Your SlideShare is downloading. ×
History of-java
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

History of-java

3,201
views

Published on


0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
3,201
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
54
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. History of Java Nusantara Kebudayaan Orang Jawa dapat dimulai dengan zaman perunggu (abad ke-3SM sampai abad ke-3M). Kebudayaan perunggu Nusantara mempunyai kaitan erat dengan kebudayaan perunggu Dongson diAnnam. Kebudayaan Dongson mulai berkembang di Indo-China pada masa peralihan dari periodeMesolitik ke Neolitik. Sebelum zaman Mesolitik, ada zaman Paleolitik dengan ditemukannya fosil HomoErectus di Pulau Jawa khususnya di daerah Sangiran, Trinil, dan Ngandong. Homo Erectus tersebutumumnya dikenal dengan nama Homo Erectus Soloensis karena fosilnya ditemukan di daerah BengawanSolo. Fosil Homo Erectus Soloensis tertua yang ditemukan di Jawa berumur sekitar 1 Ma atau 1 jutatahun. Pada umumnya Homo Erectus dianggap punah pada tahun 400.000SM namun berdasarkan analisisterhadap rahang tengkorak terhadap 17 specimen Homo Erectus Soloensis diperkirakan masih tetap eksissampai tahun 50.000SM. Selain fosil Homo Erectus Soloensis, di Jawa juga ditemukan fosilMeganthropus. Umur fosil Meganthropus lebih tua dibanding dengan Homo Erectus Soloensis.Meganthropus kemudian lebih dikenal dengan nama Homo Erectus Paleo-javanicus Austronesia merupakan istilah yang diberikan oleh ahli lingustik untuk menyebut suatu rumpunbahasa yang dituturkan di Kepulauan Asia Tenggara, Micronesia, Melanesia, Polinesia. Austronesiaberasal dari kata Ausro yang berarti Selatan dan Nesos yang berarti Pulau. William van Humboltmerupakan orang yang pertama kali mengajukan istilah Malayo-Polynesia untuk menyebut bahasa dikawasan Semenanjung Malaya di barat sampai Polynesia di timur. Kemudian Wilhem Schimdtmengajukan istilah Austronesia untuk menyebut bahasa Malayo-Polynesia. Selain itu dia jugamengajukan hipotesis Austric yang merupakan nenek moyang bahasa Austronesia dan Austroasiatic.Bahasa Austronesia terdiri dari bahasa Malayu, Jawa, Tagalog, Sunda, Bugis, dan Cham. Ketiga bahasayang disebut terawal merupakan bahasa terbesar yang digunakan di kawasan Malayo-Polynesia. MenurutBellwood, Austronesia berasal dari Taiwan dan China selatan. Sedangkan bahasa Austroasiatic terdiridari bahasa Thai, Lao, Mon, Khmer-Kamboja, dan Viet. Robert van Heien Geldern merupakan ahliarkeologi pertama yang memakai konsep budaya Austronesia dari para linguist. Dia berpendapat bahwaluas budaya Austronesia dapat ditunjukan dengan persebaran budaya Vierkantbeil Atze dengan ciriutamanya adalah dengan kehadiran beliung berpenampang lintang persegi. Wilheim G. Solheimmengajukan teori bahwa wilayah geografis persebaran gerabah Sa Huynh dan Kalanay di Kepulauan AsiaTenggara dan Lapita di Melanesia memiliki hubungan dengan persebaran Austronesia. Dia mengajukanistilah “Nusantao” yang diambil dari kata “Nusantara” untuk menyebut kelompok Austronesia danbudayanya. Solheim memberi arti pada kata “ Nusantao” yaitu “ Orang Selatan” seperti halnya kata”Austronesia”. Malayo-Polynesia barat terdiri dari Sumatra dan pantai barat Semenanjung Malaya. MalayoPolynesia tengah terdiri dari Semenanjung Indochina, pantai timur Semenanjung Malaya, Luzon-Mindanao, Kalimantan, Jawa-Sumbawa, Sulawesi, dan Maluku. Malayo Polynesia timur terdiri dariPapua, Melanesia, Polynesia. Menurut Solheim, Malayo-Polynesia tengah berasal dari SemenanjungIndochina tepatnya di wilayah Cham. Kebudayaan Dongson secara keseluruhan dapat dinyatakan sebagai hasil karya bangsaAustronesia yang terutama menetap di Annam (Indochina). Penamaan kebudayaan ini sendiri diambil darisitus Dongson di Tanh Hoa. Jika ditarik kembali ke belakang kebudayaan Dongson di Annam berasal dari
  • 2. Yunnan (China selatan). Dari Yunnan ini menyebar ke Asia Tenggara sampai ke pulau Jawa. Asumsiyang digunakan adalah benda-benda perunggu di Yunnan dengan benda-benda perunggu yang ditemukandi Dongson (Annam) dan di Nusantara (misalnya Pahang, Riau, Jambi, Palembang, Jawa, Bali, Sumbawa,Selayar) mempunyai kesamaan bentuk dan materi. Hal tersebut nampak dari artefak-artefak kehidupansehari-hari ataupun peralatan bersifat ritual yang sangat rumit sekali. Ukiran benda perunggu yangterdapat di Yunnan menunjukkan adanya pengaruh kebudayaan Scythian (Saka) berupa perburuanbinatang seperti ox dengan cara mengendarai kuda. Nama “Saka” dalam bahasa China dikenal dengannama “Sai/Sek”. Scythian sendiri merupakan salah satu cabang suku bangsa Iran. Benda-benda tersebutmisalnya kapak dengan selongsong, ujung tombak, pisau belati, mata bajak, topangan berkaki tiga,gerabah, jambangan rumah tangga, mata timbangan, kepala pemintal benang, dan perhiasan-perhiasan(gelang dari kerang, manik-manik dari kaca). Semua benda tersebut atau hampir semuanya diberi hiasangeometri. Bentuk geometri merupakan ciri dasar dari kesenian ini diantaranya berupa jalinan arsir-arsir,segitiga dan spiral yang tepinya dihiasi garis-garis yang bersinggungan. Hasil karya yang terkenal adalahNekara Perunggu. Hasil karya ini merupakan benda religius pada masyarakat dahulu. Nekara ini sendiridikaitkan dengan siklus pertanian. Dengan mengandalkan pengaruh ghaibnya, nekara ini ditabuh untukmenimbulkan bunyi petir yang berkaitan dengan datangnya hujan. Nekara perunggu ini dapat ditemukandi Jambi, Jawa, Bali, Sumbawa, dan Selayar. Bejana Perunggu dapat ditemukan di Jambi dan Madura.Arca Perunggu dapat ditemukan di Jambi, Palembang, dan Jawa. Perhiasan Perunggu ditemukan di Jawadan Bali. Masyarakat Dongson adalah masyarakat petani dan peternak yang handal. Mereka terampilmenanam padi, memelihara kerbau dan babi, serta memancing. Mereka menetap di pematang pesisir,terlindung dari bahaya banjir, dalam rumah panggung besar dengan atap yang melengkung lebar danmenjulur menaungi emperannya. Selain bertani, masyarakat Dongson juga dikenal sebagai masyarakatpelaut, bukan hanya nelayan tetapi juga pelaut yang melayari seluruh laut China Selatan dengan perahuyang panjang. Kebudayaan Dongson di Annam ini kemudian menyebar ke delta sungai Mekong. Kerajaan Funan (berdiri pada awal abad ke-2M) merupakan kerajaan Hindu pertama di sungaiMekong. Kerajaan Champa (berdiri pada awal abad ke-3M) yang terletak di sebelah utara Funan menjadikerajaan Hindu karena adanya pengaruh interaksi dengan Kerajaan Funan. Jika dilihat dari budaya danbahasa yang digunakan, orang Funan dan Champa termasuk dalam bangsa Austronesia. Pada masapemerintahan Sri Mara (205M-225M) dari Funan, Kerajaan Funan mengalami puncak kejayaan karenaadanya dominasi perdagangan di laut China Selatan. Pada tahun 270M Kerajaan Funan dan Champaberaliansi melakukan penyerangan terhadap wilayah China di Tonkin (Annam) tetapi serangan ini gagal.Ibukota Kerajaan Funan dinamakan Wyadhapura (Kota Para Pemburu) sekarang terletak di Banam,Kamboja. Menurut berita China bangsa ini suka berperang dan mempunyai ciri-ciri berambut hitam ikaldan bermata tajam. Bangsa Funan hidup dengan bercocok tanam padi dan berdagang. Pada masapemerintahan Indrawarman (akhir abad ke-5M), Kerajaan Funan mempunyai beberapa kerajaan bawahanseperti Chenla-Kamboja (Champasak, berdiri pada awal abad ke-6M), Dwarawati-Mon (Lopburi, berdiripada awal abad ke-6M), di Semenanjung Malaya ada Pan-Pan (Kelantan, berdiri pada awal abad ke-6M),Langkasuka (Pattani, berdiri pada awal abad ke-6M), dan Raktamaritika (Songkla, berdiri pada awal abadke-6M). Setelah masa pemerintahan Rudrawarman (550M), Kerajaan Funan menjadi kacau akibat adanyaserangan dari Bhawawarman dari Chenla-Kamboja. Bhawawarman dari Chenla-Kamboja sendiri merasaberhak atas tahta Funan. Kerajaan Chenla-Kamboja didirikan oleh Shrusthawarman (awal abad ke-6M).Pada masa pemerintahan Isanawarman (616M-635M) dari Chenla-Kamboja berhasil mengalahkan Funan.Kerajaan Chenla-Kamboja merupakan cikal bakal dari Kerajaan Khmer Kamboja (berdiri pada tahun802M). Pada awal abad ke-7M Kerajaan Chenla-Kamboja menguasai Dwarawati (Mon) yang kemudian
  • 3. menjadi Kerajaan Lavo (Mon). Kerajaan Lavo dibawah pengaruh Kerajaan Khmer Kamboja sampai akhirabad ke-13M. Pada abad ke-8M wilayah Thai dibawah pengaruh Kerajaan Lavo (Mon) bahkan raja Lavomengangkat kepala suku Thai sebagai raja di Ngoenyang. Sedangkan putri dari raja Lavo dijadikansebagai penguasa di Haripunchai. Pada tahun 1087, Kerajaan Lavo dapat menangkis serangan dariKerajaan Pagan Burma (berdiri pada pertengahan abad ke-11M sampai akhir abad ke-13M). Sebelumnyapada tahun 1057M Kerajaan Pagan Burma juga dapat menaklukan Kerajaan Thaton-Mon (berdiri padaawal abad ke-9M). Menurut sejarawan berdasarkan berita China pada abad ke-5M, ada beberapa kerajaan di Sumatradan Jawa misal Holotan dari Shepo dan Kantoli. Nama tersebut kemudian diidentifikasi oleh parasejarawan misal Holotan dari Shepo dengan Harutan dari Jawa dan Kantoli dengan Kandali. KerajaanHolotan dari Shepo pernah mengirim utusan ke Dinasti Sung China (420M-479M) pada tahun 430M,437M, dan 452M. Kerajaan Kantoli pernah mengirim utusan ke Dinasti Sung China pada tahun 454M dan461M. Menurut berita Dinasti Ming China, San Fo Tsi dulunya disebut dengan nama Kantoli. Parasejarawan kemudian mengindentifikasikan San Fo Tsi dengan Sumatra dan Kantoli dengan Kandali.Nama San Fo Tsi pertama kali muncul pada berita Dinasti Sung China. Letak Kerajaan Kantoli (Kandali)kemungkinan di Jambi. Kerajaan Kandali ini kemungkinan digantikan oleh Kerajaan Malayu (berdiripada awal ke-7M). Menurut berita Dinasti Tang China, pada tahun 645M Kerajaan Malayu (Jambi)mengirim utusan ke Dinasti Tang China. Menurut Slamet Mulyana, ibukota Malayu terletak di daerahperbukitan di Muara Tebo, Jambi. Pada akhir abad ke-7M muncul Kerajaan Sriwijaya (berdiri pada akhirabad ke-7M) dengan pendirinya bernama Dapunta Hyang Jayanasa (prasasti Talang Tuo, 684M).Menurut Pierre-Yves Manguin, ibukota Sriwijaya terletak di daerah perbukitan di Bukit Siguntang.Hal ini didasarkan pada Sejarah Malayu (awal abad ke-17M) yang menyebutkan bahwa Parameswarapendiri Malaka (awal abad ke-15M) berasal dari Bukit Siguntang. Dengan berasumsi bahwa Parameswaramerupakan seorang pangeran Sriwijaya. Padahal dalam Sejarah Malayu tidak terdapat nama Sriwijaya.Kerajaan Sriwijaya sendiri runtuh pada abad ke-11M akibat serangan Cola-India. Nama Parameswarasendiri beragama Hindu jika dibandingkan dengan Sriwijaya yang beragama Budha. Kerajaan Sriwijayajuga berafiliasi dengan Kerajaan Pala India (berdiri pada pertengahan abad ke-8M sampai akhir abad ke-12M) yang beragama Budha aliran Mahayana. Pada masa pemerintahan Dapunta Hyang Jayanasa banyakmengeluarkan prasasti misal prasasti Kedukan Bukit (682M) yang ditemukan di Palembang berisipenyerangan Sriwijaya ke Minanga Tamwa. Menurut I Tsing, pada tahun 671M ketika ia akan keNalanda dan singgah ke Moloyu (Jambi, berdiri pada pertengahan abad ke-7M), Kerajaan Moloyu(Jambi) masih merdeka. Namun pada tahun 685M ketika ia kembali ke Moloyu (Jambi), kerajaan inisudah menjadi wilayah Shih Li Fo Tsi (Sriwijaya). Menurut berita Dinasti Tang China, pada tahun 704MShih Li Fo Tsi (Sriwijaya-Palembang) mengirim utusan ke Dinasti Tang China. Prasasti yang berkaitandengan Sriwijaya misal prasasti Kedukan Bukit (Palembang, 682M), prasasti Talang Tuo (Palembang,684M), prasasti Kota Kapur (Bangka, 686M), prasasti Telaga Batu (Palembang, akhir abad ke-7M),prasasti Palas Pasemah (Lampung, akhir abad ke-7M), prasasti Karang Birahi (Jambi, akhir abad ke-7M)semuanya memakai Bahasa Malayu Kuno dengan Aksara Pallawa. Pada akhir abad ke-7M menurutcatatan I Tsing peziarah Budha dari China, negeri di Shih Li Fo Tsi (Palembang) pada umumnyamenganut agama Buddha aliran Mahayana, kecuali Mo-lo-yu (Jambi). Tidak disebutkan dengan jelasagama apa yang dianut oleh Kerajaan Malayu kemungkinan masih menganut agama Hindu atauAnimisme. Kata Malayu berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu Malaya yang berarti bukit. Jambimerupakan penghasil emas terbesar di Sumatra karena hal itu Pulau Sumatra dinamakan Swarnadwipa
  • 4. artinya Pulau Emas. Wilayah Sriwijaya pada akhir abad ke-7M adalah Lampung, Palembang, Bangka,dan Jambi. Ada yang berpendapat bahwa Kerajaan Kelingga Jawa terletak di Jepara dimana terdapat daerahbernama Keling. Nama Keling juga terdapat di daerah Surabaya. Nama seperti Keling dan Kelinggapuramerupakan salah satu daerah bawahan Majapahit (abad ke-14M) yang dipimpin oleh seorang Batara i(Bre) Keling dan Bre Kelinggapura. Bukti prasasti lain yang diduga berkaitan dengan keberadaanKelingga adalah prasasti Tukmas yang ditemukan di lereng Gunung Merbabu (Boyolali) berbahasaSansekerta dengan Aksara Pallawa yang berisi deskripsi tentang keadaan alam setempat dan gambar-gambar peralatan manusia. Berdasarkan paleografinya prasasti Tukmas diperkirakan berasal pada akhirabad ke-6M. Berdasarkan berita Dinasti Tang (620M-930M), Holing (Kelingga) juga disebut denganShepo (Jawa). Nama “Chupo/Chopo/Shepo” sudah digunakan oleh Orang China untuk menunjuk “Jawa”sejak abad ke-5M (pada masa Dinasti Sung China). Pada tahun 627M, 649M, dan 666M Holingmengirim utusan ke Dinasti Tang China. Pada tahun 768M, 769M, dan 770M Holing mengirim utusan keDinasti Tang China kemungkinan pada masa Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Pancapana (746M-784M). Pada tahun 767M disebutkan bahwa Chopo (Jawa) menyerang Tonkin (Annam) namun dapatdipukul mundur oleh Gubernur China yang bernama Chang Po Yi. Utusan tahun 768M kemungkinanmerupakan isyarat perdamaian atau ganti rugi bagi pihak Jawa. Pada tahun 813M, 815M, 818M dan820M Holing mengirim utusan ke Dinasti Tang China kemungkinan pada masa Maharaja Rakai WarakDyah Manara (803M-827M). Sejak tahun 820M dalam pemberitaan China nama Holing diganti dengannama Shepo. Pada tahun 831M dan 839M Shepo mengirim utusan ke Dinasti Tang China kemungkinanpada masa Maharaja Rakai Garung (828M-847M). Pada tahun 813M telah datang utusan dari Holingdengan memberikan hadiah berupa budak Seng qi (Jenggi) kepada Kaisar Dinasti Tang China. Jenggimerupakan orang kulit hitam yang berasal dari Afrika. Nama Jenggi juga tercantum dalam daftar abdidalam prasasti Jawa Kuno tahun 860M. Budak Jenggi tersebut dikirim dari Afrika ke Jawa bahkan adayang dikirim ke China. Cerita itu sesuai dengan apa yang diberitakan oleh Ibn Lakis bahwa pada tahun945M telah tiba kira-kira seribu kapal yang dinaiki Orang Wak-wak di daerah Sofala-nya OrangZenggi/Jenggi (Mozambik Afrika). Orang Wak-wak disebutkan berasal dari kepulauan yang berhadapandengan China. Kata “Wak-wak” kemungkinan diambil dari kata “Jawak” (Jawa-red). Orang Wak-wakmenempuh pelayaran selama satu tahun untuk sampai ke tempat Orang Zenggi. Orang Wak-wak datangke sana untuk mencari barang barang seperti Gading Gajah, Cula Badak, Kulit Penyu, Emas, Perak yangdibutuhkan di negeri mereka ataupun untuk diperdagangkan ke China. Selain itu mereka juga mencariOrang Zenggi (Jenggi) untuk dipekerjakan sebagai budak. Pelabuhan Sofala berdiri pada abad ke-8M.Penduduk asli pulau Madagaskar yang terletak di sebelah timur Mozambik kemungkinan berasal dariJawa dilihat dari bahasa yang digunakan lebih mirip bahasa Jawa dibandingkan dengan bahasa Malayumisal Jawa Madagaskar1 Esa, Siji Isa2 Loro Roa3 Telu Telo4 Papat Efat-ra5 Limo Dimy6 enem Enin7 Pitu Fitu8 Wolu Volu
  • 5. 9 Sanga Sivy10 Se-puluh Fulo20 Rong-puluh Roapolo100 Satus Zato1000 Sewu Arivo Dalam prasasti Kui (840M) disebutkan bahwa di Jawa terdapat banyak pedagang asing darimancanagara untuk berdagang misal Cempa (Champa), Kmir (Khmer-Kamboja), Reman (Mon), Gola(Bengali), Haryya (Arya), Keling (Kelingga, pantai timur India), Cwalika (Tamil, pantai timur India),Singha (Sri Langka), Malayala (Malayalam, pantai barat India), Karnnake (Karnataka, pantai barat India).Di Jawa juga terdapat para pejabat lokal yang mengurusi para pedagang asing misal Juru China yangmengurusi para pedagang dari China dan Juru Barata yang mengurusi para pedagang dari India. Haltersebut seperti Konsul yang bertanggung jawab atas kaum pedagang asing. Dalam prasasti Champadisebutkan bahwa Jaya Simhawarman (908M) dari Champa pernah mengirim utusan ke Jawa.Permasalahan terhadap para pedagang asing mungkin saja terjadi seperti apa yang tercantum dalamprasasti Wurada Kidul (922M). Prasasti tersebut berupa Keputusan Yuridis (Hukum) mengenai kasusDhanadi, disebutkan bahwa dia dituduh oleh para penduduk desa Sima Swatantra (desa bebas pajakkerajaan) sebagai seorang Wika Kilatan (anak pemungut pajak). Di Jawa, kata “Desa” dulunya disebutjuga dengan kata “Wanua”. Karena tidak terima tuduhan tersebut, Dhanadi kemudian mengajukan kasustersebut ke pengadilan kerajaan. Hasil keputusan pengadilan menyatakan bahwa Dhanadi bukanlahseorang Wika Kilatan dan kemudian dibebaskan atas tuduhan. Tidak terima akan hasil tersebut parapenduduk desa kembali menuduh Dhanadi sebagai seorang Wika Kmir (anak Khmer Kamboja). Hukumkerajaan menyatakan bahwa para pedagang asing dilarang masuk ke desa Sima Swatantra. Dhanadikemudian mengajukan kasusnya kembali ke pengadilan dan menyatakan bahwa dia merupakan pendudukasli setempat yang sudah turun temurun tinggal disana. Keputusan pengadilan menyatakan bahwaDhanadi bukanlah orang asing dan mengharapkan agar penduduk desa tidak mengusiknya lagi. Menurutberita Dinasti Tang China Kerajaan Holing (Kelingga) berbatasan dengan Poli (Bali) di sebelah timur,Topoteng di sebelah barat, Chenla (Kamboja) di sebelah utara dan lautan luas (Samudra Hindia) disebelah selatan. Kerajaan Holing menghasilkan Cula Badak, Gading Gajah, Kulit Penyu, Emas, danPerak. Masyarakat Holing disebutkan mengenal aksara dan ilmu perbintangan. Menurut I Tsing di Holing(Kelingga) pada tahun 664M-667M terdapat pendeta China bernama Hwining yang bekerja sama denganpendeta Janabadra dalam rangka menerjemahkan kitab agama Budha aliran Hinayana. Selain itu beritaChina pada masa Dinasti Tang juga menyebutkan pada tahun 674M Kerajaan Holing dipimpin oleh RatuSimha. Pada masa pemerintahan Ratu Simha terkenal karena adil dan bijaksana. Menurut berita China,pada masa pemerintahan Ratu Simha, Orang Tarshish pernah hendak menyerang Kelingga Jawa namunrencana mereka dibatalkan karena mereka takut akan kepemimpinan Ratu Simha yang terkenal tidakmemandang bulu dalam menegakkan hukum. Kata “Simha” sama dengan kata “Singha” (Leo/Lion).Menurut van Orsoy, dalam berita China nama Medang Kamulan disebut dengan “Medang Kuwu-lang-piya” yang menunjuk tentang Holing/Kelingga. Nama Kamulan juga tercantum dalam prasasti KarangTengah. Dalam legenda di Jawa disebutkan bahwa Kerajaan Medang Kamulan berkaitan dengan tokohHaji Saka yang telah mengalahkan Dewata Cengkar dari Medang Kamulan dan mengajarkan aksarapertama kali kepada penduduk Jawa. Gelar “Sang Haji (Sangaji)” merupakan gelar dibawah “Sang Ratu”.Kemungkinan Haji Saka merupakan raja bawahan dari Dewata Cengkar dari Medang Kamulan. Sepertihalnya Haji Sunda pada Suryawarman (536M) dari Taruma, Haji Dharmasetu pada MaharajaDharanindra (782M) dari Medang. Haji Patapan pada Maharaja Samaratunggadewa (824M) dari Medang,
  • 6. Haji Wurawari pada Maharaja Dharmawangsa (1016M) dari Medang, Haji Katong (Jaya-katwang) padaMaharaja Dhiraja Kertanagara (1292M) dari Tumapel/Singasari. Letak Medang Kamulan menurutBujangga Manik (awal abad ke-16M) terletak di Grobogan. Menurut berita Dinasti Tang China, KerajaanHoling mempunyai gua yang selalu memancarkan air garam. Di Jawa, gua tersebut dinamakan denganBledug “Kuwu” karena terletak di daerah Kuwu, Grobogan. Bledug Kuwu merupakan tempat satu-satunya di Jawa yang terdapat sumber air garam di pedalaman. Dalam legenda di Jawa, Bledug Kuwuberkaitan dengan tokoh Jaka Linglung putra Haji Saka. Menurut Bujangga Manik pada awal abad ke-16Mperbatasan Kerajaan Hindu Sunda dengan Kerajaan Hindu Jawa adalah sungai Pamali (Brebes) di sebelahutara dan sungai Serayu (Cilacap) di sebelah selatan. Karena ekspansi Kesultanan Islam Jawa abad-16M)perbatasannya semakin ke arah barat yaitu sungai Cisanggalung (Cirebon) di sebelah utara dan sungaiCitandui (Ciamis) di sebelah selatan. Dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Hindu di Jawa bermula diKelingga (Jepara) lalu ke Medang i Kamulan (Grobogan) dan akhirnya ke Medang i Mataram(Magelang). Perpindahan pusat Kerajaan Hindu Jawa (abad ke-7M) tersebut mirip dengan perpindahanpusat Kerajaan Islam Jawa (abad ke-16M) yaitu dari Demak lalu ke Pajang (Boyolali) dan akhirnya keMataram (Yogyakata). Berdasarkan Naskah Wangsakerta berbahasa Jawa dengan Aksara Jawa (awal abad ke-20M),Kerajaan tertua di Jawa adalah Kerajaan Salakanagara (berdiri pada awal abad ke-2M sampai pertengahanabad ke-4M). Pada mulanya ada seorang duta dari India yang datang ke Jawa. Duta dari India tersebutkemudian menikahi seorang putri dari Ki Tirem yang merupakan seorang kepala suku. Duta dari Indiatersebut kemudian mendirikan Kerajaan Salakanagara dan dinobatkan dengan nama Dewawarman. Gelaryang dipakai oleh Dewawarman adalah Haji. Duta dari India ini kemungkinan berasal dari KerajaanWestern Satrap (Sakas) India. Kemungkinan Dewawarman berasal dari bangsa Yavanas (Indo-Greek),Sakas (Indo Scythian), Pahlavas (Indo Parthian), Paradas (Indo-Parthian), Kambujas (Indo Persian).Berdasarkan Kitab Purana, bangsa Yavanas, Sakas, Pahlavas, Kambujas, Paradas dikenal sebagai Panca-Ganah (Gerombolan Lima) atau Kshatriya-Pungava (Ksatria Punggawa). Pada pertengahan abad ke-1MOrang Sakas dibantu teman-temannya (Yavanas, Pahlavas, Kambujas, Paradas) mendirikan KerajaanWestern Satrap. Kerajaan ini didirikan oleh Yopiraja (35M). Nama “Western Satrap” yang beribukota diUjjain dipakai untuk membedakan dengan “Northern Satrap” (berdiri pada akhir abad ke-1SM) yangberibukota di Mathura. Northern Satrap (Sakas) dan Kelingga India pernah berperang bersama melawanSatakarni (143SM-87SM) dari Satawahana India. Kebanyakan raja-raja Kelingga India menganut agamaJain. Pada tahun 78M Western Satrap (Sakas) mengalahkan Wikramaditya dari Dinasti Wikrama India.Kemenangan pada tahun 78M dijadikan sebagai tahun dasar dari penanggalan (kalender) Saka. WilayahWestern Satrap mencakup Rajastan, Madya Pradesh, Gujarat, dan Maharashtra. Para raja dari WesternSatrap biasanya memakai dua bahasa yaitu Sankrit (Sansekerta) dan Prakit serta dua aksara yaitu Brahmidan Yunani dalam proses pembuatan prasasti dan mata uang logam kerajaan. Sejak pemerintahan Rudra-simha 1 (160M-197M) dari Western Satrap, dalam pembuatan mata uang logam kerajaan selalumencantumkan tahun pembuatannya berdasarkan pada kalender Saka. Secara kebudayaan, Orang Satrapsangat terpengaruh oleh kebudayaan Yunani. Nama Satrap merupakan sebuah sistem pemerintahan yangdiciptakan oleh Alexander The Great. Gelar Satrapvan sendiri setingkat dengan Viceroy atau Haji. Padaawal abad ke-4SM kekuasaan Alexander The Great dari Macedonia mencangkup bekas wilayahKekaisaran Achaemenid yaitu Media, Persia, Elam, Babylonia (Chaldea), Assyria, Arabia, Egypt, Libya,Armenia, Lydia, Cilicia, Paphlagonia, Pamphylia, Caria, Carmania, Cappadocia, Thrace, Macedon,Yauna (Ionian), Gandara, Taxila, Gedrosia, Aria (Arya), Maka, Drangiana, Parthia, Sattagydia,Arachosia, Bactria, Sogdia, Kush, Sacae (Saka), Chorasmia, Hyrcania, Margu, Dahae. Western Satrap
  • 7. dalam bahasa Yunani disebut juga dengan nama Ariaca (Arya). Kerajaan Western Satrap runtuh padamasa pemerintahan Rudra-simha 111 (388M-395M) akibat serangan dari Candragupta 11 (395M-413M)dari Dinasti Gupta India (berdiri pada pertengahan abad ke-3M sampai pertengahan abad ke-6M). Aliansidari Panca Ganah inilah yang menemukan jalur perdagangan laut dari India ke China. Nama Yawa (Jawa-red) sendiri merupakan turunan dari kata Yawana dalam bahasa Sansekerta. Menurut berita China, padatahun 132M, raja Tian Pian (Dian Bian) dari Ye Tiao pernah mengirim utusan ke Dinasti Eastern HanChina. Disebutkan bahwa raja Tian Pian meminjam sebuah stempel emas milik Kaisar China. Biasanyastempel emas Kaisar China berbentuk Naga. Di Jawa juga ditemukan sebuah cincin emas berbentukstempel. Menurut G. Ferrand, kata “Ye Tiao” merupakan ejaan China untuk “Yawadi” dalam bahasaPrakit atau “Yawadwipa” dalam bahasa Sansekerta. Sedangkan kata “Tian Pian” merupakan terjemahanChina untuk “Dewa-warman”, “Warma-dewa”, “Tungga-dewa”. Kata “Tian” berarti “Dewa” atau“Batara” dan kata “Pian” berarti “Warman” atau “Tungga”. Nama “Warmadewa” biasanya digunakanoleh penguasa dari Bali misal Haji Kesari Warmadewa (890M) dan Haji Dharmodayana Warmadewa(990M) dan penguasa dari Malayu misal Maharaja Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa (1178M)dan Maharaja Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa (1275M). Nama penguasa dari Jawa biasanya memakainama “Tunggadewa” misal Maharaja Dharmatunggadewa (792M) dan Maharaja Samaratunggadewa(824M). Nama Dewa-warman kemungkinan berkaitan tokoh Dewata (Dewa-nata) Cengkar, Sang Haji(Sang-aji) Saka, Jaka Linglung (Naga). Di dalam legenda Jawa mengenal adanya seorang tokoh bernamaHaji Saka (akhir abad ke-1M) yang kemungkinan berasal dari Western Satrap (Sakas). Haji Sakamerupakan raja bawahan dari Dewata Cengkar dari Medang Kamulan. Haji Saka kemudian berhasilmengalahkan Dewata Cengkar dari Medang Kamulan. Haji Saka mempunyai putra bernama JakaLinglung yang berwujud Naga. Di dalam legenda Funan, Champa, dan Kamboja diceritakan asal muladinasti mereka berasal dari seorang pangeran dari India bernama Kaundinya (awal abad ke-2M).Disebutkan bahwa Kaundinya menyelamatkan kapal Brahmana dari perompakan yang dilakukan olehSoma putri dari raja Naga yang merupakan penguasa dari sebuah pulau. Setelah Kaundinya berhasilmengalahkan putri Soma, ia membujuk putri Soma agar mau menikah dengannya. Kaundinya dan putriSoma kemudian dikirim ke daratan (Kamboja) dan Kaundinya menjadi raja Funan yang pertama. CeritaKaundinya pada awalnya berasal dari Funan pada awal abad ke-3M kemudian diambil oleh Isanawarman1 (616M-635M) dari Chenla-Kamboja ketika berhasil menguasai seluruh wilayah Funan. Prakasadharma1 (653M-687M) dari Champa mengambil cerita Kaundinya dari Chenla-Kamboja. Prakasadharma 1 dariChampa sendiri mengaku keturunan dari Isanawarman 1 dari Chenla Kamboja kemungkinan dari garisibunya. Menurut legenda dari Pallawa (Pahlavas) disebutkan bahwa leluhur Dinasti Pallawa Indiabernama Aswataman putra dari Maharesi Druna. Di dalam legenda Pallawa India disebutkan bahwaAswataman menikah dengan Bidadari Menaka dari Funan. Aswataman dan Maharesi Druna merupakantokoh dalam Sage Mahabarata. Di dalam perang Barata, Aswataman dan Druna memihak pada Kurawadibandingkan dengan pihak Pandawa. Di dalam sage Mahabarata, bangsa Yavanas, Sakas, Pahlavas,Kambujas, Paradas disebut sebagai pihak Kurawa. Dinasti Pallawa sendiri menyebut dirinya berasal daricampuran kasta Brahmana dan Ksatria. Jadi ada keterkaitan antara legenda di Jawa, Funan, Kamboja,Champa dengan Panca Ganah. Sejak abad ke-2M Funan dan Jawadwipa telah terjalin hubunganperdagangan yang erat. Menurut berita China pada masa Dinasti Wu (220M-280M) dan Dinasti Jin Timur(310M-420M) terdapat sebuah daerah bernama Koying yang menghasilkan emas, perak dan batuberharga. Berita mengenai Koying didapat dari para pedagang Jawadwipa karena Koying tidakmempunyai hubungan diplomatik dan perdagangan dengan China. Para pedagang China mendapat barangdari Koying melalui perantara para pedagang Jawadwipa. Koying terletak sekitar 5000 Li (2500 Km)
  • 8. sebelah timur Chopo (Jawa). Di Koying terdapat sebuah gunung berapi yang aktif dan di sebelah utaranyaterdapat sebuah Pu lei (Pulo). Penduduk Koying mempunyai kulit hitam kelam dan bergigi putih sertatidak berpakaian (koteka). Kemungkinan Koying terletak di Nusa Tenggara dimana terdapat sebuahgunung berapi yang terletak di pulau Sangeang (Sang Hyang). Nama Sangeang juga merupakan namasebuah pulau di selat Sunda. Para pemimpin di Nusa Tenggara biasanya bergelar Sang-aji (Sang Haji).Baik gelar Sang Hyang dan Sang Haji merupakan gelar yang dipakai di Jawa. Nama Pulo dan Sangeangjuga terdapat dalam Negarakertagama (1365M) yang terletak di Nusantara timur. Gelar Rama biasanyahanya dipakai di Jawa. Gelar Rakai biasanya dipakai di Pulau Jawa. Gelar Haji/Aji biasanya dipakai diPulau Jawa, Kalimantan, dan Nusa Tenggara (Bali, Lombok, Sumbawa). Gelar Aji juga digunakan diKepulauan Ryukyu (Okinawa, Jepang) untuk menyebut bangsawan ataupun penguasa. Gelar Ratubiasanya dipakai di Pulau Jawa. Di Malayu kata “Ratu” berubah menjadi “Datu” dan di Maluku menjadi“Latu”. Gelar Ratu dan Hadi/Adi juga digunakan di Pulau Fiji (Samudra Pasifik selatan) untuk menyebutpenguasa mereka. Gelar Maharaja biasanya digunakan di Jawa dan Sriwijaya. Gelar Rama (kepala suku)dipakai oleh pemimpin Jawa ketika pertama kali atau sebelum datang ke Pulau Jawa. Sedangkan kepalasuku di Sumatra bergelar Peng-hulu. Gelar Rakai dipakai ketika Orang Jawa mulai berkembang di PulauJawa. Gelar Haji/Aji kemungkinan dipakai sejak abad ke-1M atau pada awal kedatangan pengaruh HinduIndia. Gelar Ratu dipakai sejak abad ke-4M dan Maharaja sejak abad ke-8M serta Maharaja Dhiraja sejakabad ke-13M . Gelar Hyang dipakai di Jawa untuk menyebut konsep tentang alam yang abstrak selaindunia yang konkret ini kemudian berubah menjadi konsep tentang kedewaan bahkan digunakan untukmenyebut leluhur misal E-yang dan Mo-yang. Penguasa yang telah meninggal juga diberi gelar Sang-hyang dan Ra-hyang. Berdasarkan Naskah Wangsakerta, pada masa pemerintahan Dewawarman ke-8 dariSalakanagara kedatangan Maharesi dari India dimana kerajaannya dihancurkan oleh Samudragupta(335M–380M) dari Dinasti Gupta India. Pada akhir abad ke-6M Dinasti Gupta India runtuh akibatserangan bangsa Hunas. Menurut Naskah Wangsakerta Maharesi ini berasal dari Kerajaan SalankayanaIndia. Kerajaan Salankayana didirikan oleh para Brahmana beraliran Siwa pada awal abad ke-4M. PendiriSalankayana bernama Hastiwarman yang merupakan raja bawahan dari Pallawa India. Penerus Hasti-warman adalah Nandi-warman dan Wijaya-dewa-warman. Pada pertengahan abad ke-4M KerajaanPallawa dan Salankayana dikalahkan oleh Samudragupta (335M-380M) dari Dinasti Gupta India.Kekalahan itu terjadi pada masa Wishnugopa (355M) dari Pallawa India. Maharesi dari Salankayana inikemudian menikahi putri Dewawarman ke-8 dari Salakanagara kemudian diangkat menjadi penguasa danbergelar Jaya-simha-warman (362M-382M). Kemudian ia mengubah Kerajaan Salakanagara menjadiTarumanagara. Kerajaan Salankayana India sendiri runtuh pada awal abad ke-5M akibat serangan dariMadhawarman dari Dinasti Wisnukundis India. Madhawarman dari Dinasti Wisnukundis juga berperangmelawan serangan dari Simhawarman 1V (436M) dari Pallawa India. Dinasti Wisnukundi (berdiri padaawal abad ke-5M sampai awal abad ke-7M) didirikan oleh Indrawarman. Dinasti Wisnukundi runtuh padamasa pemerintahan Manchana-bhataraka-warman (625M) akibat serangan dari Pulakesi 11 (609M-642M)dari Dinasti Chalukya India. Pada tahun 642M Narasimhawarman 1 dari Pallawa berhasil mengalahkanPulakesi 11 dari Dinasti Chalukya India dan menduduki ibukota Chalukya selama 14 tahun.Wikramaditya dari Dinasti Chalukya berhasil mengusir prajurit Pallawa dari ibukota Chalukya pada tahun656M. Dinasti Chalukya didirikan oleh Pulakesi 1 pada tahun 545M. Dinasti Chalukya merupakanpenerus dari Dinasti Kadamba India (berdiri pada pertengahan abad ke-4M sampai pertengahan abad ke-6M). Dinasti Kadamba merupakan penerus dari Dinasti Chutus India (berdiri pada awal abad ke-4M)yang merupakan bawahan dari Pallawa India. Ketika Pallawa India dikalahkan oleh Samudragupta dari
  • 9. Dinasti Gupta, Mayurasharma pendiri Dinasti Kadamba memerdekakan diri dari Pallawa India.Mayurasharma digantikan oleh putranya yaitu Kangawarman (365M) dari Dinasti Kadamba. Pada tahun755M Kirtiwarman 11 dari Dinasti Chalukya dikalahkan oleh Dantidurga dari Dinasti Rashtrakuta India(753M-983M). Ketika Chalukya runtuh dinastinya terbagi menjadi dua yaitu Dinasti Western Chalukyadan Dinasti Eastern Chalukya. Dinasti Western Chalukya menjadi bawahan Dinasti Rashtrakuta. Padatahun 973M Tailapa 11 (967-997M) dari Western Chalukya berhasil mengalahkan Indra 1V dari DinastiRashtrakuta. Dinasti Western Chalukya (973M-1200M) juga sering berperang melawan Kerajaan CholaIndia. Sedangkan Dinasti Eastern Chalukya menjadi bawahan Chola sejak dikalahkan Rajaraja Chola(985M-1014M). Pada akhir abad ke-12M Dinasti Western Chalukya India runtuh akibat meningkatnyapara raja bawahan di daerah antara lain Dinasti Kakatiya India dan Dinasti Hoysala India. WesternChalukya kemudian digantikan oleh Dinasti Hoysala India (1184M-1343M). Berdasarkan Naskah Wangsakerta, pada masa pemerintahan raja ke-3 Taruma yaituPurnawarman cucu Jayasimhawarman. Ia melakukan ekspansi besar-besaran. Pada awal abad ke-5Mwilayah kekuasaan Purnawarman membentang dari Pandeglang sampai Purwalingga (Purbolinggo).Ibukota Kerajaan Taruma dalam prasasti disebutkan terletak antara sungai Gomati dengan sungaiCandrabaga di daerah Bekasi sekarang. Pada masa pemerintahan purnawarman banyak dijumpai prasastidengan Aksara Pallawa dan berbahasa Sansekerta misal prasasti Tugu (Bekasi), prasasti Munjul(Pandeglang), prasasti Kebon Kopi (Bogor), prasasti Ciaruteun (Bogor), prasasti Telapak Gajah (Bogor),prasasti Pasir Awi (Bogor), dan prasasti Jambu (Bogor). Berdasarkan Naskah Wangsakerta, pada masa pemerintahan raja ke-6 Taruma yaituCandrawarman, ia pernah mengirim utusan ke Dinasti Liang China (502M-557M) pada tahun 528M dan535M. Pada masa pemerintahan raja ke-7 Taruma yaitu Suryawarman terdapat sebuah prasasti KebonKopi 11 (536M) berbahasa Sansekerta dengan Aksara Pallawa yang berisi pengembalian kekuasaankepada para raja bawahan. Dalam berita Dinasti Liang China, Taruma disebut dengan Talomo. Buktikeberadaan Taruma adalah candi Jiwa bercorak Budha di Batujaya (Karawang) pada abad ke-7M.Berdasarkan analisis Karbon 14 terhadap artefak yang ditemukan di Batujaya diperkirakan umurnya yangpaling tua berkisar pada abad ke-2M dan yang paling muda berkisar pada abad ke-12M. Kerajaan Tarumasendiri merupakan penerus dari Kerajaan Salaka (berdiri pada awal abad ke-2M). Di sekitar candi Jiwajuga ditemukan makam prasejarah yang berisi tengkorak manusia dan barang-barang artefak. Hal inimenunjukkan keterhubungan antara zaman prasejarah dengan zaman sejarah (abad ke-4M). Setelahmenganut agama Hindu dan Budha, masyarakat Jawa yang sudah meninggal tidak lagi jenazahnyadimakamkan namun dibakar. Walaupun Hindu sudah datang pada abad ke-2M namun perkembanganHinduisasi di Pulau Jawa baru signifikan pada abad ke-4M sedangkan agama Budha aliran Hinayanamulai masuk ke Jawa pada abad ke-5M. Seorang Pangeran India yang bernama Gunawarman ketika akanberlayar ke China, dia singgah di Pulau Jawa dan mulai menyebarkan agama Budha disana. Berdasarkan Naskah Wangsakerta, pada pemerintahan raja ke-12 Taruma yaitu Linggawarman, iapernah mengrim utusan ke Dinasti Tang China pada tahun 666M. Dalam berita Dinasti Tang ChinaTaruma disebut dengan Talomo. Tarusbawa dari Sunda (bawahan Taruma) menggantikan kedudukanmertuanya yaitu Linggawarman dari Taruma. Pada akhir abad ke-7M Tarusbawa memindahkan ibukotakerajaan dari Bekasi ke Bogor dan kemudian mendirikan Kerajaan Sunda. Pendirian Kerajaan Sundadijadikan alasan oleh Wretikandayun dari Kendan (bawahan Taruma) untuk memisahkan diri dariKerajaan Sunda. Dengan dukungan militer dari Kerajaan Kelingga Jawa. Wretikandayun menekan dan
