Your SlideShare is downloading. ×
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Makalah kwashiorkor, kimia pangan, kuliah semester 7

2,637

Published on

saya hanya share pengetahuan yang saya ketahui lewat makalah ini, jadi apabila kritik yang membangun sangat saya harapkan untuk menyempurnakan ilmu yang saya pelajari.

saya hanya share pengetahuan yang saya ketahui lewat makalah ini, jadi apabila kritik yang membangun sangat saya harapkan untuk menyempurnakan ilmu yang saya pelajari.

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
2,637
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
56
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Protein merupakan salah satu makromolekul yang sangat penting dalam kehidupan ini terutama untuk pertumbuhan. Protein dalam tubuh akan mengalami proses metabolisme sehingga dari proses metabolisme inilah protein dapat dimanfaatkan dalam tubuh. Tubuh dapat memperoleh protein dari berbagai sumber makanan seperti ikan, telur, kacang- kacangan, susu dan lain sebagainya. Makan makanan bergizi termasuk protein sangat dianjurkan agar kebutuhan gizi dalam tubuh terpenuhi. Anjuran makan makanan yang bergizi tersebut disebutkan oleh Allah dalam surat An-Nahl ayat 14: Dan Dia yang menguasai laut supaya kamu makan daging(ikan) yang lembut (segar) (An- Nahl(16) :14) Protein pada bayi bisa diperoleh dari ASI (Air Susu Ibu). Ibu dianjurkan untuk menyusui anaknya agar tidak terjadi penyakit dan kekurangan gizi terutama kekurangan protein.Urgensi ASI untuk bayi ini juga disebutkan dalam Al-Qur’an yaitu: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma'ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Albaqarah [2]: 233) Ayat diatas menganjurkan agar ibu menganjurkan untuk menyusui selama dua tahun. Banyak masyarakat yang menggangap menyusui di atas satu tahun membuat anaknya manja dan tidak mandiri, serta anggapan ASI sudah menjadi turun kandungan gizinya. Mitos tersebut ternyata salah. Banyak manfaat jika bayi disusui selama dua tahun, karena kandungan ASI > 1 tahun memiliki kandungan yang luar biasa bermanfaat untuk anak. Yang jelas, ASI tetap memiliki zat imun yang melindungi bayi dari berbagai penyakit. Bahkan satu penelitian menunjukkan bahwa beberapa zat imun meningkat jumlahnya dalam ASI di tahun kedua sehingga memberikan perlindungan yang lebih besar bagi anak. Belum
  • 2. 2 lagi kandungan gizinya. Pada tahun kedua (12-23 bulan), setiap 448 ml ASI memenuhi kebutuhan anak. Kebutuhan anak akan ASI harus tercukupi. Karena kekurangan ASI merupakan salah satu penyebab gizi buruk ataupun Kurang Energi Protein (KEP) yang terjadi pada balita. Kurang Energi Protein (KEP) merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia. KEP disebabkan karena defisiensi makronutrient (zat gizi makro). Meskipun sekarang ini terjadi pergeseran masalah gizi dari defisiensi makronutrient kepada defisiensi mikronutrient, tetapi beberapa daerah di Indonesia prevalensi KEP masih tinggi (> 30%) sehingga memerlukan penanganan intensif dalam upaya penurunan prevalensi KEP. Penyakit akibat KEP ini dikenal dengan kwashiorkor, marasmus, dan marasmik kwashiorkor. Kwashiorkor disebabkan karena kurang protein. Marasmus disebabkan karena kurang energi dan marasmik kwashiorkor disebabkan karena kurang energi dan protein. Adapun yang menjadi penyebab langsung terjadinya KEP adalah konsumsi yang kurang dalam jangka waktu yang lama. Pada orang dewasa, KEP timbul pada anggota keluarga rumah tangga miskin oleh karena kelaparan akibat gagal panen atau hilangnya mata pencaharian. Bentuk berat dari KEP di beberapa daerah di Jawa pernah dikenal sebagai penyakit busung lapar atau HO (Honger Oedeem). Di Indonesia masalah kekurangan pangan dan kelaparan merupakan salah satu masalah pokok yang dihadapi memasuki Repelita I dengan banyaknya kasus HO dan kematian di beberapa daerah. Oleh karena itu tepat bahwa sejak Repelita I pembangunan pertanian untuk mencukupi kebutuhan pangan penduduk merupakan tulang punggung pembangunan nasional kita. Bahkan sejak Repelita III pembangunan pertanian tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi pangan dan meningkatkan pendapatan petani, tetapi secara eksplisit juga untuk meningkatkan keadaan gizi masyarakat. Sebagai contoh, sekitar 8 juta balita terancam tumbuh kembangnya akibat kekurangan gizi (Survei Sosial Ekonomi Nasional, 2009). Di Jawa Barat dengan jumlah penduduk 42,3 juta jiwa dengan jumlah anak balita mencapai 5,1 jiwa dianalogikan sebagai penyuplai kasus gizi buruk dibanding daerah lain di Indonesia. Di beberapa Daerah Tingkat II seperti di Kota Madya Bogor kasus gizi buruk dilaporkan sebanyak 16 kasus, lima di antara meninggal dunia dan 9 penderita lagi dirawat intensif. Sedangkan di Kabupaten Sukabumi ada 4 balita menderita kekurangan gizi yang parah. Secara keseluruhan Kekurangan Energi Protein (KEP)
  • 3. 3 murni sebanyak 940 balita, marasmus 66, kwashiorkor 15, marasmus dan kwashiorkor 12 orang balita. Bahkan di Kabupaten Cirebon balita yang menderita KEP mencatat angka yang fantastis hingga mencapai 46.637 balita. Dari jumlah itu, 13.725 balita menderita gizi buruk dan berada di bawah garis merah di dalam kartu menuju sehat (KMS). Namun ada sekitar 50 bayi yang kondisinya sudah parah dan perlu dirawat di rumah sakit. Salah satu kasus KEP yang telah disebutkan di atas adalah kasus kwashiorkor yang merupakan suatu penyakit yang disebabkan karena defisiensi protein. Hal ini berkaitan dengan proses metabolisme protein dalam tubuh. Oleh karena itu untuk lebih mengetahui penyakit kwashiorkor ini, penulis mengambil kasus kwashiorkor dalam penulisan makalah Metabolisme Protein sebagai bentuk nyata dari penyakit akibat defisiensi protein. 1.2 Rumusan Masalah Rumusan Masalah dari makalah ini yaitu: 1. Apa yang dimaksud dengan Kurang Energi Protein (KEP) ? 2. Apa yang dimaksud Kwashiorkor sebagai salah satu penyakit KEP? 3. Apa penyebab Kwashiorkor? 4. Bagaimana gejala penderita Kwashiorkor? 5. Apa upaya pencegahan yang bisa dilakukan untuk mencegah penyaki Kwashiorkor? 6. Bagaimana pengobatan penyakit Kwashiorkor? 7. Bagaimana proses metabolisme protein pada penderita Kwashiorkor? 1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui penyakit Kurang Energi Protein 2. Untuk mengetahui pengertian penyakit Kwashiorkor 3. Untuk mengetahui penyebab penyakit Kwashiorkor 4. Untuk mengetahui gejala penyakit Kwashiorkor 5. Untuk mengetahui upya pencegahan penyakit Kwashiorkor 6. Untuk mengetahui pengobatan penyakit Kwashiorkor 7. Untuk mengetahui proses metabolisme protein pada penderita Kwashiorkor
