Filsafat ilmu
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Like this? Share it with your network

Share

Filsafat ilmu

on

  • 44,917 views

 

Statistics

Views

Total Views
44,917
Views on SlideShare
44,917
Embed Views
0

Actions

Likes
2
Downloads
647
Comments
3

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Filsafat ilmu Document Transcript

  • 1. FILSAFAT ILMUA. PENDAHULUANFilsafat ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historiskarena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaiknya perkembangan ilmumemperkuat keberadaan filsafat. Kelahiran filsafat di Yunani menunjukkan pola pemikiranbangsa Yunani dari pandangan mitologi akhirnya lenyap dan pada gilirannya rasiolah yangdominan.Perubahan dari pola pikir mite-mite kerasio membawa implikasi yang tidak kecil. Alamdengan segala gejalanya, yang selama itu ditakuti kemudian didekati dan bahkan bisadikuasai. Perubahan yang mendasar adalah ditemukannya hukum-hukum alam dan teori-teori ilmiah yang menjelaskan perubahan yang terjadi, baik alam semesta maupun padamanusia sendiri.B.PENGERTIANUntuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertianfilsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam Filsafat Ilmu, yang disusun olehIsmaun (2001) Robert Ackerman “philosophy of science in one aspect as a critique of current scientific opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not a discipline autonomous of actual scientific paractice”. (Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat- pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual. Lewis White Beck “Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole. (Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan) A. Cornelius Benjamin “That philosopic disipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual discipines. (Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode- metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.) Michael V. Berry “The study of the inner logic if scientific theories, and the relations between experiment and theory, i.e. of scientific methods”. (Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.) May Brodbeck “Philosophy of science is the ethically and philosophically neutral analysis, description, and clarifications of science.” (Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu. Peter Caws “Philosophy of science is a part of philosophy, which attempts to do for science what philosophy in general does for the whole of human experience. Philosophy does two sorts of thing: on the other hand, it constructs theories about man and the universe, and offers them as grounds for belief and action; on the
  • 2. other, it examines critically everything that may be offered as a ground for belief or action, including its own theories, with a view to the elimination of inconsistency and error. (Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori- teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan- landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan Stephen R. Toulmin “As a discipline, the philosophy of science attempts, first, to elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry observational procedures, patens of argument, methods of representation and calculation, metaphysical presuppositions, and so on and then to veluate the grounds of their validity from the points of view of formal logic, practical methodology and metaphysics”. (Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur- prosedur pengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-pra-anggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika).Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakantelaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjaudari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmumerupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakajihakikat ilmu, seperti : Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis) Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis) Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis). (Jujun S. Suriasumantri, 1982)C OBJEK FILSAFAT1.Objek Material filsafatYaitu suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan ituatau hal yang di selidiki, di Pandang atau di sorot oleh suatu disiplin ilmu yang mencakupapa saja baik hal-hal yang konkrit ataupun yang abstrak.
  • 3. Menurut Drs. H.A.Dardiri bahwa objek material adalah segala sesuatu yang ada, baik yangada dalam pikiran, ada dalam kenyataan maupun ada dalam kemungkinan. Segala sesuatuyang ada itu di bagi dua, yaitu: Ada yang bersifat umum (ontologi), yakni ilmu yang menyelidiki tentang hal yang ada pada umumnya. Ada yang bersifat khusus yang terbagi dua yaitu ada secara mutlak (theodicae) dan tidak mutlak yang terdiri dari manusia (antropologi metafisik) dan alam (kosmologi).2. Objek Formal filsafatYaitu sudut pandangan yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukanpengetahuan itu, atau sudut dari mana objek material itu di sorot.Contoh : Objek materialnya adalah manusia dan manusia ini di tinjau dari sudut pandanganyang berbeda-beda sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia di antaranyapsikologi, antropologi, sosiologi dan lain sebagainya.E. FUNGSI FILSAFATFilsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafatilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni : Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada. Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya. Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia. Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, hukum dan sebagainya. Disarikan dari Agraha Suhandi (1989)Sedangkan Ismaun (2001) mengemukakan fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikanlandasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu danmembekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula,bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaituberupaya mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory ofexplanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secarasederhana.
  • 4. G. SUBSTANSI FILSAFATTelaah tentang substansi Filsafat Ilmu, Ismaun (2001) memaparkannya dalam empatbagian, yaitu substansi yang berkenaan dengan: (1) fakta atau kenyataan, (2) kebenaran(truth), (3) konfirmasi dan (4) logika inferensi.1.Fakta atau kenyataanFakta atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari sudut pandangfilosofis yang melandasinya. Positivistik berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan sensual lainnya. Fenomenologik memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini. Pertama, menjurus ke arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensi antara ide dengan fenomena. Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian antara fenomena dengan sistem nilai. Rasionalistik menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skema rasional, dan Realisme-metafisik berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi antara empiri dengan obyektif. Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.Di sisi lain, Lorens Bagus (1996) memberikan penjelasan tentang fakta obyektif dan faktailmiah. Fakta obyektif yaitu peristiwa, fenomen atau bagian realitas yang merupakan obyekkegiatan atau pengetahuan praktis manusia. Sedangkan fakta ilmiah merupakan refleksiterhadap fakta obyektif dalam kesadaran manusia. Yang dimaksud refleksi adalah deskripsifakta obyektif dalam bahasa tertentu. Fakta ilmiah merupakan dasar bagi bangunan teoritis.Tanpa fakta-fakta ini bangunan teoritis itu mustahil. Fakta ilmiah tidak terpisahkan daribahasa yang diungkapkan dalam istilah-istilah dan kumpulan fakta ilmiah membentuksuatu deskripsi ilmiah.2. Kebenaran (truth)Sesungguhnya, terdapat berbagai teori tentang rumusan kebenaran. Namun secaratradisional, kita mengenal 3 teori kebenaran yaitu koherensi, korespondensi dan pragmatik(Jujun S. Suriasumantri, 1982). Sementara, Michel William mengenalkan 5 teori kebenaran
  • 5. dalam ilmu, yaitu : kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, kebenaran performatif,kebenaran pragmatik dan kebenaran proposisi. Bahkan, Noeng Muhadjir menambahkannyasatu teori lagi yaitu kebenaran paradigmatik. (Ismaun; 2001)a. Kebenaran koherensiKebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang laindengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baikberupa skema, sistem, atau pun nilai. Koherensi ini bisa pada tatanan sensual rasional maupun pada dataran transendental.b.Kebenaran korespondensiBerfikir benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevandengan sesuatu lain. Koresponsdensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan atauberlawanan arah antara fakta dengan fakta yang diharapkan, antara fakta dengan beliefyang diyakini, yang sifatnya spesifikc.Kebenaran performatifKetika pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual dan menyatukanapapun yang ada dibaliknya, baik yang praktis yang teoritik, maupun yang filosofik, orangmengetengahkan kebenaran tampilan aktual. Sesuatu benar bila memang dapat diaktualkandalam tindakan.d.Kebenaran pragmatikYang benar adalah yang konkret, yang individual dan yang spesifik dan memilikikegunaan praktis.e.Kebenaran proposisiProposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks, yang merentangdari yang subyektif individual sampai yang obyektif. Suatu kebenaran dapat diperoleh bilaproposisi-proposisinya benar. Dalam logika Aristoteles, proposisi benar adalah bila sesuaidengan persyaratan formal suatu proposisi. Pendapat lain yaitu dari Euclides, bahwaproposisi benar tidak dilihat dari benar formalnya, melainkan dilihat dari benarmaterialnya.f.Kebenaran struktural paradigmatikSesungguhnya kebenaran struktural paradigmatik ini merupakan perkembangan darikebenaran korespondensi. Sampai sekarang analisis regresi, analisis faktor, dan analisisstatistik lanjut lainnya masih dimaknai pada korespondensi unsur satu dengan lainnya.Padahal semestinya keseluruhan struktural tata hubungan itu yang dimaknai, karena akanmampu memberi eksplanasi atau inferensi yang lebih menyeluruh.
  • 6. 3.KonfirmasiFungsi ilmu adalah menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang akan datang, ataumemberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasiabsolut atau probalistik. Menampilkan konfirmasi absolut biasanya menggunakan asumsi,postulat, atau axioma yang sudah dipastikan benar. Tetapi tidak salah bilamengeksplisitkan asumsi dan postulatnya. Sedangkan untuk membuat penjelasan, prediksiatau pemaknaan untuk mengejar kepastian probabilistik dapat ditempuh secara induktif,deduktif, ataupun reflektif.4.Logika inferensiLogika inferensi yang berpengaruh lama sampai perempat akhir abad XX adalah logikamatematika, yang menguasai positivisme. Positivistik menampilkan kebenarankorespondensi antara fakta. Fenomenologi Russel menampilkan korespondensi antara yangdipercaya dengan fakta. Belief pada Russel memang memuat moral, tapi masih bersifatspesifik, belum ada skema moral yang jelas, tidak general sehingga inferensi penelitianberupa kesimpulan kasus atau kesimpulan ideografik.Post-positivistik dan rasionalistik menampilkan kebenaran koheren antara rasional,koheren antara fakta dengan skema rasio, Fenomena Bogdan dan Guba menampilkankebenaran koherensi antara fakta dengan skema moral. Realisme metafisik Poppermenampilkan kebenaran struktural paradigmatik rasional universal dan Noeng Muhadjirmengenalkan realisme metafisik dengan menampilkan kebenaranan strukturalparadigmatik moral transensden. (Ismaun,200:9)Di lain pihak, Jujun Suriasumantri (1982:46-49) menjelaskan bahwa penarikan kesimpulanbaru dianggap sahih kalau penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu,yakni berdasarkan logika. Secara garis besarnya, logika terbagi ke dalam 2 bagian, yaitulogika induksi dan logika deduksi.H CORAK DAN RAGAM FILSAFATIsmaun (2001:1) mengungkapkan beberapa corak ragam filsafat ilmu, diantaranya: Filsafat ilmu-ilmu sosial yang berkembang dalam tiga ragam, yaitu : (1) meta ideologi, (2) meta fisik dan (3) metodologi disiplin ilmu.
  • 7. Filsafat teknologi yang bergeser dari C-E (conditions-Ends) menjadi means. Teknologi bukan lagi dilihat sebagai ends, melainkan sebagai kepanjangan ide manusia. Filsafat seni/estetika mutakhir menempatkan produk seni atau keindahan sebagai salah satu tri-partit, yakni kebudayaan, produk domain kognitif dan produk alasan praktis.Produk domain kognitif murni tampil memenuhi kriteria: nyata, benar, dan logis. Bila etikdimasukkan, maka perlu ditambah koheren dengan moral. Produk alasan praktis tampilmemenuhi kriteria oprasional, efisien dan produktif. Bila etik dimasukkan perlu ditambahhuman.manusiawi, tidak mengeksploitasi orang lain, atau lebih diekstensikan lagi menjaditidak merusak lingkungan.Dafatar PustakaAbbas Hamami M. 1976. Filsafat. Yogyakarta: Yayasan Pembinaan Fakultas FilsafatUGM.. 1982. Epistemologi Bagian I Teori Pengetahuan. Diktat. Yogyakarta: Fakultas FilsafatUGM.. 1980. Disekitar Masalah Ilmu; Suatu Problema Filsafat. Surabay: Bina Ilmu.. Epistimologi Masa Depan dalam jurnal filsafat. Seri 1, februari 1990.
  • 8. Pengantar FilsafatKata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasaArab ‫ ,ةسلف‬yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasaini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan,cinta dsb.) dan (sophia = “kebijaksanaan”). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang“pencinta kebijaksanaan” atau “ilmu”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belandajuga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasaIndonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut “filsuf”.Definisi kata filsafat bisa dikatakan merupakan sebuah problema falsafi pula. Tetapi palingtidak bisa dikatakan bahwa “falsafah” itu kira-kira merupakan studi daripada arti danberlakunya kepercayaan manusia pada sisi yang paling dasar dan universal. Studi inididalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapidengan mengutarakan problem secara persis, mencari solusi untuk ini, memberikanargumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu dan akhirnya dari proses-prosessebelumnya ini dimasukkan ke dalam sebuah dialektik. Dialektik ini secara singkat bisadikatakan merupakan sebuah bentuk daripada dialog.Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat.Hal ini membuat filasafat sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu bisa dikatakan banyakmenunjukkan segi eksakta, tidak seperti yang diduga banyak orang. Klasifikasi filsafatDi seluruh dunia, banyak orang yang menanyakan pertanyaan yang sama dan membanguntradisi filsafat, menanggapi dan meneruskan banyak karya-karya sesama mereka. Olehkarena itu filsafat biasa diklasifikasikan menurut daerah geografis dan budaya. Padadewasa ini filsafat biasa dibagi menjadi: “Filsafat Barat”, “Filsafat Timur”, dan “FilsafatTimur Tengah”.„„„Filsafat Barat‟‟‟ adalah ilmu yang biasa dipelajari secara akademis di universitas-universitas di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka. Filsafat ini berkembang dari tradisifalsafi orang Yunani kuno.Plato, Aristoteles, Thomas Aquinas, Réne Descartes, Immanuel Kant, Georg Hegel, ArthurSchopenhauer, Karl Heinrich Marx, Friedrich Nietzsche, dan Jean-Paul Sartre.„„„Filsafat Timur‟‟‟ adalah tradisi falsafi yang terutama berkembang di Asia, khususnya diIndia, Tiongkok dan daerah-daerah lain yang pernah dipengaruhi budayanya. Sebuah cirikhas Filsafat Timur ialah dekatnya hubungan filsafat dengan agama. Meskipun hal inikurang lebih juga bisa dikatakan untuk Filsafat Barat, terutama di Abad Pertengahan, tetapidi Dunia Barat filsafat ‟an sich‟ masih lebih menonjol daripada agama. Nama-namabeberapa filsuf: Siddharta Gautama/Buddha, Bodhidharma, Lao Tse, Kong Hu Cu, ZhuangZi dan juga Mao Zedong.
