Skripsi weni
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Skripsi weni

on

  • 969 views

 

Statistics

Views

Total Views
969
Views on SlideShare
969
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
87
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Skripsi weni Skripsi weni Document Transcript

  • BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Umumnya negara-negara di dunia memiliki kecenderungan kepada anaklaki-laki termasuk Indonesia. Hal ini dikarenakan anak laki-laki mempunyai nilailebih karena berkaitan dengan nilai-nilai kejantanan yang dijunjung tinggi(Singarimbun, 1990 dalam Al-khusyairi, 2006). Namun diantara suku bangsa diIndonesia suku Minangkabaulah yang lemah terhadap preferensi anak laki-laki.Mely Tan dan Budy Soeradji dalam Singarimbun (1990) melakukan penelitiandengan membandingkan antara jumlah anak laki-laki dan anak perempuan yangdiinginkan pada lima suku bangsa Indonesia yaitu Jawa, Sunda, Batak,Minangkabau, dan Cina. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa preferensiterhadap anak laki-laki sangat kuat pada suku-suku tersebut kecuali sukuMinangkabau (Al-khusyairi, 2006). Dengan arti lain suku Minangkabau memilikipreferensi terhadap anak perempuan. Indikasi preferensi terhadap anak perempuan ini juga didukung olehpernyataan Tanius (1975) bahwa di Minangkabau terjadi permasalahan dalamProgram Keluarga Berencana yaitu kecenderungan orang-orang Minangkabauuntuk mempunyai anak perempuan dalam jumlah yang relatif besar. Hal ini sangatberbeda dengan kecenderungan Program Keluarga Berencana yang menganjurkanjumlah anak perempuan yang relatif sedikit bahkan kalau bisa hanya satu. Hal inidikarenakan masyarakat Minangkabau menganut sistem matrilineal seperti yangdinyatakan oleh Nauly (tesis, 2002) bahwa suku Minangkabau sebagai suku yang 1
  • menganut matrilineal menempatkan perempuan pada posisi yang lebih tinggidibandingkan suku yang menganut sistem patrilineal (suku Batak), dan bilateral(misal suku Jawa). Sistem matrilineal berarti sistem kekerabatannya berdasarkan garisketurunan ibu. Matrilineal sebagai budaya masyarakat Minangkabau mempunyaipengaruh yang sangat kuat dalam lingkungan masyarakat Minangkabau. Dalamkonteks masyarakat matrilineal Minangkabau, Nancy Tanner dalam tulisannyaRethinking Matriliny: Decision-Making and Sex Roles in Minangkabau (1985)dalam artikel Budaya Minangkabau (Afif, 2009), menyebutkan peran pentingperempuan dalam bidang ekonomi, pengambilan keputusan di masyarakat, danpola kekuatan ikatan antara saudara peremuan. Dalam arti lain implikasi dari prinsip-prinsip matrilineal ini adalahperempuan mempunyai status yang istimewa dan dapat memainkan peranan yangcukup signifikan dalam komunitas Minangkabau. Diantara peranan-perananpenting tersebut meliputi peranan sebagai penerus keturunan, pemilik hartawarisan dan `manajer` keluarga mereka masing-masing. Kaum perempuanMinangkabau juga turut memainkan peran dalam menentukan sukses dangagalnya pelaksanaan keputusan-keputusan yang dibuat oleh kaum lelaki dalamposisi mereka sebagai mamak (paman dari pihak ibu), dan penghulu (kepalasuku). Melihat sangat pentingnya keberadaan perempuan dalam sebuah keluargadi Minangkabau maka muncul kecenderungan dalam satu keluarga minimalmempunyai satu anak perempuan karena mempunyai anak perempuan merupakansalah satu modal mewariskan adat dan budaya. Namun pada masyarakat 2
  • Minangkabau mempunyai anak perempuan juga berarti harus siap menanggungbiaya penjemputan mempelai laki-laki jika si anak menikah nanti hinggamembiayai seluruh acara resepsi pernikahan. Walaupun menanggung bebanseperti itu orangtua dari anak perempuan cenderung puas dengan adanya pestauntuk anak perempuannya tersebut. Mempunyai anak perempuan juga merupakansuatu kebanggaan dan kepuasan. Pada kebanyakan orang dapat terlihat polabahwa mereka cenderung akan menambah jumlah anak hingga mendapatkan satuanak laki-laki karena ia hanya mempunyai anak perempuan saja atau menambahjumlah anak hingga mendapatkan satu anak perempuan karena ia hanyamempunyai anak laki-laki saja (Hank dan Kohler, 2000). Namun beberapa tahun terakhir ini posisi perempuan dalam ekonomipembangunan tidak menggembirakan karena posisinya tidak sekuat jikaperempuan dipandang secara adat. Hal ini dapat kita lihat berdasarkan publikasiBPS Sumatera Barat (2010) yaitu tingkat pengangguran perempuan sebesar12,21% dari seluruh angkatan kerja perempuan lebih besar daripada tingkatpengangguran laki-laki yang hanya 9,08% dari seluruh angkatan kerja laki-laki.Kontribusi yang diberikan perempuanpun dalam pembangunan tidak terlalubanyak yaitu jumlah angkatan kerja perempuan sebesar 864.677 lebih kecildaripada laki-laki (1.307.325) pada Agustus 2009, walaupun pada perkembangandari tahun ke tahun telah mengalami peningkatan (829.402 pada Agustus 2007,846.540 pada Agustus 2008, dan 864.677 pada Agustus 2009). Beberapa fakta lain yang dapat kita lihat dari pendidikan dan pekerjaanperempuan yaitu perempuan dengan tingkat pendidikan tinggi dan bekerja lebihsedikit dari laki-laki. Seperti untuk pendidikan S1 dan bekerja terdapat 5,02% 3
  • perempuan dari seluruh perempuan yang bekerja atau sekitar 47,86% dari seluruhorang yang bekerja dan berpendidikan S1 pada tahun 2008 di Sumatera Barat(Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat). Sedangkan untuk tingkatpendidikannya berdasarkan hasil SUPAS Sumatera Barat ( 2005) dapat dilihatdari penduduk yang berusia 5 tahun keatas yang masih sekolah dimana persentaseperempuan (24,18% ) juga lebih kecil daripada laki-laki (24,56%). Hal ini berartipartisipasi laki-laki masih lebih besar juga tergambar di Sumatera Barat. Hal lain yang mengkhawatirkan mengenai posisi perempuan diMinangkabau adalah isu mengenai lunturnya sistem matrilineal yang terdapat dimedia massa. Tulisan-tulisan itu antara lain “Pudarnya Matrilineal di RanahMinang” (Media Indonesia, 2008) dan “Waspada, Budaya Minang Bisa Luntur!”(Kompas, 2008). Jika sistem matrilineal sudah luntur maka budaya khasMinangkabau tentu tidak ada lagi. Dalam arti lain kedudukan perempuan jugatidak berperan penting dan istimewa lagi di Minangkabau. Gambaran yang dipaparkan diatas mengindikasikan kedudukan perempuandi Minangkabau lebih rendah dalam bidang pendidikan daripada laki-laki. Polaseperti ini memungkinkan orangtua lebih cenderung memilih anak laki-laki. Lalubagaimana dengan masyarakat Minangkabau? Apakah mereka masihberpreferensi terhadap anak perempuan atau tidak? Dengan gambaran sepertiapakah masyarakat Minangkabau mempunyai kecenderungan untuk anakperempuan? Sehingga hal inilah yang menjadi perhatian penulis untuk melakukanpenelitian tentang preferensi anak perempuan pada masyarakat Minangkabau sertafaktor-faktor yang memengaruhinya. 4
  • 1.2 Identifikasi dan Batasan Masalah Eksistensi sistem matrilineal pada masyarakat Minangkabau sangatmenguatkan posisi perempuan dalam masyarakat. Namun secara fisik perempuandianggap lebih lemah daripada laki-laki sehingga banyak orang tua di tempat-tempat lain lebih cenderung memiliki keinginan mempunyai anak laki-lakisebagai pendukung di masa tua dan mempunyai nilai lebih daripada perempuan. Pada realitasnya keberadaan perempuan di masyarakat Minangkabausungguh berbeda tapi bukan berarti peran gender perempuan menggantikan laki-laki melainkan status sosial mereka di masyarakat yang mengharuskan garisketurunan dari ibu, pemegang harta pusaka, penghuni Rumah Gadang, dan ikutandil dalam penentuan keputusan yang diambil oleh segolongan kaumlah yangmembuat mereka mempunyai posisi yang tinggi dalam adat. Oleh karena itu, keinginan orang tua untuk memiliki anak perempuan padamasyarakat Minangkabau diduga sangat kuat. Hal ini sangat dimungkinkan karenapreferensi anak laki-laki pada masyarakat Minangkabau tidak berpengaruh kuatseperti halnya dengan masyarakat Batak, Sunda, dan Jawa. Banyak faktor-faktor yang memengaruhi preferensi anak perempuan.Menurut Syarif, dkk (2007) terdapat faktor sosio-ekonomi, demografi, dan budayayang memengaruhi preferensi terhadap anak pada studi di Pakistan. Sedangkanpada tulisan ini penulis membatasi faktor-faktor yang memengaruhi preferensiterhadap anak perempuan. Faktor sosial-demografi terdiri dari jenis kelamin,pendidikan, umur perkawinan pertama, lama perkawinan, adanya akses informasi,pengalaman tinggal di wilayah perkotaan. Jumlah anak, penentu perkawinan,struktur keluarga, dan eksistensi sistem matrilineal mewakili faktor kebudayaan. 5
  • Sedangkan faktor ekonomi terdiri dari jenis pekerjaan dan pendapatanperkapitaperbulan. Penelitian ini dilakukan di wilayah pedesaan karena untuk melihat suatuperubahan dapat dilakukan dari level yang paling rendah selain itu dikhawatirkanbahwa di daerah perkotaan sudah terkontaminasi oleh pengaruh modernisasi.Penelitian ini dilakukan di Kampung Dalam Nagari Campago Kecamatan V KotoKampung Dalam. Kecamatan V Koto Kampung Dalam dipilih dalam penelitianini karena wilayah ini mempunyai luas 61,41km2 yang terletak di sebelah barattidak jauh dari kota Pariaman. Kecamatan ini juga memiliki jumlah wanita lebihbanyak daripada laki-laki tapi mengalami penurunan dari tahun 2008-2010 yangdapat dilihat dari sex ratio (90,84 pada tahun 2008; 90,89 pada tahun 2009; dan99,23 pada tahun 2010). Kecamatan V Koto Kampung Dalam mempunyai 2 nagari yaitu Campagodan Sikucur. Nagari yang menjadi tempat penelitian adalah Nagari Campago.Pemilihan Nagari Campago dibanding Sikucur karena Nagari Campagomerupakan pusat ibu kota kecamatan. Dan Korong Kampung Dalam dipilihkarena wilayah ini merupakan ibu kecamatannya dan wilayah ini paling padatyaitu sebanyak 1,624 jiwa per km2 ( Kecamatan V Koto Kampung Dalam DalamAngka Tahun 2010).1.3 Perumusan Masalah Berdasarkan uraian identifikasi dan batasan masalah diatas, makapertanyaan penelitian ini adalah sebagai berikut: 6
  • 1. Bagaimana gambaran umum masyarakat Kampung Dalam berdasarkan karakteristik dalam faktor sosial-demografi, ekonomi, dan budaya- norma masyarakat? 2. Bagaimana gambaran umum dari masyarakat Kampung Dalam yang memiliki preferensi terhadap anak perempuan? 3. Faktor-faktor apa saja yang berhubungan dan memengaruhi preferensi terhadap anak perempuan pada masyarakat Kampung Dalam? 4. Berapa besarnya kecenderungan dari faktor-faktor tersebut terhadap preferensi anak perempuan pada masyarakat Kampung Dalam?1.4 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu: 1. Untuk mengetahui gambaran umum masyarakat Kampung Dalam berdasarkan karakteristik dalam faktor sosial-demografi, ekonomi, dan budaya-norma masyarakat 2. Untuk mengetahui gambaran umum dari masyarakat Kampung Dalam yang memiliki preferensi terhadap anak perempuan 3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dan memengaruhi preferensi terhadap anak perempuan pada masyarakat Kampung Dalam 4. Untuk mengetahui besarnya kecenderungan dari faktor-faktor yang signifikan dalam preferensi terhadap anak perempuan pada masyarakat Kampung Dalam. 7
  • 1.5 Manfaat Penelitian Manfaat yang ingin diperoleh dari penelitian ini adalah: 1. Menambah referensi bagi penelitian-penelitian untuk perkembangan ilmu pengetahuan bahwa ada daerah yang mempunyai preferensi terhadap anak perempuan di Indonesia 2. Bagi BPS, tulisan ini dapat bermanfaat dalam mengamati kebudayaan pada daerah Minangkabau dan selanjutnya dapat melakukan analisis gender tersendiri pada daerah tersebut 3. Dapat menambah pengetahuan masyarakat di luar daerah Minangkabau bahwa ada daerah yang memiliki sistem kebudayaan yang berbeda dan untuk masyarakat Minangkabau tersebut dapat mengetahui besarnya pengaruh sistem matrilineal dalam kehidupan bermasyarakat dan pengambilan keputusan.1.6 Sistematika Penulisan Penulisan ini ditulis dalam suatu sistematika yang terdiri dari lima babyang saling berhubungan, yaitu:BAB I PENDAHULUAN, bab ini terdiri dari latar belakang, identifikasi dan batasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR, bab ini terdiri dari kajian teori, penelitian terkait, kerangka pikir, dan hipotesis penelitian yang digunakan dalam penelitian. 8
  • BAB III METODOLOGI, bab ini terdiri dari ruang lingkup penelitian, metode pengumpulan data, dan metode analisis.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN, bab ini menerangkan tentang hasil yang diperoleh melalui analisis yang digunakan secara rinci dan jelas beserta interpretasinya.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN, bab ini berisi tentang kesimpulan yang didapat oleh penulis berdasarkan hasil yang dipaparkan pada bab IV beserta terdapat saran yang berisi bagi pihak-pihak tertentu dan dapat pula dijadikan pertimbangan dalam rangka pengambilan keputusan selanjutnya atau menjadi dasar bagi penelitian lanjutan dari penelitian ini. 9
  • BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR2.1 Kajian TeoriMasyarakat Menurut Supriyanto (2009) masyarakat adalah golongan besar atau kecilterdiri dari beberapa manusia, yang dengan atau karena sendirinya bertalian secaragolongan dan pengaruh memengaruhi satu sama lain. Sedangkan menurut Ahmadi(2003) pendefinisian masyarakat adalah kumpulan manusia yang hidup dalamsuatu daerah tertentu, yang telah cukup lama, dan mempunyai aturan-aturan yangmengatur mereka untuk menuju kepada tujuan yang sama. Masyarakat ini terbentuk atas beberapa hal yang melatarbelakanginya.Menurut Santosa (2009) latar belakang timbulnya suatu kelompok masyarakatadalah: 1. Adanya suatu interaksi antar anggota atau individu didalamnya 2. Adanya norma sosial manusia di dalam masyarakat, diantaranya kebudayaan masyarakat sebagai suatu ketergantungan yang normatif, norma kemasyarakatan yang historis, perbedaan sosial budaya antara lembaga kemasyarakatan dan organisasi sosial 3. Adanya ketergantungan antara kebudayaan dan masyarakat yang bersifat normatif. Demikian juga norma yang ada dalam masyarakat akan memberikan batas-batas pada kelakuan anggotanya dan dapat berfungsi sebagai pedoman bagi kelompok untuk menyumbangkan sikap kebersamaannya dimana mereka berada. 10
  • Intinya keberadaan individu dalam masyarakat tidak luput dari norma-norma, aturan-aturan bahkan adat istiadat dari daerah dimana mereka hidup dalamlingkungannya. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa keberadaan individu-individulain yang membentuk masyarakat itu sendiri akan memengaruhi kehidupanindividu tersebut. Tindakan-tindakan yang diambil oleh individu (seseorang) tentuakan dipengaruhi pula oleh keberadaannya dalam masyarakat karena merekahidup bersama-sama dan saling memandang kewajiban dan hak. Dalam suatu teori Determinasi Struktural dinyatakan bahwa dalam melihatkegiatan manusia lebih berhati-hati dan sistematis dalam memperhatikan kaitansosial dan kulturalnya serta kaitan lingkungan pada umumnya dibandingkandengan teori Pilihan Rasional yang menitikberatkan suatu pilihan dan keputusankepada selera dan kecenderungan individu itu sendiri (Tom, 1987). Hal tersebut memperkuat bahwa manusia dalam pengambilankeputusannya sangat dipengaruhi apa dan bagaimana pandangan orang laindimana tempat ia bermasyarakat. Pengambilan keputusan itu juga memengaruhipreferensi masyarakat dalam segala hal termasuk preferensi terhadap jeniskelamin anak dimana mereka mempedomani norma-norma yang berlaku.Sistem Matrilineal dan Perempuan dalam Masyarakat Minangkabau Menurut Muslim Kasim (Wakil Gubernur Sumatera Barat) dalam bukunyaAdat dan Budaya Minangkabau (2010) sistem matrilineal adalah sistem yangmengatur kehidupan dan ketertiban suattu masyarakat yang terikat dalam suatujalinan kekerabatan dalam garis ibu. Seorang anak laki-laki atau perempuanmerupakan klan dari perkauman ibu. Ayah tidak dapat memasukkan anaknya 11
