Your SlideShare is downloading. ×
×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Identifikasi Aspek dan Elemen Budaya Pada Masyarakat Kota Semarang

4,506

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
4,506
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
37
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Laporan Praktikum I 3 September 2013 Wisata Budaya IDENTIFIKASI ASPEK DAN ELEMEN BUDAYA PADA MASYARAKAT KOTA SEMARANG Oleh Kelompok 6/P1 : Ansyari Musoman (J3B112021) Aruni Fadhillah Septiani (J3B112026) Na’immah Nur’Aini (J3B112044) Wardana Jaya Jasmitha (J3B212137) Dosen : Dr.Ir.Tutut Sunarminto, M.Si Rini Untari S,Hut, M.Si Helianthi Dewi, S.Hut, M.Si Asisten Dosen : Rima Pratiwi Batubara, S.Hut PROGRAM KEAHLIAN EKOWISATA PROGRAM DIPLOMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2013
  • 2. 2 DAFTAR ISI DAFTAR ISI.......................................................................................................................... 2 DAFTAR GAMBAR............................................................................................................ 3 I. PENDAHULUAN......................................................................................................... 4 A.Latar Belakang........................................................................................................... 4 B.Tujuan.......................................................................................................................... 4 II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................... 5 A. Identifikasi................................................................................................................. 5 B.Aspek Budaya ............................................................................................................ 5 C. Elemen Budaya ......................................................................................................... 5 D. Masyarakat Kota....................................................................................................... 6 III. KONDISI UMUM......................................................................................................... 8 A.Geografi ...................................................................................................................... 8 B.Penduduk .................................................................................................................... 8 C.Ekonomi...................................................................................................................... 9 D.Fasilitas Umum dan Sosial..................................................................................... 10 IV. METODE PRAKTIKUM........................................................................................... 11 A.Lokasi dan Waktu.................................................................................................... 11 B.Alat dan Objek ......................................................................................................... 11 C.Jenis dan Metode Pengambilan Data .................................................................... 11 D.Tahapan Pengerjaan ................................................................................................ 11 V. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................................. 12 A.Hasil .......................................................................................................................... 12 B.Pembahasan.............................................................................................................. 13 1.Aspek Kebudayaan.............................................................................................. 13 2.Elemen Budaya.................................................................................................... 18 VI. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................................. 26 A.Kesimpulan............................................................................................................... 26 B.Simpulan ................................................................................................................... 26 DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 27
  • 3. 3 DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Tradisi Nyadran Masyarakat Kota Semarang.......................................... 14 Gambar 2. Tradisi Dungderan Masyarakat Kota Semarang...................................... 15 Gambar 3. Gaya Pengantin Kaji ................................................................................ 16 Gambar 4. Motif Batik Semarang.............................................................................. 18 Gambar 5. Seni Kuda Lumping................................................................................. 24 Gambar 6. Gambang Semarangan ............................................................................. 25
  • 4. 4 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan Negara multibudaya. Budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh suatu kelompok orang dan diturunkan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistemagama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Budaya berkaitan terbentuk dari berbagai aspek dan elemen. Koentjaraningrat membagi kebudayaan dalam tiga wujud yang kemudian dikenal sebagai aspek budaya. Ketiga wujud tersebut adalah ideas (sistem ide), activities (sistem aktivitas), dan artifacts (sistem artefak). Berbagai jenis aspek tersebut dapat dibedakan dalam jenis material (berwujud) dan immaterial (tidak berwujud). Selain aspek budaya, pembentuk budaya masyarakat juga terdiri dari unsur-unsur atau elemen-elemen budaya. Kluckhon dalam bukunya yang berjudul Universal Categories of Culture membagi kebudayaan yang ditemukan pada semua bangsa di dunia dari sistem kebudayaan yang sederhana seperti masyarakat pedesaan hingga sistem kebudayaan yang kompleks seperti masyarakat perkotaan. Unsur- unsur kebudayaan menurut Koentjaraningrat (2000: 2) adalah sebagai berikut sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian hidup, sistem teknologi dan peralatan. Budaya terbentuk karena adanya sekumpulan manusia yang pada akhirnya disebut masyarakat. Masyarakat yang memiliki suatu kebudayaan dapat dibedakan atas masyarakat desa dan kota. Perbedaan antara masyarakat pedesaan dan perkotaan dapat dibedakan dari pola kebudayaan, norma masyarakat, pola interaksi dan mata pencaharian. Perkotaan adalah Suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi, diwarnai dengan strata sosial ekonomi yang heterogen dan coraknya yang materialistis. Semarang merupakan kota besar dan merupakan ibu kota dari Jawa Tengah. Semarang yang merupakan kota metropolitan besar kelima di Indonesia, masyarakatnya terdiri dari berbagai suku. Seperti halnya di kota besar, Kota Semarang memiliki aspek dan elemen budaya yang kompleks. Aspek dan elemen budaya tersebut menjadi sebuah kota dengan budaya yang beragam. B. Tujuan Praktikum dilaksanakan dengan beberapa tujuan. Tujuan berkaitan dengan budaya masyarakat kota yang telah ditentukan lokasinya. Adapun secara lengkap mengenai budaya dari segi aspek dan elemen akan ditampilkan pada bagian hasil dan pembahasan. Tujuan praktikum identifikasi aspek dan elemen budaya pada masyarakat kota adalah sebagai berikut. 1. Mengidenfikasi aspek budaya di Kota Semarang dan jenis kebudayaan. 2. Mengidentifikasi elemen budaya di Kota Semarang dan jenis kebudayaan.