  • 9. „„„Filsafat Timur Tengah‟‟‟ ini sebenarnya mengambil tempat yang istimewa. Sebab dilihatdari sejarah, para filsuf dari tradisi ini sebenarnya bisa dikatakan juga merupakan ahliwaris tradisi Filsafat Barat. Sebab para filsuf Timur Tengah yang pertama-tama adalahorang-orang Arab atau orang-orang Islam (dan juga beberapa orang Yahudi!), yangmenaklukkan daerah-daerah di sekitar Laut Tengah dan menjumpai kebudayaan Yunanidengan tradisi falsafi mereka. Lalu mereka menterjemahkan dan memberikan komentarterhadap karya-karya Yunani. Bahkan ketika Eropa setalah runtuhnya Kekaisaran Romawimasuk ke Abad Pertengahan dan melupakan karya-karya klasik Yunani, para filsuf TimurTengah ini mempelajari karya-karya yang sama dan bahkan terjemahan mereka dipelajarilagi oleh orang-orang Eropa. Nama-nama beberapa filsuf Timur Tengah: Avicenna(IbnuSina), Ibnu Tufail, dan Averroes. Munculnya FilsafatFilsafat, terutama Filsafat Barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke 7 S.M..Filsafat muncul ketika orang-orang mulai berpikir-pikir dan berdiskusi akan keadaan alam,dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada agama lagiuntuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yangberadab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana:di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secaraintelektual orang lebih bebas.Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari Mileta, sekarang dipesisir barat Turki. Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang terbesar tentu saja ialah: Sokrates,Plato dan Aristoteles. Sokrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah muridPlato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah “Komentar-komentar karya Plato belaka”. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar padasejarah filsafat.Sejarah Filsafat Barat bisa dibagi menurut pembagian berikut: Filsafat Klasik, AbadPertengahan, Modern dan Kontemporer.Klasik“Pra Sokrates”: Thales – Anaximander – Anaximenes – Pythagoras – Xenophanes –Parmenides – Zeno – Herakleitos – Empedocles – Democritus – Anaxagoras“Zaman Keemasan”: Sokrates – Plato – AristotelesAbad Pertengahan“Skolastik”: Thomas AquinoModerenRene Descartes – Baruch de Spinoza- Blaise Pascal – Leibniz – Thomas Hobbes – JohnLocke – Georg Hegel – Immanuel Kant – Søren Kierkegaard – Karl Marx- FriedrichNietzsche – Schopenhauer – Edmund Husserl
  • 10. Materi Kuliah Pengantar Filsafat Materi Perkuliahan: Pengantar Filsafat Pertemuan ke: 2 Dosen Pengampu: Indra Tjahyadi, S.S. Pokok Bahasan: Mengenal Filsafat Sub Pokok Bahasan: 1. Pengertian Filsafat; 2. Objek Filsafat; 3. Metode Filsafat; 4. Peranan dan Tujuan Filsafat MENGENAL FILSAFATI.PengertianFilsafatSetiap kali saya memulai untuk pertama kali memberikan perkuliahan mata kuliah"Pengantar Filsafat", saya senantiasa dihadapkan pada pertanyaan: "Apakah filsafat itu?"Sungguh ini merupakan pertanyaan yang sederhana, bahkan sangat sederhana. Tapi, untukmemberikan jawaban yang dapat memuaskan dan benar-benar menjawab pertanyaantersebut, itu bukanlah perkara yang mudah.Ada yang mengira bahwa filsafat itu sesuatu yang kabur, serba rahasia, mistis, aneh, takberguna, tak bermetoda, atau hanya sekedar lelucon yang tak bermakna atau omongkosong. Selain itu ada pula yang mengira bahwa filsafat itu merupakan kombinasi dariastrologi, psikologi dan teologi. Filsafat bukanlah semua itu.Oxford Pocket Dictionary mengartikan filsafat sebagai use of reason and argument inseeking truth and knowledge of reality. Sementara Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)mengartikan filsafat sebagai:1. pengetahuan dan penyedilikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada,sebab, dan hukumnya;2. teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan;3. ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi;4. falsafah.Menurut Kamus Filsafat, filsafat merupakan (Bagus, 2000: 242):1. Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentangseluruh realitas.2. Upaya untuk melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar serta nyata.3. Upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan: sumbernya,hakikatnya, keabsahannya, dan nilainya.4. Penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan penyataan-pernyataan yangdiajukan oleh berbagai bidang pengetahuan.5. Disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu manusia melihat apa yang dikatakan danuntuk mengatakan apa yang dilihat.Secara etimologi atau asal kata, kata "filsafat" berasal dari sebuah kata dalam bahasaYunani yang berbunyi philosophia. Kata philophia ini merupakan kata majemuk yangterdiri dari kata philos dan sophia. Kata philos berarti kekasih atau sahabat, dan katasophia yang berarti kearifan atau kebijaksanaan, tetapi juga dapat diartikan sebagaipengetahuan. Jadi secara etimologi, philosophia berarti kekasih/ sahabat kebijaksaan/kearifan atau kekasih/ sahabat pengetahuan.
  • 11. Agar bisa menjadi kekasih atau sahabat, seseorang haruslah mengenal dekat dan akrabdengan seseorang atau sesuatu yang ingin dijadikan kekasih atau sahabat tersebut. Dan inihanya bisa dilakukan apabila seseorang tersebut senantiasa terus-menerus berupaya untukmengenalnya secara dalam dan menyeluruh. Dengan harapan bahwa upaya yang terus-menerus itu dapat membawa seseorang atau sesuatu itu pada kedekatan yang akrabsehingga dapat mengasihinya.Seseorang yang melakukan aktivitas tersebut disebut filsuf. Filsuf adalah seseorang yangmendalami filsafat dan berusaha memahami dan menyelidikinya secara konsisten danmendalam. Konsisten artinya bahwa seseorang tersebut terus menerus menggeluti filsafat.Mendalam berarti bahwa ia benar-benar berusaha mempelajari, memahami, menyelidiki,meneliti filsafat.Tadi dikatakan bahwa filsafat adalah kekasih/ sahabat kebijaksaan/ kearifan atau kekasih/sahabat pengetahuan, jadi karena ia merupakan kekasih/ sahabat kebijaksaan/ kearifan ataukekasih/ sahabat pengetahuan, maka filsafat memiliki hasrat untuk selalu ingin dekat, inginakrab, ingin mengasihi kearifan/ kebjaksanaan/ pengetahuan. Tapi, kearifan/kebijaksanaan/ pengetahuan merupakan sesuatu yang sangat abstrak dan luas. Keabstrakandan keluasan ini menjadikan hasrat yang dimiliki filsafat tersebut tak mudah untukdipuaskan sepenuhnya. Ini menyebabkan filsafat terus-menerus melakukan usaha untukmemenuhinya. Usaha yang terus menerus ini membuat filsafat, pada satu sisi, dikenal taklebih dari sebagai sebuah usaha atau suatu upaya.Selain sebagai sebuah usaha atau suatu upaya, William James, seorang filsuf dari Amerika,melihat bahwa berpikir juga merupakan sisi lain dari filsafat. Menurutnya, filsafat adalahsuatu upaya yang luar biasa hebat untuk berpikir yang jelas dan terang. Artinya, bahwasegala upaya yang dilakukan oleh filsafat tak dapat dilepaskan dari tujuannya untuk meraihkejelasan dan keterangan dalam berpikir. Jadi, berpikir adalah sisi lain yang dimilikifilsafat.Ihwal pentingnya keberadaan berpikir dalam filsafat, Thomas Nagel dalam Philosophy:Basic Reading mengatakan (1987: 3):Philosophy is different from science and from mathematics. Unlike science doesnt rely onexperiments or observation, but only on thought. And unlike mathematics it has no formalmethods of proof. It is done just by asking questions, arguing, trying out ideas and thinkingof possible arguments against them, and wondering how our concepts really work.Bagi manusia, berpikir adalah hal yang sangat melekat. Manusia, merujuk pada Aritoteles,adalah animal rationale atau mahluk berpikir. Tidak seperti mahluk-mahluk lainnya, olehTuhan manusia diberi anugerah yang sangat istemewa yakni akal. Dengan akal, manusiamemiliki kemampuan untuk berpikir dan mengatasi dan memecahkan segala permasalahanyang dihadapinya pikirannya. Karena filsafat mengandaikan adanya kerja pikiran, makasifat pertama yang terdapat dalam berpikir secara filsafat adalah rasional.Rasional berarti bahwa segala yang dipikirkannya berpusar pada akal. Tapi, tidak semuaaktivitas berpikir manusia dapat dikatakan berpikir secara filsafat. Untuk dapat dikatakanbahwa satu aktivitas berpikir itu merupakan berpikir secara filsafat, aktivitas berpikir ituharuslah bersifat metodis.
  • 12. Secara umum, berpikir metodis berarti berpikir dengan cara tertentu yang teratur. Dalammembeberkan pikiran-pikirannya, filsafat senantiasa menggunakan cara tertentu yangteratur. Keteraturan ini membuat pikiran-pikiran yang dibeberkan oleh filsafat menjadijelas dan terang. Tapi agar cara tertentu itu dapat teratur, filsafat membutuhkan faktor lain,yakni sistem.Sebagai sebuah sistem, filsafat suatu susunan teratur berpola yang membentuk suatukeseluruhan. Ia terdiri dari unsur-unsur atau komponen-komponen yang secara teraturmenurut pola tertentu, dan membentuk satu kesatuan. Adanya sistem membuat satu caraberpikir tertentu yang teratur tetap pada keteraturannya. Oleh karena itu, selain berpikirmetodis filsafat juga memiliki sifat berpikir sistematis.Berpikir secara sistematis memiliki pengertian, bahwa aktivitas berpikir tersebut haruslahmengikuti cara tertentu yang teratur, yang dilakukan menurut satu aturan tertentu, runtutdan bertahap, serta hasilnya dituliskan mengikuti satu aturan tertentu pula tersusunmenurut satu pola yang tidak tersusun secara acak atau sembarangan. Jadi, agar dapatdikatakan bahwa seseorang tersebut sedang berpikir secara filsafat, ia haruslah berpikirmenurut atau mengikuti satu aturan tertentu yang runut dan bertahap dan tidak acak atausembarangan.Sistematis mengandaikan adanya keruntutan. Jadi, berpikir filsafat atau berpikir filsafatijuga memiliki sifat runtut atau koheren. Koheren berarti bertalian. Ia merupakankesesuaian yang logis. Dalam koherensi, hubungan yang terjadi karena adanya gagasanyang sama. Pada berpikir filsafat, koherensi berarti tidak adanya loncatan-loncatan,kekacauan-kekacauan, dan berbagai kontradiksi. Dalam koherensi, tidak boleh adapernyataan-pernyataan yang saling bertentangan. Contoh:Hujan turunTidak benar bahwa hujan turunPernyataan yang pertama yang berbunyi "Hujan turun" bertentangan dengan pernyataanyang kedua, "Tidak benar bahwa hujan turun,", begitu juga sebaliknya. Dalam berpikirsecara koherensi hal ini tidak dibenarkan. Karena kedua pernyataan ini salingbertentangan. Jadi, dalam berpikir secara koherensi, pernyataan-pernyataan yang adaharuslah saling mendukung.Agar dapat memperoleh pernyataan-pernyataan yang mendukung, filasafat haruslahmencari, mendapatkan, memeriksa, ataupun menyelidiki keseluruhan pernyataan yang ada.Filsafat berusaha memberikan penjelasan tentang dunia seluruhnya, termasuk dirinyasendiri. Usaha ini membawa filsafat pada penyelidikan terhadap keseluruhan. Jadi, sifatberpikir filsafat yang berikutnya adalah keseluruhan atau komprehensif dalam artianbahwa segala sesuatu berada dalam jangkauannya.Tadi dikatakan bahwa berpikir filsafat memiliki sifat koherensi, maka agar koherensi dapatterjadi, seorang filsuf atau seseorang yang sedang mempelajari dan mendalami filsafatharuslah mampu memahami dan memilah pernyataan-pernyataan yang ada. Agar dapatmencapai hal tersebut, dibutuhkan apa yang dinamakan berpikir kritis Jadi, kritis adalahsifat berpikir filsafat yang berikutnya.Kritis dapat dipahami dalam artian bahwa tidak menerima sesuatu begitu saja. Secara
  • 13. spesifik, berpikir kritis secara filsafat adalah berpikir secara terbuka terhadap segalakemungkinan, dialektis, tidak membakukan dan membekukan pikiran-pikiran yang ada,dan selalu hati-hati serta waspada terhadap berbagai kemungkinan kebekuan pikiran.Untuk mencapai berpikir kritis, hal yang harus dilakukan adalah berpikir secara skeptis.Skeptis berbeda dengan sinis. Skeptis adalah sikap untuk selalu mempertanyakan segalasesuatu, meragukan apa yang diterima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudahditipu. Sedangkan sinis adalah sikap yang berdasar pada ketidakpercayaan. Secarametaforis, sikap sinis dapat digambarkan seperti seorang laki-laki di tengah perempuan-perempuan cantik, tapi dia malah mencari seekor kambing yang paling buruk. Jadi, padaintinya, sikap skpetis itu adalah meragukan, sementara sikap sinis adalahketidakpercayaan.Tadi telah dipaparkan di atas, bahwa filsafat berusaha memberikan penjelasan tentangdunia seluruhnya, termasuk dirinya sendiri. Agar dapat meraih hal tersebut, filsafat harusmenemukan radix (akar) dunia seluruhnya tersebut. Jadi berpikir radikal adalah sifatberpikir filsafat yang berikutnya.Usaha menemukan akar dunia seluruhnya ini sangat diperlukan. Karena dengan penemuanakarnya, diharapkan, setiap persoalan ataupun permasalahan-permasalahan yangbertumbuhan di atasnya dapat disingkap. Untuk dapat menemukan akar tersebut, seorangfilsuf atau seseorang yang sedang mempelajari dan mendalami filsafat perlu untuk berpikirsecara radikal. Berpikir radikal merupakan cara berpikir yang tidak pernah terpaku hanyapada satu fenomena suatu entitas tertentu, dan tidak pernah berhenti hanya pada satu wujudtertentu.Sampai di sini, kiranya, kita telah mengetahui mengapa filsafat itu bukan sesuatu yangkabur, serba rahasia, mistis, aneh, tak berguna, tak bermetoda, atau hanya sekedar leluconyang tak bermakna atau omong kosong.II. Objek FilsafatSetiap ilmu pengetahuan memiliki objek tertentu yang menjadi lapangan penyelidikan ataulapangan studinya. Objek ini diperoleh melalui pendekatan atau cara pandang, metode, dansistem tertentu. Adanya objek menjadikan setiap ilmu pengetahuan berbeda antara satudengan lainnya. Objek ilmu pengetahuan terdiri dari objek materi dan objek forma.Objek materi adalah sasaran material suatu penyelidikan, pemikiran atau penelitiankeilmuan. Ia bisa berupa apa saja, baik apakah itu benda-benda material ataupun benda-benda non material. Ia tidak terbatas pada apakah hanya ada di dalam kenyataan konkret,seperti manusia ataupun alam semesta, ataukah hanya di dalam realitas abstrak, sepertiTuhan atau sesuatu yang bersifat Ilahiah lainnya. Sementara objek forma adalah carapandang tertentu, atau sudut pandang tertentu yang dimiliki serta yang menentukan satumacam ilmu.Seperti halnya ilmu pengetahuan pada umumnya, filsafat juga memiliki objek yangmenjadi lapangan penyelidikan atau lapangan studinya yang terdiri dari objek materia danobjek forma.Bagi Plato (+ 427-347 SM) filsafat adalah penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas-asas
