KOREKSI BUKU
I’TIQAD AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH
KARYA KH. SIRAJUDDIN ABBAS
Bersikap Objektif terhadap Syaikhul Islam Ibnu Ta...
1Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
JAWABAN ATAS TUDUHAN-TUDUHAN KH. SIROJUDDIN ABBAS
KEPADA SYAIKHUL ...
2Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
BERIKUT BEBERAPA TUDUHAN KH. SIRAJUDDIN ABBAS TERHADAP SYAIKHUL IS...
3Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
“Demikian juga apabila ada seorang yang menjadikan sifat-sifat All...
4Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
PEMBAHASAN
Pertama
Hadist ini merupakan cemeti dan petir yang meny...
5Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
Artinya : "(Lafadz) As-Samaa/langit di dalam bahasa dikatakan : Ba...
6Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
Telah berfirman Allah 'Azza wa Jalla di Muhkam Tanzil-Nya.
Artinya...
7Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
Yakni, Allah telah menegaskan pada tujuh tempat di kitab-Nya yang ...
8Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
1. Telah berkata Imam Abu Hanifah:
ْ‫ن‬َ‫م‬َْْ‫َر‬‫ك‬‫ن‬َ‫أ‬ْْ‫ن‬َ...
9Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
Perkataan dalam sunnah yang aku berjalan di atasnya, dan aku lihat...
10Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
Dhahiriyyah? jika tuan menyalahkan Ibnu Taimiyyah karena dia meng...
11Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
Sungguh amat jauh penyimpangan penulis ini!!! Karena jelas-jelas ...
12Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
Jawaban : Ya, kalau arti salaf seperti arti salafnya tuan, maka b...
13Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
Jawaban: “Sesungguhnya Syeikh Ahmad bin Abdul Halim lbnu Taimiyyy...
14Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian...
15Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
(membagaimanakan) dan tamtsil (menyerupakan dengan makhluk) serta...
16Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
dengan persaksian seorang yang menetapkan dengan lisannya dan mem...
17Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
18Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
19Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
20Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
Dalam penggalan kisah tersebut ibnu Bathutah menyebutkan:
“Saat i...
21Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
Arti yang bergaris bawah:
Aku telah membaca tulisan ibnu Marzuq, ...
22Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
Ia berkata mengenai biografi Syaikh (Ibnu Taimiyyah) dalam Thabaq...
23Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
dari 2 tahun, lalu bagaimana beliau menyelesaikan 40 jilid tafsir...
24Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
mengembalikan segala kesamaran kepada yang Maha Mengetahui” [Syar...
25Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
ََّ‫ل‬َّ‫َد‬‫ش‬ُ‫ت‬َِّ‫ال‬َ‫ح‬ ِ‫الر‬َّ‫ل‬ِ‫إ‬‫ى‬َ‫ل‬‫إ‬َِّ‫ة‬َ‫ث...
26Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
bepergian/safar ke sana, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu 'ala...
27Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
MENGENAL AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH
KH. Sirajuddin Abbas berkata pa...
28Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
tetapi berdasarkan kecocokannya dengan akal dan logika. Jadi, san...
29Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
mempertahankannya, maka harus diminta bertaubat." [Jami' Bayanil ...
30Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
A.1. Fase Awal
Beliau mengikuti faham Mu’tazilah. Karena sejak ke...
31Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
Lanjut beliau : ”…namun tatkala Muhammad bin Kullab berbicara dan...
32Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
1. Perkataan Para Ulama
Banyak sekali ulama yang mempersaksikan k...
33Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
ilmu lainya dari pada ulama Hanbaliyah. Ini adalah fase terakhir ...
34Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
telah ditunjukkan oleh Al Qur’an dan Sunah Rasul-Nya. Apakah mung...
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas

148

Published on

Buku ini berisi kumpulan tulisan asatidz ahlus sunnah, yang kami susun untuk mengkoreksi berbagai tuduhan KH. Sirajuddin Abbas terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Dilengkapi juga penjelasan aqidah ahlus sunnah wal jama'ah menurut para ulama salafush shalih, seperti Ibnu Hatim dan Imam Ahmad rahimahumallahu

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
148
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
12
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Buku koreksi i'tiqad ahlus sunnah sirojuddin abbas

  1. 1. KOREKSI BUKU I’TIQAD AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH KARYA KH. SIRAJUDDIN ABBAS Bersikap Objektif terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Disertai Penjelasan Shahih Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Menurut Manhaj Salafush Shalih PUSTAKA ASY-SYAUKANI Jl. Raya Jalupang-Kalijati Web: Yufid.com manhaj.or.id muslim.or.id abuljauza-blogspot.com dsb. Disusun: Abdullah Abu Hafshoh Kumpulan Makalah Koleksi untuk Pribadi Dari tulisan Asatidz:  Abdul Hakim bin Amir Abdat  Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas  Abu Ubaidah al-Atsari  Abul Jauza Lampiran:  Kitab Ushulus Sunnah Wa I’tiqaduddin karya Imam Abi Hatim Rahimahullah  Kitab Ushulus Sunnah Karya Imam Ahmad al-Hambali
  2. 2. 1Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas JAWABAN ATAS TUDUHAN-TUDUHAN KH. SIROJUDDIN ABBAS KEPADA SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYYAH RAHIMAHULLAH Bismillahirrahmanirrahim Muqaddimah: Syaikh Masyhur bin Hasan Salman-hafizhahullah- mengatakan: “Para pencela Syaikhul Islam lbnu Taimiyyah sangat banyak sekali. Nenek moyang mereka sangatlah populer bagi orang yang mau membaca kitab-kitab para ulama kita. Dan bibit merekapun telah berkembang di sekitar kita sekarang ini. Mereka tidak membicarakan selain celaan kepada Ibnu Taimiyyah beserta orang-orang yang sejalan dengannya dari kalangan para sahabat, tabiin serta orang- orang yang berjalan di atas petunjuk mereka. Sesungguhnya penyebab permusuhan yang mereka lancarkan hanyalah karena aqidah yang shahih. Yaitu, ketika mereka tidak sanggup berhadapan langsung dengan al-haq, merekapun mengganggap bahwa dengan mencela tokoh-tokoh pembela kebenaran lebih mudah untuk melunturkan al-haq itu sendiri. Hal tersebut telah mereka lakukan dengan berbagai cara di setiap tempat dan kesempatan baik melalui pernyebaran kitab, tulisan, kedustaan maupun tuduhan” [Kutub hadzara Minha Ulama’ 1/229-230, Daar As–Suma’i cet. I th. 1415H] Kami Katakan: Salah satu contoh buku yang berisi tuduhan dan celaan terhadap syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah adalah buku “Aqidab Ahlus Sunnah Wal Jamaah” karya KH Sirajuddin Abbas.
  3. 3. 2Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas BERIKUT BEBERAPA TUDUHAN KH. SIRAJUDDIN ABBAS TERHADAP SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYYAH-RAHIMAHULLAH- DI DALAM BUKU BELIAU I’TIQAD AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH: Hal 270 : “Ibnu Taimiyah menfatwakan bahwa Tuhan duduk bersila di atas arsy serupa dengan duduk bersilanya Ibnu Taimiyah sendiri, faham ini beberapa kali diulanginya di atas mimbar masjid Bani Umayah di Damsyik Syiria dan di Mesir” Hal 270 : “Jadi Ibnu Taimiyyah boleh digolongan kaum Dhahiriyyah yaitu kaum yang mengartikan ayat.ayat Al Qur’an dan hadits nabi secara lahirnya saja”. Hal, 271 : “Ulama-ulama salaf menyerahkan arti yang hakiki dari perkataan istiwa’ itu kepada Allah, memang dalam bahasa arab istiwa’ artinya duduk tetapi ayat-ayat sifat istiwa’ lebih baik dan lebih aman bagi kita, tidak diartikan, hanya diserahkan artinya kepada Tuhan sambil kita i’tiqadkan bahwa Tuhan tidak serupa dengan makhluk”. Setelah membawakan hadits tentang nuzul (turunnya Allah ke langit dunia), pada hal : 275. penulis berkata: “Ketika menerangkan hadits ini, Ibnu Taimiyyah mencobakan bagaimana turunnya tuhan dari langit, yaitu seperti ia turun dari mimbar” Hal, 274 : “Ibnu Taimiyyah mengharamkan orang yang ziarah ke makam nabi di Madinah, dan perjalanan itu (kalau dilakukan) dianggap ma’siat menurut Ibnu Taimiyyah” Hal, 278 : “Walaupun kebanyakan umat Islam tidak mau mengikut, tapi sejarah Islam telah mencatat bahwa ada seorang ulama’ Islam di Damsyik pada abad 7H, yang mengharamkan ziarah ke makam nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu Ibnu Taimiyyah” Pasal 1. IBNU TAIMIYYAH DAN MASALAH SIFAT ISTIWA’ KH. SIROJUDIN ABBAS BERKATA di Hal 270 : “Ibnu Taimiyah menfatwakan bahwa Tuhan duduk bersila di atas arsy serupa dengan duduk bersilanya Ibnu Taimiyah sendiri, faham ini beberapa kali diulanginya di atas mimbar masjid Bani Umayah di Damsyik Syiria dan di Mesir” JAWAB: “PenuIis-YAITU KH. SIROJUDIN ABBAS- Tidak menerangkan sumber riwayatnya, sehingga kita bertanya-tanya: “Dari manakah penulis menukil perkataan itu?” Di kitab apa dan siapa pengarangnya?! Semua pertanyaan, itu selalu terngiang-ngiang di telinga kita yang tentunya membutuhkan jawaban. Kami katakan: “Maha suci Allah dari apa yang dituduhkan!! Sesungguhnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sangat jauh dari tuduhan seperti ini. Bagaimana tidak? Perhatikanlah perkataan beliau berikut ini baik-baik! lalu bandingkan dengan tuduhan penulis ini. Beliau berkata:
  4. 4. 3Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas “Demikian juga apabila ada seorang yang menjadikan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala serupa dengan sifat makhluk-Nya, Seperti mengatakan istiwa’ Allah Subhanahu wa Ta'ala serupa dengan istiwa’ makhluk-Nva atau turunnya Allah Subhanahu wa Ta'ala serupa dengan turunnya makhluk, Maka orang ini mubtadi’ (ahli bid’ah), sesat dan menyesatkan. Karena Al Qur’an dan As-Sunnah serta akal menunjukkan bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk- Nya dalam segala segi” [Majmu’ Fatawa 5/252] Lihatlah wahai saudaraku alangkah jelasnya perkataan-Syaikhul Islam-yang bagus ini! Di Mana Allah? Rasulullah SHALALLAHU’ALAIHI WASALLAM pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang budak perempuan milik Mua'wiyah bin Al-Hakam As-Sulamy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya yaitu Mu'awiyah : ََ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬َ‫ف‬َ‫ا‬َ‫ه‬َ‫ل‬َ:ََ‫ْن‬‫ي‬َ‫ا‬َ‫؟‬ُ ‫ه‬‫اّلل‬ََْ‫ت‬َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ََ:َ‫فى‬ََ‫اء‬َ‫م‬َّ‫س‬‫ال‬َ.ََ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬َ:َْ‫ن‬َ‫م‬َ‫ا؟‬َ‫ن‬َ‫ا‬ََْ‫ت‬َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬َََ‫ت‬ْ‫ن‬َ‫أ‬ََُ‫ل‬ ْ‫و‬ُ‫س‬َ‫ر‬ََ‫ه‬‫اّلل‬َ.ََ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬َ:‫ا‬َ‫ه‬ْ‫ق‬‫ْت‬‫ع‬َ‫أ‬َ‫ا‬َ‫ه‬َّ‫ن‬‫أ‬َ‫ف‬َ َ‫ة‬َ‫ن‬‫م‬ْ‫ؤ‬ُ‫م‬َ-‫رواه‬َ‫مسلم‬َ‫و‬َ‫غيره‬ - Artinya : "Beliau bertanya kepadanya : "Di manakah Allah ?. Jawab budak perempuan : "Di atas langit. Beliau bertanya (lagi) : "Siapakah Aku ..?". Jawab budak itu : "Engkau adalah Rasulullah". Beliau bersabda : "Merdekakan ia ! .. karena sesungguhnya ia mu'minah (seorang perempuan yang beriman)". Hadits shahih. Dikeluarkan oleh Jama'ah ahli hadits, diantaranya : 1. Imam Malik (Tanwirul Hawaalik syarah Al-Muwath-tho juz 3 halaman 5-6). 2. Imam Muslim (2/70-71) 3. Imam Abu Dawud (No. 930-931) 4. Imam Nasa'i (3/13-14) 5. Imam Ahmad (5/447, 448-449) 6. Imam Daarimi 91/353-354) 7. Ath-Thayaalis di Musnadnya (No. 1105) 8. Imam Ibnul Jaarud di Kitabnya "Al-Muntaqa" (No. 212) 9. Imam Baihaqy di Kitabnya "Sunanul Kubra" (2/249-250) 10. Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para Imam- di Kitabnya "Tauhid" (hal. 121-122) 11. Imam Ibnu Abi 'Aashim di Kitab As-Sunnah (No. 489 di takhrij oleh ahli hadits besar Muhammad Nashiruddin Al-Albani). 12. Imam Utsman bin Sa'id Ad-Daarimi di Kitabnya "Ar-Raddu 'Alal Jahmiyyah" (No. 60,61,62 halaman 38-39 cetakan darus Salafiyah). 13. Imam Al-Laalikai di Kitabnya "As-Sunnah " (No. 652).
