Makalah tentang taubat nasuha(pdf)

17,703 views
17,458 views

Published on

5 Comments
4 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
17,703
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
13
Actions
Shares
0
Downloads
362
Comments
5
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah tentang taubat nasuha(pdf)

  1. 1. MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Taubat nashuha Dosen Pengampu : Muh. Syamsudin, M. Ag. Disusun oleh :Nama : Muhammad AminNIM : 10004011Semester :1 PENDIDIKAN MATEMATIKA KELAS 1A FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA YOGYAKARTA 2010/2011 1
  2. 2. BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang 1. Arti Taubat Nashuha Makna Taubat menurut pengertian bahasa ialah kembali. Maksudnyaialah kembali pulang mengikuti jalan yang benar dengan meninggalkan jalan yangsesat. Allah SWT, berfirman yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah denganTaubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapuskesalahan-kesalahanmu dan memasukan kamu kedalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai”.(QS. At-Tahrim : 8) Ayat diatas merupakan seruan kepada orang-orang yang beriman agarkembali kepada Allah dari perbuatan-perbuatan dosa dengan Taubat yang benar-benar murni dan tulus, yaitu dengan niat sungguh-sungguh tidak mengulangiperbuatan maksiat itu kembali, sesudah menyesalatas perbuatan yang terlanjurdilakukan. Sebab Taubat yang Nashuha akan menghapus dosa dan memasukannyakedalam surga. Ubay bin Ka’ab Ra. Mengatakan, “Kami telah diberitahu bahwa akanterjadi pada umat ini saat mendekati hari kiamat yaitu : 1. Orang yang berhubungan badan dengan istri atau budaknya pada dubur, 2. Pelacuran sesama wanita. Haram hukumnya dimurka oleh Allah dan Rasul- Nya. 3. Pelacuran sesama laki-laki. Inipun haram hukumnya dimurka oleh Allah dan Rasul-Nya. Mereka ini tidak diterima shalatnya terkecuali dengan bertaubat yangnashuha. 2
  3. 3. Zir bertanya kepada Ubay bin Ka’ab, “Apakah taubat nashuha itu?” Jawab Ubay, “Saya telah bertanya kepada Nabi SAW, dan beliaubersabda, ‘menyesal atas dosa yang diperbuat, lalu meminta ampun kepada-Nyadan tidak akan mengulangi perbuatan itu untuk selama-lamanya’.” Ditanya Umar tentang taubat nashuha. Ia menjawab “Taubat Nashuha ituadalah tidak kembali kepada perbuatan dosa sebagaimana tidak kembalinya airsusu pada payudara ibu yang menyusui anaknya”. Para Ulama bersepakat, yang dimaksud Taubat Nashuha itu terdiri daritiga syarat, yaitu : 1. Menghentikan Maksiat. 2. Menyesal atas perbuatan yang terlanjur dilakukan. 3. Niat sungguh-sungguh tidak mengulangi perbuatan itu kembali. Dan apabila dosa yang dilakukan berhubungan dengan manusia, maka taubatnya ditambah dengan syarat keempat, yaitu : 4. Menyelesaikan urusan dengan orang yang berhak. Salah satu nama surat dalam Al-Qur’an ialah At-Taubah (Pengampunan).Surat kesembilan ini dikenal pula dengan nama Bara’ah, yang artinya berlepasdiri. Maksudnya, sebagian besar pokok pembicaraan surat ini tentang pernyataanberlepas dirinya orang-orang yang beriman terhahadap orang-orang musyrik yangdiwujudkan dengan jihad melawan mereka sebagai bukti taubat yang nashuha.Dan, disinilah tampak jelas bahwa hakikat taubat yang sebenarnya senantiasamenuntut pelakunya berlepas diri secara totalitas terhadap segala sesuatu yangmempersekutukan Allah SWT, sebagai akidah orang yang bertaubat. 3
