Manajemen pendidikan islam gm

17,012 views
16,873 views

Published on

1 Comment
7 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
17,012
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
375
Comments
1
Likes
7
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Manajemen pendidikan islam gm

  1. 1. Manajemen Pendidikan IslamPENGERTIAN, DAN FUNGSI-FUNGSI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM Oleh : A. Farhan Syaddad dan Agus SalimA. PendahuluanDalam pandangan ajaran Islam, segala sesuatu harus dilakukan secara rapi, benar, tertib,dan teratur. Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik. Sesuatu tidak boleh dilakukansecara asal-asalan (Didin dan Hendri, 2003:1). Mulai dari urusan terkecil seperti mengatururusan Rumah Tangga sampai dengan urusan terbesar seperti mengatur urusan sebuahnegara semua itu diperlukan pengaturan yang baik, tepat dan terarah dalam bingkai sebuahmanajemen agar tujuan yang hendak dicapai bisa diraih dan bisa selesai secara efisien danefektif.Pendidikan Agama Islam dengan berbagai jalur, jenjang, dan bentuk yang ada seperti padajalur pendidikan formal ada jenjang pendidikan dasar yang berbentuk Madrasah Ibtidaiyah(MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), jenjang pendidikan menengah ada yang berbentukMadrasah Alyah (MA) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), dan pada jenjangpendidikan tinggi terdapat begitu banyak Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) denganberbagai bentuknya ada yang berbentuk Akademi, Sekolah Tinggi, Institut, danUniversitas. Pada jalur pendidikan non formal seperti Kelompok Bermain, TamanPenitipan Anak (TPA), Majelis Ta‘lim, Pesantren dan Madrasah Diniyah. Jalur PendidikanInformal seperti pendidikan yang diselenggarakan di dalam kelurarga atau pendidikan yangdiselenggarakan oleh lingkungan. Kesemuanya itu perlu pengelolaan atau manajemen yangsebaik-baiknya, sebab jika tidak bukan hanya gambaran negatif tentang pendidikan Islamyang ada pada masyarakat akan tetap melekat dan sulit dihilangkan bahkan mungkinPendidikan Islam yang hak itu akan hancur oleh kebathilan yang dikelola dan tersusun rapiyang berada di sekelilingnya, sebagaimana dikemukakan Ali bin Abi Thalib :”kebenaranyang tidak terorganisir dengan rapi akan dihancurkan oleh kebathilan yang tersusunrapi”.Makalah sederhana ini akan membahas tentang pengertian dan fungsi-fungsi manajemenpendidikan Islam, sebagai pengantar diskusi pekuliahan Mata Kuliah ManajemenPendidikan Islam di Universitas Ibnu Khaldul Bogor.B. Pengertian Manajemen Pendidikan Islam.Dari segi bahasa manajemen berasal dari bahasa Inggris yang merupakan terjemahanlangsung dari kata management yang berarti pengelolaan, ketata laksanaan, atau tatapimpinan. Sementara dalam kamus Inggris Indonesia karangan John M. Echols dan HasanShadily (1995 : 372) management berasal dari akar kata to manage yang berarti mengurus,mengatur, melaksanakan, mengelola, dan memperlakukan.Ramayulis (2008:362) menyatakan bahwa pengertian yang sama dengan hakikatmanajemen adalah al-tadbir (pengaturan). Kata ini merupakan derivasi dari kata dabbara(mengatur) yang banyak terdapat dalam Al Qur‘an seperti firman Allah SWT :
  2. 2. Artinya : Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanyadalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (Al Sajdah :05).Dari isi kandungan ayat di atas dapatlah diketahui bahwa Allah swt adalah pengatur alam(manager). Keteraturan alam raya ini merupakan bukti kebesaran Allah swt dalammengelola alam ini. Namun, karena manusia yang diciptakan Allah SWT telah dijadaikansebagai khalifah di bumi, maka dia harus mengatur dan mengelola bumi dengan sebaik-baiknya sebagaimana Allah mengatur alam raya ini.Sementara manajemen menurut istilah adalah proses mengkordinasikan aktifitas-aktifitaskerja sehingga dapat selesai secara efesien dan efektif dengan dan melalui orang lain(Robbin dan Coulter, 2007:8).Sedangkan Sondang P Siagian (1980 : 5) mengartikan manajemen sebagai kemampuanatau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka mencapai tujuan melaluikegiatan-kegiatan orang lain.Bila kita perhatikan dari kedua pengertian manajemen di atas maka dapatlah disimpulkanbahwa manajemen merupkan sebuah proses pemanfaatan semua sumber daya melaluibantuan orang lain dan bekerjasama dengannya, agar tujuan bersama bisa dicapai secaraefektif, efesien, dan produktip. Sedangkan Pendidikan Islam merupakan prosestransinternalisasi nilai-nilai Islam kepada peserta didik sebagai bekal untuk mencapaikebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat.Dengan demikian maka yang disebut dengan manajemen pendidikan Islam sebagaimanadinyatakan Ramayulis (2008:260) adalah proses pemanfaatan semua sumber daya yangdimiliki (ummat Islam, lembaga pendidikan atau lainnya) baik perangkat keras maupunlunak. Pemanfaatan tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan orang lain secara efektif,efisien, dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan baik di duniamaupun di akhirat.C. Fungsi-fungsi Manajemen Pendidikan IslamBerbicara tentang fungsi manajemen pendidikan Islam tidaklah bisa terlepas dari fungsimanajemen secara umum seperti yang dikemukakan Henry Fayol seorang industriyawanPrancis, dia mengatakan bahwa fungsi-fungsi manajemn itu adalah merancang,mengorganisasikan, memerintah, mengoordinasi, dan mengendalikan. Gagasan Fayol itukemudian mulai digunakan sebagai kerangka kerja buku ajar ilmu manajemen padapertengahan tahun 1950, dan terus berlangsung hingga sekarang.Sementara itu Robbin dan Coulter (2007:9) mengatakan bahwa fungsi dasar manajemenyang paling penting adalah merencanakan, mengorganisasi, memimpin, danmengendalikan. Senada dengan itu Mahdi bin Ibrahim (1997:61) menyatakan bahwa
  3. 3. fungsi manajemen atau tugas kepemimpinan dalam pelaksanaannya meliputi berbagai hal,yaitu : Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan.Untuk mempermudah pembahasan mengenai fungsi manajemen pendidikan Islam, makakami (kelompok 1) akan menguraikan fungsi manajemen pendidikan Islam sesuai denganpendapat yang dikemukan oleh Robbin dan Coulter yang pendapatnya senada denganMahdi bin Ibrahim yaitu : Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan/kepemimpinan, danpengawasan.1. Fungsi Perencanaan (Planning)Perencanaan adalah sebuah proses perdana ketika hendak melakukan pekerjaan baik dalambentuk pemikiran maupun kerangka kerja agar tujuan yang hendak dicapai mendapatkanhasil yang optimal. Demikian pula halnya dalam pendidikan Islam perencanaan harusdijadikan langkah pertama yang benar-benar diperhatikan oleh para manajer dan parapengelola pendidikan Islam. Sebab perencanaan merupakan bagian penting dari sebuahkesuksesan, kesalahan dalam menentukan perencanaan pendidikan Islam akan berakibatsangat patal bagi keberlangsungan pendidikan Islam. Bahkan Allah memberikan arahankepada setiap orang yang beriman untuk mendesain sebuah rencana apa yang akandilakukan dikemudian hari, sebagaimana Firman-Nya dalam Al Qur‘an Surat Al Hasyr : 18yang berbunyi :Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiapdiri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); danbertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamukerjakan.Ketika menyusun sebuah perencanaan dalam pendidikan Islam tidaklah dilakukan hanyauntuk mencapai tujuan dunia semata, tapi harus jauh lebih dari itu melampaui batas-batastarget kehidupan duniawi. Arahkanlah perencanaan itu juga untuk mencapai targetkebahagiaan dunia dan akhirat, sehingga kedua-duanya bisa dicapai secara seimbang.Mahdi bin Ibrahim (l997:63) mengemukakan bahwa ada lima perkara penting untukdiperhatikan demi keberhasilan sebuah perencanaan, yaitu : 1. Ketelitian dan kejelasan dalam membentuk tujuan 2. Ketepatan waktu dengan tujuan yang hendak dicapai 3. Keterkaitan antara fase-fase operasional rencana dengan penanggung jawab operasional, agar mereka mengetahui fase-fase tersebut dengan tujuan yang hendak dicapai 4. Perhatian terhadap aspek-aspek amaliah ditinjau dari sisi penerimaan masyarakat, mempertimbangkan perencanaa, kesesuaian perencanaan dengan tim yang bertanggung jawab terhadap operasionalnya atau dengan mitra kerjanya, kemungkinan-kemungkinan yang bisa dicapai, dan kesiapan perencanaan melakukan evaluasi secara terus menerus dalam merealisasikan tujuan.