  • 14. yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada. Sementara bagi Aritoteles (+ 384-322 SM),filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berupaya mempelajari "peri ada selaku ada" (beingas being) atau "peri ada sebagaimana adanya" (being as such). Dari dua pernyataantersebut, dapatlah diketahui bahwa "ada" merupakan objek materia dari filsafat. Karenafilsafat berusaha memberikan penjelasan tentang dunia seluruhnya, termasuk dirinyasendiri, maka "ada" di sini meliputi segala sesuatu yang ada dan, bahkan, yang mungkinada atau seluruh ada.Penempatan segala sesuatu yang ada dan, bahkan, yang mugkin ada atau seluruh adasebagai objek materia dari filsafat, membuat filsafat berbeda dengan ilmu-ilmupengetahuan lainnya, seperti sastra, bahasa, politik, sosiologi, dsb. Jika ilmu-ilmupengetahuan lainnya hanya menempatkan satu bidang dari kenyataan sebagai objekmaterianya, filsafat, karena berusaha memberikan penjelasan tentang dunia seluruhnya,termasuk dirinya sendiri, menempatkan seluruh kenyataan sebagai objek materia studinya.Jadi, secara singkat dapat dikatakan, jika filsafat itu bersifat holistik atau keseluruhan,sementara ilmu pengetahuan lainnya bersifat fragmental atau bagian-bagian.Tadi telah dipaparkan bahwa filsafat adalah penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas-asas yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada, maka untuk mencapai hal tersebutfilsafat senantiasa berusaha mencari keterangan yang sedalam-dalamnya atas segalasesuatu. Jadi, mencari keterangan sedalam-dalamnya merupakan objek forma dari filsafat.III. Metode FilsafatFilsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan dari kenyataan. Untukmendapatkan hal tersebut, filsafat memiliki beberapa metode penalaran. Pertama, metodepenalaran deduksi. Secara sederhana, metode ini dapat dikatakan satu metode penalaranyang bergerak dari sesuatu yang bersifat umum kepada yang khusus. Dalam pengertiannyayang lebih spesifik, ia adalah proses berpikir yang bertolak dari prinsip-prinsip, hukum-hukum, putusan-putusan yang berlaku umum untuk suatu hal/ gejala atau prinsip umumtersebut ditarik kesimpulan tentang sesuatu yang khusus yang merupakan bagian hal/gejala umum.. Secara sederhana, deduksi dapat dicontohkan sbb:Semua manusia adalah fanaPresiden adalah manusiaPresiden adalah fanaSelain deduksi, filsafat juga menggunakan metode penalaran induksi. Secara sederhana,metode ini dapat dikatakan satu metode penalaran yang bergerak dari sesuatu yang bersifatkhusus kepada yang umum. Ia adalah proses berpikir yang bertolak dari satu atau sejumlahfenomena/ gejala individual untuk menurunkan suatu kesimpulan yang berlaku umum.Secara sederhana, metode ini dapat dicontohkan sbb:Amin adalah murid sekolah dasarAmin adalah manusiaSemua murid sekolah dasar adalah manusiaMetode ketiga yang dimiliki filsafat adalah metode penalaran dialektika. Secara umum,metode ini dapat dipahami sebagai cara berpikir yang dalam usahanya memperolehkesimpulan bersandar pada tiga hal, yakni: tesis, antitesis dan sintetis yang merupakanhasil gabungan dari tesis dan antitesis. Contoh sederhana untuk metode penalaran ini
  • 15. adalah Keluarga. Dalam satu keluarga biasanya terdapat ayah, ibu, dan anak. Jika ayahadalah tesis, maka ibu adalah antitesis, lantas anak merupakan sintesis karenakeberadaannya ditentukan ayah dan ibu. Begitu juga apabila ibu adalah tesis, maka ayahadalah antitesis, dan anak adalah sintesis.IV. Peranan dan Tujuan FilsafatTadi telah dipaparkan bahwa filsafat merupakan suatu upaya berpikir yang jelas dan terangtentang seluruh kenyataan. Upaya ini, bagi manusia, menghasilkan beberapa peranan.Pertama, filsafat berperan sebagai pendobrak. Artinya, bahwa filsafat mendobrakketerkungkungan pikiran manusia. Dengan mempelajari dan mendalami filsafat, manusiadapat menghancurkan kebekuan, kebakuan, bahkan keterkungkungan pikirannya dengankembali mempertanyakan segala.Pendobrakan ini membuat manusia bebas dari kebekuan, kebakuan, dan keterkungkungan.Jadi, bagi manusia, filsafat juga memiliki peranan sebagai pembebas pikiran manusia.Maka, pembebas merupakan peranan kedua yang dimiliki filsafat bagi manusia.Pembebasan ini membimbing manusia untuk berpikir lebih jauh, lebih mendalam, lebihkritis terhadap segala hal sehingga manusia bisa mendapatkan kejelasan dan keteranganatas seluruh kenyataan. Jadi, peranan ketiga yang dimiliki oleh filsafat bagi manusia adalahsebagai pembimbing.Selain memiliki peranan bagi manusia, filsafat juga berperan bagi ilmu pengetahuanumumnya. Menurut Descartes (1596-1650), filsafat adalah himpunan dari segalapengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam dan manusia. Ia,merujuk pada Kant (1724-1804), adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok danpangkal dari segala pengetahuan. Jadi, merujuk pada dua penrnyataan tersebut, dapat dapatdisimpulkan bahwa bagi ilmu pengetahuan, filsafat, memiliki peranan sebagaipenghimpun pengetahuan.Memahami perannya sebagai penghimpun, maka filsafat dapat dikatakan merupakan induksegala ilmu pengetahuan atau mater scientiarum. Bagi Bacon (1561-1626, filsafat adalahinduk agung dari ilmu-ilmu. Ia menangani semua pengetahuan.Selain sebagai induk yang menghimpun semua pengetahuan, bagi ilmu pengetahuanfilsafat juga memiliki peranan lain, yakni sebagai pembantu ilmu pengetahun.Bagi Bertrand Russell (1872-1970), filsafat adalah sebuah wilayah tak bertuan di antarailmu pengetahuan dan teknologi, yang memiliki kemungkinan untuk menyerang keduanya.Karena terdapat kemungkinan ini dalam filsafat, maka, menurutnya, filsafat dapatmemeriksa secara kritis asas-asas yang dipakai dalam ilmu dan kehidupan sehari-hari, danmencarisuatu ketidakselarasan yang dapat terkandung di dalam asas-asas tersebut. Secarasederhana, paparan Bertrand Russell tersebut dapat dipahami bahwa bagi pengetahuan,filsafat juga memiliki peranan sebagai pembantu pengetahuan. Sejalan dengan hal tersebut,Schlick, seorang filsuf Wina, pernah menyatakan bahwa tugas ilmu adalah untuk mencapaipengetahuan tentang realitas; dan pencapaian ilmu yang sebenarnya tidak pernah dapatdihancurkan atau diubah oleh filsafat, tapi filsafat dapat menafsirkan pencapaian-pencapaian tersebut secara benar, dan untuk menunjukkan maknanya yang terdalam.
  • 16. Dalam menjalankan peranannya tersebut, filsafat memiliki tujuan. Menurut Plato, filsafatadalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni. Jadi secaraumum, tujuan filsafat adalah meraih kebenaran. Dengan harapan kebenaran ini dapatmembawa manusia kepada pemahaman, dan pemahaman membawa manusia kepadatindakan yang lebih layak. Tapi, janganlah dianggap bahwa kebenaran yang berusahadiraih filsafat adalah sama dengan kebenaran yang diraih agama.Tidak seperti agama yang menyandarkan diri dan mengajarkan kepatuhan, filsafatmenyandarkan diri dan mengandalkan kemampuan berpikir kritis. Kondisi berpikir kritisini sering tampil dalam perilaku meragukan, mempertanyakan, dan membongkar sampai keakar-akarnya. Kebenaran yang oleh agama wajib diterima, dalam filsafat senantiasadiragukan, dipertanyakan dan dibongkar sampai ke akar-akarnya untuk kemudiandikonstruksi menjadi pemikiran baru yang lebih masuk akal. Maka, tak heran, apabilakebenaran yang ditawarkan filsafat dipahami sebagai kebenaran yang logis.
  • 17. Pengantar Kepada FilsafatHanya ada 2 pandangan hidup yang memberi kekuatan untuk mewarnai dunia ini yaitufilsafat dan agama. Sains (ilmu dan teknologi) tidak dianggap mampu memiliki pandanganyang begitu kuat karena dalam garis besarnya sains bersifat netral dan hanya mampumewarnai dunia berdasarkan pandangan hidup keilmuannya. Bukti sejarah menuliskanpengaruh agama dan filsafat mewarnai dunia yakni adanya orang-orang berani matimengorbankan nyawanya untuk mempertahankan agama yang diyakininya dan mati karenaproses pemikirannya yang sangat diyakini kebenarannya, misalnya tokoh Socrates yangrela mati karena pemikirannya dianggap sangat berbahaya dan menyesatkan tidak sesuaidengan kebijakan gereja Kristen di masa Yunani.Letak persamaan agama dan filsafat ialah pertama, masing-masing memiliki pengikut yangmeyakini atas keyakinan yang dianutnya. Kedua, agama-filsafat merasa perlumenyebarkan ajaran-ajarannya sehingga terbentuk sikap atas apa yang diyakininya,terbentuk tindakan dan pandangan hidup masing-masing penganutnya. Sebaliknya, letakperbedaannya adalah agama berasal dari Tuhan yang memberikan wahyu dan petunjukkepada hamba-Nya berupa peraturan tentang cara hidup lahir batin dan menekankan rasaiman atau kepercayaan. Sedangkan filsafat berasal dari buah pikir radikal manusia.Terkhusus pada bidang filsafat awal mula timbulnya berasal dari rasa ingin tahu kemudianterbentuklah mitos yang mempercayai keberadaan sifat gaib yaitu roh-roh di balik alamjagat raya ini, dan ini dipercayai oleh orang dahulu sebagai suatu kebenaran. Selanjutnyarasa kritis pun mulai menderai orang-orang atas kebenaran mitos itu rasa sangsi punmuncul, lalu ingin kepastian, timbulnya pertanyaan dan rasa-rasa tersebut adalah dasartimbulnya filsafat.Mula-mula filsafat berarti sifat seseorang berusaha menjadi bijak, selanjutnya filsafatmulai menyempit yaitu lebih menekankan pada latihan berpikir untuk memenuhikesenangan intelektual (intelectual curiosity), juga filsafat pada masa ini ialah menjawabpertanyaan yang tinggi yaitu pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh sains. Secaraterminologi filsafat banyak diartikan oleh para ahli secara berbeda, perbedaan konotasifilsafat disebabkan oleh pengaruh lingkungan dan pandangan hidup yang berbeda sertaakibat perkembangan filsafat itu sendiri seperti; James melihat konotasi filsafat sebagaikumpulan pertanyaan yang tidak pernah terjawab oleh sains secara memuaskan. Russelmelihat filsafat pada sifatnya ialah usaha menjawab, objeknya ultimate question.Phytagoras menunjukkan filsafat sebagai perenungan tentang ketuhanan. Poedjawijatna(1974: 11) menyatakan filsafat diartikan ingin mencapai pandai, cinta, pada kebijakan, dansebagai jenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagisegala sesuatu berdasarkan pikiran belaka. Hasbullah Bakry (1971: 11) mengatakan filsafatmenyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, danmanusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauhyang dapat dicapai akal manusia dan bagiamana sikap manusia itu harus setelah mencapaipengetahuan itu, dan masih banyak pendapat dari tokoh-tokoh lainnya.
  • 18. Metode mempelajari filsafat terbagi atas 3 macam metode; pertama, sistematis yang berartimenghadapi karya filsafat secara berurutan mulai dari menghadapi teori pengetahuan yangterdiri atas beberapa cabang filsafat, kemudian teori hakikatnya, kemudian teori nilai.Kedua, historis yang berarti mengetahui filsafat dengan cara mengetahui sejarahnya.Ketiga, kritis yakni memahami isi ajaran filsafat kemudian mengkitiknya dalam bentukmenentang, memberi dukungan.Objek penelitian filsafat ada 2 yakni: obyek materi yakni obyek yang dipikirkan ialahsegala yang ada dan yang mungkin ada, atau dengan kata lain cakupannya luas sekali baikitu bersifat empiris dan abstrak, juga hal yang mengenai Tuhan, hari akhir sebagaikesimpulannya lebih luas dari objek material sains. Objek forma yakni penyelidikan yangmendalam.Faedah mempelajari filsafat antara lain : pertama, agar terlatih berfikir serius sehinggamemberikan kemampuan memecahkan masalah secara serius menemukan akarpermasalahan, dan menemukan sebab terakhir suatu penampakan. Kedua, mampumemahami filsafat sehingga mampu berpartisipasi dalam membangun dunia dengan baikkarena dunia ini hanya diwarnai oleh dua yakni agama dan filsafat. Ketiga, mampumenemukan rumusan baru dalam penyelesaian dunia, mungkin berupa kritik, usul.Keempat, menjadi warga negara yang baik.Sistematika filsafat terbagi atas 3 garis besar yakni; Pertama, teori pengetahuan yangmembicarakan bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan yang disebut epistemologi.Pengetahuan manusia itu sendiri terdiri atas 3 macam dengan ilustrasi bagan sebagaiberikut:Pengetahuan ManusiaMacam Pengetahuan Objek Paradigma Metode UkuranSains Empiris Positivisme Sains Logis dan bukti empirisFilsafat Abstrak Logis Rasio LogisMistik Logis Mistis Latihan mistis Rasio, yakin, Abstrak kadang-kadang Supralogis empirisAda beberapa aliran yang berbicara tentang ini:1) Empirisme, kata ini berasal dari kata Yunani “empirikos” yang berarti pengalaman,menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan dari pengalamannya yaitupengalaman inderawi. Sumber kebenaran ialah hasil dari pengamatan indera manusia.Kelemahan dari aliran ini ialah inderat indera terbatas, karena indera dapat melaporkanobjek tidak sebagaimana adanya. Indera tertipu, yakni obyek yang ditangkap tidaksebagaimana yang oleh alat indera sehingga menyebabkan pengetahuan yang salah.2) Rasionalisme, aliran ini menyatakan akal adalah dasar kepastian pengetahuan,walaupun tetap menggunakan indera dalam memperoleh pengetahuan namun dianggapsebatas memberikan stimulus kepada akal untuk bekerja. Akal bekerja tidak hanya bahan-
