Makalah revisi uas pengambilan keputusan dengan musyawarah

5,135 views
4,961 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
5,135
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
40
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah revisi uas pengambilan keputusan dengan musyawarah

  1. 1. 1PENGAMBILAN KEPUTUSAN SECARA MUSYAWARAHDALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM(Kajian Tematik Al-Qur’an dan Hadist)REVISI MAKALAHDiajukan Untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester (UAS) Mata Kuliah" Studi Al-Qur’an dan Hadits Tematik "Dosen Pengampu :Dr. H. M. Sa‟ad Ibrahim, M.AOleh :AFIFUL IKHWAN12730012MPI A – SMT 1PROGRAM DOKTOR MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAMSEKOLAH PASCASARJANAUNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANGFebruari 2013
  2. 2. 2DAFTAR ISIHalaman Judul ……………………………………………………………. iKata Pengantar ……………………………………………………………. iiDaftar Isi ……………………………………………………………. iiiBAB I PEMBAHASANPENGAMBILAN KEPUTUSAN SECARA MUSYAWARAHDALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM(Kajian Tematik Al-Qur’an dan Hadist)A. Pendahuluan …...........................…………………………... 1B. Definisi Keputusan..................................………………..… 2C. Definisi Pengambilan Keputusan …....……………………… 3D. Definisi Musyawarah ..................................……………….. 5E. Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan.....….. 5F. Peran Kepemimpinan dalam Pengambilan Keputusan ......... 7G. Prinsip-Prinsip Pengambilan Keputusan Berdasarkan Islam 10H. Al-Qur‟an dan Hadits ..................................……………… 141. Teks Ayat dan Terjemah ............……………….......... 142. Asbabunnuzul ..................................……………….... 173. Kandungan Ayat ..................................……………… 194. Tafsir Ayat ..................................………………......... 205. Al-Hadits dan Terjemahnya ..................................….... 246. Sanad Perawi Hadist ………………………………… 307. Khazanah Sosial Islamiah ..................................…….. 358. Khazanah Aplikasi dalam Peradaban Islam ................ 379. Khazanah dalam Manajemen Pendidikan Islam .......... 42BAB II P E N U T U PKesimpulan ……………...…………………………………… 44DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………..... 47
  3. 3. 3BAB IPEMBAHASANPengambilan Keputusan Secara Musyawarah dalam Manajemen Pendidikan Islam:(Kajian Tematik Al-Qur’an dan Hadist)A. PendahuluanAkhir-akhir ini, manajemen sebagai ilmu begitu populer sehingga banyak kajianyang difokuskan pada manajemen baik berupa pelatihan, seminar, kuliah, maupunpembukaan program studi. Awal mulanya tema manajemen hanya populer dalam duniaperusahaan atau bisnis. Kemudian, tema ini digunakan dalam profesi lainnya, termasukoleh pendidikan dengan beberapa modifikasi dan spesifikasi tertentu lantaran terdapatperbedaan objek, tidak terlepas pula dalam dunia pendidikan Islam yang sumber utamanyasudah barang tentu ialah Al-Qur‟an dan Al-Hadist.Dengan demikian, sebagai institusi atau lembaga pendidikan Islam pada prinsipnyamemikul amanah “etika masa depan dari sebuah keputusan”. Etika masa depan timbul dandibentuk oleh kesadaran bahwa setiap anak manusia akan menjalani sisa hidupnya di masadepan bersama-sama dengan makhluk hidup lainnya yang ada di bumi. Hal ini berartibahwa, di satu pihak, pengambilan keputusan menuntut manusia untuk tidak mengelakkantanggung jawab atas konsekuensi dari setiap perbuatan yang dilakukannya sekarang ini.Sementara itu pihak lain, manusia ditutut untuk mampu mengantisipasi,merumuskan nilai-nilai, dan menetapkan prioritas-prioritas pengambilan keputusan dalamsuasana yang tidak pasti agar generasi-generasi mendatang tidak menjadi mangsa dariproses yang semakin tidak terkendali di zaman mereka dikemudian hari, dan kesemuanyaitu ditentukan oleh keputusan-keputusan yang di ambil, dalam hal ini kaitannya denganmanajamen pendidikan Islam.Dalam sepanjang hidup manusia selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan ataualternatif dan pengambilan keputusan. Hal ini sejalan dengan teori real life choice(pilihan kehidupan yang nyata) yang menyatakan dalam kehidupan sehari-hari manusiamelakukan atau membuat pilihan-pilihan di antara sejumlah alternatif. Pilihan-pilihan tersebut biasanya berkaitan dengan alternatif dalam penyelesaian masalah yakniupaya untuk menutup terjadinya kesenjangan antara keadaan saat ini dan keadaanyang diinginkan.
  4. 4. 4Situasi pengambilan keputusan yang dihadapi seseorang akan mempengaruhikeberhasilan suatu keputusan yang akan dilakukan. Setelah seseorang berada dalamsituasi pengambilan keputusan maka selanjutnya dia akan melakukan tindakan untukmempertimbangkan, menganalisa, melakukan prediksi, dan menjatuhkan pilihan terhadapalternatif yang ada, sebagaimana dalam pembahasan makalah ini adalah PengambilanKeputusan Secara Musyawarah dalam Manajemen Pendidikan Islam.Dalam makalah ini, sistematika pemahamannya penulis kategorikan menjadiberbagai macam pembahasan, begitu juga kaitannya pada khazanah-khazanah keilmuanyang telah penulis tentukan sebelum disusun menjadi sebuah makalah. Penjelasannya tidaktergabung langsung di bawah setelah ayat Al-Qur‟an ataupun Al-Haditsnya, akan tetapiper-sub anak judul yang tidak keluar dari pemahaman penulis terhadap ayat Al-Qur‟an danAl-Hadits kaitannya dengan tema pada makalah ini.B. Definisi KeputusanTerdapat beberapa pengertian keputusan yang telah disampaikan oleh para ahli,diantaranya adalah sebagai berikut1:1. Menurut Ralp C. DavisKeputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Suatukeputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harusmenjawab pertanyaan tentang apa yang dibicarakan dalam hubungannya denganperencanaan. Keputusan dapat pula berupa tindakan terhadap pelaksanaan yang sangatmenyimpang dari rencana semula.2. Menurut Mary FolletKeputusan adalah suatu hukum atau sebagai hukum situasi.Apabila semua fakta dari situasi itu dapat diperolehnya dan semua yang terlibat, baikpengawas maupun pelaksana mau mentaati hukumnya atau ketentuannya, maka tidaksama dengan mentaati perintah. Wewenang tinggal dijalankan, tetapi itu merupakanwewengan dari hukum situasi.3. Menurut James A.F. StonerKeputusan adalah pemilihan diantara alternatif-alternatif. Definisi ini mengandung tigapengertian, yaitu :1Juliadi, Keputusan dan Pengambilan Keputusan, dalam http://juliadi.wikispaces.com/, diaksespada 10 Nov 2012.
  5. 5. 5a. Ada pilihan dasar logika atau pertimbanganb. Ada beberapa alternatif yang harus dan dipilih salah satu yang terbaikc. Ada tujuan yang ingin dicapai, dan keputusan itu makin mendekatkan pada tujuantersebut.4. Menurut Prajudi AtmosudirjoKeputusan adalah suatu pengakhiran dari proses pemikiran tentang suatu masalah atauproblema untuk menjawab pertanyaan apa yang harus diperbuat guna mengatasimasalah tersebut, dengan menjatuhkan pilihan pada suatu alternatif.Dari pengertian keputusan di atas, dapat penulis tarik kesimpulan bahwa keputusanmerupakan suatu pemecahan masalah sebagai suatu hukum situasi yang dilakukan melaluipemilihan satu alternatif dari beberapa alternatif.C. Definisi Pengambilan KeputusanPengambilan keputusan sangat penting dalam manajemen dan merupakan tugasutama dari seorang pemimpin (manajer). Tidak lepas dari pengertian keputusan diatas,pengambilan keputusan (decision making) diproses oleh pengambilan keputusan (decisionmaker) yang hasilnya keputusan (decision) itu sendiri. Defenisi-defenisi PengambilanKeputusan Menurut Beberapa Ahli2:1. George. R. TerryPengambilan keputusan dapat didefenisikan sebagai “pemilihan alternatif kelakuantertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada”.2. Harold Koontz dan Cyril O‟DonnelPengambilan keputusan adalah pemilihan diantara alternatif-alternatif mengenaisesuatu cara bertindak—adalah inti dari perencanaan. Suatu rencana dapat dikatakantidak ada, jika tidak ada keputusan suatu sumber yang dapat dipercaya, petunjuk ataureputasi yang telah dibuat.3. Theo HaimanInti dari semua perencanaan adalah pengambilan keputusan, suatu pemilihan carabertindak. Dalam hubungan ini kita melihat keputusan sebagai suatu cara bertindak2Vienna Yunistia, Definisi Pengambilan Keputusan Menurut Para Ahli, dalamhttp://www.scribd.com/doc/52282565/definisi-keputusan-menurut-ahli#download, diakses pada 09 Nov2012.
  6. 6. 6yang dipilih oleh manajer sebagai suatu yang paling efektif, berarti penempatan untukmencapai sasaran dan pemecahan masalah.4. Malayu S.P HasibuanPengambilan keputusan adalah suatu proses penentuan keputusan yang terbaik darisejumlah alternative untuk melakukan aktifitas-aktifitas pada masa yang akan datang.5. Chester I. BarnardKeputusan adalah perilaku organisasi, berintisari perilaku perorangan dan dalamgambaran proses keputusan ini secara relative dan dapat dikatakan bahwa pengertiantingkah laku organisasi lebih penting dari pada kepentingan perorangan.6. Husaini UsmanPengambilan keputusan adalah proses memilih sejumlah alternatif3.Ada beberapa definisi tentang pengambilan keputusan. Dalam hal ini artipengambilan keputusan sama dengan pembuatan keputusan. Menurut penulis definisipengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku dari dua alternatif atau lebihtindakan pimpinan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam organisasi yangdipimpinnya dengan melalui pemilihan satu diantara alternatif-alternatif yangdimungkinkan. Dan keputusan di dalam manajemen dibagi menjadi dua:1. Keputusan terprogram atau keputusan terstruktur: keputusan yg berulang-ulang danrutin, sehingga dapat diprogram. Keputusan terstruktur terjadi dan dilakukanterutama pada manajemen tingkat bawah. Contoh keputusan pemesanan barang.2. Keputusan tidak terprogram atau tidak terstruktur : keputusan yang tidak terjadiberulang-ulang dan tidak selalu terjadi. Keputusan ini terjadi di manajemen tingkatatas. Informasi untuk pengambilan keputusan tidak terstruktur tidak mudah untukdidapatkan dan tidak mudah tersedia dan biasanya berasal dari lingkungan luar.Pengalaman manajer merupakan hal yang sangat penting didalam pengambilankeputusan tidak terstruktur. Keputusan untuk bergabung dengan perusahaan lainmerupakan contoh keputusan tidak terprogram.3Husaini Usman, Manajemen Teori, Praktik dan Riset Pendidikan (Jakarta: PT. Bumi Aksara,2006), 321.
  7. 7. 7D. Definisi MusyawarahKata ( ) Syûrâ terambil dari kata ( - ) menjadi ( )Syûrâ. Kata Syûrâ bermakna mengambi dan mengeluarkan pendapat yang terbaik denganmenghadapkan satu pendapat dengan pendapat yang lain.4Kata musyawarah terambil dari akar kata sy-, w-, r-, yang pada mulanyabermakna mengeluarkan madu dari sarang lebah. Makna ini kemudian berkembang,sehingga mencakup segala sesuatu yang yang dapat diambil atau dikeluarkan dari yanglain (termasuk usul, ide, pendapat, keputusan, dll). Musyawarah juga dapat berartimengatakan atau mengajukan sesuatu.5Menurut penulis musyawarah adalah mengajukangagasan yang terbaik dari perbandingan gagasan yang dihasilkan.Jadi pengambilan keputusan secara musyawarah dalam manajemen pendidikanIslam ialah suatu proses pengelolaan lembaga pendidikan Islam secara Islami yang segalakeputusannya dengan mempertimbangkan perkataan, tawaran ide, atau gagasan suatupemikiran dengan cara menyiasati sumber-sumber utamanya yang berasal dari Al-Qur‟andan Al-Hadist.E. Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan KeputusanDalam prakteknya terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi prosespengambilan keputusan, yaitu: (1) informasi yang diketahui perihal permasalahan yangdihadapi; (2) tingkat pendidikan; (3) personality; (4) coping, dalam hal ini dapat berupapengalaman hidup yang terkait dengan permasalahan (proses adaptasi); dan (5) culture6.Terdapat aspek-aspek tertentu bersifat internal dan eksternal yang dapatmempengaruhi proses pengambilan keputusan. Adapun aspek internal tersebut antara lain :a. Pengetahuan. Pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang secara langsungmaupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan.Biasanya semakin luas pengetahuan seseorang semakin mempermudahpengambilan keputusan.4Kamus Bahasa Arab OnLine, diakses pada 10 Feb 2013.5Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur‟an, Tafsir Maudhu‟I atas pelbagai Persoalan Umat (Bandung:Mizan, 1996), 469.6Satria Baja Hikam, Pengambilan Keputusan dalam Manajemen, dalamhttp://satriabajahikam.blogspot.com/2012/02/pengambilan-keputusan-dalam-manajemen.html, diakses padaKamis 05 Nov 2012.