  • kedalam klannya sebagaimana yang berlaku dalam sistem patrilineal. Oleh karenaitu, jika ada warisan atau pusaka maka akan diturunkan menurut garis ibu. Di Minangkabau, sistem matrilineal tidak sekedar mengambil garisketurunan ibu, tetapi lebih luas daripada itu. Matrilineal merupakan sistemkemasyarakatan yang mendasari berbagai aspek kehidupan masyarakatMinangkabau seperti aspek sosial, politik, ekonomi, dan hukum (Saanin, 1982). Nancy Tanner dalam tulisannya Rethinking Matriliny: Decision-Makingand Sex Roles in Minangkabau (1985) dalam artikel Budaya Minangkabau (Afif,2009), menyebutkan sejumlah ciri struktural yang eksis dalam masyarakatMinangkabau “Pertama, secara struktural wanita memainkan peran penting dalamkegiatan ekonomi, karena sebagian besar kegiatan pertanian dilakukan wanita,dari proses produksi sampai distribusi (menjual hasil pertanian di pasar). Kedua,wanita berpartisipasi secara luas dalam pengambilan keputusan. Dan ketiga, polakediaman bersifat uksorilokal (anak perempuan yang sudah menikah tetap tinggalbersama orangtua dan saudara perempuan lainnya) meningkatkan ikatan antarasanak saudara perempuan. Mereka ini merupakan inti struktural dari kaum kerabatMinangkabau. Selain itu, gagasan budaya mengenai ibu juga membuktikanmatriokalitas masyarakat Minangkabau bahwa seorang ibu dipersepsi sebagaipiihak yang kuat, bijaksana, dan memberi makan kepada anaknya. Dengandemikian, kedudukan laki-laki sebagai suami bersifat marginal, baik dalam artistruktural maupun kediaman. Tidak ada harta benda dan rumah bagi laki-lakiMinangkabau. Dalam masyarakat Minangkabau kaum laki-laki diibaratkan “bak 12
  • pipik jantan indak basarang, pauni suduik rumah urang” (ibarat burung tidakmempunyai sangkar, tinggal di sudut-sudut rumah orang).” Perempuan menempati posisi yang istimewa pada sistem ini. Dalam halpewarisan sako dan pusako ia akan mudah mendapatkan haknya tanpa harusmelalui sebuah prosedur begitu pula dengan kewajibannya, karena semua hartaadalah milik perempuan sedangkan laki-laki hanya diberi hak untuk mengatur danmempertahankannya. Menurut Beckmann (2000) harta pusako diwariskan padakelompok ego (kelompok kaum perempuan pada sistem matrilineal). Hartawarisan dari kelompok persetalian darah akan jatuh pada perempuan walaupundalam penentuannya diperlukan keputusan dari mamak dan musyawarah kaum itusendiri. Ia mengungkapkan dalam bukunya bahwa keberadaan perempuan dalamsistem matrilineal itu dianggap istimewa karena jika tidak ada lagi keturunanperemuan lainnya maka harto pusako tidak akan dengan mudah jatuh padakeluarga tersebut karena sang pewaris (perempuan) tidak ada. Harta dari sang ibujuga harus melalui pertimbangan kaum dalam pembagiannya terhadap anak laki-laki. Dalam sistem matrilineal ini perempuan tidak harus lagi melakukanperjuangan gender seperti yang ada di daerah lain karena sistem ini sudahmenyediakan semuanya bagi perempuan. Ciri sistem matrilineal ini terusdipertahankan sampai sekarang bahkan cenderung disempurnakan seiringpenyempurnaan adat. Pada sistem ini harta yang turun temurun adalah hartabersama/kaum yang diwariskan menurut garis ibu. Adat istiadat ini sudahberlangsung lama namun tetap bertahan meskipun sistem patrilineal jugadiperkenalkan oleh Islam sebagai sebuah sistem kekerabatan yang lain. 13
  • Sistem matrilineal tidak hanya menjadi aturan semata, tetapi telah menjadisuatu budaya, way of life (Kasim, 2010). Sampai sekarang setiap laki-laki Minangcenderung menyerahkan harta pusaka atau warisan dari hasil pencahariannyasendiri kepada anak perempuannya. Setelah mendapat warisan anak perempuanitu juga nantinya akan menyerahkan kepada anak perempuannya dan begituseterusnya. Perempuan dan pewarisan harta pusaka memang tidak bisa dipisahkandalam sistem matrilineal. Perempuan memang istimewa dalam sistem matrilinealnamun ini tidak berarti keberadaan laki-laki dianggap lebih rendah daripadaperempuan di Minangkabau. Hal ini ditunjukkan oleh nilai egaliter dankebersamaan yang dijunjung oleh masyarakat Minangkabau. Ungkapan nilaikebersamaan ini adalah “duduak samo randah, tagak samo tinggi” (duduk samarendah, berdiri sama tingginya). Namun fungsi perempuan dan laki-laki berbeda.Perempuan dalam suatu kaum diperkenankan untuk mempunyai hak milik dariharta pusaka dan laki-laki memiliki hak pakai. Selain itu laki-laki dalam kaumjuga mempunyai kewajiban membimbing keponakan-keponakannya dari saudaraperempuannya. Dalam Minangkabau perempuan juga yang dikenal dengan sebutan BundoKanduang. Pengertian Bundo Kanduang merujuk kepada perempuan utama dalamsuatu kaum atau ibu kandung sendiri. Bundo Kanduang dalam arti perempuanutama adalah yang memegang kekuasaan tertinggi dalam kaum. Dia berada diataspenghulu sebagai pemimpin adat. Dia juga melakukan pengawasan dan kontrolterhadap apa yang dilakukan penghulu. 14
  • Dewasa ini wanita sering menuntut hak untuk penyamarataan derajatdengan laki-laki atau sering disebut dengan emansipasi wanita. Namun diMinangkabau emansipasi wanita sudah terwujud dari dulu. Perempuan pada masatradisional di Minangkabau sudah dapat dikatakan melakukan modernisasi karenamereka diakui keberadaannya jika dilakukan permusyawarahan. Mereka sanggupdan berani berpikir terbalik dari pemikiran lama dan memberikan kemungkinanlain. Hal ini mungkin diakibatkan dari ciri khas sikap hidup perempuanMinangkabau terbuka dan selalu berusaha untuk menjadi basis dari kaumnya.Preferensi Terhadap Anak Preferensi berasal dari bahasa Inggris preference yaitu a greater liking forone alternative over another or others, a thing preferred, favour shown to oneperson or thing over another or others, law a prior right or precedence especiallyin connection with the payment of debts (Oxford Dictionaries Online, 2001) yangberarti keinginan yang besar untuk menyukai sesuatu melebihi alternatif-alternatiflainnya, sesuatu yang lebih diminati, pilihan terhadap seseorang atau bendamelebihi yang lainnya, hak yang lebih dahulu atau yang diutamakan terutamayang berhubungan dengan pembayaran utang. Preferensi juga berarti (hak untuk)didahulukan dan diutamakan daripada yang lain, prioritas, pilihan,kecenderungan, kesukaan (Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan,2008). Jadi preferensi terhadap anak perempuan adalah kecenderungan seseoranguntuk lebih memilih mempunyai anak perempuan daripada laki-laki. Banyak penelitian mengenai preferensi terhadap jenis kelamin anak didunia. Dari penelitian tersebut penulis bisa melihat faktor-faktor apa saja yang 15
  • memengaruhi preferensi terhadap anak. Menurut Luchmaya dan Baron (2002)preferensi terhadap anak dalam pandangan sosial dan non-sosial adalahbanyaknya anak, umur ibu, umur ayah, jenis kelamin, dan pendidikan orangtua.Dalam hasil risetnya dinyatakan bahwa angka LPR (Looking Preference Ratio)perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Dimana preferensi perempuancenderung mengarah ke faktor sosialnya sedangkan laki-laki mengarah ke faktornon-sosial. Seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 1 Sumber: Infant Behavior and Development, 2002 Gambar 1. Nilai LPR menurut Luchmaya dan Baron Sedangkan menurut Syarif, dkk (2007) terdapat faktor sosio-ekonomi,demografi, dan budaya yang memengaruhi preferensi terhadap anak pada studi diPakistan. Faktor sosio-ekonomi terdiri dari umur saat menikah, pendidikan,pekerjaan, pendapatan pebulan, stuktur keluarga, penentu pernikahan (orangtuaatau tidak). Riset dari Hank dan Kohler di Eropa (2000) mengungkapkan faktor-faktoryang memengaruhi preferensi terhadap anak dalam riset tersebut adalah umurperempuan, umur perempuan pada saat si anak pertama kali berulang tahun,tempat tinggal perempuan, tempat tumbuh berkembangnya perempuan, dan 16
  • tingkat pendidikan perempuan. Perempuan yang menjadi objek penelitian padariset tersebut adalah perempuan yang berumur 25-39 tahun. Fuse (2006) pada papernya mengenai preferensi anak perempuan di Jepangmenunjukkan bahwa mulai dari tahun 2003 terlihat bahwa preferensi anakperempuan mengalami peningkatan padahal sebelumnya di Jepang mempunyaikecenderungan kepada anak laki-laki. Hal ini disebabkan karena faktorsosiokultural. Alasan lain juga karena perempuan membutuhkan sedikit biaya,psikologi, dan waktu investasi daripada laki-laki. Pada penelitiannya dia memakaidua jenis variabel independen yaitu primary independent variabel (peran gender,perkawinan, dan keluarga) dan background variabel (jenis kelamin responden,umur, pendidikan, jenis tempat tinggal yaitu kota atau desa, riwayat pekerjaan,keberadaan saudara). Sedangkan menurut Lee (1995) dalam papernya pada kasus di Koreamenyimpulkan bahwa terdapat faktor-faktor yang memengaruhi preferensi wanitapernah kawin terhadap anak yaitu proporsi terhadap anak berikutnya, komposisijenis kelamin anak sebelumnya, harapan di hari tua, pendidikan, umurperkawinan, dan tinggal di kota atau desa. Menurut Yamamura (2009) dilihat secara ekonomi tradisional fertilitasditentukan oleh keputusan perempuan. Ia mengatakan faktor-faktor yangmemengaruhi preferensi anak laki-laki di Jepang adalah faktor ekonomi dansosiokultural. Menurutnya terdapat variabel-variabel yang memengaruhipreferensi anak laki-laki yaitu biaya hidup, pendapatan, pekerjaan suami,pendidikan perempuan dan suami, dan umur perempuan dan suami saat menikah. 17
  • Penelitian Khan dan Khanum (2000) di Bangladesh mengenai pengaruhpreferensi anak laki-laki menyatakan bahwa preferensi itu sendiri dipengaruhioleh faktor sosial, demografi dan ekonomi. Variabel-variabel yang merekagunakan adalah umur, jumlah anak, tempat tinggal di daerah perkotaan ataupedesaan, agama, kepemilikan tanah, pendidikan, akses informasi, wanita karir,dan pembentukan kelompok wanita. Hasil penelitian Soeparmanto (1980) menyatakan bahwa umur perkawinanpertama, lama perkawinan, frekuensi membaca koran dan mendengarkan radio,pengalaman tinggal di wilayah perkotaan mempunyai pengaruh positif denganpersepsi terhadap nilai dari anak. Sedangkan pendidikan, pendapatan, danpekerjaan mempunyai pengaruh negatif. Hampir semua penelitian, observasi maupun jurnal menyimpulkan bahwafaktor-faktor yang memengaruhi preferensi terhadap anak adalah faktor sosial,ekonomi, demografi, dan kultural. Dalam penulisan ini faktor-faktor yangdigunakan adalah faktor sosial-demografi, faktor ekonomi, dan faktor budaya ataunorma masyarakat. Faktor sosial-demografi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi jeniskelamin, pendidikan, umur perkawinan pertama, lama perkawinan, adanya aksesinformasi, dan pengalaman tinggal di wilayah perkotaan. Disamping itu faktorbudaya atau norma masyarakat diwakili oleh variabel penentu pernikahan, jumlahanak, struktur keluarga, dan eksistensi sistem matrilineal. Faktor ekonomimeliputi jenis pekerjaan dan total pendapatan. 18
  • 2.2 Penelitian Terkait Berdasarkan beberapa penelitian/referensi yang penulis gunakan adabeberapa cara dalam pengukuran dalam melihat preferensi terhadap anak yangdiantaranya adalah 1. Menggunakan LPR (Looking Preference Ratio) dari anak laki-laki dan perempuan. LPR yang bernilai lebih dari 1 berarti preferensinya cenderung kearah sosial sedangkan LPR yang kurang dari 1 lebih kearah non-sosial. Jika LPR bernilai 1 maka tidak ada preferensi antara kedua stimulus (sosial dan non-sosial). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bayi yang berjenis kelamin perempuan mempunyai preferensi kearah sosial dan laki-laki kearah non-sosial (Svetlana Lutchmaya dan Simon Baron-Cohen, 2002) 2. Keinginan untuk memiliki anak lagi. Penelitian ini dilakukan di 17 negara Eropa. Tiga negara (Czech Republic, Lithuania, dan Portugal) memiliki preferensi terhadap anak perempuan, 4 negara (Prancis, Jerman, Polandia, Norwegia) tidak memiliki preferensi terhadap jenis kelamin anak, sedangkan 10 negara lainnya memiliki preferensi campuran yaitu mempunyai satu anak perempuan dan satu anak laki- laki (Karsten Hank dan Hans-Peter Kohler, 2000) 3. Menggunakan Ideal Family Size. Orangtua yang mempunyai preferensi yang kuat terhadap jenis kelamin akan meningkatkan jumlah keluarga (family size). Sedangkan penelitian ini meneliti hubungan antara preferensi anak terhadap penggunan kontrasepsi. Orangtua dengan preferensi terhadap anak laki-laki akan lebih memungkinkan 19
  • menggunakan kontrasepsi dibandingkan orangtua dengan preferensi anak perempuan. Semakin banyak anak laki-laki semakin tinggi pula kecenderungan memakai kontrasepsi namun untuk 4 anak atau lebih pemakain kontrasepsi mengalami penurunan (M. Asaduzzaman Khan dan Parveen A. Khanum, 2000)4. Menggunakan sex ratio pada kelahiran anak pertama. Penelitian ini juga membahas kemungkinan adanya kaitan antara preferensi anak laki-laki dengan pola pernikahan seperti kesenjangan umur pasangan, hypergamy (peningkatan jumlah wanita yang menikah), endogamy kasta, dan pernikahan sepupu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keinginan untuk memiliki anak laki dan penentuan jenis kelaminnya sebelum kelahiran sangat menguntungkan masyarakat karena dapat meningkatkan status sosial (Lena Edlund, 1999)5. Dengan melihat tingkah laku fertilitas seseorang (Fertility Behavior) apabila mereka tidak mempunyai jenis kelamin anak yang diinginkan maka akan berhenti untuk beranak atau malah akan beranak sampai mendapatkan jenis kelamin anak yang diinginkan (Sun Yong Lee, 1995)6. Menggunakan informasi urutan kelahiran dan jumlah kematian anak umur 1-4 tahun. Penelitian ini menunjukkan bahwa preferensi jenis kelamin akan menurunkan tingkat pemakaian kontrasepsi sebesar 24% dan peningkatan TFR sebesar 6% di Nepal (Tiziana Leone, Zoë Matthews, dan Gianpiero Dalla Zuanna, 2003) 20
  • 7. Menggunakan Cox proportional hazard models dimana terdapat dua analisis, analisis pertama adalah pada covariat mayor adalah anak pertama walaupun lahir pertama atau tidak dan analisis kedua adalah covariat utama juga adalah anak perempuan walaupun dua anak pertama adalah perempuan atau tidak. Pada model ini terdapat kontrol yang dapat melihat efek pada kelahiran anak kedua atau ketiga yang pada akhirnya terdapat kesimpulan bahwa ada pengaruh pereferensi jenis kelamin terhadap resiko kelahiran anak lainnya (Dudley L. Poston, Jr, 2001).2.3 Kerangka Pikir Masyarakat Minangkabau sebagai penganut sistem matrilineal dinyatakanoleh Singarimbun (1990) tidak mempunyai pengaruh kuat dari preferensi anaklaki-laki. Hal tersebut memberikan ide bagi penulis untuk menguji apakahpreferensinya ada pada anak perempuan. Salah satu alasannya karena kedudukanperempuan pada masyarakat Minangkabau mempunyai posisi yang istimewa. Dengan adanya berbagai aturan yang mengutamakan keberadaanperempuan dalam masyarakat maka kecenderungan masyarakatpun untukmempunyai anak perempuan telah ada. Disamping perempuan dalam masyarakatMinangkabau juga sebagai pewaris suku dan keturunan karena anak dari sebuahkeluarga akan ditarik menuruti garis keturunan ibunya dan masuk dalam kaumibunya. Dalam preferensi jenis kelamin anak ini ada faktor-faktor yangmemengaruhi selain sistem matrilineal yang telah diuraikan diatas. Adapun 21
  • faktor-faktor itu adalah faktor sosial demografi, ekonomi, dan budaya. Faktor-faktor ini diduga memengaruhi keputusan individu dalam memutuskankecenderungannya memilih jenis kelamin anak. Faktor sosial-demografi terdiridari variabel jenis kelamin, pendidikan, umur perkawinan pertama, lamaperkawinan, frekuensi mengakses informasi, dan pengalaman tinggal di wilayahperkotaan diduga memengaruhi preferensi terhadap anak perempuan padamasyarakat Minangkabau. Ada juga faktor ekonomi dengan variabelnya adalahjenis pekerjaan dan total pendapatan juga berpengaruh terhadap pilihanmasyarakat Minangkabau terhadap preferensi anak perempuan. Sedangkan faktorbudaya-norma masyarakat yang terdiri dari variabel penentu perkawinan, jumlahanak, struktur keluarga, dan eksistensi sistem matrilineal juga ada pengaruhnyaterhadap preferensi anak perempuan. Tiga faktor tersebut bersama-samamemengaruhi keputusan masyarakat Minangkabau dalam kecenderungannyaterhadap preferensi anak perempuan. Hubungan dari variabel independen (tigafaktor tersebut) dengan variabel dependen (preferensi terhadap anak perempuan)dapat digambarkan melalui sebuah diagram kerangka berpikir dibawah ini(Gambar 2) 22
