BAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangHIV berarti virus yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Iniadalah retrovir...
1.2. Rumusan Masalah1. Apa pengertian HIV/AIDS?2. Bagaimana etiologi HIV?3. Apa saja macam – macam infeksi HIV?4. Bagaiman...
BAB IITINJAUAN TEORI2.1. PengertianHIV ( Human immunodeficiency Virus ) adalah virus pada manusia yangmenyerang system kek...
pathogen dibandingkaan dengan HIV-1. Maka untuk memudahkan keduanyadisebut HIV.Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari...
2. Penularan dari ibu terjadi terutama pada saat proses melahirkan, karena padasaat itu terjadi kontak secara lansung anta...
3. Tahap akhir, fase krisis, ditandai dengan menurunnya pertahanan tubuhpenderita secara cepat berupa rendahnya jumlah CD4...
 Infeksi–infeksi oportunistik adalah infeksi–infeksi yang timbul ketika sistemkekebalan tertekan. Pada seseorang dengan s...
PATHWAY8Virus HIV ImmunocompromiseMenyerang T Limfosit,sel saraf, makrofag,monosit, limfosit BMerusak selulerFlora normal ...
2.5. Periode Penularan HIV pada Ibu hamil1. Periode PrenatalTimbulnya HIV pada wanita hamil diperkirakan meningkat (Minkof...
(CMV), dan Toxophlasmosis. Sekitar separuh penderita AIDS mengalamipeningkatan titer CMV. Karena masuknya penyakit CMV mem...
plasenta pada awal kehamilan. Fokus utama pencegahn penyebaran HIVnosocomial dan perlindungan terhadap pelaku perawatan. R...
b. Diare kronik yang berlangsung lebih dari 1 bulanc. Penurunan kesadaran dan adanya gangguan neurologisd. Demensia / HIV ...
biasanya secara medis direkomendasikan ketika jumlah sel CD4 dari orang yangmengidap HIV/AIDS adalah 200 atau lebih rendah...
38%. Beberapa studi telah menyelidiki pengunaan dari Ziduvidine (AZT)dalam kombinasi dengan Lamivudine (3TC)2. Nevirapine:...
A. Pengkajian1. Biodata Klien2. Riwayat PenyakitJenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifatkelainan imun...
- Tanda : Perubahan TD postural,menurunnya volume nadi perifer,pucat / sianosis, perpanjangan pengisian kapiler.c) Integri...
- Gejala : ISK sering atau menetap, napas pendek progresif, batuk,sesak pada dada.- Tanda : Takipnea, distress pernapasan,...
Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA.Hasil tes positif, tapi bukan merupakan diagnosa- Tes blot westernMe...
- Deteksi awal pneumonia interstisial- Skan Gallium Ambilan difusi pulmonal terjadi pada PCP danbentuk pneumonia lainnya.-...
Mengenali antibody Human Immunodeficiency Virus(HIV) dan memastikan seropositifitas Human ImmunodeficiencyVirus (HIV)- Ind...
C. Rencana KeperawatanNo DiagnosaTujuan dan KriteriahasilIntervensi Rasional1 Resiko tinggi infeksiberhubungan denganimuno...
kesehatan tidakterpapar HIV- Tidak terinfeksipatogen lain sepertiTBC.merawat pasien. Gunakanmasker bila perlu.3 Resiko tin...
2323
BAB IIIPENUTUP3.1. KesimpulanHIV ( Human immunodeficiency Virus ) adalah virus pada manusia yangmenyerang system kekebalan...
berhubungan dengan bagaimana melakukan sebuah proses asuhan keperawatanmaternitas terutama pada ibu hamil yang juga mender...