  5. 5. 4Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas PEMBAHASAN Pertama Hadist ini merupakan cemeti dan petir yang menyambar di kepala dan telinga ahlul bid'ah dari kaum Jahmiyyah dan Mu'tazilah dan yang sefaham dengan mereka, yaitu ; dari kaum yang menyandarkan aqidah mereka kepada Imam Abul Hasan Ali bin Ismail Al-Asy'ary- rahimahullah-[padahal Imam Abul Hasan alAsy’ary berlepas diri dari keyakinan mereka], yaitu ; mereka mempunyai i'tiqad (berpendapat) : "ALLAH BERADA DI TIAP-TIAP TEMPAT ATAU ALLAH BERADA DIMANA-MANA .!?" Katakanlah kepada mereka : Jika demikian, yakni Allah berada dimana-mana tempat, maka Allah berada di jalan-jalan, di pasar-pasar, di tempat kotor dan berada di bawah mahluknya !?. Jawablah kepada mereka dengan firman Allah 'Azza wa Jalla : Artinya :  "Maha suci Engkau ! ini adalah satu dusta yang sangat besar" (An-Nur : 16)  "Maha suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan " (Al-Mu'minun : 91)  "Maha Suci Dia ! Dan Maha Tinggi dari apa-apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang besar". (Al-Isra : 43) Berkata Imam Adz-Dzahabi rahimahullah setelah membawakan hadits ini, di kitabnya "Al- Uluw" (hal : 81 diringkas oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani). Artinya : "Dan demikian ra'yu kami (setuju dengan hadits) setiap orang yang ditanya : "Dimana Allah ? "Dia segera dengan fitrahnya menjawab : Di atas langit ! Didalam hadits ini ada dua masalah : Pertama : Disyariatkan pertanyaan seorang muslim : Dimana Allah ? Kedua : Jawaban orang yang ditanya : (Allah) di atas langit ! Maka barangsiapa yang mengingkari dua masalah ini berarti ia telah mengingkari Al-Musthafa (Nabi) SHALALLAHU’ALAIHI WASALLAM". Dan telah berkata Imam Ad-Daarimi rahimahullah setelah membawakan hadits ini di kitabnya "Ar-Raddu 'Alal Jahmiyah (hal: 39): "Di dalam hadits Rasulullah SHALALLAHU’ALAIHI WASALLAM ini, ada dalil bahwa seseorang apabila tidak mengetahui sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berada di atas langit bukan bumi, tidaklah ia seorang mu'min". Tidaklah engkau perhatikan bahwa Rasulullah SHALALLAHU’ALAIHI WASALLAM telah menjadikan tanda/alamat keimanannya (yaitu budak perempuan) tentang pengetahuannya sesungguhnya Allah di atas langit. Dan pada pertanyaan Rasulullah SHALALLAHU’ALAIHI WASALLAM (kepada budak perempuan): "Dimana Allah ?". Mendustakan perkataan orang yang mengatakan : "Dia (Allah) ada di tiap-tiap tempat (dan) tidak boleh disifatkan dengan (pertanyaan) : Dimana .? Kedua Lafadz 'As-Samaa" menurut lughoh/bahasa Arab artinya : Setiap yang tinggi dan berada di atas. Berkata Az-Zujaaj (seorang Imam ahli bahasa) :
  6. 6. 5Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas Artinya : "(Lafadz) As-Samaa/langit di dalam bahasa dikatakan : Bagi tiap-tiap yang tinggi dan berada di atas. Dikatakan : atap rumah langit-langit rumah". Dinamakan "Awan" itu langit/As-Samaa, karena ia berada di atas manusia. Firman Allah 'Azza wa Jalla. Artinya : "Dan Ia turunkan dari langit Air (hujan)" (Al-Baqarah : 22). Adapun huruf "Fii" dalam lafadz hadits "Fiis-Samaa" bermakna " 'Alaa" seperti firman Allah 'Azza wa Jalla : Artinya : "Maka berjalanlah kamu di atas/di muka bumi" (At-Taubah : 2) "Mereka tersesat di muka bumi" (Al-Maa'idah : 26) Lafadz "Fil Arldhii" dalam dua ayat diatas maknanya " 'Alal Arldhii", Maksudnya : Allah 'Azza wa Jalla berada di pihak/di arah yang tinggi -di atas langit- yakni di atas 'Arsy-Nya yang sesuai dengan kebesaran-Nya. Ia tidak serupa dengan satupun mahluk-Nya dan tidak satupun mahluk menyerupai-Nya. Firman Allah 'Azza wa Jalla : Artinya : "Tidak ada sesuatupun yang sama dengan-Nya, dan Ia-lah yang Maha Mendengar (dan) Maha Melihat". (As-Syura : 4) "Dan tidak ada satupun yang sama/sebanding dengan-Nya" (Al-Ikhlas : 4) "Ar-Rahman di atas 'Arsy Ia istiwaa (bersemayam)". (Thaha : 5) "Sesungguhnya Tuhan kamu itu Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian ia istiwaa (bersemayam) di atas 'Arsy".(Al-A'raf :54). Madzhab Salaf -dan yang mengikuti mereka- seperti Imam yang empat : Abu Hanifah, Malik, Syafi'iy dan Ahmad bin Hambal dan lain-lain Ulama termasuk Imam Abul Hasan Al-Asy'ari sendiri, mereka semuanya beriman bahwa ; Allah 'Azza wa Jalla ISTIWAA diatas 'Arsy-Nya sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya. Mereka tidak menta'wil ISTIWAA/ISTAWAA dengan ISTAWLA yang artinya : Berkuasa. Seperti halnya kaum Jahmiyyah dan yang sefaham dengan mereka yang mengatakan "Allah istiwaa di atas 'Arsy" itu maknanya : Allah menguasai 'Arsy !. Bukan Dzat Allah berada di atas langit yakni di atas 'Arsy-Nya, karena Allah berada dimana-mana tempat !?.. Mereka ini telah merubah perkataan dari tempatnya dan telah mengganti perkataan yang tidak pernah dikatakan Allah kepada mereka sama seperti kaum Yahudi (baca surat Al-Baqarah : 58-59). Katakan kepada mereka : Kalau makna istiwaa itu adalah istawla/berkuasa, maka Allah 'Azza wa Jalla berkuasa atas segala sesuatu bukan hanya menguasai 'Arsy. Ia menguasai langit dan bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya dan sekalian mahluk (selain Allah dinamakan mahluk). Allah 'Azza wa Jalla telah mengabarkan tentang istawaa-Nya diatas 'Arsy-Nya dalam tujuh tempat di dalam kitab-Nya Al-Qur'an. Dan semuanya dengan lafadz "istawaa". Ini menjadi dalil yang sangat besar bahwa yang dikehendaki dengan istawaa ialah secara hakekat, bukan "istawla" dengan jalan menta'wilnya.
  7. 7. 6Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas Telah berfirman Allah 'Azza wa Jalla di Muhkam Tanzil-Nya. Artinya : "Ar-Rahman di atas 'Arsy Ia istawaa" (Thaha : 5) "Kemudian Ia istawaa (bersemayam) di atas 'Arsy". Pada enam tempat. Ia berfirman di kitab-Nya yaitu : 1. Surat Al-A'raf ayat 54 2. Surat Yunus ayat 3 3. Surat Ar-Ra'du ayat 2 4. Surat Al-Furqaan ayat 59 5. Surat As-Sajdah ayat 4 6. Surat Al-Hadid ayat 4 Menurut lughoh/bahasa, apabila fi'il istiwaa dimuta'adikan oleh huruf 'Ala, tidak dapat dipahami/diartikan lain kecuali berada diatasnya. Firman Allah 'Azza wa Jalla : Artinya : "Dan berhentilah kapal (Nuh) di atas gunung/bukit Judi" (Hud : 44). Di ayat ini fi'il "istawaa" dimuta'addikan oleh huruf 'Ala yang tidak dapat dipahami dan diartikan kecuali kapal Nabi Nuh AS secara hakekat betul-betul berlabuh/berhenti di atas gunung Judi. Dapatkah kita artikan bahwa "Kapal Nabi Nuh menguasai gunung Judi" yakni menta'wil lafadz "istawat" dengan lafadz "istawlat" yang berada di tempat yang lain bukan di atas gunung Judi..? (yang sama dengan ayat di atas, baca surat Az-Zukhruf : 13). Berkata Mujahid (seorang Tabi'in besar murid Ibnu Abbas). Artinya : "Ia istawaa (bersemayam) di atas "Arsy" maknanya : "Ia berada tinggi di atas "Arsy" (Riwayat Imam Bukhari di sahihnya Juz 8 hal : 175) Berkata Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para Imam- di kitabnya "At-Tauhid" (hal: 101): Artinya : "Kami beriman dengan khabar dari Allah Jalla wa A'laa (yang Maha Besar dan Maha tinggi) sesungguhnya pencipta kami (Allah) Ia istiwaa di atas 'Arsy-Nya. Kami tidak akan mengganti/mengubah Kalam (firman) Allah dan kami tidak akan mengucapkan perkataan yang tidak pernah dikatakan (Allah) kepada kami sebagaimana (kaum) Jahmiyyah yang menghilangkan sifat-sifat Allah, dengan mengatakan "Sesungguhnya Ia (Allah) istawla (menguasai) 'Arsy-Nya tidak istawaa!". Maka mereka telah mengganti perkataan yang tidak pernah dikatakan (Allah) kepada mereka seperti perbuatan Yahudi tatkala mereka diperintah mengucapkan : "Hith-thatun (ampunkanlah dosa-dosa kami)" Tetapi mereka mengucapkan : "Hinthah (gandum).?". Mereka (kaum Yahudi) telah menyalahi perintah Allah yang Maha Besar dan Maha tinggi, begitu pula dengan (kaum) Jahmiyyah".
  8. 8. 7Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas Yakni, Allah telah menegaskan pada tujuh tempat di kitab-Nya yang mulia, bahwa Ia istiwaa di atas 'Arsy-Nya (Dzat Allah istiwaa/bersemayam di atas 'Arsy-Nya yang sesuai dengan kebesaran-Nya, sedangkan ilmu-Nya berada dimana-mana/tiap-tiap tempat tidak satupun tersembunyi dari pengetahuan-Nya). Kemudian datanglah kaum Jahmiyyah mengubah firman Allah istawaa dengan istawla yakni menguasai 'Arsy sedangkan Dzat Allah berada dimana-mana/tiap-tiap tempat !!!. Maha Suci Allah dari apa-apa yang disifatkan kaum Jahmiyyah ! Adapun madzhab Salaf, mereka telah beriman dengan menetapkan (istbat) sesungguhnya Allah Azza wa Jalla istiwaa -dan bukan istawla- di atas 'Arsy-Nya tanpa : 1. Tahrif yakni ; Merubah lafadz atau artinya. 2. Ta'wil yakni ; Memalingkan dari arti yang zhahir kepada arti yang lain. 3. Ta'thil yakni ; Meniadakan/menghilangkan sifat-sifat Allah baik sebagian maupun secara keseluruhannya. 4. Tasybih yakni ; Menyerupakan Allah dengan mahluk. 5. Takyif yakni ; Bertanya dengan pertanyaan : Bagaimana (caranya) ? Alangkah bagusnya jawaban Imam Malik ketika beliau ditanya : "Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas 'Arsy ?. Beliau menjawab : Artinya : "Istiwaa itu bukanlah sesuatu yang tidak dikenal (yakni telah kita ketahui artinya), tetapi bagaimana caranya (Allah istiwaa) tidaklah dapat dimengerti, sedang iman dengannya (bahwa Allah istiwaa) wajib, tetapi bertanya tentangnya (bagaimana caranya) adalah bid'ah". (baca : Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 45-46) Ketiga Hadits-hadits Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam yang mengkisahkan tentang peristiwa MI’RAJ nya Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam {yang merupakan awal dari perintah shalat 5 waktu} merupakan dalil yang mempertegas, bahwa Allah di atas ‘Arsy sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Di mana Allah? (Menurut 4 madzhab ahlus sunnah) Ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada seorang budak wanita ‘dimanakah Allah’, dengan mudah dijawab : ‘Di atas langit’. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun membenarkannya (Lihat Shahih Muslim juz 2 hal 70-71, Imam Abu Dawud no.930-931, Imam Nasa'i juz 3 hal.13-14, Imam Ahmad juz 5 hal 447, 448, 449; Imam Ad-Darimi juz 1 hal 353-354 dll)
  9. 9. 8Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas 1. Telah berkata Imam Abu Hanifah: ْ‫ن‬َ‫م‬َْْ‫َر‬‫ك‬‫ن‬َ‫أ‬ْْ‫ن‬َ‫أ‬َْْ ِّ‫الل‬ْ‫ِي‬‫ف‬ِْْ‫ء‬َ‫ا‬‫م‬‫الس‬ْْ‫د‬َ‫ق‬َ‫ف‬َْْ‫َر‬‫ف‬َ‫ك‬ Barangsiapa yang mengingkari sesungguhnya Allah di atas langit, maka sesungguhnya telah kafir. Imam Abu Hanifah rahimahullah juga berkata: Siapa yang mengatakan'aku tidak tahu Rabbku di langit atau di bumi maka ia telah kafir. Begitupula siapa yang mengatakan bahwa Allah di atas Arsy tetapi aku tidak tahu apakah arys itu di langit atau di bumi." (Lihat al-Fiqh al-Absath, hal 46, serupa dengan lafal ini dinukil oleh Imam adz-dzahabi dalam al-uluw hal 101-102, Ibnu Qudamah dalam al-Uluw hal 116, dan Ibnu abil 'Iz dalam Syarh ath-thahawiyah hal 301) 2. Imam Daaril-Hijrah, Maalik bin Anas rahimahullah. Beliau pun – sebagaimana salaf beliau dari kalangan shahabat dan taabi’iin – menjawab dengan jawaban yang mudah, ringkas, dan jelas. Berikut riwayatnya : ‫حدثني‬ْ‫أبي‬ْ‫رحمه‬ْ‫هللا‬ْ‫حدثنا‬ْ‫سريج‬ْ‫بن‬ْ‫النعمان‬ْ‫حدثنا‬ْ‫عبدهللا‬ْ‫بن‬ْ‫نافع‬ْ‫قال‬ْ‫كان‬ْ‫مالك‬ْ‫بن‬ْ‫أنس‬ْ‫يقول‬ْ‫االيمان‬ْ ‫قول‬ْ‫وعمل‬ْ‫ويقول‬ْ‫كلم‬ْ‫هللا‬ْ‫موسى‬ْ‫وقال‬ْ‫مالك‬ْ‫هللا‬ْ‫في‬ْ‫السماء‬ْ‫وعلمه‬ْ‫في‬ْ‫كل‬ْ‫مكان‬ْ‫ال‬ْ‫يخلو‬ْ‫منه‬ْ‫شيء‬ Telah menceritakan kepadaku ayahku rahimahullah : Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An-Nu’maan : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Naafi’, ia berkata : “Maalik bin Anas pernah berkata : ‘Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, Allah berbicara kepada Muusaa, Allah berada di langit dan ilmu-Nya ada di setiap tempat – tidak ada sesuatupun yang luput dari-Nya” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As- Sunnah, hal. 280 no. 532; shahih]. Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah (Fuqoha dan ahlul hadits madzhab maalikiyah) menjelaskan ijma’ perkataan Al-Imaam Maalik di atas dengan perkataannya : ‫علماء‬ْ‫الصحابة‬ْ‫والتابعين‬ْ‫الذين‬ْ‫حمل‬ْ‫عنهم‬ْ‫التأويل‬ْ‫قالوا‬ْ‫في‬ْ‫تأويل‬ْ‫قوله‬ْ‫عز‬ْ‫وجل‬ْ(‫ا‬َ‫م‬ُْْ‫ون‬ُ‫ك‬َ‫ي‬ْْ‫ن‬ِ‫م‬ْ‫ى‬ َ‫و‬‫َج‬‫ن‬ْ ْ‫ة‬َ‫ث‬‫ال‬َ‫ث‬ْ‫ال‬ِ‫إ‬َْْ‫و‬ُ‫ه‬ْْ‫م‬ُ‫ه‬ُ‫ع‬ِ‫ب‬‫ا‬ َ‫ر‬ْ)‫هو‬ْ‫على‬ْ،‫العرش‬ْ‫وعلمه‬ْ‫في‬ْ‫كل‬ْ،‫مكان‬ْ‫وما‬ْ‫خالفهم‬ْ‫في‬ْ‫ذلك‬ْ‫أحد‬ْ‫يحتج‬ْ‫بقوله‬ “Ulama dari kalangan shahabat dan taabi’iin yang diambil ta’wil mereka berkata tentang ta’wil firman-Nya ‘azza wa jalla : ‘Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya’ (QS. Al-Mujaadilah : 7) : ‘Allah berada di atas ‘Arsy, dan ilmu-Nya berada di setiap tempat’. Tidak ada seorangpun yang dijadikan hujjah perkataannya yang menyelisihi mereka” [Itsbaatu Shifaatil-‘Ulluw oleh Ibnu Qudaamah, hal. 166 no. 77]. 3. Imam Syafi’i mengatakan: ‫القول‬ْ‫في‬ْ‫السنة‬ْ‫التي‬ْ‫أن‬‫ا‬ْ،‫عليها‬ْ‫ورأيت‬ْ‫أصحابنا‬ْ،‫عليها‬ْ‫أهل‬ْ‫الحديث‬ْ‫الذين‬ْ،‫رأيتهم‬ْ‫وأخذت‬ْ‫عنهم‬ْ‫مثل‬ْ ،‫سفيان‬ْ،‫ومالك‬ْ‫وغيرهما‬ْ:‫اإلقرار‬ْ‫بشهادة‬ْ‫أن‬ْ‫ال‬ْ‫إله‬ْ‫إال‬ْ،‫هللا‬ْ‫وأن‬ْْ‫محمدا‬ْ‫رسول‬ْ،‫هللا‬ْ‫وأن‬َْْ‫هللا‬ْ‫تعالى‬ْ‫على‬ْ ‫عرشه‬ْ‫في‬ْ‫سمائه‬ْ‫يقرب‬ْ‫من‬ْ‫خلقه‬ْ‫كيف‬ْ،‫شاء‬ْ‫وأن‬ْ‫هللا‬ْ‫تعالى‬ْ‫ينزل‬ْ‫إلى‬ْ‫سماء‬ْ‫الدنيا‬ْ‫كيف‬ْ‫شاء‬ .
