• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Kedamaian
 

Kedamaian

on

  • 19,212 views

 

Statistics

Views

Total Views
19,212
Views on SlideShare
19,207
Embed Views
5

Actions

Likes
9
Downloads
1,089
Comments
3

1 Embed 5

http://opencms-auth.soma.salesforce.com 5

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

13 of 3 previous next Post a comment

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Kedamaian Kedamaian Document Transcript

    • 2 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Sanksi Pelanggaran Pasal 72 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. 1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). 2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
    • 3 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Catatan dan Pembicaraan Sepanjang Penziarahan Hidup Seeking Peace Notes and Conversations along the Way Johann Christoph Arnold Kata Pengantar oleh Madeleine L’Engle Pendahuluan oleh Thich Nat Hanh Penerbit DIOMA – Malang
    • 4 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Seeking Peace Notes and Conversations along the Way DM 220048 Copyright terjemahan Indonesia ada pada Penerbit Dioma © 2008 PENERBIT DIOMA (Anggota IKAPI) Jl. Bromo 24 Malang 65112 Telp. (0341) 326370, 366228; Fax. (0341) 361895 E-mail: info@diomamedia.com Website: www.diomamedia.com Diterjemahkan dari buku ‘SEEKING PEACE NOTES AND CONVERSATIONS ALONG THE WAY’, by The Plough Publishing House of the Bruderhof Foundation, 1998 All rights reserved Published under agreement with The Plough Publishing House, Woodcrest Community, Rifton NY 12471, USA Darvell Community, Robertsbridge TN32 5DR, UK © 1998 by The Plough Publishing House of the Bruderhof Foundation Cetakan pertama, Januari 2009 Penerjemah: Bambang Kussriyanto Editor: L. Heru Susanto Pr Tata letak: Yosef Benny Widyokarsono Desain sampul: Ginanjar Pratama ISBN 10 : 979 - 26 - 0024 - 8 ISBN 13 : 978 - 979 - 26 - 0024 - 7 Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apa pun, termasuk fotokopi, tanpa izin tertulis dari Penerbit. Dicetak oleh Percetakan DIOMA Malang Isi di luar tanggung jawab Percetakan
    • 5 P ikirkanlah sejenak makna kata “damai”. Tidakkah kelihatan aneh ketika para malaikat menggemakan damai, sementara dunia terus-menerus dilanda Perang dan ketakutan akan Perang? Tidakkah Anda menganggap suara-suara malaikat itu keliru, dan bahwa janji itu mengecewakan dan palsu? Ingatlah sekarang, bagaimana Tuhan kita sendiri bicara tentang damai. “Damai Kutinggalkan padamu, damai-Ku Kuberikan padamu,”1 kata-Nya kepada para murid-Nya. Apakah Tuhan memaknai damai itu seperti yang dipahami para murid-Nya. Apakah Tuhan memahami damai itu seperti yang kita pikirkan: Kerajaan Inggris berdamai dengan negara-negara tetangga, para buron penguasa daerah berdamai dengan Raja, kepala rumah tangga menghitung penghasilannya dengan tenteram, hatinya tenang, menyajikan anggur terbaik di meja kepada seorang sahabat, istrinya menyanyi untuk anak-anak? Para murid-Nya tidak mengenal keadaan seperti itu: mereka melakukan perjalanan sampai jauh, menderita di darat dan di laut, disiksa, dipenjarakan, dikecewakan, mengalami kematian sebagai martir. Lalu apa maksud Tuhan? Jika Anda bertanya demikian, ingatlah bahwa Dia juga berkata, “bukan seperti yang diberikan dunia ini, yang Kuberikan kepadamu.” Dengan demikian, Tuhan memberikan kepada para umat-Nya damai, tetapi bukan damai yang diberikan dunia. T.S Eliot Cuplikan dari: Pembunuhan di Katedral 1 Yoh.14:27
    • 7 Ucapan Terimakasih B elasan orang membantu sampai buku ini selesai dicetak, tetapi aku ingin menyampaikan terimakasih khususnya kepada editorku Chris Zimmerman; sekretarisku: Emmy Maria Blough, Hanna Rimes dan Ellen Keiderling, dan seluruh staf dari Plough Publishing House. Terima kasih juga kepada mereka yang telah memberi izin kepadaku menggunakan anekdot dan surat-surat, dan mereka yang membantuku dengan berbagai cara mengerjakan buku ini: Mumia Abu- Jamal, Imam Muhammed Salem Agwa, Dale Aukerman, Daniel Berrigan, Philip Berrigan, Rabbi Kenneth L.Cohen, Tom
    • 8 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Cornell, Pastor Benedict Groeschel, Thick Nath Hanh, Molley Kelly, Frances Kieffer, Suster Ann La Forest, Madeleine L ’Engle, Pendeta William Marvin, Elizabeth Mc Alister, Bill Peke. Uskup Samuel Ruiz Garcia, dan Assata Shakur – juga banyak anggota komunitasku, Bruderhof. Atas segalanya, terima kasih pada istriku - Verena. Tanpa dukungan dan semangat darinya, buku ini tak akan pernah bisa kutulis.
    • 9 Daftar Isi Ucapan Terimakasih .............................................. 7 Kata Pengantar .................................................... 13 Pendahuluan ......................................................... 17 Bagian I Mengupayakan Damai .......................................... 21 Bagian II Berbagai Makna ................................................... 27
    • 10 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Damai Karena Tak Ada Perang .................................. 30 Damai Dalam Kitab Suci ............................................ 33 Damai Sebagai Tujuan Sosial ...................................... 36 Damai Dalam Hidup Perorangan ................................ 39 Damai Tuhan ............................................................. 45 Damai yang Mengatasi Pemahaman ............................ 48 Bagian III Berbagai Paradoks ................................................. 51 Bukan Damai Tapi Pedang .......................................... 53 Kekerasan Kasih ........................................................ 60 Tak Ada Hidup Tanpa Kematian ................................. 66 Kebijaksanaan Orang Bodoh ....................................... 75 Kekuatan dari Kelemahan .......................................... 82 Bagian IV Berbagai Batu Pijakan .......................................... 91 Kesederhanaan .......................................................... 101 Kesunyian ................................................................. 107 Kepasrahan ................................................................ 115 Doa ........................................................................... 127 Percaya ...................................................................... 138 Pengampunan ............................................................ 149 Bersyukur .................................................................. 157 Ketulusan .................................................................. 166 Kerendahan Hati ....................................................... 175 Ketaatan .................................................................... 187 Keputusan ................................................................. 196 Penyesalan ................................................................. 205 Keyakinan ................................................................. 216 Realisme .................................................................... 226 Pelayanan .................................................................. 235
    • Daftar Isi 11 Bagian V Hidup yang Berkelimpahan ................................... 245 Jaminan Keselamatan ................................................. 256 Kepenuhan ................................................................ 265 Kegembiraan .............................................................. 275 Tindakan ................................................................... 285 Keadilan .................................................................... 294 Harapan .................................................................... 304
    • 13 Kata Pengantar Oleh: Madeleine L’Engle2 S halom. Damai. Suatu damai yang tidak pasif, tetapi aktif. Suatu damai yang bukan hanya karena berhentinya kekerasan, tetapi meliputi dan lebih dari mengatasi kekerasan. Damai sejati. 2 Madeleine L’Engle adalah seorang penulis novel dan buku rohani Amerika. Mendapat banyak gelar doktor kehormatan dari berbagai universitas, khususnya di bidang sastra dan yang terakhir doktor dalam teologi dari Berkeley Divinity School. Di masa tuanya ia mengisi waktu sebagai pustakawan pada Katedral (Gereja Episcopal) Santo Yohanes Suci di Manhattan. Lahir pada 1918 di New York City dan meninggal pada 6 September 2007 di Connecticut pada usia 88 tahun.
    • 14 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Pada akhir suatu abad yang kita ketahui jauh dari damai, menyenangkan sekali membaca buku yang bagus dari Johann Christoph Arnold: Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Ia mengutip definisi kakeknya tentang damai: “damai rohani antara kita dengan Allah; tidak ada kekerasan sepenuhnya, melalui hubungan damai dengan sesama dan berlakunya tatanan sosial yang adil dan damai.” Namun setiap pagi jika aku mendengarkan berita, sepertinya kita makin jauh dan lebih jauh lagi dari ketiga ambang damai itu. Kita memerlukan buku ini untuk membimbing jalan kita menuju Shalom. Pada suatu sore di masa Puasa sepuluh tahun yang lalu, di Gereja Katedral Santo Yohanes Suci di Manhattan, aku mendengarkan Pastor Canon Edward West bicara tentang damai yang kita cari. Ia menggunakan perumpamaan yang tidak lazim tentang kereta bawah tanah. Kebanyakan dari kami yang hadir pada malam hari itu menumpang kereta bawah tanah untuk pergi ke Katedral dan untuk pergi dan pulang kerja. Ia menunjukkan kepada kami, jika kita lihat sesama penumpang kereta bawah tanah, kebanyakan dari mereka tampak seolah-olah tak dicintai seorang pun. Dan itu pada umumnya benar. Kemudian pastor melanjutkan, jika kita mau berkonsentrasi tanpa menyolok mata kepada seseorang di antara mereka, dan diam- diam kita menyatakan dengan yakin dalam hati bahwa dia itu anak yang dikasihi Allah, dan entah bagaimana keadaan di sekitarnya, dapat tinggal dalam damai Allah, mungkin kita akan melihat perbedaannya. Damai tidak selalu merupakan sesuatu yang Anda “buat”; damai adalah anugerah yang Anda sampaikan pada seseorang. Di kesempatan lain ketika aku menumpang kereta bawah tanah lagi, aku melirik seorang wanita di pojok yang bertopang dagu dengan tangan terkepal, wajahnya
    • Kata Pengantar 15 menunjukkan ketegangan tanpa harapan. Tanpa melihat dia, aku mulai mencoba mengirimkan damai kasih Allah kepadanya. Aku tidak bergerak. Aku tidak memandang dia. Aku hanya mengikuti saran Pastor Canon West, dan aku heran karena wanita itu tampak berubah lebih santai. Kepalan tangannya dibuka; tubuhnya lebih lentur; garis-garis kecemasan hilang dari wajahnya. Saat itu adalah saat yang penuh syukur bagiku, dan aku sendiri merasa diliputi dan dipenuhi oleh kedamaian juga. Itulah yang kucoba kuingat bila aku menumpang kereta bawah tanah atau naik bus, atau berjalan di jalanan yang padat, atau berdiri antre di depan kasir supermarket. Jika damai Tuhan ada di hati kita, dan kita membawanya serta, kita dapat memberikannya kepada mereka yang ada di sekitar kita. Bukan karena keutamaan dan kemauan kita. Melainkan oleh Roh Kudus yang bekerja melalui kita. Kita tidak memberikan apa yang kita tak punya, tetapi jika Roh bertiup menembus awan kelabu, dan masuk ke hati kita, maka kita pun dapat dijadikan-Nya wahana damai, dan dengan demikian damai di hati kita juga bertambah. Makin banyak damai yang kita sebarkan, makin banyak pula damai yang kita peroleh. Dalam buku Kedamaian, di Manakah Kau Berada? ini Christoph Arnold menceritakan banyak kisah seperti itu, baik sebagai selingan maupun penjelasan tentang damai yang diamanatkan agar kita upayakan. Buku ini penting dan indah, suatu buku yang sungguh perlu untuk membantu kita membawa damai Tuhan di pengujung milenium baru ini. Goshen, Connecticut Musim Panas 1998
    • 16 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?
    • KATA PENGANTAR 17 Pendahuluan Oleh: Thich Nhat Hanh3 D alam Khotbah di Bukit, Yesus berkata : “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”4 Untuk mengupayakan damai, Anda sendiri harus punya hati yang damai. Dan jika Anda punya kedamaian itu, Anda anak Allah. Sayangnya banyak orang yang mengupayakan damai justru tidak damai hatinya. 3 Thich Nhat Hanh adalah seorang bhiksu Zen Buddhisme, lahir di Vietnam 1926. Menjadi promotor Damai di berbagai forum. Pada tahun 1967 dicalonkan untuk menerima Hadiah Nobel untuk Perdamaian. Mengajar ilmu perbandingan agama. Tinggal di Dordogne, Perancis, dalam Biara Village des Pruniers (Plum Village). 4 Mat 5:9
    • 18 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Mereka malahan marah dan frustrasi, sehingga apa yang dikerjakannya tidak sungguh-sungguh menghasilkan damai. Kita tak dapat merasakan bahwa mereka itu telah menyentuh Kerajaan Allah. Untuk memelihara damai, hati kita sendiri harus berdamai dengan dunia. Dengan saudara- saudara kita. Kebenaran inilah yang merupakan inti dari buku Christoph Arnold yang kita sambut ini, Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Kita sering memikirkan damai sebagai keadaan di mana tak ada perang; sehingga jika negara-negara yang kuat mengurangi persenjataan mereka, kita mungkin akan mendapatkan damai. Tetapi jika kita merenung lebih dalam tentang senjata-senjata itu, kita melihat dalam batin kita ada prasangka, ketakutan dan sikap acuh tak acuh. Sekalipun kita pindahkan semua senjata dan bom itu ke bulan, akar peperangan dan sebab-sebab adanya bom itu masih tetap ada di sini, dalam hati dan batin kita, yang membuat kita cepat atau lambat akan membuat senjata dan bom yang baru. Yesus berkata, “Ada tertulis, “Jangan membunuh, siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum ... siapa yang berkata, ‘Jahil!’ harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.”5 Mengupayakan Damai berarti lebih dari sekadar meniadakan senjata. Awalnya haruslah mencabuti akar perang yang ada dari antara kita dan dari hati semua orang lelaki dan perempuan. Bagaimana kita mengakhiri lingkaran kekerasan? Arnold menyatakan bahwa sebelum kita berdamai dengan orang lain dan dengan dunia, kita harus berdamai dengan diri kita sendiri. Itu sungguh benar. Jika kita sendiri berperang melawan orang tua kita, melawan keluarga kita 5 Mat 5:21-22
    • Pendahuluan 19 atau Gereja kita maka boleh jadi suatu perang sedang berlangsung dalam diri kita juga. Dengan demikian langkah dasar yang harus dilakukan dalam mengupayakan damai adalah kembali pada diri kita sendiri dan menciptakan keselarasan di antara unsur-unsur yang ada dalam diri kita: perasaan kita, persepsi kita, keadaan mental kita. Sambil membaca buku ini, usahakanlah mengenali unsur-unsur yang saling bertentangan dalam diri Anda dan apa yang menjadi penyebabnya. Usahakanlah agar Anda lebih menyadari apa yang menyebabkan kemarahan dan perpisahan, dan apa yang bisa mengatasi hal itu. Cabutlah akar kekerasan dalam kehidupan Anda dan belajarlah hidup dengan memerhatikan orang lain dan berbelas kasih. Upayakan damai. Jika Anda punya damai di hati Anda, maka damai dengan orang lain pun jadi niscaya. Village des Pruniers, Perancis Musim Semi 1998
    • 20 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?
    • 21 Bagian I Mengupayakan Damai “Harapan adalah yang tersisa bagi kita di masa yang sulit.” (Pepatah Irlandia)
    • 22 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Mengupayakan Damai K ita hidup dalam suatu dunia yang tidak damai; walaupun ada pembicaraan terus-menerus tentang damai, nyatanya hanya sedikit saja damai yang ada. Begitu sedikitnya damai yang sesungguhnya, sehingga ketika aku memberitahu seorang sahabat dekat tentang buku ini, ia menyatakan bahwa menulis tentang damai tidak hanya sesuatu yang naif, tetapi juga sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan. Tak seorang pun menyangkal adanya kekerasan yang memengaruhi hidup orang di seluruh dunia, mulai dari tempat-tempat yang bergejolak seperti Chiapas, Irlandia Utara, Timor Timur, Irak dan Tepi Barat, sampai ke jalanan di kota-kota kita. Juga dalam kehidupan pribadi, sekalipun di tempat-tempat yang paling damai di luar kota, setiap hari situasi tidak-damai terwujud – dalam kekerasan rumah tangga, dalam berbagai bentuk kecanduan yang tidak sehat, dalam ketegangan yang merusak memecahkan teman usaha, sekolah dan gereja-gereja. Kekerasan juga tersembunyi di balik wajah masyarakat yang kita anggap telah mendapat pencerahan. Ada di balik kerakusan, penipuan dan ketidak-adilan yang menggerakan lembaga-lembaga keuangan besar dan lembaga-lembaga budaya kita. Ada di balik prasangka- prasangka yang mengikis perkawinan Kristiani yang terbaik sekalipun. Ada pada sikap munafik yang menggerogoti kehidupan rohani dan menodai ungkapan pelaksanaan agama yang paling saleh sekalipun hingga menjadi tidak kredibel lagi.
    • Mengupayakan Damai 23 Melihat secara manusiawi segala hal itu, rasanya sia- sia menulis sebuah buku tentang damai. Tetapi kita juga mendengar jeritan kerinduan akan damai tertuju ke surga. Suatu jeritan kerinduan dari relung hati yang paling dalam. Sebutlah dengan nama lain sesuka Anda, apakah keselarasan, ketenteraman, kesatuan, ketenangan jiwa, kerinduan akan semua itu ada pada setiap orang. Tak ada yang suka mendapat masalah, sakit kepala dan sakit hati. Setiap orang menginginkan damai, bebas dari kecemasan dan keraguan, kekerasan dan perpecahan. Setiap orang menghendaki ketenangan dan keamanan. Sementara orang dan organisasinya (misalnya International Fellowship of Reconciliation) memusatkan perhatian pada perdamaian global. Tujuannya adalah mencapai kerjasama politik dalam skala internasional. Yang lain (misalnya Greenpeace) mengusahakan peningkatan keselarasan antara manusia dan makhluk hidup lainnya, dan kesadaran akan adanya hubungan timbal balik dengan lingkungan. Yang lain mencari damai dengan mengubah gaya hidup: dengan pindah kerja, pindah tempat tinggal dari kota ke pinggiran kota (dan dari pinggiran kota ke pedalaman), mengurangi anggaran belanja, melakukan penyederhanaan, atau apa pun untuk meningkatkan mutu kehidupan mereka. Ada anak muda yang setelah tinggal di luar negeri kembali pada komunitasku, sesudah meluncur liar dengan pergerakan uang yang begitu cepat dan hubungan-hubungan zinah, ia rindu sekali untuk dapat bangun pagi hari dan berdamai dengan diri sendiri dan dengan Tuhan. Yang lain masih bertahan pada kehidupan mereka sekarang: senang dan kecukupan, sehingga mereka bilang tak memerlukan apa-apa lagi, tapi kukira di balik apa yang tampak itu mereka tak punya damai sejati.
    • 24 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Ketika mengerjakan buku ini aku melihat iklan dengan foto seorang wanita di atas kapal. Ia meringkuk di sebuah kursi, memandang jauh ke seberang telaga pada matahari yang sedang tenggelam. Tertulis di situ: “Suatu impian tentang pekerjaan, anak-anak yang baik. Perkawinan yang bahagia. Dan perasaan kosong sama-sekali yang sedang mengancam.” Ada berapa banyak orang yang berbagi dengan ketakutan yang tak terungkapkan dari wanita itu? Pada tingkatan tertentu kita semua mengusahakan hidup sesuai dengan kehendak Sang Pencipta. Suatu kehidupan yang selaras, gembira, adil dan damai. Masing- masing dari kita memimpikan kehidupan tanpa sakit dan penderitaan, yang dikeluhkan orang setelah hilangnya Taman Eden (menurut Kitab Suci). Kerinduan akan tempat dan waktu seperti itu ada sejak dulu dan selalu di mana saja. Beberapa ribu tahun yang lalu, Nabi Yesaya mengimpikan kerajaan damai di mana singa berbaring dengan anak domba.6 Dan setelah berabad-abad kemudian, bagaimana gelapnya cakrawala, dan betapapun sengitnya peperangan, lelaki dan perempuan menaruh harapan kepada visi Nabi itu. Ketika aktivis antiperang Phillip Beriggan7 belum lama berselang diadili dan dijatuhi hukuman karena keterlibatannya dalam pembangkangan sipil di suatu 6 Yes 11:6-9 7 Phillip Berrigan adalah seorang aktivis antiperang kelahiran Two Harbors, Minnesota, 1923. Ia ditahbiskan menjadi pastor Katolik pada 1955 dan setelah 18 tahun berkarya ia meninggalkan imamat pada 1973. Dalam banyak aksinya menentang perang Phil terkesan anarkis. Pada tahun 1999 ia ditahan dan dijatuhi hukuman penjara 30 bulan. Ia dilepaskan dari penjara pada Desember 2001. Selama hidupnya ia dipenjara 11 tahun karena aksi-aksinya. Pada 6 Desember 2002 ia meninggal pada usia 79 tahun meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak.
    • Mengupayakan Damai 25 galangan kapal di Maine, banyak orang tidak menyukai tindakannya. Phillip menyatakan bahwa berdasarkan norma apa pun mereka “membentuk suatu panggung absurd.” Tetapi ia menambahkan bahwa ia lebih suka di penjara karena keyakinannya daripada mati “di pantai seperti itu”. Berapa banyak dari kita yang bisa berkata begitu? Phillip berumur tujuh puluh tahun waktu itu, tetapi ia terus saja melakukan kampanye tak jemu-jemu melawan industri senjata nuklir dengan kekuatan yang tak sesuai dengan usianya. Komunitasku, Bruderhof, juga sering dituduh tidak realistis. Yah. Kami memang meninggalkan lorong kehidupan yang cocok bagi kebahagiaan kelas-menengah. Kami meninggalkan rumah dan kekayaan, karier, rekening bank, reksa-dana bersama dan masa pensiun yang nyaman. Sebaliknya kami berusaha hidup bersama menurut contoh umat Kristiani Perdana. Kami memperjuangkan kehidupan melalui pengorbanan dan disiplin dan saling melayani. Cara ini bukanlah suatu damai yang diberikan dunia. Apa itu damai, dan apa itu realitas? Untuk apa kami hidup dan apa yang hendak kami wariskan kepada anak- anak dan cucu-cucu kami? Walaupun mungkin kita bahagia, apa yang kita punya sesudah perkawinan dan anak-anak. Sesudah punya mobil dan pekerjaan? Haruskah yang kita wariskan adalah realitas dunia yang berisik oleh senjata, dunia kebencian antar-kelas sosial dan keluhan keluarga, dunia di mana tak ada cinta dan orang menusuk dari belakang, ambisi egois dan penghinaan? Atau adakah realitas yang lebih besar, di mana semua itu diatasi oleh kuasa Sang Pangeran Perdamaian? Dalam halaman-halaman berikut kuusahakan untuk tidak menguraikan pokok-pokok masalah ini, juga tidak menyajikan argumentasi yang kokoh. Buku pedoman
    • 26 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? rohani “Bagaimana Caranya” dapat diperoleh di toko-toko buku, namun pengalaman hidup damai tidaklah serapi itu. Seringkali hidup ini acak-cakan tidak karuan. Bagaimanapun setiap pembaca akan mendapatkan tempat yang cocok bagi dia, berbeda-beda dalam pencariannya. Aku juga akan berusaha menghindari jangan hanya tinggal pada akar situasi tidak-damai. Orang dapat memusatkan seluruh buku untuk membahas pokok persoalan, tetapi hal itu dapat membuat pembaca terlalu tertekan. Tujuanku sangat sederhana saja, yaitu menyajikan batu loncatan di sepanjang jalan dan harapan secukupnya agar Anda selalu Mengupayakan Damai.
    • 27 Bagian II Berbagai Makna “Hanya jika Anda telah berdamai dengan diri Anda sendiri barulah Anda dapat menciptakan damai di dunia.” (Rabbi Sincha Bunim)
    • 28 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Berbagai Makna M ulai dari kartu-kartu ucapan sampai sisipan pembatas buku, dari papan reklame sampai handuk lap piring, kebudayaan kita berlimpah dengan bahasa damai. Kata-kata seperti “damai dan kehendak baik” tampaknya sangat luas penggunaannya, sehingga begitu disusutkan menjadi slogan klise. Di dalam surat- menyurat, banyak di antara kita memberikan sebagai penutup surat pribadi dengan kata “Peace” atau “Damai”. Pada tataran lain, banyak pemerintahan Negara dan media massa berbicara tentang batalion “penjaga perdamaian” bersenjata berat ditempatkan di wilayah- wilayah yang porak-poranda oleh perang di seluruh dunia. Di dalam gereja-gereja, para pastor dan pendeta menutup ibadat dengan “Pergilah dalam damai,” dan walaupun kata-kata itu dimaksudkan sebagai bagian dari berkat, tetapi lebih sering dipahami sebagai isyarat untuk bubar dan sampai ketemu dalam ibadat hari Minggu berikutnya. Muhammad Salem Agwa, Imam utama (Mubaliqh, guru Islam) di New York City menunjukkan bahwa para Muslim yang baik menyapa satu sama lain waktu berjumpa dengan kata-kata Assalamu’alaikum. Namun katanya, juga di antara mereka salam damai itu seringkali jatuh menjadi kelaziman basa-basi yang disampaikan hanya dengan sedikit kesadaran akan tanggungjawab bersama yang terkandung di dalamnya: Saya menggunakan Assalamualaikum sebagai sapaan sehari-hari, tetapi artinya bukan sekadar “Selamat Pagi” atau “Selamat Sore”. Sapaan itu berarti “Damai dan berkat dari Allah atas dirimu.” Ketika saya
    • Berbagai Makna 29 mengucapkannya, saya merasa damai dengan diri saya sendiri, dan antara saya dan Anda. Saya mengulurkan tangan untuk membantu Anda. Saya datang kepada Anda untuk menyampaikan damai kepada Anda. Dan sementara itu, sampai kita bertemu lagi, itu berarti bahwa saya berdoa agar Allah memberkati Anda dan mengasihani Anda dan mempererat hubungan saya dengan Anda sebagai saudara. Dunia niscaya akan berbeda keadaannya seandainya kita sungguh-sungguh berdamai dengan siapapun yang kita sapa sepanjang hari, jika kata-kata kita lebih dari basa-basi kesopanan belaka dan sungguh-sungguh timbul dari dalam hati kita. Dalam kenyataannya, seperti yang tak henti-hentinya ditunjukkan oleh orang-orang yang tak ber-Tuhan, beberapa konflik yang begitu banyak menumpahkan darah sepanjang sejarah umat manusia adalah karena kita tak berhenti bertengkar mengenai perbedaan agama. Tak heran para Nabi zaman dulu berkata, “Mereka mengobati luka umatku dengan berkata, ‘Damai, damai’ padahal tak ada damai.”8 8 Yer 6:14; 8:11
    • 30 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Damai Karena Tak Ada Perang B agi banyak orang damai berarti secara nasional keadaan aman, stabil, tertib dan teratur. Berhubungan dengan pendidikan, kebudayaan dan kewajiban kewarganegaraan, kemakmuran dan kesehatan nyaman dan tenang. Damai adalah kehidupan yang sentosa. Tapi dapatkah damai didasarkan pada hal-hal yang didistribusikan kepada semua orang? Jika kehidupan yang sentosa berarti ada pilihan yang tak terbatas dan konsumsi berlebihan pada sedikit orang yang punya privilege (hak-hak khusus) saja, dan selanjutnya itu pasti berarti kerja keras dan kemiskinan yang meruyak bagi jutaan orang yang lain. Inikah damai? Di penghujung awal Perang Dunia Kedua, kakekku, Eberhard Arnold9, menulis: Cukupkah sikap yang membela ketenangan? Kukira tidak memadai. Bila ribuan orang dibunuh secara tidak adil, tanpa proses pengadilan di bawah pemerintahan baru Hitler, bukankah itu sudah berarti perang? Jika ratusan ribu orang dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi, direnggut kemerdekaannya, dicopot martabat kemanusiaannya, bukankah itu perang? 9 Eberhard Arnold adalah pendiri Komunitas Bruderhof berdasarkan Khotbah di Bukit. Penulis, filsuf, teolog Kristiani. Lahir di Prusia pada 1888. Meninggal 1935. Komunitasnya dilanjutkan oleh putranya, dan kemudian oleh cucunya, yang adalah penulis buku ini.
    • Berbagai Makna 31 Jika jutaan rakyat Asia mati kelaparan, sedang di Amerika Utara dan di tempat lain ada jutaan ton gandum ditumpuk, bukankah itu perang? Jika ribuan perempuan melacurkan tubuhnya dan menghancurkan kehidupan mereka demi uang; jika jutaan bayi digugurkan setiap tahun, bukankah itu perang? Jika orang dipaksa bekerja sebagai budak karena mereka tak dapat memberikan susu dan roti kepada anak-anak mereka, bukankah itu perang? Jika orang-orang kaya hidup di dalam villa-villa yang dikelilingi kebun-kebun, sedang di kawasan lain keluarga-keluarga hanya punya satu kamar untuk tinggal bersama, bukankah itu perang? Jika orang menyimpan uang dalam jumlah besar dalam rekening bank sementara yang lain tidak cukup mendapat uang untuk kebutuhan dasar mereka, bukankah itu perang? Jika pengemudi yang ceroboh menyebabkan ribuan orang mati oleh kecelakaan di jalan setiap tahun, bukankah itu perang? Aku tak dapat mewakili suatu aliran yang suka ketenteraman yang mengatakan bahwa tak ada perang lagi. Pernyataan itu tidak benar; perang sudah ada hari- hari ini.... Aku tidak setuju dengan sikap suka ketenteraman yang wakil-wakilnya justru berpegang pada akar-akar penyebab perang : para tuan tanah dan kapitalis. Aku tidak percaya kepada sikap pembela ketenangan yang ditunjukkan oleh para pengusaha yang justru menghabisi pesaingnya sampai bangkrut atau para suami yang tidak dapat hidup dalam damai dan dalam kasih justru dengan istrinya sendiri.... Aku lebih suka sama sekali tidak menggunakan istilah “pacifism” (penyuka ketenangan). Tetapi aku mau memajukan perdamaian. Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang membawa damai!” Jika aku memang
    • 32 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? menghendaki perdamaian, aku harus mewakili damai di semua bidang kehidupan. Di dalam khazanah politik, damai mungkin mengambil bentuk perjanjian dagang, kompromi dan perjanjian damai. Perjanjian semacam ini biasanya sedikit lebih dari perimbangan kekuatan yang rapuh, yang dirundingkan dengan tegang dan acapkali malah menanamkan benih-benih konflik baru yang lebih buruk daripada konflik-konflik yang sedang diusahakan untuk dipecahkan. Ada banyak contohnya, mulai dari Perjanjian Versailles yang mengakhiri Perang Dunia Pertama tetapi menghasilkan nasionalisme yang menyulut Perang Dunia Kedua, hingga Konferensi Yalta, yang mengakhiri Perang Dunia Kedua tetapi menyebabkan ketegangan yang mengarah pada Perang Dingin. Gencatan senjata bukanlah suatu jaminan yang mengakhiri kebencian. Semua orang setuju bahwa damai merupakan jawaban atas perang, tapi damai macam apa? Rabbi Kenneth L. Cohen menulis: Kegelapan terjadi karena tak ada cahaya, tetapi damai bukan sekadar karena permusuhan berhenti. Perjanjian mungkin ditandatangani, para duta besar berganti, dan tentara dipulangkan ke barak-barak kembali, namun tetap saja tak ada damai. Damai mempunyai implikasi metafisik dan kosmis. Damai lebih dari sekadar tak ada perang. Sesungguhnya, damai bukan berarti sesuatu tidak ada, tetapi lebih merupakan penegasan mutlak dari sesuatu yang seharusnya ada.
    • Berbagai Makna 33 Damai Dalam Kitab Suci S alah satu cara mempelajari makna damai adalah dengan melihat apa yang dikatakan Kitab Suci. Di dalam Perjanjian Lama mungkin tidak ada konsep yang lebih kaya daripada kata Ibrani untuk damai: Shalom. Shalom sulit diterjemahkan karena cakupan konotasinya begitu dalam dan luas. Maknanya tidak tunggal, walaupun orang dapat menerjemahkannya sebagai sesuatu yang lengkap, mendalam dan menyeluruh. Jangkauannya lebih jauh dari “damai” seperti yang umumnya kita ketahui dalam bahasa kita. Shalom memang berarti berakhirnya perang atau konflik, tetapi juga berarti persahabatan, senang, aman dan sehat; kemakmuran, kelimpahan, ketenangan, keselarasan dengan alam, bahkan keselamatan. Dan semuanya itu untuk semua orang, bukan hanya untuk sekelompok orang pilihan saja. Shalom akhirnya adalah berkat, karunia dari Allah. Damai bukan berasal dari usaha manusia. Shalom berlaku untuk orang perorangan, tetapi juga berlaku untuk hubungan-hubungan di antara orang-orang, bangsa-bangsa, dan antara Tuhan dan manusia. Selain itu, Shalom sangat erat kaitannya dengan keadilan, karena Shalom adalah kesukaan atau perayaan dari hubungan manusia yang dibenarkan. Dalam buku He Is Our Peace, Howard Goeringer melukiskan makna yang lebih dalam dari Shalom: Kasih kepada musuh.
    • 34 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Pada tahun 600 SM tentara Babilon menyerang Yudea dan membawa tawanan dari Yerusalem ke tempat pengasingan/pembuangan. Situasinya begitu sulit sehingga Yeremia menuliskan suratnya yang hebat ini kepada para tawanan di Babilon yang membenci musuh mereka: “Carilah shalom di kota di mana Aku mengirim kamu dalam pembuangan, dan berdoalah kepada Allah demi mereka, sebab dalam Shalom mereka kamu akan mendapatkan shalommu.”10 Dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia :”Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejehteraannya adalah kesejahteraanmu.” Para tawanan dipaksa hidup sebagai orang buangan dan mereka memerhatikan kebudayaan Yahudi mereka runtuh. Karena membenci orang yang menawan mereka, rindu kembali ke tanah air mereka, dan kecewa pada kegagalan Tuhan dalam melindungi mereka, orang-orang itu tidak percaya pada perkataan Yeremia. Bagaimana mungkin orang gila suruhan Tuhan itu menyuruh mereka mengasihi orang yang menawan mereka, menyuruh mereka berbuat baik kepada musuh, dan menyuruh mereka memintakan agar Tuhan memberkati para penganiaya itu dengan shalom? Seperti dugaan kita, Surat Yeremia itu tidak populer, bukan best seller. Kaum buangan yang menderita tidak bisa memahami bagaimana kesejahteraan mereka dan kesejehteraan musuh mereka terjalin menjadi satu tak terpisahkan. Membayangkan bagaimana mereka disuruh melayani bangsa yang menawan mereka dengan semangat kebaikan hati, merawat bangsa lawan yang sakit, 10 Yer 29:7
    • Berbagai Makna 35 mengajari anak-anak bangsa musuh dengan permainan Yahudi, bekerja lembur untuk bangsa asing itu! – itu semua jelas–jelas bodoh! Tidak masuk akal. Bukan hanya di mata kaum cerdik pandai dunia, tetapi juga bagi umat yang paling religius sekalipun. Damai merupakan tema sentral dalam Perjanjian Baru, di mana kata eirene paling sering dipakai. Dalam konteks biblis, eirene jauh melebihi makna klasik kata Yunani itu: “tenteram,” dan meliputi berbagai konotasi dari shalom. Di dalam Perjanjian Baru Yesus Kristus adalah pembawa tanda dan sarana damai dari Allah. Paulus menyatakan Kristus adalah perdamaian kita.11 Di dalam Dia segala sesuatu didamaikan. Dalam Kabar Gembira Kerajaan Allah itulah segalanya dijadikan benar. 11 Ef 4:12
    • 36 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Damai Sebagai Tujuan Sosial D unia penuh dengan para aktivis yang memperjuangkan tujuan-tujuan yang beharga: ada yang membela lingkungan hidup dan yang membela para gelandangan, para aktivis antiperang dan pejuang keadilan sosial, para pembela kaum wanita yang teraniaya dan kaum minoritas yang tertindas. Pada tahun enam puluhan banyak orang dari berbagai kalangan keagamaan turun ke jalan bersama Martin Luther King12. Dalam tahun sembilan puluhan banyak orang berjuang menghapus hukuman mati. Komunitas saya sangat gigih memperjuangkan hal itu, yang dalam arti yang lebih luas lagi, berjuang melawan ketidakadilan dalam sistem peradilan Amerika. Keprihatinan yang kami lontarkan baik di dalam maupun di luar negeri menunjukkan dengan jelas bahwa politik tertib hukum lebih terkait dengan kekerasan dan ketakutan daripada dengan perdamaian. Beberapa pria dan wanita yang kukenal dalam karya ini adalah yang paling dedikatif di antara orang-orang yang pernah kujumpai, dan sedikit pun aku tak meremehkan prestasi mereka. Namun perpecahan yang 12 Martin Luther King Jr adalah seorang pastor Gereja Baptist yang menjadi penjuang gerakan hak-hak sipil Amerika Serikat. Orator ulung. Lahir pada tahun 1929. Pada tahun 1964 menerima Hadiah Nobel Perdamaian (yang termuda dalam sejarah). Pada tahun 1968 mati ditembak orang (belakangan terungkap pembunuhnya sesama pendeta). Kematiannya menimbulkan huru-hara di 60 kota karena para pengagumnya marah. 300.000 orang hadir ketika ia dimakamkan.
    • Berbagai Makna 37 terjadi pada kehidupan orang lain dan pemisahan yang sering kali disebabkan oleh pertengkaran mereka sendiri, tampak jelas menyedihkan. Mengenang kembali tahun enampuluhan, suatu masa di mana banyak orang disebut pecandu damai, timbul beberapa gagasan. Para penggemar kelompok band The Beatles yang dengan rindu menyanyi; “Beri peluang pada damai” berulang-ulang tak dapat diremehkan; aku merasakan mereka itu sungguh-sungguh spiritual. Tidak seperti mayoritas besar anak muda sekarang, pria maupun wanita, banyak kaum muda angkatan enam-puluhan dan tujuh-puluhan menerjemahkan harapan dan impian mereka menjadi tindakan. Mereka mengadakan demonstrasi dan mengorganisir acara-acara rapat umum; membentuk kelompok-kelompok dan melakukan aksi mogok; mereka melakukan aksi duduk dan pendudukan, berbagai protes dan melaksanakan proyek pengabdian masyarakat. Tak seorang pun menuduh mereka itu tak berperasaan. Namun sulit melupakan kemarahan yang mengubah wajah beberapa orang yang paling keras menyerukan damai di tahun-tahun itu, juga perbuatan anarki dan sinisme yang kemudian melanda seluruh wilayah. Apa yang terjadi ketika idealisme luntur, ketika pawai berakhir, ketika Musim Panas Cinta usai? Apa yang terjadi ketika kelompok-kelompok damai dan hubungan- hubungan cinta lalu cerai-berai? Apakah damai hanya menjadi komoditi budaya berupa suatu simbol yang disablon pada T-Shirt atau dicetak menjadi stiker tempelan di bemper mobil? Dalam buku The Long Loneliness Dorothy Day 13, radikal legendaris yang mendirikan Catholic Worker 13 Dorothy Day adalah seorang wartawati Amerika. Seorang Katolik yang saleh. Lahir pada 1897. Ia menjadi Katolik pada 1927 dan
    • 38 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? memberi komentar tentang kaum muda yang merindukan dunia yang lebih baik itu kadang melakukan hal yang sama dengan kaum nihilis (golongan yang yakin bahwa tatanan sosial adalah buruk sehingga perlu dirusakkan tanpa memberi alternatif yang konstruktif) dan egois juga. Kaum muda mengidealkan perubahan, kata Dorothy, tetapi jarang bersedia untuk mengubah diri mereka sendiri. Mengutip Rabbi Cohen lagi: Orang dapat melakukan arak-arakan untuk perdamaian dan memilih perdamaian, dan mungkin punya pengaruh kecil terhadap keprihatinan dunia. Tetapi orang kecil yang sama dapat merupakan raksasa di mata seorang anak di rumah. Jika damai hendak ditumbuhkan, mulainya haruslah dari orang perorangan. Damai dibangun bata demi bata. mendirikan Gerakan Catholic Worker pada 1933. Gerakannya pada dasarnya pro-perdamaian, tetapi kadang-kadang juga anarkis. Dorothy keluar masuk penjara karena aktivitas gerakannya. Anti free-sex pada tahun 1960-an. Ia meninggal pada 1980. Pada tahun 2000 dicalonkan menjadi orang kudus oleh Keuskupan Agung New York. Dorothy oleh banyak orang sudah dianggap orang kudus ketika ia masih hidup.
    • Berbagai Makna 39 Damai Dalam Hidup Perorangan S ylvia Beels bergabung dengan komunitas kami dari London ketika ia gadis muda sebelum Perang Dunia Kedua meletus. Sekarang dalam usia sembilan puluh tahunan ia menceritakan sikap di dalam gerakan perdamaian di masa mudanya dulu – suatu sikap anti pembunuhan tetapi tidak menentang ketidakadilan sosial. Sikap itu mengecewakan dirinya dan membuatnya penasaran dan mencari sesuatu yang lebih lagi. Sebuah film perang yang kulihat ketika umurku sembilan tahunan membuatku ketakutan, dan sejak itu aku tak pernah menganggap perang sebagai sesuatu yang baik, walaupun alasannya mungkin baik. Sesudah aku menikah, suamiku Raymond dan aku bergabung dengan Left Book Club dan membaca semua buku mereka. Kami bertemu secara berkala dengan suatu kelompok teman, membicarakan gagasan-gagasan dalam buku-buku ini. Kami mencari dan mencari lagi untuk mendapatkan jalan dalam labirin gagasan manusia – perang, damai, politik, moral konvensional lawan cinta bebas – tapi kami tidak juga lebih dekat untuk menemukan suatu masyarakat yang adil dan damai. Di kemudian hari, dalam proses persalinan yang sulit dan lama ketika melahirkan anaknya yang pertama, Sylvia menyadari bahwa kehidupan pribadinya diwarnai oleh kesulitan-kesulitan seperti yang dilawannya dalam masyarakat. Kendati kariernya dalam musik menjanjikan, namun perkawinannya goyah dan hatinya dalam kemelut.
    • 40 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Suatu ketika di situlah ia memutuskan, bahwa sebelum ia dapat menyumbangkan sesuatu bagi perdamaian dunia, ia perlu menemukan damai dalam dirinya dan orang lain (tak lama kemudian suami Sylvia meninggal karena penyakit jantung, tetapi mereka dapat berdamai menjelang kematiannya). Maureen Burn, seorang anggota komunitas yang lain, memperoleh kesimpulan yang sama setelah bertahun-tahun menjadi aktivis antiperang, mula-mula di Edinburgh dan kemudian di Birmingham, di mana uang, hubungan sosial dan kepribadian yang ceria membuatnya sangat terkenal dan menjadi pengikut kelompok pacifisme yang efektif: Aku selalu seorang yang idealis dan pemberontak. Walaupun waktu itu aku masih anak-anak, Perang Dunia Pertama menakutkan aku. Kami diberi tahu bahwa Pemimpin (Kaiser) Jerman telah memulai perang, dan ketika umurku sepuluh tahun aku menulis surat kepadanya memohon agar ia menghentikan perang. Aku selalu menentang perang. Suamiku, Matthew, seorang pejabat kesehatan publik yang cukup dikenal, juga seorang pengikut pacifisme. Setelah mengalami tinggal dalam parit perlindungan dalam Perang Dunia Pertama, ia menjadi sangat antimiliter dan pejuang keadilan sosial. Persamaan minat kami dalam mempelajari Revolusi Rusia 1918, karya-karya sastrawan Rusia Leo Tolstoy 14 dan perjuangan Mahatma Gandhi15 dari India menciptakan 14 Leo Tolstoy sastrawan dan filsuf Rusia. Karyanya antara lain Anna Karenina dan War and Peace. Bersama Mahatma Gandhi dan Martin Luther King Jr dianggap paling berpengaruh pada abad ke-20. Lahir pada 1828, meninggal pada 1910. Hidupnya dipengaruhi oleh Sakyamuni Buddha dan Santo Fransiskus Assisi, dan Khotbah di Bukit. Seorang pecinta perdamaian yang antikekerasan. 15 Mohandas K. Gandhi atau Mahatma Gandhi dilahirkan pada 1869 di Porbandar, India, adalah tokoh yang memperjuangkan prinsip
    • Berbagai Makna 41 ikatan di antara kami yang mengantar kami ke dalam perkawinan. Banyak anak muda akan ke pergi ke Moskow pada tahun-tahun itu, dan karena kami tertarik pada cita-cita komunis “dari setiap orang berdasarkan kemampuannya, untuk setiap orang berdasarkan kebutuhannya,” aku ingin juga pindah ke Rusia dengan anak-anakku yang masih kecil.... Hanya kemudian Matthew berkata, “sebuah bom yang dijatuhkan seorang komunis sama jahatnya dengan bom yang dijatuhkan kapitalis,” dan aku mengubah pendirianku. Matthew selalu menghilang pada Hari Angkatan Bersenjata. Aku tidak tahu ke mana ia pergi. Ia berpendapat bahwa parade militer besar-besaran di Cenotaph merupakan penghinaan terhadap prajurit- prajurit tak dikenal yang mati dan dikuburkan, yang tak pernah mendapatkan tanda jasa. Setelah perang ibunda Matthew memberi tahu aku bahwa Matthew suatu ketika pernah berkata bahwa ia tak akan berbuat sesuatu lagi bagi masyarakat yang begitu bobrok, di mana bahkan pemuka agama pun mengkhotbahkan pembunuhan kepada kaum muda…. Dalam Perang Dunia Kedua, selama pengeboman atas Inggris, banyak kota di Inggris mulai melakukan evakuasi anak-anak dan keluarga Burn harus mendapatkan tempat bagi keempat anak mereka, sedang yang bungsu belum genap setahun umurnya. Pekerjaan Matthew sementara itu mengharuskan dirinya tetap tinggal di kota, dan Maureen tidak tahu harus pergi ke mana. Pada hari-hari itu juga Maureen tahu bahwa ia hamil, mengandung anaknya yang ke lima. Dalam keadaan yang tak menentu satyagraha atau perlawanan pada tirani dengan pemogokan, dan ahimsa atau antikekerasan yang mengantarkan India pada kemerdekaan dari penjajahan Inggris pada 1945. Ia meninggal pada tahun 1948 di usia 78 tahun karena ditembak.
    • 42 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? karena perang, dia dan Matthew memutuskan untuk melakukan aborsi. Waktu aku pulang sesudahnya, suamiku menyarankan agar aku pergi ke rumah saudariku Kathleen untuk beristirahat beberapa hari. Kathleen tinggal di Bruderhof.16 Aku menulis padanya apakah aku bisa datang dan tinggal di sana untuk beberapa hari, dan dia menjawab boleh. Aku tidak membayangkan kejutan yang sedang menungguku di sana. Aku membaca beberapa literatur mereka, aku lupa judul bukunya. Di dalamnya dikatakan dengan tegas bahwa aborsi adalah suatu pembunuhan: membunuh kehidupan baru dalam rahim dan di mata Tuhan hal itu tak dapat dibenarkan, sama dengan pembunuhan yang terjadi di medan perang. Sampai saat itu aku adalah seorang yang rasional dan tidak menganggap aborsi begitu mengerikan. Tapi setelah itu hatiku kemelut dan aku merasakan untuk pertama kalinya betapa mengerikan tindakan yang telah kulakukan. Biasanya aku tidak gampang-gampang menangis tetapi pada saat itu yang kulakukan adalah menangis dan terus menangis. Aku sangat menyesal atas apa yang telah kulakukan dan aku berharap seandainya saja waktu bisa diputar berbalik dan aku dapat membatalkan tindakanku itu. Aku hanya seorang tamu dalam komunitas itu, tetapi saudariku mengantarkan diriku pada salah seorang pendeta di situ, dan aku menceritakan semuanya. Ia mengundangku ikut dalam suatu persekutuan, di mana mereka berdoa untuk 16 Bruderhof berarti tempat untuk para saudara. Didirikan pada tahun 1920 oleh Eberhard Arnold di Jerman sebagai suatu komunitas yang menghayati cara hidup orang kristen perdana dan Khotbah di Bukit dari Yesus Kristus (Mat 5-7). Tentang komunitas ini berangsur- angsur diuraikan dalam buku ini.
    • Berbagai Makna 43 diriku. Aku segera tahu bahwa aku memperoleh pengampunan. Suatu mukjizat, suatu karunia. Aku merasa penuh dengan kegembiraan dan damai, dan dapat memulai suatu hidup baru. Tidak ada yang lebih penting atau lebih menyedihkan dari hidup dan hati kita sendiri yang kita tahu tidak-damai. Bagi sebagian dari kita, itu berarti kita masih dikuasai rasa benci atau dendam; bagi yang lain karena pengkhianatan, pengasingan, atau kebingungan; yang lain lagi merasa kosong dan tertekan jiwanya. Dalam makna yang terdalam, semua itu merupakan kekerasan dan karena itu harus dihadapi dan diatasi. Thomas Merton17 menulis: Ada sebentuk kekerasan zaman ini yang begitu luas tersebar, sehingga biarpun para idealis yang berjuang untuk damai dengan metode antikekerasan pun mudah kerasukan aktivisme dan kerja berlebihan. Ketegangan dan tekanan kehidupan modern merupakan suatu wajah, mungkin wajah yang paling umum, dari kekerasan pada diri seseorang. Membiarkan diri terbawa hanyut oleh begitu banyak urusan mendesak yang saling bertabrakan, menyerah pada begitu banyak tuntutan, mengikat diri pada begitu banyak proyek, berhasrat membantu setiap orang dalam segala hal, adalah sama saja dengan menyerah pada kekerasan hidup. Lebih dari itu, orang bahkan bekerja sama dengan kekerasan itu. Aktivis yang sangat sibuk mengebiri karyanya atas nama damai. Kesibukannya yang luar biasalah yang menghancurkan buah dari pekerjaannya, karena 17 Thomas Merton lahir di kalangan jemaat Gereja Inggris pada 1915. Ia menjadi Katolik pada 1938 dan tinggal di Amerika Serikat. Pada tahun 1941 menjadi biarawan trapis dan menulis banyak buku keagamaan yang bersifat mistik. Pada 1949 ia ditahbiskan menjadi imam. Ia cinta perdamaian dan menentang Perang Vietnam. Sejak 1960 memengaruhi banyak aktivis Katolik. Ia meninggal pada 1968.
    • 44 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? kesibukan itu membunuh akar kebijaksanaan batin yang mestinya dapat membuat pekerjaannya berbuah. Banyak orang merasa terpanggil memperjuangkan alasan-alasan damai, tetapi kebanyakan dari mereka lalu terpukul mundur begitu mereka sadar bahwa mereka tak dapat memberikan damai sebelum mereka sendiri memiliki damai dalam diri mereka. Karena tak dapat menemukan keselarasan dalam hidup mereka, dengan segera mereka minggir dari perjuangan itu. Malahan ada beberapa kejadian yang sangat tragis, di mana seseorang yang sangat menderita setelah menyadari ilusi mereka lalu bunuh diri. Penyanyi lagu- lagu rakyat Phil Ochs, seorang aktivis perdamaian pada tahun enam puluhan melakukannya; begitu pula Mitch Snyder, pendiri Pusat Kegiatan Kreatif Non-Kekerasan. Seorang pembela gelandangan yang sangat dihormati di Washington DC.
    • Berbagai Makna 45 Damai Tuhan D amai sejati bukan sekadar tujuan luhur yang dijunjung tinggi dan dikejar dengan sungguh- sungguh. Damai sejati juga tidak begitu saja didapatkan atau dimiliki. Damai membutuhkan perjuangan. Damai ditemui dengan melakukan pertarungan dasar dalam kehidupan: hidup lawan mati, baik lawan buruk, benar lawan salah. Memang, damai itu karunia, tetapi damai juga merupakan hasil dari usaha yang sangat bersungguh-sungguh. Beberapa ayat di dalam Mazmur menyatakan bahwa di dalam proses untuk memperoleh damai itulah maka damai itu ditemukan. Damai semacam itu merupakan hasil dari usaha menghadapi dan mengatasi konflik, bukan menghindari konflik. Karena begitu berakar dalam kebenaran, damai sejati (yaitu damai Allah) mengusik hubungan-hubungan yang penuh kepalsuan, menggoyang sistem- sistem yang tidak benar, dan menelanjangi kebohongan yang dijadikan dasar dari damai yang palsu. Damai sejati mencabuti akar dan benih-benih situasi yang tidak damai. Damai Allah tidak secara otomatis mencakup ketenangan batin, ketiadaan konflik atau taksiran- taksiran damai duniawi lainnya. Seperti kita lihat dari kehidupan Kristus, damai yang sempurna justru ditegakkan dari penolakan-Nya atas dunia dan atas damai yang ditawarkan dunia. Dan damai yang sempurna itu berakar pada kesediaan-Nya untuk mengorbankan diri dengan cara yang paling mengerikan: mati di kayu salib.
    • 46 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Banyak orang yang menyebut diri sebagai orang Kristiani dewasa ini melupakan hal ini, atau menutup mata sepenuhnya pada kenyataan itu. Jika pun kita menghendaki damai, kita memperjuangkan damai yang dasarnya adalah keinginan kita sendiri. Kita menghendaki damai yang gampangan. Tetapi damai tidak terwujud dengan cepat atau gampang jika diharapkan punya daya untuk bertahan lama. Damai itu bukan semata-mata kesejahteraan atau keseimbangan psikologis, suatu perasaan yang hari ini ada dan besok tiada. Damai Tuhan lebih dari suatu tingkat kesadaran. Dorothy Sayers menulis: Aku yakin adalah suatu kesalahan besar mewartakan Kekristenan sebagai sesuatu yang indah dan populer, bahwa tak ada yang diserang di dalamnya.... Kita tak dapat memejamkan mata pada fakta bahwa Yesus yang lemah lembut itu begitu tegas pendirian-Nya dan begitu tajam menyerang dalam kata- kata-Nya sehingga Ia didorong keluar dari tempat ibadat, dilempari batu, dikejar-kejar dari satu tempat ke tempat lain dan akhirnya ditangkap sebagai penghasut dan musuh masyarakat. Apa pun damai-Nya itu, yang jelas bukanlah damai yang timbul dari sikap bersahabat yang tak acuh pada keadaan. Hendak aku katakan bahwa kendati aku beriman kepada Kristus dan kendati bahasa buku ini yang oleh sementara orang dianggap agak gerejawi, aku tidak yakin bahwa orang harus menjadi Kristiani untuk mendapatkan damai Yesus itu. Memang kita tidak dapat melalaikan pernyataan Yesus: “Dia yang tidak mengumpulkan bersama-sama Aku, ia mencerai-berikan,” dan “Siapa tidak bersama Aku melawan Aku.”18 Tetapi apa artinya perkataan itu bagi Yesus sendiri? Bukankah Dia 18 Mat 12:30
    • Berbagai Makna 47 menyatakan dengan jelas bahwa masalahnya bukanlah kata-kata ibadat ataupun sekadar wujud kesalehan belaka? Ia menghendaki sikap yang lembut dan penuh belas kasihan – demi cinta kasih.19 Dia berkata biarpun hanya segelas air untuk orang yang kehausan akan dihargai “dalam Kerajaan Surga”.20 Yesus adalah seorang pribadi, bukan suatu konsep atau karangan teologi, dan kebenaranNya menjangkau lebih luas dari sekadar yang dapat dipahami oleh pikiran kita yang terbatas. Dalam kasus tertentu jutaan pengikut Buddha, para Muslim, orang Yahudi, bahkan mereka yang tidak mengenal Allah dan yang menyangkal Allah (ateis) melaksanakan cinta yang diperintahkan Yesus agar dilakukan 21, lebih mantap daripada banyak orang yang menyebut dirinya Kristiani. Maka tidaklah pada tempatnya bagi kita untuk menilai apakah mereka memiliki damai Kristus atau tidak. 19 Mat 9:13; 12:7. 20 Mat 10:42 21 Yoh 15:12
    • 48 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Damai yang Mengatasi Pemahaman B eberapa pembaca mungkin dapat menimba manfaat jika di sini aku melanjutkan kajian atas berbagai pemahaman akan damai, dan membahas apakah damai itu suatu status (keadaan) ataukah cara hidup. Yang lain mungkin hanya ingin tahu apakah yang kumaksudkan ketika aku mengatakan bahwa orang mengupayakan damai. Apakah mereka berusaha agar lebih akrab dengan orang lain, ataukah mereka haus akan damai untuk diri mereka sendiri? Apakah mereka rindu akan kepercayaan dan cinta kasih, akan sesuatu yang lebih baik daripada hanya menarik diri dan diam saja? Sesuatu yang berbeda sama sekali? Intinya, apa itu damai? Suatu gagasan dari buku-buku kakekku membantuku. Ia menulis tentang damai tiga dimensi: kedamaian jiwa bersama Tuhan; hubungan yang rukun dan damai tanpa kekerasan dengan orang lain; dan ditegakkannya tatanan sosial yang adil dan damai. Namun pada akhirnya, masalahnya bukanlah mengenai definisi yang terbaik, sebab definisi tidak membantu kita mendapatkan damai itu. Untuk mendapatkan makna damai itu kita harus mengalaminya dalam kenyataan praktis, bukan hanya sesuatu yang ada dalam kepala kita, juga bukan hanya dalam hati kita, melainkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sadhu Sundar Singh, seorang mistikus Kristiani dari India dari permulaan abad yang lalu menulis:
    • Berbagai Makna 49 Misteri dan realitas hidup yang bahagia dalam Tuhan tidak dapat dipahami tanpa menerima, menghayati, dan mengalaminya. Jika kita berusaha memahaminya dengan pikiran saja, usaha kita itu tidak berguna. Seorang ilmuwan memegang burung di tangannya. Ia melihat burung itu punya kehidupan. Lalu ia ingin tahu di bagian tubuh yang mana dari burung itu terletak kehidupannya. Maka ia mulai mengiris-iris burung itu. Hasilnya, kehidupan yang dicarinya itu hilang. Mereka yang berusaha memahami misteri hidup sejati secara intelektual niscaya menemui kegagalan seperti itu. Hidup yang dicarinya akan lenyap dalam analisisnya. Seperti air tak akan tenang sebelum mencapai kepenuhannya, jiwa pun tak akan damai sebelum tinggal dalam Tuhan.
    • 50 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?
    • 51 Bagian III Berbagai Paradoks “Aku seorang tentara Kristus. Aku tak bisa berperang.” St. Martinus dari Tours
    • 52 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Berbagai Paradoks K ita telah melihat bahwa walaupun kerinduan akan damai begitu mendalam, suatu kelaparan universal, namun damai sulit dirumuskan. Memang begitulah kebanyakan hal yang bersifat rohani. Elias Chacour, seorang imam Palestina, teman baikku, memberikan komentar tentang hal ini dalam bukunya Blood Brothers. Ketika bicara tentang agama-agama besar dari Timur ia menunjukkan bagaimana para pemikir mereka (kontras dengan banyak pemikir dalam budaya Barat) merasa nyaman dengan berbagai paradoks dan bersedia menerimanya dan hidup dengan paradoks-paradoks itu dan tidak berusaha menyingkirkannya. Barangsiapa membaca Injil tentu tahu betapa Yesus juga mengandalkan paradoks dan perumpamaan untuk melukiskan kebenaran yang sangat dalam. Bagi pikiran rasional, suatu paradoks tampak bertentangan (kontradiktif), namun justru karena sifatnya itu, paradoks memaksa kita melihat kebenaran di dalamnya dengan mata yang baru. Dalam pengertian ini aku menulis bagian berikut, masing-masing bagian merupakan suatu papan loncatan ke arah pengertian yang lebih dalam atas damai.
    • Berbagai Paradoks 53 Bukan Damai Tapi Pedang Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, dan anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barang siapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barang siapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Yesus dari Nazareth K etika Matius mencatat kata-kata Yesus ini dalam bab kesepuluh dari Injilnya22, ia memberikan argumen yang disukai generasi-generasi Kristiani untuk mempertahankan penggunaan kekuatan dalam berurusan dengan orang lain. Tetapi sesungguhnya apa yang dimaksud oleh Yesus? Yang pasti ia tidak bermaksud membenarkan atau memajukan kekerasan dengan menggunakan senjata. Bahkan sekalipun Ia mengusir para penukar uang dari Bait Allah dengan cambuk 23, namun Ia kemudian menegur Petrus karena telah memotong telinga seorang prajurit dengan pedang dan berkata, “Barang siapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang,”24 dan apa yang dilakukannya sampai hembusan napas terakhir di kayu salib, mencerminkan 22 Mat 10:34-35 23 Yoh 2:12 24 Mat 26: 52
    • 54 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? kata-kata-Nya “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.”25 Bagiku jelas bahwa pedang yang dimaksudkan Yesus bukanlah pedang yang merupakan senjata manusia. Di dalam surat Rasul Paulus kita membaca tentang pedang Roh Kudus yang dibandingkan dengan pedang pemerintah, yang kadang-kadang disebut pedang yang fana atau pedang kemurkaan Allah 26 Paulus menyatakan bahwa Allah Bapa menarik Roh Kudus dari dunia karena pria dan wanita tidak taat kepada-Nya; sebaliknya, Ia menyerahkan mereka kepada “pedang” pemerintahan dunia, yang kelangsungan dan wewenangnya berakar dalam kekuatan tentaranya. Tetapi Gereja tentu tidak boleh menggunakan senjata fisik, Gereja harus setia kepada satu kekuatan saja: Kristus, dan pengikut-pengikutNya hanya boleh menggunakan pedang Roh Kudus. Di tempat lain dalam Kitab Suci pedang digunakan sebagai lambang kebenaran. Seperti senjata fisik yang dilukiskannya, pedang, ini memotong segala sesuatu yang mengikatkan kita pada dosa. Pedang itu membersihkan dan menonjolkan (penulis Surat kepada orang Ibrani menyebutnya “memisahkan sendi-sendi dan sumsum)27, namun maksudnya bukanlah menghancurkan atau membunuh. Mengutip penyair Phillip Britts dari Bruderhof, damai adalah “persenjataan kasih dan penebusan.... bukan persenjataan dunia, tapi persenjataan hasrat akan kebenaran.” Perangnya bukan pergumulan antarmanusia 25 Mat 7:12 26 Rm 13:4 27 Ibr 4:12
    • Berbagai Paradoks 55 satu sama lain, tetapi antara “sang pencipta melawan si perusak; perang antara hasrat akan kehidupan melawan hasrat kematian; perang antara cinta melawan kebencian; antara persatuan melawan perceraian.” Di dalam Injil tertulis, “sejak tampilnya Yohanes Pembaptis sampai sekarang, kerajaan surga diserong dan orang yang menyerong mencoba mengusainya.” 28 Walaupun ini merupakan salah satu di antara wejangan Yesus yang sulit, arti kata “diserong” cukup sederhana. Kita tak dapat duduk dan menunggu surga, demi kerajaan damai dari Allah, agar jatuh ke pangkuan kita. Kita harus merebutnya dengan penuh hasrat. Thomas Cahill menyatakan: “yang penuh hasrat, habis-habisan dan di luar batas punya kesempatan lebih baik untuk merebut surga daripada mereka yang puas diri, ragu- ragu dan yang lengket dengan dunia.” Yang menarik, kosa kata Kristiani tidak sendirian menggunakan bahasa kekerasan untuk melukiskan jalan damai. Menurut seorang nara sumber Muslim kata jihad tidak hanya berarti perang suci Islam, tetapi juga perang spiritual yang terjadi dalam diri setiap orang. Banyak orang Kristiani sekarang menyepelekan perang spiritual. Di satu pihak mereka menganggap hal itu semacam imajinasi; di lain pihak ada yang merasa bahasa yang digunakan untuk melukiskannya terlalu konfrontatif, terlau kasar, dan yang lebih buruk lagi, terlalu kuno. Namun perang kosmis antara malaikat Allah dan cecunguk setan terus berlangsung hingga saat ini, kendati makin kurang saja yang percaya tentang hal itu. Mengapa hanya karena kita tidak dapat melihatnya kita menganggap hal itu hanya rekaan pikiran? 28 Mat 11:12