  8. 8. 8b. Aspek kepribadian. Aspek kepribadian ini tidak nampak oleh mata tetapi besarperanannya bagi pengambilan keputusan.Sementara aspek eksternal dalam pengambilan keputusan, antara lain:a. Kultur: Kultur yang dianut oleh individu bagaikan kerangka bagi perbuatanindividu. Hal ini berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan.b. Orang lain: Orang lain dalam hal ini menunjuk pada bagaimana individumelihat contoh atau cara orang lain (terutama orang dekat ) dalam melakukanpengambilan keputusan. Sedikit banyak perilaku orang lain dalam mengambilkeputusan pada gilirannya juga berpengaruh pada perilkau individu dalammengambil keputusan.7Dengan demikian, seseorang yang telah mengambil keputusan, pada dasarnya diatelah melakukan pemilihan terhadap alternatif-alternatif yang ditawarkan kepadanya.Kendati demikian, hal yang tidak dapat dipungkiri adalah kemungkinan atau pilihan yangtersedia bagi tindakan itu akan dibatasi oleh kondisi dan kemampuan individu yangbersangkuran, lingkungan sosial, ekonomi, budaya, lingkungan fisik dan aspekpsikologis.Pemimpin/Manajer Pendidikan sebagai problem solver dituntut untuk memilikikreativitas dalam me-menej masalah dan mengembangkan alternatifpenyelesaiannya. Berpikir kreatif untuk memecahkan masalah dapat dilakukan melaluitahapan-tahapan sebagai berikut:a. Tahap orientasi masalah, yaitu merumuskan masalah danmengindentifikasi aspek aspek masalah tersebut. dalam prospeknya, sipemikir mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan masalah yangdipikirkan.b. Tahap preparasi. Pikiran harus mendapat sebanyak mungkin informasi yangrelevan dengan masalah tersebut. Kemudian informasi itu diproses untukmenjawab pertanyaan yang diajukan pada tahap orientasi.c. Tahap inkubasi. Ketika pemecahan masalah mengalami kebuntuan makabiarkan pikiran beristirahat sebentar. Sementara itu pikiran bawah sadar kitaakan bekerja secara otomatis untuk mencari pemecahan masalah.7Ryan Fujiwara, Pengambilan Keputusan, dalam http://www.scribd.com/doc/47251522/KWU,diakses pada 09 Nov 2012.
  9. 9. 9d. Tahap iluminasi. Proses inkubasi berakhir, karena si pemikir mulaimendapatkan ilham serta serangkaian pengertian (insight) yang dianggapdapat memecahkan masalah.e. Tahap verifikasi, yaitu melakukan pengujian atas pemecahan masalah tersebut,apabila gagal maka tahapan sebelummnya harus di ulangi lagi.8F. Peran Kepemimpinan dalam Pengambilan KeputusanBerbicara masalah pengambilan keputusan, tidak bisa lepas dari perankepemimpinan, manajer atau si pembuat keputusan tersebut, dalam hal ini adalah seorangpemimpin, singkat akan penulis bahas juga dalam makalah ini tentang kepemimpinan dankaitannya pada pengambilan keputusan.Kepemimpinan seseorang dalam sebuah organisasi atau sebuah lembaga, sangatbesar perannya dalam setiap pengambilan keputusan, sehingga membuat keputusan danmengambil tanggung jawab terhadap hasilnya adalah salah satu tugas pemimpin, jikaseorang pemimpin tidak mampu membuat keputusan, seharusnya dia tidak dapat menjadipemimpin.Dilain hal, pengambilan keputusan dalam tinjauan perilaku mencerminkan karakterbagi seorang pemimpin. Oleh sebab itu, untuk mengetahui baik tidaknya keputusan yangdiambil bukan hanya dinilai dari konsekwensi yang ditimbulkannya. Melainkan melaluiberbagai pertimbangan dalam prosesnya. Kegiatan pengambilan keputusan merupakansalah satu bentuk kepemimpinan, sehingga:a. Teori keputusan merupakan metodologi untuk menstrukturkan danmenganalisis situasi yang tidak pasti atau beresiko, dalam konteks inikeputusan lebih bersifat perspektif dari pada deskriptif.b. Pengambilan keputusan adalah proses mental dimana seorang manajermemperoleh dan menggunakan data dengan menanyakan hal lainnya,menggeser jawaban untuk menemukan informasi yang relevan danmenganalisis data; manajer, secara individual dan dalam tim, mengatur danmengawasi informasi terutama informasi bisnisnya.c. Pengambilan keputusan adalah proses memilih di antara alternatif-alternatiftindakan untuk mengatasi masalah.98Ibid.
  10. 10. 10Dalam pelaksanaannya, pengambilan keputusan dapat dilihat dari beberapa aspek,yaitu: proses dan gaya pengambilan keputusan.1. Proses pengambilan keputusanProsesnya dilakukan melalui beberapa tahapan seperti:a. Identifikasi masalahb. Mendefinisikan masalahc. Memformulasikan dan mengembangkan alternatived. Implementasi keputusane. Evaluasi keputusan2. Gaya pengambilan keputusanSelain proses pengambilan keputusan, terdapat juga gaya pengambilan keputusan.Gaya adalah lear habit atau kebiasaan yang dipelajari. Gaya pengambilankeputusan merupakan kuadran yang dibatasi oleh dimensi:a. Cara berpikir, terdiri dari:a) Logis dan rasional; mengolah informasi secara serialb) Intuitif dan kreatif; memahami sesuatu secara keseluruhan.b. Toleransi terhadap ambiguitasa) Kebutuhan yang tinggi untuk menstruktur informasi dengan carameminimalkan ambiguitasb) Kebutuhan yang rendah untuk menstruktur informasi, sehinggadapat memproses banyak pemikiran pada saat yang sama.10Kombinasi dari kedua dimensi diatas menghasilkan gaya pengambilan keputusanseperti:1. Direktif = toleransi ambiguitas rendah dan mencari rasionalitas. Efisien,mengambil keputusan secara cepat dan berorientasi jangka pendek2. Analitik = toleransi ambiguitas tinggi dan mencari rasionalitas. Pengambilkeputusan yang cermat, mampu menyesuaikan diri dengan situasi baru3. Konseptual = toleransi ambiguitas tinggi dan intuitif. Berorientasi jangkapanjang, seringkali menekan solusi kreatif atas masalah9Rivai, Veithzal, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2007), t.h.10Ibid.
  11. 11. 114. Behavioral = toleransi ambiguitas rendah dan intuitif. Mencoba menghindarikonflik dan mengupayakan penerimaan.11Berdasarkan uraian di atas, maka berikut adalah upaya-upaya yang perlu ditempuhseperti:1. Cerna masalahSejalan dengan peran kepemimpinan, maka terdapat perbedaan antarapermasalahan tentang tujuan dan metode. Dalam kondisi seperti ini peranpemimpin adalah mengambil inisiatif dalam hubungannya dengan tujuan dan arahdaripada metode dan cara.2. Identifikasi alternatifKemampuan untuk memperoleh alternativ yang relevan sebanyak-banyaknya.3. Tentukan proritasMemilih diantara banyak alternativ adalah esensi dari kegiatan pengambilankeputusan.4. Ambil langkahUpaya pengambilan keputusan tidak berhenti pada tataran pilihan, melainkanberlanjut pada langkah implementasi dan evaluasi guna memberikan umpanbalik.12Islam juga mengajarkan dalam memilih dan mempertimbangkan pemimpin (dalamhal ini pemimpin pendidikan), agar keputusan yang lahir benar-benar kredibilitasnya terujidan produktif yang pada akhirnya dapat mengantarkan pada keberhasilan serta kemajuanpendidikan, seperti halnya Rasulullah saw mempertimbangkan keadaan kaum Quraisy dimasa beliau, yaitu kekuatan dan rasa kesetiakawanan kesukuan yang kuat („ashabiyyah)pada mereka yang merupakan syarat utama dalam menopang ke-khalifahan ataupemerintahan. Lebih jauh, ia berkata “Jika persyaratan Quraisy ini terbukti hanya untukmenghindari terjadinya perebutan kekuasaan karena kesetiakawanan, kesukuan dan11Ibid.12Muhammad Ihsan, Peran Kepemimpinan dalam Pengambilan Keputusan, MengendalikanKonflik dan Membangun Tim, dalam http://www.ruangihsan.net/2009/08/peran-kepemimpinan-dalam-pengambilan.html diakses pada 7 Nov 2012.
  12. 12. 12kekuatan yang mereka miliki, dapat kita simpulkan bahwa persyaratan tersebut hanyadidasarkan pada kecakapan dan kemampuan menjadi pemimpin.13Untuk itu, persyaratan ini kita kembalikan kepadanya dengan mengabaikan faktordalam pengertian Quraisy, yaitu kesetiakawanan, kesukuan („Ashobiyyah). Atas dasar itu,pemimpin pendidikan hendaklah berasal dari kelompok yang memiliki kesetiakawanan,kesukuan, kepintaran, kemampuan, kredibilitas yang kuat di bandingkan kelompok lain,sehingga dapat menjadi panutan yang lain dan kesatuan pendapat, persatuan dalampengambilan keputusan dapat terpelihara dan berajalan dengan baik.G. Prinsip-Prinsip Pengambilan Keputusan Berdasarkan Islama. Keputusan yang benar berpijak pada konsep kebajikan yang universal, yaitu harusadil, penuh kasih dan juga harus baik. Jadi dalam pengambilan keputusan kita mestibertanya aspek etisnya, aspek moralnya, apakah keputusan itu baik, apakah juga adil.Kadang-kadang baik untuk satu sisi tetapi tidak baik untuk sisi yang lain. Adil, apakahadil untuk kita dan untuk orang lain dan apakah ada unsur dari hati, karena kasihadalah isi hati Tuhan yang paling dalam, yang juga harus kita miliki. Tuhanmengajarkan kepada kita suatu perintah yang disebut hukum emas yaitu berbuatlahkepada orang lain sebagaimana kita inginkan orang perbuat kepada kita. Jadi kita bisagunakan prinsip ini dalam pengambilan keputusan. Sementara Adil menurutsepengatahuan saya adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Misal memakaisepatu atau sandal di kaki itu adalah adil, memakai peci di kepala itu adalah adil, danlain-lain. Adapun ayat-ayat Al-Qur‟an yang menyatakan mengenai keadilan,diantaranya:-“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh paranabi yang memamg tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh13Yusuf Al-Qardhawi, Pengantar Studi Hadits (Bandung: Pustaka Setia, 2007), 209.
  13. 13. 13manusia berbuat adil, Maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerimasiksa yg pedih”. (Q.S. Al-Imran: 21)14“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuanyang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain)yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akandapat berlaku adil15, Maka (kawinilah) seorang saja16, atau budak-budak yang kamumiliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (Q.S. An-Nisa‟ : 5)17“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhakmenerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusiasupaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaranyang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagiMaha Melihat”. (Q.S. An-Nisa‟ : 58)18Di antara seruan Islam untuk kebaikan kehidupan manusia ialah penegakan keadilandi antara manusia, siapa pun dia, bukan keadilan bagi Bangsa Arab semata, bukanbagi orang-orang Muslim semata, tapi keadilan bagi semua manusia, sebagaimanayang diterangkan dalam surat Al-Hadid ayat 25.1914Andi Subarkah, dkk., Syamil Al-Qur‟an Miracle The Reference (Bandung: Sygma Publishing,2011), 101.15Berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam meladeni isteri seperti pakaian, tempat, giliran danlain-lain yang bersifat lahiriyah.16Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. sebelum turun ayat Ini poligamisudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh para nabi sebelum nabi Muhammad s.a.w. ayat Ini membatasipoligami sampai empat orang saja.17Andi Subarkah, dkk., Syamil Al-Qur‟an…, 151.18Ibid, 171.19Yusuf Al-Qaradhawi. Bagaimana Berinteraksi dengan Al-Qur‟an (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,2000), 122-123.