  • 4. 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Protein Protein merupakan salah satu kelompok bahan makronutrien. Tidak seperti bahan makronutrien lainnya (karbohidrat, lemak), protein ini berperan lebih penting dalam pembentukan biomolekul daripada sumber energi. Namun demikian apabila organisme sedang kekurangan energi, maka protein ini dapat juga di pakai sebagai sumber energi. Keistimewaan lain dari protein adalah strukturnya yang selain mengandung N, C, H, O, kadang mengandung S, P, dan Fe (Sudarmadji, 1989). Protein merupakan suatu zat makanan yang sangat penting bagi tubuh, karena zat ini disamping berfungsi sebagai zat pembangun dan pengatur, Protein adalah sumber asam- asam amino yang mengandung unsur C, H, O dan N yang tidak dimiliki oleh lemak atau karbohidrat. Molekul protein mengandung pula posfor, belerang dan ada jenis protein yang mengandung unsur logam seperti besi dan tembaga (Budianto, 2001). Protein adalah molekul makro yang mempunyai berat molekul antara lima ribu hingga beberapa juta. Protein terdiri atas rantai-rantai asam amino, yang terikat satu sama lain dalam ikatan peptida. Asam amino yang terdiri atas unsur-unsur karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen ; beberapa asam amino disamping itu mengandung unsur-unsur fosfor, besi, iodium, dan cobalt. Unsur nitrogen adalah unsur utama protein, karena terdapat di dalam semua protein akan tetapi tidak terdapat di dalam karbohidrat dan lemak. Unsur nitrogen merupakan 16% dari berat protein. Molekul protein lebih kompleks daripada karbohidrat dan lemak dalam hal berat molekul dan keanekaragaman unit-unit asam amino yang membentuknya (Almatsier, 2004). 2.2 Struktur Protein Molekul protein merupakan rantai panjang yang tersusun oleh mata rantai asam-asam amino. Dalam molekul protein, asam-asam amino saling dirangkaikan melalui reaksi gugusan karboksil asam amino yang satu dengan gugusan amino dari asam amino yang lain, sehingga terjadi ikatan yang disebut ikatan peptida. Ikatan peptida ini merupakan ikatan tingkat primer. Dua molekul asam amino yang saling diikatkan dengan cara demikian disebut ikatan
  • 5. 5 dipeptida. Bila tiga molekul asam amino, disebut tripeptida dan bila lebih banyak lagi disebut polypeptida. Polypeptida yang hanya terdiri dari sejumlah beberapa molekul asam amino disebut oligopeptida. Molekul protein adalah suatu polypeptida, dimana sejumlah besar asam- asam aminonya saling dipertautkan dengan ikatan peptida tersebut (Gaman, 1992). Asam amino ialah asam karboksilat yang mempunyai gugus amino. Asam amino yang terdapat sebagai komponen, protein mempunyai gugus −NH2 pada atom karbon α dari posisi gugus −COOH. Rumus umum untuk asam amino adalah: R-CH-COOH Pada umumnya asam amino larut dalam air dan tidak larut dalam pelarut organik non polar seperti eter, aseton, dan kloroform. Sifat asam amino ini berbeda dengan asam karboksilat maupun dengan sifat amina. Asam karboksilat alifatik maupun aromatik yang terdiri atas beberapa atom karbon umumnya kurang larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik. Demikian amina pula umumnya tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik (Poejiadi, 1994). Asam amino adalah senyawa yang memiliki satu atau lebih gugus karboksil (−COOH) dan satu atau lebih gugus amino (−NH2) yang salah satunya terletak pada atom C tepat disebelah gugus karboksil (atom C alfa). Asam-asam amino bergabung melalui ikatan peptida yaitu ikatan antara gugus karboksil dari asam amino dengan gugus amino dari asam amino yang disampingnya (Sudarmadji, 1989). 2.3 Sifat Protein Protein merupakan molekul yang sangat besar, sehingga mudah sekali mengalami perubahan bentuk fisik maupun aktivitas biologis. Banyak faktor yang menyebabkan perubahan sifat alamiah protein misalnya : panas, asam, basa, pelarut organik, pH, garam, logam berat, maupun sinar radiasi radioaktif. Perubahan sifat fisik yang mudah diamati adalah terjadinya penjendalan (menjadi tidak larut) atau pemadatan (Sudarmadji, 1989). Ada protein yang larut dalam air, ada pula yang tidak larut dalam air, tetapi semua protein tidak larut dalam pelarut lemak seperti misalnya etil eter. Daya larut protein akan berkurang jika ditambahkan garam, akibatnya protein akan terpisah sebagai endapan. Apabila protein dipanaskan atau ditambahkan alkohol, maka protein akan menggumpal. Hal ini NH2
  • 6. 6 disebabkan alkohol menarik mantel air yang melingkupi molekul-molekul protein. Adanya gugus amino dan karboksil bebas pada ujung-ujung rantai molekul protein, menyebabkan protein mempunyai banyak muatan dan bersifat amfoter (dapat bereaksi dengan asam maupun basa). Dalam larutan asam (pH rendah), gugus amino bereaksi dengan H+, sehingga protein bermuatan positif. Bila pada kondisi ini dilakukan elektrolisis, molekul protein akan bergerak kearah katoda. Dan sebaliknya, dalam larutan basa (pH tinggi) molekul protein akan bereaksi sebagai asam atau bermuatan negatif, sehingga molekul protein akan bergerak menuju anoda (Winarno, 1992). 2.4 Jenis-jenis Protein Klasifikasi protein dapat dilakukan dengan berbagai cara (Budianto, 2009). :  Berdasarkan bentuknya : a. Protein fibriler (skleroprotein) Adalah protein yang berbentuk serabut. Protein ini tidak larut dalam pelarut- pelarut encer, baik larutan garam, asam basa ataupun alkohol. Contohnya kolagen yang terdapat pada tulang rawan, miosin pada otot, keratin pada rambut, dan fibrin pada gumpalan darah. b. Protein globuler atau steroprotein Adalah protein yang berbentuk bola. Protein ini larut dalam larutan garam dan asam encer, juga lebih mudah berubah dibawah pengaruh suhu, konsentrasi garam, pelarut asam dan basa dibandingkan protein fibriler. Protein ini mudah terdenaturasi, yaitu susunan molekulnya berubah diikuti dengan perubahan sifat fisik dan fisiologiknya seperti yang dialami oleh enzim dan hormon. c. Protein Gabungan Yang dimaksud dengan protein gabungan adalah protein yang berikatan dengan senyawa yang bukan protein. Gugus bukan protein ini disebut gugus prostetik. Beberapa jenis protein gabungan antara lain mukoprotein, glikoprotein, lipoprotein dan nukleoprotein.  Berdasarkan kelarutannya, protein globuler dapat dibagi dalam beberapa grup yaitu : a. Albumin yaitu larut dalam air dan terkoagulasi oleh panas. Contohnya albumin telur, albumin serum, dan laktalbumin dalam susu.
