Perumpamaan yesus tugas agama 4 b 11 aaron (versi lengkap)

3,343 views
3,159 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
3,343
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
111
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Perumpamaan yesus tugas agama 4 b 11 aaron (versi lengkap)

  1. 1. Panduan Belajar Untuk Guru Dan Siswa PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN DALAM AJARAN TUHAN YESUS KPRISTUS Milik: Gregorius Aaron Atmaja
  2. 2. I.Pemdahuluan Surat Kabar sering menempatkan gambar kartun di tempat yang menarik perhatian pembaca, yaitu di halaman editorial. Seniman menggoreskan garis-garis sederhana untuk membuat karikatur tentang situasi politik, sosial, atau ekonomi yang sedang kita hadapi. Melalui karikatur tersebut, ia dapat menyampaikan pesan yang begitu tajam dan tepat mengenai sasaran. Ketajaman dan ketepatan karikatur itu tidak dapat ditandingi oleh kefasihan bahasa seorang ahli bahasa. Yesus melukiskan gambaran verbal tentang dunia di sekitarnya melalui perumpamaan-perumpamaan. Ia mengajar dengan menggunakan perumpamaan untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan nyata. Dia menggunakan sebuah cerita yang diambil dari kehidupan sehari-hari. Ia mengajarkan pengajaran baru dengan menggunakan cerita tentang keadaan yang sudah dikenal dan diterima oleh pendengar-Nya. Pengajaran itu seringkali muncul di akhir cerita dan mempunyai pengertian yang dalam sehingga membutuhkan waktu untuk memahaminya. Ketika pendengar mendengar sebuah perumpamaan, ia akan menyetujuinya karen a cerita itu biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan ia dapat mengerti segala suatu yang diutarakan dalam perumpamaan terebut. Sedangkan yang berkaitan dengan aplikasi dari perumpamaan itu, sekalipun bisa didengar, tetapi aplikasinya tidak selalu dapat dimengerti. Kita dapat memahami suatu cerita yang dibeberkan kepada kita, tetapi kita bisa saja tidak dapat menangkap signifikansi dari cerita itu. [1] Kebenaran tetap tersembunyi sampai mata kita dibukakan dan dapat melihat dengan jelas. Pada sa at itu barulah pengajaran yang baru dari perumpamaan itu akan menjadi berarti. Hal itu dikatakan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya, "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan" (Markus 4:11). II.Materi Penjelasan 1.Bentuk-bentuk Perumpamaan: Kata perumpamaan dalam Perjanjian Baru mempunyai konotasi yang luas, termasuk bentuk-bentuk perumpamaan yang secara umum dibagi ke dalam tiga kategori. [2] Ada perumpamaan-perumpamaan yang berupa kisah nyata, perumpamaan-perumpamaan yang berupa cerita dan ilustrasi. 1. Perumpamaan-perumpamaan berupa kisah nyata. Perumpamaan-perumpamaan ini menggunakan ilustrasi dari kehidupan sehari-hari yang sudah dikenal oleh para pendengar. Setiap orang mengakui kebenaran dari kisah itu, sehingga tidak ada dasar bagi para pendengar untuk mengajukan keberatan dan kritik. Semua orang telah melihat bahwa benih tumbuh dengan sendirinya (Markus 4:26-29); ragi mengkhamirkan seluruh adonan (Matius 13:33); anak-anak bermain di pasar (Matius 11:16-19; Lukas
  3. 3. 7:31, 32); seekor domba yang meninggalkan kumpulannya (Matius 18:12-14); dan seorang wanita yang kehilangan dirham di rumahnya (Lukas 15:8-10). Perumpamaan-perumpamaan ini dan banyak perumpamaan yang lain bertitik-tolak dari gambaran kehidupan manusia maupun alam yang memang demikian pada kenyataannya. Perumpamaan-perumpamaan itu biasanya berkaitan dengan apa yang terjadi pada masa kini. 2.Perumpamaan-perumpamaan berupa cerita. Berbeda dari perumpamaan berupa kisah nyata, perumpamaan ini tidak berdasarkan pada kenyataan atau tata cara yang sudah diterima secara umum. Perumpamaan berupa kisah nyata dipaparkan sebagai kisah nyata yang sedang terjadi, sedangkan perumpamaan berupa cerita menunjuk pada suatu peristiwa yang terjadi di masa lampau. Biasanya berkenaan dengan pen gala man seseorang. Matius 13:24-30 menjelaskan pengalaman dari seorang petani yang menabur gandum dan kemudian mengetahui bahwa musuhnya telah menabur lalang di tempat yang sama. Lukas 16:1-9 menceritakan seorang kaya yang memiliki manajer yang telah menyia- nyiakan hartanya. Lukas 18:1-8 mencatat ten tang seorang hakim yang menjalankan keadilan setelah mendengarkan permohonan yang terus menerus dari seorang janda. Kehistorisan dari cerita-cerita ini tidak dipermasalahkan, karena yang penting bukan apakah peristiwa itu benar-benar terjadi atau tidak, tetapi yang penting adalah kebenaran yang terkandung di dalam cerita itu. 3. Ilustrasi. Cerita-cerita ilustrasi yang muncul di Injil Lukas biasanya dikategorikan sebagai cerita-cerita contoh. Perumpamaan orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:30-37); perumpamaan orang kaya yang bodoh (Lukas 12:16-21); perumpamaan orang kay a dan Lazarus (Lukas 16:19-31); dan perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai (Lukas 18:9-14) termasuk dalam kategori ini. Pola dari ilustrasi-ilustrasi tersebut berbeda dari perumpamaan berupa cerita. Perumpamaan berupa cerita merupakan sebuah analogi, sedangkan ilustrasi memperlihatkan contoh-contoh yang harus ditiru atau yang harus dihindari. Ilustrasi langsung dipusatkan pada karakter dan tingkah laku seseorang, sedangkan perumpamaan berupa cerita juga melakukan hal itu hanya tidak secara langsung. Mengkategorikan perumpamaan bukan merupakan hal yang sederhana. Beberapa perumpamaan menunjukkan karakteristik dari dua kategori, yaitu perumpamaan berupa kisah nyata dan perumpamaan berupa cerita, sehingga dimungkinkan untuk dimasukkan ke dalam kedua kategori di atas. Injil juga berisi banyak perkataan-perkataan parabol. Sulit untuk menentukan secara tepat bagian mana dari perkataan Yesus yang termasuk kategori perumpamaan berupa kisah nyata dan bagian yang mana merupakan perkataan parabola. Pengajaran Yesus tentang ragi (Lukas 13:20,21) diklasifikasikan sebagai perumpamaan berupa kisah nyata, tetapi pengajaran-Nya yang lebih panjang tentang garam (Lukas 14:34, 35) disebut sebagai perkataan parabol. Selain itu ada beberapa perkataan Yesus dinyatakan sebagai perumpamaan. Contohnya, "Yesus menceritakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: " Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang?" (Lukas 6:39). Apakah perbedaan perumpamaan dengan alegori? John Bunyan dalam bukunya Pilgrim's Progress memberikan sebuah alegori ten tang perjalanan hidup orang Kristen. Nama-nama dan peristiwa- peristiwa di dalam buku itu adalah pengganti dari siapa dan apa yang ada dalam kenyataan. Setiap fakta, gambaran, dan nama adalah simbolis, dan harus diterjemahkan bagian demi bagian ke dalam kehidupan nyata supaya bisa dimengerti dengan benar. Sedangkan, sebuah perumpamaan benar terjadi dalam kehidupan dan umumnya mengajarkan hanya satu prinsip kebenaran. Dalam perumpamaan, Yesus menggunakan banyak gaya bahasa metafora, misalnya raja, hamba, perawan. Kata-kata metafora itu
  4. 4. tidak pernah terlepas dari realita atau tidak pernah berhubungan dengan dunia fantasi atau fiksi. Cerita- cerita dan contoh-contoh itu diambil dari dunia di mana Yesus hidup. Perumpamaan diceritakan untuk menyampaikan kebenaran rohani dengan memakai satu bagian dari perumpamaan itu sebagai bahan perbandingan. Rincian dari cerita mendukung berita yang terkandung dalam perumpamaan yang disampaikan. Perumpamaan-perumpamaan tidak boleh dianalisa bagian demi bagian dan ditafsirkan secara alegoris, sebab hal itu akan mengakibatkan hilangnya signifikansi dari perumpamaan itu. 2.Komposisi: Meskipun secara umum benar bahwa sebuah perumpamaan mengajarkan hanya satu prinsip kebenaran, namun peraturan ini jangan ditekankan terlalu jauh. Beberapa perumpamaan Yesus mempunyai komposisi yang kompleks. Perumpamaan tentang penabur merupakan satu komposisi yang terdiri dari empat bagian, dan masing-masing bagian memerlukan sebuah penafsiran. Demikian juga, perumpamaan tentang pesta pernikahan bukan merupakan cerita tunggal, tetapi mempunyai bagian tambahan tentang seorang tamu yang tidak memakai pakaian pesta yang selayaknya. Dan kesimpulan dari perumpamaan tentang penyewa beralih dari perumpamaan kebun anggur ke perumpamaan tentang pembangunan. Kesadaran akan adanya kekompleksan ini, maka seorang pengeksegesis yang bijaksana tidak akan memaksakan untuk memakai metode penafsiran satu prinsip kebenaran. Pada waktu kita membaca perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus, kita dapat bertanya mengapa banyak rincian yang seharusnya menjadi bagian dari cerita itu yang tidak diceritakan. Contohnya, dalam kisah ten tang seorang ternan yang mengetuk pintu tetangganya di tengah malam meminta tiga ketul roti, istri tetangga itu tidak disebutkan. Dalam perumpamaan tentang anak yang hilang, ayahnya adalah tokoh utama dalam kisah ini, tetapi tidak satu kata pun menyebutkan ten tang ibunya. Perumpamaan tentang sepuluh gadis hanya menyebutkan pengantin laki-laki, dan sarna sekali tidak menyebut tentang pengantin perempuan. Rupanya rincian-rincian ini tidak relevan untuk komposisi yang biasa digunakan dalam perumpamaan Yesus, khususnya jika kita mengerti gaya bahasa tiga serangkai yang sering digunakan di dalam perumpamaan Yesus. Di dalam perumpamaan tentang teman di tengah malam, terdapat tiga karakter: musafir, teman dan tetangga. Perumpamaan anak yang hilang juga terdiri dari tiga orang: ayah, anak bungsu, anak sulung. Dan dalam kisah sepuluh gadis terdapat tiga elemen: lima gadis bijaksana, lima gadis bodoh dan pengantin laki-laki. Selain itu, di dalam perumpamaan-perumpamaan Yesus yang penting bukan awal cerita tetapi akhir cerita. Penekanannya jatuh pada orang, perbuatan dan perkataan yang terakhir disebutkan. Sebutan "tekanan terakhir" di dalam perumpamaan adalah sebuah pola yang sengaja dibuat di dalam komposisinya[3]. Orang yang terluka itu bukan dibantu oleh ahli Taurat atau orang Lewi, tetapi oleh orang Samaria. Meskipun hamba yang mendapatkan tambahan lima talenta dan hamba yang menghadiahkan dua talenta kepada tuannya menerima pujian dan rekomendasi, tekanan dari kisah ini adalah pada perbuatan hamba yang menguburkan talenta satu-satunya di dalam tanah yang menyebabkan dia mendapatkan murka dan hukuman. Dan di dalam perumpamaan pemilik tanah yang sepanjang hari mempekerjakan orang-orang di kebun anggurnya dan pada pukul enam dia mendengar keluhan dari beberapa pekerja, penekanan yang penting adalah jawaban pemilik tanah: "Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau ... Atau iri hatikah engkau, karen aku murah hati?" (Matius 20:13, 15). Seni menyusun dan menceritakan perumpamaan yang didemonstrasikan oleh Yesus tidak ditemukan
