Kultur (Kebudayaan) vs MasyarakatCulture vs SocietyCulture is changing constantly. Certain products of culture are governm...
Sumber:http://www.differencebetween.net/miscellaneous/difference-between-culture-and-society/Teori Konstruksi Sosial (P.L....
dengan verstehen.6 Selain Teori Aksi (Weber), Teori Fenomenologis (Alfred Schutz),Interaksionalisme Simbolis (diantaranya;...
sombolik) tak lagi relevan.10 Jurgen Habermas; Empiris-analitis, Historis-hermeneutis, danEmansipatorik Habermas membagi m...
produk manusiawi, seperti; sejarah, masyarakat, candi, dan interaksi. Sementara Schutzmemfokuskan pada pengalaman manusia ...
penelitian survai sebagai turunan dari positivis lebih sebagai ilmu sosial yang bermazhab ilmufisika prediktif, sehingga h...
merupakan usaha untuk memberi justifikasi gagasan Durkheim berdasarkan pada pandanganfenomenologi (Hanneman Samuel, 1993: ...
yang menyangkut pandangan dan tingkah laku, serta pembentukan makna. Hal ini terjadi karenaindividu-individu yang terlibat...
dipermasalahkan oleh individu (Misalnya; civitas kampus FISIP Unair jarang, bahkan belumpernah, menanyakan; mengapa gedung...
dibuat untuk melegitimasi organisasi sosial. Proses ”legitimasi sebagai legitimasi lembagasosial” menuju ”lembaga sosial s...
bahasa ibunya. Kata jihad sudah mendarah daging sebagaimana kata islam itu sendiri. Karena itufenomena jihad selalu tergam...
No.14, Vol.V. Februari-April 2003, Menafsirkan Hermeneutika, Ahmad Zainul Hamdi(Redaktur Pelaksana). Hanneman Samuel, Pers...
aspek pemerintahan, masyarakat pedesaan adalah komunitas masyarakat yang tinggal padawilayah-wilayah yang bersatus desa. S...
kualitas pendidikan, semakin baiknya sistem dan alat transportasi, serta semakin intensnyamasyarakat pedesaan berinteraksi...
b.2. Mengolah informasi dari berbagai sumber bacaan untuk membahas dan menyimpulkanmasalah yang diangkat sesuai dengan top...
dengan kepercayaan berdasarkan getaran jiwa. Namun, sekarang aktivitas manusia banyak yangdikaitkan dengan akal dan logika...
7    Roucek dan Warren Perubahan dalam proses sosial atau dalam struktur masyarakatLalu apakah perubahan sosial budaya? Be...
b. Adanya penemuan-penemuan baru yang berkembang di masyarakat, baik penemuan yangbersifat baru (discovery) ataupun penemu...
Perubahan sebagai suatu kemajuan merupakan perubahan yang memberi dan membawakemajuan pada masyarakat. Hal ini tentu sanga...
b. Adanya pemimpin/kelompok yang mampu memimpin masyarakat tersebut.c. Harus bisa memanfaatkan momentum untuk melaksanakan...
Faktor pendorong merupakan alasan yang mendukung terjadinya perubahan. Menurut SoerjonoSoekanto ada sembilan faktor yang m...
8) Orientasi ke masa depanKondisi yang senantiasa berubah merangsang orang mengikuti dan menyesusikan denganperubahan. Pem...
(4) Faktor apa yang paling dominan mempengaruhi terjadinya perubahan sosial dan erosi nilai-nilai kearifan pada masyarakat...
Pola interaksi, komunikasi dan tarnsportasi yang terjadi di kalangan masyarakat pedesaat, sudahsangat jauh berbeda dengan ...
Kedua indikator tersebut memang sangat subyektif, tetapi paling tidak dapat diuji secarasubyektif dan obyektif, yakni deng...
Perbedaan ini disebabkan banyak hal, seperti kondisi alam serta keragaman akulturasi etnis yangterjadi. Di P. Sumbawa, aku...
E. KESIMPULANBerdasarkan uraian pada pendahuluan, pustaka dan pembahasan di atas, dapat disimpulkansebagai berikut:   1. P...
Jefkins, frank (1987). Public Relation untuk Bisnis. Jakarta, Pustaka Binaman Presindo.Kleden, Ignas.1987. Sikap Ilmiah da...
info       komputer       sosiologiInteraksionisme SimbolikPERNIKAHAN Heny dan Syaiful nyaris gagal. Pemicunya sebetulnya ...
anak-anak kampung, yang tak hanya akan membuat gaduh dan kotor tetapi juga berpotensimenurunkan gengsi keluarga. Anak-anak...
Jika ilmuwan lain seperti James Mark Baldwin, William James, Charles Horton Chooley , John Dewey,William I. Thomas dikenal...
Seseorang memperoleh makna atas sesuatu hal melalui interaksi. Dengan demikian dapat        dikatakan bahwa makna adalah h...
mengkombinasikan I dan me. I adalah kekuatan spontan yang tidak dapat diprediksi. Ini adalah bagiandari diri yang tidak te...
Telp.(024) 8411562, Telp.(024) 8441524, Telp.(024) 8414753UniversityUniversitas SurapatiJl. Dewi Sartika No. 184-A, Cawang...
Lembaga Psikologi Terapan Universitas IndonesiaUniversitas Indonesia C Building, 2nd Floor,Jl. Salemba Raya No. 4,Jakarta ...
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Paradigma sosiologi
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Paradigma sosiologi

6,504 views
6,381 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
6,504
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
128
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Paradigma sosiologi

  1. 1. Kultur (Kebudayaan) vs MasyarakatCulture vs SocietyCulture is changing constantly. Certain products of culture are governments, languages, buildings andman made things. It is a powerful tool for the survival of mankind. Cultural patterns of ancient peopleare reflected in their artifacts and are studied by archaeologists to understand their way of life. Cultureis an important part of a society for the very existence of society. Culture also plays an important role toestablish discipline in a society. According to the behavior patterns and perceptions, there are threelevels of culture.First one is the body of cultural traditions that makes you to differentiate a society from others. Whenpeople speak German, Japanese or Italian, then they are referred as the language, beliefs and traditionsshared by each set of people that is different from others. Second one is the subculture in whichdifferent societies from different parts of the world preserve their original culture. Such people are thepart of a subculture in the new society. For example, subcultures in United States consist of ethnicgroups like Mexican Americans, African Americans and Vietnamese Americans. The members of eachsubculture share a common language, identity, food tradition and other traits through a commonancestral upbringing. The third level is the cultural universals that consist of behavior patterns shared bythe humanity as a whole. Some examples of such behavior patterns are communicating with a verballanguage, use of age and gender to classify people, differentiation based on marriage and relationships.Society is referred to as a group of people who share common area, culture and behavior patterns.Society is united and referred as a distinct entity. Society consists of a government, health care,education system and several occupations of people. In a society each and every individual is importantbecause each individual can contribute something to the society. Also you can find smaller groups ofpeople with a certain goal which include groups of students, government agencies or groups that raisemoney for a specific cause in a society. Many different cultures can be found within a society. You canfind several differences within a country or town.In a broad sense, the society is made of varied multitude of individuals with social, economic orindustrial infrastructure. One of the major benefits of a society is that it serves the individuals in thetime of crisis. Societies are also organized depending up on their political structure such as State, bands,chiefdoms and tribes. The degrees of political power vary according to the cultural, historical andgeographical environments. Certain societies give certain status to an individual or group of peoplewhen an individual or group performs a favorable action for the society.Read more: Difference Between Culture and Society Difference Between Culture vs Societyhttp://www.differencebetween.net/miscellaneous/difference-between-culture-and-society/#ixzz1NFsPSpkj
  2. 2. Sumber:http://www.differencebetween.net/miscellaneous/difference-between-culture-and-society/Teori Konstruksi Sosial (P.L. Berger)Fokus studi Sosiologi adalah interaksi antara individu dengan masyarakat, demikian menurutPeter Ludwig Berger. Lebih tepatnya, interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, menurutBerger, Sosiologi berbeda dengan ilmu alam. Ilmu alam mempelajari gejala alam, sedangkanSosiologi mempelajari gejala sosial yang sarat oleh makna para aktor yang terlibat dalam gejalasosial itu (Samuel, 1993:19). Sosiologi pengetahuan Berger menekuni makna yang ada dalammasyarakat. Lalu, makna yang bagaimana yang mesti ditekuni Sosiologi Berger? Tulisan inimencoba untuk mengelaborasi ‟teori makna‟ Berger. Untuk memudahkan pembahasan, makatulisan ini diawali dengan pembahasan tentang aliran-aliran (peta) teori dalam Sosiologi.Kemudian; mencari jawaban dari; dimana posisi teori Berger? Terakhir, menggeluti maknaperspektif Berger. Ragam Aliran Teori Sosiologi Secara sistematis, George Ritzermengembangkan paradigma dalam disiplin sosiologi (Sosiologi: Ilmu PengetahuanBerparadigma Ganda/Sociology: A Multiple Paradigm Science, 1980). Ritzer memetakan tigaparadigma besar dalam disiplin sosiologi. Yakni; paradigma fakta sosial, definisi sosial, danperilaku sosial. Sementara itu Ilyas Ba Yunus dan Farid Ahmad memaparkan (paradigma besardalam sosiologi) menjadi tiga, yakni; struktural konflik, struktural fungsional, dan interaksisimbolik (Sosiologi Islam dan Masyarakat Kontemporer, 1990).1 Sedangkan ilmuwan mazhabFrankfurt, Jürgen Habermas, membagi menjadi tiga aliran –berdasarkan kepentingannya, yakni;positivis, interpretatif, dan kritis (Kritik Ideologi; Menyingkap Kepentingan Pengetahuanbersama Jurgen Habermas, 2003). Sedikit berbeda dengan Habermas, Poloma membagi sosiologi(kontemporer) menjadi; naturalis, interpretatif, dan evaluatif (Sosiologi Kontemporer, cetakankelima: 2003). Sosiologi: Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda Dalam pandangan Ritzer,paradigma fakta sosial memusatkan perhatiannya pada fakta sosial atau struktur dan institusisosial berskala makro. Model yang digunakan teoritisi fakta sosial adalah karya Emile Durkheim,terutama The Rules of Sociological Method dan Suicide.2 Durkheim menyatakan bahwa faktasosial sosial terdiri atas dua tipe, yaitu struktur sosial (social structure) dan pranata sosial (socialinstitution)3. Pendahulu Durkheim, August Comte, “Bapak Sosiologi” dan pencetus“positivisme” dalam ilmu-ilmu sosial memiliki pengaruh besar dalam pengembangan paradigmaini. Terutama dalam usaha menerapkan “rumus-rumus” ilmu alam dan biologi ke dalam wilayahkajian ilmu-ilmu sosial. Teori-teori yang mendukung paradigma fakta sosial ini adalah: TeoriFungsionalisme Struktural, Teori Konflik, Teori Sistem, dan Teori Sosiologi Makro.4 TeoriFungsionalisme Struktural dicetuskan oleh Robert K. Merton. Teoritisi struktural fungsionalcenderung melihat fakta sosial memiliki kerapian antar hubungan dan keteraturan yang samadengan yang dipertahankan oleh konsensus umum. Sedangkan teoritisi konflik cenderungmenekankan kekacauan antar fakta sosial, serta; gagasan mengenai keteraturan dipertahankanmelalui kekuasaan yang memaksa dalam masyarakat.5 Teori sistem (Parson) juga termasukdalam paradigma ini. Paradigma kedua adalah Definisi Sosial. Analisa Max Weber tentangtindakan sosial (social action) adalah model yang menyatukan para penganut paradigma ini.Bagi Weber, pokok persoalan sosiologi adalah; bagaimana memahami tindakan sosial dalaminteraksi sosial, dimana “tindakan yang penuh arti” itu ditafsirkan untuk sampai pada penjelasankausal. Untuk mempelajari tindakan sosial, Weber menganjurkan metode analitiknya melaluipenafsiran dan pemahaman (interpretative understanding) atau menurut terminologinya disebut