  • 5. 5 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Identifikasi J.P Chaplin yang diterjemahkan Kartini Kartono yang dikutip oleh Uttoro 2008 identifikasi adalah penentuan atau penetapan identits seseorang atau benda sedangkan menurut psikoanalis identifikasi adalah suatu proses yang dilakuakan seseorang secara tidak sadar, atas dasar ikatan emosional dengan tokoh tertentu, sehingga ia berprilaku atau membayangkan dirinya seakan-akan ia adalah tokoh tersebut. Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa identifikasi adalah penempatan atau penentu identitas seseorang atau benda pada suatu saat tertentu. B. Aspek Budaya Aspek kebudayaan sebagai sistem ide bersifat sangat abstrak, tidak bisa diraba atau difoto dan terdapat dalam alam pikiran individu penganut kebudayaan tersebut. Wujud kebudayaan sebagai sistem ide hanya bisa dirasakan dalam kehidupan sehari- hari yang mewujud dalam bentuk norma, adat istiadat, agama, dan hukum atau undangundang. Aspek kebudayaan sebagai sistem aktivitas merupakan sebuah aktivitas atau kegiatan sosial yang berpola dari individu dalam suatu masyarakat. Sistem ini terdiri atas aktivitas manusia yang saling berinteraksi dan berhubungan secara kontinu dengan sesamanya. Aspek kebudayaan ini bersifat konkret, bisa difoto, dan bisa dilihat. Aspek kebudayaan sebagai sistem artefak adalah aspek kebudayaan yang paling konkret, bisa dilihat, dan diraba secara langsung oleh pancaindra. Aspek kebudayaan ini adalah berupa kebudayaan fisik yang merupakan hasil-hasil kebudayaan manusia berupa tataran sistem ide atau pemikiran ataupun aktivitas manusia yang berpola. C. Elemen Budaya Elemen yang terdapat dalam sebuah kebudayaan sangat penting untuk memahami beberapa elemen dalam kebudayaan manusia. Kluckhon dalam bukunya yang berjudul Universal Categories of Culture membagi kebudayaan yang ditemukan pada semua bangsa di dunia dari sistem kebudayaan yang sederhana seperti masyarakat pedesaan hingga sistem kebudayaan yang kompleks seperti masyarakat perkotaan. Kluckhon membagi sistem kebudayaan menjadi tujuh elemen kebudayaan universal atau disebut dengan kultural universal. Menurut Koentjaraningrat, istilah universal menunjukkan bahwa unsur-unsur kebudayaan bersifat universal dan dapat ditemukan di dalam kebudayaan semua bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Ketujuh unsur kebudayaan tersebut adalah bahasa, sistem pengetahuan, sistem organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem ekonomi dan mata pencaharian hidup, sistem religi, serta kesenian. Dalam memahami sebuah kebudayaan maka setiap unsur kebudayaan tersebut harus dibagi menjadi tiga kategori wujud kebudayaan, yaitu sistem ide, aktivitas, dan benda. Bahasa merupakan sarana bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan sosialnya untuk berinteraksi atau berhubungan dengan sesamanya. Dalam ilmu antropologi, studi mengenai bahasa disebut dengan istilah antropologi linguistik. Menurut Keesing, kemampuan manusia dalam membangun tradisi budaya, menciptakan pemahaman tentang fenomena sosial yang diungkapkan secara
  • 6. 6 simbolik, dan mewariskannya kepada generasi penerusnya sangatbergantung pada bahasa. Dengan demikian, bahasa menduduki porsiyang penting dalam analisa kebudayaan manusia. Koentjaraningrat menyatakan bahwa unsur bahasa atau sistem perlambangan manusia secara lisan maupun tertulis untuk berkomunikasi adalah deskripsi tentang ciri-ciri terpenting dari bahasa yang diucapkan oleh suku bangsa yang bersangkutan beserta variasivariasi dari bahasa itu. Ciri-ciri menonjol dari bahasa suku bangsa tersebut dapat diuraikan dengan cara membandingkannya dalam klasifikasi bahasa- bahasa sedunia pada rumpun, subrumpun, keluarga dan subkeluarga. Menurut Koentjaraningrat menentukan batas daerah penyebaran suatu bahasa tidak mudah karena daerah perbatasan tempat tinggal individu merupakan tempat yang sangat intensif dalam berinteraksi sehingga proses saling memengaruhi perkembangan bahasa sering terjadi. Sistem pengetahuan dalam kultural universal berkaitan dengan sistem peralatan hidup dan teknologi karena sistem pengetahuan bersifat abstrak dan berwujud di dalam ide manusia. Sistem pengetahuan sangat luas batasannya karena mencakup pengetahuan manusia tentang berbagai unsur yang digunakan dalam kehidupannya. Namun, yang menjadi kajian dalam antropologi adalah bagaimana pengetahuan manusia digunakan untuk mempertahankan hidupnya. Koentjaraningrat menyatakan bahwa sistem pengetahuan pada awalnya belum menjadi pokok perhatian dalam penelitian para antropolog karena mereka berasumsi bahwa masyarakat atau kebudayaan diluar bangsa Eropa tidak mungkin memiliki sistem pengetahuan yang lebih maju. Namun, asumsi tersebut itu mulai bergeser secara lambat laun karena kesadaran bahwa tidak ada suatu masyarakat pun yang bisa hidup apabila tidak memiliki pengetahuan tentang alam sekelilingnya dan sifat-sifat dari peralatan hidup yang digunakannya. D. Masyarakat Kota Masyarakat kota adalah sekumpulan orang yang hidup dan bersosialisasi di daerah yang mungkin bisa dikatakan lebih maju dan lebih modern dan mudah untuk suatu hal yang dicita-citakan. Karena masyarakat kota memiliki gengsi yang tinggi sehingga sulit menemukan rasa solideritas yang tinggi maka dari itu masyarakat kota lebih cederung individualis. Menurut Talcott Persons mengenai beberapa tipe masyarakat kota yang dibagi pada empat macam diantaranya: Netral Afektif, Orietasi diri, Universalisme, Heterogenitas. Netral Efektif adalah masyarakat kota yang lebih mementingkat rasionalitas dan sifat rasional ini erat hubungannya dengan konsep Gesellschaft atau Association. Mereka tidak mau mencampuradukan hal-hal yang bersifat emosional atau yang menyangkut perasaan pada umumnya dengan hal-hal yang bersifat rasional, itulah sebabnya tipe masyarakat itu disebut netral dalam perasaannya. Orientasi diri adalah masyarakat dengan kekuatannya sendiri dan harus dapat memepertahankan dirinya sendiri, pada umumnnya didalam kota tetangga bukanlah orang yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan kita oleh karena itu setiap orang dikota terbiasa hidup tanpa menggantungkan diri pada oranglain, mereka cenderung untuk individualistik. Universalisme adalah berhubungan dengan semua hal yang berlaku umum oleh karena itu pemikiran rasional merupakan dasar yang sangat penting untuk universalisme. Heterogenitas adalah masyarajat kota yang ebi memikirkan sifat
  • 7. 7 heterogen artinya trdiri dari lebih banyak komponen dalam susunan produksinya. Heterogenitas masyarakat kota yang harus mempertahankan diri sendiri dikarenakan tetangga yang biasanya menjadi kerabat dekat dengan kita dikota bukanlah sebagai salah satu yang bisa diandalkan sebagai seseorang yang bisa membantu kit dikala susah, mereka cenderung bersfat sendiri-sendiri untuk bertahan hidup (individualistik).
  • 8. 8 III. KONDISI UMUM Kota Semarang adalah ibukotaProvinsiJawa Tengah, Indonesia sekaligus kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan. Sebagai salah satu kota paling berkembang di Pulau Jawa, Kota Semarang mempunyai jumlah penduduk yang hampir mencapai 2 juta jiwa. Bahkan, Area Metropolitan Kedungsapur (Kendal, Demak, Ungaran Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Purwodadi Grobogan) dengan penduduk sekitar 6 juta jiwa, merupakan Wilayah Metropolis terpadat ke 4, setelah Jabodetabek (Jakarta), Bandung Raya dan Gerbangkertosusilo (Surabaya). Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan Semarang ditandai pula dengan munculnya beberapa gedung pencakar langit di beberapa sudut kota. Sayangnya, pesatnya jumlah penduduk membuat kemacetan lalu lintas di dalam Kota Semarang semakin parah. Kota Semarang dipimpin oleh wali kota Hendrar Prihadi, S.E, M.M. Kota ini terletak sekitar 466 km sebelah timur Jakarta, atau 312 km sebelah barat Surabaya, atau 624 km sebalah barat daya Banjarmasin (via udara). Semarang berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Demak di timur, Kabupaten Semarang di selatan, dan Kabupaten Kendal di barat. Luas Kota 373.67 km2 . A. Geografi Secara geografis wilayah Kota Semarang berada antara 6º50’-7º10’ LS dan 109º35’-110º50’ BT dengan luas wilayah 373,70 kmdengan batas-batas sebagai berikut : Batas Utara : Laut Jawa, Batas Selatan : Kabupaten Semarang, Batas Timur : Kabupaten Demak, Batas Barat : Kabupaten Kendal. Kota Semarang terdiri dari 16 kecamatan dan 177 kelurahan dengan luas wilayah keseluruhan 373,7 km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 1.351.246 jiwa. Kecamatan yang mempunyai wilayah paling luas yaitu kecamatan Mijen (62,15 km2 ) sedangkan kecamatan dengan luas wilayah paling kecil adalah kecamatan Candisari (5,56 km2). Ketinggian Kota Semarang bervariasi, terletak antara 0,75 sampai dengan 348,00 di atas garis pantai. Daerah dataran rendah di Kota Semarang sangat sempit, yakni sekitar 4 kilometer dari garis pantai. Dataran rendah ini dikenal dengan sebutan kota bawah. Kawasan kota bawah seringkali dilanda banjir, dan di sejumlah kawasan, banjir ini disebabkan luapan air laut (rob). Di sebelah selatan merupakan dataran tinggi, yang dikenal dengan sebutan kota atas, di antaranya meliputi Kecamatan Candi, Mijen, Gunungpati,Tembalang dan Banyumanik. Pusat pertumbuhan di Semarang sebagai pusat aktivitas dan aglomerasi penduduk muncul menjadi kota kecil baru, seperti di Semarang bagian atas tumbuhnya daerah Banyumanik sebagai pusat aktivitas dan aglomerasi penduduk Kota Semarang bagian atas menjadikan daerah ini cukup padat. B. Penduduk Berdasarkan hasil registrasi penduduk tahun 2002, jumlah penduduk Kota Semarang tercatat sebesar 1.350.005 jiwa dengan pertumbuhan penduduk selama tahun 2001 sebesar 2,09%. Kondisi tersebut memberi arti bahwa pembangunan kependudukan, khususnya usaha untuk menurunkan jumlah kelahiran, memberikan hasil yang nyata.
