Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Tokyo
Kyoto
Osaka
Nagoya

Pitra Satvika

www.media-ide.com
1

Pitra Satvika
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Pitra Satvika

2
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Tokyo
Kyoto
Osaka
Nagoya

3

Pitra Satvika
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Saya, Didut, dan Ipi kali ini bersama-sama melakukan
perjalanan ke Jepang. Berangkat tangg...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

kami pun harus singgah sejenak di LCCT. Singgah dalam
artian harus menunggu 2-3 jam sebelu...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Pitra Satvika

6
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Tokyo - Ayase
3 September 2013

7

Pitra Satvika
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Pagi di Nakano
Petualangan di Jepang pun dimulai. Pagi hari tanpa mandi
kami bertiga mulai...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

nggak mungkin kalau kami nongkrong bengong di tepi
jalan di depan hostel.
Kami lalu kembal...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

sesak dengan beragam barang, dan terkesan berantakan.
Di belakangnya terdapat ruang bersam...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Rencananya di hari pertama ini, kami akan mengunjungi
perkebunan kecil yang dimiliki manta...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

bahasa Inggris, terkadang dalam bahasa Jepang dengan
Kuri membantu menerjemahkan.
Perkebun...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Stasiun Ebina berseberangan dengan pusat perbelanjaan
dengan plaza terbuka di hadapannya. ...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Saat kami berjalan menuju stasiun Ebina, kami melihat
kolam buatan di plaza dengan banyak ...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

selalu terlihat indah di bulan Maret dan April ketika bunga
sakura mulai bermunculan.

Kam...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

ra, melewati lapangan luas yang jadi tempat berkumpul
warga. Ada yang sekedar duduk-duduk,...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

kami langsung lanjut ke Nakano. Di stasiun ini kami berpisah dengan Kuri, berterima kasih ...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Toni dan Sofi mengajak kami menikmati ramen seafood.
Sangat jarang menemukan restoran rame...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

19

Pitra Satvika
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Pitra Satvika

20
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Tokyo
4 September 2013

21

Pitra Satvika
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Pagi di Shinjuku
Hari kedua di Tokyo, Jepang. Pagi ini kami mendapat
sambutan getaran gemp...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

melewati lorong panjang hingga sampai di daerah pusat
bisnis. Mengikuti arah, kami terus b...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

rail Yurikamome Line dari stasiun Shimbashi. Kereta
bergerak melewati gedung-gedung modern...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Lokasi Legoland dan Madame Tussauds saling bersebelahan. Tiket masuk ke masing-masing atra...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Selanjutnya saya dan Ipi berpindah ke Legoland. Mungkin
ini versi mini Legoland yang di Ma...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Atraksi di Legoland ini lebih ditujukan untuk para keluarga. Di dalamnya tersedia pula kan...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Hari sudah lewat siang, dan kami pun kelaparan. Masih
di Decks Tokyo Beach, kami lalu turu...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

masuk, meski tak melihat sesuatu yang membuat saya
tertarik untuk membeli.
Akhirnya kami b...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Di hadapan saya, di
kejauhan terlihat jembatan raksasa yang
menghubungkan Odaiba
dan Tokyo...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Sofi, dan Keitaro akan makan malam bersama. Saya dan
Ipi akan langsung bertemu Didut malam...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Pitra Satvika

32
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

dak banyak mobil yang berlalu di jalan raya, meskipun
demikian para pejalan kaki bersabar ...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

berucap terima kasih sudah mau menemani kami jalanjalan di hari ini. Selanjutnya saya dan ...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

35

Pitra Satvika
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Pitra Satvika

36
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Kyoto
5 September 2013

37

Pitra Satvika
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Perjalanan Menuju Kyoto
Bus Willer Express tiba pagi hari di Osaka. Sejujurnya
kami buta s...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Kami langsung mencari tiket ke Kyoto. Anggaplah Osaka
dan Kyoto ini bagai Jakarta dan Bogo...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Bersepeda di Kyoto
Dengar-dengar kota Kyoto termasuk salah satu kota di
Jepang yang nyaman...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

di depannya. Ada pula yang menyediakan tempat duduk
khusus anak kecil di bangku belakang. ...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Higashi Honganji
Kyoto memiliki banyak sekali kuil yang tersebar di
seluruh penjuru kota. ...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

dipakai untuk warga yang akan beribadah.
Kami keluar melalui sisi samping bangunan utama,
...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

untuk kepentingan riset, museum ini juga menyimpan
ribuan koleksi manga, yang memang tidak...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Kyoto Palace
Kami melanjutkan perjalanan bersepeda, melewati entah
berapa blok, hingga akh...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

lalu kembali berjalan kaki menuju tempat sepeda kami diparkir, lalu mengayuhnya kembali me...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

seperti restoran, dengan bangku-bangku dan meja terlihat
di balkon, membiarkan pengunjungn...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

lama di jalan ini. Setelah
melihat geisha satu kali
saja, kami langsung lanjut melangkah p...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Di dek observasi saya
bisa berjalan berkeliling
melihat ke segala penjuru Kyoto. Pegununga...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Pitra Satvika

50
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Osaka
6 September 2013

51

Pitra Satvika
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Tiba di Osaka
Setelah menikmati jatah sarapan, pagi hari kami langsung
check out dari Piec...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Melalui stasiun Dobutsuenmae, kami lalu
bergerak ke stasiun pusat
Osaka. Kami lalu mendata...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

orang beraktivitas. Lapangan softball juga terlihat, meski
saat itu tampak kosong. Dari ke...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Ruang pamer lainnya menampilkan maket kastil Osaka
dan lingkungannya, sejarah para penguas...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

arah yang sedikit menipu, kami malah mencoba alur jalan
lain. Mengingat sebelumnya kami be...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

wisata harian, sehingga tak perlu membayar tiket seharga
500 Yen.
Di atas HEP Ferris Wheel...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

kami melewati underpass khusus pejalan kaki. Memotong
waktu lebih banyak. Hari sebelumnya,...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

59

Pitra Satvika
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Makan Malam di Namba
Sementara Didut bertemu dengan temannya, saya dan Ipi
melanjutkan per...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Di salah satu jembatan yang membentang di sungai ini
terlihat bangunan dengan neon sign lo...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

saat akan dimasak. Lucu juga melihat proses memasak
okonomiyaki yang dibolak-balik, lalu d...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Sesampai di hotel, kami pun check in dan mengambil
barang yang kami titipkan pagi tadi. Me...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Pitra Satvika

64
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Osaka - Nagoya
7 September 2013

65

Pitra Satvika
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Pagi Terakhir di Osaka
Masih ada sisa waktu di Osaka hingga siang nanti. Siapa
tahu tiket ...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

kan bagian kota Osaka yang terpisah oleh sungai. Meski
bisa dibilang menarik, namun pemand...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

dermaga. Ada pula seorang perempuan yang membawa
anjingnya berjalan-jalan.
Sisi berlawanan...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

cerita tentang kapal ini. Kami menyusuri sungai, melewati bagian bawah jembatan, melihat U...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

kami gunakan kali ini sedikit berbeda dengan sebelumnya. Jarak antara bangku lebih jauh, d...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

ini di penginapan ala tradisional Jepang, ryokan. Satu kamar tetap dipakai bersama-sama se...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

kan badan sudah bersih terlebih dahulu sebelum masuk ke
dalam kolam ini.
Saya agak ragu ju...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

73

Pitra Satvika
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Pitra Satvika

74
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Nagoya
8 September 2013

75

Pitra Satvika
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Melihat-lihat Nagoya Jo
Pagi hari kami langsung check out dari Kyoya Ryokan,
karena memang...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Nagoya Jo (atau kastil Nagoya). Tiket masuk ke kompleks
Nagoya Jo seharga 500 Yen. Komplek...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Bangunan kastil terdiri dari beberapa lantai. Lantai-lantai
bawah kini digunakan untuk men...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Kami mengelilingi isi kastil, meski sebenarnya saya tidak
terlalu menyimak tulisan penjela...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

saya memesan menu yang menggunakan ayam. Seperti
biasanya, saya cuma menunjuk gambar di me...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Desainnya lebih cenderung untuk target perempuan. Saya
akhirnya hanya melihat-lihat saja, ...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

lihat aktivitas pertokoan di bawah kolam, menembus air
dan kaca. Di bawah, terlihat pertok...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

matahari sore menyinari kota, lalu senja muncul, dan lampu-lampu mulai menerangi kota.
Pem...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

dari stasiun Nagoya. Itu pun tidak berangkat dari halte
resmi yang memang sudah disiapkan....
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

85

Pitra Satvika
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Pitra Satvika

86
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Tokyo
9 September 2013

87

Pitra Satvika
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Tiba di Kita-Fuchu
Bus Willer Express mengantar kami tak jauh dari stasiun
Shinjuku, Tokyo...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

cukup compact, dengan 3 kamar tidur, ruang duduk yang
bergabung dengan dapur, dan kamar ma...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

bisa dibeli melalui mesin yang tersedia di beragam toko
Lawson di Tokyo. Sayangnya tak ada...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

akan seragam yang dikenakan oleh salah satu karakter di
serial Doraemon.
Kami pun antri ma...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

tanpa perlu mengganggu kenikmatan pengunjung lain.
Tidak diizinkan untuk memotret karya-ka...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

inspirasi Profesor Fujiko, sejarah manga yang dikerjakan
olehnya, hingga kehidupan keluarg...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

mon dan Nobita, yang masuk ke dalam televisi dan berpetualang bersama dengan P-Man dan tem...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

stasiun Roppongi untuk berjumpa dengan seorang teman,
Ivan Prakasa. Ia kini sedang mengamb...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

dibuka pameran Harry Potter, namun karena kami tak terlalu tertarik, kami pun memutuskan u...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Makan Malam di Shinjuku
Satu hal yang menyebalkan dari Shinjuku, salah satu
stasiun terbes...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Menarik juga memperhatikan kalau setiap titik pintu keluar stasiun di Jepang itu selalu di...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

rok pendek, sehingga paha mereka terlihat menyolok. Pipi
mereka terlihat merah merona oleh...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

pelatih rugbi di sela kesibukan kantornya sehari-hari.
Teman-teman Didut lainnya yang juga...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

yang searah naik kereta yang sama. Pamitan pun terjadi di
stasiun dan di dalam kereta. Hal...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Pitra Satvika

102
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Tokyo
10 September 2013

103

Pitra Satvika
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Seputar Shinjuku
Hari ini adalah hari terakhir kami bertiga di Jepang.
Malam nanti kami su...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Di Shinjuku kami mencoba makan siang di restoran.
Sekali lagi, saya melakukan tebak-tebak ...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Berkeliling Akihabara
Stasiun Akihabara bisa dicapai dari Shinjuku dengan
menggunakan JR C...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

menarik. Bisa jadi karena
saya sendiri bukan
pengoleksi merchandise
seperti ini.
Saat itu ...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

koleksi photopack. Silakan pilih dan bayar.
Saya juga memasuki beberapa toko yang spesifik...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

yang mengenakan kostum tertentu. Ia biasanya mempromosikan toko atau restoran berlokasi ta...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Lantai 6 dan 7 berisikan game arcade. Eskalator menuju
teater AKB48 di lantai 8 saat itu d...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Harajuku berada di satu jalan yang menurun yang hanya
bisa dilewati oleh pejalan kaki. Kir...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Makan Malam Terakhir di Shinjuku
Saya, Ipi, dan Didut sudah berkumpul di pintu timur Shinj...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Rasanya enak, namun saat menjelang habis, mulai terasa
agak eneg. Mungkin karena saya agak...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Dari Shinjuku kami menggunakan JR Yamanote Line ke
stasiun Shinagawa. Lalu kami ganti meng...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

tradisional dan menghidupkan budaya pop hingga mendunia. Negeri yang penuh dengan kecanggi...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Pitra Satvika

116
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Tips Berkelana
di Jepang

117

Pitra Satvika
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

Internet
Hidup tak akan lengkap tanpa listrik dan internet. Jangan
lupa bawa converter col...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

econnectjapan.com). Masuk saja ke situsnya, lalu pesan
kapan penggunaannya. Pembayaran bis...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

dengan membuka Hostel World (www.hostelworld.com).
Untuk booking diperlukan kartu kredit k...
Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya

dengan pas.
Beberapa kota juga menawarkan tiket bus harian. Di
Nagoya ada penawaran tiket ...
Tokyo Kyoto Osaka Nagoya
Tokyo Kyoto Osaka Nagoya
Tokyo Kyoto Osaka Nagoya
Tokyo Kyoto Osaka Nagoya
Tokyo Kyoto Osaka Nagoya
Tokyo Kyoto Osaka Nagoya
Tokyo Kyoto Osaka Nagoya
Tokyo Kyoto Osaka Nagoya
Tokyo Kyoto Osaka Nagoya
Tokyo Kyoto Osaka Nagoya
Tokyo Kyoto Osaka Nagoya
Tokyo Kyoto Osaka Nagoya
Tokyo Kyoto Osaka Nagoya
Tokyo Kyoto Osaka Nagoya
Tokyo Kyoto Osaka Nagoya
Tokyo Kyoto Osaka Nagoya
Tokyo Kyoto Osaka Nagoya
Tokyo Kyoto Osaka Nagoya
Tokyo Kyoto Osaka Nagoya
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Tokyo Kyoto Osaka Nagoya

10,380

Published on

Di awal September 2013 kemarin, bersama dua orang teman, Didut dan Ipi, sempat berjalan-jalan ke 4 kota di Jepang selama 9 hari. Lebih tepatnya 7 hari di Jepang dan 2 hari di perjalanan sih.

Ebook Tokyo – Kyoto – Osaka – Nagoya ini merupakan ebook jalan-jalan ke-5 dari blog media-ide.com.