  3. 3. dengan verstehen.6 Selain Teori Aksi (Weber), Teori Fenomenologis (Alfred Schutz),Interaksionalisme Simbolis (diantaranya; G. H. Mead), etnometodologi (Garfinkel) termasukdalam aliran ini. Juga, eksistensialisme. Paradigma Perilaku Sosial, ini yang ketiga. Model bagipenganut aliran ini adalah B. F. Skiner. Teori Behavioral Sociology dan Teori Exchange adalahpendukung utama “behaviorisme sosial” ini. Sosiologi model ini menekuni „perilaku individuyang tak terpikirkan‟. Fokus utamanya pada rewards sebagai stimulus berperilaku –yangdiinginkan, dan punishment sebagai pencegah perilaku –yang tidak diinginkan. Berbeda denganparadigma fakta sosial yang cenderung menggunakan interview-kuesioner dalam metodologinya,juga definisi sosial dengan observasi, paradigma perilaku sosial menggunakan metodeeksperimen. Ada dua teori yang masuk dalam “behaviorisme sosial”, yakni; sociologybehavioral, dan teori pertukaran. Dari ketiga paradigma itu, Ritzer mengusulkan paradigmaintegratif. Menggabungkan semua paradigma, dengan unit analisis meliputi semua tingkatanrealitas; makro-obyektif (masyarakat, hukum, birokrasi, arsitektur, teknologi, dan bahasa),makro-subyektif (nilai, norma, dan budaya), mikro-obyektif (pola perilaku, tindakan, daninteraksi), dan mikro-subyektif (persepsi, keyakinan; berbagai segi konstruksi sosial tentangrealita). Integrasi paradigma ini bukanlah murni pemikiran Ritzer. Sejumlah pendahulunya,Abraham Edel (1959) dan George Gurvitch (1964) telah mengupayakan pengintegrasian makro-mikro ini. Integrasi paradigma Ritzer sebagian dimotivasi oleh kebutuhan untuk membangunsebuah model analisis yang lebih sederhana berdasarkan pemikiran Gurvitch. Dimulai dengankontinum mikro-makro (tingkat horizontal model Gurvitch) bergerak dari pemikiran dantindakan individual ke sistem dunia.7 Dalam karya Ritzer Expressing Amerika: A Critique of theGlobal Credit Card Society, ia menggunakan gagasan C. Wright Mills (1959) tentang hubunganantara persoalan personal tingkat mikro dan personal publik tingkat makro untuk menganalisispersoalan yang ditimbulkan oleh kartu kredit.8 Kritik Multi-Paradigma Ritzer Penempatanperspektif konflik dalam paradigma yang sama dengan struktural fungsional oleh Ritzer adalahsasaran kritik sosiolog lain. Struktural konflik yang mengasumsikan bahwa masyarakatsenantiasa dalam konflik –menuju perubahan- berlawanan dengan struktural fungsional –yangmengasumsikan masyarakat terdiri dari substruktur-substruktur dengan fungsinya masing-masing yang saling terkait dan aktif, dan senantiasa membawa masyarakat menujukeseimbangan. Pendekatan konflik lebih menekankan pada pertentangan dan perubahan sosial,sementara struktural-fungsional pada stabilitas. Kelemahan meta teori Ritzer bermula daripengabaian terhadap gejolak filsafat ilmu di abad ke-20. Pengabaian inilah yang menyebabkanadanya kontradiksi antar teori dalam satu paradigma, dan di sisi lain, menempatkan secaraterpisah antar teori yang berakar pada filsafat yang sama, misalnya; antara fungsionalismedengan teori pertukaran.9 Selain itu, paradigma integratif sebagai „konsensus‟ antar paradigma,atau sebagai paradigma yang lebih lengkap –sehingga lebih akurat sebagai perspektif sosiologi-patut diperdebatkan. Merumuskan teori berparadigma integratif sama halnya memaksakanberbagai aliran untuk bersepakat. Tentu hal ini mendistorsi teori-teori yang ada, dari berbagaiparadigma. Karena itu, lebih tepat menempatkan paradigma integratif ini sebagai paradigmatersendiri yang berbeda dengan paradigma-paradigma sebelumnya. Atau, menempatkan sebagaiparadigma ke-empat setelah; paradigma fakta sosial, paradigma definisi sosial, dan paradigmaperilaku sosial. Metateori Ritzer tak mampu menampung tumbuhnya berbagai teori alternatifbaru dewasa ini. Kemunculan teori-teori kritis –dengan ragam alirannya, tak mampu ditampungdalam kerangka metateori Ritzer. Karena itu, pemetaan Ritzer tak lagi tepat untukmenggambarkan perkembangan teori saat ini. Kemunculan teori kritis juga semakinmenampakkan bahwa pendekatan tripartit (konflik, struktural-fungsional, dan interaksi
  4. 4. sombolik) tak lagi relevan.10 Jurgen Habermas; Empiris-analitis, Historis-hermeneutis, danEmansipatorik Habermas membagi menjadi tiga aliran –berdasarkan kepentingannya, yakni;positivis, interpretatif, dan kritis. Positivisme untuk kepentingan teknis ilmu-ilmu empirisanalitis, humanisme untuk praktis ilmu-ilmu historis hermeneutis, dan emansipatoris untuk ilmu-ilmu kritis. Tiga aliran ini berangkat dari perkembangan filsafat ilmu. Positivisme berakar padafilsafat rasionalisme (Plato) yang dipadukan empirisme (Aristoteles). Humanisme mengambilepistemologi transedental (Immanuel Kant). Sedangkan kritis, bermula dari upaya mencari jalankeluar dari perdebatan panjang positivisme dan humanisme ilmu sosial (Felix Weil, FreiderickPollock, Carl Grudenberg, Karl Wittgovel, Henry Grossman, dan Mazhab Frankfurt).11 Dalammetodologi, ilmu sosial positivisme menggunakan metode empiris-analitis; menggunakan logikadeduksi, teknik-teknik penelitian survai, statistika, dan berbagai teknis studi kuantitatif.Humanisme ilmu sosial menggunakan metode historis-hermeneutis; mencakup logika induktif,dan metode penelitian kualitatif. Ilmu sosial kritis mencakup pendekatan emansipatorik;penelitian partisipatorik dan metode kualitatif. Positivisme Plato menganggap bahwapengetahuan murni dapat diperoleh dari rasio itu sendiri (a priori). Penerus gagasan inidiantaranya adalah Rene Descartes. Sedangkan Aristoteles menganggap empiris berperan besarterhadap obyek pengetahuan (aposteriori). Filsafat empirisme ini semakin berkembang berkatThomas Hobbes dan John Locke. Rasionalisme dan empirisme ini berpengaruh besar terhadapperkembangan ilmu alam murni. Dengan menjadikan ilmu alam sebagai pure science, ilmu alamdapat melepaskan diri dari kepentingan-kepentingan, sehingga menjadi obyektif. Adopsisaintisme ilmu alam ke dalam ilmu sosial dilakukan oleh Auguste Comte (1798-1857).Gagasannya tentang fisika sosial yang berlanjut ke penemuan istilah ilmu sosiologi menandaipositivisme awal ilmu sosial.12 Sosiologi yang bebas nilai adalah ciri utama pemikiran Comte.Karena itu, positivisme ilmu mengandaikan suatu ilmu yang bebas nilai, obyektif, terlepas daripraktik sosial dan moralitas. Pengetahuan harus terlepas dari kepentingan praktis. Teori untukteori –bukan praksis. Dengan terpisahnya teori dari praksis, ilmu pengetahuan akan menjadi sucidan universal, dan tercapailah pengetahuan yang excellent. Selain Comte, Durkheim (1858-1917)adalah tokoh yang berpengaruh terhadap pijakan-pijakan dasar sosiologi positivistik, terutamasumbangannya tentang fakta sosial. W.L. Resee (1980) menyatakan bahwa pemikran positivismepada dasarnya mempunyai pijakan; logiko empirisme, realitas obyektif, reduksionisme,determinisme, dan asumsi bebas nilai.13 Humanisme Berbeda dengan positivis yang berusahamemproduksi hukum sosial yang berlaku abadi, teori interpretatif (humanis) mencobamemahami tindakan sosial pada level makna –yang relatif, plural, dan dinamis. Semestinya,sosiologi bukan mencoba untuk menjadi mirip fisika sosial, melainkan harus berusahamenemukan makna yang dijalin orang melalui tindakan mereka sehari-hari. Pandangan iniberakar dari epistemologi Kant yang menjelaskan refleksi atas syarat-syarat kemungkinan daripengetahuan, perkataan dan tindakan kita sebagai subyek yang mengetahui, berbicara danbertindak, dan bahwa dunia adalah suatu kejadian-kejadian yang tak pernah diketahui arahnya.Ada dunia subyektif yang mengikuti konteks dan proses historis tertentu. Hal itu sekaligusmenolak rumusan positivis yang mengasumsikan masyarakat sebagai benda yang diamati(obyek). Penentangan saintisme ilmu ini dipelopori oleh Max Weber dan Wilhelm Dilthey.14Kemudian disusul Alfred Schutz dengan sosiologi fenomenologinya. Weber menekankan padafenomena „spiritual‟ atau „ideal‟ manusia, yang merupakan khas manusia, dan tak dapatdijangkau oleh ilmu-ilmu alam. Karena itu, sosiologi perlu menekuni realitas kehidupanmanusia, dengan cara memahami dan menafsirkan atau verstehen. Sedangkan Diltheymemusatkan perhatiannya pada usaha menemukan struktur simbolis atau makna dari produk-
  5. 5. produk manusiawi, seperti; sejarah, masyarakat, candi, dan interaksi. Sementara Schutzmemfokuskan pada pengalaman manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dunia sehari-hari adalahdunia yang terpenting dan paling fundamental bagi manusia, sekaligus sebagai realitas yangmemiliki makna subyektif. Perkembangan fenomenologi Schutz berimplikasi pada lahirnyaetnometodologi (Harold Garfinkel), interaksionisme simbolik (Herbert Blumer), dramaturgi(Erving Goffman), dan konstruksi sosial (Peter L. Berger).15Kritis Kunci dari teori kritis terletak pada upaya pembebasan (pencerahan). Ilmuwan tidakselayaknya mengacuhkan masyarakat –demi mengejar obyektivitas ilmu. Ilmuwan haruslahmenyadari posisi dirinya sebagai aktor perubahan sosial. Karena itu, teori kritis menolak tegaspositivisme, dan ilmuwan sosial wajib mengkritisi masyarakat, serta mengajak masyarakat untukkritis. Sehingga, teori kritis bersifat emansipatoris. Emansipasi mutlak diperlukan, untukmembebaskan masyarakat dari struktur yang menindas. “Kesadaran palsu” senantiasa ada dalammasyarakat, dan itu harus diungkap dan diperangi. Selain itu, ciri lain dari studi kritis adalahinterdispliner. Ben Agger menyebutkan ciri-ciri teori kritik sebagai berikut: 1. teori kritis berlawanan dengan positivisme. Pengetahuan bukanlah refleksi atas dunia statis “di luar sana”, namun konstruksi aktif oleh ilmuwan dan teori yang membuat asumsi tertentu tentang dunia yang mereka pelajari sehingga tidak sepenuhnya bebas nilai. Selain itu, jika positivis mengharuskan untuk menjelaskan hukum alam, maka kritis percaya bahwa masyarakat akan terus mengalami perubahan. 2. teori sosial kritis membedakan masa lalu dan masa kini, yang secara umum ditandai oleh dominasi, eksploitasi, dan penindasan. Oleh karena itu, ilmuwan kritis harus berpartisipasi untuk mendorong perubahan. 3. teori kritis berasumsi bahwa dominasi bersifat struktural. Tugas teori sosial kritis adalah mengungkap struktur itu, guna membantu masyarakat dalam memahami akar global dan rasional penindasan yang mereka alami. 4. pada level struktur itu, teori sosial kritis yakin bahwa struktur didominasi oleh kesadaran palsu manusia, dilanggengkan oleh ideologi (Marx), reifikasi (Lukacs), hegemoni (Gramsci), pemikiran satu dimensi (Marcuse), dan metafisika keberadaan (Derrida). 5. teori sosial kritis berkeyakinan bahwa perubahan dimulai dari rumah, pada kehidupan sehari- hari manusia, misalnya; seksualitas, peran keluarga, dan tempat kerja. Disini, teori sosial kritis menghindari determinisme dan mendukung voluntarisme. 6. mengikuti pemikiran Marx, teori sosial kritis menggambarkan hubungan antara struktur manusia secara dialektis. 7. teori sosial kritis menolak asumsi bahwa kemajuan adalah ujung jalan panjang yang dapat dicapai dengan mengorbankan kebebasan dan hidup manusia. Di sisi lain, kritis juga menolak pragmatisme revolusioner.Humanisme: Antara Positivisme dan Kritis Menurut Agger, apakah teori interpretatif lebihdekat kepada teori positif atau kritis, tergantung pada bidang apa orang memberikan tekanan(Agger, 2003: 62). Teoritisi interaksionisme simbolis dari Mazhab Iowa memberikan konsepsisosiologi interpretatif sebagai struktur berharga dari survai kuantitatif. Bahkan, teori interpretatifdapat memberi kontribusi bagi pemahaman atas keajegan kalau dilakukan secara cukup terarah.Namun konsepsi ini ditentang keras oleh para fenomenolog, etnometodolog, dan konstruksionissosial, yang menyatakan sosiologi interpretatif sebagai counter atas penelitian survai. Penelitiansurvai gagal memahami makna yang dijalin masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu,
  6. 6. penelitian survai sebagai turunan dari positivis lebih sebagai ilmu sosial yang bermazhab ilmufisika prediktif, sehingga hal itu melanggar prinsip inti Neo-Kantianisme. Jauh berbeda denganMazhab Iowa, Denzin dan Patricia Clough berpandangan bahwa teori interpretatif telah meleburbersama cultural studies (kajian budaya) dan teori feminis. Menurutnya, teori interpretatif adalahcabang dari teori kritis. Clough –juga Smith (1987)- melacak keterkaitan antara kehidupansehari-hari dan struktur sosial politik. Hasilnya, kehidupan sehari-hari (termasuk kehidupandalam rumah tangga) tak bisa dilepaskan dari struktur sosial politik yang menaunginya.16Menurut Agger, semakin teoritis teori interpretatif maka semakin kritis (politis)kecenderungannya. Masih menurut Ben Agger, persamaan fundamental antara humanismedengan kritis terletak pada upaya penentangannya pada positivisme eksistensi hukum sosial.Sementara perbedaan fundamentalnya terletak dalam menyikapi ”kesadaran palsu”. Interpretatifberpandangan bahwa sangat arogan bagi analisis sosial untuk mengandaikan bahwa masyarakatmemiliki ”kesadaran palsu” atau ”sejati”. Sedang kritik secara tegas menjelaskan masyarakatmemiliki ”kesadaran palsu” –yang mesti dilawan dan dihancurkan. Metodologi Epistemologiyang berbeda menjadikan setiap aliran memiliki metodologi yang berbeda. Secara kasar;positivis menggunakan teknik-teknik kuantitatif, interpretatif dengan kualitatif, dan kritis dengankualitatif-emansipatorik. Dalam metodologi, ilmu sosial positivisme menggunakan metodeempiris-analitis; menggunakan logika deduksi, teknik-teknik penelitian survai, statistika, danberbagai teknis studi kuantitatif. Humanisme ilmu sosial menggunakan metode historis-hermeneutis; mencakup logika induktif, dan metode penelitian kualitatif. Ilmu sosial kritismencakup pendekatan emansipatorik; penelitian partisipatorik dan metode kualitatif. Walaupunbegitu, secara spesifik masing-masing sosiolog memiliki penekanan yang berbeda-beda –walaumasuk dalam satu aliran. Terlebih dalam humanisme dan kritik. Walaupun sama-sama menekunimakna, Garfinkel menggunakan etnometodologi yang memiliki perbedaan dengan fenomenologiSchutz. Berger, yang membidik makna dalam skala lebih luas, menggunakan studi sejarahsebagai bagian dari metodologinya.Posisi Teori Berger Perspektif Berger tak dapat dilepaskan dari situasi sosiologi Amerika era1960-an. Saat itu, dominasi fungsionalisme berangsur menurun, seiring mulai ditanggalkannyaoleh sosiolog muda. Sosiolog muda beralih ke perspektif konflik (kritis) dan humanisme. Karenaitu, gagasan Berger yang lebih humanis (Weber dan Schutz) akan mudah diterima, dan di sisilain mengambil fungsionalisme (Durkheim) dan konflik (dialektika Marx). Berger mengambilsikap berbeda dengan sosiolog lain dalam menyikapi „perang‟ antar aliran dalam sosiologi.Berger cenderung tidak melibatkan dalam pertentangan antar paradigma, namun mencari benangmerah, atau mencari titik temu gagasan Marx, Durkheim dan Weber. Benang merah itu bertemupada; historisitas. Selain itu, benang merah itu yang kemudian menjadikan Berger menekunimakna (Schutz) yang menghasilkan watak ganda masyarakat; masyarakat sebagai kenyataansubyektif (Weber) dan masyarakat sebagai kenyataan obyektif (Durkheim), yang terusberdialektika (Marx). Lalu, dimana posisi teori Berger? Masuk dalam positif, humanis, ataukritis? Dalam bab kesimpulan di bukunya; Konstruksi Sosial atas Kenyataan: sebuah Risalahtentang Sosiologi Pengetahuan, Berger secara tegas mengatakan bahwa sosiologi merupakansuatu disiplin yang humanistik. Hal ini senada dengan Poloma yang menempatkan teorikonstruksi sosial Berger dalam corak interpretatif atau humanis. Hanya saja, pengambilan Bergerterhadap paradigma fakta sosial Durkheim menjadi kontroversi ke-humanis-annya. Pengambilanitu pula yang membuat Douglas dan Johnson menggolongkan Berger sebagai Durkheimian:Usaha Berger dan Luckmann merumuskan teori konstruksi sosial atas realitas, pada pokoknya