  • 10. menuntut kepada Tarusbawa supaya wilayah Taruma dipecah menjadi dua. Dalam posisi lemah dan inginmenghindari perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan Wretikandayun. Kemudian wilayahTarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan; yaitu Kerajaan Sunda (Tarusbawa) dan Kerajaan Galuh(Wretikandayun) sedangkan sungai Citarum (Karawang-Bandung) sebagai batasnya. SedangkanMandiminyak putra dari Wretikandayun dari Kendan berjodoh dengan Parwati putri dari Ratu Simha dariKelingga Jawa. Menurut Naskah Wangsakerta, Ratu Simha bertahta di Kelingga Jawa menggantikansuaminya yaitu Kerta-simha (Kretaya-singha). Kerajaan Kendan dulunya bernama Galuh Purba(pertengahan abad ke-4M) yang terletak di Purbalingga. Pada pertengahan abad ke-6M ibukota GaluhPurba dipindahkan ke arah barat dari Purbalingga ke Kendan (Garut). Kerajaan Kendan ini didirikan olehManikmaya menantu dari Suryawarman (535M-561M) dari Taruma. Wretikandayun merupakan cicit dariManikmaya dari Kendan. Pemindahan Galuh Purba ke Kendan (Garut) ini kemungkinan disebabkanekspansi dari Kerajaan Kelingga Jawa pada pertengahan abad ke-6M. Jadi perbatasan Jawa dengan Sundapada abad ke-6M adalah Cilacap. Sejak awal abad ke-4M banyak dijumpai prasasti berbahasa Sansekerta dengan Aksara Pallawadan menggunakan penanggalan (kalender) Saka. Aksara Pallawa berasal dari Kerajaan Pallawa India.Sedangkan kata “Pallawa” dalam bahasa Tamil India berarti “yang menggunakan atau yang terpengaruhSansekerta”. Kebanyakan prasasti yang dikeluarkan oleh Kerajaan Pallawa berbahasa Prakit dan Sankrit(Sansekerta).Pada abad ke-6M pengaruh Pallawa India di Jawa sangat terlihat jelas pada prasasti yangdibuat yaitu prasasti Tukmas (akhir abad ke-6M) yang menggunakan Aksara Pallawa dan berbahasaSansekerta. Pada abad ke-8M Aksara Pallawa di Jawa mulai digantikan dengan Aksara Kawi (JawaKuno). Aksara Kawi sendiri merupakan turunan dari Aksara Pallawa. Nama penguasa Pallawa misalnyaSkanda-warman 1 (akhir abad ke-3M), Skanda-warman 11 (awal abad ke-4M), Simha-warman 1 (327M-350M), Simha-warman 1V (436M-450M), Simha-warman (awal abad ke-6M), Simha-wisnu-warman(536M-570M), Mahendra-warman 1 (570M-610M), Nara-simha-warman 1 (610M-648M), Mahendra-warman 11, Parameswara-warman 1, Mahendra-warman 111, Nara-simha-warman 11/Raja-simha(695M-728M), Parameswara-warman 11. Nama penguasa Western Satrap (Sakas) misalnya Bhumaka,Nahapana, Chastana (120M), Jaya-daman, Rudra-daman, Rudra-simha 1, Rudra-sena 1, Brata-daman,Rudra-sena 11, Wiswa-sena, Rudra-simha 11 (awal abad ke-4M), Rudra-simha 111 (388M-395M).Aswataman putra Maharesi Druna yang merupakan leluhur Dinasti Palllawa India kemungkinan berasaldari Western Satrap. Dinasti Pallawa sendiri pindah dari India utara ke India selatan pada masa KerajaanSatawahana India. Dinasti Pallawa mulai menguat sejak runtuhnya Kerajaan Satawahana India pada awalabad ke-3M. Nama penguasa Jawa misalnya Selendra (649M), Kerta-simha (666M), Simha (674M),Nara-yana/Nara-simha (703M), Dewa-simha (Kanjuruhan, 720M), Gaja-yana (Kanjuruhan, 740M),Uttajena (Kanjuruhan, 760M), Sanna/Sena (710M), Sannaha, Sanjaya (717M), dam Sankharakemungkinan berhubungan Western Satrap (Sakas) dan Pallawa (Pahlavas) India. Menurut Wartika dariKatyayana (abad ke-4 SM) bahwa Orang Sakah (Sakas) sudah memiliki hubungan perdagangan denganOrang Parthavah (Parthian). Selendra sendiri dalam prasasti Sojomerto (pertengahan abad ke-7M) dipujasebagai Batara Parameswara. Ratu Simha (674M-703M) dalam berita China disebutkan pernahmendapatkan ancaman dari Orang Tarshish. Dalam berita China kemudian disebutkan bahwa OrangTarshish tidak jadi menyerang karena takut pada kepemimpinan Ratu Simha. Nara-simha-warman11/Raja-simha (695M-728M) dari Pallawa dalam sebuah prasasti disebutkan bahwa dia menawarkanbantuan perang kepada suatu kerajaan yang melawan Orang Tarshish. Nara-simha-warman 1 (610M-648M) dari Pallawa membangun sebuah candi di Mamalla-puram. Nara-simha-warman 11/Raja simha(695M-728M) dari Pallawa juga membangun sebuah candi yang besar di Maha-bali-puram. Sanjaya
  • 11. (717M-746M) dari Medang Mataram sendiri mengeluarkan prasasti Canggal (732M) menggunakanAksara Pallawa dan berbahasa Sansekerta dengan menggunakan penanggalan (kalender) Saka. Bentukcandi di Jawa pada abad ke-8M kemungkinan terpengaruh oleh arsitektur dari Pallawa India. Dalam sageMahabarata diceritakan bahwa Kelingga India memihak pada Kurawa (Yavanas, Sakas, Pahlavas,Kambujas, Paradas, dll) ketika terjadi perang Barata melawan Pandawa (Satawahana). Kerajaan KelinggaIndia merupakan sebuah kerajaan maritime dan perdagangan. Para raja di Sri Langka dan Malwadewasendiri mengklaim bahwa mereka merupakan keturunan dari Dinasti Kelingga India (berdiri pada abadke-6 SM). Perdagangan merupakan penghubung antara Kelingga India dengan Panca-Ganah (Yavanas,Sakas, Kambujas, Pahlavas, Paradas). Kerajaan Kelingga India dan Panca Ganah inilah yang menemukanjalur perdagangan laut dari India ke China. Kerajaan Kelingga India dan Panca Ganah inilah yangmemiliki keterkaitan dengan kerajaan di Asia Tenggara yaitu Jawa, Funan, Champa, Kamboja.Gautamiputra Satakarni (98M-119M) dari Satawahana India pernah berperang melawan Western Satrap(Sakas) dan Kelingga India. Pada tahun 119M Gautamiputra Satakarni berhasil mengalahkan Nahapanaputra dari Bhumaka dari Western Satrap (Sakas). Pada tahun 150M Rudradarman dari Western Satrapberhasil mengalahkan Wasisthiputra Satakarni dari Satawahana. Yajna Satakarni (161M-190M) dariSatawahana berhasil memulihkan Kerajaan Satawahana kembali. Kerajaan Satawahana/Dinasti Satakarni(berdiri pada awal abad ke-3SM sampai awal abad ke-3M) mempunyai keterkaitan dengan tokoh Krishnadalam sage Mahabarata. Sedangkan Dinasti Ishwakus (berdiri pada awal abad ke-3M sampai awal ke-4M) yang merupakan penerus Satawahana/Dinasti Satakarni yang mempunyai keterkaitan dengan tokohRama dalam sage Ramayana. Dinasti Ishwaku didirikan oleh Santamula 1 (220M). Dalam Ramayanadisebutkan bahwa musuh Rama yaitu Dasamuka/Rahwana merupakan seorang raja dari Sri Langka(Alengka). Diceritakan bahwa ketika Rama mencari Sinta, ia bertualang sampai keYawadwipa/Jawadwipa. Kerajaan Pallawa India dikalahkan oleh Aditya Chola 1 (871M-907M) dariChola India dan kemudian dijadikan sebagai bawahan Chola. Pada awal abad ke-13M Pallawa digantikanoleh Dinasti Kadawa yang mengaku sebagai keturunan Pallawa. Kopperunchinga 1 (1216M-1246M) dariDinasti Kadawa berhasil mengalahkan Rajaraja Chola 111 dari Chola kemudian dijadikan bawahanKadawa-Pallawa. Van der Mullen mengatakan bahwa Galuh berasal dari Kutai (Kalimantan Timur) yang pindah keJawa pada awal abad ke-4M sebelum berdirinya Dinasti Kudungga dan agama Hindu di KutaiMartadipura. Raja Kutai yang terkenal adalah cucu Kudungga yang bernama Mulawarman putraAswawarman. Mulawarman adalah raja yang mengeluarkan prasasti Yupa (awal abad ke-5M) yang terdiridari 7 buah. Menurut Nilakanta Sastri, Kudungga berasal dari Kerajaan Pallawa India. Nama Kutaimerupakan nama daerah ditemukannya prasasti Yupa dan tidak diketahui nama sebenarnya dari Kerajaanitu. Jadi baik Kerajaan Kutai Martadipura (Kalimantan Timur) ataupun Kerajaan Tarumanagara (Jawa)berasal dari Kerajaan Pallawa India pada pertengahan abad ke-4M. Prasasti Purnawarman (395M-435M)dari Taruma, prasasti Mulawarman (400M) dari Kutai, dan prasasti Badrawarman (380M-413M) dariChampa merupakan prasasti beraksara Pallawa tertua di Asia Tenggara. Dalam berita China menyebutkanbahwa penguasa Funan bernama Shih li pa mo/Indrawarman (400M-435M). Kerajaan Kutai Martadipurasendiri sejak abad ke-6M tidak ditemukan lagi beritanya sampai abad ke-16M ketika ditaklukan KerajaanKutai Kartanagara. Pada abad ke-3M Kelompok Galuh Purba itu kemudian pindah ke Jawa dan mendaratdi pantai Cirebon kemudian masuk semakin ke dalam sehingga sampai di lereng Gunung Ceremai. Adayang menetap di lereng Gunung Ceremai dan juga ada yang meneruskan perjalanan hingga ke lerengGunung Slamet. Penduduk yang menetap di lereng Gunung Ceremai (Kuningan) kemudian dikenaldengan Sunda dan penduduk yang menetap di lereng Gunung Slamet (Purbalingga) dikenal dengan Galuh
  • 12. Purba. Berangsur-angsur Orang Sunda pindah ke arah barat yaitu ke Gunung Salak (Bogor). Menurutantropolog bahwa Orang Sunda hidup dengan berladang sedangkan Orang Jawa hidup dengan bertani.Berdasarkan mitos bahwa Suku Jawa dianggap lebih tua dari Suku Sunda karena Orang Jawa lebih dulumemdiami Pulau Jawa dibanding Orang Sunda yang pindah ke pulau Jawa pada abad ke-3M. Hanya terdapat beberapa prasasti yang menggunakan Bahasa Sunda Kuno misalnya prasastiRumatak (1411M), prasasti Kawali (pertengahan abad ke-15M), prasasti Galuh (1470M), prasasti BatuTulis (1533M), prasasti Kebantenan (pertengahan abad ke-16M). Ketiga prasasti yang pertama tersebutditemukan di daerah Ciamis dibuat pada masa pemerintahan Niskala Wastu Kencana sedangkan prasastiBatu Tulis di daerah Bogor dibuat pada masa pemerintahan Baduga Maharaja. Prasasti Kawali, prasastiRumatak dan prasasti Galuh berisikan tentang pembangunan ibukota kerajaan di Kawali. Kerajaan Sundajuga tidak pernah menjalin hubungan diplomatik dengan China. Dengan sedikitnya prasasti berbahasaSunda Kuno sehingga menyebabkan kurangnya informasi akan Kerajaan Sunda. Informasi tentangKerajaan Sunda kebanyakan berasal dari Carita Parahyangan (akhir abad ke-16M) dan Carita RatuPakuan (abad ke-17M). Pada abad ke-17M wilayah Parahyangan Sunda menjadi bagian dari KesultananMataram Jawa. Menurut Rikjklof van Goens (1654M) yang merupakan seorang utusan VOC yang pernahdatang ke ibukota Mataram. Dia melaporkan bahwa Mataram mempunyai basis militer dari Karawanghingga Blambangan. Di Cirebon, Mataram mempunyai basis kekuatan 100.000 prajurit. Di Blambangan,Mataram mempunyai basis kekuatan 20.000 prajurit. Di ibukota Mataram mempunyai basis kekuatan500.000 prajurit. Total keseluruhan basis kekuatan Mataram di Jawa sekitar 920.000 prajurit denganmemiliki senapan api sekitar 115.000 buah. Van Goens menyebutkan bahwa pada tahun 1649MAmangku Rat hendak menyerang Banten dan Bali namun rencana ini ditentang oleh kaum Ulama yangdisebutnya sebagai munafik fanatik. Kemudian beberapa Ulama berkerja sama dengan Pangeran Alituntuk menggulingkan Amangku Rat namun rencana ini gagal. Pangeran Alit kemudian dieksekusi.Sedangkan Ulama yang memihak Pangeran Alit dikumpulkan bersama keluarga dan kerabatnya di tengahalun alun. Setelah terkumpul kemudian Amangku Rat menyuruh prajuritnya untuk menembakkan meriamke arah kumpulan tersebut. Van Goens yang menyaksikan pembantaian tersebut menyebutkan jumlahkorban yang tewas sekitar 6000 orang. Sastra Jawa juga mempengaruhi perkembangan pada SastraSunda misal dalam Carita Waruga Jagad berbahasa Jawa (awal abad ke-18M) dan Carita Waruga Guruberbahasa Sunda (pertengahan abad ke-18M) dimana keduanya mempunyai isi yang hampir sama. Keduanaskah tersebut menyebutkan bahwa pendiri Majapahit bernama Banga sedangkan pendiri Pajajaranbernama Manara. Nama Banga dan Manara sendiri didasari dari legenda Ciung Wanara. Dalam legendaCiung Wanara disebutkan bahwa Banga dan Manara adalah saudara seayah. Isi Waruga Jagad danWaruga Guru juga tercantum nama-nama Sultan Mataram Jawa. Pengaruh itu diawali ketika pada tahun1579M Kerajaan Pajajaran (penerus Kerajaan Galuh Sunda) runtuh akibat serangan dari Demak, Cirebon,Banten. Pada akhir abad ke-16M Kerajaan Pajajaran kemudian digantikan oleh Kerajaan SumedangLarang yang dulunya merupakan bawahan Pajajaran. Sumedang Larang berdiri pada akhir abad ke-14Mdan menjadi wilayah otonomi setelah Kerajaan Galuh dibawah naungan Kerajaan Majapahit Jawa. Jadipada akhir abad ke-16M di Sunda ada tiga Kerajaan yaitu Kesultanan Banten, Kesultanan Cirebon danKerajaan Sumedang. Wilayah Kesultanan Banten in meliputi Karesidenan Banten. Wilayah KesultananCirebon meliputi Karesidenan Cirebon. Wilayah Kerajaan Sumedang ini meliputi KaresidenanParahyangan. Pada akhir abad ke-16M Kerajaan Sumedang Larang dan Kesultanan Cirebon diserang olehKesultanan Mataram Jawa dan wilayahnya kemudian dianeksasi. Pada tahun 1597M Kesultanan MataramJawa menyerang Kesultanan Banten namun gagal dimana kejadian tersebut disaksikan oleh para pelayarBelanda. Dalam Naskah Wangsakerta (awal abad ke-20M) disebutkan bahwa Dyah Lembu Tal menikah
  • 13. dengan Jayadharma putra Dharmasiksa yang kemudian melahirkan Wijaya (pendiri Majapahit) sedangkanCarita Parahyangan (akhir abad ke-16M) sendiri tidak terdapat nama Jayadharma dan Dharmasiksa.Nama Dharmasiksa sendiri diambil dari teks Siksakanda (awal abad ke-16M). Dalam KakawinNegarakertagama (1365M) karya Mpu Prapanca disebutkan bahwa Dyah Lembu Tal bukanlah seorangperempuan melainkan laki-laki, dia merupakan putra dari Narasinghamurti (Pararaton menyebut dengannama Mahisa Cempaka) dan menjadi panglima perang dari Maharaja Dhiraja Kertanagara dari Tumapel.Narasinghamurti (Mahisa Cempaka) sendiri merupakan putra dari Parameswara (Mahisa Wunga Teleng).Dan Parameswara (Mahisa Wunga Teleng) merupakan putra dari Rajasa. Ketika Rajasa berkuasa diTumapel tahun 1222M, Parameswara ditunjuk oleh ayahnya sebagai Yuwaraja di Daha. Cerita dariKakawin Negarakertagama tersebut diperkuat dengan adanya prasasti Balawi (1305M) yang menyatakanbahwa Wijaya merupakan keturunan dari Rajasa. Jadi cerita dari Negarakertagama lebih dapat dipercayakarena ditulis 56 tahun setelah Wijaya meninggal. Dalam Negarakertagama disebutkan pada saatpemerintahan Maharaja Kartanagara dari Tumapel pernah menaklukan Sunda. Kemungkinan pada saat ituyang menjadi panglima dari Kerajaan Tumapel adalah Dyah Lembu Tal. Isi Naskah Wangsakerta sendiridipengaruhi oleh cerita dalam Babad Tanah Jawi (1788M) yang menyebutkan bahwa pendiri Majapahityaitu Wijaya disebut dengan nama Jaka Sesuruh. Dalam Babad Tanah Jawi juga terdapat nama Bangamerupakan saudara dari Jaka Sesuruh. Diceritakan bahwa Banga diserang oleh Manara kemudian diameminta bantuan kepada saudaranya yaitu Jaka Sesuruh. Dalam Babad Tanah Jawi, Banga dan JakaSesuruh merupakan keturunan dari Kuda Laleyan dari Kahuripan. Diceritakan bahwa Kuda Laleyanmerupakan putra dari Panji dari Kahuripan (Jenggala) dengan Candra Kirana dari Daha (Panjalu/Kadiri).Dalam kenyataan sejarahnya bahwa Panji berasal dari Daha (Kadiri) sedangkan Candra Kirana berasaldari Kahuripan (Jenggala). Dalam Babad Tanah Jawi diceritakan bahwa Kuda Lalean pergi ke barat danmenjadi raja di Pajajaran. Kemungkinan ketika Panjalu/Kadiri diserang oleh Tumapel pada tahun 1222M,banyak bangsawan Panjalu/Kadiri yang melarikan diri ke arah barat ke Kerajaan Galuh dan kemudianmendirikan Kerajaan Panjalu Ciamis. Pada masa pemerintahan Maharaja Kartanagara dari Singosari(Tumapel), disebutkan bahwa wilayah kekuasaannya membentang hingga ke Sunda. Sebelumnya padamasa Maharaja Dhiraja Wisnuwardhana dari Tumapel juga pernah melakukan penyatuan Mandala Jawakemungkinan dengan melakukan ekspansi ke Galuh dan Sunda seperti halnya pada zaman MaharajaAirlangga dimana pada waktu itu Haji Sunda yang bernama Jayabupati merupakan salah satu mandaladari Kerajaan Kahuripan sehingga Jayabupati mendapat gelar Mandalaswara sedangkan Airlanggabergelar Lokaswara (pusat dari Mandala). Sedangkan isi cerita dalam Babad Tanah Jawi sebelum abadke-15M atau sebelum adanya pengaruh Islam (zaman Demak), kurang dapat dipercaya untukmenverifikasi isi babad diperlukan informasi dari teks Jawa Kuno dari zaman Majapahit misal Pararaton(awal abad ke-16M) dan Kakawin Negarakertagama (1365M). Cerita tentang Jaka Sesuruh dalam BabadTanah Jawi (akhir abad ke-18M) kemungkinan dipengaruhi isi dari Carita Waruga Jagad (awal abad ke-18M). Menurut Waruga Jagad (awal abad ke-18M) cerita mengenai Banga dan Manara berasal darizaman Majapahit, sedangkan menurut Naskah Wangsakerta (awal abad ke-20M) cerita mengenai Bangadan Manara berasal dari zaman Mataram Kuno. Menurut Naskah Wangsakerta, Sanjaya dari Mataramberhasil menguasai Pulau Jawa kemudian keturunannya yang bernama Banga menguasai wilayah barat(Sunda) sedangkan Manara menguasai wilayah timur (Galuh) dengan batasnya adalah sungai Citarum. Didalam prasasti Wanua Tengah (908M) juga terdapat nama Manara yaitu Maharaja Rakai Warak DyahManara (803M-827M) dari Kerajaan Medang i Mataram yang merupakan keturunan dari Sanjaya(717M). Kemungkinan pembagian wilayah ini terjadi pada zaman Rakai Warak Dyah Manara. Pada abadke-19M Sastra Sunda sendiri khususnya di Cirebon terpengaruh oleh Sastra Jawa Surakarta. Pengaruh ini
  • 14. terlihat dari Serat Parwa (akhir abad ke-19M) dan Naskah Wangsakerta berbahasa Jawa dengan AksaraJawa yang ditemukan di Cirebon dan ditulis sekitar awal abad ke-20M. Naskah Wangsakerta jugamendasari ceritanya dari Carita Parahyangan (akhir abad ke-16M) yang berisi sejarah awal Sunda hinggaakhir Kerajaan Pajajaran akibat serangan Kesultanan Demak, Cirebon, dan Banten (akhir abad ke-16M).Dalam Carita Parahyangan tidak mengenal Kerajaan Taruma. Sedangkan menurut Naskah Wangsakerta(awal abad ke-20M) Kerajaan Sunda Galuh merupakan penerus Kerajaan Taruma. Nama Taruma barudikenal pada akhir abad ke-19M setelah ditemukan prasasti tentang kerajaan itu. Dalam CaritaParahyangan tidak mengenal nama Tarusbawa. Selain sejarah Kerajaan Sunda, naskah ini jugamenceritakan sejarah Kerajaan Jawa sejak zaman Kelingga sampai Majapahit. Namun demikian naskahini tidak mencantumkan sejarah Kerajaan Tumapel. Para sejarawan sendiri meragukan isi NaskahWangsakerta khususnya sebelum abad ke-15M untuk dijadikan sebagai sumber sejarah karena tidak adaadanya bukti yang mendukungnya misal prasasti yang beraksara Sunda Kuno ataupun naskah kuno.Prasasti tertua berbahasa Sunda Kuno dengan Aksara Sunda Kuno sendiri berasal dari abad ke-15Msedangkan naskah kuno Sunda tertua berasal dari abad ke-16M. Hal itu berbeda dengan Kerajaan Baliyang terdapat banyak prasasti dari pertengahan abad ke-9M hingga pertengahan abad ke-14M. Bukti lainkeberadaan Kerajaan Galuh adalah candi Cangkuang (Garut) bercorak Hindu yang memiliki tipikal yangsama dengan candi Dieng Jawa yang dibuat pada awal abad ke-8M. Candi Cangkuang merupakan candisatu-satunya peninggalan Kerajaan Galuh. Nama asli dari Negarakertagama adalah Desawarnana (penjelasan mengenai keadaan negara)sebuah nama yang diberikan oleh pengarangnya sendiri. Nama Prapanca merupakan sebuah namasamaran dari pengarangnya. Nama Prapanca dalam Bahasa Sansekerta berarti kesedihan, rintanganterhadap laku utama (kesesatan, kesombongan, kenginan). Pengarang Negarakertagama sendiri mengakuibahwa dia menggunakan nama samaran Prapanca karena merasa dirinya cacat/tercela. Dia sendirimemberikan arti nama Prapanca sebagai pra-lima yaitu Prapanca, Pracacah, Pracacad, Prapongpong, danPracongcong. Cara berbicaranya lucu, matanya terlinyap, kalau tertawa terbahak-bahak, terlalu bodohuntuk menerima tutur/nasihat, tidak patut ditiru, lebih baik dipukuli saja. Menurut Slamet Mulyana, namaasli dari Prapanca adalah Nadendra (Nada-Indra). Disebutkan bahwa nama asli dari Prapanca terdiri daripancaksara (lima huruf). Kata Nadendra sendiri terdiri dari lima huruf yaitu Na Da Na Da Ra. DiNegarakertagama juga terdapat nama Mpu Wi-nada. Dia merasa tidak pantas menyandang namaNadendra (sebuah nama yang bagus sekali) karena itulah dia memakai nama samaran yaitu Prapanca.Menurut Slamet Mulyana, Nadendra merupakan seorang mantan Dharmadhayaksa Kasogatan (Jaksauntuk pemeluk agama Budha) di Majapahit pada tahun 1358M. Dia menduduki jabatan DharmadhayaksaKasogatan sebagai ketika masih muda sebagai pengganti dari kedudukan ayahnya yang juga seorangDharmadhayaksa. Disebutkan bahwa dia ketika masih kecil menyukai kakawin seperti halnya ayahnya.Pada tahun 1359M, Prapanca/Nadendra pernah ikut dalam sebuah rombongan plesir/piknik MaharajaDyah Hayam Wuruk ketika sedang berkeliling ke wilayah Kerajaan Majapahit. Pengalaman itulah yangdikenang oleh dia saat membuat sebuah kakawin Negarakertagama/Desawarnana. Dalam sebuah prasastidisebutkan bahwa Nadendra merupakan seorang yang putus (khatam) ilmu. Menurut Slamet Mulyana,Nadendra dipecat dari jabatannya karena adanya fitnah/celaan terhadap dirinya yang dilakukan olehseorang bangsawan. Pengarang Negarakertagama yaitu Prapanca mengakui bahwa dirinya dicela olehseorang Dyah (Bangsawan). Namun dia tidak marah terhadap orang yang mencelanya itu. Kemungkinanfitnah yang ditujukan terhadapnya adalah mengenai harta kekayaannya yang banyak. DalamNegarakertagama disebutkan bahwa setelah berhenti dari jabatan sebagai Dharmadhayaksa, diamendermakan semua harta miliknya untuk kaum miskin. Kemudian menjadi seorang pertapa di desa
  • 15. terpencil di Kamalasana, di lereng sebuah gunung. Tempat dia berperang melawan hawa nafsunya untukmencapai nirwana. Nama Kamalasana dalam Bahasa Sansekerta berarti Karangasem. Di daerahKarangasem Bali dan Klungkung Bali juga terdapat kakawin Negarakertagama seperti halnya yangterdapat di Mataram Lombok. Ketika pertama kali tinggal di desa yang terpencil, dirinya merasa kikuk,berbeda dengan suasana di ibukota dekat Maharaja. Disebutkan bahwa ketika dirinya masih muda, diasering menemui Hayam Wuruk. Dia merupakan teman sepermainan dari Hayam Wuruk saat masih kecil.Dia menggubah Kakawin Negarakertagama sebagai pujian untuk Maharaja Hayam Wuruk agarkerajaannya damai dan tentram. Dia memakai nama samaran supaya ciri-cirinya tidak mudah dikenalibanyak orang. Dia tidak berharap kakawinnya sampai pada tempat Maharaja karena memang dirinyaberada di tempat terpencil. Dan apabila kakawin ini sampai juga di tangan Maharaja, dia berharapMaharaja mengenalinya dan mengenangnya. Menurut Slamet Mulyana, Prapanca ingin dirinya diangkatkembali sebagai Dharmadhayaksa Kasogatan oleh Maharaja Hayam Wuruk. Namun ada rintangan yangmenghalanginya kembali menduduki jabatannya. Menurut Slamet Mulyana rintangan itu adalahMahapatih Gajah Mada, karena kakawin Negarakertagama diselesaikan pada tahun 1365M setelahkematian Gajah Mada pada tahun 1364M. Menurut Slamet Mulyana, kakawin ini tidak sampai ke tanganMaharaja Hayam Wuruk karena kakawin ini tidak terkenal di Jawa. Berbeda dengan keadaan di Balidimana kakawin ini tersebar dan disimpan di tempat-tempat yang suci. Mungkin nama Prapanca tidaksampai ke telinga Hyam Wuruk pada abad ke-14M namun namanya akan dikenal dan dikenang berabad-abad setelah kematiannya. Pada pertengahan abad ke-8M Sriwijaya dikuasai oleh Wangsa Sailendra dari Jawa denganrajanya bernama Dharanindra. Kemudian Balaputradewa cucu Dharanindra/Sangramadhanamjayamenjadi raja Sriwijaya berdasarkan prasasti Nalanda. Pada abad ke-10M Lampung dan Barus (terletak dipesisi barat Sumatra) lebih dominan dipengaruhi Medang Jawa dibanding Sriwijaya dibuktikan denganadanya prasasti Hujung Langit (Lampung, 997M). Pada abad ke-10M terjadi persaingan antara Jawadengan Sriwijaya dalam memperebutkan dominasi selat Malaka seperti yang disebutkan dalam buku TaoChih Lio oleh Wang Ta Yan dan yang memuncak pada tahun 990M saat pasukan Dharmawangsa Teguhdari Medang menyerang ke Palembang (Sriwijaya) dan mendudukinya sebentar sampai awal abad ke-11M sebelum Sriwijaya ditaklukkan oleh Kerajaan Chola India pada tahun 1025M. Penaklukan Cholamenyebabkan Wangsa Sailendra di Sriwijaya runtuh dan perlahan-lahan pusat pemerintahan mulaibergeser dari Palembang ke Jambi pada akhir abad ke-11M. Bukti arkeologi di Kerajaan Barus (berdiripada abad ke-9M) menunjukkan bahwa Barus tidak dibawah pengaruh Sriwijaya melainkan berhubungandengan Kerajaan Jawa. Bukti pengaruh Jawa di Barus, misalnya temuan koin Jawa Kuno, prasastiberbahasa Jawa Kuno dan artefak dari zaman Kadiri. Menurut sejarawan, pada masa itu yang memakaimata uang koin dalam perdagangan adalah Jawa dan Barus. Seperti halnya dengan Kerajaan Jawa,Kerajaan Barus ini juga memiliki hubungan perdagangan yang erat sekali dengan para pedagang Chola-India. Dibuktikan dengan adanya prasasti Lobu Tua (1088M) berbahasa Tamil dengan Aksara Tamil diBarus. Di Pennai (berdiri pada abad ke-10M) juga ditemukan sebuah percandian bernama Candi Bahal.Candi ini didirikan pada abad ke-11M. Diperkuat dengan adanya prasasti Gunung Tua (abad ke-11M) diPadang Lawas yang menggunakan bahasa Malayu Kuno dengan Aksara Kawi (Jawa Kuno) yangditemukan di sekitar Candi Bahal. Selain itu di Pasaman juga ditemukan artefak berupa ukiran Ganeshayang memiliki gaya Jawa zaman Kadiri pada abad ke-12M. Lambang Ganesha merupakan lambangpasukan (seal) Kerajaan Panjalu/Kadiri yang membuktikan adanya pengaruh Jawa. Pada awal abad ke-12M pengaruh Chola India di Sumatra dan Semenanjung Malaya mulai menghilang. Di SemenanjungMalaya setelah pengaruh Chola menghilang, raja Kedah mulai beralih dari agama Hindu ke Islam pada
  • 16. tahun 1160M (berdasarkan Hikayat Kedah awal abad ke-19M). Sedangkan di Sumatra setelah pengaruhChola menghilang, muncul Wangsa Mauli mulai mengambil alih kekuasaan di Malayu (Jambi). Buktikeberadaan Wangsa Mauli dapat dilihat dari adanya nama Srimat Trailokyaraja MaulibhusanaWarmadewa dalam prasasti Grahi (1183M) berbahasa Malayu Kuno dengan Aksara Kawi (Jawa Kuno).Nama Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa mungkin merupakan leluhur dari SrimatTribhuwanaraja Mauli Warmadewa dari Malayu (Dharmasraya) dalam prasasti Padang Roco (1286M).Nama “Srimat” sendiri berarti “Tuan Pendeta”, tidak diketahui dengan pasti apakah ada kebangkitankaum pendeta. Sejak tahun 1178M Kaisar Dinasti Sung China melarang utusan dari San-fo-tsi untukdatang lagi ke China. Dalam buku Ling-wai Tai-ta oleh Chou Ku Fei (1178M) disebutkan bahwa terdapatdua kerajaan besar di Nusantara yaitu San fo Tsi (Sumatra) dan Shepo (Jawa). Menurut buku tersebutnegara kaya selain China secara berurutan adalah Tarshish, Shepo (Jawa), San Fo Tsi (Sumatra). Dalambuku Chu-fan-chi oleh Chau Ju-kua (1225M) disebutkan San-fo tsi menguasai pesisir timur Sumatra danSemenanjung Malaya sedangkan Shepo menguasai Kalimantan dan Nusantara bagian Timur. Disebutkanbahwa San-fo-tsi memiliki beberapa daerah bawahan, yaitu Kia-lo-hi (Grahi/Surat Thani), Tan-ma-lin(Tambalingga/Nakhon Thammarat), Pa-ta (Pathalung), Fo-lo-an (Kuala Berang), Ling-ya-si-kia(Langkasuka/Pattani), Ki-lan-tan (Kelantan), Tong-ya-nong (Trengganu), Pong-fong (Pahang), Tsien-mai(Saimwang), Ji-lo-ting (Jelotung/Penang), Sin-to (Sunda), Pa-lin-fong (Palembang), Kien-pi (Jambi),Lan-mu-li (Lamuri/Banda Aceh), dan Si-lan. Dari daftar tersebut dapat diketahui bahwa Sriwijayamenguasai pantai timur Sumatra sedangkan kerajaan di pantai barat Sumatra seperti Barus dan Pennaitidak disebut sama sekali. Kemungkinan wilayah tersebut di luar pengaruh Sriwijaya. Selain itu daridaftar tersebut juga diketahui bahwa pada awal abad ke-13M. Kesultanan Pasai (berdiri pada akhir abadke-13M) dan Kesultanan Haru (berdiri pada awal abad ke-14M) belum berdiri sedangkan KesultananPerlak (berdiri pada pertengahan abad ke-12M) mungkin juga belum menjadi pelabuhan yang besar.Dalam buku Chu-fan-chi oleh Chau Ju-kua (1225M) disebutkan Shepo (Jawa) memiliki beberapa daerahbawahan yaitu Pai-hua-yuan, Ma-tung, Jung-ya-luh, Ta-pen, Ta-kang, Tan-jung-wu-lo, Ma-li, Ping-yai,Ku-lun, Ti-wu, Wu-nu-ku, Huang-ma-chu, Hi-ning, Jeng-gi. Kerajaan Kadiri juga memiliki angkatan lautyang dipimpin oleh seorang Senopati Sarwwajala (Laksamana) dalam prasasti Jaring (1181M). Sejak awal abad ke-8M hingga runtuhnya Kerajaan Sriwijaya, tidak pernah lagi dijumpai prasastiberkaitan dengan Sriwijaya. Tidak seperti pada akhir abad ke-7M saat pemerintahan Dapunta HyangJayanasa yang banyak mengeluarkan prasasti yang berbahasa Malayu Kuno dengan Aksara Pallawa.Tidak adanya bukti prasasti tersebut menyebabkan kekurangan informasi akan kondisi internal Sriwijaya.Nama-nama yang diperoleh dari berita Dinasti Sung China tersebut bukanlah nama para Maharajasebenarnya melainkan hanya nama duta ataupun raja bawahan (bergelar Haji) yang diutus oleh MaharajaSriwijaya ke China. Nama-nama Maharaja Sriwijaya kebanyakan diperoleh dari India misal Cula-mani-warman, Mara-wijaya-tungga-warman, dan Sangrama-wijaya-tungga-warman dalam prasasti Chola India(1044M). Prasasti tersebut dibuat oleh Maharaja Rajendra Chola 1 dari Chola India setelah mengalahkanSriwijaya. Jika melihat gelar “Tungga” yang dipakai oleh Maharaja Sriwijaya kemungkinan mendapatkanpengaruh dari Jawa. Dalam prasasti Kanton China (1079M) yang dibuat oleh Maharaja Kulothunga Chola1 (1070M-1118 M) dari Chola India dalam rangka peresmian sebuah candi Budha di Kanton yang dibuatatas nama Sriwijaya. Maharaja Chola India sendiri beragama Hindu. Kulothunga Chola 1 dari Chola Indiajuga pernah mengirim utusan ke Dinasti Sung China pada tahun 1077M. Pada tahun 717M, Sanjaya naik tahta Kerajaan Medang menggantikan pamannya yaitu Sanna.Pada tahun 717 Masehi atau 639 Saka digunakan sebagai permulaan dari penanggalan/kalender Sanjaya
  • 17. yang dibuat pada masa pemerintahan Maharaja Mpu Daksa dari Medang. Kerajaan Medang beribukota diMataram berdasarkan prasasti Canggal (732M) berbahasa Sansekerta dengan Aksara Pallawa. Di dalamprasasti itu Sanjaya dikenal sebagai seorang yang ahli perang dan menguasai kitab suci yang menyatukanJawa kembali setelah terjadi kekacauan akibat meninggalnya raja pendahulu yang bernama Sanna.Penggambaran Sanjaya (abad ke-8M, pendiri Kerajaan Medang) sebagai Raja-Resi atau Ratu-Pandhitamirip dengan penggambaran Purnawarman (abad ke-5M, Kerajaan Taruma), Airlangga (abad ke-11M,pendiri Kerajaan Panjalu/Kadiri), Sangramawijaya (abad ke-14M, pendiri Kerajaan Majapahit), danSutawijaya (abad ke-17M, pendiri Kesultanan Mataram Jawa) bahkan Soekarno (abad ke-20M, pendiriRepublik Indonesia). Dalam Babad Tanah Jawi, Sutawijaya digambarkan sebagai raja dan panglimaperang sekaligus pemimpin agama yang memiliki spiritualitas tinggi dan menyatukan kerajaan kembali.Hal ini dapat dilihat dari gelar yang dipakai Sultan Agung yaitu Sampeyan Dalem Ingkang SinuhunKanjeng Sri Susuhunan Adi Prabu Hanyakrakusuma Senopati ing Ngalaga Abdurrahman SayiddinPanatagama Khalifatullah yang berarti panglima perang, pelayan Tuhan, pemimpim agama, dan wakilTuhan. Sultan Agung sendiri ingin menjadi Gung Binatara seperti halnya penguasa Singosari danMajapahit yang memakai gelar Batara. Orang Belanda myebutnya sebagai Kaiser von Mataram Java(Kaisar i Jawi). Menuru Carita Parahyangan (akhir abad ke-16M), Sanjaya pernah menyerang Malayu.Sejak tahun 730M, Kerajaan Sriwijaya tidak diketahui beritanya lagi baik dalam bentuk prasasti maupunberita dari China. Pada tahun 960M hubungan diplomatik antara Sriwijaya dengan China muncul kembalisejak awal berdirinya Dinasti Sung China (pertengahan abad ke-10M) yang kali ini disebut sebagai SanFo Tsi bukan lagi Shih Li Fo Tsi seperti pada awal abad ke-8M. Pada abad ke-8M selain Kerajaan Medang ada sebuah kerajaan di Jawa bernama Kanjuruhan(Malang). Raja Kanjuruhan bernama Gajayana putra Dewasimha hal tersebut didasarkan pada prasastiDinoyo (Malang, 760M) berbahasa Jawa Kuno dengan Aksara Kawi (Jawa Kuno). Prasasti tersebut lebihmuda sepuluh tahun dari prasasti Plumpungan (Salatiga, 750M) berbahasa Jawa Kuno dengan AksaraKawi. Dalam prasasti Canggal (732M) disebutkan bahwa Sanjaya putra Sannaha menggantikankedudukan pamannnya yaitu Sanna. Dikatakan bahwa sepeninggalan (meninggal) Sanna, kerajaanmenjadi terpecah.. Kemudian Sanjaya dapat menyatukan kerajaan kembali dan mendirikan kerajaan barubernama Medang. Ketika Sanjaya mendirikan Kerajaan Medang kemungkinan Gajayana putraDewasimha ini pindah ke arah timur dan mendirikan Kerajaan Kanjuruhan. Dalam prasasti Dinoyo(760M), Gajayana disebutkan mempunyai seorang putri bernama Uttajena yang menikah denganJananiya. Dapat dipastikan bahwa pada tahun 760M Gajayana telah meninggal. Prasasti Dinoyomerupakan satu-satunya prasasti peninggalan Kerajaan Kanjuruhan dan setelah itu tidak diketahuiberitanya lagi. Pada pertengahan abad ke-8M Kanjuruhan ini kemungkinan dianeksasi oleh KerajaanMedang pada masa Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Pancapana putra Rakai Mataram Sang RatuSanjaya. Rakai Panangkaran merupakan penguasa pertama di Medang yang memakai gelar Maharaja.Bukti lain keberadaan Kerajaan Kanjuruhan adalah candi Badut (Malang) bercorak Hindu yang dibuatpada masa pemerintahan raja Gajayana. Candi Badut memiliki tipikal yang sama dengan candi GedongSongo (Ungaran/sebelah utara Salatiga) yang dibuat pada masa Sanjaya dari Medang. Prasasti tertua lainyang memakai bahasa Jawa Kuno dengan Aksara Kawi adalah prasasti Sukabumi (Kadiri, 804M). Bosch dalam karangannya yang berjudul Sriwijaya, de Sailendrawamsa en de Sanjayawamsa(1952M). Ia menyebutkan bahwa, di Kerajaan Medang terdapat dua Dinasti yang berkuasa, yaitu DinastiSanjaya dan Sailendra. Istilah Wangsa Sanjaya merujuk kepada nama pendiri Kerajaan Medang, yaituSanjaya. Dinasti ini menganut agama Hindu aliran Siwa, dan berkiblat ke Kunjaradari di daerah India.
