Evaluasi KTSP

4,054
-1

Published on

2 Comments
4 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
4,054
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
257
Comments
2
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Evaluasi KTSP

  1. 1. EVALUASI KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) UNTUK PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN<br />1. Pendahuluan <br />Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) (2006:3), Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di masing-masing satuan pendidikan. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) jenjang pendidikan dasar dan menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu kepada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).<br /> Kurikulum yang disusun oleh satuan pendidikan disebut Kurikulum Tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang merupakan kurikulum operasional yang terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus (BNSP 2006:5). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 dan Nomor 6 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan menetapkan satuan pendidikan dapat mengadopsi atau mengadaptasi model KTSP yang disusun oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional bersama unit utama terkait.  KTSP ditetapkan oleh kepala satuan pendidikan dasar dan menengah setelah memperhatikan pertimbangan dari Komite Sekolah atau Komite Madrasah. Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menerapkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan mulai tahun ajaran 2006/2007 dan harus sudah mulai menerapkan paling lambat tahun ajaran 2009/2010.<br />Implikasi penerapan KTSP mengharuskan terjadi pergeseran paradigma dari pengajaran menjadi pembelajaran, yaitu interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Agar mencapai hasil yang optimal proses pembelajaran harus direncanakan, dilaksanakan secara fleksibel, bervariasi, interaktif, inspiratif, menarik, dan menantang peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi peserta didik untuk berkreasi dan berimprovisasi dalam proses pembelajaran. Untuk kebutuhan ini, satuan pendidikan harus berpedoman pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 41 tahun 2007 tentang standar proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. <br />Standar proses meliputi perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan pengawasan proses yang efektif dan efisien. Dalam proses perencanaan guru dituntut membuat silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Sedang untuk pelaksanaan ditentukan tentang persyaratan pelaksanaan proses, pelaksanaan pembelajaran dan diukur melalui penilaian. Rangkaian proses akan berjalan dengan baik bila dilengkapi pengawasan dalam bentuk pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan dan tindak lanjut. <br />Sehebat apapun isi kurikulum, faktor guru tetap yang paling menentukan keberhasilan pendidikan. Untuk meningkatkan mutu pembelajaran terdapat tiga komponen penting program pembelajaran yang saling terkait, yaitu perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian. Perencanaan pembelajaran merupakan persiapan mengelola pembelajaran yang akan dilaksanakan pada setiap tatap muka. Pelaksanaan proses pembelajaran merupakan kegiatan guru mengelola pembelajaran di kelas. Kegiatan penilaian dilakukan untuk mengukur dan menilai pencapaian kompetensi serta untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Program pembelajaran perlu dirancang secara terencana agar pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan baik. Karena saling terkait inilah, maka perencanaan pembelajaran yang baik sangat penting untuk menjamin terlaksananya proses pembelajaran yang benar. <br />Menyimak tuntutan standar proses idealnya, guru memang telah merancang perencanaan dalam bentuk silabus dan RPP. Di lapangan sering terjadi pembuatannya secara rombongan melalui musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) atau kelompok kerja guru (KKG) tingkat kabupaten/kota atau musyawarah guru mata pelajaran tingkat sekolah . Mengingat pembuatannya secara bersama-sama, maka guru ada yang aktif dan ada yang pasif. Guru yang pasif membuat perencanaan pembelajaran hanya untuk memenuhi kewajiban administrasi, bukan untuk acuan melaksanakan pembelajaran di kelas sehingga pelaksanaan pembelajaran di kelas relatif tidak terencana, akibatnya hasil belajar yang dicapai siswa relatif belum menggembirakan. Sebagian guru mengadopsi secara utuh rencana pembelajaran buatan orang lain untuk kondisi dan situasi yang berbeda sehingga belum tentu sesuai dengan karakteristik peserta didiknya. Kebiasaan ini mengakibatkan pembelajaran tidak bermakna. Pembelajaran cenderung hanya berorientasi pada penguasaan materi, bukan membekali siswa untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Guru tidak mengaitkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata dilingkungan masyarakat agar dapat mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang diperoleh dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai warga masyarakat.<br />Kecenderungan sebagian guru mengadopsi secara utuh perencanaan pembelajaran yang belum tentu sesuai dengan karakteristik peserta didiknya ini merupakan indikasi bahwa kemampuan guru tersebut dalam merancang perencanaan pembelajaran masih perlu ditingkatkan. Dari gambaran ini tampak jelas bahwa secara kasat mata mayoritas guru memiliki perencanaan pembelajaran, namun apakah guru yang bersangkutan paham atau tidak, sampai saat ini sepengetahuan penulis belum ada yang menelitinya. Padahal perencanaan proses akan terkait erat dengan pelaksanaan penilaian yang sangat berpengaruh untuk peningkatan mutu pendidikan.