96666973 makalah-bu-aini-kasus-2

7,455 views
7,259 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
7,455
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
132
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

96666973 makalah-bu-aini-kasus-2

  1. 1. MAKALAH Sistem Kardiovaskuler“ Masalah Etik dan Hukum Keperawatan terhadap Sebuah Kasus “ Pembimbing : Luthfiah Nur A, S.Kep Ns Disusun Oleh : 1. Anas Wahyu Suseno 2. Deny Yulanda Anggraeni 3. Eko Hartanto 4. Herlinda Eka Listiyanti 5. Nurdin 6. Nurul Indrawati 7. Reny Khoirun Nisa 8. Zummatul Atiqoh S1 Keperawatan STIKES Dian Husada Mojokerto Tahun Akademik 2011 – 2012
  2. 2. Kata Pengantar Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME yang telah memberikankarunianya sehingga makalah yang berjudul “Masalah Etik dan Hukum Keperawatanterhadap Sebuah Kasus” ini dapat diselesaikan. Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu nilai mata kuliah sistemkardiovaskuler pada khususnya dan untuk memberikan pengetahuan kepada calon perawattentang etik keperawatan dan hukum keperawatan. Dalam pembuatan makalah ini kami banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak,oleh karena itu saya mengucapkan terima kasih kepada : 1. Ibu Luthfiah Nur Aini, S.Kep Ns selaku kaprodi S1 Keperawatan dan Dosen mata kuliah Sistem Kardiovaskuler yang telah memberikan kasus yang memicu kami untuk mencari informasi lebih banyak demi terselesaikannya pembuatan makalah ini. 2. Teman – teman SGD Kelompok 5, yang telah bekerja sama dalam pembuatan makalah ini. Kami memohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan, karena kesempurnaanitu hanyalah milik-Nya semata. Kami harap para pembaca berkenan kiranya menyampaikan kritik, usul, dan saran kepadakami sehingga karya tulis yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi para pembaca kelak. Mojokerto, 8 januari 2012 Penyusun
  3. 3. BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Perawatan merupakan salah satu profesi tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan langsung baik kepada individu, keluarga dan masyarakat. Sebagai salah satu tenaga profesional, keperawatan menjalankan dan melaksanakan kegiatan praktek keperawatan dengan mengunakan ilmu pengetahuan dan teori keperawatan yang dapat dipertanggung jawabkan. Dimana ciri sebagai profesi adalah mempunyai body of knowledge yang dapat diuji kebenarannya serta ilmunya dapat diimplementasikan kepada masyarakat langsung. Pelayanan kesehatan dan keperawatan yang dimaksud adalah bentuk implementasi praktek keperawatan yang ditujukan kepada pasien/klien baik kepada individu, keluarga dan masyarakat dengan tujuan upaya peningkatan kesehatan dan kesejahteraan guna mempertahankan dan memelihara kesehatan serta menyembuhkan dari sakit, dengan kata lain upaya praktek keperawatan berupa promotif, preventif, kuratif dan rehabilitasi. Dalam melakukan praktek keperawatan, perawat secara langsung berhubungan dan berinteraksi kepada penerima jasa pelayanan, dan pada saat interaksi inilah sering timbul beberapa hal yang tidak diinginkan baik disengaja maupun tidak disengaja, kondisi demikian inilah sering menimbulkan konflik baik pada diri pelaku dan penerima praktek keperawatan. Oleh karena itu profesi keperawatan harus mempunyai standar profesi dan aturan lainnya yang didasari oleh ilmu pengetahuan yang dimilikinya, guna memberi perlindungan kepada masyarakat. Dengan adanya standar praktek profesi keperawatan inilah dapat dilihat apakah seorang perawat melakukan malpraktek, kelalaian ataupun bentuk pelanggaran praktek keperawatan lainnya.1.2 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini, secara umum adalah mahasiswa dapat memahami hak pasien dalam proses keperawatan dilihat dari dimensi etik dan dimensi hukum. Dan secara khusus mahasiswa dapat menjelaskan tentang pengertian, kriteria dan unsur-unsur terjadinya hal tersebut.1.3 Manfaat Dengan adanya penyusunan makalah ini kita mampu memahami tata cara beretika dalam pemecahan suatu kasus.