26
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Hiv bumil

1,777

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,777
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
43
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Hiv bumil"

  1. 1. BAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangHIV berarti virus yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Iniadalah retrovirus, yang berarti virus yang mengunakan sel tubuhnya sendiri untukmemproduksi kembali dirinya. Asal dari HIV tidak jelas, penemuan kasus awaladalah dari sampel darah yang dikumpulkan tahun 1959 dari seorang laki–laki dariKinshasa di Republik Demokrat Congo. Tidak diketahui bagaimana ia terinfeksi.Saat ini terdapat dua jenis HIV: HIV–1 dan HIV–2. HIV–1 mendominasiseluruh dunia dan bermutasi dengan sangat mudah. Keturunan yang berbeda–bedadari HIV–1 juga ada, mereka dapat dikategorikan dalam kelompok dan sub–jenis(clades). Terdapat dua kelompok, yaitu kelompok M dan O. Dalam kelompok Mterdapat sekurang–kurangnya 10 sub–jenis yang dibedakan secara turun temurun.Ini adalah sub–jenis A–J. Sub–jenis B kebanyakan ditemukan di America, Japan,Australia, Karibia dan Eropa. Sub–jenis C ditemukan di Afrika Selatan dan India.HIV–2 teridentifikasi pada tahun 1986 dan semula merata di Afrika Barat. Terdapatbanyak kemiripan diantara HIV–1 dan HIV–2, contohnya adalah bahwa keduanyamenular dengan cara yang sama, keduanya dihubungkan dengan infeksi–infeksioportunistik dan AIDS yang serupa. Pada orang yang terinfeksi dengan HIV–2,ketidakmampuan menghasilkan kekebalan tubuh terlihat berkembang lebih lambatdan lebih halus. Dibandingkan dengan orang yang terinfeksi dengan HIV–1, makamereka yang terinfeksi dengan HIV–2 ditulari lebih awal dalam prosespenularannya.HIV dapat menular melalui kontak darah, namun disini kami akan mencobamembahas bagaiamana HIV AIDS yang dialami ibu hamil dan bagaimanamelakukan sebuah proses keperawatan pada ibu hamil dengan HIV AIDS.1
  2. 2. 1.2. Rumusan Masalah1. Apa pengertian HIV/AIDS?2. Bagaimana etiologi HIV?3. Apa saja macam – macam infeksi HIV?4. Bagaimana patofisiologi HIV?5. Bagaimana periode penularan HIV pada ibu hamil?6. Bagaimana gejala HIV?7. Apa saja pemeriksaan diagnostik HIV?8. Bagaimana pengobatan HIV?9. Bagaimana konsep Asuhan Keperawatan pada ibu hamil dengan HIV?1.3. Tujuan1. Mengetahui pengertian HIV/AIDS2. Mengetahui etiologi HIV3. Mengetahui macam – macam infeksi HIV4. Mengetahui patofisiologi HIV5. Mengetahui periode penularan HIV pada ibu hamil6. Mengetahui gejala HIV7. Mengetahui pemeriksaan diagnostik HIV8. Mengetahui pengobatan HIV9. Mengetahui konsep Asuhan Keperawatan pada ibu hamil dengan HIV22
  3. 3. BAB IITINJAUAN TEORI2.1. PengertianHIV ( Human immunodeficiency Virus ) adalah virus pada manusia yangmenyerang system kekebalan tubuh manusia yang dalam jangka waktu yang relatiflama dapat menyebabkan AIDS, sedangkan AIDS sendiri adalah suatu sindromapenyakit yang muncul secara kompleks dalam waktu relatif lama karena penurunansistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi HIV. AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah sindroma yangmenunjukkan defisiensi imun seluler pada seseorang tanpa adanya penyebabyang diketahui untuk dapat menerangkan terjadinya defisiensi tersebut sepertiikeganasan, obat-obat supresi imun, penyakit infeksi yang sudah dikenal dansebagainya ( Rampengan & Laurentz ,1997 : 171). AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak sistemkekebalan tubuh manusia (H. JH. Wartono, 1999 : 09). AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistemkekebalan tubuh (dr. JH. Syahlan, SKM. dkk, 1997 : 17).Infeksi pada kehamilan adalah penyebab morbiditas ibu dan neonatal yangsudah diketahui. Banyak kasus dapat dicegah, dan dalam makalah ini akan dibahasmengenai penyakit infeksi yang sering ditemukan yang dapat terjadi dalamkehamilan.2.2. EtiologiPenyebab infeksi adalah golongan virus retro yang disebut humanimmunodeficiency virus (HIV). HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983sebagai retrovirus dan disebut HIV-1. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan lagiretrovirus baru yang diberi nama HIV-2. HIV-2 dianggap sebagai virus kurang33