  14. 14. 14b. Keputusan yang benar mesti mempertimbangkan dampak dari keputusan itu. Orangyang bijaksana akan selalu mengingat apa akibat keputusan yang ditetapkan terhadapdiri sendiri kuhusunya dan terhadap orang lain umunya.c. Keputusan yang benar tidak selalu tampak dengan jelas. Kita hidup dalam masyarakatyang instan, kita ingin segala sesuatu muncul dengan seketika. Tapi keputusan yangbaik sering kali menuntut waktu yang panjang, tidak selalu jelas apa itu keputusanyang baik yang bisa kita ambil. Jadi perlu ada waktu untuk mendinginkan kita danmembuktikan motivasi kita yang sebenarnya.d. Keputusan yang benar tidak menutup kemungkinan muncul dari keputusan yang salah.Jadi adakalanya kita keliru mengambil keputusan yang salah, kita belajar darikesalahannya apa dan belajar mengenal yang benar itu apa. Nah, justru keputusanyang salah menjadi batu pijakan atau batu loncatan yang membawa kita masuk kedalam keputusan yang benar. Jadi intinya adalah bersedialah untuk meminta maaf jikamenyadari bahwa kita telah membuat keputusan yang salah.e. Keputusan yang di musyawarah; Istilah musyawarah berasal dari bahasa arab yaitumusyawarat yang merupakan bentuk mashdar dari kata kerja Syawara-yusyawiru,berarti “menampakkan dan menawarkan dan mengambil sesuatu”. Makna terakhirterdapat dalam ungkapan Syawartu fulanan fi amri (saya mengambil pendapat si fulanmengenai urusanku). Salah satu keterangan menyatakan bahwa bila orang mukminhendak mengadakan perdamaian harus atas dasar persamaan dan adil diantara mereka,pernyataan ini mengandung konotasi bahwa untuk mengadakan perdamaian ataumengambil keputusan itu harus disepakati dan diterima bersama. Hal ini hanya bisa dilakukan dalam satu prosedur yaitu musyawarah diantara mereka. Tanpa musyawahpersamaan dan adil itu sulit atau bahkan mustahil bisa dipenuhi, karena hanya dalammusyawarah setiap orang memiliki persamaan hak untuk mendapatkan kesempatansecara adil untuk mengungkapkan pendapat dan pandangan masing-masing terhadapmasalah yang sedang dirundingkan. Apabila dikaitkan dengan masalah pendidikan,maka prinsip musyawarah, saya kira sangat diperlukan terutam dalam setiapmenentukan kebijakan. Pemerintah atau pihak sekolah dalam hal ini memiliki hakyang sama saya kira dalam menentukan peraturan atau sistem pendidikan yang akandipakai disetiap lembaga pendidikan nantinya. Dengan musyawarah saya kiramasalah-masalah pendidikan yang terjadi seperti saat ini, bisa diminimalisir bahkandihindari, sehingga pada akhirnya akan mencapai suatu kesepakatan bersama sesuai
  15. 15. 15dengan harapan bersama dan tidak ada salah satu pihak yang merasa dirugikan ataskeputusan bersama itu.f. Amanah (Bertanggung Jawab) ; Amanah dapat diartikan bertanggung jawab seseorangatas segala sesuatu yang diserahkan kepadanya. Jadi dalam hal ini Islam selalumenekankan bahwa setiap kita tidak boleh lari dari tanggung jawab. Tanggung jawabini saya kira erat kaitannya dengan prinsip diatas, setelah kita mendapatkan sebuahkesepakatan dari masalah yang dimusyawarahkan, seseorang yang terlibat dalam halini harus bertanggung jawab terhadap setiap keputusan yang telah disepakati bersamadalam musyawarah. Sebagaimana ayat Al-Qur‟an menjelaskan:“Yang demikian itu adalah Karena Allah Telah menurunkan Al Kitab denganmembawa kebenaran; dan Sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang(kebenaran) Al Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh (darikebenaran)”. (Q.S. Al-Baqarah: 176)20g. DemokrasiJika dilihat basis empiriknya, Islam dan demokrasi memang berbeda. Agama berasaldari wahyu sementara demokrasi berasal dari proses pemikiran manusia. Dengandemikian, agama memiliki tata aturannya sendiri. Namun begitu, tidak ada halanganbagi agama untuk berdampingan dengan demokrasi. Dalam perspektif Islam terdapatnilai-nilai demokrasi meliputi: syura, musawah, adallah, amanah, masuliyyah danhurriyyah.21Sikap bermusyawarah menurut penulis dalam Al-Qur‟an diisyaratkan ada empatyang terdapat dalam surat Al-Imran: 159, sebagaimana terjemahannya telah dikutip di atas:1. Sikap lemah lembut. Seorang pemimpin selaku penentu sebuah keputusan haruslahmenghindari tutur kata yang kasar serta sikap keras kepala, karena jika tidak lemahlembut, yang diajak musyawarah akan pergi. Sebagaimana dalam firman Allah swt:20Ibid, 49.21Afiful Ikhwan, Perencanaan Pendidikan dalam Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan Islam,dalam http://afifulikhwan.blogspot.com/2011/12/perencanaan-pendidikan-dalam-manajemen.html, diaksespada Kamis 15 Nov 2012.
  16. 16. 16……Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah merekamenjauhkan diri dari sekelilingmu.2. Memberi maaf dan membuka lembaran baru. Adakalanya dalam bermusyawarahterdapat perlakuan yang menyinggung atau menyakitkan hati dari pihak lain, inisering terjadi, karena tiada musyawarah tanpa pihak lain. Sebagaimana dalamfirman Allah swt:……Karena itu maafkanlah mereka3. Adanya hubungan yang harmonis kepada Allah swt. Jika ingin mencapai hasilmusyawarah yang terbaik, Sebagaimana dalam firman Allah swt:Mohonkanlah ampun bagi mereka4. Dan yang terakhir di dalam konteks musyawarah adalah setelah musyawarah ituusai kemudia melahirkan sebuah keputusan, maka:Apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepadaAllah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.H. Al-Qur’an dan Al-Hadits1. Teks Ayat dan TerjemahSudah menjadi sunnatullah, bahwa dinamika kehidupan manusia selalu dihiasidengan pertentangan, disitulah pentingnya sebuah keputusan. Hal ini sesuai denganfirman Allah Swt :a.
  17. 17. 17.“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Akuhendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "MengapaEngkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuatkerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbihdengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Q.S. Al-Baqarah:30)22b..“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya danmendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawaratantara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikankepada mereka. (Q.S. Asy-Syuura: 38)23c.“Katakanlah: "Sesungguhnya Aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran)dari Tuhanku24, sedang kamu mendustakannya. tidak ada padaku apa (azab) yangkamu minta supaya disegerakan kedatangannya. menetapkan hukum itu hanyalahhak Allah. Dia menerangkan yang Sebenarnya dan Dia pemberi Keputusan yangpaling baik". (Q.S. Al-An‟am: 57)25d.22Andi Subarkah, dkk., Syamil Al-Qur‟an…, 9.23Khadim al-Haramaini asy-Syarifain, Al-Qur‟an dan Terjemahnya (Jakarta: Depag R.I, 1971),789.24Maksudnya: nabi Muhammad s.a.w. mempunyai bukti yang nyata atas kebenarannya.25Mohammad Adnan. Tafsir Al-Qur‟an Suci (Basa Jawi) (Surakarta: PT. alma‟arif, 1981), 190.
  18. 18. 18“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadapmereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah merekamenjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlahampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu26.Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad (dalam mengambilkeputusan), Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukaiorang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (Q.S. Al-Imran: 159)27e.“Maka itu adakanlah suatu Keputusan antaraku dan antara mereka, danselamatkanlah Aku dan orang-orang yang mukmin besertaku". (Q.S. Asy-Syuura: 118)28Diputuskannya urusan mereka dengan cara musyawarah diantara mereka (para ahli)dalam mengambil suatu keputusan tentu tidak bisa lepas dari keterlibatan berbagai pihakdalam tahap proses pengambilan keputusan tersebut, selain sifat dasar manusia itu adalahbukti bahwasannya manusia makhluk sosial, hal tersebut juga sudah menjadi kodratsebagaimana terjemahan dari ayat diatas. Ayat tersebut sudah menjelaskan lebih dulu daripernyataan Siagian yang dikutip oleh Mujamil Qomar bahwa, pelaksanaan suatu keputusanakan berjalan lancar apabila para pelaksana sejak semula dilibatkan dalam prosespengambilan keputusan, lalu perkara yang akan diputuskan setelah dimusyawarahkanmeminta pertimbangan kembali kepada ahlinya atau pemimpin. Ini berarti gaya demokratisdalam proses pengambilan keputusan akan lebih menjamin keberhasilan pelaksanaan suatuprogram. Lebih rincinya penjelasan ayat diatas tentang proses pengambilan keputusanmeliputi tiga kegiatan, yaitu :26Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi,kemasyarakatan dan lain-lainnya.27Andi Subarkah, dkk., Syamil Al-Qur‟an…, 139.28Mohamad Taufiq. Al-Qur‟an dan Terjemahnya (Qur‟an In Word Ver 1.0.0: taufiq product)
  19. 19. 19a. Kegiatan yang menyangkut pengenalan, penentu dan diagnosis masalah.b. Kegiatan yang menyangkut pengembangan alternative pemecahan masalah.c. Kegiatan yang menyangkut evaluasi dan memilih pemecahan masalah terbaik.29Sejak awal, ayat Al-Qur‟an diatas sudah menjelaskan kepada kita semua tentangmanajemen dalam mengambil suatu keputusan, dimulai dari diagnosis, alternative danevaluasi, juga tidak boleh hal tersebut ditangani oleh yang bukan ahlinya, kata “antaramereka” disitu sudah barang tentu penegasan yang jelas adanya, yaitu para ahli ataupemimpin diantara mereka.Didalam manajemen pendidikan Islam pula pemimpin tertinggi dituntut harus bisamelihat lebih jauh kedepan dari pemimpin-pemimpin lainnya, pemimpin yang memilikivisi dan misi jauh kedepan, diyakini akan mampu mengadaptasi antara organisasi yangdipimpinnya terhadap lingkungan eksternal yang terus berubah30. Pendapat Sunarta inijuga menjelaskan pada surat Al-Baqarah: 30 "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yangtidak kamu ketahui." Jelas memang Allah swt adalah Maha Segalanya, akan tetapi jika kitakritisi kedalam Peran Manajemen (Manajer), seorang pemimpin harus membawaorganisasi kelompoknya kepada yang lebih baik, salah satunya dalam hal mengambil suatukeputusan yang tepat, walaupun muncul pertentangan dari anggota atau bawahan31, tugaspemimpinlah yang harus bisa meyakini anggotanya.2. AsbabunnuzulTidak semua ayat Al-Qur‟an memiliki asbabunnuzul, perlu diketahui semuaayat yang penulis nukil untuk penjelasan makalah ini, dari lima ayat diatas tidaksatupun yang memiliki asbabunnuzul. Akan tetapi penulis berusaha mengkaitkannyakedalam surat Al-Qur‟an yang terdapat asbabunnuzulnya, dalam artian untukmejelaskan pembahasan pada makalah ini agar tidak keruh.Surah Al-Baqarah adalah surah ke-2 dan terpanjang yang seluruhnya diturunkan diMadinah, sehingga digolongkan ke dalam surah Madaniyah. Sebagian besar surah29Mujamil Qomar, Strategi Baru Pengelolaan Lembaga Pendidiakan Islam-ManajemenPendidikan Islam (Surabaya: Erlangga, 2007), 295-297.30Sunarta. Peran Visi bagi Organisasi ditengah Era Globalisasi (Jurnal Sosial Ekonomi: UNY,t.t), 1-11.31Protes malaikat kepada Allah swt, karena hendak menjadikan khalifah di muka bumi,sebagaimana dalam surat Al-Baqarah: 30.
  20. 20. 20Al Baqarah ini turun dipermulaan tahun Hijriah. Adapun surah Al Baqarah ayat 30secara khusus tidak memiliki asbabun nuzul.Isi kandungan Surah Al Baqarah Ayat 30, antara lain sebagai berikut.a. Manusia berfungsi sebagai si pembuat keputusan dimuka bumi. Ayat inimenunjukkan bahwa yang mengatur segala yang ada di bumi adalahmanusia sebagai makhluk Allah yang sempurna dan memiliki potensi,diantaranya hawa nafsu, pendengaran, pengelihatan, hati/perasaan,penciuman, akal pikiran, mulut, tangan, kaki, dll.b. Fungsi manusia sebagai pembuat keputusan di bumi yakni sebagai berikut. Menjadi pemimpin, baik bagi orang lain maupun dirinya sendiridalam upaya mencari ridha Allah dengan mengabdi dan menyembahhanya kepada-Nya. Menyejahterakan dan memakmurkan bumi dengan keputusanmanusia. Allah menciptakan alam semesta, baik flora dan faunauntuk makhluk, khususnya manusia. Oleh karena itu, manusia wajibmengelola, merawat, mengambil keputusan dan memanfaatkanhasilnya untuk kesejahteraan seluruh makhluk.c. Upaya antipasi terhadap rintangan pada umat manusia karena di dalammenjalankan fungsi atau tugas manusia salah satunya me-menej pendidikanIslam. Iblis dan setan tidak akan henti-hentinya menggoda manusia agartersesat. Adapun cara iblis atau setan menggoda manusia adalah denganmasuk ke dalam kalbu manusia sehingga selalu menimbulkan perselisihan,permusuhan, dan perusakan salah satunya menganggu dari sebuahkeputusan manajemen pendidikan Islam.32Surah Asy-Syuura adalah surah ke-42 dalam al-Quran. Surah ini terdiri dari 53ayat dan termasuk surah Makiyyah. Dinamakan Asy-Syura yangberarti Musyawarah diambil dari kata Syuura yang terdapat pada ayat 38 padasurah ini. Dalam ayat tersebut diletakkan salah satu dari dasar-dasar pemerintahanIslam ialah musyawarah. Surah ini kadang kala disebut juga Ha Mim Ain SinQaf karena surah ini dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah itu.3332Penulis menyadur (mengolah hasil pemahaman sendiri) dari ayat terkait.33Wikepedia, Ensiklopedia Bebas, dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Surah_Asy-Syura, diaksespada Kamis 15 Nov 2012.
