Your SlideShare is downloading. ×
0
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Riba Dalam Pandangan Syari'ah Islam

3,795

Published on

0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
3,795
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
310
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. RIBA DALAM PANDANGAN SYARI’AH ISLAM
  • 2. Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (QS Al Baqarah 275)
  • 3. Pengertian Riba • Secara bahasa riba berarti tambahan (ziyadah). • Secara istilah berarti tambahan pada harta yang disyaratkan dalam transaksi dari dua pelaku akad dalam tukar menukar antara harta dengan harta.
  • 4. Pembagian Riba Imam Hanafi mengatakan bahwa riba itu terbagi menjadi dua, yaitu riba Al-Fadhl dan riba An-Nasa‘ (Nasi’ah). Sedangkan Imam As-Syafi'i membaginya menjadi tiga, yaitu riba Al- Fadhl, riba An-Nasa' dan riba Al-Yadd. Dan Syaikh Mutawally Asy Sya’rawy menambahkan jenis keempat, yaitu riba Al Qardh. Semua jenis riba ini diharamkan secara ijma' berdasarkan nash Al Qur'an dan hadits Nabi" (Az Zawqir Ala Iqliraaf al Kabaair vol. 2 him. 205).
  • 5. Secara garis besar bisa dikelompokkan menjadi dua besar, yaitu riba hutang-piutang dan riba jual-beli. Kelompok pertama terbagi lagi menjadi riba qardh dan riba jahiliyah. Sedangkan kelompok kedua, riba jual-beli, terbagi menjadi Riba Fadhl dan Riba Nasi’ah
  • 6. Riba dlm Barter PEMBAGIAN RIBA Riba dlm hutang piutang & jual beli
  • 7. Riba Fadhl Riba Fadhl adalah riba yang terjadi dalam barter atau tukar menukar benda yang sejenis tetapi dengan kadar atau takaran yang berbeda. Jenis barang yang dipertukarkan itu termasuk hanya tertentu saja, tidak semua jenis barang. Barang jenis tertentu itu kemudian sering disebut dengan "barang ribawi".
  • 8.   “Jangan kalian jual emas dengan emas kecuali dengan ukuran yang sama, jangan kalian jual perak dengan perak kecuali dengan ukuran yang sama dan juallah emas dengan perak atau perak dengan emas sesuka kalian”. (HR Bukhari)
  • 9. 
  • 10. Dari Ubadah bin Shamit berkata bahwa Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : ”Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, terigu dengan terigu, korma dengan korma, garam dengan garam harus sama beratnya dan tunai. Jika jenisnya berbeda maka juallah sekehendakmu tetapi harus tunai” (HR Muslim).
  • 11. Contoh 1 (emas) : Barter emas dengan emas hukumnya haram, bila kadar dan ukurannya berbeda. Misalnya, emas 10 gram 24 karat tidak boleh ditukar langsung dengan emas 20 gram 23 karat. Kecuali setelah dikonversikan terlebih dahulu harga masing-masing benda itu.
  • 12. Contoh 2 (Gandum) : Barter gandum dengan gandum hukumnya haram, bila kadar dan ukurannya berbeda. Misalnya, 100 Kg gandum kualitas nomor satu tidak boleh ditukar langsung dengan 150 kg gandum kuliatas nomor dua. Kecuali setelah dikonversikan terlebih dahulu harga masing-masing benda itu
  • 13. Riba Nasi’ah Riba Nasi’ah disebut juga riba Jahiliyah. Nasi'ah berasal dari kata nasa' yang artinya penangguhan. Disebut demikian sebab riba ini terjadi karena adanya penangguhan pembayaran. Atau dengan kata lain, hutang dibayar lebih dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan
  • 14. Inilah riba yang umumnya kita kenal di masa sekarang ini. Dimana seseorang memberi hutang berupa uang kepada pihak lain, dengan ketentuan bahwa hutang uang itu harus diganti bukan hanya pokoknya, tetapi juga dengan tambahan prosentase bunganya.
  • 15. Contoh 1 (Kredit Rumah) : Fulan ingin membangun rumah. Untuk itu dia meminjam uang kepada bank sebesar 144 juta dengan bunga 13 % pertahun. Sistem peminjaman seperti ini, yaitu harus dengan syarat harus dikembalikan plus bunganya, diharamkan dalam syariat Islam.