Silakan simak ebook lainnya di tautan ini. http://media-ide.bajingloncat.com/category/book/

Published in: Travel
6 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
10,380
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
13
Actions
Shares
0
Downloads
253
Comments
6
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Tokyo Kyoto Osaka Nagoya"

  1. 1. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Tokyo Kyoto Osaka Nagoya Pitra Satvika www.media-ide.com 1 Pitra Satvika
  2. 2. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Pitra Satvika 2
  3. 3. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Tokyo Kyoto Osaka Nagoya 3 Pitra Satvika
  4. 4. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Saya, Didut, dan Ipi kali ini bersama-sama melakukan perjalanan ke Jepang. Berangkat tanggal 2 September 2013 menggunakan maskapai Air Asia dari Jakarta, dan akan kembali lagi ke Jakarta pada tanggal 10 September 2013. Tiket penerbangan ini sudah kami pesan sejak akhir Januari. Pilihan rentang tanggal menyesuaikan dengan harga tiket termurah saat itu. Didut terakhir ke Jepang 10 tahun lalu dan sempat internship di negeri matahari terbit itu selama sebulan. Ipi belum pernah menginjak Jepang sama sekali. Saya sendiri pernah sekali ke Jepang saat dulu masih SD. Sudah lupa sama sekali apa yang dulu saya alami. Makanya, saya anggap perjalanan ini adalah perjalanan pertama saya pula ke Jepang. Penerbangan menuju bandara Haneda, Tokyo, harus terlebih dahulu transit di bandara LCCT, Kuala Lumpur, Malaysia. Demikian pula saat nanti kembali ke tanah air, Pitra Satvika 4
  5. 5. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya kami pun harus singgah sejenak di LCCT. Singgah dalam artian harus menunggu 2-3 jam sebelum terbang kembali. Kami tiba di Haneda tanggal 2 September 2013 hampir tengah malam. Setelah melewati pemeriksaan imigrasi, kami hanya bisa menunggu hingga pagi keesokan harinya. Malam itu sudah tak ada lagi kereta yang beroperasi. Lagi pula kami baru mulai menginap di hotel keesokan harinya. Pilihan yang tersisa adalah menginap di bandara. Awalnya kami sempat ragu akan pilihan ini. Namun ternyata kami tidak sendiri. Saya melihat banyak penumpang pesawat, baik itu warga negara Jepang maupun asing, yang mulai memilih-milih bangku panjang yang tersedia di dua lantai terminal kedatangan. Beberapa dari mereka bahkan sudah mengambil posisi tidur. Rupanya memang sudah menjadi hal yang wajar, terminal kedatangan ini dipakai untuk menginap penumpang. Semuanya menunggu hingga pagi, saat kereta mulai beroperasi kembali. 5 Pitra Satvika
  6. 6. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Pitra Satvika 6
  7. 7. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Tokyo - Ayase 3 September 2013 7 Pitra Satvika
  8. 8. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Pagi di Nakano Petualangan di Jepang pun dimulai. Pagi hari tanpa mandi kami bertiga mulai meninggalkan Haneda. Sebelum berjalan-jalan, kami terlebih dahulu harus mampir ke tempat menginap kami, hostel bernama Yadoya Guesthouse, di daerah Nakano. Lebih aman bila kami bisa check in dan menitipkan koper, sebelum kami lanjut berjalan-jalan. Dari Haneda kami menggunakan kereta Keikyu Line hingga stasiun Shinigawa, lalu lanjut dengan JR Yamanote Line hingga stasiun Shinjuku. Kemudian lanjut lagi dengan kereta JR Chuo Line hingga stasiun Nakano. Dari stasiun ini kami berjalan kaki mengikuti petunjuk yang diberikan oleh hostel. Lokasinya tak jauh, hanya sekitar 5 menit berjalan kaki dari stasiun. Sayangnya begitu kami tiba di lokasi, hostel masih tutup. Kami cek lagi ternyata jam operasional resepsionis baru dibuka pukul 10:00. Saat itu masih pukul 08:00 dan kami butuh tempat untuk menunggu hingga buka. Tentunya Pitra Satvika 8
  9. 9. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya nggak mungkin kalau kami nongkrong bengong di tepi jalan di depan hostel. Kami lalu kembali ke arah stasiun Nakano, lalu dudukduduk di dekat halte bus umum. Saya jadi memperhatikan warga sekitar yang menunggu bus. Setiap bus datang di waktu yang tepat. Ada rambu yang menunjukkan tempat perhentian bus untuk nomor tertentu. Mereka yang hendak naik bus terlihat antri dalam satu baris di dekat rambu, lalu naik satu per satu setelah bus datang. Pintu keluar penumpang berbeda dengan pintu masuknya, sehingga tidak terlihat berebut. Setelah agak lama menunggu, Didut menemukan KFC di dekat stasiun. Kami pun mencari sarapan di sana sambil menunggu pukul 10:00. Saya agak malu di KFC, karena meninggalkan bekas makanan dan minuman di meja. Untungnya Didut membantu membereskannya sebelum kami benar-benar meninggalkan KFC. Di Jepang (dan juga di banyak negara lain), mereka yang makan di KFC, McDonald’s, atau restoran cepat saji lainnya, diharapkan untuk membereskan sendiri sisa makanannya, dengan membuangnya ke tempat sampah yang tersedia. Tidak seperti di Indonesia yang terbiasa dibereskan oleh petugas restoran. Kami lalu kembali ke Yadoya Guesthouse. Kali ini resepsionis sudah buka, dan kami langsung check in. Kami baru bisa masuk ke kamar pukul 02:00 siang, jadi kami menitipkan saja koper kami. Sayangnya, kami belum bisa mengambil kunci. Jadi malam nanti sebelum pukul 09:00 kami harus sudah kembali ke hostel dulu, mengambil kunci, karena lewat dari jam tersebut, resepsionis sudah tutup. Hostel ini tidak terlihat besar. Ruang resepsionis penuh 9 Pitra Satvika
  10. 10. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya sesak dengan beragam barang, dan terkesan berantakan. Di belakangnya terdapat ruang bersama, juga tidak terlalu besar, tempat para penginap bisa saling mengobrol dan beraktivitas. Kami sempat mampir ke 7-Eleven di seberang hostel, mencari cemilan sarapan dan minum, sebelum berjalan kembali menuju stasiun Nakano. Ayase, Pertanian di Luar Tokyo Di stasiun Nakano saya dan Ipi berkenalan dengan Kuri, seorang perempuan teman Didut saat dulu ia internship di Jepang. Ini adalah pertemuan mereka yang pertama setelah 10 tahun tak saling bertatap mata. Mereka pun asyik mengobrol sambil mengenang cerita lama. Berbeda dengan kebanyakan orang Jepang, Kuri sangat fasih berbahasa Inggris. Logatnya pun enak didengar dan mudah dipahami. Pitra Satvika 10
  11. 11. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Rencananya di hari pertama ini, kami akan mengunjungi perkebunan kecil yang dimiliki mantan atasan Didut 10 tahun lalu. Kuri yang akan mengantar kami ke lokasi. Perjalanannya lumayan jauh, namun bisa ditempuh dengan nyaman menggunakan angkutan umum. Dari stasiun Nakano kami kembali lagi ke Shinjuku menggunakan JR Chuo Line, lalu berpindah menggunakan Odakyu Line hingga tiba di stasiun Ebina. Dari Ebina kami berganti menggunakan bus umum hingga tiba di Ayase. Total perjalanan sekitar 40 menit. Dari sini kami harus menggunakan taksi hingga sampai ke perkebunan. Tidak terlalu jauh sebenarnya, tapi lumayan juga kalau harus berjalan kaki. Di perkebunan ini Nishizawa-san, mantan atasan Didut dulu, menyapa kami. Beliau sudah lama meninggalkan pekerjaan lamanya, dan kini lebih banyak mengelola perkebunan miliknya. Beliau banyak bercerita tentang perkebunan dan kehidupannya. Terkadang bercerita dalam 11 Pitra Satvika
  12. 12. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya bahasa Inggris, terkadang dalam bahasa Jepang dengan Kuri membantu menerjemahkan. Perkebunan miliknya tak berbeda jauh dengan banyak perkebunan di Indonesia. Saat itu udara pun tak berbeda dengan Jakarta, sangat panas. Langit terlihat biru bersih, dengan sesekali berlalu pesawat militer. Sepertinya memang ada basis militer Jepang (atau mungkin Amerika?) tak jauh dari lokasi ini. Tak lama Mukasa-San, yang dahulu menjabat sebagai wakil direktur Nishizawa-San datang. Beliau juga pernah bertemu dengan Didut 10 tahun lalu. Mereka berdua, yang saat ini sudah berusia 80-an tahun terlihat sangat sehat. Menjelang siang, saat kami hendak berpamitan, Mukasa-San malah menawarkan untuk mengantar kami kembali hingga Ebina dengan mobilnya. Sekaligus searah perjalanannya pulang, katanya. Pitra Satvika 12
  13. 13. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Stasiun Ebina berseberangan dengan pusat perbelanjaan dengan plaza terbuka di hadapannya. Kami menyempatkan makan siang terlebih dahulu di food court pusat perbelanjaan itu. Kami mencoba menu makanan Jepang untuk makan siang. Usai makan, kali ini saya tidak lupa mengembalikan piring dan nampan ke kios tempat kami membeli. Tidak seperti di Indonesia, yang selalu meninggalkan begitu saja untuk dibereskan petugas. 13 Pitra Satvika
  14. 14. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Saat kami berjalan menuju stasiun Ebina, kami melihat kolam buatan di plaza dengan banyak anak kecil bermain bebas di sana. Lucu sekali melihat anak-anak itu mandi di kolam sambil ditegur ibu mereka dari kejauhan. Saya sempat memotret mereka sebelum kembali lagi kami berjalan ke stasiun. Keindahan Taman Inokashira Dari Ebina kami kembali ke Shinjuku dengan Odakyu Line, lalu dengan kereta JR Chuo Line kami berangkat menuju Kichijoji. Kuri mengajak kami ke Taman Inokashira yang berlokasi di daerah ini. Taman Inokashira bukan sekedar taman. Mungkin lebih tepat bila disebut hutan, dan ini ada di tengah kota Tokyo. Taman ini luas sekali, lengkap dengan danau yang bersih. Tidak ada biaya yang harus dikeluarkan. Setiap orang bebas menggunakan fasilitas taman. Katanya taman ini Pitra Satvika 14
  15. 15. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya selalu terlihat indah di bulan Maret dan April ketika bunga sakura mulai bermunculan. Kami menyusuri tepian danau, melewati hutan kota, hingga tembus di sisi lainnya. Sebenarnya Museum Ghibli berada tak jauh dari sini. Hanya saja kami tidak bisa masuk begitu saja. Tiket museum hanya bisa dibeli sejak jauh hari di Lawson. Sebenarnya kami sudah mencoba titip ke teman kami di Jepang untuk membelikannya terlebih dahulu, namun saat ia memesan, kuota tiket sudah habis. Memang sangat disayangkan sih, tapi untuk perjalanan ke Jepang kali ini, kami tak akan sempat melihat isi Museum Ghibli. Yang kami lakukan saat ini hanyalah melewati gerbang masuknya saja. Lokasinya berada di tepi jalan raya, namun masih masuk sebagai bagian taman, dilindu-ngi pohon-pohon lebat. Hari mulai menjelang sore. Tak terasa sepanjang hari itu kami sudah berjalan kaki dengan sangat jauh. Kami berjalan kaki kembali ke pintu masuk Taman Inokashi15 Pitra Satvika
  16. 16. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya ra, melewati lapangan luas yang jadi tempat berkumpul warga. Ada yang sekedar duduk-duduk, ada yang bermain dengan anjing peliharaan mereka. Sekeliling lapangan tersebut dipakai warga untuk lari sore. Sebelum kembali ke stasiun Kichijoji, Kuri mengantar kami terlebih dahulu ke Lawson terdekat. Meski kami sudah tak mendapatkan kesempatan ke Museum Ghibli, namun mungkin kami masih bisa memesan tiket masuk ke Museum Fujiko F. Fujio. Tiket hanya bisa dibeli di mesin yang tersedia di Lawson. Kuri yang membantu membelikan karena petunjuk layar menggunakan huruf kanji. Tinggal pilih tanggal dan jam. Tiket hanya berlaku di tanggal dan rentang jam tersebut. Karena memasuk jam pulang kantor, perjalanan kereta kembali ke Shinjuku penuh dengan banyak orang. Akhirnya merasakan juga berdesakan di dalam kereta di Jepang. Tetap saja sih, masih lebih nyaman berdesakan di sini daripada berdesakan di bus kota di Jakarta. Dari Shinjuku, Pitra Satvika 16
  17. 17. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya kami langsung lanjut ke Nakano. Di stasiun ini kami berpisah dengan Kuri, berterima kasih sudah menjadi pemandu di hari itu. Hanya sejenak kami di hostel. Kami hanya mengambil kunci kamar lalu segera kembali ke stasiun Nakano, lalu lanjut lagi ke Shinjuku. Di sana, teman lama kami di Jakarta, Toni dan Sofi, sudah lama menunggu. Makan Malam di Shinjuku Sudah lebih dari setahun saya dan Didut tidak melihat Toni dan Sofi. Mereka berdua pindah ke Jepang sejak Toni mendapat pekerjaan di Tokyo. Anak mereka, yang diberi nama Keitaro pun lahir di Tokyo, dan mendapat fasilitas yang nyaman dan aman, meski mereka bukan warga negara Jepang. Ipi sendiri baru pertama kali berkenalan dengan Toni dan Sofi, meski sudah lama tahu mereka melalui Twitter. 17 Pitra Satvika
  18. 18. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Toni dan Sofi mengajak kami menikmati ramen seafood. Sangat jarang menemukan restoran ramen yang dianggap halal, karena kebanyakan ramen di Jepang menggunakan kuah atau minyak yang mengandung babi. Di tempat ini, isi ramen, termasuk kuahnya, menggunakan seafood. Harganya sekitar 825 Yen. Enak dan mengenyangkan. Kuahnya hangat dan agak pedas, menghangatkan perut yang sudah kelaparan sejak tadi. Kami berencana untuk ke Odaiba keesokan harinya. Kebetulan Toni dan Sofi bisa ikut menemani di sore hari. Rencananya, kami akan berangkat lebih dulu ke Odaiba, lalu mereka berdua akan menyusul dan betemu kami di sana. Usai makan malam kami berpamitan dengan mereka berdua, lalu kembali ke Yadoya Guesthouse di Nakano. Sesampai di hostel, koper yang sebelumnya kami titipkan, langsung kami bawa ke kamar. Seperti hostel pada umumnya, satu kamar terdiri dari banyak tempat tidur tingkat. Hari pertama ini sungguh melelahkan. Sungguh tak sabar rasanya menanti perjalanan kami berikutnya di hari-hari mendatang di Jepang. Pitra Satvika 18
  19. 19. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya 19 Pitra Satvika
  20. 20. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Pitra Satvika 20
  21. 21. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Tokyo 4 September 2013 21 Pitra Satvika
  22. 22. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Pagi di Shinjuku Hari kedua di Tokyo, Jepang. Pagi ini kami mendapat sambutan getaran gempa langsung di Jepang. Saat itu saya masih berada di atas tempat tidur tingkat. Goyangannya sangat terasa. Awalnya saya sempat mengira ini ulah penginap yang tidur di tempat tidur bawah, hingga saya mengecek tweet yang membahas tentang gempa di Jepang. Meski terasa, namun gempa ini tidak lama. Saat saya turun ke lobi hostel pun, reaksi orang-orang biasa saja. Sepertinya gempa kecil seperti ini sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Rencana hari ini adalah berjalan-jalan ke Odaiba, sekaligus bertemu dengan Toni dan Sofi kembali. Namun sebelumnya, kami harus mampir dulu ke Shinjuku, untuk mengecek bus Willer Express yang akan membawa kami nanti malam ke Osaka. Sebelum kami berangkat ke Jepang, Didut sudah melakukan pemesanan tiket bus, dan sudah langsung dibayar. Namun tentu kami perlu memastikan, siapa tahu masih ada kekurangan. Lebih baik dicek pagi hari sehingga kami bisa mengantisipasi bila terjadi masalah. Setelah mandi dan sarapan (makan onigiri di 7-Eleven seberang hostel), kami langsung check out dari Yadoya Guesthouse. Kami kembali berjalan kaki menuju stasiun Nakano, lalu menggunakan kereta JR Chuo Line. Lalu kami pindah menggunakan kereta JR Yamanote Line ke stasiun Shinjuku. Untungnya petunjuk yang diberikan oleh Willer Express sungguh jelas. Ternyata lokasi titik keberangkatan ini tidak berada di stasiun Shinjuku. Kami berjalan cukup jauh, Pitra Satvika 22