  • 9. 9 Jumlah angkatan kerja di Kota Semarang berdasarkan pada Konvensi ILO tahun 1998 adalah 213.355 orang, terdiri dari 85.306 laki-laki dan 128.049 perempuan. Pada tahun 1999 menjadi 191.095 orang, terdiri dari 85.306 laki-laki dan 105.789 perempuan. Dilihat dari kelompok usia 15 – 19 tahun terjadi peningkatan dari 83.786 orang pada tahun 1998 menjadi 86.259 orang pada tahun 1999. Sedangkan pada kelompok usia 20 – 39 tahun terjadi penurunan dari 352.660 orang pada tahun 1998 menjadi 349.716 orang pada tahun 1999. Angkatan kerja baru ada kenaikan tahun 1998; 18.663 orang menjadi 22.276 orang pada tahun 1999, yang terinci menurut pendidikan sebagai berikut : Lulusan SD : 5.635 orang , SLTP : 2.232 orang, SLTA : 9.882 orang. Sedang data pencari kerja pada lulusan Perguruan Tinggi yang cukup besar tidak terekam secara pasti pada Dinas Tenaga Kerja. Untuk tahun 2002, TPAK (Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja), yaitu perbandingan antara angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja sebesar 78,13%. Sedangkan tingkat kesempatan kerja, yaitu perbandingan antara penduduk yang bekerja dengan angkatan kerja pada tahun 2002 adalah sebesar 75,80%. C. Ekonomi Dari data tahun 2000, kontribusi yang cukup signifikan membangun perekonomian Kota Semarang yaitu sektor perdagangan, hotel dan restoran (41,63%), kemudian diikuti oleh sektor industri pengolahan (27,93%), sektor jasa- jasa (11,61%), sektor pengangkutan dan komunikasi (6,16%). Sedangkan sektor lainnya (12,67%) meliputi sektor pertambangan, pertanian, bangunan, listrik, dan gas rata-rata 2-3%. Perekonomian Kota Semarang sebelum krisis terjadi mengalami pertumbuhan di atas pertumbuhan rata-rata ekonomi nasional, namun setelah adanya krisis multi dimensi pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan yang cukup drastis. Penurunan pertumbuhan ekonomi yang paling tajam terjadi pada tahun 1998 secara riil mengalami penurunan sebesar minus 18,22 % dibanding tahun sebelumnya. Dalam bidang ekonomi yang mengalami penurunan paling drastis adalah sektor bangunan, yakni sebesar minus 64,89 %. Perekonomian pada tahun 1999 menunjukan pertanda membaik, hal ini dapat terlihat dari pertumbuhan ekonomi sebesar 3,4 %, namun masih ada sektor dengan pertumbuhan negatif, yakni sektor jasa perusahaan minus 9,46 % dan sektor pertanian minus 1,91 %, sedangkan pada tahun 2000 kondisinya lebih baik yakni tumbuh sebesar 4,97 %. Kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDRB cukup besar yakni rata-rata setiap tahun pada 5 tahun terakhir sebesar 32,4 persen atau berada pada urutan ke dua di bawah sektor perdagangan. Walaupun kontribusi terhadap PDRB cukup besar, namun kondisi sektor industri mengalami penurunan pertumbuhan. Hal ini terlihat dari beberapa industri yang mengurangi kegiatan produksi baik pada industri kecil, sedang maupun besar, bahkan ada perusahaan yang menutup usahanya sementara waktu. Data yang ada menunjukkan pada tahun 1996 sebanyak 342 unit usaha, tahun 1997 menjadi 315 unit usaha dan pada tahun 2000 jumlah industri sebanyak 334 unit usaha. Pembangunan perdagangan telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan, hal ini terlihat dari kontribusi terhadap PDRB rata-rata sebesar 33,2 persen atau menduduki ranking terbesar. Apabila dicermati walaupun cukup berhasil pembangunan perdagangan masih belum optimal, hal ini dikarenakan masih adanya ketidakseimbangan arus barang masuk dan keluar.
  • 10. 10 D. Fasilitas Umum dan Sosial Pada tahun 2002 jumlah Taman Kanak-Kanak sebanyak 556 unit, jumlah Sekolah Dasar sebanyak 670 unit, SMTP sebanyak 162 unit, SMTA sebanyak 79 unit, dan SMK sebanyak 64 unit. Kota Semarang memiliki perguruan tinggi negeri ternama yaitu Universitas Diponegoro dan beberapa perguruan tinggi swasta sejumlah 55 unit, yang terdiri dari universitas, sekolah tinggi, institut dan akademi. Jumlah sekolah pada masing-masing jenjang pendidikan. Jumlah RSU pada tahun 2002 sama dengan tahun sebelumnya (2001 dan 2000), yaitu 13 unit yang terdiri dari 3 unit RSU type B, 8 unit type C, dan 2 unit type D. Pada tahun 1999 masih tersedia 1 unit RSU type A. Prasarana/sarana kesehatan lain yang tidak mengalami perubahan jumlah pada tahun 2002 adalah RSJ = 1 unit,Rumah Sakit Bedah Plastik =1 unit,Rumah Sakit Bersalin = 4 unit, Rumah Sakit Ibu dan Anak = 3 unit, Puskesmas = 37 unit (11 unit diantaranya dengan perawatan), Puskesmas Pembantu = 34 unit, Puskesmas Keliling = 19 unit, Sedangkan Apotek, jumlahnya terus meningkat dari 165 unit pada tahun 2000 menjadi 201 unit pada tahun 2002.Selain itu Laboratorium Klinik dan Rumah Bersalin jumlahnya juga terus meningkat.
  • 11. 11 IV. METODE PRAKTIKUM Metode yang digunakan dalam praktikum ini meliputi tempat dan waktu penelitian, alat dan obyek, serta jenis dan teknik pengambilan. Metode-metode tersebut ditempuh guna memperlancar kegiatan praktikum. Adapun metode praktikum adalah sebagai berikut. A. Lokasi dan Waktu Kegiatan praktikum dilaksanakan di Kampus Cilibende Gedung A Kelas CA K08. Praktikum ini dilaksanakan pada Hari Selasa, 3 September 2013. Praktikum dilaksanakan pada pukul 07.00-10.20 WIB. B. Alat dan Objek Alat yang digunakan dalam kegiatan praktikum adalah buku tulis untuk mencatat segala informasi yang didapat. Lembar panduan praktikum yang dipergunakan untuk acuan dalam pengerjaan laporan. Sedangkan, objek dalam kegiatan praktikum adalah Kota Semarang sebagai fokus utama. C. Jenis dan Metode Pengambilan Data Jenis data dalam kegiatan praktikum adalah data primer dan data sekunder. Data primer meliputi aspek budaya yang terdapat di Kota Semarang. Selanjutnya adalah elemen-elemen budaya yang terdapat di Kota Semarang. Sedangkan, data sekunder dalam kegiatan praktikum adalah teori-teori kepustakaan mengenai budaya, aspek budaya, elemen budaya, dan masyarakat kota yang didapatkan dari studi literatur. Metode pengambilan data dalam kegiatan praktikum adalah menggunakan studi literatur. Studi literatur meliputi pengambilan data dengan berbagai sumber yang berkaitan dengan judul praktikum. Sumber literatur tersebut diantaranya adalah melalui arikel di internet, buku elektronik, dan lember panduan praktikum. D. Tahapan Pengerjaan Kegiatan praktikum ini dilakukan dengan beberapa tahapan pengerjaan. Tahapan pengerjaan dilakukan dengan urutan sesuai panduan pengerjaan. Adapun tahapan dalam kegiatan praktikum adalah sebagai berikut. 1. Pencarian pengertian mengenai tinjauan pustaka sesuai dengan judul praktikum. 2. Pengumpulan berbagai informasi mengenai aspek-aspek budaya yang berada di Kota Semarang. 3. Pengumpulan berbagai informasi mengenai elemen-elemen budaya yang berada di Kota Semarang. 4. Penulisan hasil informasi di tallysheet sesuai dengan poin-poin yang dimaksud. 5. Pembahasan mengenai hasil yang ditampilkan dalam tallysheet.
