2        Kedamaian, di Manakah Kau Berada?




                              Sanksi Pelanggaran Pasal 72
             Unda...
3




Kedamaian,
di Manakah Kau Berada?
Catatan dan Pembicaraan Sepanjang Penziarahan Hidup




           Seeking Peace
 ...
4        Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

                        Seeking Peace
              Notes and Conversations al...
5


P   ikirkanlah sejenak makna kata “damai”. Tidakkah
    kelihatan aneh ketika para malaikat menggemakan
damai, sementa...
7




       Ucapan Terimakasih


B    elasan orang membantu sampai buku ini selesai
     dicetak, tetapi aku ingin menyam...
8     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Cornell, Pastor Benedict Groeschel, Thick Nath Hanh,
Molley Kelly, Frances Kieffe...
9




                       Daftar Isi


Ucapan Terimakasih ..............................................     7
Kata Pen...
10      Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

     Damai Karena Tak Ada Perang ..................................            ...
Daftar Isi          11

Bagian V
Hidup yang Berkelimpahan ................................... 245
     Jaminan Keselamatan...
13




             Kata Pengantar
                    Oleh: Madeleine L’Engle2




S  halom. Damai. Suatu damai yang tida...
14    Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

     Pada akhir suatu abad yang kita ketahui jauh dari damai,
menyenangkan sekali...
Kata Pengantar     15

menunjukkan ketegangan tanpa harapan. Tanpa
melihat dia, aku mulai mencoba mengirimkan damai
kasih ...
16   Kedamaian, di Manakah Kau Berada?
KATA PENGANTAR                                                      17




                 Pendahuluan
                  ...
18     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Mereka malahan marah dan frustrasi, sehingga apa yang
dikerjakannya tidak sunggu...
Pendahuluan       19

atau Gereja kita maka boleh jadi suatu perang sedang
berlangsung dalam diri kita juga. Dengan demiki...
20   Kedamaian, di Manakah Kau Berada?
21




                 Bagian

                    I



Mengupayakan Damai
  “Harapan adalah yang tersisa bagi kita
     ...
22    Kedamaian, di Manakah Kau Berada?


     Mengupayakan Damai

K     ita hidup dalam suatu dunia yang tidak damai;
   ...
Mengupayakan Damai         23

     Melihat secara manusiawi segala hal itu, rasanya sia-
sia menulis sebuah buku tentang ...
24     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

     Ketika mengerjakan buku ini aku melihat iklan dengan
foto seorang wanita di...
Mengupayakan Damai        25

galangan kapal di Maine, banyak orang tidak menyukai
tindakannya. Phillip menyatakan bahwa b...
26    Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

rohani “Bagaimana Caranya” dapat diperoleh di toko-toko
buku, namun pengalaman hi...
27




                    Bagian

                     II



         Berbagai Makna
        “Hanya jika Anda telah berda...
28     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?


            Berbagai Makna

M      ulai dari kartu-kartu ucapan sampai sisipan
...
Berbagai Makna         29

    mengucapkannya, saya merasa damai dengan diri saya
    sendiri, dan antara saya dan Anda. S...
30     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?


                         Damai
            Karena Tak Ada Perang


B    agi ban...
Berbagai Makna           31

      Jika jutaan rakyat Asia mati kelaparan, sedang di
Amerika Utara dan di tempat lain ada ...
32     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

     menghendaki perdamaian, aku harus mewakili damai
     di semua bidang kehid...
Berbagai Makna     33


                    Damai
              Dalam Kitab Suci


S   alah satu cara mempelajari makna da...
34     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

     Pada tahun 600 SM tentara Babilon menyerang Yudea
dan membawa tawanan dari ...
Berbagai Makna      35

mengajari anak-anak bangsa musuh dengan permainan
Yahudi, bekerja lembur untuk bangsa asing itu! –...
36     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?


                         Damai
               Sebagai Tujuan Sosial


D      un...
Berbagai Makna         37

terjadi pada kehidupan orang lain dan pemisahan yang
sering kali disebabkan oleh pertengkaran m...
38     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

memberi komentar tentang kaum muda yang merindukan
dunia yang lebih baik itu kad...
Berbagai Makna          39


                      Damai
         Dalam Hidup Perorangan


S   ylvia Beels bergabung denga...
40     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

Suatu ketika di situlah ia memutuskan, bahwa sebelum
ia dapat menyumbangkan sesu...
Berbagai Makna          41

    ikatan di antara kami yang mengantar kami ke dalam
    perkawinan. Banyak anak muda akan k...
42     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

karena perang, dia dan Matthew memutuskan untuk
melakukan aborsi.
           Wak...
Berbagai Makna          43

     diriku. Aku segera tahu bahwa aku memperoleh
     pengampunan. Suatu mukjizat, suatu karu...
44    Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

     kesibukan itu membunuh akar kebijaksanaan batin
     yang mestinya dapat mem...
Berbagai Makna     45


             Damai Tuhan

D     amai sejati bukan sekadar tujuan luhur yang
      dijunjung tinggi...
46     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

     Banyak orang yang menyebut diri sebagai orang
Kristiani dewasa ini melupaka...
Berbagai Makna     47

menyatakan dengan jelas bahwa masalahnya bukanlah
kata-kata ibadat ataupun sekadar wujud kesalehan
...
48    Kedamaian, di Manakah Kau Berada?


                    Damai
        yang Mengatasi Pemahaman


B    eberapa pembac...
Berbagai Makna           49

      Misteri dan realitas hidup yang bahagia dalam Tuhan
tidak dapat dipahami tanpa menerima...
50   Kedamaian, di Manakah Kau Berada?
51




                       Bagian

                        III



        Berbagai Paradoks
“Aku seorang tentara Kristu...
52    Kedamaian, di Manakah Kau Berada?


        Berbagai Paradoks

K    ita telah melihat bahwa walaupun kerinduan akan
...
Berbagai Paradoks         53


Bukan Damai Tapi Pedang
          Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang
     untuk membaw...
54     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

kata-kata-Nya “Segala sesuatu yang kamu kehendaki
supaya orang perbuat kepadamu,...
Berbagai Paradoks    55

satu sama lain, tetapi antara “sang pencipta melawan si
perusak; perang antara hasrat akan kehidu...
56     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

    Aku percaya bahwa daya yang tampil dari yang baik
dan yang jahat sungguh nya...
Berbagai Paradoks       57

    Kami memaklumkan perang kepada segala macam
       bentuk kekejaman kepada orang lain term...
58     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

          Setelah mengalami pertobatan, saya dibaptis pada
     pertengahan usia...
Berbagai Paradoks          59

     adalah kasih.” Saya tak dapat mengadili atau memandang
     rendah orang lain, bagaima...
60     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?


            Kekerasan Kasih

D     amai sejati memerlukan senjata, dan juga
   ...
Berbagai Paradoks         61

iman kita dengan kata-kata, dan gambaran menderita
secara fisik demi iman kelihatannya sanga...
62     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

     Demikianlah cinta Kristus merupakan daya bagi
kebenaran dan kekudusan, yang...
Berbagai Paradoks    63

pezinah, pencuri. Tetapi dalam perjumpaan rohani dengan
penghuni penjara aku mendapatkan betapa p...
64     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

          Anda bertanya apakah saya dapat menulis
     sesuatu tentang damai, da...
Berbagai Paradoks        65

     saya lakukan dan memberi ampunan agar saya
     memperoleh kesempatan kedua itu….
     N...
66     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?


             Tak Ada Hidup
                    Tanpa Kematian


S   ewaktu meng...
Berbagai Paradoks         67

pengasingan dan rasa takut. Namun jika kita mau
menyadari artinya kehidupan, kita harus dapa...
68     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

     menciptakan berbagai teknik untuk memberikan
     kompensasi demi menekan a...
Berbagai Paradoks         69

dijatuhi hukuman dua tahun penjara. Dua tahun lagi ia
harus berpisah dengan istrinya, Elizab...
70     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

     anak-anak dalam kolese, suatu keluarga yang
     menyayangi, suatu komunita...
Berbagai Paradoks         71

          Adalah damai ketika tak ada lagi dominasi, di
    mana ketidak-adilan dibongkar, k...
72     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

           Bila aku merenungkan kata-kata Yesus dalam Injil
     Yohanes 14:27 “...
Berbagai Paradoks          73

terpikir oleh kami sebelumnya: materialisme, rumah
pribadi, sebab-sebab perang. Pada 1960 k...
74     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

     Tidak ada yang istimewa dalam cerita Laurel itu. Namun
perjuangannya yang b...
Berbagai Paradoks     75


              Kebijaksanaan
                    Orang Bodoh


D     alam suratnya yang pertama ...
76     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?

mengungkapkan semangat yang niscaya menantang kita,
setiap kali kita membacanya ...
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Kedamaian
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Kedamaian

19,328

Published on

3 Comments
10 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
19,328
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
1,123
Comments
3
Likes
10
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Kedamaian