  21. 21. 21Ayat 38 ini turun dengan orang-orang Anshar yang disuruh (diberi keputusan)untuk memenuhi ajakan Rasulullah untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nyaserta Al-Qur‟an, sebagian mereka beriman dan mendirikan Shalat. Maka dari itu,turunlah ayat ini.34Pendapat Quraish Shihab, ayat ini turun sebagai pujian kepadakelompok Muslim di Madinah (Anshar) yang bersedia membela Nabi saw danmenyepakati hal tersebut melalui musyawarah yang mereka laksanakan di rumahAbu Ayyub Al-Anshari. Namun demikian, ayat ini juga berlaku umum, mencakupsetiap kelompok yang melakukan musyawarah.353. Kandungan Ayata. Surah Al-Baqarah Ayat 30Sejak dulu manusia sudah diciptakan oleh Allah pada awalnya menjadiumat yang akan menjadi pemimpin di surga. Manusia akan menjadi pemimpinmalaikat dan syetan, akibatnya syetanpun cemburu, dan berbuat murka dan tidakpatuh terhadap Allah. Seiring berjalannya waktu syetanpun berhasil mempengaruhimanusia untuk melanggar aturan dari Allah swt, sehingga manusia dapat hukumanuntuk diturunkan didunia.Para malaikat khawatir, bahwa umat manusia (keturunan Adam) akanmembuat kerusakan di bumi. Padahal para malaikat merupakan makhluk yangselalu bertasbih, mensucikan Allah. Ketidaktahuan para malaikat dan kekhawatiranpara malaikat itu menjadi hilang setelah mendapatkan penjelasan dari Allah bahwaAllah lebih mengetahui apa yang tidak diketahui oleh para malaikat.36Alasan penulis mengambil surah Al-Baqarah: 30 ini, sebagaimanakesesuaian pada makalah ini “pengambilan keputusan”, dalam kandungan ayattersebut menurut kaca mata penulis dalam memahami terjemahan “Ingatlah ketika34Az-Zuhaily, Wahbah. At Tafsir Al Wajiz „ala Hamisil Qur‟anil „Adzim (Damaskus Syiria: DarulFikr, t.t), 488.35Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur‟an Fungsi dan Peran Wahyu dalam KehidupanMasyarakat (Bandung: Mizan, 1994), 471.36Firman, Kandungan Surah Al-Baqarah: 30, dalamhttp://www.firmanthok.web.id/2009/10/kandungan-surat-al-baqarah-ayat-30.html, dikases pada 15 Nov2012.
  22. 22. 22Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendakmenjadikan seorang khalifah di muka bumi." Allah swt selaku Tuhan Yang MahaKuasa atas segala sesuatu-Nya, akan mengeluarkan keputusan sepihak tanpabermusyawarah terlebih dahulu dengan dasar kekuasaan-Nya, bahwa akan“menjadikan khalifah di muka bumi”, karena mustahil Sang Penciptabermusyawarah meminta pendapat dalam mengambil suatu keputusan, walaupundidalam Tafsir Al-Maraghi dikatakan, bahwa malaikat protes terhadap keputusanyang diambil oleh Allah swt dengan mempertanyakan dan meragukan keputusanAllah swt, sebagaiamana dalam ayat ini yang artinya: "Mengapa Engkau hendakmenjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanyadan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memujiEngkau dan mensucikan Engkau?".b. Surah Asy-Syuura Ayat 38Dalam ayat tersebut Allah menyerukan agar umat Islam mengesakan danmnyembah Allah SWT. Menjalankan shalat fardu lima waktu tepat pada waktunya.Apabila mereka menghadapi masalah maka harus diselesaikan dengan caramusyawarah. Rasulullah SAW sendiri mengajak para sahabatnya agar merekabermusyawarah dalam segala urusan, selain masalah-masalah hukum yang telahditentukan oleh Allah SWT. Persoalan yang pertama kali dimusyawarahkan olehpara sahabat adalah khalifah. Karena Nabi Muhammad SAW sendiri tidakmenentukan siapa yang harus jadi khalifah setelah beliau wafat. Akhirnyadisepakati Abu Bakarlah yang menjadi khalifah.37Kata ( ) amruhum/ urusan mereka menunjukkan bahwa yang merekamusyawarahkan untuk suatu keputusan adalah hal-hal yang berkaitan denganmereka (urusan duniawi diluar urusan hukum agama), serta yang berada dalamwewenang mereka. Karena itu masalah ibadah mahdhah/murni yang sepenuhnyaberada dalam wewenang Allah tidaklah termasuk hal-hal yang dapatdimusyawarahkan. Di sisi lain, mereka yang tidak berwenang dalam urusan yangdimaksud, tidaklah perlu terlibat dalam musyawarah itu, kecuali jika di ajak olehyang berwewenang, karena boleh jadi yang mereka musyawarahkan adalah37Bustamam Ismail, Al-Qur‟an tentang Demokrasi, dalamhttp://hbis.wordpress.com/2008/12/10/al-qur%E2%80%99an-tentang-demokrasi/, diakses pada Kamis, 15Nov 2012.
  23. 23. 23persoalan rahasia antar mereka. Al-Maraghi mengatakan apabila merekaberkumpul mereka mengadakan musyawarah untuk memeranginya danmembersihkan sehingga tidak ada lagi peperangan dan sebagainya. Ibnu Katsirmenjelaskan bahwa mereka bermusyawarah didalam mengambil suatu keputusanuntuk mereka ikuti pendapat itu, salah satu contohnya dalam hal peperangan.4. Tafsir AyatTafsir At-Tabari Al-Baqarah: 30Ayat ini mengingatkan nikmat-nikmat Allah kepada manusia, di antaranyadinobatkannya Adam a.s. sebagai khalifah di bumi. Menurut At-Thabari maksud(Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi) adalah mengangkatAdam a.s. sebagai khalifah di bumi dan mengangkat setelahnya khalifah-khalifahlain silih berganti. Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa yang dimaksud khalifahadalah suksesi kepemimpinan yang silih berganti sejak Adam a.s. hinggaketurunannya sampai hari kiamat.Menurut Ibnu Abbas, Adam a.s. diangkat sebagai khalifah di muka bumimenggantikan bangsa Jin. Sedangkan At-Thabari berpendapat, berdasarkan riwayatIbnu Abbas r.a. dan Ibnu Mas‟ud r.a., bahwa yang diangkat sebagai khalifah Allahhanyalah Adam a.s. dan mereka yang taat kepada Allah. Mereka bertugasmenegakkan hukum Allah ditengah-tengah makhluknya. Adapun sebab paramalaikat itu bertanya (Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusakdan menumpahkan darah disana). Adalah untuk memperoleh informasi, karenapara malaikat itu, menurut riwayat Ibnu Abbas r.a. pernah ditugaskan untukmembasmi Jin penghuni bumi sebelum Adam a.s., yang kebetulan suka berbuatkerusakan dan menumpahkan darah.Maka timbulah pertanyaan ini karena mereka hendak memperolehinformasi dari Allah, bukan karena para malaikat itu tahu perkara ghaib, tidak pulakarena mereka berburuk sangka, atau hendak mengingkari keputusan Allah SWT.38Tafsir Ibnu Katsir Al-Baqarah: 30Setelah menyempurnakanpenciptaan langit dan bumi, Allah SWT kemudianmengamanati manusia menjadi khalifah di muka bumi. Menurut Qurthubi,38At-Tabari, Abu Ja‟far Muhammad bin Jarir, Tafsir At-Thabari Jilid I (Kairo: Dar Hijr, 2001),470-500.
  24. 24. 24pernyataan malaikat diatas semata karena mereka tahu karakter manusia yang sukaberbuat kerusakan, kezaliman, dan perbuatan dosa sehingga mengakibatkanpertumpahan darah diantara sesama manusia.Pernyataan malaikat itu bukanlah protes kepada Allah SWT, bukan pulaekspresi iri dan dengki atas kepercayaan Allah SWT kepada manusia. Pernyataanitu semata-mata sekedar bahan pertimbangan dari malaikat yang disampaikankepada Allah SWT. Pernyataan tersebut lebih bermakna pertanyaan atas keputusanAllah SWT, bukan penolakan. Dengan kata lain, malaikat hendak mengatakan, “YaTuhan kami apa hikmah di balik keputusanMu menjadikan manusia sebagaiKhalifah di muka bumi ini, sementara mereka suka berbuat kerusakan dankezaliman?” Malaikat hendak bertanya, kalau pilihan itu disebabkan penghambaanmanusia kepada Allah SWT, bukankah malaikat lebih baik dari pada manusiadalam penghambaan? Hal itu karena malaikat selalu membaca tasbih dan tahmidkepada-Nya siang dan malam.Allah menegaskan kepada malaikat, Dia Maha Mengetahui atas keputusanyang diambilNya. Allah SWT lebih mengetahui keadaan manusia yang telahbanyak melakukan kerusakan. Allah SWT menjadikan diantara mereka para Nabidan Rasul. Selain itu, diantara manusia banyak sekali orang jujur, saleh, zuhud,khusyu‟, dekat dengan Allah SWT, dan mengikuti semua petunjuk RasulullahSAW.39Tafsir At-Tabari Asy-Syuura: 38Allah SWT mengingatkan kepada manusia bahwa perhiasan dunia yangAllah berikan, berupa harta dan anak, merupakan kekayaan yang dapat dinikmatisepanjang kehidupan dunia. Namun, itu bukan dari kekayaan akhirat dan tidakdapat memberi manfaat di hari kiamat. Kemudian Allah berfirman apa yang Allahsiapkan bagi mereka yang taat dan beriman kepada-Nya di akherat lebih baik dariapa yang diberikan di dunia, dan kenikmatan di akherat adalah kekal. Dan apa yangdiberikan di dunia hanya bersifat sementara. Dan hanya kepada Allah-lah orangmukmin bertawakkal menyerahkan segala urusan kepada-Nya.Kemudia, Allah SWT menjabarkan sifat-sifat orang yang akanmendapatkan kenikmatan itu, yaitu: yang beriman dan yang menjauhi dosa-dosa39Mubarakfury. Syeikh Shafiyurrahman. Al-Misbah Al-Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir (Riyadh:Darussalam, 1999), 40-41.
  25. 25. 25besar dan juga yang menjauhi perbuatan yang keji (berbuat zina); apabila merekaditimpa suatu kejahatan sehingga membuat mereka marah, mereka mengampuniorang yang berbuat kejahatan tersebut, dan memaafkan kesalahannya: memenuhipanggilan Allah ketika mereka dipanggil untuk mengikrarkan ketauhidan, ke-esaan-Nya dan membebaskan diri dari segala bentuk peribadatan kepada selain-Nya. Mereka mendirikan shalat yang wajib dengan memenuhi batasan-batasannyadan melakukannya pada waktu-waktunya: apabila mereka menghadapi suatuperkara, mereka bermusyawarah untuk memecahkannya: yaitu mereka menunaikankewajiban harta mereka, diantaranya dengan menunaikan zakat, infak kepada orangyang berhak menerimanya.40Tafsir Ibnu Kastir Asy-Syuura: 38Maksud firman Allah, (Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruanTuhan), yaitu mereka yang mengikuti Rasul-Nya dan mentaati perintah-Nya sertamenjauhi larangan-Nya. (Dan melaksanakan shalat), merupakan ibadah teragungkepada Allah SWT. (Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarahantara mereka) maksudnya mereka tidak mau memutuskan suatu perkara ataumengambil suatu keputusan, kecuali mereka musyawarahkan terlebihdahulu.musyawarah ini membantu mereka memutuskan perkara-perkara sepertiperang dan lainnya.41Tafsir Muyassar Asy-Syuura: 38Disyari‟atkan kepada manusia untuk saling bermusyawarah mengenai keputusanmereka tanpa mempermalukan salah seorang di antara mereka dengan pendapatnyadi hadapan saudara-saudaranya yang beriman. Mereka menjalin hubungan denganAllah melalui shalat dan menjalin hubungan dengan kaum Muslimin melaluimusyawarah dan nasihat.42Tafsir At-Thabari Asy-Syuura: 118Allah telah menyajikan kepada rasul-Nya kisah Ibrahim, bapak pertama danpendustaan yang ia terima dari kaumnya. Selanjutnya, pada rangkaian ayat-ayat ini(105-102) Allah menyajikan kisah bapak kedua, Nabi Nuh, dan pendustaan yangdia terima dari kaumnya terhadap dakwahnya, serta makin larutnya mereka40At-Tabari, Abu Ja‟far Muhammad bin Jarir, Tafsir At-Thabari Jilid XX..., 420-523.41Mubarakfury, Syeikh Shafiyurrahman, Al-Misbah Al-Munir..., 981.42„Aidh al-Qarni, Tafsir Muyassar Jidil 4 (Jakarta: Qisthi Press, 2008), 23.
  26. 26. 26menyembah berhala dan patung. Akibatnya, mereka ditimpa azab seperti yangditimpakan kepada umat-umat lain yang mendustakan para rasul, setelah Diamenangguhkan mereka dalam masa yang lama. Mereka semua ditenggelamkanoleh topan, kecuali orang-orang yang diangkut dengan bahtera.Sedangkan pada ayat ini dijelaskan permohonan Nuh kepada Allah agarmengambil keputusan antara dia dengan mereka: membinasakan merekasebagaiamana para rasul terdahulu, dan menyelamatkannya beserta orang-orangyang beriman kepadanya. Di sini terdapat isyarat, bahwa Nuh memohon kepadaAllah agar menimpakan azab kepada mereka. Hal ini diisyaratkan olehperkataannya: “Selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman bersamaku”.Permohonan Nuh dikabulkan oleh Allah. Allah menyelamatkan Nuh danpara pengikutnya yang beriman, serta Allah menenggelamkan orang yang kafirkepada-Nya dan mendurhakai perintah-Nya.43Tafsir Ibnu Kasir Asy-Syuura: 118Nabi Nuh a.s marah dan mengadu kepada Allah Swt. Dia meminta agarAllah Swt. Memberikan hukuman bagi kaumnya. Hal itu digambarkan dalam ayat(117). Karena permohonan itulah Allah Swt. Kemudian menghukum kaum NabiNuh a.s. sebagai balasan atas pembangkangan dan penentangan terhadap dakwahyang dilakukan oleh Nabi Nuh a.s.445. Al-Hadist dan Terjemahnyaa.43At-Tabari, Abu Ja‟far Muhammad bin Jarir, Tafsir At-Thabari Jilid XVIII..., 603-605.44Mubarakfury. Syeikh Shafiyurrahman. Al-Misbah Al-Munir fi Tahzib…, 783.