  23. 23. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya melewati lorong panjang hingga sampai di daerah pusat bisnis. Mengikuti arah, kami terus berjalan hingga sampai di Sumitomo Building. Kantor Willer Express berada di lantai dasar, terbagi menjadi dua ruangan, ruang tiket dan keberangkatan. Semua terlihat rapih dan bersih. Didut sempat menanyakan proses check in, dan ternyata itu tidak diperlukan. Kami cukup datang saja nanti, menunjukkan paspor, dan bisa langsung naik ke bus. Kami lalu berjalan kembali ke arah stasiun Shinjuku, untuk melanjutkan perjalanan menuju Odaiba. Kami kembali melewati terowongan panjang. Untungnya, untuk arah yang menuju stasiun tersedia travellator sehingga kami tidak terlalu capai berjalan kaki. Berjalan-jalan di Odaiba Dari Shinjuku kami menggunakan kerata JR Yamanote Line hingga sampai ke stasiun Shimbashi. Stasiun kereta di Odaiba hanya bisa dicapai menggunakan kereta mono23 Pitra Satvika
  24. 24. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya rail Yurikamome Line dari stasiun Shimbashi. Kereta bergerak melewati gedung-gedung modern, melewati jembatan penyeberangan raksasa (yang juga dilewati oleh mobil dan bus), hingga sampai di pulau buatan Odaiba. Yang menarik dari daerah ini adalah terpisahnya ruang untuk pedestrian dan kendaraan bermotor. Hampir semua jalur pejalan kaki berada di atas, saling sambung dari gedung ke gedung, sementara jalan mobil berada di tingkat bawah. Odaiba merupakan pusat perbelanjaan dan hiburan. Bangunan kantor pusat Fuji TV yang berdesain futuristik pun juga bisa ditemukan di sini. Kami turun di stasiun Odaiba-kaihinkoen. Lalu masih di lantai atas, kami berjalan kaki hingga sampai ke pusat perbelanjaan Decks Tokyo Beach. Pertokoan ini tidak terlihat ramai, padahal di dalamnya banyak sekali atraksi wisata terkenal seperti Legoland, museum lilin Madame Tussauds, Tokyo Joypolis, dan museum Trick Art. Pitra Satvika 24
  25. 25. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Lokasi Legoland dan Madame Tussauds saling bersebelahan. Tiket masuk ke masing-masing atraksi seharga 1.900 Yen, namun kalau beli paket dua atraksi sekaligus menjadi seharga 2.500 Yen. Didut tidak berminat untuk masuk, maka hanya saya dan Ipi saja yang akhirnya membayar tiket dan melihat isinya. Museum lilin Madame Tussauds tersebar di banyak negara. Setiap museum menampilkan berbagai tokoh dunia yang dibuat dengan lilin dengan ukuran 1:1 sesuai aslinya. Ini adalah museum Madame Tussauds kedua yang saya datangi, setelah beberapa tahun lalu sempat mendatangi yang di Hong Kong. Bila dibandingkan, rasanya isi museum yang di Hong Kong jauh lebih banyak daripada yang di Tokyo. Beberapa tokoh yang bisa dilihat dan “diajak” berfoto bersama antara lain: Barack Obama, Bruce Willis, Johnny Depp, David Beckham, Madonna, Atsuko Maeda, Yuko Oshima, L’Arc-en-Ciel, dll. 25 Pitra Satvika
  26. 26. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Selanjutnya saya dan Ipi berpindah ke Legoland. Mungkin ini versi mini Legoland yang di Malaysia (belum pernah ke sana juga sih). Saat pertama kali masuk, kami bisa mengukur tinggi dan berat kami dengan menggunakan satuan brick Lego. Lalu kami melewati diorama kota Lego yang selalu berganti nuansa siang dan malam. Isi kota terlihat hidup, karena mobil-mobil di kota dibuat bergerak. Di Legoland kami bisa menonton animasi 4D, lengkap dengan efek air dan angin. Sayangnya animasi menggunakan bahasa Jepang, jadi kami tak memahami dialognya. Ada pula permainan tembak-tembakan. Kami naik dalam kereta yang berkeliling lalu menembaki semua target yang bermunculan di layar dan dinding. Pitra Satvika 26
  27. 27. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Atraksi di Legoland ini lebih ditujukan untuk para keluarga. Di dalamnya tersedia pula kantin, toilet, dan ruang nursery. Berbagai brick Lego tersedia bebas untuk dimainkan anak-anak. Belum lagi ada taman bermainnya yang bisa membuat anak-anak lupa waktu di dalamnya. 27 Pitra Satvika
  28. 28. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Hari sudah lewat siang, dan kami pun kelaparan. Masih di Decks Tokyo Beach, kami lalu turun ke lantai dasar yang berbatasan dengan jalan raya. Di lantai ini tersedia Yoshinoya dan McDonald’s. Akhirnya kami memutuskan untuk mencoba Yoshinoya versi Jepang. Menu makanan di Yoshinoya Jepang lebih beragam. Selain dua menu standar yang biasa ditemukan di Jakarta, ada pula menu yang menggunakan daging ayam dan juga babi. Semua menu tersedia dalam 3 ukuran porsi. Harganya berkisar antara 440-480 Yen. Sudah mendekati pukul 03:00 siang, dan kami sudah berjanji bertemu kembali dengan Toni dan Sofi di depan patung Gundam raksasa di DiverCity Tokyo Plaza. Kami bertiga pun berjalan kaki melewati gedung Fuji TV, hingga sampai ke bulevar taman yang luas. Pertokoan DiverCity Tokyo Plaza berada di akhir bulevar ini. Dari jauh langsung terlihat patung Gundam yang didesain 1:1 sesuai ukuran aslinya. Banyak pengunjung mengabadikan momen Odaiba mereka di sini, termasuk kami tentunya. Di sekitar patung terdapat Gundam Café yang menjual beragam merchandise yang berhubungan dengan Gundam. Saya sempat mampir Pitra Satvika 28
  29. 29. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya masuk, meski tak melihat sesuatu yang membuat saya tertarik untuk membeli. Akhirnya kami bertemu dengan Toni, Sofi, dan putra mereka Keitaro, yang lalu langsung mengajak kami untuk makan di food court DiverCity. Karena kami sudah lebih dulu makan, kami pun hanya menemani sambil mengobrol saja. Sambil menunggu sore, Toni dan Sofi mengajak kami semua naik ke lantai atas, ke sebuah toko yang menjual pernik-pernik dengan harga murah. Sepertinya hanya Ipi yang akhirnya berbelanja, sementara kami semua berada di luar toko, melihat Keitaro yang asyik belajar berjalan kaki. Menjelang sore, kami pun ke luar dari pertokoan dan berjalan kaki ke arah laut. Kami masih tetap berjalan di lantai atas, yang memang difungsikan khusus untuk para pejalan kaki, hingga sampai di gardu pandang berbentuk setengah lingkaran. 29 Pitra Satvika
  30. 30. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Di hadapan saya, di kejauhan terlihat jembatan raksasa yang menghubungkan Odaiba dan Tokyo. Jembatan yang tadi kami lalui saat menggunakan monorail. Laut bersih membentang dengan beberapa kapal ferry terlihat berlalu. Di bawah saya terlihat taman luas yang langsung berbatasan dengan laut. Tak jauh dari saya berdiri, di sebelah kanan terlihat miniatur patung Liberty. Lampu-lampu sudah mulai menyala menerangi patung tersebut. Tak lama lampu dengan beragam warna mulai terlihat menerangi jembatan raksasa. Karena variasi lampu inilah, maka jembatan itu dikenal dengan sebutan Rainbow Bridge. Saya mengambil banyak foto di sini, pemandangan Tokyo dan jembatannya, lalu bangunan pertokoan di Odaiba dengan lampu-lampu yang meneranginya, hingga jalur pedestrian di lantai atas ini yang terang oleh banyak lampu taman. Saya merasakan angin malam yang mulai bertiup cukup kencang, seakan menutup udara yang saat itu panas. Sekitar jam 18:00 kami pun sudah meninggalkan Odaiba. Kali ini kami naik kereta monorail Yurikamome Line dari stasiun yang lebih dekat, stasiun Daiba, untuk kembali ke Shimbashi. Dari sini Didut berpisah, karena sudah ada janji dengan teman lamanya, sementara saya, Ipi, Toni, Pitra Satvika 30
  31. 31. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Sofi, dan Keitaro akan makan malam bersama. Saya dan Ipi akan langsung bertemu Didut malam nanti di titik keberangkatan bus di Shinjuku. Merasakan Padatnya Shibuya Dari Shimbashi kami menggunakan kereta JR Yamanote Line dan berhenti di stasiun Shibuya. Kami keluar dari stasiun menuju pusat kota Shibuya, yang penuh sesak dengan ribuan orang. Benar-benar penuh. Belum pernah saya melihat orang sebanyak ini di tengah kota. Toni mengajak kami ke patung perak yang menjadi landmark Shibuya, yakni patung anjing bernama Hachiko. Terlihat beberapa orang mengabadikan diri dengan berfoto bersama Hachiko. Karena ini tempat terbuka, banyak pula yang merokok sambil mengobrol. Sofi bersama Keitaro berdiri agak menjauh dari Hachiko karena kumpulan asap rokok ini. Toni dan Sofi lalu mengajak kami untuk makan malam. Kami melewati perempatan Shibuya yang terkenal itu. Perempatan yang sering muncul di banyak film Hollywood, dari Resident Evil hingga Fast and Furious. Ti31 Pitra Satvika
  32. 32. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Pitra Satvika 32
  33. 33. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya dak banyak mobil yang berlalu di jalan raya, meskipun demikian para pejalan kaki bersabar menunggu lampu penyeberangan berganti warna hijau. Pemandangan luar biasa terjadi saat lampu berganti hijau. Seketika saja perempatan Shibuya penuh dengan para pejalan kaki yang saling menyeberang ke berbagai sisi. Ramai seramai-ramainya. Saya dan Ipi diajak makan malam di restoran Gusto. Meski namanya berbau Itali, menunya bermacam-macam. Dari selera Jepang, Itali, barat, dll. Yang menjadi kekhasan Gusto adalah minuman yang bebas ambil. Terserah mau ambil minum apa, pilih sendiri, dan racik sendiri. Meskipun minum gratis, tetap saja makan malam di Gusto bisa menghabiskan 900-1.000 Yen. Usai makan malam, kami kembali ke stasiun Shibuya. Saya dan Ipi berpamitan dengan Toni, Sofi, dan Keitaro, 33 Pitra Satvika
  34. 34. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya berucap terima kasih sudah mau menemani kami jalanjalan di hari ini. Selanjutnya saya dan Ipi menggunakan JR Yamanote Line untuk pergi kembali ke stasiun Shinjuku. Dari stasiun Shinjuku kami menelusuri ulang jalan yang sudah kami lalu tadi pagi, menuju titik perhentian Willer Express di Sumitomo Building. Sekitar 1 jam sebelum keberangkatan bus, Didut pun akhirnya tiba juga. Kami kembali memastikan tiket kami. Oleh petugas, diminta untuk menunggu saja hingga informasi keberangkatan bus diumumkan. Bus Willer Express menuju Osaka ini memang berjalan di malam hari. Buat kami, lumayan irit, karena kami tak perlu lagi mencari penginapan. Bus inilah tempat kami bermalam saat ini. Busnya sendiri bagus, ruang duduk cukup lega. Suasana bus dibuat segelap mungkin. Semua jendela ditutup. Lampu dimatikan. Mau nggak mau kami memang diharapkan untuk bisa beristirahat sepanjang perjalanan. Pitra Satvika 34
  35. 35. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya 35 Pitra Satvika
  36. 36. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Pitra Satvika 36
  37. 37. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Kyoto 5 September 2013 37 Pitra Satvika
  38. 38. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Perjalanan Menuju Kyoto Bus Willer Express tiba pagi hari di Osaka. Sejujurnya kami buta sama sekali, saat ini bus berada di lokasi apa, karena bus berhenti di sebuah lahan parkir, lalu lanjut kembali. Kami ke luar lokasi lahan parkir, menyusuri trotoar, sambil mengandalkan Google Maps. Kami melewati gedung Umeda Sky Building, dan baru menyadari kalau kantor bus Willer Express berada di gedung ini. Kami terus menyusuri jalan menuju stasiun pusat Osaka. Di depan Umeda Sky Building, kami melihat jalur underpass untuk pejalan kaki. Namun kami ragu akan ujung underpass ini. Kami lalu mengandalkan arah yang diberikan Google Maps, yang ternyata lebih jauh dan mengitar, hingga akhirnya kami melewati terminal bus umum. Kami telah tiba di stasiun Osaka, yang menjadi titik konsentrasi beragam lini transportasi, baik itu bus, kereta di atas tanah hingga bawah tanah. Pitra Satvika 38
  39. 39. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Kami langsung mencari tiket ke Kyoto. Anggaplah Osaka dan Kyoto ini bagai Jakarta dan Bogor. Bisa dibilang luar kota, meski sebenarnya tidak terlalu jauh. Kami menggunakan kereta JR Tokaido/Sanyo Main Line seharga 540 Yen. Berbeda dengan kereta dalam kota yang menyisakan ruang luas untuk orang berdiri, sebaliknya kereta ini memprioritaskan pada ketersediaan bangku. Kami pun bisa duduk nyaman hingga tiba di Kyoto. Kami lalu berjalan kaki menuju Piece Hostel yang berlokasi tak jauh dari stasiun. Petunjuk yang diberikan hotel sebelumnya sangat membantu. Setelah berjalan sekitar 10 menit, kami pun tiba di hostel. Bangunan yang tak terlalu besar ternyata menyembunyikan interior yang cukup luas dan nyaman. Setiap hostel umumnya memiliki ruang bersama, tempat setiap orang yang menginap bisa bertemu, ngobrol, dan beraktivitas. Piece Hostel ini memiliki ruang bersama yang luas, sangat berbeda dengan ruangan sederhana hostel tempat kami menginap di Tokyo hari sebelumnya. Di ruang bersama Piece Hostel tersedia dua Mac dengan layar besar. Tersedia pula banyak sofa dan meja untuk tempat berkumpul atau bekerja. Ada pula bar yang terbuka hingga malam hari. Ruang makan pun terpisah, meski tetap tersambung dengan ruang bersama. Kami sudah bisa langsung check in, meski kami belum bisa memasukkan barang ke kamar. Barang bawaan kami titipkan, lalu kami ikut sarapan bersama tamu hotel lainnya. Meski kami belum bisa masuk, namun kami tetap diperbolehkan untuk mandi. Lumayan segar setelah cukup berkeringat setelah perjalanan sebelumnya. 39 Pitra Satvika
  40. 40. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Bersepeda di Kyoto Dengar-dengar kota Kyoto termasuk salah satu kota di Jepang yang nyaman dan aman dipakai untuk bersepeda. Kami pun memutuskan untuk menggunakan sepeda berkeliling Kyoto. Kebetulan Piece Hostel menyewakan sepeda dengan biaya 500 Yen hingga malam. Tersedia keranjang untuk setiap sepeda yang disewakan. Juga disediakan kunci untuk roda depan dan belakang. Kami pun mulai merasakan sendiri bersepeda di kota Kyoto. Umumnya sepeda melewati jalur trotoar, bergabung dengan jalur pejalan kaki. Namun karena trotoar lumayan lebar dan tersedia ramp untuk naik turun trotoar, maka bersepeda pun terasa nyaman. Tentunya kami tetap harus mengikuti aturan lalu lintas. Saat lampu lalu lintas bagi pejalan kaki hijau, barulah kami ikut menyeberang. Saya amati sepeda yang banyak berlalu kebanyakan adalah sepeda santai. Kebanyakan memasang keranjang Pitra Satvika 40