  • 7. 7 b. Globulin yaitu tidak larut dalam air, terkoagulasi oleh panas, larut dalam larutan garam encer, mengendap dalam larutan garam konsentrasi tinggi.Contohnya adalah legumin dalam kacang-kacangan. c. Glutelin yaitu tidak larut dalam pelarut netral tetapi larut dalam asam atau basa encer. Contohnya glutelin gandum. d. Prolamin atau gliadin yaitu larut dalam alkohol 70-80% dan tak larut dalam air maupun alkohol absolut. Contohnya prolamin dalam gandum. e. Histon yaitu larut dalam air dan tidak larut dalam amoniak encer. Contohnya adalah histon dalam hemoglobin. f. Protamin yaitu protein paling sederhana dibandingkan protein-protein lainnya, tetapi lebih kompleks dari pada protein dan peptida, larut dalam air dan tidak terkoagulasi oleh panas.Contohnya salmin dalam ikan salmon.  Berdasarkan hasil hidrolisa total suatu protein dikelompokkan sebagai berikut : a. Asam amino esensial Yaitu asam amino yang tidak dapat disintesa oleh tubuh dan harus tersedia dalam makanan yang dikonsumsi. Seperti Lisin, Threonin, Leusin, Phenylalanin, Isoleusin, Methionin, Valin, dan Tryptophan. b. Asam amino non esensial Yaitu asam amino yang dapat disintesa oleh tubuh. Seperti Alanin, Tirosin, Asparagin, Sistein, Asam aspartat, Glisin, asam glutamat, Glutamin, Serin, dan Prolin. 2.5 Sumber Protein Dalam kualifikasi protein berdasarkan sumbernya, telah kita ketahui protein hewani dan protein nabati. Sumber protein hewani dapat berbentuk daging dan alat-alat dalam seperti hati, pankreas, ginjal, paru, jantung , jerohan. Yang terakhir ini terdiri atas babat dan iso (usus halus dan usus besar). Susu dan telur termasuk pula sumber protein hewani yang berkualitas tinggi. Ikan, kerang-kerangan dan jenis udang merupakan kelompok sumber protein yang baik, karena mengandung sedikit lemak, tetapi ada yang alergis terhadap beberapa jenis sumber protein hasil laut ini. Jenis kelompok sumber protein hewani ini mengandung sedikit lemak, sehingga baik bagi komponen susunan hidangan rendah lemak. Namun kerang- kerangan mengandung banyak kolesterol, sehingga tidak baik untuk dipergunakan dalam diet rendah kolesterol. Ayam dan jenis burung lain serta telurnya, juga merupakan sumber protein hewani yang berkualitas baik. Harus diperhatikan bahwa telur bagian merahnya mengandung
  • 8. 8 banyak kolesterol, sehingga sebaiknya ditinggalkan pada diet rendah kolesterol (Sediaoetama, 1985). Dalam kualifikasi protein berdasarkan sumbernya, telah kita ketahui protein hewani dan protein nabati. Sumber protein hewani dapat berbentuk daging dan alat-alat dalam seperti hati, pankreas, ginjal, paru, jantung , jerohan. Yang terakhir ini terdiri atas babat dan iso (usus halus dan usus besar). Susu dan telur termasuk pula sumber protein hewani yang berkualitas tinggi. Ikan, kerang-kerangan dan jenis udang merupakan kelompok sumber protein yang baik, karena mengandung sedikit lemak, tetapi ada yang alergis terhadap beberapa jenis sumber protein hasil laut ini. Jenis kelompok sumber protein hewani ini mengandung sedikit lemak, sehingga baik bagi komponen susunan hidangan rendah lemak. Namun kerang- kerangan mengandung banyak kolesterol, sehingga tidak baik untuk dipergunakan dalam diet rendah kolesterol. Ayam dan jenis burung lain serta telurnya, juga merupakan sumber protein hewani yang berkualitas baik. Harus diperhatikan bahwa telur bagian merahnya mengandung banyak kolesterol, sehingga sebaiknya ditinggalkan pada diet rendah kolesterol (Sediaoetama, 1985). 2.6 Metabolisme Protein  Katabolisme Protein Dalam sel eukariot, degradasi protein terjadi dalam dua tahap. Pertama adalah protein mengalami modifikasi oksidatif untuk menghilangkan aktivitas enzimatis. Dan kedua adalah penyerangan protease yaitu enzim yang berfungsi untuk mengkatalis degradasi protein.Protein yang terdapat didalam sel dan makanan didegradasi menjadi monomer penyusunnya (asam amino) oleh enzim protease yang khas. Protease tersebut dapat berada didalam lisosom maupun dalam lambung dan usus (Hamid, 2005). Katabolisme protein, makanan pertama kali berlangsung di dalam lambung. Ditempat itu protease khas (pepsin) mendegradasi protein dengan memutuskan ikatan peptida yang ada disisi NH2 bebas dari asam amino aromatik, hidrofobik atau dikarboksilat. Kemudian didalam usus protein juga didegradasi oleh protease khas seperti tripsin, kimotripsin, karboksipeptidase dan elastase. Hasil pemecahan ini adalah bagian- bagian kecil polipeptida. Selanjutnya senyawa ini dipecah kembali oleh aktivitas aminopeptidase menjadi asam-asam amino bebas. Produk ini kemudian melalui dinding usus halus masuk kedalam aliran darah menuju keberbagai organ termasuk ke dalam sel (Hamid, 2005).