  4. 4. 2. Taubat Itu Hijrah Keterkaitan Taubat dengan Hijrah adalah laksana ruh di dalam jasad.Tiada arti ruh tanpa jasad dan tiada arti jasad tanpa ruh. Keberadaan keduanyaitulah hidup dan perpisahannya adalah maut. Arti Hijrah berasal dari bahasa Arab, yang artinya meninggalkan suatuperbuatan, ataubberpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Adapun artiHijrah menurut syari’at ada tiga macam, yaitu : Pertama : Hijrah dari semua perbuatan yang dilarang oleh Allah keperbuatan yang tidak dilarang oleh Allah. Hijrah ini adalah diharuskan dikerjakanoleh tiap-tiap orang yang telah mengaku beragama islam. Nabi SAW telahbersabda yang artinya : “Orang-orang yang berhijrah itu ialah orang yangmeninggalkan segala yang Allah telah melarang daripadanya.”(diriwayatkan Al-Bukhary dan lainnya dari shahabat Abdullah bin Umar Ra.). Jadi, siapa saja dari orang-orang Islam, telah meninggalkan semuaperbuatan yang dilarang oleh Allah, maka ia termasuk daripada orang yangmengerjakan hijrah yang pertama. Kedua : Hijrah (mengasingkan) diri dari pergaulan orang-orang musyrik atauorang-orang kafir yang memfitnah orang-orang yang telah memeluk agama islam.Maka hijrah ini adalah diharuskan juga dikerjakan tiap-tiap orang islam karenauntuk menjauhi fitnah-fitnah dari orang-orang musyrik dan kafir yang memusuhiislam. Yang pada prinsipnya dapat dipergunakan untuk mengerjakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya. Dizaman Nabi SAW hijrah inipernah dikerjakan oleh kaum muslimin, yakni hijrah sebagian kaum Muslimindiwaktu itu ke Negeri Habsyi sampai terjadi dua kali. Ketiga : Hijrah (berpindah) dari negeri atau daerah orang-orang kafir ataumusyrik ke negeri atau daerah orang-orang muslimin. Seperti hijrah Nabi SAWdan kaum Muslimin dari Makkah ke Madinah. 4
  5. 5. B. Rumusan Masalah Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1. Apa saja syarat-syarat Taubat Nashuha ? 2. Apa saja macam-macam Taubat ? 5
  6. 6. BAB II PEMBAHASAN Empat Syarat Taubat Nashuha1. Syarat Pertama : Menghentikan Maksiat Untuk memenuhi syarat yang pertama ini sangat diperlukan sikap bara’ah(sikap tegas yang disertai tindakan berlepas diri atau pemutusan hubungan darisegala perkara yang dapat menimbulkan perbuatan maksiat). Karena manamungkin seseorang dikatakan telah bertaubat dengan sebenar-benarnya bila masihbertoleransi dan berhubungan baik dengan kemaksiatan. Perbuatan semacam inimerupakan pernyataan berloyalitas pada jalan-jalan syaitan dan syiar-syiarnya.Bukan saja tertolak taubatnya, bahkan lambat laun menyeret pelakunya kepadakekufuran. Diantara ciri-ciri orang yang menghentikan maksiat, ialah sebagaiberikut : 1. Mencampakan Sifat Sombong Segala kemegahan dan kenikmatan dunia seringkali membuat orang lupadan sombong, hingga tercatatlah ia dalam golongan orang-orang yang sombong.Allah SWT berfirman yang artinya : “Dan apabila dikatakan kepadanya : ‘bertaqwalah kepada Allah’, bangkitlahkesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah(balasannya) neraka Jahanam. Dan sesungguhnya neraka Jahanam itu tempattinggal yang seburuk-buruknya”. (QS. Al-Baqarah : 206) “Tiga orang yang pada hari kiamat tidak akan diampuni dan tidak akandilihat dengan pandangan rahmat Allah dan untuk mereka tetap disediakan siksayang pedih. Pertama, orang tua renta yang berzina; kedua, raja pendusta; danketiga, orang melarat yang sombong”. (Diriwayatkan Muslim) 6
