Program filariasis di puskesmas

6,224 views
6,001 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
6,224
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
220
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Program filariasis di puskesmas

  1. 1. FILARIASISDr.Joni IswantoDinas Kesehatan Propinsi Sumatera Barat
  2. 2. FILARIASIS PENYAKIT MENULAR MENAHUN DISEBABKAN OLEH CACING FILARIA YANG DITULARKAN MELALUI BERBAGAI JENIS NYAMUK TERSEBAR LUAS DI PEDESAAN DAN PERKOTAAN, TERUTAMA DI PEDESAAN MENIMBULKAN KECACATAN MENETAP, STIGMA, PSIKOLOGIS, SOSIAL DAN EKONOMI MENURUNKAN KUALITAS SDMFILARIASIS DI INDONESIA DISEBABKAN OLEH 3 SPESIES CACING FILARIA YAITU : - WUCHERERIA BANCROFTI - BRUGIA MALAYI - BRUGIA TIMORIPENYEBARANNYA DISELURUH INDONESIA BAIK DI PEDESAAN MAUPUN DI PERKOTAAN TERUTAMA DI PEDESAAN
  3. 3. MORFOLOGI - BENTUKA. CACING DEWASA ATAU MAKROFILARIA BERBENTUK SILINDRIS, HALUS SEPERTI BENANG, PUTIH DAN HIDUP DI DALAM SISITEM LIMFE. UKURAN 55 – 100 MM x 0,16 MM CACING JANTAN LEBIH KECIL: 55 MM x 0,09 MM CACING BETINA BERKEMBANG SECARA OVOVIVIPAR, hasilkan mf 50 ribu / hariB. MIKROFILARIA MERUPAKAN LARVA DARI MAKROFILARIA SEKALI KELUAR JUMLAHNYA PULUHAN RIBU. MEMPUNYAI SARUNG. 200 – 600 X 8 um
  4. 4. P E N Y E B A B FILARIASIS 3 SPESIES CACING filaria
  5. 5. DI DALAM TUBUH NYAMUK Mf YANG DIISAP NYAMUK AKAN BERKEMBANG DALAM OTOT NYAMUK SETELAH 3 HARI MENJADI LARVA L1 SETELAH 6 HARI MENJADI LARVA L2 SETELAH 8-10 HARI UNTUK BRUGIA ATAU 10 – 14 HARI UNTUK WUCHERERIA AKAN MENJADI LARVA L3 LARVA L3 SANGAT AKTIF DAN MERUPAKAN LARVA INFEKTIF. DITULARKAN KEPADA MANUSIA MELALUI GIGITAN NYAMUK (TETAPI TDK. SPT MALARIA)
  6. 6. TEMPAT BERKEMBANG BIAK MANUSIA MERUPAKAN HOSPES DEFINITIF HAMPIR SEMUA DAPAT TERTULAR TERUTAMA PENDATANG DARI DAERAH NON-ENDEMIK BEBERAPA HEWAN DAPAT BERTINDAK SEBAGAI HOSPES RESERVOIR DI INDONESIA HANYA Brugia malayi sub periodik/ non periodik YANG DAPAT MENGINFEKSI HEWAN HEWAN TERSEBUT ADALAH: LUTUNG (Presbythis cristata), KERA EKOR PANJANG (Macaca fascicularis) DAN KUCING (Felis catus)
  7. 7. VEKTOR - PERANTARA NYAMUK MERUPAKAN VEKTOR FILARIASIS DI INDONESIA ADA 23 SPESIES NYAMUK YANG DIKETAHUI BERTINDAK SEBAGAI VEKTOR DAN POTENSIAL VEKTOR DARI 5 GENUS: MANSONIA, CULEX, ANOPHELES, AEDES DAN ARMIGERES. W.BANCROFTI TIPE PERKOTAAN VEKTORNYA CULEX QUINQUEFASCIATUS W.BANCROFTI TIPE PEDESAAN: ANOPHELES, AEDES DAN ARMIGERES B.MALAYI : MANSONIA SPP, AN.BARBIROSTRIS. B.TIMORI : AN. BARBIROSTRIS.
  8. 8. NYAMUK PENULAR FILARIASIS
  9. 9. LINGKUNGANA. LINGKUNGAN FISIK IKLIM, GEOGRAFIS, AIR DSB.B. LINGKUNGAN BIOLOGIK LINGKUNGAN HAYATI YG MEMPENGARUHI PENULARAN; HUTAN, RESERVOIR, VEKTORC. LINGKUNGAN SOSIAL-EKONIMI-BUDAYA KAP ADAT ISTIADAT, KEBIASAAN DSB EKONOMI: CARA BERTANI, MENCARI ROTAN, GETAH DSB
  10. 10. PENULARAN PENULARAN DAPAT TERJADI APABILA ADA LIMA UNSUR UTAMA:  SUMBER PENULAR  PARASIT  VEKTOR  MANUSIA YANG RENTAN  LINGKUNGAN (FISIK, BIOLOGIK EKONOMI DAN SOSIAL-BUDAYA)
  11. 11. A. PatogenesisPerjalanan Penyakit dipengaruhi oleh : Kerentanan individu thd parasit Seringnya mendapat gigitan nyamuk Banyaknya larva infektif masuk ke dl tubuh Adanya infeksi bakteri / jamur.