  4. 4. BAB II TINJAUAN PUSTAKA2.1 Kode Etik Keperawatan A. Definisi Etik Etik adalah terminology dengan berbagai makna. Etik berhubungan dengan bagaimana sesorang harus bertindak dan bagaimana mereka melakukan hubungn dengan orang lain. Etik tidak hanya menggambarkan sesuatu, tetapi lebih kepada perhatian dengan penetapan norma atau standar kehidupan seseorang dan yang seharusnya dilakukan. Etik dititik beratkan pada pertanyaan atas apa yang baik dan yang buruk, karakter, motif atau tindakan yang benar dan yang salah. jika didefinisikan secara umum, terminology moral dan etik adalah sama, meskipun terdapat sedikit perbedaan makna. B. Etik Dalam Keperawatan Untuk menjadi seorang profisional dewasa yang mampu secara aktif berpartisipasi dalam dimensi etik praktik mereka, seorang perawat harus terus mengembangkan suatu perasaan yang kuat tentang identitas moral mereka, mencari dukungan dari sumber professional, dan mengembangkan pengetahuan serta kemampuan mereka dalam bidang etik. Posisi atau identitas moral perawat yamg disebut “etik perawatan”. Etik perawatan dihubungkan dengan hubungan antar masyarakat dan dengan karakter perawat terhadap orang lain. 1. Dasar Untuk Pertimbangan Etis. “melakukan etik” meliputi berpartisipasi dalam proses pemikiran kritis mengenai apa yang benar dan salah, baik dan buruk atau seringkali berfikir mengenai situasi dimana seseorang memiliki lebih dari satu tindakan yang “benar”. Tindakan itu merupakan sebuah proses yang terjadi dalam berbagai interaksi klien-perawat. 2. Prinsip Etis. Ketika mengambil keputusan etis, perawat seringkali mengandalkan pertimbangan mereka dengan menggunakan kedua konsekwensi dan prinsip dan kewajiban moral yang unifersal. Hal yang paling fundamental dari prinsip ini adalah penghargaan atas sesama.
  5. 5. a. Prinsip – prinsip Legal dalam Praktik Keperawatan 1. Menghormati hak pasien 2. Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani 3. Menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku 4. Memberikan informasi 5. Meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan 6. Melakukan catatan perawatan dengan baikb. Kode Etik Keperawatan  Otonomi(Autonomy) Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap kompeten dan memiliki kekuatan membuat sendiri, memilih dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang harus dihargai oleh orang lain. Prinsip otonomi merupakan bentuk respek terhadap seseorang, atau dipandang sebagai persetujuan tidak memaksa dan bertindak secara rasional. Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri. Praktek profesional merefleksikan otonomi saat perawat menghargai hak-hak klien dalam membuat keputusan tentang perawatan dirinya.  Beneficience ( Berbuat Baik ) Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan, memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain. Terkadang, dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik antara prinsip ini dengan otonomi.  Justice ( Keadilan ) Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang lain yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan
  6. 6. kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan dalam prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan. Non Maleficiance ( Tidak Merugikan ) Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien. Non maleficienci memberikan standar minimum dimana praktsi selalu memegangnya. Dalam situasi klinis, sering sulit untuk menggambarkan garis antara bahaya yang tidak berarti dan melakukan yang baik. Dalam menentukan hal baik dalam situasi perawatan kesehatan kita harus memperhitungkan resiko dan maslahat dalam setiap kasus. Moral right Posisi perawat yang mempunyai jam kerja 8 sampai 10 atau 12 jam memungkinkannya mempunyai banyak waktu untuk mengadakan hubungan baik dan mengetahui keunikan klien sebagai manusia holistik sehingga berposisi sebagai pendamping klien (curtin, 1986). Pada dasarnya, peran perawat sebagai pendamping klien adalah memberi informasi dan memberi bantuan kepada klien atas keputusan apa pun yang di buat kilen, memberi informasi berarti menyediakan informasi atau penjelasan sesuai yang dibutuhkan klien Nilai dan norma masyarakat Pandangan masyarakat terhadap institusi kesehatan sangat memprihatinkan,karena mereka tidak mampu dibidang ekonomi,selain itu terbatasnya juga jamkesmas yang belum masuk ke seluruh pelosok desa. Kejujuran ( Fidelity ) Kewajiban untuk mengungkapkan kebenaran. Prinsip mengatakan yang sebenarnya ( kejujuran ) mengarahkan praktisi untuk menghindari melakukan kebohongan pada klien atau menipu mereka. Kejujuran tidak hanya berimplikasi bahwa perawat harus berkata jujur,
