Konvergensi media di indonesia dan kesejahteraan jurnalis

  • 663 views
Uploaded on

Konvergensi newsroom, yang sudah mulai diterapkan di sejumlah korporasi media besar di sejumlah negara maju, baru mulai diterapkan oleh beberapa media saja di Indonesia. Meski perubahan newsroom …

Konvergensi newsroom, yang sudah mulai diterapkan di sejumlah korporasi media besar di sejumlah negara maju, baru mulai diterapkan oleh beberapa media saja di Indonesia. Meski perubahan newsroom membutuhkan skill baru, namun itu belum memberikan mendorong perubahan bagi kesejahteraan jurnalisnya. Studi soal konvergensi ini dilakukan terhadap group MNC, Kompas Gramedia, Tempo, dan Visi Media Asia.

More in: News & Politics
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
663
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
66
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) !
  • 2. Konvergensi Media dan Kesejahteraan Jurnalis Studi Atas Perubahan Pekerjaan dan Kesejahteraan Jurnalis di Group Kompas Gramedia, Media Nusantara Citra, Tempo Inti Media, dan Visi Media Asia Aliansi Jurnalis Independen (AJI)1. PendahuluanLanskap pers Indonesia mulai berubah signifikan setelah tahun 1998. Situasi itu munculsetelah ada perubahan angin politik yang dipicu ketidakpuasan publik yang sudah taktertahankan terhadap rezim Orde Baru, yang sudah berkuasa 32 tahun, dan dikomandoioleh presiden yang berasal dari militer: Soeharto. Saat masa depan demokrasi masihmenjadi tanda tanya setelah rezim lama itu turun, tapi perubahan sudah terjadi disejumlah sektor – termasuk di bidang pers.Setidaknya ada dua aspek yang berubah setelah tahun “revolusi damai” 1998. Pertama,aspek politik dan regulasi terhadap media. Kedua, aspek ekonomi atau industri darimedia. Aspek pertama itu meliputi peran yang dimainkan pemerintah dalam berurusandengan pers, yang itu bisa dilihat dari regulasi-regulasi yang dihasilkannya. Sedangkanaspek kedua meliputi pertumbuhan media secara bisnis.Dari aspek politik dan regulasi, perubahan itu bisa dilihat dari dicabutnya campurtangan pemerintah dalam bidang pers, seperti yang jamak dilakukan pemerintah masaOrde Baru. Salah satu regulasi yang dicabut adalah ketentuan tentang Surat Izin UsahaPenerbitan Pers (SIUPP), tahun 1999. Di masa lalu, instrumen SIUPP ini menjadi alatkontrol politik pemerintah yang sangat efektif untuk menekan media massa cetak.Sebab, SIUPP merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki media cetak agarkehadirannya dianggap legal.Untuk perizinan di sektor televisi dan radio, secara prinsip tak mengalami banyakperubahan. Dua platform itu tetap mensyaratkan ada lisensi, meski dengan proseduryang tak lagi sama dengan masa sebelumnya. Jika di masa Orde Baru domain pemberianizin hanya ada di tangan pemerintah, setelah tahun 2000 ada lembaga lain yangmemiliki andil untuk menentukan layak atau tidaknya sebuah stasiun TV dan radiomendapatkan izin siaran, yaitu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).Selain mencabut ketentuan tentang SIUPP, pemerintah juga menghapus model wadahtunggal bagi mereka yang bergelut di bidang media massa. Sejak 1999 itu, PersatuanWartawan Indonesia (PWI) tak lagi menjadi satu-satunya organisasi wartawan yangdiakui pemerintah seperti di masa pemerintahan Orde Baru. Serikat PenerbitSuratkabar (SPS) juga tak lagi diberi privilege untuk menjadi satu-satunya organisasipengusaha media yang diterima pemerintah. " !
  • 3. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)Aspek regulasi penting yang juga dilahirkan setelah tahun 1998 adalah lahirnyaUndang-undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Undang-undang itu mengoreksicukup banyak substansi dari regulasi yang mengatur pers sebelumnya, yaitu Undang-undang Nomor 1 tahun 1984 tentang Pers. Regulasi yang baru ini pula yang menjadidasar dari adanya Dewan Pers independen, yang bentuknya berbeda dengan DewanPers sebelumnya. Campur tangan pemerintah dalam Undang-undang Pers jugadiminimalisir dan memberi porsi besar kepada Dewan Pers untuk menangani masalahterkait soal media.Dalam aspek ekonomi, perubahan di bidang pers juga sangat terasa. Cerita soal mediamassa menjadi industri, sebenarnya sudah ada sejak zaman Orde Baru. Namunperubahan politik tahun 1998 menandai babak baru dari tahapan media untukmelangkah sebagai sebuah industri. Periode paska turunnya Soeharto itu ditandaidengan maraknya media-media baru, baik itu berupa media cetak, online, atau punpenyiaran1.Pada tahun 1997, jumlah media yang memiliki SIUPP sebanyak 289. Dua tahun tahunkemudian, berdasarkan data Serikat Penerbit Suratkabar (kini berubah menjadi SerikatPerusahaan Pers), jumlah penerbitan itu bertambah lebih dari 500 persen, yaitumenjadi 1.687 penerbitan – meski di tahun-tahun berikutnya terjadi penyusutan hinggamenjadi 1.366 pada tahun 20112. Jumlah stasiun televisi dan radio juga bertambahbanyak, terutama karena Undang-undang Penyiaran mensyaratkan televisi tak lagisiaran secara nasional sehingga mendorong lahirnya stasiun televisi lokal. Statistiknyabertambah besar karena radio komunitas juga mulai bertumbuhan.Perkembangan media dari sisi bisnis yang juga makin terasa dalam beberapa tahun inisetelah ada kecenderungan kepemilikan media berpusat (atau berhimpun) padabeberapa group besar. Berdasarkan riset Centre for Innovation Policy and Governance(CIPG)3, setidaknya kini ada 12 group media besar yang produknya mempengaruhipangsa pasar media di Indonesia. Masing-masing: MNC Group, Kompas Gramedia, ElangMahkota Teknologi, Visi Media Asia, Group Jawa Pos, Mahaka Media, CT Group,BeritaSatu Media Holdings, Grup Media, MRA Media, Femina Group, dan Tempo IntiMedia.!!Konsentrasi kepemilikan ini memang bukan fenomena yang sepenuhnya mengejutkanjika kita menjadikan tren perkembangan media di negara maju seperti Amerika Serikat4!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!" ! $%%&! ()*+),-.! /01+,2(3! 4+*&+1,-.! %+1! 45*(! 451%*+,6-7-.! 811(+9! :5)*,! #;;;<#;;"=! $(>-*2+.!?-1351,*+32!@-%+9!%+1!A57+1+1!@+33+.!B+7+*,+.!80(3,(3!#;;"C!# !D2E+,!@5%2+!F2*5G,-*&!#;"".!&+10!%2,5*H2,7+1!-95E!I!%+1!/1>-65%2+.!#;"".!E+9C!JJC!5,2+)!,+E(1!75%(+!956H+0+!2,(!6515*H2,7+1!@5%2+!F2*5G,-*&.!&+10!2321&+!65*()+7+1!)51%+,++1!)5*(3+E++1!65%2+!G5,+7!%2!/1%-1532+!H535*,+!-)9+E1&+C!F2*5G,-*&!2,(!K(0+!656(+,!(9+3+1!,5*H+*(!3-+9!23(<23(!65%2+C!L !D+)-*+1!M/IN.!&+10!%2,(923!-95E!O+1(+*!P(0*-E-.!F212,+!81%*2+12!I(,*2.!E2,+!D+7362.!H5*K(%(9!@+))210!,E5!9+1%3G+)5!->!,E5!65%2+!21%(3,*&!21!G-1,56)-*+*&!/1%-1532+.!%29(1G(*7+1!@52!#;"#!9+9(!%2!B+7+*,+C!J !:5>5*5132!3-+9!75)562927+1!65%2+!%2!865*27+!5*27+,.!92E+,!QE-!RS1!AE5!P5S3!@5%2+!%+9+6!AE5!,+,5!->!P5S3!@5%2+!#;"#.!E,,)=TT3,+,5->,E565%2+C-*0T65%2+<-S15*3E2)C!2,(3!%2+7353!)+%+!#U!R7,-H5*!#;"#C! #!
  • 4. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)dan sejumlah negara di Eropa sebagai rujukan5. Konsentrasi kepemilikan itu, yang jugabisa diidentifikasi sebagai praktik oligopoli, seperti “anak tangga berikutnya” bagimedia massa di sebuah negara yang sudah menapaki tahapan sebagai sebuah industri.Dengan perkembangan seperti itu, menjadi pemandangan yang biasa jika sebuah grupmedia bisa memiliki perusahaan media dengan berbagai macam platform, baik cetak,penyiaran, dan online. !!Wajah seperti inilah yang bisa dilihat dari potret industri media di Indonesia saat ini.Sebut saja group Kompas Gramedia (KKG). Selain memiliki suratkabar (Harian Kompasdan koran daerah), juga memiliki media online (www.kompas.com6 dantribunnews.com7), televisi (Kompas TV dan Trans &), dan radio (Radio Sonora dll.).Begitu juga dengan group yang lain, seperti Group MNC, Group Visi Media Asia, GroupJawa Pos, Group Mahaka Media, Group CT, Group Berita Satu Media Holding, dan groupTempo Inti Media8. !!Perkembangan berikutnya dari media sebagai industri, termasuk di Indonesia, adalahdimulainya konvergensi. Dengan kepemilikan perusahaan media yang lintas platform,maka usaha untuk konvergensi di sisi bisnis dan redaksi menjadi pilihan yang tersediadi depan mata dan sudah menjadi trend yang diikuti lebih dulu oleh sejumlahperusahaan raksasa media di Amerika Serikat dan Inggris9. Di Indonesia, usaha untukmenerapkan konvergensi sudah dirintis (sebagian sudah memulainya) oleh sejumlahgroup perusahaan media, mesti tantangan yang dihadapinya juga cukup besar.!!Dua perkembangan besar ini, dari sisi regulasi dan bisnis, yang menjadi obyek studioleh sejumlah lembaga dalam satu dekade ini. Dalam isu terkait regulasi baru yang lahirpaska 1998, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), organisasi jurnalis yang aktif dalam isukebebasan pers di Indonesia, cukup rutin mencatatnya melalui laporan berkala10.Lembaga lain yang juga mencatat dinamika regulasi pers adalah Dewan Pers, lembaga!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!U ! -+9! 7-1351,*+32! 75)562927+1! 65%2+! %2! 865*27+! 5*27+,! %+1! $*-)+.! H+G+! K(0+! N2992+1! F-&95.! @5%2+!RS15*3E2)=! AE5! 5G-1-62G3! +1%! )-92,2G3! ->! G-1V5*051G5! +1%! G-1G51,*+,2-1! 21! ,E5! W?! +1%! $(*-)5+1!65%2+.!8N$!I(H92G+,2-13.!#;;#C!5%+107+1!,*51%!7-1V5*05132!15S3*--6!%29+7(7+1!35K(69+E!65%2+!%2!865*27+! 5*27+,! %+1! /100*23C! @5%2+! %2! 8! &+10! 3(%+E! 659+7(7+1! 7-1V5*05132! +%+9+E! AE5! Q+3E21,-1!I-3,.!%2!/100*23!+%+!AE5!N(+*%2+1C!D5H2E!%5,+29!3-+9!7-1V5*05132!%2!%(+!)5*(3+E++1!65%2+!2,(.!92E+,!,A*51%!/1!P5S3*--6!#;;X=!/11-V+,2V5!/%5+3!>-*!15S3)+)5*3!21!,E5!%202,+9!+05.!&+10!%2)*-%(732!-95E!Q-*9%!$%2,-*!Y-*(6!%+1!Q-*9%!833-G2+,2-1!->!P5S3)+)5*3C!Z !-+9!?-6)+3CG-6.!92E+,!E,,)=TTSSSC7-6)+3CG-6T+H-(,(3![ !-+9!A*2H(115S3CG-6.!92E+,!E,,)=TTSSSC,*2H(115S3CG-6T+H-(, F5,+29!75)562927+1!65%2+.!92E+,!O+1(+*!P(0*-E-.!F212,+!81%*2+12!I(,*2.!E2,+!D+7362.!!"#$%&C!X !+9+E!3+,(!3,(%2!,51,+10!7-1V5*05132!%29+7(7+1!-95E!]*(G5!N+**23-1!%+1!@2GE59!F()+015!%+*2!GE--9!->!M-66(12G+,2-1! W12V5*32,&! ->! @2+62! %2! A+6)+! P5S3! M51,5*C! A56(+11&+! %2,(+107+1! %+9+6! )+)5*!H5*K(%(9! 8! M+35! ,(%&! ->! @5%2+! M-1V5051G5! +,! @5%2+! N515*+9^3! A+6)+! P5S3!M51,5*CE,,)=TTG-6C62+62C5%(TG+*TG-9(6H2+;LC)%>C!2,(3!%2+7353!)+%+!#U!R7,-H5*!#;"#C!"; I5*756H+10+1! ,51,+10! 32,(+32! )5*3! /1%-1532+! %2*57+6! -95E! 8B/! 659+9(2! 9+)-*+1! ,+E(1+11&+! &+10!%2,5*H2,7+1! 35,2+)! )5*210+,+1! 759+E2*+1! -*0+123+32! 2,(! )+%+! ,2+)! [! 80(3,(3C! /12! H5H5*+)+! %2! +1,+*+1&+=!D+)-*+1!A+E(1+1!8B/!#;;=!F2K+621!A+)2!A+7!A5*921%(102.!!D+)-*+1!A+E(1+1!8B/!#;;X=!!I5*3!%2!I(3+*+1!?*2323!%+1!81G+6+1.!!D+)-*+1!A+E(1+1!8B/!#;";=!81G+6+1!/,(!F+,+10!%+*2!F+9+6.!%+1!!D+)-*+1!A+E(1+1!8B/!#;""=!@51K59+10!21&+9!@5*+EC! L!