  • Faktor sosial- demografi - Jenis kelamin - Pedidikan - Umur perkawinan pertama - Lama perkawinan - Adanya akses informasi - Pengalaman tinggal diperkotaan Faktor ekonomi Preferensi terhadap anak - Jenis pekerjaan perempuan - Pendapatan perkapita perbulan Faktor budaya-norma masyarakat - Penentu perkawinan - Jumlah anak - Struktur keluarga - Eksistensi sistem matrilinealGambar 2. Diagram alur kerangka berpikir2.4 Hipotesis Penelitian Berdasarkan penjabaran diatas yang didasari oleh latar belakang sertasudah digambarkan dalam bentuk alur pikir diagram konsepsional tersebut dapatditentukan hipotesis apa yang akan disampaikan dalam penulisan ini. Penelitian ini menggunakan preferensi terhadap anak perempuan sebagaivariabel dependennya. Hal ini didasarkan dugaan terhadap fakta budaya yangterjadi pada masyarakat Minangkabau serta penelitian yang menyatakan bahwa 23
  • pengaruh preferensi laki-laki tidak kuat pada masayarakat Minangkabau.Sehingga secara umum dapat disusun hipotesis penelitiannya sebagai berikut 1. Diduga ada hubungan variabel-variabel independen dalam faktor sosial-demografi, ekonomi, dan budaya/norma masyarakat dengan preferensi terhadap anak perempuan. 2. Diduga ada pengaruh secara simultan dan parsial variabel-variabel independen dalam faktor sosial-demografi, ekonomi, dan budaya/norma masyarakat dengan preferensi terhadap anak perempuan. 3. Diduga bahwa model regresi logistik cocok digunakan dalam penelitian 24
  • BAB III METODOLOGI3.1 Ruang Lingkup Penelitian Variabel penelitian adalah variabel independen yang terbagi dalam tigafaktor yaitu faktor sosial-demografi (yang terdiri dari variabel pendidikan, jeniskelamin, umur perkawinan pertama, lama perkawinan, akses terhadap informasi,dan pengalaman tinggal di wilayah perkotaan), faktor ekonomi (yang terdiri darivariabel jenis pekerjaan dan total pendapatan), dan faktor budaya/normamasyarakat (yang terdiri dari variabel penentu perkawinan, jumlah anak, strukturkeluarga, dan eksistensi sistem matrilineal). Penelitian ini dilakukan di Kampung Dalam Nagari Campago KecamatanV Koto Kampung Dalam. Seperti yang telah dijabarkan dalam latar belakang danbatasan masalah, daerah ini sengaja dijadikan tempat penelitian karena dirasacocok dan mewakili untuk penelitian ini. Penelitian ini dilaksananakan padatanggal 22 – 29 Maret guna mengumpulkan data yang akan diolah.3.2 Metode Pengumpulan DataSumber Data Data yang digunakan ini adalah data primer melalui penelitian yangmerupakan studi kasus pada suatu wilayah. Data dan informasi dikumpulkanlangsung dari responden dengan wawancara. Wawancara dilakukan denganmenyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam kuesioner sesuai dengan 25
  • tujuan penelitian. Pengumpulan data primer ini adalah kegiatan survei dimanarespondennya adalah sampel atau bagian dari populasi. Selain data primer penelitian ini juga menggunakan data sekunder sepertijumlah keluarga yang terdapat di Kampung Dalam Nagari Campago Kecamatan VKoto Kampung Dalam sebagai kerangka sampelnya.Populasi dan SampelPopulasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh keluarga yang tinggal diKorong Kampung Dalam. Keluarga terdiri dari pasangan suami istri yang sudahmemiliki anak dan yang belum memiliki anak. Anak yang tinggal bersama adalahanak yang belum berstatus kawin. Jika anaknya berstatus kawin makadikategorikan sebagai keluarga lain, karena yang dianalisis dalam penelitian iniadalah laki-laki dan perempuan berumur 10 tahun keatas yang berstatus pernahkawin.Sampel Setelah penentuan populasi maka hal selanjutnya yang harus ditentukanadalah jumlah sampel yang harus diambil agar mewakili penelitian ini. Unitsampelnya adalah pasangan suami istri. Sampel dipilih dengan menggunakanrumus penentuan minimum sampel proporsi ⁄ ⁄ 26
  • Dimana n = jumlah sampel minimum = tingkat kepercayaan, pada penelitian ini ditentukan sebesar 5 persen p = proporsi preferensi jenis kelamin perempuan, pada penelitian ini N = jumlah populasi keluarga d = persentase kelonggaran ketidaktelitian, pada penelitian ini ditentukan sebesar 10 persen Dalam penelitian ini terdapat 204 pasangan suami istri sebagai populasidalam kerangka sampel. Dengan penggunaan rumus di atas diperoleh sampelminimum sebesar 66 pasangan namun pada penelitian ini sampel yang digunakansebanyak 79 pasangan. Unit observasi dan analisisnya adalah sebanyak 158karena yang menjadi observasi dan analisis dalam penelitian ini adalah laki-lakidan perempuan berumur 10 tahun keatas yang berstatus pernah kawin. Sampel dipilih dengan Systematic Random Sampling. Angka randompertama ditentukan melalui tanggal/bulan penelitian. Kerangka sampel yangdidapatkan dari kantor Wali Nagari diurutkan berdasarkan abjad. Setelahdiurutkan barulah dilakukan pengambilan sampel. Penarikan sampel secarasistematik sangat mempermudah peneliti karena hanya menggunakan satu angkarandom saja, sedangkan angka random berikutnya akan mengikuti intervalnya.Interval untuk penetuan angka random berikutnya didapat dengan rumus berikut 27
  • Dimana N = jumlah populasi n = jumlah sampel Penarikan sampel dilakukan secara sistematik sirkuler dengan langkah-langkah: 1. Menghitung interval dengan rumus diatas 2. Menentukan angka random pertama (R1) yang lebih kecil atau sama dengan N. angka random selanjutnya adalah R2 = R1 + I R3 = R1 +2I Rn = R1 + (n-1)I Apabila angka random melebihi nilai N maka nilai angka random yangdidapat harus dikurangi dengan N untuk menetukan nomor urut berapa yangmenjadi sampel.Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner. Kuesionerdirancang sedemikian rupa sehingga variabel-variabel penelitian tercakupkedalam pertanyaan-pertanyaan yang dapat menjawab tujuan penelitian. Kuesioner terdiri dari 6 blok pertanyaan. Masing-masing blok pertanyaanberisi mengenai variabel penelitian maupun bukan variabel penelitian. Bagian-bagian kuesioner itu dijabarkan sebagai berikut: 28
  • a. Blok I adalah identitas responden. Blok ini mengenai identitas yang mencakup nama, jenis kelamin, umur, suku, dan nomor sampel penelitian. b. Blok II mengenai pendidikan dan pekerjaan. Blok ini mencakup pendidikan tertinggi yang ditamatkan, jenis pekerjaan, dan total pendapatan dalam sebulan. c. Blok III mengenai sumber informasi. Blok ini mencakup adanya akses informasi dan pengalaman tinggal di perkotaan. d. Blok IV mengenai perkawinan dan budaya. Blok ini mencakup penentu perkawinan umur kawin pertamaa, struktur keluarga, jumlah anak yang dimiliki, dan jumlah anak yang diinginkan. e. Blok V mengenai sistem matrilineal. Blok ini terdiri dari 6 pernyataan mengenai eksistensi sistem matrilineal. f. Blok VI adalah preferensi. Blok ini terdiri dari 16 pernyataan mengenai preferensi terhadap anak perempuan. g. Blok VII adalah blok catatan. Blok ini bisa mencatat hal-hal yang mungkin terjadi di luar perkiraan baik catatan dari peneliti maupun dari responden.Uji Validitas Validitas menunjukkan sejauh mana skor/nilai/ukuran yang diperolehbenar-benar menyatakan hasil pengukuran/pengamatan yang ingin diukur. Dalampengumpulan data melalui kuesioner terdapat pertanyaan-pertanyaan dimanapertanyaan-pertanyaan tersebut harus dapat mengukur apa yang ingin di ukur. 29
  • Semakin tinggi validitas data maka semakin sesuai dengan tujuan penelitianbegitu juga sebaliknya. Jenis validitas umumnya digolongkan dalam tiga kategori besar, yaituvaliditas isi (content validity), validitas berdasarkan kriteria (criterion-relatedvalidity) dan validitas konstruk. Pada penelitian ini akan dibahas validitas untukmenguji apakah pertanyaan-pertanyaan itu telah mengukur aspek yang sama.Untuk itu dipergunakanlah validitas konstruk. Uji validitas dilakukan dengan mengukur korelasi antara variabel/itemdengan skor total variabel. Cara mengukur validitas konstruk yaitu denganmencari korelasi antara masing-masing pertanyaan dengan skor totalmenggunakan rumus teknik korelasi product moment, sebagai berikut : ∑ ∑ ∑ √ ∑ ∑ √ ∑ ∑dimana: = koefisien korelasi product moment X = skor tiap pertanyaan/item Y = skor total n = jumlah sampel Angka yang didapat dari penghitungan tersebut lalu dibandingkan denganr tabel dengan derajat bebas (n-2). Apabila: 1. r > r tabel maka suatu pertanyaan dikatakan valid dan dapat dimasukkan kedalam kuesioner. Dengan kata lain pertanyaan tersebut memiliki validitas konstruk atau terdapat konsistensi internal dalam pertanyaan- pertanyaan tersebut. 30
  • 2. Sedangkan jika r < r tabel maka pertanyaan tersebut dikatakan tidak valid dan tidak dapat dimasukkan kedalam kuesioner. Pada penelitian ini jumlah sampel untuk uji coba adalah 30 pasangan. Daritabel r product moment diperoleh nilai korelasi kritis 0,361. Berdasarkan hasilpengolahan data uji validitas untuk eksistensi matrilineal yang awalnya terdiri dari14 pernyataan terdapat 6 pernyataan yang valid. Sedangkan uji validitas untukpreferensi yang awlnya terdiri dari 25 pernyataan terdapat 16 pernyataan yangvalid.Uji Realibilitas Realibilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alatpengukur (kuesioner) dapat dipercaya atau dihandalkan. Artinya, setiap alatpengukur harusnya memberikan hasil yang relatif konsisten dari waktu ke waktujika digunakan untuk mengukur gejala yang sama. Untuk mengukur realibilitas penulis menggunakan rumus Cronbach’sAlpha ∑ [ ][ ]dimana: = realibilitas instrumen (Cronbach’s Alpha ), k = jumlah pertanyaan ∑ = jumlah varians masing-masing pertanyaan = varians total Koefisien korelasi realibilitas dikelompokkan menjadi 3 kriteriaberdasarkan klasifikasi Guilford (Supriadi, 2010) yaitu: 31
  • 1. 0,80 – 1,00 = sangat kuat (sangat tinggi) 2. 0,60 – 0,80 = kuat (tinggi) 3. 0,40 – 0,60 = sedang (cukup tinggi) 4. 0,20 – 0,40 = rendah 5. 0,00 – 0,20 = tidak berkorelasi – korelasi sangat rendah Hasil dari pengujian validitas dalam penelitian ini menunjukkan nilai yangtinggi yaitu 0,790 untuk eksistensi sistem matrilineal dan 0,903 (sangat tinngi)untuk preferensi.Pengkategorian Variabel Blok V dan blok VI adalah variabel yang diukur melalui pernyataan-pernyataan bukan melalui pilihan seperti blok-blok lain. Pernyataan-pernyataanpada blok V dan VI disusun menggunakan skala likert lima kategori. Skordiberikan pada masing-masing pernyataan berdasarkan jawaban dari responden.Semua pernyataan dalam blok ini adalah pernyataan positif sehingga jawabanyang positif juga diberi skor paling besar. Skala sangat setuju diberi skor 5, setujudiberi skor 4, netral diberi skor 3, kurang setuju diberi skor 2, dan tidak setujudiberi skor 1. Pemberian skor ini berarti semakin tinngi nilai total skornyasemakin tinggi pula eksistensi sistem matrilineal dan preferensi masyarakatterhadap anak perempuan. Pengkategorian variabel preferensi anak perempuan dan eksistensimatrilineal dilakukan dengan metode median instrumen. Hal ini berdasarkanpembentukan skala yang dikemukakan Liu, Harris, dan Schmidt (2006) yaituskor rata-rata untuk kelompok referensi harus dekat titik tengah dari nilai skala 32
  • atau dengan kata lain disebut dengan median instrumen. Median instrumendidapat dari nilai tengah skor dikalikan dengan jumlah item pernyataan dari tiapblok. Penentuan pengkategorian tersebut adalah sebagai berikut:  Eksistensi sistem matrilineal (median = 18) - Kategori kurang eksis : skor instrumen median instrumen - Kategori eksis : skor instrumen median instrumen  Preferensi anak perempuan (median = 48) - Kategori preferensi anak perempuan median instrumen - Kategori preferensi lainnya median instrumen Kategori pendidikan dari responden dikelompokkan menjadi 2 yaitupendidikan primer yaitu SD dan SMP termasuk yang tidak tamat SD (dibawahSMA) dan pendidikan sekunder keatas (SMA keatas). Pengkategorian pendidikanini didasarkan pada penelitian sebelumnya yang menggunakan variabel yang sama(Fuse, 2008). Umur perkawinan pertama dikategorikan diatas dan dibawah 30tahun karena pada umur 30 atau lebih terdapat resiko kehamilan. Sedangkan lamaperkawinan dikategorikan dalam interval 5 tahunan. Awal mula perkawinansampai 5 tahun kemudian adalah masa-masa dimana masing-masing pasanganmasih beradaptasi sehingga pengkategorian lama perkawinan dalam penelitian inimenjadi 3 kelompok yaitu 5 tahun, 6-10 tahun, dan 10 tahun. Pendapatanperkapita perbulan dikategorikan berdasarkan rata-rata pendapatan perkapitaperbulan pada Korong Kampung Dalam. Sedangkan jumlah anak dikelompokkanberdasarkan anjuran KB yaitu jumlah anak dikelompokkan menjadi yaitu 2(jumlah anak yang dianjurkan dalam program KB) dan >2. 33
  • Tabel 1. Daftar variabel dan kategori variabel Nama variable kategori (1) (2) (3) Y Preferensi terhadap anak 1 = ya perempuan 0 = tidak D1 Jenis kelamin 1 = laki-laki 0 = perempuan D2 Pendidikan 0 = dibawah SMA 1 = SMA keatas D3 Umur perkawinan pertama 1 = 30 tahun 0 = 30 tahun D4 Lama perkawinan 0 = 5 tahun 1 = 6-10 tahun 2 = 10 tahun D5 Pernah atau tidak mengakses 1 = pernah informasi 0 = tidak pernah D6 Pengalaman tinggal di 1 = pernah tinggal perkotaan 0 = tidak D7 Jenis pekerjaan 0 = tidak bekerja/pekerja serabutan 1 = PNS/TNI/karyawan 2 = pedagang D8 Pendapatan perkapita perbulan 1 = Rp 425.000; 0 = Rp 425.000; D9 Penentu perkawinan 0 = bukan orangtua 1 = orangtua D10 Jumlah anak 0= 2 1= 2 D11 Struktur keluarga 1 = inti 0 = besar D12 Eksistensi sistem matrilineal 1 = eksis 0 = kurang eksis 34
  • Definisi Operasional Definisi operasional dari masing-masing variabel adalah 1. Jenis kelamin Ciri-ciri biologis yang tampak pada manusia yang dibedakan menjadi laki-laki dan perempuan 2. Pendidikan Pendidikan yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendidikan terakhir yang ditamatkan oleh responden berdasarkan ijasah/STTB yang dimiliki. 3. Penentu perkawinan Penentu perkawinan yang dimaksud adalah orang yang menentukan responden akan melakukan perkawinan dengan siapa. Penentu perkawinan adalah orangtua dan bukan orangtua 4. Umur perkawinan pertama Umur perkawinan pertama yaitu umur responden pada saat pertama kawin 5. Lama perkawinan Lama perkawinan adalah rentang waktu yang ditempuh oleh responden mulai dari awal perkawinan sampai dengan waktu penelitian 6. Jumlah anak Jumlah anak adalah jumlah anak yang dilahirkan hidup oleh seorang wanita. Karena dalam penelitian ini respondennya adalah laki-laki dan wanita pernah kawin maka jumlah anak adalah yang dimiliki dengan pasangannya 35
  • 7. Struktur keluarga Struktur keluarga adalah keadaan/lingkungan keluarga tempat tinggal keluarga responden. Struktur keluarga dibagi menjadi keluarga inti dan keluarga besar. Keluarga inti adalah yang terdiri dari responden, suami/istri, dan anak. Keluarga besar adalah keuarga inti yang tinggal bersama anggota keluarga lain seperti orangtua responden dan saudara dari responden8. Eksistensi sistem matrilineal Eksistensi sistem matrilineal menunjukkan tentang pemahaman tentang adanya sistem matrilineal dan pelaksanaannya bagi masyarakat Minangkabau. Pada variabel ini juga diperlihatkan eksistensi sistem matrilineal bagi masyarakat Minangkabau dalam kehidupannya terutama dalam pengambilan keputusan9. Adanya akses informasi Akses terhadap informasi adalah akses responden mendapatkan informasi dari televisi, radio, atau media cetak.10. Pengalaman tinggal di wilayah perkotaan Pengalaman tinggal di wilayah perkotaan yaitu pernah atau tidaknya responden tinggal di wilayah perkotaan dalam kurun waktu tertentu (dalam tahun). Hal ini digunakan untuk melihat apakah ada pengaruh yang dibawa oleh responden selama hidup di wilayah perkotaan11. Jenis pekerjaan Jenis pekerjaan adalah jenis kegiatan dari pekerjaan dimana responden bekerja 36