  • 12. 12 V. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan praktikum mengenai budaya di Kota Semarang disajikan dalam bentuk hasil dan pembahasan. Hasil merupakan tallysheet mengenai aspek dan elemen budaya di Kota Semarang. Sedangkan, pembahasan adalah ulasan mengenai hasil yang dibandingkan dengan teori mengenai budaya dan kebudayaan, khususnya masyarakat kota. Berikut adalah hasil dan pembahasan menganai aspek dan elemen budaya pada Masyarakat Kota Semarang. A. Hasil Hasil disajikan dalam bentuk tallysheet berupa tabel inventarisasi sesuai dengan aspek maupun elemen budaya (Tabel 1). Dalam tabel hasil juga disajikan mengenai jenis budaya yang terdiri dari material dan immaterial sesuai dengan aspek dan elemen budaya. Hasil juga menyajikan secara ringkas mengenai deskripsi dari masing-masing poin. Tabel 1. Tallysheet Inventarisasi Aspek dan Elemen Budaya di Masyarakat Perkotaan No Aspek dan Elemen Budaya Jenis Kebudayaan Deskripsi Material Immaterial 1. Aspek Budaya a. Ide atau gagasan  Norma, Adat Istiadat, Agama, dan Peraturan Perundangan Daerah. b. Aktivitas manusia  UpacaraPerkawinan Semarang c. Benda-benda hasil karya manusia  Batik Semarangan 2. Elemen Budaya a. Bahasa  Bahasa Jawa Semarang b. Sistem Pengetahuan  Pengetahuan pranatamangsa c. Organisasi Sosial  Sistem Pemerintahan, Asosiasi Baitul Maal wa Tamwil (BMT) d. Sistem perlengkapan hidup dan teknologi  Terminal bus kelas A, Penerapan Sistem Informasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) e. Sistem Mata Pencaharian  Sektor Jasa, buruh, petani, angkutan, elayan, pengusaha, pedagang, dan TNI serta PNS. f. Sistem Religi  Mitologi Warak Ngendhog g. Kesenian  Kuda Lumping, Gambang Semarangan
  • 13. 13 B. Pembahasan Pembahasan merupakan ulasan dari hasil secara lebih terperinci dan dibandingkan dengan teori yang ada. Pembahasan pada kegiatan praktikum ini dibagi menjadi dua garis besar. Pembahasan mengenai aspek budaya dan elemen budaya. Aspek budaya meliputi ide dan gagasan, aktivitas manusia, dan hasil karya manusia. Sedangkan elemen budaya meliputi, bahasa, sistem teknologi, sistem mata pencaharian, organisasi sosial, sistem pengetahuan, sistem religi, dan kesenian. Masing-masing sub poin tersebut memiliki pembahasan yang berbeda. Berikut adalah pembahasan mengenai aspek dan elemen budaya masyarakat perkotaan. 1. Aspek Kebudayaan (Aruni Fadhilah Septiani - J3B112026 dan Na’immah Nur’Aini – J3B112044) Yoeti (1999) dalam Untari (2009) menyatakan suatu kegiatan wisata ditunjang “tourism resources” yang merupakan segala sesuatu yang terdapat di daerah tujuan wisata yang merupakan daya tarik agar orang-orang mau dating berkunjung ke tempat tersebut. Hal-hal yang dapat menarik orang untuk berkunjung ke suatu daerah tujuan wisata yaitu benda-benda yang tersedia dan terdapat di alam yang dalam istilah pariwisata “natural amenities, hasil ciptaan manusia (man made supply) yaitu benda-benda bersejarah, kebudayaan dan keagamaan (historical, cultural and religious) dan tata cara hidup masyarakat seperti bagaimana kebiasaan hidupnya dan adat istiadatnya. Seperti dalam teori yang sudah disebutkan, bahwa kebudayaan merupakan daya tarik wisata yang potensial. Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasilkarya manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat yang dijadikanmilik diri manusia dengan belajar. Kebudayaan dibentuk oleh beberapa aspek dan elemen budaya sehingga menjadi suatu sistem kehidupan. Aspek kebudayaan yang menjadi wujud mendasar dari suatu kebudayaan berbeda antara daerah satu dengan yang lainnya. Sama halnya dengan elemen budaya. Aspek dan elemen budaya juga berbeda dari masyarakat pedesaan dan perkotaan. Kota Semarang merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah yan terletak di bagian Utara Jawa Tengah. Fungsi Kota Semarang adalah sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, kegiatan industri, transportasi, pendidikan, pariwisata dan lingkungan permukiman. Berbagai fungsi dimiliki oleh Kota Semarang sehingga membentuk suatu pola hidup yang menjadi suatu kebudayaan dari masyarakatnya. a. Ide atau gagasan Wujud kebudayaan sebagai sistem ide bersifat sangat abstrak,tidak bisa diraba atau difoto dan terdapat dalam alam pikiran individupenganut kebudayaan tersebut. Wujud kebudayaan sebagai sistemide hanya bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari yang mewujuddalam bentuk norma, adat istiadat, agama, dan hukum atau undang-undang. Kota Semarang memiliki norma sosial yang tidak tercantum dalam hukum tertulis. Tetapi norma tersebut merupakan pola sikap dan perilaku dari masing- masing individu yang hidup di masyarakat Kota Semarang. Norma tersebut dapat berupaka sikap, tingkah laku, dan sopan santun. Pembentukan norma sosial tersebut merupakan hasil proses belajar dari masin-masing individu terhadap lingkungannya.
  • 14. 14 Menurut Robert M.Z Lawang, norma adalah patokan perilaku dalam suatu kelompok tertentu. Norma memungkinkan seseorang untuk menentukan terlebih dahulu bagaimana tindakan itu akan dinilai oleh orang lain. Norma juga merupakan kriteria bagi orang lain untuk mendukung atau menolak perilaku seseorang. Dalam Peraturan Daerah Kota Semarang juga disebutkan bahwa setiap masyarakat harus mentaati norma yang berlaku di lingkungan hidupnya. Aspek kebudayaan mengenai ide atau gagasan yang selanjutnya adalah mengenai adat istiadat. Adat Istiadat yaitu kebiasaan-kebiasaan secara turun temurun yang didasarkan pada kebiasaan-kebiasaan leluhur (lebih pada ketentuan-ketentuan tata cara ritual) yang kini perlu mengalami perubahan untuk disesuaikan (transformasi) pada era masa kini. Adat istiadat sering dikaitkan dengan tradisi turun temurun di suatu daerah. Sama halnya dengan masyarakat Kota Semarang, yang hingga saat ini masih memegang teguh tradisi nenek moyang. Adat istiadat yang biasa dilakukan oleh Masyarakat Kota Semarang diantaranya adalah nyadran dan dungderan. Nyadran adalah salah satu prosesi adat jawa dalam bentuk kegiatan tahunan di bulan ruwah (sya’ban), dari mulai bersih- bersih makam leluhur, masak makanan tertentu, seperti apem, bagi-bagi makanan, dan acara selamatan atau disebut kenduri. Di Kota Semarang tradisi nyadran masih dilakukan hingga sekarang. Salah satu contoh pelaksanaan nyadran adalah bersih- bersih sendang (penampungan air) di Sendang Pucuk, Kota Semarang. Masyarakat bergotong royong membersihan sendang dengan diawali ritual penyembelihan 80 ekor ayam yang dimasukkan ke dalam sendang (Gambar 1). Tradisi tersebut sebagai wujud rasa syukur masyarakat karena tersedianya air di sendang tersebut. Sama halnya dengan tradisi nyadran, dungderan juga merupakan tradisi sebagai pertanda awal dimulainya pelaksanaan ibadah puasa telah dimulai sejak tahun 1881 pada masa pemerintahan Bupati Semarang, Purbaningkrat. Ritual dugderan yang berlangsung turun temurun di Masjid Besar Kauman, kawasan Pasar Johar, Semarang ini diawali dengan arak-arakan tetabuhan bedug dikawal prajurit Kadipaten Semarang tempo dulu. Dalam arak-arakan ini pula terdapat maskot hewan khas dugderan yang disebut warak ngendok. Mendekati Masjid Besar Kauman, masjid tertua di Semarang, iring-iringan prajurit mengawal Walikota Semarang, Sukawi Sutarip dan istri yang memerankan tokoh Bupati Semarang tempo dulu. Adapun nama Dugderan berasal dari "Dug" yakni suara pukulan bedug, dan "Der" yang merupakan suara ledakan meriam atau petasan. Nama tersebut sebagai penanda puasa yakni diawali bedug dan diakhiri petasan.Tradisi dugderan sudah Gambar 1. Tradisi Nyadran Masyarakat Kota Semarang