  1. 1. 2 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Sanksi Pelanggaran Pasal 72 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. 1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). 2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
  2. 2. 3 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Catatan dan Pembicaraan Sepanjang Penziarahan Hidup Seeking Peace Notes and Conversations along the Way Johann Christoph Arnold Kata Pengantar oleh Madeleine L’Engle Pendahuluan oleh Thich Nat Hanh Penerbit DIOMA – Malang
  3. 3. 4 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Seeking Peace Notes and Conversations along the Way DM 220048 Copyright terjemahan Indonesia ada pada Penerbit Dioma © 2008 PENERBIT DIOMA (Anggota IKAPI) Jl. Bromo 24 Malang 65112 Telp. (0341) 326370, 366228; Fax. (0341) 361895 E-mail: info@diomamedia.com Website: www.diomamedia.com Diterjemahkan dari buku ‘SEEKING PEACE NOTES AND CONVERSATIONS ALONG THE WAY’, by The Plough Publishing House of the Bruderhof Foundation, 1998 All rights reserved Published under agreement with The Plough Publishing House, Woodcrest Community, Rifton NY 12471, USA Darvell Community, Robertsbridge TN32 5DR, UK © 1998 by The Plough Publishing House of the Bruderhof Foundation Cetakan pertama, Januari 2009 Penerjemah: Bambang Kussriyanto Editor: L. Heru Susanto Pr Tata letak: Yosef Benny Widyokarsono Desain sampul: Ginanjar Pratama ISBN 10 : 979 - 26 - 0024 - 8 ISBN 13 : 978 - 979 - 26 - 0024 - 7 Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apa pun, termasuk fotokopi, tanpa izin tertulis dari Penerbit. Dicetak oleh Percetakan DIOMA Malang Isi di luar tanggung jawab Percetakan
  4. 4. 5 P ikirkanlah sejenak makna kata “damai”. Tidakkah kelihatan aneh ketika para malaikat menggemakan damai, sementara dunia terus-menerus dilanda Perang dan ketakutan akan Perang? Tidakkah Anda menganggap suara-suara malaikat itu keliru, dan bahwa janji itu mengecewakan dan palsu? Ingatlah sekarang, bagaimana Tuhan kita sendiri bicara tentang damai. “Damai Kutinggalkan padamu, damai-Ku Kuberikan padamu,”1 kata-Nya kepada para murid-Nya. Apakah Tuhan memaknai damai itu seperti yang dipahami para murid-Nya. Apakah Tuhan memahami damai itu seperti yang kita pikirkan: Kerajaan Inggris berdamai dengan negara-negara tetangga, para buron penguasa daerah berdamai dengan Raja, kepala rumah tangga menghitung penghasilannya dengan tenteram, hatinya tenang, menyajikan anggur terbaik di meja kepada seorang sahabat, istrinya menyanyi untuk anak-anak? Para murid-Nya tidak mengenal keadaan seperti itu: mereka melakukan perjalanan sampai jauh, menderita di darat dan di laut, disiksa, dipenjarakan, dikecewakan, mengalami kematian sebagai martir. Lalu apa maksud Tuhan? Jika Anda bertanya demikian, ingatlah bahwa Dia juga berkata, “bukan seperti yang diberikan dunia ini, yang Kuberikan kepadamu.” Dengan demikian, Tuhan memberikan kepada para umat-Nya damai, tetapi bukan damai yang diberikan dunia. T.S Eliot Cuplikan dari: Pembunuhan di Katedral 1 Yoh.14:27
  5. 5. 7 Ucapan Terimakasih B elasan orang membantu sampai buku ini selesai dicetak, tetapi aku ingin menyampaikan terimakasih khususnya kepada editorku Chris Zimmerman; sekretarisku: Emmy Maria Blough, Hanna Rimes dan Ellen Keiderling, dan seluruh staf dari Plough Publishing House. Terima kasih juga kepada mereka yang telah memberi izin kepadaku menggunakan anekdot dan surat-surat, dan mereka yang membantuku dengan berbagai cara mengerjakan buku ini: Mumia Abu- Jamal, Imam Muhammed Salem Agwa, Dale Aukerman, Daniel Berrigan, Philip Berrigan, Rabbi Kenneth L.Cohen, Tom
  6. 6. 8 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Cornell, Pastor Benedict Groeschel, Thick Nath Hanh, Molley Kelly, Frances Kieffer, Suster Ann La Forest, Madeleine L ’Engle, Pendeta William Marvin, Elizabeth Mc Alister, Bill Peke. Uskup Samuel Ruiz Garcia, dan Assata Shakur – juga banyak anggota komunitasku, Bruderhof. Atas segalanya, terima kasih pada istriku - Verena. Tanpa dukungan dan semangat darinya, buku ini tak akan pernah bisa kutulis.
  7. 7. 9 Daftar Isi Ucapan Terimakasih .............................................. 7 Kata Pengantar .................................................... 13 Pendahuluan ......................................................... 17 Bagian I Mengupayakan Damai .......................................... 21 Bagian II Berbagai Makna ................................................... 27
  8. 8. 10 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Damai Karena Tak Ada Perang .................................. 30 Damai Dalam Kitab Suci ............................................ 33 Damai Sebagai Tujuan Sosial ...................................... 36 Damai Dalam Hidup Perorangan ................................ 39 Damai Tuhan ............................................................. 45 Damai yang Mengatasi Pemahaman ............................ 48 Bagian III Berbagai Paradoks ................................................. 51 Bukan Damai Tapi Pedang .......................................... 53 Kekerasan Kasih ........................................................ 60 Tak Ada Hidup Tanpa Kematian ................................. 66 Kebijaksanaan Orang Bodoh ....................................... 75 Kekuatan dari Kelemahan .......................................... 82 Bagian IV Berbagai Batu Pijakan .......................................... 91 Kesederhanaan .......................................................... 101 Kesunyian ................................................................. 107 Kepasrahan ................................................................ 115 Doa ........................................................................... 127 Percaya ...................................................................... 138 Pengampunan ............................................................ 149 Bersyukur .................................................................. 157 Ketulusan .................................................................. 166 Kerendahan Hati ....................................................... 175 Ketaatan .................................................................... 187 Keputusan ................................................................. 196 Penyesalan ................................................................. 205 Keyakinan ................................................................. 216 Realisme .................................................................... 226 Pelayanan .................................................................. 235
  9. 9. Daftar Isi 11 Bagian V Hidup yang Berkelimpahan ................................... 245 Jaminan Keselamatan ................................................. 256 Kepenuhan ................................................................ 265 Kegembiraan .............................................................. 275 Tindakan ................................................................... 285 Keadilan .................................................................... 294 Harapan .................................................................... 304
  10. 10. 13 Kata Pengantar Oleh: Madeleine L’Engle2 S halom. Damai. Suatu damai yang tidak pasif, tetapi aktif. Suatu damai yang bukan hanya karena berhentinya kekerasan, tetapi meliputi dan lebih dari mengatasi kekerasan. Damai sejati. 2 Madeleine L’Engle adalah seorang penulis novel dan buku rohani Amerika. Mendapat banyak gelar doktor kehormatan dari berbagai universitas, khususnya di bidang sastra dan yang terakhir doktor dalam teologi dari Berkeley Divinity School. Di masa tuanya ia mengisi waktu sebagai pustakawan pada Katedral (Gereja Episcopal) Santo Yohanes Suci di Manhattan. Lahir pada 1918 di New York City dan meninggal pada 6 September 2007 di Connecticut pada usia 88 tahun.
  11. 11. 14 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Pada akhir suatu abad yang kita ketahui jauh dari damai, menyenangkan sekali membaca buku yang bagus dari Johann Christoph Arnold: Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Ia mengutip definisi kakeknya tentang damai: “damai rohani antara kita dengan Allah; tidak ada kekerasan sepenuhnya, melalui hubungan damai dengan sesama dan berlakunya tatanan sosial yang adil dan damai.” Namun setiap pagi jika aku mendengarkan berita, sepertinya kita makin jauh dan lebih jauh lagi dari ketiga ambang damai itu. Kita memerlukan buku ini untuk membimbing jalan kita menuju Shalom. Pada suatu sore di masa Puasa sepuluh tahun yang lalu, di Gereja Katedral Santo Yohanes Suci di Manhattan, aku mendengarkan Pastor Canon Edward West bicara tentang damai yang kita cari. Ia menggunakan perumpamaan yang tidak lazim tentang kereta bawah tanah. Kebanyakan dari kami yang hadir pada malam hari itu menumpang kereta bawah tanah untuk pergi ke Katedral dan untuk pergi dan pulang kerja. Ia menunjukkan kepada kami, jika kita lihat sesama penumpang kereta bawah tanah, kebanyakan dari mereka tampak seolah-olah tak dicintai seorang pun. Dan itu pada umumnya benar. Kemudian pastor melanjutkan, jika kita mau berkonsentrasi tanpa menyolok mata kepada seseorang di antara mereka, dan diam- diam kita menyatakan dengan yakin dalam hati bahwa dia itu anak yang dikasihi Allah, dan entah bagaimana keadaan di sekitarnya, dapat tinggal dalam damai Allah, mungkin kita akan melihat perbedaannya. Damai tidak selalu merupakan sesuatu yang Anda “buat”; damai adalah anugerah yang Anda sampaikan pada seseorang. Di kesempatan lain ketika aku menumpang kereta bawah tanah lagi, aku melirik seorang wanita di pojok yang bertopang dagu dengan tangan terkepal, wajahnya
  12. 12. Kata Pengantar 15 menunjukkan ketegangan tanpa harapan. Tanpa melihat dia, aku mulai mencoba mengirimkan damai kasih Allah kepadanya. Aku tidak bergerak. Aku tidak memandang dia. Aku hanya mengikuti saran Pastor Canon West, dan aku heran karena wanita itu tampak berubah lebih santai. Kepalan tangannya dibuka; tubuhnya lebih lentur; garis-garis kecemasan hilang dari wajahnya. Saat itu adalah saat yang penuh syukur bagiku, dan aku sendiri merasa diliputi dan dipenuhi oleh kedamaian juga. Itulah yang kucoba kuingat bila aku menumpang kereta bawah tanah atau naik bus, atau berjalan di jalanan yang padat, atau berdiri antre di depan kasir supermarket. Jika damai Tuhan ada di hati kita, dan kita membawanya serta, kita dapat memberikannya kepada mereka yang ada di sekitar kita. Bukan karena keutamaan dan kemauan kita. Melainkan oleh Roh Kudus yang bekerja melalui kita. Kita tidak memberikan apa yang kita tak punya, tetapi jika Roh bertiup menembus awan kelabu, dan masuk ke hati kita, maka kita pun dapat dijadikan-Nya wahana damai, dan dengan demikian damai di hati kita juga bertambah. Makin banyak damai yang kita sebarkan, makin banyak pula damai yang kita peroleh. Dalam buku Kedamaian, di Manakah Kau Berada? ini Christoph Arnold menceritakan banyak kisah seperti itu, baik sebagai selingan maupun penjelasan tentang damai yang diamanatkan agar kita upayakan. Buku ini penting dan indah, suatu buku yang sungguh perlu untuk membantu kita membawa damai Tuhan di pengujung milenium baru ini. Goshen, Connecticut Musim Panas 1998
  13. 13. 16 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?
  14. 14. KATA PENGANTAR 17 Pendahuluan Oleh: Thich Nhat Hanh3 D alam Khotbah di Bukit, Yesus berkata : “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”4 Untuk mengupayakan damai, Anda sendiri harus punya hati yang damai. Dan jika Anda punya kedamaian itu, Anda anak Allah. Sayangnya banyak orang yang mengupayakan damai justru tidak damai hatinya. 3 Thich Nhat Hanh adalah seorang bhiksu Zen Buddhisme, lahir di Vietnam 1926. Menjadi promotor Damai di berbagai forum. Pada tahun 1967 dicalonkan untuk menerima Hadiah Nobel untuk Perdamaian. Mengajar ilmu perbandingan agama. Tinggal di Dordogne, Perancis, dalam Biara Village des Pruniers (Plum Village). 4 Mat 5:9
  15. 15. 18 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Mereka malahan marah dan frustrasi, sehingga apa yang dikerjakannya tidak sungguh-sungguh menghasilkan damai. Kita tak dapat merasakan bahwa mereka itu telah menyentuh Kerajaan Allah. Untuk memelihara damai, hati kita sendiri harus berdamai dengan dunia. Dengan saudara- saudara kita. Kebenaran inilah yang merupakan inti dari buku Christoph Arnold yang kita sambut ini, Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Kita sering memikirkan damai sebagai keadaan di mana tak ada perang; sehingga jika negara-negara yang kuat mengurangi persenjataan mereka, kita mungkin akan mendapatkan damai. Tetapi jika kita merenung lebih dalam tentang senjata-senjata itu, kita melihat dalam batin kita ada prasangka, ketakutan dan sikap acuh tak acuh. Sekalipun kita pindahkan semua senjata dan bom itu ke bulan, akar peperangan dan sebab-sebab adanya bom itu masih tetap ada di sini, dalam hati dan batin kita, yang membuat kita cepat atau lambat akan membuat senjata dan bom yang baru. Yesus berkata, “Ada tertulis, “Jangan membunuh, siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum ... siapa yang berkata, ‘Jahil!’ harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.”5 Mengupayakan Damai berarti lebih dari sekadar meniadakan senjata. Awalnya haruslah mencabuti akar perang yang ada dari antara kita dan dari hati semua orang lelaki dan perempuan. Bagaimana kita mengakhiri lingkaran kekerasan? Arnold menyatakan bahwa sebelum kita berdamai dengan orang lain dan dengan dunia, kita harus berdamai dengan diri kita sendiri. Itu sungguh benar. Jika kita sendiri berperang melawan orang tua kita, melawan keluarga kita 5 Mat 5:21-22