  10. 10. 9Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas Perkataan dalam sunnah yang aku berjalan di atasnya, dan aku lihat para sahabat kami juga berjalan di atasnya, -yakni para ahlul hadits yang ku temui dan ku ambil ilmu dari mereka, seperti Sufyan Ats-Tsauri, Malik, yang lainnya-, adalah: Berikrar dengan persaksian bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh, sesungguhnya Muhammad itu Rosululloh, sesungguhnya ALLOH DI ATAS ARSY-Nya, di atas langit-Nya, Dia mendekat kepada makhluknya bagaiamanapun Dia kehendaki, dan Alloh juga turun ke langit dunia sesuai kehendaknya. (Ijtima’ul juyusyil islamiyah libnil qoyyim, hal: 165. Itsbatu Shifatil Uluw, hal:124. Majmu’ul Fatawa 4/181-183. Al-Uluw lidz Dzahabi, hal: 120. Mukhtashorul Uluw lil Albani, hal: 176) 4. Adapun Al-Imaam Ahmad, maka beliau menyepakati apa yang dikatakan Al-Imaam Maalik bin Anas rahimahullah dengan periwayatan dari ‘Abdullah bin Naafi’ . ‫حدثنا‬ْ‫أبو‬ْ‫الفضل‬ْ‫جعفر‬ْ‫بن‬ْ‫محمد‬ْ‫الصندلى‬ْ‫قال‬ْْ:‫حدثنا‬ْ‫الفضل‬ْ‫بن‬ْ‫زياد‬ْ‫قال‬ْْ:‫سمعت‬ْ‫أبا‬ْ‫عبد‬ْ‫هللا‬ْ‫أحمد‬ْ ‫بن‬ْ‫حنبل‬ْ‫يقول‬ْْ:‫قال‬ْ‫مالك‬ْ‫بن‬ْ‫أنس‬ْْ:‫هللا‬ْ‫عز‬ْ‫وجل‬ْ‫في‬ْ‫السماء‬ْ‫وعلمه‬ْ‫في‬ْ‫كل‬ْ‫مكان‬ْ،ْ‫ال‬ْ‫يخلو‬ْ‫منه‬ْ‫مكان‬ْ،ْ ‫فقلت‬ْ: ْ‫من‬ْ‫أخبرك‬ْ‫عن‬ْ‫مالك‬ْ‫بهذا‬ْ‫؟‬ْ‫قال‬ْْ:‫سمعته‬ْ‫من‬ْ‫شريح‬ْ‫بن‬ْ‫النعمان‬ْ،ْ‫عن‬ْ‫عبد‬ْ‫هللا‬ْ‫بن‬ْ‫نافع‬ Telah menceritakan kepada kami Abul-Fadhl Ja’far bin Muhammad Ash-Shandaliy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Fadhl bin Ziyaad, ia berkata : Aku mendengar Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal berkata : Telah berkata Maalik bin Anas : “Allah ‘azza wa jalla berada di langit dan ilmu-Nya ada di setiap tempat. Tidak ada sesuatupun yang luput dari-Nya”. Lalu aku (Al-Fadhl bin Ziyaad) berkata : “Siapakah yang mengkhabarkan kepadamu dari Maalik perkataan ini ?”. Ahmad berkata : “Aku mendengarnya dari Syuraih bin An-Nu’maan, dari ‘Abdullah bin Naafi’” [Diriwayatkan oleh Al-Aajuriiy dalam Asy- Syarii’ah, no. 696]. Dan kemudian Imam Ahmad berhujjah dalam masalah ‘aqidah ini seperti dikatakan Maalik, sebagaimana terdapat dalam riwayat : ‫فقال‬ْ‫يوسف‬ْ‫بن‬ْ‫موسى‬ْ‫القطان‬ْ‫شيخ‬ْ‫أبي‬ْ‫بكر‬ْ‫الخالل‬ْ‫قيل‬ْ‫ألبي‬ْ‫عبد‬ْ‫هللا‬ْْ:‫هللا‬ْ‫فوق‬ْ‫السماء‬ْ‫السابعة‬ْ‫على‬ْ ‫عرشه‬ْ‫بائن‬ْ‫من‬ْ‫خلقه‬ْ‫وقدرته‬ْ‫وعلمه‬ْ‫بكل‬ْ‫مكان‬ْ‫قال‬ْْ:‫نعم‬ْ‫هو‬ْ‫على‬ْ‫عرشه‬ْ‫وال‬ْ‫يخلو‬ْ‫شيء‬ْ‫من‬ْ‫علمه‬ Telah berkata Yuusuf bin Muusaa Al-Qaththaan, syaikh Abu Bakr Al-Khallaal : Dikatakan kepada Abu ‘Abdillah : “Apakah Allah berada di atas langit yang tujuh, di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, serta kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya ada di setiap tempat ?”. Ia (Ahmad) menjawab : “Benar, Allah ada di atas ‘Arsy-Nya, tidak ada sesuatupun yang luput dari ilmu-Nya” [Diriwayatkan oleh Al-Khallaal sebagaimana disebutkan oleh Adz-Dzahabiy dalam Al-‘Ulluw hal. 130; shahih]. KH. SIROJUDDIN ABBAS Berkata di Hal 270 : “Jadi Ibnu Taimiyyah boleh digolongan kaum Dhahiriyyah yaitu kaum yang mengartikan ayat.ayat Al Qur’an dan hadits nabi secara lahirnya saja”. Jawaban : “Ya, boleh-boleh saja tuan (SIROJUDIN ABBAS) golongkan lbnu Taimiyyah kepada kaum Dhahiriyyah. Tapi apakah Ibnu Taimiyyah salah dan sesat karena dia termasuk kaum
  11. 11. 10Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas Dhahiriyyah? jika tuan menyalahkan Ibnu Taimiyyah karena dia mengartikan ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah secara lahirnya saja, maka tuan juga harus menyalahkan ulama-ulama salaf pendahulu lbnu Taimiyyah yang telah sepakat mengartikan ayat-ayat dan hadits tentang sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala secara lahirnya. Kami nukilkan di sini dua penukilan saja: 1. Walid bin Muslim berkata: “Aku bertanya kepada Al-Auza’i, Malik bin Anas, Sufyan Ats- Tsauri, Laits bin Sa’ad tentang hadits-hadits masalah sifat? Mereka semuanya mengatakan kepadaku: “Jalankanlah sebagaimana datangnya tanpa tak’yif (menggambarkan bagaimananya/bentuknya)” [Dikeluarkan Ash-Shabuni dalam “Aqidah Salaf”.no. 90, Imam Adz-Dzahabi dalam “Al’Uluw. 137 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam “Mukhtashar” Hal. 142-14] 2. Al Hafizh Ibnu Abdil Barr berkata: “Seluruh Ahlus Sunnah telah bersepakat untuk menetapkan sifat-sifat yang terdapat dalam Al-Quran dan As-Sunnah serta mengartikannya secara dhahirnya. Tetapi mereka tidak menggambarkan bagaimananya/bentuknya sifat-sifat tersebut. Adapun Jahmiyyah, Mu’tazilah dan Khawarij mereka mengingkari sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tidak mengartikannya secara dhahirnya. Lucunya mereka menyangka bahwa orang yang menetapkannya termasuk Musyabbih (kaum yang menyerupakan Allah dengan makhluk” [Mukhtashar al-Uluw” Hal. 278-279] Cukuplah dua nukilan ini saja, kalau kami turunkan seluruh perkataan salaf dalam masalah ini maka akan terlalu panjang. Inilah pendahulu lbnu Taimiyyah yaitu ulama-ulama salaf ahlu As Sunnah wal jamaah, lalu siapakah pendahulumu wahai tuan? Tunjukkan siapa Ahlus Sunnah yang tidak mengartikan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala secara dhahirnya!. KH. SIROJUDDIN ABBAS Berkata di Hal 271 : “Ulama khalaf menta’wilkan kata istawa’ itu dengan istaula yakni menguasai atau memerintah” Jawaban : Madzhab Salaf -dan yang mengikuti mereka- seperti Imam yang empat : Abu Hanifah, Malik, Syafi'iy dan Ahmad bin Hambal dan lain-lain Ulama termasuk Imam Abul Hasan Al-Asy'ari sendiri, mereka semuanya beriman bahwa ; Allah 'Azza wa Jalla ISTIWAA diatas 'Arsy-Nya sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya. Mereka tidak menta'wil ISTIWAA/ISTAWAA dengan ISTAWLA yang artinya : Berkuasa. Seperti halnya kaum Jahmiyyah dan yang sefaham dengan mereka yang mengatakan "Allah istiwaa di atas 'Arsy" itu maknanya : Allah menguasai 'Arsy !. Bukan Dzat Allah berada di atas langit yakni di atas 'Arsy-Nya, karena Allah berada dimana-mana tempat !?... Mereka ini telah merubah perkataan dari tempatnya dan telah mengganti perkataan yang tidak pernah dikatakan Allah kepada mereka sama seperti kaum Yahudi (baca surat Al-Baqarah : 58-59).
  12. 12. 11Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas Sungguh amat jauh penyimpangan penulis ini!!! Karena jelas-jelas bertentangan dengan pemahaman salafus shaleh. Kami tidak ingin memperpanjang bantahan syubhat ini, karena masih banyak lagi syubhat yang masih perlu dijawab. Syaikhul Islam lbnu Taimiyyah telah membantah secara panjang lebar dalam “Maj’mu Fatawa” 5/144-149, demikian juga Ibnu Qayyim, muridnya, di dalam Mukhtashar Shawa’iqul Al Mursalah” hal 353-366. Kami cukupkan di sini dengan tiga point saja. 1. Penafsiran ini tidak dinukil dari kalangan salaf, baik dari kalangan sahabat maupun tabi’in. Tidak ada seorangpun dari mereka yang menafsirkan seperti penafsiran ini, bahkan orang pertama kali yang menafsirkan istawa’ dengan istaula adalah sebagian kaum Jahmiyyah dan Mu’tazilah sebagaimana diceritakan oleh Abul Hasan Al-Asy’ari dalam bukunya “Al Maqalat” dan Al Ibanah”1 2. Sesungguhnya menafsirkan kitab Allah dengan penafsiran yang baru dan menyelisihi penafsiran Salaf As shaleh, mengharuskankan dua perkara, yaitu: entah dia yang salah, atau Salaf As-shaleh yang salah. Seorang yang berakal sehat tidak akan ragu bahwa penafsiran baru yang menyelisihi Salaf As-shaleh ini yang pasti salah [Mukhtashar Shawa’iqul Mursalah” Hal. 353]. 3. Tidak ada di dalam bahasa arab kalau kata istawa’ berarti istaula, bahkan hal ini diingkari oleh pakar bahasa yaitu Ibnu ‘A’rabi [Mukhtashar Al-Uluw” hal. 195-196] Orang-orang yang menta’wil istawa’ dengan istaula tidak mempunyai hujah kecuali suatu bait syair terkenal [Seperti kitab-milik sirojuddin abbas- ini juga pada hal. 273] َّ‫م‬ُ‫ث‬‫ى‬ َ‫َو‬‫ت‬ْ‫س‬‫ا‬َّ‫ر‬ْ‫ش‬ِ‫ب‬‫ى‬َ‫ل‬‫ع‬َِّ‫ق‬‫ا‬ َ‫ر‬ِ‫ع‬ْ‫ل‬‫ا‬َّْ‫ن‬ِ‫م‬َِّ‫ْر‬‫ي‬َ‫غ‬َّ‫ْف‬‫ي‬َ‫س‬ََّ‫ل‬ َ‫و‬َّ‫م‬َ‫د‬َّ‫اق‬ َ‫ر‬ْ‫ه‬ُ‫م‬ “Kemudian Bisyr menguasai Irak tanpa pedang dan tanpa pertumpahan darah” Padahal tidak ada penukilan yang sangat jelas bahwa bait ini termasuk bait syair arab. Oleh karena itu para pakar bahasa mengingkari bait ini seraya mengatakan: “Ini adalah bait yang dibuat-buat, tidak dijumpai dalam bahasa”. Bukankah kalau seorang hendak berhujjah dengan hadits, ia harus mengetahui lebih dahulu keabsahan hadits tersebut? Maka bagaimana dengan bait syair yang tidak diketahui sanadnya ini !!! [Majmu' Fatawa 5/146] KH. SIROJUDDIN ABBAS BERKATA di Hal, 271 : “Karena itu Ibnu Taimiyyah bukanlah pengikut ulama’-ulama salaf dan juga ulama’-ulama’ khalaf, ini harus dicamkan benar-benar. Karena di Indonesia terdengar desus-desus bahwa Ibnu Taimiyyyah itu pengikut faham salaf” 1 Tapi lucunya mereka mengingkari keabsahan penisbatan dua kitab ini kepada Imam Al-Asy’ari dengan hujjah yang lebih lemah dari sarang laba-laba
  13. 13. 12Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas Jawaban : Ya, kalau arti salaf seperti arti salafnya tuan, maka benar. Karena antara Syeikhul Islam dengan orang-orang seperti tuan amat jauh sekali! Tetapi, jika maksud salaf adalah mereka yang mengikuti manhaj Rasullullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sahabatnya, para tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka kami katakan kepada tuan dengan bait syair: ُْ‫ة‬‫م‬ِ‫ئ‬َ‫أ‬ْْ‫ن‬‫َأ‬‫ش‬ْْ ِ‫س‬‫و‬ُ‫م‬ُّ‫ش‬‫ال‬َ‫ك‬ْْ‫م‬ُ‫ه‬ُ‫ار‬َ‫ه‬ِ‫ت‬‫اش‬ْ‫ا‬َ‫م‬َ‫ف‬ْ‫ا‬‫و‬ُ‫س‬َ‫م‬َ‫ط‬‫ان‬ْْ‫ال‬ِ‫إ‬ْْ‫ن‬َ‫م‬ِْْ‫ه‬ِ‫ب‬َْْ‫ي‬ِ‫م‬ُ‫ع‬ “Kemasyhuran para imam kebenaran itu seperti matahari Tidaklah terhapuskan melainkan orang yang buta matanya” Seorang penyair lain mengatakan: ‫ي‬ِ‫ن‬َ‫ب‬َ‫ه‬ َ‫و‬َْْ‫ت‬‫ل‬ُ‫ق‬ْْ‫ن‬َ‫أ‬َْْ‫ح‬‫ب‬ُّ‫ص‬‫ال‬ْْ‫ل‬‫ي‬َ‫ل‬ْ‫ى‬َ‫م‬‫ع‬َ‫ي‬َ‫أ‬َْْ‫ن‬‫و‬ُ‫ر‬ ِ‫ص‬‫ب‬ُ‫م‬‫ال‬ِْْ‫ن‬َ‫ع‬ِْْ‫ء‬‫ا‬َ‫ي‬ ِّ‫ض‬‫ال‬ “Dia memberitahuku bahwa engkau mengatakan: “Sesungguhnya subuh adalah malam”. Apakah orang-orang yang mempunyai penglihatan telah buta dari sinar?“ Terus terang saja, perkataan seperti ini sebenarnya tidaklah layak untuk ditangggapi. Karena sebagaimana kata penyair: َْ‫س‬‫ي‬َ‫ل‬ َ‫و‬ُّْْ‫ح‬ ِ‫ص‬َ‫ي‬ْ‫ي‬ِ‫ف‬ِْْ‫َان‬‫ه‬‫ذ‬‫األ‬ْْ‫ء‬‫َي‬‫ش‬ْ‫ا‬َ‫ذ‬ِ‫إ‬َْْ‫ج‬‫َا‬‫ت‬‫اح‬ُْْ‫ار‬َ‫ه‬ّ‫ن‬‫ال‬ْ‫ى‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ْْ‫ل‬‫ي‬ِ‫ل‬َ‫د‬ “Tidaklah masuk akal sedikitpun, jika siang hari membutuhkan dalil (penunjuk jalan)” Tetapi sebagai jawaban, cukuplah di sini disebutkan dua point saja: 1. Al-Hafidz Ad-Dzahaby berkata menyifati syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Beliau telah menolong sunnnah nabawiyyah, dan manhaj salaf, beliau juga berhujjah dengan hujjah yang sulit dicari tandingannya” [Dzail Thabaqat Hanabilah” 2/394] 2. Fatwa Lajnah Daimah (Komisi Fatwa Saudi) yang diketuai oleh Syeikh AI-Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, terhadap pertanyaan sebagai berikut: “Sebagian orang mengatakan bahwa lbnu Taimiyyah bukanlah termasuk Ahlus Sunnah wal jama’ah, sesat dan menyesatkan. Betulkah ini?”
