Your SlideShare is downloading. ×
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Ultra diktat 2
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Ultra diktat 2

902

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
902
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
13
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. BAB I INKUBASI TETUA TELUR ULAT SUTRA1.1. Tujuan Inkubasi Tujuan utama inkubasi tetua telur ulat sutra adalah untukpembentukan embrio yang seragam, oleh karena itu penetasan yang seragamtercapai melalui pemeliharaan kondisi lingkungan yang baik. Hal inidilakukan pada saat predeterminasi yaitu manakala telur tetua dikeluarkandari diapause atau penetasan buatan menurut kebutuhan fisiologis danvoltinisme untuk perkembangan embrio. Secara spesifik tujuan inkubasiadalah :• memastikan bahwa telur-telur dari varietas yang berbeda menetas pada hari yang direncanakan dan kupu-kupu dari varietas yang berbeda saling menyilang satu sama lain pada waktu yang tepat untuk menghasilkan telur-telur F1 hibrida.• memaksakan penetasan yang seragam untuk menghasilkan ulat sutra tetasan baru yang sehat.• menstabilkan karakter hibernasi telur-telur bivoltin, sehingga mencegah telur menetas abnormal atau tanpa hibernasi.1.2. Metode Inkubasi Pada usaha produksi telur ulat sutra yang besar, ruangan (chamber)inkubasi dengan ukuran memadai harus dibuat menurut jumlah danbanyaknya telur yang diinkubasi. Ruangan inkubasi harus mempunyai suhu,kelembaban, proteksi panas, sirkulasi udara yang baik, cahaya yang mudahdiatur, dan pelaksana/pekerja dapat dengan mudah bekerja di dalamnya.Suhu dan kelembaban yang seragam harus dijaga pada tiap ruangan. Telur-telur tetua untuk inkubasi dibawa ke dalam ruangan dalam jumlah banyak,disesuaikan dengan suhu dan kelembaban yang sesuai dengan tahapperkembangan embrio. Tempat inkubasi biasanya diletakkan di tengah ruangan, denganperalatan pemanas pada keempat sudutnya, dan sumber panas ditempatkanpada sedikitnya satu meter dari tempat beradanya telur-telur ulat sutra.Sumber cahaya sebaiknya diletakkan pada ketinggian di atas atau di bawahtempat inkubasi. Inkubasi telur-telur tetua bivoltin pada musim semi : Tetua ulatsutra bivoltin yang ada sekarang dikawinkan dengan tujuan untukmenghasilkan telur-telur hibernasi. Dengan adanya cahaya, telur diinkubasipada suhu tinggi atau suhu yang meningkat secara gradual sehingga dapattumbuh. Jika embrio tumbuh hingga tahap tertentu, ekspos cahaya harusdiperpanjang dan kelembaban ditingkatkan. Inkubasi telur-telur tetua bivoltin pada musim gugur: Kebutuhanlingkungan untuk inkubasi telur-telur tetua bivoltin pada musim gugur adalahhampir sama dengan telur-telur tetua pada musim semi. Namun demikian, 1
  • 2. suhu natural pada musim gugur secara komparatif adalah tinggi dan udaranyakering. Inkubasi pada kondisi demikian akan menyebabkan embrio untuktumbuh dengan cepat dan mengkonsumsi banyak zat nutrisi. Jumlah telurmati selama inkubasi akan meningkat dan konstitusi larva yang baru menetasakan lemah. Oleh karena itu disarankan bila akan menginkubasi telur-telurtetua ulat sutra pada musim gugur sebaiknya dilakukan menurut kriteriaseperti pada Tabel berikut.Tabel Kriteria inkubasi untuk telur-telur tetua bivoltin pada musim gugur.________________________________________________________________ Tahap Awal Tahap Akhir________________________________________________________________Hari 4 5-6Embrio Sebelum E3 E3-F5Suhu (ºC) 25 26-27Kelembaban 70-80 80-85Cahaya Natural Eksposur cahayameningkat 6 jam sehari Inkubasi telur-telur tetua multivoltin : Suhu dan cahaya tidakmempunyai pengaruh yang banyak pada voltinisme telur-telur multivoltinnon-diapausing selama inkubasi. Oleh karena itu disarankan untukmenginkubasi telur-telur pada suhu rataan 26ºC. Selama tahap “titik-mata”(eye-spot), suhu untuk inkubasi sebaiknya diatur pada paling sedikit 26,7ºCtetapi tidak lebih tinggi dari 29ºC, dan kelembaban udara sekitar 80-90persen. Pengukuran untuk penyeragaman penetasan telur ulat sutra :Penetasan telur-telur ulat sutra tetua bivoltin selama inkubasi sering kalitidak seragam pada musim semi. Hal ini menyebabkan masalah padapemeliharaan ulat sutra dan mempengaruhi kopulasi kupu-kupu jantan danbetina untuk tujuan produksi telur. Untuk memastikan penetasan yangseragam, telur-telur harus disimpan pada suhu pertengahan (intermediet)14-16ºC sebelum dikeluarkan dari tempat pendingin (cold storage). Inkubasidimulai bila embrio telah tumbuh ke tahap C1-C2. Seleksi telur disusunberdasarkan perkembangan titik-matanya. Inkubasi berlanjut dalam gelaphingga pada hari penetasan, ketika lampu dinyalakan satu atau dua jamsebelum terbit matahari untuk memastikan penetasan yang seragam. Menyimpan telur-telur dalam gelap pada tahap akhir inkubasimencegah embrio yang dewasa-dini untuk menetas, dan memberikan waktukepada embrio yang dewasa-lambat untuk terus tumbuh. Setelah disimpandalam gelap selama periode tertentu dan tiba-tiba diekspos cahaya, keduamacam telur ini akan menetas secara simultan. Inhibisi (hambatan) dingin dari pertumbuhan embrio untuk telur-telurselama inkubasi atau preservasi dingin dari larva yang baru menetas. Jikauntuk suatu alasan tertentu, penyisiran larva yang baru menetas harusditunda, telur-telur ulat sutra yang diinkubasi atau ulat sutra yang barumenetas harus disimpan pada suhu rendah. Sebelum embrio tumbuh ke tahap 2
  • 3. E3 (tahap pemendekan), suhu harus dijaga pada suhu obyektif selamainkubasi. Namun demikian, jika embrio telah mencapai tahap E3, suhu harusdinaikkan menurut kebutuhan inkubasi. Penyimpanan beku dilakukan jikasemua telur berubah menjadi biru dan larva yang menetas dini sudahditemukan. Larva yang baru menetas dapat juga disimpan beku untukmencegah pertumbuhan selanjutnya. Telur-telur yang berubah biru dapat disimpan pada suhu 5ºC selama3-5 hari. Untuk varietas yang akan menghasilkan telur non-hibernasi dapatdisimpan pada suhu 2-5ºC selama 1-3 hari. Larva yang baru menetas dapatdisimpan pada suhu 10ºC selama 2-3 hari. Penghambatan pertumbuhan telur lebih lanjut dan penyimpananbeku larva yang baru menetas mempunyai efek yang kurang baik padafisiologis ulat sutra. Oleh karena itu, makin pendek masa inhibisi maka akanmakin aman bagi kesehatan ulat sutra. Selanjutnya, jika telur atau larvaakan dimasukkan atau dikeluarkan dari ruang penyimpanan maka harusmelalui suhu pertengahan (intermediet) selama dua jam.1.3. Efek Lingkungan Inkubasi Pada Voltinisme Secara luas ulat sutra diklasifikasikan sebagai univoltin, bivoltin danmultivoltin. Ulat sutra multivoltin dapat di sub divisikan menjadi diapausingdan non-diapausing. Voltinisme adalah jumlah generasi insekta yangdiproduksi dalam setahun pada kondisi alami. Insekta yang memproduksihanya satu generasi dalam setahun dan kemudian mengalami diapausedisebut univoltin. Sedangkan yang memproduksi dua generasi dalam setahunsebelum menjadi diapause disebut bivoltin, sedangkan yang memproduksilebih dari dua generasi dalam setahun disebut multivoltin. Ulat sutra dengan voltinisme yang berbeda, nampak jelas perbedaanpada durasi pertumbuhan, konstitusi dan pada kualitas sutranya. Secaraumum, bivoltin mempunyai durasi pertumbuhan yang lebih pendek dankonstitusi yang lebih kuat dari pada univoltin, tetapi panjang sutranya lebihpendek dan kualitasnya lebih rendah. Multivoltin mempunyai durasipertumbuhan paling pendek, sutranya pendek dan kualitasnya rendah, tetapikonstitusinya paling kuat. Univoltin hanya meletakkan telur-telur hibernasi, non-diapausingmultivoltin meletakkan hanya telur-telur non-hibernasi. Tetapi bivoltin dandiapausing multivoltin akan memproduksi keduanya, baik telur hibernasi ataunon-hibernasi, menurut kondisi lingkungan yang berbeda di mana merekatumbuh. Diapause telur-telur ulat sutra ditentukan oleh hormon diapause,yang disekresikan oleh ganglia suboesophageal dan ditransmisikan melaluicairan tubuh ke ovari kupu-kupu induk, di mana hormon tersebut menjadifungsional dan memungkin embrio menjadi diapause pada tahapan tertentudari pertumbuhannya. Ganglia suboesophagial pada varietas manapun dengan voltinismeberbeda mempunyai fungsi mensekresikan hormon diapausing, tetapi sekresihormon tersebut dikontrol oleh otak. Pada kondisi normal, otak ulat sutraunivoltin mempunyai fungsi mengakselerasi sekresi hormon diapause olehganglia suboesophagial. Otak ulat sutra multivoltin berfungsi menghambatsekresi hormon diapause oleh ganglia suboesophagial, sedangkan otak bivoltin 3
  • 4. pada kondisi eksposur suhu dan cahaya tinggi selama inkubasi, dapatmengakselerasi sekresi hormon ganglia suboesophagial, menyebabkanproduksi telur hibernasi. Pada suhu rendah dan kondisi gelap selamainkubasi, hal ini dapat menghambat sekresi dan menyebabkan produksi telurnon-hibernasi. Faktor-faktor prinsip yang mempengaruhi voltinisme adalah suhu,cahaya dan kelembaban. Suhu: Jika telur-telur tetua dari ras ulat sutra bivoltin diinkubasipada suhu tinggi (25ºC), kupu-kupunya akan meletakkan telur hibernasi, danjika diinkubasi pada suhu rendah (15ºC), maka akan meletakkan telur non-hibernasi. Suhu pertengahan (intermediet) (20ºC) selama inkubasi, akanmenghasilkan suatu campuran antara telur hibernasi dan non-hibernasi.Karena beberapa ras ulat sutra bivoltin komersial mempunyai hubungan darahdengan multivoltin, maka voltinismenya sedikit berbeda dari yang murnibivoltin, sehingga kondisi lingkungan mempunyai pengaruh yang kecil padavoltinisme. Perlu ditekankan di sini bahwa suhu selama inkubasi mempunyaipengaruh terbesar pada voltinisme. Dengan kata lain, suhu pada masainkubasi adalah faktor penentu apakah ulat sutra bivoltin akan meletakkantelur hibernasi atau non-hibernasi, bagaimanapun kondisi lingkungan selamatahap larval dan pupal (Table 1-3). Cahaya: Cahaya selama inkubasi telur juga mempengaruhivoltinisme. Tetapi efek tersebut tidak terbukti pada suhu di atas 25ºC atau dibawah 15ºC. Inkubasi pada suhu intermediet dengan cahaya menghasilkantelur hibernasi dengan kecepatan lebih tinggi; tanpa cahaya maka kecepatantelur hibernasi adalah lebih rendah. Adalah nyata bahwa efek cahaya padavoltinisme adalah kedua sesudah suhu. Kelembaban: Efek kelembaban pada voltinisme selama inkubasiadalah berikutnya setelah cahaya. Efek tersebut tidak nyata pada suhuinkubasi di atas 25ºC dan di bawah 15ºC. Pada suhu intermediet, kelembabantinggi adalah disukai untuk meletakkan telur hibernasi, sedangkankelembaban rendah disukai untuk telur non –hibernasi. Voltinisme telur progeny dipengaruhi oleh suhu selama beberapatahapan tetua bivoltin. Suhu, cahaya dan kelembaban mempengaruhivoltinisme ulat sutra pada tahapan antara yaitu bila embrio mulai membentukkaki thorakis dan bila kepalanya mulai berwarna. Kebutuhan dasar univoltinuntuk meletakkan telur hibernasi adalah suhu di atas 20ºC untuk inkubasipada tahapan ini, dan untuk bivoltin di atas 25ºC. Jika diinkubasikan padasuhu di bawah 15ºC dan disimpan dalam gelap dan kondisi agak kering,sebagian besar ras bivoltin akan menghasilkan, terutama atau seluruhnyatelur non-hibernasi. Ras univoltin juga akan menghasilkan telur non-hibernasi, tetapi pada tahap perkembangan embrio antara A dan C2, padadasarnya suhu tidak mempunyai pengaruh pada voltinisme 4
  • 5. BAB II PEMELIHARAAN TETUA ULAT SUTRA2.1. Pentingnya Pemeliharaan Tetua Ulat Sutra Baik untuk usaha produksi telur ulat sutra komersial atau untukpembibitan telur, tetua ulat sutra adalah ulat sutra yang telur-telurnyadiambil untuk tujuan produksi telur berikutnya. Oleh karena itu kokon yangdipanen disebut kokon benih, yang akan menghasilkan telur hibrid F1. Sebagian besar strain tetua adalah galur murni, hanya sedikit yangmerupakan hibrid galur-galur inbred yang berbeda. Karena strain tetuamempunyai konstitusi yang agak lemah, maka perlu untuk memberi pakan,kondisi lingkungan pemeliharaan dan penanganan teknis yang lebih baik. Pemeliharaan tetua ulat sutra membutuhkan pertumbuhan yang baik,fisik kuat dan kualitas kokon yang baik dari generasi sekarang untukmenghasilkan telur ulat sutra komersial dalam kuantitas besar dan kualitasbaik.2.2. Tehnik-tehnik Prinsip Untuk Pemeliharaan Tetua Ulat Sutra Disinfeksi ruang dan peralatan pemeliharaan : Pembersihan dandisinfeksi ruang dan peralatan pemeliharaan harus dilakukan sebagaiprasyarat sebelum pemeliharaan tetua ulat sutra. Ruangan harus dikeringkansetelah disinfektasi dan disiapkan untuk penyikatan larva yang baru menetas. Penyikatan larva yang baru menetas: Untuk bivoltin, waktu yangtepat untuk penyikatan larva yang baru menetas adalah sekitar pukul 08:00-09:00, atau lebih awal untuk multivoltin. Metode penyikatan adalah sebagaiberikut : larva yang baru menetas dibawa dengan kertas tisu tipis ataudipindahkan ke tempat pemeliharaaan. Kedua metode tersebut berpegangpada prinsip yaitu tidak melukai larva, penimbangan larva yang akurat danpenanganan (handling) yang nyaman. Dalam penyikatan, satu kartu telurdinyatakan sebagai satu kelompok (batch) dan setiap kelompok terdiri dari 4-5 gram larva yang baru menetas. Setelah penyikatan, kartu telur harusdisimpan untuk inspeksi pathogen pebrin pada sheel telur. Pakan : Kualitas daun mulberi mempengaruhi sifat ekonomisgenerasi ulat sutra yang ada, misalnya fisik ulat sutra, kualitas kokon,kualitas telur,voltinisme dan moltinisme. Selanjutnya, kualitas daun jugamempengaruhi hasil pemeliharaan generasi berikutnya. Periode instar pertama sampai ke tiga adalah periode pertumbuhanbadan di saat mana pertumbuhan larva berlangsung cepat. Jika pakannyatidak baik, larva akan menderita kekurangan suplai nutrisi dan akan sangatberpengaruh pada pertumbuhannya. Pada kasus tersebut akan sulitmendapatkan panenan yang berhasil walaupun suplai daun yang baikdiberikan pada periode berikutnya. Dan sulfur dioksida yang diemisikan olehpembakaran bahan bakar, dapat mengganggu fungsi fisiologis ulat sutra padasaat telah mencapai level tertentu. 5