  7. 7. merupakan usaha untuk memberi justifikasi gagasan Durkheim berdasarkan pada pandanganfenomenologi (Hanneman Samuel, 1993: 42). Selain itu, walaupun Berger mengklaim bahwapendekatannya adalah non-positivistik, ia mengakui jasa positivisme, terutama dalammendefinisikan kembali aturan penyelidikan empiris bagi ilmu-ilmu sosial (Berger danLuckmann, 1990: 268). Upaya yang paling aman (lebih tepat) dalam menggolongkan sosiologtertentu, rupanya adalah dengan menempatkan sosiolog dalam posisinya sendiri. Denganmendasari dari pemikiran interaksionisme simbolik, bahwa setiap orang adalah spesifik dan unik.Demikian halnya sosiolog, sebagai seorang manusia, tentu memiliki pemikiran yang unik danspesifik. Namun hal ini bukan menempatkan sosiolog terpisah dan tidak tercampuri oleh sosiologlain. Karena itu yang lebih tepat dilakukan adalah dengan mencari jaringan pemikiran (teori)antar sosiolog, bukan menggolong-golongkan. Dalam kasus Berger, maka pemikiran sosiologsebelumnya yang kentara mempengaruhi teorinya adalah (sebagaimana disinggung di atas): MaxWeber, Emile Durkheim, Karl Marx, dan Schutz, serta George Herbert Mead. Pengaruh Webernampak pada penjelasannya akan makna subyektif yang tak bisa diacuhkan ketika mengkajigejala yang manusiawi. Tentang dialektika (individu adalah produk masyarakat, masyarakatadalah produk manusia) Berger rupanya meminjam gagasan Marx. Sedang masyarakat sebagairealitas obyektif –yang mempunyai kekuatan memaksa, sekaligus sebagai fakta sosial, adalahsumbangan Durkheim. Schutz rupanya lebih mewarnai dari tokoh lainnya, terutama tentangmakna dalam kehidupan sehari-hari (common sense). Secara umum, dalam masalah internalisasi,termasuk tentang ’I’ and ’me’ dan significant others, Mead menjadi rujukan Berger. Selainkonsep diri atau self, makna adalah istilah yang sentral dari sosiologi humanis. Pembahasanmengenai makna sangat nampak dalam Interaksionisme Blumer. Teori Blumer bertumpu padatiga premis utama yang melibatkan makna; 1. Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka 2. Makna itu diperoleh dari hasil interaksi sosial yang dilakukan dengan orang lain 3. Makna tersebut disempurnakan di saat proses interaksi sosial berlangsung.Bagi Garfinkel, setiap orang bergulat untuk menangkap pengalaman sosial sedemikian rupasehingga pengalaman itu “punya arti”. Etnometodologi Garfinkel menyangkut isu realitascommon sense di tingkat individual. Hal itu berbeda dengan Berger, yang menganalisa tingkatkolektif.1 Berger banyak “berhutang budi” pada fenomenologi Alfred Schutz –sebagaimana jugaGarfinkel, terlebih dalam hal “pengetahuan” dan makna. Schutz menjelaskan tiga unsurpengetahuan yang membentuk pengertian manusia tentang masyarakat, yakni: dunia sehari-hari,sosialitas, dan makna (Novri Susan, 2003:46). Dunia sehari-hari adalah orde tingkat satu darikenyataan (the first order of reality). Ia menjadi dunia yang paling fundamental dan esensial bagimanusia. Sosialitas berpijak pada teori tindakan sosial Max Weber. Social action yang terjadisetiap hari selalu memiliki makna-makna. Atau, berbagai makna senantiasa mengiringi tindakansosial, dibalik tindakan sosial pasti ada berbagai makna –yang “bersembunyi”/”melekat”.Sumbangan Schutz yang utama bagi gagasan fenomenologi, terutama tentang makna danbagaimana makna membentuk struktur sosial, adalah tentang “makna” dan “pembentukanmakna”. Orde asasi dari masyarakat adalah dunia sehari-hari, sedangkan makna dasar bagipengertian manusia adalah common sense (dunia akal sehat). Dunia akal sehat terbentuk dalampercakapan sehari-hari. Common sense merupakan pengetahuan yang ada pada setiap orangdewasa yang sadar. Pengetahuan ini didapatkan individu secara sosial melalui sosialisasi –dariorang-orang sebelumnya, terlebih dari significant others. Common sense terbentuk dari tipifikasi
  8. 8. yang menyangkut pandangan dan tingkah laku, serta pembentukan makna. Hal ini terjadi karenaindividu-individu yang terlibat dalam komunikasi melalui bahasa dan interaksi sosial kemudianmembangun semacam sistem relevansi kolektif.Sosiologi Pengetahuan Walaupun Berger berangkat dari pemikiran Schutz, Berger jauh keluardari fenomenologi Schutz –yang hanya berkutat pada makna dan sosialitas. Karena itu garapanBerger tak lagi fenomenologi, melainkan sosiologi pengetahuan. Namun demikian, Berger tetapmenekuni makna, tapi dalam skala yang lebih luas, dan (sekali lagi) menggunakan studisosiologi pengetahuan. Dalam studi ini, Berger juga memperhatikan makna tingkat kedua, yaknilegitimasi. Legitimasi adalah pengetahuan yang diobyektivasi secara sosial yang bertindak untukmenjelaskan dan membenarkan tatanan sosial (Berger, 1991: 36). Legitimasi merupakanobyektivasi makna tingkat kedua, dan merupakan pengetahuan yang berdimensi kognitif dannormatif –karena tidak hanya menyangkut penjelasan tetapi juga nilai-nilai moral. Legitimasi,dalam pengertian fundamental, memberitakan apa yang seharusnya ada/terjadi dan mengapaterjadi. Berger mencontohkan, tentang moral-moral kekerabatan, “Kamu tidak boleh tidurdengan X”, karena “X adalah saudarimu, dan kamu adalah saudari X” (Berger, 1991: 37) Jikadikaitkan dengan norma dalam Islam, maka legitimasi itu misalnya, “Kamu tidak boleh„berhubungan’ dengan X, karena dia bukan istrimu, dan jika engkau melakukan itu, makaengkau telah berzina, telah melakukan perbuatan dosa yang besar”. Penelitian makna melaluisosiologi pengetahuan, mensyaratkan penekunan pada “realitas” dan “pengetahuan”. Dua istilahinilah yang menjadi istilah kunci teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann(1990). “Kenyataan” adalah suatu kualitas yang terdapat dalam fenomen-fenomen yangmemiliki keberadaan (being) yang tidak tergantung kepada kehendak individu manusia (yangkita tidak dapat meniadakannya dengan angan-angan). “Pengetahuan” adalah kepastian bahwafenomen-fenomen itu nyata (real) dan memiliki karakteristik-karakteristik yang spesifik.2Kenyataan sosial adalah hasil (eksternalisasi) dari internalisasi dan obyektivasi manusia terhadappengetahuan –dalam kehidupan sehari-sehari. Atau, secara sederhana, eksternalisasi dipengaruhioleh stock of knowledge (cadangan pengetahuan) yang dimilikinya. Cadangan sosial pengetahuanadalah akumulasi dari common sense knowledge (pengetahuan akal-sehat).3 Common senseadalah pengetahuan yang dimiliki individu bersama individu-individu lainnya dalam kegiatanrutin yang normal, dan sudah jelas dengan sendirinya, dalam kehidupan sehari-hari (Berger danLuckmann, 1990: 34). Dalam Tafsir Sosial atas Kenyataan: sebuah Risalah tentang SosiologiPengetahuan Berger dan Luckmann (1990) merumuskan teori konstruksi sosial atau sosiologipengetahuannya. Buku ini terdiri dari tiga bab, yakni; dasar-dasar pengetahuan dalamkehidupan sehari-hari, masyarakat sebagai realitas obyektif, dan masyarakat sebagai realitassubyektif. Dasar-dasar Pengetahuan dalam Kehidupan Sehari-hari Kehidupan sehari-haritelah menyimpan dan menyediakan kenyataan, sekaligus pengetahuan yang membimbingperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan sehari-hari menampilkan realitas obyektif yangditafsirkan oleh individu, atau memiliki makna-makna subyektif. Di sisi ‟lain‟, kehidupan sehari-hari merupakan suatu dunia yang berasal dari pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan individu,dan dipelihara sebagai ‟yang nyata‟ oleh pikiran dan tindakan itu. Dasar-dasar pengetahuantersebut diperoleh melalui obyektivasi dari proses-proses (dan makna-makna) subyektif –yangmembentuk dunia akal-sehat intersubyektif (hlm. 29). Pengetahuan akal-sehat adalahpengetahuan yang dimiliki bersama (oleh individu dengan individu-individu lainnya) dalamkegiatan rutin yang normal (dalam kehidupan sehari-hari). Realitas kehidupan sehari-harimerupakan taken for granted. Walaupun ia bersifat memaksa, namun ia hadir dan tidak (jarang)
  9. 9. dipermasalahkan oleh individu (Misalnya; civitas kampus FISIP Unair jarang, bahkan belumpernah, menanyakan; mengapa gedung FISIP di Kampus B, mengapa kantor dekan di lantai satu,mengapa kantinnya di sebelah utara. Hal itu sudah dianggap alamiah, sehingga tak perludibuktikan kebenarannya). Selain itu, realitas kehidupan sehari-hari pada pokoknya merupakan;realitas sosial yang bersifat khas (dan individu tak mungkin untuk mengabaikannya), dantotalitas yang teratur –terikat struktur ruang dan waktu, dan obyek-obyek yang menyertainya(Samuel, 1993: 9). Realitas kehidupan sehari-hari selain terisi oleh obyektivasi, juga memuatsignifikasi. Siginfikasi atau pembuatan tanda-tanda oleh manusia, merupakan obyektivasi yangkhas, yang telah memiliki makna intersubyektif –walaupun terkadang tidak ada batas yang jelasantara signifikasi dan obyektivasi. Sistem tanda meliputi sistem tanda tangan, sistem gerak-gerikbadan yang berpola, sistem berbagai perangkat artefak material, dan sebagainya. Bahasa, sebagaisistem tanda-tanda suara, merupakan sistem tanda yang paling penting. Signifikasi tingkat keduaini merupakan sarana untuk memelihara realitas obyektif. Dengan bahasa realitas obyektif masalalu dapat diwariskan ke generasi sekarang, dan berlanjut ke masa depan. Bahasa memungkinkanmenghadirkan obyek tersebut ke dalam situasi tatap muka.Masyarakat sebagai Realitas Obyektif dan Subyektif Manusia berbeda dengan binatang.Binatang telah dibekali insting oleh Tuhan, sejak dilahirkan hingga melahirkan –sampai mati.Manusia secara biologis dan sosial terus tumbuh dan berkembang, karenanya ia terus belajar danberkarya membangun kelangsungannya. Upaya menjaga eksistensi itulah yang kemudianmenuntut manusia menciptakan tatanan sosial. Jadi, tatanan sosial merupakan produk manusiayang berlangsung terus menerus –sebagai keharusan antropologis yang berasal dari biologismanusia. Tatanan sosial itu bermula dari eksternalisasi, yakni; pencurahan kedirian manusiasecara terus menerus ke dalam dunia, baik dalam aktivitas fisis maupun mentalnya (Berger,1991: 4-5). Masyarakat sebagai realitas obyektif menyiratkan pelembagaan di dalamnya. Prosespelembagaan (institusionalisasi) diawali oleh eksternalisasi yang dilakukan berulang-ulang –sehingga terlihat polanya dan dipahami bersama- yang kemudian menghasilkan pembiasaan(habitualisasi). Habitualisasi yang telah berlangsung memunculkan pengendapan dan tradisi.Pengendapan dan tradisi ini kemudian diwariskan ke generasi sesudahnya melalui bahasa.Disinilah terdapat peranan di dalam tatanan kelembagaan, termasuk dalam kaitannya denganpentradisian pengalaman dan pewarisan pengalaman tersebut. Jadi, peranan mempresentasikantatanan kelembagaan atau lebih jelasnya; pelaksanaan peranan adalah representasi diri sendiri.Peranan mempresentasikan suatu keseluruhan rangkaian perilaku yeng melembaga, misalnyaperanan hakim dengan peran-peran lainnya di sektor hukum. Masyarakat sebagai realitasobyektif juga menyiratkan keterlibatan legitimasi. Legitimasi merupakan obyektivasi maknatingkat kedua, dan merupakan pengetahuan yang berdimensi kognitif dan normatif –karena tidakhanya menyangkut penjelasan tetapi juga nilai-nilai. Legitimasi berfungsi untuk membuatobyektivasi yang sudah melembaga menjadi masuk akal secara subyektif. Perlu sebuahuniversum simbolik yang menyediakan legitimasi utama keteraturan pelembagaan. Universumsimbolik menduduki hirarki yang tinggi, metasbihkkan bahwa semua realitas adalah bermaknabagi individu –dan individu harus melakukan sesuai makna itu. Agar individu mematuhi maknaitu, maka organisasi sosial diperlukan, sebagai pemelihara universum simbolik. Maka, dalamkejadian ini, organisasi sosial dibuat agar sesuai dengan universum simbolik (teori/legitimasi). Disisi lain, manusia tidak menerima begitu saja legitimasi. Bahkan, pada situasi tertentu universumsimbolik yang lama tak lagi dipercaya dan kemudian ditinggalkan. Kemudian manusia melaluiorganisasi sosial membangun universum simbolik yang baru. Dan dalam hal ini, legitimasi/teori
