Jurnal lengkap ke blog
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Jurnal lengkap ke blog

on

  • 3,428 views

 

Statistics

Views

Total Views
3,428
Views on SlideShare
3,096
Embed Views
332

Actions

Likes
2
Downloads
77
Comments
1

5 Embeds 332

http://minkarangsaribanyumas.blogspot.com 326
http://beagoodadministrator.blogspot.com 2
http://minkarangsaribanyumas.blogspot.sg 2
http://minkarangsaribanyumas.blogspot.com.es 1
http://www.minkarangsaribanyumas.blogspot.com 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

11 of 1

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Jurnal lengkap ke blog Jurnal lengkap ke blog Document Transcript

    • ISSN 2089-4554 Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN “JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN” Diterbitkan Oleh : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresik Gresik Jendela Volume Nomor Halaman DesemberPendidikan 1 1 1 1-59 2011
    • ISSN 2089-4554 Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN “JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN” DAFTAR ISIPENGARUH PENERAPAN MODEL PENGEMBANGAN INSTRUK-SIONAL TERHADAPMOTIVASI BELAJAR DAN HASIL BELAJAR MATAKULIAH MICROTEACHING PADAMAHASISWA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS GRESIK 1 - 10Siti BarirohPENGARUH EFEKTIVITAS KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN MOTIVASI KERJA GURUTERHADAP KINERJA GURU DI SDN BANJARSARI GRESIK 11 - 18EtiyasningsihPENGARUH PERILAKU KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN KINERJA GURU TERHADAPPENINGKATAN MUTU LULUSAN DI SEKOLAH DASAR NEGERI BANJARSARI KABUPATENGRESIK 19 - 30Sri SundariPENGARUH PERILAKU KEPEMIMPINAN DAN MOTIVASI TERHADAP KINERJA DOSEN DIUNIVERSITAS GRESIK 31 - 39AdrijantiPENERAPAN MODEL PENGEMBANGAN INSTRUKSIONAL (MPI) DAN GAYA BELAJARMAHASISWA, TERHADAP HASIL BELAJAR MATAKULIAH MICROTEACHING PADAMAHASISWA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS GRESIK 40 - 48Siti BarirohANALISIS PENERAPAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) OLEH GURUDALAM PROSES BELAJAR-MENGAJAR DI SD NU REJODADI CAMPUREJO PANCENG GRESIK 49 – 50Eka Srirahayu Ar. Gresik Jendela Volume Nomor Halaman Desember Pendidikan 1 1 1-59 2011 2
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah, sehingga Jurnal Jendela Pendidikan bisa hadir di kalangan pendidikan. Jurnal Jendela Pendidikan berisi tentang sejumlah artikel penelitian baik artikel bersifat empiris atau laporan penelitian maupun artikel yang bersifat kajian teori atau artikel konseptual. Penulis artikel berasal dari kalangan akademisi atau dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresik yang akan dipublish pada para pemangku pendidikan dan masyarakat luas khususnya para pemerhati pendidikan. Hal ini sesuai dengan misi utama keberadaan Jurnal Jendela Pendidikan sebagai media komunikasi dan informasi yang bersifat ilmiah. Kami berharap partisipasi berbagai kalangan baik akademisi, praktisi, maupun birokrasi untuk menulis dalam jurnal ini, sehingga berbagai temuan, pemikiran dan ide serta gagasan dapat terkomunikasi dalam jurnal ini semoga terbitan pertama Jurnal Jendela Pendidikan bermanfaat bagi kita semua. Gresik, Desember 2011 PenulisTerbit dua kali setahun pada bulan Juli dan Desember, bersisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian dan kajian analitis-kritis di bidang administrasi pendidikan 3
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN JENDELA PENDIDIKAN JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN Pelindung Rektor Universitas Gresik Penasehat Dekan FKIP Pimpinan Redaksi Dra. Eka Srirahayu Ar, M.Pd Dewan Redaksi Prof. Dr. H. Sukiyat, SH, M.Si Dr. Soesetijo, M.Pd Dra. Hj. Siti Bariroh, M.Pd Drs. Syaiful Khafid, M.Pd Redaktur Pelaksana Dra. Adrijanti, M.Pd Drs. Agus Tri Sulaksono, M.Pd Etiyasningsih, S.Pd.,M.Pd Sri Sundari, S.Pd., M.Pd Sekretariat Penerbit Ahmad Faizin, SS Alamat Penerbit / Redaksi Kampus Universitas Gresik Jl. Arif Rahman Hakim No. 2B Gresik Telp/Fax (031) 3978628Terbit dua kali setahun pada bulan Juli dan Desember, bersisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian dan kajian analitis-kritis di bidang administrasi pendidikan 4
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PENGARUH PENERAPAN MODEL PENGEMBANGAN INSTRUKSIONAL TERHADAP MOTIVASI BELAJAR DAN HASIL BELAJARMATAKULIAH MICROTEACHING PADA MAHASISWA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS GRESIK Siti Bariroh *)Abstrak, Proses dan hasil belajar dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Berupa bakat,minat, motivasi belajar, tujuan pembelajaran dan sebagainya.Yang tak kalah penting adalahbagaimana Guru mendesain proses belajar mengajar agar meningkatkan motivasi dan hasilbelajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasilbelajar, yang diajarkan dengan menggunakan Model Pengembangan Instruksional dan yangtidak menggunakannya? Dan apakah ada perbedaan motivasi belajar antara yang menerapkanmodel Pengembangan Instruksional dan yang tidak menerapkan? Serta apakah ada pengaruhantara Model pembelajaran instruksional dengan motivasi belajar dan hasil belajar matakuliahmicroteaching mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresik. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik angket dan tes hasil belajar. Analisa datayang digunakan adalah analisis varian (ANAVA) dua jalur, yaitu untuk menguji hipotesa 1,hipotesa 2 dan hipotesa 3. Dari hasil penelitian diketahui adanya perbedaan hasil belajardengan menggunakan MPI dan non MPI, dan perbedaan motivasi belajar antara yangmenerapkan MPI dan yang Non MPI, serta terdapat pula pengaruh antara penggunaan modelpembelajaran Instruksional terhadap motivasi belajar dan hasil belajar. Hasil penelitian ini, dapat direkomendasikan sebagai alternatif model pengembanganpembelajaran, sebagai upaya untuk meningkatkan motivasi belajar mahasiswa danmeningkatkan hasil belajarnya.Keyword : Model Pengembangam Instruksional ( MPI), Motivasi Belajar dan Hasil BelajarPENDAHULUAN strategi penyampaian atau proses pembelajaran. Hasil belajar seseorang, tidak terlepas Dalam aktivitas pengajaran terkan-dari pengaruh berbagai faktor, diantaranya dung aktivitas (1) Merancang pembela-adalah faktor eksternal, yang menyangkut jaran, (2) Menyajikan pembelajaran, (3)pengembangan program pembelajaran dan Mengevaluasi pembelajaran. Ketiganya akan terkait dalam satu proses dan saling*) Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresik 5
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANmempengaruhi terhadap hasil belajar. motivasi di dalam dirinya. Oleh karena itu,Upaya meningkatkan efisiensi dan motivasi tidak bisa dipisahkan dariefektivitas pembelajaran, diperlukan aktivitas belajar. Motivasi berpangkal dariadanya perancangan dan pengembangan kata motiv yang artinya adalah dayamateri pembelajaran, yang merupakan penggerak yang ada di dalam dirifungsi yang sangat penting dalam seseorang untuk melakukan aktivitasteknologi pembelajaran. tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Seels Richey (dalam Amir, 2000) Pada intinya, motivasi merupakanmengatakan bahwa kawasan teknologi kondisi psikologis seseorang untukpembelajaran meliputi: Desain, melakukan sesuatu. Dalam kegiatanpengembangan, pemanfaatan, pengelolaan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagaidan evaluasi. pengembangan desain materi keseluruhan penggerak didalam diri siswapembelajaran microteaching ini adalah yang menimbulkan kegiatan belajar.upaya untuk memenuhi salah satu fungsi Sehingga diharapkan tujuan pembelajaranranah teknologi pembelajaran, yaitu ranah dapat tercapai. Untuk menimbulkanPengelolaan. Dick dan Carey (1990) motivasi belajar, guru berperan besar untukmengungkapkan bahwa Desain materi mengupayakan agar suasana belajarpembelajaran sebaiknya menarik, isinya menyenangkan bagi siswa, dengansesuai dengan tujuan khusus pembelajaran, menerapkan metode yang bervariasi. Salahurutannya tepat, ada petunjuk penggunaan satunya adalah dengan jalan membuatbahan ajar, ada soal latihan, jawaban model pembelajaran yang mampulatihan, test, petunjuk bagi siswa menuju menimbulkan motivasi belajar siswa.kegiatan berikutnya. Keinginan untuk membantu mahasiwa Penggunaan model pengembangan dalam memahami materi matakuliahInstruksional (MPI) didasarkan atas Microteaching, dan untuk memudahkanpemikiran bahwa model ini menggunakan penyampaian bahan ajar kepadapendekatan sistem, dengan langkah mahasiswa secara lengkap dan sistematis,langkah yang lengkap, sehingga dapat serta ingin mengetahui pengaruh desaindigunakan untuk merancang pembelajaran materi pembelajaran berdasarkan Modelbaik untuk pembelajaran klasikal maupun Pengembangan Instruksional (MPI)individual. terhadap motivasi belajar dan hasil belajar Faktor lain yang juga dapat mahasiswa, mendorong peneliti inginmempengaruhi hasil belajar adalah faktor meneliti masalah tersebut. Ada beberapainternal dari dalam siswa/mahasiswa itu alasan utama peneliti memilih masalah ini :sendiri. Salah satu dari faktor internal itu 1) Peneliti terlibat langsung membinaadalah motivasi. Seorang siswa akan matakuliah Microteaching, di Fakultasbelajar dengan baik dan tekun jika ada Keguruan dan Ilmu Pendidikan 6
