Bab 5 perang yang tak tuntas

4,314 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
4,314
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
21
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Bab 5 perang yang tak tuntas

  1. 1. Diambil dari, Leonard Andaya, Warisan Arung Palakka, Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke 17, Ininnawa2004 (terj. Nurhady Sirimorok dari The Heritage of Arung Palakka, A History of South Sulawesi (Celebes)in the Seventeenth Century, Martinus Nijhoff, The Hague, 1981).Bab 5Perang yang Tak TuntasSaat penandatanganan perjanjian Bungaya tanggal 18 November 1667, Speelmanmengungkapkan kekhawatirannya akan kemanjuran dokumen ini untukmempertahankan perdamaian: “…. Kepercayaan pemerintah Makassar terhadap kamimasih sedikit sekali; seakan kita masih dalam keadaan perang, meski di luar merekaterlihat ramah dan baik” (Stapel 1922:191). Ketika salinan perjanjian dalam bahasaMelayu diperlihatkan kepada Sultan Banten, dia mengungkapkan bahwa orang diMakassar telah menjanjikan sesuatu yang tidak dapat dan ingin mereka penuhi(Macleod 1900:1290). Penunjukan Karaeng Karunrung menggantikan KaraengSumanna sebagai Tuma’bicara-butta kira-kira tiga hari sebelum perundingan diBungaya mengisyaratkan apa yang akan terjadi kemudian. Karaeng Karunrung digambarkan oleh Speelman sebagai “seorang yang tidakdapat dipercaya, musuh lama Kompeni, angkuh dan agresif …..” Karena itu Speelmanbersikap pura-pura terhadap tudingan Karaeng Karunrung kepada Arung Palakkabahwa dia tidak disukai lagi oleh Sultan Hasanuddin (KA 1157a:330v). Dan kejadian-kejadian di kemudian hari membuktikan terjadinya keretakan besar di istana Goa, inidiiringi dengan meluncurnya tuduhan dan balasannya dari faksi yang pro dan kontraperang setelah berakhirnya perang. Meski demikian, kekalahan Goa yang dulunyasangat kuat, membawa sesuatu yang positif: menyatukan kedua faksi dalamkemarahan dan keputusasaan atas perampokan terhadap negeri mereka. Kekuasaanmereka diruntuhkan, dan mereka tidak punya kekuatan untuk mencegah tahananyang baru saja bebas, bergabung dengan tentara Bugis, Turatea, Butung dan Ternateuntuk melakukan penjarahan besar-besaran (KA 1157a: 327v ,330r ,339v). Dalamkemarahan, para pemimpin Goa menyaksikan pengambilalihan wilayah-wilayah yangsecara tradisional selalu menjadi bagian kekuasaan Makassar. Benteng UjungPandang diserahkan kepada Belanda, begitu pula Galesong, pantai barat dari Popo diselatan hingga Barombong di utara, serta Bantaeng dengan seluruh sawahnya yangsubur (KA 1157a:340r). Bahkan harapan bahwa Belanda akan pergi setelah perjanjianditandatangani harus terkubur oleh penempatan permanen Belanda di BentengUjung Pandang.
  2. 2. Meski kesuraman menyelimuti pemerintahan Goa, Karaeng Karunrungmenolak menerima keadaan itu dan mulai membentuk kembali ikatan dengan seluruhsekutu Goa pada masa perang. Pendukung utama Goa adalah selalu orang MelayuMakassar yang penghidupannya kini terancam oleh kehadiran Belanda di Makassar.Seruan juga disampaikan langsung kepada rakyat Bangkala dan Layo, yangpenguasanya bergabung dengan Arung Palakka dan Kompeni selama perang, kepadapenguasa lain di Turatea, penguasa Bantaeng, Bulukumba, “Badjiuy” (?), dan Luwu.Di luar Sulawesi, kerajaan Bima dan Sumbawa memperlihatkan bahwa mereka sangatsenang bersekutu dengan Goa. Bahkan Arumpone La Ma’darĕmmĕng telah dijanjibahwa jika Bone membantu Goa, maka statusnya akan diangkat menjadi “saudara”Goa. Kompeni dan Arung Palakka mencurigai La Ma’darĕmmĕng berencana untukmembuat deklarasi demi mendukung siapa saja hingga dia yakin akan arahperkembangan perang ini (KA 1157b: 359r-360v; KA 1157c:387r-v; KA 1157d:397r;Macleod 1900:1291). Kompeni dan Arung Palakka sama-sama yakin bahwa perang akan terjadilagi. Sebaliknya, mereka telah tersemangati oleh tawaran Karaeng Tallo dan KaraengLengkese yang memperlihatkan perpecahan besar di kubu musuh (KA 1157a:332r;KA 1157b:359r, 360r). Dengan melihat perkembangan ini, Speelman merasa “lebihbaik memulai [peperangan] daripada menjaga perdamaian yang telah dengan bejatdilanggar oleh tindakan jahat dan akal bulus [Karaeng Karunrung] (KA1157b:359r). Malam tanggal 13 April 1668, tempat penginapan orang Inggrisdibakar dan kapal-kapal Belanda mulai menggempur Sombaopu. Pada saatbersamaan, Arung Palakka memimpin pasukan Bugis menyerang Kampung Melayuyang terletak antara Sombaopu dan Benteng Rotterdam. Pada babak awalpeperangan ini, pasukan Bugis memperlihatkan hal yang tidak biasa, kurangnyakeberanian, yang hampir dibayar dengan nyawa Arung Palakka. Ketika dia mencobamencari jalan di bawah lindungan kegelapan malam, cahaya dari rumah yangterbakar membuat dia terlihat oleh musuh dan tangannya tertembak. Dia terjatuhdan ditinggalkan oleh orang-orangnya kecuali para pengawalnya yang membawanyalari hingga selamat (KA 1157b:362v; Macleod 1900:1291). Terjadi beberapa lagi peperangan di bulan April yang dinyatakan olehBelanda sebagai kemenangan mereka, namun kenyataannya hanya ada jalan buntu.Pasukan Makassar mulai membangun perbentengan di dekat Benteng Rotterdam,dan Speelman harus menjaga pasukan Belanda yang kini berkurang hingga hanya503 orang, dan 175 di antaranya tidak berdaya karena penyakit atau terluka. Merekaharus diamankan di dalam benteng hingga bantuan tambahan pasukan 500 orang tibadari Batavia (Macleod 1900:1291). Di utara Makassar, pasukan Bugis dan Makassartetap berperang meski pertempuran ini tidak menentukan. Tanggal 4 Mei, beberapapasukan Makassar melesat keluar dan menyerang dengan ganas ke perkemahanBugis dan Belanda. Pertempuran berlangsung sepanjang hari dan malam denganpasukan Makassar yang terus mendapat tambahan pasukan dari belakang. Akhirnya
  3. 3. penyerangan itu mengendor dengan pihak Makassar kehilangan empat puluh orangdan terluka seratus orang. Sementara pihak Belanda kehilangan satu orang dan limaterluka, dan Bugis dengan tiga orang tewas serta empat puluh lima terluka. Setelahpertempuran ini, tidak terjadi apa-apa hingga empat atau lima hari (KA 1157e:373v). Bagi Belanda, yang lebih penting ketimbang pertempuran seperti itu adalahpemboman terhadap posisi musuh dan memblokade pelabuhan Makassar. Persediaanberas dan garam Goa terkena pengaruh, dan tidak ada ikan yang ditangkap karenatidak ada nelayan yang berani berlayar. Hanya daging kerbau yang tersedia. PihakBelanda dan Arung Palakka tahu bahwa Sombaopu akan dijejali penduduk, termasukwanita, anak-anak, orang Portugis, dan blokade serta pemboman yang merekalancarkan akan menyebabkan malapetaka bagi mereka. Kediaman Sultan dan mesjidmasing-masing berlubang oleh bola meriam yang ditembakkan dari meriam kapal(KA 1157e:374r). Sebuah kisah dari Makassar, Sinrili’na Kappala’ Tallumbatua (SKT),memberi penggambaran tentang blokade dan gempuran meriam yang mungkinmencerminkan ingatan rakyat akan kejadian ini.1 Kisah ini menekankan bagaimanabola meriam tidak hentinya menghujani kedudukan pasukan Makassar danbagaimana persediaan makanan merosot dengan cepat. Akhirnya, keadaan menjadiamat genting sehingga para pasukan menyatakan: “Lebih baik mati berdarahdaripada mati kelaparan” (L-32:145). Gambaran yang dihadirkan adalah tinggalsedikit sawah yang ditanami, kapal nelayan tidak dapat lagi ke laut, dan