  14. 14. 13Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas Jawaban: “Sesungguhnya Syeikh Ahmad bin Abdul Halim lbnu Taimiyyyah termasuk imam di antara imam-imam Ahlus Sunnah wal jama’ah, berda’wah menuju kebenaran dan jalan yang lurus, dengannya Allah menolong As-Sunnah dan menghancurkan bid’ah. Barangsiapa menghukumi Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah bukan seperti di atas, maka dia adalah mubtadi’ (ahli bid’ah), sesat dan menyesatkan. Dia telah buta tentang sejarah Islam sehingga yang benar disangka bathil dan yang bathil disangka benar. Semua ini dapat diketahui bagi siapa yang Allah terangkan pandangannya, serta mau membaca buku-buku karangannya, lalu membandingkannya dengan kitab-kitab musuh-musuhnya” [Fatawa Lajnah Daimah” 2/173] Wahai pembaca, camkanlah fatwa ini baik-baik karena di Indonesia terdengar desas-desus bahwa Ibnu Taimiyyah bukan pengikut Ahlus Sunnah wal jama’ah. Janganlah tertipu oleh mereka! karena sesungguhnya mereka berada di dalam penyimpangan dan kebatilan yang sangat jauh. KH. SIROJUDDIN ABBAS BERKATA pada Hal. 274 : “Andai kata diterima faham Ibnu Taimiyyah, yang berpendapat bahwa tuhan itu bersila di atas Arsy, maka bagaimana lagi ayat al-Al Qur’an: “Allah bersama kalian dimanapun kalian berada” Faham lbnu Taimiyyah ini menimbulkan kesan seolah-olah tuhan itu dua atau yang satu duduk bersila di atas arsy’ dan yang lain berjalan-jalan bersama manusia, alangkah kelirunya faham ini” Jawaban : Sungguh benar kata penyair: ُْ‫ن‬‫ي‬َ‫ع‬ َ‫و‬ْ‫ى‬َ‫ض‬ ِّ‫الر‬ْْ‫ن‬َ‫ع‬ِّْْ‫ل‬ُ‫ك‬ْْ‫ب‬‫ي‬َ‫ع‬ْْ‫ة‬َ‫ل‬‫ي‬ِ‫ل‬َ‫ك‬ْ‫ا‬َ‫م‬َ‫ك‬ْْ‫ن‬َ‫أ‬َْْ‫ن‬‫ي‬َ‫ع‬ِْْ‫ط‬‫خ‬ُّ‫س‬‫ال‬ْ‫ِى‬‫د‬‫ب‬ُ‫ت‬َْْ‫ي‬ِ‫و‬‫ا‬َ‫س‬َ‫م‬‫ال‬ “Pandangan simpati menutup segala cacat, Sebagaimana pandanganpun kebencian menampakkan segala kecacatan” Bukankah pemikiran ini hanyalah muncul dari fikiran tuan-Sirajuddin abbas- belaka? Mengapa tuan begitu hasad terhadap Ibnu Taimiyyah? padahal lbnu Taimiyyah sangatlah jauh dari apa yang tuan bayangkan. Bahkan beliau berkata: “Janganlah seorang menyangka bahwa ayat- ayat Allah saling bertentangan. Seperti mengatakan: ”Ayat yang menerangkan bahwa Allah berada di atas arsy’ bertentangan dengan ayat: “Dan Dia bersama kalian di manapun kalian berada” atau selainnya. Maka ini merupakan kekeliruan. Karena Allah bersama kita secara hakekat dan Allah juga berada diatas arsy’ secara hakekat pula. Sebagaimana Allah menggabungkan hal ini dalam firmanNya: َْ‫و‬ُ‫ه‬ْ‫ِي‬‫ذ‬‫ال‬َْْ‫ق‬َ‫ل‬َ‫خ‬ِْْ‫ت‬‫ا‬ َ‫او‬َ‫م‬‫الس‬َْْ‫ض‬‫ر‬َ‫أل‬‫ا‬ َ‫و‬ْ‫ي‬ِ‫ف‬ِْْ‫ة‬‫ت‬ِ‫س‬ْْ‫ام‬‫ي‬َ‫أ‬ْْ‫م‬ُ‫ث‬ْ‫ى‬ َ‫َو‬‫ت‬‫اس‬ْ‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ْْ ِ‫ش‬‫ر‬َ‫ع‬‫ال‬ُْْ‫م‬َ‫ل‬‫ع‬َ‫ي‬ْ‫ا‬َ‫م‬ُْْ‫ج‬ِ‫ل‬َ‫ي‬ْ‫ي‬ِ‫ف‬ْْ ِ‫ض‬‫ر‬َ‫أل‬‫ا‬ْ‫ا‬َ‫م‬ َ‫و‬ُْْ‫ج‬ُ‫ر‬‫خ‬َ‫ي‬ْ ‫ا‬َ‫ه‬‫ن‬ِ‫م‬ْ‫ا‬َ‫م‬ َ‫و‬ُْْ‫ل‬ ِ‫نز‬َ‫ي‬َْْ‫ن‬ِ‫م‬ِْْ‫آء‬َ‫م‬‫الس‬ْ‫ا‬َ‫م‬ َ‫و‬ُْْ‫ج‬ُ‫ر‬‫ع‬َ‫ي‬ْ‫ا‬َ‫ه‬‫ي‬ِ‫ف‬َْْ‫و‬ُ‫ه‬ َ‫و‬ْْ‫م‬ُ‫ك‬َ‫ع‬َ‫م‬َْْ‫ن‬‫ي‬َ‫أ‬ْ‫ا‬َ‫م‬ْْ‫م‬ُ‫ت‬‫ن‬ُ‫ك‬ُْْ‫هللا‬ َ‫و‬ْ‫ا‬َ‫م‬ِ‫ب‬َْْ‫ون‬ُ‫ل‬َ‫م‬‫َع‬‫ت‬ْْ‫ير‬ ِ‫ص‬َ‫ب‬
  15. 15. 14Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas arsy’. Dia mengetahui apa yang masuk pada bumi dan apa yang keluar darinya, dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik padanya. Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada, Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Hadid:4] Allah mengabarkan dalam ayat ini bahwasanya Dia berada di atas arsy’, mengetahui segala sesuatu, dan Dia-pun bersama kita di manapun kita berada. Inilah ma’na perkataan salaf: “Sesungguhnya Allah bersama hamba dengan ilmunya” [Aqidah Washitiyah” hal. 22-23] Pasal 2. IBNU TAIMIYYAH DAN MASALAH SIFAT NUZUL Setelah membawakan hadits tentang nuzul (turunnya Allah ke langit dunia), KH. SIROJUDDIN ABBAS BERKATA pada hal 275: “Ketika menerangkan hadits ini, Ibnu Taimiyyah mencobakan bagaimana turunnya tuhan dari langit, yaitu seperti ia turun dari mimbar” Jawaban : Sebelum kita menjawab tuduhan ini, sangatlah baik sekali kita mengetahui terbih dahulu hadits nuzul tersebut. ْ‫ن‬َ‫ع‬ْ‫ي‬ِ‫ب‬َ‫أ‬َْْ‫ة‬ َ‫ر‬‫ي‬َ‫ر‬ُ‫ه‬ْْ‫ن‬َ‫أ‬َْْ‫ل‬‫و‬ُ‫س‬ َ‫ر‬ِْْ‫هللا‬‫صلى‬ْ‫هللا‬ْ‫ليه‬َ‫ع‬ْ‫م‬ّ‫وسل‬َْ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ْْ:ُْ‫ل‬ ِ‫ز‬‫ن‬َ‫ي‬ْ‫َا‬‫ن‬ُّ‫ب‬َ‫ر‬َْْ‫ك‬ َ‫ار‬َ‫ب‬َ‫ت‬َْْ‫و‬َْْ‫الى‬َ‫ع‬َ‫ت‬ْْ‫ل‬ُ‫ك‬ْْ‫ة‬َ‫ل‬‫ي‬َ‫ل‬ْ‫ى‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ِْْ‫اء‬َ‫م‬‫الس‬ْ ‫ا‬َ‫ي‬‫ُّن‬‫د‬‫ال‬َْْ‫ن‬‫ي‬ ِ‫ح‬ْ‫ى‬َ‫ق‬‫ب‬َ‫ي‬ُْْ‫ث‬ُ‫ل‬ُ‫ث‬ِْْ‫ر‬‫ي‬ ِ‫خ‬َ‫أل‬‫ا‬ُْْ‫ل‬‫و‬ُ‫ق‬َ‫ي‬ْ:ْ‫ن‬َ‫م‬ْ‫ي‬ِ‫ن‬‫و‬ُ‫ع‬‫د‬َ‫ي‬َْْ‫ب‬‫ي‬ ِ‫َج‬‫ت‬‫س‬َ‫أ‬َ‫ف‬ُْْ‫ه‬َ‫ل‬ْْ,ْ‫ن‬َ‫م‬ْ‫ي‬ِ‫ن‬ُ‫ل‬َ‫أ‬‫س‬َ‫ي‬َْْ‫ف‬ُْ‫ه‬َ‫ي‬ِ‫ط‬‫ع‬ُ‫أ‬ْْ‫ن‬َ‫م‬ُْْ‫ر‬ِ‫ف‬‫َغ‬‫ت‬‫س‬َ‫ي‬‫ي‬ِ‫ن‬ِْْ‫ر‬ِ‫ف‬‫غ‬َ‫أ‬َ‫ف‬ُْْ‫ه‬ِ‫ل‬ Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir, Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, akan Kukabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku, akan Kuberi, Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Kuampuni” [HR. Bukhari No. 1145 dan Muslim No. 758] HADITSNYA MUTAWATIR Hadits tentang nuzulnya Allah tidak diragukan lagi keabsahannya. Seluruh ulama ahli hadits menshahihkannya, tidak ada satupun dari mereka yang melemahkannya. Bahkan, para ulama ahli hadits menilai bahwa derajat haditsnya mutawatir. Diantaranya: 1. Imam Abu Zur’ah berkata[Sebagaimana dinukil oleh Abu Syaikh Ibnu Hibban dalam Kitab As-Sunnah. (Lihat Umdatul Qary 7/199 oleh Al-‘Ainiy).]: “Hadits-hadits tentang turunnya Allah ke langit dunia ini derajatnya mutawatir dari Rasulullah, diriwayatkan oleh sejumlah sahabat Rasulullah. Hadits tersebut menurut kami adalah shahih dan kuat”. 2. Utsman bin Sa’id Ad-Darimi berkata: “Hadits nuzul diriwayatkan dari dua puluh tiga lebih sahabat dari Nabi”.[ Lihat Naqdu Utsman bin Sa’id ‘ala Al-Marisi Al-Anid hal. 283] 3. Abdul Ghani Al-Maqdisi: “Telah mutawatir dan shahih hadits-hadits tentang turunnya Allah setiap hari ke langit dunia. Maka wajib bagi kita untuk beriman dengannya, pasrah menerimanya, tidak menentangnya, menjalankannya tanpa takyif
  16. 16. 15Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas (membagaimanakan) dan tamtsil (menyerupakan dengan makhluk) serta takwil (menyelewengkan artinya) sehingga meniadakan hakekat turunnya Allah”.[ Lihat Al- Iqtishad fil I’tiqad hal. 100] 4. Imam Ibnu Abdil Barr: “Hadits ini adalah shahih sanadnya. Tidak ada perselisihan pendapat di kalangan ahli hadits tentang keabsahannya”. Beliau juga berkata: “Hadits ini dinukil dari jalan-jalan yang mutawatir dan jalur yang banyak sekali dari orang- orang yang adil dari Nabi”.[Lihat At-Tamhid 3/338] 5. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa hadits ini mutawatir dan dinukil dari generasi ke generasi selanjutnya[Majmu Fatawa 5/372]. Beliau juga berkata: “Hadits masyhur yang diriwayatkan oleh banyak sahabat”.[ Majmu Fatawa 5/382 dan 16/421] 6. Imam Ad-Dzahabi berkata :“Saya telah menulis hadits-hadits tentang nuzul (turunnya Allah) dalam sebuah kitab khusus, derajat hadits-haditsnya saya berani menetapkannya mutawatir”.[ Al-Uluw hal. 116 -Mukhtashar Al-Albani-] 7. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata: “Sesungguhnya turunnya Allah ke langit dunia telah dijelaskan dalam hadits-hadits mutawatir dari Rasulullah, yang diriwayatkan oleh kurang lebih dua puluh delapan sahabat”. [lihat Ash-Shawa’iq Al-Mursalah 2/221 - Mukhtashar Al-Mushiliy-] 8. Demikian pula ditegaskan oleh Imam Ibnu Abdil Hadi [lihat Ash-Sharimul Munki hal. 229], Al-Kattani [lihat Nadhmul Mutanasir hal. 192]dan Al-Albani[lihat Silsilah Ash- Shahihah 2/716-717 dan Adh-Dha’ifah 8/365 ]. Hadits nuzul ini diriwayatkan dari sejumlah sahabat Nabi, diantaranya Abu Bakar Ash-Shiddiq,Ali bin Abi Thalib,Abu Hurairah,Jubair bin Muth’im,Jabir bin Abdullah,Abdullah bin Mas’ud,Abu Sa’id Al-Khudri,Amr bin ‘Abasah,Rifa’ah bin ‘Arabah Al- Juhani, Utsman bin Abi ‘Ash Ats-Tsaqafi, Abdul Hamid bin Salamah dari ayahnya dari kakeknya,Abu Darda’,Mu’adz bin Jabal,Abu Tsa’labah Al-Khusyani,Aisyah,Abu Musa Al- Asy’ari,Ummu Salamah,Anas bin Malik,Hudzaifah bin Yaman,Laqith bin Amir Al- ‘Uqaili,Abdullah bin Abbas,Ubadah bin Shamith,Asma’ binti Yazid,Abul Khaththab,‘Auf bin Malik, Abu Umamah Al-Bahili,Tsauban,Abu Haritsah, dan Khaulah binti Hakim. [ Lihat Mukhtashar Shawaiq Mursalah Ibnul Qayyim 2/230, Umdatul Qori Al-‘Aini 7/198, Kitab Nuzul Ad-Daruqutni] BAGAIMANA SYARH DARI HADITS DI ATAS MENURUT ULAMA AHLUS SUNNAH?? Imam al-Ajurri Rahimahullah berkata: “Iman dengan ini wajib, tetapi tidak boleh bagi seorang muslim untuk bertanya: Bagaimana Allah turun? Dan tidak ada yang mengingkari ini kecuali kelompok Mu’tazilah. Adapun ahli haq, mereka mengatakan: Beriman dengannya adalah wajib tanpa takyif (membagaimanakan), sebab telah shahih sejumlah hadits dari Rasulullah bahwasanya Allah turun ke langit dunia setiap malam. Orang-orang yang meriwayatkan hadits ini kepada kita, mereka pula yang meriwayatkan hadits-hadits tentang hukum halal haram, shalat, zakat, puasa, haji dan jihad. Maka, sebagaimana para ulama menerima semua itu, maka mereka juga menerima hadits-hadits ini, bahkan mereka menegaskan: “Barangsiapa yang menolaknya maka dia adalah sesat dan keji”. Mereka waspada darinya dan memperingatkan umat dari penyimpangannya”. [Lihat Asy-Syari’ah 2/93 -Tahqiq Walid bin Muhammad-.] Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullah berkata: “Bab penyebutan hadits-hadits yang shahih sanad dan matan-nya. Para ulama Hijaz dan ‘Iraq meriwayatkan dari Nabi tentang turunnya Allah ke langit dunia setiap malam. Kita bersaksi
  17. 17. 16Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas dengan persaksian seorang yang menetapkan dengan lisannya dan membenarkan dengan hatinya penuh keyakinan terhadap hadits-hadits seputar turunnya Allah tanpa membagaimanakan sifatnya, sebab Nabi kita tidak menyifatkan kepada kita tentang sifat turunnya Allah ke langit dunia, tetapi hanya memberitakan kepada kita bahwa Dia turun, sedangkan Allah dan NabiNya tidak mungkin lalai untuk menjelaskan sesuatu yang dibutuhkan kaum muslimin dalam agama mereka. Maka kita membenarkan hadits-hadits ini yang berisi penetapan turunnya Allah tanpa menyulitkan diri untuk membagaimanakan sifat turunNya, lantaran Nabi tidak menerangkan kepada kita tentang sifat turunnya Allah”.[16] Setelah kita mengetahui keabsahan hadits ini, maka kita jawab tuduhan penulis tersebut terhadap lbnu Taimiyyah, dengan bertanya kepadanya: “Dari manakah tuduhan ini? Dikitab apa? Siapa yang menceritakannya? Siapa ulama’ yang mencatat kisah ini? Mana murid- muridnya? Siapa ahli sejarah yang mencatatnya?”[Lihat Kitab Kitab At-Tauhid wa Itsbat Shifat Ar-Rabb hal. 125 -Tahqiq Muhammad Khalil Harras] Imam Ibnu Abdil Barr Rahimahullah berkata: “Mayoritas imam Ahli Sunnah berpendapat bahwa Allah turun sebagaimana dikhabarkan oleh Rasulullah, mereka membenarkan hadits ini dan tidak membagaimanakannya”.[Lihat At- Tamhid 3/349] Adapun Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah setelah membawakan hadits di atas, beliau berkata: “Para salaf, para imam, dan para ahlu ilmu dan hadits telah bersepakat membenarkan dan menerima hadits ini. Barangsiapa yang berkata seperti perkataan rasul, maka dia benar. Tetapi barangsiapa yang memahami hadits ini atau hadits-hadits yang sejenisnya dengan pemahaman yang Allah suci darinya, seperti menyerupakanNya dengan sifat makhluq, dan menyifatiNya dengan kekurangan, maka dia telah salah. Oleh karena itu madzhab salaf meyakini dalam sifat ini dengan menetapkan sifat-sifat bagi Allah dan tidak menyerupakannya dengan makhluk. Karena Allah disifati dengan sifat-sifat terpuji dan suci dari penyerupaan dengan makhlukNya” [Syarah Hadits Nuzul” Hal. 69-70] Adapun KH. SIROJUDDIN ABBAS setelah membawakan hadits Nuzul berkata pada hal 275: “Ketika menerangkan hadits ini, Ibnu Taimiyyah mencobakan bagaimana turunnya tuhan dari langit, yaitu seperti ia turun dari mimbar” Subhanallah.....maka Kita sampaikan kepada beliau atau orang yang mendukung pernyataan beliau, dari manakah rujukan mereka sampai menuduh syaikhul islam berkata demikian???? Di Kitab manakah Syaikhul Islam berkata seperti itu??? Barangkali penulis mengambil warisan dari nenek moyang pendusta yang bernama Ibnu Bathuthah yang telah dibongkar kedustaannya oleh para ahlu ilmu [Lihat : Misalnya kitab “At- Tasfhiyah Wa Tarbiyah” Hal. 68-69 oleh Syeikh Ali bin Hasan dan kitab “Qashahshun laa tats- butu” 1/66-69 Oleh Syeikh Yusuf Ibnu Muhammad Atyq]. Terkait hal ini, penggalan hikayat dari Ibnu Bathuthah yang menceritakan kisah ibnu Taimiyah menjadi buah bibir di kalangan para pembela dan musuhnya, yang terdapat dalam kitab berikut:
  18. 18. 17Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
  19. 19. 18Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
  20. 20. 19Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas
  21. 21. 20Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas Dalam penggalan kisah tersebut ibnu Bathutah menyebutkan: “Saat itu aku di Damaskus, lalu aku menghadiri majelisnya (Ibnu Taimiyah) pada hari Jum’at, saat ia berada di atas mimbar Masjid Jami’ sedang menasehati kaum muslimin dan mengingatkan mereka. Adapun dari sekian perkataannya, ia (Ibnu Taimiyyah) berkata, ‘Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia seperti turunku ini’, lalu ia turun satu tangga dari mimbar. Maka seorang ahli fikih bermadzhab Maliki yang dikenal dengan nama Ibnu azZahra menentangnya”[ Rihlah Ibnu Bathuthah 1/217] Dari penggalan kalimat tersebut bertambahlah keyakinan musuh-musuh Ibnu Taimiyah bahwa beliau menyamakan Allah dengan makhluk dan beraqidah Tajsim atau yang terkenal dengan golongan Mujassimah. Jika para penentang Ibnu Taimiyah-rahimahullah-mau jujur dan obyektif, maka tulisan- tulisannya yang beratus-ratus jilid menjadi saksi bahwa beliau justeru menentang Aqidah Tajsim dan bahkan Mengkafirkannya.Lalu bagaimana dengan penuturan Ibnu Bathutah? Apa buktinya bahwa dia telah berdusta? Kebohongan itu bangkai dan bau busuknya pasti tercium.Meskipun menjijikan, saya terpaksa mengajak pembaca untuk mencium bau itu dari 2 Aspek: Pertama: Ibnu Bathuthah Imam Al-Haafizh Ibnu Hajar Al Atsqalani –rahimahullah-telah menorehkan pena untuk menulis Biografi Ibnu Bathutah dalam kitabnya Durarul Kamina. Beliau menyebutkan: ‫قال‬ْ‫ابن‬ْ‫حجر‬ْ‫في‬ْ‫الدرر‬ْ‫الكامنة‬ْ‫ج‬ْ:3ْ‫ص‬ْ:84ْ‫رقم‬ (1285) : ‫محمد‬ْ‫بن‬ْ‫عبد‬ْ‫هللا‬ْ‫بن‬ْ‫ابراهيم‬ْ‫بن‬ْ‫محمد‬ْ‫بن‬ْ‫ابراهيم‬ْ‫بن‬ْ‫يوسف‬ْ‫اللوائي‬ْ‫الطنجي‬ْ‫أبو‬ْ‫عبد‬ْ‫هللا‬ْ‫ابن‬ْ‫بطوطة‬ْ.‫قال‬ْ ‫ابن‬ْ‫الخطيب‬ْْ:‫كان‬ْ‫مشاركا‬ْ‫في‬ْ‫شىء‬ْ‫يسير‬ْ‫ورحل‬ْ‫إلى‬ْ‫المشرق‬ْ‫في‬ْ‫رجب‬ْ‫سنة‬ْ25،ْ‫فجال‬ْ‫البالد‬ْ‫وتوغل‬ْ‫في‬ْ ‫عراق‬ْ،‫العجم‬ْ‫ثم‬ْ‫دخل‬ْ‫الهند‬ْ‫والسند‬ْ‫والصين‬ْ‫ورجع‬ْ‫على‬ْ‫اليمن‬ْ‫فحج‬ْ‫سنة‬26،ْ‫ولقى‬ْ‫من‬ْ‫الملوك‬ْ‫والمشايخ‬ْ ‫خلقا‬ْ،‫كثيرا‬ْ‫وجاور‬ْ‫ثم‬ْ‫رجع‬ْ‫إلى‬ْ‫الهند‬ْ‫فواله‬ْ‫ملكها‬ْ،‫القضاء‬ْ‫ثم‬ْ‫خلص‬ْ‫فرجع‬ْ‫الى‬ْ‫المغرب‬ْ‫فحكى‬ْ‫بها‬ْ‫أحواله‬ْ ‫وما‬ْ‫اتفق‬ْ‫له‬ْ‫وما‬ْ‫استفاد‬ْ‫من‬ْ‫أهلها‬ْ.‫قال‬ْ‫شيخنا‬ْ‫أبو‬ْ‫البركات‬ْ‫ابن‬ْ‫البلفيقي‬ْْ:‫حدثنا‬ْ‫بغرائب‬ْ‫مما‬ْ،‫رآه‬ْ‫فمن‬ْ‫ذلك‬ْْ: ‫أنه‬ْ‫زعم‬ْ‫انه‬ْ‫دخل‬ْ‫القسطنطين‬‫ية‬ْ‫فرأى‬ْ‫في‬ْ‫كنيستها‬ْ‫اثني‬ْ‫عشر‬ْ‫ألف‬ْ،‫أسقف‬ْ‫ثم‬ْ‫انتقل‬ْ‫إلى‬ْ‫العدوة‬ْ‫ودخل‬ْ‫بالد‬ْ ْ‫السودان،ْثمْاستدعاهْصاحبْفاس،ْوأمرهْبتدوينْرحلته.ْانتهى.ْوقرأتْبخطْابنْمرزوقْ:ْإنْأباْعبدْهللا‬ ْ‫هاْوحررهاْبأمرْالسلطانْأبيْعنان،ْوكانْالبلفيقيْرماهْبالكذبْفبرأهْابن‬َ‫ق‬‫َم‬‫ن‬ْ)‫بنْجزيْ(ت657هـ‬ ‫م‬‫رزوق‬ْ‫وقال‬ْْ:‫إنه‬ْ‫بقى‬ْ‫إلى‬ْ‫سنة‬ْ،‫سبعين‬ْ‫ومات‬ْ‫وهو‬ْ‫متولى‬ْ‫القضاء‬ْ‫ببعض‬ْ‫البالد‬ْ.‫قال‬ْ‫ابن‬ْ‫مرزوق‬ْْ:‫وال‬ْ ‫اعلم‬ْ‫أحدا‬ْ‫جال‬ْ‫البالد‬ْ،‫كرحلته‬ْ‫وكان‬ْ‫مع‬ْ‫ذلك‬ْ‫جوادا‬ْْ‫محسنا‬ْ.‫انتهى‬
  22. 22. 21Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas Arti yang bergaris bawah: Aku telah membaca tulisan ibnu Marzuq, : “Sesungguhnya Abu Abdillah bin Jizy Al kalbi menulisnya dan mengeditnya atas perintah sulthan Abi Annan, sedangkan Al Balfiqy menuduhnya sebagai pendusta” Dari penuturan Ibnu Hajar yang membaca tulisan Ibnu Marzuq diatas terlihat bahwa Rihlah Ibnu Bathutah bukan ditulis Ibnu bathutah sendiri, namun ditulis oleh Abu Abdillah bin Jizy Al kalbi sedangkan guru beliau yang bernama Al Imam Al Balfiqi menuduh pria ini sebagai pendusta. Dari perkataan Al Balfiqi juga mengandung isyarat bahwa beliau mendustakan cerita ibnu Bathutah dengan memilih kata Zaama ketika menceritakan kisahnya di Konstantin. Siapapun yang mengerti ilmu ushul pasti mengetahui bahwa zaama digunakan sebagai isyarat untuk melemahkan sebuah riwayat atau pendapat. Dalam tempat lain sejarawan Muslim Kontemporer yang bernama Ibnu Khaldun menceritakan dalam Muqaddimahnya bahwa banyak cerita aneh ditampilkan ibnu Bathutah , sebagai contoh ia mengatakan bahwa raja di India itu kalau ingin bepergian jauh maka ia akan memberikan bekal kepada rakyat yang ia tinggalkan seukuran untuk 6 bulan. Bahkan di dalam kitab tersebut Ibnu Bathutah juga menyebutkan bahwa ia mengunjungi sebagian jazirah dan negeri dimana wanitanya hanya memiliki satu payudara. Dari beberapa keanehan ini terlihat bahwa Rihlah ibnu Bathutah kurang memiliki nilai Ilmiyah untuk dijadikan sandaran. Kedua : Konten Cerita Dalam kitab tersebut Ibnu Bathutah menyebutkan: “Saat itu aku di Damaskus,lalu aku menghadiri majelisnya (Ibnu Taimiyyah) pada hari Jum’at, saat ia berada di atas mimbar Masjid Jami’ sedang menasehati kaum muslimin dan mengingatkan mereka” Sangat jelas nukilan dari Ibnu Bathutah bahwa dia menghadiri majelis tersebut di Damaskus, namun kebohongannya terkuak lewat tulisannya sendiri pada halaman-halaman sebelumnya yang menceritakan rentetan kejadian di Damaskus dimana dia mengatakan: “Aku masuk Ba’labak siang hari, lalu aku keluar darinya pada pagi hari, karena sangat rinduku terhadap kota Damaskus. Dan aku sampai ke kota Damaskus, Syam, pada hari Kamis, 9 Ramadhan yang agung tahun 726 H. Aku pun singgah disana, di Madrasah al Malikiyah yang dikenal dengan asy Syarabisyiyah.”[Rihlah Ibnu Bathuthah 1/187] Jika kita bandingkan dengan tulisan para ahli dan murid-murid Ibnu Taimiyah rahimahullah maka kan terlihat kontradiksinya. Perhatikan! Pada Kitab Syarah Qashiidah Ibnul Qayyim (Juz 1, hal. 497) dikatakan, “Kebohongannya sudah tampak jelas, tidak memerlukan lagi berpanjang ulasan. Dan Allah- lah Yang Maha Penghitung kebohongan pendusta ini. Dia (Ibnu Bathuthah) menyebutkan dia masuk ke Damaskus 9 Ramadhan 726 H, padahal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika itu sudah ditahan di benteng (al Qal’ah) sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama terpercaya, seperti murid beliau sendiri, Al Hafizh Muhammad bin Ahmad bin ‘Abdul Hadi dan juga oleh Al Hafizh Abil Faraj ‘Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab dalam kitab Thabaqat Hanabilah atau Imam Ibnu Rajab rahimahullah]
  23. 23. 22Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas Ia berkata mengenai biografi Syaikh (Ibnu Taimiyyah) dalam Thabaqat-nya tersebut: ‘Syaikh telah ditahan di benteng itu dari bulan Sya’ban tahun 726 H sampai Dzulqa’dah tahun 728 H’. Imam Ibnu ‘Abdul Hadi menambahkan: ‘Ia (Ibnu Taimiyyah) memasuki (tahanan) di benteng itu pada 6 Sya’ban’ Maka lihatlah pendusta ini (Ibnu Bathuthah) yang menyebutkan bahwa dia telah menyaksikan Ibnu Taimiyyah sedang memberi nasihat kepada kaum muslimin di atas mimbar mesjid jami’. Padahal Syaikh (Ibnu Taimiyyah) rahimahullah setelah masuk ke benteng (tahanan) tersebut pada tanggal tersebut pula, maka beliau tidak pernah keluar darinya kecuali di atas kereta jenazah (pada hari wafatnya, Dzulqa’dah 728 H)” Cerita-cerita penahanan ibnu Taimiyah yang membawanya kepada Azal ini amat terkenal dikalangan para Sejarawan. Bahkan Ibnu hajar Tak ketinggalan menuliskan cerita ini di Durarul Kaminah dengan menukil dari As Shafadi beliau mengatakan: ‫سنة‬ ‫رجب‬ ‫في‬ ‫آخر‬ ‫مجلس‬ ‫له‬ ‫عقد‬ ‫ثم‬ ‫الفتيا‬ ‫من‬ ‫المنع‬ ‫عليه‬ ‫وأكد‬ ‫الطالق‬ ‫مسألة‬ ‫بسبب‬ ‫في‬ ‫أخرى‬ ‫مرة‬ ‫عليه‬ ‫قاموا‬ ‫ثم‬ 127 ‫سنة‬ ‫عاشوراء‬ ‫في‬ ‫أخرج‬ ‫ثم‬ ‫بالقلعة‬ ‫حبس‬ ‫ثم‬ ‫عشرين‬ ‫ليلة‬ ‫في‬ ‫مات‬ ‫أن‬ ‫إلى‬ ‫بها‬ ‫يزل‬ ‫فلم‬ ‫بالقلعة‬ ‫واعتقل‬ ‫الزيارة‬ ‫مسألة‬ ‫بسبب‬ 127 ‫سنة‬ ‫شعبان‬ ‫سنة‬ ‫القعدة‬ ‫ذي‬ ‫من‬ ‫العشرين‬ ‫االثنين‬ Artinya: kemudian mereka mengadilinya pada bulan Ramadhan tahun 719 Hijriah disebabkan fatwanya terkait thalaq (thalaq tiga satu majelis, red) dan dilarang untuk berfatwa. Kemudian diadakan persidangan lagi di Pengadilan lain pada bulan rajab tahun 720 dan ia ditahan dibenteng, kemudian dikeluarkan pada bulan Asyura tahun 721. kemudian mereka mengadili lagi untuk kesekian kali lagi pada bulan sya’ban tahun 726 disebabkan Fatwanya tentang Ziyarah kemudian iapun dipenjara di dalam benteng hingga ia Wafat pada malam senin tanggal 20 Dzulqa’dah tahun 728 Hijriah. Jadi jelas bahwa Ibnu Bathutah tidak mungkin bertemu Ibnu Taimiyah pada tahun tersebut, apalagi diceritakan oleh para Ahli Sejarah bahwa jangankan keluar dari Penjara, menulis dan membaca buku serta berfatwa saja beliau dilarang, hingga beliau menghabiskan masa penahanannya hanya dengan membaca qur’an dan dalam penahanan tersebut beliau menghatamkan qur’an sebanyak 81 kali. Bau busuk kebohongan tersebut makin bertambah dengan Fakta berikut :  Berdasarkan periwayatan para Huffadz dan Ibnu Hajar sendiri, penahanan Ibnu Taimiyah ditahun 726 itu disebabkan oleh fatwanya terkait Ziarah kekubur Rasululullah bukan tentang Nuzul (turunnya Allah Kelangit dunia.  Disitu juga disebutkan bahwa dipenjara sebelumnya Ibnu Taimiyah pernah mengarang Kitab Tafsir yang bernama Bahrul Muhith sebanyak 40 jilid padahal Al Imam At Thabari mengarang Tafsir puluhan tahun dan tidak sampai 40 jilid, dan Ibnu Hajar sendiri mengarang Fathul bari Selama 25 tahun, itupun mereka berada diluar penjara. dari cerita Ibnu Hajar bisa diketahui bahwa Ibnu taimiyah dipenjara sebelumnya pada bulan Rajab tahun 720 Hijriah hingga bulan Asyura tahun 721 Hijriah atau sekitar 5 bulan saja, atau kalaupun ditahun-tahun sebelumnya, maka pemenjaraan beliau tidak lebih
