Your SlideShare is downloading. ×
0
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Toxoplasmosis

807

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
807
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
50
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Toxoplasmosis PBL 8
  • 2. Anggota PBL 8 • Jessica Theo (2012060040) • Jesslyn Nathasya (2012060042) • Elen Angela (2012060043) • Denish Gunawan (2012060090) • Garry Grimaldi (2012060109) • Marcelin Suryana (2012060110) • Natasha Olivia Gunawan (2012060111) • Celine (2012060191) • Alfredo Bambang (2012060193) • Yustinus Harianto (2012060195) • Maria Gracia Devita Windharta (2012060196) • Felicia (2012060197) • Gabrielle Glenis (2012060212)
  • 3. Klasifikasi Toxoplasma gondii
  • 4. Morfologi Toxoplasma gondii
  • 5. Morfologi Takizoit • Takizoit : mirip bulan sabit dengan satu ujung runcing dan satu ujung membulat, panjang 4-8 mikron, satu inti di tengah • Tidak mempunyai alat pergerakan (silia, flagella, pseudopodia) • Dapat berputar, meluncur di permukaan, undulate movement (pergerakan seperti ombak)
  • 6. Mekanisme invasi Takizoit
  • 7. Morfologi Bradizoit • Kista (mengandung bradizoit) : – Di otak: bulat, lonjong – Di otot: panjang mengikuti bentuk sel otot (s/d 100 μm) • 5 – 8.5 x 1-3 μm • Stadium pembelahan yang lambat • Kista yang baru terbentuk hanya mengandung sedikit bradizoit → berukuran sekitar 5 μm • Bradizoit membelah secara endodyogeny • Kista paling sering di otak, mata, otot rangka dan otot jantung dan jarang menyerang jaringan organ visceral.
  • 8. Contoh Toxoplasmosis pada otak
  • 9. Reproduksi secara Endodyogeny
  • 10. Ookista dan Sporokista • Ookista : lonjong, 12,5 mikron • Ookista tersporulasi diameternya 1113 μm • Dalam setiap ookista terdapat 2 sporokista berbentuk elipsoidal / subspherical • Sporokista adalah stadium parasit yang terdapat pada ookista yang telah tersporulasi • Ukuran sporokista 2 x 6-8 μm • Sporokista membelah secara endodyogey menjadi 4
  • 11. Daur Hidup
  • 12. Daur hidup dalam hospes definitif (kucing) • Dalam sel epitel usus halus kucing daur aseksual (skizogoni) & seksual (gametogoni, sporogoni)  menghasilkan oocyst • Oocyst2 sporocyst (@isi 4 sporozoit) • MASA PRAPATEN – 3-5 hari: dari kista – 5-10 hari: dari takizoid – 20-24 hari: dari ookista
  • 13. Daur hidup dalam hospes perantara (mamalia/burung) • Stadium aseksual • Oocyst tertelan mamalia/burung (HP) bentuk trofozoid membelah cepat takizoid (infeksi akut) berkembangbiak dalam sel (endodiogeni) sel penuh dengan takizoid 1)lisis sel kemudian menyebar ke seluruh tubuh; 2)bentuk dinding zoitocyst(isi bradizoit) MASA LATEN • 2 jalur: – Tertelan host lain: ulangi siklus – Tertelan kucing: jadi oocyst
  • 14. Epidemiologi Toxoplasmosis
  • 15. Epidemiologi • Infeksi Toxoplasma gondii sering terjadi di daerah dataran rendah yang bersuhu tinggi dan beriklim lembab.(1) • Penelitian penyebaran toxoplasmosis umumnya mengenai toxoplasmosis kongenital.(2)
  • 16. Tabel prevalensi zat anti T.gondii positif pada manusia di beberapa wilayah(3) Wilayah El Savador Indonesia Eskimo Prevalensi zat anti T.gondii positif 90% 2-63% 1%
  • 17. Tabel prevalensi zat anti T.gondii positif pada binatang(3) Binatang Anjing Kucing Babi Ternak Prevalensi zat anti T.gondii positif 75% 35-73% 11-36% <10%
  • 18. Tabel prevalensi toxoplasmosis kongenital di beberapa negara(3) Negara Belanda Vienna Paris New York Prevalensi zat anti T.gondii positif 6,5‰ 6-7‰ 3‰ 1,3‰
  • 19. Tabel insidensi infeksi Toxoplasma gondii pada 35.940 wanita hamil di Norwegia sejak 1992-1994(2) Masa Kehamilan Jumlah wanita yang terinfeksi Trimester 1 30 wanita (0,094%) Trimester 2 7 wanita (0,022%) Trimester 3 10 wanita (0,031%)
  • 20. Faktor Risiko • Kebiasaan makan daging kurang matang • Kucing perliharaan, tikus dan burung sebagai hospes perantara yang diburu kucing • Adanya lipas dan lalat yang memindahkan ookista dari tinja kucing ke makanan dan yang terakhir adalah adanya cacing tanah yang memindahkan ookista dari lapisan dalam permukaan tanah. • Transmisi lainnya adalah transmisi melalui ookista, ookista yang dikeluarkan kucing dapat berjumlah 10 juta butir sehari selama 2 minggu dan menjadi matang dalam 1-5 hari, dapat hidup di tanah lebih dari setahun. • Ookista hanya mati pada suhu 45-55 derajat celcius, dikeringkan, dicampur formalin, amonia atau larutan iodium.