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN Universitas Gresik. Sehingga atau disebut dengan "real teaching" memungkinkan untuk terlibat langsung (AAllen and Ryan, 1969). Jumlah dalam interaksi dengan mahasiswa. pesertanya berkisar antara 5 sampai 102) Sejauh ini, masalah desain materi orang, ruang kelasnya terbatas, waktu pembelajaran, khususnya di pelaksanaannya berkisar antara 10 sampai Universitas Gresik belum banyak 15 menit, terfokus pada ketrampilan diteliti, sementara peneliti meyakini mengajar tertentu, dan pokok bahasannya bahwa perbaikannya kualitas disederhanakan. Pembelajaran dapat diawali dari Tujuan diselenggarakan nya pengembangan desain pembelajaran. pembelajaran micro menurut T Gilarso,3) Literatur yang berkaitan dengan dibagi dua yaitu untuk melatih kemampuan penelitian ini, cukup mendukung dan ketrampilan keguruan (tujuan umum), peneliti dalam mengkaji landasan dan untuk melatih calon guru supaya landasan teori. trampil dalam membuat desin4) Hasil penelitian akan memberikan pembelajaran, mendapatkan profesi manfaat nyata bagi peneliti sendiri,atau Keguruan dan menumbuhkan rasa percaya pihak lain yang seprofesi dalam usaha diri (tujuan khusus). meningkatkan Kualitas pembelajaran Dwigh Allen, mengatakan, tujuan dalam arti yang luas. microteaching bagi calon Guru adalah : 1) Memberi pengalaman mengajar yangKERANGKA TEORITIS nyata dan latihan sejumlah ketrampilan dasar mengajar. Microteaching diartikan sebagai cara 2) Calon Guru dapat mengembangkanlatihan ketrampilan mengajar dalam ketrampilan mengajarnya sebelumlingkup kecil/ terbatas. MC Laughlin & mereka terjun ke lapangan.Moulton mengemukakan "Microteaching 3) Memberikan kemungkinan bagi calonhas been performent part of teaching guru untuk mendapatkan bermacam-process, so that the traince can master macam ketrampilan dasar mengajar.each component one by one in a simplifed Fungsi microteaching adalah sebagaiteaching situation". sarana latihan dalam mempraktekkan Mc. Knight (1979) mengemukakan ketrampilan mengajar, dan juga sebagai"Microteaching has been described as salah satu syarat bagi mahasiswa yangscaled down teaching encounter desingned akan mengikuti praktek mengajar dito developernya new skill and refine old lapangan ( PPL ). Sasaran akhir yang akanone". Dari pengertian di atas, dapat dicapai dalam microteaching adalahdipahami bahwa microteaching adalah terbinanya calon guru memilikisebuah model pengajaran yang dikecilkan pengetahuan tentang proses pembelajaran, 7
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANserta memiliki sikap dan perilaku baik coba, umpan balik, dan hasilnya. Hal inisebagai seorang guru. diperjelas dengan pendapat Suparman (1997:31). Suatu proses yang sistematikLangkah Langkah Prosedur dalam mengidentifikasikan masalah,Pembelajaran Micro mengembangkan bahan dan strategi Ada lima langkah yang dapat instruksional, serta mengevaluasiditempuh dalam pembelajaran micro yaitu: efektivitas dan efisiensinya dalam1) Pengenalan (pemahaman konsep mencapai tujuan Instruksional. pembelajaran micro) Rohani ( 2004:69) mendefinisikan2) Penyajian model dan diskusi pengertian desain pengajaran sebagai3) Perencanaan/persiapan mengajar suatu pemikiran atau persiapan untuk4) Praktek mengajar melaksanakan tugas mengajar / aktivitas5) Diskusi feed back / umpan balik. pengajaran dengan menerapkan prinsip prinsip pengajaran melalui langkahMODEL PENGEMBANGAN langkah pengajaran, perencanaan,INSTRUKSIONAL pelaksanaan dan penilaian, dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran yang telah Beberapa definisi mengenai desain ditentukan.pembelajaran adalah antara lain Reigeluth Pengertian Desain Pembelajaran(1983:7) dalam Boy Soedarmadji, 2002) Model Pembelajaran Instruksional (MPI)menyatakan bahwa desain pembelajaran adalah : Suatu bentuk model pembelajaranlebih memperhatikan pada pemahaman, yang menunjukkan urutan kegiatan yangpengubahan, dan penerapan metode ditempuh orang dalam mendesain sistemmetode pembelajaran. Hal ini menga- Instruksional, yang terdiri dari 8 langkah,rahkan kita, bahwa sebagai seorang yaitu menentukan kebutuhan Instruksionalprofesional, maka kita mempunyai tugas umum, dan merumuskan tujuan umum,untuk memilih dan menentukan metode melakukan analisis Instruksional, meng-apa yang dapat dipergunakan, dan identifikasi perilaku dan karakteristik awalmempermudah penyampaian bahan ajar, mahasiswa, merumuskan TIK, menulis tesagar dapat diterima dengan mudah oleh acuan patokan, menyusun strategi instruk-siswa. sional, mengembangkan bahan instruksio- Lebih lanjut, Shaner dalam Suparman nal, mendesain dan melaksanakan sistem(1997:29) menyatakan bahwa desain Instruksional.instruksional adalah perencanaan secaraakal sehat untuk mengidentifikasi masalahtersebut, dengan menggunakan suaturencana terhadap perencanaan, evaluasi, uji MOTIVASI BELAJAR 8
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN Menurut Davies (1970), Motivasi 3) Menyukai tugas tugas yang tingkatadalah kekuatan yang tersembunyi di kesulitannya sedang.dalam diri kita untuk berkelakuan dan 4) Tidak suka membuang waktu, aktif danbertindak dengan cara yang khas. lebih suka kerja sama dengan yangSedangkan menurut MC. Donald dalam lebih cakap.buku Syaiful Bahri (1991), motivasi adalahsuatu perubahan energi dalam diri Dari definisi-definisi yang dikemu-seseorang yang ditandai dengan kakan oleh berbagai ahli, penulismunculnya feeling dan didahului dengan menyimpulkan bahwa motivasi berprestasitanggapan terhadap adanya tujuan. dalam belajar adalah daya penggerakMenurut Handoko (1995), motivasi adalah dalam melakukan suatu tindakan untuksuatu tenaga yang terdapat dalam diri mencapai hasil belajaryang lebih tinggimanusia yang menimbulkan, mengarahkan dari hasil yang pernah dicapai sebelumnya.dan mengorganisasikan tingkah lakunya. Pengaruh model pengembangan Ad Rooijakkers (1991) dalam Basuki instruksional, terhadap motivasi belajar(2002:33) menyatakan bahwa "Dalam dan hasil belajar adalah bahwa untukbelajar memang dibutuhkan motivasi menimbulkan motivasi balajar bagi murid,tertentu. Untuk itu ada berbagai macam maka harus ada rasa tertarik dan rasa inginmotivasi. Tetapi motivasi berprestasi tahu, merasa membutuhkan dan sesuaimerupakan motivasi terpenting. Kalau dengan keinginannya sehinggaseorang murid ingin lulus dalam ujian, ia menyebabkan termotivasi untuk belajar.akan berusaha dapat mengerti apa yang Membuat model suatu pengajaran yangdiajarkan oleh pengajar. Bila murid tidak disesuaikan dengan minat murid sertamempunyai motivasi belajar, maka sesuai dengan kondisi setempat, danpengajar hendaknya berusaha sedemikian menarik perhatian serta keaktifan muridrupa, agar bisa menimbulkan motivasi terlibat dalam proses pengajaran,yang dibutuhkan". diharapkan mampu menimbulkan motivasi Ciri-ciri orang yang mempunyai belajar, dan selanjutnya bisa meningkatkanmotivasi berprestasi , diuraikan oleh hasil belajarnya. MPI disusun sedemikianHekckahusen (dalam Haditomo, 199:26- rupa, dan melalui beberapa langkah yang30), bahwa ciri ciri orang yang bermotivasi bisa dilakukan bersama antara guru dantinggi adalah : siswa, membuat siswa aktif dan1) Berorientasi pada keberhasilan, dan termotivasi untuk belajar, sehingga dapat lebih percaya diri dalam menghadapi mempengaruhi hasil belajar siswa. tugasnya.2) Bersikap mengarah pada tujuan dan berorientasi pada masa datang. 9
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANHASIL BELAJAR Skor ( nilai) hasil belajar mahasiswa Dalam membicarakan pengertian hasil pada matakuliah Microteaching ini,atau prestasi belajar, tidak terlepas dari ditentukan denganpengertian belajar, karena hasil belajar Ujian Tengah Semester (M), Tugas (T),merupakan hasil perubahan yang dialami dan Ujian Akhir (A). ditetapkan dengandalam peristiwa belajar. rumus:Menurut WJS Purwadarminta, dalam N=Kamus Bahasa Indonesia menyatakanbahwa belajar adalah berusaha, berlatihdan sebagainya, untuk mendapatkankepandaian. METODE PENELITIAN Hasil belajar adalah kemampuan yangdiperoleh seorang pembelajar dari proses Rancangan Penelitianbelajar yang ditempuh di suatu sekolah Penelitian ini merupakan jenisatau lembaga pendidikan, yang diperoleh penelitian kuantitatif, yaitu untukmelalui evaluasi belajar. membuktikan hipotesis yang telah dibuat penulis. Penelitian ini, menggunakan 3Hasil Belajar Matakuliah Microteaching variabel, yaitu desain model pembelajaran MPI, sebagai variabel bebas. Sedangkan Tujuan umum mata kuliah Motivasi belajar dan Hasil belajar sebagaiMicroteaching adalah mempersiapkan varaiabel terikat.mahasiswa calon guru untuk menghadapi Rancangan ini dimaksudkan untuktugas mengajar sepenuhnya di depan kelas mengetahui perbedaan hasil belajar antaradengan memiliki pengetahuan, yang menggunakan model pembelajaranketrampilan, kecakapan, dan sikap sebagai Intruksional dan yang tidak menggunkan,guru yang profesional. dan juga untuk mengetahui apakah model Sedangkan tujuan khususnya adalah: pengajaran yang telah diterapkan,1) Menganalisa tingkah laku mengajar mempengaruhi motivasi belajar dan hasil kawan kawan nya dan dirinya sendiri. belajar mahasiswa.2) Dapat melaksanakan ketrampilan Kegiatan penelitian terdiri dari, (1) khusus dalam mengajar. memberikan angket motivasi belajar, (2)3) Dapat mempraktekkan berbagai teknik pengelompokan subyek, (3) perlakuan dan mengajar dengan benar dan tepat. pemberian test dan ujian praktek. Ada 24) Dapat mewujudkan situasi belajar kelompok belajar yang menjadi fokus mengajar yang efektif, produktif dan kajian dalam penelitian ini, yaitu yang efisien. diajar dengan menerapkan model5) Dapat bersifat profesional keguruan. 10