  4. 4. 5. Kemampuan organisatoris penanggung jaawab operasional.Sementara itu menurut Ramayulis (2008:271) mengatakan bahwa dalam Manajemenpendidikan Islam perencanaan itu meliputi : 1. Penentuan prioritas agar pelaksanaan pendidikan berjalan efektif, prioritas kebutuhan agar melibatkan seluruh komponen yang terlibat dalam proses pendidikan, masyarakat dan bahkan murid. 2. Penetapan tujuan sebagai garis pengarahan dan sebagai evaluasi terhadap pelaksanaan dan hasil pendidikan 3. Formulasi prosedur sebagai tahap-tahap rencana tindakan. 4. Penyerahan tanggung jawab kepada individu dan kelompok-kelompok kerja.Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam Manajeman Pendidikan Islamperencanaan merupakan kunci utama untuk menentukan aktivitas berikutnya. Tanpaperencanaan yang matang aktivitas lainnya tidaklah akan berjalan dengan baik bahkanmungkin akan gagal. Oleh karena itu buatlah perencanaan sematang mungkin agarmenemui kesuksesan yang memuaskan.2. Fungsi Pengorganisasian (organizing)Ajaran Islam senantiasa mendorong para pemeluknya untuk melakukan segala sesuatusecara terorganisir dengan rapi, sebab bisa jadi suatu kebenaran yang tidak terorganisirdengan rapi akan dengan mudah bisa diluluhlantakan oleh kebathilan yang tersusun rapi.Menurut Terry (2003:73) pengorganisasian merupakan kegiatan dasar dari manajemendilaksnakan untuk mengatur seluruh sumber-sumber yang dibutuhkan termasuk unsurmanusia, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan sukses.Organisasi dalam pandangan Islam bukan semata-mata wadah, melainkan lebihmenekankan pada bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan secara rapi. Organisasi lebihmenekankan pada pengaturan mekanisme kerja. Dalam sebuah organisasi tentu adapemimpin dan bawahan (Didin dan Hendri, 2003:101)Sementara itu Ramayulis (2008:272) menyatakan bahwa pengorganisasian dalampendidikan Islam adalah proses penentuan struktur, aktivitas, interkasi, koordinasi, desainstruktur, wewenang, tugas secara transparan, dan jelas. Dalam lembaga pendidikan Isla,baik yang bersifat individual, kelompok, maupun kelembagaan.Sebuah organisasi dalam manajemen pendidikan Islam akan dapat berjalan dengan lancardan sesuai dengan tujuan jika konsisten dengan prinsip-prinsip yang mendesain perjalananorganisasi yaitu Kebebasan, keadilan, dan musyawarah. Jika kesemua prinsip ini dapatdiaplikasikan secara konsisten dalam proses pengelolaan lembaga pendidikan islam akansangat membantu bagi para manajer pendidikan Islam.Dari uraian di atas dapat difahami bahwa pengorganisasian merupakan fase kedua setelahperencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Pengorganisasian terjadi karena pekerjaanyang perlu dilaksanakan itu terlalu berat untuk ditangani oleh satu orang saja. Dengandemikian diperlukan tenaga-tenaga bantuan dan terbentuklah suatu kelompok kerja yangefektif. Banyak pikiran, tangan, dan keterampilan dihimpun menjadi satu yang harus
  5. 5. dikoordinasi bukan saja untuk diselesaikan tugas-tugas yang bersangkutan, tetapi jugauntuk menciptakan kegunaan bagi masing-masing anggota kelompok tersebut terhadapkeinginan keterampilan dan pengetahuan.3. Fungsi Pengarahan (directing).Pengarahan adalah proses memberikan bimbingan kepada rekan kerja sehingga merekamenjadi pegawai yang berpengetahuan dan akan bekerja efektif menuju sasaran yang telahditetapkan sebelumnya.Di dalam fungsi pengarahan terdapat empat komponen, yaitu pengarah, yang diberipengarahan, isi pengarahan, dan metode pengarahan. Pengarahadalah orang yangmemberikan pengarahan berupa perintah, larangan, dan bimbingan. Yangdiberipengarahan adalah orang yang diinginkan dapat merealisasikan pengarahan. Isipengarahan adalah sesuatu yang disampaikan pengarah baik berupa perintah, larangan,maupun bimbingan. Sedangkan metode pengarahan adalah sistem komunikasi antarapengarah dan yang diberi pengarahan.Dalam manajemen pendidikan Islam, agar isi pengarahan yang diberikan kepada orangyang diberi pengarahan dapat dilaksanakan dengan baik maka seorang pengarah setidaknyaharus memperhatikan beberapa prinsip berikut, yaitu : Keteladanan, konsistensi,keterbukaan, kelembutan, dan kebijakan. Isi pengarahan baik yang berupa perintah,larangan, maupun bimbingan hendaknya tidak memberatkan dan diluar kemampuansipenerima arahan, sebab jika hal itu terjadi maka jangan berharap isi pengarahan itu dapatdilaksanakan dengan baik oleh sipenerima pengarahan.Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa fungsi pengarahan dalam manajemenpendidikan Islam adalah proses bimbingan yang didasari prinsip-prinsip religius kepadarekan kerja, sehingga orang tersebut mau melaksanakan tugasnya dengan sungguh-sungguh dan bersemangat disertai keikhlasan yang sangat mendalam.4. Fungsi Pengawasan (Controlling)Pengawasan adalah keseluruhan upaya pengamatan pelaksanaan kegiatan operasional gunamenjamin bahwa kegiatan tersebut sesuai dengan rencana yang telah ditetapkansebelumnya. Bahkan Didin dan Hendri (2003:156) menyatakan bahwa dalam pandanganIslam pengawasan dilakukan untuk meluruskan yang tidak lurus, mengoreksi yang salahdan membenarkan yang hak.Dalam pendidikan Islam pengawasan didefinisikan sebagai proses pemantauan yang terusmenerus untuk menjamin terlaksananya perencanaan secara konsekwen baik yang bersifatmateril maupun spirituil.Menurut Ramayulis (2008:274) pengawasan dalam pendidikan Islam mempunyaikarakteristik sebagai berikut: pengawasan bersifat material dan spiritual, monitoring bukanhanya manajer, tetapi juga Allah Swt, menggunakan metode yang manusiawi yangmenjunjung martabat manusia. Dengan karakterisrik tersebut dapat dipahami bahwapelaksana berbagai perencaan yang telah disepakati akan bertanggung jawab kepadamanajernya dan Allah sebagai pengawas yang Maha Mengetahui. Di sisi lain pengawasan
  6. 6. dalam konsep Islam lebih mengutamakan menggunakan pendekatan manusiawi,pendekatan yang dijiwai oleh nilai-nilai keislaman. 1. PenutupDari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Manajemen Pendidikan Islam adalahproses pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (ummat Islam, lembaga pendidikanatau lainnya) baik perangkat keras maupun lunak. Pemanfaatan tersebut dilakukan melaluikerjasama dengan orang lain secara efektif, efisien, dan produktif untuk mencapaikebahagiaan dan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat.Banyak sekali para ulama di bidang manajemen yang menyebutkan tentang fungsi-fungsimanajemen diantaranya adalah Mahdi bin Ibrahim, dia mengatakan bahwa fungsimanajemen itu di antaranya adalah Fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,dan pengawasan.Bila Para Manajer dalam pendidikan Islam telah bisa melaksanakan tugasnya dengan tepatseuai dengan fungsi manajemen di atas, terhindar dari semua ungkupan sumir yangmenyatakan bahwa lembaga pendidikan Islam dikelola dengan manajemen yang asal-asalan tanpa tujuan yang tepat. Maka tidak akan ada lagi lembaga pendidikan Islam yangketinggalan Zaman, tidak teroganisir dengan rapi, dan tidak memiliki sisten kontrol yangsesuai.Tulisan sederhana yang telah kami (kelompoik1) persembahkan dihadapan anda sebagaibahan pengantar diskusi ini semoga bermanfaat adanya. TerimakasihWallahu „alam.Bahan Bacaan 1. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2008 2. Sondang P Siagian, Filsafah Administrasi, CV Masaagung, Jakarta, 1990 3. Didin Hafidudin dan Hendri Tanjung, Manajemen Syariah dalam Prkatik, Gema Insani, Jakarta, 2003. 4. Mahdi bin Ibrahim, Amanah dalam Manajemen, Pustaka Al Kautsar, Jakarta, 1997 5. Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia, Rineka Cipta, 2004. 6. George R Terry, Prinsip-prinsip Manajemen, Bumi Aksara, Jakarta, 2006 7. Robbin dan Coulter, Manajemen (edisi kedelapan), PT Indeks, Jakarta, 2007 8. UU sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003
  7. 7. PENELITIAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM (Sebuah Pencarian Metodologik)A.PengantarMembahas wilayah kajian dan objek kajian ilmu pengetahuan beserta paradigma kajiannyatidak dapat dipisahkan dari pandangan filsafat terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.Menurut filsafat ilmu, ilmu bersandar pada 3 (tiga) pilar penyangga, yaitu ontologi,epistemologi, dan aksiologi. Ontologi merupakan asas penetapan objek dan wilayah kajiandan karenanya menjawab pertanyaan apa yang dikaji, termasuk apa realitas yang dikajimerupakan sesuatu wujud yang nyata (kongkret), tidak nyata (abstrak) atau simbolik.Epistemologi merupakan asas penetapan bagaimana cara mempelajari ataumemperolehnya, dan karenanya menjawab pertanyaan bagaimana mengkajinya.Sedangkan aksiologi merupakan asas penetapan tujuan dan manfaat pengetahuan, dankarenanya menjawab pertanyaan apa tujuan dan manfaat pengetahuan yang akan dikajitersebut.Secara ontologik, ilmu terbatas pada kawasan yang berada dalam jangkauan pengalamandan pengamatan manusia. Ide-ide tentang Tuhan, alam akhirat, surga, neraka, dansejenisnya, kendati telah lama hidup dalam perbendaharaan jiwa manusia dan secara kuatmempengaruhi perilaku menusia sehari-hari bukan merupakan hasil potret pengalamanempirik manusia karena tidak muncul dalam dunia observasi dan pengalaman empirik.Karena itu, pengetahuan tersebut tidak termasuk kawasan ilmu pengetahuan ilmiah.Penggagas Rasionalisme Kritis Popper (1972), misalnya, menyebutnya pengetahuan yang―dapat diuji‖, dan ―yang tidak dapat diuji‖. Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yangterbuka untuk diuji. Tolok ukur yang dipakai Popper untuk membedakan pengetahuan―ilmiah‖ dan ―non-ilmiah‖ bukan ―benar‖ dan ―salah‖, melainkan ―dapat diuji‖ dan ―tidakdapat diuji‖ (Wuisman, 1996: 20). Selain itu, ilmu berupaya menafsirkan hakikat wilayahatau objek kajian sebagaimana adanya dan terbuka untuk pengujian secara terus menerus.Pengujian secara terus menerus dilakukan untuk memperoleh kebenaran. Sebab, ilmupengetahuan yang dibangun atas dasar pengamatan manusia sejatinya tidak lain hanyamerupakan dugaan atau asumsi. Ilmu pengetahuan tidak pernah benar secara mutlak. Ilmuhanya dapat berkembang apabila terus menerus dikaji. Lewat kajian tersebut akanditemukan data dan fakta baru yang membuktikan kebenaran dan kesalahannya. Karenaitu, ilmu berangkat dari fakta dan berakhir dengan fakta pula. Secara epistemologik, ilmumenyusun dan menambah bangunan pengetahuan melalui metode tertentu, yang disebutmetode ilmiah. Metode ilmiah adalah seperangkat cara dan tata kerja untuk menghasilkanpengetahuan ilmiah secara sistemik dan sistematik. Sistemik artinya ada saling keterkaitanantar-unsur dan sistematik artinya ada urutan logik antar-langkah.Secara aksiologik, tujuan dan pemanfaatan pengetahuan keilmuan harus dimaksudkandemi kemaslahatan umat manusia. Ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alatmeningkatkan taraf hidup manusia tanpa harus mengorbankan kodrat dan martabatnya,serta kelestarian dan keseimbangan alam. Karena itu, ilmu merupakan harta bersama umatmanusia. Setiap orang berhak menggali dan memanfaatkan ilmu sesuai kebutuhannya.Setiap ilmu niscaya memiliki ciri dan kekhususan masing-masing, kendati antara yang satudengan yang lainnya dapat saling bersentuhan. Ilmu manajemen, misalnya, sebagai bagiandari kekayaan pengetahuan manusia, memiliki ciri dan kekhususan sendiri pula yangmembedakannya dengan ilmu pengetahuan lainnya baik secara ontologik, epistemologik
  8. 8. maupun aksiologik.Dengan demikian, karena masing-masing ilmu memiliki ciri-ciri khusus, maka setiapkajian tentang metode keilmuan tertentu, perlu terlebih dahulu menjawab pertanyaan: (1)apa bahan yang dikaji, (2) bagaimana cara mengkajinya dan (3) apa manfaat atau tujuankajian tersebut.B. Objek Penelitian Manajemen Pendidikan IslamSecara teoretik manajemen pendidikan Islam juga mengikuti kaidah-kaidah manajemenpada umumnya dengan objek kajiannya adalah lembaga-lembaga pendidikan Islam.Namun demikian, secara ontologik masih terdapat beberapa varian persepsi mengenaibidang studi yang relatif baru ini. Ditilik dari namanya, bidang kajian ini merupakanbidang kajian lintas disiplin (inter-desciplinary course), jika pemisahan istilahnya adalah:manajemen + pendidikan Islam. Namun jika pemisahannya adalah: manajemen +pendidikan + Islam, maka bidang kajian ini merupakan bidang multi disiplin (multi-desciplinary course). Bisa juga pemisahannya adalah: manajemen pendidikan + Islam.Tampaknya yang lebih menjadi concern program studi adalah pemisahan model pertama(manajemen + pendidikan Islam).Implikasi dari model kajian semacam itu adalah pengkaji dituntut untuk menguasai lebihdari satu macam disiplin ilmu. Di satu sisi, pengkaji dituntut untuk menguasai ilmumanajemen secara umum, dan di sisi yang lain dia juga dituntut untuk menguasai konsep-konsep pendidikan Islam dengan menggunakan al Qur‘an dan hadis sebagai cara pandang.Ini tentu bukan pekerjaan mudah.Sebagai program studi dengan bidang kajian khusus, secara ontologik manajemenpendidikan Islam menetapkan kawasannya berdasarkan fakta empirik dan konsep teoretikmanajemen pendidikan Islam. Manajemen adalah sebuah konstruk teoretik. Pendidikanadalah konsep substantif, tetapi masih di tingkat generik, sedangkan Islam adalah konsepsubstantif di tingkat partikularistik. Dengan demikian, secara definitif manajemenpendidikan Islam adalah proses mengelola lembaga-lembaga pendidikan Islam sepertimadrasah, pondok pesantren, dan lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam denganmenggunakan Islam (al Qur‘an dan hadis) sebagai cara pandang/perspektif. Diyakinilembaga-lembaga pendidikan tersebut memiliki ciri khusus yang membedakaanya denganlembaga-lembaga pendidikan lainnya sehingga diperlukan model pengelolaan secarakhusus pula.Secara lebih rinci, objek kajian manajemen pendidikan Islam meliputi: (1) perangkatkegiatan apa saja yang membentuk konstruk manajemen, mulai dari planning, organizing,actuating hingga controlling, (2) komponen-komponen sistemik yang niscaya ada dalamfenomena pendidikan, mulai dari input, output, outcome, proses belajar, sarana danprasarana belajar, lingkungan, guru, kurikulum, personalia pendukung, bahan ajar,masyarakat, evaluasi dan (3) fakta empirik yang diberi label (pendidikan) Islam, dengankekhususannya, seperti nilai-nilai yang berkembang di lingkungan lembaga pendidikanIslam (ikhlas, barokah, tawadu‘, istiqomah, ijtihad, dan sebagainya).Memahami pendidikan sebagai upaya teleologik di mana manajemen merupakan bagiankomponen yang tak terpisahkan dari praktik pendidikan, ilustrasi berikut dapat dipakaimencari ruang/wilayah kajian penelitian.