    • 56 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Aku percaya bahwa daya yang tampil dari yang baik dan yang jahat sungguh nyata seperti daya-daya fisik yang membentuk alam semesta, namun karena kita tidak bisa mengetahuinya, kita tidak dapat menyaksikan pertempuran besar yang terjadi di antara mereka. Sebagaimana cahaya tidak dapat berbagi ruang dengan kegelapan, maka baik dan jahat tidak dapat ada bersana dalam damai, dan karena itu kita harus memutuskan untuk ikut di pihak mana. Sekitar dua puluh lima tahun lalu, sebagai tetua komunitas Bruderhof, ayahku29 menyusun suatu dokumen yang berulangkali dilihat orang lagi selama bertahun- tahun. Suatu “kesepakatan” yang ditanda-tangani oleh semua anggota komunitas kami ketika ditulis (dan disetujui oleh setiap anggota terbaru), karena sering membantu kami mempertajam fokus kami pada akar suatu masalah tertentu yang sedang kami hadapi. Kami memaklumkan perang kepada segala pelecehan terhadap semangat seperti anak-anak yang diajarkan Yesus. Kami memaklumkan perang kepada segala kekejaman emosional dan fisik terhadap anak-anak. Kami memaklumkan perang kepada semua usaha untuk menguasai jiwa orang lain. Kami memaklumkan perang kepada segala kebesaran manusia dan semua bentuk pameran kehebatan. Kami memaklumkan perang kepada kebanggaan palsu termasuk kebanggaan kolektif. Kami memaklumkan perang kepada semangat dendam, kebencian dan keengganan untuk memaafkan. 29 Yang dimaksud adalah J. Heinrich Arnold (1913-1982).
    • Berbagai Paradoks 57 Kami memaklumkan perang kepada segala macam bentuk kekejaman kepada orang lain termasuk kekejian terhadap pendosa. Kami memaklumkan perang kepada semua keingintahuan tentang sihir atau kegelapan setan. Salah satu risiko terbaru di dalam berperang melawan yang jahat adalah salah menerapkan sesuatu perlawanan sifat pada tatanan fisik manusia, dengan menciptakan kubu antara “orang baik” dan “orang jahat. Kita sering bicara tentang Tuhan dan gerakan yang berlawanan dengan setan dan dunia, namun kenyataannya adalah garis pemisah antara baik dan jahat itu juga melewati setiap hati manusia. Dan siapa yang akan kita adili selain diri kita sendiri? Gandhi suatu ketika mengajar, “jika Anda membenci ketidakadilan, tirani, keserakahan dan kerakusan, bencilah semua itu dalam diri Anda lebih dulu.” Setiap orang membentuk suasana tertentu di sekelilingnya. Ketika “bertarung demi kebaikan” janganlah lupa berhenti sebentar, di sana atau di sini, dan bertanya pada diri sendiri, apakah suasana yang terbentuk itu penuh ketakutan atau suasana kasih yang menyingkirkan rasa takut. Ada godaan untuk membawa pertarungan itu ke luar melawan orang lain daripada ke dalam melawan diri sendiri. Karena ngeri pada keadaan dunia dan cara hidup orang lain, kita mungkin dipenuhi perasaan bahwa kita benar (jika bukan pembenaran diri). Namun bukannya mengajak orang lain menuju hidup baru dengan menarik hatinya, kita hanya memisahkan diri dari mereka, membuat jarak. Padahal, pertarungan itu seharusnya terlaksana dalam hati kita dulu. Tentang ini seorang pelayan umat, Glenn Swinger, baru-baru ini menulis kepadaku:
    • 58 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Setelah mengalami pertobatan, saya dibaptis pada pertengahan usia empat puluhan. Saya mengakui setiap dosa yang saya ingat, memperbaiki hubungan yang salah dengan orang lain dan berusaha melihat betapa dalam saya telah menentang Allah. Saya merasa mendapat pengampunan, yang membawa kegembiraan dan perdamaian. Tetapi ayah Anda, yang membaptis saya, berkata “Sekarang pertarungan yang sesungguhnya dimulai.” Saya pada waktu itu tidak benar-benar mengerti masalahnya, tetapi saya berkata pada diri saya sendiri agar waspada. Sedikit demi sedikit ternyata kembali lagi pada cara hidup saya yang lama, dan berangsur-angsur setan kecil kesombongan, iri hati dan kecemburuan masuk lagi dalam hidup saya. Memang, pengalaman baptis mengubah diri saya, saya tidak menyangkal. Namun saya belum mengalahkan diri saya sendiri. Diri saya sendiri masih merupakan pusat dari semua pengalaman batin saya. Saya menghayati kehidupan yang hebat dengan kekuatan saya sendiri, dengan kemampuan saya sendiri. Saya tidak “berjaga dan berdoa” sehingga pencobaan masuk ke dalam hati saya.... Akhirnya cinta pertama saya dengan Kristus berantakan. Kemudian muncullah sikap munafik, dan saya mengalami sakitnya tuntutan keadilan. Saya diminta lengser dari tugas saya sebagai pelayan jemaat dan pengajar. Saya meninggalkan Bruderhof selama empat bulan, dan selama itu saya dapat melihat dosa-dosa saya dan menyesalinya. Setelah pulang kembali dan menerima maaf dari saudara-saudara yang tempo hari saya tinggalkan, saya mendapatkan kebebasan baru, cinta dan perdamaian. Perjuangan masih timbul setiap hari, tetapi selama beberapa tahun saya belajar sesuatu dari 1 Kor 13:13; “demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya
    • Berbagai Paradoks 59 adalah kasih.” Saya tak dapat mengadili atau memandang rendah orang lain, bagaimana pun keadaannya. Orang yang kaya membuat jarak antara dirinya dan Lazarus, dalam kehidupan selanjutnya kedudukan mereka dibalik.30 Ada dua kekuatan dasar yang bekerja dalam diri kita, baik dan jahat, dan dalam pertarungan di antara keduanya kita diadili dan berkali-kali memperoleh pengampunan. Di dalam pertarungan yang terus berlangsung inilah kita mengalami damai sejati. Pengamatan Glenn Swinger sangat menentukan pemahaman atas paradoks. “Aku datang ke dunia bukan membawa damai, tetapi pedang”, karena menyentuh maknanya yang paling dalam. Pedang Kristus adalah kebenaran, dan kita harus membiarkannya memotong tandas dan berulang kali kapan saja dosa bertumbuh dalam hidup kita, menegarkan diri dan melindungi diri kita terhadap pedang itu berarti menutup diri kita pada kerahiman dan kasih Allah. 30 Luk 16:19-31
    • 60 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Kekerasan Kasih D amai sejati memerlukan senjata, dan juga mengucurkan darah, tetapi bukan dalam makna yang sekadar kita bayangkan. Kristus melarang kita menggunakan kekerasan terhadap orang lain, namun ia jelas meminta kita sedia menderita di tangan orang lain. Dia sendiri “memberikan perdamaian kepada kita melalui darahnya,”31 seperti dikatakan dalam Perjanjian Baru, dan selama berabad-abad pria dan wanita mengikuti teladanNya, dan bersedia mengorbankan dirinya demi iman mereka. Pentingnya kematian seseorang demi iman mungkin merupakan suatu hal yang paling sulit dijelaskan. Kebanyakan dari kita gemetar ngeri membayangkan pemandangan orang yang dibakar, ditenggelamkan, dan dibelah. Namun para saksi mata berulang kali menulis tentang damai yang diperlihatkan oleh para martir itu pada saat-saat terakhir mereka. Buku The Chronicle of The Hutterian Brethren, suatu sejarah era Reformasi yang memuat catatan tentang banyak martir, menggambarkan orang- orang yang menyongsong kematian mereka sambil menyanyi gembira. Seorang di antaranya, Conrad, anak muda yang akan dihukum mati, tetap tenang dan begitu mantap sehingga orang-orang yang menonton berharap tak ingin bertemu dia lagi, anak muda itu membuat mereka resah. Bagi kebanyakan orang kematian sepertinya tak akan berakhir. Kita tidak lagi diminta mempertahankan 31 Lih Kol 1:20
    • Berbagai Paradoks 61 iman kita dengan kata-kata, dan gambaran menderita secara fisik demi iman kelihatannya sangat berlebihan. Bersamaan dengan itu tidaklah dirasakan menyakitkan lagi untuk mempertimbangkan iman bagi mereka yang telah siap menderita demi keyakinan-keyakinan mereka, juga bagi kita sendiri jika kita telah siap melakukan hal yang sama. Setiap orang bisa mengendalikan emosinya dan dapat tetap berdiri teguh menghadapi kesulitan-kesulitan setiap hari. Namun supaya tetap damai menghadapi perjuangan keras termasuk menghadapi kematian, diperlukan lebih dari sekadar maksud baik. Di suatu tempat pasti ada cadangan kekuatan yang sangat besar. Uskup Agung dari El Salvador Oscar Romero menyentuh rahasia damai ini ketika ia berpidato, tak lama sebelum ia mati tentang pentingnya “menerima kekerasan cinta.” Romero dibunuh pada tahun 198032 karena lantang membela kaum miskin. Kekerasan cinta ... membiarkan Kristus tergantung pada salib; kekerasan itulah yang harus kita lakukan pada diri kita sendiri untuk mengatasi egoisme kita dan ketidakadilan yang kejam di antara kita. Kekerasan itu bukan kekerasan pedang atau kekerasan kebencian. Itu adalah kekerasan persaudaraan, kekerasan yang melebur persenjataan menjadi hal yang tidak menyakitkan demi karya perdamaian. 32 Oscar Romero adalah Uskup Agung San Salvador . Lahir 1917. Ditahbis menjadi imam tahun 1942. Pada tahun 1966 menjadi rektor Seminari Tinggi Interdiosesan Salvador. Tahun 1975 menjadi Uskup Santiago. Menjadi Uskup Agung San Salvador 1977. Ia memperjuangkan hak asasi manusia dan menentang ketidak adilan dan membela kaum miskin. Untuk itu ia memajukan Teologi Pembebasan. Pada 1980 ia ditembak sesudah homili dan meninggal. Tahun 1997 ia dicalonkan menjadi orang kudus.
    • 62 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Demikianlah cinta Kristus merupakan daya bagi kebenaran dan kekudusan, yang melawan hingga mendasar semua yang tidak suci dan bertentangan dengan kebenaran. Kasih semacam itu jelas sangat berbeda dengan yang diajarkan pengarang Marianne Williamson dari aliran New Age yang populer, yang menyatakan bahwa untuk memperoleh damai, yang perlu kita lakukan adalah mengasihi diri kita sebagaimana adanya dan “menerima Kristus yang telah ada dalam diri kita.” Tidak mengherankan bahwa banyak orang menyukai khotbah Marianne. Kita tahu bahwa setiap orang Kristiani harus memanggul salibnya sendiri, tetapi kita tidak ingin membahas soal itu. Kita lebih menyukai religiositas gereja modern yang hangat bersahabat dan suka cita yang dijanjikan para malaikat di Betlehem33 daripada kedamaian yang telah dimenangkan Yesus dengan susah payah di Golgotha. Kita mengakui hasil karya Yesus ketika Ia mati - “Bapa, ke dalam tanganMu kuserahkan jiwaKu” 34, tetapi melupakan sakratulmaut yang dialamiNya di taman Getsemani pada malam yang panjang dan sepi sebelumnya 35. Kita lebih menyukai kebangkitan tanpa penyaliban. Belakangan ini suatu ayat dalam Kitab Yeremia menyentuhku: “Bukankah kata-kataku seperti api, seperti palu yang memukul hancur batu karang?”36 Tuhan hanya bermaksud menggambarkan kerasnya hati manusia. Biasanya kita menggambarkan kekerasan hati itu pada wujud orang terpidana: pembunuhan, pemerkosaan, 33 Luk 2:14 34 Luk 23:46 35 Mat 26:36-46 par 36 Yer 23:29
    • Berbagai Paradoks 63 pezinah, pencuri. Tetapi dalam perjumpaan rohani dengan penghuni penjara aku mendapatkan betapa penjahat yang paling keji sekalipun punya hati yang lembut, karena ia sangat sadar akan dosa-dosanya. Betapa ingin aku mengatakan hal seperti itu pada orang-orang lain yang kulayani – orang “baik-baik” yang penuh dengan ego dan citra diri yang dibangun dengan cermat. Sebab mungkin justru hati yang paling keras adalah hati mereka yang tertimbun oleh hal-hal semacam itu. Sekalipun kita sadar akan kekurangan-kekurangan dan perjuangan kita, seringkali kita menolak kekerasan cinta. Kita mencari damai sejati dan abadi dan tahu bahwa damai itu menuntut pengorbanan dari kita, tapi dengan cepat kita menawar pengorbanan itu sekecil- kecilnya. Seorang anak muda dalam jemaatku suatu ketika berkata, “Saya berjuang terus untuk mendapatkan kedamaian, tetapi kemudian saya bertanya pada diri saya sendiri, ‘untuk apa kamu bersusah payah seperti itu? Apakah sungguh ada gunanya?’ Tentu saja aku tak dapat memberikan suatu jawaban bagi dirinya. Tetapi ketika mengenangkan hal itu aku dapat kembali mengajukan pertanyaan kepadanya: jika damai tidak berharga bagimu, bagaimana mungkin kamu berusaha mencarinya? Walaupun kedengaran aneh, mereka yang paling yakin bahwa mereka tidak mempunyai kedamaian kadang-kadang berada sangat dekat untuk mendapatkan kedamian itu. Robert (nama samaran) adalah seorang terpidana di suatu penjara negara. Ia melakukan kejahatan yang mengerikan dan berulangkali ia tersiksa oleh kenangan tentang apa yang telah dilakukannya sehingga ia merasa tak tahan hidup sehari lagi. Kadang- kadang, situasi seperti itu membuatnya merasa damai. Dalam sepucuk suratnya ia menulis:
    • 64 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Anda bertanya apakah saya dapat menulis sesuatu tentang damai, damai Tuhan. Saya ingin mendapatkannya, tapi saya merasa tidak layak. Perasaan bahwa saya tidak layak itu adalah karena saya rasa damai yang Anda bicarakan itu justru berada di luar seluruh hidup saya. Saya mencari damai dalam banyak cara melalui para wanita, nenek saya, melalui prestasi, melalui narkotika, dan kadang-kadang melalui kekerasaan dan kebencian; melalui seks, perkawinan, anak-anak, uang dan harta. Saya tak memperoleh damai dari semua hal itu. Namun sungguh aneh. Walaupun saya tak pernah mengalami kedamaian, tetapi saya mengenalnya dan saya tahu rasanya. Saya melukiskannya sebagai kemampuan untuk bernapas dan tidur. Sepanjang hidup saya (dan masih sering saya alami) saya merasa tercekik atau tenggelam sehingga saya harus terus berjuang untuk bisa bernapas dan beristirahat. Saya merindukan damai semacam itu. Saya tahu … bahwa satu-satunya jalan untuk mendapatkan damai seperti itu adalah melalui Kristus, namun damai itu tetap menolak saya. Saya tidak mengalami damai karena apa yang telah saya lakukan dan apa yang dialami orang lain karena tindakan saya itu. Saya menyesal, sungguh. Saya mohon untuk mendapat kesempatan kedua, di luar penjara dari baja dan beton buatan manusia, dan di luar penjara dosa dari setan. Saya tahu bahwa Tuhanlah yang dapat memberikan hal itu dan di situlah kutaruh iman dan harapanku. Jika Tuhan akhirnya menjawab doa saya setelah semua derita, kegelisahan dan usaha saya ini, niscaya saya akan merasakan kedamaian. Begitu pula saya merasa damai karena tahu bahwa ada orang yang mengasihi saya begaimana pun saya ini dan apa pun yang telah
    • Berbagai Paradoks 65 saya lakukan dan memberi ampunan agar saya memperoleh kesempatan kedua itu…. Nada surat yang ditulis Robert serasa tak punya harapan, tetapi aku (dan teman-teman lain yang berkunjung kepadanya) memerhatikan perubahan yang pasti pada dirinya sejak ditangkap tiga tahun sebelumnya. Bukan karena dia telah mencapai “pencerahan” dan mantap; sejujurnya tak seorang pun bisa mengatakan bahwa Robert memperoleh kedamaian itu. Tapi Robert sangat lapar akan kedamaian itu. Dan karena ia akan berjuang keras melalui penyesalan yang sesungguhnya, ia mungkin lebih dekat dengan Tuhan daripada kami semua. Dalam suatu paragraf tentang damai dalam sebuah naskah Hindu kuno, Bhagawad Gita37, dikatakan: Bahkan para pembunuh dan pemerkosa ... dan kaum fanatik yang paling kejam sekalipun dapat mengenal penebusan melalui kekuatan cinta, jika saja mereka bersedia menerima rahmatnya, yang sekalipun pahit namun menyembuhkan. Melalui transformasi yang menyakitkan mereka akan memperoleh kebebasan, dan hati mereka akan menemukan kedamaian.” Dan di dalam surat Kepada Orang Ibrani kita baca, “Memang didikan dan ajaran pada waktu diberikan tidak mendatangkan suka cita, tetapi duka cita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”38 Robert mungkin tidak mengenal kedua naskah itu. Tetapi di dalam usaha perjuangannya, ia mengalami kebenaran dari keduanya. Ia menghayati kekerasan cinta. 37 Bhagavad Gita adalah naskah dari abad ke-3 Seb.M yang merupakan petikan dari Mahabaratha, episode Bhisma Parwa, berisi pembicaraan antara Krisna dan Arjuna mengenai tugas seorang senapati perang dan Pangeran ketika Arjuna ragu melawan kakeknya sendiri, Bhisma dalam perang. 38 Ibr 12:11
    • 66 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Tak Ada Hidup Tanpa Kematian S ewaktu mengerjakan buku ini, dua perkataan Yesus dalam Injil Yohanes secara khusus memperdalam pemahamanku tentang damai: “jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Dan “barang siapa (demi Aku) tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.”39 Begitu pula tak ada perdamaian abadi tanpa perjuangan, sebagaimana tak ada hidup sejati tanpa kematian. Karena kita tidak berhadapan dengan ancaman maut, kita tak dapat memahami fakta yang penting ini. Kita lupa bahwa untuk memahami damai Yesus, kita pertama-tama harus memahami penderitaanNya. Kesediaan untuk menderita memang penting, tetapi tidak memadai. Penderitaan itu juga harus dialami. Sebagaimana pernah dituliskan oleh ayahku: “Mengalami, biarpun sedikit, cita–rasa yang dipersembahkan ‘demi Tuhan’ sangat menentukan bagi hidup rohani kita.” Bagi kebanyakan dari kita, cita rasa yang dipersembahkan “demi Tuhan” mungkin tampak negatif dan tak berhubungan dengan damai. Sebab hal itu terkait dengan duka cita, bukan suka cita; penderitaan, bukan kebahagiaan; pengorbanan diri, bukan pemeliharaan diri. Hal itu berkaitan dengan kesepian, penyangkalan, 39 Yoh 12:24-25
    • Berbagai Paradoks 67 pengasingan dan rasa takut. Namun jika kita mau menyadari artinya kehidupan, kita harus dapat menemukan makna itu dari semua hal ini! Penderitaan, seperti dikatakan oleh psikiater terkenal Viktor Frankl “tak dapat dihapus dari paket kehidupan. Tanpa penderitaan, hidup manusia tidak sempurna.” Banyak orang berusaha menghabiskan waktunya menghindari kebenaran ini; mereka adalah orang- orang yang paling bahagia di dunia ini. Yang lain memperoleh damai dan kepunahan dengan menerima hal ini. Mary Poplin, seorang Amerika yang tinggal bersama para Misionaris Suster-suster Cinta Kasih di Kalkuta pada 1996, berkata: Para misionaris memandang pencobaan dan hinaan sebagai saat untuk memeriksa diri, untuk membangun kerendahan hati dan kesabaran untuk mencintai musuh – itulah kesempatan-kesempatan untuk bertambah kudus. Bahkan penyakit pun sering ditafsirkan sebagai cara untuk mendekatkan diri pada Tuhan, cara Tuhan mewahyukan diri dengan lebih jelas, dan peluang untuk merenungkan masalah-masalah karakter dengan lebih mendalam lagi. Kita telah membuang banyak waktu dalam hidup kita dalam usaha untuk memperingan dan menghindari penderitaan, dan ketika penderitaan itu datang, kita tak tahu harus berbuat apa. Kita bahkan tidak mengerti bagaimana menolong orang lain yang menderita. Kita melawan penderitaan, melemparkan kesalahan kepada perorangan dan sistem sosial serta berusaha melindungi diri sendiri. Jarang di antara kita menganggap penderitaan sebagai karunia dari Allah, yang memanggil kita untuk menjadi lebih suci. Sementara kita sering berkata bahwa krisis dan masa penderitaan membangun karakter, kita justru menghindar dari keduanya sejauh mungkin dan berusaha terus
    • 68 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? menciptakan berbagai teknik untuk memberikan kompensasi demi menekan atau mengatasi penderitaan. Banyak bacaan sekuler kita menunjukkan bahwa ibu Teresa dan para misionaris secara psikologis cacat, karena menerima penderitaan dan rasa sakit. Setelah bekerja bersama mereka, aku kira pandangan sekuler itu meleset jauh sekali dari kebenaran. Kita orang Amerika jarang sekali memikul tanggungjawab atas penderitaan kita sendiri. Dan tanpa memandang situasi, setiap kita adalah yang paling miskin dalam hal pilihan untuk menanggapi penderitaan. Bagi para misionaris itu, penderitaan bukan hanya suatu pengalaman fisik, tetapi juga suatu penjumpaan spiritual yang mendorong mereka untuk mempelajari tanggapan-tanggapan baru, untuk mengusahakan pengampunan, untuk berpaling kepada Allah, untuk bertindak seperti Kristus, dan untuk bersyukur karena penderitaan memberikan hasil yang baik pada diri mereka. Dan akhirnya penderitaan itu membuat mereka melakukan tindakan. Begitu pula kesaksian orang seperti Philip Berrigan40, yang tidak hanya menerima derita di dalam kehidupan mereka, tetapi juga merangkulnya. Philip tahu lebih banyak tentang makna kehilangan nyawa “demi Aku” daripada kebanyakan orang Kristiani sekarang. Baginya menjawab panggilan Kristus untuk hidup sebagai murid- Nya berarti penganiayaan dari penjara di masa yang satu ke penjara yang lain di masa lainnya pula. Pada tahun 1960-an, Daniel, saudaranya juga ditangkap karena memprotes Perang Vietnam dan selama sebelas tahun meringkuk dalam penjara. Musim gugur yang lalu aku mengunjungi Philip di suatu penjara di kota Maine di mana ia ditahan karena pembangkangan sipil. Beberapa minggu kemudian ia 40 Lih. Catatan kaki no. 7
    • Berbagai Paradoks 69 dijatuhi hukuman dua tahun penjara. Dua tahun lagi ia harus berpisah dengan istrinya, Elizabeth McAlister dan ketiga anak mereka. Ini bukan yang pertama kali mereka berpisah. Tapi baik Phillip maupun Elizabeth tidak kecil hati. Dalam sepucuk surat yang ditulis Elizabeth untuknya, Elizabeth merenungkan dasar perjuangan perdamaian mereka, yang sering salah dimengerti dan dikritik karena terlalu dipolitisir, dengan menunjukkan optimismenya dan iman yang tak pernah padam. Sungguh tidak adil – pada umur tujuh puluh tiga tahun kamu untuk kesekian kalinya masuk penjara demi keadilan dan demi perdamaian. Dan kamu mendapatkannya tanpa melalui pengadilan. Tapi apalagi yang kita harapkan jika jutaan orang lainnya juga dipenjara di seluruh dunia, dan banyak di antara mereka itu disiksa, kelaparan, hilang, keluarga mereka diancam? Sungguh tidak adil – kita tidak dapat menikmati rumah yang kita bangun bersama; mengagumi mawar yang kita tanam sedang mekar bunganya; makan buah yang kamu rawat; membanggakan anak-anak yang kita besarkan. Tapi apa lagi yang kita harapkan, jika jutaan orang lainnya tak punya rumah, jutaan orang menjadi pengungsi karena perang, mengalami wabah kelaparan dan penindasan – jiwa mereka telah kusut karena penat dan takut melihat keindahan di sekeliling mereka; harapan dan hati mereka hancur luluh karena anak- anak mereka mati setiap harinya...? Sungguh tidak adil – kita tak dapat menghadiri bersama wisuda Frida dan Jerrry. Mereka merindukan dirimu di samping mereka untuk ikut ambil bagian dalam kebanggaan, prestasi dan awal yang baru bagi mereka. Mereka ingin mendengarkan kata-kata kebijaksanaanmu, kehangatan hatimu, kehadiranmu dalam tahap baru kehidupan mereka. Namun apa lagi yang bisa kita harapkan jika ada begitu banyak
    • 70 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? anak-anak dalam kolese, suatu keluarga yang menyayangi, suatu komunitas yang peduli, namun bukan lagi merupakan buah impian, sebaliknya menjadi k orban-korban kelembagaan yang mengharapkan mereka asal lulus saja, korban-korban dari sikap melalaikan masa depan yang merupakan warisan masyarakat untuk mereka? Sungguh tidak adil – kita tidak dapat bersama-sama mengantar Kate menjelang kelulusan Sekolah Menengah Atas dan menjadi seorang wanita muda…. Sungguh tidak adil – komunitas yang selama bertahun-tahun kamu abdi dalam membangun dan membangun ulang tak lagi kamu dampingi, doa, karya, impian, dan tawa yang tertuang dari karunia, visi dan rahmat yang khusus diberikan padamu. Tapi apalah yang kita harapkan jika komunitas seperti itu dicurigai, diancam, digerogoti, ketika pemberangusan nyaris tuntas, ketika rakyat dijadikan pengecut, dapat dibeli, dicerai-beraikan dan dijadikan pelaksana kepunahan mereka sendiri? Rasa damai dan teguh pendirian yang mengalir dari orang-orang seperti Philip dan Elizabeth tidak dihargai dan juga tidak dipahami dalam masyarakat kita. Cita rasa itu adalah buah dari kemerdekaan Kristus yang paradoks, yang berkata: “Tak seorang pun dapat mengambil hidupKu, namun Aku menyerahkannya atas keinginanKu sendiri. Aku berkuasa untuk mengambilnya kembali.” Bagi Philip, pengorbanan berpisah dari orang-orang yang disayanginya merupakan bagian dari kematian yang harus diderita, palang halang di jalan menuju perdamaian. Yang didapatnya bukanlah damai yang diberikan dunia, namun seperti tulisannya dari penjara pada bulan September 1997, ia memandang damai yang lebih besar dan lebih dalam:
    • Berbagai Paradoks 71 Adalah damai ketika tak ada lagi dominasi, di mana ketidak-adilan dibongkar, ketika kekerasan telah menjadi sisa masa lalu, ketika pedang telah hilang dan mata–bajak banyak tersedia. Adalah damai ketika semua orang diperlakukan sebagai saudara, lelaki dan perempuan, dengan penghargaan dan martabat, ketika setiap kehidupan dianggap suci, dan di mana ada masa depan bagi anak-anak. Dunia seperti itulah yang untuk membantu perwujudannya Allah berkenan memanggil kita. Di negeri kita untuk menanggapi panggilan seperti itu bisa berarti masuk penjara, mempertaruhkan reputasi, pekerjaan, penghasilan, atau bahkan dirampok oleh keluarga dan teman sendiri. Namun dalam suatu negara kriminal yang setiap hari menyiapkan bencana nuklir, tantangan itu sungguh-sungguh berarti kemerdekaan, komunitas teman dan kerabat yang baru. Sesungguhnya, artinya adalah kebangkitan. Bagi kebanyakan dari kita proses kematian yang harus kita tempuh untuk dapat berbuah benar-benar biasa saja. Kita tidak berhadapan dengan regu tembak (seperti gambaran Dostoevsky) atau pengadilan federal (seperti Philip Berrigan dan saudaranya), sebab yang kita dapat hanyalah sedikit lebih sulit dari persoalan hidup sehari- hari saja: soal mengatasi kesombongan, berteriak kepada seseorang yang berbuat salah, meredam kebencian, mendiamkan anggota keluarga atau rekan yang marah atau frustrasi. Tidak ada sesuatu yang heroik dalam memilih melakukan hal-hal ini. Namun “jika benih tidak jatuh di tanah” kita tak akan pernah menemukan damai sejati atau pun dapat menyampaikannya kepada orang lain. Laurel Arnold, jemaat gerejaku yang kukenal sejak akhir 1950-an berkata:
    • 72 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Bila aku merenungkan kata-kata Yesus dalam Injil Yohanes 14:27 “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu,” – aku teringat betapa sering ayat ini dibacakan pada upacara pemakaman, namun tetap berada di luar diriku. Aku dibesarkan di suatu lingkungan yang terlindung dan tersendiri agar menjadi wanita yang benar, saleh dan kritis. Aku ingin menjadi seorang ternama, mungkin seorang penulis yang terkenal, dan aku bekerja keras dan dihargai di universitas. Aku ingin populer, namun aku mengadili teman-teman yang juga ingin dikenal. Aku sangat idealistis dan mencintai aliran pacifisme, tapi aku benar-benar orang kulit putih kelas menengah yang buta terhadap ketidak-adilan sosial dan permainan politik. Selama perang aku mengajar di New York City, sementara Paul, suamiku, menjadi pelaut. Setelah perang, kami tergugah melihat realitas kehidupan orang lain. Paul telah menyaksikan kerusakan yang mengerikan di kota-kota yang terkena bom di Eropa; aku tersandung orang-orang yang mabuk di jalanan dan aku peduli pada anak-anak yang tak pernah bermain di rerumputan. Kami kira kami dapat membantu seorang pecandu alkohol dan merengkuhnya dalam keluarga kami, tapi ia kabur mencuri uang dari toko kami. Kami menawarkan diri kepada majelis gereja kami untuk menjadi misionaris dan dikirim ke Afrika. Walaupun kemudian kami meninggalkan bidang misi, kami makin terlibat dalam kegiatan gereja. Namun kami tidak menemukan hubungan dari hati ke hati yang kami cari, karena semua kegiatan bersifat dangkal dan gosip belaka. Kami ingin menghayati kehidupan yang mengikuti Yesus setiap hari, bukan hanya pada hari Minggu saja. Kemudian, kami tertarik pada cita- cita persaudaraan, dan kami mulai mempelajari berbagai persoalan dan bidang-bidang kehidupan yang belum
    • Berbagai Paradoks 73 terpikir oleh kami sebelumnya: materialisme, rumah pribadi, sebab-sebab perang. Pada 1960 kami bergabung dengan Bruderhof.... Adalah mudah untuk menyerahkan rumah, mobil dan penghimpunan harta bersama; kami bisa mengerti. Namun kesukaan kami menyampaikan pendapat, cara-cara berprinsip untuk menanggapi berbagai hal, pertimbangan berdasarkan kebenaran pribadi; sikap seperti bos, dan keyakinan diri yang menggilas orang lain, semua itu masih sulit untuk dikorbankan. Untuk masa yang panjang aku berusaha agar tidak bertindak menurut aturan, melainkan supaya lebih dibimbing oleh Roh; berusaha agar tidak mencari citra diri “baik” atau ramah, dan lebih bersikap tulus dan jujur. Sulit! Tentu saja ada suka duka yang seimbang dan kesetiaan pada Tuhan selama itu, berusaha menimbang-nimbang, mendapatkan ampunan dan kesempatan untuk permulaan yang baru. Aku masih tak suka dianggap salah – tak ada orang yang suka – tapi aku mendapatkan rahmat, kasih dalam kerahiman Allah. Pada usia tujuh puluh empat, tak ada waktu untuk rileks dan bermalas-malasan. Ada begitu banyak hal yang masih perlu kupelajari, begitu banyak yang harus ditanggapi.... Ada orang yang di dalam doa bersyukur kepada Allah karena telah menjadi putraNya. Aku tidak seyakin itu. Apakah aku sungguh-sungguh siap mati? Yang pasti aku tidak hidup “dengan tenang”, seperti dalam lagu yang kita nyanyikan “Peace I ask of Thee, O River.” Ada kegelisahan dan kerinduan tertentu pada diriku. Kukira kita semua merupakan bagian dari makhluk yang mengeluh yang disebut dalam Surat untuk Jemaat Roma 8. Walau kulihat diriku sendiri mudah goyah, sedang Allah begitu setia sepanjang hidupku, di sanalah kudapatkan iman dan kedamaianku.
    • 74 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Tidak ada yang istimewa dalam cerita Laurel itu. Namun perjuangannya yang biasa-biasa saja – tugas umum sepanjang hayat untuk belajar hidup dalam damai dengan Tuhan, dengan tetangga, dan diri sendiri – tidaklah kalah penting dibanding kemartiran yang heroik. Kakekku menulis: Sejauh terkait dengan umat manusia seluruhnya, hanya satu hal yang berharga bagi Kerajaan Allah: Kesediaan kita untuk mati. Namun kesediaan ini perlu dibuktikan dalam hal-hal yang remeh-remeh dalam hidup sehari-hari, sehingga kita dapat memperlihatkan keberanian dalam masa-masa yang kritis dalam sejarah. Maka kita harus sepenuhnya mengatasi sikap dan perasaan yang kecil-kecil, supaya dapat menyerahkan cara pribadi kita seluruhnya dalam menanggapi hal-hal, yaitu rasa takut, khawatir dan kegelisahan batin kita – pendeknya, ketidakpercayaan kita. Sebaliknya, kita memerlukan iman. Iman yang walaupun sebesar biji sesawi, namun punya peluang untuk tumbuh menjadi besar. Itulah yang kita perlukan, tak kurang, tak lebih.
    • Berbagai Paradoks 75 Kebijaksanaan Orang Bodoh D alam suratnya yang pertama kepada Jemaat di Korintus, Rasul Paulus menulis, “Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini biarlah ia menjadi bodoh supaya ia berhikmat. Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah.41 “Kebijaksanaan orang bodoh (dan kebodohan orang bijak) tampaknya tidak berkaitan dengan damai yang diberikan dunia ini, maka damai itu tidak dapat ditemukan oleh mereka yang mengikuti kebijaksanaan dunia, oleh mereka yang merangkul kebodohan di mata Allah. Secara praktis, kebodohan ini sering disepelekan atau dilupakan. Cerita tentang Fransiskus Asisi bisa dijadikan contoh. Hingga sekarang Fransiskus Asisi sangat dikenal sebagai biarawan yang lembut hati, yang membuat nyanyian untuk matahari dan berdamai dengan binatang dan burung- burung. Namun Santo Fransiskus bukanlah penyair yang lembek. Dengan semangatnya yang meluap-luap, dia menjadikan dirinya sama dengan orang miskin dengan membagi-bagikan bukan hanya semua warisan yang diterimanya, tetapi juga baju yang disandangnya. Wasiat terakhirnya luar biasa kritis terhadap kekayaan dan lembaga keagamaan, sehingga surat itu disita dan dibakar sebelum ia sendiri akhirnya dinyatakan sebagai orang suci. Dan beberapa kata yang ditinggalkannya bagi kita 41 1Kor 3:18-19
    • 76 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? mengungkapkan semangat yang niscaya menantang kita, setiap kali kita membacanya – sekalipun karena sering diucapkan lalu terasa usang: Tuhan, jadikan aku pembawa damai Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa kasih; Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa ampunan; Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa iman; Bila terjadi keputus-asaan, jadikanlah aku pembawa harapan; Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku terang; Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan. O Guru Ilahi, Buatlah diriku agar lebih berusaha: Menghibur, daripada dihibur; Memahami, daripada dipahami; Mencintai, daripada dicintai. Sebab dengan memberi aku menerima; Dengan mengampuni aku diampuni; Dan dengan mati aku bangkit lagi Untuk hidup abadi. Mereka yang merinding mendengar jawaban religius seperti yang diberikan Santo Fransiskus tujuh abad yang lalu, sepertinya sekarang malah akan diolok-olok orang. Seperti Santo Fransiskus, mereka mungkin juga tahu bahwa jalan menuju perdamaian abadi menuntut kesediaan untuk tidak dipahami dan salah dimengerti orang. Dalam bukuku tentang kematian dan proses menuju kematian, I Tell You A Mystery, aku menceritakan kisah bibiku Edith yang menukarkan gaya hidup yang nyaman sebagai mahasiswa Teologi di Universitas Tubingen dengan hidup miskin di Bruderhof. Kebodohan Edith (sementara Hitler berkuasa, dan komunitas kami dianggap sebagai ancaman bagi negara) membuat orang tuanya marah sehingga mereka mengurungnya di kamar
    • Berbagai Paradoks 77 loteng yang terkunci dan tidak diberi makan sampai dia mengubah keputusannya. (Bibi membuat tali dari selimut dan melarikan diri dari jendela). Marjorie Hindley, seorang periang yang berusia delapan puluh tahun dan tinggal dalam salah satu di antara empat komunitas kami di Inggris, menemui hambatan yang berbeda, namun sama tegangnya: Aku dibesarkan sebagai jemaat Gereja Metodis42, namun kemudian aku pindah menjadi seorang Anglikan 43 . Ketika aku dan saudara- saudaraku masih kecil, ibuku selalu berdoa bersama kami menjelang tidur. Dalam keluarga kami berlaku moral konvensional yang standar. Ayahku punya pemikiran sosialistis, dan aku setuju dengan hasratnya yang begitu kuat tentang keadilan. Tetapi ibuku yang lebih konservatif dan saudara lelakiku, menentang pemikiran itu dan kami sering bertengkar. Ketika remaja aku tak pernah kehilangan iman atas ajaran Kristiani, tetapi aku harus bekerja keras untuk memahami maknanya. Aku hampir enam belas tahun ketika mengalami gejolak pemikiran pertama: ada sepupu dari teman kelasku yang dengan sadar menolak perang dan dipenjarakan. Aku sungguh-sungguh terguncang dan sejak saat itu aku mulai kritis bertanya dan ingin tahu ajaran Kristiani. Aku teringat pernah protes keras atas 42 Gereja Metodis termasuk Gereja Protestan, didirikan di Inggris pada abad ke-18 oleh John Wesley yang dipengaruhi oleh teolog Belanda Jacobus Arminius, lalu tersebar ke Amerika dan negara- negara lain. Terpecah-pecah menjadi berbagai jenis Metodis, dengan pengaruh-pengaruh lain, seperti Calvinis, termasuk Bala Keselamatan, dan United Metodist Church (A.S.) namun secara konsultatif bergabung dalam Dewan Metodis Dunia. 43 Gereja Anglikan adalah gereja khas Inggris yang banyak dipengaruhi Gereja Katolik Roma, namun sebagian bersifat Protestan. Di Amerika Serikat menyebut diri Episcopal.
    • 78 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? ketidakadilan tentang suatu hal di rumah. Dan ibuku berkata, “Tunggu saja sampai kamu kehilangan ilusimu.” Aku berkeras pada diriku sendiri, “Aku tak kan pernah melepaskannya,” tapi kemudian aku mulai ragu: betulkah semua itu hanya ilusi, ataukah benar-benar kenyataan, sedang yang lainnya justru hanya ilusi? Marjorie Hindley bekerja sebagai seorang sekretaris mula-mula di kota Manchester dan kemudian di Universitas Cambridge. Pekerjaan itu menyenangkan, jam kerjanya pendek, liburnya panjang dan ada pensiun ke depan untuk empat puluh tahun. Ia bertahan hanya dua tahun, lalu keluar, karena merasa, “pasti ada sesuatu yang lebih hidup daripada pekerjaan ini.” Kemudian ia belajar psikologi industri. Setelah bekerja pendek-pendek pada beberapa pabrik yang berbeda, ia mendapat suatu jabatan sebagai supervisor keselamatan kerja di suatu perusahaan di Brsitol. Aku mengambil pekerjaan ini karena sungguh ingin membuat diriku berguna membantu memecahkan kebutuhan dunia dengan cara sederhana, dan menghayati suatu kehidupan yang lebih Kristiani. Tapi aku mendapatkan lebih banyak masalah daripada jawaban. Para pekerja sangat ramah dan saling membantu; tapi para mandor wanita tidak begitu; dan para direktur lebih mengejar untung besar saja. Siapa yang membutuhkan aku: para pekerja atau para direktur? Para pekerja memberi aku lebih banyak daripada yang dapat kuberikan pada mereka. Jika aku mencari kepenuhan, apa artinya kepenuhan itu bagi mereka? Apa yang terjadi pada api Roh Kudus bagi para rasul pertama, yang bangkit dan mengikuti Yesus? Sebenarnya apa yang menjadi maksud orang Kristiani dan damai Kristus? Aku menyimpan Kitab Perjanjian Baru di laci meja kantorku dan membacanya ketika makan siang dengan mengunci pintu. Aku membaca Khotbah di Bukit dan merenungkannya.
    • Berbagai Paradoks 79 Aku pergi ke suatu gereja dan pindah ke gereja yang lain pada hari Minggu. Dan aku mengunjungi Balai Rakyat, suatu pusat kaum muda, pada akhir pekan. Suatu ketika aku berdiri di depan pintu pastoran dan ragu apakah akan bertanya sesuatu kepada pastor. Tapi aku mundur tak jadi bertanya. Di waktu lain aku menelusuri jalan dengan sangat frustrasi, dan aku mendengar suatu suara yang jelas sehingga aku mencari-cari siapa yang bicara. Tak ada seorang pun tapi suara itu berkata: “Tak akan lama lagi.” Kemudian aku mengetahui seorang di antara para direktur di tempat aku bekerja adalah seorang Quaker44 dan aku meminjam beberapa buku darinya. Ia membawakan untukku buku George Fox Journal, dan Studies in Mystical Religion karangan Rufus Jones. Buku- buku itu bermanfaat bagiku. Pada sore hari di Balai Rakyat, aku bertemu dengan pemuda-pemudi yang membicarakan keadaan mutakhir. Perang sedang berkecamuk di Eropa Daratan. Bagaimana kita harus bersikap? Mengapa gereja-gereja tidak memberi tuntunan yang jelas? Ahirnya pencarian Majorie membawanya ke suatu sumber kebijaksanaan religius konvesional, jauh dari Quaker yang memberinya buku-buku tetapi tidak dapat menjawab pertanyaannya; jauh dari Church of England, yang mengelu-elukan uskup-uskupnya ketika menulis drama tentang perdamaian, tetapi menolak memberi dukungan kepada mereka yang menentang konflik dengan Jerman. Ketika mengunjungi Bruderhof, katanya, ia lalu tahu jelas apa yang harus dilakukannya. 44 Quaker atau Religious Society of Friends didirikan oleh George Fox di Inggris pada abad ke-17 dan pada mulanya dianggap Kristiani. Mereka menolak prinsip hanya Alkitab dari Protestan, namun lebih berorientasi pada Yesus Kristus sebagai Sabda Allah. Mereka menghayati Yesus Kristus sebagai Cahaya Batin. Bersifat mistik.
    • 80 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Tiba-tiba, di tengah-tengah kemiskinan dan mencabuti rumput dan menyiangi tanaman, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku harus melepaskan semua pengertianku yang keliru dan mengabdikan diriku mengikuti Yesus. Cahaya yang menyinari aku sungguh mengagumkan – suatu penemuan kegembiraan keyakinan dan damai. Majorie bergabung dengan Bruderhof, walaupun ia akan pertama-tama protes jika cerita dirinya dijadikan alat untuk meyakinkan orang bahwa untuk memperoleh damai orang harus bergabung dengan gereja tertentu, termasuk komunitas tertentu. Tetapi keyakinannya pada panggilan Kristus untuk pemuridan secara radikal tak bergeming. Ketika ia memberi nasihat kepada kaum muda, pria maupun wanita, dari tahun ke tahun, ia berkata bahwa damai sejati berasal dari mengikuti hati nurani, “tak peduli betapa kuatnya tantangan dari orang tua, para majikan, teman- teman, rekan sekerja, maupun dari gerejamu sendiri.” Kenyamanan hidup seringkali membuat kita buta pada masalah kehidupan. Secara material dan spiritual kita merasa puas dengan kebijaksanaan budaya kita dan tak pernah merasa perlu membangkitkan rohani kita, bahkan tidak menyembulkan pertanyaan dasar seperti yang mengusik Majorie. Sekurang-kurangnya hal yang tidak menguntungkan ini merampas kesempatan kita untuk mengalami kedamaian yang ditemukan dalam mencari jawaban atas pertanyaan kita sendiri. Yang paling buruk, keadaan seperti itu membutakan kita secara religius, atau malah membuat kita tidak waras lagi, novelis Annie Dillard menulis: Secara keseluruhan, aku tidak menemukan orang Krstiani di luar katakomba yang cukup peka pada keadaan. Tidaklah ada seorang pun yang punya gagasan
    • Berbagai Paradoks 81 betapa pun sangat samar tentang kekuasaan macam apa yang sedang kita dukung. Atau, menurut dugaanku, apakah tak ada orang yang percaya? Gereja adalah anak- anak yang bermain di halaman dengan perangkat kimia. Mereka.membuat ramuan TNT untuk membunuh pada hari Minggu pagi. Adalah tidak waras memakai topi anyaman untuk pergi ke gereja; kita seharusnya memakai helm baja. Mereka seharusnya membagikan pelampung untuk alat keselamatan, dan pelontar cahaya tanda kecelakaan; mereka seharusnya mengikat kita pada bangku Gereja (dengan sabuk keselamatan). Sebab Allah yang sedang tidur mungkin bangun suatu saat dan melakukan pembalasan, atau Allah yang bangkit mungkin berkenan mengungsikan kita ke suatu tempat tanpa bisa balik kembali.
    • 82 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Kekuatan dari Kelemahan A ku sering merenungkan perkataan paradoks Yesus – sekurang-kurangnya supaya dapat mempraktikkan – yang mungkin paling sulit dalam Injil Matius, di mana Yesus menunjuk pada seorang anak. Ia berpaling memandang murid-muridNya dan berkata kepada mereka: “Barang siapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.”45 Menjadi seperti anak-anak berarti melepaskan lagi semua yang telah diajarkan masyarakat kita tentang bertumbuh dewasa. Itu berarti mengatasi godaan untuk tampak kuat, gagah perkasa. Ia berarti bersedia terluka, bukan sibuk melindungi diri. Itu berarti mengetahui bahwa kita punya keterbatasan dan kelemahan, dan dengan rendah hati mau menerima dengan ikhlas hati semua kelemahan dan keterbatasan itu. Kristus menyembuhkan orang sakit, memberi makan kerumunan orang, mengubah air menjadi anggur, dan berjalan di atas air. Ia punya kuasa yang sangat besar untuk digunakan. Tetapi ketika Ia ditangkap, dibawa ke depan Pilatus, dihina, dicambuki dan disalibkan, Ia tak mau membela diriNya sendiri. Dan Ia tidak memilih untuk dilahirkan di istana, melainkan dalam kandang binatang yang sederhana. Kristus memilih “kelemahan” kepasrahan, dan mungkin itulah kunci rahasia dari damaiNya. Dorothy Day menulis: 45 Mat 18:4
    • Berbagai Paradoks 83 Kita diminta mengenakan Kristus, dan kita mengingat Dia dalam hidup pribadi-Nya, hidup-Nya dalam kerja, hidup-Nya di dalam masyarakat, ajaran- Nya dan penderitaan hidup-Nya. Namun kita kurang mengenangkan hidup-Nya sebagai anak kecil, sebagai bayi. Ia tak bisa apa-apa. Ia tidak berdaya kuasa. Dan Ia harus puas dengan keadaan seperti itu. Tidak mampu melakukan apa-apa, dan tidak bisa melakukan prestasi apa pun. Gertrud Wegner seorang anggota Bruderhof yang berusia tujuh puluh tahun terpaksa menerima keadaan ketika suatu kecelakaan membuatnya lumpuh, tak bisa bergerak. Aku mengunjungi pameran bisnis bersama suamiku di Washington D.C. dan aku jatuh dan terluka parah pada urat tulang belakang. Aku segera tahu bahwa keadaanku kritis; seluruh tubuhku mati-rasa, dan aku lumpuh seluruhnya dari leher ke bawah. Dua operasi yang dilakukan banyak menolong, tetapi jam-jam untuk terapi (rutin dua kali sehari) berarti kerja keras dan perlu ketangguhan, sangat melelahkan. Dan dokter juga tidak tahu apakah aku bisa mendapatkan kembali kemampuanku untuk bergerak…. Kecelakaan yang kualami mengajarkan kerendahan hati, karena dalam hal-hal kecil aku harus dibantu orang. Bulan demi bulan kemajuan yang kuperoleh hanya sedikit. Dan perjuangan yang kulakukan sangat panjang dan menanjak. Ada saat-saat yang sangat sulit, namun aku juga belajar menerima kelemahanku, aku mencoba mengingat kata-kata Santo Paulus: “Kekuatan Kristus memperlihatkan diri dengan cara yang sangat mulia melalui kelemahan kita.”46 46 Bdk 2Kor 12:9-10
    • 84 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Ada perang batin dalam diriku. Kerinduanku yang besar akan kedamaian dan iman yang hendak kudapatkan kembali membantu aku melewatkan perang batin itu. Sepertinya jika suatu ketika dalam hidup Anda damai pernah bersemayam, damai itu akan datang lagi pada Anda berulang kali. Ketika memikirkan hidupku lagi, ada banyak hal yang terlintas. Aku berharap menjadi ibu yang lebih baik bagi anak-anakku. Aku ingin meluangkan waktu lebih banyak dengan ayahku yang sedang menjelang kematiannya karena kanker. Aku ingin menunjukkan bakti kasih pada ibuku justru pada waktu yang sulit seperti itu, dan menyemangati dia lebih banyak. Aku ingin lebih ramah kepada orang lain.... Ada banyak harapan tentang apa yang akan dilakukan dan dengan cara yang lain, tapi semua itu tidak membantu. Satu-satunya yang dapat kita lakukan adalah menerima keterbatasan kita dan melakukan awal yang baru setiap hari. Damaiku kurasakan dalam pengharapanku untuk dapat mengabdi Yesus dan melayani saudara-saudariku, sampai akhir hayatku, walaupun aku tahu bahwa untuk itu aku harus memohon rahmat khusus. Ketika aku bertambah tua, makin jelas bagiku bahwa tak seorang pun mendapatkan rahmat istimewa itu. Damai yang kuharapan tidak pada tempat yang selayaknya. Pendapat Gertrud menyentuh kebenaran yang penting: makin yakin kita pada kekuatan dan kemampuan kita sendiri, makin sedikit keserupaan kita dengan Kritus. Kelemahan kita sebagai manusia tak boleh menjadi penghalang yang menghindarkan kita dari Allah. Sejauh kita tidak memanfaatkan kelemahan itu untuk berdosa, kelemahan itu tak apa-apa. Namun penerimaan kelemahan itu lebih dari sekadar mengakui keterbatasan. Hal itu adalah pengalaman akan kekuatan yang lebih besar dari kekuatan kita sendiri dan kepasrahan padanya.
    • Berbagai Paradoks 85 Inilah sumber rahmat itu: menyerahkan kekuatan kita sendiri. Kapan saja suatu kuasa kecil berkembang dalam diri kita, Roh dan kuasa Allah mundur sampai tingkat tertentu. Kukira inilah salah satu pemahaman yang paling penting sehubungan dengan kerajaan Allah. Eberhard Arnold Kathy Trapnell, seorang anggota lainnya dari komunitas kami mengakui kebenaran kata-kata itu dalam hidup dan pencariannya: Kerinduan akan damai pada diriku berawal ketika aku sudah cukup umur untuk merasakan tidak adanya kedamaian dalam keluargaku, dan seringkali hal itu tertangkap dengan cara yang hebat. Sepanjang pendidikan Katolik-ku, sejak awal Sekolah Dasar sampai tahun terakhir di Perguruan Tinggi selalu ada pergumulan mencari kedamaian dalam diriku dan di antara teman- temanku. Jika seorang anak kecil Katolik yang baik menyadari dirinya melakukan kesalahan dan merasa menyesal, yang selanjutnya harus dilakukan adalah pergi ke kamar pengakuan dosa. Aku ingat benar betapa gembira diriku sebagai anak sekolah setelah mengaku dosa! Bahkan ketika masih di Perguruan Tinggi aku melakukan apa yang kusebut pengakuan “terbuka” kepada seorang Yesuit yang kukenal baik, dan bagiku perasaan dibenarkan oleh Allah menjadi sumber kedamaian. Lalu tibalah masa pemberontakan pada waktu aku jadi mahasiswa, fase aku jadi hippie yang kubanggakan. Aku marah pada status-quo dan segala sesuatu di dalamnya. Kukira waktu itu semua itu melawan kasih dan kedamaian. Aku mengganggap diriku sedang memperjuangkan damai, dengan berusaha mengakhiri Perang Vietnam dengan melakukan pawai protes, menyanyi, mendukung para penentang perang, dan lain- lain. Aku mengira diriku melakukan keadilan demi para pekerja migran dengan memboikot buah anggur dan mengacak-acak super-market yang menjualnya. Aku
    • 86 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? berusaha berbagi dengan segala yang kupunya, aku melakukan yoga, berhimpun dengan teman-teman lain dan belajar hidup bahagia dalam suatu kelompok. Tak satu pun dari semua itu memberikan damai padaku. Kukira sebabnya mengapa aku dulu tidak menemukan damai adalah karena motif dasarnya, yaitu orientasiku, tidak benar. Tak ada satu pun dari yang kulakukan dulu dan sekarang punya alasan dasar yang tepat. Aku menjadi allah bagiku sendiri, aku menjadi ukuran normatif dalam menilai hidupku sendiri dan hidup orang lain. Aku berdosa karena dengan sengaja dan menakutkan menjadi tuhan untuk diriku sendiri, dan aku berusaha melakukan apa saja dengan kekuatanku sendiri. Sia-sia. Kemudian aku mendapatkan semangat damai yang sama sekali berbeda – damai dari iman yang tanpa syarat menerima semua kelemahan kita, mengakuinya, dan mengarahkan kita kepada Yesus, pada Kerajaan, pemerintahan Allah di masa depan yang damai sejahtera. Pengertian baru ini membuat aku mawas diri. Aku melihat betapa egoisnya diriku, dan betapa aku bukan orang yang pendamai. Namun dengan menyerahkan hidupku kepada Tuhan, bukan hanya pada kasihNya, tetapi juga pada kerahiman-Nya - dan memberikan diriku untuk melayani orang lain, aku menemukan kekuatan baru, keajaiban dari kedamaian setiap hari. Segala sesuatu dalam masyarakat kita bergerak menjauh dari pengertian Kathy akan damai. Kita diajar untuk melakukan pertimbangan sebagai ukuran untuk mencela, untuk berkuasa. Kita semua menginginkan kasih dan damai. Tak seorang pun menyangkal bahwa kasih dan damai itu baik. Tetapi berbeda sekali jika kita mau berhenti sejenak dan bertanya apakah kita sudah mendapatkan kasih dan damai itu dalam hati kita sendiri. Sebab hal itu bukanlah bahan untuk dibicarakan.
    • Berbagai Paradoks 87 Mungkin itulah sebabnya begitu banyak orang yang mencari damai tidak mendapatkannya. Kita terlalu memikirkan peranan kita sendiri dalam mencari damai. Kita kurang rendah hati dan tidak ugahari, alih-alih berpaling pada Yesus dan memohon damai dari Dia, kita justru mengkhawatirkan citra kita di hadapan orang lain. Kita lupa bahwa Sabda Bahagia tidaklah ditujukan kepada para santo yang hebat yang bersinar di hadapan orang lain, tetapi ditujukan kepada orang-orang kecil. Penulis Henri Nouwen 47 yang meninggalkan kariernya yang gilang-gemilang di Harvard, Yale dan Notre Dame dan melayani orang-orang cacat, memahami hal ini bersama beberapa orang lainnya. Kita dipanggil agar menghasilkan buah:48 bukan menjadi orang yang sukses, bukan orang yang produktif, bukan orang yang telah berprestasi menyelesaikan ini-itu. Sukses bersumber dari kekuatan, stres, dan usaha manusia. Menghasilkan buah bersumber pada kerentanan dan pengakuan kita akan kelemahan kita sendiri. Untuk sekian lama aku mencari aman dan tenteram di antara para cendekia dan bijaksana, tanpa menyadari bahwa kerajaan Allah diwartakan untuk anak kecil; bahwa Allah telah memilih mereka yang berdasarkan standar manusia disebut bodoh adalah untuk mempermalukan mereka yang bijaksana. Tetapi ketika aku mengalami penerimaan tanpa pamrih dan hangat dari mereka yang tidak mempunyai 47 Henri Nouwen seorang pastor Katolik Belanda dan penulis lebih dari 40 judul buku rohani yang disukai baik oleh pembaca Protestan maupun Katolik. Setelah dua puluh tahun menjadi pengajar yang ternama, ia mengabdi di lingkungan orang-orang cacad di Toronto. Dilahirkan pada tahun 1932, Nouwen meninggal pada tahun 1996 karena serangan jantung. 48 Yoh 15:16
    • 88 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? kebanggan apa pun dan mengalami pelukan kasih dari mereka yang tidak mempertanyakan apa pun, aku lalu menyadari bahwa peluang secara rohani berarti kembali pada situasi miskin dalam roh, yang pada mereka itu Kerajaan Surga disediakan. Apa yang menggerakkan seseorang mencari situasi “miskin dalam Roh”? Kakekku menulis: Soalnya adalah benturan di antara dua tujuan yang bertentangan. Salah satu tujuan dikejar oleh orang- orang yang berkedudukan tinggi, orang besar, kaum religius, orang cerdik pandai, orang hebat, orang yang karena berkat-berkat yang ada padanya mewakili suatu puncak yang tinggi dalam rangkaian pegunungan kemanusiaan. Tujuan yang lain dicari oleh orang-orang yang sederhana, kaum minoritas, orang cacat dan terbelakang secara mental, para terpidana, yaitu lembah- lembah yang rendah di antara puncak-puncak yang tinggi. Mereka itu adalah yang direndahkan, diperbudak, dieksploitasi, kaum lemah dan miskin, yang paling miskin di antara yang miskin. Tujuan yang pertama menghendaki kemuliaan pribadi, ketenteraman bakat, hingga pada suatu tataran yang mendekati ilahi. Dan akhirnya orang itu disebut sebagai ilahi, dewa, tuhan. Yang lain mencari keajaiban dan misteri Allah menjadi manusia, Allah yang sedang mencari tempat yng paling rendah di antara manusia. Dua arah yang sama sekali berbeda. Yang satu bergerak naik menuju kemuliaan diri sendiri. Yang lain bergerak turun ke bawah menjadi manusia. Yang satu adalah ajakan cinta-diri dan kemuliaan-diri. Yang lain adalah jalannya Cinta Allah dan cinta pada sesama. Bila seseorang mendapatkan damai yang berasal dari penghayatan akan cinta Tuhan dan cinta sesama maka tak ada apa pun yang tak bisa dihadapi olehnya. Lihatlah Yesus di kayu salib. Di situlah letaknya kerentanan yang paling
    • Berbagai Paradoks 89 rendah, tetapi juga merupakan contoh utama kedamaian Allah. Apa pun yang dilakukan orang pada Yesus, Dia tidak mengasihani diri, tetapi justru memandang dan memaafkan para penjahat yang disalibkan di samping-Nya. Ia juga dapat berkata tentang para algojo yang menyalibkan diriNya. “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.”49 Ingatlah Stefanus, martir Kristiani pertama yang berlutut dan memandang ke surga dengan wajah yang bersinar-sinar sementara dilempari batu sampai mati. Ia juga berkata, “Tuhan, jangan tanggungkan dosa ini pada mereka.”50 Aku tidak yakin kedamaian seperti itu diperoleh oleh kekuatan manusiawi. 49 Luk 23:34 50 Kis 7:60
    • 90 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?
    • 91 Bagian IV Berbagai Batu Pijakan “Kita Memperoleh Kemajuan Sedikit Demi Sedikit” Rasul Paulus
    • 92 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Berbagai Batu Pijakan Thomas Jefferson begitu yakin bahwa mengupayakan kebahagiaan tidak dapat dipisahkan dari hak asasi manusia sehingga ia mencantumkannya di dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat dan menyebutnya sebagai kebenaran yang telah jelas sendiri. Namun orang Kristiani juga punya keyakinan ini: barangsiapa mengejar kebahagiaan ia tak akan pernah mendapatkannya. Karena kegembiraan dan damai begitu sulit diraih, maka kebahagian juga seperti cahaya yang bergerak di malam hari, suatu bayang- bayang, yang jika kita ulurkan tangan untuk meraihnya, ia lenyap di udara. Tuhan mengaruniakan kegembiraan dan damai bukan kepada orang yang mengejarnya, tetapi kepada mereka yang mencari Dia dan rindu mengasihi Dia. Kegembiraan dan damai hanya ditemukan dalam kasih dan tidak di tempat yang lain. John Stott W alaupun pikiran kita sulit menerima, namun nyatanya kehadiran damai di dalam hidup kita sedikit sekali hubungannya dengan usaha keras dalam rangka mencarinya. Adalah fakta semata bahwa damai kadang lenyap dari dia yang paling ngotot mencarinya. Sedang mereka yang tidak mengejar damai itu – dalam beberapa kejadian malahan yang tak pernah memikirkannya – dengan kebetulan mendapatkan damai. Kitab Suci memuat belasan ayat seperti 1 Petrus 3:11 yang meminta kita menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, dan berusaha hidup dalam damai, “sekalipun harus mengejar, menangkap dan memeluk damai itu.”
    • Berbagai Batu Pijakan 93 Masalah apakah kita harus mengejar secara aktif damai itu atau tidak belum pernah sepenuhnya terjawab. Damai adalah tema yang sangat luas, dan untuk membahasnya dalam suatu pernyataan yang besar dan mencakup segalanya tidaklah akan membantu siapa pun. Begitu juga usaha untuk memperoleh suatu solusi akbar, misalnya suatu usaha menyelamatkan umat manusia atau mewujudkan damai dunia. Kebanyakan dari kita sebenarnya tidak kurang komitmen untuk mewujudkan apa yang mungkin dapat kita jangkau, mungkin hal-hal kecil, namun penting untuk kita perhatikan. Itulah sebabnya aku percaya bahwa tulisan Stott itu mungkin memuat kunci petunjuk yang lain ke arah damai: daripada mengejar damai demi damai itu sendiri, kita harus mencarinya dengan cara melakukan kasih. Santo Paulus menyarankan hal yang sama dalam surat kepada Jemaat di Roma: “marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera.”51 Setiap kita dapat melakukan kasih, dan setiap kita tentu dapat menemukan di suatu tempat dan suatu masa dalam hidup kita, sesuatu yang bisa kita lakukan yang mengantarkan kita pada damai itu. Tentu saja sebelum melakukan apa pun, kita harus menilih apa yang akan kita lakukan. Yesus berkata: “Damai-Ku Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan kepadamu oleh dunia,” 52 dan perkataan itu mengandung suatu janji, sekaligus mengundang kita untuk memilih. Kita dapat menerima damai yang ditawarkan oleh Yesus, atau kita dapat balik badan memunggungi Dia dan mencari damai yang diberikan oleh dunia. Satu pilihan di antara begitu 51 Rm 14:19 52 Yoh 14:27
    • 94 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? banyak yang lain, namun hendak kukatakan bahwa pilihan itu sangat menentukan, karena pengaruhnya akan sangat dirasakan dalam semua bidang kehidupan kita, dan setiap pilihan lain yang kita buat entah yang bersifat ekonomis, pribadi, politis dan sosial akan dipengaruhi olehnya, cepat atau lambat. Bahkan Yesus sendiri menghadapi pilihan-pilihan. Setelah dibaptis di Sungai Yordan oleh Yohanes Pembaptis, Roh membimbingnya ke padang gurun dan di sana Ia dicobai iblis. Ia berpuasa empat puluh hari empat puluh malam, dan sesudahnya, dalam keadaan yang sangat lemah dan rentan Yesus tersudut dan harus mengambil keputusan, apakah mengambil “jalan yang mudah” dan menyerah dalam rancangan setan, atau tegak berpihak pada Allah.53 Sepanjang hayat kita, setiap orang di antara kita pasti mengalami masa-masa pencobaan walaupun mungkin cobaan itu tidak begitu dahsyat. Tetapi keputusan Yesus untuk tetap setia kepada Bapa – dan kemenangan yang kemudian didapat – tentulah memberi kita harapan dan kekuatan. Persitiwa itu juga mengingatkan kita bahwa kita semua dipanggil untuk menjadi anak-anak Allah. Allah menebar kebaikan Tak seorang pun terlahir jahat Kita semua dipanggil agar suci.... Mengapa kemudian ada banyak kejahatan? Karena kecenderungan yang ada dalam hati manusia Merusak, dan perlu dimurnikan.... Tak ada orang yang terlahir sebagai penculik Tak ada orang yang terlahir sebagai penjahat Tak ada orang yang terlahir sebagai penyiksa Tak ada orang yang terlahir sebagai pembunuh Kita semua dilahirkan sebagai orang baik 53 Mat 4:1-11
