Ketentuan islam tentang hukum keluarga
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Ketentuan islam tentang hukum keluarga

on

  • 695 views

 

Statistics

Views

Total Views
695
Views on SlideShare
695
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
62
Comments
1

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Ketentuan islam tentang hukum keluarga Ketentuan islam tentang hukum keluarga Presentation Transcript

  • Oleh :Kelompok 4Fadhila AmalinaGalang Gumilar A.Sri NurhidayatiYulia Fauzi
  • 1. Pengertian Kata dasar pernikahan adalah nikah. Kata nikah memilikipersamaan dengan kata kawin. Dalam bahasa Indonesia, nikahberati berkumpul atau bersatu. sedangkan dalam istilah syari’at,nikah adalah melakukan suatu akad atau perjanjian untukmengikatkan diri antara seorang laki-laki dan seorang perempuanserta menghalalkan hubungan kelamin antara keduanya dengandasar sukarela dan persetujuan bersama demi terwujudnyakeluarga(rumah tangga) bahagia, yang diridhai Allah SWT.
  • 2. Hukum Nikah Menurut sebagian bessar ulama, hukum nikah padadasarnya adalah mubah. Namun jika ditinjau dari segi kondisiorang yang akan melakukannya maka hukum nikah dapatberubah menjadi Sunnah Wajib Makruh Haram
  • 3. Tujuan Pernikahan Untuk memperoleh rasa cinta dan kasih sayang Untuk memperoleh ketenangan hidup Untuk memenuhi kebutuhan seksual (birahi) secara sah dan diridhai Allah Untuk memperoleh keturunan yang sah dalam masyarakat Untuk mewujudkan keluarga bahagia di dunia dan akhirat
  • 4. Rukun Nikah Ialah ketentuan-ketentuan dalam pernikahan yang harusdipenuhi agar pernikahan itu sah, yaitu :  Ada calon suami  laki-laki yang sudah berusia dewasa (19 thn), beragama islam, tidak dipaksa/terpaksa, tidak sedang dalam ihram haji atau umrah dan bukan mahram calon istrinya.  Ada calon istri  wanita cukup umur (16 thn), bukan perempuan musyrik, tidak dalam ikatan perkawinan dengan orang laim, bukan mahram bagi calon suami, tidak dalam ihram haji atau umrah
  • Lanjutan …. Ada Wali nikah  yaitu orang yang menikahkan mempelai laki-laki dengan mepelai wnaita atau mengizinkan pernikahannya. Wali nikah dibagi menjadi 2 macam : 1. Wali Nasab  yaitu wali yang mempunyai pertalian darah dengan mempelai wanita yang akan dinikahkan. 2. Wali hakim  yaitu kepala kantor urusan agama islam yang berada disetiap kecamatan  Ada dua orang saksi  Ada akad nikah yakni ucapan ijab kabul
  • 5. Muhrim Adalah wanita yang haram dinikahi, yaitu : a. Karena keturunan  ibu kandung, anak perempuan kandung, saudara perempuan kandung, saudara perempuan dari bapak atau ibu, anak perempuan dari saudara laki-laki maupun saudara perempuan. b. Karena hubungan sesusuan  ibu yang menyusui dan saudara perempuan sesusuan. c. Karena perkawinan  ibu dari istri (mertua), anak tiri, ibu tiri dan menantu. d. Karena mempunyai pertalian muhrim dengan istri.
  • 6. Kewajiban Suami Istri • Kewajiban Suami • Memberi nafkah • Memimpin serta membimbing istri dan anak-anaknya • Bergaul dengan istri dan anak-anak dengan baik • Memelihara istri dan anak dari bencana • Membantu istri dalam tugas sehari-hari • Kewajiban Istri • Taat pada suami • Memelihara diri serta kehormatan dan harta benda suami • Membantu suami dalam memimpin kesejahteraan dan keselamatan keluarganya • Menerima dan menghormati pemberian suami walaupun sedikit • Hormat dan sopan kepada suami • Memelihara, mengasuh, dan mendidik anak agar menjadi anak yang soleh.
  • 7. Perceraian Ialah pemutusan ikatan perkawinanantara suami dan istri yang biasanyasisebabkan perselisihan atau pertengkaaransuami-istri yang sudah tidak dapatdidamaikan lagi. Hal-hal yang dapatmemutskan ikatan perkawinan adalah :a. meninggalnya salah satu pihak suami atau istri,b. talak,c. fasakh,d. khulu,e. li’an,f. ila’,g. zihar.