  • 18. Maharaja selanjutnya ialah Rakai Panangkaran yang dikalahkan oleh Dinasti lain bernama WangsaSailendra. Sejak saat itu di Medang terdapat dua Dinasti yaitu Sanjaya (di utara Jawa) dan Sailendra (diselatan Jawa). Sampai akhirnya seorang putri mahkota Sailendra yang bernama Pramodawardhani (putriMaharaja Samaratunggadewa) menikah dengan Rakai Pikatan, seorang keturunan Sanjaya. Rakai Pikatankemudian mewarisi takhta mertuanya. Dengan demikian, Wangsa Sanjaya kembali berkuasa di Medang.Bosch juga memberikan daftar silsilah para Maharaja Wangsa Sanjaya, sekaligus juga silsilah keluargamulai dari Sanjaya sampai Balitung.Daftar Wangsa Sanjaya berdasarkan prasasti Mantyasih (907M) oleh Bosch:Rakai Mataram SanjayaRakai PanangkaranRakai PanunggalanRakai WarakRakai GarungRakai PikatanRakai KayuwangiRakai WatuhumalangRakai Watukura Asumsi yang dipakai oleh Bosch adalah bahwa nama rakai adalah nama silsilah wangsa. Tetapibanyak sarjana lain yang menolak teori ini contohnya Slamet Mulyana. Menurutnya, daftar tersebutbukanlah silsilah Wangsa Sanjaya, melainkan daftar para Maharaja yang pernah berkuasa di KerajaanMedang. Nama “Rakai” itu sendiri seperti nama “Batara” (Bre) dalam zaman Majapahit yang berarti(Penguasa di atau Pejabat di) misalnya Bre Kahuripan, Bre Daha, Bre Tumapel, Bre Kertabumi ataupunnama “Adipati” pada zaman Islam misalnya Adipati Demak, Adipati Pajang, Adipati Mataram. Biasanyasebelum menjadi Maharaja lebih dahulu menjadi penguasa daerah yang masih mempunyai hubungankeluarga dengan Maharaja yang masih menjabat. Misal Fatah (Adipati Demak) mendirikan KesultananDemak, Hadiwijaya (Adipati Pajang) mendirikan Kesultanan Pajang, dan Sutawijaya (Adipati Mataram)mendirikan Kesultanan Mataram. Menurut berita China dari Dinasti Tang bahwa Kerajaan Medangdipimpin oleh seorang Maharaja yang mempunyai 28 daerah bawahan yang merupakan wilayah ke-rakai-an. Dalam pusat pemerintahan, Maharaja Medang dibantu oleh 4 Rakaian Mahamantri Katrini yangdijabat keluarga Maharaja yaitu Rakaian i Hino, Rakaian i Halu, Rakaian i Sirikan, dan Rakaian i Wikayang merupakan jabatan untuk keluarga Maharaja. Selain itu ada Mantri yang kedudukannya dibawahkedudukan Mahamantri. Dewan Mantri ini disebut dengan nama Rakaian Mantri Pakira-kiran yangdipimpin seorang Mahapatih (Perdana Menteri), Dewan Mantri itu misalnya Rakaian i Kanuruhan,Rakaian i Rangga dan Rakaian i Demung. Bosch juga mengatakan bahwa pendiri Wangsa Sailendra bernama Bhanu berdasarkan prasastiPlumpungan (Salatiga,750M) berbahasa Jawa Kuno dengan Aksara Kawi (Jawa Kuno). Bhanu kemudianmengalahkan Maharaja Rakai Panangkaran. Padahal dalam prasasti itu Bhanu hanya disebutkanmemberikan sebidang tanah perdikan dengan persetujuan dari Sang Sidhadewi. Kemungkinan besar iahanya menjabat sebagai bawahan pada Kerajaan Medang. Dan Bhanu sendiri tidak bergelar “Maharaja”namun hanya bergelar “Haji” (gelar setingkat dibawah Maharaja). Analisis Slamet Mulyana terhadap beberapa prasasti, misalnya prasasti Kelurak, prasastiKayumwungan, prasasti Siwagraha, dan prasasti Nalanda menyimpulkan bahwa Rakai Panangkaran,Rakai Panunggalan, Rakai Warak, dan Rakai Garung adalah anggota Wangsa Sailendra. Alasan yang
  • 19. dipakai adalah bahwa Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Pancapana sendiri bergelarSailendrawamsatilaka (Permata Wangsa Sailendra) berdasarkan prasasti Kalasan (778M) berbahasaSansekerta dengan Aksara Pranagari/ Siddham. Jadi Slamet Mulyana, menolak pendapat bahwa RakaiPanangkaran dikalahkan Wangsa Sailendra karena Panangkaran sendiri merupakan anggota WangsaSailendra. Dalam prasasti Mantyasih (907M) Rakai Panangkaran merupakan penerus Rakai MataramSang Ratu Sanjaya. Para penguasa Jawa dulu memakai gelar “Ratu” sebelum memakai gelar “Maharaja”misal Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Setelah masa pemerintahan Rakai Panangkaran DyahPancapana dan seterusnya, para pengusa Jawa memakai gelar Maharaja. Baik kata “Ratu” (prasastiCanggal) dan “Datu” (prasasti Talaga Batu) berasal dari bahasa Sansekerta dan mempunyai arti yangsama dengan “Raja”. Dalam prasasti Mantyasih (907M) dikatakan bahwa Maharaja Rakai Panangkaran(prasasti Kalasan, 778M) digantikan oleh Maharaja Rakai Panunggalan. Menurut Slamet Mulyana,Maharaja Rakai Panunggalan identik dengan Dharanindra/Sangramadhanamjaya dalam prasasti Kelurak(782M) berbahasa Sansekerta dengan Aksara Pranagari/Siddham. Menurut Slamet Mulyana pada masa pemerintahan Dharanindra dari Wangsa Sailendra penguasaKerajaan Medang pada abad ke-8M menyerang Kerajaan Sriwijaya dan menjadikannya sebagai rajabawahan didasarkan pada prasasti Kelurak (782M), prasasti Ligor B, prasasti Nalanda India. KemudianDharanindra menyerang Kerajaan Chenla-Kamboja dan Champa hal ini didasarkan pada prasasti Ligorsisi B dan diperkuat dengan adanya catatan Kerajaan Khmer-Kamboja (berdiri pada awal abad ke-9M)yaitu prasasti Sdok Kak Thom dan Kerajaan Champa (berdiri pada awal abad ke-3M dan menjadiKerajaan Hindu pada awal abad ke-5M) yaitu prasasti Po Nagar. Ligor terletak di Nakhon Thammaratyang dulunya bernama Tambralingga (berdiri pada abad ke-8M). Disebutkan bahwa pada tahun 782M,pihak Jawa pernah menyerang Champa (prasasti Po Nagar). Dan Ada seorang pangeran Chenla dibawa keJawa yang bernama Jayawarman (prasasti Sdok Kak Thom). Ketika kembali ke Chenla dia mendirikanKerajaan Khmer dan melepaskan diri dari Jawa pada tahun 802M. Sebelumnya dalam berita Chinadisebutkan bahwa pada tahun 767M daerah Tonkin (Annam) pernah diserang oleh Chopo (Jawa) namundapat dipukul mundur oleh Gubernur China di Tonkin yang bernama Chang Po Yi. Kemungkinanpenyerangan ini dilakukan oleh Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Pancapana dari Medang. MenurutCoedes, prasasti Ligor A dan B dibuat pada waktu sama. Menurut Slamet Mulyana, prasasti Ligor A danprasasti Ligor B sendiri mempunyai perbedaan dalam tata bahasa yang digunakan. Hal ini menunjukanbahwa waktu pembuatan antara prasasti Ligor A dan prasasti Ligor B berbeda. Prasasti Ligor A (775M)berbahasa Sansekerta dengan Aksara Pallawa dibuat oleh seseorang (tidak diketahui namanya).Sedangkan dalam prasasti Ligor B (dibuat sekitar tahun 775M sampai 782M) berbahasa Sansekertadengan Aksara Pallawa dibuat oleh seseorang yang dipuja bagaikan Dewa Wisnu. Nama “Wisnu” sendirimempunyai arti yang sama dengan nama “Dharanindra” dalam prasasti Kelurak (782M) yaitu “pelindungdunia”. Dharanindra sendiri mempunyai nama abhiseka yaitu Sri Sang-rama-dhanamjaya (prasastiKelurak, 782M). Dalam mitogi Hindu, Sang Rama merupakan jelmaan dari Dewa Wisnu. Nama Wisnupada prasasti Ligor B mempunyai julukan “Sarwwarimawimathana”, Dharanindra/Sangramadhanamjayapada Prasasti Kelurak (782M) mempunyai julukan “Wairiwarawiramardana”, dan kakek dariBalaputradewa putra Samaragrawira dalam prasasti Nalanda mempunyai julukan “Wirawairimathana”dimana ketiga nama julukan itu mempunyai arti yang sama yaitu “pembunuh musuh musuh perwira”.Dalam prasasti Nalanda, kakek dari Balaputradewa disebut sebagai anggota Wangsa Sailendra dariYawabhumi (Jawa) sedangkan Balaputradewa sendiri menyebut dirinya sebagai Maharaja dariSwarnadwipa (Sumatra). Menurut Coedes, tokoh “Wisnu” dan “Maharaja yang berjulukanSarwwarimawimathana” yang terdapat dalam prasasti Ligor B merupakan dua orang yang berbeda. Jadi
  • 20. tokoh ‘Wisnu” berbeda dengan tokoh “Dharanindra/Sangramadhanamjaya” walaupun memiliki arti namadan julukan yang sama. Coedes berpendapat bahwa Maharaja yang berjulukan “Sarwwarimawimathana”merupakan penerus dari Wisnu. Menurut Slamet Mulyana, nama “Wisnu” hanyalah sebuah nama julukandari Dharanindra/Sangramadhanamjaya. Jadi nama “Wisnu” bukanlah sebuah nama sebenarnyamelainkan hanya sebuah julukan seseorang yang dipuja bagaikan Dewa Wisnu. Prasasti lain yangberhubungan dengan Wangsa Sailendra adalah prasasti Abhayagiriwihara (792M) berbahasa Sansekertadengan Aksara Pranagari/Siddham atas nama Dharmatunggadewa. Menurut Slamet Mulyana, Maharaja Dharanindra kemudian digantikan oleh putranya yangbernama Samaragrawira (prasasti Nalanda). Dewi Tara putri Dharmasetu bawahan MaharajaDharanindra dinikahkan dengan Samaragrawira. Pendapat Coedes yang mengatakan bahwa Dharmasetuadalah Maharaja Sriwijaya ditolak Slamet Mulyana karena berdasarkan prasasti Kelurak (782M)berbahasa Sansekerta dengan Aksara Pranagari/Siddham, Dharmasetu hanya ditugasi oleh Dharanindrauntuk merawat bangunan suci di desa Kelurak dan juga Dharmasetu disebutkan berasal dari Jawa. JadiDharmasetu bukan Maharaja Sriwijaya melainkan hanya sebagai raja bawahan. Karena tidak ada satupunprasasti yang mengkaitkan Dharmasetu dengan Sriwijaya atau tidak ada satupun prasasti tentangDharmasetu yang ditemukan baik di Sumatra maupun di Semenanjng Malaya. Dalam prasasti Kelurak(782M), Dharmasetu sendiri tidak bergelar sebagai Maharaja. Selain di prasasti Kelurak (782M) namaDharmasetu hanya tercantum dalam prasasti Nalanda. Pada prasasti itu disebutkan bahwa Balaputradewaputra Samaragrawira putra dari seseorang yang berjulukan “Wirawairimathana” dari Wangsa Sailendrasedangkan ibunya bernama Dewi Tara putri Dharmasetu dari Wangsa Soma. Kakek dari Balaputradewadisebutkan berasal dari Yawabhumi (Jawa). Balaputradewa menyebut dirinya sebagai sebagai Maharajadari Swarnadwipa (Sumatra). Menurut Krom, bahwa Balaputradewa adalah putra Samaratunggadewakarena nama Samaratunggadewa (prasasti Kayuwungan, 824M) dianggap identik dengan namaSamaragrawira karena kemiripan namanya. Pendapat Krom ini ditolak Slamet Mulyana, karenaSamaratunggadewa hanya memiliki satu anak yang bernama Pramowardhani berdasarkan prasastiKayuwungun (824M) sedangkan julukan “Wirawairimathana” ditujukan ke Dharanindra.Samaratunggadewa lebih cocok dikatakan sebagai kakak dari Balaputradewa daripada sebagai ayahnya.Menurut Slamet Mulyana, dari pernikahan Samaragrawira dan Dewi Tara diberi dua anak yang bernamaSamaratunggadewa dan Balaputradewa. Dari prasasti Nalanda dapat diambil kesimpulan bahwaBalaputradewa mempunyai dua kakek yaitu Dharanindra (dari sisi ayahnya) dan Dharmasetu (dari sisiibunya). Lebih jauh lagi Slamet Mulyana mengatakan bahwa Samaragrawira putra Dharanindra nantinyamembagi kerajaan menjadi dua yaitu Yawadwipa/Medang untuk Samaratunggadewa danSwarnadwipa/Sriwijaya untuk Balaputradewa agar lebih mudah melakukan administrasi. Karena padamasa pemerintahan Samaragrawira, Kerajaan Khmer Kamboja lepas dari Jawa pada tahun 802M (prasastiSdok Kak Thom). Dalam prasasti Mantyasih (907M) dikatakan bahwa Maharaja Rakai Panunggalandigantikan oleh Maharaja Rakai Warak. Menurut Slamet Mulyana, Maharaja Rakai Panunggalan identikdengan Dharanindra sedangkan Maharaja Rakai Warak identik dengan Samaragrawira. Menurut Coedes, pada akhir abad ke-8M Wangsa Sailendra dibawah pengaruh Sriwijaya denganmasih beranggapan bahwa Dharmasetu merupakan Maharaja Sriwijaya. Sedangkan menurut SlametMulyana, Sriwijaya dibawah kekuasaan Wangsa Sailendra. Manakah yang lebih dulu berpengaruh antaraDharmasetu dari Wangsa Soma dengan Wisnu dan Indra dari Wangsa Sailendra. Sudah diketahui bahwaDharanindra dan Dharmasetu merupakan kakek dari Balaputradewa (prasasti Nalanda). Sedangkan
  • 21. Coedes sendiri berpendapat Dharanindra (prasasti Kelurak, 782M) merupakan penerus dari Wisnu(prasasti ligor B). Menurut Coedes bahwa nama “Wisnu” dan “Dharanindra/Sangramadhanamjaya” dianggap tidakidentik walaupun memiliki makna nama dan julukan yang sama. Sedangkan menurut Slamet Mulyana,nama “Wisnu” dan “Dharanindra/Sangramadhanamjaya” dianggap identik. Menurut Krom bahwa nama“Samaragrawira” dan “Samaratunggadewa” dianggap identik. Sedangkan menurut Slamet Mulyanamenganggap nama “Samaragrawira” dan “Samaratunggadewa” tidak identik. Pada masa pemerintahan Samaratunggadewa, dia mempunyai raja bawahan bernama RakaiPatapan Mpu Palar (prasasti Kayuwungan, 824M). De Casparis menemukan bahwa, dalam prasasti Keduterdapat informasi tentang desa Guntur yang masuk wilayah Garung, serta masuk pula wilayah Patapan.Atas dasar ini, Rakai Patapan dianggap identik dengan Maharaja Rakai Garung dalam daftar paraMaharaja dalam prasasti Mantyasih (907M). Rakai Garung adalah Maharaja sebelum Rakai Pikatan, yangmerupakan menantu dari Samaratunggadewa. Kesimpulannya ialah, Rakai Patapan Mpu Palar pada tahun824M masih menjadi bawahan Samaratunggadewa. Kemudian pada tahun 827M ia sudah membangunKerajaan sendiri dan memakai gelar Maharaja Rakai Garung. Putranya bernama Rakai Pikatan MpuManuku menikah dengan Pramodawardhani putri Samaratunggadewa sehingga bisa mewarisi takhtaKerajaan Medang. Teori De Casparis ini ditolak oleh Slamet Mulyana. Menurutnya, prasasti Gandasuli(827M) dikeluarkan ketika Mpu Palar sudah meninggal. Gelar terakhir Mpu Palar menurut prasastiGandasuli ialah Haji, yaitu gelar di bawah Maharaja. Jadi Haji Rakai Patapan Mpu Palar tidak mungkinsama dengan Maharaja Rakai Garung. Kedudukan Haji Rakai Patapan Mpu Palar seperti kedudukan HajiDharmasetu. Nama Rakai Garung juga terdapat dalam prasasti Pengging (819M) berbahasa Jawa Kunodengan Aksara Kawi. Selain itu, disebutkan dalam prasasti Ganadasuli (827M) bahwa anak-anak MpuPalar semuanya perempuan, jadi tidak mungkin ia berputra Rakai Pikatan. Ditinjau dari tata bahasaprasasti Gandasuli (827M), tokoh Rakai Patapan Mpu Palar diperkirakan berasal dari pulau Sumatra. Danjuga prasasti yang berhubungan dengan Rakai Patapan Mpu Palar selalu menggunakan bahasa MalayuKuno seperti prasasti Kayuwungan (824M) dan prasasti Gandasuli (827M). Dalam prasasti Kayuwungan(824M) sendiri terdapat dua bahasa yaitu bahasa Sansekerta yang berhubungan denganSamaratunggadewa dan bahasa Malayu Kuno yang berhubungan dengan Rakai Patapan Mpu Palar.Dalam prasasti Munduan (807M) diketahui yang menjabat sebagai Rakai Patapan adalah Mpu Manuku.Kemudian pada prasasti Kayumwungan (824M) Rakai Patapan dijabat oleh Mpu Palar. Namun, padaPrasasti Tulang Air (850M) Mpu Manuku kembali memimpin daerah Patapan. Jadi tidak mungkin MpuManuku adalah anak Mpu Palar karena Mpu Manuku lebih dulu menjabat daripada Mpu Palar.Kesimpulannya ialah, Mpu Manuku mula-mula menjabat sebagai Rakai Patapan. Kemudian ia diangkatoleh Samaratunggadewa sebagai Rakai Pikatan, sehingga jabatannya digantikan oleh Mpu Palar, seorangpendatang dari Sumatra. Atas jasa-jasa dan kesetiaannya, Mpu Palar kemudian diangkat sebagai rajabawahan bergelar Haji. Rakai Pikatan Mpu Manuku berhasil menikahi Pramodawardhani sang putrimahkota bahkan berhasil menjadi Maharaja Kerajaan Medang sepeninggal Samaratunggadewa.Kemudian setelah Mpu Palar meninggal, daerah Patapan kembali diperintah Mpu Manuku. Mungkindijadikan satu dengan daerah Pikatan. Dalam prasasti Munduan tahun 807M Mpu Manuku sudahmenjabat sebagai Rakai Patapan, padahal pada tahun 824M Pramodawardhani masih menjadi gadis. Iniberarti di antara keduanya terdapat perbedaan usia yang cukup jauh. Mungkin usia Rakai Pikatan MpuManuku sebaya dengan mertuanya, yaitu Samaratunggadewa. Menurut Slamet Mulyana, Maharaja RakaiGarung (prasasti Gandasuli, 827M) identik dengan Maharaja Samaratunggadewa (prasasti Kayuwungan,
  • 22. 824M). Dalam daftar Maharaja Medang dalam prasasti Mantyasih (907M) disebutkan bahwa MaharajaRakai Garung memerintah sebelum Maharaja Rakai Pikatan. Samaratunggadewa kemudian digantikan oleh putrinya yang bernama Pramowardhani yangmenikah dengan Rakai Pikatan. Candi Borobudur sendiri didirikan pada masa pemerintahan MaharajaSamaratugga sedangkan candi Prambanan didirikan oleh pada masa Maharaja Rakai Pikatan danPramowardhani. Candi Borobudur didesain oleh seorang arsitek Jawa yang bernama Gunadharma. CandiPrambanan dilihat dari desainnya merupakan perpaduan arsitektural Hindu dan Budha seperti halnyaperpaduan antara Maharaja Rakai Pikatan (Hindu) dengan Pramowardhani (Budha). NamaPramowardhani putri Samaratunggadewa dalam prasasti Kayuwungan (824M) sendiri dianggap identikdengan nama Sri Kahuluan dalam prasasti Tri Tepusan (842M) berbahasa Sansekerta dengan AksaraKawi. Pendapat lain dikemukakan oleh Boechari yang menafsirkan Sri Kahulunan sebagai ibu suri.Misalnya, dalam Mahabharata tokoh Yudhisthira memanggil ibunya, yaitu Kunti, dengan sebutan SriKahulunan. Jadi, menurut Boechari, Sri Kahulunan bukan Pramodawardhani, melainkan ibunya.Kemungkinan pada tahun 842M, Samaratunggadewa sudah meninggal. Pramowardhani ini dianggapidentik dengan Rakai Sanjiwana yang beragama Budha dan merupakan nenek dari Maharaja RakaiWatukura Dyah Balitung. Dia sendiri mempunyai gelar abhiseka Iswarakesawa Samaratunggadewadimana hal tersebut menunjukkkan ada hubungan antara Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitungdengan Samaratunggadewa. De Casparis juga menyatakan bahwa Pramowardhani dan Rakai Pikatanberselisih dengan Balaputradewa akibat perebutan tahta. Kemudian Balaputradewa menyingkir keSriwijaya dan menjadi Maharaja disana setelah kalah dari Rakai Pikatan. Hal tersebut didasarkan padaprasasti Siwagraha (855M) dimana disebutkan pernah terjadi pertempuran antara Rakai Mamrati SangJatiningrat (Rakai Pikatan) melawan musuh yang membangun benteng dari batu (Benteng Ratu Baka).Benteng ini dulunya merupakan sebuah candi Budha yang didirikan pada akhir abad ke-8M yangkemudian dirubah menjadi benteng pertahanan pada pertengahan abad ke-9M. Letak benteng ini sangatdekat dengan candi Prambanan. Dalam prasasti Wantil (856M) ditemukan istilah Walaputra yangmenurut De Casparis dianggap identik dengan Balaputradewa dalam prasasti Nalanda (860M). MenurutBoechari pada Benteng Ratu Baka (yang dianggap sebagai tempat persembunyian Balaputradewa ketikaterjadi pertempuran dengan Rakai Pikatan) sama sekali tidak ditemukan bukti-bukti peninggalanBalaputradewa malahan yang ditemukan adalah prasasti peninggalan bangsawan yang bernama RakaiWalaing Mpu Kumbhayoni yang mengaku sesama keturunan Sanjaya. Rakai Walaing Mpu Kombhayoniberasal dari Grobogan-Blora. Karena kebanyakan prasasti tentangnya berasal dari wilayah tersebut. Buktilain menunjukkan adanya kerusakan pada sebagian prasasti Pereng (863M) berbahasa Jawa Kuno denganAksara Kawi yang mencatat urutan silsilah Rakai Walaing. Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni merupakanketurunan dari Sang Ratu Halu. Kerusakan ini seolah sengaja dilakukan oleh Rakai Pikatan. RakaiWalaing Mpu Kumbhayoni mengaku cicit dari Sang Ratu Halu dan masih keturunan dari raja yangmemerintah di Yawapura. Rakai Walaing merupakan pemuja Agastya dan penganut agama Siwa Hindu.Sang Ratu Halu menurut Boechari adalah adik dari raja yaitu Sang Ratu Sanjaya. Menurut prasasti SdokKak Thom pada tahun 802M negeri Kamboja berhasil melepaskan diri dari Jawa. Mungkin hal inimenjadi alasan Samaragrawira pada akhir pemerintahannya membagi kekuasaan Wangsa Sailendra untukkedua putranya. Samaratunggadewa berkuasa di Yawadwipa (Jawa), sedangkan Balaputradewa berkuasadi Swarnadwipa (Sumatra). Balaputradewa mendapatkan Swarnadwipa memang karena dia mempunyaihak sebagai cucu dari Dharanindra. Jadi yang memberontak pada Maharaja Rakai Pikatan Mpu Manukubukanlah Balaputradewa melainkan Rakai Walangin Mpu Kumbhayoni yang sama-sama mengakuketurunan raja. Istilah Walaputra sendiri bukanlah identik dengan Balaputradewa. Justru istilah Walaputra
  • 23. identik dengan “putra bungsu” yaitu Rakai Kayuwangi putra Rakai Pikatan yang dipuji berhasilmengalahkan musuh kerajaan.Daftar Wangsa Sailendra di Jawa yang diambil dari kesimpulan Coedes dan De Casparis:Sangramadhanamjaya (prasasti Ligor B, prasasti Kelurak, 782M, prasasti Nalanda India) (775M-792M1)Samaratunggadewa (prasasti Kayuwungan, 824M) aka Samaragrawira (792M-827M2)Daftar Wangsa Soma di Jawa :Dharmasetu, merupakan bawahan Dharanindra/Sangramadhanamjaya yang ditugasi untuk merawat bangunan suci (prasasti Kelurak, 782M)Dewi Tara, merupakan putri dari Dharmasetu, istri dari Samaragrawira, ibu dari Balaputradewa, dan menantu dari seorang yang bergelar “Wirawairimathana” (prasasti Nalanda). Nama Dewi Tara juga terdapat dalam prasasti Kalasan (778M) bersama nama Maharaja Rakai Panangkaran1 prasasti Abhayagiriwihara (792M) atas nama Dharmatunggadewa, Menurut De Casparis, prasastitersebut dibuat oleh Samaratunggadewa walaupun namanya tidak tercantum.2 Prasasti Gandasuli (827M) atas nama Rakai Patapan Mpu Palar. Dalam prasasti Kayuwungan (824M)disebutkan Mpu Palar masih merupakan bawahan Samaratunggadewa. Menurut De Casparis, RakaiPatapan Mpu Palar identik dengan Rakai Garung. Menurut De Casparis, Mpu Palar merebut sebagianwilayah kekuasaan dari Samaratunggadewa pada tahun 827M. Kemudian putra Rakai Patapan Mpu Palaryang bernama Rakai Pikatan menikahi Pramowardhani putri Samaratunga dan dapat menjadi Maharaja.Akhirnya Rakai Pikatan dapat mengalahkan Balaputradewa saat terjadi perang perebutan tahta (prasastiSiwagraha, 855M) dan kemudian Balaputradewa melarikan diri ke Sriwijaya serta menjadi MaharajaSwarnadwipa (prasasti Nalanda). Jadi sengketa antara Balaputradewa dengan Rakai Garung dan RakaiPikatan berlangsung selama hampir 28 tahun? (827M-855M). Balaputradewa putra Samaragrawira(dianggap identik dengan Samaratunggadewa) dapat menjadi Maharaja Sriwijaya karena mewarisi tahtadari garis ibunya yang bernama Dewi Tara putri Dharmasetu dari Wangsa Soma. Dengan berasumsibahwa Dharmasetu dari Wangsa Soma merupakan Maharaja Sriwijaya, walaupun tidak ada prasasti yangmengkaitkan Dharmasetu dengan Sriwijaya. Bahkan Dharmasetu sendiri tidak bergelar sebagai“Maharaja” dan hanya bergelar “Haji” (prasasti Kelurak, 782M). Dan juga tidak ada satupun prasasti diJawa pada zaman Medang yang menyebut adanya nama Sriwijaya. Dan juga nama Dharmasetu tidakterdapat di Sumatra dan Semenanjung Malaya.Slamet Mulyana memberikan daftar para Maharaja Medang berdasarkan prasasti Mantyasih (907M)dikaitkan dengan Wangsa Sailendra sebagai berikut.Rakai Panangkaran (prasasti Kalasan, 778M)Rakai Panunggalan aka Sangramadhanamjaya (prasasti Kelurak, 782M, prasasti Nalanda)Rakai Warak aka Samaragrawira (prasasti Nalanda)Rakai Garung aka Samaratunggadewa (prasasti Kayuwungan, 824M)Kusen memberikan daftar para Maharaja Medang berdasarkan prasasti Wanua Tengah 111 (908M)sebagai berikut :Rakai Medang (Sanjaya) 717M-27 November 746MRakai Panangkaran Dyah Pancapana 27 November 746M-1 April 784MRakai Panaraban Dyah Tamperan* 1 April 784M-28 Maret 803MRakai Warak Dyah Manara 28 Maret 803M-5 Agustus 827MDyah Gula 5 Agustus 827M-24 Januari 828MRakai Garung 24 Januari 828M-22 Februari 847M
  • 24. Rakai Pikatan Dyah Saladu 22 Februari 847M-27 Mei 855MRakai Kayuwangi Dyah Lokapala 27 Mei 855M-8 Februari 885MDyah Tagwas 8 Februari 885M-27 September 885MRakai Limus Dyah Dawendra 27 September 885M-27 Januari 887MRakai Gurunwangi Dyah Badra 27 Januari 887M-24 Februari 887MVacuum of Power (krisis suksesi) 24 Februari 887M-27 November 894MRakai Wungkalhumalang Dyah Jibang 27 November 894M-23 Mei 898MRakai Watukura Dyah Balitung 23 Mei 898M-910M*Dalam Carita Parahyangan Sunda (abad ke-16M), Rakai Panaraban mempunyai nama asli DyahTamperan. Prasasti Wanua Tengah 111 lebih lengkap daripada prasasti Mantyasih karena dilengkapidengan penanggalan yang akurat dan daftar Maharaja Medang yang lebih lengkap. Menurut Kusen, Rakai Panaraban dalam prasasti Wanua Tengah 111 (908M) merupakan RakaiPanunggalan dalam prasasti Mantyasih (907M) yang merupakan Maharaja setelah Rakai Panangkaran.Sedangkan Rakai Wungkalhumalang merupakan Rakai Watuhumalang, karena baik nama Wungkalmaupun Watu mempunyai arti yang sama yaitu Batu. Menurut Kusen, Rakai Panaraban merupakan putradari Rakai Panangkaran. Nama Panaraban dan Manara juga terdapat di Carita Parahyangan. Dalam ceritaitu Panaraban mempunyai nama lain yaitu Dyah Tamperan. Selain itu disebutkan juga bahwa Manaramerupakan putra dari Panaraban. Menurut Kusen, Rakai Garung merupakan putra dari Rakai Warak.Sedangkan Dyah Gula merupakan putra dari Rakai Warak. Kusen memberikan argumen kenapa dalamprasasti Mantyasih (907M) nama Dyah Tagwas, Dyah Dawendra, Dyah Badra tidak disebutkan karenaketiganya tidak memiliki kedaulatan penuh atas kerajaan. Menurut Kusen, ketiga nama tersebutditurunkan dari tahta. Krisis suksesi tersebut menyebabkan kekosongan kekuasaan dari tahun 887Msampai tahun 894M. Hal tersebut juga pernah terjadi di zaman Majapahit dari tahun 1453M sampai tahun1456M. Menurut Kusen, Notosusanto dan Poesponogoro bahwa Rakai Panangkaran Dyah Pancapanaidentik dengan Sri Sangramadhanamjaya dalam prasasti Kelurak (782M) karena kedua nama tersebutsama-sama disanjung dengan nama Sailendrawamsatilaka. Dan juga prasasti-prasasti seperti prasastiKalasan (778M), prasasti Ligor B, prasasti Kelurak (782M) dibuat pada masa pemerintahan RakaiPanangkaran (746M-784M). Menurut Kusen, baik nama Samaratunggadewa maupun Samaragrawiramerupakan satu orang yang identik dan merupakan putra dari Rakai Panangkaran Dyah Pancapana akaSangramadhanamjaya. Rakai Panangkaran Dyah Pancapana merupakan penguasa pertama di Jawa yangmempunyai gelar Maharaja. Dengan kata lain Rakai Panangkaran dapat disebut sebagai Maharajapertama di Jawa. Nama seorang penguasa Jawa biasanya mempunyai beberapa nama yaitu: nama jabatan (biasanyadiawali dengan kata Rakai, Batara, Adipati), nama asli (biasanya diawali dengan kata Dyah, Mpu, Arya,Raden), dan nama gelar/abhiseka (biasanya diakhiri dengan kata Tunggadewa). Misalnya Rakai WatukuraDyah Balitung mempunyai nama abhiseka yaitu Iswarakesawat-samaratunggadewa.dan Rakai KayuwangiDyah Lokapala mempunyai nama abhiseka yaitu Sajjanotsawattunggadewa.Wissemen-Christie memberikan daftar para Maharaja Medang berdasarkan prasasti Wanua Tengah 111dikaitkan dengan Wangsa Sailendra.Rakai Panangkaran Dyah Pancapana abhisekanya Sangramadhanamjaya (prasasti Kalasan, 778M, prasasti Ligor B, prasasti Kelurak, 782M, prasasti Nalanda)Rakai Panaraban Dyah Tamperan abhisekanya Dharmatunggadewa (prasasti Abhayagiriwihara, 792M)
  • 25. Rakai Warak Dyah Manara abhisekanya Samaratunggadewa (prasasti Kayuwungan, 824M) Menurut Wisseman-Christie, Balaputradewa merupakan putra dari Dyah Gula yang mempunyaigelar abhiseka Samaragrawira (prasasti Nalanda). Menurut prasasti tersebut Balaputradewa disebutkansebagai anak dari Samaragrawira dan cucu dari seseorang yang bergelar “Wirawairimathana” dimanagelar tersebut sama seperti gelar yang dipakai Sangramadhanamjaya (prasasti Kelurak, 782M). Lebihcocok bila dikatakan bahwa Balaputradewa merupakan putra dari Rakai Panaraban (Dharmatunggadewa).Jadi Samaragrawira identik dengan Dharmatunggadewa. Dengan kata lain Balaputradewa merupakanadik dari Samaratunggadewa. Slamet Mulyana mengatakan bahwa Dharanindra/Sangramadhanamjayaberhasil menaklukan Sriwijaya. Menurut Kusen dan Wisseman-Christie bahwa Sangramadhanamjayamerupakan nama abhiseka dari Rakai Panangkaran Dyah Pancapana (746M-784M). Penyerangan Tonkin-Annam (767M), Kamboja, dan Champa (775M dan 782M) serta pembuatan prasasti Ligor (775M) terjadipada masa pemerintahan Rakai Panangkaran Dyah Pancapana (746M-784M). Menurut CaritaParahyangan (abad ke-16M) disebutkan bahwa Sanjaya (717M-746M) pernah menyerang Malayu. SlametMulyana mengatakan bahwa Samaragrawira membagi kerajaan menjadi dua yaitu Yawadwipa/Medanguntuk Samaratunggadewa dan Swarnadwipa/Sriwijaya untuk Balaputradewa agar lebih mudah melakukanadministrasi. Karena pada masa pemerintahan Samaragrawira, Kerajaan Khmer Kamboja lepas dari Jawapada tahun 802M (prasasti Sdok Kak Thom). Jika benar Samaragrawira sama dengan Rakai Panaraban(784M-803M) dimana mempunyai gelar abhiseka Dharmatunggadewa (prasasti Abhayagiriwihara,792M) maka pembagian kekuasaan untuk Samaratunggadewa dengan Balaputradewa terjadi pada tahun803M yaitu setahun setelah Khmer melepaskan diri dari Jawa. Pembagian tersebut seperti yang dkatakanoleh Slamet Mulyanan. Tahun 803M tersebut juga bertepatan dengan kenaikan tahta Rakai Warak DyahManara (803M-807M).Daftar para Maharaja Jawa :Rakai Medang i Mataram SanjayaRakai Panangkaran Dyah Pancapana abhisekanya Sri SangramadhanamjayaRakai Panunggalan/Panaraban Dyah Tamperan abhisekanya Sri DharmatunggadewaRakai Warak Dyah Manara abhisekanya Sri SamaratunggadewaDyah GulaRakai Garung aka Mpu CaturaRakai Pikatan Dyah Saladu aka Mpu ManukuRakai Kayuwangi Dyah Lokapala abhisekanya Sri SajjanotsawattunggadewaDyah TagwasRakai Limus Dyah DawendraRakai Gurunwangi Dyah BadraRakai Watuhumalang/Wungkalhumalang Dyah Jibang aka Mpu TeguhRakai Watukura Dyah Balitung abhisekanya Sri IswarakesawatsamaratunggadewaRakai Hino Mpu Daksa abhisekanya Sri DhaksotamatunggadewaRakai Layang Dyah Tulodong abhisekanya Sri SajjanasanmatanuratunggadewaRakai Sumba Dyah Wawa abhisekanya Sri WijayalakamamotunggadewaRakai Hino Mpu Sindok abhisekanya Sri Isyana WikramadharmatunggadewaPutri Mpu Sindok abhisekanya Sri Isyana WijayatunggadewiMakutawangsa abhisekanya Sri Isyana Makutawangsa Wardhana WikramadharmatunggadewaDharmawangsa abhisekanya Sri Isyana Dharmawangsa Teguh Ananta WikramadharmatunggadewaAirlangga abhisekanya Sri Lokaswara Dharmawangsa Airlangga Ananta WikramatunggadewaSamarawijaya abhisekanya Sri Samarawijaya Dharmasuparna Teguh Sakalabuwana Uttunggadewa
  • 26. Poerbatjaraka menolak keberadaan Wangsa Sanjaya. Menurutnya, Wangsa Sanjaya tidak pernahada, karena Sanjaya sendiri adalah anggota Wangsa Sailendra. Dinasti ini mula-mula beragama Hindu,karena nama “Sailendra” bermakna “penguasa gunung” yaitu sebutan untuk Dewa Siwa. Selain itu,istilah Sanjayawansa tidak pernah dijumpai dalam prasasti mana pun, sedangkan istilah Sailendrawansaditemukan dalam beberapa prasasti, misalnya prasasti Kalasan dari tahun 778M(Śailendrawańśatilakasya), prasasti Kelurak dari tahun 782M (Śailendrawańśatilakana), prasastiAbhayagiriwihara dari tahun 792M (Dharmatuńggadewa śailendra), dan Prasasti Kayumwuńgan daritahun 824M (Sailendrawańśatilaka). Di luar Indonesia nama ini ditemukan dalam Prasasti Ligor B danPrasasti Nālanda India dari tahun 860M. Prasasti Kalasan (778M) untuk Rakai Panangkaran, prasastiKelurak (782M) untuk Sangramadhanamjaya yang berjulukan “Wairiwarawiramardana”, prasasti Ligor Buntuk Wisnu yang berjulukan “Sarwwarimawimathana”, prasasti Nalanda untuk Balaputradewa putraSamaragrawira putra seseorang yang berjulukan “Wirawairimathana”, prasasti Kayumwungan (824M)untuk Samaratunggadewa.. Poerbatjaraka berpendapat bahwa Sanjaya telah memerintahkan agar putranya yaitu RakaiPanangkaran pindah agama dari Hindu menjadi Buddha. Teori ini berdasarkan atas kisah dalam CaritaParahyangan berbahasa Sunda Kuno dengan Aksara Sunda Kuno (akhir abad ke-16M) bahwa RahyangSanjaya menyuruh anaknya Rahyang Panaraban untuk berpindah agama. Rahyang Panaraban kemudiandiidentifikasikan dengan Rakai Panangkaran. Dalam prasasti Kalasan (778M), Maharaja RakaiPanangkaran disebut dengan “Sailendrawamsatilaka” (Permata Wangsa Sailendra). Jadi, teori Poerbatjaraka menyebutkan bahwa hanya ada satu wangsa saja yang berkuasa diKerajaan Medang, yaitu Wangsa Sailendra yang beragama Hindu Siwa. Sejak pemerintahan MaharajaRakai Panangkaran putra Sanjaya, Wangsa Sailendra terpecah menjadi dua. Agama Buddha dijadikanagama resmi negara, sedangkan cabang Sailendra lainnya ada yang tetap menganut agama Hindu,misalnya seseorang yang kelak menurunkan Rakai Pikatan. Pendapat Poerbatjaraka ini kemudiandiperkuat dengan adanya penemuan prasasti Sankhara. Berdasarkan paleografinya, prasasti ini berasaldari pertengahan abad ke-8M. Prasasti Sankhara yang menyebutkan adanya seorang pangeran yangbernama Sankhara yang pindah agama karena ayahnya sakit selama 8 hari ketika menjalani ritual agamayang terlalu berat dan akhirnya meninggal. Sanjaya sendiri dikenal sebagai raja yang taat dalam menjalaniperintah agama dan ahli dalam kitab suci (prasasti Canggal, 732M). Sankhara akhirnya meninggalkanagama yang lama dan kemudian memindahkan kerajaannya ke arah timur. Menurut berita Ying HuanTche Lio, dikatakan bahwa Maharaja Shepo (Jawa) pada waktu itu yaitu Rakai Watukura Dyah Balitung(998M-910M) beribukota di Shepo Tcheng (Yawapura). Tetapi leluhurnya yang bernama Kiyen telahpindah ke arah timur yaitu ke kota Po Lu Chia Su pada masa Tien Pao China (sekitar tahun.742M sampai755M). Masa Tien Pao China (742M-755M) bersamaaan dengan masa awal pemerintahan MaharajaRakai Panangkaran Dyah Pancapana (746M-784M). Menurut Damais, kata “Kiyen” seharusnyamenunjuk pada kata “Lokiyen” yang berarti “Rakriyan/Rakaian”. Jadi nama “Kiyen” menunjuk padanama jabatan bukan nama orangnya. Sedangkan Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung sendiriberibukota di Medang i Poh Pitu yang kemungkinan terletak di daerah Kedu selatan (Purworejo). Dengankata lain leluhur Maharaja Watukura Dyah Balitung telah pindah ke arah timur Kedu. Menurut beritaChina, Shepo merupakan Holing. Nama Holing digunakan dalam berita China sejak tahun 627M danmulai diganti dengan nama Shepo sejak tahun 820M. Berdasarkan berita China, nama Holing merupakantempat dimana Ratu Simha memerintah pada tahun 674M. Menurut van Orsoy, dalam berita China nama
  • 27. Medang Kamulan disebut dengan “Medang Kuwu-lang-piya” yang menunjuk tentang Holing. Menurutberita Dinasti Tang China, Kerajaan Holing mempunyai gua yang selalu memancarkan air garam. DiJawa, gua tersebut dinamakan dengan Bledug “Kuwu” yang terletak di Grobogan. Menurut BujanggaManik (awal abad ke-16M) letak Medang Kamulan terletak di Grobogan. Di daerah Sela (Grobogan)terdapat sebuah sungai yang bernama Sanjaya yang berhubungan dengan Medang. Sang Ratu Sanjayasendiri mempunyai gelar Rakai Medang Mataram. Menurut Damais kata Holing merupakan ejaan Chinauntuk Walaing. Daerah Walaing merupakan tempat berkuasanya Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni yangterletak di sekitar Grobogan (kebanyakan prasasti tentang Mpu Kumbhayoni ditemukan disana). RakaiWalaing Mpu Kumbhyaoni disebutkan merupakan cicit dari Sang Ratu Halu. Berdasarkan prasasti WanuaTengah 111 (908M), Sang Ratu Halu diidentifikasikan dengan Rakai Hara adik dari Rakai MedangMataram (Sang Ratu Sanjaya). Kata “Halu” mempunyai arti “adik dari raja”. Jadi Lokiyen yang disebutDamais adalah Rakai Hara (Sang Ratu Halu). Nama seperti Santanu (ayah dari Sailendra), Sanna,Sannaha, Sanjaya, Sankhara memiliki kemiripan nama. Selain itu nama-nama tersebut saling berkaitandan masih tercantum dalam satu sutra Hindu. Jika benar Wangsa Sailendra selalu dikaitkan dengandengan agama Budha mengapa nama-nama penguasa Sailendra selalu memakai nama-nama Dewa Hindu.Menurut Notosusanto dan Poesponogoro, nama Sankhara diidentifikasikan dengan Rakai PanangkaranDyah Pancapana sebelum pindah agama dari Hindu ke Budha. Poerbatjaraka juga berpendapat bahwa Sailendra berasal dari Nusantara. Pendapat Poerbatjarakakemudian terbukti dengan adanya penemuan prasasti Sojomerto. Menurut Boechari, prasasti ini berbahasacampuran Sansekerta dan Malayu Kuno dengan Aksara Kawi (Jawa Kuno) yang ditemukan di sebelahutara Dieng tepatnya di daerah Reban, Batang. Berdasarkan paleografinya, prasasti Sojomerto ini berasaldari pertengahan abad ke-7M. Terjemahan isi prasasti Sojomerto sebagai berikut “Sembah kepada DewaSiwa Batara Parameswara, Saya hormat kepada Hiya Mih adalah yang mulia Dapunta Selendra, Santanuadalah nama ayahnya, Badrawati adalah nama ibunya, Sampula adalah nama istri dari yang muliaSelendra”. Nama “Selendra” merupakan ejaan untuk kata “Sailendra” dalam bahasa Sansekerta. MenurutBoechari bahwa Dapunta Selendra merupakan cikal bakal Wangsa Sailendra di Jawa. Menurut Boechari,dalam prasasti itu juga mengindikasikan bahwa Selendra memberi pujian kepada Dewa Siwa (Hindu).Nama “Parameswara” merupakan julukan untuk “ Dewa Siwa”. Dalam mitologi Hindu, Dewa Siwadianggap sebagai penguasa gunung (Sailendra). Oleh karena itu Siwa disimbolkan dengan Lingga. Dapatdikatakan bahwa pada waktu itu Sailendra masih menganut agama Hindu. Di daerah Dieng juga terdapatprasasti Dewa Drabya berbahasa Malayu Kunodengan Aksara Kawi yang berisi seseorang yang telahmeninggal. Goerge Coedes berpendapat Wangsa Sailendra Jawa berasal dari Funan. Lebih jauh lagi diaberpendapat kata “Sailendra” berkaitan dengan kata “Banam/Phnom” yang dalam bahasa KhmerKamboja berarti Gunung. Menurutnya kata “Phnom” dieja dalam bahasa China menjadi “Funan”.Pendapat Coedes ini banyak ditentang oleh sejarawan karena tidak adanya bukti. Lagipula kata“Sailendra” berasal dari bahasa Sansekerta bukannya bahasa Khmer-Kamboja. Selain itu Kamboja hanyaterdapat satu gunung saja yaitu gunung Deo Tu Na (1078 meter) yang lebih cocok disebut sebagai bukitbukannya gunung. Nilakanta Sastri berpendapat bahwa Wangsa Sailendra di Jawa berasal dari IndiaSelatan (Pallawa). Slamet Mulyana berpendapat bahwa Wangsa Sailendra datang dari India, kemudianpindah ke Palembang dan akhirnya pindah ke Jawa. Jadi Wangsa Sailendra datang dari India ke Jawa.Menurut Slamet Mulyana, perpindahan Dapunta Selendra ke Jawa disebabkan adanya kekacauan politikdi Palembang saat berdirinya Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya juga hendak berencana menyerang Bhumi
  • 28. Jawa pada tahun 686M yang pada waktu itu dipimpin oleh Ratu Simha (674M-703M) dari Kelingga Jawaseperti yang tercantum dalam prasasti Kota Kapur (Pulau Bangka) berbahasa Malayu Kuno denganAksara Pallawa. Sriwijaya. Penyerang tersebut dilakukan oleh Dapunta Hyang Jayanasa (670M-695M).Tidak diketahui dengan pasti apakah penyerangan Sriwijaya berhasil atau tidak karena di Jawa. I Tsingdari China sendiri yang pernah tinggal di Sriwijaya sampai tahun 695M tidak pernah menyebutkanSriwijaya menyerang Jawa. I Tsing pernah menyebutkan bahwa yang ditaklukan Shih Li Fo Tsi(Sriwijaya) adalah Mo Lo Yu (Malayu). Dan juga pada zaman Medang Jawa (717M-1016M) tidak pernahditemukan prasasti mengenai Sriwijaya ataupun nama Sriwijaya. Pada akhir abad ke-7M kebanyakanwilayah yang dikuasai Sriwijaya sering diberi sebuah tugu peringatan yang berupa prasasti berbahasaMalayu Kuno dengan Aksara Palllawa yang berisi sebuah kutukan seperti prasasti Telaga Batu diPalembang, pasasti Kota Kapur di Bangka, prasasti Karang Birahi di Jambi, dan prasasti Palas Pasemahdi Lampung. Nama Dapunta Hyang mirip seperti gelar yang dipakai oleh penguasa jawa yaitu SangHyang dan Ratu Hyang (Rahyang). Nama Hyang sendiri merupakan sebuah konsep yang terdapat diJawa. Dari pendapat Poerbatjaraka, Slamet Mulyana, Boechari, Kusen, Notosusanto dan Poesponogoro.mempunyai benang keterkaitan satu sama lain yaitu hanya ada satu Wangsa Sailendra yang dulunyaberagama Hindu kemudian setelah pemerintahan Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Pancapana (746M),Wangsa Sailendra pecah menjadi dua yaitu Sailendra Hindu dan Sailendra Budha. Kemudian pada masaRakai Pikatan Dyah Saladu (Sailendra Hindu) dan Pramo-wardhani (Sailendra Budha) disatukan kembalisetelah adanya pernikahan keduanya dan disimbolkan dengan adanya pembangunan candi Prambanan(850M) yang merupakan perpaduan arsitektural Hindu-Budha, dapat dilihat dari adanya bentuk Lingga(Hindu) dan Stupa (Budha). Pada masa pemerintahan Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung dari Medang pernahmelakukan ekspansi kerajaan. Pengaruh Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung bahkan sampai ke Balidiperkuat dengan adanya prasasti Blenjong (914M) berbahasa campuran Bali dan Sansekerta denganAksara Pranagari/Siddham dan Kawi yang menyebutkan adanya seorang Maharaja Jawa yang beragamaBudha Mahayana. Raja Bali yang memerintah saat itu adalah Kesari Warmadewa (890M-916M).Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung merupakan salah satu anggota Wangsa Sailendra yangmempunyai gelar abhiseka Iswarakesawa Samaratunggadewa. Nenek Maharaja Rakai Watukura DyahBalitung adalah Pramowardhani (Rakai Sanjiwana). Dengan perkataan lain Maharaja Rakai DyahBalitung mrupakan cicit dari Samaratunggadewa. Maharaja Rakai Dyah Balitung juga dikenal aktif dalammenyebarkan agama Budha dimana dia pernah memberikan penghargaan kepada seorang Mpu yang telahberjasa dalam menggubah sutra Tantrayana. Salah satu kitab agama Budha yang dibuat di Jawa adalahkitab Sang Kamahayanikam yang berasal dari abad ke-10M. Pada masa pemerintahan Rakai WatukuraDyah Balitung ia memindahkan ibukota kerajaan dari Medang i Mamrati (Magelang) ke Medang i PohPitu (Purworejo). Ibukota kerajaan kemudian dipindah lagi ke Medang i Mataram (Magelang) ketikapemerintahan Maharaja Rakai i Hino Mpu Daksa. Pada awal abad ke-10M Maharaja IsyanaWikramadharmatungga Mpu Sindok (929M-947M) memindahkan ibukota Medang ke timur, dariMedang i Mataram (Magelang) ke Medang i Watugaluh (Jombang) dikarenakan terjadinya bencana alam(meletusnya gunung Merapi). Pada akhir abad ke-10M terjadi persaingan antara Kerajaan Sriwijaya diSumatra dengan Kerajaan Medang di Jawa dalam memperebutkan dominasi perdagangan laut diSemenanjung Malaya. Pengaruh Medang bahkan sampai Lampung dan Barus (pantai barat Sumatra).Pengaruh itu dibuktikan dengan adanya candi Jepara yang didirikan pada abad ke-10M dan prasasti
  • 29. Hujung Langit (997M). Candi Jepara bercorak Hindu dan ditemukan di sekitar danau Ranau pantai baratSumatra. Ibunda Maharaja Hayam Wuruk dari Majapahit pernah meminta untuk dibangunkan sebuahcandi di Lampung. Pada masa pemerintahan Maharaja Dharmawangsa Teguh (885M-1016M) dariMedang pernah menyerang Ibukota Sriwijaya di Palembang sebanyak dua kali dan mendudukinya padatahun 992M dan direbut kembali oleh Sriwijaya pada awal abad ke-11M. Di Palembang juga terdapatcandi Bumiayu yang didirikan pada abad ke-11M. Di candi tersebut ditemukan sebuah patung Siwabergaya zaman Jawa Timur yang menunjukkan adanya pengaruh Jawa. Pada tahun 1016M terjadi peristiwa Mahapralaya dimana Maharaja Dharmawangsa Teguh dariMedang diserang oleh raja bawahannya yang bernama Haji Wurawari dari Lawram (Blora). MaharajaDharmawangsa Teguh dari Medang diserang saat dirinya sedang merayakan upacara pernikahan putrinyadengan Airlangga (keduanya masih saudara sepupu). Airlangga adalah putra dari DharmodayanaWarmadewa dari Bali dengan Gunapriyadharmapatni (saudara perempuan Dharmawangsa Teguh) yangbergelar Mahendradatta. Pada tahum 990M Mahendradatta dan Dharmodayana Warmadewa memerintahbersama di Bali. Pengaruh Medang di Bali terlihat dari candi Gunung Kawi (abad ke-10M).Penghancuran Watan ibukota Medang diceritakan dalam prasasti Pucangan (1041M). Alasanpenyerangan ini kemungkinan karena pinangan dari Wurawari dari Lwaram untuk menikahi putriMaharaja Dharmawangsa Teguh ditolak. Ada yang berpendapat bahwa Haji Wurawari dari Lwarambersekutu dengan Sriwijaya (walaupun tidak ada bukti keterkaitan Sriwijaya dalam masalah ini semisalprasasti ataupun catatan kuno). Menurut prasasti Calcutta India (dibawa Rafles dari Jawa ke India padaawal abad ke-19M), peristiwa Mahapralaya di Jawa pada waktu itu diceritakan bagaikan diseranggelombang besar dan tercerai-berai. Pada tahun 1016M Maharaja Dharmawangsa Teguh terbunuhsedangkan Airlangga dapat meloloskan diri ke Wanagiri (Jombang) kemudian Airlangga diangkat olehpara Brahmana menjadi Maharaja pada tahun 1019M. Airlangga bersama sahabat sekaligus penasihatnyayang dikenal sebagai ahli strategi yaitu Mpu Narotama melakukan kampanye untuk mengalahkan pararaja bawahan Medang misal Wisnuprabhawa dari Wuratan, Wijayawarman dari Wengker, Panuda dariLewa, Haji Wurawari dari Lawram, Husin dll. Dan akhirnya Airlangga dapat menyatukan KerajaanMedang kembali dan bergelar Maharaja Lokaswara Dharmawangsa Airlangga AnantaWikramadharmatunggadewa pada tahun 1035M. Menurut Serat Calon Arang, Airlangga mempunyai duaorang istri yaitu Dewi Laksmi dan Dewi Sri. Airlangga juga memiliki 5 orang anak yaitu 3 putra dan 2putri yaitu Sangramawijaya Dharmaprasad Uttunggadewi (putri), Samarawijaya Dharmasuparna TeguhSakalabuwana Uttunggadewa (putra), Mapanji Garasakan (putra), Mapanji Alanjung Ahyes (Putra), danseorang lagi putri yang menikah dengan Samarotsaha. Ketika Airlangga menyatukan Medang kembalibanyak musuh-musuhnya yang terbunuh atau melarikan diri ke arah barat kemungkinan ke KerajaanGaluh. Pengaruh Airlangga bahkan sampai ke Kerajaan Sunda terbukti dengan ditemukannya prasastiCibadak (Sukabumi, abad ke-11M) berbahasa Jawa Kuno dengan Aksara Kawi. Penaklukan olehAirlangga disimbolkan dalam Kakawin Arjunawiwaha (1030M) karangan Mpu Kanwa sebagai Arjunayang mengalahkan para raksasa. Maharaja Lokaswara Dharmawangsa Airlangga juga memberikanpenghargaan kepada adiknya yang bernama Rakai Pangkaja Dyah Tumambong. Dyah Tumambong inikemudian menjadi raja di Bali dengan gelar abhiseka yaitu Dharmawangsa Marakatapangkaja IsyanaUttunggadewa. Kemudian pada tahun 1049M Marakatapangkaja digantikan oleh adiknya yang bernamaAnak Wungsu (anak bungsu dari Gunapriyadharmapatni dengan Dharmodayana Warmadewa). KetikaAirlangga akan pensiun pada tahun 1042M, kerajaannya seharusnya diserahkan kepada putri Mahkotayang bernama Sangramawijaya Dharmaprasad Uttunggadewi (Dewi Kilisuci). Namun SangramawijayaDharmaprasad Uttunggadewi menolak untuk naik tahta karena ingin menjadi pertapa. Kemudian jabatan