akhirnyakelaparan dirasakan oleh pasukan Makassar. Inilah alasan utama, menurut SKT,kekalahan orang Makassar (L-32:144-5, passim). Dalam perang ini Speelman bergantung sepenuhnya pada tentara pribumi,khususnya Bugis, dan hanya menugaskan dua puluh tiga Belanda untuk berperangbersama Arung Palakka. Untuk melindungi Arung Palakka seratus tentara terlatihdari Ternate dilengkapi dengan senjata juga ditugaskan mengiringi di semuapeperangan (Ka 1157e:381v). Karena orang Bugis percaya bahwa Arung Palakkamempunyai upĕ’, Speelman menganggap keselamatan Arung Palakka sangat pentinguntuk menjaga efektifitas keikutsertaan pasukan Bugis dalam perang ini. Perilakunyayang tidak takut bahaya dalam pertempuran, meski dianggap konyol oleh Belanda,semakin menonjolkan “kedigdayaan” yang dia miliki di mata pengikutnya. Dalamperang sengit selama dua jam pada tanggal 17 Mei 1668 antara pasukan Bugis danMakassar, Arung Palakka masuk ke dalam kancah pertempuran, yang lagi-lagimengundang kritikan Speelman bahwa dia memperlihatkan dirinya pada saat yangsebenarnya tidak perlu. Namun, Speelman mengakui bahwa kehadiran ArungPalakka di tengah-tengah peperangan sangat memompa keberanian pasukan Bugis(KA 1157f:381r). Legenda telah menyebar tentang Arung Palakka, dan sepanjang diaselalu ada bersama pasukan Bugis, dalam keadaan tidak awas dan kebal terhadapsenjata dan keris musuh, pasukan Bugis percaya bahwa mereka tidak akan kalah. Diadihormati melebihi pemimpin Bugis lainnya karena dukungannya terhadap Kompenidan keberanian yang jauh melebihi pemimpin Bugis lainnya (KA 1157f:386v).2
  4. 4. Meski dengan keberadaan Arung Palakka, kinerja pasukan Bugis di kancahpeperangan cukup menguras kesabaran Speelman. Tidak seperti pujian yang diacurahkan kepada pasukan Bugis dalam peperangan sebelum Perjanjian Bungaya,waktu itu dia menulis ke Batavia bahwa “kami tidak menganggap baik atau percayajika pasukan Bugis diberi tugas untuk bertindak tanpa dukungan Belanda”. Dalammenjelaskan pertempuran dua jam antara Bugis dan Makassar di pertengahan Mei,Speelman tetap mengakui keberanian Arung Palakka, meski tidak setuju ArungPalakka mengambil resiko yang sia-sia. Dia mengakui keberanian Arung Palakkadapat memompa keberanian pasukan Bugis, “yang, sayang sekali, sangat kecil” (KA1157c:381r). Kritik terhadap kontribusi pasukan Bugis ini terlihat dalam keputusanSpeelman meminta Sultan Butung mengirim 800 hingga 1000 pekerja secepatnyakarena “tidak ada pekerjaan yang bisa diharap dari orang Bugis” (KA 1157c:338v,391r). “Orang Bugis” yang dirujuk Speelman adalah campuran, sering merupakantentara yang tidak disiplin yang keinginannya terhadap hasil perang bertolakbelakang dengan niat Arung Palakka dan Toangke. Selama Arung Palakka dan paraletnan-nya memimpin pertempuran, keseragaman perintah dapat dipertahankan.Namun, di hampir seluruh kesempatan, setelah pertempuran pasukan Bugismelakukan tindakan pribadi dengan melakukan penjarahan dan pelecehan terhadaporang Makassar. Penggarongan yang tidak menaruh belas kasihan ini dilihat olehpenduduk Makassar sebagai sebuah keadaan yang menanti mereka jika mereka kalahdalam perang ini. Maka mereka semakin yakin untuk melawan. Benteng Sombaopudan Tallo diperkokoh dan pasukan Tallo diperkuat oleh tambahan 100 tentaraMakassar dan 300 pejuang Wajo (KA 1157c:392r). Perang mengalami titik balik tak terduga ketika timbul epidemik di Makassarantara April dan Juli 1668. Sementara sumber Belanda yang muncul kemudianmelaporkan sebuah “epidemik demam yang menakutkan” (Macleod 1900:1292),Catatan Harian Kerajaan Goa dan Tallo (Ligtvoet 1880:127) dan sumber Belandasezaman (KA 1157g:431r-v) menyebut dengan jelas adanya sebuah “bencana”.Penyakit itu meminta banyak korban khususnya pasukan Belanda yang memangdalam keadaan lemah. Pada bulan Mei 100 orang Belanda mati, pada bulan Juni danJuli, masing-masing 125 dan 135 orang. Speelman sendiri terserang demam, namundia sembuh dengan menghindari epidemik itu di laut. Pasukan Bugis yang ada diMakassar juga terjangkit, sekitar 2.000 dari 4.000 tentara menderita sakit berat padaakhir bulan Juli. Orang Makassar sendiri, juga tidak terhindar dari serangan wabahini. Di Sombaopu, Belanda menghitung tujuh puluh tiga orang yang dikubur dalamsehari, dan di Tallo jumlah orang meninggal adalah dua puluh per hari. Namun padatanggal 16 Juli, tidak ada lagi orang Belanda yang jatuh sakit, dan dirasa epidemik itutelah berakhir (Macleod 1900:1292-3; KA 1157h:424r). Penyakit ini melemahkan kedua kubu, pertempuran pun dibatasi pada bulanMei dan Juni hingga hanya terjadi beberapa pertempuran kecil di sawah. Namunpertentangan di dalam istana Goa antara faksi “perang” dan faksi “damai” terusberlanjut, meski epidemik juga terus berlangsung. Tanggal 25 Mei, seorang kurir
  5. 5. dengan rombongan berjumlah dua belas orang tiba di perkubuan Belanda dengansebuah pasar untuk Arung Palakka dari tuan mereka, Karaeng Lengkese. Surat ituditulis atas nama Karaeng Tallo:… Saya tidak melakukan tindakan buruk terhadap Laksamana [Speelman], saya juga tidakdisakiti oleh dia. Saya tidak bisa menahan Karaeng Popo [yaitu; supaya tidak terlibat dalamperang] karena saya tidak punya kekuatan. Namun kita bersaudara, karena telah adapersaudaraan selama bertahun-tahun antara negeri Bone dan Makassar, marilah kita semuamengesampingkan kebencian dan hidup sekali lagi sebagai saudara (KA 1157c:385v). Karaeng Lengkese merumuskan pesan ini dengan cara tradisional SulawesiSelatan dalam mencari pemulihan hubungan dan “pembaharuan” ikatan perjanjianyang telah ada, sebagai “saudara”. Sebagai ipar Arung Palakka, keberpihakanKaraeng Lengkese terhadap perdamaian telah dapat diduga kalangan istana Goa. Diaakhirnya meninggalkan Goa dan mencari perlindungan Karaeng Tallo (1157h:409v).Meski ikatan antara Goa dan Tallo amat dekat dan dapat disebut sebagai kerajaankembar, masih terdapat dua pusat kekuasaan baik secara prinsip maupun secaraalami: yang satu dipegang Karaeng Goa dan yang lain dipegang Karaeng Tallo. Arung Palakka membicarakan perihal ini kepada para bangsawannya dankemudian mengirimkan balasan kepada Karaeng Lengkese. Mereka akan sangatsenang jika tercipta perdamaian dan ketenangan di dalam negeri. Sedangkanmengenai perjanjian antara Bone dan Goa, itu telah dilanggar dan “dilupakan” olehkedua pihak. Namun jika mereka dengan setia mempertahankan perjanjian yang baruditandatangani di Bungaya, maka tidak ada lagi masalah di kedua pihak (KA1157c:386r). Balasan ini juga dikemas dengan cara tradisional dan memperjelashubungan Bone dan Goa. Bahwa mereka tidak boleh menimpakan kesalahan kepadasalah satu kerajaan, namun kedua kerajaan secara bersama telah “melanggar” dan“melupakan” perjanjian. Dalam hal ini, pelanggaran perjanjian adalah keputusanbersama, karena itu mereka harus menghindari saling tuding dan ganti rugi spiritualyang biasa mengikuti sebuah perjanjian yang “terlanggar”. Sebagai ganti perjanjianterdahulu, mereka menyerukan kepada para penguasa Makassar untuk menggunakanperjanjian Bungaya dengan cara yang sama ketika menggunakan perjanjian-perjanjian terdahulu di Sulawesi Selatan. Ketika Arung Palakka membawa surat Karaeng Lengkese ke Speelman, diasegera mencurigai adanya rencana Karaeng Karunrung untuk memecah belah ArungPalakka dan Belanda (KA 1157c:386r). Speelman tidak menghiraukan, ataumeragukan, desas-desus tentang pertemuan rahasia antara bangsawan Makassartertentu dengan Arung Palakka selama perang. Dia memang melaporkan seluruhpembicaraan faksi-faksi dan pertentangan kekuasaan di istana Goa, namunkelihatannya dia tidak memperhatikan kemungkinan salah satu faksi itu secara diam-diam mendekati Arung Palakka. Sementara itu, kepahitan semakin dirasakan di istanaGoa setiap kali mereka menelan kekalahan di medan pertempuran, dan ini semakin