  4. 4. pathogen dibandingkaan dengan HIV-1. Maka untuk memudahkan keduanyadisebut HIV.Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu :1. Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak adagejala.2. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu likesillness.3. Infeksi asimtomatik. Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala tidak ada.4. Supresi imun simtomatik. Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat malamhari, B menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi mulut.5. AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kaliditegakkan. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai systemtubuh, dan manifestasi neurologist. Cara penularan HIV:1. Melakukan penetrasi seks yang tidak aman dengan seseorang yang telahterinfeksi. Kondom adalah satu–satunya cara dimana penularan HIV dapatdicegah.2. Melalui darah yang terinfeksi yang diterima selama transfusi darah dimanadarah tersebut belum dideteksi virusnya atau pengunaan jarum suntik yangtidak steril.3. Dengan mengunakan bersama jarum untuk menyuntik obat bius denganseseorang yang telah terinfeksi.4. Wanita hamil dapat juga menularkan virus ke bayi mereka selama masakehamilan atau persalinan dan juga melalui menyusui. Penularan secara perinatal1. Ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan HIV pada bayi yangdikandungnya.44
  5. 5. 2. Penularan dari ibu terjadi terutama pada saat proses melahirkan, karena padasaat itu terjadi kontak secara lansung antara darah ibu dengan bayi sehinggavirus dari ibu dapat menular pada bayi.3. Bayi juga dapat tertular virus HIV dari ibu sewktu berada dalam kandunganatau juga melalui ASI4. Ibu dengan HIV dianjurkan untuk PASI Kelompok resiko tinggi:1. Lelaki homoseksual atau biseks.2. Orang yang ketagian obat intravena3. Partner seks dari penderita AIDS4. Penerima darah atau produk darah (transfusi).5. Bayi dari ibu/bapak terinfeksi.2.3. Macam infeksi HIVAtas dasar interaksi HIV dengan respon imun pejamu, infeksi HIV dibagimenjadi tiga Tahap :1. Tahap dini, fase akut, ditandai oleh viremia transien, masuk ke dalam jaringanlimfoid, terjadi penurunan sementara dari CD4+ sel T diikuti serokonversi danpengaturan replikasi virus dengan dihasilkannya CD8+ sel T antivirus. Secaraklinis merupakan penyakit akut yang sembuh sendiri dengan nyeri tenggorok,mialgia non-spesifik, dan meningitis aseptik. Keseimbangan klinis dan jumlahCD4+ sel T menjadi normal terjadi dalam waktu 6-12 minggu.2. Tahap menengah, fase kronik, berupa keadaan laten secara klinis denganreplikasi. virus yang rendah khususnya di jaringan limfoid dan hitungan CD4+secara perlahan menurun. Penderita dapat mengalami pembesaran kelenjarlimfe yang luas tanpa gejala yang jelas. Tahap ini dapat mencapai beberapatahun. Pada akhir tahap ini terjadi demam, kemerahan kulit, kelelahan, danviremia. Tahap kronik dapat berakhir antara 7-10 tahun.55
  6. 6. 3. Tahap akhir, fase krisis, ditandai dengan menurunnya pertahanan tubuhpenderita secara cepat berupa rendahnya jumlah CD4+, penurunan berat badan,diare, infeksi oportunistik, dan keganasan sekunder. Tahap ini umumnyadikenal sebagai AIDS. Petunjuk dari CDC di Amerika Serikat menganggapsemua orang dengan infeksi HIV dan jumlah sel T CD4+ kurang dari 200sel/µl sebagai AIDS, meskipun gambaran klinis belum terlihat. ( Robbins, dkk,1998 : 143 )2.4. Patofisiologi HIV masuk kedalam darah dan mendekati sel T–helper dengan melekatkandirinya pada protein CD4. Sekali ia berada di dalam, materi viral (jumlah virusdalam tubuh penderita) turunan yang disebut RNA (ribonucleic acid) berubahmenjadi viral DNA (deoxyribonucleic acid) dengan suatu enzim yang disebutreverse transcriptase. Viral DNA tersebut menjadi bagian dari DNA manusia,yang mana, daripada menghasilkan lebih banyak sel jenisnya, benda tersebutmulai menghasilkan virus–virus HI. Enzim lainnya, protease, mengatur viral kimia untuk membentuk virus–virusyang baru. Virus–virus baru tersebut keluar dari sel tubuh dan bergerak bebasdalam aliran darah, dan berhasil menulari lebih banyak sel. Ini adalah sebuahproses yang sedikit demi sedikit dimana akhirnya merusak sistem kekebalantubuh dan meninggalkan tubuh menjadi mudah diserang oleh infeksi danpenyakit–penyakit yang lain. Dibutuhkan waktu untuk menularkan virus tersebutdari orang ke orang. Respons tubuh secara alamiah terhadap suatu infeksi adalah untuk melawan sel–sel yang terinfeksi dan mengantikan sel–sel yang telah hilang. Respons tersebutmendorong virus untuk menghasilkan kembali dirinya. Jumlah normal dari sel–sel CD4+T pada seseorang yang sehat adalah 800–1200sel/ml kubik darah. Ketika seorang pengidap HIV yang sel–sel CD4+ T–nyaterhitung dibawah 200, dia menjadi semakin mudah diserang oleh infeksi–infeksioportunistik.66
  7. 7.  Infeksi–infeksi oportunistik adalah infeksi–infeksi yang timbul ketika sistemkekebalan tertekan. Pada seseorang dengan sistem kekebalan yang sehat infeksi–infeksi tersebut tidak biasanya mengancam hidup mereka tetapi bagi seorangpengidap HIV hal tersebut dapat menjadi fatal.77