  • 12. Pendapatan perkapita perbulan Pendapatan perkapita perbulan adalah total pendapatan yang dibagi rata dengan jumlah anggota keluarga. Dalam satu keluarga pendapatan perkapita perbulannya adalah sama. Total pendapatan adalah banyaknya pendapatan yang masuk ke keluarga responden. Total pendapatan merupakan kumulatif pendapatan suami, istri, dan anggota keluarga lain yang menyumbangkan pendapatannya. 13. Preferensi terhadap anak perempuan Preferensi terhadap anak perempuan adalah persepsi atau pendapat responden mengenai kecenderungan untuk memilih/menyukai dan mengharapkan anak perempuan.3.3 Metode AnalisisAnalisis Deskriptif Analisis deskriptif pada penelitian ini digunakan untuk melihat gambaransecara umum. Dengan analisis deskriptif rumusan masalah yang pertama dankedua dapat dijawab. Untuk penjelasan dalam analisis deskriptif digunakan tabel-tabel frekuensi, grafik-grafik, maupun tabulasi silang antar variabel. Kemudianakan dibuat interpretasi berdasarkan hasil yang dipaparkan melalui tabel dangrafik tersebut.Uji Independensi Uji Chi-square digunakan untuk menguji hipotesis ada tidak hubunganantara variabel respon dengan variabel penjelas. Masing-masing variabel penjelas 37
  • dirinci menurut kategori dari variabel respon yang dalam penelitian ini ada 3 yaitupreferensi anak laki-laki, preferensi anak perempuan, dan tidak ada preferensi. Hipotesis yang digunakan adalah H0: Tidak ada hubungan antara variabel preferensi terhadap anak perempuan dengan variabel penjelas H1: Ada hubungan antara variabel preferensi terhadap anak perempuan dengan variabel penjelasData yang ada disajikan dalam suatu tabel kontingensi yang mempunyai r barisdan c kolom. Statistik ujinya adalah ( ) ∑∑Dimana = jumlah observasi yang dikategorikan pada baris ke-i dan kolom ke-j = jumlah observasi yang diharapkan dbawah H0 yang dikategorikan pada baris ke-I dan kolom ke-j = jumlah baris ke-i = jumlah kolom ke-j = banyak baris = banyak kolom = jumlah sampel Dan H0 akan ditolak apabila 38
  • Menurut Siegel (1992) penggunaan uji chi-square menuntut frekuensiharapan ( ) dalam masing-masing sel tidak boleh terlalu kecil. Uji chi-squaredapat digunakan jika kurang dari 20 persen diantara sel-sel itu mempunyaifrekuensi harapan kurang dari 5 dan tidak satu selpun memiliki frekuensi harapankurang dari 1. Jika salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi maka untuk tabelkontingensi yang jumlah kolom atau barisnya lebih dari dua (derajat bebas 1)dapat menggabungkan kategori-kategori yang berdekatan untuk memperbesarfrekuensi harapan yang keci tersebut. Jika tabel kontingensi tersebut sudahberukuran 2x2 namun frekuensi harapan yang dihasilkan masih kecil makaCochran (1954) mengajukan anjuran-anjuran: 1. Bila n 40, gunakanlah dengan koreksi kontinyuitas 2. Kalau n diantara 20 dan 40, tes boleh dipakai asalkan frekuensi harapan dari sel-sel tersebut bernilai lima atau lebih namun jika kurang dari lima gunakanlah uji fisher’s exact 3. Bila n 20, gunakanlah uji fisher’s exact dalam kasus apapun. Namun pemakain koreksi kontinyuitas sudah tidak disarankan pemakaiannyakarena menurut Grizzle (1967) pemakaiannya meningkatkan kecenderungannaiknya kesalahan tipe II (terima H0 padahal H0 salah). Oleh sebab itu uji fisher’sexact lebih sering digunakan, karena uji ini memperhitungkan distribusi aslinya(exact distribution) yang tergantung pada nilai marginalnya.Rumus koreksi kontinyuitas: (| | ) 39
  • Rumus uji fisher’s exact:Dimana:A = frekuensi sel dari baris pertama dan kolom pertamaB = frekuensi sel dari baris pertama dan kolom keduaC = frekuensi sel dari baris kedua dan kolom pertamaD = frekuensi sel dari baris kedua dan kolom keduaAnalisis Regresi Logistik Regresi logistik merupakan model yang digunakan untuk menganalisisdata kategorik dengan variabel respon berupa data yang berskala biner/dikotomidan variabel independennya berupa data kuantitaif dan kualitatif (Hosmer danLemeshow, 1989). Nilai dari variabel respon (Y) adalah 0 dan 1 yang dalampenelitian ini Y = 0 mewakili preferensi terhadap anak perempuan dan Y = 1mewakili preferensi jenis kelamin lainnya. Prinsip regresi logistik hampir samadengan regresi linear. Dalam regresi linear kita membuat model dengan mencarinilai rata-rata bersyarat E(Y|x). Hal tersebut juga berlaku dalam regresi logistik,namun rata-rata bersyarat dalam model ini memiliki nilai antara 0 dan 1 | yang dilambangkan dengan . Menurut Agresti (1990), variabel respon dalam analisis regresi logistikbiner merupakan variabel dengan nilai 0 dan 1 yang merupakan random variabelyang mengikuti sebaran Bernoulli. Bentuk umum dari model peluang regresilogistik dengan p variabel independen adalah: 40
  • Nilai menyatakan peluang sukses yaitu peluang preferensi terhadapanak perempuan atau | . Model regresi logistik terlebih dahuludiubah menjadi fungsi yang linear dalam parameternya dengan transformasi logit . Hasil dari transformasinya adalah: Jika dari beberapa variabel independen adalah diskrit dan berskalanominal maka varibel tersebut tidak tepat jika dimasukkan kedalam model karenaangka tersebut hanya sebagai identifikasi saja dan tidak mempunya nilai numerik.Dalam hal ini diperlukan variabel dummy dan jika satu variabel yang berskalanominal dengan k kategori maka diperlukan k-1 variabel dummy. Misalkanvariabel ke-j yaitu Xj mempunyai k kategori maka terdapat k-1 variabel dummydengan notasi Dj. Model logit untuk p variabel independen dan variabel ke-jadalah diskrit akan menjadi sebagai berikut: ∑ Analogi dalam regresi linear dimana | dapat digunakanjuga dalam mengekspresikan variabel respon dalam regresi logistik yaitu Disini nilai diasumsikan mempunyai salah satu kemungkinan dari duanilai. Jika y = 1 maka dengan peluang sedangkan jika y = 0 41
  • maka dengan peluang Dalam hal ini mengikuti distribusibinomial dengan rata-rata nol dan varians .Pendugaan Parameter Seperti halnya regresi linear, regresi logistik juga menggunakan metodeMaximum Likelihood untuk menduga parameternya (Hosmer dan Lemeshow,1989). Dalam regresi logistik variabel responnya mengikuti distribusi Bernoullisehingga fungsi kepekatan peluangnya adalah Karena observasi dasumsikan saling bebas maka fungsi likelihoodnyaadalah ∏ Prinsip dari maximum likelihood adalah mengestimasi parameter denganmemaksimumkan fungsi likelihoodnya sehingga yang dipakai adalahloglikelihoodnya yaitu ln ∑ ln Untuk mendapatkan nilai maka harus diturunkan terhadapdengan syarat dan , sehingga akan diperoleh persamaan: ∑ 42
  • Solusi persamaan diatas tidak linear terhadap sehingga solusi bagi ̂tidak dapat dituliskan secara eksplisit karena sangat sulit untuk dihitung denganmanual. Dalam software SPSS penyelesaian dihitung dengan metode iterasi.Pengujian Parametera. Statistik Uji-G2 Statistik uji-G2 digunakan untuk melihat pengaruh bersama-sama olehseluruh variabel insependen yang ada didalam model (Agresti, 1990). Hipotesisyang digunakan adalah H0 : 1= 2= … = p= 0 (tidak ada pengaruh dari variabel independen terhadap variabel respon) H1 : minimal ada satu 0 (minimal ada satu variabel independen yang berpengaruh terhadap variabel respon) Dengan statistik uji Dimana: L0 = likelihood dari model dengan konstanta Lk = likelihood dari model penuh j = 1,2, …,p Tolak H0 jikab. Statistik Uji Wald Umumnya model selalu mencari variabel yang mempunyai keterpautanyang kuat antara model dengan data yang ada, artinya kita memilih variabel- 43
  • variabel mana saja yang tepat masuk kedalam model. Hal tersebut dapat dilakukandengan pengujian keberartian parsial Wald, dengan hipotesis H0 : 0 (tidak ada pengaruh dari variabel ke-j terhadap variabel respon) H1 : 0 (ada pengaruh dari variabel ke-j terhadap variabel respon) ̂ Dengan statistik uji ( ) ( ̂) Dimana ̂ adalah penduga dari ( ̂ ) galat baku dari penduga j = 1,2, …,p Tolak H0 jikaPengujian Kecocokan Model Pengujian kecocokan model bertujuan untuk melihat sejauh mana modeldapat atau bisa menjelaskan data. Secara umum model akan fit/cocok apabilajumlah dari jarak y dan ̂ kecil, serta kontribusi dari masing-masing pasangan(yi, ̂ i) adalah relatif kecil pada error dimana i = 1,2,3,...,n. Pada penelitian ini pengujian kecocokan model menggunakan uji Hosmerdan Lemeshow. Pada uji ini pengelompokkan didasarkan pada nilai etimasi daripeluang. Dimana J = n, n adalah jumlah kolom berdasarkan n estimasi daripeluang yang berurutan dari nilai yang paling kecil ke yang paling besar.Pengelompokkan lebih lanjut didasarkan atas dua dasar yaitu persentil daripeluang estimasi dan nilai fix dari peluang estimasi. 44
  • Dengan dasar/metode yang pertama maka digunakan g = 10 kelompokdimana kelompok pertama berisi ⁄ nilai terkecil dari peluang estimasi0,1 dan kelompok terakir berisi ⁄ nilai terbesar dari peluang estimasi >0,9. Nilai batas peluang estimasi pada masing-masing grup adalah ⁄ , dimanak = 1,2,...,10. Uji Hosmer dan Lemeshow menggunakan statistik ̂ yang mengikutidistribusi chi-square dari tabel frekuensi dengan derajat bebas (g – 2).Formula dari statistik ̂ adalah ̅ ̂ ∑ ̅ ̅ Dimana ∑ ̂ ̅ ∑Dengan = jumlah total subjek pada grup ke-k = jumlah dari bentuk kovariat pada desil ke-k = jumlah dari variabel respon diantara kovariat̅ = rata-rata dari peluang estimasi Pada pengujian kecocokan model ini hipotesis yang dipakai adalahH0 : model telah cukup menjelaskan data/model hasil estimasi signifikan fitH1 : model tidak cukup menjelaskan data/model hasil estimasi tidak signifikan fitTolak H0 jika ̂ 45
  • Odds Ratio Odds ratio adalah ukuran yang menyatakan tingkat kecenderunganmengalami suatu kejadian antara satu kategori dibandingkan dengan kategorilainnya dalam satu variabel independen dengan notasi . Odds ratio menyatakantingkat kecenderungan variabel Xj =1 berapa kali lebih besar dibandingkanvariabel Xj = 0. Untuk variabel independen yang berskala kontinyu, koefisienmenyatakan perubahan log odds untuk setiap perubahan satu unit dalam varibel X. Logaritma dari log odds merupakan logit ( ) dan ( ) Nilai odds pada masing-masing x adalah Odds ratio merupakan perbandingan dari nilai odds pada x=1 terhadapx=0, maka ⁄ ⁄ 46
  • sehingga ( ⁄ ) ( ⁄ )Bentuk lain dari Odds ratio adalah ( ) ⁄ ⁄ ( ) [ ][ ] ( ) [ ][ ] ( ) ( ) ( ) 47
  • BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN2.1 Gambaran Umum Masyarakat Kampung Dalam yang Memiliki Preferensi Anak Perempuan 5% lainnya perempuan 95% Gambar 3. Persentase masyarakat berdasarkan preferensinya terhadap jenis kelamin anak Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 79 pasangan suami istrisehingga unit obsevasinya adalah 158 orang. Hasil dari penelitian inimenunjukkan bahwa preferensi masyarakat Kampung Dalam lebih banyak padaanak perempuan yaitu sebesar 95 persen sedangkan preferensi lainnya (preferensiterhadap anak laki-laki dan tidak ada preferensi) sebesar 5 persen. 48
  • Umur Tabel 2. Nilai tengah dari umur masyarakat Kampung Dalam Rata-rata Median Modus 44,39 44 35 Tabel 2 menunjukkan bahwa rata-rata responden berumur antara 44 – 45tahun. Umur tengah dari responden pada penelitian ini adalah 44 tahun.Sedangkan umur yang paling banyak ditemui pada saat pencacahan adalah 35tahun.Jenis Kelamin Penelitian ini memiliki sampel 79 pasangan artinya terdapat jumlah wanitadan laki-laki yang sama sebagai unit obsevasi. 93.7% 96.2% 100.0% 90.0% 80.0% 70.0% 60.0% lainnya 50.0% perempuan 40.0% 30.0% 20.0% 6.3% 3.8% 10.0% .0% LAKI-LAKI PEREMPUAN Gambar 4. Persentase preferensi masyarakat terhadap anak menurut jenis kelamin 49
  • Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki kecenderunganyang tinggi pada preferensi anak perempuan. Hal ini dapat dilihat dari gambar 4.Laki-laki memiliki preferensi terhadap anak perempuan sebesar 93,7 persen danpreferensi lainnya sebesar 6,3 persen. Sedangkan wanita memiliki preferensiterhadap anak perempuan sebesar 96,2 persen dan preferensi lainnya sebesar 3,8persen.Pendidikan 47% 53% <sma >=sma Gambar 5. Persentase masyarakat berdasarkan jenjang pendidikan Variabel pendidikan dibagi menjadi dua kategori yaitu kurang dari SMAdan SMA keatas. Pendidikan yang paling banyak ditamatkan oleh masyarakatKampung Dalam adalah kurang dari SMA (53 persen). Kelompok masyarakatyang berpendidikan SMA keatas mempunyai proporsi yang tidak jauh berbedadibandingkan yang kurang dari SMA yaitu sebesar 57 persen atau berbeda sebesar6 persen. 50
  • 100% 100.0% 89,3% 80.0% 60.0% lainnya 40.0% perempuan 10,7% 20.0% 0% .0% <sma >=sma Gambar 6. Persentase preferensi masyarakat terhadap anak menurut jenjang pendidikan Gambar 6 menunjukkan bahwa pendidikan apapun yang ditamatkan olehmasyarakat Kampung Dalam preferensinya tetap lebih besar pada anakperempuan. Pada kelompok masyarakat yang pendidikannya kurang dari SMAsemuanya (100 persen) memiliki preferensi pada anak perempuan. Sedangkanpada mereka yang berpendidikan SMA keatas memiliki proporsi sebesar 89,3persen untuk preferensi anak perempuan dan 10,7 persen untuk preferensi lainnya.Umur Perkawinan Pertama 8% <=30 >30 92% Gambar 7. Persentase masyarakat berdasarkan umur perkawinan pertama 51
  • Umur perkawinan pertama dikelompokkan menjadi dua yaitu 30 tahunkebawah dan lebih dari 30 tahun. Gambar 7 memperlihatkan pola dari masyarakatKampung Dalam yang sebagian besar menikah pada saat berumur dibawah 30tahun yaitu sebesar 92 persen. Sedangkan mereka yang menikah diatas umur 30tahun adalah 8 persen. 95.2% 92.3% 100.0% 80.0% 60.0% lainnya 40.0% perempuan 20.0% 4.8% 7.7% .0% <=30 >30 Gambar 8. Persentase preferensi masyarakat terhadap anak menurut umur perkawinan pertama Pada kelompok yang umur perkawinan pertamanya kurang dari 30 tahundan diatas 30 tahun sama-sama memilki kecenderungan yang tinggi padapreferensi anak perempuan. Gambar 8 memperlihatkan bahwa 95,2 persenkelompok yang umur perkawinan pertamanya kurang dari 30 tahun memilikipreferensi pada anak perempuan dan 4,8 persen untuk preferensi lainnya.Sedangkan yang umur perkawinan pertamanya diatas 30 tahun sebesar 92,3persen memiliki preferensi pada anak perempuan dan 7,7 persen untuk preferensilainnya. 52
  • Lama Perkawinan 11% 19% <=5 tahun 6-10 tahun 70% >10 tahun Gambar 9. Persentase masyarakat berdasarkan lama perkawinan Variabel lama perkawinan dibagi dalam 3 kategori yaitu dibawah 5 tahun,6 sampai 10 tahun, dan lebih dari sepuluh tahun. Sebagian besar masyarakatKampung Dalam lama perkawinannya lebih dari 10 tahun (70 persen), sedangkanuntuk kelompok yang usia perkawinannya 6 sampai 10 tahun sebesar 19 persendan dibawah 5 tahun sebesar 11 persen. 97.3% 100.0% 88.9% 90% 90.0% 80.0% 70.0% 60.0% lainnya 50.0% perempuan 40.0% 30.0% 20.0% 11.1% 10% 10.0% 2.7% .0% <=5 6-10 >10 Gambar 10. Persentase preferensi masyarakat terhadap anak menurut lama perkawinan 53
  • Pada masing-masing kelompok usia perkawinan kecenderungan preferensianak perempuan tetap masih besar. Usia perkawinan dibawah 5 tahun adasebanyak 88,9 persen yang memiliki preferensi anak perempuan dan 11,1 persenpersen preferensi lainnya. Kelompok yang usia perkawinannya 6 sampai 10 tahunmemiliki preferensi pada anak perempuan sebesar 90 persen dan 10 persen untukpreferensi lainnya. Sedangkan kelompok yang usia perkawinannya lebih dari 10tahun terdapat sebesar 97,3 persen yang berpreferensi pada anak perempuan dan2,7 persen untuk preferensi lainnya.Pernah atau Tidaknya Mengakses Informasi 6% tdk pernah pernah 94% Gambar 11. Persentase masyarakat berdasarkan pernah atau tidaknya mengakses informasi Dari hasil penelitian ini didapat bahwa sebagian besar masyarakatKampung Dalam sudah mengakses informasi baik dari televisi, radio, maupunmedia cetak. Sebesar 94 persen masyarakat Kampung Dalam sudah mengaksesinformasi dan 6 persen tidak pernah mengakses informasi. Sumber informasi yang ditanyakan dalam kuesioner ada tiga yaitu televisi,radio, dan media cetak. Masyarakat Kampung Dalam tidak hanya mengakses 54
  • salah satu dari sumber informasi itu saja melainkan juga mengakses beberapa atausemua dari sumber informasi tersebut. 2% 6% 30% tidak ada salah satu 62% 2 sumber semuanya Gambar 12. Persentase masyarakat berdasarkan pilihan sumber informasi Kelompok masyarakat yang pernah mengakses informasi dibagi menjaditiga yaitu kelompok masyarakat yang hanya mengakses salah satu sumberinformasi saja, mengakses dua sumber informasi, dan mengakses semua sumberinformasi. Kelompok masyarakat yang hanya mengakses dari salah satu sumberinformasi sebesar 62 persen. Sebanyak 30 persen dari masyarakat yang megaksesinformasi adalah mereka yang mengakses informasi dari dua sumber. Sedangkanproporsi paling sedikit adalah mereka yang mengakses semua sumber informasiyaitu hanya sebanyak 2 persen. 55