  41. 41. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya di depannya. Ada pula yang menyediakan tempat duduk khusus anak kecil di bangku belakang. Lumayan banyak terlihat ibu dengan membonceng anaknya di sepeda. Setiap sepeda juga memiliki plat nomor. Katanya sih, setiap sepeda hanya boleh dikendarai oleh pemiliknya sendiri. Bisa dibilang, setiap orang yang ingin bersepeda harus memiliki sepedanya sendiri. Bersepeda tidak berarti lepas dari masalah teknis. Tak lama sejak kami meninggalkan hostel, sepeda Ipi menghadapi masalah. Rantainya lepas saat mengganti gigi di tanjakan. Didut pun akhirnya kembali ke hostel untuk meminta penukaran sepeda. Sementara menunggu, Ipi masih saja penasaran memutar pedal supaya bisa kembali ke posisi semula. Akhirnya rantai pun bisa kembali ke posisi benar, bahkan sebelum pihak hostel datang. Namun tetap diputuskan untuk menukar saja sepeda, karena Ipi merasa ada yang janggal memang di gigi sepeda sejak awal keberangkatan tadi. 41 Pitra Satvika
  42. 42. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Higashi Honganji Kyoto memiliki banyak sekali kuil yang tersebar di seluruh penjuru kota. Salah satu yang terbesar yang merupakan peninggalan masa lalu adalah Higashi Honganji. Kami memarkir sepeda di depan kompleks kuil, lalu melanjutkan jalan kaki ke dalam. Bangunan lama ini masih dalam proses renovasi. Beberapa bangunan kuil yang dalam proses perbaikan tersembunyi di dalam bangunan baru sementara yang menyerupai hanggar. Kami tentu tidak bisa masuk ke dalamnya. Bangunan utama terlihat megah sekali. Detil konstruksi atap, kolom kayu berdiameter raksasa, membuat bangunan kuil ini terlihat sungguh menakjubkan. Luar biasa sekali bila bangunan ini sudah ada sejak abad ke-12. Bangunan ini juga menjadi tempat ibadah. Kami harus melepas alas kaki sebelum masuk ke dalamnya. Diingatkan pula untuk tidak sembarangan duduk di barisan depan, karena akan Pitra Satvika 42
  43. 43. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya dipakai untuk warga yang akan beribadah. Kami keluar melalui sisi samping bangunan utama, melalui selasar berpindah ke bangunan sebelah. Ternyata ada pula bagian dari kompleks kuil yang dijadikan sebagai tempat pameran. Ada pula bangunan yang isinya dipakai sebagai tempat belajar bersama. Setelah berkeliling kompleks, kami pun kembali ke pintu utama. Dengan bersepeda kami pun melanjutkan perjalanan. Kyoto International Manga Museum Tujuan kami berikutnya adalah museum manga terbesar di Jepang, Kyoto International Manga Museum. Tiket masuknya cukup mahal, 800 Yen. Seperti nama museumnya, pengunjung bisa melihat ribuan manga pilihan sejak era perang dunia. Museum ini menyajikan hampir 300.000 dokumen historikal hingga budaya pop. Bila diperlukan 43 Pitra Satvika
  44. 44. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya untuk kepentingan riset, museum ini juga menyimpan ribuan koleksi manga, yang memang tidak semuanya ditampilkan di area pameran. Museum menyajikan beragam aktivitas yang bisa diikuti. Ada kegiatan kelas manga, pertunjukan picture-story yang ditujukan untuk anak-anak, pameran khusus untuk mangaka (pengarang manga) tertentu, hingga ruang audio visual yang biasanya dipakai untuk beragam kegiatan. Kalau datang di hari Sabtu, Minggu, atau hari libur nasional, katanya akan selalu ada seorang mangaka yang mendemonstrasikan proses pembuatan manga. Di ruang pameran utama di lantai dua, saya bisa membaca sejarah perkembangan manga di Jepang. Di bagian tepi ruangan lemari-lemari berisi manga disajikan secara kronologis per tahunnya. Tidak semua memang, hanya manga yang dianggap mewakili saja. Di sisi tengah, sejarah perkembangan manga disajikan dalam runutan berbahasa Inggris, yang diakhiri dengan lemari kaca yang menampilkan manga-manga lain dari beragam negara. Saya melihat komik terbitan Malaysia dan Thailand di sini, namun sayang tak ada sama sekali komik terbitan Indonesia masuk di lemari kaca ini. Suvenir yang berhubungan dengan museum bisa ditemukan dekat pintu keluar. Beberapa manga yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris juga bisa ditemukan di sini. Selebihnya berupa kartu pos, kain, kipas, kaos, pin, magnet, dan pernik-pernik lainnya yang menggunakan visual manga. Pitra Satvika 44
  45. 45. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Kyoto Palace Kami melanjutkan perjalanan bersepeda, melewati entah berapa blok, hingga akhirnya tiba di sebuah taman yang sangat luas. Terlihat tanda kalau sepeda tidak boleh dipakai. Kami pun memarkir sepeda di tepi taman, dan melanjutkan jalan kaki ke dalam. Taman yang berada di hadapan Kyoto Palace ini luas sekali, didesain dengan grid yang kuat, seperti taman-taman di Eropa. Setelah sampai di daerah tengah, barulah ketahuan kalau ternyata sepeda diperbolehkan. Entah apa arti penanda yang kami lihat sebelumnya. Taman ini dibelah oleh jalan-jalan yang sangat lebar. Meskipun lebar, tidak terlihat satu kendaraan bermotor pun di sini. Semua orang berjalan kaki atau bersepeda. Kami terus berjalan mendekati Kyoto Palace. Pagar tinggi membatasi kompleks bangunan, menyisakan satu sisi saja untuk pintu keluar masuk. Sayang kami datang terlalu sore, sehingga gerbang sudah terlanjur ditutup. Kami pun 45 Pitra Satvika
  46. 46. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya lalu kembali berjalan kaki menuju tempat sepeda kami diparkir, lalu mengayuhnya kembali menyusuri kota Kyoto. Gion Perjalanan bersepeda kali ini menyusuri sungai. Lebar sungai ini tak beda jauh dengan Banjir Kanal Timur di Jakarta. Airnya bersih. Di beberapa bagian yang tidak terlalu dalam disediakan batu-batu besar untuk loncatan. Orang bisa menyeberang sungai melewati batu-batu ini. Saat itu terlihat beberapa siswi sekolah yang bermain meloncat-loncat batu di tengah sungai. Lucu juga melihat aktivitas seperti ini di tengah kota. Tepian sungai tersedia trotoar lebar yang bisa dilalui nyaman dengan bersepeda. Saya sempat melihat beberapa orang yang duduk mengobrol, bahkan ada yang sambil memancing. Di sisi seberang, terlihat fasade-fasade bangunan dengan balkon terbuka. Beberapa di antaranya terlihat Pitra Satvika 46
  47. 47. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya seperti restoran, dengan bangku-bangku dan meja terlihat di balkon, membiarkan pengunjungnya untuk menikmati pemandangan sungai. Kami mengayuh sepeda hingga sampai ke perempatan Gion, titik wisata malam di kota Kyoto. Trotoar di sepanjang jalan Gion dikasih pagar dan atap. Lampion juga terlihat setiap beberapa meter di atas trotoar. Kami menyusuri jalan ini, mencari tempat untuk parkir sepeda. Karena Didut hendak mencari tumbler Starbucks khas Kyoto, kami pun memarkirkan sepeda tak jauh dari kafe tersebut. Jalan Gion ini berujung di sebuah kuil. Namanya Yasaka Shrine. Kami menyempatkan sejenak melihat-lihat kompleks kuil ini sebelum melanjutkan jalan kaki menuju jalan Hanamikoji Dori. Gion dikenal akan geisha-nya. Bila menunggu hingga malam, katanya akan terlihat geisha dengan pakaian yukata-nya berjalan di sini menemani tamunya. Kami tak 47 Pitra Satvika
  48. 48. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya lama di jalan ini. Setelah melihat geisha satu kali saja, kami langsung lanjut melangkah pergi. Senja sudah mulai turun. Lampion-lampion yang menerangi trotoar kini sudah mulai menyala. Kami kembali mengayuh sepeda, kali ini mengarah kembali ke hostel. Sore yang menyenangkan. Udara masih bersih, langit pun tidak terlalu berawan, dan udara tidak terlalu panas. Kyoto Tower Dalam perjalanan pulang, kami melewati Kyoto Tower. Menara dengan ketinggian 231 meter ini sudah bermandikan cahaya lampu. Batang menara hingga kepala terlihat terang. Senja di Jepang terasa lama. Sejak perjalanan dari Gion hingga Kyoto Tower, biru gelap langit masih tetap terlihat. Kyoto Tower pun terlihat indah di hadapannya. Kami lalu memutuskan untuk naik ke puncak Kyoto Tower. Sepeda kami parkirkan di belakang gedung. Lalu kami masuk ke dalam langsung naik ke lantai teratas bangunan. Kami harus membeli tiket di mesin yang tersedia dulu seharga 770 Yen sebelum bisa masuk ke dek observasi. Pitra Satvika 48
  49. 49. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Di dek observasi saya bisa berjalan berkeliling melihat ke segala penjuru Kyoto. Pegunungan Higashiyama dan Arashiyama terlihat dari sini. Cahaya lampu terlihat menerangi bangunan-bangunan di Kyoto. Setelah puas mengambil gambar, kami pun turun. Masih di gedung yang sama, namun dari sisi luar terdapat McDonald’s. Kami pun makan malam sejenak sebelum lanjut kembali mengayuh sepeda hingga Piece Hostel. Sisa malam kami habiskan dengan istirahat dan mengobrol di ruang bersama hostel. 49 Pitra Satvika
  50. 50. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Pitra Satvika 50
  51. 51. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Osaka 6 September 2013 51 Pitra Satvika
  52. 52. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Tiba di Osaka Setelah menikmati jatah sarapan, pagi hari kami langsung check out dari Piece Hostel, Kyoto. Kami berjalan kaki menuju stasiun utama Kyoto, lalu menggunakan kereta JR Tokaido/Sanyo Main Line ke Osaka. Biayanya 540 Yen. Perjalanan kereta memakan waktu hampir satu jam. Untungnya kami bisa duduk dengan nyaman. Kereta antar-kota memiliki desain yang berbeda dengan kereta dalam kota yang pernah kami gunakan sebelumnya. Bangku di kereta ini menghadap ke depan dan belakang. Jarak antara bangku pun cukup lega, sehingga saya bisa duduk nyaman sambil meluruskan kaki. Sesampai di Osaka, kami langsung menuju Toyo Hotel. Agak lama juga mencarinya, karena petunjuk arah menuju hotel tidak disediakan dengan jelas. Apalagi stasiun Osaka sangatlah besar, dengan banyak pintu keluar. Kami tidak tahu pintu keluar mana yang terdekat dengan hotel. Meski kesulitan di awal, namun kami bisa menemukan lokasi hotel dengan bantuan Google Maps. Agak jauh juga kami berjalan, hingga akhirnya kami menemukan Toyo Hotel. Kami juga menemukan kalau ternyata stasiun kereta yang terdekat dengan hotel adalah stasiun Dobutsuenmae. Seandainya saja Toyo Hotel bisa memberikan arahan lebih jelas, mungkin kami tak perlu jalan kaki terlalu jauh. Seperti biasanya, check in baru bisa dilakukan setelah pukul 14:00. Saat itu belum pula pukul 12:00. Kami pun menitipkan barang terlebih dahulu sebelum lanjut mengeksplorasi kota Osaka. Pitra Satvika 52
  53. 53. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Melalui stasiun Dobutsuenmae, kami lalu bergerak ke stasiun pusat Osaka. Kami lalu mendatangi pusat informasi turis, ingin menanyakan tentang tiket wisata harian bagi turis. Ternyata tersedia dua macam tiket, untuk wisata sehari penuh dan dua hari penuh. Khusus kunjungan ke Osaka Aquarium Kaiyukan hanya berlaku untuk tiket wisata yang dua hari penuh. Kami masing-masing lalu membeli tiket wisata sehari penuh. Syaratnya hanya menunjukkan passport dan membayar biaya 2.000 Yen. Biaya itu sudah mencakup lebih dari 20 titik wisata dan gratis menggunakan kereta ke manapun (asalkan bukan kereta dari JR). Osaka Jo dan Sekitarnya Kunjungan pertama kali di kota ini adalah Osaka Jo (kastil Osaka). Dengan kereta bawah tanah Midosuji Line, lalu lanjut dengan Chuo Line, kami pun akhirnya turun di stasiun Osaka Business Park. Kami keluar di dekat Osaka Convention Hall, sebuah gedung konvensi megah yang sering dipakai untuk konser. Saat itu terlihat antrian yang luar biasa panjang. Sepertinya memang akan ada perhelatan musik di gedung tersebut sore ini. Kami berjalan terus, melewati taman luas dengan banyak 53 Pitra Satvika
  54. 54. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya orang beraktivitas. Lapangan softball juga terlihat, meski saat itu tampak kosong. Dari kejauhan terlihat puncak kastil. Lumayan jauh juga jarak dari stasiun ke kastil. Untunglah udara saat itu cukup sejuk, sehingga nyaman dipakai berjalan kaki. Sesampainya di pintu masuk kami menunjukkan tiket wisata harian. Petugas mengecek tanggal yang tertera di tiket, lalu mempersilakan kami masuk. Tanpa tiket wisata harian ini, pengunjung harus membayar 600 Yen. Meski bangunan lama, namun kastil ini sudah direnovasi. Fasade luarnya masih sesuai asli, meski interiornya sudah banyak yang diubah. Apalagi kini disediakan lift, meski cuma sampai lantai ketiga. Ruang pamer yang terbuka untuk umum memang disediakan mulai dari lantai ketiga hingga atas. Meski menceritakan sejarah, namun isi museum ini dikemas dengan menarik. Teknologi ikut bermain membuat penceritaan menjadi atraktif. Setiap bagian sejarah diceritakan melalui video yang diproyeksikan ke diorama. Misalnya, diorama menampilkan jembatan dan hutan terbuat dari materi fisik, namun orang-orang yang bercakap-cakap di depan jembatan itu adalah rekaman video yang diproyeksikan. Pitra Satvika 54
  55. 55. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Ruang pamer lainnya menampilkan maket kastil Osaka dan lingkungannya, sejarah para penguasa sebelumnya, hingga replika beragam seragam, senjata tradisional dan senjata api yang dipakai kala itu. Lantai teratas Osaka Jo dipakai sebagai gardu pemandangan. Tersedia balkon yang mengelilingi lantai untuk melihat pemandangan kota Osaka yang mengelilingi kastil. Kawat-kawat kisi mengelilingi balkon untuk menjaga bila ada barang pengunjung yang jatuh ke luar balkon, tidak terus jatuh ke lantai dan membahayakan pengunjung lain di bawahnya. Bila tertarik mencari oleh-oleh, bisa mampir ke lobi kastil untuk membeli suvenir Osaka Jo ataupun khas Osaka lainnya. Seharusnya usai dari kastil, kami kembali lagi ke stasiun Osaka Business Park. Namun berawal dari papan petunjuk 55 Pitra Satvika
  56. 56. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya arah yang sedikit menipu, kami malah mencoba alur jalan lain. Mengingat sebelumnya kami berjalan kaki cukup jauh dari stasiun ke kastil, kami lalu berpikir kalau mungkin saja ada stasiun lain yang lebih dekat. Ternyata mencoba jalan lain bukanlah pilihan yang tepat. Yang ada kami malah semakin jauh dari stasiun. Kami malah berjalan kaki lebih jauh daripada sebelumnya. Setelah bertanya-tanya, akhirnya kami menemukan stasiun kereta bawah tanah terdekat. Keramaian di Daerah Kita Kami keluar ke daerah Kita melalui stasiun kereta bawah tanah Umeda. Daerah Kita merupakan pusat keramaian kota Osaka. Ribuan orang terlihat lalu lalang berjalan kaki memenuhi seluruh penjuru kota. Mengingakan akan stasiun Shinjuku di Tokyo. Kami masih ada waktu untuk berkunjung ke dua titik wisata di daerah ini, yakni HEP Ferris Wheel dan Floating Garden Observatory. Kebetulan HEP Ferris Wheel tak jauh dari stasiun Umeda, berlokasi di lantai teratas gedung pertokoan HEP FIVE. Kami sekali lagi memanfaatkan tiket Pitra Satvika 56
