Rjp dan defibrilasi ( pertemuan keempat)

5,150 views
4,838 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
5,150
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
248
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Rjp dan defibrilasi ( pertemuan keempat)

  1. 1. RESUSITASI JANTUNG PARUDAN DEFIBRILASI Alie, S.Kep, Ns
  2. 2. HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN SEBELUM MELALUKAN RJP Jika kita melihat pasien/korban yang tergeletak tampak tidak bernafas, pertama kali yang kita harus lakukan adalah memastikan bahwa lingkungan di sekitar korban yang tergeletak itu aman. Nilai respon pasien apakah pasien benar-benar tidak sadar atau hanya tidur saja. Mengecek kesadarannya dengan cara memanggil-manggil nama pasien, menepuk atau menggoyang bahu pasien, misalnya “Pak-pak bangun !” atau “Bapak baik-baik saja?” Jika masih belum sadar atau bangun juga bisa diberi rangsang nyeri seperti menekan pangkal kuku jari.
  3. 3. NEXT... Tidak ada respon berarti pasien tidak sadar. Aktifkan sistem emergensi dengan cara meminta tolong dibawakan alat-alat emergensi atau dipanggilkan petugas terlatih atau ambulan jika berada di luar RS. Misalnya ‘Tolong ada pasien tidak sadar di ruang A, ”tolong panggil petugas emergensi ” atau ”Tolong ambil alat-alat emergensi ada pasien tidak sadar di ruang A”. INGAT ! Dalam menolong pasien tidak sadar, kita tidak mungkin bekerja sendiri jadi harus meminta bantuan orang lain. Dalam meminta bantuan, penolong harus menginformasikan kepada petugas gawat darurat mengenai lokasi kejadian, penyebabnya, jumlah dan kondisi korban dan jenis pertolongan yang akan diberikan.
  4. 4. NEXT... Gunakan manuver chin lift untuk membuka jalan nafas korban yang tidak mengalami cedera kepala dan leher. Jika diperkirakan ada trauma leher maka gunakan tehnik jaw thrust. Jika yakin tidak ada pernafasan maka segera beri nafas buatan dua kali pernafasan dengan tetap menjamin terbukanya jalan nafas. nafas buatan diberikan segera nilai sirkulasi dengan mengecek nadi arteri karotis. Nadi carotis dapat diraba dengan menggunakan 2 atau 3 jari menempel pada daerah kira-kira 2 cm dari garis tengah leher atau jakun pada sisi yang paling dekat dengan pemeriksa. Waktu yang tersedia untuk mengukur nadi carotis sekitar 5 – 10 detik.
  5. 5. NEXT... Jika nadi teraba, nafas buatan diteruskan dengan kecepatan 10-12 kali/menit atau satu kali pernafasan diberikan setiap 5-6 detik disertai pemberian oksigen dan pemasangan infus. Pikirkan penyebabnya hipotensi/syok, edema paru, infark myokard dan aritmia. Jika nadi tidak teraba segera lakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) dengan perbandingan kompresi dada (pijat jantung luar) 30 dan ventilasi (nafas buatan) 2 kali. Kecepatan kompresi dada adalah 100 kali/menit.
  6. 6. INDIKASI DILAKUKANNYA RJP Tenggelam Hipotermi Sumbatan jalan nafas oleh benda asing
  7. 7. NEXT... Tenggelam Tenggelam merupakan penyebab kematian yang dapat dicegah. Keberhasilan menolong korban tenggelam tergantung dari lama dan beratnya derajat hipoksia. Penolong harus melakukan RJP terutama memberikan bantuan nafas, secepat mungkin setelah korban dikeluarkan dari air. Setelah melakukan RJP selama 5 siklus barulah seorang penolong mengaktifkan system emergensi. Manuver yang dilakukan untuk menghilangkan sumbatan jalan nafas tidak direkomendasikan karena bisa menyebabkan trauma, muntah dan aspirasi serta memperlambat RJP.
  8. 8. NEXT... Hipotermi Pada pasien tidak sadar oleh karena hipotermi, penolong harus menilai pernafasan untuk mengetahui ada tidaknya henti nafas dan menilai denyut nadi unuk menilai ada tidaknya henti jantung atau adanya bradikardi selama 30-45 detik karena frekuensi jantung dan pernafasan sangat lambat tergantung derajat hipotermi. Jika korban tidak bernafas, segera beri pernafasan buatan. Jika nadi tidak ada segera lakukan kompresi dada. Jangan menunggu suhu tubuh menjadi hangat. Untuk mencegah hilangnya panas tubuh korban, lepaskan pakaian basah, beri selimut hangat jika mungkin beri oksigen hangat.
  9. 9. NEXT... Sumbatan Jalan Nafas Oleh Benda Asing Biasanya dilakukan tindakan trakeostomy jika tindakan RJP kurang efektif.