  8. 8. PATHWAY8Virus HIV ImmunocompromiseMenyerang T Limfosit,sel saraf, makrofag,monosit, limfosit BMerusak selulerFlora normal patogenOrgan targetManifestasi oral RespiratoriInvasi kuman patogenManifestasi saraf GastrointestinalLesi mulutDermatologiNutrisiinadekuatSensoriPenyakitanorektalHepatitisEnsepalopati akut GangguanpenglihatandanpendengaranDisfungsibiliariDiare Gatal, sepsis,nyeriInfeksiKompleksdemensiaCairanberkurangGangguanmobilisasiAktivitasintoleransGangguanrasanyaman:nyerihipertermiCairanberkurangNutrisiinadekuatGangguanrasanyaman:nyeriGangguanpolaBABTidakefektfibersihanjalannapasTidakefektifpolnapasGangguanbodyimageapasGangguansensoriHIV- positif ?Reaksi psikologis8
  9. 9. 2.5. Periode Penularan HIV pada Ibu hamil1. Periode PrenatalTimbulnya HIV pada wanita hamil diperkirakan meningkat (Minkoff,1987). Sejarah kesehatan, uji fisik dan tes laboratorium harus merefleksikanpengharapan ini jika wanita dan bayinya menerima perawatan yang tepat. Parawanita yang termasuk dalam kategori beresiko tinggi terhadap infeksi HIVmencakup:a. Wanita dan atau pasangannya yang berasal dari wilayah geografis dimanaHIV merupakan sesuatu yang umum.b. Wanita dan atau pasangannya yang menggunakan obat-obatan yangdisuntikkan melalui pembuluh darah.c. Wanita yang menderita STD tetap dan kambuhan.d. Wanita yang menerima tranfusi darah dari pengidap HIV.e. Wanita yang yakin bahwa dirinya mungkin terjangkit HIV.Tes HIV sebaiknya ditawarkan kepada wanita beresiko tinggi pada awalmereka memasuki perawatan prenatal. Namun, soronegativitas pada uji prenatalpertama bukan jaminan untuk titer negative yang berlangsung. Misalnya, seorangwanita berusia 24 tahun yang mendapatkan perawatan prenatal selama 8 minggumempunyai hasil tes western blot yang negative. Namun, setelah terinfeksi HIV,serum antibody membutuhkan waktu sampai 12 minggu untuk berkembang. Teswestern blot harus diulangi dalam 1 atau 2 bulan dan pada trimester ketiga. Tesprenatal rutin dapat membantu mengidentifikasi wanita yang terinfeksi HIV(Foster, 1987; Kaplan et al, 1987; Minkoff, 1987; Rhoads et al, 1987).Tes ini juga dapat mengungkap Gonhorhea, Siphilis, Herpes yang tetapdan menjadi lebih lama, C.Trakomatis, Hepatic B, Micobacterium tuberculosis,Candidiasis (oropharingeal atau infeksi Vagian Chronic), Cytomegalo Virus9
  10. 10. (CMV), dan Toxophlasmosis. Sekitar separuh penderita AIDS mengalamipeningkatan titer CMV. Karena masuknya penyakit CMV memiliki bahaya yangserius terhadap janin, para wanita hamil dianjurkan dengan yang terinfeksi HIV.Sejarah vaksinasi dan kekebalan telah didokumentasikan. Titer untuk cacar danrubella ditentukan dan tes kulit tuberkulosa (Derivasi protein yangdimurnikan/puriviet protein derivatif (PPD)) telah dilakukan vaksinasisebelumnya dengan vaksin rekonbivak Hb dicatat karena vaksin tersebut berisiproduk darah manusia (Vaksin ini sekarang bebas dari darah manusia danproduk-produk darah). Wanita dapat menjadi calon yang menerima Rho DImunoglobulin. Penularan HIV belum ditemukan adanya vaksin Rh. Prosespersiapan melibatkan alcohol ethyl yang membuat virus tidak aktif. Vaksin inidibuat dari darah yang diambil dari kelompok donor regular yang tidak dikenali.Darah yang digunakan untuk memproduksi vaksin menjalani tes darah yangdapat mendeteksi darah adanya HIV (Francis, Chin, 1987, MMWR, 1987).Beberapa ketidaknyamanan yang dihadapi pada masa prenatal (seperti kelelahan,anoreksia, dan penurunan berat badan) menyiratkan tanda-tanda dan gejal-gejalainfeksi HIV.Diagnosa yang berbeda-beda terhadap seluruh keluhan dan gejala infeksiyang disebabkan kehamilan dibenarkan. Tanda-tanda utama infeksi HIV yangsemakin memburuk mencakup turunnya berat badan lebih dari 10% dari beratbadab sebelum kehamilan, diare kronis lebih dari 1bulan dan demam (kambuhanatau konstan) selama lebih dari 1 bulan. Untuk mendukung system, wanita hamilharus mendapat nutrisi yang optimal, tidur, istirahat, latihan, dan reduksi stress.Jika infeksi HIV telah didiagnosa, wanita tersebut diberitahukan mengenaikonsekwensi yang mungkin terjadi pada bayi.2. Periode IntrapartumPerawatan wanita yang sakit saat melahirkan tidak diubah secarasubstansial untuk infeksi tanpa gejala dengan HIV (Minkoff,1987). Carakelahiran didasarkan hanya pada pertimbangan obstetric karena virus melalui1010