  • 9. 9  Biosintesis protein Proses biosintesis ini merupakan penerjemahan rangkaian polinukleutida empat jenis monomer mRNA yang berjumlah ratusan, ribuan bahkan jutaan (tergantung jenis protein yang dikode) menjadi rangkaian asam amino suatu protein tertentu. Prosesnya sangat kompleks. Berikut beberapa komponen yang ikut serta didalam proses biosintesis protein (Hamid,2005) : Tahap Komponen Aktivitas asam amino tRNA ATP Mg2+ Asam amino Amino asil-tRNA sintetase Inisiasi rantai polipeptida 30S unit Ribosom 50S unit ribosom mRNA dengan kodon inisiator AUG Faktor inisiasi (FI)1, FI 2, dan FI 3 tRNA inisiator = fMet-tRNAf Asam Formil Tetrahidrofolat GTP, Mg2+ Elongnasi (pemanjangan) Faktor Elognasi (EFTs) Faktor Elognasi (EFTu) Faktor Elognasi (EFG) Amino asil tRNA Terminasi (Penghentian) Kodon terminasi=UUA,UAG,UGA Faktor pelepas 1 (RF-1) Faktor pelepas 2 (RF-2) Faktor pengenal pembantu (s) Faktor TR Deformilmetionilasi Deformilase Amino peptidase
  • 10. 10 Aktivasi asam amino merupakan proses perubahan asam amino menjadi aminoasil –tRNA dengan bantuan ATP. Proses pembentukan aminoasil –tRNA berlangsung dalam dua tahap yaitu: 1. Asam amino + ATP Enzim-Aminoasil-AMP + Ppi 2. Aminoasil-AMP + tRNA Aminoasil-tRNA + AMP Tahap inisiasi rantai polipeptida bermula dengan pengikatan bagian 18 S rRNA dan bagian mRNA. Proses ini memerlukan faktor inisiasi 3 (FI-3). Aminoasil tRNA untuk kodon pertama kemudian berinteraksi dengan GTP dan FI-2. Kompleks yang terbentuk akan mengikatkan antikodon tRNA-nya pada kodon yang bersangkutan sehingga membentuk kompleks inisiasi dengan subunit 40 S. Proses ini terjadi dengan adanya FI-1. Dengan melepaskan FI-1, FI-2 dan FI-3, subunit 60 S ribosom terikat dan GTP terhidrolisa sehingga terbentuk 80 S ribosom sempurna yang mempunyai 2 sisi untuk tRNA yaitu: sisi peptidil dan sisi aminoasil. Tahap perpanjangan rantai polipeptida meliputi pengikatan aminoasil-tRNA yang datang, pembentukan ikatan peptida dan translokasi. Pengikatan aminoasil- tRNA pada sisi aminoasil kosong dilakukan dengan adanya pengenalan kodon, EF- 1(elongation faktor 1) dan GTP. Setelah proses pengikatan, EF-1,GDP (guanosindifosfat) dan fosfat akan dilepas dengan bantuan faktor protein lain dan GTP akan menghasilkan EF-1(elongation faktor 1) dan GTP kembali. Proses pembentukan ikatan peptida terjadi pada sisi aminoasil. Proses tersebut terjadi dengan adanya protein peptidil transferase dari subunit ribosom 60S yang mengkatalis reaksi antar gugus alfa amino dari aminoasil-tRNA baru pada sisi aminoasil dengan gugus karboksil peptidil-tRNA pada sisi peptidil. Translokasi peptidil tRNA yang baru terbentuk pada sisi aminoasil ke sisi peptidil yang masih kosong. Proses ini terjadi dengan adanya EF-2 dan GTP. Selama proses ini terjadi titik GTP yang dibutuhkan EF-2 kemudian dihidrolisa menjadi GDP dan fosfat. Setelah translokasi peptidil tRNA tadi mengisi sisi peptidil dan akan terdapat sisi aminoasil kosong untuk proses selanjutnya. Enzim + Mg2+ Enzim + Mg2+
  • 11. 11 Tahap terminasi merupakan tahap penghentian perpanjangan rantai polipeptida yang terbentuk. Tahap ini terjadi setelah protein yang di inginkan terbentuk dan terjadi pada saat tRNA menemukan sisi aminoasil kodon nonsense (UAA,UAG,UGA) dari mRNA. tRNA tidak mempunyai antikodon untuk ketiga jenis antikodon nonsense mRNA tersebut. Isyarat ini hanya dikenali oleh faktor-faktor pelepas yang menghidrolisa ikatan antara peptida dan tRNA yang menepati sisi peptidil, sehingga molekul protein dan tRNA terlepas. Ada dua jenis faktor pelepas yaitu RF-1 yang berfungsi menghidrolisa ikatan peptida bila kodon UAA dan UAG menempati sisi aminoasil dan RF-2 berfungsi berikatan dengan ikatan peptida bila kodon UAA atau UGA menempati sisi aminoasil. Setelah tahap terminasi dilanjutkan dengan tahap pelipatan dan pengolahan yang bertujuan untuk memperoleh sifat aktif dari polipeptida (protein) yang terbentuk. 2.7 Macam-macam Penyakit yang Disebabkan oleh Kekurangan Protein Penyakit kekurangan protein mungkin lebih tepat disebut penyakit kurang gizi. Kekurangan konsumsi protein atau kekurangan gizi pada anak-anak dapat menyebabkan terganggunya pertumbuhan badan pada anak. Pada orang dewasa kekurangan protein mempunyai gejala yang kurang spesifik, kecuali pada keadaan yang telah sangat parah seperti busung lapar. Busung lapar yang banyak di derita oleh kelompok rawan gizi terutama bayi dan balita sungguh memprihatinkan. Pemerintah dengan beberapa program gizi telah berupaya untuk mengatasi masalah gizi tersebut. Hasil penelitian di berbagai tempat dan di banyak negara menunjukkan bahwa penyakit gangguan gizi yang paling banyak ditemukan adalah gangguan gizi akibat kekurangan energi dan protein (KEP). Ada dua bentuk KEP yaitu marasmus dan kwashiorkor. Baik marasmus maupun kwashiorkor keduanya disebabkan oleh kekurangan protein. Akan tetapi pada marasmus di samping kekurangan protein terjadi juga kekurangan energi. Sedangkan pada kwashiorkor yang kurang hanya protein, sementara kalori cukup. Marasmus terjadi pada anak usia yang sangat muda yaitu pada bulan pertama setelah lahir, sedangkan kwashiorkor umumnya ditemukan pada usia 6 bulan sampai 4 tahun. Istilah marasmus berasal dari bahasa yunani yang sejak lama digunakan sebagai istilah dalam ilmu kedokteran untuk menggambarkan seorang anak yang berat badannya sangat kurang dari berat badan seharusnya. Ciri utama penderita marasmus adalah sebagai berikut :
  • 12. 12 Anak tampak sangat kurus dan kemunduran pertumbuhan otot tampak sangat jelas sekali apabila anak dipegang pada ketiaknya dan diangkat. Berat badan anak kurang dari 60% dari berat badan seharusnya menurut umur. Wajah anak tampak seperti muka orang tua. Jadi berlawanan dengan tanda yang tampak pada kwashiorkor. Pada penderita marasmus, muka anak tampak keriput dan cekung sebagaimana layaknya wajah seorang yang telah berusia lanjut. Oleh karena tubuh anak sangat kurus, maka kepala anak seolah-olah terlalu besar jika dibandingkan dengan badannya. Pada penderita marasmus biasanya ditemukan juga tanda-tanda defisiensi gizi yang lain seperti kekurangan vitamin C, vitamin A, dan zat besi serta sering juga anak menderita diare. Sedangkan pada penderita kwashiorkor ditemukan ciri-ciri sebagai berikut : Adanya oedema pada kaki, tumit dan bagian tubuh lain seperti bengkak karena ada cairan tertumpuk. Gangguan pertumbuhan badan. Berat dan panjang badan anak tidak dapat mencapai berat dan panjang yang semestinya sesuai dengan umurnya. Perubahan aspek kejiwaan, yaitu anak kelihatan memelas, cengeng, lemah dan tidak ada selera makan. Otot tubuh terlihat lemah dan tidak berkembang dengan baik walaupun masih tampak adanya lapisan lemak di bawah kulit.