  5. 5. persamaannya di dalam literatur. Perumpamaan yang mirip dengan perumpamaan Yesus yaitu perumpamaan rabi-rabi kuno di abad pertama dan kedua pada zaman kekristenan. Perumpamaan- perumpamaan rabinik biasanya diperkenalkan dengan formula sebagai berikut: "Sebuah perumpamaan: hal ini dapat diumpamakan sebagai?" Juga, dalam beberapa perumpamaan alat-alat literatur yang digunakan adalah tiga serangkai dan tekanan akhir. Contohnya: Sebuah perumpamaan: hal ini dapat diumpamakan sebagai? Ada seorang pria yang sedang mengadakan perjalanan dan dia bertemu dengan seek or serigala dan dia berhasil melarikan diri dari serigala itu, dan dia melanjutkan perjalanan sambil terus mengingat pen gala man dia bersama serigala itu. Kemudian dia bertemu dengan seekor singa dan berhasil lolos dari singa itu, dan dia melanjutkan perjalanan sambil terus mengingat pengalaman dia dengan singa itu. Kemudian dia bertemu dengan seekor ular dan berhasil lolos dari ular itu, dan dia melupakan dua peristiwa sebelumnya dan dia melanjutkan perjalanan dengan hanya mengingat pengalamannya dengan ular itu. Demikian pula halnya dengan bangsa Israel: kesulitan yang yang terjadi kemudian membuat mereka melupakan kesulitan-kesulitan sebelumnya.[4] Namun demikian, kemiripan antara perumpamaan Yesus dan perumpamaan rabi hanya bersifat formal. Perumpamaan rabinik biasanya diperkenalkan untuk menjelaskan Hukum Taurat, ayat-ayat Alkitab atau sebuah doktrin. Perumpamaan-perumpamaan rabi tidak digunakan untuk mengajarkan kebenaran- kebenaran baru seperti perumpamaan Yesus. Yes us memakai perumpamaan untuk menjelaskan tema besar dari pengajaran-Nya: Kerajaan Surga; kasih; anugerah; dan kemurahan Allah; pemerintahan dan kedatangan kembali Anak Allah; keberadaan dan akhir nasib dari manusia.[5] Perumpamaan- perumpamaan rabi tidak mengajarkan sesuatu di luar aplikasi Hukum Taurat, sedangkan perumpamaan Yesus merupakan bagian dari wahyu Allah untuk manusia. Di dalam perumpamaan-perumpamaan-Nya Yesus mewahyukan kebenaran-kebenaran baru, karena Dia diperintahkan Allah untuk menyatakan kehendak dan Firman Allah. Oleh karena itu, perumpamaan-perumpamaan Yesus adalah wahyu Allah, sedangkan perumpamaan-perumpamaan rabi bukan wahyu Allah. 3.Tujuan: Perumpamaan-perumpamaan Yesus menunjukkan bahwa Yesus sepenuhnya mengenal keragaman seluk beluk kehidupan manusia. Dia mempunyai pengetahuan ten tang pertanian, menabur benih, mendeteksi lalang dan penuaian. Dia sangat mengenal tentang seluk beluk kebun anggur, sehingga Dia mengetahui saat memetik buah anggur dan buah ara, dan mengetahui upah yang harus dibayar untuk sehari bekerja. Dia bukan hanya mengenal kehidupan sehari-hari petani, nelayan, tukang bangunan, dan pedagang, tetapi Dia juga sangat mengenal seluk-beluk pengelola perumahan, menteri-menteri keuangan di pengadilan kerajaan, hakim di pengadilan hukum, orang-orang Farisi, dan para pemungut cukai. Dia mengerti kemiskinan Lazarus, namun demikian Dia juga diundang untuk makan malam bersama orang kaya. Perumpamaan-Nya menggambarkan kehidupan kaum lelaki, wanita dan anak- anak, miskin dan kaya, yang terbuang dan yang terhormat. Karena pengenalan-Nya yang luas akan kehidupan manusia, maka Dia dapat me lay ani semua strata so sial. Dia berbicara sesuai dengan bahasa mereka dan mengajar sesuai dengan keberadaan mereka. Yesus menggunakan perumpamaan- perumpamaan supaya pesan-Nya dapat diterima oleh para pendengar. Ia juga menggunakannya untuk mengajar Firman Tuhan kepada orang banyak, untuk memanggil pendengar-Nya bertobat dan beriman, untuk menan tang orang-orang percaya supaya mempraktekkan perkataan mereka di dalam perbuatan, dan untuk mengingatkan pengikut-Nya supaya waspada.
  6. 6. Yesus mengajarkan perumpamaan untuk mengkomunikasikan pesan keselamatan dengan cara yang jelas dan sederhana. Pendengar-Nya dapat mengerti dengan mudah kisah tentang anak yang hilang, dua orang yang mempunyai hutang, perjamuan makan yang besar, serta kisah tentang orang Farisi dan pemungut cukai. Di dalam perumpamaan, mereka bertemu Yesus sebagai Kristus, yang mengajar dengan otoritas tentang berita penebusan Allah yang didasarkan pada kasih-Nya. Dari catatan Injil, kelihatannya penafsiran terhadap perumpamaan-perumpamaan itu hanya diberikan kepada murid-murid Yesus. Yesus berkata kepada mereka, "Rahasia Kerajaan Allah telah diberikan kepadamu. Tetapi untuk orang luar segala sesuatu disampaikan dalam bentuk perumpamaan supaya, Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, Sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, Supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun!" (Markus 4:11,12). Apakah ini berarti bahwa Yesus yang diutus oleh Allah untuk memberitakan pembebasan bagi orang berdosa yang telah jatuh, menyembunyikan pesan ini dalam bentuk perumpamaan-perumpamaan yang tidak dapat dipahami? Apakah perumpamaan-perumpamaan itu semacam teka-teki yang dimengerti hanya oleh mereka yang dipilih? Kata-kata di dalam Injil Markus 4:11, 12 perlu dimengerti dalam konteks yang lebih luas sesuai dengan maksud dari penulis[6]. Di dalam bab sebelumnya, Markus menjelaskan ten tang pertemuan Yesus dengan orang-orang yang secara terang-terangan tidak percaya dan melawan Dia. Dia dituduh kerasukan Beelzebul dan Dia mengusir setan dengan kuasa dari penghulu setan (Markus 3:22). Yesus mengkontraskan an tara orang-orang percaya dan orang-orang tidak percaya, an tara pengikut dan penentang, an tara penerima dan penolak dari wahyu Allah. Mereka yang melakukan kehendak Allah menerima berita dari perumpamaan-perumpamaan itu, karena mereka masuk di dalam keluarga Yesus (Markus 3:35). Mereka yang berusaha untuk menghancurkan Yesus (Mrk 3:6) telah mengeraskan hatinya terhadap pengetahuan akan keselamatan. Hal ini merupakan masalah iman dan ketidak- percayaan. Orang-orang percaya mendengar perumpamaan, dan menerimanya dengan iman dan mengerti, meskipun pemahaman mereka secara penuh terjadi melalui sebuah proses. Orang-orang tidak percaya menolak perumpamaan karena bertentangan dengan pemikiran mereka[7]. Mereka menolak menangkap dan mengerti kebenaran Allah. Oleh karena mata mereka yang buta dan telinga mereka yang tuli, mereka menarik diri dari keselamatan yang Yesus beritakan, dan membawa diri mereka ke bawah penghukuman Allah. Tidak mengherankan kalau pada mulanya murid-murid Yesus tidak mengerti sepenuhnya perumpamaan tentang penabur (Markus 4:13). Pengikut-pengikut-Nya yang dekat dibingungkan oleh pengajaran perumpamaan ini karena mereka belum melihat signifikansi pribadi dan pelayanan Yesus dalam hubungannya dengan kebenaran Allah yang dinyatakan melalui perumpamaan. Hanya karen a iman mereka dapat melihat kebenaran yang disaksikan oleh perumpamaan-perumpamaan itu[8]. Yesus memberikan penafsiran yang komprehensif untuk perumpamaan ten tang penabur dan perumpamaan gandum dan lalang. (Di bagian lain Dia kadang-kadang menambahkan klarifikasi dalam kesimpulan.) Murid-murid diberikan penjelasan tentang hubungan an tara kejadian-kejadian yang digambar kan oleh Yesus dalam perumpamaan seorang penabur dengan perumpamaan tentang Kerajaan Surga yang datang dalam pribadi Yesus, sang Mesias[9]. 4.Penafsiran: Di gereja mula-mula, bapak-bapak gereja mulai mencari arti yang tersembunyi dari kedatangan Yesus di
  7. 7. kitab sud Perjanjian Lama. Sebagai konsekuensi logis dari trend di atas, bapak-bapak gereja mulai menemukan arti tersembunyi di dalam perumpamaan-perumpamaan Yesus. Mungkin mereka dipengaruhi oleh apologetika orang-orang Yahudi dalam hal mengganti kesederhanaan Alkitab dengan spekulasi-spekulasi yang kabur. Dalam beberapa kejadian, hasil penafsiran terhadap perumpamaan- perumpamaan itu bersifat alegoris. Sehingga dari zaman bapak-bapak gereja sampai pertengahan abad ke sembilan belas, kebanyakan pengeksegesis menafsirkan perumpamaan secara alegoris. Contohnya, Origen percaya bahwa perumpamaan tentang sepuluh gadis dipenuhi dengan simbol-simbol yang tersembunyi. Origen mengatakan bahwa semua gadis-gadis itu adalah orang-orang yang telah menerima Firman Allah. Gadis-gadis yang bijaksana percaya dan hidup di dalam kehidupan yang benar; gadis-gadis yang bodoh juga percaya tetapi tidak hidup berdasarkan kepercayaannya. Lima lampu darigadis yang bijaksana melambangkan lima pancaindra yang kesemuanya dipelihara untuk penggunaan yang tepat. Lima lampu dari gadis yang bodoh gagal memberikan terang dan keluar menuju kegelapan dunia. Minyak melambangkan pengajaran firman Tuhan, dan penjual minyak itu melambangkan guru. Harga min yak yang mereka minta itu adalah ketekunan. Tengah malam adalah lambang kelalaian. Tangisan kerasberasal dari malaikat-malaikat yang membangunkan semua manusia. Dan pengantin laki-laki adalah Kristus yang datang menemui pengantin perempuan yaitu gereja. Demikianlah Origen menafsirkan perumpamaan tersebut. Para komentator abad ke sembilan belas masih mengidentifikasi rincian secara individu dari sebuah perumpamaan. Dalam perumpamaan sepuluh gadis, lampu yang menyala melambangkan pekerjaan baik dan minyak melambangkan iman orang percaya. Komentator lain melihat minyak sebagai simbol yang merepresentasikan Roh Kudus. Namun tidak semua pengeksegesis perumpamaan mengambil jalur alegoris. Pada zaman reformasi, Martin Luther mencoba mengubah arah penafsiran Alkitab. Dia memilih metode eksegesis alkitabiah yang memperhitungkan latar belakang historis dan struktur gramatikal dari sebuah perumpamaan. John Calvin lebih tegas dalam sikapnya terhadap penafsiran secara alegoris. Dia sarna sekali menghindari penafsiran perumpamaan secara alegoris, dan dalam penafsiran dia secara langsung berusaha untuk mencari pokok utama dari pengajaran perumpamaan itu. Bila dia sudah mengetahui dengan pasti arti dari perumpamaan itu, dia tidak peduli dengan rincian-rinciannya. Calvin berpendapat bahwa rincian tidak ada kaitannya dengan tujuan pengajaran Yesus dalam perumpamaan yang diberikan-Nya. Setelah pertengahan abad ke sembilan belas, C.E. van Koetsveld, seorang sarjana Belanda, memberikan dorongan untuk pendekatan yang diprakarsai oleh para reformis. Dia menjelaskan bahwa penafsiran sebuah perumpamaan secara alegoris yang berlebihan dari beberapa komentator cenderung mengaburkan dan bukan memperjelas pengajaran Yesus[10]. Seorang pengeksegesis, untuk bisa menafsirkan sebuah perumpamaan dengan tepat, harus memegang arti dasarnya dan bisa membedakan antara mana yang dianggap esensial dan mana yang tidak. Van Koetsveld dilanjutkan oleh seorang teolog Jerman A. Jülicher di dalam pendekatannya terhadap perumpamaan-perumpamaan itu. Jiilicher menyatakan bahwa istilah perumpamaan seringkali digunakan oleh para penginjil, namun kata alegori tidak pernah ditemukan di dalam catatan Injil mereka[11]. Di akhir abad ke sembilan bel as, belenggu alegoris yang mengikat penafsiran perumpamaan dipatahkan dan sebuah era baru dalam penelitian perumpamaan muncul[12]. Jülicher melihat Yesus sebagai guru dari prinsip-prinsip moral, C.H. Dodd memandang Yesus sebagai pribadi historis yang dinamis yang dengan pengajaran-Nya menimbulkan masa krisis. Dodd mengatakan, "Tugas seorang pengeksegesis