  24. 24. 23Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas dari 2 tahun, lalu bagaimana beliau menyelesaikan 40 jilid tafsir dipenjara secepat itu. Mustahil.  Dalam cerita itu disebutkan pula bahwa panggilan Qadhi Hanabilah Adalah Izzuddin, padahal panggilannya yang benar adalah Syamsuddin dan nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Syamsuddin ibnu Musallam As Shalihi. Adapun panggilan Izzuddin adalah panggilan untuk Qadhi Muhammad bin At Taqiy Sulaiman yang Wafat tahun 731 Hijriah yang menjadi Qadhi menggantikan Ibnu Musallam selanjutnya.  Hal yang juga seru dari kitab Rihlah ibnu Bathutah yang saya dapatkan adalah pentahqiqnya yang juga mengingkari cerita tentang Ibnu Taimiyah Ini seperti yang ia jabarkan dalam footnotenya. Dengan Fakta-fakta ini, maka Semoga Allah mensucikan ruh Ibnu Taimiyah dari fitnah, layaknya Gaharu, wanginya tak akan tercium kecuali telah dibakar sebelumnya. [dengan penjelasan ini, maka dapat kita simpulkan, bahwa apa yang disampaikan KH. Sirajudin Abbas terkait Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dengan merujuk kepada Ibnu Bathuthah, telah terjawab, Insyaallah] KH. SIROJUDDIN ABBAS BERKATA pada hal 276 : “Sebagaimana dimaklumi dunia ini bundar, malam di suatu tempat, siang di tempat yang lain, kalau di Indonesia matahari sudah terbenam dan sudah malam maka di Makkah baru pukul dua belas siang. Kalau di lndonesia siang bolong umpamanya pukul sepuluh pagi, maka di Belanda betul-betul pukul dua malam. Dan begitulah seterusnya. Nah, kalau tuhan turun ke bawah pada sepertiga malam terakhir, sebagaimana turunnya Ibnu Taimiyah, maka pekerjaan tuhan hanya turun-turun saja setiap waktu bagi seluruh penduduk dunia. Karena waktu malam sepertiga malam terakhir bergantian di seluruh dunia, sedang tuhan hanya satu.” Jawaban : Demikianlah jika seorang telah dimotori dengan akal, mengapakah tuan menggambarkan Allah sedemikian rupa? Mengapakah tuan tidak pasrah terhadap hadist Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam yang yang shahih? Bukankah Allah berfirman: ََّ‫ل‬َ‫ف‬ََّ‫ك‬ِ‫ب‬ َ‫ر‬ َ‫و‬ََّ‫ل‬ََّ‫ون‬ُ‫ن‬ِ‫م‬ْ‫ؤ‬ُ‫ي‬‫ى‬‫ت‬َ‫ح‬ََّ‫وك‬ُ‫م‬ِ‫ك‬َ‫ح‬ُ‫ي‬‫ا‬َ‫م‬‫ي‬ِ‫ف‬ََّ‫ر‬َ‫ج‬َ‫ش‬َّْ‫م‬ُ‫ه‬َ‫ن‬ْ‫ي‬َ‫ب‬َّ‫م‬ُ‫ث‬ََّ‫ل‬َُّ‫د‬ ِ‫ج‬َ‫ي‬َّْ‫ا‬‫و‬‫ي‬ِ‫ف‬َّْ‫م‬ِ‫ه‬ِ‫س‬ُ‫ف‬‫ن‬َ‫أ‬‫ا‬ً‫ج‬ َ‫ر‬َ‫ح‬‫ا‬‫م‬ِ‫م‬ََّ‫ْت‬‫ي‬َ‫ض‬َ‫ق‬َُّ‫ي‬ َ‫و‬‫وا‬ُ‫م‬ِ‫ل‬َ‫س‬ ‫ا‬ً‫م‬‫ي‬ِ‫ل‬ْ‫س‬َ‫ت‬ Demi Rabbmu, tidaklah mereka beriman sehingga mereka menjadikanmu sebagai hakim dalam perkara-perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan terhadap hukummu, dan mereka pasrah dengan sebenar-benarnya. [An-Nisa’:65] Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari imam Az-Zuhri, dia mengatakan: “Wahyu itu dari Allah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam hanya menyampaikan, kewajiban kita hanya pasrah dan tunduk” [Fathul Baari” 13/512] Imam Ath-Thahawy berkata: “Tidaklah selamat seorang hamba dalam agamanya kecuali apabila dia tunduk dan pasrah terhadap Allah dan RasulNya shalallahu’alaihi wasallam , dan
  25. 25. 24Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas mengembalikan segala kesamaran kepada yang Maha Mengetahui” [Syarah Aqidah Thahawiyah” Hal. 199 Cet. Makhtab Islamy]. Kewajiban kita dalam hadits-hadits seperti ini adalah: 1. Beriman terhadap nash-nash yang shahih. 2. Tidak bertanya bagaimana serta menggambarkannya, baik dalam fikiran, terlebih lagi dalam ungkapan. Karena hal itu termasuk berkata terhadap AIllah tanpa ilmu, sedangkan Allah tidak dapat dijangkau oleh fikiran. 3. Tidak menyerupakan sifatNya dengan sifat makhluk. Allah berfirman: ََّ‫ْس‬‫ي‬َ‫ل‬َِّ‫ه‬ِ‫ل‬ْ‫ث‬ِ‫َم‬‫ك‬َّ‫َيء‬‫ش‬ََّ‫ُو‬‫ه‬ َ‫و‬َُّ‫ع‬‫ي‬ِ‫م‬‫الس‬َُّ‫ير‬ ِ‫ص‬َ‫ب‬ْ‫ال‬ “Tidak ada sesuatu pun yang serupa denganNya, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui [As-Syura:11] Jika kita memahami kewajiban ini, maka tidak akan ada lagi kerancuan dalam hadits nuzul atau lainnya yang menerangkan sifat-sifat Allah. Yang penting, jika tiba sepertiga malam terakhir maka Rabb turun ke langit dunia, sebagaimana yang diberitakan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam [lihat. Majmu’ Fatawa Wa Maqalaat Syaikh Ibnu Utsaimin” 1/216] PASAL 3. MADZHAB (PENDAPAT) IBNU TAIMIYYAH DALAM ZIARAH KUBUR KH. Sirajuddin Abbas Berkata pada Hal, 274 : “Ibnu Taimiyyah mengharamkan orang yang ziarah ke makam nabi di Madinah, dan perjalanan itu (kalau dilakukan) dianggap ma’siat menurut Ibnu Taimiyyah” Hal, 278 : “Walaupun kebanyakan umat Islam tidak mau mengikut, tapi sejarah Islam telah mencatat bahwa ada seorang ulama’ Islam di Damsyik pada abad 7H, yang mengharamkan ziarah ke makam nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu Ibnu Taimiyyah” Jawaban: “Masalah ini bukanlah masalah baru, dan tuduhan ini bukanlah tuduhan yang baru pula, pada masa beliau sudah ada yang membuat kedustaan atas beliau dalam hal ini. Agar tidak ada salah faham dalam maslah ini, maka hendaklah dicermati baik-baik. Kami katakan: “Sesungguhnya Syeikhul Islam lbnu Taimiyyah tidaklah mengharamkan ziarah kubur yang syar’i, baik kuburan Nabi shalallahu’alaihi wasallam atau lainnya. Akan tetapi yang beliau larang adalah ziarah kubur bid’i (secara bid’ah), seperti mengadakan penjalanan dengan tujuan ziarah kubur, sebagaimana sering dilakukan banyak orang, terutama di Indonesia ini. Larangan itu berdasarkan hadits, bahwasanya Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda:
  26. 26. 25Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas ََّ‫ل‬َّ‫َد‬‫ش‬ُ‫ت‬َِّ‫ال‬َ‫ح‬ ِ‫الر‬َّ‫ل‬ِ‫إ‬‫ى‬َ‫ل‬‫إ‬َِّ‫ة‬َ‫ث‬َ‫ل‬َ‫ث‬ََّ‫د‬ ِ‫اج‬َ‫س‬َ‫م‬َِّ‫د‬ ِ‫ج‬ْ‫س‬َ‫م‬ْ‫ال‬َِّ‫ام‬ َ‫ر‬َ‫ح‬ْ‫ال‬ََّ‫و‬‫ي‬ِ‫د‬ ِ‫ج‬ْ‫س‬َ‫م‬‫ا‬َ‫ذ‬َ‫ه‬ََّ‫و‬َِّ‫د‬ ِ‫ج‬ْ‫س‬َ‫م‬ْ‫ال‬‫ى‬َ‫ص‬ْ‫ق‬َ‫أل‬‫ا‬ Janganlah mengadakan perjalanan kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku ini (masjid Nabawi) dan masjidil Aqsha. [HR. Bukhari No. 1189 dan Muslim No. 827] Sesungguhnya orang yang mau membaca kitab-kitab Syeikhul Islam lbnu Taimyyah dengan adil dan jujur, niscaya ia akan mengetahui bahwa beliau sama sekali tidak mengharamkan ziarah kubur sebagaimana tuduhan penulis ini. Perhatikanlah perkataan beliau berikut ini baik-baik: “Telah aku jelaskan dalam kitabku tentang manasik haji, bahwa bepergian ke masjid Nabawi dan menziarahi kubur beliau – sebagaimana diterangkan imam kaum muslimin dalam manasik- merupakan amal shaleh yang dianjurkan…” Beliau juga berkata: “Barangsiapa yang bepergian ke Masjid Haram, Masjid Aqsha atau Masjid Nabawi, kemudian shalat di masjidnya, lalu menziarahi kubur beliau sebagaimana Sunnah Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam maka ini merupakan amal shaleh. Barangsiapa mengingkari safar seperti ini, maka dia kafir diminta taubat, jika bertaubat itulah yang diharapkan. Jika tidak maka dibunuh. “ Adapun seseorang yang melakukan perjalanan hanya untuk ziarah kubur semata, sehingga apabila sampai di Madinah, ia tidak shalat di masjidnya, tetapi hanya untuk ziarah kubur nabi shalallahu’alaihi wasallam lalu pulang, maka orang ini mubtadi’ (ahli bid’ah) yang sesat, dan menyesatkan karena menyelisihi Sunnah Rasulullah, ijma’ salaf dan para ulama’ umat ini” [Majmu’ Fatawa” 26/329-344] Barangsiapa yang membaca kitab “Ar Raddu ‘ala Al-Akhna’i” dan “Al-Jawabul Al-Baahir Liman Sa’ala ‘an Ziyaratil Kubur” karya Ibnu Taimiyyah, ia akan yakin dengan apa yang kami uraikan. Hal ini dikuatkan oleh murid-murid beliau di antaranya. 1. Al-Hafidz Ibnu Abdil Hadi, beliau berkata dalam ‘As Sharim Al-Munky” Hal; 15: “Hendaklah diketahui, sebelum membantah orang ini (as-Subkiy) bahwasanya Syeikhul Islam lbnu Taimiyyah tidaklah mengharamkam ziarah kubur yang syar’i dalam kitab-kitabnya. Bahkan beliau sangat menganjurkannya. Karangan-karanganya serta manasik hajinya adalah bukti atas apa yang saya katakan” 2. Al-Hafidz lbnu Katsir, beliau berkata dalam “Al Bidayah Wa An-Nihayah” 14/123: “Dan Syeikh lbnu Taimiyyah tidaklah melarang ziarah kubur yang bersih dari kebid’ahan, seperti (bid’ahnya) bepergian/safar untuk ziarah kubur. Bahkan beliau mengatakan sunnahnya ziarah kubur, kitab-kitabnya dan manasik-manasik hajinya adalah bukti hal itu, beliau juga tidak pernah mengatakan haramnya ziarah kubur dalam fatwa-fatwanya, beliau juga tidak jahil dengan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : “Ziarahlah karena hal itu dapat mengingatkan kalian dengan akherat”. Tetapi yang beliau larang adalah bepergian/safar untuk ziarah. Jadi ziarah kubur itu suatu masalah dan bepergian dalam rangka ziarah kubur itu masalah lain lagi” Sebagai penutup pembahasan ini kami kutipkan pula perkataan Al-‘Allamah Al-Muhaddits Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, beliau berkata dalam “Silsilah Ahadits adh- Dhaifah” 1/124, no: 47: “Perhatian: Banyak orang menyangka bahwa Syeikhul Islam Ibnu Iaimiyyah dan orang-orang yang sejalan dengannya di kalangan salafiyin melarang ziarah kubur nabi. Ini merupakan kedustaan dan tuduhan palsu. Tuduhan seperti ini bukanlah perkara yang baru. Orang yang mau menelaah kitab-kitab lbnu Taimiyyah akan mengetahui bahwa beliau mengatakan disyariatkannya ziarah kubur Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan syarat tidak diiringi dengan kemungkaran-kemungkaran dan kebid’ahan-kebid’ahan seperti
  27. 27. 26Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas bepergian/safar ke sana, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, “Janganlah mengadakan perjalanan kecuali ke tiga masjid” Yang dikecualikan dalam hadits ini bukanlah masjid saja sebagaimana persangkaan kebanyakan orang, tetapi setiap tempat yang dijadikan taqarrub kepada Allah, baik berupa masjid, kuburan, atau selainnya. Hal ini berdasarkan dalil yang diriwayatkan Abu Hurairah, ia berkata; “Aku berjumpa dengan Busyirah Ibnu Abi Basyrah Al-Ghifary, lalu dia bertanya kepadaku: “Dari mana kamu ? jawabku: “Dari bukit Thur”, Dia berkata; “Seandainya aku mengetahui sebelum kepergianmu ke sana, niscaya engkau tidak akan jadi pergi ke sana, aku mendengar Rasulullah bersabda: ‘Tidak boleh mengadakan perjalanan kecuali ke tiga masjid” Ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa para sahabat memahami hadits ini dengan keumumannya. Hal ini juga dikuatkan dengan tidak adanya penukilan dari seorang sahabatpun bahwa mereka mengadakan perjalanan ke kuburan siapapun. Semoga Allah merahmati orang yang mengatakan: َّ‫ل‬ُ‫ك‬ َ‫و‬َّ‫ْر‬‫ي‬َ‫خ‬‫ي‬ِ‫ف‬َِّ‫اع‬َ‫ب‬ِ‫ات‬َّْ‫ن‬َ‫م‬ََّ‫ف‬َ‫ل‬َ‫س‬ َّ‫ل‬ُ‫ك‬ َ‫و‬َّ‫َر‬‫ش‬‫ي‬ِ‫ف‬َِّ‫اع‬َ‫د‬ِ‫ت‬ْ‫ب‬‫ا‬ََّ‫ن‬َ‫م‬ََّ‫ف‬َ‫ل‬َ‫خ‬ “Setiap kebaikan adalah dengan mengikuti kaum salaf. Dan setiap kejelekan adalah dengan mengikuti kaum khalaf”
  28. 28. 27Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas MENGENAL AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH KH. Sirajuddin Abbas berkata pada hal 16: “I’tiqod Nabi dan sahabat–sahabat itu telah termaktub dalam Al Qur’an dan dalam sunah Rasul secara terpencar–pencar, belum tersusun secara rapi dan teratur, tetapi kemudian dikumpulkan dan dirumuskan dengan rapi oleh seorang ulama Ushuluddin besar, yaitu Syeikh Abu Hasan Al-Asy’ari (lahir di Basrah tahun 260 H. wafat di Bashrah juga tahun 324 H dalam usia 64 tahun, yang benar beliau meninggal di Baghdad –Pen) karena itu ada orang yang memberi nama kepada kaum Alhussunah Wal Jama’ah dengan kaum Asya’irah jama’ dari Asy’ari, dikaitkan kepada Imam Abu Hasan Al-Asy’ari tersebut. (I’tiqad Ahlussunah Wal Jama’ah, hal. 16). Sedangkan Abu Mansur Al-Maturidi adalah seorang ulama ushuluddin juga. Yang faham dan I’tiqadnya sama atau hampir sama dengan Abu Hasan Al-Asy’ari, beliau wafat di sebuah desa bernama Maturudin Samarqand. Di Asia tengah pada tahun 333 H. Terkemudian 9 tahun dari Imam Abu Hasan Al-Asy’ari (hal 17). Inilah yang dinamakan oleh kaum Ahlusunah wal jama’ah dengan “Sifat tuhan dua puluh yang wajib diketahui dan diyakini seyakin–yakinnya oleh setiap orang muslim yang baligh – beraqal (lihat I’tiqad Ahlussunah Wal Jama’ah, hal 36 – 45). “ Jadi KH. Sirajuddin Abbas memahami bahwa: Ahlus sunnah sebagai penganut sunnah Nabi dan penganut i’tiqad jama’ah para shahabat. Jadi Kaum ahlus sunnah adalah kaum yang menganut i’tiqad yang dianut oleh Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam dan shahabat- shahabat beliau” Namun, Pada hal. 17 Beliau memutlakkan bahwa ahlus sunnah wal jama’ah adalah Asy-‘Ariyah dan Maturidiyah Jawaban: Pengertian ahlus sunnah wal jama’ah di awal pembahasan beliau memang benar adanya. Namun pada halaman berikutnya (hal. 17) mengenai pemutlakan beliau bahwa “ahlus sunnah wal jama’ah adalah asy’ariyah dan maturidiyah”, maka ini perlu ditinjau kembali. Untuk itu, ada baiknya kita mengenal dahulu, apa dan siapakah Asy’ariyah dan Maturidiyah? APAKAH AL ASY'ARIYYAH TERMASUK AHLU SUNNAH? Ini adalah sebuah polemik yang sempat mencuat di kalangan kaum muslimin, khususnya para penuntut ilmu. Ada sebagian orang mengira Al Asy'ariyyah termasuk Ahlu Sunnah Wal Jama'ah. Seperti yang sudah dimaklumi, sebenarnya madzhab Al Asy'ariyyah yang berkembang sekarang ini, hakikatnya adalah madzhab Al Kullabiyyah. Abul Hasan Al Asy'ari sendiri telah bertaubat dari pemikiran lamanya, yaitu pemikiran Mu'tazilah. Tujuh sifat yang ditetapkan dalam madzhab Al Asy'ariyyah inipun bukan berdasarkan nash dan dalil syar'i,