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANpembelajaran dan yang tidak menggunakan 2. Menghitung derajat kebebasan total,model. antara A,B dan interaksi AB dan dalamPopulasi dan Sampel kelompok Sebagai populasi dalam penelitian ini 3. Menghitung rata rata kuadrat antar A,adalah mahasiswa semester VII, FKIP B, dan AB dan dalam kelompok.Universitas Gresik, angkatan 2006, tahun 4. Menghitung rasio F (A, B, dan AB).akademik 2009/2010 kelas A,B denganjumlah 155 mahasiswa. Adapun Sampel HASIL PENELITIANdalam penelitian ini adalah sebanyak 70mahasiswa, diambil secara random Uji Normalitassampling dengan cara undian. Uji normalitas sebaran skor, dilakukan terhadap hasil belajar matakuliahTeknik Pengumpulan Data microteaching dengan menggunakan Data mengenai gaya belajar didapat model pengembangan Instruksional, dandari hasil angket motivasi belajar, dan hasil tanpa menggunakan model pengembanganbelajar didapat dari hasil test ujian tertulis Instruksional, dengan Kolmogorov-maupun ujian praktek microteaching. Smirnov. Hasil perhitungan uji normalitas sebaran skor variabel adalah normal, atauTeknik Analisa Data memenuhi persyaratan normalitas. Uji prasyarat analisis, sebelum Hasil belajar dengan MPI, N = 0,773.dilakukan analisa data, terlebih dulu P = 0,589. Signifikan 5% = 0,025dilakukan uji prasyarat analisis yang (normal). Hasil belajar dengan non MPI, Nmeliputi : a) uji normalitas data sampel, = 0,921, P = 0, 384. Signifikan 5% = 0,025dan b) uji homogenitas sampel. Uji (normal).Hipotesis, dilakukan analisa data yangdiperoleh dari hasil penelitian, dengan Uji Homogenitasmenggunakan metode statistik, yaitu Residu skor variabel terikat untuk tiapmetode pengolahan data kuantitatif untuk skor variabel bebas sudah homogen. Hasilmengetahui perbedaan hasil tes. Analisis belajar dengan MPI, Nilai = 0,653. P =yang digunakan adalah metode statistik 0,422, Signifikan 5% = 0,05. (homogen).Analisis Varians (ANAVA) dua jalur,dengan rumus sebagai berikut : Pengujian Hipotesa1. Menghitung jumlah kuadrat total, antar 1. Terdapat perbedaan hasil belajar A, antar B, interaksi AxB dan dalam menggunakan MPI dan yang Non MPI. kelompok. Diperoleh F hitung = 7,629, probabilitas sebesar 0,001 lebih kecil dari a = 0,05. 11
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN2. Terdapat perbedaan motivasi belajar, 2. Hasil penelitian tentang penggunaan yang diajarkan dengan menggunakan Model Pengembangan Instruksional model pengembangan Instruksional (MPI) dan yang non MPI, dan yang non MPI, matakuliah membedakan motivasi belajar Microteaching. Diperoleh F hitung = mahasiswa FKIP Unigres. Nilai 5,980 , sedang probabilitas sebesar motivasi belajar matakuliah 0,004 lebih kecil a = 0,05. Microteaching tanpa menggunakan3. Terdapat pengaruh penerapan model MPI, memiliki rentangan antara119 pembelajaran instruksional terhadap sampain 144, dengan nilai rata rata motivasi belajar dan hasil belajar sebesar 129, 69, nilai tengah sebesar matakuliah Microteaching. Diperoleh F 130,00, dan nilai modus sebesar 127. hitung = 3,311, dengan nilai probabi- Sedangkan simpangan baku sebesar litas sebesar 0,043 lebih kecil dari α = 4,951. Hasil perhitungan F hitung = 0,05. 5,980, P = 0,004, α = 0,05. Dengan demikian dapat dikatakan adaPEMBAHASAN HASIL PENELITIAN perbedaan motivasi belajar, antara yang diajarkan dengan menggunakan MPI1. Pembahasan tentang perbedaan hasil dan yang tidak menggunakan MPI, belajar yang diajarkan dengan MPI dan dengan taraf signifikan 5%. Non MPI matakuliah Microteaching 3. Hasil penelitian tentang terdapat pada mahasiswa FKIP Universitas pengaruh pengunaan MPI terhadap Gresik. Hasil perhitungan yang motivasi belajar mahasiswa dan hasil diperoleh (F hitung = 7,629, P = 0,001, α belajar mahasiswa matakuliah = 0,05) maka dapat dikatakan bahwa Microteaching. Hasil perhitungan F ada perbedaan hasil belajar yang hitung = 3,311 dengan P = 0,043, dan α= diajarkan dengan MPI dan Non MPI, 0,05. Dengan demikian dapat dikatakan matakuliah Microteaching FKIP ada pengaruh penggunaan Model Unigres, diterima dengan taraf Pengembangan Instruksional terhadap signifikansi 5%. Hasil analisis statistik motivasi belajar dan hasil belajar juga menunjukkan bahwa mahasiswa matakuliah Microteaching mahasiswa yang diajar dengan MPI, nilai rata rata FKIP Universitas Gresik. 75,26 lebih baik dari pada yang diajar dengan Non MPI. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembelajaran matakuliah Microteaching dengan MPI KESIMPULAN dapat meningkatkan hasil belajar 1. Ada perbedaan Hasil Belajar, yang mahasiswa. diajarkan dengan Model Pengem- 12
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN bangan Instruksional (MPI) dan yang 4. Sebagai tindak lanjut, kiranya perlu non MPI matakuliah Microteaching diadakan kajian atau penelitian lebih pada mahasiswa FKIP Universitas lanjut, dan dengan sasaran yang lebih Gresik. luas, agar model ini benar benar bisa2. Terdapat perbedaan Motivasi Belajar, dilakukan oleh siapapun dan di antara yang diajarkan dengan wilayah manapun. menggunakan Model Pengembangan Instruksional dengan yang non MPI matakuliah Microteaching pada DAFTAR PUSTAKA mahasiswa FKIP Universitas Gresik.3. Ada pengaruh antara Model Anto Dajan, 1986. Pengantar metode Pengembangan Instruksional ( MPI) statistik II, Jakarta, LP3ES. terhadap motivasi belajar dan hasil Arief S. Sudiman, Dkk, 1997, Media belajar matakuliah Microteaching Pendidikan DIKBUD dan CV mahasiswa FKIP Universitas Gresik. Rajawali, Jakarta. Atwi Suparman, 1997. ProgramSARAN Pengembangan Ketrampilan Dasar Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat Teknik Instruksional (PEKERTI)penulis ajukan saran saran sebagai berikut: untuk Dosen Muda, Dirjen DIKTI1. Model Pengembangan Instruksional Jakarta. (MPI) direkomendasikan sebagai alter- Degeng, INS, 1989, Ilmu Pengajaan; natif model pengembangan bahan Taksonomi Variabel, Jakarta, bahan pembelajaran. P2LPTK.2. Proses pembelajaran hendaknya lebih Degeng, INS, 1997, Strategi mengupayakan cara cara yang terbaik Pembelajaran: Mengorganisasi Isi untuk menimbulkan motivasi siswa Pembelajaran dengan Model dalam belajar. Mengingat bahwa Elaborasi. Desertasi Bahasan motivasi merupakan faktor penting Tentang Temuan Penelitian, Malang, untuk keberhasilan belajar siswa. IKIP Malang.3. Para Guru dan semua yang terlibat Deporter, B, dan Hernacki, M, 2002, dalam pembelajaran, hendaknya lebih Quantum Learning (Terjemahan), Trampil dalam mendesain pembela- Bandung: Kaifa. jaran, supaya pembelajaran jadi Diadakan, Syaiful Bahri, 1991, Prestasi menarik, tidak membosankan, dan bisa Belajar dan Kompetensi Guru, menumbuhkan motivasi berprestasi Surabaya, Penerbit usaha Nasional. siswa, sehingga akan menghasilkan prestasi siswa yang maksimal. 13
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANNasution,1992, Berbagai Pendekatan Undang Undang no 20 tahun 2003, dalam Proses Belajar dan Mengajar, tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta, Bina Aksara. Internet.Riyanto,Y,1996, Metodologi Penelitian Yusufhadi Miarso, dkk, 1984, Teknologi Pendidikan, Suatu Tinjauan Dasar, Komunikasi Pendidikan, Jakarta, Bandung, SIC. Pustekom DIKBUD dan CV Rajawali.WRohani , Ahmad 2004, Pengelolaan Pengajaran, Jakarta, Rineka Cipta. 14
    • ISSN 2089-4554 Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN “JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN” Diterbitkan Oleh : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresik Gresik Jendela Volume Nomor Halaman DesemberPendidikan 1 15 1 1-59 2011
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PENGARUH EFEKTIVITAS KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN MOTIVASI KERJA GURU TERHADAP KINERJA GURU DI SDN BANJARSARI GRESIK Etiyasningsih*)Abstrak, Kepala sekolah sebagai pemimpin tertinggi di sekolah, dituntut untuk menjalankankepemimpinan yang mampu menciptakan semangat kerja guru yang tinggi, agar kinerja gurumenjadi lebih baik. Salah satu kunci keberhasilan dalam upaya meningkatkan kinerja yangharus dimiliki guru adalah motivasi. Motivasi tersebut bukan hanya untuk pengembangan diri,tapi juga partisipasi guru dalam organisasi. Palmer berpendapat bahwa motivasi instrinsikmaupun ekstrinsik sangat diperlukan untuk mendorong peningkatan penampilan guru.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan Kepala Sekolah danmotivasi kerja terhadap kinerja guru. Jenis penelitian ini adalah regresi, dengan populasi seluruh guru di SDN BanjarsariGresik. Sampel diambil dengan teknik total sampling dan diperoleh responden sebanyak 25orang. Data dikumpulkan dengan kuesioner, observasi dan dokumentasi. Uji hipotesismenggunakan uji regresi linear berganda untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan KepalaSekolah dan motivasi kerja terhadap kinerja guru. Hasil penelitian menunjukkan kepemimpinan kepala sekolah, motivasi kerja guruadan kinerja guru di SDN Banjarsari Gresik tergolong cukup baik mendekati baik. Uji regresilinear berganda menunjukkan thitung > ttabel untuk kedua variabel yaitu 4,810 > 2,021 dan 3,064> 2,021 serta Fhitung > Ftabel (25,468 > 19,000) berarti terdapat pengaruh signifikan secaraparsial maupun simultan kepemimpinan kepala sekolah dan motivasi kerja guru terhadapkinerja guru di SDN Banjarsari Gresik. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan kepala sekolah lebih meningkatkan efektifitaskepemimpinannya berkaitan dengan tingginya pengaruh kepemimpinan kepala sekolahdengan kinerja guru. selain itu kepala sekolah sebagai motivator hendaknya lebihmemperhatikan kebutuhan motivasi guru agar guru dapat meningkatkan kinerjanya. Dan bagipara guru hendaknya dapat lebih memotivasi diri untuk meningkatkan kinerjanya.Kata kunci : Kepemimpinan Kepala Sekolah, Motivasi Guru, Kinerja Guru Di lingkungan dunia pendidikan ditetapkan. Lembaga pendidikan formalbanyak ditemui usaha kerjasama sejumlah adalah salah satu bentuk kerjasama diorang untuk mencapai tujuan yang sudah lingkungan pendidikan yang bersifat*) Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresik 16
