Jejak Darah Setelah Berita
Jejak Darah Setelah BeritaPenulis: Abdul Manan, SunudyantoroPeriset: Bambang Wiyono, Rofiqi Hasan, Dewi Umaryati, Miftakul...
Daftar IsiPengantar..........................................................................................................
iv | Jejak Darah Setelah Berita
PengantarBali bukan sekadar Pulau Dewata. Ia juga pulau tempatbersemayam Dewa-Dewi Keadilan dalam kasus pembunuhanwartawan...
Kasus pembunuhan terhadap Prabangsa yang terjadi padaFebruari 2009 menyedot perhatian masyarakat Pulau Dewata.Inilah kasus...
Diantaranya berita tentang dugaan korupsi pembangunanfasilitas pendidikan di lingkungan Dinas Pendidikan Banglisenilai 4 M...
kasus yang belum terungkap misalnya pembunuhan Fuad MSyarifuddin (Udin), wartawan Harian Bernas Yogya (1996),pembunuhan He...
BAB IMayat di Teluk Bungsil   PADA Februari 2009, ketika maut menjemputnya, AnakAgung Gde Bagus Narendra Prabangsa sudah 1...
Prabangsa menikah dengan Anak Agung Sagung Istri MasPrihantini pada 8 Januari 1995. Ia memiliki dua anak. Yangsulung perem...
istrinya untuk bekerja. Jarak antara rumahnya di Sanglah dankantor Radar Bali di Jl. Cokroaminoto Gang Katalia No. 26,Ubun...
Sekitar pukul 14.00 waktu Indonesia Tengah, giliranPutu Suyatra, wartawan Radar Bali lain, yang menghubungiPrabangsa. Suya...
itu memang ada acara nelubulanin (upacara adat Bali untukbayi berusia tiga bulan) anak salahsatu kerabatnya,” kata satusau...
ada nada panggil. Tapi Prabangsa tidak mengangkat telepon.   Tenggat semakin dekat. Dua halaman Dwipa yang menjaditanggung...
Denpasar, dia mengenakan kemeja putih dan celana jins sertamengendarai sepeda motor GL Pro. Sore hari sekitar jam 15.00,Pr...
Di lokasi yang disebutkan Muhari, tim berpencar mencarijejak jenazah. Tak sampai setengah jam, sosok mayat Prabangsaditemu...
Bali. Ketenangan Pulau Dewata terusik. Anggota DewanPerwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bali dan DPRD Denpasar,pejabat pemerin...
BAB IISejumlah Isyarat Prabangsa   PADA 16 Februari 2009 sore, Denpasar gerimis. Hujanturun rintik-rintik. Sekitar pukul 1...
berisi jenazah Prabangsa dikeluarkan, bau mayat menyengat.                            lll   DI dalam ruang otopsi, hanya k...
Malam itu juga, jenazah Prabangsa dipulangkan ke kampunghalamannya di Taman Bali, Bangli.   Keesokan paginya, 17 Februari ...
Seorang redaktur Radar Bali mengaku punya kebiasaanmencolek pinggang Prabangsa di kala tenggat naskahmendekat. Biasanya Pr...
BAB IIIPolisi Kehabisan Akal   DUA hari setelah mayat Prabangsa ditemukan, polisimemastikan bahwa wartawan itu tewas dibun...
Akhmad Nur Wahid.   Dalam waktu singkat, polisi bergerak cepat menghimpundata-data awal. Pemeriksaan saksi dan rekaman per...
kawan dekatnya, Prabangsa sempat terlibat jalinan asmaradengan seorang anggota staf DPRD Bali. Motif perselingkuhanini sem...
Sebulan setelah penemuan mayat Prabangsa, tim penyidikyang dipimpin Akhmad Nur Wahid sudah memeriksa belasansaksi. Menjela...
BAB IVTim Advokasi AJI   MENJELANG akhir Februari 2009, pada pekan-pekanpertama setelah mayat Prabangsa ditemukan di Teluk...
Herman menghubungi Bambang Wiyono. Dia mengaku inginbertemu Bambang untuk mendiskusikan kasus Prabangsa.Pucuk dicinta ulam...
dirangkul masuk tim, untuk memudahkan pemantauan kerjapolisi yang menyidik kasus ini.   Nama-nama anggota tim tak pernah d...
Berita pertama muncul pada 3 Desember 2008, berjudul“Pengawas Dibentuk setelah Proyek Jalan.” Isinya tentangkejanggalan da...
di Denpasar, pada akhir Februari dan awal Maret 2009 itu,memang cukup menghebohkan warga Bali. Perhatian publiktergeser da...
Faktor pertama, soal motif pembunuhan yang didugaterkait dengan perselingkuhan Prabangsa. Berdasarkananggapan itu, banyak ...
soal dugaan perselingkuhan Prabangsa. Tampaknya, parapeserta diskusi yakin, jika motif perselingkuhan tak terbukti,maka pa...
Prabangsa mulai berbuah. Dukungan untuk penyelesaian kasusini terus menggunung. Sejumlah organisasi seperti PersatuanWarta...
BAB VBukti Baru Muncul    KEGIGIHAN wartawan di Bali mengungkap kasuspembunuhan Prabangsa mulai menuai hasil. Sekeping dem...
terang mulai muncul.   Wartawan pun mulai menelisik latar belakang Susrama danmencari tahu apa saja kegiatan dan keseharia...
selalu ada di dekat Susrama kemanapun Susrama pergi. Diaseperti pengawal pribadi Nyoman Susrama. Tapi belakangandia menghi...
Di Tim Lima, masing-masing tim sudah punya tugas dankewajibannya masing-masing. Tim Lidik yang terdiri dari parareserse di...
sedangkan Susrama dikenal sebagai penguasa tak resmi yangkerap menentukan siapa pemenang tender-tender di Bangli.         ...
Jenazah Prabangsa tiba di RS Sanglah Denpasar setelah ditemukan di TelukBungsil Karangsem.Istri Prabangsa, Anak Agung Sagu...
Tim Labfor Polda Bali melakukan identifikasi mencari bercak darah dalam mobilKijang yang digunakan para tersangka mengangk...
Doa selamatan 100 hari meninggalnya Prabangsa di Sekretariat AJI Denpasardipimpin spiritualis BR Agus Indra Udayana dihadi...
Pimpinan media massa dan nara sumber turut hadir dalam doa selamatan 100hari meninggalnya Prabangsa di Sekretariat AJI Den...
Rekontruksi saat para tersangka menghajar Prabangsa disaksikan oleh Susramadi rumahnya di Banjar Petak, Bebalang, Bangli.R...
Rekontruksi saat para tersangka menyembunyikan mayat Prabangsa di salahsatu ruangan di rumah Susrama di Banjar Petak, Beba...
Rekontruksi saat Susrama memimpin pembuangan mayat Prabangsa ke laut.Rekontruksi saat para tersangka membuat mayat Prabang...
Tersangka utama kasus pembunuhan Prabangsa, Susrama diserahkan Polda Balike Kejati Bali untuk disidangkan.Perwakilan organ...
Jurnalis menggelar aksi keprihatinan dengan membagi-bagikan pita hitamkepada pengunjung PN Denpasar saat pertama sidang ka...
Susrama memberikan kesaksian pada sidang di PN Denpasar untuk terdakwalainnya.Kuasa Hukum Susrama, Suryadharma SH (baju ba...
BAB VIPertarungan Politik   EMPAT orang yang diduga terlibat dalam pembunuhanPrabangsa bukanlah orang sembarangan. Mereka ...
Wayan Wija, dan I Made Ngurah Alit6.   Kelompok pendukung Susrama pun menebar intrik untukmemecah konsentrasi Tim Advokasi...
Tim Advokasi Kasus Prabangsa harus berpikir kerasuntuk mencari strategi jitu, demi menangkal serangan balikkubu Susrama. M...
memang bagian dari Tim Advokasi Kasus Prabangsa yangdibentuk AJI Denpasar. Kebetulan Sudiantara juga kader PDIPyang punya ...
Ketika diberi waktu untuk berbicara, tokoh PDIP Bali,Cok Rat, menegaskan dukungannya pada upaya penuntasankasus pembunuhan...
BAB VIISang Dalang Terpojok   NYOMAN Susrama diperiksa polisi untuk pertama kalinyapada awal Mei 2009, sekitar tiga bulan ...
hasil tak terduga. Dalam satu operasi penggeledahan, polisimendapat durian runtuh. Mereka menemukan bekas cecerandarah yan...
Jl Ngurah Rai, Bangli. Tak mau membuang waktu, polisi jugamengirim tim untuk menggeledah rumah Rencana di DesaTusan, Kecam...
dipanggil polisi. Kali ini, meski masih berstatus saksi, Susramadidampingi 12 kuasa hukum sekaligus16. Rupanya dia sudahme...
Tersangka               Pekerjaaan                                Peran I Nyoman Susrama        Pengusaha, pemegang proyek...
terpakai di Banjar Petak, Bebalang, Bangli.   Dalam perjalanan, tangan Prabangsa sudah diikat kebelakang. Tak sampai seten...
dan menimbunnya dengan tanah dan pasir.   Sementara itu, Prabangsa yang pingsan tapi masih bernafas,digotong ke dalam ruma...
pembunuhan berencana. Ancaman hukumannya lebih berat:pidana mati atau pidana penjara seumur hidup.   Beberapa jam sebelum ...
Dari rekonstruksi ini pula, peran Susrama sebagai aktorintelektual di balik pembunuhan Prabangsa, kian terkuak.Semua pelak...
Akhmad Nur Wahid19.   Salahsatu pengakuan yang cukup telak datang dari Ida BagusMade Adnyana Narbawa alias Gus Oblong. Ket...
BAB VIIIDrama di Pengadilan   KEJAKSAAN Tinggi Bali mengadakan rapat gelar perkarakasus pembunuhan Prabangsa pada 18 Agust...
Bagi jaksa, kelengkapan alat bukti atas tiga aspek itu mutlakdiperlukan untuk menjerat para pelaku dengan Pasal 340tentang...
lll   SIDANG pertama pembunuhan wartawan Radar Bali,Anak Agung Gde Bagus Narendra Prabangsa, digelar padaKamis 8 Oktober 2...
keprihatinan. Belasan aktivis AJI membagikan pita hitam–yang kemudian diikatkan di lengan—untuk semua jurnalis,warga dan t...
semua dakwaan jaksa dan mengklaim dirinya tak bersalah. Diaminta dibebaskan dari semua tuduhan jaksa. Dalam eksepsinyayang...
mengaku membuat Berita Acara Pemeriksaan palsu. Sambilterbata-bata, dia mengaku tak tahan disiksa polisi. “Akhirnyasaya me...
Kholis yang menjadi penuntut umum dalam perkara Susrama,tetap tenang. “Kami masih punya segepok bukti, di antaranyakesaksi...
Rekayasa itu direncanakan pada Mei 2009, di rumah dinasBupati Bangli Nengah Arnawa. Mercadana dan Rajin datangke sana –ber...
kacamata,” katanya. Pengunjung sidang kontan ramai berbisik-bisik.   Tim pengacara Susrama berusaha keras mementahkanpenga...
berikutnya, Gus Oblong kembali pada kesaksiannya semula.Padahal baru dua pekan sebelumnya, salahsatu pelakupembunuhan Prab...
BAB IXMembongkar RekayasaHukum   REKAYASA demi rekayasa yang terbongkar di persidanganSusrama, membuat geram banyak pihak....
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa

1,155 views
1,127 views

Published on

Buku ini berkisah soal kasus terbunuhnya jurnalis Radar Bali, serta advokasi yang dilakukan AJI Denpasar dalam pengungkapan kasus tersebut.