  7. 7. namun juga membutuhkan adanya sikap positif dalam memberikan imformasi yang berhubungan dengan situasi klien. Kadang hal ini dapat menimbulkan masalah bagi perawat dan menekankan pentingnya penghargaan atau pendekatan kelompok bagi perawat kesehatan. Dalam prinsip kejujuran, pengajaran dan perlindungan klien dalam situasi ini harus dilakukan dengan menggunakan pendekatan kelompok. Hal- hal yang diidentifikasi oleh perawat harus diajukan dalam diskusi oleh klien dan tim perawatan kesehatan. Kerahasiaan( Veracity ) Kerahasiaan adalah prinsip etika dasar yang menjamin kemandirian klien. Perawat menghindari pembicaraan mengenai kondisi klien dengan siapapun yang tidak secara langsung terlibat dalam perawatan klien. Konflik kewajiban mungkin akan muncul ketika seoarnag klien memilih untuk merahasiakan informasi tertentu yang dapat membahayakan klien atau orang lain. Prinsip kejujuran mengarahkan perawat dalam mendorong klien untuk berbagi informasi mengenai penyakit mereka. Prinsip kerahasiaan membantu perawat memahami implikasi serius dari pemberian informasi rahasia dan keinginan klien yang kompeten. Kesetiaan Prinsip kesetiaan menyatakan bahwa perawat harus memegang janji yang dibuatnya, rasa percaya yang snagat penting dalam hubungan perawat-klien akan terbentuk. Ketika klien dan keluarga tidak dapat bergantung pada perawat untuk menjalankan perjanjian tersebut, mereka berada pada resiko. Avoid Killing Prinsip avoiding killing menekankan perawat untuk menghargai kehidupan manusia (pasien), tidak membunuh atau mengakhiri kehidupan. Thomhson ( 2000 : 113) menjelasakan tentang masalah avoiding killing sama dengan Euthanasia yang kata lainya
  8. 8. tindak menentukan hidup atau mati yaitu istilah yang digunakan pada dua kondisi yaitu hidup dengan baik atau meninggal Ketika menghadapi pasien dengan kondisi gawat maka seorang perawat harus mempertahankan kehidupan pasien dengan berbagai cara. Tetapi menurut Chiun dan Jacobs (1997 : 40) perawat harus menerapkan etika atau prinsip moral terhadap pasien pada kondisi tertentu misalnya pada pasien koma yang lama yaitu prinsip avoiding killing. Pasien dan keluarga mempunyai hak-hak menentukan hidup atau mati. Sehingga perawat dalam mengambil keputusan masalah etik ini harus melihat prinsip moral yang lain yaitu beneficience, nonmaleficience dan otonomy yaitu melakukan yang terbaik, tidak membahayakan dan menghargai pilihan pasien serta keluarga untuk hidup atau mati. Mati disini bukan berarti membunuh pasien tetapi menghentikan perawatan dan pengobatan dengan melihat kondisi pasien dengan pertimbangan beberapa prinsip moral diatas. Mengenai hak hidup islam menjelaskan “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya melainkan dengan suatu alasan yang benar”2.2 Hukum Keperawatan A. Aspek dalam keperawatan Hukum adalah kumpulan peraturan yang berisi kaidah-kaidah hukum, sedangkan etika adalah kumpulan peraturan yang berisi kaidah-kaidah non hukum, yaitu kaidah-kaidah tingkah laku (etika) (Supriadi, 2001). Hukum adalah ” A binding custom or practice of acommunity: a rule of conduct or action, prescribed or fomally recognized as binding or enforced by a controlling authority “ (Webster’s, 2003). Banyak sekali definisi-definisi yang berkaitan dengan hukum, tetapi yang penting adalah hukum itu sifatnya rasionalogic, sedangkan tentang hukum dalam
