Puisi untuk ibu
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Puisi untuk ibu

on

  • 1,026 views

 

Statistics

Views

Total Views
1,026
Views on SlideShare
1,026
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
4
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Puisi untuk ibu Puisi untuk ibu Document Transcript

  • Cerpen B.Indonesia Nama: Altafiyani Rahmatika Kelas : IX D
  • Puisi Untuk Ibu Teriknya mentari dan hembusan angin bercampur debu melengkapi hari yang melelahkanini. Bel pulang sekolah berbunyi, membuat anak-anak berhamburan keluar kelas. Melihatkeadaan di luar, anak-anak menjadi malas pulang. Mereka lebih memilih untuk menunggu disekolah sampai sore nanti. Tetapi ada juga yang tidak ingin di sekolah lebih lama lagi. Sepertihalnya gadis remaja itu. Ia melangkahkan kakinya keluar kelas menuju pintu gerbangsekolahnya sambil menggendong tas dan membawa beberapa buku di tangannya. “Rifa, kamu sudah pulang?” tanya seorang wanita paruh baya ketika Rifa memasukirumahnya. Wanita itu ternyata ibunya Rifa. “Sudah, Bu.” jawab Rifa singkat sambil mencium tangan ibunya. Ia lalu bergegas mandidan berganti pakaian. Panas mentari yang menyengatnya sewaktu jalan kaki tadi membuatseragamnya basah oleh keringat. Setelah mandi dan berganti pakaian, ia berjalan menuju kamar tidurnya. Ia rebahkantubuhnya di atas kasur dan perlahan-lahan kedua kelopak matanya mulai menutup. Sekilas iateringat ayahnya. Ayahnya yang sudah lama pergi entah kemana. Sampai sekarang pun ia tidakpernah tahu dimana ayahnya berada. Ia tidak tahu apa-apa karena dulu ia masih berumur duatahun. Yang ia tahu hanya wajahnya saja, itu pun karena foto yang diberi ibunya. Saat iabertanya keberadaan ayahnya, ibunya hanya menjawab bahwa ayahnya pergi ke tempat yangsangat jauh untuk bekerja. Apakah harus seperti itu? Rela meninggalkan keluarganya sendiridemi pekerjaan dan tak pernah kembali. Tiba-tiba Rifa ingat bahwa tiga hari lagi ibunya ulang tahun. Ia langsung membuka keduakelopak matanya dan beranjak dari tempat tidur. Ia duduk di kursi dekat meja belajarnya.Memikirkan kado terindah untuk orang yang paling berharga dalam hidupnya. Pikirannya punmulai melayang jauh. Tatapan matanya menuju langit-langit ruangan itu. Jemari tangankanannya menopang dagunya. Sesekali ia memandang lukisan-lukisan hasil karyanya yangditempel di dinding. Lukisan? Itu sudah biasa. Ia ingin yang beda dari tahun-tahun sebelumnya. Setelah lama berpikir, Rifa baru ingat. Di sekolah, ia tadi belajar puisi saat pelajaranBahasa Indonesia. Sempat terlintas di benaknya, ia akan buat puisi untuk ibunya. Tetapi, iatidak ahli membuat puisi. Ia lalu mendapat ide. Besok, ia akan meminta pada Neza, temannyayang pintar membuat puisi. Keesokan harinya, disambut dengan tetesan embun yang sejuk, burung-burung yangberkicau, dan mentari yang bersinar cerah, Rifa berangkat sekolah. Ia mengiringi langkahkakinya dengan senandung kecil dari mulutnya. Bunga-bunga dan rerumputan hijau di sisi jalanseakan menari-nari mendengar alunan melodi dari mulut Rifa. Ia memang berbakat dalambidang melukis dan tarik suara. “Neza!” panggil Rifa saat ia mulai melangkahkan kaki ke dalam kelas. Rupanya iamelihat Neza sedang duduk di bangku paling depan.