  16. 16. Pendahuluan 19 atau Gereja kita maka boleh jadi suatu perang sedang berlangsung dalam diri kita juga. Dengan demikian langkah dasar yang harus dilakukan dalam mengupayakan damai adalah kembali pada diri kita sendiri dan menciptakan keselarasan di antara unsur-unsur yang ada dalam diri kita: perasaan kita, persepsi kita, keadaan mental kita. Sambil membaca buku ini, usahakanlah mengenali unsur-unsur yang saling bertentangan dalam diri Anda dan apa yang menjadi penyebabnya. Usahakanlah agar Anda lebih menyadari apa yang menyebabkan kemarahan dan perpisahan, dan apa yang bisa mengatasi hal itu. Cabutlah akar kekerasan dalam kehidupan Anda dan belajarlah hidup dengan memerhatikan orang lain dan berbelas kasih. Upayakan damai. Jika Anda punya damai di hati Anda, maka damai dengan orang lain pun jadi niscaya. Village des Pruniers, Perancis Musim Semi 1998
  17. 17. 20 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?
  18. 18. 21 Bagian I Mengupayakan Damai “Harapan adalah yang tersisa bagi kita di masa yang sulit.” (Pepatah Irlandia)
  19. 19. 22 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Mengupayakan Damai K ita hidup dalam suatu dunia yang tidak damai; walaupun ada pembicaraan terus-menerus tentang damai, nyatanya hanya sedikit saja damai yang ada. Begitu sedikitnya damai yang sesungguhnya, sehingga ketika aku memberitahu seorang sahabat dekat tentang buku ini, ia menyatakan bahwa menulis tentang damai tidak hanya sesuatu yang naif, tetapi juga sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan. Tak seorang pun menyangkal adanya kekerasan yang memengaruhi hidup orang di seluruh dunia, mulai dari tempat-tempat yang bergejolak seperti Chiapas, Irlandia Utara, Timor Timur, Irak dan Tepi Barat, sampai ke jalanan di kota-kota kita. Juga dalam kehidupan pribadi, sekalipun di tempat-tempat yang paling damai di luar kota, setiap hari situasi tidak-damai terwujud – dalam kekerasan rumah tangga, dalam berbagai bentuk kecanduan yang tidak sehat, dalam ketegangan yang merusak memecahkan teman usaha, sekolah dan gereja-gereja. Kekerasan juga tersembunyi di balik wajah masyarakat yang kita anggap telah mendapat pencerahan. Ada di balik kerakusan, penipuan dan ketidak-adilan yang menggerakan lembaga-lembaga keuangan besar dan lembaga-lembaga budaya kita. Ada di balik prasangka- prasangka yang mengikis perkawinan Kristiani yang terbaik sekalipun. Ada pada sikap munafik yang menggerogoti kehidupan rohani dan menodai ungkapan pelaksanaan agama yang paling saleh sekalipun hingga menjadi tidak kredibel lagi.
  20. 20. Mengupayakan Damai 23 Melihat secara manusiawi segala hal itu, rasanya sia- sia menulis sebuah buku tentang damai. Tetapi kita juga mendengar jeritan kerinduan akan damai tertuju ke surga. Suatu jeritan kerinduan dari relung hati yang paling dalam. Sebutlah dengan nama lain sesuka Anda, apakah keselarasan, ketenteraman, kesatuan, ketenangan jiwa, kerinduan akan semua itu ada pada setiap orang. Tak ada yang suka mendapat masalah, sakit kepala dan sakit hati. Setiap orang menginginkan damai, bebas dari kecemasan dan keraguan, kekerasan dan perpecahan. Setiap orang menghendaki ketenangan dan keamanan. Sementara orang dan organisasinya (misalnya International Fellowship of Reconciliation) memusatkan perhatian pada perdamaian global. Tujuannya adalah mencapai kerjasama politik dalam skala internasional. Yang lain (misalnya Greenpeace) mengusahakan peningkatan keselarasan antara manusia dan makhluk hidup lainnya, dan kesadaran akan adanya hubungan timbal balik dengan lingkungan. Yang lain mencari damai dengan mengubah gaya hidup: dengan pindah kerja, pindah tempat tinggal dari kota ke pinggiran kota (dan dari pinggiran kota ke pedalaman), mengurangi anggaran belanja, melakukan penyederhanaan, atau apa pun untuk meningkatkan mutu kehidupan mereka. Ada anak muda yang setelah tinggal di luar negeri kembali pada komunitasku, sesudah meluncur liar dengan pergerakan uang yang begitu cepat dan hubungan-hubungan zinah, ia rindu sekali untuk dapat bangun pagi hari dan berdamai dengan diri sendiri dan dengan Tuhan. Yang lain masih bertahan pada kehidupan mereka sekarang: senang dan kecukupan, sehingga mereka bilang tak memerlukan apa-apa lagi, tapi kukira di balik apa yang tampak itu mereka tak punya damai sejati.
  21. 21. 24 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Ketika mengerjakan buku ini aku melihat iklan dengan foto seorang wanita di atas kapal. Ia meringkuk di sebuah kursi, memandang jauh ke seberang telaga pada matahari yang sedang tenggelam. Tertulis di situ: “Suatu impian tentang pekerjaan, anak-anak yang baik. Perkawinan yang bahagia. Dan perasaan kosong sama-sekali yang sedang mengancam.” Ada berapa banyak orang yang berbagi dengan ketakutan yang tak terungkapkan dari wanita itu? Pada tingkatan tertentu kita semua mengusahakan hidup sesuai dengan kehendak Sang Pencipta. Suatu kehidupan yang selaras, gembira, adil dan damai. Masing- masing dari kita memimpikan kehidupan tanpa sakit dan penderitaan, yang dikeluhkan orang setelah hilangnya Taman Eden (menurut Kitab Suci). Kerinduan akan tempat dan waktu seperti itu ada sejak dulu dan selalu di mana saja. Beberapa ribu tahun yang lalu, Nabi Yesaya mengimpikan kerajaan damai di mana singa berbaring dengan anak domba.6 Dan setelah berabad-abad kemudian, bagaimana gelapnya cakrawala, dan betapapun sengitnya peperangan, lelaki dan perempuan menaruh harapan kepada visi Nabi itu. Ketika aktivis antiperang Phillip Beriggan7 belum lama berselang diadili dan dijatuhi hukuman karena keterlibatannya dalam pembangkangan sipil di suatu 6 Yes 11:6-9 7 Phillip Berrigan adalah seorang aktivis antiperang kelahiran Two Harbors, Minnesota, 1923. Ia ditahbiskan menjadi pastor Katolik pada 1955 dan setelah 18 tahun berkarya ia meninggalkan imamat pada 1973. Dalam banyak aksinya menentang perang Phil terkesan anarkis. Pada tahun 1999 ia ditahan dan dijatuhi hukuman penjara 30 bulan. Ia dilepaskan dari penjara pada Desember 2001. Selama hidupnya ia dipenjara 11 tahun karena aksi-aksinya. Pada 6 Desember 2002 ia meninggal pada usia 79 tahun meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak.
  22. 22. Mengupayakan Damai 25 galangan kapal di Maine, banyak orang tidak menyukai tindakannya. Phillip menyatakan bahwa berdasarkan norma apa pun mereka “membentuk suatu panggung absurd.” Tetapi ia menambahkan bahwa ia lebih suka di penjara karena keyakinannya daripada mati “di pantai seperti itu”. Berapa banyak dari kita yang bisa berkata begitu? Phillip berumur tujuh puluh tahun waktu itu, tetapi ia terus saja melakukan kampanye tak jemu-jemu melawan industri senjata nuklir dengan kekuatan yang tak sesuai dengan usianya. Komunitasku, Bruderhof, juga sering dituduh tidak realistis. Yah. Kami memang meninggalkan lorong kehidupan yang cocok bagi kebahagiaan kelas-menengah. Kami meninggalkan rumah dan kekayaan, karier, rekening bank, reksa-dana bersama dan masa pensiun yang nyaman. Sebaliknya kami berusaha hidup bersama menurut contoh umat Kristiani Perdana. Kami memperjuangkan kehidupan melalui pengorbanan dan disiplin dan saling melayani. Cara ini bukanlah suatu damai yang diberikan dunia. Apa itu damai, dan apa itu realitas? Untuk apa kami hidup dan apa yang hendak kami wariskan kepada anak- anak dan cucu-cucu kami? Walaupun mungkin kita bahagia, apa yang kita punya sesudah perkawinan dan anak-anak. Sesudah punya mobil dan pekerjaan? Haruskah yang kita wariskan adalah realitas dunia yang berisik oleh senjata, dunia kebencian antar-kelas sosial dan keluhan keluarga, dunia di mana tak ada cinta dan orang menusuk dari belakang, ambisi egois dan penghinaan? Atau adakah realitas yang lebih besar, di mana semua itu diatasi oleh kuasa Sang Pangeran Perdamaian? Dalam halaman-halaman berikut kuusahakan untuk tidak menguraikan pokok-pokok masalah ini, juga tidak menyajikan argumentasi yang kokoh. Buku pedoman
  23. 23. 26 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? rohani “Bagaimana Caranya” dapat diperoleh di toko-toko buku, namun pengalaman hidup damai tidaklah serapi itu. Seringkali hidup ini acak-cakan tidak karuan. Bagaimanapun setiap pembaca akan mendapatkan tempat yang cocok bagi dia, berbeda-beda dalam pencariannya. Aku juga akan berusaha menghindari jangan hanya tinggal pada akar situasi tidak-damai. Orang dapat memusatkan seluruh buku untuk membahas pokok persoalan, tetapi hal itu dapat membuat pembaca terlalu tertekan. Tujuanku sangat sederhana saja, yaitu menyajikan batu loncatan di sepanjang jalan dan harapan secukupnya agar Anda selalu Mengupayakan Damai.
  24. 24. 27 Bagian II Berbagai Makna “Hanya jika Anda telah berdamai dengan diri Anda sendiri barulah Anda dapat menciptakan damai di dunia.” (Rabbi Sincha Bunim)
  25. 25. 28 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Berbagai Makna M ulai dari kartu-kartu ucapan sampai sisipan pembatas buku, dari papan reklame sampai handuk lap piring, kebudayaan kita berlimpah dengan bahasa damai. Kata-kata seperti “damai dan kehendak baik” tampaknya sangat luas penggunaannya, sehingga begitu disusutkan menjadi slogan klise. Di dalam surat- menyurat, banyak di antara kita memberikan sebagai penutup surat pribadi dengan kata “Peace” atau “Damai”. Pada tataran lain, banyak pemerintahan Negara dan media massa berbicara tentang batalion “penjaga perdamaian” bersenjata berat ditempatkan di wilayah- wilayah yang porak-poranda oleh perang di seluruh dunia. Di dalam gereja-gereja, para pastor dan pendeta menutup ibadat dengan “Pergilah dalam damai,” dan walaupun kata-kata itu dimaksudkan sebagai bagian dari berkat, tetapi lebih sering dipahami sebagai isyarat untuk bubar dan sampai ketemu dalam ibadat hari Minggu berikutnya. Muhammad Salem Agwa, Imam utama (Mubaliqh, guru Islam) di New York City menunjukkan bahwa para Muslim yang baik menyapa satu sama lain waktu berjumpa dengan kata-kata Assalamu’alaikum. Namun katanya, juga di antara mereka salam damai itu seringkali jatuh menjadi kelaziman basa-basi yang disampaikan hanya dengan sedikit kesadaran akan tanggungjawab bersama yang terkandung di dalamnya: Saya menggunakan Assalamualaikum sebagai sapaan sehari-hari, tetapi artinya bukan sekadar “Selamat Pagi” atau “Selamat Sore”. Sapaan itu berarti “Damai dan berkat dari Allah atas dirimu.” Ketika saya
  26. 26. Berbagai Makna 29 mengucapkannya, saya merasa damai dengan diri saya sendiri, dan antara saya dan Anda. Saya mengulurkan tangan untuk membantu Anda. Saya datang kepada Anda untuk menyampaikan damai kepada Anda. Dan sementara itu, sampai kita bertemu lagi, itu berarti bahwa saya berdoa agar Allah memberkati Anda dan mengasihani Anda dan mempererat hubungan saya dengan Anda sebagai saudara. Dunia niscaya akan berbeda keadaannya seandainya kita sungguh-sungguh berdamai dengan siapapun yang kita sapa sepanjang hari, jika kata-kata kita lebih dari basa-basi kesopanan belaka dan sungguh-sungguh timbul dari dalam hati kita. Dalam kenyataannya, seperti yang tak henti-hentinya ditunjukkan oleh orang-orang yang tak ber-Tuhan, beberapa konflik yang begitu banyak menumpahkan darah sepanjang sejarah umat manusia adalah karena kita tak berhenti bertengkar mengenai perbedaan agama. Tak heran para Nabi zaman dulu berkata, “Mereka mengobati luka umatku dengan berkata, ‘Damai, damai’ padahal tak ada damai.”8 8 Yer 6:14; 8:11
  27. 27. 30 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Damai Karena Tak Ada Perang B agi banyak orang damai berarti secara nasional keadaan aman, stabil, tertib dan teratur. Berhubungan dengan pendidikan, kebudayaan dan kewajiban kewarganegaraan, kemakmuran dan kesehatan nyaman dan tenang. Damai adalah kehidupan yang sentosa. Tapi dapatkah damai didasarkan pada hal-hal yang didistribusikan kepada semua orang? Jika kehidupan yang sentosa berarti ada pilihan yang tak terbatas dan konsumsi berlebihan pada sedikit orang yang punya privilege (hak-hak khusus) saja, dan selanjutnya itu pasti berarti kerja keras dan kemiskinan yang meruyak bagi jutaan orang yang lain. Inikah damai? Di penghujung awal Perang Dunia Kedua, kakekku, Eberhard Arnold9, menulis: Cukupkah sikap yang membela ketenangan? Kukira tidak memadai. Bila ribuan orang dibunuh secara tidak adil, tanpa proses pengadilan di bawah pemerintahan baru Hitler, bukankah itu sudah berarti perang? Jika ratusan ribu orang dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi, direnggut kemerdekaannya, dicopot martabat kemanusiaannya, bukankah itu perang? 9 Eberhard Arnold adalah pendiri Komunitas Bruderhof berdasarkan Khotbah di Bukit. Penulis, filsuf, teolog Kristiani. Lahir di Prusia pada 1888. Meninggal 1935. Komunitasnya dilanjutkan oleh putranya, dan kemudian oleh cucunya, yang adalah penulis buku ini.
