• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Menelusuri budaya sunda di rawa bogo
 

Menelusuri budaya sunda di rawa bogo

on

  • 1,995 views

Tradisi di Rawa Bogo dan petualangan saya disana :D

Tradisi di Rawa Bogo dan petualangan saya disana :D

Statistics

Views

Total Views
1,995
Views on SlideShare
1,994
Embed Views
1

Actions

Likes
0
Downloads
23
Comments
0

1 Embed 1

http://www.docseek.net 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Menelusuri budaya sunda di rawa bogo Menelusuri budaya sunda di rawa bogo Document Transcript

    • Laporan Hasil Gladi Budaya MENELUSURI BUDAYA SUNDA DI RAWABOGO Laporan Deskriptif Dibuat dan disusun sebagai Tugas Akhir Mata Kuliah Pancasila Semester Genap 2012 dibuat oleh: FAZMI YUSEPA 2010320101 Kelas : E Program S-1 Jurusan Ilmu Administrasi Bisnis UNIVERSITAS KATHOLIK PARAHYANGAN BANDUNG 2012
    • Menelusuri Budaya Sunda di Rawabogo KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainyapenulisan laporan ilmiah ini. Makalah yang berjudul “Menelusuri Budaya Sunda di Rawo Bogo” dibuat untukmemenuhi Tugas Akhir Semester Genap 2012 Mata Kuliah Pancasila. Dalam penulisan makalah ini penulis menemui berbagai kendala seperti kunjungan kelokasi yang sulit dijangkau dan fisik saya yang tidak begitu kuat turun dan naik gunung yangsangat “LUAR BIASA” melelahkannya. Hal yang menjadi kendala lainnya yaitu saya tidakbisa mencoba semua tempat yang ada disetiap tempat dan saya hanya bisa mendengarkan apakata sharing dari teman saya yang merasakannya. Saya juga tidak begitu mengerti bahasasunda yang sangat lemas dan sopan seperti yang dipakai dalam kehidupan sehari- hari disanasehingga saya tidak begitu mengerti semua penjelasan dari Bapa Undang yang selama initelah membantu saya dan rekan- rekan lainnya dalam menjelaskan makna dari kehidupanyang ada disana. Dalam membuat makalah ini, saya membutuhkan beberapa hari sehinggatidak bisa saya jelaskan semua yang saya ingin tulis secara detail. Semua kendala dapat teratasi karena adanya bantuan dari berbagai pihak seperti BapaUndang yang merupakan sepuh disana, sudah berbaik hati mau berbicara dengan bahasaIndonesia walaupun masih campur sari dengan sunda. Ada para Bapa Dosen Pembimbingyang sudah membantu mentranslate juga dan Ibu yang ada di rumah pondok saya juga sudahmau bercerita sedikit dengan saya. Maka saya bisa menyimpulkan sendiri apa yang akan sayatulis dalam laporan ini untuk berbagi pengalaman saya selama disana. Serta pemaknaan darisemua simbol- simbol yang ada disana. Ucapan terima kasih penulis lontarkan untuk semua pihak yang telah memberikanbantuan kepada kami dalam pembuatan makalah ini, seperti pihak- pihak : (1) Pak Andreas Doweng Bolo, yang telah memberikan saya “mau tidak mau” mengikuti Gladi ini 2
    • Menelusuri Budaya Sunda di Rawabogo (2) Pak Aryo Atedjo, yang sudah menjadi pembimbing kelompok satu walaupun suka “kabur entah kemana” tapi Beliau cukup membuat saya merasa tidak bosan karena suka melawak setiap bertemu (3) Pak Oscar, yang telah memberikan saya air minum ketika saya kecapaian walupun sampai sekarang saya masih tidak enak hati (4) Dosen- dosen pembimbing yang menjadi tim Gladi Budaya (5) Kakak- kakak asisten yang sudah membantu saya dalam segala hal mulai dari membangunkan tidur dan sebagainya (6) Pak Undang dan warga disana yang sudah membantu saya memberikan arahan dan memaknai simbol- simbol yang ada (7) Ibu Leah yang berbaik hati membiarkan saya dan beberapa rekan- rekan perempuan saya menginap di rumahnya (8) Serta semua pihak yang sudah bergabung dalam gladi budaya ini, dan tentunya teman- teman kelompok saya, kelompok satu Tentunya, dalam penulisan makalah ini terdapat kekurangan. Oleh karena itu, denganlapang dada dan sikap terbuka penulis bersedia menerima segala kritik dan saran khususnyadari pihak pembaca semata- mata demi kesempurnaan isi laporan deskriptif ini. Semoga makalah ini dapat berguna untuk pemerintah dan semua kalangan masyarakatserta kalangan pelajar lainnya agar bisa terus menanamkan budaya kita, budaya Indonesiayang kaya akan makna dan bukan hanya simbol semata. Demikianlah kata pengantar ini dibuat dengan diakhiri “Ilmu yang kita peroleh akanlebih bermanfaat jika kita kembangkan dan salurkan kepada orang lain”. Bandung, 23 April 2011 Penulis 3