  7. 7. Untuk itu hendaklah setiap orang yang ingin bertaubat dengan sebenar-benarnya mencampakan jauh-jauh sifat sombong. Tiada satu kemaksiatan pundapat dihentikan bila sifat ini masih ada di hati seorang muslim. 2. Hijrah Taubat yang dapat menghentikan maksiat harus disertai dengan hijrah.Simaklah berita dari Abu Said Al-Khudry Ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabdayang artinya : “Dahulu pada umat-umat yang terdahulu, terjadi seseorang telahmembunuh sembilan puluh sembilan jiwa, kemudian ia ingin bertaubat, makamencari seorang alim, dan ditunjukan pada sorang pendeta, maka ia bertanya,‘saya telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, apakah ada jalan untukbertaubat ?’ Jawab pendeta,’ maka segera dibunuh pendeta itu, sehingga genapseratus orang yang telah dibunuhnya. Kemudian mencari orang alim lainnya, danketika telah ditunjukan maka ia menerangkan bahwa ia telah membunuh seratusorang, apakah ada jalan untuk bertaubat ?Jawab si Alim, ya ada, dan siapakahyang dapat menghalanginya untuk bertaubat ? pergilah ke dusun itu karenadisana banyak orang yang taat kepada Allah, maka berbuatlah sebagaimanaperbuatan mereka, dan jangan kembali ke negerimu ini, karena tempat penjahat’.Maka pergilah orang itu. Tatkala dalam perjalanan ia meninggal dunia. Makabertengkarlah Malaikat Rahmat, ‘ia telah berjalan untuk bertaubat kepada Allahdengan sepenuh hatinya’. Berkata Malaikat Siksa, ‘ia belum penah berbuatkebaikan sama sekali’. Maka datanglah seorang malaikat berupa manusia dandijadikannya sebagai juri (hakim) diantara mereka. Maka ia berkata’. Ukur sajaantara dua dusun yang yang ditinggalkan dan yang dituju, maka ke mana ia lebihdekat masukkanlah ia kepada golongan orang sana.’ Kemudian diukur, dandidapatkan lebih dekat kepada dusun baik yang ditujunya, kira-kira sejengkal,maka dipegang ruhnya oleh Malaikat Rahmat.” (Diriwayatkan Al-Bukhary danMuslim). 7
  8. 8. Dari hadits di atas, jelas bahwa hijrahnya si Pembunuh dari negerinyayang penuh kemaksiatan dan orang-orangnya yang jahat ke dusun yang banyakorang-orang baik, menjadi jawaban diterima taubatnya si pembunuh tadi..Sekalipun ia belum pernah berbuat kebaikan. Dan disini terlihat pula peran niatikhlas karena Allah sebagai Aqidah orang-orang yang bertaubat sekalipunhijrahnya belum sampai kedusun yang dituju,- maka telah tetap pahalanya disisiAllah. 3. Tidak Berputus Asa dari Rahmat Allah Orang yang bertaubat tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah.Semestinya orang yang bertaubat dan bertekad menghentikan kemaksiatannyamemiliki sikap optimis terhadap Allah SWT. Allah SWT, berfirman yang artinya : “katakanlah : ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampui batas terhadap dirimereka sendiri, jangan lah kamu berputus asa dari rahmat Allah. SesungguhnyaAllah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang MahaPengampun Lagi Maha Penyayang”. (QS. Az-Zumar : 53). Dari Anas Ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya : “Telah berfirman Allah Ta’ala, ‘wahai Anak Adam ! Selagi engkaumeminta dan berharap daripada-Ku, maka Aku akan ampunkan apa-apa dosayang telah terlanjur dan tidak Aku perdulikan lagi. Wahai Anak Adam ! walaupunsampai dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampun kepada-Ku,niscaya Aku beri ampunan kepadamu. Wahai Anak Adam ! Jika engkau datangkepada-Ku dengan dosa sepenuh isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukanyang lain dengan Aku, niscaya Aku datang padamu dengan ampunan sepenuhbumi pula’.” (Diriwayatkan At-Tirmidzy dan ia berkata ini hadits hasan shahih). Tapi banyak orang berkeyakinan bahwa dosanya tidak akan diampunioleh Allah dan dirinya hanya layak menjadi bahan bakar api neraka. Yang pada 8
