Your SlideShare is downloading. ×
History of Java Nusantara        Kebudayaan Orang Jawa dapat dimulai dengan zaman perunggu (abad ke-3SM sampai abad ke-3M)...
Yunnan (China selatan). Dari Yunnan ini menyebar ke Asia Tenggara sampai ke pulau Jawa. Asumsiyang digunakan adalah benda-...
menjadi Kerajaan Lavo (Mon). Kerajaan Lavo dibawah pengaruh Kerajaan Khmer Kamboja sampai akhirabad ke-13M. Pada abad ke-8...
artinya Pulau Emas. Wilayah Sriwijaya pada akhir abad ke-7M adalah Lampung, Palembang, Bangka,dan Jambi.        Ada yang b...
9              Sanga                   Sivy10             Se-puluh                Fulo20             Rong-puluh           ...
Haji Wurawari pada Maharaja Dharmawangsa (1016M) dari Medang, Haji Katong (Jaya-katwang) padaMaharaja Dhiraja Kertanagara ...
dalam bahasa Yunani disebut juga dengan nama Ariaca (Arya). Kerajaan Western Satrap runtuh padamasa pemerintahan Rudra-sim...
sebelah timur Chopo (Jawa). Di Koying terdapat sebuah gunung berapi yang aktif dan di sebelah utaranyaterdapat sebuah Pu l...
Dinasti Gupta, Mayurasharma pendiri Dinasti Kadamba memerdekakan diri dari Pallawa India.Mayurasharma digantikan oleh putr...
menuntut kepada Tarusbawa supaya wilayah Taruma dipecah menjadi dua. Dalam posisi lemah dan inginmenghindari perang saudar...
(717M-746M) dari Medang Mataram sendiri mengeluarkan prasasti Canggal (732M) menggunakanAksara Pallawa dan berbahasa Sanse...
Purba. Berangsur-angsur Orang Sunda pindah ke arah barat yaitu ke Gunung Salak (Bogor). Menurutantropolog bahwa Orang Sund...
dengan Jayadharma putra Dharmasiksa yang kemudian melahirkan Wijaya (pendiri Majapahit) sedangkanCarita Parahyangan (akhir...
terlihat dari Serat Parwa (akhir abad ke-19M) dan Naskah Wangsakerta berbahasa Jawa dengan AksaraJawa yang ditemukan di Ci...
terpencil di Kamalasana, di lereng sebuah gunung. Tempat dia berperang melawan hawa nafsunya untukmencapai nirwana. Nama K...
tahun 1160M (berdasarkan Hikayat Kedah awal abad ke-19M). Sedangkan di Sumatra setelah pengaruhChola menghilang, muncul Wa...
yang dibuat pada masa pemerintahan Maharaja Mpu Daksa dari Medang. Kerajaan Medang beribukota diMataram berdasarkan prasas...
Maharaja selanjutnya ialah Rakai Panangkaran yang dikalahkan oleh Dinasti lain bernama WangsaSailendra. Sejak saat itu di ...
dipakai adalah bahwa Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Pancapana sendiri bergelarSailendrawamsatilaka (Permata Wangsa Sailen...
tokoh ‘Wisnu” berbeda dengan tokoh “Dharanindra/Sangramadhanamjaya” walaupun memiliki arti namadan julukan yang sama. Coed...
Coedes sendiri berpendapat   Dharanindra (prasasti Kelurak, 782M) merupakan penerus dari Wisnu(prasasti ligor B).        M...
824M). Dalam daftar Maharaja Medang dalam prasasti Mantyasih (907M) disebutkan bahwa MaharajaRakai Garung memerintah sebel...
identik dengan “putra bungsu” yaitu Rakai Kayuwangi putra Rakai Pikatan yang dipuji berhasilmengalahkan musuh kerajaan.Daf...
Rakai Pikatan Dyah Saladu                     22 Februari 847M-27 Mei 855MRakai Kayuwangi Dyah Lokapala                 27...
Rakai Warak Dyah Manara abhisekanya Samaratunggadewa (prasasti Kayuwungan, 824M)        Menurut Wisseman-Christie, Balaput...
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
History of-java
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

History of-java

3,373

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
3,373
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
54
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "History of-java"

  1. 1. History of Java Nusantara Kebudayaan Orang Jawa dapat dimulai dengan zaman perunggu (abad ke-3SM sampai abad ke-3M). Kebudayaan perunggu Nusantara mempunyai kaitan erat dengan kebudayaan perunggu Dongson diAnnam. Kebudayaan Dongson mulai berkembang di Indo-China pada masa peralihan dari periodeMesolitik ke Neolitik. Sebelum zaman Mesolitik, ada zaman Paleolitik dengan ditemukannya fosil HomoErectus di Pulau Jawa khususnya di daerah Sangiran, Trinil, dan Ngandong. Homo Erectus tersebutumumnya dikenal dengan nama Homo Erectus Soloensis karena fosilnya ditemukan di daerah BengawanSolo. Fosil Homo Erectus Soloensis tertua yang ditemukan di Jawa berumur sekitar 1 Ma atau 1 jutatahun. Pada umumnya Homo Erectus dianggap punah pada tahun 400.000SM namun berdasarkan analisisterhadap rahang tengkorak terhadap 17 specimen Homo Erectus Soloensis diperkirakan masih tetap eksissampai tahun 50.000SM. Selain fosil Homo Erectus Soloensis, di Jawa juga ditemukan fosilMeganthropus. Umur fosil Meganthropus lebih tua dibanding dengan Homo Erectus Soloensis.Meganthropus kemudian lebih dikenal dengan nama Homo Erectus Paleo-javanicus Austronesia merupakan istilah yang diberikan oleh ahli lingustik untuk menyebut suatu rumpunbahasa yang dituturkan di Kepulauan Asia Tenggara, Micronesia, Melanesia, Polinesia. Austronesiaberasal dari kata Ausro yang berarti Selatan dan Nesos yang berarti Pulau. William van Humboltmerupakan orang yang pertama kali mengajukan istilah Malayo-Polynesia untuk menyebut bahasa dikawasan Semenanjung Malaya di barat sampai Polynesia di timur. Kemudian Wilhem Schimdtmengajukan istilah Austronesia untuk menyebut bahasa Malayo-Polynesia. Selain itu dia jugamengajukan hipotesis Austric yang merupakan nenek moyang bahasa Austronesia dan Austroasiatic.Bahasa Austronesia terdiri dari bahasa Malayu, Jawa, Tagalog, Sunda, Bugis, dan Cham. Ketiga bahasayang disebut terawal merupakan bahasa terbesar yang digunakan di kawasan Malayo-Polynesia. MenurutBellwood, Austronesia berasal dari Taiwan dan China selatan. Sedangkan bahasa Austroasiatic terdiridari bahasa Thai, Lao, Mon, Khmer-Kamboja, dan Viet. Robert van Heien Geldern merupakan ahliarkeologi pertama yang memakai konsep budaya Austronesia dari para linguist. Dia berpendapat bahwaluas budaya Austronesia dapat ditunjukan dengan persebaran budaya Vierkantbeil Atze dengan ciriutamanya adalah dengan kehadiran beliung berpenampang lintang persegi. Wilheim G. Solheimmengajukan teori bahwa wilayah geografis persebaran gerabah Sa Huynh dan Kalanay di Kepulauan AsiaTenggara dan Lapita di Melanesia memiliki hubungan dengan persebaran Austronesia. Dia mengajukanistilah “Nusantao” yang diambil dari kata “Nusantara” untuk menyebut kelompok Austronesia danbudayanya. Solheim memberi arti pada kata “ Nusantao” yaitu “ Orang Selatan” seperti halnya kata”Austronesia”. Malayo-Polynesia barat terdiri dari Sumatra dan pantai barat Semenanjung Malaya. MalayoPolynesia tengah terdiri dari Semenanjung Indochina, pantai timur Semenanjung Malaya, Luzon-Mindanao, Kalimantan, Jawa-Sumbawa, Sulawesi, dan Maluku. Malayo Polynesia timur terdiri dariPapua, Melanesia, Polynesia. Menurut Solheim, Malayo-Polynesia tengah berasal dari SemenanjungIndochina tepatnya di wilayah Cham. Kebudayaan Dongson secara keseluruhan dapat dinyatakan sebagai hasil karya bangsaAustronesia yang terutama menetap di Annam (Indochina). Penamaan kebudayaan ini sendiri diambil darisitus Dongson di Tanh Hoa. Jika ditarik kembali ke belakang kebudayaan Dongson di Annam berasal dari
  2. 2. Yunnan (China selatan). Dari Yunnan ini menyebar ke Asia Tenggara sampai ke pulau Jawa. Asumsiyang digunakan adalah benda-benda perunggu di Yunnan dengan benda-benda perunggu yang ditemukandi Dongson (Annam) dan di Nusantara (misalnya Pahang, Riau, Jambi, Palembang, Jawa, Bali, Sumbawa,Selayar) mempunyai kesamaan bentuk dan materi. Hal tersebut nampak dari artefak-artefak kehidupansehari-hari ataupun peralatan bersifat ritual yang sangat rumit sekali. Ukiran benda perunggu yangterdapat di Yunnan menunjukkan adanya pengaruh kebudayaan Scythian (Saka) berupa perburuanbinatang seperti ox dengan cara mengendarai kuda. Nama “Saka” dalam bahasa China dikenal dengannama “Sai/Sek”. Scythian sendiri merupakan salah satu cabang suku bangsa Iran. Benda-benda tersebutmisalnya kapak dengan selongsong, ujung tombak, pisau belati, mata bajak, topangan berkaki tiga,gerabah, jambangan rumah tangga, mata timbangan, kepala pemintal benang, dan perhiasan-perhiasan(gelang dari kerang, manik-manik dari kaca). Semua benda tersebut atau hampir semuanya diberi hiasangeometri. Bentuk geometri merupakan ciri dasar dari kesenian ini diantaranya berupa jalinan arsir-arsir,segitiga dan spiral yang tepinya dihiasi garis-garis yang bersinggungan. Hasil karya yang terkenal adalahNekara Perunggu. Hasil karya ini merupakan benda religius pada masyarakat dahulu. Nekara ini sendiridikaitkan dengan siklus pertanian. Dengan mengandalkan pengaruh ghaibnya, nekara ini ditabuh untukmenimbulkan bunyi petir yang berkaitan dengan datangnya hujan. Nekara perunggu ini dapat ditemukandi Jambi, Jawa, Bali, Sumbawa, dan Selayar. Bejana Perunggu dapat ditemukan di Jambi dan Madura.Arca Perunggu dapat ditemukan di Jambi, Palembang, dan Jawa. Perhiasan Perunggu ditemukan di Jawadan Bali. Masyarakat Dongson adalah masyarakat petani dan peternak yang handal. Mereka terampilmenanam padi, memelihara kerbau dan babi, serta memancing. Mereka menetap di pematang pesisir,terlindung dari bahaya banjir, dalam rumah panggung besar dengan atap yang melengkung lebar danmenjulur menaungi emperannya. Selain bertani, masyarakat Dongson juga dikenal sebagai masyarakatpelaut, bukan hanya nelayan tetapi juga pelaut yang melayari seluruh laut China Selatan dengan perahuyang panjang. Kebudayaan Dongson di Annam ini kemudian menyebar ke delta sungai Mekong. Kerajaan Funan (berdiri pada awal abad ke-2M) merupakan kerajaan Hindu pertama di sungaiMekong. Kerajaan Champa (berdiri pada awal abad ke-3M) yang terletak di sebelah utara Funan menjadikerajaan Hindu karena adanya pengaruh interaksi dengan Kerajaan Funan. Jika dilihat dari budaya danbahasa yang digunakan, orang Funan dan Champa termasuk dalam bangsa Austronesia. Pada masapemerintahan Sri Mara (205M-225M) dari Funan, Kerajaan Funan mengalami puncak kejayaan karenaadanya dominasi perdagangan di laut China Selatan. Pada tahun 270M Kerajaan Funan dan Champaberaliansi melakukan penyerangan terhadap wilayah China di Tonkin (Annam) tetapi serangan ini gagal.Ibukota Kerajaan Funan dinamakan Wyadhapura (Kota Para Pemburu) sekarang terletak di Banam,Kamboja. Menurut berita China bangsa ini suka berperang dan mempunyai ciri-ciri berambut hitam ikaldan bermata tajam. Bangsa Funan hidup dengan bercocok tanam padi dan berdagang. Pada masapemerintahan Indrawarman (akhir abad ke-5M), Kerajaan Funan mempunyai beberapa kerajaan bawahanseperti Chenla-Kamboja (Champasak, berdiri pada awal abad ke-6M), Dwarawati-Mon (Lopburi, berdiripada awal abad ke-6M), di Semenanjung Malaya ada Pan-Pan (Kelantan, berdiri pada awal abad ke-6M),Langkasuka (Pattani, berdiri pada awal abad ke-6M), dan Raktamaritika (Songkla, berdiri pada awal abadke-6M). Setelah masa pemerintahan Rudrawarman (550M), Kerajaan Funan menjadi kacau akibat adanyaserangan dari Bhawawarman dari Chenla-Kamboja. Bhawawarman dari Chenla-Kamboja sendiri merasaberhak atas tahta Funan. Kerajaan Chenla-Kamboja didirikan oleh Shrusthawarman (awal abad ke-6M).Pada masa pemerintahan Isanawarman (616M-635M) dari Chenla-Kamboja berhasil mengalahkan Funan.Kerajaan Chenla-Kamboja merupakan cikal bakal dari Kerajaan Khmer Kamboja (berdiri pada tahun802M). Pada awal abad ke-7M Kerajaan Chenla-Kamboja menguasai Dwarawati (Mon) yang kemudian