  • “Ada apa?” tanya Neza heran. Panggilan Rifa yang keras dan tiba-tiba itu nyaris membuatdetak jantungnya berhenti. “Nih, buatkan aku puisi!” pinta Rifa tersenyum sambil menyodorkan secarik kertas danpensil yang sudah ia siapkan dari rumahnya. “Puisi? Untuk apa?” tanya Neza bingung melihat temannya yang antusias memintadibuatkan sebuah puisi. Padahal hari itu tidak ada pelajaran Bahasa Indonesia. “Dua hari lagi ibuku ulang tahun. Seperti biasa, aku ingin memberinya hadiah spesial.Maka itu, aku ingin memberinya sebuah puisi. Kamu kan ahli buat puisi, jadi buatkan aku puisitentang ibu, ya?” pinta Rifa lagi. Namun saat ini wajahnya memelas. “Asal kamu tahu, ibumu akan lebih bangga kalau puisi yang kamu beri itu hasil karyamusendiri. Kamu pasti bisa kalau kamu tulus membuat puisi itu. Apalagi kalau puisi itu untukorang yang paling berharga dalam hidupmu. Maaf, bukannya aku tidak mau membantu. Tetapialangkah baiknya jika puisi itu kamu buat sendiri sesuai dengan ungkapan hati kamu.” ujarNeza sambil mengembalikan kertas dan pensil milik Rifa. Bel masuk berbunyi. Rifa yang tadinya terdiam mendengar kata-kata Neza, langsungbergegas menuju bangkunya sendiri. Kata-kata Neza membuatnya malu. Benar juga apa kataNeza, lebih baik ia membuat puisi sendiri. Detik demi detik telah berlalu. Rifa masih bingung mencari kata-kata yang pas untukpuisinya. Ungkapan hati kepada ibunya terlalu banyak dan tidak akan mungkin semuanya iatulis. Yang ia inginkan seluruh ungkapan hatinya itu dibuat menjadi beberapa kalimatsederhana, tersusun dalam beberapa bait, dan menjadi sebuah puisi. Hari ini dan hari esok, tepat satu hari lagi ibu Rifa ulang tahun. Ia cemas karena ia barumembuat enam kalimat. Itu pun ia buat dengan susah payah. Ia rela menguras pikirannya hanyakarena puisi itu. “Ah, dapat! Dapat satu kalimat lagi!” ucap Rifa tersenyum puas saat jam istirahat . Lalumenuliskan sesuatu di buku catatannya. Teman-teman sekelasnya hanya melihat kebingungan.Sementara Rifa terus menulis kata-kata yang baru saja melintas di pikirannya. Dimanapun dan kapanpun, itulah Rifa. Tidak peduli waktu dan tempat. Yang penting,puisinya cepat selesai dan pada waktunya nanti, puisinya itu siap diberikan kepada ibunya.Idenya memang selalu muncul secara tiba-tiba dan tidak mengenal waktu. Saat belanja diwarung, jam istirahat sekolah, bangun tidur, saat makan, bahkan saat mandi pun ia bisamenemukan ide. Tidak harus duduk berdiam diri di kamarnya lagi. Waktunya tiba, perasaan Rifa menjadi tidak karuan. Pagi tadi ia berpura-pura tidak ingatulang tahun ibunya. Ia berencana akan mengucapkan selamat ulang tahun pada ibunya saat iapulang sekolah, beserta puisi yang telah ia buat. Ia ingin membuat sebuah kejutan. Kejutan yangmenurutnya cukup istimewa.