  10. 10. dibuat untuk melegitimasi organisasi sosial. Proses ”legitimasi sebagai legitimasi lembagasosial” menuju ”lembaga sosial sebagai penjaga legitimasi” terus berlangsung, dan dialektik.Dialektika ini terus terjadi, dan dialektika ini yang berdampak pada perubahan sosial.Masyarakat sebagai kenyataan subyektif menyiratkan bahwa realitas obyektif ditafsiri secarasubyektif oleh individu. Dalam proses menafsiri itulah berlangsung internalisasi. Internalisasiadalah proses yang dialami manusia untuk ‟mengambil alih‟ dunia yang sedang dihunisesamanya (Samuel, 1993: 16). Internalisasi berlangsung seumur hidup melibatkan sosialisasi,baik primer maupun sekunder. Internalisasi adalah proses penerimaan definisi situasi yangdisampaikan orang lain tentang dunia institusional. Dengan diterimanya definisi-definisitersebut, individu pun bahkan hanya mampu mamahami definisi orang lain, tetapi lebih dari itu,turut mengkonstruksi definisi bersama. Dalam proses mengkonstruksi inilah, individu berperanaktif sebagai pembentuk, pemelihara, sekaligus perubah masyarakat.Metodologi Menurut Hanneman Samuel, metodologi Sosiologis Berger mengacu pada tiga poinpenting dalam kerangka teori Berger –yang berkaitan dengan arti penting makna yang dimilikiaktor sosial, yakni: Semua manusia memiliki makna dan berusaha untuk hidup dalam suatu duniayang bermakna. Makna manusia pada dasarnya bukan hanya dapat dipahami oleh dirinya sendiri,tetapi juga dapat dipahami oleh orang lain. Terhadap makna, beberapa kategorisasi dapatdilakukan, Pertama, makna dapat digolongkan menjadi makna yang secara langsung dapatdigunakan dalam kehidupan sehari-hari pemiliknya; dan makna yang tidak segera tersedia secara’at-hand’ bagi individu untuk keperluan praktis membimbing tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, makna dapat dibedakan menjadi makna hasil tafsiran orang awam, dan makna hasiltafsiran ilmuwan sosial. Ketiga, makna dapat dibedakan menjadi makna yang diperoleh melaluiinteraksi tatap muka, dan makna yang diperoleh tidak dalam interaksi (misalnya melalui mediamassa). Sosiolog menekuni dan memahami makna pada level interaksi sosial. Karena itu, Bergermenjadikan interaksi sosial sebagai subject matter sosiologi. Interaksi ini melibatkan hubunganindividu dengan masyarakat. Individu adalah acting subject, makhluk hidup yang senantiasabertindak dalam kehidupan sehari-harinya. Tindakan individu dilandaskan pada makna-maknasubyektif yang dimiliki aktor tentang tujuan yang hendak dicapainya, cara atau sarana untukmencapai tujuan, dan situasi serta kondisi yang melingkupi pada sebelum dan/atau saat tindakanitu dilaksanakan. Masyarakat merupakan suatu satuan yang bersifat kompleks, yang terdiri darirelasi-relasi antar manusia yang (relatif) besar dan berpola (Samuel, 1993: 3).4 Interaksi sosialsebagai subject matter adalah interaksi sosial dengan dimensi horisontal dan vertikal. Horisontaltak hanya bermakna interaksi antar individu dengan individu lainnya, tetapi meliputi kelompokdan struktur sosial. Karena itu faktor kultural, ekonomi, dan politik tak dapat diabaikan.Perjalanan sosial manusia tak lepas dari masa lalu dan masa mendatang, sehingga aspek vertikal(sejarah) menjadi penting. Hal ini tidak berarti menghilangkan sosiologi sebagai disiplin ilmiahdan menyatu dengan ilmu sejarah, tapi sosiologi meminjam data sejarah untuk meningkatkanpemahamannya tentang realitas masa kini.Jihad sebagai Konstruksi Sosial (Sebuah Contoh Analisa Sederhana dengan SosiologiPengetahuan) Sejak jihad dieksternalisasikan Nabi Muhammad dan kaumnya empat belas abadsilam, sejak itu jihad menjadi isu dan amalan penting yang bertahan hingga kini. Sejak itu pulajihad menjadi fenomena sosial yang menyejarah sekaligus fenomenal. Jihad tak hanya menjadirealitas bagi kaum muslimin, tetapi juga umat yang lain.5 Jihad telah menjadi makanan sehari-hari umat Islam. Sehingga umat Islam di luar Arab tak perlu lagi menerjemahkan jihad dalam
  11. 11. bahasa ibunya. Kata jihad sudah mendarah daging sebagaimana kata islam itu sendiri. Karena itufenomena jihad selalu tergambar nyata. Bahkan umat Islam menyimpan pengalaman tentangjihad sebagai pengetahuan dan realitas sosial mereka. Mengikuti konstruksi sosial Berger,realitas sosial jihad menjadi teperlihara dengan ter‟bahasa‟kannya dalam Alquran, hadits, buku-buku/manuskrip ulama yang terpelihara hingga kini. Agama (Islam) berhasil melegitimasikanjihad, terlebih dengan menjadikan agama sebagai ideologi negara. Alhasil, bersatunya duakekuatan besar (agama dan negara) selama berabad-abad (selama imperium Islam) menjadikanjihad sebagai realitas sosial yang tak terbantahkan, bahkan mustahil untuk dihilangkan.Sosialisasi jihad terus berlangsung seiring sosialisasi Islam. Jihad terus diinternalisasi olehindividu muslim, sehingga menjadi realitas subyektif. Realitas subyektif itu terusdieksternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena jihad memiliki makna yang luas,sehingga dapat dieksternalisasikan dalam setiap detik dan ruang kehidupan kaum muslim. Jihadmengisi keseharian rakyat Palestina yang mengangkat senjata melawan Israel, menjadi titik tolakmuslimin Irak mengusir Amerika dan sekutunya, menjadi jalan muslimin Amerika menyebarkanIslam rahmatan lil-’alamiin. Jihad juga menjadi ruh dakwah mubaligh-mubalighMuhammadiyah dan kyai-kyai NU, perjuangan politik kader-kader PKS, dan perjuanganmengakkan syariat Islam bagi para mujahid-mujahid MMI. Jihad adalah sahabat umat Islam saatmenunaikan sholat, puasa, dan haji, saat bekerja menghidupi keluarga, saat membantumengentaskan rakyat miskin, dan saat mengkhidmatkan dirinya dalam ibadah, dimana pun dankapan pun. Tak pelak, jihad memiliki kenyataan obyektif yang tak bisa dinihilkan. Namun di sisilain, jihad adalah kenyataan subyektif –yang relatif, plural, dan dinamis. Jihad qital bisa menjadinyata bagi sebagian orang, tapi bisa tidak menjadi ‟nyata‟ bagi sebagian yang lain. Jihadmemiliki keragaman makna (subyektif), tiap individu memiliki penafsiran sendiri-sendiri, danpenafsiran (makna subyektif) itu terus berproses –dan memungkinkan untuk berubah. DaftarPustaka Buku Agger, Ben, Teori Sosial Kritis: Kritik, Penerapan, dan Implikasinya,Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2003. Basrowi dan Sukidin, Metode Penelitian Perspektif Mikro:Grounded theory, Fenomenologi, Etnometodologi, Etnografi, Dramaturgi, Interaksi Simbolik,Hermeneutik, Konstruksi Sosial, Analisis Wacana, dan Metodologi Refleksi, Surabaya: InsanCendekia, 2002. Ba-Yunus, Ilyas dan Farid Ahmad, Sosiologi Islam dan MasyarakatKontemporer, Jakarta: Mizan, 1988. Berger, Peter L, Langit Suci; Agama sebagai RealitasSosial, Jakarta: LP3ES, 1991. ____________, dan Thomas Luckmann, Tafsir Sosial atasKenyataan; Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan, Jakarta: LP3ES, 1990. Campbell, Tom,Tujuh Teori Sosial: Sketsa, Penilaian, Perbandingan, Yogyakarta: Kanisius, 1994. Eriyanto,Analisis Wacana: Pengantar Teks Media, Yogyakarta: LKiS, 2003. Goodman, Douglas J. danGeorge Ritzer, Teori Sosiologi Modern , Edisi ke-6, Jakarta: Kencana, 2004 Hardiman, FransiscoBudi, Kritik Ideologi: menyingkap kepentingan Pengetahuan bersama Jurgen Habermas,Yogyakarta: Penerbit Buku Baik, 2004. Mulyana, Deddy, Metodologi Penelitian Kualitatif:Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya, Bandung:PT Remaja Rosdakarya,2003. Poloma. Margaret M, Sosiologi Kontemporer, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003.Ritzer, George, Sosiologi; Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, Jakarta, 1985 Soeprapto,H.R. Riyadi, Interaksionisme Simbolik: Perspektif Sosiologi Modern, Yogyakarta: AverroesPress dan Pustaka Pelajar, 2002 Zeitlin, Irving M, Memahami Kembali Sosiologi, KritikTerhadap Sosiologi Kontemporer, Yogyakarta: Gadjah Mada University press, 1995. SkripsiNovri Susan, Konflik dalam Perspektif sosiologi Pengetahuan: Konflik Agama MasyarakatAmbon Maluku sebagai Konstruksi Sosial, Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial danIlmu Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2003. Jurnal, Majalah, dll Jurnal Gerbang,
  12. 12. No.14, Vol.V. Februari-April 2003, Menafsirkan Hermeneutika, Ahmad Zainul Hamdi(Redaktur Pelaksana). Hanneman Samuel, Perspektif Sosiologis Peter Berger, Pusat AntarUniversitas Bidang Ilmu-ilmu Sosial Universitas Indonesia (1993). Happy Susanto, Menggagas“Sosiologi Profetik”, Jurnal Pemikiran Islam Vol.1, No.2, Juni 2003, International Institute ofIslamic Thought Indonesia.PoMakalah Tugas Sosiology by Khaerul MulsimDefinisi OperasionalDi dalam makalah ini ada beberapa terminologi yang perlu dibuatkan definisi operasionalnya,dengan maksud agar tidak terjadi perbedaan persepsi di dalam memahami isi makalah ini.Definisi operasional dimaksud adalah: 1. Perubahan SosialAdalah segala perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatumasyarakat, yang mempengaruhi system sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikapdan pola-pola perilakuan di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat 1. ErosiDalam makalah ini, yang dimaksud dengan erosi adalah proses terkikisnya nilai-nilai yang hidupdan berkembang di dalam sebuah komunitas masyarakat akibat adanya pengaruh faktor-faktoreksternal. 1. Nilai-nilai kearifan lokalNilai-nilai kearifan lokal adalah segala bentuk adat kebiasaan, perilaku, petuah dan kaida-kaidahatau norma yang berlaku ditengah-tengah sebuah komunitas masyarakat, yang telah tumbuhdalam periode waktu tertentu, berkembang dan menjadi milik khas komunitas masyarakatsetempat. 1. DesaDesa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasamengadakan pemerintahan sendiri. Bisa juga diartikan bahwa desa adalah suatu wilayah yangditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuanmasyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerntahan terendah langsung dibawah camatdan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan RepublikIndonesia 1. Masyarakat PedesaanMasyarakat pedesaan merupakan komunitas masyarakat yang bertempat tinggal dan berinteraksidiantara sesamanya di dalam satu atau beberapa di desa dalam satu wilayah kecamatan. Dari
  13. 13. aspek pemerintahan, masyarakat pedesaan adalah komunitas masyarakat yang tinggal padawilayah-wilayah yang bersatus desa. Secara umum, masyarakat pedesaan umumnya bermukimdi wilayah-wilayah yang relatif berada “jauh” dari pusat pemerintahan kabupaten/kota. 1. Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Barat adalah bagian dari wilayah kesatuan Negara Republik Indonesia, Berdiri: 14 Agustus 1958, Dasar Pendirian : UU No 4 Tahun 1958, Ibu Kota: Mataram, Luas Wilayah : Kurang lebih 20.153,15 km2, Posisi/Letak Geografis : 8 derajad – 9 derajat LS dan 115 derajat – 119 derajat BT. Terdiri atas 2 pulau besar: Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok, dengan jumlah kabupaten/kota saat ini : 9 Kabupaten / kota.A. PENDAHULUAN1. Latar BelakangKajian mengenai masyarakat pedesaan merupakan hal yang menarik banyak pihak, khususnyapara sosiolog. Hal ini salah satunya disebabkan oleh karena begitu spesifiknya situasi sosial danbudaya, adat istiadat maupun norma-norma serta nilai-nilai yang dimiliki oleh mereka, yangmembuatnya berbeda dengan masyarakat di perkotaan. Sementara disatu sisi, masyarakatperkotaan merupakan masyarakat yang tumbuh dan berkembang dari masyarakat pedesaan atauberasal dari orang-orang berasal dari desa/pedesaan.Menurut Soetardjo Kartohadikoesoemo (1) istilah desa dapat diartikan ke dalam tiga istilahyaitu desa, dusun, dan desi yang semuanya berasal dari suku kata swa desi. Istilah ini samamaknanya dengan negara, negeri, nagari yang berasal dari kata nagaram. Istilah ini berasal darikata sanskrit yang berarti tanah air, tanah asal, atau tanah kelahiran.Indonesia yang saat ini terdiri atas 33 provinsi, diantaranya Nusa Tenggara Barat, sangat kayaakan keragaman masyarakat pedesaannya. Secara spesifik keadaan sosial budaya Indonesiasangat kompleks, mengingat penduduk Indonesia kurang lebih sudah di atas 200 juta dalam 30kesatuan suku bangsa. Oleh karena itu pada bagian ini akan dibicarakan keadaan sosial budayaIndonesia dalam garis besar. Kesatuan politis Negara Kesatuan Republik Indonesia terdiri atas6000 buah pulau yang terhuni dari jumlah keseluruhan sekitar 13.667 buah pulau.Kenyataan ini mengakibatkan tidak mudah untuk membuat generalisasi terhadap terjadinyaperubahan sosial serta erosi nilai-nilai kearifan lokal yang ada. Sebagai jalan keluarnya, makaidentifikasi terjadinya perubahan dimaksud harus dilakukan secara parsial berdasarkan wilayahdan atau berdasarkan kesamaan ciri dari masyarakat pedesaan.Terkait dengan adanya perubahan sosial dan terjadinya erosi nilai-nilai kearifan lokal masyarakatdesa/pedesaan, hal ini harus dilihat sebagai sebuah kejadian yang alamiah. Masyarakat sebagaikumpulan manusia tidak pernah tidak berubah, sebagai bukti bahwa masyarakat itu dinamis.Perubahan sosial maupun berbagai perubahan lainnya, sangat dipengaruhi oleh banyak faktor.Faktor-faktor menjadi penyebab terjadinya perubahan dimaksud, antara lain: perkembangan yangpesat dari teknologi komunikasi dan informasi, perubahan kemampuan ekonomi, majunya
  14. 14. kualitas pendidikan, semakin baiknya sistem dan alat transportasi, serta semakin intensnyamasyarakat pedesaan berinteraksi dengan pihak lain diluar komunitas mereka sendiri.Kesemua faktor yang diuraikan tersebut di atas, baik secara sendiri-sendiri maupun bersinergisatu sama lain, mengakibatkan proses perubahan sosial maupun erosi nilai-nilai kearifan lokalterjadi secara perlahan maupun secara cepat.Persoalan yang menjadi pertanyaan bersama adalah: (1) Apa saja macam proses perubahan sosialdan erosi nilai-nilai kearifan lokal yang terjadi?; (2) Indikator apakah yang digunakan untukmengidentifikasikan terjadinya proses perubahan sosial dan erosi nilai-nilai kearifan lokaldimaksud?; (3) Seberapa cepatkah proses perubahan sosial dan erosi nilai-nilai kearifan lokal ituterjadi?;(4) Faktor apa yang paling dominan mempengaruhi terjadinya perubahan sosial dan erosinilai-nilai kearifan pada masyarakat pedesaan?;__________________1 Soetardjo Kartoadikoesoemo. Dalam Potensi Pembangunan Desa, Buku Sekolah ElektronikOnlineUntuk menjawab ke empat macam pertanyaan tersebut, tentu tidak mudah. Diperlukanserangkaian penelitian yang mendalam dengan metode yang tepat dan sistematis, serta dilakukanoleh peneliti yang tepat.Oleh sebab itu, maka penyusunan makalah ini merupakan langkah awal yang bersifat sederhanauntuk membahas proses perubahan sosial dan erosi nilai-nilai kearifan lokal yang diduga sudah,sedang dan akan terjadi pada masyarakat pedesaan di Nusa Tenggara Barat, serta menghasilkankesimpulan awal atas dugaan terjadinya proses perubahan sosial dan erosi nilai-nilai kearifanlokal pada masyarakat pedesaan di Nusa Tenggara Barat2. Manfaat dan Tujuana. Makalah ini disusun dengan harapan dipereoleh manfaat:a.1. Mahasiswa fakultas hukum Unram reguler sore peserta mata kuliah sosiologi terlatihmencara bahan rujukan dan bacaan yang terkait dengan tugas yang diberikan, dari berbagaisumber dengan berbagai cara.a.2. Melatih mahasiswa fakultas hukum Unram reguler sore agar mampu menyusun tulisansesuai dengan standar penulisan ilmiah.b. Makalah ini disusun dengan tujuan untuk:b.1. Memenuhi tugas dan tanggungjawab yang diberikan oleh dosen pengasuh mata kuliahSosiologi.