  28. 28. Berbagai Makna 31 Jika jutaan rakyat Asia mati kelaparan, sedang di Amerika Utara dan di tempat lain ada jutaan ton gandum ditumpuk, bukankah itu perang? Jika ribuan perempuan melacurkan tubuhnya dan menghancurkan kehidupan mereka demi uang; jika jutaan bayi digugurkan setiap tahun, bukankah itu perang? Jika orang dipaksa bekerja sebagai budak karena mereka tak dapat memberikan susu dan roti kepada anak-anak mereka, bukankah itu perang? Jika orang-orang kaya hidup di dalam villa-villa yang dikelilingi kebun-kebun, sedang di kawasan lain keluarga-keluarga hanya punya satu kamar untuk tinggal bersama, bukankah itu perang? Jika orang menyimpan uang dalam jumlah besar dalam rekening bank sementara yang lain tidak cukup mendapat uang untuk kebutuhan dasar mereka, bukankah itu perang? Jika pengemudi yang ceroboh menyebabkan ribuan orang mati oleh kecelakaan di jalan setiap tahun, bukankah itu perang? Aku tak dapat mewakili suatu aliran yang suka ketenteraman yang mengatakan bahwa tak ada perang lagi. Pernyataan itu tidak benar; perang sudah ada hari- hari ini.... Aku tidak setuju dengan sikap suka ketenteraman yang wakil-wakilnya justru berpegang pada akar-akar penyebab perang : para tuan tanah dan kapitalis. Aku tidak percaya kepada sikap pembela ketenangan yang ditunjukkan oleh para pengusaha yang justru menghabisi pesaingnya sampai bangkrut atau para suami yang tidak dapat hidup dalam damai dan dalam kasih justru dengan istrinya sendiri.... Aku lebih suka sama sekali tidak menggunakan istilah “pacifism” (penyuka ketenangan). Tetapi aku mau memajukan perdamaian. Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang membawa damai!” Jika aku memang
  29. 29. 32 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? menghendaki perdamaian, aku harus mewakili damai di semua bidang kehidupan. Di dalam khazanah politik, damai mungkin mengambil bentuk perjanjian dagang, kompromi dan perjanjian damai. Perjanjian semacam ini biasanya sedikit lebih dari perimbangan kekuatan yang rapuh, yang dirundingkan dengan tegang dan acapkali malah menanamkan benih-benih konflik baru yang lebih buruk daripada konflik-konflik yang sedang diusahakan untuk dipecahkan. Ada banyak contohnya, mulai dari Perjanjian Versailles yang mengakhiri Perang Dunia Pertama tetapi menghasilkan nasionalisme yang menyulut Perang Dunia Kedua, hingga Konferensi Yalta, yang mengakhiri Perang Dunia Kedua tetapi menyebabkan ketegangan yang mengarah pada Perang Dingin. Gencatan senjata bukanlah suatu jaminan yang mengakhiri kebencian. Semua orang setuju bahwa damai merupakan jawaban atas perang, tapi damai macam apa? Rabbi Kenneth L. Cohen menulis: Kegelapan terjadi karena tak ada cahaya, tetapi damai bukan sekadar karena permusuhan berhenti. Perjanjian mungkin ditandatangani, para duta besar berganti, dan tentara dipulangkan ke barak-barak kembali, namun tetap saja tak ada damai. Damai mempunyai implikasi metafisik dan kosmis. Damai lebih dari sekadar tak ada perang. Sesungguhnya, damai bukan berarti sesuatu tidak ada, tetapi lebih merupakan penegasan mutlak dari sesuatu yang seharusnya ada.
  30. 30. Berbagai Makna 33 Damai Dalam Kitab Suci S alah satu cara mempelajari makna damai adalah dengan melihat apa yang dikatakan Kitab Suci. Di dalam Perjanjian Lama mungkin tidak ada konsep yang lebih kaya daripada kata Ibrani untuk damai: Shalom. Shalom sulit diterjemahkan karena cakupan konotasinya begitu dalam dan luas. Maknanya tidak tunggal, walaupun orang dapat menerjemahkannya sebagai sesuatu yang lengkap, mendalam dan menyeluruh. Jangkauannya lebih jauh dari “damai” seperti yang umumnya kita ketahui dalam bahasa kita. Shalom memang berarti berakhirnya perang atau konflik, tetapi juga berarti persahabatan, senang, aman dan sehat; kemakmuran, kelimpahan, ketenangan, keselarasan dengan alam, bahkan keselamatan. Dan semuanya itu untuk semua orang, bukan hanya untuk sekelompok orang pilihan saja. Shalom akhirnya adalah berkat, karunia dari Allah. Damai bukan berasal dari usaha manusia. Shalom berlaku untuk orang perorangan, tetapi juga berlaku untuk hubungan-hubungan di antara orang-orang, bangsa-bangsa, dan antara Tuhan dan manusia. Selain itu, Shalom sangat erat kaitannya dengan keadilan, karena Shalom adalah kesukaan atau perayaan dari hubungan manusia yang dibenarkan. Dalam buku He Is Our Peace, Howard Goeringer melukiskan makna yang lebih dalam dari Shalom: Kasih kepada musuh.
  31. 31. 34 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Pada tahun 600 SM tentara Babilon menyerang Yudea dan membawa tawanan dari Yerusalem ke tempat pengasingan/pembuangan. Situasinya begitu sulit sehingga Yeremia menuliskan suratnya yang hebat ini kepada para tawanan di Babilon yang membenci musuh mereka: “Carilah shalom di kota di mana Aku mengirim kamu dalam pembuangan, dan berdoalah kepada Allah demi mereka, sebab dalam Shalom mereka kamu akan mendapatkan shalommu.”10 Dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia :”Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejehteraannya adalah kesejahteraanmu.” Para tawanan dipaksa hidup sebagai orang buangan dan mereka memerhatikan kebudayaan Yahudi mereka runtuh. Karena membenci orang yang menawan mereka, rindu kembali ke tanah air mereka, dan kecewa pada kegagalan Tuhan dalam melindungi mereka, orang-orang itu tidak percaya pada perkataan Yeremia. Bagaimana mungkin orang gila suruhan Tuhan itu menyuruh mereka mengasihi orang yang menawan mereka, menyuruh mereka berbuat baik kepada musuh, dan menyuruh mereka memintakan agar Tuhan memberkati para penganiaya itu dengan shalom? Seperti dugaan kita, Surat Yeremia itu tidak populer, bukan best seller. Kaum buangan yang menderita tidak bisa memahami bagaimana kesejahteraan mereka dan kesejehteraan musuh mereka terjalin menjadi satu tak terpisahkan. Membayangkan bagaimana mereka disuruh melayani bangsa yang menawan mereka dengan semangat kebaikan hati, merawat bangsa lawan yang sakit, 10 Yer 29:7
  32. 32. Berbagai Makna 35 mengajari anak-anak bangsa musuh dengan permainan Yahudi, bekerja lembur untuk bangsa asing itu! – itu semua jelas–jelas bodoh! Tidak masuk akal. Bukan hanya di mata kaum cerdik pandai dunia, tetapi juga bagi umat yang paling religius sekalipun. Damai merupakan tema sentral dalam Perjanjian Baru, di mana kata eirene paling sering dipakai. Dalam konteks biblis, eirene jauh melebihi makna klasik kata Yunani itu: “tenteram,” dan meliputi berbagai konotasi dari shalom. Di dalam Perjanjian Baru Yesus Kristus adalah pembawa tanda dan sarana damai dari Allah. Paulus menyatakan Kristus adalah perdamaian kita.11 Di dalam Dia segala sesuatu didamaikan. Dalam Kabar Gembira Kerajaan Allah itulah segalanya dijadikan benar. 11 Ef 4:12
  33. 33. 36 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Damai Sebagai Tujuan Sosial D unia penuh dengan para aktivis yang memperjuangkan tujuan-tujuan yang beharga: ada yang membela lingkungan hidup dan yang membela para gelandangan, para aktivis antiperang dan pejuang keadilan sosial, para pembela kaum wanita yang teraniaya dan kaum minoritas yang tertindas. Pada tahun enam puluhan banyak orang dari berbagai kalangan keagamaan turun ke jalan bersama Martin Luther King12. Dalam tahun sembilan puluhan banyak orang berjuang menghapus hukuman mati. Komunitas saya sangat gigih memperjuangkan hal itu, yang dalam arti yang lebih luas lagi, berjuang melawan ketidakadilan dalam sistem peradilan Amerika. Keprihatinan yang kami lontarkan baik di dalam maupun di luar negeri menunjukkan dengan jelas bahwa politik tertib hukum lebih terkait dengan kekerasan dan ketakutan daripada dengan perdamaian. Beberapa pria dan wanita yang kukenal dalam karya ini adalah yang paling dedikatif di antara orang-orang yang pernah kujumpai, dan sedikit pun aku tak meremehkan prestasi mereka. Namun perpecahan yang 12 Martin Luther King Jr adalah seorang pastor Gereja Baptist yang menjadi penjuang gerakan hak-hak sipil Amerika Serikat. Orator ulung. Lahir pada tahun 1929. Pada tahun 1964 menerima Hadiah Nobel Perdamaian (yang termuda dalam sejarah). Pada tahun 1968 mati ditembak orang (belakangan terungkap pembunuhnya sesama pendeta). Kematiannya menimbulkan huru-hara di 60 kota karena para pengagumnya marah. 300.000 orang hadir ketika ia dimakamkan.
  34. 34. Berbagai Makna 37 terjadi pada kehidupan orang lain dan pemisahan yang sering kali disebabkan oleh pertengkaran mereka sendiri, tampak jelas menyedihkan. Mengenang kembali tahun enampuluhan, suatu masa di mana banyak orang disebut pecandu damai, timbul beberapa gagasan. Para penggemar kelompok band The Beatles yang dengan rindu menyanyi; “Beri peluang pada damai” berulang-ulang tak dapat diremehkan; aku merasakan mereka itu sungguh-sungguh spiritual. Tidak seperti mayoritas besar anak muda sekarang, pria maupun wanita, banyak kaum muda angkatan enam-puluhan dan tujuh-puluhan menerjemahkan harapan dan impian mereka menjadi tindakan. Mereka mengadakan demonstrasi dan mengorganisir acara-acara rapat umum; membentuk kelompok-kelompok dan melakukan aksi mogok; mereka melakukan aksi duduk dan pendudukan, berbagai protes dan melaksanakan proyek pengabdian masyarakat. Tak seorang pun menuduh mereka itu tak berperasaan. Namun sulit melupakan kemarahan yang mengubah wajah beberapa orang yang paling keras menyerukan damai di tahun-tahun itu, juga perbuatan anarki dan sinisme yang kemudian melanda seluruh wilayah. Apa yang terjadi ketika idealisme luntur, ketika pawai berakhir, ketika Musim Panas Cinta usai? Apa yang terjadi ketika kelompok-kelompok damai dan hubungan- hubungan cinta lalu cerai-berai? Apakah damai hanya menjadi komoditi budaya berupa suatu simbol yang disablon pada T-Shirt atau dicetak menjadi stiker tempelan di bemper mobil? Dalam buku The Long Loneliness Dorothy Day 13, radikal legendaris yang mendirikan Catholic Worker 13 Dorothy Day adalah seorang wartawati Amerika. Seorang Katolik yang saleh. Lahir pada 1897. Ia menjadi Katolik pada 1927 dan
  35. 35. 38 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? memberi komentar tentang kaum muda yang merindukan dunia yang lebih baik itu kadang melakukan hal yang sama dengan kaum nihilis (golongan yang yakin bahwa tatanan sosial adalah buruk sehingga perlu dirusakkan tanpa memberi alternatif yang konstruktif) dan egois juga. Kaum muda mengidealkan perubahan, kata Dorothy, tetapi jarang bersedia untuk mengubah diri mereka sendiri. Mengutip Rabbi Cohen lagi: Orang dapat melakukan arak-arakan untuk perdamaian dan memilih perdamaian, dan mungkin punya pengaruh kecil terhadap keprihatinan dunia. Tetapi orang kecil yang sama dapat merupakan raksasa di mata seorang anak di rumah. Jika damai hendak ditumbuhkan, mulainya haruslah dari orang perorangan. Damai dibangun bata demi bata. mendirikan Gerakan Catholic Worker pada 1933. Gerakannya pada dasarnya pro-perdamaian, tetapi kadang-kadang juga anarkis. Dorothy keluar masuk penjara karena aktivitas gerakannya. Anti free-sex pada tahun 1960-an. Ia meninggal pada 1980. Pada tahun 2000 dicalonkan menjadi orang kudus oleh Keuskupan Agung New York. Dorothy oleh banyak orang sudah dianggap orang kudus ketika ia masih hidup.
  36. 36. Berbagai Makna 39 Damai Dalam Hidup Perorangan S ylvia Beels bergabung dengan komunitas kami dari London ketika ia gadis muda sebelum Perang Dunia Kedua meletus. Sekarang dalam usia sembilan puluh tahunan ia menceritakan sikap di dalam gerakan perdamaian di masa mudanya dulu – suatu sikap anti pembunuhan tetapi tidak menentang ketidakadilan sosial. Sikap itu mengecewakan dirinya dan membuatnya penasaran dan mencari sesuatu yang lebih lagi. Sebuah film perang yang kulihat ketika umurku sembilan tahunan membuatku ketakutan, dan sejak itu aku tak pernah menganggap perang sebagai sesuatu yang baik, walaupun alasannya mungkin baik. Sesudah aku menikah, suamiku Raymond dan aku bergabung dengan Left Book Club dan membaca semua buku mereka. Kami bertemu secara berkala dengan suatu kelompok teman, membicarakan gagasan-gagasan dalam buku-buku ini. Kami mencari dan mencari lagi untuk mendapatkan jalan dalam labirin gagasan manusia – perang, damai, politik, moral konvensional lawan cinta bebas – tapi kami tidak juga lebih dekat untuk menemukan suatu masyarakat yang adil dan damai. Di kemudian hari, dalam proses persalinan yang sulit dan lama ketika melahirkan anaknya yang pertama, Sylvia menyadari bahwa kehidupan pribadinya diwarnai oleh kesulitan-kesulitan seperti yang dilawannya dalam masyarakat. Kendati kariernya dalam musik menjanjikan, namun perkawinannya goyah dan hatinya dalam kemelut.