  • Sesampainya di rumah, ibunya sudah berdiri di depan pintu. Wajahnya tampak cemas.Saat melihat Rifa, ibunya langsung mendekati Rifa. “Rifa, saat ini juga Ibu mohon. Tolong kamu temui ayahmu! Ini alamatnya.” pinta ibunyacemas sambil menyodorkan kertas kecil berisi tulisan. “Temui ayah? Untuk apa? Bukankah ayah telah meninggalkan kita selama 12 tahun dantidak pernah kembali lagi? Ayah tidak sayang kepada kita. Ayah tidak tanggung jawab. Tetapikenapa Ibu menyuruhku menemuinya sekarang juga? Sampai kapanpun, aku tidak pernahmengakui dia ayahku!” jawab Rifa ketus. Rifa menjadi lupa rencana membuat kejutan untukibunya. “Kamu tidak boleh seperti itu! Bagaimanapun juga dia ayahmu. Tanpanya, kamu tidakakan ada di dunia ini. Kamu harus tetap menghormatinya, Nak. Tadi Ibu ditelepon bahwaayahmu sedang sakit. Ia ingin sekali bertemu denganmu. Kasihanilah ayahmu! Kamu janganmenjadi anak durhaka.” pinta ibunya lagi. “Mengapa Ibu tidak mengerti perasaanku? Ternyata Ibu sama seperti ayah. Tidak pedulidengan aku. Aku tidak mau bertemu Ibu lagi!” ucap Rifa sambil berlari menjauhi rumahnya.Tidak disadari, butiran air matanya mulai membasahi pipinya. “Tunggu, Nak! Jangan pergi!” ibunya langsung mengejar Rifa setelah melihat anaknyapergi. Rifa terus berlari tanpa tujuan yang pasti. Ia tidak tahu harus kemana. Ia sedih karenasudah tidak ada lagi yang mengerti perasaannya. Ia tidak mempedulikan air matanya yang terusmenetes dan teriakan ibunya. Pokoknya, ia tidak mau bertemu ibunya lagi. “Nak, awas!” tiba-tiba ibunya berteriak dari kejauhan. Tak ada yang bisa dicegah. Semuanya terjadi begitu cepat. Begitu juga dengan kecelakaanitu. Rupanya, Rifa tidak sadar bahwa tadi ia telah berlari sampai ke jalan raya. Pikiran danperasaannya sedang hancur. Karena itu ia tidak peduli keadaan di sekelilingnya. Rifa tergeletakdi jalan dan tak sadarkan diri. Benturan keras di kepalanya membuat darah tak henti-hentinyamengalir. Orang-orang yang melihat kejadian itu langsung berlari mengerumuni Rifa. Ibunyalangsung berlari dan menerobos orang-orang yang sedang berkerumun itu. “Riiffaaaaa!!!! Maafkan Ibu, Nak!!” teriak ibunya keras sekali. Ia tidak berhentimenangis. Menangisi putri semata wayangnya. Hanya Rifa satu-satunya harta yang palingberharga dalam hidupnya. Lima hari kemudian, setelah Rifa dimakamkan, ibu Rifa menemukan sebuah amplop dibawah bantal tempat tidur Rifa. Di bagian depan amplop itu tertulis “Selamat Ulang TahunIbu”. Ibunya tersenyum kaku membaca tulisan putrinya itu. Lalu perlahan ia buka isinya.Terdapat selembar kertas berisi tulisan. Ibu Rifa pun membaca isi tulisan itu.
  • Ibuku tersayang, ku harap ibu menerima hadiah ini. Ku harap, ibu tidak melihatwujudnya, tetapi lihat ketulusan Rifa memberi hadiah ini. Aku berusaha membuat sesuatu yangterbaik, yang dapat membuat ibu bangga. Hanya ini yang dapat Rifa beri. Sebuah puisi. Untukmu Ibu Terdiam menunduk sepi Terbayang banyak jasamu Aku tak tahu Balasan apa yang sesuai untukmu Ketika ayah tak lagi di sisiku Engkau merangkulku Pelukan hangatmu Buatku lupa rasa amarah Kau seperti mentari di pagi hari Cahayanya membawa kehidupan Kau seperti rembulan di malam hari Bersinar terang dalam kegelapan Goresan puisi ini belum tentu indah Namun ku hanya ingin Melihatmu tersenyum bahagia Sebelum aku atau kau tiada Itulah puisi karyaku. Aku ingin ibu selalu ingat puisi ini. Tak sengaja air mata mulai membasahi pipi ibu Rifa. Ia tak kuasa menahan tangis ketikamembaca puisi hasil karya putrinya yang paling ia cintai. Sungguh itu puisi yang sangat indahmenurutnya. Namun sayang, kini putrinya itu telah tiada.