Published in: News & Politics
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
1,155
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
35
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Jejak Darah Setelah Berita : Pembunuhan Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa

  1. 1. Jejak Darah Setelah Berita
  2. 2. Jejak Darah Setelah BeritaPenulis: Abdul Manan, SunudyantoroPeriset: Bambang Wiyono, Rofiqi Hasan, Dewi Umaryati, Miftakul HudaEditor: Wahyu DhyatmikaCover design and layout: J!DSGDiterbitkan oleh:Aliansi Jurnalis Independen (AJI) IndonesiaJl Kembang Raya No. 6, Kwitang, SenenJakarta Pusat 10420Email. office@ajiindonesia.orgWebsite: www.ajiindonesia.orgDidukung oleh
  3. 3. Daftar IsiPengantar.......................................................................................................... vBAB I - Mayat di Teluk Bungsil............................................................................1BAB II - Sejumlah Isyarat Prabangsa.................................................................10BAB III - Polisi Kehabisan Akal..........................................................................14BAB IV - Tim Advokasi AJI.................................................................................18BAB V - Bukti Baru Muncul...............................................................................26BAB VI - Pertarungan Politik.............................................................................41BAB VII - Sang Dalang Terpojok........................................................................46BAB VIII - Drama di Pengadilan.........................................................................56BAB IX - Membongkar Rekayasa Hukum..........................................................66 .BAB X - Vonis Susrama.....................................................................................70Wawancara Justin Maurits Herman, Pemimpin Umum Harian Radar Bali:“Saya Tidak Mengira Pembunuhan Itu Terkait Berita”........................................79BAB XI - Epilog Kisah Prabangsa......................................................................85
  4. 4. iv | Jejak Darah Setelah Berita
  5. 5. PengantarBali bukan sekadar Pulau Dewata. Ia juga pulau tempatbersemayam Dewa-Dewi Keadilan dalam kasus pembunuhanwartawan Radar Bali, Prabangsa. Pulau yang menuntun aparatpenegak hukum menjalankan tugas penegakan hukum dankeadilan secara paripurna. Karma itu bernama palu hakim. Diketok oleh HakimPengadilan Negeri Denpasar terhadap Ir. Nyoman Susrama,terdakwa utama pembunuh wartawan Radar Bali, Anak AgungNarendra Prabangsa.  “Menjatuhkan pidana hukuman penjara seumur hidup,”ujar Ketua Majelis Hakim, Djumain, dalam persidangan diPN Denpasar 15 Februari 2010. Susrama dijerat pasal 340KUHP jo 55 ayat 1, vonis hakim lebih ringan dari tuntutanJaksa yang menuntut hukuman mati. Selain Nyoman Susrama,Pengadilan Negeri Denpasar menghukum delapan terdakwalainnya dengan vonis penjara antara 8 bulan sampai 20 tahun.   Keluarga Prabangsa, komunitas pers, warga Bali bersyukuratas putusan Hakim PN Denpasar. Meskipun hukuman penjarabagi para pembunuh tidak mengembalikan nyawa Prabangsa,tapi keadilan setidaknya ditegakkan.  | v
  6. 6. Kasus pembunuhan terhadap Prabangsa yang terjadi padaFebruari 2009 menyedot perhatian masyarakat Pulau Dewata.Inilah kasus pembunuhan wartawan yang mendapat dukunganpublik dan komunitas. Dalam kasus Prabangsa inilah untukpertama kalinya, polisi, jaksa, hakim, bekerja berdasarkan azashukum dan rasa keadilan publik yang kuat. Biasanya publiknyinyir atau sinis terhadap aparat penegak hukum. Namununtuk kasus Prabangsa, publik berterima kasih kepada aparatkepolisian Polda Bali, aparat Kejaksaan, dan Majelis HakimPengadilan Negeri Denpasar.  lll Prabangsa menjalani karirnya sebagai wartawan RadarBali sejak 2003 sampai ajal menjemputnya pada 11 Februari2009. Sebelum ditemukan tewas, Prabangsa dilaporkanhilang oleh keluarganya ke Poltabes Denpasar. Beberapahari kemudian, sepeda motor motor korban ditemukan dikampung kelahirannya di Taman Bali, Kabupaten Bangli. Daripenelusuran diketahui, Prabangsa sempat pulang ke rumahnyasebentar, sebelum pergi ke tempat yang tidak diketahuisiapapun.  Kematian Prabangsa menyebar luas setelah petugas PolresKarangsem yang mengevakuasi jenazah korban dari perairanPadang Bai dan menemukan kartu pers Radar Bali dan SIM atasnama korban. Saat ditemukan, jenazah Prabangsa sudah rusakseperti bekas dianiaya. Polisi lalu menyimpulkan Prabangsatewas dibunuh, namun bukan disebabkan oleh pemberitaan. Kesimpulan awal polisi itu langsung mendapat tantanganketika rekan-rekan korban menyampaikan bahwa Prabangsapernah beberapa kali mengaku diancam orang tak dikenal.Polisi juga didorong untuk mengungkap motif pembunuhanPrabangsa dengan pemberitaan pers yang pernah ditulisnya.vi | Jejak Darah Setelah Berita
  7. 7. Diantaranya berita tentang dugaan korupsi pembangunanfasilitas pendidikan di lingkungan Dinas Pendidikan Banglisenilai 4 Miliar rupiah. Dengan dukungan publik yang kuat meliputi komunitaspers, masyarakat adat, kalangan politisi dan parpol, sampaipendukung di facebook, kasus Prabangsa pelan-pelanterungkap. Pada Mei 2009 atau tiga bulan sejak jenazahPrabangsa ditemukan, polisi menetapkan enam tersangkapembunuh Prabangsa. Mereka ialah Komang Gede, NyomanRencana, I Komang Gede Wardana, Dewa Sumbawa, Endy,serta dalang pembunuhan Nyoman Susrama, yang merupakanadik kandung Bupati Bangli.  Atas desakan publik dan komunitas pers pula polisimengumumkan barang bukti kejahatan meliputi celana korban,dua kendaraan yang dipakai membawa korban, karpet mobil,dan lain-lain. Yang terpenting dari itu semua : pengakuan paraterdakwa bahwa Prabangsa dibunuh di rumah Susrama diBanjar Petak, Bebalang, Bangli, pada 11 Februari 2009, sekitarpukul 16.30-22.30 waktu setempat.  Polisi menemukan, sebelum dibunuh Prabangsa dibujuk kerumah di Banjar Petak, lalu dipukul balok kayu. Dalam keadaansekarat tubuh Prabangsa dibuang ke laut. Wartawan Radar Baliitu akhirnya tewas dan mayatnya ditemukan beberapa harikemudian di perairan Padang Bai, Karangasem. lll Dalam lima belas tahun terakhir, Aliansi JurnalisIndependen (AJI) mencatat belasan wartawan Indonesiameninggal. Delapan diantaranya diduga dibunuh terkaitprofesinya sebagai wartawan. Satu kasus terungkap (Prabangsa),namun tujuh lainnya masih gelap sampai sekarang. Beberapa | vii
  8. 8. kasus yang belum terungkap misalnya pembunuhan Fuad MSyarifuddin (Udin), wartawan Harian Bernas Yogya (1996),pembunuhan Herliyanto, wartawan lepas harian RadarSurabaya (2006), kematian Ardiansyah Matrais, wartawanTabloid Jubi dan Merauke TV (2010), dan kasus pembunuhanAlfrets Mirulewan, wartawan Tabloid Mingguan Pelangi diPulau Kisar, Maluku Barat Daya (2010). Dalam waktu setahun aparat penegak hukum di PropinsiBali telah menuntaskan satu kasus pembunuhan penting.Di tengah tumpukan kasus pembunuhan wartawan yangbelum terungkap, kasus Prabangsa tercatat dalam tinta emaspenegakan hukum di Indonesia.  Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ingin menyumbangkanpengalaman komunitas pers dan masyarakat sipil dalammengungkap kasus kematian Prabangsa. Terima kasih kepadaSouth East Asia Press Alliance (SEAPA) di Bangkok atasdukungan konkretnya sehingga buku ini dapat ditulis danditerbitkan. Terima kasi juga kepada teman-teman AliansiJurnalis Independen (AJI) kota Denpasar, Harian Radar Bali,Harian Nusa Bali, masyarakat adat di Bali, para penulis, editor,dan semua pihak yang terlibat dalam penyusunan buku JejakDarah Setelah Berita.  Semoga buku ini bisa memberi manfaat kepada siapapunyang membacanya. Eko Maryadi Ketua Umum AJIviii | Jejak Darah Setelah Berita
  9. 9. BAB IMayat di Teluk Bungsil PADA Februari 2009, ketika maut menjemputnya, AnakAgung Gde Bagus Narendra Prabangsa sudah 14 tahun menjadiwartawan. Pria 41 tahun ini adalah sarjana Ilmu Sejarahlulusan Universitas Udayana, Denpasar. Karir jurnalistiknyadimulai pada 1995, dengan menjadi reporter Harian Nusa(kini berganti nama menjadi Harian Nusa Bali). Prabangsa hanya bertahan empat tahun di Nusa. Pada 1999,dia bergabung dengan tabloid lokal di Bali, Manggala. Di sana,dia sering menulis masalah-masalah spiritual seputar Bali.Baru setahun di Manggala, Prabangsa pindah lagi ke HarianRadar Bali. Radar Bali ketika itu baru berdiri. Sejak awal, anakperusahaan grup Jawa Pos itu bertekad merintis pasarpembaca baru di Bali. Pada tahun-tahun pertamanya di RadarBali, Prabangsa menjadi reporter yang meliput pemerintahandaerah dan DPRD. Dalam kesehariannya, Prabangsa ramah dan punya banyakteman. Nama panggilannya banyak. Di kalangan koleganyasesama wartawan, dia biasa disapa dengan nama Gungde,Agung, atau Asa. Nama terakhir adalah inisialnya dalam setiapberita yang dia tulis. | 1
  10. 10. Prabangsa menikah dengan Anak Agung Sagung Istri MasPrihantini pada 8 Januari 1995. Ia memiliki dua anak. Yangsulung perempuan, Anak Agung Istri Sri Hartati Dewandari,14 tahun. Anak keduanya laki-laki, Anak Agung Gde CandraDwipa, 12 tahun. Keluarga kecil itu tinggal di Jalan NusaKambangan, Sanglah, Denpasar. Sebagai jurnalis, pria kelahiran Bangli 20 Nopember 1968ini dikenal sebagai pekerja yang tekun dan telaten menyimpanarsip dan data. Mejanya penuh dengan dokumen dan hasilriset, meski berita yang terkait topik itu sudah rampung diatulis. “Suatu saat pasti dibutuhkan lagi,” katanya suatu ketika.Dia juga sering melawan arus, menulis isu yang tak banyakdiperhatikan jurnalis lain. Setelah sembilan tahun di Radar Bali, Prabangsa dipercayamenjadi redaktur yang menangani berita-berita daerah. Diabertanggungjawab mengelola halaman Dwipa 1 dan Dwipa 2,yang berisi berita-berita dari seluruh kabupaten di Bali. Selainmenyunting berita, Prabangsa juga bertugas merencanakanliputan dan mengkoordinir para reporter yang bekerja untukhalaman itu. Selain menyunting, Prabangsa sering turun sendiri menulisberita. Kebetulan Radar Bali tidak punya reporter di Bangli,daerah kelahiran Prabangsa. “Karena itu, dia sering menulissendiri berita-berita soal Bangli,” kata Justin Maurits Herman,Pemimpin Umum Radar Bali. “Dia merasa punya tanggungjawab moral meliput peristiwa-peristiwa penting di sana.” Tak seorang pun mengira, berita-berita itulah yang kelakjustru merenggut nyawa Prabangsa. lll Pada 11 Februari 2009 pagi, Prabangsa tidak pamit pada2 | Jejak Darah Setelah Berita
  11. 11. istrinya untuk bekerja. Jarak antara rumahnya di Sanglah dankantor Radar Bali di Jl. Cokroaminoto Gang Katalia No. 26,Ubung, memang cukup dekat. Prihantini, istri Prabangsa,tak mengingat kejanggalan apapun. Perempuan itu hanyamendengar sepeda motor GL Pro hitam Prabangsa menderumpergi. Dia tak sadar, pagi itu adalah hari terakhir dalamkehidupan suaminya. Sesampai di kantor, Prabangsa mulai bekerja sepertibiasa. Memberi penugasan pada reporter, menindaklanjutiperkembangan berita yang dimuat hari itu untuk edisi besokpagi. Mendekati jam makan siang, di luar kebiasaannya,Prabangsa menelepon Rai Warsa, Redaktur Pelaksana di koranitu. Hari itu, Rai mendapat jatah libur. “Dia telepon saya, lalu tiba-tiba minta tukar libur,” kataRai. Ketika permintaan disampaikan, hari sudah beranjaksiang –tak banyak lagi yang bisa dilakukan. Dan lagi Rai sudahkadung punya rencana lain hari itu. Permintaan Prabangsa punditolak. “Waktu saya bilang tidak bisa, dia hanya bilang, ‘Ya’.Begitu saja, lalu percakapan telepon kami berakhir,” kata Raimengenang. Tak berselang lama, Justin Herman menghubungiPrabangsa. “Saya menanyakan perkembangan Honda DeteksiBasketball League (DBL) yang diadakan koran kami,” kataPemimpin Umum Harian Radar Bali itu. Pada kompetisi bolabasket antar SMA yang diselenggarakan grup Jawa Pos itu,Prabangsa menjadi Sekretaris Panitia untuk kegiatan DBL diBali. Sehari sebelumnya, panitia lomba terpaksa mendiskualifikasisatu peserta dari SMA Negeri 2 Denpasar. “Saya telponPrabangsa untuk mengetahui reaksi SMA 2 pasca keputusanitu,” kata Justin. Mereka bercakap-cakap sebentar, sebelumJustin memutuskan pembicaraan. Justin tak mengira itupercakapan terakhirnya dengan Prabangsa. | 3
  12. 12. Sekitar pukul 14.00 waktu Indonesia Tengah, giliranPutu Suyatra, wartawan Radar Bali lain, yang menghubungiPrabangsa. Suyatra adalah Ketua Panitia kompetisi bolabasket DBL di Bali. Kali ini dia menelepon Prabangsa untukmenanyakan hal sepele: baut-baut meja rapat Radar Bali yanghilang. “Nyen mukak meja-meja di ruang rapat (siapa yang bukameja-meja di ruang rapat)?” tanya Suyatra. “Rage (aku),” jawab Prabangsa. Nada suaranya takbersemangat. “Baut-bautne dije (baut-bautnya dimana)?,” tanya Suyatralagi. “Tut..tut..tut…” mendadak sambungan telepon terputus,sebelum Prabangsa sempat menjawab. Suyatra mencobamenghubungi Prabangsa lagi beberapa kali, tapi tak berhasil.Meski terdengar nada panggil, Prabangsa tidak mengangkattelpon genggamnya. Suyatra adalah orang Radar Bali terakhiryang berbicara dengan Prabangsa semasa hidupnya. lll PADA siang yang nahas itu, tanpa sepengetahuan istrinyadi rumah dan tanpa pamit pada rekan-rekan sekerjanya dikantor, Prabangsa tengah memacu sepeda motornya ke arahBangli, kampung halamannya. Kedua orangtua dan sebagiankerabat keluarga besarnya memang masih tinggal di TamanBali, Bangli, sekitar 60 kilometer dari Denpasar. Menurut kesaksian sejumlah saudaranya, Prabangsa tibadi rumah orangtuanya pada pukul 13.00. Dia sempat hadirpada sebuah upacara adat di tanah kelahirannya itu. “Hari4 | Jejak Darah Setelah Berita