  12. 12. 1. Gejala Klinis Akut Gejala klinis akut berupa GX.lokal - Limfangitis - Limfadenitis - Adenolimfangitis/ ADL - Abses, dapat pecah dan sembuh dengan parut - GX. Umum demam, sakit kepala, rasa lemah(banyak terlihat infeksi dengan B.malayi dan B. timori). Pada infeksi Wuchereria ditemukan demam bila terjadi orkitis, epididimitis,funikulitis & orkalgia.
  13. 13. B. Gejala Klinis  ada dua gx klinis yaitu gx klinis akut dan gx klinis kronis  pada dasarnya gx klinis akut sama hanya saja tampak lebih jelas pd Brugia. Infeksi Wuchereria  kelainan dapat pd sal kemih / alat kelamin.
  14. 14. 2. Gejala klinis kronisa). Limfedema Infeksi Wuchereria Mengenai seluruh kaki/lengan, skrotum, penis, Vulva vagina & payudara, Infeksi Brugia dapat mengenai kaki / lengan di bawah lutut / siku  Lutut , Siku masih normalb). Hidrokel Pelebaran kantung buah zakar yang berisi cairan limfe. dapat sbg indikator endemisitas filariasis bancrofti.c). Kiluria Kencing spti susukebocoran sal limfe di pelvik ginjal , jarang ditemukan
  15. 15. Kita Harus Mengurangi Dampak Tersebut Dengan Cara Memutus Mata RantaiPenularan Untuk Mengurangi Penyebaran ( Eliminasi ) Dengan Cara Melakukan Pengobatan Massal
  16. 16. RAPID SURVEY -> KASUS KLINISNo KAB/ KOTA JML JML PUSK JML KASUS KETERANGAN PUSKES YG SDJ MAS MELAPOR 1 Kab. Pd. Pariaman 23 3 6 - 2 Kab. T. datar 22 7 9 Mf rate 0, ulang SDJ 3 Kab. Pesisir Selatan 18 7 38 MF Rate 1- 2,42 4 Kab. Agam 21 3 16 MF RATE 7,3 - 8,7 5 Kab. 5o Kota 19 4 5 MF Rate 0,73 - 1,43 6 Kab. Pasaman 9 2 2 - 7 Kab.Sawahlunto Sijunjung 12 3 5 MF Rate 0 8 Kab. Solok 18 4 4 MF rate 0 9 Kab. Kep. mentawai 6 3 12 MF Rate 2,92 10 Kota Padang 19 5 7 Belum SDJ 11 Kota Bukittinggi 4 1 1 MF Rate 1,42 12 Kab. Dharmasraya 8 3 11 - 13 Kab. Solok Selatan 6 1 2 14 Kab. Pasaman Barat 11 7 46 MF rate 3,2 – 18,48
  17. 17. PETA LOKASI KASUS KLINIS FILARIASIS SUMBAR PASAMAN (2) TAHUN 2005 PASAMAN 50 BARAT ( 46) KOTA(5) BKT PYK AGAM(16) M T. DATAR(9) E PD. PR(6) PP N SWL T PAR 2) W (12) PDG(7) SWL SJJ(5) SOLOK DHARMASRAYA (11) SOLOK (4) P E S S SOLOK SELATAN(2) E L (38) TIDAK ADA KASUS 1. KOTA BUKITTINGGI 2. KOTA PARIAMAN 3. KOTA P. PANJANGADA KASUS KLINIS ( ) 4. KOTA PAYAKUMBUH 5. KOTA SOLOKTIDAK ADA KASUS KLINIS
  18. 18. PETA ENDEMISITAS FILARIASIS SUMBAR TAHUN 2005 BERDASARKAN HASIL SDJ PASAMAN PASAMAN 50 KOTA BARAT PYK BKT AGAMM T. DATAR E PD. PR PP N SWL T PAR W PDG SWL SJJ SOLOK DHARMASRAYA SOLOK P E S S SOLOK SELATAN E LMFR > 1 % ( ENDEMIS)MFR < 1 %MFR 0 % dilakukan SDJ ulangHASIL SDJ (MFR) BELUM DIKETAHUI DAN TIDAK ADA KASUS
  19. 19. 1. PEMUTUSAN TRANSMISI Pengobatan Massal (MDA) pada populasi beresiko (at risk) Dengan Obat DEC, Albendazole & Paracetamol, Sekali setahun selama minimal 5 tahun berturut-turut2. PENGENDALIAN ANGKA KESAKITAN (DISABILITY AND CONTROL) Perawatan di tingkat Masyarakat pada kasus - Limfedema , hidrokel - Serangan Akut Limfedema dan hidrokel Di Rumah Sakit - Operasi Hidrokel
  20. 20. Tujuan Eliminasi Filariasis Tujuan Umum : Filariasis tidak menjadi masalah dalam kesehatan masyarakat Tujuan Khusus :  Menurunnya Micro Filaria (MF) rate < 1%  Menurunnya serangan akut pada penderita kasus kronis  Tidak bertambahnya kasus kronis baru  Mencegah dan membatasi kecacatan
  21. 21. 1. Eliminasi Filariasis merupakan salah satu prioritas nasional pemberantasan penyakit menular.2. Eliminasi dilaksanakan dengan 2 kegiatan pokok : - Pengobatan massal didaerah endemis - Penatalaksanaan kasus klinis (individual)3. Satuan lokasi pelaksanaan (Implementation Unit) adalah kabupaten / kota.4. Mencegah penyebaran filariasis antar kabupaten, propinsi dan negara.