  • 30. putra mahkota diberikan kepada adiknya yang bernama Samarawijaya Dharmasuparna UttunggadewaTeguh. Kemudian Airlangga membagi kerajaanya menjadi dua untuk kedua putranya yang salingbersaing dalam memperebutkan tahta yaitu Jenggala beribukota di Kahuripan (Sidoarjo) untuk MapanjiGarasakan dan Panjalu beribukota di Daha (Kadiri) untuk Samarawijaya Dharmasuparna UttunggadewaTeguh berdasarkan prasasti panwatan dan prasasti Gandhakuti (1042M). Pembatas antara KerajaanPanjalu dengan Kerajaan Jenggala adalah sungai Brantas. Pembagian Kerajaan Airlangga tersebut jugadiceritakan dalam Negarakertagama (1365M). Pada tahun 1042M, Airlangga menjadi seorang pertapadengan gelar Maharesi Jatiningrat. Pada tahun 1049M, Airlngga meninggal dunia. Kedua kerajaan yangbersaudara yaitu Panjalu dengan Jenggala kemudian saling berperang satu sama lain bahkan MapanjiGarasakan dari Jenggala meninggal akibat peperangan tersebut pada tahun 1052M. Kemudian MapanjiGarasakan dari Jenggala digantikan oleh adiknya yang bernma Mapanji Alanjung Ahyes dan dapatmerebut kembali tahta Jenggala. Sedangkan penerus Samarawijaya dari Panjalu adalah Jayawarsa. Dalamprasasti Keting (1104M), Jayawarsa mengaku sebagai cicit dari Mapanji Wijayamertawardhana yangbergelar Dharmawangsa Teguh Anantawikradharmatunggadewa. Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Jenggaladisatukan kembali oleh Jayabaya dari Panjalu (prasasti Ngantang, 1135M). Perang Panjalu-Jenggaladisimbolkan dalam Kakawin Bharatayudha (1157M) karangan Mpu Panuluh dan Mpu Sedah sebagaisesama keturunan Bharata yang saling berperang yaitu Pandawa dan Kurawa. Maharaja Jayabaya sangatterkenal dalam cerita rakyat dan banyak ditulis dalam sastra Jawa karena kemampuannya dalam meramalmasa depan Jawa. Ketika Jenggala disatukan oleh Panjalu, kemungkinan ada bangsawan Kahuripan(Jenggala) yang melarikan diri dan mendirikan Kerajaan Kuripan di Kalimantan Selatan. Pada awal abadke-14M Kerajaan Kuripan di Kalimantan Selatan digantikan oleh Kerajaan Dipa yang didirikan oleh MpuJatmika. Menurut Hikayat Banjar, Mpu Jatmika berasal dari Keling. Kemungkinan Mpu Jatmika berasaldari Keling atau Kelinggapura di Jawa. Pada awal abad ke-14M baik Keling maupun Kelinggapuramerupakan bagian dari Majapahit dan dipimpin oleh seorang bergelar Batara (Bre). Alasan Maharaja Rajendra dari Chola India (1012M-1044M) menyerang Sriwijaya pada tahun1017M dan 1025M adalah untuk mendominasi perdagangan di Semenanjung Malaya. Maharaja Rajendradari Chola berdasarkan prasasti Chola (1044M) berbahasa Tamil dengan Aksara Tamil dapat menguasai13 daerah antara lain 1 daerah di Champa (Panduranga/Phan Rang), 6 daerah di Semenanjung Malaya(Kamalanka/Kra, Milinda-pandha/Surat Thani, Tambralingga/Nakhon Thammarat, Langkasuka/Pattani,Jelutong/Penang, Kedah), 4 daerah di Sumatra (Sriwijaya/Palembang, Malayu/Jambi, Pennai,Lamuri/Aceh), 1 daerah di Kepulauan Nicobar India, dan 1 daerah di Burma (Pegu). Selain menguasaibeberapa daerah Sriwijaya, pada tahun 1030M Kerajaan Chola India berhasil menawan MaharajaSangramawijaya Uttunggawarman dari Sriwijaya untuk dibawa ke India berdasarkan prasasti Chola(1044M). Sejak saat itu pemerintahan Sriwijaya dikendalikan dari Chola hingga awal abad ke-12M.Pengaruh Chola India di Semenanjung Malaya dapat dilihat dari adanya prasasti Kedah (1086M)berbahasa Tamil dengan Aksara Tamil yang dikeluarkan oleh Maharaja Kulothunga 1 dari Chola(1070M-1118M). Selain itu Maharaja Kulothunga 1 dari Chola India juga membuat sebuah prasastiKanton (1079M) dalam rangka peresmian candi Budha yang didirikannya di Kanton China. Pada akhirabad ke-11M, setelah Palembang runtuh, pusat pemerintahan Sriwijaya mulai berpindah ke Jambi. Dalamberita China disebutkan bahwa pada masa Dinasti Sung menerima utusan dari Chen-pi (Jambi) tahun1082M dan 1088M. Bukti keberadaan Kerajaan Malayu (Jambi) adalah dengan adanya candi MuaraJambi yang merupakan pusat pendidikan agama Budha terbesar di Sumatra yang didirikan pada abad ke-13M. Di Jambi ditemukan beberapa prasasti beraksara Dewanagari dan makara di candi Budha yangsemuanya berkaitan dengan keagamaan bukan tentang pemerintahan. Selain itu di Muara Jambi juga
  • 31. ditemukan keramik China pada masa Dinasti Sung dan Patung Prajnaparamitha bergaya Jawa zamanKadiri sekitar abad ke-12M. Selain candi Muara Jambi juga terdapat candi Muara Takus (Kampar) yangdidirikan sekitar abad ke-12M. Setelah masa pemerintahan Maharaja Kulothunga Chola 1 (1070M-1118M), Kerajaan Chola mulai kehilangan pengaruhnya di Sumatra dan Semenanjung Malaya. DiSemenanjung Malaya setelah pengaruh Chola menghilang, pada tahun 1161M penguasa Kedah mulaiberalih agama dari Hindu ke Islam pada masa Muzaffar Shah (1136M-1179M) berdasarkan HikayatKedah, awal abad ke-19M. Bukti keberadaan Kerajaan Kedah (berdiri pada abad ke-7M) adalah denganditemukannya candi Bukit Batu Pahat (abad ke-11M). Pada abad ke-12M lemahnya Sriwijayamenyebabkan meningkatnya pengaruh agama Islam yang beraliran Sunni ditandai dengan munculnyaKesultanan Perlak di Sumatra. Menurut Hikayat Aceh, penyebaran Islam di Aceh berasal dari tahun1112M. Di Sumatra setelah pengaruh Chola menghilang, muncul Wangsa Mauli yang mengambil alihkekuasaan yang berpusat di Malayu (Jambi). Dinasti Mauli didirikan oleh Srimat Trailokyaraja MauliWarmadewa pada tahun 1178M. Pada akhir abad ke-12M perbatasan antara Kerajaan Malayu denganKerajaan Khmer Kamboja di Semenanjung Malaya adalah Grahi (Surat Thani). Hal tersebut didasarkanpada prasasti Grahi (1183M) berbahasa Malayu Kuno dengan Aksara Kawi (Jawa Kuno) berisi perintahdari Maharaja Srimat Trailokyaraja kepada Bupati Grahi supaya membuat sebuah patung perunggu.Nama “Srimat” sendiri berarti “Tuan Pendeta”, tidak diketahui apakah ada kebangkitan dari kaumPendeta. Kemungkinan akibat pengaruh dari Kadiri Jawa. Nama “Srimat Trailokyaraja MaulibhusanaWarmadewa” mungkin merupakan leluhur dari “Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa” dari Malayu(Dharmasraya) dalam prasasti Padang Roco (1286M). Kemungkinan pada pertengahan abad ke-13MIbukota Malayu dipindah dari Jambi ke Dharmasraya. Pada pertengahan abad ke-13M ada bangsawanMalayu yang pindah ke Tambralingga (Nakhon Thammarat) yang terletak di sebelah selatan Grahi (SuratThani) dan kemudian menyebut dirinya sebagai Candrabhanu dari Jawa. Kata “Raja” dalam bahasaSansekerta dieja menjadi kata “Racha” dalam bahasa Pali/Sinhala. Sedangkan kata “Jawa” dieja menjadikata “Chawa”. Kata “Dharmmaraja” dalam bahasa Sansekerta dieja menjadi kata“Thammaracha/Thammarat” dalam bahasa Pali. Jadi kata “Nakhon Thammarat” berarti “NagaraDharmaraja”. Tokoh Candrabhanu (1247M) dari Jawa ini kemungkinan berkaitan dengan Trailokyaraja(1178M) dari Malayu (Jambi) dan Tribhuwanaraja (1275M) dari Malayu (Dharmasraya). DalamNegarakertagama (1365M) juga terdapat nama Dharma-nagara (Nakhon Thammarat) dan Rajapuri(Rachaburi) masuk dalam wilayah Desantara (kerajaan-kerajaan yang terletak bersebelahan denganNusantara). Sedangkan Langkasuka (Pattani) yang terletak di sebelah selatan Tambralingga (NakhonThammarat) masuk dalam wilayah Nusantara. Candrabhanu dari Jawa inilah yang menyerang Sri Langkautara pada tahun 1247M. Kemudian Candrabhanu dari Jawa menyerang Sri Langka selatan pada tahun1262M dan 1268M namun dapat dikalahkan oleh penguasa Sri Langka yang mendapatkan bantuan dariJatawarman Sundara Pandya (1251M-1268M) dari Pandya India bahkan Candrabhanu meninggal dalampenyerangan itu. Jatawarman Sundara Pandya 1 kemudian mengangkat Jatawarman Weera (Wira) Pandya1 menjadi raja bawahan di Sri Langka. Jatawarman digantikan oleh Marawarman Kuluswara Pandya 1(1268M-1271M). Di Sri Langka juga terdapat nama tempat seperti Chawa-kacheri (perkampungan Jawa)dan Chawa-hokotai (pelabuhan Jawa) yang merupakan tempat pendaratan Candrabhanu dari Jawa.Kekuasaan Dinasti Candrabhanu di Sri Langka utara dapat bertahan hingga pertengahan abad ke-14Mwalaupun dibawah kendali dari Kerajaan Pandya India. Pada akhir abad ke-13M kerajaan-kerajaan diIndia selatan (Chola, Chera, Kadawa-Pallawa) juga dibawah pengaruh Pandya India. Pada awal abad ke-14M Kerajaan Pandya India sering mendapat serangan dari Kesultanan Delhi India. Pada awal abad ke-14M Pandya India juga memiliki hubungan dengan Majapahit Jawa. Dimana Maharaja Dhiraja
  • 32. Jayanasara (1309M-1328M) dari Majapahit sendiri bergelar Wira-landa-gopala Sundara Pandya-dewaAdhiswara sedangkan penguasa dari Pandya hanya bergelar Sundara Pandya saja. Menurut Majumdar,Maharaja Pandya India ketika itu mendapat perlindungan dari Maharaja Majapahit. Pada tahun 1336MKerajaan Pandya dikalahkan oleh Kesultanan Delhi India. Kemudian panglima dari Kesultanan Delhimendirikan Kesultanan Madurai India di bekas wilayah Pandya. Pada tahun 1336M banyak KerajaanHindu di India selatan yang sudah takluk pada Kesultanan Delhi. Pada tahun 1343M Weera (Wira)Ballala 111 dari Hoysala India dikalahkan oleh Kesultanan Madurai India. Kerajaan Hoysala kemudiandigantikan oleh Kerajaan Wijayanagara India (1336M-1646M). Kerajaan Wijayanagara didirikan olehHarihara 1 yang merupakan panglima perang dari Hoysala India. Wijayanagara kemudian menyatukankerajaan-kerajaan Hindu di India selatan untuk melawan kekuatan kesultanan Islam. KerajaanWijayanagara India juga memiliki hubungan dengan Majapahit Jawa. Pendiri majapahit yaituSangramawijaya (1293M-1309M) dianggap sebagai penjelmaan dari Harihara (gabungan Siwa danWisnu). Gelar ini mirip dengan nama Harihara 1 (1336M-1350M) dari Wijayanagara. Pada tahun 1370MKesultanan Madurai India dikalahkan oleh Kerajaan Wijayanagara India. Kerajaan Wijayanagara jugasering berperang dengan Kesultanan Bahmani India (1347M-1527M). Kesultanan Bahmani didirikan diwilayah Deccan oleh seorang panglima perang dari Kesultanan Delhi India. Pada tahun 1526MKesultanan Delhi digantikan oleh Kesultanan Mughal India. Pada tahun 1527M Kesultanan Bahmaniruntuh dan kemudian pecah menjadi beberapa kesultanan kecil di Deccan India yaitu Bijapura,Ahmadnagara, Golkonda, Berar, dan Bihar. Kesultanan-kesultanan kecil di Deccan ini kemudian menjadibawahan dari Kesultanan Mughal India. Maharaja Wijayanagara menyebut para Sultan Islam sebagaiOrang Yawana karena berasal dari sebelah barat sungai Indus (Persia dan Asia Tengah). Pada tahun1565M Kerajaan Wijayanagara India dikalahkan oleh gabungan Kesultanan Deccan. Pada tahun 1646MWijayanagara runtuh akibat serangan dari Kesultanan Deccan dan kemudian pecah menjadi beberapakerajaan kecil (Nayaks) di India Selatan yaitu Nayak Thanjavur (Chola), Nayak Madurai (Pandya),Nayaks Mysore (Hoysala) dll. Pada tahun 1239M Orang Thai memberontak terhadap Kerajaan Lavo (Mon). Dan akhirnyaOrang Thai mendirikan Kerajaan Sukhothai dan memisahkan diri dari Kerajaan Lavo (yang pada saat itudibawah pengaruh Kerajaan Khmer Kamboja). Pada tahun 1283M Ramkhamhaeng (1277M-1293M) dariSukhothai (Thai) menaklukan Kerajaan Lavo (Mon), Kerajaan Supannabhum (Mon) dan SriThanamkorn/Nakhon Thammarat (Malayu) serta mengakhiri pengaruh Kerajaan Khmer Kamboja.Kerajaan Sukhothai juga bekerja sama dengan kerajaan Thai lainnya yaitu Kerajaan Lanna (penerusKerajaan Ngoenyang, berdiri pada pertengahan abad ke-13M). Pada akhir abad ke-13M KerajaanLanna/Chiang Mai (Thai) menguasai Kota Hariphunchai (Mon). Ramkhaheng sendiri disebutkan sebagaipenemu dari aksara Thai. Banyak sejarawan yang meragukan keaslian dari prasasti Ramkhaheng karenaprasasti itu ditemukan oleh Rama V/Chulalongkorn (1868M-1910M) dari Rattanakosin. Para sejarawanmenduga bahwa prasasti itu dibuat oleh Chulalongkorn. Pada tahun 1351M Ramatibodi 1 dari Lavo(Mon) dan Borommaracha Thirat 1 dari Supannabhum (Mon) menggabungkan diri dan membentukKerajaan Ayutthaya. Pada tahun 1378M Borommaracha Thirat 1/Borommaraja Dhiraja 1 (1370M-1388M) dari Ayutthaya dapat menaklukan Thammaracha 11/Dharmaraja 11 (1374M-1399M) dariSukhothai. Sejak tahun 1409M Ayuthaya dikuasai oleh Dinasti Supannabhum (Mon) yang diambil alihdari Dinasti Uthong/Lavo (Mon). Pada tahun 1431M Borommaracha Thirat 11 (1424M-1448M) dariAyuthaya menyerang Borommaracha 11 (1393M-1463M) dari Khmer-Kamboja dan berhasil mendudukiibukotanya yaitu Angkor Wat. Borommaracha 11 merupakan cucu dari Borommaracha 1 (1363M-1373M) dari Khmer-Kamboja. Pada awal abad ke-16M Angkor Wat dapat direbut kembali oleh
  • 33. Borommaracha 111 (1516M-1566M) dari Khmer-Kamboja dari tangan Ayuthaya. Pada tahun 1441MKerajaan Thammarat/Dharmaraja (Tambralingga) di Semenanjung Malaya juga ditaklukan olehAyuthaya. Hal tersebut merupakan pengaruh pertama kali Siam di Semenanjung Malaya. Pada tahun1448M Kerajaan Sukhothai dan Kerajaan Thammarat/Dharmaraja (Tambralingga) dianeksasi olehBorommaracha Trailokanat (1448M-1488M) dari Ayuthaya. Pada abad ke-15M ada empat klan yangberkuasa di Ayuthaya yaitu Uthong/Lavo (Mon), Supannabhum (Mon), Sukhothai (Thai),Thammarat/Thanamkorrn (Malayu). Pada tahun 1453M dan 1455M Kerajaan Ayuthaya menyerangMalaka namun dapat digagalkan. Kemungkinan Ayuthaya mendapat bantuan kapal dariThammarat/Dharmaraja (Tambralingga). Pada tahun 1453-1456M Majapahit sedang terjadi kekosonganpemerintahan. Pada tahun 1470s M Sultan Mansur Shah dari Malaka menaklukan Johor, Pahang,Kampar-Riau namun tidak dapat menaklukan Trengganu, Kelantan, Pattani, Kedah. Dalam SejarahMalayu disebutkan bahwa Sultan Malaka datang/sowan ke Majapahit meminta persetujuan mendapatkanIndragiri-Riau kepada Maharaja Majapahit. Pada awal abad ke-14 peranan agama Budha aliran Mahayanamulai digantikan dengan aliran Therawada yang berasal dari Sri Langka. Aliran Therawada sendiriberasal dari Budha Hinayana. Pada abad ke-9M para bhiksu Budha dari Sri Langka mulaimengembangkan aliran Therawada di Kerajaan Thaton-Mon. Dari Thaton-Mon kemudian menyebar keKerajaan Pagan Burma pada abad ke-11M. Pada pertengahan abad ke-13M agama Budha aliranTherawada mulai berkembang di Kerajaan Dharmaraja (Tambralingga). Pada abad ke-14M Therawadamenyebar ke Kerajaan Siam, Kerajaan Khmer-Kamboja dan Kerajaan Lang Xang-Lao (berdiri pada tahun1350M, setelah memisahkan diri dari Kerajaan Khmer Kamboja). Sedangkan Kerajaan Dai Viet tetapmenganut agama Budha aliran Mahayana. Pada abad ke-13M aliran agama Budha yang berkembang diJawa dan Sumatra adalah Tantrayana seperti yang dianut oleh Maharaja Kartanagara dariSingasari/Tumapel. Aliran Tantrayana merupakan cabang dari Budha Mahayana. Aliran BudhaMahayana sendiri masuk ke Jawa pada abad ke-8M terbukti dengan adanya candi Borobudur (824M) danajaran Tantrayana mulai dipelajari sejak abad ke-9M dimana pada masa pemerintahan Maharaja MpuSindok dari Medang pernah memberikan penghargaan kepada seorang bhiksu Budha karena telahmenggubah sutra Tantrayana. Aliran Tantrayana sulit dipelajari karena mempunyai berbagai bentukinterpretasi dan pratek. Salah satu metode untuk memahami Tantrayana adalah dengan Wajrayana atauyang lebih dikenal dengan nama Mantrayana karena menggunakan mantra-mantra ghaib. Di Sumatrasendiri Wajrayana berkembang pada abad ke-11M terbukti dengan adanya candi Bahal (berdiri pada abadke-11M) dimana dekorasinya mencerminkan aliran Wajrayana ini yaitu dengan ditemukannya tulisanmantra-mantra ghaib pada dindingnya. Pada awal abad ke-13M Kerajaan Panjalu/Kadiri runtuh akibat serangan dari Tumapel. Kemudianada bangsawan Panjalu yang kemudian pindah ke wilayah Kerajaan Galuh dan mendirikan KerajaanPanjalu Ciamis. Peninggalan Kerajaan Panjalu/Kadiri ini adalah komplek candi Panataran yangdigunakan sebagai candi utama kerajaan yang dibangun selama hampir 200 tahun dari zaman Panjalu(abad ke-12M) hingga Majapahit (abad ke-14M) dan situs Tondowongso yang merupakan bekas ibukotaKerajaan Panjalu/Kadiri. Seperti halnya Airlangga (1019M), Rajasa mendirikan Kerajaan Tumapel padatahun 1222M karena atas bantuan para Brahmana dan Bhiku seperti halnya Airlangga.pada tahun 1019M.Pada tahun 1194M saat awal pemerintahan Maharaja Kartajaya dari Panjalu juga pernah diserang olehraja bawahan yang berasal arah timur Kadiri kemungkinan oleh Tumapel (Malang). Serangan rajabawahan yang berasal dari timur tersebut menyebabkan Kartajaya dari Panjalu harus mengungsi dariibukota kerajaan tetapi kemudian raja bawahan tersebut dapat dikalahkan oleh Kartajaya. Pada tahun1222M Maharaja Kartajaya dari Panjalu/Kadiri kembali mendapat serangan dari raja bawahannya yaitu
  • 34. Tumapel dan akhirnya Kartajaya dapat dikalahkan. Maharaja Rajasa dari Tumapel kemudian menunjukanaknya yaitu Parameswara (Mahisa Wunga Teleng) untuk menjadi Yuwaraja di Panjalu yang beribukotadi Daha sedangkan Jayasabha putra Kartajaya diangkat menjadi raja bawahan di Wuratan yang beribukotadi Gelang-gelang. Dalam cerita Panji, ada empat kerajaaan yang bersaudara yaitu Daha (Panjalu/Kadiri),Kahuripan (Jenggala/Jiwana), Gelang-gelang (Wuratan), dan Singosari (Tumapel). Tahta Tumapel sendirijatuh ke tangan anak tiri Rajasa yaitu Anusapati pada tahun 1227M. Maharaja Rajasa meninggal saatsedang di atas tahta kencana (prasasti Mulamanurung, 1255M) yang mengindikasikan Anusapati merebuttahta Tumapel dari ayahnya (seperti yang diberitakan Pararaton). Parameswara dari Panjalu kemudiandigantikan oleh adiknya yaitu Guningbhaya. Pada tahun 1248M Guningbhaya digantikan oleh kakaktirinya yaitu Tohjaya putra Rajasa. Sedangkan Narasinghamurti/Narajaya putra Parameswara menjadi rajabawahan di Hering. Menurut Slamet Mulyana, Tohjaya merebut tahta Panjalu dari tangan Guningbhayadan bukannya merebut tahta Tumapel dari Anusapati seperti apa yang diberitakan dalam Pararaton.Analisis Slamet Mulyana didasarkan pada prasasti Mulamanurung (1255M) dan KakawinNegarakertagama sendiri menyebutkan bahwa Maharaja Anusapati dari Tumapel digantikan olehputranya yaitu Wisnuwardhana/Seminingrat. Maharaja Dhiraja Wisnuwardhana dari Tumapel sendirimenikah dengan Waning Hyun putri Parameswara dari Panjalu. Pada tahun 1250M terjadi peperanganantara Tohjaya dari Panjalu dengan Wisnuwardhana dari Tumapel dan Narajaya (adik dari Waning Hyun)dari Hering. Akhirnya Tohjaya dapat dikalahkan dan Wisnuwardhana menunjuk anaknya yaituKartanagara menjadi Yuwaraja di Daha. Sedangkan Narajaya dan Wisnuwardhana memerintah bersamadi Tumapel dan mengganti nama ibukota Tumapel dari Kutaraja menjadi Singosari. Pada tahun 1272MWisnuwardhana dari Tumapel digantikan oleh putranya yaitu Kartanagara seperti diberitakan dalamNegarakertagama (1365M). Maharaja Kartanagara dari Tumapel kemudian menunjuk sepupunya yaituJayakatwang dari Wuratan menjadi raja bawahan di Daha. Jayakatwang putra dari Sastrajaya dariWuratan menikahi Curuk Bali putri dari Wisnuwardhana dari Tumapel. Sastrajaya merupakan putra dariJayasabha dari Wuratan atau dengan kata lain merupakan cucu dari Kartajaya dari Panjalu yangdikalahkan Rajasa dari Tumapel. . Pada tahun 1292M Maharaja Kartanagara dari Tumapel diserang oleh Jayakatwang dari Dahasaat sedang mengadakan upacara Tantrayana yang mengakibatkan runtuhnya Tumapel. Jayakatwangkemudian memindahkan ibukota kerajaan dari Singosari (Tumapel) ke Daha (Panjalu/Kadiri). Nama laindari Jayakatwang adalah Haji Katong. Dulunya Jayakatwang merupakan raja bawahan di Wuratan yangberibukota di Gelang-gelang (Magetan) kemudian diangkat menjadi raja bawahan di Daha oleh MaharajaDhiraja Kertanagara dari Tumapel. Penyerangan Jayakatwang/Haji Katong ke Tumapel ini mirip denganpenyerangan Haji Wurawari ke Watan dimana Maharaja Kartanagara dari Tumapel dan MaharajaDharmawangsa Teguh dari Watan diserang ketika sedang mengadakan acara kerajaan. Wijaya menantudari Kartanagara mendapatkan pengampunan dari Jayakatwang dan diberikan daerah Tarik (Sidoarjo).Daerah Tarik dekat dengan Kahuripan (Sidoarjo) ibukota Jenggala. Di daerah Tarik itulah Wijayamendirikan Kerajaan Majapahit. Pada tahun 1293M terjadi peperangan antara Jayakatwang denganWijaya yang bersekutu dengan pasukan Mongol. Dalam perang itu Jayakatwang dapat dikalahkan.Kemudian Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit setelah memukul mundur pasukan Mongol yangkembali ke China. Wijaya bergelar Maharaja Kartarajasa Jayawardhana dari Majapahit. Wijaya putraLembu Tal (panglima perang Tumapel) merupakan cucu dari Narasingamurti yang memerintah bersamadengan Maharaja Dhiraja Wisnuwardhana di Tumapel. Menurut Negarakertagama, Wijaya menikahi duaputri dari Kartanagara yaitu Tribuwaneswari dan Gayatri (Rajapatni). Maharaja Kartarajasa dariMajapahit digantikan oleh putranya yang bernama Jayanasara. Ibukota Majapahit kemudian dipindah dari
  • 35. Tarik (Sidoarjo) ke Wirasaba (Mojokerto) setelah kejadian pemberontakan Ra Kuti pada tahun 1319M.Pemberontakan Ra Kuti mengakibatkan Maharaja Dhiraja Jayanasara dari Majapahit harus mengungsi kePadender karena keraton sudah dikuasai para pemberontak. Namun akhirnya pemberontakan Ra Kutidapat diredamkan oleh Gajah Mada. Pada waktu itu Gajah Mada menjabat sebagai kepala pasukanBhayangkari (pasukan khusus pengawal Maharaja). Maharaja Dhiraja Jayanasara dari Majapahitkemudian memberikan penghargaan kepada Gajah Mada dengan mengangkatnya menjadi Patih di Daha.Nama Gajah Mada sendiri berarti gajah yang pandai (Ganesha). Dan akhirnya Gajah Mada diangkatmenjadi Mahapatih di Majapahit tahun 1334M sampai tahun 1364M. Ketika Tumapel runtuh adabangsawan yang pindah ke Kalimantan Timur dan mendirikan Kerajaan Kutai Kartanagara (akhir abadke-13M). Pada awal abad ke-16M Kerajaan Kutai Kartanagara berhasil menaklukan Kerajaan KutaiMartadipura (berdiri pada abad ke-4M). Kerajaan Kutai Kartanagara sendiri menjadi kesultanan padaakhir abad ke-17M. Di Kalimantan timur juga terdapat pengaruh Majapahit yaitu dengan berdirinyaKerajaan Berau (akhir abad ke-14M) dengan pendirinya bernama Raden Suryanata Kesuma. KerajaanBerau menjadi kesultanan pada akhir abad ke-17M. Pada awal abad ke-19M kesultanan Berau pecahmenjadi dua yaitu Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung. Pada akhir abad ke-13M selaindi Kalimantan timur ada juga bangsawan Tumapel yang pindah ke Lombok dan kemudian mendirikanKerajaan Seloparang dengan rajanya bergelar Indrajaya. Kerajaan Malayu (Dharmasraya) ditaklukan oleh Maharaja Kartanagara dari Tumapel pada saatekspedisi Pamalayu tahun 1275M. Dimana Maharaja Srimat Tribhuwanaraja dari Malayu (Dharmasraya)memberikan kedua putrinya untuk diserahkan ke Tumapel. Ternyata Tumapel sudah runtuh dan sudahdigantikan oleh Majapahit (1293M). Akhirnya kedua putri tersebut yang bernama Dara Petak (Indrewari)dan Dara Jingga diberikan ke Majapahit. Dari Dara Petak lahir Jayanasara putra dari Maharaja DhirajaKertarajasa dari Majapahit sedangkan dari Dara Jingga lahir Adityawarman putra dari Adwayawarman.Nama Adwayawarman kemungkinan orang yang sama dengan Adwayabrahma yang merupakan seorangMahamantri dari Singasari dan masih kerabat dekat dengan Maharaja Dhiraja Kertanagara dari Singasari.Dengan kata lain Adityawarman masih kerabat dekat dari Maharani Tribhuwana Tunggadewi dariMajapahit. Nama Adityawarman juga terdapat pada prasasti Manjusri (1343M) berbahasa Sansekertadengan Aksara Kawi yang terletak pada candi Jago (Jawa). Pada saat ekspedisi Mahapatih Gajah Madadari Majapahit, Adityawarman ditugasi untuk menaklukan wilayah Malayu yang tersisa. Adityawarmanmerupakan pendiri Kerajaan Minang Pagaruyung berdasarkan prasasti Kubu Rajo (1347M) berbahasaSansekerta dengan Aksara Kawi. Pada awalnya Adityawarman berkedudukan di Siguntur/Sijujung(1347M) kemudian pindah ke Pagaruyung (1357M). Dalam prasasti Suroaso (1357M) menunjukkanbahwa Adityawarman merupakan penganut agama Budha aliran Tantrayana seperti yang dianut olehMaharaja Kartanagara dari Tumapel. Bukti keberadaan Kerajaan Malayu (Dharmasraya) adalah candiPadang Roco (abad ke-13M). Pada akhir abad ke-13M lemahnya Malayu (Dharmasraya) menyebabkanmunculnya kesultanan-kesultanan baru yaitu Kesultanan Pasai di Sumatra sedangkan di SemenanjungMalaya ada Kesultanan Beruas. Malik az Zahir putra Malik al Saleh (pendiri Kesultanan Pasai) menikahdengan putri Sultan Perlak. Kesultanan Pasai dan Kesultanan Perlak kemudian disatukan oleh Malik alZahir pada awal abad ke-14M. Pada pertengahan abad ke-14M Kesultanan Pasai ditaklukan olehMajapahit. Kesultanan Pasai ini sejak awal abad ke-15M tidak ditemukan beritanya lagi sampai awal abadke-16M ketika Kesultanan Pasai ditaklukan Portugise dan kemudian direbut kembali oleh KesultananAceh. Bukti Keberadaan Kesultanan Pasai ini adalah makam dari Malik al Saleh (1297M). KesultananBeruas merupakan penerus dari Kerajaan Gangganagara (bediri pada abad ke-7M). Gangganagara dari
  • 36. Semenanjung Malaya kemungkinan berhubungan dengan Kerajaan Ganga India (berdiri padapertengahan abad ke-4M) yang merupakan bawahan dari Kerajaan Pallawa India. Pada tahun 1377M terjadi pemberontakan tiga kerajaan bawahan Majapahit di Sumatra yaituSeng-kia-lie-yulan (Adityawarman dari Minang Pagaruyung), Ma-na-cha-wu-li (Maharaja Mauli dariMalayu (Dharmasraya)) dan Ma-ha-na-po-lin-pang (Maharaja Palembang) terhadap Majapahit sesuaiberita China, Maharaja Hayam Wuruk kemudian dapat meredamkan pemberontakan dan ketiga kerajaankemudian dijadikan menjadi satu administrasi di Palembang. Pada pertengahan abad ke-14M diPalembang dipimpin oleh Arya Damar (1350M) seorang pangeran dari Majapahit. Sedangkan di MinangPagaruyung dibawah pimpinan Adityawarman (1347M-1376M) seorang pangeran keturunan campurandari Malayu (Dharmasraya) dan Jawa. Pada tahun 1377M pasukan Majapahit juga dapat mencegah danmembunuh utusan Dinasti Ming China yang hendak ke Sumatra. Pada tahun 1381M Majapahit mengirimutusan ke Dinasti Ming China yang bertujuan menolak membayar upeti. Pada masa Dinasti Ming China,Kaisar China memberlakukan larangan perdagangan bebas dengan luar negeri dimana negara yang inginberdagang dengan China harus membayar upeti ke China. Kemungkinan larangan ini dilakukan untukmenyeimbangkan neraca perdagangan China. Kerajaan yang bersedia membayar upeti kepada DinastiMing China adalah Dai Viet, Champa, Khmer-Kamboja, dan Siam. Pada tahun 1396M Parameswara(pendiri Malaka) pindah dari Palembang ke Temasek kemungkinan karena tidak mau dikendalikan olehMaharaja Majapahit. Temasek sendiri merupakan daerah kekuasaan Majapahit sejak ekspedisi GajahMada. Ketika di Temasek, Parameswara dapat merebut kekuasaan dari penguasa Temasek danmembunuh seorang utusan dari Siam di Temasek bernama Temagi dari Thammaracha/Dharmaraja(Tambralingga). Parameswara lalu dituntut oleh Siam dan Majapahit kemudian ia melarikan diri keMalaka. Menurut Summa Oriental (Tome Pires), Parameswara diserang oleh Batara Tumavil (BataraTumapel dari Majapahit), sewaktu dia menunjuk dirinya sebagai seorang “Mjeura” ( pemberontak).Kerajaan Majapahit dan Siam merupakan mitra dagang dimana Langkasuka (Pattani) di SemenanjungMalaya merupakan batas kekuasaan kedua kerajaan. Di Malaka, Parameswara mendirikan sebuahkerajaan pada tahun 1400M. Penuntutan Siam terhadap Parameswara dari Malaka terus berlanjut dan diadisuruh membayar ganti rugi kepada Siam (pada waktu ini Majapahit masih dalam masa perangparegreg). Pada tahun 1409M Kerajaan Malaka mendapat perlindungan dari Dinasti Ming China terhadapancaman Siam. Perang paregreg (1403M-1406M) di Majapahit terjadi akibat dari adanya perseteruanantara Maharaja Dhiraja Wikramawardhana dari Majapahit dengan Batara (Bre) Wirabumi. Pada tahun1404M pihak Batara Wirabumi mengirim utusan ke China guna mendapatkan dukungan. Pada tahun1406M utusan Kaisar Dinasti Ming China yaitu Cheng Ho datang ke Majapahit untuk memberikanjawaban ke Batara Wirabumi. Maharaja Dhiraja Wikramawardhana dari Majapahit kemudian mengirimpasukan untuk menyerang keraton Batara Wirabumi. Penyerangan tersebut mengakibatkan 150 orangutusan China mati terbunuh. Batara Wirabumi sendiri melarikan diri dengan sebuah kapal namun dapatdikejar oleh pasukan Majapahit dan akhirnya dipenggal kepalanya. Maharaja Majapahit kemudiandituntut membayar ganti rugi kepada Kaisar Dinasti Ming China sebanyak 10.000 tahil emas atasmeninggalnya 150 orang utusan China. Pada tahun 1407M Majapahit mengirim utusan ke Dinasti MingChina guna membayar separuh dari ganti rugi atas meninggalnya 150 utusan China. Kaisar Dinasti MingChina kemudian merelakan menghapus separuh sisa ganti rugi. Dari tujuh pelayaran Cheng Ho padatahun 1405M sampai 1433M, kerajaan di Asia Tenggara yang sering dikunjunginya adalah 1; Champa(sebanyak 6 kali), 2; Majapahit Jawa (sebanyak 6 kali), 3; Malaka (sebanyak 5 kali), 4; Lamuri (sebanyak4 kali); 5; Palembang (sebanyak 3 kali), 7; Siam (sebanyak 2 kali). Parameswara dari Malaka sendirimenikah dengan Ratna putri dari Sultan Zainal Abidin dari Pasai. Pada tahun 1414 M, Parameswara
  • 37. berpindah agama dari Hindu ke Islam dan kemudian namanya diganti menjadi Iskandar Shah. SedangkanBendahara Temasek (bawahan Parameswara terdahulu) melarikan diri ke Kampar-Riau dan kemudianmendirikan kerajaan disana. Pada tahun 1409M Ananggawarman putra Adityawarman memberontak lagiterhadap Majapahit seperti tahun sebelumnya 1377M, kemudian pasukan Majapahit yang ada diPalembang menyerang Pagaruyung. Namun pasukan Majapahit dapat dikalahkan di Padang Sibusuk(Sijunjung) pada tahun 1409M. Pada tahun 1411M Maharaja Dhiraja Wikramawardhana dari Majapahitmengirim pasukan dari Jawa untuk menyerang kembali Kerajaan Pagaruyung. Dan akhirnya KerajaanPagaruyung dapat ditaklukan kembali oleh Majapahit tahun 1411M. Setelah ditaklukan kembali olehMajapahit, Kerajaan Pagaruyung mulai melemah dan banyak daerah bawahan Pagaruyung diMinangkabau yang mulai melakukan otonomi sendiri. Kerajaan Pagaruyung tidak diketahui beritanya lagikarena tidak mengeluarkan prasasti lagi, tidak seperti pada masa Adityawarman yang banyakmengeluarkan prasasti dan membuat candi. Pada awal abad ke-16M banyak bermunculan kesultanan-kesultanan baru di SemenanjungMalaya semenjak runtuhnya Majapahit (1527M) misal raja Gombak (1526M) dari Kelantan, raja Phay TuNapak/Ismail (1530M) dari Pattani. Sejarawan dan Antropolog mengatakan bahwa penduduk dari Grahi(Surat Thani) sampai Terengganu di Semenanjung Malaya berasal dari etnik Jawa-Malayu terlihat daribahasa dan budaya yang mereka miliki. Orang Siam sendiri menamakan penduduk NakhonThammarat/Nagara Dharmaraja (Tambralingga) yang terletak di sebelah selatan Surat Thani (Grahi)sebagai Orang Chawa (Jawa). Menurut Hikayat Pattani, pada akhir abad ke-16M Palembang pernahmenyerang Pattani namun dapat dipukul mundur. Kemungkinan penyerangan itu dilakukan oleh OrangJawa Palembang pada masa Ki Gede Sura 11 (1572M) dari Palembang. Kesultanan Palembang danKesultanan Jambi merupakan bawahan Kesultananan Jawa. Pada tahun 1573M Sultan Patik Siam(1572M-1573M) dari Pattani dibunuh oleh saudara tirinya yaitu raja Bambang (dari Jawa?). Patik Siamdan Bambang merupakan putra dari Mudhaffar (1564M) putra dari Ismail dari Pattani. Muddhaffar dariPattani kemungkinan menikah dengan putri dari Ki Gede Sura 1 (1550M) dari Palembang. Setelah PatikSiam terbunuh kekuasaan di Pattani jatuh kepada sepupunya yaitu Bahadur (1573M-1584M) putra dariMansur (1564M-1572M). Pengaruh Jawa di Semenanjung Malaya dapat terlihat dari penggunaan Aksara Jawi disana.Aksara Jawi di Pattani dinamakan dengan nama Aksara Yawi. Aksara Jawi adalah Aksara Arab (abad ke-3M) yang dimodifikasi agar dapat menuliskan bahasa Malayu dengan menambah beberapa tanda bacauntuk kosakata yang tidak ada dalam Bahasa Arab. Aksara Jawi digunakan untuk menulis Sastra Malayumisal Malaka (Hikayat Malayu, awal abad ke-17M), Aceh (Hikayat Aceh, awal abad ke-17M), Barus(Hikayat Barus, awal abad ke-17M), Pattani (Hikayat Pattani, awal abad ke-19M), Kedah (HikayatKedah, awal abad ke-19M), Johor (Hikayat Johor tapi lebih cocok disebut Hikayat Selangor karena berisisejarah Selangor, akhir abad ke-19M). Siak-Riau (Hikayat Siak, pertengahan abad ke-19M), dan Minang(Tambo Minang, akhir abad ke-19M). Tambo Minang sendiri kebanyakan ditulis dengan Aksara Latin(abad ke-20M). Bukti keberadaan Aksara Jawi tertua adalah dari adanya prasasti Minye Tujuh (1380M)dan prasasti Terengganu (1386M). Aksara Jawi menyebar ke seluruh Nusantara hingga Pulau Mindano(Filipina Selatan) misal Kesultanan Sulu (berdiri pada pertengahan abad ke-15M dan dianeksasi AmerikaFilipina pada awal abad ke-20M) dan Kesultanan Mangundanao (berdiri pada awal abad ke-16M dandianeksasi Spanyol Filipina pada akhir abad ke-19M). Alasan dibuatannya Aksara Jawi karena mulaiberkembangnya pengaruh agama Islam di Nusantara. Ada yang berpendapat kata “Jawi” berasal dariBahasa Minang yang berarti “Kerbau”. Hal itu dapat dimengerti karena Pulau Sumatra khususnya Malayu
  • 38. (Dharmasraya) dibawah kuasa Jawa ketika Ekspedisi Pamalayu yang dilancarkan oleh panglima Mahisa(kebo) Anabrang atas perintah Maharaja Kartanagara dari Tumapel. Kata “Kerbau” dalam Bahasa Jawadisebut dengan nama “Kebo”. Menurut sejarawan Mahisa (kebo) Anabrang ini diindentifikasikan sebagaiAdwayawarman ayah dari Adityawarman yang merupakan pendiri Kerajaan Minang Pagaruyung(prasasti Kubu Rajo, 1347M). Adwayawarman dalam prasasti Bukit Gombak berbahasa Sansekertadengan Aksara Kawi dinamakan sebagai Adwayadwaja. Pada masa itu di Jawa nama binatang sudahdigunakan untuk menunjuk seseorang berdasarkan sifatnya sejak zaman Panjalu terbukti denganditemukannya prasasti Jaring (1181M). Nama-nama itu misalnya Mahisa (kebo) Cempaka, Lembu (sapi)Tal. Gajah Mada (Mahapatih Majapahit), Gajah Enggon (Mahapatih Majapahi pengganti Gajah Mada).Mahisa Anabrang (Mahamantri Tumapel) seorang tokoh yang meredamkan pemberontakanRanggalawe/Arya Adikara (Bupati Tuban) putra Arya Wiraraja (Mahamantri Majapahit) terhadapMajapahit. Kemudian Mahisa Anabrang dibunuh oleh Lembu Sora paman dari Ranggalawe. Sebenarnyapemberontakan Ranggalawe/Arya Ardikara (Bupati Tuban) putra Arya Wiraraja (Mahamantri Majapahit)tahun 1295M, Lembu Sora (Patih Daha) tahun 1300M, dan Nambi (Mahapatih Majapahit) putra AryaPranaraja (Mahamantri Majapahit) tahun 1316M adalah fitnah yang dibuat oleh Halayudha untukmeningkatkan jabatannya menjadi Mahapatih Majapahit. Mahapatih Halayudha sendiri dihukum mati(1319M) oleh Maharaja Dhiraja Jayanasara dari Majapahit karena dianggap telah menyebabkanpemberontakan para Dharmaputra (kelompok yang terdiri dari 7 orang dan merupakan prajuritkesayangan Maharaja Kartarajasa dari Majapahit) yang dipimpin Ra Kuti tahun 1319M. Alasan Ra Kutidan teman-temannya memberontak adalah karena tidak puas dengan kepemimpinan MahapatihHalayudha. Selain Aksara Jawi ada juga Aksara Pegon, Aksara tersebut merupakan hasil modifikasi dariAksara Jawi. Aksara Pegon digunakan untuk dapat menuliskan Bahasa Jawa. Kata “pegon” berasal darikata “pego” dalam Bahasa Jawa yang artinya menyimpang karena tidak umum menggunakan AksaraArab untuk menulis Bahasa Jawa. Perbedaan antara Aksara Jawi dengan Aksara Pegon adalah padaAksara Pegon terdapat tanda baca vokal yang tidak ada dalam Aksara Jawi. Karena dalam Bahasa Jawalebih banyak kosakata vokalnya (sembilan vonem) jika dibanding dalam Bahasa Malayu. Aksara Pegondigunakan mulai akhir abad ke-15M dalam teks sastra Jawa Islam misal suluk. Orang yang membuatsuluk dinamakan dengan “salik” yang berarti “pencari”. Jika Aksara Jawi merupakan hasil modifikasidari Aksara Arab pada abad ke-14M maka Aksara Kawi merupakan hasil modifikasi dari AksaraPallawa-India pada abad ke-7M. Aksara Pallawa-India (abad ke-3M) sendiri hadir di Nusantara pada abadke-4M terbukti dari adanya prasasti Kerajaan Tarumanagara dan Kerajaan Kutai. Dari Aksara PallawaIndia lahir Aksara Kawi/Jawa Kuno (abad ke-7M), Aksara Khmer-Kamboja (abad ke-7M), AksaraChampa (abad ke-7M) dan Aksara Mon (abad ke-7M). Dari Aksara Khmer-Kamboja lahir Aksara Thai(abad ke-14M) dan Aksara Lao (abad ke-14M). Dari Aksara Mon lahir Aksara Burma (abad ke-12M).Kata “kawi” berasal dari kata “Kakawin” yang berarti “Puisi”. Orang yang membuat kakawin disebutdengan “Rakawi” yang berarti “Orang Bijak”. Aksara Kawi digunakan di Jawa dari abad ke-7M sampaiabad ke-15M misal pada prasasti Plumpungan (Salatiga, 750M) dan prasasti Dinoyo (Malang, 760M).Aksara Kawi (Jawa Kuno) menyebar ke seluruh Nusantara hingga Pulau Luzon terbukti denganditemukannya prasasti Laguna (900M) di Manila. Prasasti Laguna mengunakan campuran BahasaTagalog Kuno, Bahasa Malayu Kuno dan Bahasa Jawa Kuno dengan Aksara Kawi (Jawa Kuno) yangberisi pembebasan pembayaran hutang bagi yang pembawa pesan ini sebesar 1 Kati dan 8 Swarna.Prasasti ini juga menyebutkan beberapa tempat seperti Tondo, Pailah (Paila), Polilan (Poliran),Binwangan (Binwangan) yang terletak di Manila (Luzon) dan Diwata di Butuan (Mindanao) serta
  • 39. Medang (Kerajaan Medang di Jawa) seperti yang dikemukakan oleh Anton Postma. Kerajaan HinduTondo (berdiri pada awal abad ke-10M) telah menjalin hubungan perdagangan dengan Dinasti SungChina (abad ke-11M) dan semakin erat pada zaman Dinasti Ming China (abad ke-15M). Prasasti Laguna(900M) merupakan prasasti satu-satunya peninggalan Kerajaan Tondo (berdiri pada abad ke-9M). Padaawal abad ke-16M Kesultanan Brunei (berdiri pada abad ke-9M menjadi kesultanan pada awal abad ke-15M) menyerang sebagian wilayah Kerajaan Tondo dan mendirikan Kerajaan Selorong yang kemudianberubah menjadi Manila yang berbasis agama Islam. Pada tahun 1565M Kerajaan Manila dikalahkan olehSpanyol. Manila kemudian dijadikan basis pertahanan Spanyol di Filipina. Pada tahun 1589 KerajaanTondo juga dikalahkan oleh Spanyol. Di Pulau Luzon selain Kerajaan Hindu Tondo ada juga KerajaanHindu Namayan (berdiri pada abad ke-10M). Walaupun begitu Kerajaan Namayan ini tidak memilikibukti prasasti. Kerajaan Namayan dipimpin oleh seseorang yang bergelar Lakan. Kata “Lakan” inikemungkinan berasal dari kata “Rakayan” atau “Rakaian” dalam bahasa Kawi. Nama tersebut seringdipakai di Jawa untuk menyebut seorang pejabat. Pada tahun 1571M Kerajaan Namayan dikalahkan olehSpanyol. Di Pulau Mindanao juga terdapat Kerajaan Hindu Butuan (berdiri pada awal abad ke-11M). Diwilayah Kerajaan Butuan (berdiri pada abad ke-10M) ditemukan sebuah segel yang terbuat dari culabadak yang bergaya Jawa Kuno. Kata “Butuan” sendiri berasal dari bahasa Kawi (Jawa Kuno) yaitu“Butwan”. Kerajaan Butuan ini ditaklukan oleh Spanyol pada akhir abad ke-16M. Sastra Jawa tertua yang pernah ditemukan adalah pada prasasti Siwagraha (855M) yangmerupakan kakawin tertua. Sedangkan naskah kakawin Sastra Jawa tertua yang pernah ditemukan adalahKakawin Ramayana (870M). Pada abad ke-8M banyak teks Hindu berbahasa Sansekerta yang kemudianditerjemahkan ke dalam bahasa Jawa Kuno. Pada abad ke-9M banyak teks prosa Hindu yang dibuatdalam bahasa Jawa Kuno dalam misal Brahmandapurana dan Agastyaparwa. Selain itu juga teks prosaBudha tentang ajaran Tantrayana dan Mahayana seperti Kitab Sang Kamahayanikam (sutra tentang ajaranMahayana). Sastra Jawa dikelompokan menjadi 4 yaitu 1; Sastra Jawa Kuno yang dipengaruh Hindu-Budha (abad ke-8M sampai abad ke-15M) memakai Bahasa Jawa Kuno dan ditulis dalam Aksara Kawi(Jawa Kuno), Hasil sastra yang dihasilkan pada zaman Jawa Kuno berupa kakawin (puisi) dan parwa(prosa). Dalam zaman ini kata-kata dalam Bahasa Sansekerta India mulai banyak diserap ke dalamBahasa Jawa. 2; Sastra Jawa Madya yang dipengaruhi Islam (abad ke-16 sampai abad ke-18M) memakaiBahasa Jawa Madya dan ditulis dalam dua Aksara yaitu Aksara Jawa dan Aksara Pegon (dipakai dalamteks Islam yang kebanyakan berasal dari daerah pesisir Jawa), Hasil sastra yang dihasilkan pada zamanJawa Madya berupa kidung dan suluk yang merupakan bentuk dari Macapat. Teks Macapat diciptakanoleh Wali Sanga pada akhir abad ke-15M. Macapat terdiri dari sebelas bagian yang merupakan simbolperjalanan hidup manusia dari lahir sampai mati yaitu Maskumambang, Mijil, Sinom, Kinanthi,Asmarandana, Gambuh, Dhandhanggula, Durma, Pangkur, Megatruh, dan Pocong. Suluk Sunan Bonang(awal abad ke-16M) merupakan salah satu suluk yang terkenal yang berisi ajaran mistisisme Islam Jawa.Dalam zaman ini kata-kata dalam Bahasa Arab mulai banyak diserap ke dalam Bahasa Jawa. 3; SastraJawa Baru (zaman Surakarta, separuh kedua abad ke-18M) dengan memakai Bahasa Jawa Baru danditulis dengan Aksara Jawa. Hasil sastra yang dihasilkan pada zaman Jawa Baru ini berupa serat. Padazaman Surakarta inilah muncul renaissance Sastra Jawa yang dipelopori Yasadipura dan sastrawan yangterkenal adalah Ranggawarsita. Pada zaman renaissance Sastra Jawa ini banyak ditemukan Sastra JawaKuno yang digubah kembali dalam Bahasa Jawa Baru dan ditulis dengan Aksara Jawa. Tidak berapa lamakemudian karya teks Islam Jawa Pesisir yang ditulis dalam Aksara Pegon juga mulai banyak disadurdalam Bahasa Jawa Baru dan ditulis dalam Aksara Jawa. 4; Sastra Jawa Modern dipengaruhi Belanda(akhir abad ke-19M) dengan memakai Bahasa Jawa Baru dan ditulis dengan Aksara Latin. Hasil sastra
  • 40. yang dihasilkan pada zaman Jawa Modern ini berupa novel. Sastrawan Jawa Modern yang terkenal adalahSasradiningrat 1V dan Padmasusastra. Dalam zaman ini kata-kata dalam Bahasa Belanda mulai banyakdiserap ke dalam Bahasa Jawa. Di antara teks Sastra Jawa Kuno yang yang paling luas penyebarannyaadalah Cerita Panji (ditulis pada abad ke-13M) berlatar belakang di lingkungan Kerajaan Panjalu/Kadiri(abad ke-11M sampai abad ke-12M). Cerita ini diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa misalnya Sunda,Bali, Malayu, Siam, Khmer Kamboja. Dalam Sastra Malayu terdapat versi yang ditulis dalam bentukSyair yaitu Syair Ken Tambuhan dan juga dalam bentuk hikayat yaitu Hikayat Anda-ken Penurat. Karyateks Islam Jawa Pesisir juga mempengaruhi teks Sastra Malayu misal Suluk Aceh dan Suluk JoharMungkin. Sejarahwan menyebutkan bahwa Aksara Kawi (Jawa Kuno) merupakan induk dari aksara yangada di Nusantara misal Aksara Buda (Jawa, abad ke-14M), Aksara Sunda Kuno (Sunda, akhir abad ke-14M), Aksara Malayu Kuno (Malayu, akhir abad ke-14M), Aksara Baybayin-Tagalog (Luzon Filipina),Aksara Buhid-Mangyan (Mindoro Filipina), Aksara Hanuno (Mindoro Filipina), dan Aksara Tagbanwa(Palawan Filipina). Dari Aksara Buda lahir Aksara Hanacaraka (Jawa, abad ke-16M) dan Aksara Bali(Bali, abad ke-16M). Dari Aksara Malayu Kuno lahir Aksara Kaganga yang berasal dari selatan Sumatra(Jambi, Palembang, Bengkulu) yang dikenal sebagai Aksara Ulu (Gunung) karena aksara ini banyakdijumpai di daerah pegunungan dari Kerinci-Jambi sampai Ranau-Lampung. Aksara Kaganga merupakankumpulan beberapa aksara yang terdiri dari Aksara Rencong (Kerinci-Jambi, abad ke-16M), AksaraRejang (Rejang-Bengkulu, abad ke-16M), dan Aksara Had Lappung (Pasemah-Lampung, abad ke-16M)sedangkan perbedaan ketiga aksara tersebut adalah pada letak urutan huruf dan bahasa yang dipakai.Selain itu terdapat Aksara Surat (Batak Toba, abad ke-17M) yang masih bersaudara dengan AksaraKaganga/Ulu. Dalam Aksara Surat ini ada beberapa konsonan yang hilang yang seharusnya ada sepertihalnya dalam Aksara Kaganga. Aksara Surat ini kemungkinan berasal dari Pennai (Padang Lawas)kemudian menyebar ke arah Toba. Dari Aksara Kaganga/Ulu lahir Aksara Lontara (Bugis, abad ke-17M). Aksara Jawi mulai dikembangkan di Sumatra (akhir abad ke-14M) dimana pada waktu itudikuasai oleh Majapahit sedangkan Aksara Pegon dikembangkan di Jawa (akhir abad ke-15M). SelainAksara Jawi pengaruh Jawa Islam di Nusantara juga terlihat dari bentuk bangunan masjid Jawa (tipikalMasjid Demak, 1481M) yang menyebar ke seluruh Nusantara bahkan sampai Pattani dan Mindanaoseperti yang dinyatakan oleh G.F. Pijper (1947M) dan Hugh Oneil (1994M). Masjid Jawa sangat unik danmemiliki perbedaan sangat mencolok jika dibandingkan dengan bentuk arsitektur masjid di belahan dunialainnya. Masjid Jawa berbentuk persegi empat (bujur sangkar) dengan atap yang tumpeng dua sampai tigadan landasannya berundak. Islam berkembang di Jawa pada saat zaman kejayaan Majapahit dibuktikan dengan ditemukannyasebuah batu nisan di Troloyo, Trowulan (Mojokerto) yang berasal dari tahun 1366M, 1370M, 1407M,1418M, 1427M, 1467M, dan 1475M, yang ditulis dengan Aksara Kawi dengan penanggalan Saka. Selainitu ada juga tahun 1469M dan 1533M yang ditulis dengan Aksara Arab dengan penanggalan Hijriah. Halitu menandakan bahwa makam tersebut milik orang Muslim Jawa bukannya orang asing. Dan menurutDamais kemungkinan makam tersebut milik bangsawan Majapahit. Karena didasarkan pada bentukdekorasi makam dan kedekatannya makam tersebut dengan ibukota Majapahit. Dapat dikatakan bahwaada beberapa bangsawan Majapahit yang sudah mengadaptasi Islam ketika Majapahit mencapai puncakkejayaannya. Berita Ma Huan (1433M) menunjukkan bahwa Islam sudah diadaptasi oleh beberapabangsawan Jawa di ibukota Majapahit sebelum Islam berkembang di daerah pesisir Jawa pada awal abad
  • 41. ke-15M. Ricklef berpendapat bahwa Majapahit sejak awal sudah berhubungan dengan para pedagangMuslim. Para bangsawan Majapahit tertarik dengan agama yang dibawa oleh para pedagang Muslimkhususnya tentang ajaran mistik Sufi Islam. Ketertarikan tersebut karena para bangsawan Majapahitsudah terbiasa dengan hal yang berbau mistik seperti halnya dalam agama Hindu-Budha. Ibnu Batutah(1346M) mengatakan bahwa Islam yang berkembang pada waktu itu di Nusantara kebanyakan menganutMazhab Syafii, kebiasaan yang sama seperti yang dia lihat di India. Ibnu Batutah juga mengatakan bahwapenguasa Samudra Pasai juga menganut Mazhab Syafii. Mazhab ini sendiri lebih cenderung bersifatmoderat dan mistik dibandingkan dengan mazhab lainnya. Dalam Negarakertagama (1365M) dikatakanbahwa Maharaja Hayam Wuruk dari Majapahit menyuruh para pemuka Hindu-Budha untuk menyebarkanagama mereka di Nusantara namun tidak boleh menyebarkannya kepada penduduk di sebelah barat pulauJawa (Samudra Pasai) karena sudah berbeda agama. Hubungan antara Majapahit dengan Islam diperkuatdengan adanya prasasti Minye Tujuh (Pasai, 1380M) berbahasa campuran Malayu Kuno dan Jawa Kunoyang ditulis dengan Aksara Kawi dan Jawi. Aksara Jawi juga digunakan untuk menulis Hikayat RajaPasai (akhir abad ke-15M) yang merupakan sastra malayu tertua yang berisi legenda raja Pasai.Kemungkinan Aksara Jawi ini dibuat pada masa itu karena ada konsonan huruf dalam Aksara Jawi yangsebenarnya tidak ada dalam Aksara Arab, kemudian mengambil konsonan dalam Aksara Kawi (JawaKuno) untuk melengkapi konsonan dalam Aksara Jawi. Pengambilan itu agar lebih mudah menuliskanbahasa pribumi dalam tulisan Arab. Makam lainnya pada zaman Majapahit adalah makam milik MalikIbrahim (Gresik, 1419M) dan makam milik putri Champa (1449M) yang terletak di ibukota Majapahit.J.J Meinsma berpendapat bahwa Sunan Gresik atau Malik Ibrahim Asmarakandi (awal abad ke-15M)sebagai pelopor agama Islam di Jawa berasal dari Samarkand Asia Tengah. Menurut Babad Tanah Jawi,Malik Ibrahim adalah putra dari Jumadil Qubro. Menurut Martin van Bruinessen nama Jumadil Qubrosama dengan Jamaluddin Akbar. Menurutnya bahwa nama Jumadil Qubro sesungguhnya adalah hasilperubahan hyper-correct atas nama Jamaluddin Akbar oleh masyarakat Jawa. Jamaluddin Akbarmerupakan putra dari Ahmad Jalal Shah (Persia) dan cucu dari Abdullah Khan (Asia Tengah).Jamaluddin Akbar sendiri kemungkinan datang ke Jawa melalui Gujarat, India. Makam Jumadil Qubroterletak di pemakaman Troloyo, Trowulan yang dekat dengan situs ibukota Majapahit. Makam JumadilQubro juga berdekatan dengan makam bangsawan Jawa misal Tumenggung Satim Singomoyo danTumenggung Patas Angin. Sedangkan J.P. Moqueite berdasarkan analisis terhadap bait terakhir tulisanpada makam Sunan Gresik diperkirakan tokoh ini berasal dari daerah Kashan di Persia. Kedua pendapattersebut mungkin benar karena pada akhir abad ke-14M baik Persia maupun Asia Tengah dibawahkekuasaan Dinasti Timur Lenk yang berpusat di Samarkand Asia Tengah. Dalam konteks India dan Jawa,Orang Persia dan Asia Tengah dinamakan sebagai Orang Yawana. Dalam Negarakertagama (1365M)disebutkan bahwa hubungan antara Majapahit Jawa dengan Yawana disebut sebagai Mitreka-Satata(Negara sahabat). Sebelum zaman Majapahit, Islam juga sudah datang di Pulau Jawa dibuktikan denganadanya makam milik Fatimah binti Maimun (Gresik, 1081M) dan beberapa makam penggiringnya yangmerupakan makam Islam tertua di Asia Tenggara. Dikatakan bahwa Fatimah binti Maimun merupakanseorang putri dari negeri Gedah yang datang ke Pulau Jawa bersama beberapa penggiringnya untukmenemui Maharaja Jawa. Kemudian penduduk Jawa memberikan nama baru kepada Fatimah bintiMaimun yaitu Ratna Swari. Dalam Serat Jayabaya dikatakan bahwa Maharaja Jayabaya dari Panjalu(awal abad ke-12M) pernah berguru pada seorang ahli mistik Islam bernama Ali Syamsuddin dariKesultanan Rum Turki (1077M-1300M). Walaupun Islam sudah datang pada abad ke-12M namunperkembangan Islam di Pulau Jawa baru signifikan pada abad ke-15M.