    • Menelusuri Budaya Sunda di Rawabogo I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Latar belakang dalam pembuatan makalah ini adalah saya ingin sharing mengenaipengalaman setelah mengikuti gladi budaya yang diadakan pada tanggal 27-29 April 2011 diDesa Rawa Bogo. Dalam gladi budaya itu sendiri juga bertujuan untuk membawa pesertanyamenelusuri budaya yang hampir punah ditelan waktu. Dan membawa kembali pada asal atauakar identitas kita sebagai manusia yang beradab. Asal atau akar tidak hanya dinyatakandalam data- data KTP. Lebih mendalam lagi, asal dan akar identitas diri kita dimuat didalamadat istiadat dan tradisi. Lebih tepat lagi adat atau tradisi itu diungkapkan melalui simbol,tatakrama, atau kebiasaan- kebiasaan, upacara ritual, kesenian, dan melalui penentuan apayang boleh atau tidak boleh dilakukan (pamali), dan sebagainya. Simbol, tatakrama, kesenian, dan sebagainya tersebut sebenarnya mengacu ataubersumber kepada nilai- nilai kehidupan. Nilai- nilai inilah yang disebut “asal dan akar”keberadaaan kita sebagai manusia, dan kemudian disebut dengan istilah “kearifan lokal”.Penyadaran kita akan nilai- nilai ini menentukan sikap, perilaku, dan perkembangan diri kitajuga dikemudian hari. Karena itu, nilai- nilai ini diajarkan sejak kita lahir supaya kitamenyadari diri sebagai individu yang berelasi dengan sesama makhluk dan lingkungan dankarena itu, kita unik. Dari gladi ini, banyak sekali hal- hal yang sudah lama tidak pernah saya lihatsebelumnya dan diperlihatkan kembali nilai- nilai dari budaya sunda yang masih tersisa dizaman yang saat ini. Saya tidak akan pernah menyesal mengikuti gladi ini karena dalam pengalaman sayakali ini, banyak sekali nilai- nilai baru yang yang diajarkan oleh warga disana serta perjalananmenuju NAGARA PADANG. Banyak hal- hal yang saya sadari setelah mengikuti gladi inidan banyak pula yang ingin saya tuliskan dalam makalah ini. 4
    • Menelusuri Budaya Sunda di Rawabogo 1.2. Situasi dan Lokasi Lokasi Gladi yang dipilh yaitu Kampung Ciparigi, Desa Rawabogo, kecamatanCiwidey, Kabupaten Bandung. dekat dengan kampung ini terdapat “napak tilas” atauperziarahan yang biasa dilakukan oleh warga setempat dan orang- orang dari sekitarkabupaten Bandung, bahkan dari luar jawa. Tempat ini diberi nama Nagara Padang, atauGunung Padang. Tepatnya, situs ini terletak di Pasir Pampiran (1400 m). Situs “napak tilas”ini menjadi sarana internalisasi nilai- nilai kehidupan. Tempat ini juga mengingatkan padatiap orang yang datang berdoa bahwa kita pun memiliki jalan dan tujuan hidup, sesuatu yangdijalani dan ingin kita raih. Perjalanan hidup dan tujuan hidup yang disertai dengan kearifanlokalitulah yang akan membantu kita mewujudkan pribadi yang empati dan solider dengansesama makhluk dan lingkungan, unik, konsisten, dan berani untuk hidup. Acara gladi ini dimulai dari tanggal 27-29 April 2012 dengan jumlah peserta yangkurang lebih 50 orang. Suasana pada di desa Rawabogo ini masih sangat alami. Kanan, kiri,serta belakang rumah penduduk itu masih banyak sekali sawah dan pepohonan yang rindang.Cuaca disana juga sangat cerah dan dingin sekali. Pada malam kedua menginap disana jugasempat turun hujan deras dan sempat menghambat acara juga. Udara disana juga masihsangat asri dan dingin. Teman- teman kelompok saya dan kawan- kawan lainnya