  6. 6. mempertegang hubungan antar faksi. Dalam keadaan damai perbedaan pendapatdapat diberi toleransi, namun dalam perang perbedaan pendapat seperti ini dapatmenyebabkan kecurigaan bahkan konflik terbuka. Ketegangan di istana Goa semakintidak dapat ditolerir sehingga faksi yang berada di bawah pimpinan Karaeng Tallomemutuskan untuk mendekati Arung Palakka secara langsung dengan harapan dapatsegera mengakhiri perang sebelum kerajaan-kerajaan Makassar hancur lebur dantidak dapat diperbaiki lagi. Niat damai Karaeng Tallo kemudian ditegaskan olehsaudara perempuannya, isteri Kaicili’ Kalimata. Dia memberitahu pihak Belandabahwa pada tanggal 14 Juni Sultan Hasanuddin dan Karaeng Karunrung datanglangsung untuk berunding dengan Karaeng Tallo demi berdamai dengan Kompeni.Menurut catatannya, Karaeng Tallo memberitahu mereka bahwa dia menginginkantercipta lagi perdamaian di negeri ini. Kemudian Sultan Hasanuddin dilaporkanmengatakan bahwa bila hubungan dengan Kompeni hendak dipulihkan, diamenginginkan itu dilakukan secara diam-diam dan tak dilanggar (KA 1157d:398v-399r). Namun, kesepakatan tidak tercapai oleh kedua faksi, maka Karaeng Tallo,Lengkese, dan Agangnionjo (Tanete) kemudian mengumumkan sikap netral merekaterhadap perang. Takut akan pembalasan dendam, Karaeng Tallo memintaperlindungan Belanda yang kemudian datang dalam bentuk lima pengawal pribadiberkebangsaan Eropa dan enam puluh tentara Ternate serta dua kapal untukmenjaga muara sungai Tallo (Macleod 1900:1291). Semangat pasukan Bugis-Belanda terpompa kembali oleh datangnya kabarbahwa tambahan pasukan telah dikirim dari Batavia dan tibanya sekutu Bone yangtelah lama dinanti-nanti di Segeri. Pasukan Bone telah membakar Segeri, yang tetapsetia kepada Goa, membunuh 100 pengawal dan membawa 40 tawanan. Tosa’dĕng,putra Datu Soppeng, dikirim bersama 230 orang kepercayaannya, 210 di antaranyadipersenjatai senapan laras panjang (musket), timah dan mesiu, dengan kapal Belandauntuk bergabung bersama pasukan Bone ini. Tiga hari sebelum mereka tiba, Goamengirim bantuan pasukan ke Segeri dan membakar Lipukasi. Kapal yang membawapasukan Bone mundur karena takut beberapa wilayah yang telah direbut kembalimembantu Goa. Dengan datangnya Tosa’dĕng dan tambahan pasukan Bugis yangtepat waktu, beberapa daerah yang berada dalam keadaan bimbang kembalibergabung dengan pasukan Bugis meski masih ada pasukan Makassar dengan 100penembak bersenapan. Walaupun Karaeng Tanete berpihak pada Arung Palakka,putranya bergabung dengan Goa dengan sepengetahuan ayahnya dan mungkin sekaliatas restunya.3 Ketika kapal Belanda pulang ke Makassar, mereka membawa pesan dariTosa’dĕng bahwa tanggal 20 Juni sekutu mereka telah menguasai tiga bentengMakassar dibawah Karaeng Paranggi dan mengambil enam puluh kepala. Merekakini berencana untuk menyeberangi pegunungan untuk menyerang Bulo-Bulo.Setelah kemenangan itu, Karaeng Tanete menghadiahi Tosa’dĕng tiga puluh tael atau980 mas emas yang dikirim untuknya dari Sultan Hasanuddin untuk memperoleh
  7. 7. kesetiaan. Ketakutan terhadap pasukan Bugis semakin meyakinkannya untukmenolak pemberian ini dan menghadiahkannya pada Tosa’dĕng. Goa kini mendekatisekutunya yang semakin menjauh dengan kekayaan, karena tidak bisa lagi dengankekerasan, ini juga terlihat di Selayar. Beberapa armada Makassar dikirim ke pulauitu dengan membawa hadiah dan janji-janji kepada para penguasa Selayar untukmencegah mereka bergabung dengan pasukan Bugis dan Belanda (KA 1157d:398r;Macleod 1900:1293). Namun keunggulan Bugis-Belanda yang telah terlihat lebihmeyakinkan para penguasa Selayar bahwa Goa tidak lagi mempunyai pendukungmiliter, politik dan spiritual untuk mempertahankan supremasi di Sulawesi Selatan.Terlihat tanda-tanda kemerosotannya, dan banyak kerajaan mulai menyesuaikankedudukan mereka dalam hierarki antar-negara di wilayah ini mengingat munculnyakekuatan baru ini. Tibanya pasukan Bone dengan kemenangan di Segeri, dekat sekali dariperbatasan Goa, mempengaruhi pemerintah Goa. Atas permintaan mereka,ditetapkan sebuah gencatan senjata selama tiga hari pada tanggal 14 Juli 1668sehingga Goa dapat berunding dengan sekutu-sekutunya tentang pemilihan jalandamai. Ketika batas waktu tiba, mereka kemudian meminta lagi –dan diberi lagi-perpanjangan gencatan senjata selama lima hari. Kurangnya tanda-tanda kemajuanmulai mengganggu pihak Belanda yang akhirnya memutuskan dalam konsul, padatanggal 20, menolak seluruh “dalih sembrono” Makassar untuk melanjutkan gencatansenjata dan menolak menerima surat apapun dari pemerintah Goa. Meski gencatansenjata telah dimulai dengan catatan yang menjanjikan, pihak Belanda menjadi sadarakan meningkatnya kekerasan pendirian para penguasa Goa. Speelman mendugaperubahan sikap ini kebanyakan karena pengaruh Karaeng Karunrung. Dia bahkanpercaya sebuah desas-desus bahwa Karaeng Karunrung pernah mengatakan bahwaMakassar tidak akan baik lagi sebelum orang Kristen diusir (KA 1157h:409r). Tanggal 18, dua kurir tiba dari Timurung membawa surat dari Arumpone LaMa’darĕmmĕng dan putranya Daeng Pabila. Isi surat ini memperlihatkan salah satualasan kuat mengapa Goa kembali bersikap keras. La Ma’darĕmmĕng telah mengirimdua atau tiga misi ke Arung Matoa Wajo La Tĕnrilai Tosenngĕng untuk mengakuikembali perjanjian mereka. Pendekatan ini ditolak oleh La Tĕnrilai demi memenuhipermintaan Sultan Hasanuddin yang dikirim lewat dua misi yang berbeda. Dalamsurat dari Goa itu, Sultan Hasanuddin menjelaskan bahwa tanpa bantuan Wajo,kerajaannya akan meratap. Dia menyeru Wajo agar menyerang Soppeng untukmenarik pasukan Bone dari Segeri dan daerah sekitarnya sehingga dapat melegakantekanan terhadap balatentara Goa. Menghadapi dua kekuatan yang sedang bersaing,Wajo harus mengingat kembali kewajibannya dari perjanjian dengan kedua kerajaan.La Tĕnrilai mempertimbangkan dan akhirnya memutuskan bahwa kehidupan Wajobersandar pada Goa. Meski dia memutuskan membantu Goa, dia tidak mampumencegah dua wilayah Wajo, Timurung dan Pammana, untuk bergabung denganBone (KA 1157h:415v-416r). Namun ketika pasukan Goa datang membantu Wajo,