  8. 8. perumpamaan, kalau ia dapat, adalah menemukan latar belakang sebuah perumpamaan di dalam situasi yang dimaksudkan oleh Injil"[13]. Yesus mengajarkan bahwa Kerajaan Allah, Anak manusia, pengadilan, berkat telah memasuki situasi historis pada waktu itu. Menurut Dodd, kerajaan itu bagi Yesus berarti pemerintahan Allah yang ditunjukkan di dalam pelayanan-Nya. Karena itu, perumpamaan- perumpamaan yang diajarkan oleh Yesus harus dimengerti memiliki hubungan langsung dengan situasi nyata berkaitan dengan pemerintahan Allah di dunia. J. Jeremias melanjutkan karya Dodd. Dia juga mengharapkan bisa menemukan pengajaran parabolik yang kembali kepada Yesus sendiri. Tetapi, Jeremias mulai mencatat perkembangan historis dari perumpamaan-perumpamaan itu, dan dia percaya terjadi dalam dua tahap. Tahap pertama menyinggung situasi nyata dari pelayanan Yesus, dan tahap yang kedua adalah refleksi dari cara perumpamaan-perumpamaan itu digunakan oleh gereja Kristen mula-mula. Tugas Jeremias sendiri adalah menggali kembali ben tuk asli dari perumpamaan-perumpamaan itu supaya dapat mendengar suara Yesus[14]. Dengan pengetahuannya yang mendalam ten tang tanah, kebudayaan, adat, bangsa, dan bahasa Israel, Jeremias dapat mengumpulkan kekayaan informasi dan menjadikan karyanya sebagai salah satu buku perumpamaan yang paling berpengaruh. Meskipun begitu, pertanyaan yang dapat diajukan adalah apakah bentuk aslinya dapat dipisahkan dari konteks historis tanpa jatuh pada penebakan. Sebaliknya, seseorang bisa juga mengambil sebuah teks tentang perumpamaan dan menerimanya sebagai presentasi yang benar dari pengajaran Yesus, yaitu teks Alkitab yang telah diberikan oleh para penginjil kepada kita yang merefleksikan konteks historis dari asal mula perumpamaan-perumpamaan itu diajarkan. Kita harus bergantung kepada teks yang telah kita terima, dan kita menerima perumpamaan-perumpamaan itu beserta latar belakang historisnya. Hal ini memang menuntut suatu kepercayaan, yaitu bahwa para penginjil di dalam mencatat perumpamaan- perumpamaan itu memahami tujuan Yesus mengajarkan perumpamaan-perumpamaan itu sesuai latar belakang yang mereka uraikan[15]. Pada saat perumpamaan-perumpamaan itu dicatat, saksi mata dan pelayan-pelayan Firman meneruskan tradisi lisan dari kata-kata dan perbuatan Yesus (Lukas 1:1, 2). Sehubungan dengan saksi mata inilah, kita bisa diyakinkan bahwa konteks di mana perumpamaan- perumpamaan itu dituliskan menunjuk kepada waktu, tempat, keadaan pada saat Yesus pertama kali mengajarkan perumpamaan-perumpamaan itu. Akhir-akhir ini, wakil-wakil dari sebuah sekolah hermeneutik yang baru secara bertahap semakin mengeluarkan perumpamaan-perumpamaan itu dari latar belakang historisnya ke penekanan literatur yang lebih luas yang berkisar pada struktur eksistensialnya[16]. Para sarjana itu memperlakukan perumpamaan-perumpamaan itu sebagai literatur eksistensial, dengan cara mengeluarkan perumpamaan-perumpamaan itu dari konteks historisnya dan mengganti arti aslinya dengan pesan zaman sekarang. Mereka menyangkal bahwa arti dari sebuah perumpamaan dapat ditemukan di dalam kehidupan dan pelayanan Yesus[17]. Mereka tidak tertarik kepada sumber dan latar belakang perumpamaan itu, tetapi lebih tertarik kepada bentuk literatur dan penafsiran eksistensialnya[18]. Bagi mereka struktur literatur dari perumpamaan itu penting karena struktur itu membawa manusia modern kepada momen keputusan, di mana dia harus menerima atau menolak tantangan yang ada di hadapannya. Telah disetujui bahwa perumpamaan-perumpamaan itu mengajak manusia untuk bertindak. Pada bagian aplikasi dari perumpamaan orang Samaria yang baik hati, ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus diperintahkan, "Pergi dan perbuatlah demikian" (Luk 10:37). Meskipun demikian, eksistensialis di dalam
  9. 9. menafsirkan perumpamaan itu mementingkan bentuk imperatif dan mengabaikan bentuk indikatif dari perumpamaan itu. Dia memisahkan perkataan Yesus dari latar belakang budayanya sehingga menghilangkan kuasa dan otoritas yang diberikan oleh Yesus dalam perumpamaan-perumpamaan itu. Lagipula, oleh karena eksistensialis hanya melihat struktur literatur dari perumpamaan itu dan memisahkan perumpamaan itu dari konteks historisnya, maka eksistensialis harus memberikan konteks baru kepada perumpamaan-perumpamaan itu. Jadi dia menempatkan perumpamaan-perumpamaan itu di dalam konteks zaman sekarang. Metode ini tidak dapat disebut eksegesis, karena filsafat eksistensial dimasukkan ke dalam teks Alkitab. Ini adalah eisegesis bukan eksegesis. Sayangnya, orang Kristen awam yang mencari bimbingan ke wakil-wakil sekolah hermeneutik baru untuk memahami perumpamaan- perumpamaan ini pertama-tama harus belajar filsafat eksistensial, teologi neoliberal dan gaya bahasa literatur ten tang strukturialisme sebelum dia mendapatkan keuntungan dari pandangan mereka. 5.Prinsip-prinsip: Menafsirkan perumpamaan tidak memerlukan latihan teologi dan filsafat yang mendalam. Pengeksegesis harus memahami beberapa prinsip dasar penafsiran. Prinsip-prinsip tersebut berhubungan dengan sejarah, tata bahasa, dan teologi teks Alkitab. Sedapat mungkin pengeksegesis hams belajar konteks historis dari perumpamaan. Studi ini meliputi analisa rind dari keadaan religius, sosial, politik dan geografis yang dinyatakan dalam perumpamaan. Misalnya, latar belakang perumpamaan orang Samaria yang baik hati menuntut pengenalan ten tang peraturan religius bagi seorang rohaniwan pada waktu itu. Seorang ahli Taurat datang kepada Yesus menanyakan apa yang harus dia lakukan untuk mewarisi kehidupan kekal, cetus an percakapan ini yang menimbulkan kisah orang Samaria yang baik hati. Berkenaan dengan perumpamaan orang Samaria yang baik hati, pengeksegesis seharusnya memahami asal, status dan agama orang Samaria tersebut; fungsi, kantor, dan tempat tinggal ahli Taurat dan orang Lewi; topografi wilayah antara Yerusalem dan Yerikho; konsep orang Yahudi tentang hidup bertetangga. Dengan memperhatikan konteks historis perumpamaan itu, pengeksegesis bisa melihat alasan Yesus mengajarkan cerita-Nya dan dia mempelajari tujuan pengajaran Yesus yang terkandung dalam perumpamaan itu[19]. Kedua, pengeksegesis harus memberi perhatian kepada literatur dan susunan gramatikal dari perumpamaan itu. Bentuk dan tensa yang dipakai oleh penulis Injil itu sangatlah penting, karen a akan memberi penerang atas pengajaran pokok dari kisah tersebut. Studi kata d alam konteks Alkitab maupun dalam penulisan ekstra kanonikal merupakan bagian yang penting dalam proses menafsirkan perumpamaan. Jadi, studi kata sesama di dalam konteks perintah, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri," seperti diberikan di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, terbukti menjadi studi yang bermanfaat. Pengeksegesis juga perlu untuk melihat pendahuluan dan kesimpulan dari perumpamaan itu, karena keduanya mungkin berisi bagian literatur seperti pertanyaan retorik, nasihat, atau sebuah perintah. Perumpamaan orang Samaria yang baik hati disimpulkan dengan sebuah perintah, "Pergi dan perbuatlah demikian" (Lukas 10:37). Ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus tentang mewarisi kehidupan kekal tidak bisa lari dari perintah untuk mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri. Pendahuluan, dan khususnya kesimpulan, berisi tuntunan yang membantu pengeksegesis dalam menemukan bagian pokok dari perumpamaan itu. Ketiga, bagian pokok dari perumpamaan yang diberikan harus diperiksa secara teologis berdasarkan
  10. 10. seluruh pengajaran Yesus dan seluruh Kitab Suci[20]. Bila pengajaran dasar perumpamaan itu telah digali secara penuh dan dimengerti secara benar, kesatuan Kitab Sud terekspresikan, arti yang tepat dari perikop itu dapat dikembangkan dalam semua kesederhanaan dan kejelasannya. Akhirnya, penafsir perumpamaan harus menerjemahkan artinya ke dalam istilah-istilah yang relevan dengan kebutuhan sekarang. Tugasnya adalah untuk mengaplikasikan pengajaran pokok sebuah perumpamaan ke dalam situasi kehidupan dari orang yang mendengar penafsirannya. Dalam perumpamaan orang Samaria yang baik hati, perintah untuk mengasihi sesamanya menjadi berarti ketika orang yang dirampok dan terluka sepanjang jalan Yerikho bulan lagi hanya sebagai sebuah gambaran di masa lampau. Sesama yang perlu dikasihi oleh kita adalah para tunawisma, orang miskin, dan pengungsi. Mereka bertemu dengan kita di jalan Yerikho yang dimuat di dalam surat kabar setiap hari dan dalam acara berita malam di TV. 6.Klasifikasi: Perumpamaan-perumpamaan Yesus dapat dikelompokkan dan diklasifikasikan dalam banyak cara. Perumpamaan tentang penabur, benih yang tumbuh dengan tersembunyi, gandum dan lalang, pohon ara yang tidak berbuah, pohon ara yang berserni termasuk ke dalam perumpamaan natur. Beberapa perumpamaan yang Yesus ceritakan berhubungan dengan pekerjaan dan upah. Beberapa di antaranya adalah perumpamaan pekerja di kebun anggur, penyewa, dan bendahara yang tidak jujur. Perumpamaan yang lain bertemakan pernikahan, dan perayaan-perayaan. Termasuk ke dalamnya adalah perumpamaan tentang anak-anak yang bermain di pasar, sepuluh gadis, perjamuan besar dan pesta perkawinan. Perumpamaan lain menunjuk pada tema umum mengenai yang hilang dan yang ditemukan kembali. Perumpamaan ten tang domba yang hilang, dirham yang hilang, dan anak yang hilang termasuk ke dalam kelompok ini. Tetapi pengkategorian perumpamaan-perumpamaan itu tidak selalu pasti. Apakah perumpamaan tentang jala ikan termasuk kategori perumpamaan natur atau termasuk kelompok perumpamaan tentang pekerja dan upah? Dan kategori apa yang cocok untuk perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati? Mudah untuk melihat bahwa dalam mengelompokkan perumpamaan-perumpamaan itu bisa dimasukkan ke mana saja dan pada saat tertentu sepertinya dipaksakan. Injil Sinopsis menyajikan perumpamaan-perumpamaan yang terdapat juga di dalam dua atau sering kali tiga Injil, namun ada juga perumpamaan-perumpamaan yang hanya terdapat dalam satu Injil. Injil Markus hanya mempunyai satu perumpamaan khusus bagi Injilnya (benih yang tumbuh tersembunyi), Injil Matius dan Lukas berisi beberapa perumpamaan khusus. Di dalam presentasi saya tentang perumpamaan, saya mengikuti urutan Injil yaitu pertama-tama mendiskusikan perumpamaan dari Injil Matius, dengan satu perumpamaan yang khusus yang diambil dari Injil Markus secara berurutan yaitu perumpamaan tentang penabur dan perumpamaan ten tang gandum dan lalang, kemudian satu perumpamaan yang diambil dari Injil Lukas. Di dalam perumpamaan yang terdapat juga dalam Injil yang lain, diambil perumpamaan yang hampir sama dari urutan Injil Matius, Markus dan Lukas. Prosedur ini diberlakukan untuk membantu pembaca yang ingin melakukan penelitian berdasarkan keparalelan sinoptik. Contohnya, karya K. Aland yang berjudul Synopsis of the Four Gospels. [21] Di dalam studinya ten tang perumpamaan-perumpamaan, referensi dalam bahasa Yunani dan Ibrani jarang digunakan. Kalau referensi dalam kedua bahasa itu muncul, referensi itu diberi bentuk salinan huruf ke huruf abjad yang lain dan terjemahannya disertakan juga. Alkitab bahasa Inggris yang menggunakan cara ini adalah