  37. 37. 40 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Suatu ketika di situlah ia memutuskan, bahwa sebelum ia dapat menyumbangkan sesuatu bagi perdamaian dunia, ia perlu menemukan damai dalam dirinya dan orang lain (tak lama kemudian suami Sylvia meninggal karena penyakit jantung, tetapi mereka dapat berdamai menjelang kematiannya). Maureen Burn, seorang anggota komunitas yang lain, memperoleh kesimpulan yang sama setelah bertahun-tahun menjadi aktivis antiperang, mula-mula di Edinburgh dan kemudian di Birmingham, di mana uang, hubungan sosial dan kepribadian yang ceria membuatnya sangat terkenal dan menjadi pengikut kelompok pacifisme yang efektif: Aku selalu seorang yang idealis dan pemberontak. Walaupun waktu itu aku masih anak-anak, Perang Dunia Pertama menakutkan aku. Kami diberi tahu bahwa Pemimpin (Kaiser) Jerman telah memulai perang, dan ketika umurku sepuluh tahun aku menulis surat kepadanya memohon agar ia menghentikan perang. Aku selalu menentang perang. Suamiku, Matthew, seorang pejabat kesehatan publik yang cukup dikenal, juga seorang pengikut pacifisme. Setelah mengalami tinggal dalam parit perlindungan dalam Perang Dunia Pertama, ia menjadi sangat antimiliter dan pejuang keadilan sosial. Persamaan minat kami dalam mempelajari Revolusi Rusia 1918, karya-karya sastrawan Rusia Leo Tolstoy 14 dan perjuangan Mahatma Gandhi15 dari India menciptakan 14 Leo Tolstoy sastrawan dan filsuf Rusia. Karyanya antara lain Anna Karenina dan War and Peace. Bersama Mahatma Gandhi dan Martin Luther King Jr dianggap paling berpengaruh pada abad ke-20. Lahir pada 1828, meninggal pada 1910. Hidupnya dipengaruhi oleh Sakyamuni Buddha dan Santo Fransiskus Assisi, dan Khotbah di Bukit. Seorang pecinta perdamaian yang antikekerasan. 15 Mohandas K. Gandhi atau Mahatma Gandhi dilahirkan pada 1869 di Porbandar, India, adalah tokoh yang memperjuangkan prinsip
  38. 38. Berbagai Makna 41 ikatan di antara kami yang mengantar kami ke dalam perkawinan. Banyak anak muda akan ke pergi ke Moskow pada tahun-tahun itu, dan karena kami tertarik pada cita-cita komunis “dari setiap orang berdasarkan kemampuannya, untuk setiap orang berdasarkan kebutuhannya,” aku ingin juga pindah ke Rusia dengan anak-anakku yang masih kecil.... Hanya kemudian Matthew berkata, “sebuah bom yang dijatuhkan seorang komunis sama jahatnya dengan bom yang dijatuhkan kapitalis,” dan aku mengubah pendirianku. Matthew selalu menghilang pada Hari Angkatan Bersenjata. Aku tidak tahu ke mana ia pergi. Ia berpendapat bahwa parade militer besar-besaran di Cenotaph merupakan penghinaan terhadap prajurit- prajurit tak dikenal yang mati dan dikuburkan, yang tak pernah mendapatkan tanda jasa. Setelah perang ibunda Matthew memberi tahu aku bahwa Matthew suatu ketika pernah berkata bahwa ia tak akan berbuat sesuatu lagi bagi masyarakat yang begitu bobrok, di mana bahkan pemuka agama pun mengkhotbahkan pembunuhan kepada kaum muda…. Dalam Perang Dunia Kedua, selama pengeboman atas Inggris, banyak kota di Inggris mulai melakukan evakuasi anak-anak dan keluarga Burn harus mendapatkan tempat bagi keempat anak mereka, sedang yang bungsu belum genap setahun umurnya. Pekerjaan Matthew sementara itu mengharuskan dirinya tetap tinggal di kota, dan Maureen tidak tahu harus pergi ke mana. Pada hari-hari itu juga Maureen tahu bahwa ia hamil, mengandung anaknya yang ke lima. Dalam keadaan yang tak menentu satyagraha atau perlawanan pada tirani dengan pemogokan, dan ahimsa atau antikekerasan yang mengantarkan India pada kemerdekaan dari penjajahan Inggris pada 1945. Ia meninggal pada tahun 1948 di usia 78 tahun karena ditembak.
  39. 39. 42 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? karena perang, dia dan Matthew memutuskan untuk melakukan aborsi. Waktu aku pulang sesudahnya, suamiku menyarankan agar aku pergi ke rumah saudariku Kathleen untuk beristirahat beberapa hari. Kathleen tinggal di Bruderhof.16 Aku menulis padanya apakah aku bisa datang dan tinggal di sana untuk beberapa hari, dan dia menjawab boleh. Aku tidak membayangkan kejutan yang sedang menungguku di sana. Aku membaca beberapa literatur mereka, aku lupa judul bukunya. Di dalamnya dikatakan dengan tegas bahwa aborsi adalah suatu pembunuhan: membunuh kehidupan baru dalam rahim dan di mata Tuhan hal itu tak dapat dibenarkan, sama dengan pembunuhan yang terjadi di medan perang. Sampai saat itu aku adalah seorang yang rasional dan tidak menganggap aborsi begitu mengerikan. Tapi setelah itu hatiku kemelut dan aku merasakan untuk pertama kalinya betapa mengerikan tindakan yang telah kulakukan. Biasanya aku tidak gampang-gampang menangis tetapi pada saat itu yang kulakukan adalah menangis dan terus menangis. Aku sangat menyesal atas apa yang telah kulakukan dan aku berharap seandainya saja waktu bisa diputar berbalik dan aku dapat membatalkan tindakanku itu. Aku hanya seorang tamu dalam komunitas itu, tetapi saudariku mengantarkan diriku pada salah seorang pendeta di situ, dan aku menceritakan semuanya. Ia mengundangku ikut dalam suatu persekutuan, di mana mereka berdoa untuk 16 Bruderhof berarti tempat untuk para saudara. Didirikan pada tahun 1920 oleh Eberhard Arnold di Jerman sebagai suatu komunitas yang menghayati cara hidup orang kristen perdana dan Khotbah di Bukit dari Yesus Kristus (Mat 5-7). Tentang komunitas ini berangsur- angsur diuraikan dalam buku ini.
  40. 40. Berbagai Makna 43 diriku. Aku segera tahu bahwa aku memperoleh pengampunan. Suatu mukjizat, suatu karunia. Aku merasa penuh dengan kegembiraan dan damai, dan dapat memulai suatu hidup baru. Tidak ada yang lebih penting atau lebih menyedihkan dari hidup dan hati kita sendiri yang kita tahu tidak-damai. Bagi sebagian dari kita, itu berarti kita masih dikuasai rasa benci atau dendam; bagi yang lain karena pengkhianatan, pengasingan, atau kebingungan; yang lain lagi merasa kosong dan tertekan jiwanya. Dalam makna yang terdalam, semua itu merupakan kekerasan dan karena itu harus dihadapi dan diatasi. Thomas Merton17 menulis: Ada sebentuk kekerasan zaman ini yang begitu luas tersebar, sehingga biarpun para idealis yang berjuang untuk damai dengan metode antikekerasan pun mudah kerasukan aktivisme dan kerja berlebihan. Ketegangan dan tekanan kehidupan modern merupakan suatu wajah, mungkin wajah yang paling umum, dari kekerasan pada diri seseorang. Membiarkan diri terbawa hanyut oleh begitu banyak urusan mendesak yang saling bertabrakan, menyerah pada begitu banyak tuntutan, mengikat diri pada begitu banyak proyek, berhasrat membantu setiap orang dalam segala hal, adalah sama saja dengan menyerah pada kekerasan hidup. Lebih dari itu, orang bahkan bekerja sama dengan kekerasan itu. Aktivis yang sangat sibuk mengebiri karyanya atas nama damai. Kesibukannya yang luar biasalah yang menghancurkan buah dari pekerjaannya, karena 17 Thomas Merton lahir di kalangan jemaat Gereja Inggris pada 1915. Ia menjadi Katolik pada 1938 dan tinggal di Amerika Serikat. Pada tahun 1941 menjadi biarawan trapis dan menulis banyak buku keagamaan yang bersifat mistik. Pada 1949 ia ditahbiskan menjadi imam. Ia cinta perdamaian dan menentang Perang Vietnam. Sejak 1960 memengaruhi banyak aktivis Katolik. Ia meninggal pada 1968.
  41. 41. 44 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? kesibukan itu membunuh akar kebijaksanaan batin yang mestinya dapat membuat pekerjaannya berbuah. Banyak orang merasa terpanggil memperjuangkan alasan-alasan damai, tetapi kebanyakan dari mereka lalu terpukul mundur begitu mereka sadar bahwa mereka tak dapat memberikan damai sebelum mereka sendiri memiliki damai dalam diri mereka. Karena tak dapat menemukan keselarasan dalam hidup mereka, dengan segera mereka minggir dari perjuangan itu. Malahan ada beberapa kejadian yang sangat tragis, di mana seseorang yang sangat menderita setelah menyadari ilusi mereka lalu bunuh diri. Penyanyi lagu- lagu rakyat Phil Ochs, seorang aktivis perdamaian pada tahun enam puluhan melakukannya; begitu pula Mitch Snyder, pendiri Pusat Kegiatan Kreatif Non-Kekerasan. Seorang pembela gelandangan yang sangat dihormati di Washington DC.
  42. 42. Berbagai Makna 45 Damai Tuhan D amai sejati bukan sekadar tujuan luhur yang dijunjung tinggi dan dikejar dengan sungguh- sungguh. Damai sejati juga tidak begitu saja didapatkan atau dimiliki. Damai membutuhkan perjuangan. Damai ditemui dengan melakukan pertarungan dasar dalam kehidupan: hidup lawan mati, baik lawan buruk, benar lawan salah. Memang, damai itu karunia, tetapi damai juga merupakan hasil dari usaha yang sangat bersungguh-sungguh. Beberapa ayat di dalam Mazmur menyatakan bahwa di dalam proses untuk memperoleh damai itulah maka damai itu ditemukan. Damai semacam itu merupakan hasil dari usaha menghadapi dan mengatasi konflik, bukan menghindari konflik. Karena begitu berakar dalam kebenaran, damai sejati (yaitu damai Allah) mengusik hubungan-hubungan yang penuh kepalsuan, menggoyang sistem- sistem yang tidak benar, dan menelanjangi kebohongan yang dijadikan dasar dari damai yang palsu. Damai sejati mencabuti akar dan benih-benih situasi yang tidak damai. Damai Allah tidak secara otomatis mencakup ketenangan batin, ketiadaan konflik atau taksiran- taksiran damai duniawi lainnya. Seperti kita lihat dari kehidupan Kristus, damai yang sempurna justru ditegakkan dari penolakan-Nya atas dunia dan atas damai yang ditawarkan dunia. Dan damai yang sempurna itu berakar pada kesediaan-Nya untuk mengorbankan diri dengan cara yang paling mengerikan: mati di kayu salib.
  43. 43. 46 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Banyak orang yang menyebut diri sebagai orang Kristiani dewasa ini melupakan hal ini, atau menutup mata sepenuhnya pada kenyataan itu. Jika pun kita menghendaki damai, kita memperjuangkan damai yang dasarnya adalah keinginan kita sendiri. Kita menghendaki damai yang gampangan. Tetapi damai tidak terwujud dengan cepat atau gampang jika diharapkan punya daya untuk bertahan lama. Damai itu bukan semata-mata kesejahteraan atau keseimbangan psikologis, suatu perasaan yang hari ini ada dan besok tiada. Damai Tuhan lebih dari suatu tingkat kesadaran. Dorothy Sayers menulis: Aku yakin adalah suatu kesalahan besar mewartakan Kekristenan sebagai sesuatu yang indah dan populer, bahwa tak ada yang diserang di dalamnya.... Kita tak dapat memejamkan mata pada fakta bahwa Yesus yang lemah lembut itu begitu tegas pendirian-Nya dan begitu tajam menyerang dalam kata- kata-Nya sehingga Ia didorong keluar dari tempat ibadat, dilempari batu, dikejar-kejar dari satu tempat ke tempat lain dan akhirnya ditangkap sebagai penghasut dan musuh masyarakat. Apa pun damai-Nya itu, yang jelas bukanlah damai yang timbul dari sikap bersahabat yang tak acuh pada keadaan. Hendak aku katakan bahwa kendati aku beriman kepada Kristus dan kendati bahasa buku ini yang oleh sementara orang dianggap agak gerejawi, aku tidak yakin bahwa orang harus menjadi Kristiani untuk mendapatkan damai Yesus itu. Memang kita tidak dapat melalaikan pernyataan Yesus: “Dia yang tidak mengumpulkan bersama-sama Aku, ia mencerai-berikan,” dan “Siapa tidak bersama Aku melawan Aku.”18 Tetapi apa artinya perkataan itu bagi Yesus sendiri? Bukankah Dia 18 Mat 12:30
  44. 44. Berbagai Makna 47 menyatakan dengan jelas bahwa masalahnya bukanlah kata-kata ibadat ataupun sekadar wujud kesalehan belaka? Ia menghendaki sikap yang lembut dan penuh belas kasihan – demi cinta kasih.19 Dia berkata biarpun hanya segelas air untuk orang yang kehausan akan dihargai “dalam Kerajaan Surga”.20 Yesus adalah seorang pribadi, bukan suatu konsep atau karangan teologi, dan kebenaranNya menjangkau lebih luas dari sekadar yang dapat dipahami oleh pikiran kita yang terbatas. Dalam kasus tertentu jutaan pengikut Buddha, para Muslim, orang Yahudi, bahkan mereka yang tidak mengenal Allah dan yang menyangkal Allah (ateis) melaksanakan cinta yang diperintahkan Yesus agar dilakukan 21, lebih mantap daripada banyak orang yang menyebut dirinya Kristiani. Maka tidaklah pada tempatnya bagi kita untuk menilai apakah mereka memiliki damai Kristus atau tidak. 19 Mat 9:13; 12:7. 20 Mat 10:42 21 Yoh 15:12
  45. 45. 48 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Damai yang Mengatasi Pemahaman B eberapa pembaca mungkin dapat menimba manfaat jika di sini aku melanjutkan kajian atas berbagai pemahaman akan damai, dan membahas apakah damai itu suatu status (keadaan) ataukah cara hidup. Yang lain mungkin hanya ingin tahu apakah yang kumaksudkan ketika aku mengatakan bahwa orang mengupayakan damai. Apakah mereka berusaha agar lebih akrab dengan orang lain, ataukah mereka haus akan damai untuk diri mereka sendiri? Apakah mereka rindu akan kepercayaan dan cinta kasih, akan sesuatu yang lebih baik daripada hanya menarik diri dan diam saja? Sesuatu yang berbeda sama sekali? Intinya, apa itu damai? Suatu gagasan dari buku-buku kakekku membantuku. Ia menulis tentang damai tiga dimensi: kedamaian jiwa bersama Tuhan; hubungan yang rukun dan damai tanpa kekerasan dengan orang lain; dan ditegakkannya tatanan sosial yang adil dan damai. Namun pada akhirnya, masalahnya bukanlah mengenai definisi yang terbaik, sebab definisi tidak membantu kita mendapatkan damai itu. Untuk mendapatkan makna damai itu kita harus mengalaminya dalam kenyataan praktis, bukan hanya sesuatu yang ada dalam kepala kita, juga bukan hanya dalam hati kita, melainkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sadhu Sundar Singh, seorang mistikus Kristiani dari India dari permulaan abad yang lalu menulis:
  46. 46. Berbagai Makna 49 Misteri dan realitas hidup yang bahagia dalam Tuhan tidak dapat dipahami tanpa menerima, menghayati, dan mengalaminya. Jika kita berusaha memahaminya dengan pikiran saja, usaha kita itu tidak berguna. Seorang ilmuwan memegang burung di tangannya. Ia melihat burung itu punya kehidupan. Lalu ia ingin tahu di bagian tubuh yang mana dari burung itu terletak kehidupannya. Maka ia mulai mengiris-iris burung itu. Hasilnya, kehidupan yang dicarinya itu hilang. Mereka yang berusaha memahami misteri hidup sejati secara intelektual niscaya menemui kegagalan seperti itu. Hidup yang dicarinya akan lenyap dalam analisisnya. Seperti air tak akan tenang sebelum mencapai kepenuhannya, jiwa pun tak akan damai sebelum tinggal dalam Tuhan.
  47. 47. 50 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?
  48. 48. 51 Bagian III Berbagai Paradoks “Aku seorang tentara Kristus. Aku tak bisa berperang.” St. Martinus dari Tours
  49. 49. 52 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Berbagai Paradoks K ita telah melihat bahwa walaupun kerinduan akan damai begitu mendalam, suatu kelaparan universal, namun damai sulit dirumuskan. Memang begitulah kebanyakan hal yang bersifat rohani. Elias Chacour, seorang imam Palestina, teman baikku, memberikan komentar tentang hal ini dalam bukunya Blood Brothers. Ketika bicara tentang agama-agama besar dari Timur ia menunjukkan bagaimana para pemikir mereka (kontras dengan banyak pemikir dalam budaya Barat) merasa nyaman dengan berbagai paradoks dan bersedia menerimanya dan hidup dengan paradoks-paradoks itu dan tidak berusaha menyingkirkannya. Barangsiapa membaca Injil tentu tahu betapa Yesus juga mengandalkan paradoks dan perumpamaan untuk melukiskan kebenaran yang sangat dalam. Bagi pikiran rasional, suatu paradoks tampak bertentangan (kontradiktif), namun justru karena sifatnya itu, paradoks memaksa kita melihat kebenaran di dalamnya dengan mata yang baru. Dalam pengertian ini aku menulis bagian berikut, masing-masing bagian merupakan suatu papan loncatan ke arah pengertian yang lebih dalam atas damai.
  50. 50. Berbagai Paradoks 53 Bukan Damai Tapi Pedang Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, dan anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barang siapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barang siapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Yesus dari Nazareth K etika Matius mencatat kata-kata Yesus ini dalam bab kesepuluh dari Injilnya22, ia memberikan argumen yang disukai generasi-generasi Kristiani untuk mempertahankan penggunaan kekuatan dalam berurusan dengan orang lain. Tetapi sesungguhnya apa yang dimaksud oleh Yesus? Yang pasti ia tidak bermaksud membenarkan atau memajukan kekerasan dengan menggunakan senjata. Bahkan sekalipun Ia mengusir para penukar uang dari Bait Allah dengan cambuk 23, namun Ia kemudian menegur Petrus karena telah memotong telinga seorang prajurit dengan pedang dan berkata, “Barang siapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang,”24 dan apa yang dilakukannya sampai hembusan napas terakhir di kayu salib, mencerminkan 22 Mat 10:34-35 23 Yoh 2:12 24 Mat 26: 52
  51. 51. 54 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? kata-kata-Nya “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.”25 Bagiku jelas bahwa pedang yang dimaksudkan Yesus bukanlah pedang yang merupakan senjata manusia. Di dalam surat Rasul Paulus kita membaca tentang pedang Roh Kudus yang dibandingkan dengan pedang pemerintah, yang kadang-kadang disebut pedang yang fana atau pedang kemurkaan Allah 26 Paulus menyatakan bahwa Allah Bapa menarik Roh Kudus dari dunia karena pria dan wanita tidak taat kepada-Nya; sebaliknya, Ia menyerahkan mereka kepada “pedang” pemerintahan dunia, yang kelangsungan dan wewenangnya berakar dalam kekuatan tentaranya. Tetapi Gereja tentu tidak boleh menggunakan senjata fisik, Gereja harus setia kepada satu kekuatan saja: Kristus, dan pengikut-pengikutNya hanya boleh menggunakan pedang Roh Kudus. Di tempat lain dalam Kitab Suci pedang digunakan sebagai lambang kebenaran. Seperti senjata fisik yang dilukiskannya, pedang, ini memotong segala sesuatu yang mengikatkan kita pada dosa. Pedang itu membersihkan dan menonjolkan (penulis Surat kepada orang Ibrani menyebutnya “memisahkan sendi-sendi dan sumsum)27, namun maksudnya bukanlah menghancurkan atau membunuh. Mengutip penyair Phillip Britts dari Bruderhof, damai adalah “persenjataan kasih dan penebusan.... bukan persenjataan dunia, tapi persenjataan hasrat akan kebenaran.” Perangnya bukan pergumulan antarmanusia 25 Mat 7:12 26 Rm 13:4 27 Ibr 4:12
  52. 52. Berbagai Paradoks 55 satu sama lain, tetapi antara “sang pencipta melawan si perusak; perang antara hasrat akan kehidupan melawan hasrat kematian; perang antara cinta melawan kebencian; antara persatuan melawan perceraian.” Di dalam Injil tertulis, “sejak tampilnya Yohanes Pembaptis sampai sekarang, kerajaan surga diserong dan orang yang menyerong mencoba mengusainya.” 28 Walaupun ini merupakan salah satu di antara wejangan Yesus yang sulit, arti kata “diserong” cukup sederhana. Kita tak dapat duduk dan menunggu surga, demi kerajaan damai dari Allah, agar jatuh ke pangkuan kita. Kita harus merebutnya dengan penuh hasrat. Thomas Cahill menyatakan: “yang penuh hasrat, habis-habisan dan di luar batas punya kesempatan lebih baik untuk merebut surga daripada mereka yang puas diri, ragu- ragu dan yang lengket dengan dunia.” Yang menarik, kosa kata Kristiani tidak sendirian menggunakan bahasa kekerasan untuk melukiskan jalan damai. Menurut seorang nara sumber Muslim kata jihad tidak hanya berarti perang suci Islam, tetapi juga perang spiritual yang terjadi dalam diri setiap orang. Banyak orang Kristiani sekarang menyepelekan perang spiritual. Di satu pihak mereka menganggap hal itu semacam imajinasi; di lain pihak ada yang merasa bahasa yang digunakan untuk melukiskannya terlalu konfrontatif, terlau kasar, dan yang lebih buruk lagi, terlalu kuno. Namun perang kosmis antara malaikat Allah dan cecunguk setan terus berlangsung hingga saat ini, kendati makin kurang saja yang percaya tentang hal itu. Mengapa hanya karena kita tidak dapat melihatnya kita menganggap hal itu hanya rekaan pikiran? 28 Mat 11:12
  53. 53. 56 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Aku percaya bahwa daya yang tampil dari yang baik dan yang jahat sungguh nyata seperti daya-daya fisik yang membentuk alam semesta, namun karena kita tidak bisa mengetahuinya, kita tidak dapat menyaksikan pertempuran besar yang terjadi di antara mereka. Sebagaimana cahaya tidak dapat berbagi ruang dengan kegelapan, maka baik dan jahat tidak dapat ada bersana dalam damai, dan karena itu kita harus memutuskan untuk ikut di pihak mana. Sekitar dua puluh lima tahun lalu, sebagai tetua komunitas Bruderhof, ayahku29 menyusun suatu dokumen yang berulangkali dilihat orang lagi selama bertahun- tahun. Suatu “kesepakatan” yang ditanda-tangani oleh semua anggota komunitas kami ketika ditulis (dan disetujui oleh setiap anggota terbaru), karena sering membantu kami mempertajam fokus kami pada akar suatu masalah tertentu yang sedang kami hadapi. Kami memaklumkan perang kepada segala pelecehan terhadap semangat seperti anak-anak yang diajarkan Yesus. Kami memaklumkan perang kepada segala kekejaman emosional dan fisik terhadap anak-anak. Kami memaklumkan perang kepada semua usaha untuk menguasai jiwa orang lain. Kami memaklumkan perang kepada segala kebesaran manusia dan semua bentuk pameran kehebatan. Kami memaklumkan perang kepada kebanggaan palsu termasuk kebanggaan kolektif. Kami memaklumkan perang kepada semangat dendam, kebencian dan keengganan untuk memaafkan. 29 Yang dimaksud adalah J. Heinrich Arnold (1913-1982).
  54. 54. Berbagai Paradoks 57 Kami memaklumkan perang kepada segala macam bentuk kekejaman kepada orang lain termasuk kekejian terhadap pendosa. Kami memaklumkan perang kepada semua keingintahuan tentang sihir atau kegelapan setan. Salah satu risiko terbaru di dalam berperang melawan yang jahat adalah salah menerapkan sesuatu perlawanan sifat pada tatanan fisik manusia, dengan menciptakan kubu antara “orang baik” dan “orang jahat. Kita sering bicara tentang Tuhan dan gerakan yang berlawanan dengan setan dan dunia, namun kenyataannya adalah garis pemisah antara baik dan jahat itu juga melewati setiap hati manusia. Dan siapa yang akan kita adili selain diri kita sendiri? Gandhi suatu ketika mengajar, “jika Anda membenci ketidakadilan, tirani, keserakahan dan kerakusan, bencilah semua itu dalam diri Anda lebih dulu.” Setiap orang membentuk suasana tertentu di sekelilingnya. Ketika “bertarung demi kebaikan” janganlah lupa berhenti sebentar, di sana atau di sini, dan bertanya pada diri sendiri, apakah suasana yang terbentuk itu penuh ketakutan atau suasana kasih yang menyingkirkan rasa takut. Ada godaan untuk membawa pertarungan itu ke luar melawan orang lain daripada ke dalam melawan diri sendiri. Karena ngeri pada keadaan dunia dan cara hidup orang lain, kita mungkin dipenuhi perasaan bahwa kita benar (jika bukan pembenaran diri). Namun bukannya mengajak orang lain menuju hidup baru dengan menarik hatinya, kita hanya memisahkan diri dari mereka, membuat jarak. Padahal, pertarungan itu seharusnya terlaksana dalam hati kita dulu. Tentang ini seorang pelayan umat, Glenn Swinger, baru-baru ini menulis kepadaku:
  55. 55. 58 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Setelah mengalami pertobatan, saya dibaptis pada pertengahan usia empat puluhan. Saya mengakui setiap dosa yang saya ingat, memperbaiki hubungan yang salah dengan orang lain dan berusaha melihat betapa dalam saya telah menentang Allah. Saya merasa mendapat pengampunan, yang membawa kegembiraan dan perdamaian. Tetapi ayah Anda, yang membaptis saya, berkata “Sekarang pertarungan yang sesungguhnya dimulai.” Saya pada waktu itu tidak benar-benar mengerti masalahnya, tetapi saya berkata pada diri saya sendiri agar waspada. Sedikit demi sedikit ternyata kembali lagi pada cara hidup saya yang lama, dan berangsur-angsur setan kecil kesombongan, iri hati dan kecemburuan masuk lagi dalam hidup saya. Memang, pengalaman baptis mengubah diri saya, saya tidak menyangkal. Namun saya belum mengalahkan diri saya sendiri. Diri saya sendiri masih merupakan pusat dari semua pengalaman batin saya. Saya menghayati kehidupan yang hebat dengan kekuatan saya sendiri, dengan kemampuan saya sendiri. Saya tidak “berjaga dan berdoa” sehingga pencobaan masuk ke dalam hati saya.... Akhirnya cinta pertama saya dengan Kristus berantakan. Kemudian muncullah sikap munafik, dan saya mengalami sakitnya tuntutan keadilan. Saya diminta lengser dari tugas saya sebagai pelayan jemaat dan pengajar. Saya meninggalkan Bruderhof selama empat bulan, dan selama itu saya dapat melihat dosa-dosa saya dan menyesalinya. Setelah pulang kembali dan menerima maaf dari saudara-saudara yang tempo hari saya tinggalkan, saya mendapatkan kebebasan baru, cinta dan perdamaian. Perjuangan masih timbul setiap hari, tetapi selama beberapa tahun saya belajar sesuatu dari 1 Kor 13:13; “demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya
  56. 56. Berbagai Paradoks 59 adalah kasih.” Saya tak dapat mengadili atau memandang rendah orang lain, bagaimana pun keadaannya. Orang yang kaya membuat jarak antara dirinya dan Lazarus, dalam kehidupan selanjutnya kedudukan mereka dibalik.30 Ada dua kekuatan dasar yang bekerja dalam diri kita, baik dan jahat, dan dalam pertarungan di antara keduanya kita diadili dan berkali-kali memperoleh pengampunan. Di dalam pertarungan yang terus berlangsung inilah kita mengalami damai sejati. Pengamatan Glenn Swinger sangat menentukan pemahaman atas paradoks. “Aku datang ke dunia bukan membawa damai, tetapi pedang”, karena menyentuh maknanya yang paling dalam. Pedang Kristus adalah kebenaran, dan kita harus membiarkannya memotong tandas dan berulang kali kapan saja dosa bertumbuh dalam hidup kita, menegarkan diri dan melindungi diri kita terhadap pedang itu berarti menutup diri kita pada kerahiman dan kasih Allah. 30 Luk 16:19-31
  57. 57. 60 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Kekerasan Kasih D amai sejati memerlukan senjata, dan juga mengucurkan darah, tetapi bukan dalam makna yang sekadar kita bayangkan. Kristus melarang kita menggunakan kekerasan terhadap orang lain, namun ia jelas meminta kita sedia menderita di tangan orang lain. Dia sendiri “memberikan perdamaian kepada kita melalui darahnya,”31 seperti dikatakan dalam Perjanjian Baru, dan selama berabad-abad pria dan wanita mengikuti teladanNya, dan bersedia mengorbankan dirinya demi iman mereka. Pentingnya kematian seseorang demi iman mungkin merupakan suatu hal yang paling sulit dijelaskan. Kebanyakan dari kita gemetar ngeri membayangkan pemandangan orang yang dibakar, ditenggelamkan, dan dibelah. Namun para saksi mata berulang kali menulis tentang damai yang diperlihatkan oleh para martir itu pada saat-saat terakhir mereka. Buku The Chronicle of The Hutterian Brethren, suatu sejarah era Reformasi yang memuat catatan tentang banyak martir, menggambarkan orang- orang yang menyongsong kematian mereka sambil menyanyi gembira. Seorang di antaranya, Conrad, anak muda yang akan dihukum mati, tetap tenang dan begitu mantap sehingga orang-orang yang menonton berharap tak ingin bertemu dia lagi, anak muda itu membuat mereka resah. Bagi kebanyakan orang kematian sepertinya tak akan berakhir. Kita tidak lagi diminta mempertahankan 31 Lih Kol 1:20