  9. 9. akhirnya dia berputus asa untuk bertaubat dan melakukan perbuatan-perbuatanmaksiat. 4. Tidak berprasangka buruk kepada Allah Tidak mungkin dapat menghentikan kemaksiatan seseorang yangberprasangka buruk kepada Allah. Karena sebagian prasangka adalah dosa yangmenjerumuskan kepada fitnah. Allah SWT berfirman yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka,sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamumencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian dari kamumenggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakandaging saudaranya yang sudah mati ? maka tentulah kamu merasa jijikkepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerimataubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat : 12). Bagaimana pula kiranya seseorang yang ingin bertaubat danmenghentikan kemaksiatanya berprasangka buruk kepada Allah. Bukankah akantertolak taubatnya. Dari jabir bin Abdillah Ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda yangartinya : “janganlah mati salah satu dari kamu, melainkan dalam keadaan baiksangka kepada Allah azza wa jalla.” Sudah semestinya orang yang mau bertaubat dan menghentikankemaksiatannya berbaik sangka kepada Allah. Karena pada dasarnya sangkaAllah mengikuti sangka hamba-Nya. Dari Abu Hurairah Ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya : “Allah telah berfirman, ‘Aku selalu mengikuti sangka hamba-Ku......’.”(Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim). 9
  10. 10. 2. Syarat Kedua : Menyesal Atas Perbuatan Yang Terlanjur Dilakukan Ini adalah syarat taubat nashuha yang kedua. Bukan dinamakan taubatbila rasa penyesalan atas suatu perbuatan dosa yang dilakukan saja tidak ada. Dan,bagaimana pula akan menghentikan kemaksiatan dan sadar untuk bertaubat ?karena itu rasa penyesalan termasuk syarat taubat yang nashuha. Adapun ciri-ciri orang yang menyesal atas kemaksiatan yang terlanjurdilakukannya ialah sebagai berikut : 1. Melafadzkan Taubat dan Berdo’a Penyesalan selain terletak di hati juga harus dilafadzkan dengan lisan.Pelafadzan akan menguatkan hati dan memeliharanya dengan janji yang telahdiikrarkan dihadapan Allah. Dan Istighfar adalah lafadz bagi orang-orangbertaubat yang berisikan do’a-do’a memohon ampunan kepada Allah Ta’ala.Sedemikian pentingnya kedudukan pelafadzan istighfar sampai-sampai Rasulullahsetiap hari melakukan sebanyak tujuh puluh hingga seratus kali. Dari Abu Hurairah Ra. Bahwa Rasulullah bersabda yang artinya : “Demi Allah, sesungguhnya saya membaca istighfar dan bertaubat kepadaAllah tiap hari lebih dari tujuh puluh kali.” (Diriwayatkan Al-Bukhary). 2. Tidak Menangguhkan Taubat Ciri lain orang yang menyesal atas kemaksiatan yang dilakukan ialahtidak menangguhkan taubat, tapi menyegerakannya. Bila taubat ditangguhkanterlihattiada kesungguhan. Penangguhan disebabkan oleh keraguan sedangpenyegeraan dikarenakan takut dan penyesalan. Allah SWT berfirman yangartinya : 10