  • 16. Contoh 2 (Pinjam Uang) : Fulan meminjam uang sebesar Rp 1 juta kepada temannya dengan syarat ia harus mengembalikan uang tersebut disertai dengan bunganya sebesar sekian persen. Tambahan yang disyaratkan ini yang disebut riba Nasi’ah
  • 17. 4 TAHAPAN PENGHARAMAN RIBA
  • 18. TAHAP PERTAMA
  • 19. “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah pada harta manusia, Maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). (QS Ar Ruum 39)
  • 20. TAHAP KEDUA
  • 21. “Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih”. (QS An Nisa’ 160 – 161)
  • 22. TAHAP KETIGA
  • 23. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba yang (akibatnya pasti akan) berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”. (QS Ali Imron 130)
  • 24. CATATAN PENTING - • Firman Allah : “… berlipat ganda “ bukan sebagai syarat haramnya riba (jika tidak berlipat ganda maka tidak haram –pen) sebagaimana telah kita ketahui bersama tentang haramnya riba dalam segala hal. Kalimat ini untuk menunjukkan bahwa akibat riba pastilah akan berlipat ganda sebagaimana kebiasaan yang berlaku pada mereka (kaum jahiliyyah) (Fathul Qadir 2/24)
  • 25. - • Firman Allah : “… berlipat ganda “ bukan sebagai syarat haramnya riba (jika tidak berlipat ganda maka tidak haram –pen) akan tetapi untuk mengingatkan dari kebiasaan yang berlaku selama ini dan juga untuk mengecam kebiasaan itu
  • 26. di mana jika seseorang meminjamkan uang kepada orang lain lalu telah jatuh tempo pembayrannya maka ia akan berkata kepada si penghutang : “Tambahkan jumlah pengembalian hutangmu maka akan aku tambah pula waktu jatuh temponya” (Tafsir Abu Su’ud 1/454)
  • 27. TAHAP KEEMPAT
  • 28. “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
  • 29. “Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabb-nya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (QS Al Baqarah 275)
  • 30. “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shodaqoh. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang terus menerus melakukan kekafiran, dan selalu berbuat dosa” (QS Al Baqarah 276)
  • 31. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. (QS Al Baqarah 277 - 279)
  • 32. ANCAMAN ALLAH DAN RASULULLAH  TERHADAP PELAKU RIBA
  • 33. ANCAMAN DARI HADITS RASULULLAH 
  • 34. Dari Abu Hurairah Radhiyallohu 'Anhu Rasulullah Shollallohu 'alaihi wasallam bersabda :“Jauhilah oleh kalian tujuh hal yang pasti akan menghancurkan kalian ! Apakah tujuh hal itu ya Rasulullah ? : “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali atas dasar kebenaran (al haq), memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri pada saat perang berkecamuk, menuduh wanita muslimah berbuat zina” (HR. Bukhari & Muslim)
  • 35.  
  • 36. Dari Ibnu Abbas Radhiyallohu 'Anhuma, Rasulullah Shollallohu 'alaihi wasallam bersabda “Pintu masuk menuju riba lebih dari tujuh puluh buah, dan riba yang paling ringan, (hukumnya) adalah sama seperti seorang laki-laki menyetubuhi ibunya sedangkan ia seorang muslim”. (HR Al Baihaqi dalam Syu’abil Iman dengan sanad dho’if)
  • 37. ANCAMAN DARI AL QUR’AN
  • 38. “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
  • 39. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabb-nya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (QS Al Baqarah 275)
  • 40. "Orang-orang yang memakan harta riba itu tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syethan, lanta-ran (tekanan) penyakit gila...." (QS Al Baqarah : 275). Syaikh Muhammad Ali Ash Shobuni menerangkan dalam tafsirnya "Dipersamakannya pemakan riba dengan orang-orang yang kesurupan adalah suatu ungkapan yang halus sekali, yaitu Allah memasukkan riba kedalam perut mereka lalu barang itu memberatkan mereka, sehingga sempoyongan, jatuh bangun. Hal ini menjadi ciri-ciri mereka dihari kiamat sehingga semua orang mengenalnya." (Tafsir Rowa’iul Bayan fi Tafsir Ayat
  • 41. “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shodaqoh. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang terus menerus melakukan kekafiran, dan selalu berbuat dosa” (QS Al Baqarah 276)
  • 42. Adapun lafadz kaffar ( ) dan atsim ( ) yang termasuk shighot mubalaghoh (superlatif), yang artinya menunjukkan kekufuran dan dosa yang terus-menerus dan besar sekali adalah melukiskan bahwa keharaman riba itu keras sekali, termasuk perbuatan orang-orang kafir dan bukan perbuatan orang-orang Islam.