  • 6. Kecepatan respirasi larva bayi adalah rendah. Larva bayi tersebuttahan terhadap karbon dioksida, tetapi tidak tahan terhadap gas-gas beracunseperti karbon monoksida dan sulfur dioksida. Namun demikian, hal yangsebaliknya untuk periode tumbuh. Pada periode menaiki (mounting), jikalarva dewasa kontak terlalu banyak dengan karbondioksida maka jumlah yanglarva tidak menjadi kokon (non-cocooning larvae) akan meningkat. Larva instar pertama sampai ke tiga tidak mempunyai persyaratansirkulasi udara yang khusus. Ventilasi yang periodik adalah mencukupi.Namun demikian, pada masa tumbuh di mana kecepatan respirasi adalahtinggi dan daun mulberi yang dikonsumsi dalam jumlah banyak, menyebabkankelembaban ruangan meningkat dan udara menjadi mudah terpolusi. Olehkarena itu harus dijaga agar terdapat sebanyak mungkin sirkulasi bebas udarasegar untuk mengakselarasi metabolisme ulat dan mendukung kesehatannya.Namun demikian, pada pengusahaan ventilasi adalah penting untuk mencegahdaun-daun mulberi menjadi layu. Cahaya : Cahaya tidak terbukti mempunyai efek pada kesehatan ulatsutra, kualitas kokon dan jumlah telur diletakkan. Cukup baik untukmemelihara tetua ulat sutra pada kondisi alami, misalnya terang pada sianghari dan gelap pada malam hari. Namun demikian, untuk ras yang mudahmenghasilkan telur non-hibernasi, pada masa tumbuh, kegelapan secaraefektif dapat menurunkan produksi telur non-hibernating. Pengujian larva yang lambat tumbuh : Untuk memastikan bahwatelur ulat sutra yang dihasilkan adalah bebas dari penyakit pebrin maka larvayang lambat tumbuh, larva yang sakit, atau larva yang mati serta larva yangjatuh ke tanah dari tempat naiknya (mountages), dari kelompok yang berbedadan pada instar yang berbeda, harus dilakukan pengujian mikroskopis. Jikaterdapat spora pebrin pada larva yang lambat tumbuh sebelum moulting yangketiga, maka seluruh kelompok (batch) harus ditolak. Jika infeksinya serius,seluruh kelompok harus ditolak. Jika ringan, kelompok tersebut harusdipisahkan dan digunakan untuk pemeliharaan kokon cadangan (reelingcocoon). Ruangan dan peralatan yang digunakan untuk pemeliharaankelompok yang terinfeksi harus didisinfektan menyeluruh. Mengatur pemunculan kupu-kupu untuk kawin : Pada pemeliharaantetua ulat sutra, adalah penting untuk selalu mengamati dan membandingkanpertumbuhan larva tetua untuk dikawinkan. Jika terjadi suatu penyimpanganpada durasi pertumbuhan dari yang diharapkan, maka harus dilakukanpengaturan dengan meningkatkan atau menurunkan suhu pemeliharaan, ataudengan menaikkan atau menunda waktu pemberian pakan. Secara umum,untuk varietas yang lambat-tumbuh, suhu pemeliharaan dapat ditingkatkan1ºC lebih tinggi dari yang dirancangkan, dan untuk yang cepat-tumbuh dapatditurunkan 1ºC. Pada saat mounting, lebih baik menaruh larva yang cepat-tumbuh pada ruang mounting yang lebih dingin dan yang lambat-tumbuh padaruang yang lebih hangat. Namun demikian, pada saat pengaturan harusberhati-hati terhadap dampaknya pada kesehatan dan voltinisme ulat.2.3. Penaikan (mounting) dan Pemanenan Penaikan tetua ulat sutra harus berpegang pada prinsip kedewasaanyang cukup dan tidak berdesakan. Kedewasaan ulat sutra ditandai denganpemunculan beningnya bagian anterior larva; menaikkan kepalanya tinggi- 6
  • 7. tinggi, bergerak dan mencari posisi untuk berkokon. Tetua ulat sutrabiasanya naik pada periode ketika menjadi sedikit lewat dewasa (overmature), tetapi tidak pernah pada saat belum dewasa (immature). Ulat sutrabelum dewasa, karena pemberian pakannya kurang baik, tidak hanyamenunda pemintalan sutra untuk berkokon, tetapi juga akan menjadi lemahdan meletakkan telur lebih sedikit. Namun demikian, ulat sutra tersebuttidak harus lewat dewasa. Dewasa yang berlebih akan menyebabkan produksikokon ganda dan cacat. Pada prakteknya, saat naik pada malam hari atau bila hanya sedikitulat yang menjadi dewasa, maka ulat akan menjadi sedikit lewat dewasa;tetapi jika naik pada puncak periode dewasa atau siang hari, maka lebih baiksedikit kurang dewasa. Mengoleksi ulat sutra dewasa dan menaikkannya pada mountagesadalah pekerjaan yang melelahkan. Distribusi tenaga kerja harus diorganisir.Larva harus dinaikkan pada saat dikoleksi dan tidak meningkat jumlahnya.Hati-hati terhadap identifikasi varietas dan waktu naik. Kekeliruan harusdihindari. Tetua ulat sutra yang naik, kepadatannya harus lebih rendah daripada ulat sutra yang dipelihara sebagai kokon cadangan. Ruang pemeliharaanharus berventilasi baik dan cukup hangat untuk memindahkan kelebihan uapair. Suhu protektif pada periode penaikan untuk bivoltin berpusat sekitar24,5ºC dan untuk multivoltin sekitar 26,5ºC. Selisih antara bola kering danbola basah higrometer adalah 3ºC. Ruangan penaikan harus tidak terlaluterang; sebaiknya sedikit gelap dan kondisi sunyi. Waktu pemanenan kokon bervariasi dengan varietas dan suhuprotektif ulat sutra pada masa penaikan. Secara umum, pemanenan kokonuntuk bivoltin dimulai 6 hari setelah ulat-ulat tersebut naik, dan untukbivoltin tiga hingga empat hari. Sambil dipanen, kokon harus diletakkansecara terpisah menurut varietasnya dan tanggal penaikan; kokon ganda,kokon yang diparasit nyamuk dan kokon yang cacat harus dikeluarkan. Pupaulat sutra harus diperlakukan dengan lembut untuk menghindari kerusakan. Pemanenan kokon pada periode awal terjadi di China Timur.Dikatakan bahwa kokon dipanen bila ulat sutra telah menyelesaikanpemintalan sutra dan mendekati pupa. Dengan suhu protektif 25ºC danperiode penaikan 60-70 jam, pemanenan kokon pada masa awal mencapaihasil yang efektf dalam hal memacu produksi telur bivoltin, yang mana badanpupa relatif lebih besar.2.4. Efek Lingkungan Pemeliharaan Pada Voltinisme Selama periode pemeliharaan, suhu, cahaya dan nutrisi jugamempunyai pengaruh tertentu pada voltinisme, tetapi pengaruh tersebutlebih kecil pada masa inkubasi. Hasil investigasi seperti yang terlihat pada Tabel 1-3 adalah statustipikal untuk bivoltin. Karena beberapa ras bivoltin yang ada mempunyaihubungan darah dengan multivoltin, maka voltinismenya tidak stabil. Dalamrangka menstabilkan hibernasi bivoltin, masih perlu memberi perhatian pada 7
  • 8. kontrol suhu pada periode pemeliharaan, meskipun suhu tinggi dan cahayadiperlukan selama inkubasi. Hanya dengan mempertahankan suhu tinggi(26ºC) untuk larva bayi dan suhu rendah (di bawah 24ºC) untuk larva tumbuh,akan didapatkan telur hibernasi. Cahaya juga mempunyai beberapa efek pada voltinisme ulat sutraselama periode pemeliharaan. Bila pada periode bayi terang, ulatmenghasilan sebagian besar telur hibernasi, dan pada periode tumbuh telurnon-hibernasi. Jika dipelihara pada kondisi gelap, ulat cenderung untukmeletakkan telur non-hibernasi. Lebih jauh, kualitas pakan dapat juga berpengaruh pada voltinisme.Pemberian pakan dengan daun-daun yang bergizi membantu menghasilkantelur hibernasi, sementara pakan atau pemberian pakan yang jelek dengandaun-daun yang kurus cenderung untuk menghasilkan telur-telur non-hibernasi. 8
  • 9. BAB III INVESTIGASI DAN PRESERVASI KOKON BENIH Kokon benih adalah sumber material yang digunakan untukmenghasilkan telur ulat sutra. Kualitas kokon benih adalah berhubungandengan kualitas telur ulat sutra dan keberhasilan memelihara ulat sutra F1hibrid. Oleh karena itu kokon benih yang dipanen harus diuji dengan ketat.Hanya kokon yang memenuhi standar yang dapat digunakan untukmenghasilkan telur. Kokon dengan kualitas demikian harus disimpan untukmendukung perkembangan morfologis agar menghasilkan telur dengan jumlahbanyak dan kualitas tinggi.3.1. Investigasi Kualitas Kokon Benih Kriteria kualitas kokon benih : Karena kondisi klimatis dan geografissangat bervariasi pada berbagai belahan dunia, maka varietas ulat sutraadalah berbeda, dan demikian pula halnya kualitas kokon. Bahkan padavarietas ulat sutra yang sama yang dipelihara pada daerah yang berbeda akanmempunyai karakteristik yang bervariasi. Oleh karena itu standar untukinspeksi kualitas kokon benih bervariasi dengan tempat yang berbeda.Metode inspeksi kualitas kokon benih Hal-hal dan waktu inspeksi: Inspeksi kualitas kokon benihmenyangkut empat hal berikut ini: Jumlah kokon yang dipanen, bobot kulitkokon, rasio kulit kokon dan rasio kokon mati. Kelompok pemeliharan(rearing batch) adalah unit untuk keempat hal di atas. Waktu inspeksi adalah sebagai berikut: Untuk pemanenan musimsemi dan akhir musim gugur adalah 7-10 hari setelah penaikan penuh; untukpemanenan awal musim gugur dan pertengahan musim gugur, 6-8 hari setelahpenaikan penuh. Untuk varietas dengan durasi periode pupa yang lebihpendek, seperti Dong 34, inspeksi dapat dilakukan sehari sebelumnya. Jikainterval di antara penaikan terlalu lama, inspeksi dapat dilakukan per seksi,hasilnya kemudian berdasarkan rataan.Metode inspeksi Inspeksi jumlah kokon yang dipanen: Kokon reproduktif, kokon dobeldan kokon rusak harus ditimbang terpisah dan diambil bobot totalnya.Rataan hasil kokon dari 10 g ants harus dihitung dan kemudian 1 kg darisetiap macam kokon diambil dan jumlahnya dihitung. Metode sampling : 5-6 kg kokon harus diambil secara acak untuksampling. Kokon floss harus dipindahkan. Kokon tersebut harus dicampurmerata dan diletakkan mendatar. Kokon dibagi menjadi empat bagian olehdua garis diagonal. Setiap dua bagian pada sudut diagonal harus diambil danditimbang 2 kg untuk berbagai pengujian. Dua bagian lainnya diambil untuksampel investigasi kecepatan kokon terseleksi. 9
  • 10. Cek analitis kokon yang mati : Inspeksi kokon mati pada kokonreproduktif – jika bobot ant dari kelompok pemeliharaan adalah di atas 80 g,maka 1 000 kokon harus dicek, dan jika di bawah 80 g, 500 kokon harus dicek. Inspeksi kokon mati di antara kokon dobel dan kokon rusak : Jikabobot dari kelompok pemeliharaan adalah di atas 80 g, maka 500 dobel kokonharus dicek, 0,6 kg kokon rusak ; jika di bawah 80 g, 250 kokon dobel, 0,5 kgkokon rusak. Kokon harus dipotong buka untuk menginspeksi kokon mati olehkarena berbagai penyebab. Kecepatan kematian dari keseluruhan lot harusditotal. Jika c diambil sebagai bobot berbagai jenis kokon, n adalahjumlah/kg jenis kokon yang berbeda, dan d adalah kecepatan kematian kokonyang berbeda, maka D atau kecepatan kokon mati dari seluruh lot dapatdikalkulasi dengan formula berikut : cndD = ----------- x 100 cn Yang termasuk kokon mati adalah setiap bentuk ulat mati, pupamati, ulat dan pupa yang terinfeksi, pupa yang moult-sebagian (menutupthorax atau lebih dari dua segmen pada bagian anterior), pupa yang tidakmoulting atau pupa dengan tiga segmen abdomen berubah menjadi hitam,dan ulat kaki-berambut (larva tidak menjadi pupa) setelah 6 hari penaikanpada kokon. Pupa berdarah, pupa yang di parasit larva serangga (uget-uget), pupayang diinfeksi muscardine tidak perlu diuji. Tetapi pada batch tetua ulatsutra, pencatatan ketiga macam pupa ini harus dilakukan sebagai indeksgrading penjualan kokon benih. Inspeksi kualitas kokon : 120 kokon diambil dari sampel secara acak.Kokon tersebut dibuka secara individual, jenis kelaminnya diidentifikasi, dan50 kokon jantan dan 50 kokon betina diseleksi. Kokon keseluruhan dan kulitkokon ditimbang sehingga kecepatan pengulitan kokon dapat dikalkulasi. Bobot kulit + Bobot kulit Kokon Kokon% Kecepatan pengulitan = ------------------------------------------ x 100 Bobot kokon Bobot kokon Keseluruhan Keseluruhan Investigasi kecepatan pelepasan kokon (the casting cocoon rate) :Pindahkan 2-2,5 kg kokon dari separuh sampel lainnya, dan cast kokon yangdefektif. Hitung kecepatan pelepasan kokon sebagai kriteria kecepatanpelepasan kokon untuk keseluruhan lot. Kecepatannya tidak boleh lebih kecildari 3 persen untuk panenan musim semi dan tidak lebih kecil dari 4 persenuntuk pemanenan musim gugur. Jika hasil pengujian-pengujian ini tidak memenuhi standar, makaperlu dua pengujian lagi yang diambil dari sampel lainnya. Jika hasil rataantiga pengujian tetap tidak memenuhi standar maka seluruh lot kokon ditolak. 10