  27. 27. 27“Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin As Shalt telah menceritakankepada kami Zuhair dari Jafar bin Burqan telah menceritakan kepada kami Maimunbin Mihran ia berkata: "Dahulu Abu Bakar radliallahu anhu apabila mendapat suatumasalah (percekcokan) ia langsung mencarinya dalam Kitabullah subhanallahu wataala, jika beliau mendapatkan penjelasannya ia putuskan masalah itu dengannya,tetapi jika tidak didapati dalam Kitabullah dan ia mengetahui suatu sunnahRasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam masalah tersebut, ia putuskandengannya, tetapi jika ia tidak menemukannya, ia segera keluar dan menanyakannyakepada kaum muslimin, kemudian berkata: aku mendapat masalah ini dan ini,apakah kalian pernah mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallampernah memutuskan dalam masalah ini dengan suatu keputusan hukum?, biasanyasetelah beberapa orang berkumpul, masing-masing dari mereka menyampaikan suatukeputusan hukum dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, biasanya Abu Bakarradliallahu anhu berkata: Segala puji bagi Allahyang telah menjadikan pada kaumkami yang dapat menghapal sunnah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Jikatidak ia dapatkan dalam sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam, iamengumpulkan pembesar dan orang pilihan dari para sahabat untuk diajakbermusyawarah, jika telah sepakat (pendapat mereka) maka dengan dasarkeputusan bulat tersebut ia memberikan keputusan hukum". (Riwayat Ad DarimiNo.161 dan Al Baihaqi, dan Al Hafiz Ibnu Hajar menyatakan bahwa sanadnya adalahshahih)45b.“Telah menceritakan kepada kami Hushain bin Ali dari Zai`dah dari Simak dariHanasy dari Ali Radhiallah anhu, dia berkata; Rasulullah shallallahu alaihiwasallam bersabda: "Jika ada dua orang yang meminta keputusan kepadamu makajanganlah kamu ambil keputusan untuk orang pertama sampai kamu mendengarapa yang dikatakan pihak lainnya, niscaya kamu akan bisa melihat apa yang haruskamu putuskan." Ali Radhiallah anhu berkata; "Sejak saat itu saya selalu dapatmemutuskan perkara." (H.R. Ahmad No.1148, Abu Dawud dan Tirmidzi dan Iahasankan-dia, dan dikuatkan-dia oleh Ibnul-Madini dan dishahkan-dia oleh IbnuHibban)46c.45Ibnu Katsir, Sirah dan Tarikh Islam, Al Bidayah wa An Nihayah Jilid 6..., 308.46A. Hasan, Terjemah Bulughul Maram Bab Memutus Perkara No.1415 (Bandung: CV.Diponegoro, 2000), 639.
  28. 28. 28“Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, telah menceritakankepada kami Al Laits dari Yunus dari Ibnu Syihab dari Anas bin Malik berkata, AbuDzar menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Saataku di Makkah atap rumahku terbuka, tiba-tiba datang Malaikat Jibril Alaihis Salam.Lalu dia membelah dadaku kemudian mencucinya dengan menggunakan air zamzam.Dibawanya pula bejana terbuat dari emas berisi hikmah dan iman, lalu dituangnya kedalam dadaku dan menutupnya kembali. Lalu dia memegang tanganku danmembawaku menuju langit dunia. Tatkala aku sudah sampai di langit dunia, JibrilAlaihis Salam berkata kepada Malaikat penjaga langit, Bukalah. Malaikat penjagalangit berkata, Siapa Ini? Jibril menjawab, Ini Jibril. Malaikat penjaga langitbertanya lagi, Apakah kamu bersama orang lain? Jibril menjawab, "Ya, bersamakuMuhammad shallallahu alaihi wasallam. Penjaga itu bertanya lagi, Apakah diadiutus sebagai Rasul? Jibril menjawab, Benar. Ketika dibuka dan kami sampai di
  29. 29. 29langit dunia, ketika itu ada seseorang yang sedang duduk, di sebelah kanan orang ituada sekelompok manusia begitu juga di sebelah kirinya. Apabila dia melihat kepadasekelompok orang yang di sebelah kanannya ia tertawa, dan bila melihat ke kirinya iamenangis. Lalu orang itu berkata, Selamat datang Nabi yang shalih dan anak yangshalih. Aku bertanya kepada Jibril, Siapakah dia? Jibril menjawab, "Dialah AdamAlaihis Salam, dan orang-orang yang ada di sebelah kanan dan kirinya adalah ruh-ruh anak keturunannya. Mereka yang ada di sebelah kanannya adalah para ahli surgasedangkan yang di sebelah kirinya adalah ahli neraka. Jika dia memandang kesebelah kanannya dia tertawa dan bila memandang ke sebelah kirinya dia menangis.Kemudian aku dibawa menuju ke langit kedua, Jibril lalu berkata kepada penjaganyaseperti terhadap penjaga langit pertama. Maka langit pun dibuka." Anas berkata,"Kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam menyebutkan bahwa pada tingkatanlangit-langit itu beliau bertemu dengan Adam, Idris, Musa, Isa dan Ibrahim semogaAllah memberi shalawat-Nya kepada mereka. Beliau tidak menceritakan kepadakukeberadaan mereka di langit tersebut, kecuali bahwa beliau bertemu Adam di langitdunia dan Ibrahim di langit keenam." Anas melanjutkan, "Ketika Jibril berjalanbersama Nabi shallallahu alaihi wasallam, ia melewati Idris. Maka Idris pun berkata,Selamat datang Nabi yang shalih dan saudara yang shalih. Aku bertanya kepadaJibril, Siapakah dia? Jibril menjawab, Dialah Idris. Lalu aku berjalan melewatiMusa, ia pun berkata, Selamat datang Nabi yang shalih dan saudara yang shalih.Aku bertanya kepada Jibril, Siapakah dia? Jibril menjawab, Dialah Musa.Kemudian aku berjalan melewati Isa, dan ia pun berkata, Selamat datang saudarayang shalih dan Nabi yang shalih. Aku bertanya kepada Jibril, Siapakah dia? Jibrilmenjawab, Dialah Isa. Kemudian aku melewati Ibrahim dan ia pun berkata,Selamat datang Nabi yang shalih dan anak yang shalih. Aku bertanya kepada Jibril,Siapakah dia? Jibril menjawab, Dialah Ibrahim shallallahu alaihi wasallam. IbnuSyihab berkata, Ibnu Hazm mengabarkan kepadaku bahwa Ibnu Abbas dan AbuHabbah Al Anshari keduanya berkata, "Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:"Kemudian aku dimirajkan hingga sampai ke suatu tempat yang aku dapatmendengar suara pena yang menulis." Ibnu Hazm berkata, "Anas bin Malikmenyebutkan, "Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Kemudian Allah azzawajalla mewajibkan kepada ummatku shalat sebanyak lima puluh kali. Maka akupergi membawa perintah itu hingga aku berjumpa dengan Musa, lalu ia bertanya,Apa yang Allah perintahkan buat umatmu? Aku jawab: Shalat lima puluh kali.Lalu dia berkata, Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tidak akansanggup! Maka aku kembali dan Allah mengurangi setengahnya. Aku kemudiankembali menemui Musa dan aku katakan bahwa Allah telah mengurangisetengahnya. Tapi ia berkata, Kembalilah kepada Rabbmu karena umatmu tidakakan sanggup. Aku lalu kembali menemui Allah dan Allah kemudian mengurangisetengahnya lagi. Kemudian aku kembali menemui Musa, ia lalu berkata,Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tetap tidak akan sanggup. Maka akukembali menemui Allah Taala, Allah lalu berfirman: Lima ini adalah sebagaipengganti dari lima puluh. Tidak ada lagi perubahan keputusan di sisi-Ku! Makaaku kembali menemui Musa dan ia kembali berkata, Kembailah kepada Rabb-Mu! Aku katakan, Aku malu kepada Rabb-ku. Jibril lantas membawaku hingga sampai diSidratul Muntaha yang diselimuti dengan warna-warni yang aku tidak tahu bendaapakah itu. Kemudian aku dimasukkan ke dalam surga, ternyata di dalamnya banyak
  30. 30. 30kubah-kubah terbuat dari mutiara dan tanahnya dari minyak kesturi." (H.R.Bukhari)47d.“Telah menceritakan kepada kami Katsir bin Hisyam berkata; telah menceritakankepada kami Jafar berkata; saya pernah bertanya kepada Azzuhri mengenai seorangsuami yang memberi pilihan kepada isterinya, lalu ia memilihnya. Ia menjawab; telahmenceritakan kepadaku Urwah bin Az Zubair dari Aisyah berkata; Nabi shallaallahualaihi wa sallam pernah mendatangiku seraya menuturkan: "Sesungguhnya akuakan paparkan kepadamu suatu perkara dan hendaknya engkau jangan terburu-buru mengambil keputusan hingga engkau bermusyawarah dengan kedua orangtua mu." Saya berkata; "Perkara apa ini." Ia berkata; kemudian beliau membacakanayat kepadaku; "Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu: "Jika kamu sekalianmengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, Maka marilah supaya kuberikankepadamu mutah dan Aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamusekalian menghendaki (keredhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) dinegeri akhirat, Maka Sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baikdiantaramu pahala yang besar." ia berkata; saya berkata; "Untuk apa egkaumenyuruhku bermusyawarah dengan kedua orang tuaku, karena aku pasti memilihAllah dan Rasul-Nya serta kehidupan akhirat." Nabi shallaallahu alaihi wa sallammerasa bahagia dan kagum terhadap hal itu. Beliau menuturkan; "Aku akanmemaparkan kepada teman-temanmu yang lain sebagaimana apa yang aku paparkankepadamu." Beliau pun menuturkan kepada mereka sebagaimana yang dikatakankepada Aisyah, beliau menuturkan; "Aisyah telah memilih Allah dan Rasul-Nya sertakehidupan akhirat." Aisyah berkata; "Rasulullah shallaallahu alaihi wa sallam telahmemberi pilihan kepada kami, tapi kami tidak melihat ada yang dicerai." (H.R.Ahmad)48e.47Lembaga Ilmu Dakwah & Publikasi Sarana Keagamaan, Kitab 9 Imam Hadist Kitab Shalat BabBagaiamana Shalat diwajibkan pada Malam Isra‟ (Jakarta Timur: Lidwa Pusaka i-Software, 2011), HadistNo. 336.48Ibid, kitab sisa musnad sahabat Anshar, No Hadist: 25069.
  31. 31. 31:“Telah menceritakan kepada kami Musa berkata, telah menceritakan kepada kamiAbu Awanah berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Umair dariJabir bin Samrah berkata, "Penduduk Kufah mengadukan Sad (bin Abu Waqash)kepada Umar. Maka Umar menggantinya dengan Ammar. Mereka mengadukan Sadkarena dianggap tidak baik dalam shalatnya. Maka Sad dikirim kepada Umar danditanya, "Wahai Abu Ishaq, penduduk Kufah menganggap kamu tidak baik dalamshalat?" Abu Ishaq menjawab, "Demi Allah, aku memimpin shalat merekasebagaimana shalatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Tidaklah akumengurangi sedikitpun dalam melaksanakan shalat Isya bersama mereka. Akumemanjangkan bacaan pada dua rakaat pertama dan aku pendekkan pada dua rakaatyang akhir." Umar berkata, "wahai Abu Ishaq, kami juga menganggap begituterhadapmu." Kemudian Umar mengutus seorang atau beberapa orang bersama Sadke Kufah. Orang itu kemudian bertanya kepada para penduduk tentang Sad, tidak adasatupun masjid yang dikunjungi tanpa menanyakan tentang Sad, mereka semuamengagumi Sad dan mengenalnya dengan baik. Hingga akhirnya sampai ke sebuahmasjid milik bani Abs, lalu salah seorang dari mereka yang bernama Usamah binQatadah dengan nama panggilan Abu Sadah berkata, "Jika kalian minta pendapatkami, maka kami katakan bahwa Sad adalah seorang yang tidak memudahkanpasukan, bila membagi tidak sama dan tidak adil dalam mengambil keputusan."Maka Sad berkata, "Demi Allah, sungguh aku akan berdoa dengan tiga doa; YaAllah jika dia, hambamu ini, berdusta, dan mengatakan ini dengan maksud riya atausumah, maka panjangkanlah umurnya, panjangkanlah kefakirannya dancampakkanlah dia dengan berbagai fitnah." Setelah beberapa masa kemudian, orangtersebut bila ditanya mengapa keadaannya jadi sengsara begitu, maka ia menjawab,"Aku orang tua renta yang terkena fitnah akibat doanya Sad." Abdul Malik berkata,"Aku sendiri melihat kedua alisnya telah panjang ke bawah menutupi kedua matanya,dan sungguh dia tersia-siakan saat berada di jalan-jalan." (H.R. Bukhari)4949Ibid, Kitab Azan, Bab : Wajibnya Membaca (Surah Al-Fatihah) Bagi Imam dan Mamum dalamSetiap Shalat, Baik Ketika Muqim Maupun Sedang Bepergian, Baik Shalat Jahriyah (suara dikeraskan)Maupun Sirriyyah, No. Hadist : 713.