<br />Tinjauan terhadap satuan pendidikan dalam pelaksanaan proses menyangkut persyaratan proses pembelajaran di antaranya ketentuan tentang jumlah maksimal peserta didik setiap rombongan belajar. Idealnya rombongan belajar jenjang SD/MI 28 orang, SMP/ MTs/SMA/MA/SMK 32 orang, Standar ini mayoritas belum digubris oleh pelaksana tingkat satuan pendidikan. Pada umumnya sekolah belum mentaati ketentuan ini. Banyak ditemukan rombongan belajar mencapai 38 orang atau bahkan ada yang 40 orang. Fakta ini menggambarkan bahwa standar proses pendidikan selama ini belum memenuhi syarat yang ditentukan. Kondisi ini diperparah lagi ketersediaan buku teks pelajaran dan pengelolaan kelas. Belum banyak rasio buku teks untuk peserta didik 1: 1 per mata pelajaran. Bahkan sarana buku di perpustakaan masih sangat jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan menunjang pengalaman belajar peserta didik. Menyangkut tentang penilaian hasil pembelajaran, belum banyak penilaian dilakukan secara konsisten, sistematik dengan menggunakan tes dan nontes. <br />Bila kondisi yang banyak terjadi dalam praktik pendidikan ini tidak mendapat solusi secara bijak, tampaknya proses pendidikan tidak akan maksimal dan terkesan hanya asal jalan. Pengawasan proses pembelajaran juga belum berjalan secara optimal. Peran pengawasan baik melalui pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan dan tindak lanjut baik oleh kepala sekolah maupun pejabat pengawas belum maksimal. Banyak kepala sekolah yang sibuk dengan dirinya sendiri sehingga tidak ada waktu untuk supervisi dan evaluasi proses pembelajaran. Akibatnya guru menyelenggarakan proses pembelajaran tanpa motivasi yang berarti. <br />Evaluasi merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Evaluasi merupakan rangkaian yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan program (Arikunto 2002: 290). Melakukan evaluasi program merupakan kegiatan yang dimaksudkan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari kegiatan yang direncanakan yang merupakan rangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengukur efektifitas suatu sistem secara keseluruhan (Sudjarwo, 1988:112). Miller dan Seller (1985: 329) menegaskan bahwa evaluasi kurikulum penting untuk méndapatkan informasi yang digunakan guna perbaikan-perbaikan di sekolah. Evaluasi kurikulum merupakan penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan reliabel untuk membuat keputusan tentang  kurikulum yang sedang berjalan atau telah dijalankan. Evaluasi kurikulum penting dilakukan dalam rangka  penyesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar, sebab evaluasi kurikulum dapat menyajikan informasi mengenai kesesuaian, efektifitas dan efisiensi  kurikulum tersebut terhadap tujuan yang ingin dicapai dan penggunaan sumber daya. Evaluasi kurikulum akan menghasilkan informasi yang berguna sebagai bahan pembuat keputusan  apakah kurikulum tersebut masih layak dijalankan tetapi perlu revisi atau kurikulum tersebut harus diganti dengan kurikulum yang baru, karena evaluasi kurikulum bertujuan memperoleh informasi mengenai kebaikan dan kelemahan kurikulum sehingga dari hasil evaluasi dapat dilakukan proses perbaikan dan pengembangan menuju yang lebih baik. <br />Para pemegang kebijaksanaan pendidikan dan para pengembang kurikulum dapat menggunakan hasil evaluasi sebagai bahan petimbangan dalam memilih dan menetapkan kebijaksanaan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan. Dalam kaitannya dengan proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah, Sukmadinata (2001: 172) menyatakan bahwa hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah, dan para pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu perkembangan peserta didik, memilih bajan ajar, memilih metode dan alat bantu pelajaran, serta fasilitas pendidikan lainnya. Evaluasi adalah komponen penting dari proses pengembangan kurikulum yang sedang berjalan dan sistem pendidikan yang diterapkan. Menurut Gronlund (1975) yang dikutip Djiwandono (2002: ) evaluasi adalah proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan telah dicapai. Dari beberapa pendapat di atas menunjukkan bahwa evaluasi kurikulum merupakan proses yang dilakukan untuk menilai kurikulum berdasarkan kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan, yang selanjutnya diikuti dengan pengambilan keputusan untuk penyempurnaan.<br />2. Konsep Dasar Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)<br />Istilah kurikulum berasal dari bahasa latin, yakni “Curriculae”, artinya jarak yang harus ditempuh seorang pelari. Pada awalnya, pengertian kurikulum merupakan jangka waktu pendidikan yang harus ditempuh oleh peserta didik untuk memperoleh ijazah. Ijazah pada hakekatnya merupakan bukti, bahwa seorang peserta didik telah menempuh kurikulum yang berupa rencana, sebagaimana halnya seorang pelari telah menempuh suatu jarak antara satu tempat ke tempat lain dan akhirnya mencapai finish (Hamalik 2001:16). Dalam hal ini kurikulum dianggap sebagai jembatan untuk mencapai titik akhir dari suatu perjalanan dan ditandai oleh perolehan suatu ijazah tertentu. Di dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan, dinyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. <br />Kurikulum sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan pembelajaran, berarti kurikulum adalah suatu program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan peserta didik sehingga terjadi perubahan tingkah laku sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran. Kurikulum meliputi segala sesuatu yang diperkirakan dapat mempengaruhi perkembangan peserta didik, seperti sarana prasarana, media dan sumber belajar, metode, dan lain sebagainya untuk memberikan kesempatan dan kegiatan kepada peserta didik sehingga mereka dapat dibelajarkan secara terencana. <br />Kurikulum memuat isi dan bahan pelajaran, berarti kurikulum merupakan sejumlah mata pelajaran yang harus dipelajari dan ditempuh oleh peserta didik untuk memperoleh sejumlah pengetahuan. Bahan ajar dipandang sebagai pengalaman dan penemuan para ahli masa lampau yang disusun secara sistematis dan logis. Bahan ajar tersebut mengisi materi pelajaran yang disampaikan kepada peserta didik sehingga memperoleh ilmu pengetahuan yang berguna baginya. Penemuan-penemuan dari pengalaman para ahli sebagai ilmu pengetahuan ini selalu berkembang dan semakin banyak, maka semakin banyak pula muatan kurikulum yang harus dipelajari oleh peserta didik di sekolah, karena itu idealnya kurikulum sekolah selalu dikembangkan.<br />Kurikulum sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran, berarti kurikulum memuat serangkaian pengalaman belajar yang harus dijalani peserta didik. Semua kegiatan baik di dalam kelas maupun kegiatan di luar kelas (tatap muka dan tugas mandiri) yang memberikan pengalaman belajar bagi peserta didik pada hakekatnya adalah kurikulum, dan harus direncanakan sebagai muatan kurikulum.<br />Kurikulum pada hakekatnya merupakan seperangkat rencana dan pengaturan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran yang memuat tujuan, isi dan bahan pelajaran, serangkaian pengalaman belajar dan cara mengukur pencapaian tujuan, serta segala yang diperkirakan dapat mempengaruhi perkembangan peserta didik untuk mencapai tujuan penyelenggaraan satuan pendidikan yang bersangkutan sebagai upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional. Ralph W. Tylor (1949) dalam Sukmadinata (2001: 29) mengemukakan empat pertanyaan pokok yang menjadi inti kajian kurikulum; (1) tujuan pendidikan yang manakah yang akan dicapai?; (2) pengalaman belajar yang bagaimanakah yang harus disediakan untuk mencapai tujuan tersebut?; (3) bagaimana mengorganisasikan pengalaman belajar tersebut secara efektif?; (4) bagaimana menentukan bahwa tujuan tersebut telah tercapai?.