0,8 – 2,0 ng/dl
    • 64. Sensitivitas : 0,05 ng/dl
    Chemiluminescence fT4
  • 65.
    • Pada pemeriksaan T3 dengan CLIA, antibodi anti T3 dilapiskan pada sumuran dengan jumlah tertentu.
    • 66. Kemudian ditambahkan serum penderita yang akan diukur T3 dan T3 berlabel enzim peroksidase.
    • 67. Selama inkubasi, T3 dalam sampel dan T3 berlabel enzim berkompetisi untuk mengikat antibodi anti T3 pada fase padat.
    T3 Chemiluminescence
  • 68.
    • Setelah inkubasi 60 menit/suhu ruangan, sumuran dicuci 5 kali dg washing solution untuk melepaskan T3 berlabel enzim yang tidak terikat.
    • 69. Larutan chemiluminescence ditambahkan dan setelah inkubasi ,relative light units(RLU) dibaca dengan luminometer.
    • 70. Hasil dinyatakan dalam ng/ml.
    • 71. Nilai rujukan : 0,6 – 2,00 ng/ml
    T3 Chemiluminescence
  • 72. fT3 Chemiluminescence
    • Reagen yang dibutuhkan :antiboditerhadap T3 yang dilapis pada sumuran, T3 berlabel enzim dan antigen T3 bebas.
    • 73. T3 berlabel enzim saat berikatan dg protein serum(TBG dan albumin) seharusnya tidak terukur
    • 74. Selama pencampuran, antibodi pada fase padat, T3 berlabel enzim dan serum yang mengandung antigen T3 bebas, bereaksi kompetitif untuk berrikatan dg antibodi pd fase padat
    33
  • 75. fT3 Chemiluminescence
    Prinsip pemeriksaan T3 bebas adalah dengan CLIA kompetitif . Reaksinya sebagai berikut :
    ka
    EnzAg + Ag + AbC.W+ Ag EnzAgAbC.W + AgAbC.W
    k-a
    AbC.W. = Antibodi Monospesifikyang dilapis pada sumuran(dalam jumlah konstan)
    Ag = Antigen pada serum yang akan diukur
    EnzAg= antigen yang berlabel enzim (jumlah konstan )
    AgAbC.W. = kompleks antigen-antibodi
    EnzAgAbC.W. = kompleks antigen yang berlabel enzim – antibodi
    ka = konstanta asosiasi
    k‑a = konstanta disasosiasi
    K = ka / k-a = konstanta keseimbangan
    34
  • 76.
    • Setelah dicapai keseimbangan, fraksi ikatan antibodi dengan antigen berlabel enzim dipisahkan dengan antigen yang tidak terikat.
    • 77. Aktifitas enzim pada fraksi ikatan antibodi -antigen berlabel enzim berbanding terbalik dengan kadar antigen bebas. Dengan menggunakan beberapa serum referens fT3 yang kadarnya berbeda-beda dibuat kurva  konsentrasi antigen bebas dapat diketahui.
    • 78. Hasil dinyatakan dalam ng/dl.
    • 79. Nilai rujukan : 0,8 – 2,0 ng/dl
    • 80. Sensitivitas : 0,05 ng/dl
    Chemiluminescence fT3
  • 81. Metode pemeriksaan Chemiluminescence
    Langkah pemeriksaan
    36
  • 82. Metode pemeriksaan Elisa
    • Pemeriksaan hormon TSH, T4 , fT4 , T3, fT3 metode Elisa prinsipnya hampir sama dg metode Chemiluminescence
    • 83. Perbedaan
    Substrat pd Elisa Tetramethyl benzidine (TMB) dan H2O2pd Chemiluminescence Luminoldan H2O2
    Pada Elisa setelah penambahan substrat & inkubasi ditambahkan stop solution untuk menghentikan reaksi kimia.
    • Pembacaan hasil reaksi dengan spektrofotometer
    37
  • 84. 38
    Tambahkan enzyme conjugate reagent
    Masukkan 100µl standar, sampel dan kontrol kedalam sumuran
    Letakkan sumuran pada tempat yang tersedia
    Buang isi sumuran dan cuci dengan aquadest
    Inkubasi suhu kamar , 60 menit
    Campur selama 30 detik
    Tambahkan 100 µl TMB pd tiap sumuran
    Tambahkan 100 µl stop solution pd tiap sumuran
    Campur (15 dtk) Baca absorban λ = 450nm (stl 45 mnt )
    Inkubasi suhu kamar , 20menit
    Metode pemeriksaan Elisa
  • 85. Ringkasan
    39
    • Gambaran klinis hipotiroidisme mempunyai spektrum yang luas, beberapa penderita dg gejala dan tanda yang jelas, lainnya sangat sedikit atau tidak tampak sama sekali
    • 86. Ketepatan diagnosis hipotiroidisme memerlukan pemeriksaan klinis dan tes laboratorium yang biasa digunakan untuk konfirmasi kelainan ini yaitu TSH dan free thyroxine ( fT4 ).