  • 11. 3.2. Seleksi Kokon Benih Setelah inspeksi kualitas, lot pemeliharaan kokon benih harus melaluiseleksi individual, dan kokon yang tidak memenuhi karakteristik rasial dari rastetuanya harus dibuang. Hal ini akan mempertahankan karakteristikekonomis yang seragam dari varietas dan meningkatkan kualitas kokon.Kokon cacat adalah :• Kokon tipis – Kulitnya sangat tipis dan dapat dengan mudah di remukkan.• Kokon salah bentuk (malformed) – Bentuknya tidak teratur, tidak memenuhi karakteristik rasial dari varietas aslinya.• Kokon kapas (fluffy cocoons) – Kokon kehilangan kulit, tetapi tidak mengkerut; lembut dan lepas seperti kapas jika disentuh.• Kokon berwarna – Kuning muda, hijau kekuningan atau warna lain.• Kokon cacat lainnya – Kokon berujung lancip, kokon patah (broken-end), kokon kecil, kokon bee-waist dll. Kokon menjadi cacat karena faktor genetis atau lingkungan. Cacatyang disebabkan oleh faktor genetis, seperti kokon berwarna, kokon kapas,kokon bee-waist dan kokon berujung lancip harus dibuang. Kokon salahbentuk, kokon tipis, kokon patah dll secara umum disebabkan oleh faktorlingkungan. Lebih baik membuang kokon cacat tersebut untuk menjagakeseragaman bentuk ras.3.3. Preservasi Kokon Benih Suhu : Adalah sangat penting kokon benih disimpan pada suhu yangsesuai. Pada bivoltin, suhu optimum untuk preservasi adalah 24ºC, di manakecepatan eclosion adalah tertinggi, jumlah telur yang diletakkan oleh kupuinduk mencapai maksimum, kecepatan telur tidak fertil dan telur mati adalahrendah. Pada multivoltin, sebaiknya kokon disimpan pada suhu 26ºC. Jikakokon benih disimpan pada suhu 30ºC, tidak hanya jumlah pupa denganpenyakit flacherie akan meningkat dan kecepatan munculnya kupu-kupumenurun; tetapi jumlah telur tidak fertil, telur mati dan telur non-hibernasiakan meningkat secara signifikan. Efek suhu tinggi sangat jelas pada periodepenaikan (mounting) dan pupasi (pupation). Yang paling menderita adalahpupa jantan. Jika suhu lebih rendah dari 20ºC, maka kecepatan munculnyakupu akan menurun, jumlah telur yang dihasilkan akan menurun tajam, telurtidak fertil akan meningkat dan pupa betinalah yang paling menderita. Kelembaban: Kelembaban optimum untuk preservasi kokon benihadalah 75-80 persen. Secara umum, pada kisaran 65-90 persen, kelembabantidak berpengaruh nyata pada kesehatan kupu, pada jumlah telur yangdihasilkan, jumlah telur tidak fertil atau generasi ulat sutra berikutnya. Padaprakteknya, jika telur dihasilkan pada musim gugur, udara sering terlalukering. Jika kelembaban lebih rendah dari 60 persen, pupa akan tumbuhlambat, persentase eclosion ( muncul) akan menurun, dan jumlah kupu-kupuyang gagal kawin akan meningkat. Mereka menjadi terlalu mudah berpisah,bahkan ketika mereka mempunyai kesempatan untuk berkopulasi. Jika 11
  • 12. terlalu kering pada periode akhir preservasi kokon benih, efeknya akan lebihserius. Oleh karena itu, di sekitar waktu munculnya kupu awal, kelembabanharus disesuaikan menurut kondisi aktual. Cahaya : Pada periode preservasi kokon benih, hati-hati untukmempertahankan penerangan pada siang dan kegelapan pada malam. Adalahpenting bahwa malam menjadi gelap total dan bahwa kokon dikenai cahayasebelum terbit matahari pada hari eclosion, dengan demikian membuat kupumuncul lebih awal dan seragam. Udara : Dengan tumbuhnya pupa, kecepatan respirasinya secaragradual meningkat. Sejumlah besar karbon dioksida dilepaskan ketika matamajemuknya berwarna. Pada saat seperti itu, ventilasi diperlukan. Udaraharus tetap segar di ruang pemeliharaan.3.4. Observasi Pertumbuhan Pupa dan Regulasi Perkawinan Untuk mengatur perkawinan kupu, adalah penting untu mengamatiperkembangan pupa. Suhu harus diatur menurut derajat pigmentasi matamajemuk, antena dan badannya. Oleh karena itu kupu-kupu dua varietasuntuk kawin akan muncul secara simultan.Korelasi antara pigmentasi dan perkembangan pupa :Secara umum, pigmentasi dan perkembangan pupa berkorelasi sebagai berikut :• Mulainya pigmentasi mata majemuk menandai titik paruh antara penaikan (mounting) dan pemunculan (emergence).• Mata majemuk menjadi hitam pada titik dua pertiga.• Jika antena berubah menjadi hitam gelap, kupu akan muncul pada dua atau tiga hari.• Bila badan pupa menjadi kendur dan lunak, lustre lepas dan jadi mengkerut, kupu akan muncul pada hari berikutnya pada kasus ras Cina dan dua hari kemudian untuk ras Jepang (Gambar 3-2). Pengaturan pemunculan kupu : Secara umum, suhu preservasi pupadari penaikan ke munculnya kupu, berada pada kisaran 21-27ºC. Jika suhumeningkat atau turun 1ºC, pemunculan kupu akan lebih cepat atau tertundasehari. Jika suhu meningkat atau turun 2ºC, maka akan lebih cepat atautertunda dua hari. Suhu yang lebih rendah harus lebih sering digunakan untukpupa yang berkembang lebih cepat dan demikian pula sebaliknya. Harus hati-hati dalam melakukan pengamatan perkembangan pupa secara teratur danuntuk mengatur suhu agar kupu dari dua varietas untuk kawin akan munculpada hari yang sama dan dalam kuantitas seragam. Penyimpanan dingin kokon benih (pupa) : Terdapat dua periodeuntuk inhibisi dingin pupa ulat sutra : (a) dua hingga tiga hari setelah pupasibila mata majemuk mulai berpigmen, dan (b) sehari sebelum munculnyakupu. Penyimpanan dingin harus dilakukan pada malam hari. Batasan waktu 12
  • 13. penyimpanan dingin untuk jantan adalah 4-5 hari, dan untuk betinan 2-3 hari.Kisaran suhu dari 2,5 hingga 7,5ºC, dengan 5ºC sebagai median. Penyimpanan dingin kokon benih mungkin menurunkan persentasemunculnya kupu, jumlah kupu yang tidak bertelur meningkat, dan jumlahtelur yang dihasilkan akan menurun; persentase telur tidak fertil mungkinjuga akan meningkat. Oleh karena itu, kokon benih tidak boleh disimpandingin kecuali benar-benar diperlukan. 13
  • 14. BAB IV DISKRIMAINASI KELAMIN (SEXING) Diskriminasi sex atau sexing, adalah suatu ukuran tehnis pentingpada produksi telur F1 ulat sutra hybrid. Sexing adalah pemisahan betina darijantan di dalam varietas yang sama. Terdapat tiga metode : (1) sexingmelalui karakteristik eksternal larva, (2) sexing melalui karakteristikeksternal pupa dan (3) sexing melalui karakteristik eksternal kokon.4.1. Diskriminasi Kelamin Larva Pada sisi ventral abdomen larva betina, pada segmen ke delapandan ke sembilan, terdapat sepasang noktah melingkar kecil pada kedua sisikiri dan kanan. Noktah tersebut dinamakan kelenjar depan (foregland)Ishiwata. Pada larva jantan, terdapat badan folikuler berwarna putih susuyang disebut kelenjar Herold di pusat sisi ventral pada persambungan segmenke delapan dan ke sembilan. Melalui observasi karakteristik kelenjarreproduktif yang berbeda antara larva jantan dan betina, maka diskriminasikelamin larva dapat dilakukan dengan mata telanjang dari instar keempatakhir hingga instar kelima.4.2. Diskriminasi Kelamin Pupa Pupa ulat sutra betina lebih besar dari pada pupa jantan; warna kulitpupalnya (cuticle) adalah lebih terang, dan segmen abdominal posteriorbentuknya lebih bulat. Secara ventral, pada pusat segmen abdominal kedelapan, terdapat tanda berbentuk X yang memanjang dari marjin segmenanterior ke posterior. Pupa ulat sutra jantan adalah lebih kecil dari pada yang betina,segmen abdominal terakhir agak lancip, dan pada pusat segmen ventral kesembilan terdapat noktah kecil coklat, kelenjar Herold. Menurut sifat eksternal – bentuk badan dan tanda jelas kelenjarreproduktif - adalah mungkin untuk membedakan kelamin pupa ulat sutra4.3. Diskriminasi Kelamin Kokon Benih Ulat Sutera Karena kokon betina biasanya lebih besar dan lebih berat dari padajantan dari ras yang sama, khususnya di antara ras-ras multivoltin, makaperbedaan ini dapat digunakan untuk memisahkan kokon betina dari kokonjantan dengan penimbangan. Mesin sexing popular digunakan untuk tujuanini pada farm produksi telur ulat sutra di Propinsi Guangdong, China. Mesinsexing dapat membuat pekerjaan lebih efisien, dan kupu dapat keluar darikokonnya sendiri tanpa digunting. Jika kupu muncul dari kokon tanpagunting, rataan kecepatan produksi telur dapat mendekati 20 persen lebihtinggi dari pada jika kokon digunting buka, karena resiko pupa terluka akanberkurang. Sebelum sexing mekanis digunakan, beberapa contoh kokon diambilsecara acak dari batch kokon benih yang sama hari penaikannya. Bobot kokonkriteria dideterminasi berdasarkan kisaran bobot antara kokon betina danjantan. Bobot ini akan digunakan sebagai bobot diferensiasi untuk separasi 14
  • 15. kelamin kokon benih: kokon yang lebih berat dari kriteria masuk ke kelompokbetina, yang lebih ringan adalah jantan. Kokon dengan berat yang samadengan kokon kriteria termasuk kelompok campuran dari kedua kelamin. Evaluasi tepat kokon kriteria mempunyai efek pada kerjakeseluruhan. Bobot kriteria harus mempertahankan kecepatan sexing 90persen atau lebih tinggi. Pada waktu yang sama, kecepatan sexing kelompokcampuran harus terkontrol 10 persen atau kurang. Jika persyaratan di atastidak dapat dipenuhi, maka aplikasi separasi sex mekanis menjadi tidaknyata. Mesin sexing kokon terdiri dari sumbu putar utama, bagian atas yangmelekat pada piringan berpeforasi. Melekat pada bagian ini lengan baja keciltipe-lever, menggantung dengan interval regular/teratur. Jika mesin dioperasikan, motor listrik kecil mengatur piring beronggaberotasi dan lempengan baja kecil berputar bersama-sama. Menurut prinsiplever, lempeng baja yang berputar dapat mengukur bobot kokon secaraotomatis. Efisiensi mesin pemisah jenis kelamin kokon : Mesin pemisah jeniskelamin kokon ini berputar pada kecepatan14,5 putaran per menit. Bila rasulat sutra tertentu mempunyai rataan 740 kokon per kilogram, maka efisiensimesin pemisah jenis kelamin dapat dihitung sebagai berikut : • Jumlah siklus rotasi piringan berputar per jam : 60 X 14,5 = 870 siklus • Jumlah kokon melintas melalui mesin per jam : 870 x16 = 13 920 kokon • Jumlah kokon benih terpisah per hari kerja ; 13 920 x8 = 111 360 kokon Sekarang, pada praktek produksi, efisiensi kerja mesin pemisah jeniskelamin berbeda agak banyak dari efisiensi teoritis, karena mesin harusdijustifikasi sebelumnya ke operasi pemisahan setiap jenis kelamin kokon.Lebih jauh, pekerja yang menjatuhkan kokon ke dalam pan secara manualadalah lebih lambat dari pada kecepatan mesin yang berotasi. Jika mesindapat diperbaiki dengan sejenis peralatan kombinasi (termasuk pelayanankokon otomatis), maka efisiensi separasi jenis kelamin kokon secara mekanisakan meningkat pesat. Pemisahan jenis kelamin dengan penimbangan kokon individual :Timbangan kokon tunggal dapat pula digunakan untuk separasi jenis kelamin.Hal ini juga dirancang dengan prinsip keseimbangan. Meskipun kecepatanefisiensinya jauh lebih rendah, tetapi mudah dilakukan dan sangat akurat. 15
  • 16. BAB V BERTELUR5.1. Metode Bertelur Terdapat dua metode dasar bertelur: bertelur terpisah dan bertelurcampuran. Bertelur terpisah dapat di sub – divisikan menjadi metodePasteur, yang dilakukan di China dan Jepang; dan metode kantong seluler,yang biasanya dilakukan di negara-negara Eropa. Metode bertelur campurandapat disub-divisikan menjadi bertelur kartu datar dan bertelur bentuk lepas.Metode yang dipilih mempunyai hubungan dengan grade produksi telur ulatsutra., karakteristik ras, kondisi serangan penyakit ulat sutra dll. Misalnya,produksi telur grandparent hybrid F1 dan dari tetua ras setiap imago (kupu)harus menjalani tes Pebrine, sehingga metode bertelur terpisah lebihdipreferensikan. Tetapi untuk telur komersial atau telur untuk produksi ulatsutra, di mana tidak semua kupu diharuskan menjalani test Pebrine, makametode bertelur campuran diadopsi. Ambil contoh, beberapa ras ulat sutradi Eropa. Dikarenakan degradasi kelenjar Filippi atau Lyonnet maka teluryang dihasilkan viskositasnya kurang. Hal ini menyebabkan metode bertelurkantong seluler menjadi sangat penting. Metode kartu datar: Metode bertelur campuran ini di mana sejumlahkupu betina tertentu dibolehkan bertelur pada luasan tertentu pada selembarkraft. Metode ini sederhana, nyaman dan menghemat tenaga, kecuali bahwametode ini tidak mengijinkan adanya seleksi individual atau eliminasi telurulat sutra. Metode kartu datar modern adalah salah satu praktek bertelurkomersial yang mempersyaratkan bahwa seluruh telur harus bebas daripenyakit pebrine. Spesifikasinya adalah bahwa setiap kartu telur mempunyailuasan bertelur 21 cm x 16 cm = 336 cm2. Lebih jauh lagi, terdapatperbedaan antara kartu telur datar tunggal dan dobel (Gambar 5-1).Standard kuantitas telur pada setiap kartu telur adalah kuantitas yangdibutuhkan telur untuk menempati sepenuhnya kartu telur pada satu lapisanbijian. Jumlah kupu induk yang diletakkan pada setiap kartu telur bervariasimenurut ras, daerah, musim dan kualitas kokon benih. Misalnya, di ProvinsiGuangdong setiap kartu telur mengakomodasi 60-70 kupu induk dari rasbivoltin umum, dan 75-85 kupu induk ras multivoltin. Metode bentuk lepas: Untuk telur ulat sutra komersial, metodebentuk lepas adalah metode yang lebih maju. Di Eropa, metode inidiwajibkan karena karakteristik varietal. Di Jepang, semua telur ulat sutrauntuk pemeliharaan kokon diproduksi dengan menggunakan metode ini, danmetode ini juga umum digunakan di Provinsi-provinsi timur China. Telurlepas terdapat dalam kotak, masing-masing berisi 12 gram. Telur lepas kualitasnya superior terhadap telur pada kartu karenametode ini memfasilitasi seleksi telur individual dan mengeliminasi telurdefektif. Lebih jauh, disinfeksi permukaan yang seksama adalahmemungkinkan dan kualitas ras ulat sutra oleh karenanya dapat meningkat.Pada waktu yang sama, kuantitas telur yang diproduksi per unit adalah tepatdan seragam, yang mana hal ini menguntungkan untuk produksi yangterproyeksi. Metode bentuk lepas adalah lebih baik untuk preservasi dantransport. Namun demikian, kendala metode ini adalah bahwa telur-telur 16