  3. 3. menjadi Kerajaan Lavo (Mon). Kerajaan Lavo dibawah pengaruh Kerajaan Khmer Kamboja sampai akhirabad ke-13M. Pada abad ke-8M wilayah Thai dibawah pengaruh Kerajaan Lavo (Mon) bahkan raja Lavomengangkat kepala suku Thai sebagai raja di Ngoenyang. Sedangkan putri dari raja Lavo dijadikansebagai penguasa di Haripunchai. Pada tahun 1087, Kerajaan Lavo dapat menangkis serangan dariKerajaan Pagan Burma (berdiri pada pertengahan abad ke-11M sampai akhir abad ke-13M). Sebelumnyapada tahun 1057M Kerajaan Pagan Burma juga dapat menaklukan Kerajaan Thaton-Mon (berdiri padaawal abad ke-9M). Menurut sejarawan berdasarkan berita China pada abad ke-5M, ada beberapa kerajaan di Sumatradan Jawa misal Holotan dari Shepo dan Kantoli. Nama tersebut kemudian diidentifikasi oleh parasejarawan misal Holotan dari Shepo dengan Harutan dari Jawa dan Kantoli dengan Kandali. KerajaanHolotan dari Shepo pernah mengirim utusan ke Dinasti Sung China (420M-479M) pada tahun 430M,437M, dan 452M. Kerajaan Kantoli pernah mengirim utusan ke Dinasti Sung China pada tahun 454M dan461M. Menurut berita Dinasti Ming China, San Fo Tsi dulunya disebut dengan nama Kantoli. Parasejarawan kemudian mengindentifikasikan San Fo Tsi dengan Sumatra dan Kantoli dengan Kandali.Nama San Fo Tsi pertama kali muncul pada berita Dinasti Sung China. Letak Kerajaan Kantoli (Kandali)kemungkinan di Jambi. Kerajaan Kandali ini kemungkinan digantikan oleh Kerajaan Malayu (berdiripada awal ke-7M). Menurut berita Dinasti Tang China, pada tahun 645M Kerajaan Malayu (Jambi)mengirim utusan ke Dinasti Tang China. Menurut Slamet Mulyana, ibukota Malayu terletak di daerahperbukitan di Muara Tebo, Jambi. Pada akhir abad ke-7M muncul Kerajaan Sriwijaya (berdiri pada akhirabad ke-7M) dengan pendirinya bernama Dapunta Hyang Jayanasa (prasasti Talang Tuo, 684M).Menurut Pierre-Yves Manguin, ibukota Sriwijaya terletak di daerah perbukitan di Bukit Siguntang.Hal ini didasarkan pada Sejarah Malayu (awal abad ke-17M) yang menyebutkan bahwa Parameswarapendiri Malaka (awal abad ke-15M) berasal dari Bukit Siguntang. Dengan berasumsi bahwa Parameswaramerupakan seorang pangeran Sriwijaya. Padahal dalam Sejarah Malayu tidak terdapat nama Sriwijaya.Kerajaan Sriwijaya sendiri runtuh pada abad ke-11M akibat serangan Cola-India. Nama Parameswarasendiri beragama Hindu jika dibandingkan dengan Sriwijaya yang beragama Budha. Kerajaan Sriwijayajuga berafiliasi dengan Kerajaan Pala India (berdiri pada pertengahan abad ke-8M sampai akhir abad ke-12M) yang beragama Budha aliran Mahayana. Pada masa pemerintahan Dapunta Hyang Jayanasa banyakmengeluarkan prasasti misal prasasti Kedukan Bukit (682M) yang ditemukan di Palembang berisipenyerangan Sriwijaya ke Minanga Tamwa. Menurut I Tsing, pada tahun 671M ketika ia akan keNalanda dan singgah ke Moloyu (Jambi, berdiri pada pertengahan abad ke-7M), Kerajaan Moloyu(Jambi) masih merdeka. Namun pada tahun 685M ketika ia kembali ke Moloyu (Jambi), kerajaan inisudah menjadi wilayah Shih Li Fo Tsi (Sriwijaya). Menurut berita Dinasti Tang China, pada tahun 704MShih Li Fo Tsi (Sriwijaya-Palembang) mengirim utusan ke Dinasti Tang China. Prasasti yang berkaitandengan Sriwijaya misal prasasti Kedukan Bukit (Palembang, 682M), prasasti Talang Tuo (Palembang,684M), prasasti Kota Kapur (Bangka, 686M), prasasti Telaga Batu (Palembang, akhir abad ke-7M),prasasti Palas Pasemah (Lampung, akhir abad ke-7M), prasasti Karang Birahi (Jambi, akhir abad ke-7M)semuanya memakai Bahasa Malayu Kuno dengan Aksara Pallawa. Pada akhir abad ke-7M menurutcatatan I Tsing peziarah Budha dari China, negeri di Shih Li Fo Tsi (Palembang) pada umumnyamenganut agama Buddha aliran Mahayana, kecuali Mo-lo-yu (Jambi). Tidak disebutkan dengan jelasagama apa yang dianut oleh Kerajaan Malayu kemungkinan masih menganut agama Hindu atauAnimisme. Kata Malayu berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu Malaya yang berarti bukit. Jambimerupakan penghasil emas terbesar di Sumatra karena hal itu Pulau Sumatra dinamakan Swarnadwipa
  4. 4. artinya Pulau Emas. Wilayah Sriwijaya pada akhir abad ke-7M adalah Lampung, Palembang, Bangka,dan Jambi. Ada yang berpendapat bahwa Kerajaan Kelingga Jawa terletak di Jepara dimana terdapat daerahbernama Keling. Nama Keling juga terdapat di daerah Surabaya. Nama seperti Keling dan Kelinggapuramerupakan salah satu daerah bawahan Majapahit (abad ke-14M) yang dipimpin oleh seorang Batara i(Bre) Keling dan Bre Kelinggapura. Bukti prasasti lain yang diduga berkaitan dengan keberadaanKelingga adalah prasasti Tukmas yang ditemukan di lereng Gunung Merbabu (Boyolali) berbahasaSansekerta dengan Aksara Pallawa yang berisi deskripsi tentang keadaan alam setempat dan gambar-gambar peralatan manusia. Berdasarkan paleografinya prasasti Tukmas diperkirakan berasal pada akhirabad ke-6M. Berdasarkan berita Dinasti Tang (620M-930M), Holing (Kelingga) juga disebut denganShepo (Jawa). Nama “Chupo/Chopo/Shepo” sudah digunakan oleh Orang China untuk menunjuk “Jawa”sejak abad ke-5M (pada masa Dinasti Sung China). Pada tahun 627M, 649M, dan 666M Holingmengirim utusan ke Dinasti Tang China. Pada tahun 768M, 769M, dan 770M Holing mengirim utusan keDinasti Tang China kemungkinan pada masa Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Pancapana (746M-784M). Pada tahun 767M disebutkan bahwa Chopo (Jawa) menyerang Tonkin (Annam) namun dapatdipukul mundur oleh Gubernur China yang bernama Chang Po Yi. Utusan tahun 768M kemungkinanmerupakan isyarat perdamaian atau ganti rugi bagi pihak Jawa. Pada tahun 813M, 815M, 818M dan820M Holing mengirim utusan ke Dinasti Tang China kemungkinan pada masa Maharaja Rakai WarakDyah Manara (803M-827M). Sejak tahun 820M dalam pemberitaan China nama Holing diganti dengannama Shepo. Pada tahun 831M dan 839M Shepo mengirim utusan ke Dinasti Tang China kemungkinanpada masa Maharaja Rakai Garung (828M-847M). Pada tahun 813M telah datang utusan dari Holingdengan memberikan hadiah berupa budak Seng qi (Jenggi) kepada Kaisar Dinasti Tang China. Jenggimerupakan orang kulit hitam yang berasal dari Afrika. Nama Jenggi juga tercantum dalam daftar abdidalam prasasti Jawa Kuno tahun 860M. Budak Jenggi tersebut dikirim dari Afrika ke Jawa bahkan adayang dikirim ke China. Cerita itu sesuai dengan apa yang diberitakan oleh Ibn Lakis bahwa pada tahun945M telah tiba kira-kira seribu kapal yang dinaiki Orang Wak-wak di daerah Sofala-nya OrangZenggi/Jenggi (Mozambik Afrika). Orang Wak-wak disebutkan berasal dari kepulauan yang berhadapandengan China. Kata “Wak-wak” kemungkinan diambil dari kata “Jawak” (Jawa-red). Orang Wak-wakmenempuh pelayaran selama satu tahun untuk sampai ke tempat Orang Zenggi. Orang Wak-wak datangke sana untuk mencari barang barang seperti Gading Gajah, Cula Badak, Kulit Penyu, Emas, Perak yangdibutuhkan di negeri mereka ataupun untuk diperdagangkan ke China. Selain itu mereka juga mencariOrang Zenggi (Jenggi) untuk dipekerjakan sebagai budak. Pelabuhan Sofala berdiri pada abad ke-8M.Penduduk asli pulau Madagaskar yang terletak di sebelah timur Mozambik kemungkinan berasal dariJawa dilihat dari bahasa yang digunakan lebih mirip bahasa Jawa dibandingkan dengan bahasa Malayumisal Jawa Madagaskar1 Esa, Siji Isa2 Loro Roa3 Telu Telo4 Papat Efat-ra5 Limo Dimy6 enem Enin7 Pitu Fitu8 Wolu Volu
  5. 5. 9 Sanga Sivy10 Se-puluh Fulo20 Rong-puluh Roapolo100 Satus Zato1000 Sewu Arivo Dalam prasasti Kui (840M) disebutkan bahwa di Jawa terdapat banyak pedagang asing darimancanagara untuk berdagang misal Cempa (Champa), Kmir (Khmer-Kamboja), Reman (Mon), Gola(Bengali), Haryya (Arya), Keling (Kelingga, pantai timur India), Cwalika (Tamil, pantai timur India),Singha (Sri Langka), Malayala (Malayalam, pantai barat India), Karnnake (Karnataka, pantai barat India).Di Jawa juga terdapat para pejabat lokal yang mengurusi para pedagang asing misal Juru China yangmengurusi para pedagang dari China dan Juru Barata yang mengurusi para pedagang dari India. Haltersebut seperti Konsul yang bertanggung jawab atas kaum pedagang asing. Dalam prasasti Champadisebutkan bahwa Jaya Simhawarman (908M) dari Champa pernah mengirim utusan ke Jawa.Permasalahan terhadap para pedagang asing mungkin saja terjadi seperti apa yang tercantum dalamprasasti Wurada Kidul (922M). Prasasti tersebut berupa Keputusan Yuridis (Hukum) mengenai kasusDhanadi, disebutkan bahwa dia dituduh oleh para penduduk desa Sima Swatantra (desa bebas pajakkerajaan) sebagai seorang Wika Kilatan (anak pemungut pajak). Di Jawa, kata “Desa” dulunya disebutjuga dengan kata “Wanua”. Karena tidak terima tuduhan tersebut, Dhanadi kemudian mengajukan kasustersebut ke pengadilan kerajaan. Hasil keputusan pengadilan menyatakan bahwa Dhanadi bukanlahseorang Wika Kilatan dan kemudian dibebaskan atas tuduhan. Tidak terima akan hasil tersebut parapenduduk desa kembali menuduh Dhanadi sebagai seorang Wika Kmir (anak Khmer Kamboja). Hukumkerajaan menyatakan bahwa para pedagang asing dilarang masuk ke desa Sima Swatantra. Dhanadikemudian mengajukan kasusnya kembali ke pengadilan dan menyatakan bahwa dia merupakan pendudukasli setempat yang sudah turun temurun tinggal disana. Keputusan pengadilan menyatakan bahwaDhanadi bukanlah orang asing dan mengharapkan agar penduduk desa tidak mengusiknya lagi. Menurutberita Dinasti Tang China Kerajaan Holing (Kelingga) berbatasan dengan Poli (Bali) di sebelah timur,Topoteng di sebelah barat, Chenla (Kamboja) di sebelah utara dan lautan luas (Samudra Hindia) disebelah selatan. Kerajaan Holing menghasilkan Cula Badak, Gading Gajah, Kulit Penyu, Emas, danPerak. Masyarakat Holing disebutkan mengenal aksara dan ilmu perbintangan. Menurut I Tsing di Holing(Kelingga) pada tahun 664M-667M terdapat pendeta China bernama Hwining yang bekerja sama denganpendeta Janabadra dalam rangka menerjemahkan kitab agama Budha aliran Hinayana. Selain itu beritaChina pada masa Dinasti Tang juga menyebutkan pada tahun 674M Kerajaan Holing dipimpin oleh RatuSimha. Pada masa pemerintahan Ratu Simha terkenal karena adil dan bijaksana. Menurut berita China,pada masa pemerintahan Ratu Simha, Orang Tarshish pernah hendak menyerang Kelingga Jawa namunrencana mereka dibatalkan karena mereka takut akan kepemimpinan Ratu Simha yang terkenal tidakmemandang bulu dalam menegakkan hukum. Kata “Simha” sama dengan kata “Singha” (Leo/Lion).Menurut van Orsoy, dalam berita China nama Medang Kamulan disebut dengan “Medang Kuwu-lang-piya” yang menunjuk tentang Holing/Kelingga. Nama Kamulan juga tercantum dalam prasasti KarangTengah. Dalam legenda di Jawa disebutkan bahwa Kerajaan Medang Kamulan berkaitan dengan tokohHaji Saka yang telah mengalahkan Dewata Cengkar dari Medang Kamulan dan mengajarkan aksarapertama kali kepada penduduk Jawa. Gelar “Sang Haji (Sangaji)” merupakan gelar dibawah “Sang Ratu”.Kemungkinan Haji Saka merupakan raja bawahan dari Dewata Cengkar dari Medang Kamulan. Sepertihalnya Haji Sunda pada Suryawarman (536M) dari Taruma, Haji Dharmasetu pada MaharajaDharanindra (782M) dari Medang. Haji Patapan pada Maharaja Samaratunggadewa (824M) dari Medang,
  6. 6. Haji Wurawari pada Maharaja Dharmawangsa (1016M) dari Medang, Haji Katong (Jaya-katwang) padaMaharaja Dhiraja Kertanagara (1292M) dari Tumapel/Singasari. Letak Medang Kamulan menurutBujangga Manik (awal abad ke-16M) terletak di Grobogan. Menurut berita Dinasti Tang China, KerajaanHoling mempunyai gua yang selalu memancarkan air garam. Di Jawa, gua tersebut dinamakan denganBledug “Kuwu” karena terletak di daerah Kuwu, Grobogan. Bledug Kuwu merupakan tempat satu-satunya di Jawa yang terdapat sumber air garam di pedalaman. Dalam legenda di Jawa, Bledug Kuwuberkaitan dengan tokoh Jaka Linglung putra Haji Saka. Menurut Bujangga Manik pada awal abad ke-16Mperbatasan Kerajaan Hindu Sunda dengan Kerajaan Hindu Jawa adalah sungai Pamali (Brebes) di sebelahutara dan sungai Serayu (Cilacap) di sebelah selatan. Karena ekspansi Kesultanan Islam Jawa abad-16M)perbatasannya semakin ke arah barat yaitu sungai Cisanggalung (Cirebon) di sebelah utara dan sungaiCitandui (Ciamis) di sebelah selatan. Dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Hindu di Jawa bermula diKelingga (Jepara) lalu ke Medang i Kamulan (Grobogan) dan akhirnya ke Medang i Mataram(Magelang). Perpindahan pusat Kerajaan Hindu Jawa (abad ke-7M) tersebut mirip dengan perpindahanpusat Kerajaan Islam Jawa (abad ke-16M) yaitu dari Demak lalu ke Pajang (Boyolali) dan akhirnya keMataram (Yogyakata). Berdasarkan Naskah Wangsakerta berbahasa Jawa dengan Aksara Jawa (awal abad ke-20M),Kerajaan tertua di Jawa adalah Kerajaan Salakanagara (berdiri pada awal abad ke-2M sampai pertengahanabad ke-4M). Pada mulanya ada seorang duta dari India yang datang ke Jawa. Duta dari India tersebutkemudian menikahi seorang putri dari Ki Tirem yang merupakan seorang kepala suku. Duta dari Indiatersebut kemudian mendirikan Kerajaan Salakanagara dan dinobatkan dengan nama Dewawarman. Gelaryang dipakai oleh Dewawarman adalah Haji. Duta dari India ini kemungkinan berasal dari KerajaanWestern Satrap (Sakas) India. Kemungkinan Dewawarman berasal dari bangsa Yavanas (Indo-Greek),Sakas (Indo Scythian), Pahlavas (Indo Parthian), Paradas (Indo-Parthian), Kambujas (Indo Persian).Berdasarkan Kitab Purana, bangsa Yavanas, Sakas, Pahlavas, Kambujas, Paradas dikenal sebagai Panca-Ganah (Gerombolan Lima) atau Kshatriya-Pungava (Ksatria Punggawa). Pada pertengahan abad ke-1MOrang Sakas dibantu teman-temannya (Yavanas, Pahlavas, Kambujas, Paradas) mendirikan KerajaanWestern Satrap. Kerajaan ini didirikan oleh Yopiraja (35M). Nama “Western Satrap” yang beribukota diUjjain dipakai untuk membedakan dengan “Northern Satrap” (berdiri pada akhir abad ke-1SM) yangberibukota di Mathura. Northern Satrap (Sakas) dan Kelingga India pernah berperang bersama melawanSatakarni (143SM-87SM) dari Satawahana India. Kebanyakan raja-raja Kelingga India menganut agamaJain. Pada tahun 78M Western Satrap (Sakas) mengalahkan Wikramaditya dari Dinasti Wikrama India.Kemenangan pada tahun 78M dijadikan sebagai tahun dasar dari penanggalan (kalender) Saka. WilayahWestern Satrap mencakup Rajastan, Madya Pradesh, Gujarat, dan Maharashtra. Para raja dari WesternSatrap biasanya memakai dua bahasa yaitu Sankrit (Sansekerta) dan Prakit serta dua aksara yaitu Brahmidan Yunani dalam proses pembuatan prasasti dan mata uang logam kerajaan. Sejak pemerintahan Rudra-simha 1 (160M-197M) dari Western Satrap, dalam pembuatan mata uang logam kerajaan selalumencantumkan tahun pembuatannya berdasarkan pada kalender Saka. Secara kebudayaan, Orang Satrapsangat terpengaruh oleh kebudayaan Yunani. Nama Satrap merupakan sebuah sistem pemerintahan yangdiciptakan oleh Alexander The Great. Gelar Satrapvan sendiri setingkat dengan Viceroy atau Haji. Padaawal abad ke-4SM kekuasaan Alexander The Great dari Macedonia mencangkup bekas wilayahKekaisaran Achaemenid yaitu Media, Persia, Elam, Babylonia (Chaldea), Assyria, Arabia, Egypt, Libya,Armenia, Lydia, Cilicia, Paphlagonia, Pamphylia, Caria, Carmania, Cappadocia, Thrace, Macedon,Yauna (Ionian), Gandara, Taxila, Gedrosia, Aria (Arya), Maka, Drangiana, Parthia, Sattagydia,Arachosia, Bactria, Sogdia, Kush, Sacae (Saka), Chorasmia, Hyrcania, Margu, Dahae. Western Satrap