    • 87. beberapa pemeriksaan untuk mengukur kadar hormon tiroid , umumnya menggunakan metode imunoasai, diantaranya metode Chemiluminescence dan Elisa
  • Terima kasih
    Terima kasih
  • 88. Anti TPO
    • Anti-TPO adalah autoantibodi klas IgG yang patogenik pada beberapa penyakit tiroid
    • 89. Konsentrasi antibodi anti-TPO serum berhubungan dengan aktifitas dari penyakit tiroiditis autoimun kronis
    • 90. Anti TPO dapat dijumpai pada pasien dengan tiroiditis Hashimoto (95%), myxedema idiopatik (90%) dan penyakit Graves (80%)
  • Anti TPO
    • Beberapa metode tersedia untuk mengukur antibodi anti-TPO pada serum.
    • 91. Metode chemiluminescence dengan sensitifitas yang lebih baik dari EIA, mampu mendeteksi kadar anti-TPO subklinis
    • 92. Prinsip reksinya adalah sebagai berikut :
    ka
    h-Ab(X-TPO) + BtnAg(TPO) Ab(X-TPO)-BtnAg(TPO)
    k‑a
    BtnAg(TPO) = antigen yang dilabel dengan biotin (kadar konstan)
    h-Ab(X-TPO) = Auto-Antibodi manusia (yang akan diukur
    Ab(X-TPO)-BtnAg(TPO) = kompleks imun
    ka = konstanta asosiasi
    k‑a = konstanta disasosiasi
  • 93. Anti TPO
    Secara simultan, imun kompleks ini akan terdeposit pada dinding sumuran karena afinitas yang tinggi antara sterptavidin dan biotin.
    Reaksinya adalah :
    StreptavidinC.W. = Streptavidin yang dilapispadasumuran
    Imunkompleks(IC) = komplekssandwich yang terikatpadafasepadat
    Setelah inkubasi, sumuran dicuci untuk memisahkan komponen yang tidak terikat. Enzyme linked species specific antibody (anti-h-IgG) ditambahkan pada sumuran. Konjugat ini akan mengikat imun kompleks yang sudah terbentuk.
  • 94. Anti TPO
    I.C. (h- IgG)= imun kompleks
    ENZAb(X-h-IgG= antibodi yang berlabel enzim (jumlah konstan)
    ENZAb(X-h-IgG) - I.C. (h- IgG) = kompleks antigen antibodi
    Anti-h-IgG berlabel enzim yang mengikat kompleks imun pada inkubasi kedua dipisahkan dari bahan yang tidak bereaksi dengan cara dicuci.
    Aktivitas enzim pada fraksi ini berkorelasi langsung dengan konsentrasi antibodi pada spesimen.
    Dengan menggunakan beberapa serum referens dari aktivitas antibodi yang diketahui, kurva referensi dapat dibuat dan dengan menggunakan kurva ini kadar antibodi spesimen dapat diketahui
  • 95. Struktur hormon tiroid
  • 96. FT Index
    T-Uptake (TU) and total T4 are used to estimate the amount ofcirculating free T4. The estimate, or the FTI, is a normalizedmeasurement that remains relatively constant in healthy individualsand compensates for abnormal levels of binding proteins.Hyperthyroidism causes increased FTI and hypothyroidism
    causes decreased values.
    T-Uptake results are changed by drugsor physical conditions that alter the patient's thyroxine-bindingglobulin (TBG) levels, or drugs that compete with endogenousT4 and T3 for protein-binding sites.
    When serum contains highlevels of T3 and T4 as in hyperthyroidism, fewer unoccupied bindingsites are available. Conversely, in hypothyroidism, more binding sitesare available.