  11. 11. New International Version (dengan seijin dari Executive Committee). Keuntungan bagi pembaca adalah teks NIV dicetak penuh di bagian permulaan tiap-tiap perumpamaan. Perumpamaan-perumpamaan itu memiliki pararel di dalam ketiga Injil Sinopsis yang diberikan secara berurutan Matius, Markus dan Lukas. Empat puluh perumpamaan dan ucapan-ucapan parabolis didiskusikan di dalam buku ini. Semua perumpamaan pokok dan bagian yang lebih besar dari ucapan-ucapan parabolis didaftar di dalam buku ini. Tentu saja, ucapan-ucapan itu harus diseleksi, sehingga perumpamaan ten tang garam dimasukkan dan perumpamaan ten tang terang dihilangkan. Hanya ucapan-ucapan parabolis dari Injil Sinopsis yang sudah diteliti, Injil Yohanes belum diteliti. Literatur ten tang perumpamaan sangat banyak, seperti suatu aliran buku-buku dan artikel-artikel yang tidak berhenti. Akhir-akhir ini, hampir tidak ada perumpamaan yang diabaikan oleh sarjana-sarjana. Pandangan baru dari studi ten tang kebudayaan dan hukum Yahudi menjadi sangat berharga untuk mendapatkan pengertian yang lebih baik tentang pengajaran Yesus. Tujuan dari buku ini adalah untuk mempresentasikan dengan penjelasan yang cukup dan kontemporer kepada orang percaya yang mau belajar Alkitab dengan serius dan pendeta, ten tang perumpamaan tanpa hams dibingungkan oleh semua rinciannya. Catatan kaki dan bibliografi yang telah diseleksi akan membantu para teolog yang ingin studi lebih lanjut tentang perumpamaan-perumpamaan Yesus secara lebih intensif. Dengan materi bibliografi dan indeks yang demikian, dia akan mendapatkan jalan masuk kepada literatur yang tersedia tentang perumpamaan-perumpamaan Yesus. 7.Contoh Perumpamaan 1. GARAM * Matius 5:13 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. * Markus 9:50 Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain." * Lukas 14:34,35 14:34 Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? 14:35 Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja. Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" Di sepanjang sejarah garam sudah digunakan untuk mengawetkan dan memberi rasa terhadap
  12. 12. makanan. Garam merupakan salah satu kebutuhan hidup yang mendasar. Kegunaannya bersifat universal dan kelihatannya persediaan garam tidak ada habis-habisnya. Garam selain memiliki kualitas yang menguntungkan, garam juga bisa merusak. Garam bisa mengubah tanah yang subur menjadi tanah yang tandus[1]. Contohnya, wilayah di sekitar Laut Mati. Di zaman modern ini tidaklah masuk akal bagi kita bahwa garam bisa kehilangan keasinannya. Sodium klorida (nama zat kimia untuk garam meja) merupakan susunan zat yang tidak berubah. Zat ini sama sekali tidak dicemari oleh apapun. Tetapi pada zaman Israel dahulu, garam di proses dengan cara menguapkan air yang berasal dari Laut Mati. Air tersebut mengandung bermacam-macam zat lain selain garam. Proses penguapan air tersebut menghasilkan kristal-kristal gar am dan juga potasium klorida dan magnesium. Kristal-kristal garam itu dikumpulkan dan menghasilkan garam yang relatif murni, karen a pada saat proses penguapan, yang pertama kali terbentuk adalah kristal-kristal garam. Namun, apabila gar am yang dihasilkan melalui proses penguapan itu tidak segera dipisahkan, dan kristal-kristal garam kemasukkan embun, larut dan luluh, maka apa yang tersisa akan kehilangan rasa asin dan menjadi tidak berguna[2]. Apa yang bisa Anda lakukan dengan garam yang tidak asin? Tidak ada gunanya. Seorang petani tidak menghendaki zat-zat kimia semacam itu di atas tanahnya karen a akan merusak tanaman. Membuang zat sisa di atas tumpukan pupuk juga tidak akan berguna, karena sering kali pupuk dikumpulkan dan disebarkan di atas tanah untuk menyuburkan. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah membuangnya keluar di mana orang-orang bisa menginjak-injaknya[3]. Apabila garam telah kehilangan sifat dasarnya, yaitu rasa asin, maka ia tidak dapat dibuat asin kembali[4]. Dalam Khotbah di bukit, Yesus berbicara kepada orang banyak dan murid-murid-Nya: "Kamu adalah garam dunia." Sebagaimana halnya garam yang memiliki karakteristik mencegah pembusukan, maka orang Kristen seharusnya dapat memberikan pengaruh moral di tengah masyarakat di mana ia berada. Perkataan dan perbuatan mereka seharusnya bisa mencegah pencemaran dalam hal moral dan spiritual. Seperti halnya garam yang tidak kelihatan (contohnya, di dalam roti) tetapi memiliki pengaruh yang kuat. Demikian pula halnya dengan orang Kristen yang di tengah masyarakat tidak selalu terlihat dan diperhitungkan, tetapi mereka baik secara individu maupun kelompok bisa mempengaruhi masyarakat dan melakukan pencegahan di tengah dunia yang kotor dan cemar ini. "Hendaklah kamu selalu mempunyai garam di dalam dirimu, dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain," kata Yesus (Markus 9:50). Dia mendorong pengikut-pengikut-Nya untuk mempromosikan perdamaian dengan menggunakan sumber spiritualnya[5], pertama di negerinya dan kemudian di luar negeri. Orang Kristen akan kehilangan keefektifannya di dunia ini jika mereka tidak dapat hidup damai di antara sesama orang Kristen sendiri. Banyak orang yang tidak pernah membaca Alkitab, tetapi mereka dengan teliti memperhatikan kehidupan orang-orang yang membaca Alkitab. Di gereja Kristen mula-mula, sekali waktu Chrysostom yang fasih berbicara mengatakan, bahwa apabila orang Kristen hidup sebagaimana mestinya, maka orang tidak percaya tidak akan ada lagi.
  13. 13. 2. Dua Pembangun * Matius 7:24-27 7:24 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. 7:25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. 7:26 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. 7:27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya." * Lukas 6:47-49 6:47 Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya -- Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan --, 6:48 ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. 6:49 Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya. Yesus seringkali menyaksikan hujan lebat yang tiba-tiba yang disebabkan oleh dasar sungai yang kering dan berubah menjadi aliran air sungai yang sangat deras. Pemandangan serna cam ini sudah biasa di Israel, karena cuaca dapat berubah dengan cepat dan kadang-kadang merubah daratan secara drastis. Pada zaman Yesus, rumah-rumah di pedesaan biasanya dibangun dari lumpur yang mengeras. Pencuri bisa melubangi tembok rumah semacam ini (Matius 6:19). Ketika Yesus sedang mengajar di sebuah rumah, empat orang melubangi atap rumah supaya mereka bisa menurunkan temannya yang lumpuh (Markus 2:3, 4). Apabila tukang bangunan ingin memberikan pelayanan bisnis yang baik, maka ia akan membangun rumah jauh dari temp at jalan air, meskipun selokan-selokannya mungkin tetap kering selama bertahun-tahun[1]. Tukang bangunan yang bijaksana memilih dasar di atas batu karang. Kemudian dia tidak perlu khawatir dengan hujan yang amat deras, kenaikan air secara tiba-tiba yang dapat menyapu bersih rumah-rumah, dan angin keras yang memukul rumah-rumah. Sebuah rumah yang dibangun di atas batu karang mempunyai pondasi yang kuat. Seorang tukang bangunan yang bodoh membangun rumahnya seperti dia memasang kemah. Tidak terpikir olehnya bahwa sebuah rumah seharusnya dibangun dengan struktur yang permanen. Dia membangun rumahnya di atas pasir, mungkin supaya dekat dan mudah untuk mendapatkan air di
  14. 14. sungai kecil. Penghuni rumah tidak perlu takut, sepanjang cuaca tetap baik dan langit tetap biru. Tetapi bila tanpa peringatan yang cukup cuaca berubah, awan sudah berkumpul, hujan turun, aliran air naik, dan angin bertiup, maka rumah itu akan rubuh dengan kerasnya. Dua penulis Injil yaitu Matius dan Lukas, menyajikan sejumlah perbedaan dalam penyusunan kata di dalam perumpamaan ini. Dalam derajat tertentu, variasi penulisan dapat dijelaskan dengan menunjuk pada pembaca yang dituju oleh Matius dan Lukas. Matius menulis untuk pembaca bangsa Yahudi yang tinggal di Israel, tetapi Lukas memberitakan Injil kepada bangsa Yunani yang tinggal di Asia Kecil dan di bagian-bagian lain di dunia Mediterania. Bagi orang Yahudi yang sangat mengenal teknik-teknik pembangunan di daerah Israel, perumpamaan ten tang dua tukang bangunan yang ditulis oleh Matius dapat dengan mudah dipahami. Tetapi, Lukas tidak menulis untuk orang yang tinggal di Galilea atau Yudea. Dia menulis untuk bangsa Yunani dan Helenis. Jadi Lukas mengganti prosedur cara membangun, yang berbeda dengan cara membangun di Israel[2]. Lukas menulis bahwa tukang bangunan menggali pondasi rumah itu dalam-dalam dan meletakkannya di atas batu karang. Lukas harus mempertimbangkan perubahan geografis dan klimatologis, di samping perbedaan konstruksi bangunan. Lukas menunjukkan banjir yang datang dan aliran air yang deras, sedangkan Matius menulis ten tang hujan yang turun, aliran air yang naik, dan angin yang bertiup. Lukas berbicara mengenai bangunan di atas tanah, sedangkan Matius berbicara mengenai bangunan di atas pasir. Perbedaan secara rind ini tidak mengubah arti perumpamaan. Tukang bangunan memikirkan jauh ke depan pada waktu ia memilih untuk membangun rumah di atas dasar pondasi yang permanen. Orang yang membangun rumah dengan bijaksana adalah orang yang mendengar perkataan Yesus dan melakukannya. Mendengar perkataan Yesus tetapi tidak melakukannya adalah suatu kebodohan. Orang yang demikian diumpamakan dengan orang yang membangun rumahnya di atas pasir atau di atas tanah tanpa pondasi. Perumpamaan ini menyuarakan perkataan nabi Yehezkiel. Dia menjelaskan tentang dibangunnya tembok tipis, kemudian turun hujan deras, hujan es meluncur dengan keras, dan badai topan melanda, sehingga tembok tersebut runtuh * Yehezkiel 13:10-16 13:10 Oleh karena, ya sungguh karena mereka menyesatkan umat-Ku dengan mengatakan: Damai sejahtera!, padahal sama sekali tidak ada damai sejahtera -- mereka itu mendirikan tembok dan lihat, mereka mengapurnya -- 13:11 katakanlah kepada mereka yang mengapur tembok itu: Hujan lebat akan membanjir, rambun akan jatuh dan angin tofan akan bertiup! 13:12 Kalau tembok itu sudah runtuh, apakah orang tidak akan berkata kepadamu: Di mana sekarang kapur, yang kamu oleskan itu? 13:13 Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Di dalam amarah-Ku Aku akan membuat angin tofan bertiup dan di dalam murka-Ku hujan lebat akan membanjir, dan di dalam amarah-Ku rambun yang membinasakan akan jatuh.