  • 5. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)yang mendapatkan mandat dari Undang-undang Nomor 40 tahun 1999 untukmenjalankan fungsi self-regulation terhadap pers Indonesia.!!Dari sisi bisnis, ada sejumlah laporan yang ditulis berbagai lembaga di Indonesia. Adayang berbentuk ulasan dan pendataan seperti dilakukan oleh Serikat Penerbit Pers.Laporan lain yang juga layak disebut terkait isu bisnis media adalah Media Scene danNielsen Media11. Media Scene membuat laporan pendataan soal jumlah media, profilpembaca, dan pertumbuhan iklan. Sedangkan Nielsen khusus menyajikan dataperolehan iklan, selain laporan soal perkembangan perilaku konsumen media.Sedangkan studi yang cukup komprehensif dan terbaru tentang lanskap industri mediadi Indonesia adalah yang dilakukan oleh CIPG, yang hasilnya dipublikasikan Mei 2012lalu.!!Terkait mulai terkonsentrasinya kepemilikan media di Indonesia, ada dua isu menonjolyang kerap mengikuti perdebatannya. Pertama, dampak keterpusatan kepemilikanmedia itu terhadap diversity of content (keragaman isi). Kedua, dampak terpusatnyakepemilikan media terhadap pekerja media, khususnya jurnalis. Dengan sejumlahpertimbangan, penelitian ini akan fokus pada soal yang kedua: yaitu meneliti dampakpemusatan kepemilikan media, yang dalam sejumlah referensi disederhanakanpengertiannya menjadi konglomerasi, terhadap pekerjaan dan kesejahteraanjurnalisnya.!!Belum banyak - kalau bukan belum ada - penelitian yang dilakukan untuk menelitiimplikasi dari pemusatan kepemilikan media, baik terhadap isi maupun kesejahteraanpara pekerjanya. Hal ini bisa dimengerti karena tren pemusatan kepemilikan ini bisadisebut cukup baru – atau terjadi kurang dari satu dekade lalu. Selama ini sejumlahstudi atau laporan yang dibuat lebih banyak berfokus pada satu aspek dariperkembangan tersebut, misalnya, aspek regulasi, bisnis, profesionalisme,kesejahteraan, dan sebagainya.!!Tahun 2005, AJI menerbitkan laporan pemetaan atas kondisi jurnalis di Indonesia12.Laporan itu memuat potret jurnalis dari beberapa sisi, termasuk profesionalisme dankesejahteraannya. Studi tentang aspek kesejahteraan jurnalis kembali dilakukan AJItahun 2011, yang hasilnya diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Upah LayakJurnalis: Survey Upah Layak AJI di 16 kota di Indonesia13.!!Terkait soal kesejahteraan, Dewan Pers juga melakukan penelitian serupa tahun 2010lalu, yang hasilnya diterbitkan menjadi buku Menakar Kesejahteraan Wartawan14. Studiyang dilakukan Thomas Hanitzsch juga membahas soal aspek kesejahteraan, meski itubukan satu-satunya isu yang menjadi obyek penelitiannya.!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"" !@5%2+!G515!%2,5*H2,7+1!-95E!@5%2+!G515!Q-*7210!M-662,,55C!5%+107+1!%5,+29!3-+9!P259351.!92E+,!E,,)=TTSSSC1259351CG-6T2%CE,69"# !892+132!B(*1+923!/1%5)51%51.!I-,*5,!B(*1+923!/1%-1532+=!D+)-*+1!I51592,2+1!,5*E+%+)!B(*1+923!%2!"[!?-,+.!8B/.!B+7+*,+.!#;;UC!"L !8H%(9!@+1+1.!W)+E!D+&+7!B(*1+923=!(*V5&!W)+E!D+&+7!8B/!%2!"Z!7-,+!%/!/1%-1532+.!8B/.!R7,-H5*!#;""C!"J !Q21+!8*6+%+!(7+*%2.!@51+7+*!?535K+E,5*++1!Q+*,+S+1.!F5S+1!I5*3.!5),56H5*!#;;XC! J!
  • 6. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)!Namun belum banyak yang meneliti apa dampak dari sejumlah perubahan dalam aspekbisnis media tersebut, termasuk rintisan konvergensi yang mulai dilakukan sejumlahgroup perusahaan media, terhadap jurnalisnya. Oleh karena itu, AJI ingin melakukanpenelitian untuk menjawab sejumlah pertanyaan mengenai hal ini. Pertanyaanpenelitian ini adalah sebagai berikut: "# Apakah kepemilikan media yang makin terpusat itu membawa implikasi pada pekerjaan jurnalis. Kalau ya, seperti apa dampak perubahannya. ! $# Apakah itu juga membawa perubahan terhadap kesejahteraan jurnalisnya? ! !2. Konvergensi dan Kesejahteraan: Tinjuan TeoritisKonsentrasi kepemilikan (concentration of ownership) dan konvergensi media (mediaconvergence), yang merupakan beberapa konsep kunci dalam penelitian ini, merupakandua hal yang berbeda. Konsentrasi kepemilikan adalah suatu proses di mana kontrolbeberapa individu atau organisasi meningkat secara progresif atas saham di mediamassa15. Sedangkan konvergensi media merujuk pada fenomena interlocking16perusahaan teknologi komputasi dan informasi, jaringan telekomunikasi, dan penyediakonten dari dunia penerbitan surat kabar, majalah, musik, radio, televisi, film, danperangkat lunak hiburan17.Dalam kenyataan, kedua konsep itu saling terkait. Jika sebuah grup perusahaan mediasudah memiliki media dengan berbagai platform (cetak, online, penyiaran dan lainnya),ada kebutuhan yang – biasanya dipicu oleh pertimbangan bisnis – untuk menciptakansistem di mana masing-masing media dari berbagai platform itu bisa terhubung, bekerjabersama lebih erat, untuk mencapai hasil yang diinginkan atau apa yang bisa disebutsebagai konvergensi.Harapan dari adanya konvergensi adalah untuk mendorong efektivitas dari cara kerjaseluruh sistem dalam perusahaan, dan juga efisiensi terhadap sumber daya yang ada.Selain asalan efektifitas dan efisiensi, konvergensi juga diyakini respons tepat sebuahindustri media terhadap iklim industri dan pembaca yang berubah. Ada kesadaranbahwa konsumen berita yang dilayani media saat ini tak lagi sama seperti sebelumnya.Pesatnya pertumbuhan teknologi komunikasi, baik gadget yang semakin canggih, daninfrastruktur pendukungnya yang semakin luas dan baik, juga melahirkan kebutuhanbaru yang tak bisa lagi dilayani oleh media dengan cara sama seperti sebelumnya.Sejumlah referensi memberikan definisi yang beragam soal konvergensi. Ada yangmenggunakan istilah itu untuk menggambarkan fenomena “Kaburnya batas-batas!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"U !D2E+,!E,,)=TT51CS272)5%2+C-*0TS272TM-1G51,*+,2-1_->_65%2+_-S15*3E2)!"Z ?+6(3! -19215! AE5Y*55F2G,2-1+*&! 651%5>212327+1! 21,5*9-G7210! 35H+0+2! ()+&+! 6510E(H(107+1!H5*3+6+<3+6+! 35E2100+! H+02+1! 21%2V2%(! 3+9210! 656)510+*(E2! %+9+6! 05*+7! +,+(!-)5*+32CE,,)=TTSSSC,E5>*55%2G,2-1+*&CG-6T21,5*9-G7210!"[ ! D92E+,! ?+6(3! -19215! ]*2,+112G+! %+9+6! E,,)=TTSSSCH*2,+112G+CG-6T$]GE5G75%T,-)2GT"J#U;JLT65%2+<G-1V5*051G5! U !
  • 7. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)antara komunikasi tetap dan bergerak, siaran, telepon, telpon seluler, dan jaringanrumah, media, informasi, dan komunikasi, dan terutama, telekomunikasi, media, danteknologi informasi”18. Konvergensi juga dipakai untuk menjelaskan perubahanteknologi, industri, budaya dan sosial dalam cara media didistribusikan dalam budayakita. Termasuk di dalamnya adalah bebasnya aliran konten di berbagai platform mediadan kerjasama antara beberapa media industri19. Di Amerika Serikat, "konvergensi"juga didefinisikan utamanya dengan situasi di mana orang-orang staf suratkabar jugamembuat konten untuk televisi, situs web, dan begitu pula sebaliknya20.Karena banyak dan luasnya tafsir atas istilah itu, Gracie Lawson-Borders21 menyebut“konvergensi sebagai istilah yang sulit dipahami yang digunakan dalam berbagaikonteks dan sering ambigu dalam definisi. Ia sendiri mendefinisikan konvergensisebagai “Area yang memungkinkan kerjasama antara cetak dan penyiaran dalampengiriman konten multimedia melalui penggunaan komputer dan Internet.”Untuk memudahkan pengukuran terhadap praktik konvergensi yang akan dilakukanmedia, Lawson mengidentifikasi ada tujuh poin pengamatan yang dapat digunakanuntuk mengoperasionalkan konvergensi di seluruh unit bisnis: (a) komunikasi, (b)komitmen, (c) kerjasama, (d) kompensasi, (e) budaya, (f) persaingan, dan (g) pelanggan.Menurut Lawson, aspek komunikasi sangat penting karena setiap individu - daripemimpin perusahaan sampai editor, wartawan dan pekerja media lainnya yangterlibat dalam pengumpulan dan distribusi konten - harus terlibat dalam pembicaraanyang sedang berlangsung tentang konvergensi. Komitmen juga tak kalah pentingnyakarena konvergensi, sebagai tradisi baru, harus digabungkan dalam bagian dari misidan filosofi - di mana hal ini merupakan cara sebuah organisasi melakukan bisnisnya.Aspek penting lain yang harus mendapat perhatian lebih besar adalah kerjasama.Menurut Lawson, adanya kerjasama merupakan kebutuhan bagi semua orang dalamsebuah perusahaan, dari eksekutif perusahaan, manajer senior hingga pekerja garisdepan yang beroperasi setiap hari. Anggota organisasi berita juga harus terbuka untukberbagi ide dan tips berita dan membuat keputusan tentang bagaimana konvergensibisa dioperasionalkan secara baik.Kerjasama ini juga melibatkan staf dari berbagai departemen dan unit bisnis untukmengembangkan dan melaksanakan konvergensi terkait konten. Dalam operasi!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!" ! AE-*3,51! `(+1%,! +1%! B+15! ]C! 2105*.! %+9+6! AE5! 4+1%H--7! ->! B-(*1+9236! ,(%253.! :-(,95%05.! #;;X.!E+9C!"L"C!"X A26!FS&5*!%+9+6!@5%2+!M-1V5*051G5.!R)51!W12V5*32,&!I*533!%+1!@GN*+S<4299.!#;";.!E+9C!#JC!#; !?+*21!Q+E9<B-*051351.!AE-6+3!4+12,a3GE!b5%Cc.!AE5!4+1%H--7!->!B-(*1+9236!,(%253.!A+&9-*!d!Y*+1G23!5<D2H*+*&.!#;;.!E+9C!"L"C!#" ! N*+G25! D+S3-1<]-*%5*3.! @5%2+! -*0+12a+,2-13! +1%! G-1V5*051G5! =! G+35! 3,(%253! ->! 65%2+! G-1V5*051G5!)2-155*3.!A+&9-*!d!Y*+1G23!5<D2H*+*&.!#;;C!-+9!V+*2+32!%5>21232!7-1V5*05132.!92E+,!K(0+!D2E+,!K(0+!N*+G25!D+S3-1<]-*%5*3!%+9+6!/1,50*+,210!P5S!@5%2+!+1%!R9%!@5%2+=!5V51!RH35*V+,2-13!->!M-1V5*051G5!+3!+!,*+,50&! >-*! ]53,! I*+G,2G53! 21! @5%2+! R*0+12a+,2-13!bE,,)=TTSSSC65%2+K-(*1+9C-*0T-K3T21%5eC)E)TK66T+*,2G95TV25SY295T";TLcC!]+E+1!%2+7353!#U!R7,-H5*!#;"#C! Z !
  • 8. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)konvergensi, ini bisa dilakukan dengan meminta wartawan cetak dan siaran untukbertukar peran pada sejumlah kesempatan. Misalnya, seorang wartawan cetak bisamelakukan siaran stand up atau diwawancarai sebagai ahli di udara.Wartawan di platform penyiaran juga bisa menyempurnakan keterampilan menulismereka untuk mengembangkan penulisan untuk unit edisi cetak dan online.Isu lain yang juga penting diperhatikan adalah aspek kompensasi. Ini merupakan isuyang berkembang di kalangan jurnalis, khususnya di media cetak, akibat tuntutanorganisasi yang mensyaratkan peningkatan keterampilan dan pengetahuan. Pengelolamedia harus mempertimbangkan bagaimana mengenali dan menghargai keterampilantambahan dan keahlian yang dibutuhkan staf mereka karena mereka telah berevolusi.Perubahan budaya, kata Lawson, juga menjadi tak terelakkan dan terus memberikankontribusi bagi penerimaan dan kemajuan konvergensi dalam suatu organisasi. Sebab,harus diakui, ada budaya yang berbeda bagi individu yang bekerja di media cetak,siaran, dan elektronik. Faktor lain yang juga harus diperhatikan adalah persaingan.Pesaing media konvergensi kini tak lagi hanya media cetak lokal atau media penyiaranwaralaba.Aspek lain yang juga tak kalah penting untuk diperhatikan dan menjadi pusatperhatian dalam konvergensi adalah pelanggan - penonton, pembaca, pemirsa, ataupengguna - di lingkungan “media baru”. Saat ini pelanggan memiliki kontrol lebihbesar atas media yang ia pilih dan konten yang akan diakses. Perusahaan media tidakbisa lagi hanya menyodorkan informasi yang mereka inginkan untuk diterimapelanggan. Dengan maraknya Internet, pelanggan memiliki pilihan sangat banyakuntuk mengambil informasi apa yang ia butuhkan.Sedangkan pengertian kesejahteraan jurnalis merujuk pada keadaan di mana jurnalismendapatkan hak-hak ekonominya secara layak. Salah satu hak ekonomi dari jurnalisadalah mendapatkan upah yang layak, selain “manfaat ekonomi” lainnya. Merujuk padaUndang-undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, konsep kesejahteraanantara lain meliputi upah, asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan kerja, asuransi jiwa,dan berbagai tunjangan.Salah satu manfaat ekonomi yang menjadi sorotan utama adalah upah (untuk jurnalisyang berstatus karyawan tetap) atau honorarium (untuk jurnalis yang bukan berstatuskaryawan tetap). Karena tidak ada standar khusus untuk jurnalis, biasanya upahminimal untuk jurnalis itu juga merujuk pada upah minimum provinsi atau kota, yangditetapkan pemerintah setiap tahun di masing-masing kota/kabupaten dan provinsi22.!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!## ! 892+132! B(*1+923! /1%5)51%51! b8B/c! 65107*2,27! )5100(1++1! ()+E! 62126(6! 35H+0+2! *(K(7+1!)510()+E+1C5H+H.! 129+2! 1-621+9! &+10! %2,5,+)7+1! %+9+6! ()+E! 62126(6! %2+100+)! K+(E! %+*2! 656+%+2!(1,(7! 75H(,(E+1! 35-*+10! K(*1+923C! W1,(7! 2,(.! 8B/! 651&(3(1! 3,+1%+*! ()+E! 9+&+7! 7E(3(3! (1,(7.! &+10!%29(1G(*7+1! 35,2+)! ,+E(1.! %2! 3(+,(! %+5*+EC! W1,(7! 65105,+E(2! 7-1%232! *229! )510()+E+1! K(*1+923! %2!/1%-1532+.! 92E+,! 8H%(9! @+1+1.! W)+E! D+&+7! B(*1+923=! (*V52!"()# *(+(,# -./0(1%2!%2! "Z! ?-,+! %2!/1%-1532+.!8B/.!B+7+*,+.!#;""C! [ !