  • 97. FT4I, lab value for T3 uptake combined with total T4; FTI is a clinical parameter measured by RIA, used to evaluate thyroid function, calculated by T4 x %T3RU–resin uptake;
    the FTI is ↑ in hyperthyroidism and factitious hyperthyroidism and ↓ in hypothyroidism;
    it is falsely ↑ in heparin therapy and falsely ↓ in phenytoin and valproic acid therapy, and in the euthyroid sick syndrome
    free thyroxine index
  • 98. Thyroid hormone secretion
  • 99. Io berikatan dg mol. tirosin pd tiroglobulin
    T4
    MIT
    &
    DIT
    T3
    tiroglobulin
    Tahapan produksi & sekresi hormon tiroid
  • 100. Hipotalamus
    Hipofisis
    Tiroid
    Tetraiodotirosine(T4)
    Triiodotironine
    (T3)
    Mekanisme negative feedback
    Thyroid Stimulating Hormone (TSH)
    aktivasi adenyl cyclase &meningkatkancAMP
    Thyrotropin Releasing Hormon (TRH)
    Produksi dan sekresi hormon tiroid
    50
  • 101. Pemeriksaan lab pendukung
    51
    • Beberapa pem. Lab. mungkin menyokong diagnosis hipotiroidisme tetapi tidak spesifik (hiperkolesterolemia, hiperprolaktinemia, anemia, hiponatremia, hiperhomosistenemia , peningkatan isoenzim otot(kreatinfosfokinase& LDH)
  • Characteristics of Circulating T4 and T3(Harrison’s 2008)
  • 102. Koma miksedema :
    adalah stadium akhir dari hipotiroidisme yang tidak diobati. Ditandai oleh kelemahan progresif, st upor, hipotermia, hipoventilasi, hipoglisemia, hiponatremia, intoksikasi air, syok dan meninggal
    Pemeriksaan : bradikardi dari hipotermia berat dengan suhu tubuh mencapai 24°C
    Patofisiologi koma miksedema menyangkut 3 aspek utama : (1) retensi CO2 dan hipoksia; (2) ketidakseimbangan cairan dan elektrolit; dan (3) hipotermia.
  • 103. 54
    Efek dari TSH terhadap Sel Tiroid
    A. Perubahan Morfologi Sel Tiroid  menimbulkan
    pseudopod pada batas sel -koloid, mempercepat resorbsitiroglobulin.
    Kandungan koloid berkurang. Te tesan koloid in traselular dibentuk dan pembentukan lisosom dirangsang, meningkatkan hidrolisis tiroglobulin .
    B. Pertumbuhan Sel : Masing-masing sel t iroid bertambah ukurannya;
    vaskularisasi meningkat; dan setela h beberapa waktu, timbul pembesaran tiroid, atau goiter.
    C. Metabolisme Iodin : TSH merangsang semua fase metabolisme
    iodida, dari peningkatan ambilan dan transpor iodida hingga peningkatan iodinasi tiroglobulin dan peningkatan sekresi hormon tiroid. Peningkatan dari cAMP memperantarai peningkatan transpor iodida,
  • 104. Peran TSH
    55
    D. Peningkatan mRNA untuk tiro globulin dan peroksidase tiroidal, peningkatan pemasukan I ke dalam MIT, DIT.
    E. Peningkatan aktivitas lisosomal  peningkatan sekresi T4 dan T3 dari kelenjar tiroid.
  • 105.
  • 106. In response to thyrotropin-releasing hormone (TRH) secretion by the hypothalamus, the pituitary gland secretes thyroid-stimulating hormone (TSH), which stimulates iodine trapping, thyroid hormone synthesis, and release of T3 (triiodothyronine) and T4 (thyroxine) by the thyroid gland. When dietary iodine intake is sufficient, the presence of adequate circulating T4 and T3 feeds back at the level of both the hypothalamus and pituitary, decreasing TRH and TSH production. When circulating T4 levels decrease, the pituitary increases its secretion of TSH, resulting in increased iodine trapping as well as increased production and release of both T3 and T4. Dietary iodine deficiency results in inadequate production of T4. In response to decreased blood levels of T4, the pituitary gland increases its output of TSH. Persistently elevated TSH levels may lead to hypertrophy of the thyroid gland, also known as goiter.
    Respons terhadap defisiensi Iodium
  • 107. T4 dan T3
    • Afinitas albumin terhadaphormontiroidrendahtetapikadarnyadalam plasma tinggi (~3.5 g/dL), danmengikatsampai 10% T4dan 30% T3.
    • 108. TTR mengikat 10% T4tetapisedikit T3.
    • 109. Karena T3kurangmengikat protein daripada T4, fraksi T3 bebaslebihbesardaripada T4 bebas, tetapidisirkulasikadar T3lebihrendahkarenadiproduksidalamjumlahsedikitdandibersihkanlebihcepatdaripada T4.
  • T4 dan T3
    • T4 disekresi dari kelenjar tiroid sekitar 20 kali lebih banyak daripada T3 . Kedua hormon terikat pada protein plasma, yaitu thyroxine-binding globulin (TBG), transthyretin (TTR), dulu dikenal sebagai thyroxine-binding prealbumin / TBPA)dan albumin.
    • 110. Kadar TBG relatif rendah(1–2 mg/dL), tetapi karena afinitasnya terhadap hormon tiroid tinggi (T4 > T3), TBG mengikat 80% hormon.
  • Pengaruh obat thd sekresi & produksi hormon tiroid
    Obat-obatan dapat berpengaruh terhadap fungsi tiroid melalui metabolisme, produksi dan pelepasan hormon tiroid dan sekresi TSH
  • 111. Reference range
  • 112. 62