    • Berbagai Batu Pijakan 95 Supaya saling mengasihi Supaya saling memahami Lalu mengapa, ya Tuhan, begitu banyak Onak duri tumbuh di kebun-Mu? Musuh melakukannya, kata Kristus Dan orang membiarkan saja Onak duri tumbuh di hatinya.... Kaum muda: sadarlah, engkau dipanggil untuk kebaikan namun generasi tua – kusesalkan, generasiku sendiri- memberimu warisan egoisme yang begitu pekat dan kejahatan yang begitu padat. Buatlah baru, gandum baru, tebaran benih baru Ladang masih segar dari tangan Allah. Anak-anakmu, kaum muda, jadikan dunia baru Oscar Romero Aku beruntung tumbuh dewasa bersama orang tua yang mendorongku (dalam kata-kata Uskup Romero) “sadarlah, engkau dipanggil untuk kebaikan.” Bagi orang tuaku, janji Kristus akan damai itu bukan hanya ayat dalam Kitab Suci, melainkan tawaran yang nyata yang harus diambil. Baik Papa maupun Mama bukan orang suci. Mereka membenci kesalehan yang munafik dan kadang-kadang membuat orang lain marah karena cara-cara mereka yang blak-blakan, langsung menukik ke pokok persoalan. Namun tak seorang pun yang mengenal mereka akan menyangkal bahwa mereka selalu berusaha menyatukan kata dan perbuatan mereka, dan bahwa kebahagiaan hidup mereka adalah dalam melayani Tuhan dan sesama. Bila Papa bicara tentang damai Tuhan, konteksnya selalu sama: bahwa damai itu hanya diberikan kepada mereka yang tidak terikat pada harta duniawi. “Di mana hartamu berada, di situlah juga hatimu berada.”54
    • 96 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Ayah Papa, seorang penulis dan dosen terkenal di Berlin, meninggalkan kariernya dan menghayati hidup dengan kemiskinan dalam tata cara biarawan Fransiskan (menurut teladan Santo Fransikus Asisi). Ketika anak-anaknya masih muda, ayah Papa memberitahukan bahwa ia tidak meninggalkan warisan uang; yang diwariskannya untuk mereka adalah teladan hidup yang berpusat pada Kristus. Orang tuaku memberikan warisan yang sama kepadaku, walaupun aku tidak selalu menghargainya. Malahan ketika aku remaja dulu, dengan sadar aku memberontak. Memang tidak dengan melakukan hal- hal yang sekarang pun dianggap skandal. Aku tahu nilai- nilai yang dijunjung tinggi oleh orang tuaku dan kurang lebih aku sendiri juga memberlakukannya untuk diriku. Aku juga menyadari pengorbanan-pengorbanan yang mereka lakukan untuk mengikuti Tuhan. (Ibuku meninggalkan sekolah asrama berlawanan dengan harapan keluarganya yang menginginkan dia menjadi seorang profesor, dan hanya setelah bertahun-tahun kemudian ketegangan di antara mereka itu mencair). Tapi mula-mula yang kuinginkan adalah sekadar bersenang-senang. Jika ada kesempatan untuk itu, biasanya aku berpihak bersama-sama teman sebayaku, sekalipun hal itu melukai hati orang tuaku. Tetapi kemudian Tuhan menghentikan jalanku. Ketika umurku empat belas tahun, keluarga kami pindah meninggalkan komunitas kami di pedalaman Paraguay di mana aku dibesarkan, ke Woodcrest, komunitas kami yang baru di New York. Pada waktu kedatangan kami di Amerika Serikat, sepertinya ada suasana umum yang penuh optimisme 54 Mat 6:21
    • Berbagai Batu Pijakan 97 – ekonomi tumbuh pesat, cahaya gemilang “kemenangan” Amerika atas Jerman dan Jepang belum pudar. Sementara itu Perang Dingin sedang berlangsung ketat, dan banyak orang takut pada bencana nuklir. Setidak-tidaknya di dalam lingkaran di mana orang tuaku pindah, orang-orang tak lagi mengelu-elukan kemenangan, kelimpahan dan perang, dan mencari sesuatu yang baru: kesederhanaan, kebersamaan, keselarasan, dan damai. Sejak kami tiba di Woodcrest tampak olehku pencarian itu. Ada ratusan tamu (kebanyakan masih muda) dan belasan anggota baru dengan berbagai latar belakang yang berbeda, yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya tak terpikirkan olehku. Di sini pria dan wanita yang telah sukses secara duniawi memilih meninggalkan segalanya dan menggantikannya dengan suatu kehidupan yang diabdikan kepada Allah. Di sini ada orang-orang yang dengan suka rela menjual rumah dan mobil mereka dan meninggalkan pekerjaan mereka yang baik dan memilih hidup miskin. Bagiku pancaran wajah dan nada kata-kata mereka mencerminkan kepuasan dan kegembiraan. Dengan segera semua hal yang tadinya kuinginkan tampak menjadi kurang penting lagi, dan rencana-rencana hidupku setelah Sekolah Menengah Atas: Perguruan Tinggi, uang dan kebebasan orang dewasa – mulai berubah. Tak berapa lama kemudian semua itu tampak remeh-temeh dan tak berarti. Aku punya tujuan-tujuan dan prioritas baru. Sulit untuk menunjukkan peristiwa terpenting mana yang telah mengubah arah yang hendak kutuju. Aku masih ingat saat aku memberitahukan keputusanku untuk hidup secara lain – bagi Tuhan, bukan demi diriku sendiri – sejak sekarang, kepada orang tuaku. Aku tidak yakin apakah aku bisa menyebutkan sebagai suatu “pertobatan” definitif. Tetapi peristiwa itu adalah satu di
    • 98 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? antara sekian pengalaman penting yang menguatkan kerinduanku untuk menemukan tujuan sejati dari hidupku, dan memperdalam keyakinanku. Berbagai buku, khususnya novel-novel dan cerita pendek dari Leo Tolstoy dan Dostoevsky membantu membentuk wawasanku walaupun baru di kemudian hari aku menyadarinya. Aku seorang yang kutu buku, tetapi aku tidak menganggap buku-buku itu sebagai bahan religius. Pembicaraan dengan para tamu seperti Dorothy Day dan Pete Seeger55 meninggalkan dampak besar pada diriku. Mengenangkan kembali hal itu, aku juga menyadari peran yang dimainkan oleh orang tuaku, walaupun aku belum menyadarinya, setidak-tidaknya sampai aku melihat air mata mereka menetes ketika aku memberitahukan perubahan niatku. Mereka tentu sering berdoa untukku, dengan tekun. Mungkin faktor yang paling penting pada tahun-tahun itu adalah pengaruh ayahku sebagai pemimpin jemaat, memerhatikan Papa membaptis orang lain selalu mengesankan diriku. Aku merasakan kehadiran Roh Kesucian, kehadiran Allah, dan perasaan ini dikuatkan kemudian hari, ketika aku menyaksikan perubahan hidup orang-orang yang dibaptis itu. Ada yang berubah sama sekali. Tampaknya mereka mendapatkan kepribadian yang baru seluruhnya. Aku menginginkan hal seperti itu pada diriku sendiri agar terputus sama sekali dari keinginkanku yang egois, dan memperoleh kebebasan dan kegembiraan 55 Pete Seeger adalah penulis dan penyanyi lagu-lagu rakyat Amerika Serikat. Lagunya antara lain We Shall Overcome, Where Have All The Flowers Gone (dipopulerkan The Kingstons Trio, 1962), If I Had a Hammer (dipopulerkan oleh Peter, Paul & Mary, 1963) dan Turn, Turn, Turn (The Byrds, 1966). Dia juga aktivis politik (kiri) dan lingkungan hidup.
    • Berbagai Batu Pijakan 99 dari suatu yang baru. Ketika umurku delapan belas tahun aku dibaptis dan itu merupakan peristiwa yang menentukan; sekarang aku tahu tak dapat berpaling lagi dari keputusanku untuk mempersembahkan hidupku sepenuhnya dan selamanya kepada Tuhan. Di awal buku ini aku mengutip seorang rabbi yang menyatakan bahwa damai dibangun “bata demi bata”. Gambaran itu bagus sekali. Suatu pembicaraan tentang sebuah buku, suatu pengalaman yang menggerakkan hati kita (sekalipun kita tidak bisa menjelaskan sebabnya), dan suatu keputusan, pada dirinya sendiri masing-masing tidak harus mengubah arah hidup kita. Namun bersama- sama, semuanya itu membentuk bangunan yang kemudian mewujudkan diri kita. Akhirnya mereka jugalah yang nantinya entah akan mencegah kita mendapatkan kedamaian hati, atau malahan akan mengantarkan kita padanya. Aku berjumpa dengan orang-orang yang dapat menceritakan kapan tepatnya mereka bertobat, bagaimana terjadinya, dan aku tak meragukan kesungguhan mereka. Namun banyak dari kita mungkin sama dengan apa yang dikatakan almarhum penulis Inggris Malcom Muggeridge56, yang menulis: Beberapa orang mempunyai pengalaman seperti Rasul Paulus di Jalan Damaskus57, dan aku sering berdoa memohon terjadinya peristiwa yang begitu dramatis dalam hidupku, yang akan membuatku memulai lembaran sejarah baru, seperti dari Seb. Masehi menjadi 56 Malcolm Muggeridge (1903-1990) seorang wartawan dan penulis Inggris. Ia dikenal sebagai “penemu” Ibu Teresa dengan melakukan wawancara televisi pada tahun 1968. Pada usia 79 tahun, ia yang tadinya seorang agnostik menjadi Katolik bersama istrinya pada tahun 1982, terkesan pada Ibu Teresa. 57 Kis 9:1-19
    • 100 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Masehi. Tetapi aku tidak juga kunjung mengalami peristiwa semacam itu; aku cuma tertatih-tatih, seperti Peziarah yang digambarkan Bunyan 58. Bagiku, pertobatan bukanlah suatu langkah tuntas, melainkan suatu proses. Pertama-tama adalah kerinduan akan sesuatu yang baru, kemudian awal untuk melayani orang lain, dan selanjutnya pembaptisan. Sekarang, setelah empat puluh tahun berlalu, aku masih mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru dan menemukan jawaban- jawaban baru. Kemudian terlintaslah gambaran tentang batu-batu pijakan dalam pikiranku. Dalam bagian berikut ini disajikan semacam pijakan kaki. Tidak semuanya halus dan aman. Misalnya kerendahan hati dan kepercayaan, mengandung risiko- risiko yang ternyata dapat menjadikan orang tergelincir. Namun sepanjang lintasan menuju damai, masing-masing batu pijakan itu harus dilalui. 58 Dua volume buku cerita Pilgrim Progress karangan John Bunyan, penulis kristen abad ke-17.
    • Berbagai Batu Pijakan 101 Kesederhanaan Pada umumnya tujuan hidup bukanlah untuk berpihak pada mayoritas, tetapi supaya kita tidak tergolong dalam kelompok yang tidak waras ... ingatlah bahwa ada Allah yang tidak menghendaki pujian dan kemuliaan dari manusia yang diciptakan menurut citra-Nya, namun lebih mengharapkan agar mereka itu, dibimbing oleh pengertian yang dianugerahkan-Nya, bertindak menjadi makin serupa dengan Dia. Pohon ara jelas punya tujuan sendiri, begitu juga anjing, begitu pula lebah. Lalu, apakah mungkin manusia tidak memenuhi panggilan hidupnya? Namun sayang, kebenaran yang agung dan suci ini hilang dari kenangan. Kesibukan hidup sehari-hari, perang, ketakutan yang luar biasa, keluhan jiwa dan adat kebiasaan telah menjadi penyebabnya. Marcus Aurelius B agi kebanyakan dari kita hasrat akan kedamaian tidak timbul dari semacam tindakan luhur yang berusaha menyatu dengan Allah, walaupun kerinduan seperti itu juga dirasakan. Biasanya, hasrat itu digerakkan oleh sesuatu yang sederhana seperti kekecewaan, stres dan ketegangan dalam hidup kita, dan kekhawatiran (seperti yang disebutkan oleh Marcus Aurelius) kalau- kalau kita nanti tidak waras. Budaya kita tidak hanya ditandai oleh ketergesaan, tetapi bahkan didorong oleh keadaan yang serba tergesa
    • 102 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? itu. Kita terobsesi (menguntip Thomas Merton) dengan adanya kekurangan waktu dan ruang, dengan semangat penghematan waktu, dengan penaklukan angkasa-luar, dengan membuat arah baru ke masa depan dan “kekhawatiran akan ukuran, volume/isi, jumlah, kecepatan, nomer, harga, daya tenaga dan percepatan.” Ia melanjutkan pernyataannya, bahwa kita hidup dalam waktu tanpa ruang yang adalah waktu dari masa akhir. Kita berjumlah miliaran, dijadikan massa himpunan, dipimpin, diberi nomor, dibariskan di sana sini. Diarahkan, dilatih, dipersenjatai, ditarik pajak ... dibuat mual pada kehidupan. Dan ketika akhir mendekat, sudah tak ada lagi ruang bagi alam. Kota-kota berjubel memenuhi permukaan bumi. Tak ada ruang untuk ketenangan. Tak ada ruang untuk menyendiri dalam sepi. Tak ada tempat untuk merenung. Tak ada ruang untuk memerhatikan dan menyadari keadaan kita. Yang lebih buruk lagi, kita tidak hanya kekurangan damai (waktu, ruang, tempat) untuk diri kita; kita bahkan mencegah satu sama lain untuk mendapatkannya. Dalam dua puluh lima tahun terakhir saja berbagai penemuan dan pengembangan sangat mengubah cara hidup kita. Komputer pribadi, mesin facsimile, telepon tanpa kabel dan speaker transistor, e-mail dan berbagai perangkat teknologi tinggi yang menghemat tenaga begitu mengubah kehidupan kerja dan rumah tangga kita. Namun apakah semua itu membawa kedamaian dan kebebasan yang dijanjikan kepada kita? Tanpa menyadarinya, kehidupan kita menjadi kering (atau malah mengalami cuci-otak) karena hasrat kita yang menggebu-gebu akan teknologi itu. Kita menjadi budak dari suatu sistem yang mendesak kita agar terus membeli alat-alat baru, dan kita telah menerima dorongan itu tanpa
    • Berbagai Batu Pijakan 103 mempersoalkan lagi alasan bahwa dengan bekerja lebih keras, kita niscaya akan punya waktu yang lebih leluasa untuk mengerjakan hal-hal yang lebih penting. Itu adalah logika yang salah kaprah. Ketika penyempurnaan semua benda dari perangkat lunak sampai ke mobil kemudian ternyata membuat kita terpaksa terpental-pental menyesuaikan diri; dan jika nyatanya kita lalu harus terus berusaha bersaing dengan para tetangga (sekalipun berlawanan dengan pemikiran kita), kita harus bertanya pada diri sendiri: apanya yang telah kita hemat selama ini, dan apakah hidup kita menjadi lebih damai? Yang pasti kerumitan hidup yang terus bertambah sekarang ini merampok ketenangan kita dan menghasilkan wabah yang diam-diam meluas terkait dengan ketegangan, kekhawatiran, dan kebingungan. Pendidik dari Jerman Friedrich Wilhelm Foerster (1896-1966) lima puluh tahun yang lalu sudah menulis: Sejak dulu kala, peradaban teknis kita telah memanjakan hidup dalam segala hal, namun lebih dari situasi di masa lalu, manusia kini tanpa berdaya terpuruk oleh ledakan hidup. Hal ini semata-mata disebabkan budaya yang sekadar teknis–material tidak dapat membantu kita menghadapi tragedi. Manusia dewasa ini, bagaimanapun penampilan luarnya, tak punya gagasan, tak punya daya kekuatan untuk menguasai kegelisahan dan keterpecahan dalam dirinya sendiri. Ia tak tahu harus berbuat apa dengan penderitaan – bagaimana melakukan sesuatu yang konstruktif dari penderitaan itu – dan hanya memandang penderitaan itu sebagai sesuatu yang menindas dan menguras dia dan menghalangi hidup. Ia tak punya kedamaian. Dan pengalaman yang sebenarnya dapat membantu seseorang mengaktifkan hidup rohani agar mengendalikan jalannya kehidupan seperti itu, malahan bisa mengirimnya ke tempat perawatan mental.
    • 104 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Dalam kaitan dengan “trend’ mutakhir, majalah mingguan Time memuat laporan tentang pasangan muda yang pindah dari lingkungan mewah di pinggir kota Ohio karena yang wanita merasa muak tinggal di antara tetangga di mana orang-orang “menggunakan semua waktu mereka, termasuk waktu tidur, untuk bekerja keras supaya dapat memenuhi rumah mereka yang besar dan luas dengan barang-barang yang mahal.” Wanita itu merindukan “ketenangan, kesederhanaan, semacam kedamaian hati.” Mulanya, kehidupan mereka dalam lingkungan kota kecil baru itu serasa sempurna, namun tak lama kemudian, orang-orang yang tak punya pekerjaan membuat angka kejahatan meningkat, dan kesulitan dengan para tetangga yang berpikiran sempit memusingkan kepala. Mengambil keputusan untuk tidak menyerah, wanita itu menyibukkan diri dengan masalah renovasi (pemugaran) tanah dan bangunan bersejarah di situ dan urusan Dewan Sekolah. Tampaknya semua ini tidak memuaskan juga. Akhirnya pasangan itu membuat rencana besar untuk mendapatkan pola hidup yang tenang: mereka pindah ke Nantucket untuk memulai cara hidup yang lebih tenang, yang memungkinkan mereka mengalami “sarapan–di–tempat–tidur”.... Seperti kebahagian, kesederhanaan tidak selalu bisa dikejar. Pencarian kesederhanaan yang diusahakan demi kesederhanaan belaka mungkin hanya akan menghasilkan kekecewaan. Kita mungkin tak mau disilaukan oleh gaya hidup materialistis dan ingin lepas dari belenggunya, namun untuk itu mungkin kita dituntut melakukan lebih dari sekadar mengubah kecepatan langkah kita. Dalam masa muda orang tua saya di Eropa pada tahun 1920-an, kerinduan akan hidup sederhana dipadukan dengan kerinduan akan hal-hal yang saleh,
    • Berbagai Batu Pijakan 105 dekat dengan alam, komunitas dan keselarasan dengan sang Pencipta. Seperti kaum muda di tahun enam puluhan, kaum muda di zaman orang tuaku juga membentuk koperasi yang membuat mereka lebih akrab satu sama lain dan – walaupun sangat jauh dari kosa- kata bahasa agama – lebih dekat dengan Tuhan. Dewasa ini, suara-suara seperti Wendell Berry59 (yang dikenal dengan Henry David Thoreau60 dari Kentucky) menekankan perlunya kembali ke alam, belajar untuk berswa-sembada, dan “menghayati hidup sederhana supaya orang lain juga hidup sederhana.” Di sebelah barat daya Perancis, Thich Nhat Hanh menyelenggarakan Village des Pruniers (Desa Plum), suatu tempat retret dan komunitas yang terutama dipenuhi oleh para biksu, biksuni dan keluarga-keluarga Vietnam. Ia banyak membicarakan hubungan tentang kesederhanaan dan damai. Dari antara kami yang mempunyai anak-anak muda (atau cucu, keponakan lelaki dan perempuan) tak akan lupa bahwa kesederhanaan mereka mengajarkan hal-hal yang penting kepada kami. Lain dari orang dewasa, anak- anak cenderung merangkul hal-hal yang mendasar dan langsung. Mereka memperoleh kegembiraan besar dalam hal-hal yang sederhana dan alamiah. Mereka menghayati hidup yang lebih penuh sekarang ini dan lebih siap bertindak sepenuh hati dengan spontan, karena pikiran mereka lebih bebas dari berbagai rencana, skema, larangan-larangan dan motif-motif. 59 Sastrawan, budayawan, kritikus ekonomi, pecinta lingkungan Amerika. Lahir tahun 1934. 60 Henry David Thoreau (1817-1862) adalah filsuf , penulis ekologi dan sejarah alam yang menjadi dasar bagi ilmu lingkungan hidup sekarang ini.
    • 106 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Kesederhanaan bukanlah suatu tujuan. Namun kesederhanaan tetap merupakan sesuatu yang terus- menerus dihayati ketika harta, kegiatan, dan agenda- agenda memisahkan kita dari hal-hal yang penting dalam hidup kita: keluarga, teman, hubungan-hubungan yang konstruktif dan pekerjaan yang bermakna. Semua ini menghubungkan kita satu sama lain dan membuat kita makin akrab. Kita harus lebih banyak meluangkan waktu bersama-sama anak-anak kita tanpa perangkat dan mainan-mainan kita agar tidak terlalu bergantung pada barang-barang itu dan lebih dekat pada Tuhan. Kristus berkata, “Apa gunanya seseorang mendapatkan seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?”61 Aku sering merenungkan pertanyaan sederhana itu dan mendapatkan kedamaian di dalam renunganku itu. Bukanlah suatu ancaman yang membayangi kepala kita di situ, melainkan sungguh suatu pedoman, sesuatu yang mengingatkan kita tentang prioritas yang benar bagi kita. 61 Mat 16:26
    • Berbagai Batu Pijakan 107 Kesunyian Lidah adalah senjata yang sangat ampuh dalam rangka manipulasi. Arus kata-kata deras mengalir dari kita karena kita terus-menerus berproses menyesuaikan citra diri kita dalam masyarakat. Kita begitu khawatir akan apa yang kita kira dilihat orang dalam diri kita, sehingga kita perlu bicara untuk meluruskan pengertian mereka. Jika aku telah melakukan sesuatu yang salah (atau bahkan sesuatu yang benar namun kukira Anda salah mengerti) dan mendapatkan bahwa Anda tahu tentang hal itu, aku akan tergoda untuk membuat Anda memahami tindakanku itu. Kesunyian, diam, merupakan disiplin yang mendalam dari roh, karena diam menghentikan segala macam pembenaran diri. Salah satu buah dari kesunyian, diam, adalah kebebasan untuk mempersilakan Allah menjadi hakim bagi pembenaran diri kita. Kita tak perlu meluruskan pendapat orang lain. Richard J. Foster62 S alah satu hambatan terbesar untuk memperoleh damai adalah ketidakmampuan kita untuk diam dalam kesunyian. Sebab setiap kali kita berusaha menahan lidah kita dan memikirkan diri kita sendiri, selalu ada orang lain yang membuat kepala kita berpaling dan nimbrung bicara. Kita terus-menerus merampas damai dari diri kita sendiri, karena kita memilih untuk terjun ke tengah- tengah urusan orang lain. Kita bicara. Kita bergosip. Bergunjing. Dan kita lupa bahwa untuk setiap kata-kata yang kita ucapkan dengan sia-sia, kita akan dihakimi.63 62 Seorang teolog dan penulis dari tradisi Quaker. 63 Mat 12:36
    • 108 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Diam dalam sunyi mungkin bukan “urusan besar” dibanding dengan aspek-aspek lain dari damai yang kita bahas dalam buku ini. Penulis Max Picard menyatakan bahwa diam dalam sunyi “menjauhkan dunia untung-rugi dan kegunaan. Tak dapat dieksploitasi. Anda tak kan dapat memperoleh apa-apa dari situ. Sesuatu yang “tidak produktif”. Karena itu sering dianggap tidak berguna. Ada banyak pertolongan dan kesembuhan dalam kesunyian daripada dalam semua hal yang berguna.” Bila kita sendirian, sunyi di luar mudah kita kembangkan (Namun di dalam diri kita, mungkin kita sama sekali tidak tenang; kepala kita mendengung dengan berbagai gagasan dan rencana-rencana). Dan bila kita bersama orang lain, kesunyian menjadi lebih sulit. Bukan hanya menyangkut sikap untuk tidak bicara, tetapi lebih dari itu juga kesediaan kita untuk belajar mendengarkan. Dalam komunitas Bruderhof, di mana pertemuan malam tentang ibadat, bisnis, bacaan atau sharing informal diselenggarakan beberapa kali dalam seminggu, orang mungkin mengira kami mengerti nilai kesunyian. Mungkin memang begitu. Namun heran juga bagaimana hasrat kami untuk mengungkapkan diri, untuk menyuarakan pendapat dan untuk membuat diri kita didengarkan, memperoleh jalan dalam dialog yang menghasilkan buah. Tanpa maksud untuk bereaksi, bukan untuk merevisi, membumbui atau menjelaskan, bahkan tidak untuk menanggapi, semata-mata mendengarkan saja sudah merupakan suatu karunia. Jika kita sungguh dapat mendengarkan, sungguh memerhatikan, lalu Tuhan bisa bicara. Ini merupakan suatu disiplin. Pekerjaan murid. Ibu Teresa menyatakan bahwa apa yang harus kita katakan tidaklah sepenting apa yang Tuhan hendak katakan kepada kita dan melalui kita: “semua kata-
    • Berbagai Batu Pijakan 109 kata kita tidak ada gunanya jika tidak berasal dari dalam. Kata-kata yang tidak membawa terang Kristus hanya menambah kegelapan.” Banyak orang menganggap kesunyian sebagai perangkap bagi hidup yang menderita tanpa ada perlunya – sesuatu yang hanya untuk para biarawan atau suster, bagi kaum religius. Memang benar dalam banyak ordo dan kongregasi religius para anggotanya melatih kesunyian. Dalam komunitas kami, janji untuk berdiam diri hanya dilakukan untuk waktu yang pendek oleh seseorang yang bermaksud mendapatkan penegasan komitmen dirinya, atau sebagai suatu tanda penyesalan. Namun mengapa kesunyian dipandang secara negatif begitu? Kesunyian dapat membebaskan kita dari beban keharusan untuk menjawab. Kesunyian membantu kita menghindarkan situasi hanyut oleh hal-hal remeh-temeh. Di antara kelompok awal Society of Friends (Quaker), ibadat dan pelayanan berada di tempat kedua, dan yang pertama adalah praktik bersama untuk berdiam diri, yang mereka pandang bukan sebagai suatu tujuan, melainkan sebagai cara untuk menunggu Allah. Kelompok Friends merasakan seperti itu, karena kesunyian menjauhkan seseorang dari dirinya sendiri, dan memasuki suatu kawasan yang lebih besar, suatu situasi yang sangat banyak menghasilkan, di mana didapatkan kosensus dan kesatuan sekalipun untuk masalah yang berdaya mencerai-beraikan. Jika bicara, pencarian, dan doa tidak dapat membawa kita kemana pun, kesunyian memungkinkan Roh didengarkan dan suatu jawaban diperoleh. Berdiam diri di hadapan Allah memiliki arti yang sungguh mendalam: dalam keheningan itu, jiwa seseorang tenggelam ke dalam api unggun kebersamaan. Dalam lingkaran ibadat, paduan nada kehidupan yang
    • 110 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? mendasar dan paling pribadi mendapatkan rangsangan yang terdalam.... Dalam kegiatan bernapas yang senyap dan dalam dialog tanpa kata antara jiwa dengan Allah, hanya berdua saja, dapat diperoleh kedalaman kebersamaan yang menyatu (communion). Eberhard Arnold Kadang-kadang berdiam diri membutuhkan suasana sunyi. Jika kita hidup bersama dalam jalinan yang erat dengan orang lain, dalam keluarga yang akrab, atau komunitas yang rukun, misalnya, sangat perlu kadang-kadang mempunyai waktu untuk menyepi sendirian. Bonhoeffer 64 menyatakan bahwa mereka yang tidak dapat hidup dalam komunitas tidak dapat hidup sendirian, namun yang sebaliknya juga benar. Mereka yang tidak dapat hidup sendiri tidak dapat hidup dalam komunitas. Kakekku menulis: Ketika kita menghidup dan menghembuskan napas saja, kita memerlukan kesendirian untuk memperoleh kekuatan bagi masa-masa di mana kita bersama orang lain. Dari karya Nietzche 65 kita tahu kehidupan Zoroaster66, bahwa nabi kuno itu sering menyendiri bersama binatang peliharaannya. Ia pergi keluar dan berjalan diam-diam di antara binatang-binatang buas yang cerdas, kuat, agung namun jinak, dan melalui tindakan seperti itu ia memperoleh kekuatan dan merasa terdorong lagi untuk menghadapi manusia. 64 Dietrich Bonhoeffer adalah seorang teolog Lutheran (1906-1945). Karena melawan Nazi ia ditangkap dan digantung sebelum Perang Dunia Kedua berakhir. 65 Friedrich Nietzche filsuf eksistensialis dan pasca-modernisme Jerman (1844-1900). Bukunya antara lain Also sprach Zarathrusta (Demikianlah Zarathrusta Berkata). 66 Zoroaster atau Zarathrusta adalah nabi kuno dari abad ke-5 sebelum Masehi dari daerah Persia. Ia bicara soal yang baik dan yang jahat.
    • Berbagai Batu Pijakan 111 Secara pribadi, kupikir penting untuk memperoleh, saat teduh setiap hari sekalipun hanya untuk beberapa menit saja. Aku dan istriku berjalan-jalan dalam diam pada pagi hari sesering mungkin, dan itu adalah cara yang baik untuk memfokuskan pikiran kita. Orang-orang lain di dalam komunitasku juga melakukan hal itu: salah satu pasangan yang lebih tua berjalan-jalan sebelum makan malam setiap hari, semata-mata untuk menenangkan diri bersama dan menikmati malam. Terutama ketika sedang mengalami saat- saat kemelut atau kehilangan, daya penyembuh dari keheningan malam jangan diremehkan. Aku masih mendengar suara Ria Kiefer, seorang tua di masa sekolahku dulu, terngiang di telingaku ketika ia menyuruh seseorang yang kelihatan sedang sedih, “Freu’ dich an der Natur!”- Keluarlah. Nikmatilah alam! Dalam bukunya Freedom from Sinful Thoughts ayahku menulis tentang kesunyian jenis lain – pelepasan, sepi batin. Ada banyak yang dapat dikatakan tentang pelepasan; para mistikus menulis banyak buku tentang itu. Namun pelepasan dapat juga dikatakan dengan sangat sederhana sebagai rasa damai yang timbul setelah kita membuang apa saja yang memenuhi pikiran kita – seluk-beluk pekerjaan, rencana-rencana, dan kecemasan tentang masa depan – dan secara batin menjadi teduh. William Penn, seorang Quaker abad ketujuh belas memberi penjelasan mengapa ini penting: Cintailah kesunyian bahkan dalam pikiran; karena hubungan gagasan-gagasan terhadap pikiran adalah sama dengan hubungan kata-kata dengan tubuh, mengganggu. Banyak berkata, sama dengan banyak berpikir, adalah pemborosan; di dalam banyak gagasan, sebagaimana dalam banyak kata-kata terdapat
    • 112 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? dosa. Kesunyian sejati adalah pikiran yang tenang, yang hubungannya terhadap Roh adalah sama dengan artinya tidur bagi tubuh, yaitu gizi dan kesegaran. Kesunyian dalam pikiran adalah keutamaan besar; mencegah kebodohan, menyimpan rahasia, menghindari pertengkaran, dan mencegah dosa. Kita semua tahu seperti apa rasanya duduk bersanding dengan orang yang kita cintai, walaupun kita tidak berkata apa-apa namun merasa tenang sempurna. Namun kesunyian tidak selalu menjadi sumber damai. Kadang-kadang jeda sebentar dalam suatu percakapan cukup membuat kita tidak tenang, dan kita harus meraba- raba suatu tanggapan segera untuk mengisi celah yang tidak menyenangkan itu. Jika ada sesuatu yang tidak benar di dalamnya, jika ada sesuatu di antara kita dan orang lain, atau di antara kita dengan Tuhan, kesunyian bisa sangat menakutkan. Seorang wanita yang telah berkonsultasi denganku selama beberapa tahun suatu ketika bilang kepadaku, bahwa ia menemukan kedamaian dengan melepaskan segala sesuatu dan menjadi teduh hati: Sepertinya bila Anda tak dapat damai dengan diri Anda, akan sulit bagi Anda menghadapi ruang kosong, entah visual (tak ada yang bisa dipandang atau dilihat), entah audio (tak ada yang bisa didengarkan), atau fisik (tak ada yang bisa dilakukan, atau tak mampu apa-apa). Anda berusaha keras melepaskan diri dari kemelut batin (penderitaan batin, tujuan yang bertentangan, ketakutan, tuduhan-tuduhan, hati nurani yang terusik, apa saja) tetapi Anda malah jadi lebih frustrasi. Bagaimanapun usaha Anda menghindari ruang kosong itu, Anda akan mendapatkan berkat justru bila Anda menerimanya dan memanfaatkannya demi kebaikan jiwa Anda. Memang sungguh berat menghadapi jiwa
    • Berbagai Batu Pijakan 113 yang sedang kemelut, tapi justru di situ tersedia rahmat kedamaian, dan juga suatu kehidupan yang lebih sesuai dengan kehendak Allah. Sophie Loeber, seorang teman ayahku dari masa kecilnya yang kukenal, menulis kepadaku baru-baru ini dengan nada yang sama. “Aku sering harus bergumul untuk mendapatkan damai dalam hidupku,” katanya, “tapi kesunyian membantuku melakukan introspeksi dan teringat bahwa Tuhan merengkuh setiap kita dengan tangan-Nya.” Sophie adalah seorang anggota Bruderhof Jerman yang diserang dan dibubarkan oleh Gestapo (polisi rahasia Jerman) pada tahun 1937. Sesudah Gestapo mengepung mereka, membariskan para pria sepanjang dinding dan mengunci para wanita dan anak-anak, polisi melakukan interogasi dan memberikan ultimatum bahwa dalam tempo dua puluh empat jam mereka harus meninggalkan tempat itu dan keluar dari Jerman. Ketika Nazi memaksa kami meninggalkan rumah yang kami cintai di Rhon, kami tidak diperbolehkan membawa apa-apa selain baju di dalam ransel kami. Tapi kami membawa harta pusaka kami (yaitu kegembiraan dan kesusahan, perjuangan dan masa- masa perayaan dan semua yang telah kami alami selama bertahun-tahun) dalam hati kami. Beberapa tahun kemudian Sophie dan suaminya, Christian, kehilangan kedua putranya yang meninggal karena wabah yang jarang terjadi. Mula-mula kedua anak itu buta, lalu mengalami kemunduran fungsi mental. Keduanya meninggal dalam usia belasan tahun, hanya berbeda beberapa tahun. Sophie sedih tak terkatakan. Pertanyaan yang disampaikan orang serasa menyiksa hatinya, namun berangsur-angsur semua itu mengantarnya pada suatu keheningan di mana ia menemukan iman dan damai:
    • 114 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Berulangkali aku bertanya pada diri sendiri: mengapa Allah memasukkan kami dalam pencobaan sedahsyat ini? Kadang-kadang kami merasa tak mampu lagi menanggung beban karena patah hati. Namun ketika aku dapat kembali menghimpun daya pikirku dan merasa tenang, aku menyadari betapa keprihatinan dan doa-doaku terlalu kecil, terlalu bersifat pribadi. Christian dan aku hanya berputar-putar di sekitar kebutuhan kami sendiri, lupa bahwa ada orang lain di dekat kami yang juga punya kebutuhan. Kami juga melupakan janji “Carilah dulu Kerajaan Allah, selebihnya akan ditambahkan kepadamu.”67 Beberapa waktu kemudian Sophie kehilangan suaminya karena kanker, dan putranya yang ketiga (menikah, punya anak) karena kecelakaan listrik. Allah sungguh menguji dia, tapi ia berkata bahwa penderitaannya telah mengajar dirinya agar tenang dan agar “melepaskan segala sesuatu yang mengikat kita di dunia.” Demikianlah ia bisa memberikan ruang bagi Allah, dan “membiarkan Dia memenuhi hatiku, dan luka-lukaku mulai sembuh.” “Kini aku sendiri mendekati akhir hayatku, dan kesunyian makin penting bagiku. ‘Tenanglah dan ini Aku, Tuhan’68 Segala sesuatu perlu kita singkirkan agar Allah memenuhi diri kita seluruhnya. Maka kita akan mengalami kegembiraan sejati dan mendapatkan kedamaian.” 67 Mat 6:33 68 Mat 14:27
    • Berbagai Batu Pijakan 115 Kepasrahan Kesulitan tidak perlu menekan atau menenggelamkan kita. Kasih yang menggenggam kita begitu agung sehingga kelemahan kecil dari diri kita masing-masing tak akan mampu mengalahkannya. Karena itu aku minta satu hal darimu: jangan terlalu khawatir akan dirimu. Bebaskan dirimu dari semua rencana dan tujuan. Mereka terlalu banyak menjajah kamu. Serahkanlah dirimu pada matahari, pada hujan, pada angin, seperti bunga-bunga dan burung, Serahkanlah dirimu kepada Allah. Hanya satu saja harapanmu: Terjadilah kehendak-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, lalu Dia akan mewahyukan diri. Dan kita semua diselamatkan. Eberhard Arnold. J ika kita terus-menerus memfokuskan segalanya pada diri kita sendiri, ditanggung tak akan ada kedamaian hati yang kita peroleh. Mawas diri, untuk memilah motif- motif, untuk mengajukan pertanyaan yang selama ini kita hindari, mengapa kita takut pada perubahan yang terjadi dalam diri kita sendiri – semua ini merupakan bagian yang penting untuk memeriksa akar penyebab rasa tidak damai. Namun menghentikannya dapat berarti kematian. Mawas diri tidak sama dengan berpaling kepada Allah, namun baru setelah kita menimbang masalah-masalah kita, kita dapat berserah diri kepada Allah dan bergerak maju. Makin cepat kita melakukan semua ini, makin cepat pula kita mendapatkan kedamaian. Beberapa orang cenderung terus memandangi dirinya seperti di dalam cermin dan hal itu menyebabkan
    • 116 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? ketegangan yang tidak perlu. Yang lain mungkin tidak begitu peduli pada keadaan batinnya, tetapi juga tegang karena tidak dapat melupakan luka hati yang lama. Yang satu mungkin membiarkan kekecewaan terus menyala; yang lain membawa terus hasrat yang tak sampai atau frustrasi yang tak terpadamkan. Winifred Hildel, seorang anggota komunitasku, melewati suatu masa dukacita yang dalam setelah satu- satunya anak lelakinya mati waktu dilahirkan. Ia tak dapat merelakan kematian putranya itu dan merasa melakukan kesalahan sewaktu mengandung, walaupun dokter menyatakan bahwa bukan itu masalahnya. Baru setelah bertahun-tahun ia berhenti menyiksa diri. Dengan menceritakan semua detail yang dibayangkannya sebagai kesalahan dirinya kepada orang lain, barulah ia dapat melepaskan rasa bersalahnya itu. Konflik diri Winifred yang berkepanjangan itu menunjukkan salah satu sumber dari tidak adanya damai yang membuat banyak orang pusing: mereka berusaha berkompromi dengan suatu tragedi yang karena hal itu mereka merasa bertanggung jawab. Apakah mereka itu menanggung rasa bersalah secara obyektif atau tidak, kunci untuk mengatasi hal itu adalah kepasrahan. Kerendahan hati merupakan keutamaan, tetapi menyalahkan diri bukan. Bukan pemulihan yang dihasilkannya, malah mengarah pada upaya mawas diri yang tidak sehat. Bagi beberapa yang lain, salah satu sumber yang menyebabkan tidak adanya kedamaian adalah ketidak- mampuan melepaskan kendali yang mereka usahakan untuk diterapkan pada orang lain. Sebagai seorang konselor keluarga, aku melihat hal semacam ini membuat kepincangan dalam rumah tangga, terutama
    • Berbagai Batu Pijakan 117 ketika kendali yang diterapkan itu letaknya ada di dalam hubungan antara orang tua dan anaknya. Dalam banyak rumah tangga, ada banyak ketegangan terutama antara pemuda-pemudi (atau anak-anak yang mulai dewasa) dengan orang tuanya yang baru dapat mencair jika para orang tua berkenan melepaskan putra-putrinya dan menyerahkan masa depan mereka ke tangan Allah. Ibuku, seorang guru sering memberitahu para orang tua, “Adalah suatu pelayanan terburuk yang dapat anda lakukan bagi putra-putri anda jika anda mengikat mereka pada diri Anda. Biarlah mereka pergi. Ikatlah mereka kepada Tuhan.” Ikatan emosional juga menciptakan ketegangan di luar rumah tangga, utamanya di tempat kerja, di gereja, dan dalam organisasi sosial. Kecenderungan untuk nimbrung dan turut campur tangan, untuk memberi nasihat, untuk mengkritik orang lain, membuat banyak orang koyak-moyak sendiri dan membuat hidup orang di sekitarnya malah menyedihkan. Mungkin penyebab yang paling umum dari tiadanya kedamaian semata-mata adalah hasrat diri kita sendiri - kenekatan kita untuk menentukan arah hidup kita sendiri. Adalah wajar menghendaki suatu tujuan untuk diri sendiri. Tetapi hal itu tidak memberi ruang kepada Allah. Jika kita menghendaki damaiNya ada dalam hidup kita, kita harus rela dipimpin oleh-Nya, entah keadaannya lancar, entah situasinya sedang sulit. Kita perlu bersungguh- sungguh bila berdoa: “Jadilah kehendakMu.” 69 Dalam rangka karya tulis dan pidatoku, aku bertemu dengan Moly Kelly70, seorang ibu , pengarang 69 Mat 6:10
    • 118 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? buku dan penceramah, beberapa kali. Molly sangat terkenal oleh keahliannya di bidang seksualitas remaja, tetapi ia juga punya banyak pandangan yang berharga dalam mencari kedamaian hati, dan tentang peranan kepasrahan dalam mendapatkannya. Aku dibesarkan dalam suatu keluarga Katolik dengan lima saudara laki-laki dan seorang saudari. Ayah dan Ibu sangat menyayangi kami. Tidak segala hal berjalan dengan baik, namun kasih di antara kami merupakan pengikat yang mempersatukan kami. Aku kuliah di perguruan tinggi ... dan bertemu dengan cinta hidupku, Jim, seorang mahasiswa kedokteran yang tampan di Georgetown. Jim dan aku mulai berpacaran sejak aku berada pada tahun kedua kuliahku, dan kami menikah tak lama setelah aku diwisuda. Orang bilang perkawinan kami harmonis. Jim mencintai aku, aku mencintai Jim, dan karena cinta kami satu sama lain itu kami mempersilakan Tuhan menjadi pembimbing keluarga kami. Dan begitu murah hati Dia. Kami dikaruniai delapan orang anak dalam waktu sebelas tahun. Bagaimana dengan damai? Memikirkan kata damai itu, kukira pertama-tama banyak orang terlalu terikat padanya dan menyalahgunakannya... Suatu hari dua puluh tahun lalu hidupku berubah selamanya. Aku dengan Jim berlibur akhir pekan dengan beberapa pasangan teman baik kami. Tidaklah mudah untuk memperoleh kesempatan pergi jauh karena jadwal kerja Jim yang ketat di rumah sakit, dan karena kedelapan anak kami masih muda. Kami pergi menghabiskan akhir pekan kami di suatu tempat istirahat 70 Molly Kelly adalah ibu rumah tangga, pengarang buku, penceramah tentang seksualitas dan pendidikan pro life, ibu enam putra dan dua putri. Janda sejak 1975. Menerima Penghargaan Outstanding Catholic Leadership Amerika 2001.
    • Berbagai Batu Pijakan 119 musim dingin di Poconos. Tapi perkenankan aku maju lebih cepat pada peristiwa yang membuat diriku jatuh dalam kegelisahan dan kesedihan yang meremukkan semua jaringan hidupku selama bertahun-tahun, hingga saat aku membiarkan Tuhan datang dan mengatur perjalanan hidupku menuju damai dan kegembiraan. Aku berada di puncak untuk berselancar, sambil ngobrol dengan teman-teman, ketika kuperhatikan di bawah lereng sana terjadi keributan. Jim baru saja meluncur ke bawah bukit dengan papan selancarnya, tapi karena aku tidak memerhatikan dirinya, jadi aku tidak tahu apa-apa tentang dia. Aku melihat beberapa orang melambaikan tangan memanggil kami, dan aku heran apa yang terjadi di sana. Lalu ada orang yang memanggil namaku agar cepat-cepat turun karena Jim terluka. Aku meluncur turun dengan berlari ke bawah bukit, terpeleset, jatuh berguling-guling dan bangun lagi, dan ketika aku sampai di sana orang -orang mengerumuni Jim di sampingnya. Ia setengah pingsan dan berdarah- darah. Aku lewatkan detilnya dan menyampaikan akhirnya saja. Jim meninggal dunia. Aku merasa hancur. Jim adalah sahabat terbaikku, temanku bicara di atas bantal, ayah dari anak-anakku, pembangun impian kami. Tak dapat kubayangkan hidup tanpa dia. Tak dapat kulupakan ketika aku pulang dan memeluk erat satu demi satu anak-anakku, yang sudah diberi tahu bahwa ayah mereka meninggal. Anak sulung kami, Jim, baru berumur dua belas tahun, dan anak bungsu kami, empat belas bulan. Anak-anak yang lebih besar pucat, sedih dan saling berangkulan. Yang kecil-kecil masih tak tahu apa yang sedang terjadi. Rumah kami penuh orang, ribut dan ada banyak orang, banyak sekali makanan (indah sekali bagaimana orang membawa makanan untuk menghibur keluarga yang sedang berdukacita). Tuhan begitu rahim dan melindungi dan mengelilingi kami dengan kerabat dan teman-teman baik, dan aku sangat
    • 120 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? mensyukuri siraman kasih mereka, namun hatiku terlalu sedih untuk bisa mengungkapkan terima kasihku pada setiap orang . Aku pun terluka dan berdarah-darah seperti Jim, dan tak seorang pun dapat menyembuhkan lukaku, sampai luka itu menyusut dan menutup sendiri selang beberapa tahun kemudian. Aku dapat terus maju merawat anak-anak karena aku sangat menyayangi mereka, dan karena aku berjanji kepada diri sendiri, bahwa aku tak akan mempermalukan kenangan akan Jim karena ceroboh dalam membesarkan anak-anak kami. Masih ada dua orang anak yang masih pakai popok, dan karena anak-anak ingin keadaan menjadi lebih baik dengan lebih cepat, sisanya kembali main bola di ruang tamu, menjadikan tempat tidurku sebagai ruang bermain dan menuntut waktu dan kesabaran diriku. Waktulah yang masih kumiliki. Sebenarnyalah beban yang kutanggung berat, seolah- olah aku tak pernah dapat menyelesaikan semua pekerjaan yang harus kulakukan. Setiap hari berlalu, aku ingin agar jam tidur segera tiba supaya aku pergi tidur dan melupakan sebentar bahwa Jim telah tiada. Aku agak kurang sabar. Aku tak pernah sendirian, namun aku merasa kesepian. Hanya kemudian, ketika kurasakan kedamaian, aku dapat membedakan antara kesepian dan menyendiri, aku masih tersiksa oleh kesepian, tetapi aku menikmati saat-saat yang melegakan ketika aku menyendiri dengan diriku sendiri dan dengan Tuhan. Tak lama setelah kematian suaminya, Molly menggeluti suatu masalah yang sangat memprihatinkan Jim: aborsi. Sebagai seorang dokter Katolik yang percaya pada kekudusan seluruh kehidupan, Jim sangat gigih sebagai penentang perkara Roe Versus Wade, dan Moly seperasaan dengannya walaupun Molly tak pernah menyatakan hal itu kepada umum.
    • Berbagai Batu Pijakan 121 Aku tak pernah bicara di depan umun sebelumnya, dan aku takut sekali karena harus melakukannya sekarang. Tapi aku berkata pada diriku sendiri “Kamu telah lolos dari situasi yang terburuk: kematian Jim. Apakah berpidato lebih buruk dari itu? Aku mulai memberi ceramah soal aborsi di sekolah- sekolah menengah Katolik setempat, dan dalam beberapa tahun aku cukup berpengalaman memberi ceramah. Aku mengatur acaraku sedemikan rupa sehingga bisa pulang ke rumah di sore hari, ketika anak-anak pun pulang dari sekolah. Selang beberapa waktu kemudian, aku sadar bahwa aku belum sampai pada inti masalahnya. Aku tahu bahwa aku perlu bicara tentang akar dari aborsi, yang berhubungan dengan kehamilan yang tak dikehendaki, yang terkait dengan perilaku seks yang sembarangan. Lalu aku bicara tentang tanggung jawab seksual, yang kusebut kemurnian. Itulah permulaannya kebangkitanku untuk mengajar, dan undangan untuk memberi ceramah pun datang membanjir. Aku diminta bicara di banyak sekolah dan banyak tempat sehingga aku begitu sibuk dan tak tahu lagi jalan untuk mundur. Teman-teman menyarankan agar aku mengurangi kegiatan berceramah. Tetapi aku merasa Tuhan memanggilku untuk melakukan misi berbicara kepada umum ini, dan aku tak mau melepaskan hal itu. Namun, sesuatu harus kupersembahkan. Barulah kemudian kusadari bahwa yang harus kupersembahkan adalah diriku. Aku harus mempersembahkan diriku seluruhnya pada Tuhan. Pasrah kepada-Nya, dan aku tidak terbiasa melakukannya. Aku suka pegang kendali. Aku ibu dari delapan orang anak, dan aku menjalankan bahtera rumah tangga dengan ketat. Aku memberi bahan makan, menyiapkan makan, mencuci baju anak-anak, membantu mereka mengerjakan pekerjaan rumah, aku mengantar mereka bermain-main dan bertanding bola. Aku menjadi kepala
    • 122 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? rumah tangga dan kepala sekolah. Istilah menyerah pasrah tidak ada dalam kamusku. Yang tidak kusadari ialah bahwa menyerah pasrah kepada Tuhan bukanlah berarti memberikan segalanya seperti mengalihkan semuanya. Tapi aku memang harus mengalihkan pengendalianku, kegelisahanku, kesepianku dan rasa kewalahanku, bahkan anak-anakku, kepada Tuhan. Dan dalam setiap bidang di mana aku bisa melakukan hal ini dalam hidupku, hampir dengan serta merta aku mengalami kedamaian. Satu hal yang terjadi adalah suatu kesadaran baru akan Roh Kudus. Untuk yang pertama kali sejak aku mendapat urapan Krisma dalam Sakramen Penguatan. Aku dibesarkan dengan berdoa kepada Tuhan dan membayangkan Yesus, sedangkan Roh Kudus hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan pada kesempatan Sakramen Krisma itu. Di dalam menyerahkan diriku kepada Tuhan (dan untuk itu perlu perjuangan setiap hari) aku mulai menyadari bahwa Pentakosta, turunnya Roh Kudus dalam hidup kita, merupakan peristiwa yang terus berlangsung. Molly memberi ceramah kepada lebih dari sejuta remaja yang disebutnya “Anak-anak kesayanganku di seluruh dunia,” dan kepada ribuan orang tua. Baru-baru ini ia berpidato di depan himpunan sekitar enam ribu pastor di Roma, dan menemui lima puluh Kardinal dan Uskup di Kalifornia. Jadwalku mungkin sangat padat, tetapi aku tak lagi kewalahan. Damaiku begitu dalam. Ketenangan batin itu tampaknya bertahan lama, sejauh aku dapat memperbarui penyerahan diriku kepada Tuhan. Aku setuju untuk memberi ceramah jika aku bisa dan jika kukira Tuhan menghendaki aku melakukannya. Dan aku menolak jika aku tidak bisa. Apakah aku selalu benar? Aku meragukannya. Namun aku yakin dalam
    • Berbagai Batu Pijakan 123 pengetahuanku, bahwa Tuhan tak akan mengambil karunia damai-Nya jika kami selalu menyerahkan diri kita kepadaNya bahkan ketika di sana sini kita gagal.... Aku sungguh menyadari bahwa dalam kepasrahan diri itulah damai sejati akan datang. Menyerah dalam perang berarti kalah, takluk. Pasrah diri kepada Tuhan adalah menang, dan mengalihkan hidup Anda kepadaNya. Aku memulai setiap hari dalam Misa Kudus, memohon bantuan Tuhan agar menyerupai Dia bagi siapa saja yang kutemui sepanjang hari, dan bahkan yang lebih penting lagi, melihat Dia dalam setiap orang yang kujumpai. Tetapi kemudian aku keluarkan bendera putih yang hanya Tuhan yang dapat melihatnya dan mengayun-ayunkannya, agar Tuhan tahu bahwa hari ini aku menyerah kepadaNya, sekali lagi, kepada kehendakNya. Latihan setiap hari itulah yang meneguhkan hidup rohaniku; dan percayalah, Tuhan selalu memberiku kegembiraan dan damai. Banyak orang terus berjuang dengan gagah perkasa, walaupun mereka telah merasa babak-belur, hanya karena mereka tidak bersedia menyerahkan pertahanan mereka ke hadapan Allah. Mereka tetap mengendalikan hidup mereka sendiri sampai kapan pun. Orang-orang seperti itu terlalu banyak menyanggupkan diri dan memerlukan waktu libur untuk menimba kekuatan. Mereka berusaha mengatur keseimbangan jadwal mereka dan menimbang prioritas-prioritas, mereka berdoa, mereka bekerja keras, mereka berusaha rendah hati dan penuh kasih di rumah dan tetap gigih dalam karya. Pada setiap akhir hari mereka, tak ada kedamaian yang mereka rasakan. Baru-baru ini seseorang bertanya kepadaku, “Bagaimana kamu menjaga keseimbangan dari hari ke hari. Apakah kamu tidak merasa sakit mencemaskan jiwa-jiwa yang kamu gembalakan?” Melayani sebagai
    • 124 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? gembala jemaat selalu menantang, dan sebagai tetua suatu gereja yang terdiri dari 2500 orang berulang kali aku merasa diriku tidak memadai. Aku beryukur karena dibantu oleh belasan gembala dalam membimbing jemaatku yang diserahkan dalam tanggung jawabku, ditemani oleh seorang istri yang banyak membantu selama tiga puluh tahun ini, kadang-kadang dari kacamata insani, keadaan tampak sulit sekali. Namun justru dalam kesempatan seperti itulah, ketika kita merasa ada bahaya besar kehilangan keseimbangan, Tuhan memberi kita jaminan rohani dan damai – jika kita berpaling kepada-Nya. Begitu kita menyerahkan masalah kita kepada-Nya dan menyerahkan kebutuhan kita untuk memecahkan masalah itu menurut cara kita kepada-Nya, akan kita dapatkan bahwa bukit yang tinggi itu tak lagi mustahil didaki. Kepada kita telah dijanjikan dalam Mazmur: “Serahkanlah bebanmu kepada Tuhan, dan ia akan menopangmu.” Bagi pikiran orang modern hal ini kedengaran terlalu sederhana, begitu indah untuk dipercaya, namun bagi mereka yang beriman, tawaran Tuhan selalu mendatangkan kebaikan. Chritian Friedrich Blumhardt yang dianggap “bapak sosialisme keagamaan” dari akhir abad kesembilan belas, seorang gembala jemaat besar, konon selalu dapat tidur dengan tenang setiap malam sementara istrinya, Emillie bangun terus karena gelisah. Heran pada kemampuan suaminya mendoakan jemaat, ganti suasana, dan tidur lelap, Emillie menanyakan rahasianya kepada suaminya. “Apakah Tuhan begitu tak berdaya sehingga kekhawatiranku akan membantu kesejahteraan jemaat?” jawab Blumhardt. “Ada saatnya setiap hari kita harus meletakkan semua beban kita dan menyerahkannya kepada Tuhan.”
    • Berbagai Batu Pijakan 125 Walau dengan usaha keras apa pun kekuatan kita tidak berarti dan solusi kita hanya sepercik saja. Menyerah pada Allah berarti mengakui kemahakuasaan Allah dan menyediakan ruang bagi-Nya untuk berkarya dalam hidup kita. Ada baiknya sekali kita mundur dan memandang lebih jauh. Kerajaan Allah bukan hanya melampaui usaha kita, namun bahkan jauh di luar jangkauan pandang kita. Apa yang kita lakukan semasa hidup kita hanyalah kecil saja dari usaha besar yang adalah karya Allah sendiri. Tak ada yang bisa kita selesaikan sebagai yang betul-betul lengkap, artinya Kerajaan Allah masih jauh dari jangkuan kita. Tak ada ungkapan yang tuntas mengatakan segala-galanya; tak ada doa yang sepenuhnya mengungkapkan iman kita. Tak ada pengakuan yang menghasilkan kesempurnaan; tak ada pelayanan pastoral yang mampu melengkapkan seluruhnya. Tak ada program yang menyelesaikan misi Gereja. Tak ada tujuan dan sasaran yang mencakup segala-segalanya. Beginilah kita ini: kita menanam benih yang pada suatu hari akan tumbuh, kita menyirami benih yang kita tabur dengan sadar akan janji akan masa depan. Kita membangun dasar yang memerlukan pengembangan selanjutnya.... Kita tidak dapat melaksanakan segalanya, dan dalam kesadaran akan hal itu kita memperoleh suatu perasaan yang membebaskan. Hal itu memungkinkan kita untuk melakukan sesuatu yang kecil, dan berusaha melakukannya sebaik-baiknya. Mungkin tidak lengkap, sebab hanya suatu permulaan, satu langkah saja ke depan, suatu peluang agar dipenuhi oleh rahmat Allah dan Dia sendirilah yang akan menyelesaikan selebihnya. Kita mungkin tidak melihat hasil akhirnya, namun itulah bedanya antara si pemilik bangunan dan pekerja.
    • 126 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Kita hanyalah para pekerja, bukan si pemilik bangunan; gembala dan domba-domba, bukan sang penebus. Kita hanyalah nabi-nabi untuk masa depan yang bukan milik kita. (konon berasal dari Mgr. Oscar Romero)
    • Berbagai Batu Pijakan 127 Doa Doa mempersatukan kita dengan Allah; dan jika seseorang bersama Allah, ia terpisah dari musuh. Melalui dia kita melindungi kemurnian kita, mengendalikan amarah kita, menjauhkan kita dari kesombongan, dan membuat kita melupakan penghinaan, mengatasi iri hati, mengalahkan ketidakadilan, dan melakukan silih atas dosa-dosa. Melalui doa didapatkan kesentosaan fisik, rumah yang damai dan bahagia, masyarakat yang kuat dan tertata rapi. Doa melindungi para musafir, menjagai orang yang tidur dan memberi keberanian pada para penjaga, doa menyegarkan mereka yang letih lesu dan menghibur mereka yang berdukacita. Doa adalah kesukaan dari mereka yang bersuka ria dan hiburan bagi mereka yang susah. Doa berakrab- akrab dengan Allah dan persatuan dengan yang tidak kelihatan. Doa adalah sukacita akan segala yang telah ada dan akibat dari segala yang akan datang. Gregorius dari Nyssa71 A da masanya tak ada yang bisa memberi kita damai selain daripada doa. Kita mungkin berusaha mewujudkan kesederhanaan dan kesunyian (bagi pelepasan sumber-sumber) namun lalu terjadi kekosongan dalam diri kita yang kita harapkan hanya diisi oleh Tuhan. Dan jika Dia tidak segera berkenan memasuki hati kita tanpa undangan, maka kita harus mengundang-Nya datang. 71 Seorang Bapa Gereja,335-395, lahir di Kaisarea, Kapadokia, lalu menjadi Uskup Nyssa, membantu pelaksanaan Konsili Antiokia dan Konsili Konstantinopel.
    • 128 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Dalam Mazmur 130, salah satu yang menjadi kesukaanku, baris: “Dari jurang yang dalam aku berseru kepadaMu,” memberikan gambaran bagaimana kita harus berdoa dalam kesesakan. Sesungguhnya tercermin di dalamnya semangat bahwa kita harus selalu berpaling kepada Allah: kita selalu ada di jurang yang dalam, membutuhkan bantuan dan bimbingannya, dan Ia selalu ada di atas kita, kokoh, aman dan sentosa. Filsuf Yahudi, Martin Buber, mengatakan bahwa ketika kita berdoa kita selalu berseru, membayangkan diri kita tergantung pada suatu karang tinggi dengan sehelai rambut kita, sedang badai mengamuk di sekitar kita begitu keras dan kita yakin bahwa tinggal beberapa detik saja waktu kita untuk memperoleh keselamatan. Buber melanjutkan, “Dan sebenarnya tak ada penghiburan, tak ada tempat pengungsian, dan tak ada seorang pun di sana, hingga orang hanya bisa mengarahkan pandangan dan hatinya pada Tuhan dan berseru kepadaNya saja. Orang harus melakukan hal ini selamanya, karena manusia berada dalam bahaya besar di dunia.” Lukisan Martin Buber itu begitu dramatis, namun tidaklah berlebihan. Dalam budaya seperti yang kita punyai, di mana lengan panjang media massa mencapai hingga berita-berita tentang selebriti, skandal atau bencana dan dapat menghentikan jutaan orang untuk memerhatikan. Perorangan tak bisa bertahan terhadap arus untuk mengikuti kerumunan. Nietzche melihat hal ini seratus tahun lalu ketika ia membahas kebenaran pepatah tua, “Gemeinschaft macht gemein,” - komunitas membentuk kebersamaan. Dan memperingatkan bahaya dari suatu masyarakat di mana nilai-nila massa begitu kuat sehingga dapat meruntuhkan bahkan hati nurani yang paling kuat sekalipun.
    • Berbagai Batu Pijakan 129 Tanpa hidup doa yang aktif kekuatan watak kita bisa hilang dan menyerah terhadap apa yang oleh para sosiolog disebut naluri kawanan. Kita menjatuhkan mangsa kita karena takut pada yang lain, dan tunduk pada ambisi, pada hasrat untuk menyenangkan orang lain. Tanpa doa, lalu-lintas pendapat yang terus mengalir dari orang lain akan menyerap hidup kita sendiri dan akhirnya menenggelamkannya. Kita mengira kita adalah tuan bagi diri sendiri, namun yang sebenarnya banyak dari antara kita tidak lagi dapat berpikir untuk kita sendiri, apalagi berdoa sendiri. Setelah kehilangan hubungan dengan Tuhan, hidup kita hanya terdiri dari (mengutip Neitzche lagi) “penyesuaian terus-menerus kepada segala masalah perbedaan akibat pengaruh kolektif dan tuntutan sosial.” Sebagai perisai di sekitar nyala hati yang diam, doa adalah pertahanan terbaik untuk menghadapi serangan seperti itu. Lebih lagi: doa merupakan disiplin yang memberi kehidupan yang dapat mengembalikan pengertian sendiri - kembali pada Tuhan - ketika diri kita cerai-berai. Doa mengarahkan kita dan memusatkan perhatian kita kepada sumber kedamaian. Secara pribadi aku menemukan dispilin yang begitu besar perannya untuk memelihara damai dan keteraturan dalam hidupku. Lebih dari yang lain lagi, tampaknya doa (atau kekosongan akan doa) dapat menentukan hasil yang kita peroleh pada hari itu. Seperti yang ditunjukkan oleh Bonhoeffer dalam Letters and Papers from Prison “Waktu yang kita boroskan, godaan yang kita ikuti, kemalasan atau keengganan kerja kita, umumnya setiap kekurangan disiplin dalam pikiran atau dalam hubungan kita dengan orang lain, seringkali berasal dari kelalaian kita berdoa.”
    • 130 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Doa tidak perlu formal, bagiku dan istriku, adalah sesuatu yang wajar memulai hari dan mengakhiri hari bersama-sama; kami berdoa setiap pagi ketika bangun, dan setiap malam sebelum tidur. Ada orang yang mungkin berdoa lebih sering dari itu, yang lain kurang dari itu. Sementara orang berdoa dengan berlutut; yang lain menggunakan buku doa. Yang satu bicara, yang lain sama sekali tidak berkata-kata. Blumhardt yang telah kusebutkan di depan dikenal orang suka membuka jendela setiap malam untuk menyampaikan selamat malam kepada Tuhan. Sejauh doa kita bersungguh- sungguh, bukan sekadar upacara kosong belaka, tidaklah menjadi persoalan entah bagaimana kita berdoa, yang penting adalah bahwa kita menyediakan ruang untuk doa dalam hidup kita di mana pun. Di dalam kemelut hidup di bagian luar, dan kegelapan putus asa di dalamnya, selalu ada kemungkinan untuk menepi dan menunggu Tuhan. Sebagaimana ditengah badai ada bagian yang teduh, dan di atas awan ada langit terang, begitu pula bisa dilakukan menyibak hutan dan membuka ruang kosong yang kecil dari hasrat insani kita untuk bertemu dengan Tuhan. Ia akan selalu muncul, walaupun dalam rupa samaran. Dan dalam keadaan yang tak terbayangkan – mungkin dalam arak- arakan mega kemuliaan, mungkin sebagai seorang pengemis, dalam kesenyapan gurun, atau dalam hiruk pikuk Soho di London, atau Time Square di New York. Malcom Muggeridge Gagasan Muggeridge selaras dengan tuntutan Kitab Suci agar “berdoa terus-menerus”72. Bagi mereka yang mencari Allah gagasan itu cukup sederhana. Molly Kelly berkata, “Biasanya aku berdoa ketika mau bicara dengan 72 Luk 21 : 36
    • Berbagai Batu Pijakan 131 Allah pada waktu-waktu tertentu, misalnya pagi hari atau menjelang tidur. Namun sekarang bagiku doa adalah wawancara sepanjang hari dengan Tuhan. Aku berdoa ketika aku dalam perjalanan ke bandara atau pun di lorong supermarket.” Untuk yang lain pemikiran seperti itu mengandung hambatan. Bagaimana orang berdoa sepanjang hari? Apa artinya “terus-menerus”? James Alexander, seorang anggota Bruderhof yang telah tua memikirkan hal ini bertahun-tahun: Walaupun aku berdoa kapan saja aku teringat, mulainya adalah ketika aku memahami doa sebagai cara hidup – sebagai sikap yang tetap, bukan ulangan tindakan – itulah yang kupahami mengenai doa terus- menerus. Doa Yesus seperti yang dijelaskan dalam buku The Way of a Pilgrim – “Tuhan Yesus Kristus, kasihanilah aku, orang berdosa” – juga sangat membantu. Buku itu berkata bahwa jika ada sesuatu yang dapat kita persembahkan kepada Tuhan, itulah doa yang terus- menerus berlangsung. Bukan semata-mata sebagai rentetan kata-kata. Tapi suatu sikap hidup. Penyair Inggris abad kesembilan belas Gerard Manley Hopkins73, mengatakan hal yang sama: Bukan hanya doa yang memuliakan Allah, tetapi juga pekerjaan. Menyiapkan besi tempa, memasah balok, mengapur tembok, mengendara kuda, menyapu, menggosok agar bersih, semuanya memuliakan Allah, karena dalam rahmat-Nya semua itu dilaksanakan sebagai kewajiban. Menerima komuni sungguh sangat memuliakan Tuhan, namun menyantap makan dengan rasa syukur dan penguasaan diri juga memuliakan Tuhan. Mengangkat tangan dalam doa memuliakan Allah, 73 1844-1900. Seorang pastor Yesuit.