  15. 15. b.2. Mengolah informasi dari berbagai sumber bacaan untuk membahas dan menyimpulkanmasalah yang diangkat sesuai dengan topik yang diberikan serta judul yang ditetapkan.b.2. Memenuhi persyaratan menyelesaikan mata kuliah sosiologi.B. TINJAUAN PUSTAKA1. Perubahan SosialMasyarakat dalam kehidupannya pasti mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi bukanhanya menuju ke arah kemajuan, tetapi dapat juga menuju ke arah kemunduran. Terkadangperubahan-perubahan yang terjadi berlangsung dengan cepat, sehingga membingungkan danmenimbulkan ”kejutan budaya” bagi masyarakat. Perubahan itu dapat terjadi di berbagai aspekkehidupan, seperti peralatan dan perlengkapan hidup, mata pencaharian, sistem kemasyarakatan,bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, serta religi/keyakinan.1) Peralatan dan perlengkapan hidup mencakup pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga,senjata, alat produksi, dan transportasi. Sebagai contoh, pada zaman nenek moyang kitamemasak makanan dengan cara membakarnya, sekarang di zaman modern memasak makananmenggunakan alat modern seperti oven atau membeli makanan yang diawetkan.2) Mata pencaharian dan sistem ekonomi meliputi pertanian, peternakan, dan sistem produksi.Sebagai contoh, kaum laki-laki bekerja dengan cara berburu atau pekerjaan lainnya, sedangkankaum perempuan tinggal di rumah mengurus rumah tangga dan mengasuh anak. Sekarang kaumperempuan dapat juga bekerja dan mata pencaharian untuk kaum laki-laki tidak hanya berburusaja, tetapi sudah beragam jenisnya.3) Sistem kemasyarakatan mencakup sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum,dan sistem perkawinan. Sebagai contohnya, pada masa kehidupan belum begitu kompleks orang-orang yang ada ikatan darah atau keluarga selalu hidup bersama dalam satu rumah. Saat iniikatan masyarakat tidak hanya berdasarkan hubungan kekerabatan, tetapi juga karena profesi,dan hobi yang sama seperti ikatan motor gede (MOGE), orari (radio amatir).4) Bahasa dahulu disampaikan secara lisan. Sekarang bahasa dapat disampaikan melaluiberagam media, seperti tulisan, sandi, dan sebagainya.5) Kesenian mencakup seni rupa, seni suara, dan seni tari. Sebagai contoh, orang Jawamenganggap bahwa sebuah rumah yang indah jika bernuansa gelap, sekarang masyarakat Jawabanyak menyukai rumah yang bernuansa terang ataupun pastel.6) Sistem pengetahuan berkaitan dengan teknologi. Dahulu kala sistem pengetahuan hanyaberpedoman pada alam atau peristiwa alam. Sekarang ini sistem pengetahuan terus berkembangseiring berkembangnya teknologi.7) Religi atau sistem kepercayaan dahulu kala berwujud sistem keyakinan dan gagasantentang dewa, roh halus, dan sebagainya. Oleh karena itu, segala kegiatan manusia dikaitkan
  16. 16. dengan kepercayaan berdasarkan getaran jiwa. Namun, sekarang aktivitas manusia banyak yangdikaitkan dengan akal dan logika.Perubahan di berbagai bidang sering disebut sebagai perubahan sosial dan perubahan budayakarena proses berlangsungnya dapat terjadi secara bersamaan. Meskipun demikian perubahansosial dan budaya sebenarnya terdapat perbedaan. Ada yang berpendapat bahwa perubahan sosialdapat diartikan sebagai sebuah transformasi budaya dan institusi sosial yang merupakan hasildari proses yang berlangsung terus-menerus dan memberikan kesan positif atau negatif.Perubahan sosial juga diartikan sebagai perubahan fungsi kebudayaan dan perilaku manusiadalam masyarakat dari keadaan tertentu ke keadaan lain.Ada banyak pendapat tentang definisi perubahan sosial yang disampaikan oleh beberapasosiolog.2. Definisi Perubahan Sosial dan BudayaBerikut ini beberapa ilmuwan yang mengungkapkan tentang definisi dan batasan perubahansosial.No Tokoh Pendapat Tentang Perubahan Sosial Suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan kondisi geografis, kebudayaan, dinamika dan1 Gillin dan Gillin komposisi penduduk, ideologi, ataupun karena adanya penemuan-penemuan baru di dalam masyarakat Modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan2 Samuel Koenig manusia, yang terjadi karena sebab intern atau ekstern Segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang memengaruhi sistem sosialnya,3 Selo Soemardjan termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat Perubahan dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan4 Max Iver terhadap keseimbangan hubungan sosial Perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi5 Kingsley Davis masyarakat Perubahan struktur sosial dalam organisasi sosial sehingga6 Bruce J. Cohen syarat dalam perubahan itu adalah sistem sosial, perubahan hidup dalam nilai sosial dan budaya masyarakat
  17. 17. 7 Roucek dan Warren Perubahan dalam proses sosial atau dalam struktur masyarakatLalu apakah perubahan sosial budaya? Berikut ini ada beberapa pengertian dari perubahan sosialbudaya.1. Max Weber berpendapat bahwa perubahan sosial budaya adalah perubahan situasi dalammasyarakat sebagai akibat adanya ketidaksesuaian unsur-unsur (dalam buku SociologicalWritings).2. W. Kornblum berpendapat bahwa perubahan sosial budaya adalah perubahan suatu budayamasyarakat secara bertahap dalam jangka waktu lama (dalam buku Sociology in ChangingWorld).3. Karakteristik Perubahan Sosial dan BudayaDengan memahami definisi perubahan sosial dan budaya di atas, maka suatu perubahandikatakan sebagai perubahan sosial budaya apabila memiliki karakteristik sebagai berikut.1. Tidak ada masyarakat yang perkembangannya berhenti karena setiap masyarakatmengalami perubahan secara cepat ataupun lambat.2. Perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan akan diikuti perubahan padalembaga sosial yang ada.3. Perubahan yang berlangsung cepat biasanya akan mengakibatkan kekacauan sementarakarena orang akan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.4. Perubahan tidak dapat dibatasi pada bidang kebendaan atau spiritual saja karena keduanyasaling berkaitan.4. Sebab-Sebab Perubahan Sosial BudayaSebuah perubahan bisa terjadi karena sebab dari dalam (intern) atau sebab dari luar (ekstern).Dalam sebuah masyarakat, perubahan sosial dan budaya bisa terjadi karena sebab darimasyarakat sendiri atau yang berasal dari luar masyarakat.1) Sebab InternMerupakan sebab yang berasal dari dalam masyarakat sendiri, antara lain:a. Dinamika penduduk, yaitu pertambahan dan penurunan jumlah penduduk. Pertambahanpenduduk akan menyebabkan perubahan pada tempat tinggal. Tempat tinggal yang semulaterpusat pada lingkungan kerabat akan berubah atau terpancar karena faktor pekerjaan.Berkurangnya penduduk juga akan menyebabkan perubahan sosial budaya. Contoh perubahanpenduduk adalah program transmigrasi dan urbanisasi.
  18. 18. b. Adanya penemuan-penemuan baru yang berkembang di masyarakat, baik penemuan yangbersifat baru (discovery) ataupun penemuan baru yang bersifat menyempurnakan dari bentukpenemuan lama (invention).c. Munculnya berbagai bentuk pertentangan (conflict) dalam masyarakat.d. Terjadinya pemberontakan atau revolusi sehingga mampu menyulut terjadinya perubahan-perubahan besar. Misalnya, Revolusi Rusia (Oktober 1917) yang mampu menggulingkanpemerintahan kekaisaran dan mengubahnya menjadi sistem diktator proletariat yang dilandaskanpada doktrin Marxis. Revolusi tersebut menyebabkan perubahan yang mendasar, baik daritatanan negara hingga tatanan dalam keluarga.2). Sebab EksternMerupakan sebab yang berasal dari dalam masyarakat sendiri, antara lain: 1. Adanya pengaruh bencana alam.Kondisi ini terkadang memaksa masyarakat suatu daerah untuk mengungsi meninggalkan tanahkelahirannya. Apabila masyarakat tersebut mendiami tempat tinggal yang baru, maka merekaharus menyesuaikan diri dengan keadaan alam dan lingkungan yang baru tersebut. Hal inikemungkinan besar juga dapat memengaruhi perubahan pada struktur dan pola kelembagaannya. 1. Adanya peperangan.Peristiwa peperangan, baik perang saudara maupun perang antar negara dapat menyebabkanperubahan, karena pihak yang menang biasanya akan dapat memaksakan ideologi dankebudayaannya kepada pihak yang kalah. 1. Adanya pengaruh kebudayaan masyarakat lain.Bertemunya dua kebudayaan yang berbeda akan menghasilkan perubahan. Jika pengaruh suatukebudayaan dapat diterima tanpa paksaan, maka disebut demonstration effect. Jika pengaruhsuatu kebudayaan saling menolak, maka disebut cultural animosity. Jika suatu kebudayaanmempunyai taraf yang lebih tinggi dari kebudayaan lain, maka akan muncul proses imitasi yanglambat laun unsur-unsur kebudayaan asli dapat bergeser atau diganti oleh unsur-unsurkebudayaan baru tersebut.5. Bentuk Perubahan Sosial BudayaPerubahan adalah sebuah kondisi yang berbeda dari sebelumnya. Perubahan itu bisa berupakemajuan maupun kemunduran. Bila dilihat dari sisi maju dan mundurnya, maka bentukperubahan sosial dapat dibedakan menjadi 2 yakni:1). Perubahan sebagai suatu kemajuan (progress)
  19. 19. Perubahan sebagai suatu kemajuan merupakan perubahan yang memberi dan membawakemajuan pada masyarakat. Hal ini tentu sangat diharapkan karena kemajuan itu bisamemberikan keuntungan dan berbagai kemudahan pada manusia. Perubahan kondisi masyarakattradisional, dengan kehidupan teknologi yang masih sederhana, menjadi masyarakat majudengan berbagai kemajuan teknologi yang memberikan berbagai kemudahan merupakan sebuahperkembangan dan pembangunan yang membawa kemajuan. Jadi, pembangunan dalammasyarakat merupakan bentuk perubahan ke arah kemajuan (progress).Perubahan dalam arti progress misalnya listrik masuk desa, penemuan alat-alat transportasi, danpenemuan alat-alat komunikasi. Masuknya jaringan listrik membuat kebutuhan manusia akanpenerangan terpenuhi; penggunaan alat-alat elektronik meringankan pekerjaan dan memudahkanmanusia memperoleh hiburan dan informasi; penemuan alat-alat transportasi memudahkan danmempercepat mobilitas manusia proses pengangkutan; dan penemuan alat-alat komunikasimodern seperti telepon dan internet, memperlancar komunikasi jarak jauh.2). Perubahan sebagai suatu kemunduran (regress)Tidak semua perubahan yang tujuannya ke arah kemajuan selalu berjalan sesuai rencana.Terkadang dampak negatif yang tidak direncanakan pun muncul dan bisa menimbulkan masalahbaru. Jika perubahan itu ternyata tidak menguntungkan bagi masyarakat, maka perubahan itudianggap sebagai sebuah kemunduran. Misalnya, penggunaan HP sebagai alat komunikasi. HPtelah memberikan kemudahan dalam komunikasi manusia, karena meskipun dalam jarak jauhpun masih bisa komunikasi langsung dengan telepon atau SMS. Disatu sisi HP telahmempermudah dan mempersingkat jarak, tetapi disisi lain telah mengurangi komunikasi fisikdan sosialisasi secara langsung. Sehingga teknologi telah menimbulkan dampak berkurangnyakontak langsung dan sosialisasi antar manusia atai individu.Jika dilihat dari segi cepat atau lambatnya perubahan, maka perubahan dapat diklasifikasikansebagai berikut:(1). Evolusi dan Revolusi (perubahan lambat dan perubahan cepat)Evolusi adalah perubahan secara lambat yang terjadi karena usaha-usaha masyarakat dalammenyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan dan kondisi-kondisi baru yang timbul sejalandengan pertumbuhan masyarakat. Contoh perubahan evolusi adalah perubahan pada strukturmasyarakat. Suatu masyarakat pada masa tertentu bentuknya sangat sederhana, namun karenamasyarakat mengalami perkembangan, maka bentuk yang sederhana tersebut akan berubahmenjadi kompleks.Revolusi, yaitu perubahan sosial mengenai unsur-unsur kehidupan atau lembaga-lembagakemasyarakatan yang berlangsung relatif cepat. Seringkali perubahan revolusi diawali olehmunculnya konflik atau ketegangan dalam masyarakat, ketegangan-ketegangan tersebut sulitdihindari bahkan semakin berkembang dan tidak dapat dikendalikan. Terjadinya proses revolusimemerlukan persyaratan tertentu, antara lain:a. Ada keinginan umum untuk mengadakan suatu perubahan.