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANsengaja, berencana, dan sistematis. Sekolah motivasi, dan mengarahkan orang-orang diadalah lembaga pendidikan formal sebagai dalam organisasi/lembaga pendidikanwadah untuk mencapai tujuan pembangun- tertentu untuk mencapai tujuan yang telahan nasional. Keberhasilan tujuan pendidik- dirumuskan sebelumnya. Untukan di sekolah tergantung pada sumber daya mewujudkan tugas tersebut setiapmanusia yang ada di sekolah tersebut, yaitu pemimpin pendidikan harus mampukepala sekolah, guru, siswa, tenaga bekerja sama dengan orang-orang yangadmistrasi dan tenaga kependidikan yang dipimpinnya (working within) untuklainnya. Disamping itu harus ditunjang memberikan motivasi agar melakukandengan sarana dan prasarana yang pekerjaan secara ikhlas. Mantja (2010 : 49)memadai. Meskipun pada umumnya menyatakan bahwa kepala sekolah dituntutpengembangan sekolah diutamakan pada untuk menjalankan kepemimpinan yangpenambahan fasilitas fisik (yang segara mampu menciptakan semangat kerja gurunampak hasilnya dari luar dan mudah yang tinggi. Semangat kerja guru yangdinilai), namun pengembangan personal tinggi itu tentunya dimaksudkan untuktetap perlu mendapatkan prioritas. menunjang terwujudnya tujuan organisasiPimpinan sekolah yang dalam hal ini sekolah.adalah Kepala Sekolah, seyogyanya Guru merupakan salah satu komponenmemberikan perhatian tentang pengem- yang sangat menentukan untukbangan personalnya untuk memajukan terselenggaranya proses pendidikan.sekolah yang dipimpinnya agar mampu Keberadaan guru merupakan pelaku utamabersaing dengan satuan pendidikan yang sebagai fasilitator penyelenggaraan proseslain. belajar siswa. Oleh karena itu kehadiran Setiap sekolah mempunyai kekhusus- dan profesionalismenya sangat berpenga-an yang merupakan akibat dari kepemim- ruh dalam mewujudkan programpinan kepala sekolah yang sifatnya unik pendidikan nasional. Guru harus memilikikarena kepala sekolah harus memahami kualitas yang cukup memadai, karena gurukarasteristik sekolah yang dipimpinnya merupakan salah satu komponen mikrosehingga dapat memanfaatkannya untuk sistem pendidikan yang sangat strategismelaksanakan tugas ke kepala sekolahan- dan banyak mengambil peran dalam prosesnya dengan baik. Kepala sekolah merupa- pendidikan persekolahan (Suyanto dankan salah satu pemimpin pendidikan yang Hisyam, 2000:27).akan membawa sekolah yang dipimpinnya Salah satu kunci keberhasilan dalammencapai tujuan yang telah ditetapkan. upaya meningkatkan kualitas yang harusHadari Nawawi (1994: 82) mengemukakan dimiliki guru adalah motivasi dari guru itu: Kepemimpinan pendidikan adalah proses sendiri. Walaupun tidak mudah mengubahmenggerakan, mempengaruhi, memberikan dan menimbulkan motivasi personal guru, 17
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANnamun bagi Kepala Sekolah hal tersebut diidentifikasikan melalui tiga cara yaitu (1)merupakan tugas penting yang harus keperluan memperoleh sertifikat, (2)ditangani. Motivasi tersebut bukan hanya pengembangan profesional, teknikal danuntuk pengembangan diri, tapi juga pengembangan umum, dan (3) melaluipartisipasi guru dalam organisasi. Palmer pendidikan lanjutan.berpendapat bahwa motivasi instrinsik Syah (1999:229) menyatakan bahwamaupun ekstrinsik sangat diperlukan untuk “Guru yang berkualitas adalah guru yangmendorong peningkatan penampilan guru. berkompetensi, yang berkemampuan untukPalmer mengatakan : The impetus may melaksanakan kewajibannya secaracome from rule enforcement (making bertanggungjawab dan layak”. Tanggungparticipation in-inservice program a jawab guru dalam mendidik siswanyarequirement of the job) or from rewards menyangkut berbagai aspek yaituthat are valued by participation but do not menyangkut tujuan, pelaksanaan, penilaianstem from improved performance (such as dan termasuk umpan balik daribonuses, increment, certificates, etc). penyelenggaraan tugas tersebut.Orang-orang yang menginginkan atau Sedangkan Ani M Hasan (2003:5)bermotivasi tinggi untuk memperoleh menjelaskan bahwa guru profesional haruspengembangan adalah orang-orang yang memenuhi beberapa kriteria, antara lain (1)belum mencapai kepuasan dalam mempunyai komitmen terhadap siswa danmemenuhi kebutuhan dasarnya, atau belum proses belajarnya, (2) menguasai secaramerasa puas bagi kebutuhan untuk tingkat mendalam bahan/mata pelajaran yangdiatasnya. Namun selanjutnya Palmer diajarkan serta cara mengajarnya kepadamengatakan The impetus for improvement siswa, (3) bertanggung memantau hasilmay come from a disire to do a better job belajar siswa melalui berbagai caraof teaching (counselling,administering, evaluasi, (4) mampu berfikir sistematisetc). Intrinsically motivated teachers tentang apa yang dilakukan dan belajarderive satisfaction directly from the dari lingkungan profesinya. Guruperformance of their duties. Motivasi profesional tidak hanya dituntut untukinstrinsik maupun ekstrinsik belum tentu menguasai bidang ilmu, bahan ajar, metodebererti bagi seseorang, bagaimanapun pembelajaran, memotivasi peserta didik,kualitas orang tersebut. Yang penting memiliki ketrampilan yang tinggi dandipertimbangkan dalam pengembangan wawasan yang luas terhadap duniatetap diserahkan pada individu masing- pendidikan, tetapi juga harus memilikimasing, apa yang menurutnya diperlukan pemahaman yang mendalam tentangsaat ada kesempatan. hakikat manusia, dan masyarakat. Hakikat- Finch berpendapat bahwa motivasi hakikat ini yang akan melandasi pola pikirpersonal untuk mengembangkan diri dapat 18
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANdan budaya kerja guru serta loyalitas Motivasi Kerja Guru Terhadap Kinerjaterhadap profesi pendidikan. Guru di SDN Banjarsari Gresik”. Permasalahan guru di Indonesia Berdasarkan hal tersebut di atas, makalangsung atau tidak langsung berkaitan diambil suatu rumusan masalah untukdengan profesionalisme guru yang belum penelitian ini, yaitu : (1) apakahmemadai, sehingga perlu diselesaikan kepemimpinan Kepala Sekolahsecara komprehensif menyangkut semua mempunyai pengaruh parsial terhadapaspek yaitu kesejahteraan, kualifikasi, kinerja guru? (2) apakah motivasi kerjapembinaan, perlindungan profesi dan mempunyai pengaruh parsial terhadapadministrasinya. Faktor-faktor lain yang kinerja guru? (3) apakah kepemimpinanmenyebabkan rendahnya profesionalisme Kepala Sekolah dan motivasi kerja secaraguru antara lain disebabkan oleh : (1) bersama-sama mempunyai pengaruhmasih banyak guru yang tidak menekuni terhadap kinerja guru ?profesinya secara utuh, (2) belum adanya Merujuk kepada asumsi-asumsistandar profesional guru, (3) kemungkinan penelitian tersebut, maka hipotesis untukdisebabkan oleh adanya lembaga penelitian ini adalah sebagai berikut: (1)pendidikan yang mencetak guru asal jadi kepemimpinan kepala sekolah berpengaruhatau setengah jadi tanpa secara parsial terhadap kinerja guru, (2)mempertimbangkan outputnya setelah motivasi kerja guru berpengaruh secaradilapangan, (4) kurangnya motivasi guru parsial terhadap kinerja guru, (3) Kepe-dalam meningkatkan kualitas diri. mimpinan kepala sekolah dan motivasi Berdasarkan kondisi tersebut, maka kerja guru berpengaruh secara berama-sedikitnya terdapat dua katagori sama terhadap kinerja guru.kompetensi yang harus dimiliki guru,yakni (1) kompetensi profesional yaitu METODEkemampuan merancang, melaksanakan dan Dalam penelitian ini populasinyamenilai tugas sebagai guru, yang meliputi adalah guru di lingkungan SDN Banjarsaripenguasaan ilmu pengetahuan dan Gresik, sedangkan jumlah populasinyateknologi pendidikan, (2) kompetensi sebanyak 25 orang dan merupakan jumlahpersonal yang meliputi etika, moral, sampel.pengabdian, kemampuan sosial dan Variabel yang diteliti adalah (1)spiritual. variabel bebas adalah : kepemimpinan Berdasarkan latar belakang permasala- kepala sekolah (X1) dan motivasi kerjahan yang telah diuraikan tersebut maka (X2) , (2) variabel terikat adalah Kinerjapenulis tertarik untuk melakukan penelitian guru (Y). Sedangkan metode pengumpulanyang berjudul “Pengaruh Efektivitas data dengan menggunakan metode angket.Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Untuk instrumen kepemimpinan kepala 19
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANsekolah, instrumen motivasi kerja dan Pengujian Hipotesisinstrumen kinerja guru. Dalam 1) Pengujian secara simultan/ serempakmengumpulkan data ini digunakan skala (uji F)Likert untuk mengukur sikap, pendapat Pengujian integritas dilakukan dengandan persepsi seseorang atau kelompok menggunakan uji F dimana tingkatorang dengan bobot skor mulai dari 1 kepercayaan α = 0,05 dengan nilai kritis :sampai dengan 5. F (α ; k ; n - k -1) sedangkan kriteria :Fhit > Ftab , maka Ho ditolakKisi-kisi Angket Penelitian Efektivitas Rumus uji F : F = R2 ( N – k - 1)Kepemimpinan Kepala Sekolah k(1 – R2) No Dimensi Item 2) Pengujian secara Parsial (Uji t) 1 Kepemimpinan berorientasi 1-15 Dalam pengujian hipotesis ini level pada tugas (initiating signifikansi yang digunakan sebesar (5%) structure) a Coefficients Unstandardized Standardized 2 Kepemimpinan berorientasi 16-30 Coefficients Coefficients Correlations Model B Std. Error Beta t Sig. Zero-order Partial Part pada consideration 1 (Constant) Kepemimpinan 1,950 ,367 5,317 ,000 ,373 ,078 ,608 4,810 ,000 ,755 ,716 ,563 Kepala SekolahInstrumen Angket penelitian Motivasi Motivasi Kerja Guru ,289 ,094 ,388 3,064 ,006 ,617 ,547 ,359 a. Dependent Variable: Kinerja GuruGuru No Dimensi Item dengan derajat kebe-basan sebesar n – 1. 1. Motivasi eksternal 1-18 Sedangkan kriteria : Jika t hit > t tab , maka 2. Motivasi internal 19-30 Ho ditolak Uji koefisien korelasi parsial dapat dihitung dengan rumus :Instrumen Angket penelitian Kinerja Guru t hitung = √ r² (n-3) No Dimensi Item (1 - r²) 1. Kompetensi kepribadian 1-6 guru HASIL DAN ANALISA DATA 2. Kompetensi profesional 7-24 Berdasarkan rumusan masalah dan guru tujuan dari penelitian, maka dari hasil 3 Kompetensi sosial guru 25-30 pengumpulan data yaitu : Efektivitas Kepemimpinan kepala sekolah (X1), Motivasi (X2) dan Kinerja guru (Y) dapatTEKNIK ANALISIS DATA dilihat pada tabel di bawah ini :Teknik analisis data yang digunakan dalampenelitian ini :Regresi Ganda : Y = a + b1 X1 + b2 X2 20