  15. 15. 13:14 Dan Aku akan meruntuhkan tembok yang kamu kapur itu dan merobohkannya ke tanah, supaya dasarnya menjadi kelihatan; tembok kota itu akan runtuh dan kamu akan tewas di dalamnya. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN. 13:15 Begitulah Aku akan melampiaskan amarah-Ku atas tembok itu dan kepada mereka yang mengapurnya dan Aku akan berkata kepadamu: Lenyap temboknya dan lenyap orang-orang yang mengapurnya, 13:16 yaitu nabi-nabi Israel yang bernubuat tentang Yerusalem dan melihat baginya suatu penglihatan mengenai damai sejahtera, padahal sama sekali tidak ada damai sejahtera, demikianlah firman Tuhan ALLAH." Pada kesimpulan khotbah di bukit (Matius 5-7) atau khotbah di tempatyang datar (Lukas 6), Yesus menginginkan pendengarnya bukan hanya sebagai pendengar tetapi sebagai pelaku dari Firman yang telah Dia sampaikan. Hanya mendengarkan perkataan Yesus saja tidak cukup. Orang percaya harus percaya pada perkataan Yesus dan membangun rumah imannya di atas dasar Yesus saja. Yesus adalah pondasi di mana orang yang bijaksana membangun rumahnya. Seperti perkataan Paulus, "Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus" : * 1 Korintus 3:10, 11 3:10 Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap- tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. 3:11 Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. 3:12 Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, 3:13 sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. 3:14 Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. 3:15 Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api. 3:16 Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Barangsiapa yang bijaksana mau mendengar dengan serius dan mengatur hidupnya sesuai dengan perkataan Yesus. Barangsiapa mendengarkan Yesus tetapi tidak melakukannya, ia akan mengalami keruntuhan yang hebat. Dia tidak menyediakan waktu untuk menggali dan meletakkan pondasi. Rumahnya selesai dalam waktu yang singkat dan untuk semen tara rumah itu dapat memenuhi
  16. 16. kebutuhannya. Tetapi, pada waktu kesukaran dan badai kehidupan datang menyerang, rumah yang tidak memiliki Yesus sebagai pondasinya, akan runtuh dan hancur secara total. Perumpamaan ini secara tidak langsung berbicara tentang penghakiman Allah, di mana setiap orang, baik yang membangun rumahnya dengan bijaksana atau pun yang bodoh, harus menghadapinya. Orang yang bijaksana yang membangun rumah imannya atas dasar Yesus dapat bertahan menghadapi badai kehidupan. Dia tetap aman, bisa mengatasinya, dan menang. Di bagian pengajaran Yesus tentang berbahagialah (Matius 5:1-12), Yesus memanggil orang miskin, orang yang lemah, orang yang tertindas sebagai orang yang berbahagia. Di dalam perumpamaan ini, orang yang membangun rumahnya di atas batu karang menunjukkan ketekunan di dalam melakukan segala sesuatu. Mereka mendengarkan perkataan Yesus dan melakukannya. Karena itu, mereka tidak pemah runtuh. Mereka percaya kepada Yesus dan menaati perkataan-Nya. 3. Perumpamaan tentang Anak-anak di Pasar * Matius 11:16-19 11:16 Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: 11:17 Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. 11:18 Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. 11:19 Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya." * Lukas 7:31-35 7:31 Kata Yesus: "Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama? 7:32 Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. 7:33 Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. 7:34 Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. 7:35 Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya." Yesus menceritakan sebuah perumpamaan yang indah yaitu tentang anak-anak yang berrnain di pasar.
  17. 17. Dia rnengarnbil langsung pernandangan dari kehidupan sehari-hari, pernandangan yang biasa dari anak- anak membuat drama dan memainkannya sendiri. Drama pendek ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Beberapa anak laki-laki dan perempuan sedang bermain bersama di pasar yang biasanya sedang tidak digunakan. Beberapa anak ingin melakukan permainan sebuah pesta pernikahan. Selain sepasang pengantin perempuan dan laki-laki, mereka juga membutuhkan pemain seruling, dan beberapa anak berdansa di pesta pernikahan itu. Meskipun pengantin perempuan dan laki-laki telah siap dan salah satu anak telah memainkan seruling, anak yang lain menolak untuk berdansa. Mereka tidak tertarik dengan permainan pesta pernikahan itu. Kemudian, beberapa anak ingin melakukan permainan penguburan. Salah seorang dari mereka harus bermain sebagai orang yang meninggal, sementara yang lainnya menyanyikan lagu perkabungan. Sisanya harus meratap, tetapi mereka menolak. Mereka tidak tertarik untuk terlibat dalam permainan penguburan itu. Anak-anak yang telah merencanakan permainan itu duduk dan berkata kepada anak-anak yang tidak mau berperan serta itu demikian: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, Kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Aplikasi : Menurut Injil Matius, anak-anak yang duduk di pasar menyebut teman-teman yang tidak mau berperan serta itu sebagai teman bermain mereka. Di dalam Injil Lukas, anak-anak yang bermain dan anak-anak yang tidak bermain saling berseru kepada satu dengan yang lain. Di dalam Injil Dalam penyajian Matius, satu kelompok anak itu kreatif dan menyarankan dua permainan yang berbeda untuk kelompok yang lain[1]. Lukas memberikan kesan bahwa satu kelompok anak-anak ingin memainkan permainan yang gembira, sementara yang lain menginginkan permainan yang sedih. Tidak ada kelompok yang mau mengalah. Mungkin karena hal inilah, yang dicatat hanya ejekan yang dilontarkan oleh satu kelompok[2] , dan penggunaan kata "satu dengan yang lain" seharusnya tidak terlalu ditekankan. Tetapi bagaimana aplikasi dari perumpamaan ini? Pada dasarnya ada dua cara untuk mengaplikasi gambaran yang Yesus jelaskan. Pertama, anak-anak yang mengusulkan permainan pesta pernikahan dan penguburan merepresentasikan Yesus dan Yohanes Pembaptis yang melakukan itu secara berurutan. Anak-anak yang menolak berpartisipasi di dalam permainan itu adalah orang-orang Yahudi. Yohanes datang kepada mereka dan menyanyikan kidung duka, tetapi mereka tidak dalam keadaan yang mau mendengarkan dia. Untuk menyingkirkan Yohanes, mereka mengatakan Yohanes kerasukan. Kemudian Yesus datang dan dengan berbagai cara membawa kabar sukacita dan kebahagiaan; Orang-orang Yahudi mengejek Dia karena Dia masuk ke rumah orang-orang yang disingkirkan oleh karen a masalah moral dan sosial, dan Dia makan dan minum dengan mereka. Penafsiran kedua adalah kebalikan dari yang pertama. Anak-anak yang mengusulkan permainan pernikahan dan penguburan adalah orang-orang Yahudi yang menginginkan Yohanes gembira dan Yesus
  18. 18. menangis. Pada saat keduanya tidak memenuhi pengharapan mereka. maka mereka mengeluh. Mereka mengatakan kepada Yohanes, "Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari." Dan mereka mengatakan kepada Yesus, "Kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis."[3] Dari kedua penafsiran di atas, penafsiran yang kedua lebih masuk akal. Pertama, penafsiran ini mengembangkan hubungan nyata antara "orang-orang dari angkatan ini" (Lukas 7:31) dengan anak- anak yang membuat ejekan. Orang-orang Yahudi tidak suka pada Yohanes Pembaptis dan Yesus, sama halnya dengan sikap dari anak-anak di dalam perumpamaan ini terhadap ternan-ternan bermainnya. Kedua, penafsiran ini menyatakan keluhan anak-anak kepada Yohanes dan Yesus secara berurutan[4]. Yohanes datang sebagai seorang pertapa yang makan belalang dan madu hutan - dia tidak makan roti dan minum anggur - dan orang-orang Yahudi menuduh dia kerasukan setan. Sebaliknya, Yesus makan roti dan minum anggur, sehingga mereka menyebut Yesus seorang pelahap dan peminum, ternan pemungut cukai dan" orang-orang berdosa." Allah telah mengirimkan utusan-utusan-Nya yaitu Yohanes dan Yesus, tetapi orang-orang pada waktu itu tidak melakukan apa-apa dan hanya mencari kesalahan mereka. Paralel-paralel Suasana permainan anak-anak yang bercerita tentang permainan yang ingin dimainkan oleh anak-anak dan saling mengejek di antara mereka dapat ditemui dalam Kitab Pengkhotbah, di mana terdapat satu bagian puisi yang menyatakan bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya. Ada waktu "untuk menangis, ada waktu untuk tertawa, ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari" (Pengkhotbah 3:4), demikian dinyatakan oleh Pengkhotbah. Namun demikian, ejekan yang ditujukan kepada Yesus oleh orang-orang Yahudi merupakan sebutan yang berbahaya. Mereka menuduh Dia seorang pelahap dan peminum. Sebutan ini merupakan deskripsi dari seorang anak yang durhaka, yang menurut hukum Musa, harus dilempari batu sampai mati (Ulangan 21:20, 21). Hubungan Yesus dengan mereka yang dibuang secara moral dan sosial oleh masyarakat dan dianggap sebagai pendurhaka oleh pemimpin-pemimpin agama, dinyatakan sebagai perbuatan yang tercela. Karena hubungan-Nya i ni , orang-orang Yahudi merasa bahwa Yesus sendiri harus diperhitungkan ke dalam golongan pendurhaka[5]. Di dalam literatur rabinik, terdapat paralel yang menyolok. Susunan kata di dalam literatur ini menarik, meskipun sulit untuk memastikan kapan paralel ini ditulis dan darimana asalnya dalam bentuk lisan: Yeremia berbicara langsung kepada Yang Kudus, diberkatilah Dia: Engkau menyebut Elia yang berambut keriting yang bangkit untuk melakukan kepentingan mereka, mereka menertawakan dia dan berkata: "Lihatlah betapa keriting rambut ikalnya!" dan sambil mengejek menyebut dia "orang yang berambut keriting." Dan ketika Engkau menyebutnya demikian Elisa bangkit untuk kepentingan mereka, mereka berkata kepada Elisa dengan nada mengejek: "naiklah kau kepala
  19. 19. botak, naiklah kau kepala botak.: [6] Kesimpulan : Kulminasi dari perumpamaan ini berbeda di dalam kedua catatan Injil. Tulisan Matius dan Lukas berbeda di frasa kesimpulannya, "Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya" (Matius 11:19), dan "Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya" (Lukas 7:35). Mungkinkah perbedaannya disebabkan oleh susunan kata yang berakar dari ekspresi Aramik yang disalahmengerti dalam penerjemahannya?[7] Apapun penyebabnya, arti yang terkandung dalam kata-kata itu tidak berbeda. Kebijaksanaan merepresentasikan kebijaksanaan Allah; itu juga dapat berarti peluasan pemakaian kata-kata yang diterapkan pada Allah. Menurut Matius, karya Ilahi Yesus (Matius 11:5) merupakan bukti kebijaksanaan Allah. Dalam Injil Lukas, anak-anak Allah adalah saksi bagi kebenaran kebijaksanaan-Nya. Misalnya, pemungut cukai dan perempuan berdosa, yang ditolak dan dinyatakan sebagai orang buangan oleh orang-orang beragama pada waktu itu, melihat hikmat Allah yang dinyatakan melalui Yohanes Pembaptis dan Yesus. Baik Yohanes maupun Yesus memproklamasikan berita penebusan kepada mereka. Yohanes menyatakannya dengan semua ketegasan dan kata-kata yang keras di sungai Yordan (Lukas 3:12, 13) dan Yesus menyatakannya di tengah persekutuan di sekitar meja makan di rumah- rumah mereka (Lukas 5:30). 4. Perumpamaan tentang Penabur * Matius 13:1-9 13:1 Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. 13:2 Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. 13:3 Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. 13:4 Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. 13:5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. 13:6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. 13:7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. 13:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam
  20. 20. puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. 13:9 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!" * Markus 4:1-9 4:1 Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. 4:2 Dan Ia mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka: 4:3 "Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. 4:4 Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. 4:5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. 4:6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. 4:7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. 4:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat." 4:9 Dan kata-Nya: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" * Lukas 8:4-8 8:4 Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan: 8:5 "Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. 8:6 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. 8:7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. 8:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat." Setelah berkata demikian Yesus berseru: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" Latar Belakang : Di dalam masyarakat kita yang industrialis, pertanian hanya dikaitkan dengan produksi makanan. Bertani
  21. 21. bukan sekedar gaya hidup, melainkan telah menjadi cara untuk mencari nafkah. Teknologi modern telah diterapkan sepenuhnya pada metode-metode pertanian, sehingga petani-petani menjadi teknisi dalam bidang ini. Contohnya, ia menjadi seorang ahli dalam menggunakan pupuk, herbisida, dan insektisida dan ia menjadi seorang pengusaha yang mengetahui biaya produksi, nilai hasil produksi, dan jadual pemasarannya. Ketika Yesus mengajarkan perumpamaan ten tang seorang penabur kepada orang-orang Galilea, mereka pada waktu itu sedang melihat petani menaburkan benih di ladang pada bulan Oktober. Memang para penulis Injil tidak menceritakan kepada kita kapan Yesus mengajarkan perumpamaan itu. Kemungkinan Yesus mengajar pada waktu penabur keluar untuk menaburkan benih. Kerumunan (menurut Matius, kerumunan orang banyak) itu datang ke pantai di sebelah barat laut di tepi danau Galilea. Mungkin jumlah mereka mencapai ribuan. Yesus menggunakan mimbar yang mengapung pada waktu berbicara kepada orang banyak itu. Ia duduk di atas perahu yang didorong agak jauh dari tepi pantai[1]. Keadaan yang alami ini jauh lebih efektif daripada sistem pendekatan publik secara modern. Yesus tidak harus menjelaskan aktivitas petani, sebab dari jauh mungkin mereka bisa melihat petani sedang bekerja, menabur biji gandum atau barley. Bahkan mereka pun mungkin adalah petani yang dari ladang yang sedang dalam perjalanan menuju pantai. Di dalam masyarakat pertanian pada waktu itu, pendengar kebanyakan adalah petani-petani atau orang yang pernah bekerja di tanah pertanian. Pada zaman Yesus, bertani merupakan pekerjaan yang relatif sederhana. Meskipun perumpamaan ini tidak mengatakan sesuatu mengenai metode pertanian. Namun dari Perjanjian Lama (Yesaya 28: 24-25; Yeremia 4:3; dan Hosea 10:11/ 12) dan dari sumber-sumber rabinik, kita belajar bahwa pada akhir musim panas yang panjang dan panas sekali, petani akan pergi ke ladangnya menaburkan biji gandum atau barley ke atas tanah yang keras. Petani mencangkul tanah untuk menutupi benihnya, dan menunggu hujan musim dingin turun untuk menyemaikan benih itu[2]. Petani yang diceritakan dalam perumpamaan Yesus menaburkan benih yang diambil dari sebuah tas yang dikalungkan pada leher dan bahunya. Tas tergantung di depannya, dan dengan langkah yang berirama dia menaburkan benih di sepanjang jalur-jalur tanah. Dia tidak memperhatikan apakah ada biji-biji yang jatuh di pinggir jalur, atau apakah benih jatuh di tanah yang dangkal dengan batu-batu kapur yang menonjol ke luar, atau apakah gandum itu jatuh di antara semak-semak duri, di mana semak-semak itu akan tumbuh di musim semi dan menghimpit gandum yang tumbuh. Bagi petani semua itu adalah pekerjaan yang harus diselesaikan dalam satu hari. Deskripsi perumpamaan ini akurat dan merupakan kejadian sehari-hari. Petani tidak dapat mencegah biji-biji tidak jatuh di tanah yang keras. Cepat atau lambat burung-burung akan memakannya. Burung juga bisa mengambil benih yang ditanam di tanah. Semua ini merupakan bagian dari eara bertani pada waktu itu. Petani juga tidak bisa berbuat apa-apa dengan batu kapur yang muneul di sana-sini, karena merupakan keadaan dari tanah. Lagipula, dia telah meneoba untuk menyingkirkan semak-semak duri dengan meneabut akarnya, namun tumbuh-tumbuhan ini sulit dimusnahkan, karena semak-semak duri itu kelihatannya punya eara untuk tumbuh kembali.