  20. 20. b. Adanya pemimpin/kelompok yang mampu memimpin masyarakat tersebut.c. Harus bisa memanfaatkan momentum untuk melaksanakan revolusi.d. Harus ada tujuan gerakan yang jelas dan dapat ditunjukkan kepada rakyat.e. Kemampuan pemimpin dalam menampung, merumuskan, serta menegaskan rasa tidak puasmasyarakat dan keinginan-keinginan yang diharapkan untuk dijadikan program dan arah gerakanrevolusi. Contoh perubahan secara revolusi adalah peristiwa reformasi (runtuhnya rezimSoeharto), peristiwa Tsunami di Aceh, semburan lumpur Lapindo (Sidoarjo).(2). Perubahan Kecil dan Perubahan BesarPerubahan kecil adalah perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidakmembawa pengaruh langsung atau pengaruh yang berarti bagi masyarakat. Contoh perubahankecil adalah perubahan mode rambut atau perubahan mode pakaian.Perubahan besar adalah perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang membawapengaruh langsung atau pengaruh berarti bagi masyarakat. Contoh perubahan besar adalahdampak ledakan penduduk dan dampak industrialisasi bagi pola kehidupan masyarakat.(3). Perubahan yang Direncanakan dan Tidak DirencanakanPerubahan yang dikehendaki atau yang direncanakan merupakan perubahan yang telahdiperkirakan atau direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak melakukanperubahan di masyarakat. Pihak-pihak tersebut dinamakan agent of change, yaitu seseorang atausekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakat untuk memimpin satu atau lebihlembaga-lembaga kemasyarakatan yang bertujuan untuk mengubah suatu sistem sosial. Contohperubahan yang dikehendaki adalah pelaksanaan pembangunan atau perubahan tatananpemerintahan, misalnya perubahan tata pemerintahan Orde Baru menjadi tata pemerintahan OrdeReformasi.Perubahan yang tidak dikehendaki atau yang tidak direncanakan merupakan perubahan yangterjadi di luar jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan. Contoh perubahan yang tidak dikehendaki atau tidakdirencanakan adalah munculnya berbagai peristiwa kerusuhan menjelang masa peralihan tatananOrde Lama ke Orde Baru dan peralihan tatanan Orde Baru ke Orde Reformasi.6. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan sosial budayaTerjadinya sebuah perubahan tidak selalu berjalan dengan lancar, meskipun perubahan tersebutdiharapkan dan direncanakan. Terdapat faktor yang mendorong sehingga mendukung perubahan,tetapi juga ada faktor penghambat sehingga perubahan tidak berjalan sesuai yang diharapkan.v Faktor pendorong perubahan
  21. 21. Faktor pendorong merupakan alasan yang mendukung terjadinya perubahan. Menurut SoerjonoSoekanto ada sembilan faktor yang mendorong terjadinya perubahan sosial, yaitu:1) Terjadinya kontak atau sentuhan dengan kebudayaan lain.Bertemunya budaya yang berbeda menyebabkan manusia saling berinteraksi dan mampumenghimpun berbagai penemuan yang telah dihasilkan, baik dari budaya asli maupun budayaasing, dan bahkan hasil perpaduannya. Hal ini dapat mendorong terjadinya perubahan dan tentuakan memperkaya kebudayaan yang ada.2) Sistem pendidikan formal yang maju.Pendidikan merupakan salah satu faktor yang bisa mengukur tingkat kemajuan sebuahmasyarakat. Pendidikan telah membuka pikiran dan membiasakan berpola pikir ilmiah, rasional,dan objektif. Hal ini akan memberikan kemampuan manusia untuk menilai apakah kebudayaanmasyarakatnya memenuhi perkembangan zaman, dan perlu sebuah perubahan atau tidak.3) Sikap menghargai hasil karya orang dan keinginan untuk maju.Sebuah hasil karya bisa memotivasi seseorang untuk mengikuti jejak karya. Orang yangberpikiran dan berkeinginan maju senantiasa termotivasi untuk mengembangkan diri.4) Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang.Penyimpangan sosial sejauh tidak melanggar hukum atau merupakan tindak pidana, dapatmerupakan cikal bakal terjadinya perubahan sosial budaya. Untuk itu, toleransi dapat diberikanagar semakin tercipta hal-hal baru yang kreatif.5) Sistem terbuka dalam lapisan-lapisan masyarakat.Open stratification atau sistem terbuka memungkinkan adanya gerak sosial vertikal atauhorizontal yang lebih luas kepada anggota masyarakat. Masyarakat tidak lagimempermasalahkan status sosial dalam menjalin hubungan dengan sesamanya. Hal ini membukakesempatan kepada para individu untuk dapat mengembangkan kemampuan dirinya.6) Penduduk yang heterogen.Masyarakat heterogen dengan latar belakang budaya, ras, dan ideologi yang berbeda akan mudahterjadi pertentangan yang dapat menimbulkan kegoncangan sosial. Keadaan demikianmerupakan pendorong terjadinya perubahan-perubahan baru dalam masyarakat untuk mencapaikeselarasan sosial.7) Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang tertentuRasa tidak puas bisa menjadi sebab terjadinya perubahan. Ketidakpuasan menimbulkan reaksiberupa perlawanan, pertentangan, dan berbagai gerakan revolusi untuk mengubahnya.
  22. 22. 8) Orientasi ke masa depanKondisi yang senantiasa berubah merangsang orang mengikuti dan menyesusikan denganperubahan. Pemikiran yang selalu berorientasi ke masa depan akan membuat masyarakat selaluberpikir maju dan mendorong terciptanya penemuan-penemuan baru yang disesuaikan denganperkembangan dan tuntutan zaman.9) Nilai bahwa manusia harus selalu berusaha untuk perbaikan hidup.Usaha merupakan keharusan bagi manusia dalam upaya memenuhi kebutuhannya yang tidakterbatas dengan menggunakan sumber daya yang terbatas. Usaha-usaha ini merupakan faktorterjadinya perubahan.v Faktor penghambat perubahanBanyak faktor yang menghambat sebuah proses perubahan. Menurut Soerjono Soekanto, adadelapan buah faktor yang menghalangi terjadinya perubahan sosial, yaitu:1. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain.2. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat.3. Sikap masyarakat yang mengagungkan tradisi masa lampau dan cenderung konservatif.4. Adanya kepentingan pribadi dan kelompok yang sudah tertanam kuat (vested interest).5. Rasa takut terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan dan menimbulkan perubahanpada aspek-aspek tertentu dalam masyarakat.6. Prasangka terhadap hal-hal baru atau asing, terutama yang berasal dari Barat.7. Hambatan-hambatan yang bersifat ideologis.8. Adat dan kebiasaan tertentu dalam masyarakat yang cenderung sukar diubah.C. PERMASALAHANSesuai dengan judul “ Perubahan Sosial dan Erosi Nilai-nilai Kearifan Lokal pada MasyarakatPedesaan di NTB” , permasalahan yang sangat menarik untuk dibahas adalah:(1) Apa saja macam proses perubahan sosial dan erosi nilai-nilai kearifan lokal yang terjadi?;(2) Indikator apakah yang digunakan untuk mengidentifikasikan terjadinya proses perubahansosial dan erosi nilai-nilai kearifan lokal dimaksud?;(3) Seberapa cepatkah proses perubahan sosial dan erosi nilai-nilai kearifan lokal itu terjadi?;
  23. 23. (4) Faktor apa yang paling dominan mempengaruhi terjadinya perubahan sosial dan erosi nilai-nilai kearifan pada masyarakat pedesaan?;D. PEMBAHASAN1. Macam proses perubahan sosial dan erosi nilai-nilai kearifan lokal yang terjadi.Untuk memilah macam-macam proses perubahan sosial yang terjadi termasuk terjadinya erosinilai-nilai kearifan lokal, bisa dilakukan berdasarkan pendekatan atau sudut pandang yangdigunakan ooleh setiap orang khususnya para ahli sosiologi.Dalam makalah ini, pengkategorian jenis perubahan yang terjadi, dilakukan berdasarkanperspektif umum pandangan masyarakat yang melihat dan merasakan adanya perubahantersebut. Oleh sebab itu, maka ada lima macam proses perubahan yang dianggap sedang terjadi:a. Prose perubahan Pola Makan dan Berpakaib. Proses perubahan Pola dan Model tempat tinggalc. Proses Perubahan Pola Berinteraksi, Berkomunikasi dan Transportasid. Proses Perubahan Pola Berfikir, Pendidikan dan Wawasane. Proses Perubahan Pola Penokohan SeseorangProse perubahan Pola Makan dan BerpakaianTerjadinya proses perubahan pola makan dan berpakaian pada masyarakat pedesaan, bisadiketahui dengan membandingkan penampilan masyarakat poedesaan pada lima atau sepuluhtahun yang lalu, dengan penampilan berpakaian masa kini. mSatu contoh sederhana, jika dulumenggunakan celana jeans, masih merupakan hal aneh. Tetapi saat ini bercelana jeans,merupakan bagian dari cara berpakaian masyarakat di pedesaan. Contohlainya lagi, kalau dulumasyarakat pedesaan tidak begitu perdui bahkan tidak mengenal salon kecantikan, saatsekaranmg sudah menjadi bagian dari pola berpakaian mereka.Dalam hal pola makan, masyarakat pedesan mengalami perubahan juga. Makanan-makanancepat saji yang dulu tidak pernah ada di dalam pikirannya, kini bahkan menjadi bagian bagianyang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari.Proses perubahan Pola dan Model tempat tinggalRumah tinggal masyarakat di pedesaan mengalami perubahan cukup signifikan dalam hal modelatau ukuran. Saat ini bukan hal yang aneh, jika rumah-rumah masyarakat dipedesaan sudah jauhberbeda dengan apa yang terlihat pada kurun waktu sepuluh tahun yang lalu.Proses perubahan Pola Berinteraksi, Berkomunikasi dan Transportasi
  24. 24. Pola interaksi, komunikasi dan tarnsportasi yang terjadi di kalangan masyarakat pedesaat, sudahsangat jauh berbeda dengan yang terjadi dalam lima tahun sebelumnya. Kemajuan di bidangperalatan komunikasi,media komunikasi dan sistem transportasi, mengakibatkan masyarakatpedesaan saat ini sangat berubah. Informasi yang dulu sangat lambat di akses, sekarang dalamhitungan detik bisa diterima, salah satunya karena adanya handphone dan televisi.Perubahan Pola Berfikir dan Pendidikan dan WawasanMasyarakat kita di pedesaan bukan lagi masyarakat yang dianggap lugu, sederhana dan polossebagaimana beberapa tahun silam. Pemahaman mereka terhadap berbagai aspek sosial, politikdan lain-lain, telah mengalami kemajuan. Ini adalah bentuk nyata terjadinya perubahan polaberfikir mereka yang diakibatkan secara langsung atau tidak langsung oleh perubahan semangatdan keinginan untuk bersekeloh lebih tinggi. Akibatnya maka wawasanmereka juga semakinbaik.Perubahan Pola Penokohan SeseorangDalam konteks ini, penokohan seseorang tidak lagi terjadf sebagaimana lazimnya masa lalu.Penokohan masa lalu terjadi dalam waktu yang cukup lama disertai teruji tidaknya seseorangsebagai seorang tokoh yang patut di ikuti dan didengar pendapatnya.Masa sekarang, penokohan seseorang terjadi secara instan, disebabkan oleh faktor ekonomi,politik dan faktor-faktor lain seperti keberanian seseorang di dalam mengumpulkan danmengerahkan masa.Hal ini bisa terjadi, karena dari generasi sebelumnya ke generasi berikutnya sampai ke generasisekarang, prilaku dan ketokohan seseorang yang dahulu terjadi secara alami, kini berubah secarainstan sebagaimana yang disebutkan diatas, akibat faktor-faktor instan pula.2. Indikator yang digunakan untuk mengidentifikasikan terjadinya proses perubahansosial dan erosi nilai-nilai kearifan lokal di NTB.Sulit membuat indikator standar untuk menentukan terjadinya perubahan sosial dan erosi nilai-nilai kearifan. Setiap ahli tentu memiliki alasan logis untuk membuat indikator terjadinyaperubahan tersebut. Tetapi meskipun sulit, bukan berarti tidak bisa. Oleh sebab itu, dalammakalah ini, ada 2 macam indikator dimaksud yang di buat hanya berdasarkan pertimbanganpraktis, yakni:1. Indikator Visual, yakni sebatas kemampuan panca indra manusia untuk melihat,merasakan dan atau mendengar mengenai terjadinya perubahan sosial dan erosi nilai kearifanyang dimaksud.2. Indikator Faktual, maksudnya alat ukur yang didasarkan pada kenyataan yang terjadi,dengan membandingkan peristiwa masa kini dengan berbagai peristiwa masa sebelumnya.