  7. 7. dalam bahasa Yunani disebut juga dengan nama Ariaca (Arya). Kerajaan Western Satrap runtuh padamasa pemerintahan Rudra-simha 111 (388M-395M) akibat serangan dari Candragupta 11 (395M-413M)dari Dinasti Gupta India (berdiri pada pertengahan abad ke-3M sampai pertengahan abad ke-6M). Aliansidari Panca Ganah inilah yang menemukan jalur perdagangan laut dari India ke China. Nama Yawa (Jawa-red) sendiri merupakan turunan dari kata Yawana dalam bahasa Sansekerta. Menurut berita China, padatahun 132M, raja Tian Pian (Dian Bian) dari Ye Tiao pernah mengirim utusan ke Dinasti Eastern HanChina. Disebutkan bahwa raja Tian Pian meminjam sebuah stempel emas milik Kaisar China. Biasanyastempel emas Kaisar China berbentuk Naga. Di Jawa juga ditemukan sebuah cincin emas berbentukstempel. Menurut G. Ferrand, kata “Ye Tiao” merupakan ejaan China untuk “Yawadi” dalam bahasaPrakit atau “Yawadwipa” dalam bahasa Sansekerta. Sedangkan kata “Tian Pian” merupakan terjemahanChina untuk “Dewa-warman”, “Warma-dewa”, “Tungga-dewa”. Kata “Tian” berarti “Dewa” atau“Batara” dan kata “Pian” berarti “Warman” atau “Tungga”. Nama “Warmadewa” biasanya digunakanoleh penguasa dari Bali misal Haji Kesari Warmadewa (890M) dan Haji Dharmodayana Warmadewa(990M) dan penguasa dari Malayu misal Maharaja Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa (1178M)dan Maharaja Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa (1275M). Nama penguasa dari Jawa biasanya memakainama “Tunggadewa” misal Maharaja Dharmatunggadewa (792M) dan Maharaja Samaratunggadewa(824M). Nama Dewa-warman kemungkinan berkaitan tokoh Dewata (Dewa-nata) Cengkar, Sang Haji(Sang-aji) Saka, Jaka Linglung (Naga). Di dalam legenda Jawa mengenal adanya seorang tokoh bernamaHaji Saka (akhir abad ke-1M) yang kemungkinan berasal dari Western Satrap (Sakas). Haji Sakamerupakan raja bawahan dari Dewata Cengkar dari Medang Kamulan. Haji Saka kemudian berhasilmengalahkan Dewata Cengkar dari Medang Kamulan. Haji Saka mempunyai putra bernama JakaLinglung yang berwujud Naga. Di dalam legenda Funan, Champa, dan Kamboja diceritakan asal muladinasti mereka berasal dari seorang pangeran dari India bernama Kaundinya (awal abad ke-2M).Disebutkan bahwa Kaundinya menyelamatkan kapal Brahmana dari perompakan yang dilakukan olehSoma putri dari raja Naga yang merupakan penguasa dari sebuah pulau. Setelah Kaundinya berhasilmengalahkan putri Soma, ia membujuk putri Soma agar mau menikah dengannya. Kaundinya dan putriSoma kemudian dikirim ke daratan (Kamboja) dan Kaundinya menjadi raja Funan yang pertama. CeritaKaundinya pada awalnya berasal dari Funan pada awal abad ke-3M kemudian diambil oleh Isanawarman1 (616M-635M) dari Chenla-Kamboja ketika berhasil menguasai seluruh wilayah Funan. Prakasadharma1 (653M-687M) dari Champa mengambil cerita Kaundinya dari Chenla-Kamboja. Prakasadharma 1 dariChampa sendiri mengaku keturunan dari Isanawarman 1 dari Chenla Kamboja kemungkinan dari garisibunya. Menurut legenda dari Pallawa (Pahlavas) disebutkan bahwa leluhur Dinasti Pallawa Indiabernama Aswataman putra dari Maharesi Druna. Di dalam legenda Pallawa India disebutkan bahwaAswataman menikah dengan Bidadari Menaka dari Funan. Aswataman dan Maharesi Druna merupakantokoh dalam Sage Mahabarata. Di dalam perang Barata, Aswataman dan Druna memihak pada Kurawadibandingkan dengan pihak Pandawa. Di dalam sage Mahabarata, bangsa Yavanas, Sakas, Pahlavas,Kambujas, Paradas disebut sebagai pihak Kurawa. Dinasti Pallawa sendiri menyebut dirinya berasal daricampuran kasta Brahmana dan Ksatria. Jadi ada keterkaitan antara legenda di Jawa, Funan, Kamboja,Champa dengan Panca Ganah. Sejak abad ke-2M Funan dan Jawadwipa telah terjalin hubunganperdagangan yang erat. Menurut berita China pada masa Dinasti Wu (220M-280M) dan Dinasti Jin Timur(310M-420M) terdapat sebuah daerah bernama Koying yang menghasilkan emas, perak dan batuberharga. Berita mengenai Koying didapat dari para pedagang Jawadwipa karena Koying tidakmempunyai hubungan diplomatik dan perdagangan dengan China. Para pedagang China mendapat barangdari Koying melalui perantara para pedagang Jawadwipa. Koying terletak sekitar 5000 Li (2500 Km)
  8. 8. sebelah timur Chopo (Jawa). Di Koying terdapat sebuah gunung berapi yang aktif dan di sebelah utaranyaterdapat sebuah Pu lei (Pulo). Penduduk Koying mempunyai kulit hitam kelam dan bergigi putih sertatidak berpakaian (koteka). Kemungkinan Koying terletak di Nusa Tenggara dimana terdapat sebuahgunung berapi yang terletak di pulau Sangeang (Sang Hyang). Nama Sangeang juga merupakan namasebuah pulau di selat Sunda. Para pemimpin di Nusa Tenggara biasanya bergelar Sang-aji (Sang Haji).Baik gelar Sang Hyang dan Sang Haji merupakan gelar yang dipakai di Jawa. Nama Pulo dan Sangeangjuga terdapat dalam Negarakertagama (1365M) yang terletak di Nusantara timur. Gelar Rama biasanyahanya dipakai di Jawa. Gelar Rakai biasanya dipakai di Pulau Jawa. Gelar Haji/Aji biasanya dipakai diPulau Jawa, Kalimantan, dan Nusa Tenggara (Bali, Lombok, Sumbawa). Gelar Aji juga digunakan diKepulauan Ryukyu (Okinawa, Jepang) untuk menyebut bangsawan ataupun penguasa. Gelar Ratubiasanya dipakai di Pulau Jawa. Di Malayu kata “Ratu” berubah menjadi “Datu” dan di Maluku menjadi“Latu”. Gelar Ratu dan Hadi/Adi juga digunakan di Pulau Fiji (Samudra Pasifik selatan) untuk menyebutpenguasa mereka. Gelar Maharaja biasanya digunakan di Jawa dan Sriwijaya. Gelar Rama (kepala suku)dipakai oleh pemimpin Jawa ketika pertama kali atau sebelum datang ke Pulau Jawa. Sedangkan kepalasuku di Sumatra bergelar Peng-hulu. Gelar Rakai dipakai ketika Orang Jawa mulai berkembang di PulauJawa. Gelar Haji/Aji kemungkinan dipakai sejak abad ke-1M atau pada awal kedatangan pengaruh HinduIndia. Gelar Ratu dipakai sejak abad ke-4M dan Maharaja sejak abad ke-8M serta Maharaja Dhiraja sejakabad ke-13M . Gelar Hyang dipakai di Jawa untuk menyebut konsep tentang alam yang abstrak selaindunia yang konkret ini kemudian berubah menjadi konsep tentang kedewaan bahkan digunakan untukmenyebut leluhur misal E-yang dan Mo-yang. Penguasa yang telah meninggal juga diberi gelar Sang-hyang dan Ra-hyang. Berdasarkan Naskah Wangsakerta, pada masa pemerintahan Dewawarman ke-8 dariSalakanagara kedatangan Maharesi dari India dimana kerajaannya dihancurkan oleh Samudragupta(335M–380M) dari Dinasti Gupta India. Pada akhir abad ke-6M Dinasti Gupta India runtuh akibatserangan bangsa Hunas. Menurut Naskah Wangsakerta Maharesi ini berasal dari Kerajaan SalankayanaIndia. Kerajaan Salankayana didirikan oleh para Brahmana beraliran Siwa pada awal abad ke-4M. PendiriSalankayana bernama Hastiwarman yang merupakan raja bawahan dari Pallawa India. Penerus Hasti-warman adalah Nandi-warman dan Wijaya-dewa-warman. Pada pertengahan abad ke-4M KerajaanPallawa dan Salankayana dikalahkan oleh Samudragupta (335M-380M) dari Dinasti Gupta India.Kekalahan itu terjadi pada masa Wishnugopa (355M) dari Pallawa India. Maharesi dari Salankayana inikemudian menikahi putri Dewawarman ke-8 dari Salakanagara kemudian diangkat menjadi penguasa danbergelar Jaya-simha-warman (362M-382M). Kemudian ia mengubah Kerajaan Salakanagara menjadiTarumanagara. Kerajaan Salankayana India sendiri runtuh pada awal abad ke-5M akibat serangan dariMadhawarman dari Dinasti Wisnukundis India. Madhawarman dari Dinasti Wisnukundis juga berperangmelawan serangan dari Simhawarman 1V (436M) dari Pallawa India. Dinasti Wisnukundi (berdiri padaawal abad ke-5M sampai awal abad ke-7M) didirikan oleh Indrawarman. Dinasti Wisnukundi runtuh padamasa pemerintahan Manchana-bhataraka-warman (625M) akibat serangan dari Pulakesi 11 (609M-642M)dari Dinasti Chalukya India. Pada tahun 642M Narasimhawarman 1 dari Pallawa berhasil mengalahkanPulakesi 11 dari Dinasti Chalukya India dan menduduki ibukota Chalukya selama 14 tahun.Wikramaditya dari Dinasti Chalukya berhasil mengusir prajurit Pallawa dari ibukota Chalukya pada tahun656M. Dinasti Chalukya didirikan oleh Pulakesi 1 pada tahun 545M. Dinasti Chalukya merupakanpenerus dari Dinasti Kadamba India (berdiri pada pertengahan abad ke-4M sampai pertengahan abad ke-6M). Dinasti Kadamba merupakan penerus dari Dinasti Chutus India (berdiri pada awal abad ke-4M)yang merupakan bawahan dari Pallawa India. Ketika Pallawa India dikalahkan oleh Samudragupta dari
  9. 9. Dinasti Gupta, Mayurasharma pendiri Dinasti Kadamba memerdekakan diri dari Pallawa India.Mayurasharma digantikan oleh putranya yaitu Kangawarman (365M) dari Dinasti Kadamba. Pada tahun755M Kirtiwarman 11 dari Dinasti Chalukya dikalahkan oleh Dantidurga dari Dinasti Rashtrakuta India(753M-983M). Ketika Chalukya runtuh dinastinya terbagi menjadi dua yaitu Dinasti Western Chalukyadan Dinasti Eastern Chalukya. Dinasti Western Chalukya menjadi bawahan Dinasti Rashtrakuta. Padatahun 973M Tailapa 11 (967-997M) dari Western Chalukya berhasil mengalahkan Indra 1V dari DinastiRashtrakuta. Dinasti Western Chalukya (973M-1200M) juga sering berperang melawan Kerajaan CholaIndia. Sedangkan Dinasti Eastern Chalukya menjadi bawahan Chola sejak dikalahkan Rajaraja Chola(985M-1014M). Pada akhir abad ke-12M Dinasti Western Chalukya India runtuh akibat meningkatnyapara raja bawahan di daerah antara lain Dinasti Kakatiya India dan Dinasti Hoysala India. WesternChalukya kemudian digantikan oleh Dinasti Hoysala India (1184M-1343M). Berdasarkan Naskah Wangsakerta, pada masa pemerintahan raja ke-3 Taruma yaituPurnawarman cucu Jayasimhawarman. Ia melakukan ekspansi besar-besaran. Pada awal abad ke-5Mwilayah kekuasaan Purnawarman membentang dari Pandeglang sampai Purwalingga (Purbolinggo).Ibukota Kerajaan Taruma dalam prasasti disebutkan terletak antara sungai Gomati dengan sungaiCandrabaga di daerah Bekasi sekarang. Pada masa pemerintahan purnawarman banyak dijumpai prasastidengan Aksara Pallawa dan berbahasa Sansekerta misal prasasti Tugu (Bekasi), prasasti Munjul(Pandeglang), prasasti Kebon Kopi (Bogor), prasasti Ciaruteun (Bogor), prasasti Telapak Gajah (Bogor),prasasti Pasir Awi (Bogor), dan prasasti Jambu (Bogor). Berdasarkan Naskah Wangsakerta, pada masa pemerintahan raja ke-6 Taruma yaituCandrawarman, ia pernah mengirim utusan ke Dinasti Liang China (502M-557M) pada tahun 528M dan535M. Pada masa pemerintahan raja ke-7 Taruma yaitu Suryawarman terdapat sebuah prasasti KebonKopi 11 (536M) berbahasa Sansekerta dengan Aksara Pallawa yang berisi pengembalian kekuasaankepada para raja bawahan. Dalam berita Dinasti Liang China, Taruma disebut dengan Talomo. Buktikeberadaan Taruma adalah candi Jiwa bercorak Budha di Batujaya (Karawang) pada abad ke-7M.Berdasarkan analisis Karbon 14 terhadap artefak yang ditemukan di Batujaya diperkirakan umurnya yangpaling tua berkisar pada abad ke-2M dan yang paling muda berkisar pada abad ke-12M. Kerajaan Tarumasendiri merupakan penerus dari Kerajaan Salaka (berdiri pada awal abad ke-2M). Di sekitar candi Jiwajuga ditemukan makam prasejarah yang berisi tengkorak manusia dan barang-barang artefak. Hal inimenunjukkan keterhubungan antara zaman prasejarah dengan zaman sejarah (abad ke-4M). Setelahmenganut agama Hindu dan Budha, masyarakat Jawa yang sudah meninggal tidak lagi jenazahnyadimakamkan namun dibakar. Walaupun Hindu sudah datang pada abad ke-2M namun perkembanganHinduisasi di Pulau Jawa baru signifikan pada abad ke-4M sedangkan agama Budha aliran Hinayanamulai masuk ke Jawa pada abad ke-5M. Seorang Pangeran India yang bernama Gunawarman ketika akanberlayar ke China, dia singgah di Pulau Jawa dan mulai menyebarkan agama Budha disana. Berdasarkan Naskah Wangsakerta, pada pemerintahan raja ke-12 Taruma yaitu Linggawarman, iapernah mengrim utusan ke Dinasti Tang China pada tahun 666M. Dalam berita Dinasti Tang ChinaTaruma disebut dengan Talomo. Tarusbawa dari Sunda (bawahan Taruma) menggantikan kedudukanmertuanya yaitu Linggawarman dari Taruma. Pada akhir abad ke-7M Tarusbawa memindahkan ibukotakerajaan dari Bekasi ke Bogor dan kemudian mendirikan Kerajaan Sunda. Pendirian Kerajaan Sundadijadikan alasan oleh Wretikandayun dari Kendan (bawahan Taruma) untuk memisahkan diri dariKerajaan Sunda. Dengan dukungan militer dari Kerajaan Kelingga Jawa. Wretikandayun menekan dan