  • 17. menjadi berguncang terlalu keras selama transport dan dalam proses inkubasitelur harus diaduk, dan pemanenan larva yang baru menetas sangat sulitdilakukan. Metode Pasteur: Metode ini diadopsi untuk produksi strain ulat sutraoriginal parent/tetua dan grandparent F1 hybrid. Dikarenakan kemudahanmelakukan inspeksi mikroskopik kupu individual dan eliminasi batchesberpenyakit, metode ini digunakan untuk menghasilkan strain tetua dangrandparent F1 hybrid ulat sutra yang benar-benar bebas penyakit. Luasansetiap kartu telur untuk strain tetua adalah 32 x 18 cm2, dibagi menjadi 28bagian/partisi, di mana pada setiap bagian diletakkan atau ditempati kupuinduk tunggal. Setelah oviposisi, kupu-kupu dimasukkan ke dalam kotakberlabel nomor serialnya untuk menunggu inspeksi mikroskopik. Untukbertelurnya ulat sutra grandparent, setiap kartu telur terdiri dari 14 tempatkupu. Sebagai tambahan untuk membuat inspeksi mikroskopis yang ketatterhadap kupu-kupu, maka perlu menyelidiki lama hidup kupu betina sebagaireferensi dalam prosedur seleksi dan eliminasi. Metode kantong seluler: Metode kantong seluler juga termasukdalam tipe bertelur terpisah. Kantong seluler kecil yang terbuat dari kainkatun tipis atau kraft berpori-pori di mana kupu betina ditempatkan untukbertelur. Tipe bertelur kantong seluler ini khususnya cocok untuk ras-ras ulatsutra tertentu—kupu induk yang menghasilkan telur non-gluey. Sistem inidiadopsi di Rusia. Mengenai jumlah kupu pada kantong seluler, umumnyauntuk strain tetua, satu kupu dalam satu kantong, tetapi untuk telur ulatsutra komersial, dua kupu menempati satu kantong.5.2. Persiapan Bertelur Bertelur adalah pekerjaan yang intens dan melelahkan, yangmemerlukan waktu tepat untuk beberapa tahapannya. Segala sesuatunyaharus disiapkan sebelumnya untuk menghindari kekeliruan, eror atau hal-hallain yang tidak diinginkan. Kandang/tempat bertelur secara umum terdiri dari ruang emergence(ruang preservasi kokon benih), ruang perkawinan, ruang bertelur, ruangbersuhu rendah dan ruang preservasi telur ulat sutra. Pada farm produksitelur komersial di mana ulat sutra tetua dipelihara sendiri, ruang-ruangtersebut dapat juga digunakan sebagai ruang pemeliharaan/pembesaran atauruang penyimpanan mulbery. Tetapi ruang untuk pemeliharaan danbertelurnya ulat sutra tetua harus digunakan secara eksklusif untuk tujuantersebut. Ruangan pemunculan, perkawinan, bertelur dan preservasi telur ulatsutra harus dilengkapi dengan peralatan AC untuk mengatur suhu,kelembaban dan ventilasi. Ruangan harus terang dan gelap secara seragampada siang dan malam hari; cahaya yang terlalu kuat dan terang harusdihindari. Untuk ruang perkawinan dan bertelur dipreferensikan atmosfereyang tenang. Ruang bertelur harus mempunyai pencahayaan yang mudahdikontrol dan harus dilengkapi dengan fasilitas ventilasi. Pada prinsipnya, suhu ruang dingin dipertahankan pada 10ºC.Insulasi thermal harus dicek dan dites sebelumnya. Kain katun berperforasi untuk menutupi kokon, nampan bambu untukperkawinan, papan dan frame bambu untuk bertelur harus dibersihkan dan 17
  • 18. disterilkan sebelum digunakan. Semua peralatan yang dipergunakan harusdisiapkan dalam hubungannya dengan kecepatan pemunculan harian yangtertinggi, atau sekitar 50-60 persen kecepatan bertelur keseluruhan batch.Peralatan lain adalah lembar draft, kotak kupu betina, kotak/tempat kupujantan, dan stand berkawat untuk menaruh kartu telur ulat sutra.5.3. Teknik Bertelur Eclosion atau pemunculan: Selama preservasi kokon benih, pupaberkembang dan metamorfosis secara gradual hingga akhirnya muncul sebagaikupu ulat sutra. Pada saat mendekati pemunculannya, kupu di dalam kokonmengeluarkan cairan yang melarutkan sericin dan melembabkan sertamelembutkan filamen sutra kulit kokon. Kemudian mendorong kulit kokondengan kepalanya, kupu-kupu keluar dari kokon. Rambut sisik padapermukaan tubuh kupu-kupu yang baru muncul adalah lembab, badannyafleksibel, sayapnya kecil dan menggulung. Kupu-kupu tampak tak bergerak.Segera setelah itu, rambut bersisik secara gradual mengering, cairan tubuhmemasuki vena-vena sayap, dan sayap mulai terpisah. Kupu-kupu terusmengepakkan sayapnya dan merangkak dalam keadaan sangat aktif sambilmencari kupu betina untuk dikawini. Sesaat sebelum kemunculannya, pupa sesekali menggerakkanbadannya dengan suara perlahan. Apabila metamorfosis sudah selesai, badankupu dan kulit pupa secara gradual saling memisahkan diri. Pupa kehilangankecerahannya dan menjadi gelap kecoklatan dengan tiada kerutan elastispada permukaan tubuhnya. Sebelum kemunculannya, badan pupa adalahringkih dan lembut terhadap sentuhan. Keadaaan ini adalah karakteristikutama tahap perkembangan ini. Ras univoltin mempunyai periode pupal yang lebih lama dari padabivoltin, dan multivoltin mempunyai periode pupal terpendek. Berkaitandengan kondisi lingkungan preservasi, di dalam kisaran suhu optimum, makintinggi suhu maka akan makin cepat dan seragam pemunculan. Dengan makinrendahnya suhu maka eclosion akan makin lambat dan iregular/tidak teratur.Tetapi suhu yang terlalu tinggi akan menyebabkan perpanjangan periodepupal. Pada kondisi lingkungan optimum, durasi pupal ras univoltin Chinaadalah 14 hari, univoltin Jepang adalah 17 hari. Ras bivoltin Chinamemerlukan 12 hari, ras bivoltin Jepang mendekati 14 hari. Namun demikianras multivoltin China dari propinsi Guangdong hanya membutuhkan sekitar 10hari. Pada kondisi preservasi normal, pengenaan cahaya dimulai pada saatmatahari terbit sekitar jam 04.00, dan pemunculan pada dasarnya berhentipada jam 8.00 di hari yang sama untuk ras bivoltin dan jam 6.30 untukmultivoltin. Pemunculan berlangsung lebih lama pada ras multivoltin; urutandurasi berikutnya adalah ras bivoltin, dan ras multivoltin adalah yangterpendek. Jumlah kupu yang muncul perharinya juga tidak seragam, tetapimempunyai pola tertentu. Pengetahuan yang baik tentang pola pemunculanadalah sangat penting untuk membuat proyeksi produksi telur. Tehnisiproduksi telur harus memperhatikan pola ini. Untuk memudahkan pemilihan kupu dan mencegah urin kupumengkontaminasi badannya, maka sebaiknya digunakan selembar kain katununtuk menutupi kokon sebelum pemunculannya. Dalam rangka membuat 18
  • 19. perencanaan yang sesuai untuk bertelur harian, maka disarankan untukmenginduksi pemunculan yang seragam. Dengan alasan ini, pengenaancahaya harus dimulai pada jam 4.00, dan pekerja harus secara khususditugaskan untuk mengeluarkan jantan secepatnya. Oleh karena itu, pekerjaharus mengeluarkan dengan segera kupu jantan yang bercampur dengan kupubetina secepatnya dikarenakan kesalahan diskriminasi jenis kelamin. Apabiladideteksi terjadi kopulasi, maka kupu betina yang kopulasi harus dibuang. Pengoleksian kupu: Setelah cahaya dinyalakan dan photosensitivitastelah dimulai untuk dua hingga tiga jam dan rambut sisik kupu yang munculmenjadi kering dan sayap-sayap terbentang penuh, maka pengoleksian kupudimulai. Kupu jantan menjadi sangat aktif, mengepakkan sayapnya danmerangkak berkeliling, dan inilah yang dikoleksi pertama kali dan ditempelidengan label yang mengindikasikan nama ras, jumlah batch dan tanggal.Kupu-kupu jantan tersebut disimpan sementara pada tempat yang dingin dangelap untuk menghambat aktivitasnya dan mengurangi konsumsi enerjinya.Kemudian dilakukan pengoleksian kupu betina dan disebarkan merata padanampan, dengan menyisakan sedikit ruang di antaranya untuk distribusi kupujantan untuk kawin. Bila kupu jantan mencium bau kelenjar alluring kupu betina, makakupu jantan menjadi sangat terangsang dan sangat aktif. Hal ini tidak hanyamenyebabkan kupu jantan membuang banyak enerji, tetapi juga membuatmereka jatuh dari nampan ke lantai, yang akan menimbulkan kesulitandalam pekerjan pemilihan. Oleh karena itu, sebelum pemunculan kupu,kedua jenis kelamin kokon ulat sutra harus disimpan dalam ruang terpisah.Selanjutnya, tempat untuk menyimpan kupu betina dan nampan untukmenaruh kupu betina harus tetap. Pada kondisi normal, pekerjaan mengoleksi kupu secara umumberlangsung dari jam 6.00 hingga jam 7.00. Seleksi kupu: Seleksi kupu adalah penting untuk memperbaikikualitas telur ulat sutra. Pada setiap tahapan proses produksi telur, kupuyang defektif/cacat harus dieliminasi. Sebelum kupu kawin, diperlukanpenyortiran dan mengeliminasi kupu betina yang cacat. Karakteristikmorfologis kupu cacat adalah sebagai berikut : 1. Segmen badan terlalu panjang, badan kompak, badan bulky atau kerdil dibandingkan dengan kupu normal. 2. Bentuk badan abnormal, gelap atau berbintik hitam pada segmen ventral dan sayap. 3. Sayap abnormal atau kurang berkembang. 4. Rambut sisik berjatuhan, inert. 5. Inaktif, tidak mampu kopulasi Di dalam batch kokon, sejumlah kecil kupu yang muncul terlalu awalatau terlalu lambat harus dieliminasi dan tidak dimasukkan untuk deposisitelur. Kopulasi: Dengan berakhirnya pekerjaan mengoleksi kupu, makapersiapan untuk perkawinan seharusnya dimulai pada jam 8.00. Pertama, 19
  • 20. kupu betina didistribusikan merata pada nampan dan kupu jantan dilepaskandi antara mereka sehingga terjadi perkawinan alami. Jumlah jantan harus 20persen lebih banyak dari pada betina. Setelah sekitar 10 atau 20 menit,berpasangan dimulai secara alami. Kupu yang tidak mendapat pasangandikeluarkan dan dikumpulkan pada nampan terpisah. Kupu berpasangan yangdalam proses kopulasi harus disusun merata dengan ruang memadai diantaranya untuk menghindari interupsi dan decoupling/tidak berpasangan. Harus diberikan waktu yang cukup untuk kopulasi. Jika terlalusingkat, bertelur akan lambat, telur yang dihasilkan lebih sedikit, dan lebihbanyak yang tidak difertilisasi. Sebaliknya, jika waktu kopulasi terlalu lama,decoupling akan menyebabkan ovulasi dini dan kerugian. Berkaitan dengandurasi kopulasi, dari sisi fertilisasi, dua jam adalah memadai. Pada produksiprakteknya, biasanya berlangsung empat hingga lima jam. Selain itu, durasiperkawinan sedikit bervariasi dengan perbedaan suhu ruang oviposisi, ras ulatsutra, dan jumlah perkawinan yang dapat dilakukan oleh kupu jantan.Perkawinan sedikit lebih singkat pada suhu tinggi. Tetapi untuk ras ulat sutrayang mempunyai banyak telur tidak fertil atau kupu jantan untuk kawin lagi,waktunya harus sedikit diperpanjang. Yang terbaik adalah jantan kawin satukali sehari. Jika perkawinan kupu jantan yang kedua diinginkan pada hariyang sama, durasi perkawinan yang pertama harus dikurangi hingga tiga jamdan yang kedua ditingkatkan hingga lima jam. Pada deposisi telur massa,biasanya penggunaan kupu jantan diduplikasi. Jika perkawinan diulang padahari yang sama, kupu jantan harus ditempatkan pada ruang dingin untukberistirahat selama setengah jam di antara perkawinan pertama dan kedua. Suhu selama perkawinan seharusnya di atur pada 24-25ºC untuk ulatsutra bivoltin, pada 27-28ºC untuk multivoltin. Kelembaban relatif padakedua macam ras tadi harus dipertahankan pada 75-85 persen. Pada suhutinggi sekitar 30ºC dan kondisi kering, kupu-kupu nampaknya akan decouple.Selanjutnya, ruang perkawinan harus tenang, pencahayaan seragam, bebasdari draft, dan terkena sinar matahari langsung. Bila perkawinan dalamkemajuan pekerja yang ditugasi harus melakukan inspeksi keliling. Apabiladitemukan kupu decoupling, maka harus diatur di tempat lain dan dilakukanperkawinan yang baru. Decoupling dan penyebaran kupu : Jika waktu yang disediakan untukperkawinan berakhir, maka harus dimulai decoupling. Untuk mendecouplepasangan kawin, maka harus hati-hati untuk tidak terlalu keras dalammemisahkan kupu-kupu tersebut karena organ reproduksinya bisa rusak.Setelah decoupling, kupu induk harus digoyang untuk mempercepat urinasi.Kupu induk yang tidak berurinasi atau urinasinya belum tuntas bukan hanyaoviposisinya terlambat, tetapi juga akan mengkontaminasi telur-telurnya bilaurinasinya pada saat oviposisi. Disarankan untuk mengkoleksi kupu betina decouple pada selembarkain lunak persegi dengan panjang sisi 50 cm, atau pada selembar kainmelingkar dengan diameter 50 cm. Mereka harus disebarkan secara meratasehingga tidak bergerombol. Kemudian dengan menggunakan dua tangan,lembaran kain dengan kupu di dalamnya diangkat perlahan dan digoyangkanperlahan-lahan agar urinasinya tuntas. Bila tidak demikian kupu-kupu akanterlambat dalam bertelur dan urin akan mengotori kraft danmengkontaminasi telur. 20