  • 19. bahan dari indera saja tapi mampu juga menghasilkan pengetahuan objek yang betul-betulabstrak. Kerjasama inderawi dan akal melahirkan metode sains (scientific method) danmelahirkan pengetahuan sanis (scientific knowledge).3) Positivisme, pendapat aliran ini adalah indera amatlah penting dalam memperolehpengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen.Karena kekeliruan indrawi dapat dikoreksi oleh eksperimen. Tokoh aliran ini adalahAuguste Comte (1798-1875).4) Intuisionisme, tokohnya ialah Henry Bergson (1859-1941) ia menganggap tidakhanya indera yang terbatas, akalpun terbatas karena objek yang ditangkap selalu berubah-ubah. Misalnya akal hanya dapat memahami suatu objek bila ia mengkonsentrasikandirinya pdada objek itu. Intuisi menangkap objek secara lagsung tanpa melalui pemikiranlewat cara latihan. Dalam Islam disebutkan “riyadlah” dengan metode tariqat. Kemampuanintuisi mampu menepis batas-batas tuhannya dalam dunia barat bisa disebut latihankontemplasi dan dalam filsafat disebut filsafat rasa lewat hati dan ini merupakan tingkatantertinggi dalam filsafat.Berdasarkan 3 uraian aliran sebagai kesimpulan manusia memperoleh pengetahuan dengan3 cara; sains, logika/akal, dan latihan rasa (intuisi, kasyf).Kedua, ontologi yakni teori hakikat, membicarakan apa pengetahuan itu sendiri. Hakikatdidefinisikan realitas artinya kenyataan yang sebenarnya, bukan keadaan sementara,ataupun menipu. Kronologi membicarakan hakikat asal, antropologi membicarakan hakikatmanusia dan lain-lain. Beberapa aliran yang menjawab hakikat dari realitas benda-bendasebagai berikut: 1. Materialisme, menurut aliran ini hakikat benda adalah materi benda itu sendiri. Rohani, jiwa, spirit muncul dari benda. Aliran ini sama dengan naturalisme yang menganggap Tuhan, roh, spirit bukan hakikat berdasarkan alasan; (1) apa yang kelihatan, dapat diraba, bisa dijadikan kebenaran terakhir. Pikiran yang sederhana tidak mampu memikirkan sesuatu di luar ruang (abstrak); (2) penemuan menunjukkan jiwa bergantung pada badan (jasmani); (3) dalam sejarah manusia selalu bergantung pada benda, seperti pada padi dalam cerita Dewi Sri dan Tuhan muncul dari situ. 2. Idealisme berpendapat hakikat benda adalah rohani, spirit atau sebangsanya dengan beberapa alasan: (1) nilai roh lebih tinggi dari badan; (2) manusia lebih dapat memahami dirinya daripada dunia luar dirinya; (3) materi ialah kumpulan energi yang menempati ruang; benda tidak ada, yang ada energi itu saja. 3. Dualisme, hakikat menurut aliran ini ada 2 materi dari imaterial, benda dan roh, jasad dan spirit. Materi bukan dari roh, roh bukan muncul dari benda 4. Agnotisme sama dengan skeptisisme berpendapat manusia tidak mampu mengetahui hakikat. 5. Teisme adalah paham yang menyatakan bahwa Tuhan ada. Kata itu berasal dari kata Theus, bahasa Yunani, berarti Tuhan. Tuhan itu ada, pencipta, pengatur, beberapa aliran berkembang dari aliran ini seperti deisme yang mengajarkan bahwa Tuhan menciptakan alam ini dari permulaan. Monoteisme mengajarkan bahwa Tuhan itu Esa, Triniteisme mengajarkan bahwa Tuhan itu Satu, tetapi beroknum tiga, politesisme ialah politeisme ialah paham teis yang mengajarkan Tuhan itu banyak, masing-masing mempunyai tugas dan wewenang sendiri. Panteisme
  • 20. mengajarkan bahwa antara Tuhan dan alam tidak ada jarak, Tuhan itu ialah alam ini. lawan dari Teisme adalah Ateisme yang mengajarkan Tuhan Tuhan itu tidak ada, tokoh aliran ini adalah Marxisme, Holbarch.Ketiga, teori nilai membicarakan guna pengetahuan itu, disebut aksiologi di sinimembicarakan 2 hal yakni: etika dan estetika. 1. Etika yakni teori tentang nilai baik dan buruk. Beberapa pandangan seperti: Islam mengkategorikan nilai direntang menjadi S: Baik sekali, baik, netral, buruk-buruk sekali (wajib, sunnah, mubah, makruh, haram) nilai ini dalam Islam ditentukan oleh Tuhan. Hedonisme mengajarkan bahwa sesuatu dianggap baik bila mengandung kenikmatan, kepuasan bagi manusia. Vitalisme menyatakan baik buruk ditentukan oleh ada atau tidak adaya kekuatan hidup yang dikandung oleh objek nilai, misalnya manusia yang kuat, ulet, cerdas itulah manusia yang baik, manusia yang mengandung daya hidup yang besar itulah manusia yang baik. Utilitarianisme menyatakan bahwa yang baik ialah yang berguna, ajaran ini terbagi 2, utilitarianisme pribadi dan sosial. Pragmatisme sama dengan utilitarianisme bahwa yang baik adalah berguna secara praktis dalam kehidupan. 2. Estetika adalah nilai keindahan dan lebih sering dikenakan pada seni, ukuran indah sama dengan etika membingungkan, bermacam-macam, subjektif, sering diperdebatkan. Menurut Plato, keindahan adalah realitas yang sungguh-sungguh, harmoni, proporsi dan simetri adalah membentuk keindahan dan ada unsur metafisika. Bagi Platonis, keindaha adalah pancara akal Ilahi. Dalam Islam disebutkan bahwa Tuhan itu indah dan mencintai keindahan. Pendapat lain Kant menyatakan jiwa kita memiliki indra ketiga di atas pikir dan kemauan, yaitu indera rasa yang mampu menikmati keindahan tanpa kepentingan.Sebagai kesimpulan di ulasan pertama ini yakni pengantar kepada filsafat dapatlahdiketahui bahwa filsafat adalah pengetahuan yang diperoleh dengan cara berpikir logis,tentang objek yang abstrak logis, kebenarannya hanya dipertanggungjawabkan secara logispula.Akal dan hati pada zaman Yunani KunoCiri umum dari fisalfat Yunani ialah rasionalisme, khusus di masa Yunani Kuno secarapukul rata akal menang namun dihentikan oleh Socrates hingga akal dan hati sama-samamenang. Kronologis akal menuju klimaks sampai harus falling down dikaitkan jelasdengan pengaruh tokoh-tokoh yang ada di zaman Yunani kuno ini, berikut latarbelakangnya berdasarkan urutan filosofis untuk pertama kali muncul. 1. Thales (624-546 SM), dia orang Melitius dan digelari Bapak Filsafat karena dialah orang yang mula-mula berfilsafat lewat pertanyaan yang aman mendasar: what is the nature of the world stuff ? Ia sendiri menjawab air. Alsan yang cukup sederhana darinya adalah karena ia melihat air sebagai sesuatu yang amat diperlukan dalam kehidupan, dan menurut pendapatnya bumi ini terapung di atas air. Pertanyaannya muncul dengan menggunakan akal, bukan menggunakan agama atau kepercayaan lainnya. Sejak saat ini akal mulai digunakan lepas dari keyakinan. 2. Anaximander, lewat proses pemikirannya ia mencoba menjelaskan substansi pertam abersifat kekal dan ada dengan sendirinya adalah udara. Karena udara merupakan sumber segala kehidupan. Filosof ini telah memperlihatkan bahwa
  • 21. dalam filsafat terletak pada logis atau tidaknya argumen yang digunakan bukan pada kongklusi. Dan mulai di sini sudah kelihatan bibit relativisme yang kelak dikembangkan dalam filsafat sofisme. 3. Heraclitus (544-484 SM). Menurutnya memahami kehidupan kosmos mesti menyadari bahwa kosmos itu dinamis, tidak pernah berhenti (diam)l selalu bergerak dan berubah. Misalnya sesuatu yang panas berubah menjadi dingin, dingin berubah menjadi panas. Dia pun menyimpulkan bahwa yang mendasar dalam alam semesta ini bukanlah bahan seperti; air dan udara (Thales and Anaximander) melainkan prosesnya. Implikasi dari pernyataannya mengandung pengertian bahwa kebenaran selalu berubah, tidak tetap. Pandangan ini ialah warna dasar filsafat sofisme. 4. Parmanides adalah tokoh relativisme, ia digelari logikawan pertama dalam sejarah filsafat. Sistemnya secara keseluruhan disandarkan pada deduksi logis, dalam logkanya dia berpikir tentang Tuhan dalam 3 cara: 1) ada; 2) tidak ada; dan 3) ada dan tidak ada. Yang benar ialah ada (1) tiodak mungkin diyakini yang tidak ada, (2) ada karena tidak ada pastilah tidak ada; (3) pun tidak mungkin karena tidak mungkin Tuhan itu ada dan sekaligus tidak. Di sinilah logika betul-betul sebagai alat ukur, dan ukuran kebenaran adalah akal manusia. 5. Zeno (490 SM), ia pun menggunakan logikanya sebagai alat ukur kebenaran dan termasuk tokoh aliran sofisme. Ia merelatifkan kebenaran yang telah mapan lewat konsekuensi rumusan:1) Anda tidak pernah mencapai garis finish dalam suatu balapan walaupun secaraempiris telah sampai/lama mencapai garis itu. Ini adalah matematika logis2) Anak panah yang meluncur dan terlihat bergerak laju menurutnya adalah diam dansama sekali tidak bergerak.Karena ia termasuk sofisme sehingga di kalangan filosof pikirannya tidak disenangi apalagi oleh Socrates dan Plato. Ciri pemikiran Sofis saling bertentangan, dalam moral punmenganut moral yang relatif, tidak ada generalisasi atau dengan kata lain tidak adakebenaran umum semua kebenaran itu relatif tergantung siapa tokohnya. Sebagian parafilosof memandang orang-orang sofis matrealis karena mau menerima uang dari ajaranmereka sementara filosof mengatakan bahwa filsafat itu untuk disenangi, bukan alatmencari uang. 1. Protagoras, ia juga tokoh barisan sofis yang menyatakan manusia adalah ukuran kebenaran. Humanisme merupakan tulang punggung dari pernyataan ini, maksudnya bahwa kebenaran itu bersifat pribadi (private), akibatnya tidak akan ada ukuran yang absolut dalam etika, metafisika, maupun agama. 2. Gorgias (427) ia orang Athena dan termasuk tokoh sofis. Ada 3 proposisi yang diajukannya. Pertama, tidak ada yang ada; maksudnya realitas itu sebenarnya tidak ada. Kedua, bila sesuatu itu ada, ia tidak akan dapat diketahui, disebabkan oleh penginderaan tidak dapat dipercaya dan sumber ilusi. Akal menurutnya tidak juga mampu meyakinkan tentang bahan alam semesta karena dikungkung oleh dilema subjektif. Manusia berfikir seusi dengan kemauan, idea, yang diterapkan pda fenomena, proses ini tidak akan menghasilkan kebenaran. Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tak dapat kita beritahukan kepada orang lain. Di sini memperlihatkan kekurangan bahasa untuk mengkomunikasikan pengetahuan kita itu. Ada sisi positif yang didapat dari gerakan sofis yakni ia membangkitkan
  • 22. semangat berfilsafat. Sofis mengingatkan para filosof bahwa persoalan pokok dalam filsafat bukanlah alam, melainkan manusia, itulah sebabnya mengapa mereka dikatakan membangkitkan jiwa humanisme. Pandangan gerakan sofis mengenai relativisnya moral telha mengilhami munculnya utilitarianisme, pragmatisme, positivisme, dan eksistensialisme. 3. Socrates (470-399 SM), ia adalah tokoh yang meyakinkan orang Athena bahwa tidak semua kebenaran itu relatif, ada kebenaran umum yang dapat dipegang oleh semua orang. Ia pun seorang pengantur moral yang absolut dan meyakini bahwa menegakkan moral merupakan tugas filosof, yang berdasarkan idea-idea rasional dan keahlian dalam pengetahuan. Menurutnya ada kebenaran objektif yang tidak bergantung pada saya atau kita, metode yang digunakannya adalah dialektika yakni melalui percakapan-percakapan lalu menganalisisnya. Hasil analisisnya menghasilkan hipotesis-hipotesis sampai pada akhirnya menjadi definisi yang sangat berguna.Dengan pengetahuan Socrates membuktikan bahwa kebenaran umum adalah definisi, danpengetahuan yang khusus ialah kebenaran relatif. Pendapat Socrates ini telah dapatmenghentika laju relativisme kaum sofis, bahwa hidup bukan tanpa pegangan; kebenaransains dan agama dapat dipegang bersama sebagiannya, diperselisihkan sebagiannya.Akibatnya orang Athena mulai kembali memegang kaidah sains dan kaidah agama mereka,kubu Socrates pun semakin kuat. Melihat peristiwa ini membuat kaum sofis merasa kalaplalu menuduh Socrates merusak mental anak mudah dan menolak Tuhan-Tuhan. Socrateskemudian diadili dan dijatuhi hukuman mati. sekalipun Socrates mati, ajarannya tersebarjustru dengan cepat. 1. Plato, ia salah seorang murid dan teman Socrates. Menurut Plato esensi itu mempunyai realitas di alam idea itu sendiri, ini memperkuat pendapat gurunya Socrates. Lewat karangan mitosnya di dalam dialog Politeiamenjelaskan bahwa gua adalah dunia yang dapat ditangkap oleh indera. Kebanyakan orang menjadi terbelenggu dan menerima pengalaman spontan begitu saja. Namun ada beberapa orang memperkirakan bahwa realitas inderawi hanyalah bayangan; mereka adalah filosof. Untuk mencapai kebenaran yang sebenarnya manusia harus mampu melepaskan diri dari pengaruh indera yang menyesatkan, bahkan filosof pun tidak akan dipercayai orang. 2. Aristoteles, ia lahir pada tahun 384 SM di Stagira sebuah kota di Thrace. Ia pun murid sekaligus teman serta guru Plato. Ia giat melakukan penelitian tidak hanya menjelaskan prinsip-prinsip sains, tetapi ia juga mengajarkan politik, retorika, dan dialektika. Dalam dunia filsafat Aristoteles terkenal sebagai Bapak Logika. Pendapatnya dalam metafisika menyatakan bahwa manusia dapat mencapai kebenaran salah satu teorinya matter dan form itu bersatu; matter memberikan substansi sesutu, form memberikan pembungkusnya, setiap objek terdiri atas matter and form.Tuhan menurut Aristotelies berhubungan dengan dirinya sendiri, ia tidak berhubungandengan (tidak mempedulikan) alam ini. Dalam mencintai Tuhan kita tidak usahmengharapkan ia mencintai kita. Ia adalah kesempurnaan tertinggi, baginya Tuhan sebagaipenyebab gerak. Pada Aristoteleslah pemikiran filsafat lebih maju, dasar-dasar sainsdiletakkan. Jasanya dalam menolong Plato dan Socrates memerangi orang sofis ialahkarena bukunya yang menjelaskan palsunya logika yang digunakan oleh tokoh-tokohsofisme.
  • 23. Filsafat Yunani yang rasional berakhir setelah Aristoteles menggelarkan pemikirannya,akan tetapi sifat rasional masih digunakan selama beberapa abad sesudah Aristoteles.Sebelum filsafat benar-benar memasuki dan tenggelam dalam abad pertengahan. SetelahAristoteles ronde pertama pertarungan akal dan hati dianggap selesai dengan kisa akhirkeduanya akhirnya menang walaupun di awal-awal akal yang mendominasi. SejakSocrates sampai seterusnya akal mulai dibatasi; ada kebenaran umum, tidak semuakebenaran relatif, sains dapat dipegang dan dapat pula diperselisihkan.Kurang lebih sepeninggal SPA (Socrates, Plato dan Aristoteles) mutu filsafat semakinmerosot, kemunduran filsafat itu sejalan dengan kemunduran politik ketika itu. Tepatnyapada ujung zaman helenisme, lama periode ini 300 tahun sinisme, philo, cyrenaic,peripatetics, epicureanisme, stotisisme, skeptisisme adalah pengisi di masa ini, di manaakhirnya ditutup oleh jatuhnya filsafat. Di sini agama dapat dikatakan menang mutlak, akalkalah total ini abad yang terjadi sebelum ke abad pertengahan selanjutnya.