juga sangatmudah diajak kerjasama sehingga kami mudah akrab. Sepanjang saya menginap disana,kebersamaan kami juga sangat terasa seperti keluarga. Saling gotong royong, membantu, danmencoba saling mengerti kondisi satu dengan yang lainnya. Selama disana, saya merasa seperti kembali ke kehidupan dimasa lalu. Dimana sayaharus tidur tanpa kasur, saling berebut selimut dengan teman saya, dan mengantri jika inginke kamar mandi. Apalagi kami juga harus bergantian menjaga kamar mandi yang bisa terlihatdari luar. Kamar mandinya hanya bisa menutupi sebagian badan kami saja jadi pada saatkami mandi, saya harus berjongkong dan bahkan untuk mengurangi antrian, kami bersediamandi ramai- ramai dalam satu kamar mandi dan yang ngantri lainnya berjaga di luar. Ada yang menarik perhatian saya selama disana, anak- anak kecil yang ada disanajuga sangat baik sekali. Ketika saya ajak berbicara, mereka mengungkapkan sedikit tentangkehidupan mereka, sekolah, rumah, dan impian mereka serta kondisi keluarganya. Ibu Leahjuga sedikit bercerita mengenai kondisi desa disana dan kehidupan mereka sehari- hari. Dandari motivasi itulah saya bisa bertahan melalui hari- hari saya yang sungguh “luar biasa” 5
    • Menelusuri Budaya Sunda di Rawabogodisana. Apalagi saya juga bisa bertemu dengan banyak orang yang berbeda- beda sifat.Bertemu dengan berbagai sisi kehidupan yang saat ini hampir kita lupakan. Menurut saya, itusemua sungguh sayang jika kita lewatkan dalam kehidupan kita. Foto 1 : anak- anak di rumah Ibu Leah 6
    • Menelusuri Budaya Sunda di Rawabogo II. FENOMENA BUDAYA SUNDA YANG ADA DI RAWO BOGO Fenomena budaya yang terjadi disana adalah budaya yang sangat khas sunda.Kebanyakan, kebudayaan itu berhubungan dengan ritual keagamaan dan simbol simbol yangmempunyai makna penting bagi orang yang mempercayainya. Dengan adanya acara GladiBudaya ini, kita diajak untuk merenungkan kembali nilai- nilai kehidupan ini dalam balutankesenian, simbol, dan upacara ritual dalam kebudayaan sunda. Tujuan kami sendiri untuk pergi kesana adalah “sesejarah” atau berjiarah. Dalam arti,kita pergi kesana untuk berjiarah atau berkunjung ke tempat- tempat suci yang menjadisimbol kepercayaan di daerah sana. Dimana kepercayaan tersebut merupakan salah satu cirikhas dari budaya Sunda yang hampir punah ditelan jaman. Untuk menuju kesana, kamimelewati beberapa tempat yang menurut Pak Undang, sepuh di desa Rawabogo, mempunyaimakna tersendiri hingga akhirnya kami sampai di desa tersebut. Perjalanan dari tempat berkumpul kami, UNPAR, hingga menuju desa Rawabogomenumpuh kira- kira 3 (tiga) jam lamanya. Walaupun sempat merasa kecewa karena ketidak-sesuaian rundown acara yang ada di diklat dengan aktualnya, kami cukup terhibur denganpemandangan disana dan sambutan dari para warga disana. Foto 2: Upacara penyambutan 7
    • Menelusuri Budaya Sunda di Rawabogo Setelah disambut dengan upacara penyambutan khas sunda tersebut, kami dibawa kerumah penduduk yang sudah berbaik hati membiarkan kami menginap disana. Bentukrumahnya sendiri masih sangat sederhana. Susunan rumah disana juga merupakan salah satuciri khas rumah orang sunda. Jadi rumah yang paling depan itu biasanya ditempati olehkepala keluarga atau arang tua. Dan biasanya yang di belakang rumah utama itu rumah anak-anak dari kepala keluarga yang menempati rumah utama atau kerabatnya. Makanya, dalamsatu lingkungan tersebut, mereka masih berhubungan baik dan hidup bergotong royong danberbagi dengan yang lainnya. Dalam kehidupan sehari- hari, sebelum berbicara didepan umum, biasanya merekamengucapkan kata “SAMPURASUN” yang berarti mengucapkan maaf atau salam. Gunanyaadalah untuk mensejajarkan posisi pembicara dengan pendengarnya agar tidak ada yangmerasa dia lebih tinggi kedudukannya atau dia lebih rendah kedudukannya sehingga semuaposisi sama