  9. 9. C. ProsesPenelitian Manajemen Pendidikan IslamSebagai aktivitas ilmiah, penelitian memiliki langkah-langkah yang sistemik dansistematik yang berlaku untuk semua disiplin ilmu. Sistemik artinya ada saling keterkaitanantar-unsur dan sistematik artinya ada urutan logik antar-langkah. Setidaknya terdapat 8(delapan) tahap penelitian sebagai berikut: (1) selecting a topic), (2) determining aresearch paradigm, (3) formulating a research question, (4) determining a researchdesign, (5) collecting data, (6) analyzing data, (7) interpreting data, (8) informing others.1. Selecting a topicMemilih topik penelitian merupakan langkah paling awal yang harus dilakukan seorangpeneliti. Topik penelitian merupakan ide atau gambaran sangat umum yang akan menjaditema kajian, bisa tentang masalah pendidikan, budaya, politik, sejarah, ekonomi, agamadan sebagainya.Tidak ada formula yang baku tentang metode bagaimana mencari topik penelitian. Tetapiada beberapa cara yang bisa dipakai sebagai pedoman. Menurut sebagai berikut: 1. personal experience, yaitu pengalaman pribadi yang pernah dialami seseorang. Ini bisa menjadi inspirasi seseorang untuk melakukan penelitian. 2. curiosity, yaitu rasa ingin tahu yang kuat. Misalnya, sesaeorang ingin mengetahui pola hubungan antara majikan dan staf di dalam sebuah perusahaan atau kantor sehingga melahirkan kinerja yang sinergis. 3. the state of knowledge in a field, yaitu tema atau isu–isu baru di masyarakat yang mengundang perhatian publik. Misalnya, beberapa waktu lalu terjadi bentrok antar- pemeluk agama karena munculnya aliran baru dalam agama, seperti Ahmadiyah. 4. solving a problem, yaitu keinginan menyelesaikan masalah yang terjadi di masyarakat dengan segera. Misalnya, di masyarakat ada gejala orang mudah marah atau bersifat emosional terhadap kebijakan publik. 5. social premiums (some topics are “hot” and invite challenges or opportunities. Ada tema atau topik tertentu yang menantang untuk diteliti dengan imbalan finansial yang cukup memadai. 6. f. personal values, yakni nilai atau manfaat khusus secara pribadi atas hasil penelitian. 7. everyday life, yakni peristiwa sehari-hari bisa menjadi lahan atau tema penelitain, baik yang berskala mikro maupun makro.Namun demikian dari sekian banyak tahapan tersebut, tema penelitian untuk skripsi, tesisdan desertasi setidaknya memenuhi 3 (tiga) syarat R, yakni:a. (R)elevansi Akademik, bahwa penelitian harus memberikan sumbangan keilmuan sesuaibidang studi yang kita tekuni).b. (R)elevansi Sosial, bahwa penelitian harus menarik dan relevan dengan isu-isu yangterjadi d masyarakat.c. (R)elevansi Institusional, bahwa penelitian mengangkat tema yang akrab dengan
  10. 10. lembaga di mana kita bekerja atau belajar.2. Determining a Research ParadigmSelaras dengan tinjauan aksiologik, dalam khasanah metodologi penelitian atau kajiandikenal, paling tidak, tiga paradigma kajian utama, yaitu: (1) paradigma positivistik(positivistic paradigm), (2) paradigma interpretif (interpretive paradigm), dan (3)paradigma refleksif (reflexive paradigm). Lazimnya, paradigma positivistik disepadankandengan pendekatan kuantitatif (quantitative approach), paradigma interpretif disepadankandengan pendekatan kualitatif (qualitative approach), sedangkan paradigma refleksifdisepadankan dengan pendekatan kritik (criticalapproach). No. Aksioma Positivistik Interpretif Refleksif 1 Tujuan Menjelaskan realitas Memahami fenomena Memberdayakan dan membebaskan 2 Dasar kenyataan Stabil dan terpola Cair dan mengalir Penuh dengan pertentangan dan dipengaruhi oleh struktur terselubung yang mendasarinya 3 Sifat dasar Rasional dan memiliki Membentuk makna Manusia bersifat kreatif manusia kepentingan pribadi, dan niscaya memberi dan adaptif, tetapi serta dipengaruhi oleh makna terhadap dunia cenderung terbelenggu kekuatan di luar mereka dan tertindas oleh dirinya kesadaran palsu 4 Peran akal sehat Berbeda dari dan Seperangkat teori Keyakinan palsu yang tidak sahih dibanding keseharian yang menyelubungi kenyataan pengetahuan keilmuan digunakan dan sebenarnya bermanfaat bagi orang-orang tertentu 5 Wujud Teori Teori adalah sistem Teori adalah paparan Teori adalah kritik yang logik, deduktif, dan tentang bagaimana membuka atau menggambarkan seperangkat sistem mengungkap kenyataan saling keterkaitan pemaknaan dihasilkan sebenarnya dan antara sejumlah dan dipertahankan membantu manusia difinisi, aksioma, dan melihat cara hukum memperbaiki keadaan 6 Tolok Ukur Apabila secara logik Apabila menyuarakan Manakala bisa memberi Kebenaran terkait dengan hukum kembali atau memang manusia seperangkat Penjelasan serta didasarkan pada dipandang benar oleh piranti yang diperlukan kenyataan para pelaku sendiri untuk mengubah kenyataan 7 Bukti kebenaran Didasarkan pada Terpancang atau Ditakar berdasar pengamatan yang terkait konteks kemampuannya dalam tepat sehingga orang interaksi manusia menyingkap struktur lain bisa yang cair dan terselubung yang mengulanginya mengalir mendasari kepalsuan atau ketidak-adilan
  11. 11. 8 Kedudukan nilai Bebas nilai (value Bagian tak Ilmu harus mulai dari free) dan tidak terpisahkan dari pendirian menurut tata- memiliki tempat kenyataan manusia nilai tertentu kecuali ketika (value bound) seseorang memilih Ada nilai-nilai benar, ada topik kajian pula nilai-nilai yang salah.9 Langkah Kerja (1) Perumusan (1) penentuan topik (1) penentuan masalah (research kajian, yang mencakup pumpun kajian (focus problem), yang kegiatan memilih dan of study), yang meliputi kegiatan merumuskan masalah mencakup kegiatan memilih masalah yang yang bernilai bagi memilih masalah memenuhi syarat pembangkitan kesadaran yang memenuhi kelayakan dan manusia, syarat kelayakan dan kebermaknaa kebermaknaan, (2) penetapan pendirian (2) Penyusunan filsafat dan atau (2) pengembangan kerangka berpikir ideologik, yang meliputi kepekaan teoretik dalam pengajuan kegiatan penelaahan dengan menelaah hipotesis, yang pemikiran-pemikiran bahan pustaka yang mencakup kegiatan yang relevan, dan relevan dan hasil penelaahan teori dan perumusan secara kajian sebelumnya, hasil kajian eksplisit pokok-pokok sebelumnya, pikiran yang digunakan (3) penentuan kasus sebagai landasan atau bahan kajian, (3) Perumusan pengajuan kritik, yang meliputi hipotesis, sebagai kegiatan memilih dari jawaban sementara (3) pemilihan kasus atau mana dan dari siapa terhadap bahan kajian, dengan data diperoleh, permasalahan menentukan dari mana dan dari siapa data (4) pengembangan (4) pemilihan atau diperoleh, (4) rancangan pengembangan pengembangan strategi pemerolehan dan rancangan kajian, pemerolehan dan pengolahan data, yang pengolahan data, yang mencakup kegiatan (5) Pengembangan terdiri atas kegiatan menetapkan piranti, piranti atau alat menetapkan piranti data, langkah dan teknik pengumpulan data, langkah dan teknik yang pemerolehan dan digunakan, pengolahan data yang (6) Pengumpulan atau digunakan, pemerolehan data, (5) pelaksanaan kegiatan pemerolehan data, yang (5) pelaksanaan (7) pengolahan data mencakup kegiatan kegiatan pemerolehan untuk menguji mengumpulkan data atau data, yang terdiri atas hipotesis, melakukan pembacaan kegiatan naskah yang dikaji, mengumpulkan data (8) penafsiran hasil lapangan atau kajian, dan (6) pengolahan data melakukan perolehan, yang melipuiti pembacaan naskah (9) penarikan kegiatan penyandian
  12. 12. kesimpulan yang dikaji, (coding), pengkategorian berdasarkan hasil (categorizing), pengolahan data, (6) pengolahan data pembandingan perolehan, yang (contrasting), dan (10) penyatu-paduan meliputi kegiatan pembahasan (discussing), hasil kajian ke dalam penyandian (coding), bangunan pengkategorian (7) perumusan simpulan pengetahuan (categorizing), kajian, yang dilakukan sebelumnya, serta pembandingan berdasarkan perenungan saran bagi kajian (comparing), dan (reflextive thinking), dan berikutnya. pembahasan (discussing), (8) pengajuan rekomendasi baik untuk (7) negosiasi hasil arah kajian lanjutan kajian dengan subjek maupun agenda kajian, dan pemberdayaan (empowerment agenda) (8) perumusan ke depan. simpulan kajian, yang meliputi kegiatan penafsiran dan penyatu-paduan (interpreting andintegrating) temuan ke dalam bangunan pengetahuan sebelumnya, serta saran bagi kajian berikutnya.3. Formulating research questionBeberapa langkah untuk merumuskan pertanyaan penelitian: 1. examining literature, yakni penelusuran literatur, selain dipakai untuk menyempitkan masalah sehingga researchable, juga untuk membantu menyadari bahwa penelitian ini akan memberi sumbangan pada topik yang lebih besar dan bahwa penelitian tersebut merupakan bagian dari penelitian sebelumnya, bukan fakta asing yang terpisah. 2. talking over ideas with colleagues or experts, yakni mendiskusikan rencana atau topik penelitian dengan kolega, teman sejawat atau ahli untuk memperoleh masukan. 3. applying to a specific context, mencoba memahaminya dengan lebih dalam pada konteks secara spesifik. 4. defining the aims or desired outcome of the study, yakni menentukan tujuan yang hendak dicapai, apakah untuk menjelaskan realitas atau memahami fenomena.4. Determining a research design.
  13. 13. Pada tahap ini peneliti membuat rancangan tentang prosedur dan metode yang akan dipakaiuntuk memperoleh data, bagaimana memperolehnya, siapa yang akan dihubungi, kapanpelaksanaannya dan di mana, apa bentuk datanya, dan bagaimana cara analisisnya.5. Collecting dataSecara umum kegiatan pengumpulan data terdiri atas observasi, wawancara, dan kuesioner.(masing-masing jenis perlu dibahas pada sesi tersendiri).6. Analyzing dataTerdapat tiga model atau cara untuk menganalisis data kualitatif. Miles dan Huberman(1987) menganjurkan model analisis interaktif (interactive model) yang mengandungempat komponen yang saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanaandata, (3) pemaparan data, dan (4) penarikan dan pengajuan simpulan.Spradley (1979) menganjurkan empat teknik analisis data kualitatif, yaitu (1) analisis ranah(domain analysis), (2) analisis taksonomik (taxonomic analysis), (3) analisis komponensial(componential analysis), dan (4) analisis tematik (thematic analysis).Analisis ranah dimaksudkan untuk memperoleh pengertian umum dan relatif menyeluruhmengenai pokok permasalahan. Hasil analisis ini berupa pengetahuan tingkat ―permulaan‖tentang berbagai ranah atau kategori konseptual secara umum pula.Pada analisis taksonomik, pusat perhatian ditentukan terbatas pada ranah yang sangatberguna dalam memaparkan gejala-gejala yang menjadi sasaran penelitian. Analisistaksonomik tidak saja berdasarkan data lapangan, tetapi juga berdasarkan hasil kajianpusataka. Beberapa ranah yang sangat penting dipilih dan dijadikan pusat perhatian untukdiselidiki secara mendalam.Analisis komponensial dilakukan untuk mengorganisasikan perbedaan (kontras) antar-unsur dalam ranah yang diperoleh melalui pengamatan dan atau wawancara terseleksi.Pada analisis tematik, peneliti menggunakan saran Bogdan dan Taylor (1975: 82-93)dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Membaca secara cermat keseluruhan catatan lapangan 2. Memberikan kode pada topik-topik pembicaraan penting 3. Menyusun tipologi 4. Membaca kepustakaan yang terkait dengan masalah dan konteks penelitian.Berdasarkan seluruh analisis, peneliti melakukan rekonstruksi dalam bentuk deskripsi,narasi dan argumentasi. Beberapa sub-topik disusun secara deduktif, denganmendahulukan kaidah-kaidah pokok yang diikuti dengan kasus dan contoh-contoh. Sub-topik selebihnya disajikan secara induktif, dengan memaparkan kasus dan contoh untukditarik kesimpulan umumnya.