  10. 10. menuntut kepada Tarusbawa supaya wilayah Taruma dipecah menjadi dua. Dalam posisi lemah dan inginmenghindari perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan Wretikandayun. Kemudian wilayahTarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan; yaitu Kerajaan Sunda (Tarusbawa) dan Kerajaan Galuh(Wretikandayun) sedangkan sungai Citarum (Karawang-Bandung) sebagai batasnya. SedangkanMandiminyak putra dari Wretikandayun dari Kendan berjodoh dengan Parwati putri dari Ratu Simha dariKelingga Jawa. Menurut Naskah Wangsakerta, Ratu Simha bertahta di Kelingga Jawa menggantikansuaminya yaitu Kerta-simha (Kretaya-singha). Kerajaan Kendan dulunya bernama Galuh Purba(pertengahan abad ke-4M) yang terletak di Purbalingga. Pada pertengahan abad ke-6M ibukota GaluhPurba dipindahkan ke arah barat dari Purbalingga ke Kendan (Garut). Kerajaan Kendan ini didirikan olehManikmaya menantu dari Suryawarman (535M-561M) dari Taruma. Wretikandayun merupakan cicit dariManikmaya dari Kendan. Pemindahan Galuh Purba ke Kendan (Garut) ini kemungkinan disebabkanekspansi dari Kerajaan Kelingga Jawa pada pertengahan abad ke-6M. Jadi perbatasan Jawa dengan Sundapada abad ke-6M adalah Cilacap. Sejak awal abad ke-4M banyak dijumpai prasasti berbahasa Sansekerta dengan Aksara Pallawadan menggunakan penanggalan (kalender) Saka. Aksara Pallawa berasal dari Kerajaan Pallawa India.Sedangkan kata “Pallawa” dalam bahasa Tamil India berarti “yang menggunakan atau yang terpengaruhSansekerta”. Kebanyakan prasasti yang dikeluarkan oleh Kerajaan Pallawa berbahasa Prakit dan Sankrit(Sansekerta).Pada abad ke-6M pengaruh Pallawa India di Jawa sangat terlihat jelas pada prasasti yangdibuat yaitu prasasti Tukmas (akhir abad ke-6M) yang menggunakan Aksara Pallawa dan berbahasaSansekerta. Pada abad ke-8M Aksara Pallawa di Jawa mulai digantikan dengan Aksara Kawi (JawaKuno). Aksara Kawi sendiri merupakan turunan dari Aksara Pallawa. Nama penguasa Pallawa misalnyaSkanda-warman 1 (akhir abad ke-3M), Skanda-warman 11 (awal abad ke-4M), Simha-warman 1 (327M-350M), Simha-warman 1V (436M-450M), Simha-warman (awal abad ke-6M), Simha-wisnu-warman(536M-570M), Mahendra-warman 1 (570M-610M), Nara-simha-warman 1 (610M-648M), Mahendra-warman 11, Parameswara-warman 1, Mahendra-warman 111, Nara-simha-warman 11/Raja-simha(695M-728M), Parameswara-warman 11. Nama penguasa Western Satrap (Sakas) misalnya Bhumaka,Nahapana, Chastana (120M), Jaya-daman, Rudra-daman, Rudra-simha 1, Rudra-sena 1, Brata-daman,Rudra-sena 11, Wiswa-sena, Rudra-simha 11 (awal abad ke-4M), Rudra-simha 111 (388M-395M).Aswataman putra Maharesi Druna yang merupakan leluhur Dinasti Palllawa India kemungkinan berasaldari Western Satrap. Dinasti Pallawa sendiri pindah dari India utara ke India selatan pada masa KerajaanSatawahana India. Dinasti Pallawa mulai menguat sejak runtuhnya Kerajaan Satawahana India pada awalabad ke-3M. Nama penguasa Jawa misalnya Selendra (649M), Kerta-simha (666M), Simha (674M),Nara-yana/Nara-simha (703M), Dewa-simha (Kanjuruhan, 720M), Gaja-yana (Kanjuruhan, 740M),Uttajena (Kanjuruhan, 760M), Sanna/Sena (710M), Sannaha, Sanjaya (717M), dam Sankharakemungkinan berhubungan Western Satrap (Sakas) dan Pallawa (Pahlavas) India. Menurut Wartika dariKatyayana (abad ke-4 SM) bahwa Orang Sakah (Sakas) sudah memiliki hubungan perdagangan denganOrang Parthavah (Parthian). Selendra sendiri dalam prasasti Sojomerto (pertengahan abad ke-7M) dipujasebagai Batara Parameswara. Ratu Simha (674M-703M) dalam berita China disebutkan pernahmendapatkan ancaman dari Orang Tarshish. Dalam berita China kemudian disebutkan bahwa OrangTarshish tidak jadi menyerang karena takut pada kepemimpinan Ratu Simha. Nara-simha-warman11/Raja-simha (695M-728M) dari Pallawa dalam sebuah prasasti disebutkan bahwa dia menawarkanbantuan perang kepada suatu kerajaan yang melawan Orang Tarshish. Nara-simha-warman 1 (610M-648M) dari Pallawa membangun sebuah candi di Mamalla-puram. Nara-simha-warman 11/Raja simha(695M-728M) dari Pallawa juga membangun sebuah candi yang besar di Maha-bali-puram. Sanjaya
  11. 11. (717M-746M) dari Medang Mataram sendiri mengeluarkan prasasti Canggal (732M) menggunakanAksara Pallawa dan berbahasa Sansekerta dengan menggunakan penanggalan (kalender) Saka. Bentukcandi di Jawa pada abad ke-8M kemungkinan terpengaruh oleh arsitektur dari Pallawa India. Dalam sageMahabarata diceritakan bahwa Kelingga India memihak pada Kurawa (Yavanas, Sakas, Pahlavas,Kambujas, Paradas, dll) ketika terjadi perang Barata melawan Pandawa (Satawahana). Kerajaan KelinggaIndia merupakan sebuah kerajaan maritime dan perdagangan. Para raja di Sri Langka dan Malwadewasendiri mengklaim bahwa mereka merupakan keturunan dari Dinasti Kelingga India (berdiri pada abadke-6 SM). Perdagangan merupakan penghubung antara Kelingga India dengan Panca-Ganah (Yavanas,Sakas, Kambujas, Pahlavas, Paradas). Kerajaan Kelingga India dan Panca Ganah inilah yang menemukanjalur perdagangan laut dari India ke China. Kerajaan Kelingga India dan Panca Ganah inilah yangmemiliki keterkaitan dengan kerajaan di Asia Tenggara yaitu Jawa, Funan, Champa, Kamboja.Gautamiputra Satakarni (98M-119M) dari Satawahana India pernah berperang melawan Western Satrap(Sakas) dan Kelingga India. Pada tahun 119M Gautamiputra Satakarni berhasil mengalahkan Nahapanaputra dari Bhumaka dari Western Satrap (Sakas). Pada tahun 150M Rudradarman dari Western Satrapberhasil mengalahkan Wasisthiputra Satakarni dari Satawahana. Yajna Satakarni (161M-190M) dariSatawahana berhasil memulihkan Kerajaan Satawahana kembali. Kerajaan Satawahana/Dinasti Satakarni(berdiri pada awal abad ke-3SM sampai awal abad ke-3M) mempunyai keterkaitan dengan tokoh Krishnadalam sage Mahabarata. Sedangkan Dinasti Ishwakus (berdiri pada awal abad ke-3M sampai awal ke-4M) yang merupakan penerus Satawahana/Dinasti Satakarni yang mempunyai keterkaitan dengan tokohRama dalam sage Ramayana. Dinasti Ishwaku didirikan oleh Santamula 1 (220M). Dalam Ramayanadisebutkan bahwa musuh Rama yaitu Dasamuka/Rahwana merupakan seorang raja dari Sri Langka(Alengka). Diceritakan bahwa ketika Rama mencari Sinta, ia bertualang sampai keYawadwipa/Jawadwipa. Kerajaan Pallawa India dikalahkan oleh Aditya Chola 1 (871M-907M) dariChola India dan kemudian dijadikan sebagai bawahan Chola. Pada awal abad ke-13M Pallawa digantikanoleh Dinasti Kadawa yang mengaku sebagai keturunan Pallawa. Kopperunchinga 1 (1216M-1246M) dariDinasti Kadawa berhasil mengalahkan Rajaraja Chola 111 dari Chola kemudian dijadikan bawahanKadawa-Pallawa. Van der Mullen mengatakan bahwa Galuh berasal dari Kutai (Kalimantan Timur) yang pindah keJawa pada awal abad ke-4M sebelum berdirinya Dinasti Kudungga dan agama Hindu di KutaiMartadipura. Raja Kutai yang terkenal adalah cucu Kudungga yang bernama Mulawarman putraAswawarman. Mulawarman adalah raja yang mengeluarkan prasasti Yupa (awal abad ke-5M) yang terdiridari 7 buah. Menurut Nilakanta Sastri, Kudungga berasal dari Kerajaan Pallawa India. Nama Kutaimerupakan nama daerah ditemukannya prasasti Yupa dan tidak diketahui nama sebenarnya dari Kerajaanitu. Jadi baik Kerajaan Kutai Martadipura (Kalimantan Timur) ataupun Kerajaan Tarumanagara (Jawa)berasal dari Kerajaan Pallawa India pada pertengahan abad ke-4M. Prasasti Purnawarman (395M-435M)dari Taruma, prasasti Mulawarman (400M) dari Kutai, dan prasasti Badrawarman (380M-413M) dariChampa merupakan prasasti beraksara Pallawa tertua di Asia Tenggara. Dalam berita China menyebutkanbahwa penguasa Funan bernama Shih li pa mo/Indrawarman (400M-435M). Kerajaan Kutai Martadipurasendiri sejak abad ke-6M tidak ditemukan lagi beritanya sampai abad ke-16M ketika ditaklukan KerajaanKutai Kartanagara. Pada abad ke-3M Kelompok Galuh Purba itu kemudian pindah ke Jawa dan mendaratdi pantai Cirebon kemudian masuk semakin ke dalam sehingga sampai di lereng Gunung Ceremai. Adayang menetap di lereng Gunung Ceremai dan juga ada yang meneruskan perjalanan hingga ke lerengGunung Slamet. Penduduk yang menetap di lereng Gunung Ceremai (Kuningan) kemudian dikenaldengan Sunda dan penduduk yang menetap di lereng Gunung Slamet (Purbalingga) dikenal dengan Galuh
  12. 12. Purba. Berangsur-angsur Orang Sunda pindah ke arah barat yaitu ke Gunung Salak (Bogor). Menurutantropolog bahwa Orang Sunda hidup dengan berladang sedangkan Orang Jawa hidup dengan bertani.Berdasarkan mitos bahwa Suku Jawa dianggap lebih tua dari Suku Sunda karena Orang Jawa lebih dulumemdiami Pulau Jawa dibanding Orang Sunda yang pindah ke pulau Jawa pada abad ke-3M. Hanya terdapat beberapa prasasti yang menggunakan Bahasa Sunda Kuno misalnya prasastiRumatak (1411M), prasasti Kawali (pertengahan abad ke-15M), prasasti Galuh (1470M), prasasti BatuTulis (1533M), prasasti Kebantenan (pertengahan abad ke-16M). Ketiga prasasti yang pertama tersebutditemukan di daerah Ciamis dibuat pada masa pemerintahan Niskala Wastu Kencana sedangkan prasastiBatu Tulis di daerah Bogor dibuat pada masa pemerintahan Baduga Maharaja. Prasasti Kawali, prasastiRumatak dan prasasti Galuh berisikan tentang pembangunan ibukota kerajaan di Kawali. Kerajaan Sundajuga tidak pernah menjalin hubungan diplomatik dengan China. Dengan sedikitnya prasasti berbahasaSunda Kuno sehingga menyebabkan kurangnya informasi akan Kerajaan Sunda. Informasi tentangKerajaan Sunda kebanyakan berasal dari Carita Parahyangan (akhir abad ke-16M) dan Carita RatuPakuan (abad ke-17M). Pada abad ke-17M wilayah Parahyangan Sunda menjadi bagian dari KesultananMataram Jawa. Menurut Rikjklof van Goens (1654M) yang merupakan seorang utusan VOC yang pernahdatang ke ibukota Mataram. Dia melaporkan bahwa Mataram mempunyai basis militer dari Karawanghingga Blambangan. Di Cirebon, Mataram mempunyai basis kekuatan 100.000 prajurit. Di Blambangan,Mataram mempunyai basis kekuatan 20.000 prajurit. Di ibukota Mataram mempunyai basis kekuatan500.000 prajurit. Total keseluruhan basis kekuatan Mataram di Jawa sekitar 920.000 prajurit denganmemiliki senapan api sekitar 115.000 buah. Van Goens menyebutkan bahwa pada tahun 1649MAmangku Rat hendak menyerang Banten dan Bali namun rencana ini ditentang oleh kaum Ulama yangdisebutnya sebagai munafik fanatik. Kemudian beberapa Ulama berkerja sama dengan Pangeran Alituntuk menggulingkan Amangku Rat namun rencana ini gagal. Pangeran Alit kemudian dieksekusi.Sedangkan Ulama yang memihak Pangeran Alit dikumpulkan bersama keluarga dan kerabatnya di tengahalun alun. Setelah terkumpul kemudian Amangku Rat menyuruh prajuritnya untuk menembakkan meriamke arah kumpulan tersebut. Van Goens yang menyaksikan pembantaian tersebut menyebutkan jumlahkorban yang tewas sekitar 6000 orang. Sastra Jawa juga mempengaruhi perkembangan pada SastraSunda misal dalam Carita Waruga Jagad berbahasa Jawa (awal abad ke-18M) dan Carita Waruga Guruberbahasa Sunda (pertengahan abad ke-18M) dimana keduanya mempunyai isi yang hampir sama. Keduanaskah tersebut menyebutkan bahwa pendiri Majapahit bernama Banga sedangkan pendiri Pajajaranbernama Manara. Nama Banga dan Manara sendiri didasari dari legenda Ciung Wanara. Dalam legendaCiung Wanara disebutkan bahwa Banga dan Manara adalah saudara seayah. Isi Waruga Jagad danWaruga Guru juga tercantum nama-nama Sultan Mataram Jawa. Pengaruh itu diawali ketika pada tahun1579M Kerajaan Pajajaran (penerus Kerajaan Galuh Sunda) runtuh akibat serangan dari Demak, Cirebon,Banten. Pada akhir abad ke-16M Kerajaan Pajajaran kemudian digantikan oleh Kerajaan SumedangLarang yang dulunya merupakan bawahan Pajajaran. Sumedang Larang berdiri pada akhir abad ke-14Mdan menjadi wilayah otonomi setelah Kerajaan Galuh dibawah naungan Kerajaan Majapahit Jawa. Jadipada akhir abad ke-16M di Sunda ada tiga Kerajaan yaitu Kesultanan Banten, Kesultanan Cirebon danKerajaan Sumedang. Wilayah Kesultanan Banten in meliputi Karesidenan Banten. Wilayah KesultananCirebon meliputi Karesidenan Cirebon. Wilayah Kerajaan Sumedang ini meliputi KaresidenanParahyangan. Pada akhir abad ke-16M Kerajaan Sumedang Larang dan Kesultanan Cirebon diserang olehKesultanan Mataram Jawa dan wilayahnya kemudian dianeksasi. Pada tahun 1597M Kesultanan MataramJawa menyerang Kesultanan Banten namun gagal dimana kejadian tersebut disaksikan oleh para pelayarBelanda. Dalam Naskah Wangsakerta (awal abad ke-20M) disebutkan bahwa Dyah Lembu Tal menikah