  • 15. 15 berusia ratusan tahun dan masih dilestarikan hingga sekarang. Tradisi tersebut digelar untuk mengingatkan warga, bahwa bulan puasa sudah dekat. Dugderan akan berakhir satu hari sebelum puasa, dan acara puncak tradisi dugderan diisi dengan arak-arakan kirab budaya(Gambar 2). Aspek budaya mengenai ide/gagasan yang selanjutnya adalah mengenai agama di Kota Semarang. Agama dimasukkan ke dalam ide/gagasan dikarenakan agama merupakan sistem pemikiran dari masing-masing individu mengenai teori Ketuhanan. Penduduk Kota Semarang mayoritas memeluk Agama Islam, yaitu sebesar 1.158.090 orang pada Tahun 2011. Selanjutnya Agama Katolik sebesar 81.846 orang. Agama Kristen sebesar 91.934 orang. Hindu sebesar 2.191 orang. Budha sebesar 13.119 orang. Dan lainnya, meliputi konghuchu maupun atheis sejumlah 1.623 orang. Aspek budaya mengenai ide/gagasan yang terakhir mengenai Kota Semarang adalah Peraturan Daerah. Peraturan Daerah merupakan aspek budaya terkait ide/gagasan. Berlatarbelakang budaya dan hasil pemikiran, maka tercipta sebuah sistem peraturan yang berasal dari gagasan dengan melihat fakta yang terdapat di masyarakat. Sama halnya dengan Kota Semarang, menjadikan Peraturan Daerah sebagai sistem ide/gagasan untuk menentukan hukum. Sebagai contoh hasil gagasan dari sebuah sistem hukum adalah Peraturan Daerah Kota SemarangNomor 4 Tahun 2008TentangPenanggulangan Kemiskinan Di Kota Semarang. Peraturan Daerah tersebut menimbang bahwa dalam rangka memenuhi hak dasar warga negara, memeliharafakir miskin dan anak-anak yang terlantar, mengembangkan sistemjaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakatyang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan,serta bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan sosialdasar yang layak sebagaimana diamanatkan dalam Undang-UndangDasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, maka diperlukanupaya-upaya nyata dalam penanggulangan kemiskinan. Selanjutnya, kemiskinan adalah masalah yang bersifat multi dimensi, multisektor dengan beragam karakteristik yang harus segera diatasi karenamenyangkut harkat dan martabat manusia, maka penanggulangankemiskinan perlu keterpaduan program dan melibatkan partisipasimasyarakat. Hal tersebut menunjukkan bahwa Peraturan Daerah merupakan sistem ide sebagai hasil dari pemikiran dengan melihat fakta di masyarakat. Gambar 2. Tradisi Dungderan Masyarakat Kota Semarang
  • 16. 16 b. Aktivitas Manusia Aspek kebudayaan yang selanjutnya adalah mengenai aktivitas manusia. Wujud kebudayaan sebagai sistem aktivitas merupakan sebuahaktivitas atau kegiatan sosial yang berpola dari individu dalam suatumasyarakat. Aktivitas manusia yang ada di Kota Semarang, diantaranya adalah upacara perkawinan. Hal tersebut merupakan aspek budaya yang merupakan aktivitas manusia yang ada di masyarakat. Tata upacara perkawinan adat yang sarat dengan nilai-nilai tertentu dari waktu ke waktu selalu mengalami perubahan menyesuaikan dengan keadaan. Dari perjodohan yang diatur orang tua (pada jaman dulu), lamaran sampai pelaksanaan perkawinan beserta tata laksananya, tata rias/tata busana dan alat/barang yang digunakan. Upacara perkawinan tradisional setiap daerah berbeda-beda dan mempunyai ciri khas tertentu. Demikian pula dengan upacara perkawinan tradisional atau adat Semarang. Model pengantin Semarang dengan berbagai upacara yang menyertainya selalu dipadukan dengan beberapa unsur kebudayaan lain. Model pengantin Semarang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Islam dan Cina. Tata rias model pengantin Semarang ada tiga yaitu gaya pengantin kaji (haji), gaya pengantin basahan dan gaya pengantin srumpi. Yang sering digunakan adalah gaya pengantin kaji(Gambar 3). Upacara adat perkawinanan tradisional sesungguhnya bukanlah sekedar "pesta" saja karena di dalamnya banyak pesan-pesan yang disampaikan melalui lambang/simbol, yang dipakai dalam upacara tersebut. Kembang manggar (bunga kelapa) merupakan kelengkapan upacara tradisional pengantin Semarang yang sangat penting. Pohon kelapa yang lurus menjulang ke atas mengandung maksud agar mempelai hatinya tidak bercabang dan selalu menyatu. Manggar merupakan bahan pembuat gula jawa mengandung maksud agar mempelai selalu mendapatkan manisnya/kebahagiaan dunia akherat. Pada umumnya pesan-pesan simbolik itu mengandung norma-norma atau aturan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan seseorang. Oleh karena itu apa yang dipesankan biasanya menjadi pegangan hidup dan diwariskan kepada anak cucu. c. Hasil Karya Manusia Semarang merupakan daerah pelabuhan dan salah satu pusat investasi industri terbesar di Indonesia. Semarang sering disinggahi bangsa dan budaya luar, sehingga Gambar 3. Gaya Pengantin Kaji
  • 17. 17 banyak akulturasi budaya terjadi. Dalam bidang batik, banyak yang mengira bahwa Semarang merupakan sentra batik di Jawa Tengah. Namun sampai saat ini belum ada yang menunjukkan Semarang memiliki tradisi batik, apalagi memiliki motif dan pakem yang jelas.Pada tanggal 24 Juli 2007, pemerintah kota Semarang melalui Disperindag me-launching batik Semarang melalui sebuah seminar yang membahas mengenai motif dan identitas batik. Dan disepakati bahwa bahwa batik Semarang adalah batik yang diproduksi oleh orang atau warga kota semarang dengan motif atau ragam hias yang berhubungan dengan ikon-ikon Semarang. Pengertian itu belum definitif karena tidak menutup kemungkinan masih berlanjutnya penelitian mengenai batik Semarang. Robyn Maxwell, seorang peneliti tekstil di Asia Tenggara, menjumpai sebuah sarung di Tropenmuseum Amsterdam yang di buat di Semarang. Dalam bukunya Textiles of Southeast Asia: Tradition, Trade and Transformation (2003:386), Maxwell menyebut sebuah kain produksi Semarang berukuran 106,5×110 cm yang terbuat dari bahan katun dengan dekorasi dari warna alam memiliki motif yang sangat berbeda dengan motif Surakarta atau Yogyakarta. Pepin Van Roojen, menemukan beberapa jenis batik dari Semarang seperti yang ditulis dalam bukunya berjudul Batik Design (2001:84). Ada kain sarung yang dibuat pada akhir abad ke-19 di Semarang. Sarung itu memiliki papan dan tumpal dengan ornament berupa bhuta atau sejenis daun pinus runcing asal Kashmir. Motif badannya berupa ceplok. Ini menunjukkan meskipun secara spesifik batik Jawa Tengah yang diwakili Surakarta dan Yogyakarta berbeda dengan batik pesisir, Semarang termasuk di dalamnya, namun pola-pola baku tetap pula dipakai seperti ditunjukkan pada pola ceplok itu. Peneliti batik lain, menegaskan batik semarang dalam beberapa hal memperlihatkan gaya laseman karakter utama laseman berupa warna merah (bangbangan) dengan latar belakang gading (kuning keputih-putihan). Lee Chor Lin (2007:65) mengatakan laseman dengan cirri bangbangan mempengaruhi kreasi batik di beberapa tempat di pesisir utara lainnya seperti Tuban, Surabaya dan Semarang. Maria Wonska-Friend yang mengkaji koleksi batik milik Rudolf G Smend (Smend et al, 2006:53) menyebutkan ciri pola batik Semarang berupa floral, yang dalam banyak hal serupa dengan pola Laseman. Tidak heran pada koleksi tersebut banyak sekali kain batik dari abad ke-20 yang disebut batik Lasem atau Semarang. Maksudnya, batik-batik tersebut tidak secara spesifik disebut sebagai kreasi satu kota misalnya batik Lasem saja atau batik Semarang saja. Beberapa motif batik dari Semarang dapat dilihat pada Gambar 4. Motif batik semarangan mulai disibak lagi tahun 1980-an. Salah satu motifnya adalah sarung kepala pasung. Motifini didominasi warna cokelat dan hitam dengan ornament lebih mengarah bentuk tumbuhan. Dominasi warnacokelat dan gelap menampilkan kesan agung. Batik semarangan mengacu pada unsure alam, sebagaimana carapembatik tempo dulu mengerjakan batik jenis ini. Unsur alam ini terutama ditekankan pada bahan pewarnanyayang hampir semuanya berasal dari alam. Misalnya untuk warna kuning dan hijau menggunakan buah jelawe.Untuk menghidupkan kembali batik semarangan, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Semarangbekerja sama dengan Pemerintah Kota Semarang menyiapkan revitalisasi Kampung Batik yang terletak diKelurahan Mlatibaru, Kecamatan Semarang Timur.