  10. 10. PROSEDUR RJP UNTUK DEWASA Penderita harus berbaring terlentang di atas alas yang keras. Posisi penolong berlutut di sisi korban sejajar dengan dada penderita. Penolong meletakkan bagian yang keras telapak tangan pertama penolong di atas tulang sternum di tengah dada di antara kedua puting susu penderita (2-3 jari di atas prosesus Xihoideus) dan letakkan telapak tangan kedua di atas telapak tangan pertama sehingga telapak tangan saling menumpuk. Kedua lutut penolong merapat, lutut menempel bahu korban, kedua lengan tegak lurus, pijatan dengan cara menjatuhkan berat badan penolong ke sternum.
  11. 11. NEXT... Tekan tulang sternum sedalam 4-5 cm (1 ½ - 2 inci) kemudian biarkan dada kembali normal (relaksasi). Waktu kompresi dan relaksasi dada diusahakan sama. Jika ada dua penolong, penolong pertama sedang melakukan kompresi maka penolong kedua sambil menunggu pemberian ventilasi sebaiknya meraba arteri karotis untuk mengetahui apakah kompresi yang dilakukan sudah efektif. Jika nadi teraba berarti kompresi efektif.
  12. 12. NEXT... Setelah 30 kali kompresi dihentikan diteruskan dengan pemberian ventilasi 2 kali (1 siklus = 30 kali kompres dan 2 kali ventilasi). Setiap 5 siklus dilakukan monitoring denyut nadi dan pergantian posisi penolong jika penolong lebih dari satu orang.
  13. 13. NEXT... Jika terpasang ETT maka tidak menggunakan siklus 30 : 2 lagi. Kompresi dilakukan dengan kecepatan 100 kali/menit tanpa berhenti dan ventilasi dilakukan 8-10 kali/menit. Setiap 2 menit dilakukan pergantian posisi untuk mencegah kelelahan.
  14. 14. PROSEDUR RJP PADA ANAK Letakkan penderita pada posisi terlentang di atas alas yang keras Tiup nafas dua kali (tanpa alat atau dengan alat) Pijat jantung dengan menggunakan satu tangan dengan bertumpu pada telapak tangan di atas tulang dada, di tengah sternum. Penekanan tulang dada dilakukan sampai turun ± 3-4 cm dengan frekuensi 100 kali/menit.
  15. 15. PROSEDUR RJP PADA BAYI Letakkan penderita pada posisi terlentang di atas alas yang keras Tiup nafas 2 kali Untuk pijat jantung gunakan penekanan dua atau tiga jari. Bisa menggunakan ibu jari tangan kanan dan kiri menekan dada dengan kedua tangan melingkari punggung dan dada bayi. Bisa juga dengan menggunakan jari telunjuk, jari tengah dan atau jari manis langsung menekan dada. Tekan tulang dada sampai turun kira-kira sepertiga diameter anterior-posterior rongga dada bayi dengan frekuensi minimal 100 kali/menit.
  16. 16.  DEFINISI Adalah pengobatan yang menggunakan aliran listrik dalam waktu yang singkat secara asinkron.
  17. 17. KOMPLIKASI DEFIBRILASI Henti jantung-nafas dan kematian Anoxia cerebral (kekurangan kadar O2 Otak) sampai dengan kematian otak Gagal nafas Asistole (tidak terdengarnya bunyi pertama) Luka bakar Hipotensi Disfungsi pace-maker
  18. 18. INDIKASI VF (Ventrikel Fibrilation) denyutan ventrikel yang cepat dan tidak efektif. VF tanpa Pols VT polymorphyc (denyut Nadi ) yang tidak stabil
  19. 19. DEFIBRILASI HARUS DILAKUKAN SEDINI MUNGKIN DENGAN ALASAN... Irama yang didapat pada permulaan henti jantung umumnya adalah ventrikel fibrilasi (VF) Pengobatan yang paling efektif untuk ventrikel fibrilasi adalah defibrilasi. Makin lambat defibrilasi dilakukan, makin kurang kemungkinan keberhasilannya. Ventrikel fibrilasi cenderung untuk berubah menjadi asistol dalam waktu beberapa menit.
  20. 20. PERSIAPAN ALAT Defibrillator dengan monitor EKG dan pedalnya Jelly Obat-obat Emergency (Epinephrine, Lidocain, SA, Procainamid, dll) Oksigen Face mask Papan resusitasi Peralatan intubasi dan suction Peralatan pacu jantung emergency
  21. 21. NEXT...Alat yang dipergunakanDefibrilator Defibrilator adalah alat yang dapat memberikan shock listrik dan dapat menyebabkan depolarisasi sementara dari jantung yang denyutnya tidak teratur, sehingga memungkinkan timbulnya kembali aktifitas listrik jantung yang terkoordinir. Defibrilator diklasifikasikan menurut 2 tipe bentuk gelombangnya yaitu monophasic dan biphasic. Defibrilator monophasic adalah tipe defibrilator yang pertama kali diperkenalkan, defibrilator biphasic adalah defibrilator yang digunakan pada defibrilator manual yang banyak dipasarkan saat ini.