    • 132 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? namun lelaki yang mengayunkan cangkul dengan tangannya, dan wanita yang mencuci pun memuliakan Allah. Maha besar Allah sehingga segala sesuatu dapat dimaksudkan orang untuk menunjukkan kemuliaan- Nya. Jadi, saudara-saudaraku, hayatilah. Setiap orang berbeda-beda cara berdoanya. Keadaan hidup kita berubah: sakit, usia tua, mengalami krisis misalnya – maka doa kita juga berubah pula sesuai keadaan. Seorang anggota jemaatku, Doug Moody, selagi masih muda hanya sedikit mengerti makna doa. Waktu itu ia kecewa dengan kemunafikan jemaat gereja besar yang diikutinya, dan Doug bertambah-tambah bertentangan dengan gerejanya, termasuk dalam hal wajib militer, yang dengan sadar dilawannya karena ia menentang perang. Sesudah Pearl Harbour dibom oleh Jepang, teman kuliah dan para dosennya di Universitas North Carolina memuji keberaniannya menolak pendaftaran tentara, tetapi gerejanya tidak. Hakim yang mengadili dirinya dan menjatuhkan hukuman kepadanya karena pelanggaran hukum darurat perang itu adalah justru anggota gerejanya sendiri. Aku duduk di kamar penjara yang sudah lusuh, dengan banyak kutu, makanan yang buruk, pancuran air yang rusak, dengan baju kotor. Beruntung ibuku dapat memberi sabun dan celana dalam untuk ganti. Itulah masa awal yang paling berat dari masa hukumanku, yang hanya diringankan dengan mendengarkan cerita dari hari ke hari dari seorang warga Jerman yang masuk penjara secara menyedihkan. Seorang tetangga menuduh dirinya sebagai mata-mata. Di dalam penjara aku membaca dalam majalah FOR Fellowship bahwa sepasang anggota gereja Mennonitte yang mengompori aku agar tidak mendaftar tentara malah berubah pendirian. Aku marah sekali. Namun ada berkat
    • Berbagai Batu Pijakan 133 lain yang kuperoleh dari hidup dalam penjara, berangsur- angsur melalui derita kecil yang kualami, bertahan melawan rasa bosan dan omongan kasar yang menjijikkan, dan diperlakukan bukan sebagai manusia tetapi sekadar nomor, aku jadi memerhatikan kebutuhan teman sekamarku. Kegembiraan yang timbul dari hidup melayani orang lain membangkitkan semangat diriku. Aku mulai memahami apa yang dimaksud oleh Thomas Kelly sebagai “keabadian saat ini”, karena setiap teman satu sel terus-menerus membicarakan waktu yang tersisa sampai tiba saatnya nanti mereka keluar dari penjara, kami selamanya hidup dalam masa depan. Ketika aku mulai menghayati waktu (bukan demi saat dilepaskan nanti, bukan menuggu makan, film atau waktu tidur berikutnya) aku malahan bisa mengalami damai sekalipun dalam penjara. Bertahun-tahun kemudian, selama mengalami pergumulan yang berat dalam kehidupan pribadinya, Doug mendapatkan makna baru dari doa. “Menggantikan cara-cara umum untuk menghindar dari putus asa dan perasaan tertekan, doa (dalam arti yang sederhana berpaling kembali pada kasih Allah dan kepada sesama) menjadi dasar bagi rasa damai yang bertahan lama dan tujuan hidupku.” Kini Doug memasuki usia tua dan ia mengatakan bahwa doa pribadinya menjadi sangat penting dibanding dengan masa sebelumnya. Doa yang teratur dengan istriku, atau sendiri pada pagi, siang, malam atau ketika aku terbangun di tengah malam, menjadi lorong kehidupan yang merupakan satu-satunya bantuan untuk menghadapi kegagalan yang tak terelakkan, cobaan, kemerosotan semangat, yang kami alami di suatu ketika.
    • 134 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Doa bukanlah selalu berupa kata-kata. Bagian dari doa itu bisa saja saat teduh berhadapan dengan Tuhan, menatap ke atas mengheningkan cipta sejenak untuk mengingat seseorang yang sedang sakit, sedang menderita, atau sedang berjuang. Bagian yang lain mungkin memikirkan berbagai keprihatinan dan masalah hari itu. Bagian yang lain lagi adalah mawas diri, melihat kesalahan yang kulakukan, untuk mengetahui apakah aku menyakiti hati orang lain. Doa membantu diriku memperkuat komitmenku pada Kristus dan kepada sesamaku, lelaki dan perempuan. Dalam semua itu ada kedamaian, bukan seperti yang diberikan dunia, tetapi damai Yesus. Karl Barth 74 suatu ketika menulis bahwa mengatupkan tangan dalam doa merupakan permulaan perlawanan terhadap kekacauan dunia. Jika itu benar, dan aku yakin memang begitu, maka doa kita tak bisa hidup dalam belahan dunia yang terpisah, bahwa doa- doa kita harus lebih dari sekadar kerinduan dan maksud- maksud pribadi saja. Sebagimana iman tanpa perbuatan adalah mati secara rohani, maka doa tanpa kerja adalah munafik. Sekalipun tanpa diterjemahkan menjadi tindakan, doa-doa kita seharusnya bukan hanya terpusat pada permohonan bagi kebahagiaan pribadi, melainkan agar juga bermanfaat bagi dunia ini. Doug menyebutkan perlunya memasukkan orang lain dalam doa kita. Dari antara jemaat Kristiani perdana hingga ke sepanjang sejarah Gereja yang dianiaya dengan para martirnya, kita temukan gagasan yang sama, bahkan yang lebih radikal, yaitu praktik mendoakan orang yang menganiaya kita seperti yang diperintahkan oleh Yesus75 74 Teolog Protestan dari Swiss, 1886-1968. 75 Mat 5 : 44
    • Berbagai Batu Pijakan 135 kita harus bersedia melakukan hal seperti itu pada mereka yang menyakiti kita, entah karena menusuk dari belakang, memfitnah, dan lain-lain. Bila kita berkata kita mencintai musuh kita, namun tidak berdoa bagi mereka, kita menipu diri. Pendiri Majalah Sojourners Jim Wallis menulis: Selama kita tidak berdoa bagi musuh kita, kita terus berpegang hanya pada pandangan kita melulu – pada kebenaran menurut kita – dan dengan demikian meremehkan pandangan mereka. Doa meruntuhkan dinding perbedaan antara kami dan mereka. Jika kekerasan membuat pihak lain menjadi musuh, doa, di pihak lain, membuat musuh menjadi teman. Bila kita membawa masuk musuh ke dalam hati kita dalam doa, kita jadi sulit mempertahankan perseteruan yang perlu bagi kekerasan. Dalam membuat mereka itu menjadi dekat dan akrab dengan diri kita, doa bahkan memberi perlindungan pada musuh kita. Dengan demikian doa berlawanan dengan propaganda dan rencana-rencana dasar yang membuat kita membenci dan takut akan musuh. Dengan melunakkan hati kita sendiri terhadap lawan maka kita bahkan dapat menggemboskan semangat perlawanan. Doa yang dewasa untuk musuh kita dengan demikian akan sangat menghalangi perang dan berbagai perasaan yang mengantarkan orang pada terjadinya perang. Banyak doa diucapkan di saat perang atau krisis nasional, tetapi jarang ditunjukkan dalam semangat seperti itu, sekurang-kurangnya secara publik. Aku teringat sesuatu semasa Perang Teluk, setelah Amerika Serikat melakukan serangan besar-besaran ke Irak pada awal 1991. Ketika memberikan pidato televisi kepada rakyat, Presiden Bush menghimbau para pemirsa agar menghentikan sejenak pekerjaan mereka dan berdoa
    • 136 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? untuk “anak-anak Amerika” dalam Perang Teluk. Ia mengakhiri pidatonya dengan suasana mantap, “Tuhan memberkati Amerika Serikat.” Banyak orang mungkin berhenti kerja sejenak dan mengheningkan cipta sebagai tindakan patriotik tanpa berpikir lebih jauh lagi. Namun seperti yang dikatakan oleh Thick Nhat Hanh, mungkin juga tepat pada saat yang sama ada banyak muslimat Irak membungkukkan diri kepada Allah, melantunkan doa-doa mereka untuk para suami dan anak-anak mereka yang maju berperang. Kepada bangsa manakah Tuhan Allah akan berpihak? Orang berdoa kepada Tuhan karena mereka ingin agar Tuhan memenuhi kebutuhan mereka. Jika mereka hendak piknik, mereka mungkin memohon pada Tuhan hari yang baik, cerah dan terang. Pada waktu yang sama, para petani yang membutuhkan air untuk tanaman mereka mungkin berdoa kepada Tuhan mohon hujan. Jika udara cerah mereka yang piknik berkata:”Tuhan berpihak kepada kita; Ia menjawab doa-doa kita.” Tetapi jika hujan turun, para petani berkata Tuhan berkenan mendengarkan doa-doa mereka. Seperti itulah biasanya kita berdoa. Di dalam Khotbah di Bukit, Yesus mengajar: “Berbahagialah mereka yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” Mereka yang bekerja bagi perdamaian haruslah mempunyai hati yang penuh rasa damai. Jika hati Anda sungguh damai, Anda adalah anak Allah. Tetapi banyak orang yang bekerja demi perdamaian tidak merasa damai. Mereka masih marah dan frustrasi, dan pekerjaan mereka tidak sungguh-sungguh damai.... Untuk dapat memelihara damai, hati kita harus berdamai dengan dunia, dengan saudara-saudara kita, lelaki dan perempuan. Jika kita berusaha mengalahkan kejahatan dengan kejahatan, kita tidak bekerja untuk
    • Berbagai Batu Pijakan 137 damai. Jika Anda berkata, “Saddam Husein itu jahat. Kita harus menghentikannnya agar tidak terus- menerus berbuat kejahatan.” 76 dan Anda lalu menggunakan cara-cara yang sama dengan yang digunakan Saddam. Anda sama saja dengan dia. Berusaha mengatasi kejahatan dengan kejahatan bukanlah cara untuk melakukan perdamaian. Jika Anda berdoa hanya untuk keperluan piknik Anda dan tidak untuk petani yang membutuhkan hujan, Anda melakukan hal yang berlawanan dengan yang diajarkan Yesus. Yesus berkata, “Kasihilah musuhmu … mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu.” 77. Jika kita melihat lebih dalam lagi kemarahan kita, kita akan melihat bahwa orang yang kita sebut sebagai musuh itu juga menderita. Begitu kita melihat hal itu, kita punya kemampuan untuk menerima dia dan berbelas kasihan kepadanya. Yesus mengatakan hal ini sebagai “mencintai musuh.” Jika kita dapat mencintai musuh kita, dia bukan lagi musuh kita.Gagasan tentang “musuh” lenyap dan diganti oleh gambaran seseorang yang sangat menderita yang memerlukan belas kasihan kita. Kadang-kadang mencintai musuh adalah tindakan yang lebih mudah daripada yang kita bayangkan. Maka jangan terlalu dipikirkan, tetapi laksanakanlah. Jika kita membaca Kitab Suci, tetapi tidak melaksanakannya, hal itu tak ada gunanya. Thick Nhat Hanh 76 Saddam Hussein, presiden Irak, akhirnya ditangkap pada tahun 2002 dalam penyerbuan Amerika Serikat dan dihukum mati pada tahun 2006. 77 Luk 6 : 27-28
    • 138 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Percaya Percayalah kepada dokter, dan minumlah obat darinya Dengan tenang tanpa banyak rewel Sebab tangannya, betapa pun berat dan keras, Dibimbing oleh tangan lembut Dia yang tak tampak. Dan gelas yang diberikannya, betapa pun panas bagi bibirmu Dibuat dari tanah Tukang Periuk78 Yang membasahinya dengan air mata-Nya yang suci. Kahlil Gibran S ejak masa kecil pada kita diajarkan bahwa begitu saja percaya adalah berbahaya. Dan dalam hal tertentu ajaran itu benar. Percaya memang mengandung risiko. Percaya berarti membuat orang lain memperoleh manfaat dengan hilangnya keraguan. Maka percaya menuntut kesediaan untuk membuat diri sendiri dalam keadaan rentan. Hal itu karena kita tahu bahwa keselamatan kita berada di tangan Yang Maha Kuasa, dan bahwa kedamaian diri kita bukan lagi bergantung kepada kemampuan kita untuk mempertahankannya. Percaya adalah berserah diri kepada Tuhan dengan iman. Bertentangan dengan pendapat umum, percaya tidaklah sama dengan sikap naif yang kurang kemauan. Percaya tidak menyuruh kita untuk selalu menunjukkan 78 Tuhan
    • Berbagai Batu Pijakan 139 hidup yang mulus dan bahagia, seolah-olah tak ada persoalan, tak ada yang salah dan menerima segala sesuatu seperti yang tampak, dengan nominal. Kepercayaan semacam itu sama saja dengan bunuh diri dalam keadaan sekarang. Namun alternatifnya – kekhawatiran, ketidakpuasan, kecurigaan, juga sama-sama buruk. Penulis Daniel Hess yang jemaat Mennonite menyatakan: Tidaklah soal berapa banyak pekerja yang mendapatkan asuransi kesehatan, bahwa bekerja empat-puluh jam seminggu memberi cukup waktu untuk bersantai, bahwa gaji bisa memberi kelimpahan tertentu, bahwa ilmu pengetahuan terus saja menghasilkan perangkat alat yang aman dan handal dalam memperkirakan perubahan alam. Tetap saja kita terus khawatir. Perut menjadi tegang dan telapak tangan berkeringat sebagai akibat kebiasaan kita merasa cemas, gelisah, takut akan sesuatu yang bisa terjadi. Panik yang disebabkan oleh ketergantungan obat dan depresi karena kimia tubuh kita tidak seimbang, karena ada banyak tuntutan dan karena kita punya terlalu banyak kesanggupan dan hasrat-hasrat yang belum terpenuhi. Banyak orang mencemaskan hubungan-hubungan antar pribadi mereka, tertekan oleh gesekan perasaan dan diperlemah oleh pengkhianatan. Mereka menderita karena takut yang sangat nyata akan tuntutan hukum. Akan persaingan yang tidak sehat, akan berbagai penciutan, dan akan pencaplokan harta dan usaha tanpa melalui perundingan (pengambil–alihan perusahaan secara mendadak dengan memborong saham di bursa). Yesus sendiri menasihati kita agar bersikap “cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”79. Namun selain itu, Ia juga mengingatkan kita, dengan cara mengajukan 79 Mat 10:16
    • 140 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? pertanyaan yang sederhana, bahwa kekurangan- percayaan kita kepada-Nya dan kepada Allah Bapa sungguh tidak berguna: “Siapakah di antara kamu yang dengan kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”80 Yang menyedihkan, pengkhianatan, gosip, dan menusuk dari belakang merupakan bagian hidup yang tak terpisahkan dan menghambat keberanian orang untuk percaya. Clare Stober, seorang wanita pengusaha, yang belakangan bergabung pada komunitas kami, menulis: Ketidak-percayaan penting diperhatikan karena menjadi hambatan damai. Kita mungkin berusaha membela diri dan mereka yang kita cintai dengan bersikap agresif, namun akibatnya kita mendirikan dinding-dinding prasangka. Jika orang mengambil keuntungan dari diri kita dan bertindak tidak fair, kita langsung menyimpulkan hal-hal yang terburuk, dan tidak hanya untuk saat itu, tapi berlangsung untuk seterusnya. Kita memandang sisi lain dari kepercayaan, yaitu kerentanan sebagai tanda kelemahan, sesuatu yang bodoh atau terlalu menyederhanakan persoalan. Ketika kita tidak mau memercayai orang lain, kita mungkin mengira hal itu adalah untuk melindungi diri kita sendiri, tetapi yang sebenarnya justru berkebalikan. Kasih adalah perlindungan yang terbesar, keamanan yang kokoh. Ketika kita banyak curiga dan tidak percaya, kita tak dapat memberi ataupun menerima kasih. Kita memisahkan diri dari Tuhan dan dari setiap orang. Pada komunitas Bruderhof, seperti dalam kelompok orang yang terjalin erat, situasi rumah kami yang berdekatan dan dalam kehidupan sehari-hari semua orang bisa kelihatan, menciptakan potensi tidak-damai yang dapat dipertajam oleh dugaan-dugaan belaka atau 80 Mat 6 : 27
    • Berbagai Batu Pijakan 141 gosip. Namun sejak awal kehidupan komunitas kami tujuh puluh lima tahun yang lalu, kami telah membangun suatu komitmen bersama untuk bicara secara terbuka, agar dapat memelihara suasana percaya dan damai. Tidak ada peraturan lain, hanya kasih. Dan cinta menggembirakan orang lain. Lalu, apa itu marah pada mereka? Kata-kata yang timbul dari kasih harus menyalurkan kegembiraan yang kita miliki ke hadapan saudara-saudara, pria maupun wanita. Maka tak boleh terjadi ada pembicaraan tentang orang lain yang dilambari oleh rasa marah atau jengkel. Tak boleh ada pembicaraan baik terang-terangan maupun dengan menyindir yang menyerang saudara, pria dan wanita, atau watak masing-masing, ataupun kepada seseorang yang tidak hadir. Bergunjing, bahkan dalam keluarga sendiri, tidak diperkenankan. Tanpa hal semacam ini tidak akan ada loyalitas, dan tanpa loyalitas tidak ada komunitas. Satu-satunya yang dapat dilakukan adalah bicara langsung; kita mengharapkan pembicaraan spontan yang didasari oleh rasa persaudaraan dari pria dan wanita atas seseorang yang kelemahannya menyebabkan reaksi negatif dalam komunitas. Kata-kata yang terbuka dan langsung pada orang lain dapat memperkokoh persahabatan dan cara itu tidak ditolak. Namun jika dua orang tidak dapat segera akur diperlukan bantuan orang ketiga yang dihormati oleh kedua-duanya. Dengan cara itu mereka dapat diantarkan pada suatu solusi yang mengikat mereka berdua pada tataran yang terdalam dan tertinggi. Eberhard Arnold Ellen Keiderling bergabung dengan komunitas kami beberapa dasawarsa yang lalu, tetapi ia masih teringat betapa ia kagum membaca tulisan di atas untuk pertama kalinya – dan ia tahu bahwa itu dilaksanakan:
    • 142 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Ketika aku bergabung dalam komunitas ini dan tidak ada gosip di dalamnya – tidak ada orang yang membicarakan orang lain yang tidak hadir – sepertinya beban yang berat terlepas dari pundakku. Di tempat asalku, gosip merupakan cara hidup. Seperti setiap orang lainnya, kami khawatir dengan apa yang dipikirkan atau dikatakan orang tentang diriku ketika aku tak hadir, tetapi aku tidak benar-benar ambil peduli pada kekhawatiran itu, karena sadar bahwa beban itu tak ada gunanya; hal itu dapat sangat memengaruhi hidup kami dari tahun ke tahun. Dan sekarang kami tahu bahwa seseorang akan datang dan memberitahu kami jika kami melakukan kesalahan – serasa inilah bumi yang baru bagi kami di sini. Aku tak bisa melakukan komitmen untuk bicara terus terang selama beberapa tahun, namun tetap ada kepercayaan. Itulah sesuatu yang tetap kokoh dan bisa menjadi pegangan. Sangat sering damai sejahtera kita dalam hubungan dengan orang lain berantakan karena tidak adanya kepercayaan ini. Apa pun alasannya, benar atau tidak, kita tak berani percaya bahwa kita dikasihi sebagaimana adanya, dengan semua kelemahan dan kekurangan kita. Tetapi hanya itulah yang perlu kita lakukan. Daripada kita menyembunyikan diri kita dalam rasa takut dan tidak percaya, lebih baik kita bersedia memercayai sesama kita kapan saja - bahkan kepada mereka yang mengkhianati kepercayan kita sekalipun. Kepercayaan kepada Tuhan dalam segala hal sangat vital. Seorang penulis melukiskan seorang wanita yang begitu khawatir sehingga ketika ia pergi ke surga, yang ditinggalkannya ternyata hanya setumpukan rasa khawatir. Walaupun tampaknya pelukisan itu lucu, namun dengan tepat lukisan itu menggambarkan keadaan banyak orang. Seandainya saja mereka sadar, apakah mereka percaya atau
    • Berbagai Batu Pijakan 143 tidak, Tuhan hadir di sana dan mengulurkan tangan kepada mereka. Tuhan tahu rahasia yang terdalam sekalipun dari hati kita dan tetap setia mengasihi kita. Ia tahu segala sesuatu yang kita perlukan sebelum kita memohon kepada-Nya. Dari diri kita, yang diharapkan hanyalah agar kita di hadiratNya menjadi seperti anak- anak, apa adanya, dan membiarkan Dia menolong kita. Bagi sementara orang (ibu-ibu mempunyai bayi atau anak kecil misalnya) kepercayaan semacam itu tidak mudah. Mereka khawatir dengan segala hal yang mengerikan yang mereka baca atau dengar dari berita- berita: perang dan bencana, terorisme dan kejahatan yang kejam. Kadang-kadang mereka bertanya tentang kebijaksanaan dalam hal bagaimana mengantarkan anak- anak mengenal dunia yang seperti itu. Ketakutan seperti itu bukan barang baru. Aku dilahirkan ketika Inggris mengalami pengeboman dalam Perang Dunia Kedua, dan setiap malam pesawat- pesawat melintasi angkasa di atas kami. Dua kali bom dijatuhkan di dekat kami. Yang satu di dalam pekarangan kami, dan yang lain di tanah desa sebelah. Namun yang lebih ditakutkan oleh orang tuaku ketimbang bom itu adalah serangan darat tentara Nazi. Bagi mereka (sebagai orang Jerman yang mengungsi ke negeri lain karena bicara keras menentang Hitler) dan bagi kami anak-anak, serangan darat itu bisa berarti kematian bagi kami. Ibu kami sangat khawatir setiap kali memikirkannya. Bertahun-tahun kemudian, mengingat masa-masa itu, ayah menulis kepada pasangan suami-istri yang meminta nasihat: Walaupun sekarang kita tidak ketakutan akan pesawat pengebom lagi, zaman kita juga sangat menderita dan ada banyak kematian. Sangat mungkin bahwa banyak di antara kita, termasuk orang tua anak-
    • 144 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? anak kecil seperti Anda – suatu ketika menderita dan mati karena iman kita. Dari relung hatiku aku berharap kalian sepenuhnya percaya kepada Tuhan. Ada banyak perikop yang mengerikan dalam Kitab Suci, terutama dalam Kitab Wahyu. Namun bahkan di sana pun dikatakan bahwa Allah sendiri akan menghapus air mata mereka yang begitu menderita. Kita harus sungguh-sungguh yakin bahwa Yesus datang bukan untuk mengadili tetapi untuk menyelamatkan . “Allah begitu mencintai manusia.” Berpeganglah pada perkataan ini. Kita diingatkan bahwa akhirnya kita akan bersatu dengan Allah. Kita harus yakin akan hal ini, demi diri kita sendiri dan demi anak-anak kita juga. Kadang-kadang mereka yang sangat ketakutan, secara manusiawi, justru dikaruniai perasaan ketenangan batin yang sangat mendalam. Seorang pasien rumah sakit menderita penyakit yang akan membawanya pada kematian, orang itu sedang menyongsong kematian, akan menjadi korban maut. Kita pasti mengira orang itu tidak damai batinnya. Ketika wajah maut memandang orang itu, justru soal- soal lain yang biasanya dalam keadaan yang tidak begitu mengancam mengganggu dirinya, sekarang malah tersisihkan, dan ia harus memerhatikan keabadian. Ia berhadapan dengan pilihan sederhana: berusaha melarikan diri dari hal yang tak terelakkan dengan membenturkan kepalanya pada dinding, atau menyerahkan diri kepada Allah dalam iman. George Burleson, seorang warga Bruderhof dan teman akrabnya yang berjuang melawan kanker yang secara pelan-pelan namun pasti menyebar dalam tubuhnya selama empat tahun, baru-baru ini menulis: Sejak diriku ketahuan mengidap kanker dan sadar bahwa masa depanku begitu tak pasti, aku telah belajar
    • Berbagai Batu Pijakan 145 tentang perlunya memercayakan diri sepenuhnya secara mutlak kepada kerahiman Allah. Hanya jika aku telah seperti itu, rasa kekhawatiranku hilang. Kematian datang kepada setiap orang – kita semua dalam situasi yang sama dalam berhubungan dengan kematian itu – maka berkutat melawan hal yang sudah pasti itu hanyalah pemborosan waktu. Hidup kita ada di tangan Tuhan. Itulah yang penting, dan jika kita dapat menerima hal itu, kita akan mengalami kedamaian. Penulis Dale Aukerman memberi kesaksian lain tentang kekuatan kepercayaan sebagai sarana damai. Seperti George, baginya sumber kedamaian terletak pada penyerahan diri pada fakta bahwa ia akan segera mati; seperti mereka yang lain, kasihnya akan kehidupan justru tidak berkurang, dan ia dengan mantap terus berjuang. Sekalipun begitu, kedekatannya dengan kematian tidak membuatnya gentar atau jadi limbung. Kepercayaanya kepada Yang Maha Kuasa memberinya kekuatan terus- menerus dan juga ketenangan. Pada 5 November 1996 aku kedapatan mengidap tumor sebesar sepuluh senti melintang di paru-paruku sebelah kiri. Pemeriksaan selanjutnya menunjukkan bahwa kanker itu telah menyebar ke hati, di punggung kanan, dan di dua tempat pada tulang belakang. Aku diberitahu bahwa peluang hidupku hanya antara dua hingga enam bulan lagi, dan perkiraan garis tengahnya adalah empat bulan. Menakjubkan sekali memperoleh gambaran bahwa hidup ini tinggal beberapa bulan lagi. Setiap hari dan setiap hubungan dekat lalu menjadi sangat berharga lebih dari masa lalu. Setiap pagi aku mengingat penanggalan dalam bulan – yaitu hari yang diberikan kepadaku oleh Tuhan. Dengan lebih sungguh-sungguh aku memandang keluarga, rumahku dan ciptaan Allah, karena aku tahu waktuku untuk melihat mereka akan segera berakhir.
    • 146 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Ketika menerima urapan minyak segera setelah diagnosis itu aku mengaku dosa bahwa aku kurang memberi perhatian pada Tuhan. Karena kanker itu, Tuhan lalu lebih banyak menjadi perhatianku. Ketika saudariku, Jane, meninggal karena kanker ganas pada usia empat belas tahun, ibuku menerima hal itu sebagai kehendak Allah: Allah berkenan mengambil dia, siapa orang yang dapat menentang kehendak-Nya? Bagi sementara orang, pandangan seperti itu merupakan penghiburan. Aku agak berbeda. Aku pikir Tuhan tidak mengirimkan kanker maupun penyakit jantung. Jika seorang pemabuk mengendarai mobil dan menabrak beberapa orang hingga meninggal, aku tidak percaya bahwa hal itu adalah kehendak Allah. Ada banyak hal yang terjadi di dunia ini bukan karena dihendaki oleh Allah dan bukan karena Allah menginginkannya.... Tetapi Allah berjuang bersama setiap kita yang melawan maut. Dengan cara yang tidak kita ketahui dan tidak kita pahami, Allah memukul mundur kekuatan maut. Ketika masih anak-anak aku hampir mati terlindas mobil pertanian. Beberapa tahun berikutnya aku juga hampir mati karena sesuatu, yang mungkin keracunan arsenik. Aku juga hampir mati dalam mobil. Setelah mengalami enam rangkaian kemoterapi dan mendapat banyak tambahan gizi, dan berkat doa- doa para sahabat, aku mengalami scan CAT, yang menunjukkan bahwa tumor dalam paru-paruku menyusut hingga tinggal seperempatnya dari ukuran awalnya. Tuhan telah menjauhkan aku dari kematian dan memberi kehidupan lebih panjang kepadaku. Di dalam suratnya kepada Jemaat di Efesus 1:19-22 Paulus menulis, “Betapa hebat kuasaNya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang-orang mati dan mendudukanNya di sebelah kananNya di surga.” Kita membaca Allah
    • Berbagai Batu Pijakan 147 meletakkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus – yaitu bahwa Allah membuat Kristus menaklukkan semua daya yang memberontak. Itulah gambaran Kitab Suci mengenai perjuangan kemenangan dan kuasa yang menaklukkan. Dia yang telah mati dan bangkit lagi, mengalahkan kanker, penyakit jantung, AIDS ; Alzheimer, sizofrenia, pelecehan anak-anak. Dia adalah pemenang atas perjuangan melawan eksploitasi kaum miskin, atas pengurasan habis-habisan bumi yang dengan baik diciptakan Allah, atas kegilaan pembelanjaan untuk militer dan senjata nuklir. Namun mungkin kita bertanya, jika Kristus sudah mengalahkan hal-hal semacam itu mengapa masih banyak terjadi hal-hal demikian itu? Mengapa segala keburukan itu begitu meruyak di banyak tempat? Di dalam perang mungkin hanya ada satu pertempuran yang menentukan pihak mana yang menang. Karena pertempuran yang menentukan itulah pihak yang satu pasti maju terus hingga mencapai kemenangan yang lengkap, walaupun pihak yang lain masih punya pasukan di medan tempur dan pertempuran masih berlanjut. Namun hanyalah tinggal masalah waktu saja pihak lawan itu akan habis seluruhnya. Harapan kita yang pertama-tama bukanlah untuk mendapatkan hidup abadi setelah kematian. Puncak harapan yang diberikan dalam Perjanjian Baru adalah bahwa Kerajaan Allah yang akan datang penuh kemuliaan, dan Tuhan yang telah dibangkitkan dan tidak tampak itu lalu tampil dengan mulia untuk memperbarui segala ciptaan Allah, dan segala yang jahat dan merusak akan dihilangkan. Sejarah manusia akan dibenarkan. Kisah manusia akan menerima akhirnya dari Allah. Pada waktu itulah Tuhan akan menguasai alur peristiwa manusia dan menaruhnya dalam kegemilangan kerajaan baru yang tak terbayangkan. Harapan kita pertama-tama adalah pemenuhan segala janji Allah; dan baru kemudian kita berharap dapat memperoleh secuil surga.
    • 148 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Dalam seluruh hidupku di masa dewasa, aku melibatkan diri di dalam usaha menciptakan damai dan menjadi saksi damai, dan selama bulan-bulan terakhir khususnya aku membaca ayat-ayat Kitab Suci tentang damai. Dari Injil Yohanes, Tuhan yang bangkit berkata kepada para murid yang ketakutan di ruang atas: “Damai Sejahtera bagi kamu.” 81, yang satunya lagi, yang kurenungkan ketika aku dimasukkan ke dalam dan dikeluarkan dari lubang MRI, berasal dari surat kepada Jemaat di Filipi: “Damai sejahtera Allah yang melampui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”82 Yesaya menyatakan, “Engkau terus memberikan damai sejahtera yang sempurna pada dia yang hatinya terarah kepada-Mu, karena ia percaya kepada-Mu.” Damai sejahtera yang sempurna itu, dalam pengertian Kitab Suci, bukan sekadar hati yang tenteram. Tetapi seluruh hidup dan hubungan- hubungan yang teguh melawan segala yang hendak mengganggu dan merusak kita. Itulah anugerah yang membuat kita tetap tegak ketika harus melalui kegelapan yang paling pekat sekalipun. 81 Yoh 20:19 82 Fil 4:7
    • Berbagai Batu Pijakan 149 Pengampunan Seorang rabbi bertanya kepada murid- muridnya: kapankah, di waktu fajar orang dapat memisahkan terang dari gelap? Seorang muridnya menjawab: ketika saya bisa memisahkan seekor kambing dari keledai. Tidak, jawab rabbi itu. Yang lain berkata, ketika saya bisa membedakan sebatang pohon palma dari pohon ara. Bukan, kata rabbi itu pula. Nah, jika begitu, apa jawabnya? Murid-muridnya mendesak. Kata rabbi itu, barulah ketika kamu memandang wajah setiap orang lelaki dan setiap orang perempuan dan kamu melihat saudaramu laki-laki dan perempuan, barulah saat itu kamu melihat cahaya. Di luar itu adalah kegelapan. Cerita Mistik Yahudi D i dalam kodrat manusia, kemampuan melihat laki- laki atau perempuan siapa pun yang kita jumpai sebagai saudara adalah rahmat. Bahkan hubungan kita dengan orang lain yang dekat dengan kita bisa diliputi awan kelabu kapan saja, sekalipun hanya karena keluhan- keluhan kecil. Damai sejati dengan orang lain memerlukan usaha. Kadang-kadang untuk itu diperlukan kesediaan untuk mengalah. Pada orang yang lain lagi diperlukan kesedian untuk jujur berterus terang. Hari ini mungkin kita harus berendah hati dengan berdiam diri; besok mungkin perlu keberanian untuk bertemu langsung dan bicara. Namun ada satu hal yang tidak berubah: bila kita menginginkan damai dalam
    • 150 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? hubungan-hubungan kita, kita harus bersedia memaafkan, mengampuni, berulang kali. Suatu ketika kita tentu pernah merasa dibuat sakit hati, dan setiap kita juga membuat orang lain sakit hati. Dan karena itu, sebagaimana kita semua harus mengampuni, jika kita mau diampuni. Tanpa pengampunan itu, kita tak akan menemukan kedamaian. Apa yang dimaksud dengan pengampunan? Di dalam bukuku Seventy Times Seven (Tujuh puluh kali tujuh) yang sepenuhnya bicara tentang soal pengampunan, aku menunjukkan bahwa ada pengampunan yang ditawarkan oleh Allah, dan pengampunan yang kita berikan satu sama lain sebagai sesama manusia. Walaupun keduanya berbeda, namun pengampunan yang satu berhubungan erat dengan pengampunan yang kedua. Agar dapat mengalami damai yang diberikan Allah melalui pengampunan dari-Nya, sepertinya pertama-tama kita harus bersedia mengampuni orang lain. Ayahku menulis: Tuhan menyuruh kita memaafkan orang lain dulu agar kita mendapat ampunan, dan itu sangat penting bagi hidup kita semua. Dan itu paling penting pada saat kematian kita. Mereka yang yakin telah mendapatkan ampunan atas dosa dan kesalahannya, dan telah mengampuni mereka yang bersalah kepadanya, akan dilepaskan dari derita sakratul maut. Mengampuni tidak ada kaitannya dengan sikap fair, ataupun dengan membolehkan suatu perbuatan yang jelas salah; pengampunan itu berarti memaafkan seseorang atas suatu perbuatan yang tak termaafkan. Ketika kita memaafkan seseorang, kita menyisihkan kesalahan-kesalahannya. Bila kita memaafkan seseorang, sebenarnya kita bisa saja mempertahankan sakit hati kita,
    • Berbagai Batu Pijakan 151 namun bagaimanapun, kita harus melepaskannya. Kita tak mau balas dendam. Walaupun maaf kita itu tidak selalu diterima orang lain, namun mengulurkan tangan dalam usaha pendamaian menghindarkan diri kita dari amarah dan dendam. Walaupun kita masih tetap merasa luka, namun sikap kita yang memaafkan itu mencegah kita melakukan pembalasan pada seseorang yang menyebabkan kita menderita. Dan hal itu memudahkan kita untuk memaafkan lagi ketika di belakang hari kita disakiti lagi. Dorothy Day menulis: Dari cerita Yesus tentang kembalinya anak yang durhaka, Allah berdiri di pihak anak yang tidak pantas.... Para pembaca mungkin mengira anak durhaka itu dengan sangat menyesal pulang ke rumah bapanya. Tapi siapa tahu, ia mungkin pergi lagi dan memboroskan uang pada hari Sabtu berikutnya, ia mungkin menolak bekerja untuk menggembalakan ternak dan sebaliknya minta dikirim ke tempat lain untuk melanjutkan sekolahnya, dan dengan begitu jawaban lain pada persoalan itu, yaitu bahwa orang harus mengampuni saudaranya tujuh puluh kali tujuh kali. Selalu ada jawaban, walaupun tidak perlu selalu dihitung-hitung. Ironisnya, mereka yang pernah mengalami penderitaan yang sangat berat dalam hidup biasanya lebih bersedia memaafkan. Bill Pelke adalah seorang veteran perang Vietnam dari Indiana yang kutemui dalam suatu acara anti hukuman mati. Ia kehilangan neneknya yang dibunuh orang dengan keji. Namun ia berusaha melakukan rekonsiliasi dengan gadis remaja yang membunuh neneknya itu. Nenek Bill suka keluar rumah memberi pelajaran Kitab Suci kepada anak-anak di lingkungan tetangga. Pada suatu sore di bulan Mei 1985 ia menerima kedatangan empat gadis remaja dari suatu Sekolah Menengah Atas
    • 152 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? tak jauh dari situ. Tanpa mengetahui apa-apa, anak-anak itu menyerangnya sampai ia terjatuh di lantai. Beberapa menit kemudian rumah itu dirampok, dan anak-anak itu pergi menggunakan mobil tua si nenek, membiarkan nenek itu tergeletak di lantai, mati kehabisan darah, karena banyak luka tusuk. Bill teringat: Anak-anak itu ditangkap setelah mengajak teman- teman lain bersenang-senang naik mobil curian. Lalu mereka diadili. Setelah proses pengadilan berjalan selama lima belas bulan, keputusan hukumpun dijatuhkan. Seorang gadis dihukum penjara tiga puluh lima tahun, dua orang gadis dihukum masing-masing enam puluh tahun, dan yang terakhir Paula Cooper, dihukum mati. Aku puas karena setidak-tidaknya seorang dari mereka akan dieksekusi. Kurasa, jika tidak begitu pengadilan niscaya menganggap nenekku tidak penting, padahal bagiku nenek adalah orang yang sangat penting. Sekitar empat bulan setelah keputusan pidana dijatuhkan atas Paula, aku putus hubungan dengan pacarku. Aku berusaha keras untuk memperbaiki hubungan itu dan sangat sedih. Hatiku tak bisa mendapatkan kedamaian. Pada suatu hari, ketika aku sedang bekerja mengoperasikan mobil angkat (crane) dari tempat yang tinggi (aku bekerja pada perusahaan Bethlehem Steel) aku merenungkan mengapa hubunganku tidak berjalan baik, termasuk kematian nenekku. Dan aku mulai berdoa. “Mengapa, Tuhan? Mengapa?” Tiba- tiba aku teringat kepada Paula – dan aku membayangkan anak itu (wanita yang paling muda yang menunggu giliran pidana eksekusi mati) sedang berkata, “Apa yang telah kulakukan? Apa yang telah kulakukan?” dan aku teringat ketika keputusan itu diumumkan; saat itu kakeknya hadir di ruang pengadilan dan berteriak, “Mereka membunuh
    • Berbagai Batu Pijakan 153 cucuku.” Dia digiring keluar dari ruang pengadilan. Air matanya mengalir membasahi pipinya.... Aku mengingat juga nenekku, imannya, dan apa yang dikatakan Kitab Suci tentang pengampunan. Aku teringat tiga ayat, yang satu mengatakan bahwa supaya mendapatkan pengampunan Tuhan, kamu harus mengampuni orang lain83; yang kedua Yesus menyuruh Petrus memaafkan tujuh puluh kali tujuh kali84; yang ketiga yang dikatakan Yesus ketika ia tergantung di kayu salib, “Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.”85 Paula tidak tahu apa yang dilakukannya. Ketika gadis itu menusuk seorang wanita tua tiga puluh tiga kali, pikirannya sedang tidak waras. Tiba-tiba aku merasa harus memaafkan Paula, aku langsung berdoa, agar Tuhan mengasihi aku dan rahim kepada Paula. Doa itu mengubah hidupku. Aku tak ingin gadis itu mati di kursi listrik. Apa artinya eksekusi itu bagiku dan bagi orang lain? Ketika aku masuk ke ruang pengoperasian pesawat- angkat itu aku adalah seorang pecundang. Empat puluh lima menit kemudian ketika aku keluar dari situ aku adalah orang yang berbeda sama sekali. Bill mengunjungi Paula beberapa kali sejak itu dan berusaha menunjukkan iman neneknya kepada gadis itu – bukan dengan berkhotbah, tetapi dengan menunjukkan belas kasihan. Ia tidak lagi dihantui oleh gambaran neneknya yang tersayang itu terbujur dibantai di lantai ruang makan - ruang tempat keluarga biasanya berkumpul untuk berbagai kesempatan yang sangat bahagia. Bill jelas masih merasa menderita karenanya, namun kemudian 83 Mat 6:12. 14-15 84 Mat 18,21-22 85 Luk 23 : 34
    • 154 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? penderitaan itu bercampur dengan keputusan untuk memastikan bahwa orang lain juga harus sama-sama menanggung pahitnya situasi yang harus dilaluinya. “Sepanjang aku membenci anak-anak itu, mereka mengendalikan hidupku. Namun begitu aku memilih memaafkan mereka, hatiku merasa bebas.” Sebagai aktivis yang gigih dari “gerakan keadilan restoratif ” yang sedang berkembang, Bill sekarang melakukan perjalanan ke mana-mana di seluruh pelosok negeri dengan suatu organisasi yang disebut “Perjalanan Harapan: dari Kekerasan ke Penyembuhan.” Dia juga menjadi anggota Keluarga Korban demi Rekonsilasi. “Pengampunan,” katanya, “adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh, lepas dari kekerasan menuju penyembuhan. Pengampunan melindungi Anda dari karat kebencian dan memberikan kebebasan lagi kepada Anda agar mendapatkan damai di dalam diri Anda sendiri.” Kebanyakan dari kita tidak mempuyai urusan yang berkaitan langsung dengan pembunuhan; dan banyak hal yang menjadi obsesi kita bisa dikatakan sepele dibanding dengan pembunuhan. Namun kita sering merasa kesulitan untuk memaafkan. Terutama jika kekecewaan itu berkembang terus dalam masa yang panjang, perlu beberapa waktu dan usaha besar untuk mencabut akarnya. Dan apakah rasa sakitnya hanya bayangan saja atau pun nyata, hal itu akan menggerogoti kita selama terus kita pelihara. Bukanlah maksudnya untuk menelan luka hati kita. Sebaliknya orang yang menekan keluhan- keluahan ke dalam alam bawah sadar dengan maksud untuk melupakannya sebenarnya membuat pincang dirinya saja. Sebelum kita mengampuni suatu luka batin, kita harus dapat memberi nama luka itu.
    • Berbagai Batu Pijakan 155 Kadang-kadang tidak mungkin (atau kalaupun mungkin, tidak membantu) untuk berhadapan dengan orang yang kita perjuangakan agar kita ampuni, maka solusi terbaiknya adalah berbagi luka batin itu dengan seseorang yang kita percaya. Setelah hal itu kita lakukan, luka batin kita lepaskan. Jika tidak demikian selamanya kita akan terus kecewa dan menyesal, menunggu permintaan maaf yang tak pernah datang. Dan kita akan tetap terpisah dari Allah. Selama kita tetap menggerutui seseorang, pintu Tuhan tetap tertutup. Begitu rapat tertutup sehingga tak ada jalan untuk menuju Dia. Aku yakin banyak doa tidak didengarkan karena orang yang berdoa masih menggerutui seseorang, walaupun dia tidak menyadarinya. Jika kita menginginkan damai Tuhan dalam hati kita, pertama- tama kita harus belajar memaafkan. J. Heinrich Arnold Adalah wajar bila kita meminta pengampunan. Bagaimanapun setiap orang adalah pendosa di mata Allah. Sekalipun “kebaikan” kita menghalangi kita untuk melihat diri kita demikian. Suatu cerita tentang Bruder Angelo, seorang biarawan Fransiskan, melukiskan masalah itu dengan bagus sekali. Pada malam Natal, Bruder Angelo membersihkann pondoknya yang sederhana di sebuah bukit dan menghiasinya untuk Misa Natal. Ia berdoa, menyapu halaman, memasak air, dan duduk menunggu Bruder Francis, yang diharapkannya datang kemudian. Tiba-tiba muncullah tiga orang gelandangan di depan pintu, minta makanan. Bruder Angelo ketakutan sekaligus marah dan menyuruh mereka pergi dengan tangan hampa, sambil ngomel memberi peringatan, bahwa para pencuri akan dimasukkan ke dalam api neraka.
    • 156 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Ketika Bruder Francis datang, ia merasakan ada yang tidak beres. Bruder Angelo menceritakan kepadanya ketiga orang gelandangan yang berkunjung. Bruder Francis menyuruh Bruder Angelo naik ke bukit membawa anggur dan roti untuk mencari dan menemukan mereka itu. Dan minta maaf. Bruder Angelo berkilah membantah. Berbeda dari Bruder Francis, ia tidak bisa memandang ketiga gelandangan itu sebagai saudara. Mereka itu hanyalah gelandangan liar. Sekalipun mengomel, Bruder Angelo patuh dan sebelum malam tiba (dengan mengikuti jejak kaki mereka di salju), ia menemukan mereka di suatu gua dan berdamai. Menurut ceritanya, beberapa hari kemudian, para gelandangan itu turun gunung meninggalkan gua dan bergabung dengan Ordo Fransiskan.
    • Berbagai Batu Pijakan 157 Bersyukur Hayatilah hidup Anda sedemikian rupa sehingga perasaan takut mati tak akan pernah ada di hatimu. Bila bangun di pagi hari, berterimakasihlah kepada cahaya pagi. Bersyukurlah atas hidupmu dan kekuatanmu. Beryukurlah atas makanan dan atas kegembiraan hidupmu. Dan jika kamu pada sutau ketika tak dapat mensyukuri semua itu, yakinlah bahwa ada yang tidak beres di dalam dirimu. Ketua Suku Indian Tecumseh M istikus abad pertengahan Meister Eckhardt86 suatu ketika pernah menyatakan bahwa kalaupun doa yang dapat kita ucapkan hanyalah “terima kasih,” itu sudah mencukupi. Jika kita ikuti nasihatnya begitu saja, mungkin untuk sesaat mudah rasanya. Namun beryukur kepada Tuhan dengan hati tulus atas segala anugerah- Nya, dan untuk menghayati hidup dengan semangat syukur, berlaku untuk selamanya. Apa maksudnya bersyukur? Henri Nouwen menulis: Bersyukur atas sesuatu hal baik yang kita alami pada suatu ketika adalah tindakan yang mudah. Tetapi mensyukuri seluruh hidup, entah baik, entah buruk, saat- saat gembira dan saat-saat berduka, keberhasilan maupun gagal, dihargai ataupun ditolak memerlukan kerja keras spiritual. Namun, kita sungguh orang yang tahu bersyukur jika kita mengucapkan terima kasih atas segala hal yang mengantar kita pada saat ini. Jika kita tetap membagi 86 Biarawan Ordo Dominikan, 1260-1327, dikecam Paus waktu itu karena ajaran Panteisme.
    • 158 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? hidup kita di antara peristiwa-peristiwa dan orang-orang yang hendak kita kenang, dan semua yang hendak kita lupakan saja, kita belum dapat menyatakan bahwa seluruh keberadaan kita adalah anugerah Allah yang harus kita syukuri. Janganlah kita takut memandang segala sesuatu yang telah membawa kita di sini saat ini dan percayalah bahwa kita akan segera melihatnya di dalam bimbingan tangan Allah yang penuh kasih. Sama pentingnya mensyukuri juga hal-hal yang buruk yang kita alami seperti hal-hal yang baik. Selama kita menghindari kenangan akan hal-hal yang menyedihkan, setiap situasi yang menakutkan atau membuat kita kecil hati, kita tak akan mengenal damai. Ini tidak berarti kita harus diam-diam saja menerima semua yang datang pada kita dengan cara seperti itu. Tuhan Yesus sendiri mengajar kita berdoa. “Jangan membawa kami ke dalam pencobaan.” 87 Namun karena ada banyak hal dalam kehidupan ini yang tak bisa kita kendalikan, kita perlu menyikapi hal-hal yang menguji kita itu bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai peluang untuk bertumbuh. Filsuf Perancis Simone Weil88 suatu ketika menulis, “Tuhan terus-menerus menyinari dengan sepenuh rahmatNya segala makhluk di dunia, namun kitalah yang memilih apakah kita telah menerima lebih banyak, atau hanya sedikit. Dalam hal yang semata-mata spiritual, Tuhan mengabulkan semua keinginan. Mereka yang mendapatkan sedikit adalah karena permohonannya memang sedikit.” Suatu gagasan yang mengusik hati. 87 Mat 6:13 88 1909-1943 mistikus dan pejuang keadilan sosial
    • Berbagai Batu Pijakan 159 Kemudian, jika kita bersungguh-sungguh dengan ucapan “Terjadilah kehendak-Mu” 89 , niscaya kita mensyukuri apa pun yang diberikan kepada kita. Bahkan anak-anak Israel dijawab dengan puluhan hukuman berkali-kali. Mereka tidak hanya menerima manna dari surga. Berkenaan dengan hal-hal baik (keluarga, makanan, rumah, sahabat, cinta, pekerjaan), jika kita jujur, kita harus mengakui bahwa kita sering mendapatkannya sebagai pemberian. Namun kita lebih memperlakukan semua itu sebagai hak, daripada sebagai karunia. Seorang jemaat gerejaku, Caroll King, menunjukkan bahwa justru ketika pergumulan atau permasalahan dirasa paling berat bebannya pada seseorang maka rasa syukur dapat mengubah seluruh pandangan akan hidup. Suatu ketika sewaktu aku merasa sangat tertekan, aku sadar bahwa jika aku dapat menemukan satu hal saja untuk kusyukuri, maka itu merupakan satu langkah untuk bangkit. Selalu ada sesuatu yang bagi Anda membahagiakan.... Dalam hidupku, bebas dari rasa takut dan cemas adalah suatu hal yang banyak kuperjuangkan. Tetapi jika kita dapat membeberkan kesulitan-kesulitan kita itu ke tangan Tuhan, ada kedamaian di situ, bukan hanya ketika kita menerima hasil yang terbaik yang diberikan pada Anda, namun dengan sungguh-sungguh bersyukur atas segala sesuatu, apa pun adanya. Kutipan dari Pastor Jesuit Alfred Delp berikut ini memperlihatkan sikap yang sama. Delp menulis dari penjara pada tahun 1944 ketika ia menunggu hukuman mati akibat menentang Hitler. 89 Mat 6:10
    • 160 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Keadaaan kelihatan sangat buruk. Kali ini adalah Tahun Baru pertama yang kualami hanya dengan sepotong roti saja. Sama sekali tidak ada yang bisa kulakukan sesuai kehendakku sendiri. Satu-satunya pertanda kehendak baik yang kulihat adalah sipir yang bersedia melonggarkan borgolku, supaya tangan kiriku dapat kukeluarkan dari borgolku. Borgol itu menggantung dari pergelangan tangan kananku sehingga aku masih dapat menulis. Tapi aku harus mendengarkan ke arah pintu sebab bisa runyam bila mereka mendapatkan aku menulis. Tak dapat kusangkal bahwa diriku sudah sangat dekat dengan bayang-bayang tiang gantungan. Jika aku tidak dapat mengalahkan setiap butir tuduhan, sudah dapat dipastikan aku akan digantung. Namun di atas altar penderitaanku, sudah banyak yang termakan api, dan banyak yang telah meleleh sehingga dapat dilipat. Ini adalah salah satu dari berkat Allah, salah satu tanda dari rahmatnya yang kuterima, sehingga aku selalu dapat dengan baik sekali setia kepada janji-janjiku. Aku yakin, Tuhan juga akan memberikan berkat-Nya pada tata-lahirku begitu aku siap untuk tugas selanjutnya yang atas kehendak-Nya dipercayakan kepadaku. Dari tindakan lahiriah dan cahaya batin yang makin kuat, suatu hasrat baru akan timbul untuk menjadi saksi atas Tuhan yang hidup, karena aku benar-benar telah belajar mengenal Dia semasa pencobaan ini dan aku merasakan kehadiran-Nya yang menyembuhkan. Gagasan bahwa: “Tuhan saja telah cukup” sungguh- sungguh dan mutlak benar bagiku. Dietrich Bonhoeffer memperlihatkan keteguhan yang sama dalam suatu surat yang ditulisnya untuk tunangannya, Maria Wedemeyer, menjelang hukuman mati yang dilaksanakan baginya. “Janganlah engkau mengira aku tidak bahagia. Apa itu kebahagiaan atau
    • Berbagai Batu Pijakan 161 ketidakbahagiaan? Hal itu sedikit bergantung pada keadaan, namun lebih banyak bergantung pada apa yang terjadi dalam hati. Aku sangat bersyukur setiap hari karena kamu, dan hal itu membuat diriku bahagia.” Seturut pengalamanku, yang umumnya menyebabkan orang tidak bisa bersyukur bukanlah keadaan yang sangat buruk, melainkan pengertian yang salah tentang kebahagiaan. Baik pastor Delp maupun Bonhoeffer mengatakan bahwa keadaan yang sangat buruk (ada atau tidak ada) tidak menentukan keadaan hati atau jiwa kita. “Tuhan saja telah cukup.” Hanya dengan gagasan itu saja akan timbul rasa syukur yang tidak ada habisnya dalam diri kita. Tidak akan ada sesuatu yang memuaskan kita jika harapan kita yang egois membuat kita kecewa pada bagian yang kita peroleh; dari situ ada ungkapan “rumput di halaman tetangga selalu lebih hijau.” Maka selama pandangan kita dihalangi oleh hal-hal yang membuat kita tidak memahami kebutuhan dan keperluan kita sendiri yang sesungguhnya, kita juga tidak melihat apa yang dibutuhkan dan diperlukan orang lain, apalagi memahami dalam hal apa kita harus bersyukur. Ayahku suatu ketika menulis untuk seorang teman yang tidak bahagia: “Kamu selalu punya alasan untuk menggerutu, jika kamu ingin damai di hati, kamu harus melepaskan semua itu. Kuharap: berhentilah hanya memikirkan hasratmu untuk dikasihi saja, sebab itu justru berlawanan dengan semangat Kristiani kita.” William Marvin adalah seorang pastor Anglikan di Alabama. Baru setahun aku melakukan hubungan surat menyurat dengannya, karena ia menawarkan bantuan pada gerejaku untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan
    • 162 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? ke Kuba. Walliam punya banyak penderitaan, tapi tak pernah kudengar dia mengeluh. Kendati ia mengalami rangkaian cobaan seperti Ayub: ia sakit berat, anak bungsunya meninggal, ia kehilangan pekerjaan, lalu bercerai dengan istrinya, ia masih bisa berkata: “Aku belum direbus kesakitan....” Kukira sikap inilah yang merupakan kunci dari rasa damai dalam dirinya. Aku sekarat, saat itu bulan Desember 1960. Umurku tiga puluh lima tahun. Beberapa hari yang lalu aku operasi usus buntu. Dini hari awan kepastian mendatangi diriku, bahwa aku akan mati, dan karena itu aku panik. Aku punya seorang istri, tiga orang anak, dan menanggung utang. Aku merasa aku sangat gagal, aku akan mati dan meninggalkan mereka semua dalam kepapaan. Lalu aku mendengar suara yang jelas dan nyaring di telingaku: “Jadi mau apa? Apakah dirimu sendiri itu tidak penting? Hanya Tuhan?” Aku sering memikirkan cara Tuhan bicara pada kita. Dalam seluruh pengalamanku Tuhan biasanya bicara dengan berbisik, menggunakan sedikit kata-kata saja. Kejadian yang menyentuh hatiku itu adalah ketika Tuhan berbicara dengan nada keras, seperti percikan air dingin di wajahku. Kesembuhan berlangsung sangat lambat, tapi aku pulih. Ada banyak peristiwa yang menentukan dalam hidupku. Ibuku mendadak meninggal ketika aku berumur delapan tahun. Setahun kemudian ayahku menikah lagi dengan seorang wanita yang jauh lebih muda. Di rumah, kami tidak bahagia. Ayahku adalah seorang kepala sekolah yang sangat terkenal disiplin dan punya standar akademis yang tinggi. Ia menerapkannya di rumah juga. Aku sering dihajar. Bahkan ibu tiriku pernah menampar aku. Kata-kata yang kasar dan umpatan adalah senjata pilihan mereka. Peraturan yang berlaku adalah, “Apa kata mama.” Pemberontakan masa
    • Berbagai Batu Pijakan 163 remajaku terjadi dalam bentuk nilai yang pas-pasan saja untuk lulus sekolah. Nilai sangat penting bagi mereka, sehingga hanya dalam hal itulah aku dapat membalas menyakiti hati mereka. Aku disuruh pergi begitu lulus Sekolah Menengah Atas. Aku menumpang pada paman dan bibiku sampai umurku cukup untuk menjadi tentara. Tahun-tahun dinasku dalam ketentaraan sangat berat. Aku berperang. Aku melihat orang mati dalam perang. Aku juga terluka. Sesudah dinas tentara aku kuliah, walaupun aku masih tak tahu mau jadi apa. Aku segera menikah dan punya dua anak, sebuah rumah di pinggir kota, utang cicilan rumah, sebuah mobil, dan bekerja sebagai pengantar surat. Aku bingung setelah tiga atau empat tahun kemudian. Setelah serangkaian usaha mencari nasihat dan latihan rohani, aku memutuskan untuk menjadi Pastor Episcopal (istilah untuk gereja Anglikan Amerika). Sesudah dua bulan di seminari kami melakukan retret. Aku kebingungan. Aku menghadap pemimpin retret, seorang biarawan dari Ordo Salib Suci (OSC), dan aku berkata kepadanya bahwa aku telah melakukan kesalahan: “Aku tidak layak.” Jawabannya adalah “Tentu saja, kamu tidak pantas! Tak seorang pun dari kita layak. Tapi Tuhan memilih bekerja sama dengan kita!” Setelah wisuda dan ditahbiskan, William melayani beberapa paroki dan dengan segera ia melihat perbedaan pandangan mengenai posisinya antara dirinya dengan atasannya. Tak lama kemudian ia tidak diberi tugas. Untuk waktu yang cukup lama ia menganggur; masalahnya, ia telah berbicara keras mengecam arah yang ditempuh Gereja Episcopal. Akhirnya ia ditempatkan di suatu paroki Anglikan, di mana sekarang ia melayani jemaat. Sepanjang tahun-tahun itu, tragedi datang bergantian. Mula-mula anak bungsu William mati dalam kecelakaan lalu lintas; lalu istrinya selingkuh dengan pria
    • 164 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? lain dan pergi meninggalkan rumah, setelah mereka resmi bercerai; anaknya yang kedua kecanduan alkohol dan karena serangan jantung yang keras, mati pada usia tiga puluh lima tahun. Namun ada juga hal yang membahagiakan: anak sulungnya menjadi pengacara yang sukses: anak perempuannya mendapat gelar doktor dan menjadi dosen di Universitas Notre Dame. William sendiri lalu membangun suatu keluarga baru di antara para anggota jemaatnya yang hangat dan hidup terasa ringan. Apakah aku memperoleh kedamaian? Kukira begitulah! Aku telah melakukan kewajibanku terhadap anak-anakku; kini aku melayani anggota jemaatku, dan aku ingin melakukan sejauh Allah menghendaki. Aku mengawali setiap pagi dengan mendoakan Venite90 dengan ayat keempatnya. “Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tangan-Nya.” Pada malam hari aku mendaras Nunc Dimittis91 dan mengucapkan kata- kata Yesus di kayu salib. “Ke dalam tangan-Mu, ya Bapa, kuserahkan jiwaku.” Jika aku terbangun aku mendaras Doa Yesus. Suatu bagian pokok dari mistik Ortodoks Timur, sering kuucapkan: “Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang hidup, kasihanilah aku yang berdosa ini.” Setiap kali aku mengucapkan doa ini, yang juga mengungkapkan kerinduanku, aku menyadari lagi bahwa kerahiman Allah tak lain dan tak bukan semata- mata adalah kasih-Nya. Aku merasa hangat. Aku bersyukur karena aku diampuni dan diterima Tuhan. Tinggal satu hal yang akan kualami. Aku pasti mati. Sampai saat itu, walaupun aku punya rencana-rencana awal, aku berusaha menghidupi hari-hari, seolah-olah itulah hari terakhirku. 90 Mazmur 95, yang merupakan bagian tetap dalam Doa Pagi harian 91 Kidung Simeon, yang merupakan bagian tetap dari ibadat Penutup atau Completorium, pada malam hari; Sekarang, Tuhan , perkenankanlah hamba-Mu berpulang dalam damai sejahtera.
    • Berbagai Batu Pijakan 165 Tidaklah sulit untuk percaya bahwa sejak lahirku aku berada di tangan Tuhan. Kematian anak-anakku dan kepergian istriku meninggalkan janji perkawinan tidak membuatku marah-marah. Semua itu terjadi karena dunia tidak sempurna. Dua puluh satu tahun lalu, setelah aku dilepas dari Gereja Episcopal, anak bungsuku meninggal dalam kecelakaan, istriku sembuh dari serangan jantung (dan hampir meningggalkan diriku, dan aku hanya bekerja sepuluh jam dalam seminggu) seorang teman berkata bahwa aku tentu merasa seperti Ayub. Aku berkata, “Ah, aku belum menderita seperti direbus.” Sampai saat ini aku belum pernah mengalami penderitaan seperti itu. Hari ini aku menemani seorang pensiunan dokter, dan ini kulakukan setiap hari Jumat, dan ia sedang menjelang kematiannya. Ia telah kehilangan tiga orang putrinya karena kanker. Istrinya telah mengalami operasi bedah kanker beberapa tahun lalu. Setiap hari Minggu aku memberikan komuni kepadanya. Bukan hanya dia seorang dari jemaatku yang mendapat rahmat khusus untuk menanggung beban seperti itu. Hampir setiap orang pada waktu tertentu menanggung beban seperti itu. Salah satunya, seorang ibu muda mengalami kebakaran tingkat ketiga, lebih dari empat puluh persen dari tubuhnya. Suaminya meninggalkan dia, dan ia harus membesarkan tiga orang anak kecil yang baik sendirian. Ibu itu melaksanakannya dengan baik. Tuhanlah yang mengizinkan aku mengenal orang-orang seperti itu, supaya aku dapat membagikan hidupku pada mereka, dan itu adalah berkat yang sangat hebat. Hal itu memberiku damai Tuhan, “dengan pengertian sebagaimana yang diberikan-Nya.”
    • 166 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Ketulusan Anda mengira tidak peduli untuk memuji prestasi yang menurut Anda bukan merupakan jasa-jasa Anda, sedemikian rupa sehingga bila Anda merasa tergoda untuk merasa tersanjung, Anda selalu teringat bahwa pujian itu terlalu berlebihan. Anda mengira diri Anda tak acuh sampai Anda merasa cemburu pada seseorang yang dengan naif berusaha “membuat dirinya tampak penting,” sementara Anda mengusahakan sikap yang tak acuh pada diri sendiri itu tampak menonjol. Berkenaan dengan ketegaran hati dan kekerdilannya, perkenankanlah saya membaca buku di mana hari-hariku dituliskan (dengan mata terbuka) dan belajar. Dag Hammarskjold92 J ika ada seorang yang memintaku menyebutkan syarat yang paling dasar dari kedamaian hati, mungkin aku akan memilih ketulusan. Entah ketulusan itu diartikan jujur menyampaikan hal yang benar, sebagimana umumnya, atau menunjukkan keadaan yang sebenarnya. Atau kemampuan untuk berbicara terus terang, atau kesediaan untuk mengakui kegagalan di depan orang lain. Ketulusan atau kejujuran merupakan syarat dasar bagi perdamaian. Kita mungkin berusaha keras dan berjuang untuk mewujudkan damai sampai napas terakhir, tetapi kita tak akan mendapatkannya bila kita tidak mau menempatkan diri kita di bawah cahaya terang dari kebenaran. Ketidaktulusan, ketidakjujuran, merupakan 92 Diplomat Swedia. Sekretaris Jenderal PBB 1953-1961, juru damai yang hebat dan pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 1961.
    • Berbagai Batu Pijakan 167 salah satu hambatan besar bagi jalannya perdamaian, karena hal itu menghalangi kita memperoleh dasar berpijak yang tepat bagi usaha kita. Aku tidak terlalu memikirkan apakah penampilanku menyenangkan secara lahiriah, dan berbeda dari kenyataan batin kita. Bila kita membiarkan Allah menarik diri kita ke suatu arah, dan iblis ke arah yang lain, masing-masing punya kuda-kuda yang kokoh, tanpa memerhitungkan bagaimana pandangan hati nurani kita, maka semuanya akan berantakan. Henry David Thoreau Langkah awal untuk berpaling kepada Tuhan, yang sama artinya dengan berpaling pada kedamaian, adalah mengenali keadaan kita yang sebenarnya. Kita harus mengakui seberapa jauh jarak kita dari Allah, sebelum kita dapat berharap menemukan diri kita di dalam Dia. Untuk itu Thomas Merton berkata, kita harus “menyadari.... bahwa gambaran orang yang kita anggap sebagai diri kita, di sini dan sekarang ini, adalah asing dan palsu. Kita harus terus- menerus mempertanyakan motif-motif di baliknya dan membuka tabir penyamarannya.” Jika tidak, usaha kita untuk mengenal diri niscaya akan gagal. Mengenal diri hanyalah merupakan langkah yang pertama. Hal itu saja tidak memberikan kedamaian pada kita, bahkan dapat menjauhkan kita dari kedamaian itu jika kita terperangkap dalam spiral perhatian pada diri sendiri. Kakekku menulis: Orientasi yang terarah pada diri sendiri merupakan semangat yang menyesatkan. Itu merupakan suatu penyakit yang mematikan, dan orang yang mementingkan diri sendiri adalah orang yang sakit berat dan memerlukan penebusan.