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANNo (X1) (X2) (Y) No (X1) (X2) (Y) mengalami penurunan. Jadi dapat 1 127 115 114 14 86 81 119 disimpulkan bahwa hubungan yang searah 2 96 126 103 15 91 73 120 .antara variabel bebas X1 dan X2 dengan 3 80 94 109 16 78 75 108 variabel terikat Y. 4 81 73 110 17 70 72 120 5 88 64 105 18 96 76 121 b. Pengujian Hipotesis 6 88 78 119 19 106 86 133 1) Pengujian secara parsial 7 70 80 102 20 105 84 134 Ho : Kepemimpinan kepala sekolah tidak 8 107 82 125 21 94 88 129 berpengaruh secara parsial terhadap 9 71 75 107 22 96 94 137 Kinerja Guru di SDN Banjarsari 10 76 89 114 23 92 90 142 11 75 66 109 24 107 101 143 Ha : Kepemimpinan kepala sekolah 12 95 81 116 25 95 97 142 berpengaruh secara parsial terhadap 13 91 77 118 Kinerja guru di SDN Banjarsari Dengan menggunakan SPSS versi 11.0Analisis Hipotesis hasil uji t dapat menunjukkan bahwa Hasil analisis mengenai koefisien variabel kepemimpinan kepala sekolahmodel regresi ANOVAbadalah seperti yang Sum oftercantum dalam Model Squares df Mean Square F Sig.tabel berikut ini. 1 Regression 1,717 2 ,858 25,468 ,000 a Residual ,742 22 ,034 Berdasarkan Total 2,458 24tabel tersebut, a. Predictors: (Constant), Motiv asi Kerja Guru, Kepemimpinan Kepala Sekolah b. Dependent Variable: Kinerja Gurumaka model regresiyang diperoleh adalah sebagai berikut : memiliki nilai thitung = 4,810 sedangkan Y = 1,950 + 0,373 + 289 X2 ttabel pada taraf signifikansi 5% adalah = Dari persamaan tersebut dapat dilihat 2,021. Dikarenakan thitung > ttabel (4,810 >bahwa nilai koefisien regresi untuk 2,021), maka Ha diterima, artinyakepemimpinan kepala sekolah lebih besar kepemimpinan kepala sekolah secaradaripada koefisien regresi untuk motivasi. statistik berpengaruh terhadap kinerja guru.Dengan demikian dapat diketahui bahwa Sedangkan untuk mengetahui apakahjika kepemimpinan dan motivasi variabel bebas motivasi (X2) berpengaruhmengalami suatu peningkatan atau secara parsial terhadap variabel terikatsemakin baik, maka kinerja guru juga yaitu kinerja dosen (Y) yaitu :akan mengalami peningkatan, sebaliknya Ho: Motivasi tidak berpengaruh secarajika kepemimpinan kepala sekolah dan parsial terhadap Kinerja guru di SDNmotivasi kerja mengalami suatu Banjarsaripenurunan, maka kinerja guru juga akan 21
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANHa : Motivasi berpengaruh secara parsial guru, kepemimpinan kepala sekolah, dan terhadap Kinerja Guru di SDN motivasi kerja guru di SDN Banjarsari Banjarsari Gresik tergolong cukup baik. (2) terdapatDengan menggunakan SPSS versi 11.0 pengaruh signifikan kepemimpinan kepalaSedangkan variabel motivasi memiliki sekolah terhadap kinerja guru di SDNnilai thitung = 3,064, sedangkan ttabel pada Banjarsari Gresik (3) terdapat pengaruhtaraf signifikansi 5% adalah = 2,021. signifikan motivasi kerja guru terhadapDikarenakan thitung > ttabel (3,064 > 2,021), kinerja guru di di SDN Banjarsari Gresikmaka Ha diterima. Artinya kinerja guru (4) terdapat pengaruh signifikan secarasecara statistik berpengaruh terhadap bersama-sama kepemimpinan kepalakinerja guru. sekolah dan motivasi kerja guru terhadap kinerja guru di SDN Banjarsari Gresik.2) Pengujian secara serempak Berdasarkan kesimpulan di atas makaHo : Kepemimpinan dan Motivasi tidak saran yang diajukan sebagai berikut : (1) berpengaruh secara bersama-sama hendaknya kepala lebih meningkatkan terhadap Kinerja guru di SDN efektifitas kepemimpinannya berkaitan Banjarsari. dengan tingginya pengaruh kepemimpinanHa : Kepemimpinan dan Motivasi kepala sekolah dengan kinerja guru; (2) berpengaruh secara bersama-sama kepala sekolah sebagai motivator terhadap Kinerja guru di SDN hendaknya lebih memperhatikan kebutuh- Banjarsari. an motivasi guru agar guru dapat meningkatkan kinerjanya; (3) bagi para Hasil pengujian nilai F dapat dilihat guru hendaknya dapat memotivasi diripada gambar berikut. untuk lebih meningkatkan kinerjanya; (4) Dari hasil pengolahan data diperoleh bagi para pengambil kebijakan danFhitung = 25,468, sedangkan Ftabel pada taraf pemerintah agar memperhatikan program-signifikansi 5% dengan df 2 (n=2) adalah program pendidikan yang sesuai dan patutsebesar 19,00. Dikarenakan Fhitung > Ftabel terhadap pengembangan minat motivasi(25,468 > 19,000), artinya kepemimpinan berprestasi dan kinerja guru.kepala sekolah dan motivasi kerja secarabersama-sama berpengaruh terhadap DAFTAR PUSTAKAkinerja guru. Arikunto, Suharsimi. (2003). Prosedur Penelitian, Jakarta : Bina AksaraKESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan Fattah, Nanang. (2000). Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung :pembahasan pada bab sebelumnya dapat PT Remaja Rosdakaryadisimpulkan sebagai berikut : (1) kinerja 22
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANGibson. (1985). Organisasi (Terjemahan). Samana. (1994). Profesionalisme Edisi Ke- Lima, Jakarta : Erlangga Keguruan, Yogyakarta : KanisiusHerrsey, Paul dan Blanchard, K. H. (1977) Syah, Muhibbin. (1999). Psikologi Management of Organization Pendidikan Dengan Pendekatan Behavior New York : Englewood Baru, Bandung : PT Remaja Cliffs RosdakaryaHilmar, Taufik (2002). Kinerja Guru Suyanto dan Hisyam, Djihad. (2000). Madrasah Tsanawiyah Negeri di Refleksi dan Reformasi Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Bandung : di Indonesia Milenium III, Tidak diterbitkan Yogyakarta : Adi CiptaMarwansyah dan Mukaram. (1999). Siagian, Sondang P. (1997). Organisasi Manajemen Sumber Daya Manusia, Kepemimpinan dan Perilaku Bandung : Pusat Penerbit Administrasi Jakarta : PT Gunung Administrasi Niaga Agung.Riduwan (2007). Metode & Teknik Sutarto. (2001). Dasar-Dasar Menyusun Tesis, Bandung : CV Kepemimpinan Administrasi, Alfabeta. Yogyakarta : Gajah Mada University PressSchuler, Randall S. dan Jackson, Susan E. Manajemen Sumber Daya Manusia, Wahyjosumidjo. (1987). Kepemimpinan Menghadapi Abad Ke- 21. Edisi Ke- dan Motivasi, Jakarta : Ghalia Enam, Jakarta : Erlangga IndonesiaSupriadi, Dedi. (2002). Guru di Indonesia, Wijaya, Cece dan Rusyan. (1992). Jakarta : Departemen Pendidikan Kemampuan Dasar Guru Dalam Nasional Republik Indonesia Proses Belajar Mengajar, Bandung : PT Remaja Rosdakarya________ (1998). Mengangkat Citra dan Martabat Guru, Yogyakarta : Yuki, Gary. (1996). Leadership in Adicipta Karya Nusa Organization (Terjemahan). Edisi Ketiga Jakarta : PT Bhuana IlmuSupriadi, Dedi dan Jalal, Fasli. (2001). Populer Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Darah, Jakarta : Adicipta Karya Nusa 23
    • ISSN 2089-4554 Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN “JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN” Diterbitkan Oleh : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresik Gresik Jendela Volume Nomor Halaman DesemberPendidikan 1 1 24 1-59 2011
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PENGARUH PERILAKU KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN KINERJA GURU TERHADAP PENINGKATAN MUTU LULUSAN DI SEKOLAH DASAR NEGERI BANJARSARI KABUPATEN GRESIK Sri Sundari *)Abstrak, Kepala sekolah sebagai pemimpin tertinggi di sekolah, sangat menentukan kemajuansekolah. Kepala sekolah yang profesional umumnya selalu menunjukkan kompetensi kerjayang tinggi dalam mengerjakan tugas-tugas profesional sehari-hari di sekolah. Kemajuansekolah juga tidak lepas dari kinerja guru. Guru yang kreatif akan melahirkan berbagai idekreatif dalam menggunakan metode dan strategi pembelajaran yang variatif, inovatif, danmenyenangkan sesuai dengan kebutuhan belajar serta menciptakan situasi pembelajaran yangtidak menakutkan peserta didik. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh perilakukepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru terhadap peningkatan mutu pendidikan. Jenis penelitian ini adalah regresi, dengan populasi seluruh guru di SDN BanjarsariGresik. Sampel diambil dengan teknik total sampling dan diperoleh responden sebanyak 25orang. Data dikumpulkan dengan kuesioner, observasi dan dokumentasi. Uji hipotesismenggunakan uji regresi linear berganda untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan kepalasekolah dan kinerja guru terhadap peningkatan mutu pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan kepemimpinan kepala sekolah, kinerja guru dan mutupendidikan di SDN Banjarsari Gresik tergolong cukup baik. Berdasarkan hasil penelitiandiharapkan kepala sekolah lebih meningkatkan efektifitas kepemimpinannya berkaitan dengantingginya pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dengan mutu pendidikan, dan para guruhendaknya dapat lebih meningkatkan kinerjanya agar mutu pendidikan lebih baik lagi di masamendatang. Bagi para pengambil kebijakan dan pemerintah agar memperhatikan program-program pendidikan yang sesuai dan patut terhadap pengembangan prestasi kepala sekolahdan guru untuk lebih meningkatkan mutu pendidikan.Kata kunci : Kepemimpinan Kepala Sekolah, Kinerja Guru, Mutu PendidikanPendahuluan aspek kehidupan sekolah seperti disiplin Kepala sekolah merupakan salah satu sekolah, iklim budaya sekolah dankomponen pendidikan yang paling menurunya perilaku nakal peserta didik”.berperan dalam meningkatkan kualitas Melalui kepemimpinan kepala sekolahpendidikan, seperti diungkapkan Supriadi yang produktif, situasi pembelajaran dapat(1998:346) bahwa “Erat hubungan antara dilakukan secara efisien, efektif, menarik,mutu Kepala Sekolah dengan berbagai dan menyenangkan. Hal ini disebabkan*) Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresik 25