  57. 57. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya wisata harian, sehingga tak perlu membayar tiket seharga 500 Yen. Di atas HEP Ferris Wheel, kami bisa melihat kota Osaka dari ketinggian. Yang saya kagumi adalah betapa banyaknya jalur kereta terlihat dari atas. Baik itu yang keluar dari stasiun Umeda, maupun yang tampak di kejauhan. Satu putaran HEP Ferris Wheel ini menghabiskan waktu sekitar 15 menit. Menjelang sore kami lalu berjalan kaki ke Floating Garden Observatory yang berlokasi di Umeda Sky Building. Sebenarnya kami sudah ke lokasi ini hari sebelumnya, karena menjadi perhentian bus Willer Express saat kami berangkat dari Tokyo ke Osaka. Kami menyusuri plaza yang luas dengan banyak orang duduk berisitirahat. Kalau hari sebelumnya kami jalan berputar dari Umeda Sky Building ke stasiun Umeda, kali ini 57 Pitra Satvika
  58. 58. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya kami melewati underpass khusus pejalan kaki. Memotong waktu lebih banyak. Hari sebelumnya, sebetulnya kami melihat underpass ini, namun kami ragu-ragu, dan malah memutuskan untuk mencari jalan memutar. Tiba di Umeda Sky Building, kami langsung memanfaatkan tiket wisata harian. Lumayan, tidak perlu lagi membayar 700 Yen. Floating Garden Observatory berada di puncak gedung, terdiri dari dua lantai. Sangat banget direkomendasikan untuk datang ke lokasi ini menjelang pergantian sore ke malam. Kami bisa melihat lampu-lampu menyala di kota Osaka, menerangi setiap bangunan dan jembatan. Lantai pertama berupa ruangan tertutup. Katanya, Floating Garden Observatory ini sering dipakai untuk para pasangan kekasaih. Makanya tersedia pula pigura hati raksasa untuk mereka yang ingin berpose bersama. Di lantai ini juga dijual beragam merchandise khas Osaka. Lantai paling atas yang juga adalah atap gedung didesain terbuka. Kami bisa jalan berkeliling tepian bangunan dengan aman. Ada petugas yang mengingatkan agar pengunjung tidak membawa makanan atau mengenakan topi atau payung. Kami berada di lokasi tepat ketika langit menjelang senja. Saya habiskan waktu untuk memotret Osaka dari setiap sisi bangunan. Cantik banget, terutama lampu-lampu yang menerangi setiap jembatan yang memotong sungai di tengah kota. Menjelang gelap, kami pun turun dan kembali berjalan kaki menuju stasiun Umeda. Didut malam ini janji bertemu dengan temannya di Umeda, jadi kami akan janji untuk bertemu langsung saja nanti di penginapan. Pitra Satvika 58
  59. 59. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya 59 Pitra Satvika
  60. 60. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Makan Malam di Namba Sementara Didut bertemu dengan temannya, saya dan Ipi melanjutkan perjalanan ke daerah Namba. Dari stasiun Umeda ke Namba bisa menggunakan Midosuji Line, hanya beda 4 stasiun. Daerah Namba ini bisa dibilang mirip Pasar Baru Jakarta, tentunya dengan konteks lebih rapih, bersih, dan ramai ya. Daerah pertokoan di Namba ini berada di tepian jalan yang hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki. Atap tambahan yang membentang antara-gedung melindungi pejalan kaki yang berlalu di bawahnya. Sebuah sungai memotong daerah Namba ini. Sebetulnya kami bisa memanfaatkan tiket wisata harian Osaka untuk menikmati Tombori River Cruise, sebuah kapal ferry kecil yang akan menyusuri sungai ini. Sayangnya, saat kami tiba, waktu tak mengizinkan. Pitra Satvika 60
  61. 61. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Di salah satu jembatan yang membentang di sungai ini terlihat bangunan dengan neon sign logo Glico dan gambar orang berlari yang melegenda itu. Di sekitarnya juga terlihat banyak sekali neon sign beragam logo dan iklan. Titik lokasi ini menjadi landmark daerah Namba, karena bisa dipastikan orang-orang selalu berfoto di depan logo Glico ini. Di lokasi ini pula Ipi sudah berjanji bertemu dengan salah seorang saudara dari teman kami di Jakarta. Namanya Melly, kini sedang melanjutkan studi S2 di Osaka. Ia berbaik hati untuk menemani kami makan malam dan berjalan-jalan di Namba. Melly mengajak kami menikmati okonomiyaki dan yakisoba di restoran Fugetsu. Okonomiyaki adalah semacam pancake dengan beragam isinya, sementara yakisoba adalah mie goreng. Di meja tersedia hot plate luas, dan dua menu ini dimasak langsung di atas hot plate. Biasanya okonomiyaki mengandung babi, namun kami bisa meminta supaya tidak memasukkannya ke dalam adonan 61 Pitra Satvika
  62. 62. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya saat akan dimasak. Lucu juga melihat proses memasak okonomiyaki yang dibolak-balik, lalu dikasih saus di atasnya. Rasanya pun juga enak. Usai makan malam, Melly mengantar kami berkeliling Namba. Saya khusus meminta bantuan ke Melly untuk mencari teater NMB48 yang memang berlokasi di sekitar sini. Ternyata agak susah juga mencarinya. Sepertinya, kalau saya diminta untuk datang lagi sendiri, belum tentu bisa menemukannya lagi. Teater NMB48 berlokasi di besmen. Hanya ada satu gerbang yang terlihat muncul di permukaan. Lokasinya agak jauh memang dari jembatan dengan logo Glico tadi. Seperti sudah diduga, teater saat itu tutup. Entah karena sudah terlalu malam, atau memang sedang tidak ada pertunjukan. Nggak masalah, karena saya hanya ingin tahu lokasinya saja. Kami semua kembali berjalan kembali ke jembatan, lalu bersama-sama ke stasiun Namba. Di sini saya dan Ipi pun berpisah dan mengucapkan terima kasih kepada Melly yang sudah berbaik hati menemani malam ini. Saya dan Ipi kembali ke hotel menggunakan Midosuji Line hingga tiba di stasiun Dobutsuenmae. Pitra Satvika 62
  63. 63. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Sesampai di hotel, kami pun check in dan mengambil barang yang kami titipkan pagi tadi. Meski namanya Toyo Hotel, namun jangan bayangkan ini sebagai hotel mewah. Masing-masing dari kami memang memiliki kamar sendiri, meski terlihat sederhana dengan televisi kecil dan kasur di lantai. Bila dibandingkan, sebenarnya masih terasa kalau penginapan di Kyoto lebih nyaman daripada di Osaka. Yang paling penting, hotel ini aman. Internet cepat pun tersedia melalui jaringan wifi di setiap lantai. Jadi, saya tak terlalu memikirkan kenyamanan hotelnya. Lagi pula cuma kami pakai sejenak, sebelum besok paginya kami kembali melanjutkan perjalanan. 63 Pitra Satvika
  64. 64. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Pitra Satvika 64
  65. 65. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Osaka - Nagoya 7 September 2013 65 Pitra Satvika
  66. 66. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Pagi Terakhir di Osaka Masih ada sisa waktu di Osaka hingga siang nanti. Siapa tahu tiket wisata harian turis 2.000 Yen ini masih bisa kami manfaatkan. Kami check out langsung dari Toyo Hotel. Pagi itu Didut sudah ada janji dengan teman lamanya. Saya dan Ipi akan berangkat ke daerah Osakako, untuk melihat sisi laut kota Osaka. Siang ini kami akan bertemu kembali di titik keberangkatan bus Willer Express. Selanjutnya, memang kami akan bergerak ke kota Nagoya. Tiket wisata harian yang seharusnya masih bisa dipakai untuk perjalanan kereta ternyata sudah tidak valid lagi. Maka kami pun mengeluarkan uang tambahan sebesar 270 Yen untuk membayar tiket kereta dari Dobutsuenmae menuju Osakako. Saya dan Ipi tiba di Osakako sekitar pukul 09:30, sementara atraksi wisata baru mulai buka pukul 10:00. Langit saat itu mendung tertutup awan. Enak sih tidak terlalu panas, tapi nggak asyik untuk memotret. Sekitar pukul 10:00 kami naik Tempozan Ferris Wheel, melihat pemandangan daerah pelabuhan Osakako dari atas. Terlihat sungai yang bersih dengan kapal-kapal boat kecil berkeliling, serta jembatan raksasa yang menghubungPitra Satvika 66
  67. 67. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya kan bagian kota Osaka yang terpisah oleh sungai. Meski bisa dibilang menarik, namun pemandangan dari Tempozan Ferris Wheel masih kalah dibandingkan dari HEP Ferris Wheel yang berada di pusat kota Osaka. Selain Tempozan Ferris Wheel, daerah ini juga memiliki wisata Osaka Aquarium Kaiyukan, wisata laut dengan kapal Santa Maria atau kapal ferry Captain Line. Kami tidak masuk ke dalam Kaiyukan, karena tidak masuk dalam tiket wisata harian. Bila ada yang tertarik untuk masuk, siapkan 2.000 Yen untuk tiketnya. Tiket wisata harian bisa dipakai untuk kapal ferry Captain Line untuk menyeberangi sungai, namun hanya berlaku satu arah. Kapal Santa Maria baru mulai berlayar pukul 11:00. Tiket wisata harian juga berlaku untuk kapal Snata Maria, yang akan berkeliling di sungai selama 45 menit. Sambil menunggu, saya berjalan-jalan di sekitar dermaga. Menarik sekali, dermaga bisa diakses oleh umum gratis. Saya melihat orang-orang bersepeda melintas keliling 67 Pitra Satvika
  68. 68. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya dermaga. Ada pula seorang perempuan yang membawa anjingnya berjalan-jalan. Sisi berlawanan dengan saya, di seberang sungai, adalah terminal peti kemas. Ratusan container beragam warna terlihat bertumpuk. Meski penuh dengan peti kemas, terminal ini sangat jauh dari kotor. Semua terlihat rapih, bersih, enak dilihat. Menjelang pukul 11:00 dari kejauhan saya melihat kapal Santa Maria mendekat. Desainnya mengingatkan akan kapal yang dipakai oleh Columbus saat menjelejah benua baru. Memang, nama kapal pun diambil sama dengan kapal yang dipakai oleh Columbus saat itu. Tepat pukul 11:00 kapal Santa Maria yang berisi ratusan orang ini pun berangkat. Saya amati kebanyakan adalah turis dari China. Penumpang bebas duduk di mana saja. Mau di geladak, buritan, di tengah, ataupun di bawah. Di bagian bawah juga ada museum mini yang menampilkan Pitra Satvika 68
  69. 69. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya cerita tentang kapal ini. Kami menyusuri sungai, melewati bagian bawah jembatan, melihat Universal Studios dari kejauhan, mengamati kesibukan terminal peti kemas, hingga akhirnya kembali lagi ke titik keberangkatan. Tepat pukul 11:45 saya sudah berada di luar kapal kembali. Menuju Nagoya Saya dan Ipi pun bergegas meninggalkan Osakako. Waktunya lumayan pas-pasan karena bus Willer Express menuju Nagoya akan berangkat pukul 13:15. Kami sempat mampir beli cemilan di 7-Eleven untuk kami makan sambil berjalan. Dari Osakako kami naik kereta ke Umeda, lalu berjalan kaki lumayan jauh ke titik keberangkatan bus Willer Express di Umeda Sky Building. Gedung yang sama dengan Floating Garden Observatory yang kami kunjungi kemarin petang. Perjalanan dari Osaka ke Nagoya sekitar 3 jam. Bus yang 69 Pitra Satvika
  70. 70. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya kami gunakan kali ini sedikit berbeda dengan sebelumnya. Jarak antara bangku lebih jauh, dan setiap bangku dilengkapi dengan televisi dan headphone, seperti yang umum terlihat di pesawat. Bus sempat berhenti satu kali di tempat peristirahatan. Isinya tak jauh berbeda dengan titik peristirahatan jalan tol di Indonesia. Ada tempat makan, supermarket, dan toilet. Sesampai di Nagoya, ternyata bus Willer Express tidak berhenti di kantornya, seperti yang terjadi di Tokyo dan Osaka. Bus berhenti di tepi jalan. Kami harus berjalan kaki sekitar 2 blok untuk sampai ke stasiun Nagoya. Di stasiun, Ipi berpisah dari kami, karena akan bertemu dengan saudaranya. Saya dan Didut melanjutkan perjalanan ke tempat penginapan, Kyoya Ryokan. Kami harus menggunakan bus, lalu lanjut dengan berjalan kaki. Tempat menginap kali ini memang lebih mahal daripada malam-malam sebelumnya. Kalau biasanya di hostel, kali Pitra Satvika 70
  71. 71. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya ini di penginapan ala tradisional Jepang, ryokan. Satu kamar tetap dipakai bersama-sama seperti di hostel, namun semua kasur diletakkan di lantai, di atas karpet bambu. Di sebelah kasur terdapat satu meja panjang. Kamar mandi ryokan pun berbeda. Lokasinya terpisah dari bangunan utama. Saya harus melewati taman terbuka dulu sebelum masuk ke bangunan yang khusus berisi pemandian. Di ryokan ini terpisah antara laki-laki dan perempuan, meski katanya banyak pula yang pemandiannya campur. Di ryokan, untuk mandi ada aturan tersendiri. Ruang pertama adalah tempat menanggalkan pakaian, menaruhnya di keranjang. Ruang ini juga dipakai untuk mengeringkan rambut setelah mandi. Sebelum memasuki ruang kedua, pakaian harus murni ditanggalkan terlebih dahulu. Di ruang kedua, badan harus dibasuh dulu di bawah keran. Mandinya sambil duduk. Di ryokan ini ada 3 tempat mandi yang saling bersebelahan. Di dekat tempat mandi ini terdapat kolam air hangat untuk berendam bersama. Pasti- 71 Pitra Satvika
  72. 72. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya kan badan sudah bersih terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kolam ini. Saya agak ragu juga saat melihat tempat mandinya. Nggak enak juga kali mandi bersama-sama seperti ini. Akhirnya saya putuskan untuk menunda mandi sampai malam saja. Saat semua penghuni penginapan ryokan ini sudah tidur. Malam itu Ipi datang ke penginapan Kyoya Ryokan bersama kedua saudaranya. Ia memutuskan untuk menginap di sana. Saya dan Didut tetap menginap di ryokan. Pitra Satvika 72
  73. 73. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya 73 Pitra Satvika
  74. 74. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Pitra Satvika 74
  75. 75. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Nagoya 8 September 2013 75 Pitra Satvika
  76. 76. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Melihat-lihat Nagoya Jo Pagi hari kami langsung check out dari Kyoya Ryokan, karena memang jadwal check out pukul 09:30. Agak-agak licik ya. Kalau telat bangun, bagaimana coba? Karena Ipi semalam menginap di rumah saudaranya, saya dan Didut langsung saja berangkat menuju stasiun Nagoya dengan menggunakan bus. Langit Nagoya saat itu terlihat mendung, dan beberapa kali gerimis pun turun. Di stasiun Nagoya, saya dan Didut membeli tiket bus wisata seharga 500 Yen yang bisa dipakai sehari penuh. Tiket ini bisa dibeli langsung di depan halte bus nomor 8. Bus wisata ini akan berputar keliling Nagoya dan berhenti di setiap titik wisata utama. Untuk jadwal bus, bisa dilihat di halte perhentian masing-masing. Jumlah bus yang bergerak di hari Sabtu dan Minggu lebih banyak daripada hari biasa. Bus wisata ini berkeliling, dan kami sendiri yang memutuskan akan turun di mana. Perhentian pertama kali di Pitra Satvika 76