  22. 22. Petani menantikan waktu menuai di mana dia bisa membawa hasil panennya. Hasil rata-rata pada waktu itu biasanya bisa kurang dari sepuluh kali lipat[3]. Seorang petani dianggap mendapatkan hasil yang luar biasa besarnya kalau dia bisa mendapatkan hasil panen sampai tiga puluh kali lipat atau apalagi enam puluh kali lipat. Petani sangat jarang mendapatkan panen sampai seratus kali lipat (Kejadian 26:12). Singkatnya, petani tidak menaruh perhatian pada biji-biji gandum yang hilang pada saat menabur. Dia menaruh harapannya ke masa depan dan menunggu waktu panen tiba dengan penuh harapan. Semua pendengar Yesus tidak ada yang tidak setuju dengan Dia. Klimaks dari kisah ini mungkin yang akan mengejutkan pendengar-Nya. Oleh karena, Yesus mengatakan bahwa hasil panen itu seratus kali lipat bukan panen normal yaitu sepuluh kali lipat. Jadi, inti dari kisah ini adalah panen yang berlimpah- limpah. Pola Perumpamaan Perumpamaan tentang penabur merupakan salah satu perumpamaan yang ditemukan di dalam ketiga Injil Sinopsis. Ketika penulis-penulis Injil ini secara individual memasukkan eerita Yesus tentang petani yang menabur dan memetik hasil, mereka masing-masing menujukan perumpamaan ini kepada pendengar mereka sendiri. Matius, Markus, dan Lukas menunjukkan maksud pengajaran Yesus dengan menempatkan perumpamaan ini di dalam konteks Injil mereka masing-masing seeara jelas. Injil Matius pasal 13 didahului dengan eerita pelayanan penyembuhan oleh Yesus (pasal 8 dan 9). Pada kesimpulan dari bagian ini, Matius meneatat bahwa Yesus sedang mengajar di Sinagoge. Ia memberitakan Kabar Baik tentang Kerajaan Surga, dan rnenyembuhkan segala penyakit dan kelemahan (9:35). Kemudian Yesus melihat kepada orang banyak, dan karena mereka kurang mendapatkan bimbingan rohani, Dia merasa berbelas kasihan kepada rnereka. Dia membandingkan mereka seperti domba yang tidak bergembala. "Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya, "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia rnengirirnkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu" (9:37, 38 ). Matius rnencatat pengutusan kedua belas rnurid untuk pergi kepada domba-domba Israel yang terhilang di dalarn pasall0. Tetapi Yesus rnengingatkan murid-murid-Nya akan penolakan, penganiayaan, dan kernatian. Mereka akan menghadapi penentang, kebencian, dan kehilangan nyawa. Matius melukiskan terna yang sarna di dalam dua pasal berikutnya. Orang banyak mengikuti Yohanes Pembaptis, tetapi orang-orang itu rnengatakan bahwa dia kerasukan setan. Dan Yesus dikatakan sebagai pelahap dan peminum, ternan pemungut cukai dan "orang-orang berdosa" (11:19). Orang-orang di Korazin, Betsaida, dan Kapernaum tidak rnau bertobat dan percaya kepada perkataan-Nya, Sepertinya Yesus sedang mencangkuli tanah yang dangkal, dan benih yang Dia taburkan tidak menghasilkan. Tetapi Kerajaan Allah telah datang dan akan berkernbang terus meskipun Yohanes Pembaptis disalahrnengerti
  23. 23. (11:3),. orang-orang Galilea tidak percaya (11:21, 23), dan sikap ahli-ahli Taurat yang berrnusuhan (12:2, 24, 38). Orang-orang yang melakukan kehendak Allah adalah bagian dari Kerajaan Allah. Mereka adalah saudara laki-laki, saudara perempuan dan ibu dari Yesus (12:50). Pada bagian ini, Yesus memperkenalkan perurnparnaan tentang penabur. Pengurangan struktur dari catatan Injil menyatakan keterampilan tangan dari seorang arsitek literatur[4]. Matius telah merangkai tingkatan dari perumpamaan ten tang penabur ini. Objeknya adalah untuk mengawasi pembacanya dengan panen yang tidak diharapkan yang dikumpulkan di dalam Kerajaan Allah. Sebaliknya, Markus sepertinya rnenekankan pelayanan pengajaran Yesus di sepanjang tepi danau Galilea. Dia mulai bagian ini dengan mengatakan, "Pada suatu kali Yesus rnulai pula mengajar di tepi danau." (4:1). Markus menyebutkan danau sebanyak tiga kali di bagian ayat-ayat pendahuluan, sedangkan Matius mengabaikan referensi tentang Yesus yang duduk di atas perahu "di danau". Markus memberitahu pembacanya bahwa Yesus sekali lagi bertemu dengan kerumunan orang banyak di tepi air (lihat Markus 2:13 dan 3:7). Markus pad a bagian ini memasukkan tiga dari empat perumpamaan (penabur, benih yang tumbuh, dan biji sesawi) ke dalam Injilnya dalam bentuk narasi untuk menunjukkan tempat mengajar, pendengar yang dijumpai Yesus, dan tujuan perumpamaan. Penulis dari ketiga Injil menyampaikan perumpamaan tentang penabur dengan versi yang disingkat, dia menempatkannya di dalam konteks penerimaan dan penolakan. Perkataan dan perbuatan Yesus dapat diterima oleh orang-orang awam, pemungut cukai, wanita-wanita tunasusila dan yang lainnya (7:29,37; 8:1-3), tetapi dia bertemu dengan oposisinya yang keras yaitu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat (7:30, 39). Menurut Lukas versi perumpamaan ini berbeda sedikit dengan versi Matius dan Markus, meskipun jauh lebih pendek dan menunjukkan perubahan di sana-sini di dalam kosa katanya. "Perubahan tersebut menunjukkan bahwa Lukas atau tradisi lisan merasa bebas memodifikasi rincian perkataan di dalam kisah ini, sesuatu yang biasa dilakukan oleh pengkhotbah modern ketika mereka menceritakan perumpamaan-perumpamaan[5]". * Matius 13:18-23 13:18 Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. 13:19 Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. 13:20 Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. 13:21 Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad. 13:22 Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. 13:23 Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali
  24. 24. lipat." * Markus 4:13-20 4:13 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain? 4:14 Penabur itu menaburkan firman. 4:15 Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. 4:16 Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, 4:17 tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad. 4:18 Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, 4:19 lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. 4:20 Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat." * Lukas 8:11-15 8:11 Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. 8:12 Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. 8:13 Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. 8:14 Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. 8:15 Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan." Perumpamaan tentang penabur adalah salah satu perumpamaan yang dijelaskan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya dan orang-orang lain yang bersama dengan mereka. Kita tidak menyangka bahwa perumpamaan membutuhkan penjelasan, tetapi di dalam kenyataannya perumpamaan membutuhkan sebuah aplikasi supaya dimengerti secara rohani. Pertanyaan awal dari murid-murid adalah, "Mengapa Yesus menceritakan perumpamaan kepada orang-orang?" dan mereka mendapatkan jawaban dari Yesus yang dapat dimengerti dengan begitu saja. Yesus menjawab, "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai,
  25. 25. kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti." (Matius 13:11-13). Kita mencatat bahwa murid-murid bertanya mengapa Yesus berbicara kepada orang-orang di dalam perumpamaan, dan Yesus menjawab mengapa berbicara kepada mereka di dalam perumpamaan. Markus membuat perbedaan antara "kita dan mereka" terlebih lagi yang diucapkan dengan melaporkan "Tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan" (4:11). Tepatnya, apa yang Yesus maksudkan dengan frasa "rahasia Kerajaan Surga"? Jikalau Yesus adalah Guru Besar (Rabi), kita bisa mengharapkan Dia mengajarkan kebenaran rohani dengan bahasa yang sederhana. Sulit untuk percaya bahwa Yesus bermaksud menyembunyikan pengajaran-Nya kepada orang-orang banyak dengan memakai gaya bicara tertentu. Tetapi Dia berbicara mengenai misteri Kerajaan Surga. Dokumen Qumran menunjuk peranan Guru Kebenaran yang diutus untuk menyatakan misteri (hal yang belum dinyatakan) Ilahi. Lagipula, Guru tersebut akan memerintahkan murid-murid-Nya di dalam wahyu yang Dia terima dari Allah[6]. Yesus membawa wahyu Ilahi dengan mengajar murid-murid-Nya rahasia Kerajaan Surga. Orang-orang lain dalam lingkup yang lebih luas, yang bukan bagian dari kelompok murid-murid Yesus (yaitu mereka yang berada di luar), tidak memiliki pemahaman tentang Kerajaan Surga seperti yang dimiliki oleh murid-murid Yesus[7]. Secara tidak langsung Yesus menunjuk kepada pentingnya kelahiran rohani untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga (Yohanes 3:3, 5). Dengan kata lain, murid-murid telah diberi kemampuan dan hak istimewa untuk melihat rahasia Kerajaan Surga. Bagi mereka yang berada di luar tidak diberi hak istimewa ini[8]. Orang banyak yang dimaksud oleh Yesus ditunjukkan dengan sebutan "mereka." Kutukan yang diucapkan Yesus sendiri bagi kota-kota yang tidak mau bertobat yaitu Korazin, Betsaida, dan Kapernaum tidaklah mengejutkan (Matius 11:20-24). Dan Yesus ditentang secara terus-menerus oleh para pemimpin, para ahli tulis, orang-orang Farisi, dan hirarki imam-imam. Matius sepertinya menggunakan sebuah istilah yang sederhana bagi kumpulan orang-orang Yahudi di sekeliling Yesus - yaitu menggunakan istilah yang sederhana "mereka"[9]. Tetapi, rahasia Kerajaan Surga tidak tersembunyi selamanya. Markus menambahkan kata-kata berikut ini dalam penjelasan Yesus tentang perumpamaan penabur,: "Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap" (4:22) [10]. Kebenaran yang dinyatakan oleh Yesus dengan menggunakan perumpamaan diberikan bagi mereka yang melihat dan mengerti. Sebaliknya, Matius mengatakan bahwa barangsiapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga
  26. 26. ia berkelimpahan, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya (13:12). Matius menulis bagi orang-orang Yahudi dengan menyatakan bahwa mereka yang tidak diberi persepsi rohani dan yang menolak perkataan Yesus harus melepaskan pemahaman mereka ten tang Kerajaan Allah di dalam pengajaran Perjanjian Lama. Kebijaksanaan di dalam Perjanjian Lama menjadi tidak berarti tanpa pemahaman rohani tentang pengajaran ini. Jadi meskipun mereka (orang- orang Yahudi) melihat, sebenarnya mereka tidak melihat; meskipun mereka mendengar, sebenarnya mereka tidak mendengar dan mengerti (Matius 13:13). Semua penulis Injil mengutip kata-kata Yesaya 6:9, 10 - Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, Kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, Dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya Dan mendengar dengan telinganya Dan mengerti dengan hatinya, Lalu berbalik sehingga aku menyembuhkan mereka." (Matius 13:14, 15) Dan ketiga penulis Injil Sinopsis menggunakan kutipan Yesaya untuk mengungkapkan alasan mengapa orang yang mengeraskan hatinya akan kehilangan warisan rohani[11]. Komentator yang lain menafsirkan penggunaan Yesaya 6:9, 10 sebagai penjelasan atau peringatan yang berhubungan dengan akibat dari hati yang keras[12]. Dari ketiga penulis Injil, Markuslah yang memberikan cerita yang paling lengkap tentang penafsiran perumpamaan Yesus[13]. Markus juga memasukkan kata-kata omelan yang diucapkan oleh Yesus: "Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini?" (4:13). Dan sebagai hasilnya, Markus menunjukkan bahwa perumpamaan tentang penabur adalah unik. Perumpamaan ini mempunyai maksud yang khusus, mungkin karena adanya kenyataan bahwa perumpamaan penabur merupakan salah satu dari perumpamaan-perumpamaan-Nya yang diberi penjelasan oleh Yesus. Tetapi kata-kata omelan yang diucapkan Yesus juga menunjukkan bahwa murid-murid Yesus yang hatinya telah mengetahui kebenaran, seharusnya telah memahami arti dasar perumpamaan tersebut. Sedangkan cerita Matius lebih berharga dalam hal komposisinya. Matiuslah yang telah memberikan kepada gereja judul dari perumpamaan ini: perumpamaan seorang penabur. Hanya di dalam Injil Matius, perumpamaan ini memberikan nada pedagogis dengan gaya yang seragam dan frasa simetris yang bergema. Tetapi sebelum kita melangkah kepada penafsiran perumpamaan itu sendiri, kita harus mencatat bahwa perbandingan yang digunakan oleh Yesus di dalam perumpamaan ten tang penabur ini juga dilukiskan di dalam 2 Esdras 9:30-33:
  27. 27. Engkau mengatakan: "Dengarkan Aku, Israel, dengarkan perkataanKu, suku Yakub. Inilah hukum-Ku, di mana Aku menabur di antara kamu supaya menghasilkan buah dan membawamu kepada kemuliaan selamanya." Tetapi bapa-bapa kami yang telah menerima hukum-Mu tidak menyimpannya; mereka tidak meneliti hukum-hukum-Mu, Tidak mungkin buah dari hukum itu yang binasa; melainkan milikmu sendiri yang binasa. Barangsiapa yang menerima hukum itu yang akan binasa, karena mereka gagal menyimpan benih yang baik yang telah ditabur di dalam .mereka[14]. Pada zaman Yesus, kata kerja "menabur" dapat diartikan secara metafora, yang berarti "mengajar." Kita bisa berpendapat bahwa penggunaan kata ini merupakan cara berbicara di dalam sinagoga lokal, Formulasi dan penafsiran Yesus terhadap perumpamaan penabur ini sangat cocok dengan cara bicara pada waktu sekarang. Sejumlah faktor tidak ditemukan di dalam penafsiran perumpamaan ini. Figur penabur merupakan hal yang terpenting. Meskipun penabur hanya disebutkan di bagian pendahuluan perumpamaan saja, dan diasumsikan ada di dalam perumpamaan, kehadirannya tidak dijelaskan. Meskipun demikian, penekanannya jatuh pada benih yang ditabur. Lukas menyebut benih itu "Firman Allah"; Markus hanya menyebutnya dengan "Firman." Dan Matius dalam kutipannya dari Kitab Yesaya, mengatakan akibatnya, "Kepada setiap orang yang mendengar firman ten tang Kerajaan Surga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan." (13:19). Meskipun mungkin kita berharap beberapa referensi mengenai hujan, yang jelas sekali dapat meningkatkan hasil panen, tetapi tidak ada referensi yang mengatakan ten tang hujan (misalnya,lihat Ulangan 11:14, 17) [15]. Juga tidak disebutkan tentang kerja keras mencangkul tanah, meskipun jelas bahwa pencangkulan itu menjadi bagian dari proses. Konstruksi dan penafsiran perumpamaan ini ditunjang oleh penentuan Allah terhadap hujan dan pengerahan tenaga manusia dalam pekerjaan di ladang. Perumpamaan ini menekankan naik turunnya hasil panen petani[16]. Petani mungkin saja kehilangan panennya, dan di dalam perumpamaan ini tiga kali kehilangan panennya, tetapi pada waktu panen terakhir mendapatkan hasil yang berkelimpahan. Aplikasi : Jelas sekali bahwa Yesus bertujuan mengaplikasikan pengajaran-Nya tentang benih dan tanah ini bagi orang yang mendengar pesan Kerajaan Surga (menurut Matius), Firman Allah (menurut Lukas) dengan menyebutkan rincian-rinciannya seperti pinggir [alan, tanah yang berbatu-batu, dan semak-sernak duri. Matius memakai penggunaan tata bahasa" Present Tense" dari partisipal bahasa Yunani, yang menunjuk kepada orang yang diminta untuk mendengar dan menenma Firman Allah. Bagian Firman Allah ini juga menjelaskan bagaimana sikap empat macam pendengar yang berbeda terhadap Firman Allah itu[17].
  28. 28. Matius maupun Lukas sama-sama memperkenalkan kata hati yaitu, "Datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu." (13:19). Firman Allah menjangkau hati pendengar, tetapi sebelum Firman itu bisa mempengaruhinya, si jahat (Matius), setan (Markus), atau Iblis (Lukas) datang dan merampasnya. Di dalam perumpamaan ini, burung-burung datang ke pinggir jalan dan memakan benih sampai habis, Markus mengatakan, "Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka." (4:15). Kita akan mengatakan, "Masuk telinga kanan, ke luar telinga kiri," atau, "Seperti itik yang meninggalkan bekas jejaknya di air." Beberapa orang mendengarkan Injil dengan sopan, tetapi mereka hanyalah sebagai pendengar. Injil tidak lagi berharga bagi mereka, karena hati mereka sekeras jalan kecil di sepanjang sawah. Mereka benar-benar mengabaikan kesimpulan dari hukum Allah, "Cintailah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu., (Matius 22:37). Pertama-tama benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu mulai menampakkan pertumbuhannya. Tetapi teriknya musim panas mas uk ke dalam lapisan batu yang paling bawah, dan sekarang melepaskan hawa yang lebih dingin pada bulan November dan Desember secara perlahan-lahan. Pada saat itu akan turun hujan yang cukup yang memungkmkan terjadinya persemian dini karena adanya panas dan udara lembab yang diperlukan. Tunas yang hijau akan bersemi dengan cepat, dan sementara itu sisa tanah masih tetap tandus, yang memperlihatkan pertunjukan yang sangat mengesankan. Mata yang sudah terlatih dari petani-petani itu dapat melihat perbedaannya. Dia tahu bahwa munculnya tangkai hijau dari benih yang tumbuh di atas tanah yang berbatu-batu itu merupakan tipuan; tumbuh- tumbuhan itupun akan layu pada saat hujan berhenti dan matahari musim semi terbit dengan sangat panas. Tanaman tersebut tidak mempunyai akar yang dalam di dalam tanah yang bisa menyediakan air. Tanaman itu akan layu dan mati. Baik Matius maupun Markus menunjukkan aspek kesiapan di dalam penafsiran dan aplikasi dari segmen perumpamaan ini. "Tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar sa)a. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karen a firman itu, mereka segera murtad." (Markus 4:17). Kesiapan direfleksikan dalam persemian benih yang cepat yang ditaburkan di atas tanah yang berbatu-batu. Sedangkan Matius dan Lukas menghubungkannya dengan penghindaran dari kesulitan dan penganiayaan, di mana Lukas berbicara mengenai "masa pencobaan" (Lukas 8:13). Kedua penulis Injil ini menyebutkan saat-saat yang sulit yang menyebabkan orang akan berpikir dua kali ten tang agama. Ketika saatnya tiba di mana mereka harus mengambil keputusan dan membayar harga, mereka akan mengubah minat dan keterlibatan mereka dalam iman yang pernah mereka pegang dengan sukacita, Satu kata yang menjelaskan keadaan mereka: dangkal (superficiality). Matahari biasanya diibaratkan sebagai sumber kebahagiaan dan sukacita, dan digambarkan di siru dengan istilah kesulitan dan penganiayaan[18]. Alasan mengapa tanah tersebut mengeras yang terlihat jelas adalah kurangnya udara yang lembab. Sebaliknya, orang benar tumbuh subur seperti pohon yang di tanam di tepi aliran air (Mazmur 1:3). Orang yang dangkal adalah orang yang kurang keyakinan, keberanian, stabilitas, dan ketekunan: Dia akan dipengaruhi oleh semua angin doktrin yang berhembus di jalannya. Karena dia berakar kurang dalam, kehidupan rohaninya menjadi tidak penting.