  • 9. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)Untuk kebutuhan studi ini, kesejahteraan definisikan sebagai “semua manfaat ekonomiyang diberikan oleh perusahaan kepada jurnalis sebagai imbalan atas pekerjaannya.”Dengan definisi ini, maka kesejahteraan tak hanya upah yang dia terima, tetapi semua“manfaat ekonomi lainnya” dari perusahaan yang menerima karya jurnalistiknya.3. Hasil Studi: Konvergensi dan Kesejahteraan JurnalisUntuk meneliti dampak dari konvergensi media terhadap jurnalis, tim peneliti memilihempat grup media sebagai responden penelitian. Jumlah ini memang hanya sepertigadari 12 grup media ada di Indonesia, seperti yang ditemukan dalam riset Centre forInnovation Policy and Governance (CIPG).Empat group media itu dipilih dengan mempertimbangkan aspek representasi, yaitudengan melihat pemerataan persebaran media dan platform yang dimilikinya.Responden penelitian ini sebanyak 12 orang, yang merupakan jurnalis dan manajer diempat korporasi media di Indonesia, yaitu Group Kompas Gramedia (KG), Group MediaNusantara Citra (MNC), Group Visi Media Asia, dan Group Tempo Inti Media. Sebanyaktiga responden berasal dari group KG, tiga dari group MNC, tiga dari group Visi MediaAsia, dan tiga dari Group Tempo Inti media. Dari jenis jabatan, empat respondenberstatus jurnalis yang berada di daerah dan bukan merupakan karyawan tetap23,empat responden merupakan jurnalis yang berstatus karyawan, dan 4 respondenmerupakan jurnalis atau karyawan yang menduduki jabatan manajerial24.Responden ini diwawancarai secara langsung di daerahnya masing-masing. Untukjurnalis yang berstatus bukan karyawan tetap, sampelnya diambil di: Makassar,Sulawesi Selatan; Surabaya, Jawa Timur; Sidoarjo, Jawa Timur; dan Malang, Jawa Timur.Untuk responden jurnalis yang berstatus karyawan tetap dan mereka yang mendudukijabatan manajerial, semuanya diwawancarai di Jakarta. Sebagian responden memintauntuk tak disebutkan identitasnya secara jelas, dengan sejumlah alasan. Untukmendapatkan informasi yang lebih jujur dan terbuka tentang apa yang mereka alami,peneliti memenuhi permintaan anonimity tersebut.Studi ini bertujuan untuk meneliti dampak konvergensi media di sejumlah group mediabesar terhadap sejumlah aspek kehidupan jurnalis, baik itu cara bekerja dankesejahteraannya. Dengan studi ini diharapkan dapat diketahui, apakah konvergensiitu mengubah cara jurnalis bekerja dibandingkan saat perusahaannya sudah melakukan!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!#L 5,2+)! 65%2+! 65100(1+7+1! 23,29+E! &+10! H5*+0+6! (1,(7! 651&5H(,! K(*1+923! &+10! ,+7! H5*3,+,(3!7+*&+S+1!,5,+)C!N*-()!A56)-!/1,2!@5%2+!651&5H(,1&+!%510+1!7-*53)-1%51.!35%+107+1!N*-()!?-6)+3!N*+65%2+.!@PM.!%+1!f232!@5%2+!832+!65100(1+7+1!23,29+E!7-1,*2H(,-*C!#J ! I56292E+1! K(*1+923! &+10! H5*3,+,(3! gH(7+1! 7+*&+S+1! ,5,+)h! 651K+%2! *53)-1%51! %+9+6! )51592,2+1! 212!7+*51+! +%+! )5*,26H+10+1! ,5*351%2*2C@5372! K5123! ,(0+3! &+10! %275*K+7+1! 3+6+<3+6+! 35H+0+2! K(*1+923.!1+6(1! 75%(+1&+! 65629272! 7+*+7,5*23,27! ,+100(10K+S+H! &+10! H5*H5%+! %510+1! K(*1+923! &+10! H5*3,+,(3!7+*&+S+1!,5,+)CF510+1!656+3(77+1!7-*53)-1%51!%+9+6!3,(%2!212.!6+7+!%2E+*+)7+1!H23+!656H5*27+1!0+6H+*+1!&+10!95H2E!7-6)*5E5132>!,51,+10!%+6)+7!%+*2!7-1V5*05132!2,(!H+02!)575*K++1!K(*1+923C! !
  • 10. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)konvergensi – yang biasanya dilakukan oleh media yang tergabung dalam sebuah groupperusahaan media. Tujuan berikutnya yang ingin dicari dari studi ini adalah soaldampaknya bagi kesejahteraan jurnalis, yang meliputi gaji, tunjangan, dansemacamnya.Konvergensi, meskipun sebagai konsep sudah dikenal cukup lama di sejumlah negaraberkembang, namun tergolong baru dalam pelaksanaannya. Hampir semua groupmedia yang menjadi responden penelitian ini memiliki impian untuk bisa melakukankonvergensi karena melihat banyak manfaat positif dari “sistem baru” itu, selainkarena ada kebutuhan untuk merespons situasi terakhir25. Selain karena doronganuntuk menciptakan efisiensi dan efektifitas dalam pekerjaan, kebutuhan pelanggan saatini memang menuntut perubahan itu. Dengan penggunaan Internet yang makin marak,pelanggan tak lagi cukup memadai jika hanya dilayani dengan platform cetak danpenyiaran, tapi mengabaikan digital.Para manajer di empat media itu memiliki pemahaman yang cukup beragam soalkonsep konvergensi, namun semuanya setuju bahwa konvergensi sisi pemberitaanadalah dengan adanya integrasi dalam newsroom (ruang pemberitaan). Artinya,newsroom itulah yang seharusnya mengendalikan pemberitaan serta memproduksiberita untuk media dengan platform cetak, penyiaran, dan online. Dengan merujuk padakonsep seperti ini, maka mayoritas dari empat media itu masih dalam taraf menapak,belum sepenuhnya menerapkan, konvergensi.Media di bawah group Visi Media, yang memiliki dua stasiun TV dan satu portal beritaonline, masih memiliki newsroom sendiri-sendiri yang bekerja secara terpisah. GroupMNC, yang memiliki stasiun TV, cetak, online, dan radio, juga masih bekerja dengannewsroom sendiri-sendiri, tapi sudah memiliki sejumlah lini yang dikerjakan secarabersama-sama. Misalnya, koresponden TV yang berada di daerah kini sudah di bawahSindo TV, tidak lagi langsung berada di bawah kendali RCTI, MNC TV atau Global TVseperti masa sebelumnya.Sedangkan Group Kompas Gramedia, yang memiliki hampir seratus media cetak, duamedia online, satu TV dan jaringan radio, sudah mulai menapaki tahap penting dariadanya konvergensi, yaitu dengan adanya sejumlah proyek liputan bersama melibatkanberbagai platform media, serta adanya satu keranjang berita (namanya Kompas GroupWire) sejak 2011 untuk menampung semua berita dan foto dari jurnalis yang berada dibawah Group Kompas Gramedia seluruh Indonesia. Di Group Tempo Inti Media,konvergensi mulai dirintis tahun 2011 lalu, dan sudah berada pada tahap newsroom 2.0.3.1. Dampak terhadap Pekerjaan JurnalisKamus online Merriam Webster26 mendefinisikan jurnalis seperti ini: “Seseorang yangterlibat dalam jurnalisme”. Kamus yang sama mendefinisikan jurnalisme sebagai!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!#U !Q+S+1G+*+!I5626)21!:5%+732!Af!R15!?+*12!/9&+3!B(92!#;"#.!I5626)21!:5%+732!@PM!Af!:+&!Q2K+&+.!B(92!#;"#.!%+1!M-1,51,!N515*+9!@+1+05*!?-6)+3CG-6!$%2!A+3926!R7,-H5*!#;"#.!%+1!:5%+7,(*!I59+73+1+!A56)-!Q+E&(!FE&+,627+!R7,-H5*!#;"#C!!!#Z !Q5H3,5*!E,,)=TTSSSC65**2+6<S5H3,5*CG-6T%2G,2-1+*&TK-(*1+923,C!F2+7353!)+%+!#X!80(3,(3!#;"#C! X !
  • 11. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)“aktivitas pengumpulan dan penyuntingan berita untuk dipublikasikan melalui media”.Oxford Dictionary Online juga memberi definisi sama: seseorang yang menulis untuksuratkabar atau majalah atau mempersiapkan berita untuk disiarkan di radio dantelevisi27. Dengan definisi ringkas ini, cukup jelas bahwa yang disebut sebagai jurnalisadalah setiap orang yang melakukan kegiatan pengumpulan dan penyuntingan beritauntuk tujuan publikasi melalui media.Tugas utama seorang jurnalis memang sama, namun ada hal lain yang jugamembedakan antara satu dengan lainnya: status kekaryawanan dan jabatan struktural.Mereka yang statusnya karyawan, yang umumnya berada di kantor pusat sebuahmedia, memiliki tanggungjawab yang berbeda dengan yang berstatus nonkaryawanyang umumnya berada di daerah atau luar Jakarta. Mereka ini umumnya disebutkoresponden, kontributor, dan semacamnya28. Jabatan struktural juga menjadi faktorpembeda penting karena menentukan apa tugas utamanya di perusahaan media.Jabatan struktural di media memiliki nama dan jenis yang beragam. Antara media cetakdan penyiaran, juga memiliki struktur dan nomenklatur yang berbeda. Namun secaraumum, jabatan struktural itu bisa dibagi dalam dua arus besar: jurnalis yang berfungsisebagai peliput berita (yang terdiri dari reporter, koresponden, kontributor, dansejenisnya) dan editor/manajer (yang rentangnya dari redaktur hingga pemimpinredaksi).Dalam studi ini, ada sejumlah temuan yang terkait dengan dampak konvergensi ituterhadap pekerjaan jurnalis. Meski jurnalis yang menjadi responden ini bekerja diempat group media yang memiliki media dengan platform yang berbeda, namun dalamkenyataan dampaknya tak sama antara satu dengan yang lainnya: jurnalis yang bekerjadi kelompok Kompas Gramedia, Group MNC, dan Visi Media mengaku tak mengalamiperubahan signifikan dalam cara bekerjanya antara sebelum dan sesudah medianyabergabung dalam sebuah korporasi.Kompas Gramedia memiliki 16 radio, 10 TV (termasuk TV jaringannya), dan 26suratkabar harian, 33 majalah, 2 tabloid, 17 majalah berlisensi serta 2 media online(kompas.com dan tribunnews.com), semuanya tersebar di seluruh Indonesia, termasukjurnalisnya. Hanya saja, jurnalis yang berstatus kontributor di Kompas.com ataujurnalis yang berstatus karyawan tetap di harian Kompas, tak otomatis berubah dalamcara bekerjanya meski ia bekerja di grup perusahaan media yang memiliki semuaplatform media, dari radio, online, cetak, hingga TV.Jurnalis yang berstatus kontributor di Kompas.com, misalnya, hanya bertugas untukmenulis laporan untuk Kompas.com, media online di bawah Grup Kompas yang mulai!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!#[ E,,)=TT-e>-*%%2G,2-1+*253CG-6T%5>212,2-1T510923ETK-(*1+923,C!F2+7353!)+%+!#X!80(3,(3!#;"#C!# 5,2+)!)5*(3+E++1!65%2+!65100(1+7+1!23,29+E!H5*H5%+!(1,(7!651&5H(,!K(*1+923!&+10!H5*3,+,(3!H(7+1!7+*&+S+1! ,5,+)! &+10! H2+3+1&+! H5*+%+! %2! 9(+*! B+7+*,+CF2! ?-6)+3CG-6! %235H(,! 35H+0+2! 7-1,*2H(,-*.! %2!A56)-!%235H(,!7-*53)-1%51.!%+1!356+G+61&+C!8)+)(1!)51&5H(,+11&+.!23,29+E!2,(!65629272!)5105*,2+1!&+10!E+6)2*!3+6+C!!! "; !
  • 12. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)beroperasi sejak tahun 1997.29 Responden penelitian ini, yaitu salah satu kontributorkompas.com, mengetahui dengan baik bahwa Kompas.com berada di bawah KG yangmemiliki banyak media dengan berbagai platform. Namun hingga Juli 2012 lalu, iamemang tidak (atau belum?) diminta untuk mengisi media selain dari kompas.com.Kontributor itu mengungkapkan, manajemen Kompas.com menyampaikan kepadanyabahwa meskipun dia hanya menulis untuk kompas.com, peluang beritanya untukdimuat makin besar karena portal berita online ini akan dikembangkan produknya. Akan banyak pengembangan. Secara resmi kompas.com kan baru empat tahun. Itu termasuk mengalami perubahan peningkatan dahsyat karena [kompas.com] akan mengembangkan beberapa kanal. Ada Kompasiana, ada properti, dan lainnya. Kalau tak salah ada tiga kanal yang akan dikembangkan media online yang sifatnya mandiri sama dengan kompas.com (Kontributor Kompas.com, wawancara Juni 2012).Keadaan yang sama juga dialami oleh responden penelitian ini yang berstatuskaryawan tetap di harian Kompas yang berada di Jakarta. Ia, yang masuk di Kompassejak tahun 2003 lalu, juga tak merasa ada yang berubah dari ritme pekerjaannya meskiKompas berada di bawah grup yang memiliki lebih dari 100 media itu. Kalau pun adayang berubah adalah karena jenjang karirnya yang menanjak dari reporter mudamenjadi reporter madya. Ketika Kompas menseriusi dotcom (melalui Kompas.com), tidak ada mandatori untuk menulis dot.com. Yang ada adalah diberi alat komunikasi. Cuma pesannya, kalau ada berita yang menurutmu bagus, silakan dikirim ke online (kompas.com) (Jurnalis harian Kompas, wawancara Juli 2012).Meskipun tak diwajibkan, jurnalis Harian Kompas yang berstatus karyawan memangdipersilakan –ini versi halus dari kata diminta—mengirimkan liputannya untukkompas.com. Untuk pekerjaan “tambahan” dan “tak bersifat wajib” ini, jurnalis HarianKompas mendapatkan honor tambahan, yang tentu saja tak sama dengan standarhonor berita untuk jurnalis yang berstatus kontributor.Situasi yang hampir sama dialami oleh kontributor ANTV. Stasiun TV ini merupakanbagian dari Group Visi Media Asia, bersama stasiun TV One dan satu portal berita onlineVivanews.com. Sebagai jurnalis TV, koresponden ANTV yang menjadi responden inimengatakan, berhimpunnya ANTV dalam satu korporasi bersama TV One danVivanews tak membuat suasana bekerjanya berbeda dengan sebelumnya. Meski sama-sama di bawah korporasi Visi Media Asia, hampir ttak terjadi kerjasama dalampeliputan antara dia dengan jurnalis atau kontributor dari media yang sama-sama dariGroup Visi Media Asia.!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!#X ! ?-6)+3CG-6! H5*%2*2! )+%+! ,+E(1! "XX[! %510+1! 1+6+! ?-6)+3! R19215C! ++,! 2,(.! 2+! E+1&+! 35H+0+2! 5%232!21,5*15,!%+*2!4+*2+1!?-6)+3C!5,+E(1!756(%2+1!1+6+1&+!651K+%2!7-6)+3CG-6.!%510+1!H5*>-7(3!)+%+!)51056H+10+1! 232.! %53+21.! %+1! 3,*+,502! )56+3+*+1! &+10! H+*(C! ]+*(! 35)(9(E! ,+E(1! 756(%2+1.! #;;.!7-6)+3CG-6!6510(H+E!)51+6)29+1!%+1!G+*+!75*K+1&+!35G+*+!32012>27+1!E2100+!35)5*,2!357+*+10!212C! "" !
  • 13. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kemudian secara internal ANTV itu ada diskriminasi, Mungkin karena perhatian Bakrie (Aburizal Bakrie) itu terbagi ke TV One, sehingga ANTV ini seperti anak tiri. Misalnya, soal penggunaan fasilitas. Semestinya, ketika kita satu korporasi, mestinya kita kan bisa sama-sama memakai fasilitas karena dari satu modal. Tetapi itu tidak terjadi (Kontributor ANTV, wawancara Juli 2012)Jurnalis yang berstatus sebagai karyawan di Vivanews.com, juga merasa tak adaperbedaan signifikan saat sudah berada dalam naungan korporasi Visi Media Asia.Responden penelitian ini, yang saat ini menjadi editor madya di media onlineVivanews.com, merasa bahwa tugasnya sama saja seperti sebelumnya. Ia, meskiVivanews satu saudara dengan ANTV dan TV One, juga tak diberi kewajiban untukberkontribusi terhadap dua perusahaan “saudaranya” itu.Yang membuat kewajibannya beda saat ini dibanding beberapa tahun lalu itu sematakarena jabatan strukturalnya sudah tak sama dengan sebelumnya. Sebagai editormadya, ia menangani salah satu kanal di Vivanews, yang tugasnya adalah menyiapakansejumlah isu untuk diliput, membuat perencanaan liputan, mengkoordinasikanreporter, dan mengedit berita. Perbedaan lainnya adalah terkait perubahan kebijakanredaksionalnya, yang justru dapat mempermudah pekerjaan jurnalis. Malah sebenarnya makin ke sini pekerjaan jadi lebih mudah karena ada sedikit perubahan di manajemen redaksinya. Dan itu membuat pekerjaan itu seperti piramida terbalik.Jadi, semakin tinggi jabatannya, maka semakin banyak pekerjaannya. Kalau reporter khan hanya melaporkan fakta, yang menyunting editor. Editor yang menyunting ini tidak bisa mempublikasikannya. Yang mempublikasikan (ke portal) itu redaktur senior ke atas. Dulu nggak. Level seperti saya [editor Madya] sudah bisa mem-publish (Jurnalis Vivanews, wawancara Juli 2012).Jurnalis yang bekerja di salah satu group PT Media Nusantara Citra Tbk., merasakansituasi berbeda dengan jurnalis yang bekerja di bawah korporasi Kompas Gramedia danVisi Media Asia, antara sebelum dan sesudah media tempatnya bekerja bernaung dibawah satu korporasi. Kontributor Sindo TV, merasakan ada beberapa perbedaan carakerja. Yang mencolok adalah perubahan manajemen, dari yang sebelumnya ia langsungberada di bawah MNC TV (yang sebelumnya bernama Televisi Pendidikan Indonesia),kemudian menjadi di bawah Sindo TV. Perubahan ini terjadi setelah MNC TV, Global TVdan RCTI berada di bawah group PT Media Nusantara Citra.Salah satu perubahan lain adalah pada teknis pengiriman gambar dari daerah asalliputannya di salah satu kota di Jawa Timur ke kantor pusatnya di Jakarta. Sebelumberada di bawah manajemen Sindo TV, ia biasa mengirimkan gambar hasil liputannyamelalui kaset, yang biasanya dikirim melalui kargo pesawat. Sekarang (setelah di bawahSindo TV), cara pengiriman bisa lebih cepat dengan teknologi streaming. Tapi,perbedaan lainnya juga adalah pada biaya. "# !