<br /><ul><li>Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum yang bersifat operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Penyusunan dan penerapan KTSP oleh satuan pendidikan dapat dimulai tahun ajaran 2006/2007 dan harus sudah mulai menerapkan paling lambat tahun ajaran 2009/2010 dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing-masing Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh BSNP. Pemberlakuan KTSP sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 dan Nomor 6 tahun 2007 tentang Pelaksanaan SI dan SKL, ditetapkan oleh kepala sekolah setelah memperhatikan pertimbangan dari komite sekolah. Dengan kata lain, pemberlakuan KTSP sepenuhnya diserahkan kepada satuan pendidikan, dalam arti tidak ada intervensi dari Dinas Pendidikan atau Departemen Pendidikan Nasional dengan tujuan agar kurikulum tersebut dapat disesuaikan dengan karakter dan tingkat kemampuan satuan pendidikan masing-masing. Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menggariskan bahwa KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip: (1). Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. (2). Beragam dan terpadu. (3). Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. (4). Relevan dengan kebutuhan kehidupan. (5). Menyeluruh dan berkesinambungan (6). Belajar sepanjang hayat (7). Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Dalam pengembangan dan penyusunan KTSP perlu memperhatikan: (1). Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia. Keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian peserta didik secara utuh. Dalam pengembangan kurikulum perlu dipertimbangkan hal yang memungkinkan semua mata pelajaran dapat menunjang peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia. (2). Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik. Kurikulum disusun dengan memperhatikan potensi, tingkat perkembangan, minat, kecerdasan intelektual, emosional dan sosial, spritual, dan kinestetik peserta didik. (3). Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan. Kurikulum harus memuat keragaman untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan pengembangan daerah. (4). Tuntutan pembangunan daerah dan nacional. untuk mewujudkan pendidikan yang otonom dan demokratis perlu memperhatikan keragaman dan mendorong partisipasi masyarakat dengan tetap mengedepankan wawasan nasional. Untuk itu, keduanya harus ditampung secara berimbang dan saling mengisi. (5). Tuntutan dunia kerja. Kurikulum perlu memuat kecakapan hidup untuk membekali peserta didik memasuki dunia kerja. (6). Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Kurikulum harus dikembangkan secara berkala dan berkesinambungan sejalan dengan perkembangan Ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. (7). Agama, muatan kurikulum semua mata pelajaran harus ikut mendukung peningkatan iman, taqwa dan akhlak mulia. (8). Dinamika perkembangan global Pendidikan harus menciptakan kemandirian, baik pada individu maupun bangsa, yang sangat penting ketika dunia digerakkan oleh pasar bebas. Pergaulan antarbangsa yang semakin dekat memerlukan individu yang mandiri dan mampu bersaing serta mempunyai kemampuan untuk hidup berdampingan dengan suku dan bangsa lain. (9). Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan, kurikulum harus mendorong berkembangnya wawasan dan sikap kebangsaan serta persatuan nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dalam wilayah NKRI. (10).Kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Kurikulum harus dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian keragaman budaya. Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat harus terlebih dahulu ditumbuhkan sebelum mempelajari budaya dari daerah dan bangsa lain. (11). Kesetaraan Jender, Kurikulum harus diarahkan kepada terciptanya pendidikan yang berkeadilan dan memperhatikan kesetaraan jender. (12). Karakteristik satuan pendidikan Kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan visi, misi, tujuan, kondisi, dan ciri khas satuan pendidikan. Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum. Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Pengembangan kurikulum disusun antara lain agar dapat memberi kesempatan kepada peserta didik untuk: (a). belajar untuk bermain dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; (b). belajar untuk memahami dan menghayati; (c). belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif; (d). belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain; dan (e). belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM).Komponen Kurikulum Tingkat Satuan PendidikanKurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) memuat komponen yang dipersyaratkan dan telah disahkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi. Penyusunan KTSP dilakukan secara mandiri dengan membentuk Tim KTSP. Komponen KTSP memuat tentang visi, misi, tujuan, struktur dan muatan KTSP. KTSP dilengkapi dengan silabus. Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Di samping itu materi muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri termasuk ke dalam isi kurikulum. Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan mencakup : (a).Mata pelajaran dan alokasi waktu berpedoman pada struktur kurikulum yang tercantum dalam Standar Isi; (b). Muatan Lokal yang mencakup jenis program dan strategi pelaksanaan; (c). Kegiatan Pengembangan Diri mencakup jenis program dan strategi pelaksanaan; (d). Pengaturan Beban Belajar; (e). Ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar; (f). Kenaikan Kelas dan Kelulusan; (g). Penjurusan menyangkut kriteria penjurusan dengan mempertimbangkan bakat, minat, prestasi peserta didik yang disesuaikan dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dan karateristik sekolah yang bersangkutan; (h). Pendidikan Kecakapan Hidup; (i). Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global; (k). Kalender Pendidikan tingkat satuan pendidikan yang disusun sesuai dengan kebutuhan daerah dan karakteristik sekolah. Muatan KTSP tersebut di atas merupakan komponen dokumen 1 KTSP.KTSP dilengkapi oleh dukumen 2 yang berisi silabus untuk setiap mata pelajaran yang dikembangkan secara mandiri melalui proses penjabaran SK/KD menjadi Indikator, Materi Pembelajaran, Kegiatan Pembelajaran dan Jenis Penilaian yang mencakup seluruh mata pelajaran baik yang SK/KD nya telah disiapkan oleh Pemerintah maupun yang disusun oleh sekolah sesuai dengan kebutuhan sekolah yang bersangkutan. Silabus selanjutnya dikembangkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagai acuan guru dalam menyelenggarakan proses pembelajaran.Proses pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses yang ditata dan diatur menurut langkah-langkah tertentu agar pelaksanaannya dapat mecapai hasil yang diharapkan dan kompetensi dasar dapat dicapai secara efektif. Oleh karena itu, guru perlu mengembangkan perencanaan pembelajaran yang didasarkan atas pertimbangan agar peserta didik memiliki pengalaman belajar yang bermakna. Perencanaan pembelajaran yang yang tepat dan efektif akan mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan pembelajaran. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 pasal (20) menyatakan perencanaan proses pembelajaran meliputi Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. Menurut Anitah (2008: 12.9) silabus merupakan produk utama dari pengembangan kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang harus memiliki keterkaitan dengan produk pengembangan kurikulum lainnya, yaitu proses pembelajaran. Silabus merupakan kurikulum ideal, sedangkan proses pembelajaran merupakan kurikulum aktual. Selanjutnya Anitah menyatakan silabus merupakan program yang dilaksanakan untuk jangka waktu yang cukup panjang yaitu untuk satu tahun atau satu semester, menjadi acuan dalam mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang merupakan program untuk jangka waktu yang lebih pendek. Menurut Ralph W. Tyler dalam Winataputra (1997: 55), ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab dalam proses pengembangan silabus, yaitu: (a). Tujuan apa yang akan dicapai?, (b). Pengalaman belajar apa yang perlu disiapkan untuk mencapai tujuan?, (c). Bagaimana pengalaman belajar itu diorganisasikan secara efektif?, (d). Bagaimana menentukan keberhasilan pencapaian tujuan?. Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar( BNSP, 2006:5). Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Jika mengikuti pandangan Tyler dan batasan BNSP di atas, silabus mempunyai komponen-komponen; (a). komponen tujuan; (b). komponen isi; (c). komponen metode pembelajaran, dan (d). komponen penilaian. Setiap komponen silabus merupakan suatu kesatuan yang mempunyai hubungan dan pengaruh timbal balik antara satu dengan lainnya. Jalinan hubungan timbal balik itu dapat digambarkan seperti bagan di bawah ini: TUJUANPENILAIANMATERI AJARMETODEGambar 1: Jalinan hubungan timbal balik komponen kurikulumKomponen tujuan merupakan arah atau sasaran yang hendak dituju oleh proses pembelajaran. Tujuan akan menuntun kepada apa yang akan dicapai atau sebagai gambaran hasil akhir setelah proses pembelajaran dilaksanakan. Dengan mempunyai gambaran yang jelas tentang hasil yang akan dicapai, dapatlah diupayakan berbagai kegiatan atau perangkat untuk mencapainya. Komponen materi ajar merupakan isi kurikulum yang akan diperoleh peserta didik dari pengalaman belajar. Peserta didik akan melakukan berbagai kegiatan dalam rangka memperoleh pengalaman belajar tersebut. Pengalaman-pengalaman belajar ini perlu dirancang dan diorganisasikan sedemikian rupa agar apa yang diperoleh peserta didik sesuai dengan tujuan.Komponen metode merupakan cara peserta didik memperoleh pengalaman belajar untuk mencapai tujuan. Metode berkenaan dengan proses pencapaian tujuan, sedangkan proses itu sendiri perlu disesuaikan dengan karakter materi ajar. Untuk itu perlu ada kriteria pola organisasi kurikulum yang efektif, yang menurut Tyler dalam Wiranataputra (1997: 56) kriteria dalam merumuskan organisasi kurikulum adalah: (a). berkesinambungan, yaitu adanya pengulangan kembali unsur-unsur utama kurikulum secara vertical, (b). berurutan, maksudnya isi kurikulum diorganisasikan dengan cara mengurutkan materi ajar sesuai dengan tingkat kedalaman atau keluasan yang dimiliki dan (c). keterpaduan, maksudnya adanya penggabungan yang menunjukkan hubungan horizontal pengalaman belajar yang menjadi isi kurikulum, sehingga membantu peserta didik memperoleh pengalaman dalam kesatuan yang utuh.Komponen penilaian merupakan cara untuk mengukur ketercapaian sasaran yang akan dituju dan untuk mengetahui apakah proses kurikulum berjalan secara optimal atau tidak. Dengan penilaian akan diperoleh balikan tentang pelaksanaan kurikulum sehingga dapat dilakukan perbaikan-perbaikan seperlunya. Karena tujuan penilaian seperti tersebut di atas, maka sasaran penilaian ada dua, yaitu penilaian hasil belajar yang bertujuan mengukur keberhasilan mencapai tujuan yang diharapkan dan penilaia proses yang bertujuan menilai apakah proses berjalan secara optimal.Sejalan dengan pandangan Tyler di atas, BNSP menetapkan 8 (delapan) prinsip pengembangan silabus, yaitu: (1). Ilmiah, maksudnya keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. (2). Relevan, maksudnya cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik. (3). Sistematis, maksudnya komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi. (4). Konsisten, maksudnya adanya hubungan yang konsisten antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian. (5). Memadai, cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar. (6). Aktual dan Kontekstual, maksudnya cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi. (7). Fleksibel, maksudnya keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi variasi peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat. (8). Menyeluruh, maksudnya komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor). Silabus memuat sekurang-kurangnya komponen-komponen: Identifikasi, Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Materi Pokok, Pengalaman Belajar, Indikator, Penilaian, Alokasi Waktu, dan Sumber/Bahan/Alat. Silabus yang disusun sebagai program yang dilaksanakan untuk jangka waktu yang cukup panjang yaitu untuk satu tahun atau satu semester, dijabarkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang merupakan program untuk jangka waktu yang lebih pendek yang idealnya disusun untuk setiap kali pertemuan. Di dalam RPP tercermin kegiatan yang dilakukan guru dan peserta didik untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Komponen RPP minimal memuat : Tujuan Pembelajaran, Materi Ajar, Metode Pembelajaran, Sumber Belajar, dan Penilaian Hasil Belajar.Standar ProsesTidak ada satupun model proses pembelajaran yang sesuai untuk setiap mata pelajaran di dalam kelas dengan peserta didik yang beragam. Untuk itu guru harus mampu memilih, mengembangkan, dan menerapkan proses pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, karakteristik peserta didik, serta kondisi dan situasi lingkungan. Agar mencapai hasil yang optimal, proses pembelajaran harus direncanakan, dilaksanakan secara fleksibel, bervariasi, interaktif, inspiratif, menarik, dan menantang siswa untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi peserta didik untuk berkreasi dan berimprovisasi dalam proses pembelajaran. Untuk kebutuhan ini, satuan pendidikan harus berpedoman pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses Pembelajaran. Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2005 standar proses pembelajaran meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Standar perencanaan proses pembelajaran didasarkan pada prinsip sistematis dan sistemik. Sistematis berarti secara runtut, terarah dan terukur, mulai jenjang kemampuan rendah hingga tinggi secara berkesinambungan. Sistemik berarti mempertimbangan berbagai faktor yang berkaitan, yaitu tujuan yang mencakup semua aspek perkembangan peserta didik (pengetahuan, sikap, dan keterampilan), karakteristik peserta didik, karakteristik materi ajar yang meliputi fakta, konsep, prinsip dan prosedur, kondisi lingkungan serta hal-hal lain yang menghambat atau menunjang terlaksananya pembelajaran. Standar pelaksanaan proses pembelajaran didasarkan pada prinsip terjadinya interaksi secara optimal antara peserta didik dengan pendidik, antar peserta didik sendiri, serta peserta didik dengan aneka sumber belajar termasuk lingkungan. Untuk itu perlu diperhatikan jumlah maksimal peserta didik dalam setiap kelas agar dapat berlangsung interaksi yang efektif. Di samping itu perlu diperhatikan beban pembelajaran maksimal per pendidik dalam satuan pendidikan dan ketersediaan buku teks pelajaran bagi setiap peserta didik. Standar penilaian hasil pembelajaran ditentukan dengan menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik. Teknik penilaian tersebut dapat berupa tes dan nontes. Penilaian secara individual melalui observasi dilakukan sekurang-kurangnya sekali dalam satu semester. Penilaian dilakukan atas segala aspek perkembangan peserta didik yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.Standar pengawasan proses pembelajaran merupakan upaya penjaminan mutu pembelajaran bagi terwujudnya proses pembelajaran yang efektif dan efisien ke arah tercapainya kompetensi yang ditetapkan. Pengawasan perlu didasarkan pada prinsip-prinsip tanggung jawab dan kewenangan, periodik, demokratis, terbuka, dan keberlanjutan. Pengawasan meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut yang diperlukan. 5.1 Perencanaan Proses PembelajaranPerencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Silabus sebagai acuan pengembangan RPP memuat identitas mata pelajaran atau tema pelajaran, SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Silabus dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), serta panduan penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). Setiap guru berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Guru dapat merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan. Komponen RPP meliputi: (1). Identitas mata pelajaran, meliputi: satuan pendidikan, kelas, semester, program, alokasi waktu/jumlah pertemuan; (2). Standar kompetensi, merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran; (3). Kompetensi dasar, merupakan sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran; (4). Tujuan pembelajaran yang menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar; (5). Materi ajar yang memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi; (6). Alokasi waktu yang ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar; (7). Metode pembelajaran yang digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran; (8). Kegiatan pembelajaran yang dirinci dalam tiga tahap yaitu; a). Pendahuluan yang merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. b). Kegiatan inti, merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. c). Tahap Penutup, merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut; (9). Indikator pencapaian kompetensi, adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan; (10). Penilaian hasil belajar, prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu kepada Standar Penilaian; (11). Sumber belajar, penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi. Pengembangan RPP harus memperhatikan enam prinsip, yaitu: (1). Memperhatikan perbedaan individu peserta didik. RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik; (2). Mendorong partisipasi aktif peserta didik. Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar; (3). Mengembangkan budaya membaca dan menulis. Proses pembelajaran dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan; (4). Memberikan umpan balik dan tindak lanjut. RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi; (5). Keterkaitan dan keterpaduan. RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar. RPP disusun dengan mengakomodasikan pembelajaran tematik, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya; dan (6). Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi. Pelaksanaan Proses PembelajaranPermendiknas Nomor 41 Tahun 2007 menentukan jumlah maksimal peserta didik setiap rombongan belajar adalah 28 orang peserta didik untuk SD, dan 32 orang peserta didik untuk satuan pendidikan SMP/SMA/SMK atau yang sederajat. Beban kerja guru mencakup kegiatan pokok yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan. Beban kerja guru sekurang-kurangnya 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu. Buku teks pelajaran yang akan digunakan dipilih melalui rapat guru dengan pertimbangan komite sekolah/madrasah dari buku-buku teks pelajaran yang ditetapkan oleh Menteri. Rasio buku teks pelajaran untuk peserta didik adalah 1 : 1 per mata pelajaran. Selain buku teks pelajaran, guru menggunakan buku panduan guru, buku pengayaan, buku referensi dan sumber belajar lainnya. Guru membiasakan peserta didik menggunakan buku-buku dan sumber belajar lain yang ada di perpustakaan sekolah/madrasah.Dalam pengelolaan kelas, guru harus memperhatikan: (a). mengatur tempat duduk sesuai dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, serta aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan; (b). volume dan intonasi suara guru dalam proses pembelajaran harus dapat didengar dengan baik oleh peserta didik; (c). tutur kata guru santun dan dapat dimengerti oleh peserta didik; (d). menyesuaikan materi pelajaran dengan kecepatan dan kemampuan belajar peserta didik; (e). menciptakan ketertiban, kedisiplinan, kenyamanan, keselamatan, dan kepatuhan pada peraturan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran; (f). memberikan penguatan dan umpan balik terhadap respons dan hasil belajar peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung; (g). menghargai peserta didik tanpa memandang latar belakang agama, suku, jenis kelamin, dan status sosial ekonomi; (h). menghargai pendapat peserta didik; (i). memakai pakaian yang sopan, bersih, dan rapi; (j). pada tiap awal semester, guru menyampaikan silabus mata pelajaran yang diampunya; (k). guru memulai dan mengakhiri proses pembelajaran sesuai dengan waktu yang dijadwalkan.Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP. Pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Dalam kegiatan pendahuluan, guru: (a). menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran; (b). mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari; (c). menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; (d). menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Pembelajaran interaktif adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menjalin kerjasama yang bermakna dengan teman dan guru. Pembelajaran inspiratif adalah pembelajaran yang mendorong dan memicu peserta didik untuk mencaritemukan hal-hal yang baru dan inovatif. Pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar dalam suasana tanpa tekanan, bebas, terlibat secara psikis dan fisik. Pembelajaran yang menantang adalah pembelajaran dimana peserta didik dihadapkan pada masalah, persoalan-persoalan dilematis, yang jawabannya membutuhkan kreativitas dan kemungkinan-kemungkinan baru sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik. Pembelajaran yang memotivasi adalah pembelajaran yang mendorong dan memberi semangat pada peserta didik untuk mencapai prestasi, berkompetisi, berani mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri dengan materi pembelajaran.Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Eksplorasi merupakan serangkaian kegiatan pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mencaritemukan berbagai informasi, pemecahan masalah, dan inovasi. Elaborasi adalah serangkaian kegiatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri melalui berbagai kegiatan dan karya yang bermakna. Konfirmasi adalah serangkaian kegiatan pembelajaran yang memberi kesempatan bagi peserta didik untuk dinilai, diberi penguatan dan diperbaiki secara terus-menerus.Dalam kegiatan penutup, guru: (a). bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran; (b). melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram; (c). memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran; (d). merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik; (e). menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.Disamping proses pembelajaran untuk mata pelajaran, satuan pendidikan juga perlu membudayakan kegiatan pengembangan diri, berupa proses pembelajaran di dalam lingkungan sekolah. Kegiatan ini diarahkan untuk pembentukan iklim sekolah yang kondusif melalui keteladanan pendidik dan tenaga kependidikan sehingga terwujud interaksi edukatif yang memungkinkan terjadinya internalisasi nilai, dan secara kumulatif akan bermuara pada terbentuknya akhlak mulia dan kepribadian luhur peserta didik. Pengembangan diri adalah kegiatan yang bertujuan memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat, dan iklim sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/atau dibimbing oleh guru, konselor, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karier peserta didik serta kegiatan kepramukaan, kepemimpinan, dan kelompok ilmiah remaja. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran. Oleh karena itu, penilaian kegiatan pengembangan diri lebih ditekankan pada menilai keikutsertaan peserta didik dalam kegiatan pengembangan diri yang dipilihnya. Keikutsertaan peserta didik dalam kegiatan pengembangan diri dibuktikan dengan surat keterangan yang ditandatangani oleh pembina kegiatan dan kepala sekolah/madrasah.5.3 Penilaian Hasil PembelajaranPenilaian dilakukan oleh guru terhadap hasil pembelajaran untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran. Penilaian dilakukan secara konsisten, sistematik, dan terprogram dengan menggunakan tes dan nontes dalam bentuk tertulis atau lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, portofolio, dan penilaian diri. Penilaian hasil pembelajaran menggunakan Standar Penilaian Pendidikan dan Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran.Pengawasan Proses Pembelajaranpengawasan proses pembelajaran merupakan upaya penjaminan mutu pembelajaran bagi terwujudnya proses pembelajaran yang efektif dan efisien ke arah tercapainya kompetensi yang ditetapkan. Pengawasan perlu didasarkan pada prinsip-prinsip tanggung jawab dan kewenangan, periodik, demokratis, terbuka, dan keberlanjutan. Pengawasan meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut yang diperlukan. Pemantauan proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran. Pemantauan dilakukan dengan cara diskusi kelompok terfokus, pengamatan, pencatatan, perekaman, wawancara, dan dokumentasi. Kegiatan pemantauan dilaksanakan oleh kepala dan pengawas satuan pendidikan.Supervisi proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran. Supervisi pembelajaran diselenggarakan dengan cara pemberian contoh, diskusi, pelatihan, dan konsultasi. Kegiatan supervisi dilakukan oleh kepala dan pengawas satuan pendidikan. Evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran. Evaluasi proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara: (a). membandingkan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan standar proses, (b). mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan kompetensi guru. Evaluasi proses pembelajaran memusatkan pada keseluruhan kinerja guru dalam proses pembelajaran.Sebagai tindak lanjut dari pengawasan proses pembelajaran, satuan pendidikan perlu melakukan program tindak lanjut berupa: (a). Penguatan dan penghargaan diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar. (b). Teguran yang bersifat mendidik diberikan kepada guru yang belum memenuhi standar. (c). Guru diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan/penataran lebih lanjut. Secara umum tujuan penyusunan standar proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah adalah dalam rangka menjamin mutu proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah, agar terlaksana proses pembelajaran yang efektif dan efisien untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Evaluasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Evaluasi merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Kurikulum juga dirancang dari tahap perencanaan, pengorganisasi kemudian pelaksanaan dan akhirnya monitoring dan evaluasi. Evaluasi merupakan rangkaian yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan program (Arikunto 2002: 290). Rangkaian kegiatan tersebut dirancang untuk mengukur efektifitas suatu sistem secara keseluruhan (Sudjarwo, 1988:112). Peranan monitoring dan evaluasi dari suatu sistem merupakan hal yang penting untuk pengembangan dan perubahan untuk penyempurnaan program. Fungsi utama monitoring dan evaluasi adalah mendiagnosa dan memberikan saran agar program dapat berjalan sebagaimana yang direncanakan. Karena pendekatan sistem bersifat daur ulang dan interaktif secara alami, maka setiap daur dapat menimbulkan manfaat berdasarkan pengalaman-pengalaman dan umpan balik yang diperoleh dari daur yang terdahulu (Sudjarwo 1988: 112). Serangkaian teknik evaluasi dapat digunakan untuk mengumpulkan gambaran menyeluruh tentang efek dari suatu program.Menurut Gronlund (1975) yang dikutip Djiwandono (2002). mengatakan bahwa evaluasi adalah proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan telah dicapai. Selanjutnya, Djaali (2008 ) menjelaskan bahwa evaluasi merupakan proses menilai sesuatu berdasarkan kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan, yang selanjutnya diikuti dengan pengambilan keputusan atas objek yang dievaluasi. Dalam dunia pendidikan, Semiawan (1979; 21) membedakan istilah-istilah evaluasi, penilaian, dan pengukuran. Pengukuran dilakukan terhadap kemampuan dan kemajuan belajar di sekolah sedangkan penilaian terhadap kelakuan yang bersifat kualitatif, dan evaluasi mencakup kedua pengertian tersebut. Evaluasi kurikulum bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi kurikulum tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya. Evaluasi kurikulum adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan reliabel untuk membuat keputusan tentang  kurikulum yang sedang berjalan atau telah dijalankan. Evaluasi kurikulum penting dilakukan dalam rangka  penyesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar. Evaluasi kurikulum dapat menyajikan informasi mengenai kesesuaian, efektifitas dan efisiensi  kurikulum tersebut terhadap tujuan yang ingin dicapai dan penggunaan sumber daya. Rangkaian kegiatan evaluasi kurikulum akan menghasilkan informasi yang berguna sebagai bahan pembuat keputusan  apakah kurikulum tersebut masih layak dijalankan tetapi perlu revisi atau kurikulum tersebut harus diganti dengan kurikulum yang baru karena evaluasi kurikulum dapat menyajikan bahan informasi mengenai kebaikan dan kelemahan kurikulum sehingga dari hasil evaluasi dapat dilakukan proses perbaikan dan pengembangan menuju yang lebih baik. Para pemegang kebijaksanaan pendidikan dan para pengembang kurikulum dapat menggunakan hasil evaluasi sebagai bahan petimbangan dalam memilih dan menetapkan kebijaksanaan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan. Dalam kaitannya dengan proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah, Sukmadinata (2001: 172) menyatakan bahwa hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah, dan para pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu perkembangan peserta didik, memilih bajan ajar, memilih metode dan alat bantu pelajaran, serta fasilitas pendidikan lainnya.Tujuan evaluasi kurikulum adalah untuk pengembangan kurikulum yang sedang berjalan dan sistem pendidikan yang diterapkan, Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 57 ayat (1) menyatakan bahwa evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Pasal 57 ayat (2) menyatakan evaluasi dilakukan terhadap peserta didik, lembaga pendidikan, dan program pendidikan pada jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan, dan jenis pendidikan. Pendidikan merupakan suatu sistem dengan komponen-komponen yang saling berkaitan. Seluruhan sistem harus sesuai dengan standar yang telah ditentukan oleh BSNP. Sistem tersebut dapat digambarkan sebagai berikut. Peserta DidikStandar Proses PembelajaranStandarIsiStandar Pendidik &Tenaga KependidikanStandarSarana & Prasarana.StandarPembiayaanStandarPengelolaanStandarPenilaianStandarKompetensi LulusanDampakLingkunganGambar 2: Sistem Pembelajaran Ditinjau dari Standar Proses Pembelajaran (Panduan Implementasi Standar Proses: Tim Nasional Implementasi KTSP , 2009: 8) Gambaran sistem pembelajaran tersebut memperlihathan peranan penting proses pembelajaran. Masukan berupa peserta didik, instrumental berupa isi, tenaga, sarana dan prasarana, biaya dan pengelolaan, tergantung pada proses pembelajaran untuk menghasilkan kompetensi lulusan yang bermutu, serta berdampak terhadap lingkungan. Mutu pembelajaran adalah gambaran mengenai baik-buruknya hasil yang dicapai oleh peserta didik dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan. Satuan pendidikan dianggap bermutu bila berhasil mengubah sikap, perilaku dan keterampilan peserta didik dikaitkan dengan tujuan pendidikan (Depdiknas, 2009: 9). Mutu pendidikan sebagai sistem dipengaruhi oleh mutu komponen yang membentuk sistem, serta proses pembelajaran yang berlangsung hingga membuahkan hasil.Tim Nasional Implementasi KTSP (2009: 8) Secara konseptual merumuskan indikator mutu poses pembelajaran dalam lima rujukan, yaitu kesesuaian, daya tarik, efektivitas, efisiensi dan produktivitas pembelajaran. Rujukan kesesuaian meliputi indikator sebagai berikut: sepadan dengan karakteristik peserta didik, serasi dengan aspirasi masyarakat maupun perorangan, cocok dengan kebutuhan masyarakat, sesuai dengan kondisi lingkungan, selaras dengan tuntutan zaman, dan sesuai dengan teori, prinsip, dan/atau nilai baru dalam pendidikan. Pembelajaran yang bermutu juga harus mempunyai daya tarik yang kuat; indikatornya meliputi di antaranya: kesempatan belajar yang tersebar dan karena itu mudah dicapai dan diikuti, isi pendidikan yang mudah dicerna karena telah diolah sedemikian rupa, kesempatan yang tersedia yang dapat diperoleh siapa saja pada setiap saat diperlukan, pesan yang diberikan pada saat dan peristiwa yang tepat, keterandalan yang tinggi, terutama karena kinerja lembaga dan lulusannya yang menonjol, keanekaragaman sumber, baik yang dengan sengaja dikembangkan maupun yang sudah tersedia dan dapat dipilih serta dimanfaatkan untuk kepentingan belajar, dan suasana yang akrab, hangat, dan merangsang. Efektivitas pembelajaran seringkali diukur dengan tercapainya tujuan, atau dapat pula diartikan sebagai ketepatan dalam mengelola suatu situasi. Pengertian ini mengandung ciri pemeblajaran dilakukan secara sistematis, yaitu dilakukan secara teratur atau berurutan melalui tahap perencanaan, pengembangan, pelaksanaan, penilaian, dan penyempurnaan, sensitif terhadap kebutuhan akan tugas belajar dan kebutuhan peserta didik, kejelasan akan tujuan dan karena itu dapat dihimpun usaha untuk mencapainya, bertolak dari kemampuan