  13. 13. dengan Jayadharma putra Dharmasiksa yang kemudian melahirkan Wijaya (pendiri Majapahit) sedangkanCarita Parahyangan (akhir abad ke-16M) sendiri tidak terdapat nama Jayadharma dan Dharmasiksa.Nama Dharmasiksa sendiri diambil dari teks Siksakanda (awal abad ke-16M). Dalam KakawinNegarakertagama (1365M) karya Mpu Prapanca disebutkan bahwa Dyah Lembu Tal bukanlah seorangperempuan melainkan laki-laki, dia merupakan putra dari Narasinghamurti (Pararaton menyebut dengannama Mahisa Cempaka) dan menjadi panglima perang dari Maharaja Dhiraja Kertanagara dari Tumapel.Narasinghamurti (Mahisa Cempaka) sendiri merupakan putra dari Parameswara (Mahisa Wunga Teleng).Dan Parameswara (Mahisa Wunga Teleng) merupakan putra dari Rajasa. Ketika Rajasa berkuasa diTumapel tahun 1222M, Parameswara ditunjuk oleh ayahnya sebagai Yuwaraja di Daha. Cerita dariKakawin Negarakertagama tersebut diperkuat dengan adanya prasasti Balawi (1305M) yang menyatakanbahwa Wijaya merupakan keturunan dari Rajasa. Jadi cerita dari Negarakertagama lebih dapat dipercayakarena ditulis 56 tahun setelah Wijaya meninggal. Dalam Negarakertagama disebutkan pada saatpemerintahan Maharaja Kartanagara dari Tumapel pernah menaklukan Sunda. Kemungkinan pada saat ituyang menjadi panglima dari Kerajaan Tumapel adalah Dyah Lembu Tal. Isi Naskah Wangsakerta sendiridipengaruhi oleh cerita dalam Babad Tanah Jawi (1788M) yang menyebutkan bahwa pendiri Majapahityaitu Wijaya disebut dengan nama Jaka Sesuruh. Dalam Babad Tanah Jawi juga terdapat nama Bangamerupakan saudara dari Jaka Sesuruh. Diceritakan bahwa Banga diserang oleh Manara kemudian diameminta bantuan kepada saudaranya yaitu Jaka Sesuruh. Dalam Babad Tanah Jawi, Banga dan JakaSesuruh merupakan keturunan dari Kuda Laleyan dari Kahuripan. Diceritakan bahwa Kuda Laleyanmerupakan putra dari Panji dari Kahuripan (Jenggala) dengan Candra Kirana dari Daha (Panjalu/Kadiri).Dalam kenyataan sejarahnya bahwa Panji berasal dari Daha (Kadiri) sedangkan Candra Kirana berasaldari Kahuripan (Jenggala). Dalam Babad Tanah Jawi diceritakan bahwa Kuda Lalean pergi ke barat danmenjadi raja di Pajajaran. Kemungkinan ketika Panjalu/Kadiri diserang oleh Tumapel pada tahun 1222M,banyak bangsawan Panjalu/Kadiri yang melarikan diri ke arah barat ke Kerajaan Galuh dan kemudianmendirikan Kerajaan Panjalu Ciamis. Pada masa pemerintahan Maharaja Kartanagara dari Singosari(Tumapel), disebutkan bahwa wilayah kekuasaannya membentang hingga ke Sunda. Sebelumnya padamasa Maharaja Dhiraja Wisnuwardhana dari Tumapel juga pernah melakukan penyatuan Mandala Jawakemungkinan dengan melakukan ekspansi ke Galuh dan Sunda seperti halnya pada zaman MaharajaAirlangga dimana pada waktu itu Haji Sunda yang bernama Jayabupati merupakan salah satu mandaladari Kerajaan Kahuripan sehingga Jayabupati mendapat gelar Mandalaswara sedangkan Airlanggabergelar Lokaswara (pusat dari Mandala). Sedangkan isi cerita dalam Babad Tanah Jawi sebelum abadke-15M atau sebelum adanya pengaruh Islam (zaman Demak), kurang dapat dipercaya untukmenverifikasi isi babad diperlukan informasi dari teks Jawa Kuno dari zaman Majapahit misal Pararaton(awal abad ke-16M) dan Kakawin Negarakertagama (1365M). Cerita tentang Jaka Sesuruh dalam BabadTanah Jawi (akhir abad ke-18M) kemungkinan dipengaruhi isi dari Carita Waruga Jagad (awal abad ke-18M). Menurut Waruga Jagad (awal abad ke-18M) cerita mengenai Banga dan Manara berasal darizaman Majapahit, sedangkan menurut Naskah Wangsakerta (awal abad ke-20M) cerita mengenai Bangadan Manara berasal dari zaman Mataram Kuno. Menurut Naskah Wangsakerta, Sanjaya dari Mataramberhasil menguasai Pulau Jawa kemudian keturunannya yang bernama Banga menguasai wilayah barat(Sunda) sedangkan Manara menguasai wilayah timur (Galuh) dengan batasnya adalah sungai Citarum. Didalam prasasti Wanua Tengah (908M) juga terdapat nama Manara yaitu Maharaja Rakai Warak DyahManara (803M-827M) dari Kerajaan Medang i Mataram yang merupakan keturunan dari Sanjaya(717M). Kemungkinan pembagian wilayah ini terjadi pada zaman Rakai Warak Dyah Manara. Pada abadke-19M Sastra Sunda sendiri khususnya di Cirebon terpengaruh oleh Sastra Jawa Surakarta. Pengaruh ini
  14. 14. terlihat dari Serat Parwa (akhir abad ke-19M) dan Naskah Wangsakerta berbahasa Jawa dengan AksaraJawa yang ditemukan di Cirebon dan ditulis sekitar awal abad ke-20M. Naskah Wangsakerta jugamendasari ceritanya dari Carita Parahyangan (akhir abad ke-16M) yang berisi sejarah awal Sunda hinggaakhir Kerajaan Pajajaran akibat serangan Kesultanan Demak, Cirebon, dan Banten (akhir abad ke-16M).Dalam Carita Parahyangan tidak mengenal Kerajaan Taruma. Sedangkan menurut Naskah Wangsakerta(awal abad ke-20M) Kerajaan Sunda Galuh merupakan penerus Kerajaan Taruma. Nama Taruma barudikenal pada akhir abad ke-19M setelah ditemukan prasasti tentang kerajaan itu. Dalam CaritaParahyangan tidak mengenal nama Tarusbawa. Selain sejarah Kerajaan Sunda, naskah ini jugamenceritakan sejarah Kerajaan Jawa sejak zaman Kelingga sampai Majapahit. Namun demikian naskahini tidak mencantumkan sejarah Kerajaan Tumapel. Para sejarawan sendiri meragukan isi NaskahWangsakerta khususnya sebelum abad ke-15M untuk dijadikan sebagai sumber sejarah karena tidak adaadanya bukti yang mendukungnya misal prasasti yang beraksara Sunda Kuno ataupun naskah kuno.Prasasti tertua berbahasa Sunda Kuno dengan Aksara Sunda Kuno sendiri berasal dari abad ke-15Msedangkan naskah kuno Sunda tertua berasal dari abad ke-16M. Hal itu berbeda dengan Kerajaan Baliyang terdapat banyak prasasti dari pertengahan abad ke-9M hingga pertengahan abad ke-14M. Bukti lainkeberadaan Kerajaan Galuh adalah candi Cangkuang (Garut) bercorak Hindu yang memiliki tipikal yangsama dengan candi Dieng Jawa yang dibuat pada awal abad ke-8M. Candi Cangkuang merupakan candisatu-satunya peninggalan Kerajaan Galuh. Nama asli dari Negarakertagama adalah Desawarnana (penjelasan mengenai keadaan negara)sebuah nama yang diberikan oleh pengarangnya sendiri. Nama Prapanca merupakan sebuah namasamaran dari pengarangnya. Nama Prapanca dalam Bahasa Sansekerta berarti kesedihan, rintanganterhadap laku utama (kesesatan, kesombongan, kenginan). Pengarang Negarakertagama sendiri mengakuibahwa dia menggunakan nama samaran Prapanca karena merasa dirinya cacat/tercela. Dia sendirimemberikan arti nama Prapanca sebagai pra-lima yaitu Prapanca, Pracacah, Pracacad, Prapongpong, danPracongcong. Cara berbicaranya lucu, matanya terlinyap, kalau tertawa terbahak-bahak, terlalu bodohuntuk menerima tutur/nasihat, tidak patut ditiru, lebih baik dipukuli saja. Menurut Slamet Mulyana, namaasli dari Prapanca adalah Nadendra (Nada-Indra). Disebutkan bahwa nama asli dari Prapanca terdiri daripancaksara (lima huruf). Kata Nadendra sendiri terdiri dari lima huruf yaitu Na Da Na Da Ra. DiNegarakertagama juga terdapat nama Mpu Wi-nada. Dia merasa tidak pantas menyandang namaNadendra (sebuah nama yang bagus sekali) karena itulah dia memakai nama samaran yaitu Prapanca.Menurut Slamet Mulyana, Nadendra merupakan seorang mantan Dharmadhayaksa Kasogatan (Jaksauntuk pemeluk agama Budha) di Majapahit pada tahun 1358M. Dia menduduki jabatan DharmadhayaksaKasogatan sebagai ketika masih muda sebagai pengganti dari kedudukan ayahnya yang juga seorangDharmadhayaksa. Disebutkan bahwa dia ketika masih kecil menyukai kakawin seperti halnya ayahnya.Pada tahun 1359M, Prapanca/Nadendra pernah ikut dalam sebuah rombongan plesir/piknik MaharajaDyah Hayam Wuruk ketika sedang berkeliling ke wilayah Kerajaan Majapahit. Pengalaman itulah yangdikenang oleh dia saat membuat sebuah kakawin Negarakertagama/Desawarnana. Dalam sebuah prasastidisebutkan bahwa Nadendra merupakan seorang yang putus (khatam) ilmu. Menurut Slamet Mulyana,Nadendra dipecat dari jabatannya karena adanya fitnah/celaan terhadap dirinya yang dilakukan olehseorang bangsawan. Pengarang Negarakertagama yaitu Prapanca mengakui bahwa dirinya dicela olehseorang Dyah (Bangsawan). Namun dia tidak marah terhadap orang yang mencelanya itu. Kemungkinanfitnah yang ditujukan terhadapnya adalah mengenai harta kekayaannya yang banyak. DalamNegarakertagama disebutkan bahwa setelah berhenti dari jabatan sebagai Dharmadhayaksa, diamendermakan semua harta miliknya untuk kaum miskin. Kemudian menjadi seorang pertapa di desa
  15. 15. terpencil di Kamalasana, di lereng sebuah gunung. Tempat dia berperang melawan hawa nafsunya untukmencapai nirwana. Nama Kamalasana dalam Bahasa Sansekerta berarti Karangasem. Di daerahKarangasem Bali dan Klungkung Bali juga terdapat kakawin Negarakertagama seperti halnya yangterdapat di Mataram Lombok. Ketika pertama kali tinggal di desa yang terpencil, dirinya merasa kikuk,berbeda dengan suasana di ibukota dekat Maharaja. Disebutkan bahwa ketika dirinya masih muda, diasering menemui Hayam Wuruk. Dia merupakan teman sepermainan dari Hayam Wuruk saat masih kecil.Dia menggubah Kakawin Negarakertagama sebagai pujian untuk Maharaja Hayam Wuruk agarkerajaannya damai dan tentram. Dia memakai nama samaran supaya ciri-cirinya tidak mudah dikenalibanyak orang. Dia tidak berharap kakawinnya sampai pada tempat Maharaja karena memang dirinyaberada di tempat terpencil. Dan apabila kakawin ini sampai juga di tangan Maharaja, dia berharapMaharaja mengenalinya dan mengenangnya. Menurut Slamet Mulyana, Prapanca ingin dirinya diangkatkembali sebagai Dharmadhayaksa Kasogatan oleh Maharaja Hayam Wuruk. Namun ada rintangan yangmenghalanginya kembali menduduki jabatannya. Menurut Slamet Mulyana rintangan itu adalahMahapatih Gajah Mada, karena kakawin Negarakertagama diselesaikan pada tahun 1365M setelahkematian Gajah Mada pada tahun 1364M. Menurut Slamet Mulyana, kakawin ini tidak sampai ke tanganMaharaja Hayam Wuruk karena kakawin ini tidak terkenal di Jawa. Berbeda dengan keadaan di Balidimana kakawin ini tersebar dan disimpan di tempat-tempat yang suci. Mungkin nama Prapanca tidaksampai ke telinga Hyam Wuruk pada abad ke-14M namun namanya akan dikenal dan dikenang berabad-abad setelah kematiannya. Pada pertengahan abad ke-8M Sriwijaya dikuasai oleh Wangsa Sailendra dari Jawa denganrajanya bernama Dharanindra. Kemudian Balaputradewa cucu Dharanindra/Sangramadhanamjayamenjadi raja Sriwijaya berdasarkan prasasti Nalanda. Pada abad ke-10M Lampung dan Barus (terletak dipesisi barat Sumatra) lebih dominan dipengaruhi Medang Jawa dibanding Sriwijaya dibuktikan denganadanya prasasti Hujung Langit (Lampung, 997M). Pada abad ke-10M terjadi persaingan antara Jawadengan Sriwijaya dalam memperebutkan dominasi selat Malaka seperti yang disebutkan dalam buku TaoChih Lio oleh Wang Ta Yan dan yang memuncak pada tahun 990M saat pasukan Dharmawangsa Teguhdari Medang menyerang ke Palembang (Sriwijaya) dan mendudukinya sebentar sampai awal abad ke-11M sebelum Sriwijaya ditaklukkan oleh Kerajaan Chola India pada tahun 1025M. Penaklukan Cholamenyebabkan Wangsa Sailendra di Sriwijaya runtuh dan perlahan-lahan pusat pemerintahan mulaibergeser dari Palembang ke Jambi pada akhir abad ke-11M. Bukti arkeologi di Kerajaan Barus (berdiripada abad ke-9M) menunjukkan bahwa Barus tidak dibawah pengaruh Sriwijaya melainkan berhubungandengan Kerajaan Jawa. Bukti pengaruh Jawa di Barus, misalnya temuan koin Jawa Kuno, prasastiberbahasa Jawa Kuno dan artefak dari zaman Kadiri. Menurut sejarawan, pada masa itu yang memakaimata uang koin dalam perdagangan adalah Jawa dan Barus. Seperti halnya dengan Kerajaan Jawa,Kerajaan Barus ini juga memiliki hubungan perdagangan yang erat sekali dengan para pedagang Chola-India. Dibuktikan dengan adanya prasasti Lobu Tua (1088M) berbahasa Tamil dengan Aksara Tamil diBarus. Di Pennai (berdiri pada abad ke-10M) juga ditemukan sebuah percandian bernama Candi Bahal.Candi ini didirikan pada abad ke-11M. Diperkuat dengan adanya prasasti Gunung Tua (abad ke-11M) diPadang Lawas yang menggunakan bahasa Malayu Kuno dengan Aksara Kawi (Jawa Kuno) yangditemukan di sekitar Candi Bahal. Selain itu di Pasaman juga ditemukan artefak berupa ukiran Ganeshayang memiliki gaya Jawa zaman Kadiri pada abad ke-12M. Lambang Ganesha merupakan lambangpasukan (seal) Kerajaan Panjalu/Kadiri yang membuktikan adanya pengaruh Jawa. Pada awal abad ke-12M pengaruh Chola India di Sumatra dan Semenanjung Malaya mulai menghilang. Di SemenanjungMalaya setelah pengaruh Chola menghilang, raja Kedah mulai beralih dari agama Hindu ke Islam pada