  13. 13. itu memang ada acara nelubulanin (upacara adat Bali untukbayi berusia tiga bulan) anak salahsatu kerabatnya,” kata satusaudara Prabangsa. Di tengah upacara, sekitar pukul 15.00, telepon genggamPrabangsa berdering. Dia berbicara cukup lama di telepon.Tak terdengar jelas apa yang dipercakapkan. Tak satupun yangingat nada suara atau mimik wajah Prabangsa ketika menerimapanggilan telepon itu. Yang jelas, setelah percakapan telepon itu berakhir, Prabangsabergegas pergi. Dia hanya sempat menitipkan sepeda motordi rumah orangtuanya, lalu menghilang. “Dia sempat bilangada janji menemui seseorang, tapi dia tidak bilang siapa,”kata satu kerabatnya. Dengan tergesa, Prabangsa berjalankaki meninggalkan rumah keluarga besarnya. Sosoknya raibdi sebuah lorong di antara rumah-rumah warga Taman Bali.Itu terakhir kalinya sanak saudara Prabangsa melihat pria itudalam keadaan hidup. lll PADA saat yang sama, di kantor Radar Bali, kesibukanawak redaksi mempersiapkan naskah berita untuk edisi besokmulai terasa. Suara tuts keyboard berkejar-kejaran, berlombamenyelesaikan berita sebelum tenggat naskah mendekat.Telepon berdering-dering, suara redaktur memberi perintah iniitu pada reporternya, wartawan berlarian mengejar konfirmasiterakhir agar berita aman diturunkan untuk dimuat keesokanharinya. Di tengah keriuhan khas ruang redaksi itu, Prabangsa taktampak. Sekitar pukul 20.00, seorang redaktur mencobamenghubungi telepon genggam Prabangsa. Teleponnya hidup, | 5
  14. 14. ada nada panggil. Tapi Prabangsa tidak mengangkat telepon. Tenggat semakin dekat. Dua halaman Dwipa yang menjaditanggungjawab Prabangsa harus segera diisi. Seorang redakturyang bertugas hari itu berinisiatif menghubungi Rai Warsa,penanggungjawab halaman Radar Bali. Rai sebenarnya liburhari itu. Tapi tak ada pilihan, halaman harus diisi dan koranharus terbit. Rai pun bergegas ke kantor, menggantikan tugasPrabangsa. Tak ada yang punya pikiran buruk apa pun soal Prabangsamalam itu. lll KEESOKAN harinya, 12 Februari 2009, Prihantinimenghubungi kantor Radar Bali, memberitahu kalau Prabangsabelum pulang. Justin Herman dan rekan sekerja Prabangsa diRadar Bali mulai merasa ada yang tak beres. Tak seorangpun tahu kemana Prabangsa pergi. Biasanyapasti ada kawan yang mendapat titipan pesan, atau setidaknyasempat dipamiti ketika Prabangsa pergi meliput peristiwa ataumenemui narasumber untuk wawancara. Kali ini berbeda: takada pesan apa-apa. Kecemasan perlahan merambat. Hari itujuga, mereka melapor ke polisi. Dua hari lewat tanpa kabar. Pada 14 Februari, Radar Balimemuat sebuah pengumuman soal hilangnya Prabangsa.Mereka berharap ada pembaca yang memberi informasimengenai raibnya rekan sekerja mereka. Bunyi pengumuman di Radar Bali selengkapnyaseperti ini: “Tinggalkan Rumah. Anak Agung Prabangsatelah meninggalkan rumah pada Rabu, 11 Februari 2009.Saat meninggalkan rumahnya di Jalan Nusa Kambangan,6 | Jejak Darah Setelah Berita
  15. 15. Denpasar, dia mengenakan kemeja putih dan celana jins sertamengendarai sepeda motor GL Pro. Sore hari sekitar jam 15.00,Prabangsa yang berambut cepak sempat mampir ke rumahibunya di Taman Bali, Bangli. Di sana, dia menitipkan sepedamotor lengkap dengan kunci dan helm. Kata keluarganya, soreitu Prabangsa menerima telepon dari seseorang dan langsungpergi. Sejak itulah Prabangsa tidak datang lagi ke rumah hinggaJumat malam kemarin. Bagi masyarakat yang menemukan,diharapkan mengontak keluarganya ke HP 08123817233atau ke nomor (0361) 417153. Atas perhatian semua pihak,keluarga menyampaikan terima kasih.” Dua hari kemudian, pada 16 Februari 2009, jenazahPrabangsa ditemukan di Teluk Bungsil, Karangasem. lll ADALAH Muhari, 45 tahun, nakhoda kapal PerdanaNusantara, yang berjasa menemukan jasad Prabangsa. Diasedang berlayar melintasi perairan tenang di Teluk Bungsil,dari Pelabuhan Lembar di Lombok, Nusa Tenggara Baratmenuju pelabuhan Padang Bai, Bali, ketika pandangan matanyatertumbuk pada sesuatu yang mengapung di laut lepas. Diaterkesiap. “Ada mayat,” pikirnya. Setelah mencatat titik koordinat penemuan mayat itu,Muhari bergegas memacu kapalnya ke darat. Di Padang Bai,dia segera melaporkan temuannya itu kepada SyahbandarPelabuhan, Made Sudiarta. Sebagai kepala pelabuhan, Madepunya otoritas menggerakkan armada polisi Airud dansejumlah kapal cepat (speedboat) di sana. Dia mengirim tigakapal ke titik koordinat yang disebutkan Muhari: satu kapalcepat berisi petugas pelabuhan, satu kapal ANS 024 milikAdministrasi Pelabuhan Padangbai dan satu kapal Polisi SatuanAirud yang juga diisi awak Bali Amateur Emergency Service. | 7
  16. 16. Di lokasi yang disebutkan Muhari, tim berpencar mencarijejak jenazah. Tak sampai setengah jam, sosok mayat Prabangsaditemukan. Lokasi penemuannya di koordinat 08.32.882lintang selatan dan 115.30.672 bujur timur, masih di kawasanperairan Teluk Bungsil1. Sesampai di darat, mayat itu langsung dibawa ke RumahSakit Umum Daerah (RSUD) Amlapura, Karangasem, untukdivisum. Ini prosedur standar untuk insiden macam itu. Disaku kiri belakang celana panjang korban, ditemukan sebuahdompet hitam. Isinya: Kartu Tanda Penduduk, Surat IjinMengemudi, Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) untuksepeda motor GL Pro, juga Kartu Anjungan Tunai Mandiri(ATM) dari Bank BNI. Semuanya atas nama Prabangsa. Hari itu, di RS Amlapura, Dr. Gusti Putra tengah bertugasdi bagian forensik. Dia yang melakukan visum atas jenazahPrabangsa. Dengan teliti, Gusti memeriksa sekujur tubuhPrabangsa dan mencatat sejumlah kejanggalan. Jelas ada bekaspenganiayaan fisik di sana sini. Kondisi jasad Prabangsa lebamdan membengkak. Dahinya remuk dan di lehernya ada lukalebam bekas jeratan tali. Siang itu juga, jasad Prabangsa dikirimke RS Umum Pusat Sanglah di Denpasar untuk pemeriksaanlebih lanjut. Sementara itu, berita penemuan mayat Prabangsa menyebardengan cepat. Semua media massa di Bali mendapat kabar ini.Ketika jenazah itu tiba di Denpasar, puluhan jurnalis sudahmenanti di pintu gerbang rumah sakit. Prihantini, keluargadan kolega Prabangsa di Radar Bali juga sudah tiba di ruangjenazah. Berita seorang jurnalis yang ditemukan tewas dengan luka-luka bekas penganiayaan, menghenyakkan banyak orang di1   Radar Bali, “Kami Berduka,” 17 Februari 2011.8 | Jejak Darah Setelah Berita
  17. 17. Bali. Ketenangan Pulau Dewata terusik. Anggota DewanPerwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bali dan DPRD Denpasar,pejabat pemerintah, advokat, aktivis LSM, berbondong-bondong datang ke RS Sanglah. Hari itu, ruang jenazah dijaga ketat puluhan polisi.Ketegangan terasa benar di antara kerumunan orang yangmenanti Prabangsa sore itu. Kesedihan dan kecemasan jugameruap. Berbagai pertanyaan muncul dan berujung pada satutanda tanya besar: siapa pembunuh Prabangsa. l | 9
  18. 18. BAB IISejumlah Isyarat Prabangsa PADA 16 Februari 2009 sore, Denpasar gerimis. Hujanturun rintik-rintik. Sekitar pukul 16.45 Waktu IndonesiaTengah, sebuah ambulans dengan sirene memekakkan telingamemasuki gerbang Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah.Di dalamnya, tubuh Prabangsa terbujur kaku terbungkuskantung jenazah plastik berwarna kuning menyala. Sejak beberapa jam sebelumnya, Instalasi Jenazah RSSanglah sudah penuh orang. Wartawan berkerumun,berkelompok di semua sudut. Polisi reserse berpakaian premanbertanya macam-macam ke semua orang yang mengakukenal Prabangsa. Tampaknya penyidikan sudah dimulai,meski belum resmi. Polisi belum mengumumkan apa benarsang wartawan tewas dibunuh. Semua orang menduga-duga,mereka-reka skenario dan motif di balik tewasnya Prabangsa.Fakta dan gosip berjalin-kelindan. Ambulans mendekat dan tanpa disuruh kerumunan didepan Instalasi Jenazah menyibak, memberi jalan. Sejuruskemudian mobil putih itu berhenti, dan dua petugas turun.Juru kamera dan fotografer mendekat, beringsut mencari sudutpengambilan gambar yang terbaik. Pintu belakang dibuka,kilatan blits kamera sambung menyambung, kantong kuning10 | Jejak Darah Setelah Berita
  19. 19. berisi jenazah Prabangsa dikeluarkan, bau mayat menyengat. lll DI dalam ruang otopsi, hanya keluarga Prabangsa yangdiperbolehkan masuk. Kepala Instalasi Kedokteran ForensikRSUP Sanglah, Dr. Ida Bagus Putu Alit DFM SpF dan KepalaPelayanan Forensik Dr. Dudut Rustyadi SpF memimpin prosespemeriksaan jenazah Prabangsa. Otopsi selesai setelah 90 menit. Hasilnya lebih spesifikketimbang pemeriksaan RS Amlapura, beberapa jamsebelumnya. Para dokter menyimpulkan Prabangsa tewasakibat penganiayaan. Dia masih hidup ketika tubuhnya yangpenuh luka diceburkan ke laut. Bekas penyiksaan terbukti daritemuan luka memar akibat pukulan benda tumpul pada wajah,termasuk luka terbuka di bagian kepala. Pergelangan tangankanan Prabangsa juga patah. Setelah otoposi selesai, Prihantini, istri Prabangsa,dipersilakan masuk ke ruang jenazah. Didampingi seorangkerabat, dia dipapah. Kakinya tampak lemas. “Benar ini jenazah suami saya?” tanya Prihantini kepadaseorang polisi yang berdiri di samping jenazah Prabangsa.Wajah pasangan hidupnya itu memang sudah tak bisa lagidikenali. “Benar Bu,” kata si polisi. Dia lalu menjelaskan bagaimanadia menemukan dompet korban di saku belakang celana.Dia juga menceritakan apa saja isi dompet Prabangsa ketikaditemukan. Prihantini terdiam lama. Wajahnya suram. “Ya sudah,”katanya pelan, seperti baru menemukan kata. “Saya percaya.”Beringsut pelan, dia berpaling, lalu keluar dari ruang jenazah. | 11
  20. 20. Malam itu juga, jenazah Prabangsa dipulangkan ke kampunghalamannya di Taman Bali, Bangli. Keesokan paginya, 17 Februari 2009, Harian Radar Baliterbit dengan kepala berita besar “Kami Berduka”. KematianPrabangsa diulas mendalam, termasuk reportase penemuandan otopsi jenazah jurnalis itu. Sejumlah kolega dan sahabatmenuliskan kesaksian soal perjalanan hidup Prabangsa. Pada bagian penutup, Radar Bali memuat sebuah doa pendekdalam bahasa Sansekerta, “Om Suargantu, Murcantu, Suniantu,Ya Namah Swadah.” Artinya: “Semoga dia mendapatkan Surga,mendapatkan Moksha, di Alam Kelepasan, di Alam Tuhan.” lll TAK ada yang menyangka Prabangsa akan pergi secepatitu. Keluarga, kolega dan sahabat-sahabatnya merasa begitukehilangan. Tapi ketika penyidikan polisi bergulir, dansejumlah orang diperiksa, perlahan-lahan mulai terungkapbahwa Prabangsa sebenarnya sudah menunjukkan sejumlahisyarat soal nasib buruk yang tengah menghampirinya. Isyarat pertama muncul dua pekan sebelum Prabangsamenghilang. Pembawaannya yang semula periang dan banyakbicara, mendadak berubah jadi pendiam. Seorang koleganyadi Radar Bali bercerita bagaimana perilaku Prabangsa begituberubah, ketika Panitia Honda Deteksi Basketball League(DBL), meninjau kondisi Gelora Olahraga Merpati, yangbakal jadi lokasi kompetisi itu. “Dia tak banyak bicara, sangatberbeda dari biasanya,” kata kawan Prabangsa itu. Sikapnya yang mendadak jadi pendiam itu juga terbawasampai ke kantor. Biasanya Prabangsa suka bercanda danselalu merespon lelucon rekan-rekan sekerjanya di Radar Bali.Dalam kondisi sesibuk apapun, dia selalu ceria.12 | Jejak Darah Setelah Berita
  21. 21. Seorang redaktur Radar Bali mengaku punya kebiasaanmencolek pinggang Prabangsa di kala tenggat naskahmendekat. Biasanya Prabangsa akan berseru, “Eh .. oke!”dengan wajah ramah. Dua hari sebelum Prabangsa hilang,sang redaktur --seperti biasa-- menyempatkan diri mencolekpinggang Prabangsa ketika melewati mejanya. Anehnya, ketikaitu, Prabangsa sama sekali tidak memberi respon. Bahkanmenoleh pun tidak. Dia seperti tenggelam dalam pikirannyasendiri. Seorang rekan lain punya cerita serupa. Dua-tiga pekansebelum menghilang, Prabangsa mengaku sering ketakutanmelihat jendela terbuka. “Beberapa hari sebelum menghilang,dia selalu takut bila ada jendela dibuka,” kata Soepojo,salah satu karyawan pracetak di Radar Bali. “Katanya takutditembak orang,” kata Soepojo2. Dia mengira Prabangsa hanyabercanda. Istri Prabangsa, Prihantini, juga punya kisah serupa. Sebelumhari kematiannya, Prabangsa beberapa kali bicara soal kematian.Pernah, tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan aneh, “Kalau sayameninggal, apakah kamu menikah lagi?” Prihantini yang kagetmendapat pertanyaan macam itu, memilih diam. Kali lain, Prihantini yang penasaran ditanya begitu, mencobamencaritahu isi hati Prabangsa. Tapi Prabangsa tidak menjawab.Dia hanya berujar pendek, “Sepertinya saya bakal mati duluan.” Beberapa kali, Prabangsa juga mendesak istrinya yang SarjanaSastra lulusan Universitas Udayana, untuk bekerja menjadiwartawan seperti dirinya. Alasannya, ekonomi keluarga akan lebihbaik jika pasangan suami-istri itu sama-sama bekerja. Toh keduaanak mereka sudah beranjak besar. Tapi Prihantini tak merespondesakan suaminya. Belakangan, dia baru sadar jika semua itu adalahisyarat Prabangsa yang mendekati ajal. l2   Radar Bali, idem. | 13