  11. 11. plasenta pada awal kehamilan. Fokus utama pencegahn penyebaran HIVnosocomial dan perlindungan terhadap pelaku perawatan. Resiko penularan HIVdianggap rendah selama kelahiran vaginal.. EPM (Elektrinic Fetal Monitoring)eksternal dilakukan jika EPM diperlukan. Terdapat kemungkinan inokulasi viruske dalam neonatus jika dilakukan pengambilan sempel darah pada bayidilakukan atau jika elektroda jangat kepala bayi diterapkan. Disamping itu,seseorang yang melakukan prosedur ini berada pada resiko tertular virus HIV.3. Periode Postpartum.Hanya sedikit yang diketahui tentang tindakan klinis selama periodepostpartum yang dapat dilakukan pada wanita yang terinfeksi HIV. Walaupunperiode postpartum pertengahan tercatat signifikan (update, 1987), tindak lanjutyang lebih lama telah mengungkap frekwensi penyakit kilinis yang tinggi padaibu-ibu yang anaknya menderita penyakit (Skott, 1985; Minkoff et al, 1987).Tindakan pencegahan universal dilakukan terhadap ibu dan bayi, seperti yangdilakukan terhadap semua pasien. Wanita dan bayinya diarahkan pada dokteryang berpengalamn dalam pengobatan AIDS dan keadaan-keadaan yangmenyertainya. Pengaruh infeksi pada bayi dan neonatal mungkin tidak jelas.Karena virus yang melalui plasenta, darah di tali pusat akan menunjukkanantibody HIV baik apabila bayi terinfeksi ataupun tidak. Selama itu antibodyyang melalui palang plasenta mungkin tidak terdapat pada bayi yang tidakterinfeksi sampai usia 15 bulan. Ketika infeksi HIV menjadi aktif banyak infeksilain yang biasa menyertai pada orang dewasa terjadi pada bayi. Komplikasi yangmenyertai infeksi HIV pada bayi mencakup Enchephalopati, Microchephalli,Defisit Kognitif, system saraf pusat (CNS/central nervous system) Lhympoma,Cerebro Vaskuler Accident, gagal pernapasan dan Lhympaclenophaty.2.6. Gejala HIV AIDS1. Gejala mayora. BB menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan1111
  12. 12. b. Diare kronik yang berlangsung lebih dari 1 bulanc. Penurunan kesadaran dan adanya gangguan neurologisd. Demensia / HIV Ensefalopati2. Gejala minora. Batuk menetap lebih dari 1 bulanb. Dermatitis generalistc. Adanya herpes zoster yang berulangd. Kandidiasis orofaringeale. Herpes simplex kronik progresiff. Limfadenopati generalistg. Infeksi jamur berulang pada kelamin wanitah. Retinitis Cytomegalovirus2.7. Pemeriksaan diagnostik1. Tes untuk diagnosa infeksi HIV :- ELISA- Western blot- P24 antigen test- Kultur HIV2. Tes untuk deteksi gangguan system imun.- Hematokrit.- LED- CD4 limfosit- Rasio CD4/CD limfosit- Serum mikroglobulin B2- Hemoglobulin2.8. Pengobatan Obat–obatan Antiretroviral (ARV) bukanlah suatu pengobatan untuk HIV/AIDStetapi cukup memperpanjang hidup dari mereka yang mengidap HIV. Padatempat yang kurang baik pengaturannya permulaan dari pengobatan ARV1212
  13. 13. biasanya secara medis direkomendasikan ketika jumlah sel CD4 dari orang yangmengidap HIV/AIDS adalah 200 atau lebih rendah. Untuk lebih efektif, makasuatu kombinasi dari tiga atau lebih ARV dikonsumsi, secara umum ini adalahmengenai terapi Antiretroviral yang sangat aktif (HAART). Kombinasi dariARV berikut ini dapat mengunakan:1. Nucleoside Analogue Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI),mentargetkan pencegahan protein reverse transcriptase HIV dalammencegah perpindahan dari viral RNA menjadi viral DNA (contohnya AZT,ddl, ddC & 3TC).2. Non–nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NNRTIs) memperlambatreproduksi dari HIV dengan bercampur dengan reverse transcriptase, suatuenzim viral yang penting. Enzim tersebut sangat esensial untuk HIV dalammemasukan materi turunan kedalam sel–sel. Obat–obatan NNRTI termasuk:Nevirapine, delavirdine (Rescripta), efavirenza (Sustiva).3. Protease Inhibitors (PI) mengtargetkan protein protease HIV danmenahannya sehingga suatu virus baru tidak dapat berkumpul pada sel tuanrumah dan dilepaskan. Pencegahan perpindahan dari ibu ke anak (PMTCT): seorang wanita yangmengidap HIV(+) dapat menularkan HIV kepada bayinya selama masakehamilan, persalinan dan masa menyusui. Dalam ketidakhadiran dari intervensipencegahan, kemungkinan bahwa bayi dari seorang wanita yang mengidapHIV(+) akan terinfeksi kira–kira 25%–35%. Dua pilihan pengobatan tersediauntuk mengurangi penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak. Obat–obatan tersebutadalah:1. Ziduvidine (AZT) dapat diberikan sebagai suatu rangkaian panjang dari 14–28 minggu selama masa kehamilan. Studi menunjukkan bahwa hal inimenurunkan angka penularan mendekati 67%. Suatu rangkaian pendekdimulai pada kehamilan terlambat sekitar 36 minggu menjadi 50%penurunan. Suatu rangkaian pendek dimulai pada masa persalinan sekitas1313