rata dan berbicara pun lebih terasa seperti berbicara kepada teman. Sedangkanjawaban dari kata itu adalah “SAMPES” yang artinya sampai, maksudnya adalah permintaanmaafnya telah tersampaikan dan orang yang ingin bicara bisa melanjutkan omongannya. Ada juga baju yang kami kenakan disana selama upacara adat berlangsung yaituuntuk laki- laki, baju dan celana serba hitam dengan memakai topi dari kain. Sedangkanperempuan, memakai atasan kebaya putih dan bawahan hitam. Makna dari pakaian ini dilihatdari warna hitamnya. Hitam dalam bahasa sunda berarti “hideung” yang berarti sudahdewasa. Dengan memakai baju tersebut berarti kita sudah siap dengan kehidupan kita dalamposisi dan kondisi apapun. Dan kedewasasan kita harus ditunjukan dalam kesiapan kita darimulai niat yang baik, kelakuan, dan perbuatan. Serta semua unsur yang menandakan kesiapankita seperti unsur ucapan kita sehari- hari. 8
    • Menelusuri Budaya Sunda di Rawabogo foto : baju adat Pada saat doa, Pak Undang dan warga disana menggunakan sesajen dan wangikemenyan. Selain itu juga, doa yang dilantunkan oleh Pak Undang dinyanyikan bagaikanlagu khas sunda dengan lantunan musik suling dan kecapi. Hal- hal seperti itu juga memilikimakna tersendiri. Pak Undang menjelaskan makna perjalanan kami ke tempat itu melewatiSoreang, yang berarti sumoreang, yaitu tekad untuk silaturahmi, lewat kabuyutan yaitu maubersilaturahmi ke orang tua, kakolot, kasepuhan. Melawati Sukawening yang berarti bersihhatinya. Dan Desa Rawabogo sendiri dari kata, Rawa dan bogoh yang berarti ngebukanyagunung padang. foto : ritual doa 9
    • Menelusuri Budaya Sunda di Rawabogo Pada saat pagelaran seni budaya juga, para warga menampilkan pertunjukan tarijaipongan dan kami dari unpar juga memberikan hiburan untuk para warga. Sungguh senangrasanya bisa saling menghibur satu sama lain. Tari- tarian jaipongan yang sudah jarang dilihatdi kota- kota besar. Yang ada malah street dance, hiphop dance, dan sebagainya. Pergeseranbudaya ini sungguh sangat disayangkan. Banyak hal yang diceritakan pak Undang dan makna dari seluruh pengalaman disanaadalah mengasah keteguhan hati dalam memilih jalan kehidupan yang ditandai oleh 17simbol yang ada di Nagara Padang atau Gunung Padang. Adapun alur yang harus kita laluiyaitu; (1) Batu lawang (2) Cai kahuripan (3) Pintu gerbang, kaca- kaca (4) Palawang ibu/ pamengku (5) Panyipuhan (6) Cermin satu adeg (7) Gedung peteng (8) Keraton (9) Kuta rungu (10) Mesjid agung (11) Bumi agung (12) Kursi gading (13) Simbol tugu (14) Lawang 7 (15) Leuwit 25 jajar (16) Kebeg (17) Puncak manikAdapun makna- makda dari ketujuh belas simbol itu akan saya jelaskan pada bab selanjutnya.Pada saat penutupan, masih ada hal yang berkesan, para penduduk yang ramah ini,memberikan kami pertunjukan tari jaipongan yang sudah lama tidak pernah saya lihat. Dankami juga memberikan pertunjukan dari masing- masing kelompok. Menurut saya, ini adalah 10
    • Menelusuri Budaya Sunda di Rawabogopenutupan acara yang sangat berkesan. Kami saling berbagi pengalaman dan informasi sertahiburan bersama- sama.foto : salah satu pertunjukan jaipong oleh penduduk lokalFoto : salah satu pertunjukan dari mahasiswa Unpar 11
    • Menelusuri Budaya Sunda di Rawabogo III. PEMBAHASAN MAKNA BUDAYA 1. Pengertian Budaya Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuahkelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yangrumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dankarya seni.[1] Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusiasehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorangberusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas.Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebardan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitanketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalahsuatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandanganatas keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalamberbagai budaya seperti "individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam"di Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Cina. Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya denganpedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapatdipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertaliandengan hidup mereka. Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koherenuntuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain. 12
    • Menelusuri Budaya Sunda di Rawabogo foto : kebudayaan sunda 2. Pengertian kebudayaan Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits danBronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalammasyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilahuntuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaansebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudiandisebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilaisosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, danlain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khassuatu masyarakat. Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks,yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adatistiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggotamasyarakat. Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasilkarya, rasa, dan cipta masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertianmengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan 13
    • Menelusuri Budaya Sunda di Rawabogomeliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalamkehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaanadalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupaperilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatanhidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untukmembantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. 3. Makna yang terkandung dari Nagara PadangAdapun makna dari perjalanan yang melewati 17 simbol tempat di nagara padang yaitu; (1) Batu lawang : gerbang menuju kehidupan. Jika dikaitkan dengan pengalaman manusia, ini bisa diartikan sebagai manusia yang baru lahir kedunia ini dan melakukan perjalanan dalam hidupnya dari masih kecil hingga puncak kehidupannya. foto : batu lawang (2) Cai kahuripan : artinya air kehidupan, memiliki maksud yaitu air kehidupan, air susu dari gunung diibaratkan seperti air suci dari seorang Ibu. Biasanya air ini dipakai untuk membasuh muka, tangan, mandi, bahkan dipakai minum. Air ini masih murni karena langsung dari dalam perut gunung dan sangat dingin. 14
    • Menelusuri Budaya Sunda di Rawabogo(3) Pintu gerbang/ kaca- kaca/ lawang saketeng : batas masuk ke wilayah nagara padang. Dalam memasuki gerbang ini, kita mempunyai dua pilihan, mau masuk dengan kaki kanan atau kaki kiri. Maknanya, kaki kiri melambangkan keburukan dan kaki kanan melambangkan kebaikkan. Jadi hendaklah memasuki pintu gerbang ini dengan menggunakan kaki kanan terlebih dahulu agar bisa membawa diri ini kejalan kebaikan. foto : pintu gerbang/ kaca- kaca(4) Palawang ibu/ pamengku : ada simbol- simbol keluar dari perut ibu, yang dipraktekkan dengan benda alam. Disini maknanya yaitu kita harus mengingat kembali masa- masa susah ibu kita untuk melahirkan kita. Dan kita juga sangat sulit untuk keluar dari perut ibu. Makanya kita harus menghargai perjuangan orang tua 15