  14. 14. Cara atau model ketiga disarankan oleh Strauss dan Corbin (1990) dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) open coding, (2) axial coding, (3) selective coding, dan (4) thegeneration of a conditional matrix.7. Interpreting dataPada tahap ini peneliti melakukan simpulan kajian, yang meliputi kegiatan penafsiran danpenyatupaduan (interpreting andintegrating) temuan ke dalam bangunan pengetahuansebelumnya.8. Informing others.Pada tahap ini peneliti menulis hasil penelitian dalam bentuk laporan penelitian, bisa dalambentuk skripsi, tesis, desertasi atau laporan penelitian. Temuan penelitian disebarluaskanke khalayak akademik untuk memperoleh masukan dan memberikan sumbangan bagikemaslahatan umum. Dari temuan penelitian, kegiatan penelitian lebih lanjut dapatdilakukan.Secara ringkas perbedaan antara skripsi, tesis dan desertasi sebagai berikut: Unsur Jenjang Sarjana (S1) Magister (S2) Doktor (S3) 1. Penampilan Menguasai materi ilmu Menguasai teori dan Mampu dalam bidang pengetahuan masing- metodologi ilmu mengembangkan ilmu ilmu masing pengetahuan masing- pengetahuan masing- pengetahuan masing masing 1. Penampilan Mahir dalam Mahir dalam Mahir dalam dalam karya mengadakan penelitian mengadakan penelitian mengadakan penelitian penelitian deskriptif analitis (monodisiplin) empiris dan evaluatif (monodisiplin) (mono-, multi-, dan interdisipliner) 1. Intensitas Berpikir rasional logis Berpikir rasional kritis Berpikir rasional, pemikiran inovatif/kreatif 1. Tanggung Memiliki kejujuran Memiliki integritas Memiliki komitmen jawab pribadi ilmiah akademik/profesi social secara kritis emansipatoris (pengetahuan untuk kemajuan peradaban manusia dan kemanusiaanD. Penutup
  15. 15. Sebagai sebuah disiplin ilmu pengetahun, manajemen pendidikan Islam memiliki ciri dankekhasan sendiri yang berbeda dengan bidang pengetahuan yang lain, baik dari aspekontologik, epsitemologik maupun aksiologik. Pemahaman ontologik yang mencakup objekdan wilayah kajian, pemahaman epistemologik yang mencakup cara mengkajinya danpemahaman aksiologik yang mencakup tujuan dan manfaat kajian penting dikuasai olehsetiap peneliti. Kekeliruan penetapan objek dan wilayah kajian akan berakibat sangat fatal,Sebagai bidang ilmu lintas disiplin, manajemen pendidikan Islam memungkinkan untukdikaji bersama para pakar di bidang lain, seperti pakar pendidikan, pakar manajemen(umum), dan pakar studi keislaman.Dengan besarnya jumlah lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang sampai saat inimencapai angka 85. 911 dengan jumlah siswa 11.531.028, maka bidang studi ini sangatprospektif. Peminat studi ini pun juga semakin banyak. Seiring dengan upayapengembangan dan peningkatan kualitas lembaga pendidikan Islam, Indonesia sangatmemerlukan ahli di bidang ini untuk membuat blue print pengelolaan lembaga-lembagapendidikan Islam secara nasional. Siapa tahu ahli dimaksud muncul dari kelas ini! ______________
  16. 16. Daftar PustakaAlvesson, Mats dan Kaj Skoldberg. 2000. Reflexive Methodology: New Vistas forQualitative Research. London, Thousand Oaks, New Delhi: SAGE Publications.Denzin, Norman K and Yvonna S. Lincoln (eds.). 1994. Handbook of QualitativeResearch. Thousands Oaks, California: SAGE Publications, Inc.Faisal, Sanapiah. 1998. ―Filosofi dan Akar Tradisi Penelitian Kualitatif‖, Makalah,Disampaikan pada Pelatihan Metode Penelitian Kualitatif oleh Badan MusyawarahPerguruan Tinggi Swasta Indonesia (BMPTSI) Wilayah VII-Jawa Timur di Surabaya, 24-27 Agustus 1998.Popper, K.R. 1972. Conjectures and refutations. The Growth of Scientific Knowledge. (4thedition). London: Routledge and Kegal Paul.Rahardjo, Mudjia. 2005. Bahasa dan Kekuasaan: Studi Wacana Politik AbdurrahmanWahid dalam Perspektif Hermeneutika Gadamerian. Disertasi pada Program Doktor,Program Pascasarjana Universitas Airlangga.Sulistyo-Basuki. 2006. MetodePenelitian. Jakarta: Wedatama Wida Sastra Bekerja samadengan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.Wuisman J.J.J. M. 1996. Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Jilid 1, Asas-Asas. Jakarta: LembagaPenerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
  17. 17. Menggagas Konsep Ideal Manajemen Pendidikan IslamTerkait implementasi manajemen pendidikan nasional dengan diiringi manajemenpendidikan Islam demi meningkatkan mutu lembaga pendidikan, senyatanya memangterdapat benang merah yang kemudian mengindikasikan adanya kesamaan antaramanajemen pendidikan Islam dan manajemen pendidikan nasional dalam beberapa hal,sehingga keduanya merupakan suatu sinergi yang saling melengkapi. Dalam manajemenpendidikan nasional mengharuskan adanya manajerial serta pemimpin yang berkualitasdan berpengetahuan luas. Demikian pula halnya pada manajemen pendidikan Islam, yangtertuang dalam QS. As Sajadah: 24, yang juga mengatur dan mengharuskan adanyapemimpin berkualitas dan berpengetahuan luas.Melalui optimalisasi manajemen pendidikan Islam dan manajemen pendidikan nasional,lembaga pendidikan dapat lebih memberdayakan diri serta meningkatkan mutu dankualitasnya. Sudah terang, entitas dan eksistensi manajemen pendidikan Islam sangatlahmendukung bagi implementasi manajemen pendidikan nasional karena memang keduanyasaling bersinergi dan melengkapi.Kendati manajemen pendidikan Islam dan konsepnya masih mengikuti konsep manajemenpendidikan nasional, namun bukan berarti bahwa manajemen pendidikan Islam tidakmemiliki acuan yang menjadi bahan baku untuk diolah, dikelola dan dikembangkan sendirioleh seluruh umat manusia. Dalam manajemen pendidikan Islam memang tidak terdapatkonsep yang baku, akan tetapi ada acuan dasar yang dipakai untuk merancang danmengembangkan konsepsinya, umat manusia benar-benar diberi kebebasan. Acuan dasartersebut tidak lain adalah Al-Qur‘an dan Hadits.Pada dasarnya, Islam bukanlah sebuah sistem kehidupan yang praktis dan baku, melainkansebuah sistem nilai dan norma (perintah dan larangan). Bahkan menurut Prof. Dr. H.Abudin Nata, MA; dalam Islam tidak terdapat sistem pendidikan yang baku, melainkanhanya terdapat nilai-nilai moral dan etis yang seharusnya mewarnai sistem pendidikantersebut.Berbagai komponen yang terdapat di dalam pendidikan Islam -termasuk juga manajemenpendidikan Islam- harus didasarkan pada nilai-nilai moral dan etis ajaran Islam. Dalam halpendidikan, Islam hanya menyediakan bahan baku, sedangkan untuk menjadi sebuahsistem yang operasional, manusia diberikan kebebasan dan keleluasaan untuk membangundan menerjemahkan. Karenanya, tidak ada pendidikan Islam yang baku, melainkanmanusia dirangsang untuk menciptakan pendidikan yang ideal.
  18. 18. Begitu pula pada manajemen pendidikan Islam, tidak ada konsepnya yang baku. Tetapimanusia senantiasa dirangsang untuk mencipta dan membangunnya. Untuk itu, bukanlahhal yang salah apabila di masa-masa sekarang ini manajemen pendidikan Islam masihmengikuti konsep dari manajemen pendidikan nasional, selama tidak bertentangan denganacuan dasar atau bahan bakunya, yakni Al-Qur‘an dan Hadist. Dan bukan tidak mungkinapabila kelak muncul konsep manajemen pendidikan Islam yang baru dan lebih baik darikonsep yang sekarang. Karena memang manusia senantiasa untuk merancang, membangundan menerjemahkan berdasarkan bahan baku yang telah ada. Dengan demikian, tidak adakonsep manajemen pendidikan Islam yang baku, akan tetapi manusia terus dirangsanguntuk menciptakan manajemen pendidikan yang ideal.Dalam upaya menciptakan konsep manajemen pendidikan Islam yang ideal, telah terdapatbeberapa pendapat, usulan dan pemikiran dari beberapa pakar yang tentunya layakdipertimbangkan, dikaji ulang untuk kemudian dapat diupayakan implementasinya.Pemikiran-pemikiran tersebut antara lain dapat dirumuskan sebagai berikut:a. Buah pemikiran Abudin Nata1) Lembaga pendidikan (Islam) hendaknya melakukan kerja sama yang palingmenguntungkan dengan masyarakat atau pemakai lulusan pendidikan, dengan berbagaipihak perusahaan juga dengan berbagai departemen atau lembaga sosial yang perlu diajakbekerja sama.2) Pengelola pendidikan seyogianya mampu merumuskan tujuan pendidikan yang harusdiupayakan melahirkan manusia yang kreatif, inovatif, mandiri dan produktif, mengingatdunia yang akan datang adalah dunia yang kompetitif.3) Pendidik/guru harus berperan sebagai motivator, desainer, fasilitator dan guidance(pemandu) di dalam proses pembelajaran.b. Buah pemikiran Azyumardi Azra1) Dalam segala hal yang menyangkut operasional pendidikan pada suatu lembagapendidikan (Islam), stake holders harus selalu dilibatkan. Semisal dalam pengembangankurikulum, penentuan dan pelaksanaan muatan lokal, proses pembelajaran dan lain-lain.2) Dalam aplikasinya, harus terdapat reintegrasi ilmu pada dunia pendidikan, yakni antarailmu agama dan umum. Sehingga tidak lagi dikotomi, dan pendidikan yang dijalankanberorientasi pada “tauhid paradigm of science” yakni pendidikan Islam yang di dalamnyaharus ada keselarasan dan kesatuan antara aspek lahir dan batin, eksoteris dan isoteris(kognitif, afektif dan psikomotor) yang mendukung terjadinya aktivitas.3) Dalam upaya pengembangan kurikulum, pengelola pendidikan (Islam) harus mampumerancang dan mengimplementasikan suatu pembentukan dan pembinaan keterampilan –yang kini populer dengan istilah life skiill- peserta didik.4) Lembaga pendidikan (Islam) harus menumbuhkan apresiasi dan memberi responssepatutnya terhadap semua perkembangan yang terjadi di masa kini dan mendatang,sehingga pendidikan (Islam) benar-benar fleksibel dan peka zaman.