  58. 58. Berbagai Paradoks 61 iman kita dengan kata-kata, dan gambaran menderita secara fisik demi iman kelihatannya sangat berlebihan. Bersamaan dengan itu tidaklah dirasakan menyakitkan lagi untuk mempertimbangkan iman bagi mereka yang telah siap menderita demi keyakinan-keyakinan mereka, juga bagi kita sendiri jika kita telah siap melakukan hal yang sama. Setiap orang bisa mengendalikan emosinya dan dapat tetap berdiri teguh menghadapi kesulitan-kesulitan setiap hari. Namun supaya tetap damai menghadapi perjuangan keras termasuk menghadapi kematian, diperlukan lebih dari sekadar maksud baik. Di suatu tempat pasti ada cadangan kekuatan yang sangat besar. Uskup Agung dari El Salvador Oscar Romero menyentuh rahasia damai ini ketika ia berpidato, tak lama sebelum ia mati tentang pentingnya “menerima kekerasan cinta.” Romero dibunuh pada tahun 198032 karena lantang membela kaum miskin. Kekerasan cinta ... membiarkan Kristus tergantung pada salib; kekerasan itulah yang harus kita lakukan pada diri kita sendiri untuk mengatasi egoisme kita dan ketidakadilan yang kejam di antara kita. Kekerasan itu bukan kekerasan pedang atau kekerasan kebencian. Itu adalah kekerasan persaudaraan, kekerasan yang melebur persenjataan menjadi hal yang tidak menyakitkan demi karya perdamaian. 32 Oscar Romero adalah Uskup Agung San Salvador . Lahir 1917. Ditahbis menjadi imam tahun 1942. Pada tahun 1966 menjadi rektor Seminari Tinggi Interdiosesan Salvador. Tahun 1975 menjadi Uskup Santiago. Menjadi Uskup Agung San Salvador 1977. Ia memperjuangkan hak asasi manusia dan menentang ketidak adilan dan membela kaum miskin. Untuk itu ia memajukan Teologi Pembebasan. Pada 1980 ia ditembak sesudah homili dan meninggal. Tahun 1997 ia dicalonkan menjadi orang kudus.
  59. 59. 62 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Demikianlah cinta Kristus merupakan daya bagi kebenaran dan kekudusan, yang melawan hingga mendasar semua yang tidak suci dan bertentangan dengan kebenaran. Kasih semacam itu jelas sangat berbeda dengan yang diajarkan pengarang Marianne Williamson dari aliran New Age yang populer, yang menyatakan bahwa untuk memperoleh damai, yang perlu kita lakukan adalah mengasihi diri kita sebagaimana adanya dan “menerima Kristus yang telah ada dalam diri kita.” Tidak mengherankan bahwa banyak orang menyukai khotbah Marianne. Kita tahu bahwa setiap orang Kristiani harus memanggul salibnya sendiri, tetapi kita tidak ingin membahas soal itu. Kita lebih menyukai religiositas gereja modern yang hangat bersahabat dan suka cita yang dijanjikan para malaikat di Betlehem33 daripada kedamaian yang telah dimenangkan Yesus dengan susah payah di Golgotha. Kita mengakui hasil karya Yesus ketika Ia mati - “Bapa, ke dalam tanganMu kuserahkan jiwaKu” 34, tetapi melupakan sakratulmaut yang dialamiNya di taman Getsemani pada malam yang panjang dan sepi sebelumnya 35. Kita lebih menyukai kebangkitan tanpa penyaliban. Belakangan ini suatu ayat dalam Kitab Yeremia menyentuhku: “Bukankah kata-kataku seperti api, seperti palu yang memukul hancur batu karang?”36 Tuhan hanya bermaksud menggambarkan kerasnya hati manusia. Biasanya kita menggambarkan kekerasan hati itu pada wujud orang terpidana: pembunuhan, pemerkosaan, 33 Luk 2:14 34 Luk 23:46 35 Mat 26:36-46 par 36 Yer 23:29
  60. 60. Berbagai Paradoks 63 pezinah, pencuri. Tetapi dalam perjumpaan rohani dengan penghuni penjara aku mendapatkan betapa penjahat yang paling keji sekalipun punya hati yang lembut, karena ia sangat sadar akan dosa-dosanya. Betapa ingin aku mengatakan hal seperti itu pada orang-orang lain yang kulayani – orang “baik-baik” yang penuh dengan ego dan citra diri yang dibangun dengan cermat. Sebab mungkin justru hati yang paling keras adalah hati mereka yang tertimbun oleh hal-hal semacam itu. Sekalipun kita sadar akan kekurangan-kekurangan dan perjuangan kita, seringkali kita menolak kekerasan cinta. Kita mencari damai sejati dan abadi dan tahu bahwa damai itu menuntut pengorbanan dari kita, tapi dengan cepat kita menawar pengorbanan itu sekecil- kecilnya. Seorang anak muda dalam jemaatku suatu ketika berkata, “Saya berjuang terus untuk mendapatkan kedamaian, tetapi kemudian saya bertanya pada diri saya sendiri, ‘untuk apa kamu bersusah payah seperti itu? Apakah sungguh ada gunanya?’ Tentu saja aku tak dapat memberikan suatu jawaban bagi dirinya. Tetapi ketika mengenangkan hal itu aku dapat kembali mengajukan pertanyaan kepadanya: jika damai tidak berharga bagimu, bagaimana mungkin kamu berusaha mencarinya? Walaupun kedengaran aneh, mereka yang paling yakin bahwa mereka tidak mempunyai kedamaian kadang-kadang berada sangat dekat untuk mendapatkan kedamian itu. Robert (nama samaran) adalah seorang terpidana di suatu penjara negara. Ia melakukan kejahatan yang mengerikan dan berulangkali ia tersiksa oleh kenangan tentang apa yang telah dilakukannya sehingga ia merasa tak tahan hidup sehari lagi. Kadang- kadang, situasi seperti itu membuatnya merasa damai. Dalam sepucuk suratnya ia menulis:
  61. 61. 64 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Anda bertanya apakah saya dapat menulis sesuatu tentang damai, damai Tuhan. Saya ingin mendapatkannya, tapi saya merasa tidak layak. Perasaan bahwa saya tidak layak itu adalah karena saya rasa damai yang Anda bicarakan itu justru berada di luar seluruh hidup saya. Saya mencari damai dalam banyak cara melalui para wanita, nenek saya, melalui prestasi, melalui narkotika, dan kadang-kadang melalui kekerasaan dan kebencian; melalui seks, perkawinan, anak-anak, uang dan harta. Saya tak memperoleh damai dari semua hal itu. Namun sungguh aneh. Walaupun saya tak pernah mengalami kedamaian, tetapi saya mengenalnya dan saya tahu rasanya. Saya melukiskannya sebagai kemampuan untuk bernapas dan tidur. Sepanjang hidup saya (dan masih sering saya alami) saya merasa tercekik atau tenggelam sehingga saya harus terus berjuang untuk bisa bernapas dan beristirahat. Saya merindukan damai semacam itu. Saya tahu … bahwa satu-satunya jalan untuk mendapatkan damai seperti itu adalah melalui Kristus, namun damai itu tetap menolak saya. Saya tidak mengalami damai karena apa yang telah saya lakukan dan apa yang dialami orang lain karena tindakan saya itu. Saya menyesal, sungguh. Saya mohon untuk mendapat kesempatan kedua, di luar penjara dari baja dan beton buatan manusia, dan di luar penjara dosa dari setan. Saya tahu bahwa Tuhanlah yang dapat memberikan hal itu dan di situlah kutaruh iman dan harapanku. Jika Tuhan akhirnya menjawab doa saya setelah semua derita, kegelisahan dan usaha saya ini, niscaya saya akan merasakan kedamaian. Begitu pula saya merasa damai karena tahu bahwa ada orang yang mengasihi saya begaimana pun saya ini dan apa pun yang telah
  62. 62. Berbagai Paradoks 65 saya lakukan dan memberi ampunan agar saya memperoleh kesempatan kedua itu…. Nada surat yang ditulis Robert serasa tak punya harapan, tetapi aku (dan teman-teman lain yang berkunjung kepadanya) memerhatikan perubahan yang pasti pada dirinya sejak ditangkap tiga tahun sebelumnya. Bukan karena dia telah mencapai “pencerahan” dan mantap; sejujurnya tak seorang pun bisa mengatakan bahwa Robert memperoleh kedamaian itu. Tapi Robert sangat lapar akan kedamaian itu. Dan karena ia akan berjuang keras melalui penyesalan yang sesungguhnya, ia mungkin lebih dekat dengan Tuhan daripada kami semua. Dalam suatu paragraf tentang damai dalam sebuah naskah Hindu kuno, Bhagawad Gita37, dikatakan: Bahkan para pembunuh dan pemerkosa ... dan kaum fanatik yang paling kejam sekalipun dapat mengenal penebusan melalui kekuatan cinta, jika saja mereka bersedia menerima rahmatnya, yang sekalipun pahit namun menyembuhkan. Melalui transformasi yang menyakitkan mereka akan memperoleh kebebasan, dan hati mereka akan menemukan kedamaian.” Dan di dalam surat Kepada Orang Ibrani kita baca, “Memang didikan dan ajaran pada waktu diberikan tidak mendatangkan suka cita, tetapi duka cita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”38 Robert mungkin tidak mengenal kedua naskah itu. Tetapi di dalam usaha perjuangannya, ia mengalami kebenaran dari keduanya. Ia menghayati kekerasan cinta. 37 Bhagavad Gita adalah naskah dari abad ke-3 Seb.M yang merupakan petikan dari Mahabaratha, episode Bhisma Parwa, berisi pembicaraan antara Krisna dan Arjuna mengenai tugas seorang senapati perang dan Pangeran ketika Arjuna ragu melawan kakeknya sendiri, Bhisma dalam perang. 38 Ibr 12:11
  63. 63. 66 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Tak Ada Hidup Tanpa Kematian S ewaktu mengerjakan buku ini, dua perkataan Yesus dalam Injil Yohanes secara khusus memperdalam pemahamanku tentang damai: “jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Dan “barang siapa (demi Aku) tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.”39 Begitu pula tak ada perdamaian abadi tanpa perjuangan, sebagaimana tak ada hidup sejati tanpa kematian. Karena kita tidak berhadapan dengan ancaman maut, kita tak dapat memahami fakta yang penting ini. Kita lupa bahwa untuk memahami damai Yesus, kita pertama-tama harus memahami penderitaanNya. Kesediaan untuk menderita memang penting, tetapi tidak memadai. Penderitaan itu juga harus dialami. Sebagaimana pernah dituliskan oleh ayahku: “Mengalami, biarpun sedikit, cita–rasa yang dipersembahkan ‘demi Tuhan’ sangat menentukan bagi hidup rohani kita.” Bagi kebanyakan dari kita, cita rasa yang dipersembahkan “demi Tuhan” mungkin tampak negatif dan tak berhubungan dengan damai. Sebab hal itu terkait dengan duka cita, bukan suka cita; penderitaan, bukan kebahagiaan; pengorbanan diri, bukan pemeliharaan diri. Hal itu berkaitan dengan kesepian, penyangkalan, 39 Yoh 12:24-25
  64. 64. Berbagai Paradoks 67 pengasingan dan rasa takut. Namun jika kita mau menyadari artinya kehidupan, kita harus dapat menemukan makna itu dari semua hal ini! Penderitaan, seperti dikatakan oleh psikiater terkenal Viktor Frankl “tak dapat dihapus dari paket kehidupan. Tanpa penderitaan, hidup manusia tidak sempurna.” Banyak orang berusaha menghabiskan waktunya menghindari kebenaran ini; mereka adalah orang- orang yang paling bahagia di dunia ini. Yang lain memperoleh damai dan kepunahan dengan menerima hal ini. Mary Poplin, seorang Amerika yang tinggal bersama para Misionaris Suster-suster Cinta Kasih di Kalkuta pada 1996, berkata: Para misionaris memandang pencobaan dan hinaan sebagai saat untuk memeriksa diri, untuk membangun kerendahan hati dan kesabaran untuk mencintai musuh – itulah kesempatan-kesempatan untuk bertambah kudus. Bahkan penyakit pun sering ditafsirkan sebagai cara untuk mendekatkan diri pada Tuhan, cara Tuhan mewahyukan diri dengan lebih jelas, dan peluang untuk merenungkan masalah-masalah karakter dengan lebih mendalam lagi. Kita telah membuang banyak waktu dalam hidup kita dalam usaha untuk memperingan dan menghindari penderitaan, dan ketika penderitaan itu datang, kita tak tahu harus berbuat apa. Kita bahkan tidak mengerti bagaimana menolong orang lain yang menderita. Kita melawan penderitaan, melemparkan kesalahan kepada perorangan dan sistem sosial serta berusaha melindungi diri sendiri. Jarang di antara kita menganggap penderitaan sebagai karunia dari Allah, yang memanggil kita untuk menjadi lebih suci. Sementara kita sering berkata bahwa krisis dan masa penderitaan membangun karakter, kita justru menghindar dari keduanya sejauh mungkin dan berusaha terus
  65. 65. 68 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? menciptakan berbagai teknik untuk memberikan kompensasi demi menekan atau mengatasi penderitaan. Banyak bacaan sekuler kita menunjukkan bahwa ibu Teresa dan para misionaris secara psikologis cacat, karena menerima penderitaan dan rasa sakit. Setelah bekerja bersama mereka, aku kira pandangan sekuler itu meleset jauh sekali dari kebenaran. Kita orang Amerika jarang sekali memikul tanggungjawab atas penderitaan kita sendiri. Dan tanpa memandang situasi, setiap kita adalah yang paling miskin dalam hal pilihan untuk menanggapi penderitaan. Bagi para misionaris itu, penderitaan bukan hanya suatu pengalaman fisik, tetapi juga suatu penjumpaan spiritual yang mendorong mereka untuk mempelajari tanggapan-tanggapan baru, untuk mengusahakan pengampunan, untuk berpaling kepada Allah, untuk bertindak seperti Kristus, dan untuk bersyukur karena penderitaan memberikan hasil yang baik pada diri mereka. Dan akhirnya penderitaan itu membuat mereka melakukan tindakan. Begitu pula kesaksian orang seperti Philip Berrigan40, yang tidak hanya menerima derita di dalam kehidupan mereka, tetapi juga merangkulnya. Philip tahu lebih banyak tentang makna kehilangan nyawa “demi Aku” daripada kebanyakan orang Kristiani sekarang. Baginya menjawab panggilan Kristus untuk hidup sebagai murid- Nya berarti penganiayaan dari penjara di masa yang satu ke penjara yang lain di masa lainnya pula. Pada tahun 1960-an, Daniel, saudaranya juga ditangkap karena memprotes Perang Vietnam dan selama sebelas tahun meringkuk dalam penjara. Musim gugur yang lalu aku mengunjungi Philip di suatu penjara di kota Maine di mana ia ditahan karena pembangkangan sipil. Beberapa minggu kemudian ia 40 Lih. Catatan kaki no. 7