    • 168 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Mereka hanya mementingkan diri sendiri tidak mengetahui bahwa kekristenan mengandung suatu sasaran obyektif, yang membuat kita benar-benar dapat melupakan diri kita sepenuhnya bersama dengan ego- ego kita betapa pun kecilnya. Orientasi yang mementingkan diri sendiri membentuk sikap munafik, yang memengaruhi dan menghambat kekudusan. Sikap itu sangat berbahaya karena menghasilkan orang-orang kudus palsu yang menjalani penderitaan tapi hanya untuk pamer. Dan upaya itu berakar pada kemunafikan.... Untuk melihat Allah dari sudut pandang Anda sendiri, dan membuat Dia berhubungan dengan Anda, adalah sama saja dengan memandang dunia melalui lensa yang menyesatkan. Aku bukan kebenaran, dan karena aku bukan kebenaran maka aku tak bisa menempatkan diriku sendiri menjadi pusat dari pikiran-pikiranku. Hal itu membuat diriku sendiri menjadi berhala. Tuhanlah yang seharusnya menjadi pusat hidupku. Kita harus menyadari bahwa Tuhan sepenuhnya berada di luar diri kita. Ini bukan hanya berarti bahwa diri kita tidak penting; kita memang tidak berharga. Jika kita tulus hati, jujur, maka kita mengakui bahwa kita ini hambatan, yang berlawanan dari Allah. Baru setelah kita mengakui hal ini dan melihat diri kita dengan cara ini karya penebusan ilahi mulai dalam diri kita. Mengenali siapa diri kita berarti mau menghadapi soal- soal yang di masa lalu kita hindarkan tetapi sekarang harus benar-benar kita pandangi. Namun itu juga berarti berpaling kepada Allah. Untungnya, sebagian besar dari kita tidak perlu menghadapi gambaran diri yang pertama, maupun yang kedua, apalagi yang ketiga, karena pada dasarnya kita takut pada perubahan-perubahan yang dituntut dari diri kita. Kenyamanan dari kepuasan diri umumnya sangat enggan
    • Berbagai Batu Pijakan 169 untuk kita lepaskan. Ah, seandainya saja kita tahu, betapa dalam dan agungnya kedamaian yang berasal dari hidup dengan nurani yang sadar sepenuhnya! Jeanette Warren, seorang anggota komunitas kami, baru-baru ini memberitahu aku bagaimana sebagai wanita muda ia telah mencari kedamaian dari tahun ke tahun melalui gerakan buruh dan organisasi politik, kelompok kampus, koperasi dan berbagai komunitas, tetapi ia telah melupakan tugas penting untuk mengurus dulu dirinya yang carut-marut. Seperti banyak orang lainnya, dia berkata bahwa selama ini dirinya mencari buah busuk semata-mata, begitu ia dapat menerima kenyataan dirinya yang sebenarnya dengan mawas diri dalam-dalam dan setulus hati. Ketulusan hati sama pentingnya dengan pengenalan diri untuk menemukan kedamaian hati. Tanpa itu kita menjadi munafik dan terpaksa harus terus-menerus menyesuaikan citra diri sedemikian rupa untuk memanipulasi cara orang lain memandang kita. Yesus di dalam Injil Matius khususnya mengingatkan kita dalam hal itu. Ia berkata agar kita tidak pura-pura saleh di mata orang lain: “Kamu munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih”93, lebih jauh lagi Ia mengatakan: “Kamu seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya tampak bersih memang, tetapi di dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian juga kamu yang tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.”94 Mengenai ayat-ayat ini ayahku menulis: 93 Mat 23 : 25 94 Mat 23: 27-28
    • 170 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Janganlah mengunakan kata-kata keagamaan jika kamu tidak bermaksud untuk sungguh-sungguh dalam hal itu. Misalnya jika kita bicara dengan hebat tentang pemuridan, tetapi kita sendiri menolaknya, hal itu akan mengoyak batin kita sendiri. Hendaklah jujur dan tulus, katakan apa yang Anda pikirkan, juga sekalipun kita tidak relevan dengan apa yang Anda pikirkan, daripada menggunakan kata-kata yang benar, namun tanpa makna. Damai yang sempurna menuntut ketulusan yang sempurna. Kita tak dapat hidup dalam damai dengan saudara-saudara kita tanpa membawa kebenaran dalam hati kita dan tulus dalam kasih kita. Ketidaktulusan dapat menjadi kebiasaan. Begitu kita terbiasa dengannya, kita dengan segera menjadi penuh tipu daya. Jika hal itu terjadi, diperlukan usaha keras untuk membuang semua kepalsuan dan membuka segala yang kita tutupi kepada mereka yang telah kita kelabui. Zoroaster, penyair kuno dari Persia, membandingkan keadaan itu dengan suatu pertempuran: Memandang dunia ini Aku ingin menjerit: Bisakah kebenaran benar-benar lebih baik Di mana ada begitu banyak dusta? Dan haruskah aku tak turut serta Dalam lolongan iblis mereka? Tuhanku, jangan tinggalkan aku Kuatkan aku dalam cobaan ini Beri aku daya kekuatanmu. Berlutut, pikir pemberontak: Lehermu terancam pedang! Hanya mereka yang tahu Sumber yang memancarkan hidup Dapat minum dari sumur abadi Ketegaran satu-satunya Adalah kebenaran yang memuaskan
    • Berbagai Batu Pijakan 171 Jika Zoroaster tampaknya berlebihan menggambarkan hebatnya perjuangannya, adalah mungkin karena kefasihannya menulis. Pertempuran antara kebenaran dan kebohongan tidak hanya terjadi di antara dua lawan khayalan; itulah pertempuran antara Allah dan setan, yang disebut “bapak kebohongan” oleh Kitab Suci. Mengingat kembali percakapan yang kulakukan dengan orang-orang pada masa krisis, dapat kukatakan bahwa pertempuran ini juga merupakan pertempuran hebat yang dialami orang, terutama bila orang itu sangat yakin bahwa ketulusan adalah harga yang terlalu tinggi bagi perdamaian. Orang itu mungkin tidak merasa perlu untuk berjuang dalam hal ini, karena ia sangat dibutakan oleh fakta, bahwa dirinya sendiri melakukan kebohongan. Dalam buku The Brothers Karamazov, Dostoevsky menampilkan seorang tokoh: Fyodor Pavlovitch, seorang lelaki tua, yang sambil mengejek, bertanya kepada Pastor Zossima apa yang harus dilakukan untuk mencapai hidup abadi. Pastor itu menjawab: Kamu sudah lama tahu apa yang harus kamu lakukan. Jangan jatuh dalam kemabukan dan omongan yang tak ada gunanya; jangan berzinah dan jangan jatuh cinta pada uang melebihi segalanya, jujurlah pada diri sendiri. Orang yang membohongi diri sendiri dan mendengarkan dustanya sendiri memasuki lorong di mana ia tak lagi bisa membedakan kebenaran di dalam dan di sekitar dirinya, dan karena itu tidak bisa menghargai dirinya dan orang lain. Karena tak bisa menghargai, ia tak bisa mengasihi, dan demi menyibukkan diri dan mengalihkan perhatiannya yang kehilangan cinta, ia hanyut dalam nafsu-nafsu dan kenikmatan- kenikmatan kasar, dan perilaku seperti binatang, semuanya karena kebohongan terus-menerus pada
    • 172 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? orang lain dan pada diri sendiri. Orang yang menipu dirinya sendiri lebih mudah tersinggung daripada orang lain siapa pun juga. Kamu tahu, tak seorang pun menghina dia, tetapi ia lebih menemukan sendiri penghinaan untuk dirinya, berbohong dan melebih- lebihkan agar gambarannya lebih dramatis, lalu ia tersentuh oleh suatu kata dan menhangatkannya menjadi serupa suatu gunung tinggi dari titik tahi lalat. Ia tahu bahwa dirinya sendirilah yang bersalah, tetapi ia merasa diserang, lalu ia melakukan pembalasan dan mendapatkan kepuasan di situ, menjadi pembalasan dendam sungguhan. Shakespeare mengatakan hal yang sangat mirip: Beginilah terutama: Agar membuat dirinya benar Dan memeliharanya siang malam Dan dianggap tidak salah oleh siapa pun. Dalam kodrat manusia, nasihat yang sering dikutip ini lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan. Bahkan orang yang paling jujur pun dikatakan menyangkal bahwa ia pernah berbohong di masa lalu, malah berkali-kali. Sesungguhnya banyak orang sudah tidak tulus dan jujur sejak mereka masih kecil, kecuali mereka terus-menerus dan dengan teguh diajari untuk mengatakan kebenaran, maka berbohong dapat bertumbuh menjadi kebiasaan yang makin sulit dihilangkan. Kita mungkin menganggap tindakan anak- anak mencuri hal itu normal, tapi tapi dikemudian hari tanpa rasa sesal belajar “nilep” (menjiplak) atau seterusnya “ngutil” (mencopet) di toko, melakukan penggelapan pajak atau menipu istrinya ketika ia menjadi dewasa. Para anggota Gereja dan sinagoga pun tahu, kaum religius pun juga sama rentannya dalam hal berbohong dengan sesamanya yang dari dunia “sekuler”.
    • Berbagai Batu Pijakan 173 Namun jika kita mau mendapatkan damai di hati, selalu ada jalan keluarnya: mengakui kesalahan kita kepada orang lain. Sebagai suatu ritus atau praktik agama, pengalaman hal ini terlalu luas untuk dibahas di sini. Namun sekadar mengakui dosa untuk memperoleh kebebasan dan rasa damai bukanlah sesuatu yang rumit. Begitu kita merasakan adanya ketidak selarasan antara watak kita yang asli dan sisi luar yang kita tampilkan kepada orang lain, kita akan terus merasakan tegangan itu sampai kita dapat mendamaikan kedua sisi itu. Sekalipun kita memperbaiki cara-cara kita dan berubah dari kesalahan-kesalahan masa lalu, kita tak dapat mengalami kedamaian hati sepenuhnya sampai kita bersedia membagi beban rahasia kita kepada orang lain. Itulah sebabnya Mazmur berkata, “Aku tidak mendapatkan damai, karena dosa mengeram dalam tulangku.” Untuk bersikap tulus, bahkan (dan mungkin terutama) kepada orang yang kita cintai dan kita percaya, selalu merupakan tindakan yang tidak mudah. Namun akan kita lihat nanti dalam buku ini, tidak ada jalan lain. Jika kita ingin mendapatkan damai Kristus, kita harus siap menerima penderitaan salib -Nya. Kita mungkin benar-benar tidak menginginkan penderitaan ini, namun jika kerinduan kita pada Tuhan cukup dalam, niscaya kita akan bersedia menanggungnya dan membiarkan Dia memperbarui diri kita melalui derita itu. Terimalah aku, Tuhanku; terimalah aku sejenak Biarlah masa-masa yatim piatuku tanpa Engkau terlupakan Biarlah setitik saatku terhampar luas di pangkuan-Mu Di bawah sinar cahaya-Mu Sudah lelah aku berputar-putar mengejar suara yang memanggilku
    • 174 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Biarlah aku duduk damai mendengarkan sabda-Mu Dalam keteduhan jiwaku Jangan palingkan wajah-Mu dari rahasia gelap di hatiku Sinarilah mereka agar terbakar sirna Dengan api cinta-Mu 95 Rabindranath Tagore Dalam sekejap damai dapat lenyap karena ketegaran hati, dusta, kesombongan, cinta diri dan kenyamanan palsu yang merupakan jalan keluar yang mudah. Namun tak pernah ada kata terlambat bagi kita untuk mulai mencarinya lagi, meskipun untuk itu diperlukan waktu bertahun-tahun supaya kita dapat memandang diri kita dengan tulus dan jujur: siapa aku di mata Allah, bukan di mata orang lain? Maka niscaya tidak sulit bagi kita untuk memfokuskan lagi kerinduan kita pada Yesus. Di dalam kebenaran-Nya selalu ada kedamaian. 95 Sastrawan India, 1861-1941, pemenang Nobel Kesusastraan 1913.
    • Berbagai Batu Pijakan 175 Kerendahan Hati Kristus wafat untuk menghindar dari kuasa, sedang manusia berusaha memperoleh kekuasaan itu. Kekuasaan merupakan godaan yang terbesar. Betapa mengerikan kekuasaaan itu dalam segala manifestasinya – suara yang melengking untuk memberi perintah, tangan terentang untuk menangkap, mata merah penuh hasrat. Uang gampang disebarkan; organisasi boleh dibubarkan; badan-badan bertebaran, sama sekali tak ada kedamaian, kecuali jika orang sanggup memandang jauh melintasi waktu, hingga di seberang keabadian, seperti memandang kejauhan dari atas puncak gunung. Malcom Muggeridge D ari antara semua batu pijakan menuju damai dalam buku ini, kerendahan hati merupakan yang paling sulit dikenali. Kerendahan hati bukanlah sekadar sopan dan lembut hati. Kerendahan hati juga menuntut kerentanan, kesediaan untuk terluka. Meliputi kesediaan untuk tidak diperhatikan, untuk menjadi yang terakhir, untuk menerima yang paling sedikit. Kerendahan hati tidak menawarkan damai seperti yang diberikan dunia, dan ada banyak yang dapat menghancurkannya. Namun kerendahan hati menggambarkan jalan Kristus lebih baik dari kata-kata yang lain. Kerendahan hati adalah jalan Kristus. Dan jalan itu sedemikian rupa hingga memberikan damai yang paling dalam dan yang paling tahan lama. Bukan suatu kebetulan bila para malaikat mewartakan kelahiran Yesus – “Kemuliaan bagi Allah di tempat tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang
    • 176 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? berkenan kepada-Nya,” ditujukan pertama-tama kepada para gembala. Bagi orang yang punya uang, pendidikan dan kebudayaan, pesan Kristus bertentangan dengan kebijaksanaan insani, dan sulit diterima. John Cardinal O’Connor dari New York menulis: “warta ini bertentangan dengan segala ajaran dunia tentang kekuasaan dan kemuliaan berikut cara-cara mencapainya, tentang kemakmuran, dan sukses dan gengsi.” Juga bukan suatu kebetulan bila Yesus memilih para nelayan yang sederhana dan bukan para ahli kitab untuk menemani-Nya berkeliling dan mengajar di Yudea. Mereka yang tidak punya banyak pretensi cenderung lebih terbuka kepada kebodohan Injil dan damai yang ditawarkannya. Ada banyak orang yang dapat menulis praktik tentang kerendahan hati, tetapi tak ada yang bisa menggantikan praktek. Hanya dengan kesungguhan praktik kerendahan hati dari hari ke hari dalam membuka diri pada orang lain kita dapat menemukan berkat tersembunyi dari kerentanan, dan hanya dengan menerima kekalahan kita belajar menerima damai yang berasal dari penyerahan diri. Itulah sebabnya Kitab Putra Sirakh dari Deuterokanonika menyatakan: “Segala- galanya yang menimpa dirimu terimalah saja, dan hendaklah sabar dalam segala perubahan kehinaanmu. Sebab emas diuji di dalam api, tetapi orang yang kepadanya Tuhan berkenan dalam kancah penghinaan. Percayalah pada Tuhan maka Ia pun menghiraukan dikau, ratakanlah jalanmu dan berharaplah kepada-Nya.”96 Tentang bagaimana menjadi rendah hati, juga banyak yang dapat dikatakan. Dalam bukunya The Shepherd (Pastor), Hermas dari kelompok Kristiani 96 Sir 2:4-6
    • Berbagai Batu Pijakan 177 awal membandingkan setiap orang dengan batu-batu yang dipilih oleh para ahli bangunan. Jika batu itu dapat dipotong untuk dipasang pada sebuah dinding, maka batu itu dapat dipakai. Namun jika batu itu punya tepian yang kasar oleh kesombongan dan hasrat cinta diri dan terlalu sulit dibentuk, maka tidak digunakan dan dibuang. Yesus membuat perbandingan seperti itu dalam kata-kata perpisahan-Nya kepada para murid- Nya: Ia berbicara tentang ranting-ranting yang harus dipangkas agar menghasilkan buah: “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa–Kulah pengusahanya. Setiap ranting yang tidak berbuah, dipotong-Nya, dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.” 97 Kedua penggambaran itu mudah dimengerti. Apakah kita cukup rendah hati untuk menerima dengan syukur pukulan pahat tukang batu atau pangkasan pisau pekerja kebun adalah persoalan yang berbeda. Tom dan Monica Cornell adalah sahabat-sahabat dari Marlboro New York dan tinggal di suatu rumah gerakan Catholic Worker. Mereka menyatakan bahwa berdasarkan pengalaman mereka, damai Tuhan sekalipun diberikan secara bebas, tidak dapat terus dinikmati tanpa pangkasan berkelanjutan. Tom menulis: Adalah berat membicarakan bagaimana pemangkasan dilakukan atas seseorang, bagaimana Tuhan memotong sesuai dengan bentuk dan ukuran yang dikehendaki. Yesus berbicara tentang seorang pemilik kebun yang memeriksa pohon ara yang selama tiga tahun tidak berbuah. Ia hendak menebangnya, tetapi tukang kebun menyakinkan dia. “Tuan biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan 97 Yoh 15:1-2
    • 178 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” (Luk 13:6-9). Itulah yang dilakukan Tuhan pada kita. Untuk membuat kita berbuah, ia mencangkul sekeliling kita dan memangkas kita juga, dan kadang banyak sekali yang dipangkasnya. “Mengapa aku, Tuhan?” aku mendengar orang berseru ketika ayunan pahat dan parang yang keras menimpa, dan aku juga mendengar suaraku sendiri. “Mengapa aku, Tuhan?” Santa Teresa dari Avilla, seorang pembaru Ordo Karmel suatu ketika menyeberangi sungai menunggang kuda. Ia terjatuh ke dalam air karena kudanya jatuh terperosok lubang. Ia mengeluh kepada Tuhan. “Beginilah Aku memperlakukan sahabat- sahabat-Ku,” terdengar suatu suara. “Tak heran teman- teman-Mu hanya sedikit!” Teresa menjawab. Ayahku meninggal ketika umurku empat belas tahun. Kejadian itu bukan suatu pukulan mendadak, tapi disiapkan selama sepuluh tahun. Ayahku runtuh kesehatannya karena bekerja keras sejak dini hari untuk menghidupi keluarganya, dan sepuluh tahun kemudian ia meninggal. Aku tahu ketika ia meninggalkan sanatorium satu hari setelah ulang tahunnya yang kelima puluh dua, bahwa aku tak akan melihat dia lagi. Enam bulan kemudian ibuku terganggu pikirannya karena begitu besar kesedihannya. Dan getaran perasaan yang dahsyat menerpa diriku. Mestinya hal seperti ini tak boleh terjadi. Lalu, bagaimana kami bisa hidup? Sungguh aneh untuk dipikirkan, aneh untuk dikatakan, bahwa semua itu adalah demi kebaikan. “Segala sesuatu bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” (Rm 8:28). Juga semua ini? Aku dapat membayangkan bahwa seandainya ayah masih hidup ketika aku berkembang dewasa, dan mengikuti lorong pemuridan Kristiani yang memberontak, maka dia dan aku niscaya akan terus
    • Berbagai Batu Pijakan 179 bertengkar dengan hebat. Sebab ayahku adalah seorang pengikut aliran politik nasionalis chauvinis yang ekstrem. Ibuku tentu ada di tengah di antara ayah dan aku. Karena ayah meninggal, lalu pertarunganku yang diwarnai pola kasih Oedipus98 hanyalah tinggal melawan semangat ayah saja, dan itu tak akan pernah berakhir. Kami tetap hidup, ibuku, saudariku, dan aku bekerja keras dan berhemat. Aku bahkan bisa menempuh sekolah matrikulasi Yesuit dan perguruan tinggi di Fairfax. Di dalam pekerjaan, sebagai seorang remaja di suatu pabrik aku memperoleh pengalaman yang sangat berharga dari pekerjaan. Pekerjaan yang kulakukan bersifat berulang (repetitive), suatu pekerjaan yang dilakukan dalam posisi membungkuk, bukan berdiri juga bukan duduk. Pekerjaan itu memerlukan kedua belah tangan dan satu kaki untuk setiap tindakan yang berlangsung dalam dua detik dan dilakukan selama enam puluh jam seminggu, bahkan diharapkan lebih cepat, untuk menghasilkan lebih banyak satuan hasil kerja. Namun aku tak pernah melihat produk akhir yang lengkap dari pekerjaanku itu, maka aku pun tidak pernah merasakan bahwa pekerjaan itu berarti. Kehidupan menjadi baik setelah aku mendapat panggilan kerja pada Catholic Worker. Berdasarkan bacaan dari The Long Loneliness karya Dorothy Day, di situ aku dapat menyatukan dua hal: iman dan pengalaman. Aku dimasukkan dalam kelompok inti intelektual di dalam Catholic Worker sekalipun kuliahku belum selesai; hanya sedikit di antara kami yang seperti itu. Sesudah diwisuda aku pergi ke New York, mula-mula aku ditugaskan di suatu proyek pemindahan penduduk pertanian di sebelah selatan, dan kemudian dipindahkan ke proyek gerakan 98 Dalam psikologi : Kecenderungan di mana anak lelaki akan bertengkar dengan ayahnya memperebutkan cinta ibunya.
    • 180 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? perdamaian yang lebih besar, bekerja sama dengan A.J Muste dan rekan-rekannya dalam Komite Aksi Non– Kekerasan dan Liga Penentang Perang. Muste adalah tokoh terbesar dalam gerakan non–kekerasan radikal pada waktu itu. Aku ingin secara pribadi kenal dengan tokoh-tokoh besar itu sehingga aku dapat membawa pengetahuan dan kontak-kontak itu bila aku ditarik kembali ke Catholic Worker nanti, dan aku menjadi duta dari suatu gerakan yang lebih besar, dan aku memang diterima di situ. Tak lama kemudian aku dinilai pantas untuk bekerja di bidang Otoritas bidang Perang dan Damai dan Non– Kekerasan, walaupun aku tak tahu apa yang menjadi dasar penilaiannya. Namun aku merasa bahwa kehendak Allah memintaku untuk membantu mengembangkan teori dan praktik non–kekerasan di dalam lingkungan Catholic Worker. Pekerjaan di situ sangat sukses dan secara pribadi sangat memuaskan. “Pemangkasan” yang paling menyakitkan adalah ketika melihat hasil kerja selama ini dibatalkan. Bagiku, itulah yang terjadi di tengah jalan. Aku mendapatkan diriku berada di tengah rimba yang semakin gelap. Gerakan tanpa kekerasan sedang surut. Bahkan sebelum dibunuh, Martin Luther King sudah dibayangi ancaman para nasionalis kulit hitam dan kaum separatis yang punya slogan: dengan segala cara yang diperlukan. Banyak komponen di dalam lingkungan mereka dengan “keharusan revolusioner” para aktivis menggunakan istilah non–kekerasan, namun tak lagi merujuk kepada prinsip-prinsip maupun praktik Gandhi lagi. Setelah lima belas tahun bekerja, aku dipecat. Pekerjaan itu baik. Fellowship of Reconciliation (FOR) merupakan organisasi ekumenis dan pecinta perdamaian antar agama yang terbesar di dunia. Gajiku cukup untuk menunjang keluarga dan untuk menerima tamu-tamu (kegiatan yang penting bagi seorang Catholic
    • Berbagai Batu Pijakan 181 Worker), untuk memelihara sebuah rumah sederhana dan mobil bekas, dan pekerjaan itu juga memungkinkan diriku masuk dalam kalangan yang lebih luas lagi. Aku melakukan perjalanan di seluruh pelosok negeri, bahkan ke Amerika Latin, ke Timur Tengah dan Eropa, memberi ceramah dan menulis tentang non–kekerasan dan memperkuat jaringan aktivis non–kekerasan. Aku mengharapkan dari situ suatu pensiun yang nantinya dapat memungkinkan diriku berdiri sendiri, dengan jadwal kerjaku sendiri, dan aku membayangkan wilayah kerja yang bertambah luas. Lalu segalanya runtuh. Pekerjaanku “dihapuskan”. Lalu aku bekerja free-lance selama tiga tahun, melakukan pekerjaan yang bernilai seperti biasa (bahkan mungkin lebih), tetapi hasilnya tidak mencukupi. Rumah kami terjual. Hatiku hancur. Meninggalkan FOR membuat diriku sangat menderita. Itulah suatu “pemangkasan”. Ironisnya, pekerjaan yang paling penting dan bertahan lama untuk perdamaian justru tiba setelah pemisahan itu, dalam tahun- tahun pengembaraanku di gurun. Atas desakanku Gereja Katolik di Amerika Serikat bertekad untuk membantu siapa pun yang mengalami masalah karena rencana militer, dan aku diizinkan, dengan seizin dan surat rekomendasi para Uskup, untuk menyusun program pelatihan konselor untuk berapa keuskupan di Amerika Serikat. Pada saat yang sama Uskup Agung Oscar Romero yang menjadi ketua Konferensi para Uskup Amerika Tengah memberikan penugasan menghimpun bantuan perdamaian untuk El Salvador. Beliau dengan dua orang suster Amerika, para peserta dalam program yang kurancang, menyuburkan ladang Tuhan dengan darah mereka sendiri karena dibunuh tak lama kemudian. Tapi aku masih tak mampu menunjang kehidupan keluargaku. Katanya, jika Tuhan menutup satu pintu, ia membuka pintu yang lain. Namun terjadinya tidak serta
    • 182 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? merta. Dengan putus asa aku terpaksa mengajar di sekolah menengah negeri di New Hampshire, “pengasinganku di utara” selama setahun. Ini pemangkasan habis-habisan. Aku sama sekali tidak mengerti. Menjelang musim dingin berakhir, kuterima sebuah telepon dari Konferensi Para Uskup Amerika Serikat, suatu organ kerja para Uskup Amerika. “Gereja membutuhkan kamu,” kata Red Dougherty sedikit melucu. Ia bertanya “apakah kamu mau menerima undangan untuk bertemu dengan lima Uskup yang sedang menyusun suatu Nota Pastoral tentang damai yang akan diterbitkan pada tahun 1983?” Ada beberapa konsultan yang diundang dari Pentagon dan Departemen Luar Negeri untuk membentuk suatu panitia, tetapi hanya ada tiga tempat untuk aktivis pecinta perdamaian. Dapatkah aku melakukannya? Untuk sesaat surga pun terbuka. Kemudian Dewan Gereja wilayah Waterbury (Connecticut) memanggil aku dan keluargaku untuk membantu menyelenggarakan suatu dapur umum pembagian sup. Betapa hebatnya! Menukar posisi guru sekolah menengah dengan pelayanan kepada tiga ratusan orang pecandu alkohol, pemadat, perampok, pencopet, pencuri dan pembunuh, dan sejumlah besar orang lagi yang kejahatannya semata-mata karena mereka itu miskin! Aku menyediakan sesuatu yang mereka butuhkan: sup dan senyuman, dan mereka membuka hidup mereka untukku. Seandainya saja aku tidak “dipangkas” dari jabatanku yang terhormat maka aku pasti menjadi “birokrat perdamaian”. Orang-orang yang sekarang kulayani membuat diriku tulus hati! Sekarang istriku Monica dan aku ditarik kembali ke “komunitas induk” gerakan Catholic Worker, sehingga aku bisa menulis dan memberi ceramah lagi dan melakukan perjalanan. Sebagai orang sederhana, dalam arti telah dipangkas dari berbagai ilusiku. Betapa naif
    • Berbagai Batu Pijakan 183 dan muluk-muluk pikiranku dulu, melalui usaha- usahaku yang menganggap pekerjaan ini adalah perluasan Gandhi dari India di Amerika! Sepanjang masa Perang Dingin aku dapat berhubungan dengan pemikir- pemikir perdamaian dan gerakan-gerakan radikal di empat benua. Kami merencanakan arah kejadian- kejadian. Dan kami keliru dalam segalanya. Lebih dari itu, gerakan yang kupikir telah kulayani dan kukembangkan selama ini, gerakan non–kekerasan model Gandhi, ternyata telah disalib, diruntuhkan oleh orang-orang bodoh, dan yah, biarlah kusebut mereka itu bajingan. Hal itu membuat aku merasa dendam dan marah selama bertahun-tahun. Namun aku harus mengingatkan diriku bahwa “bukan akulah yang harus mempertanggungjawabkan semua itu.” Di dalam program pemulihan bagi para pecandu ada slogan: “Lepaskanlah, lalu biarlah Tuhan mengambil alih.” Begitulah gunting pangkas itu datang lagi. Ketika aku muda, aku ingin melakukan hal-hal yang hebat. Lalu aku bertemu Dorothy Day, dan untuk pertama kalinya aku mendengar dia bicara berkenaan dengan hasil: jangan pikirkan hari esok; berhati-hatilah dengan arah angin. Katanya: “Ada hal-hal besar yang harus dilakukan, dan siapa yang harus melakukannya selain kaum muda. Namun bagaimana mereka akan melakukannya jika mereka sendiri hanya memikirkan jaminan kehidupan mereka sendiri?” Ketika mengatakan itu Dorothy masih lebih muda dari aku sekarang. Aku mungkin memperbaiki nasihatnya itu, dan mungkin dia sendiri juga akan melunakkan nasihatnya, setelah mempunyai banyak pengalaman. Namun bagaimanapun kami telah melakukan hal-hal yang hebat, baik secara kebetulan, maupun berkat rahmat Allah. Kami ikut ambil bagian dalam membongkar struktur- struktur hukum atas perlakuan rasial di Amerika Serikat melalui gerakan non-kekerasan (walaupun sekarang,
    • 184 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? empat puluh tahun kemudian, kondisi warga kulit hitam yang sangat miskin justru lebih buruk daripada dulu). Kami telah menyuntikkan lagi kesadaran non-kekerasan ke dalam kalangan Katolik dan kelompok utama Protestan (walaupun ancaman perang tetap ada sekarang ini, dan lebih berat lagi dalam beberapa hal). Kini, suatu generasi baru haus akan hal-hal yang bersifat kepahlawanan. “Ada hal-hal besar yang harus dilakukan....beranilah bertindak!” Dalam pergumulanku aku tahu bahwa hal-hal yang terbesar adalah hanya melakukan hal-hal sehari-hari dengan orang-orang biasa dengan semangat cinta, masuk dalam kehidupan mereka dan membiarkan diri dikasihi oleh mereka, dan dibimbing oleh kebutuhan komunitas dan mengikuti suara mereka. Santa Theresa dari Lisieux menyebutnya “jalan kecil”. Inilah yang menghasilkan damai sejati, damai Kristus. Ini adalah buah Roh Kudus dan ini berasal dari ranting yang dipangkas. Kata-kata Tom banyak yang perlu dicerna sehubungan dengan kerendahan hati dan damai. Begitu juga pemikiran Derek Wardle, seorang warga Inggris yang mengunjungi Bruderhof dalam Perang Dunia Kedua dan kemudian memutuskan untuk bergabung. Derek dibesarkan dalam keluarga kelas menengah yang menyenangkan tetapi lalu menyadari akan adanya kemiskinan ketika ia naik kereta api melewati kawasan East End London. Beberapa film seperti The Stars Look Down (tentang para buruh tambang batu bara Welsh) dan The Grape of Wrath juga membuka matanya dan menyebabkan hati nuraninya bergolak untuk pertama kalinya. Kemudian ia ikut Parade Satu Mei (Hari Buruh), mengikuti protes-protes, bergabung dengan Left Book Club, dan menjadi seorang komunis. Seperti banyak orang Eropa pada masa itu, Derek berkata bahwa ia buta terhadap jahatnya Stalinisme. Ia
    • Berbagai Batu Pijakan 185 menganggap Uni Soviet sebagai utopia sosialis. Dan seperti umumnya anak muda waktu itu, kecenderungan politiknya menjadi sumber kepicikan pemikirannya. “Aku menggolong-golongkan orang menurut hubungan- hubungan politiknya dan sangat tidak menghargai dan kadang-kadang sangat membenci mereka yang tidak sehaluan denganku.” Hanya kemudian ia melihat bahwa kecongkakannya menjadi sumber kekerasan seperti kesadaran kelas borjuis yang diprotesnya di jalanan. Pada Agustus 1939, persis sebulan sebelum perang pecah, aku pergi ke Leipzig mengujungi sahabat pena, seorang anggota Pemuda Hitler yang dapat diyakinkan, dan mendapat pelajaran bahwa bahkan yang disebut Nazi pun ternyata adalah orang biasa. Walaupun aku dipanggil pulang oleh orang tuaku yang khawatir setelah tiga hari, pengalamanku itu cukup mampu menghancurkan kebiasaanku menggolong-golongkan orang sebagai “baik” dan “buruk” dan membuatku mengenal mereka sebagai orang, manusia. Pelajaran ini mengendap dalam diriku.... Aku belajar betapa penting artinya berserah diri dalam segala bentuk, dari perhatian yang berlebihan atas kelemahan dan kegagalan seseorang, sampai pada kebanggaan dan ambisi. Kapan saja aku larut dalam semua hal ini, aku tak dapat menikmati damai; ketika dengan rendah hati dan sepenuhnya aku berserah diri kepada Tuhan, damai itu dianugerahkan. Selalu saja suatu pilihan, dan pilihan seperti itu juga berlaku bagi anak- anak muda sekarang. Walaupun mungkin mereka harus belajar dengan keras untuk itu seperti yang kualami. Ibu Teresa mengatakan bahwa pengenalan diri membuat orang berlutut. Itulah yang juga kualami sendiri. Aku tak lagi percaya bahwa diriku dapat mengubah dunia. Aku yakin Tuhan bisa. Walaupun
    • 186 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? begitu aku masih terus memprotes ketidakadilan - rasisme, kapitalisme, nasionalisme. Apa saja. Namun kurasa tindakan sehari-hari yang kecil yang didorong oleh cintalah yang membuktikan ketulusan kita, seperti juga hal-hal besar yang kita lakukan. Mudah sekali kita dibuat frustrasi oleh daya-daya jahat di dunia dan menjadi pahit hati. Tetapi kita juga bisa bersikap rendah hati dan berusaha mengubah ketidakpuasan kita menjadi sesuatu yang positif, seperti melayani sesama.
    • Berbagai Batu Pijakan 187 Ketaatan Ia datang sebagai orang yang tidak kita kenal - tanpa nama, sebagai orang tua di tepi danau, ia menjumpai mereka yang tidak mengenal dirinya. Ia mengucapkan kata-kata yang sama kepada kita: “Ikutilah Aku!” dan memberikan tugas kepada kita, tugas yang dikehendaki-Nya agar kita laksanakan. Ia memberi perintah, dan kepada mereka yang mematuhi Dia, entah mereka itu orang bijaksana, entah sederhana, ia akan mengungkapkan diri-Nya dalam susah payah, konflik dan penderitaan yang akan mereka lalui bersama rekan-Nya, dan sebagai suatu misteri yang tak dapat dikuasai, mereka akan mengenal dari pengalaman mereka sendiri. Albert Schweitzer W alaupun sebagai seorang gembala jemaat, ayahku tidak suka menggunakan istilah-istilah keagamaan. Ia tak pernah mengingatkan kami, anak-anaknya, akan suatu kebenaran penting menggunakan Kitab Suci untuk menjelaskannya. Jika Papa bicara tentang belas kasih, kisah Yesus dengan wanita di sumur segera terlintas dalam pikiran; ketika bicara tentang keyakinan, ia akan mengutip kata-kata Yohanes dalam Kitab Wahyu tentang Allah yang memuntahkan dari mulut-Nya mereka yang acuh tak acuh, dan untuk menggambarkan pentingnya kepatuhan atau ketaatan ia menggunakan perikop di mana Yesus mengirim murid-murid-Nya untuk mendapatkan tunggangan. Ketika Yesus menyuruh dua orang agar pergi dan mendapatkan tunggangan bagi-Nya, mereka tak punya tugas lain di dunia ini yang lebih penting daripada
    • 188 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? mendapatkan tunggangan itu. Orang lain mungkin berkata kepada mereka: “Kamu dipanggil untuk melakukan hal-hal yang lebih besar; siapa saja dapat pergi untuk mendapatkan seekor keledai bagi Kristus. Bagiku dan bagi setiap orang, aku berharap dapat melakukan tugas yang diperintahkan Tuhan agar aku laksanakan, besar maupun kecil dengan penuh kesediaan. Tidak ada yang lebih besar daripada ketaatan kepada Kristus. J.Heinrich Arnold Bagi kebanyakan dari kita, ketaatan adalah sesuatu yang melekat. Kita menamakan diri murid-murid, tetapi kita kekurangan kegembiraan dan kepatuhan yang seharusnya menjadi bagian dari sebutan murid itu. Bahkan ketika tugas yang ada di depan kita bersifat langsung, kita mungkin terhambat oleh kesombongan kita sendiri untuk melaksanakannya, dan karena itu kita tidak maju dalam upaya kita mendapatkan damai. Hal ini tidak mengherankan dalam masyarakat kita yang memuja perorangan dan individualisme. Sejak kecil kita diajari, dan kemudian kita mengajari anak-anak pentingnya mengikuti naluri kita sendiri untuk menunjukkan prakarsa, dan untuk mengembangkan keterampilan memimpin. Semua ini baik dan tepat. Namun bagaimana dengan sisi lain tentang pentingnya kepatuhan yang juga bernilai? Kapan kita belajar bahwa kepentingan diri kita tidak selalu sama dengan apa yang dikehendaki Tuhan, dan bahwa kecenderungan kita untuk menjadi tuan dari diri kita sendiri dan melakukan urusan diri kita sendiri mungkin lebih banyak menghasilkan buah-buah yang buruk daripada buah-buah yang baik? Yang menyedihkan, orang-orang yang mau mengikuti orang lain tanpa pamrih (atau bila tanpa tuntutan
    • Berbagai Batu Pijakan 189 pengorbanan) sering kali dipandang lemah, atau telah mengalami cuci otak. Otoritas, termasuk otoritas ilahi, dipandang remeh. Gagasan menghormati ayah atau ibu dinilai ketinggalan zaman; hormat kepada orang yang lebih tua merupakan praktik masa lalu, dan Tuhan sering dijadikan obyek dari sikap pemberontakan yang kasar. Kita melupakan ketidaktaatan bangsa Israel dan kemarahan Tuhan yang menjadi akibatnya berulang kali. Kita juga lupa bahwa damai yang kita cari bersumber dari Sang Pencipta yang menertibkan kekacauan alam. Tuhan menciptakan hidup dari yang dulunya hanya “kekosongan dan debu.” Ia bukan Tuhan kekacauan, tapi Tuhan kedamaian. Jalan yang berubah dari penentuan diri sendiri beralih menjadi ketaatan suka rela bukanlah jalan yang mudah. Bahkan bagi Yesus sendiri, pertarungan yang paling berat adalah dalam hal ketaatan. Dalam malam terakhirnya yang panjang di Taman Getsemani, Dia bergumul sampai mengeluarkan keringat darah demi ketaatan: “Ya Bapa, sekiranya mungkin biarlah cawan ini berlalu daripada- Ku.” Tetapi kemudian Ia dapat berkata: “Bukan kehendak-Ku, Bapa, tetapi kehendakMu.”99 Ketaatan dikatakan sebagai akar dari rahmat, namun perkataan itu tidak djelaskan lebih lanjut. Dorothy Day juga merasakan panggilan pemuridan itu (walaupun samar- samar) pada masa mudanya. Tetapi mula-mula Ia terjun dalam “hal-hal yang lebih penting.” Ia terjun dalam arus kegiatan kewartawanan, dan kemudian politik; kemudian ia menyukai perjalanan dan cita rasa Gempita Tahun Dua- Puluhan di New York City, Italia, dan Hollywood. Ia membuat novel, beberapa naskah film, aborsi, perkawinan 99 Mat 26:36-48 par
    • 190 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? yang berumur pendek, dan punya anak. Namun masih belum jelas baginya bahwa ia melarikan diri dari Tuhan, dan bahwa segala kerinduannya tak akan pernah tercapai sebelum ia taat kepada-Nya. Lalu tibalah suatu malam yang tak akan terlupakan di sebuah bar di Greenwich Village ketika seorang temannya, penulis drama Eugene O’Neill, membacakan puisi Francis Thompson “Hound of Heaven” (Seruan Surga) baginya – suatu sajak yang berisi pesan yang membuatnya tercenung. Sajak itu antara lain berbunyi: Aku lari dari-Nya, siang dan malam Aku lari dari-Nya, menyusuri bentangan tahun-tahun Aku lari dari-Nya, bersembunyi dalam lorong ruwet berliku Dalam pikiranku sendiri; dan dalam kabut air mata Aku sembunyi dari-Nya, juga di bawah arus tawa ria. Dorothy mengalami apa yang disebut pertobatan. Teman-temannya yang berhaluan kiri mengejek dirinya setelah tahu Dorothy punya minat baru membaca Kitab Suci: bukankah Dorothy, yang adalah seorang sosisalis radikal, berasal dari kelompok orang yang tahu bahwa agama hanyalah semacam kruk bagi orang yang lemah? Tetapi Dorothy justru memantapkan dirinya, Yesus menjanjikan masyarakat baru yang adil dan damai yang selama ini mereka cari-cari, katanya; dan jika orang- orang Kristiani yang mereka kenal adalah orang-orang yang munafik yang bermental lembek, itu bukan salah Yesus. Dorothy mencoba mengikuti Yesus. Ketika Dorothy Day meninggal pada tahun 1980, jelas bahwa yang telah dilakukannya bukan sekadar mencoba saja. Terguncang oleh situasi tanpa harapan karena terjadinya jutaan pengangguran di tahun-tahun malaise100, ia melepaskan ambisinya untuk menjadi penulis terkenal,
    • Berbagai Batu Pijakan 191 dan menghabiskan sisa umurnya untuk melayani Allah dan kaum miskin, yang pada wajah mereka ia melihat Yesus. Walaupun ia memublikasikan pandangan-pandangannya akan non-kekerasan dengan tindakan-tindakan pemogokan dan pembangkangan sipil (karena itu ia dipenjara beberapa kali), atau “mewartakan Sabda melalui buku-buku dan artikel di dalam koran; ia begitu yakin bahwa Kristus meminta lebih dari sekadar kata-kata saja. Sejauh yang dikatakan Dorothy, Yesus mengharapkan “karya belas kasih”: memberi makan mereka yang kelaparan, memberi tumpangan pada kaum gelandangan, mengunjungi orang sakit, dan mencuci ratusan piring dan mangkuk kotor dari ratusan tamu-tamu yang ribut, yang sering juga tak tahu terima kasih yang antre pembagian makanan dari hari ke hari, tahun demi tahun. Inilah yang dilakukan dengan suka cita dalam gerakan Catholic Worker, sebuah rumah singgah bersama yang dengan ramah menyediakan segala bagi tamu-tamu siapa saja, yang didirikannya di kawasan Lower East Side kota New York. Seringkali alasan ketidaktaatan kedengaran cukup logis: kita kurang berani, kurang kuat, tidak punya visi yang jelas; kita merasa tidak cocok untuk tugas di hadapan kita. Dan sama seringnya, alasan yang ada adalah alasan yang tidak mulia: malas, sombong, keras hati dan cinta diri. Ibu Teresa, ketika berbicara tentang tahun-tahun yang dialaminya bersama para Misionaris Suster Cinta Kasih, menangani akar dari masalah ini: yaitu hasrat kita untuk mendapatkan pengertian mengapa kita harus melakukan sesuatu yang diperintahkan agar kita lakukan, dan kemudian godaan, yang kita tahu, untuk melakukannya dengan cara kita sendiri. 100 Depresi ekonomi, 1929-1939
    • 192 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Memang benar karya Anda bisa dilaksanakan dengan lebih baik, jika Anda tahu bagaimana Tuhan menghendaki agar Anda melakukannya. Tetapi Anda tak akan mengetahui hal itu selain melalui ketaatan. Taatlah kepada atasan Anda, persis seperti tanaman merambat Ivy101. Tanaman itu tidak akan hidup jika tidak berpegang kuat pada sesuatu. Anda tak akan tumbuh ataupun menghayati kesucian kalau tidak berpegang teguh pada ketaatan. Maka setialah dalam hal-hal kecil. Di dalam ketekunan dan ketaatanlah terdapat kekuatan sejati. Seperti pada umumnya anggota baru dalam suatu komunitas religius, juga dalam komunitasku, para novis dalam ordo Ibu Teresa mengungkapkan kaul ketaatan ketika mereka bergabung. Tetapi menghayati kaul itu merupakan tugas sepanjang hayat seperti yang diungkapkan Thomas Merton dalam sepucuk suratnya kepada seorang sahabat mudanya: Kamu boleh jadi sedang berusaha membangun citra dirimu sendiri dalam pekerjaanmu, dari apa yang kamu lakukan, dan dari kesaksian hidupmu. Boleh dikatakan, kamu menggunakannya untuk melindungi dirimu dari perasaan tidak berarti, dari suatu pengosongan. Ini bukan pemanfaatan pekerjaanmu yang benar: semua kebaikan yang kamu lakukan bukan berasal dari dirimu, tetapi dari fakta bahwa kamu menyediakan diri, dalam kekuatan iman, untuk menjadi alat kasih Tuhan. Pikirkanlah hal ini lebih banyak, dan pelan-pelan kamu akan dibebaskan dari keinginan untuk membuktikan dirimu sendiri, dan lebih terbuka kepada daya kekuatan yang akan bekerja melalui dirimu tanpa kamu sadari. 101 Hedera
    • Berbagai Batu Pijakan 193 Pada akhirnya yang terpenting adalah hidup, bukan mencurahkan semua hidupmu untuk melayani suatu mitos; dan kita mengubah hal yang terbaik itu menjadi mitos. Jika kamu dapat membebaskan dirimu dari cengkeraman macam-macam alasan dan tujuan itu dan hanya mengabdi kepada kebenaran Kristus saja, kamu akan dapat melakukan lebih banyak hal lagi dan akan tidak terlindas oleh berbagai kekecewaan yang tak terhindarkan. Sebab aku hanya melihat dalam lorong itu banyak kekecewaan, frustrasi, dan kebingungan belaka. Harapan kita yang sebenarnya bukanlah pada sesuatu yang kita kira dapat kita lakukan, melainkan pada Tuhan yang membuat sesuatu menjadi kebaikan dari apa yang kita lakukan, dengan cara yang tidak kita ketahui. Jika kita dapat melaksanakan kehendak-Nya, kita niscaya membantu dalam proses itu. Namun kita tidak perlu tahu segala sesuatu tentang itu sebelumnya. Suatu cerita dalam Kitab Kedua Raja-raja membuat pokok yang sama mudah diingat. Ketika Naaman, seorang panglima raja, pergi menemui Nabi Elisa dan memohon agar dia menyembuhkan lepra yang disandangnya, nabi itu menyuruh Naaman pergi dan mandi di Sungai Yordan tujuh kali. Naaman yang merasa dipermainkan pulang dengan marah-marah. Tak lama kemudian para pembantunya berusaha bicara dengannya: “Jika nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah akan Anda lakukan juga? Apalagi sekarang, turutilah dia!”102 Akhirnya Naaman dapat dibujuk; walaupun masih marah dan malu, ia membenamkan diri dengan patuh tujuh kali ke dalam sungai. Kita membaca: “Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak, dan ia menjadi sembuh.”103. 102 2Raj 5:13 103 2Raj 5:14
    • 194 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Daniel Berrigen menunjukkan secara umum, di dalam Kitab Suci, tindakan iman terbesar yang dilakukan tanpa memerhitungkan hasil atau keberhasilannya. Abraham mengambil anaknya dan pergi ke gunung, karena Tuhan memerintahkan padanya melakukan itu. Malaikat Gabriel datang dengan berita yang sangat sulit dipercaya, dan Maria begitu saja percaya dan mematuhinya. Melompat ke abad kedua-puluh, surat-surat Ewald von Kleist, seorang korban pembantaian Nazi, mengandung kesaksian atas kesediaan dan kepatuhan yang sama. Salah satunya dikutip di sini: Carilah damaimu dalam Tuhan dan kamu akan mendapatkannya. Ia akan memegang tangan kita, membimbing kita dan akhirnya menerima kita dalam kemuliaan. Dan taatilah kehendakNya; ia akan mengurus segala sesuatunya. Jangan pernah, jangan sekalipun pernah, walau di relung yang paling dalam dari hatimu, engkau memberontak pada apa yang ditimpakan Tuhan kepadamu, maka kamu akan tahu betapa ringannya menanggung segala sesuatu. Aku tidak menulis satu kata pun yang tidak berdasarkan pengalaman diriku sendiri, dengan bersyukur kepada Tuhan. Ini benar untuk selamanya. Semua ini tidak begitu saja jatuh ke pangkuan kita. Perlu diperjuangkan terus-menerus dengan diri sendiri setiap hari, bahkan dalam pergumulan setiap jam. Namun rasa bahwa engkau diberkati dalam dirimu menebus segalanya, dan tak akan pergi darimu. Percayalah padaku. Aku telah mengalaminya. Seorang yang sinis mungkin berkata bahwa Kleist bisa melihat hal itu begitu jelas karena ia tak punya pilihan lain, dan dalam hal tertentu mungkin penilaian itu benar. Bagi seseorang yang berada di depan pintu kematian, hal-hal yang penting dalam hidup bisa sangat
    • Berbagai Batu Pijakan 195 meringankan. Namun sikap Kleist “Jangan pernah, jangan sekalipun pernah berontak” - merupakan tantangan ganda mengingat keadaannya. Atas dasar hukuman mati yang akan diterimanya, sikapnya itu tak akan mengubah nasibnya. Ketaatan tidak akan menyelamatkannya. Di antara kita yang mengalami pencobaan dengan begitu banyak pilihan biasanya akan lebih memuaskan diri sendiri dan mengikuti hasrat diri. Kita mungkin tidak lari dari suatu tugas atau panggilan yang kita kenali. Kita akan mencari suatu “pemecahan” dan solusi di mana saja kecuali di tempat di mana jawaban Tuhan menunggu seperti yang dialami orang Israel kuno, kita lebih suka mengikuti rencana kita sendiri dan meninggalkan Tuhan dengan kebodohan kita. Sebab perintah ini yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah selalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh. Tidak di langit tempatnya sehingga engkau berkata “Siapakah yang akan naik ke langit untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya? Juga tidak di seberang laut tempatnya sehingga engkau berkata : “Siapakah yang akan menyeberang ke seberang laut untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya?” Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan. Ulangan 30:11-14
    • 196 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Keputusan Jika tidak dimintakan sesuatu langkah yang pasti, panggilan pun lenyap di udara yang tipis. Dan jika orang membayangkan diri mereka dapat mengikuti Yesus tanpa melangkah, mereka itu bermimpi seperti kaum fanatik. Walaupun Petrus tidak mengalami pertobatan sendiri, namun toh ia dapat meninggalkan pukatnya juga. Dietrich Bonhoeffer A da benang merah yang menghubungkan pria dan wanita yang pandangannya tercantum dalam buku ini, yaitu bahwa dalam diri mereka pilihan dan kehendak bebas berperan dalam upaya mereka mencari damai. Bisa saja damai adalah suatu anugerah tetapi damai juga merupakan “mutiara yang sangat berharga” yang dicari. Dan bagaimanapun tempat untuk mendapatkan dan mengupayakannya sekuat tenaga harus ditentukan lebih dulu, melalui suatu keputusan. Victor Frankl menulis bahwa damai adalah kebebasan di hadapan tiga hal: naluri kita atau “kodrat alam yang rendah,” sikap atau kecenderungan bawaan, dan lingkungan kita. Pastilah orang punya naluri, namun naluri-naluri itu janganlah menguasai dirinya. Mengenai faktor bawaan, penelitian tentang sifat-sifat turunan menunjukkan betapa tingginya kebebasan manusia berhadapan dengan kecenderungam bawaan itu. Dalam hal lingkungan, kita tahu bahwa lingkungan tidak menciptakan orang, tetapi segalanya bergantung pada apa yang dilakukan orang pada lingkungan dan pada sikapnya terhadap lingkungan.
    • Berbagai Batu Pijakan 197 Maka manusia bukanlah semata-mata produk dari keturunan dan lingkungan. Ada unsur yang lain: keputusan. Akhirnya orang mengambil keputusan bagi dirinya sendiri! Dan pada akhirnya, pendidikan haruslah pendidikan menuju daya kemampuan untuk mengambil keputusan. Frankl melanjutkan: Beberapa di antara kita membuat pilihan hidup yang penting dengan kepastian tertentu. Jika kita menarik kembali keputusan itu dan melakukan kompromi sana-sini, kita seringkali kurang punya pendirian yang teguh. Oleh karena itu kita selalu berada dalam situasi cemas gelisah. Sering kita berjalan tanpa rencana dan sikap kita sehari-hari hanyalah menunggu apa saja yang datang kepada kita. Pada kesempatan lain kita berserah pada nasib saja (fatalistik) dan bersikap seperti pecundang. Suatu ketika kita tampak ngelumpruk tak punya tulang belakang dan sama sekali tidak mempunyai pendapat yang jelas; dalam waktu yang lain kita berpegang kuat dan keras kepada suatu gagasan dan menjadi fanatik. Akhirnya, kata Frankl, semua gejala ini dapat dilacak kembali pada situasi kita yang takut bertanggungjawab dan buahnya adalah keterombang- ambingan tanpa keputusan. Pada dasarnya beberapa pilihan yang kita hadapi mudah dibuat, sementara yang lainnya hanya dapat dilakukan dengan pergulatan batin yang sangat berat. Namun kemudian Tuhan dapat membimbing kita untuk mengambil langkah yang tepat jika kita terbuka kepada pimpinan dari-Nya. Aku tidak bicara soal kilat atau gemuruh di sini (banyak di antara kita tampaknya mendapat jawaban segera tanpa berdoa), tetapi yang kumaksud adalah “saat-saat rahmat” - yaitu waktu-waktu ketika Tuhan datang mendekat pada kita, melunakkan hati kita. Dan membuka telinga hati kita bagi Sabda-Nya.
    • 198 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Saat-saat rahmat semacam itu mungkin kita alami sekali, dua kali atau bisa berkali-kali. Jika kita terbuka pada saat-saat seperti itu, suara Allah mungkin terdengar begitu jelas sehingga jalan ke depan yang harus kita tempuh tampak jelas. Alfred Delp menulis: Ada masanya dalam kehidupan setiap orang kita merasa begitu jijik dengan diri sendiri, ketika kesadaran akan kegagalan kita mengoyak topeng keyakinan diri dan pembenaran diri, dan kenyataan pun memunculkan diri - sekalipun hanya sebentar. Momentum kebenaran seperti itu dapat menghasilkan perubahan yang sifatnya permanen. Namun kita punya kecenderungan alamiah untuk menghindar. Ini karena kesombongan dan sikap pengecut kita (dan kesadaran kita bahwa satu-satunya jalan keluar dari situasi adalah merendahkan diri dan berserah kepada Allah) menggoda kita untuk menganggap momentum semacam itu tidak nyata dan palsu. Kejutan yang membangkitkan semangat mungkin baru terasakan ketika dosa sudah sedemikian jauh sehingga akhirnya menyerap seluruh keyakinan diri kita, dan memaksa kita mawas diri lebih dekat lagi. Segalanya bergantung pada sikap kita, apakah kita serius menanggapi hilangnya keyakinan diri ini (yang adalah sungguh-sungguh hilangnya kebanggaan), atau kita menyepelekannya sebagai sekadar suatu “kelemahan”. Berusaha buru-buru lepas dari saat-saat seperti itu bisa berarti tenggelam lebih dalam lagi pada kesalahan dan dosa. Segala sesuatu malahan jadi lebih buruk lagi. Kita akan menjadi “kebal” pada dosa dan tidak bisa lagi membedakan yang salah dan yang benar. Seringkali kita malahan berakhir dengan membedakan kesalahan kita dengan klise yang saleh seperti “determinasi diri” - “hak untuk memilih” dan sebagainya.
    • Berbagai Batu Pijakan 199 Dalam suratnya baru-baru ini, John Winter, seorang anggota komunitasku dalam usianya yang tujuh puluhan, menulis bahwa bagian dari hidupnya yang paling subur adalah ketika ia melakukan keputusan yang kokoh dan bermaksud bertahan apa pun yang akan terjadi. Aku meninggalkan sekolah pada usia enam belas tahun dan mulai bekerja di suatu laboratorium, perusahan yang membuat pipa timah dan cat dan pada malam hari pergi ke London, belajar untuk memperoleh gelar di bidang sains. Masa itu adalah masa yang berat: bekerja di siang hari, naik kereta, lalu kuliah dan naik kereta malam (pulang di rumah jam sebelas malam) dan membuat pekerjaan rumah di akhir pekan. Ketika umurku sembilan belas tahun aku harus melakukan wajib militer. Aku seorang pecinta damai, maka aku memutuskan untuk mengikuti wajib militer namun dengan keberatan yang kusadari. Ketika aku memberitahu atasanku, ia menunjukkan bahwa perusahaan sekarang sedang membuat peluru, bukan lagi pipa dan cat. Dan bahwa pendirianku itu tidak sejalan dengan perusahaan tempatku bekerja. Aku terguncang, dan aku masih dapat mengingat akhir pekan itu seolah-olah hari ini, ketika selama berjam-jam aku memikirkan apa yang harus aku lakukan. Sejujurnya aku tak dapat melanjutkan pekerjaan itu, namun rasanya tak terpikirkan pula untuk meninggalkannya. Seorang temanku yang pecinta damai juga mengalami ketegangan serupa. Namun kemudian karena tidak bisa menemukan dasar yang kuat untuk menolak berperan-serta dalam perang ia mengubah pendiriannya dan bergabung dengan Angkatan Udara Inggris. Pada akhir pekan itu – ketika aku harus memilih apakah aku akan tetap bertahan pada keyakinanku tentang perang dan bertindak atas dasar itu, ataukah
    • 200 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? akan melanjutkan hidup seperti biasa – merupakan saat yang menentukan bagiku. Aku tidak bisa tidur selama beberapa jam, tapi akhirnya aku tahu apa yang harus kulakukan: melepaskan pekerjaanku. Sepertinya suatu soal kecil sekarang, namun kemudian ternyata jadi soal besar bagiku. Mungkin tidaklah pertama kalinya aku sungguh-sungguh memilih di antara berbagai harapanku sendiri dan apa yang dikehendaki oleh hati nuraniku agar kulakukan. Yang dapat kukatakan sekarang, lima puluh delapan tahun kemudian ialah pada saat itu aku mengalami damai yang diberikan Tuhan. Sejak itu aku harus memikirkannya beberapa kali dalam hidupku, ketika hati nuraniku mendesak agar mengambil suatu keputusan yang pada mulanya tak kuinginkan. Setiap kali aku mengikuti hati nuraniku, aku merasa dibimbing mendapatkan kedamaian hati, yang sepenuhnya benar dan tak dapat kulukiskan. Di pihak lain dari persoalan yang sama, kehidupan juga membuatku sadar bahwa jika Anda mendengar suatu panggilan dan tidak Anda ikuti, maka sesuatu terjadi dalam diri Anda, dan mungkin ketika Tuhan bicara kepada Anda di kemudian hari, Anda tak akan dapat mendengarkannya dengan jelas. Tuhan mungkin juga tidak akan pernah menyerah memanggil kita, ketika kita membanggakan diri dan keras kepala, tetapi aku merasa yakin aku tiba di suatu titik di mana kita merasa sudah sangat terlambat. Sesudah melepaskan pekerjaanku, aku menganggur selama beberapa bulan. Aku mencari-cari pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan perang, tapi tak mendapatkannya. Atau setidaknya, tidak ada yang sesuai dengan pendidikan dan pengalamanku, dan mengganggur adalah sesuatu yang mengerikan. Aku bahkan tak dapat bekerja di kantor atau toko. Namun tak dapat kusangkal bahwa ketika aku merasa damai karena apa yang telah kulakukan, aku merasa hidupku berada di tangan Tuhan.
    • Berbagai Batu Pijakan 201 Kita semua mengenal orang yang (berbeda dari John) tidak memperoleh damai dalam dirinya, karena tidak berpegang teguh pada suatu keputusan. Orang seperti itu menjalani hidup bagaikan kapal layar tanpa kemudi, yang bergeser arahnya karena tiupan angin yang paling kecil sekalipun dan hanya mencapai tujuannya dengan melewati kesulitan. Ada yang sama sekali tak pernah sampai ke tujuan, namun tahun demi tahun berusaha memutuskan untuk mengetahui apa yang akan mereka hadapi. Yang paling buruk, sikap yang terus terombang-ambing seperti itu mengarah kepada emosi yang tidak seimbang dan bahkan ketidakseimbangan mental seluruhnya. Sehubungan dengan iman, adanya keputusan yang pasti sangat penting demi hidup yang sehat dan produktif. Yesus menawarkan kedamaian tanpa akhir, namun pertama-tama, Ia meminta janji kesetiaan tanpa akhir pula. Mungkin alasan banyak orang yang tidak mengalami damai seperti itu adalah karena tidak bersedia terbuka diketahui orang lain. Aku selalu menyukai kata-kata, “Jikalau kamu tidak makan daging anak manusia dan minum darahNya, kamu tidak mempunyai hidup dalam dirimu.”104 Itu bukanlah filsafat yang perlu direnungkan atau dianalisis. Kata-kata itu merupakan pernyataan langsung, dan kita harus menentukan apakah kita menolaknya atau menerimanya. Tak seorang pun dapat acuh tak acuh terhadap Yesus. Kita harus menentukan, apakah kita bersama Dia atau melawan Dia. Bart (nama samaran) adalah seorang anak muda dalam komunitas saya. Ketika umurnya menjelang dua puluh satu tahun ia berada di peringkat atas dalam kelasnya pada suatu universitas yang bergengsi di Pantai Timur Amerika dan ia sedang menunggu wisuda. Ia sudah menerima tawaran kerja yang baik. Namun Bart 104 Yoh 6:53.
    • 202 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? tidak sepenuhnya bahagia. Di relung hatinya ia melihat kekosongan hidupnya sepintas kilas, dan berangsur-angsur mendapat gagasan untuk melepaskan semuanya dan pulang kembali ke komunitasnya di mana ia dibesarkan, walaupun hal itu berarti harus melepaskan talenta, waktu dan uang yang menjadi tujuan umumnya, dan bekerja di mana dia dibutuhkan. Pada pertengahan semester terakhir Bart meninggalkan sekolahnya dan menulis surat berikut ini, yang diizinkannya untuk dikutip di sini: Aku sungguh-sungguh terkoyak selama dua hari yang lalu. Di satu pihak, aku merasa sangat tertarik untuk meneruskan kuliah, memperoleh gelar, mendapat pekerjaan dan melakukan sesuatu yang hebat seperti menjadi penyiar radio. Aku berusaha memikirkan alasan untuk tinggal di sini, melakukan pekerjaanku sendiri, terpisah dari komunitas dan apa saja. Tapi akhirnya aku sadar bahwa aku tak dapat memutuskannya. Kemarin malam aku membaca Injil Matius tentang para murid yang meninggalkan jala dan berlari mengikuti Yesus. Itulah yang sekarang harus kulakukan: pergi segera dari tempat ini, meninggalkan bagianku dalam hal pengetahuan teori dan banyak keterampilan praktis, namun tidak banyak yang lain, sekurang-kurangnya dalam hal pertumbuhan pribadi atau rohani.... Kadang-kadang Anda harus membuat keputusan tanpa benar-benar tahu mengapa dan tidak memahami apa yang Anda lakukan. Aku benar-benar tidak mengetahui alasannya mengapa aku memutuskan seperti ini, namun lagi-lagi tak seorang pun dari kita sungguh tahu apa yang sedang dilakukannya. Aku harus lebih percaya kepada Tuhan. Aku menduga Dia sedang memberitahu sesuatu kepadaku sekarang ini, dan aku berharap dapat mendengarkan Dia. Jika keputusan seperti itu tampak gila-gilaan, hal itu bukan karena menyimpang dari kebiasaan umum.
    • Berbagai Batu Pijakan 203 Keputusan itu malah berlawanan dengan gagasan umum, bahwa sekalipun kita dengan jelas mendengar panggilan Tuhan, namun akan lebih cermat dan hati-hati bila orang berhenti dulu dan mempertimbangkannya seperti ucapan klise “berdoa tentang itu”. Namun bukankah Yesus menyuruh para murid untuk meninggalkan jala dan mengikuti Dia?105 Dan bukanlah Dia menasihati kita agar membiarkan orang mati menguburkan orang mati? 106. Mungkin kita begitu yakin bahwa Dia memberi kita cukup waktu untuk menimbang pilihan-pilihan kita. Marilah kita mohon agar Tuhan membantu kita melihat jalan hidup yang kita ambil dari sudut pandang iman. Lalu segalanya akan mendapatkan tempatnya dengan tepat. Pertanyaan di mana kita hidup dan apa yang akan dilakukan sungguh-sungguh tidak penting dibanding pertanyaan tentang bagaimana memusatkan perhatian dan hati kita pada Tuhan. Aku bisa mengajar di Universitas Yale, bekerja di toko roti di Genesse Abbey, atau berjalan- jalan bersama anak-anak miskin di Peru dan merasa sama sekali tak berguna, sedih dan tertekan dalam semua itu. Masalahnya bukanlah tempat yang tepat, pekerjaan yang tepat, panggilan atau pelayanan yang tepat. Aku bisa senang atau tidak senang dalam semua situasi. Aku yakin, karena aku telah mengalaminya. Aku bisa merasa sedih dan gembira dalam situasi baik berkelimpahan maupun miskin, baik populer maupun tidak dikenal, baik berhasil maupun gagal. Perbedaannya tidak terletak pada keadaannya, melainkan pada keadaan hati dan pikiranku. Jika aku tahu aku berjalan bersama Tuhan aku selalu merasa bahagia dan damai. Namun ketika aku terperangkap dalam keluhan dan kebutuhan emosionalku sendiri, aku akan selalu merasa resah dan terpecah belah. 105 Mat 4:18-22. 106 Mat 8:22