  • 21. Metode penyebaran kupu berbeda sangat dengan metode berteluryang digunakan. Pada metode bentuk lepas, jumlah kupu betina yangdisebarkan berkorelasi dengan luasan kain ovulasi atau kraft. Kupu-kupuharus disebarkan secara merata dan dibiarkan oviposisi tanpa memperdulikanbagaimana telur-telur diletakkan atau dilekatkan. Tetapi sebaliknya, untukdeposisi telur kartu datar, keseragaman dalam oviposisi dan pelekatan adalahdiharapkan. Kerapihan dan penampilan yang baik adalah aspek lain yangdisukai. Untuk alasan ini, jumlah kupu betina yang disebarkan pada setiaplembar adalah konsisten, untuk ketepatan dan kemudahan, berat total adalahlebih umum digunakan dari pada jumlah. Oviposisi dan inspeksi keliling : Keragaman kondisi oviposisi kupuulat sutra erat hubungannya dengan perbedaan ras, waktu perkawinan, suhuselama oviposisi dan kekuatan cahaya. Bila dibandingkan kecepatan oviposisiras yang berbeda, ras China adalah yang tercepat (secara umum, oviposisiberakhir pada jam 21.00-22.00 hari yang sama), ras Jepang kedua, ras Eropaagak lambat. Telur awal pada semua strain adalah lebih besar dari pada telurakhir. Juga, bertelur akan lebih cepat bila perkawinan berlangsung lebihlama dan akan lebih lambat bila waktu perkawinan pendek. Oviposisi dapat dipercepat jika suhu ruang oviposisi tinggi dan akandiperlambat bila suhu rendah. Suhu juga mempengaruhi kualitas telur ulatsutra. Pada 24ºC, lebih sedikit telur infertil yang dihasilkan, dan pada 26ºCdan 30ºC terjadi hal yang sebaliknya. Hal ini jelas terlihat pada strainJepang. Berkenaan dengan kecepatan oviposisi, di luar yang ditentukanadalah sedikit lebih cepat pada 26,5ºC dan 30ºC dan akan melambat empatjam kemudian. Delapan jam kemudian, kecepatan bertelur melebihi 95persen. Biasanya kecepatan oviposisi mencapai sekitar 95 persen delapanjam seteleh decoupling. Sekitar dua jam setelah oviposisi, inti telur menyatu dengan bahanyang ada dalam sel sperma untuk membentuk zygot, dan fertilisasi terjadi.Selanjutnya, zygot mengalami divisi sel. Pada tahapan inilah telur ulat sutramempunyai resistensi terendah terhadap lingkungan yang buruk. Jika suhumeningkat hingga 30ºC atau lebih, nampaknya akan dihasilkan telur infertilatau telur mati. Ruang bertelur harus dipertahankan kelembaban optimumnya 75persen. Lebih jauh, chamber gelap adalah lebih baik untuk oviposisi cepat,sedangkan chamber terang mempunyai efek sebaliknya. Pintu dan jendelachambers harus dibayangi dengan kelambu hitam. Cahaya merah lebihdisukai untuk inspeksi keliling. Inspeksi keliling sebaiknya dilakukan sekalitiap dua jam, khususnya pada jam 16.00-17.00 saat mana oviposisi palinggencar. Manajemen penyimpanan dan perkawinan ulang kupu jantan : Padapengamatan pola pemunculan, diketahui bahwa pemunculan jantan danbetina tidak seimbang. Pada ras komersial umum, pemunculan pada tahapawal menghasilkan lebih banyak jantan dari pada betina dan sebaliknya padapemunculan akhir (terkecuali pada beberapa ras langka). Oleh karena itu 21
  • 22. jantan ekstra pada tahap awal harus disimpan dalam jumlah memadai untukdigunakan bila jantan yang ada tidak cukup untuk dipasangkan. Juga,biasanya ada penyimpanan jantan setelah perkawinan pertamanya dengantujuan mengawinkannya kembali jika diperlukan. Manajamen penyimpanan kupu jantan : Adalah penting untukmempertahankan kebugaran kupu jantan selama penyimpanan. Secaraumum, kupu jantan dapat disimpan pada suhu renda 5-7,5ºC untuk selamaempat atau lima hari, tetapi penyimpanan lebih lama lagi akan menyebabkankemampuan kawin berkurang dan jumlah telur tidak terfertilisasi meningkat.Kupu jantan jangan ditumpuk dalam kotak penyimpanan, tetapi diletakkandalam satu barisan. Untuk menghindari kerancuan, kupu jantan diindeksmenurut nama ras, nomor serial batch, tanggal pemunculan dan jumlahperkawinan. Perkawinan ulang kupu jantan : Perkawinan ulang kupu jantanadalah umum dilakukan dalam produksi. Berdasarkan investigasi kemampuankawin, seekor kupu jantan mampu mengawini delapan betina pada kondisiutilisasi dan preservasi optimum. Tetapi dengan meningkatnya jumlahperkawinan, maka jumlah telur tidak terfertilisasi juga meningkat. Hal initerlihat nyata bila kupu jantan telah kawin tiga atau empat kali. Oleh karenaitu perlu untuk menghindari lebih dari tiga perkawinan dalam produksi. Penyimpanan dingin kupu betina : Pembekuan kupu betina selamaproduksi harus dihindari sedapat mungkin. Berdasarkan percobaan, fungsioviposisi akan terhambat total pada 2,5ºC. Bahkan bila suhu dinaikkan hinggasekitar 5ºC, masih terdapat bahaya oviposisi selama pembekuan. Oleh karenaitu, penyimpanan dingin pada 5ºC adalah mendekati optimum. Tetapi hal initerbatas hingga tiga hari saja, dan telur tidak terfertilisasi dihasilkan setelahhari ke empat. Pembekuan kupu betina seharusnya dilakukan segera setelahpemunculan ketika badannya menjadi kering dan segar dan sayap-sayapnyaberkembang penuh, bila tidak maka oviposisi akan terjadi selamapembekuan. Kemungkinan untuk menghasilkan telur selama pembekuanberhubungan dengan perbedaan karakteristik ras, ras ulat sutra China adalahyang paling besar peluangnya, ras Jepang yang berikutnya dan ras Eropa yangpaling kecil. Pengoleksian kupu dan preservasi kupu indukan : Sebagian besartelur ulat sutra dihasilkan pada malam yang sama sebelum jam 22.00, tetapiproses tersebut akan berlanjut hingga tengah malam, ketika oviposisiberhenti dan kupu harus dikumpulkan. Namun demikian, karena telurdiharapkan menetas pada waktu yang berbeda, pengoleksian kupu dapatdiproses atau ditunda oleh karenanya. Jika telur ulat sutra digunakan untukperlakuan penetasan buatan, kupu indukan harus dikoleksi pada jam 21.00-22.00 pada malam yang sama. Namun demikian, jika telur ulat sutradimaksudkan untuk telur hibernasi, tidak ada salahnya untuk menundapengoleksian kupu hingga pagi berikutnya. Namun demikian, harus diingatbahwa makin akhir telur dihasilkan maka makin banyak telur tidakterfertilisasi yang dihasilkan. Selama pengoleksian kupu untuk produksi telur hibrid F1, 10 persenkupu indukan dikeluarkan dan disimpan dalam kotak, yang mengindikasikanras, tanggal, batch dan nomor serial. 22
  • 23. Setelah pengoleksian kupu selesai, kotak diikat menurut ras, tanggal,nomor batch dan nomor serial dan disimpan di tempat kering dan ventilasinyabaik. Hati-hati untuk tidak menumpuk kotak, untuk menghindari pelepasanpanas dan rusak oleh jamur. Pengeringan dilakukan setelah kupu mati secaraalami untuk memungkinkan spora pebrin berkembang biak maksimum; hal inimembutuhkan inspeksi mikroskopis. Suhu untuk pengeringan kupu indukanharus dipertahankan pada 60-65ºC untuk empat hingga lima jam. Jika suhumeningkat hingga 90ºC, spora pebrin akan nampak kehilangan bentuk danmempengaruhi inspeksi mikroskopis. Kupu perlu terjaga dengan baik dariserangan serangga, tikus atau jamur. Pemanenan telur ulat sutra : Pemanenan telur ulat sutra dilakukansetelah pengoleksian kupu. Kupu harus dikoleksi secara sistematisberdasarkan konformasinya terhadap ras, nomor batch dan nomor serial.Kartu telur diselipkan ke dalam frame berkawat atau digantung pada kawatdengan tanpa tumpukan untuk menghindari gangguan suara fisiologis telur.Untuk telur-telur yang dimaksudkan untuk penetasan buatan, persiapan baikuntuk perlakuan asam atau untuk penyimpanan harus dipersiapkansebelumnya. Telur yang ditransportasikan harus diselipkan ke dalam frameberkawat dan ditransportasikan pada waktu menjelang fajar atau setelahmatahari terbenam. 23
  • 24. BAB VI. PEMERIKSAAN UNTUK PENCEGAHAN PENYAKIT PEBRINE6.1. Pentingnya Pemeriksaan untuk Pencegahan Penyakit Pebrine Penyakit Pebrine pada ulat sutra disebabkan oleh spora parasitikNosema bombycis family Nosematidae dan ditransmisikan melalui oral atauinfeksi maternal ke anak. Penyakit ini menyebabkan kerusakan yang sangatbesar pada industri sutra. Epidemik pebrine hampir menyapu bersihsericulture di Perancis dan negara lainnya. Hanya setelah Louis Pasteur,seorang ilmuwan Perancis, menemukan jalur infeksi pebrine dan menciptakanmetode pemeriksaan kupu induk untuk tanda-tanda pebrine, maka penyakitini dapat dikontrol. Yang disebut telur bebas-penyakit adalah telur ulat sutra yang tidakmembawa spora Nosema bombycis. Untuk tujuan pengamanan telur bebas-penyakit dan menghindari kerugian pada produksi, ukuran-ukuran untukmengecek kualitas breeding telur dan multiplikasi telah dilakukan di banyaknegara serikultur. Inspeksi prediktif untuk pebrine dan standard kualifikasiuntuk pemeriksaan kupu induk diuraikan dalam Bab ini. Sebagai contoh, diCina Timur standart untuk laju pebrine yang diijinkan di keseluruhan lot telurtetua adalah di bawah 0,1 persen dan untuk hybrid F1 di bawah 0,2 persen.6.2. Metode Pemeriksaan Penyakit Febrine Pemeriksaan suplementer : Pemeriksaan suplementer biasanyadilakukan untuk memastikan bahwa ulat sutra tetua, ulat sutra grandparent,dan ulat sutra yang baru diintroduksikan adalah bebas dari pebrine. Kadang-kadang, biasanya digunakan untuk mengoreksi kesalahan pada pemeriksaankupu induk terhadap penyakit pebrine. Prosesnya adalah sebagai berikut : Papankartu dipersiapkan untuk dilekati material tes (sekitar separuhukuran kartu telur). 20-50 telur defektif dikeluarkan dari setiap batch telursebelum inkubasi. Telur-telur tersebut dilekatkan ke papankartu untukpemeriksaan suplementer, mengidentifikasi jumlah tercatat, dan dibiarkankelaparan hingga mati secara alami pada kondisi lingkungan 30ºC yangdiperlakukan pada inkubasi sebelumnya. Setelah menetas, larva yang barumenetas dan kelembaban 85 persen. Larva yang sudah mati ditumbukbersama-sama dengan kulit telurnya (terus menyimpan catatan nomorkorespondingnya) dan kemudian dilakukan pemeriksaan mikroskopis. Jikaditemukan batch telur berpenyakit, maka batch tersebut harus dibakar. Pemeriksaan ulat lambat-moulting pada instar yang berbeda : Padapemeliharaan ulat sutra tetua, maka harus diperhatikan untuk memeriksaulat sutra pada instar yang berbeda. Ulat yang lambat moulting dan ulatkurang pertumbuhannya harus ditaruh pada kantong yang berbeda menurutbatches telur yang berbeda, nomor batch yang tercatat dan kemudiandisimpan di regulator panas. Setelah penyimpanan pada 29-30º C dankelembaban 90-95 persen selama dua hari, larva harus diperiksa di bawahmikroskop. 24
  • 25. Jika spora pebrin terdeteksi maka batch pemeliharaan harusdibuang. Karena ukuran tubuh larva yang sedang tumbuh adalah besar makaakan lebih mudah memeriksa kanal alimentarinya. Jika spora pebrinterdeteksi pada instar ke lima ulat sutra tersebut dapat digunakan untukpemeriksaan kokon yang dipelihara menurut derajat infeksinya. Namundemikian ulat sutra tersebut harus dipisahkan dan didisinfeksi denganseksama. Akselerasi pemunculan kupu untuk pemeriksaan : Pathogen penyakitpebrin pada ulat sutra mudah diperiksa pada periode kupu karena sudahberkembang penuh menjadi spora. Hasilnya selalu memuaskan. Prosesnyaadalah sebagai berikut : Seratus larva dewasa dini dipilih dari batches yang berbedaditempatkan pada tempat terpisah untuk memutar kokon dan disimpan pada30ºC dan kelembaban 80-85 persen agar mengakselerasi pupasinya. Kupuyang muncul dini kemudian diperiksa di bawah mikroskop. Jika persentaseinfeksi pebrin lebih tinggi dari yang diijinkan maka keseluruhan lot kokonbenih dikeringkan dan dimusnahkan. Namun demikian kokon masih dapatdijual. Pemeriksaan kupu indukan : Pemeriksaan kupu indukan adalahukuran tehnis penting untuk pencegahan transmisi penyakit pebrin dari tubuhkupu induk kepada anaknya. Untuk memastikan kualitas pemeriksaanpersiapan yang teliti harus dilakukan sebagaimana berikut ini. Pengaturan pengotakan kupu indukan : Semua kupu indukan harusdikotakan menurut nomor serialnya dan jumlah kartu telur. Lima hinggasepuluh persen hybrid F1 diambil sebagai sampel dan dikotakan menurutjumlah kartu telur. Kupu yang bertelur terakhir disebut kupu lambat; kupu-kupu tersebut semuanya harus dikotakkan. Pengaturan pemeriksaan mikroskopis kupu indukan : Untuk strainasli ras resmi dan ras grandparent setiap kupu indukan harus diperiksa duakali oleh dua orang. Untuk kupu indukan tetua 20 persen dari setiap batchharus diperiksa dua kali oleh dua orang pada awalnya. Bila spora pebrin tidakditemukan maka kupu sisanya dapat diperiksa oleh hanya satu orang. Untukhybrid F1 separuh kotak kupu dapat diperiksa lebih dulu. Jika pebrin tidakditemukan maka sisanya dapat dibiarkan tanpa pemeriksaan. Jika sporapebrin ditemukan maka sisanya harus dicek dengan teliti. Jika kecepataninfeksi melebihi dari yang diijinkan maka keseluruhan lot telur ulat sutraharus dibakar. Organisasi tenaga kerja : Personal dibagi menjadi dua grup gruppertama untuk manajemen inspeksi dan lainnya untuk pemeriksaanmikroskopis. 25