  19. 19. c. Buah pemikiran Ramayulis1) Pengelola pendidikan Islam dituntut untuk mampu me‖manage‖ semua faktor yangmempengaruhi keberhasilan pendidikan Islam sekaligus juga harus memperhatikanperbedaan peserta didiknya dan berupaya menyikapi perbedaan yang ada secara bijak.2) Dalam mengelola lembaga pendidikan Islam, seorang administrator atau manajer harusbenar-benar kompeten dan profesional, adil, demokratis, memiliki tanggung jawab Islamiserta menjadikan Al-Qur‘an dan Hadits sebagai sumber kebijaksanaannya dalammengambil setiap keputusan.Telah terdapat begitu banyak pendapat dan pemikiran dari para pakar pendidikan yangtentunya dapat mendukung penciptaan dan upaya implementasi konsep ideal manajemenpendidikan Islam, yang kesemuanya benar-benar memiliki iktikad dan harapan menujupendidikan Islam yang paling ideal. Manajemen pendidikan Islam memang belumterkonsepkan secara baku, karena Islam senantiasa merangsang dan menyuruh umatnyauntuk dapat menggagas serta mengaplikasikan konsep pendidikan yang paling ideal,termasuk juga pada konsep manajemen pendidikan Islamnya.Dari beberapa buah pemikiran para pakar pendidikan terkait dengan konsep yang ideal darimanajemen pendidikan Islam, setidaknya dapat menjadi masukan dan acuan bagi parapengelola pendidikan Islam –baik pesantren, madrasah, sekolah-sekolah Islam maupunperguruan tinggi Islam- di dalam mengupayakan pengelolaan yang profesional, efektif danefisien sehingga dapat mendukung tercapainya tujuan pendidikan Islam. Karena padadasarnya, baik atau buruk, serta profesionalisme suatu lembaga pendidikan Islamditentukan oleh para pengelolanya. Suatu lembaga pendidikan Islam yang tidak profesionaldapat diketahui antara lain dari manajemen pendidikannya. Lembaga pendidikan tersebutmemiliki manajemen pendidikan yang statis, yang umumnya dapat dicontohkan denganmisalnya bahwa lembaga itu hanya diurus oleh dan dengan menekankan kekuatankelompok, ikatan darah atau keturunan, etnis dan wibawa institusi ideologis keagamaantertentu atau dapat dikatakan ‗Family Oriented‟. Sedangkan lembaga Islam yangprofesional lebih menekankan pada manajemen kompetitif dan kreatif serta kompetensipribadi, korporasi rasional dan ilmiah sesuai perkembangan zaman.Untuk itulah, sudah saatnya lembaga pendidikan Islam menata ulang pola manajerialnyayang mungkin dapat mengambil langkah taktis dari buah pemikiran para pakar pendidikanterkait dengan konsep manajemen pendidikan Islam yang ideal –yang kali ini masihmengikuti konsep manajemen pendidikan nasional- dengan AlQur‘an dan Hadits sebagaidasar dan landasannya demi membawa lembaga pendidikan Islam menuju keberhasilanserta mengatasi berbagai kelemahan sistem pendidikannya. Seperti yang diungkapkanMastuhu perihal kelemahan sistem pendidikan madrasah (salah satu lembaga pendidikanIslam) antara lain; mementingkan materi di atas metodologi, mementingkan memori di atasanalisis dan dialog, mementingkan pikiran vertikal di atas literal, mementingkan penguatanotak kiri di atas otak kanan.Dengan mencoba mengkaji serta menerapkan pemikiran para pakar yang kemudianmenghasilkan konsep ideal manajemen pendidikan Islam, lembaga pendidikan Islamkhususnya madrasah diharapkan mampu mengatasi kelemahan sistem pendidikannyasehingga kemudian dapat lepas dari stigma yang ada bahwa madrasah adalah lembagapendidikan kelas bawah. Konsep ideal manajemen pendidikan Islam –yang untuk saat ini
  20. 20. masih mengikuti konsep manajemen pendidikan nasional- adalah upaya menghasilkansuatu pendidikan yang paling ideal.Konsep manajemen pendidikan Islam dan manajemen pendidikan nasional secara umummemang sama. Karena dalam konteks pendidikan nasional, pendidikan Islam sudahterintegrasi, tetapi dalam aplikasinya terdapat ciri khas pendidikan Islam.Kendati pada masa kini konsep manajemen pendidikan Islam dan manajemen pendidikannasional sama, akan tetapi terdapat perbedaan mendasar yang dapat dilihat dari nilai Islamsebagai landasan pengembangan organisasi, seperti dalam menentukan visi misi, budayaorganisasi atau kebijakan-kebijakan strategis. Dengan demikian, meskipun dalam konsepmanajemen pendidikan antara nasional dan Islam adalah sama, bersinergi danterintegralisasi, namun dalam hal-hal penentuan visi misi, budaya organisasi ataukebijakan-kebijakan strategis, lembaga pendidikan Islam memakai nilai-nilai normatif dariIslam. Terlepas dari semua itu, sejatinya manajemen pendidikan nasional dan manajemenpendidikan Islam adalah dua sisi yang saling melengkapi, saling bersinergi dan integral.Bibliographical:Abudin Nata, 2003, Manajemen Pendidikan: Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam diIndonesia, Jakarta: Kencana.,Azyumardi Azra,2002 Paradigma Baru Pendidikan Nasional; Rekonstruksi danDemokrasi, Jakarta: Kompas.Ramayulis, 2001, Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam (sebuah pengantar); SyamsulNizar, Pengantar Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam, Jakarta: Gaya MediaPratama,Made Pidarta, 1988, Manajemen Pendidikan Indonesia, Jakarta: Bina Aksara.Mastuhu, 1999, Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam; Strategi Budaya MenujuMasyarakat Akademik, Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu
  21. 21. Makalah Manajemen Pendidikan Islam KONSEP DASAR ORGANISASI (Kajian Manajemen Pendidikan Islam) Oleh: Muhammad KosimA. PendahuluanManusia adalah makhluk sosial (al-insānu madaniyyun bi at- thab‘i atau zoon politicon).Karenanya, setiap manusia akan saling memerlukan dalam memenuhi kebutuhannya.Antara sesama manusia juga dituntut untuk saling bekerja sama, saling menghargai danmenghormati untuk mempertahankan hidupnya di muka bumi ini.Adanya alasan sosial (social reasons) di atas menjadi salah satu pendorong bagi manusiauntuk membentuk suatu perkumpulan yang biasa disebut "organisasi". Organisasi ini amatdibutuhkan untuk mewujudkan setiap cita-cita yang disepakati oleh anggota organisasisecara bersama. Oleh karena itu, organisasi tumbuh dan berkembang begitu pesat ditengah-tengah masyarakat. Organisasi itu juga dibentuk dalam berbagai aspek kehidupan,seperti pemerintahan, perusahaan, politik, hukum, ekonomi, dan termasuk bidangpendidikan.Dalam perkembangannya, organisasi telah menjadi disiplin ilmu tersendiri seiring denganberkembangnya pemikiran dan pengetahuan manusia. Teori-teori organisasi yangterbangun dalam kajiannya sebagai suatu disiplin ilmu tertentu, selanjutnya akandibutuhkan oleh masyarakat dalam membentuk suatu organisasi sesuai dengan bidang yangdiinginkan. Demikian halnya di bidang pendidikan Islam, teori-teori organisasi turutdibutuhkan untuk mewujudkan lembaga pendidikan yang lebih profesional dan berkualitas.Makalah yang sederhana ini akan mencoba menguraikan konsep-konsep organisasi.Adapun persoalan-persoalan yang akan diuraikan di bawah ini akan berusaha untukmenjawab beberapa hal, yaitu:1. Bagaimanakah pengertian organisasi dan perbedaannya dengan pengorganisasian?2. Bagaimanakah sejarah pertumbuhan dan perkembangan organisasi?3. Bagaimanakah prinsip-prinsip, fungsi, dan urgensi organisasi?4. Bagaimanakah bentuk-bentuk organisasi?5. Bagaimana pula organisasi dalam lembaga pendidikan Islam?Untuk menjawab lima pertanyaan di atas, penulis akan menguraikan beberapa teoriorganisasi lalu mencoba menganalisisnya dengan kacamata pendidikan Islam. Karenaketerbatasan kemampuan dan referensi yang digunakan, khususnya yang berkenaan dengankonsep pendidikan Islam tentang organisasi, maka dibutuhkan kritik dan saran yangbersifat konstruktif dari forum diskusi ini.B. Pengertian Organisasi dan PengorganisasianOrganisasi (organization) dan pengorganisasion (organizing) memiliki hubungan yang erat
  22. 22. dengan manajemen. Organisasi merupakan alat dan wadah atau tempat manejer melakukankegiatan-kegiatannya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Sementara Pengorganisasianmerupakan salah satu fungsi organik dari manajemen dan ditempatkan sebagai fungsikedua setelah perencanaan (planning). Dengan demikian, antara organisasi danpengorganisasian memiliki pengertian yang berbeda.James L. Gibson c.s., sebagaimana yang dikutip oleh Winardi, berpendapat bahwa:"...organisasi-organisasi merupakan entitas-entitas yang memungkinkan masyarakatmencapai hasil-hasil tertentu, yang tidak mungkin dilaksanakan oleh individu-individuyang bertidak secara sendiri"Organisasi-organisasi yang dibentuk oleh sekelompok orang pada dasarnya menginginkanterwujudnya suatu hasil atau tujuan tertentu. Tujuan yang diinginkan tersebut tidak dapatdiperoleh secara individu tetapi perlu dilakukan upaya secara bersama dan terpadu.Stephen R. Robbins memberikan rumusan pengertian organisasi sebagai berikut:"... An organization is a consciously coordinated social entity, with a relatively identifiableboundary, that functions on a relatively continuous basis to achieve a common goal or setof goals".Entitas sosial yang dikemukakan dalam definisi di atas berarti bahwa kesatuan tersebutterdiri dari orang-orang atau kelompok orang yang saling berinteraksi. Pola-pola interaksiyang diikuti orang-orang di dalam suatu organisasi tidak muncul begitu saja, akan tetapimereka dipertimbangkan sebelumnya. Mengingat bahwa organisasi-organisasi merupakanentitas-entitas sosial, maka pola-pola interaksi para anggotanya perlu dipertimbangkan pulaserta diharmonisasi guna tercapainya tujuan yang diinginkan.Prajudi Atmosudirdjo menyatakan bahwa organisasi adalah struktur tata pembagian kerjadan struktur hubungan kerja antara sekelompok orang pemegang posisi yang bekerjasamauntuk bersama-sama mencapai tujuan tertentu.Barnad, seperti yang dikutip Asnawir, organisasi adalah suatu sistem mengenai usahakerjasama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan tertentu.Dari beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa organisasi adalah tempat atau wadahberkumpulnya beberapa orang yang secara sadar berinteraksi dan saling bekerja samauntuk mewujudkan tujuan yang telah disepakati bersama. Meskipun terdapat perbedaandefinisi tentang organisasi, akan tetapi secara umum organisasi itu memiliki ciri-ciri yangsama. Edgar H. Schein, seorang psikolog keorganisasian terkemuka berpendapat bahwasemua organisasi memiliki empat macam ciri atau karakteristik sebagai berikut.1. Koordinasi Upaya; Para individu yang bekerja sama dan mengkoordinasi upaya mentalatau fisikal mereka dapat mencapai banyak hal yang hebat dan yang menakjubkan.2. Tujuan Umum Bersama; Koordinasi upaya tidak mungkin terjadi, kecuali apabila pihakyang telah bersatu, mencapai persetujuan untuk berupaya mencapai sesuatu yangmerupakan kepentingan bersama. Sebuah tujuan umum bersama memberikan anggotaorganisasi sebuah rangsangan untuk bertindak.3. Pembagian Kerja; Dengan jalan membagi-bagi tugas-tugas kompleks menjadipekerjaan-pekerjaan yang terspesialisasi, maka sesuatu organisasi dapat memanfaatkansumber-sumber daya manusianya secara efisien. Pembagian kerja memungkinkan paraanggota organisasi-organisasi menjadi lebih terampil dan mampu karena tugas-tugas
  23. 23. terspesia¬lisasi dilaksanakan berulang-ulang.4. Hierarki Otoritas; Para teoretisi organisasi telah merumuskan otoritas sebagai hak untukmengarahkan dan memimpin kegiatan-kegiatam pihak lain. Tanpa hierarki otoritas yangjelas, koordinasi upaya akam mengalami kesulitan, bahkan kadang-kadang tidak mungkindiilaksanakan. Akuntabilitas juga dibantu apabila orang-orang be kerja dalam rantaikomando ((he chain of command).Lebih lanjut, Malayu S.P. Hasibuan menyimpulkan bahwa aspek-aspek penting dariberbagai definisi organisasi adalah:1. adanya tujuan tertentu yang ingin dicapai;2. adanya sistem kerja sama yang terstruktur dari sekelompok orang;3. adanya pembagian kerja dan hubungan kerja antara sesama karya wan;4. adanya penetapan dan pengelompokan pekerjaan yang terintegrasi;5. adanya keterikatan formal dan tata tertib yang harus ditaati;6. adanya pendelegasian wewenang dan koordinasi tugas-tugas;7. adanya unsur-unsur dan alat-alat organisasi;8. adanya penempatan orang-orang yang akan melakukan pekerjaan.Untuk lebih memahami hakikat organisasi, perlu diketahui pula unsur-unsurnya, yaitu:1. Manusia (human factor), artinya organisasi baru ada jika ada unsur manusia yangbekerja sama, ada pemimpin dan ada yang dipimpin (bawahan).2. Tempat Kedudukan, artinya organisasi baru ada, jika ada tempat kedudukannya.3. Tujuan, artinya organisasi baru ada jika ada tujuan yang ingin dicapai.4. Pekerjaan, artinya organisasi baru ada, jika ada pekerjaan yang akan dikerjakan sertaadanya pembagian pekerjaan.5. Struktur, artinya organisasi baru ada, jika ada hubungan dan kerja sama antara manusiayang satu dengan yang lainnya.6. Teknologi, artinya organisasi baru ada, jika terdapat unsur teknis.7. Lingkungan (Environment External Social System), artinya organi¬sasi baru ada, jikaada lingkungan yang saling mempengaruhi mi-salnya ada sistem kerja sama sosial.Adapun pengorganisasian, juga didefinisikan oleh para pakarnya. Asnawir mengemukakanbahwa istitah "organizing mempunyai arti yaitu berusaha untuk menciptakan suatu strukturdan bagian untuk dapat berinteraksi dan saling pengaruh-mempengaruhi antara satu samalainnya. Pengorganisasian tersebut juga dapat diartikan sebagai penyusunan tugas dantanggung jawab para personil dalam organisasi.George R. Terry, seperti yang dikutip Malayu S.P. Hasibuan, menuliskan: Organizing isthe establishing of effective behavioral relationships among persons so that they may worktogether efficiently and gain personal satisfaction in doing selected tasks under givenenvironmental conditions for the purpose of achieving some goal or objective.Dari dua definisi di atas jelaslah bahwa pengorganisasian merupakan salah satu fungsimanajemen setelah fungsi perencanaan sehingga masing-masing anggota organisasimendapat tugas dan tanggung jawab tertentu sesuai dengan yang direncanakan untukmencapai tujuan yang diinginkan.Kemudian, proses pengorganisasian juga mencakup kegiatan-kegiatan berikut:1. Pembagian kerja yang harus dilakukan oleh individu atau kelompok-kelompok tertentu.2. Pernbagian aktivitas menurut level kekuasaan dan tanggungjawab.