    • 204 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Itulah kebenaran sederhana yang kusadari sekarang, setiap kali aku mengambil keputusan tentang masa depanku. Mengambil keputusan ini atau itu, atau yang lain untuk lima, sepuluh atau dua puluh tahun ke depan bukanlah keputusan besar. Berpalinglah sepenuhnya, tanpa syarat dan tanpa takut pada Tuhan. Kesadaran itu niscaya membebaskan diriku. Henri J.M. Nouwen
    • Berbagai Batu Pijakan 205 Pertobatan Orang jatuh berdosa bukan hanya karena ia makhluk yang tidak sempurna dan membutuhkan perbaikan: dia seorang pemberontak yang harus meletakkan senjatanya. Letakkan senjatamu, menyerahlah, katakanlah kamu menyesal, sadarilah bahwa kamu telah salah jalan dan bersiaplah untuk memulai hidup baru dari awal lagi - hanya itulah jalan keluar dari suatu lubang. Proses penyerahan ini, gerak cepat putar haluan ini oleh orang Kristiani disebut sebagai pertobatan. C.S. Lewis. ”B ertobatlah, karena Kerajaan Surga sudah dekat!” Mungkin ayat dari kita Kitab Suci107 ini sangat sering didengar, namun selama sekian generasi orang-orang Kristiani begitu buru-buru menghindari konsekuensinya setelah mendengarkannya. Seruan ini mengajak kita rendah hati, lembut, dan baik hati. Namun gundah kelana? Mengakui kesalahan dan menangisinya? Bertobat? Biarpun terasa keras, tetapi memang tidak ada damai tanpa penyesalan. Sebagaimana penderitaan Kristus di kayu salib tetap tak berguna bagi kita selama kita menolak menderita bersama-Nya. Kebangkitan-Nya tetap dijanjikan pada kita, hanyalah jika kita bersedia turun bersamanya menempuh maut. Tidak ada hidup baru tanpa kematian. Sesal tobat berarti mematikan manusia lama, Adam yang lama. Itu berarti meninggalkan kebobrokan dunia dosa dan menempatkan diri dengan rela dan suka cita di bawah sinar terang Allah, yang melihat apa yang 107 Mat 3:2
    • 206 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? tersembunyi dalam hati manusia. Ketika seorang menyesali dosanya, hatinya yang dari batu lalu berubah menjadi hati dari daging dan setiap gagasan dan setiap perasaannya diubah bersama-sama. Seluruh penampilan orang itu pun berubah. Sebagai seorang konselor, salah satu sebab yang paling sering menyebabkan kemelut emosional, sejauh yang kuperhatikan, adalah sikap melawan moral. Aku tak mengatakan bahwa hawa-nafsu itu lebih buruk dari dosa lain. Rasul Paulus mengatakan dengan tegas bahwa kesombongan dan cinta diri, misalnya, sungguh melawan Tuhan. Sesungguhnya, dosa- dosa itu sulit diatasi dibanding dosa lain karena tidak begitu jelas. Namun karena seksualitas kita adalah hal yang paling dilindungi, sesuatu yang paling intim bagi kita, maka dosa seksual yang tersembunyi sering paling berat membebani. Beberapa tahun yang lalu seorang wanita muda mengunjungi komunitas kami. Sue (bukan nama sebenarnya) dibesarkan dalam suatu keluarga yang terpelajar dan secara materi serba kecukupan. Tetapi keadaannya menyedihkan. Ia merindukan damai dan kepenuhan hidup, namun ia dibebani oleh rasa benci diri dan penyesalan, ia merasa begitu cemas dan habis. Jika seorang bertanya kepadaku pada tahun 1972 apa artinya “damai”, aku akan bilang, “berakhirnya Perang di Vietnam”. Dibesarkan pada tahun enam puluhan, aku tak tahu makna damai yang lebih dalam dari itu. Sebagai salah satu dari empat anak dari seorang ayah pecandu alkohol yang sering melakukan kekerasan, aku adalah hasil dari keluarga yang tidak berfungsi: kelas menengah yang tidak bahagia. Pada umur sembilan atau sepuluh tahun aku sudah bermain-main dengan seks.
    • Berbagai Batu Pijakan 207 Aku memerhatikan bahwa jika seorang anak lelaki tetangga “menginginkan “ aku, aku berkuasa atas dia, dan aku mulai menggunakan penampilanku sepenuhnya. Aku memimpin banyak anak laki-laki dan pria dengan cara ini tanpa bermaksud melakukan seks dengan mereka. Aku hanya ingin mengendalikan mereka. Namun sedikit pun tak kusadari bahwa belenggu jahat mengikatku sedikit demi sedikit. Pada tahun 1968 ketika umurku empat belas tahun, saudaraku perempuan dan suaminya meninggal di apartemen mereka. Menikah baru tiga bulan dengan seorang anggota angkatan laut, hidup wanita dua puluh dua tahun yang cantik itu berakhir. Apa karena pertengkaraan? Apakah lelaki itu putus asa? Apakah itu sebabnya ia pergi berperang ke Vietnam? Hanya dua tubuh tak bernyawa dan sepucuk pistol yang tertinggal ketika aku dan saudara perempuanku yang lain memasuki kamar itu saja yang bisa cerita.... Kehidupan Sue kacau-balau setelah kejadian itu. Setelah bereksperimen dengan papan Oujia untuk berkomunikasi dengan roh dan jampi-jampi dan mantra- mantra, ia diliputi oleh ketakutan yang mendalam akan dunia supranatural dan merasa dihantui oleh arwah saudarinya. Namun ia tak dapat menceritakan kepada orang lain ketakutan-ketakutannya. Dengan penuh kemarhan dan kebencian, terutama terhadap ayahku, aku mulai terperosok ke dalam amphetamine, ganja, marijuana, dan mabuk setiap akhir pekan dengan laki-laki yang berbeda- beda. Ketika umurku tujuh belas tahun, secara seksual aku telah melakukan apa saja. Ironisnya beberapa temanku dan aku merupakan bagian dari gerakan damai, kasih, dan antiperang yang begitu kuat pada waktu itu. Benar, pada awal 1970-an ada idealisme yang sangat hebat, namun cinta diri di dalam kehidupan seks berlawanan dengan cita-cita itu.
    • 208 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Ketika umurku sembilan belas tahun aku mengunjungi Bruderhof. Aku seorang wanita yang dihantui, berbeban berat dan putus asa, dan kejahatan masa laluku begitu berat menekan jiwaku, sehingga menghilangkan aura kesegaran masa mudaku. Orang mengira umurku tiga puluhan tahun. Selama sepuluh tahun aku berjuang untuk memperoleh kedamaian. Dalam komunitas Bruderhof saudara pria dan wanita telah berusaha menolong diriku, namun betapa keras pun aku berusaha, aku tak dapat keluar menerobos belenggu penjara ketidak-murnianku yang begitu gelap. Hanya dengan melihat kebebasan yang ditawarkan oleh seorang anggota lain yang mengakui dosa hawa- nafsulah baru timbul fajar kesadaranku, bahwa aku pun dapat memperoleh kebebasan itu. Aku sadar bahwa aku harus merendahkan pagar diriku sekali untuk selamanya, dan memperlihatkan diriku yang menyedihkan itu. Aku harus menemukan seseorang yang dapat kupercaya dan menceritakan rahasiaku yang paling gelap. Aku harus bertobat maka Tuhan akan menganugerahkan damai yang kucari-cari sekian lama. Pada hari-hari berikutnya seluruh hidupku mengalir di hadapanku, seolah-olah aku melihat lagi setiap sentuhan, tatapan, ucapan dan pikiran kotor yang telah kutelan dulu, setiap orang yang dengan sengaja kusesatkan dan kusakiti. Dengan penuh derita, namun juga dengan bahagia, aku mengakukan dosa-dosaku yang paling pekat itu kepada istri gembalaku. Aku harus datang beberapa kali padanya sebelum akhirnya dapat menuntaskan semuanya. Damai merasuk dalam hatiku yang telah kucuci bersih. Tahun-tahun itu seakan merontokkan diriku dan aku merasa bebas seperti seorang anak lagi. Sekarang umurku lebih dari empat puluh tahun. Aku menikah dan punya anak. Tapi aku merasa jauh lebih
    • Berbagai Batu Pijakan 209 muda daripada dulu ketika umurku sembilan belas tahun. Dan jika seseorang bertanya kepadaku hari ini, apakah damai? Aku sudah punya jawaban yang jauh lebih baik. Kita semua mengharapkan hidup yang baru, diubah seluruhnya – tapi bukan itu yang jadi masalahnya. Pertanyaannya adalah bagaimana? Ayahku menulis: “Mestinya Tuhanlah yang mengubah kita, dan Dia mungkin melakukannya dengan cara yang mengecewakan harapan dan gagasan kita, termasuk rencana-rencana kita untuk pertumbuhan rohani dan kepenuhan pribadi. Agar sesuai dengan masa depan Tuhan, kita pasti dibentuk oleh-Nya.” Namun orang tak mau menerima hal ini dan lebih menyukai solusi mereka sendiri. William, Pastor Anglikan yang telah kuceritakan di depan, mengisahkan padaku bahwa ia telah berhadapan dengan “segala macam dan keadaan dosa” selama lebih dari empat puluh tahun pelayanannya, namun ia hanya melihat sedikit penyesalan. “Yang lebih sering terjadi, rasa bersalah itu dirasionalisasi108 daripada disesali.” Banyak orang tidak memahami apa itu pertobatan. Mereka tidak menyukai apa yang harus mereka lihat. Mudah sekali membuat hal yang salah menjadi benar dengan cara pembelaan (apologi), atau menutup mata saja, atau memoles sesuatu; inilah yang dilakukan orang setiap hari. Namun bukan penyesalan. Ketika jiwa terluka oleh dosa, satu- satunya cara untuk sembuh adalah melalui pertobatan. Semasa Reformasi dulu, imam “mengampuni” dosa melalui ‘dagang’ indulgensi. Sekarang, psikolog dan psikiater “mengampuni” dosa dengan cara yang sama. Orang membayar mereka, dan orang-orang itu lalu 108 Diringankan, dengan pemikiran-pemikiran
    • 210 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? diberitahu “kamu tidak melakukan kesalahan apa pun; perilaku kamu normal. Kamu tak perlu merasa bersalah; kamu hanya terpaksa harus melakukannya.” Begitulah caranya dunia mengampuni dosa. Dalam Injil Matius kita mendapatkan contoh penyesalan yang jelas dan benar. Cerita tentang Petrus, yang menyangkal Yesus tiga kali sebelum penyaliban. Petrus bisa saja membela tindakannya sebagai dosa yang bisa dimaafkan. Bagaimanapun Yesus berada di tangan para penguasa dan sudah dijatuhi hukuman mati. Dalam arti tertentu, para murid tak bisa melakukan apa pun yang dapat mengubah situasi. Namun alih-alih berdalih, Petrus justru memandang penyangkalannya itu sebagai pengkhianatan yang kelam. Hatinya pedih, lalu ia keluar dan menangis dengan sedihnya.109 Pertobatan bukanlah menyiksa diri; juga bukan tekanan jiwa dan pemikiran yang memusat pada diri sendiri. Namun, jika bersungguh-sungguh, pertobatan bisa sakit sekali. Seperti bajak, pertobatan membalik tanah, merecah padas, mencabut akar, dan menyiapkan tanah untuk tanaman baru. Lihat padang di hatiku merah terluka Kau tanamkan gandum hijau muda Gandum hijau muda bersemi anggun Gandum hijau muda selamanya berlantun Dan kita lalu memandang padang gandum telah ranum Tiba sudah saatnya panen raya berlangsung Dan gandum pun menjadi roti suci Dengannya dikenyangkan jiwa insani 109 Mat 26:75
    • Berbagai Batu Pijakan 211 Roti suci yang tiada tara nilainya dari Kristus, Kerahiman sepanjang masa John Masefield Setiap orang berdosa. Karena itu kita perlu dibajak seperti itu. Dengan berbagai cara, kita semua merusak hidup kita sendiri. Dengan mengakui kesalahan kita, kita mengalami kelemahan kita dan ketergantungan kita satu sama lain dan pada Tuhan. Yang lebih penting lagi, kita menghindar dari bahaya menenggelamkan suara dari hati nurani yang terkubur. Damai yang bertahan lama tidak ditemukan dari penyangkalan kegagalan, namun dari kejujuran memandang kegagalan itu. Kalau pun jalan penyesalan menyakitkan, siksaan hidup karena menyembunyikan dosa jauh lebih buruk lagi. Seperti yang ditulis oleh Martin Buber, kerinduan besar akan keselarasan dan kebersamaan dengan Allah mendorong hati lebih dekat pada damai, seperti badai yang berlangsung sebelum saat teduh, menolak hal itu berarti memilih hidup dalam situasi yang tegang sekali terus-menerus. “Jika orang tidak mengadili dirinya sendiri, segala sesuatu mengadili dia, dan segala sesuatu menjadi utusan Tuhan.” Gerald (bukan nama sebenarnya) adalah seorang anggota komunitas kami yang sudah tua. Ia mencari kedamaian hati tahun demi tahun tapi tidak berhasil. Walaupun ia sangat sedih karena dosa-dosanya di masa lalu, ia tidak pernah mengakui dosa-dosa itu sepenuhnya atau sungguh-sungguh menyesalinya. Gerald adalah seorang pekerja yang handal dan pekerja keras, namun di dalam batinnya ia tersika. Di balik tampilannya yang giat melaksanakan kehidupan menggereja dan hidup keluarga, ia menyimpan rahasia hubungan gelap dari masa mudanya, dan ia punya seorang anak dari hubungan itu. Anak itu berada di kota lain yang jauh.
    • 212 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Pada waktu krisis ketika ia mendekati usia pertengahan, Gerald dapat mempertimbangkan nilai hidup yang benar sampai titik itu dan akhirnya “Keadilan Allah mulai menyentuh hatiku.” Gerald bahwa ia tak mungkin bisa “menutupi atau membatalkan” apa yang telah ia lakukan, namun ketika ia dapat merasakan sakitnya beban dari kesalahannya, hatinya penuh dengan penyesalan, dan ia pergi bertemu dan meminta maaf kepada setiap orang yang dikhianatinya. Akhirnya, ia dapat mengalami perasaan dibersihkan dan dimaafkan berkat penyesalannya. Ia mengingat hal ini dengan dramatis, dan Gerald menyatakan bahwa pengalaman ini dan rasa damai yang diperolehnya bukanlah peristiwa yang terjadi sekali, melainkan suatu proses yang berlangsung terus sampai hari ini. Berulangkali aku mengira akhirnya aku mendapatkan damai, namun ternyata yang kudapatkan hanyalah suatu batu pijakan saja dan aku masih harus melangkah lebih dalam lagi. Ini mungkin akan terus berlanjut. Mungkin di dalam upaya yang tulus untuk mendapatkan damai itulah hal ini kudapatkan. Dapat kukatakan inilah jalan menuju ke sana: Aku yakin aku mengenali diriku, dan dosa-dosaku ditunjukkan padaku oleh Allah dalam keadilan sehari- hari. Aku terus-menerus menyesali dosa-dosa yang telah kulakukan dan aku mensyukuri pengampunan dari Tuhan. Aku berdoa terus kepada Tuhan agar Ia menunjukkan kegagalanku dan selanjutnya memohon kejelasan dan kekuatan untuk tugasku setiap hari. Setiap hari aku melepaskan rasa bangga diri, ambisi, dan segala sesuatu dari diriku. Dan setiap hari aku bergembira dalam Tuhan atas segala karunia dan rahmat-Nya, dan terutama mukjizat dari salib.
    • Berbagai Batu Pijakan 213 Pentingnya pertobatan juga diperlihatkan dalam cerita tentang bibiku Emy-Margret, seorang wanita yang mungkin berjuang habis-habisan untuk mencari kedamaian hatinya, lebih dari orang lain yang kukenal. Ketika Emy-Margret yang sekarang menjelang usia sembilan puluhan bertemu dengan pria yang kemudian menjadi suaminya, ia mengagumi (sebagaimana orang lain yang mengenal pria itu) kecerdasannya, semangatnya dan kharismanya. Hans adalah seorang pengusaha yang cakap dan hangat dan lebih dari itu ia sangat memerhatikan kesejahteraan Brudehof, yang masih merupakan komunitas yang baru tumbuh sayapnya waktu ia bergabung. Namun yang tadinya dimulai sebagai perkawinan yang bahagia itu lalu berubah menjadi mimpi buruk. Dilihat dari luar, segalanya tampak hebat: Hans dan Emy- Margret adalah anggota komunitas yang aktif; anak- anak, lahir satu demi satu; kehidupan berjalan indah dan harmonis. Namun dalam pribadiya, Hans mulai menunjukkan sisi yang berbeda. Ia sangat haus akan kekuasaan dan tak pernah puas, ia terus-menerus memupuk kekuasaan, tak peduli pada akibatnya terhadap orang lain dan terhadap dirinya sendiri. Emy-Margret pada mulanya resah karena cara suaminya yang manipulatif itu, namun keresahannya tidak berlangsung lama. Mengkritisi Hans berarti akan menerima ucapannya yang kasar dan tajam, maka lebih mudah, lebih bebas dan lebih nyaman, menerima pria itu apa adanya. Sikap itu pun tidak sepenuhnya menyenangkan karena Hans tidak percaya kepada hampir setiap orang, dan ada beberapa orang yang lebih dibencinya dari keluarga istrinya, yang dicurigainya menggerogoti pengaruhnya dalam komunitas. Tak lama kemudian Hans mencapai tujuannya. Dipuja oleh
    • 214 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? beberapa orang pilihan, ditakuti oleh banyak yang lain, ia memimpin komunitas sebagai sorang diktator yang efektif. Ia membungkam atau mengusir siapa saja yang meragukan atau melawan dirinya. Sepuluh tahun kemudian Emy-Margret menyadari bahwa kesetiaannya pada suaminya tidak dapat mencegah Hans mendapatkan apa yang diinginkannya: Emy mengetahui bahwa suaminya terus berzinah dengan sekretarisnya selama bertahun-tahun. Emy-Margret hancur. Hans meninggalkan dirinya dan komunitas pada saat rahasianya itu terbuka, namun ketergantungan emosional Emy-Margret pada Hans begitu besar sehingga selama bertahun-tahun ia buta terhadap kerusakan yang mereka buat. Ratusan anggota komunitas menderita di bawah pimpinan mereka. Belenggu yang bentuknya adalah pemujaan (yang anehnya berbentuk pembelaan) terhadap Hans dan segala sesuatu yang menjadi pendiriannya berlanjut terus, sekalipun Hans sudah mati secara tragis karena tabrakan pesawat di atas Perancis. Namun tak lama kemudian, Emy-Margret akhirnya mulai melihat bahwa ia hidup atas dasar suatu kebohongan; bahwa segala sesuatu yang diandalkannya seperti gengsi, kekuasaan, dan perhatian dari orang yang mengagumi (atau iri pada status sosialnya), tidak memberikan kepadanya kebahagiaan yang nyata, melainkan kerusakan pribadi. Dalam beberapa bulan berikutya ia mengalami proses yang menyakitkan dalam memilah antara loyalitas dan emosi yang bertentangan, kebohongan dan setengah kebohongan yang membebani dirinya selama puluhan tahun. Pertarungan dalam dirinya itu sengit dan berlangsung lama, tetapi ia berjuang terus untuk mengetahui kesalahannya dan segera meluruskannya. Ia meminta dan menerima dukungan komunitas.
    • Berbagai Batu Pijakan 215 Kini dua puluh lima tahun berlalu sejak Emy-Margret mengakhiri pertarungannya itu. Namun bagi dirinya dan komunitas kami, diperoleh kemenangan yang buah- buahnya tampak jelas. Secara duniawi pertarungannya tampak percuma. Ia tetap kehilangan Hans tanpa sempat berdamai, ia berseteru dengan teman-teman lama yang dulu berpihak pada suaminya, dan ia mengasingkan diri dari beberapa anaknya dalam proses itu. Jelas perjuangan bibiku untuk memperoleh damai penuh dengan penderitaan. Namun bibi meyakinkan aku bahwa dengan memutuskan belenggu emosional pada suaminya dan dengan penyesalan, ia lalu menemukan kepenuhan diri dan kesembuhan yang dulu tak pernah dikenalnya. Ia menulis kepada saudaranya, Hardy beberapa tahun lalu, “Kebebasan besar dan damai yang dianugerahkan kepadaku masih mengalir hingga sekarang, jauh melebihi harapan dan permohonan doaku.” Bonhoeffer menulis bahwa yang membuat sesal-tobat begitu sulit adalah tuntutan utamanya. Kesediaan untuk mengalami kematian “yang menyakitkan dan hina di hadapan seorang saudara.” Karena rasa kehinaan itu bisa begitu besar, kita terus-menerus berusaha menghindarinya, Kadang-kadang, bahkan sesudah mengenali dosa-dosa kita, kita berusaha melompatinya (“atau mengatur sedemikin rupa hingga tersimpan rapi”) tanpa benar-benar menyesalinya. Namun justru kecemasan inilah, salib yang menampakan keselamatan dan pertolongan bagi kita: Manusia lama telah dikalahkan, namun Tuhanlah yang telah melakukannya. Kini kita berbagi dalam kebangkitan dan hidup abadi. Setelah mula-mula melalui kematian, hidup selanjutnya jauh lebih besar.
    • 216 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Keyakinan Bahwa ada begitu banyak pertentangan tidaklah berarti diri kita sendiri harus terpecah belah. Namun berkali-kali kita mendengar orang berkata bahwa karena kita berada di dunia yang serba bertentangan itu maka kita harus menyesuaikan diri. Anehnya gagasan yang sama sekali tidak Kristiani itu justru sangat sering dikemukakan oleh mereka yang disebut Kristiani. Bagaimana kita dapat mengharap kebenaran bertahan jika hanya sedikit saja orang yang berdiri tegak utuh tak berbagi demi suatu kebenaran? Baru-baru ini aku sering teringat cerita dari Perjanjian Lama: Musa berdiri siang dan malam dengan tangan terangkat, berdoa kepada Tuhan memohon kemenangan. Dan ketika tangannya turun, musuh menang atas Israel. Masih adakah sekarang orang yang tak kenal lelah mengarahkan segenap pikiran dan tenaganya, sepenuh hati, kepada suatu tujuan luhur? Sophie Scholl S ophie Scholl dipenggal kepalanya oleh Nazi pada tahun 1943 karena keterlibatannya dengan White Rose, suatu kelompok mahasiswa di Munich yang menulis, mencetak dan menyebarkan pamflet antipemerintah. Sophie juga bukanlah seorang gadis biasa yang berumur dua puluh satu tahun. Ia juga bukan seorang aktivis biasa. Dalam buku The Resistance of The White Rose, pengarang Inge Scholl, saudarinya, teringat pada aura damai yang menyertai Sophie, seolah-olah Kristus hadir padanya dalam masa-masa yang paling gelap, membimbingnya dan memberi dia kekuatan.
    • Berbagai Batu Pijakan 217 Mulanya ketika Sophie datang ke White Rose dan mengetahui bahwa Hans, saudaranya, adalah pendiri dan aktivis gerakan itu, ia marah. Namun serentak dengan itu ia merasakan bahwa White Rose adalah satu-satunya suara kebenaran dan jika tidak dibantu olehnya, White Rose mungkin akan segera tenggelam oleh suara gemuruh propaganda dan kebohongan Nazi. Dengan segera Sophie mencurahkan segala daya untuk membantu White Rose. Beberapa tahun sebelumnya, Hans dan Shopie sama- sama terpukau pada janji Hitler untuk membangun Jerman Baru dengan penuh semangat. Namun sesudah mereka menyadari betapa banyak nurani dan jiwa yang menjadi korban kerakusan akan kekuasaan dari dikatator iblis itu, mereka makin mantap menentang arus. Menjelang akhir 1942 sulit ditemukan suatu sel perlawanan yang kuat atau berbahaya melebihi White Rose. Pada Februari 1943 para pemimpin White Rose ditangkapi dan diperiksa dan dalam lima hari saja kedua orang dari keluarga Scholl dan para pembantu terdekat mereka ditemukan mati. Hukuman mati selanjutnya dilaksanakan pada bulan April dan Juli. Hans dan Shopie Scholl menjemput maut dengan berani, bahkan bangga. Ketika Shopie mendengar hukumannya - mati dengan guillotine - ia diceritakan berkata dengan tenang: “Hari begitu cerah dan matahari bersinar terang, dan aku harus pergi. Namun tak apalah, jika melalui kami ribuan orang lainnya akan bangkit dan bertindak!” Di sini damai terlahir dari iman yang tak tergoyahkan. Sekarang keyakinan seperti itu sungguh langka (siapa di antara kita yang begitu peduli akan keyakinan kita sehingga bersedia mati untuknya?). Namun demikianlah
    • 218 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? jaminan dan damai yang dicurahkan dalam suatu perjuangan. Jika kita tidak yakin akan kebenaran dari apa yang kita lakukan, kita tak akan mampu menghadapi ujian seperti itu dengan begitu tegar. Mungkin itulah hal terpenting yang diajarkan White Rose kepada kita. Aku teringat pada cerita kesukaanku dari Perjanjian Lama, tentang Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Di situ ketiga orang muda yang tiada taranya dalam kesetiaan itu diuji. Ceritanya sudah begitu dikenal, namun ada gunanya diulang di sini. Berkatalah raja: “Jika kamu menolak menyembah patung emas yang kudirikan, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?” Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab: “O, Nebukadnezar, kami tidak khawatir akan apa yang akan terjadi pada kami. Jika kami dilemparkan ke dalam perapian yang menyala-nyala, Allah kami sanggup melepaskan kami, Ia pun akan melepaskan kami dari tanganmu, ya raja. Tetapi seandainya tidak, kami tak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Maka meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air mukanya berubah terhadap Shadrakh, Mesakh dan Abednego. Lalu diperintahkannya agar perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa. Kepada beberapa orang yang terkuat dari tentaranya disuruhnya mengikat ketiga anak muda itu dan mencampakkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala itu. Lalu diikatlah ketiganya dengan kuat dan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala, berpakaian lengkap. Karena perintah raja itu keras, untuk memanaskan perapian itu luar biasa, meluaplah nyala
    • Berbagai Batu Pijakan 219 api itu membakar mati prajurit yang mengangkat dan melemparkan mereka ke dalam perapian. Sadrakh, Mesakh dan Abednego jatuh ke dalam perapian yang menyala-nyala itu dengan terikat. Tetapi tiba-tiba, selagi memerhatikan, Nebukadnezar bangun dengan segera karena terkejut dan berkata kepada para menterinya. “Bukankah tiga orang itu telah kita campakkan ke dalam api?” Kata mereka “Benar, ya raja?” “Lihat,” kata Nebudkanezar, “Aku melihat empat orang berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!” Lalu Nebudkadnezar mendekati pintu yang bernyala- nyala itu dan berkata: “Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan kemarilah!” lalu keluarlah mereka dari api itu. Dan para pangeran, penguasa, bupati dan menteri raja datang mengelilingi mereka dan melihat bahwa api itu tidak mempan menyentuh mereka, rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah, bahkan bau kebakaran pun tidak ada pada mereka! Berkatalah Nebukadnezar, “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya yang telah menaruh percaya kepada-Nya dan melanggar perintah raja dan yang bersedia mati daripada menyembah ilah lain kecuali Allah mereka.” (Bdk. Daniel 3:15-28) Ada berapa banyak “hamba-hamba yang percaya” kepada Allah, yang bersedia mempertahankan iman, apalagi bersedia mati demi iman itu sekarang? Berapa banyak di antara kita yang akan ditolak dari tempat damai abadi oleh kata-kata, “Aku tidak mengenal kamu”?110 110 (Mat 7:23; 25:12)
    • 220 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Mengingat perjalanan hidupku sendiri, orang-orang yang besar pengaruhnya padaku adalah mereka yang mati karena keyakinannya. Beberapa di antaranya tak kukenal secara pribadi (Dietrich Bonhoeffer, Alfred Delp, dan Oscar Romero, misalnya) yang lain, seperti Marthin Luther King, walaupun singkat aku mendapat kehormatan untuk bertemu dengannya. Kakekku, seorang lawan yang vokal terhadap rezim Hitler, lolos dari nasib yang umumnya diterima oleh kebanyakan penentang hanya karena ia meninggal akibat komplikasi setelah suatu amputasi. Namun menurut nenek, kemungkinan kurungan penjara semakin besar untuk kakek. Beberapa kali kakek mau melakukan perjalanan ke Kantor Distrik Nazi di Kassel di mana begitu mudah pintu ditutup di belakangnya, dan ia hanya dapat keluar karena diizinkan untuk mengajukan petisi atau keberatan. Hampir ajaib kakek selalu mendapat kesempatan membela diri dan sesudah itu dibebaskan. Beberapa hari sebelum meninggal, pada Hari Pertobatan (suatu hari libur agama Kristen Lutheran), kakekku berteriak-teriak di tempat tidurnya, di rumah sakit, sehingga dapat didengar di seluruh ruangan. “Apakah Goebbels sudah bertobat? Juga Hitler?” Orang- orang Jerman bisa digiring ke kamp konsentrasi untuk kesalahan yang lebih ringan dari itu. Bertahun-tahun kemudian, sebagai remaja empat belas tahun di sekolah negeri di New York, aku terinspirasi oleh tindakan pembangkangan ini untuk memperlihatkan sikapku sendiri. Janji Setia Negara dibacakan setiap hari, dan setiap pelajar bergiliran memimpin pembacaan janji itu. Ketika aku mendapat
    • Berbagai Batu Pijakan 221 giliranku pada suatu hari, aku berdiri di depan kelas dan menolak melakukannya. Kesetiaanku hanya untuk Tuhan, kataku, bukan untuk selembar bendera. Guruku dan teman-teman terperangah, kelas begitu sunyi hingga Anda bisa mendengarkan suara peniti jatuh. Tak terbayangkan! (saat itu adalah puncak zamannya politisi McCarthy (1908-1957), dan di Washington sedang terjadi dengar pendapat dari Komite Kegiatan Non- Amerika di DPR. Pada hari itu aku dilaporkan kepada kepala sekolah dan dihadapkan pada semua guru untuk memberi penjelasan. Walaupun terguncang, setelah aku menjelaskan bahwa aku tidak bermaksud untuk menghina, tetapi hanya bertindak berdasarkan keyakinanku, mereka menunjukkan pengertian. Di rumah, orang tuaku juga agak terkejut, tetapi sepenuhnya mendukung aku. Hal itu sederhana bagi ayahku: jika kamu tidak mengikuti hati nuranimu, kamu tak akan pernah mendapatkan damai. Jika hal semacam itu mengguncangkan tatanan, biarlah. Memang kembali duduk dan berpura-pura segala sesuatu baik-baik saja selalu lebih disukai. Dalam bagian yang terdahulu aku telah menyebutkan beberapa orang yang kutemui ketika umurku belasan tahun dan mereka berpengaruh padaku. Salah satunya yang sangat jelas kuingat adalah Dwight Blough, seorang tamu muda dari Iowa yang kemudian bergabung dengan komunitasku dan menjadi tangan kanan ayahku. Dwight adalah orang yang teguh keyakinannya. Ia bekerja keras, berjuang keras. Orangnya sederhana, baik dalam kata-kata maupun perilakunya. Ia melaksanakan pekerjaannya dengan sepenuh hati, dan jika ada yang perlu dikatakannya, ia akan mengatakannya. Ia tidak sabar dengan pembicaraan yang bertele-tele.
    • 222 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Janda Dwight, Norann menyatakan suaminya sebagai remaja yang khas Amerika “dalam segala macam hal”, dan keluar dari anggota Angkatan Udara ketika berumur delapan belas tahun. Pada tahun pertamanya di perguruan tinggi Dwight mulai menginginkan masa depan yang jelas di hadapannya: suatu gelar akademis, menikah, punya anak, suatu karier dan akhirnya pensiun dan melihat anak-anakya mengambil langkah yang sama. Dalam tahun kedua kuliahnya, ia belajar Kitab Suci dan merasa yakin bahwa kepuasan hanya dapat diperoleh dengan melayani orang lain. Begitu kuatnya keyakinan itu sehingga ia menganggap keputusannya untuk bergabung dengan Angkatan Udara adalah suatu kekeliruan, dan dengan segera status hidupnya berubah. Dalam tiga tahun berikutnya, Dwight dan Norann yang telah menikah, tahu tentang komunitas kami, berkunjung dan bermaksud tinggal. Dwight mengajar di sekolah kami dan tak lama kemudian bakatnya sebagai gembala umat diakui dan diteguhkan. Bukan karena dia orang yang kudus. Kadang-kadang tindakannya impulsif, dilakukan karena dorongan hati yang spontan, dan kecenderungannya untuk bicara terus terang daripada berdiplomasi dapat menyebabkan gesekan. Begitulah dia lebih menyukai bertindak daripada menimbang-nimbang. Aku tak dapat melupakan hari buruk dalam komunitas kami ketika bangsal utama komunitas kami terbakar dalam musim dingin 1957. Dengan cepat Dwight menemukan tangga dan ia muncul di jendela lantai atas. Asap dan nyala api menghentikan dia sebelum dapat mengambil barang-barang yang hendak diselamatkannya, tetapi ia sudah berusaha. Kami semua yang ada di bawah berteriak-teriak supaya ia turun sebelum terlambat. Dia
    • Berbagai Batu Pijakan 223 selalu begitu setiap ada kecelakaan, atau ada seseorang yang sakit keras. Dwight biasanya adalah orang pertama yang datang di sana. Pada awal 1970-an Bruderhof membeli sebuah pesawat untuk mempermudah perjalanan antar komunitas kami, dan antusiasme Dwight meluas sampai kepada soal penerbangan. Pada 30 Desember 1974 Dwight meninggal ketika pesawat yang dilayaninya sebagai ko-pilot menabrak lereng gunung yang berkabut, Norann ditinggalkan menjanda dengan dua belas anak, yang bungsu baru tujuh minggu umurnya. Di antara kertas-kertas suaminya Norann menemukan catatan untuk khotbah yang akan disampaikannya, bertemakan keyakinan dan kesediaan. Kematian Dwight merupakan pukulan besar bagi setiap anggota komunitas, dan menjadi sebuah peringatan setiap orang yang mengenalnya. Dia diambil secara mendadak dan tak terduga pada usia empat puluh tahun, bagaimana dengan kita yang lain. Apakah kita siap mati? Ketika aku memikirkan pertanyaan saat itu, dua puluh lima tahun kemudian, sepertinya setiap saat berlangsung begitu. Untuk apakah damai Tuhan, jika kita tidak siap bertemu dengan Dia? Jika damai adalah kesiap-sediaan, tentu maksudnya adalah kesiap-sediaan dalam seluruh segi kehidupan kita: kesiap-sediaan untuk memafkan yang tak termaafkan; untuk mengingat ketika kita terlalu cepat melupakan, dan untuk melupakan apa yang ingin selalu kita ingat lekat-lekat. Itu berarti kesiapan untuk mengasihi ketika kita membenci; untuk pergi ke tempat yang justru tak ingin kita pergi ke sana, dan untuk menunggu jika kita dilupakan; untuk memandang ke depan, bukan menengok ke belakang, untuk mencoret masa lalu dan berpaling pada cahaya. Artinya kesediaan untuk memberikan segala sesuatu dan menyerahkan hidup kita bagi saudara kita.
    • 224 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Sejauh berkenaan dengan Dwight, jawabannya sudah jelas. Ia menghayati hidup sepenuhnya. Dan dengan suatu cara yang di kemudian hari tampak sebagai suara kenabian, ia bicara tentang kesediaannya untuk menghadap Tuhan, bukan hanya dalam catatan terakhirnya, namun juga dalam surat pastoral yang ditulisnya dua bulan sebelumnya: Kata-kata Yesus, “Jikalau kamu menuruti perintahKu, kamu akan tinggal dalam kasihKu,”111 begitu penting bagi kita, justru ketika dunia berlomba-lomba melawan moral, gila uang, dan berdosa.... Aku merasakan panggilan agar lebih radikal di dalam kepatuhan dan dalam mengikuti Yesus. Kita sering bilang bahwa dunia akan tahu bahwa kita adalah milik Kristus, hanya jika kita bersatu dan saling mengasihi. Jika demikian, maka kasih kita haruslah makin kuat pada Kristus dan saudara-saudara kita. Dan pada semua orang. Dan aku pun harus melakukan penyesalan jauh lebih dalam atas apa pun, untuk keseimbangan, sikap setengah hati, wawasan sempit, atau cinta diri.... Semua egoisme, keras kepala, dan kesombongan haruslah dilepaskan dan diatasi sehingga hidup kita semata-mata bagi Kristus, demi kehendakNya, misiNya, masa depanNya dan KerajaanNya di dunia. Yesus berkata, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mangasihi seperti aku mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu.”112 Orang-orang Kristen perdana saling mengasihi satu sama lain dan mengasihi Kristus. Apakah kita juga begitu? 111 Yoh 15:10 112 Yoh 15:12-14
    • Berbagai Batu Pijakan 225 Dalam kata penutupnya, Dwight mengutip kata-kata kakekku, yang merupakan alinea kesukaannya: Siap sedialah untuk segalanya! Maka harapan akan kedatangan Tuhan haruslah membuat kita aktif berjaga- jaga, sehingga kita siap menyambut tangan-Nya, siap disalib bersama Dia; sehingga kita berlutut dan siap merendahkan diri di hadapan-Nya dan kita melepaskan segala kekuatan kita, agar dia berkuasa atas diri kita. Marilah kita siap sedia!
    • 226 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Realisme Bersabarlah dan baharuilah dirimu setiap hari dan percayalah pada pertolongan Tuhan; kasih- Nya adalah baru setiap pagi. Maka kamu akan tahu bahwa kehidupan adalah soal menjadi dan bertumbuh, dan bahwa kamu niscaya bergerak menuju hal-hal yang lebih besar. Walau kamu bertempur melawan kekuatan kegelapan, kemenangan ada padamu, sebab dalam Kristus setiap kejahatan telah dikalahkan. Kamu selalu berada di awal usahamu, karena kamu terus- menerus diubah, namun percayalah dalam iman bahwa kamu akan mendapatkan kepenuhan dari segala kerinduanmu. Eberhard Arnold T anpa pengampunan dan kemungkinan akan permulaan baru setiap hari, kita niscaya tergoda menganggap upaya mendapatkan damai adalah tindakan yang tak ada gunanya. Pertobatan dapat menjadikan kita pria dan wanita baru; doa, kerendahan hati, pertobatan dan semua yang lain dapat menjaga kita di jalur yang benar. Namun pada akhirnya harapan kita akan damai haruslah selaras dengan pengakuan kita akan ketidak-sempurnaan manusia. Jika kita tidak menyesuaikan diri dengan realitas itu dan berpaling kepada Kristus yang sungguh manusia walaupun tanpa dosa, kita akan terus frustrasi selamanya. Art Wiser, seorang anggota lama dari gerejaku, baru- baru ini menulis kepadaku:
    • Berbagai Batu Pijakan 227 Apakah aku mendapatkan damai? Aku belum merasa damai. Bila aku keliru dan seseorang mengingatkan diriku, aku jadi kelabakan sesaat dan sering bergumul melawan diriku sendiri. Aku tak bisa tidur. Aku gugup dan sakit perut. Namun Yesus berkata, “Kuberikan padamu damai sejahtera.” Dan betapa pun berdosanya aku, betapa pun bandelnya diriku, aku mengikuti Dia, aku menerima sabda-Nya dengan gembira. Pada malam yang sama Yesus berkata: “Jiwaku gelisah”; dan kemudian ia mengalami sakratul maut di Taman Getsemani. Jika Dia mengalami penderitaan seberat itu demi kita; siapakah aku ini yang mempersoalkan damai dalam diriku? Aku menerimanya, aku mengamininya walaupun aku tetap merindukan dan memohon demi itu. DamaiNya merupakan bagian dari pertarungan yang belum berakhir demi Kerajaan-Nya. Ketegangan yang dibicarakan Art adalah bagian yang sewajarnya dari hidup. Semua orang mengalami perubahan perasaan dan hari-hari buruk, dan bodohlah berharap bahwa kita akan mengatasinya dengan sempurna. Namun seperti Marlene Bowman, anggota lain dari gerejaku, menulis surat berikut: pengertian bahwa Allah yang mengendalikan segala sesuatu memberi kita suatu jaminan yang dapat kita pegang berulang kali. Seperti kemudi kapal, jaminan Tuhan itu mengembalikan arah yang benar setiap kali kecemasan mengancam kemantapan kita. Jika aku gugup dan sangat cemas akan segala sesuatu, biarpun orientasi Kerajaan Allah itu penting, aku toh kehilangan ketenangan batin. Jika banyak hal tidak sesuai dengan keinginanku, atau terjadi sesuatu yang membuatku frustrasi jika rencana-rencana atau gagasan tentang bagaimana harusnya sesuatu berjalan ternyata terganggu - bahkan ketika aku berdoa, kalau-kalau
    • 228 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? diriku sangat berlebihan mementingkan diri – aku toh kehilangan rasa damai. Damai hati berasal sepenuhnya dari penyerahan diri kepada Allah. Tiap kali kita merasakan desakan untuk melaksanakan karya Allah, itulah isyarat bahwa kita kehilangan kepercayaan pada-Nya, lupa bahwa Dialah yang pegang kendali. Tidak soal apakah sesuatu terjadi dalam kehidupan pribadi kita atau keluarga kita, atau berasal dari suatu berita yang kita dengar, atau sesuatu yang terjadi dalam pekerjaan kita. Jika kita berusaha memecahkan segala hal sendiri, kita jadi gelisah, kurang semangat, cemas. Kita kehilangan damai Tuhan. Pergumulan yang dilukiskan Marlene Bowmen itu niscaya dirasakan oleh mereka yang aktif berusaha mengubah dunia dalam hal tertentu, entah bekerja dalam hal keadilan dan perdamaian atau dalam cita-cita lain. Kadang terasa pergumulan itu sia-sia. Penulis dari Swiss Friedrich Durrematt menunjukkan bahwa kita seorang diri tak akan dapat menyelamatkan dunia: “itu adalah harapan yang sia-sia dari usaha Sisipus113 yang malang”. Ia melanjutkan bahwa tugas ini tidaklah diletakkan di tangan kita, juga bukan di tangan seorang penguasa suatu bangsa, “atau bahkan setan-iblis yang paling kuat sekalipun. Tugas itu, terletak di tangan Tuhan, yang akan bekerja sendiri.” Karena itu berikut suatu nasihat. Menghadapi ketegangan pekerjaan yang melampaui kekuatan kita, kita harus berpaling ke dalam, pada sang Sumber kekuatan. Jika kita mengukur daya insani 113 Sisipus adalah tokoh dalam mitologi Yunani yang dihukum tergantung di tebing jurang. Ia berusaha terus mencapai tepian jurang yang tidak terlalu tinggi. Namun setiap ia hampir mencapai tepian itu, sisi jurang runtuh dan ia jatuh kembali ke tempat awalnya. Setiap kali selalu berulang seperti itu.
    • Berbagai Batu Pijakan 229 terhadap pekerjaan yang ada di hadapan kita, niscaya kita akan merasa putus asa, dan jika kita melaksanakan dengan daya insani itu niscaya kita frustrasi ... lalu terjerat entah dalam keengganan untuk melanjutkan, entah dalam kejengkelan. Tak ada pelajaran yang lebih sehat daripada mengenal keterbatasan diri kita sendiri, sejauh hal ini diikuti oleh penyerahan kekuatan kita untuk lebih mengandalkan kekuatan dari Allah. Roda kehidupan tentu terpental lepas jika tidak terkunci pada Poros, dan kita menempatkan diri kita sendiri dalam bahaya, jika kita tidak menghirauhkan hal ini, jika kita selalu bergegas maju dan lupa meluangkan waktu untuk kerohanian kita. Philip Britts Dalam masa Reformasi yang penuh bahaya, bahkan kaum Anabaptis 114 menyadari hal ini ketika terus- menerus menyerukan perubahan. Pria dan wanita yang tak kenal takut itu berusaha mengubah dunia dari bawah ke atas, dengan menelanjangi kemunafikan gereja yang mapan, dengan melawan wewenang negara, dan dengan mengobrak-abrik adat masyarakat yang dianggap suci. Kendati upaya mereka itu belum berhasil, iman mereka realistis. Mereka tidak mengalami ilusi tentang semacam musim semi yang menyenangkan sedang tiba; mereka sungguh sadar bahwa iman mereka akan menuntut pengorbanan besar. Serentak dengan itu, sekalipun mereka yakin akan nasib mereka, mereka juga yakin bahwa Tuhan akan menang pada suatu hari. Ketika kemudian datang penganiayaan dengan siksaan dan tiang gantungan, parang dan pedang, mereka berjuang terus pantang menyerah. Bagi kita yang hidup dalam zaman di mana upaya kita demi perdamaian menuntut sedikit pengorbanan 114 Kelompok radikal dalam Protestantisme Swiss, Jerman, Belanda pada abad ke 16
    • 230 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? saja, kaum Anabaptis banyak mengajar kita. Seperti mereka, kita perlu menyadari bahwa yang penting bukanlah efektivitas atau keberhasilan kita, namun apakah kita melaksanakan tugas-tugas dengan sikap iman. Beberapa tahun sebelum meninggal, ayahku berkata tentang ini: Ada kebutuhan yang tiada akhirnya di bumi, jadi lebih banyak daripada yang kita tahu. Sebagian darinya adalah kebutuhan ekonomis, sebagian darinya kebutuhan sosial, namun yang lebih dalam lagi adalah kebutuhan rohani yang justru tersembul dalam kehidupan manusia karena adanya daya-daya kegelapan serta ketidakadilan, pembunuhan dan ketidaksetiaan, sebagian dari kita yakin bahwa melalui tindakan politik dan sosial dapat terjadi perubahan radikal dalam masyarakat kita - perubahan yang akan menjawab semua kebutuhan kita. Namun telah kita saksikan berulang kali negara selalu terbelit dalam jaringan-jaringan ketidakjujuran dalam dirinya sendiri; kekuasaan uang, keserakahan dan ketidaksetiaan ada di mana-mana. Kita tahu bahwa tak mungkin kita mengubah dunia dengan kekuatan kita sendiri. Namun Kristus mampu mengubahnya, dan kita dengan sukarela ingin menyerahkan diri kita kepada-Nya. Ia menuntut seluruh pribadi kita dan seluruh hidup kita. Ia datang untuk menyelamatkan dunia. Dan kita percaya bahwa Dia bukan pemimpin insani, yang akan memerintah bumi. Bagi Dialah kita hidup, dan bagi Dialah kita bersedia mati. Itulah yang diminta dari kita semua. Yesus tidak mengharap kesempurnaan, namun ia mengharapkan kita mengabdi kepada-Nya sepenuh hati. Untuk mengabdi Kristus sedemikian, tidak berarti hidup kita lalu awut-awutan. Jika kita memandang dunia dengan kacamata idealistis, kedamaian yang kita cari niscaya merupakan damai yang sempurna, tak
    • Berbagai Batu Pijakan 231 terbagi dan sangat jauh. Jika kita realistis, kita akan lebih bersedia menerima fakta bahwa damai yang dapat kita nikmati di dunia ini mempunyai kerterbatasan, sehingga kita akan lebih obyektif dalam mengolah prioritas-prioritas kita. Ambillah doa sebagai contoh. Salah satu titik rabun pada umumnya adalah gagasan bahwa kita akan dapat mencapai lebih banyak dengan “mengerjakan” sesuatu. Sesungguhnya buah dari doa, saat teduh, kontemplasi adalah hasil perjuangan “aktif” yang paling heroik. Dalam bukunya (“Berbahagialah yang lembut hati”) Blessed Are The Meek, Uskup Afrika Selatan Desmond Tutu mengingatkan kita bahwa ketika kita memperjuangkan damai, kita tak boleh melupakan bahwa doa-doa yang tersembuyi yang dilantunkan para birarawati, para pertapa, para orang tua pria maupun wanita, orang-orang sakit “juga membentuk bagian penting dari perjuangan kita,” yang sama berharganya dengan kegiatan yang lebih tampak, yang dilaksanakan di garis depan oleh kaum muda dan yang secara fisik kuat. Benedict Groeschel, teman dekatku menempuh suatu kehidupan yang sangat sibuk dengan doa dan tindakan, melayani kaum miskin dan gelandangan di Bronx, bicara melawan aborsi dan memimpin sebuah wisma kecil para rahib Fransiskan. Seorang cendekiawan dan imam, Pastor Benedict mengucapkan kaul kebiaraan ketika usianya tujuh belas tahun. Kini usianya enam-puluhan tahun, namun pandangannya tentang hidup tetap membumi. Dan walaupun ia bekerja keras, ia tak pernah tampak habis karena kelelahan. Dia sangat realistis dalam tujuan-tujuannya, dan nyaman dengan keterbatasan-keterbatasannya. Dalam suatu pembicaraan baru-baru ini ia berkata:
    • 232 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Kukira damai berasal dari iman, harapan dan kasih. Namun damai bukan sekadar perasaan. Damai membantu kita melanjutkan perjuangan hidup. Ingat, aku dari Jersey City dan akhir cahaya di terowongan Jersey City adalah Hoboken. Kami bukan orang yang optimis. Kami bukan orang yang menjalani hidup dan berpikir bahwa segalanya indah. Yang kami tahu, ada lembah air mata. Maka kami tidak terlalu berharap akan dunia ini. Dan konsekuensinya, hal-hal yang menggangu orang lain tidak begitu menganggu bagi kami. Aku selalu mendapat banyak penghiburan dari Kitab Ayub. Aku sangat menyukai ayat yang indah ini: “Di manakah engkau ketika aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau punya pengertian.... Dapatkah engkau memberkas ikatan bintang Kartika dan membuka belenggu bintang Belantik? Dapatkah engkau ... memimpin bintang Biduk dan pengiring- pengiringnya? Apakah engkau mengetahui hukum- hukum langit? Atau menetapkan pemerintahannya di atas bumi? Katakankah kepadaku!”115 Ada humor tertentu dalam buku Ayub ini. Kamu tahu bagaimana segalanya serba salah? Segalanya? Seperti ini: “Bagaimana keadaanmu?” “Hari yang terburuk dalam hidupku.” “Bagaimana segala sesuatu berjalan?” “Semuanya serba salah. Segalanya! Tidak ada yang tidak keliru.” Kita mendapatkan humor seperti ini pada Santo Paulus juga: “Demi cinta Kristus aku mati sepanjang hari.” Nuansanya sangat Yahudi. Jika dia orang Inggris sejati, niscaya ia akan berkata: “Yah, itu agak tidak menyenangkan, Anda tahu; agak tidak menyenangkan. Cukup banyak sulitnya, Anda tahu.” 115 Ayb 38:4.31-32-33
    • Berbagai Batu Pijakan 233 Aku punya teman-teman Yahudi. Mereka berkata kepadaku, “Kamu datang ke sini setiap hari dan tak pernah menanyakan keadaanku.” “Maafkan aku,” kataku. “Bagaimana kabarmu?” “Jangan tanya!” Pastor Benedict dipenjarakan lebih dari sekali karena kegiatan pro-life115 dan ketika tentang itu kutanyakan kepadanya, ia berkata: “Yah pertama kali aku dipenjara menyenangkan juga, karena aku di sana hanya setengah hari. Aku berdoa, melakukan meditasi, makan. Menyenangkan. Yang berikutnya mengerikan. Aku selalu berusaha berbaik-baik pada para petugas penjara; jika ada orang yang menyulitkan mereka, aku bilang: ‘Jangan begitu. Mereka bekerja hanya cari makan” Tetapi lalu kulihat betapa buruk mereka memperlakukan para narapidana. Untuk alasan tertentu, seorang lelaki yang kelihatannya terhormat yang menjadi sipir penjara ternyata memperlakukan setiap orang seperti binatang.... Mengerikan. Aku ditelanjangi tiga kali untuk diperiksa dalam dua puluh empat jam. Yang benar-benar baik hanyalah dokter dan para narapidana. Para narapidana itu sangat baik. Mereka tidak tahu aku seorang pastor, tetapi mereka menyebutku Pop. Ketika menjelang dikeluarkan, mereka memberikan pakaianku, dan aku ditempatkan di ruang besar bersama narapidana lainnya yang juga sudah habis masa hukumannya. Anda tak akan percaya bagaimana rusaknya bahasa mereka di sana. Tapi mereka tidak bermaksud kurang hormat. Mereka hanya tak tahu bahwa itu bahasa yang keliru. Ketika mereka melihat aku memakai jubah, mereka bertanya “Kenapa Anda di sini, Bapa?” Aku bilang aku di 116 Membela hidup, anti aborsi
    • 234 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? sini karena melempari suatu klinik aborsi, dan mereka semua marah. Tapi ada seorang tua kulit hitam, yang lalu berdiri dan menenangkan para narapidana itu. “Tidak, memang harus begitu. Dia harus berada di penjara.” “Tutup mulut. Duduklah!” “Tapi benar begitu, kok.” “Kok bisa?” “Karena Yesus berkata dalam Injil. ‘Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran.’” Yah, wajahku serasa tertampar supaya aku berhenti merasa kasihan pada diri sendiri. Karena Sabda Allah itu di sini justru diucapkan dengan tepat oleh seorang narapidana. Pastor Benedict lalu bicara tentang penyaliban Kristus, dan pentingnya hal itu terutama bagi mereka yang menghendaki damai, tetapi tidak mau berusaha menerimanya. Mereka tidak realistis, katanya. Mereka seperti orang yang ingin memperoleh gaji tanpa mau bekerja, mau memperoleh kemenangan tanpa perjuangan. Dengan mengutip secara bebas Kardinal Newman ia melanjutkan: Penyaliban Kristus menempatkan nilai dan makna segala sesuatu di dunia, yang baik, yang buruk, kaya, miskin, derita, suka cita, sedih, sakit, semuanya, bergabung ada di salib itu. Tentu, sesudah penyaliban itu ada kebangkitan. Namun jika ada yang bicara tentang kebangkitan tanpa penyaliban.... Itu palsu. Ada banyak orang yang lebih suka melewatkan bagian penyaliban dan langsung sampai pada kebangkitan, itu tidak bisa. Mereka harus berputar dulu dan mengalami bagian penyaliban.
    • Berbagai Batu Pijakan 235 Pelayanan Inilah kegembiraan hidup yang sebenarnya: berguna untuk suatu tujuan yang luhur, mulai menjadi daya kekuatan, bukan setitik kecil yang serba sakit, gemetaran dan keluhan, yang terus menggerutu karena dunia tidak mau membuat Anda bahagia. Aku adalah orang yang berpendapat bahwa hidupku milik orang lain, dan sepanjang hayatku adalah hak pribadiku untuk melakukan apa yang bisa kulakukan. Aku ingin berguna habis-habisan sampai saat matiku, sebab semakin keras aku bekerja, makin bermakna hidupku.... Hidup bukanlah sebatang lilin kecil bagiku. Namun semacam obor besar yang kupegang suatu masa, dan aku ingin agar hidupku seperti obor yang besar cahayanya sebelum kuserahkan kepada generasi mendatang. George Bernard Shaw D i antara semua akar dari situasi tidak-damai, yang paling umum dan luas sebarannya boleh jadi adalah sikap mementingkan diri sendiri, entah dalam diri kita sendiri, entah dalam hubungan dengan orang lain, atau dalam dunia. Dan akar itu adalah yang paling sulit dicabut. Masalah-masalah seperti kecongkakan, curiga, marah atau kecewa dapat langsung diurus karena tampak jelas; biasanya kita dapat mengambil langkah tertentu untuk mengetahui sebab-musababnya dan berusaha mengatasinya. Namun sikap mementingkan diri tidak jelas batasannya, tidak tampak namun begitu kuat kuasa dan begitu dalam letaknya sehingga membentuk penampilan luar dari seluruh hidup kita.
    • 236 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Kadang-kadang sikap mementingkan diri itu mengambil bentuk sebagai dosa yang jelas seperti hawa nafsu atau kerakusan. Namun tidak jarang, seperti misalnya dalam upaya egosentris untuk mewujudkan kebahagian dan kekudusan pribadi, sikap itu mengambil suatu bentuk yang begitu “jinak” sehingga bahayanya tidak disadari. Namun, begitu sikap mementingkan diri itu dikenali adanya, obat yang sederhana dan umum untuknya adalah pelayanan pada orang lain. Pelayanan menurut mistikus abad ke-16 Santa Teresa dari Avilla, adalah tindakan perpanjangan tangan Allah satu bagi yang lain: “Tuhan tidak punya tangan, tidak punya kaki, tidak punya suara selain kita; melalui kitalah Tuhan bekerja.” Dibesarkan dalam suatu keluarga besar di desa di mana semunya bekerja keras, aku tak pernah mendengar orang bicara tentang pelayanan seperti itu, namun orang tuaku tentu memandang pelayanan dengan rujukan yang sama di masa lalu. Yang jelas kami diajar mengenal pentingnya pekerjaan. Sejak kecil aku ingat ayahku menekankan fakta bahwa Yesus adalah “hamba yang menderita,” yang menyamakan diri dengan kaum miskin dan tertindas; yang memilih keledai (bukan kuda) sebagai tunggangannya untuk masuk ke kota Yerusalem; yang menyambut anak kecil, mengunjungi orang tersisih, menyembuhkan orang sakit, berbicara dengan para pendosa, akhirnya, Ia membasuh kaki para murid-Nya; namun pelayanan-Nya tidak dikhotbahkan sebagai suatu keutamaan. Pelayanan hanya perlu dilaksanakan. Ketika satu-satunya pekerjaan yang didapat ayahku adalah menjadi tukang kebun di suatu lokasi penderita kusta, ayah tidak mencari keuntungan dari situ.
    • Berbagai Batu Pijakan 237 Walaupun di sana bisa saja dia tertular kusta dan karenanya bisa tinggal permanen di sana, namun kepada anak-anak ia tak pernah berkata begitu. Dia berkata bahwa ia merasa terhormat dapat melayani orang lain dengan rendah hati dan dengan suka cita. Tentang ibuku, ia selalu sibuk, membawakan warga yang tua atau ibu lain seikat bunga atau semangkuk masakan, ia terlambat makan karena menemani orang sakit; bangun pagi-pagi untuk menulis surat untuk seseorang yang kesepian, atau menyelesaikan rajutan untuk hadiah. Pada tahun-tahun selanjutnya aku terkesan pada pelayanan yang kulihat di tempat-tempat seperti Catholic Worker, di mana para sukarelawan membuatkan sup dan sandwich, menyapu lantai dan meluangkan banyak waktu untuk mendengarkan masalah para gelandangan dan orang-orang miskin, yang tidak selalu tahu terima kasih. Ruth Land, seorang anggota Bruderhof dan mantan dokter menyatakan pelayanan sederhana semacam itulah yang mendatangkan kepuasan pada dirinya: Anda bisa mencari damai ke mana-mana, tetapi Anda tak akan menemukannya. Mungkin juga Anda bisa melupakan diri sendiri dan melanjutkan pekerjaan apa saja yang Anda hadapi. Itulah yang mendatangkan damai - melakukan apa saja yang harus dilakukan di rumah, menunjukkan kasih kepada pasangan Anda, atau siapa yang Anda pikirkan. Jika hal itu Anda laksanakan demi Kerajaan Allah, pekerjaan itu mendatangkan damai. Suatu cerita yang dikisahkan ulang oleh Gandhi menyentuh kebenaran yang serupa: kebaikan kecil yang kita perhitungkan pada orang lain adalah sama martabatnya dengan prestasi-prestasi yang lebih mulia. Seorang wanita yang mengalami masalah datang menjumpai seorang guru
    • 238 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? dan berkata: “O Guru, ternyata saya tak dapat melayani Tuhan.” Guru itu bertanya “Apakah tidak ada sesuatu yang kamu cintai?” wanita itu menjawab, “Keponakan saya yang masih kecil.” Dan Guru itu berkata kepadanya, “Di situlah pelayananmu pada Tuhan, dalam cintamu kepada anak itu.” Kadang-kadang malahan pelayanan yang besar nilainya tidak diperhatikan. Dalam komunitasku, anggota yang tua bekerja beberapa jam sehari, melipat pakaian di tempat cuci, membereskan buku-buku di perpustakaan, atau membantu di bengkel kayu atau besi kami. Dalam hal apa pun pelayanan mereka sangat tak ternilai, bukan hanya sehubungan dengan apa yang mereka hasilkan. Pelayanan- pelayanan itu membuat mereka sejahtera dan damai, dan kegembiraan yang terpancar di mata mereka ketika membicarakan pekerjaan itu memperkaya kehidupan kami bersama dengan begitu indahnya. Joe Bush, yang berusia tujuh puluh tahun dan menderita penyakit Parkinson, dulunya adalah seorang tukang kebun yang andal. Kini kegiatannya terbatas pada suatu meja, duduk beberapa jam sehari di mana ia melakukan proyek terjemahan yang panjang, yang lamban majunya, susah payah mengetik dengan satu jari. Orang lain mungkin frustrasi bekerja seperti itu, tetapi Joe tidak. Pekerjaanku sungguh menyenangkan. Tentang itu aku ingin mengingatkan sesuatu yang terlintas dalam pikiranku. Di suatu gereja seorang pendeta terus- menerus menyebut penghargaan yang kita dapatkan dari kerja keras dan setia. Sepertinya ia yakin bahwa kita punya neraca pahala di surga. Aku tidak cocok sama sekali dengan gagasan itu. Sebab bagaimanapun, dalam neraca itu kita punya kekurangan besar, utang besar… lalu kita akan mati sebagai pendosa, sekalipun kita sudah berusaha keras menyesal
    • Berbagai Batu Pijakan 239 dan bertobat setiap hari untuk sekian lama, tapi aku tidak merisaukan hal itu. Aku punya tugas untuk kukerjakan, suatu pelayanan yang harus kulakukan, dan aku ingin terus melakukannya dan menyerahkannya selebihnya kepada Tuhan, menyerahkan diri kepada-Nya dan menunggu saat kedatangan Kerajaan-Nya dengan segala kemuliaanNya dan dunia baru yang diciptakanNya. Istri Joe, Audrey, juga mendapatkan kedamaian dengan melayani orang lain. Joe dan aku mungkin tinggal sebentar lagi dalam kehidupan yang fana ini, tetapi ada keabadian terbentang di depan kami, dan hal itu menimbulkan pemikiran yang sangat mengagumkan. Jika kita berkata: “Tidak terima kasih, aku bisa melakukanya,” kepada mereka yang peduli pada kami (setengah buta dan setengah lumpuh), adalah bukan karena kami tidak bersyukur. Masalahnya adalah hidup ini jadi lebih mengagumkan ketika kami dapat memanfaatkan diri kami sejauh mungkin. Lilin yang tinggi tidak segera padam walaupun tinggal dua senti saja; lilin itu terus menyala sampai tinggal tersisa seonggok kecil saja. Masih ada banyak hal yang bisa kami lakukan. Walaupun kami nanti tak lagi dapat melakukan sesuatu yang berguna sama sekali, kami masih bisa mendoakan orang lain yang melakukan pekerjaan itu. Dan kami merasa nyaman karena baris terakhir Soneta “On His Blindness” karya Milton, yang ditulisnya pada akhir hidupnya setelah ia buta: “Mereka juga melayani, walau hanya dengan berdiri dan menunggu.” Baik Joe maupun Audrey menyatakan bahwa pekerjaan mereka bermakna karena punya suatu tujuan. Pekerjaan itu bukan sekadar pekerjaan saja; dan jika tanpa tujuan, pekerjaan bukanlah pekerjaan, tanpa sesuatu maksud di dalamnya, pekerjaan tak ada artinya
    • 240 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? dan menyebabkan frustrasi dan putus asa belaka, sama seperti pengangguran atau situasi tanpa kegiatan yang dipaksakan. Menurut Victor Frankl, hidup pada umumnya ada kebenaran yang sama: Berulang kali aku melihat permohonan untuk hidup terus, untuk bertahan dalam situasi yang tidak baik, hanya terjadi jika kelangsungan hidup itu punya suatu makna dan makna itu haruslah sangat khas dan pribadi, suatu makna yang hanya dapat diwujudkan oleh orang itu sendiri dan memberinya kedamaian hati . Kita harus ingat selalu bahwa setiap orang adalah unik di dunia. Aku teringat dilema yang kualami di kamp konsentrasi, ketika berhadapan dengan seorang pria dan wanita yang hampir bunuh diri. Keduanya menyatakan bahwa mereka tidak mengharapkan apa-apa lagi dari hidup ini. Kenapa pertanyaannya tidak dibalik, apa yang diharapkan dari kita? Aku menyatakan kepada mereka bahwa hiduplah yang sedang menunggu sesuatu dari kita. Sesungguhnya, wanita itu ditunggu oleh anaknya di luar negeri, dan yang pria sedang mengerjakan serangkaian buku yang mulai ditulis dan sedang dicetak, namun belum selesai. Kepada yang pria kukatakan, seharusnya ia tidak bertanya tentang apa yang diharapkannya dari hidup ini, tetapi seharusnya ia tahu bahwa kehidupan mengharapkan sesuatu dari dirinya. Bisa juga dikatakan begini: pada akhirnya, orang tidak menanyakan “Apa artinya hidupku ini?” tetapi seharusnya sadar bahwa dirinyalah yang ditanyai. Hiduplah yang menyampaikan pertanyaan padanya, dan terserah kepadanya mau menjawab apa atas pertanyaan dari hidup itu secara bertanggungjawab; hanya dia sendirilah yang dapat memberi jawaban pada kehidupan ini dengan mengatakan jawabannya kepada hidupnya sendiri. Hidup adalah tugas. Kaum religius tampaknya berbeda dari mereka yang tidak religius hanya karena
