Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Addison

4,379 views

Published on

Published in: Health & Medicine
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
4,379
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
34
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Addison

  1. 1. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PENYAKIT ADDISON By : Prodalima, S.Kep, Ners
  2. 2. Gambaran KasusPenyakit Addison
  3. 3. DefinisiPenyakit Addison ialah kondisi yang terjadi sebagaihasil dari kerusakan pada kelenjar adrenal(Black,1997) Penyakit Addison (juga dikenal sebagaikekurangan adrenalin kronik) adalah penyakitendokrin langka dimana kelenjar adrenalinmemproduksi hormon steroid yang tidak cukup.Penyakit ini juga dapat terjadi pada anak-anak.Nama penyakit ini dinamai dari Dr Thomas Addison,dokter Britania Raya yang pertama kalimendeskripsikan penyakit ini tahun 1855.
  4. 4. Etiologi1. Etiologi dari penyakit Addison bentuk primer : • Infeksi kronis, terutama infeksi-infeksi jamur • Sel-se kanker yang menyebar dari bagian-bagian lain tubuh ke kelenjar-kelenjar adrenal • Amyloidosis • Pengangkatan kelenjar-kelenjar adrenal secara operasi
  5. 5. NexT...2. Etiologi dari penyakit Addison bentuk sekunder : • Tumor-tumor atau infeksi-infeksi • Kehilangan aliran darah • Radiasi untuk perawatan tumor-tumor • Operasi pengangkatan bagian-bagian dari hypothalamus • Operasi pengangkatan kelenjar
  6. 6. Manifestasi KlinisPenyakit Addison ditandai oleh kelemahan otot,anoreksia, gejala gastrointestinal, keluhanmudah lelah, emasiasi ( tubuh kurus kering );Pigmentasi pada kulit, bulu-bulu jari, lutut, sikuserta membran mukosa, hipotensi, kadarglukosa darah dan natrium serum rendah, dankadar kalium serum yang tinggi.
  7. 7. Penatalaksanaana. Penatalaksanaan secara medik  Terapi dengan pemberian kortikostiroid setiap hari selama 2 sampai 4 minggu dosis 12,5 – 50 mg/hr  Hidrokortison (solu – cortef) disuntikan secara IV  Prednison (7,5 mg/hr) dalam dosis terbagi diberikan untuk terapi pengganti kortisol  Pemberian infus dekstrose 5% dalam larutan saline  Fludrukortison : 0,05 – 0,1 mg/hr diberikan per oral
  8. 8. NeXt... b. Penatalaksanaan secara keperawatan  Monitoring ketat TTV klien ketika penyakitnya telah terdiagnosa. Check nadi, paling tidak setiap 4 jam. Laporkan penurunan tekanan darah dan perubahan ortostatik.  Ketika terjadi dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit terdeteksi, kaji manifestasi dari meningkatnya vitalitas fisik dan emosionalnya. Kaji pada lokasi di mana terdapat penekanan pada tulang, pada klien yang imobilisasi, untuk mencegah dekubitus. Dengan berbagai macam terapi, maka kelesuan dan kelemahan seharusnya berangsur-angsur berkurang dan akhirnya menghilang.  Monitoring untuk pajanan suhu dingin dan infeksi. Segera laporkan pada dokter jika manifestasi dari infeksi berkembang, misalnya sakit tenggorokan atau rasa terbakar saat berkemih. Ingat, klien dengan penyakit Addison tidak dapat mentolerir stress. Infeksi akan menambahi beban stress pada tubuh, butuh lebih tinggi pada level kortisol selama infeksi terjadi.  Kaji manifestasi dari ketidakseimbangan sodium dan potassium. Berat badan harian mengindikasikan pengukuran obyektif dari bertambahnya BB, atau bahkan menurunnya BB. Jika terapi penggantian steroid tidak adekuat, kehilangan sodium dan retensi potassium dikoreksi terus. Jika dosis steroid terlalu tinggi, kelebihan jumlah sodium dan air dipertahankan, dan ekskresi potassium yang tinggi.
  9. 9. Komplikasi Syok, (akibat dari infeksi akut atau penurunan asupan garam) Dehidrasi Hiperkalemiae Sepsis Ca. Paru Diabetes Mellitus
  10. 10. Prognosis• Dengan diberikan intervensi yang sesuai, prognosis saat ini ialah sangat baik.