  • 18. 18 2. Elemen Budaya (Ansyari Musoman – J3B112021 dan Wardhana Jaya Jasmitha – J3B212136) Elemen budaya adalah Kluckhon membagi sistem kebudayaan menjadi tujuh unsur kebudayaanuniversal atau disebut dengan kultural universal. Menurut Koentjaraningrat,istilah universal menunjukkan bahwa unsur-unsur kebudayaanbersifat universal dan dapat ditemukan di dalam kebudayaan semuabangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Elemen budaya yang terdiri dari beberapa hal merupakan sesuatu yang penting untuk dipelajari. Sama halnya dengan kota-kota lain yang ada di Indonesia, Kota Semarang yang memiliki kebudayaan yang kompleks juga memiliki elemen budaya yang beragam. Elemen budaya tersebut berdasarkan komponennya terdiri dari material (berwujud) dan immaterial (tidak berwujud). Elemen budaya tersebut merupakan elemen penting dalam kehidupan bermasyarakat. a. Bahasa Bahasa yang digunakan di Kota Semarang adalah bahasa Jawa Semarangan. Bahasa Jawa Semarang adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Karesidenan Semarang. Dialek ini tak banyak berbeda dengan dialek di daerah Jawa lainnya. Semarang termasuk daerah pesisir Jawa bagian utara, maka tak beda dengan daerah lainnya, Yogyakarta, Solo, Boyolali dan Salatiga. Walau letak daerah Semarang yang heterogan dari pesisir (Pekalongan/Weleri, Kudus/Demak/Purwodadi) dan dari daerah bagian selatan/pegunungan membuat dialek yang dipakai memiliki kata ngoko, ngoko andhap dan madya di Semarang ada di zaman sekarang. Para pemakai dialek Semarang juga senang menyingkat frasa, misalnya Lampu abang ijo (lampu lalu lintas) menjadi "Bang-Jo", Limang rupiah (5 rupiah) menjadi "mang-pi", kebun binatang menjadi "Bon-bin", seratus (100) menjadi Gambar 4. Motif Batik Semarang
  • 19. 19 "nyatus", dan sebagainya. Namun tak semua frasa bisa disingkat, sebab tergantung kepada kesepakatan dan minat para penduduk Semarang mengenai frasa mana yang disingkat. Jadi contohnya "Taman lele" tak bisa disingkat "Tam-lel" juga Gedung Batu tak bisa menjadi "Ge-bat"Adanya para warga/budaya yang heterogen dari Jawa, Tiongkok, Arab, Pakistan/India juga memiliki sifat terbuka dan ramah di Semarang tadi, juga akan menambah kosakata dan dialektik Semarang di kemudian hari. Adanya bahasa Jawa yang dipergunakan tetap mengganggu bahasa Jawa yang baku, sama dengan di daerah Solo. Artinya, jika orang Kudus, Pekalongan, Boyolali pergi ke kota Semarang akan gampang dan komunikatif berkomunikasi dengan penduduknya. b. Sistem Pengetahuan Pranata mangsa adalah semacam penanggalan yang dikaitkan dengan kegiatan usaha pertanian, khususnya untuk kepentingan bercocok tanam atau penangkapan ikan. Pranata mangsa berbasis peredaran matahari dan siklusnya (setahun) berumur 365 hari (atau 366 hari) serta memuat berbagai aspek fenologi dan gejala alam lainnya yang dimanfaatkan sebagai pedoman dalam kegiatan usaha tani maupun persiapan diri menghadapi bencana (kekeringan, wabah penyakit, serangan pengganggu tanaman, atau banjir) yang mungkin timbul pada waktu-waktu tertentu. Pranata mangsa dalam versi pengetahuan yang dipegang petani atau nelayan diwariskan secara oral (dari mulut ke mulut). Selain itu, ia bersifat lokal dan temporal (dibatasi oleh tempat dan waktu) sehingga suatu perincian yang dibuat untuk suatu tempat tidak sepenuhnya berlaku untuk tempat lain. Petani, umpamanya, menggunakan pedoman pranata mangsa untuk menentukan awal masa tanam. Nelayan menggunakannya sebagai pedoman untuk melaut atau memprediksi jenis tangkapan. Selain itu, pada beberapa bagian, sejumlah keadaan yang dideskripsikan dalam pranata mangsa pada masa kini kurang dapat dipercaya seiring dengan perkembangan teknologi. Pranata mangsa dalam versi Kasunanan (sebagaimana dipertelakan pada bagian ini) berlaku untuk wilayah di antara Gunung Merapi dan Gunung Lawu. Setahun menurut penanggalan ini dibagi menjadi empat musim (mangsa) utama, yaitu musim kemarau atau ketigå (88 hari), musim pancaroba menjelang hujan atau labuh (95 hari), musim hujan atau dalam bahasa Jawa disebut rendheng 95 hari) , dan pancaroba akhir musim hujan atau marèng 86 hari. Musim dapat dikaitkan pula dengan perilaku hewan, perkembangan tumbuhan, situasi alam sekitar, dan dalam praktik amat berkaitan dengan kultur agraris. Berdasarkan ciri-ciri ini setahun juga dapat dibagi menjadi empat musim utama dan dua musim "kecil": terang ("langit cerah", 82 hari), semplah ("penderitaan", 99 hari) dengan mangsa kecil paceklik pada 23 hari pertama, udan ("musim hujan", 86 hari), dan pangarep-arep ("penuh harap", 98/99 hari) dengan mangsa kecil panèn pada 23 hari terakhir. Dalam pembagian yang lebih rinci, setahun dibagi menjadi 12 musim (mangsa) yang rentang waktunya lebih singkat namun dengan jangka waktu bervariasi. Tabel berikut ini menunjukkan pembagian formal menurut versi Kasunanan. Perlu diingat bahwa tuntunan ini berlaku di saat penanaman padi sawah hanya dimungkinkan sekali dalam setahun, diikuti oleh palawija atau padi gogo, dan kemudian lahan bera (tidak ditanam).
  • 20. 20 c. Organisasi Sosial Organisasi sosial adalah unsur budaya berupa sistem kekerabatan dan organisasi sosialmerupakan usaha antropologi untuk memahami bagaimana manusiamembentuk masyarakat melalui berbagai kelompok sosial. MenurutKoentjaraningrat tiap kelompok masyarakat kehidupannya diaturoleh adat istiadat dan aturan-aturan mengenai berbagai macamkesatuan di dalam lingkungan di mana dia hidup dan bergaul darihari ke hari. Kesatuan sosial yang paling dekat dan dasar adalahkerabatnya, yaitu keluarga inti yang dekat dan kerabat yang lain.Selanjutnya, manusia akan digolongkan ke dalam tingkatantingkatanlokalitas geografis untuk membentuk organisasi sosialdalam kehidupannya. Perkembangan Kota Semarang sebagai pusat pemerintahan telah terbukti jauh sebelum Kota Semarangmenyandang status Ibu Kota Provinsi JawaTengah dan menunjukkan perannya dalam pemerintahan. Di sampingitu di Kota Semarang juga terdapat Komando Daerah Militer IVDiponegoro. Dengan demikian predikat Semarangsebagai pusat pemerintahan dan kemiliteran untuk Jawa Tengah semakin mantap. Sejak kedaulatan mencapaikejayaannya Semarang telah diakui sebagai pemerintahan yang berbentuk kotamadya, dan ternyata fungsi inisemakin lama tampak nyata bahkan diikuti dengan perkembangan fungsi – fungsi lain yaitu perhubungan,perdagangan, industri. Untuk menunjang perkembangan kegiatan tersebut maka sejak tanggal 19 Juni 1976Kota Semarang telah diperluas sampai wilayah Mijen. Gunungpati, Genuk, dan Tugu. Organisasi sosial yang identik dengan kehidupan masyarakat perkotaan adalah sistem pemerintahan. Dalam rangka mengantisipasi pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan, maka Kota Semarang telahmembentuk dinas-dinas daerah, lembaga daerah dan perusda. Untuk memudahkan pelayanan kepada masyarakatPemerintah Kota Semarang berupaya memusatkan semua unit / instansi tersebut di lingkungan komplek Balaikotadengan membangungedung bertingkat 8 lantai dengan berbagai kelengkapannya. Pemerintah Kota Semarang jugamengupayakan segala pelayanan kepada masyarakat untuk dipermudah dan bisa dilayani dalam satu atap dengandibentuknya Kantor Pelayanan Terpadu (KPT). Oleh karena itu dalam rangka penyelenggaraan Pemerintah didaerah dan demi terwujudnya keserasian serta keberhasilan pembangunan, Pemerintah Kota Semarang berusahamenciptakan koordinasi kegiatan dengan semua instansi yang ada di jajarannya.Dengan demikian hasil pembangunan Kota Semarang selama ini adalah merupakan keterpaduan program-programantar instansi. Demikian usaha Pemerintah Kota Semarang untuk memantapkan potensi Semarang sebagai PusatPemerintahan di Jawa Tengah yang handal. Pada tahun 1992 wilayah Kota Semarang mengalami penataan. Dengan dasar Peraturan Pemerintah Rl (PP) No.50/92 tentang penentuan Kecamatan-kecamatan, maka Semarang terbagi menjadi 16 Kecamatan. Denganpenataan ini maka pertumbuhan unsur wilayah semakin maju. Dan relatif merata. Jalan-jalan baru dibuatmenghubungkan pusat-pusat kota dengan tempat-tempat yang terisolir. Dalam bidang kesempatan kerja,Semarang terbuka bagi masyarakat sekitar Semarang untuk mencari kerja dan membuka usahanya di sini. Sektorformal dan informal sama-sama berkembang dan saling menunjang. Industri berdatangan baik dan luar negerimaupun dan dalam negeri sendiri.Bergulirnya era reformasi sejak tahun 1998 melahirkan penataan-penataan barudan dicanangkannya Otonomi Daerah pada tahun 2000. Tepat pada bergulirnya abad baru, millennium barudiharapkan warga Kota Semarang makin maju dan mandiri. Pada saat kota-kota lain dilanda berbagai kerusuhandan