  66. 66. Berbagai Paradoks 69 dijatuhi hukuman dua tahun penjara. Dua tahun lagi ia harus berpisah dengan istrinya, Elizabeth McAlister dan ketiga anak mereka. Ini bukan yang pertama kali mereka berpisah. Tapi baik Phillip maupun Elizabeth tidak kecil hati. Dalam sepucuk surat yang ditulis Elizabeth untuknya, Elizabeth merenungkan dasar perjuangan perdamaian mereka, yang sering salah dimengerti dan dikritik karena terlalu dipolitisir, dengan menunjukkan optimismenya dan iman yang tak pernah padam. Sungguh tidak adil – pada umur tujuh puluh tiga tahun kamu untuk kesekian kalinya masuk penjara demi keadilan dan demi perdamaian. Dan kamu mendapatkannya tanpa melalui pengadilan. Tapi apalagi yang kita harapkan jika jutaan orang lainnya juga dipenjara di seluruh dunia, dan banyak di antara mereka itu disiksa, kelaparan, hilang, keluarga mereka diancam? Sungguh tidak adil – kita tidak dapat menikmati rumah yang kita bangun bersama; mengagumi mawar yang kita tanam sedang mekar bunganya; makan buah yang kamu rawat; membanggakan anak-anak yang kita besarkan. Tapi apa lagi yang kita harapkan, jika jutaan orang lainnya tak punya rumah, jutaan orang menjadi pengungsi karena perang, mengalami wabah kelaparan dan penindasan – jiwa mereka telah kusut karena penat dan takut melihat keindahan di sekeliling mereka; harapan dan hati mereka hancur luluh karena anak- anak mereka mati setiap harinya...? Sungguh tidak adil – kita tak dapat menghadiri bersama wisuda Frida dan Jerrry. Mereka merindukan dirimu di samping mereka untuk ikut ambil bagian dalam kebanggaan, prestasi dan awal yang baru bagi mereka. Mereka ingin mendengarkan kata-kata kebijaksanaanmu, kehangatan hatimu, kehadiranmu dalam tahap baru kehidupan mereka. Namun apa lagi yang bisa kita harapkan jika ada begitu banyak
  67. 67. 70 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? anak-anak dalam kolese, suatu keluarga yang menyayangi, suatu komunitas yang peduli, namun bukan lagi merupakan buah impian, sebaliknya menjadi k orban-korban kelembagaan yang mengharapkan mereka asal lulus saja, korban-korban dari sikap melalaikan masa depan yang merupakan warisan masyarakat untuk mereka? Sungguh tidak adil – kita tidak dapat bersama-sama mengantar Kate menjelang kelulusan Sekolah Menengah Atas dan menjadi seorang wanita muda…. Sungguh tidak adil – komunitas yang selama bertahun-tahun kamu abdi dalam membangun dan membangun ulang tak lagi kamu dampingi, doa, karya, impian, dan tawa yang tertuang dari karunia, visi dan rahmat yang khusus diberikan padamu. Tapi apalah yang kita harapkan jika komunitas seperti itu dicurigai, diancam, digerogoti, ketika pemberangusan nyaris tuntas, ketika rakyat dijadikan pengecut, dapat dibeli, dicerai-beraikan dan dijadikan pelaksana kepunahan mereka sendiri? Rasa damai dan teguh pendirian yang mengalir dari orang-orang seperti Philip dan Elizabeth tidak dihargai dan juga tidak dipahami dalam masyarakat kita. Cita rasa itu adalah buah dari kemerdekaan Kristus yang paradoks, yang berkata: “Tak seorang pun dapat mengambil hidupKu, namun Aku menyerahkannya atas keinginanKu sendiri. Aku berkuasa untuk mengambilnya kembali.” Bagi Philip, pengorbanan berpisah dari orang-orang yang disayanginya merupakan bagian dari kematian yang harus diderita, palang halang di jalan menuju perdamaian. Yang didapatnya bukanlah damai yang diberikan dunia, namun seperti tulisannya dari penjara pada bulan September 1997, ia memandang damai yang lebih besar dan lebih dalam:
  68. 68. Berbagai Paradoks 71 Adalah damai ketika tak ada lagi dominasi, di mana ketidak-adilan dibongkar, ketika kekerasan telah menjadi sisa masa lalu, ketika pedang telah hilang dan mata–bajak banyak tersedia. Adalah damai ketika semua orang diperlakukan sebagai saudara, lelaki dan perempuan, dengan penghargaan dan martabat, ketika setiap kehidupan dianggap suci, dan di mana ada masa depan bagi anak-anak. Dunia seperti itulah yang untuk membantu perwujudannya Allah berkenan memanggil kita. Di negeri kita untuk menanggapi panggilan seperti itu bisa berarti masuk penjara, mempertaruhkan reputasi, pekerjaan, penghasilan, atau bahkan dirampok oleh keluarga dan teman sendiri. Namun dalam suatu negara kriminal yang setiap hari menyiapkan bencana nuklir, tantangan itu sungguh-sungguh berarti kemerdekaan, komunitas teman dan kerabat yang baru. Sesungguhnya, artinya adalah kebangkitan. Bagi kebanyakan dari kita proses kematian yang harus kita tempuh untuk dapat berbuah benar-benar biasa saja. Kita tidak berhadapan dengan regu tembak (seperti gambaran Dostoevsky) atau pengadilan federal (seperti Philip Berrigan dan saudaranya), sebab yang kita dapat hanyalah sedikit lebih sulit dari persoalan hidup sehari- hari saja: soal mengatasi kesombongan, berteriak kepada seseorang yang berbuat salah, meredam kebencian, mendiamkan anggota keluarga atau rekan yang marah atau frustrasi. Tidak ada sesuatu yang heroik dalam memilih melakukan hal-hal ini. Namun “jika benih tidak jatuh di tanah” kita tak akan pernah menemukan damai sejati atau pun dapat menyampaikannya kepada orang lain. Laurel Arnold, jemaat gerejaku yang kukenal sejak akhir 1950-an berkata:
  69. 69. 72 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Bila aku merenungkan kata-kata Yesus dalam Injil Yohanes 14:27 “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu,” – aku teringat betapa sering ayat ini dibacakan pada upacara pemakaman, namun tetap berada di luar diriku. Aku dibesarkan di suatu lingkungan yang terlindung dan tersendiri agar menjadi wanita yang benar, saleh dan kritis. Aku ingin menjadi seorang ternama, mungkin seorang penulis yang terkenal, dan aku bekerja keras dan dihargai di universitas. Aku ingin populer, namun aku mengadili teman-teman yang juga ingin dikenal. Aku sangat idealistis dan mencintai aliran pacifisme, tapi aku benar-benar orang kulit putih kelas menengah yang buta terhadap ketidak-adilan sosial dan permainan politik. Selama perang aku mengajar di New York City, sementara Paul, suamiku, menjadi pelaut. Setelah perang, kami tergugah melihat realitas kehidupan orang lain. Paul telah menyaksikan kerusakan yang mengerikan di kota-kota yang terkena bom di Eropa; aku tersandung orang-orang yang mabuk di jalanan dan aku peduli pada anak-anak yang tak pernah bermain di rerumputan. Kami kira kami dapat membantu seorang pecandu alkohol dan merengkuhnya dalam keluarga kami, tapi ia kabur mencuri uang dari toko kami. Kami menawarkan diri kepada majelis gereja kami untuk menjadi misionaris dan dikirim ke Afrika. Walaupun kemudian kami meninggalkan bidang misi, kami makin terlibat dalam kegiatan gereja. Namun kami tidak menemukan hubungan dari hati ke hati yang kami cari, karena semua kegiatan bersifat dangkal dan gosip belaka. Kami ingin menghayati kehidupan yang mengikuti Yesus setiap hari, bukan hanya pada hari Minggu saja. Kemudian, kami tertarik pada cita- cita persaudaraan, dan kami mulai mempelajari berbagai persoalan dan bidang-bidang kehidupan yang belum
  70. 70. Berbagai Paradoks 73 terpikir oleh kami sebelumnya: materialisme, rumah pribadi, sebab-sebab perang. Pada 1960 kami bergabung dengan Bruderhof.... Adalah mudah untuk menyerahkan rumah, mobil dan penghimpunan harta bersama; kami bisa mengerti. Namun kesukaan kami menyampaikan pendapat, cara-cara berprinsip untuk menanggapi berbagai hal, pertimbangan berdasarkan kebenaran pribadi; sikap seperti bos, dan keyakinan diri yang menggilas orang lain, semua itu masih sulit untuk dikorbankan. Untuk masa yang panjang aku berusaha agar tidak bertindak menurut aturan, melainkan supaya lebih dibimbing oleh Roh; berusaha agar tidak mencari citra diri “baik” atau ramah, dan lebih bersikap tulus dan jujur. Sulit! Tentu saja ada suka duka yang seimbang dan kesetiaan pada Tuhan selama itu, berusaha menimbang-nimbang, mendapatkan ampunan dan kesempatan untuk permulaan yang baru. Aku masih tak suka dianggap salah – tak ada orang yang suka – tapi aku mendapatkan rahmat, kasih dalam kerahiman Allah. Pada usia tujuh puluh empat, tak ada waktu untuk rileks dan bermalas-malasan. Ada begitu banyak hal yang masih perlu kupelajari, begitu banyak yang harus ditanggapi.... Ada orang yang di dalam doa bersyukur kepada Allah karena telah menjadi putraNya. Aku tidak seyakin itu. Apakah aku sungguh-sungguh siap mati? Yang pasti aku tidak hidup “dengan tenang”, seperti dalam lagu yang kita nyanyikan “Peace I ask of Thee, O River.” Ada kegelisahan dan kerinduan tertentu pada diriku. Kukira kita semua merupakan bagian dari makhluk yang mengeluh yang disebut dalam Surat untuk Jemaat Roma 8. Walau kulihat diriku sendiri mudah goyah, sedang Allah begitu setia sepanjang hidupku, di sanalah kudapatkan iman dan kedamaianku.
  71. 71. 74 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Tidak ada yang istimewa dalam cerita Laurel itu. Namun perjuangannya yang biasa-biasa saja – tugas umum sepanjang hayat untuk belajar hidup dalam damai dengan Tuhan, dengan tetangga, dan diri sendiri – tidaklah kalah penting dibanding kemartiran yang heroik. Kakekku menulis: Sejauh terkait dengan umat manusia seluruhnya, hanya satu hal yang berharga bagi Kerajaan Allah: Kesediaan kita untuk mati. Namun kesediaan ini perlu dibuktikan dalam hal-hal yang remeh-remeh dalam hidup sehari-hari, sehingga kita dapat memperlihatkan keberanian dalam masa-masa yang kritis dalam sejarah. Maka kita harus sepenuhnya mengatasi sikap dan perasaan yang kecil-kecil, supaya dapat menyerahkan cara pribadi kita seluruhnya dalam menanggapi hal-hal, yaitu rasa takut, khawatir dan kegelisahan batin kita – pendeknya, ketidakpercayaan kita. Sebaliknya, kita memerlukan iman. Iman yang walaupun sebesar biji sesawi, namun punya peluang untuk tumbuh menjadi besar. Itulah yang kita perlukan, tak kurang, tak lebih.
  72. 72. Berbagai Paradoks 75 Kebijaksanaan Orang Bodoh D alam suratnya yang pertama kepada Jemaat di Korintus, Rasul Paulus menulis, “Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini biarlah ia menjadi bodoh supaya ia berhikmat. Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah.41 “Kebijaksanaan orang bodoh (dan kebodohan orang bijak) tampaknya tidak berkaitan dengan damai yang diberikan dunia ini, maka damai itu tidak dapat ditemukan oleh mereka yang mengikuti kebijaksanaan dunia, oleh mereka yang merangkul kebodohan di mata Allah. Secara praktis, kebodohan ini sering disepelekan atau dilupakan. Cerita tentang Fransiskus Asisi bisa dijadikan contoh. Hingga sekarang Fransiskus Asisi sangat dikenal sebagai biarawan yang lembut hati, yang membuat nyanyian untuk matahari dan berdamai dengan binatang dan burung- burung. Namun Santo Fransiskus bukanlah penyair yang lembek. Dengan semangatnya yang meluap-luap, dia menjadikan dirinya sama dengan orang miskin dengan membagi-bagikan bukan hanya semua warisan yang diterimanya, tetapi juga baju yang disandangnya. Wasiat terakhirnya luar biasa kritis terhadap kekayaan dan lembaga keagamaan, sehingga surat itu disita dan dibakar sebelum ia sendiri akhirnya dinyatakan sebagai orang suci. Dan beberapa kata yang ditinggalkannya bagi kita 41 1Kor 3:18-19
  73. 73. 76 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? mengungkapkan semangat yang niscaya menantang kita, setiap kali kita membacanya – sekalipun karena sering diucapkan lalu terasa usang: Tuhan, jadikan aku pembawa damai Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa kasih; Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa ampunan; Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa iman; Bila terjadi keputus-asaan, jadikanlah aku pembawa harapan; Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku terang; Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan. O Guru Ilahi, Buatlah diriku agar lebih berusaha: Menghibur, daripada dihibur; Memahami, daripada dipahami; Mencintai, daripada dicintai. Sebab dengan memberi aku menerima; Dengan mengampuni aku diampuni; Dan dengan mati aku bangkit lagi Untuk hidup abadi. Mereka yang merinding mendengar jawaban religius seperti yang diberikan Santo Fransiskus tujuh abad yang lalu, sepertinya sekarang malah akan diolok-olok orang. Seperti Santo Fransiskus, mereka mungkin juga tahu bahwa jalan menuju perdamaian abadi menuntut kesediaan untuk tidak dipahami dan salah dimengerti orang. Dalam bukuku tentang kematian dan proses menuju kematian, I Tell You A Mystery, aku menceritakan kisah bibiku Edith yang menukarkan gaya hidup yang nyaman sebagai mahasiswa Teologi di Universitas Tubingen dengan hidup miskin di Bruderhof. Kebodohan Edith (sementara Hitler berkuasa, dan komunitas kami dianggap sebagai ancaman bagi negara) membuat orang tuanya marah sehingga mereka mengurungnya di kamar

×