  29. 29. Benih yang ditaburkan di an tara semak-semak duri kelihatannya mempunyai kesempatan bertumbuh dan berkembang yang lebih balk daripada benih yang ditaburkan di tanah yang keras. Pertama, tanaman mulai bertunas sesudah masa persemian. Kenyataannya, dengan musim semi pada waktu itu tanaman tersebut kelihatannya sangat menjanjikan dan terlihat sarna dengan tanaman-tanaman yang lain. Tetapi ketika panas matahari menunjukkan kekuatan dan panasnya di bumi, akar semak-semak duri itu mu,lai bertumbuh. Sesudah musim dingin berhenti, tanaman itu akan siap menyambut musim yang baru, dan setelah beberapa minggu semak-semak duri itu akan bertumbuh lebih tinggi dari tanaman gandum. Semak-semak duri merebut kelembaban udara dan vitamin di dalam tanah dan benar-benar mencabut tanaman gandum sampai mati. Tanah yang baik adalah tanah yang tidak keras seperti jalan setapak atau tidak dangkal seperti lapisan tanah yang berbatu-batu subur dan menyimpan udara yang lembab. Kekurangan unsur-unsur yang diperlukan di dalam tanah menyebabkan tanaman mempunyai tempat permanen dan akar yang lain. Benih yang ditaburkan di tanah yang subur dengan udara lembab yang tersedia banyak, jauh sebelumnya harus bersaing melawan semak-semak duri yang hijau di atas permukaan tanah untuk menumbuhkan dan mengembangkan akar-akarnya di dalam tanah. Singkatnya, dua macam tanaman sedang memperjuangkan sebuah tempat di bawah matahari, yang memenangkan perlombaan adalah tipe tanaman yang mempunyai akar kuat untuk masuk ke dalam tanah. "Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah." (Markus 4:18, 19). Orang yang mempunyai kehidupan yang mendua - kehidupan beragama pada hari Minggu dan kehidupan yang tidak beragama selama hari- hari lain dalam seminggu - akan segera menemukan "kekuatiran hidup, tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan duniawi yang lain" mengambil alih kehidupannya, sehingga imannya menjadi tidak berarti. Pesan Injil tidak dapat berbunga dan berbuah, kecuali keinginan-keinginan duniawi dicabut. Orang macam ini mempunyai kehidupan yang mendua pada mulanya. Dia telah menemukan rasa aman di dalam kekayaan dan harta miliknya; dia membuang imannya dengan sengaja dan menjadikannya tempat kedua. Dia adalah orang yang bersifat "keduanya / dan" yang akhirnya menuai panen semak- semak berduri tanpa mendapatkan biji gandum sedikit pun. Kecuali apa yang dia miliki diambil darinya. Tiga gambaran tanah ini seharusnya tidak membuat petani berkecil hati. Demikian juga, tiga gambaran orang yang memiliki iman yang tidak berbuah seharusnya tidak mengecilkan hati orang-orang percaya yang sungguh-sungguh. Benih yang ditanam di tanah yang baik akan menghasilkan panen yang berkelimpahan, hasil yang melimpah ruah. Orang yang dengan iman meresponi Injil tanpa perhitungan, akan berbuah berlipat-lipat tidak terhingga. "Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat" (Matius 13:23) [19]. Markus memberikan urutan yang meningkat "tiga puluh, enam puluh, atau bahkan seratus kali lipat." Lukas hanya mendaftar "seratus kali lipat" di dalam perumpamaan, tetapi dalam penafsirannya dia menulis, "Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan" (Lukas 8:15). Apa yang dimaksudkan Lukas dengan
  30. 30. "menyimpan," ditulis di dalam Injil Markus sebagai "menerima" dan di dalam Injil Matius sebagai "mengerti." Kemudian, siapa yang merupakan orang yang memiliki hati yang baik dan mulia? Matius memberikan jawabannya. Dia mengatakan, "orang yang mendengar firman itu dan mengerti." Tentu saja, Matius mengingat lagi kutipan dari Kitab Yesaya. Orang yang memiliki hati yang sempurna dan mulia adalah orang yang melakukan kehendak Allah dan menjawab panggilan Allah "Siapa yang harus Aku utus?" jawablah dengan yakin, "Ini aku, utuslah aku, Tuhan." Dia adalah pendengar dan pelaku Firman. Dia mengerti karena hatinya mau menerima kebenaran Allah. Keberadaannya seluruhnya - kemauan, intelektual, dan emosinya - disentuh oleh Firman itu. Orang percaya mengalami pertumbuhan rohani, dan menghasilkan buah; dia melakukan kehendak Allah[20]. Apakah yang diajarkan perumpamaan ini? Beberapa sarjana menyebut perumpamaan penabur ini sebagai perumpamaan dari perumpamaan-perumpamaan. Bukan berarti bahwa perumpamaan ini perumpamaan yang paling terkenal di dalam Injil Sinoptik, tetapi dikarenakan berisi empat perumpamaan yang dijadikan satu. Keempat perumpamaan ini hanyalah aspek dari satu kebenaran khusus: Firman Allah diberitakan dan memberikan tugas kepada pendengamya; umat Allah menerima Firman, mengertinya, dan dengan taat melakukannya; orang-orang yang lain gagal mendengarkan karena hatinya yang keras, kedangkalan yang mendasar, atau keinginan terhadap kekayaan dan harta yang tidak dapat ditinggalkan. Orang-orang yang demikian gagal menghasilkan buah, dan bahkan apa yang mereka miliki perkataan rohani - akan diambil daripadanya. Karena itu perumpamaan ini menyentuh mereka yang benar-benar ada di dalam gereja maupun mereka yang berada "di luar." Hal ini merupakan kebenaran pokok dari perumpamaan ini. Semua rincian di dalam perumpamaan ini berpusat pada satu tema. Pemberitaan Injil yang penuh iman tidak akan pernah gagal menghasilkan buah, "menghasilkan panen, tiga puluh, enam puluh, atau bahkan seratus kali lipat dari yang ditabur." 5. Perumpamaan tentang Benih yang Tumbuh * Markus 4:26-29 4:26 Lalu kata Yesus: "Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, 4:27 lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. 4:28 Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir- butir yang penuh isinya dalam bulir itu. 4:29 Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba." Penulisan di dalam Injil Markus tidak dikenal dalam bentuk percakapan; tetapi bentuk naratif di mana
  31. 31. penulis menggambarkan Yesus secara gamblang sebagai seorang yang selalu bertindak. Markus tidak memasukkan bahan yang bersifat didaktik (mendidik), misalnya tulisan mengenai tanda-tanda akhir zaman (pasal 13) dan tiga perumpamaan tentang pertumbuhan (pasal 4). Markus tidak tertarik menambah jumlah perumpamaan. Dia ingin menunjukkan bahwa dia selektif di dalam memilih materi- materi yang tersedia[1]. Markus memilih perumpamaan tentang penabur; benih yang tumbuh, dan perumpamaan ten tang biji sesawi. Perumpamaan-perumpamaan tersebut merinci penanaman benih, pertumbuhan, pendewasaan, pematangan dan penuaian dengan jelas[2]. Markus menggunakan perumpamaan-perumpamaan untuk mengilustrasikan sifat Kerajaan Allah yang diajarkan oleh Yesus. Latar Belakang Perumpamaan Karena perumpamaan ten tang benih yang tumbuh ini kurang rinei, kisah ini menjadi cerita yang sederhana. Di dalam perumpamaan ini tidak disebutkan mengenai persiapan tanahnya, curah hujan, sinar matahari, pengendalian terhadap lalang, atau pemupukan secara organik. Di dalam perumpamaan tentang penabur, kehidupan petani terlihat paralel, tidur pada waktu malam, dan aktif kembali pada pagi hari. Pada saat panen dia meletakkan sabitnya di atas biji-biji gandum. Meskipun rincian-rincian di dalam perumpamaan ini penting karena menekankan tentang car a menabur, bertumbuh, dan menyiangi rumput, tetapi perumpamaan ini tidak menceritakannya secara rinei. Kita seharusnya tidak berasumsi kalau petani menghabiskan hari-harinya dengan bermalas- malasan. Tentu saja tidak; dia telah melakukan pekerjaannya, di mana waktunya telah habis banyak untuk membajak, memupuk, dan menyiangi rumput. Selain tugas harian tersebut, dia harus membeli dan menjual, merencanakan dan menyiapkan panen. Semua pekerjaan ini dijamin ada di dalam perumpamaan ini dan dapat dimengerti. Kita juga mencatat bahwa Allah akan menyediakan hujan yang diperlukan[3]. Allahlah yang mengontrol semua elemen-elemen alam ini. Tema pokok yang sebenarnya dari perumpamaan ini adalah Allah yang mengontrol semua elemen- elemen alam ini. Setelah menabur benih petani harus menyerahkan saat bertunas, bertumbuh, penyerbukan, dan pendewasaannya kepada Allah. Petani dapat menjelaskan proses pertumbuhan gandum, tetapi dia tidak dapat menerangkan kejadiannya. Sesudah gandum ditaburkan, biji itu menyerap udara yang lembab dari dalam tanah, menggembung, dan bertunas. Sesudah satu atau dua minggu, daun-daun yang masih kecil muncul ke permukaan; tumbuh-tumbuhan itu mulai bertunas dengan cepat, bertambah tinggi, dan bungkulnya mengembang. Kemudian, pada saat tanaman tersebut mati, warnanya berubah dari hijau menjadi warna keemasan; bijinya telah tua dan tibalah saatnya untuk menuai. Petani tidak dapat menjelaskan pertumbuhan dan perkembangan ini[4]. Petani hanyalah seorang pekerja yang pada saat tertentu menabur dan menuai. Allahlah yang memegang rahasia kehidupan. Allahlah yang mengontrol kehidupan ini. Penafsiran :
  32. 32. Perumpamaan benih yang tumbuh hanya ditemukan di dalam Injil Markus. Matius dan Lukas tidak menulisnya, dan kita tidak dapat menemukan informasi lebih lanjut yang lain selain yang ditemukan di dalam beberapa ayat di Injil Markus 4:26-29 [5]. Perumpamaan ini didahului dengan kalimat, "Beginilah hal Kerajaan Surga itu." Penafsiran dari perumpamaan ini sangat bervariasi. Beberapa komentator menerangkan kisah ini secara alegoris: Kristus telah menabur dan akan tiba musim menuai; bagian akhir dari perumpamaan ini menunjukkan pekerjaan Roh Kudus yang tidak terlihat di dalam gereja dan di dalam jiwa[6]. Komentator yang lain menekankan hal-hal yang berikut ini: benih, masa pertumbuhan; panen; atau mengkontraskan antara menabur dan menuai[7]. Semua penafsiran tersebut tentu saja - yang alegoris sekali pun (dengan persyaratan-persyaratan tertentu) - mempunyai kelebihan-kelebihan. John Calvin melihat kepada Penulis perumpamaan ini dan kepada pelayan-pelayan Firman yang menaburkan benih. Calvin mengatakan bahwa jika mereka tidak melihat hasilnya dengan segera, mereka seharusnya tidak berkecil hati. Yesus mengajar mereka untuk bersabar dan mengingatkan mereka akan proses pertumbuhan di dalam alam ini. Sesudah memberitakan Firman, mereka dapat melakukan tugas biasa sehari-hari, sehingga mereka seharusnya tidak perlu repot dan resah - tidur pada malam hari dan bangun pada pagi hari dan melakukan pekerjaan yang harus dikerjakan. Pada saat gandum sudah tua barulah buah pekerjaan pengkhotbah tersebut akan segera tampak. Pelayan-pelayan Injil seharusnya berbesar hati dan melanjutkan pekerjaan mereka dengan keinginan yang besar dan dengan iman[8]. Allah yang mengerjakan proses persemian, pertumbuhan, dan penuaian benih. "Buah adalah hasil dari benih; akhir merupakan kelengkapan dari permulaan. Ukuran besar yang tidak terhingga berasal dari ukuran kecil yang tidak terhingga"[9]. Mengingat kembali kata-kata Paulus yang menggembirakan adalah baik di mana dia yakin akan hal ini, "Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus." (Filipi 1:6). Di dalam perumpamaan ini, petani hanya sebagai asisten di dalam pekerjaan Ilahi. Dia menabur benih dan hari demi hari melakukan pekerjaan yang perlu - dia pergi untuk bisnisnya. Dia yakin bahwa panen akan segera tiba. Sebenarnya dia mengetahui berdasarkan pengalaman berapa hari waktu yang diperlukan dari saat menabur sampai waktu menuai[10]. Dan pada saat hasilnya telah tua dia tidak akan menunggu hari yang lain. Saat panen telah datang. Demikian juga, pelayan-pelayan Firman adalah pekerja Ilahi, memberitakan kabar baik tentang keselamatan di dalam Kristus Yesus. Semen tara Allah melakukan pekerjaan yang penuh rahasia yaitu pertumbuhan dan perkembangan, mereka harus menyingkir. Menurut waktu yang ditetapkan oleh Allah, panen akan tiba dan pelayan akan melihat hasilnya. Perumpamaan tentang benih yang tumbuh ini benar-benar merupakan perumpamaan yang merupakan kejadian yang berurutan: masa menabur kemudian tibalah masa menuai. Manifestasi dari Kerajaan Allah
  33. 33. adalah sesudah pelayanan Firman Allah yang penuh iman. Satu kejadian mengikuti kejadian yang lain, tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa kuasa kerja Allah yang penuh rahasia. "Pengajaran dari perumpamaan ini adalah: kemenangan itu pasti; saat panen sudah hampir tiba dan akan segera tiba pada saat yang diputuskan di dalam rencana Allah yang kekal. Kemudian Kerajaan Allah akan dinyatakan dengan segala kemegahannya"[11]. Kata-kata terakhir dari perumpamaan ini mengingatkan kepada Yoel 3: 13, "Ayunkanlah sabit, sebab sudah masak tuaian." Tanpa diragukan lagi, pada akhirnya perumpamaan ini menunjuk kepada hari penghakiman, Menurut Wahyu 14:12-16 ketika Tuhan mengirimkan malaikat-malaikat-Nya untuk mengumpulkan tuaian di bumi. Karena itu mereka yang diutus untuk memberitakan Firman harus belajar dari petani untuk bersabar. "Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya ... " (Yakobus 5:7). Kurang sabar merupakan karakteristik manusia. Ketidaksabaran ini pun ada di dalam penjelasan Yohanes tentang jiwa-jiwa yang telah dibunuh karena Firman Allah. Mereka berseru dengan suara nyaring, "Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar ... ?" Dan jawaban yang mereka terima adalah bahwa mereka harus menunggu sedikit lagi (Wahyu 6:9-11). Allahlah yang mengontrol dan menentukan kapan saat untuk menuai tiba. Tidak ada seorang pun yang mengetahui hari dan waktunya, bahkan Yesus sendiri juga tidak mengetahuinya (Matius 24:36). 6. Perumpamaan tentang Lalang di Antara Gandum * Matius 13:24-30 13:24 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. 13:25 Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. 13:26 Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. 13:27 Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu? 13:28 Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? 13:29 Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. 13:30 Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku."

×