    • Berbagai Batu Pijakan 241 mereka itu mengalami keberadaan bukan sekadar sebagai suatu tugas saja, tetapi sebagai misi. Ini berarti bahwa mereka juga menyadari keberadaan Tuan yang mempunyai Pekerjaan, sumber misi perutusan mereka. Selama ribuan tahun, sumber itu disebut Tuhan. Dipandang dengan cara ini, hidup menyediakan maksud yang indah bagi kita, yaitu agar sepenuh- penuhnya digunakan untuk melayani orang lain, sehingga kita siap sedia bertemu dengan Tuhan ketika kematian tiba. Aku sering berada di samping ranjang orang yang sedang menjelang kematian, dan jelas, sebagian meninggal dalam damai, sedang yang lain begitu tersiksa. Perbedaaan mereka itu terletak pada cara hidup mereka, apakah mereka melayani, ataukah mereka hidup minta dilayani? Pada akhirnya, satu-satunya yang berharga hanyalah hubungan dengan sesama dan dengan Tuhan. Hidup demi diri sendiri terus menarik kita agar memikirkan apa yang harus kita serahkan, sekalipun kita melakukan pengorbanan juga di sana sini. Akhirnya kita memandang segala sesuatu dari sudut bagaimana akibatnya pada diri kita sendiri. Cara hidup seperti itu menghasilkan sedikit kedamaian. Pelayanan kepada orang lain menghindarkan kita dari situasi seperti itu, karena hal itu mengingatkan kita terus-menerus akan tujuan untuk apa kita hidup, dan membantu kita melupakan diri sendiri. Pola itu juga memberikan suatu perspektif baru pada kita, perspektif yang memungkinkan kita melihat seberapa besar ukuran kehidupan kita terhadap yang lain di alam semesta ini. Pelayanan yang benar selalu merupakan tindakan yang menunjukkan cinta kepada orang lain. Hal ini mudah sekali dilupakan, juga dalam komunitas religius sekalipun, di mana pelayanan merupakan inti dari
    • 242 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? komitmen setiap warga. Setiap kali kita menganggap pekerjaan kita menjadi suatu tujuan sendiri, kita kehilangan pandangan akan kasih sayang yang memberikan pada pekerjaan itu maksud yang lebih dalam, sehingga berangsur-angsur pekerjaan itu menjadi tanpa jiwa, sekadar kegiatan mekanis saja. Dengan kasih, pekerjaan yang paling duniawi pun punya makna. Tanpa kasih, pekerjaan yang mulia menjadi remeh-temeh. Beberapa waku yang lalu aku mengunjungi Village des Pruniers (Plum Village), suatu komunitas Buddhis Thich Nhat Hanh di Perancis. Suatu hal yang sangat mengesankan adalah para penghuni di sana terus-menerus memupuk kesadaran akan pekerjaan sebagai pelayanan. Selalu ada banyak yang perlu dikerjakan di Plum Village, misalnya terkait dengan pendirian gedung- gedung, pemugaran rumah-rumah lama dan beberapa kebun anggur yang masih perlu dipertahankan. Namun bekerja demi kerja saja diragukan. Mereka tidak begitu saja menerima kebiasaan Barat yang menekankan apa yang harus diselesaikan selama hari itu, para penghuni Plum Village mengembangkan gagasan menghayati saat ini. “Ketika mereka berhadapan dengan setiap situasi, setiap tindakan, setiap pertemuan dengan orang lain, mereka menganggapnya sebagai peluang untuk menjadi “hidup secara lebih penuh (more fully alive)’.” Karl Rich, seorang penghuni di sana menjelaskan: Kiat bekerja dengan kesadaran penuh membantu kami merenungkan gagasan tentang menjadi efektif. Hal itu membantu kami mempertanyakan obsesi kami dengan berbagai tujuan dan gagasan, bahwa segala sesuatu harus dilaksanakan “seperti itu.” Kami lalu memandang secara baru gambaran yang kami miliki tentang diri kami, apakah baik atau tidak baik dalam tugas kerja tertentu,
    • Berbagai Batu Pijakan 243 dan membantu menyingkapkan kegembiraan, yang seharusnya menginspirasikan segala sesuatu yang kita lakukan, entah bekerja di ruang kaca untuk persemaian, entah memotong kayu, membersihkan toilet, menulis atau menjemur cucian. Sangat sering kita berkerja begitu saja, tanpa kesadaran penuh dan membiarkan kesibukan kita merusak keselarasan dan kebahagiaan kita. Sebuah bait dari buku nyanyian di situ menjelaskan lebih lanjut sikap itu dan menunjukkan prioritas, sejauh berkaitan dengan pelayanan. Aku berjanji menyampaikan kegembiraan kepada satu orang di pagi hari Dan meringankan kesedihan satu orang di sore hari. Aku berjanji hidup sederhana dan sehat, Mencukupkan diri dengan sedikit harta. Aku berjanji merawat diriku secara sehat . Aku berjanji melepaskan segala cemas gelisah Supaya hidupku ringan dan bebas. Orang-orang yang skeptis mungkin meremehkan pengertian kerja sebagai sesuatu yang sangat disadari, atau kesadaran diri yang luar biasa ini. Namun mereka, kita juga, harus ingat bahwa (lebih dari yang lain), pelayananlah yang memberikan tangan dan kaki kepada Injil. Pelayanan kasih adalah hakikat dari ajaran Yesus - Yesuslah yang berjanji bahwa jika kita mengikuti Dia, maka Dia akan memberikan kepada kita damai yang melampui segala akal. Kristus tidak menyelamatkan orang yang beseru kepadanya “Tuhan, Tuhan.” Tetapi Dia menyelamatkan orang yang dengan tulus memberikan roti kepada orang yang kelaparan, tanpa berpikir tentang Dia sedikit pun. Dan mereka ini, ketika Yesus memuji, menjawab : Tuhan,
    • 244 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? kapankah kami memberi Engkau makan? .... Seorang Ateis dan orang “kafir” yang sungguh dapat berbelas kasihan, adalah sama dekatnya dengan orang Kristiani kepada Tuhan, dan karenanya mereka mengenal Dia sama baiknya, sekalipun pengenalan mereka itu dinyatakan dengan kata-kata yang lain, atau tetap tak terucapkan. Sebab “Allah adalah kasih.” Simone Weil
    • 245 Bagian V Hidup yang Berkelimpahan “Kami memandang hidup dan tak dapat menguraikan gita abadi: Cincin dan Simpul suka dan duka dijalin dan saling kait semuanya.” Ramayana
    • 246 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Hidup yang Berkelimpahan K ita tak akan pernah mencapai situasi damai yang sempurna, atau mendapatkannya sekali untuk selamanya. Kita dapat meniti batu pijakan melintasi arus dengan hati-hati seperti yang kita kehendaki, namun sampai di sisi lain sana, kita masih diri kita sendiri yang tidak berubah. Pada saat yang sama, tidak diragukan lagi bahwa sekali kita mengalami damai, hati kita terbuka pada dimensi baru hidup ini. Dalam arti tertentu, dimensi baru itu lebih dari sekadar damai. Hidup baru itu keberadaan baru yang dijanjikan kepada kita dalam perkataan Yesus, “Aku datang supaya mereka memperoleh hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahannya.”117 Beberapa orang yang menjadi kontributor buku ini berkata kepadaku, justru ayat itulah yang paling menentukan ziarah perjalanan mereka. Mereka bilang, mencari damai sebagai suatu tujuan sendiri juga merupakan suatu tindakan yang terlalu tertuju pada diri sendiri: “Kini damai sudah kudapat. Lalu apa lagi?” Tentang “hidup yang berkelimpahan” mereka menganggap ungkapan itu paling tepat melukiskan apa yang sedang mereka cari, dan hal itu bukan bagi diri mereka sendiri – suatu kebebasan hidup dan kegembiraan, komitmen, kasih, keadilan dan kesatuan. Bukannya suatu hidup tanpa air mata dan penderitaan, namun suatu hidup 117 Yoh 10:10
    • Hidup yang Berkelimpahan 247 di mana semuanya itu mendapatkan tempatnya dengan latar belakang yang kuat dari Kerajaan Allah, di mana damai yang sempurna berada. Josef Ben-Eliezer seorang Eropa keturunan Yahudi yang bergabung dengan komunitas kami beberapa tahun yang lalu dalam rangka mencari kehidupan seperti itu, walaupun pada waktu itu ia seorang ateis, melukiskannya dengan cara lain: Yang menggerakkan pencarianku adalah kebencian dan pertumpahan darah yang kulihat di masa kecilku dan masa mudaku, khususnya selama Perang Dunia Kedua, ketika keluargaku lari dari Jerman ke Polandia, kemudian ke Siberia, dan akhirnya ke Israel. Aku rasa damai hanya dapat ditemukan dalam konteks jawaban kebutuhan universal dalam persaudaraan. Itulah yang mendorongku untuk mencarinya. Aku terlibat dalam gerakan pembebasan nasional di Israel dan konflik-konflik yang disebabkannya, lalu pergi meninggalkannya setelah aku mengalami bahwa setelah gerakan ini memperoleh kekuasaan, ia bersifat menindas. Kemudian aku mencari jawabannya dalam revolusi dunia. Aku mempelajari Marx, Lenin dan Trotsky, dan kemudian di Paris, aku melibatkan diri dalam berbagai gerakan sayap kiri. Namun suatu pertanyaan yang terus mengganggu dan makin lama makin terasa adalah: di manakah ada jaminannya bahwa jika suatu revolusi berjaya, mereka yang memperoleh kekuasaan tidak menindas rakyat mereka sendiri, seperti yang terjadi di Rusia atau di tempat lainnya? Ketika aku mengunjungi Bruderhof dan membaca tentang orang-orang Kristiani perdana yang mengilhami cara hidup komunitas itu, aku terkesan oleh sesuatu yang baru. Aku memandang gereja perdana sungguh-sungguh suatu gerakan revolusioner yang mewartakan suatu tantanan baru dan menghayatinya. Dan walaupun Yesus merupakan pusat hidupnya, namun bukanlah Yesus dari
    • 248 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? agama Kristiani konvensional, melainkan Yesus yang sejati, yang adalah Putra Allah historis, yang kuasa-Nya mengatasi pemisahan antar pribadi dan bangsa-bangsa.... Aku menemukan suatu persatuan hati yang kucari- cari selama bertahun-tahun. Aku yakin kesatuan itu dirindukan setiap orang. Namun, memang diperlukan pembaruan hati sebelum kesatuan itu diberikan. Itulah sebabnya Yesus menyerukan pertobatan untuk mengubah seluruh hidup kita. Aku telah mengalaminya dan terus mengalaminya. Namun Yesus tidak mengajar kita untuk mencari keadaan jiwa yang damai bagi diri sendiri. Ia berkata, “Carilah dulu Kerajaan Allah!”118 Dalam bukunya, Inner Land, kakekku membahas pencarian damai dengan cara yang serupa. Ia berkata, “Walaupun banyak orang berkata bahwa mereka akan mendapatkan damai dengan mengusahakan kebahagiaan sendiri, hal itu adalah gagasan yang keliru.” Damai tidaklah sama dengan pemulihan emosi, tulisnya, damai juga lebih dari sekadar perasaan pribadi. “Adalah dorongan yang lain sama sekali yang menempatkan diriku di jalan pemuridan; yaitu panggilan untuk mewartakan kehendak Allah dalam mengikuti Kristus. Panggilan yang berasal dari tempat kerajaan-Nya di masa depan, yang menaruh keadilan dan hormat melebihi kenyamanan perorangan....” Damai sejati, lanjutnya, haruslah lebih dari kepuasan jiwa. Yang jelas, kebersamaan dengan Kristus dan dengan sesama menuntut agar setiap orang dapat berdamai dengan dirinya sendiri. Namun tidak hanya berhenti di situ. Karena damai itu juga berarti bebas dari pemisahan, justru karena merupakan “buah dari kehendak ilahi akan kesatuan, dan dari situ segala situasi dan hubungan, segala sesuatu dan tindakan dituangkan dan cahaya dari Kerajaan Allah.” 118 Mat 6:33
    • Hidup yang Berkelimpahan 249 Jane Clement, seorang wanita penulis yang sudah lama menjadi anggota komunitas kami menyatakan bahwa sebelumnya bertahun-tahun ia mengupayakan kedamaian hati. Namun justru setelah melupakan pencariannya dan menempatkan hidupnya dalam sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri, barulah dia mendapatkan damai itu. Dalam proses yang terus-menerus untuk lepas dari diri sendirilah kita menjadi makin lebih mengandalkan Tuhan. Kita mengupayakan perkembangan Kerajaan, bukan demi diri kita sendiri. Tujuan kita bukanlah dispilin diri melainkan berfungsinya komunitas di sekeliling kita secara harmonis.... Bagiku adalah sesuatu yang hebat dapat menjadikan diriku bebas dan tidak dianggap penting, karena dengan hal itu kudapatkan ketenangan dan keselarasan jiwa yang dulunya kucari-cari melalui pemeriksaan diri dan kepekaan diri yang berebihan. Sedikit dari antara kita mengalami pembebasan seperti itu. Kita menyerah pada perpecahan dan situasi tidak – damai. “Seperti itulah biasanya,” dan kita melupakan khazanah yang disediakan Tuhan bagi kita. Hanya jarang-jarang saja kita dapat mengerling pada kebesaran-Nya. Pada umumnya karena kesibukan dari hari ke hari dan karena kebodohan dan kekerasan hati kita sendiri, kita dihalangi untuk melihat lebih jauh dari ujung hidung kita sendiri. Jika pun kita mengupayakan damai, kita cenderung mengejarnya untuk diri kita sendiri. Ketika menulis tentang mencari damai untuk diri sendiri, Thomas Merton menyarankan agar upaya itu disertai oleh apa yang disebutnya keterbukaan kasih. Ketika aku datang di biara tempatku berada, aku memberontak terhadap kekacauan dari suatu kehidupan
    • 250 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? yang tiada artinya, yang di dalamnya ada begitu banyak kegiatan, begitu banyak simulasi di permukaannya saja dan tidak perlu, yang menyebabkan aku lupa siapa aku. Namun faktanya tetap saja bahwa pelarianku dari dunia bukanlah karena kesalahan Anda yang tetap di dunia, dan aku tidak berhak melawan dunia dengan cara yang negatif semata, karena jika hal itu kulakukan, pelarianku itu tidak akan mengantar aku pada kebenaran dan kepada Tuhan, melainkan pada suatu ilusi yang bersifat pribadi walaupun saleh.... Kehidupan kontemplatif memang mencari damai, tetapi bukan dalam suatu keasingan yang abstrak dari semua realitas di luar, bukan dengan menutup indra secara kosong dan menyangkal dunia, namun dalam keterbukaan kasih. Mary Wiser, seorang anggota komunitas kami, mulai mencari makna hidup ketika ia masih anak-anak. Ia segera mendapatkan bahwa upayanya itu menyangkut lebih dari sekadar kedamaian jiwa dan pencapaian kebahagiaan pribadi. Ada benang yang menghubungkan seluruh hidupku yang membuatku selalu mencari Kerajaan Allah. Sejak masa kanak-kanakku aku mencintai bumi ini, dan aku selalu terikat erat dengan apa pun yang kucintai, namun aku tak teringat tepatnya kapan suatu saat ketika aku lalu tahu ada negeri lain yang lebih cerah, lebih semarak dan lebih hidup daripada bumi ini, dan aku adalah warganya. Dari kecil aku sudah mengenal kata-kata Yesus, “Carilah dulu kerajaan Surga”119 dan “Barang siapa tidak membenci ayah dan ibunya....” 120 Aku merasa bahwa Yesus memanggilku. Tetapi aku juga sangat sadar akan 119 opcit 120 Luk 14:26
    • Hidup yang Berkelimpahan 251 keyakinan orang tuaku bahwa bentuk kasih dan kebahagiaan yang tertinggi adalah hidup demi keluarga. Aku memerhatikan orang-orang usia paruh baya yang mengantuk di gereja menyanyi : “Iman dari para bapa kami ... dapatkah kami seperti mereka mati untuk Tuhan?” Apakah mereka tahu apa yang mereka nyanyikan? Aku bergabung di gereja ketika umurku dua- belas tahun, dan heran serta bingung karena tampaknya orang tidak begitu menganggapnya penting. Acara-acara pertemuan Free Methodist menarik hatiku namun sekaligus membuatku tak suka. Dan perang? Aku dilahirkan pada 1918 persis ketika Perang Dunia Pertama berakhir, di suatu sudut pedesaan yang tampaknya aman di New York. Namun dari kenangan awalku dari mendengarkan para veteran, aku tahu pengalaman mereka di Perancis. Suatu hari seorang teman mainku dan aku mendapatkan di kamar neneknya serangkaian foto pertempuran di lubang pertahanan. Aku tak percaya: orang yang biasa kukenal sehari-hari membunuh orang lain! Sekolah Minggu Metodis kami melakukan serangkaian acara yang bertema damai, dan aku mengikutinya dengan suka cita. Di sekolah menengah aku melakukan penelitian tentang sebab-sebab perang. Tak ada orang lain yang berminat. Ayahku menginginkan aku menempuh arah hidup yang lazim: Perguruan Tinggi yang baik, pekerjaan yang aman, lalu hidup mapan. Tetapi pada akhir sekolah menengah pikiranku mengembara jauh dari lingkungan kota kecilku, suatu milieu Republikan: aku begitu haus akan hidup. “Aku datang supaya mereka memperoleh hidup, dan melukiskan dengan segala kelimpahannya.”121 Kata-kata itu bergema di hatiku. 121 Yoh 10:10
    • 252 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Mary menerima bea siswa dari Universitas Cornell dan menemukan cakrawala dunia yang luas dan dipengaruhi oleh perikemanusiaan sekular, politik yang progresif, dan kehidupan seksual yang liberal. Dia juga menemukan sekelompok teman di kampus yang punya minat yang sama dalam hal rasisme dan perang. Kami sungguh-sungguh radikal pada waktu dan masa itu. Perang Saudara sedang berlangsung di Spanyol, dan Hitler baru saja mengembang-luaskan otot-ototnya. Kami harus berpikir dengan semangat cinta damai – kelompok kami menyusut lebih kecil lagi. Selama semester pertama tahun terakhirku kami mengalami periode depresi ekonomi untuk yang pertama kali dalam hidupku. Aku diwisuda namun dasar kepercayaanku kepada Yesus melemah, dan walaupun aku masih berpegang pada ajaran Injil sosial-Nya, aku kehilangan damai yang kupunyai di masa kecil. Aku tidak dapat memperolehnya kembali. Setelah mengajar di Sekolah Menengah di dekat Ithaca, Mary bertemu Art, seorang pecinta damai yang gigih dan aktivis antiperang. Mary menikah dengan Art, “walaupun aku tidak pernah mendengar penolakan yang penuh kesadaran selain di Perguruan Tinggi.” Sesudah mereka menikah, Mary terkejut mendapatkan Art ternyata tidak percaya kepada Tuhan, tetapi Mary percaya pada kebulatan sikapnya yang merujuk kepada Khotbah di Bukit. Tahun-tahun selanjutnya, 1941-1945, mencobai kami, sebagaimana dialami oleh seluruh generasi kami. Di dalam “perang hebat yang terakhir itu” ada banyak penghinaan terhadap perwira tentara seperti suamiku, yang menolak membantu untuk menghentikan Hitler. Kami menderita bersama teman-teman yang menolak perang juga dan penderitaan yang mengerikan dari
    • Hidup yang Berkelimpahan 253 jutaan orang yang negaranya dilanda perang di seberang sana, selalu kami sadari. Gereja kami memasang bendera Amerika di atas gentengnya dan aku tak pernah masuk ke dalamnya lagi. Seperti kebanyakan penentang perang lainnya, Art ditahan selama perang. Art dikirim ke kamp Pelayanan Publik Sipil di North Dakota. Mary pindah mendekati Art dan mendapat pekerjaan dengan mengajar di suatu sekolah satu kelas. Sentimen anti Jerman begitu kuat dan para pecinta damai tidak disukai. Pada suatu malam para orang tua murid yang kudidik menggerombol melawan aku di sekolah, tempatku tinggal dan mengajar. Untungnya mereka segera ditenangkan dan menyimpulkan bahwa suamiku yang “pengecut” di kamp PPS di dekat situlah yang bertanggungjawab.... Menjelang akhir perang Art merasa bahwa ia harus memprotes seluruh mesin perang – ia tidak ingin lagi menjadi bagian darinya dan keluar dari kamp. Ia segera ditangkap dan dipenjara selama beberapa bulan. Kami berbagi tahun-tahun itu dengan beberapa pasangan lain yang mencari cara hidup yang lebih sederhana, suatu cara hidup yang menghilangkan sebab- sebab dari perang. Kami memutuskan untuk mempelajari komunitas, kemudian kami tinggal bersama sekelompok orang yang sama di suatu komunitas di Georgia Utara. Namun ketika kami hidup bersama, lalu jelas sekali bahwa kami terlalu dangkal dalam melawan kejahatan, karena kepercayaan kami dan gagasaan kami berbeda- beda. Saatnya untuk berubah. Art dan aku mengalami banyak “Semangat Kerajaan” pada diri teman-teman dan dalam beracam- macam kalangan yang terhormat, Kristiani, maupun bukan Kristiani, dan mengalami banyak kebaikan pada orang-orang yang “baik”. Namun kami begitu silau
    • 254 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? dibutakan oleh Raja Kerajaan, satu-satunya kekuatan yang dapat mengatasi yang jahat dalam masyarakat, yang juga terdapat dalam setiap orang. Akhirnya aku sadar bahwa aku selalu membayangkan Yesus. Aku tak pernah berhenti bertanya siapa Dia. Begitu aku melakukan hal itu, dengan cepat kudapatkan lagi kepercayaanku. Kemudian aku menceritakan pegalamanku kepada Heinrich, seorang teman dekat. Aku tak pernah mendapatkan jawabannya: “Sama saja dengan apa yang kualami, hanya aku juga telah diadili.” Aku terkesan pada kerendahan hatinya. Dan selanjutnya aku tahu bahwa aku perlu, dan merasa rindu, untuk memperoleh keadilan juga. Mengenang kembali masa itu, Mary melihat pentingnya sesal-pertobatan. Aku sekarang melihat bahwa ternyata diriku sendiri melawan Kerajaan dengan citra-diriku yang baik dan ambisi agar aku digunakan oleh Tuhan. Aku telah menerima segala kebaikan yang berasal dari Tuhan untukku, namun tidak mau menunjukkan hatiku yang bergolak. Cahaya tentu menerobos masuk ke celah hatiku sebelum menyentuh keburukan itu, yang malunya, perlu waktu lama untuk itu. Namun dengan pertolongan saudara-saudara, pria dan wanita, aku bergumul hingga lahir dan batinku bersatu, lalu aku mendapatkan kebebasan yang indah. Aku berpendapat bahwa nilai-nilai yang kupegang sejak masa muda sudah berubah secara radikal, tetapi telah diperdalam, dari idealisme persaudaraan insani menjadi hidup nyata yang dihayati, dengan Doa Yesus: “Supaya mereka menjadi satu, ya Bapa, sama seperti kita adalah satu”122 menjadi jangkar dan kebahagiaanku. Doa berangsur-angsur menjadi suatu keajaiban bagiku, dan kini aku menganggapnya sebagai suatu tannggug jawab, setelah aku tak dapat aktif lagi. 122 Yon 17:32
    • Hidup yang Berkelimpahan 255 Ya, aku tahu damai yang diberikan Yesus. Tetapi damai itu bukan ketenangan belaka. Tetapi ada masa penuh pergumulan. Bagiku, damai adalah pergulatan Roh Kudus untuk menaklukkan seluruh bumi, termasuk ranah batin yang tak kelihatan, bersenjatakan kasih, untuk diserahkan kepada Tuhan. Untuk mengalami kedamaian dan menghargai sebagai mutiara yang paling berharga itulah hidup mendapatkan maknanya. Ketika aku menyadari bahwa pertarungan demi Kerajaan Allah itu berlangsung di seluruh semesta, aku kagum, terutama oleh kedatangan Allah Putra, Yesus ke dunia, dan kesetiaan-Nya menyertai kita melalui perjuangan kecil kita. Aku percaya bahwa kisah hidup perorangan kami juga merupakan bagian dari pertarungan itu pula, karena merupakan karya Allah. Dan aku dengan gentar memandang keabadian sebagai kelanjutan dari kisah Allah yang indah ini. Aku yakin kasih itu akan terus bergulir. Pemikiran Mary membawa kita jauh melampui pencarian kedamaian hati kembali pada paradoks kebenaran, bahwa hanya dia yang kehilangan nyawanya yang mendapatkannya. Mereka yang menyerahkan hidup sepenuhnya demi Kerajaan Allah sedemikian rupa sehingga upaya mereka mencari kesempurnaan pribadi jadi tidak penting lagi, dan mereka akan mendapatkannya seratus kali lipat. Hidup kita tidak dipersempit, malahan diperluas; tidak terbatas namun melampaui-batas; tak lagi diatur, namun lebih meluap; tak lagi sekadar pameran belaka, tetapi diberikan dengan murah hati; bukan hanya sehat, tetapi penuh semangat; tidak lagi kecil hati, tapi berani; tidak kosong lagi dan sekadar insani, tetapi dipenuhi Allah; tidak sedih, tapi gembira; tidak tanpa daya, tapi kreatif. Semua ini adalah karena Yesus dan semangatNya yang bebas dan damai. Ia sedang datang kepada kita; “Marilah kita menjelang masa depanNya yang gemilang dengan gembira.” Eberhard Arnold
    • 256 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Jaminan Keselamatan Aku tidak percaya bahwa Tuhan menghendaki kita berpura-pura tidak merasa takut, menyangkal rasa takut, atau menelannya begitu saja. Rasa takut mengingatkan bahwa kita ini makhluk ciptaan yang lemah, rentan, sepenuhnya bergantung pada Tuhan. Namun rasa takut tak boleh mendominasi diri kita hingga mengendalikan dan mengungkung diri kita, namun, rasa takut itu harus tunduk pada iman dan kasih, jika tidak rasa takut itu bisa membuat kita tidak percaya, diperbudak dan tidak manusiawi lagi. Aku menyadari bahwa perjuangan meliputi rasa takut namun aku menolak arahannya, menganggapnya hanya sekadar melihat gejala luar saja, sedang iman dan kasih melihat esensinya, melihat realitas, melihat Allah, karena itu: “Jadilah berani. Jangan takut!” Philip Berrigan D ua kali dalam hidupku aku mendapat kehormatan bertemu Ibu Teresa dan dua kali aku mengagumi hal yang sama: keyakinannya. Ibu Teresa dikenal dalam sejarah pertama-tama dan terutama karena karyanya di Kalkuta mengurus orang yang sedang sakit keras tak terawat dan menjelang kematian. Itu tepat. Tapi siapa pun yang meluangkan waktu melayani kaum miskin tahu bahwa pekerjaan baik seperti itu saja tidak menghasilkan kepenuhan hidup. Sesungguhnya banyak orang yang menyerahkan diri dalam karya semacam ini malahan frustrasi dan lelah luar biasa. Ketenangan Ibu Teresa berakar lebih dalam daripada sekadar karyanya belaka: ada rasa aman dalam
    • Hidup yang Berkelimpahan 257 panggilannya itu, dan ada jaminan pula untuk tempatnya dalam kehidupan. Rasa aman itu banyak bentuknya: keyakinan, bebas dari rasa takut, tak ada rasa cemas dan ragu. Jaminan itu juga meliputi pengertian akan tujuan kita, akan jatidiri dan maksud keberadaan kita di dunia. Pada diri Ibu Teresa, cita rasa misi ini begitu kuat. Menggunakan suatu perumpamaan ia mengatakan bahwa dirinya hanyalah sebatang pensil di tangan Allah. Ini memberinya daya kekuatan, betapa pun ia dikritik dan dicela orang. Orang zaman ini kekurangan jatidiri yang kuat; Soren Kierkegaard123 menunjukkan satu setengah abad yang lalu, bahwa orang tidak berani bertahan berpegang pada pendapat yang berlawanan, dan lebih buruk lagi, tak berani punya pendapat. Apakah mengherankan jika hanya sedikit yang dapat menemukan damai? Bukan maksudku menganjurkan agar kita berusaha meniru semangat kerja yang hebat dan komitmen Ibu Teresa. Orang yang lain mempunyai panggilan yang berbeda, dan sering kali jalannya menuju damai lebih panjang dan berat, dengan belokan dan putaran yang tak terduga. Namun stabilitas batin timbul pada seseorang yang merasa yakin di hadapan Tuhan, dan janganlah hal ini diremehkan. Orang semacam ini mempunyai keamanan yang tidak dapat direbut oleh siapa pun, sebagai buah dari kedamaiannya. Freda Dyroff, seorang anggota Bruderhof, meninggalkan tanah airnya, Inggris, dan bergabung dengan komunitas kami di Jerman pada tahun 1930- an. Secara lahiriah hal itu agak mengherankan. Sebab dengan bergabung ia menerima kemiskinan ekstrem, belajar bahasa dan adat yang asing baginya, dan pindah 123 Filsuf dan teolog Denmark, 1813-1855.
    • 258 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? ke suatu negara yang hendak berperang melawan negara kelahirannya. Namun Freda yakin ia memilih jalan yang tepat: Secara material tidak ada yang menarik bagiku, namun yang pasti ada panggilan yang menimbulkan pertentangan namun menjanjikan damai. Komunitas memang begitu miskin, dan hidup di sana keras dan kasar. Tapi hal itu tidak menggentarkan diriku. Di situ pria dan wanita hidup selaras dalam dunia yang justru sedang terpecah-pecah. Mereka menghayati suatu solusi: menghapuskan perbedaan kelas dan ketidak- samaan sosial, dengan meninggalkan harta pribadi dan menghimpunnya jadi satu. Tak seorang pun memiliki sesuatu dan setiap orang berbagi dengan apa yang mereka punya. Dan hal itu bukan hanya suatu visi, sesuatu yang dibaca saja, misalnya dalam Kisah Para Rasul, tapi suatu kenyataan. Aku bergabung, dan dengan itu aku akhirnya merasakan damai dari Allah yang kucari-cari selama bertahun-tahun: mengajar, bekerja di tempat-tempat kumuh di London, dan lain-lain. Tentu saja aku harus melepaskan banyak hal untuk mendapatkan kedamaian itu: rumahku, rumah tanggaku, keluarga besar, dan teman-teman; negaraku, bahasaku; kenyamanan kehidupan borjuis dan sebagainya. Tak seorang pun memahami mengapa aku melakukan hal ini dan aku membuat heran, bahkan melukai hati hingga menimbulkan permusuhan bahkan kebencian dari orang-orang yang tadinya sangat dekat dengan diriku. Selanjutnya aku malahan masih harus menanggalkan banyak hal lagi; individualisme (namun bukan hati nuraniku), hasrat diriku dan pendapatku yang kuat. Sebaliknya aku mendapatkan kasih yang besar dan tak bersyarat, damai yang dikatakan Yesus, yang merupakan
    • Hidup yang Berkelimpahan 259 jaminan bahwa Allah akan memelihara diriku dalam segalanya, termasuk dalam kematian. Aku telah melewati peristiwa-peristiwa yang mengguncangkan – horor dari Perang Dunia Kedua, dan penyeberangan yang berbahaya ke Amerika Selatan ketika Perang Atlantik sedang memuncak, di mana aku melahirkan anak pertamaku. Ada situasi yang amat sangat berbahaya dan ketakutan kadang- kadang menggenggam hatiku. Namun di dasar segalanya aku selalu merasakan ketenangan batin yang aneh: Keyakinan kepada Tuhan. Siapa lagi yang aku percaya? Damai ini berasal dari pengetahuan bahwa sekalipun aku berada dalam bahaya, kehendak Allah sajalah yang akan terjadi dan kami semua berada di tangan-Nya. Semua situasi ini tidak terjadi “begitu saja”. Hidup bukan satu peristiwa kebetulan, dan damai tidak begitu saja jatuh ke pangkuan kita. Selalu ada perjuangan, dan selalu ada pilihan yang harus dibuat. Di masa mudaku, bertahun-tahun aku mencari damai. Aku mondar-mondir, bergantian mengabdi Tuhan dan Mammon, dan hal itu tidak membuatku tenang. Aku membayangkan semua orang muda mengalami pengalaman seperti kerinduan dan frustrasi, bahkan suatu kemelut yang luar biasa. Namun aku tahu hal yang sama: Carilah! Carilah sampai Anda temukan, dan jangan menyerah. Berdoalah juga, sekalipun Anda mengira diri Anda bukan orang beriman, karena Tuhan mendengarkan keluhan “mereka yang tidak percaya”. Tuhan akan menolong Anda. Jangan menyerah, dan lebih-lebih, hindarkan cobaan yang memisahkan Anda dari apa yang sudah lama Anda rindukan. Jika Anda jatuh, bangun dan berjalanlah lagi di jalan yang tepat. Seperti banyak hal lainnya dalam hidup ini, keamanan bukanlah sesuatu yang selalu seperti itu. Keamanan itu adalah buah dari damai, itu pasti, tetapi bukan berarti lalu tidak ada pergumulan dan ketakutan sama sekali.
    • 260 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Sebaliknya, dengan keyakinanlah pergumulan dan semua kekhawatiran bisa diatasi. Kakekku menulis: Dunia membuat kita resah. Dan situasi membuat kita tidak merasa tenteram. Tetapi damai Yesus yang melawan semua itu bukanlah sekadar rasa-hati. Damai Yesus lebih dari itu, lebih dari kepuasan atau rasa nyaman. Dunia juga memberikan “damai” ketenangan dan penerimaan, sejauh digunakan untuk mencari tujuan yang lebih mulia. Namun di situ tidak ada kesadaran akan tujuannya yang paling mendasar. Yaitu hidup yang sejati dalam Tuhan. Kesadaran ini dengan teguh dibangun dari kepastian bahwa sang Penyelamat yang disalib sajalah yang menjadi sumber dan pemelihara damai kita. Karena dia telah mengalahkan dosa yang menyebabkan situasi tidak-damai. Damai terus-menerus baru dan segar, seperti sungai yang terus-menerus mengalir ke depan dengan air yang baru dan tak pernah terhenti atau kering. Pengalaman akan Kristus dalam diri kitalah yang terus bertahan, yang ingin tinggal dalam diri kita, agar kita juga tinggal di dalam Dia. Perasaan dan keadaan hati berganti-ganti. Namun hasil-hasil dari kasih terus mendorong kita agar terus berpegang kepada tangan Kristus yang membimbing. Berangsur-angsur karakter kita diteguhkan dari dalam, dan sekalipun perubahan dalam sistem perasaan kita seperti cuaca buruk yang bisa sangat menekan, namun hanya sedikit saja memengaruhi hidup rohani kita. Ketika angin kencang meniup permukaan arus sungai, permukaan itu bergolak, dan timbul gelombang, seolah-olah arus didorong agar kembali menuju hulu lagi. Namun arus air tidak akan berganti. Dan dalam kedalaman dasar sungai, arus bawah terus mengalir tak peduli bagaimanapun kuatnya angin bertiup melawan permukaannya. Jadi biarlah orang memperlakukan kita
    • Hidup yang Berkelimpahan 261 sesuka hati mereka. Jika damai meliputi jiwa kita, arah kita tetap dijamin mantap, dan tak ada sesuatu pun yang menggoyahkan kita. Dalam bukuku I Tell You A Mistery, aku membahas sesuatu yang sepertinya mendatangkan tantangan besar pada keyakinan insani kita. Ketakutan universal akan kematian. Aku tak akan mengupasnya lagi di sini, dan hanya ingin mengatakan bahwa bahkan tantangan pada damai ini pun dapat diatasi oleh jaminan yang berasal dari iman dan melalui kasih, yang dikatakan oleh Yohanes Rasul melenyapkan ketakutan.124 Martin Luther King Jr. punya alasan tersendiri dalam hal takut akan kematian itu. Karena kharismanya yang begitu besar dan sikapnya yang begitu vokal, ia mempertaruhkan hidupnya berulang kali demi persamaan ras. Seperti yang kita tahu, pada akhirnya ia terbunuh. Seperti orang lain juga, King tentu takut mati, namun dalam beberapa kesempatan perjumpaanku dengan dia, ketika mendengarkan dia bicara, ia memancarkan ketenangan dan damai yang mendalam. Tak diragukan bahwa dia begitu teguh berpegang pada misinya, dan tidak ada rasa takut yang membuatnya lumpuh dalam melaksanakan misinya. “Tidak ada kebebasan pada orang yang takut mati,” katanya pada peserta demonstrasi hak-hak sipil di tahun 1963. “Begitu kalian mengalahkan rasa takut mati, seketika itu juga Anda merasa bebas.” Teman-temanya mendesak agar dia mengurangi risiko, tetapi dia mengabaikannya. “Aku tak bisa mengkhawatirkan keselamatanku,” katanya. “Aku tak boleh hidup dalam ketakutan yang telah kukalahkan, itulah rasa takut akan kematian.... Jika orang belum menemukan tujuan utuk apa ia akan mati, ia tidak pantas untuk hidup.” 124 1 Yoh 4:18
    • 262 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Magdalena Boller, seorang anggota komunitasku yang kehilangan ibunya yang mati mendadak ketika umurnya belasan tahun, merasa bebas dari rasa takut dalam situasi yang sangat berbeda. Dalam mengenang pengalamannya itu, ia menyentuh sesuatu yang penting: damai yang suatu saat memenuhi hati dapat dilimpahkan kepada orang lain. Dalam hidupku, damai datang dengan cara yang aneh dan sangat indah, meluap dari ibuku pada waktu yang sangat mendesak. Saudara bungsuku, Felix, sakit keras ketika umurnya baru sembilan bulan, dan tiba-tiba mati. Kami tinggal di suatu daerah terpencil di Amerika Selatan, dan pertolongan medis yang tersedia terbatas dan sederhana. Pada waktu itu ibuku menulis dalam buku hariannya: Detak jantung Felix sangat lemah. Monika, perawat kami, memberikan suntikan kamfer, dan aku dapat merasakan detaknya lagi... lalu tiba-tiba matanya terbuka, terus melebar, begitu biru lazuardi.... Namun kemudian, cahayanya terus meredup. Hanya aku yang memerhatikannya. “Moni, dia akan mati!” aku menjerit. Kami mengatupkan tangan. Kata-kata doa kami begitu kuat memohon ke surga: “Tuhan, berilah dia hidup, jika Engkau menghendaki.” Ah, aku lebih tahu. Keputusan sudah dibuat. Felix diambil. “Yesus datanglah!” kata-kata itu terlompat dari hati kami. Ah, Yesus sungguh datang. Ia datang untuk mengambil sendiri anakku. Namun jantung Felix masih berdetak lemah. Ia disuntik lagi. Lalu diberi napas buatan. Akhirnya kami tahu semuanya telah berlalu. Biar aku menggendongnya. Monika memberikan Felix kepadaku. Anakku terbaring
    • Hidup yang Berkelimpahan 263 di pangkuanku, begitu lembut, begitu tenang, sedang jiwanya yang kecil pulang ke tempat abadi. Ataukah keabadian yang justru datang kepada kita? Di sampingku, Leo merasakannya juga. Sangat terasa damai di sekeliling kami dan di dalam kami. Tenteram, tenteram abadi. Anakku pulang ke tempat para malaikat dari mana ia dulu datang. Tenanglah. Jangan bicara sekarang. Anakku, dengan susah payah aku melahirkan kamu. Apakah yang memenuhi hatiku sekarang ini kegembiraan atau penderitaan, aku tak tahu. Yang kutahu hanyalah bahwa aku menyerahkan kembali anakku kepada Tuhan, yang telah memberikan dia kepadaku. Dan sekarang, pelan-pelan jasad anakku menjadi dingin di pangkuanku. Saat itu hari Minggu pagi. Sebagian dari kami, anak- anak, baru pulang dari jalan-jalan, dan seorang tetangga menggamit aku dan memberitahu bahwa adikku baru saja meninggal. Aku sedih sekali dan lari pontang-panting ke rumah. Ibuku ada di sana. Dia memandangku penuh cinta. Matanya basah. Ia merangkul aku: “Felix sudah pergi kepada Yesus,” katanya. Kedamaian dan kepasrahan ibu meliputi diriku. Sembilan tahun kemudian ibuku juga meninggal dengan tiba-tiba, dan kepergiannya sungguh membuatku menderita. Umurku baru tujuh belas tahun dan belum setahun aku meninggalkan rumah, dan pulang hanya untuk satu dua minggu saja. Mama adalah jantung keluarga kami, aku dan dia sangat dekat. Dan kini ia pergi, setelah aku kehilangan dia selama setahun yang lalu. Aku tak dapat begitu saja menerima berita tentang kepergiannya itu. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Dalam kepasrahanku, bayangan ibu yang matanya basah namun begitu damai wajahnya, terlintas lagi. Aku melihat dia di samping ranjang adikku bertahun-tahun
    • 264 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? yang lalu. Dan ketika aku mengenangkan ibu dalam dukacitanya sekali lagi damainya meliputi diriku, seolah- olah itulah hadiah perpisahan darinya. Damai yang dirasakan Magdalena mungkin sesuatu yang langka, namun ada. Dan Yesus menjanjikan hal yang sama pada tiap-tiap kita. “DamaiKu Kuberikan kepadamu.” Mungkin agak lain karena hanya sedikit dari kita yang bersedia menerimanya. Tolstoy menulis: Orang mempertanyakan mengapa aku hanya punya sedikit rasa takut dan mengira ada sesuatu yang mistik dalam pandanganku tentang hidup dan mati. Tidak ada hal seperti itu. Aku menyukai tamanku, aku suka membaca buku, aku suka membelai anak. Dengan kematian aku akan kehilangan semua itu, maka aku tak ingin mati, aku takut mati. Mungkin seluruh hidupku terdiri dari hasrat-hasrat yang fana seperti itu dan aku menghargainya, maka tak bisa tidak aku takut pada sesuatu yang akan mengakkiri semua itu. Namun, makin banyak kulepaskan berbagai hasrat dan keinginan, dan menggantikannya dengan satu hasrat yang lain, yaitu hasrat untuk melaksanakan kehendak Tuhan dan memberikan diriku kepadaNya, ketakutanku akan kematian lalu berkurang, dan makin kecillah pengaruh kematian itu pada diriku. Dan jika seluruh hasratku itu telah diubah, maka yang ada hanyalah hidup, bukan kematian. Menggantikan segala yang duniawi dan fana dengan yang abadi merupakan cara hidup, dan dengan itulah kita berziarah. Namun bagaimana mengenai keadaan jiwa seseorang, hanya orang itu sendirilah yang mengetahuinya.
    • Hidup yang Berkelimpahan 265 Kepenuhan Bagaimana tidak hilang jiwa kita, jika segala sesuatu dan setiap orang menarik kita ke arah yang berbeda- beda? Bagaimana kita “mempertahankan keutuhan” jika kita terus-menerus dikoyak-koyak? Yesus berkata, “Tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang, kalau kamu bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” (Luk 21:18-19). Kita hanya dapat bertahan di dunia bila kita percaya bahwa Tuhan mengenal kita lebih daripada kita sendiri mengenal diri kita. Kita hanya dapat hidup utuh sepenuhnya, jika kita percaya bahwa Tuhan memelihara kita sepenuhnya. Kita hanya dapat memperoleh hidup kita jika kita tetap setia pada kebenaran, bahwa setiap bagian dari diri kita sekalipun kecil seperti rambut, sepenuhnya aman dalam lindungan ilahi Tuhan kita. Dengan kata lain: jika kita menghayati hidup rohani, tak ada yang perlu kita takutkan. Henri J.M. Nouwen B agaimanapun uniknya setiap orang, ada benang yang menjalin segalanya menjadi satu dalam upaya menuju damai. Sedikit banyak, setiap orang berziarah menuju suatu keseluruhan kesatuan yang penuh. Ada orang yang berkata mencari kedamaian jiwa; yang lain kedamaian hati. Ada yang mencari persahabatan, yang lain mengusahakan keselarasan dunia. Di dasar segalanya, semua kerinduan ini digerakkan oleh percikan-percikan kecil dari hidup dan oleh hasrat- hasrat yang perlu diatasi. Charles Headland, seorang anggota Bruderhof yang baru- baru ini meninggal dalam usia delapan-puluhan, pernah
    • 266 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? bercerita padaku bahwa justru kompartementalisasi hidupnya itulah yang membuatnya mencari damai. Sebagai seorang akuntan pada suatu perusahaan besar, ia punya sekelompok teman; sebagai aktivis perdamaian ia punya kelompok teman yang lain lagi; sebagai anggota gereja, ia ada teman-teman lagi; dan akhirnya, kerabat dan handai tolan. Tidak ada yang mengaitkan pelbagai sektor itu, maka setiap hari Charles harus melakukan penyeimbangan terus dalam rangka memenuhi komitmennya pada keempat bidang itu. John Hinde, sesama gembala dalam komunitasku menyatakan bahwa ia tidak merasa nyaman dengan gaya hidupnya begitu menjadi aktivis cinta-damai tak lama menjelang Perang Dunia Kedua dulu. Sebagai anggota aktif dalam gerakan perdamaian pada malam hari dan pada akhir pekan, ia melaksanakan apa saja yang dapat mengungkapkan sikapnya melawan konflik bersenjata. Tetapi pada siang harinya ia bekerja sebagai pialang Asuransi Lloyd di London dan ia merasa memberikan kontribusi pada semacam pembagian kelas dalam masyarakat dan semacam konflik sosial yang menciptakan perang setiap hari. Hidup ini memang penuh dengan pembagian yang memisah-misahkan: antara rumah dengan pekerjaan; antara hidup pribadi dan hidup bermasyarakat; antara kegiatan kerja dan kegiatan waktu senggang; kegiatan politik, kegiatan profesional, dan kegiatan pribadi. Pada dirinya sendiri tak ada yang salah pada masing-masing kegiatan, atau komitmen dalam tiap-tiap bidang itu. Masalah mulai terasa ketika pembagian-pembagian itu menimbulkan kontradiksi dan konflik satu sama lain. Kemudian sikap yang berbeda-beda terhadap setiap bidang menimbulkan kompromi dalam satu pribadi, yang lalu berkembang menjadi kemunafikan, hipokrisi.
    • Hidup yang Berkelimpahan 267 Barbara Greenyer, seorang anggota Bruderhof, mengisahkan suatu contoh: Pada akhir 1930-an dalam usaha mengembangkan komunikasi dan pemahaman yang lebih besar, kelompok perdamaian kami dalam gereja mengundang beberapa anggota Kaum Muda Hitler dari suatu gereja di Jerman agar tinggal di rumah kami. Hanya seorang gadis saja yang mau datang. (Aku masih berhubungan dengan dia sampai sekarang). Begitu dia pulang, perang meletus. Dan aku teringat betapa terguncang hatiku setelah meyadari bahwa “dia” sekarang menjadi “musuh kami”. Sebagai protes atas pembunuhan dalam perang, suamiku, Kenneth dan aku memutuskan untuk tidak turut campur apa pun dengan segala sesuatu yang terkait dengan perang. Kami menolak mengambil masker gas maupun membangun lubang perlindungan yang diinstruksikan Menteri Anderson; kami yakin bahwa Departemen Pertahanan berusaha membangun cita-rasa keamanan yang tidak benar kepada masyarakat. Kemudian Kenneth mendapat sepucuk surat dari seorang senior dalam Majelis Gereja Methodis Wesley, yang melarang kelompok perdamaian kami mengadakan pertemuan dalam gedung-gedung milik gereja, dan katanya ia akan mengajari Kenneth apa yang harus dilakukan seandainya saja Kenneth adalah putranya. Surat itu bernada marah. Aku ingin menemui orang itu dan ingin habis-habisan berbantah dengannya, tetapi Kenneth mengingatkan aku bahwa putra orang itu sudah dikirim ke medan perang di garis depan, dan kita harus berbela rasa dengan dia. Kami mematuhi surat majelis itu, tetapi kemudian menghadapi persoalan mengenai hubungan kami dengan gereja. Dapatkah kami ikut ambil bagian dalam persekutuan pada hari Minggu karena mereka menyetujui perang? Kami merasa tak
    • 268 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? bisa, dan kami menulis surat kepada pendeta. Ia membujuk kami agar tetap ikut persekutuan, tapi kami tetap menolak. Keputusan itu sangat berat, karena gereja merupakan pusat hidup kami. Kami berdua melayani Sekolah Minggu di sana. Danniel Berrigan menulis tentang “hati nurani yang terpecah” yang merupkan akar dari dilema semacam itu. Di masa damai, para imam dan pendeta berkhotbah tentang perdamaian dan tentang sepuluh Perintah Allah “Jangan membunuh....” Di masa perang mereka memberkati pesawat pengebom. Mereka yang antiperang menjadi pro-aborsi, sedangkan para tentara menjadi antiaborsi; para aktivis antiaborsi ternyata juga pro- hukuman mati, dan seterusnya. “Setiap orang ingin memerangi kejahatan tertentu dengan harapan dapat menciptakan dunia sebagai tempat yang lebih baik. Mereka lupa bahwa mereka tidak dapat serentak membela bom dan anak-anak sekaligus....” Rabbi Kenneth L. Cohen mengatakan hal yang sangat serupa. Dalam salah satu karangannya ia mengingatkan pembaca tentang dua wajah kehidupan Nazi yang mengerikan, di mana suami dan para ayah yang begitu ramah serentak juga para pembunuh yang profesional, yang “menembak mati orang Yahudi pada pagi hari dan mendengarkan musik Mozart dengan tenang pada malam hari.” Contoh yang diberikan mungkin terlalu tajam, namun menunjukkan ujung-ujung terakhir yang dapat terjadi ketika konflik itu tidak diselesaikan dan bukan hanya mengancam perdamaian saja, tetapi bahkan mengancam hidup sendiri. Jawaban Kristus atas soal ini sederhana dan sungguh jelas: bahwa kita harus tampak sama luar-dalam; bahwa kita harus menyerahkan hidup kita, supaya dapat
    • Hidup yang Berkelimpahan 269 diselamatkan. Kristus menuntut integritas tanpa cacat yang menghubungkan setiap dan semua aspek dari kehidupan kita, suatu pertarungan yang konsisten membela segala yang baik dan memberi hidup, melawan apa saja yang merusak dan menyebabkan kematian. Apakah dengan demikian kepenuhan (keseluruhan, totalitas, integritas) merupakan persyaratan yang diperlukan bagi damai Tuhan, ataukah hasil yang berasal darinya? Apakah kepenuhan itu batu pijakan, ataukah buahnya? Sebagai tanda dari hidup yang berkelimpahan yang ditawarkan oleh Yesus aku memandangnya sebagai tanda-tanda kedamaian – sesuatu yang mengalir dari damai itu – bukan lorong menuju damai. Charles Moore, seorang pengajar seminari yang baru- baru ini datang mengunjungi kami bersama istrinya, merindukan kepenuhan hidup ini tetapi tidak mendapatkannya. Akhirnya ia menyimpulkan bahwa sejauh dirinya masih menjadi pusat pencarian pribadi, ia tak akan memperoleh jawaban yang memuaskan. Hanya jika ia mempersilakan Kristus menjadi titik fokus hidupnya, barulah segala sesuatu akan mendapatkan tempatnya yang tepat. Ketika aku merenungkan hidupku sepuluh tahun lalu, aku sadar bahwa aku menghayati disintegrasi pribadi yang berangsur-angsur dan pelan-pelan mematikan. Ledakan energi dari masa mudaku boros tercurah bukan karena aku hidup sembarangan, melainkan karena usahaku untuk memadukan secara berlebihan segala sesuatu. Energi itu lelah karena pikiranku sendiri. Aku punya obsesi untuk berusaha keras agar dapat hidup baik, dapat memenuhi kebutuhan, dapat menyenangkan Tuhan dan dapat melakukan hal-hal yang benar. Ada banyak alasan untuk melakukan
    • 270 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? hubungan, dan ada banyak hubungan yang perlu dibina, ada banyak orang yang harus kutemui, ada banyak pengetahuan yang harus kukuasai, ada banyak kewajiban yang harus dilaksanakan, dan ada banyak peluang yang harus dijelajahi. Namun begitu aku terjun ke dalam pusaran kemungkinan itu, secara sistematis diriku jadi terpecah-belah. Damai di hatiku pergi menjauh, dan damai hidupku lalu menghilang. Semua kejadian ini lebih mudah kulihat sekarang, namun waktu itu tak bisa kusadari. “Diriku” sendiri betul- betul tak mampu mengintegrasikan benang-benang yang tak kelihatan, namun bisa terasakan dari cara hidup dengan komitmen-komitmen yang berlebihan itu. Masing- masing, satu demi satu, benang hidup itu tidak bisa dipadukan menjadi suatu keseluruhan yang bermakna. Pekerjaanku sebagai dosen filsafat dan teologi dan kegiatan studiku untuk memperoleh gelar doktor sama- sama menuntut waktuku, sama-sama menuntut dedikasiku. Keduanya hanya kusatukan dalam “gagasan” saja, namun sesungguhnya kedua bagian dari hidupku itu merupakan dunia-dunia yang terpisah. Ada hubungan profesional dengan sesama rekan pengajar, yang dipersatukan oleh iman yang satu dan sama, namun mereka bekerja dalam struktur dan bidang wacana yang sepenuhnya berbeda. Keyakinaan dan praktik seringkali betul-betul asing satu sama lain. Kukira keduanya bisa dijembatani, dan memang ada usaha yang berhasil. Namun ketika tuntutan hidup bertambah, kemampuanku tetap sama saja, tidak berkembang. Di samping itu, aku bukan hanya seorang akademisi saja. Aku juga punya urusan yang lain-lain lagi, kepentingan lainnya. Masih ada kehidupan pribadiku – istriku, Leslie, teman-temanku dan teman-temannya, keluargaku dan keluarganya – dengan pelbagai dimensi yang sangat berlainan yang tampaknya sungguh berlainan jalurnya. Kadang-kadang bersinggungan, tetapi tak pernah benar-benar menyatu.
    • Hidup yang Berkelimpahan 271 Lalu ada lagi gereja dan pelayananku di sana, yang berbeda dari komunitas kecil di mana aku dan Leslie menjadi bagiannya, dan berbeda pula dari pelayanan lintas batas di lingkungan lain di mana kami berdua juga terlibat. Ada acara-acara yang diselenggarakan oleh kelompok aktivis yang kuikuti, juga acara-acara keluarga, semuanya mewajibkan diriku untuk hadir. Aku memang menginginkan semua itu, dan semua itu kudapatkan. Namun dari semuanya itu tak ada yang membuat hidupku terasa utuh. Aku terpecah-pecah lahir batin. Bagaimanapun kerasnya aku berusaha, aku tak dapat melepas salah satu darinya namun aku juga kelabakan mengendalikan semuanya sekaliguss, walau aku telah membuat mekanisme kerja yang kukira dapat mengatur semuanya itu. Aku punya hubungan konseling rahasia dengan seorang sahabat, suatu hubungan curahan hati; aku telah mencoba memanfaatkan kesempatan santai untuk “melepas- beban” melalui hiburan dan lain sebagainya dengan istriku, aku telah berusaha menunda jadwal studi doktoralku dan melakukan penyesuaian jadwal dan beban mengajarku; aku mengurangi hubungan yang makan waktu di sana-sini, dan sebagainya. Namun pengurangan, penyesuaian dan tambal-sulam itu tidak memadai. Karena tuntutan intensitas perhatian dan dedikasi, tetap saja aku pontang-panting, dan kacau- balau, dan hidupku terasa tetap cerai-berai. Semuanya membingungkan. Kukira mengikuti Yesus berarti menyediakan diri digunakan oleh Tuhan untuk kerajaanNya. Tetapi mengapa aku tidak mendapatkan damai yang dijanjikan, damai yang melebihi segala akal dan pengertian itu? Mengapa aku merasa hidupku seolah-olah terkoyak-koyak ke mana-mana? Mengapa aku menjadi begitu frustrasi, begitu terpojok, begitu kacau?
    • 272 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Masyarakat kita begitu egoistis, individualistis, materialistis dan serba memaksa ; tidak ada cukup ruang untuk komunitas di dalamnya – kebutuhanku, hasratku, kekuatan dan kelemahanku dan kemampuanku merupakan daya-daya pendorong ; dan hidupku adalah sebuah benteng yang dipagari, dijaga dan hanya terbuka di sana-sini untuk beberapa orang saja. Kini jika aku menengok ke belakang lagi, ironis kelihatannya, bahwa hidupku yang begitu sibuk itu terasa benar tidak lengkap. Aku selalu menginginkan pekerjaan yang bermakna, kehebatan intelektual, kegiatan sosial, teman-teman yang punya perhatian hangat, keberhasilan material, dan kebebasan untuk menyesuaikan jadwalku bila kurasa perlu. Namun aku tidak merasa damai. Batas-batas hidupku terbuka luas, dan aku memenuhi semua pilihanku. Dalam merenungkan kembali semua itu kulihat aku memeragakan kebohongan besar: itulah hidupmu! Laksanakan seperti yang kamu inginkan. Aku membuat hidupku sebagai proses alam semesta, walaupun seolah- olah di dalam pengabdian kepada Allah. Aku terperangkap dalam kegilaan gaya hidup kelas menengah yang sedang berpusar (bukan hanya pada tujuan akhirnya, namun dalam tata cara lahirnya) di sekitar kebutuhan dan hasratku – namun aku tidak melihat bahwa hidup semacam ini tidak nyata, tidak benar, tidak selaras dengan maksud Allah menciptakan kita. Bagaimanapun usahaku untuk menambal kekuranganku di dalam menyelaraskan hidupku, aku tetap tidak mampu, sampai aku harus berhenti menempuh cara hidup yang ditentukan oleh persyaratan-persyaratan duniawi itu (syarat-syarat atau kriteria yang berpusat pada kebebasan dan pemenuhan hasrat pribadi) dan mulai mendapatkan cita rasa keutuhan diri. Aku melihat suatu pilihan yang dapat kuambil: aku bisa terus melanjutkan kehidupan dengan cara itu, tawar-menawar dengan berbagai-bagai tuntutan dan hubungan pilihanku sendiri;
    • Hidup yang Berkelimpahan 273 atau, aku dapat memulai suatu dasar yang baru yang berbeda, dasar di mana batu sendinya adalah komunitas (bukan diri sendiri), pelayanan timbal-balik (bukan pemenuhan tugas pribadi sendiri), dan kerajaan Allah (bukan kerajaanku). Ketika Charles dan Leslie mendengar tentang komunitas kami, mereka membuat rencana kunjungan, dan setahun kemudian mereka memutuskan untuk datang. Tak bisa dikatakan bahwa kehidupan dalam Bruderhof merupakan panggilan untuk semua orang, juga tak bisa dikatakan bahwa “komunitas” seperti itu adalah jalan menuju kedamaian. Namun Charles dan Leslie berkata, bahwa rasa kepenuhan, kelengkapan diri yang mereka dapatkan hari ini tidak terpisahkan dari integritas diri mereka dalam suatu kehidupan yang dijalani bersama dengan orang-orang lain. “Di dalam komunitas, segala yang bersifat pribadi dan komunal, yang berorientasi pada keluarga dan berorientasi pada kerja, yang bersifat praktis dan yang spiritual tidak saling bersaing, tetapi lebur jadi satu. Dan semua diperkaya dan dipelihara dengan komitmen timbal balik.” Charles melanjutkan: Kukira masalah damai pribadi tidak lalu selesai sepenuhnya. Aku masih bergumul dengan fakta bahwa diriku masih jauh dari apa yang dikehendaki Allah. Walaupun salib menjembatani kesenjangan itu, dan aku berpegang padanya dalam iman, pertarungan antara ketidaksempurnaan dan dosa masih terus berlanjut. Namun maksud hatiku dan arah tindakanku tidak berbeda-beda lagi; aspek lahiriah dan aspek batiniah hidup sudah berpadanan ; mereka berjalan seiring, tidak berpencar-pencar oleh hasrat, melainkan oleh citra rasa damai yang dalam dari Tuhan. Kini, setelah tidak lagi menempatkan diriku sebagai poros hidupku, aku lebih siap untuk menyerahkan proyek- proyek pribadiku dengan tujuan-tujuannya, dan juga
    • 274 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? melepaskan usahaku untuk mengejar maksud-maksud hidupku sendiri. Tuhan mengatur hidupku dengan cara baru. Ia memberikan padaku perasaan utuh penuh dan suatu kedamaian yang dulu tak pernah kurasakan. Tuhan menciptakan suatu komunitas bagi kita, dan dari situ selanjutnya timbul kedamaian yang menopang hidup. Komunitas bukanlah obat mujarab untuk segala hal, tetapi komunitas menawarkan cara hidup di mana segala sesuatu ada bersama sebagai suatu keseluruhan. Tidak ada pembagian, penggolongan di sana. Aku berdamai dengan diriku sendiri, dengan sesama, dan dengan Tuhan. Jika aku kehilangan damaiku, aku mempunyai suatu dasar untuk berjuang kembali untuk mendapatkannya (atau dengan pertolongan orang lain). Aku tak lagi memboroskan tenagaku untuk memadukan hidupku, sebaliknya aku dapat melupakan diriku sendiri dan mengabdikannya pada sesuatu yang lebih besar; sesuatu yang menyatukan hidup, bukan mengoyak-koyakannya. Damai yang kurasakan jauh melebihi suatu berkat pribadi, damai ini bukan cuma milikku semata- mata. Damai itu adalah milik dari suatu keseluruhan yang lebih besar, suatu badan yang anggotanya bukan sekadar orang lain yang tak kukenal, tetapi saudara- saudari yang kukenal. Inilah anugerah yang sungguh kaya dari damai Tuhan. Dan misterinya ialah damai itu datang padaku bukan karena perjuanganku untuk mendapatkannya, tetapi karena mataku memandang lebih jauh melampaui mitos pemenuhan diri, dan melihat realitas mengenai hidup yang lebih berkelimpahan. Untuk mengalami hal itu sama artinya dengan mengalami rahmat Allah. Namun untuk itu juga merupakan suatu pilihan.
    • Hidup yang Berkelimpahan 275 Kegembiraan Tak ada yang dapat kuberikan padamu sebagai sesuatu yang belum kamu punya; tetapi ada banyak hal yang dapat kuberikan yang dapat kamu terima. Tak ada surga yang dapat datang pada kita jika hati kita tidak dapat tenang di dalamnya. Ambillah surga. Tidak ada damai yang letaknya di masa depan yang tidak tersembunyi di saat sekarang. Ambillah damai! Kegelapan dunia hanyalah kabut bayangan; namun di baliknya, bisa dijangkau, adalah kegembiraan. Terimalah kegembiraan! Ada sinar dan kemuliaan dalam kegelapan, seandainya kita dapat melihatnya; dan untuk melihatnya, kita hanya perlu memandangnya. Aku sangat berharap kamu memandangnya. Hidup sangat murah hati dalam memberi, namun umumnya kita menilai pemberiannya berdasarkan kemasannya, membuangnya karena buruk, berat, dan kasar. Bukalah kemasannya, dan akan kamu dapatkan keindahan hidup, dijalin oleh kasih, dengan kearifan, dengan kekuatan. Terimalah, peganglah, dan akan kamu sentuh tangan malaikat yang memberikannya kepadamu. Segala sesuatu yang kita sebut pencobaan, penderitaan, atau tugas, percayalah padaku, menyembunyikan tangan malaikat di dalamnya; ada anugerah di sana, dan kegiatan dari Dia. Ada juga kegembiraan kita: jangan hanya berpuas diri dengan kegembiraan itu saja. Mereka juga menyembunyikan anugerah ilahi. Begitulah saat ini aku menyampaikan salam padamu. Tidak seperti yang diberikan dunia, namun salam dengan penghargaan yang sangat dalam dan dengan doa bagimu, kini dan selamnya semoga cerahlah hari dan lenyaplah semua awan bayangan. Fra Giovanni
    • 276 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? D i dalam kritiknya yang paling serius tentang kekristenan, Friedrich Nietzche suatu ketika mengeluh: “kesulitan dengan orang-orang Kristiani ialah bahwa mereka itu tidak punya kegembiraan.” Ya, kita tahu apa itu kebahagiaan; apa yang membuat kita senang dan puas dan bahkan nikmat. Tetapi kegembiraan? Menurut Molly Kelly yang kisahnya telah dikemukakan dalam buku ini, ada perbedaan penting. Kita semua mempunyai saat-saat bahagia dalam hidup kita, tetapi kebahagiaan bukan kegembiraan. Kegembiraan hanya dialami ketika Anda damai. Kebahagiaan hanya setebal kulit, dan mengembang. Kegembiraan meresap ke dalam jiwa kita; dan bertahan lama. Kebahagiaan memang merasakan sesuatu yang baik; kegembiraan bisa dirasakan dengan penderitaan. Kebahagiaan berkaitan dengan kemenangan; kegembiraan sering datang dari penyerahan. Kegembiraan jelas merupakan anugerah yang lebih besar. Namun seperti yang dikatakan Fra Giovani, kegembiraan sering dikemas dalam rupa penderitaan atau kesengsaraan. Karena kita tak dapat menerimanya, dan “membuangnya karena buruk, berat, dan kasar,” maka kita tidak sungguh-sungguh memahami kegembiraan. Ketika menulis tak lama sebelum kematiannya di tangan kaum Nazi yang menghukumnya, Ewald von Kleist menyatakan bahwa banyak orang Kristiani, bahkan ketika mereka sungguh menerima penderitaan, tidak dapat menemukan kegembiraan, karena mereka berpegang pada asumsi yang keliru tentang sifat dan maknanya. Ia menyimpulkan: Setiap hari semakin jelas bagiku bahwa kita manusia (terutama orang kulit putih, orang Eropa) keliru menilai segala sesuatu, karena kita terasing dari