  • 21. 21 perbuatan perbuatan anarkis seiring mengalirnya gelombang reformasi maka Kota Semarang relatif aman,terkendali dan dalam situasi yang kondusif. Salah satu bentuk lembaga keuangan mikro yang berkembang dimasyarakat dewasa ini adalah Baitul Maal wat Tamwil. Baitul Maal wat Tamwil(BMT) merupakan organisasi bisnis yang juga berperan sosial. Sebagai lembagabisnis, BMT lebih mengembangkan usahanya pada sektor keuangan, yaknisimpan-pinjam. Usaha ini seperti usaha perbankan yakni menghimpun danaanggota dan calon anggota (nasabah) serta menyalurkannya kepada sektorekonomi yang halal dan menguntungkan. Sebagai lembaga sosial, baitul maalmemiliki kesamaan fungsi dan peran dengan Lembaga Amil Zakat (LAZ).Sedangkan lembaga keuangan mikro lainnya selain BMT umumnya lebihberorentasi bisnis. Oleh karena itu, baitul maal ini harus didorong agar mampuberperan secara profesional menjadi LAZ yang mapan. Fungsi tersebut palingtidak meliputi upaya pengumpulan dana zakat, infaq, sedekah, wakaf dan sumberdana-dana sosial yang lain, dan upaya penyaluran zakat kepada golongan yangpaling berhak menerima (M. Ridwan 2004). BMT sebagai lembaga yang berasaskan Islam, maka dalam penghimpunandana maupun penyaluran dananya menggunakan prinsip syariah (prinsip bagihasil) (M. Ridwan 2004). Dalam UU RI No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan,yang dimaksud dengan sistem syariah, artinya menjalankan usaha di bidang jasaperbankan menurut aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam, denganmemperoleh keuntungan bukan berupa bunga tapi berupa bagi hasil. Perbedaanyang mendasar antara pembiayaan dengan sistem syariah dengan sistemkonvensioanal menurut Muhammad Safi’i Antonio (1999). d. Sistem Perlengkapan Hidup dan Teknologi Sistem Informasi telah berkembang seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat dan terbukti sangat berperan dalam kegiatan perekonomian dan strategi penyelenggaraan pembangunan. Keberadaan sistem informasi mendukung kinerja peningkatan efisiensi, efektifitas dan produktivitas organisasi pemerintah dan dunia usaha, serta mendorong perwujudan masyarakat yang maju dan sejahtera. Sistem informasi yang dibutuhkan, dimanfaatkan, dan dikembangkan bagi keperluan pembangunan daerah adalah sistem informasi yang terutama diarahkan untuk menunjang perencanaan pembangunan daerah. Hal ini perlu diingat karena telah terjadi perubahan paradigma menuju desentralisasi di berbagai aspek pembangunan. Salah satu paradigma baru itu adalah perihal perencanaan pembangunan daerah mulai tahun 2001, seiring dengan pemberlakuan UU No. 22/1999 dan UU No. 25/1999, maka perencanaan pembangunan daerah telah diserahkan kepada pemerintah daerah. Dan dengan terbitnya UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional yang bertujuan untuk mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan; menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antar daerah, antar ruang, antar waktu, antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah; menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan; mengoptimalkan partisipasi masyarakat; dan menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan. Dengan demikian, kiat desentralisasi adalah peningkatan pelayanan kepada masyarakat, partisipasi dalam perencanaan pembangunan, dan pencapaian akuntabilitas, efektifitas, serta efisiensi.
  • 22. 22 Perkembangan Teknologi Informasi (TI) dan Internet telah menjadi alat kekuatan untuk memikirkan kembali sistem pemerintahan dengan model yang baru. Teknologi Informasi dan internet mendorong transformasi dan paradigma birokrasi tradisional (yang menekankan kepada standarisasi, rutinitas, spesialisasi, fokus internal dan kewenangan), menuju paradigma e-government (yang menekankan kepada membangun jaringan yang terkoordinasi, kerjasama eksternal dan orientasi pelayanan kepada masyarakat). Sehingga TI menjadi salah satu elemen utama dalam memperbaiki sistem managerial pemerintahan. Kebutuhan akan data dan informasi perencanaan yang akurat, cepat dan terintegrasi seiring dengan perkembangan teknologi informasi saat ini menjadi tuntutan bagi entitas SKPD khususnya dilingkungan Pemerintah Kota Semarang. Oleh karenanya Pemerintah daerah perlu mengembangkan system informasi perencanaan pembangunan sebagai tools dalam mewadahi kebutuhan akan data dan informasi. Kota Semarang mempunyai peran yang strategis. Selain secara administratif kota Semarang merupakan ibukota Propinsi Jawa Tengah, dilihat dari sisi transportasi, kota Semarang merupakan titik tengah jalur Pantura dari Jakarta menuju Surabaya. Kota Semarang juga terletak pada simpul jalur penghubung utama antara jalur jalan sepanjang Pantai Utara dan jalur jalan sepanjang Pantai Selatan yaitu jalur Semarang – Yogyakarta. Keuntungan lokasi ini menjadikan Semarang akan terus berkembang sebagai simpul jasa dan distribusi serta pintu gerbang menuju wilayah-wilayah lainnya. Hal ini juga didukung oleh angkutan kereta api (Stasiun Kereta Api Tawang dan Stasiun Kereta Api Poncol), transportasi laut (Pelabuhan Tanjung Emas) dan transportasi udara (Bandara Ahmad Yani). Berdasarkan pelayanan angkutannya, terminal di kota Semarang terdiri atas terminal tipe A, terminal tipe B, dan termonal tipe C. Terminal tipe A yang terdapat di kota Semarang yaitu di kecamatan Genuk Utara jalur radial ke Demak, terminal ini melayani angkutan penumpang antar kota dan dalam kota serta wilayah pendukung sub urban. Terminal tipe B yang terdapat di kota Semarang yaitu di Penggaron yang merupakan terminal bus dengan wilayah pelayanan antar kota jurusan Semarang – Purwodadi dan juga dalam kota. Terminal tipe C yang terdapat di kota Semarang yaitu di Banyumanik, Pedurungan dan Mangkang yang merupakan terminal bagi kendaraan angkutan penumpang jenis bus, mikrobus, dan kendaraan non bus. Saat ini kota Semarang dilayani oleh terminal kelas A, yaitu terminal Terboyo yang terletak di sebelah timur kota Semarang. Kondisi saat ini terminal Terboyo dirasa kurang efektif dalam upaya untuk mengatur perjalanan yang berasal dari daerah barat Jawa (Jakarta, Bandung, Cirebon, Purwokerto) menuju arah Yogyakarta, Solo, dan Magelang dan sebaliknya lewat jalan tol seksi A dan seksi C yang cenderung tidak berhenti di terminal induk Terboyo. Berdasarkan fenomena ini, maka terminal Mangkang dijadikan sebagai salah satu terminal kelas A yang membantu terminal Terboyo dalam operasional untuk pelayanan daerah barat Jawa. e. Sistem Mata Pencaharian Angka pertumbuhan ekonomi di Kota Semarang terus menujukan peningkatan. Dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi ini akan meningkatkan kesejahteraan rakyat Kota Semarang. Dahulu Inflanse Kota Semarang pada tahun 2005 - 2009 menunjukan pertumbuhan fluktuatif. Untuk mengatasi inflasi pemerintah Semarang memiliki kebijakan dengan meningkatkan berbagai bisnis perdagangan sektor industri. Ini adalah sektor potensial untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi sampai saat ini.