  16. 16. tahun 1160M (berdasarkan Hikayat Kedah awal abad ke-19M). Sedangkan di Sumatra setelah pengaruhChola menghilang, muncul Wangsa Mauli mulai mengambil alih kekuasaan di Malayu (Jambi). Buktikeberadaan Wangsa Mauli dapat dilihat dari adanya nama Srimat Trailokyaraja MaulibhusanaWarmadewa dalam prasasti Grahi (1183M) berbahasa Malayu Kuno dengan Aksara Kawi (Jawa Kuno).Nama Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa mungkin merupakan leluhur dari SrimatTribhuwanaraja Mauli Warmadewa dari Malayu (Dharmasraya) dalam prasasti Padang Roco (1286M).Nama “Srimat” sendiri berarti “Tuan Pendeta”, tidak diketahui dengan pasti apakah ada kebangkitankaum pendeta. Sejak tahun 1178M Kaisar Dinasti Sung China melarang utusan dari San-fo-tsi untukdatang lagi ke China. Dalam buku Ling-wai Tai-ta oleh Chou Ku Fei (1178M) disebutkan bahwa terdapatdua kerajaan besar di Nusantara yaitu San fo Tsi (Sumatra) dan Shepo (Jawa). Menurut buku tersebutnegara kaya selain China secara berurutan adalah Tarshish, Shepo (Jawa), San Fo Tsi (Sumatra). Dalambuku Chu-fan-chi oleh Chau Ju-kua (1225M) disebutkan San-fo tsi menguasai pesisir timur Sumatra danSemenanjung Malaya sedangkan Shepo menguasai Kalimantan dan Nusantara bagian Timur. Disebutkanbahwa San-fo-tsi memiliki beberapa daerah bawahan, yaitu Kia-lo-hi (Grahi/Surat Thani), Tan-ma-lin(Tambalingga/Nakhon Thammarat), Pa-ta (Pathalung), Fo-lo-an (Kuala Berang), Ling-ya-si-kia(Langkasuka/Pattani), Ki-lan-tan (Kelantan), Tong-ya-nong (Trengganu), Pong-fong (Pahang), Tsien-mai(Saimwang), Ji-lo-ting (Jelotung/Penang), Sin-to (Sunda), Pa-lin-fong (Palembang), Kien-pi (Jambi),Lan-mu-li (Lamuri/Banda Aceh), dan Si-lan. Dari daftar tersebut dapat diketahui bahwa Sriwijayamenguasai pantai timur Sumatra sedangkan kerajaan di pantai barat Sumatra seperti Barus dan Pennaitidak disebut sama sekali. Kemungkinan wilayah tersebut di luar pengaruh Sriwijaya. Selain itu daridaftar tersebut juga diketahui bahwa pada awal abad ke-13M. Kesultanan Pasai (berdiri pada akhir abadke-13M) dan Kesultanan Haru (berdiri pada awal abad ke-14M) belum berdiri sedangkan KesultananPerlak (berdiri pada pertengahan abad ke-12M) mungkin juga belum menjadi pelabuhan yang besar.Dalam buku Chu-fan-chi oleh Chau Ju-kua (1225M) disebutkan Shepo (Jawa) memiliki beberapa daerahbawahan yaitu Pai-hua-yuan, Ma-tung, Jung-ya-luh, Ta-pen, Ta-kang, Tan-jung-wu-lo, Ma-li, Ping-yai,Ku-lun, Ti-wu, Wu-nu-ku, Huang-ma-chu, Hi-ning, Jeng-gi. Kerajaan Kadiri juga memiliki angkatan lautyang dipimpin oleh seorang Senopati Sarwwajala (Laksamana) dalam prasasti Jaring (1181M). Sejak awal abad ke-8M hingga runtuhnya Kerajaan Sriwijaya, tidak pernah lagi dijumpai prasastiberkaitan dengan Sriwijaya. Tidak seperti pada akhir abad ke-7M saat pemerintahan Dapunta HyangJayanasa yang banyak mengeluarkan prasasti yang berbahasa Malayu Kuno dengan Aksara Pallawa.Tidak adanya bukti prasasti tersebut menyebabkan kekurangan informasi akan kondisi internal Sriwijaya.Nama-nama yang diperoleh dari berita Dinasti Sung China tersebut bukanlah nama para Maharajasebenarnya melainkan hanya nama duta ataupun raja bawahan (bergelar Haji) yang diutus oleh MaharajaSriwijaya ke China. Nama-nama Maharaja Sriwijaya kebanyakan diperoleh dari India misal Cula-mani-warman, Mara-wijaya-tungga-warman, dan Sangrama-wijaya-tungga-warman dalam prasasti Chola India(1044M). Prasasti tersebut dibuat oleh Maharaja Rajendra Chola 1 dari Chola India setelah mengalahkanSriwijaya. Jika melihat gelar “Tungga” yang dipakai oleh Maharaja Sriwijaya kemungkinan mendapatkanpengaruh dari Jawa. Dalam prasasti Kanton China (1079M) yang dibuat oleh Maharaja Kulothunga Chola1 (1070M-1118 M) dari Chola India dalam rangka peresmian sebuah candi Budha di Kanton yang dibuatatas nama Sriwijaya. Maharaja Chola India sendiri beragama Hindu. Kulothunga Chola 1 dari Chola Indiajuga pernah mengirim utusan ke Dinasti Sung China pada tahun 1077M. Pada tahun 717M, Sanjaya naik tahta Kerajaan Medang menggantikan pamannya yaitu Sanna.Pada tahun 717 Masehi atau 639 Saka digunakan sebagai permulaan dari penanggalan/kalender Sanjaya
  17. 17. yang dibuat pada masa pemerintahan Maharaja Mpu Daksa dari Medang. Kerajaan Medang beribukota diMataram berdasarkan prasasti Canggal (732M) berbahasa Sansekerta dengan Aksara Pallawa. Di dalamprasasti itu Sanjaya dikenal sebagai seorang yang ahli perang dan menguasai kitab suci yang menyatukanJawa kembali setelah terjadi kekacauan akibat meninggalnya raja pendahulu yang bernama Sanna.Penggambaran Sanjaya (abad ke-8M, pendiri Kerajaan Medang) sebagai Raja-Resi atau Ratu-Pandhitamirip dengan penggambaran Purnawarman (abad ke-5M, Kerajaan Taruma), Airlangga (abad ke-11M,pendiri Kerajaan Panjalu/Kadiri), Sangramawijaya (abad ke-14M, pendiri Kerajaan Majapahit), danSutawijaya (abad ke-17M, pendiri Kesultanan Mataram Jawa) bahkan Soekarno (abad ke-20M, pendiriRepublik Indonesia). Dalam Babad Tanah Jawi, Sutawijaya digambarkan sebagai raja dan panglimaperang sekaligus pemimpin agama yang memiliki spiritualitas tinggi dan menyatukan kerajaan kembali.Hal ini dapat dilihat dari gelar yang dipakai Sultan Agung yaitu Sampeyan Dalem Ingkang SinuhunKanjeng Sri Susuhunan Adi Prabu Hanyakrakusuma Senopati ing Ngalaga Abdurrahman SayiddinPanatagama Khalifatullah yang berarti panglima perang, pelayan Tuhan, pemimpim agama, dan wakilTuhan. Sultan Agung sendiri ingin menjadi Gung Binatara seperti halnya penguasa Singosari danMajapahit yang memakai gelar Batara. Orang Belanda myebutnya sebagai Kaiser von Mataram Java(Kaisar i Jawi). Menuru Carita Parahyangan (akhir abad ke-16M), Sanjaya pernah menyerang Malayu.Sejak tahun 730M, Kerajaan Sriwijaya tidak diketahui beritanya lagi baik dalam bentuk prasasti maupunberita dari China. Pada tahun 960M hubungan diplomatik antara Sriwijaya dengan China muncul kembalisejak awal berdirinya Dinasti Sung China (pertengahan abad ke-10M) yang kali ini disebut sebagai SanFo Tsi bukan lagi Shih Li Fo Tsi seperti pada awal abad ke-8M. Pada abad ke-8M selain Kerajaan Medang ada sebuah kerajaan di Jawa bernama Kanjuruhan(Malang). Raja Kanjuruhan bernama Gajayana putra Dewasimha hal tersebut didasarkan pada prasastiDinoyo (Malang, 760M) berbahasa Jawa Kuno dengan Aksara Kawi (Jawa Kuno). Prasasti tersebut lebihmuda sepuluh tahun dari prasasti Plumpungan (Salatiga, 750M) berbahasa Jawa Kuno dengan AksaraKawi. Dalam prasasti Canggal (732M) disebutkan bahwa Sanjaya putra Sannaha menggantikankedudukan pamannnya yaitu Sanna. Dikatakan bahwa sepeninggalan (meninggal) Sanna, kerajaanmenjadi terpecah.. Kemudian Sanjaya dapat menyatukan kerajaan kembali dan mendirikan kerajaan barubernama Medang. Ketika Sanjaya mendirikan Kerajaan Medang kemungkinan Gajayana putraDewasimha ini pindah ke arah timur dan mendirikan Kerajaan Kanjuruhan. Dalam prasasti Dinoyo(760M), Gajayana disebutkan mempunyai seorang putri bernama Uttajena yang menikah denganJananiya. Dapat dipastikan bahwa pada tahun 760M Gajayana telah meninggal. Prasasti Dinoyomerupakan satu-satunya prasasti peninggalan Kerajaan Kanjuruhan dan setelah itu tidak diketahuiberitanya lagi. Pada pertengahan abad ke-8M Kanjuruhan ini kemungkinan dianeksasi oleh KerajaanMedang pada masa Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Pancapana putra Rakai Mataram Sang RatuSanjaya. Rakai Panangkaran merupakan penguasa pertama di Medang yang memakai gelar Maharaja.Bukti lain keberadaan Kerajaan Kanjuruhan adalah candi Badut (Malang) bercorak Hindu yang dibuatpada masa pemerintahan raja Gajayana. Candi Badut memiliki tipikal yang sama dengan candi GedongSongo (Ungaran/sebelah utara Salatiga) yang dibuat pada masa Sanjaya dari Medang. Prasasti tertua lainyang memakai bahasa Jawa Kuno dengan Aksara Kawi adalah prasasti Sukabumi (Kadiri, 804M). Bosch dalam karangannya yang berjudul Sriwijaya, de Sailendrawamsa en de Sanjayawamsa(1952M). Ia menyebutkan bahwa, di Kerajaan Medang terdapat dua Dinasti yang berkuasa, yaitu DinastiSanjaya dan Sailendra. Istilah Wangsa Sanjaya merujuk kepada nama pendiri Kerajaan Medang, yaituSanjaya. Dinasti ini menganut agama Hindu aliran Siwa, dan berkiblat ke Kunjaradari di daerah India.
  18. 18. Maharaja selanjutnya ialah Rakai Panangkaran yang dikalahkan oleh Dinasti lain bernama WangsaSailendra. Sejak saat itu di Medang terdapat dua Dinasti yaitu Sanjaya (di utara Jawa) dan Sailendra (diselatan Jawa). Sampai akhirnya seorang putri mahkota Sailendra yang bernama Pramodawardhani (putriMaharaja Samaratunggadewa) menikah dengan Rakai Pikatan, seorang keturunan Sanjaya. Rakai Pikatankemudian mewarisi takhta mertuanya. Dengan demikian, Wangsa Sanjaya kembali berkuasa di Medang.Bosch juga memberikan daftar silsilah para Maharaja Wangsa Sanjaya, sekaligus juga silsilah keluargamulai dari Sanjaya sampai Balitung.Daftar Wangsa Sanjaya berdasarkan prasasti Mantyasih (907M) oleh Bosch:Rakai Mataram SanjayaRakai PanangkaranRakai PanunggalanRakai WarakRakai GarungRakai PikatanRakai KayuwangiRakai WatuhumalangRakai Watukura Asumsi yang dipakai oleh Bosch adalah bahwa nama rakai adalah nama silsilah wangsa. Tetapibanyak sarjana lain yang menolak teori ini contohnya Slamet Mulyana. Menurutnya, daftar tersebutbukanlah silsilah Wangsa Sanjaya, melainkan daftar para Maharaja yang pernah berkuasa di KerajaanMedang. Nama “Rakai” itu sendiri seperti nama “Batara” (Bre) dalam zaman Majapahit yang berarti(Penguasa di atau Pejabat di) misalnya Bre Kahuripan, Bre Daha, Bre Tumapel, Bre Kertabumi ataupunnama “Adipati” pada zaman Islam misalnya Adipati Demak, Adipati Pajang, Adipati Mataram. Biasanyasebelum menjadi Maharaja lebih dahulu menjadi penguasa daerah yang masih mempunyai hubungankeluarga dengan Maharaja yang masih menjabat. Misal Fatah (Adipati Demak) mendirikan KesultananDemak, Hadiwijaya (Adipati Pajang) mendirikan Kesultanan Pajang, dan Sutawijaya (Adipati Mataram)mendirikan Kesultanan Mataram. Menurut berita China dari Dinasti Tang bahwa Kerajaan Medangdipimpin oleh seorang Maharaja yang mempunyai 28 daerah bawahan yang merupakan wilayah ke-rakai-an. Dalam pusat pemerintahan, Maharaja Medang dibantu oleh 4 Rakaian Mahamantri Katrini yangdijabat keluarga Maharaja yaitu Rakaian i Hino, Rakaian i Halu, Rakaian i Sirikan, dan Rakaian i Wikayang merupakan jabatan untuk keluarga Maharaja. Selain itu ada Mantri yang kedudukannya dibawahkedudukan Mahamantri. Dewan Mantri ini disebut dengan nama Rakaian Mantri Pakira-kiran yangdipimpin seorang Mahapatih (Perdana Menteri), Dewan Mantri itu misalnya Rakaian i Kanuruhan,Rakaian i Rangga dan Rakaian i Demung. Bosch juga mengatakan bahwa pendiri Wangsa Sailendra bernama Bhanu berdasarkan prasastiPlumpungan (Salatiga,750M) berbahasa Jawa Kuno dengan Aksara Kawi (Jawa Kuno). Bhanu kemudianmengalahkan Maharaja Rakai Panangkaran. Padahal dalam prasasti itu Bhanu hanya disebutkanmemberikan sebidang tanah perdikan dengan persetujuan dari Sang Sidhadewi. Kemungkinan besar iahanya menjabat sebagai bawahan pada Kerajaan Medang. Dan Bhanu sendiri tidak bergelar “Maharaja”namun hanya bergelar “Haji” (gelar setingkat dibawah Maharaja). Analisis Slamet Mulyana terhadap beberapa prasasti, misalnya prasasti Kelurak, prasastiKayumwungan, prasasti Siwagraha, dan prasasti Nalanda menyimpulkan bahwa Rakai Panangkaran,Rakai Panunggalan, Rakai Warak, dan Rakai Garung adalah anggota Wangsa Sailendra. Alasan yang