  29. 29. 28Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas tetapi berdasarkan kecocokannya dengan akal dan logika. Jadi, sangat bertentangan dengan prinsip Ahlu Sunnah Wal Jama'ah. ULAMA-ULAMA SYAFI'IYYAH MENOLAK DINISBATKAN KEPADA ASY'ARIYYAH Kebanyakan orang mengira bahwa madzhab Al Asy'ariyyah itu identik dengan madzhab Ahlu Sunnah Wal Jama'ah. Ini sebuah kekeliruan fatal. Abul Hasan sendiri telah kembali ke pangkuan manhaj Salaf, dan mengikuti aqidah Imam Ahmad bin Hambal. Yaitu menetapkan seluruh sifat-sifat yang telah Allah tetapkan untuk diriNya, dan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits shahih, dengan tanpa takwil, tanpa ta'thil, tanpa takyif dan tanpa tamtsil. Jelas, Abul Hasan pada akhir hidupnya adalah seorang salafi, pengikut manhaj salaf dan madzhab imam ahli hadits. Sampai-sampai ulama-ulama Asy Syafi'iyyah menolak dinisbatkan kepada madzhab Asy'ariyyah. Berikut ini, mari kita simak penuturan Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Id Al Hilali dalam kitabnya yang sangat bagus, dalam edisi Indonesia berjudul Jama'ah-jama'ah Islam Ditimbang Menurut Al Qur'an dan As Sunnah (halaman 329-330). Dalam bukunya tersebut, beliau membantah Hizbut Tahrir yang mencampur-adukkan istilah Ahlu Sunnah Wal Jama'ah dengan istilah Al Asy'ariyyah, sekaligus menyatakan bila Al Asy'ariyyah bukan termasuk Ahlu Sunnah Wal Jama'ah, atau bukan termasuk pengikut manhaj Salaf. Beliau berkata: Jika dikatakan: Yang dimaksud Ahlus Sunnah di sini adalah madzhab Asy'ariyah. Kami jawab: Tidak boleh menamakan Asy'ariyah dengan sebutan Ahlus Sunnah. Berdasarkan persaksian ulama Ahlus Sunnah Wal Jama'ah (pengikut Salafush Shalih), mereka bukan termasuk Ahlus Sunnah 1. Imam Ahmad, Ali bin Al Madini dan lainnya menyatakan, barangsiapa menyelami ilmu kalam, (maka ia) tidak termasuk Ahlus Sunnah, meskipun perkataannya bersesuaian dengan As Sunnah, hingga ia meninggalkan jidal (perdebatan) dan menerima nash- nash syar'iyyah [Silakan lihat Syarah Ushul I'tiqad Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, karangan Al Laalikaai (I/157-165).]. Tidak syak lagi, sumber pengambilan dalil yang sangat utama dalam madzhab Asy'ariyah adalah akal. Tokoh-tokoh Asya'riyah telah menegaskan hal itu. Mereka mendahulukan dalil aqli (logika) daripada dalil naqli (wahyu), apabila terjadi pertentangan antara keduanya. Ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membantah mereka melalui bukunya yang berjudul Dar'u Ta'arudh Aql Wan Naql, beliau membukanya dengan menyebutkan kaidah umum yang mereka pakai bilamana terjadi pertentangan antara dalil-dalil.[ Bagi yang ingin penjelasan lebih rinci, silakan lihat kitab Asasut Taqdis, karangan Ar Razi, hlm. 168-173 dan Asy Syamil, karangan Al Juwaiini, hlm. 561 dan Al Mawaqif, karangan Al Iji, hlm. 39-40] 2. Ibnu Abdil Bar, dalam mensyarah (menjelaskan) perkataan Imam Malik, dia menukil perkataan ahli fiqh madzhab Maliki bernama Ibnu Khuwaiz Mandad: "Tidak diterima persaksian Ahli Ahwa' (Ahli Bid'ah)." Ia menjelaskan: "Yang dimaksud Ahli Ahwa' oleh Imam Malik dan seluruh rekan-rekan kami, adalah Ahli Kalam. Siapa saja yang termasuk Ahli Kalam, maka ia tergolong ahli ahwa' wal bida'; baik ia seorang pengikut madzhab Asy'ariyyah atau yang lainnya. Persaksiannya dalam Islam tidak diterima selama- lamanya, wajib diboikot dan diberi peringatan atas bid'ahnya. Jika ia masih
  30. 30. 29Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas mempertahankannya, maka harus diminta bertaubat." [Jami' Bayanil Ilmi wa Fadhlihi (II/96).] 3. Abul Abbas Suraij yang dijuluki Asy Syafi'i kedua berkata,”Kami tidak mengikuti takwil Mu'tazilah, Asy'ariyah, Jahmiyah, Mulhid, Mujassimah, Musyabbihah, Karramiyah dan Mukayyifah [Ini semua adalah nama-nama aliran]. Namun kami menerima nash-nash sifat tanpa takwil, dan kami mengimaninya tanpa tamtsil." [Ijtima' Juyusy Islamiyah, hlm. 62.] 4. Abul Hasan Al Karji, salah seorang tokoh ulama Asy Syafi'iyyah berkata: "Para imam dan alim ulama Syafi'iyyah, dari dulu sampai sekarang menolak dinisbatkan kepada Asy'ariyah. Mereka justeru berlepas diri dari madzhab yang dibangun oleh Abul Hasan Al Asy'ari. Menurut yang aku dengar dari beberapa syaikh dan imam, bahkan mereka melarang teman-teman mereka dan orang-orang dekat mereka dari menghadiri majelis-majelisnya. Sudah dimaklumi bersama kerasnya sikap syaikh [Yakni Syaikh Abu Hamid Al Isfaraini.] terhadap Ahli Kalam, sampai-sampai memisahkan fiqh Asy Syafi'i dari prinsip-prinsip Al Asy'ari, dan diberi komentar oleh Abu Bakar Ar Radziqani. Dan buku itu ada padaku. Sikap inilah yang diikuti oleh Abu Ishaq Asy Syirazi dalam dua kitabnya, yakni Al Luma' dan At Tabshirah. Sampai-sampai kalaulah sekiranya perkataan Al Asy'ari bersesuaian dengan perkataan rekan-rekan kami (ulama madzhab Asy Syafi'i), beliau membedakannya. Beliau berkata: "Ini adalah pendapat sebagian rekan kami. Dan pendapat ini juga dipilih oleh Al Asy'ariyah." Beliau tidak memasukkan mereka ke dalam golongan rekan-rekan Asy Syafi'i. Mereka menolak disamakan dengan Al Asy'ariyah. Dan dalam masalah fiqh, mereka menolak dinisbatkan kepada madzhab Al Asy'ariyah; terlebih lagi dalam masalah ushuluddin." [At Tis'iniyyah, hlm. 238-239.] KESIMPULAN: Pendapat yang benar adalah, Al Asy'ariyah {Pada awalnya dan yang berkembang di Indonesia} termasuk Ahli Kiblat (kaum muslimin), tetapi mereka bukan termasuk Ahlus Sunnah Wal Jama'ah {bacalah-pada halaman berikutnya- biografi Imam Abul Hasan Al-Asy’ari dan kisah taubatnya beliau, dari pemahaman asy’ariyah-nya}. Ketika para tokoh dan pembesar Al Asy'ariyyah jatuh dalam kebingungan, mereka keluar dari pemikiran Al Asy'ariyah. Diantaranya adalah Al Juwaini, Ar Razi, Al Ghazzali dan lainnya. Jika mereka benar-benar berada di atas As Sunnah dan mengikuti Salaf, lalu dari manhaj apakah mereka keluar? Dan kenapa mereka keluar? Hendaklah orang yang bijak memahaminya, karena ini adalah kesimpulan akhir. A. BIOGRAFI IMAM ABUL HASAN AL-ASY’ARI Nama beliau adalah Ali bin Ismail bin Abi Sisyr Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdilah bin Musa bin Amir Bashroh Bilal bin Abi Burdah bin Abu Musa Al-Asy’ari Abdulloh bin Qois bin Hadhor Al-Asy’ari Al-Yamani, Sahabat Rasulullah. Populer dengan nama Abu Hasan Al- Asy’ari. Dilahirkan di Basroh lalu menetap di Baghdad setelah melepas faham Mu’tazilah. Tahun kelahirannya diperselisihkan, namun mayoritas sejarawan menetapkan tahun 260 H, sebagaimana di tetapkan oleh Adz-Dzahabi, dan wafat tahun 324 H. di Baghdad, perlu diperhatikan bahwa beliau menjalani tiga fase kehidupan.
  31. 31. 30Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas A.1. Fase Awal Beliau mengikuti faham Mu’tazilah. Karena sejak kecil sampai umur empat tahun dalam naungan didikan bapak tirinya, Abu Ali Muhammad bin Abdul Wahhab Al Juba’i (wafat 303 H. seorang tokoh Mu’tazilah), seperti dikisahkan oleh Ibnu Nadim (wafat 385 H). ”Awalnya beliau adalah berfaham Mu’tazilah lalu bertobat dari faham tersebut dengan berpidato di masjid jam’i di Bashroh pada hari Jum’at. Beliau naik kursi dan bersuara lantang: “siapa yang telah mengenalku berarti dia telah betul – betul mengenalku, dan siapa yang belum pernah mengenalku maka saya mengetahui diri saya sendiri. Saya adalah Fulan bin Fulan. Saya dulu berpendapat bahwa al Qur’an itu makhluk, Allah tidak bisa dilihat dengan mata (pada hari Kiamat). Dan perbuatan jelek itu saya sendiri yang berbuat (Allah tidak berperan) sekarang saya taubat dan melepas keyakinan tersebut untuk membantah faham Mu’tazilah” lalu beliau turun dan keluar, meninggalkan kejelekan dari aib mereka” (al Fahrosat, hal 257) Ibnu ‘Asakir menambahkan, bahwa Abul hasan al-asya’ri berkata: ”wahai seluruh manusia, saya menghilang dari hadapan kalian beberapa waktu karena saya mendapati beberapa dalil dan belum bisa membedakan mana yang hak dan yang batil. Lalu saya meminta petunjuk kepada Allah dan Allah memberikan petunjuk-Nya, untuk meninggalkan semua yang kutulis di buku– buku saya. Maka saya ditinggalkan semua yang dulu saya yakini seperti saya melepaskan baju saya ini” lalu beliau melepaskan bajunya dan melemparknya. (Tabyiini Kadzibil Muftari, hal 39) Adapun sebabnya ada dua, seperti disebutkan Ibnu Asakir, Pertama: bermimpi melihat Rasulullah kata Abul Hasan Al-Asy’ari: penyebab saya keluar dari faham Mu’tazilah adalah saya bermimpi melihat Rasulullah pada awal bulan Ramadhan, Kedua: pertanyaan yang disodorkan kepada para gurunya, tetapi mereka tidak mampu menjawab “(Tabyiin hal. 38 – 42) A.2. Fase kedua Setelah keluar dari faham Mu’tazilah beliau menganut faham Kullabiyah, yang dimotori oleh Abdulloh bin Sa’id bin Kullab Al Bashri. Mulailah beliau membantah golongan Mu’tazilah dengan berpijak kepada faham Kullabiyah ini. Ibnu Taimiyah berkata: “Abul Hasan Al-Asy’ari dahulunya adalah seorang Mu’tazilah, ketika keluar darinya dia mengikuti faham Muhammad bin Kullab” (Majmu‘Fatawa 5 /556) hal ini diakui pula oleh Ad Dzahabi dan selainnya (lihat Siyar A’laminubala 2/228) Mengenai Ibnu Kullab, Ibnu Taimiyah berkata: “Dialah yang mengarang kitab–kitab yang isinya membantah Jahmiyah, Mu’tazilah dan firqoh lainnya. Dia termasuk ahli kalam dalam masalah sifat–sifat Allah. Metode yang dia tempuh mendekati metode ahlul hadits dan sunah, namun masih termuat cara–cara bid’ah. Karena dia menetapkan sifat Dzatiyah dan menolak sifat Ikhtiariyah bagi Allah, Tetapi ketika membantah Jahmiyah dikarenakan mereka menolak sifat dzatiyah dan sifat Uluw (Allah berada di tempat yang tinggi), sarat dengan hujjah dan dalil dan menerangkan keutamaan hujah dan dalil tersebut. Maka apa yang dikemukakan itu menyapu bersih syubhat Mu’tazilah. Dan ini membantu bagi kalangan cendekia. Jadilah dia seorang imam dan panutan bagi orang yang muncul setelahnya dalam masalah penetapan sifat dan membantah orang yang menafikannya. Walaupun antara mereka (Ibnu Kullab dan pengikutnya dengan golongan yang dibantahnya masih ada persamaan dalam kaidah–kaidah pokok. Hal inilah yang menyebabkan sebagian kaidah yang mereka munculkan. Menjadi batil dilihat dari kaca mata akal dan karena menyelisihi sunah Rasulullah “. (Majmu’fatwa 12/ 366).
