Your SlideShare is downloading. ×
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Distosia janin poltekkes surakarta
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Distosia janin poltekkes surakarta

1,638

Published on

Published in: Health & Medicine
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
1,638
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
44
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN Dosen Pengampu : Henik Istikhomah, S.ST., M.Keb Poltekkes Kemenkes Surakarta
  • 2. KELOMPOK 3 ALIFA KURNIAWATI DYAH AYU KARTIKASARI DESY KARUNIA PUTRI FAUZIA ISNAINI INTAN KURNIAWATI MAHFIDA NUR AFIDAH SANTI MARTA KUSUMAWATI P 27224012 126 P 27224012 137 P 27224012 135 P 27224012 140 P 27224012 143 P 27224012 150 P 27224012 160
  • 3. DISTOCIA FAKTOR KELAINAN JANIN
  • 4. Dengan adanya keseimbangan atau kesesuaian antara faktor-faktor "P" tersebut, persalinan normal diharapkan dapat berlangsung. Bila ada gangguan pada satu atau lebih faktor “P” ini, dapat terjadi kesulitan atau gangguan pada jalannya persalinan. Kelambatan atau kesulitan persalinan ini disebut distosia. Salah satu penyebab dari distosia karena adalah kelainan janin. Distosia berpengaruh buruk bagi ibu maupun janin. Pengenalan dini dan penanganan tepat akan menentukan prognosis ibu dan janin.
  • 5. PENDAHULUAN Persalinan normal suatu keadaan fisiologis, normal dapat berlangsung sendiri tanpa intervensi penolong. Kelancaran persalinan tergantung 3 faktor ”P” utama yaitu kekuatan ibu (power), keadaan jalan lahir (passage) dan keadaan janin (passanger). Faktor lainnya adalah psikologi ibu (respon ibu ), penolong saat bersalin, dan posisi ibu saat persalinan.
  • 6. JANIN BESAR (Macrosomia) 1. Pengertian Bayi besar adalah bayi yang dengan berat badan yang melebihi dari 4000 gram. Frekuensi berat badan lahir lebih dari 4000 gram adalah 5,3% dan yang lebih dari 4500 gram adalah 0,4%.
  • 7. Etiologi : • • • • a. Kehamilam posterm b. Orang tua yang besar c. Hipertiroidisme d. Diabetes mellitus
  • 8. Diagnosis Menentukan besarnya janin secara klinis memang sulit. Kadang – kadang baru diketahui adanya janin besar setelah tidak adanya kemajuan persalinan pada panggul normal dan his yang kuat. Pemeriksaan yang teliti tentang adanya disproporsi sepalopelvik dalam hal ini perlu dilakukan. Besarnya kepala dan tubuh janin dapat diukur pula secara teliti dengan menggunakan alat ultrasonik.
  • 9. Prognosis Pada panggul normal, janin dengan berat badan kurang dari 4000 gram pada umumnya tidak menimbulkan kesukaran persalinan. Kesukaran dapat terjadi karena kepala yang besar atau kepala yang lebih keras (pada post maturitas) tidak dapat memasuki PAP, atau karena bahu yang lebar sulit melalui rongga panggul. Bahu yang lebar selain dijumpai pada janin besar juga dijumpai pada anensefalus. Apabila kepala anak sudah lahir tetapi kelahiran bagian lain macet karena lebarnya bahu, janin dapat meninggal karena asfiksia.
  • 10. Penatalaksanan Pada disporposi sevalopelvic karena janin besar, SC perlu dipertimbangkan. Kesulitan melahirkan bahu tidak selalu dapat diduga sebelumnya. Apabila kepala sudah lahir sedangkan bahu sulit dilahirkan hendaknya dilakukan episiotomi yang cukup luas, hidung serta mulut janin dibersihkan , kemudian kepala ditarik curam kebawah secara hati – hati dengan kekuatan yang terukur. Pada keadaan janin meninggal dilakukan embriotomi
  • 11. Makrosomia (Bayi Besar)
  • 12. KEMBAR SIAM (Janin Kembar Melekat) 1. Pengertian Janin kembar melekat adalah keadaan dimana terdapat perlekatan antara 2 janin pada kehamilan kembar (bisa pada bagian kepala,abdomen, atau dada). Janin yang satu dapat jauh lebih kecil dari yang lain, tetapi dapat pula kedua janin kira – kira sama besarnya.
  • 13. Etiologi Banyak faktor diduga sebagai penyebab kehamilan kembar. Selain faktor genetik, obat penyubur yang dikonsumsi dengan tujuan agar sel telur matang secara sempurna, juga diduga ikut memicu terjadinya bayi kembar. Alasannya, jika indung telur bisa memproduksi sel telur dan diberi obat penyubur, maka sel telur yang matang pada saat bersamaan bisa banyak, bahkan sampai lima dan enam.