  22. 22. STRATEGI1. Memutuskan mata rantai penularan filariasis dengan pengobatan masal didaerah endemis filariasis2. Mencegah dan membatasi kecacatan dengan penatalaksanaan kasus filariasis3. Mengembangkan peneletian dan memperkuat surveilans4. Pengendalian Vektor Terpadu
  23. 23. PENGORGANISASIAN & PEMBIAYAAN PENGOBATAN MASSAL : 1. OPERASIONAL  APBD KABUPATEN 2. OBAT DEC OBAT EFEK SAMPING  APBN PUSAT 3. ALBENDAZOLE  WHO BASELINE SURVAI & EVALUASI  APBD PROPINSI / PUSAT
  24. 24. INDIKATOR KINERJA1. Kabupaten yang dapat menurunkan mikrofilaria (Mf Rate) < 1%2. % kasus klinis filariasis yang ditangani pertahun (90 %)
  25. 25. PENTAHAPAN ELIMINASI FILARIASIS1. Penemuan kasus kronis Filariasis survai cepat2. Pemetaan endemisitas kabupaten / kota3. MDA, tatalaksana kasus klinis filariasis4. Monitoring & evaluasi5. Sertifikasi eliminasi filariasis
  26. 26. PENGOBATAN MASSAL / MDA FILARIASISTujuan1. Menurunkan mf rate < 1%2. Menurunkan kepadatan rata-rata mfSasaran Seluruh pdd yang tinggal di daerah endemis filariasis. Pengobatan untuk sementara ditunda bagi :  Anak usia < 2 tahun  Ibu hamil  Ibu menyusui  Orang sedang sakit berat  Kasus kronis filariasis dalam serangan akut  Balita marasmus / kwasiorkor
  27. 27. Jenis Obat 1. Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) a. Sifat kimiawi & fisika o Tidak berwarna o Tidak berbau o Larut dalam air o Rasa sedikit pahit o Stabil suhu 15-30 °C o Sediaan tablet @ 100 mg
  28. 28. b. Cara Kerja DEC 1. Melumpuhkan otot mf, mf tidak dpt bertahan di tempat hidupnya 2. Mengubah komposisi dinding mf, jadi lebih mudah dihancurkan oleh sistim pertahanan tubuh  Dalam bbrp jam mf di sirkulasi darah mati 3. Menyebabkan matinya sebagian cacing dewasa. - Cacing dewasa yang masih hidup dapat dihambat untuk memproduksi mf selama 9 – 12 bulan. - Setelah diminum, DEC cepat diserap oleh saluran cerna, kadar maksimal dalam plasma darah stl 4 jam, diekskresikan seluruhnya melalui urin dalam wk 48 jam
  29. 29. 2. Albendazole - dikenal sbg obat cacing usus (cacing gelang, kremi, cambuk & tambang). - Di daerah endemis filariasis, kecacingan usus, ditemukan cukup tinggi  Albendazole efektif mematikan cacing usus - Albendazol meningkatkan efek DEC dalam mematikan cacing filaria dewasa dan mf tanpa menambah reaksi yang tidak dikehendaki.3. Obat Reaksi Pengobatan - Paracetamol - Antibiotika oral - CTM - Vitamin B6 - Antasida doen - Kortikosteroid injeksi - Salep antibiotika - Adrenalin Injeksi
  30. 30. Cara Pemberian Obat- Obat MDA DEC, Albendazole dan Paracetamol , dosis tunggal, sekali setahun, minimal 5 tahun.-Dosis DEC 6 mg/KgBB, Albendazole 400 mg untuk semua gol. umur dan paracetamol 10 mg/KgBB . Obat diminum sesudah makan, di depan petugas.- Untuk memudahkan pemberian obat di masy , Dosis obat berdasarkan umurTabel Dosis Obat Berdasarkan Umur UMUR DEC (100 mg) Albendazole Paracetamol (Tahun) (Tablet) (400mg) (500mg) (Tablet) (Tablet) 2-5 1 1 0,25 6 - 14 2 1 0,5 > 14 3 1 1