  25. 25. Kedua indikator tersebut memang sangat subyektif, tetapi paling tidak dapat diuji secarasubyektif dan obyektif, yakni dengan melakukan telaah perbandingan terhadap berbagaiperistiwa yang terjadi saat ini dan saat sebelumnya.Berdasarkan pada dua macam indikator tersebut, dapat disusun dan diolah tentang terjadinyaprose perubahan sosial dan erosi nilai-nilai kearifan lokal masyarakat pedesaan di NTB.3. Mengukur kecepatan proses perubahan sosial dan erosi nilai-nilai kearifan lokal yangterjadi.Kecepatan terjadinya proses perubahan sosial dan erosi nilai-nilai kearifan lokal, sesungguhnyatidak dapat dilakukan secara pasti dan valid. Yang bisa kita lakukan, hanya menyajikan fakta-fakta tentang sebuah kejadian serta mengelompokkannya di dalam kurun waktu tertentu. mOlehsebab itu, di dalam membuat penilaian terhadap kecepatan perubahan yang terjadi, bisadilakukan dengan membuat periodesasi waktu, kemudian berbagai kategori perilaku masyarakatdi masukkan dan klasifikasikan sesuai dengan waktu yang ada.Sebagai contoh, bisa dibuat kurun waktu setiap lima tahun atau setiap sepuluh tahun, antara1990-2000. Kemudian di dalam kurun waktu tersebut, dibuatkan deskripsi tentang pola makanmsyarakat pedesaan, dibandingkan dengan pola makan di dalam kurun waktu 2001-2010.Dengan demikian, dapat diperoleh gambaran bagaimana perubahan itu terjadi, apakah dalamwaktu lima tahun atau dalam waktu sepuluh tahun. Jika terjadinya cukup dalam lima tahun,berarti cukup cepat. Atau terjadinya dalam sepuluh atau dua puluh tahun, berarti cukup lambat.4. Faktor yang paling dominan mempengaruhi terjadinya perubahan sosial dan erosi nilai-nilai kearifan pada masyarakat pedesaan di NTB.Menentukan faktor yang paling dominan mempengaruhi terjadinya perubahan sosial dan erosinilai-nilai kearifan lokal termasuk pekerjaan tidak mudah. Diperlukan waktu yang cukup lamauntuk memastikan faktor tersebut.Untuk menentukan faktor apa yang paling dominan, bisa dilakukan melalui pendekatansederhana secara empiris yang bisa diuji secara logika, bahwa informasi dan komunikasimerupakan dua hal utama yang menyebabkan terbentuknya opini seseorang. Asumsi ini tentubisa diuji. Namun pada akhirnya ada kesimpulan yang sama, bahwa pengaruh cepatnyaperkembangan system dan peralatan informasi dan komunikasi telah mengakibatkan prilakuorang berubah. Perubahan ini bisa ke arah positif atau sebaliknya ke arah negaif.Secara umum, dari ke empat faktor yang diuraikan diatas, perubahan sosial dan erosi nillai-nilaikearifan lokal masyarakat di Nusa Tenggara Barat, berbeda perwujudannya antara satu kulturdengan kultur lainnya maupun antara satu wilayah dengan lainnya.Sebagai pembanding, masyarakat pedesaan di P. Sumbawa yang terdiri atas etnis: Bima-Dompudan Sumbawa, berbeda pola perubahannya dibandingkan dengan kultur dan etnis Sasak di P.Lombok.
  26. 26. Perbedaan ini disebabkan banyak hal, seperti kondisi alam serta keragaman akulturasi etnis yangterjadi. Di P. Sumbawa, akulturasi etnis dan budaya, relatif tidak berlangsung secara cepat,dibandingkan di Pulau Lombok, yang relatif lebih banyak etnis lainnya.Meskipun demikian, secara umum, berdasarkan uraian adanya lima macam perubahan sosialyang terjadi, dampaknya adalah terjadinya erosi nilai-nilai kearifan lokal pada masyarakat diNTB, baik yang di P. Sumbawa maupun di P. Lombok. Adapun nilai-nilai kearifan lokaltersebut, sudah tumbuh dan berkembang sejak lama, mengalami perubahan dan penyesuain, adayang tetap bertahan, adapula yang hilang.Kalau dilakukan identifikasi, maka nilai-nilai kearifan lokal yang hidup ditengah-tengahmasyarakat di P. Sumbawa dan Pulau Lombok, dapat disebutkan sebagai berikut:1. Larangan eksplisit untuk menebang pohon yang tumbuh disekitar mata air. Dalam bahasaeksplisit, para orang tua mengatakan.”Jangan memotong pohon di sekitar mata air. Nantipenunggunya marah, kita bisa di ganggu” Padahal secara implisit, terkandung makna agar kitaharus menjadi kelestarian lingkungan.2. Larangan eksplisit untuk jangan duduk di bantal. Konsekuensinya bisa bisulan. Maknaimplisit di balik larangan ini, agar bantal sebagai tempat untuk kepala tidak cepat rusak, sertagunakanlah sesuatu pada tempatnya.3. Larangan eksplisit agar perempuan jangan telat bangun pagi atau jangan duduk di depanpintu, bisa berakibat jodoh menjauh. Padahal pesan implisitnya agar para wanita jangan menjadimalas dan membiasakan diri untuk bangun pagi.4. Larangan eksplisit bagi anak-anak agar tidak mandi di sungai yang dalam, karena adapenunggunya. Padahal makna implisitnya, agar anak-anak terhindar dari berbagai macam resikobahaya dan penyakit.5. Larangan eksplisit agar anak-anak tidak bermain-main saat maghrib, karena bisa ditamparoleh setan. Padahal makna implisitnya, agar anak-anak cepat beribadah (bagi yang islam agarcepat sholat) dan tidak menimbulkan kebisingan saat maghrib.6. Kebiasaan mendongeng kan anak-anak, yang secara langsung atau tidak langsung sebagaimedia pendidikan mengajar prilaku dan sopan santun.Masih banyak nilai-nilai kearifan lokal yang saat ini tidak lagi terdengar sebagai kebiasaan yangdilakukan para orang tua. Hal ini tergantikan oleh berbagai hasil pekembangan teknologiinformasi, seperti televisi dan handphone.Situasi ini tidak bisa terhindarkan, karena terjadi secara alamiah, sesuai perkembangan faktor-faktor eksternal yang semakin tumbuh dan berkembang. Yang patut menjadi perhatian adalah,bagaimana menerima kemajuan yang terjadi tanpa mengabaikan nilai-nilai kearifan lokal yangsesungguhnya sangat baik dan efektif mewarnai perilaku anak-anak dan generqasi muda.
  27. 27. E. KESIMPULANBerdasarkan uraian pada pendahuluan, pustaka dan pembahasan di atas, dapat disimpulkansebagai berikut: 1. Perubahan sosial dan erosi nilai-nilai kearifan lokal pada masyarakat di Nusa Tenggara Barat, sudah, sedang dan terus akan terjadi. Perubahan tersebut terbagi atas 5 macam:(1). Prose perubahan Pola Makan dan Berpakai(2). Proses perubahan Pola dan Model tempat tinggal(3).Proses Perubahan Pola Berinteraksi, Berkomunikasi dan Transportasi(4) Proses Perubahan Pola Berfikir, Pendidikan dan Wawasan(5). Proses Perubahan Pola Penokohan Seseorang 1. Faktor yang paling dominan mempangaruhi terjadinya perubahan sosial dan kearifan nilai-nilai lokal masyarakat pedesaan di Nusa Tengara Barat adalah dampak dari tumbuh dan berkembangnya sistm dan alat komunikasi dan informasi.DAFTAR PUSTAKAAustin, J.L. 1962. How to Do Things with Words. Cambridge : Harvard University PressAnderson, Benedict. 2001. Imagined Communities (Komunitas-komunitas Terbayang). (terj. OmiIntan Naomi) Yogyakarta: Inist.Brown, Peneloe and S.C. Levinson. 1987. Politeness: Some Universals in Language Usage.Cambridge: Cambridge University Press.Budiman, Maneke 1999. „Jati Diri Budaya dalam Proses Nation Building di Indonesia:Mengubah Kendala Menjadi Aset‟, Jurnal Wacana FSUI.No.1 April 1999. Vol 1. hal. 3Hallahan, Kirk (2003). Community as A Foundation for Public Relations Theory and Practices.Boulder: Colorado State UniversityHamengkubuwono X. 2001. „Implementasi Budaya Jawa dalam Menjaga Keutuhan danPersatuan Bangsa, Mungkinkah?‟ Makalah seminar Nasional. Surakarta: Univet.Jayadinata, T Johara dan Pramandika, IGP (2006). Pembangunan Desa dalam Perencanaan.Institut Teknologi Bandung, Bandung.Jatman, Darmanto. Psikologi Jawa. Yogyakarta: Bentang
  28. 28. Jefkins, frank (1987). Public Relation untuk Bisnis. Jakarta, Pustaka Binaman Presindo.Kleden, Ignas.1987. Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan. Jakarta: LP3 Es. KingsleyDavis, Human.Koentjaraningrat (1990). Pengantar Ilmu Antropologi. Rineka Cipta, Jakarta.Mac Iver, ociety ; A Textbook of Sociology, Farrar and Rhinehart, Newyork 1937 pp 272.Roeder, O.G. 1987. Indonesia. A Personal Introduction. Jakarta : Gramedia.Society, cetakan ke-13, The Macmillan.Sayogya. 1995. Sosiologi Pedesaan, Kumpulan Bacaan. Yogyakarta: Gadjah Mada UniversityPress.Soeparmo, dkk. 1986. Pola Berpikir Ilmuwan dalam Konteks Sosial Budaya Indonesia.Surabaya: Unair Press.Soekanto Soerjono,1987. Sosiologi Suatu Pengantar.Rajawali press: JakartaSelo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, Setangkai Bunga Sosiologi, edisi pertama YayasanBadan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta,1964, halaman 486,497Tampubolon, Daulat. 2000. „Peran Bahasa dalam Pembangunan Bangsa‟. Jurnal MLI. hal.69.Tasmara, Toto. 1999. Kecerdasan Ruhaniah. Jakarta : Gema Insani.Tim Lembaga Riset Kebudayaan. 1986. Kapita Selekta Manifestasi Budaya Indonesia. Bandung:AlumniWiddowson, H.G, 1995. Stilistika dan Pengajaran Sastra (terj. Sudijah). Surabaya: Unair Press.William F.Ogburn dan Meyer F. Nimkoff: Sociology, edisi ke-4, A.Feffer and SimonInternational University Edition, 1964. Bagian 7Yanti, Yusrita. 1999. „Tindak tutur Maaf di dalam Bahasa Indonesia di Kalangan PenuturMinangkabau‟. Jurnal MLI. hal. 93ronesocial,science and technology
  29. 29. info komputer sosiologiInteraksionisme SimbolikPERNIKAHAN Heny dan Syaiful nyaris gagal. Pemicunya sebetulnya sepele,beberapa untai kalimat dalam telepon terakhir Heny sebelum haripernikahan. “Mas, keluargaku minta, besok saat resepsi di hotel, darikeluarga Mas Saiful jangan membawa anak-anak,” itu yang disampaikanHeny, pangkal suasana panas di keluarga Saiful. Lidah Saiful kelu, hatinyakacau tak karauan, ketika berhadapan dengan sidang mendadak keluargabesarnya, seusai menyampaikan pesan calon istrinya itu “Kita memang dari keluarga miskin, tapi kita punya harga diri,” suara ayah Saiful meninggi. “Calon mertuamu terlalu sombong, besok aku tak akan datang!” tegas sang ayah. “Aku ikut ayahmu,” timpal Ibu Syaiful. Suasana tambah hening, menegangkan. Semua pandangan mata tajam menyorot muka Saiful yang tertunduk lesu. Ancaman ayah Saiful bukan gertakan semata. Keluarga besar Heny mulai gelisah. Pukul 09.30, hari ’H’ pernikahan, semua tamu telah berkumpul, tapi Saiful dan keluarga besarnya belum juga kelihatan. Sesuai jadwal, semestinya akad nikah dilangsungkan pukul 09.00. Tepat pukul 10.00, sebuah mobil berhenti, Syaiful keluar dengan langkah gontai. Tak ada anggota keluarga yang menyertainya. ”Maaf, bapak dan ibu gak bisa datang,” ungkap Syaiful singkat. Raut malu dan sedih tak bisa ditutupinya. Untunglah petugas KUA bertindak sigap. ”Pernikahannya bisa dimulai sekarang?” tanya Pak Mashudi, memecah ketegangan. ”Silakan Pak,” itu saja jawaban ayah Heny, lirih. Akad pun berjalan lancar, begitupula resepsi pernikahan beberapa jam sesudahnya. Tetapi, setiap tamu yang hadir menyimpan pertanyaan: kenapa tak seorang pun keluarga Syaiful kelihatan dalam acara sepenting itu.Kelaurga Heny dan Syaiful memang memilki latar belakang yang berbeda. Keluarga Heny adalah tipikalkeluarga kelas atas yang tinggal di perkotaan. Mereka terbiasa dengan hidup yang praktis, efisien, danmengagungkan gengsi. Mereka bukannya tak suka anak, tetapi mereka tak menginginkan kehadiran
  30. 30. anak-anak kampung, yang tak hanya akan membuat gaduh dan kotor tetapi juga berpotensimenurunkan gengsi keluarga. Anak-anak ini memang representasi keluarga Syaiful, yang tinggal diperkampungan. Ayah Syaiful adalah seorang petani, ibunya pedagang kelapa di pasar kampung. Merekamemang hanya tamat SD, tetapi sangat mencintai pendidikan. Keempat anaknya disekolahkan hinggabangku perguruan tinggi. Syaiful adalah anak ketiganya, lulusan Fakultas Teknik PTN terkemuka. Syaifulkini bekerja sebagai konsultan arsitektur sebuah lembaga konsultan teknik dari Singapura. Sebagaimanaorang desa umunya, keluarga besar Syaiful terbiasa hidup secara komunal. Mereka orang yang sangatmencintau keluarga dan persaudaraan. Mereka adalah prototipe penganut filosofi ’mangan ora mangankumpul’. Apapun kondisinya, bagi mereka, kebersamaan itu adalah segalanya.Dua keluarga di atas memiliki pemaknaan yang berbeda terhadap pesta pernikahan, karenanya merekaberbeda sikap atas kehadiran anak-anak. Makna dan tindakan, inilah salah satu fokus teoriinteraksionisme simbolik.Latar Belakang TeoriTeori teraksionisme simbolik mewarisi tradisi dan posisi intelektual yang berkembang di Eropa padaabad 19 kemudian menyeberang ke Amerika terutama di Chicago. Namun sebagian pakar berpendapat,teori interaksi simbolik khusunya George Herbert Mead (1920-1930an), terlebih dahulu dikenal dalamlingkup sosiologi interpretatif yang berada di bawah payung teori tindakan sosial (action theory), yangdikemukakan oleh filosof sekaligus sosiolog besar Max Weber (1864-1920).Meskipun teori interaksi simbolik tidak sepenuhnya mengadopsi teori Weber namun pengaruh Webercukup penting. Salah satu pandangan Weber yang dianggap relevan dengan pemikiran Mead, bahwatindakan sosial bermakna jauh, berdasarkan makna subyektifnya yang diberikan individu-individu.Tindakan itu mempertimbangkan perilaku orang lain dan kerenanya diorientasikan dalam penampilan(Mulyana,2002).Dalam perkembangan selanjutnya teori interaksionisme simbolik ini dipengaruhi beberapa alirandiantaranya adalah mazhab Chicago, mazhab Iowa, pendekatan dramaturgis dan etnometodologi,diilhami pandangan filsafat, khususnya pragmatisme dan behaviorisme.Aliran pragmatisme yang dirumuskan oleh John Dewey, Wiiliam James, Charles Peirce dan Josiah Roycemempunyai beberapa pandangan : Pertama, realitas sejati tidak pernah ada di dunia nyata, melainkansecara aktif diciptakan ketika kita bertindak terhadap dunia. Kedua, manusia mengingat danmelandaskan pengetahuan mereka tentang dunia pada apa yang terbukti berguna bagi mereka. Ketiga,manusia mendefenisikan objek fisik dan objek sosial yang mereka temui berdasarkan kegunaannya bagimereka, termasuk tujuan mereka. Keempat, bila kita ingin memahami orang yang melakukan tindakan(actor), kita harus berdasarkan pemahaman itu pada apa yang sebenarnya mereka lakukan di dunia.Sementara aliran behaviorisme yang dipelopori Watson berpendapat bahwa manusia harus dipahamiberdasarkan apa yang mereka lakukan (Mulyana, 2001: 64).