  • 13. 13 BAB III PEMBAHASAN 3.1 Kurang Energi Protei (KEP) / Kurang Kalori Protein (KKP) Penyakit Kurang Kalori Protein pada dasarnya terjadi karena defisiensi energi dan defisiensi protein, disertai susunan hidangan yang tidak seimbang. Penyakit KKP terutama menyerang anak-anak yang sedang tumbuh, dan dapat pula menyerang orang dewasa yang biasanya kekurangan makan secara menyeluruh. Penyakit Kurang Energi Protein (KEP) merupakan bentuk malnutrisi yang terdapat terutama pada anak-anak di bawah umur 5 tahun dan kebanyakan di negara-negara sedang berkembang. Bentuk KEP berat memberi gambaran klinis yang khas, misalnya bentuk kwashiorkor, bentuk marasmus atau bentuk campuran kwashiorkor marasmus. Pada kenyataannya sebagian besar penyakit KEP terdapat dalam bentuk ringan. Gejala penyakit KEP ringan ini tidak jelas, hanya terlihat bahwa berat badan anak lebih rendah jika dibandingkan dengan anak seumurnya. Berdasarkan hasil penyelidikan di 254 desa di seluruh Indonesia, Tarwotjo, dkk (1978), memperkirakan bahwa 30 % atau 9 juta diantara anak-anak balita menderita gizi kurang, sedangkan 3 % atau 0,9 juta anak-anak balita menderita gizi buruk. Defisensi potein hampir selalu, atau praktis selalu bergandengan dengan defisiensi kalori. Asosiasi kedua penyakit ini dapat dipahami melalui berbagai hubungan antara protein dan energi (kalori). Hubungan metabolisme terdapat antara energi dan protein, yaitu bahwa protein merupakan slah satu penghasil utama energi. Jadi bila energi kurang cukup di dalam hidangan, maka protein lebih banyak yng dikatabolisme menjadi energi. Ini berarti semakin kurang protein yang tersedia untuk keperluan lain, termasuk untuk sintesa protein tubuh. Hubungan lain melalui bhan makanannya. Di Indonesia, baik energi maupun protein sebagian besar diberikan olh bahan makan-makanan pokok, dalam hal ini ialah beras. Beras memberikan 70-90% kalori maupun protein, jadi bila konsumsi kalori maupun protein, jadi bila konsumsi beras (nasi) beras (nasi) tidak mencukupi, maka akan terjadi defisiensi energi maupun protein. Tetapi adakalanya defisiensi kalori terjadi secara ekstrim, sehingga penyakit menjadi gejala-gejala yang dapat dikatakan khusus karena kurang kalori. Gambaran defisiensi kalori secara ekstrim disebut marasmus. Sebaliknya dapat pula terjadi defisiensi protein secara
  • 14. 14 ekstrim dengan kalori yang relatif mencukupi. Dalam hal ini akan terjadi penyakit dengan gambaran klinik yang disebut kwashiorkor. Jika diet mengandung sejumlah besar karbohidrat dan lemak, maka hampir semua energi tubuh dihasilkan dari kedua jenis zat ini dan sedikit yang dihasilkan dari protein. Oleh karena itu, baik karbohidrat maupun lemak dianggap sebagai penghemat protein. Sebaliknya, pada saat kelaparan, setelah karbohidrat dan lemak menjadi berkurang, maka cadangan protein tubuh lalu digunakan dengan cepat untuk menghasilkan energi, kadang-kadang dengan kecepatan yang mendekati beberapa ratus gram per hari, bukan seperti kecepatan normal sehari-harinya yaitu 30-55 gram (Guyton,1997). Vitamin disimpan dalam jumlah kecil di dalam semua sel. Sebagian vitamin disimpan dalam jumlah besar di hepar. Penyimpanan vitamin larut air relatif sangat kecil. Cadangan beberapa vitamin, terutama vitamin yang larut air-kelompok vitamin B dan vitamin C- tidak berlangsung lama selama kelaparan. Akibatnya, setelah kelaparan selama satu minggu atau lebih, biasanya akan terjadi defisiensi vitamin ringan dan setelah beberapa minggu dapat terjadi defisiensi vitamin berat (Guyton, 1997). 3.2 Pengertian Kwashiorkor Kata “kwarshiorkor” berasal dari bahasa Ghana-Afrika yang berati “anak yang kekurangan kasih sayang ibu”. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Cicely D. Williams pada rangkaian saintifik internasional melalui artikelnya Lancet 1935. Beliau pada tahun 1933 melukiskan suatu sindrom tersebut berhubungan dengan defisiensi dari suatu nutrien. Akhirnya baru diketahui defisiensi protein menjadi penyebabnya. Walaupun sebab utama penyakit ini ialah defisiensi protein, tetapi karena biasanya bahan makanan yang dimakan itu juga kurang mengandung nutrien lainnya, maka defisiensi protein disertai defisiensi kalori sehingga sering penderita menunjukkan baik gejala kwashiorkor maupun marasmus. Kwashiorkor adalah suatu bentuk malnutrisi energi protein yang ditimbulkan oleh defisiensi protein yang berat. Ini ditandai dengan hambatan pertumbuhan, perubahan pada pigmen rambut dan kulit, edema, pembesaran perut, imunodefisiensi, dan perubahan patologik pada hati termasuk infiltrasi lemak, nekrosis dan fibrosis. Temuan lainnya adalah apati secara mental, atrofi pankreas, gangguan saluran pencernaan, anemia, kadar albumin serum yang rendah, dermatosis. Timbul bercak gelap yang menebal pada kulit ekstremitas
  • 15. 15 dan punggung yang dapat terkelupas, membentuk permukaan kulit merah muda yang hampir telanjang (Dorland, 2002). Kwashiorkor ialah gangguan yang disebabkan oleh kekurangan protein (Indrawati,1994). Kwashiorkor ialah defisiensi protein yang disertai defisiensi nutrien lainnya yang biasa dijumpai pada bayi masa disapih dan anak prasekolah (balita) (Ngastiyah, 1995). 3.3 Penyebab Kwashiorkor Sebenarnya malnutrisi merupakan suatu sindrom yang terjadi akibat banyak faktor. Faktor-faktor ini dapat digolongkan atas tiga faktor penting yaitu : tubuh sendiri (host), agent (kuman penyebab), environment (lingkungan). Memang factor diet (makanan) memegang peranan penting tetapi faktor lain ikut menentukan. Penyebab kwashiorkor antara lain dalah : 1. Intake protein yang buruk. 2. Infeksi suatu penyakit. 3. Masalah penyapihan. Selain oleh pengaruh negatif faktor sosio-ekonomi-budaya yang berperan terhadap kejadian malnutrisi umumnya, dapat pula disebabkan oleh diare kronik, malabsorpsi protein, hilangnya protein melalui air kemih (sindrom nefrotik), infeksi menahun, luka bakar, penyakit hati. 3.4 Gejala dan Tanda- Tanda Kwashiorkor Gejala Kwashiorkor (Guyton,1997): 1. Pertumbuhan yang terganggu. Selain berat badan juga tinggi badan kurang dibandingkan anak sehat 2. Perubahan mental. Biasanya penderita cengeng dan pada stadium lanjut menjadi apatis 3. Pada sebagian besar penderita ditemukan edema baik yang ringan maupun yang berat. 4. Gejala gastrointestinal, anoreksia kadang-kadang demikian hebatnya, sehingga segala pemberian makanan ditolak dan makanan hanya dapat diberikan lewat sonde lambung. Adakalanya tiap makanan yang diberikan dengan susah payah dimuntahkan lagi. Diare terdapat pada sebagian besar penderita. Hal ini mengkin karena gangguan