  • 2% tv saja radio saja 98% Gambar 13. Persentase masyarakat berdasarkan akses informasi hanya dari salah satu sumber Gambar 13 menunjukkan persentase dari masyarakat yang mengaksesinformasi dari salah satu sumber saja. Terdapat 98 persen masyarakat yangmengakses televisi saja dan 2 persen yang mengakses radio saja. Mereka yangmengakses media cetak saja tidak ada, hal ini disebabkan karena mereka yangmengakses media cetak selalu diikuti dengan mengakses sumber lainnya. 4% 17% tv+radio tv+media cetak 79% media cetak+radio Gambar 14. Persentase masyarakat berdasarkan akses informasi dari dua sumber Masyarakat yang mengakses informasi dari dua sumber terbagi menjaditiga kelompok yaitu mereka yang mengakses televisi dan radio, televisi dan media 56
  • cetak, serta media cetak dan radio. Kombinasi dari dua sumber informasi yangpaling banyak diakses adalah televisi dan media cetak yaitu sebanyak 79 persen.Urutan kedua adalah mereka yang mengakses informasi dari televisi dan radioyaitu sebanyak 17 persen. Sedangkan yang mengakses dari radio dan media cetakhanya 4 persen saja. 95.9% 100.0% 80% 80.0% 60.0% lainnya 40.0% perempuan 20% 20.0% 4.1% .0% tdk pernah pernah Gambar 15. Persentase preferensi masyarakat terhadap anak menurut pernah atau tidaknya mengakses informasi Preferensi terhadap anak perempuan yang besar terlihat pada keduakelompok tersebut. Preferensi anak perempuan pada masyarkat yang pernahmengakses informasi sebesar 95,9 persen dan 4,1 persen untuk preferensi lainnya.Sedangkan mereka yang tidak mengakses informasi memiliki preferensi padaanak perempuan yaitu sebanyak 80 persen dan 20 persen untuk preferensi lainnya. 57
  • Pengalaman Tinggal di Wilayah Perkotaan 39% tidak 61% pernah tinggal Gambar 16. Persentase masyarakat berdasarkan pengalaman tinggal di wilayah perkotaan Variabel pengalaman tinggal di wilayah perkotaan ini dibagi dua kategoriyaitu pernah tinggal dan tidak pernah tinggal di wilayah perkotaan. Gambar 16memperlihatkan proporsi masyarakat Kampung Dalam yang pernah tinggal diwilayah perkotaan sebesar 61 persen sedangkan yang tidak pernah tinggal diwilayah perkotaan sebesar 39 persen. Masyarakat yang pernah tinggal di wilayah perkotaan terbagi menjadi duakategori yaitu wilayah perkotaan di Sumatera Barat dan wilayah perkotaan di luarSumatera Barat atau disebut juga merantau. 39% dalam sumatera barat 61% luar sumatera barat Gambar 17. Persentase masyarakat berdasarkan kategori pernah tinggal di wilayah perkotaan 58
  • Gambar 17 memperlihatkan persentase wilayah perkotaan yang pernahditinggali oleh masyarakat Kampung Dalam. Terdapat sebanyak 61 persenmasyarakat yang pernah tinggal di wilayah perkotaan luar Sumatera Barat ataudisebut juga merantau. Hal ini sejalan dengan budaya Minangkabau yang seringmerantau. Sedangkan masyarakat yang pernah tinggal di wilayah perkotaannamun masih di Sumatera Barat adalah sebanyak 39 persen. 96.7% 93.8% 100.0% 80.0% 60.0% lainnya perempuan 40.0% 20.0% 3.3% 6.2% .0% tidak pernah tinggal Gambar 18. Persentase preferensi masyarakat terhadap anak menurut pengalaman tinggal di wilayah perkotaan Kedua kelompok masyarakat Kampung Dalam yang pernah tinggalmaupun yang tidak pernah tinggal di wilayah perkotaan memiliki kecenderunganyang besar pada preferensi anak perempuan. Mereka yang pernah tinggal diwilayah perkotaan memilki preferensi pada anak perempuan sebesar 93,8 persendan 6,2 persen untuk preferensi lainnya. Sedangkan proporsi preferensi anakperempuan pada mereka yang tidak pernah tinggal di wilayah perkotaan jauhlebih besar daripada yang pernah tinggal yaitu sebesar 96,7 persen dan 3,3 persenuntuk preferensi lainnya. 59
  • Jenis Pekerjaan 16% tdk bekerja/pekerja 19% serabutan 65% PNS/TNI/karyawan pedagang Gambar 19. Persentase masyarakat berdasarkan jenis pekerjaan Jenis pekerjaan dibagi menjadi tiga kategori yaitu tidak bekerja/pekerjaserabutan, PNS//TNI/karyawan, dan pedagang. Hal ini berdasarkan data yangtersedia sewaktu survei. Proporsi terbesar adalah kategori tidak bekerja/pekerjaserabutan sebesar 65 persen. Hal ini disebabkan oleh observasi yang setengahnyaadalah perempuan yang berstatus istri yang sebagian besarnya adalah ibu rumahtangga. PNS/TNI/karyawan mempunyai persentase 19 persen. Sedangkan jenispekerjaan pedagang sebesar 16 persen yang berbeda 3 persen dari kategoriPNS/TNI/karyawan. 97.1% 90.0% 92.3% 100.0% 50.0% 2.9% 10.0% 7.7% lainnya .0% perempuan PNS/TNI/karyaw pedagang bekerja/pekerja serabutan tdk an Gambar 20. Persentase preferensi masyarakat terhadap anak menurut jenis pekerjaan 60
  • Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada ketiga kategori jenispekerjaan preferensi anak perempuan tetap memiliki kecenderungan yang palingbesar. Masyarakat yang tidak bekerjapun memiliki preferensi pada anakperempuan yang sangat besar yaitu 97,1 persen dan 2,9 persen untuk preferensilainnya. PNS/TNI/karyawan memiliki preferensi pada anak perempuan sebesar 90persen dan 10 persen untuk preferensi lainnya. Mereka yang bekerja sebagaipedagangpun tidak kalah besar proporsinya dalam preferensi pada anakperempuan yaitu sebesar 92,3 persen dan 7,7 persen untuk preferensi lainnya. Halini menunjukkan apapun jenis pekerjaan yang digeluti oleh masyarakat KampungDalam preferensi mereka tetap berada pada anak berjenis kelamin perempuan.Pendapatan Perkapita Perbulan 49% 51% <=425000 >425000 Gambar 21. Persentase masyarakat berdasarkan pendapatan perkapita perbulan Kategori pendapatan perkapita perbulan dibagi menjadi dua berdasarkanrata-rata pendapatan perkapita perbulan seluruh responden yaitu dibawah Rp425.000 dan diatas Rp 425.000. Proporsi kelompok masyarakat yang pendapatanperkapitanya dibawah Rp 425.000 adalah 51 persen sedangkan mereka yang 61
  • pendapatan perkapitanya berada diatas Rp 425.000 berada 2 persen dibawahkategori pertama yaitu sebesar 49 persen. 98.8% 90.9% 100.0% 80.0% 60.0% lainnya 40.0% perempuan 20.0% 9.1% 1.2% .0% <=425000 >425000 Gambar 22. Persentase preferensi masyarakat terhadap anak menurut pendapatan perkapita perbulan Gambar 22 menunjukkan bahwa pendapatan dibawah ataupun diatas Rp425.000 tetap memiliki kecederungan pada preferensi anak perempuan yang lebihbesar. Masyarakat yang pendapatan perkapitanya kurang dari Rp 425.000memiliki proporsi preferensi pada anak perempuan sebesar 98,8 persen dan 1,2persen untuk preferensi lainnya. Sedangkan mereka yang pendapatanperkapitanya lebih dari Rp 425.000 adalah sebesar 90,9 persen untuk preferensianak perempuan dan 9,1 persen untuk preferensi lainnya. 62
  • Penentu Perkawinan 30% bkn ortu 70% ortu Gambar 23. Persentase masyarakat berdasarkan penentu perkawinan Penentu perkawinan terdiri dari dua kategori yaitu perkawinan yangditentukan oleh orangtua dan bukan orangtua. Perkawinan yang ditentukan ataudijodohkan oleh orangtua mempunyai proporsi yang besar pada masyarakatKampung Dalam sebesar 70 persen sedangkan yang ditentukan oleh bukanorangtua adalah sebesar 30 persen. 99.1% 100.0% 85.4% 80.0% 60.0% lainnya 40.0% perempuan 14.6% 20.0% 0.9% .0% bkn ortu ortu Gambar 24. Persentase preferensi masyarakat terhadap anak menurut penentu perkawinan 63
  • Hasil penelitian menunjukkan bahwa penentu perkawinan oleh orangtuamaupun bukan orangtua lebih besar preferensinya pada anak perempuan daripadapreferensi lainnya. Perkawinan yang ditentukan oleh orangtua memiliki proporsiyang sangat besar untuk preferensi anak perempuan yaitu sebesar 99,1 persen dan0,9 persen untuk preferensi lainnya. Sedangkan perkawinan yang ditentukanbukan oleh orangtua memiliki proporsi sebesar 85,4 persen untuk preferensi anakperempuan dan 14,6 persen untuk preferensi lainnya.Jumlah Anak 34% <=2 66% >2 Gambar 25. Persentase masyarakat berdasarkan jumlah anak Variabel jumlah anak terdiri dari dua kategori yaitu jumlah anak 2kebawah dan diatas 2. Jumlah anak yang paling banyak dimiliki oleh masyarakatKampung Dalam adalah frekuensi diatas 2 dengan proporsi yaitu sebesar 66persen. Sedangkan jumlah anak yang lebih dari 2 adalah sebesar 34 persen. Pada kuesioner didapat informasi tambahan mengenai anak disampingjumlah anak yang dimiliki yaitu jumlah anak yang diinginkan. 64
  • 48% 52% tidak ada batasan ada batasan Gambar 26. Persentase masyarakat berdasarkan jumlah anak yang diinginkan Kelompok masyarakat berdasarkan jumlah anak yang diinginkan dibagimenjadi dua kategori yaitu kelompok masyarakat yang tidak membatasi jumlahanak yang akan dimiliki dan kelompok masyarakat yang mempunyai target(membatasi) jumlah anak. Kelompok masyarakat yang tidak membatasi jumlahanaknya adalah 48 persen, sedangkan mereka yang mempunyai target adalah 52persen. Pada kelompok masyarakat yang memiliki target jumlah anak, targetmereka bukan target KB atau jumlah anaknya dua melainkan rata-rata darikelompok ini menargetkan jumlah anak mereka antara 3 sampai 4. 96,3% 94,2% 100.0% 80.0% 60.0% lainnya perempuan 40.0% 20.0% 3,7% 5,8% .0% <=2 >2 Gambar 27. Persentase preferensi masyarakat terhadap anak menurut jumlah anak 65
  • Preferensi anak perempuan masih menjadi pilihan pada setiap kategorikepemilikan anak. Kelompok masyarakat yang jumlah anaknya 2 kebawahmemiliki proporsi 96,3 persen untuk preferensi anak perempuan dan 3,7 persenuntuk preferensi lainnya. Proporsi preferensi anak perempuan pada kelompokyang jumlah anaknya lebih dari 2 adalah 94,2 persen dan 5,8 persen untukpreferensi lainnya.Struktur Keluarga 43% 57% BESAR INTI Gambar 28. Persentase masyarakat berdasarkan struktur keluarga Struktur keluarga pada penelitian ini dibagi menjadi dua kategori yaitukeluarga inti dan keluarga besar. Keluarga inti atau keluarga yang tinggal hanyasatu keluarga saja memiliki proporsi yang paling besar yaitu 57 persen.Sedangkan keluarga besar yaitu keluarga yang tinggal bersama dengan keluargalainnya berbeda cukup jauh yaitu 14 persen dari proporsi keluarga inti dengankata lain proporsi keluarga besar adalah sebesar 43 persen. 66
  • 94.1% 95.6% 100.0% 80.0% 60.0% lainnya perempuan 40.0% 20.0% 5.9% 4.4% .0% BESAR INTI Gambar 29. Persentase preferensi masyarakat terhadap anak menurut struktur keluarga Gambar 29 menunjukkan kecenderungan yang besar pada anak perempuanpada kedua kategori. Pada kelompok masyarakat yang struktur keluarganyaadalah keluarga besar terdapat sebesar 94,1 persen untuk preferensi anakperempuan dan 5,9 persen untuk preferensi lainnya. Sedangkan kelompok yangstruktur keluarganya adalah keluarga inti proporsi untuk preferensi anakperempuan adalah sebesar 95,6 persen dan 4,4 persen untuk preferensi lainnya.Eksistensi Sistem Matrilineal 8% kurang eksis eksis 92% Gambar 30. Persentase masyarakat berdasarkan eksistensi sistem matrilineal 67
  • Eksistensi matrilineal dibedakan atas dua ktegori yaitu eksis dan kurangeksis. Gambar 30 menunjukkan bahwa mayarakat yang sistem matrilinealnyaeksis 92 persen, sedangkan sistem matrilinealnya yang kurang eksis adalahsebesar 8 persen dimana kekurangeksisan ini merupakan sumbangan darimasyarakat luar Minangkabau yang juga tinggal di Minangkabau. 97.2% 100.0% 80.0% 69.2% 60.0% lainnya 40.0% 30.8% perempuan 20.0% 2.8% .0% kurang eksis eksis Gambar 31. Persentase preferensi masyarakat terhadap anak menurut eksistensi sistem matrilineal Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok masyarakat yang kurangeksis dalam keberadaan sistem matrilinealnya sudah mulai menunjukkanpreferensinya kearah jenis kelamin laki-laki/tidak berpreferensi yang cukup tinggi(30,8 persen) daripada mereka yang eksis (2,8 persen). Hal ini menunjukkanbetapa pentingnya peranan keeksisan sistem matrilineal dalam penentuanpreferensi jenis kelamin anak pada masyarakat Minangkabau. 68
  • 4.2 Hubungan antara Preferensi Anak Perempuan dengan Variabel- Variabel penjelas Sebelum melakukan pengujian pengaruh variabel-variabel penjelasterhadap preferensi anak perempuan terlebih dahulu dilakukan pengujianindependensi dari masing-masing variabel-variabel penjelas terhadap preferensianak perempuan. Pengujian independensi ini menggunakan chi-square testsebagai alat analisisnya. Melalui test ini dapat diketahui variabel-variabel penjelasmana yang mempunyai yang mempunyai hubungan dengan preferensi anakperempuan. Namun karena pada tabulasi silang 2 2 semua variabel mempunyainilai harapan yang kurang dari 5 melebihi 20 persen maka digunakan uji fisher’sexact sedangkan untuk variabel lainnya yang mempunyai tabulasi silang 3 2tetap memakai uji chi-square. Variabel-variabel penjelas yang digunakan adalahumur, jenis kelamin, pendidikan, umur perkawinan pertama, lama perkawinan,adanya akses informasi, pengalaman tinggal di perkotaan, jenis pekerjaan,pendapatan perkapita, penentu perkawinan, jumlah anak, struktur keluarga,eksistensi sistem matrilineal. Pengujian ini menggunakan tingkat kepercayaan 95persen. Hasil rangkuman pengujian ini adalah sebagai berikut: 69
  • Tabel 3. P-value dan hasil keputusan uji independensi Tidak No Nama variable df p_value Sig. Keputusan sig. (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) 1 Jenis kelamin 1 0,719 0,05 - √ Terima H0 2 Pendidikan 1 0,002 0,05 √ - Tolak H0 3 Umur perkawinan 1 0,505 0,05 - √ Terima H0 pertama 4 Lama perkawinan 2 0,126 0,05 - √ Terima H0 5 Pernah atau tidak 1 0,082 0,05 - √ Terima H0 mengakses informasi 6 Pengalaman tinggal di 1 0,712 0,05 - √ Terima H0 perkotaan 7 Jenis pekerjaan 2 0,240 0,05 - √ Terima H0 8 Pendapatan perkapita 1 0,031 0,05 √ - Tolak H0 perbulan 9 Penentu perkawinan 1 0,001 0,05 √ - Tolak H0 10 Jumlah anak 1 0,716 0,05 - √ Terima H0 11 Struktur keluarga 1 0,726 0,05 - √ Terima H0 12 Eksistensi sistem 1 0,002 0,05 √ - Tolak H0 matrilineal Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 12 variabel penjelas terdapat 4variabel yang berhubungan secara signifikan dengan preferensi anak perempuan.Variabel-variabel tersebut adalah pendidikan, pendapatan perkapita perbulan,penentu perkawinan, dan eksistensi sistem matrilineal. Variabel-variabel yangsignifikan tersebut akan digunakan dalam pengujian regresi logistik gunamengetahui pengaruh dari keempat varibel tersebut. 70
  • Sebelum menganalisis regresi logistik, penulis mencari matriks korelasidari keempat variabel tersebut. Korelasi yang dipakai adalah contingencycoefficient karena variabel tersebut bersifat nominal. Matriks korelasi ini dapatdisajikan dengan tabel seperti berikutTabel 4. Matriks contingency coefficient Penentu Variabel pendidikan pendapatan matrilineal perkawinan (1) (2) (3) (4) (5) pendidikan 1 0,511 0,221 0,084 pendapatan 0,511 1 0,153 0,015 Penentu 0,221 0,153 1 0,245 perkawinan matrilineal 0,084 0,015 0,245 1 Dari Tabel 4 dilihat bahwa korelasi terbesar adalah antara pendidikandengan pendapatan perkapita perbulan. Hal ini mengindikasikan terjadi kombinasilinier antara dua variabel ini yang berkemungkinan salah satu variabel akantereduksi pada pengujian selanjutnya yaitu regresi logistik.4.3 Variabel-variabel yang Memengaruhi Preferensi Terhadap Anak Perempuan Pada analisis regresi logistik ini dilihat pengaruh secara bersama-sama(simultan) maupun pengaruh secara parsial dari variabel-variabel penjelas.Variabel-variabel penjelas yang dipakai dalam pengolahan analisis ini adalahvariabel-variabel yang secara signifikan mempunyai hubungan dengan preferensi 71