  77. 77. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Nagoya Jo (atau kastil Nagoya). Tiket masuk ke kompleks Nagoya Jo seharga 500 Yen. Kompleks kastil ini cukup luas, namun kami hanya masuk ke dua bangunan utama di dalamnya. Bangunan pertama adalah Hommaru, yang merupakan bekas hunian penguasa yang kini sudah direvitalisasi. Bentuk bangunan asli tetap dipertahankan, meski saya perhatikan sebagian besar dinding, lantai, dan struktur diperbaiki namun tetap mempertahankan nuansa aslinya. Saat masuk ke dalam Hommaru, kami diminta untuk melepas sepatu dan menyimpan tas di locker yang tersedia. Bau bambu tercium dari lantai yang kami lewati. Meski tidak ada AC, ruangan tidak terasa panas. Di dalam hunian ini terlihat pula lukisan yang menjadi bagian dari dinding. Usai mengunjungi Hommaru, kami pun berjalan menuju kastil Nagoya. Udara kembali mendung dan rintik gerimis pun membasahi perjalanan kami menuju kastil. 77 Pitra Satvika
  78. 78. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Bangunan kastil terdiri dari beberapa lantai. Lantai-lantai bawah kini digunakan untuk menceritakan sejarah dan perkembangan kastil. Ada model maket yang menceritakan kondisi kastil di era-era awal. Ada pula beberapa contoh tampilan interior hunian, perpustakaan, tempat makan, yang ditampilkan dalam skala asli. Di lantai teratas, kami bisa melihat kota Nagoya dari semua sisi kastil. Pada masa itu, para pekerja harus memiliki fisik yang kuat untuk menarik batu-batu raksasa yang menjadi bahan bangunan kastil. Di salah satu lantai di kastil ini bisa ditemukan 3 patung pekerja yang menarik batu besar. Pengunjung bisa ikut merasakan berapa besar beban yang sanggup ia tarik. Caranya dengan ikut menarik tali yang berada di belakang 3 patung pekerja ini. Semakin kuat tarikan, maka 3 patung pekerja dan batu di hadapannya akan ikut tertarik. Di salah satu sisi dinding terlihat grafik yang menunjukkan besaran kilogram yang berhasil ditarik oleh pengunjung. Pitra Satvika 78
  79. 79. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Kami mengelilingi isi kastil, meski sebenarnya saya tidak terlalu menyimak tulisan penjelasan yang menempel di setiap barang yang dipamerkan. Nggak apa-apa ya, yang penting kan bisa merasakan berada di dalamnya. Sakae, Pusat Kota Nagoya Sakae menjadi pusat hiburan dan belanja di Nagoya. Beberapa landmark di Sakae yang patut didatangi antara lain: Oasis 21, Nagoya TV Tower, Hidaya-Odori Park, dan Sunshine Sakae. Saya dan Didut mendatangi Sakae menggunakan bus wisata harian yang berangkat dari stasiun Nagoya. Setelah sebelumnya kami berhenti di Nagoya Jo, kami lalu lanjut lagi sampai akhirnya berhenti di Sakae. Tepatnya turun di depan Oasis 21. Sebelum kami berputar-putar di Sakae, kami mengisi perut terlebih dahulu di Yoshinoya. Kali ini 79 Pitra Satvika
  80. 80. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya saya memesan menu yang menggunakan ayam. Seperti biasanya, saya cuma menunjuk gambar di menu untuk menjelaskan pesanan saya ke pelayan. Usai makan, kami berjalan mencari gedung Sunshine Sakae. Saya baru tahu kalau gedung ini menjadi salah satu landmark di daerah ini, dengan ferris wheel di atas gedungnya. Tujuan saya mencari gedung ini adalah untuk melihat lokasi teater SKE48 yang terkenal itu. Rupanya lebih mudah mencari lokasi teater SKE48 daripada teater NMB48 di Osaka. Lokasi teater SKE48 di lantai 2 Sunshine Sakae, langsung naik eskalator dari depan pintu masuk. Karena tidak ada pertunjukan, gerbang teater pun tutup. Lantai 3 gedung berisikan toko CD, DVD, manga, dan photobook. Saya naik satu lantai lagi dan menemukan SKE48 Café & Shop. Di dinding luar dipajang menu-menu favorit anggota SKE48. Ada pula papan tulis yang memberitahu siapa saja yang ulang tahun di bulan September ini. Toko berisikan beragam merchandise namun bagi saya pribadi, tak ada yang menarik, karena pilihan merchandise-nya lebih cocok dibeli oleh konsumen perempuan. Pitra Satvika 80
  81. 81. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Desainnya lebih cenderung untuk target perempuan. Saya akhirnya hanya melihat-lihat saja, tanpa membeli apapun. Meninggalkan Sunshine Sakae, kami berjalan kembali ke arah Oasis 21. Bangunan pertokoan ini memiliki atap datar berbentuk elips. Dari samping berkesan kalau atap elips ini miring, meski kenyataannya sih tidak. Kami naik ke atas atap Oasis 21, dan melihat kolam air luas di tengahnya. Kolam air yang dangkal ini berada di atas atap berbahan kaca. Jadi, kami bisa me81 Pitra Satvika
  82. 82. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya lihat aktivitas pertokoan di bawah kolam, menembus air dan kaca. Di bawah, terlihat pertokoan Oasis 21 ini sedang menyelenggaran perhelatan musik, dengan para penontonnya duduk lesehan di atas potongan kain-kain perca. Saya dan Didut beristirahat sejenak di taman buatan yang dibangun di salah satu bagian atap Oasis 21. Batas antara atap dan lantai semakin berbaur, mengingat taman di atas Oasis 21 ini pun langsung berhubungan dengan trotoar jalan di sisi lainnya. Menjelang senja, kami pun berjalan ke Nagota TV Tower. Lokasinya berdekatan sekali. Untuk masuk ke dalam menara setinggi 180 meter dan seberat 3.300 ton ini, pengunjung harus membayar tiket 600 Yen. Seperti kota-kota lainnya, Nagoya pun ingin bisa menunjukkan isi kotanya 360 derajat kepada pengunjung. Lift berhenti di ruang yang tertutup kaca. Kalau mau, bisa pula naik lagi ke lantai atas yang lebih terbuka. Kami bisa melihat kota Nagoya dari keliling menara. Kami menunggu hingga Pitra Satvika 82
  83. 83. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya matahari sore menyinari kota, lalu senja muncul, dan lampu-lampu mulai menerangi kota. Pemandangan yang amat menarik. Apalagi melihat Hidaya-Odori Park yang membentang sepanjang 2 kilometer, dengan Nagoya TV Tower ini berada di porosnya. Lampu-lampu yang menerangi taman dan atap Oasis 21 sungguh menarik untuk dilihat. Tak terasa waktu pun berlalu. Kami harus kembali lagi ke stasiun Nagoya. Sayangnya bus wisata harian yang berkeliling kota Nagoya hanya beroperasional hingga sore hari. Tidak ada pilihan lain bagi kami, selain menggunakan kereta Higashiyama Line dari Sakae ke Nagoya. Ongkosnya hanya 200 Yen. Menunggu di Stasiun Nagoya Malam ini kami akan kembali ke Tokyo, masih menggunakan bus Willer Express. Berbeda dengan kota sebelumnya, bus tidak berangkat dari kantornya, namun langsung 83 Pitra Satvika
  84. 84. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya dari stasiun Nagoya. Itu pun tidak berangkat dari halte resmi yang memang sudah disiapkan. Berdasarkan petunjuk yang kami terima via email, kami diminta untuk menunggu di dekat halte resmi. Nanti akan ada petugas dengan logo Willer Express yang akan menunggu tak jauh dari situ. Mendekati jam keberangkatan, terlihat beberapa orang (sepertinya masih mahasiswa) yang mengenakan jaket serupa. Mereka memegang beberapa tiang dengan logo beberapa perusahaan bus tertulis di atasnya. Salah satunya adalah Willer Express. Agak tidak yakin, kami pun menanyakan ke salah satu dari mereka apakah benar kami berangkat dari lokasi ini. Mereka meminta kami untuk menunggu sejenak, sampai dipanggil untuk keberangkatan. Tak lama salah satu dari mereka, dengan bahasa Jepang, menyebutkan nomor bus keberangkatan kami. Mereka meminta kami berkumpul di hadapannya. Lalu masih dengan bahasa Jepang, memberikan petunjuk arah keberadaan bus. Para penumpang diminta bergerak ke salah satu arah, meninggalkan arah stasiun. Kami yang tak paham sama sekali yang ia katakan, hanya mengikuti saja ke arah mana para penumpang berjalan. Kami berjalan sedikit jauh dari stasiun, hingga menemukan beberapa orang dengan seragam serupa yang lalu meminta kami untuk menunggu. Bus Willer Express pun akhirnya datang. Satu persatu saya, Didut, dan Ipi, menyebutkan nama masing-masing dan menitipkan koper untuk dimasukkan ke bagasi bus. Perjalanan dari Nagoya ke Tokyo pun berlangsung sekitar 6 jam. Waktu kami habiskan untuk beristirahat di dalam bus. Pitra Satvika 84
  85. 85. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya 85 Pitra Satvika
  86. 86. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Pitra Satvika 86
  87. 87. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Tokyo 9 September 2013 87 Pitra Satvika
  88. 88. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Tiba di Kita-Fuchu Bus Willer Express mengantar kami tak jauh dari stasiun Shinjuku, Tokyo. Lokasi perhentian berbeda dengan lokasi keberangkatan kami dari Tokyo beberapa hari lalu. Para penumpang lalu berjalan kaki mendekati stasiun, dan pagi itu suasananya masih terlihat sepi. Malam ini kami akan menginap di rumah Dina dan Gandjar, teman Ipi. Mereka menawarkan penginapan di rumahnya di daerah Fuchu. Dina memberikan petunjuk detil untuk mencapai tujuan. Pertama-tama kami harus mencari kereta Keio Line yang akan langsung mengantar kami ke stasiun Fuchu. Dari sana kami diminta untuk melanjutkan kembali dengan bus nomor 46, dan berhenti di halte ketiga. Kali ini adalah pengalaman kami menggunakan bus lokal pertama kali sendiri. Tidak sulit kok. Sesampainya di stasiun Fuchu, kami cukup mencari halte bus dengan nomor sesuai petunjuk yang diberikan. Biasanya di halte bisa ditemukan jam keberangkatan berikutnya. Sudah pasti tepat waktu. Jadi tunggu saja dengan sabar. Rumah Dina dan Gandjar tak jauh dari halte ketiga. Kami melewati sederetan gedung 4 lantai dengan nomor-nomor besar tertulis di dinding atasnya. Kami lalu mencari nomor gedung sesuai petunjuk yang diberikan, lalu mencari nomor rumah yang tertera di setiap pintu. Kami pun disapa oleh Gandjar yang saat itu sudah bersiap mengantar putrinya ke sekolah. Kebetulan Dina masih belum diizinkan keluar dari rumah sakit karena belum selang seminggu sejak ia melahirkan anak keduanya. Rumahnya Pitra Satvika 88
  89. 89. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya cukup compact, dengan 3 kamar tidur, ruang duduk yang bergabung dengan dapur, dan kamar mandi. Semua lantai tertutup karpet. Kasur di setiap kamar diletakkan menempel dengan lantai. Meja yang digunakan di ruang duduk pun pendek, kami bisa menggunakannya sambil selonjoran di lantai. Kami beristirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan trip ke museum Fujiko F. Fujio di Kawasaki City. Ternyata rumah Dina dan Gandjar dikelilingi oleh banyak stasiun kereta. Yang terdekat adalah stasiun Kita-Fuchu (berbeda dengan stasiun Fuchu asal kedatangan kita). Cukup berjalan kaki sekitar 5 menit dari rumah. Untuk mencapai museum ini kami berpindah-pindah kereta hingga sampai di stasiun Noborito. Lalu dari sana kami bisa menggunakan bus yang khusus mengantar tujuan ke museum. Museum Fujiko F. Fujio Profesor Fujiko F. Fujio adalah mangaka dan animator senior yang menelurkan banyak karya yang dikenal hampir di seluruh dunia. Pastinya kenal dengan serial Doraemon, P-Man, dan Kiteretsu Daihyakka kan? Nah, Profesor Fujiko inilah pembuatnya. Tiket masuk ke Museum Fujiko F. Fujio hanya 89 Pitra Satvika
  90. 90. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya bisa dibeli melalui mesin yang tersedia di beragam toko Lawson di Tokyo. Sayangnya tak ada pilihan bahasa Inggris di mesin ini. Jadi akan butuh bantuan seseorang yang bisa membaca huruf kanji yang bisa memesankannya. Tinggal tentukan tanggal dan jam kedatangan ke museum. Mesin tersebut akan memberi tahu apakah pada tanggal dan jam tersebut kuota masih tersedia. Harga per tiketnya 1.000 Yen, yang bisa langsung dibayarkan di kasir Lawson. Selain untuk membeli tiket masuk Museum Fujiko F. Fujio, melalui mesin ini pula, kita bisa memesan tiket masuk ke Museum Ghibli, juga dengan harga sama, 1.000 Yen. Setiba di stasiun Noborito carilah bus mini berwarna biru dengan gambar karakter Doraemon di sisinya. Bus mini ini akan mengantar langsung ke tujuan. Museum Fujiko F. Fujio berlokasi tak jauh dari stasiun, di tepian kota Tokyo, dengan biaya 200 Yen. Di depan museum sudah menunggu beberapa petugas perempuan dengan seragam yang lucu sekali. Ipi bilang kalau seragamnya mengingatkan Pitra Satvika 90
  91. 91. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya akan seragam yang dikenakan oleh salah satu karakter di serial Doraemon. Kami pun antri masuk dan menunjukkan tiket. Di dalam tiket ini akan ditukar dengan sebuah alat dengan keypad dan layar kecil. Alat yang mereka sebut dengan Ohanashi Denwa ini akan menjadi pemandu setiap pengunjung museum. Tersedia dalam bahasa Jepang, Inggris, Korea, dan China. Saya memilih bahasa Inggris karena jelas saya tidak paham bahasa lainnya. Ketika saya menemukan nomor yang menempel di dekat sebuah karya, saya cukup mengetikkan nomor tersebut di Ohanashi Denwa. Tempelkan Ohanashi Denwa di dekat telinga seperti saat mendengarkan telpon, maka akan terdengar suara pemandu yang menjelaskan tentang karya tersebut. Kelebihan Ohanashi Denwa tidak hanya itu. Ada beberapa video dipamerkan di museum. Saat saya mengetikkan angka sesuai yang tertera di dekat layar video, maka Ohanashi Denwa akan melakukan sinkronisasi waktu sehingga suara yang terdengar pun mengikuti video yang diputar. Menarik sekali konsep Ohanashi Denwa ini. Pengunjung bisa mendengarkan dengan privat dan jelas setiap informasi, 91 Pitra Satvika
  92. 92. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya tanpa perlu mengganggu kenikmatan pengunjung lain. Tidak diizinkan untuk memotret karya-karya yang dipajang di dalam museum. Kebetulan pula, saat ini museum masih merayakan ulang tahun yang ke-2. Beberapa karya yang biasanya dipajang merupakan hasil reproduksi, namun tidak kali ini. Khusus selama masa perayaan ulang tahun, hampir semua yang dipajang adalah karya asli Profesor Fujiko. Museum menampilkan banyak lembaran kertas artwork asli Profesor Fujiko. Manga yang dibuat benar-benar manual. Dengan pensil, tinta, tone, dan pena putih. Untuk teks masih ditempel di atas balon yang digambar manual. Pewarnaan sampul manga masih dikerjakan dengan menggunakan cat air. Ada salah satu bagian museum yang menceritakan tentang proses pengerjaan manga. Uniknya, lembaran kertas dengan coretan manga ini dikombinasikan dengan tembakan proyektor karakter Doraemon dan Nobita. Mereka berdua seakan-akan menjadi narator proses penggambaran manga. Elemen digital dikombinasikan dengan analog untuk membantu penceritaan. Museum juga menampilkan beragam benda yang menjadi Pitra Satvika 92