  • 14. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kalau dulu pengiriman langsung saja tanpa membayar. Namun sekarang pengiriman harus bayar. Karena pengiriman menggunakan jasa server Indosat. Jadi kontributor harus membayar, baik upload maupun download. Dalam sekali upload untuk gambar yang berukuran 50 mega itu Rp 3 ribu, kalau untuk download kapasitas 50 ribu mega sebesar Rp 7 ribu. Kalau dulu kita kirim tidak pernah memikirkan biaya karena gratis (Kontributor Sindo TV, wawancara Juli 2012)Dengan perubahan dari gratis menjadi berbayar, itu mempengaruhi cara kerjakontributor. Kalau dulu kontributor mengirimkan gambar tidak pernah memikirkanbiaya, karena gratis. Namun sejak di bawah manajemen Sindo TV, untuk mengirimgambar hasil liputan harus mengeluarkan biaya. Itu membuat kontributor harusberfikir ulang untuk mengirim gambar. Apalagi tidak ada jaminan gambar itu akanditayangkan di TV. Padahal, berita yang akan diberi honor adalah hanya berita yangtayang di televisi.Namun, perbedaan penting lainnya yang dialami oleh kontributor adalahbertambahnya peluang bagi dia untuk mengisi konten media dengan platform berbedayang sama-sama di bawah naungan PT Media Nusantara Citra. Sekarang setelah dibawahi Sindo TV, kontributor [selain memasok gambar] juga memasok berita untuk radio dan web, yaitu okezone (Kontributor Sindo TV, wawancara Juni 2012).Sedangkan jurnalis yang berstatus karyawan tetap di salah satu group MNC takmerasakan hal yang sama seperti koleganya yang berstatus kontributor. Redaktur diMajalah Trust, yang menjadi responden penelitian ini mengatakan, tak banyak yangberubah dalam cara kerjanya saat majalah berita dengan segmen ekonomi itubergabung dengan MNC dibandingkan dengan sebelumnya. Termasuk meski majalahTrust berada satu gedung dengan kantor Koran Sindo, media cetak milik group MNC. Dengan Koran Sindo, yang satu gedung dengan kami, meski beda lantai, seperti tidak ada kaitan. Kecuali kalau ada kebutuhan (untuk menggunakan berita dari Sindo). Itu sifatnya insidentil. Itu pun tidak ada mekanismenya. Jadi, kalau saya butuh, ya saya pakai. Itu pun menggunakan akses seorang teman yang saya kenal (di Sindo) (Asep Saefullah, Redaktur Majalah Trust, wawancara Oktober 2012).Apa yang dialami oleh kontributor di group MNC juga dirasakan oleh koresponden danjuga jurnalis yang bekerja di group PT Tempo Inti Media Tbk. Group ini menaungisejumlah media, yaitu Majalah Tempo, Koran Tempo, Tempo.co (sebelumnya bernamaTempo.com), Tempo Edisi English Edition, Travellounge, dan Tempo TV.Koresponden Tempo, yang menjadi responden penelitian ini, mengatakan, secaraumum tugasnya tak banyak berbeda dari koresponden perusahaan media lainnya.Tugas utamanya adalah memantau berita yang terjadi di wilayah liputannya, danmengerjakan penugasan-penugasan yang diberikan oleh kantor untuk mengerjakan "L !
  • 15. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)berita yang menjadi wilayah liputannya - atau bertugas di luar wilayah liputannya jikaada penugasan dari kantor Tempo di Jakarta. Kalau pekerjaan baru yang pernah ditawarkan adalah melakukan pengambilan gambar. Tapi itu belum dilakukan karena temen-temen yang lain juga tidak mempunyai alat kerja yang sepadan untuk melakukan tugas baru itu (Koresponden Tempo, wawancara Juli 2012).Disebut sebagai “pekerjaan baru” karena melakukan pengambilan gambar tak pernahdiminta kepada koresponden Tempo di masa sebelumnya. Permintaan ini terkaitdengan adanya Tempo TV, yang merupakan hasil kerjasama antara PT Tempo IntiMedia dengan manajemen Kantor Berita Radio 68H. Sedangkan permintaan untukmengisi semua media dengan berbagai platform, mulai koran, majalah, hingga online,sudah menjadi salah satu tugas yang diembannya sejak pertama kali bergaung denganTempo, enam tahun lalu.Sebagai koresponden Tempo, ia memang diminta untuk mengisi berita untuk KoranTempo, Majalah Tempo, dan Tempo.co. Honorariumnya, sama seperti kontributor dimedia lain, tergantung jumlah berita yang dimuat di media-media tersebut. Denganadanya permintaan untuk mengambil gambar saat melakukan liputan, otomatis itu jugamensyaratkan bahwa koresponden Tempo juga harus memiliki sklill tambahan sepertilayaknya video journalist.Jurnalis yang berstatus karyawan tetap di Jakarta, juga merasakan hal yang samadengan koresponden Tempo di daerah. Isma Savitri, jurnalis Tempo yang bertugas diJakarta mengatakan, ritme pekerjaannya saat masuk ke Tempo Januari 2010 hampir takada bedanya dengan saat ini. Kalau pun ada yang berbeda dari aspek pekerjaan, hanyapada soal dan tangggungjawab pos liputan30. Namun, berbeda dengan jurnalis di groupKompas Gramedia, MNC dan Visi Media Asia, jurnalis Tempo yang berada di Jakartasudah memiliki kewajiban sejak lama untuk menulis berita di tiga platform, yaitu harianKoran Tempo, Majalah Tempo, dan Tempo Online (www.tempo.co).3.2. Dampak Terhadap Kesejahteraan JurnalisPengertian kesejahteraan bagi jurnalis merujuk setidaknya pada “benefit ekonomi”sebagai imbalan atas pekerjaannya. Kesejahteraan jurnalis itu meliputi: gaji bulanan,tunjangan, asuransi, dan aneka benefit lainnya. Untuk jurnalis yang berstatus bukankaryawan tetap (entah itu kontributor, koresponden, dan semacamnya), basispenggajian umumnya berdasarkan jumlah berita yang dimuat, entah itu di media cetak,media online, radio, atau televisi. Sedangkan untuk jurnalis yang berstatus karyawantetap, basis penggajiannya bulanan.!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!L; B(*1+923! A56)-! &+10! 651%+)+,7+1! )51(0+3+1! %2! )-3! 92)(,+1! %2! 7-6)+*,5651! @5,*-.! $7H23.! +,+(!P+32-1+9.! ,51,(! H5*H5%+C! ++,! 212! 2+! H5*+%+! %2! )-3! 92)(,+1! g+*5+! ?(1210+1h.! &+10! ,(0+31&+! +%+9+E!6510G-V5*!H5*2,+!%2!)510+%29+1!A21%+7!I2%+1+!?-*()32.!)5*23,2S+!%2!?5651,5*2+1!4(7(6!%+1!48@!35*,+!35H+0+2!g)56+21!G+%+10+1h!K27+!,+7!+%+!K(*1+923!A56)-!&+10!H5*,(0+3!%2!?-6232!I56H5*+1,+3+1!?-*()32!b?I?cC! "J !
  • 16. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)Apakah pemusatan kepemilikan media, yang biasanya diikuti oleh lahirnyakonvergensi, mempengaruhi kesejahteraan jurnalis?Kontributor Kompas.com, seperti pada umumnya jurnalis yang berstatus bukankaryawan tetap di media di Indonesia, menerima honorarium berdasarkan jumlahberita yang dimuat di kompas.com. Besaran honorarium yang ia terima per bulansangat tergantung kepada berapa banyak berita yang akhirnya dimuat oleh mediaonline milik Kompas Gramedia tersebut. Kontributor hanya jual beli berita. Harga per berita Rp 25 ribu31. Tak ada klaim operasional seperti biasanya pengganti transportasi maupun biaya pulsa. Honor per bulan maksimal Rp 3,2 juta. Paling rendah Rp 900 ribu. Sedangkan rata-rata penghasilan per bulan sekitar Rp 2,4 juta (Kontributor Kompas.com, wawancara Juni 2012).Menurut responden penelitian ini, yang wilayah tugasnya ada di salah satu daerah diJawa Timur, jumlah honorarium per berita sebesar Rp 25 ribu itu dianggap masih belummemadai32. Taksiran harga layak per berita adalah Rp 35 ribu per berita. Namun, iamelihat sisi positifnya saja dengan situasi seperti itu. “Perusahaan menganjurkankontributor mengirim berita sebanyak-banyaknya dan perusahaan siap membayarberapa pun jumlah berita yang dimuat,” kata kontributor Kompas.com tersebut.Dengan kebijakan itu, ada harapan ia bisa memperoleh honorarium yang besar jika bisamengirimkan jumlah berita dalam jumlah besar.Jurnalis yang berstatus kontributor di group MNC memiliki tingkat kesejahteraan yanghampir sama dengan kontributor Kompas.com. Besar honorariumnya tergantung dariberapa jumlah berita yang dimuat di Sindo TV, atau yang gambarnya dipakai olehjaringan group MNC, baik itu MNC TV, RCTI atau Global TV. Menurut kontributor MNCyang menjadi responden penelitian ini, secara umum ada tiga jenis honorarium yangdikenal di Sindo TV. Pertama, untuk berita yang ditayangkan secara nasional Rp 250ribu per berita. Kedua, berita yang ditayangkan secara lokal Rp 100 ribu per berita.Ketiga, berita ekslusif. Jika berita ini ditayangkan di siaran TV nasional, honorariumnyasebesar Rp 500 ribu per berita, dan dihargai Rp 250 ribu per berita jika disiarkan di TVlokal.Satu kriteria berita lainnya adalah berita yang disebut dengan jenis berita VO (voiceover). Ini adalah berita yang dibaca oleh presenter stasiun TV, tapi tanpa gambar. Untukkategori berita ini, harganya lebih rendah dari tiga kategori berita di atas. Tambahankesejahteraan yang bisa dinikmati jurnalis di bawah MNC yang berstatus kontributoradalah adanya peluang beritanya dimuat di radio dan media online milik MNC.!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!L" !4+*0+!:)!#U!*2H(!2,(!3(%+E!,5*6+3(7!K27+!+%+!>-,-!&+10!%272*26!7-1,*2H(,-*!,5*7+2,!H5*2,+!2,(C!]2+3+1&+!7-1,*2H(,-*!65102*26!H5*2,+!357+920(3!%510+1!>-,-1&+!+0+*!95H2E!H53+*!)59(+101&+!(1,(7!%26(+,C!!L# ! ?-1,*2H(,-*! ?-6)+3CG-6! %227+,! -95E! 35H(+E! 7-1,*+7! ,5*,(923.! &+10! %2)5*H+*(2! 35,2+)! ,+E(1C! @51(*(,!*53)-1%51!)51592,2+1!212.!%+9+6!7-1,*+7!2,(!K(0+!%235H(,7+1!H+ES+!H5*2,+!&+10!%26(+,!2,(!+7+1!651K+%2!62927!7-6)+3CG-6C!5E2100+!K27+!H5*2,+!2,(!%26(+,!%2!65%2+!9+21!&+10!H5*+%+!%2!65%2+!&+10!3+,(!0*-()!%510+1!?-6)+3CG-6.!,+7!+%+!H515>2,!,+6H+E+1!&+10!%2,5*26+!-95E!7-1,*2H(,-*C!! "U !
  • 17. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Sekarang setelah dibawahi Sindo TV, kontributor - selain memasok gambar - juga memasok berita untuk radio dan web okezone, dengan harga tersendiri. Untuk yang online ini, sepuluh berita dimuat di web, baru dibayar (honorariumnya). Kalau setahun cuma nulis dua untuk web, juga gak dibayar. Nunggu jumlahnya menjadi sepuluh berita termuat dulu. Satu berita harganya cuma Rp 10 ribu. Ini hal yang lucu. Padahal, teman-teman di luar Jawa dan daerah terpencil, untuk dimuat 10 berita itu hal yang sulit (Kontributor Sindo TV, wawancara Juli 2012).Kalau dihitung secara rata-rata, honorarium yang diterima jurnalis Sindo TV yangmenjadi responden penelitian ini berkisar antara Rp 1.3 juta hingga Rp 2 juta. Ia menilaijumlah honorarium sebesar itu “sangat kurang proporsional”. Ia berharap adaperubahan kebijakan. Kalau pun belum ada honor basis, setidaknya berita yang dimuatoleh dua media, misalnya MNC dan RCTI, meski berasal dari satu berita yang ia kirim,seharusnya ada insentif tambahan untuk kontributor.Kontributor ANTV, yang berada di bawah group Visi Media Asia, juga memiliki standarkesejahteraan yang sama dengan kompas.com. Honorariumnya berdasarkan jumlahberita yang dimuat stasiun TV-nya. Per berita mendapatkan honorarium Rp 250 ribu.Besaran honor bisa lebih kecil, yaitu Rp 125 ribu, jika beritanya digabungkan denganberita yang sama oleh kontributor dari daerah lain. Jika beritanya dianggap berkualitas,bisa dihargai antar Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta. Kontributor ANTV, yang menjadiresponden penelitian ini mengatakan, honorarium yang ia dapatkan saat ini lebihrendah dari sebelumnya.Apakah bergabungnya ANTV dalam group Visi Media tak mengubah kesejahteraannya?Ini jawabannya: Dari aspek kesejahteraan, tidak ada. Tidak ada tambahan tugas baru karena masing-maing media seperti TV One dan Viva News tetap memiliki kontributornya masing-masing. Saya justru melihat meskipun TV One dan ANTV satu koorporasi, tetapi tidak ada kerjasama. Bahkan terlihat ada persaingan (Kontributor ANTV, wawancara Juli 2012).Skema kesejahteraan seperti ini memang yang umumnya terjadi, termasuk untukkoresponden Tempo. Penghasilan yang diterima oleh jurnalis di daerah ini sangattergantung kepada berapa berita yang dia produksi – dan tentu saja yang dimuat olehmedia tempatnya bekerja. Honorarium itu semua berdasarkan produktifitas. Itu berdasarkan berita yang termuat, bukan berita terkirim. Jadi, belum ada misalnya pengganti ketika kita mengerjakan sesuatu kalau beritanya tidak dimuat. Meskipun, misalnya, koresponden sudah mengeluarkan biaya untuk peliputan itu (Koresponden Tempo, wawancara Juli 2012). "Z !