  22. 22. PERSIAPAN PASIEN Pastikan pasien dan atau keluarga mengerti prosedur yang akan dilakukan Letakkan pasien diatas papan resusitasi pada posisi supine Jauhkan barang-barang yang tersebut dari bahan metal dan air disekitar pasien Lepaskan gigi palsu atau protesa lain yang dikenakan pasien untuk mencegah obstruksi jalan nafas Lakukan RKP secepatnya jika alat-alat defibrillator belum siap untuk mempertahankan cardiac output yang akan mencegah kerusakan organ dan jaringan yang irreversible. Berikan oksigen dengan face masker untuk mempertahankan oksigenasi tetap adekuat yang akan mengurangi komplikasi pada jantung dan otak Pastikan mode defibrillator pada posisi asyncrone Matikan pace maker (TPM) jika terpasang.
  23. 23. PROSEDUR KERJA Nyalakan perekaman EKG agar mencetak gambar EKG selama pelaksanaan defibrilasi Letakkan pedal pada posisi apeks dan sternum Charge pedal sesuai energi yang diinginkan (360 joule) Pastikan semua clear atau tidak ada yang kontak dengan pasien, bed dan peralatan pada hitungan ketiga (untuk memastika jangan lupa lihat posisi semua personal penolong) Pastikan kembali gambaran EKG adalah VT atau VF non-pulse
  24. 24. NEXT... Tekan tombol pada kedua pedal sambil menekannya di dinding dada pasien, jangan langsung diangkat, tunggu sampai semua energi listrik dilepaskan. Nilai gambaran EKG dan kaji denyut nadi karotis Jika tidak berhasil, langsung charge pedal dengan energi 360 joule dan ulangi langkah 4-9 jika kejutan kedua tidak berhasil, lakukan tahapan berikutnya Bersihkan jelly pada pedal dan pasien
  25. 25. MENGHITUNG TETESAN INFUSEDEWASATetesan/Menit = Jumlah Cairan Yang Dimasukkan Lamanya Infus (Jam) x 3Example :Tn. A mendapatkan terapi cairan RL 500 cc dalam 1 jam, berapa tetes/menit cairan yang diberikan kepada Tn. A ? Tetesan= 500 cc 1 (Jam) x 3 = ??? tetes/menit
  26. 26. NEXT...ANAK_ANAK (Micro) Tetesan/Menit = Jumlah Cairan Infuse (cc) Lamanya Infuse (Jam)Example.Anak A mendapatkan terapi cairan D5% 500 cc dalam 24 jam. Berapa tetes/menit cairan tersebut diberikan pada anak A? Tetesan = 500 24 = ??? tetes/menit
  27. 27. DERAJAT KEKUATAN OTOTSKALA % KEKUATAN OTOT KETERANGAN 0 0 Paralisis Sempurna 1 10 Tidak ada gerakan, kontraksi otot dapat dipalpasi atau dilihat 2 25 Gerakan otot penuh melawan gravitasi, dengan topangan 3 50 Gerakan yang normal melawan gravitasi 4 75 Gerakan penug yang normal melawan gravitasi dan melawan tahanan minimal 5 100 Kekuatan normal, gerakan penuh yang melawan gravitasi dan melawan tahanan penuh
  28. 28. ISTILAH LETAK/SEKAP ANATOMI Superior : Bagian atas ●Kranial : Bagian kepala Inferior : Bagian bawah ● Kaudal : Bagian ekor Anterior : Bagian depan ● Ventral :Bagian depan ruas tulang belakang Posterior : Bagian belakang ● Dorsal :Bagian belakang ruas OsT. Vertebra Internal : Bagian dalam ● Viseral : Selaput bagian dalam Eksternal : Bagian luar ● Parietal : Selaput bagian luar Dextra : Bagian kanan ● Transversal : Melintang Sinistra : Bagian kiri ● Longitudinal : Membujur Lateral : Bagian samping ● Proksimal : Mendekati batang tubuh Medial : Bagian tengah ● Distal : Menjauh batang tubuh Sentral : Bagian pusat ● Palmar : Kearah palmaris manus ( anggota gerak bawah ) Perifer : Bagian tepi ● Plantar : Kearah plantar pedis ( anggota gerak bawah ) Profunda : Dalam ● Ulnar : Kearah ulna (tulang hasta) Superfisial : dangkal ● Radial : Ke arah radius (Tulang pengumpil) Asenden : Bagian yang naik ● Tibial : Ke arah tibia (Tulang kering) Desenden : Bagian yang turun ● Fibular : Ke arah Fibula (Tulang betis)

×