  32. 32. 31Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas Lanjut beliau : ”…namun tatkala Muhammad bin Kullab berbicara dan berdialog dengan Mu’tazilah menggunakan cara berfikir Qiyas (analogi), dia menerima kaidah yang dicipta oleh Mu’tazilah yaitu menolak bahwa Allah berbicara dengan huruf, melekatnya sifat–sifat ikhtiariyah yang berkaitan dengan kehendak/ kekuasaan Allah berupa perbuatan, kalam dan selainnya. Dengan beranggapan bahwa penetapan sifat ikhtiariyah itu berkonsekuensi: Allah mempunyai sifat yang hadits (baru), padahal sesuatu yang tidak terbebas dari sifat hadits berarti dia hadits (baru). Implikasinya dia berpendapat bahwa kalam Allah itu hanya berupa makna, dan huruf (ketika Allah berbicara) tidak termasuk kalam Allah. Pendapat ini diikuti oleh Abul Hasan Al-Asy’ari” (Majmu’Fatawa 12/366) Disinilah Abul Hasan Al-Asy’ari tidak menyadari. Ketika Ibnu Kullab membantah Mu’tazilah dan menetapkan sifat Lazimah Allah sifat yang selalu melekat pada dzat Allah (dia juga menafikan sifat–sifat ikhtiariyah Allah seperti sifat ridho, marah, benci senang dan lain– lainnya). Memang dalam penetapan sifat lazimah ini Ibnu Kullab mencocoki madzhab Ahlususunnah seperti sifat Hidup, Ilmu, Qudroh dan lainnya namun juga menyelisihinya dengan menolak sifat Ikhtiyariyah tadi. Sehingga bisa dikatakan dia membentuk madzhab baru yang sebagiannnya sesuai dengan madzhab ahlussunnah dan sebagiannya menyelisihinya. Berikut ini metode penetapan sifat Ibnu Kullab yang diikuti oleh Abul Hasan Al-Asy’ari: 1. Menetapkan sifat lazimah, semisal : Ilmu, Qudrah 2. Menafikan sifat ikhtiariyah yang berkatian dengan Masyi’ah (kehendak) dan Qudrah Allah. 3. Kalam Allah adalah makna yang melekat tersimpan pada dzat (dalam ungkapan kita: ungkapan yang masih terpendam di hati), jika diungkapkan dengan bahasa Arab disebut Al Qur’an, bila dalam bahasa Ibrani disebut Taurat, dalam bahasa Suryaniyah disebut Injil 4. Al Qur’an bukanlah kalam Allah tetapi kalam Jibril atau yang lain, Jibril mengungkapkan makna yang tersimpan dalam dzat Allah dengan ungkapan dia sendiri. 5. Menafikan Allah bersifat senang, ridho kepada kaum mukminin setelah merek beriman, dan memurkai kaum kafirin setelah mereka kafir. Adapun ahlussunnah wal jama’ah atau salafiyah menetapkan seluruh sifat ikhtiariyah yang Allah tetapkan bagi diri-Nya tanpa ditakyif, tamtsil, tahrif dan ta’thil. Sebagai contoh, Allah beristiwa di atas arsy, Allah turun, datang dan lainnya. Allah juga bersifat marah, senang, murka, ridho dan sifat lainnya yang ditetapkan oleh Rasulullah. Allah juga berbicara, namun kalam Allah adalah qodimun nau’ dan haditsul aahad, maksudnya adalah selalu bersifat bicara (sifat kalam ini selalu melekat pada Allah), dan kalam perkalamnya adalah baru, kalam Allah kepada Adam bukanlah kalam-Nya kepada Nuh, kalam-Nya kepada Nuh bukanlah kalam-Nya kepada Ibrohim, juga bukan pula kalam-Nya kepada Muhammad dan seterusnya. A.3. Fase ketiga Setelah sekaian lama bergelut dengan faham Kullabiyah, meyakini dan menyebarkannya, beliau sadar dan kembali kepada manhaj yang benar, manhaj salaf ahlussunnah wal jama’ah dengan menisbatkan diri kepada Imam Ahmad bin Hanbal karena hidayah Allah, kesadaran dan kembalinya beliau ke manhaj Ahlussunnah wal jama’ah dibuktikan dengan tiga hal :
  33. 33. 32Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas 1. Perkataan Para Ulama Banyak sekali ulama yang mempersaksikan kembalinya Imam Abul Hasan Al-Asy’ari kepada madzhab salaf Ahlusunnah wal jama’ah, persaksian mereka itu diikrarkan setelah meneliti kehidupan Imam Abul Hasan Al-Asy’ari. Diantara mereka adalah: a. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah b. Imam Ibnul Qoyyim c. Imam Ad Dzahabi d. Imam Ibnu Katsir, beliau berkata: “Mereka (para ulama) menyebutkan tiga fase kehidupan Abul Hasan Al-Asy’ari, Fase pertama, berfaham Mu’tazilah. Fase kedua: penetapan sifat tujuh yaitu hayat, ilmu, qudroh, irodah, sam’u, bashar, dan kalam dengan berdasarkan kaidah akal. Adapun sifat Khobariyah, seperti wajah, dua tangan, kaki, betis dan lainnya dita’qil (ditahrif). Fase ketiga, menetapkan semua sifat khobariyah tadi dengan tanpa ditakyif dan tasybih menurut faham salaf. Inilah metode yang beliau tempuh seperti dijabarkan dalam kitab al Ibanah, karya terakhir beliau” (Ithaf Sadatil Muttaqin, Murtadho Az- Zabidi, 2/5 cet. Darul Fikr). e. Syaik Nu’man Al-Alusi rahimahullah f. Syaikh Abul Ma’ali Mahmud Al Alusi rahimahullah g. Al Allammah Muhibudiin Al Khotibb, beliau berkata: “Abul Hasan Al-Asy’ari Ali bin Ismail termasuk pembesar imam ahlu kalam dalam Islam. Pada awal kehidupannya dia menganut faham Mu’tazilah, dengan berguru kepada Abu Ali Al Jubba’i kemudian Allah menyadarkannya ketika beliau menginjak usia paruh baya dan awal kematangannya. Beliau mengumumkan kesadaran? Keinsyafannya dan membeberkan kesesatan faham Mu’tazilah. Pada fase ini beliau banyak menulis, berdebat dan mengajar dengan membantah faham Mu’tazilah berlandaskan metode jidal (debat) ta’wil (tahrif) dan metode salaf. Akhirnya beliau benar–benar kembali ke manhaj salaf dengan mengistbatkan semua perkara–perkara ghoib (termasuk sifat–sifat Allah) yang wajib diimani oleh para hamba-Nya dengan berdasarkan pada Nash (al Qur’an dan Hadits) buktinya beliau menulis kitabnya yang paling akhir yang sudah banyak dibaca orang yaitu Al Ibanah. Para penulis biografi beliau memastikan bahwa al Ibanah adalah kitab terakhir yang ditulis oleh Abul Hasan. Inilah yang dikehendaki oleh Allah. Adapun yang menyelisihi hal di atas dan dinisbatkan kepada beliau atau apa yang diada-adakan oleh Asy’iroh, sesungguhnya Abul Hasan Al-Asy’ari telah menyadari bahwa itu salah dan beliau telah meninggalkannya serta kembali ke manhaj salaf ahlussunah wal jama’ah seperti yang ditulis dalam kitab al Ibanah dan kitab lainnya”. (Lihat komentar no. 2 pada Muntaqo Minhajul I’tidal milik Adz Dzahabi). 2. Perjumpaan Beliau Dengan Al Hafidz Zakaria As-Saaji Setelah Abul Hasan Al-Asy’ari melepas faham Mu’tazilah dan Kullabiyah, mulailah beliau menemui para imam ahlul hadits yang selamat aqidahnya guna mengambil dan mengikuti metode yang ditempuh oleh mereka. Yang paling mashyur adalah pertemuannya dengan ahli hadits negri Bahsrah Al Hafidz Zakaria As-Saaji rahimahullah. Para ulama begitu memperhatikan pertemuan ini karena merupakan point penting seputar keterusterangan Abul Hasan Al-Asy’ari untuk kembali ke manhaj salaf dan dan penisbatannya kepada Ahmad bin Hanbal. Ibnu Taimiyah berkata: “Abu Hasan Al-Asy’ari mengambil dasar– dasar ilmu hadits dari Zakaria as-Saaji di Bashrah lalu setelah datang ke Baghdad menimba
  34. 34. 33Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas ilmu lainya dari pada ulama Hanbaliyah. Ini adalah fase terakhir dikehidupannya seperti disebutkan oleh para sahabatnya (muridnya) di kitab mereka” (Majmu Fatwa 3/ 288). Kata Ibnu Taimiyah selanjutnya : “Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil ushul (pokok–pokok) ahlussunah dan hadits dari Zakaria As-Saaji. Hal ini banyak dijumpai di kitabnya Maqolatul Islamiyyin. Dia menyebutkan pendapat imam ahlussunnah sebagaimana juga pendapat Hammad bin Zaid bahwa Allah berada di atas arsy dan dia mendekat kepada hamba-Nya sekehendak-Nya” (Majmu’ Fatawa 5/ 386) Imam Adz–Dzahabi rahimahullah sangat menaruh perhatian terhadap pertemuan dua orang ini. Ketika Adz-Dzahabi menulis biografi As-Saaji beliau berkata : “Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil dari Al Hafidz As-Saaji perkataan ahlul hadits dan salaf“. (Tadzkirotul Hufadz 2/709). Pada Syiar A’lamun Nubala’ 14/198, Ad Dzahabi berkata: “Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil dari Al Hafidz as-Saaji perkataan salaf dalam masalah sifat–sifat Allah. Lalu dijadikan pijakan dalam kitab–kitabnya”. Termasuk ulama yang memastikan adanya pertemuan antar Al Hafidz As-Saaji dengan Abul Hasan Al-Asy’ari adalah dua orang imam: Ibnul Qoyyim dan Ibnu Katsir (lihat Ijtima’u Juyus Islamiyah hal 97, Al Bidayah Wan Nihayah 11/131 dan Ghoyatul Amani oleh Al Alusi 1/480) 3. Penulisan Kitab Al Ibanah Dan Pemastian Bahwa Kitab Itu Karya Beliau Banyak sekali ulama yang memastikan bahwa kitab Al Ibanah merupakan karya terakhir Abu Hasan Al-Asy’ari, baik ulama terdahulu atau yang belakangan, yang paling dekat masa hidupnya dengan Abu Hasan adalah Ibnu Nadim, dalam kitabnya, al Fahrosat hal. 257, Ibnu Nadim menyebutkan biografi Abu Hasan dan karya–karyanya. Di antara karyanya adalah kitab At–Tabyiin an Ushulludin. Setelah itu Ibnu Asakir, beliau membela Abu Hasan dan memastikan bahwa kitab Al-Ibanah adalah kitab karya Abu Hasan, lalu Ibnu Asakir menyebut–nyebut dari kitab Al Ibanah dalam kitabnya At Tabyiin untuk memuji akidah Abu Hasan Al-Asy’ari, Ibnu Asakir berkata: “Karya Abu Hasan Al-Asy’ari telah mashur di kalangan ulama, menurut ulama peneliti, kitab tersebut sangat baik dan benar, siapa yang meneliti Al Ibanah niscaya mengerti isinya yang sarat dengan ilmu dan ketaatan”. (Tabyiin Kadzabul Muftari, hal 28) disebutkan bahwa Imam Abu Utsman as-Shobuni tidak akan keluar ke majlis kecuali membawa kita Al Ibanah karya Abul Hasan Al-Asy’ari, beliau sangat terkesan dengan kitab itu, hingga berujar: “apa–apa yang dingkarkan kepada saya tentang isi kitab ini maka akan terbongkarlah madzab orang tersebut” Lalu Ibnu Asakir berkomentar: “Ini adalah ucapan Imam Abu Utsman, sedang dia adalah tokoh ahli hadits di Khurosan” (Tabyiin Kadzbul Muftari, hal 389) Berikutnya, Ibnu Darbas (wafat 659 H) mengarang sebuah kitab untuk membela Abu Hasan Al-Asy’ari dan memastikan bahwa kitab al Ibanah adalah karya Abu Hasan. Dia berkata: “Adapun sesudah itu, ketahuilah wahai saudara–saudara, semoga Allah memberikan taufik dan hidayah kepada kita menapaki dien yang lurus dan untuk meniti jalan lurus, sesungguhnya kitab Al Ibanah An Ushulid Diyanah buah karya imam Abu Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari adalah kitab dimana akidah beliau tertancap mantap padanya. Dan dengannya beliau beribadah kepada Allah setelah melepas paham I’tizal (Mu’tazilah) karena karunia Allah dan kelembutan-Nya, adapun perkataan yang muncul sekarang dan dinisbatkan kepada beliau namun menyelisihi akidahnya, beliau telah meninggalkannya dan beliau minta pembebasan kepada Allah dari perkataan tersebut. Bagaimana tidak, beliau telah menyatakan bahwa akidah tersebut adalah keyakinannya guna beribadah kepada Allah. Dan dia telah meriwayatkan dan memastikan keyakinan sahabat, Tabi’in para imam ahlul hadits yang telah berlalu, dan ucapan Ahmad bin Hanbal– semoga Allah merohmati mereka semua. Tambahan lagi keyakinan itu
  35. 35. 34Koreksi Buku I’tiqad Ahlus Sunnah KH. Sirajuddin Abbas telah ditunjukkan oleh Al Qur’an dan Sunah Rasul-Nya. Apakah mungkin beliau kembali kepada kayakinan lain? Lalu kepada apa beliau kembali? Mungkinkah beliau berpaling dari kitab dan Sunnah, menyelisihi pemahaman sahabat Tabi’in dan para imam hadits yang telah lalu? Padahal telah diketahui bahwa itulah madzab beliau dan beliau sendiri telah meriwiyatkan dari mereka (imam ahlul hadits, tabi’in dan sahabat). Demi Allah, ini tidak patut dinisbatkan kepada orang awam apalagi kepada pemuka agama ini! Sekelompok imam dunia, para fuqoha Islam, imam ahli Qiro’at, ahli Hadits dan selain mereka telah menyebut kitab Al Ibanah ini, mereka jadikan pijakan dan pastikan bahwa kitab ini karya Abu Hasan Al-Asy’ari, mereka juga memujinya, membersihkanya dari bid’ah–bid’ah yang dinisbatkan kepada beliau. Dan menukil perkataan beliau dari Al Ibanah dalam tulisan– tulisan mereka”. (Risalatul Dzahabbi An Abil Hasan Al-Asy’ari, hal 107, peneliti Dr. Ali bin Nashir Al Fakihi). Kemudian Ibnu Darbas Menyebutkan nama–nama mereka:  Imam ahli Qiro’at al Qur’an, Abu Ali Al Hasan bin Ali bin Ibroihim Al Farisi (wafat 446)  Al Hafidz Abu Utsman As Shobuni (wafat 449H)  Al Faqih Al Hafiz Aabu Bakr Al Baihaqi (wafat 458 H)  Imam Abul Fath Nashr Al Maqdisi (wafat 490H)  Al Faqih Abul Ma’ali Mujalli, penyusun kitab Ad Dzakhooir (wafat 550H) Ulama lainnya yang tidak disebutkan Ibnu Darbas semisal:  Imam Ibnu Timiyah  Al Hafiz Ad Dzahabi, beliau berkata: “Kitab al Ibanah adalah termasuk karangan Abu Hasan yang termashur. Dipopulerkan oleh Al Hafidz Ibnu Asakir dan dijadikan rujukan dan disalin oleh Imam Nawawi (Mukhtashor Al Uluw, hal 239)  Imam Ibnul Qoyyim  Al Hafidz Ibnu Katsir.  Al Allmah Ibnu Farhun Al Maliki (wafat 799)  dan masih banyak lagi Kesimpulannya: Abu Hasan Al-Asy’ari pada awal kehidupannya menganut faham Mu’tazilah kemudian berlepas diri. Setelah itu menganut faham Kullabiyah. Masa inilah beliau menetapkan sebagian sifat (yang tujuh dan menta’wil sifat yang lain). Akhirnya beliau Ruju’ (kembali) kepada faham salaf, membelanya dan berpendapat sesuai pendapat salaf beliau mengambil dari pada ahlu hadits pendapat ahlussunnah wal jama’ah, lalu mengarang kitab Al Ibanah dan meyakini apa yang ditulisnya. Inilah yang dikehendaki oleh Allah. Kitab Al Ibanah adalah karya imam Abu Hasan Al-Asy’ari, seperti ditegaskan oleh para ulama, persaksian mereka sudah cukup sebagai bantahan terhadap orang yang menyangka bahwa kitab itu hanya dinisbatkan kepada beliau bukan karyanya. (lihat bahasan ini dari hal 1 – 55) PERKATAAN ABU HASAN AL-ASYA’ARI SEPUTAR SIFAT– SIFAT ALLAH Berikut ini akan dikemukakan perkataan imam Abu Hasan Al-Asy’ari yang diambil dari kitab beliau yaitu Al Ibanah An Ushulid Diyanah dan Muqolatul Islamiyyin Wakhtilafil Mushollin. Dalam kitab Al Ibanah Bab Kejelasan Perkataan ahlul hak dan ahlussunah hal 17–19, beliau berkata;

×