  • 42. Menurut Slamet Mulyana, para tokoh Wali Sanga (penyebar agama Islam) yang ada di Jawamerupakan keturunan China. Hal ini berawal dari kedatangan Ekspedisi Cheng Ho ke Jawa pada awalabad ke-15M. Selain sebagai utusan Kaisar Dinasti Ming China, Cheng Ho juga berniat menyebarkanagama Islam. Nama asli Cheng Ho adalah Ma (Muhammad) Ho yang berasal dari Yunnan dan beretnikHui. Orang Hui memeluk agama Islam sejak zaman Dinasti Tang China dikarenakan adanya interaksiperdagangan dengan Orang Asia Tengah dan Persia yang melalui jalur Sutra. Pada abad ke-11M SultanUzbekistan mengungsi ke China dan meminta perlindungan ke Kaisar Dinasti Sung China dikarenakanadanya serangan dari Turki Seljuk. Kemudian sultan tersebut diberikan jabatan tinggi di China. Padazaman Dinasti Yuan China, Orang Muslim China khususnya Orang Hui mendapatkan kedudukan tinggidi ibukota dikarenakan penguasa Mongol menduduki sebagian besar wilayah Islam misal Asia Tengahdan Persia. Kebanyakan penguasa Mongol di wilayah Islam kemudian beralih ke agama Islam. Pada akhirabad ke-13M Kaisar Dinasti Yuan China menempatkan seorang gubernur muslim China untuk menguruswilayah Yunnan. Pada zaman Dinasti Yuan China, Islam mulai berkembang di wilayah Yunnan. Padaakhir abad ke-14M Dinasti Yuan runtuh digantikan Dinasti Ming China. Pada tahun 1380M KaisarDinasti Ming China menyerang wilayah Kerajaan Dali di Yunnan dan kemudian menganeksasinya. Padawaktu serangan itu orang tua Cheng Ho terbunuh dan Cheng Ho sendiri ditangkap untuk dijadikan kasimkerajaan. Kemudian karir Cheng Ho semakin menanjak dan dijadikan sebagai penasihat Kaisar DinastiMing China. Pada 1406M-1430M Kaisar Dinasti Ming China melalui Ekspedisi Cheng Ho mulaimemberikan pengaruhnya di Asia Tenggara. Cheng Ho juga mulai menyebarkan agama Islam terutamauntuk kalangan Orang China yang berdagang dan menetap di Asia Tenggara. Pada tahun 1449M terjadiperseteruan politik di China dan peperangan dengan pasukan Mongol kembali menguat. Pada tahun1449M dalam sebuah pertempuran, pasukan China dapat dikalahkan oleh pasukan Mongol bahkan KaisarDinasti Ming China dapat ditawan tetapi akhirnya dipulangkan kembali dengan uang tebusan. PasukanMongol juga mengepung ibukota namun dapat dipukul mundur oleh pasukan China. Dalam Naskah Sam Po Kong disebutkan bahwa pada tahun 1409M, Cheng Ho menempatkanBong Tak Keng di Champa untuk mengurusi kepentingan dagang China disana. Kemudian Bong TakKeng mengirim Gan Eng Cu ke Tuban untuk mengurusi kepentingan dagang China di Jawa. Gan Eng Cudikenal sangat dekat dengan bangsawan Majapahit sehingga dia ditunjuk oleh Hyang Wisesa (MaharajaDhiraja Wikramawardhana dari Majapahit) sebagai Juru bandar di Tuban pada tahun 1423M. Gan Eng Cumenikahi Ayu Teja putri dari Bupati Arya Ardikara dari Tuban. Sedangkan Gan Eng Wan (adik Gan EngCu) menikahi putri Bupati Tuban yang lainnya. Pada tahun 1430M Gan Eng Cu mendapatkan gelar Aryadari Sung Ki Ta (Maharani Suhita dari Majapahit) sehingga namanya menjadi Arya Teja. DalamPararaton disebutkan bahwa Suhita menikah dengan Renamanggala (Raden Ratnapangkaja) yang bergelarBatara Parameswara yang meninggal pada tahun 1443M. Pada tahun 1430M Gan Eng Wan ditunjukmenjadi Bupati Tuban oleh Sung Ki Ta untuk menggantikan Bupati yang lama. Gan Eng Wanmendapatkan gelar Arya Wira (Tumenggung Wilwatikta) dari Sung Ki Ta. Gan Eng Cu (Arya Teja)mempunyai anak bernama Gan Si Cang (Said/Sunan Kalijaga). Bong Swi Ho (Rahmat/Sunan Ampel)cucu Bong Tak Keng dari Champa mengunjungi bibinya di Jawa pada tahun 1445M. Dalam Babad TanahJawi, Rahmat (Sunan Ampel) merupakan putra dari Malik Ibrahim (Sunan Gresik) dengan putri Champa.Dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bibi Sunan Ampel adalah istri dari Maharaja Majapahitkemungkinan adalah istri dari Maharaja Dhiraja Wijayaparakramawardhana Dyah Kertawijaya (BreWijaya 1, 1447M-1451M). Sedangkan dalam Naskah Sam Po Kong bibi Sunan Ampel adalah istri dariDuta Besar China untuk Majapahit yang bernama Ma Hong Fu (1424M-1449M). Baik Ma (Muhammad)Hong Fu maupun putri Champa itu beragama Islam. Putri Champa tersebut meninggal pada tahun 1449M
  • 43. dan dimakamkan di dekat ibukota Majapahit dengan menggunakan Sangkakala (penanggalan) Jawa.Menurut Naskah Sam Po Kong, Ma Hong Fu ditarik kembali ke China pada tahun 1449M. MenurutNaskah Sam Po Kong, Bong Swi Ho (Sunan Ampel) menikahi putri dari Gan Eng Cu (Arya Teja). BongSwi Ho mempunyai anak bernama Bong Ang (Ibrahim/Sunan Bonang). Pada tahun 1448M Gan Eng Wan(Arya Wira) tewas ditangan penduduk pribumi yang tidak puas. Menurut Pararaton (awal abad ke-16M),disebutkan bahwa pada masa pemerintahan Maharaja Kertawijaya dari Majapahit (1447M-1451M)pernah terjadi pembunuhan besar-besaran terhadap orang China yang dilakukan oleh Bre Paguhan(keponakan dari Kertawijaya). Pada tahun 1450M sepeninggalan Gan Eng Cu (Arya Teja), banyakketurunan China yang mulai beralih dari agama Islam ke agama semula (Kong Hu Cu) dan Masjiddirubah menjadi Kelenteng. Pada tahun 1451M Bong Swi Ho (Sunan Ampel) pindah ke Surabaya danmulai menyebarkan agama Islam ke kalangan pribumi Jawa. Bong Swi Ho (Sunan Ampel) menggunakanmetode akulturasi dan menggunakan bahasa Jawa dalam menyebarkan agama Islam. Menurut NaskahSam Po Kong, tidak lama setelah Bong Swi Ho (Sunan Ampel) datang ke Jawa, Kerajaan Champadiserang oleh Dai Viet. Menurut Sejarah Banten, tidak lama setelah Sunan Ampel datang ke Jawa,Champa diserang oleh Orang Kafir dari Koci. Menurut Sejarah Champa, ibukotanya yang bernamaWijaya jatuh ke tangan Dai Viet pada tahun 1470M. Nama Dai Viet dalam Sejarah Malayu dinamakandengan Koci. Nama Koci juga terdapat di dalam teks-teks Jawa Kuno seperti Kakawin Negarakertagamadan Kakawin Harsawijaya. Menurut Sejarah Malayu, setelah Champa jatuh banyak warganya termasukpara pangerannya yang melarikan diri ke Malaka dan Aceh. Selain itu banyak juga warga yang terbunuhdan menjadi tawanan yang dibawa ke Dai Viet untuk dijadikan sebagai budak. Dyah Kertawijaya (Wijayaparakramawardhana) mempunyai beberapa putra yaitu DyahWijayakumara (Bre Kahuripan), Dyah Suryawikrama (Bre Wengker), Dyah Suraprabhawa (BreTumapel). Dalam Pararaton yang menjabat sebagai Bre Kahuripan saat itu adalah Sang Sinagara. Dianaik tahta Majapahit bergelar Rajasawardhana yang menggantikan kedudukan Kertawijaya. Sebelummenjabat sebagai Bre Kahuripan, Sang Sinagara menjabat sebagai Bre Pamotan dan Bre Keling. Dalamsebuah prasasti, Rajasawardhana memiliki beberapa putra yaitu Wijayaparakramawardhana DyahSamarawijaya (Bre Kahuripan) dan Girindrawardhana Dyah Wijayakirana (Bre Mataram). DalamPararaton, Rajasawardhana/Sang Sinagara memliki empat putra yaitu Bre Kahuripan, Bre Mataram, BrePamotan, Bre Kertabumi (putra bungsu). Dalam Pararaton disebutkan bahwa putra Sang Sinagara yaituBre Kahuripan dan Bre Mataram menikahi putri dari Bre Wengker (dengan kata lain menikahi putri daripaman mereka sendiri). Dyah Suryawikrama (Bre Wengker) kemudian naik tahta Majapahit bergelarGirishawardhana menggantikan Rajasawardhana (Sang Sinagara). Pada tahun 1466M, DyahSuraprabhawa (Bre Tumapel) naik tahta Majapahit bergelar Singhawikrawardhana menggantikanGirishawardhana. Dalam Pararaton disebutkan bahwa pada tahun 1468M putra-putra dari Sang Sinagara(Rajasawardhana) yaitu Bre Kahuripan (Wijayaparakramawardhana Dyah Samarawijaya) , Bre Mataram(Girindrawardhana Dyah Wijayakirana), Bre Pamotan, dan Bre Kertabumi meninggalkan kratonMajapahit dan kemudian tinggal di Mungging Jinggan. Penyebab Bre Kahuripan dan adik-adiknyameninggalkan kraton Majapahit kemungkinan karena adanya perebutan tahta dengan paman mereka yaituSinghawikrawardhana Dyah Suraprabhawa (Bre Tumapel). Dalam prasasti petak disebutkan bahwaBatara di Mungging Jinggan (Bre Kahuripan dan adik-adiknya) pernah menyerang Majapahit(Singhawikrawardhana). Peperangan tersebut kemungkinan terjadi pada tahun 1468M setelah BreKahuripan dan adik-adiknya meninggalkan kraton. Dalam pertempuran tersebut Bre Kahuripan terbunuhnamun adik-adiknya memenangkan peperangan. Kemungkinan tahta Majapahit jatuh kepada adikpertama dari Bre Kahuripan yaitu Girindrawardhana Dyah Wijayakirana (Bre Mataram). Dalam prasasti
  • 44. Jiyu (1486M) dikatakan bahwa Maharaja Majapahit saat itu adalah Girindrawardhana Dyah Renawijaya.Prasasti Jiyu (1486M) sendiri dibuat untuk memperingati 12 tahun meninggalnya (1474M) Bre Daha.Girindrawardhana Dyah Renawijaya kemungkinan merupakan putra dari Girindrawardhana DyahWijayakirana (Bre Mataram). Jabatan sebagai Bre Daha dipakai oleh Girindrawardhana Dyah Renawijaya(Bre Mataram) sebagai warisan dari ibunya (istri dari Rajasawardhana Dyah Wijayakumara). Sepertihalnya Wijayaparakramawardhana Dyah Wijayakumara dulunya menjabat sebagai Bre Pamotankemudian menjadi Bre Kahuripan sebagai warisan dari ayahnya yaitu Rajasawardhana DyahWijayakumara. Dalam prasasti Jiyu juga terdapat nama Singhawardhana Dyah Wijayakusuma (BreKeling) kemungkinan merupakan saudara dari Girindrawardhana Dyah Renawijaya. SetelahGirindrawardhana Dyah Wijayakirana (Bre Mataram) meninggal tahta Majapahit kemungkinan jatuh ketangan adiknya yang bungsu yaitu Bre Kertabumi. Menurut Naskah Sam Po Kong, Pa Bu Ta La (PrabuNata Girindrawardhana Dyah Renawijaya) menikah dengan putri dari Kung Ta Bu Mi (Bre Kertabumi).Dengan kata lain Girindrawardhana Dyah Renawijaya menikahi putri dari pamannya sendiri. MenurutTome Pires (1515M) bahwa Batara Vigaya (Bre Wijaya) di Dayo (Daha) dulunya menggantikankedudukan dari Bre Mataram. Jika Bre Wijaya yang disebut Tome Pires adalah Girindrawardhana DyahRenawijaya, maka Bre Mataram yang dimaksud adalah Girindrawardhana Dyah Wijayakirana. Dalam Naskah Sam Po Kong disebutkan bahwa Swan Liong putra Hyang Wisesa dari selir Chinaditunjuk di Kukang (Palembang). Hyang Wisesa ini kemungkinan adalah Girishawardhana (1456-1466M)jika dibandingkan dengan Wikramawardhana (1389M-1427M). Kemudian selir China dari Kung TaBumi (Bre Kertabumi) dihadiahkan kepada Swan Liong. Dari pernikahan Bre Kertabumi dengan selirChina putri dari Bang Hong (Sunan Bantong) lahir Jin Bun (Jimbun/Fatah, 1456M). Sedangkan daripernikahan Swan Liong dengan selir China lahir Kin San (Kusen, 1457M). Berdasarkan pada prasastiyang terdapat dalam Masjid Mantingan dan makam Ratu Kalinyamat Jepara (cucu dari Jimbun/Fatah)menyebutkan bahwa Fatah merupakan keturunan dari Kertawijaya. Dalam Babad Tanah Jawi, disebutkanbahwa Jimbun (Jin Bun) merupakan putra dari (Dyah) Angkawijaya. Kemungkinan Bre Kertabumi(Pararaton) atau Kung Ta Bumi (N. Sam Po Kong) mempunyai nama asli Dyah Angkawijaya (Babad).Menurut Naskah Sam Po Kong, pada tahun 1474M Jin Bun (Jimbun) dan Kin San (Kusen) pindah keJawa dan belajar agama Islam kepada Bong Swi Ho (Sunan Ampel). Jin Bun menikahi putri dari BongSwi Ho. Pada tahun 1475M Jin Bun diakui sebagai anak oleh Kung Ta Bumi (Bre Kertabumi) dandiangkat sebagai Adipati Bintara. Sedangkan Kin San mengabdi kepada Maharaja Majapahit dandiangkat menjadi Adipati Terung. Pada tahun 1477M Jin Bun menyerang Semarang. Kin San ditunjukoleh Kung Ta Bumi untuk memanggil Jin Bun menghadap ke Majapahit namun Jin Bun menolak. Padatahun 1478M setelah Bong Swi Ho meninggal, Jin Bun (Jimbun) menyerang kraton ayahnya sendiri yaituKung Ta Bumi (Bre Kertabumi) dan dibawa ke Bintolo (Bintara). Menurut Babad Tanah Jawi,penyerangan Jimbun/Fatah ke Majapahit terjadi pada tahun Sangkakala yang berbunyi Sirna (0) Ilang (0)Kerta (4) ning Bumi (1) yang menunjuk pada Bre Kerta-bumi. Angka 0041 kemudian dibalik menjadi1400 Saka atau 1478 Masehi. Kemudian Kin San diangkat Jin Bun menjadi Adipati Semarang. Ceritadalam kitab Pararaton (awal abad ke-16M) sendiri berakhir dengan perkataan bahwa Bre Kertabumi,paman raja yang meninggal di kraton pada tahun 1478M. Kemungkinan Maharaja Majapahit yangberkuasa saat pembuatan kitab Pararaton (awal abad ke-16M) adalah Girindrawardhana Dyah Renawijaya(prasasti Jiyu, 1486M). Jadi Bre Kertabumi merupakan paman dari Girindrawardhana Dyah Renawijaya.Dari berita Pararaton mengindikasikan bahwa meninggalnya Bre Kertabumi adalah tidak wajar.Kemungkinan Bre Kertabumi diserang oleh Jimbun/Fatah (putranya sendiri) atau oleh GirindrawardhanaDyah Renawijaya (menantunya sendiri). Perang tersebut dinamakan perang Sudhamani yaitu perang
  • 45. antara anak/menantu dengan ayahnya. Kemungkinan yang lebih besar adalah ibukota Majapahit yaituWirasaba diserang oleh Bintara (Jimbun/Fatah), kemudian Girindrawardhana Dyah Renawijayamemindahkan ibukota Majapahit ke Daha (Kadiri). Menurut Naskah Sam Po Kong setelah kotaMajapahit (Wirasaba) dikuasai, Jin Bun (Jimbun) menunjuk seorang China bernama Nyo Wa La sebagaiadministator di kota tersebut. Pada tahun 1486M, Nyo Wa La dibunuh oleh penduduk pribumi Jawa yangtidak senang. Kemudian Jin Bun memberikan Wirasaba kepada Pa Bu Ta La (Prabu NataGirindrawardhana). Atau mungkin pada tahun 1486M Girindrawardhana merebut kembali Wirasaba dariDemak. Menurut prasasti Jiyu (1486M), Girindrawardhana berkuasa atas Wilwatikta (Majapahit),Jenggala, dan Kadiri. Menurut Tome Pires (1515M) dari Portugise menyebutkan bahwa Adipati Tubandan Adipati Surabaya masih mengabdi pada Batara Wijaya di Daha. Menurut berita Dinasti Ming China,tahun 1499M merupakan utusan terakhir dari Majapahit yang datang ke China. Sejak tahun 1481Mhingga 1499M Majapahit mulai sering mengirim utusan dan upeti ke Dinasti Ming China. Sejak adanyaKesultanan Jawa (awal abad ke-16M) tidak ada lagi mengirim perutusan ke China karena dianggapsebagai kafir. Kerajaan yang yang sering mengirim perutusan ke Dinasti Qing China adalah Dai Viet,Kamboja, Laos, Siam, Burma. Kesultanan Aceh sendiri sering mengirim perutusan dan meminta bantuankepada Kesultanan Usmani Turki. Sedangkan menurut berita Portugise, Kesultanan Demak berencanamenjadi seperti Kesultanan Usmani Turki yaitu Segundo Turco (Turki Kedua) di Nusantara. SultanUsmani Turki sendiri bergelar Kayser (Kaisar) Rum setelah menaklukan Konstantinopel pada tahun1453M. Menurut Sejarah Banten, pendiri Sultan Demak pertama adalah Ki Gede Palembang putra dariArya Sumangsang. Disebutkan bahwa ada seseorang yang bernama Cek Ko Po bersama dua putranyayaitu Cek Ban Cun dan Cu Cu datang dari Mongol China ke Jawa untuk mengabdi kepada Majapahit.Cek Ko Po merupakan seorang mantan menteri China. Cek Ban Cun (putra yang sulung) meninggal padausia yang masih muda. Maharaja Majapahit menyuruh Cek Ko Po dan Cucu untuk meredamkanpemberontakan Arya Damar (Jaka Dilah) Adipati Palembang. Setelah berhasil meredamkanpemberontakan Palembang, Cu Cu diberi gelar dengan nama Arya Sumangsang dan dinikahkan denganputri Majapahit. Arya Sumangsang dengan putri Majapahit mempunyai putra yang kemudian disebutsebagai Ki Gede Palembang. Dalam Sejarah Banten juga terdapat nama Kiai Gede (K.G) Bintara(Husein) dan Ki Gede Terung (Hasan). Cerita mengenai K.G. Bintara dan K.G. Terung ini sama denganyang terdapat dalam Babad Tanah Jawi mengenai Jimbun/Fatah (Adipati Bintara) dan Kusen (AdipatiTerung). Dalam Sejarah Banten disebutkan bahwa Maharaja Majapahit memberikan selirnya yaitu putriChina kepada Arya Damar Adipati Palembang. Arya Damar yang dimaksud di sini bukanlah AdipatiPalembang pada pertengahan abad ke-14M melainkan pada masa pertengahan abad ke abad ke-15M. Dariperkawinan putri China dengan Maharaja Majapahit memperoleh putra bernama Husein sedangkan dariArya Damar Adipati Palembang memperoleh putra bernama Hasan. Cerita selanjutnya sama dengan yangterdapat dalam Babad Tanah Jawi. Tetapi perbedaannya adalah setelah K.G. Bintara (Husein) berhasilmenyerang dan menguasai ibukota Majapahit serta berhasil menangkap Arya Sumangsang dan K.GPalembang, Malah K.G.Bintara ingin memberikan kota ini kepada K.G. Palembang. Namun K.G.Palembang menolak tawaran tersebut. Setelah itu K.G. Bintara memberikan daerah Bintara kepada K.G.Palembang. Setelah itu K.G. Palembang bersama ayahnya (Arya Sumangsang) dan keluarganya pindah keBintara. Kemudian K.G. Palembang merubah gelarnya menjadi Pangeran Palembang.dan mendirikanDemak. Sedangkan K.G. Bintara dan K.G.Terung pindah ke timur namun tidak diketahui tujuannya. JadiK.G. Palembang dan K.G. Bintara dalam Sejarah Banten merupakan dua orang yang berbeda. MenurutBabad Tanah Jawi, K.G. Palembang dan Adipati Bintara (Jimbun/Fatah) merupakan satu orang yang
  • 46. sama. Nama Bintara sendiri merupakan nama ibukota dari Demak. Dalam Babad Tanah Jawi sendiridikatakan bahwa Fatah/Jimbun (Adipati Bintara) bergelar Panembahan Jimbun saking Palembang. GelarPanembahan Palembang sendiri sepadan dengan gelar Pangeran Palembang. Lebih tepat dikatakan dalamSejarah Banten bahwa yang menjabat sebagai K.G. Bintara adalah Hasan bukannya Husein karena dalamsejarah Islam, nama cucu Muhammad yang tertua adalah Hasan bukanya Husein. Jadi Husein samadengan Kusen (Adipati Terung). Nama Chinanya adalah Jimbun dan nama Islamnya adalah Hasan.Setelah menyerang Ibukota Majapahit pada tahun 1478M dan mendirikan Masjid Demak pada tahun1481M, Jimbun/Hasan merubah gelarnya dari Adipati menjadi Panembahan. Setelah mendeklarasikankesultanan (Islam) di Jawa pada tahun 1504M dan memperbaiki kembali Masjid Demak pada tahun1507M, Panembahan Jimbun merubah gelarnya menjadi Sultan Alam al Fatah (Pembuka AlamKeislaman di Jawa). Seperti halnya Sutawijaya (Adipati Mataram) mendirikan Masjid Kuta Gede padatahun 1587M dan tidak lama kemudian mendeklarasikan diri menjadi Panembahan Senopati. Ceritamengenai Cek Ko Po dan Cu Cu (Arya Sumangsang) kemungkinan berasal dari abad ke-14M. Dalamsejarah China disebutkan bahwa keruntuhan Dinasti Yuan (Mongol) China terjadi pada tahun 1370M.Kemungkinan Cek Ko Po yang merupakan mantan mentri Mongol tersebut, pindah ke Jawa setelahDinasti Yuan runtuh dan digantikan dengan Dinasti Ming China. Menurut berita China disebutkan bahwapemberontakan Palembang terhadap Majapahit terjadi pada tahun 1377M (13 tahun setelah Gajah Madameninggal). Menurut Pararaton, Arya Damar sendiri menduduki jabatan sebagai Adipati Palembangsekitar tahun 1350M. Pada tahun 1378M inilah kemungkinan Cek Ko Po dan Cucu (Arya Sumangsang)berhasil meredamkan pemberontakan Palembang. Jadi Sejarah Banten, mengkaitkan ceritapemberontakan Palembang tahun 1378M dengan cerita penguasaan ibukota Majapahit olehFatah/Jimbun/Hasan (Adipati Bintara) tahun 1478M (Babad Tanah Jawi). Diceritakan dalam SejarahBanten bahwa Cek Ko Po dan Cu Cu yang berasal dari Munggul (Mongol) datang ke Jawa untuk mencariSyekh Jumadil Qubro. Menurut cerita babad, Jumadil Qubro merupakan ayah dari Sunan Gresik (MalikIbrahim Asmarakandi). Jumadil Qubro dan Sunan Gresik datang ke Jawa pada akhir abad ke-14M.Menurut salah satu sumber, Syekh Jumadil Qubro dimakamkan di Trowulan (Ibukota Majapahit)sedangkan Sunan Gresik dimakamkan di Gresik pada tahun 1419M. Sunan Gresik (Malik IbrahimAsmarakandi) sendiri kemungkinan berasal dari Samarkand Asia tengah yang pada waktu itu dikuasaioleh Dinasti Timur Lenk yang merupakan keturunan Mongol. Menurut Babad Tanah Jawi bahwa adikperempuan dari Sultan Trenggana dari Demak (putri dari Panembahan Jimbun) menikah denganPanembahan Cirebon. Dalam Sejarah Banten disebutkan bahwa Panembahan Cirebon mempunyai putrabernama Hasanuddin. Dengan kata lain Hasanuddin merupakan cucu dari Jimbun/Hasan. Hasanuddindiangkat oleh ayahnya menjadi Adipati Banten. Dalam Sejarah Banten disebutkan bahwa PanembahanHasanuddin menikah dengan putri dari Sultan Trenggana dari Demak. Menurut Babad Tanah Jawi, putridari Sultan Trenggana dari Demak menikah dengan Panembahan Banten. Jadi Panembahan Banten yangdisebut Babad Tanah Jawi adalah Hasanuddin. Pada tahun 1549M terjadi pertempuran dalam merebutkantahta antara Sunan Prawata dari Demak (pengganti Trenggana) dengan Adipati Arya Panangsang dariJipang. Keduanya merupakan saudara sepupu (keduanya merupakan cucu dari Fatah/Jimbun). Peperangantersebut berakibat pada runtuhnya Demak. Sunan Prawata dari Demak berhasil dibunuh oleh AdipatiArya Panangsang dari Jipang. Sedangkan Arya Panangsang berhasil dibunuh oleh Hadiwijaya AdipatiPengging (menantu dari Trenggana). Kemudian Adipati Pengging mendirikan Kesultanan Pajang danbergelar Sultan Hadiwijaya. K.G. Sura yang merupakan keturunan dari Arya Panangsang dari Jipangkemudian melarikan diri ke Palembang dan mendirikan dinasti baru disana. K.G. Sura mendapatkandaerah Palembang karena masih keturunan dari Fatah/Jimbun. Di daerah Palembang terdapat tempat yang
  • 47. bernama Sabakingking. Nama Sabakingking sendiri merupakan nama ayah dari Arya Panangsang AdipatiJipang. Setelah runtuhnya Kesultanan Demak pada tahun 1550M, Panembahan Hasanuddin dari Bantenkemudian memproklamasikan berdirinya Kesultanan Banten pada tahun 1552M. Dalam Sejarah Bantensendiri tidak terlalu senang dengan kehadiran Palembang karena Panembahan Muhammad (cucu dariHasanuddin) meninggal ketika mengadakan serangan ke Palembang pada tahun 1596M. Sejak saat ituBanten berniat membalas dendam kematian Muhammad kepada Palembang. Ditambah lagi Palembangmenjadi bawahan Mataram yang pada waktu itu merupakan ancaman besar bagi Banten sejak tahun1597M. Pada awal abad ke-16M ada dua kekuatan besar di Jawa yaitu Kesultanan Demak yang dipimpinFatah dan Kerajaan Majapahit dipimpin Girindrawardhana. Menurut Naskah Sam Po Kong, pada tahun1517M Jin Bun (Jimbun/Fatah) menyerang Girindrawardhana di Daha karena telah bekerja sama denganPortugise. Pada saat itu Girindrawardhana kalah namun dimaafkan karena dia merupakan adik ipar dariJin Bun (Jimbun/Fatah). Peperangan tersebut bukanlah perang antar agama Islam-Hindu melainkanhegemoni kekuasaan karena dipihak Majapahit ada beberapa bangsawan yang telah memeluk Islam misalPate Vira (Adipati Wira dari Tuban). Menurut Naskah Sam Po Kong, Jin Bun (Jimbun/Fatah) mempunyaiputra bernama Tung Ka Lo (Trenggana) dan Yat Sun (Yunus). Tung Ka Lo mempunyai putra bernamaMuk Ming (Mukmin) dan Toh Abo. Pada tahun 1518M Jin Bun digantikan oleh putranya yaitu Yat Sun(Yunus). Menurut Tome Pires dari Portugise berpendapat bahwa Pate Onuz (Adipati Yunus) merupakanmenantu dari Pate Rodin Sr. (Raden Fatah) dan lebih muda dari Pate Rodin Jr. (Trenggana). Nama“Raden” dalam Bahasa Jawa dieja dalam Bahasa Malayu menjadi “Radin”. Nama Raden merupakan gelarkebangsawan Jawa seperti halnya gelar Dyah, Mpu, Nararrya (Nara-arya). Gelar Raden umumnya barudipakai pada abad ke-15M. Gelar Raden juga terdapat dalam Pararaton (awal abad ke-16M). Tome Pires(1515M) menyebut kakek dari para Adipati Demak, Adipati Tuban, Adipati Surabaya berasal dari orangyang tidak baik, ada yang dikatakan sebagai budak dan perompak. Dapat dipahami bahwa pada waktu ituPortugise sedang bermusuhan dengan orang Islam. Babad Tanah Jawi menyebut Pangeran Sabrang Lor(Yunus) sebagai putra dari Raden Fatah. Portugise mengira Yunus sebagai menantu dari Fatah karenaYunus menjabat sebagai Adipati Jepara bukannya Adipati Demak. Menurut Naskah Sam Po Kong, padatahun 1521M Yat Sun (Yunus) meninggal ketika menyerang Moloksa (Malaka). Menurut Babad TanahJawi, Yunus diberikan gelar anumerta Pangeran Sabrang Lor yang artinya pangeran yang menyebrang keutara (Malaka). Setelah Yat Sun (Yunus) meninggal terjadi perebutan tahta antara Tung Ka Lo(Trenggana) dengan saudara tirinya yang lebih tua yaitu Kikin (Sabakingking). Yang disebut terakhirmerupakan putra dari Jin Bun (Fatah) dengan putri dari Adipati Jipang. Kemudian Kikin dibunuh olehMuk Ming (Mukmin) putra dari Tung Ka Lo (Trenggana) dan akhirnya Tung Ka Lo dapat menjadi SultanDemak. Kikin dalam Babad Tanah Jawi mendapatkan gelar anumerta yaitu Pangeran Seda Ing Lepen(pangeran yang meninggal di sungai). Perebutan tahta di Demak dimanfaatkan Majapahit untukmenyerang sekutu Demak yaitu Giri Kedaton di Gresik. Pada tahun 1527M terjadi peperangan kembaliantara Majapahit dengan Demak yang menyebabkan runtuhnya Majapahit. Diantara bangsawanMajapahit ada yang melarikan diri ke Pasuruan dan Panarukan (Situbondo). Sultan Demak kemudiandapat menguasai Jawa dan Madura. Selain itu Tung Ka Lo (Trenggana) juga melakukan ekspansi ke arahbarat yaitu ke Banten pada tahun 1527M. Tung Ka Lo (Trenggana) mengirim Kin San (Kusen) danpanglima Demak untuk menguasai Cirebon, Banten, dan Sunda Kelapa. Pada tahun 1546M, Tung Ka Lo(Trenggana) digantikan oleh putranya yang bernama Muk Ming (Mukmin/Sunan Prawata). Muk Ming(Mukmin/Sunan Prawata) diserang oleh pasukan Ji Pang (Arya Panangsang Adipati Jipang putra dariKikin) kemudian melarikan diri ke Semarang dan meninggal disana. Penyerangan tersebut menyebabkan
  • 48. Demak menjadi luluh lantak kecuali Masjid Demak. Di dalam Masjid Demak terdapat komplekpemakaman para Sultan Demak. Pasukan Ji Pang (Arya Panangsang Adipati Jipang) dapat dikalahkanoleh pasukan Peng-ging (Hadiwijaya Adipati Pengging menantu dari Trenggana) yang kemudianmendirikan Kesultanan Pajang. Panglima Demak yang ada di Cirebon tidak mau mengakui kekuasaaanPajang dan kemudian mendirikan Kesultanan Cirebon pada tahun 1552M. Menurut berita Portugisedisebutkan bahwa pada tahun 1527M Demak telah berhasil menaklukan Cirebon, Banten, dan SundaKelapa. Menurut Sejarah Banten, Makhdum Jati (Sunan Gunung Jati) pendiri Banten dan Cirebonmerupakan seorang dari Pasai. Menurut berita Portugise, penguasa Banten saat itu adalah seseorang yangberasal dari Pasai dan merupakan adik ipar dari Sultan Demak. Sedangkan menurut Carita PurwakaCaruban Nagari (ditemukan pada akhir abad ke-20M), nama asli Sunan Gunung Jati adalah SyarifHidayatullah yang ayahnya merupakan seorang keturunan Arab. Carita Purwaka Caruban Nagari sendirisezaman dengan Naskah Wangsakerta yang masih disangsikan oleh para sejarahwan. Selain itu dikatakanbahwa Banten merupakan bawahan Demak. Disebutkan bahwa pada tahun 1546M, penguasa Banten danorang Portugise dibawah pimpinan Sultan Demak menyerang benteng Panarukan. Nama Hasanuddin(Sultan pertama Banten) sendiri diambil dari nama kakeknya yaitu Hasan aka Fatah (Sultan pertamaDemak). Menurut Naskah Sam Po Kong alasan panglima Demak tidak mau ke Pajang karena pendudukPajang menganut Islam Syiah. Lebih cocok jika dikatakan bahwa yang berkembang di Jawa pada zamanPajang adalah Islam Sunni mazhab Shafii. Dikarenakan pendiri mazhab ini yaitu Imam Shafii dikenalsangat menghormati dan menjunjung tinggi Ahlu Bait (keluarga dan keturunan Muhammad) sepertihalnya dalam ajaran Islam Syiah. Hal tersebut berbeda dengan Islam Sunni mazhab Hanbali yang tidakterlalu senang dengan Ahlu Bait. Penganut Mazhab Syafii kebanyakan terdapat di Kepulauan Indonesia,Semenajung Malaya (Malaysia), Pattani (Siam Selatan), Mindanao (Filipina Selatan), Coromandel (pantaitimur India), Malabar (pantai barat India), Oman, Yaman, dan pantai timur Afrika. Mazhab Syafiiberkembang melalui pusat perdagangan sedangkan Mazhab Hanafi melalui pusat kekuasaanKekhalifahan. Mazhab Hanafi dianut oleh Khalifah Abbasiyah, Turki, Mughal. Penganut Mazhab Hanafikebanyakan terdapat di Asia Tengah, India, Turki, Iran sebelum berdirinya Dinasti Safawi (awal abad ke-16M). Di Jawa sendiri terdapat sebuah tradisi upacara yang dilakukan setiap tanggal 10 Muharram yaitudengan membuat sebuah bubur Ashura. Tradisi tersebut seperti yang dilakukan oleh penganut Syiahdalam memperingati Hari Ashura (kematian Husein cucu Muhammad). Nama-nama seperti Ma (Muhammad) Ho (Cheng Ho), Ma Huan, Ma Hong Fu, Bong Tak Keng,Bong Swi Ho, Bong Ang, Gan Eng Cu, Gan Eng Wan, Gan Si Cang merupakan marga dari YunnanChina khususnya Orang Hui yang menganut Islam Sunni mazhab Hanafi. Sedangkan Swan Liong (NagaBerlian), Jin Bun (Orang Kuat), Kin San (Gunung Emas) merupakan nama dialek Yunnan. Islam SunniMazhab Hanafi yang ada di Yunnan berasal dari Asia Tengah dimana mayoritas penduduknya menganutaliran tersebut. Nama Malik Ibrahin Asmarakandi (Sunan Gresik) kemungkinan berasal dari wilayahSamarkand Asia Tengah. Pada pertengahan abad ke-13M wilayah Asia Tengah dan Iran pada waktu itudikuasai oleh Dinasti Mongol. Pada akhir abad ke-14M Timur Lenk yang merupakan keturunan Mongolmenguasai wilayah Asia Tengah dan Iran dengan pusat kekuasaan di Samarkand. Timur Lenk sendiriberencana menguasai China namun meninggal dalam perjalanan ke China pada tahun 1405M. SedangkanBabur pendiri Kesultanan Mughal India (abad ke-16M) merupakan keturunan dari Timur Lenk (abad ke-14M). Pendapat Slamet Mulyana mengenai Wali Sanga merupakan keturunan China didasarkan padanaskah Sam Po Kong dan analisis perbandingan dengan Babad Tanah Jawi dan berita Portugise. Dalam
  • 49. naskah itu ada nama-nama yang tercantum seperti yang ada dalam Pararaton misal Wisesa, Suhita,Kertabumi dan juga yang ada dalam Babad Tanah Jawi misal Bintara, Jipang, Pengging, Slamet Mulyanamengenal isi naskah itu dari Onggong Perlindungan dalam bukunya Tuanku Rao dan tidak melihatnyasendiri naskah tersebut. Sedangkan Onggong Perlindungan hanya diberitahu mengenai naskah tersebutdari Resident Poortman yang mendapatkan naskah tersebut dari Kelenteng Sam Po Kong. Penggeledahanyang dilakukan oleh Resident Poortman di kelenteng tersebut bertujuan untuk mencari tahu apakah RadenFatah itu memang keturunan China atau bukan. Sampai saat ini keberadaan naskah tersebut tidakdiketahui dengan baik di Belanda maupun Indonesia. Sejarawan Eropa sendiri meragukan eksistensi dariResident Poortman karena namanya tidak tercantum dalam administrasi Belanda. Menurut Babad Sengkala, Serat Kanda, dan Babad Tanah Jawi pada awalnya Kesultanan Pajanghanya berkuasa di Jawa Tengah karena para Adipati di Jawa Timur tidak mengakui Hadiwijaya sebagaipenerus Demak. Atas prakarsa dari Sunan Giri (Prapen), akhirnya para Adipati di Jawa Timur danMadura kemudian mengakui kedaulatan Sultan Hadiwijaya dari Pajang atas mereka. Sultan Hadiwijayayang nama aslinya adalah Mas Karebet merupakan putra dari Kebo Kenanga dari Pengging. SedangkanKebo Kenanga merupakan putra dari Andayaningrat dari Pengging. Dikatakan Andayaningrat telahberjasa kepada Maharaja Majapahit dalam meredamkan pemberontakan Blambangan sehingga diamendapatkan daerah Pengging. Dalam sebuah versi, Andayaningrat disebut juga dengan nama JakaSengara. Dia dikatakan menikah dengan putri dari Kiai Ageng (K.A) Pengging. Versi lain menyebutkanbahwa Jaka Sengara yang nama aslinya Raden Sahasah menikah dengan putri dari Ki Juru. Dengan katalain Andayaningrat aka Raden Sahasah aka Jaka Sengara merupakan kakek dari Hadiwijaya aka MasKarebet. Sedangkan K.A Pengging yang dimaksud sebagai mertua dari Jaka Sengara (Raden Sahasah)adalah Ki Juru. Nama “Juru” merupakan sebuah nama jabatan setingkat diatas Wedana atau dengan katalain setingkat dengan Bupati. Di Mataram juga terdapat nama jabatan seperti Ki Juru Martani yangmerupakan paman dari Sutawijaya yang bertugas sebagai Patih. Disebutkan bawah Ki Juru merupakanadik dari Mahapatih Mahudara dari Majapahit. Menurut Tome Pires (1515M) yang pernah ke Majapahitmenyebutkan bahwa Pate Udara (Mahapatih Mahudara) merupakan mertua dari Batara Vigaya (BreWijaya). Dengan kata lain Ki Juru masih kerabat dari Be Wijaya dari Majapahit. Tome Pires (1515M)menyebutkan bahwa Adipati Blambangan merupakan keponakan dari Mahapatih Mahudara. Tome Pires(1515M) menyebutkan bahwa orang tua dari Mahapatih Mahudara merupakan seorang petinggi dariMajapahit yang kemungkinan keturunan dari Bre Pajang. Bre Wijaya yang disebut Tome Pireskemungkinan adalah Maharaja Dhiraja Girindrawardhana Dyah Renawijaya (1486M-1527M) dariMajapahit. Menurut Tome Pires, pemerintahan di Dayo (Daha) dikendalikan oleh Mahapatih Mahudara.Menurut Sejarah Banten, Jaka Sengara (Andayaningrat) menikah dengan putri dari seorang petinggi diKedung Lo mungkin seorang kerabat dari Maharaja Majapahit. Menurut cerita-cerita babad disebutkanbahwa Jaka Sengara merupakan perwujudan seekor buaya. Pengertian “buaya” disini mungkin dapatdiartikan sebagai seseorang yang suka bermain dengan banyak wanita. Dari riwayat tentang Jaka Sengaradan Jaka Tingkir yang ada dalam cerita babad memang menunjukkan seperti itu. Dalam Babad TanahJawi disebutkan bahwa ketika terjadi perang antara Demak dan Majapahit, Andayaningrat dari Penggingberpihak kepada Majapahit. Ketika itu Andayaningrat dibunuh oleh Sunan Ngudung yang merupakanpanglima dari Kesultanan Demak. Menurut Naskah Sam Po Kong, perang tersebut terjadi pada tahun1517M. Kebo Kenanga putra Andayaningrat kemudian memeluk agama Islam dan berguru pada SyekhSiti Jenar. Ketika Sultan Demak (Fatah) menganggap ajaran dari Syekh Siti Jenar telah menyimpang dariagama Islam dan dianggap membuat kerusuhan maka Sultan Demak menghukum mati Syekh Siti Jenar.Sedangkan Kebo Kenanga putra Andayaningrat dibunuh oleh Sunan Kudus putra Sunan Ngudung.