  11. 11. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surgayang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yangbertaqwa.” (Ali Imran : 133). 3. Mengganti Keburukan Dengan Kebaikan Penyesalan baru terlihat nyata setelah si Pelakunya mengadakanperbaikan. Sesal atas kemaksiata yang melekat di hati dan dikuatkan denganlafadz taubat, baru terbukti dengan praktek amal shaleh sebagai langkahmengadakan perbaikan. Allah SWT berfirman yang Artinya : “Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amalshaleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allahadalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan : 70).3. Syarat Ketiga : Niat Sungguh-sungguh Tidak Mengulangi Perbuatan Itu Kembali Syarat ketiga taubat nashuha ini pun memiliki ciri-ciri yang menunjukanbahwa seseorang berniat bersungguh-sungguh tidak mengulangi kemaksiatannyasetelah bertaubat. Diantara ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut : 1. Wara’ (berhati-hati) Sikap berhati-hati termasuk perkara yang dapat membentengi taubat darikerusakan akibat mengulangi perbuatan maksiatnya kembali. Keberadaan wara’bagi orang yang bertaubat menjadi pemelihara dan motor penggerak aktivitas-aktivitas ibadah sebagai manifestasi taubat yang nashuha menuju tingkatmuttaqin. Dari Athiyah bin Urwah Assa’dy Ra, bahwa Rasulullah SAW bersabdayang artinya : “seorang hamba tidak dapat mencapai tingkat muttaqin, hinggameninggalkan apa-apa yang tidak berdosa, karena khawatir terjerumus pada apayang berdosa.” (Diriwayatkan At-Tirmidzy). 11
  12. 12. 2. Menganjurkan Kebaikan dan Mencegah Kemungkaran Niat sungguh-sungguh tidak mengulangi perbuatan dosa, juga terlihat dariadanya kemauan yang kuat dari orang yang bertaubat menganjurkan kebaikan danmencegah kemungkaran kepada orang lain. Ini adalah wujud pernyataan dirinya perangsecara terbuka terhadap segala kemungkaran yang ia penah terjerumus kedalamnya dantelah merasakan langsung kemudharatannya. Kembalinya orang yang bertaubat ialahdengan mengikuti jalan Allah. 3. Menyadari Ujian Sebagai Peringatan Agar Bertaubat Banyak orang-orang yang bertaubat cepat merasa puas dan menganggapdirinya telah bersih. Mereka lupa bahwa syaitan tidak pernah berputus asamenjerumuskan manusia ke lembah dosa hanya dengan menggunakan satuumpan. Boleh jadi taubat seseorang atas suatu perbuatan dosa mencapai tingkatnashuha dan tidak dilakukannya lagi; tetapi itu bukan berarti ia telah bebassepenuhnya dan lolos begitu saja dengan umpan-umpan syaitan lainnya dengantingkat godaan yang lebih berat. Taubat terakhir dari keimanan, sedang keimanantidak diakui sebelum mengalami ujian.4. Syarat Keempat : Menyelesaikan Urusan dengan Orang Yang Berhak Syarat taubat keempat ini harus ditunaikan apabila perbuatan dosa yangdilakukan melanggar hak manusia. Seperti mencuri barang milik orang lain,berhutang yang tidak dilunasi, ghibah, mencaci maki, mengolok-olok, sumpahpalsu, ingkar janji, merusak nama baik orang, menyakiti badan, dan segalaperkara dosa yang terkait dengan hak manusia. Selain harus melakukan tiga syarattaubat sebelumnya, maka orang yang melakukan perbuatan dosa yangberhubungan dengan hak manusia harus melengkapi taubatnya dengan syaratkeempat ini. Ada-pun cara menyelesaikan urusan dengan orang yang dilanggarhaknya adalah : 12
  13. 13. 1. Mengembalikan Apa Yang Harus Dikembalikan 2. Meminta Ma’af Atau Halalnya Kepada Orang Yang Dilanggar Haknya Allah berfirman yang artinya : “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubatlahkepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akanmemberikan kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepadawaktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yangmempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, makasesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (QS. Huud : 3) Dari Abu Hurairah Ra, bahwa Rasulullah bersabda yang artinya : “Siapa yang merusak nama baik atau harta benda orang lain, maka mintama’aflah kepadanya sekarang ini, sebelum datang hari dimana mata uang tidakberlaku lagi. Kalau ia mempunyai amal baik, sebagian dari amal baiknya ituakan diambil sesuai dengan kadar aniaya yang telah dilakukannya. Kalau ia tidakmempunyai amal baik, maka dosa orang lain itu diambil dan ditambahkan kepadadosanya.”