  14. 14. 38%. Beberapa studi telah menyelidiki pengunaan dari Ziduvidine (AZT)dalam kombinasi dengan Lamivudine (3TC)2. Nevirapine: diberikan dalam dosis tunggal kepada ibu dalam masapersalinan dan satu dosis tunggal kepada bayi pada sekitar 2–3 hari.Diperkirakan bahwa dosis tersebut dapat menurunkan penularan HIV sekitar47%. Nevirapine hanya digunakan pada ibu dengan membawa satu tabletkerumah ketika masa persalinan tiba, sementara bayi tersebut harusdiberikan satu dosis dalam 3 hari. Post–exposure prophylaxis (PEP) adalah sebuah program dari beberapa obatantiviral, yang dikonsumsi beberapa kali setiap harinya, paling kurang 30 hari,untuk mencegah seseorang menjadi terinfeksi dengan HIV sesudah terinfeksi,baik melalui serangan seksual maupun terinfeksi occupational. Dihubungankandengan permulaan pengunaan dari PEP, maka suatu pengujian HIV harusdijalani untuk menetapkan status orang yang bersangkutan. Informasi danbimbingan perlu diberikan untuk memungkinkan orang tersebut mengerti obat–obatan, keperluan untuk mentaati, kebutuhan untuk mempraktekan hubunganseks yang aman dan memperbaharui pengujian HIV. Antiretroviralsdirekomendasikan untuk PEP termasuk AZT dan 3TC yang digunakan dalamkombinasi. CDC telah memperingatkan mengenai pengunaan dari Nevirapinesebagai bagian dari PEP yang berhutang pada bahaya akan kerusakan pada hati.Sesudah terkena infeksi yang potensial ke HIV, pengobatan PEP perlu dimulaisekurangnya selama 72 jam, sekalipun terdapat bukti untuk mengusulkan bahwalebih awal seseorang memulai pengobatan, maka keuntungannya pun akanmenjadi lebih besar. PEP tidak merekomen dasikan proses terinfeksi secarabiasa ke HIV/AIDS sebagaimana hal ini tidak efektif 100%; hal tersebut dapatmemberikan efek samping yang hebat dan mendorong perilaku seksual yangtidak aman.2.9. Konsep Asuhan Keperawatan1414
  15. 15. A. Pengkajian1. Biodata Klien2. Riwayat PenyakitJenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifatkelainan imun. Umur kronologis pasien juga mempengaruhiimunokompetens. Respon imun sangat tertekan pada orang yang sangatmuda karena belum berkembangnya kelenjar timus. Pada lansia, atropikelenjar timus dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Banyakpenyakit kronik yang berhubungan dengan melemahnya fungsi imun.Diabetes meilitus, anemia aplastik, kanker adalah beberapa penyakit yangkronis, keberadaan penyakit seperti ini harus dianggap sebagai factorpenunjang saat mengkaji status imunokompetens pasien. Berikut bentukkelainan hospes dan penyakit serta terapi yang berhubungan dengankelainan hospes : Kerusakan respon imun seluler (Limfosit T )Terapi radiasi, defisiensi nutrisi, penuaan, aplasia timik, limfoma,kortikosteroid, globulin anti limfosit, disfungsi timik congenital. Kerusakan imunitas humoral (Antibodi)Limfositik leukemia kronis, mieloma, hipogamaglobulemia congenital,protein liosing enteropati (peradangan usus)3. Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Subyektif)a) Aktifitas / Istirahat- Gejala : Mudah lelah,intoleran activity,progresi malaise,perubahanpola tidur.- Tanda : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologiaktifitas ( Perubahan TD, frekuensi Jantun dan pernafasan ).b) Sirkulasi- Gejala : Penyembuhan yang lambat (anemia), perdarahan lama padacedera.1515
  16. 16. - Tanda : Perubahan TD postural,menurunnya volume nadi perifer,pucat / sianosis, perpanjangan pengisian kapiler.c) Integritas dan Ego- Gejala : Stress berhubungan dengan kehilangan,mengkuatirkanpenampilan, mengingkari doagnosa, putus asa,dan sebagainya.- Tanda : Mengingkari,cemas,depresi,takut,menarik diri, marah.d) Eliminasi- Gejala : Diare intermitten, terus menerus, sering dengan atau tanpakram abdominal, nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi- Tanda : Feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah, diare pekatdan sering, nyeri tekan abdominal, lesi atau abses rectal, perianal,perubahan jumlah, warna dan karakteristik urine.e) Makanan / Cairan- Gejala : Anoreksia, mual muntah, disfagia- Tanda : Turgor kulit buruk, lesi rongga mulut, kesehatan gigi dangusi yang buruk, edemaf) Hygiene- Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS- Tanda : Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.g) Neurosensoro- Gejala : Pusing, sakit kepala, perubahan status mental,kerusakanstatus indera,kelemahan otot,tremor,perubahan penglihatan.- Tanda : Perubahan status mental, ide paranoid, ansietas, refleks tidaknormal,tremor,kejang,hemiparesis,kejang.h) Nyeri / Kenyamanan- Gejala : Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala,nyeri dadapleuritis.- Tanda : Bengkak sendi, nyeri kelenjar,nyeri tekan,penurunan rentangerak,pincang.i) Pernafasan1616