  • 50. Kemungkinan peristiwa itu terjadi pada tahun 1518M. Kemungkinan setelah daerah Pengging dikuasai,Sultan Demak kemudian mengangkat seorang Bupati disana. Mas Karebet yang kehilangan kedua orangtuanya, kemudian diangkat anak oleh seorang janda kaya dari Tingkir. K.A. Tingkir sendiri merupakansaudara seperguruan dari K.A. Pengging. Oleh karena itu Mas Karebet terkenal dengan nama JakaTingkir. Setelah dewasa Mas Karebet (Jaka Tingkir) mengabdi kepada Sultan Trenggana dari Demakyang kemudian dijadikan sebagai menantu dan diangkat menjadi Adipati Pengging. Di daerah Penggingini banyak ditemukan barang artefak dan keramik yang berasal dari abad ke-13M sampai abad ke-17Mdan sebuah parit tembok yang terbuat dari batu bata. Pengging dulunya merupakan daerah kekuasaan BrePajang dari Majapahit. Adik perempuan Maharaja Dhiraja Rajasanagara Dyah Hayam Wuruk dariMajapahit yaitu Rajasaduhitaiswari Dyah Nertaja dulunya menjabat sebagai Bre Pajang. Sedangkan putraRajasaduhitaiswari yaitu Wikramawardhana Dyah Wijayawikrama menjabat sebagai Bre Mataram. Padatahun 1546M, Sultan Trenggana dari Demak dibunuh oleh seorang abdinya (putra Adipati Surabaya) dikemahnya ketika dia sedang mengadakan penyerangan dan pengepungan di Panarukan (Situbondo).Adipati Surabaya dan keluarganya kemudian dihukum mati oleh pasukan Demak. Sultan Trenggana dariDemak kemudian digantikan oleh putranya yaitu Mukmin yang bergelar Sunan Prawata. Pada tahun1549M, Kesultanan Demak menjadi runtuh akibat serangan dari Arya Panangsang Adipati Jipang. SunanPrawata kemudian melarikan diri ke Semarang dan meninggal akibat dari adanya serangan terhadapnya.Sunan Prawata dimakamkan di Bukit Brogota (Semarang). Arya Panangsang Adipati Jipang juga berhasilmembunuh Pangeran Kalinyamat (Hadirin) Adipati Jepara. Ratu Kalinyamat yang merupakan istri dariPangeran Kalinyamat sekaligus adik perempuan dari Sunan Prawata, meminta bantuan kepadaHadiwijaya Adipati Pengging untuk membalaskan dendamnya kepada Arya Panangsang. Akhirnya padatahun 1550M, Hadiwijaya mampu mengalahkan Arya Panangsang. Kemudian Hadiwijaya mendirikanKesultanan Pajang dengan pengesahan dari Sunan Giri. Dimana disebutkan bahwa dia menaklukanbanyak daerah (para Adipati) di Jawa. Kesultanan Banjar merupakan bawahan dari Kesultanan Demakdimana para penguasa Demak disebut dengan nama Sultan Alam. Sultan Hadiwijaya dari Pajang memberihadiah kepada para abdinya yaitu K.A. Pamanahan berupa daerah Mataram dan K.A. Penjawi berupadaerah Pati karena telah berjasa dalam mengalahkan Arya Panangsang Adipati Jipang. K.A. Pamanahandan K.A Penjawi berserta ayah mereka yaitu K.A.Ngenis pindah dari Sela ke Pengging untuk mengabdikepada Hadiwijaya ketika dirinya belum lama menjadi Adipati Pengging. Bahkan sejak kecil putra K.APamanahan yang bernama Mas Danang dijadikan sebagai putra angkat oleh Hadiwijaya yang kemudiandiberi nama Sutawijaya yang berarti putra dari Wijaya. Dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa K.A.Ngenis merupakan putra dari K.G. Sela yang berasal dari daerah Grobogan. Di daerah Sela (Grobogan)ini terdapat sebuah sungai yang bernama Sanjaya yang merupakan pendiri dari Kerajaaan MedangMataram (717M). K.G. Sela merupakan putra dari K.G. Getas Pendowo putra dari K.G. Tarub (BondanKejawen). Menurut Sejarah Banten, K.A. Pamanahan disebut juga dengan nama Surubut. Perbedaannyadengan Babad Tanah Jawi adalah K.A. Pamanahan dan K.A. Penjawi merupakan putra dari BondanKejawen. Dalam Sejarah Banten disebutkan bahwa Bondan Kejawen kawin dengan perempuan bangsaJin yang kemudian melahirkan K.A. Pamanahan. Dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa K.A. Tarubmenikah dengan Dewi Bulan (Nawang Wulan) kemudian memperoleh putri bernama Nawangsih. Yangdisebut terakhir ini yang kemudian menikah dengan Bondan Kejawen. Sejarah Banten dengan bernadanegatif menyebut Surubut (K.A.Pamanahan) sebagai seorang budak pembawa sirih untuk Adipati Pajangdan ada juga menyebutnya sebagai seorang perampok. Memang dalam Sejarah Banten sendiri tidakterlalu menyukai kehadiran Mataram karena merupakan ancaman besar bagi Banten. Sejarah Banten
  • 51. sendiri mengakui bahwa Mataram merupakan negara besar dan Banten merupakan negara kecil. MenurutSejarah Banten, K.A. Pamanahan merupakan leluhur orang Pati dan K.A. Panjawi merupakan leluhurorang Mataram. Padahal kenyataan yang sebenarnya adalah kebalikannya. Menurut Babad Tanah Jawi,Bondan Kejawen merupakan putra dari Bre Wijaya dari Majapahit. Maharaja DhirajaWijayaparakramawardhana Dyah Kertawijaya (Bre Wijaya 1) dan Girindrawardhana Dyah Renawijaya(Bre Wijaya terakhir) sebelum naik tahta pada awalnya menjabat sebagai Bre Mataram. KemungkinanBondan Kejawen merupakan keturunan dari Kertawijaya (Bre Wijaya 1) ini. Pada tahun 1583M, K. A.Pamanahan digantikan oleh Sutawijaya yang kemudian diangkat oleh Sultan Hadiwijaya dari Pajangsebagai Adipati Mataram. Tidak berapa lama kemudian, Sutawijaya Adipati Mataram tidak bersediamenghadap kepada Sultan Hadiwijaya dari Pajang sehingga menyebabkan ketegangan diantara keduanya.Bahkan Sutawijaya menghina beberapa utusan dari Sultan Pajang dan menganggap Sultan terlalu seringbermain dengan banyak wanita. Sutawijaya bersedia menghadap Sultan Pajang asalkan tahta putramahkota Pajang belum terisi. Pada tahun 1586M, konflik memuncak ketika ada beberapa bawahan SultanPajang yang membelot dan memihak kepada Mataram. Persoalan tersebut menyebabkan terjadinyapeperangan antara Pajang dengan Mataram. Di pihak Sultan Pajang terdiri dari para Adipati pesisir misalAdipati Demak, Adipati Tuban, Adipati Banten yang semuanya merupakan para menantu Sultan. Saat itujumlah kekuatan antara Pajang dengan Mataram tidaklah sebanding. Pertempuran terjadi di daerahPrambanan. Sebelum bertempur ternyata terjadi bencana alam yaitu meletusnya Gunung Merapi yangmenyebabkan penyerangan Pajang terhadap Mataram dibatalkan. Menurut De Graaf yang merujuk padaCrawfurd menyebutkan bahwa letusan Gunung Merapi tersebut terjadi pada tahun 1586M yang kemudianmenyebabkan awan menjadi gelap selama tiga hari. Dimana letusan tersebut disaksikan oleh para pelayarPortugise. Pada tahun 1584M (saat pengangkatan Sutawijaya sebagai Adipati Mataram) pernah terjadigempa bumi. Setelah gagal menyerang Mataram, Hadiwijaya kembali pulang ke Pajang. Ketika sedangdalam perjalanan pulang, gajah yang sedang ditunggangi Sultan Hadiwijaya menjadi mengamuk danmenyebabkan dia terjatuh. Kemudian dia dibawa dengan tandu oleh para prajurit menuju makam SunanTembayat. Ketika Sultan Pajang hendak berziarah ke makam Sunan Tembayat, ternyata pintu gerbanggapura tidak dapat dibuka oleh dia. Akhirnya juru kunci makam tersebut menyuruh Sultan untuksebaiknya pulang saja ke Pajang. Akibat dari kejadian itu, Sultan Pajang menjadi jatuh sakit. Sutawijayakemudian menjenguk Sultan Pajang yang sedang sakit itu. Dan Sultan Hadiwijaya dari Pajang dapatmemaafkan Sutawijaya karena sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Pada tahun 1586M SultanHadiwijaya meninggal dunia kemudian dimakamkan di Desa Butuh, Boyolali. Terjadi perebutan tahtaantara Pangeran Benawa putra Hadiwijaya dengan Arya Pangiri Adipati Demak putra Mukmin (SunanPrawata). Arya Pangiri Adipati Demak merupakan menantu dari Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Padatahun 1586M dengan bantuan Panembahan Kudus (keturunan Sunan Kudus), Arya Pangiri dapat menjadiSultan Pajang dan Benawa dijadikan sebagai Adipati Jipang. Penempatan Benawa sebagai Adipati Jipangmerupakan taktik dari Arya Pangiri agar Benawa tidak berkutik. Karena daerah Jipang merupakan bekaswilayah musuh Pajang terdahulu yaitu Arya Panangsang sebelum dikalahkan oleh Hadiwijaya. Selain itutaktik Arya Pangiri tersebut bertujuan untuk menjauhkan Benawa Adipati Jipang dengan SutawijayaAdipati Mataram, karena keduanya dapat menjadi sebuah ancaman sebagai pewaris tahta Pajang. Padatahun 1587M terjadi peperangan antara Arya Pangiri dari Pajang dan Demak melawan koalisi BenawaAdipati Jipang dan Sutawijaya Adipati Mataram. Dalam peperangan tersebut Arya Pangiri dapatdikalahkan dan dijadikan sebagai Adipati Demak. Kemudian Benawa menjadi Sultan Pajang tetapi tidakberapa lama kemudian dia turun tahta. Disebutkan ketika Benawa turun tahta, dia pergi ke arah baratsekitar Pemalang. Pada tahun 1587M Sutawijaya Adipati Mataram mengambil alih kekuasaan di Pajang.
  • 52. Kemudian Sutawijaya Adipati Mataram ditasbihkan menjadi Panembahan oleh Sunan Giri dan mengirimadiknya yaitu Gagak Bening untuk menjadi Adipati Pajang. Pada awalnya kekuasaan Mataram hanyameliputi Jawa Tengah karena para Adipati di Jawa Timur dan Madura tidak mengakui kekuasaanPanembahan Senopati (Sutawijaya) sebagai penerus tahta Pajang. Akhirnya Panembahan Senopati dariMataram menaklukan para Adipati di Jawa Timur dan Madura. Menurut Sejarah Banten, kekuasaanMataram mencapai Karawang hingga Blambangan. Daerah Pajajaran (Bogor) dan Pringgalaya (Bandung)juga termasuk di dalamnya. Menurut Sejarah Banten jika tidak ada VOC yang berkuasa di Bataviamungkin Banten akan dikuasai oleh Mataram. Disebutkan bahwa Batavia merupakan benteng terhadapekspansi Mataram. Sejak tahun 1597M Mataram berusaha mengirim armadanya untuk melakukanpenyerangan terhadap Banten. Penyatuan Pulau Jawa juga pernah terjadi pada masa Sanjaya dari MedangMataram (717M-746M). Kejatuhan Jayakarta oleh VOC pada tahun 1619M merupakan kesalahan dariadanya intrik di Banten sendiri. Didahului dengan adanya pemberontakan yang dilakukan oleh parapangeran terhadap Sultan Banten yang kemudian dimanfaatkan oleh VOC. Masyarakat Jawa menyebutOrang Eropa dengan nama Orang Prenggi. Pandangan politik VOC adalah jangan sampai Mataram terlalukuat dan Banten jangan sampai terlalu lemah. Dalam Sejarah Banten sendiri disebutkan bahwa sejaktahun 1597M Banten selalu ketakutan dan siap siaga terhadap segala kemungkinan adanya serangan dariMataram. Dalam budaya Islam di Jawa, peranan para tokoh Sunan Jawa sangatlah penting karena dapatdianggap sebagai Raja-Pandhita. Di dalam budaya Hindu, Sunan dapat disebut sebagai Resi. Para Sunanini mempunyai pengaruh yang kuat terhadap para Adipati di Jawa, tidak hanya sebagai guru spiritualmelainkan juga sebagai tempat pengesahan/pentasbihan seorang Sultan atau Adipati. Para tokoh Sunan inidapat dijadikan sebagai mediator antara rakyat dengan Sultan. Di Jawa tempat seperti Bintara-Demakdapat dianggap sebagai Mekah sedangkan Kadilangu-Demak dianggap sebagai Madinahnya. Ada jugatempat seperti Kudus yang diambil dari kata Al Quds yang berarti Jerussalem. Daerah Pati dianggapsebagai Mesir dan daerah Jepara sebagai Suriah. Daerah seperti Demak, Kudus, Jepara, Pati semuanyaterletak di pesisir Pulau Jawa. Jika tempat suci agama Hindu-Budha di Jawa umumnya terletak di dekatgunung (pedalaman) maka tempat suci agama Islam di Jawa umumnya terletak di dekat pantai (pesisir).Di daerah pedalaman inilah kedudukan Keraton Sultan Jawa berada. Para tokoh Islam ini umumnyaberprofesi tidak hanya sebagai seorang Ulama melainkan juga seorang pedagang maka dari itu daerahpesisirlah (pusat perekonomian) yang dijadikan sebagi tempat menetap dan mengajarkan agama Islam.Keraton Sultan sendiri dapat dianggap sebagai pusat budaya lokal Jawa. Daerah pedalaman dijadikansebagi tempat kedudukan Sultan karena mengacu pada konsep budaya Jawa dimana dinyatakan bahwaSultan haruslah berada pada tempat yang tinggi (gunung). Selain itu daerah pedalaman merupakandaerah yang subur dan tenang yang cocok untuk stabilisasi politik. Gunung dianggap sebagai paku/pasakbumi agar tidak mudah guncang. Daerah pesisir (pantai) dianggap sebagai pusat dinamika ekonomi yangselalu bergejolak yang berorientasi perubahan, Jika daerah pedalaman merupakan pusat stabilitas dankeberlangsungan (continuitas) budaya maka daerah pesisir merupakan pusat dinamika dan perubahan(change) budaya. Daerah pedalaman (gunung) selain sebagai benteng alam agar tidak mudah diserangoleh musuh dari luar juga sebagai tempat pemulihan dan penghimpuanan kekuatan kembali. Walaupundemikian hubungan antara daerah pesisir dengan pedalaman tidaklah begitu bertentangan karena jaraknyatidaklah terlalu berjauhan maka timbulah apa yang dinamakan akulturasi antara budaya Islam denganbudaya Jawa. Selain itu di daerah pedalaman juga terdapat beberapa tempat pengajaran Islam yang berupapesantren (tradisional Islam Jawa).
  • 53. Pada tahun 1488M Malaka mengalami penurunan diakibatkan perpecahan dan perebutan tahta.Pada masa pemerintahan Mahmud Shah cucu dari Mansur Shah dari Malaka, Portugise dapat mengambilalih Malaka pada tahun 1511M. Sebelumnya Goa India jatuh ke tangan Portugise pada tahun 1510M.Mahmud Shah melarikan diri ke Pulau Bintan dan meninggal di Kampar.Riau pada tahun 1528M, anak-anaknya kemudian mendirikan Kesultanan Johor (berdiri pada awal abad ke-16M) dan Kesultanan Perak.Wilayah Kesultanan Johor pada abad ke-16M meliputi Kampar-Riau, Indragiri-Riau, Johor, dan Pahang.Tujuan kedatangan Portugise di Nusantara selain berdagang adalah menyebarkan agama Kristen Katolikdengan mengirimkan missionaries kebanyakan beraliran Jesuit. Pengaruh Portugise ini dapat terlihat diPulau Flores dan Pulau Timor (Nusa Tenggara Timur). Pada tahun 1550M Sultan Johor meminta bantuankepada Ratu Kalinyamat (Adipati Jepara) dalam rangka merebut kembali Malaka dari Portugise. RatuKalinyamat mengirimkan 4.000 pasukan Jawa dengan 40 buah kapal perang untuk menyerang Malaka.Pasukan Jawa kemudian bergabung dengan Persekutuan Malayu (Johor, Pahang, Riau) sehinggagabungan aliansi ini mencapai 200 buah kapal perang dengan 12.000 pasukan. Aliansi ini dapat dihalauoleh Portugise. Pasukan dari persekutuan Malayu ini dapat dipukul mundur sedangkan pasukan Jawadapat bertahan sampai panglimanya tewas barulah kemudian kembali mundur. Pasukan Jawa yangkembali ke Jepara hanya setengahnya saja. Pada tahun 1512M setahun setelah Malaka jatuh, Portugise menyerang Kesultanan Pasai danakhirnya runtuh. Kesultanan Aceh didirikan oleh Ali Mughayat (1522M-1530M) yang kemudiandigantikan oleh Salahuddin (1530M-1539M). Kesultanan Aceh dulunya merupakan bawahan dariKesultanan Pidie (berdiri pada tahun 1470M). Kesultanan Ternate didirikan oleh Zainal Abidin (1486M-1500M) yang kemudian digantikan oleh Bayanullah (1500M-1521M). Pada tahun 1512M yang samapasukan Jawa dibawah pimpinan Adipati Yunus dari Jepara Jawa menyerang Malaka Portugise tapigagal. Pada tahun 1515M Sultan Aceh dengan bantuan dari Jawa dapat merebut kembali Pasai dariPortugise. Pada tahun 1521M Adipati Yunus dari Jepara setelah naik tahta Sultan Demak (1518M)kembali menyerang Malaka Portugise namun meninggal dalam penyerangan itu. Pada tahun 1530Mwilayah Kesultanan Aceh meliputi Aceh, Pidie, Pasai, dan Perlak. Pada tahun 1564M Sultan Acehmeminta bantuan kepada Arya Pangiri (Adipati Demak Jawa) dalam rangka menyerang MalakaPortugise. Karena curiga terhadap utusan dari Aceh itu maka Arya Pangiri kemudian membunuh utusantersebut. Pada tahun 1567M Aceh tetap melancarkan serangan ke Malaka Portugise walaupun tanpabantuan dari pihak Jawa akhirnya pasukan Aceh ini dapat dikalahkan oleh Portugise. Pada tahun 1574MSultan Aceh kembali meminta bantuan ke Jawa kali ini kepada Ratu Kalinyamat (Adipati Jepara Jawa).Ratu Kalinyamat mengirimkan kembali pasukan Jawa untuk menyerang Malaka Portugise dengankekuatan 15.000 pasukan dengan 300 buah kapal perang. Ketika pasukan Jawa (yang datang terlambat)tiba di Malaka ternyata pasukan Aceh sudah dikalahkan Portugise. Akhirnya pasukan Jawa dapat merebutsebelah utara Malaka dan membentuk benteng pertahanan. Portugise kemudian membakar 30 kapalperang Jawa. Kemudian Portugise meminta perjanjian damai dengan pasukan Jawa namun ditolak karenaterlalu menguntungkan Portugise. Setelah perjanjian gagal Portugise menghancurkan 6 buah kapallogistik/perbekalan Jawa yang datang dari Jepara untuk pasukan Jawa di Malaka. Karena pasukan Jawa diMalaka sudah mulai melemah akibat kekurangan logistik akhirnya kembali ke Jepara. Pasukan Jawa yangkembali ke Jepara hanya sepertiga saja. Pengaruh Jawa di Aceh terlihat dari adanya Gampong Jawaseperti tercantum dalam Hikayat raja Aceh (abad ke-17M).berbahasa Malayu Kunodengan Aksara Jawi.Pada tahun 1594M Kesultanan Johor yang dibantu oleh raja dari Panduranga Champa kembali menyerangMalaka Portugise namun kali ini kembali dapat dikalahkan bahkan ibukota Johor dapat dihancurkan olehPortugise. Sultan Khairun (1535M-1570M) dari Ternate pada tahun 1565M meminta bantuan ke Ratu
  • 54. Kalinyamat (Adipati Jepara Jawa) untuk mengusir Portugise dari Kepulauan Maluku. Pangaruh Jawa initerlihat dari adanya perkawinan politik antara Sultan Bayanullah dari Ternate dengan Putri Jawa dimanaibu dari Sultan Khairun berasal dari Jawa dan juga panglima perang pada masa Sultan Baabullah (1570M-1583M) dari Ternate yang bernama Adi Cokro yang bergelar Mumbo Doi Jawa juga berasal dari Jawa.Dimana anak Adi Cokro yang bernama Mandapar yang bergelar Mombu Doi Godong menjadi rajapertama Kerajaan Banggai pada tahun 1600M. Ratu Kalinyamat juga memberikan bantuan militer kepadaKerajaan Hitu dalam menghadapi Portugise di Ambon. Selain Kesultanan Ternate di Maluku Utara jugaterdapat kesultanan antara lain Tidore, Bacan, Jailolo yang berdiri pada awal abad ke-16M. Pada awal abad ke-16M setelah Malaka jatuh ke tangan Portugise, banyak para pedagang yangmengalihkan pelayarannya ke pantai barat Sumatra munculah pelabuhan-pelabuhan baru misalnyaSingkil, Barus, Pariaman, Bengkulu, Lampung. Pada pertengahan abad ke-16M karena adanyapeningkatan perdagangan di pelabuhan-pelabuhan baru tersebut, Sultan Alauddin (1539M-1570M) dariAceh mulai memberikan pengaruhnya ke Singkil dan Barus. Pada tahun 1565M Sultan Alaudin dari Acehmengakui Sultan Sulaiman Agung (1520M-1566M) dari Turki Usmani sebagai Kalifah. Baik SultanUsmani Turki, Shah Safawi Persia, Sultan Mughal India sendiri bergelar Padishah (Kaisar) yaitu Padishahi Rumi (Kaisar i Rumi), Padishah i Farisi, Padishah i Hindi (Kaisar i Hindi). Sultan Alauddin dari Acehmeminta bantuan pasukan dan senjata dari Kesultanan Turki Usmani dalam menghadapi PortugiseMalaka. Pada tahun 1567M Aceh menyerang Portugise Malaka namun dapat digagalkan. Pada tahun1569M Kesultanan Turki Usmani mengirim kapal perangnya yang dipimpim Laksamana Kurtoglu Hizirke Aceh untuk menghadapi Portugise Malaka. Pada tahun 1570M, Aceh menyerang Johor dan berhasilmenangkap Sultan Abdul Jalil 1 dari Johor. Setelah meninggalnya Sultan Alauddin, Aceh mengalamiperebutan tahta dan selama 20 tahun dipimpin oleh para Sultan Asing (bukan dari Aceh). Di pesisir baratSumatra Utara muncul Kesultanan Barus (berdiri pada pertengahan abad ke-16M). Pada KesultananBarus juga terdapat Naskah Barus beraksara Jawi (abad ke-17M) yang berisi silsilah raja Barus. Dalamnaskah tersebut disebutkan banyak pedagang Jawa yang tinggal di sana. Kerajaan Minang Pagaruyungmenjadi kesultanan pada awal abad ke-17M karena mendapatkan pengaruh dari Aceh. SedangkanBengkulu dan Lampung pada pertengahan abad ke-16M menjadi bawahan Kesultanan Jawa. Di pantaitimur Sumatra pada abad ke-16M terjadi persaingan antara kesultanan Aceh dan Johor dalammemperebutkan pengaruhnya pada Kesultanan Haru. Sedangkan Kesultanan Kampar-Riau dan Indragiri-Riau menjadi bawahan Kesultanan Johor. Sedangkan Kesultanan Jambi dan Kesultanan Palembangmenjadi bawahan Kesultanan Jawa. Pendiri Kesultanan Palembang yaitu K.G. Sura (1550M) berasal daribangsawan Kesultanan Demak yang melarikan diri akibat kekacauan politik di Jawa antara peralihanDemak dengan Pajang. K.G.Sura ini merupakan keturunan dari Adipati Arya Panangsang dari Jipang.Pengaruh Jawa ini terlihat dari adanya sastra Jawa-Palembang. Sedangkan di wilayah timur Nusantarapada akhir abad ke-16M Kesultanan Ternate menguasai Buru, Seram dan Ambon. Sultan Ternate denganbantuan dari Jawa dapat mengalahkan Portugise dari Kepulauan Maluku, sehingga Portugise harus pindahke Pulau Flores. Pada awal abad ke-17M perseteruan Aceh dan Johor memuncak ketika Aceh dipimpin SultanIskandar (1607M-1636M) menaklukan pesisir timur Sumatra yaitu Langkat (berdiri pada awal abad ke-17M), Deli (berdiri pada awal abad ke-17M), Asahan (berdiri pada awal abad ke-17M), sedangkan diSemenanjung Malaya yaitu Kedah, Perak, Johor dan Pahang. Pengaruh Aceh di Semenanjung Malayatidak berjalan lama sampai meninggalnya Iskandar Tsani (1641M). Pada tahun 1646M Johor dibantuVOC menyerang dan mengalahkan Aceh dimana sebelumnya Johor dan VOC juga bekerja sama merebut
  • 55. Malaka dari tangan Portugise (1641M). Kekalahan Portugise di Malaka menyebabkan Portugise haruspindah ke Pulau Timor. Melemahnya pengaruh Aceh pada pertengahan abad ke-17M menyebabkanbanyak kerajaan bawahan Aceh di pesisir timur Sumatra Utara yang melepaskan diri yaitu KesultananLangkat, Deli, Asahan sedangkan pengaruh di pesisir barat Sumatra Utara yaitu Singkil dan Barus mulaimenghilang. Kesultanan Deli pada akhir abad ke-17M juga mengalami perpecahan akibat perebutan tahtadan menyebabkan wilayahnya dibagi menjadi dua yaitu Kesultanan Deli dan Kesultanan Serdang. Padatahun 1680sM terjadi pertempuran antara Kesultanan Johor dan Kesultanan Jambi. Dimana KesultananJohor menggunakan Orang Bugis sebagai prajurit bayaran melawan Kesultanan Jambi. Peperangan dipicuoleh persaingan dagang. Peperangan ini dimenangkan oleh Jambi sampai Johor harus memindahkanibukotanya beberapa kali seperti Kota Batu, Seluyut, Tanah Puteh, Batu Sawar and Kota Tinggi namundipihak lain menyebabkan perdagangan Jambi menjadi menurun dan para pedagang mulai mengalihkanperdagangannya di Kesultanan Palembang. Pada awal abad ke-18M perebutan tahta menyebabkan Kesultanan Johor terpecah yaituKesultanan Siak-Riau dan Kesultanan Johor. Dan juga pada waktu yang sama Dinasti Malaka Johordigantikan oleh Dinasti Bendahara Johor. Melemahnya kekuatan Johor menyebabkan Kerajaan bawahanJohor di Riau yang melepaskan diri misal Kesultanan Kampar-Riau dan Kesultanan Indragiri-Riau.Kesultanan Kampar-Riau nantinya ditaklukan oleh Kesultanan Siak-Riau dan namanya diganti menjadiKesultanan Palalawan pada tahun 1811M. Pada awal abad ke-18M melemahnya kekuatan Johor dankonflik politik menyebabkan adanya infiltrasi dari Orang Bugis dan Minang. Dimana Orang Bugismeminta daerah Selangor (berdiri pada pertengahan abad ke-18M) sedangkan Orang Minang memintadaerah Nagari Sambilan (berdiri pada pertengahan abad ke-18M) kepada Sultan Johor. Orang Bugis diJohor mendapatkan Selangor karena telah membantu Sultan Johor ketika terjadi perebutan tahtasedangkan Orang Minang di Johor mendapatkan Nagari Sambilan atas bantuan dari Sultan MinangPagaruyung. Motivasi Orang Minang di Nagari Sambilan dimotivasi oleh kepentingan dagang merekaterganggu jika Kesultanan Johor mengalami kekacauan politik. Kesultanan Minang Pagaruyung menguatkembali setelah pengaruh Kesultanan Aceh memudar pada pertengahan abad ke-17M. Dan juga padawaktu ini Kesultanan Minang Pagaruyung mulai mengadakan kerja sama dalam perdagangan denganVOC. Kesultanan Minang Pagaruyung pada saat itu mulai dibawah pengaruh VOC. Sedangkan Johorpada waktu itu juga dibawah pengaruh VOC. Jika banyak terdapat Orang Bugis di Selangor maka OrangMinang terdapat di Nagari Sambilan. Perebutan tahta di Kesultanan Mataram Jawa juga menyebabkanKesultanan Jambi dan Kesultanan Palembang melepaskan diri. Pada akhir abad ke-17M melemahnyaKesultanan Banten menyebabkan wilayah Bengkulu jatuh ke tangan EIC (Inggris) dan Lampung ketangan VOC (Belanda). Orang Bugis mulai terlibat dalam kekacauan politik pada kesultanan-kesultanan yang ada diNusantara pada akhir abad ke-17M. Dimulai ketika VOC dibantu oleh Kerajaan Gelgel Bali dan OrangBugis untuk menyerang Kesultanan Makassar Goa Tallo dan Portugise di Makassar pada tahun 1670M.Sejak berdirinya Kerajaan Goa-Tallo (awal abad ke-16M) sudah bekerja sama dengan Portugise. Ketikapertama kali Portugise datang ke Makassar mengatakan bahwa Makassar merupakan pelabuhan yangkecil. Kerajaan Goa dan Tallo kemudian menggabungkan diri dan menjadikan Makassar menjadipelabuhan yang besar. Nama Goa sendiri seperti nama Goa Portugise di India. Pada abad ke-18M setelahMakassar jatuh (1670M) ke tangan VOC, banyak Orang Bugis yang menjadi prajurit bayaran dan mulaiterlibat dalam kekacauan politik (perebutan tahta) misal Orang Bugis Luwu pada Kesultanan Johor(1720M), Orang Bugis Wajo pada Kesultanan Mempawah (pertengahan abad ke-18M), Wajo dan Bone
  • 56. umumnya berdiri pada awal abad ke-16M dan menjadi kesultanan pada abad ke-17M akibat pengaruhdari Kesultanan Makassar Goa Tallo. Pada abad ke-16M Bone, Wajo masih dibawah dominasi KerajaanLuwu. Selain Kerajaan Bugis tersebut di Sulawesi ada Kerajaan Buton yang berdiri pada awal abad ke-15M dan menjadi kesultanan pada awal abad ke-16M. Pada akhir abad ke-18M wilayah Pattani dibawah pengaruh Kerajaan Siam. Kerajaan Toungo-Burma (berdiri pada awal abad ke-16M sampai pertengahan abad ke-18M) dapat menaklukan KerajaanPegu-Mon (berdiri pada akhir abad ke-13M) pada tahun 1540M dan Kerajaan Shan (berdiri pada awalabad ke-13M) pada tahun 1544M. Pada tahun 1548M. Kerajaan Toungo-Burma menyerang KerajaanAyuthaya Siam dan menghancurkan ibukotanya pada tahun 1569M. Penyerangan Burma ini dibantu olehKesultanan Pattani (berdiri pada awal abad ke-16M) namun Sultan Muddhafar dari Pattani meninggalpada tahun 1564M di Ayuthaya-Siam. Pada tahun 1576M Khmer-Kamboja menyerang Ayuthaya-Siamnamun dapat dipukul mundur oleh pasukan Siam yang mendapatkan bantuan dari pasukan Burma. Padatahun 1590M Ayuthaya-Siam membebaskan diri dari Burma dan dapat memukul mundur pasukan Burma.Kekuasaan di Ayuthaya-Siam kemudian diambil alih oleh Dinasti Sukhothai (Thai) dari tangan DinastiSupannabhum (Mon). Pada tahun 1632M, 1634M, 1638 Ayuthaya-Siam menyerang Kesultanan Pattaninamun dapat dipukul mundur. Pada tahun 1649M wilayah Pattani dikuasai oleh raja Bahal (1649M-1690M) putra dari raja Sakti (1637M-1649M) dari Kelantan. Sedangkan wilayah Kelantan dikuasai olehraja Loyor (1649M) putra dari raja Sakti dari Kelantan. Pada akhir abad ke-17M wilayah Dinasti Saktimencakup Senggora (Songkla), Pattani, Kelantan, dan Terengganu. Raja Sakti sendiri kemungkinanberasal dari Champa. Pada tahun 1767M Kerajaan Ayuthaya Siam diserang kembali oleh KerajaanKonbaung-Burma (berdiri pada pertengahan abad ke-18M sampai akhir abad ke-19M) dan IbukotaAyuthaya Siam kembali dapat dihancurkan oleh pasukan Burma. Namun pendudukan KerajaanKonbaung-Burma terhadap Siam tidak berlangsung lama, pada tahun 1769M Ayuthaya-Siam dibawahpimpinan Tak Sin dapat memukul mundur pasukan Burma. Tak Sin merupakan gubernur di wilayah Tak(Mon). Pusat kekuasaan Siam kemudian dipindah dari Ayuthaya ke Thonburi oleh Tak Sin. Pada tahun1776M Kerajaan Lanna (Thai) ditaklukan oleh Thonburi-Siam. Pada tahun 1782M kekuasaan Siamdiambil alih oleh Rama 1 dari tangan Tak Sin. Rama 1 merupakan bekas panglima perang Tak Sin dariThonburi. Pusat kekuasaan Siam kemudian dipindah dari Thonburi ke Rattanakosin (Bangkok). Rama Ikemudian mendirikan Dinasti Cakri (Thai). Pada tahun 1785M Kerajaan Konbaung-Burma kembalimenyerang Siam namun dapat dipukul mundur. Kerajaan Konbaung Burma juga menaklukan KesultananArakhan-Rakhin. Pada tahun 1786M Kesultanan Pattani dapat ditaklukan oleh Rama 1 (1782M-1809M)dari Rattanakosin-Siam dan kemudian dijadikan sebagai raja bawahan. Sultan Long Muhammad dariPattani sendiri terbunuh ketika terjadi penyerangan dari Siam. Pada tahun 1791M Kesultanan Pattanidibantu Kerajaan Panduranga Champa memberontak terhadap Siam namun dapat diredamkan. Pada tahun1796M Kerajaan Panduranga Champa sendiri dengan bantuan dari Kesultanan Kelantan (berdiri padaawal abad ke-17M) memberontak terhadap Dai Viet namun dapat diredamkan. Pada abad ke-18M adaketerkaitan dinasti antara Long Bahar (1721M) dari Kelantan, Long Yunus (1721M) dari Pattani dan PoSakti-ray Da Patih/Dhipati (1695M) dari Panduranga Champa. Nama Long sendiri berasal dari Champa.Pada paruh awal abad ke-19 Kamboja menjadi ajang pertempuran antara Siam dengan Dai Viet. Padatahun 1811M, Rama 11 (1809M-1824M) dari Rattanakosin-Siam menyerang Kesultanan Kedah yangmenyebabkan Sultan Kedah melarikan diri untuk meminta bantuan ke Inggris di Pulau Penang. Inggrissendiri mendapatkan Pulau Penang sebagai hadiah dari Sultan Kedah pada tahun 1785M. Perjanjiandamai antara Kedah dengan Siam menyebabkan Kesultanan Kedah harus membagi wilayahnya menjadidua yaitu Kesultanan Kedah dan Kesultanan Perlis (berdiri pada awal abad ke-19M). Pada tahun 1824M
  • 57. Kesultanan Kedah, Kesultanan Kelantan, dan Kesultanan Terengganu (berdiri pada awal abad ke-18M)dijadikan sebagai raja bawahan oleh Kerajaan Siam dengan pengakuan dari Inggris. Dimana sebagaiimbalannya Inggris mendapatkan hak perdagangan di Siam. Tetapi kemudian Kesultanan Kedah,Kelantan dan Terengganu tersebut dibawah pengaruh Inggris sedangkan Kesultanan Pattani dianeksasioleh Kerajaan Siam setelah adanya perjanjian Inggris-Siam pada tahun 1909M. Pada awal abad ke-19M Kesultanan Langkat, Deli, Asahan di Sumatra Utara dibawah pengaruhKesultanan Siak. Nantinya ketika Siak-Riau ditaklukan oleh Hindia Belanda pada pertengahan abad ke-19M, kesultanan-kesultanan di Sumatra Utara tersebut juga jatuh pada pengaruh Hindia Belanda.Kesultanan Johor kembali pecah yaitu Kesultanan Johor dan Kesultanan Lingga (Kepulauan Riau) padatahun 1824M akibat perebutan tahta. Kesultanan Johor dibawah pengaruh Inggris sedangkan KesultananLingga-Riau dibawah pengaruh Hindia Belanda. Pada akhir abad ke-19M Kesultanan Johor kembalipecah menjadi dua yaitu Kesultanan Johor dan Kesultanan Pahang (berdiri pada akhir abad ke-19M). Danjuga pada waktu itu Dinasti Bendahara Johor digantikan oleh Dinasti Temenggung Johor. Ketika Inggrisdan Hindia Belanda mengadakan perjanjian Selat Malaka (1824M) dan perjanjian Brunei (1826M) secaraotomatis wilayah Semenanjung Malaya dan Kalimantan Utara dibawah pengaruh Inggris sedangkanSumatra dan Jawa di bawah pengaruh Hindia Belanda. Wilayah Serawak diberikan oleh KesultananBrunei kepada James Brooke dari Inggris yang kemudian mendirikan Kerajaan Serawak pada tahun1843M dan menjadi wilayah okupasi Inggris. Wilayah Sabah diberikan oleh Kesultanan Brunei kepadaKesultanan Sulu pada pertengahan abad ke-17M kemudian wilayah ini diokupasi oleh Inggris(pertengahan abad ke-19M). Pulau Palawan diberikan oleh Kesultanan Brunei kepada Kesultanan Sulupada awal abad ke-18M kemudian diberikan ke Kesultanan Manguindanao pada tahun 1703M.Kesultanan Manguindanao sendiri nantinya memberikan Pulau Palawan kepada Spanyol pada tahun1705M. Kesultanan Brunei sendiri menguasai Kalimantan Utara dan Pulau Palawan pada akhir abad ke-15M. Selain itu Kesultanan Brunei juga mengadakan kerja sama dengan Kesultanan Demak. Misal SultanBrunei meminta pada Sultan Demak agar didatangkan Orang Jawa untuk mengembangkan sistempertanian di Brunei dengan imbalan akan diberikan sebidang tanah di Brunei. Pada abad ke-19M banyak kesultanan di Nusantara yang dihapuskan oleh pemerintah HindiaBelanda misal Kesultanan Aceh, Kesultanan Pagaruyung, Kesultanan Lingga Riau, KesultananPalembang, Kesultanan Jambi , Kesultanan Banten, Kesultanan Cirebon, Kesultanan Banjar, KesultananGoa Tallo, Kerajaan Mataram Lombok. Sedangkan Kesultanan Langkat, Kesultanan Deli, dan KesultananAsahan di Sumatra Utara; Kesultanan Siak. Kesultanan Palalawan, Kesultanan Indragiri di Riau;Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta di Jawa; Kesultanan Pontianak (pecahan dariKesultanan Mempawah yang berdiri pada akhir abad ke-18M atas pengesahan dari VOC), KesultananKubu (pecahan dari Kesultanan Mempawah yang berdiri pada akhir abad ke-18M atas pengesahan dariVOC), dan Kesultanan Sambas di Kalimantan Barat; Kesultanan Kutai Kartanagara, Kesultanan BerauKesultanan Bulungan di Kalimantan Timur; Kerajaan Bali; Kesultanan Wajo dan Kesultanan Soppeng diSulawesi Selatan; Kesultanan Bima dan Kesultanan Dompu di Sumbawa; Kesultanan Ternate danKesultanan Tidore di Maluku dibawah pengaruh Hindia Belanda. Ketika Kesultanan Aceh dihapuskanoleh Hindia Belanda (1903M), Sultan terakhir Aceh ini dibuang ke Batavia dan tinggal disana denganmendapatkan biaya hidup dari pemerintah Hindia Belanda. Sedangkan ketika Kesultanan Pagaruyungdihapuskan (1835M), Sultan terakhir Pagaruyung dibuang ke Banten. Kesultanan-Kesultanan di SumatraTimur (dari Langkat hingga Siak) runtuh akibat revolusi sosial pada tahun 1946M dan banyak bangsawanKesultanan Malayu disana yang terbunuh.