  • 21. Mekanisme invasi • Invasi biasa terjadi di usus, lalu parasit akan memasuki sel berinti atau mati difagositosis • Parasit yang masuk ke sel berinti berkembang biak dan menyebabkan sel hospes pecah dan menyerang sel-sel lain • Penyebaran dilakukkan secara hematogen dan limfogen, dikarenakan adanya parasit didalam makrofag dan limfosit • T.gondii dapat menyerang semua sel berinti pada semua organ dan jaringan • Akan terbentuk kista jaringan bila sudah terjadi kekebalan dan ditemukan di berbagai jaringan
  • 22. • Kerusakan yang terjadi tergantung pada : – Usia – Virulensi strain Toxoplasma – Jumlah parasit – Organ yang diserang
  • 23. Patologi • Usia : pada bayi lebih berat dibandingkan orang dewasa • Organ yang diserang : lesi pada SSP dan mata biasanya lebih bersifat permanen dan berat karena tidak adanya mekanisme untuk regenerasi. – Kelainan pada SSP berupa nekrosis disertai kalsifikasi. • Infeksi akut : pada retina ditemukan reaksi peradangan fokal dengan edema dan infiltrasi leukosit yang dapat menyebabkan kerusakan total dan proses pembentukan sikatriks, disertai atrofi retina dan pigmentasi
  • 24. Jenis Toksoplasmosis • Toksoplasmosis akuista : pada orang dewasa – Jarang menimbulkan gejala (asimtomatik) – Pada ibu hamil yang menderita penyakit ini dapat mengakibatkan bayi yang menderita toksoplasmosis kongenital – Manifestasi Klinis : limfadenopati, rasa lelah, demam, nyeri otot, sakit kepala – Toxoplasma menyebabkan infeksi oportunistik yang disebabkan imunosupresi berhubungan dengan transplatasi organ dan penyebab keganasan
  • 25. • Kelainan susunan saraf pusat akibat Toxoplasma merupakan manifestasi klinis paling sering dari AIDS • Awal berupa sakit kepala, demam, letargi, perubahan mental, lalu berlanjut menjadi kelainan neurologik dan kejang. • Pada CT Scan dan MRI akan tampak lesi tunggal atau multipelring-enhancing lesions yang dikelilingi edema otak.
  • 26. Jenis Toxoplasmosis • Toksoplasmosis kongenital : – Makin muda usia janin, makin berat kerusakan organ tubuh. – Infeksi pada kehamilan muda dapat menyebabkan abortus spontan – Manifestasi klinis dapat langsung muncul setelah kelahiran atau setelah beberapa minggu sampai tahun. – Pada bayi lahir prematur gejala klinis tampak lebih berat
  • 27. Manifestasi Klinis • Eritroblastosis • Hidrops fetalis • TRIAD KLASIK : hidrosefalus, retinokoroiditis, dan kalsifikasi intrakranial. • Kelainan SSP sering meninggalkan gejala sisa, misalnya retardasi mental dan motorik.