    • Menelusuri Budaya Sunda di Rawabogo kita, khususnya Ibu yang telah melahirkan kita. Di tempat ini juga ada yang namanya batu paibuan. Batu paibuan ini dipercaya bisa membuat orang awet muda dan membuat orang panjang umur. foto : batu paibuan(5) Panyipuhan : tempat nyipuh, kalau kita saat ini mungkin bisa dikatakan temoat untuk menimba ilmu seperti sekolah, pesantren, atau perkuliahan. Tempat ini memiliki makna bahwa kita menimba ilmu itu penuh perjuangan yang ditandai dengan sebuah batu yang bisa dilewati manusia asalkan ia yakin akan kehidupannya. Saat melewati batu tersebut sangat sulit dan sempit. Begitu pula dengan ilmu, sangat sulit untuk didapatkan dan diperjuangkan. Oleh karenanya, kita harus menghargai kehidupan kita sekarang.(6) Cermin satu adeg : ketika ilmu kita sudah cukup dan terpenuhi segalanya, disini kita ditanya, akan dibawa kemana ilmu kita yang sudah diperoleh ini? Kejalan yang baik atau jelek? Makanya kita diminta untuk mengaca di tempat ini. Tapi kaca disini terbuat dari batu. Memang aneh, menurut penuturan teman saya, dia bisa melihat sesuatu dari cermin batu tersebut dan tiap orang yang mengalami di tempat itu, mengatakan berbeda- beda tentang apa yang mereka lihat dari cermin tersebut.(7) Gedung peteng : tempat ini berupa goa yang memiliki makna untuk menguji keteguhan hati dan keyakinan diri kita. Di tempat ini kita diminta untuk mengangkat sebuah batu yang berukuran sedang. Batu inilah yang menguji keyakinan diri kita dalam menempuh jalan hidup yang dipilih. Jika kita yakin, maka batu tersebut bisa terangkat. Jika kita tidak yakin akan kemampuan kita dalam menempuh jalan yang dipilih ataupun bimbang, maka batu tersebut akan sulit terangkat. Jadi walaupun sudah cukup ilmu dan kejalan yang baik tapi hati masih “peteng” atau gelap, jadi bisa diyakinkan jalannya. 16
    • Menelusuri Budaya Sunda di Rawabogo (8) Keraton : jika kita duduk disini, berarti kita sudah memiliki ilmu dan hati sudah terang, maka ditempat ini, kita bisa meminta kedudukan yang baik dan tinggi. (9) Kuta rungu : setelah memiliki kedudukan yang tinggi dan ilmu serta tekad, jangan sekali- kali kita melupakan orang yang dibawah kita. Walaupun sudah memiliki kedudukan, kita harus mendengar penderitaan rakyat kecil,jangan sampai mendengar cerita- cerita yang dapat menyesatkan kita. (10) Mesjid agung : coba lihat ke kiri dan kekanan kita. Sadar, sebab ciptaan Yang Maha Kuasa ini begitu indahnya. Harus lihat kebawah dan keatas juga. (11) Bumi agung : disini kita diminta berserah diri. (12) Ditempat ini juga ada yang namanya Kursi gading : semua sudah serba kecukupan, duduk disitu dengan dengan jabatan yang tinggi, cobalah lihat kiri dan kanan. (13) Simbol Tugu/ batu siliwangi : welas asih, silih wangi, rohman rohim. Disini bisa dilihat bekas jempol yang ada diatas sebuah tugu kecil. Sebab, jempol merupakan simbol untuk menunjuk kebaikan. (14) Lawang 7 : manusia lahir didunia ini tidak boleh mengambil hak milik orang lain. Misalkan orang yang lahir hari kamis, hanya boleh memiliki hak untuk hari kamis. (15) Leuwit 25 jajar : leuwit sendiri berarti tempat menyimpan padi. 2+5 = 7 adalah jumlah hari. Kalau dikaitkan dengan agama islam, hal ini berarti kita harus mengingat nama- nama 25 nabi yang wajib diketahui. (16) Padaringan kebeg : karena sudah berkecukupan jadi hidunya ringan sebab ada bahan untuk menempuh kehidupan. Padaringan berarti pada babari, gampang. Kebeg berarti tenang. (17) Puncak manik : bagaimanapun bentuk dan rupa serta kedudukan manusia, pada akhirnya akan meninggalkan dunia dengan cara yang sama yaitu kematian. Ada beberapa makna lain dalam kehidupan di desa Rawabogo yang masih kentaldengan budaya sunda. Pada saat melakukan doa, mereka menggunakan sesajen untukmemaknai kehidupan didunia ini. Sesajen/ seajan, sebahan yang artinya manusia ini samalahir dari turunan adam. Sedangkan kembang tujuh rupa, bermakna silih wangi. Hidup ini 17