  • 8 ‘Iddah ‘Iddah berarti masa menunggu bagi istri yang ditinggalmati atau bercerai dari suaminya untuk dibolehkan menikahkembali dengan laki-laki lain. Lama masa ‘iddah adalah sebagaiberikut :a) ‘Iddah karena suami wafat Bagi istri yang tidak sedang hamil, baik sudah campur dengan suaminya yang sudah wafat atau belum, masa’iddahnya 4 bulan sepuluh hari, sesuai firman Allah dalam QS. Al-Baqarah 2:234 Bagi istri yang sedang hamil, masa ‘iddahnya sampai ia melahirkan, sesuai dengan Al-Qur’an QS. At-Talaq 65:4
  • Lanjutan…b) ‘Iddah karena talak, fasakh, dan khulu’ Bagi istri yang belum campur dengan suaminya yang barusaja bercerai dengannya tidak ada masa iddah, sesuai dalam QS.Al-Ahzab 33:49 Bagi istri yang sudah campur, masa ‘iddahnya adalah :o Bagi yang masih mengalami menstruasi, masa ‘iddahnya3 Kali suci, tercantum dalam QS. Al-Baqarah 2:338o Bagi istri yang tidak mengalami menstruasi, ,asa iddahnya3 bulan tercantum dalam QS.At-Talaq 65:4o Bagi istri yang sedang mengandung, masa ‘iddahnyasampai ia melahirkan kandungannya, ketentuan berdasarkan QS.At-Talaq 65:4
  • 9 Rujuk Rujuk berarti kembali, yaitu kembalinya suami kepadaikatan nikah dengan istrinya sebagaimana semula, selama istrinyamasih berada dalam masa ’iddah raj’iyah.Hukum rujuk :1) Sunah 2) Wajib 3) Makruh 4)HaramRukun rujuk ada empat macam, yaitu :1) Istri sudah bercampur dengan suami yang mentalaknyadan masih berada pada masa ‘iddah raj’iyah2) Keinginan rujuk suami atas kehendak sendiri3) Ada dua orang saksi yaitu dua orang laki-laki yang adil4) Ada sigat atau ucapan rujuk.
  • Fuqaha (ulama fiqih) menjelaskan tentang hikmah-hikmahpernikahan yang islami , yaitu :1) Memenuhi kebutuhan seksual dngan cara yang diridhaiAllah(cara yang islami)dan menghindari cara yang dimurkai Allahseperti perzinahan atau homoseks(gay dan lesbian)2) Penikahan merupakan cara yang benar, baik dan dan diridhaiAllah untuk memmperoleh anak serta mengembangkan keturunan yangsah.3) Melalui pernikahan, suami-istri dapat memupuk rasa tanggungjawab membaginya dalam rangka memelihara, mengasuh dan mendidikanak-anaknya.4) Menjalin hubungan silaturahmi antara keuarga suami dankeluarga istri.
  • Perundang-undangan perkawinan di Indonesia bersumber kepadamenteri republic Indonesia nomor 154 1991 tentang PelaksanaanInstruksi Presiden Republik Indonesia nomor 1 tahun 1991tanggal 10 Juni 1991 mengenai kompilasi hukum islam dibidanghokum perkawinan.
  • III.1 Pengertian dan Tujuan Perkawinan Dalam pasal 2 dan pasal 3 dari kompilasi hokum islamdibidang hokum perkawinan dijelaskan bahwa pengertianperkawinan menurut hokum islam adalah pernikahan yaitu akadyang sangat kuat atau misaqan gamizan untuk mentaati perintahAllah dan melaksankannya merupakan ibadah. Sedangkan tujuanperkawinan ialah mewujudkan rumah tangga yang sakinahmawdah dan warahmah.III.2 Sahnya Perkawinan Dalam pasal 4 dari kompilasi hokum islam dibidanghokum perkawinan dijelaskan bahwa perkawinan adalah sahapabila dilakukan menurut hokum islam sesuai dengan pasal 2ayat (1) UUD RI no.1 tahun 1974 tentang perkawinan, yangmenegaskan perkawinan adalah sah apabila dilakukan menuruthokum masing-masing agamanya dan kepercayaan agamanya itu.
  • III.3 Pencatatan PerkawinanDalam pasal 5 dan 6 kompilasi hokum islam dibidang hokum perkawinandijelaskan:o Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat islam setiapperkawinan harus dicatato Pencatatan perkawinan dilakukan oleh pegawai pencatatnikah(Kantor Urusan Agama Kecamatan dimana calon mempelai temapattinggal)III.4 Akta Nikah Akta nikah atau surat nikah adalah surat yang dibuat pegawai nikahyakni KUA Kecamatan tempat diolangsungkannya pernikahan yangmenerangkan bahwa pada hari, tanggal, bulan , tahun dan jam telah terjadiakad nikah antara : seorang laki-laki, dengan seorang perempuan dan yangmenjadi wali nikah (dituliskan nama, tanggal dan tempat lahir, pekerjaan dantempat tinggal).
  • III.5 Kawin Hamil Dalam pasal 53 ayat (1),(2), dan (3) dari kompilasi hokumislam dibidang hokum perkawinan dijelaskan :• Seorang wanita hamil diluar nikah dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya• Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya• Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandungnya lahir.
  • Terima Kasih