  • 18. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)Koresponden Tempo, seperti halnya juga kontributor di ANTV, Kompas.com dan SindoTV, tak mendapatkan biaya pengganti saat melakukan liputan. Setiap biaya yangdikeluarkan saat liputan tak diganti oleh kantor karena diasumsikan itu sudahtermasuk dalam komponen honor yang dia terima saat beritanya dimuat. Masalahnya,seperti yang kerap dipertanyakan koresponden dan kontributor, bukankah ada biayayang tetap sudah dikeluarkan meskipun berita itu akhirnya tak dimuat? Yangmembedakan kontributor Tempo dengan tiga koleganya, besaran honor yang diaterima bisa cukup banyak. Sebab, ia bisa menulis untuk lebih dari tiga “outlet” ataumedia dengan platform berbeda, yaitu Koran Tempo, Tempo.co, dan Majalah Tempo.Harga pemuatan untuk ketiganya berbeda. Untuk berita yang dimuat di Tempo.co,honorariumnya Rp 60 ribu per berita. Kategori lainnya, adalah berita yang merupakanfollow-up (berita lanjutan) dari sebuah peristiwa, yang per beritanya Rp 35 ribu33. Selainitu, ada insentif lain yang dia terima, yaitu uang bantuan pulsa dan komisi pencapaian.Keduanya dikaitkan dengan produktifitasnya.34Koresponden Tempo yang menjadi responden penelitian ini mengatakan, gaji tertinggiyang pernah didapatnya dalam sebulan sebesar Rp 7 juta. Pendapatannya bisa cukupbesar karena saat itu ada berita menarik di daerahnya sehingga banyak tulisan yangbisa ia kirim dan sebagian besar dimuat. Selain berita dan fotonya dipakai oleh KoranTempo dan Tempo.co, ada juga berita yang dimuat di Majalah Tempo. Pendapatanterendah yang pernah ia dapat adalah sekitar Rp 800 ribu.!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!LL !5%+107+1!E-1-*+*2(6!(1,(7!?-*+1!A56)-!%+1!@+K+9+E!A56)-!95H2E!H5*V+*2+32C!]5*2,+!&+10!651K+%2!E5+%9215!9(+*!?-*+1!A56)-!%2H+02!651K+%2!%(+!7+,50-*2=!H5*2,+!,(10+9!:)!"U;C;;;.!H5*2,+!0+H(10+1!:)![;C;;;C! W1,(7! H5*2,+! &+10! 651K+%2! E5+%9215! %+9+6! ?-*+1! A56)-=! H5*2,+! ,(100+9! :)! ;C;;;.! H5*2,+!0+H(10+1!:)!Z;C;;;C!]5*2,+!1-1<E5+%9215!?-*+1!A56)-=!H5*2,+!,(100+9!:)![;C;;;.!H5*2,+!0+H(10+1!:)!Z;C;;;C!W1,(7!H5*2,+!>5+,(*5!#!E+9+6+1!b3572,+*!ZC;;;!7+*+7,5*c!:)!!#;;C;;;.!>5+,(*5!"!E+9+6+1!b3572,+*!JC;;;! 7+*+7,5*c! :)! ";;C;;;C! ! W1,(7! ,(923+1! %2! @+K+9+E! A56)-.! E-1-*+*2(61&+! ,5*0+1,(10! 7+,50-*2!H5*2,+1&+C! W1,(7! ,(923+1! &+10! %275*K+7+1! 351%2*2! b%510+1! H+E+1! X;! )5*351c.! 6+7+! E-1-*+*2(61&+! :)C!LU;C;;;C! B27+! 9+)-*+11&+! (1,(7! ,(923+1! ,(100+9! 75G29.! :)! ! #;;C;;;.! 9+)-*+1! 0+H(10+1! %510+1! *5)-*,5*!+,+(! 7-1,*2H(,-*! 9+211&+! :)! "[UC;;;.! 9+)-*+1! 21V53,20+32! ,(100+9! :)! J;;C;;;.! 9+)-*+1! 21V53,20+32!0+H(10+1! :)! L;;C;;;C! W1,(7! >-,-.! K(0+! +%+! E-1-*+*2(61&+! &+10! H53+*+11&+! H5*V+*2+32C! W1,(7! >-,-!6+3,5*! E+9+6+1! "! ?-*+1! A56)-.! E-1-*1&+! :)! "U;C;;;.! >-,-! 6+3,5*! E+9+6+1! %+9+6! :)! ";;C;;;.! >-,-!H2+3+!E+9+6+1!"!:)!";;C;;;.!>-,-!H2+3+!E+9+6+1!%+9+6!:)!U;C;;;.!>-,-!%2!A56)-CG-!:)!U;C;;;.!%+1!>-,-!%2!@+K+9+E!A56)-!:)!"U;C;;;!LJ ! ?-6232! )51G+)+2+1! 3+10+,! ,5*0+1,(10! )+%+! )5129+2+1.! &+10! *51,+101&+! H5*723+*! %+*2! 8! 3+6)+2! FC!@5*57+!651%+)+,!129+2!%+1!651%+)+,7+1!?-6232!I51G+)+2+1!35H53+*!:)!JU;!*2H(!K27+!H5*2,+!&+10%26(+,!%+9+6!3+,(!H(9+1!62126+9!Z"!H5*2,+i!7-6232!)51G+)+2+11&+!:)!L;;!*2H(!K27+!129+21&+!]!+,+(!H5*2,+1&+!&+10!%26(+,!%+9+6!35H(9+1!H5*723+*!+1,+*+!L;!3+6)+2!Z;!H5*2,+i!:)!#U;!*2H(!K27+!129+21&+!M!+,+(!H5*2,+1&+!&+10!%26(+,!%+9+6!35H(9+1!H5*723+*!+1,+*+!"!3+6)+2!#X!H5*2,+i!:)!"U;!*2H(!K27+!129+21&+!F!+,+(!H5*2,+1&+!&+10!%26(+,!H5*723+*!+1,+*+!";!E2100+!"JC! "[ !
  • 19. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)Ia menyebut penghasilannya selama ini masih tidak proporsional. Sebab, kontributortetap harus meliput berita-berita besar meski tidak ada jaminan apakah berita itudipakai atau tidak. Apalagi, tidak ada penggantian biaya liputan atas berita-berita yangdikirim koresponden tapi tak dimuat35.Lain kontributor, lain pula cerita tentang kesejahteraan jurnalis yang berstatuskaryawan tetap di Jakarta. Jurnalis yang berstatus karyawan tetap di Jakarta, memilikigaji yang relatif stabil, yang ketentuannya merujuk pada Undang-undangKetenagakerjaan. Dalam undang-undang itu, skema kesejahteraan kepada pekerja –termasuk jurnalis – adalah berupa gaji pokok, aneka tunjangan, serta sejumlahasuransi. Itu pula yang diterima oleh jurnalis Tempo di Jakarta, seperti yangdiungkapkan oleh Isma Savitri.Dengan jurnalis yang berstatus magang penulis (di Tempo disebut dengan M136), iamendapatkan gaji sekitar Rp 3,8 juta. Jumlah itu naik sebesar Rp 800 ribu dibandingkansaat dia menjadi reporter dua tahun sebelumnya. Selain gaji dan tunjangan, yang jugaditerima adalah fasilitas lain seperti biaya transportasi liputan. Berdasarkanpengalamannya selama ini, besarnya transportasi untuk liputan (yang berdasarkanklaim) itu berkisar antara Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu. Lainnya, dana tunjanganpensiun, bantuan pembelian alat komunikasi setiap 4 tahun sekali sebesar Rp 800 ribu,tunjangan pembelian kacamata, uang rekreasi setiap tahun sekali, serta asuransikesehatan serta keikutsertaan dalam program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek).Isma Savitri menilai gaji yang ia terima saat ini sebenarnya kurang proporsionaldengan kehidupan di Jakarta, yang kebutuhannya lebih besar. Ini akan lebih terasa bagijurnalis yang sudah berkeluarga, yang otomatis biaya hidupnya juga bertambah besar.Dengan kebutuhan hidup Jakarta, gaji yang pantas untuk seorang reporter denganmasa kerja seperti dia adalah Rp 6 juta. Sebagai jurnalis di Tempo, ia tidakmendapatkan bantuan fasilitas pengadaan rumah seperti koleganya di Harian Kompas.Skema yang selama ini dilakukan perusahaan ialah membantunya dengan menjalinkerjasama dengan pihak bank untuk memberikan pinjaman uang, dengan keringananbunga – yang itu bisa digunakan untuk pembelian rumah juga.Konglomerasi, seperti dikatakan Isma Savitri, tak memberi dampak besar dalam soalkesejahteraan. Di Tempo, sejak awal masuk ke perusahaan media ini, ia sudah!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!LU ! ++,! S+S+1G+*+! ,5*E+%+)! 7-*53)-1%51! A56)-! 212! %29+7(7+1.! )56H5*2+1! 21351,2>! (1,(7! gH5*2,+! &+10!%272*26! ,+)2! ,+7! %26(+,h! 2,(! 3(%+E! 6(9+2! %23+6)+27+1! )2E+7! 6+1+K5651! A56)-! 75)+%+! ! 7-*53)-1%51C!756+! &+10! %2,+S+*7+1! +%+9+E.! K27+! H5*2,+! &+10! ,+7! %26(+,! %+9+6! 35H(9+1! E2100+! ";! H5*2,+.! (+10!)5100+1,21&+!:)!";;!*2H(C!B27+!K(69+E1&+!95H2E!H53+*!%+*2!";.!6+7+!)5100+1,21&+!:)!"U;!*2H(C!!!LZ !F2!A56)-.!K+H+,+1!3,*(7,(*+9!%2%+)+,!35,59+E!659+9(2!35K(69+E!K51K+10C!@"!+%+9+E!K51K+10!&+10!%2%+)+,!35,59+E! 35-*+10! K(*1+923! 9-9-3! %+*2! (K2+13! 5V+0+2! *5)-*,5*C! B27+! 2+! 9(9(3! @".! 2+! +7+1! 1+27! 651K+%2! 3,+>!*5%+732C!5%+107+1!@#!65*()+7+1!K51K+10!&+10!E+*(3!%295S+,2!-95E!3535-*+10!&+10!3(%+E!%27(+92>27+32!9-9-3!%+*2!3,+>!*5%+732C!B27+!2+!9-9-3!%+*2!(K2+1!#.!2+!+7+1!1+27!651K+%2!*5%+7,(*!H2%+10C!A+100+!359+1K(,1&+!%+*2!35-*+10!&+10!651K+%2!*5%+7,(*!H2%+10!+%+9+E!@L.!&+10!+7+1!65151,(7+1!+)+7+E!K(*1+923!2,(!9+&+7!651%(%(72! K+H+,+1! *5%+7,(*! )59+73+1+.! 35H+0+2! )5626)21! 7-6)+*,5651C! F2! %+9+6! 7-6)+*,5651! 2,(!+%+!H5H5*+)+!*5%+7,(*!H2%+10.!3,+>!*5%+732.!%+1!*5)-*,5*C! " !
  • 20. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)menghadapi kenyataan bahwa Tempo ini memiliki sejumlah platform media, yaitu cetakdan online. Sebagai karyawan, ia pun punya kewajiban untuk men-supply berita untukmedia-media itu, meski tentu saja dengan kebutuhan yang berbeda satu denganlainnya. Saat awal masuk Tempo, ia sudah dihadapkan pada tugas untuk mensuplaiberita untuk Tempo.co, Koran Tempo dan sesekali Majalah Tempo.Jurnalis berstatus karyawan tetap di Vivanews.com, yang menjadi responden penelitianini, mengatakan tak ada perbedaan yang dia rasakan dari aspek kesejahteraan saatVivanews.com berada di bawah Group Visi Media Asia. Ia, seperti halnya jurnalisTempo, mendapatkan gaji, tunjangan dan sejumlah asuransi. Untuk jurnalis baru yangberstatus calon reporter, gajinya sekitar Rp 2,5 juta.Responden penelitian ini, yang sudah berstatus editor madya, gajinya berkisar antaraRp 7 sampai Rp 8 juta37.Besaran gaji dalam setahun yang dia terima juga mendekati aturan normatif, yaitu 12kali gaji. Itu belum termasuk tunjangan hari raya, yang diberikan menjelang hari raya,serta bonus, yang besarnya biasanya dipengaruhi oleh prestasinya sebagai jurnalis.Tahun lalu, jurnalis Vivanews yang menjadi responden penelitian ini tersebut mengakumendapatkan bonus sebesar 1,5 kali gaji.Asep Saefullah, salah satu redaktur di Majalah Trust mengaku memiliki pengalamanyang sama dengan koleganya di Vivanews.com dan Tempo. Ia masuk majalah Trustpada November 2010 lalu, saat majalah berita ekonomi itu dalam masa transisi untukbergabung dengan MNC. Ia masuk ke majalah itu sebagai redaktur di bidang hukum,dengan kisaran gaji Rp 7 juta per bulan – dan bisa mencapai angka tertinggi sampai Rp12 juta per bulan untuk posisi yang sama.Sebagai redaktur, Asep Saefullah bertugas menyusun perencanaan, membuatpenugasan untuk reporting, melakukan editing naskah, dan serta sesekali liputan kelapangan. Rincian tugas ini, dan ritme kerjanya di Trust, nyaris tak mengalami banyakperubahan signifikan dengan masa sebelum majalah ini bergabung dalam MNC. Setelahdua tahun bekerja di sana, ia belum melihat ada perubahan kesejahteraan yang terkaitdengan adanya konvergensi.Jurnalis yang berstatus karyawan di Harian Kompas memiliki jenis item“kesejahteraan” relatif sama seperti halnya jurnalis di media lainnya, meski denganbesaran berbeda. Untuk sejumlah fasilitas dan benefit, apa yang didapat jurnalis diHarian Kompas melebihi dari apa yang dinikmati jurnalis di media lain, baik itu digroup MNC, Tempo Inti Media, dan Visi Media Asia.!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!L[ !$%2,-*!%2!f2V+15S3!!2,(!651+6H+E7+1.!H53+*+1!0+K2!&+10!2+!,5*26+!3++,!212!35H51+*1&+!K(0+!%2)510+*(E2!-95E! 150-32+32! 3++,! +S+9! 6+3(7! 75! )-*,+9! 65%2+! -19215! ,5*35H(,C! 8*,21&+.! 2,(! H(7+1! 0+K2! 3,+1%+*! (1,(7!65*57+!&+10!%2!)-3232!35H+0+2!5%2,-*!6+%&+C!]5*%+3+*7+1!21>-*6+32!&+10!%2+!75,+E(2.!+%+!K(*1+923!&+10!35+107+,+1! %510+1! %2+.! ,51,(! 3+K+! %510+1! K+H+,+1! &+10! 3+6+.! 651%+)+,7+1! 7535K+E,5*++1! 95H2E! 75G29!%+*2!&+10!2+!,5*26+C! "X !