  32. 32. 326. Sanad Perawi Hadista. Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Kaabbin Saad binTaymi bin Murrah (kalangan : sahabat, masa hidup: Madinah, W:13H)Rawi Terputus (kalangan tabi‟ut tabi‟in)Jafar bin Burqan (kalangan : tabi‟ tabi‟in tua, masa hidup: Jazirah, W:150H, burukhafalannya)Menurut ulama:Ahmad bin Hambal la ba`sa bihYaqub bin sufyan TsiqahMuhammad bin Sad Tsiqah ShaduuqZuhair bin Muawiyah bin Hudaij (Kalangan : Tabiut Tabiin tua, masa hidup:Kufah, W: 173H, tsiqah hafiz)Menurut ulama:Yahya bin Main TsiqahAn Nasai Tsiqah TsabatAl Bazzar TsiqahIbnu Hibban disebutkan dalam ats tsiqaatAdz Dzahabi AlhafidzAdz Dzahabi tsiqah hujjahMaimun bin Mihran (kalangan : tabi‟in biasa, masa hidup: Jazirah, W:117H, burukhafalannya) Menurut ulama:Abu Hatim TsiqahAhmad bin Hambal TsiqahAl Ajli TsiqahAbu Zurah TsiqahAn Nasai TsiqahIbnu Sad TsiqahIbnu Hibban ats tsiqaatIbnu Hajar al Asqalani "tsiqah,faqih"Adz Dzahabi tsiqah ahli ibadah
  33. 33. 33Hadist ini berdasarkan penyandarannya mauquf, yaitu: perkataan, perbuatan atau taqrir yangdisandarkan kepada seorang sahabat.Hadist berdasarkan gugurnya sanad munqothi‟, yaitu: hadits/berita yang di tengah sanadnyagugur/terputus seorang rawi atau beberapa rawi, tetapi tidak berturut-turut.Hadist berdasarkan banyaknya jalan Gharib, yaitu: hadits yang diriwayatkan hanya dengan satusanad.50b.50Lembaga Ilmu Dakwah & Publikasi Sarana Keagamaan, Kitab 9 Imam Hadist, (Jakarta Timur:Lidwa Pusaka i-Software, 2011)Muhammad bin Ash Shalti bin Al Hajjaj (Kalangan : Tabiul Atba tua, masa hidup: Kufah, W: 218H, adil dan kuat hafalanya)Menurut ulama:Abu Zurah TsiqahAbu Hatim TsiqahIbnu Hibban ats tsiqaatIbnu Hajar al Asqalani TsiqahAli bin Abi Thalib bin Abdu Al Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf(Kalangan : Shahabat, masa hidup : Kufah, W: 40H)Simak bin Harb bin Aus (Kalangan : Tabiin biasa W:123H, buruk hafalanya)Menurut ulama:Yahya bin Main TsiqahAbu Hatim Ar Rozy shaduuq tsiqahIbnu Hibban Banyak salahAdz Dzahabi TsiqahAdz Dzahabi Jelek HafalannyaZaidah bin Qudamah (Kalangan: Tabiut Tabiin tua, masa hidup : Kufah ,W:161H, Tsiqah hafiz) Menurut ulama:Abu Zurah ShaduuqAbu Hatim TsiqahAn Nasai TsiqahIbnu Hajar al Asqalani tsiqah tsabatAdz Dzahabi tsiqah hujjahAdz Dzahabi AlhafidzHanasy bin Al Mutamir (Kalangan: Tabiin pertengahan, masa hidup :Kufah, buruk hafalanya)Menurut ulama:Abu Daud TsiqahAn Nasai laisa bi qowi (tidak kuat hafalan)Al Ajli Tabii TsiqohIbnu Hajar alAsqalaniShaduuq Lahu Auham (Jujur, tapi ia mempunyaibeberapa kesalahan)
  34. 34. 34Hadist ini berdasarkan penyandarannya: Marfu ialah sabda atau perbuatan, taqriratau sifat yang disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.Hadist berdasarkan banyaknya jalan: Gharib, yaitu: hadits yang diriwayatkanhanya dengan satu sanad.51c.51Ibid.Al Husain bin Ali bin Al Walid (Kalangan: Tabiut Tabiin biasa, masa hidup: Kufah, W: 203H, Tsiqah „Adil) Menurut Ulama:Yahya bin Main TsiqahIbnu Hibban disebutkan dalam ats tsiqaatIbnu Hajar al Asqalani Tsiqah abidMuhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihab(Kalangan : Tabiut Tabiin W:124H, buruk hafalanya) Menurut ulama:Ibnu Hajar al Asqalani faqih hafidz mutqinAdz Dzahabi seorang tokohYunus bin Yazid bin Abi An Najjad (Kalangan: Tabiut Tabiin tua, masahidup : Syam , W:159H, Tsiqah „Adil) Menurut ulama:Al Ajli TsiqahAn Nasai TsiqahYakub bin Syaibah shalihul haditsAbu Zurah la ba`sa bihIbnu Kharasy ShaduuqIbnu Hibban ats tsiqaatIbnu Hajar al Asqalani TsiqahAdz Dzahabi TsiqahAnas bin Malik bin An Nadlir bin Dlamdlom bin Zaid bin Haram(Kalangan: sahabat, masa hidup : Bashrah, wafat: 91H)Laits bin Saad bin Abdur Rahman (Kalangan: Tabiut Tabiin, masa hidup :Maru, W: 175H, Tsiqah Hafiz) Menurut Ulama:Yahya bin Main TsiqahAbu Zurah TsiqahMuhammad bin Sad TsiqahIbnu Madini Tsiqah TsabatJundub bin Junadah(Kalangan : Shahabat, masa hidup : Madinah, W: 32H)Yahya bin Abdullah bin Bukair (Kalangan: Tabiul Atba, masa hidup :Maru, W: 231H, Tsiqah „Adil) Menurut Ulama:An Nasai dlaifIbnu Hibban ats tsiqaatAs Saji ShaduuqAl Khalili TsiqahIbnu Qani TsiqahIbnu Hajar al Asqalani TsiqahAdz Dzahabi Hafizh
  35. 35. 35Hadist ini berdasarkan penyandarannya: Marfu ialah sabda atau perbuatan, taqrir atau sifat yangdisandarkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.Hadist berdasarkan banyaknya jalan: Gharib, yaitu: hadits yang diriwayatkan hanya dengan satusanad.52d.52Ibid.Urwah bin Az Zubair bin Al Awwam bin Khuwailid bin Asad bin AbdulIzzi bin Qu (Kalangan : Tabiin kalangan pertengahan, masa hidup : MadinahW: 93 H, Tsiqah / Adil) Menurut ulama:Al Ajli TsiqahIbnu Hajar TsiqahIbnu Hibban Ats TsiqatMuhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihab (Kalangan:Tabiut Tabiin kalangan pertengahan, masa hidup : Madinah, W: 124 H,buruk hafalannya) Menurut ulama:Ibnu Hajar al Asqalani faqih hafidz mutqinAdz Dzahabi seorang tokohAdz Dzahabi TsiqahAisyah binti Abi Bakar Ash Shiddiq(Kalangan: sahabat, masa hidup : Madinah, wafat: 58 H)Jafar bin Burqan (Kalangan: Tabiut Tabiin kalangan tua, masa hidup :Jazirah, W: 150 H, buruk hafalannya) Menurut Ulama:Ahmad bin Hambal la ba`sa bihYaqub bin sufyan TsiqahMuhammad bin Sad Tsiqah ShaduuqKatsir bin Hisyam (Kalangan: Tabiut Tabiin kalangan tua, masa hidup :Baghdad, W: 207 H, Tsiqah „Adil) Menurut Ulama:Yahya bin Main TsiqahAl Ajli Tsiqah ShaduuqAbu Hatim Yuktab haditsuhuAn Nasai la ba`sa bihIbnu Hibban ats tsiqaatIbnu Hajar al Asqalani Tsiqah
  36. 36. 36Hadist ini berdasarkan penyandarannya: Qudsi ialah Secara bahasa (Etimologis),kata Qudsi dinisbahkan kepada kata Al-Quds (Suci). Artinya, hadits yangdinisbahkan kepada Dzat yang Maha suci, yaitu Allah Taala. Dan secara istilah(terminologis) definisinya adalah: Sesuatu (hadits) yang dinukil dari NabiShallallahu alaihi Wa Sallam yang disandarkan beliau kepada Rabb-nya.Hadist berdasarkan banyaknya jalan: Gharib, yaitu: hadits yang diriwayatkanhanya dengan satu sanad.53e.53Ibid.Jabir bin Samrah bin Janadah(Kalangan : Shahabat, masa hidup : KufahW: 74 H) Menurut ulama:Abdul Malik bin Umair bin Suwaid (Kalangan: Tabiin kalangan biasa, masahidup : Kufah, W: 136 H, Tsiqah „Adil) Menurut ulama:An Nasai laisa bihi ba`sIbnu Hibban ats tsiqaatYahya bin Main TsiqahIbnu Hajar TsiqahAbu Hatim shalihul haditsWadldloh bin Abdullah, maula Yazid bin Atha‟ (Kalangan: Tabiut Tabiinkalangan pertengahan, masa hidup : Bashrah, W: 176 H, majhul haal/perawiyang tidak diketahui jati dirinya) Menurut Ulama:Affan bin Muslim la ba`sa bihAl Ajli TsiqahAbu Hatim shaduuq tsiqahYakub bin Syaibah tsabat shalihAbu Zurah TsiqahsIbnu Sad Tsiqah ShaduuqMusa bin Ismail (Kalangan: Tabiut Tabiin kalangan pertengahan, masahidup : Bashrah, W: 223 H, Buruk Hafalannya) Menurut Ulama:Yahya bin Main tsiqah ma`munIbnu Sad TsiqahAbu Hatim TsiqahIbnu Hibban ats tsiqaatAl Ajli TsiqahIbnu Kharasy ShaduuqIbnu Hajar al Asqalani tsiqah tsabatAdz Dzahabi HafizhSaad bin Abi Waqash Malik bin Uhaib bin Abdu Manaf bin Zuhrah(Kalangan: sahabat, masa hidup : Kufah, wafat: 55 H)
  37. 37. 37Hadist ini berdasarkan penyandarannya mauquf, yaitu: perkataan, perbuatan atautaqrir yang disandarkan kepada seorang sahabat.Hadist berdasarkan banyaknya jalan: Gharib, yaitu: hadits yang diriwayatkanhanya dengan satu sanad.547. Khazanah Sosial IslamiahManusia adalah para pelaku yang menciptakan sejarah. Gerak sejarah adalahgerak menuju suatu tujuan. Tujuan tersebut berada dihadapan manusia, berada di “masadepan”. Sedangkan masa depan yang bertujuan harus tergambar dalam benak manusia.Dengan demikian, benak manusia merupakan langkah pertama dari gerak sejarah ataudengan kata lain “dari terjadinya perubahan”,55dimulai dari sebuah keputusan yangterkonsep secara matang, yang ditentukan sejak awal secara musyawarah.Al-Qur‟an tidak mejelaskan bagaimana bentuk Syûrâ yang dianjurkannya. Iniuntuk memberikan kesempatan kepada setiap masyarakat menyusun bentuk Syûrâ(Musyawarah/Pengambilan suatu keputusan) yang mereka inginkan sesuai denganperkembangan dan ciri masyarakat masing-masing. Perlu diingat bahwa ayat ini padaperiode dimana belum lagi terbentuk masyarakat Islam yang memiliki kekuasaan politik,atau dengan kata lain sebelum terbentuknya negara Madinah di bawah pimpinan RasulSAW. Turunnya ayat yang menguraikan Syûrâ pada periode Mekkah, menunjukkan bahwamusyawarah adalah anjuran al-Qur‟an dalam segala waktu dan berbagai persoalan yangbelum ditemukan petunjuk Allah di dalamnya. Pengambilan keputusan, mengandungbanyak sekali manfaatnya. Diantaranya adalah sebagai berikut:1. Melalui musyawarah untuk mengambil suatu keputusan, dapat diketahui kadarakal, pemahaman, kadar kecintaan, dan keikhlasan terhadap kemaslahatanumum.2. Kemampuan akal manusia itu bertingkat-tingkat, dan jalan berfikirnya punberbeda-beda. Sebab, kemungkinan ada diantara mereka mempunyai suatukelebihan yang tidak dimiliki orang lain, para pembesar sekalipun.54Ibid.55Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur‟an…, 246.