  24. 24. 3. Pengelompokan tugas menurut tipe dan jenisnya.4. Penggunaan mekanisme koordinasi kegiatan individu /kelompok.5. Pengaturan hubungan kerja antara anggota organisasi.Adapun langkah-langkah pengorganisasian dapat dilakukan sebagai berikut:1. Tujuan, manajer harus mengetahui tujuan organisasi yang ingin dicapai; apa profitmotive atau service motive.2. Penentuan kegiatan-kegiatan, artinya manajer harus mengetahui, merumuskan danmengspesifikasikan kegiatan-kegiatan yang diper¬lukan untuk mencapai tujuan organisasidan menyusun daftar kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan.3. Pengelompokan kegiatan-kegiatan, artinya manajer harus mengelompokkan kegiatan-kegiatan ke dalam beberapa kelompok atas dasar tujuan yang sama; kegiatan-kegiatanyang bersamaan dan berkaitan erat disatukan ke dalam satu departemen atau satu bagian.4. Pendelegasian wewenang, artinya manajer harus menetapkan besarnya wewenang yangakan didelegasikan kepada setiap departemen.5. Rentang kendali, artinya manajer harus menetapkan jumlah karya¬wan pada setiapdepartemen atau bagian.6. Perincian peranan perorangan, artinya manajer harus menetapkan dengan jelas tugas-tugas setiap individu karyawan, supaya tumpang-tindih tugas terhindarkan.7. Tipe organisasi, artinya manajer harus menetapkan tipe organisasi apa yang akandipakai, apakah "line organization, line and staff organization ataukah functionorganization".8. Struktur organisasi (organization chart = bagan organisasi), artinya manajer harusmenetapkan struktur organisasi yang bagaimana yang akan dipergunakan, apa strukturorganisasi "segitiga vertikal, segitiga horizontal, berbentuk lingkaran, berbentuk setengahlingkaran, berbentuk kerucut vertikal/horizontal ataukah berbentuk oval".Jika proses pengorganisasian dalam suatu organisasi di atas dilakukan dengan baik danberdasarkan ilmiah, maka organisasi yang disusun akan baik, efektif, efisien dan sesuaidengan kebutuhan perusahaan dalam mencapai tujuannya.Dengan demikian, antara organisasi (organization) dengan pengorganisasian (organizing)memiliki hubungan yang sangat erat. Pengorganisasian yang baik akan menghasilkanorganisasi yang baik pula. Pengorganisasian diproses oleh organisator (manajer) sehinggapengorganisasian itu bersifat dinamis dan hasilnya adalah organisasi yang bersifat statis.Akan tetapi, hakikat organisasi juga bisa dipandang sebagai statis dan dinamis. Statis bilaorganisasi sebagai wadah, tempat kegiatan administrasi dan manajemen. Sedangkandinamis ketika organisasi sebagai suatu proses, interaksi hubungan, formal (nampak dibagan organisasi) dan informal (tidak diatur, tidak nampak dalam struktur). Hubunganinformal timbul, karena hubungan pribadi, kesamaan kepentingan, dan kesamaan interestdengan kegiatan di luar.Berangkat dari pengertian di atas maka dalam perkembangannya dan karena tuntutanglobalisasi muncul berbagai hal berkenaan dengan pengorganisasian, seperti strukturorganisasi yaitu pola formal bagaimana orang dan pekerja dikelompokkan dalam suatuorganisasi yang biasa digambarkan dengan bagan organisasi. Perilaku organisasi, yangditekankan pada perilaku manusia dalam kelompok, iklim organisasi yaitu serangkaiansifat lingkungan kerja, kultur organisasi yaitu sistem yang dapat menembus nilai-nilai,kepercayaan dan norma-norma di setiap organisasi, desain organisasi yaitu struktur
  25. 25. organisasi spesifik yang dihasilkan dari keputusan dan tindakan manajer, pengembanganorganisasi, politik organisasi, proses organisasi yaitu aktivitas yang member! nafas padakehidupan struktur organisasi, dan profil organisasi yaitu suatu diagram yang menunjukkanrespons anggota organisasi.Berkaitan dengan pengertian organisasi, dalam Alquran dicontohkan beberapa surat yangberkaitan dengan organisasi, sebagaimana Firman Allah SWT yang berkaitan dengan:a. perlunya persatuan, dalam surat: 2:43, 4:71, 37:1,b. perlunya berbangsa-bangsa, dalam surat: 5:48, 22:34,67, 49:13c. perlunya bersatu dan mengikuti jalan yang lurus, dalam surat: 30:31,32, 2:103,105, 6:59,8:46 dand. perlunya saling tolong-menolong dan kerja sama, dalam surat: 5:2, 8:74, 9:71.Jadi, organisasi ada karena untuk mendapatkan sesuatu. Sesuatu ini merupakan tujuanorganisasi.Demikian pula dalam pendidikan Islam, organisasi juga dibutuhkan. Organisasi pendidikanIslam dapat dipahami sebagai wadah berkumpulnya beberapa orang yang saling bekerjasama dan beriteraksi dalam menerapkan dan mewujudkan tujuan pendidikan Islam dengantetap berlandaskan kepada nilai-nilai ajaran Islam itu sendiri.C. Sejarah Perkembangan OrganisasiSebagaimana yang telah disinggung sebelumnya bahwa manusia adalah makhluk sosial.Hal ini turut mendorong manusia membentuk organisasi untuk mewujudkan cita-citanya.Karena itu, organisasi muncul ketika manusia itu berkumpul dua orang atau lebih.Bahkan, sebelum manusia terlahir ke muka bumi ini, benih-benih organisasi juga telahtersirat sejak awal proses penciptaan manusia di alam rahim. Seperti yang dijelaskan olehilmu kedokteran, sel sperma seorang laki-laki dikatakan normal apabila berjumlah minimal20 juta sel sperma. Padahal, hanya satu sel yang dibutuhkan untuk melakukan pembuahandengan sel telur milik sang istri. Peristiwa ini mengisyaratkan bahwa manusia memangditakdirkan untuk berorganisasi dalam mencapai tujuan.Demikian pula kisah nabi Adam as sebagai manusia pertama yang diungkap dalam al-Quran, ia juga membentuk kelurga bersama istrinya Hawa. Ketika mereka memiliki anak,maka anak-anak tersebut mereka dididik dan diorganisir sedemikian rupa dengan pekerjaanyang berbeda sesuai dengan bakat dan minat mereka. Seperti Qabil bekerja sebagai petani,sedangkan Habil sebagai peternak. Hal ini terungkap dalam firman Allah SWT:Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yangsebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorangdari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil):"Aku pasti membunuhmu!". berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima(korban) dari orang-orang yang bertakwa". (Qs. al-Maidah/5: 27)Sepanjang sejarah perkembangan manusia, juga ditemukan bukti-bukti bahwa organisasiitu telah muncul di tengah-tengah masyarakat. Kehidupan orang-orang Yunani, kerajaan-kerajaan yang telah dibangun pada masa Romawi juga menunjukkan bahwa mereka telahmembentuk dan membangun organisasi yang baik.Dengan demikian, manusia dan organisasi serta aktivitasnya telah berlangsung lama sejak
  26. 26. ribuan tahun silam, tapi yang dibutuhkan dan perlu untuk diketahui adalah akarperkembangan organisasi pada abad ke-18 dan ke-19, yaitu:1. Masa Praktik AwalAda tiga nama penting yang mempunyai pengaruh besar dalam menentukan arah danbatasan dari perilaku organisasi, mereka itu adalah Adam Smith, Charles Babbage, danRobert Owen.a. Adam Smith, 1776; Adam Smith telah memberikan kontribusi yang sangat pentingdengan doktrin ekonominya, yaitu spesialisasi bidang kerja atau pembagian tugas denganberbagai argumentasi yang sangat dalam. Adam Smith memberikan contoh pembagiantugas dengan spesialisasi bidang kerja tertentu dalam pabrik pembuatan peniti. Adasepuluh orang pekerja dalam pabrik tersebut, setiap orang mempunyai tugas tertentudengan mengerjakan suatu bagian kerja tertentu. Sepuluh orang pekerja tersebut dapatmembuat 48.000 buah peniti tiap harinya. Selanjutnya, jika setiap pekerja mengambilkawat sendiri-sendiri kemudian meluruskannya, membuatkan ujung batangnya, hasilnyasetiap pekerja mampu membuat satu peniti dalam satu hari. Kalau ada sepuluh pekerjamaka dapat membuat sepuluh peniti setiap hari. Dan spesialisasi bidang pekerjaan tertentupada masa sekarang ini sudah barang tentu termotivasi oleh keuntungan yang berlipatganda dari doktrin Adam Smith pada 2 abad silam.b. Charles Babbage, 1832; Charles Babbage adalah seorang profesor matematika dariInggris yang telah mengembangkan sistem pembagian tugas yang telah diartikulasikanpertama kali oleh Adam Smith. Babbage menambahkan beberapa keuntungan dengansistem pembagian tugas, yang telah dikemukakan oleh Adam Smith. Selain keterampilan,menghemat waktu yang terkadang sering disia-siakan terbuang ketika penggantian tugassatu ke tugas yang lain.Keuntungan tersebut yaitu:a) Mempersingkat waktu yang diperlukan untuk belajar suatu pekerjaan.b) Menghemat pemborosan material yang diperlukan dalam pelajaran pada tiap tingkatan.c) Memungkinkan untuk menghasilkan tingkat keteram¬pilan yang tinggi.d) Memungkinkan kemampuan untuk membandingkan keterampilan seseorang dan bakatfisik dengan tugas-tugas tertentu.c. Robert Owen, 1825; Robert Owen adalah orang periling dan berjasa dalam sejarahperilaku organisasi karena ia adalah seorang industrialis pertama yang mengingatkanbagaimana sistem pabrik yang sedang tumbuh dan berkembang telah merendahkan parapekerja. Ia menolak praktik-praktik kekerasan yang ia lihat di pabrik-pabrik, seperti anakyang bekerja di bawah umur 10 tahun, 13 jam kerja tiap hari dengan kondisi kerja yangmenyedihkan. Owen menjadi seorang reformer, ia mencek para pemilik pabrik yangmemperlakukan peralatan lebih baik dibandingkan dengan para karyawannya, iamengkritik mereka yang membeli mesin dengan harga mahal sementara membayar parapekerja yang menjalankan mesin tersebut dengan harga sangat murah. Owen mengatakanbahwa mempergunakan uang untuk meningkatkan para pekerja merupakan salah satuinvestasi terbaik yang menjadi pilihan para eksekutif bisnis, ia mengklaim bahwamemperlihatkan concern kepada para karyawan akan sangat menguntungkan untukmanajemen dan membebaskan kesengsaraan manusia. Untuk ukuran zaman Owen ia tentusangat idealis tapi seratus tahun setelah tahun 1825 ditetapkan jam kerja untuk semua,undang-undang perburuhan anak, pendidikan untuk umum, perusahaan memberikan makan