  • 21. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kalau kami lagi beruntung, bisa mendapatkan 21 kali gaji dalam setahun. Kalau tidak beruntung, ya 15 atau 16 kali gaji (Jurnalis harian Kompas, wawancara Juli 2012).MNC, Group Visi Media Asia dan Tempo Inti Media memberikan gaji umumnya sekitar13 atau 14 kali gaji – itu sudah termasuk uang Tunjangan Hari Raya (THR), yangdiberikan kepada karyawan –termasuk jurnalis—paling lambat dua minggu sebelumHari Raya keagamaan, baik Lebaran (bagi yang beragama Islam) dan Natal (bagi yangberagama Kristen). Di sejumlah media, ada juga pemberian bonus yang diberikan setiaptahun, yang umumnya dikeluarkan saat perusahaan dalam keadaan untung.Di Kompas, gaji tambahan yang cukup besar dan didapatkan jurnalis adalah melaluisistem penilaian. Jurnalis yang nilai semesterannya mendapatkan nilai A bisamendapatkan tambahan gaji sampai 6 kali, yang mendapatkan nilai B sebanyak 3 kaligaji. Sedangkan yang mendapatkan nilai C mendapatkan kenaikan 1,5 kali gaji. Selainitu, tambahan penghasilan lain yang juga didapatkan jurnalis harian Kompas adalahbonus masa kerja serta insentif yang sifatnya tak terduga38.Selain itu, fasilitas lain yang bisa didapatkan oleh jurnalis yang berstatus karyawantetap adalah fasilitas cicilan sepeda motor, membeli kamera, dan jatah pembelianhandphone setiap tiga tahun.Kesejahteraan lain yang juga sangat membantu kesejahteraan adalah adanya fasilitasbantuan pembelian rumah, yang biasanya diberikan kepada jurnalis harian Kompasyang sudah bekerja selama lima tahun. Besarnya pinjaman untuk pembelian rumah bisahingga 45 kali gaji pokok, dengan tanpa dibebani bunga.Responden penelitian ini, yang kini berstatus reporter madya di harian Kompas,menganggap kesejahteraan di perusahaannya itu sangat sebanding dengantanggungjawabnya dan sudah masuk kategori lebih baik dibandingkan dengan jurnalisdengan masa kerja yang sama di media lain.Di luar itu, jurnalis Harian Kompas juga bisa mendapatkan penghasilan tambahan darimenulis berita untuk Kompas.com. Jurnalis yang menyumbang berita untukKompas.com mendapatkan insentif Rp 15.000 untuk setiap berita yang dimuat di mediaonline tersebut. Jika jurnalis itu bisa mengirimkan 90 berita dalam sebulan (sekitar 2berita dalam 30 hari kerja), maka ia bisa mendapatkan tambahan pendapatan sekitar Rp1,3 juta sebulan.3.3. Konvergensi: Suatu Keniscayaan?Responden penelitian ini memiliki pengertian yang relatif sama tentang maknakonvergensi dan sama-sama berpendapat bahwa itu adalah perkembangan takterelakkan. Konvergensi, seperti dikemukakan oleh sejumlah peneliti media, terjadi!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!L ! @51(*(,! K(*1+923! ?-6)+3! &+10! 651K+%2! 3+9+E! 3+,(! *53)-1%51! )51592,2+1! 212.! K(*1+923! &+10! ,(923+11&+!%2129+2! H+0(3! -95E! )51%2*2! ?-6)+3.! B+G-5H! R5,+6+.! 2+! H23+! 651%+)+,7+1! H-1(3! +,+(! ,+6H+E+1!)510E+329+1!&+10!H+0(3.!&+10!H53+*1&+!H23+!35H53+*!3+,(!7+92!0+K2C!! #; !
  • 22. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)dalam sejumlah aspek industri media. Dalam bidang pemberitaan, ini diwujudkandalam integrasi, atau penyatuan, newsroom.Saat newsroom terintegrasi, maka semua sumber daya manusia yang terkait denganurusan produksi berita, akan berada dalam satu sistem. Jurnalis dalam satu newsroomakan memiliki kewajiban untuk memproduksi liputan atau berita yang bisadimanfaatkan oleh media dari berbagai platform yang dimiliki oleh group itu, yaitucetak, radio, online dan TV. Begitu juga para editornya. Ia bertanggungjawabmerencanakan liputan dan memproduksi berita untuk semua platform tersebut. Hanyasaja, pengalaman di empat group itu membuktikan, upaya mewujudkan integrasinewsroom itu bukan perkara mudah, meski semua melihat banyak manfaat dari sistembaru tersebut.Pemimpin Redaksi MNC TV Ray Wijaya39 mengatakan, dari aspek produksi, konvergensiini akan melahirkan banyak sekali kemudahan dan efisiensi dan efektivitas. Ray Wijayaantara lain memberikan ilustrasi soal penggunaan alat produksi. Karena MNC memilikitiga TV, maka setidaknya ada 3 SNG yang bisa dipakai bersama. Andai saja konvergensiterjadi, maka ketiga media itu bisa duduk bersama untuk membahas apa saja yang bisadikerjakan bersama, dan mana yang bisa saling membantu. Jika suatu saat terjadi suatudemonstrasi besar di Jakarta, maka SNG ketiga TV itu bisa disebar di sejumlah tempatagar bisa memberikan laporan secara langsung (live). Dengan cara begitu, media digroup MNC bisa “mengepung” Jakarta dengan semua perlatan sehingga semua sisi dariperistiwa itu dinikmati oleh penonton tiga TV itu40.Selain pemanfaatan alat, yang juga membuat konvergensi melalui integrasi newsroombisa membuat lebih efisien adalah pada pemanfaatan tenaga jurnalis. PemimpinRedaksi TV One Karni Ilyas mengatakan, single newsroom bisa lebih menghematpemanfaatan jurnalisnya. Jika newsroom-nya masih terpisah-pisah, maka setiap TVharus mengirimkan jurnalis untuk meliput sebuah berita. Tapi saat single newsroomterjadi, cukup satu jurnalis saja yang dikirim untuk meliput satu peristiwa. Kalau satu newsroom, misalkan ada dua wartawan dalam satu tempat, mic-nya saja dibedakan. Kalau seragamnya nggak. Tapi yang jelas, lebih efisien di kontributor, di paket-paket yang tidak perlu speak up. Tapi kalau speak up, ya mungkin dibedakan presenternya saja. Justru kalau beritanya sama kita cukup pakai satu wartawan, tidak perlu dua. Tinggal yang (stasiun TV) ini mau ambil yang mana, pokoknya ada dalam satu keranjang (tempat berita dihimpun) (Karni Ilyas, wawancara Juli 2012).Secara teroritis, cukup mudah untuk melihat bahwa konvergensi itu memberi manfaatbesar bagi industri media. Selain akan menciptakan efektivitas dalam pekerjaan, yang!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!J; !I56+1>++,+1!+9+,!35G+*+!H5*3+6+<3+6+!212!656+10!H(7+1!H5*+*,2!,+1)+!H+&+*+1!+92+3!0*+,23C!@51(*(,!:+&!Q2K+&+.!K27+!6+3210<6+3210!3,+32(1!Af!2,(!65*()+7+1!)5*(3+E++1!&+10!H5*H5%+!35)5*,2!359+6+!212.!6+7+! 3756+! &+10! H23+! %2)+7+2! +%+9+E! %510+1! 656H+&+*! %510+1! E+*0+! 7E(3(3.! &+10! ,51,(! 3+K+! K+(E!+7+1!95H2E!6(*+E!%2H+1%2107+1!%510+1!E+*0+!&+10!%2,5,+)7+1!75)+%+!)2E+7!%2!9(+*!0*-()!65%2+!@PMC! #" !
  • 23. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)jauh lebih penting juga adalah bertambahnya efisiensi dari sisi perusahaan. Hanya saja,dalam kasus Indonesia, semua benefit itu belum menjadi jaminan bahwa konvergensiditerapkan oleh sejumlah konglomerasi media di Indonesia. Adanya benefit yang besartetap saja harus mempertimbangkan aspek lainnya, yaitu kesiapan para pekerja mediauntuk menerapkannya.Group Visi Media Asia, yang membawahi ANTV, TV One dan vivanews.com, belummenerapkan konvergensi itu. Secara ide, kata Karni Ilyas, konvergensi itu sudah lamaada di benak para petinggi stasiun TV dan manajer di tingkat group Visi Media Asia.Apalagi, di bawah group Visi Media Asia itu juga punya operator telepon seluler,Telecom, yang mengoperasikan Esia. Jenis industri ini tentu saja sangat banyakmembantu jika terjadi konvergensi. Tapi planning itu masih terkendala. Persoalannya karena masing-masing organisasinya telah terbentuk. Misalkan, jika anda satukan newsroom. Tadinya ada dua newsroom dengan jumlah masing-masing 200 orang. Lalu, saat akan disatukan hanya dibutuhkan 300 orang. Nah, yang sisa 100 mau diapakan? Nggak hanya Viva Grup. Emangnya MNC sudah bisa? SCTV, Indosiar, sudah bisa? Itu faktor manusia di dalamnya menentukan juga. Sekarang kalau ada dua pemimpin redaksi, yang mana pemrednya (kalau ada satu newsroom)? Kalau lima manajer, yang mana manajernya? (Karni Ilyas, wawancara Juli 2012).Selain faktor tersebut, yang juga ikut menyumbang dari belum terlaksananyakonvergensi dengan skala penuh di newsroom adalah adanya kultur yang berbeda antarplatform media. Kebiasaan dan cara kerja jurnalis media cetak dengan online, TV danradio, berbeda. Salah satu tugas penting ketika konvergensi itu hendak dilakukanadalah secara perlahan-lahan mengubah sejumlah kebiasaan itu agar ikut berubahdengan platform yang memang tak lagi sama dengan sebelumnya. Inilah salah satukendala yang dialami oleh group Kompas Gramedia (KKG).Content General Manager Kompas.com Edi Taslim mengatakan, para manajer diKompas Group juga melihat bahwa single newsroom merupakan salah satu rencana yangsudah dalam perbincangan dan hendak dituju. Hanya saja, itu tak mudah untukmenerapkannya. Selain masih terkendala oleh perbedaan budaya antara jurnalis dariberbagai platform, para manajer di Kompas Gramedia juga belum melihat menentukansikap apakah itu sistem yang paling tepat untuk menjawab tantangan media saat ini. Kami punya newsroom, tapi tidak total. Yang ada di sana hanya kepala-kepala saja. Ada kekhawatiran bahwa dengan pola konvergensi yang belum ketemu justru akan membebani masing-masing media. Sebab, karakternya berbeda-beda (Content General Manager Kompas.com Edi Taslim, wawancara Oktober 2012).Saat ini, kata Edi Taslim, upaya konvergensi memang sudah dilakukan di GroupKompas, melalui sejumlah integrasi, yang itu dilakukan dengan cara melakukan proyekpeliputan bersama melibat jurnalis dari berbagai platform, yaitu cetak, online, dan TV. ## !
  • 24. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)Salah satunya adalah proyek liputan Cincin Api. Hasil dari peliputan bersama itudipublikasikan di berbagai platform media milik Group Kompas Gramedia.Selain itu, kata Edi Taslim, perkembangan lain dari upaya menuju konvergensi adalahdengan adanya satu keranjang berita bernama Kompas Group Wire. Keranjang inidigunakan untuk menampung semua hasil liputan jurnalis di group Kompas Gramedia,yang dikirim baik oleh jurnalis berstatus karyawan tetap atau yang berstatuskontributor. Masing-masing media dari berbagai platform di Group Kompas Gramediadipersilakan menggunakan bahan yang ada di keranjang itu, yang tentunya disesuaikandengan karakter platform-nya.MNC, yang membawahi tiga TV, hingga tahun 2012 juga belum memiliki newsroom yangterintegrasi dan bisa memproduksi berita untuk semua media di bawah naungan groupini. Masing-masing TV memiliki newsroom sendiri. Namun, upaya menuju konvergensiseperti itu sudah mulai dilakukan, meski belum dalam skala yang besar berupa singlenewsroom. Sudah lama MNC itu menyiapkan itu. Mulainya dari sekedar mewacanakan karena kami-kami juga punya pengetahuan yang cukup update tentang itu. Itu sudah resmi diwacanakan karena grup besar ini kedepannya akan punya banyak media yang saling berhubungan. Nah, sekarang prakteknya sudah lama mulai jalan. Contoh, misalnya di Jakarta kami mulai bekerja sama untuk menggunakan alat. Kalau dari sudut pandang industri, salah satu keuntungan kalau kita bisa mengelola konvergensi itu dengan baik dan sinergi adalah, kita bisa bekerja lebih efisien (Ray Wijaya, wawancara Juli 2012).Di MNC, salah satu bentuk konvergensi yang mulai dilakukan adalah denganmendirikan Sindo TV. Perusahaan inilah yang kini menghimpun seluruh kontributorTV di bawah group MNC, yang sebelumnya langsung berada di bawah MNC TV, RCTIdan Global TV. Sejak adanya Sindo TV, maka berita-berita yang terjadi di luar Jakartadipasok oleh Sindo TV. Menurut Ray Wijaya, selain bisa memanfaatkan berita Sindo TV,masing-masing TV di bawah MNC juga bisa meminta kepada Sindo TV untuk meliputperistiwa tertentu yang terjadi di daerah. Jika peristiwanya cukup besar, biasanyakantor pusat (baik RCTI, MNC TV atau Global TV) mengirimkan orang tambahan secarakhusus, untuk memperkuat kontrtibutor yang ada di daerah itu.Mengapa belum ada single newsroom, setidaknya di TV di bawah MNC, yaitu MNC TV,RCTI dan Global TV? Inilah jawaban Ray Wijaya. Kalau yang saya pelajari dan yang pernah saya tahu, pelaksanaan konvergensi itu bisa berbeda-beda. Itu sah-sah saja. Model bisnis, di manapun juga, berkembang sesuai dengan kebutuhan dan peluang. Termasuk soal konvergensi. Jadi kebutuhan disini memang berbeda dengan apa yang terjadi di luar negeri. Di sini akan sangat berhati-hati juga mengembangkan konvergensi dalam bentuk yang terlalu besar melebihi kebutuhan publik akan berita di media baru. Sehingga kita tidak mungkin juga buru-buru memberikan effort yang besar . Kan beda di sini dan #L !
  • 25. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di luar negeri. Saya nggak tahu satu atau dua tahun ke depan. Tapi kalau dilihat kondisi dua sampai tiga tahun ini, kebutuhan akan berita tak sepesat yang di luar negeri.…Harusnya kan semuanya serempak seperti yang di luar, mungkin dotcomnya juga gencar, koran gencar, radio gencar. Kalau di sini? Kan enggak. Misalnya, radio berapa persen sih yang perlu berita? Kan tidak banyak. Jangankan radio , TV pun hidup tidak dari berita, tapi dari sinetron. (Jadi kebutuhan) Konvergensinya itu gak sedahsyat itulah (menjadi single newsroom). Jadi yang kita omongkan konvergensi di sejumlah negara sedemikian besar karena sedemikian besar peluangnya dan perkembanganya karena memang industri (medianya) bisa hidup dari berita. Indonesia kan nggak. Kalaupun terjadi konvergensi, itu sebuah kegiatan kecil dari sebuah kegiatan industri. (Ray Wijaya, Juli 2012)Selain faktor kesiapan sumber daya manusia, ada perhitungan bisnis juga yangmelandasi pilihan untuk segera atau nanti dulu untuk melakukan konvergensi dalamskala besar. Dengan porsi berita yang tergolong kecil di group MNC, yaitu sekitar 4 jamdalam setiap harinya untuk satu stasiun TV, maka effort untuk membuat singlenewsroom (yang sudah pasti akan membawa perubahan tak sedikit) dianggap terlalubesar dan belum memadai dengan kebutuhan saat ini.Konvergensi lebih penuh dilakukan group Tempo. Menurut Redaktur Pelaksana Tempo,Wahyu Dhyatmika, para manajer di group memahami ada tiga tingkatan konvergensidalam newsroom, yaitu level 1.0, 2.0, dan 3.0. Newsroom level 3.0 merupakan yang palingtinggi dan penuh. Sedangkan level di bawahnya, yaitu 1.0 dan 2.0, konvergensi terjadipada beberapa level dan fungsi. Namanya newsroom 2.0. Artinya, dari sisi reporter sudah terintegrasi. Reporter bekerja untuk semua platform (Koran Tempo, Majalah Tempo dan Tempo.co). Kemudian di tingkat atas (editor ke atas), yang terkait pemrosesan berita, bekerja untuk semua platform. Baru kemudian di level atasnya, masih ada pimpinan unit, pimpinan platform. Jadi tidak sepenuhnya terkonvergensi juga. Kalau yang newsroom 3.0, itu satu newsroom, hanya produknya saja yang beda. Jadi, yang dipilih Tempo untuk saat ini adalah, struktur setiap platform itu masih ada. Jadi masih ada struktur redaksi majalah, redaksi koran, redaksi Tempo.co. Masing- masing ada pemimpin redaksinya. Tapi di level kompartemen (seperti kompartemen Nasional, kompartemen Ekonomi-Bisnis, dll), sudah menyatu, integrated (Wahyu Dhyatmika, wawancara November 2012)Menurut Wahyu Dhyatmika, konsep newsroom 2.0 ini dimulai sejak tahun 2011, dengandibentuknya “konsep komunitas” yang menggabungkan – atau merger – kompartemendengan karakter sama yang sebelumnya ada di masing-masing media -- Majalah Tempo,Koran Tempo, dan Tempo.co41. Integrasi newsroom ini masih diterus dikembangkan.!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!J" !?-135)!7-6(12,+3!212!6(9+2!%2,5*+)7+1!3++,!K(*1+923!%2!A56)-!%23+,(7+1!%2!05%(10!?5H+&-*+1!M51,5*!8""<"U! B9! ?5H+&-*+1! ]+*(! @+&53,27! B+7+*,+! 59+,+1C! 5H59(61&+.! K(*1+923! @+K+9+E! A56)-! H5*+%+! %2! B9C!I*-79+6+32! [#! B+7+*,+! I(3+,C! 5%+107+1! K(*1+932! ?-*+1! A56)-! %+1! A56)-CG-! H5*+%+! %2! 7+1,-*!?5H+&-*+1!M51,5*C! #J !