  • 14. Jenis – Jenis Kembar Siam • Thoracopagus: kedua tubuh bersatu di bagian dada (thorax) • Omphalopagus: kedua tubuh bersatu di bagian bawah dada. • Pygopagus (iliopagus): bersatu di bagian belakang. • Cephalopagus: bersatu di kepala dengan tubuh yang terpisah. • Cephalothoracopagus: Tubuh bersatu di kepala dan thorax. • Craniopagus: tulang tengkorak bersatu dengan tubuh yang terpisah
  • 15. • Craniopagus parasiticus:bagian kepala yang kedua yg tidak memiliki tubuh. • Dicephalus: dua kepala, satu tubuh dengan dua kaki dan dua atau tiga atau empat lengan (dibrachius, tribrachius atau tetrabrachius) • Ischiopagus: kembar siam anterior yang bersatu di bagian bawah tubuh. • Ischio-omphalopagus: Kembar siam yang bersatu dengan tulang belakang membentuk huruf-Y. • Parapagus: Kembar siam yang bersatu pada bagian bawah tubuh dengan jantung yang seringkali dibagi. • Diprosopus: Satu kepala dengan dua wajah pada arah berlawanan
  • 16. Kembar Siam omphalopagus
  • 17. HIDROSEPALUS Hidrosepalus : penumpukan cairan cerebro spinal dalam ventrikel otak yang berlebihan menyebabkan pembesaran kepala janin. Volume CSF umumnya mencapai 500 – 1500 ml dan bahkan dapat mencapai 5 liter
  • 18. DIAGNOSIS Bila janin dalam presentasi kepala diagnosis tidak terlalu sulit. Untuk memudahkan pemeriksaan, kandung kencing harus dikosongkan terlebih dahulu. Pada palpasi ditemukan kepala yang jauh lebih besar daripada biasa. Serta menonjol diatas simfisis. Karena kepala janin besar dan tidak dapat masuk kedalam panggul, denyut jantung paling jelas terdengar pada tempat yang lebih tinggi. Pada pemeriksaan dalam, diraba sutura-sutura dan ubun-ubun yang melebar dan tegang. Sedangkan tulang kepala sangat tipis dan mudah ditekan. Pemeriksaan rontgen menunjukkan kepala janin sangat besar , dengan tulang – tulang yang sangat tipis.
  • 19. Bila janin dalam presentasi sungsang lebih sulit, di mana teraba kepala yang besar dan menonjol diatas simfisis. Pada pemeriksaan rontgen ini tidak dapat memberikan kepastian karena kepala normal pada letak sungsang dapat memberi gambaran seolah – olah sangat besar. Untuk menghindarkan kesalahan dalam pemeriksaan rontgen harus diperhatikan beberapa hal : 1. Muka janin sangat kecil dibandingkan dengan tengkorak. 2. Kepala berbentuk bulat, berbeda dengan kepala biasa yang berbentuk ovoid (bulat telur ). 3. Bayangan tulang kepala sangat tipis
  • 20. Prognosis Apabila tidak segera dilakukan pertolongan bahaya ruptura uteri, akan mengancam penderita tersebut. Ruptura uteri pada hidrosefalus dapat terjadi sebelum pembukaan serviks menjdi lengkap karena tengkorak yang besar ikut meregangkan segmen bawah uterus.
  • 21. Penatalaksanaan Persalinan pada wanita dengan janin hidrosefalus perlu dilakukan pengawasan yang seksama. Karena bahaya terjadinya rupture uteri selalu mengancam. Pada pembukaan 3 cm cairan serebrospinalis dikeluarkan dengan pungsi pada kepala menggunakan jarum spinal, setelah kepala mengecil bahaya regangan segmen bawah uterus hilang, sehingga tidak terjadi kesulitan penurunan kepala ke dalam rongga panggul. Bila janin dalam letak sungsang , pengeluaran cairan dari kepala yang tidak dapat lahir dilakukan dengan pungsi atau perforasi melalui foramen oksipitalis magnum atau sutura temporalis. Dianjurkan pula untuk mencoba melakukan ventrikulosentesis transabdominal dengan jarum spinal, dalam hal ini kandung kencing harus dikosongkan lebih dahulu.
  • 22. DISTOSIA AKIBAT PEMBESARAN ABDOMEN • Pembesaran abdomen janin dapat menyebabkan distosia Pembesaran abdomen janin dapat terjadi oleh karena : – Vesika urinaria yang penuh. – Pembesaran ginjal atau hepar. – Asites • Diagnosa pembesaran abdomen janin jarang ditegakkan sampai terjadinya distosia. Bila diagnosa dapat ditegakkan sebelum persalinan, keputusan melakukan SC harus dipertimbangkan. Prognosa pada umumnya sangat buruk. Pada 97% kasus, persalinan terjadi pada presentasi kepala ; 3% pada presentasi sungsang ; 0.5% pada letak lintang.