  9. 9. keperawatan adalah kumpulan peraturan yang berisi kaidah-kaidah hukumkeperawatan yang rasionalogic dan dapat dipertanggung jawabkan. Fungsi hukum dalam keperawatan, sebagai berikut: a. Memberi kerangka kerja untuk menetapkan kegiatan praktek perawatan apa yang legal dalam merawat pasien. b. Membedakan tanggung jawab perawat dari profesi kesehatan lain c. Membantu menetapkan batasan yang independen tentang kegiatan keperawatan d. Membantu mempertahankan standar praktek keperawatan dengan membuat perawat akuntabilitas dibawah hukum yang berlaku Dasar hukum perundang-undangan praktek keperawatan. Beberapa perundang-undangan yang melindungi bagi pelaku dan penerima praktek keperawatan yang ada di Indonesia, adalah sebagai berikut: a. Undang – undang No.23 tahun 1992 tentang kesehatan, bagian kesembilan pasal 32 (penyembuhan penyakit dan pemulihan) b. Undang – undang No.8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen c. Peraturan menteri kesehatan No.159b/Men.Kes/II/1998 tentang Rumah Sakit d. Peraturan Menkes No.660/MenKes/SK/IX/1987 yang dilengkapi surat ederan Direktur Jendral Pelayanan Medik No.105/Yan.Med/RS.Umdik/Raw/I/88 tentang penerapan standard praktek keperawatan bagi perawat kesehatan di Rumah Sakit. e. Kepmenkes No.647/SK/IV/2000 tentang registrasi dan praktik perawat dan direvisi dengan SK Kepmenkes No.1239/Menkes/SK/XI/2001 tentang registrasi dan praktik perawat. f. Pasal 23 Undang-undang Nomor 23 Tahun1992 tentang Kesehatan telah menetapkan bahwa: “Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya. g. Pemerintah mengundangkan Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999. Satu diantara ketentuannya adalah
  10. 10. bahwa: Pasien sebagaikonsumen pelayanan jasa kesehatan, berhak atas keamanan, kenyamanan, dan keselamatan, informasi yang benar, jelas, dan jujur serta menuntut ganti rugi apabila dokter atau tenaga kesehatan lainnya selama melakukan pelayanan kesehatan ternyata melakukan kesalahan atau kelalaian yang merugikan pasien.h. Dalam Pasal 24 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1996, yang dimaksud dengan perlindungan hukum adalah bentuk-bentuk perlindungan yang antara lain berupa: rasa aman dalam melaksanakan tugas profesinya, perlindungan terhadap keadaan membahayakan yang dapat mengancam keselamatan fisik atau jiwa, baik karena alam maupun perbuatan manusia.” Perlindungan hukum akan senantiasa diberikan kepada pelaku profesi apa pun sepanjang pelaku profesi tersebut bekerja dengan mengikuti prosedur baku sebagaimana tuntutan bidang ilmunya, sesuai dengan etika serta moral yang hidup dan berlaku dalam masyarakat.i. ketentuan Pasal 1365 BW (Burgerlijk Wetboek), atau Kitab Undang- undang Hukum Perdata. Apabila tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya melakukan tindakan yang mengakibatkan kerugian pada pasien, maka tenaga kesehatan tersebut dapat digugat oleh pasien atau keluarganya yang merasa dirugikan itu berdasarkan ketentuan Pasal 1365 BW, yang bunyinya sebagai berikut: “Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian yang disebabkan kelalaian atau kurang hati-hati.”j. Tanggung jawab dari segi hukum administratif, tenaga kesehatan dapat dikenai sanksi berupa pencabutan surat izin praktik apabila melakukan tindakan medik tanpa adanya persetujuan dari pasien atau keluarganya. Tindakan administratif juga dapat dikenakan apabila seorang tenaga kesehatan: 1. Melalaikan kewajiban; 2. Melakukan sesuatu hal yang seharusnya tidak boleh diperbuat oleh seorang tenaga kesehatan, baikmengingat sumpah jabatannya maupun mengingat sumpah sebagai tenaga kesehatan;
  11. 11. 3. Mengabaikan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh tenaga kesehatan; 4. Melanggar suatu ketentuan menurut atau berdasarkan undang- undang. Perlindungan hukum baik bagi pelaku dan penerima praktek keperawatanmemiliki akuntabilitas terhadap keputusan dan tindakannya. Dalam menjalankantugas sehari-hari tidak menutup kemungkinan perawat berbuat kesalahan baiksengaja maupun tidak sengaja. Oleh karena itu dalam menjalankan prakteknyasecara hukum perawat harus memperhatikan baik aspek moral atau etikkeperawatan dan juga aspek hukum yang berlaku di Indonesia. Fry (1990)menyatakan bahwa akuntabilitas mengandung dua komponen utama, yaknitanggung jawab dan tanggung gugat. Hal ini berarti tindakan yang dilakukanperawat dilihat dari praktik keperawatan, kode etik dan undang-undang dapatdibenarkan atau absah (Priharjo, 1995).