  27. 27. pada waktu kerja.2. Masa KlasikMasa Klasik meliputi tahun 1900-1930. Selama periode ini, untuk pertama kali teori-teorimanajemen secara umum mulai dikembangkan, pada masa ini yang banyak kontribusidalam perilaku organisasi, mereka itu adalah Frederick W. Taylor, Henry Fayol, MaxWeber, Mary Panther Follet, dan Chester Bernard telah meletakkan dasar praktik-praktikmanajemen sekarang.Manajemen secara Ilmiaha. Frederick W Taylor; Frederick W Taylor menggambarkan prinsip-prinsip manajemensecara ilmiah menampilkan tiga bab sebagai tujuan dari gerakannya:a) Untuk menegaskan bahwa Amerika Serikat telah dirugi-kan karena tidak adanyaefisiensi.b) Maka solusi terletak pada manajemen yang sistematis bukan pada usaha mencari orangyang istimewa.c) Untuk membuktikan bahwa manajemen yang baik ada¬lah suatu ilmu yang tepat yangberdasarkan pada hukum-hukum yang jelas, aturan-aturan, dan prinsip-prinsip. Awalpenggunaan manajemen yang ilmiah membuahkan hasil yang gemilang. Perusahaan motorFord berusaha melaksanakan prinsip-prinsip manajemen ilmiah di tahun 1908 dan berhasilmerakit suatu mobil hanya dalam waktu 14 menit. Dari pandangan ilmu perilaku,pelaksanaan manajemen ilmiah mencoba memadukan asumsi-asumsi mekanik terhadapilmu-ilmu perilaku organisasi.b. Teori Administratif dari Henry Fayol; Henry Fayol seorang industriawan Perancismenerbitkan bukunya pada tahun 1919 yakni General and Industrial Administration. Yangbanyak mempengaruhi pemikiran-pemikiran manajemen di Eropa. Pandangan-pandangannya dianggap sebagai suatu pemikiran tentang organisasi adminis¬tratif. Fayolberpendapat bahwa semua organisasi terdiri dari unit atau subsistem sebagai berikut:a) Aspek teknik dan komersial dan dari kegiatan pembelian, produksi dan penjualan.b) Kegiatan-kegiatan keuangan.c) Unit-unit keamanan dan perlindungand) Fungsi perhitungane) Fungsi administratif dari perencanaan, organisasi, pengarahan, koordinasi, danpengendalian.c. Teori Struktural dari Max Weber; Max Weber adalah pemikir dalam ilmu sosial dariJerman. Dua aspek kerja Weber yang relevan dengan perilaku organisasi yaitu:Pcrtama, seorang ahli ilmu sosial, ia tertarik untuk menjelas-kan preskripsi daripertumbuhan organisasi yang besar.Kedua, ia terkesan akan kelemahan-kelemahan manusia dan pertimbangan yang kadang-kadang tidak realistis bahwa manusia mempunyai rasa emosi.Teori Max Weber memiliki sifat:a) Adanya spesialisasi atau pembagian kerjab) Adanya hierarki yang berkembangc) Adanya suatu sistem atau aturan dari suatu prosedurd) Adanya hubungan kelompok yang impersonalitase) Adanya promosi dan jabatan yang berdasarkan kecakapan.3. Gerakan Hubungan Kemanusiaan
  28. 28. Raymond Miles menyatakan bahwa pendekatan hubungan kemanusiaan secara sederhanamenempatkan karyawan sebagai manusia, tidak sebagai mesin yang dipergunakan dalamberproduksi. Pada sejarah hubungan kemanusiaan ini terdapat tiga kejadian yangmemberikan kontribusi dalam penelaahan ilmu perilaku organisasi. Tiga kejadian ituantara lain sam masa-masa depresi yang hebat, gerakan kaum buruh, dan basil penemuanHowthorne.a. Masa depresi; depresi yang terjadi pada tahun 1930-an menyebabkan goncangan yanghebat di bidang keuangan. dan perekonomian pada umumnya. Penyebab depresi padaumumnya antara lain:a) Akumulasi stok barang yang baru yang besar di tangan konsumenb) Konsumen menolak naiknya hargac) Jarang investasi dalam skala usahad) Melemahnya kepercayaan dan harapan-harapane) Akumulasi yang besar dari kemampuan produksi sebagai basil pengembanganteknologi.Ledakan depresi menyadarkan manajemen untuk menghayati bahwa produksi tidak akanbertahan lama sebagai unsur yang bertanggung jawab dalam manajemen. Di saat itu lalutimbul gagasan untuk meletakkan unsur manusia sebagai unsur yang amat dominan dalammanajemen, sebagai basil dari depresi hubungan kemanusiaan dan perilaku organisasimendapatkan tempat yang dominan dan perhatian yang seksama.b. Gerakan Serikat Buruh; di tahun 1935 serikat buruh secara sah diakui (legallyentranced), banyak para manajer menjadi sadar dan mulai banyak memberikanperhatiannya kepada buruh. Gerakan serikat buruh ini secara langsung ataupun tidaklangsung memberikan dampak yang besar terhadap studi perilaku organisasi individu-individu yang mendukung kerja sama dalam suatu organisasi tertentu. Gerakan serikatburuh tercatat dalam sejarah pengembangan studi perilaku organisasi, sebagai titik awaldalam masa embrio berkembang gerakan kemanusiaan.c. Penemuan Howthorne; Howthome mengadakan penelitian dengan tujuan untuk mencarisampai di mana pengaruh hubungan antara kondisi fisik lingkungan kerja denganproduktivitas karyawan. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa langkah. Langkahpertama, percobaan tentang cahaya lampu antara tahun 1924-1927, hasilnya bahwa cahayapenerangan lampu pada tempat kerja hanyalah salah satu faktor yang mempengaruhi hasilkerja dan pengaruhnya kecil sekali. Langkah kedua, Howthorne menyediakan ruangistirahat bagi karyawan. Hasilnya dari fase ini hampir sama dengan fase pertama. Langkahketiga, studi tentang ruang bank tilgram. Tujuannya untuk melakukan analisis pengamatanterhadap kelompok pekerja informal.Ternyata dalam fase ketiga ini tidak ada kenaikan pro¬duktivitas yang tinggi. Implikasipenemuan Howthorne terhadap pengembangan tentang ilmu perilaku organisasi ternyataamat besar dan penting sekali. Usaha-usaha penemuan ini merupakan satu dasar yang amatberharga terhadap pendekatan perilaku di dalam segala aspek manajemen.4. Organisasi ModernAsumsi dasar tentang sifat manusia menurut ilmu organisasi modern adalah bukan baikdan bukan buruk. Beberapa orang beranggapan bahwa manusia mempunyai keunikandalam perilaku hal yang terarah, lainnya beranggapan bahwa perilaku manusia dalambanyak hal menunjukkan sebagai sasaran yang tidak teratur.Pendekatan yang dipakai untuk menganalisis perilaku ma¬nusia menurut ahli perilaku
  29. 29. organisasi modern, yaitu pada hakikatnya juga menggunakan metode eksperimen, denganmemberi¬kan penekanan pada observasi terkendali dan generalisasi data. Pengharapan-pengharapan pada manajemen modern, yaitu pemahaman-pemahaman dari perilakumanusia yang selalu bertambah dengan pemahaman ilmiah yang akan membawa ke arahpenyempurnaan kerja.Selain dari sejarah perkembangan organisasi sebagai suatu ilmu yang terjadi di kalanganilmu barat, jauh sebelumnya juga ditemukan tokoh-tokoh dari Timur (baca: Islam) dalammengemukakan berbagai teori yang berkenaan dengan organisasi. Salah satu di antaranyayang terkenal adalah Ibn Khaldun (1332 – 1406 M/732 – 808 H) diakui oleh para sarjanabaik muslim maupun non-muslim di Barat sebagai seorang sosiolog ternama. Dalam kitabmagnum opusnya, Muqaddimah, Ibn Khaldun banyak berbicara tentang teori masyarakat,peradaban, perkembangan profesi, serta pentingnya berkumpul (organisasi) dalammewujudkan cita-cita bersama. Dalam Muqaddimah-nya, Ibn Khaldun mengutip pendapatpara filosof—di sini Ibn Khaldun tidak menyebutkan nama-nama filosof tersebut—―manusia adalah makhluk sosial‖ (al-insānu madaniyyun bit thab‘i). Pernyataan inimenunjukkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan oranglain dalam kehidupannya. Lebih lanjut, ia menuliskan;Pernyataan ini mengandung makna bahwa seorang manusia tidak bisa hidup sendirian, daneksistensinya tidaklah terlaksana kecuali dengan kehidupan bersama. Dia tidak akanmampu menyempurnakan eksistensi dan mengatur kehidupannya dengan sempurna secarasendiri. Benar-benar sudah menjadi wataknya, apabila manusia butuh bantuan dalammemenuhi kebutuhannya. Mula-mula, bantuan itu berupa konsultasi, lalu kemudianberserikat serta hal-hal lain sesudahnya. Berserikat dengan orang lain, bila ada kesatuantujuan, akan membawa kepada sikap saling membantu. Tapi jika tujuannya berbeda, akanmenimbulkan perselisihan dan pertengkaran, sehingga muncullah sikap saling membenci,saling berselisih. Ini yang membawa peperangan atau perdamaian di kalangan bangsa-bangsa.Dalam pernyataan di atas, Ibn Khaldun menyebutkan sebagai makhluk sosial, manusiaselala berserikat (berorganisasi) jika memang ada kesatuan tujuan. Tampak jelas bahwa IbnKhaldun—yang hidup sekitar empat abad sebelum Adam Smith (1776)—telah memahamiteori organisasi. Dengan demikian, konsep organisasi sebenarnya telah dikemukakan olehpara tokoh intelektual Islam ketika masa kejayaannya sebelum berkembangnya peradabanBarat. Semua itu tidak terlepas dari isyarat-isyarat yang dikemukakan dalam al-Quranmaupun Hadis sehingga melahirkan berbagai pemikiran yang brilliant dari generasi muslimpada masa-masa selanjutnya.D. Prinsip-prinsip, Fungsi dan Manfaat OrganisasiAgar terwujudnya suatu organisasi yang baik, efektif, efisien serta sesuai dengankebutuhan, secara selektif harus didasarkan pada prinsip-prinsip organisasi sebagai berikut.1. Principle of Organizational Objective (prinsip tujuan organisasi). Menurut prinsip initujuan organisasi harus jelas dan rasional, apakah bertujuan untuk mendapatkan laba(business organization) ataukah untuk memberikan pelayanan (public organization). Halini merupakan bagian penting dalam menentukan struktur organisasi.2. Principle of Unity of Objective (prinsip kesatuan tujuan). Menurut prinsip ini, di dalamsuatu organisasi harus ada kesatuan tujuan yang ingin dicapai. Organisasi secarakeseluruhan dan tiap-tiap bagiannya harus berusaha untuk mencapai tujuan tersebut.