  38. 38. 383. Semua pendapat/keputusan didalam musyawarah diuji kemampuannya. Setelahitu, dipilihlah pendapat/keputusan yang lebih baik.4. Di dalam musyawarah untuk mengambil suatu keputusan, akan tampakbersatunya hati untuk mensukseskan suatu upaya dan kesepakatan hati.Telah diriwayatkan dalam Al-Hasan r.a., bahwa Allah swt. sebenarnya telahmengetahui bahwa Nabi saw. sendiri tidak membutuhkan mereka (para sahabat, dalammasalah ini). Tetapi, beliau bermaksud membuat suatu sunnah untuk orang-orang sesudahbeliau.56Diriwayatkan dari Nabi saw., bahwa beliau pernah bersabda:“Tidak satu kaum-pun yang selalu melakukan musyawarah melainkan akan ditunjukkanjalan paling benar dalam perkara mereka.”57Serahkanlah sesuatu kepada-Nya, setelah mempersiapkan diri dan memiliki saranauntuk meniti sebab-sebab yang telah dijadikan Allah swt. untuk bisa mencapainya,didalam hadits ini, terkandung isyarat yang menunjukkan wajibnya melaksanakan tekatapabila syarat-syaratnya telah terpenuhi dan diantaranya melalui musyawarah dalammengambil suatu keputusan.Rahasia yang terkandung dalam hal ini adalah, bahwa meralat hal-hal yang sudahdiputuskan merupakan kelemahan jiwa seseorang. Juga sebagai kelemahan di dalamtabiatnya yang menjadikan yang bersangkutan itu tidak bisa dipercayai lagi, perkataanmaupun perbuatannya. Terlebih lagi, jika ia seorang pemimpin pemerintahan, pemimpinorganisasi pendidikan dan atau panglima perang.Oleh sebab itu, Nabi saw. tidak mendengarkan pendapat orang yang meralatpendapat/keputusan pertamanya, sewaktu beliau sedang bermusyawarah mengenai perangUhud. Pendapat/keputusan itu mengatakan, bahwa kaum Muslimin harus keluar ke Uhud,begitu mereka telah mengenakan baju besi. Beliau berpandangan, bahwa sesudah bulatkeputusan suatu musyawarah, maka tahap selanjutnya adalah tahap pelaksanaan, jadi tidakboleh diralat lagi.56Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: CV. Toha Putra, 1986), 196-197.57Ali Hamid, Akhlaqiyât al-Mihnah Mišlu wa „Araf Asy-Syurtah wa Kayfiÿatu Tathbiqoha(Yaman: Jami‟ah Naif al-„Arabiyah lil „Ulumi al-„Ammiyah, 2008), 10.
  39. 39. 39Dengan demikian, berarti Nabi saw mengajari mereka, bahwa dalam setiappekerjaan ada waktunya masing-masing yang terbatas. Dan waktu bermusyawarah itu,apabila telah selesai, tinggalah tahap pengamalannya. Seorang manajer (pemimpin),apabila telah bersiap melaksanakan suatu pekerjaan sebagai realisasi dari hasilmusyawarah dan lahir sebuah keputusan, maka tidak boleh ia mencabut keputusan atautekadnya, sekalipun ia melihat adanya kesalahan pendapat dari orang-orang yang ikutbermusyawarah, seperti yang terjadi dalam perang Uhud.Lain halnya jika suatu keputusan belum ditetapkan walaupun sudah disepakati(ketok palu) oleh seorang pemimpin organisasi dan masih ada pendapat, usul, masukandan tawaran lain dalam musyawarahnya (sebuah keputusan yang hampir final), pemimpintidak berhak memutuskan secara sepihak dan masih ada hak bagi orang lain atau anggotamusyawarah untuk berpendapat. Tidak ada dasar untuk menuntut orang lain yangmempertahankan diri.58Pada surat Ali „Imran ayat 15 dari segi redaksional ditujukan kepada NabiMuhammad Saw, agar memusyawarahkan persoalan-persoalan tertentu dengan sahabatatau anggota masyarakatnya. Tetapi, yang akan dijelaskan lebih jauh, ayat ini jugamerupakan petunjuk kepada setiap Muslim, khususnya kepada setiap pemimpin/manajer,agar bermusyawarah dalam mengambil suatu keputusan dengan anggotanya ataubawahannya. Juga dalam ayat itu dijelaskan sikap apa yang harus dilakukan ketikamengambil keputusan, yaitu:1. Sikap lemah lembutSeorang yang melakukan pengambilan keputusan, apalagi sebagai pemimpin, harusmenghindari tutur kata yang kasar serta sikap keras kepala, karena jika tidak, mitramusyawarah atau bawahan akan pergi....…“Seandainya engkau bersikap kasar dan berhati keras59, niscaya mereka akanmenjauhkan diri dari sekelilingmu.”… (Ali „Imran: 159)602. Keputusan memberi dan membuka lembaran baru bagi anggota musyawarah.3. Keputusan melahirkan suasana baru yang lebih sesuai dengan sikon.4. Keputusan untuk kemaslahatan orang banyak.58Khadim al-Haramaini asy-Syarifain, Al-Qur‟an dan Terjemahnya..., 782.59(Dalam urusan peperangan dan hal-hal duniawi lainnya, seperti urusan politik, ekonomi,kemasyarakatan, pendidikan, dan lain-lain). Andi Subarkah, dkk., Syamil Al-Qur‟an Miracle..., 139.60Ibid.
  40. 40. 408. Khazanah Aplikasi dalam Peradaban IslamPada waktu kaum muslimin mendapatkan kemenangan dalam perang badar,banyak orang-orang musyrikin yang menjadi tawanan perang. Untuk menyelesaikanmasalah itu Rasulullah saw, mengadakan musyawarah dengan Abu bakar siddiq dan Umarbin khatab agar melahirkan sebuah keputusan yang baik. Rasulullah saw memintapendapat Abu bakar tentang tawanan perang tersebut. Abu bakar memberikan pendapatnyabahwa tawanan perang itu sebaiknya di kembalikan kepada keluarganya dengan membayartebusan. Hal ini sebagai bukti bahwa Islam itu lunak. Kepada Umar bin khatab jugadiminta pendapatnya. Dia mengemukakan, bahwa tawanan perang itu dibunuh saja, yangdiperintah membunuh adalah keluarganya. Hal ini dimaksudkan agar di belakang harimereka tidak berani lagi menghina dan mencaci Islam. Sebab bagaimana Islam perlumemperlihatkan kekuatan di mata mereka.Dari dua pendapat yang bertolak belakang ini Rasulullah saw sangat kesulitanuntuk mengambil keputusan. Akhir Allah swt menurunkan surat Ali „Imran ayat ke-159yang menegaskan agar Rasulullah berbuat lemah lembut. Kalau berkeras hati, merekatentu tidak akan menarik simpati sehingga mereka akan lari dari agama Islam. Ayat inijuga memberi peringatan kepada Umar bin khatab, apabila permusyawarahan pendapathendaklah diterima dan bertawakal kepada Allah swt. (H.R. Kalabi dari Abi shalih dariIbnu abbas).Ada juga peradaban Islam yang mengukir cerita tentang akibat mengenyampingkanmusyawarah, sebuah peristiwa genting yang layak menumbuhkan kemarahan Rasulullahsaw kepada mereka pasukan perang Uhud (dan karena itu ada anjuran untuk memaafkandan memohonkan ampun untuk mereka) dan, berdasarkan sifat toleran Nabi itu, anjuranuntuk mengajak musyawarah lebih diutamakan.Peristiwa genting itu adalah kecelakaan hebat pada Perang Uhud, akibat hilangnyadisiplin sebagian tentara Islam (yang tergiur menjarah harta benda kaum kafir, sehinggameninggalkan posii mereka di atas bukit, yang kemudian direbut musuh), selain desersiyang sudah lebih dulu dilakukan oleh dua pasukan. Jadi, ini sebenarnya penjelasan tentangkepemimpinan, leadership- dan musyawarah untuk mengambil suatu keputusan, ditengahkeadaan yang seharusnya menjengkelkan itu.61Disanalah letak pentingnya manajemen,61Syu‟bah Asa. Dalam Cahaya Tafsir Ayat-ayat Sosial Politik (Jakarta: Gramedia, 2000), 94.
  41. 41. 41agar segala perencanaan dan penetapan keputusan benar-benar matang dan berjalan lancarsesuai harapan, Islam sudah jauh-jauh mengajarkan dan menerapkan hal itu.Hal itu mengingat, bahwa didalam musyawarah, silang pendapat selalu terbuka,apalagi jika orang-orang yang terlibat terdiri dari banyak orang. Oleh sebab itulah, Allahmemerintah Nabi agar menetapkan peraturan tersebut, dan mempraktekkannya dengancara yang baik. Nabi saw manakala bermusyawarah dengan para sahabatnya senantiasabersikap tenang dan hati-hati. Beliau memperhatikan setiap pendapat, kemudianmentarjihkan suatu pendapat dengan pendapat lain yang lebih banyak maslahatnya danfaedahnya bagi kepentingan kamu Muslimin, dengan segala kemampuan yang ada.Sebab, jama‟ah itu jauh kemungkinan dari kesalahan dibandingkan pendapatperseorangan dalam berbagai banyak kondisi. Bahaya yang timbul sebagai akibat daripenyerahan masalah umat terhadap pendapat perorangan, bagaimanapun kebenaranpendapat itu, akibatnya akan lebih berbahaya dibandingkan menyerahkan urusan merekakepada pendapat umum.Nabi saw. selalu berpegang pada musyawarah selama hidupnya dalam menghadapisemua persoalan duniawi, diluar persoalan ketetapan hukum Allah Swt. seperti hukumIslam; puasa, shalat, zakat, dll itu sudah jelas keputusan hukumnya. Beliau selalubermusyawarah dengan mayoritas kaum Muslimin, yang dalam hal ini beliau khususkandengan kalangan ahlurru‟yi dan kedudukan dalam menghadapi perkara-perkara yangapabila tersiar akan membahayakan umatnya.Demikian beliau melakukan musyawarah pada waktu pecah perang Badar, setelahdiketahui bahwa orang-orang Quraisy telah keluar dari Mekkah untuk berperang. Nabi,pada waktu itu tidak menetapkan suatu keputusan sebelum kaum Muhajirin dan Ansharmenjelaskan isi persetujuan mereka. Juga musyawarah yang pernah beliau lakukansewaktu menghadapi perang Uhud.Nabi saw. selalu bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam menghadapimasalah-masalah penting untuk mengambil suatu keputusan, selagi tidak ada wahyumengenai hal itu. Sebab, jika ternyata jika Allah menurunkan wahyu, wajiblah Rasulullahmelaksanakan perintah Allah yang terkandung dalam wahyu itu. Nabi saw. tidakmencanangkan kaidah-kaidah dalam bermusyawarah. Karena bentuk musyawarah ituberbeda-beda sesuai denga sikon masyarakat, serta sesuai dengan perkembangan zamandan tempat. Sebab, seandainya Nabi mencanangkan kaidah-kaidah musyawarah, maka
  42. 42. 42pasti hal itu akan diambil sebagai Dien oleh kaum Muslimin, dan mereka berupaya untukmengamalkannya pada segala zaman dan tempat.Oleh karena itulah, ketika Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, para sahabatmengatakan bahwa Rasulullah saw sendiri rela sahabat Abu Bakar menjadi pemimpinagama kami, yaitu tatkala beliau sakit beliau sakit dan memerintahkan Abu Bakarmengimani shalat. Lalu mengapa kita tidak rela padanya dalam urusan duniawi kita, itualasan umat sepeninggal Rasul saw dalam mengambil sebuah keputusan untukmenggantikan kursi kepememimpinan umat Islam.62Dan yang lebih tinggi lagi tingkatan waktu lahirnya sebuah peradaban yangterdapat dalam Islam adalah lahirnya “keputusan” Allah SWT yang akan menciptakankhalifah di muka bumi, dan sebelum keputusan itu dilaksanakan terjadi dialog antara AllahSWT dengan malaikat-Nya, akan tetapi penafsiran didalam Tafsir Al-Maraghi surat Al-Baqarah ayat 30, menegaskan bukan terjadi musyawarah antara Tuhan dan malaikat dalampengambilan keputusan; bahwasannya Allah SWT akan menciptakan khalifah di mukabumi, sebab itu mustahil sekali seandainya Sang-Pencipta bermusyawarah (mintapendapat) dengan makhluk ciptaan-Nya, diterangkan bahwa disana Tuhan menjelaskansecara detail sebab Tuhan akan menciptakan khalifah di muka bumi.63Terdapat juga peradaban yang umum dalam mengambil sebuah keputusan, hal itusama-sama kita ketahui dalam Sejarah Islam secara umum, penulis mengkategorikannyakedalam empat macam, yaitu:1. Perdaban pembangunan Masjid NabawiDikisahkan bahwa unta tunggangan Rasulullah berhenti di suatu tempat makaRasulullah memerintahkan (mengambil keputusan) agar di tempat itu dibangunsebuah masjid. Cara ini diyakini oleh sebagian ulama untuk menghindari rasa iridalam menerima usulan atau keputusan dari masyarakat setempat, logikanya jikasebuah usulan keputusan diterima, apalagi yang menerima adalah seorang Rasul,maka pasti terjadi keirian diantara mereka, karena tidak memungkinkan semuausulan akan dilaksanakan, dan itu pula yang sering terjadi sampai saat ini dimasyarakat kita. Kita juga mengetahui cara seperti itu juga dilakukan pada saatpeletakkan batu Hajar Aswad di sisi Ka‟bah, perwakilan dari masing-masing sukuyang terdapat di daerah tersebut ikut andil, hal demikian dilakukan tentunya62Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur‟an al ‟Azim Jilid IV (Beirut: Daarul Fikri, tt), 143.63Ahmad Mustofa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi –Penterjemah: Anshori UmarSitonggal (Semarang: CV. Thoha Putra, 1992), 130-137.