  • 43. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. (QS Al Baqarah 277 - 279)
  • 44. "Kemudian jika kamu tidak mau mengerjakan (meninggalkan riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.“ (QS Al Baqarah : 279) Maksud dari ayat ini bahwasannya apabila seseorang tidak mau meninggalkan aktifitas riba, maka ketahuilah baginya berhak untuk diperangi di dunia dan diakhirat kelak akan dilempar kedalam api neraka,karena melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya. Lafadz 'harbun' (perang ) dengan bentuk nakiroh adalah untuk menun-jukkan besarnya masalah ini, lebih-lebih dengan menisbatkan kepada Allah dan Rasul-Nya. Seolaholah Allah memaklumkan :
  • 45. 'Percayalah akan ada suatu peperangan yang dahsyat dari Allah dan Rasul-Nya yang tidak mungkin dapat dikalahkan. Hal ini mengisyaratkan akibat-akibat yang paling mengenaskan yang pasti akan dialami oleh para pemakan riba. Abdullah bin Abbas menerangkan mengenai ayat ini bahwasannya kelak di hari kiamat akan dikatakan kepada para pemakan riba : “Angkatlah senjatamu untuk berperang melawanKu” (Tanwir Al Miqbas ‘an tafsir Ibn Abbas)
  • 46. Al-’Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir AsSa’di rahimahullahu berkata : “Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan tentang pemakan riba dan jeleknya akibat yang mereka tuai. Dikabarkan bahwa mereka tidak akan bangkit dari kubur mereka pada hari kebangkitan nanti melainkan ‘seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena (tekanan) penyakit gila’. Mereka bangkit dari kubur dalam keadaan bingung, mabuk, goncang, dan merasa pasti akan ditimpakan hukuman yang besar serta bencana yang menyulitkan....” (Taisir Al Karim Ar Rahman, hal. 117)
  • 47. KESIMPULAN TENTANG HUKUMAN BAGI PELAKU RIBA
  • 48. 1. DIBANGKITKAN DARI KUBUR PADA HARI KIAMAT NANTI SEPERTI ORANG GILA KARENA KERASUKAN SETAN. Imam Qatadah rahimahullahu berkata : “Yang demikian itu merupakan tanda pada hari kiamat bagi orang yang melakukan riba. Mereka dibangkitkan dalam keadaan berpenyakit gila.” Imam Ibnu Hajar menjelaskan : “Manusia pada hari kiamat nanti keluar dari kubur mereka dengan segera. Namun pemakan riba menggelembung perutnya, ia ingin segera keluar dari kuburnya, namun ia terjatuh. Jadilah dia seperti keberadaan orang yang jatuh bangun kesurupan karena gila.” (Fathul Bari, 4/396)
  • 49. 2. DIANCAM KEKAL DALAM NERAKA. “Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (QS Al Baqarah 275) 3. HARTA YANG DIPEROLEH DIHILANGKAN BARAKAHNYA. DARI RIBA AKAN Bila pelakunya menginfakkan sebagian dari harta riba tersebut, niscaya ia tidak akan diberi pahala, bahkan akan menjadi bekal bagi dia untuk menuju neraka.
  • 50. 4. ORANG YANG TIDAK SEGERA BERHENTI DARI RIBA DINYATAKAN OLEH ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA DENGAN “TERUS MENERUS DALAM KEKAFIRAN DAN DOSA” “Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.” (Al-Baqarah: 276) Imam Asy Syaukani rahimahullahu menafsirkan : “Yakni Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak mencintai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa. Karena kecintaan itu dikhususkan bagi orang-orang yang bertaubat. Dalam ayat ini ada ancaman yang berat lagi besar bagi orang yang melakukan riba, di mana Allah Subhanahu wa Ta'ala menghukuminya dengan kekafiran dan menyifatinya dengan selalu berbuat dosa.” (Fathul Qadir, 1/403)
  • 51. 5. MENDAPATKAN PERMUSUHAN DAN SIAP BERPERANG DENGAN ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA SERTA RASULNYA. Abdullah bin Abbas menerangkan mengenai ayat ini bahwasannya kelak di hari kiamat akan dikatakan kepada para pemakan riba : “Angkatlah senjatamu untuk berperang melawan-Ku” (Tanwir Al Miqbas ‘an Tafsir Ibn Abbas) Demikian dinyatakan Al Allamah Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah dalam Tafsir As Sa’dy atau Taisir Al Kariim Ar Rahman.

×