  30. 30. Organisasi akan kacau, jika tidak ada kesatuan.3. Principle of Unity of Command (prinsip kesatuan perintah) Menurut prinsip ini,hendaknya setiap bawahan menerima perintah ataupun memberikan pertanggungjawabanhanya kepada satu orang atasan, tetapi seorang atasan dapat memerintah beberapa orangbawahan.4. Principle of the Span of Management (prinsip rentang kendali). Menurut prinsip ini,seorang manajer hanya dapat memimpin secara efektif sejumlah bawahan tertentu,misalnya 3 sampai 9 orang. Jumlah bawahan ini tergantung kecakapan dan kemampuanmanajer bersangkutan.5. Principle of Delegation of Authority (prinsip pendelegasian wewenang) Menurut prinsipini, hendaknya pendelegasian wewenang dari seseorang atau sekelompok orang kepadaorang lain jelas dan efektif, sehingga ia mengetahui wewenangnya.6. Principle of Parity of Authority and Responsibility (prinsip keseimbangan wewenangdan tanggung jawab) Menurut prinsip ini, hendaknya wewenang dan tanggung jawab harusseimbang. Wewenang yang didelegasikan dengan tanggung jawab yang timbul karenanyaharus samabesarnya, hendaknya wewenang yang didelegasikan tidak memintapertanggungja wabany ang lebih besar dari wewenang itu sendiri atau sebaliknya.Misalnya, jika wewenang sebesar X, tanggung jawabnya pun harus sebesar X pula.7. Principle of Responsibility (prinsip tanggung jawab). Menurut prinsip ini, hendaknyapertanggungjawaban dari bawahan terhadap atasan harus sesuai dengan garis wewenang(line autho¬rity) dan pelimpahan wewenang; seseorang hanya bertanggung jawab kepadaorang yang melimpahkan wewenang tersebut.8. Principle of Departmentation (principle of devision of work-prinsip pembagian kerja).Menurut prinsip ini, pengelompokan tugas-tugas, pekerjaan-pekerjaan atau kegiatan-kegiatan yang sama ke dalam satu unit kerja (departemen) hendaknya didasarkan ataseratnya hubungan pekerjaan tersebut.9. Principle of Personnel Placement (prinsip penempatan personalia). Menurut prinsip ini,hendaknya penempatan orang-orang pada setiap jabatan harus didasarkan atas kecakapan,keahlian dan keterampilannya (the right men, in the right job); mismanajemen penempatanharus dihindarkan. Efektivitas organisasi yang optimal memerlukan penempatan karyawanyang tepat. Untuk itu harus dilakukan seleksi yang objektif dan berpedoman atas jobspecification dari jabatan yang akan diisinya.10. Principle of Scalar Chain (prinsip jenjang berangkai). Menurut prinsip ini, hendaknyasaluran perintah/wewenang dari atas ke bawah harus merupakan mata rantai vertikal yangjelas dan tidak terputus-putus serta menempuh jarak terpendek. Sebaliknyapertanggungjawaban dari bawahan ke atasan juga melalui mata rantai vertikal, jelas danmenempuh jarak terpendeknya. Hal ini penting, karena dasar organisasi yang fundamentaladalah rangkaian wewenang dari atas ke bawah; tindakan dumping hen¬daknyadihindarkan.11. Principle of Efficiency (prinsip efisiensi). Menurut prinsip ini, suatu organisasi dalammencapai tujuannya harus dapat mencapai hasil yang optimal dengan pengorbanan yangminimal.12. Principle of Continuity (prinsip kesinambungan). Organisasi harus mengusahakan cara-cara untuk menjamin kelangsungan hidupnya.13. Principle of Coordination (prinsip koordinasi). Prinsip ini merupakan tindak lanjut dariprinsip-prinsip organisasi lainnya. Koordinasi dimaksudkan untuk mensinkronkan danmengintegrasikan segala tindakan, supaya terarah kepada sasaran yang ingin dicapai.Dalam konteks pendidikan Islam, prinsip-prinsip ini haruslah berlandaskan kepadalandasan ajaran Islam itu sendiri, yaitu al-Quran dan Sunnah. Di antara prinsip organisasi
  31. 31. yang tersirat dalam al-Quran dan Hadis adalah sebagai berikut:1. Tujuan organisasi secara umum harus mencari dan menemukan keridhaan Allah SWT.Meskipun tujuan lain dibangun bernuansa duniawi, akan tetapi hal-hal yang bersifatduniawi tersebut adalah sesuatu yang diridhai oleh Allah SWT. Firman-Nya:Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, Makabersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itulebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, Makabertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Qs. al-Jumuah: 9-10)2. Kerja sama yang dilakukan dalam suatu organisasi—termasuk segala proses yangdijalankan—hanya dalam kebaikan, bukan dalam hal kemaksiatan, keburukan, ataukemungkaran. Firman-Nya:Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangantolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepadaAllah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya. (Qs. Al-Maidah/5: 2)3. Pemberian tugas dan wewenang kepada anggota organisasi berdasarkan kemampuanyang mereka miliki. Dalam ajaran Islam, banyak hal hukum yang diterapkan berdasarkankemampuannya, seperti shalat duduk atau berbaring bagi orang yang sakit, menggantipuasanya dengan fidyah bagi yang sakit dan sulit akan sembuh, dan sebagainya. Demikianpula perintah memberi nafkah, juga berdasarkan kemampuan seseorang, sebagaimanafirman-Nya:Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yangdisempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allahkepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yangAllah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.(Qs. ath-Thalaq/65: 7)Dalam hal ini, juga diperlukan penyerahan tugas sesuai dengan keahliannya. RasulullahSAW bersabda:Apabila suatu perkara/urusan diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulah saatkehancurannya. (HR. Bukhari).4. Masing-masing anggota organisasi harus menjalankan tugasnya dengan baik danmempertanggungjawabkan setiap tugas yang diembannya. Rasulullah SAW bersabda: ...Kalian semua adalah pemimpin, dan akan diminta pertanggungjawaban tentangkepemimpinannya… (muttafaq alaih).Mengenai tanggung jawab ini, juga dijelaskan dalam firman Allah SWT dalam al-Quransurat ar-Ra‘du/13 ayat 11:Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang terdapat pada (keadaan) satukaum (masyarakat), sehingga mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri (sikapmental) mereka.5. Seluruh anggota organisasi secara kolektif bertanggung jawab terhadap individu-
  32. 32. individu yang ada dalam organisasi tersebut sehingga diperlukan adanya pembinaan(supervisi), pendidikan, dan perhatian kepada mereka. Jika tidak, maka kesalahan yangdilakukan oleh individu tertentu bisa merusak citra organisasi. Hal ini tersirat dalam firmanAllah SWT dalam surat al-Anfal/8 ayat 25:Artinya: dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya.6. Komunikasi yang digunakan dalam organisasi hendaklah dengan lemah lembut, tegas,perkataan yang benar serta mengandung keselamatan, sesuai dengan kondisi yangdibutuhkan. Mengenai pentingnya berkomunikasi dengan baik dan lemah lembut ini AllahSWT berfirman: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka.Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri darisekelilingmu. (Qs. Ali Imran/3: 159)Dalam al-Quran juga ditemukan beberapa istilah komunikasi seperti:a. qaulan sadida/perkataan yang benar (Qs. an-Nisa/4: 9 dan al-Ahzab/33: 70);b. qaulan karima/perkataan yang mulia (Qs. al-Isra/17: 23);c. qaulun marufun atau qaulan marufa/perkataan yang baik (Qs. al-Baqarah/2: 2235 dan263; Muhammad/47: 21 juga al-Ahzab/33: 32 dan an-Nisa/4: 8);d. qaula al-haq/perkataan yang benar (Qs. Maryam/19: 34); dane. qaulan baligha/perkataan yang sampai berbekas pada jiwa mereka (Qs. an-Nisa/4: 63).Berbagai bentuk kata yang menunjukkan etika dan cara komunikasi tersebut dilakukansesuai dengan kondisi lawan bicara dan materi yang dibicarakan. Penerapan komunikasiseperti ini akan sangat efektif dalam membangun organisasi yang profesional danmenyenangkan.7. Selain menggunakan kata-kata yang baik, hendaklah saling memberi nasehat di jalanyang benar, sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Ashr ayat 1-3:Artinya: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecualiorang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati (salingberwasiat) supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati (saling berwasiat) supayamenetapi kesabaran.8. Dalam pengambilan kebijakan dan keputusan, hendaklah dilakukan dengan prinsipmusyawarah dan diiringi dengan sifat tawakal. Sebagaimana firman-Nya: Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telahmembulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukaiorang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Qs. Ali Imran/3: 159)9. Menegakkan prinsip keadilan. Islam sangat menekankan pentingnya menegakkankeadilan, termasuk dalam urusan kemasyarakat dan berorganisasi. Bahkan Ali ibn AbiThalib kw. pernah berkata: "Tuhan akan menegakkan negara yang adil meskipun kafir danakan menghancurkan negara yang zhalim meskipun Islam". Al-Quran juga banyakmembicarakan tentang prinsip keadilan, salah satu di antaranya adalah:Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu
  33. 33. menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil.Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah,Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. surat al-Maidah/5ayat 8)10. Jabatan dan tugas yang diberikan dalam organisasi pada hakikatnya sebagai amanahyang harus dijalankan dengan sifat amanah (dapat dipercaya) pula. Pentingnya sifatamanah ini juga ditegaskan dalam al-Quran bahwa watak manusia memang sukamenerima amanah, akan tetapi agar tidak termasuk orang yang zalim lagi bodoh, harusmampu mengemban amanah tersebut sebagaimana mestinya. Dalam konteks berorganisasi,maka setiap anggota organisasi harus menjalankan fungsi dan tugasnya masing-masingsesuai dengan job description yang diberikan. Firman-Nya:Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akanmengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia ituAmat zalim dan Amat bodoh, (Qs. al-Ahzab/33: 72)11. Dalam menjalankan organisasi pendidikan Islam hendaklah dilakukan dengan carayang baik, jujur, tranparan, dan sifat-sifat terpuji lainnya sebagaimana yang dituntun dalamajaran Islam, khususnya yang berkenaan dengan ajaran akhlaqul Islam.Adapun yang menjadi fungsi dari sasaran organisasi tersebut antara lain:1. Dapat merumuskan serta memusatkan perhatian atau mengarahkan para manajer dalamusaha memperoleh dan mempergunakan sumber daya organisasi.2. Dapat digunakan sebagai dasar dan alasan peng-orgairisasian.3. Sebagai suatu standar penilaian terhadap organisasi, dan daprt dijadikau sebagai ukuranterhadap derajat efektivitas dan efisiensi organisasi dalam mencapai tujuannya.4. Sebagai sumber legitimasi yang membenarkan kegi¬atan dan eksistensinya terliadapkelornpok-kelompok yang beraneka ragam seperti para penanaman modal, anggota,pelanggan dan masyarakat secara keseluruhan dan sebagainya.5. Dapat membantu organisasi untuk memperoleh suinberdaya manusia yang dibutuhkan.Fungsi yang menjadi sasaran bagi para anggota perseorangan dalam suatu organisasiadalah:1. Dapat memberikan pengarahan kerja sehingga mendorong para pekerja untukmemusatkan perhatian dan usahanya secara lebih ielas ke arah tujuan yang telahditetapkan.2. Memberikan alasan sebagai dasar untuk bekerja dan dapat memberikan arti padapekerjaan yang kelihatannya tidak terarah.3. Dapat dijadikan sebagai sasaran pencapaian keinginan pribadi.4. Dapat membantu individu merasa terjarnin bahwa Organisasi akan tenis berjalan untukmasa selanjut-nya.5. Dapat memberikan identifikasi dan status bagi para pekerjanyaSementara manfaat dari adanya organisasi adalah:1. Organisasi sebagai penuntun pencapaian tujuan. Pencapaian tujuan akan lebih efektifdengan adanya organisasi yang baik.2. Organisasi dapat mengubah kehidupan masyarakat. Jika organisasi itu di bidangpendidikan, maka akan turut mencerdaskan masyarakat serta membimbing masyarakatagar tetap menerapkan nilai-nilai ajaran Islam.

×