  • 23. Abdominal dystocia pada kehamilan 28 minggu akibat pembesaran vesica urinaria Persalinan dapat berlangsung pervaginam setelah dilakukan pungsi VU setinggi umbilkus Penampang menunjukkan bagian dalam VU dan tekanan pada organ abdomen dan rongga thora
  • 24. ANENSEFALUS • DEFINISI Anensefalus adalah suatu keadaan dimana sebagian besar tulang tengkorak dan otak tidak terbentuk. Anensefalus merupakan suatu kelainan tabung saraf (suatu kelainan yang terjadi pada awal perkembangan janin yang menyebabkan kerusakan pada jaringan pembentuk otak dan korda spinalis). • ETIOLOGI Anensefalus terjadi jika tabung saraf sebelah atas gagal menutup, tetapi penyebabnya yang pasti tidak diketahui. Penelitian menunjukkan kemungkinan anensefalus berhubungan dengan racun di lingkungan, juga kadar asam folat yang rendah dalam darah. Anensefalus ditemukan pada 3,6-4,6 dari 10.000 bayi baru lahir.
  • 25. Faktor resiko terjadinya anensefalus adalah: • riwayat anensefalus pada kehamilan sebelumnya • kadar asam folat yang rendah • Resiko terjadinya anensefalus bisa dikurangi dengan cara meningkatkan asupan asam folat minimal 3 bulan sebelum hamil dan selama kehamilan bulan pertama. Gejala anencephalus • Gejalanya berupa: a. ibu : polihidramnion (cairan ketuban di dalam rahim terlalu banyak) b. bayi : 1) tidak memiliki tulang tengkorak 2) tidak memiliki otak (hemisfer serebri dan serebelum) 3) kelainan pada gambaran wajah 4) kelainan jantung
  • 26. • Pemeriksaan penunjang • Pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah: a. Kadar asam lemak dalam serum ibu hamil b. Amniosentesis (untuk mengetahui adanya peningkatan kadar alfa-fetoprotein) c. Kadar alfa-fetoprotein meningkat (menunjukkan adanya kelainan tabung saraf) d. Kadar estriol pada air kemih ibu e. USG. • Bayi yang menderita anensefalus tidak akan bertahan, mereka lahir dalam keadaan meninggal atau akan meninggal dalam waktu beberapa hari setelah lahir.
  • 27. anensefalus
  • 28. GAWAT JANIN Gawat janin pada persalinan adalah suatu keaadaan dimana janin tidak mendapatkan O2 yang cukup, yang jika tidak segera ditangani maka akan menyebabkan kerusakan permanen sistem saraf pusat dan organ lain serta kematian.
  • 29. Etiologi • • • • • • • • Partus lama Infus oksitosin Perdarahan Infeksi Insufisiensi placenta Ibu menderita DM Kehamilan preterm atau posterm Prolaps tali pusat
  • 30. Diagnosis DJJ abnormal < 100 atau > 160 kali per menit Air ketuban hijau kental atau sedikit Mekonium kental merupakan tanda pengeluaran mekonium pada cairan amnion yang berkurang (tanda gawat janin)
  • 31. Penatalaksanaan Umum • Ibu dimiringkan ke kiri • Berikan oksigen • Hentikan infus oksitosin (jika sedang diberikan)
  • 32. Penatalaksanaan Khusus • Sebab dari ibu diketahui (demam, obat-obatan) • Sebab dari ibu tidak diketahui dan DJJ tetap abnormal sepanjang minimal 3 kontraksi -> lakukan VT Ada tanda infeksi (dem Ada perdarahan dan nyeri menetap atau hilang timbul -> pikirkan solutio placenta. Ada tanda infeksi (demam, cairan vagina berbau ) -> pikirkan amnionitis, berikan antibiotik yang sesuai Tali pusat terletak dibawah janin atau dalam vagina >prolapsus tali pusat , berikan penanganan yang sesuai • DJJ tetap abnormal atau ada mekonium kental -> rencanakan persalinan – Serviks pembukaan lengkap dan kepala ≤ 1/5 atau stasiun 0 -> dekstrasi vakum atau forsep – Serviks pembukaan belum lengkap dan kepala > 1/5 atau diatas stasiun 0 -> SC
  • 33. sumber http://midwif3.wordpress.com/2012/07/11/anense falus-4/ Wiknjosastro.1999.Ilmu Kebidanan.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo Kurniawati,Desy.Hanifah Mirzanie.2009.Obgynacea.Yogyakarta:Tosca enterprise
  • 34. 1. Atikah Etiologi pembesaran abdomen janin . Bagaimana cara deteksi dininya 2. Andini Untuk mendapat bayi kembar digunakan obat penyubur, adakah yang alami ? 3. Very dan Astri Penatalaksanaan hidrosepalus dengan pungsi. Bagaimana dan apakah bidan berwenang melakukannya. Adakah bahayanya ?
  • 35. JAWABAN 2. Banyak penyubur kandungan yang dapat ditemukan : - Rumput kembar, ditemukan di indonesia timur -Kencur, bisa di kombinasikan dengan beras  beras kencur -Touge Beberapa ahli menyarankan agar tidak sembarangan konsumsi obat penyubur tradisional, sebelum memeriksakan diri pada ahli
  • 36. 3. Pungsi adalah pengambilan cairan dengan spuit spinal pada kepala janin, yang berwenang melakukan hanya Dokter spesialis bahaya : Perdarahan intrakranial Infeksi

×