  12. 12. BAB III PEMBAHASAN KASUS3.1 Kasus Di sebuah Rumah Sakit ada pasangan yang memiliki bayi dengan gangguan jantung. Bayi mengalami TF, suami pasien meminta kepada tenaga kesehatan ( dokter/perawat ) di Rumah Sakit tersebut untuk tidak memberitahukan keadaan bayinya pada istrinya. Dokter dan perawat merasa memiliki kewajiban memberitahukan keadaan bayi pada ibu demi perkembangan bayi. Bagaimana menyelesaikan dilema etis yang dialami oleh perawat tersebut sesuai tahap pengambilan keputusan etik dan hukum3.2 Identifikasi Kasus A. Analisa Kasus  Identifikasi dan Pengembangan data dasar Mengidentifikasi dan mengembangkan data dasar yang terkait dengan kasus dilema etis yang dialami perawat. Tindakan yang akan dilakukan adalah bahwa perawat harus tetap memberitahukan kepada ibu pasien tentang apa yang terjadi pada anaknya karena hal tersebut sudah menjadi kewajiban seorang perawat. Dengan kata lain sebelum memberitahukan kepada ibu pasien, perawat harus memberikan konseling/pengertian terlebih dahulu kepada ayah pasien bahwa hal tersebut harus dilakukan demi kebaikan bayi itu sendiri.  Identifikasi Munculnya Konflik Ibu pasien belum mengetahui keadaan sebenarnya yang terjadi pada anaknya. Dikarenakan sang ayah tidak memberitahukan pada istri dan juga tidak membolehkan perawat atau dokter memberitahukan keadaan yang sebenarnya kepada ibu pasien. Dan hal terebut dam menghambat perkemabangan dari si bayi tersebut.  Menentukan Tindakan Alternatif yang Direncanakan Adapun tindakan alternatif yang dilakukan oleh perawat adalah memberikan konseling kepada ayah pasien bahwa dengan memberitahukan informasi tentang kesehatan anaknya kepada istrinya dapat membantu dalam
  13. 13. penyembuhan atau perkembangan si bayi itu sendiri,dan itu juga demi kebaikan sang bayi. Menentukan Siapa Penganbil Keputusan Pada kasus ini yang akan dilakukan pihak yang berwenang dalam pengambilan sebuah keputusan adalah sang ayah pasien untuk tetap memberitahukan keadaan bayinya kepada istrinya, dengan bantuan perawat yang memberitahukan bahwa hal tersebut demi kebaikan sang bayi yang mengalami gangguan jantung, karena hal tersebut demi perkembangan bayinya sen diri. Menjelaskan Kewajiban Perawat Kewajiban perawat yang harus dilakukan adalah meyakinkan pada klien atas tindakan yang akan dilakukan adalah tindakan yang sudah dipikirkan secara matang oleh klien, demi kesembuhan bayinya. Mengambil Keputusan yang Tepat Pengambilan keputusan pada kasus ini memiliki keuntungan kepada klien. Perawat dan dokter perlu mempertimbangkan pendekatan yang paling tepat dan menguntungkan untuk klien. Karena jika sang ibu mengetahui keadaan bayinya yang sebenarnya dapat memberikan kebaikan pada bayinya demi perkembangan si bayi. Namun sebelum keputusan tersebut diambil perlu diupayakan alternatif tibdakab yaitu merawat klien sesuai kewenangn dan kewajiban perawat.
  14. 14. BAB IV PENUTUP4.1 Kesimpulan Perawat merupakan seorang profesional dewasa yang mampu secara aktif berpartisipasi dalam dimensi etik praktik mereka, seorang perawat harus terus mengembangkan suatu perasaan yang kuat tentang identitas moral mereka, mencari dukungan dari sumber professional, dan mengembangkan pengetahuan serta kemampuan mereka dalam bidang etik. Posisi atau identitas moral perawat yamg disebut “etik perawatan”. Etik perawatan dihubungkan dengan hubungan antar masyarakat dan dengan karakter perawat terhadap orang lain. Perawat juga diharuskan dapat mengambil keputusan etik yang baik pada saat mengalami dilema dalam berbagai kasus yang ditemui.4.2 Saran Setelah memperoleh kesimpulan tentang Masalah Etik dan Hukum Keperawatan terhadap Sebuah Kasus maka penyusun dapat mengemukakan saran sebagai berikut : 1. Bagi Pembaca Diharapkan penyusunan ini memberi masukan dan dapat diaplikasikan di kehidupan dan membaca serta dapat memahami. 2. Bagi Institusi Pendidikan Diharapkan penyusunan ini dapat digunakan sebagai data dasar untuk melakukan pembuatan makalah selanjutnya

×