  93. 93. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya inspirasi Profesor Fujiko, sejarah manga yang dikerjakan olehnya, hingga kehidupan keluarganya. Salah satu yang sempat menarik perhatian adalah, Profesor Fujiko bersama seorang rekan pernah membuat manga indie saat beliau masih di SMA. Digambar manual, dijadikan buku, dan diedarkan untuk dibaca oleh teman-temannya. Manga ini yang katanya sempat ditunjukkan ke mangaka senior, Osamu Tezuka, yang langsung kagum melihat karya yang sudah terlihat matang untuk ukuran seorang pelajar. Osamu Tezuka ini pula yang menjadi inspirasi bagi Profesor Fujiko untuk terus berkarya hingga akhir hayat. Museum bukan sekedar tempat menikmati karya. Museum yang menarik adalah bisa mengajak pengunjung untuk terlibat lebih aktif lagi. Taman bacaan manga, tempat bermain dan berinteraksi anak, taman terbuka dengan ikon-ikon Doraemon, hingga kafe dan toko yang menjadi pelengkap aktivitas. Museum Fujiko F. Fujio juga menyajikan pemutaran anime yang khusus disajikan hanya di tempat ini. Ceritanya apalagi kalau bukan seputar Dorae93 Pitra Satvika
  94. 94. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya mon dan Nobita, yang masuk ke dalam televisi dan berpetualang bersama dengan P-Man dan teman-temannya. Saya bisa belajar banyak dari Museum Fujiko F. Fujio ini. Memamerkan karya manga yang berbasis kertas pun bisa disajikan dengan cara modern. Setiap pengunjung bisa menikmati penjelasan audio yang privat sesuai keinginannya masing-masing. Yang tak kalah penting adalah, museum tidak diciptakan untuk membosankan. Aktivitas pelengkap menjadi penting. Bahkan museum bisa mendapatkan keuntungannya sendiri melalui penjualan di kafe dan merchandise khas museum. Jumlah pengunjung yang bisa masuk ke museum dalam suatu periode pun dibatasi, sehingga saya tetap merasa nyaman di dalamnya. Roppongi Setelah mengunjungi Museum Fujiko F. Fujio, kami kembali lagi ke stasiun Noborito dengan manggunakan bus mini. Lalu kami mencari kereta yang akan membawa ke Pitra Satvika 94
  95. 95. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya stasiun Roppongi untuk berjumpa dengan seorang teman, Ivan Prakasa. Ia kini sedang mengambil studi di Tokyo, dan baru berkesempatan bertemu dengan kami di hari ini. Katanya Roppongi ini adalah salah satu pusat bisnis dan komersial terbesar dan termahal di Tokyo. Sudah bisa dipastikan, kalau ada yang bisa tinggal di daerah ini, ia pastilah orang yang sangat kaya. Sejujurnya saya sendiri kurang begitu suka daerahnya. Tak terlalu banyak yang dilihat, kecuali kalau memang ada keinginan untuk berbelanja merk terkenal yang mahal ya. Kami sempat melangkah melalui Midtown Tokyo, kompleks komersial yang terbagi menjadi beberapa gedung. Kantor Konami ternyata berada di kompleks ini. Ivan lalu mengajak kami berputar-putar sekitar Roppongi. Ia mengajak kami melewati Roppongi Hills, yang berupa juga kompleks perkantoran dengan taman terbuka di depannya. Tamannya tak terlalu luas. Saat itu juga sedang 95 Pitra Satvika
  96. 96. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya dibuka pameran Harry Potter, namun karena kami tak terlalu tertarik, kami pun memutuskan untuk melewatkannya. Saat itu pula di salah satu area plaza Roppongi Hills diselenggarakan perheletan Belgian Beer Festival. Pengunjung bisa membeli beragam merk bir, lalu meminumnya sambil mengobrol berdiri di depan meja-meja kecil yang tersebar di seluruh penjuru area. Ivan lalu mengantar kami masuk ke gedung Asahi TV, yang saat itu sedang merayakan ulang tahun ke-55. Di lobi gedung, Asahi TV menyajikan pameran produk program televisi yang pernah dan kini sedang tayang. Salah satunya adalah Doraemon yang tak pernah putus tayang hingga saat ini. Tak lama kami pun berpisah dengan Ivan yang sudah punya janji dengan seseorang di daerah Roppongi pula. Kami pun meninggalkan area ini dan berangkat ke stasiun Shinjuku untuk bersiap makan malam bersama temanteman Didut. Pitra Satvika 96
  97. 97. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Makan Malam di Shinjuku Satu hal yang menyebalkan dari Shinjuku, salah satu stasiun terbesar di Jepang, ini adalah mencari pintu keluar yang diinginkan. Kebetulan Didut diajak oleh temanteman lamanya di Jepang untuk makan malam bersama. Titik yang dijadikan tempat bertemu adalah pintu selatan. Yang jadi masalah adalah saat kami keluar dari gerbang tiket, mencari pintu selatan tersebut. Tidak semua pintu disebutkan, dan kami harus menduga-duga arah sisi mana yang menuju selatan. Kalau stasiun cuma sebesar Gambir atau Blok M tidak menjadi masalah, namun stasiun Shinjuku ini besar sekali. Belum lagi lantainya berlapis-lapis, dan semua tersambung satu sama lain. Seorang teman Didut pernah berkata, kalau ia ingin janjian dengan seseorang, ia memilih untuk bertemu di stasiun lain yang lebih kecil yang lebih sedikit pintu keluarnya. Shinjuku terlalu besar dan membingungkan. 97 Pitra Satvika
  98. 98. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Menarik juga memperhatikan kalau setiap titik pintu keluar stasiun di Jepang itu selalu dijadikan titik pertemuan. Bila orang Jepang ingin kumpul bareng, mereka akan janjian terlebih dahulu di pintu keluar stasiun sebelum lanjut pergi makan atau minum bersama-sama. Inilah yang kami lakukan. Kami menunggu teman-teman Didut datang di pintu selatan stasiun. Kami juga menunggu Toni, teman kami dari Jakarta yang mengantar kami di hari kedua di Tokyo datang. Sambil menunggu, saya jadi mengamati orang yang ramai berlalu lalang. Lebih tepatnya, memperhatikan gaya rambut dan berpakaian mereka. Sepertinya kalau mau pakai model baju atau rambut seaneh apapun, tidak akan lalu menjadi penarik perhatian, karena saking banyaknya yang aneh. Gaya rambut perempuan yang terlihat mendominasi adalah poni rata depan, panjang lurus, dan dicat warna jagung. Mereka umumnya mengenakan celana pendek atau Pitra Satvika 98
  99. 99. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya rok pendek, sehingga paha mereka terlihat menyolok. Pipi mereka terlihat merah merona oleh blush-on. Yang terlihat lebih menarik adalah gaya mereka berpakaian. Ada yang saling tabrak warna. Yang paling absurd selama saya duduk menunggu adalah melihat seorang perempuan mengenakan pakai gaun yang mirip handuk yang menutup dari dada ke paha, dengan topi hijau berbentuk seperti handuk yang digulung. Saya dan Didut sampai berpikir, ini orang seperti keluar dari kamar mandi ya? Toni pun akhirnya datang. Ia tak bisa lama-lama. Minggu sebelumnya, saat kami bertemu, kami memang meminta tolong kepada Toni dan istrinya, Sofi, untuk membelikan beberapa oleh-oleh, yang memang lebih mudah ditemukan di dekat rumah mereka. Kali ini Toni datang membawakan oleh-oleh tersebut. Ia pun tak bisa lama-lama, karena harus segera pulang. Kami pun sekalian berpamitan, karena kemungkinan besar kami tak akan bisa menemuinya lagi karena harus kembali ke Jakarta esok malam. Selanjutnya teman-teman Didut datang satu per satu. Ada Yossy yang kini bekerja di Kementrian Kehutanan Jepang yang sangat lancar berbahasa Indonesia. Ia sudah sering bolak-balik masuk hutan lindung di Indonesia. Bila berada di Semarang, ia sering berjumpa dan bahkan menginap di rumah Didut. Hadir pula Kuri yang mengantar kami keliling Tokyo di hari pertama kemarin. Lalu ada Rumi yang kini bekerja di perusahaan ekspor dan impor. Kalau melihat wajahnya yang cantik, nggak akan menyangka kalau olahraga favoritnya sejak dulu adalah rugbi. Bahkan ia kini menjadi 99 Pitra Satvika
  100. 100. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya pelatih rugbi di sela kesibukan kantornya sehari-hari. Teman-teman Didut lainnya yang juga datang adalah Hidaka, Tsuneta, dan Eriko. Kami menikmati makan malam khas Jepang. Bukan hanya makanannya, namun juga caranya. Kami semua duduk lesehan di depan meja pendek. Memulainya dengan saling toast gelas minuman dengan bersama-sama menyebut “Kanpai!” Saat ada teman yang baru datang dan berkenalan, kami pun kembali melakukan toast. Makanan muncul satu per satu, dari ayam crispy pedas, salad khas Jepang, dan macam-macam. Satu menu makanan muncul setelah menu sebelumnya habis. Bila minum habis, tidak usah ragu untuk meminta ulang. Inti dari makan malam ini adalah aktivitas ngobrol santainya. Tak terasa 3 jam berlalu selama kami makan malam dan ngobrol. Setelah berfoto bersama, kami pun pulang. Kami semua kembali berjalan kaki menuju stasiun Shinjuku. Beberapa Pitra Satvika 100
  101. 101. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya yang searah naik kereta yang sama. Pamitan pun terjadi di stasiun dan di dalam kereta. Hal lumrah untuk masyarakat yang hidupnya sehari-hari menggunakan transportasi umum. Menginap di Kita-Fuchu Sudah menjelang tengah malam saat saya, Didut, dan Ipi kembali ke rumah Dian dan Gandjar di Fuchu. Kereta di Tokyo masih aktif hingga pukul satu malam, dan masih banyak pula warga Tokyo yang memenuhi kereta di tengah malam itu. Dari Shinjuku kami menggunakan kereta JR Chuo Line, turun di stasiun Nishi- kokubunji, lalu berpindah ke kereta Musashino Line sampai di stasiun Kita-Fuchu. Di kereta terakhir ini, kami disapa oleh seorang warga Indonesia. Katanya ia baru pulang dinas dari luar Tokyo dan pulang ke arah yang sama. Ternyata ia pun mengenal Gandjar, tempat kami menginap malam ini. Ia juga bercerita kalau banyak sekali orang Indonesia yang tinggal di daerah Fuchu. Mungkin karena sering ada pertemuan sesama warga Indonesia, maka mereka pun bisa kenal satu dengan lainnya. Sesampainya di stasiun Kita-Fuchu, kami berjalan kaki hingga ke rumah. Meski tengah malam, pencahayaan di jalur pedestrian tetap terang. Perasaan tetap aman, meski jalan yang kami lalui cukup sepi. Sesekali terlihat beberapa pekerja dengan tas jinjingnya yang juga berjalan pulang dari stasiun. 101 Pitra Satvika
  102. 102. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Pitra Satvika 102
  103. 103. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Tokyo 10 September 2013 103 Pitra Satvika
  104. 104. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Seputar Shinjuku Hari ini adalah hari terakhir kami bertiga di Jepang. Malam nanti kami sudah harus kembali pulang ke Jakarta melalui bandara Haneda. Rencananya hari ini memang akan kami habiskan untuk menjelajah Shinjuku, Akihabara, dan Harajuku. Oleh-oleh dan titipan akan kami cari di sana semua. Rencana awal kami adalah berangkat pagi-pagi ke Asakusa, lalu siang hingga sore menghabiskan waktu di 3 tempat di atas. Namun rencana tinggal rencana, kalau ujung-ujungnya baru bisa berangkat dari rumah pukul 10 lewat. Rencana ke Asakusa pun kami batalkan. Ipi pagi ini bersama dengan Gandjar ke rumah sakit untuk menjenguk Dina yang masih belum boleh pulang sejak melahirkan. Saya dan Didut membereskan sedikit hutang pekerjaan, lalu kami akan bertemu dengan Ipi di Shinjuku. Kami sedikit mengelilingi Shinjuku demi mencari sebuah toko alat selam. Kebetulan ada seorang teman yang menitipkan fin selam merk tertentu. Mencari toko dengan modal Google Maps ternyata tidaklah cukup. Apalagi kalau tidak diketahui koordinat pastinya. Meski kami sampai ke daerah yang dimaksud, toko pun tidak berhasil ditemukan. Satu-satunya cara adalah dengan bertanya. Sekali lagi Didut dengan bahasa Jepangnya yang terbatas bisa mendapatkan info dari seorang petugas di halte bus. Semakin lama saya di Jepang, semakin saya menyadari kalau ada baiknya saya belajar percakapan bahasa Jepang dasar sebelum saya datang ke negeri ini lagi. Agak susah memang berhadapan dengan masyarakat yang mayoritasnya tidak bisa berbahasa Inggris. Pitra Satvika 104
  105. 105. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Di Shinjuku kami mencoba makan siang di restoran. Sekali lagi, saya melakukan tebak-tebak buah manggis untuk menu yang tidak mengandung babi. Paling aman seperti biasanya, menu yang berhubungan dengan ayam atau seafood. Didut memutuskan untuk melanjutkan berputar-putar Shinjuku, sementara saya dan Ipi akan ke Akihabara. Bila waktu mencukupi, akan ke Harajuku. Yang pasti, kami akan kumpul kembali pukul 19:00 di pintu timur Shinjuku. Karena kami sudah pernah ke pintu ini di hari kedua kami di Jepang, sudah dipastikan kami tidak akan sulit menemukannya. Gandjar juga akan bertemu dengan kami di sini, untuk makan malam bersama. Kebetulan ia juga akan menuju bandara Haneda untuk menjemput ibu dan mertuanya yang akan datang dari Indonesia. Jadi kami akan berangkat bersama-sama ke bandara setelah makan malam. 105 Pitra Satvika
  106. 106. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Berkeliling Akihabara Stasiun Akihabara bisa dicapai dari Shinjuku dengan menggunakan JR Chuo Line. Sesampainya di Akihabara, saya tak menyangka kalau ini ternyata adalah stasiun lama. Terlihat dari cat bangunan yang mulai kusam. Meskipun demikian, stasiun ini termasuk salah satu yang teramai di Tokyo. Akihabara telah lama menjadi pusat elektronik. Kini tempat ini telah menjelma menjadi surga para otaku. Masih di stasiun Akihabara, di sisi luar, terlihat AKB48 Café & Shop. Dua buah toko menghapit kafe yang berada di sisi tengah. Isi toko tak jauh berbeda sebetulnya dengan SKE48 Café & Shop di Sakae, Nagoya. Para penjaganya mengenakan seifuku yang bernada sama dengan yang biasa dipakai oleh AKB48. Beragam merchandise dengan foto para anggota AKB48 menjadi jualan utama. Gantungan kunci, kipas, holder, map, magnet, hanyalah sebagian dari isinya. Buat saya pribadi, isi toko ini tidak terlalu Pitra Satvika 106
  107. 107. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya menarik. Bisa jadi karena saya sendiri bukan pengoleksi merchandise seperti ini. Saat itu saya juga melihat cukup panjang juga antrian masuk ke dalam kafe. Sebenarnya kafe ini tak berbeda jauh dengan kafe-kafe lainnya. Seperti kafe di SKE48 Café & Shop, menu makanan dan minuman mendapat rekomendasi dari beberapa anggota AKB48. Sementara Didut masih tetap di Shinjuku, saya dan Ipi menyusuri jalan utama Akihabara. Isi toko-toko di jalan ini sungguh kontras dengan daerah Tokyo lain yang sudah kami datangi. Sepanjang jalan bisa ditemukan toko-toko yang spesifik hanya menjual manga (baik umum maupun dewasa), JAV, mainan, suvenir, game, hingga yang khusus hanya berjualan photopack. Biasanya setiap beberapa minggu sekali, AKB48 akan merilis serial photopack dengan tema tertentu. Model rilis photopack ini yang juga diadaptasi oleh JKT48 di Jakarta. Hanya bedanya, skala fandom di Akihabara ini jauh berlipat lebih banyak. Banyak toko yang memajang koleksi photopack dari yang satuan, satu set, hingga yang serial terbatas. Harga bervariasi dari hanya 100 Yen hingga 3.000-an Yen. Kadang tidak semua photopack dipajang. Biasanya di dekat kasir bisa ditemukan folder berisikan 107 Pitra Satvika