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANkarena kepala sekolah yang kreatif akan dan mengembangkan ilmu pengetahuanmelahirkan berbagai ide-ide kreatif dalam dan teknologi. Melatih berartimenggunakan metode dan strategi mengembangkan ketrampilan-ketrampilanpembelajaran yang variatif, inovatif, dan pada siswa. Sedangkan dalam prosesmenyenangkan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran, guru merupakan pemegangbelajar serta menciptakan situasi peran utama, karena secara teknis dapatpembelajaran yang tidak menakutkan menerjemahkan proses perbaikan dalampeserta didik. sistem pendidikan didalam satu kegiatan Kualitas kepala sekolah sebagai dikelasnya. Dengan demikian, setiapmanajer sangat dipengaruhi oleh kinerja peningkatan mutu pendidikan yang(capability) manajerial yang dimiliki diarahkan pada perubahan-perubahandalam upaya menciptakan iklim sekolah kualitatif harus menempatkan guru padayang kondusif sehingga mampu titik sentral karena peranannya sangatmewujudkan dan mengaktualisasikan strategis dan mempunyai tanggung jawabdalam bentuk peningkatan mutu yang besar dalam upaya mewujudkanpendidikan. Kepala sekolah mempunyai tujuan pendidikan nasional.kinerja yang baik adalah kepala sekolah Proses pendidikan tidak akan terjadiyang mempunyai kapasitas intelektual, dengan sendirinya melainkan harusemosional, dan spiritual yang baik serta direncanakan, diprogram, dan difasilitasiberwawasan luas dan futuristik. dengan dukungan dan partisipasi aktif guru Dalam proses pendidikan, guru tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.merupakan salah satu komponen yang Tugas dan tanggung jawab kepala sekolahpenting. Menurut Undang-undang No.14 adalah mengantar dan membawa pesertaTahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal didik ke arah pencapaian tujuan10 bahwa pengertian kompetensi adalah pendidikan. Oleh karena itu, pencapaianseperangkat pengetahuan, ketrampilan, dan tujuan pendidikan sangat bergantung padaperilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan pelaksanaan tugas dan kinerja kepaladikuasai oleh guru dan dosen dalam sekolah di samping kemampuan pesertamelaksanakan tugas keprofesionalan. Bila didik itu sendiri serta dukungan komponenmenyamakan fungsi dan peran dosen sistem pendidikan lainnya. Posisi strategisdengan guru di sekolah, maka sejalan kepala sekolah merupakan salah satu faktordengan pendapat yang dikemukakan oleh penentu kualitas proses dan hasilUsman.M.U (2002:7) bahwa “tugas guru pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikansebagai profesi meliputi mendidik, akan ditentukan oleh sejauh mana kesiapanmengajar, dan melatih. Mendidik berarti kepala sekolah dalam mengarahkan gurumeneruskan dan mengembangkan nilai- dan peserta didiknya melalui kegiatannilai hidup. mengajar berarti meneruskan pembelajaran. Ketika pembelajaran 26
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANberlangsung, guru tidak sekedar perilaku kepemimpinan kepala sekolah danmenyampaikan pelajaran akan tetapi juga kinerja gurumempunyai pengaruh secaramenciptakan suasana belajar yang dialami bersama-sama terhadap peningkatan mutusetiap siswa. Berdasarkan hal tersebut pendidikan Sekolah Dasar Negeri didiatas penulis merasa tertarik untuk lebih Kabupaten Gresik?lanjut meneliti tentang : Pengaruh PerilakuKepemimpinan Kepala Sekolah dan Metode PenelitianKinerja Guru Terhadap Peningkatan Mutu Metode penelitian ini menggunakanLulusan Di Sekolah Dasar Negeri metode survei dengan pendekatanBanjarsari Kabupaten Gresik. kuantitatif melalui korelasi dan analisis Berdasarkan hal tersebut di atas, maka regresi. Analisis ini akan digunakan dalamdiambil suatu rumusan masalah untuk menguji besarnya pengaruh yangpenelitian ini, yaitu : (1) pengaruh perilaku ditunjukkan oleh koefisien korelasi antarkepemimpinan kepala sekolah terhadap variabel Perilaku kepemimpinan kepalapeningkatan mutu Sekolah Dasar Negeri sekolah (X1) Kinerja Guru (X2) terhadapBanjarsari di Kabupaten Gresik (2) adakah mutu pendidikan. Objek penelitiannyapengaruh kinerja guru terhadap adalah guru di Sekolah Dasar Banjarsaripeningkatan mutu Sekolah Dasar Negeri Kabupaten Gresik yang berjumlah 25 guru.Banjarsari di Kabupaten Gresik (3) adakah Teknik pengumpulan data denganpengaruh perilaku kepemimpinan kepala menggunakan studi dokumentasi dansekolah dan kinerja guru terhadap angket. Teknik pengambilan sampel yangpeningkatan mutu pendidikan Sekolah digunakan adalah random sampling, teknikDasar Negeri di Kabupaten Gresik? ini merupakan cara pengambilan sampel Berdasarkan teori diatas dapat disusun tanpa memilih-milih individu yang akansuatu hipotesis yaitu: (1) perilaku dijadikan anggota sampel. Variabel-kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh variabel penelitian yang digunakan adalahterhadap peningkatan mutu Sekolah Dasar (1) Variabel Terikat : Mutu pendidikanNegeri Banjarsari di Kabupaten Gresik; (2) atau mutu sekolah (Y); (2) Variabel bebas:kinerja guru berpengaruh terhadap Perilaku Kepemimpinan Kepala Sekolahpeningkatan mutu Sekolah Dasar Negeri (X1) dan Kinerja Guru (X2).Banjarsari di Kabupaten Gresik; (3)Kisi-Kisi Penelitian Tabel Kisi-kisi Variabel Kepemimpinan Kepala Sekolah (X1) Variabel Dimensi Indikator Sub indikator Fungsi Conceptual a. Progam sekolah 1) Kemampuan untuk merumuskan Kepala skills b. Visi sekolah program sekolah 27
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN Variabel Dimensi Indikator Sub indikatorSekolah c. Ptogam 2) Marumuskan visi sekolahyang meru- pengembangan 3) Kemampuan menganalisis visi kepakan kutikurum misi sekolahcermin dari d. Progam supervise 4) Menyusun progam pengembanganperilaku kurikulumkepemim- 5) Merumuskan progam supervisepinan kelas(x) Human skills a. Berkomunikasi 1) Kemampuan berkomunikasi secara b. Memahami prilaku jelas dengan guru bawahan 2) Kemampuan memahami perilaku c. Kerja sama guru d. Perilaku 3) Kemampuan menciptakan kerja e. Masyarakat belajar sama guru dengan guru 4) Dapat diterima dikalangan guru dam masyarakat 5) Pengen bangan masyarakat belajar Technical a. Metode mengajar 1) Pengetahuan dan penguasaan Skills b. Pengambilan metode mengajar keputusan 2) Proses pengambilan c. Menggerahkan Keputusan bawahan 3) Menggerahkan para guru untuk d. Memberdayakan bekerja giat sarana prasarana 4) Memanfaatkan meemberdayakan e. Mengatasi Konflik sarana sekolah f. Prosedur 5) Penguasaan teknik menangani Kesejahteraan konflik bawahan 6) Pengurusan prosedur kenaikan pangkat guru Educator Mengikuti Meningkatkan kemampuan dengan perkembangan Iptek perkembangan ilmu pengetahuan Adminis- a. Mengelolah 1) Memiliki kelengkapan data Trator administrasi KMB proses belajar mengajar dan BK 2) Data kesiswaan, kegiatan b. Mengelolah ekstrakulikuler administrasi 3) Data tentang uang masuk dan kesiswaan uang keluar c. Mengelolah 4) Data lengkap tentang sarana dan administrasi prasarana 28
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN Variabel Dimensi Indikator Sub indikator keuangan 5) Data surat masuk keluar, serta d. Mengelolah laporan tentang pertanggung administrasi sarana jawaban keuangan dan prasarana e. Mengelolah administrasi persuratan / pelaporan Super visor Supervisi pendidikan Melaksanakan supervise dikelas Leader a. Kepribadian yang 1) Berjiwa besar dan, dan menjadi kuat teladan bagi guru b. Figur pemimpin 2) Fungsi kepal sekolah sebagai figur pemimpin c. Penyebaran dan 3) Fungsi sebagai penyebar dan perantara informasi perantara informasi Inovator a. Menemukan gagasan 1) Mencari dan menemukan gagasan b. Melaksanakan baru secara pembaharuan 2) Melaksanakan pembaharuan di bidang pembelajaran, dan pembinaan guru Motivator a. Lingkungan kerja 1) Mengatur ruang agar lebih (fisik) kondusif b. Susunan Kerja (non 2) Menciptakan hubungan kerja yang fisik) harmonis Tabel Kisi-kisi Variabel Kinerja Guru (X2)Variabel Dimensi Indikator-IndikatorKinerja 1. Pedagonik 1. Dapat mehami dengan baik cirri-ciri peserta didik.Guru (X2) 2. Dapat memahami potensi-potesi anak didik. 3. Dapat mehami teori belajar. 4. Dapat menguasai berbagai model dan strategi pembelajaran. 5. Dapat menguasai cara menerapkan ICT dalam PBM. 6. Dapat menguasai bahasa Indonesia yang baik sebagai medium of instruction yang efektif. 7. Dapat menguasai pendekatan pedagogic dalam permasalahan pembelajaran. 8. Dapat merancang PBM yang komprehensif 9. Dapat menilai kemajuan belajar peserta didik secar total. 29