  8. 8. Pammana kembali memulihkan persekutuannya dengan Wajo (KA 1157g:435r).Sebagian unit politik atau wanua yang lebih kuat tidak setuju dengan penilaiankerajaan tentang di mana kekuatan politik sebenarnya berada dan memutuskan untukberada dalam posisi independen untuk mempertahankan kepentingan mereka sendiri. Di samping kesetiaan Wajo terhadap Goa, Bulo-Bulo mengirim 1.000 orangke Makassar, dan Mandar menjanjikan untuk melancarkan pertempuran di utara.Kira-kira tanggal 20, sebuah kabar tiba di Makassar bahwa balatentara Mandar telahtiba dengan perahu di Parepare dan berencana membangun benteng di sana. Namunpenduduk Bugis setempat berhasil menghalangi usaha ini, maka pasukan Mandaryang terdiri dari 1.000 orang, di antaranya terdapat Karaeng Bontomarannu, pergi keLero, ujung sebuah tanjung yang menjorok di depan pantai, untuk melanjutkanserangan mereka (KA 1157h:416r-v). Misi berbahaya pasukan Mandar ini mewakili sifat sporadis pertempuran-pertempuran yang terjadi di bulan-bulan awal perang ini. Pertempuran besarpertama terjadi tanggal 5 Agustus ketika pasukan Makassar melakukan pergerakanke Tallo dan kemudian berbelok ke pertahanan Arung Palakka di Bontoala. Sekitar25 hingga 30 “bendera”, masing-masing menandai sebuah unit pemerintahan dibawah Karaeng, mengepung Bontoala dan mendirikan sebuah perkampungan diselatannya. Sepasukan pengawal terlatih yang terdiri dari 300 hingga 400 orangdatang dari Tallo menyertai pasukan Bugis dan Belanda, dan perang pun berlanjutdengan intensitas yang bervariasi hingga tengah hari. Karaeng Layomenginformasikan pada Belanda bahwa pasukan Makassar merencanakan sebuahserangan besar pada hari itu sehingga Belanda meneruskan berita ini pada ArungPalakka dengan tambahan instruksi bahwa dia tidak boleh melakukan apa-apa hinggaada instruksi selanjutnya dari Fort Rotterdam. Karena tidak mampu mentolerirkeberadaan pasukan Makassar di hutan yang begitu dekat dari Bontoala, ArungPalakka mengabaikan instruksi ini dan bersama dengan orang-orang pilihannya diabergerak untuk melakukan serangan mendadak. Pasukan Makassar tidak memberiperlawanan berarti, bahkan mundur, dan dikejar oleh Arung Palakka besertapasukannya hingga jarak sekitar setengah jam sebelum mereka kembali kebentengnya. Beberapa waktu kemudian, Arung Palakka dan orang-orangnya kembalimenyerang beberapa pasukan Makassar di tempat terbuka, tapi kali ini merekaterkepung di hutan. Dari semua arah datang tentara Makassar, termasuk beberapaunit yang telah lebih dulu ada di seberang Bontoala. Ini adalah pengepungan yangterencana dengan baik, dan jika tidak datang bantuan 300 orang yang dikirim dariFort Rotterdam untuk memecah serangan Makassar, Arung Palakka kemungkinanterbunuh. Para juru tembak yang dikirim Speelman untuk melindungi Arung Palakkaterus menembak dengan frekwensi yang tetap ke barisan pasukan Makassar danberhasil melepaskan Arung Palakka dan orang-orangnya dari hutan. Kelak ketikaSpeelman menyalahkan Arung Palakka karena tindakan beresiko itu, dia menjawabbahwa dia tidak menyangka taktik seperti itu diterapkan musuh dan dia tidak akanmengabaikan perintah lagi. Namun Speelman tidak yakin Arung Palakka akan
  9. 9. menjadi lebih patuh pada aturan, meski sudah menyatakannya. Dalam sebuah suratke Batavia dia menggambarkan Arung Palakka sebagai seorang yang terlalumengikuti keinginan diri sendiri dan paling licik ketika bertindak secara terpaksakarena melihat seorang yang dicintainya terluka atau berada dalam bahaya (KA1157g:431r-432r; Macleod 1900:1293). Sepanjang hari pasukan Makassar menyebar ke wilayah timur, utara danselatan Fort Rotterdam. Hanya laut di sebelah barat yang terbuka bagi Belanda.Balatentara Makassar kembali menguasai benteng-benteng pertahanan yangseharusnya dihancurkan berdasarkan Perjanjian Bungaya. Ini membuat gusarSpeelman. Serangan yang sudah diperkirakan akhirnya tiba, dan ini merupakanserangan ambisius dengan tujuan merebut kembali Fort Rotterdam. Sekitar 1.000orang terlibat dalam peperangan pertama, utamanya terdiri dari orang Melayu danWajo. Namun mereka dapat dipukul mundur sambil menyeret kawan mereka yangterluka. Dapat terdengar dari mereka keluhan tentang sikap pengecut pasukanMakassar yang tidak turut dalam pertempuran itu, dan bahkan tidak berkeinginanuntuk itu (KA 1157g:431v). Meski pasukan Makassar dikagumi Belanda dan amatditakuti pasukan Bugis, perpecahan yang dalam di pemerintahan Goa mengenaibukan hanya melancarkan tapi juga melanjutkan perang mempengaruhi keteguhanpara pasukan. Tidak seperti di awal perang ketika perbedaan pendapat tidak dapatmerintangi keputusan untuk perang, kini perbedaan sudah terlalu besar untuk dapatdiabaikan. Orang Melayu Makassar telah dengan setia berperang untuk Goa, danmereka mengharapkan hal yang sama dari orang Makassar sendiri. Tidak heran jikamereka harus menelan kepahitan demi mengetahui bahwa para pemimpin Makassarsedang berpikir untuk menyerah pada musuh. Kepahitan ini, disebut dalam laporanKompeni pada waktu itu, ditumpahkan dalam sebuah naskah Makassar yangsumbernya tidak diketahui namun ditulis oleh orang Melayu Makassar, berisikansejarah mereka di Sulawesi Selatan (L-24:4). Orang Wajo juga mengabadikankeberanian dan kesetiaan Arung Matoa La Tĕnrilai Tosenngĕng. Ketika dia dikabarioleh Sultan Hasanuddin bahwa Sombaopu telah jatuh dan dengan begitu Wajo harusmengurus diri sendiri, “…air mata La Tĕnrilai jatuh, lengan atasnya menegangbegitu dia menekan gagang kerisnya dan berkata: “Ada sepuluh ribu orang Wajodatang bersama saya ke sini [ke Makassar]. Biarlah mereka semua gugur sebelumGoa direbut (L-4: tanpa halaman, section 23)”. Sikap setia orang Wajo dan Melayusangat terasa pada waktu itu hingga tercatat dalam rekonstruksi perang yang munculkemudian.Keberhasilan serangan Goa di daerah pedalaman amat berlawanan dengan kesulitanyang dialami dalam menghadapi Arung Palakka dan Belanda di bagian baratSulawesi Selatan. Pasukan Makassar di bawah Syahbandar Daeng Makkulle,4ditambah seribu orang dari Wajo dan Lamuru, bergerak melewati Soppeng danmembakar semua yang dilaluinya. Tidak ada pasukan Bugis di Soppeng maka rakyat
  10. 10. mengungsi ke Tanete dan Segeri di mana pasukan Bugis berkumpul di bawah ArungBelo Tosa’dĕng. Dia membawahi kira-kira 2.000 orang dari Soppeng bersenjataditambah 1.000 orang dari Bone dengan delapan puluh senapan (musket). Diameminta Belanda mengirim sebuah kapal untuk ditempatkan tidak jauh dari pantaiagar dapat mencegah serangan Makassar dari belakang jika dia membawapasukannya bertempur. Tanpa kapal ini dia takut meninggalkan wanita dan anak-anak di belakang karena pasukan Mandar masih ada di Lero dan dapat bergerak darilaut untuk menyerang posisi mereka. Dia mengeluhkan Daeng Memang, komandanpasukan Bone di perbatasan Soppeng, yang dia anggap pengecut. Dan sifatpenakutnya itulah yang menyebabkan banyak pertumpahan darah di pihak wargaSoppeng. Salah satu bangsawan Soppeng yang berada di tengah pengungsimelaporkan bahwa pasukan Wajo tidak sedikitpun menyentuh wilayah Bone, danbahwa Daeng Pabila tetap berada di Timurung dan dengan “mati-matian”pasukannya mempertahankan Soppeng. Penegasan dari laporan ini datang dariKaraeng Tanete dan Datu Soppeng yang telah melarikan diri ke Palakka di Bone.Mereka menggambarkan penghancuran seluruh dataran rendah Soppeng hingga kekaki pegunungan (KA 1157g:434r-v).5 Hubungan antara Bone dan Soppeng menjaditegang, namun daya tarik Arung Palakka, yang untungnya dapat menyatakan bahwaleluhurnya berasal dari Bone dan Soppeng, cukup memadai untuk meyakinkan keduasekutu Bugis ini hingga mereka dapat mengubur perbedaan dan kembali bersatudemi tugas penting mereka menggulingkan Goa. Belanda bertindak segera terhadap pemintaan kapal dari Tosa’dĕng. Besokpaginya Meliskerk dikirim ke Tanete untuk berjaga-jaga di lepas pantai dan kelakuntuk mengangkut balatentara Soppeng ke sebuah tempat