  43. 43. 43bermaksud dan bertujuan. Selain itu pula, Rasulullah juga ikut serta dalampembangunan masjid tersebut. Beliau mengangkat dan memindahkan batu-batumasjid itu dengan tangannya sendiri. Saat itu, keputusan kiblat dihadapkan keBaitul Maqdis. Kaum muslimin melakukan berbagai aktivitasnya di dalam masjidini, baik beribadah, belajar, memutuskan perkara mereka, berjual beli maupunperayaan-perayaan. Tempat ini menjadi faktor yang mempersatukan mereka. Jadisudah jelas, bahwa dalam Peradaban Islampun manajemen hadir dan diperlukandalam mengambil suatu keputusan.2. Peradaban persaudaraan antara kaum Muhajirin dan AnsharRasulullah mempersaudarakan di antara kaum muslimin. Mereka kemudianmembagikan rumah yang mereka miliki atas keputusan Rasulullah saw, bahkanjuga harta mereka. Persaudaraan ini terjadi lebih kuat dari pada hanya persaudaraanyang berdasarkan keturunan. Dengan keputusan persaudaraan ini, Rasulullah telahmenciptakan sebuah kesatuan yang berdasarkan agama sebagai pengganti daripersatuan yang sebelumnya berdasarkan kabilah.3. Peradaban saling membantu antara kaum Muslimin dan Non-MusliminDimadinah, ada tiga golongan manusia yaitu, kaum muslimin orang-orang arab,serta kaum non-muslimin, dan orang-orang Yahudi (Bani Nadgir, Bani Quraizhah,dan Bani Qainuqa‟). Rasulullah mengeluarkan keputusan atau melakukan satukesepakatan dengan mereka untuk terjaminnya sebuah keamanan dan kedamaianjuga untuk melahirkan sebuah suasana saling membantu dan toleransi diantaragolongan tersebut.4. Peletakkan asas-asas politik, ekonomi, dan sosialAgenda-agenda politik kerasulan telah diletakkan dan beliau bertindak sebagaiutusan Allah, kepala Negara, komandan tentara dan pemimpin masyarakat.64Sejarah sistematik, proses peradaban yang dilakukan oleh Nabi pada masyarakatIslam di Yatsrib adalah:a) Rasulullah saw mengubah nama Yatsrib menjadi Madinah (Madinat Ar-Rasul, Madinah An-Nabi, atau Madinah Al-Munawwarah). Perubahan namayang bukan terjadi secara kebetulan, tetapi sebuah cita-cita Nabimenciptakan sebuah masyarakat yang tertib dan maju, dan berperadaban.64Nurcholis Madjid. “Kedaulatan Rakyat: Prinsip Kemanusiaan dan Musyawarah dalamMasyarakat Madani”, dalam Membongkar Mitos Masyarakat Medan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000),80.
  44. 44. 44b) Membangun masjid bukan hanya dijadikan tempat ritual saja, tetapi jugamenjadi sarana mempersatukan umat muslimin dengan musyawarah danmerundingkan masalah-masalah yang dihadapi, juga menjadikan pusatkegiatan pemerintah.c) Rasulullah saw membentuk kegiatan mu‟akhat (persaudaraan) seagama,mempersatukan kaum Muhajirin (yang hijrah dari Mekah ke Yatsrib)dengan Anshar (yang menerima dan membantu kepindahannya). Selain itujuga Rasul membentuk persaudaraan kepada sahabat-sahabat yang tidakberagama Islam.d) Rasulullah saw membentuk pasukan tentara untuk mengantisipasigangguan-gangguan yang dilakukan oleh musuh.65Dengan begitu, tampaklah Islam telah diresapi warisan institusi dengan wajahbaru, konsep dan preferensi yang lebih bernilai, dan definisi baru dari identitas pribadi,sosial, dan politik.669. Khazanah dalam Manajemen Pendidikan IslamManajemen Pendidikan Islam adalah suatu proses pengelolaan lembaga pendidikanIslam secara islami dengan cara menyiasati sumber-sumber belajar dan hal-hal lain yangterkait untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien.67Dan sumberpaling utamanya adalah Al-Qur‟an dan Al-Hadist, bagaimana me-manej dan mengaitkansatu kesatuan sistem dalam manajemen pendidikan Islam, kaitannya dalam hal ini adalahpengambilan keputusannya secara musyawarah. Bisa dikatakan cara mengambil keputusandengan pertimbangan waktu, situasi dan kondisi atau keadaan manusia yang di ajakmusyawarah, permasalahan yang dibahas utamanya adalah hal pendidikan, itu semuamasuk kerumpun yang dinamakan manajemen, dan sumber utamanya Al-Qur‟an dan Al-Hadist dinamakan pula dengan Manajemen Pendidikan Islam.Sebagaimana yang dijelaskan Quraish Shihab68, jangankan Al-Qur‟an, Nabi sawdalam banyak hal menjabarkan petunjuk-petunjuk umum Al-Qur‟an, perihal (pengambilan65Dedi Supriyadi. Sejarah Peradaban Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2008), 63-65.66Ira Marvin. A History of Islamic Societies (Australia Melbourne: Press Syndicate of theUniversity of Cambridge, 1988), 121.67Mujamil Qomar, Strategi Baru…, 10.68Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur‟an…, 469-485.
  45. 45. 45keputusan) musyawarah ini tidak meletakkan rinciannya, apa lagi manajemennya. Bahkantidak juga memberikan pola tertentu yang harus diikuti. Itu sebabnya cara suksesi yangdilakukan oleh empat khalifah beliau-Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali r.a.-berbeda-beda di antara satu dengan yang lainnya, contohnya seperti Rasul saw pada saat memintapendapat saat usai perang badar kepada Umar dan Utsman, sebagaimana yang sudahpenulis paparkan diatas pada poin khazanah aplikasi dalam peradaban Islam.Adakalanya suatu keputusan dituntut untuk segera diambil oleh pemimpin.Tuntutan kecepatan ini biasanya terkait dengan keadaan yang membutuhkan penyelesaianmendesak, semakin cepat semakin baik. Dalam hal ini, pemimpin dihadapkan pada tigakemungkinan, yaitu keputusan dapat diambil dengan cepat tetapi kurang sempurna,keputusan yang diambil relatif sempurna tetapi terlambat, dan keputusan yang dapatdiambil dengan cepat dan relatif sempurna. Diantara ketiganya itu keputusan yang cepatdan relatif sempurna tentu menjadi pilihan, tetapi sayangnya keputusan semacam ini jarangterjadi, realita menunjukkan bahwa yang sering terjadi justru keputusan yang pertama ataukedua.69Disinilah peran penting manajemen diperlukan.Diantara dua macam keputusan itu, Madhi memilih model keputusan yang pertama,dia mengatakan bahwa keputusan yang tegas tetapi kurang sempurna dan ditindak lanjutidengan baik, lebih utama dari pada suatu keputusan yang ideal dan cermat tapi terlambat.Ketegasan menjadi penting agar permasalahan yang dihadapi tidak mengambang tanpatentu arahnya, ketegasan dalam mengambil keputusan mampu meredam kebimbangan danmeujudkan kepastian sikap yang harus dijalani. Misalnya, apakah kepala Madrasah harusmenghukum siswa yang melakukan pelanggaran atau membebaskannya. Kepastiankeputusan itu harus segera diwujudkan dengan memperhatikan faktor apa yangmempengaruhi pengambilan keputusan seperti bahasan poin diatas.Adapun para pelaku pengambil keputusan dalam sebuah organisasi pendidikan dan merekainilah yang mewarnai keputusan yang diambil oleh pemimpin organisasi pendidikan. Orang yangpaling layak diajak bekerjasama dalam pembuatan keputusan pada tingkat organisasi adalah kepalasekolah, sebaliknya bagi kepala sekolah orang yang paling layak diajak bekerja sama dalampembuatan keputusan pada tingkat organisasi adalah guru, atau lebih luas lagi anggotakomite sekolah. Intinya dalam proses pengambilan keputusan sebaiknya jangan dilakukansendiri, tetapi harus melibatkan banyak pihak terkait agar dapat memberikan berbagaipandangan dan pertimbangan sehingga menghasilkan keputusan yang jernih, rasional, dan69Mujamil Qomar, Strategi Baru…, 294.
  46. 46. 46dapat dipertanggungjawabkan pada atasan maupun publik. Terlebih lagi era saat inimerupakan suatu era yang menuntut adanya transparansi dan partisipasi berbagai pihak.Demikianlah hal yang perlu diperhatikan oleh pemimpin lembaga pendidikan Islam dalammenjalankan roda organisasi, agar keputusan yang diambil benar-benar produktif dan padaakhirnya dapat mengantarkan pada keberhasilan serta kemajuan pendidikan yang dipimpin70.BAB IIPENUTUPKesimpulan1. Keputusan merupakan suatu pemecahan masalah sebagai suatu hukum situasi yangdilakukan melalui pemilihan satu alternatif dari beberapa alternatif.2. Pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku dari dua alternatif ataulebih tindakan pimpinan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalamorganisasi yang dipimpinnya dengan melalui pemilihan satu diantara alternatif-alternatif yang dimungkinkan.3. Musyawarah adalah mengajukan gagasan yang terbaik dari perbandingan gagasanyang dihasilkan.4. Pengambilan keputusan secara musyawarah dalam manajemen pendidikan Islam ialahsuatu proses pengelolaan lembaga pendidikan Islam secara Islami yang segalakeputusannya dengan mempertimbangkan perkataan, tawaran ide, atau gagasan suatupemikiran dengan cara menyiasati sumber-sumber utamanya yang berasal dari Al-Qur‟an dan Al-Hadist.5. Faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan: Informasi yang diketahuiperihal permasalahan yang dihadapi, tingkat pendidikan, personality, proses adaptasi,dan kultur. Berdasarkan tahapan: tahap orientasi masalah, preparasi, inkubasi,iluminasi dan verifiaksi.6. Peran kepemimpinan dalam pengambilan keputusan: menganalisis situasi yang tidakpasti atau beresiko; identifikasi masalah, memformulasikan alternatif, evaluasikeputusan, memperoleh dan menggunakan data dengan menanyakan hal lainnya;rasional, kreatif, memilih di antara alternatif-alternatif tindakan; cerna masalah,identifikasi alternatif, tentukan prioritas dan ambil langkah.70Ibid..., 297.
  47. 47. 477. Prinsip-prinsip pengambilan keputusan berdasarkan Islam: diluar kepentingan pribadi,dari pendapat ahlinya, adil, pertimbangan yang matang lihat kausalitasnya,musyawarah, Amanah, waktu yang panjang, evaluasi dan demokrasi, sikap lemahlembut, saling maaf, kembali kepada Allah swt.8. Ayat yang diambil dalam pembahasan ini, yaitu: (Q.S Al-Baqarah:30) ayat inimenjelaskan tentang musyawarah dalam mengambil suatu keputusan didalamkehidupan, karena manusia adalah manajer untuk mengatur bumi, (Q.S Asy-Syuura:38) dijelaskan juga musyawarah dalam mengambil keputusan pada ayat initentang pemilihan khalifah (pengganti kepemimpinan/penerus) Rasul saw, (Q.S Al-An‟am: 57) menetapkan suatu keputusan hanyalah Allah tempat meminta petunjuk,(Q.S Al-Imran: 159) menjelaskan dengan musyawarahlah untuk mendapatkan suatukeputusan yang diambil dari para ahlinya, (Q.S Asy-Syuura: 118) penegasanpentingnya sebuah keputusan yang harus diambil demi menghasilkan yang lebih baik.9. Hadits yang diambil dalam pembahasan ini: riwayat Imam Darimi, Imam Ahmad duahadist dan Imam Bukhari juga dua hadist. Dalam kedua hadits tersebut menjelaskanbahwasannya mengambil suatu keputusan tidak boleh keluar dari Al-Qur‟an dan Al-Hadist, minta pendapat dari para pemuka masyarakat (ahli dalam bidangnya), tidakboleh sepihak dan memberatkan pihak lain, harus sesuai dengan kapasitasnya, tidakboleh terburu-buru, dan jelas hasilnya, dengan begitu sudah bisa dikatakan ter-menejdengan baik, juga manajemen pendidikan Islam yang bersifat mendidik,memanusiakan manusia terlaksana.10. Sanad perawi hadist penulis buat diagram, di dalamnya urutan sanadnya mulai darisahabat, tabi‟in, tabi‟ut tabi‟in, perawi dan penuyusun hadist. Juga dijelaskanberdasarkan penyandaranya.11. Khazanah sosial Islamiahnya: mengambil keputusan dengan bermusyawarah akanmenciptakan keikhlasan dan keberkahan, akan melahirkan keputusan yang terbaik,menjaga persatuan, mengambil keputusan juga dengan lemah lembut dan melahirkanhal yang baru.12. Khazanah aplikasinya dalam peradaban Islam: pada waktu kaum Muslim menangdalam perang Badar, banyak dari pihak musuh ditawan, dan para sahabat Rasulmemiliki pendapat masing-masing untuk memutuskan akan diapakan tawanantersebut, ada yang memberi keputusan dibunuh dan yang membunuh adalahsaudaranya sendiri, dengan tujuan agar Islam tidak diremehkan. Ada juga yang

×