  22. 22. BAB IIIPolisi Kehabisan Akal DUA hari setelah mayat Prabangsa ditemukan, polisimemastikan bahwa wartawan itu tewas dibunuh. Penyidikanpun dimulai. Untuk mengendus siapa pelaku pembunuhankeji itu, polisi harus mencaritahu dulu motif pembunuhan.Kaitan antara kematian Prabangsa dan berita-berita yangditulisnya harus ditemukan. Selain itu, polisi juga membukakemungkinan Prabangsa tewas akibat urusan lain, yang tak adakaitannya dengan kegiatan jurnalistik. Sesuai lokasi penemuan jenazah, seharusnya PolresKarangasem yang menangani kasus kematian Prabangsa. Tapikarena keluarga sempat melaporkan kehilangan Prabangsake Polwiltabes Denpasar, maka polisi dari kedua wilayah itubekerjasama mengusut kasus ini. Tak sampai sepekan setelah polisi mengumumkan kematianPrabangsa akibat pembunuhan, Kapolda Bali Irjen Pol.Teuku Ashikin Husein, menugaskan tim khusus dari SatuanI Direktorat Reserse Kriminal Polda Bali untuk menanganilangsung kasus Prabangsa. Ini artinya penyidikan langsungditangani di level Polda, tak lagi oleh kesatuan polisi wilayahDenpasar dan Karangasem. Tim khusus penyidik dipimpinKepala Satuan I Direktorat Reserse Kriminal Polda Bali, AKBP14 | Jejak Darah Setelah Berita
  23. 23. Akhmad Nur Wahid. Dalam waktu singkat, polisi bergerak cepat menghimpundata-data awal. Pemeriksaan saksi dan rekaman percakapanterakhir Prabangsa via telepon menunjukkan bahwa diasengaja digiring ke “suatu titik”3, sebelum akhirnya dibunuh.Polisi juga memastikan bahwa ketika ditemukan, lokasimayat Prabangsa sudah bergeser sangat jauh dari lokasi awalketika dibuang. Kesimpulan itu diperoleh berkat bantuanBadan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yangmenyediakan data mengenai arah dan kecepatan angin dalamkurun waktu Prabangsa menghilang. Data BMKG membantupolisi melacak tempat pembuangan awal jenazah Prabangsa4. Yang sulit dalam proses penyidikan awal ini adalahmenemukan motif pembunuhan. Semua barang bukti yang adahanyalah yang melekat di tubuh Prabangsa ketika mayatnyaditemukan. Sayangnya isi dompet Prabangsa tak menceritakanapa-apa. Sebuah karcis yang nyaris tak terbaca semuladianggap sebagai bukti penting. Diduga karcis itu adalah tiketpenyeberangan kapal. Tapi setelah diperiksa dengan teliti,ternyata karcis itu hanya bekas karcis parkir sepeda motorPrabangsa di Denpasar yang terselip di dompetnya. Akhmad Nur Wahid sempat memerintahkan timnyauntuk memeriksa laut dimana mayat Prabangsa ditemukan.Kapal polisi berkeliling sampai radius satu kilometer dari titikpenemuan mayat untuk mencari bukti-bukti lain. Tapi hasilnyanihil. Informasi dari rekan-rekan sekerja Prabangsa juga sempatmenggeser fokus penyidikan ke arah lain. Menurut beberapa3 Bali Express, “Pembunuhan Prabangsa Sudah Direncanakan”, 21 Februari 2011.4 Berdasarkan informasi Tim Advokasi AJI, bukti percakapan telpon yang dimiliki polisi saat awal penanganan kasus ini hanya berupa nomor-nomor telpon yang dihubungi atau menghubungi Prabangsa. Lihat juga berita Vivanews berjudul “Mengapa Polisi Susah Mencari Pembunuhnya”, 1 April 2009. | 15
  24. 24. kawan dekatnya, Prabangsa sempat terlibat jalinan asmaradengan seorang anggota staf DPRD Bali. Motif perselingkuhanini sempat diyakini beberapa orang. Kapolda Bali, Irjen Ashikin Hussein, seolah memastikanhal itu ketika ditanya wartawan beberapa hari pasca penemuanmayat Prabangsa. “Korban tidak sedang menulis investigasitentang suatu kasus. Korban hanya editor di kantornya,” kataAshikin, ketika ditanya kemungkinan pembunuhan itu terkaitpemberitaan Prabangsa. “Kami sedang mengembangkan masalah-masalah lain, danmulai mengerucut,” kata Ashikin lagi ketika ditanya kemanaarah penyidikan polisi. Pernyataan itu kemudian ditafsirkansebagai penegasan bahwa polisi mulai yakin pembunuhanPrabangsa terkait kehidupan pribadi korban. Tapi belakangan bukti-bukti yang mengarah pada motifasmara itu dinilai tak cukup kuat. Polisi mengaku sudahmemeriksa sejumlah orang5 yang diduga punya kaitan denganmotif itu, dan tidak menemukan kaitan mereka dengankematian wartawan itu. Polisi kemudian berkonsentrasi pada hari terakhirPrabangsa di Bangli. Data di provider telepon seluler Prabangsamemastikan dia terakhir kali ada di sana. Sinyal teleponFlexinya terpantau di sekitar Bangli. Penyidik juga menemukanpetunjuk bahwa Prabangsa ada janji untuk bertemu denganseseorang di Bangli, sebelum kemudian menghilang. Berdasarkan petunjuk itu, polisi mengirim tim khusus keBangli. Mereka sempat menemukan dua bercak darah yangdiduga terkait pembunuhan Prabangsa. Tapi belakangantemuan itu ditepis karena ternyata bukan darah Prabangsa.5   Bali Express, “Hari Keempat Masih Belum Ada Tersangka”, 20 Februari 2009.16 | Jejak Darah Setelah Berita
  25. 25. Sebulan setelah penemuan mayat Prabangsa, tim penyidikyang dipimpin Akhmad Nur Wahid sudah memeriksa belasansaksi. Menjelang Maret 2009, polisi sudah memastikanpembunuhan Prabangsa tak terkait kisah asmaranya. Tapipetunjuk yang mengarah ke motif lain masih amat sumir. Polisiseperti kehabisan akal. Pada titik kritis itulah, Aliansi Jurnalis Independen (AJI)Denpasar, mulai mengambil peran. Dalam pernyataan persnyayang dikutip berbagai media, Ketua AJI Denpasar, BambangWiyono, mendesak polisi untuk menuntaskan penyidikanatas pembunuhan Prabangsa. “Kepolisian harus bekerja cepatmengungkap kasus ini. Bisa saja pembunuhan itu terkaitmasalah pribadi atau dugaan pemerasan, tapi yang pentingpolisi harus menemukan pelakunya dulu,” katanya. l | 17
  26. 26. BAB IVTim Advokasi AJI MENJELANG akhir Februari 2009, pada pekan-pekanpertama setelah mayat Prabangsa ditemukan di TelukBungsil, Karangasem, sejumlah wartawan di Denpasar mulaigelisah. Mereka ingin bergerak, menggalang dukungan untukmempercepat pengusutan, mencari bukti dan saksi tambahanuntuk membantu kerja polisi, tapi semua saling menunggu. Sampai akhirnya, pada 21 Februari 2009, Ketua AJIDenpasar Bambang Wiyono dan fotografer senior –yang jugaanggota AJI Denpasar-- Joko Sugianto, membahas masalahini pada sebuah diskusi ringan di Warung Soto Surabaya, Jl.Hayam Wuruk, Denpasar. Mereka menyadari pentingnya kasuspembunuhan Prabangsa diungkap sampai tuntas, mengingatini adalah kasus pembunuhan wartawan pertama di Bali padaera reformasi. Bambang dan Joko lalu mengajak Rofiqi Hassan,Koordinator Divisi Advokasi AJI Denpasar, untuk bergabungdalam diskusi itu. Setelah membahas berbagai aspek dari kasuskematian Prabangsa, mereka bertiga sepakat untuk menggagaspembentukan Tim Advokasi Kasus Prabangsa. Rofiqi dipilihmenjadi koordinator tim. Tanpa direncanakan, malam itu Direktur Radar Bali Justin18 | Jejak Darah Setelah Berita
  27. 27. Herman menghubungi Bambang Wiyono. Dia mengaku inginbertemu Bambang untuk mendiskusikan kasus Prabangsa.Pucuk dicinta ulam tiba, Justin pun bergabung. Diskusi santai itu terus berlanjut sampai dini hari. Diskusilebih banyak mendengarkan curhat dari Justin tentang kondisikantor Radar Bali dan keseharian Prabangsa, baik di kantormaupun kehidupan di luar kegiatan jurnalistiknya. Justin lebihbanyak bercerita tentang kisah asmara Prabangsa. Tim advokasiyang baru beberapa jam dibentuk AJI pun mulai mendapatasupan informasi dari Justin. Keesokan harinya, Rofiqi,Bambang dan Joko, mulai bergerilya mencari dukungan. Sejumlah tokoh yang berpengaruh di Bali dirangkul untukmenunjang kerja tim. AJI Indonesia, sebagai organisasi payungAJI Denpasar, langsung memberikan dukungan penuh. Dengancepat, keanggotaan tim membengkak. Advokat, aktivis LSM,politikus, pemuka agama, bahkan preman, bersedia masuk kedalam tim. Keberadaan anggota dengan aneka latar belakang inipenting untuk mengantisipasi berbagai masalah yang mungkinmuncul dalam proses pengusutan kasus Prabangsa. Anggotatim diminta aktif menggalang dukungan untuk pengungkapantuntas kasus Prabangsa. Tim juga bertugas menguatkanjejaring masyarakat sipil, untuk bersama-sama mendesakpolisi mempercepat penyidikan. Selain itu, anggota tim jugadiharapkan bisa memperkaya informasi soal latar belakangpembunuhan Prabangsa. Tim Advokasi juga mengajak sejumlah wartawan untukmenjadi bagian dari kerja mereka. Secara khusus, tim merekrutwartawan yang sering meliput di DPRD dan kantor GubernurBali –karena itulah wilayah kerja Prabangsa semasih hidupnya.Tim juga mengajak wartawan peliput wilayah Karangasemdan Bangli –karena Prabangsa ditemukan tewas di antarakedua kabupaten itu. Tak ketinggalan, wartawan kriminal juga | 19
  28. 28. dirangkul masuk tim, untuk memudahkan pemantauan kerjapolisi yang menyidik kasus ini. Nama-nama anggota tim tak pernah diumumkan kepadapublik. Tak semua anggota tim tahu siapa anggota lainnya.Sistem sel ini diterapkan untuk memudahkan akses informasitim advokasi ke sumber-sumber yang dianggap penting.Selain itu, aspek keselamatan anggota tim pada saat bergerakmenjalankan tugasnya, juga jadi pertimbangan. lll BEGITU resmi dibentuk, hampir setiap hari anggota timmelakukan diskusi dan koordinasi tentang hasil penggalianinformasi. Materi diskusi biasanya berkisar pada apa informasibaru yang berhasil didapat tim, bagaimana mengolah informasiitu menjadi berita, dan apa yang bisa dilakukan untukmembantu polisi bergerak lebih cepat dalam mengusut kasusini. Setiap informasi yang diolah di Tim Advokasi kemudianditeruskan pada wartawan-wartawan kriminal di berbagaimedia, sebagai bahan berita untuk ditelusuri lebih lanjut.Sekretariat AJI Denpasar, di Jl Pandu No 34 Denpasar, takpernah sepi dari diskusi soal pengusutan kasus Prabangsa. Salah satu tugas pertama Tim Advokasi adalah mempelajarisemua berita yang pernah ditulis Prabangsa, setidaknya selamaenam bulan terakhir sebelum dia dibunuh. Secara khusus,tim mencari berita-berita yang patut diduga bisa memicukemarahan seseorang. Hasil penelusuran Tim menemukan setidaknya ada tigaberita yang berpotensi memancing konflik dengan narasumber.Kebetulan, ketiga berita itu ditulis sendiri oleh Prabangsadan ketiganya berkaitan dengan Bangli, daerah kelahiranPrabangsa. Semuanya ditulis pada Desember 2008, sekitar duabulan sebelum Prabangsa hilang dan kemudian tewas.20 | Jejak Darah Setelah Berita
  29. 29. Berita pertama muncul pada 3 Desember 2008, berjudul“Pengawas Dibentuk setelah Proyek Jalan.” Isinya tentangkejanggalan dalam proyek pembuatan jalan di KabupatenBangli. Lalu ada lagi berita berjudul “Bagi-bagi Proyek PLDinas Pendidikan Bangli” yang ditulis sepekan kemudian,pada 8 Desember 2008. Keesokan harinya, Prabangsa menulisberita lanjutan soal dugaan korupsi di Dinas Pendidikan Banglidengan judul “SK Kadis Dinilai Cacat”. Ketiga berita itu menunjukkan Prabangsa sebenarnyatengah mengendus sebuah jejaring permainan manipulasianggaran negara di Pemerintahan Kabupatan Bangli. Diamungkin tahu siapa tokoh utama di balik sekelumit dugaankorupsi yang dia tulis. Anehnya, ketiga berita itu hanya muncul sekelebat padaDesember 2008, lalu mereda. Tampaknya penelusuranPrabangsa membentur tembok, atau dia memilih menyimpanisu itu untuk dikejar lebih dalam lain kali, jika waktunya lebihmemungkinkan. Patut diingat, Radar Bali tidak punya reporterdi Bangli, dan kegigihan Prabangsa membongkar kasus-kasusdi sana lebih didorong oleh kepedulian pribadinya sebagaibagian dari warga Bangli, selain karena dia sebagai redakturpenanggungjawab Halaman Bali Dwipa. Penemuan ketiga berita yang berpotensi menjadi sumbermasalah bagi Prabangsa ini menguatkan dugaan awal TimAdvokasi bahwa kematian wartawan itu terkait dengan beritayang dia tulis. Sayangnya, informasi yang sangat berharga initetap tak mempan memacu polisi bekerja lebih cepat. lll PADA saat bersamaan, polisi tengah disibukkan oleh duakasus besar. Terbongkarnya kasus di Koperasi KarangasemMembangun (KKM) dan pembunuhan sepasang suami istri | 21
  30. 30. di Denpasar, pada akhir Februari dan awal Maret 2009 itu,memang cukup menghebohkan warga Bali. Perhatian publiktergeser dan polisi pun harus membagi sumber dayanya untukmengejar penyelesaian dua kasus tersebut. Tim Advokasi menyadari bahwa diperlukan strategikhusus untuk memastikan kesungguhan polisi menuntaskanpengusutan kasus Prabangsa. Untuk itu, pada 28 Maret 2009,AJI Denpasar menggelar sebuah acara bertajuk ‘Doa Bersama40 Hari Tewasnya Prabangsa’ di sekretariat mereka. Acara itu memang dirancang untuk menggairahkankembali pemberitaan seputar kasus Prabangsa. Tim Advokasimenyadari bahwa polisi juga memantau pemberitaan media.Kasus yang disoroti oleh publik, mau tak mau, akan mendapatperhatian lebih. Semua elemen masyarakat sipil dan penegak Hak AsasiManusia diundang pada acara itu. Ada aktivis LembagaBantuan Hukum (LBH) Bali, Perhimpunan Bantuan HukumIndonesia (PBHI) Bali, Bali Corruption Watch (BCW), sertajajaran pengurus organisasi advokat di Bali. Puluhan jurnalisdari Denpasar dan sekitarnya juga hadir sebagai solidaritasuntuk Prabangsa. Acara dibuka dengan pembacaan doa oleh Ketua BaliCorruption Watch Putu Wirata Dwikora. Setelah itu, diskusimengenai kasus Prabangsa dibuka. Secara khusus, moderatordiskusi meminta semua hadirin memmberikan pendapat soallangkah strategis apa yang perlu dilakukan untuk mendorongpengungkapan kasus pembunuhan Prabangsa. Dari pertemuan itu, terungkap fakta penting. Ternyata adakeengganan dari sebagian jurnalis dan media massa di Baliuntuk terus mengangkat kasus kematian Prabangsa. Ada duafaktor yang menyebabkan keengganan itu muncul.22 | Jejak Darah Setelah Berita