  • 24. PENGANTAR FILSAFATSISTEMATIKA FILSAFATA. OntologiOntologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitandengan ilmu, landasan ontologi mempertanyakan tentang objek yang ditelaah oleh ilmu,bagaimana wujud hakikinya, serta bagaimana hubungannya dengan daya tangkap manusiayang berupa berpikir, merasa, dan meng-indera yang membuahkan pengetahuan.Objek telaah Ontologi tersebut adalah yang tidak terlihat pada satu perwujudan tertentu,yang membahas tentang yang ada secara universal, yaitu berusaha mencari inti yangdimuat setiap kenyataan yang meliputi segala realitas dalam semua bentuknya. Adanyasegala sesuatu merupakan suatu segi dari kenyataan yang mengatasi semua perbedaanantara benda-benda dan makhluk hidup, antara jenis-jenis dan individu-individu.Dari pembahasannya memunculkan beberapa pandangan yang dikelompokkan dalambeberapa aliran berpikir, yaitu:1. Materialisme;Aliran yang mengatakan bahwa hakikat dari segala sesuatu yang ada itu adalah materi.Sesuatu yang ada (yaitu materi) hanya mungkin lahir dari yang ada.2. Idealisme (Spiritualisme);Aliran ini menjawab kelemahan dari materialisme, yang mengatakan bahwa hakikatpengada itu justru rohani (spiritual). Rohani adalah dunia ide yang lebih hakiki dibandingmateri.3. Dualisme;Aliran ini ingin mempersatukan antara materi dan ide, yang berpendapat bahwa hakikatpengada (kenyataan) dalam alam semesta ini terdiri dari dua sumber tersebut, yaitu materidan rohani.4. Agnotisisme.Aliran ini merupakan pendapat para filsuf yang mengambil sikap skeptis, yaitu ragu atassetiap jawaban yang mungkin benar dan mungkin pula tidak.B. EpistemologiObjek telaah epistemologi adalah mempertanyakan bagaimana sesuatu itu datang danbagaimana mengetahuinya, bagaimana membedakan dengan yang lain. Jadi berkenaandengan situasi dan kondisi ruang serta waktu tentang sesuatu hal. Landasan epistemologiadalah proses apa yang memungkinkan mendapatkan pengetahuan logika, etika, estetika,bagaimana cara dan prosedur memperoleh kebenaran ilmiah, kebaikan moral dankeindahan seni, serta apa definisinya. Epistemologi moral menelaah evaluasi epistemiktentang keputusan moral dan teori-teori moral.Dalam epistemologi muncul beberapa aliran berpikir, yaitu:1. Empirisme;Yang berarti pengalaman (empeiria), dimana pengetahuan manusia diperoleh daripengalaman inderawi.2. Rasionalisme;Tanpa menolak besarnya manfaat pengalaman indera dalam kehidupan manusia, namunpersepsi inderawi hanya digunakan untuk merangsang kerja akal. Jadi akal berada diataspengalaman inderawi dan menekankan pada metode deduktif.3. Positivisme;Merupakan sistesis dari empirisme dan rasionalisme. Dengan mengambil titik tolak dari
  • 25. empirisme, namun harus dipertajam dengan eksperimen, yang mampu secara objektifmenentukan validitas dan reliabilitas pengetahuan.4. Intuisionisme.Intuisi tidak sama dengan perasaan, namun merupakan hasil evolusi pemahaman yangtinggi yang hanya dimiliki manusia. Kemampuan ini yang dapat memahami kebenaranyang utuh, yang tetap dan unik.C. AksiologiAksiologi adalah filsafat nilai. Aspek nilai ini ada kaitannya dengan kategori: (1) baik danburuk; serta (2) indah dan jelek. Kategori nilai yang pertama di bawah kajian filsafattingkah laku atau disebut etika, sedang kategori kedua merupakan objek kajian filsafatkeindahan atau estetika.1. EtikaEtika disebut juga filsafat moral (moral philosophy), yang berasal dari kata ethos (Yunani)yang berarti watak. Moral berasal dari kata mos atau mores (Latin) yang artinya kebiasaan.Dalam bahasa Indonesia istilah moral atau etika diartikan kesusilaan. Objek material etikaadalah tingkah laku atau perbuatan manusia, sedang objek formal etika adalah kebaikanatau keburukan, bermoral atau tidak bermoral.Moralitas manusia adalah objek kajian etika yang telah berusia sangat lama. Sejakmasyarakat manusia terbentuk, persoalan perilaku yang sesuai dengan moralitas telahmenjadi bahasan. Berkaitan dengan hal itu, kemudian muncul dua teori yang menjelaskanbagaimana suatu perilaku itu dapat diukur secara etis. Teori yang dimaksud adalahDeontologis dan Teologis.a. Deontologis.Teori Deontologis diilhami oleh pemikiran Immanuel Kant, yang terkesan kaku,konservatif dan melestarikan status quo, yaitu menyatakan bahwa baik buruknya suatuperilaku dinilai dari sudut tindakan itu sendiri, dan bukan akibatnya. Suatu perilaku baikapabila perilaku itu sesuai norma-norma yang ada.b. TeologisTeori Teologis lebih menekankan pada unsur hasil. Suatu perilaku baik jika buah dariperilaku itu lebih banyak untung daripada ruginya, dimana untung dan rugi ini dilihat dariindikator kepentingan manusia. Teori ini memunculkan dua pandangan, yaitu egoisme danutilitarianisme (utilisme). Tokoh yang mengajarkan adalah Jeremy Bentham (1742 –1832), yang kemudian diperbaiki oleh john Stuart Mill (1806 – 1873).2. EstetikaEstetika disebut juga dengan filsafat keindahan (philosophy of beauty), yang berasal darikata aisthetika atau aisthesis (Yunani) yang artinya hal-hal yang dapat dicerap denganindera atau cerapan indera. Estetika membahas hal yang berkaitan dengan refleksi kritisterhadap nilai-nilai atas sesuatu yang disebut indak atau tidak indah.Dalam perjalanan filsafat dari era Yunani kuno hingga sekarang muncul persoalan tentangestetika, yaitu: pertanyaan apa keindahan itu, keindahan yang bersifat objektif dansubjektif, ukuran keindahan, peranan keindahan dalam kehidupan manusia dan hubungankeindahan dengan kebenaran. Sehingga dari pertanyaan itu menjadi polemik menarikterutama jika dikaitkan dengan agama dan nilai-nilai kesusilaan, kepatutan, dan hukum.Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/1871556-pengantar-filsafat/#ixzz27EDarFea
  • 26. PENGANTAR FILSAFAT A.PENDAHULUAN Salah penyebab mengapa kita sering sulit mengerti sebuah pemikiran filsafat adalah karena kita tidak memehami bagaimana pemikiran tersebut di bangun. Karena itu, untuk memehami pemikiran filsafat yang agak memusingkan, mau tidak mau kita juga harus mempelajari pemikiran lain layaknya seorang filosof. Dalam praktik mulai berfilsafat, kita harus sedikit demi sedikit memahami bagaimana cara seorang filosof membangun argument – argument yang logis dan rasional. Berfilsafat itu tidak harus langsung memikirkan sesuatu yang berat - berat. Namun, kita dapat mulai berfilsafat dengan mengkritisi masalah yang ringan terlebih dahulu, baru kemudian melangkah ke tahap selanjutnya. Makalah ini akan sedikit memberikan kita informasi bagaiman cara berfilsafat, mulai dari sikap berfilsafat hingga membuat sebuah teori yang kemudian di aplikasikan terhadap perubahan prilaku kehidupan. 1. B. PENGERTIAN FILSAFAT Filsafat adalah berpikir dan mersa sedalam – dalamnya terhadap segala sesuatu. Filsafat juga melakukan hubungan erat dengan penyelidikan terhadap nilai atau martabat dan tindakan manusia. Tidak hanya itu, filsafat juga menelaah hal – hal yang menjadi objeknya dari sudut intinya yang mutlak, mendalam tapi tidak berubah. Karena begitu luasnya kajian filsafat, maka banyak filosof yang berbeda dalam mengertikan filsafat. Ada beberapa catatan sejarah tentang pengertian filsafat menurut para filosofis terkemuka, diantaranya :1. Plato ( 427 SM – 348 SM ) mengartikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli.2. Aristoteles( 382 SM – 322 SM ) filsafat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang didalamnya terkandung ilmu – ilmu metafisika, logika, etika, dan antropologi.3. Al Farabi( 870 M – 950 M ) mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bagaimana hakikay yang sebenarnya.4. Descartes( 1590 M – 1650 M ) mengemukakan bahwa filsafat merupakan kumpulan dari segala pengetahuan di mana tuhan, alam, dan manusia menjadi pokok infestigasi.5. Immanuel Kant( 1724 M – 1804 M ) mendeskripsikan filsafat sebagai iolmu pengetahuan yang menjadi ppokok dan pangkal ilmu pengetahuan yang mencakup di dalam metafisika, etika, agama, dan antropologi. Sebenarnya setiap manusia dapat mendeskripsikan sendiri pengertian dari filsafat. Asalkan, dapat membayangkan luasnya ruang lingkup yang di kaji dari filsafat tersebut. Begitu juga para filosof yang telah mengemukakan definisi – definisi di atas, pada hakikatnya sama. Tidak ada pertentangn, hanya saja cara menyampaikannya yang berbeda. 1. C.SIKAP BERFILSAFAT Banyak orang yang ingin terlihat layaknya seorang filosof. Agar orang lain dapat segara menyadari bahwa saat ini orang yang bijaksana dan cerdas telah ada di depan matanya.
  • 27. Menjadi filosof yang sempurna dengan kebijaksanaanya bukanlah suatu hal yang mudah. Kita harus menghabiskan banyak waktu untuk membaca buku, berfikir, dan mempertanyakan hal – hal yang tidak lazim di tanyakan oleh kebanyakan orang. Hal ini pasti sangat membosankan bagi pemula. Namun hanya dengan cara tersebut, akhirnya seseorang mampu membangun pikiran yang mendasar dan filosofis. Di bawah ini langkah – langkah agar kita mengetahui sifat berfilsafat dengan benar. Untuk menjadi seorang filosof sejati mari kita lihat tata cara sifat berfilsafat berikut ini :1. Berani Bertanya Secara Kritis Syarat pertama untuk bisa berpikir layaknya seorang filosof adalah anda harus mempertanyakan keyakinan anda. Layaknya seorang ahli filsafat, anda harus berani mempertanyakan hal – hal yang sebelumnya di anggap benar. Termasuk terkait dengan adat-istiadat dan keyakinan yang anda pegang. Intinya, hal – hal yang anda ketahui, entah dari ajaran orang tua, agama, sampai informasi dari teman _ teman, patut dean perlu anda pertanyakan. Jadi, jika anda menjadi seorang filosof, anda harus berani mempetanyakan segala sesuatu, segala macam hal, dan mencari jawaban yang dapat di terima oleh akal sehat. Bahkan Descartes, seorang filosof prancis berani mempertanyakan keberadaan dirinya. Keraguan ini bersifat universal, karena itu di rentangkan tanpa batas, atau keraguan ini sampai membatasi dirinya. Artinya, keraguan ini akan membatasi diri jika tidak ada lagi yang bias dapat diragukan. Di mana keraguan ini bukan bertujuan untuk membuat bingung, melainkan bagaiman kita mengkritisi cara kita berpikir dan apa kiyanya yang kita pikirkan. Persoalan dasar bagi filsafat bukanlah bagaimana kita bisa mengetahui sesuatu, melainkan bagaimana agar kita dapat terbebas dari kekeliruan. Yakni, dengan mempertanyakan segala yang kita ketahui secara kritis.2. Berpikir Secara Holistik Syarat kedua adalah berupaya mencari kebenaran sampai pada hal yang mendasar. Setelah anda berani mempertanyakan sesuatu yang telah anda yakini, maka inilah saatnya anda mencari jawabannya. Namun, jawaban yang anda hasilkan harus bersifat holistic yang sifatnya menyeluruh atau universal. Immanuel Kant menyatakan, membunuh itu di larang. Karena hal tersebut adalah tindakan yang tidak etis yang telah di gariskan dalam setiap hati manusia. Dengan di buktikan adanya rasa cemas dalam hati manusia ketika atau telah melakukan kejahatan. Hal ini mendemonstrasikan tentang etika larangan membunuh bagi seluruh umat manusia. Seperti kacamata Karl Jasper yang mengatakan tunan itu ada, sehingga manusia memiliki tuntutan etis yang bersifat absolute yang di rancang sendiri oleh tuhan. Intinya, segala pertanyaan yang mendasar tersebut harus sampai pada sebuah jawaban yang menyeluruh. Karena dalam filosafat terdapat tujuan agar kita dapat menjelaskan berbagai pertanyaan tersebut, hingga pada hal yang mendasar serta berlaku pada fenomena keseluruhan.D. STANDART OPERATING PROSEDURE BERFILSAFAT Sama halnya dengan ilmu – ilmu yang lain, filsafat juga mempunyai beberapa tahapan untuk mendukung jalanya berfilsafat, agar sampai pada penyelesaiannya, diantaranya : 1. Masalah Sesuatu yang sulit, yang butuh dicari jalan keluarnya Pertanyaan yang butuh perhatian, jawaban, dan penyelesaian
  • 28. 2. Sikap Kondisi mental seseorang yang tampak dari kecenderungannya dalama merespon fakta, masalah atau objek tertentu Sikap kefilsafatan : Penasaran dan ingin tahu Meragukan metodis Kritis Terbuka dan jujur Berani, akan tetapi santun dalam berargumen 3. Metode Cara mencapai sesuatu dengan cara yang umum dan sistematis, sebush teknik teratur dalam penemuan ilmu dan pengetahuan. Metode berfilsafat : Fenomerologik Skeptis metodik Analitik Kritik Dialektika 4. Proses Pengertian umum tentang tata cara yang di pakai filosof dalam bekerja 5. Kesimpulan Konsekuensi akhir dari rangkaian usaha atau kejadian Sifat hasil filsafat : Evaluatif Tentatif Terbuka 6. Akibat Perubahan yang terjadi karena hasil dari usaha tertentu Akibat hasil filsafat : Dampak : Positif – Negatif Relevansi : Penting – Tidak Penting
  • 29. D. MENGAPLIKASIKAN TEORI KEARAH PERUBAHAN PERILAKU1. ILMU PENGETAHUAN ( TEORI ) Ketika filsafat lahirdan mulai tumbuh, ilmu pengetahuan masih merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari filsafat. Bagi para filosof ilmu pengetahuan adalah filsafat, dan filsafat juga merupakan ilmu pengetahuan. Berkat ilmu pengetahuan, manusia dapat dapat meraih kemajuan yang sangat menakjubkan. Teknologi canggih yang sangat mencengangkan dan fantastis adalah salah satu produk dari ilmu pengetahuan. Namun sayang, kemajuan ilmu pengetahuan yang amat mempesona itu telah membuat banyak orang menjadi sinis terhadap filsafat. Orang – orang mulai meragukan kegunaan filsafat dan menganggap bahwa filsafat tidak bisa melahirkan sesuatu yang baru lagi, karena itu ia sama sekali tidak berguna lagi. Anggapan – anggapan yang mengatakan bahwa filsafat itu tidak berguna lagi, adalah suatu persepsi yang keliru. Di karenakan ilmu pengetahuan membutuhkan dari sesuatu yang bersifat tidak terbatas. Sebagai sumber yang tidak terbatas, filsafat tidak hanya menyelidiki suatu bidang tertentu saja. Filsafat senantiasa mengajukan pertanyaan tentang seluruh kenyataan yang ada. Filsafat selalu mempersoalkan hakikat, prinsip, dan asas mengenai seluruh realitas yang ada, bahkan apa saja yang dapat dipertanyakan, termasuk filsafat itu sendiri.2. PRILAKU SETIAP HARI Meskipun filsafat itu abstrak, bukan berarti filsafat tidak ada hubungan dengan kehidupan sehari – hari yang bersifat konkret. Kendati tidak memberi petunjuk praktis tentang bagaimana bangunan artistik dan elok, filsafat sanggup membantu manusia dengan memberi pemahaman tentang apa itu artistik dan elok dalam kearsitekturan sehingga nilai keindahan yang di peroleh lewat pemahaman itu akan menjadi patokan utama bagi pelaksanaan pekerjaan pembangunan tersebut. Dengan demikian, filsafat mengiringi manusia ke pengertian yang terang dan pemahaman yang jelas. Tidak hanya itu, filsafat pun menuntun manusia ke dalam tindakan dan perbuatan yang konkret berdasarkan pengertian yang terang dan pemahaman yang jelas. E. KESIMPULAN Filsafat merupakan suatu ilmu yang mendukung nmanusia untuk bertindak lebih bijaksana, dikarenakan dalam filsafat terdapat unsur – unsur etika dan estetika. Disamping filsafat sbagai cikal bakal atau induk dari ilmu pengetahuan, filsafat juga merupakan metode berpikir, yakni berpikir yang kritis, analitis, rasional, sistematik, dan radikal. Filsafat juga membantu manusia untuk menyelesaikan masalah – masalah yang di hadapi yang bersifat konkret, meskipun filsafat itu sendiri bersifat abstrak.