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANVariabel Dimensi Indikator-Indikator 10. Dapat membimbing anak bila menghadapi persoalan pembelajaran. 11. Dapat menguasai prinsip dn proses PBM. 2. Keperibadian 1. Dapat memiliki komitmen dan kemauan tinggi dalam melakukan tugasnya sebagai guru preofesional. 2. Dapat memiliki rasa kasih sayang kepada peserta didik tanpa membeda bedakan 3. Profesional 1. Mampu menguasai subtansi atau materi atau isi teaching subjects tau mata pelajaran yang menjadi bidang keahlian. 2. Mampu penguasai bagaiman mengolah learning resources yang diperlukan dalam proses belajar mengajar . 3. Mampu menguasai bagaimana mengolah learning resource dari lingkungan hidup sehingga dapat dipergunakan untuk mndukung proses pembelajaran. 4. Mampu menguasai bagaimana menetapkan teknologi informasi dalam upaya meningkatkan evektivitas belajar anak 5. Mampu menguasai bagaimana menyusun rencana pelajarann yang mengemas isi, media tekhnologi dan values dalam stiap proses pembelajaran. 4. Sosial 1. Mampu memahami berbagai factor yang berkonstribusi dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung PBM 2. Dapat mengerti berbagai factor sosila-kultural dan ekonomi yang berkopnstribusi terhadap proses pendidikan peserta didik. 3. Mampu memahami pentingnya hubungan antara sekolah dengan orang tua dan tokoh masarakat ynag berkonstribusi terhadap proses pendidikan anak sekolah. 4. Dapat mengerti nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dan dijunjung tingi oleh masyarakat 5. Mampu memahami pendekatan –pendekatan yang diterapkan disekolah 6. Dapat menguasai dan memahami perubahan-perubahan akibat dampak globalisasi 30
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN Tabel Kisi-kisi variabel Mutu Pendidikan (Y) 1 2 3 Mutu 1. Kebermaknaan proses 1. Dapat merencanakan PBM Pendidikan belajar mengajar 2. Dapat melaksanakan PBM (prestasi) (Y) 3. Dapat mengevaluasi PBM 2. Manajemen sekolah 4. Dapat membuat Renstra dan rencana pengembangan strategis 5. Mengorganisasikan pelaksanaan progam keuangan dan sarana prasarana 3. Efektivitas budaya 6. Mampu mengkondisikan sekolah mendukunguntuk sekolah, (iklim PBM organisasi sekolah 7. Mampu memberi penghargaan bagi siswa yang kondusif) yangberprestasi 8. Siswa mampu mentaati tata tertib aturan sekolah 4. Kepemimpinan kepala 9. Bisa dihubungi dengan mudah sekolah yang kuat 10. Bersikap responsif kepada guru, staf, dan TU 11. Mampu merasionalkan kegiatan antara guru dansiswa 5. Out put sekolah (hasil 12. Mampu membuat standar kelulusan prestasi) yangdirencanakansekolah 13. Dapat berprestasi secara akademik yang telahdicapai tahunterakhir 14. Dapat berprestasi secara nonakademis tahun terakhir 15. Dapat melaksanakan kelulusan siswa tahun terakhir 7. The Administrator 16. Mampu mendesain ruangan (sarana dan prasarana) Production Function 17. Mampu mengatur buku (perpustakaan) yaitu fungsi manajerial 18. Dapat melakukan kualifikasi pendidik yang (administrasi) memungkinkan tercapainya pelaksanaan pendidikan secara efektif. 8. The Psychologists 19. Mampu berbuat disiplin Production Function 20. Mampu berkreatif (PPF) yaitu fungsi 21. Dapat memberikan inovatif sikap produktif 22. Memiliki jiwa kejuangan 9. The Economic 23. Dapat memberikan lulusan yang memiliki Production Function kompetensi tinggi yaitu fungsi ekonomi (ekonomis)Catatan : Konsep operasional kinerja guru dikembangkan dari (pasal 8, UUGD 14/2005 dan Permen Diknas No.13 tahun 2007 tentang Standar Kinerja Kepala Sekolah 31
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANTeknik Analisis Data H diterima apabila –t ≤ t ≤ t 0 tabel hitung tabel Metode analisis data yang digunakan sedangkan H ditolak apabila t <-t 0 tabel hitungadalah Regresi Linier Berganda. atau t >tDigunakan untuk menguji pengaruh antara tabel hitung.variabel independen (Perilakukepemimpinan Kepala Sekolah dan Hasil dan Analisis DataMotivasi Guru) dengan variabel dependen Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan(Mutu Pendidikan). Perhitungan akan dari penelitian, maka dari hasildilakukan dengan bantuan program SPSS pengumpulan data yaitu : Perilakufor Windows. Kepemimpinan (X1), Motivasi Guru (X2) Model hubungan variabel akan dan Mutu Pendidikan (Y) dapat dilihatdianalisis sesuai dengan persamaan regresi: pada tabel di bawah ini :MP = α + β PKKS + β KG + Σ 1 2 i No X1 X2 Y No X1 X2 Y1) Uji F 1 118 91 109 14 107 85 102 Uji F adalah alat untuk menguji 2 89 99 97 15 111 87 101variabel independen secara bersama 3 100 103 102 16 97 84 88terhadap variabel dependennya untuk 4 97 80 101 17 85 82 98meneliti apakah model dari penelitian 5 106 76 96 18 118 81 99tersebut sudah sesuai atau tidak. 6 109 84 106 19 126 95 109Kriteria pengujian dengan menggunakan 7 85 88 90 20 128 89 109uji F adalah sebagai berikut : 8 131 94 112 21 114 94 103Jika nilai F >F berarti Ho ditolak, 9 82 79 96 22 111 101 110 hitung tabelH1 diterima Jika nilai F <F berarti 10 93 93 102 23 112 100 114 hitung tabel 11 90 73 92 24 131 112 114Ho diterima dan H1 ditolak. 12 113 88 99 25 112 105 112 13 109 78 1012) Uji t Uji t dimaksudkan untuk mengetahui Analisis Regresi Linier Bergandaapakah secara individu variabel Analisis regresi dalam penelitianindependen mempunyai pengaruh secara ini digunakan untuk menguji pengaruhsignifikan terhadap variabel dependen, kepemimpinan kepala sekolah dan kinerjadengan asumsi variabel independen guru terhadap mutu pendidikan.lainnya konstan (Djarwanto PS, 1996). Penyelesaian model regresi linier bergandaDengan α = 0,05 dan derajat kebebasan n- dilakukan dengan bantuan Program SPSS1 dengan kriteria : for Windows Release 11.0 Adapun hasilnya adalah sebagai berikut: 32
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANa. Uji t sig. = 0,006, sedangkan ttabel pada tarafHasil Perhitungan Koefisien Regresi signifikansi 5% adalah = 2,021. Dikarenakan thitung > ttabel (3,218 > 2,021) Pengujian hipotesis dalam penelitian dengan Sig. 0,004 < 0,05, maka H1ini menggunakan uji t (pengaruh secara diterima. Artinya kinerja guru secara Coefficientsa statistik berpe- Unstandardized Standardized ngaruh terhadap Coefficients Coefficients Correlations Collinearity Statistics Model B Std. Error Beta t Sig. Zero-order Partial Part Tolerance VIF mutu pendidikan. 1 (Constant) 1,945 ,363 5,356 ,000 Kepemimpinan ,352 ,077 ,581 4,557 ,000 ,750 ,697 ,530 ,832 1,202 Dari hasil Kepala Sekolah Kinerja Guru ,312 ,097 ,411 3,218 ,004 ,649 ,566 ,374 ,832 1,202 analisis regresi di a. Dependent Variable: Mutu Pendidikan atas, maka dapatindividual). Pengujian ini dimaksudkan disusun persamaan sebagai berikut: Mutuuntuk mengetahui signifikansi dari Pendidikan = 1,945 + 0,352 KKS + 0,312pengaruh variabel independen terhadap KGvariabel dependen secara individual. Hasil Persamaan menunjukkan bahwa mutupengujian diperoleh dari test signifikansi pendidikan dipengaruhi olehdengan program SPSS for Windows kepemimpinan kepala sekolah dan kinerjaRelease 11.0. Hasil pengujian t dapat guru. Nilai konstanta sebesar 1,945dilihat pada tabel berikut: menyatakan jika keadaan kontan atau variabel-variabel peningkatan Tabel 4.5 Hasil Uji t kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja Variabel t hitung ttabel Sig Keterangan guru tetap, maka skor mutu pendidikanKepemimpinan 4,557 2,021 0,000 H0 ditolakKepala Sekolah sebesar 1,945 satuan.Motivasi kerja 3,218 2,021 0,004 H0 ditolak Deskripsi selengkapnya tentang pengaruh kedua variabel terhadap mutu Hasil uji t dapat menunjukkan bahwa pendidikan seperti uraian di bawah ini.variabel kepemimpinan kepala sekolah a) Nilai koefisien kepemimpinan kepalamemiliki nilai thitung = 4,557 dengan nilai sekolah sebesar 0,352 menyatakan jikasig. = 0,000, sedangkan ttabel pada taraf terjadi peningkatan kepemimpinansignifikansi 5% adalah = 2,021. kepala sekolah sebesar satu satuanDikarenakan thitung > ttabel (4,557 > 2,021) maka mutu pendidikan akandengan Sig. 0,000 < 0,05, maka H1 mengalami peningkatan sebesar 0,352diterima, artinya kepemimpinan kepala satuan.sekolah secara statistik berpengaruh b) Nilai koefisien kinerja guru sebesarterhadap mutu pendidikan. 0,312 menyatakan jika terjadi Sedangkan variabel kinerja guru peningkatan motivasi kerja sebesar satumemiliki nilai thitung = 3,218 dengan nilai satuan maka kinerja guru akan 33
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN mengalami peningkatan sebesar 0,289 Hasil pengujian hipotesis kedua satuan. dengan uji t memperoleh nilai thitung =b. Uji F 3,218 diterima pada taraf signifikansi 5% Uji F digunakan untuk mengetahui (Sig.<0,05). Artinya kinerja guru signifikansi dari model regresi yang berpengaruh positif dan signifikan digunakan. Cara yang digunakan terhadap mutu pendidikan. Semakin tinggi ANOVA b kinerja guru, Sum of maka mutu Model Squares df Mean Square F Sig. 1 R egress ion 1,654 2 , 827 25, 930 , 000a pendidikan R es idual , 702 22 , 032 Tot al 2,356 24 akan semakin a. Predict ors : (C ons tant ), K inerja Guru, Kepem im pinan Kepala Sek olah meningkat. b. D ependent Variable: Mut u Pendidik an Sebaliknya adalah dengan membandingkan semakin rendah kinerja guru, maka mutu Fhitung dengan Ftabel pada taraf pendidikan juga akan semakin berkurang. signifikansi (a) = 5%. Hasil pengujian nilai F dapat dilihat pada gambar berikut. KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil pengolahan data diperolehFhitung = 25,930, sedangkan Ftabel pada taraf Kesimpulansignifikansi 5% dengan df 2 (n=2) adalah Berdasarkan hasil penelitian dansebesar 19,00. Dikarenakan Fhitung > Ftabel pembahasan pada bab sebelumnya dapat(25,930 > 19,000), hal ini menunjukkan disimpulkan sebagai berikut : (1) Terdapatbahwa kepemimpinan kepala sekolah dan pengaruh signifikan kepemimpinan kepalakinerja guru secara bersama-sama sekolah terhadap mutu pendidikan di SDNberpengaruh terhadap mutu pendidikan. Banjarsari Gresik. (2) terdapat pengaruh Hasil pengujian hipotesis pertama signifikan kinerja guru terhadap mutudengan uji t memperoleh nilai thitung = pendidikan di SDN Banjarsari Gresik. (3)4,557 pada taraf signifikansi 5% (Sig. < terdapat pengaruh signifikan secara0,05). Artinya kepemimpinan kepala bersama-sama kepemimpinan kepalasekolah berpengaruh positif dan signifikan sekolah dan kinerja guru terhadap mututerhadap mutu pendidikan. Semakin baik pendidikan di SDN Banjarsari Gresik.kepemimpinan kepala sekolah yangdijalankan, maka mutu pendidikan akan Saranmeningkat. Sebaliknya semakin kurang Berdasarkan kesimpulan di atas makabaik kepemimpinan kepala sekolah yang saran yang dapat diajukan sebagai berikut :dijalankan, maka mutu pendidikan juga (1) hendaknya kepala lebih meningkatkanakan semakin berkurang. efektifitas kepemimpinannya berkaitan 34