  • 16. 16 fungsi hati, pankreas dan usus. Intoleransi laktosa kadang-kadang ditemukan, sehingga pemberian susu sapi dapat memperhebat diare. 5. Perubahan rambut sering dijumpai, baik mengenai bangunnya (texture), maupun warnanya. Sangat khas untuk penderita kwashiorkor adalah rambut kepala yang mudah dicabut. Tarikan ringan di daerah temporal dengan mudah dapat mencabut seberkas rambut tanpa reaksi penderita. Pada penderita kwashiorkor lanjut, rambut penderita akan tampak kusam, kering, halus, jarang dan berubah warnanya menjadi putih. Perubahan bangun rambut kelopak mata tidak begitu nyata, bahkan sering bulu mata menjadi lebih panjang. 6. Kulit penderita biasanya kering dengan menunjukkan garis-garis kulit yang lebih mendalam dan lebar. Sering ditemukan hiperpigmentasi dan persisikan kulit. Pada sebagian penderita ditemukan perubahan kulit yang khas untuk penyakit kwashiorkor yaitu crazy pavement dermatosis yang merupakan bercak-bercak putih atau merah muda dengan tepi hitam dan ditemukan pada bagian tubuh yang sering mendapat tekanan, terutama bila tekanan tersebut terus menerus dan disertai kelembaban oleh keringat atau ekskreta, seperti pada bokong, fosa poplitea, lutut, buku kaki, paha, lipat paha dan sebagainya. Perubahan kulit demikian dimulai dengan bercak-bercak merah kecil yang dalam waktu singkat bertambah dan berpadu untuk kemudian menjadi hitam. Pada suatu saat mengelupas dan memperlihatkan bagian yang tidak mengandung pigmen, dibatasi oleh tepi yang masih hitam akibat hiperpigmentasi. Crazy pavement dermatosis ditemukan terutama pada kasus dengan edema dan mempunyai prognosis buruk. Jarang ditemukan luka bundar atau bujur dengan dasar dalam dan batas jelas, sedangkan daerah sekitarnya tidak menunjukkan reaksi radang. Kadang-kadang dijumpai perdarahan kulit (petekie) yang juga merupakan tanda prognosis buruk. 7. Pembesaran hati merupakan gejala yang juga sering ditemukan. Kadang-kadang batas hati terdapat setinggi pusat. Hati yang dapat diraba umumnya kenyal, permukaannya licin dan pinggir tajam. Biasanya pada hati yang membesarkan ini terjadi perlemakan hebat. Walaupun demikian hati yang tidak membesar juga dapat mengalami perlemakan heabat. 8. Anemia ringan selalu ditemukan pada penderita demikian. Bila kwashiorkor disertai penyakit lain, terutama ankilostomiasis, maka dapat dijumpai anemia berat. Jenis anemia pada kwashiorkor bermacam-macam, yang terbanya normositik-normokrom. Berkurangnya jumlah sel sistim eritropoietik dalam sumsum tulang merupakan suatu
  • 17. 17 keadaan yang paling sering dijumpai dan merupakan penyebab terpenting. Hipoplasi atau aplasia sumsum tulang ini disebabkan teruatama oleh defisiensi protein dan infeksi menahun. Akan tetapi faktor lainpun mempengaruhi anemia pada seorang penderita kwashiorkor, misalnya defisiensi besi, defisiensi faktor hati, kerusakan hati, defisiensi vitamin B kompleks dan insufisiensi hormon. 9. Kelainan kimia darah yang selalu ditemukan ialah kadar albumin serum yang rendah, disamping kadar globulin yang normal atau sedikit meninggi, sehingga perbandingan albumin dengan globulin menjadi kurang dari satu. 10. Pada biopsi hati ditemukan perlemakan yang kadang-kadang demikian hebatnya sehingga hampir semua sel hati mengandung vakuol lemak besar. Sering juga ditemukan tanda fibrosis, nekrosis dan infiltrasi sel mononukleus. 11. Hasil autopsi penderita kwashiorkor yang berat menunjukkan hampir semua organ mengalami perubahan, seperti degenerasi otot jantung, osteoporosis tulang dan sebagainya. Gambar penderita Kwashiorkor (Anonimous, 2008) : Tanda khas pada penderita kwashiorkor adalah pitting edema. Pitting edema adalah edema yang jika ditekan, sulit kembali seperti semula. Pitting edema disebabkan oleh kurangnya protein, sehingga tekanan onkotik intravaskular menurun. Jika hal ini terjadi, maka terjadi ekstravasasi plasma ke intertisial. Plasma masuk ke intertisial, tidak ke intrasel, karena pada penderita kwashiorkor tidak ada kompensansi dari ginjal untuk reabsorpsi
  • 18. 18 natrium. Padahal natrium berfungsi menjaga keseimbangan cairan tubuh. Pada penderita kwashiorkor, selain defisiensi protein juga defisiensi multinutrien. Ketika ditekan, maka plasma pada intertisial lari ke daerah sekitarnya karena tidak terfiksasi oleh membran sel dan mengembalikannya membutuhkan waktu yang lama karena posisi sel yang rapat. Edema biasanya terjadi pada ekstremitas bawah karena pengaruh gaya gravitasi, tekanan hidrostatik dan onkotik (Sadewa, 2008). Anak dengan kwashiorkor akan lebih mudah untuk terkena infeksi dikarenakan lemahnya sistem imun. Tinggi maksimal dan kempuan potensial untuk tumbuh tidak akan pernah dapat dicapai oleh anak dengan riwayat kwashiorkor. Bukti secara statistik mengemukakan bahwa kwashiorkor yang terjadi pada awal kehidupan (bayi dan anak-anak) dapat menurunkan IQ secara permanen. Komplikasi lainnya bisa terjadi shock dan cacat permanen. 3.5 Pencegahan Kwashiorkor Pencegahan kwashiorkor dapat dilakukan dengan memberikan makanan yang bergizi seimbang yaitu makanan yang mengandung karbohidrat (seperti nasi, kentang, jagung), makanan yang mengandung protein (telur, ikan ,daging, tahu, tempe, dll), makanan yang mengandung vitamin dan mineral seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Setelah anak disapih (berhenti menyusu), sebaiknya anak diperhatikan benar-benar asupan gizinya. Apalagi protein adalah zat pembangun jaringan tubuh, di mana anak masih sangat membutuhkannya karena masih dalam masa pertumbuhan. Kwashiorkor memerlukan diet yang berisi jumlah cukup protein yang kulitas biologiknya baik. Usaha-usaha tersebut memerlukan sarana dan prasarana kesehatan yang baik untuk pelayanan kesehatan dan penyuluhan gizi. 1. Pemberian air susu ibu (ASI) sampai umur 2 tahun merupakan sumber energi yang paling baik untuk bayi. 2. Ditambah dengan pemberian makanan tambahan yang bergizi pada umur 6 tahun ke atas. 3. Pencegahan penyakit infeksi, dengan meningkatkan kebersihan lingkungan dan kebersihan perorangan. 4. Penyuluhan/pendidikan gizi tentang pemberian makanan yang adekuat merupakan usaha pencegahan jangka panjang.