  31. 31. Faktor pertama, soal motif pembunuhan yang didugaterkait dengan perselingkuhan Prabangsa. Berdasarkananggapan itu, banyak media tak ingin terlibat lebih jauh padakasus pembunuhan yang motifnya terkait hal pribadi. Faktorkedua adalah munculnya motif pemerasan, yang berujungpada pembunuhan. Meski tak bisa diverifikasi, kabar burungsoal adanya pemerasan oleh Prabangsa ini santer beredar. Inimembuat banyak media memilih bersikap pasif saja, tidak ikutmendorong pengusutan kasus Prabangsa. Untuk menyikapi situasi ini, AJI Denpasar mengundangsemua pemimpin redaksi media massa di Bali pada akhirMaret 2009 di di Restoran Bali Bakery, Jl. Hayam Wuruk,Denpasar. Semua petinggi media massa hadir dalam acara itu.Ada Emanuel Dewata Oja (Pemimpin Redaksi Harian FajarBali), Dewa Sastra (Pemimpin Redaksi Patroli Post – sekarangBali Tribun), Joko Purnomo (Redaktur Pelaksana PatroliPost), I Gusti Made Dwikora Putra (Pemimpin Redaksi WartaBali), I Gusti Putu Ardita (Penanggungjawab Metro Bali –sekarang Bali Expres), Made Suadnyana (PenanggungjawabDenpasar Post – Kelompok Media Bali Post), Made Rai Warsa(Penanggungjawab Radar Bali), dan Justin Herman (DirekturRadar Bali –sekarang Pemimpin Umum Radar Bali). AJI juga mengundang dua advokat senior yang tergabungdalam Tim Advokasi: Nyoman Sudiantara SH (Ketua KongresAdvokat Indonesia Cabang Bali) dan Ari B Sunardi SH. DariAJI Denpasar ada Bambang Wiyono (Ketua), Rofiqi Hasan(Koordinator Divisi Advokasi) dan Joko Sugianto (AnggotaDivisi Advokasi). Seperti sudah diduga, pertemuan itu diwarnai debat sengitsoal motif dan pemicu pembunuhan Prabangsa. Sebagian besarpemimpin redaksi media massa yang hadir, yakin Prabangsadibunuh karena melakukan pemerasan. Keyakinan ini menguatsetelah hasil penyelidikan polisi tak menemukan titik terang | 23
  32. 32. soal dugaan perselingkuhan Prabangsa. Tampaknya, parapeserta diskusi yakin, jika motif perselingkuhan tak terbukti,maka pastilah penyebab pembunuhan adalah pemerasan. Pada diskusi itu, Rai Warsa dan Justin dari Radar Balimengaku sudah menelusuri berita-berita yang ditulis Prabangsasebulan sebelum kematiannya, dan tidak menemukan beritayang potensial membahayakan dirinya. Mereka tidak tahubahwa berita yang memicu pembunuhan itu, ditulis Prabangsapada Desember 2008, dua bulan sebelum kematiannya. Perdebatan sore itu nyaris saja gagal menemukan titiktemu. Jika motifnya perselingkuhan atau pemerasan, mediamassa di Bali tak mau terlibat mendorong penyelesaiankasus ini. Dengan kata lain, jika motifnya non-jurnalistik,maka pemberitaan terhadap kasus pembunuhan Prabangsaseharusnya tak berbeda dengan pemberitaan kasus-kasuspembunuhan yang lain. Di akhir pertemuan, AJI Denpasar menawarkan jalantengah. Bambang Wiyono, Rofiqi Hassan dan Joko Sugianto,memohon agar para pemimpin redaksi memberi perhatian padaproses kerja polisi mengungkap kasus pembunuhan Prabangsaini, tanpa terlebih dahulu menilai apa motif pembunuhan.“Yang penting, pembunuhan ini harus diungkap dulu, apa punpemicunya, siapa pun pelakunya,” kata Bambang. Kompromi ini disepakati semua yang hadir. Pesertapertemuan itu juga sepakat untuk menjadikan AJI Denpasarsebagai media center untuk mengolah informasi dan isupemberitaan terkait Prabangsa. Sejak saat itu, setiap hari AJIDenpasar membuat press release berisi isu dan tema pemberitaansoal Prabangsa ke semua media massa di Bali. Sejak itulah,berita-berita mengenai perkembangan pengusutan kasusPrabangsa mulai rutin dimuat kembali. Perlahan tapi pasti, kerja-kerja Tim Advokasi Kasus24 | Jejak Darah Setelah Berita
  33. 33. Prabangsa mulai berbuah. Dukungan untuk penyelesaian kasusini terus menggunung. Sejumlah organisasi seperti PersatuanWartawan Indonesia-Bali, Persatuan Wartawan Indonesia(PWI) Reformasi, Perhimpunan Jurnalis Independen-Bali,Persatuan Wartawan Multi Media-Bali, dan Ikatan JurnalisTelevisi Indonesia-Bali sepakat membentuk Solidaritas JurnalisBali untuk ikut mengawal kasus Prabangsa. l | 25
  34. 34. BAB VBukti Baru Muncul KEGIGIHAN wartawan di Bali mengungkap kasuspembunuhan Prabangsa mulai menuai hasil. Sekeping demisekeping, informasi seputar siapa pelaku pembunuhan itumulai terkumpul. Jurnalis-jurnalis dari berbagai media di Balirajin mendekati satu demi satu sumber-sumber yang didugatahu soal konstelasi politik di Bangli. Penemuan tiga berita yang ditulis Prabangsa pada Desember2008 soal korupsi di Dinas Pendidikan Kabupaten Bangli,menjadi petunjuk awal buat para jurnalis. Mereka mulaimenghubungi sumber-sumber di lingkungan pegawai negeridan pejabat di Bangli yang tahu soal korupsi Dinas Pendidikandan proyek-proyek pemerintah yang sedang dikerjakan disana. Pada awal April 2009, sejumlah wartawan mulai mengetahuiperan besar Nyoman Susrama, adik kandung Bupati BangliI Nengah Arnawa, dalam berbagai proyek pembangunan dikabupaten itu. Susrama adalah seorang kontraktor, yang seringmemenangkan tender pembangunan dan pengadaan di dinas-dinas maupun instansi pemerintah lain di Bangli. Salahsatu berita korupsi yang ditulis Prabangsa adalah soalproyek Susrama di Dinas Pendidikan Kabupaten Bangli. Titik26 | Jejak Darah Setelah Berita
  35. 35. terang mulai muncul. Wartawan pun mulai menelisik latar belakang Susrama danmencari tahu apa saja kegiatan dan keseharian tokoh ini. Daribeberapa sumber, terungkaplah bahwa Susrama belum lamaini terburu-buru memindahkan mobil Kijang Rover miliknyake Yogyakarta. Mobil Kijang warna merah bernomor polisi B 8888 APrupanya diserahkan kepada saudaranya yang bekerja di DinasPerhubungan Yogyakarta. Supir Susrama, Endi Mashuri,khusus diminta membawa mobil itu sampai ke Yogya. Beberapa informan lain juga bercerita bahwa saudaratiri Prabangsa, Anak Agung Ayu Rewati, ternyata bekerjauntuk Susrama di perusahaan air minum kemasan “Sita”,milik Pemerintah Kabupaten Bangli. Meski perusahaan ituberstatus badan usaha milik kabupaten, namun sehari-haripengelolaannya berada di tangan adik sang Bupati. Nah, Rewati belum lama ini mengundurkan diri dariperusahaan itu karena tersinggung dengan tindakan Susrama.Ketika Prabangsa meninggal dunia, Susrama sama sekali tidakhadir pada upacara pemakaman. Bahkan tak satu pun karyawandan manajemen perusahaan air minum itu yang menampakkanbatang hidungnya di rumah duka. Ini jelas di luar adat kebiasaan yang berlaku. Biasanya jika adasanak keluarga karyawan yang meninggal dunia, perusahaanpasti mengirim wakil untuk datang dan memberikan bantuanala kadarnya. Saking marahnya, Rewati tak mau lagi bekerjauntuk Susrama. Cerita soal ini menyebar dari mulut ke mulutdan akhirnya sampai ke telinga para wartawan. Selain Rewati, ada satu orang lagi yang tak lagi nampakbersama Susrama setelah Februari 2009. Orang itu adalahKomang Gede Wardana alias Mangde. Sebelumnya, Mangde | 27
  36. 36. selalu ada di dekat Susrama kemanapun Susrama pergi. Diaseperti pengawal pribadi Nyoman Susrama. Tapi belakangandia menghilang. Tak hanya itu, penelusuran lain menemukan bahwa sekitarakhir Februari 2009, Susrama mengadakan upacara Mecarudi rumahnya di Banjar Petak, Desa Bebalang, Bangli. UpacaraMecaru adalah upacara adat di Bali untuk membersihkanrumah dan pekarangan dari roh jahat atau dari kekotoran akibattindakan tertentu. Upacara itu menjadi aneh karena menurutwarga sekitar, rumah Susrama di Banjar Petak itu selama inidikenal kosong. lll KEPINGAN informasi yang dikumpulkan oleh TimAdvokasi Kasus Prabangsa ini menjadi amunisi untuk terusmenekan polisi. Berkat kesepakatan para pemimpin redaksimedia massa di Bali Bakery, tekanan gencar juga muncul setiaphari di media massa. Polisi dituntut untuk menindaklanjutibukti-bukti awal tersebut. Tuntutan jurnalis Bali ini rupanya direspon positif olehpolisi. Polda Bali membentuk Tim Lima untuk menelusurilebih jauh kasus pembunuhan Prabangsa. Sesuai namanya,Tim Lima ini terdiri dari lima satuan kecil yakni Lidik, Sidik,IT (Information and Technology), Labfor Identitifikasi, danLabfor Kedokteran. Total anggota tim mencapai 77 orang.Komandan Tim tetap ada di tangan AKBH Akhmad NurWahid. Setiap hari, Tim Lima harus melaporkan perkembanganpenyidikan kepada Kapolda Bali, Irjen Ashikin Husein. Selain membentuk Tim Lima, Kapolda Bali juga menyetujuiketerlibatan Densus 88/Anti Teror dan Bagian Intelijen danKeamanan (Intelkam) Polda Bali dalam penanganan kasusini.28 | Jejak Darah Setelah Berita
  37. 37. Di Tim Lima, masing-masing tim sudah punya tugas dankewajibannya masing-masing. Tim Lidik yang terdiri dari parareserse di lapangan misalnya, bertugas mengumpulkan semuainformasi yang terkait pembunuhan Prabangsa. Informasi daritim ini diberikan kepada tim Sidik yang bertugas mempertajammotif pembunuhan dan membuat daftar orang-orang yangdiduga terkait dengan pembunuhan ini. Tim Sidik jugabertugas melakukan pemeriksaan dan interogasi atas orang-orang yang diduga terlibat. Tim IT bertugas mengendus isi komunikasi telepon danpertukaran pesan terakhir Prabangsa melalui telepon selulerFlexi miliknya. Untuk kepentingan penyidikan, sejumlahtelepon seluler orang-orang yang dicurigai terlibat dalam kasusini, juga diperiksa. Kerja Tim IT-lah yang kemudian menjadi kunci awalyang membuka tabir misteri kasus pembunuhan ini. Tim inimenemukan sejumlah bukti --berupa pesan pendek maupunisi percakapan telepon-- antara Prabangsa dengan sejumlahorang yang belakangan ditetapkan menjadi tersangka dalamkasus pembunuhan ini. “Intinya mereka minta agar Prabangsatidak lagi menulis soal kasus-kasus korupsi di Bangli. Merekaminta agar pemberitaan soal kasus tersebut dihentikan,” kataAkhmad Nur Wahid, komandan Tim Lima. Sejak bukti percakapan dan pesan pendek itu ditemukan,penyidikan polisi mulai mengarah pada orang-orang tertentudi Bangli. Mereka adalah Kepala Dinas Pendidikan Bangli, AnakAgung Ngurah Samba, dan keponakannya, Anak AgungSastrawan. Polisi juga mulai mencari kaitan pembunuhanini dengan Nyoman Susrama, adik Bupati Bangli, dan kawandekat sekaligus pengawalnya, Nyoman Wiradnyana aliasRencana. Sastrawan adalah kontraktor yang mengerjakanproyek pembangunan sekolah di Dinas Pendidikan Bangli, | 29
  38. 38. sedangkan Susrama dikenal sebagai penguasa tak resmi yangkerap menentukan siapa pemenang tender-tender di Bangli. l30 | Jejak Darah Setelah Berita
  39. 39. Jenazah Prabangsa tiba di RS Sanglah Denpasar setelah ditemukan di TelukBungsil Karangsem.Istri Prabangsa, Anak Agung Sagung Istri Mas Prihantini dipapah oleh kerabatmemasuki ruang mayat RS Sanglah usai diberitahu jika suaminya ditemukandalam kondisi tewas. | 31
  40. 40. Tim Labfor Polda Bali melakukan identifikasi mencari bercak darah dalam mobilKijang yang digunakan para tersangka mengangkut mayat Prabangsa untukdibuang ke laut.Kapolda Bali Irjen Teuku Asikin Husein (kiri) jumpa pers di Mapolda Balimembeber barang bukti pembunuhan yang didapat polisi.32 | Jejak Darah Setelah Berita
  41. 41. Doa selamatan 100 hari meninggalnya Prabangsa di Sekretariat AJI Denpasardipimpin spiritualis BR Agus Indra Udayana dihadiri Ketua DPD PDIP Bali Cok Rat(3 dari kiri) dan sesepuh Sandi Murti Gusti Ngurah Harta (2 dari kanan).Anggota DPD RI Kadek ‘Lolak’ Arimbawa (depan kiri), Dewan Penasihat PartaiDemokrat Bali Pasek Suardika (kiri belakang), Nyoman Sudiantara (2 darikanan) serta sejumlah tokoh hadir dalam doa selamatan Prabangsa di halamanSekretariat AJI Denpasar. | 33
  42. 42. Pimpinan media massa dan nara sumber turut hadir dalam doa selamatan 100hari meninggalnya Prabangsa di Sekretariat AJI Denpasar.Warga Bangli tumpah ruah di sekitar rumah Susrama di Banjar Petak, Bebalang,Bangli menyaksikan jalannya rekontruksi pembunuhan terhadap Prabangsa.34 | Jejak Darah Setelah Berita
  43. 43. Rekontruksi saat para tersangka menghajar Prabangsa disaksikan oleh Susramadi rumahnya di Banjar Petak, Bebalang, Bangli.Rekontruksi saat Susrama memukul Prabangsa menggunakan balok kayu hinggaterjatuh disaksikan para tersangka lainnya di rumah Susrama di Banjar Petak,Bebalang, Bangli. | 35
  44. 44. Rekontruksi saat para tersangka menyembunyikan mayat Prabangsa di salahsatu ruangan di rumah Susrama di Banjar Petak, Bebalang, Bangli sesaat setelahdihabisi.Rekontruksi saat para tersangka memasukkan mayat Prabangsa ke dalam mobilkijang untuk dibawa dibuang ke laut.36 | Jejak Darah Setelah Berita
  45. 45. Rekontruksi saat Susrama memimpin pembuangan mayat Prabangsa ke laut.Rekontruksi saat para tersangka membuat mayat Prabangsa ke lautmenggunakan kapal tongkang. | 37
  46. 46. Tersangka utama kasus pembunuhan Prabangsa, Susrama diserahkan Polda Balike Kejati Bali untuk disidangkan.Perwakilan organisasi profesi jurnalis yang tergabung dalam Solidaritas JurnalisBali (SJB) menemui Ketua PN Denpasar Djumain (2 kiri) sebelum sidang kasuspembunuhan Prabangsa digelar, meminta hakim bekerja profesional agar sidangberjalan lancar.38 | Jejak Darah Setelah Berita