  • 26. Tugas khusus untuk grup manajemen adalah : sampling distribusiregisrasi material untuk pemeriksaan mikroskopis dan pengisian danpengecekan formulir pemeriksaan. Jumlah orang yang dilibatkan untuk grupini ditentukan menurut beban kerjanya. Pada grup pemeriksaan mikroskopis lima hingga tujuh orangdiperlukan untuk melakukan pemeriksaan awal dan satu orang untukpemeriksaan ulang, empat hingga lima orang untuk penggerusan kupu danpencelupan cairan kupu pada slide, dua orang untuk mencuci slide, pestle(lumpang) dan mortar. Proses pemeriksaan Pengambilan kupu dari kotak : Hal ini dilakukan menurut nomorserial kotak. Label yang ditandai dengan nomor lot kupu dilepaskan danditaruh di ujung mortar; kotak kemudian dibuka dengan menggunakan forcepkupu diletakkan dalam mortar. Penggerusan kupu : Pada saat penggerusan kupu 1 ml larutan KOH 2persen dituangkan kepada setiap kupu. Satu lumpang dipakai untuk satukupu. Kupu digerus hingga halus dan menjadi pecahan. Pencelupan cairan kupu ke dalam slide : Pada setiap penyanggaslide diberi label dan slide-slide tersebut disusun dalam penyangga. Cairankupu diteteskan pada slide menurut nomor yang sesuai. Sementaramenetaskan lumpang harus menyentuh cairan di bawah. Ukuran optimumtetesan adalah diameter 0,6-0,7 cm. Cairan tersebut mempunyai kepadatansedang dan tidak mengandung bahan asing lain. Setelah diteteskan makakemudian ditutup dengan cover slip dan disampaikan kepada pemeriksapertama. Jika spora pebrin atau dugaan lain ditemukan pada pemeriksaanpertama, maka kemudian disampaikan kepada pemeriksa kedua. Jika sporapebrin ditemukan, maka slide harus digabung dengan cairan bebas pebrin dankemudian disampaikan kepada pemeriksa kedua. Pemeriksaan mikroskopis : Pada pemeriksaan pertama digunakanmikroskop dengan pembesaran 600-800. Tiga-lima pengamatan mikroskopdilakukan untuk setiap sampel dan hasil pemeriksaan dicatat pada formpemeriksaan. Jika spora pebrin terdeteksi, maka slide harus dicelupkandalam larutan disinfektan. Dalam pemeriksaan ulang, pemeriksa harus mengecek semua sampeldan kemudian mencampurnya. Satu atau dua sampel diteteskan pada slidedan lebih dari lima pengamatan mikroskop harus dilakukan untuk setiapsampel. Jika spora pebrin terdeteksi, maka pemeriksa pertama harusdiinformasikan. Dia harus menetaskan cairan setiap kupu ke slide dandiperiksa ulang setiap slide secara individual. Jika spora tidak ditemukan,maka slide harus dicuci. Pencucian : Lumpang, mortar, slide dan cover slide harus dicuciterpisah dalam air bersih. Peralatan yang terkontaminasi dengan kupuberpenyakit harus dicelupkan dalam asam hidrokhlorida kuat, didisinfeksiselama 15 menit dan kemudian dicuci dalam air bersih. 26
  • 27. Memperkuat laboratorium : Pada setiap akhir hari kerja, kotak kupuyang tersisa dan kotak yang telah diperiksa harus dicek dan form catatanharian dilengkapi. Semua kotak yang dikeluarkan harus dibakar dan semuaperalatan didisinfeksi dengan seksama dan disusun berurutan. Menghitung persentase penyakit pebrin : Setelah pemeriksaanmikroskopis setiap lot telur ulat sutra, persentase kupu berpenyakit dihitungsebagaimana berikut ini : Jumlah kupu terinfeksi Persentase penyakit kupu (%) = -------------------------------- X 100 Jumlah kupu diperiksa 27
  • 28. BAB VII PENYIMPANAN TELUR ULAT SUTERA7.1. Pentingnya Penyimpanan Telur Ulat Sutera Penyimpanan menunjuk pada manajemen dan proteksi telur selamaperiode dari bertelur hingga menetasnya telur-telur hibernasi. Tidak hanyawaktu yang lama dari bertelur hingga menetas, tetapi juga telur hibernasiyang dihasilkan pada musim semi harus melalui musim panas dan musimdingin. Meskipun telur hibernasi sebagian besar berada pada diapause, tetapiaktivitas fisiologisnya seperti respirasi dan metabolisme adalah masihberlangsung. Perubahan kondisi eksternal berpengaruh langsung pada prosesdediapausing telur. Kondisi penyimpanan yang baik harus dipertahankanmenurut kebutuhan fisiologis dan pertumbuhan telur ulat sutra, danpemeliharaan khusus harus dilakukan oleh orang yang bertanggung jawab.Jika penyimpanan tidak dilakukan sebagaimana seharusnya, akan lebihbanyak telur yang mati, penetasan tidak seragam, larva generasi berikutnyaakan menjadi lemah dan produksi serikultural akan terpengaruh, atau dalamkasus yang ekstrim, kehilangan nilai keselurahannya. Musim panas biasanya berlangsung lama di daerah tropis dan sub-tropis, sedangkan kelembaban dan suhu keduanya adalah tinggi. Tetapi padamusim dingin, periode suhu rendah adalah pendek, dan kondisi alam tidakmemadai untuk membangunkan telur hibernasi dari diapause. Oleh karenaitu perlu penanganan khusus untuk menyimpan telur di daerah ini.Pengetahuan yang luas tentang tahap-tahap perkembangan embryo menjadipenting untuk kontrol penyimpanan.7.2. Pertumbuhan Embrio Pembelahan nukleus zygote : Spermatozoa menembus ovum untukmembentuk pronukleus jantan, kemudian melebur dengan pronukleus betinauntuk membentuk zygot, sehingga fertilisasi tuntas. Nukleus zygot kemudianmengalami pembelahan sel, terbagi menjadi dua nuklei cleavage. Keduanuklei cleavage terus membelah dan menghasilkan banyak nuklei anakan (disebut energid cleavage). Tersebar pada bagian kuning telur, nuklei-nukleitersebut secara bertahap berpindah ke periferi telur. Pembentukan blastoderm : Energid cleavage di periferi telurmengelompok di bawah periplasma dan membentuk lapisan sel denganketebalan yang seragam. Lapisan sel ini disebut blastoderm. Pembentukan pita germ dan serosa : Bila blastoderm telahterbentuk, lapisan sel blastoderm pada sisi mikropyle memadat dan secarabertahap menebal. Lapisan sel yang menebal ini disebut pita germ. Namundemikian, lapisan sel pada sisi berlawanan dari mikropyle berekspansi danmenjadi tipis secara bertahap, sehingga membentuk membran tipis yangdisebut serosa. 28
  • 29. Pembentukan amnion : Setelah pita germ terbentuk, periferinyatenggelam ke dalam telur. Serosa yang bersambung dengan periferi pitagerm menaik dan nampak melipat-lipat. Lipatan ini, yang disebut denganlipatan amniotik merentang sepanjang sisi germ dan akhirnya melebur satusama lain. Tepi-tepi lipatan menghilang dan menjadi dua lapisan membranyang terpisah. Membran luar, serosa, melekat dekat permukaan membranvitellin yang lebih rendah. Membran dalam adalah amnion yang menutupi sisiventral pita germ. Di antara amnion dan pita germ terdapat ruang kosongyang disebut rongga amniotik; yang diisi dengan cairan untuk melindungi pitagerm. Setelah memisahkan diri dari serosa, pita germ tumbuh menjadiembryo independen. Embryo berhubungan dengan amnion dan terus tumbuhdi dalam kuning telur. Tahapan prinsip pertumbuhan embrionik : Pertumbuhan embrionikdapat dibagi menjadi 15 tahap, yang diketahui penting untuk penyimpanantelur ulat sutra, penyimpanan dingin, penetesan buatan dan inkubasi, danjuga untuk kontrol voltinisme (Gambar 7-1).7.3. Metode Penyimpanan Telur Ulat Sutera Penyimpanan telur yang dihasilkan di musim semi hingga musim semiberikutnya : Telur-telur ini dihasilkan di musim semi dan disimpan untuk …..musim semi berikutnya. Pada daerah sub tropis, produksi telur dilakukanpada awal atau pertengahan April, dan telur-telur tersebut harus disimpanuntuk pertengahan atau akhir Februari tahun berikutnya. Penyimpananberlangsung selama sepuluh bulan. Hal ini sulit tercapai, namun demikiankarena pada daerah sub tropis kondisi suhu rendah dibutuhkan untukmembangunkan embryo dari diapause adalah kurang atau tidak memadai.Namun demikian, pengetahuan dan tehnologi modern memungkinkan untukmengontrol kondisi lingkungan secara buatan. Penyimpanan telur tahap awal (sekitar sepuluh hari setelahditelurkan): Setelah ditelurkan, nuklei jantan dan betina melebur untukmembentuk zygot, yang pada gilirannya mulai membelah dan secara bertahaptumbuh menjadi embryo. Dalam waktu seminggu, embryo memasuki tahapdiapause. Telur berwarna kuning muda saat ditelurkan, secara bertahapberubah menjadi coklat kemerah-merahan setelah satu setengah hingga duahari, dan warna terus bertambah gelap. Pada hari ke lima, telur mencapaiwarna akhir. Selama periode ini, respirasi adalah kuat sebagai akibatpertumbuhan telur yang cepat. Untuk menghindari agar bau tidak kontakdengan telur, kartu telur harus digantung pada ruang yang ventilasinya baik,bersih pada suhu konstan 24ºC dan kelembaban relatif 75 persen. Suhu tinggidan kelembaban tinggi harus dihindari, karena hal itu tidak hanya akanmenghambat aktivitas fisiologis telur tetapi juga mengakibatkan telurabnormal. Penyimpanan pada musim panas (summer) : Suhu tinggi di musimpanas, yang mana telur-telur yang dihasilkan di musim semi (spring) untukdipelihara pada musim semi berikutnya harus melaluinya, adalah syarat untukmenstabilkan diapause telur hibernasi. Namun demikian, suhu harus cukuptinggi agar aestivasi terjadi; pengalaman menunjukkan bahwa 25ºC adalah 29
  • 30. yang paling aman. Suhu di atas 30ºC adalah sangat mengganggu aktivitasfisiologis telur dan makin lama telur dikenai suhu tinggi, maka telur-telurtersebut akan makin menderita. Suhu di bawah 25ºC akan mengganggudiapause telur, dan membuat telur hibernasi tidak tahan terhadappenyimpanan dingin, dan akan mengganggu keseragaman pertumbuhanembrionik. Sebagaimana (?) durasi penyimpanan, tidak ada hambatan diapauseyang terjadi jika telur disimpan pada suhu 25ºC selama 90 hari. Makin lamapenyimpanan, maka makin dalam derajat diapause. Diapause ini akandipecah lebih lambat dan telur akan bertahan dengan penyimpanan dinginlebih lama. Jika penyimpanan berlangsung lebih lama dari 90 hari, makawaktu telur dapat bertahan di penyimpanan dingin akan lebih pendek, dantelur-telur yang menetas akan kurang memuaskan. Untuk amannya produksi,disarankan untuk menyimpan telur tidak lebih dari 60 hari pada 25ºC dimusim panas. Periode penyimpanan untuk ras univoltin, Jepang, dan ras Eropadapat sedikit lebih lama, tetapi untuk ras bivoltin dan ras Cina, maka harussedikit lebih pendek. Kelembaban optimum untuk penyimpanan musim panas adalah 75-80persen. Jika udara terlalu kering, maka air telur akan banyak hilang danaktivitas fisiologisnya akan terpengaruh. Jika terlalu basah, jamur akansegera tumbuh pada telur. Lebih lanjut, udara harus segar di dalam ruanganpenyimpanan. Ventilasi yang teratur diperlukan menurut kondisi cuaca. Pada daerah tropis dan sub-tropis, kebutuhan tersebut dapatdipenuhi hanya jika ruang penyimpanan telur ulat sutra dilengkapi dengan airconditioned. Penyimpanan di musim gugur (autumn): Telur hibernasi yangdihasilkan di musim semi (spring), setelah melalui penyimpanan musim panaspada suhu tinggi, maka harus disimpan pada suhu yang lebih rendah untukmemenuhi kebutuhan fisiologis pertumbuhan telur. Kisaran optimum adalah22 –20ºC, dengan suhu yang lebih tinggi pada periode awal dan lebih rendahpada periode akhir. Kelembaban relatif harus sekitar 80 persen. Dengankondisi lingkungan demikian, penyimpanan dapat berlangsung selama duahingga tiga bulan. Pada beberapa daerah, ketika cuaca di musim guguradalah kering, maka perlu untuk meningkatkan kelembaban. Namundemikian harus hati-hati untuk memberi ventilasi pada ruangan untukmencegah telur menjadi berjamur. Penyimpanan di musim dingin (winter) : Subyek ini akan berkaitandengan penyimpanan dingin telur hibernasi. Penyimpanan telur musim gugur hingga musim semi berikutnya :Telur ulat sutra yang dihasilkan di musim gugur untuk pemeliharaan di musimsemi berikutnya disebut “telur dihasilkan di musim gugur dan ditetaskan padamusim semi berikutnya”. Karena penyimpanan berlangsung lebih singkat,maka zat nutrisi dalam telur lebih sedikit terkonsumsi dan mudah untukmempertahankan kualitas telur. Untuk produksi telur hibernasi di daerahtropis dan sub-tropis khususnya, yang terbaik adalah diproduksi di musimgugur (autumn). Kecuali bila benar-benar diperlukan, disarankan untuk tidakmemproduksi telur pada musim semi untuk pemeliharaan di musim semiberikutnya. 30