    • Hidup yang Berkelimpahan 277 Tuhan. Dunia sekarang tidak lagi merupakan ukuran yang benar untuk nilai-nilai. Orang mengejar tujuan- tujuan yang mengambang dan tidak mengenal kebahagiaan, juga tak tahu di mana letaknya; mereka tak tahu lagi apa yang harus disyukuri. Miriem Potts, seorang anggota gerejaku berkata bahwa baginya kegembiraan, syukur, dan damai sangat erat berkaitan: Jika seorang bertanya kepadaku, “Apakah kamu mempunyai kedamaian hati? Apakah kamu merasa damai dengan Tuhan?” Aku ragu. Itulah pertanyaan yang sulit kujawab. Apakah aku mengerti? Kadang-kadang aku sendiri tak tahu apakah aku punya iman. Tetapi bila ada orang bertanya, “Apakah kamu gembira? Apakah kamu bahagia?” lalu aku akan langsung menjawab dengan segenap hati, ya! Aku mencintai pekerjaanku. Aku sangat bahagia jika sedang melakukan sesuatu bagi orang lain, misalnya membungkus buku untuk orang-orang yang dipenjara. Aku sangat bahagia ketika aku sedang sibuk, bekerja sampai jatuh tidur di ranjang di malam hari. Jika aku tidak bahagia, yang kemudian kulakukan adalah menghitung karunia yang kuperoleh, memikirkan segala sesuatu yang bisa aku syukuri, dan kemudian aku bahagia lagi. Tapi bagaimana mungkin aku bahagia jika aku tidak dalam keadaan damai? Mungkin itu sama saja.... Bagi Ann (bukan nama sebenarnya) pencarian kebahagiaan dan pemenuhan diri berlangsung dari tahun ke tahun. Lalu ia berhenti melihat kepentingan dirinya sendiri dan memalingkan dirinya kepada Tuhan. Bila kita berpikir tentang damai, cinta dan kegembiraan dan semua hal lain yang kucari-cari dalam hidupku, aku teringat pada suatu pertanyaan yang diajukan dalam hidupku, aku teringat pada suatu
    • 278 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? pertanyaan yang diajukan teman-teman ketika aku datang pertama kali di Bruderhof: mengapa seorang wanita yang dicintai suaminya, punya empat anak yang cakep-cakep, terjamin dalam hal keuangan, punya rumah sendiri mau melepaskan semuanya dan hidup bersama dengan orang lain? Untuk menjawab pertanyaan itu sejujurnya, perlu lebih dulu kujelaskan bahwa apa yang mereka lihat di luar sangat jauh berbeda dari apa yang mereka lihat, seandainya mereka dapat memandang ke dalam hatiku. Aku dan suamiku sangat aktif di gereja dan di antara teman-teman seperkumpulan. Kami melayani orang lain, berbagi dengan orang lain, dan mereka merasa bahagia bersama sesama. Syukur kami akan kebersamaan dari kerinduan kami untuk memperoleh lebih dari itu mengantar kami untuk mengenal komunitas. Kami merasa sangat terdorong untuk mencari komitmen yang lebih besar, sebab kekristenan yang hanya nyata pada hari Minggu saja ternyata tidak cukup bagi kami. Begitu pula acara mempelajari Kitab Suci pada setiap Rabu malam. Bagiku, pertanyaan yang besar adalah: Apakah hanya itu? Aku telah mendapatkan apa saja yang diperlukan seorang wanita, atau sekurang-kurangnya aku sedang hendak mendapatkannya. Namun sebagian dari diriku menjerit: “Aku tak ingin apa-apa.” Pasti ada sesuatu dalam hidup ini yang lebih dari sekadar pasangan dan anak-anak yang baik, rumah yang nyaman dan jaminan keuangan. Aku bertambah resah dan takut. Mengapa aku tidak bahagia. Aku dibesarkan di suatu keluarga yang tampak baik dari luar. Ibu dan ayahku pekerja keras. Ayah seorang pekerja pabrik dan mengatur rumah tangga. Kami adalah keluarga Katolik yang “kuat”, yang tak pernah melewatkan Misa Minggu, melakukan pantang daging pada hari Jumat, dan mengaku dosa sebulan sekali. Di paroki kami segalanya sangat ketat: kamu
    • Hidup yang Berkelimpahan 279 tak boleh jatuh dalam “dosa berat” dan ditelan neraka. Aku belajar takut – takut membuat kesalahan, takut berkelakuan buruk, takut pada Tuhan dan apa yang dilakukan-Nya pada kami. Orang mengira kami baik-baik, tak ada yang tahu neraka sudah kami alami. Ayah adalah bapak keluarga yang bekerja keras. Dan sopan, dan ibu menyayangi kami. Mengenangkan mereka ada banyak hal yang harus kusyukuri. Banyak anak-anak kelaparan dan bertumbuh tanpa orang tua, itu benar. Tetapi juga fakta bahwa banyak anak dengan kedua orang tua yang lengkap dan ada banyak tersedia makanan, namun juga mengalami banyak penderitaan. Luka-luka mereka ditutupi begitu saja – tidak dibicarakan dan tak terlihat – di balik penampilan yang normal, dan tak ada seorang pun yang tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Misalnya, tak seorang pun tahu bahwa aku secara seksual dilecehkan oleh kakakku selama tiga tahun, sejak umurku enam tahun. Lalu ia punya teman perempuan. Tak ada yang tahu saudariku yang ketiga sebagai remaja yang tidak stabil dipukuli oleh ayah dengan ikat pinggang di depan seluruh anggota keluarga, hanya karena ayah tidak bisa mengatasi dia, dan dengan melampiaskan kemarahan menjadikan keadaan diri ayah lebih baik. Tak ada orang yang tahu bahwa hal kecil seperti menumpahkan susu di meja makan sudah cukup untuk membuat ayah marah besar selama dua jam. Kami hidup dengan rasa ketakutan akan berbuat kesalahan, yang dapat membuat ayah marah. Sebab ayah minum sampai enam botol bir setiap malam sepulang dari kerja, dan bisa menghabiskan satu krat sepanjang akhir pekan. Jika ia marah-marah sesudah itu, dan itu pasti terjadi beberapa malam dalam seminggu, tak ada yang bisa kami lakukan, termasuk mama, yang hanya duduk saja dan menanggung semua itu dengan diam. Sepanjang malam ayah akan terus
    • 280 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? ngomel-ngomel, menyebut ibu dengan berbagai kata- kata yang tak pantas dan menggebrak meja. Di tengah malam, kami kadang mendengar ayah mulai lagi, berteriak-teriak karena ibu tidak ingin berhubungan intim. Kami anak-anak lalu menghambur ke dalam kamar kami dan menutup telinga kami dengan bantal, atau meninggalkan rumah dan menjumpai seorang teman untuk mengobrol, atau mengeraskan suara TV. Kami ketakutan, cemas, bingung, dan tak bisa melakukan apa-apa selain menutup telinga karena kemarahan ayah. Salah satu caraku untuk lari dari penderitaan adalah menyanyi. Aku terbiasa menyanyi dan menyanyi. Aku menyanyi terus sampai saudaraku, lelaki dan perempuan jadi terganggu. “Yah, kan aku tidak bisa berkelahi,” kilahku. Tentu saja aku belum menyadari bahwa dengan menyanyi itu aku menyalurkan kecemasanku. Aku merasa tidak dicintai dan sangat ingin dicintai. Aku berpikir: seandainya aku baik dan berperilaku menyenangkan, yang lain pasti bahagia. Seandainya saja ada kedamaian dalam keluargaku, aku pasti bahagia. Ketika aku lebih dewasa aku tidak dapat melakukan apa pun dengan benar, dan aku merasa lebih tidak berharga lagi. Segala sesuatu memburuk ketika umurku belasan tahun, dan aku melibatkan diri dalam semua kejahatan umum. Yang terburuk adalah bahwa semua itu tersembunyi: kebutuhanku di masa kanak-kanak, dosa-dosa masa remaja.... Dari luar aku seorang wanita muda yang “normal”, “sopan” bahkan “saleh”. Tetapi di dalam diriku ada kemelut dan kegelapan. Hidupku adalah suatu kebohongan besar. Ketika aku menikah, setengahnya aku mengira masalahku akan reda sendiri. Namun ternyata terus berlanjut. Seperti masa kecil dan masa mudaku, perkawinanku juga tampak baik-baik dari jauh, namun sejujurnya, perkawinanku berantakan juga.
    • Hidup yang Berkelimpahan 281 Ketika aku gadis kecil, aku tahu diriku membutuhkan Tuhan, dan kalau aku putus asa aku terdorong berdoa memohon pertolongan. Bukan karena aku berharap mendapat pertolongan dari Tuhan. Sebab aku mengira Tuhan tidak menyayangi aku. Aku kurang baik, aku yakin bahwa Tuhan tidak akan berkenan mencintai orang seperti diriku. Makin aku ingin dicintai dan disayangi, makin keras hatiku, dan makin berkurang kemampuanku untuk menerima kasih. Nah, sebagai seorang wanita yang telah menikah dan punya keluarga yang bertumbuh, aku masih tak punya kedamaian. Aku tahu bahwa aku meragukan diriku sendiri dan membenci diri cukup lama, dan aku malah memproyeksikan, menyorotkan perasaan itu keluar kepada orang lain. Aku membenci seluruh dunia. Aku marah dan aku merasa ditolak dan tidak dihargai. Secara emosional aku hancur. Lebih dari yang lain, aku memerlukan kebebasan dari luka-luka masa laluku, namun aku mencarinya di tempat yang salah. Sejujurnya, aku hanya mencari satu hal, dan aku mengejarnya dengan penuh hasrat: aku ingin dicintai. Aku mencari cinta itu dari suamiku, Bob, dan karena ia tidak memuaskan aku, aku mencarinya dari teman-teman, tapi mereka juga tidak memuaskan. Kukira aku juga mencarinya pada Tuhan. Aku pergi ke pusat doa bagi orang Kristiani untuk mendapatkan penghiburan dan doa kesembuhan. “Yesus mencintai Anda dan memaafkan Anda,” katanya. Namun cinta itu tetap tak teraih olehku. Aku tak dapat merasakan kasih-Nya dan tak dapat mengalaminya. Dalam derajat tertentu konseling bermanfaat, namun tidak menghasilkan kedamaian hati yang tahan lama. Walaupun bagitu aku tak mau menyerah. Beberapa tahun yang lalu, Bob dan aku memutuskan untuk bergabung dengan Bruderhof. Kami merasa Tuhan memanggil kami untuk berhimpun
    • 282 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? sepenuhnya bersama yang lain, dan menjawab panggilan itu menimbulkan kegembiraan besar dan kebebasan. Kami menjual rumah kami, melunasi utang-utang, dan bergabung. Sesudah delapan belas bulan di Bruderhof kami meminta menjadi anggota sepenuhnya. Dalam semacam retret persiapan untuk itu, kami mencoba membuka hati kami pada Tuhan dan pada saudara-saudara, lelaki dan perempuan, dalam komunitas, dan mempertimbangkan arah hidup kami. Retret itu merupakan suatu proses penebusan, namun sangat menyakitkan saat itu, karena mengantar kami untuk melihat kenyataan bahwa sebenarnya perkawinan kami berantakan. Kami lalu menyadari bahwa kami perlu bicara berdua dengan Tuhan secara jujur, sekali untuk selamanya. Kami meminta diri untuk meninggalkan komunitas; kami merasa masih perlu waktu dan ruang baik sebagai perasaan suami istri maupun sebagai orang tua untuk merenungkan apa yang sungguh-sungguh kami harapkan jauh di lubuk hati kami. Komunitas dengan penuh kasih mendukung keputusan kami dan membantu kami mendapatkan rumah pribadi dan pekerjaan bagi Bob. Selama masa yang sulit itulah aku mendapatkan damai Yesus. Namun sebelumnya aku harus malu lebih dulu karena mendapatkan diriku ternyata begitu berpusat pada diri sendiri, yang mati-matian mencari kebahagiaan untuk diri sendiri; dan lebih jauh lagi, aku telah membenci suamiku, yang kupikir tidak memuaskan aku dan tak dapat memberikan cinta yang sangat kubutuhkan dan sangat kuharapkan. Memang, Bob tidak memuaskan aku dalam beberapa hal, namun kini aku melihat diriku seekor lintah emosi. Bertahun-tahun lamanya aku mengisap seluruh cintanya, dan membuatnya mundur. Pendeknya, akulah yang jadi biang masalahnya. Akhirnya aku dapat mengaku bahwa sebab utama dari penderitaan kami adalah aku mencari diri sendiri.
    • Hidup yang Berkelimpahan 283 Aku mohon Tuhan agar menunjukkan kebenaran padaku dan menolong aku, dan kali ini aku percaya bahwa Dia akan melakukannya. Tuhan berkenan, memang. Tiba-tiba aku dapat merasakan penyesalan atas penderitaan yang telah kutimbulkan pada orang lain. Aku bukannya merasa kasihan pada diri sendiri, juga tidak khawatir bahwa diriku akan dilukai orang lain. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku bahkan merasakan keinginan untuk memaafkan mereka yang telah melukai aku, terutama ayahku. Aku merasa menyesal kepada Tuhan, dan sebagai balasannya, aku dapat merasakan kasih-Nya. Aku merasakan penerimaan dan ampunan Tuhan pada diriku. Pada hari-hari itu sebuah petikan dari Injil Markus selalu kuingat dan menjadi nyata bagiku, yaitu ucapan bahwa yang sehat dan kuat tidak memerlukan tabib, melainkan orang yang sakit; “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mrk 2:17). Aku merasa sangat lega. Aku mulai mengerti apa itu kebahagiaan. Penyingkapan bahwa kasih Tuhan adalah untuk aku yang berdosa begitu memenuhi diriku. Pengertian itu menjadi batu penjuru dari imanku yang baru dan memberikan kegembiraan dalam hatiku. Ketika Bob dan Ann mulai membicarakan hal-hal di antara mereka, mereka saling memandang, tidak seperti dulu lagi. Mereka dapat memaafkan satu sama lain untuk segala sesuatu yang membuat perkawaninan mereka menyedihkan, dan mereka terus bergerak maju. Mereka segera kembali ke dalam komunitas kami dan menjadi anggota penuh. Ann melanjutkan: Lalu bagaimana hidup berlanjut? Sekali damai Anda peroleh, apakah damai itu ada selamanya? Aku tidak selalu merasakan kedamaian. Aku tidak selalu bersungguh-sungguh menghayati kasih Allah. Aku
    • 284 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? masih bergumul dengan rasa cemas berulang kali, kembali pada kekhawatiran dan ketakutan masa lalu. Aku masih harus berusaha untuk bersungguh-sungguh berjuang melawan godaan untuk menyenangkan orang lain atau mendapatkan persetujuan mereka. Namun ketika semua hal itu meliputi diriku, aku menyerukan teriakan perangku: “Yesus adalah pemenang dalam tubuhku, pikiranku, dan jiwaku.” Aku tetap seorang pendosa. Seperti itulah aku mulanya datang pada Tuhan, bukan sebagai orang baik. Aku tidak mau memboroskan energi untuk memikirkannya lagi. Ada banyak yang masih harus dilakukan, bekerja bagi Kerajaan. Makin aku menyediakan diri untuk tugas itu dengan melayani orang lain dan dengan melupakan diriku yang lama, aku merasa lebih bahagia. Ada rasa kepenuhan diri dalam melakukan hal- hal untuk orang lain. Apa pun itu. Suatu ketika aku bahagia menunggu bayi atau membersihkan rumah; di hari lain dalam menyiapkan makan untuk seseorang atau mencuci baju. Aku bersyukur jika mendapat kesempatan untuk merawat orang tua. Aku masih punya luka-luka hati, tetapi aku menerima diriku sebagaimana adanya. Karena dapat memberikan diriku pada orang lain, aku memperoleh karunia yang tak kutemukan ketika mencari diri sendiri: kegembiraan sejati.
    • Hidup yang Berkelimpahan 285 Tindakan Waktu bersifat netral; dapat digunakan baik untuk merusak maupun untuk membangun. Makin lama kurasa orang yang punya kehendak buruk makin efektif menggunakan waktu daripada orang-orang yang berkehendak baik. Kita harus mempertobatkan bukan hanya kata-kata dan tindakan orang-orang yang jahat, tetapi juga orang-orang baik yang diam saja menjemukan. Kemajuan manusia tidak menggelinding di atas roda-roda keterpaksaan; kemajuan itu berasal dari usaha yang tak kenal lelah dari mereka yang bersedia bekerja sebagai mitra Tuhan, dan tanpa kerja keras itu, waktu sendiri menjadi sekutu dari daya-daya kemacetan. Marthin Luther King Jr. H ingga saat ini tentu jelas bagi pembaca, bahwa damai tidak berarti keadaan tidak aktif. Damai memang dapat meliputi ketenangan atau istirahat. Orang sering mengutip Santo Agustinus: “Hatiku tak akan tenang, sebelum beristirahat pada – Mu”, kata-kata yang mendalam kebenarannya. Namun apa artinya “beristirahat” dalam Tuhan? Suatu kepastian, puas diri, hingga malas? Karunia damai adalah jawaban bagi kerinduan yang belum terpenuhi; karunia damai merupakan akhir bagi keraguan dan dosa yang membuat lapuk dan koyak. Suatu kepenuhan dan kesembuhan. Namun sejauh demikian, damai juga suatu panggilan bertindak dan hidup baru. Damai bisa berasal dari doa dan meditasi, tetapi tidak terhenti di situ. Damai menimbulkan kewajiban baru, energi baru dan kreativitas baru. Seperti benih di balik tanah, damai bertumbuh diam-diam dan tak terlihat, lalu
    • 286 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? muncul bersemi dan berkembang dengan daya hidup, menjadi besar, berbunga dan akhirnya menghasilkan buah. Dalam buku Inner Land kakekku menulis bahwa berakhirnya zaman bukanlah akhir dari kegiatan: “Gapura kota di atas bukit tidak ditutup, tetapi tetap terbuka.” Dengan pengertian yang sama, orang yang memperoleh karunia damai tidak boleh menyimpannya untuk diri sendiri, menutup diri terhadap kebisingan di sekitar kita, tutup mata terhadap mereka yang belum mendapatkannya: Memang baik dan indah mendapatkan damai dan ketenangan hidup, namun mereka yang seperti itu sering tergoda oleh kecenderungan insani untuk mengabaikan kehendak dasar Yesus: bahwa ketika mereka yang berbeban berat dan lelah dikuatkan lagi, haruslah mereka menjadi sumber kekuatan dan energi untuk bertindak. Tenggelam tanpa daya dalam keheningan yang lumpuh berarti sungguh tidak berguna bagi hidup, ke arah mana Yesus memanggil kita. Bicara dari perspektif penganut Buddha yang aktif, yang memberikan tekanan yang seimbang baik pada meditasi maupun pada komitmen yang dedikatif pada orang lain, Thick Nhat Hanh mengingat dilema yang dihadapinya dalam Perang Vietnam: Apakah buah damai itu kontemplasi, ataukah tindakan? Ada begitu banyak desa yang terkena bom. Bersama dengan para bikku dan biksuni aku harus mengambil keputusan tentang apa yang harus dilakukan. Apakah kita harus melanjutkan adat kebiasaan dalam vihara kita, ataukah kita meninggalkan banyak meditasi untuk menolong orang- orang yang menderita karena bom? Setelah merenung dengan cermat, kami memutuskan untuk melakukan
    • Hidup yang Berkelimpahan 287 keduanya – pergi ke luar menolong orang, tetapi di dalam melaksanakannya kita juga harus tetap dengan semangat pencerahan yang aktif ... dalam melihat, memahami, kita juga harus melaksanakannya. Jika tidak, apa gunanya kita tahu dan paham? Jika kita berusaha hidup damai bersama sesama kita, ada tanggungjawab tertentu yang tak terelakkan dibebankan di atas pundak kita, dan kita harus melaksanakannya seperti yang dilakukan oleh Thich Nhat Hanh dan para bikku dan biksuni. Kita tidak dapat hanya memilih tenang damai dengan Tuhan, hanya dengan diri kita sendiri, dan mengabaikan orang lain. Setelah ibuku bergabung dengan Bruderhof ketika umurnya awal dua puluhan, berbulan-bulan lamanya ia merenungkan apa artinya damai secara konkret. Ia ingin mengabdikan diri kepada Tuhan, namun pada saat yang sama ia juga harus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh keluarga dan teman-temannya: bagaimana ia dapat berbuat sesuatu untuk perdamian dunia jika ia sudah tidak “berada di dunia” lagi? Di dalam sepucuk surat kepada ibunya, ia mengaku tidak bisa menjawab dengan bukti yang jelas dan tak terbantah. Namun ia yakin bahwa agar dapat hidup damai ia harus meninggalkan kehidupan borjuis dan menempuh arah yang berbeda. Dan ini bukan berarti suatu kehidupan tidak aktif yang saleh: Komunitas kami tidak mencari kedamaian hidup seperti pertapa atau menolak dunia dan bangsa-bangsa untuk dapat mengejar tujuan kami sendiri, tanpa gangguan. Tidak! Kami secara aktif mengikuti arus kejadian apa pun, nasional dan internasional. Hingga kami dapat bersama-sama melakukan tindakan dan punya pendirian yang tegas dan terbuka, dan
    • 288 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? mewujudkannya dalam praktik yang bisa dilihat semua orang. Itulah yang bagi kami berarti. Bagi kami pokok masalahnya bukan memisahkan diri di dalam dinding- dinding biara demi mencari damai dan ketenangan. “Damai dan ketenangan” justru sangat bertentangan dengan apa yang dicari-cari ibuku, begitu pula oleh mereka yang melawan jalan tikus kaum menengah yang sia-sia. Ketika seseorang bertekad menemukan damai, pencariannya berangkat dari hasrat untuk mendapatkan hidup yang lebih dalam dan sungguh-sungguh penuh berisi, bukan yang makin kosong. Para veteran perang, pengusaha, ibu rumah tangga dan pendeta, mereka yang tidak lanjut sekolah maupun para profesional terpelajar semuanya menyatakan hal sama padaku. Damai bukanlah sekadar menolak kekerasan, kerakusan, hawa nafsu atau kemunafikan. Namun mengamini sesuatu yang menggantikan semua itu. Dalam bagian yang terdahulu sudah tersampaikan cerita tentang John Winter, seorang mantan pekerja laboratorium yang meninggalkan pekerjaanya setelah ia tahu bahwa perusahaannya melakukan pengujian amunisi. Ia berkata: Aku menolak kekerasaan dan mulai mencari damai, namun aku segera menyadari bahwa damai lebih dari sekadar tidak ada perang. Aku bosan mengatakan bahwa aku tak dapat bergabung dengan angkatan bersenjata. Apa yang dapat kulakukan? Aku mengusahakan alternatif praktis dari perang, bukan hanya mengakhiri perang. Aku ingin hidup melakukan komitmen, bukan sekadar sesuatu yang kita lawan. Gertrud Dalgas, seorang guru yang bergabung dengan kakekku dan komunitasnya yang masih kecil pada tahun 1921, hanya beberapa bulan setelah didirikan, merasakan hal yang sama. Wanita itu menulis dalam sebuah majalah:
    • Hidup yang Berkelimpahan 289 Visi kami adalah suatu kerajaan damai dan tanpa kekerasan, kerajaan kebebasan yang berakar pada Tuhan. Kritik dan penolakan atas kondisi yang sekarang ada menuntut dari kami suatu contoh tindakan yang berbeda. Namun tepatnya karena kami mengancam kapitalisme, kebencian antarkelas, pembunuhan, perang, kebohongan dalam hubungan sosial itulah maka kami merasa wajib menunjukkan cara hidup yang sama sekali berbeda dan baru. Kami memang hanya beberapa gelintir orang dari kelas yang berbeda, pekerjaan dan profesi yang berlainan. Namun kami membentuk komunitas yang menentang tuntutan negara, gereja, hak-milik pribadi dan hak-hak khusus sosial ekonomi. Tak seorang pun, apakah Gertrud, John atau siapa saja yang telah kukutip perkataannya di sini menyatakan bahwa jawaban atas masalah dunia adalah komunitas belaka, apalagi Bruderhof. Namun mereka jelas sepakat bahwa jika damai berarti tindakan dan komitmen, maka damai juga menuntut perjuangan. Begitu pulalah Dick Thomson, seorang alumnus Cornell yang kukenal selama empat puluh tahun. Ia menulis: Sebagai pemuda berusia dua puluh tahun, aku tahu betul bahwa damai sulit ditemukan dalam dunia dewasa ini. Aku dibesarkan selama Perang Dunia Kedua berlangsung, ketika koran-koran penuh dengan berita perang dan propaganda, yang memuncak dengan jatuhnya bom atom di Jepang. Aku teringat benar akan pertarungan antara John L. Lewis125 dan serikat buruh tambang dengan manajemen perusahaan besar juga. Ibuku membela Partai Demokrat sedangkan ayahku membela Partai Republik, namun tak seorang pun bicara tentang Tuhan dan aku pun tidak mendapatkan sesuatu yang menarik atau pun bisa diharapkan dari agama. 125 Pemimpin serikat buruh Amerika, 1880-1969
    • 290 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Yang lebih kupercaya adalah ilmu pengetahuan dan pikiran manusia dan aku merasa mempunyai otak yang sangat tajam. Namun alangkah sedikitnya pengertianku tentang semua keadaan tidak damai di dunia ini, bahkan juga di dalam diriku sendiri, yang tidak pernah menderita karena perang, kemiskinan, penindasan, sakit keras, maupun tantangan mental apa pun yang tak pernah kujumpai. Namun ketika aku makin dewasa, aku dikejar-kejar oleh rasa bersalah karena dosa-dosa yang berulang terjadi dan tak dapat kuatasi, dan oleh tantangan batin yang justru malahan menjadi-jadi ketika aku berusaha mengatasinya. Yesus berkata: “Damaiku Kuberikan kepadamu: dan apa yang telah Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu,”126 dan lagi, “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.”127 Di lingkungan Brudrehof aku bertemu dengan pria dan wanita biasa yang telah menemukan damai dan suka cita dalam suatu keyakian bersama yang telah mereka dapatkan dari gelanggang pergumulan hidup. Mereka tahu untuk apa (atau siapa) mereka berjuang. Demi Tuhan mereka, mereka bersedia menghadapi tantangan atau penderitaan apa pun. Inilah damai yang menyentuh hatiku: bukan suatu penarikan diri ke dalam kesunyian seperti kematian dan kepasifan, namun sebaliknya: damai dari pengampunan dan permulaan hidup baru, damai dari keberanian dan kegiatan dan penentangan yang lantang pada segala bentuk kejahatan, bersama dengan kasih pada semua orang. 126 Yoh 14:27 127 Mat 10:34.
    • Hidup yang Berkelimpahan 291 Bila aku ditanyai tentang sumber dari damai dan suka cita ini, yang belum pernah kualami dalam hidupku sebelumnya, aku diberitahu: “Yesus Kristus.” Tanpa melihat sendiri, nicaya aku tak akan percaya tapi ini sungguh nyata. Kemudian aku menyadari bahwa aku telah menemukan perjuangan yang di dalamnya aku juga dapat dan harus mencurahkan hidupku sendiri. Aku tahu bahwa pengalamanku bagi Bruderhof, tidaklah unik bukan satu-satunya, dan bahwa Kerajaan Allah tidak terbatas pada orang-orang yang disebut Kristiani. Gagasan menemukan damai “dalam suatu pertarungan: juga terdapat dalam tulisan para perintis Quaker-George Fox, Isaac Pennington, dan banyak lainnya yang di masa mereka mengalami kelahiran iman yang baru di tengah- tengah abu kematian religiositas formal. Gagasan itu juga ada di antara para tahanan politik dan tahanan karena hati nurani yang kukenal, termasuk para mantan anggota Phanter dan anggota organisasi MOVE dari Philadelphia. Mereka adalah pria dan wanita yang bicara dengan bahasa yang berbeda dan menghayati hidup yang lebih radikal daripada komunitas Bruderhof, namun hati dan semangat mereka sangat dekat dengan apa yang telah saya coba gambarkan, sekalipun pers secara tidak adil menganggap mereka jahat sebagai kaum radikal yang gila karena pendirian mereka yang tidak mendapat dukungan umum mengenai ras dan keadilan sosial. Jika Anda berhubungan dengan mereka atau mengunjungi mereka, Anda akan rasakan bahwa kendati berbagai kesulitan yang mereka alami (beberapa di antara mereka mengalaminya selama bertahun-tahun) mereka mempunyai damai dan suka cita. Mereka gigih, tetapi mereka tidak melakukan kekerasan, juga tidak irasional. Dan mereka tahu hakikat perjuangan mereka; mengungkapkan kebenaran yang mereka kenali dan mereka bela. Kembali lagi, ketika aku datang ke Bruderhof sebagai pemuda yang tidak-damai, justru kedamaian
    • 292 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? yang sama seperti itulah yang mendorong diriku, damai yang memancar dari orang-orang yang tahu akan pertarungan yang sedang mereka lakukan, tahu akan perang yang mereka jalani. Ketika Tuhan memberikan kepada kita damai, kasih atau suka cita, semua itu tetap milik-Nya dan kita tidak dapat merebutnya atau menyimpannya untuk diri kita sendiri. Sejauh Dia berkenan memberikannya kepada kita, semuanya itu tersedia. Jika kita kehilangan karunia itu karena kendor berjuang, atau entah karena hal-hal lain, Tuhan masih menggenggam semua itu di tangan-Nya dan kita dapat menghadap Dia lagi untuk mendapatkannya kembali. Pengarang Amy Carmichael menggunakan gambaran medan perang untuk melukiskan damai. Wanita itu mengatakan bahwa prajurit yang terbaring di ranjang itu mengatakan bahwa perang yang sedang berlangsung tidak memiliki damai. Sebaliknya damai itu ada pada mereka yang sedang mempertaruhkan hidupnya di medan laga. Mereka yang bertempur sangat dekat dengan pemimpinnya adalah mereka yang sangat dekat dengan luka dan maut, namun juga paling besar damainya. Orang bicara tentang damai sepanjang masa; semua orang menginginkan damai, tidak ada yang menentangnya. Namun siapakah yang menyadarkan diri untuk bekerja mengusahakannya menjadi kenyataan? Bagi setiap orang panggilan untuk bertindak mengambil bentuk sesuatu yang unik. Bagi yang satu panggilan itu mengantarkannya pada kehidupan aktif; untuk yang lain, pada hidup berkomunitas; yang berikutnya, mengantar pada suatu yang sangat berbeda sepenuhnya. Mungkin sekadar menjadi suatu seruan untuk rekonsialisasi di tempat kerja, atau mungkin suatu ajakan agar lebih bersedia mengampuni dan mencintai di rumah.
    • Hidup yang Berkelimpahan 293 Suatu perbuatan besar bisa lebih mulia daripada tindakan sehari-hari yang tidak menyolok. Namun perbuatan hebat dapat mengalihkan kita dari kewajiban kita untuk melakukan hal yang benar di sekeliling kita. Perbuatan hebat dapat membuat hati menjadi keras terhadap mereka yang sangat membutuhkan kita. Jean Vanier mengingatkan: “Kadang-kadang lebih mudah untuk mendengarkan tangisan kaum miskin dan tertindas dari tempat yang sangat jauh daripada jeritan saudara lelaki dan perempuan dalam komunitas kita sendiri. Tidak ada yang hebat dalam menanggapi mereka yang bersama kita dari hari ke hari dan yang mengesalkan kita.” Di mana pun kita berada dan apa pun yang kita lakukan, selalu ada pengorbanan yang harus kita buat dan komitmen untuk kita penuhi agar damai kita menghasilkan buah. Sebab berbeda dari damai palsu yang mengacaukan segala sesuatu dan tidak punya suatu komitmen pun, damai Tuhan datang sebagai angin yang menggebu dan menggerakkan segala-galanya yang ada di jalannya. Jika kita tidak beranjak lebih jauh dari penyimpangan pribadi dengan Yesus yang mengubah diri kita, kita kehilangan keagungan karunia-Nya. Itulah sebabnya kita disuruh-Nya lebih dulu mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-kebenarannya, agar kita bisa menjadi lebih layak bukan hanya bagi berkat pribadi, tetapi juga sebagai bentara Kerajaan-Nya. Marilah kita lebih bersungguh-sungguh menghayati Kehendak Tuhan! Jika kita tidak merindukan Dia dalam setiap aspek kehidupan kita, sebenarnya kita sama sekali tidak mengharapkan Dia. Aku bertanya pada diriku setiap hari: apakah aku cukup berharap, cukup berjuang, dan cukup mengasihi? Harapan kita akan Kerajaan Allah niscaya mengantar kita agar melakukan sesuatu. J. Heinrich Arnold
    • 294 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Keadilan Yang menjadi motif adalah kasih persaudaraan, dan kita diperintahkan agar mengasihi saudara-saudara kita. Jika agama begitu melalaikan kebutuhan kaum miskin dan begitu banyak pekerja, dan membiarkan mereka itu hidup dalam keputus-asaan yang menyedihkan dan hanya menghibur mereka dengan gambaran janji akan kehidupan sesudah kematian ketika semua air mata akan diusap, agama itu pantas dicurigai. Siapa yang akan percaya kepada para penghibur Ayub? Di pihak lain, jika mereka yang mengaku beragama berbagi kehidupan dengan kaum miskin dan bekerja mengusahakan nasib yang lebih baik dan mempertaruhkan hidup mereka sendiri seperti kaum revolusioner, atau seperti yang dilakukan serikat buruh di masa lalu, maka di sana ada lingkaran kebenaran tentang janji kemuliaan yang akan datang. Salib akan diikuti oleh kebangkitan. Dorothy Day D i antara semua slogan yang kudengar di dalam pelbagai demonstrasi dan pawai-pawai dalam beberapa dasawarsa terakhir, yang paling sederhana dan paling kuat adalah “No Justice, No Peace.” Tak ada damai tanpa keadilan. Jika berbicara atau menulis tentang damai itu penting, maka berdoa untuk damai dan bekerja melaksanakannya secara praktis bahkan lebih penting lagi. Namun setelah segala yang dikatakan dan dilaksanakan, damai hanya nyata sejauh dia melahirkan keadilan. Dalam surat Santo Yakobus kita baca: “Apakah gunanya saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan,
    • Hidup yang Berkelimpahan 295 bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah imannya menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari kamu berkata: ”Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang,” tapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?”128 Dan Christoph Blumhardt menulis: “Pada akhir analisis, seluruh kehidupan spiritual kita tidak ada artinya jika tidak menunjukkan konsekuensi yang dapat dirasakan dan tampak di dunia.” Dengan cara yang sama ketidakadilan dalam perbedaan perlakuan sosial, penindasan, perbudakan dan perang, sengketa dan perpecahan, damai berkaitan dengan kadilan, sebab keadilan berkembang ketika semua hal di atas dapat diatasi. Dalam keadaan kita sekarang ini tidaklah mengherankan jika orang menganggap damai dan keadilan sebagai kebodohan utopis. Bagaimana orang dapat damai, tanya mereka, jika kemelut dan penyakit ada di mana-mana, sedang tumpukan senjata pemusnah massal mencibir pada gagasan kelangsungan hidup manusia? Bagaimana mungkin ada keadilan bila keinginan beberapa gelintir orang yang kuat dan kaya menghancurkan hidup jutaan orang di seluruh dunia? Enam puluh tahun yang lalu, dalam sebuah esai tentang hubungan antara hak milik pribadi dan perang, kakekku menulis, “Di mana tak ada keadilan, kebodohan merajalela.” Entah apa yang hendak dikatakannya sekarang. Ada orang yang mau berkeras menyatakan bahwa semangat damai tetap hidup dan baik-baik saja, sekalipun tersembunyi di balik jubah kemunafikan di 128 Yak 2: 14-16.
    • 296 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? sana sini. Jika damai dan keadilan yang kita serukan tidak didasarkan pada tindakan dan perbuatan, maka seruan itu kosong belaka. Kita tetap saja penjahat- penjahat saleh, seperti yang dikeluhkan oleh Yeremia: “Mereka membalut luka umat-Ku dengan berkata, ‘Damai! Damai’ Padahal tak ada damai.”129 Di pihak lain, sekalipun kita gagal berkali-kali dalam kesetiaan kita pada visi Kerajaan Allah dan dalam berusaha hidup selaras dengan semangat Kerajaan Allah itu, faktanya tidak berubah bahwa Tuhan adalah Tuhan Perdamaian. Kerajaan-Nya adalah kerajaan keadilan, kebenaran, dan kasih. Kalaupun iman kita tidak bersungguh-sungguh, itu bukan kesalahan Tuhan, melainkan kelemahan kita. “Sayangnya, pada tumit Kristus ada orang-orang Kristiani yang begitu keras.” (Annie Dillard). Damai Kerajaan menyerukan tatanan sosial dan hubungan yang baru. Itulah sebabnya mengapa Yesus mendesak agar kita berpihak pada kaum miskin dan tertindas, pada para terpidana, dan orang sakit. Itulah sebabnya Ia berkata: “Berbahagialah orang yang membawa damai.” 130 Itu juga sebabnya Dia memerintahkan kita: “Pergilah ke seluruh dunia.”131 dan mewartakan damai-Nya dan Kabar Gembira. Dan jika orang menolak damaimu itu, kata-Nya, kita harus mengibaskan debu dari kaki kita dan melanjutkan perjalanan.132 Kita diarahkan untuk berjumpa dengan mereka yang telah merindukannya. 129 Yer 6:14; 8 : 11. 130 Mat 5:9 131 Mrk 16:15 132 Mrk 6:11
    • Hidup yang Berkelimpahan 297 Beberapa bulan yang lalu aku mengunjungi Chiapas, Meksiko, menemui Uskup Samuel Ruiz Garcia. Ia dikenal sebagai Don Samuel dan dicalonkan sebagai Penerima Hadiah Nobel Perdamian karena karyanya bagi rakyat di sana, terutama bagi petani pribumi yang berdiam di desa- desa pegunungan yang miskin di kawasan itu. Don Samuel membaktikan diri begitu saja pada apa yang dianggapnya sebagai tugas bermata-dua demi damai dan keadilan. Pada tahun-tahun terakhir tugasnya itu termasuk menyuarakan Zapatista, suatu gerakan akar rumput yang digalang untuk memperjuangkan hak asasi manusia seperti pemilikan tanah dan hak untuk mendapatkan pemeliharaan kesehatan. Tidak mengherankan bahwa karena begitu vokal, ia dibenci dan diancam, terutama oleh pemerintah daerah yang bersikap menindas, dan ia menjadi sasaran sekurang- kurangnya dua kali usaha pembunuhan belakangan itu. Dalam pembicaraan kami pada bulan Desember 1997 Don Samuael berkata: Perdamaian demi kemanusiaan bukan hanya berakhirnya perang atau tindak kekerasan. Pepatah orang Romawi mengatakan “Jika kamu menginginkan damai, bersiaplah untuk perang.”133 Bagi mereka damai adalah masa untuk mempersiapkan perang. Bagi kita juga begitu, namun caranya lain. Bagi kita damai berdasarkan hubungan baru yang mendasar antara manusia dan Tuhan. Itulah sebabnya Kristus mengatakan bahwa Ia memberikan damai “yang tidak seperti yang diberikan dunia.” Ia membawa damai yang berbeda. Dalam masyarakat dewasa ini, damai itu harus dipahami dan dibangun atas dasar keadilan: Kerajaan Allah, yang adalah kerajaan damai, kerajaan keadilan, 133 Dari pepatah Latin: Si vis pacem, para bellum
    • 298 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? kerajaan kebenaran, dan kasih. Karena itu bagi kita damai memiliki fondasi sosial dan fondasi spiritual yang menuntut hubungan persaudaraan yang baru di antara semua orang. Termasuk di dalamnya tuntutan akan suatu perubahan struktur sosio-ekonomi yang menindas. Kita mengerti bahwa damai adalah anugerah dari Allah. Kristus berkata: “Aku memberikannya padamu. Aku memberikan padamu damai-Ku.” Tetapi damai itu juga suatu tugas; suatu pekerjaan yang harus dikembangkan. Dalam arti ini, kehadiran orang miskin dalam hubungan dengan Kerajaan adalah kehadiran Kristus secara sakramental. Kristus hadir sebagai Sakramen kaum miskin, karena Ia sendiri berkata bahwa pertanyaan terakhir dan satu-satunya yang akan diajukan adalah berkenaan dengan kasih kita kepada Kristus. “Aku lapar, kamu memberi aku makan. Aku haus, dan kamu memberi Aku minum.” Kapan semua ini kita lakukan. “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudara- Ku, kamu telah melakukannya untuk Aku.”134 Titik tekanannya bukan doktrin atau ajaran, namun praktik. Aku tidak ditanyai tentang kesalahan dan dosa-dosa, tetapi aku akan ditanyai apakah aku mengasihi saudara- saudaraku atau tidak. Damai datang dari orang miskin. Ia berada di tengah jalan menuju damai. Orang miskin menentukan sejarah masyarakat manusia. Orang menjadi miskin karena konflik sosial. Ada suatu sistem yang membuat orang menjadi miskin, suatu sistem yang merampok dirinya. Jika dalam suatu masyarakat orang yang paling miskin menjadi titik rujukan, suatu indeks bagi kesejahteraan umum, maka kita punya suatu masyarakat yang sedang berfungsi melaksanakan tugasnya. Namun jika di dalam suatu masyarakat orang miskin malah dijerembabkan di lantai, itu berarti masyarakat berlawanan dengan Kerajaan Allah. 134 bdk. Mat 25:35.37.40
    • Hidup yang Berkelimpahan 299 Sering kali kita menutup telinga pada orang seperti Don Samuel. Kecurigaan dan ketakutan membuat kita membungkam suara- suara mereka, mengabaikan mereka, bahkan menghilangkan suara mereka dengan membunuh mereka. Harus diakui bahwa banyak orang yang memper- juangkan keadilan bukanlah para pembawa damai dalam pengertian Kristiani. Mereka membela keadilan dengan cara- cara yang tidak damai. Sebagian bahkan menganjurkan revolusi bersenjata. Namun sekalipun berbeda tujuan dan cara-caranya, kita harus mengakui bahwa mereka itu adalah suara kaum tertindas, dan bahwa tidak akan ada keadilan dan damai sejati di bumi ini jika keadilan dan damai bagi mereka belum terwujudkan. Perjuangan mereka mungkin terjadi pada jalur yang berbeda, tetapi perjuangan demi kebebasan dan hak-hak yang sama seperti yang diperoleh kulit putih Eropa dan Amerika itu mempertaruhkan hidup mereka. Jika kita mengabaikan fakta ini, kita tak punya hak untuk mencela perjuangan mereka. Dalam gereja perdana, orang Kristiani menye- diakan makanan bagi mereka yang lapar dengan biaya yang mereka keluarkan sendiri; mereka memberi pakaian orang yang telanjang dan memberi tumpangan pada yang tidak punya rumah dengan pengorbanan pribadi. Tak terpikirkan bagi mereka bicara tentang damai tanpa sekaligus membicarakan keadilan. Dan orang-orang sezaman bicara tentang mereka: “Lihatlah betapa mereka itu saling mengasihi!” Sekarang keadaan sangat berbeda. Seorang pendiri Catholic Worker, Peter Maurin, menulis: Sekarang kaum miskin tidak mendapat makanan, pakaian, dan tumpangan dari pengorbanan pribadi
    • 300 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? sesamanya, melainkan atas beban para pembayar pajak. Dan karena itu orang-orang kafir berkata tentang orang-orang Kristiani: “Lihatlah, bagaimana mereka itu sibuk menyalurkan dana.” Christoph Blumhardt memerhatikan kurangnya perhatian seperti itu di antara para pemeluk agama yang saleh dari generasinya, dan tak putus-putusnya ia menyuarakan kecamannya. Ia melihat akar permasalahannya adalah kesibukan demi keselamatan diri sendiri, yang dipadu dengan ketidakpedulian pada keadaan sesama. Ada banyak kelompok orang Kristiani yang sudah bersuka ria karena mereka akan diubah dan diangkat dengan awan ke surga. Namun bukan seperti itu caranya. Sekaranglah waktunya melaksanakan tugas dalam hal apa kita pertama-tama akan diadili, bukan pertama-tama menerima sofa di surga. Hanya bagi mereka yang pertama-tama sungguh dapat bertahan di hadapan pengadilan Sang Penyelamat, barulah ada alasan untuk terus menerima anugerah keadilan-Nya. Sebenarnya aku mengira banyak orang Kristen yang baik akan terkejut melihat siapa yang sudah ada di surga ketika para malaikat “memilih dari seluruh penjuru dunia”,135 semakin bertambah umurku dan makin dalam kulihat hebatnya ketidakadilan dalam masyarakat kita, makin besar keyakinanku bahwa jika Yesus sungguh- sungguh datang bagi mereka “yang haus dan lapar akan keadilan dan kebenaran”,136 maka mereka yang dipilihnya termasuk para gelandangan, nara pidana, kaum terbuang dan terlupakan yang berserakan di bumi. 135 Mat 13:27 136 Mat 5:6
    • Hidup yang Berkelimpahan 301 Kita cepat-cepat melupakan hal itu, tetapi nilai-nilai tatanan Yesus tetap berlaku di hadapan kita. Keadilannya memutar-balikkan tata nilai keadilan manusiawi. Ia berkata: “Orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu”;137 dan bahwa “barang siapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku ia akan memperolehnya.”138 Apa maksudnya kehilangan nyawa? Maksud Yesus adalah meninggalkan semua hak khusus dan setiap pertahanan, dan mengambil jalur yang terendah. Sebelum Yesus wafat, Ia berkata bahwa Ia akan diserahkan ke tengah mereka yang berkuasa: para pemuka agama dan pemerintah.139 Dia harus menyerah, tanpa pembelaan, pada kekuasaan mereka. Dan ketika para murid bertanya: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” 140 Yesus bertanya kepada mereka: “Tahukah kamu Roh apa yang memasuki kamu?” Kamu telah melupakan Roh Kudus! Kamu telah melupakan panggilanmu yang terbesar. Kamu meninggalkan Roh Kudus begitu kamu memilih kekuasaan bukan kasih, sekalipun kamu mendatangkan api dan petir dari langit dan keajaiban ilahi. Eberhard Arnold Bagi kita yang menyatakan diri pengikut Kristus, penggunaan kekerasan atau kekuasaan tidak dapat dianggap sebagai suatu cara untuk mencapai keadilan. 137 Mat 19:30 138 Mat 16:25 139 Mat 20:17-19 140 Luk 9:94
    • 302 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Namun hal itu juga tidak membuat kita berhak menilai orang lain, membujuk atau memikat mereka agar setuju dengan cara pemikiran kita. Kita tak dapat berpidato di hadapan para petani dunia yang sedang berjuang, para gerilyawan kota, para polisi, tentara, dan berkata: “Letakkan senjatamu, ikutilah jalan kasih dan damai.” Iman tidak dikaruniakan kepada semua orang, iman juga tidak setiap saat diperhatikan setiap orang. Sekalipun begitu, mungkin tidak jelas juga bagaimana kita dapat memperoleh pengertian. Dalam pengalamanku, jawaban pada masalah hidup yang penting tidak kita peroleh sebagai paket yang lengkap. Kadang-kadang jawaban itu sama sekali tidak kita terima sebagai paket kiriman; kitalah yang harus mencarinya, dengan coba- coba dan melakukan ralat perbaikan, dengan perjuangan yang panjang. Dalam bukunya On Pilgrimage, Dorothy Day merenungkan masalah yang peka bagaimana orang Kristiani harus menyeimbangkan tuntutan keadilan dan tuntutan damai. Dorothy tidak memberikan jawaban yang sederhana, tetapi mengungkapkan dasar yang baik untuk setiap usaha dalam hal itu: merendahkan hati. Pastilah kebebasan yang diberikan Tuhan kepada kita merupakan anugerah yang mengerikan, dan Dia meninggalkan kita untuk melakukan tugas mengembangkannya melewati rawa-rawa dosa dan kebencian dan kekejaman dan penghinaan yang ada di sekitar kita. Rawa-rawa yang kita buat sendiri. Aku bisa bersimpati pada naluri kemarahan suci yang membimbing orang angkat senjata dalam suatu revolusi, ketika aku melihat orang-orang tua yang dilupakan di rumah sakit jiwa, orang-orang yang tidur di emper-emper toko, atau mengaduk-aduk tempat sampah mencari makanan; atau
    • Hidup yang Berkelimpahan 303 mengunjungi keluarga di pemukiman kumuh, yang sering kali kedinginan, atau para pengungsi.... Kita memang bukan kaum Sosialis Marxis, kita juga tidak percaya pada revolusi yang kejam. Namun kita sungguh percaya bahwa lebih baik melakukan revolusi, berjuang, seperti yang dilakukan Fidel Castro141 dan para pengikutnya, daripada tidak berbuat apa-apa, .... Sampai kita sendiri sebagai para pengikut Kristus menyangkal penggunaan perang sebagai cara mencapai keadilan dan kebenaran, kita tidak ke mana-mana hanya dengan mengecam mereka yang menggunakan perang untuk mengubah tatanan sosial. Berbicara ketika Gerakan Hak-hak Sipil memuncak, Martin Luther King Jr membahas hal yang sama, mengkritik orang-orang yang hanya berdiri di pinggir lapangan, yang hanya bicara tentang keadilan namun terus-menerus menghambat setiap usaha untuk melakukan sesuatu. “Dalam beberapa tahun aku sangat kecewa dengan kaum moderat kulit putih ... yang lebih membela “hukum dan ketertiban” daripada membela keadilan.” Orang lain, terutama banyak kaum muda Afrika- Amerika merasa bahwa King sangat berhati-hati dan tidak efektif karena mengandalkan kekuatan gerakan tanpa kekerasan (ahimsa) versi Gandhi. King menolak imbauan mereka untuk mengikuti metode kerja yang kurang damai untuk mengusahakan perubahan, tetapi ia tidak mengecam taktik mereka: “jika kaum tertindas disangkal hak-haknya untuk melakukan revolusi damai, bagaimana mereka bisa disalahkan jika kemudian berubah menjadi revolusi dengan kekerasan?” 141 Pemimpin Kuba
    • 304 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Harapan Di mana pun Tuhan berada, damai ada di dekat-Nya. Kehadiran-Nya membawa lepasan dari keresahan batin, dari rasa hancur, dan dorongan- dorongan yang bermusuhan; diberikan-Nya keselarasan antara hati, budi, dan jiwa. Tapi Dialah Allah yang hidup, dan karena itu Dia adalah tindakan sebagaimana Dia adalah damai. Dan atas dasar keselarasan yang dibawa-Nya, Ia memberikan kesatuan yang lebih luas. Kesatuan itu adalah kegembiraan kasih; kesatuan antara tujuan dan tindakan, komunitas, persaudaraan, dan keadilan untuk semua. Eberhard Arnold D amai adalah daya yang memberi kehidupan. Damai menyembuhkan apa yang telah patah, meremajakan yang telah usang, melepaskan apa yang terikat dan terkungkung. Damai memberi harapan di mana ada putus asa, keselarasan di mana ada perselisihan, kasih di mana ada kebencian. Damai memberikan kesatuan pada apa yang cerai-berai, ketaatasasan di mana ada kompromi dan kemangkiran. Damai menembus setiap sudut, baik spiritual maupun material, baik material maupun spiritual. Jika tidak dapat melaksanakan transformasi itu tentulah bukan damai sejati, tetapi sungguh-sungguh damai palsu belaka. Damai berasal dari Allah, tapi jangkauannya sampai ke bumi. Dan ketika dayanya bertiup, damai itu mengubah orang dan pelbagai struktur. Tujuannya
    • Hidup yang Berkelimpahan 305 seluruh kosmos tapi awalnya diam-diam, sering kali tak terasakan, dari dalam. Di mana damai itu memerintah, ada kesatuan antara diri dengan diri sejati, antara pria dan wanita, antara Allah dan manusia. Ada kesatuan antara pokok dan ranting anggur; tempat-tempat ibadat disucikan dan tubuh disembuhkan. Tak satu pun hal itu terjadi dengan sendirinya, atau dalam ruang kosong. Sepanjang buku ini telah kita lihat bahwa jalan damai tidak ada kaitannya dengan kepasifan atau sikap lepas tangan. Damai bukanlah untuk yang tidak berdiri tegak atau yang diam bergelung tidur, atau mereka yang berpuas diri. Damai menuntut ketulusan hidup kita di hadirat Allah dan di hadapan sesama, dalam terang hati nurani. Damai tidak datang tanpa beban kewajiban, karena damai menuntut tindakan cinta kasih. Damai merupakan usaha tak kenal lelah yang hanya mungkin karena ditopang oleh harapan, keberanian, visi dan komitmen. Untuk mencapai damai orang tak bisa egois, mementingkan diri sendiri. Upaya itu bukanlah semata- mata demi mencapai batas akhir, atau menemukan pemenuhan, atau seperti yang dikatakan Aristoteles mewujudkan potensi manusiawi kita saja. Tidak! Mengupayakan damai berarti mengusahakan terus keselarasan di dalam diri kita sendiri, dalam hubungan dengan sesama dan dengan Tuhan. Itu berarti mengupayakan persatuan yang dikemukakan Kristus dalam doa terakhir-Nya: “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku, dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang mengutus Aku.”142 142 Yoh 17:21
    • 306 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Bahkan ketika kita berdamai dengan Allah dan merasa bersatu dengan Dia, perbedaaan antara kekecilan kita dan keagungan Allah niscaya membuat kita ciut. Namun kita tak boleh membiarkan pengetahuan tentang hal itu membuat kita menyerah. Kierkegaard menulis: “Kita harus menyingkirkan rasa takut dan tak boleh lagi bersembunyi dalam cangkang dengan menghindar dari tanggung jawab kita di hadapan kebenaran.... Kita harus masuk ke dalam kepenuhan hidup di mana segala sesuatu yang kita lakukan kita laksanakan dalam kaitan dengan keabadian.” Walaupun kedengarannya sangat hebat, namun sebenarnya hal itu sangat sederhana. Ketika mata kita menatap keabadian, kita akan digerakkan oleh kasih. Kasih pada sesama kita, kasih pada pasangan kita, kasih pada musuh kita, dan pada teman-teman kita. Dan kita akan berusaha hidup dalam keselarasan dengan semua orang dan dengan segala makhluk. “Sebab jika kamu tidak mengasihi saudaramu yang kelihatan, bagaimana mungkin kamu mengasihi Allah yang tidak kelihatan?”143 Jika kita tidak punya damai, boleh jadi itu karena kita lupa untuk saling mengasihi. Namun tak ada alasan untuk itu. Aku tidak percaya bahwa orang sedemikian kekurangan karunia kemampuan sehingga ia tidak bisa mengasihi. Santa Teresa dari Lisieux menulis: Kasih merupakan kunci bagi panggilan hidupku. Aku sadar bahwa jika Gereja merupakan suatu tubuh yang terdiri dari berbagai-bagai anggota, Gereja tak mungkin ada tanpa bagian-bagian anggota yang terbaik dan yang paling penting dari semua bagian anggotanya yang lain. Aku sadar bahwa kasih meliputi semua panggilan hidup, bahwa kasih adalah segalanya, dan karena sifatnya yang abadi, kasih ada di segala masa dan tempat. 143 1 Yoh 4:20
    • Hidup yang Berkelimpahan 307 Dipenuhi oleh kegembiraan yang meluap, aku berteriak, “Akhirnya kudapatkan panggilan hidupku. Panggilan hidupku itu adalah kasih! Aku telah mendapatkan tempatku. Aku akan menjadi kasih. Maka aku akan menjadi segala seuatu dan impianku terlaksana!” Mengapa aku menyebutkan kegembiraan yang meluap? Rupanya istilah yang kurang tepat. Seharusnya yang kusebutkan adalah damai, tenang dan tenteram seperti yang dirasakan seorang nakhoda ketika ia melihat mercu suar yang mengantarkannya ke dalam suatu pelabuhan. Dan aku tahu bagaimana aku mendapatkannya dan bagaimana aku memperoleh nyalanya bagi diriku. Kebanyakan dari kita tak punya antusiasme biar hanya separuh saja dari antusiasme Santa Teresa. Sebaliknya, seperti yang dicatat oleh Christoph Blumhardt, damai dan kesatuan malah hilang dari hidup kita. Kita segera terjerat dalam jaring-jaring gosip, kebencian, iri hati, penuh dengan racun.... Kita bertengkar dan cemburu satu sama lain bahkan dalam nama Kristus. Hal itu sepertinya akan berlanjut terus selamanya, yang satu menyerang yang lain, dan tak seorang pun bisa mewujudkan damai. Kita ini begitu jauh dari yang seharusnya sebagai orang yang menyimpan sabda Tuhan dalam hati kita dan mengikuti Kristus Penyelamat dalam praktik hidup kita! Ia terus melanjutkan, “Namun mengapa hati kita tidak terbuka lebar dan jadi bebas, agar kita menjadi saudara dan saudari? Mengapa kita tidak berpengharapan?” Rabbi Hugo Gryn, seorang yang berhasil selamat dari bencana kamar gas beracun Nazi Jerman belajar tentang pentingnya harapan sebagai seorang pemuda di Auschwitz, di mana ia dipenjarakan dalam satu barak dengan ayahnya.
    • 308 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Kendati situasinya tak terperikan, banyak orang Yahudi, termasuk ayahku, tetap berusaha menjalankan kewajiban agama sejauh mungkin. Pada suatu malam di tengah musim dingin seorang teman sekamar mengingatkan ayah bahwa sebentar lagi adalah malam pertama Hanukkah, pesta cahaya. Selama beberapa hari ayahku membuat kandela sembilan cabang kecil dari logam-logam bekas. Untuk sumbu lampunya ia mengurai benang dari baju seragam penjaranya. Dan sebagai ganti minyak untuk lampu itu ia mengusahakan mentega dari seorang penjaga. Ibadat semacam itu dilarang keras, tapi kami sudah biasa mengambil risiko. Yang aku protes adalah mengapa kita “memboroskan” kalori yang sangat berharga. Bukankah sebaiknya membagikan mentega itu untuk roti-roti kita daripada membakarnya? “Hugo,” kata ayahku, “kamu dan aku tahu bahwa orang bisa hidup lama tanpa makanan tertentu. Tapi biarlah kamu tahu, orang tak dapat tetap hidup biar sehari pun tanpa harapan. Mentega ini akan menghidupkan nyala harapan. Jangan biarkan harapan padam. Di sini atau di mana pun. Ingatlah ini!” Cerita Rabbi Gryn menyentuh suatu kebenaran yang diketemukan banyak orang baik sebelum maupun sesudah dia: pada akhirnya, harapanlah yang memungkinkan kita hidup terus dari hari ke hari. Visi apokaliptik memberi kami harapan, bahwa walaupun bukti-bukti yang nyata ada tidak mendukung, pada akhirnya yang baiklah yang akan menang. Di dalam Kitab Wahyu dikatakan bahwa keadilan akan dipulihkan dan Allah akan datang bersama mereka yang mengalami penderitaan yang paling keji, ketidakadilan dan kekerasan di dunia. Tuhan yang tidak akan membentak-bentak dan kejam seperti seorang diktator,
    • Hidup yang Berkelimpahan 309 melainkan yang dengan lembut “menghapus semua air mata dari mata mereka” 144 Kathleen Norris Jika kita beriman, tak ada yang dapat menghalangi tindakan kita atas dasar harapan. Kita mungkin “dengan sabar menunggu kedatangan Tuhan,” seperti yang dianjurkan Injil, tetapi jika kita sungguh-sungguh berharap niscaya akan ada tindakan dalam penantian kita itu. Pada hari terakhir 1997 di Chiapas, Meksiko, ratusan orang Indian Tzotzil melakukan pawai peringatan di desa Acteal, tempat empat-puluh-lima pejuang mereka, kebanyakan wanita dan anak-anak, secara kejam telah dibunuh oleh milisi pro-pemerintah sembilan hari sebelumnya. Hidup di suatu kawasan terpencil di mana penindasan politik dapat menyebabkan orang tiba-tiba “hilang” satu demi satu, para peserta pawai itu tahu bahwa pawai mereka itu bukannya tidak berbahaya. Tanpa membawa senjata para peserta pawai itu menghadapi bahaya dari dua jurusan karena posisi mereka: walaupun mereka itu mendukung tujuan perjuangan para pejuang kemerdekaan setempat, Zapatista, mereka tetap menentang penggunaan kekerasan dan dengan demikian mereka dituduh oleh kedua pihak yang berlawanan baik sebagai partisan di satu sisi maupun tidak loyal di sisi yang lain. Namun pawai itu juga bukan suatu tindakan untung-untungan. Pawai peringatan itu merupakan tindakan perlawanan yang dilakukan dengan tekad penuh dan harapan. Suatu papan tanda yang digantung pada salib yang berada di depan iring-iringan itu tertera, “Waktu untuk 144 Why 19:1-2; 7:17; 21:4
    • 310 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? panen, waktu untuk membangun,” dan banyak di antara para pria membawa bata (untuk melambangkan beban penderitaan yang mereka pikul, tutur seseorang) yang rencananya untuk membangun tugu nisan bagi para korban. Beberapa orang berencana untuk menetap dalam desa lagi, walaupun mereka tahu mungkin mereka terpaksa harus lari lagi. Dan sambil mengusung patung Santa Perawan Maria yang telah rusak “atas nama damai”, mereka tetap setia pada sikap menolak kekerasan. Siapakah pria dan wanita yang begitu pemberani berhadapan dengan maut itu? Apakah kedamaian mereka merupakan tanda dari kekuatan luar biasa yang layaknya ditunjukkan para martir? Mungkin mereka hanya merasa seperti istri Phil Berrigan, Elizabeth McAlister yang menulis setelah masa hukuman penjara terakhir yang dialami suaminya: Visi Tuhan, atau lebih tepat janji Tuhan, tentang suatu masyarakat yang adil dan penuh kasih merupakan janji di mana kita mempertaruhkan hidup kita. Tak seorang pun dari kami puas sebelum mewujudkan janji ini bagi segala bangsa dan segala bumi. Demikianlah kamu mempertaruhkan hidupmu atas visi Allah pada Yesaya, akan tiba saatnya orang akan melebur pedang mereka dan menjadikannya mata bajak, dan tombak- tombak mereka menjadi sabit; karena itu kita bertahan dan ditopang oleh Allah sendiri. Dengan memasang badanmu demi visi Allah itu sekarang, kamu ambil bagian di dalam mewujudkannya-tak kurang, tak lebih. Di dalam Novel The Brothers Karamazov, Fyodor Dostoevsky menulis dengan harapan dan iman yang serupa itu. Pembicaraan terjadi antara Pastor Zossima (yang waktu itu masih muda) dengan seorang tamu misterius yang tak dikenal.
    • Hidup yang Berkelimpahan 311 Kata tamu itu, “Surga letaknya tersembunyi di dalam diri kita yang ada di sini dan letaknya tersembunyi dalam diriku sekarang, dan jika aku menghendakinya, surga itu akan dinyatakan padaku besok dan selamanya.” Aku menatapnya. Ia bicara dengan penuh perasaan dan memandang diriku dengan cara yang aneh, seolah- olah sedang mengujiku. “Dan bahwa kita semua bertanggung jawab pada semua orang dalam segalanya, lepas dari dosa-dosa kita sendiri, pikiranmu sangat tepat dalam hal itu, dan hebat sekali bahwa kamu bisa memahami hal itu dengan segera semuanya. Dan dengan sesungguh-sungguhnya, begitu orang dapat memahami hal itu, Kerajaan Surga bukan lagi impian baginya, melainkan suatu kenyataan hidup.” “Lalu kapan,” teriakku dengan hati pedih, “kapan semuanya itu lenyap? Haruskah ia datang untuk berlalu setiap kalinya? Dengan begitu bukankah ia hanya impian saja?” “Lalu apa? Apakah kamu tidak percaya?” balas tamu itu. “Kamu menyatakannya dalam khotbahmu namun kamu sendiri tidak percaya? Percayalah, impian yang kamu sebutkan itu, niscaya akan datang untuk berlalu; ia akan datang, tapi bukan sekarang, karena segala sesuatu ada prosesnya sendiri. Suatu proses rohani, proses secara psikologis. Untuk mengubah dunia, untuk menjadikannya baru, orang harus ganti haluan menempuh jalur psikologis. Sampai kamu sungguh- sungguh menjadi saudara bagi semua orang, persaudaraan itu datang menetap tak akan lenyap. Bukan semacam ajaran ilmiah, bukan semacam kepentingan umum, ajarkanlah selalu kepada semua orang agar berbagi kekayaan dan hak-hak secara merata. Setiap orang akan mengira bagian yang diperolehnya terlalu kecil, dan mereka akan selalu iri hati, mengeluh dan saling mengecam. Tanyakan, kapan hal itu datang
    • 312 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? dan berlalu. Hal itu akan datang untuk berlalu, tapi mula- mula kita harus melalui pengasingan dulu.” “Apa maksudnya pengasingan itu?” “Mengapa? Pengasingan terjadi di mana-mana, terutama dalam zaman kita ini, walaupun belum sepenuh-penuhnya, belum mencapai batas akhirnya. Sebab setiap orang harus menyembunyikan dirinya sendiri sejauh mungkin. Semua orang akan berharap mengamankan sebaik-baiknya kepenuhan hidupnya sendiri dan lupa bahwa jaminan yang sesungguhnya terdapat pada solidaritas sosial ketimbang pada upaya perorangan yang terasing sendirian. Namun individualisme yang mengerikan ini tak dapat tidak harus diakhiri, dan mendadak semuanya akan mengerti betapa tidak tepat kita terpisah satu sama lain. Itu akan menjadi semangat suatu masa, dan orang akan heran sendiri mengapa begitu lama mereka itu duduk sendirian di tempat gelap tanpa melihat cahaya. Lalu suatu tanda Putra Manusia akan tampak di langit. “Namun sebelum itu, kita harus terus mengibarkan panji-panji. Kadang-kadang orang harus memberi contoh, sekalipun harus melakukannya sendirian dan kelakuannya itu seperti orang gila, dan dengan demikian menarik jiwa orang-orang keluar dari keterasingannya dan memasukkannya dalam tindakan kasih persaudaraan, itulah gagasan yang tak akan pernah hilang.”