  • 28. Cara Diagnosis • Uji Serologis (mencari antigen / antibodi spesifik) – Uji Agglutinasi Latex – ELISA (Enzyme Linked Immunoabsorbent Assay) – Deteksi IgE spesifik dengan metode ISAGA ( Immunosorbent Agglutination Assay) – IFA (Indirect Fluorescent Assay) – PCR – Kultur Sel – Sabin-Feldman dye test (IgG) → Gold Standard • Ada IgG terhadap toxoplasma → (+) → sel lisis → tidak terwarnai biru • Biopsi jaringan – Jarang dilakukan kecuali ada kecurigaan terhadap gejala penyakit tertentu yang mungkin disebabkan Toxoplasma gondii • Mikroskopi (pendeteksian ookista dll)
  • 29. Sabin-Feldman dye test (+)
  • 30. Tes serologi Toksoplasmosis kongenital 1. Zat anti IgM (dibuat oleh janin yang terinfeksi dalam uterus) 2. Zat anti IgG (didapat dari ibu melalui plasenta) Pada bayi yg tidak terinfeksi : berangsurangsur menghilang Pada bayi yg terinfeksi : mulai dibentuk sendiri umur 2-3 bulan
  • 31. Toksoplasmosis akuisita 1. Zat anti IgG • Tidak cukup hanya sekali • Titer IgG meninggi secara bermakna pada pemeriksaan kedua kali dengan jangka waktu 3 minggu atau lebih
  • 32. Kelemahan Tes serologi • IgM tidak selalu dapat ditemukan pada neonatus • IgM ditemukan selama berbulan-bulan bahkan sampai lebih dari satu tahun • Pada penderita imunodefisiensi tidak dibentuk antibodi IgM dan tidak dapat ditemukan titer IgG yang meningkat
  • 33. Teknik PCR • Deteksi DNA parasit pada cairan tubuh dan jaringan • Cukup sensitif untuk cairan serebrospinal menunjukkan pleositosis, kadar protein meningkat • Sangat spesifik untuk diagnosis ensefalitis toksoplasmik
  • 34. Pirimetamin • Obat sekarang hanya bisa membunuh stadium takizoit T. gondii dan tidak membasmi stadium kista  membasmi infeksi akut, tidak untuk infeksi menahun yg bisa aktif kembali • Pirimetamin & sulfonamid bekerja sinergistik selama 3 minggu / sebulan • Pirimetamin menekan hemopoeisis & dapat menyebabkan trombositopenia dan leukopenia • Untuk cegah efek samping + as. Folinat atau ragi • Pirimetamin bersifat teratogenik  tidak untuk ibu hamil • Pirimetamin 50-75 mg/hari utk dewasa selama 3 hari, kemudian jadi 25 mg (0,5-1 mg/kg berat badan/hari) 3-4 hari sekali • As. Folinat 2-4 mg /hari atau ragi roti 5-10 g/hari 2 x seminggu
  • 35. Sulfonamid, Klindamisin, Kortikosteroid • Sulfonamid dapat menyebabkan trombositopenia & hematuria, 50-100 mg/kg berat badan/hari beberapa minggu / bulan • Spiramisin (macrolide) tidak menembus plasenta tapi ditemukan dengan konsentrasi di plasenta, 100mg/kg berat badan/hari selama 30-45 hari • Obat ini digunakan sebagai profilaksis untuk mencegah transmisi T. gondii ke janin, diberikan sampai aterm atau sampai bayi terbukti terinfeksi Toxoplasma, kalau terbukti maka pakai pirimetamin, sulfonamid, dan as. Folinat setelah kehamilan 12-18 minggu • Klindamisin efektif namun dapat menyebabkan kolitis pseudomembranosa / kolitis ulserativa  rutin pada bayi dan ibu hamil • Kortikosteroid digunakan untuk mengurangi peradangan pada mata  bukan untuk pengobatan tunggal
  • 36. Klaritromisin, Azitromisin, Atovaquone • Obat macrolide lain yaitu klaritromisin & azitromisin diberikan dengan pirimetamin pada penderita AIDS dengan ensefalitis toksoplasmik • Obat baru yaitu hidroksinaftokuinon (atovaquone) yg bila dikombinasikan dengan sulfadiazin atau obat aktif lain dapat membunuh kista jaringan pada mencit • Toksoplasmosis kongenital, diberi pirimetamin dengan loading dose 2 mg/kg berat badan