  31. 31. Jika ilmuwan lain seperti James Mark Baldwin, William James, Charles Horton Chooley , John Dewey,William I. Thomas dikenal sebagai perintis interaksionisme simbolik, maka G. H. Mead dikenal sebagaiilmuwan yang paling populer sebagai peletak dasar teori interaksionisme simbolik ini.Pada awalnya, Mead Mead memang tidak pernah menerbitkan gagasannya secara sistematis dalamsebuah buku. Para mahasiswanya lah yang setelah kematian Mead kemudian menerbitkan pemikiranMead tersebut dalam sebuah buku berjudul Mind, Self, and Society. Herbert Blumer, sejawat Mead,kemudian mengembangkan dan menyebutnya sebagai teori interaksionisme simbolik. Sebuahterminologi yang ingin menggeambarkan apa yang dinyatakan oleh Mead bahwa “the most human andhumanizing activity that people can engage in—talking to each other.”Asumsi TeoriRalph LaRossa dan Donald C.Reitzes (dalam West dan Turner, 2007: 96) mencatat tujuh asumsi yangmendasari teori interaksionisme simbolik, yang memperlihatkan tiga tema besar, yakni: (1) Pentingnyamakna bagi perilaku manusia, (2) Pentingnya konsep mengenai diri, dan (3) Hubungan antara individudan masyarakat.Tentang relevansi dan urgensi makna, Blumer (1969) memiliki asumsi bahwa: - Manusia bertindak terhadap manusia lainnya berdasarkan makna yang diberikan orang lain pada mereka. - Makna diciptakan dalam interaksi antarmanusia - Makna dimodifikasi dalam proses interpretif.Kisah keluarga Heny dan Syaiful di atas adalah contoh bagaimana pemaknaan yang berbeda akhirnyamelahirkan sikap yang berbeda pula. Interaksi sosial di antara keluarga ini memang berbeda, sehinggaberbeda pula dalam pemaknaan. Setting perdesaan yang komunal melahirkan pemaknaan bahwakebersamaan itu adalah segalanya. Sementara lingkungan perkotaan yang metropolis dan individualismendorong pemaknaan bahwa hidup harus efektif, praktis, dan bercitarasa.Blumer mengemukakan tiga prinsip dasar interaksionisme simbolik yang berhubungan dengan meaning,language, dan thought. Premis ini kemudian mengarah pada kesimpulan tentang pembentukan diriseseorang (person’s self) dan sosialisasinya dalam komunitas (community) yang lebih besar. 1. Meaning (Makna): Konstruksi Realitas Sosial Blumer mengawali teorinya dengan premis bahwa perilaku seseorang terhadap sebuah obyek atau orang lain ditentukan oleh makna yang dia pahami tentang obyek atau orang tersebut. 1. Languange (Bahasa): The source of meaning
  32. 32. Seseorang memperoleh makna atas sesuatu hal melalui interaksi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa makna adalah hasil interaksi sosial. Makna tidak melekat pada obyek, melainkan dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa. Bahasa adalah bentuk dari simbol. Oleh karena itulah teori ini kemudian disebut sebagai interaksionisme simbolik. Berdasarkan makna yang dipahaminya, seseorang kemudian dapat memberi nama yang berguna untuk membedakan satu obyek, sifat, atau tindakan dengan obyek, sifat, atau tindakan lainnya. Dengan demikian premis Blumer yang kedua adalah Manusia memiliki kemampuan untuk menamai sesuatu. Simbol, termasuk nama, adalah tanda yang arbitrer. Percakapan adalah sebuah media penciptaan makna dan pengembangan wacana. Pemberian nama secara simbolik adalah basis terbentuknya masyarakat. Para interaksionis meyakini bahwa upaya mengetahui sangat tergantung pada proses pemberian nama, sehingga dikatakan bahwa Interaksionisme simbolik adalah cara kita belajar menginterpretasikan dunia. 1. Thought (Pemikiran): Process of taking the role of the other Premis ketiga Blumer adalah bahwa, “an individual’s interpretation of symbol is modified by his or her own thought processes.” Interaksionisme simbolik menjelaskan proses berpikir sebagai inner conversation, Mead menyebut aktivitas ini sebagai minding. Secara sederhana proses menjelaskan bahwa seseorang melakukan dialog dengan dirinya sendiri ketika berhadapan dengan sebuah situasi dan berusaha untuk memaknai situasi tersebut. Untuk bisa berpikir maka seseorang memerlukan bahasa dan harus mampu untuk berinteraksi secara simbolik. Bahasa adalah software untuk bisa mengaktifkan mind. Kontribusi terbesar Mead untuk memahami proses berpikir adalah pendapatnya yang menyatakan bahwa manusia memiliki kemampuan yang unik untuk memerankan orang lain (take the role of the other). Sebagai contoh, pada masa kecilnya, anak-anak sering bermain peran sebagai orang tuanya, berbicara dengan teman imajiner, dan secara terus menerus sering menirukan peran-peran orang lain. Pada saat dewasa seseorang akan meneruskan untuk menempatkan dirinya pada posisi orang lain dan bertindak sebagaimana orang itu akan bertindak.Setelah dipahami bahwa meaning, language, dan thought memiliki keterkaitan yang sangat erat, makakita dapat memperkirakan konsep Mead tentang diri (self). Mead menolak anggapan bahwa seseorangbisa mengetahui siapa dirinya melalui introspeksi. Ia menyatakan bahwa untuk mengetahui siapa dirikita maka kita harus melukis potret diri kita melalui sapuan kuas yang datang dari proses taking the roleof the other —membayangkan apa yang dipikirkan orang lain tentang kita. Para interaksionis menyebutgambaran mental ini sebagai the looking glass self dan hal itu dikonstruksi secara sosial.Penganut interaksionisme simbolik menyatakan bahwa self adalah fungsi dari bahasa. Tanpapembicaraan tidak akan ada konsep diri, oleh karena itu untuk mengetahui siapa dirinya, seseorangharus menjadi anggota komunitas. Merujuk pada pendapat Mead self (diri) adalah proses
  33. 33. mengkombinasikan I dan me. I adalah kekuatan spontan yang tidak dapat diprediksi. Ini adalah bagiandari diri yang tidak terorganisir. Sementara me adalah gambaran diri yang tampak dalam the looking-glass dari reaksi orang lain.Me tidak pernah dilahirkan. Me hanya dapat dibentuk melalui interaksi simbolik yang terus menerus—mulai dari keluarga, teman bermain, sekolah, dan seterusnya. Oleh karena itulah seseorangmembutuhkan komunitas untuk mendapatkan konsep dirinya. Seseorang membutuhkan the generalizedother, yaitu berbagai hal (orang, obyek, atau peristiwa) yang mengarahkan bagaimana kita berpikir danberinteraksi dalam komunitas. Me adalah organized community dalam diri seorang individu.http://edsa.unsoed.net/?p=62Popularity: 9% [?]sting Daftar Alamat Universitas di Indonesia (part.3)Posted on September 1, 2008. Filed under: Universitas |Universitas SahidJl. Prof. Dr. Supomo SH No. 84,Jakarta Selatan 12870,IndonesiaDKI JakartaFax.(021) 8354763Telp.(021) 8291638, Telp.(021) 8312815, Telp.(021) 8312816UniversityUniversitas Satya Negara Indonesia (USNI)Jl. Sutan Iskandar Muda No. 11, Kebayoran Lama,Jakarta Selatan 12240,IndonesiaDKI JakartaFax.(021) 7200352Telp.(021) 7398393, Telp.(021) 7398394UniversityUniversitas SatyagamaJl. Kamal Raya No. 2-A, Cengkareng,Jakarta Barat 11730,IndonesiaDKI JakartaFax.(021) 54391325Telp.(021) 5452377, Telp.(021) 5452378, Telp.(021) 54391082UniversityUniversitas SemarangJl. Atmodirono No. 11,Semarang 50241 Jawa Tengah,IndonesiaJawa TengahFax.(024) 8446865
  34. 34. Telp.(024) 8411562, Telp.(024) 8441524, Telp.(024) 8414753UniversityUniversitas SurapatiJl. Dewi Sartika No. 184-A, Cawang,Jakarta Timur 13630,IndonesiaDKI JakartaFax.(021) 8017111Telp.(021) 8094403, Telp.(021) 9119397UniversityUniversitas TarumanagaraJl. Letjen. S. Parman No. 1, Slipi,Jakarta Barat 11440,IndonesiaDKI JakartaFax.(021) 5604478Telp.(021) 5671747UniversityUniversitas TerbukaJl. Cabe Raya, Pondok Cabe – Ciputat,Tangerang 15418 Banten,IndonesiaBantenFax.(021) 7490147Telp.(021) 7490941UniversityUTUniversitas TrisaktiKampus A & B Building,Jl. Kyai Tapa,Jakarta Barat 11440,IndonesiaDKI JakartaFax.(021) 5673001Telp.(021) 5672731, Telp.(021) 5663232, Telp.(021) 5668639UniversityUniversitas Tunas Pembangunan SurakartaJl. Balekambang Lor No. 1,Solo 57139 Jawa Tengah,IndonesiaJawa TengahFax.(0271) 739048, Fax.(0271) 726278Telp.(0271) 739048, Telp.(0271) 726278UniversityUniversitas 17 Agustus 1945 JakartaJl. Sunter Permai Raya No. 1, Sunter Agung Podomoro,Jakarta Utara 14350,IndonesiaDKI JakartaFax.(021) 64717301Telp.(021) 64715666, Telp.(021) 64717302University
  35. 35. Lembaga Psikologi Terapan Universitas IndonesiaUniversitas Indonesia C Building, 2nd Floor,Jl. Salemba Raya No. 4,Jakarta Pusat10430,IndonesiaDKI JakartaFax.(021) 3145077Telp.(021) 3145078, Telp.(021) 3908995, Telp.(021) 3907408Psychology and clinic consultantMagister Manajemen Universitas TarumanagaraJl. Letjen. S. Parman No. 1,Jakarta Barat 11440,IndonesiaDKI JakartaFax.(021) 5655808Telp.(021) 5671747, Telp.(021) 5655807, Telp.(021) 5655809Master education programmeUniversitas Pendidikan Putra IndonesiaJl. Muwardi No. 65,Cianjur 43215 Jawa Barat,IndonesiaJawa BaratFax.(0263) 262604Telp.(0263) 262604School with diplomaFakultas Teknologi Informasi Universitas Teknologi Yogyakarta(UTY)Jl. Ring Road Utara Sendang Adi, Jombor,Sleman 55285 DI Yogyakarta,IndonesiaDI YogyakartaFax.(0274) 623306Telp.(0274) 623308, Telp.(0274) 623310, Telp.(0274) 623314UniversityUniversitas Al Azhar IndonesiaKampus UAI, Masjid Agung Al Azhar Complex,Jl. Sisingamangaraja, Kebayoran Baru,JakartaSelatan 12110,IndonesiaDKI JakartaFax.(021) 7244767Telp.(021) 72792753, Telp.(021) 7244456UniversityUniversitas YarsiJl. Letjen. R. Suprapto, Cempaka Putih,Jakarta Pusat 10610,IndonesiaDKI JakartaFax.(021) 4243171Telp.(021) 4244574, Telp.(021) 4206674, Telp.(021) 4206675University

×