  19. 19. dipakai adalah bahwa Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Pancapana sendiri bergelarSailendrawamsatilaka (Permata Wangsa Sailendra) berdasarkan prasasti Kalasan (778M) berbahasaSansekerta dengan Aksara Pranagari/ Siddham. Jadi Slamet Mulyana, menolak pendapat bahwa RakaiPanangkaran dikalahkan Wangsa Sailendra karena Panangkaran sendiri merupakan anggota WangsaSailendra. Dalam prasasti Mantyasih (907M) Rakai Panangkaran merupakan penerus Rakai MataramSang Ratu Sanjaya. Para penguasa Jawa dulu memakai gelar “Ratu” sebelum memakai gelar “Maharaja”misal Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Setelah masa pemerintahan Rakai Panangkaran DyahPancapana dan seterusnya, para pengusa Jawa memakai gelar Maharaja. Baik kata “Ratu” (prasastiCanggal) dan “Datu” (prasasti Talaga Batu) berasal dari bahasa Sansekerta dan mempunyai arti yangsama dengan “Raja”. Dalam prasasti Mantyasih (907M) dikatakan bahwa Maharaja Rakai Panangkaran(prasasti Kalasan, 778M) digantikan oleh Maharaja Rakai Panunggalan. Menurut Slamet Mulyana,Maharaja Rakai Panunggalan identik dengan Dharanindra/Sangramadhanamjaya dalam prasasti Kelurak(782M) berbahasa Sansekerta dengan Aksara Pranagari/Siddham. Menurut Slamet Mulyana pada masa pemerintahan Dharanindra dari Wangsa Sailendra penguasaKerajaan Medang pada abad ke-8M menyerang Kerajaan Sriwijaya dan menjadikannya sebagai rajabawahan didasarkan pada prasasti Kelurak (782M), prasasti Ligor B, prasasti Nalanda India. KemudianDharanindra menyerang Kerajaan Chenla-Kamboja dan Champa hal ini didasarkan pada prasasti Ligorsisi B dan diperkuat dengan adanya catatan Kerajaan Khmer-Kamboja (berdiri pada awal abad ke-9M)yaitu prasasti Sdok Kak Thom dan Kerajaan Champa (berdiri pada awal abad ke-3M dan menjadiKerajaan Hindu pada awal abad ke-5M) yaitu prasasti Po Nagar. Ligor terletak di Nakhon Thammaratyang dulunya bernama Tambralingga (berdiri pada abad ke-8M). Disebutkan bahwa pada tahun 782M,pihak Jawa pernah menyerang Champa (prasasti Po Nagar). Dan Ada seorang pangeran Chenla dibawa keJawa yang bernama Jayawarman (prasasti Sdok Kak Thom). Ketika kembali ke Chenla dia mendirikanKerajaan Khmer dan melepaskan diri dari Jawa pada tahun 802M. Sebelumnya dalam berita Chinadisebutkan bahwa pada tahun 767M daerah Tonkin (Annam) pernah diserang oleh Chopo (Jawa) namundapat dipukul mundur oleh Gubernur China di Tonkin yang bernama Chang Po Yi. Kemungkinanpenyerangan ini dilakukan oleh Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Pancapana dari Medang. MenurutCoedes, prasasti Ligor A dan B dibuat pada waktu sama. Menurut Slamet Mulyana, prasasti Ligor A danprasasti Ligor B sendiri mempunyai perbedaan dalam tata bahasa yang digunakan. Hal ini menunjukanbahwa waktu pembuatan antara prasasti Ligor A dan prasasti Ligor B berbeda. Prasasti Ligor A (775M)berbahasa Sansekerta dengan Aksara Pallawa dibuat oleh seseorang (tidak diketahui namanya).Sedangkan dalam prasasti Ligor B (dibuat sekitar tahun 775M sampai 782M) berbahasa Sansekertadengan Aksara Pallawa dibuat oleh seseorang yang dipuja bagaikan Dewa Wisnu. Nama “Wisnu” sendirimempunyai arti yang sama dengan nama “Dharanindra” dalam prasasti Kelurak (782M) yaitu “pelindungdunia”. Dharanindra sendiri mempunyai nama abhiseka yaitu Sri Sang-rama-dhanamjaya (prasastiKelurak, 782M). Dalam mitogi Hindu, Sang Rama merupakan jelmaan dari Dewa Wisnu. Nama Wisnupada prasasti Ligor B mempunyai julukan “Sarwwarimawimathana”, Dharanindra/Sangramadhanamjayapada Prasasti Kelurak (782M) mempunyai julukan “Wairiwarawiramardana”, dan kakek dariBalaputradewa putra Samaragrawira dalam prasasti Nalanda mempunyai julukan “Wirawairimathana”dimana ketiga nama julukan itu mempunyai arti yang sama yaitu “pembunuh musuh musuh perwira”.Dalam prasasti Nalanda, kakek dari Balaputradewa disebut sebagai anggota Wangsa Sailendra dariYawabhumi (Jawa) sedangkan Balaputradewa sendiri menyebut dirinya sebagai Maharaja dariSwarnadwipa (Sumatra). Menurut Coedes, tokoh “Wisnu” dan “Maharaja yang berjulukanSarwwarimawimathana” yang terdapat dalam prasasti Ligor B merupakan dua orang yang berbeda. Jadi
  20. 20. tokoh ‘Wisnu” berbeda dengan tokoh “Dharanindra/Sangramadhanamjaya” walaupun memiliki arti namadan julukan yang sama. Coedes berpendapat bahwa Maharaja yang berjulukan “Sarwwarimawimathana”merupakan penerus dari Wisnu. Menurut Slamet Mulyana, nama “Wisnu” hanyalah sebuah nama julukandari Dharanindra/Sangramadhanamjaya. Jadi nama “Wisnu” bukanlah sebuah nama sebenarnyamelainkan hanya sebuah julukan seseorang yang dipuja bagaikan Dewa Wisnu. Prasasti lain yangberhubungan dengan Wangsa Sailendra adalah prasasti Abhayagiriwihara (792M) berbahasa Sansekertadengan Aksara Pranagari/Siddham atas nama Dharmatunggadewa. Menurut Slamet Mulyana, Maharaja Dharanindra kemudian digantikan oleh putranya yangbernama Samaragrawira (prasasti Nalanda). Dewi Tara putri Dharmasetu bawahan MaharajaDharanindra dinikahkan dengan Samaragrawira. Pendapat Coedes yang mengatakan bahwa Dharmasetuadalah Maharaja Sriwijaya ditolak Slamet Mulyana karena berdasarkan prasasti Kelurak (782M)berbahasa Sansekerta dengan Aksara Pranagari/Siddham, Dharmasetu hanya ditugasi oleh Dharanindrauntuk merawat bangunan suci di desa Kelurak dan juga Dharmasetu disebutkan berasal dari Jawa. JadiDharmasetu bukan Maharaja Sriwijaya melainkan hanya sebagai raja bawahan. Karena tidak ada satupunprasasti yang mengkaitkan Dharmasetu dengan Sriwijaya atau tidak ada satupun prasasti tentangDharmasetu yang ditemukan baik di Sumatra maupun di Semenanjng Malaya. Dalam prasasti Kelurak(782M), Dharmasetu sendiri tidak bergelar sebagai Maharaja. Selain di prasasti Kelurak (782M) namaDharmasetu hanya tercantum dalam prasasti Nalanda. Pada prasasti itu disebutkan bahwa Balaputradewaputra Samaragrawira putra dari seseorang yang berjulukan “Wirawairimathana” dari Wangsa Sailendrasedangkan ibunya bernama Dewi Tara putri Dharmasetu dari Wangsa Soma. Kakek dari Balaputradewadisebutkan berasal dari Yawabhumi (Jawa). Balaputradewa menyebut dirinya sebagai sebagai Maharajadari Swarnadwipa (Sumatra). Menurut Krom, bahwa Balaputradewa adalah putra Samaratunggadewakarena nama Samaratunggadewa (prasasti Kayuwungan, 824M) dianggap identik dengan namaSamaragrawira karena kemiripan namanya. Pendapat Krom ini ditolak Slamet Mulyana, karenaSamaratunggadewa hanya memiliki satu anak yang bernama Pramowardhani berdasarkan prasastiKayuwungun (824M) sedangkan julukan “Wirawairimathana” ditujukan ke Dharanindra.Samaratunggadewa lebih cocok dikatakan sebagai kakak dari Balaputradewa daripada sebagai ayahnya.Menurut Slamet Mulyana, dari pernikahan Samaragrawira dan Dewi Tara diberi dua anak yang bernamaSamaratunggadewa dan Balaputradewa. Dari prasasti Nalanda dapat diambil kesimpulan bahwaBalaputradewa mempunyai dua kakek yaitu Dharanindra (dari sisi ayahnya) dan Dharmasetu (dari sisiibunya). Lebih jauh lagi Slamet Mulyana mengatakan bahwa Samaragrawira putra Dharanindra nantinyamembagi kerajaan menjadi dua yaitu Yawadwipa/Medang untuk Samaratunggadewa danSwarnadwipa/Sriwijaya untuk Balaputradewa agar lebih mudah melakukan administrasi. Karena padamasa pemerintahan Samaragrawira, Kerajaan Khmer Kamboja lepas dari Jawa pada tahun 802M (prasastiSdok Kak Thom). Dalam prasasti Mantyasih (907M) dikatakan bahwa Maharaja Rakai Panunggalandigantikan oleh Maharaja Rakai Warak. Menurut Slamet Mulyana, Maharaja Rakai Panunggalan identikdengan Dharanindra sedangkan Maharaja Rakai Warak identik dengan Samaragrawira. Menurut Coedes, pada akhir abad ke-8M Wangsa Sailendra dibawah pengaruh Sriwijaya denganmasih beranggapan bahwa Dharmasetu merupakan Maharaja Sriwijaya. Sedangkan menurut SlametMulyana, Sriwijaya dibawah kekuasaan Wangsa Sailendra. Manakah yang lebih dulu berpengaruh antaraDharmasetu dari Wangsa Soma dengan Wisnu dan Indra dari Wangsa Sailendra. Sudah diketahui bahwaDharanindra dan Dharmasetu merupakan kakek dari Balaputradewa (prasasti Nalanda). Sedangkan
  21. 21. Coedes sendiri berpendapat Dharanindra (prasasti Kelurak, 782M) merupakan penerus dari Wisnu(prasasti ligor B). Menurut Coedes bahwa nama “Wisnu” dan “Dharanindra/Sangramadhanamjaya” dianggap tidakidentik walaupun memiliki makna nama dan julukan yang sama. Sedangkan menurut Slamet Mulyana,nama “Wisnu” dan “Dharanindra/Sangramadhanamjaya” dianggap identik. Menurut Krom bahwa nama“Samaragrawira” dan “Samaratunggadewa” dianggap identik. Sedangkan menurut Slamet Mulyanamenganggap nama “Samaragrawira” dan “Samaratunggadewa” tidak identik. Pada masa pemerintahan Samaratunggadewa, dia mempunyai raja bawahan bernama RakaiPatapan Mpu Palar (prasasti Kayuwungan, 824M). De Casparis menemukan bahwa, dalam prasasti Keduterdapat informasi tentang desa Guntur yang masuk wilayah Garung, serta masuk pula wilayah Patapan.Atas dasar ini, Rakai Patapan dianggap identik dengan Maharaja Rakai Garung dalam daftar paraMaharaja dalam prasasti Mantyasih (907M). Rakai Garung adalah Maharaja sebelum Rakai Pikatan, yangmerupakan menantu dari Samaratunggadewa. Kesimpulannya ialah, Rakai Patapan Mpu Palar pada tahun824M masih menjadi bawahan Samaratunggadewa. Kemudian pada tahun 827M ia sudah membangunKerajaan sendiri dan memakai gelar Maharaja Rakai Garung. Putranya bernama Rakai Pikatan MpuManuku menikah dengan Pramodawardhani putri Samaratunggadewa sehingga bisa mewarisi takhtaKerajaan Medang. Teori De Casparis ini ditolak oleh Slamet Mulyana. Menurutnya, prasasti Gandasuli(827M) dikeluarkan ketika Mpu Palar sudah meninggal. Gelar terakhir Mpu Palar menurut prasastiGandasuli ialah Haji, yaitu gelar di bawah Maharaja. Jadi Haji Rakai Patapan Mpu Palar tidak mungkinsama dengan Maharaja Rakai Garung. Kedudukan Haji Rakai Patapan Mpu Palar seperti kedudukan HajiDharmasetu. Nama Rakai Garung juga terdapat dalam prasasti Pengging (819M) berbahasa Jawa Kunodengan Aksara Kawi. Selain itu, disebutkan dalam prasasti Ganadasuli (827M) bahwa anak-anak MpuPalar semuanya perempuan, jadi tidak mungkin ia berputra Rakai Pikatan. Ditinjau dari tata bahasaprasasti Gandasuli (827M), tokoh Rakai Patapan Mpu Palar diperkirakan berasal dari pulau Sumatra. Danjuga prasasti yang berhubungan dengan Rakai Patapan Mpu Palar selalu menggunakan bahasa MalayuKuno seperti prasasti Kayuwungan (824M) dan prasasti Gandasuli (827M). Dalam prasasti Kayuwungan(824M) sendiri terdapat dua bahasa yaitu bahasa Sansekerta yang berhubungan denganSamaratunggadewa dan bahasa Malayu Kuno yang berhubungan dengan Rakai Patapan Mpu Palar.Dalam prasasti Munduan (807M) diketahui yang menjabat sebagai Rakai Patapan adalah Mpu Manuku.Kemudian pada prasasti Kayumwungan (824M) Rakai Patapan dijabat oleh Mpu Palar. Namun, padaPrasasti Tulang Air (850M) Mpu Manuku kembali memimpin daerah Patapan. Jadi tidak mungkin MpuManuku adalah anak Mpu Palar karena Mpu Manuku lebih dulu menjabat daripada Mpu Palar.Kesimpulannya ialah, Mpu Manuku mula-mula menjabat sebagai Rakai Patapan. Kemudian ia diangkatoleh Samaratunggadewa sebagai Rakai Pikatan, sehingga jabatannya digantikan oleh Mpu Palar, seorangpendatang dari Sumatra. Atas jasa-jasa dan kesetiaannya, Mpu Palar kemudian diangkat sebagai rajabawahan bergelar Haji. Rakai Pikatan Mpu Manuku berhasil menikahi Pramodawardhani sang putrimahkota bahkan berhasil menjadi Maharaja Kerajaan Medang sepeninggal Samaratunggadewa.Kemudian setelah Mpu Palar meninggal, daerah Patapan kembali diperintah Mpu Manuku. Mungkindijadikan satu dengan daerah Pikatan. Dalam prasasti Munduan tahun 807M Mpu Manuku sudahmenjabat sebagai Rakai Patapan, padahal pada tahun 824M Pramodawardhani masih menjadi gadis. Iniberarti di antara keduanya terdapat perbedaan usia yang cukup jauh. Mungkin usia Rakai Pikatan MpuManuku sebaya dengan mertuanya, yaitu Samaratunggadewa. Menurut Slamet Mulyana, Maharaja RakaiGarung (prasasti Gandasuli, 827M) identik dengan Maharaja Samaratunggadewa (prasasti Kayuwungan,