  47. 47. Jurnalis menggelar aksi keprihatinan dengan membagi-bagikan pita hitamkepada pengunjung PN Denpasar saat pertama sidang kasus pembunuhanPrabngsa digelar. Terdakwa Susrama di tahanan PN Denpasar menunggu diadili. | 39
  48. 48. Susrama memberikan kesaksian pada sidang di PN Denpasar untuk terdakwalainnya.Kuasa Hukum Susrama, Suryadharma SH (baju batik berkacamata) usai divonisbersalah melanggar kode etik advokat oleh Majelis Kehormatan PersatuanAdvokat Indonesia (Peradi) karena mengarahkan para saksi untuk berbohong.40 | Jejak Darah Setelah Berita
  49. 49. BAB VIPertarungan Politik EMPAT orang yang diduga terlibat dalam pembunuhanPrabangsa bukanlah orang sembarangan. Mereka adalahpejabat dan orang yang ditakuti dan dikenal berpengaruh diBangli. Susrama juga politikus Partai Demokrasi IndonesiaPerjuangan (PDIP). Di tengah penyidikan kasus ini, Pemilihan Umum digelarpada 5 April 2009. Susrama mencalonkan diri menjadi anggotaDewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangli. Istrinya,Hening Puspitarini, juga mencalonkan diri menjadi anggotaDPRD Bali. Keduanya maju dari PDIP. Sadar tengah dibidik polisi, Susrama pun memainkan kartupolitiknya. Dia membentuk tim kuasa hukum yang terdiri daripara advokat yang juga pengurus teras PDIP di Bali. Merekaadalah Wayan Yarmada SH (Wakil Ketua DPD PDIP BaliBidang Hukum dan HAM), Made Suparta (Anggota TimHukum dan HAM DPD PDIP Bali) dan Pande Parwata(Sekretaris DPC PDIP Gianyar). Selain mereka, juga adaNyoman Wisnu, Suryadharma, Ngakan Putra Adnyana, KetutPartha, I Gede Putu Adi Mulyawan, I Gede Astawa, Sukirman, | 41
  50. 50. Wayan Wija, dan I Made Ngurah Alit6. Kelompok pendukung Susrama pun menebar intrik untukmemecah konsentrasi Tim Advokasi AJI. Mereka menudingSolidaritas Jurnalis Bali yang getol mendorong pengusutankasus Prabangsa ditunggangi oleh kepentingan lawan politikPDIP. Dibuatlah kesan seolah-olah pengusutan Susramadidalangi oleh motif politik untuk menggembosi kekuatanPDIP di Bangli. Upaya Susrama untuk menggeser kasus ini dari ranahhukum menjadi ranah politik didukung pula oleh manuverkakaknya, Bupati Bangli Nengah Arnawa. Ada kabar Arnawasudah menghadap Ketua DPP PDIP Megawati Soekarnoputriuntuk meminta perlindungan politik. Konon di hadapanMegawati, Arnawa bersumpah bahwa dia dan keluarganyamenjadi korban fitnah belaka. Di media massa, sang Bupati bahkan berani bersumpahdi Catur Desa dan Catur Setra (kuburan) untuk meyakinkanbahwa keluarganya tak terkait pembunuhan Prabangsa7. Upaya Susrama yang begitu gencar itu pun perlahanmembuahkan hasil. Penyidikan sempat tak berkembang.Polisi kelihatan ragu berhadapan dengan kekuatan politikyang begitu dominan. Mengusik PDIP di Bali memang punyakonsekuensi tidak ringan. Enam dari sembilan kabupaten dankota di Bali dipimpin kepala daerah dari PDIP8. Hampir semuaDPRD juga dikuasai kader partai banteng. Jika semua strukturpartai itu bersatu membela Susrama, polisi bakal kesulitan.6   ara pengacara ini muncul mendampingi Nyoman Susrama saat ia diperiksa pertama kali oleh P penyidik di Polda Bali, 19 Mei 2009.7   Lihat berita Metro Bali, “Bupati Arnawa Nantang Diperiksa Tanpa Izin SBY,” edisi 29 Mei 2009.8   epala Daerah di Bali yang berasal dari PDIP adalah Bupati Jembrana, Tabanan, Denpasar, K Buleleng, Klungkung, dan Bangli. Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, juga diusung oleh PDI Perjuangan.42 | Jejak Darah Setelah Berita
  51. 51. Tim Advokasi Kasus Prabangsa harus berpikir kerasuntuk mencari strategi jitu, demi menangkal serangan balikkubu Susrama. Mereka akhirnya sepakat untuk memisahkanSusrama dari benteng perlindungan partainya. Hanya dengancara itulah, polisi bisa leluasa memeriksa orang kuat di Bangliitu. Setelah strategi itu disepakati, sejumlah pentolan AJIDenpasar mulai mendekati kader-kader dan pemimpinPDIP di Bali dan di Jakarta. Upaya lobi ini dilancarkan untukmeyakinkan PDIP bahwa kasus Susrama tidak ada hubungannyadengan politik, melainkan murni kasus kriminal9. Pasca pendekatan Tim Advokasi itu, mulai muncul suaradari kader PDIP yang meminta Partai Banteng menjauhkandiri dari Susrama dan kasus pembunuhan Prabangsa. Merekaberalasan, suara PDIP dan peluang Megawati dalam PemilihanPresiden Juli 2009 bisa terganggu jika nama PDIP selaludikaitkan dengan kasus pembunuhan wartawan. Tapi permintaan itu tidak ditanggapi kubu Susrama. Kuasahukum Susrama, Wayan Yarmada, yang juga Ketua DPD PDIPBali Bidang Hukum dan HAM, secara terbuka menolak untukmundur dari barisan pembela Susrama. Dia mengaku hanyamau mundur jika mendapat perintah langsung dari KetuaUmum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Sekjen PDIPerjuangan Pramono Anung, Ketua DPD PDI PerjuanganBali AA Ngurah Oka Ratmadi atau Sekretaris DPD PDIP Bali,Nyoman Parta. Masalah krusial ini akhirnya selesai setelah advokat senioryang juga Ketua Kongres Advokat Indonesia (KAI) Bali,Nyoman Sudiantara, turun tangan. Sejak awal Sudiantara9   ejumlah tokoh PDI Perjuangan yang didekati AJI Denpasar adalah: Ketua DPD PDIP Bali AA S Agung Ngurah Oka Ratmadi yang juga Ketua DPRD Bali, Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPD PDIP Bali, Nyoman Adi Wiryatama yang juga Bupati Tabanan; serta Wakil Ketua Bapilu Nyoman Dhamantra. Jajaran pengurus DPP PDIP di Jakarta dan DPC PDIP Bangli pun didekati. | 43
  52. 52. memang bagian dari Tim Advokasi Kasus Prabangsa yangdibentuk AJI Denpasar. Kebetulan Sudiantara juga kader PDIPyang punya jabatan cukup penting dalam struktur partai. Diaadalah bagian dari Badan Pemenangan Pemilu DPC PDIPDenpasar. Berkat pendekatan Sudiantara, satu demi satu kader danpengurus PDIP yang terlibat dalam tim kuasa hukum Susramamengundurkan diri. Gerakan politisasi tindak kriminalSusrama berhasil dimentahkan. Ketika Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presidendigelar di Bangli, April dan Juli 2009, prediksi Tim AdvokasiKasus Prabangsa terbukti akurat. Keputusan PDIP untukmenjauhkan diri dari Susrama berdampak positif. Suara PartaiBanteng sama sekali tak terusik, bahkan melonjak. Pada pemilihan umum legislatif, perolehan suara PDIPerjuangan di Kabupaten Bangli naik menjadi 62.330 suara.Sedangkan pada pemilihan umum presiden, pasanganMegawati-Prabowo Subianto meraih 78.458 suara. lll PADA 25 Mei 2009, AJI Denpasar menggelar doa peringatan100 hari meninggalnya Prabangsa. Ratusan aktivis Hak AsasiManusia, penggiat LSM, politikus, seniman, tokoh agama,aktivis lingkungan, advokat, memenuhi pelataran kantor AJIDenpasar. Tak sedikit yang membawa minuman dan makanankecil untuk membantu konsumsi acara. Di antara hadirin, tampak Ketua DPD PDIP Bali AANgurah Oka Ratmadi alias Cok Rat, Ketua Dewan PakarPartai Demokrat Bali Pasek Suardika, anggota DPD RI KadekArimbawa alias Lolak, pinisepuh Sandi Murti, Gusti NgurahHarta, dan tokoh spiritual BR Agus Indra Udayana.44 | Jejak Darah Setelah Berita
  53. 53. Ketika diberi waktu untuk berbicara, tokoh PDIP Bali,Cok Rat, menegaskan dukungannya pada upaya penuntasankasus pembunuhan Prabangsa. “Jangan takut, jangan khawatir.Teman-teman punya tanggungjawab untuk memantau kasusini. Banyak pihak yang mendukung di belakang Anda,” kataCok Rat disambut tepuk tangan panjang. Hari itu, Polda Bali mengumumkan tujuh tersangka pelakupembunuhan Prabangsa. Semuanya sudah ditangkap danditahan polisi. Setelah 100 hari, pertanyaan besar soal siapapembunuh Prabangsa mulai terjawab. l | 45
  54. 54. BAB VIISang Dalang Terpojok NYOMAN Susrama diperiksa polisi untuk pertama kalinyapada awal Mei 2009, sekitar tiga bulan setelah tewasnyaPrabangsa. Selain Susrama, Bupati Bangli Nengah Arnawajuga sudah diperiksa polisi. Menyusul kemudian, Kepala DinasPendidikan Bangli Anak Agung Ngurah Samba10. Pemeriksaan ketiga tokoh itu menunjukkan penyidikanpolisi mulai mengarah pada motif pembunuhan yang terkaitpemberitaan Prabangsa. Pada Desember 2008, dua bulansebelum tewas, Prabangsa memang sempat menulis sejumlahberita yang menyoroti dugaan korupsi dalam sejumlah proyekdi Dinas Pendidikan, Bangli. Pada awal Mei itu, kepada wartawan, Kapolda Bali IrjenAshikin Husein mengaku polisi kini sudah punya daftartersangka11.Polisi juga mulai menggeledah rumah saksi-saksi yang sudah diperiksa polisi, untuk mencari bukti-buktitambahan. Ketika itu, kerja keras polisi memang mulai membuahkan10   Metro Bali, “Giliran Pejabat Bangli Dibidik”, 9 Mei 2009.11   Bali Express, “Kapolda Bilang Sudah Ada Calon Tersangka”, 8 Mei 2009.46 | Jejak Darah Setelah Berita
  55. 55. hasil tak terduga. Dalam satu operasi penggeledahan, polisimendapat durian runtuh. Mereka menemukan bekas cecerandarah yang sudah mengering di pekarangan belakang rumahSusrama di Banjar Petak, Desa Bebalang, Bangli12. Rumah itu diperiksa karena ada kabar Susrama sempatmenggelar upacara Mecaru (upacara pembersihan) di rumahyang selama ini dikenal tak berpenghuni itu. Polisi segeramenggelar uji forensik untuk mengetahui asal muasal darahkering itu. Bukti lain yang memantik kecurigaan polisi adalah adanyaupaya Susrama untuk menghilangkan jejak mobil KijangRover miliknya. Mobil itu konon sudah diserahkan ke saudaraSusrama di Yogyakarta. Tak mau ketinggalan langkah, polisimengejar mobil itu ke Yogya. Setelah Susrama diperiksa, polisi mulai melacak dua orangyang selama ini dikenal sebagai kawan dekat dan pengawalpribadi Susrama. Mereka adalah Komang Gede Wardanaalias Mangde dan Nyoman Wiradnyana alias Rencana. Duaorang ini diduga berperan menjadi eksekutor pembunuhanPrabangsa13. Selain itu, rumah Susrama di Banjar Petak, Bebalang sampaidua kali digeledah polisi. Pada pemeriksaan kedua yanglebih lama dan teliti, polisi menelusuri jengkal demi jengkalsudut rumah itu. Dua mobil yang ada di sana juga diperiksaluar dalam. Hasilnya tak mengecewakan. Polisi menemukansebuah karpet mobil yang penuh darah kering, disembunyikandi salahsatu sudut rumah14. Dari sana, polisi bergerak ke rumah kontrakan Susrama di12   Metro Bali, “Misteri Darah di Rumah Kosong Pengusaha Bangli,” 11 Mei 2009.13   Metro Bali, “Eksekutor Prabangsa Ada Empat Orang,” 18 Mei 2009.14   Metro Bali, “Rumah Susrama dan Rencana Digeledah,” 19 Mei 2009. | 47
  56. 56. Jl Ngurah Rai, Bangli. Tak mau membuang waktu, polisi jugamengirim tim untuk menggeledah rumah Rencana di DesaTusan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung. Ketika polisi tiba di Klungkung, Rencana tak ada dirumah. Karena sudah mengantongi surat ijin penggeledahan,polisi langsung melakukan masuk ke rumah. Dua celana jinsdan jaket millik sang tuan rumah diperiksa dengan teliti.Tim Laboratorium Forensik Polda Bali bahkan sempatmengambil sampel kotoran yang melekat di pakaian-pakaianitu. Mendadak, ketika pemeriksaan tengah berjalan sekitar 30menit, Rencana datang. Melihat rumahnya dipenuhi polisi, Rencana kelihatan tidaktenang. Kepada polisi, dia mengaku sebagai pegawai honorerdi Dinas Pendidikan Bangli. Sambil menyaksikan pemeriksaanpolisi di rumahnya, dia sibuk menelepon seseorang. Ketikapenggeledahan rampung, seorang polisi bertanya apa kaitandirinya dengan pembunuhan Prabangsa. Dengan gugup,Rencana berujar, “Saya tidak tahu masalah itu. Jangankanmembunuh orang, membunuh hewan saja saya tidak berani.” Jawaban Rencana itu, entah bagaimana, sama persisdengan pernyataan Bupati Bangli Nengah Arnawa beberapahari sebelumnya, ketika ditanya wartawan soal kaitan dirinyadengan pembunuhan Prabangsa15. Jawaban Rencana danArnawa yang seragam itu tak ayal memberi kesan kalau kubuSusrama sudah berkoordinasi rapat untuk menepis penyidikanpolisi. lll SETELAH penggeledahan di Bangli, Susrama kembali15   Metro Bali, idem.48 | Jejak Darah Setelah Berita
  57. 57. dipanggil polisi. Kali ini, meski masih berstatus saksi, Susramadidampingi 12 kuasa hukum sekaligus16. Rupanya dia sudahmencium gelagat buruk kalau peningkatan statusnya menjaditersangka tinggal menunggu waktu saja. Sehari setelah Susrama diperiksa, polisi berhasil menemukanmobil Kijang Rover Susrama di Yogyakarta. Tampak jelas kalaumobil itu sengaja disembunyikan dan dijauhkan dari polisidi Bali. Ketika ditemukan, cat mobil itu sudah berubah, darimerah menjadi hijau. Selain itu, nomor kendaraannya jugadiganti, dari B 8888 AP menjadi AB 8888 MK. Setibanya di Denpasar, mobil Kijang itu langsung diperiksatim Labfor Polda Bali. Di sana, polisi menemukan banyakbukti baru. Misalnya saja ada enam titik bercak darah danpotongan rambut di bawah jok tengah bagian kanan. Darah itudipastikan sama dengan darah yang ditemukan polisi di karpetmobil yang disembunyikan di rumah Susrama. Golongandarah itu juga serupa dengan golongan darah Prabangsa. Akhirnya, pada 24 Mei 2009, tim penyidik Polda Balimengadakan rapat untuk menggelar semua bukti dan kesaksiandalam kasus pembunuhan Prabangsa. Hampir semua alat buktimenunjuk ke arah yang sama. Kesimpulan tim pun sudahbulat. Keesokan harinya, 100 hari pasca kematian Prabangsa,Kapolda Bali Irjen Ashikin Husein mengumumkan penetapanstatus tersangka atas tujuh orang yang diduga terlibat dalampembunuhan wartawan Radar Bali itu. Pengumuman itu dibacakan pada sebuah konferensi perskhusus yang dihadiri puluhan wartawan. Istri Prabangsa,Prihantini, dan kedua anaknya, juga diundang hadir. Ketujuhtersangka kasus pembunuhanan Prabangsa adalah sebagaiberikut:16   Metro Bali, “Show of Force, Kerahkan 12 Pengacara,” 20 Mei 2009. | 49