di Maros. Sebelumnya,Maros menyambut hangat utusan Bugis dan menyatakan kesediaan bergabungmelawan Goa. Dalam sebuah pertemuan dengan lima orang terpenting di Maros,utusan ini diyakinkan bahwa jika pasukan Bugis kelak didaratkan pada tempat yangtelah ditentukan, pasukan Maros akan segera bergabung. Satu-satunya permintaanmereka adalah pasukan Bugis jangan menjarah tanah mereka (KA 1157g:433v-435v). Pada tanggal 11 dan 12 Agustus, pasukan Goa di Makassar keluar daribenteng-benteng untuk mengejek pasukan Bugis dan Belanda. Sementara itu, merekamengirimkan pasukan cukup banyak ke utara di mana pasukan itu dibagi, setengah keMaros dan setengah ke Siang. Begitu vitalnya Maros bagi Goa sehingga pengawalelit Sultan Hasanuddin, salah satu adalah putranya, dan pasukan terbaik Melayutermasuk dalam ekspedisi ini. Di Siang, pasukan Makassar menyerang sangatdahsyat pada tanggal 12 Agustus. Dengan meriam dan senjata-senjata yang lebihkecil mereka menyerang, namun berhasil dikalahkan dan kehilangan enam puluh limakepala “ditambah mayat di medan perang yang kepalanya masih ada”. Di Maros,pasukan Makassar juga dipaksa mundur pada tanggal 14 Agustus. Sekitar 5.000pasukan Bugis bergerak ke Goa sementara 2.000 lainnya tinggal untuk menjagakemenangan mereka di Maros. Arung Palakka puas dengan kinerja pasukan Bugis-
  11. 11. nya. Dia mengatakan pada Speelman bahwa “inilah pasukan sejati dan jika orangBugis menjadi prajurit dia akan mengungguli semua musuh dan bahaya.” Demimendorong sekutunya agar melakukan hal yang sama, Belanda memuji danmembayar para pemimpin Bugis yang terlibat dalam kemenangan ini (KA1157g:435r-436v; Macleod 1900: 1294). Sukses pasukan Bugis di Siang dan Maros mengguratkan kesan mendalambagi Turatea, yang kini berjanji untuk menjadi sekutu. Namun, ketika hanya 150orang datang bergabung dengan Belanda dan sekutunya pada pertengahan Oktober,muncul keraguan terhadap Turatea. Sementara itu, Sultan Hasanuddin mengutusKaraeng Ballo dan Karaeng Laikang ke Turatea untuk membawa sekutu yang duluterombang-ambing itu kembali ke pihak mereka. Namun usaha itu sia-sia karenasudah luas diketahui bahwa Goa telah terdesak, dan desas-desus sudah tersebarbahwa pasukan Makassar telah divonis; bertarung dan mati di pos mereka, atau larike pegunungan. Sultan Hasanuddin, menurut desas-desus, menginginkanperdamaian, tapi Karaeng Karunrung mendukung orang Melayu yang menyerukanuntuk terus melawan. Orang Melayu dengan gamblang menyatakan: “Jika kita tidaklagi bisa melakukan apa-apa atau melindungi diri, itulah saatnya kita mencari jalandamai.” (KA 1157i:440v-443v). Tanggal 12 Oktober 1668, pasukan Belanda-Bugis mengalahkan pasukan Goadalam sebuah pertempuran besar di Makassar. Menurut keyakinan Speelman, jikasaja pasukan Belanda-Bugis meneruskan serangan, kemenangan ini menjadi momenpenentu jalannya perang. Namun kemenangan harus tertunda oleh tewasnya ArungBelo Tosa’dĕng di medan perang. Dia adalah putra sulung dan kesayangan DatuSoppeng La Tĕnribali dan teman dekat Arung Palakka. Speelman memberipenghormatan terhadap keberanian dan kejujurannya: “Pangeran ini adalah di antarayang paling berani di pasukan Bugis, namun sembrono, lalai dan tidak disiplin” (KA1157i:442r). Kematian Tosa’dĕng merupakan pukulan berat bagi pasukan Bugis,namun pengaruh politiknya di Sulawesi Selatan belum muncul ke permukaan hinggadua dekade kemudian ketika muncul pertanyaan tentang siapa yang akan mewarisimahkota Soppeng. Pada saat kematiannya itu Tosa’dĕng sedang menjalankan tugasdari Arung Palakka. Arung Belo Tosa’dĕng meninggalkan kesan bagi orang Bugis dan Makassarkarena keberanian dan kesetiaan terhadap Arung Palakka. Dalam Sinrili’ Kappala’Tallumbatua, Arung Belo disebutkan sebagai adik Arung Palakka, mereka berduadisebut sebagai pangeran Goa. Di akhir cerita ini, Arung Belo terbunuh oleh pasukanMakassar karena tugasnya membantu Arung Palakka dalam perang melawan ayahmereka, penguasa Goa (L-32:148). Dalam masyarakat Bugis hingga kini, cerita-ceritarakyat selalu menyatukan Arung Palakka dan Arung Belo yang setia. Di akhir Oktober, 265 dari 577 tentara Belanda terbaring sakit di FortRotterdam. Ini menambah suram perkubuan Belanda dan sekutunya. Tanpa tentaraBelanda yang menyokong pasukan-pasukan Bugis, Speelman tidak yakin dapat
  12. 12. mempertahankan posisinya. Pasukan Makassar membakar seluruh perahu dan rumahhingga lapangan di depan pemukiman orang Belanda dan menggunakan rumah batuorang Cina sepanjang hari untuk menyerang pasukan Belanda dan Bugis. Speelmankini meminta lebih banyak “tentara dan kewenangan” dari Batavia agar dia dapatmembawa kemenangan dari perang ini. Dia percaya bahwa hanya dengan lebihbanyak bantuan baru mereka dapat mengusir orang Melayu “yang dengan senjata apimereka, dapat dengan sekuat-kuatnya mempertahankan kesetiaan rakyat.” Denganmenggusur orang Melayu dan Karaeng Karunrung, Speelman memperkirakanperdamaian akhirnya akan dapat dicapai di Makassar. (KA 1157i:440v-441v, 445v-446r; Macleod 1900: 1294). Perkiraan Speelman terhadap situasi ini tampaknya muncul dari laporanorang-orang yang lari dari istana Goa. Mereka menyatakan bahwa KaraengKarunrung telah mencegah segala upaya Sultan Hasanuddin dan pemimpin lainnya dipemerintahan untuk membicarakan perdamaian. Menurut mereka, situasi di Goatelah mencapai sebuah keadaan di mana Karaeng Karunrung telah menjadi penguasautama yang memerintah dengan gelar “Raja Tua”.6 Dia tidak lagi meminta pendapatsiapapun dan melakukan apa yang dia inginkan. Adalah Karaeng Tallo yang palingmenantang Karaeng Karunrung. Dia awalnya menginginkan perdamaian namun kinitidak lagi punya pengaruh di pemerintahan Goa. Dia sendiri telah diawasi dandikontrol oleh Daeng “Marouppa”, seorang pengikut Karaeng Karunrung. Meskipada laporan awal disebutkan betapa sengit kebencian orang Melayu terhadapBelanda, Speelman tetap mencoba untuk memecah belah pemimpin-pemimpin orangMelayu dan Makassar. Namun akhirnya, Speelman maklum bahwa orang Melayu“bagi Belanda adalah musuh yang lebih sengit dibandingkan orang Makassar sendiri”(KA 1157j:450r,455r-v). Speelman dengan perasaan enggan menerapkan perintah dari Batavia untukmemulai perundingan damai pada tanggal 6 November 1668. Sementara Goa sendirimenggunakan waktu selama perundingan damai untuk memulihkan kembalihubungan dengan sekutu-sekutunya dulu. Pada tanggal 16 November, merekamenghentikan pembicaraan dan empat hari kemudian melancarkan serangan yangberhasil di utara Makassar. Mereka berhasil merebut kembali wilayah Maros,Labakkang, Siang, Barru, Segeri dan beberapa daerah lainnya dari pasukan Bugis,yang lepas dari tangan mereka pada awal perang ini. Belanda tidak menghubungkankemenangan ini pada kecerdikan dan keberanian pasukan Makassar melainkan lebihmencoba menenangkan Batavia bahwa “kelalaian dan ketakutan yang pantas diceladari pasukan Bugis” adalah alasan terhadap kekalahan ini. Tambahan bantuanBelanda ke Maros dan Turatea berhasil membantu balatentara Bugis untuk merebutkembali wilayah yang telah jatuh, tetapi Labakkang tetap berada di tangan Makassar(KA 1161a:618v-619r).Perubahan kekuatan dalam perang ini mencatat satu hal penting bahwa selamaSombaopu tetap menjadi simbol kebesaran Goa, kekuatan Makassar tidak akan