  • 26. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)Untuk mendukung integrasi itu, Tempo menyusun sistem penilaian model baru42, yangdiharapkan bisa mengakomodir penilaian terhadap jurnalis di group Tempo yang sudahmulai bekerja untuk lebih dari satu platform. Sebab, ia tak lagi hanya bekerja untukKoran Tempo, Majalah Tempo, atau Tempo.co saja seperti sebelum terjadi konvergensi.Apa yang berubah dari pekerjaan jurnalis setelah Tempo menerapkan newsroom 2.0?Menurut Wahyu Dhyatmika, jika sebelumnya masih ada kategori reporter majalah,reporter koran, reporter online, sekarang diharapkan tidak ada lagi. “Jadi, akhirnyadalam praktik sehari-hari, reporter itu sebetulnya bekerja untuk online. Karena diaupdating terus sebagaimana layaknya wartawan online. Mereka turun ke lapangan, dansaat ada kejadian, secepatnya membuat membuat berita. Kalau berita untuk kebutuhankoran, butuh penajaman dan redakturnya akan memberikan penugasan tambahan,”kata dia.Wahyu Dhyatmika menambahkan, namun ada kesadaran bahwa Tempo sepertinyabelum berpikir untuk menuju model newsroom 3.0. “Dari informasi sejauh ini, adapemahaman bahwa tak mungkin semuanya blend, tak mungkin multifungsimultiplatform, kecuali di tingkat paling bawah, yaitu reporter. Untuk reporter, tugasnyamembuat laporan. Mau dipakai koran, majalah, atau online, nanti itu urusanpemrosesannya,” kata dia.Salah satu kendala Tempo melakukan konvergensi, seperti juga dialami oleh groupKompas Gramedia, adalah pada perubahan cara kerja. Yang paling berat kan mengubah cara kerja. Banyak teman-teman itu yang fokus pada platform awal, ‘Saya ini anak koran, saya onak online, saya anak majalah, karena itu kewajiban utama saya hanya pada majalah, pada koran, atau pada online.’ Membuat teman-teman itu switch kepedulian dan energinya ke produk lain itu susah sekali, karena juga merasa tanggungjawabnya besar pada kualitas produknya. Ada kekhawatiran kalau dia diminta mengerjakan (outlet) yang lain juga, kualitas pekerjaan yang utama terganggu (Wahyu Dhyatmika, wawancara November 2012)Sejumlah tuntutan perubahan akibat konvergensi, atau menuju konsep newsroom baruini, diakui oleh para manajer MNC, Kompas, dan Tempo, mengubah cara kerja jurnalis,dan keahlian yang harus dimilikinya. Dengan perkembangan saat ini, jurnalis mulaidituntut untuk memiliki keahlian lebih banyak. Jika ia wartawan cetak, ada kebutuhanagar dia juga bisa menulis untuk singkat dan cepat agar bisa mengisi untuk mediaonline, dan kalau perlu juga memiliki keahlian meliput menggunakan kamera video agarbisa mengisi konten TV dan online dan membuat berita versi audio untuk radio.!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!J# ! F+9+6! 323,56! )5129+2+1! A56)-! 6-%59! H+*(! 2,(! %2+7-6-%2*! 3-+9! +%+1&+! ,+100(10K+S+H! (,+6+! %+1!,+100(10K+S+H!,+6H+E+1!6+3210<6+3210!K(*1+923C!?-6)-3232!H5H+1!)5129+2+11&+!65100(1+7+1!3756+!35)5*,2!212=!;!)5*351!%+*2!)575*K++1!&+10!651K+%2!,+100(10K+S+H!(,+6+1&+.!#;!)5*351!%+*2!)575*K++1!,+6H+E+11&+C!B27+!%2+!*5)-*,5*!%2!?-*+1 A56)-.!6+7+!;!)5*351!)5129+2+11&+!H5*+3+9!%+*2!7-1,*2H(321&+!%2! ?-*+1! A56)-C! 595H2E1&+.! #;! )5*351.! %+*2! 7-1,*2H(321&+! (1,(7! -(,95,! 9+21! %2! 0*-()! A56)-.! 35)5*,2!-19215!+,+(!6+K+9+EC!W1,(7!95V59!5%2,-*.!K(0+!35)5*,2!2,(!3756+!)5129+2+11&+! #U !
  • 27. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)Dengan tuntutan baru itu, idealnya diikuti oleh meningkatnya kesejahteraan yangdidapatkan. Wahyu Dhyatmika mengatakan, perubahan pola kerja akibat adanyakonvergensi memang idealnya harus diikuti oleh penambahan kesejahteraan. Sebab,ada beban baru yang muncul dari model kerja seperti itu. Kalau pun keuntungan yangdiperoleh sebuah perusahaan media dianggap belum memadai untuk memberikanbenefit tambahan kepada jurnalisnya, yang harus dilakukan adalah menambah sumberdaya manusia agar bebannya kembali pada posisi semula.Pemimpin Redaksi MNC TV Ray Wijaya mengatakan, implikasi dari adanya tantangandan skill baru itu sangat wajar jika diikuti oleh munculnya tuntutan akan adakesejahteraan tambahan. Tuntutan perbaikan kesejahteraan sebagai akibat dariperkembangan baru seperti ini masih bisa dibicarakan dan didiskusikan antara pekerja,yang bisa diwakili oleh serikat pekerja, dan perusahaan. Kalau soal merumuskan bagaimana kompensasi, insentif, kesejahteraan, dengan duduk bareng (pekerja dan perusahaan), saya yakin ketemu (solusinya), asal semua unsur ada (Pemimpin Redaksi MNC TV Ray Wijaya, wawancara Juli 2012)Dengan melihat perkembangan suratkabar dunia dan tuntutan baru dari pelangganmedia, konvergensi memang telah menjadi bagian dari perkembangan bisnis yang takterhindarkan. Untuk itu, dibutuhkan adanya peningkatan keterampilan dari parajurnalis agar dapat menyesuaikan diri dengan “iklim baru” konvergensi dan perubahanstruktur bisnis media. Sejalan dengan kebutuhan peningkatan keterampilan,perusahaan media tentu juga perlu memperhatikan kesejahteraan jurnalis, sebagaiujung tombak dari bisnis ini, agar tetap punya komitmen terhadap profesi ini dan selalubekerja secara profesional.4. Refleksi dan KesimpulanGracie Lawson-Borders mencatat ada tujuh poin pemantauan yang bisa digunakanuntuk mengoperasionalkan konvergensi. Dua di antaranya terkait langsung denganpekerjaan jurnalis, yaitu soal “kerjasama” dan “kompensasi”. Dalam poin kerjasama,dijelaskan bahwa ada kebutuhan dari media yang melakukan konvergensi untukmendorong jurnalis yang berada di perusahaan media itu meningkatkankemampuannya dalam skill yang berbeda dengan sebelumnya. Misalnya, jurnalis mediacetak perlu meningkatkan skillnya agar bisa memproduksi berita untuk online, radio,dan TV. Begitu juga sebaliknya.Dalam poin kompensasi, Lawson menyebut adanya kebutuhan bagi perusahaan mediayang melakukan konvergensi untuk menghargai usaha yang dilakukan jurnalis untukmemenuhi tantangan baru ini. Sebab, peningkatan skill itu membutuhkan usaha, danmungkin juga biaya. Perusahaan media perlu memberikan kompensasi sebagai bentukpenghargaan terhadap upaya evolusi yang dilakukan jurnalisnya. #Z !
  • 28. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)Hasil studi ini menunjukkan bahwa konvergensi, meski merupakan fenomena yangmulai jamak terjadi di group perusahaan media yang memiliki media dari berbagaiplatform, tak lantas juga diterapkan media di Indonesia. Kompas Group dan MNC sudahmulai menerapkannya, meski baru pada beberapa tahap awal. Tempo sudah mulaimelakukannya, melalui dengan konsep newsroom 2.0, meski belum konvergensi secarapenuh. Sedangkan group Visi Media Asia belum melakukan konvergensi, setidaknyaseperti tahap awal seperti dilakukan oleh tiga group lainnya.Empat group media itu sama-sama menyadari bahwa manfaat dari konvergensi sangatbesar, baik dalam efektifitas dan efisiensi kerja. Hanya saja, ada faktor lain yang harusdipertimbangkan dan ini menjadi tantangan besar dari proyek mewujudkankonvergensi di bidang pemberitaan. Sejumlah tantangan dan kendala itu antara lain:kultur, karakter media, dan kalkulasi ekonominya.Kendala “perubahan” kultur dialami oleh semua media, tanpa terkecuali. Beda karakterantara satu platform dengan yang lain juga menjadi salah satu tantangan, sepertidialami oleh Group Kompas Gramedia yang memiliki media dari berbagai macamplatform, dari cetak, online, radio dan TV. Tantangan serupa juga dialami oleh groupTempo. Sedangkan “kalkulasi ekonomi” menjadi salah satu faktor dari belum penuhnyagroup MNC melaksanakan konvergensi.Studi ini juga menemukan bahwa perubahan kerja jurnalis dipengaruhi oleh adatidaknya konvergensi di perusahaan tempatnya bekerja. Jurnalis di group MNC, Tempo,dan sebagian Group Kompas, merasakan ada perubahan cara kerja karena group itusudah mulai melakukan konvergensi. Besar kecilnya perubahan bagi jurnalis di tigagrup itu sangat dipengaruhi oleh progres konvergensinya. Jurnalis di Tempomerasakan perubahan lebih besar karena konvergensi yang dilakukan lebih dulu danlebih banyak dari Kompas Group dan MNC TV. Perubahan ini tak dialami oleh jurnalisyang bekerja di group Visi Media Asia karena grup yang membawahi tiga media dengandua platform itu belum menerapkan konvergensi.Pelaksanaan konvergensi ini juga mempengaruhi, meski secara relatif dan tak merata,atas kesejahteraan yang dinikmati oleh jurnalis di empat grup tersebut. Studi inimenemukan, jurnalis yang bukan berstatus karyawan tetap (kontributor, korespondendll) di group MNC dan Tempo memiliki peluang untuk mendapatkan kesejahteraanlebih besar karena mendapatkan kesempatan untuk membuat berita di berbagaiplatform media di groupnya.Kontributor Sindo TV bisa membuat berita untuk portal berita okezone.com dan radiojaringan Sindo, dan mendapatkan honorarium tambahan. Begitu juga jurnalis berstatuskoresponden di Tempo, yang bisa membuat berita untuk tiga media, yaitu KoranTempo, Majalah Tempo dan Tempo.co. Hanya saja, penambahan kesejahteraan ini tak(belum?) terjadi terhadap jurnalis Tempo dan MNC yang berstatus karyawan tetap.Situasi semacam ini tak dirasakan oleh kontributor ANTV dan kontributorKompas.com. Mereka masih bekerja hanya untuk satu platform saja, dan belum #[ !
  • 29. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)memiliki peluang untuk membuat berita di platform beda di media yang ada di satugroupnya. Untuk kontributor ANTV, peluang penambahan kesejahteraan melalui honortambahan itu belum ada karena konvergensi belum terjadi. Sedangkan jurnalisKompas.com belum bisa membuat berita untuk outlet yang lain karena peluangnyabelum dibuka. Sedangkan jurnalis berstatus karyawan tetap di MNC memiliki nasibsama dengan koleganya sesama jurnalis Tempo dan MNC. Situasi sedikit beda dialamioleh jurnalis berstatus karyawan di Harian Kompas. Mereka bisa mendapatkankesejahteraan tambahan jika menulis berita untuk portal berita kompas.com.Penelitian ini juga menemukan bahwa konvergensi mengubah pekerjaan jurnalis meskisaat ini belum sepenuhnya, dan tuntutan keahlian yang harus dimilikinya. Manajer disemua group Kompas Gramedia, Group Visi Media Asia, Group MNC dan Tempo,sepakat bahwa situasi baru itu bisa menjadi dasar dari adanya kompensasi ataukesejahteraan tambahan. Kalau pun saat ini belum terjadi, hal itu bisa diperjuangkanoleh asosiasi jurnalis, atau serikat pekerja, kepada perusahaan media. # !
  • 30. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Daftar PustakaAJI, 2005. Potret Jurnalis Indonesia: Laporan Penelitian terhadap Jurnalis di 17 Kota, AJI. Jakarta: Aliansi Jurnalis Independen (AJI).Doyle, G., 2002. Media Ownership: The Economics and Politics of Convergence and Concentration in the UK and European Media. SAGE Publications.Dwyer, T., 2010. Media Convergence. Open University Press dan McGraw-Hill.Garrison, B., Dupagne, M., 2003. A Case Study of Media Convegence at Media Generals Tampa News Center.Lawson-Borders, G., 2008. Media Organizations and Convergence: Case Studies of Media Convergence Pioneers. Taylor & Francis.Lawson-Borders, G., 2003. Integrating New Media and Old Media: Seven Observations of Convergence as a Strategy for Best Practices in Media Organizations.Manan, A., 2008. Laporan Tahunan AJI 2008: Dijamin Tapi Tak Terlindungi. Jakarta: Aliansi Jurnalis Independen (AJI).Manan, A., 2009. Laporan Tahunan AJI 2009: Pers di Pusaran Krisis dan Ancaman. Jakarta: Aliansi Jurnalis Independen (AJI).Manan, A., 2010. Laporan Tahunan AJI 2010: Ancaman Itu Datang dari Dalam. Jakarta: Aliansi Jurnalis Independen (AJI).Manan, A., 2011. Laporan Tahunan AJI 2011: Menjelang Sinyal Merah. Jakarta: Aliansi Jurnalis Independen (AJI).Manan, A., 2011. Upah Layak Jurnalis: Survey Upah Layak AJI di 16 kota di Indonesia. Jakarta: Aliansi Jurnalis Independen (AJI).Nugroho, Y., Andriani P., Dinita., Laksmi, S., 2012. Mapping the Landscape of the Media Industry in Contemporary Indonesia. Report. CIPG, Jakarta, Mei 2012.Sukardi, W.A., 2009. Menakar Kesejahteraan Wartawan. Jakarta: Dewan Pers.SPS, Infomedia, 2011. Media Directory 2011. Jakarta.Quandt, T., Singer, J.B., 2009. The Handbook of Journalism Studies. Routledge.Wahl-Jorgensen, K., Hanitzsch, T., (ed.), 2008. The Handbook of Journalism Studies. Taylor & Francis. #X !