  • terhadap anak perempuan yaitu pendidikan, pendapatan perkapita, penentuperkawinan, dan eksistensi sistem matrilineal. Dalam analisis regresi logstik initingkat signifikansi yang digunakan adalah 5 persen (0,05) atau tingkatkepercayaan yang digunakan adalah sebesar 95 persen.Uji G2 digunakan untuk melihat pengaruh secara bersama-sama (simultan).Hipotesisnya adalah H0 : 2= 8= 9= 12= 0 (tidak ada pengaruh dari variabel independen terhadap variabel respon) H1 : minimal ada satu 0 (minimal ada satu variabel independen yang berpengaruh terhadap variabel respon) Dengan statistik uji L0 = likelihood dari model dengan konstanta, dimana nilai -2lnL0 diperoleh dari iteration history dari beginning block sebesar 63,318 Lk = likelihood dari model penuh, dimana nilai -2lnLk diperoleh dari iteration history dari block 1 sebesar 39,112 j = 2,8,9,12 Untuk pengambilan keputusan, kita dapat melihat hasil output pengolahanregresi logistik yang menunjukkan model terbaik dengan nilai G2 yang didapatkandengan pendekatan chi-square sebesar 24,207 serta nilai p-value sebesar 0,000(tabel Omnibus Test of Model Coefficients). Nilai p-value yang lebih kecildaripada (0,05) mengakibatkan keputusan yang diambil adalah tolak H0. Iniartinya dengan tingkat kepercayaan 95 persen minimal ada satu variabel penjelasyang berpengaruh terhadap preferensi anak perempuan. 72
  • Pengujian secara simultan menyatakan model signifikan berpengaruh dandapat digunakan, maka tahap selanjutnya yang dilakukan adalah pengujian secaraparsial keberartian parameter-parameter dalam model menggunakan statistik ujiWald. Hasil pengujian dengan statistik uji Wald disajikan dalam sebuah tabel yangberisi hasil estimasi parameter ( ̂ ), standar error (SE), nilai statistik Wald, p-value, dan nilai odds ratio.Tabel 5. Variabel-variabel yang signifikan dalam model dengan uji Wald No. Variable ̂ SE Wald df sig Exp( ̂ ) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Pendapatan -2,623 1,287 4,157 1 0,041 0,073 1 perkapita Penentu 2,473 1,146 4,659 1 0,031 11,863 2 perkawinan Eksistensi sistem 2,823 1,008 7,850 1 0,005 16,829 3 matrilineal Tabel diatas menunjukkan variabel-variabel yang signifikan berpengaruhdalam model ada tiga variabel dari empat variabel yang berhubungan yaitupendapatan perkapita, penentu perkawinan, dan eksistensi sistem matrilineal.Dapat dilihat bahwa variabel pendidikan tidak signifikan di dalam model karenavariabel ini mempunyai kombinasi linear dengan pendapatan perkapita perbulan(signifikan) maka variabel ini tereduksi dengan sendirinya. Hal ini juga dapatdibuktikan dengan melihat chi-square dari kedua variabel tersebut yang signifikan(Lampiran 4). 73
  • Pengaruh parsial ditunjukkan dengan uji Wald dengan hipotesis H0 : 0 (tidak ada pengaruh dari variabel ke-j terhadap variabel respon) H1 : 0 (ada pengaruh dari variabel ke-j terhadap variabel respon) ̂ Dengan statistik uji ( ) dan j = 2,8,9,12 ( ̂) Sehingga ketiga variabel tersebut dinyatakan tolak H0 dengan rinciansebagai berikut: 1. Pendapatan perkapita perbulan mempunyai nilai Wald 4,157 dan p-value 0,041. Nilai p-value yang lebih kecil daripada (0,05) mengakibatkan keputusan yang diambil adalah tolak H0, artinya dengan tingkat kepercayaan 95 persen telah cukup bukti untuk menyatakan besarnya pendapatan perkapita perbulan berpengaruh terhadap preferensi anak perempuan atau dengan kata lain variabel ini diperlukan dalam model. 2. Penentu perkawinan mempunyai nilai Wald 4,659 dan p-value 0,031. Nilai p-value yang lebih kecil daripada (0,05) mengakibatkan keputusan yang diambil adalah tolak H0, artinya dengan tingkat kepercayaan 95 persen telah cukup bukti untuk menyatakan bahwa penentu perkawinan berpengaruh terhadap preferensi anak perempuan atau dengan kata lain variabel ini diperlukan dalam model. 3. Eksistensi sistem matrilineal mempunyai nilai Wald 7,850 dan p-value 0,005. Nilai p-value yang lebih kecil daripada (0,05) mengakibatkan keputusan yang diambil adalah tolak H0, artinya dengan tingkat kepercayaan 95 persen telah cukup bukti untuk menyatakan bahwa eksistensi sistem 74
  • matrilineal berpengaruh terhadap preferensi anak perempuan atau dengan kata lain variabel ini diperlukan dalam model. Dari ketiga variabel penjelas yang signifikan tersebut kita dapatmembentuk model peluang regresi logistik berdasarkan nilai koefisien ̂ yaitusebagai berikut: ̂ Dengan fungsi transformasi logit sebagai berikut: ̂ [ ] ̂ ̂Dimana:̂ = peluang preferensi terhadap anak perempuan yang nilainya tergantung dari variabel penjelas yang signifikan mempengaruhinyaD8 = pendapatan perkapitaD9 = penentu perkawinanD12 = eksistensi sistem matrilineal Selanjutnya koefisien ̂ yang terdapat pada Tabel 4 dari masing-masingvariabel dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Pendapatan perkapita perbulan mempunyai pengaruh negatif terhadap kecenderungan masyarakat pada preferensi anak perempuan dengan nilai ̂ sebesar 2,623 2. Penentu perkawinan mempunyai pengaruh positif terhadap kecenderungan masyarakat pada preferensi anak perempuan dengan nilai ̂ sebesar 2,473 75
  • 3. Eksistensi sistem matrilineal mempunyai pengaruh positif terhadap kecenderungan masyarakat pada preferensi anak perempuan dengan nilai ̂ sebesar 2,823 Setelah mendapatkan variabel-variabel yang signifikan dalam modelselanjutnya dapat dilihat proporsi varians variabel respon yang dapat dijelaskanoleh ketiga variabel tersebut melalui pendekatan dari nilai Nagelkerke R Square.Hasil pengolahan data menunjukkan nilai Nagelkerke R Square adalah sebesar0,430 artinya proporsi varians preferensi terhadap anak perempuan yang bisadijelaskan oleh ketiga varibel tersebut adalah sebesar 43 persen sedangkan 57persen lainnya dijelaskan oleh variabel lain diluar variabel penelitian ini. Dengan model logit yang kita miliki tersebut kita bisa melihat kecocokanmodel atau goodness of fit dari uji Hosmer and Lemeshow. Hipotesis yangdipakai adalah: H0 : model telah cukup menjelaskan data/model hasil estimasi signifikan fit H1 : model tidak cukup menjelaskan data/model hasil estimasi tidak signifikan fit Keputusan yang diharapkan dari uji Hosmer and Lemeshow adalah terimaH0. Dari hasil pengolahan dengan analisis regresi logistik didapat nilai p-valuesebesar 0,964. Nilai p-value ini lebih besar dari nilai (0,05) sehingga keputusanyang diambil adalah terima H0 yang artinya model telah cukup menjelaskandata/model layak digunakan/model signifikan fit. Selanjutnya yang dapat dilihat dari hasil pengolahan pada analisis regresilogistik adalah ketepatan persentase pengklasifikasin oleh model. Preferensi 76
  • terhadap anak perempuan diklasifikasikan secara tepat (prediksi sesuai) sebesar99,3 persen dan preferensi lainnya mempunyai nilai ketepatan prediksi sebesar37,5 persen. Sedangkan secara keseluruhan 96,2 persen data observasi dapatdiprediksi secara tepat oleh model estimasi, hal ini menunjukkan bahwa modeltelah cukup baik dalam ketepatan prediksi.4.4 Nilai Risiko Kecenderungan Menurut Hosmer dan Lemeshow (1998) penarikan kesimpulam dalamanalisis regresi logistik adalah dengan menduga nilai odds ratio dari faktor-faktorpeluang dalam model. Odds ratio digunakan untuk mengetahui risikokecenderungan pengaruh variabel penjelas terhadap preferensi anak perempuan.Nilai odds ratio dilambangkan oleh exp( ̂ ) dari masing-masing variabel padahasil pengolahan. Berdasarkan hasil pengolahan analisis regresi logistik, nilaiodds ratio pada masing-masing variabel penjelas yang signifikan dalam modeladalah sebagai berikut: 1. Variabel pendapatan perkapita perbulan mempunyai odds ratio sebesar 0,073. Artinya kecenderungan masyarakat yang pendapatan perkapitanya diatas rata-rata memiliki preferensi terhadap anak perempuan sebesar 0,073 kali dibandingkan dengan masyarakat yang pendapatan perkapitanya dibawah rata-rata atau dengan kata lain kecenderungan masyarakat yang pendapatan perkapitanya dibawah rata-rata memiliki preferensi terhadap anak perempuan sebesar 13,699 kali dibandingkan masyarakat yang pendapatan perkapitanya diatas rata-rata. 77
  • 2. Variabel penentu perkawinan mempunyai odds ratio sebesar 11,863. Artinya kecenderungan masyarakat yang penentu perkawinannya orangtua memiliki preferensi terhadap anak perempuan sebesar 11,863 kali dibandingkan dengan masyarakat yang penentu perkawinannya adalah bukan orangtua.3. Variabel eksistensi sistem matrilineal mempunyai odds ratio sebesar 16,829. Artinya kecenderungan masyarakat yang sistem matrilinealnya eksis dalam kesehariannya memiliki preferensi terhadap anak perempuan sebesar 16,829 kali dibandingkan dengan masyarakat yang yang sistem matrilinealnya kurang eksis dalam kesehariannya 78
  • BAB V KESIMPULAN DAN SARAN5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, adabeberapa hal yang dapat disimpulkan sebagai hasil dari penelitian ini yaitu: 1. Dalam penelitian ini umur responden rata-rata adalah 44-45 tahun dan mayoritas responden berada pada kategori pendidikan di bawah SMA, umur perkawinan pertama dibawah 30 tahun, lama perkawinan diatas 10 tahun, pernah mengakses informasi, pernah tinggal di wilayah perkotaan, jenis pekerjaan tidak bekerja/pekerja serabutan, pendapatan perkapita perbulan dibawah Rp 425.000. penentu perkawinan adalah orangtua, jumlah anak lebih dari 2, struktur keluarga adalah inti, dan sistem matrilineal yang eksis. 2. Sebagian besar responden mempunyai preferensi pada anak perempuan yaitu sebesar 95 persen. Dengan kata lain preferensi anak perempuan juga merupakan proporsi terbesar pada setiap kategori dalam masing-masing variabel independen. 3. Variabel-variabel yang berhubungan dengan preferensi anak perempuan melalui uji independensi dengan taraf nyata 5 persen adalah pendidikan yang berasal dari faktor sosial-demografi, pendapatan perkapita perbulan yang berasal dari faktor ekonomi, serta penentu perkawinan dan eksistensi sistem matrilineal yang berasal dari faktor budaya-norma masyarakat. 79
  • 4. Pengujian melalui statistik uji Wald dengan taraf nyata 5 persen menghasilkan variabel-variabel yang memengaruhi preferensi pada anak perempuan yaitu pendapatan perkapita perbulan, penentu perkawinan, dan eksistensi sistem matrilineal. 5. Masyarakat yang pendapatan perkapitanya dibawah rata-rata, penentu perkawinannya orangtua, dan sistem matrilineal yang eksis dalam kesehariannya memiliki kecenderungan yang lebih tinggi terhadap preferensi anak perempuan.5.2 Saran 1. Pemerintah perlu memberi himbauan kepada masyarakat Minangkabau yang penentu perkawinannya orangtua untuk tetap dapat mempertahankan budaya sistem matrilineal namun di sisi lain juga tetap mengikuti anjuran KB tentang jumlah anak maksimal dua. 2. Pemerintah perlu meningkatkan pendidikan dan perbaikan ekonomi supaya bisa menciptakan kehidupan yang lebih baik pada masyarakat Minangkabau. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi dampak negatif dari preferensi anak perempuan terhadap rendahnya kualitas pendidikan dan perekonomian pada masyarakat Minangkabau. 3. Untuk penelitian selanjutnya dapat memperluas cakupan wilayah dan variabel-variabel penelitian. Penelitian ini dilakukan di wilayah pedesaan, apabila waktu penelitian panjang maka untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat dilakukan di wilayah perkotaan Sumatera 80
  • Barat dan perkotaan luar Sumatera Barat (masyarakat perantau) supayadapat dilakukan perbandingan desa dengan kota. 81
  • DAFTAR PUSTAKAAl-khusyairi, Rabbi’ah. 2006. Pengaruh Faktor-faktor Sosial Dari Wanita Bekerja Berstatus Kawin Terhadap Preferensi Anak Laki-laki (Skripsi). Jakarta: Sekolah Tinggi Ilmu StatistikBadan Pusat Statistik. 2005. Publikasi Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2005__________________ . 2009. Publikasi Statistik Indonesia__________________ Provinsi Sumatera Barat. 2010. Keadaan Ketenagakerjaan Sumatera Barat Agustus 2009. Berita Resmi Statistik No. 59/12/13/Th. XII. http://sumbar.bps.go.id/data/artikel/406/angker1209.pdf__________________ Kabupaten Padang Pariaman. 2008. Padang Pariaman Dalam Angka 2008. http://downloads.ziddu.com/downloadfiles/14826063/Padang_Pariaman_ Dalam_Angka_2008.pdfBeckman, Franz von Benda. 2000. Properti dan Kesinambungan Sosial: Kesinambungan dan Perubahan Dalam Pemeliharaan Hubungan- hubungan Properti Sepanjang Masa di Minangkabau. Jakarta: Gramedia WidiasaranaBurns, Tom R. et al. 1987. Manusia, Keputusan, Masyarakat: Teori Dinamika Antara Aktor dan Sistem untuk Ilmuwan Sosial. Jakarta: Pradnya ParamitaFuse, Kana. 2006. Daughter Preference in Japan: A Shift in Gender Role Attitudes? (Working Paper). Ohio: Department of Sociology The Ohio State UniversityHandayani, Trisakti dan Sugiarti. 2001. Konsep dan Teknik Penelitian Gender. Malang: Pusat Studi Wanita dan Masyarakat Universitas MuhammadiyahHank, Karsten dan Hans-Peter Kohler. 2000. Gender Preferences for Children in Europe: Empirical Results from 17 FFS Countries. Demography Research. Volume 2 Article 1 82
  • Harun, Azhari. 1990. Hubungan Merantau dan Etnosentrisme Dengan Sikap Mahasiswa Minangkabau Terhadap Sistem Matrilineal [Skripsi]. Depok: Universitas IndonesiaHosmer, DW dan Lemeshow S. 1989. Applied Logistic Regression. Canada: John Wiley & Son, IncIskandar N. 1975. Sex Preference of Children and Contraceptive Use by Woman Wanting No More Children in Jakarta 1968. Majalah Demografi Indonesia. No.3 Tahun ke-IIKasim, Muslim. 2010. Adat dan Budaya Minangkabau. Jakarta: AbadiKhan, Asaduzzaman dan Parveen A. Khanum. 2000. Influence of Son Preference on Contraceptive Use in Bangladesh. Asia-Pacific Population Journal. Volume 15 No. 3Lee, Sung Yong. 1995. Sex Preference Versus Number Preference: The Case of Korea (Paper). Madison: Department of Sociology University of WisconsinLena Edlund. 1999. Son Preference, Sex Ratios, and MarriagePatterns. Journal of Political Economy. Volume 107 No. 6Leone, Tiziana et al. 2003. Impact and Determinants of Sex Preference in Nepal. International Family Planning Perspectives. Volume 29 No. 2Lestari, Rani Widya. 2006. Preferensi dan Permintaan Masyarakat Terhadap Produk-produk Bank Syariah (Skripsi). Yogyakarta: Universitas Islam NegriLutchmaya, Svetlana dan Simon Baron-Cohen. 2002. Human Sex Differences in Sosial and Non-Sosial Looking Preferences, at 12 Months Of Age. Cambridge: Autism Research Centre, Departments of Experimental Psychology and Psychiatry, University of CambridgeNauly, Meutia. 2002. Perbandingan Konflik Peran Jender. dan Seksisme Laki- laki Suku Bangsa Batak, Minangkabau, dan JawaI [Tesis]. Depok: Universitas IndonesiaPoston Dudley L. 2001. Son Preference and Fertility in China [Paper]. U.S.A.: Department of Sociology Texas A&M UniversitySantosa, Slamet. 2009. Dinamika Kelompok. Jakarta: Bumi Aksara 83
  • Sharif, Mujahida et al. 2007. Factors Affecting Family Size and Sex Preference: A Study of Urban Tehsil Fasialabad (Pakistan). Journal of Agriculture and Sosial Sciences. Volume 3 No. 1Siegel, Sidney. 1997. Statistik Nonparametrik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka UtamaSoemargono H. 1999. Profil Provinsi epublik Indonesia: Sumatera Barat. Jakarta: Bhakti Wawasan NusantaraSoeparmanto, Palman. 1980. Perception of The Value of Children by Parents in Relation to Fertility Among The Maduran People in Kamal, Bangkalan Regency, Madura. Southeast Asia Population Research Awards Program (SEAPRAP) No.78Supriyanto. 2009. Antropologi Kontekstual: Untuk SMA dan MA Program Bahasa Kelas XII. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan NasionalTanius, Maswida. 1975. Problematika Keluarga Berencana Dalam Masyarakat Matrilineal Minangkabau. Majalah Demografi Indonesia. No.2 Tahun ke- IIThaib, Puti Reno Rhauda. 2005. Tanah Ulayat dan Budaya Padi Minangkabau: Pemahaman Jender dalam Budaya Minangkabau. Bogor: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Yayasan Padi IndonesiaWestley, Sidney B. dan Minja Kim Choe. 2007. How Does Son Preference Affect Population in Asia. Analysis from East-West centre No. 84Yamamura, Eiji. 2009. Effects of Sex Preference and Sosial Pressure on Fertility in Changing Japanese Families. Munich Personal RePEc Archive No. 14647http://pregnancy.about.com/od/boyorgirl/a/genderpref.htm 12 nov 2010http://www.babyzone.com/pregnancy/fetal_development/genetics_gender/article/s ex-preference-for-baby. Diakses tanggal 12 November 2010http://www.pandaisikek.net/20090402264/minangkabau/sosial-dan-seni-budaya- minang-kabau/artikel-budaya-minangkabau.html. Diakses tanggal 14 November 2010http://www.mediaindonesia.com/data/pdf/pagi/2008-12/2008-12-20_08.pdf. Diakses tanggal 14 November 2010 84