  22. 22. 824M). Dalam daftar Maharaja Medang dalam prasasti Mantyasih (907M) disebutkan bahwa MaharajaRakai Garung memerintah sebelum Maharaja Rakai Pikatan. Samaratunggadewa kemudian digantikan oleh putrinya yang bernama Pramowardhani yangmenikah dengan Rakai Pikatan. Candi Borobudur sendiri didirikan pada masa pemerintahan MaharajaSamaratugga sedangkan candi Prambanan didirikan oleh pada masa Maharaja Rakai Pikatan danPramowardhani. Candi Borobudur didesain oleh seorang arsitek Jawa yang bernama Gunadharma. CandiPrambanan dilihat dari desainnya merupakan perpaduan arsitektural Hindu dan Budha seperti halnyaperpaduan antara Maharaja Rakai Pikatan (Hindu) dengan Pramowardhani (Budha). NamaPramowardhani putri Samaratunggadewa dalam prasasti Kayuwungan (824M) sendiri dianggap identikdengan nama Sri Kahuluan dalam prasasti Tri Tepusan (842M) berbahasa Sansekerta dengan AksaraKawi. Pendapat lain dikemukakan oleh Boechari yang menafsirkan Sri Kahulunan sebagai ibu suri.Misalnya, dalam Mahabharata tokoh Yudhisthira memanggil ibunya, yaitu Kunti, dengan sebutan SriKahulunan. Jadi, menurut Boechari, Sri Kahulunan bukan Pramodawardhani, melainkan ibunya.Kemungkinan pada tahun 842M, Samaratunggadewa sudah meninggal. Pramowardhani ini dianggapidentik dengan Rakai Sanjiwana yang beragama Budha dan merupakan nenek dari Maharaja RakaiWatukura Dyah Balitung. Dia sendiri mempunyai gelar abhiseka Iswarakesawa Samaratunggadewadimana hal tersebut menunjukkkan ada hubungan antara Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitungdengan Samaratunggadewa. De Casparis juga menyatakan bahwa Pramowardhani dan Rakai Pikatanberselisih dengan Balaputradewa akibat perebutan tahta. Kemudian Balaputradewa menyingkir keSriwijaya dan menjadi Maharaja disana setelah kalah dari Rakai Pikatan. Hal tersebut didasarkan padaprasasti Siwagraha (855M) dimana disebutkan pernah terjadi pertempuran antara Rakai Mamrati SangJatiningrat (Rakai Pikatan) melawan musuh yang membangun benteng dari batu (Benteng Ratu Baka).Benteng ini dulunya merupakan sebuah candi Budha yang didirikan pada akhir abad ke-8M yangkemudian dirubah menjadi benteng pertahanan pada pertengahan abad ke-9M. Letak benteng ini sangatdekat dengan candi Prambanan. Dalam prasasti Wantil (856M) ditemukan istilah Walaputra yangmenurut De Casparis dianggap identik dengan Balaputradewa dalam prasasti Nalanda (860M). MenurutBoechari pada Benteng Ratu Baka (yang dianggap sebagai tempat persembunyian Balaputradewa ketikaterjadi pertempuran dengan Rakai Pikatan) sama sekali tidak ditemukan bukti-bukti peninggalanBalaputradewa malahan yang ditemukan adalah prasasti peninggalan bangsawan yang bernama RakaiWalaing Mpu Kumbhayoni yang mengaku sesama keturunan Sanjaya. Rakai Walaing Mpu Kombhayoniberasal dari Grobogan-Blora. Karena kebanyakan prasasti tentangnya berasal dari wilayah tersebut. Buktilain menunjukkan adanya kerusakan pada sebagian prasasti Pereng (863M) berbahasa Jawa Kuno denganAksara Kawi yang mencatat urutan silsilah Rakai Walaing. Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni merupakanketurunan dari Sang Ratu Halu. Kerusakan ini seolah sengaja dilakukan oleh Rakai Pikatan. RakaiWalaing Mpu Kumbhayoni mengaku cicit dari Sang Ratu Halu dan masih keturunan dari raja yangmemerintah di Yawapura. Rakai Walaing merupakan pemuja Agastya dan penganut agama Siwa Hindu.Sang Ratu Halu menurut Boechari adalah adik dari raja yaitu Sang Ratu Sanjaya. Menurut prasasti SdokKak Thom pada tahun 802M negeri Kamboja berhasil melepaskan diri dari Jawa. Mungkin hal inimenjadi alasan Samaragrawira pada akhir pemerintahannya membagi kekuasaan Wangsa Sailendra untukkedua putranya. Samaratunggadewa berkuasa di Yawadwipa (Jawa), sedangkan Balaputradewa berkuasadi Swarnadwipa (Sumatra). Balaputradewa mendapatkan Swarnadwipa memang karena dia mempunyaihak sebagai cucu dari Dharanindra. Jadi yang memberontak pada Maharaja Rakai Pikatan Mpu Manukubukanlah Balaputradewa melainkan Rakai Walangin Mpu Kumbhayoni yang sama-sama mengakuketurunan raja. Istilah Walaputra sendiri bukanlah identik dengan Balaputradewa. Justru istilah Walaputra
  23. 23. identik dengan “putra bungsu” yaitu Rakai Kayuwangi putra Rakai Pikatan yang dipuji berhasilmengalahkan musuh kerajaan.Daftar Wangsa Sailendra di Jawa yang diambil dari kesimpulan Coedes dan De Casparis:Sangramadhanamjaya (prasasti Ligor B, prasasti Kelurak, 782M, prasasti Nalanda India) (775M-792M1)Samaratunggadewa (prasasti Kayuwungan, 824M) aka Samaragrawira (792M-827M2)Daftar Wangsa Soma di Jawa :Dharmasetu, merupakan bawahan Dharanindra/Sangramadhanamjaya yang ditugasi untuk merawat bangunan suci (prasasti Kelurak, 782M)Dewi Tara, merupakan putri dari Dharmasetu, istri dari Samaragrawira, ibu dari Balaputradewa, dan menantu dari seorang yang bergelar “Wirawairimathana” (prasasti Nalanda). Nama Dewi Tara juga terdapat dalam prasasti Kalasan (778M) bersama nama Maharaja Rakai Panangkaran1 prasasti Abhayagiriwihara (792M) atas nama Dharmatunggadewa, Menurut De Casparis, prasastitersebut dibuat oleh Samaratunggadewa walaupun namanya tidak tercantum.2 Prasasti Gandasuli (827M) atas nama Rakai Patapan Mpu Palar. Dalam prasasti Kayuwungan (824M)disebutkan Mpu Palar masih merupakan bawahan Samaratunggadewa. Menurut De Casparis, RakaiPatapan Mpu Palar identik dengan Rakai Garung. Menurut De Casparis, Mpu Palar merebut sebagianwilayah kekuasaan dari Samaratunggadewa pada tahun 827M. Kemudian putra Rakai Patapan Mpu Palaryang bernama Rakai Pikatan menikahi Pramowardhani putri Samaratunga dan dapat menjadi Maharaja.Akhirnya Rakai Pikatan dapat mengalahkan Balaputradewa saat terjadi perang perebutan tahta (prasastiSiwagraha, 855M) dan kemudian Balaputradewa melarikan diri ke Sriwijaya serta menjadi MaharajaSwarnadwipa (prasasti Nalanda). Jadi sengketa antara Balaputradewa dengan Rakai Garung dan RakaiPikatan berlangsung selama hampir 28 tahun? (827M-855M). Balaputradewa putra Samaragrawira(dianggap identik dengan Samaratunggadewa) dapat menjadi Maharaja Sriwijaya karena mewarisi tahtadari garis ibunya yang bernama Dewi Tara putri Dharmasetu dari Wangsa Soma. Dengan berasumsibahwa Dharmasetu dari Wangsa Soma merupakan Maharaja Sriwijaya, walaupun tidak ada prasasti yangmengkaitkan Dharmasetu dengan Sriwijaya. Bahkan Dharmasetu sendiri tidak bergelar sebagai“Maharaja” dan hanya bergelar “Haji” (prasasti Kelurak, 782M). Dan juga tidak ada satupun prasasti diJawa pada zaman Medang yang menyebut adanya nama Sriwijaya. Dan juga nama Dharmasetu tidakterdapat di Sumatra dan Semenanjung Malaya.Slamet Mulyana memberikan daftar para Maharaja Medang berdasarkan prasasti Mantyasih (907M)dikaitkan dengan Wangsa Sailendra sebagai berikut.Rakai Panangkaran (prasasti Kalasan, 778M)Rakai Panunggalan aka Sangramadhanamjaya (prasasti Kelurak, 782M, prasasti Nalanda)Rakai Warak aka Samaragrawira (prasasti Nalanda)Rakai Garung aka Samaratunggadewa (prasasti Kayuwungan, 824M)Kusen memberikan daftar para Maharaja Medang berdasarkan prasasti Wanua Tengah 111 (908M)sebagai berikut :Rakai Medang (Sanjaya) 717M-27 November 746MRakai Panangkaran Dyah Pancapana 27 November 746M-1 April 784MRakai Panaraban Dyah Tamperan* 1 April 784M-28 Maret 803MRakai Warak Dyah Manara 28 Maret 803M-5 Agustus 827MDyah Gula 5 Agustus 827M-24 Januari 828MRakai Garung 24 Januari 828M-22 Februari 847M
  24. 24. Rakai Pikatan Dyah Saladu 22 Februari 847M-27 Mei 855MRakai Kayuwangi Dyah Lokapala 27 Mei 855M-8 Februari 885MDyah Tagwas 8 Februari 885M-27 September 885MRakai Limus Dyah Dawendra 27 September 885M-27 Januari 887MRakai Gurunwangi Dyah Badra 27 Januari 887M-24 Februari 887MVacuum of Power (krisis suksesi) 24 Februari 887M-27 November 894MRakai Wungkalhumalang Dyah Jibang 27 November 894M-23 Mei 898MRakai Watukura Dyah Balitung 23 Mei 898M-910M*Dalam Carita Parahyangan Sunda (abad ke-16M), Rakai Panaraban mempunyai nama asli DyahTamperan. Prasasti Wanua Tengah 111 lebih lengkap daripada prasasti Mantyasih karena dilengkapidengan penanggalan yang akurat dan daftar Maharaja Medang yang lebih lengkap. Menurut Kusen, Rakai Panaraban dalam prasasti Wanua Tengah 111 (908M) merupakan RakaiPanunggalan dalam prasasti Mantyasih (907M) yang merupakan Maharaja setelah Rakai Panangkaran.Sedangkan Rakai Wungkalhumalang merupakan Rakai Watuhumalang, karena baik nama Wungkalmaupun Watu mempunyai arti yang sama yaitu Batu. Menurut Kusen, Rakai Panaraban merupakan putradari Rakai Panangkaran. Nama Panaraban dan Manara juga terdapat di Carita Parahyangan. Dalam ceritaitu Panaraban mempunyai nama lain yaitu Dyah Tamperan. Selain itu disebutkan juga bahwa Manaramerupakan putra dari Panaraban. Menurut Kusen, Rakai Garung merupakan putra dari Rakai Warak.Sedangkan Dyah Gula merupakan putra dari Rakai Warak. Kusen memberikan argumen kenapa dalamprasasti Mantyasih (907M) nama Dyah Tagwas, Dyah Dawendra, Dyah Badra tidak disebutkan karenaketiganya tidak memiliki kedaulatan penuh atas kerajaan. Menurut Kusen, ketiga nama tersebutditurunkan dari tahta. Krisis suksesi tersebut menyebabkan kekosongan kekuasaan dari tahun 887Msampai tahun 894M. Hal tersebut juga pernah terjadi di zaman Majapahit dari tahun 1453M sampai tahun1456M. Menurut Kusen, Notosusanto dan Poesponogoro bahwa Rakai Panangkaran Dyah Pancapanaidentik dengan Sri Sangramadhanamjaya dalam prasasti Kelurak (782M) karena kedua nama tersebutsama-sama disanjung dengan nama Sailendrawamsatilaka. Dan juga prasasti-prasasti seperti prasastiKalasan (778M), prasasti Ligor B, prasasti Kelurak (782M) dibuat pada masa pemerintahan RakaiPanangkaran (746M-784M). Menurut Kusen, baik nama Samaratunggadewa maupun Samaragrawiramerupakan satu orang yang identik dan merupakan putra dari Rakai Panangkaran Dyah Pancapana akaSangramadhanamjaya. Rakai Panangkaran Dyah Pancapana merupakan penguasa pertama di Jawa yangmempunyai gelar Maharaja. Dengan kata lain Rakai Panangkaran dapat disebut sebagai Maharajapertama di Jawa. Nama seorang penguasa Jawa biasanya mempunyai beberapa nama yaitu: nama jabatan (biasanyadiawali dengan kata Rakai, Batara, Adipati), nama asli (biasanya diawali dengan kata Dyah, Mpu, Arya,Raden), dan nama gelar/abhiseka (biasanya diakhiri dengan kata Tunggadewa). Misalnya Rakai WatukuraDyah Balitung mempunyai nama abhiseka yaitu Iswarakesawat-samaratunggadewa.dan Rakai KayuwangiDyah Lokapala mempunyai nama abhiseka yaitu Sajjanotsawattunggadewa.Wissemen-Christie memberikan daftar para Maharaja Medang berdasarkan prasasti Wanua Tengah 111dikaitkan dengan Wangsa Sailendra.Rakai Panangkaran Dyah Pancapana abhisekanya Sangramadhanamjaya (prasasti Kalasan, 778M, prasasti Ligor B, prasasti Kelurak, 782M, prasasti Nalanda)Rakai Panaraban Dyah Tamperan abhisekanya Dharmatunggadewa (prasasti Abhayagiriwihara, 792M)
  25. 25. Rakai Warak Dyah Manara abhisekanya Samaratunggadewa (prasasti Kayuwungan, 824M) Menurut Wisseman-Christie, Balaputradewa merupakan putra dari Dyah Gula yang mempunyaigelar abhiseka Samaragrawira (prasasti Nalanda). Menurut prasasti tersebut Balaputradewa disebutkansebagai anak dari Samaragrawira dan cucu dari seseorang yang bergelar “Wirawairimathana” dimanagelar tersebut sama seperti gelar yang dipakai Sangramadhanamjaya (prasasti Kelurak, 782M). Lebihcocok bila dikatakan bahwa Balaputradewa merupakan putra dari Rakai Panaraban (Dharmatunggadewa).Jadi Samaragrawira identik dengan Dharmatunggadewa. Dengan kata lain Balaputradewa merupakanadik dari Samaratunggadewa. Slamet Mulyana mengatakan bahwa Dharanindra/Sangramadhanamjayaberhasil menaklukan Sriwijaya. Menurut Kusen dan Wisseman-Christie bahwa Sangramadhanamjayamerupakan nama abhiseka dari Rakai Panangkaran Dyah Pancapana (746M-784M). Penyerangan Tonkin-Annam (767M), Kamboja, dan Champa (775M dan 782M) serta pembuatan prasasti Ligor (775M) terjadipada masa pemerintahan Rakai Panangkaran Dyah Pancapana (746M-784M). Menurut CaritaParahyangan (abad ke-16M) disebutkan bahwa Sanjaya (717M-746M) pernah menyerang Malayu. SlametMulyana mengatakan bahwa Samaragrawira membagi kerajaan menjadi dua yaitu Yawadwipa/Medanguntuk Samaratunggadewa dan Swarnadwipa/Sriwijaya untuk Balaputradewa agar lebih mudah melakukanadministrasi. Karena pada masa pemerintahan Samaragrawira, Kerajaan Khmer Kamboja lepas dari Jawapada tahun 802M (prasasti Sdok Kak Thom). Jika benar Samaragrawira sama dengan Rakai Panaraban(784M-803M) dimana mempunyai gelar abhiseka Dharmatunggadewa (prasasti Abhayagiriwihara,792M) maka pembagian kekuasaan untuk Samaratunggadewa dengan Balaputradewa terjadi pada tahun803M yaitu setahun setelah Khmer melepaskan diri dari Jawa. Pembagian tersebut seperti yang dkatakanoleh Slamet Mulyanan. Tahun 803M tersebut juga bertepatan dengan kenaikan tahta Rakai Warak DyahManara (803M-807M).Daftar para Maharaja Jawa :Rakai Medang i Mataram SanjayaRakai Panangkaran Dyah Pancapana abhisekanya Sri SangramadhanamjayaRakai Panunggalan/Panaraban Dyah Tamperan abhisekanya Sri DharmatunggadewaRakai Warak Dyah Manara abhisekanya Sri SamaratunggadewaDyah GulaRakai Garung aka Mpu CaturaRakai Pikatan Dyah Saladu aka Mpu ManukuRakai Kayuwangi Dyah Lokapala abhisekanya Sri SajjanotsawattunggadewaDyah TagwasRakai Limus Dyah DawendraRakai Gurunwangi Dyah BadraRakai Watuhumalang/Wungkalhumalang Dyah Jibang aka Mpu TeguhRakai Watukura Dyah Balitung abhisekanya Sri IswarakesawatsamaratunggadewaRakai Hino Mpu Daksa abhisekanya Sri DhaksotamatunggadewaRakai Layang Dyah Tulodong abhisekanya Sri SajjanasanmatanuratunggadewaRakai Sumba Dyah Wawa abhisekanya Sri WijayalakamamotunggadewaRakai Hino Mpu Sindok abhisekanya Sri Isyana WikramadharmatunggadewaPutri Mpu Sindok abhisekanya Sri Isyana WijayatunggadewiMakutawangsa abhisekanya Sri Isyana Makutawangsa Wardhana WikramadharmatunggadewaDharmawangsa abhisekanya Sri Isyana Dharmawangsa Teguh Ananta WikramadharmatunggadewaAirlangga abhisekanya Sri Lokaswara Dharmawangsa Airlangga Ananta WikramatunggadewaSamarawijaya abhisekanya Sri Samarawijaya Dharmasuparna Teguh Sakalabuwana Uttunggadewa

×