  17. 17. - Gejala : ISK sering atau menetap, napas pendek progresif, batuk,sesak pada dada.- Tanda : Takipnea, distress pernapasan, perubahan bunyi napas,adanya sputum.j) Keamanan- Gejala : Riwayat jatuh, terbakar,pingsan,luka,transfusedarah,penyakit defisiensi imun, demam berulang,berkeringat malam.- Tanda : Perubahan integritas kulit,luka perianal / abses, timbulnyanodul, pelebaran kelenjar limfe, menurunya kekuatan umum,tekanan umum.k) Seksualitas- Gejala : Riwayat berprilaku seks dengan resiko tinggi, menurunnyalibido, penggunaan pil pencegah kehamilan.- Tanda : Kehamilan,herpes genetalia.l) Interaksi Sosial- Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis, isolasi, kesepian,adanya trauma AIDS.- Tanda : Perubahan interaksi.4. Pemeriksaan Diagnostika) Tes LaboratoriumTelah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masihbersifat penelitian. Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untukmendiagnosis Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantauperkembangan penyakit serta responnya terhadap terapi HumanImmunodeficiency Virus (HIV) Serologis- Tes antibody serum1717
  18. 18. Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA.Hasil tes positif, tapi bukan merupakan diagnosa- Tes blot westernMengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus (HIV)- Sel T limfositPenurunan jumlah total- Sel T4 helperIndikator system imun (jumlah <200>- T8 ( sel supresor sitopatik )Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada selhelper ( T8 ke T4 ) mengindikasikan supresi imun.- P24 ( Protein pembungkus HIV)Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresiinfeksi- Kadar IgMeningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal ataumendekati normal- Reaksi rantai polimeraseMendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi selperifer monoseluler.- Tes PHSKapsul hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin positif Neurologis- EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan saraf)- Tes Lainnya- Sinar X dada- Menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCP tahaplanjut atau adanya komplikasi lain- Tes Fungsi Pulmonal1818
  19. 19. - Deteksi awal pneumonia interstisial- Skan Gallium Ambilan difusi pulmonal terjadi pada PCP danbentuk pneumonia lainnya.- Biopsis- Diagnosa lain dari sarcoma Kaposi- Bronkoskopi / pencucian trakeobronkial Dilakukan dengan biopsypada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru Tes AntibodiJika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus(HIV), maka system imun akan bereaksi dengan memproduksiantibody terhadap virus tersebut. Antibody terbentuk dalam 3 – 12minggu setelah infeksi, atau bisa sampai 6 – 12 bulan. Hal inimenjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidakmemperlihatkan hasil tes positif. Tapi antibody ternyata tidak efektif,kemampuan mendeteksi antibody Human Immunodeficiency Virus(HIV) dalam darah memungkinkan skrining produk darah danmemudahkan evaluasi diagnostic. Pada tahun 1985 Food and DrugAdministration (FDA) memberi lisensi tentang uji kadar HumanImmunodeficiency Virus (HIV) bagi semua pendonor darah atauplasma. Tes tersebut, yaitu :- Tes Enzym – Linked Immunosorbent Assay ( ELISA)Mengidentifikasi antibody yang secara spesifik ditujukankepada virus Human Immunodeficiency Virus (HIV). ELISAtidak menegakan diagnosa AIDS tapi hanya menunjukkan bahwaseseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi HumanImmunodeficiency Virus (HIV). Orang yang dalam darahnyaterdapat antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) disebutseropositif.- Western Blot Assay1919
  20. 20. Mengenali antibody Human Immunodeficiency Virus(HIV) dan memastikan seropositifitas Human ImmunodeficiencyVirus (HIV)- Indirect ImmunoflouresencePengganti pemeriksaan western blot untuk memastikanseropositifitas.- Radio Immuno Precipitation Assay ( RIPA )Mendeteksi protein dari pada antibody.B. Diagnosa Keperawatan1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi danpola hidup yang beresiko.2. Resiko tinggi penularan infeksi pada bayi berhubungan dengan adanyakontak darah dengan bayi sekunder terhadap proses melahirkan.3. Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan output cairanberlebih sekunder terhadap diare4. Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan, pertukaran oksigen,malnutrisi, kelelahan.5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan denganintake yang kurang, meningkatnya kebutuhan metabolic, dan menurunnyaabsorbsi zat gizi.6. Tidak efektif koping keluarga berhubungan dengan cemas tentangkeadaan yang orang dicintai.2020