  11. 11. Diagnosa Keperawatan• Kekurangan volume cairan b/d ketidakseimbangan input dan output.• Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d hipoglikemia.• Intoleransi aktivitas b/d malaise, keletihan• Gangguan harga diri b/d hiperpigmentasi pada kulit dan membrane mukosa• Nyeri akut b/d spasme otot abdomen• Perubahan proses pikir b/d glukosa otak menurun.• Kurangnya pengetahuan b/d cara pengobatan dengan steroid
  12. 12. Intervensia.Kekurangan volume cairan b/d ketidakseimbangan input dan output.• Tujuan : Klien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit setelah dilakukan perawatan 1X24 jam.
  13. 13. Intervensi Rasional1. Pantau TTV, catat perubahan tekanan darah pada1. Hipotensi postural merupakan bagian dari hipovolemia perubahan posisi, kekuatan dari nadi perifer. akibat kekurangan hormone aldosteron dan penurunan curah jantung sebagai akibat dari penurunan kolesterol.2. Ukur dan timbang BB klien 2. Memberikan pengganti volume cairan dan keefektifan3. Berikan perawatan mulut secara teratur. pengobatan, peningkatan BB yang cepat disebabkan oleh4. Kolaborasi: Cairan NaCl 0,9 % adanya retensi cairan dan natrium yang berhubungan5. Kolaborasi: Berikan obat sesuai dosis. dengan pengobatan steroid.. 3. Membantu menurunkan rasa tidak nyaman akibat dari dehidrasi dan mempertahankan kerusakan membrane6. Kolaborasi: beri dextros. mukosa 4. mungkin kebutuhan cairan pengganti 4 – 6 liter, dengan pemberian cairan NaCl 0,9 % melalui IV 500 – 1000 ml/jam, dapat mengatasi kekurangan natrium yang sudah terjadi. 5. Dosis hidrokortisol yang tinggi mengakibatkan retensi garam berlebihan yang mengakibatkan gangguan tekanan darah dan gangguan elektrolit.
  14. 14. b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d hipoglikemia..• Tujuan : kebutuhan nutrisi klien kembali adekuat setelah dilakukan intervensi selama 1X24 jam.• R : Mempertahankan berat badan stabil, bebas dari tanda malnutrisi.
  15. 15. Intervensi Rasional1. Kaji riwayat nutrisi 1. Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi. 2. Anorexia, mual, muntah, kehilangan pengaturan2. Timbang BB setiap hari metabolisme oleh kortisol terhadap makanan dapat mengakibatkan penurunan berat badan dan terjadinya malnutrisi.3. Diskusikan makanan yang disukai oleh pasien3. Dapat maningkatkan masukan, meningkatkan rasa dan masukan dalam diet murni. partisipasi.4. Anjurkan klien makan sedikit tapi sering. 4. Makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan pemasukan juga mencegah distensi gaster. 5. Perlu bantuan dalam perencanaan diet yang memenuhi5. Berikan lingkungan yang nyaman untuk kebutuhan nutrisi. makan, misalnya bebas dari bau tidak sedap, 6.Dapat maningkatkan masukan, meningkatkan rasa6. Kolaborasi: Rujuk ke ahli gizi. partisipasi.
  16. 16. c. Intoleransi aktivitas b/d malaise dan keletihan• Tujuan : Klien kembali dapat melakukan aktivitas dengan baik.• R : Klien dapat melakukan aktivitas secara mandiri
  17. 17. Intervensi Rasional1. Kaji tingkat kelemahan klien dan identifikasi1. Pasien biasanya telah mengalami penurunan tenaga aktifitas yang dapat dilakukan oleh klien. kelemahan otot, terus memburuk setiap hari karena proses penyakit dan munculnya ketidakseimbangan natrium kalium.2. Atur interval waktu antar aktivitas untuk meningkatkan istirahat dan latihan yang dapat2. Mendorong aktivitas sambil memberikan kesempatan untuk ditolerir. mendapatkan istirahat yang adekuat.3. Bantu aktivitas perawatan mandiri ketika pasien3. Memberi kesempatan pada pasien untuk berpartisipasi dalam berada dalam keadaan lelah. aktivitas perawatan diri.4. Berikan stimulasi melalui percakapan dan aktifitas4. Meningkatkan perhatian tanpa terlalu menimbulkan stress yang tidak menimbulkan stress. pada pasien.5. Pantau respons pasien terhadap peningkatan5. Menjaga pasien agar tidak melakukan aktivitas yang aktifitas berlebihan atau kurang.6. Diskusikan dengan klien cara penghematan tenaga,6. Klien akan dapat melakukan aktivitas lebih banyak dengan misalnya duduk lebih baik dari pada berdiri. mengurangi pengeluaran tenaga pada setiap kegiatan yang dilakukan.

×