  • http://entertainment.kompas.com/read/2008/07/15/21493988/waspada.budaya.min ang.bisa.luntur. Diakses tanggal 8 Februari 2011http://www.padangpariamankab.go.id/index.php?page=documents&doc=105&dlc at=11. Diakses tanggal 11 Februari 2011http://sumbar.bps.go.id/?page=artikel&fd=artikel&act=lihat&idtopik=&idartikel= 105. Diakses tanggal 15 Maret 2011http://www.conectique.com/get_updated/article.php?article_id=8554. Diakses tanggal 12 Mei 2011http://www.harianjoglosemar.com/berita/hamil-di-atas-usia-30-tahun-berisiko- 5238.html. Diakses tanggal 12 Mei 2011 85
  • Lampiran 1 (Kuesioner penelitian) RAHASIA SEKOLAH TINGGI ILMU STATISTIK Jl. Otto Iskandardinata No.64C, Jakarta 13330 Telp: (021) 8197577, 8508812, 8191437, Faks.:8197577 Homepage: http://www.stis.ac.id FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KECENDERUNGAN MASYARAKAT MINANGKABAU TERHADAP PREFERENSI ANAK PEREMPUAN (Studi Kasus di Kampung Dalam Nagari Campago Kecamatan V Koto Kampung Dalam Tahun 2011)Keterangan: 1. Penelitian ini murni dilakukan untuk keperluan skripsi guna memenuhi tugas akhir Diploma IV 2. Kuesioner ini ditujukan kepada pasangan laki-laki dan perempuan yang pernah kawin 3. Kerahasiaan data akan dijamin oleh penulis 4. Kuesioner ini terdiri dari tujuh bagian, bagian pertama adalah blok identitas, bagian kedua adalah blok mengenai pendidikan dan pekerjaan, bagian ketiga adalah blok mengenai sumber informasi, bagian keempat adalah blok mengenai perkawinan dan keluarga, bagian kelima adalah blok mengenai sistem matrilineal, bagian keenam blok mengenai preferensi, dan bagian ketujuh adalah blok catatan Blok I. Identitas Responden 1. Nama …………………………………………… 2. Jenis kelamin 1. Laki-laki 2. Perempuan 3. Umur (tahun) 4. Suku ……………………………………………. 5. Nomor sampel (diisi peneliti) 86
  • Blok II. Pendidikan dan Pekerjaan1. Pendidikan tertinggi yang ditamatkan: 1. Tidak tamat SD 2. Tamat SD/sederajat 3. Tamat SMP/sederajat 4. Tamat SMA/sederajat 5. Tamat D1/D2/D3/D4/S1/S2/S32. Jenis pekerjaan 1. Tidak bekerja 2. Pertanian 3. Nonpertanian (_________)3. Total pendapatan dalam sebulan (Rp) ………………… …… Blok III. Sumber Informasi1. Rata-rata mengakses informasi dalam seminggu selama sebulan terakhir melalui: 1. Media cetak 2. Radio 3. Televisi2. Pernah tinggal di daerah perkotaan? 1. Ya a. masih di dalam wilayah Sumatera Barat (…………………)  pertanyaan 3 b. di luar wilayah Sumatera Barat (…………………)  pertanyaan 3 2. Tidak Blok IV3. Berapa lama tinggal di daerah perkotaan (tahun)? Blok IV. Perkawinan dan Keluarga1. Siapa penentu perkawinan? 1. Orang tua 2. Bukan orangtua2. Umur pada saat pertama kali melakukan perkawinan (tahun)3. Struktur keluarga 1. Keluarga inti 2. Keluarga besar4. Jumlah anak sekarang5. Jumlah anak yang diinginkan 87
  • Bacalah setiap pernyataan pada blok V dan blok VI dibawah ini, kemudianberikan jawaban pada kolom sebelah kanan dengan memberikan tanda cek (√ ) :SS, apabila Anda sangat setuju dengan pernyataan tersebutS, apabila Anda setuju dengan pernyataan tersebutNT, apabila Anda netral/tidak dapat menentukan dengan pastiKS, apabila Anda kurang setuju dengan pernyataan tersebutTS, apabila Anda tidak setuju dengan pernyataan tersebut Blok V. Sistem Matrilineal SS S NT KS TS 1. Harta warisan memang seharusnya diwariskan dari mamak2) kepada keponakan perempuannya 2. Setiap masyarakat Minangkabau masih ingin melaksanakan sistem matrilineal 3. Sistem matrilineal bukan hanya sebuah aturan namun sudah menjadi budaya 4. Kekuasaan tertinggi dalam kaum terletak pada rapat kaum 5. Semua harta pusako4) menjadi milik perempuan sedangkan laki-laki hanya diberi hak untuk mengatur dan mempertahankannya 6. Perkawinan bersifat sumando bertandang yaitu suami mengunjungi rumah istrinya Blok VI. Preferensi SS S NT KS TS 1. Anak perempuan dapat memenuhi harapan orang tua 2. Anak perempuanlah yang dapat memiliki keturunan 3. Anak perempuan lebih mudah terbuka 4. Anak perempuan dapat mencapai ambisi orang tua di masa depan 5. Anak perempuan dapat menyumbangkan sebagian dari pendapatan mereka pada orang tua 6. Sebuah keluarga dengan anak-anak perempuan lebih membawa kemakmuran ekonomi keluarga 7. Biaya sekolah anak-anak yang lebih kecil dalam keluarga dapat dibantu oleh anak perempuan ketika ia sudah dewasa 88
  • 8. Lebih baik punya banyak anak perempuan daripada punya banyak anak laki-laki 9. Orangtua yang mempunyai anak perempuan merasa lebih terhormat dalam keluarganya 10. Garis keturunan akan tetap berlanjut jika mempunyai anak perempuan 11. Keluarga terasa hampa tanpa kehadiran anak perempuan 12. Seorang wanita secara alami akan senang jika ia memiliki anak perempuan 13. Jika saat ini sudah mempunyai dua orang anak laki-laki maka akan berniat untuk mempunyai anak lagi sampai mempunyai anak perempuan 14. Anak perempuan membawa kebahagiaan dalam keluarga 15. Orangtua akan lebih semangat dalam bekerja jika mempunyai anak perempuan 16. Orangtua dapat tetap hidup bersama dengan anak perempuan mereka yang sudah menikah Blok VII. CatatanKeterangan:Suku1) adalah satu kesatuan masyarakat Minangkabau. Dalam arti lain sukuadalah klan masyarakat.Mamak2) adalah saudara laki-laki dari ibu.Kemenakan di bawah lutuik (lutut) adalah anak-anak orang yang asalnya tidakjelas dan keturunan pembantu (budak) yang menetap sebagai anggota kerabatSako4) adalah milik kaum secara turun temurub menurut system matrilineal yangtidak berbentuk material seperti gelar penghulu (pemimpin adat), kebesarankaum, tuah, dan penghormatan yang diberikan masyarakat kepadanya.Pusako5) atau pusaka adalah milik kaum secara turun temurub menurut systemmatrilineal yang berbentuk material seperti sawah, ladang, rumah gadang, danlain-lain. 89
  • Lampiran 2 (Hasil uji validitas dan realibilitas)1. Variabel preferensi jenis kelamin Pengujian pertama Item-Total Statistics Scale Corrected Scale Mean if Pertanyaan Variance if Item-Total Nilai kritis R Kesimpulan Item Deleted Item Deleted Correlation VAR01 89.6667 102.230 .242 .361 Tidak valid VAR02 90.7667 99.771 .216 .361 Tidak valid VAR03 90.1333 96.120 .661 .361 Valid VAR04 89.4333 103.151 .220 .361 Tidak valid VAR05 89.6000 102.110 .286 .361 Tidak valid VAR06 89.7667 102.323 .185 .361 Tidak valid VAR07 89.4667 103.016 .326 .361 Tidak valid VAR08 89.6333 97.344 .708 .361 Valid VAR09 89.8333 96.489 .771 .361 Valid VAR10 90.0000 95.172 .688 .361 Valid VAR11 89.7333 93.237 .728 .361 Valid VAR12 90.2000 94.924 .466 .361 Valid VAR13 89.9333 92.202 .641 .361 Valid VAR14 89.9333 101.030 .191 .361 Tidak valid VAR15 90.2667 91.651 .622 .361 Valid VAR16 90.1000 93.472 .539 .361 Valid VAR17 89.8000 97.476 .572 .361 Valid VAR18 89.9333 95.995 .527 .361 Valid VAR19 89.7667 99.564 .526 .361 Valid VAR20 89.7333 95.720 .365 .361 Valid VAR21 89.7000 99.803 .194 .361 Tidak valid VAR22 89.7667 94.323 .488 .361 Valid VAR23 89.7000 97.045 .669 .361 Valid VAR24 89.8667 99.430 .400 .361 Valid VAR25 89.6667 97.816 .399 .361 Valid Reliability Statistics Cronbachs Alpha N of Items .876 25 90
  • Case Processing Summary N % Cases Valid 30 100.0 Excluded(a) 0 .0 Total 30 100.0a Listwise deletion based on all variables in the procedure. Pengujian kedua Item-Total Statistics Scale Corrected Scale Mean if Pertanyaan Variance if Item-Total Nilai kritis R Kesimpulan Item Deleted Item Deleted Correlation VAR03 59.6667 70.299 .583 .361 Valid VAR08 59.1667 70.557 .703 .361 Valid VAR09 59.3667 69.757 .774 .361 Valid VAR10 59.5333 68.326 .717 .361 Valid VAR11 59.2667 66.685 .753 .361 Valid VAR12 59.7333 68.547 .455 .361 Valid VAR13 59.4667 65.568 .675 .361 Valid VAR15 59.8000 65.890 .604 .361 Valid VAR16 59.6333 66.861 .556 .361 Valid VAR17 59.3333 70.299 .600 .361 Valid VAR18 59.4667 68.740 .570 .361 Valid VAR19 59.3000 72.976 .460 .361 Valid VAR20 59.2667 69.926 .315 .361 Tidak valid VAR22 59.3000 67.183 .529 .361 Valid VAR23 59.2333 70.116 .683 .361 Valid VAR24 59.4000 71.834 .437 .361 Valid VAR25 59.2000 69.959 .462 .361 Valid Reliability Statistics Cronbachs Alpha N of Items .897 17 91
  • Case Processing Summary N % Cases Valid 30 100.0 Excluded(a) 0 .0 Total 30 100.0a Listwise deletion based on all variables in the procedure. Pengujian ketiga Item-Total Statistics Scale Corrected Scale Mean if Pertanyaan Variance if Item-Total Nilai kritis R Kesimpulan Item Deleted Item Deleted Correlation VAR03 55.8000 63.338 .565 .361 Valid VAR08 55.3000 63.183 .728 .361 Valid VAR09 55.5000 62.603 .778 .361 Valid VAR10 55.6667 61.126 .731 .361 Valid VAR11 55.4000 59.283 .790 .361 Valid VAR12 55.8667 61.430 .456 .361 Valid VAR13 55.6000 58.317 .699 .361 Valid VAR15 55.9333 59.168 .590 .361 Valid VAR16 55.7667 59.357 .590 .361 Valid VAR17 55.4667 62.809 .634 .361 Valid VAR18 55.6000 61.628 .572 .361 Valid VAR19 55.4333 66.047 .417 .361 Valid VAR22 55.4333 61.426 .448 .361 Valid VAR23 55.3667 62.999 .680 .361 Valid VAR24 55.5333 64.602 .436 .361 Valid VAR25 55.3333 62.368 .496 .361 Valid Reliability Statistics Cronbachs Alpha N of Items .903 16 92
  • Case Processing Summary N % Cases Valid 30 100.0 Excluded(a) 0 .0 Total 30 100.0a Listwise deletion based on all variables in the procedure.2. Variabel eksistensi sistem matrilineal Pengujian pertama Item-Total Statistics Scale Corrected Scale Mean if Pertanyaan Variance if Item-Total Nilai kritis R Kesimpulan Item Deleted Item Deleted Correlation VAR01 46.0333 28.861 .541 .361 Valid VAR02 46.5667 26.116 .519 .361 Valid VAR03 46.5667 27.909 .389 .361 Valid VAR04 46.6333 27.206 .346 .361 Tidak valid VAR05 48.4333 31.357 -.082 .361 Tidak valid VAR06 48.1667 33.730 -.259 .361 Tidak valid VAR07 46.6000 27.145 .465 .361 Valid VAR08 48.1667 30.557 -.062 .361 Tidak valid VAR09 47.7333 31.857 -.127 .361 Tidak valid VAR10 46.9667 30.723 -.074 .361 Tidak valid VAR11 46.6333 27.826 .460 .361 Valid VAR12 46.7000 26.562 .589 .361 Valid VAR13 47.3000 23.803 .391 .361 Valid VAR14 47.0333 25.344 .332 .361 Tidak valid Reliability Statistics Cronbachs Alpha N of Items .483 14 93
  • Case Processing Summary N % Cases Valid 30 100.0 Excluded(a) 0 .0 Total 30 100.0a Listwise deletion based on all variables in the procedure. Pengujian kedua Item-Total Statistics Scale Corrected Scale Mean if Pertanyaan Variance if Item-Total Nilai kritis R Kesimpulan Item Deleted Item Deleted Correlation VAR01 27.7333 22.685 .382 .361 Valid VAR02 28.2667 19.168 .575 .361 Valid VAR03 28.2667 19.720 .605 .361 Valid VAR07 28.3000 20.079 .524 .361 Valid VAR11 28.3333 21.747 .353 .361 Tidak valid VAR12 28.4000 19.283 .704 .361 Valid VAR13 29.0000 15.034 .628 .361 Valid VAR14 28.7333 17.444 .462 .361 Valid Reliability Statistics Cronbachs Alpha N of Items .791 8 Case Processing Summary N % Cases Valid 30 100.0 Excluded(a) 0 .0 Total 30 100.0a Listwise deletion based on all variables in the procedure. 94
  • Pengujian ketiga Item-Total Statistics Scale Corrected Scale Mean if Pertanyaan Variance if Item-Total Nilai kritis R Kesimpulan Item Deleted Item Deleted Correlation VAR01 23.6333 20.033 .359 .361 Tidak valid VAR02 24.1667 16.626 .576 .361 Valid VAR03 24.1667 17.316 .578 .361 Valid VAR07 24.2000 17.476 .526 .361 Valid VAR12 24.3000 16.907 .676 .361 Valid VAR13 24.9000 12.645 .641 .361 Valid VAR14 24.6333 14.792 .483 .361 Valid Reliability Statistics Cronbachs Alpha N of Items .788 7 Case Processing Summary N % Cases Valid 30 100.0 Excluded(a) 0 .0 Total 30 100.0a Listwise deletion based on all variables in the procedure. Pengujian keempat Item-Total Statistics Scale Corrected Scale Mean if Pertanyaan Variance if Item-Total Nilai kritis R Kesimpulan Item Deleted Item Deleted Correlation VAR02 19.4667 15.085 .580 .361 Valid VAR03 19.4667 15.775 .578 .361 Valid VAR07 19.5000 16.190 .481 .361 Valid VAR12 19.6000 15.283 .697 .361 Valid VAR13 20.2000 11.200 .655 .361 Valid VAR14 19.9333 13.444 .470 .361 Valid 95
  • Reliability Statistics Cronbachs Alpha N of Items .790 6 Case Processing Summary N % Cases Valid 30 100.0 Excluded( 0 .0 a) Total 30 100.0a Listwise deletion based on all variables in the procedure.Lampiran 3 (Deskriptif) umur responden Statistics N Valid 158 Missing 0 Mean 44.39 Median 44.00 Mode 35a a. Multiple modes exist. The smallest value is shown pendidikan yang ditamatkan Cumulative Frequency Percent Valid Percent PercentValid <sma 83 52.5 52.5 52.5 >=sma 75 47.5 47.5 100.0 Total 158 100.0 100.0 96
  • Pekerjaan Valid Cumulative Frequency Percent Percent PercentValid tdk bekerja/pekerja 102 64.6 64.6 64.6 serabutan PNS/TNI/karyawan 30 19.0 19.0 83.5 pedagang 26 16.5 16.5 100.0 Total 158 100.0 100.0 pendapatan perkapita Cumulative Frequency Percent Valid Percent PercentValid <=425000 81 51.3 51.3 51.3 >425000 77 48.7 48.7 100.0 Total 158 100.0 100.0 pilihan mengakses informasi Cumulative Frequency Percent Valid Percent PercentValid tidak ada 11 7.0 7.0 7.0 salah satu 96 60.8 60.8 67.7 2 sumber 48 30.4 30.4 98.1 semuanya 3 1.9 1.9 100.0 Total 158 100.0 100.0 pernah mengakses informasi Cumulative Frequency Percent Valid Percent PercentValid tdk pernah 10 6.3 6.3 6.3 pernah 148 93.7 93.7 100.0 Total 158 100.0 100.0 salah satu sumber Cumulative Frequency Percent Valid Percent PercentValid tv saja 94 59.5 97.9 97.9 radio saja 2 1.3 2.1 100.0 Total 96 60.8 100.0Missing System 62 39.2Total 158 100.0 97
  • dua sumber Cumulative Frequency Percent Valid Percent PercentValid tv+radio 8 5.1 16.7 16.7 tv+media cetak 38 24.1 79.2 95.8 media cetak+radio 2 1.3 4.2 100.0 Total 48 30.4 100.0Missing System 110 69.6Total 158 100.0 pengalaman tinggal di perkotaan Cumulative Frequency Percent Valid Percent PercentValid tidak 61 38.6 38.6 38.6 pernah tinggal 97 61.4 61.4 100.0 Total 158 100.0 100.0 wilayah perkotaan Cumulative Frequency Percent Valid Percent PercentValid dalam sumatera barat 38 24.1 39.2 39.2 luar sumatera barat 59 37.3 60.8 100.0 Total 97 61.4 100.0Missing System 61 38.6Total 158 100.0 penentu perkawinan Cumulative Frequency Percent Valid Percent PercentValid bkn ortu 48 30.4 30.4 30.4 ortu 110 69.6 69.6 100.0 Total 158 100.0 100.0 umur perkawinan pertama Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid <=30 145 91.8 91.8 91.8 >30 13 8.2 8.2 100.0 Total 158 100.0 100.0 98
  • lama perkawinan Cumulative Frequency Percent Valid Percent PercentValid <=5 18 11.4 11.4 11.4 6-10 30 19.0 19.0 30.4 >10 110 69.6 69.6 100.0 Total 158 100.0 100.0 struktur keluarga Cumulative Frequency Percent Valid Percent PercentValid BESAR 68 43.0 43.0 43.0 INTI 90 57.0 57.0 100.0 Total 158 100.0 100.0 Jumlah Anak Cumulative Frequency Percent Valid Percent PercentValid <=2 54 34.2 34.2 34.2 >2 104 65.8 65.8 100.0 Total 158 100.0 100.0 eksistensi matrilineal Cumulative Frequency Percent Valid Percent PercentValid kurang eksis 13 8.2 8.2 8.2 eksis 145 91.8 91.8 100.0 Total 158 100.0 100.0 preferensi jenis kelamin anak Cumulative Frequency Percent Valid Percent PercentValid lainnya 8 5.1 5.1 5.1 perempuan 150 94.9 94.9 100.0 Total 158 100.0 100.0 99
  • batasan jumlah anak Cumulative Frequency Percent Valid Percent PercentValid tidak ada batasan 76 48.1 48.1 48.1 ada batasan 82 51.9 51.9 100.0 Total 158 100.0 100.0Lampiran 4 (Hasil uji independensi) preferensi jenis kelamin anak * jenis kelamin Crosstab jenis kelamin LAKI-LAKI PEREMPUAN Totalpreferensi jenis kelamin Lainnya Count 5 3 8anak % within jenis kelamin 6.3% 3.8% 5.1% perempuan Count 74 76 150 % within jenis kelamin 93.7% 96.2% 94.9%Total Count 79 79 158 % within jenis kelamin 100.0% 100.0% 100.0% Chi-Square Tests Value df Asymp. Sig. (2-sided) Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided) aPearson Chi-Square .527 1 .468 bContinuity Correction .132 1 .717Likelihood Ratio .532 1 .466Fishers Exact Test .719 .360N of Valid Cases 158a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4.00.b. Computed only for a 2x2 table 100