  • 31. Penyimpanan telur musim gugur untuk musim semi berikutnya adalahsama dengan telur musim semi untuk musim semi berikutnya pada tahapawal (sekitar sepuluh hari setelah ditelurkan). Aestivasi buatan untuk telur hibernasi diproduksi di musim gugur. Dibeberapa daerah, setelah produksi telur di musim gugur, suhu natural adalahrelatif rendah. Jika suhu ruangan di bawah 20ºC, telur akan berada padaderajat diapause yang rendah, embryo akan bangun terlalu cepat dan telurakan tidak tahan penyimpanan dingin. Oleh karena itu perlu dilakukanaestivasi buatan. Hal ini untuk menyimpan telur yang dihasilkan di musimgugur pada suhu 25ºC dan kelembaban relatif 80 persen untuk sekitar sepuluhhari jika telur mencapai warna inherennya. Ventilasi teratur diperlukan, danposisi telur harus diubah dari waktu ke waktu untuk memastikan keseragamansensitivitas-suhu. Di beberapa daerah, setelah produksi telur di musim gugur, jika suhunatural tetap tinggi, harus berhati-hati untuk melindungi telur denganmenurunkan suhu 24-25ºC, hindari suhu lebih tinggi dari 27ºC danmempertahankan kelembaban relatif 80 persen. Bila tidak, telur mati putihakan banyak terjadi. Berapa lama telur musim gugur dapat disimpan pada suhu tinggi ?Hal ini tergantung pada kapan telur tersebut digunakan di musim semiberikutnya. Jika telur tersebut dikeluarkan lebih awal untuk inkubasi, makasuhu direndahkan lebih dini, dan telur dipindahkan ke penyimpanan dinginlebih awal. Jika telur dikeluarkan lambat, maka suhu direndahkan sedikitlebih lambat, dan telur dipindahkan ke penyimpanan dingin lebih lambat. Hal ini disebabkan sekali telur ulat sutra memasuki diapause, telur-telur tersebut harus disimpan pada suhu rendah selama 120 hari untukmemecah/memutus diapause. Ini adalah karakteristik konservatif telurhibernasi yang terbentuk dalam hal (?) pertumbuhan sistematik. Oleh karena itu, sambil mempertimbangkan waktu penyimpanantelur musim gugur untuk suhu tinggi, adalah perlu mempertimbangkan waktuyang diperlukan untuk diapause telur dan kapan telur akan digunakan padatahun yang akan datang. Misalnya, jika telur dipersiapkan di awal Oktoberdan digunakan di awal Maret tahun berikutnya, maka waktu untuk penyimpansuhu tinggi dapat ditentukan sebagaimana berikut ini : Waktu dari produksi telur hingga inkubasi adalah lima bulan (Oktoberhingga Maret). Waktu untuk penyimpanan suhu rendah hingga memutusdiapause adalah empat bulan. Oleh karena itu, masih ada satu bulan dariditelurkan untuk memindahkan telur ke dalam penyimpanan dingin. Selamabulan tersebut, telur dapat diperlakukan sebagaimana berikut : • Penyimpanan pada 25ºC selama 20 hari setelah ditelurkan. • Suhu diturunkan secara bertahap pada sepuluh hari berikutnya. • Untuk lima hari pertama disimpan pada 20ºC dan 15ºC untuk lima hari berikutnya. • Setelah penyimpanan dengan cara ini selama sebulan, kemudian telur disimpan dalam penyimpanan dingin untuk hibernasi. 31
  • 32. Pencucian telur ulat sutra dan disinfeksi permukaan telur : Untukmembersihkan dari rambut yang mengotori, urin dan mikro-organismepathogenik yang melekat pada permukaan telur ulat sutra, telur harus dicucidan didisinfeksi. Prosedur ini dapat dilakukan dua minggu setelah oviposisiatau segera sebelum memindahkan telur kedalam cold storage. Metodepraktis adalah dengan mencelupkan telur ulat sutra dalam larutanformaldehid 2,5 persen pada suhu ruangan normal selama 40 menit, memutarkartu telur ke atas dan ke bawah sekali selama pencelupan. Setelahdisinfeksi, telur ditransfer ke dalam air bersih. Selama pencucian, sikat lebaryang berisi sederet sikat pen Cina digunakan untuk menyikat permukaan kartutelur satu per satu. Pekerjaan tersebut harus selesai dalam waktu satu jam,dan kartu telur harus di gantung secara individual agar mengering.7.4. Cold Storage Telur Ulat Sutra Hibernasi Tujuan pembekuan telur ulat sutra hibernasi : Telur ulat sutrahibernasi harus mengalami (?) suhu rendah sebelum mulai untuk berkembangdan tumbuh. Ini adalah karakter genetis yang terbentuk selamaperkembangan sistematik. Di daerah temperate, suhu musim dingin naturaladalah cukup rendah untuk memutus diapause telur hibernasi. Jika musimdingin berubah menjadi musim semi, perubahan suhu adalah sangat besar danperkembangan embrionik telur ulat sutra dediapause adalah tidak seragam.Beberapa telur bahkan menetas terlalu dini sedangkan pohon mulberi masihbelum produksi. Agar dapat mengatur tanggal yang akurat untuk inkubasi dankoleksi larva yang baru menetas sebagaimana direncanakan, telur harusditransfer ke dalam cold storage pada musim dingin akhir untukpenyimpanan. Telur dapat dikeluarkan dari cold storage untuk inkubasisesuai rencana. Di daerah sub-tropis dan khususnya daerah tropis, adalahperlu untuk mentransfer telur ulat sutra ke dalam cold storage lebih diniuntuk menstimulasi hibernasi untuk tujuan membangunkan embryo daridiapause. Oleh karena itu dapat dilihat bahwa cold storage telur ulat sutrapada tahap awal berfungsi memutus diapause, dan pada tahap akhir,berperan menghambat perkembangan embryonik telur ulat sutra. Tujuancold storage telur ulat sutra adalah untuk menghindari perkembangan embryoyang tidak seragam dan telur menetas terlalu dini dan untuk mengontroltanggal pencucian larva yang baru menetas. Embryo telur hibernasi dan suhu optimum cold storage : Waktu yangdiperlukan untuk menyelesaikan dediapause embryo untuk berkembang daritahap A ke tahap C2 bervariasi, tergantung pada ras dan musim deposisi telur.Ras bivoltin Cina dan Jepang secara komparatif berkembang lebih cepat;univoltin Cina dan Jepang kedua dan univoltin Eropa adalah paling lambat. Embryo dari tahap A ke tahap C2 mempunyai resistensi kuat terhadapsuhu dingin. Ternyata, makin muda embryo maka makin kuat ketahanannyaterhadap suhu dingin. Suhu optimum untuk cold storage embryo pada tahapyang berbeda setelah hibernasi adalah sebagai berikut : Embryo A –2,5ºC; embryo B1-C1 0ºC; embryo C2 0-2,5ºC. Setelahtahap C2, resistensi terhadap suhu rendah menurun dengan tajam. Hingga 32
  • 33. saat ini, suhu yang diadopsi untuk cold storage telur hibernasi adalah :embryo 0-2,5ºC; embryo C1-C2 2,5ºC. Metode pembekuan telur ulat sutra : Terdapat dua metodepembekuan telur ulat sutra hibernasi: cold-storage satu langkah dan coldstrorage dua langkah. Cold-storage satu langkah (single step) : Ini adalah metode yangumum digunakan, dapat bervariasi menurut kondisi klimat di daerah yangberbeda-beda. Di daerah temperate suhu natural di musim dingin adalahsesuai dengan kebutuhan fisiologis telur ulat sutra untuk hibernasi. Olehkarena itu, telur ulat sutra dapat disimpan dalam suhu ruang. Kemudian,dipertengahan atau akhir Januari, dari periode C1 sebelum tahap embryoterpanjang (C2), telur ulat sutra harus dipindahkan ke dan disimpan dalamcold storage pada suhu 2,5ºC hingga pertengahan April. Tanggal untukmelepaskan telur dari cold storage untuk inkubasi akan tergantung padakondisi pemotongan (leaf shooting) daun pohon mulberi. Di daerah tropis dan sub-tropis, bukan hanya suhu di musim dinginterlalu panas untuk memutus diapause, tetapi inkubasi dimulai awal dimusim semi. Oleh karena itu, cold storage harus dimulai pada tanggal lebihawal. Telur harus disimpan pada 2,5ºC selama 120 hari. Apabilapenyimpanan berlangsung kurang dari 120 hari tetapi tidak lebih dari 100hari, maka telur dapat dikeluarkan dari cold storage dan diberi perlakuanasam, dan penetasan yang baik masih dapat dicapai. Jika pembekuanmelebihi 120 hari tetapi kurang dari 150 hari, tidak ada efek nyata pada dayatetas telur ulat sutra. Tetapi jika periode cold storage diperpanjang lagimaka daya tetas secara berangsur akan menurun. Cold storage dua-langkah : Kadang-kadang telur ulat sutra harusmengalami periode cold storage yang agak lebih lama, yang manamembutuhkan prosedur cold storage dua-langkah. Hal ini berarti bahwa telurulat sutra melalui cold storage dua kali dalam dua tahap pertumbuhanembryonik yang berbeda, dan cold storage dapat diperpanjang. Metode coldstorage dua-langkah adalah sebagai berikut : Langkah pertama adalah pengiriman telur ke cold storage pada tahapembryo A. Suhu cold storage di daerah temperate adalah 2,5ºC, di daerahtropis dan sub-tropis 5ºC. Batasan waktu untuk cold storage adalah 90-100hari. Langkah kedua adalah pengeluaran telur ulat sutra dari cold storagejika sudah mencapai batas waktu untuk tahap pertama dan penyimpananselanjutnya selama lima hari pada suhu 15ºC dan kelembaban relatif 85persen. Pertumbuhan ulat sutra harus dipantau melalui diseksi (dissecting).Bila telur ulat sutra telah mencapai tahap pertumbuhan embryonik C1-C2,maka telur tersebut harus dikembalikan ke cold storage; suhu yangdibutuhkan adalah 2,5ºC. Meskipun batasan untuk tahap kedua bisa mencapai100 hari, adalah lebih aman untuk tidak melebihi 80 hari. 33
  • 34. 7.5. Instalasi Cold Storage Struktur cold storage : Terdapat dua tipe cold storage: pendinginanlangsung dan pendinginan tak langsung. Pada pendinginan langsung, piparefrigeran meregang ke dalam cold storage dan mendinginkan udara di situsecara langsung. Pada pendinginan tak langsung, larutan garam didinginkanpertama oleh refrigeran, dan kemudian larutan garam yang sudah direfrigerandialirkan lewat pipa ke dalam cold storage untuk mendinginkan udara didalamnya. Larutan garam tersebut dapat berupa sodium khlorida ataukalsium khlorida dengan konsentrasi 20 persen. Titik beku larutan sodiumkhlorida adalah –17ºC dan untuk larutan kalsium khlorida adalah –23ºC.Pendinginan tak langsung lebih aman untuk telur ulat sutra. Bagian dalam cold storage, dinding, atap rata, lantai dan pintu harusmempunyai lapisan material insulasi dengan ketebalan sekitar 15 cm. Lapisaninsulasi ruang penyimpanan utama mempunyai ketebalan sekitar 10 cm. Diantara bermacam-macam material insulasi, maka papan cork adalah yangdianjurkan, dan ketebalannya harus ditingkatkan jika sawdust atau kulitgabah digunakan lebih dulu. Bagian luar material insulasi harus ditutupdengan aspal dan kawat dan diplester/ ditutup dengan semen setebal kuranglebih 2 cm. Strip karet di lubang /celah pintu untuk mencegah udara dinginkeluar. Peralatan utama cold storage termasuk kompresor, motor, mesindiesel, menara kondensasi, tabung larutan garam dan pompa, silinder amoniacair dan peralatan kontrol otomatis. Konstruksi instalasi cold storage mempunyai bagian-bagian sebagaiberikut : ruang cold storage telur, ruang vestibule, ruang suhu-rendah, ruangpenyusunan kartu dan ruang mesin.7.6. Bahan-bahan Yang Berbahaya Bagi Telur Ulat Sutera Terdapat beberapa bahan yang membahayakan telur ulat sutra.Yang harus diatasi terutama dalam penanganan dan penyimpanan telur ulatsutra adalah : tembakau, bahan-bahan kimia pertanian, minyak, air raksa,pasta, bahan asam dan basa, dan bau tajam. Lebih jauh lagi, terdapat musuh-musuh alami seperti tikus liar, hamaserangga dan jamur, dan kontak dengan makhluk tersebut harus dicegah. 34
  • 35. BAB VIII PENETASAN BUATAN TELUR ULAT SUTERA Pada kondisi normal, telur ulat sutra hibernasi akan tetap diapausehingga setahun setelah ditelurkan dan tidak akan menetas berapapunsuhunya. Hanya setelah melewati musim dingin dan terkena suhu rendahuntuk waktu yang cukup maka telur tersebut dapat tumbuh dan menetas padamusim semi yang hangat berikutnya. Oleh karena itu produksi sutra akanterbatas pada beberapa derajat. Pada awal abad ke sembilan belas, Chinadan beberapa negara Eropa telah ahli dalam seni penetasan buatan telur ulatsutra. Dapat dikatakan bahwa mereka berhasil memutus diapause telur ulatsutra hibernasi dengan menerapkan stimulan fisik atau kimiawi buatan padatahap tertentu pertumbuhan embryonik, sehingga telur dapat menetas dalamtahun tersebut. Hal ini dapat diulangi beberapa kali dalam setahun.8.1. Metode Penetasan Buatan Metode penetasan buatan dapat dibagi menjadi dua grup utama, fisikdan kimiawi.Metode fisik : • pengakhiran musim dingin buatan • perlakuan air-hangat • stimulasi dengan friksi • stimulasi dengan suhu tinggi • stimulasi dengan suhu rendah • stimulasi dengan tekanan atmosfir tinggi • pengenaan (ekspos) ke sinar matahari • induksi listrikMetode kimiawi : • perlakuan asam hidrokhlorida (perlakuan asam umum dan perlakuan asam setelah cold storage • perlakuan asam nitrat • perlakuan asam sulfurida • perlakuan regia aqua • perlakuan larutan sodium khloridaMetode penetasan buatan harus mempunyai/menjadi : • kecepatan penetasan tinggi • kecepatan penetasan seragam • peralatan sederhana/simpel • manipulasi mudah • efisiensi kerja tinggi • tenaga kerja dan biaya yang ekonomis 35
  • 36. 8.2. Asam HCl Digunakan Pada Penetasan Buatan Asam hidrokhlorida murni akan aman, tetapi cukup mahal. Asamhidrokhlorida hasil industri digunakan dalam penetasan buatan, tetapi harusdiuji dulu sebelum digunakan. Larutan asam hidrokhlorida murni jenuhmengandung 42,09 persen hidrogen khlorida pada suhu 15ºC; gravitasspesifiknya adalah 1,212; tidak berwarna dan transparan, mudah larut dalamair, menguap dengan cepat menjadi ‘kabut’ putih tebal jika kontak denganudara; merupakan stimulan yang kuat dan bersifat korosif. Asamhidrokhlorida hasil industri mengandung hidrogen khlorida 30 persen; gravitasspesifiknya 1,160 dan berwarna coklat muda atau kuning. Asam hidrokhloridamempunyai aktivitas disinfeksi yang kuat. Oleh karena itu perlakuan asammempunyai efek tambahan disinfeksi permukaan telur. Dengan asam yangdipanaskan, spora muskardin telur ulat sutra dapat mati dalam waktu tigadetik. Gravitas spesifik asam hidrokhlorida adalah berasio langsung dengankonsentrasinya. Makin besar gravitas spesifiknya, makin tinggi konsentrasinya(Tabel 8-1). Gravitas spesifik asam hidrokhlorida bervariasi dengan suhularutan asam. Makin tinggi suhu larutan asam, maka makin ringan gravitasspesifiknya. Di atas 15ºC, bila suhu meningkat atau menurun 1ºC, koefisiengravitas spesifik asam khlorida bervariasi sebagai berikut : Kisaran gravitas spesifik Variasi koefisien gravitasspesifik _______________________________________________ 1,065-1,075 0,0003 1,080-1,100 0,0004 1,105-1,120 0,0005 Pendekatan gravitas spesifik asam hidrokhlorida dapat diperkirakansebagai perubahan suhu oleh variabel koefisien gravitas spesifik asamhidrokhlorida. Misalnya, pada suhu 24ºC, gravitas spesifik asam hidrokhloridaadalah 1,075. Bila suhu meningkat ke 46ºC, gravitas spesifiknya adalah : 1,075 - (46-24) x 0,0003 = 1,0684 Contoh lain : pada suhu 47,8ºC, gravitas spesifik asam hidrokhloridaadalah 1,092. Bila suhu menurun hingga 24ºC, maka gravitas spesifiknyaadalah: 1,092 + (47,8-24) x 0,0004 = 1,1015 36