  108. 108. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya koleksi photopack. Silakan pilih dan bayar. Saya juga memasuki beberapa toko yang spesifik menjual manga. Di lantai satu dan dua biasanya yang dipajang hanyalah manga umum. Manga dewasa hingga yang kelas porn berat bisa ditemukan di lantai tiga ke atas. Saya sampai nggak menyangka, hingga sebanyak ini serial manga, baik itu berupa buku atau majalah, memenuhi setiap toko. Toko manga terbesar di Akihabara, yang saya lihat, adalah KBooks. Tokonya luas dan terdiri dari 2 lantai. Selain manga umum dan dewasa, toko ini juga menjual beragam manga artbook. Itu baru manga. Saya bahkan sempat masuk ke sebuah toko yang isinya dari lantai dua ke atas hanya menjual koleksi JAV. Semua rak dengan jarak antaranya yang padat, dipenuhi koleksi DVD dan Bluray JAV. Layar televisi kecil menyempil di beberapa rak, memutar potongan iklan video JAV. Hampir di setiap perempatan bisa ditemukan perempuan Pitra Satvika 108
  109. 109. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya yang mengenakan kostum tertentu. Ia biasanya mempromosikan toko atau restoran berlokasi tak jauh dari situ. Akhirnya saya dan Ipi menemukan gedung Don Quijote. Di lantai 8 gedung inilah, teater AKB48 dimulai. Sepanjang eskalator tertempel beragam poster raksasa AKB48. Terlihat beberapa poster lama dengan anggota yang kini sudah tidak lagi berada di AKB48. Rupanya di lantai 2-4 gedung Don Quijote ini dijual beragam barang unik. Campuran antara pasar swalayan yang menyajikan segala jenis makanan, minuman, perlengkapan rumah tangga, sampai segala hal yang berhubungan dengan AKB48, cosplay, pakaian dalam, dan entah apa lagi. Mau cari lightstick murah, ada. Mau cari kupluk dengan beragam bentuk model binatang, ada. Mau cari kostum french maid, perawat, seifuku sekolah, hingga yang terlihat kinky pun ada. Tinggal pilih dari yang harga 3.000 Yen hingga 9.000 Yen. Aksesoris hiasan yang lucu pun tersedia. Terlihat beragam usia, laki-laki dan perempuan, berbelanja di 3 lantai ini. Hampir setiap pojok pasar swalayan ini diputar lagu-lagu AKB48. Sebagian lantai 5 berisikan toko resmi AKB48. Yang jaga hanya satu orang, dengan setumpuk dus di belakang meja kasir. Kalau mau berbelanja, cukup amati dinding kiri dan kanan yang menampilkan foto-foto merchandise beserta kode masing-masing. Cukup sebutkan kode yang diinginkan ke penjaga kasir, dan ia akan mengambilkannya. Variasi merchandise memang jauh lebih beragam daripada toko JKT48, meski tidak bisa dibilang menarik juga. Toko ini juga menjual koleksi DVD lengkap AKB48. Caranya sama, tinggal sebutkan kode, lalu akan diambilkan oleh penjaga kasir. 109 Pitra Satvika
  110. 110. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Lantai 6 dan 7 berisikan game arcade. Eskalator menuju teater AKB48 di lantai 8 saat itu dijaga oleh petugas. Lucu juga, tali penghalang rupanya tak cukup untuk membatasi, sampai perlu ada petugas yang menunggu di depan eskalatornya. Sebenarnya masih banyak keunikan lain di Akihabara, namun sayang saya tidak sempat menjelajah semua titiknya. Sekitar jam 17:00 kami pun meninggalkan Akihabara, untuk melihat nuansa daerah Harajuku. Menjelang Malam di Harajuku Harajuku berlokasi tak jauh dari Shinjuku, dan bisa dicapai dengan menggunakan kereta JR Yamanote Line. Dari Akihabara bisa menggunakan JR Chuo Line, turun di Yoyogi lalu ganti dengan JR Yamanote Line. Pitra Satvika 110
  111. 111. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Harajuku berada di satu jalan yang menurun yang hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki. Kiri kanan berjejer tokotoko dan restoran. Barang-barang yang dijual di toko lebih banyak berupa pakaian dan suvenir. Buat saya, yang menarik dilihat di Harajuku bukanlah pertokoannya, tapi justru pengunjungnya. Banyak sekali laki-laki dan perempuan yang berpakaian tidak biasa. Ada yang mengenakan baju dan celana dengan warna yang saling tabrak, ada pula yang berdandan gotik, dan entah apa lagi. Sepertinya, pakaian semacam ini sudah wajar terlihat, karena tak ada yang sampai serius mengamati orang lain karena pakaian yang dikenakannya (kecuali saya, mungkin). Karena keterbatasan waktu, saya dan Ipi tidak bisa menyusuri hingga ujung jalan terakhir. Pukul 18:45 kami sudah harus bergerak kembali ke Shinjuku, untuk berkumpul kembali dengan Didut sekitar pukul 19:00. 111 Pitra Satvika
  112. 112. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Makan Malam Terakhir di Shinjuku Saya, Ipi, dan Didut sudah berkumpul di pintu timur Shinjuku, tak jauh dari kantor polisi, sekitar pukul 19:00. Kami menunggu Gandjar datang untuk makan malam bersama. Gandjar lalu mengajak kami ke yatai, tempat makan murah di Shinjuku. Bisa dibilang ini kaki limanya versi Jepang. Kami memasuki suatu gang dengan kios-kios makanan kecil di dalamnya. Ada yang makan sambil berdiri, ada pula yang menyediakan tempat duduk. Karena yang makan harus bergantian, kami diharapkan untuk menghabiskan makanan secepat mungkin. Gandjar meminta kami mencoba tendama soba (soba telur mata sapi) yang dilengkapi dengan tempura dan telur setengah matang. Harganya 380 Yen. Ini adalah makanan termurah yang kami makan selama di Jepang. Bahkan sekali makan di Yoshinoya pun masih lebih mahal daripada ini. Pitra Satvika 112
  113. 113. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Rasanya enak, namun saat menjelang habis, mulai terasa agak eneg. Mungkin karena saya agak banyak minum kuahnya. Gandjar baru berkata saat kami usai makan, kalau orang Jepang pada umumnya jarang menghabiskan kuahnya. Pantes saja. Usai makan, kami kembali pintu timur Shinjuku. Kuri, salah satu teman Didut yang mengantar kami di hari pertama di Tokyo, ingin bertemu untuk terakhir kalinya. Kami pun menunggu Kuri, sebelum lalu mencari tempat nongkrong sambil minum kopi bareng. Kami masih punya waktu hingga pukul 21:00 sebelum kami harus berangkat ke Haneda. Waktu ini kami habiskan sambil ngobrol santai di Chelsea Café. Teman lama Didut lainnya, seorang pria bernama Hirotaka, menyusul ke tempat kami. Buat Didut, ajang ini adalah saat terakhir bernostalgia dengan teman-teman lamanya. Buat saya dan Ipi, adalah hal menarik mendengar cerita-cerita tentang kehidupan mereka di Jepang. Kembali ke Haneda Saat-saat menjelang keberangkatan pulang ke Jakarta pun tiba. Saya, Didut, dan Ipi pun berpamitan dengan Kuri, mengucapkan terima kasih atas segala bantuannya. Hirotaka ternyata belum puas ngobrol dengan Didut, sehingga akhirnya ia pun ikut mengantar kami semua ke bandara. Gandjar juga ikut ke bandara, karena ia harus menjemput ibu dan mertuanya yang datang menggunakan pesawat Air Asia. Pesawat sama yang akan menerbangkan kami kembali ke Jakarta. 113 Pitra Satvika
  114. 114. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Dari Shinjuku kami menggunakan JR Yamanote Line ke stasiun Shinagawa. Lalu kami ganti menggunakan Keikyu Line hingga Haneda. Perjalanan dengan kereta yang cukup lama. Sepanjang perjalanan terlihat Didut dan Hirotaka asyik mengobrol. Kereta membawa kami langsung di bawah bandara. Dengan menggunakan lift, kami langsung sampai di tak jauh dari lobi terminal keberangkatan. Saya, Didut, dan Ipi pun kembali mengucapkan terima kasih atas bantuan Gandjar dan Hirotaka, dan berjanji akan mengontak mereka kembali bila ada kesempatan datang ke Jepang kembali. Setelah memasuki pemeriksaan imigrasi, saya berencana menghabiskan sisa Yen saya untuk membeli oleh-oleh di toko duty free. Terbelilah sudah oleh-oleh legendaris Tokyo yang selalu dicari itu, Tokyo Banana dan Kit Kat beragam rasa. Tak lama kami menunggu sebelum akhirnya kami dipanggil untuk boarding. Usai sudah pengalaman kami berjalan-jalan selama 9 hari di Jepang. Penuh dengan beragam cerita, pengalaman, dan masukan, yang semoga saja bisa memperkaya hidup dan pandangan kami. Kami banyak belajar dari pengalaman orang Jepang langsung, orang-orang Indonesia yang membangun keluarga di Jepang, senior Jepang yang kini hidup bertani, hingga cerita dari sesama turis yang mendatangi Jepang. Masih banyak kota menarik di Jepang yang belum sempat kami kunjungi. Semoga saja akan masih ada kesempatan bagi kami untuk menjelajahnya di tahun-tahun mendatang. Jepang, negeri yang bisa dibilang berhasil menjaga budaya Pitra Satvika 114
  115. 115. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya tradisional dan menghidupkan budaya pop hingga mendunia. Negeri yang penuh dengan kecanggihan modern, yang entah kapan bisa tersusul oleh Indonesia. Sayangnya, di balik kemajuan dan kemakmuran negerinya, Jepang mulai kehilangan makna berkeluarga dan lebih suka hidup menyendiri, akibat sangat fokusnya mereka dengan profesionalisme. Sesuatu yang untungnya masih menjadi kelebihan bangsa Indonesia. Semoga saja seiring dengan semakin majunya Indonesia, masyarakat negeri ini pun tak lantas kehilangan pula makna hidup berkeluarga. Terima kasih ya sudah menyimak cerita perjalanan di Jepang hingga sejauh ini. Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari pengalaman saya dan teman-teman selama di Jepang ini. 115 Pitra Satvika
  116. 116. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Pitra Satvika 116
  117. 117. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Tips Berkelana di Jepang 117 Pitra Satvika
  118. 118. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya Internet Hidup tak akan lengkap tanpa listrik dan internet. Jangan lupa bawa converter colokan listrik versi Jepang, yang berbentuk pipih. Juga jangan lupakan untuk kebutuhan charge sekaligus ponsel, kamera, powerbank, dll. Untuk pengguna XL bisa manfaatkan fitur XL One Tariff yang bekerja sama dengan operator lokal Softbank. Namun tetap saja, jangan terus-terusan menggunakan 3G roaming, karena masih ada alternatif lainnya yang lebih murah. Di Jepang banyak yang menawarkan sewa router wi-fi. Salah satunya yang kami pakai kemarin, eConnect (www. Pitra Satvika 118
  119. 119. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya econnectjapan.com). Masuk saja ke situsnya, lalu pesan kapan penggunaannya. Pembayaran bisa dilakukan menggunakan kartu kredit. Router wi-fi akan dikirimkan ke alamat di Jepang. Khusus untuk kasus kami, router wi-fi tersebut dikirim ke hostel tempat kami menginap pertama kali di Tokyo. Menjelang kepulangan, akan ada email reminder. Router wi-fi tinggal dikirim via pos di stasiun, tanpa perlu bayar lagi. Kalau untuk kebutuhan perorangan, harganya memang jadi relatif mahal. Namun menjadi sangat masuk di akal ketika router wi-fi ini bisa dipakai berbagi dengan minimal 3 orang. Koneksi dengan router wi-fi jauh lebih cepat daripada menggunakan koneki 3G roaming. Bayangkan saja, kami bisa melakukan streaming video YouTube saat kami sedang dalam perjalanan bus ke luar kota. Penginapan Di Jepang, seperti juga banyak di negara lainnya, tersedia penginapan hostel. Untuk bayangan, yang disebut hostel itu biasanya satu kamar terdiri dari beberapa tempat tidur tingkat. Yang disewakan adalah tempat tidur, bukan kamarnya. Beberapa hotel menyediakan kamar yang terpisah antara laki-laki dan perempuan, meski kebanyakan campur. Untuk toilet dan kamar mandi terpisah, dipakai bergantian. Biasanya di hostel juga disediakan common room, tempat berkumpul bersama dengan sesama penginap. Ada dapur kecil tempat memasak, ada tempat makan, dan tempat duduk bersama. Sebelum berangkat ke Jepang, kami sudah melakukan booking terlebih dahulu. Salah satu cara paling mudah 119 Pitra Satvika
  120. 120. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya dengan membuka Hostel World (www.hostelworld.com). Untuk booking diperlukan kartu kredit karena akan ada biaya 10% dari biaya sewa hostel. Pelunasan 90% dilakukan saat tiba di hostel dan mulai menginap. Kebanyakan penginapan di Jepang baru memulai aktivitas kerja pukul 10:00. Check in baru bisa dilakukan pukul 14:00, dan check out dilakukan pukul 12:00 keesokan harinya. Bila datang ke penginapan lebih cepat, check in awal bisa tetap dilakukan, namun kunci baru bisa diberikan setelah pukul 14:00. Barang-barang yang dibawa memang bisa dititipkan di resepsionis hostel, namun belum bisa dibawa masuk ke dalam kamar. Bus Saya tidak banyak menggunakan bus selama berada di Jepang, karena informasi yang ditampilkan kebanyakan menggunakan huruf kanji. Saat pertama kali kami di Tokyo, kebetulan ada teman dari Jepang yang memandu. Agak unik juga cara membayar ongkosnya. Bus Jepang hanya dijaga oleh seorang pengemudi. Pintu masuk dan keluar selalu berbeda. Biasanya penumpang akan masuk terlebih dahulu. Ongkos bus akan terlihat di layar di atas supir. Per titik halte yang dilewati, ongkos akan bertambah. Bila ingin berhenti di halte tersebut, maka bayarlah sesuai ongkos yang terlihat di layar. Pembayaran harus menggunakan uang pas. Namun jangan khawatir, di sebelah pengemudi juga ada mesin penukar uang. Tinggal masukkan koin 100 atau 500 Yen, maka mesin akan memecahkannya menjadi kepingan 10 Yen. Gunakan pecahan ini untuk membayar ongkos bus Pitra Satvika 120
  121. 121. Tokyo - Kyoto - Osaka - Nagoya dengan pas. Beberapa kota juga menawarkan tiket bus harian. Di Nagoya ada penawaran tiket harian untuk berkeliling kota menggunakan bus khusus wisata. Bus ini akan berhenti di setiap titik wisata Nagoya. Saat membeli tiket terusan seharga 200 Yen ini, kami mendapatkan kartu. Tunjukkan kartu ini di bus untuk akses gratis keliling Nagoya dari pagi hingga sore. Untuk mengirit biaya penginapan, kami sengaja berpindah antar-kota saat malam hari. Kami meggunakan bus Willer Express (www.willerexpress.com/en) saat pindah dari kota Tokyo ke Osaka, Osaka ke Nagoya, lalu Nagoya ke Kyoto. Beberapa bus berjalan di malam hari, sehingga bisa kami pakai sekaligus untuk tidur. Kami menggunakan paket Japan Bus Pass 3 hari dengan harga 10.000 Yen (www. illerexpress.com/st/3/en/pc/buspass/course.php). Bisa dipakai untuk perjalanan dalam maksimum 5 hari. Jadi sebaiknya pertimbangkan ketentuan layanan dari paket ini 121 Pitra Satvika

×