*(Diriwayatkan Al-Bukhary) *(dosa orang yang dilanggar haknya akanditimpakan kepada orang yang melanggarnya). Selain menunjukan pentingnya minta ma’af, hadits diatas berisikan pulaancaman atas mereka yang enggan meminta ma’af atau halalnya orang yang telahdilanggar haknya. 13
  14. 14. Macam-macam Taubat Dalam hal ini Imam Ghazali membagi taubat menjadi tiga tingkatan yaitu: 1. Taubat Orang Awam, taubat ini dilakukan atas dosa-dosa yang nyata atau kelihatan seperti dosa berzina, mencuri, korupsi, membunuh, minum- minuman keras, dan lainnya. 2. Taubat Khusus, taubat ini dilakukan atas dosa-dosa batin atau tidak kelihatan mata seperti dengki, riya’, ujub, takabur, dan lainnya. Sikap- sikap ini secara langsung tidak diketahui oleh orang lain. Namun demikian, akibat sikap ini bisa dirasakan oleh pihak lain. 3. Taubat Lebih Khusus, taubat ini dilakukan atas dosa/kasalahan lalai mengingat Allah. Taubat inilah yang dimaksudkan dalam Sabda Nabi Muhammad SAW yang menyatakan : “Aku beristighfar dan bertaubat lebih dari 70 kali dalam sehari”. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari). 14
  15. 15. BAB III PENUTUPA. Kesimpulan Dari pembahasan di atas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :1. Taubat merupakan ruh dan jasadnya adalah hijrah. Karena hijrah manifestasi dari taubat.2. Orang yang mengembalikan secara totalitas fitrah dirinya selaku insan kepada Allah selaku pencipta, Al-Khalik. Dengan kata lain, tidak mempersekutukan Allah dengan segala sesuatunya. Maka konsekwensinya, ia akan menjadi hamba yang rela, puas, dan taat diatur dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Sudah barang tentu ia pula yang menjadipemelihara dan pembela bagi agama Allah yang setia darigangguan apapun yang akan merusak fitrah manusia dari penghambaan kepada Khaliknya.3. Hijrah adalah manifestasi taubat nashuha. Dengan hijrah hidup fitrah dimulai, praktek-praktek amal shaleh didukung dan para pelanggarnya ditindak dengan hukum Allah yang universal ditegakkan.4. Niat ikhlas adalah syarat pokok semua ibadah yang diterima disisi Allah SWT. tidak dikatakan seseorangf melakukan taubat yang nashuha bila telah rusak niatnya.5. Berniat yang bersungguh-sungguh tidak akan mengulangi maksiat yang pernah dia lakukan.6. Macam-macam Taubat menurut Imam Ghazali dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu, Pertama : Taubat Orang Awam, Kedua : Taubat Khusus, Ketiga : Taubat Lebih Khusus. 15
  16. 16. Alhamdulillah, dengan pertolongan-Nya akhirnya penulisan makalahyang berjudul “Taubat Nashuha” ini bisa selesai. Karena itu, diharapkan kita bisamerealisasi diri dan bersegera bertaubat kepada allah Ta’ala sebelum terlambat.Wassalam. (Muhamad Amin) 16
  17. 17. DAFTAR PUSTAKAAmin, Mubin Ahmad.2002. “Empat Syarat Taubat Nashuha”.Jakarta :Darul Falah.Rahardjo, M. Dawan.2002. “Ensiklopedi Al-Qur’an”. Yogyakarta :Paramadina.Chalil, KH. Moenawar.1993. “Kelengkapan Tarikh Nabi MuhammadShallallahu ‘Alaihi Wa Sallam”. Jakarta : PT. Bulan Bintang.Al-Afifi, Thoha Abdullah.1994. “Tobat”. Surabaya : Risalah Gusti.www.google.com 17

×