  13. 13. menyerah. Keberadaan Sultan Hasanuddin dan istana di dalam dinding Sombaopumenjadi sebuah fokus kesetiaan bagi pasukan Makassar yang berserakan di mana-mana. Selama dia tidak diganggu, rakyat percaya bahwa negeri tidak terancam.Penting dicatat bahwa ketika lontara’ Bugis berbicara tentang kekalahan Goa, merekaberbicara tentang jatuhnya Sombaopu.7 Dengan kesadaran penuh akan artipentingnya Sombaopu, Speelman mempersiapkan penyerangan akhir terhadapbenteng utama kerajaan itu. Dia memindahkan benteng utama dari Fort Rotterdamke benteng baru bernama Majennang di pantai, kemudian pada bulan Mei 1669 kebenteng yang baru dibangun bernama Jacatra di tepi sungai Garassi (Macleod1900:1294). Dengan berakhirnya angin muson barat, pasukan Belanda-Bugis melancarkanbeberapa serangan yang berhasil pada tanggal 14 dan 15 April 1669 dan memukulseluruh perlawanan Makassar di utara Sombaopu. Pasukan Bugis dapat merasakanakan tibanya kekalahan Goa dan terus melancarkan serangan malam untuk menjarahdengan bebas di wilayah Makassar. Di akhir bulan April, 150 orang, kebanyakananak-anak dan wanita, telah diambil dari Goa, bersama dengan 400 sapi. OrangMakassar yang diambil oleh pasukan Bugis dibiarkan kelaparan dan dalam keadaanmengenaskan, hanya kulit binatang yang menutupi tubuh telanjang mereka. BlokadeBelanda di laut, ditaklukkannya pasukan Makassar di daerah penghasil beras, danberlanjutnya penyerangan pasukan Bugis ke Goa, memberi pengaruh besar terhadappersediaan makanan Goa dan sekutunya. Di Selayar, setengah dari penduduknyameninggal karena kelaparan. Penduduk dipaksa memakan dedaunan, batang pohonpisang, biji mangga, dan sekam. Mereka yang masih mempunyai cukup kekuatan,memilih menebang pohon sagu dan membuat sagu. Situasi serupa terlihat di banyakwilayah yang dipegang Makassar. Dari tawanan dan pelarian terdengar laporanbahwa banyak penduduk Makassar yang terbunuh oleh senjata api, tapi lebih banyakyang mati karena kelaparan dan sakit. Karena yakin akhir perang telah dekat, banyakdari orang Melayu Makassar telah melarikan diri ke Mandar, Pasir, Bima dantempat-tempat lain (KA 1157:452v; KA 1161a:620r-622r). Saatnya pun tiba, keduapihak berhikmad untuk pertempuran terakhir di Sombaopu. Dalam persiapan untuk menyerang istana yang berada dalam perlindunganbenteng yang kuat, Speelman memerintahkan untuk menggali terowongan secararahasia di bawah salah satu sisi dinding di mana penyerangan akan berlangsung.Ketika terowongan itu selesai, Speelman memerintahkan untuk melangsungkan pestabesar dan mengundang seluruh penguasa dan bangsawan yang kooperatif bersamakeluarga mereka. Pesta berlangsung tanggal 11 Juni hingga pagi tanggal 13. Padahari itu, diam-diam terowongan itu diisi dengan bubuk mesiu dan disegel hinggapenyerangan dimulai. Malam sebelumnya, upacara sumpah setia tradisional SulawesiSelatan dilangsungkan sebagai kebiasaan sebelum menghadapi perang besar. Seluruhtentara Bugis secara terpisah dan dalam kelompok yang masing-masing terdiri dariseratus orang melangsungkan upacara manngaru. Mereka berdiri dan meneriakkankesetiaan mereka kepada pemimpin mereka dan Belanda: “Dengan air mata dan keris
  14. 14. terhunus…..mereka bersumpah untuk mengalahkan Sombaopu atau mati.” Dalamperang di Sombaopu, diperkirakan terdapat sekitar 1.200 hingga 1.500 pasukanBugis, 461 orang dari Tanete, Tidore, Bacan, Butung dan Pampanga (dari Luzonutara di Filipina), dan 111 tentara Belanda. Perhitungan lebih rinci kemudianmemperlihatkan bahwa ada sekitar lebih dari 2.000 balatentara Bugis dan 572 daripihak lain, termasuk delapan puluh tiga tentara Belanda dan sebelas pelaut Belanda.Pasukan Bugis, oleh Speelman dibagi menjadi enam pasukan. Di antara mereka yangbergabung dengan Arung Palakka adalah Arung Kaju, Arung Mampu, DaengMalewa dan beberapa bangsawan Makassar. Pasukan Bugis di bawah Arung Palakkadiperintahkan dengan kekuatan besar untuk membersihkan wilayah timur Sombaopudari seluruh pasukan Makassar yang bertahan dan untuk menyerang serta membakarTana-Tana dan Bontokeke.8 Sementara pasukan lain mencoba mendobrak dindingSombaopu. Tiga kapal kecil dan sekoci Belanda berlayar ke Sungai Garassi danmenyerang Sombaopu dari selatan (KA 1161b:633v-638v; Macleod 1900: 1294-5). Penyerangan dimulai pukul 6 sore pada tanggal 14 Juni 1669 dengan memicupeledak yang telah diletakkan di terowongan rahasia. Ledakannya menimbulkanlubang sekitar selebar 27 setengah meter di salah satu dinding Sombaopu yangtebalnya mencapai tiga setengah meter dengan bahan batu merah. Ketika pasukanMakassar menyadari apa yang terjadi, sekitar dua puluh lima orang melompatmelewati lubang itu untuk memukul mundur penyerang lapis pertama, sementarayang lainnya memancang tonggak-tonggak kayu untuk menutupi lubang itu.Awalnya benteng Belanda Jacatra mengarahkan senjatanya pada aktifitas ini namunSpeelman segera menahannya agar serangan dapat berlangsung lagi. SementaraSpeelman mengumpulkan kekuatannya, Sombaopu pun diperkuat oleh tibanyabalatentara Goa di bawah Karaeng Karunrung. Malam berikutnya, pertempuran bertambah sengit, melebihi hari sebelumnya,sebagaimana digambarkan pada laporan Speelman:Mereka [pasukan Sombaopu] bertempur dengan api dan batu; mereka mempertahankan diridengan tombak; mereka bergerak maju dengan saling mendorong satu sama lain, dan denganbambu mereka menangkap moncong senapan sehingga harus dibebaskan dengan pedang danbadik. Tidak kurang anak panah dan jarum sumpit beracun; jambangan berisi api terusmenerus melayang di mana-mana, dan banyak di antara kepunyaan kami dilempar kembalioleh musuh dan menyebabkan kerusakan. Jambangan berisi api ini menahan peluru senapandi kedua pihak, dan meriam ditembakkan tak henti-hentinya ke lubang di dinding Sombaopu.Granat dari mortir berat juga ditembakkan dan menciptakan kesan yang sangatmenyenangkan. Kesemuanya ini menciptakan musik yang indah sehingga sulit untukmengetahui, mempercayai, bahwa malam itu adalah malam yang sangat mengerikan, yangsuaranya tidak pernah didengar sekalipun oleh veteran perang di Eropa. Dari pihak kamiterdapat 5.000-6.000 bubuk mesiu yang digunakan di darat, dan 30.000 peluru senapanditembakkan, di samping itu 200 jambangan berisi api dan enam puluh hingga tujuh puluhgranat. Hampir tidak ada istirahat, hanya antara pukul 2 dan 3 pagi pihak musuh, yang telahmengumpulkan kekuatan besar, beristirahat sejenak. Namun lima belas menit kemudian