  • preferensi jenis kelamin anak * pendidikan yang ditamatkan Crosstab pendidikan yang ditamatkan <sma >=sma Totalpreferensi lainnya Count 0 8 8jeniskelamin % within pendidikan yang .0% 10.7% 5.1%anak ditamatkan perempuan Count 83 67 150 % within pendidikan yang 100.0% 89.3% 94.9% ditamatkanTotal Count 83 75 158 % within pendidikan yang 100.0% 100.0% 100.0% ditamatkan Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Value df sided) sided) Exact Sig. (1-sided) aPearson Chi-Square 9.326 1 .002Continuity 7.238 1 .007CorrectionbLikelihood Ratio 12.395 1 .000Fishers Exact Test .002 .002Linear-by-Linear 9.266 1 .002AssociationN of Valid Cases 158a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3.80.b. Computed only for a 2x2 table 101
  • preferensi jenis kelamin anak * pekerjaan Crosstab pekerjaan tdk bekerja/pekerja PNS/TNI/ka serabutan ryawan pedagang Totalpreferensi lainnya Count 3 3 2 8jeniskelamin % within pekerjaan 2.9% 10.0% 7.7% 5.1%anak perempuan Count 99 27 24 150 % within pekerjaan 97.1% 90.0% 92.3% 94.9%Total Count 102 30 26 158 % within pekerjaan 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2- Value df sided)Pearson Chi-Square 2.850a 2 .240Likelihood Ratio 2.643 2 .267Linear-by-Linear Association 1.834 1 .176N of Valid Cases 158a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected countis 1.32. preferensi jenis kelamin anak * pendapatan perkapita Crosstab pendapatan perkapita <=425000 >425000 Totalpreferensi lainnya Count 1 7 8jeniskelamin % within pendapatan perkapita 1.2% 9.1% 5.1%anak perempuan Count 80 70 150 % within pendapatan perkapita 98.8% 90.9% 94.9%Total Count 81 77 158 % within pendapatan perkapita 100.0% 100.0% 100.0% 102
  • Chi-square Test Value df Asymp. Sig. (2-sided) Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided) aPearson Chi-Square 5.069 1 .024Continuity 3.566 1 .059CorrectionbLikelihood Ratio 5.628 1 .018Fishers Exact Test .031 .027Linear-by-Linear 5.037 1 .025AssociationN of Valid Cases 158a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3.90.b. Computed only for a 2x2 table preferensi jenis kelamin anak * pernah mengakses informasi Crosstab pernah mengakses informasi tdk pernah pernah Totalpreferensi lainnya Count 2 6 8jenis kelamin % within pernah mengakses 20.0% 4.1% 5.1%anak informasi perempuan Count 8 142 150 % within pernah mengakses 80.0% 95.9% 94.9% informasiTotal Count 10 148 158 % within pernah mengakses 100.0% 100.0% 100.0% informasi 103
  • Chi-Square Tests Exact Sig. (2- Exact Sig. (1- Value Df Asymp. Sig. (2-sided) sided) sided)Pearson Chi-Square 4.955a 1 .026Continuity 2.193 1 .139CorrectionbLikelihood Ratio 3.091 1 .079Fishers Exact Test .082 .082Linear-by-Linear 4.924 1 .026AssociationN of Valid Cases 158a. 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .51.b. Computed only for a 2x2 table preferensi jenis kelamin anak * pengalaman tinggal di perkotaan Crosstab pengalaman tinggal di perkotaan tidak pernah tinggal Totalpreferensi lainnya Count 2 6 8jenis kelamin % within pengalaman 3.3% 6.2% 5.1%anak tinggal di perkotaan perempuan Count 59 91 150 % within pengalaman 96.7% 93.8% 94.9% tinggal di perkotaanTotal Count 61 97 158 % within pengalaman tinggal 100.0% 100.0% 100.0% di perkotaan Chi-Square Tests Exact Sig. (1- Value df Asymp. Sig. (2-sided) Exact Sig. (2-sided) sided)Pearson Chi-Square .658a 1 .417 bContinuity Correction .192 1 .661Likelihood Ratio .697 1 .404Fishers Exact Test .712 .340N of Valid Cases 158a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3.09.b. Computed only for a 2x2 table 104
  • preferensi jenis kelamin anak * penentu perkawinan Crosstab penentu perkawinan bkn ortu ortu Totalpreferensi lainnya Count 7 1 8jenis kelaminanak % within penentu perkawinan 14.6% .9% 5.1% perempuan Count 41 109 150 % within penentu perkawinan 85.4% 99.1% 94.9%Total Count 48 110 158 % within penentu perkawinan 100.0% 100.0% 100.0% Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (1- Value df sided) Exact Sig. (2-sided) sided)Pearson Chi-Square 12.999a 1 .000Continuity 10.310 1 .001CorrectionbLikelihood Ratio 12.047 1 .001Fishers Exact Test .001 .001Linear-by-Linear 12.917 1 .000AssociationN of Valid Cases 158a. 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2.43.b. Computed only for a 2x2 table preferensi jenis kelamin anak * umur perkawinan pertama Crosstab umur perkawinan pertama <=30 >30 Totalpreferensi jenis lainnya Count 7 1 8kelamin anak % within umur perkawinan pertama 4.8% 7.7% 5.1% perempuan Count 138 12 150 % within umur perkawinan pertama 95.2% 92.3% 94.9%Total Count 145 13 158 % within umur perkawinan pertama 100.0% 100.0% 100.0% 105
  • Chi-Square Tests Value df Asymp. Sig. (2-sided) Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided) aPearson Chi-Square .204 1 .652Continuity .000 1 1.000CorrectionbLikelihood Ratio .179 1 .672Fishers Exact Test .505 .505Linear-by-Linear .202 1 .653AssociationN of Valid Cases 158a. 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .66.b. Computed only for a 2x2 table preferensi jenis kelamin anak * lama perkawinan Crosstab lama perkawinan <=5 6-10 >10 Totalpreferensi jenis lainnya Count 2 3 3 8kelamin anak % within lama perkawinan 11.1% 10.0% 2.7% 5.1% perempuan Count 16 27 107 150 % within lama perkawinan 88.9% 90.0% 97.3% 94.9%Total Count 18 30 110 158 % within lama perkawinan 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2- Value df sided)Pearson Chi-Square 4.139a 2 .126Likelihood Ratio 3.727 2 .155Linear-by-Linear Association 3.717 1 .054N of Valid Cases 158a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected countis .91. 106
  • preferensi jenis kelamin anak * struktur keluarga Crosstab struktur keluarga BESAR INTI Totalpreferensi jenis lainnya Count 4 4 8kelamin anak % within struktur keluarga 5.9% 4.4% 5.1% perempuan Count 64 86 150 % within struktur keluarga 94.1% 95.6% 94.9%Total Count 68 90 158 % within struktur keluarga 100.0% 100.0% 100.0% Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1- Value df sided) sided) sided)Pearson Chi-Square .167a 1 .683 bContinuity Correction .002 1 .967Likelihood Ratio .165 1 .685Fishers Exact Test .726 .477N of Valid Cases 158a. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3.44.b. Computed only for a 2x2 table preferensi jenis kelamin anak * JUMLAH ANAK Crosstab JUMLAH ANAK <=2 >2 Totalpreferensi jenis lainnya Count 2 6 8kelamin anak % within JUMLAH ANAK 3.7% 5.8% 5.1% perempuan Count 52 98 150 % within JUMLAH ANAK 96.3% 94.2% 94.9%Total Count 54 104 158 % within JUMLAH ANAK 100.0% 100.0% 100.0% 107
  • Chi-Square Tests Value df Asymp. Sig. (2-sided) Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided) aPearson Chi-Square .315 1 .574 bContinuity Correction .032 1 .858Likelihood Ratio .331 1 .565Fishers Exact Test .716 .445Linear-by-Linear .313 1 .576AssociationN of Valid Cases 158a. 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2.73.b. Computed only for a 2x2 table preferensi jenis kelamin anak * eksistensi matrilineal Crosstab eksistensi matrilineal kurang eksis eksis Totalpreferensi jenis lainnya Count 4 4 8kelamin anak % within eksistensi matrilineal 30.8% 2.8% 5.1% perempuan Count 9 141 150 % within eksistensi matrilineal 69.2% 97.2% 94.9%Total Count 13 145 158 % within eksistensi matrilineal 100.0% 100.0% 100.0% Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1- Value df sided) sided) sided)Pearson Chi-Square 19.473a 1 .000Continuity Correctionb 14.082 1 .000Likelihood Ratio 10.658 1 .001Fishers Exact Test .002 .002Linear-by-Linear Association 19.350 1 .000N of Valid Cases 158a. 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .66.b. Computed only for a 2x2 table 108
  • pendidikan yang ditamatkan * pendapatan perkapita Crosstab pendapatan perkapita <=425000 >425000 Total pendidikan yang ditamatkan <sma 66 17 83 >=sma 15 60 75 Total 81 77 158 Chi-Square Tests Exact Sig. (1- Value df Asymp. Sig. (2-sided) Exact Sig. (2-sided) sided)Pearson Chi-Square 55.862a 1 .000 bContinuity Correction 53.505 1 .000Likelihood Ratio 59.709 1 .000Fishers Exact Test .000 .000Linear-by-LinearAssociation 55.509 1 .000N of Valid Casesb 158a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 36,55.b. Computed only for a 2x2 tableLampiran 5 (Penghitungan koefisien kontigensi) pendidikan yang ditamatkan * pendapatan perkapita Symmetric Measures Value Approx. Sig. Nominal by Nominal Contingency Coefficient .511 .000 N of Valid Cases 158 pendidikan yang ditamatkan * penentu perkawinan Symmetric Measures Value Approx. Sig. Nominal by Nominal Contingency Coefficient .221 .004 N of Valid Cases 158 109
  • pendidikan yang ditamatkan * eksistensi matrilineal Symmetric Measures Value Approx. Sig. Nominal by Nominal Contingency Coefficient .084 .289 N of Valid Cases 158 pendapatan perkapita * penentu perkawinan Symmetric Measures Value Approx. Sig. Nominal by Nominal Contingency Coefficient .153 .052 N of Valid Cases 158 pendapatan perkapita * eksistensi matrilineal Symmetric Measures Value Approx. Sig. Nominal by Nominal Contingency Coefficient .015 .846 N of Valid Cases 158 penentu perkawinan * eksistensi matrilineal Symmetric Measures Value Approx. Sig. Nominal by Nominal Contingency Coefficient .245 .001 N of Valid Cases 158Lampiran 6 (Hasil analisis regresi logistik) Case Processing Summary aUnweighted Cases N PercentSelected Cases Included in Analysis 158 100.0 Missing Cases 0 .0 Total 158 100.0Unselected Cases 0 .0Total 158 100.0a. If weight is in effect, see classification table for the total number of cases. 110
  • Dependent Variable EncodingOriginal Value Internal Valuelainnya 0perempuan 1 Categorical Variables Codings Parameter coding Frequency (1)eksistensi matrilineal kurang eksis 13 .000 eksis 145 1.000pendapatan perkapita <=425000 81 .000 >425000 77 1.000penentu perkawinan bkn ortu 48 .000 ortu 110 1.000pendidikan yang ditamatkan <sma 83 .000 >=sma 75 1.000Block 0: Beginning Block Iteration Historya,b,c CoefficientsIteration -2 Log likelihood ConstantStep 0 1 77.214 1.797 2 64.572 2.548 3 63.344 2.874 4 63.318 2.930 5 63.318 2.931 6 63.318 2.931a. Constant is included in the model.b. Initial -2 Log Likelihood: 63.318c. Estimation terminated at iteration number 6 becauseparameter estimates changed by less than .001. 111
  • Classification Tablea,b Predicted preferensi jenis kelamin anak Percentage Observed lainnya perempuan CorrectStep 0 preferensi jenis lainnya 0 8 .0 kelamin anak perempuan 0 150 100.0 Overall Percentage 94.9a. Constant is included in the model.b. The cut value is .500 Variables in the Equation B S.E. Wald df Sig. Exp(B)Step 0 Constant 2.931 .363 65.255 1 .000 18.750 Variables not in the Equation Score df Sig.Step 0 Variables pendidikan(1) 9.326 1 .002 pendapatan_perkapita(1) 5.069 1 .024 penentu_kwn(1) 12.999 1 .000 matri(1) 19.473 1 .000 Overall Statistics 31.534 4 .000 112
  • Block 1: Method = Backward Stepwise (Wald) Iteration Historya,b,c,d,e -2 Log Coefficients likelihood Iteration Constant pendidikan pendapatan penentu_k matri(1) (1) _perkapita( wn(1) 1)Step 1 1 68.510 .877 -.233 -.138 .323 .952 2 47.236 1.170 -.585 -.408 .769 1.618 3 39.639 1.693 -1.098 -.875 1.303 2.067 4 36.670 2.496 -1.769 -1.398 1.776 2.394 5 35.700 3.468 -2.614 -1.753 2.060 2.593 6 35.411 4.481 -3.580 -1.865 2.143 2.652 7 35.311 5.488 -4.582 -1.877 2.150 2.657 8 35.275 6.490 -5.584 -1.877 2.151 2.658 9 35.261 7.491 -6.585 -1.877 2.151 2.658 10 35.256 8.491 -7.585 -1.877 2.151 2.658 11 35.255 9.491 -8.585 -1.877 2.151 2.658 12 35.254 10.491 -9.585 -1.877 2.151 2.658 13 35.254 11.491 -10.585 -1.877 2.151 2.658 14 35.254 12.491 -11.585 -1.877 2.151 2.658 15 35.253 13.491 -12.585 -1.877 2.151 2.658 16 35.253 14.491 -13.585 -1.877 2.151 2.658 17 35.253 15.491 -14.585 -1.877 2.151 2.658 18 35.253 16.491 -15.585 -1.877 2.151 2.658 19 35.253 17.491 -16.585 -1.877 2.151 2.658 20 35.253 18.491 -17.585 -1.877 2.151 2.658Step 2 1 69.003 .786 -.272 .353 .978 2 48.376 .916 -.731 .859 1.683 3 41.581 1.145 -1.420 1.487 2.185 4 39.472 1.453 -2.116 2.051 2.561 5 39.125 1.658 -2.526 2.385 2.773 6 39.112 1.707 -2.620 2.469 2.821 7 39.112 1.709 -2.623 2.473 2.823 8 39.112 1.709 -2.623 2.473 2.823a. Method: Backward Stepwise (Wald)b. Constant is included in the model.c. Initial -2 Log Likelihood: 63.318d. Estimation terminated at iteration number 20 because maximum iterations has been reached. Finalsolution cannot be found.e. Estimation terminated at iteration number 8 because parameter estimates changed by less than .001. 113
  • Omnibus Tests of Model Coefficients Chi-square df Sig.Step 1 Step 28.065 4 .000 Block 28.065 4 .000 Model 28.065 4 .000Step 2a Step -3.858 1 .050 Block 24.207 3 .000 Model 24.207 3 .000a. A negative Chi-squares value indicates that the Chi-squares value has decreased from the previous step. Model Summary Hosmer and Lemeshow Test -2 Log Cox & Snell R Nagelkerke R Step Chi-square df Sig.Step likelihood Square Square 1 .240 6 1.0001 35.253a .163 .493 2 .587 4 .9642 39.112b .142 .430a. Estimation terminated at iteration number 20 becausemaximum iterations has been reached. Final solutioncannot be found.b. Estimation terminated at iteration number 8 becauseparameter estimates changed by less than .001. Contingency Table for Hosmer and Lemeshow Test preferensi jenis kelamin anak = preferensi jenis kelamin anak = lainnya perempuan Observed Expected Observed Expected TotalStep 1 1 4 4.000 4 4.000 8 2 3 3.125 17 16.875 20 3 0 .110 4 3.890 4 4 1 .739 34 34.261 35 5 0 .026 16 15.974 16 6 0 .000 12 12.000 12 7 0 .000 11 11.000 11 8 0 .000 52 52.000 52Step 2 1 4 3.970 7 7.030 11 2 3 3.229 22 21.771 25 3 0 .030 2 1.970 2 4 1 .568 45 45.432 46 5 0 .149 14 13.851 14 6 0 .054 60 59.946 60 114
  • Classification Tablea Predicted preferensi jenis kelamin anak Percentage Observed lainnya perempuan CorrectStep 1 preferensi jenis kelamin Lainnya 3 5 37.5 anak Perempuan 1 149 99.3 Overall Percentage 96.2Step 2 preferensi jenis kelamin Lainnya 3 5 37.5 anak Perempuan 1 149 99.3 Overall Percentage 96.2a. The cut value is .500 Variables in the Equation B S.E. Wald df Sig. Exp(B) aStep 1 pendidikan(1) -17.585 3915.909 .000 1 .996 .000 pendapatan_perkapita(1) -1.877 1.416 1.757 1 .185 .153 penentu_kwn(1) 2.151 1.164 3.413 1 .065 8.590 matri(1) 2.658 1.076 6.099 1 .014 14.262 Constant 18.491 3915.909 .000 1 .996 1.073E8 aStep 2 pendapatan_perkapita(1) -2.623 1.287 4.157 1 .041 .073 penentu_kwn(1) 2.473 1.146 4.659 1 .031 11.863 matri(1) 2.823 1.008 7.850 1 .005 16.829 Constant 1.709 1.097 2.426 1 .119 5.523a. Variable(s) entered on step 1: pendidikan, pendapatan_perkapita, penentu_kwn, matri. Variables not in the Equation Score df Sig. aStep 2 Variables pendidikan(1) 2.440 1 .118 Overall Statistics 2.440 1 .118a. Variable(s) removed on step 2: pendidikan. 115
  • Casewise Listb Observed Temporary Variable preferensi jenis PredictedCase Selected Statusa kelamin anak Predicted Group Resid ZResid41 S l** .847 p -.847 -2.35044 S l** .871 p -.871 -2.59769 S l** .988 p -.988 -8.944119 S l** .871 p -.871 -2.597120 S l** .871 p -.871 -2.597a. S = Selected, U = Unselected cases, and ** = Misclassified cases.b. Cases with studentized residuals greater than 2.000 are listed. 116
  • RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Kampung Dalam pada tanggal 12 September 1989dari pasangan Syafril dan Martalena dan merupakan anak kedua dari empatbersaudara. Pada tahun 2001 penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 08Kampung Dalam yang kini berganti nama menjadi SDN 05 Kampung Dalam.Kemudian tahun 2004 penulis menyelesaikan pendidikan menengah di SLTPN 1Kampung Dalam. Lalu melanjutkan sekolah ke SMAN 1 Pariaman danmenyelesaikannya pada tahun 2007. Di tahun yang sama penulis mendapatkankesempatan untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik. Akhirnya pada tahun keempat (tahun 2011) penulis berhasilmenyelesaikan pendidikan Program D IV di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik. 117