atau kekuatan mereka yang bersangkutan (peserta didik, pendidik, masyarakat dan pemerintah). Efisiensi pembelajaran dapat diartikan sebagai kesepadanan antara waktu, biaya, dan tenaga yang digunakan dengan hasil yang diperoleh atau dapat dikatakan sebagai mengerjakan sesuatu dengan benar. Ciri yang terkandung meliputi: merancang kegiatan pembelajaran berdasarkan model yang mengacu pada kepentingan, kebutuhan dan kondisi peserta didik, pengorganisasian kegiatan belajar dan pembelajaran yang rapi, misalnya lingkungan atau latar yang diperhatikan, pemanfaatan berbagai sumber daya dengan pembagian tugas seimbang, serta pengembangan dan pemanfaatan aneka sumber belajar sesuai keperluan, pemanfaatan sumber belajar bersama, usaha inovatif yang merupakan penghematan, seperti misalnya pembelajaran jarak-jauh dan pembelajaran terbuka yang tidak mengharuskan pembangunan gedung dan mengangkat tenaga pendidik yang digaji secara tetap. Inti dari efisiensi adalah mempertimbangkan berbagai faktor internal maupun eksternal (sistemik) untuk menyusun alternatif tindakan dan kemudian memilih tindakan yang paling menguntungkan. Produktivitas pada dasarnya adalah keadaan atau proses yang memungkinkan diperolehnya hasil yang lebih baik dan lebih banyak. Produktivitas pembelajaran dapat mengandung arti: perubahan proses pembelajaran (dari menghafal dan mengingat ke menganalisis dan mencipta), penambahan masukan dalam proses pembelajaran (dengan menggunakan berbagai macam sumber belajar), peningkatan intensitas interaksi peserta didik dengan sumber belajar, atau gabungan ketiganya dalam kegiatan belajar-pembelajaran sehingga menghasilkan mutu yang lebih baik, keikutsertaan dalam pendidikan yang lebih luas, lulusan lebih banyak, lulusan yang lebih dihargai oleh masyarakat, dan berkurangnya angka putus sekolah. Proses pembelajaran yang tidak memenuhi standar merupakan salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan. Berbagai masukan lain di antaranya kondisi peserta didik, kualitas pendidik, kurikulum, terbatasnya anggaran, terbatasnya sarana, dan sebagainya, merupakan faktor yang tekait erat dengan mutu. Selama masih digunakan paradigma pengajaran yang lebih menitikberatkan peran pendidik dan belum banyak memberikan peran yang lebih besar kepada peserta didik proses pembelajaran tidak akan efektif dalam peningkatan mutu. Paradigma pengajaran cenderung bersifat berbasis materi, dan mendorong peserta didik untuk menghafalkan isi pelajaran. Hal ini berarti bahwa pengajaran hanya mampu mencapai tujuan belajar yang dominan bersifat kognitif, dan menghalangi terbentuknya kemampuan untuk memecahkan masalah dan mencipta. Penyajian pelajaran oleh guru kebanyakan bersifat verbal dan karena itu lebih banyak merangsang belahan otak kiri, sementara rangsangan terhadap belahan otak kanan dengan pendekatan visual, holistik dan kreatif kurang mendapat perhatian. Kegiatan belajar dan pembelajaran lebih banyak berfokus pada penguasaan atas isi buku teks. Semua hal ini telah menyebabkan belajar yang membosankan dan mematikan kreativitas peserta didik. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan pembelajaran harus diselenggarakan secara interaktif, inspiratif dalam suasana yang menyenangkan, menggairahkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Untuk semua itu, maka diperlukan adanya standar proses pembelajaran yang berlaku secara nasional yang ditetapkan dengan keputusan Menteri Pendidikan Nasional serta memperoleh dukungan dari masyarakat. Sistem Penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan dasar dan menengah di Indonesia, sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan salah satu standar yang harus dikembangkan adalah standar proses sebagai kriteria proses pembelajaran. Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai kompetensi lulusan. Standar proses berisi kriteria minimal proses pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan menengah di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar proses ini berlaku untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah pada jalur formal, baik pada sistem paket maupun pada sistem kredit semester.DAFTAR RUJUKANAhmadi, H. Abu dan Nur Uhbiyati, 2001, Ilmu Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta: cet 2, ix, 309 halAli, M. Nashir, 1985, Dasar-Dasar Ilmu mendidik, Mutiara Sumber Widya, Jakarta: cet.3, 244 halAnitah W. ,Sri, dkk, 2008, Materi Pokok Strategi Pembelajaran SD: 1 – 12; Universitas Terbuka, Jakarta: cet 4, 612 hal.Arikunto, Suharsimi, 2002, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta: Ed.Rev. cet.3. xii, 310 halBudiningsih, C. Asri, 2005, Belajar dan Pembelajaran, Rineka Cipta, Jakarta: cet 1, xi, 128 halDanim, Sudarman, 2006, Inovasi Pendidikan: Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan, Pustaka Setia, BandungDjiwandono, Sri Esti Wuryani, 2002, Psikologi Pendidikan, Grasindo, Jakarta: xx, 483 halHamalik, Oemar, 2002, Perencanaan Pembelajaran : Berdasarkan Pendekatan Sistem, Bumi Aksara, Jakarta: ed 1, cet 3, x, 184 halHamalik, Oemar, 2002, Kurikulum dan Pembelajaran, Bumi Aksara, Jakarta: cet 2, x, 240 halHamalik, Oemar, 2001, Proses Belajar Mengajar, Bumi Aksara, Jakarta:Hendayana, Sumar, dkk, 2006, Lesson Study: Suatu Strategi Meningkatkan Keprofesionalan Pendidik, UPI Press, BandungHendrijani, Aprilia B, 2005, Pembaharuan Kurikulum: Sebuah Perayaan Praktik Ruang Kelas, (Judul Asli: Curriculum Innovation: A Celebration of Classroom Practice, 1997, Roger Crombie White) Grasindi, Jakarta: cet 1, xx, 197 halMulyasa, E, 2006, Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, PT. Remaja Rosdakarya,Sianipar, dan Supomo, 2002, Desain Instruksional, LAN, JakartaStamboel, Conny Semiawan, 1982, Prinsip dan Teknik Pengukuran dan Penilaian di Dalam Dunia Pendidikan, Mutiara, Jakarta: v, 363 halSudjarwo. S, 1988, Teknologi Pendidikan, Erlangga, Jakarta: v, 231 hal (Judul Asli: A Handbook of Educational Technology, Fred Percival and Henry Ellington)Sukmadinata, Nana Syaodih, 2001, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek, PT Remaja Rosdakarya, Bandung: cet 4, viii, 219 halSukmadinata, Nana Syaodih, dkk, 2006, Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah: Konsep, Prinsip, dan Instrumen, PT Refika Aditama, Bandung: cet 1, xi, 204 halWalgito, Bimo, 2002, Pengantar Psikologi Umum, Andi, Yogyakarta: Ed. 3 cet. 1, xii, 191 halWinarno, dan Eko Djuniarto, 2003, Perencanaan Pembelajaran, Dirjen PMPTK Depdiknas, JakartaWinataputra, Udin, S, 2006, Pembelajaran Yang Mendidik dan Dialogis: Tinjauan Psiko-Pedagogis, Universitas Terbuka, Jakarta.http://www.newhorizons.org/trans/nea_keys.htmhttp://www.co-nect.net 

×