  31. 31. Reaksi PengobatanObat DEC &Albendazole, aman, memiliki toleransi baik tetapi kadangterjadi reaksi pengobatan terutama infeksi Brugia malayi dan Brugiatimori.A.Macam Reaksi Pengobatan 1. Reaksi Umum - Respon imunitas individu terhadap matinya mf, makin banyak mf yang mati makin besar reaksi terjadi. - Terjadi 3 hari pertama stl MDA. - Reaksi ringan sembuh sendiri tanpa diobati. - Berupa sakit kepala, pusing, demam, mual, menurunnya nafsu makan, muntah, sakit otot, sakit sendi, lesu, gatal-gatal, keluar cacing usus, di paru-paru (asma bronkial dan “wheezing”).
  32. 32. 2. Reaksi Lokal - Akibat matinya cacing dewasa - Timbul sampai 3 minggu setelah MDA. a. Reaksi lokal pada infeksi W. bancrofti  Nodul di kulit skrotum paling sering terjadi.  Funikulitis  Epididimitis  Orkitis  Orkalgia
  33. 33. a. Reaksi lokal pada infeksi Brugia malayi dan Brugia timori  Limfadenitis  Limfangitis  Adenolimfangitis  Abses  Ulkus  LimfedemaB. Penatalaksanaan Reaksi Pengobatan - Yang penting adalah # penjelasan reaksi obat pada pdd agar tidak takut. # tidak menolak diobati tahap selanjutnya. - Tatalaksana reaksi yang tidak tepat  memberikan dampak buruk di masy di daerah endemis, mengganggu jalannya PELF
  34. 34. OLEH KARENA ITU PERLU DILAKUKAN:1. Informasikan masyreaksi dpt terjadi namun persentasenya kecil.2. Informasikan masy, tempat mendapat pertolongan .3. Puskesmas cukup memiliki stok obat reaksi.4. Penyebarluasan informasi dokter praktek dimana MDA dilaksanakan , bentuk sistem rujukan dengan RS pemerintah / swasta5. Obat diminum sesudah makan.6. Sasaran yang ditunda jangan diberikan obat pengobatan reaksi sesuai gejala yang timbul:  Paracetamol  CTM  Antasida Doen  Salep antibiotika  Amoksisilin kaplet
  35. 35. RENCANA PELAKSANAAN MDA DI SUMATERA BARATNo Kabupaten/Kota Jml Tahun Pelaksanaan Ket Penduduk (jiwa) 04 05 06 07 08 09 10 11 12 131 Kep.Mentawai 58.316.- 2 4 4 4 2 2 4 kec2 Pasaman Barat 316.717.- 2 4 11 11 11 9 7 11 kec3 Agam 433.526.- 1 2 15 15 15 14 13 15 kec4 Pesisir Selatan 396.017.- 2 11 11 11 11 9 12 kec5 50 Kota 322.271.- 2 4 13 13 13 11 9 13 kec Total kec 2 9 16 54 52 52 45 38 Tahap I 2 7 7 38 0 0 0 0
  36. 36. REALISASI PELAKSANAAN MDA DI SUMATERA BARATNo Kabupaten/Kota Jml Tahun Pelaksanaan Penduduk (jiwa) 04 05 06 07 08 09 10 11 12 131 Kep.Mentawai 58.316.- 2 4 4 OKT2 Pasaman Barat 316.717.- 2 63 Agam 433.526.- 1 44 Pesisir Selatan 396.017.- 5 45 50 Kota 322.271.- 1 - OKT6 BUKITTINGGI 4 Total kec 2 8 20 16
  37. 37. Aku ingin Generasi BaruIndonesia Bebasdari Filariasis !!
  38. 38. Permasalahan MDAAlokasi dana operasional MDA sekalisetahun selama minimal 5 tahun berturut-turut di Kabupaten/Kota yang terbatas& tidak berkesinambungansehingga : - MDA terputus sehingga tidak bermanfaat - MDA seluas kecamatan dan tidak diperluas , mudah terjadi reinfeksi dan pencapaian eliminasi terlambat

×