  • 31. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) LampiranProfil Empat Group MediaKompas GramediaSejarah Kompas Gramedia bermula tahun 1963, dengan lahirnya majalah bulananIntisari pada 17 Agustus 1963 oleh Petrus Kanisius (PK) Ojong dan Jakob Oetama (JO),bersama J. Adisubrata dan Irawati SH. Sekitar 3 tahun kemudian, tepatnya 28 Juni 1965,lahirlah Surat Kabar Kompas. Setelah itu, group ini terus bertumbuh hingga memilikihampir 100 media dengan berbagai platform, baik cetak, online, radio hingga TV43.Pemilik group ini semula merupakan yayasan, sebelum akhirnya menjadi perseroanterbatas. Ini komposisi sahamnya pada tahun 2005: Yayasan Bentara Rakyat 60% danKoperasi Karyawan 20 %. Sisanya adalah kepemilikan individu seperti Jacob Oetama10%, Frans Seda 2,5%, keluarga I.J. Kasimo 2,5% dan P. Swantoro 2,5%.44 Cetak Online Radio TV Harian Kompas.com Radio Sonora Jakarta TV ‘Nasional’ Kompas Tribunnews.com Radio Sonora Surabaya Kompas.tv Bangka Pos Radio Sonora Yogyakarta Trans 7 (share Banjarmasin Post Radio Sonora Pontianak kepemilikan dengan Kontan Radio Sonora Palembang Chairul Tanjung Metro Banjar Radio Sonora Bangka Group45) Pos Kupang Radio Sonora Semarang Serambi Indonesia Radio Sonora Bandung TV Lokal Sriwijaya Post Radio Sonora Aceh Kompas TV Pos Belitung Radio Sonora Solo Kompas TV Medan Prohaba Eltira FM (Jogja) Kompas TV Tribun Medan Motion FM Palembang Tribun Jambi Kompas TV Bandung Tribun Lampung Kompas TV Semarang Metro banjar Kompas TV Flores Star Yogyakarta Warta Jateng Kompas TV Surabaya Surya Kompas TV Denpasar Tribun Batam Kompas TV Tribun Jabar Banjarmasin Tribun Kaltim Kompas TV Makassar!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!JL !D5H2E!%5,+29.!329+7+1!7(1K(102!E,,)=TTSSSC7-6)+30*+65%2+CG-6T+H-(,70TE23,-*&C!F+,+!%2+7353!)+%+!L;!R7,-H5*!#;"#C!F+,+!3-+9!)515*H2,+1!%2-9+E!%+*2!S5H32,5!?-6)+3!N*+65%2+!bSSSC7-6)+30*+65%2+CG-6c!%+1!:235,!M/INC!JJ ! ?-6)-3232! 212! 756(10721+1! 6510+9+62! )5*(H+E+1! 35,59+E! 3+E+6! &+10! %2629272! 7-)5*+32! 7+*&+S+1!&+10! 35H53+*! #;j! %2+92E7+1! 75! )5*35*-+1C! -+9! 2129+E! &+10! 756(%2+1! %2)5*3-+7+1! -95E! I5*7(6)(9+1!?+*&+S+1! ?-6)+3C! -+9! 3+E+6! %+1! 0(0+,+1! ,5*E+%+)1&+.! 92E+,! H(7(! ?-62,5! 81,2! I56H5*+10(3+1!5*27+,! I575*K+! b?-6)+3c! H5*K(%(9! @51000(0+,! 86+1+,! 4+,2! P(*+12! :+7&+,.! @52! #;;[.! E+9C! #ZC! -+9!3+E+6!?-6)+3.!+%+!%2!E+9C!"L[C!:5>5*5132!9+21!,5*7+2,!3-+9!)5*,(6H(E+1!H23123!0*-()!212!+%+9+E!H(7(!&+10!%2,5*H2,7+1! IA! ?-6)+3! @5%2+! P(3+1,+*+.! 8)*29! #;;[.! &+10! H5*K(%(9! ?-6)+3=! F+*2! ]59+7+10! 75! F5)+1.!@51(923!%+*2!F+9+6C!JU !ME+2*(9!A+1K(10.!2!81+7!2107-10.!I515*H2,!](7(!?-6)+3.!B(12!#;"#.!E+9C!L";C! L; !
  • 32. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)Tribun ManadoTribun PekanbaruTribun PontianakTribun TimurTribun JogjaWarta KotaTabloidBolaGaya Hidup SehatKontanMotor PlusNakitaNovaOtomotifMajalahIntisariHaiKawankuIde BisnisInfoKomputerCHIPCHIP Foto VideoNational GeographicAngkasaBola VaganzaXYKidsBoboBobo JuniorDonald BebekDisney JuniorSedapLivingIn StyleMoreSedap PemulaJalan SesamaHOT GAMECHICGirlsKreatifIDEAFlonaAuto BildMotorPrincessMombiForselPreventionFortuneSekar L" !
  • 33. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)Media Nusantara CitraTV yang berada di bawah group ini ada lebih dulu: RCTI (1989) dan MNC TV (1981—dulubernama TPI). Sedangkan Media Nusantara Citra sebagai holding berdiri tahun 1997.Kini, group ini memiliki 3 TV yang memiliki jangkauan nasional, jaringan radio dan TVlokal, serta suratkabar dan media online. MNC listing di Bursa Efek Indonesia pada 22Juni 2007. Mayoritas saham MNC dimiliki oleh PT Global Mediacom Tbk (95%),selebihnya oleh Indonesia Media Partners LLC46. Cetak Online Radio TV Harian Okezone.com Global Radio (2005) TV ‘Nasional’ Koran Seputar V Radio RCTI Indonesia Sindo Radio Network MNC TV Jakarta (1990) Global TV Mingguan Sindo Radio Surabaya HighEnd Mag Sindo Radio Medan TV Lokal HighEnd Teen Mag Sindo Radio Madiun Deli TV, Medan Trust Sindo Radio Palembang Lampung TV, Bandar Just for Kids Sindo Radio Lubuk Linggau Lampung Magazine Sindo Radio Prabumulih Minang TV, Padang Sindo Radio Lahat UTV, Batam Tabloid Sindo Radio Kendari Indonesian Music TV, Genie Sindo Radio Dumai Bandung Mom & Sindo Radio Pekanbaru PRO TV, Semarang Kiddie Sindo Radio Pontianak BMS TV, Banyumas Sindo Radio Manado MHTV, Surabaya Sindo Radio Banjarmasin Kapuas Citra Televisi, Sindo Radio Bandung Pontianak Sindo Radio Semarang BMC TV, Denpasar Sindo Radio Yogyakarta SUN TV Makasar Sindo Radio Makassar MGTV, Magelang Sindo Radio Baturaja SKY TV, Palembang Radio Dangdut Indonesia TAZ TV, Tasikmalaya O-Channel Televisi Berbayar Indovision (Pay TV) Okevision (Pay TV) Top TV (Pay TV)!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!JZ !I*->29!3-+9!@PM.!92E+,!E,,)=TTSSSC61GCG-C2%C!F+,+!%2+7353!L;!R7,-H5*!#;"#C! L# !
  • 34. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)Tempo Inti MediaSejarah PT Tempo Inti media bermula dari lahirnya Majalah Berita Mingguan Tempopada 1971 oleh Goenawan Mohamad, Fikri Jufri, Bur Rasuanto, Harjoko Trisnadi, danChristianto Wibisono. Sempat dibredel Pemerintah Orde Baru tahun 1994, dan kembaliterbit empat tahun kemudian. Tempo listing di Bursa Efek pada 8 Januari 2001. SahamPT Tempo Inti Media dimiliki oleh: PT Grafiti Pers (21,0169%), Masyarakat (17,24%),Yayasan Karyawan Tempo (12,8065%), Yayasan Tempo 21 Juni (24,83%), PT Jaya RayaUtama (16,28%), dan Yayasan Jaya Raya (8,54%). Cetak Online Radio TV Harian Tempo.co Tidak ada Tempo TV Koran Tempo Majalah Tempo (majalah berita) Travel Lounge Tempo English (Tempo edisi Inggris)Visi Media AsiaHolding PT Visi Media Asia, yang membawahi ANTV, TV One, dan Vivanews.comberdiri tahun 2007. Visi Media Asia listing di Bursa efek Indonesia tahun 2011 danmelakukan IPO pada 21 November 2011. Sampai tahun 2011, saham mayoritas dimilikioleh PT CMA Indonesia (73,43%) dan Fast Plus Limited (6,79%)47. Cetak Online Radio TV Tidak ada Vivanews.com Tidak Ada ANTV TV One!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!J[ !I*->29!IA!f232!@5%2+!832+.!!92E+,!E,,)=TT2%CS272)5%2+C-*0TS272Tf232_@5%2+_832+!%+1!SSSC!V2V+0*-()CG-C2%!bH+E+1!%2+7353!)+%+!L;!R7,-H5*!#;"#c!%+1!D+)-*+1!75)562927+1!+E+6!IA!f232!@5%2+!832+!-95E!](*3+!$>57!/1%-1532+!Z!B+1(+*2!#;"#C! LL !
  • 35. Aliansi Jurnalis Indepensi (AJI) Tim PenelitiAbdul Manan (Peneliti)Eva Danayanti (Asisten Peneliti)Cara mengutip laporan ini:Manan, A., Danayanti, E., 2012. Konvergensi Media dan Kesejahteraan Jurnalis. Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Warga Bicara Media: Sepuluh Cerita. Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) dan HIVOS Jakarta, hal. xx.! LJ
  • 36. Aliansi Jurnalis Indepensi (AJI) Review laporan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Konvergensi Media & Kesejahteraan Jurnalis Pendamping: Ignatius HaryantoKomentar pendampingEditor: Secara garis besar, pendamping melihat bahwa masih banyak bagian daripenelitian yang semestinya dapat dianalisis lebih jauh. Tanggapan dari pendampingakan dipaparkan di bawah ini. Kami merangkum poin-poin tanggapan dari pendampingsesuai dengan bagian dari laporan yang dikomentari langsung oleh pendamping:1. Istilah yang digunakan: Pendamping tidak yakin dengan penggunaan istilahpelanggan di sini, apakah ini merupakan terjemahan dari kata “audience” – yangmencakup pengertian yang lebih luas dari sekedar pelanggan, dimana audiens adalahsasaran / tujuan komunikasi media baik dalam bentuk media cetak, elektronik, ataupunmedia online. Istilah pelanggan terlalu menyempitkan hal karena konotasinya adalahberurusan dengan hal-hal yang terkait dengan masalah bayar membayar.Kenyataannya dalam banyak media sekarang tak ada lagi “pelanggan” apalagi yangmerupakan “pelanggan yang loyal” karena banyaknya sumber informasi alternatif yangdisodorkan dan mungkin untuk dikonsumsi.2. Mengenai konvergensi, meskipun sebagai konsep sudah dikenal cukup lama disejumlah negara berkembang, semestinya dapat didalami kembali apakah betulkonvergensi ini dilakukan demi efisiensi atau memang hanya merupakan ekspansibisnis saja, namun tergolong baru dalam pelaksanaannya.3. Perlu dicek kembali jumlah media yang dimiliki oleh Kompas Gramedia. Ada halamanyang menyebutkan bahwa grup ini memiliki “hampir seratus media cetak”, namun dihalaman selanjutnya jika dijumlahkan per media platform, jumlahnya masih lebih dari100.4. Mengenai status dan peran jurnalis, terutama di Kompas: penulis juga harus pahambahwa struktur pembagian perusahaan di dalam kompas tak jauh berbeda daripengembangan pada tahun 1990an, dimana ada pembedaan antara divisi koranKompas, dengan divisi koran daerah-pers daerah – yang kemudian melahirkan“Tribun” di samping masih mengelola surat kabar daerah ‘lama’ yang tidakmenggunakan kata Tribun - seperti Serambi Indonesia, Banjarmasin Post, Sriwijaya Pos,hingga Pos Kupang. Penulis dapat melihat disertasi Daniel Dhakidae (1991) untukrujukan mengenai struktur dasar Kompas,5. Mengenai praktek penayangan berita untuk kontributor, seharusnya dapat dijelaskanlebih lanjut. Tidak semua berita yang dikirim oleh kontributor akan otomatis diterimaoleh redaksi. Status ketidaktetapan ini juga menjadi sumber ketidakpastian bagi LU! !
  • 37. Aliansi Jurnalis Indepensi (AJI)kontributor atau koresponden. Dalam praktek, saya (pendamping) sering menemukanitem berita dari suatu peristiwa daerah yang disiarkan oleh dua atau tiga stasiun yangberbeda, padahal angle atau sudut pengambilan gambar sama. Ini merupakan caraberstrategi yang dilakukan oleh kontributor karena ketidakpastian status danpengupahan yang didasarkan hanya pada penayangan item pemberitaannya.6. Penulis sebenarnya dapat menggali pasokan berita dari sisi uang/kompensasi.Contoh: berapa harga laporan per televisi, seberapa ia berbeda dengan laporan mediaonline, media cetak, dan media lainnya. Juga untuk konten media, contohnya: kontenmajalah Trust, sebaiknya diperdalam lagi, apakah konten Trust masuk ataudipergunakan di media lain dibawah naungan MNC atau tidak? – Hal yang sama jugaberlaku dengan permasalahan ANTV dan TV One. Semestinya dapat diperdalamanalisisnya apakah hal ini terjadi karena masalah human agency dari masing-masing(jurnalis) yang berbeda posisi tawar ketika berhadapan dengan pemilik media atau kahada permasalahan lainnya.7. Penulis dapat mempertajam analisis mengenai alat kerja. Faktor alat kerja sangatpenting di sini, perlu ditanyakan, perangkat yang ada: kamera televisi, kamera foto,perekam itu siapa yang beli? Apakah dibelikan dari perusahaan atau diusahakansendiri? Bagaimana mengatur ‘kepemilikan’ perangkat kerja tersebut? Bagaimana puladengan smartphone? Apakah itu diusahakan sendiri oleh pekerja, atau disediakan olehperusahaan – dalam rangka mempermudah proses pengiriman berita. Juga perlu digali,adanya alat kerja baru ini apakah mengusir kemungkinan adanya pekerja lain, karenaada perangkapan tersebut?8. Mengenai kompensasi/honorarium, tidak disebutkan rincian angka, sehingga untukmengatakan beberapa kontributor mempunyai honorarium yang sama kurang validuntuk dinyatakan. Perlu juga dibahas lebih lanjut mengenai penggajian koresponden.Bukankah ada semacam honor basic dan honor berdasarkan produktivitas? Bagiamanaketerangan ini bisa diintegrasikan dalam tesis besar soal kesejahteraan dankonvergensi media.9. Pada saat menuliskan perbedaan ritme pekerjaan dari seorang jurnalis di tempatnyabekerja dulu dan sekarang, ada baiknya dapat dijabarkan perbedaan apa saja yangterjadi, dan dalam hal apa ada atau tiadanya perbedaan ritme pekerjaan,10. Pembahasan mengenai konvergensi akan lebih baik jika di lihat lebih jauh dalamkenyataannya, sejauh mana secara praktis konvergensi dapat berjalan. Jurnalis yangmeliput untuk tiga media sekaligus, apakah itu membodohi masyarakat atau tidak,membohongi masyarakat atau tidak, juga apakah hal ini membuat isi media seragamatau tidak?11. Ada pernyataan sebagai berikut: “Sejumlah tuntutan perubahan akibat konvergensi, ataumenuju konsep newsroom baru ini, diakui oleh para manajer MNC, Kompas, dan Tempo,mengubah cara kerja jurnalis, dan keahlian yang harus dimilikinya. Dengan perkembangan saatini, jurnalis mulai dituntut untuk memiliki keahlian lebih banyak. Jika ia wartawan cetak, ada LZ! !
  • 38. Aliansi Jurnalis Indepensi (AJI)kebutuhan agar dia juga bisa menulis untuk singkat dan cepat agar bisa mengisi untuk mediaonline, dan kalau perlu juga memiliki keahlian meliput menggunakan kamera video agar bisamengisi konten TV dan online dan membuat berita versi audio untuk radio.” Komentarpendamping: Dalam kenyataannya apakah hal ini dapat dilakukan? Dalam contoh apahal ini bisa dilakukan? Ekspedisi Cincin Api dari Kompas dilakukan lewat suatuperencanaan jangka panjang. Apakah hal ini bisa dilakukan untuk pencarian beritayang berkejaran dari menit ke menit?12. Mengenai tantangan dan kendala yang dihadapi beberapa grup media sepertiTempo dan MNC dalam melakukan konvergensi, penulis dapat melihat buku Here’s aPony Inside Somewhere yang menggambarkan bagaimana gagalnya merger yangdilakukan oleh Time Warner dan American Online, yang sempat disebut sebagai mergermedia paling besar dalam sejarah. Merger ini terjadi pada tahun 2000. L[! !