  15. 15. pertempuran berlangsung lagi, bahkan lebih ganas daripada sebelumnya…..sekitar pukul 4pagi mereka berhamburan ke depan dengan kemarahan meluap, dan meski meriam terusditembakkan ke lubang itu, sekelompok pasukan tetap keluar dari palang kayu itu …..danpeperangan berlangsung hingga pagi tetapi Sombaopu tetap di tangan pasukan Makassar(KA 1161b:639r-v). Meski Speelman yakin bahwa Sombaopu akan jatuh, dia mengakui bahwabelum pernah ada perang yang menyamai perang ini, dan dia tidak mengira jikaternyata musuh memberi perlawanan begitu sengit. Dia menyebut perang ini “perangterberat yang pernah kami alami selama keberadaan komisi [perang]”. Pada tengahhari 17 Juni, pihak penyerang kehilangan lima puluh jiwa dan terluka enam puluhdelapan orang, di antaranya beberapa orang Belanda dan perwira pribumi. Padatanggal 19, hujan turun, dan ini berlangsung selama enam hari. Pada malam tanggal22, Arung Palakka mulai gelisah dan memutuskan untuk bertindak. Dia memimpinpasukannya dan beberapa orang Bacan dan tentara Ambon di bawah Arung Bakkĕuntuk memasuki lubang di dinding benteng, yang telah dibarikade oleh pasukanMakassar. Setelah pertempuran sengit pasukan Makassar meninggalkan lubang itu,maka masuklah pasukan Bugis dan sekutunya. Meski dalam guyuran hujan pasukanBugis terus membakar sebanyak yang mereka bisa, sehingga memaksa pasukanMakassar mundur dari bastion timur dan barat benteng istana dan mendirikan lagipertahanan mereka di bagian selatan benteng Sombaopu. Salah satu meriam yangdinamai Anak Mangkasar, yang merupakan kebanggaan pasukan Makassar,dipindahkan ke bastion barat laut selama pemunduran pasukan. Begitu pasukanBelanda-Bugis bergerak maju dari arah barat, kabar telah tersebar bahwa Sombaoputelah ditinggalkan, dan pasukan Makasssar telah melarikan diri ke Goa dan SungaiGarassi. Sultan Hasanuddin tidak ingin pergi begitu cepat namun api, yang ditiupoleh angin baratlaut, akhirnya memaksa dia untuk pergi. Meski banyak dari pasukanMakassar melarikan diri ketika pasukan Bugis memasuki lubang, KaraengKarunrung tetap tinggal di tempat dikelilingi oleh pengikutnya yang dengan keristerhunus menentang siapa saja yang masuk. Semua orang yang ada dalam mesjidtelah dibawa keluar, dan hanya isteri Melayu Datu Soppeng, seluruh anaknya, dansekitar delapan puluh pengikutnya yang tinggal. Di antara anaknya adalah anaktertua yang sering membual bahwa Sultan Hasanuddin telah menjanjinya untukdijadikan penguasa Soppeng jika perang dimenangkan. Dia bahkan telah bersumpahakan membawa kepala ayahnya (Datu Soppeng) dan Arung Palakka ke SultanHasanuddin atau mati dalam usahanya itu (KA 1161b:664r-645v; Macleod1900:1295-6). Kegalauan menguasai ketika Sombaopu jatuh, penjarahan semakin menjadi-jadi. Speelman memperkirakan ada sekitar 7.000 hingga 8.000 orang Bugismelakukan penjarahan, dan dia yakin bahwa satu-satunya yang mereka takuti adalahancaman dari pemimpin mereka. Pada saat Speelman dan Arung Palakka tiba diistana Sultan Hasanuddin, rumah itu telah dijarah. Ada dua orang Bugis berdiri di
  16. 16. pekarangan mengamati rampasan perang mereka. Ketika mereka melihat ArungPalakka, mereka segera menawarkan apa yang telah mereka kumpulkan. ArungPalakka menolak dan orang itu pun melanjutkan kembali pembagian barang (KA1161b:648v). Meski Speelman mengutuk apa yang menurut dia merupakanperampasan yang tak bersusila, bahkan cenderung liar, oleh orang Bugis, namun diamelihat pasukan Bugis tetap menurut pada perintah pemimpinnya. Kedua orang tadi,yang membagi rampasan perang mereka di pekarangan Sultan Hasanuddin, tidaklahkehilangan disiplin mereka, namun hanya menjalankan apa yang sudah menjadikebiasaan perang di Sulawesi Selatan. Mereka memahami bahwa pilihan pertama darirampasan perang adalah untuk tuan mereka, maka ketika Arung Palakka datangmereka menawarkan apa yang telah mereka kumpulkan. Arung Palakka sendiriberpikir bahwa orang-orang ini telah menerima hak mereka dalam perang, dan initelah diperlihatkan kepada Speelman jauh sebelumnya. Setelah penandatangananPerjanjian Bungaya pada bulan November 1667, Arung Palakka dihadiahi sejumlahbarang berharga oleh Kompeni. Selama perayaan malam itu, dia membagi hadiah inike para bangsawan pengikutnya dan kemudian membagi 800 rijksdaalders yangdipinjam dari Kompeni ke orang-orang terbaiknya (KA 1157a:323v). KemampuanArung Palakka memenuhi kewajiban kepada orang-orang yang melayaninyamerupakan salah satu faktor yang mempercepat penambahan tentaranya danmeningkatkan kemasyhurannya sebagai pemimpin yang mempunyai upĕ’. Meski demikian, Speelman melihat penjarahan sebagai perbuatan menjijikkandan memerintahkan untuk mengumpul seluruh rampasan perang di satu tempat dandijaga oleh orang bersenjata. Karena Speelman diakui sebagai Komandan TertinggiSekutu, Arung Palakka terpaksa menyetujui tindakan yang sudah diduganya ini. Dikemudian hari, dia mendekati Speelman untuk meminta permisi bagi orangnya untukmelanjutkan pelucutan karena adalah tanggung jawabnya sebagai pemimpin untukmengizinkan orang-orangnya mengambil keuntungan dari peperangan, sebagaimanaakan terjadi jika pihak musuh yang menang. Tidak ada penilaian moral terhadaptindakan pelucutan setelah bahkan selama perang, karena ini memang norma yangberlaku. Harapan akan rampasan perang adalah insentif langsung bagi pasukanpribumi, dan alasan utama mengapa perang di kalangan pribumi cenderung berubahdengan cepat menjadi pesta penjarahan. Setiap pemimpin diharapkan memberiorangnya bayaran material dalam peperangan, dan lebih baik jika bayaran itu dalambentuk harta musuh. Meski begitu, Speelman tidak rela mengadopsi praktektradisional Sulawesi Selatan ini, dan dia menegaskan bahwa “kebijaksanaannya[Arung Palakka] dalam hal seperti ini sangatlah kecil” (KA 1161b:649r). Jumlah barang yang diambil sangat beragam. Setiap orang Bugis kelihatantenggelam dalam barang jarahan, dengan barang yang paling dicari adalah porselendan barang-barang yang terbuat dari tembaga. Bahkan sebuah gudang penuh barangyang dijaga oleh Daeng Manompo’, seorang pengikut setia Arung Palakka, jugadijarah. Untuk menepati janji pada Speelman, dia mengirim Arung Kaju bersamabeberapa orang Toangke untuk mengembalikan barang-barang itu. Mereka
  17. 17. mengembalikan barang jarahan dan langsung dijaga oleh para Toangke sendiri.Hanya tembakan yang menghalangi orang Bugis melanjutkan penjarahan, namunselama kejadian itu, Speelman mencatat bahwa tidak ada orang yang memperolehsesedikit Arung Palakka (KA 1161b:649r-652r). Setelah penaklukan Sombaopu, Belanda memastikan bahwa benteng itu tidakakan pernah lagi digunakan sebagai benteng utama. Seluruh senjata yang ditemukandi benteng itu dibuang dan dinding yang menghadap ke utara dan ke laut sertabastion laut dihancurkan. Jumlah senjata yang direbut Belanda memberi gambaranakan persenjataan Goa. Terdapat tiga puluh tiga meriam seberat 46.000 pon dansebelas yang seberat 24.000 pon, 145 senjata api kecil, delapan puluh tiga laras bedil,dua pelontar batu, enam puluh senapan laras panjang (musket), dua puluh tigaarquebuses (semacam yang jika digunakan diletakkan di atas kaki tiga), 127 larassenapan musket, dan sekitar 8.483 peluru (Macleod:1296-7). Jumlah senjata yangmengesankan ini digunakan dengan begitu efektif oleh Sombaopu. Tidak heran,usaha penaklukan benteng ini merupakan salah satu perang tersulit yang pernahdihadapi Kompeni di Timur.Lima hari setelah kejatuhan Sombaopu, Sultan Hasanuddin menyerahkan tahtakepada putranya I Mappasomba (“Menaklukkan”) karena dipercaya bahwa penguasabaru dengan nama yang mujur akan mengubah jalannya perang (KA 1161b:658v).Namun, pihak lain menyatakan, Sultan Hasanuddin sadar kekalahan tidak terelakkan,karena itu dia memutuskan turun dari pemerintahan sehingga tidak akan disalahkanjika mereka kalah (KA 1161b:660r). Sultan Hasanuddin memerintah ketika Goamasih merupakan kerajaan paling kuat dan dihormati di Indonesia Timur. Karenamemerintah dalam masa jaya Goa, dia menolak untuk dikenang sebagai seorangpenguasa yang juga memimpin kerajaan menuju kehancuran. Dengan kematian ekonomi dan politik Goa, Bone muncul