  • 58. Ada yang berpendapat kata “Jawa” berasal dari bahasa Jawa yaitu “Jawa-wut” yang berartisejenis tanaman padi dimana tanaman ini banyak ditemukan di Pulau Jawa. Dalam bahasa Sansekerta kataYawa (Jawa) memiliki arti sejenis tanaman padi. Nama Yawadwipa tercantum dalam cerita Ramayanakarya Mpu Walmiki pada abad ke-2M. Mpu Walmiki menyebut Kepulauan Indonesia (Nusantara) dengannama Yawa Swetadwipa yang terdiri dari 8 pulau dan salah satunya tertutup oleh es (Papua). Swetadwipa(Nusantara) kemungkinan adalah Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi,Kepulauan Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, dan Papua. Pada zaman itu dalam sejarah Jawa dapatdisebut dengan nama Jawa Kanda. Barisan kepulauan itu kemudian dikenal dengan nama YawaSwetadwipa (abad ke-2M), Dwipantara (Medang, abad ke-8M), Nusantara (Majapahit, abad ke-14M) danIndonesia (abad ke-20M). Kata “Dwipantara” dan “Nusantara” dalam bahasa Sansekerta mempunyai artiyang sama yaitu “Pulau Seberang/Luar”. Kata Dwipantara tercantum dalam kakawin Jawa Kunosedangkan kata Nusantara tercantum dalam Kakawin Negarakertagama (1365M). Pada waktu ituMaharaja Jawa menyebut Pulau Jawa sebagai pusat dari Mandala Dunia. Simbol Surya Majapahit sendirimerupakan sebuah bentuk Mandala. Simbol Surya Majapahit ini juga digunakan pada zaman KesultananDemak dan Kesultanan Mataram Jawa. Benedict Anderson menyebutkan bahwa penguasa Jawamenganggap dirinya sebagai pusat alam dan menaungi alam itu sendiri dilihat dari gelar yang dipakaiseperti Amangku Rat, Paku Buwana, Hamangku Buwana, Mangku Nagara dan Paku Alam seperti halnyayang gelar dipakai Sultan Demak yaitu Alam Akbar. Kata “Paku” berarti “Pasak”, “Lingga”, “Gunung”yang merupakan simbol dari Siwa atau Pusat Jagad. Seperti kata “Sailendra” (zaman Medang),“Girinatha”, “Girisha”, “Giripati”,“Girindra” (zaman Tumapel & Majapahit) yang berarti “PenguasaGunung”. Kata “Amangku” atau “Hamangku” berarti “Memangku”, “Merangkul”, “Memeluk”,“Menaungi”. Sedangkan kata “Rat” dan “Buwana” berarti “Jagad”, “Alam”. Semua elemen tersebutmerupakan simbol Pantheisme dan Monisme Jawa. Orang Arab pada abad ke-14M menamakan barisankepulauan dengan nama Jazirah al Jawa. Orang Arab dan Persia menyebut Jawa dengan nama Jawa alKabir (Jawa Raya). Marcopolo dari Venesia menyebut Jawa dengan nama Java Mayora (Jawa Raya).Sedangkan Sumatra disebut dengan nama Java Minora. Pada tahun 1748M ketika VOC membuat matauang dengan pengesahan dari penguasa Mataram Jawa, dalam mata uang tersebut tertulis kata Jawa alKabir dalam aksara Arab. Mata uang tersebut dinamakan Rupiah Jawa yang digunakan dalamperdagangan dengan Jazirah Arab dan Persia. Sebelumnya pada abad ke-17M Mataram Jawa menyebutmata uangnya dengan nama “Rial” seperti halnya yang digunakan di Jazirah Arab dan Persia. Dalambahasa Arab (abad ke-14M) juga dikenal nama Samathrah (Sumatra), Sholibis (Sulawesi), Sundah(Sunda), semua pulau itu dikenal sebagai Jazirah al Jawa. Orang Tamil menamakan kepulauan ini sebagaiJawar. Pada abad ke-17M Orang Eropa menyebut barisan kepulauan dengan nama India Timur karenaterletak di sebelah timur India misal Inggris menyebutnya sebagai East Indian dengan mendirikan East-Indian Company (EIC) dan Belanda menyebutnya sebagai Oost Indiesche dengan berdirinya VereenigdeOost-Indische Compagnie (VOC). Pada abad ke-20M Orang Eropa menyebutnya dengan namaIndonesian Archipelago. Nama Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh James Richardson Logan(1850M) diambil dari kata India dan nesos (dalam bahasa Yunani berarti pulau). Dan kata Indonesiadipopulerkan oleh Adolf Bastian (1884M). Pribumi yang pertama kali menggunakan kata Indonesiaadalah Suwardi Suryaningrat dengan mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau (1913M). Nama lain dari Jawa misal Yawa (Sansekerta-India), Yawa (Prakit-India), Chawa (Pali-India, Sri Langka), Yawi/Jawi (Arab), Yava/Java (Eropa), Jawa (Kawi, Khmer-Kamboja dan Champa),,dan Shepo/Zhaowa (China), Pulau Jawa disebut dengan Yawadwipa (Sansekerta-India), Yawadi (Prakit-India). Kata “Yawadi” dalam bahasa Yunani dieja menjadi “Labadi-um” (Ptolomeus, 150M). Tanah Jawa
  • 59. disebut dengan Yawa-bhumi atau Bhumi Jawa (Sansekerta India). Kotanya disebut dengan Yawapura(Sansekerta India). Orang China menyebut Jawa dengan nama Chopo/Shepo sejak awal abad ke-5M. KerajaanPanjalu/Kadiri pada tahun 1109M masa pemerintahan Maharaja Bameswara (1104M-1130M) pernahmengirim utusan ke Dinasti Sung China, Orang China pada waktu itu menyebutnya sebagai utusan dariShepo (Jawa). Pada tahun 1127M Dinasti Sung China memindahkan ibukotanya ke arah selatan akibatdikalahan oleh Dinasti Jin China. Pada tahun 1178M Kerajaan Panjalu/Kadiri dalam buku Ling-wai Tai-ta oleh Chou Ku Fei (1178M) disebut dengan nama Shepo (Jawa). Pada masa Kerajaan Kadirimeningkatnya perdagangan dengan China menimbulkan permintaan akan mata uang koin semakinbanyak di Jawa. Sehingga banyak mata uang koin/Kepeng China yang diselundupkan oleh para pedagangChina ke Jawa. Pada waktu itu Kepeng China mulai digunakan dalam perdagangan di Jawa sampai abadke-16M. Pada awal abad ke-12M Kaisar Dinasti Sung China mulai memperketat peredaran mata uangnya.Ma Huan (1414M) menyebutkan bahwa kepeng China dari berbagai dinasti China (Sung, Yuan, Ming)telah digunakan di Jawa. Sejak abad ke-8M di Jawa sudah menggunakan mata uang koin emas dalamperdagangan dibuktikan dengan adanya penemuan mata uang emas di Wonoboyo. Koin tersebut di cetakdengan huruf Kawi (Jawa Kuno) dengan berbagai ukuran (Ka) Kati, (Ta) Tahili, (Ma) Masa, Kupang.Logam emas banyak diambil dari pertambangan di Barus. Hubungan perdagangan antara Jawa denganBarus terjalin dengan sangat baik. Ketika ekspedisi Mongol (akhir abad ke-13M) dan ekspedisi Cheng Ho(awal abad ke-15M) menyebut Kerajaan Tumapel dan Kerajaan Majapahit dengan nama Shepo (Jawa).Setelah ekspedisi Mongol pertama (1293M) gagal dalam menaklukan Jawa maka Kaisar Dinasti YuanChina kembali melancarkan ekspedisi Mongol kedua untuk menaklukan Majapahit pada awal abad ke-14M. Serangan Mongol ke Jawa ini gagal seperti yang diceritakan oleh rahib italia yang bernama Odoricoda Pordonone (1321M) dan berita Dinasti Ming China. Odorico yang pernah berkungjung ke Majapahit,mengatakan bahwa kerajaan ini makmur sekali. Pada tahun 1325M Maharaja Dhiraja Jayanagara dariMajapahit mengirim utusan ke Dinasti Yuan China dalam rangka untuk memperbaiki hubungandiplomatik dengan Mongol. Orang India menyebut Pulau Sumatra dengan nama Swarna-dwipa (Pulau Emas). Dalam bahasaSansekerta, “Tanah Emas” disebut dengan nama “Swarnabhumi”. Nama Swarnadwipa tercantum dalamcerita Ramayana karya Mpu Walmiki pada abad ke-2M. Ptolomeus (150M) menyebut Sumatra denganChersonesos (Pulau Emas). Dalam prasasti Nalanda India disebutkan bahwa Balaputradewa merupakanseorang Maharaja Swarnadwipa (Sumatra) sedangkan kakeknya berasal dari Wangsa SailendraYawabhumi (Jawa), Dengan kata lain, Balaputradewa merupakan pendiri cabang Wangsa Sailendra diSumatra. Dan sejak saat itulah, para penguasa di Sriwijaya memakai gelar Sailendrawangsa. Dalamprasasti Padang Roco (1286M) disebutkan bahwa Kertanagara dari Singosari memberikan hadiah sebuahpatung untuk Tribuwanaraja dari Dharmasraya dimana patung tersebut dikirim dari Yawabhumi (Jawa)ke Swarnabhumi (Sumatra). Dalam prasasti Kubu Rajo (1347M), Adityawarman dari Pagaruyungmenyebut dirinya sebagai Maharaja Swarnadwipa (Sumatra). I Tsing (671M) menyebut Pulau Sumatradengan nama Chin Chou (Pulau Emas). Orang Arab menyebut Pulau Sumatra dengan nama Sarandib.Kata “Sarandib” merupakan ejaan Arab untuk kata “Swarnadwipa”. Kakawin Negarakertagama (1365M)karya Mpu Prapanca menyebut Pulau Sumatra dengan nama Malayu sedangkan Semenanjung Malayadengan Hujung Medini. Nama “Semenanjung Malaya” baru digunakan sejak abad ke-17M oleh OrangEropa sedangkan kata “ Malayu” baru dikenal sejak abad ke-7M. Dalam bahasa Jawa kata “Malayu”mempunyai arti “pelarian” . Berita Dinasti Sung China dan Dinasti Ming China, menyebut Pulau Sumatra
  • 60. dengan nama San Fo Tsi. Sedangkan nama Sumatra baru muncul pada tahun 1017M dimana dalam beritaChina disebutkan bahwa Haji Sumatrabumi telah mengirimkan utusan ke China. Orang Malayu menyebutPulau Sumatra dengan nama Pulau Perca. Orang Minangkabau menyebut Pulau Sumatra dengan namaPulau Andalas. Nama lain dari Pulau Sumatra misal Swarnadwipa (Sansekerta-India), Chersonesis(Yunani), Chin Chou (China), Sarandib (Arab), Malayu (Jawa, Khmer-Kamboja dan Champa), San FoTsi (China), dan Samathrah (Arab), Sumatran (Eropa). Perca, Andalas. Tanah Sumatra disebut denganSwarna-bhumi (Sansekerta India). Kotanya disebut dengan Malayupura (Sansekerta India). Nama Zabaj muncul dalam beberapa buku Arab misal karangan Ibn Hardadzbeh (843M),Sulaiman (851M), Ibn Fakih (902M), dan Abu Zayd (916M). Nama “Zabaj” dalam bahasa Arab (abad ke-9M) mempunyai kesamaan toponim “Jawah” dalam bahasa Arab (abad ke-12). Seperti halnya kata“Sunda” menjadi “Sundah” dan “Sumatra” menjadi “Samatrah”. Menurut sejarawan kata Zabaj berkaitandengan Wangsa Sailendra Jawa. Dalam buku karangan para pujangga Arab tersebut disebutkan bahwaZabaj dipimpin oleh seorang Maharaja yang kaya dan berkuasa. Disebutkan pula bahwa Maharaja Zabaj(Jawa) menguasai Sribuza (Sriwijaya) dan Kalah (Kedah). I Tsing (671M) dan berita Dinasti Tang China,menyebut nama “Sriwijaya” dengan nama “Shih Li Fo Tsi” sedangkan nama “Malayu” dengan nama“Mo lo yu”. Sejarawan Arab yaitu Ibn Masud (947M) yang mengutip berita dari Sulaiman (851M),menyebutkan bahwa Maharaja Zabaj pernah menyerang Khmer-Kamboja. Hal ini diperkuat denganadanya berita Kamboja dalam prasasti Sdok Kak Thom dan berita Champa dalam prasasti Po Nagar yangmenyebutkan bahwa Jawa pernah menyerang mereka pada tahun 775M dan 782M. Penyerangan tersebutkemungkinan dilakukan oleh kakek dari Balaputradewa yang memiliki julukan “Wirawairimathana” dariWangsa Sailendra Yawabhumi (prasasti Nalanda India), “Wairiwarawiramardana” dari Wangsa Sailendra(prasasti Kelurak, 782M), “Sarwwarimawimathana” dari Wangsa Sailendra (prasasti Ligor B), Ketigajulukan tersebut memiliki arti yang sama yaitu “pembunuh musuh-musuh perwira” dan julukan tersebutdipakai oleh kakek dari Balaputradewa yang bernama Dharanindra/Sangramadhanamjaya dari WangsaSailendra Jawa berdasarkan prasasti Kelurak (782M). Maharaja Dharanindra/Sangramadhanamjaya dariWangsa Sailendra Jawa tersebut dapat menguasai Kamboja pada akhir abad ke-8M. Sebelumnya dalamberita China disebutkan bahwa pada tahun 767M daerah Tonkin (Annam) pernah diserang oleh Chopo(Jawa) namun dapat dipukul mundur oleh gubernur China di Tonkin yang bernama Chang Po Yi. Seorangpenjelajah Arab yang bernama Ibnu Batutah (1345M) menyebut penduduk Nusantara sebagai Jazirah alJawa bahkan menyebut Sultan Pasai dengan nama Sultan Jawi. Karena pada waktu Pasai dikuasaiKerajaan Majapahit saat ekpedisi Gajah Mada pada tahun 1340M dan diperkuat dengan adanya prasastiMinye Tujuh (Aceh, 1380M) berbahasa Malayu Kuno dan Jawa Kuno dengan Aksara Jawi dan Kawi.Diperkuat dengan berita dari Hikayat Pasai (abad ke-15M). Sedangkan Ibnu Batutah menyebut PulauJawa dengan “Mul Jawa” yang berarti “Jawa yang asasi” (Mula = asal). Nama “Jawi” juga sudah dikenaldalam buku al Kamil fi al Tarikh (1230M) karangan Ibnu Athir (1160M-1233M). Orang Arab terbiasamenggunakan akhiran/sufiks “i” untuk sebuah nama misal “Arab” menjadi “Arabi”, “Rome” menjadi“Rumi”, “Persia” menjadi “Farisi”, “Sumatra” menjadi “Samatrani”, “Banjar” menjadi “Banjari”,Makassar menjadi “Makassari”, “Barus” menjadi “Fansuri”, “Singkil” menjadi “Singkili”, “Pattani”menjadi “ Fatani”. Para pedagang Arab ini, selain mengenal nama Jawah (Jawa) juga mengenal namaSamatrah (Sumatra), Sundah (Sunda), Sholibis (Sulawesi), Sejak abad ke-16M dalam sastra Malayu yangditemukan di Pulau Sumatra menunjukan bahwa kata Jawi dipakai untuk menyebut bahasa percakapandan tulisannya disebut dengan Aksara Jawi.Sankrit/Sansekerta Swarna-dwipa/Swarna-bhumi Yawa-dwipa/Yawa-bhumi/Yawa-pura
  • 61. Prakrit Yawa-diPali JawakYunani (Ptolomeus) Chersos-nesos Laba-diumKawi (Jawa) Malayupura Jawa-dwipa/Bhumi Jawa/Jawa-puraKhmer-Kamboja Malayu JawaChampa Malayu JawaTamil-India JawaSinhala-Sri Langka ChawaArab Sribuza ZabajArab Samatrah, Samatrani Jawah, Jawi/Yawi, Jawa al Kabir (Jawa Raya)Italia (Marcopolo) Java Minora Java/Yava Mayora (The Great Java)Eropa Sumatra JavaChina Chin Chao Ye TiaoChina Shih Li Fo Tsi/San Fo Tsi Chopo/Shepo/ZhaowaMalayu Perca JawaMinang Andalas JawaJawa NusantaraSansekerta-India DwipantaraArab Jazirah al JawaChina Nan Hai (Austro-nesos/Kepulauan Selatan)Eropa Indian Archipelago, Indonesian Archipelago (Kepulauan Indonesia) Menurut sejarahwan nama Yava (Jawa-red) berasal kata Yavana (Sansekerta) atau Yona (Pali).Kata Yavana diambil dari nama sebuah suku bangsa bernama Yavanas. Bahasa Pali merupakan turunandari bahasa Prakrit. Bahasa Prakit merupakan penyederhanaan dari bahasa Sansekerta/Sankrit. NamaYona merupakan terjemahan Pali untuk kata Ionians. Kata “ Javan” juga terdapat dalam kitab Kejadiandimana disebutkan bahwa Noeh (Nuh) mempunyai putra bernama Javan yang tinggal di Isle of Gentile(Kepulauan Gentile). Nama Gentile sendiri digunakan oleh Orang Yahudi untuk menyebut orang selainYahudi atau daerah diluar negara Israel. Di negara Yordania (Arab) juga terdapat tempat peradaban yangbernama Tall Jawa. Sejarahwan berpendapat bahwa Isle of Gentile berada di Yunani. Nama Isle ofGentile tersebut kemungkinan dapat dipadankan dengan nama Nusantara/Dwipantara (Pulauseberang/luar). Di dalam kitab Kejadian disebutkan bahwa Javan mempunyai beberapa anak yaituElishah, Tarshish, Kittim, dan Dodanim. Keturunan Javan sendiri kemungkinan berkembang di wilayahAustro-nesos (Kepulauan Selatan) atau Nusantara/Dwipantara.Turunan kata Ionians (old Greek : Iawones) misalnya :Egyptians menggunakan kata j-v-n/j-w-nIsrael menggunakan kata JāvānAssyrians menggunakan kata IawanuPersians menggunakan kata Yavanu/YawanuSansekerta Indians menggunakan kata Yavana/YawanaPali India menggunakan YonaArab menggunakan kata Yunani Hal ini dimulai ketika Alexander The Great dari Macedonia mulai melakukan kampanye untukmeluaskan kekuasaannya pada awal abad ke-4SM. Wilayahnya mencakup dari Mesir sampai barat dayaIndia. Di India Alexander mengalahkan Kerajaan Puru. Ketika Alexander meninggal dalam usia yang
  • 62. masih muda kerajaannya dibagi menjadi beberapa wilayah Satrap. Pada awal abad ke-4SM CandraguptaMaurya dari Dinasti Maurya India dengan bantuan raja Himalaya dapat memukul mundur serangan OrangYunani di India dan membuat kesepakatan damai dengan Seleucius dari Yunani. Kerajaan Mauryaberibukota di Pataliputra (Patna). Pada masa pemerintahan Ashoka The Great (275SM-232SM) dariDinasti Maurya yang merupakan cucu Candragupta Maurya untuk pertama kalinya menyatukan seluruhIndia. Ada yang berpendapat bahwa Ashoka merupakan hasil perkawinan campuran antara orang Yunanidengan India. Pada akhir abad ke-2SM Dinasti Maurya runtuh dan digantikan oleh Dinasti Sunga India.Pada masa Ashoka inilah banyak ditemukan prasasti yang beraksara Bhrami yang merupakan induk dariAksara Pallawa. Ashoka juga banyak membangun candi Budha karena dia merupakan penganut Budhayang taat. Yavanas (Greek) beraliansi dengan suku-suku bangsa yaitu Sakas, Pahlavas, Paradas, Kambujas,Parasikas, Hunas, Gandharas, Kiratas, Darunas, Kinaras, Tusharas, Sindhus, Madras, Ramanas,Dasamalikas, Kekeyas, Sukritvahas, Kulatthas, Abhiras, Daradas, Darvas, Chauras, Varvaras, Kasmiras,Pattis, Khasiras, Atreyas, Pulindas, Pulandas, Balhikas, Talavanas, Utrakarnikas, Sivis, Vasatis, Usinaras,Khasas, Dharvabhisaras, Hangsapadas, Samthanas, Surasenas, Venikas, Kukkuras, Rechakas, Trigartas,Madrakas, Chulikas, Tukharas, Parvatas, Samsaptakas, Karnatas, Barbaras, Tamraliptas, Valhikas,Kalingas, Amvashtas, Pisachas, Tanganas, Kolisarpas, Mahisakhas, Mekalas, Lathas, Konwasiras,Saundikas, Braradwajas, Savaras, Kancis, Khasas, Chivukas, Haritas, Kankas, Pathavas, Andras,Pulindas, Paundras, Sinhalas, Dravidas, Keralas dll mulai melakukan penetrasi ke India dan menetapdisana. Terjadilah pertempuran besar antara Aliansi Yavanas dengan Kerajaan Kuru (berbudaya Veda).Aliansi Yavanas kemudian menyerang Saketa, Panchala, Mathura dan Pataliputra (Patna) tetapi dapatdipukul mundur di Pataliputra oleh Satakarni (143SM-87SM) dari Satawahana India (berbudaya Veda)yang sebelumnya mengalahkan Dinasti Sunga di Pataliputra (Patna). Dinasti Sunga digantikan olehDinasti Kanwa (berdiri pada akhir abad ke-1SM sampai awal abad ke 1SM). Kerajaan Satawahana(berdiri pada awal abad ke-3SM) dulunya merupakan bawahan dari Dinasti Maurya India. AliansiYavanas juga dibantu oleh Kerajaan Kelingga India. Aliansi itu diasosiasikan dengan pihak Kurawa. Aliansi itu menempati wilayah Barat India (Gujarat, Rajastan, Madya Pradesh, Maharastha) danmendirikan kerajaan-kerajaan baru termasuk Satrap. Kata “Satrap” memepunyai arti yang sama dengannama “Ksatria”. Aliansi suku bangsa itu termasuk dalam Indo-Iranian yang merupakan Sub Indo-Eropa.Kitab Purana menggambarkan mereka sebagai bangsa barbar (Mlechas). Kitab Purana juga mengakuibangsa ini mempunyai pengetahuan yang luas terutama dalam astronomi dan sains, mempunyai banyakkeahlian terutama dalam seni berperang dan membuat senjata serta juga pandai dalam berdagang. KitabPurana menyebut bangsa ini berasal dari kasta Ksatria dan Waisya. Bangsa yang dikutuk karena sukaberperang yang akan terdegradasi menjadi Sudra karena tidak mau menjalani kode Brahmana. Ada yangberpendapat bahwa kata Ionian berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Ayonija yang berarti seseorang yanglahir bukan dari rahim manusia atau seseorang yang berasal diluar kewajaran. Hal ini diasosiasikandengan kelahiran Kurawa. Pada abad ke-1SM terjadi akulturasi antara aliansi Yavanas dengankebudayaan Veda. Yavanas, Kambujas, Pahlavas, Sakas, Paradas dikenal sebagai Panca-Ganah (Gerombolan Lima)atau Kshatriya-pungava (Ksatria Punggawa) berdasarkan pada Kitab Purana. Selain itu mereka jugadikenal karena ahli berdagang dan aktif dalam proses Sansekertanisasi di India Selatan (Pallawa).Agastya (abad ke-2M) tokoh yang dikenal sebagai orang yang menyebarkan budaya Veda ke India
  • 63. Selatan (Pallawa) berasal dari golongan Panca Ganah. Agastya kemungkinan berasal dari KerajaanWestern Satrap (Sakas). Maharesi Agastya merupakan tokoh yang seringkali dipuja di Jawa. Pada abadke-1M aliansi ini sudah mempunyai jalur perdagangan laut dari India ke China. Menurut sejarahwan Kerajaan Pallava (Pallawa-red) di pantai timur India Selatan berasal dariPahlavas. Hal itu didasarkan pada kitab Purana dan Mahabarata. Menurut P. Carnegy, Pahlava adalahorang yang berbicara dengan menggunakan bahasa Pahluvi atau Pehlevi yang merupakan bahasaParthian. Buhler juga berpendapat dengan nada yang sama bahwa Pahlava adalah bentuk Indic dariParthava yang berarti Parthian. Parthian sendiri merupakan suku bangsa Indo-Aryas. Menurut Sejarawanorang-orang dari aliansi inilah yang menemukan jalur perdagangan laut dari India ke Asia Tenggara danChina. Berdasarkan mitologi orang-orang Funan, Kamboja, Jawa ada kaitan antara asal-usul merekadengan orang-orang Yavanas, Kambujas, Pahlavas, Sakas, dan Paradas. Kata Kamboja merupakanturunan dari bahasa Sansekerta Kambuja pronunsiasinya Kom-Bu-Ja. Kambujas sendiri merupakan sukuIndo-Persian yang masih ada sampai sekarang di India Utara dan Pakistan. Beberapa sejahrawan seperti J.Fergusson, B. R. Chatterjee, Buddha Prakash, dan lainnya menerima hubungan sejarah kuno, politik,dan budaya antara Kambuja India dengan Khmer-Kamboja. Hal ini berkaitan dengan pencampuran darahantara antara kedua kebudayaan. Aliansi ini (Yavanas, Kambujas, Sakas, Pahlavas, Paradas)menyebarkan budaya Veda ke Kepulauan Asia tenggara.. Selain mengembangkan pengaruh kekuasaannya di India, Orang Yunani juga membawa kesenianterutama kesenian arca dan relief. Di wilayah Gandhara (abad ke-3SM) kesenian Helenistic berlangsungdengan pesat, sehingga lahirlah kesenian Yunani sebagai ukuran keindahan.seni Gandhara terutamadikenal karena mengembangkan kesenian Budha. Kesenian inilah yang pertama kali melukiskan tokohBudha sendiri (abad ke-2SM). Sebelum itu tokoh Budha hanya digambarkan dengan berbagai lambangmisal cakra, tapak kaki dan petarana kosong. Kesenian Mathura yang berkembang agak lebih muda dariGandhara, banyak terpengaruh pula oleh kesenian Gandhara terutama dalam penggambaran arca Budhadan Bodhisattva. Kelenturan plastis yang dikembangkan oleh seni arca Mathura sebenarnya memperolehpengaruh dari seni Gandhara, karena sejak abad ke-1SM, kesenian Gandhara masih menjadi acuanpengembangan kesenian Mathura. Pada awalnya seni arca Maurya (abad ke-3SM) digambarkan dalamwujud yang serba besar dan bersifat statis setelah mendapat anasir seni arca Archaemid dan Hellas, makabentuk arca Maurya mengarah pada bentuk yang halus dan bersifat plastis. Kesenian klasik Indiamemuncak pada zaman Gupta di Pataliputra (abad ke-3M sampai abad ke-6M) merupakanpengembangan dan perpaduan lebih lanjut antara seni arca Gandhara dengan Mathura. Jadi secara tidaklangsung kesenian Gupta juga menyimpan pengaruh seni arca Gandhara. Sebagaimana telah diketahuiOrang India membawa pengaruh kesenian arca di Pulau Jawa. Dengan demikian dari seni arca Gupta,Mathura, dan Gandhara yang Hellenistik juga memasuki dan mempengaruhi seni arca dan relief candi diPulau Jawa. Bentuk arca pada candi di Jawa selain mendapatkan pengaruh India juga terdapat unsur-unsur lokal dalam pembuatan arca misal dalam seni arca Jawa seringkali menampilkan tokoh arca denganmemakai keris dimana pada seni arca India tidak memilikinya. Bentuk karakter wayang Jawa jugadiambil dari seni relief candi di Jawa Timur misal candi Panataran. Ketika seorang Maharaja Jawa yangberagama Hindu ataupun Budha meninggal maka jasadnya akan dibakar dan abunya akan disimpan ataudibuang ke laut. Abu hasil pembakaran tersebut akan disimpan dalam sebuah candi pendharmaan yangkhusus dibuat untuk Maharaja tersebut. Dan untuk menandakan candi tersebut milik Maharaja yangmeninggal maka dibuatlah sebuah arca yang menunjukkan sifat Maharaja tersebut baik itu berupa simboldewa ataupun dengan nama aslinya. Jadi peranan candi bukan saja sebagai tempat ibadah melainkan juga
  • 64. sebagai tempat penyimpanan abu jenasah. Pada zaman Islam seorang Sultan Jawa yang meninggal akandimakamkan pada tempat yang khusus atau yang dianggap suci biasanya terletak di bukit misal AstanaImogiri, Astana Mangandeg, dan Astana Girilayu. Untuk menandakan makam Maharaja tersebut makadibuatlah sebuah nisan bukan lagi sebuah arca.Ekspansi Kerajaan Jawa dari abad ke-8M sampai 17M  Pada zaman Medang (abad ke-8M sampai awal abad ke-10M) saat ekspansi Maharaja Dharanindra/Sangramadhanamjaya. Ia dapat menaklukan Sriwijaya dan menyerang Kerajaan Kamboja dan Champa pada akhir abad ke-8M berdasarkan prasasti Ligor B, prasasti Kak Thom (Kamboja), dan prasasti Po Ngar (Champa). Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung (898M- 910M) melakukan ekspansi ke arah timur misal ke Kerajaan Bali (berdiri pada awal abad ke-9M). Pengaruh Medang bahkan sampai di Pulau Luzon (Filipina) dengan ditemukannya prasasti Laguna (900M). Pada zaman Medang Timur (abad ke-10M) saat ekspansi Maharaja Dharmawangsa Teguh (985M-1016M). Menurut berita China ia melakukan ekspedisi dengan menyerang Kerajaan Sriwijaya dua kali tetapi serangan ini gagal. Selain itu Dharmawangsa juga melakukan ekspansi ke timur Nusantara. Sri Jayabupati dari Kerajaan Galuh sendiri mengeluarkan prasasti Cibadak (Sukabumi, abad ke-11M) yang menggunakan Bahasa Jawa Kuno dengan Aksara Kawi. Ada pendapat yang mengatakan prasasti itu membuktikan ada pengaruh Airlangga menantu dari Dharmawangsa dari Kerajaan Medang terhadap Kerajaan Galuh. Gelar yang dipakai Sri Jayabupati mirip dengan dipakai oleh para Maharaja Jawa pada waktu itu. Dan juga julukan Sri Jayabupati seperti yang dipakai oleh Airlangga yaitu Wisnumurti. Selain prasasti Cibadak ada juga prasasti menggunakan Bahasa Jawa Kuno di daerah Pasundan yaitu prasasti Mandiwungan (Ciamis, abad ke-11M). Pada tahun 1025M Airlangga menyatukan Kerajaan Medang Kembali setelah terjadinya Mahapralaya (1016M) yang menyebabkan perpeecahan dengan mengalahkan para raja bawahan Medang.  Pada zaman Panjalu (abad ke-12 sampai awal abad ke-13M) saat ekspansi Maharaja Jayabaya (1135M-1159M). Menurut berita China (1178 M) Kerajaan ini menguasai wilayah timur Nusantara misal Pai-hua-yuan, Ma-tung, Jung-ya-luh, Ta-pen, Ta-kang, Tan-jung-wu-lo, Ma-li, Ping-yai, Ku-lun, Ti-wu, Wu-nu-ku, Huang-ma-chu, Hi-ning, Jeng-gi. Berita China berjudul Ling wai tai ta karya Chou Ku-fei tahun 1178M tersebut juga menyebutkan bahwa pada masa itu negeri yang paling kaya selain China secara berurutan adalah Arab, Jawa, dan Sumatra. Saat itu yang berkuasa di Arab adalah Abbasiyah, di Jawa ada Kerajaan Panjalu.  Pada zaman Tumapel (abad ke-13M) saat ekspansi Maharaja Dhiraja Kertanagara (1272M- 1292M) dengan mengadakan ekspedisi Pamalayu (1275M). Saat itu penguasa Pulau Sumatra adalah Kerajaan Malayu (Dharmasraya). Kerajaan ini akhirnya tunduk dengan ditemukannya bukti prasasti Padang Roco (1286M) berbahasa Sansekerta dengan Aksara Kawi dan Arca Amoghapasa yang dikirim Kertanagara untuk Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa. Dalam prasasti itu Srimat bergelar Maharaja sedangkan Kertanagara bergelar Maharaja Dhiraja. Tumapel juga menaklukan wilayah misal Sunda, Pahang di Semenanjung Malaya, Bakulapura (Tanjungpura) di Kalimantan Barat, Bali dan Gurun dll. Ketika ekspedisi Pamalayu ada seorang panglima dari Tumapel yang bernama Indrawarman yang mendirikan Kerajaan Silo Simalungun. Indrawarman sendiri tidak mengakui Majapahit sebagai penerus Tumapel. Kerajaan Silo
  • 65. Simalungun ini hancur ketika ekspedisi Gajah Mada dari Majapahit dan raja Indrawarman sendiri terbunuh ketika serangan tersebut. Anak-anak dari Indrawarman kemudian pindah ke Pematang Siantar dan Toba kemudian mendirikan Kerajaan baru disana. Di Simalungun sendiri terdapat daerah bernama Tanah Jawa. Pada tahun 1289M Tumapel kedatangan utusan dari Mongol dan meminta Kartanagara untuk tunduk pada Kaisar Dinasti Yuan China namun permintaan ini ditolak. Maharaja Dhiraja Kertanagara juga beraliansi dengan Kerajaan Champa dalam menghadapi ekspansi Mongol ini. Dinasti Yuan China telah menundukkan Kerajaan Pagan- Burma, Kerajaan Dai Viet, Kerajaan Champa, Kerajaan Khmer-Kamboja, dan Kerajaan Lavo- Mon untuk membayar upeti. Pada zaman Majapahit (Abad ke-14M sampai abad ke-15M) saat ekspansi Mahapatih Gajah Mada (1335M-1364M) untuk menyatukan Nusantara. Saat itu hanya satu Kerajaan yang belum takluk yaitu Kerajaan Galuh. Oleh karena itu untuk menaklukan Kerajaan Galuh diadakannya perkawinan politik dimana Maharaja Hayam Wuruk (1350M-1389M) meminta pada raja Linggabhuwana dari Galuh agar menyerahkan putrinya Dyah Pitaloka untuk dijadikan istri. raja Linggabhuwana bersedia asalkan anaknya dijadikan permaisuri agar kelak cucunya dapat mewarisi tahta. Tetapi usul ini ditolak oleh Gajah Mada kemungkinan karena Hayam Wuruk telah mempunyai seorang permaisuri dan menganggap bahwa hal ini merupakan serahan sebagai bukti ketertundukan raja Linggabhuwana dari Galuh terhadap Majapahit seperti Maharani Tribhuwanaraja dari Dharmasraya terhadap Tumapel. Ekspansi Gajah Mada dimotivasi ambisinya agar Majapahit seperti Tumapel. Karena hal inilah terjadi kesalahpahaman dan menimbulkan perang bubat (1357M) berdasarkan Carita Parahyangan (akhir abad ke-16M) berbahasa Sunda dengan Aksara Sunda Kuno dan Kidung Sunda berbahasa Jawa dengan Aksara Kawi (awal abad ke-16M). Kerajaan Galuh akhirnya mengakui kekuasaan Majapahit sampai akhir abad ke-15M. Setelah berhasil menyatukan Nusantara, Gajah Mada melakukan moksa di Madakaripura (Pasuruan) tahun 1365M. Bukti Kekuasaan Majapahit antara lain prasasti Minye Tujuh (Aceh, 1380M) berbahasa Malayu Kuno dan Jawa Kuno dengan Aksara Jawi dan Kawi, prasasti Terengganu (Trengganu, 1386M) berbahasa Malayu Kuno dengan Aksara Jawi, serta Hikayat raja Pasai (akhir abad ke-14M) berbahasa Malayu Kunodengan Aksara Jawi yang menceritakan penyerangan dari Majapahit. Pengaruh Majapahit di Sulawesi terlihat dari adanya gelar Batara yang digunakan oleh pendiri kerajaan pada Kerajaan Luwu dan Kerajaan Buton. Gelar “Batara i” berarti “Penguasa di” dimana di Majapahit disingkat menjadi “Bre”. Dalam La Galigo (berbahasa Bugis dengan Aksara Lontara, abad ke-18M) pendiri Kerajaan Luwu adalah La Tagelangi/Batara Guru (gelar bercorak Hindu). I La Galigo juga menyebutkan adanya Kerajaan Senrijawa (Sri Jawa) yang kemungkinan asal dari Batara Guru pada awal abad ke-15M. La Tagelangi kemudian digantikan anaknya yang bernama La Tialeng/Batara Lattu. Pada masa La Madukelleng/Sawarigading putra Batara Lattu pernah singgah ke beberapa tempat misal Taranate (Ternate), Gima (Bima), Jawa, Sunra (Sunda) dan Malaka kemungkinan pada pertengahan abad ke-15M. Dan La Galigo putra La Madukelleng juga melakukan perjalanan yang sama seperti ayahnya terdahulu. Dikatakan bahwa La Tagelangi, La Tialeng, La Madukelleng, La Galigo tidak berkedudukan di Luwu (dengan kata lain suka mengembara) dan tidak diketahui tempatnya sedangkan raja pertama yang berkedudukan di Luwu adalah anak dari La Galigo kemungkinan pada awal abad ke-16M. Di Kerajaan Buton diperintah oleh raja yang bergelar Batara Guru, Tuarade dan Rajamulae. Pada masa pemerintahan raja Buton ke-4 yaitu Tuarade pernah berkunjung (sowan) ke Majapahit. Dan pada masa raja Buton ke-5 yaitu Rajamulae
  • 66. kedatangan bangsawan Jawa dari Majapahit kemungkinan pada akhir abad ke-15M saat diserang Demak. Pada awal abad ke-16M pada saat pemerintahan raja Buton ke-6 yaitu putra Rajamulae berpindah agama ke Islam dan bergelar Sultan Murhum. Pengaruh Majapahit di Bali terlihat dari adanya Kerajaan Gelgel dimana pendirinya bernama Kresna Kepakisan berasal dari Majapahit. Pengaruh Majapahit di Bima Sumbawa juga terlihat dari adanya istilah raja Ngampo Jawa. Di Sumbawa juga terdapat prasasti tentang Majapahit. Di Temasek/Singhapura juga terdapat prasasti tentang Majapahit. Ketika Majapahit runtuh ada bangsawan yang melarikan diri ke Sambas dan kemudian mendirikan Kerajaan Sambas. Dalam Negarakertagama (1365M). Majapahit mempunyai hubungan diplomatik dengan kerajaan di wilayah Desantara yaitu Dharmanagari (Nagara Dharmaraja/Nakhon Thammarat), Rajapura (Rajapuri/Ratchaburi), Ayodyapura (Ayutthaya), Kamboja, Champa, Marutma (Martaban), Singhanagari, dan Syangka (Sri Langka). Kerajaan di wilayah Dwipantara yaitu China dan India. Kerajaan yang disebut Mitreka Satata (yaitu Negara Sahabat) yaitu Yawana (Persia-Asia Tengah). Wilayah kekuasaan Majapahit dicatat dalam buku Tao I Chih Lueh (1349M) karya Wang Ta Yuan. Pada zaman Demak (1500M-1549M) saat ekspansi Sultan Trenggana (1521M-1546M). Pada awal abad ke-16M Kesultanan Demak mengirimkan armada perangnya ke Cirebon untuk menjaga daerah tersebut dari serangan Pajajaran. Untuk menghadapi ancaman penyerangan dari Kesultanan Demak maka Pajajaran mengadakan perjanjian dengan Portugise (1522M) agar mendapatkan bantuan militer. Untuk memperlemah Pajajaran, Kesultanan Demak menaklukan daerah pesisir Pajajaran yaitu Cirebon (1526M), Banten (1526M) dan Sunda Kelapa (1527M) yang kemudian namanya dirubah menjadi Jayakarta. Penguasaan daerah tersebut oleh Demak menyebabkan banyak penduduk Jawa yang menetap di Cirebon, Banten, dan Jayakarta yang kemudian melahirkan sastra Jawa-Cirebon dan Jawa-Banten misal Babad Banten (akhir abad ke- 19M) berbahasa Jawa dengan Aksara Pegon dan Babad Cirebon. Pada tahun 1535M Kesultanan Demak menyerang Pajajaran yang berakhir dengan adanya perjanjian damai. Setelah Kesultanan Demak runtuh maka Banten (1551M-1811M) dan Cirebon (1551M-1906M) memisahkan diri dari Kesultanan Demak dan mendirikan kesultanan sendiri. Kerajaan Pajajaran runtuh akibat serangan dari Kesultanan Banten pada tahun 1567M dan 1579M. Pengaruh Jawa di pesisir Sunda terlihat dari adanya Bahasa Jawa-Banten dan Bahasa Jawa-Cirebon. Kesultanan Demak juga mendirikan Kesultanan Banjar dan Kesultanan Pasir di Kalimantan pada awal abad ke-16M. Pada zaman Pajang (1550M-1587M) pernah terjadi pertempuran antara Sultan ke-3 Banten yaitu Muhammad dengan Adipati Jepara. Dimana Adipati Jepara merasa berhak atas tahta karena ia adalah adik dari Sultan ke-2 Banten Yusuf dan Sultan Muhammad putra Yusuf masih terlalu kecil untuk menerima tahta. Serangan Adipati Jepara ini digagalkan oleh pihak Banten (1580M). Sebelumnya Adipati Jepara pada masa Ratu Kalinyamat juga pernah menyerang Malaka tahun 1550M dan 1574M. Orang Portugise menyebut Ratu Kalinyamat sebagai “Rainha de Jepara, senhora paderosa e rica, de kranige dame” yang berarti Ratu Jepara seorang wanita yang kaya dan berkuasa, seorang wanita yang pemberani”. Adipati Tuban dibantu Adipati Surabaya juga pernah menyerang Kesultanan Banjar. Kesultanan Banjar berdiri pada awal abad ke-16M.atas bantuan Kesultanan Demak Jawa. Setelah Demak runtuh Banjar memisahkan diri. Adipati Gresik (Giri) juga menaklukan Lombok dan Sumbawa pada akhir abad ke-16M. Pada zaman Kesultanan Pajang (1550M-1587M) inilah para Adipati Pesisir Jawa mempunyai kekuatan dan kekuasaan yang cukup besar misal Adipati Jepara, Adipati Tuban, Adipati Surabaya, dan Adipati Madura.
  • 67. Menurut De Cauto dari Portugie disebutkan bahwa Banten termasuk dalam kekuasaan Pajang. Ketika terjadi Perang antara Pajang dengan Mataram pada tahun 1586M, Adipati Demak, Adipati Tuban, Adipati Banten bertempur pada dipihak Sultan Pajang. Pada zaman Mataram Jawa (1587M-1755M) saat ekspansi Sultan Agung (1613M-1645M). Ia gagal merebut Batavia dari VOC (1627M dan 1629 M) dalam upaya menyatukan Pulau Jawa walaupun telah menaklukan Kesultanan Cirebon bahkan sampai Pakuan (Bogor). Penyerangan ke Batavia dilakukan dibawah pimpinan para Bupati pesisir Jawa misal Bahureksa dari Kendal, Upasanta dari Batang, Mandurareja dari Pekalongan juga dibantu Adipati Cirebon, Adipati Sumedang, dan Adipati Galuh. Pembuatan kapal perang dan perencanaannya dilakukan di Semarang. Ketika pasukan Jawa gagal merebut Batavia, banyak dari mereka yang kemudian menetap di pesisir Pasundan yaitu Karawang dan Subang dikarenakan jika mereka kembali lagi ke Mataram Jawa, mereka akan dihukum mati oleh Sultan Agung. Kekalahan peperangan itu menyebabkan Sultan Agung menghukum mati Adipati Ukur dari Sumedang. Sultan Agung juga melakukan Ekspansi ke utara dan diantara ke Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan dan Kesultanan Sukadana di Kalimantan Barat. Kesultanan Banjar merupakan penerus dari Kerajaan Dipa (abad ke-14M) dimana pada waktu itu menjadi bagian Majapahit dan dipimpin oleh seorang pangeran Majapahit bernama Suryanata. Kerajaan Dipa merupakan penerus dari Kerajaan Kuripan (berdiri abad ke-12M). Nama Kuripan sendiri kemungkinan berasal dari Jawa. Dimana pada abad ke-12M menurut berita China Kerajaan Jawa menguasai wilayah timur Nusantara. Bukti keberadaan Kerajaan Kuripan adalah candi Agung beraliran Hindu yang dibuat ada abad ke-12M. Sedangkan Kesultanan Sukadana (abad ke-16M) merupakan penerus dari Kerajaan Tanjung Pura dimana pada abad ke-14M menjadi bagian Majapahit dan dipimpin oleh seorang yang bergelar Bre Tanjung Pura (prasasti Wingun Pitu, 1447M). Pada abad ke-13M Tanjungpura atau Bakulapura menjadi bagian wilayah Kerajaan Tumapel. Pada abad ke-12M dam berita China Chu-fan-chi disebutkan bahwa Kerajaan Tanjungpura merupakan bagian wilayah dari Kerajaan Panjalu. Bukti keberadaan Kerajaan Tanjung Pura adalah candi Tanjungpura bercorak Hindu yang dibuat pada abad ke-14M. Sultan Agung juga beraliansi dengan Kesultanan Goa Tallo Makassar dalam upaya membendung pengaruh VOC. Kesultanan Goa Tallo Makassar dengan bantuan pasukan Jawa menyerang Kerajaan Bima di Sumbawa. Kerajaan Goa Tallo sendiri berdiri pada awal abad ke-16M dan menjadi kesultanan pada awal abad ke-17M. Pada awal abad ke-17M Kerajaan Bima menjadi kesultanan akibat pengaruh Kesultanan Goa Tallo Makassar sedangkan Kerajaan Dompu menjadi Kesultanan akibat pengaruh dari Jawa. Pengaruh Kesultanan Goa Tallo Makassar di Kesultanan Bima berkurang pada akhir abad ke-17M setelah Makassar jatuh ke tangan VOC pada tahun 1670M. Selain melakukan ekspansi Sultan Agung juga membuat penanggalan sendiri yang dinamakan Kalender Jawa untuk menggantikan Kalender Saka. Tahun dasar penanggalan ini adalah 1633 Masehi atau 1555 Saka. Perbedaan Kalender Jawa dengan Kalender Saka adalah jika Kalender Saka memakai dasar peredaran matahari (Solar/Syamsiah) maka Kalender Jawa memakai dasar peredaran bulan (Lunar/Qomariah). Tujuan pembuatan Kalender Jawa ini adalah untuk menyelaraskan dengan Kalender Hijriah supaya mudah dalam melaksanakan ibadah Islam. Pada tahun 1654M, Amangku Rat Agung (1645M-1677M) juga melakukan upaya penyerangan ke Kesultanan Banten. Amangku Rat Agung menyuruh Cirebon untuk menyerang Sultan Banten tetapi serangan ini dapat digagalkan akibatnya Panembahan Cirebon ditawan oleh Amangku Rat Agung. Amangku
  • 68. Rat Agung juga bekerja sama dengan VOC dimana Kesultanan Mataram Jawa dapat berdagang di wilayah yang dikuasai VOC dan sebaliknya VOC dapat berdagang di wilayah Mataram Jawa. Kegiatan kemaritiman Orang Jawa, baik perdagangan maupun pelayaran dimulai dari abad ke-4Mdan mencapai puncaknya dari abad ke-7M sampai 17M. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya reliefkapal pada candi Borobudur (825M) dan dinamakan sebagai “kapal Borobudur” yang memiliki dua tianglayar dan bercadik. Bukti arkeologis juga dikuatkan dengan adanya penemuan kapal kuno di Punjulharjo,Rembang, Jawa. Kapal tersebut kondisinya masih utuh berukuran 16m x 4m berasal dari abad ke-7M.Sebelumnya pada abad ke-5M kapal yang digunakan dibuat berdasarkan pada bentuk perahu bercadikdengan badan yang panjang dan sebuah tiang layar. Memasuki awal abad ke-9M peranan kapalBorobudur digantikan dengan “kapal Jung Jawa” yang memiliki tiga sampai empat tiang layar. Padazaman Tumapel dan Majapahit merupakan puncak keberadaaan kapal Jung Jawa dengan tiang layarmencapai lima buah. Jung Jawa berbeda dengan Jung China baik karakteristik maupun bentuk. Jika kapalJung China memakai paku sebagai perekat dan hanya terdapat satu kemudi maka Jung Jawa hanyamemakai pasak sebagai perekat dan mempunyai dua kemudi. Kata “Jung” merupakan turunan kata“Jong” dalam Bahasa Jawa yang berarti “Kapal”. Kata Jong tersebut dapat ditemukan pada prasasti JawaKuno pada abad ke-9M. Orang Itali menyebut kata Jung dengan Zonchi dan orang Portugise menyebutdengan Juncos. Bukti lain keunggulan maritime Jawa adalah adanya pengakuan dari Rahib Odrico dePordonone, Johan de Marignolli, Ibnu Battuta dalam catatan perjalanan mereka. Bahkan seorang pelautPortugise bernama Tom Pires dalam bukunya “Summa Oriental, 1514 M” menyebutkan bahwa bobotrata-rata kapal perang Jung Jawa (armada Kesultanan Demak) mencapai 600 Ton dan kapal terbesar dapatmencapai 1000 Ton dengan empat buah tiang layar. Tom Pires juga menyebutkan bahwa Anunciada(kapal terbesar Portugise yang berada di Malaka tahun 1511 M) sama sekali tidak menyerupai sebuahkapal bila disandingkan dengan Jung Jawa. Kapal Jung Jawa sulit dihancurkan dengan meriam Portugisekarena struktur kapalnya berlapis dan tebal (tiga lapisan). Pada zaman Majapahit juga pernah melakukanhubungan dagang dengan Kerajaan Ryukyu di Okinawa Jepang pada pertengahan abad ke-14M.Hubungan dagang Majapahit dengan China pada masa Dinasti Yuan Mongol kembali membaik padatahun 1325M setelah pasukan Mongol gagal dalam ekspedisi kedua mereka dalam memerangi Majapahitberdasarkan berita dari Rahib Italia bernama Odorico de Pordonone (.1321M) dan berita China pada masaDinasti Ming. Pada abad ke-14M Ryukyu terdiri dari tiga Kerajaan (Sanzan) yaitu Hokuzan (utara),Chuzan (tengah) dan Nanzan (selatan) dimana pada awal abad ke-15M ketiga Kerajaan disatukan olehKerajaan Chuzan. Kerajaan inilah yang diakui Dinasti Ming China sebagai penguasa tunggal di Ryukyu.Di dalam kuil Enkakuji istana Shurijo Kerajaan Ryukyu ditemukan sebuah keris Majapahit yang terkubursejak abad ke-15M dimana menandakan ada hubungan dengan kerajaan yang ada di Nusantara pada saatitu. Relief keris tertua dapat ditemukan di candi Prambanan. Pada abad ke-14M Kerajaan Ryukyu sendirimenjadi tributary state kepada China. Orang Ryukyu mulai menyemarakan perdagangan di Nusantara dariabad ke-14M sampai abad ke-17M. Kerajaan Ryukyu Okinawa dikalahkan Jepang pada akhir abad ke-16M dan akhirnya dianeksasi Jepang pada akhir abad ke-19M. Banyak pedagang dari Jawa yang berdagang sampai mancanegara. Cauto (pelaut portugise padaawal abad ke-17M) menyatakan bahwa penduduk Tanjung Harapan awal abad ke-16 berkulit coklatseperti orang Jawa dan mereka mengaku keturunan Jawa. Ada pendapat yang mengatakan bahwa rencanapenyerangan Demak ke Malaka sudah ada jauh hari sebelum Malaka diduduki Portugise pada tahun1511M. Demak berencana menguasai jalur selat Malaka yang ketika itu dikuasai Kesultanan Malakadengan cara membuat kapal perang yang banyak di Semarang. Sebelum rencana itu dieksekusi,
  • 69. Kesultanan Malaka sudah jatuh ke tangan Portugis. Demak melihat kemenangan Portugise atas Malakaditunjang oleh penggunaan sistem meriam kapal yang canggih oleh karena itu Demak memakai cara yangsama yaitu menggunakan meriam kapal. Penyerangan ke Malaka pada tahun 1521M yang dilakukanYunus (Adipati Jepara) gagal karena adanya kebocoran informasi dimana pada waktu itu mata-mata/teliksandi Demak yang ada di Malaka tertangkap terlebih dahulu oleh Potugise sedangkan Adipati Yunus dariJepara sendiri meninggal dalam peperangan tersebut. Sebenarnya Demak mempunyai visi wawasanNusantara. Kegiatan kemaritiman Jawa mulai berkurang sejak separuh kedua abad ke-18M dimana terlihattidak banyak lagi ditemukannya Kapal Jung Jawa yang besar. Pada abad ke-18M di pelabuhan Jawahanya ditemukan kapal-kapal kecil dengan tiang layar dua. Alasan penurunan karena adanya hegemoniVOC di Nusantara yang mencapai puncaknya pada abad ke-18M dan disewakannya daerah pesisir PulauJawa oleh Paku Buwono 11 kepada VOC pada tahun 1746M. Pada abad ke-18M Kesultanan MataramJawa lebih condong pada kegiatan agraria. Kapal Jung Jawa menjadi punah dan digantikan oleh KapalPinisi dari Bugis. Karena adanya kerja sama antara VOC dengan orang Bugis, perdagangan diantarakeduanya berjalan baik pada abad ke-18M. Banyak kapal Pinisi melintasi Nusantara dan juga banyakOrang Bugis yang menjadi prajurit bayaran misalnya pada Kesultanan Johor Malaya, Kesultanan AcehSumatra, Kesultanan Yogyakarta Jawa, Kerajaan Karangasem Bali (berdiri pada awal abad ke-18M).Misal raja Karangasem Bali menggunakan Orang Bugis untuk menyerang Kesultanan SalaparangLombok pada tahun 1750M. Kerajaan Lombok didirikan oleh seorang pangeran Majapahit bernama MpuNala pada abad ke-14 dan menjadi kesultanan pada akhir abad ke-16M akibat pengaruh dari Jawa. DiLombok sendiri terdapat beberapa kerajaan kecil yang masih mmpunyai ikatan persaudaraan yaituSalaparang, Pejanggik, Bayan, dan Langko. Kerajaan Karangasem merupakan pecahan dari KerajaanGelgel Bali yang runtuh pada tahun 1686M. Kerajaan Gelgel Bali digantikan oleh Kerajaan Klungkungpada awal abad ke-18M. Pada zaman Klungkung inilah muncul Kerajaan-Kerajaan kecil di Bali yaituKlungkung, Karangasem, Buleleng, Badung, Bangli, Tabanan, Gianyar, dan Jembrana. Diantara Kerajaankecil di Bali, Kerajaan Karangasem merupakan yang paling kuat. Pada pertengahan abad ke-18M munculKerajaan Mataram Lombok yang berafiliasi dengan Kerajaan Karangasem Bali. Kerajaan MataramLombok ini didirikan oleh orang-orang Bali yang bermukim di Lombok pada awal abad ke-17M ataupunada hubungannya dengan eksodus dari Kesultanan Mataram Jawa yang pecah akibat perang saudara padapertengahan abad ke-18M. Hal tersebut juga berkaitan dengan adanya sastra Jawa-Lombok. BaikKesultanan Mataram Jawa maupun Mataram Lombok sama-sama menggunakan sinkretisme Islamsebagai basis. Pada tahun 1764M Kerajaan Mataram Lombok menaklukan Kerajaan Pejanggik. Danakhirnya Kerajaan Mataram Lombok dapat menguasai seluruh Lombok setelah mengalahkan Kerajaankecil lainya pada awal abad ke-19M. Pengaruh Bali pada Lombok berakhir pada akhir abad ke-19Mketika Kerajaan Mataram Lombok ditaklukan oleh Hindia Belanda. Kemunduran kemaritiman Jawa dimulai akibat dari peperangan yang melibatkan Trunojoyo dariMadura, Sultan Tirtayasa dari Banten, dan Orang Makassar melawan Amangku Rat 11 dari MataramJawa, VOC, dan Orang Bugis pada tahun 1677M. Sultan Tirtayasa dari Banten menggunakan orangMakassar sebagai prajurit bayaran untuk melepaskan Panembahan Cirebon yang dulunya ditawan olehAmangku Rat 1. Amangku Rat 11 menggunakan Orang Bugis sebagai prajurit bayaran dalammempertahankan kekuasaannya akibat pemberontakan Trunojoyo dari Madura. Amangku Rat 11 jugabekerja sama dengan VOC dalam menghadapi Sultan Tirtayasa dari Banten dan Trunojoyo dari Madura.Pada tahun 1679M Trunojoyo akhirnya dapat ditangkap oleh VOC dan diserahkan kepada Amangku Rat