  • 30. Pengantar Filsafat MENGENAL FILSAFATI.PengertianFilsafatSetiap kali saya memulai untuk pertama kali memberikan perkuliahan matakuliah "Pengantar Filsafat", saya senantiasa dihadapkan pada pertanyaan:"Apakah filsafat itu?" Sungguh ini merupakan pertanyaan yang sederhana,bahkan sangat sederhana. Tapi, untuk memberikan jawaban yang dapatmemuaskan dan benar-benar menjawab pertanyaan tersebut, itu bukanlahperkara yang mudah.Ada yang mengira bahwa filsafat itu sesuatu yang kabur, serba rahasia, mistis,aneh, tak berguna, tak bermetoda, atau hanya sekedar lelucon yang takbermakna atau omong kosong. Selain itu ada pula yang mengira bahwafilsafat itu merupakan kombinasi dari astrologi, psikologi dan teologi. Filsafatbukanlah semua itu.Oxford Pocket Dictionary mengartikan filsafat sebagai use of reason andargument in seeking truth and knowledge of reality. Sementara Kamus BesarBahasa Indonesia (KBBI) mengartikan filsafat sebagai:1. pengetahuan dan penyedilikan dengan akal budi mengenai hakikat segalayang ada, sebab, dan hukumnya;2. teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan;3. ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi;4. falsafah.Menurut Kamus Filsafat, filsafat merupakan (Bagus, 2000: 242):1. Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik sertalengkap tentang seluruh realitas.2. Upaya untuk melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar serta nyata.3. Upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan:sumbernya, hakikatnya, keabsahannya, dan nilainya.4. Penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan penyataan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan.5. Disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu manusia melihat apa yangdikatakan dan untuk mengatakan apa yang dilihat.Secara etimologi atau asal kata, kata "filsafat" berasal dari sebuah kata dalambahasa Yunani yang berbunyi philosophia. Kata philophia ini merupakan katamajemuk yang terdiri dari kata philos dan sophia. Kata philos berarti
  • 31. kekasihatau sahabat, dan kata sophia yang berarti kearifan ataukebijaksanaan, tetapi juga dapat diartikan sebagai pengetahuan. Jadi secaraetimologi, philosophia berarti kekasih/ sahabat kebijaksaan/ kearifan ataukekasih/ sahabat pengetahuan.Agar bisa menjadi kekasih atau sahabat, seseorang haruslah mengenal dekatdan akrab dengan seseorang atau sesuatu yang ingin dijadikan kekasih atausahabat tersebut. Dan ini hanya bisa dilakukan apabila seseorang tersebutsenantiasa terus-menerus berupaya untuk mengenalnya secara dalam danmenyeluruh. Dengan harapan bahwa upaya yang terus-menerus itu dapatmembawa seseorang atau sesuatu itu pada kedekatan yang akrab sehinggadapat mengasihinya.Seseorang yang melakukan aktivitas tersebut disebut filsuf. Filsuf adalahseseorang yang mendalami filsafat dan berusaha memahami danmenyelidikinya secara konsisten dan mendalam. Konsisten artinya bahwaseseorang tersebut terus menerus menggeluti filsafat. Mendalam berartibahwa ia benar-benar berusaha mempelajari, memahami, menyelidiki,meneliti filsafat.Tadi dikatakan bahwa filsafat adalah kekasih/ sahabat kebijaksaan/ kearifanatau kekasih/ sahabat pengetahuan, jadi karena ia merupakan kekasih/ sahabatkebijaksaan/ kearifan atau kekasih/ sahabat pengetahuan, maka filsafatmemiliki hasrat untuk selalu ingin dekat, ingin akrab, ingin mengasihikearifan/ kebjaksanaan/ pengetahuan. Tapi, kearifan/ kebijaksanaan/pengetahuan merupakan sesuatu yang sangat abstrak dan luas. Keabstrakandan keluasan ini menjadikan hasrat yang dimiliki filsafat tersebut tak mudahuntuk dipuaskan sepenuhnya. Ini menyebabkan filsafat terus-menerusmelakukan usaha untuk memenuhinya. Usaha yang terus menerus inimembuat filsafat, pada satu sisi, dikenal tak lebih dari sebagai sebuah usahaatau suatu upaya.Selain sebagai sebuah usaha atau suatu upaya, William James, seorang filsufdari Amerika, melihat bahwa berpikir juga merupakan sisi lain dari filsafat.Menurutnya, filsafat adalah suatu upaya yang luar biasa hebat untuk berpikiryang jelas dan terang. Artinya, bahwa segala upaya yang dilakukan olehfilsafat tak dapat dilepaskan dari tujuannya untuk meraih kejelasan danketerangan dalam berpikir. Jadi, berpikir adalah sisi lain yang dimilikifilsafat.Ihwal pentingnya keberadaan berpikir dalam filsafat, Thomas Nagel dalamPhilosophy: Basic Reading mengatakan (1987: 3):
  • 32. Philosophy is different from science and from mathematics. Unlike sciencedoesnt rely on experiments or observation, but only on thought. And unlikemathematics it has no formal methods of proof. It is done just by askingquestions, arguing, trying out ideas and thinking of possible argumentsagainst them, and wondering how our concepts really work.Bagi manusia, berpikir adalah hal yang sangat melekat. Manusia, merujukpada Aritoteles, adalah animal rationale atau mahluk berpikir. Tidak sepertimahluk-mahluk lainnya, oleh Tuhan manusia diberi anugerah yang sangatistemewa yakni akal. Dengan akal, manusia memiliki kemampuan untukberpikir dan mengatasi dan memecahkan segala permasalahan yangdihadapinya pikirannya. Karena filsafat mengandaikan adanya kerja pikiran,maka sifat pertama yang terdapat dalam berpikir secara filsafat adalahrasional.Rasional berarti bahwa segala yang dipikirkannya berpusar pada akal. Tapi,tidak semua aktivitas berpikir manusia dapat dikatakan berpikir secarafilsafat. Untuk dapat dikatakan bahwa satu aktivitas berpikir itu merupakanberpikir secara filsafat, aktivitas berpikir itu haruslah bersifat metodis.Secara umum, berpikir metodis berarti berpikir dengan cara tertentu yangteratur. Dalam membeberkan pikiran-pikirannya, filsafat senantiasamenggunakan cara tertentu yang teratur. Keteraturan ini membuat pikiran-pikiran yang dibeberkan oleh filsafat menjadi jelas dan terang. Tapi agar caratertentu itu dapat teratur, filsafat membutuhkan faktor lain, yakni sistem.Sebagai sebuah sistem, filsafat suatu susunan teratur berpola yang membentuksuatu keseluruhan. Ia terdiri dari unsur-unsur atau komponen-komponen yangsecara teratur menurut pola tertentu, dan membentuk satu kesatuan. Adanyasistem membuat satu cara berpikir tertentu yang teratur tetap padaketeraturannya. Oleh karena itu, selain berpikir metodis filsafat juga memilikisifat berpikir sistematis.Berpikir secara sistematis memiliki pengertian, bahwa aktivitas berpikirtersebut haruslah mengikuti cara tertentu yang teratur, yang dilakukanmenurut satu aturan tertentu, runtut dan bertahap, serta hasilnya dituliskanmengikuti satu aturan tertentu pula tersusun menurut satu pola yang tidaktersusun secara acak atau sembarangan. Jadi, agar dapat dikatakan bahwaseseorang tersebut sedang berpikir secara filsafat, ia haruslah berpikirmenurut atau mengikuti satu aturan tertentu yang runut dan bertahap dan tidakacak atau sembarangan.Sistematis mengandaikan adanya keruntutan. Jadi, berpikir filsafat atauberpikir filsafati juga memiliki sifat runtut atau koheren. Koheren berarti
  • 33. bertalian. Ia merupakan kesesuaian yang logis. Dalam koherensi, hubunganyang terjadi karena adanya gagasan yang sama. Pada berpikir filsafat,koherensi berarti tidak adanya loncatan-loncatan, kekacauan-kekacauan, danberbagai kontradiksi. Dalam koherensi, tidak boleh ada pernyataan-pernyataan yang saling bertentangan. Contoh:Hujan turunTidak benar bahwa hujan turunPernyataan yang pertama yang berbunyi "Hujan turun" bertentangan denganpernyataan yang kedua, "Tidak benar bahwa hujan turun,", begitu jugasebaliknya. Dalam berpikir secara koherensi hal ini tidak dibenarkan. Karenakedua pernyataan ini saling bertentangan. Jadi, dalam berpikir secarakoherensi, pernyataan-pernyataan yang ada haruslah saling mendukung.Agar dapat memperoleh pernyataan-pernyataan yang mendukung, filasafatharuslah mencari, mendapatkan, memeriksa, ataupun menyelidiki keseluruhanpernyataan yang ada. Filsafat berusaha memberikan penjelasan tentang duniaseluruhnya, termasuk dirinya sendiri. Usaha ini membawa filsafat padapenyelidikan terhadap keseluruhan. Jadi, sifat berpikir filsafat yangberikutnya adalah keseluruhan atau komprehensif dalam artian bahwasegala sesuatu berada dalam jangkauannya.Tadi dikatakan bahwa berpikir filsafat memiliki sifat koherensi, maka agarkoherensi dapat terjadi, seorang filsuf atau seseorang yang sedangmempelajari dan mendalami filsafat haruslah mampu memahami danmemilah pernyataan-pernyataan yang ada. Agar dapat mencapai hal tersebut,dibutuhkan apa yang dinamakan berpikir kritis Jadi, kritis adalah sifatberpikir filsafat yang berikutnya.Kritis dapat dipahami dalam artian bahwa tidak menerima sesuatu begitu saja.Secara spesifik, berpikir kritis secara filsafat adalah berpikir secara terbukaterhadap segala kemungkinan, dialektis, tidak membakukan dan membekukanpikiran-pikiran yang ada, dan selalu hati-hati serta waspada terhadap berbagaikemungkinan kebekuan pikiran.Untuk mencapai berpikir kritis, hal yang harus dilakukan adalah berpikirsecara skeptis. Skeptis berbeda dengan sinis. Skeptis adalah sikap untuk selalumempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang diterima, danmewaspadai segala kepastian agar tidak mudah ditipu. Sedangkan sinis adalahsikap yang berdasar pada ketidakpercayaan. Secara metaforis, sikap sinisdapat digambarkan seperti seorang laki-laki di tengah perempuan-perempuancantik, tapi dia malah mencari seekor kambing yang paling buruk. Jadi, pada
  • 34. intinya, sikap skpetis itu adalah meragukan, sementara sikap sinis adalahketidakpercayaan.Tadi telah dipaparkan di atas, bahwa filsafat berusaha memberikan penjelasantentang dunia seluruhnya, termasuk dirinya sendiri. Agar dapat meraih haltersebut, filsafat harus menemukan radix (akar) dunia seluruhnya tersebut.Jadi berpikir radikal adalah sifat berpikir filsafat yang berikutnya.Usaha menemukan akar dunia seluruhnya ini sangat diperlukan. Karenadengan penemuan akarnya, diharapkan, setiap persoalan ataupunpermasalahan-permasalahan yang bertumbuhan di atasnya dapat disingkap.Untuk dapat menemukan akar tersebut, seorang filsuf atau seseorang yangsedang mempelajari dan mendalami filsafat perlu untuk berpikir secararadikal. Berpikir radikal merupakan cara berpikir yang tidak pernah terpakuhanya pada satu fenomena suatu entitas tertentu, dan tidak pernah berhentihanya pada satu wujud tertentu.Sampai di sini, kiranya, kita telah mengetahui mengapa filsafat itu bukansesuatu yang kabur, serba rahasia, mistis, aneh, tak berguna, tak bermetoda,atau hanya sekedar lelucon yang tak bermakna atau omong kosong.II.ObjekFilsafatSetiap ilmu pengetahuan memiliki objek tertentu yang menjadi lapanganpenyelidikan atau lapangan studinya. Objek ini diperoleh melalui pendekatanatau cara pandang, metode, dan sistem tertentu. Adanya objek menjadikansetiap ilmu pengetahuan berbeda antara satu dengan lainnya. Objek ilmupengetahuan terdiri dari objek materi dan objek forma.Objek materi adalah sasaran material suatu penyelidikan, pemikiran ataupenelitian keilmuan. Ia bisa berupa apa saja, baik apakah itu benda-bendamaterial ataupun benda-benda non material. Ia tidak terbatas pada apakahhanya ada di dalam kenyataan konkret, seperti manusia ataupun alam semesta,ataukah hanya di dalam realitas abstrak, seperti Tuhan atau sesuatu yangbersifat Ilahiah lainnya. Sementara objek forma adalah cara pandang tertentu,atau sudut pandang tertentu yang dimiliki serta yang menentukan satu macamilmu.Seperti halnya ilmu pengetahuan pada umumnya, filsafat juga memiliki objekyang menjadi lapangan penyelidikan atau lapangan studinya yang terdiri dariobjek materia dan objek forma.Bagi Plato (+ 427-347 SM) filsafat adalah penyelidikan tentang sebab-sebab
  • 35. dan asas-asas yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada. Sementara bagiAritoteles (+ 384-322 SM), filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berupayamempelajari "peri ada selaku ada" (being as being) atau "peri adasebagaimana adanya" (being as such). Dari dua pernyataan tersebut, dapatlahdiketahui bahwa "ada" merupakan objek materia dari filsafat. Karena filsafatberusaha memberikan penjelasan tentang dunia seluruhnya, termasuk dirinyasendiri, maka "ada" di sini meliputi segala sesuatu yang ada dan, bahkan,yang mungkin ada atau seluruh ada.Penempatan segala sesuatu yang ada dan, bahkan, yang mugkin ada atauseluruh ada sebagai objek materia dari filsafat, membuat filsafat berbedadengan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, seperti sastra, bahasa, politik,sosiologi, dsb. Jika ilmu-ilmu pengetahuan lainnya hanya menempatkan satubidang dari kenyataan sebagai objek materianya, filsafat, karena berusahamemberikan penjelasan tentang dunia seluruhnya, termasuk dirinya sendiri,menempatkan seluruh kenyataan sebagai objek materia studinya. Jadi, secarasingkat dapat dikatakan, jika filsafat itu bersifat holistik atau keseluruhan,sementara ilmu pengetahuan lainnya bersifat fragmental atau bagian-bagian.Tadi telah dipaparkan bahwa filsafat adalah penyelidikan tentang sebab-sebabdan asas-asas yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada, maka untukmencapai hal tersebut filsafat senantiasa berusaha mencari keterangan yangsedalam-dalamnya atas segala sesuatu. Jadi, mencari keterangan sedalam-dalamnya merupakan objek forma dari filsafat.III.MetodeFilsafatFilsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan darikenyataan. Untuk mendapatkan hal tersebut, filsafat memiliki beberapametode penalaran. Pertama, metode penalaran deduksi. Secara sederhana,metode ini dapat dikatakan satu metode penalaran yang bergerak dari sesuatuyang bersifat umum kepada yang khusus. Dalam pengertiannya yang lebihspesifik, ia adalah proses berpikir yang bertolak dari prinsip-prinsip, hukum-hukum, putusan-putusan yang berlaku umum untuk suatu hal/ gejala atauprinsip umum tersebut ditarik kesimpulan tentang sesuatu yang khusus yangmerupakan bagian hal/ gejala umum.. Secara sederhana, deduksi dapatdicontohkan sbb:Semua manusia adalah fanaPresiden adalah manusiaPresiden adalah fanaSelain deduksi, filsafat juga menggunakan metode penalaran induksi. Secarasederhana, metode ini dapat dikatakan satu metode penalaran yang bergerak
  • 36. dari sesuatu yang bersifat khusus kepada yang umum. Ia adalah prosesberpikir yang bertolak dari satu atau sejumlah fenomena/ gejala individualuntuk menurunkan suatu kesimpulan yang berlaku umum. Secara sederhana,metode ini dapat dicontohkan sbb:Amin adalah murid sekolah dasarAmin adalah manusiaSemua murid sekolah dasar adalah manusiaMetode ketiga yang dimiliki filsafat adalah metode penalaran dialektika.Secara umum, metode ini dapat dipahami sebagai cara berpikir yang dalamusahanya memperoleh kesimpulan bersandar pada tiga hal, yakni: tesis,antitesis dan sintetis yang merupakan hasil gabungan dari tesis dan antitesis.Contoh sederhana untuk metode penalaran ini adalah Keluarga. Dalam satukeluarga biasanya terdapat ayah, ibu, dan anak. Jika ayah adalah tesis, makaibu adalah antitesis, lantas anak merupakan sintesis karena keberadaannyaditentukan ayah dan ibu. Begitu juga apabila ibu adalah tesis, maka ayahadalah antitesis, dan anak adalah sintesis.IV. Peranan dan Tujuan FilsafatTadi telah dipaparkan bahwa filsafat merupakan suatu upaya berpikir yangjelas dan terang tentang seluruh kenyataan. Upaya ini, bagi manusia,menghasilkan beberapa peranan. Pertama, filsafat berperan sebagaipendobrak. Artinya, bahwa filsafat mendobrak keterkungkungan pikiranmanusia. Dengan mempelajari dan mendalami filsafat, manusia dapatmenghancurkan kebekuan, kebakuan, bahkan keterkungkungan pikirannyadengan kembali mempertanyakan segala.Pendobrakan ini membuat manusia bebas dari kebekuan, kebakuan, danketerkungkungan. Jadi, bagi manusia, filsafat juga memiliki peranan sebagaipembebas pikiran manusia. Maka, pembebas merupakan peranan kedua yangdimiliki filsafat bagi manusia.Pembebasan ini membimbing manusia untuk berpikir lebih jauh, lebihmendalam, lebih kritis terhadap segala hal sehingga manusia bisamendapatkan kejelasan dan keterangan atas seluruh kenyataan. Jadi, perananketiga yang dimiliki oleh filsafat bagi manusia adalah sebagai pembimbing.Selain memiliki peranan bagi manusia, filsafat juga berperan bagi ilmupengetahuan umumnya. Menurut Descartes (1596-1650), filsafat adalahhimpunan dari segala pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalahmengenai Tuhan, alam dan manusia. Ia, merujuk pada Kant (1724-1804),
  • 37. adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segalapengetahuan. Jadi, merujuk pada dua penrnyataan tersebut, dapat dapatdisimpulkan bahwa bagi ilmu pengetahuan, filsafat, memiliki peranan sebagaipenghimpun pengetahuan.Memahami perannya sebagai penghimpun, maka filsafat dapat dikatakanmerupakan induk segala ilmu pengetahuan atau mater scientiarum. BagiBacon (1561-1626, filsafat adalah induk agung dari ilmu-ilmu. Ia menanganisemua pengetahuan.Selain sebagai induk yang menghimpun semua pengetahuan, bagi ilmupengetahuan filsafat juga memiliki peranan lain, yakni sebagai pembantuilmu pengetahun.Bagi Bertrand Russell (1872-1970), filsafat adalah sebuah wilayah tak bertuandi antara ilmu pengetahuan dan teknologi, yang memiliki kemungkinan untukmenyerang keduanya. Karena terdapat kemungkinan ini dalam filsafat, maka,menurutnya, filsafat dapat memeriksa secara kritis asas-asas yang dipakaidalam ilmu dan kehidupan sehari-hari, dan mencarisuatu ketidakselarasanyang dapat terkandung di dalam asas-asas tersebut. Secara sederhana, paparanBertrand Russell tersebut dapat dipahami bahwa bagi pengetahuan, filsafatjuga memiliki peranan sebagai pembantu pengetahuan. Sejalan dengan haltersebut, Schlick, seorang filsuf Wina, pernah menyatakan bahwa tugas ilmuadalah untuk mencapai pengetahuan tentang realitas; dan pencapaian ilmuyang sebenarnya tidak pernah dapat dihancurkan atau diubah oleh filsafat,tapi filsafat dapat menafsirkan pencapaian-pencapaian tersebut secara benar,dan untuk menunjukkan maknanya yang terdalam.Dalam menjalankan peranannya tersebut, filsafat memiliki tujuan. MenurutPlato, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yangasli dan murni. Jadi secara umum, tujuan filsafat adalah meraih kebenaran.Dengan harapan kebenaran ini dapat membawa manusia kepada pemahaman,dan pemahaman membawa manusia kepada tindakan yang lebih layak. Tapi,janganlah dianggap bahwa kebenaran yang berusaha diraih filsafat adalahsama dengan kebenaran yang diraih agama.Tidak seperti agama yang menyandarkan diri dan mengajarkan kepatuhan,filsafat menyandarkan diri dan mengandalkan kemampuan berpikir kritis.Kondisi berpikir kritis ini sering tampil dalam perilaku meragukan,mempertanyakan, dan membongkar sampai ke akar-akarnya. Kebenaran yangoleh agama wajib diterima, dalam filsafat senantiasa diragukan, dipertanyakandan dibongkar sampai ke akar-akarnya untuk kemudian dikonstruksi menjadi
  • 38. pemikiran baru yang lebih masuk akal. Maka, tak heran, apabila kebenaranyang ditawarkan filsafat dipahami sebagai kebenaran yang logis.