sebagai kerajaanteratas di Sulawesi Selatan. Maka, Perang Makassar dicatat dalam sumber-sumberBugis sebagai puncak sejarah Bone ketika kerajaan itu memperoleh kembalikehormatannya. Sumber-sumber ini mengingatkan kembali akan penghinaan yangterjadi tahun 1643 dan 1667 ketika Bone tidak mempunyai penguasa, sebuah situasiyang tidak dianggap enteng oleh masyarakat Bugis-Makassar yang sadar sejarah.Kata yang diterjemahkan sebagai “Kronik” (Chronicle dalam bahasa Inggris) secaraharfiah berarti “Cerita para Pendahulu” (dalam bahasa Bugis attoriolong dan dalambahasa Makassar patturioloang), pendahulu adalah para mantan penguasa kerajaan.Salah satu alasan menulis cerita ini, kata seorang penulis Kronik Makassar, supayaorang lain tidak memandang rendah mereka karena tidak punya penguasa(Abdurrahim & Wolhoff [tanpa tahun]:9). Maka, adalah kebanggaan jika sumber-sumber Bone menggambarkan bagaimana rakyat mereka memperoleh kemenanganbesar terhadap Goa dengan bantuan Belanda dan memperoleh kembali penguasa dansiri’ mereka. Belanda dilihat sebagai pemeran pembantu dalam persaingan antara
  18. 18. Bone dan Goa yang berlangsung selama lebih seabad ini dan mencapai puncaknyapada Perang Makassar tahun 1666-9. Para pemimpin Bone-Soppeng yang paling bertanggung jawab ataskemenangan ini menjadi pahlawan, yang nama dan keberaniannya diabadikan olehpara penutur cerita di desa-desa dan tokoh-tokohnya diabadikan dalam cerita nasihatyang ada di dokumen-dokumen tua istana. Toangke, pengikut setia Arung Palakkayang mengiringinya dalam pengasingan panjang, dihargai oleh masyarakat denganstatus khusus yang bertahan hingga abad ke-20.9 Arung Belo Tosa’dĕng, kawanterdekat Arung Palakka, dikenang dengan gegap gempita dalam sumber-sumberBone-Soppeng dan dijadikan anak Karaeng Goa dan saudara Arung Palakka dalamsebuah cerita pedesaan Makassar (L-32:15). Namun pujaan tertinggi ada pada ArungPalakka yang didewakan oleh orang Bone-Soppeng atas perbuatan yang dianggapluar biasa. Begitu kuatnya Goa pada abad ke-17, sehingga banyak orang yangmengejek gagasan militer Belanda untuk menyerang kerajaan yang digdaya itu.Namun Belanda berani menguji kekuatan mereka melawan Goa, “Ayam jantan dariTimur”, dan ternyata menang. Keterkejutan dan ketidakmengertian masyarakatSulawesi Selatan yang mengikuti keberhasilan Belanda ditenangkan denganpenjelasan bahwa kemenangan disebabkan oleh satu orang dan upĕ’ yangdipunyainya. Orang itu adalah Arung Palakka. Maka legenda pun tersebar bahkanselama hidup Arung Palakka, dan ini melicinkan jalannya ketika memegang peransebagai penguasa atasan di Sulawesi Selatan. Namun Arung Palakka tidak bertahta sendiri; dia berbagi kehormatan dankekuasaan dengan VOC. Yang terakhir ini menambahkan elemen baru dan kerumitanbagi keadaan di pulau ini. Dengan VOC yang kini memancangkan kekuasaanpermanen di Sulawesi Selatan, politik di wilayah ini pun tak pelak dimasukkan kedalam pertimbangan strategis Kompeni yang lebih luas –di luar pulau Sulawesi. Dimasa sebelumnya, seorang penguasa Sulawesi Selatan yang bermaksud untukmemegang posisi sebagai penguasa atasan dapat bersekutu dengan penguasaMataram, Banten atau Aceh. Kini, karena Kompeni bisa menjadi sekutu yangpotensial, pertimbangan seperti yang diambil dalam perang di Eropa dan negara-negara Asia di mana pabrik besar Kompeni berlokasi juga menjadi relevan. Segeramenjadi jelas bahwa, siapa saja yang paling bisa mengetahui kepentingan Kompenidan membantu keinginan Kompeni bahkan dengan kekuatan militer bila perlu, akandapat mencuat dibanding yang lainnya. Perang Makassar telah menjadikan Kompenisebagai kekuatan di, namun bukan milik, Sulawesi Selatan. Perbedaan inilah yangdisadari oleh Arung Palakka dan dimanipulasi untuk menciptakan salah satupenguasa atasan paling berhasil dalam sejarah daerah ini.1 Tidak diketahui kapan cerita rakyat ini pertama kali dikisahkan, namun ketepatannyamemaparkan faktor-faktor penyebab kekalahan Goa menunjukkan; kemungkinan cerita inidibuat tidak terlalu jauh dari kejadian yang digambarkannya, atau bertahannya detail dalamingatan rakyat Makassar yang dengan setia menyimpannya selama beberapa abad. Teks
  19. 19. tertulis dari cerita ini dibuat dari penampilan seorang pasinrili’, pada tahun 1930-an(wawancara langsung A.A. Cense, 27 Desember 1975).2 Begitu kuatnya pengaruh Arung Palakka di Sulawesi Selatan sehingga dia sering beralihmenjadi pahlawan Makassar, keterikatannya dengan Belanda dibenarkan oleh anggapanbahwa itu dilakukan untuk membalas ketersinggungan pribadi pada ayahnya, penguasa Goa.Untuk pembahasan mengenai peralihan Arung Palakka dari seorang pahlawan Bugis menjadipahlawan Makassar, lihat L.Y. Andaya 1980.3 Ini adalah cara lumrah untuk “menghindari kerugian”. Selama masa panjangpemberontakan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan tahun 1950-1963, banyak keluarga yangsalah satu anaknya berperang di pihak pemberontak dan lainnya di pihak pemerintah.Beberapa di antara mereka menjelaskan secara terbuka bahwa ini keputusan keluarga yangdiambil secara sadar untuk menjamin terjaganya harta mereka.4 Menurut sumber Belanda sezaman Syahbandar Daeng Makkulle juga memimpin sebuaharmada kecil Goa yang dikirim melawan Butung sekitar bulan April atau Mei 1666 (KA1148b:511).5 Salah satu Kronik Bugis dari Soppeng menggambarkan kehancuran Soppeng di mana tidakada manusia melainkan hanya babi hutan dan rusa yang dapat ditemui. Dalam episode inipengkhianatan Bone dianggap sebagai penyebab nasib buruk Soppeng, dan banyak dari parabangsawan yang menuntut Arung Palakka agar lebih berhati-hati supaya dapat sekali lagimentautkan peruntungan Soppeng dengan Bone. Meski kejadian ini, dalam Kronik,ditempatkan tidak lama setelah pendaratan pasukan Bugis di Bone tahun 1666, namun sangatmungkin insiden ini mengarah pada kejadian yang disebutkan berlangsung tahun 1668. LihatL-1:30.6 Catatan Belanda menuliskan dengan jelas “radja toua”. Apakah yang dimaksud adalahTumailalang Toa itu tidak diketahui. Ketika beberapa pangeran Bugis memperoleh kekuasaandi Johor pada awal abad ke-18, mereka menciptakan dua jabatan yang konotasinya hanya adadi Sulawesi Selatan yaitu “Raja Muda” dan “Raja Tua”. Kedua jabatan ini dianggap sebagaipenasehat utama sang penguasa (L.Y. Andaya 1975:295-6).7 Baik Kronik Goa maupun Tallo tidak ada yang menuliskan tentang kekalahan Goa. KronikGoa hanya memaparkan daftar penguasa dan keturunannya dari masa Sultan Hasanuddinhingga Sultan Abdul Jalil (m. 1709), bahkan tidak ada petunjuk bahwa telah terjadi perang.Lihat Abdurrahim dan Wolhoff [tanpa tahun]: 74-8. Kronik Tallo berakhir di pertengahanabad ke-17 di puncak kejayaan Makassar di Sulawesi Selatan, seakan menganggap yangterjadi setelahnya tidak berarti untuk disebutkan. Lihat Abdurrahim dan Borahima 1975:320;L-4: tanpa halaman; L-17:65 dan lainnya.8 Dua desa ini tidak disebutkan dalam peta daerah ini yang dibuat tahun 1693. Karena orangMakassar, sebagaimana kelompok masyarakat lainnya di Indonesia, menganggap daerahyang terkena bencana sebagai daerah yang tidak menguntungkan, kemungkinan besar keduadesa ini tidak dihuni kembali (setelah bencana perang).9 Sepanjang prosesi pelantikan Arumpone tahun 1931, keturunan Toangke diberi tempatutama. Lihat Cense 1931:4.

×