  21. 21. C. Rencana KeperawatanNo DiagnosaTujuan dan KriteriahasilIntervensi Rasional1 Resiko tinggi infeksiberhubungan denganimunosupresi, malnutrisidan pola hidup yangberesiko.Pasien akan bebasinfeksi setelahdilakukan tindakankeperawatan selama3×24 jam dengankriteria hasil:- Tidak ada luka ataueksudat.- Tanda vital dalambatas normal(TD=110/70, RR=16-24, N=60-100, S=36-37)- Pemeriksaan leukositnormal (6000-10000)1. Monitor tanda-tandainfeksi baru.2. gunakan teknik aseptikpada setiap tindakan invasif.Cuci tangan sebelummeberikan tindakan.3. Anjurkan pasien metodamencegah terpapar terhadaplingkungan yang patogen.4. Kumpulkan spesimenuntuk tes lab sesuai order.5. Atur pemberianantiinfeksi sesuai order1. Untuk pengobatan dini2. Mencegah pasien terpaparoleh kuman patogen yangdiperoleh di rumah sakit.3. Mencegah bertambahnyainfeksi4. Meyakinkan diagnosisakurat dan pengobatan5. Mempertahankan kadardarah yang terapeutik2 Resiko tinggi infeksi(kontak pasien)berhubungan dengan infeksiHIV, adanya infeksinonopportunisitik yangdapat ditransmisikan.Infeksi HIV tidakditransmisikan setelahdilakukan tindakankeperawatan selama3×24 jam dengankriteria hasil:- kontak pasien dan tim1. Anjurkan pasien atauorang penting lainnyametode mencegah transmisiHIV dan kuman patogenlainnya.2. Gunakan darah dancairan tubuh precaution bial1. Pasien dan keluarga maudan memerlukaninformasikan ini2. Mencegah transimisi infeksiHIV ke orang lain21
  22. 22. kesehatan tidakterpapar HIV- Tidak terinfeksipatogen lain sepertiTBC.merawat pasien. Gunakanmasker bila perlu.3 Resiko tinggi defisit volumecairan berhubungan denganoutput cairan berlebihsekunder terhadap diareDefisit volume cairandapat teratasi setelahdilakukan tindakankeperawatan selama1×24 jam dengancriteria hasil:- perut lunak- tidak tegang- feses lunak, warnanormal- kram perut hilang,1. Kaji konsistensi danfrekuensi feses dan adanyadarah.2. Auskultasi bunyi usus3. Atur agen antimotilitasdan psilium (Metamucil)sesuai order4. Berikan ointment A danD, vaselin atau zinc oside1. Mendeteksi adanyadarah dalam feses2. Hipermotiliti mumnyadengan diare3. Mengurangi motilitasusus, yang pelan,emperburuk perforasi padaintestinal4. Untuk menghilangkandistensiD. ImplementasiDidasarkan pada diagnosa yang muncul baik secara aktual, resiko, atau potensial. Kemudian dilakukan tindakankeperawatan yang sesuai berdasarkan NCP.E. EvaluasiDisimpulkan berdasarkan pada sejauh mana keberhasilan mencapai kriteria hasil, sehingga dapat diputuskan apakahintervensi tetap dilanjutkan, dihentikan, atau diganti jika tindakan yang sebelumnya tidak berhasil2222
  23. 23. 2323
  24. 24. BAB IIIPENUTUP3.1. KesimpulanHIV ( Human immunodeficiency Virus ) adalah virus pada manusia yangmenyerang system kekebalan tubuh manusia yang dalam jangka waktu yang relatiflama dapat menyebabkan AIDS. Penyebab infeksi adalah golongan virus retro yangdisebut human immunodeficiency virus (HIV). Cara penularan HIVmelakukanpenetrasi seks, melalui darah yang terinfeksi, dengan mengunakan bersama jarumuntuk menyuntik obat bius dengan seseorang yang telah terinfeksi, wanita hamil.Penularan secara perinatal terjadi terutama pada saat proses melahirkan, karenapada saat itu terjadi kontak secara lansung antara darah ibu dengan bayi sehinggavirus dari ibu dapat menular pada bayi.Kelompok resiko tinggi: lelaki homoseksual atau biseks, orang yang ketagianobat intravena, partner seks dari penderita AIDS, penerima darah atau produk darah(transfusi), bayi dari ibu/bapak terinfeksi. Gejala mayor infeksi HIV adalah BBmenurun lebih dari 10% dalam 1 bulan, diare kronik yang berlangsung lebih dari 1bulan, penurunan kesadaran dan adanya gangguan neurologis, demensia / HIVensefalopati. Gejala minor: batuk menetap lebih dari 1 bulan, dermatitis generalist,adanya herpes zoster yang berulang, kandidiasis orofaringeal, herpes simplexkronik progresif, limfadenopati generalist,infeksi jamur berulang pada kelamin wanita, retinitis cytomegalovirus.3.2. SaranDengan dibuatnya makalah HIV pada ibu hamil ini, diharapkan nantinyaakan memberikan manfaat bagi para pembaca terutama pemahaman yang24
  25. 25. berhubungan dengan bagaimana melakukan sebuah proses asuhan keperawatanmaternitas terutama pada ibu hamil yang juga menderita HIV.DAFTAR PUSTAKACarpenito, Lynda Juall. 2006. Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGCDoengoes, Marilynn, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan ; Pedoman untukPerencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, alih bahasa : IMade Kariasa dan Ni Made S, EGC, JakartaKuswayan. 2009. Apa itu HIV/AIDS?. http://www.kswann.com/WhatisHIVAIDS.pdf.Lamongan, 10 Desember 2010. 13.00 WIB (access online)Yati, Ida. 2010. AIDS pada ibu hamil. http://www.docstoc.com/docs/. Lamongan, 10Desember 2010. 13.10 WIB (access online)Administrator. 2010. Pencegahan dan Penatalaksanaan Infeksi HIV (AIDS) padakehamilan. http://www.mkb-online.org/. Lamongan, 10 Desember 2010. 13.30WIB (access online)2525
  26. 26. 26

×