  • 39. PENGANTAR FILSAFATALIRAN UTILITARIANISMEa.Jeremy bentham ,” manusia akan bertindak untuk mendapatkankebahagian yangsebesar- besarnya dan mengurangi penderitaan “,”bahwa pembentuk undag-undang hendaknya dapat melahirkan undang-undang yang dapatmencerminkankaidah bagi semua individub.Jhon stuartmil, “sumber dari kesadaran keadilan itu bukan terletak padakegunaanmelainkan pada rangsangan untuk memperthankan diri dan perasaan simpatic.Rodulf von jhering , konsep tentang tujuan adalah pencipta dari seluruhhukum ,tidak ada suatu peraturan hukum yang tidak memiliki asal-usulnyapada tujuan.4.MAZHAB SEJARAHVon savigny ,”hukum itu tidak dibuat tetapi tumbuh danberkembang bersamamasyarakat.Henry maine ,”bahwa hukum berkembang dari bentuk statuskekontrak, sejalandengan perkembangan masyarakat nya dari yang sederhana kemasyarakatyangkompleks dan modern.5.ALIRAN SOCIOLOGICAL JURISPRUDENCEEugen erhlich “hukum positif akan memiliki daya berlaku yangefektif apabilaberisikan atau selaras dengan hukum yang hidup dalam masyarakat.
  • 40. Roscoe pound hukum harus dilihat sebagai suatu lembagakemasyarakatanyang berfungsi untuk memenuhi kebutuhn-kebutuhan social.6. ALIRAN REALISME HUKUMRealisme tidak mendasarkan pada konsep-konsep hukum tradisionalkarenarealisme bermaksud meolukiskan apa yang dilakukan sebenarnyaolehpengadilan-pengadilan dan orang-orangnya .Hukum tidak menempatkan undangt-undang sebagai sumber hukum utamadanmenempatkan hakim sebagai titik pusat perhatian dan penyelidikanhokum7. STUDI HUKUM KRITISBahwa tidak mungkin proses-proses hukumberlangsung dalam konteksbebas danatau netral dari pengaruh-pengaruh moral, agama dan pluralismepolitik.8. ALIRAN FEMINISMEbahwa hukum pada dasarnya memilikisejumlah keterbatasan untuk merealisasikan nilai-nilai social , bahwa hukumbersifat phallocenttris (memihak kaum laki-laki) sehinggahukum berjalanuntuk kepentingan status quo.9. ALIRAN SEMIOTIKAAliran ini di pengaruhi 2 pemikir besar di dalam semiotika yaitu analitisstructuraldan analisis non referensi
  • 41. Semiotika dari yunani semeion= tanda , dijelaskan sebagai studi atas kode-kodeyaitu sistem apapun yang memungkinkan seseorang memandangentitas-entitastertentu sebagai tanda-tanda atau sebagai sesuatu yangbermakna .10. SG NORTHOPcontemporary legal theoriesteori hukum pada saat ini dalam garis besarnya terbagi atas lima kelompok :legalpositivime, pragmatical legal realisme , neo kantian and klsenianethical jurisprudence, funcitional anthropological jurisprudence,naturalis jurisprudence.11. Hegelaliran hukum yaleukuran baik dari nilaibudaya adalah efetifnya mengubahberbagai elemen situasisocial yang berkompetesi menjadi seimbang (deweyesebagai the problematic
  • 42. PENGANTAR FILSAFATPola d an system b erp ikir filosofis d emik iand ilak san ak an dalam ru ang lingk up yang menyangkutbidang-bidang sebagai berikut:1. Cosmologi yaitu suatu pemikiran dalamp e r m a s a l a h a n y a n g b e r h u b u n g a n d eng an ala msemesta, ru ang , d an wak tu . Serta k en yataan manusiaseb ag ai ciptaan manusia;2 . Ontolog i: yaitu tentang p emikiran asal u sul k ejad ianalam se mesta, d ari man a dan ke arah mana proseskejadiannya.3 . Philosoph y of main : yaitu pe mik iran filosofisten tang “jiwa” d an b ag aiman ahu bung ann ya deng anjasman i serta bag aiman a d engan k ebebasank eh end ak dari manusia (free will);4. Efistimologi : yaitu suatu pemikiran yangm e n y a t a k a n a p a d a n b a g a i m a n a su mb er p eng etahu and ip eroleh ; ap akah d ari akal pik iran (ration alis me)atau dari pendalaman panca indra (empirisme) atau dari ide -ide (aliran Idealisme)atau aliran dari Tuhan (Theologisme);5. Axiologi :yaitu pemikiran tentang nilai-nilai tinggi dariT u h a n . M i s a l n y a , n i l a i mo ral, n ilai ag ama, n ilaik eindahan (estetik a).Pengertian Filsafat Pendidikan1.Philisoph izing and edu cation are, then, b ut two stag esof the same en d eavo;Ph iliso ph izing to th ink ou t b etterv alues an d id ealis m, edu cation to realizeth ese in lif e,in hu man p erson ality. Ed ucation acting ou t of th e b estd irection philosophizing in can give, tries and beginningprimarly with the young, to leadp eop le to bu ild critrised
  • 43. v alues to their ch aracters, and in th is way to g etthehighest ideals of philosophy progressively embodied intheir lives. Berfilsafatdan mendidik adalah dua fase dalamsatu usaha.Berfilsaf at ad alah me mik irk an d a nmempertimbangkan nilai -nilai dan cita-cita yanglebih baik, sedangkan m e n d i d i k i a l a h u s a h amerealisasi nilai-nilai dan cita-cita itu did a l a m k eh id up an d an d alam k ep ribadian ma nu sia.Mend idik ialah mewu ju dkan nilai - n i l a i y a n gdisumbangkan filsafat, dimulai dengang e n e r a s i m u d a , u n t u k membimbing rakyatmembina nilai-nilai di dalam kepribadian mereka,d a n melembagakannya dalam kehidupan mereka. (Kilpatrikdalam Buku Philosophy of Education, 10 : 32)32. John Dewey memandang pendidikan sebagais u a t u p r o s e s p e m b e n t u k a n kemampuan dasar yangfundamental, baik menyangkut daya pikir(intelektual)mau pu n daya p erasaan(e mo tion al)m e n u j u k e a r a h t a b i ‟ a t m a n u s i a , m a k a f ilsafat ju gad ap at d iartikan seb ag ai teo ri umu m p en did ik an(De mo cracy and Education, p. 383)3 . V a n C l e v eMorris menyatakan : “Secara ringkas kitam e n g a t a k a n b a h w a p end idik an adalah studi f il osof is,k arena ia p ad a d asarn ya, buk an alat so cial s e m a t auntuk mengalihkan cara hidup secara menyeluruhk e p a d a s e t i a p generasi, akan tetapi ia juga menjadi agen(lembaga) yang melayani hati nuranim a s y a r a k a t d a l a mperjuangan mencapai hari depan lebih baik (V anC l e v e Morris, Becaming an Education, p.57 dalam bukuFilsafat Pendidikan Islam, Prof HM. Arifin, Med, p. 3)4 .Prof. Bra meld b erk ata ten tang filsaf at p end idikan :Th at is, we shou ld b ringph ilo sop h y to b ear upon th ep rob lems of edu cation as eff ien tly…Kitah arus me mb awa filsaf at gun a men g atasi p erso alan -
  • 44. p erso alan p endidik an secara efisien, jelas, dan sistematissedapat mungkin…);Deng an d emik ian jelaslah b ah wafilsaf at p end id ik an itu ad alah filsaf at yang m e m i k i r k a ntentang masalah kependidikan. Oleh karena itu a dak a i t a n d e n g a n pendidikan, maka filsafat diartikan sebagaiteori pendidikan dalam segala tingkat.D a l a m p e n g e r t i a nyang singkat Filsafat pendidikan adalahs e b a g a i m a n a didefinisikan oleh Muhammad Labib al-Najihi, yaitu : suatu aktivitas yang teratur yangmenj adikanfilsafat itu sebagai jalan mengatur, menyelaraskan danmemadukan prosespendidikan (dalam Azyumardi Azra,Esei-Esei Intelektual Muslim, 75)D. Tujuan Filsafat Pendidikan :1 . Memb erik an lan dasan dan sek aligus men g arahk ank ep ad a proses p elak sanaan pendidikan;2. Membantumempejelas tujuan-tujuan pendidikan;3. Melaksanakan kritikdan koreksi terhadap proses pelaksanaan tersebut;4.Melakukan evaluasi terhadap metode dari proses pendidikan;4E. Pentingnya Suatu Penentuan Filsafat Dalam Bagi Pendidikan :Dr. Omar Muhammad al-Taumy al-Syaibani mengemukakanpentingnya penetuan suatufalsafat bagi pendidikan Islamsebagai berikut :1. Filsafat pendidikan itu dapat menolong perancang -perancang pendidikand an orang -o rang yangmelak sanak an p end idikan dala m su atu negara untukmembentuk pemikiran yang sehat terhadap prosespendidikan. Dis a m p i n g i t u d a p a t m e n o l o n gt e r h a d a p t u j u a n - t u j u a n d a n f u n g s i - fungsinya sertameningkatkan mutu penyelesaian maslah pendidikan;2. Filsafat pendidikan dapat membentuk azas yangk h a s m e n y a n g k u t kurikulum, metode, alat-alat pengajaran, danlain-lain.