  • 23. 23 Mata Pencaharian penduduk di Kota Semarang pada umumnya masih bekerja di bidang pertanian. hal ini sesuai dengan potensi wilayah Kota Semarang sebagian besar msir merupakan lahan pertanian. Sedangkan posisi kedua di duduki oleh para pekerja industri, yang diperkirakan dalam beberapa tahun ke depan akan mendominasi menggantikan para pekerja bidang pertanian. Tumbuhnya Perekonomian di Kota Semarang dikarenakan : Letak Semarang yang cukup strategis, yakni pada jalur lintasan yang ramai untuk lalu lintas darat, laut, dan udara Kota Semarang memiliki Terminal Induk Terboyo, Stasiun Kereta Api Tawang, Pelabuhan Tanjung Emas, dan Bandar Ahmad Yani. Letak Goegrafi yang sangat unik dan indah, yakni dataran rendah di bagian utara tepi pantai Laut Jawa dan dataran tinggi di bagian selatan Dengan adanya hal demikian, maka muncul lah berbagai perusahaan yang memilih Kota Semarang sebagai lahan bisnis yang akan di jalankan, dan berbagai perusahaan yang menjajakan bisnisnya disini. Berbagai Mall, Supermarket, Minimarket banyak sekali ditemui di Kota Semarang. Maka bermunculan lah berbagai merk Mesin Kasir yang ditawarkan di Kota Semarang. Setiap merk mesin kasir menawarkan harga, fasilitas, kekurangan, keunggulan dan kelebihan yang di miliki oleh setiap tipe dari barang mereka. f. Sistem Religi Warak ngendok (bahasa Jawa: warak ngendhog) merupakan mainan yang selalu dikaitkan dengan perayaan Dugderan, suatu festival di Semarang yang diadakan di awal bulan Ramadan untuk memeriahkannya, sekaligus sebagai upaya dakwah. Mainan ini berwujud makhluk rekaan yang merupakan gabungan beberapa binatang yang merupakan simbol persatuan dari berbagai golongan etnis di Semarang: Cina, Arab dan Jawa. Kepalanya menyerupai kepala naga (Cina), tubuhnya layaknya buraq (Arab), dan empat kakinya menyerupai kaki kambing (Jawa). Kata Warak sendiri berasal dari bahasa arab “Wara’I” yang berarti suci. Dan Ngendog (bertelur) disimbolkan sebagai hasil pahala yang didapat seseorang setelah sebelumnya menjalani proses suci. Secara harfiah, Warak Ngendog bisa diartikan sebagai siapa saja yang menjaga kesucian di Bulan Ramadhan, kelak di akhir bulan akan mendapatkan pahala di Hari lebaran.Warak ngendog aslinya memang hanya berupa mainan anak-anak dengan wujud menyerupai hewan. Jika dibandingkan dengan bentuk Warak Ngendog yang ada sekarang ini, Warak Ngendog yang asli terbuat dari gabus tanaman mangrove dan bentuk sudutnya yang lurus. Konon ciri khas bentuk yang lurus dari Warak Ngendog ini mengandung arti filosofis mendalam. Dipercayai bentuk lurus itu menggambarkan citra warga Semarang yang terbuka lurus dan berbicara apa adanya. Tak ada perbedaan antara ungkapan hati dengan ungkapan lisan. Selain itu Warak Ngendog juga mewakili akulturasi budaya dari keragaman etnis yang ada di Kota Semarang. Warak ngendok berwujud makhluk berkaki empat, menyerupai macan/singa tetapi langsing. Tubuhnya diberi kertas berwarna-warni dan pada kakinya diberi roda supaya dapat ditarik. g. Kesenian Kuda lumping juga disebut jaran kepang atau jathilan adalah tarian tradisional Jawa menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian
  • 24. 24 ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Jaran Kepang merupakan bagian dari pagelaran tari reog. Kuda lumping adalah seni tari yang dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau kepang (Gambar 5). Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula tarian ini, hanya riwayat verbal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.Konon, tari kuda lumping adalah tari kesurupan. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda. Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan. Seringkali dalam pertunjukan tari kuda lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, menyayat lengan dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain. Atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada zaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda. Gambang Semarang merupakan kesenian tradisional yang terdiri atas seni musik, vokal, tari dan lawak. Dalam perkembangannya lagu-lagu Gambang Semarang terasa gembira dan menyatu dengan tari, gemulai namun tetap segar. Kekhasannya terletak pada gerak telapak kaki yang berjungkat-jungkit sesuai irama lagu yang lincah dan dinamis yang diiringi dengan alunan musik. Jenis alat musiknya seperti bonang, gambang, gong suwuk, kempul, peking, saron, kendang dan ketipung. Gambar 5. Seni Kuda Lumping
  • 25. 25 Musik Gambang Semarang juga tidak lagi murni mengiringi lagu-lagu yang sarat dengan pantun, seperti kincir-kincir, Gambang Semarang, Impian Semalam, dan Malu-malu Kucing. Gambang Semarang berubah menjadi campursari. Gambang sendiri merupakan salah satu perangkat gamelan jawa yang ditabuh.Sedangkan menurut Danang Respati Puguh, dalam tulisan ilmiah yang berjudul ”Gambang Semarang:Unsur-unsur Seni dan Konsep Estetisnya” menyebutkan bahwa gambang (xylophone) adalah alat musik yang terbuat dari kayu, berbentuk bilah-bilah yang diletakkan sejajar di sebuah rancakan yang terbuatdari kayu. Instrumen ini terdiri dari 18 bilahan nada yang di laras secara pentatois sepanjang 3,5 oktaf, merupakan oktaf (gembyang) yang berulang dari nada rendah sampai nada tinggi. Untuk memainkannya, bilah-bilah kayu itu di tabuh dengan dua buah pemukul yang di pegang dengan kedua tangan. Jadi seni gambang merupakan suatu karya seni pertunjukan yang merupakan perpaduan antara seni musik yang didalamnya terdapat (alat musik gambang, bonang, suling, kendhang, kongahyan, tehyan, sukong, gong suwukan, kempul, kecrek dan ningnong), seni suara, seni tari dan lawak(Gambar 6). Gambar 6. Gambang Semarangan
  • 26. 26 VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Aspek budaya di Kota Semarang terdiri dari tiga poin, ide/gagasan, aktivitas manusia, dan hasil karya manusia. Ide/gagasan dari kebudayaan Masyarakat Kota Semarang adalah Norma, Adat Istiadat, Agama, dan Peraturan Perundangan Daerah. Aktivitas manusia diantaranya adalah UpacaraPerkawinan Semarang. Dan benda-benda hasil karya manusia adalah Batik Semarangan. 2. Elemen budaya di Kota Semarang terdiri dari tujuh poin, yaitu bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem perlengkapan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, dan kesenian. Bahasa yang digunakan di Kota Semarang adalah Bahasa Jawa Semarangan. Sistem pengetahuan adalah pengetahuan pranatamangsa. Sistem perlengkapan hidup dan teknologi adalah Terminal Bus Kelas A. Organisasi sosial adalah sistem pemerintahan dan Asosiasi Baitul Maal wa Tamwil (BMT). Sistem mata pencaharian adalah sektor jasa, buruh, petani, angkutan, nelayan, pengusaha, pedagang, dan TNI serta PNS. Sistem religi adalah adanya mitologi warak ngendhog. Kesenian adalah Kuda Lumping dan Gambang Semarangan. B. Simpulan 1. Masyarakat Kota Semarang sebaiknya lebih menjaga budaya-budaya turun temurun agar tetap terjaga keutuhannya dan tidak luntur termakan oleh jaman. 2. Beberapa budaya yang seharusnya dapat menjadi ciri khas (trademark) Kota Semarang seharusnya dikaji ulang dan maksimalkan potensinya untuk mengangkat Kota Semarang sebagai kota yang berbudaya. 3. Pemerintah Kota Semarang sebaiknya selalu mensosialisasikan budaya kepada masyarakat perkotaan lewat atraksi budaya ataupun pendirian sanggar-sanggar budaya, sehingga masyarakat dapat tergambar secara visualisasi mengenai kebudayaannya dan tidak kehilangan identitas.
  • 27. 27 DAFTAR PUSTAKA _________. 2002. Gambaran Umum Kota Semarang diakses di http://ciptakarya.pu.go.id/profil/profil/barat/jateng/semarang.pdf [9 September 2013]. ________. 2009. Khazanah Antropologi SMA 1. Jakarta : Buku Sekolah Elektronik. ________.2007. Kota Semarang diakses di (http://p3b.bappenas.go.id/Loknas_Wonosobo/content/docs/materi/12 -Kota%20Semarang.pdf). [7 September 2013] Sulistyawan W. 2013. Ritual Nyadran di Kota Semarang diakses di http://www.tribunnews.com/images/view/659791/ritual-nyadran-di- sendang-pucung-. [7 September 2013] Hermanto A. 2012. Tradisi Dungderan Kota Semarang diakses di http://www.indosiar.com/ragam/tradisi-dugderan-tanda-awal- puasa_75381.html[8 September 2013] HS Imron Ali. 2011. Kearifan Lokal Hubungan Antar Umat Beragama di Kota Semarang. Jurnal Riptek Volume 5 Nomor 1 : 7-18 Chasanah, N. 2009. Eksistensi Gambang Semarang dan Perlindungan Hukumnya Menurut Undang-Undang Hak Cipta [Tesis]. Semarang [ID]: Program Magister Ilmu Hukum Universitas Diponegoro.

×