  • 37. Pengenceran asam hidrokhlorida : Terdapat dua metodepengenceran larutan asam hidrokhlorida asli menjadi konsentrasi obyektifuntuk perlakuan asam telur ulat sutra. (1) Pengenceran berdasarkan gravitas spesifik: Jumlah larutan asal dalam = A–1 bulk asam terlarut (%) ------------ x 100 B –1 Perkalian air yang ditambahkan = (B – 1) – (A – 1) ------------------------------ x100 A–1 A = gravitas spesifik obyektif B = gravitas spesifik larutan asal (2) Pengenceran berdasarkan konsentrasi Perkalian air yang ditambahkan = a (%) – b (%) ---------------------- b (%) a = konsentrasi larutan awal b = konsentrasi obyektif8.3. Penetasan Buatan Dengan Perlakuan Asam Umum Penetasan buatan dengan perlakuan asam umum membutuhkanstimulan asam hidrokhlorida segera setelah telur dihasilkan, dan sebelummuncul karakter hibernasi. Hal ini akan memblok tendensi hibernasi dankemampuan embryo melanjutkan pertumbuhan hingga menetas dari padamemasuki diapause. Terdapat dua metode yang mungkin: perlakuan asamdipanaskan dan perlakuan asam pada suhu ruang.Perlakuan asam dipanaskan Waktu yang tepat untuk perlakuan asam : Adalah sangat pentinguntuk melakukan perlakuan asam pada waktu yang tepat. Waktu terbaikadalah antara fusi lipatan amnion dan pembentukan embryo independen. 37
  • 38. Umumnya hal ini terjadi 16-30 jam setelah telur dikeluarkan. Namundemikian jika suhu penyimpanan setelah telur dihasilkan adalah tinggi, makaperlakuan asam harus dilakukan sedikit lebih awal, dan sedikit lebih lambatjika suhu penyimpanan rendah. Waktu dihitung dari tahap oviposisi paling banyak yaitu jika indukkupu meletakkan 50-60 persen telurnya. Jika suhu penyimpanan setelah telur dihasilkan adalah antara 27-30ºC, tidak ada efek yang membahayakan pertumbuhan telur. Suhupenyimpanan di atas 30ºC adalah berbahaya untuk telur ulat sutra. Konsentrasi asam khlorida : Iritasi asam khlorida terhadap telur ulatsutra disebabkan oleh aksi integrasi tiga faktor : konsentrasi asam khlorida(HCl), suhu, dan durasi perlakuan, yang mana konsentrasi HCl adalah yangpaling penting. Penetasan buatan akan kurang berhasil dengan konsentrasiasam rendah, tetapi konsentrasi yang tinggi akan merusak telur. KonsentrasiHCl yang sekarang diterapkan pada perlakuan asam adalah 15 persen denganspesifik gravitas 1,075. Suhu larutan HCl : Pengalaman membuktikan bahwa kisaran efektifsuhu larutan HCl adalah 45-47ºC (113-116ºF). Yang optimum adalah 46ºC(115ºF). Durasi perlakuan : Dengan kondisi yang digambarkan seperti di atas,maka diperlukan lima menit untuk perlakuan asam. Hal ini sedikit bervariasidengan ras yang berbeda. Untuk telur bivoltin China, lima menit adalahmemadai, sedangkan bivoltin Jepang perlu lima setengah menit. Perlakuan asam pada suhu normal atau ruang : Pada metode iniasam tidak dipanaskan lebih dahulu. Waktu optimum untuk perlakuan asam : Waktu optimum bagi telurulat sutra untuk mendapatkan perlakuan asam adalah 15-20 jam setelah telurdiletakkan dan disimpan pada suhu 24ºC. Konsentrasi asam hidrokhlorida : Untuk perlakuan asam pada suhunormal, konsentrasi yang optimum adalah 21-22 persen (gravitas spesifik1,108-1,110) secara komparatif aman Durasi perlakuan : Lama waktu yang diperlukan untuk perlakuanasam sangat bervariasi dengan suhu ruang (larutan). Variasi kecil juga terjadipada kasus perlakuan dini atau lambat. Tabel 8-3 mengindikasikan kisarandurasi perlakuan asam pada suhu yang berbeda dengan konsentrasi asam 21persen (gravitas spesifik 1,108).8.4. Penetasan Buatan Dengan Perlakuan Asam Setelah Penyimpanan Dingin Pada metode ini, telur hibernasi sebelumnya mengalamipenyimpanan dingin, kemudian diberi perlakuan asam. Prosedur aktualnyaadalah sebagai berikut. Waktu tepat penyimpanan dingin : Telur ulat sutra disimpan padasuhu optimum setelah diletakkan, 45-50 jam setelah telur mulai berubahwarna dari kuning muda menjadi merah kecoklatan. Ini adalah waktu yangtepat untuk penyimpanan dingin. Dalam term pertumbuhan embrionik, ini 38
  • 39. adalah tahapan ketika embryo menjadi berbeda dengan pembesaran lobusprotocephalik, peluasan lobus caudal dan pembentukan mesoderm. Suhu penyimpanan dingin dan batas waktu : Suhu optimum untukpenyimpanan dingin adalah 5ºC. Durasi optimum untuk telur bivoltin adalah50-60 hari. Jika perlakuan asam diberikan lebih cepat secara paksa,penetasan akan menjadi tidak seragam dan kecepatan penetasan akanrendah. Interval yang sesuai untuk perlakuan asam setelah penyimpanandingin : Bila akan menyimpan telur untuk perlakuan asam setelahpenyimpanan dingin, maka suhu dalam penyimpanan dingin harus konstan.Pada saat memasuki atau meninggalkan penyimpanan dingin, telur harusmelampau vestibule ( kira-kira 16ºC) selama dua jam. Perlakuan asam tidakboleh segera dimulai setelah penyimpanan dingin, tetapi hanya setelah telur-telur tersebut disimpan pada suhu ruang selama satu setengah hingga duajam. Standar untuk perlakuan asam setelah penyimpanan dingin :Biasanya, derajat stimulasi asam bagi telur untuk perlakuan asam setelahpenyimpanan dingin adalah lebih kuat dari pada telur yang mendapatkanperlakuan asam umum.Standar yang diadopsi dalam produksi adalah : Konsentrasi HCl : 19 persen (gravitas spesifik 1,092) Suhu larutan HCl : 47,8ºC (118ºF) Durasi perlakuan HCl : ras China , 5-5,5 menit ras Jepang, 6 menit Suspensi penyimpanan dingin sebelum perlakuan asam : Kadang-kadang perubahan rencana diperlukan bahwa telur yang dimaksudkan untukperlakuan asam dikeluarkan dari penyimpanan dingin dan menjadi suatususpensi (berubah menjadi telur hibernasi). Ras ulat sutra mempunyaikarakter hibernasi stabil dan derajat diapause yang dalam, mempunyaiperiode aman yang lebih panjang untuk suspensi penyimpanan dingin. Tidakada hal penting yang terjadi jika suspensi berlangsung dalam periode 20 harisetelah telur disimpan. Tetapi ras-ras dengan karakter hibernasi agak tidakstabil, dan derajat diapause rendah, batasnya adalah 12 hari dalampenyimpanan. Kesimpulannya, makin awal suspensi berlangsun maka akanmakin baik. Apabila hal itu terjadi setelah periode aman maka fenomenapenetasan kontinyu akan muncul.8.5. Manipulasi Perlakuan Asam Pencegahan telur ulat sutra dari jatuh : Adalah mudah bagi telurulat sutra yang diproduksi dengan metode kartu datar dan metode Pasteurberjatuhan selama perlakuan asam. Karena formaldehida mempunyai sifatkoagulasi bahan gummy pada permukaan telur ulat sutra, maka larutanformalin direkomendasikan untuk mencegah jatuhnya telur selama perlakuanasam. Terdapat dua metode : (1) Penambahan formalin ke larutan asam hidrokhlorida : Sejumlahformalin yang ekuivalen dengan 2 persen bulk obyektif yang diencerkanlarutan asam hidrokhlorida ditambahkan kedalam larutan HCl. Larutan 39
  • 40. asam dipanaskan dan perlakuan asam dilanjutkan. Karena formalin mudahmenguap, maka formalin sebaiknya ditambahkan selama proses aplikasi. Penyemprotan formalin pada telur ulat sutra : Larutan pengenceranformalin 1,5-2 persen disemprotkan pada permukaan telur secara merata,dan dibiarkan mengering sebelum perlakuan asam. Metode ini lebih efektifpada pencegahan telur dari jatuh selama perlakuan asam pada suhu normal. Perlakuan asam : Adalah penting untuk mengamati secara ketatsemua kriteri yang tertera pada perlakuan asam. Selama perlakuan asam,telur ulat sutra diharapkan menerima perlakuan panas yang seragam untukmencapai produksi yang stabil. Telur harus diperlakukan asam sesuai denganurutan setelah dikeluarkan dari penyimpanan dingin. Sebelum meletakkan telur ulat sutra ke dalam larutan asam, suhularutan asam harus diatur 0,3-0,5ºC lebih tinggi dari pada suhu kriteria.Setelah mencelupkan penyangga kartu telur ke dalam asam, maka harussedikit dinaik-turunkan untuk menghilangkan gelembung udara. Penyanggakartu telur harus dipindahkan dalam wadah/kontainer asam sehingga telurdipanaskan secara seragam. Uji tiga suhu untuk larutan asam harus dibuat selama perlakuan asamdan hasilnya dicatat. Uji yang pertama dibuat satu menit setelahpencelupan, dan kemudian setiap dua menit setelah itu. Jika suhu asamlebih rendah dari pada suhu kriteria, maka memperpanjang waktu perlakuanadalah lebih baik untuk meningkatkan suhu asam. Misalnya, untuk setiap0,5ºC per menit suhu larutan asam naik atau turun. Berkenaan dengan suhuobyektif, perlakuan diperpendek atau diperpanjang masing-masing denganlima detik. Lima detik sebelum mencapai suhu kriteria perlakuan asam,penyangga kartu telur dipindahkan dari kontainer asam dan kemudiandilakukan deasidisasi. Konsumsi larutan asam hidrokhlorida diencerkanadalah 25 cc untuk setiap kartu telur dan untuk formalin adalah 1 kg untuksetiap 1000 kartu telur. Asam hidrokhlorida dapat digunakan berulang kalidan untuk menjamin efek stimulasi asam hidrokhlorida, maka konsentrasiharus disesuaikan. Deasidisasi dan pengeringan : Deasidisasi berarti flushing secarahati-hati telur-telur setelah perlakuan asam, dalam basin atau air yangmengalir atau sungai yang mengalir, selama kurang dari satu jam, hinggaasam benar-benar telah tercuci. Kebutuhan untuk deasidisasi adalahkecepatan dan kebersihan. Juga, adalah penting bahwa telur harus dicegahagar tidak jatuh. Meskipun tidak ada efek merusah terhadap fisiologi telurulat sutra yang dideteksi, waktu terpendek untuk pencucian adalahdirekomendasikan. Kertas litmus biru digunakan untuk menentukan apakahtelur telah deasidisasi lengkap atau tidak. Setelah dideasidisasi secara seksama, telur kemudian di dewaterdalam mesin sentrifugal dewatering pada kecepatan 250 rpm selama duamenit. Kemudian, kartu telur harus digantung dalam ruangan berventilasibaik. Kartu telur harus kering udara dalam 10 jam. 40
  • 41. 8.6. Penetasan Dengan Perlakuan Air Hangat Untuk telur diapause dari ulat sutra multivoltin, penetasan buatandapat dilengkapi dengan pencelupan air-hangat. Metode ini berasal daripropinsi Guangdong. Kapan memberikan perlakuan : Perlakuan harus dilaksanakan pagihari, pada sekitar jam 5.00-7.00, pada hari setelah telur diletakkan. Jikacuaca hangat (27ºC ke atas), maka pekerjaan harus dilakukan lebih awal, danlebih lambat bila suhu secara komparatif rendah (di bawah 24ºC). Kriteria untuk perlakuan air hangat : Suhu air adalah faktor pentingdalam penetasan telur ulat sutra. Suhu air rendah adalah kurang efektif,tetapi suhu tinggi dapat membunuh telur. Suhu standar untuk penetasan airhangat tergantung pada suhu penyimpanan setelah oviposisi. Pada tahun1911, seorang serikulturis, Lu Chung Ming, mengusulkan formula untukperlakuan air hangat : A = B+C ------- 2 A = suhu air hangat (ºF) B = 180ºF = titik didih (212ºF) – titik beku (32ºF) C = Rataan suhu penyimpanan setelah oviposisi (ºF) Dalam Celcius akan menjadi : A = suhu air hangat (ºC) B = (180-32) x 5/9 (ºC) C = rataan suhu penyimpanan setelah oviposisi (ºC) Dari formula ini, kita akan sampai pada kalkulasi berikut : ______________________________________________________________ Rataan suhu preservasi setelah oviposisi Suhu air ______________________________________________________________ 75ºF 127,5ºF (53,1ºC) 80ºF 130,1ºF (54,5ºC) 85ºF 132,5ºF (55,8ºC) ______________________________________________________________ Durasi pencelupan : Durasi standar untuk pencelupan air adalah limadetik. Namun demikian, bila suhu air turun, pencelupan dapat diperpanjang.Aturannya adalah : untuk setiap reduksi 1ºF suhu air, pencelupandiperpanjang satu detik, pada kondisi reduksi suhu air tidak melebihi suhuobyektif dengan 2ºF. Karena pencelupan sangat singkat (lima detik), makapekerjaan harus dilakukan dengan sangat teliti. 41
  • 42. Disinfeksi permukaan telur : Setelah perlakuan air hangat, kartutelur harus digantung hingga tidak ada lagi air yang menetes. Setelah itudimulai disinfeksi permukaan telur. Sebelumnya disiapkan larutan formalin2,5 persen, dan kartu telur dicelupkan ke dalam disinfektan selama sekitar 30menit. Pembilasan dan pengeringan : Setelah disinfeksi, telur ulat sutraharus dicuci dalam air yang mengalir selama 20 menit, agar bersih daribahan-bahan kimia. Kemudian telur-telur ditempatkan dalam mesinsentrifugal dewatering dan digantung hingga kering. Jika kelembaban tinggi,maka digunakan kipas listrik untuk mempercepat pengeringan. Jika kartutelur tidak dapat kering pada waktunya, maka aspek fisiologis akan sangatterpengaruh dan penetasan akan tidak seragam. 42

×