  • 70. 11. Trunojoyo kemudian ditusuk dengan keris melalui tangan Amangku Rat 11 sendiri. Sebagaikompensasinyapada tahun 1681M Mataram Jawa memberikan daerah Karawang dan daerah Priyangansebelah barat (batasnya sungai Citarum) kepada VOC. Namun demikian Amangku Rat 11 juga membeciVOC. Pada tahun 1686M, Amangku Rat 11 menyuruh Surapati untuk membunuh Kapten Tack dari VOCdengan keris di Keraton Kartasura. Kapten Tack pernah bertindak lancang kepada Amangku Rat 11,dengan beraninya menjual mahkota emas yang berasal dari Majapahit kepada Amangku Rat 11.Kemudian Surapati diangkat oleh Amangku Rat 11 sebagai Adipati Pasuruan. VOC mendapatkan juga mendapatkan hak monopoli perdagangan di wilayah pesisir MataramJawa. Selain itu VOC juga mendapatkan hak monopoli di Banten setelah mengalahkan Sultan Tirtayasadari Banten. Walaupun VOC sudah mendapatkan hak monopoli perdagangan di pesisir pulau Jawa namunbanyak terjadi penyelundupan sehingga merugikan VOC. Oleh karena itu VOC meminta kepada MataramJawa untuk menyewakan daerah pesisir Jawa pada tahun 1746M. Sejak saat itulah kegiatan kemaritimanJawa mulai mati. Pada pertengahan abad ke-18M Sultan Mataram Jawa mulai memperkerjakan OrangChina untuk mengelola kota-kota pelabuhan sebagai Juru Bandar terutama di Karesidenan Pekalongan.Posisi orang-orang China di pesisir bertambah kuat ketika diangkat menjadi Bupati oleh Sultan MataramJawa (sejak Paku Buwana 11) terutama peranakan China Muslim. Sebagai contoh pada akhir abad-ke-18M Bupati Jayaningrat dari Pekalongan dan Bupati Pusponagara dari Batang. Pada abad ke-18M konflik suksesi tahta Kerajaan menyebabkan kekuatan Mataram Jawa menjadimelemah. Perang Suksesi ke-1 pada tahun 1703M-1708M antara Amangku Rat 111 dibantu SuropatiAdipati Pasuruan melawan pamannya yaitu P. Puger (Paku Buwana 1) yang dibantu VOC. Hasilnyadimenangkan P. Puger dan sebagai kompensasinya pada tahun 1705M Mataram Jawa memberikan daerahCirebon dan daerah Priyangan bagian timur kepada VOC. Walaupun sudah lepas pengaruh Jawa terhadapdaerah Cirebon dan Priyangan masih tetap ada sampai tahun 1810M terlihat dari adanya Sastra Jawa-Sunda. Perang suksesi ke-2 pada tahun 1719M-1724M antara Amangku Rat 1V dibantu VOC melawan P.Purbaya (paman), P. Dipanagara (saudara), P. Blitar (saudara), P. Arya Mangkunagara (anak). Hasilnyadimenangkan Amangku Rat 1V dan sebagai kompensasinya Mataram Jawa memberikan Madura bagiantimur. Pada tahun 1740M-1743M terjadi pemberontakan orang China melawan VOC dan Mataram Jawa.Hasilnya dimenangkan oleh VOC dan sebagai kompensasi pada tahun 1744M Mataram Jawamemberikan daerah Madura bagian barat dan daerah sebelah timur Pasuruan kepada VOC. Pada tahun1746M Mataram Jawa juga menyewakan daerah pesisir Jawa kepada VOC dan sebagai gantinya VOCmemberikan uang sewa kepada Mataram Jawa. Perang suksesi ke-3 pada tahun 1746M-1757M antaraPaku Buwana 111 dibantu VOC melawan P. Mangkubumi (paman) dan P. Said (sepupu). Hasilnya padatahun 1755M Mataram Jawa dibagi menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta (1755M-1945M) untuk PakuBuwana 111 dan Kesultanan Yogyakarta (1755M-1945M) untuk P. Mangkubumi (Hamengku Buwana 1)dan juga pada tahun 1757M Surakarta dibagi lagi menjadi 2 yaitu Kasunanan untuk Paku Buwana 111dan Mangkunagaran untuk P. Said (Mangkunagara 1). Perang suksesi internal terus menerusmenyebabkan Paku Buwana 11 pada tahun 1749M memberikan kewenangan kepada VOC untukmelantik Sultan Mataram Jawa yang baru. Hal tersebut berarti Mataram Jawa menyerahkankedaulatannya kepada VOC. Dan sejak saat itu kebijakan politik luar negeri Kerajaan dipengaruhi VOCdengan menempatkan seorang residen VOC sebagai penasihat raja. Perpecahan Mataram Jawa tersebutdicatat dalam Babad Giyanti (akhir abad ke-18M) karangan Yasadipura. Pada tahun 1767M Blambangan(Banyuwangi Selatan) mengadakan kerjasama dengan EIC karena hal itulah VOC menyerangBlambangan (1770M) dengan alasan bahwa Mataram Jawa telah menyewakan daerah pesisir Jawa
  • 71. kepada VOC termasuk wilayah Blambangan. Pada tahun 1546M Sultan Trenggana dari Demakmeninggal ketika sedang mengadakan penyerangan ke Panarukan (Situbondo) sehingga Blambangan(Banyuwangi) masih bebas menganut agama Hindu. Pada tahun 1597M Adipati Pasuruan menyerang danmenaklukan Adipati Blambangan. Penaklukan Pasuruan pada Blambangan ini menyebabkan KerajaanGelgel Bali mengadakan penyerangan terhadap wilayah Blambangan namun dapat dikalahkan. Pada awalabad ke-17M Adipati Pasuruan ditaklukan oleh Sultan Agung dari Mataram Jawa. Kesempatan inilahyang digunakan Kerajaan Gelgel untuk menyerang kembali Blambangan. Pada tahun 1635M SultanAgung dari Mataram menaklukan wilayah Blambangan. Pada tahun 1686M Kerajaan Gelgel Bali runtuhdan terpecah-pecah. Pada tahun 1697M salah satu pecahan Kerajaan Gelgel Bali yang bernama KerajaanBuleleng Bali menaklukan wilayah Blambangan (Banyuwangi). Raja Buleleng Bali saat itu adalah PanjiSakti (1660M-1699M). Pada tahun 1711M Blambangan dapat direbut kembali oleh Mataram. Salah satupecahan Kerajaan Gelgel lainnya yaitu Kerajaan Mengwi Bali mengadakan serangan ke Blambanganpada tahun 1726M dan 1730M namun semuanya dapat dipukul mundur. Penyerangan tersebut dilakukanGusti Agung Alangkajeng (1722AD-1740AD) dari Mengwi. Pada tahun 1732M Kerajaan Buleleng Balidikuasai oleh Kerajaan Mengwi Bali dan baru kembali merdeka pada tahun 1752M. Dan tidak berapalama kemudian Kerajaan Buleleng Bali ditaklukan oleh Kerajaan Karangasem Bali pada tahun 1757M.Menurut sumber VOC wilayah Banyuwangi ini jarang sekali penduduknya dan masih menganut agamaHindu. Pada tahun 1745M Paku Buwana 11 (1726M-1749M) dari Mataram memberikan Blambangankepada VOC. Baru pada tahun 1770M wilayah Blambangan (Banyuwangi) dibawah naungan VOC. Keadaan Kerajaan Jawa diperparah akibat pergantian VOC ke tangan pemerintahan HindiaBelanda. Pada tahun 1808M Hindia Belanda membuat jalan raya dari Anyer (Banten) sampai Panarukan(Besuki) tujuannya sebagai pos pertahanan untuk menghadapi Inggris. Selain itu Pemerintahan HindiaBelanda juga menjadikan para Bupati di pesisir Jawa sebagai pegawai negeri dengan mendapatkan gajitetap dari pemerintah Hindia Belanda (1808M). Pada tahun 1811M Hindia Belanda tidak mau membayaruang sewa lagi atas daerah pesisir kepada Kerajaan. Hal inilah yang menjadi kerisauan kerajaan karenapendapatannya akan berkurang. Alasan Hindia Belanda melakukan kebijakan ini agar dapat menutupikerugian dan hutang VOC yang besar pada pemerintahan Kerajaan Belanda dan mengefisienkanadministrasi pemerintahan. Administrasi VOC dianggap sebagai biang kebangkrutan yang selama initerjadi akibat tindakan korupsi dan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan pegawai VOC. PerbedaanVOC dengan Hindia Belanda adalah VOC tidak bertanggungjawab terhadap kepada Kerajaan Belandasedangkan Hindia Belanda merupakan perpanjang tangan dari Kerajaan Belanda. Sedangkan tujuan VOCmelakukan hak monopoli perdagangan dengan menganut sistem Marchantilisme sedangkan HindiaBelanda penguasaan daerah dan eksploitasi sumber daya alam untuk industrialisasi. Kerajaan Belanda berdiri pada tahun 1815M setelah memerdekakan diri dari Kekaisaran Perancis.Sebelum dianeksasi oleh Kekaisaran Perancis, negeri Belanda masih berbentuk Republik Belanda yangmerupakan konfederasi dari tujuh provinsi bekas wilayah dari Kekaisaran Spanyol (berdiri pada tahun1516M). Kerajaan Spanyol merupakan gabungan dari Kerajaan Castille dan Kerajaan Aragon pada akhirabad ke-15M. Belanda menyatakan kemerdekaannya dari Kekaisaran Spanyol pada tahun 1581Mwalaupun demikian baru diakui Spanyol pada tahun 1648M setelah terjadi peperangan selama enampuluh tahun. Republik Belanda ini merupakan sebuah bentuk negara kapitalis pertama di Eropa denganmemakai perusahaan VOC sebagai basis perdagangan global. Pada abad ke-18M pemerintahan RepublikBelanda ini mengalami kebangkrutan akibat berbagai peperangan dan akhirnya dikalahkan oleh Perancistahun 1795M. Pada saat yang yang sama VOC juga mengalami kebangkrutan. Pada tahun
  • 72. 1805M.Kekaisaran Perancis (berdiri pada tahun 1795M) menganeksasi wilayah Republik Belanda dankemudian membentuk Kerajaan Belanda-Perancis. Ketika Republik Belanda dikalahkan Perancis,wilayah Batavia-Belanda di Jawa menyatakan kemerdekaan diri dan membentuk pemerintahan RepublikBatavia sendiri (1795M-1805M) namun akhirnya dibubarkan oleh Kerajaan Belanda-Perancis denganmembentuk pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1806M. Pada tahun itu Kekaisaran Perancis sedangberhadapan dengan Inggris, hal inilah yang membawa dampak pada pemerintahan di Hindia Belanda.Pada tahun 1815M Inggris mengalahkan Perancis dan akhirnya Kerajaan Belanda-Perancis dibubarkandengan terbentuknya Kerajaan Belanda atas bantuan dari Inggris. Konflik antara pemerintah Hindia Belanda dengan Kerajaan Jawa terinterupsi denganpendudukan Inggris di Jawa. Inggris mengalahkan Hindia Belanda pada tahun 1811M di Semarang ketikaterjadi Perang Jawa Inggris-Belanda. Perang Jawa Inggris-Belanda merupakan akibat dari adanya perangEropa pada waktu itu. Kemudian kekuasaan Hindia Belanda di Jawa dikembalikan lagi oleh Inggris keKerajaan Belanda pada tahun1816M. Pernah terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh prajurit SepoyIndia (prajurit bayaran inggris) terhadap pemerintahan Inggris. Dimana waktu itu Orang Sepoydiprovokasi oleh Paku Buwana 111 untuk memberontak. Tetapi pemberontakan ini dapat diredamkanoleh Inggris. Pemerintahan Inggris juga menghapuskan Kesultanan Banten pada tahun 1813M.Penghapusan Kesultanan Banten ini merupakan klimaks dari penghancuran Surosowan (Istana Banten)oleh Hindia Belanda pada tahun 1808M. Penghapusan ini dipicu oleh pemberontakan bangsawan Bantendengan bantuan Inggris terhadap Sultan Banten. Pada waktu itu Sultan Banten ditangkap dan kemudiandiasingkan. Bangsawan Banten memberontak dikarenakan Sultan Banten dianggap bekerja sama denganHindia Belanda dengan memberikan pekerjaan yang berat kepada para bangsawan dalam pembuatanjalan. Sultan Banten sendiri pada waktu itu dibawah tekanan Hindia Belanda. Pada tahun 1811M Inggrisjuga memberikan bantuan kepada Madura untuk melepaskan diri dari Kerajaan Jawa. Kemudian Maduramendirikan kesultanan baru yang bernama Kesultanan Sumenep. Tetapi setelah Hindia Belanda berkuasakembali, Kesultanan Sumenep dihapuskan (1854M) kemudian dijadikan karesidenan oleh Hindia Belandadan pada akhir abad ke-19M dijadikan regent dibawah Karesidenan Surabaya. Pemerintahan Inggris di Jawa pada tahun 1811M-1816M dibawah pimpinan Rafles. SetelahRafles memberikan kekuasaan kembali kepada Hindia Belanda di Jawa, dia membuat sebuah bukuberjudul History of Java tahun 1830M. Rafles termotivasi ketika dia melihat Candi Borubudur danadanya pemberontakan Orang Sepoy (prajurit bayaran Inggris dari India) terhadap pemerintahan Inggrisdi Jawa. Rafles melihat adanya keterkaitan antara Orang India dengan Orang Jawa dalam masalahkebudayaan. Salah satu rujukan Rafles sebagai sumber bukunya adalah Babad Tanah Jawi karangan CarikBraja (1788M). Sejarah pembagian Kerajaan Mataram dan perang saudara di Jawa, diceritakan dalamBabad Giyanti karangan Yasadipura 1(akhir abad ke-18M). De Graaf sendiri berpendapat bahwa isiBabad Tanah Jawi masih dapat dipercaya sebagai sumber sejarah dengan batasnya hingga sampai zamanKesultanan Pajang yang dapat diverifikasi dengan berita VOC. Sedangkan untuk isi dari Babad TanahJawi dari akhir abad ke-15M hingga zaman Kesultanan Demak dapat diverifikasi dengan Pararaton (awalabad ke-16M), berita China dari Naskah Sam Po Kong (akhir abad ke-16M) dan berita Portugise. IsiPararaton sendiri dapat dipercaya sebagai sumber sejarah dengan batasnya hingga sampai awal berdirinyaMajapahit. Sedangkan untuk zaman Tumapel dalam Pararaton dapat diverifikasi dengan KakawinNegarakertagama (1365M). Tokoh sejarah yang ada dalam Pararaton juga terdapat dalam Naskah Sam PoKong. Isi Naskah Sam Po Kong berisi sejarah Kerajaan Jawa dari pertengahan abad ke-15M hinggapertengahan abad ke-16M. Rafles berpendapat bahwa Kerajaan Champa terletak di Aceh. Dimana di
  • 73. Aceh terdapat daerah bernama Jeumpa. Pendapat Rafles ini disanggah oleh para sejarawan pada abad ke-19M. Para sejarawan mengatakan bahwa Champa berasal dari Indo-China dengan banyak ditemukannyabukti arkeologi (candi, artefak, prasasti). Hubungan Majapahit dengan dengan Champa sangat dekatdalam masalah budaya misalnya bentuk candi Pari di Majapahit mirip dengan yang ada di Champa.Disebutkan bahwa istri dari Jaya Singhawarman 111 dari Champa (1285M-1307M) yaitu Ratu Tapasiberasal dari Jawa. Kemungkinan Ratu Tapasi merupakan putri dari Kertanagara dari Tumapel/Singasari.Pada tahun 1318M Jaya Indrawarman V putra dari Jaya Indrawarman 111 dari Champa melarikan diri keJawa akibat adanya serangan Dai Viet. Pada tahun 1471M Kerajaan Dai Viet menaklukan Champa dankemudian wilayahnya dianeksasi (1485M). Ketika dianeksasi oleh Dai Viet banyak penduduk Champayang kemudian pindah dan meminta suaka ke Kesultanan Malaka dan Kesultanan Pasai. WilayahChampa yang masih tersisa akibat aneksasi dari Dai Viet adalah Kauthara dan Panduranga. Pada tahun1640M Kauthara Champa ditaklukan oleh Dai Viet. Pada tahun 1695M Panduranga Champa ditaklukanoleh Dai Viet dan kemudian dijadikan sebagai bawahan Dai Viet. Wilayah Panduranga Champakemudian dianeksasi oleh Dai Viet pada tahun 1832M. Aneksasi Dai Viet menyebabkan pendudukPanduranga Champa banyak yang mengungsi ke Kerajaan Kamboja. Konflik mulai memanas kembali antara pemerintah Hindia Belanda dengan Sultan Jawa padatahun 1816M. Konflik memuncak ketika terjadi Perang Jawa yang dipimpin oleh P. Diponogoro padatahun 1825M-1830M. Konflik ini dimenangkan oleh pihak Hindia Belanda dengan cara tidak sehatkarena tidak dapat memenangkan pertempuran secara frontal. Dimana Diponogoro ditangkap ketikasedang mengadakan perundingan dengan Hindia Belanda. Perang ini dimotivasi oleh pembunuhanHamangku Buwana 1V oleh agen Belanda dan penggunaan makam leluhur Mataram Jawa sebagai jalanraya oleh Belanda. Kekalahan dalam Perang Jawa ini menyebabkan para Sultan Jawa menyerahkandaerah mancanagara kepada Hindia Belanda. Sulatan hanya berkuasa pada wilayah KaresidenanSurakarta dan Karesidenan Yogyakarta. Pada tahun 1830M merupakan penjajahan sebenarnya olehpemerintahan Hindia Belanda di Jawa. Hindia Belanda mengganti kedudukan residen Hindia Belandasetara dengan Sultan yang dapat mencampuri urusan dalam negeri kerajaan dimana sebelumnya residenVOC hanya berfungsi sebagai penasihat urusan luar negeri kerajaan. Selain itu kerajaan harus melakukandemiliterisasi sehingga Sultan tidak mempunyai kekuatan militer lagi. Bekas prajurit Surakarta danYogyakarta dijadikan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai prajurit KNIL yang terdiri dari orang-orang pribumi. Selain itu pemerintah Hindia Belanda juga mendirikan Legiun Mangkunagara dan KorpsPaku Alam. Kebanyakan prajurit KNIL berasal dari Jawa, Madura, Bugis, dan Ambon. Prajurit KNIL inimisalnya digunakan Hindia Belanda dalam melakukan penyerangan ke Kerajaan Nusantara lainnya misalPerang Paderi (1835M) dan Perang Aceh (1873M). Ketika Perang Aceh pasokan senjata Hindia Belandadibawa dari gudang senjata di Toba dan Karo Sumatra Utara. Pada tahun 1835M wilayah mancanagara (diluar karesidenan Surakarta dan Yogyakarta)dijadikan pemerintah Hindia Belanda sebagai lahan tanam paksa yang berlangsung hampir 40 tahun.Lahan rakyat yang diwajibkan untuk tanam paksa hanya 1/5 dari miliknya tapi pada prateknya 1/2 lebihlahan digunakan. Lahan rakyat itu ditanami produk-produk pertanian yang mempunyai harga jual tinggi.Sejak saat itu diperkenalkan produk pertanian yang baru di Jawa. Kesenjangan sosial antara golonganpriyayi (bangsawan-red) dengan rakyat semakin besar. Sebaliknya pada tahun 1840M perdagangan danpelayaran Orang Jawa mulai marak kembali karena pemerintah Hindia Belanda mulai memberikankeluasaan. Dibuktikan dengan adanya pelayaran Orang Jawa yang naik haji ke Mekah meningkat dratissejak separuh kedua abad ke 19M. Golongan yang naik haji terutama adalah golongan pedagang karena
  • 74. meningkatnya perekonomian terutama perdagangan pada paruh abad ke-19M. Pada pertengahan abad ke-19M pemerintah Hindia Belanda mendirikan sekolah modern di Pulau Jawa. Alasan didirikanya sekolahini adalah untuk mendapatkan tenaga kerja yang professional yang lebih murah dibandingkan dengantenaga kerja dari Belanda. Kebanyakan yang sekolah disini adalah golongan bangsawan dan pemangkupemerintahan. Kapal yang digunakan sudah menggunakan tenaga uap sehingga lama waktu perjalananmenjadi singkat. Pada pertengahan abad ke-19M pemerintah Hindia Belanda mulai memberikankeluasannya untuk para missionaris Kristen Protestan dan melarang missionaris Kristen Katolik.Missionaris Kristen Protestan tersebut kemudian mendirikan zending (sekolah kebiaraan). Tanam paksaberakhir sejak dibuatnya UU Agraria tahun 1870M. Sejak saat itulah muncul privatisasi dan liberalisasi diHindia Belanda. Para petani tidak lagi diwajibkan bercocok tanam secara paksa tetapi mulai menjadiburuh kontrak ataupun menyewakan lahan tanahnya bagi perusahaan swasta asing. Buruh kontraktersebut dipekerjakan pada perkebunan dan pabrik milik perusahaan asing. Sejak saat itu diperkenalkanproduk perkebunan yang baru di Jawa. Dan sejak saat itulah kapitalisasi dan industrialisasi hadir di PulauJawa. Hubungan perdagangan Orang China dengan Orang Jawa sebenarnya sudah terjalin sejak masaDinasti Eastern Jin (abad ke-4M). Pedagang China yang berdagang ke Nusantara kebanyakan berasal dariNan Yue/Kanton (Guangzhou) dan Min Yue (Fuzhou). Intensitas hubungan itu mulai meningkat padaabad ke-15M di masa Kerajaan Majapahit dan Dinasti Ming China. Orang China pada waktu itu banyakyang menikah dengan penduduk pribumi yang kemudian disebut China Peranakan. China Peranakaninilah yang kemudian mengembangkan agama Islam di Jawa. Sebenarnya Islam dibawa ke Jawa olehOrang India, Iran, dan Asia Tengah dimana ketiga wilayah tersebut dikuasai oleh Dinasti Timur Lenkyang beribukota di Samarkand pada akhir abad ke-14M. Menurut J.J Meinsma berpendapat bahwa SunanGresik atau Malik Ibrahim (awal abad ke-15M) sebagai pelopor agama Islam di Jawa berasal dariSamarkand berdasarkan pada Babad Tanah Jawi. Sedangkan J.P. Moqueite berdasarkan analisis terhadapbait terakhir tulisan pada makam Sunan Gresik diperkirakan tokoh ini berasal dari daerah Kashan(sebelah utara Isfahan) di Iran. Kedua pendapat tersebut ada benarnya karena pada pertengahan abad ke-14M sudah banyak penduduk asing misal India, Iran, Asia Tengah yang tinggal di ibukota Majapahit.Orang-orang yang berasal dari Iran dan Asia Tengah disebut sebagai Yawana. Banyak Orang ChinaPeranakan yang nantinya terpengaruh dan memeluk agama Islam pada pertengahan abad ke-15M. Padaakhir abad ke-15M Orang China Peranakan Muslim inilah yang mengembangkan agama Islam dikalangan Orang Jawa. Selain Orang China Peranakan, Islam disebarkan ke Jawa juga oleh Orang Champayang meminta suaka ke Jawa pada akhir abad ke-15M. Para tokoh Islam di Jawa pada abad ke-15M yangmerupakan keturunan dari Orang Champa misalnya Wali Sanga dan Syeikh Siti Jenar. Dan OrangChampa lebih dulu berasimilasi dengan penduduk Jawa pada abad ke-15M dibandingkan Orang Chinayang mulai berasimilasi pada penduduk Jawa pada abad ke-16M. Karena Orang Champa secara budayamirip dengan budaya Jawa (dulunya beragama Hindu) dan juga secara fisik mirip dengan pendudukpribumi. Oleh karena itulah lebih mudah diterima oleh penduduk pribumi. Pada awalnya penyebaranIslam oleh Wali Sanga lebih pada pendekatan kultural lalu kemudian berubah menjadi pendekatanstruktural ketika bersinggungan dengan kekuasaan. Hal tersebutlah yang menjadi polemik antara WaliSanga dengan Syeikh Siti Jenar dan akhirnya menjadi perselisihan yang membawa-bawa pahamkeagamaan. Keduanya beradu argumentasi dan akhirnya dimenangkan oleh Wali Sanga karenamempunyai basis kekuasaan di Demak. Syeikh Siti Jenar dikenal karena membawa Islam Kerakyatanyang dikenal dengan nama Islam Jawa. Istilah “rakyat” pertama kali diperkenalkan oleh Syekh Siti Jenarkepada Orang Jawa. Turunan kata rakyat adalah masyarakat.
  • 75. Pada awal abad ke-17M VOC merebut Jayakarta dari Banten dan kemudian namanya digantimenjadi Batavia. Untuk mengembangkan Batavia sebagai pusat perdagangan di Nusantara VOCmengirim Orang China dari Formosa (Taiwan) ke Batavia.VOC. Formosa dikuasai VOC sejak tahun1610M sampai 1660M. kemudian menarik Orang China yang ada di Malaka untuk memindahkanperdagangan mereka ke Batavia setelah VOC merebut Malaka dari Portugise (1641M). Pada akhir abadke-17M karena adanya gejolak politik di China pada akhir masa Dinasti Ming, banyak Orang ChinaSelatan membawa keluarganya pindah ke Formosa lalu ke Batavia. VOC kemudian melarang imigrangelap China Selatan ini datang ke Batavia pada akhir abad ke-17M karena jumlah penduduk Bataviasudah terlalu banyak. Pada awal abad ke-18M VOC melakukan tindakan represif terhadap imigran gelapyang datang dari China Selatan. Tindakan represif VOC ini menimbulkan pemberontakan Orang Chinadi Batavia dan menyebar di pesisir Jawa kemudian dapat diredamkan VOC pada pertengahan abad ke-18M. Pada awal abad ke-19M VOC diganti dengan pemerintah Hindia Belanda. Pada waktu inipemerintah Hindia Belanda dan Kesultanan Sambas (Kalimantan Barat) banyak mengirim tenaga kerjadari China Selatan sebagai tenaga kerja pertambangan di Belitung dan Kepulauan Riau. Pada pertengahanabad ke-19M pemerintahan Hindia Belanda melakukan tindakan politik rasis dengan memasukan OrangChina (Timur Jauh) dan Arab (Timur Dekat) dalam kelompok kelas kedua (1850M) sedangkan pribumibiasa dalam kelas ketiga. Pembagian ini karena adanya kepentingan Hindia Belanda dalam perdaganganyang pada waktu ini diberlakukan sistem tanam paksa pertanian. Orang China dan Arab dijadikan sebagaipenyalur dan para bangsawan sebagai pengumpul dalam perdagangan sedangkan pribumi sebagai tenagakerja. Pada akhir abad ke-19M pemerintah Hindia Belanda memasukan Orang China dalam kelas satusejajar dengan Orang Eropa (1880M). Kebijakan Hindia Belanda ini juga karena adanya kepentinganperdagangan karena sistem tanam paksa sudah dihapus dan digantikan dengan sistem sewa tanah untukperkebunan dan industri. Dimana Orang China pada waktu ini banyak yang menjadi penyewa tanah. Padaakhir abad ke-19M karena adanya gejolak politik di China pada akhir masa Dinasti Ching, banyakimigran Orang China yang membawa keluarganya pindah ke Semenanjung Malaya dan Jawa. Jika dilihatsecara antropologi Orang China yang ada di Nusantara berasal dari China Selatan. Sub Suku Orang Chinatersebut misalnya Hokkien/Min Yue (Fujian), Kantonis/Nan Han (Guangdong), Teochew (Guangxi),Hainan, Hoklo (Taiwan), Hui (Yunnan) dan Hakka (Orang Han yang pindah ke China Selatan). OrangIndia yang datang ke Jawa kebanyakan berasal dari Bengali (Bengal), Keling (Orissa), Tamil (TamilNandu), Sinhala (Sri Langka), Malayalam (Kerala), Telugu (Karnataka dan Andra Pradesh). Hubungan perdagangan Orang Arab dengan Orang Jawa sudah berlangsung sejak dari abad ke-7M. Intensitas kedatangan imigran Arab ke Jawa dimulai pada akhir abad ke-18M. Biasanya kebanyakanimigran Orang Arab yang datang ke Jawa berasal dari Hadhramaut (Yaman), Haramain (Hejaz), Mesir,dan Maghribi (Marocco). Keluarga Hadhrami dari Bani Alawi misalnya al Kadrie yang merupakanpendiri Kesultanan Pontianak (1771M) dan al Idrus yang pendiri Kesultanan Kubu (1772M). Banyakkesultanan-kesultanan di Nusantara dihapus oleh pemerintah Republik Indonesia dari tahun 1950Msampai 1960M. Bani Alawi merupakan keturunan dari Ahmad al Muhajir yang pindah dari Baghdad keHadhramaut pada pertengahan abad ke-9M. Ahmad al Muhajir sendiri merupakan keturunan dari Jafarash Shadiq yang merupakan salah satu Imam Syiah. Pada abad ke-19M Orang Arab Hadhramimempunyai pengaruh besar dalam bidang keislaman di Nusantara. Orang Hadhrami tersebut mengakumempunyai garis keturunan dari Muhammad dengan memdapatkan gelar Sayid, Syarif, dan Habib. OrangHadhrami pindah ke Jawa karena adanya gejolak politik di Arab dimana pada waktu itu terjadi
  • 76. peperangan antar suku. Pada waktu itu kelompok aliran Wahhabi yang bermazhab Hambali (berdiri padaakhir abad ke-18M) melakukan ekspansi wilayah untuk mendapatkan pengaruhnya. Aliran ini bertujuanmelakukan purifikasi Islam dengan menghancurkan lokalitas budaya setempat. Aliran Wahhabi sendiriberasal dari daerah Najed yang disokong oleh keluarga al Saud pada akhir abad ke-18M. Pengaruh aliranWahhabi ini misalnya menyebabkan terjadinya perang Paderi di Sumatra Barat. Perang Paderi inimenyebabkan banyak bangsawan Minang yang terbunuh. Aliran ini dibawa ke Minang oleh tiga oranghaji yang terpengaruh aliran Wahhabi yang baru saja datang dari Mekah. Ketiga peziarah ini disebut"Padri" sesuai dengan nama pelabuhan Pidie di Aceh sebagai tempat keberangkatan orang-orang yangnaik haji.. Sebenarnya penyebaran paham Wahhabi di Arab pada abad ke-19M terkait dengankepentingan politik keluarga al Saud dengan bantuan Inggris dalam menghadapi Turki di Mekah danMadinah. Pada awal abad ke-20M keluarga al Saud melengserkan Syarif Mekah dan Madinah. Pada akhir abad ke-19M intensitas imigran Arab meningkat hal ini disebabkan oleh dibukanyajalur pelayaran dari Jawa ke Mesir melalui terusan Suez yang baru dibuka pada tahun 1870M. Pada waktuitu penduduk Hindia Belanda yang ingin naik haji diwajibkan memiliki passport dan membayar pajakkepada pemerintah Hindia Belanda. Selain itu pemerintah Hindia Belanda melalui perusahaan swastamelakukan tindakan monopoli pelayaran bagi calon haji yang ingin ke Mekah. Pada akhir abad ke-19Mbanyak jamaah haji dari Jawa yang terpengaruh oleh gerakan paham pembaharuan Islam baik yangmoderat ataupun ekstrim yang digencar-gencarkan pada waktu itu. Jamaah Haji tersebut kemudianmembawa paham tersebut ke Jawa. Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu menamakannya sebagaiHaji Politik. Para Haji Politik yang baru saja datang dari Arab itu dengan membawa paham baru tersebut,mulai bergesekan dengan Ulama pesantren ataupun tarekat yang sudah mempunyai paham keagamaansendiri sejak abad ke-15M. Paham pembaharuan Islam mengutamakan purifikasi dengan dalih sebagaitameng dalam menghadapi Kolonialisme Barat. Dalam prateknya paham tersebut mempunyai kekakuantersendiri terhadap budaya lokalitas setempat sehingga mengalami rigiditas. Lebih mengutamakanstruktur dan formalitas daripada essensi, lebih mengutamakan tekstual daripada kontekstual masyarakat. Pada akhir abad ke-19M selain aliran pembaharuan Islam Ekstrim di Saudi ada juga aliranpembaruan Islam Moderat di Mesir yang didengungkan oleh Muhhammad Abduh dan JamaluddinAfghani (Pan Islamis). Pada akhir abad ke-19M selain kedua aliran tersebut juga ada juga UlamaHaramain (Mekah) yang mengajarkan aliran tradisional Islam Moderat misal Imam Nawawi al Bantani alJawi (Banten), Ahmad Khotib al Sambas, Ahmad Termas al Jawi (Jawa Tengah). Ketiga Ulama tersebutberasal dari Nusantara khususnya Jawa yang mengajar di Mekah pada akhir abad ke-19M. Kebanyakansistem pengajaran Islam/pesantren di Nusantara bahkan sampai di Pattani dan Mindanao bersumber dariUlama tersebut. Kebanyakan aliran Islam di Nusantara adalah bermazhab Syafii. Mazhab Syafii sendirilebih bersifat mistik dan moderat dibandingkan dengan mazhab Hambali yang agak kaku. Sedangkanmazhab Hanafi kebanyakan dianut oleh China Muslim dan India Muslim yang lebih bersifat rasionalitisdan moderat. Karena mazhab Syafii kebanyakan diterima oleh masyarakat maka bermunculah tarekat-tarekat yang ada di Nusantara misal tarekat Syatariyah, tarekat Nasyabandiyah dan tarekat Qodiriyah.Bahkan pendiri Muhammadiyah yaitu Ahmad Dahlan (1912M) di Yogyakarta dan Nadhatul Ulama (NU)yaitu Hasyim Asyari (1926M) di Jombang merupakan murid dari Ulama ini. Pada awal abad ke-20Mketika al Saud menguasai Mekah-Madinah dan hendak menghancurkan warisan Nabi maka Ulamatradisional (NU) yang ada di Jawa menyampaikan petisi keberatan kepada Raja al Saud untukmempertahankan warisan Nabi dan petisi tersebut diterima.
  • 77. Sastra Malayu juga mulai berkembang pada abad ke-18M misalnya Hikayat Hang Tuah (abad ke-18M). Hikayat ini kebanyakan berisi kritik yang ditujukan kepada Orang Jawa bersetting pada zamanSultan Mahmud Shah (1488M-511M) dari Malaka hingga penaklukan Malaka oleh Portugise. Meskipunbegitu senjata paling ampuh, yaitu sebilah keris yang berasal dari Majapahit. Malah Hang Tuah dan limabersaudara dikatakan menuntut banyak ilmu dari pertapa Jawa. Bahkan disebutkan bahwa SultanMahmud Shah (1488M-1511M) dari Malaka pernah berkunjung ke Jawa untuk sowan kepada MaharajaMajapahit. Mitos Hang Tuah ditulis kira-kira 250 tahun sesudah penaklukan Malaka oleh Portugisebersamaan dengan terpecahnya Kesultanan Mataram Jawa. Hikayat ini dibuat pada masa DinastiBendahara di Johor dimana dinasti terdahulu yaitu Dinasti Malaka runtuh padatahun 1699M. GangguanPortugise menyebabkan Kesultanan Johor harus berkali-kali memindahkan ibukotanya ke daerah rawa-rawa dan militernya di Selat Malaka telah musnah bersamaan takluknya Malaka. Di samping itupermusuhan dan peperangan dengan Kesultanan Jambi (dibawah pengaruh Jawa) dan ketegangan internalyang menyebabkan terbunuhnya sultan terakhir membuat Johor menjadi lemah. Dalam masa sulit sepertiinilah hikayat ini ditulis. Pada abad ke-19M Bahasa Malayu mulai dijadikan sebagai lingua franca yang digunakan dalamperdagangan di Nusantara. Pada abad 19M banyak diciptakan karya sastra Malayu baik syair maupunhikayat. Pada awal abad 20M pemerintah Hindia Belanda menjadikan Bahasa Malayu sebagai bahasapercakapan sehari-hari. Maka dibuatlah ejaan Malayu dalam Aksara latin oleh van Ophuijsen (1901M).Ejaan van Ophuijsen bertujuan mengganti ejaan Malayu dalam Aksara Jawi dengan Aksara latin.Nantinya ejaan van Ophuijsen digantikan dengan ejaan Soewandi untuk Bahasa Indonesia (1947M) laludiganti lagi menjadi ejaan Mashuri (1973M). Setelah dikeluarkan ejaan baru inilah pengaruh Bahasa Jawaterhadap Bahasa Indonesia begitu kuat menggantikan Bahasa Malayu dan kata-kata dalam Bahasa Inggrismulai banyak diserap ke dalam Bahasa Indonesia. Banyak Sastra Barat (novel) diterjemahkan ke dalamBahasa Malayu dan Sastra Malayu karangan peranakan Eropa, peranakan China ataupun Pribumi padaawal abad ke-20M. Pada tahun 1920M Balai Pustaka didirikan dengan tujuan untuk mencegah pengaruhburuk dari bacaan liar yang dihasilkan oleh Sastra Malayu dari barat yang dianggap memiliki misi politis(liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu Bahasa Malayu, Bahasa Jawa dan BahasaSunda serta dalam jumlah terbatas dalam Bahasa Bali dan Bahasa Madura. Pada zaman Balai Pustakainilah mulai terbit Sastra Indonesia. Sedangkan Bahasa Indonesia merupakan perpaduan antara BahasaMalayu dan Bahasa Jawa yang muncul setelah dikumandangkan oleh M. Yamin dalam Sumpah Pemudapada Konggres Pemuda 11 (1928M) dengan ketuanya bernama Soegondo Joyohadikusoemo. DraftSumpah Pemuda sendiri pada awalnya tertulis Bahasa Malayu sebagai bahasa nasional yang diajukanoleh ketua panitia pembuatan draft Sumpah Pemuda (M. Yamin) namun atas usulan ketua KonggresPemuda 1 (1926M) yang bernama M. Tabrani kata Bahasa Malayu diganti dengan kata Bahasa Indonesia.Alasannya karena kelogisan ketika dalam draft itu tertulis bahwa Bangsa Indonesia sebagai bangsapemersatu, oleh karena itu yang dijadikan sebagai bahasa pemersatu adalah Bahasa Indonesia bukannyaBahasa Malayu. Kata Indonesia pada tahun 1917M diperkenalkan oleh van Volenhoven kepadamahasiswa Hindia Belanda yang ada di negeri Belanda untuk menggantikan kata Indies. Dalam Sumpahpemuda (1928M) sendiri dihadiri oleh para pemuda Indonesia misal Jong Java, Jong Sumatran, JongCelebes, Jong Ambon, Jong Islamiten. Setelah tahun 1930M muncul sastrawan Pujangga Baru (1930M-1945M) yang didirikan oleh Sutan Takdir Alihsyabana yang kebanyakan anggotanya berasal dari Minangdan Batak Mandailing. Dimana ia menyarankan untuk memutus sejarah kebudayaan pra-Indonesia (masasebelum akhir abad ke-19M) dengan kebudayaan sesudah Indonesia (awal abad ke-20M), serta mertamenghasilkan mata rantai yang terputus. Seolah-olah kebudayaan Indonesia baru lahir mulai tahun
  • 78. 1900M sekaligus menafikan perjalanan sejarah bangsa yang telah berjalan ribuan tahun. Lompatan yangdilakukan Sutan Takdir Alisyahbana (STA) itu sejalan dengan politik etis yang tengah dilakukan olehpemerintah Hindia Belanda. Tapi, hal itu mengaburkan jati diri Bangsa Indonesia. Pandangan SanusiPane sejalan dengan Poerbatjaraka dalam menanggapi STA. Poerbatjaraka mengingatkan bahwa sejarahhari ini adalah kelanjutan dari sejarah masa lalu dan tidak terpotong begitu saja. Ia pun menegaskanbahwa sejatinya yang harus dilakukan adalah menyeleksi kebudayaan Indonesia lama dan pengaruh Baratyang diformulasikan menjadi kebudayaan Indonesia baru. Pengaruh Eropa merupakan babakan kecildalam sejarah Indonesia. Selain pengaruh Eropa ada pengaruh Hindu-Budha dan Islam yang lebih duluhadir di dalam sejarah Indonesia. Walaupun demikian budaya lokal masih tetap terjaga hingga terjadilahakulturasi dengan budaya luar tersebut. Dalam bahasa Sanusi Pane sebaiknya kebudayaan Indonesiamengawinkan Faust (Barat) dengan Arjuna (Timur). Tidak begitu saja melupakan pujangga-pujanggalama seperti Ranggawarsita. Pada awal abad ke-20M pemerintah Hindia Belanda melakukan politik etis (Edukasi,Transmigrasi, Irigasi) sebagai tindakan balas budi kepada penduduk kolonial Hindia Belanda. PemerintahHindia Belanda cenderung memusatkan pembangunan di Jawa. Banyak dibangun waduk sebagai sistemirigasi untuk pertanian dan perkebunan. Sebenarnya pembangunan waduk ini tidak terlepas dari adanyakepentingan industrialisasi dan perkebunan swasta milik asing. Pada awal abad ke-20M banyak dibangununiversitas lokal untuk kalangan pribumi. Sebenarnya di Jawa pada pertengahan abad ke-19M sudahdidirikan sekolah administrasi (birokrasi) dan sekolah kedokteran. Pemerintah Hindia Belanda juga mulaimelakukan program transmigrasi bagi penduduk Jawa dimana Pulau Jawa pada waktu itu sudah padatsekali. Para trasmigran ini kebanyakan dikirim ke Pulau Sumatra untuk mengolah lahan pertanian yangmasih kosong. Daerah tujuan transmigrasi ini misalnya Lampung, Palembang dan Jambi. Pada awal abadke-20M karena berkembangnya perkebunan di Pulau Sumatra, banyak penduduk Jawa yang kemudianmenjadi buruh kontrak pada perkebunan asing terutama di Riau dan Sumatra Utara. Selain di Sumatrabanyak juga penduduk Jawa yang menjadi buruh kontrak pada perusahaan perkebunan Inggris di Johor. Pada awal abad ke-20M merupakan awal munculnya kebangkitan nasional. Sebelum adakebangkitan berskala nasional Indonesia pada tahun 1920 M, terlebih dulu didahului oleh kebangkitannasional Jawa pada tahun 1900M. Kebangkitan nasional Jawa ditandai dengan pendirian Budi Utomooleh Soetomo. Sebenarnya Budi Utomo (1908M) yang didirikan di Yogyakarta hanya untuk kalangananggota yang berasal dari Jawa-Madura saja. Pada tahun 1910-an M muncul perdebatan diantaraintelektual muda di Jawa yaitu tentang Nasionalisme Jawa (Soetatmo) atau Nasionalisme Indies (CiptoMangoenkoesoemo). Perdebatan pemikiran kedua orang tersebut tertulis di koran-koran pers di Jawa.Nama Indies kemudian diganti dengan nama Indonesia (1920M). Nama Indonesia dipopulerkan olehmahasiswa Indonesia yang belajar di Belanda dan mendirikan perkumpulan yang bernama PerhimpunanIndonesia atas prakarsa Cipto dengan anggota M. Hatta, Sutan Syahrir, Ali Sastroadmijoyo. Perkumpulaninilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Partai Nasional Indonesia (PNI) pada tahun 1927M yangdidirikan oleh Soekarno (dengan bimbingan dari Cipto) dan salah satu anggotanya M. Hatta, SutanSyahrir, Ali Sastroadmijoyo. Ketika adanya Sumpah Pemuda (1928M), Budi Utomo berubah menjadiJong Java. Selain Budi Utomo di Jawa juga didirikan Serikat Dagang Islam (1909M) oleh Samanhudi diSurakarta. Tujuan didirikan Serikat Dagang Islam (SDI) adalah adanya kepentingan perdagangan diantaraanggotanya. Sebelum didirikan SDI para anggotanya merupakan anggota dari kongsi dagang Jawa-China.Ketika orang China melakukan protes dan pemogokan kerja yang menyebabkan kemungkinanperekonomian akan lumpuh. Oleh karena itu para anggota yang berasal dari Jawa memisahkan diri dan
  • 79. untuk mengimbangi pengaruh perdagangan China didirikanlah SDI. Nantinya SDI berubah menjadiSerikat Islam (SI) yang didirikan oleh Cokroaminoto pada tahun 1911M. Tujuan SI bukan lagi masalahekonomi saja melainkan menjadi mesin politik. Pada tahun 1920M anggota SI meluas di seluruh wilayahHindia Belanda. Pada tahun 1912M baik SI (Surakarta) maupun Muhammadiyah (Yogyakarta)merupakan aliran pembaharuan Islam Moderat di Jawa. Soekarno sendiri merupakan anak asuh dariCokroaminoto. Diantara anggota SI ada yang berhaluan kiri dan disebut sebagai SI merah (Semaun danSutan Malaka) di Semarang. Anggota SI merah (Islam Sosialis) membentuk Serekat Rakyat yangnantinya merupakan cikal bakal berdirinya Partai Komunis Indonesia (1920M). Salah satu anggota PKIyang terkenal adalah Muso. Sedangkan SI yang berhaluan kanan (SI putih) membentuk Partai SerikatIslam (PSI). Ada sekelompok anggota PSI (Kartosuwiryo) yang memisahkan diri dan kemudian pindahke Bandung (1939M). Kelompok inilah yang nantinya membentuk Darul Islam (DI). Kelompok DImerupakan aliran pembaharuan Islam Ekstrim. Pada tahun 1926M, Partai Komunis Indonesia (PKI) melakukan pemberontakan tetapi dapatdiredamkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Baik Semaun maupun Sutan Malaka melarikan diri ke UniSoviet. Akibat pemberontakan ini pemerintah Hindia Belanda mulai melakukan pengawasan ketatterhadap partai politik. Banyak mahasiswa dalam Perhimpunan Indonesia yang ada di Belanda yangditangkap atas tuduhan menerima dana dari Komunis Internasional (Comintern). Perhimpunan Indonesianantinya dikuasai oleh kaum sosialis dan akhirnya memecat, M. Hatta dan Ali Sastroadmidjoyo darikeanggotaan. Pada tahun 1931M dibentuk Partai Indonesia (Partindo) sebagai ganti PNI yang dibubarkanoleh pemerintah Hindia Belanda. Pendiri Partindo adalah Soeroto dan salah satu anggotanya adalahSoekarno. Partindo sendiri dibubarkan pada tahun 1936M. Pada tahun 1937M dibentuk Gerakan RakyatIndonesia (Nasionalis Sosialis) dimana M. Yamin dan Amir Syarifuddin Harahap menjadi salah satuanggotanya. Pada tahun yang sama juga dibentuk Majelis Islam Alaa Indonesia (MIAI) yang merupakanorganisasi kerjasama antara Muhammadiyah (pembaharuan Islam Moderat), Nadhatul Ulama (tradisonalIslam Moderat), dan Persatuan Islam (pembaharuan Islam Ekstrim). Persatuan Islam (Persis) didirikan diBandung pada tahun 1923M dan salah satu anggotanya adalah M. Natsir. MIAI berubah menjadi MajelisSyuro Indonesia (Masyumi) pada tahun 1943M. Pada tahun 1942M pemerintah Hindia Belanda dikalahkan oleh Jepang pada waktu Perang Dunia11. Sehingga secara otomatis wilayah Hindia Belanda dibawah naungan Jepang. Untuk mempertahankankekuasaannya di Hindia Belanda pemerintah Jepang meminta bantuan kepada penduduk pribumi dalammenghadapi Perang Dunia 11 dengan janji akan diberikan kemerdekaan bagi penduduk Hindia Belanda.Pada tahun 1943M Soekarno dan M. Hatta diberangkatkan ke Jepang untuk menemui Kaisar Jepang.Pemerintah Jepang juga membentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia(BPUPKI) yang kemudian namanya diganti menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)dengan ketuanya bernama Radjiman Wedyodiningrat. Tujuan BPUPKI adalah untuk membuat DasarNegara dan Konstitusi Negara. Pembuatan Dasar Negara dikemukakan oleh Soekarno. Dasar Negaradinamakan sebagai Pancasila oleh Soekarno. Kata “Pancasila” diambil dari Bahasa Sansekerta yangberarti “lima dasar” yang terdapat dalam Kakawin Sutasoma karangan Mpu Tantular. Pada sila pertamaPancasila, masih diikuti dengan kata kewajiban menjalankan Syariat Islam. Oleh karena adanya keberatandari golongan Kristen, maka kata Syariat Islam dalam sila pertama Pancasila itu dihilangkan. KetikaJepang menyatakan menyerah kepada sekutu maka terjadilah Vacuum of Power. Saat itulah Soekarnomemproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Soekarno diangkat sebagai presiden sedangkan M. Hattasebagai wakil presiden.
  • 80. Ketika awal kemerdekaan Indonesia mengalami banyak gejolak politik baik dalam negerimaupun dari serangan dari luar (Belanda). Gangguan internal pertama terjadi pada tahun 1946M ketikaSutan Malaka (baru datang dari Uni Soviet) dan M. Yamin meminta dibubarkannya Kabinet Syahrirdengan cara menculik Sutan Syahrir tetapi akhirnya dapat dibebaskan. Permintaan Sutan Malaka dan M.Yamin ditolak dan akhirnya mereka dipenjara selama dua tahun. Setelah dua tahun M. Yaminmendapatkan amnesti dari Soekarno dan dijadikan menteri sedangkan Sutan Malaka dieksekusi olehpemerintah. Pada tahun 1946M juga terjadi revolusi sosial terhadap kesultanan yang ada di Sumatra Utaradimana banyak bangsawan Malayu yang terbunuh. Konflik internal menyebabkan Belanda melakukanagresi militer. Pemerintah Indonesia (Kabinet Syarifuddin) mengadakan perundingan perdamaian denganpemerintah Belanda walaupun harus banyak kehilangan wilayah kekuasaan. Karena dianggap gagaldalam menjaga wilayah Indonesia akhirnya Amir Syarifuddin Harahap diberhentikan. Pada tahun 1948Mterjadi pemberontakan kaum sosialis (PKI) di Madiun yang dilakukan oleh Muso (baru datang dari UniSoviet) dan Amir Syarifuddin Harahap dengan menuntut dibubarkannya Kabinet Hatta. Pemberontakanini akhirnya dapat diredamkan dan pelakunya dapat dieksekusi. Pemberontakan ini menyebabkan banyakUlama di Madiun yang terbunuh. Pemberontakan internal dan kelemahan Indonesia dimanfaatkan olehpemerintah Belanda untuk melakukan agresi militer kembali (1949M). Akhirnya Soekarno dan M. Hattadapat ditangkap dan dibuang oleh pemerintah Belanda. Sebelum ditangkap Soekarno mendelegasikankekuasaan sementara kepada Safruddin Prawiranagara. Kemudian Soekano menunjuk SafruddinPrawiranagara sebagi ketua dalam Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Pada tahun 1949M atas desakan United Nation (UN) pemerintah Belanda akhirnya membebaskanSoekarno dan Hatta. Pemerintah Belanda akhirnya juga mengakui kedaulatan Indonesia dan akandibentuk pemerintahan Serikat Indonesia serta Uni Indonesia-Belanda. Kemudian SyafruddinPrawiranagara mengembalikan kewenangannya kepada Soekarno. Pada masa Republik Indonesia Serikat(RIS) Presiden Soekarno memerintahkan sebuah tim yang dikoordinir oleh Abdul Hamid al Kadri dengansalah satu anggotanya adalah Poerbatjaraka untuk mengadakan sayembara bagi masyarakat dalam rangkapembuatan lambang negara. Kemudian seorang seniman bernama Basuki Resobowo memenangkansayembara tersebut. Simbol Burung Garuda sendiri diambil dari Kakawin Ramayana (abad ke-9M) dansebagai kendaraan Dewa Wisnu seperti dalam arca Maharaja Airlangga (awal abad ke-11M). Gambarburung Garuda tersebut masih berupa mahluk mitologi Hindu yaitu mahluk berbadan setengah manusiadan setengah hewan dengan tangannya membawa perisai Pancasila. Airlangga disimbolkan sebagaipenjelmaan Dewa Wisnu yang diturunkan ke bumi untuk menyelamatkan manusia dan dunia dariangkara. Bahkan istri dari Airlangga yaitu Dewi Laksmi dan Dewi Sri memiliki kesamaan nama denganistri-istri Dewa Wisnu. Oleh karena adanya keberatan dari golongan Islam, maka gambar burung Garudatersebut kemudian dirubah dengan menghilangkan unsure manusia dari burung Garuda dan perisainyadiletakan di badan burung Garuda. Sedangkan motto Bhineka Tunggal Ika diambil dari BahasaSansekerta yang terdapat dalam Kakawin Sutasoma karangan Mpu Tantular yang merupakan seorangBhiksu Budha. Dari situlah terbentuk simbol Garuda Pancasila. Abdul Hamid al Kadri sendiri kemudianterlibat dalam pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang dipimpin oleh Westerlingdengan menggerakan mantan tentara KNIL Belanda. Akhirnya APRA dapat diredamkan namunWesterling dapat melarikan diri ke Belanda sedangkan Abdul Hamid Aal Kadri dijatuhi hukumanpenjara. Pemerintahan RIS tidak berjalan lama karena dianggap sebagai bentukan Belanda oleh karena iturakyat memilih kembali pada bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada tahun 1950Mwilayah Kasunanan Surakarta masuk dalam provinsi Jawa Tengah sedangkan Kasultanan Yogyakartamembentuk sebuah provinsi tersendiri. Provinsi Yogyakarta disebut sebagai daerah istimewa karena para
  • 81. Sultan Yogyakarta berhak menduduki jabatan gubernur provinsi seumur hidup. Dari tahun 1945M-1959M sistem pemerintahan Indonesia berbentuk sistem parlementer yang dipimpin oleh seorang perdanamenteri. Setelah terbentuk NKRI yang berdaulat (1950M) terjadi persaingan antar partai politik Indonesiadi parlementer dengan membawa kepentingan masing-masing. Kekuatan utama yang bersaing diparlementer misal Islam yang dibawa oleh Masyumi dan Nasionalis yang dibawa oleh PNI. Pada awalnyadominasi di parlementer dibawah pengaruh Masyumi tetapi setelah tahun 1952M dikuasai golongannasionalis (PNI). Soekarno juga menumbuhkan kembali golongan sosialis (PKI) yang dipimpin oleh DipoNusantara Aidit (nama aslinya Ahmad Aidit) pada tahun 1953M. Dengan syarat kesetiaan kepadaSoekarno. Ketika Soekarno menghidupkan kembali golongan sosialis ini banyak yang menentangnyaterutama Ali Sastroadmijoyo yang tidak mau memasukkan PKI dalam kabinet. Maka dari situlah KabinetAli dibubarkan pada tahun 1954M digantikan oelh Kabinet Burhanudin. Pada tahun 1955M diadakanpemilu pertama di Indonesia. Hasil pemilu 1955M sebagai berikut posisi pertama diduduki oleh PNI,kedua; Masyumi, ketiga; NU, keempat; PKI. Kemudian Ali Sastroadmijoyo dari PNI diangkat kembalimenjadi perdana menteri. Pada tahun 1956M, M. Hatta mengundurkan diri dari jabatan sebagai WakilPresiden karena tidak sejalan dengan tindakan Soekarno lagi. Pada tahun 1957M, Soekarno menunjukDjuanda yang berasal dari non partisan sebagai perdana menteri. Tokoh nasionalis seperti M. Hatta, SutanSyarir, Ali Sastroadmijoyo mempunyai pengalaman buruk dengan golongan sosialis ketika mereka masihmenjadi mahasiswa di Belanda ataupun ketika mereka sudah memduduki jabatan. Perbedaan pahamnasionalis diantara ketiga tokoh tersebut dengan Soekarno adalah jika ketiga tokoh tersebut cenderunglebih elitis dalam memahami demokrasi maka Soekarno lebih cenderung kerakyatan. Hal tersebut dapatdipahami karena ketiga golongan tersebut (berpendidikan di Belanda) lebih paham tentang DemokrasiBarat dibandingkan Soekarno (berpendidikan di Hindia Belanda). Golongan Masyumi juga terpecahdimana NU memisahkan diri dan membentuk partai sendiri. Sehingga Masyumi hanya tersisa darigolongan Persis yang beraliran Islam ekstrim. Golongan Islam yang ekstrim lain yaitu Darul Islam yangkecewa pada pemerintah akhirnya memberontak tetapi dapat diredamkan dan pemimpinnya yangbernama S.M. Kartosuwiryo dapat dieksekusi. Pada tahun 1956M terjadi pemberontakan PemerintahanRevolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra dan Permesta di Sulawesi yang kecewa padapemerintahan pusat di Jawa. M.Natsir dan Syafruddin Prawiranagara dari Masyumi memihak pada PRRIdan melarikan diri ke PRRI Sumatra Barat, dimana daerah tersebut dibawah pimpinan Ahmad Husein.Pada tahun 1958M pemberontakan PRRI dan Permesta dapat diredamkan oleh pemerintah pusat dengandengan mengirimkan pasukan TNI dalam jumlah besar ke daerah-daerah tersebut. Kemudian banyakanggota PRRI yang melarikan diri ke hutan dan mengadakan perang gerilya. Pada tahun 1961M pimpinanPRRI Sumatra Barat yaitu Ahmad Husein menyerahkan diri dan kemudian diberi amnesti oleh Soekarno.Pada tahun 1959M Soekarno mengeluarkan dekrit yang isinya menghapus sistem parlementer danmengganti menjadi sistem presidensil. Dekrit ini ditentang oleh golongan Masyumi dan hasilnyaSoekarno menghapus Masyumi (1960M).

×