  • 19. 19 5. Pemantauan (surveillance) yang teratur pada anak balita di daerah yang endemis kurang gizi, dengan cara penimbangan berat badan tiap bulan. 6. Pemberian imunisasi. 3.6 Pengobatan Kwashiorkor Penatalaksanaan kwashiorkor bervariasi tergantung pada beratnya kondisi anak. Keadaan shock memerlukan tindakan secepat mungkin dengan restorasi volume darah dan mengkontrol tekanan darah. Pada tahap awal, kalori diberikan dalam bentuk karbohidrat, gula sederhana, dan lemak. Protein diberikan setelah semua sumber kalori lain telah dapat memberikan tambahan energi. Vitamin dan mineral dapat juga diberikan. Dikarenakan anak telah tidak mendapatkan makanan dalam jangka waktu yang lama, memberikan makanan per oral dapat menimbulkan masalah, khususnya apabila pemberian makanan dengan densitas kalori yang tinggi. Makanan harus diberikan secara bertahap/ perlahan. Banyak dari anak penderita malnutrisi menjadi intoleran terhadap susu (lactose intolerance) dan diperlukan untuk memberikan suplemen yang mengandung enzim lactase. Penatalaksaan gizi buruk menurut standar pelayanan medis kesehatan anak – IDAI (ikatan dokter anak Indonesia) adalah dengan penanganan dini pada kasus-kasus kwashiorkor umumnya memberikan hasil yang baik. Penanganan yang terlambat (late stages) mungkin dapat memperbaiki status kesehatan anak secara umum, namun anak dapat mengalami gangguan fisik yang permanen dan gangguan intelektualnya. Kasus-kasus kwashiorkor yang tidak dilakukan penanganan atau penanganannya yang terlambat, akan memberikan akibat yang fatal. Penatalaksanaan segera tiap masalah akut seperti masalah diare berat, gagal ginjal, dan syok dan akhirnya penggantian nutrient yang hilang sangat penting. Dehidrasi sedang atau berat, infeksi nampak atau dugaan, tanda-tanda mata dari defisiensi vitamin A, anemia berat, hipoglikemia, diare terus-menerus atau berulang, lesi kulit dan membrane mukosa, anoreksia dan hipotermia semua harus diobati. Untuk dehidrasi ringan sampai sedang, cairan diberikan oral atau dengan pipa nasogastik. Sedangkan dehidrasi berat, cairan intravena diperlukan. Jika cairan intravena tidak dapat diberikan, infuse intraosseus (sum-sum tulang belakang) atau intraperitoneal 70 mL/kg larutan Ringer Laktatsetengah kuat untuk menyelamatkan jiwa. Antibiotik efektif harus diberikan parenteral selama 10 hari.
  • 20. 20 Bila dehidrasi terkoreksi, makanan peroral mulai dengan makanan susu encer sedikit sering; kekentalan dan volume sedikit demi sedikit ditambah dan frekuensi dikurangi selama 5 hari berikutnya. Pada hari 6-8, anak harus mendapat 150 mL/kg/24 jam dalam 6 kali makan. Susu sai atau yogurt untuk anak intoleran laktosa harus dibuat dengan 50 gr gula/L. Pada masa penyembuhan, makanan energy tinggi terbuat dari susu, minyak dan gula yang diperlukan. Susu skim, hidrolisat casein atau campuran asam amino sintetik sapat digunakan untuk menambah cairan dasar dan regimen nutrisi. Bila diet kalori tinggi dan protein tinggi diberikan terlalu awal atau cepat, hati dapat menjadi besar, abdomen menjadi sangat kembung dan anak membaiknya lebih lambat. Lemak sayur dapat diserap lebih baik daripada lemak susu sapi. Toleransi glukosa yang terganggu dapat diperbaiki pada beberapa anak yang terkena dengan pemberian 250 µg kromium klorida. Vitamin dan mineral, terutama vitamin A, kalium dan magnesium diperlukan sejak permulaan pengobatan. Besi dan asam folat biasanya memperbaiki anemia. Infeksi bakteri harus diobati bersamaan dengan terapi diet, sedang pengobatan infestasi parasit, jika tidak berat, dapat ditunda samapi penyembuhan mulai berlangsung. Sesudah pengobatan dimulai, penderita dapat kehilangan berat badannya selama beberapa minggu karena menghilangnya udem yang tampak dan tidak tampak. Enzim serum dan usus kembali ke normal, penyerapan lemak dan usus kembali membaik. Dalam proses pelayanan KEP berat/Gizi buruk terdapat 3 fase yaitu fase stabilisasi, fase transisi, dan fase rehabilitasi. Petugas kesehatan harus terampil memilih langkah mana yang sesuai untuk setiap fase. Tata laksana ini digunakan pada pasien Kwashiorkor, Marasmus maupun Marasmik-Kwashiorkor.