  58. 58. Tersangka Pekerjaaan Peran I Nyoman Susrama Pengusaha, pemegang proyek Dinas Aktor intelektual Pendidikan di Bangli Komang Gede anak buah Susrama Menjemput korban Nyoman Rencana anak buah Susrama Eksekutor dan pembawa mayat Komang Gede Wardana sopir dan tinggal di rumah Susrama Eksekutor dan pembawa mayat alias Mangde Dewa Sumbawa sopir dan tinggal di rumah Susrama Sopir mobil pembawa mayat Endi Mashuri Sopir di Perusahaan Air Minum “Sita” Membersihkan darah korban Darianto alias Jampes Karyawan di Perusahaan Air Minum “Sita” Membersihkan darah korban Belakangan, polisi menetapkan dua orang lagi sebagaitersangka pelaku pembunuhan Prabangsa. Mereka adalahIda Bagus Made Adnyana Narbawa alias Gus Oblong danNyoman Suwecita alias Maong. Keduanya terbukti ada dilokasi pembunuhan ketika Prabangsa dihabisi. lll SEMUA bukti dan kesaksian yang dihimpun polisi,memastikan bahwa pembunuhan Prabangsa terjadi pada 11Februari 2009. Sekitar pukul 14.00 waktu setempat, Susramamenghubungi anakbuahnya, Komang Gede, untuk menjemputPrabangsa di rumah orangtuanya di Taman Bali, Bangli.Saat itu Prabangsa ada di Bangli untuk menghadiri UpacaraNelubulanin (upacara bayi berusia tiga bulan) anak salah satukerabatnya. Satu jam kemudian, sekitar pukul 15.00, Komang Gede,Nyoman Rencana dan Komang Gede Wardana alias Mangde,sampai di Taman Bali. Mereka mengendai mobil Honda CivicLX warna hijau muda metalik. Prabangsa sudah menunggu.Mereka berempat lalu bergerak rumah Susrama yang tak50 | Jejak Darah Setelah Berita
  59. 59. terpakai di Banjar Petak, Bebalang, Bangli. Dalam perjalanan, tangan Prabangsa sudah diikat kebelakang. Tak sampai setengah jam, mereka tiba di BanjarPetak. Prabangsa dikeluarkan dari mobil dan digiring kehalaman belakang. Tangannya masih erat diikat. Tak lama kemudian, sebuah mobil Kijang Krista warnahitam juga merapat ke rumah itu. Dari dalam mobil, keluarlahSusrama dan satu anakbuahnya, Dewa Sumbawa. Tanpa banyakcakap, Susrama memberi perintah pada anakbuahnya untukmulai memukuli Prabangsa. Pada saat itu, waktu menunjukkanpukul 16.10 waktu Indonesia bagian tengah. Dikeroyok seperti itu, Prabangsa tak berkutik. Badannyababak belur. Susrama bahkan sempat turun tangan, memukulkepala Prabangsa. Pada satu kesempatan, Prabangsa melompatdan lari keluar rumah. Tapi pelariannya gagal. Mangde, Rencanadan Sumbawa berhasil menangkapnya dan menyeretnyakembali ke halaman belakang rumah Susrama. Ketika itulah, Susrama memberi perintah untuk menghabisinyawa Prabangsa. Rencana dan Mangde lalu mengambilbalok kayu besar yang banyak berserakan di pekarangan danmendekati Prabangsa. Rumah itu memang belum selesaidibangun. Tumpukan batu bata dan kayu teronggok di sanasini. Prabangsa memohon ampun, tapi tak digubris. Buk…buk… wajah wartawan itu dihajar keras. Darah muncrat.Tubuh Prabangsa lemas dan terkulai ke tanah. Susrama yangberencana memberi pukulan terakhir, melepaskan balok kayudi tangannya. Prabangsa terkapar. Susrama lalu memerintahkan dua anakbuahnya yang lain,Endi Mashuri dan Darianto, untuk membersihkan darahPrabangsa yang tergenang. Mereka menyiramnya dengan air, | 51
  60. 60. dan menimbunnya dengan tanah dan pasir. Sementara itu, Prabangsa yang pingsan tapi masih bernafas,digotong ke dalam rumah dan disekap di sebuah kamar di sana.Luka di kepalanya menganga dan berdarah. Malam bertambah kelam. Sekitar pukul 21.00, sesuaiinstruksi Susrama, Mangde dan Rencana menaikkan tubuhPrabangsa yang masih lunglai ke dalam mobil Kijang Roverwarna merah milik bos mereka. Mobil itu lalu dikebut menujuPantai Goa Lawah. Ketika diperiksa polisi, Dewa Sumbawa yang menjadi supirmalam itu, bercerita bagaimana tubuh Prabangsa dibuangke laut. Mendekati Pantai Goa Lawah, tepatnya di DusunBlatung, Desa Pesinggahan, Kabupaten Klungkung, Susramamenelepon seseorang yang diduga pemilik perahu. Ketika mobil merapat ke pantai, si pemilik perahu sudahmenunggu. Gus Oblong dan Maong mengusung Prabangsayang masih hidup ke dalam perahu. Tak lama, perahu beringsutberlayar ke tengah laut. Mereka kembali tanpa Prabangsa. lll “INI adalah kasus pembunuhan berencana. Motifnya sakithati pelaku terkait berita yang pernah diturunkan korbansoal penyimpangan proyek Dinas Pendidikan di Bangli,” kataKapolda Bali, Irjen Ashikin Husein ketika mengumumkanpara tersangka kasus ini, 25 Mei 2009. Menurut Ashikin, polisi akan menjerat para tersangkadengan Pasal 338 Kitab Undang Undang Hukum Pidana(KUHP) karena melakukan pembunuhan. Ancamanhukumannya paling lama lima belas tahun penjara. Polisijuga menjerat mereka dengan Pasal 340 KUHP tentang52 | Jejak Darah Setelah Berita
  61. 61. pembunuhan berencana. Ancaman hukumannya lebih berat:pidana mati atau pidana penjara seumur hidup. Beberapa jam sebelum Ashikin mengumumkan namaSusrama sebagai tersangka, sejumlah polisi mendatangi rumahsang adik Bupati Bangli itu. Pagi-pagi sekitar pukul 05.00, pinturumahnya diketuk. Ketika pintu dibuka, polisi menerobosmasuk dan menangkap Susrama. Enam pelaku lain: Komang Gede, Nyoman Rencana,Mangde, Dewa Sumbawa, Endi Mashuri, dan Darianto aliasJampes sudah ditangkap sehari sebelumnya. Sisanya: GusOblong dan Nyoman Suwecita alias Maong, ditangkap sorehari setelah pengumuman nama-nama tersangka itu17. Dari total sembilan orang pelaku pembunuhan Prabangsa,hanya Jampes dan Endi yang tidak ditahan. Peran mereka dalampembunuhan itu memang kecil. Mereka hanya membersihkandarah Prabangsa di pekarangan belakang rumah Susrama. Dua hari setelah para tersangka diumumkan, polisi mulaimelengkapi berkas penyidikan perkara untuk dilimpahkan keKejaksaan Negeri Denpasar. Untuk itu, polisi mengajak duatersangka, Made Sumbawa dan Jampes, untuk melakukanrekonstruksi proses pembunuhan Prabangsa di rumah Susramadi Banjar Petak, Bebalang dan di Pantai Goa Lawah. Pada 3 Juni 2009, sepekan setelah penetapan tersangka,polisi kembali menggelar rekonstruksi. Kali ini, kedelapanpelaku kecuali Susrama, dibawa ke Bangli. Di pekaranganbelakang rumah Susrama, para pelaku memeragakan kembaliperan dan lokasi mereka ketika Prabangsa dikeroyok danmeregang nyawa.17   etelah pengumuman sembilan tersangka itu, polisi sempat menangkap Dewa Swarjana, S pegawai bagian Perencanaan di Dinas Pendidikan Bangli. Ia ditangkap pada 1 Juni 2009, tapi kemudian dilepas setelah polisi tak menemukan bukti keterlibatan dia dalam pembunuhan Prabangsa. | 53
  62. 62. Dari rekonstruksi ini pula, peran Susrama sebagai aktorintelektual di balik pembunuhan Prabangsa, kian terkuak.Semua pelaku bergerak atas perintah Susrama. Sang dalangsendiri sempat tergoda untuk turun tangan. Dia sudah bersiapmemukul kepala Prabangsa dengan balok kayu. Tapi niat itutak terlaksana karena Prabangsa sudah keburu roboh oleh duakali pukulan balok kayu yang diayun Rencana18. Sehari setelah rekonstruksi itu, pada 4 Juni 2009, Susramadiperiksa polisi. Meski bukti dan kesaksian sudah menggunung,dia tetap menyangkal terlibat dalam kasus pembunuhanPrabangsa. Ketika polisi bertanya apa aktivitasnya pada 11Februari 2009 –hari ketika Prabangsa tewas-- inilah jawabanSusrama: “…Seperti biasa saya melakukan kegiatan rutin yaitu sekitarpukul 07.00 ke kantor perusahaan air minum “Sita” sambilmengantar anak-anak sekolah di SD Negeri 5 Kawan dan SMANegeri 1 Bangli. Ketika akan ke kantor “Sita” saya mampir dirumah Pak Wayan Rupa, Sekretaris PHDI Kabupaten Bangliyang sedang sakit, sampai jam 10.30 Wita. Setelah itu sayake rumah saya di Banjar Petak, Desa Bebalang untuk melihattukang di sana bekerja. Kemudian saya pergi ke Kota Gianyaruntuk mencari pakaian adat Bali untuk sekehe gong. Sayaberkeliling Kota Gianyar dan dapat pakaian adat di toko Kadek.Saya sempat juga mampir ke Bank BCA dan Bank MandiriGianyar. Kemudian saya pulang ke rumah Banjar Petak, DesaBebalang. Saya sampai di sana sekitar jam 16.25 Wita …” Penjelasan Susrama ini tak menggoyahkan keyakinan polisi.Keterangan saksi-saksi dan bukti lain cukup jelas menyebutketerlibatan dan peran vital Susrama dalam pembunuhan ini.“Dia boleh saja tak mengaku, tapi ada bukti dan saksi,” kataKepala Satuan I Direktorat Reserse Kriminal Polda Bali, AKBP18   Metro Bali, “Prabangsa Ngidih Urip, Tapi Dibunuh Juga”, 4 Juni 2009.54 | Jejak Darah Setelah Berita
  63. 63. Akhmad Nur Wahid19. Salahsatu pengakuan yang cukup telak datang dari Ida BagusMade Adnyana Narbawa alias Gus Oblong. Ketika diperiksapolisi pada 8 Juni 2009, dia secara terus terang menyebutkanperan Susrama. Dia mengaku mendengar secara jelas suaraSusrama yang meneriakkan kata “Habisi, Habisi” sesaatsebelum Mangde dan Rencana memukul kepala Prabangsadengan balok kayu. Untuk melengkapi berkas perkara dan memastikan peranmasing-masing tersangka, polisi pun memutuskan untukmelakukan konfrontasi. Proses konfrontasi dan rekonstruksidigelar pada 9 Juni 2009. Seperti sudah diduga, dalamrekonstruksi yang diikuti semua tersangka, sejumlah orang takmengakui perannya. Ini sempat memicu adu mulut di antarasesama pelaku. “Kamu badan saja gede, tapi pengecut, tidak beranimengakui perbuatan. Awas takbunuh kamu,” teriak GusOblong, dengan emosional, ketika Mangde membantah ikutmemukuli Prabangsa. Belakangan, Mangde pun mengaku.Dialah yang memegang Prabangsa dari belakang ketikaRencana mengayun balok kayu besar ke kepala Prabangsa.Setelah itu, Mangde sempat ikut memukuli Prabangsa20. Dari kesembilan tersangka, tinggal Susrama yang masih takmengakui perbuatannya. Dia menyangkal semua kesaksiananak buahnya sendiri. Meski begitu, pada awal Agustus 2009,polisi menyatakan penyidikan kasus ini rampung. Berkasperkara pun dikirim ke Kejaksaan Tinggi Bali. l19   Metro Bali, “Komang Gede Mulai Berkicau”, 6 Juni 201120   Bali Express, “Para Tersangka Cekcok, Gus Oblong Mau Mukul”, 11 Juni 2009. | 55
  64. 64. BAB VIIIDrama di Pengadilan KEJAKSAAN Tinggi Bali mengadakan rapat gelar perkarakasus pembunuhan Prabangsa pada 18 Agustus 2009. Usai gelarperkara, Kepala Kejaksaan Tinggi Bali, Warman Suherman,menilai masih ada sedikit soal administratif yang harusdiperbaiki polisi, sebelum berkas itu siap disidangkan. Untukitu, berkas perkara pun dikembalikan untuk dilengkapi21. Seorang sumber di Kejaksaan Tinggi Bali berbisik kalaupengembalian berkas perkara kasus Prabangsa dilakukankarena unsur pembunuhan berencana yang diajukanpolisi kurang kuat. Seharusnya polisi berkonsentrasi padapembuktian setidaknya tiga hal yang bisa jadi dasar untukmenguatkan tuduhan adanya unsur terencana dalam kasuspembunuhan ini. Pertama, Susrama telah melakukan survei untuk menentukanlokasi pembuangan mayat. Kedua, Susrama meliburkantukang yang membangun rumahnya selama 11-13 Februari–saat pembunuhan itu dilakukan. Ketiga, Susrama memintaanak buahnya, Rencana, untuk membuntuti Prabangsa pada11 Februari 2009 pagi.21   Bali Express, “Berkas Kasus Prabangsa Perlu Sedikit Perbaikan,” 19 Agustus 2009.56 | Jejak Darah Setelah Berita
  65. 65. Bagi jaksa, kelengkapan alat bukti atas tiga aspek itu mutlakdiperlukan untuk menjerat para pelaku dengan Pasal 340tentang pembunuhan berencana. Dari kesembilan tersangka,tujuh orang memang dijerat dengan pasal itu. Sisanya duaorang: Endi Mashuri dan Darianto, hanya dijerat dengan pasalpenyertaan dan menyembunyikan informasi kejahatan. Selain itu, aspek administratif yang harus diperbaiki polisimenyangkut sejumlah perbedaan tanggal dalam berkas perkara.Misalnya saja, ada satu berkas yang menyebutkan bahwaperencanaan pembunuhan dilakukan pada 8 Februari 2009.Sementara berkas lain dengan tersangka berbeda, menyebutkejadian itu terjadi pada 9 Februari 2009. Direktur Reserse Kriminal Polda Bali Kombes WilmarMarpaung, mengakui kekuranglengkapan data yangmenyebabkan kejaksaan mengembalikan empat berkas milikSusrama, Rencana, Mangde, dan Komang Gede itu ke polisi. Setelah satu bulan, pada minggu pertama September 2009,perbaikan berkas pun rampung. Berkas perkara lengkapdengan barang bukti dan tersangka kasus ini, lalu diserahkansecara resmi oleh Kepolisian Daerah Bali ke Kejaksaan TinggiBali22. Tak lama kemudian, Kejaksaan Tinggi mengumumkanbahwa berkas kasus pembunuhan Prabangsa telah lengkap atauP21 dan siap disidangkan di Pengadilan Negeri Denpasar23.Penantian panjang itu pun berakhir. Kini para pencabut nyawaPrabangsa harus bersiap duduk di kursi pesakitan.22   empo Interaktif, “Enam Tersangka Pembunuhan Wartawan Bali Diserahkan ke Kejaksaan,” 16 T September 2009.23   ebelumnya sidang akan digelar di Bangli sesuai tempat kejadian perkara. Namun, demi alasan S keamanan dan netralitas, sidang dipindahkan ke Pengadilan Negeri Denpasar. | 57