  • 45. 3 . Filsafat p end idikan mejadi azas terbaik untukmen g ad ak an p en ilaian pendidikan dalam arti menyeluruh.Penilaian pendidikan meliputi segalau saha d an kegiatanyang d ilaku kan o leh sekolah dan in stitusi -institusi pendidikan.4. Filsafat pendidikan dapat menjadi sandaranintelektual bagi parapendidik untuk membelat i n d a k a n - t i n d a k a n m e r e k a d a l a m b i d a n g p end id ikan.Dalam h al ini jug a sek aligu s un tuk me mb i mb i ngp ikiran merek a d i teng ah k an cah p er tarung an filsaf atu mu m yan g me ng usasi dunia pendidikan;5.Filsafat pendidikan Islam yang berasaskan Islam akanmembantu umatI s l a m u n t u k p e n d a l a m a npikiran bagi pendidikan Islamd a n mengaitkannya dengan factor-faktor spiritual, social,ekonomi, budayadan lain-lain, dalam berbagai bidangkehidupan;
  • 46. Filsafat Ilmu Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam1.PendahuluanDitinjau dari segi historis, hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalamiperkembangan yang sangat menyolok. Pada permulaan sejarah filsafat di Yunani,“philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis. Tetapi dalam perkembanganilmu pengetahuan dikemudian hari, ternyata juga kita lihat adanya kecenderungan yanglain. Filsafat Yunani Kuno yang tadinya merupakan suatu kesatuan kemudian menjaditerpecah-pecah (Bertens, 1987, Nuchelmans, 1982).Lebih lanjut Nuchelmans (1982), mengemukakan bahwa dengan munculnya ilmupengetahuan alam pada abad ke 17, maka mulailah terjadi perpisahan antara filsafat danilmu pengetahuan. Dengan demikian dapatlah dikemukakan bahwa sebelum abad ke 17tersebut ilmu pengetahuan adalah identik dengan filsafat. Pendapat tersebut sejalan denganpemikiran Van Peursen (1985), yang mengemukakan bahwa dahulu ilmu merupakanbagian dari filsafat, sehingga definisi tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yangdianut.Dalam perkembangan lebih lanjut menurut Koento Wibisono (1999), filsafat itu sendiritelah mengantarkan adanya suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana “pohonilmu pengetahuan” telah tumbuh mekar-bercabang secara subur. Masing-masing cabangmelepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masingmengikuti metodologinya sendiri-sendiri.Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju denganmunculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmupengetahuan baru bahkan kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi sepertispesialisasi-spesialisasi. Oleh karena itu tepatlah apa yang dikemukakan oleh Van Peursen(1985), bahwa ilmu pengetahuan dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalin-menjalin dantaat asas (konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan.Terlepas dari berbagai macam pengelompokkan atau pembagian dalam ilmu pengetahuan,sejak F.Bacon (1561-1626) mengembangkan semboyannya “Knowledge Is Power”, kita
  • 47. dapat mensinyalir bahwa peranan ilmu pengetahuan terhadap kehidupan manusia, baikindividual maupun sosial menjadi sangat menentukan. Karena itu implikasi yang timbulmenurut Koento Wibisono (1984), adalah bahwa ilmu yang satu sangat erat hubungannyadengan cabang ilmu yang lain serta semakin kaburnya garis batas antara ilmu dasar-murniatau teoritis dengan ilmu terapan atau praktis.Untuk mengatasi gap antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya, dibutuhkan suatubidang ilmu yang dapat menjembatani serta mewadahi perbedaan yang muncul. Olehkarena itu, maka bidang filsafatlah yang mampu mengatasi hal tersebut. Hal ini senadadengan pendapat Immanuel kant (dalam kunto Wibisono dkk., 1997) yang menyatakanbahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruanglingkup pengetahuan manusia secara tepat. Oleh sebab itu Francis bacon (dalam The LiangGie, 1999) menyebut filsafat sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (the great mother of thesciences).Lebih lanjut Koento Wibisono dkk. (1997) menyatakan, karena pengetahuan ilmiah atauilmu merupakan “a higher level of knowledge”, maka lahirlah filsafat ilmu sebagaipenerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafatmenempatkan objek sasarannya: Ilmu (Pengetahuan). Bidang garapan filsafat ilmuterutama diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagieksistensi ilmu yaitu: ontologi, epistemologi dan aksiologi. Hal ini didukung oleh IsraelScheffler (dalam The Liang Gie, 1999), yang berpendapat bahwa filsafat ilmu mencaripengetahuan umum tentang ilmu atau tentang dunia sebagaimana ditunjukkan oleh ilmu.Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung arti bahwa filsafat dewasa ini tidak dapatberkembang dengan baik jika terpisah dari ilmu. Ilmu tidak dapat tumbuh dengan baiktanpa kritik dari filsafat. Dengan mengutip ungkapan dari Michael Whiteman (dalamKoento Wibisono dkk.1997), bahwa ilmu kealaman persoalannya dianggap bersifat ilmiahkarena terlibat dengan persoalan-persoalan filsafati sehingga memisahkan satu dari yanglain tidak mungkin. Sebaliknya, banyak persoalan filsafati sekarang sangat memerlukanlandasan pengetahuan ilmiah supaya argumentasinya tidak salah.Berdasarkan beberapa pendapat di atas serta dikaitkan dengan permasalahan yang penulisakan jelajahi, maka penulisan ini akan difokuskan pada pembahasan tentang: “Filsafat Ilmu
  • 48. Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam”, dengan pertimbangan bahwalatar belakang pendidikan penulis adalah ilmu pengetahuan alam (MIPA – Kimia).2. Pengertian FilsafatPerkataan Inggris philosophy yang berarti filsafat berasal dari kata Yunani “philosophia”yang lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Akar katanya ialah philos (philia, cinta)dan sophia (kearifan). Menurut pengertiannya yang semula dari zaman Yunani Kuno itufilsafat berarti cinta kearifan. Namun, cakupan pengertian sophia yang semula itu ternyataluas sekali. Dahulu sophia tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi pulakebenaran pertama, pengetahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan sehat sampaikepandaian pengrajin dan bahkan kecerdikkan dalam memutuskan soal-soal praktis (TheLiang Gie, 1999).Banyak pengertian-pengertian atau definisi-definisi tentang filsafat yang telahdikemukakan oleh para filsuf. Menurut Merriam-Webster (dalam Soeparmo, 1984), secaraharafiah filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Maksud sebenarnya adalah pengetahuantentang kenyataan-kenyataan yang paling umum dan kaidah-kaidah realitas serta hakekatmanusia dalam segala aspek perilakunya seperti: logika, etika, estetika dan teoripengetahuan.Kalau menurut tradisi filsafati dari zaman Yunani Kuno, orang yang pertama memakaiistilah philosophia dan philosophos ialah Pytagoras (592-497 S.M.), yakni seorang ahlimatematika yang kini lebih terkenal dengan dalilnya dalam geometri yang menetapkan a2 +b2 = c2. Pytagoras menganggap dirinya “philosophos” (pencinta kearifan). Baginyakearifan yang sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan. Selanjutnya,orang yang oleh para penulis sejarah filsafat diakui sebagai Bapak Filsafat ialah Thales(640-546 S.M.). Ia merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran filsafat alam semestaatau kosmos dalam perkataan Yunani. Menurut aliran filsafat kosmos, filsafat adalah suatupenelaahan terhadap alam semesta untuk mengetahui asal mulanya, unsur-unsurnya dankaidah-kaidahnya (The Liang Gie, 1999).Menurut sejarah kelahiran istilahnya, filsafat terwujud sebagai sikap yang ditauladankanoleh Socrates. Yaitu sikap seorang yang cinta kebijaksanaan yang mendorong pikiranseseorang untuk terus menerus maju dan mencari kepuasan pikiran, tidak merasa dirinya
  • 49. ahli, tidak menyerah kepada kemalasan, terus menerus mengembangkan penalarannyauntuk mendapatkan kebenaran (Soeparmo, 1984).Timbulnya filsafat karena manusia merasa kagum dan merasa heran. Pada tahap awalnyakekaguman atau keheranan itu terarah pada gejala-gejala alam. Dalam perkembangan lebihlanjut, karena persoalan manusia makin kompleks, maka tidak semuanya dapat dijawaboleh filsafat secara memuaskan. Jawaban yang diperoleh menurut Koento Wibisono dkk.(1997), dengan melakukan refleksi yaitu berpikir tentang pikirannya sendiri. Dengandemikian, tidak semua persoalan itu harus persoalan filsafat.3. Filsafat IlmuPengertian-pengertian tentang filsafat ilmu, telah banyak dijumpai dalam berbagai bukumaupun karangan ilmiah lainnya. Menurut The Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalahsegenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yangmenyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupanmanusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi danpemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik dan saling-pengaruh antara filsafatdan ilmu.Sehubungan dengan pendapat tersebut serta sebagaimana pula yang telah digambarkanpada bagian pendahuluan dari tulisan ini bahwa filsafat ilmu merupakan penerusanpengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan.Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaantanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakanuntuk mencari pengetahuan baru. Hal ini senada dengan ungkapan dari Archie J.Bahm(1980) bahwa ilmu pengetahuan (sebagai teori) adalah sesuatu yang selalu berubah.Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan pandangannya pada strategipengembangan ilmu yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampai pada dimensikebudayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga artimaknanya bagi kehidupan manusia (Koento Wibisono dkk., 1997).Oleh karena itu, diperlukan perenungan kembali secara mendasar tentang hakekat dari ilmupengetahuan itu bahkan hingga implikasinya ke bidang-bidang kajian lain seperti ilmu-ilmu kealaman. Dengan demikian setiap perenungan yang mendasar, mau tidak mau
  • 50. mengantarkan kita untuk masuk ke dalam kawasan filsafat. Menurut Koento Wibisono(1984), filsafat dari sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untukmemahami hakekat dari sesuatu “ada” yang dijadikan objek sasarannya, sehingga filsafatilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang filsafat dengan sendirinya merupakanilmu yang berusaha untuk memahami apakah hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.Lebih lanjut Koento Wibisono (1984), mengemukakan bahwa hakekat ilmu menyangkutmasalah keyakinan ontologik, yaitu suatu keyakinan yang harus dipilih oleh sang ilmuwandalam menjawab pertanyaan tentang apakah “ada” (being, sein, het zijn) itu. Inilah awal-mula sehingga seseorang akan memilih pandangan yang idealistis-spiritualistis,materialistis, agnostisistis dan lain sebagainya, yang implikasinya akan sangat menentukandalam pemilihan epistemologi, yaitu cara-cara, paradigma yang akan diambil dalam upayamenuju sasaran yang hendak dijangkaunya, serta pemilihan aksiologi yaitu nilai-nilai,ukuran-ukuran mana yang akan dipergunakan dalam seseorang mengembangkan ilmu.Dengan memahami hakekat ilmu itu, menurut Poespoprodjo (dalam Koento Wibisono,1984), dapatlah dipahami bahwa perspektif-perspektif ilmu, kemungkinan-kemungkinanpengembangannya, keterjalinannya antar ilmu, simplifikasi dan artifisialitas ilmu dan lainsebagainya, yang vital bagi penggarapan ilmu itu sendiri. Lebih dari itu, dikatakan bahwadengan filsafat ilmu, kita akan didorong untuk memahami kekuatan serta keterbatasanmetodenya, prasuposisi ilmunya, logika validasinya, struktur pemikiran ilmiah dalamkonteks dengan realitas in conreto sedemikian rupa sehingga seorang ilmuwan dapatterhindar dari kecongkakan serta kerabunan intelektualnya.4. Filsafat Ilmu sebagai Landasan Pengembangan Pengetahuan AlamFrank (dalam Soeparmo, 1984), dengan mengambil sebuah rantai sebagai perbandingan,menjelaskan bahwa fungsi filsafat ilmu pengetahuan alam adalah mengembangkanpengertian tentang strategi dan taktik ilmu pengetahuan alam. Rantai tersebut sebelumtahun 1600, menghubungkan filsafat disatu pangkal dan ilmu pengetahuan alam di ujunglain secara berkesinambungan. Sesudah tahun 1600, rantai itu putus. Ilmu pengetahuanalam memisahkan diri dari filsafat. Ilmu pengetahuan alam menempuh jalan praktis dalammenurunkan hukum-hukumnya. Menurut Frank, fungsi filsafat ilmu pengetahuan alamadalah menjembatani putusnya rantai tersebut dan menunjukkan bagaimana seseorangberanjak dari pandangan common sense (pra-pengetahuan) ke prinsip-prinsip umum ilmu
  • 51. pengetahuan alam. Filsafat ilmu pengetahuan alam bertanggung jawab untuk membentukkesatuan pandangan dunia yang di dalamnya ilmu pengetahuan alam, filsafat dankemanusian mempunyai hubungan erat.Sastrapratedja (1997), mengemukakan bahwa ilmu-ilmu alam secara fundamental danstruktural diarahkan pada produksi pengetahuan teknis dan yang dapat digunakan. Ilmupengetahuan alam merupakan bentuk refleksif (relefxion form) dari proses belajar yangada dalam struktur tindakan instrumentasi, yaitu tindakan yang ditujukan untukmengendalikan kondisi eksternal manusia. Ilmu pengetahuan alam terkait dengankepentingan dalam meramal (memprediksi) dan mengendalikan proses alam. Positivismemenyamakan rasionalitas dengan rasionalitas teknis dan ilmu pengetahuan dengan ilmupengetahuan alam.Menurut Van Melsen (1985), ciri khas pertama yang menandai ilmu alam ialah bahwa ilmuitu melukiskan kenyataan menurut aspek-aspek yang mengizinkan registrasi inderawi yanglangsung. Hal kedua yang penting mengenai registrasi ini adalah bahwa dalam keadaanilmu alam sekarang ini registrasi itu tidak menyangkut pengamatan terhadap benda-bendadan gejala-gejala alamiah, sebagaimana spontan disajikan kepada kita. Yang diregistrasidalam eksperimen adalah cara benda-benda bereaksi atas “campur tangan” eksperimentalkita. Eksperimentasi yang aktif itu memungkinkan suatu analisis jauh lebih teliti terhadapbanyak faktor yang dalam pengamatan konkrit selalu terdapat bersama-sama. Tanpapengamatan eksperimental kita tidak akan tahu menahu tentang elektron-elektron danbagian-bagian elementer lainnya.Ilmu pengetahuan alam mulai berdiri sendiri sejak abad ke 17. Kemudian pada tahun 1853,Auguste Comte mengadakan penggolongan ilmu pengetahuan. Pada dasarnyapenggolongan ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh Auguste Comte (dalam KoentoWibisono, 1996), sejalan dengan sejarah ilmu pengetahuan itu sendiri, yang menunjukkanbahwa gejala-gejala dalam ilmu pengetahuan yang paling umum akan tampil terlebihdahulu. Dengan mempelajari gejala-gejala yang paling sederhana dan paling umum secaralebih tenang dan rasional, kita akan memperoleh landasan baru bagi ilmu-ilmupengetahuan yang saling berkaitan untuk dapat berkembang secara lebih cepat. Dalampenggolongan ilmu pengetahuan tersebut, dimulai dari Matematika, Astronomi, Fisika,Ilmu Kimia, Biologi dan Sosilogi. Ilmu Kimia diurutkan dalam urutan keempat.
  • 52. Penggolongan tersebut didasarkan pada urutan tata jenjang, asas ketergantungan danukuran kesederhanaan. Dalam urutan itu, setiap ilmu yang terdahulu adalah lebih tuasejarahnya, secara logis lebih sederhana dan lebih luas penerapannya daripada setiap ilmuyang dibelakangnya (The Liang Gie, 1999).Pada pengelompokkan tersebut, meskipun tidak dijelaskan induk dari setiap ilmu tetapidalam kenyataannya sekarang bahwa fisika, kimia dan biologi adalah bagian darikelompok ilmu pengetahuan alam.Ilmu kimia adalah suatu ilmu yang mempelajari perubahan materi serta energi yangmenyertai perubahan materi. Menurut ensiklopedi ilmu (dalam The Liang Gie, 1999), ilmukimia dapat digolongkan ke dalam beberapa sub-sub ilmu yakni: kimia an organik, kimiaorganik, kimia analitis, kimia fisik serta kimia nuklir.Selanjutnya Auguste Comte (dalam Koento Wibisono, 1996) memberi efinisi tentang ilmukimia sebagai “… that it relates to the law of the phenomena of composition anddecomposition, which result from the molecular and specific mutual action of differentsubtances, natural or artificial” ( arti harafiahnya kira-kira adalah ilmu yang berhubungandengan hukum gejala komposisi dan dekomposisi dari zat-zat yang terjadi secara alamimaupun sintetik). Untuk itu pendekatan yang dipergunakan dalam ilmu kimia tidak sajamelalui pengamatan (observasi) dan percobaan (eksperimen), melainkan juga denganperbandingan (komparasi).Jika melihat dari sejarah perkembangan ilmu pengetahuan alam, pada mulanya orang tetapmempertahankan penggunaan nama/istilah filsafat alam bagi ilmu pengetahuan alam. Halini dapat dilihat dari judul karya utama dari pelopor ahli kimia yaitu John Dalton: NewPrinciles of Chemical Philosophy.Berdasarkan hal tersebut maka sangatlah beralasan bahwa ilmu pengetahuan alam tidakterlepas dari hubungan dengan ilmu induknya yaitu filsafat. Untuk itu diharapkan uraianini dapat memberikan dasar bagi para ilmuan IPA dalam merenungkan kembali sejarahperkembangan ilmu alam dan dalam pengembangan ilmu IPA selanjutnya.
  • 53. 5. KesimpulanBerdasarkan uraian di atas, maka disimpulkan bahwa filsafat ilmu sangatlah tepat dijadikanlandasan pengembangan ilmu khususnya ilmu pengetahuan alam karena kenyataanya,filsafat merupakan induk dari ilmu pengetahuan alam.