  • 37. Penderita immunocompromized (AIDS, keganasan) a. Terapi awal (diberi selama 6 minggu): – Pirimetamin + sulfadiazin +asam folinat – Alternatif: - Pirimetamin + asam folinat + klindamisin - Kotrimokaszol + sulfametoksazol - Pirimetamin + asam folinat + dapson / klaritromisin / azitromisin / atovaquone - Atovaquon + sulfadiazin - Atovaquon saja bila ada intoleransi thdp pirimetamin & sulfadiazin, pemberian steroid bila ada edema
  • 38. Penderita immunocompromized (AIDS, keganasan) b. Terapi pemeliharaan (supresif, profilaksis sekunder) diberikan seumur hidup, jika rekonstitusi imun tidak terjadi: – Pirimetamin + asam folinat +sulfadizin – Alternatif: - Klindamisin + pirimetamin + asam folinat - Atovaquone • Terapi supresif dapat dipertimbangkan untuk dihentikan jika terapi diberikan sedikitnya 6 minggu: - Pasien tidak mempunyai gejala dan tanda klinis ensefalopatis toksoplasmik - CD4+ dipertahankan > 200 sel/mm3 selama ≥ 6 bulan pada terapi antiretroviral - Profilaksis sekunder dimulai kembali jika CD4+ menurun sampai < 200 sel/mm3
  • 39. Penderita immunocompromized (AIDS, keganasan) c. Profilaksis primer – Pada pasien seropositif terhadap Toxoplasma dan mempunyai CD4+ < 200 sel/mm3: - TMP-SMX 1 tablet forte peroral - Dapson + pirimetamin + asam folinat - Atovaquon + pirimetamin + asam folinat • Profilaksis primer dihentikan jika pasien respon terhadap terapi antiretroviral dengan peningkatan CD4+ > 200 sel/mm3 selama sedikitnya 3 bulan. Profilaksis diberikan kembali bila CD4+ menurun sampai < 200 sel/mm3
  • 40. Pencegahan • Untuk mencegah infeksi T.gondii (terutama pada ibu hamil) harus menghindari makan daging kurang matang yang mungkin mengandung kista jaringan dan minum / makan yang terkontaminasi ookista matang yang terdapat dalam tinja kucing • Kista jaringan dalam daging tidak infektif bila sudah dipanaskan sampai 66oC atau diasap • Setelah memegang daging mentah (tukang jagal, tukang masak), sebaiknya tangan dicuci bersih dengan sabun • Makanan harus ditutup untuk menghindari lalat. • Sayur-mayur sebagai lalap harus dicuci bersih atau dimasak • Kucing peliharaan sebaiknya diberi makan matang dan dicegah berburu tikus dan burung.
  • 41. Referensi 1. Sutanto I, Ismid IS, Sjarifuddin PK, Sungkar S. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran Edisi Keempat. FKUI. 2008 2. Soedarto. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Sagung Seto. 2011 3. SK Rai, S Uga, N Kataoka, T Matsumura. Atlas of Medical Parasitology. 1996 4. Chiodini PL, Moody AH, Manser DW. Atlas of Medical Helminthology and Protozoology 4th Edition. 2003 5. Gerald D. Schmidt & Larry S. Robert’s Foundation of Parasitology 8th edition. 2009 6. http://www.dpd.cdc.gov/dpdx/HTML/Para_Health.htm 7. http://www.pamf.org/serology/clinicianguide.html 8. http://path.upmc.edu/cases/case160/dx.html 9. CDC - Toxoplasmosis - Epidemiology & risk factors [Internet]. [cited 2013 Oct 27]. Available from: http://www.cdc.gov/parasites/toxoplasmosis/epi.html 10. Chandra, G. Toxoplasma gondii: Aspek biologi, epidemiologi, diagnosis, dan penatalaksanaannya [Internet]. [cited 2013 Oct 27]. Available from: http://tempo.co.id/medika/arsip/052001/pus-1.htm
  • 42. Thank You for Your Attention

×