  66. 66. lll SIDANG pertama pembunuhan wartawan Radar Bali,Anak Agung Gde Bagus Narendra Prabangsa, digelar padaKamis 8 Oktober 2009 di Pengadilan Negeri Denpasar. Jaksadijadwalkan untuk membacakan dakwaan atas kesembilanterdakwa yang terlibat dalam kasus ini. “Tidak ada pengamanan khusus,” kata Wakil KetuaPengadilan Negeri Denpasar, Djumain, ketika ditanya wartawansebelum sidang dimulai. Djumain juga Ketua Majelis Hakimuntuk kasus dengan terdakwa Nyoman Susrama, aktor utamapembunuhan Prabangsa. Meski tak ada pengamanan khusus, tapi sejumlah polisitampak bersiaga penuh. Polda Bali menerjunkan satupeleton pasukan Dalmas dan Brimob lengkap dengan senjatalaras panjang untuk menjaga keamanan sidang. Polisi jugamemasang alat pemindai metal (metal detector) di pintu utamamasuk ke Pengadilan Negeri Denpasar. Semua pengunjungsidang digeledah polisi untuk memastikan tidak ada senjatatajam dan benda berbahaya lain masuk ruang sidang. Tak hanya itu. Untuk mengantisipasi gangguan keamanan,lokasi persidangan pun sempat diubah. Sesuai Tempat KejadianPerkara, semula sidang bakal digelar di Pengadilan NegeriBangli. Tapi untuk netralitas dan kelancaran sidang, mengingatSusrama adalah orang kuat di Bangli, Ketua Pengadilan TinggiBali memutuskan sidang digelar di Denpasar saja. Pemindahan itu juga didorong soal efektivitas waktu. Semuatersangka ditahan di Mapolda Bali dan di Markas KomandoBrimob Polda Bali di sekitar Denpasar, sehingga lebih mudahdan cepat jika sidang digelar di Denpasar, ketimbang diBangli. Tepat di luar ruang sidang, AJI Denpasar menggelar aksi58 | Jejak Darah Setelah Berita
  67. 67. keprihatinan. Belasan aktivis AJI membagikan pita hitam–yang kemudian diikatkan di lengan—untuk semua jurnalis,warga dan tokoh masyarakat yang datang menghadiri sidangdan bersimpati terhadap upaya penuntasan kasus pembunuhanwartawan ini. Aksi kecil itu memang disepakati dalam rapat Tim AdvokasiKasus Prabangsa. Meski kasus ini sudah bergulir sampaipengadilan, tugas Tim Advokasi belum bisa dikatakan selesai.Justru kini mereka memasuki tahap paling krusial dari seluruhrangkaian advokasi kasus ini. Tim dituntut untuk mampumengawal persidangan sampai majelis hakim menjatuhkanvonis yang setimpal dengan kejahatan yang dilakukan paraterdakwa. Pada sidang perdana itu, jaksa membacakan pasal-pasalyang dituduhkan pada sembilan pesakitan di kursi terdakwa.Tujuh orang dijerat dengan pasal 340 KUHP subsider pasal338 KUHP jo pasal 55, 56 KUHP tentang PembunuhanBerencana dengan ancaman hukuman mati. Mereka adalahNyoman Susrama, Nyoman Wiradnyana alias Rencana,Komang Gede, Komang Gede Wardana alias Mangde, DewaGede Mulya Antara alias Dewa Sumbawa, Ida Bagus GedeAdnyana Narbawa alias Gus Oblong, dan I Wayan Suwecitaalias Maong. Dua tersangka lainnya Endi Mashuri alias Endi danDarianto alias Nano alias Jampes dijerat dengan pasal 221 (1)ke-1e KUHP dan atau ke-2 KUHP tentang menyembunyikanorang yang melakukan kejahatan dan menghilangkan bekaskejahatan dengan ancaman hukuman sembilan bulan penjara. lll SEPERTI sudah diduga, Nyoman Susrama, terdakwautama dan aktor intelektual pembunuhan Prabangsa, menolak | 59
  68. 68. semua dakwaan jaksa dan mengklaim dirinya tak bersalah. Diaminta dibebaskan dari semua tuduhan jaksa. Dalam eksepsinyayang dibacakan pada sidang kedua, 19 Oktober 2009, Susramamenganggap dakwaan jaksa kabur dan tidak jelas. “Kami meminta nama baik terdakwa direhabilitasi,” kataanggota Tim Penasihat Hukum Susrama, Nyoman WisnuSH. Meski eksepsi itu diawali dengan ucapan belasungkawasekaligus doa untuk keluarga Prabangsa, Susrama ngototmengaku tidak terlibat pembunuhan. “Kami mengajaksemua pihak untuk bersama-sama menemukan siapa pelakupembunuhan Prabangsa,” ujar Wisnu. Dasar argumentasi tim kuasa hukum Susrama terkait dengansahih tidaknya alat bukti utama persidangan yakni jenis darahgolongan AB yang ditemukan di karpet di bawah jok mobilKijang Rover Susrama, bercak darah pada jaket dan celanaRencana, serta bercak darah di daun ketela di halaman rumahSusrama. “Apa mungkin bercak darah di celana dan jaket tetapada selama tiga bulan?“ kata penasehat hukum Susrama yanglain, Suryadharma SH. Pendeknya, pembela Susrama tidak percaya kalau semuabercak darah yang ditemukan di tiga titik berbeda itu adalahdarah Prabangsa. Mereka menuding penyidik Polda Bali tidakmelakukan tes DNA untuk membandingkan bercak darah itudengan darah Prabangsa. Pada sidang berikutnya, 3 November 2009, terjadiperkembangan mengejutkan. Dua saksi kunci yang jugaterdakwa pada perkara pembunuhan Prabangsa, menarikpengakuan mereka di Berita Acara Pemeriksaan. Merekaadalah Darianto alias Jampes dan Endi Mashuri. Keduanyamengaku dipukuli polisi agar memberikan kesaksian yangmemberatkan Susrama. Di depan majelis hakim, sambil berurai air mata, Jampes60 | Jejak Darah Setelah Berita
  69. 69. mengaku membuat Berita Acara Pemeriksaan palsu. Sambilterbata-bata, dia mengaku tak tahan disiksa polisi. “Akhirnyasaya mengarang cerita sesuai dengan kemauan pak polisi,”katanya. Pengakuan yang sama muncul dari Endi Mashuri.“Saat dipukuli polisi, mata saya ditutup,” katanya. Pengakuan Jampes dan Endi membuat pengunjung sidangterhenyak. Berbeda dengan keterangan mereka sebelumnya,kedua terdakwa itu mengaku tidak tahu menahu soalpembunuhan Prabangsa. “Saya terpaksa mengaku,” kata Endi. Para terdakwa lain juga ramai-ramai mencabutketerangannya di Berita Acara Pemeriksaan. Ketika menjadisaksi untuk persidangan Darianto, Gus Oblong membantahkesaksiannya sendiri. “Karena semua menuduh saya, akhirnyasaya menandatangani Berita Acara,” katanya santai. DalamBAP itu, Gus Oblong disebut berperan menghabisi nyawaPrabangsa. Koordinator Tim Penasihat Hukum Susrama, I NyomanWisnu, menilai pencabutan pengakuan para terdakwamenunjukkan bahwa ada rekayasa hukum untuk mengorbankankliennya. “Semua bukti yang disodorkan jaksa belum tentuakurat,” katanya, seraya mengulangi klaimnya soal temuanbercak darah di sejumlah titik, yang menurut kuasa hukumSusrama, belum tentu merupakan darah Prabangsa. Pencabutan kesaksian ini berpotensi meruntuhkankerangka pembuktian yang sedang dibangun jaksa. Pasalnya,para terdakwa ini juga bersaksi untuk kasus satu sama lain.Gus Oblong misalnya menjadi saksi untuk kasus Darianto.Sedangkan Darianto juga menjadi saksi memberatkan untukterdakwa Susrama. Demikian seterusnya, mengingat hanyakesembilan pelaku inilah yang tahu persis apa yang terjadi dihari pembunuhan Prabangsa. Menghadapi serangan tak terduga macam ini, Jaksa Abraham | 61
  70. 70. Kholis yang menjadi penuntut umum dalam perkara Susrama,tetap tenang. “Kami masih punya segepok bukti, di antaranyakesaksian ahli forensik atau saksi lainnya,” kata Abraham. Polisi juga tampak tidak panik. Menurut Komandan TimLima, AKBP Akhmad Nur Wahid, polisi bisa dengan mudahmenepis tuduhan bahwa para terdakwa disiksa agar mengaku.“Para tersangka diperlakukan sangat manusiawi, terlebihJampes dan Endi, yang bahkan tidak ditahan,” katanya. Diamenunjukkan bukti bagaimana Jampes dan Endi bahkandicarikan tempat tinggal sementara oleh polisi, selama prosespenyidikan. Bahkan, ketika ayah salah satu tersangka sakit,polisi membantu mengurus pengobatannya ke rumah sakit. Justru keluarga Prabangsa yang mengaku cemas melihat parasaksi dan terdakwa mencabut pengakuan. “Pelaku pembunuhanbisa lolos,” kata kakak kandung Prabangsa, Sagung Ayu. Tapimereka kemudian ditenangkan oleh polisi. “Mereka justru bisadijerat pasal tambahan karena memberikan kesaksian palsu,”kata Nur Wahid. Benar saja, pada pekan pertama November 2009, anginberbalik arah. Kini para terdakwa kembali terdesak. Semuaberawal dari kesaksian Nengah Mercadana dan Nyoman Rajin,dua buruh bangunan yang mengerjakan rumah Susrama diBanjar Petak, Bebalang, Bangli –lokasi penganiayaan yangmerengut nyawa Prabangsa. Ketika bersaksi di persidangan, kedua pria itu dengan polosmengaku sempat diminta oleh tim kuasa hukum Susrama untukberbohong saja. Mereka diminta memberikan alibi untukSusrama. Caranya, Mercadana dan Rajin diminta mengakubahwa pada 11 Februari 2009 –hari ketika Prabangsa tewas--mereka sedang bersama Susrama. Padahal jelas-jelas pada hariitu mereka diminta libur oleh terdakwa Susrama, agar rumahdi Banjar Petak itu kosong dan bisa dipakai untuk menghabisiPrabangsa.62 | Jejak Darah Setelah Berita
  71. 71. Rekayasa itu direncanakan pada Mei 2009, di rumah dinasBupati Bangli Nengah Arnawa. Mercadana dan Rajin datangke sana –bersama lima buruh bangunan lain-- untuk menagihupah karena pekerjaan mereka di rumah Susrama sudahselesai. Di rumah dinas Bupati, mereka ditemui Susrama yangdidampingi enam orang pengacara. “Saya diminta mengaku bekerja penuh, termasuk pada11 Februari 2009, karena buku absen tukang milik Susramarobek, sehingga tidak ada catatan soal libur saya itu,” kataMercadana. Dia juga dijanjikan akan dibayar penuh untukseluruh hari kerjanya, termasuk tiga hari dimana dia dimintalibur oleh Susrama. Nyoman Rajin juga melontarkan pernyataan serupa.Permintaan agar dia berbohong dan mengaku sedang bekerjapada 11 Februari 2009, disampaikan oleh keponakan Susrama,Nyoman Talenan, ketika Rajin datang untuk menagih upahnyabekerja. Tak hanya itu, ketika kembali bekerja pada 14 Februari2009, kedua tukang itu mengaku melihat abu sisa pembakarankayu di halaman belakang rumah Susrama. Rupanya balok-balok kayu yang berlumuran darah Prabangsa dibakar habis disana. Pengakuan dua tukang itu menghebohkan persidangan.Para pengunjung sidang tak habis pikir pada kelakuan Susramadan tim kuasa hukumnya. Mereka seakan menghalalkan segalacara untuk mencapai tujuan, termasuk menganjurkan tindakanyang melawan hukum seperti berbohong pada majelis hakim. Ketua Majelis Hakim Djumain langsung bertanya pada duasaksi itu, apakah pengacara yang meminta mereka berbohonghadir hari itu di persidangan. Semua hadirin senyap sepertimenahan nafas. Dengan perlahan, Mercadana menunjukSuryadharma, salahsatu kuasa hukum Susrama. “Itu yang pakai | 63
  72. 72. kacamata,” katanya. Pengunjung sidang kontan ramai berbisik-bisik. Tim pengacara Susrama berusaha keras mementahkanpengakuan Mercadana dan Rajin. Dengan nada marahdan intimidatif, Suryadharma balik meminta Mercadanabersumpah soal adanya rekayasa pemalsuan kesaksian.“Sebagai umat Hindu dan bekas pemangku (pemuka agama--),Anda harus berkata jujur,” gertaknya. Seolah tak kehabisan akal, tim pengacara Susrama kemudianmenunjukkan sebuah surat pernyataan yang ditandatanganiMercadana pada majelis hakim. Surat itu tegas menyatakanbahwa pada 11 Februari 2009, Mercadana tetap bekerja sepertibiasa di rumah Susrama di Banjar Petak, Bebalang. Karena penasaran, anggota Majelis Hakim, KomangWijayadi, menunjukkan surat itu pada Mercadana dan bertanyaapa betul dia yang membuat surat itu. Mercadana mengakuhanya menyalin tulisan yang disodorkan oleh pengacara dankemudian menandatanganinya. Rekayasa tim kuasa hukumSusrama makin terkuak lebar. Ketika ditanya hakim, keenam pengacara Susrama habis-habisan membantah tuduhan bahwa mereka melakukanrekayasa hukum. Mereka ngotot menegaskan bahwa pada 11Februari 2009, memang ada tukang yang bekerja di rumahSusrama. Susrama juga tak kalah sengit membantah pernyataanMercadana dan Rajin. “Itu semua hanya bohong,” katanyakeras. lll POSISI Susrama makin terpojok ketika pada sidang64 | Jejak Darah Setelah Berita
  73. 73. berikutnya, Gus Oblong kembali pada kesaksiannya semula.Padahal baru dua pekan sebelumnya, salahsatu pelakupembunuhan Prabangsa ini, mengaku disiksa polisi agarmengaku. Tapi kini, dia berbalik arah. “Saya memang sempatmencabut keterangan dalam BAP karena diancam akandibunuh oleh terdakwa lain, Rencana,” katanya terus terang. Setelah mengaku disiksa polisi, Gus Oblong mengaku takbisa tidur. Dia tertekan, dihantui perasaan bersalah karenatelah berbohong. Akhirnya, pada sidang berikutnya, diamemutuskan untuk kembali pada keterangannya dalam BAPpolisi. “Sejak saat ini, saya hanya akan memberikan keteranganyang sebenar-benarnya,” kata Gus Oblong. Meski tiga saksi sudah memberatkan dirinya, Susramatetap pada pendiriannya semula: tidak mengaku sejengkal pundakwaan jaksa. Dia justru menuding kesaksian Mercadana,Rajin dan Gus Oblong hanya isapan jempol belaka. “Itu semuabohong,” katanya lantang. l | 65
  74. 74. BAB IXMembongkar RekayasaHukum REKAYASA demi rekayasa yang terbongkar di persidanganSusrama, membuat geram banyak pihak. Apalagi ketikaintimidasi dan ancaman pembunuhan saksi yang memberatkanSusrama terkuak. Gus Oblong misalnya mengaku terpaksamencabut kesaksiannya karena takut diancam dibunuh olehtangan kanan Susrama, Nyoman Rencana. Ketika diperiksa polisi, Rencana sebenarnya sudahmengakui perannya dalam pembunuhan Prabangsa. Diamengaku menghabisi Prabangsa karena wartawan itu mencobamemeras bosnya. Pengakuan Rencana menjadi kunci untukmembuktikan bahwa motif pembunuhan Prabangsa adalahpemberitaan Radar Bali mengenai manipulasi dalam proyekpembangunan sekolah di Dinas Pendidikan Bangli. Tapi di persidangan, Rencana mencabut pengakuannya.Demikian juga para terdakwa lain. Semua kompak mengakudisiksa polisi agar mengaku. Dari delapan anakbuah Susramayang menjadi terdakwa sekaligus menjadi saksi, hanya GusOblong yang setia pada versi pengakuannya di Berita AcaraPemeriksaan.66 | Jejak Darah Setelah Berita

×