    • Menelusuri Budaya Sunda di Rawabogoharus wangi/ harum. Sama- sama mengharumkan yang lainnya. Pak undang juga pernahmenyinggung hal yang menjadi ciri khas perjalanan kami ke nagara padang yaitu; (1) Maca tulisan (2) Maca lisan (3) Maca alam (4) Maca batu alamMaksud dari hal tersebut adalah kita harus mampu membaca tulisan dan membaca lisan.Lisan disini adalah mendengarkan apa yang pembicara bicarakan. Inti dari semuanya adalahkita harus mampu melihat seseirang tidak hanya dari tampilan luarnya tapi dari dalam hatinyajuga. Pepatahnya yang cocok untuk hal ini yaitu “don’t jugde a book by its cover”. Pada awalnya, orang yang memaknai semua simbol ini adalah orang Tunisia, yangbernama Sidiq Muhammad. Asal muasal kepercayaan ini bermula pada masa Hindu- Budhayang kental dengan kepercayaan animisme dan dinamisme sampai pada akhirnya penyebaranagama islam masuk ke desa ini dan diterima dengan baik. Oleh karenanya, simbol- simbolyang ada disana serta doa- doa yang dibacakan bernuansa agama islam atau di Indonesiaislam seperti ini dikenal dengan Islam Kejawen. 18
    • Menelusuri Budaya Sunda di Rawabogo IV. KESIMPULAN DAN SARAN a. Kesimpulan Pada hari terakhir sebelum kembali ke Kota Bandung, kami diminta untuk memaknaiperjalanan kami. Dan saya sendiri memaknai pengalaman dari perjalanan saya mendakigunung padang yang penuh perjuangan itu sebagai gambaran dari kehidupan manusia mulaidari lahir hingga akhirnya mati/ meninggal. Hal ini yang menurut saya perlu direnungikembali. Dalam perjalanan itu, sebagai manusia, ada kalanya kita bimbang dan sulitmengambil keputusan. Dan ketika kita sudah di puncak, sebaiknya kita coba melihat kebawahdan keatas kita serta ke kanan dan kekiri kita untuk bisa prihatin kepada orang lain dan tidakberlaku sombong apalagi semena- mena terhadap orang yang dibawah kita. Dalam perjalanankehidupan kita juga, kita diberikan pilihan, mau memilih jalan yang benar atau buruk, dansebagainya, lalu bagaimana kita memaknai perjalanan kita tersebut. Setelah melakukanperjalanan yang begitu panjang. Setelah berkecukupan dan menemukan jati diri kita, apapuntingkatan atau jabatan manusia di dunia ini, pada akhirnya akan kembali ke dalam tanahdengan cara yang sama yaitu kematian. Banyak makna yang kami dapatkan dari gladi ini.Kebersamaan yang kami alami seperti keluarga, gotong royong, bahu- membahu mendakigunung, dan masih banyak lagi. Masyarakat disini juga banyak mengajarkan saya mengenaikehidupan masyarakat yang masih menjaga adat- istiadatnya dengan baik hingga saat ini.Kehidupan yang rukun dan saling menghormati leluhur/ orang tua dan keluarganya. Hal –halseperti inilah yang harus dipertahankan oleh bangsa kita untuk bisa hidup bersama denganbaik. 19
    • Menelusuri Budaya Sunda di RawabogoFoto : makna dari pengalaman kami di rawa bogo. b. SARAN Saran saya, dalam kehidupan ada masa- masanya kita susah dan senang, dan untukhidup juga ada proses yang harus dicapai. Jadi jangan pernah menyerah ditengah jalan sesulitapapun masalah yang dihadapi pasti ada jalan keluarnya. Sama halnya dengan saya pada saatmendaki gunung padang. Saya hampir ingin menyerah saja ditengah jalan karena sakinglelahnya. Akan tetapi, banyak orang yang membantu saya dalam menempuh perjalanan inihingga akhirnya saya bisa melihat hal- hal yang membuat saya takjub. Saya berfikir, apajadinya jika saya berhenti ditengah jalan? Saya tidak mungkin bisa mengalami pengalamanmenakjubkan seperti ini. Saya juga menyarankan agar pemerintah dan masyarakatnya terutama yang tinggal diperkotaan untuk ikut melestarikan budaya bangsa kita yang hampir punah ini dengan ikutmemamerkan budaya kita dan mengalaminya serta menceritakannya kepada orang lain.Karena sistem word of mouth itu dipercaya bisa lebih efektif untuk mempromosikan sesuatutermasuk budaya kita. 20
    • Menelusuri Budaya Sunda di Rawabogo DAFTAR PUSTAKAhttp://id.wikipedia.org/wiki/Budayahttp://www.anneahira.com/arti-budaya.htmPanitia PKH, “Buku Refleksi Peserta Geladi Diri Budaya” 21