  • 21. 21 3.7 Metabolisme Protein pada Penderita Kwashiorkor Asam amino yang dibuat dalam hati, maupun yang dihasilkan dari proses katabolisme protein dalam hati, dibawa oleh darah ke dalam jaringan untuk digunakan. Proses anabolik maupun katabolik juga terjadi dalam jaringan di luar hati. Asam amino yang terdapat dalam darah berasal dari tiga sumber, yaitu absorbsi melalui dinding usus, hasil penguraian protein dalam sel dan hasil sintesis asam amino dalam sel. Banyaknya asam amino dalam darah tergantung keseimbangnan antara pembentukan asam amino dan penggunaannya. Hati berfungsi sebagai pengatur konsentrasi asam amino dalam darah. Dalam tubuh, protein mengalami perubahan-perubahan tertentu dengan kecepatan yang berbeda untuk tiap protein. Protein dalam darah, hati dan organ tubuh lain mempunyai waktu paruh (half-time) antara 2,5 sampai 10 hari. Rata-rata tiap hari 1,2 gram protein per kilogram berat badan diubah menjadi senyawa lain. Ada tiga kemungkinan mekanisme pengubahan protein , yaitu (Poejdiadi, 1994): 1. Sel-sel mati, lalu komponennya mengalami proses penguraian atau katabolisme dan dibentuk sel-sel baru 2. Masing-masing protein mengalami proses penguraian dan terjadi sintesis protein baru, tanpa ada sel yang mati 3. Protein dikeluarkan dari dalam sel diganti dengan sinteis protein baru Protein dalam makanan diperlukan untuk menyediakan asam amino yang akan digunakan untuk memproduksi senyawa nitrogen yang lain, untuk mengganti protein dalam jaringan yang mengalami proses penguraian dan untuk mengganti nitrogen yang telah
  • 22. 22 dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk urea. Ada beberapa asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang memadai. Oleh karena itu asam amino tersebut yang dinamakan asam amino yang esensial, harus diperoleh dari makanan. Asam-asam amino esensial yang dibutuhkan oleh manusia ialah histidin, isoleusin, leusin, lisin, metionin, arginin, fenilalanin, treonin, triptofan, dan valin. Kebutuhan akan asam amino esensial tersebut bagi anak-anak relatif lebih besar daripada orang dewasa. Makanan yang mengandung protein hewani, misalnya daging, susu, keju, telur, ikan dan lain-lain, merupakan sumber asam amino esensial. Pada defisiensi protein murni tidak terjadi katabolisme jaringan yang sangat berlebihan, karena persediaan energi dapat dipenuhi oleh jumlah kalori dalam dietnya. Kelainan yang mencolok adalah gangguan metabolik dan perubahan sel yang menyebabkan edema dan perlemakan hati. Karena kekurangan protein dalam diet, akan terjadi kekurangan berbagai asam amino esensial dalam serum yang diperlukan untuk sintesis dan metabolisme. Bila diet cukup mengandung karbohidrat, maka produksi insulin akan meningkat dan sebagian asam amino dalam serum yang jumlahnya sudah kurang tersebut akan disalurkan kejaringan otot. Makin berkurangnya asam amino dalam serum ini akan menyebabkan kurangnya produksi albumin oleh hepar, yang kemudian berakibat timbulnya edema. Perlemakan hati terjadi karena gangguan pembentukan beta- lipoprotein, sehingga transport lemak dari hati terganggu, dengan akibat adanya penimbunan lemak dalam hati. Pada kwashiorkor, terjadi kekurangan asupan protein dimana katabolisme protein tidak dapat mengkompensasi. Akhirnya, terjadilah penurunan sintesis enzim dan protein struktural serta kadar albumin serum. Penurunan sintesis protein struktural mengakibatkan atropi pada otot. Selain itu, pembentukan rambut menjadi terganggu sehingga rambut menjadi mudah rontok. Penurunan produksi enzim pencernaan dalam usus disertai atropi otot usus halus mengakibatkan kegagalan penyerapan makanan dan menjadikan anak sulit makan. Penurunan kadar albumin serum akan menurunkan tekanan osmotik pembuluh darah sehingga cairan pada pembuluh darah akan tertarik keluar dan tertimbun dalam ruangan jaringan ekstravaskular sehingga menimbulkan edema. Kekurangan protein pengangkut seperti apoprotein yang mengikat lemak, mengakibatkan lemak tertimbun di dalam hati. Penimbunan / perlemakan hati membuat hati menjadi besar / hepatomegali.
  • 23. 23 BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Penyakit Kurang Energi Protein (KEP) merupakan bentuk malnutrisi yang terdapat terutama pada anak-anak di bawah umur 5 tahun dan kebanyakan di negara-negara sedang berkembang. Bentuk KEP berat memberi gambaran klinis yang khas, misalnya bentuk kwashiorkor, bentuk marasmus atau bentuk campuran kwashiorkor marasmus. Kwashiorkor adalah suatu bentuk malnutrisi energi protein yang ditimbulkan oleh defisiensi protein yang berat. Ini ditandai dengan hambatan pertumbuhan, perubahan pada pigmen rambut dan kulit, edema, pembesaran perut, imunodefisiensi, dan perubahan patologik pada hati termasuk infiltrasi lemak, nekrosis dan fibrosis. Temuan lainnya adalah apati secara mental, atrofi pankreas, gangguan saluran pencernaan, anemia, kadar albumin serum yang rendah, dermatosis. Timbul bercak gelap yang menebal pada kulit ekstremitas dan punggung yang dapat terkelupas, membentuk permukaan kulit merah muda yang hampir telanjang. Pencegahan kwashiorkor dapat dilakukan dengan memberikan makanan yang bergizi seimbang yaitu makanan yang mengandung karbohidrat (seperti nasi, kentang, jagung), makanan yang mengandung protein (telur, ikan ,daging, tahu, tempe, dll), makanan yang mengandung vitamin dan mineral seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Setelah anak disapih (berhenti menyusu), sebaiknya anak diperhatikan benar-benar asupan gizinya. Penatalaksanaan kwashiorkor bervariasi tergantung pada beratnya kondisi anak. Keadaan shock memerlukan tindakan secepat mungkin dengan restorasi volume darah dan mengkontrol tekanan darah. Pada tahap awal, kalori diberikan dalam bentuk karbohidrat, gula sederhana, dan lemak. Protein diberikan setelah semua sumber kalori lain telah dapat memberikan tambahan energi. Vitamin dan mineral dapat juga diberikan. Dikarenakan anak telah tidak mendapatkan makanan dalam jangka waktu yang lama, memberikan makanan per oral dapat menimbulkan masalah, khususnya apabila pemberian makanan dengan densitas kalori yang tinggi. Makanan harus diberikan secara bertahap/ perlahan. 4.2 Saran ----------
  • 24. 24 DAFTAR PUSTAKA Almatsier, S. 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Anonymous . 2008 . Gangguan Kesehatan Akibat Kurang Gizi. http://www.smallcrab.com/anak-anak/530-gangguan-kesehatan-akibat-kurang-gizi (Diakses tanggal 9 Maret 2012) Anonymous. 2010 . Penyakit Disebabkan Kurang Protein . http://forum.detik.com/penyakit- disebabkan-dari-kekurangan-protein-t199178.html (Diakses tanggal 9 Maret 2012) Anonymous. 2010 . Akibat Kekurangan Protein. http://kuliahdi.blogspot.com/2010/06/akibat-kekurangan-protein.html (diakses tanggal 9 Maret 2012) Budianto. 2001. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran . Jakarta: Kedokteran EGC Dorland. 2002. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Alih bahasa : Andy Setiawan et al. Jakarta : EGC Gaman. 1994 . Ilmu Pangan . Bandung : ITB Press Guyton, Hall, 1997. Metabolisme dan Pengaturan Suhu Dalam : Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 9th ed. Jakarta : EGC Hamid, Abdul . 2005 . Biokimia Metabolisme Biomolekul . Bandung : Alfabeta Indrawati, Ratna. 1982. Ilmu Kesehatan Anak. Modisco :Bull Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: UI Press Sadewa, A.L. 2008.Makalah KEP. http://ayahaja.wordress.com diakses 9 Maret 2012 Sediaoetama, Ahmad Djaeni . 1985 . Faktor Gizi . Jakarta : Bhatara Karya Sudarmaji, S . 1989 . Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Jakarta : Kedokteran EGC Winarno, F.G . 1993 . Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Jakarta : Departemen Pendidikan

×