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANdengan tingginya pengaruh kepemimpinan Bandung : Pusat Penerbit Administrasikepala sekolah dengan mutu pendidikan. Niaga(2) kepala sekolah sebagai motivator Riduwan (2007). Metode & Teknikhendaknya lebih memperhatikan Menyusun Tesis, Bandung : CVkebutuhan motivasi guru agar kinerja guru Alfabeta.dapat meningkat pada akhirnya akan Schuler, Randall S. dan Jackson, Susan E.meningkatkan mutu pendidikan. (3) bagi Manajemen Sumber Daya Manusia,para guru hendaknya dapat lebih Menghadapi Abad Ke- 21. Edisi Ke-meningkatkan kinerjanya agar mutu Enam, Jakarta : Erlanggapendidikan lebih baik lagi di masa Supriadi, Dedi. (2002). Guru di Indonesia,mendatang. (4) bagi para pengambil Jakarta : Departemen Pendidikankebijakan dan pemerintah agar Nasional Republik Indonesiamemperhatikan program-program ________ (1998). Mengangkat Citra danpendidikan yang sesuai dan patut terhadap Martabat Guru, Yogyakarta : Adiciptapengembangan prestasi kepala sekolah dan Karya Nusaguru untuk lebih meningkatkan mutu Supriadi, Dedi dan Jalal, Fasli. (2001).pendidikan. Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Darah, Jakarta : Adicipta Karya NusaDAFTAR PUSTAKA Samana. (1994). ProfesionalismeArikunto, Suharsimi. (2003). Prosedur Keguruan, Yogyakarta : Kanisius Penelitian, Jakarta : Bina Aksara Syah, Muhibbin. (1999). PsikologiFattah, Nanang. (2000). Landasan Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, Manajemen Pendidikan, Bandung : PT Bandung : PT Remaja Rosdakarya Remaja Rosdakarya Suyanto dan Hisyam, Djihad. (2000).Gibson. (1985). Organisasi (Terjemahan). Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Edisi Ke- Lima, Jakarta : Erlangga Indonesia Milenium III, Yogyakarta :Herrsey, Paul dan Blanchard, K. H. (1977) Adi Cipta Management of Organization Behavior Siagian, Sondang P. (1997). Organisasi New York : Englewood Cliffs Kepemimpinan dan PerilakuHilmar, Taufik (2002). Kinerja Guru Administrasi Jakarta : PT Gunung Madrasah Tsanawiyah Negeri di Agung Kabupaten Sukabumi, Bandung : Tidak Sutarto. (2001). Dasar-Dasar diterbitkan Kepemimpinan Administrasi,Marwansyah dan Mukaram. (1999). Yogyakarta : Gajah Mada University Manajemen Sumber Daya Manusia, Press 35
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANWahyjosumidjo. (1987). Kepemimpinan Belajar Mengajar, Bandung : PT dan Motivasi, Jakarta : Ghalia Indonesia Remaja RosdakaryaWijaya, Cece dan Rusyan. (1992). Yuki, Gary. (1996). Leadership in Kemampuan Dasar Guru Dalam Proses Organization (Terjemahan). Edisi Ke- Tiga Jakarta : PT Bhuana Ilmu Populer. 36
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ISSN 2089-4554 “JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN” Diterbitkan Oleh : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresik 37 Gresik Jendela Volume Nomor Halaman DesemberPendidikan 1 1 1-59 2011
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PENGARUH PERILAKU KEPEMIMPINAN DAN MOTIVASI TERHADAP KINERJA DOSEN DI UNIVERSITAS GRESIK Adrijanti *)Abstract, A leader is required showing a leadership capability of creating a conduciveclimate in the neighborhood. The lecturers are also required to have a positive work attitude,so it can display both the perception and satisfaction towards the job as well as highemployee motivation. General research objectives were: (1) to determine the influence partially betweenleadership and the motivations behavior on the performance faculty at the University ofGresik, (2) to find out what is more dominant between leadership behavior and motivation onthe performance faculty at the University of Gresik, (4) to determine the effect ofsimultaneously between leadership behavior and motivation on the performance faculty atthe University Gresik. Testing the validity of the instrument used as a measuring device while the reliabilitydata showed a stability instrument observations. Analysis of the data used to determine theeffect of leadership behavior and motivation of faculty performance using regression analysiswhile to find out how much influence it used the coefficient of determination. From the results of this study can be seen that the behavior does not affect the partialLeadership on the performance of lecturers but the motivation partially affects theperformance of lecturers. While the leadership behavior and motivation has no effectsimultaneously on the performance of lecturers. And variable Motivation is the mostdominant variable affecting the performance of lecturers at the University of Gresik.Thus it can be said that the high motivation will affect the performance of lecturers at theUniversity of Gresik.Keywords: Leadership, Behavior, Motivation and Lecturer Performance Kemampuan seseorang sangat tidak mungkin kemampuan yang potensialdibutuhkan untuk menyelesaikan tugas itu dapat dirasakan manfaatnya. Motivasidengan baik, namun kemampuan tersebut akan menyebabkan terjadinya suatuakan dapat terealisasi apabila dilandasi perubahan energi yang ada pada diridengan adanya motivasi yang kuat dari manusia, sehingga akan bergayut dengandirinya, karena bagaimanapun tingginya persoalan gejala kejiwaan, perasaan dankemampuan seseorang tetapi apabila tidak juga emosi, untuk kemudian bertindak ataudilengkapi dengan motivasi yang tinggi melakukan sesuatu. Semua ini didorong*) Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresik 38
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANkarena adanya tujuan, kebutuhan atau optimal, diperlukan pula suatu kerja samakeinginan. Sardiman (2007:73) yang sinergis antara Dekan dan dosen. Menurut Nawawi (2005:33), di Oleh karena itu seorang Dekan dituntutlingkungan semua organisasi diperlukan menampilkan suatu kepemimpinan yangmanajemen sebagai rangkaian kegiatan mampu menciptakan iklim yang kondusifatau proses pengendalian agar pencapaian di lingkungannya yaitu di suatu Fakultas,tujuannya berlangsung efektif dan efisien. sedangkan para dosen dituntut memilikiDalam menjalankan organisasi atau sikap positif terhadap pekerjaan yngperusahaan merupakan pekerjaan team dijalaninya, sehingga dapat menampilkanbukan individual oleh karena itu faktor persepsi dan kepuasan yang baik terhadapkepemimpinan menjadi kunci suksesnya pekerjaannya maupun motivasi kerja yangsuatu kelompok kerja, harapan yang ada tinggi, yang pada akhirnya akanadalah bahwa dengan berbagai macam mencerminkan seorang dosen yang mampupersonalitas yang dimiliki oleh seorang bekerja secara profesional sesuai denganpemimpin harus dapat menciptakan Tridharma Perguruan Tinggi yaknidorongan bagi pengikutnya atau orang lain profesional dalam pengajaran, profesionalyang ada di sekitarnya. Sukiyat (2009:12) dalam penelitian dan profesional dalammenyatakan dalam kegiatannya bahwa pengabdian masyarakat. Oleh karena itupemimpin memiliki kekuasaan untuk diduga ada hubungan antara perilakumengerahkan dan mempengaruhi kepemimpinan dengan kinerja dosen.bawahannya sehubungan dengan tugas- Motivasi yang diberikan dapat berupatugas yang harus dilaksanakan agar tujuan insentif baik yang bersifat formal maupunorganisasi dapat tercapai dengan non formal, sehingga kemauan,sempurna. Banyak hal yang dituntut kemampuan dan semangat kerja dosenkepada seorang pemimpin dalam akan meningkat dengan sendirinya.melaksanakan tugasnya, namun pada Dorongan dan semangat ini agar parahakekatnya perlu memperoleh gambaran dosen memahami serta sadar akan tugasjelas tentang diri seorang pemimpin. dan kewajiban yang harus ia lakukan. Pimpinan fakultas atau yang biasa Menurut Hamzah (2007:1) motivasi jugadisebut dengan Dekan merupakan salah dapat dikatakan sebagai perbedaan antarasatu komponen yang berpengaruh dalam dapat melaksanakan dan maumeningkatkan mutu pendidikan di melaksanakan. Motivasi lebih dekat padaFakultas. Dalam suatu fakultas, hubungan mau melaksanakan tugas untuk mencapaiantara seorang Dekan dan dosen tujuan.merupakan hubungan antara atasan atau Menurut teori dari Porter dan Lawlerpemimpin dengan bawahan. Untuk itu mengatakan bahwa mendorong minatguna tercapainya mutu pendidikan yang pegawai dan mencapai kinerja yang lebih 39
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANtinggi bukanlah soal yang lugas dan terhadap kinerja dosen di Universitasdipengaruhi sejumlah variabel. Yang dapat Gresik?(4)manakah yang mempunyaidikerjakan oleh para manajer adalah sadar pengaruh paling dominan antara perilakutentang semua keragaman tersebut dan kepemimpinan dan motivasi terhadapmemperhitungkannya waktu merancang kinerja dosen di Universitas Gresik?sistem-sistem kerja dan mempertim- Berdasarkan teori diatas dapat disusunbangkan pemberian imbalan Hamzah suatu hipotesis yaitu: (1) perilaku(2007:49). Tujuan pemberian insentif pada kepemimpinan mempunyai pengaruhdasarnya adalah berfungsi dalam secara parsial terhadap kinerja dosen dimemotivasi dosen agar terus menerus Universitas Gresik, (2) motivasiberusaha memperbaiki dan meningkatkan mempunyai pengaruh secara parsialkemampuannya dalam melaksanakan terhadap kinerja dosen di Universitastugas-tugas yang menjadi kewajiban serta Gresik. (3) perilaku kepemimpinan dantanggung jawabnya. Oleh sebab itu diduga motivasi mempunyai pengaruh secaraadanya hubungan antara motivasi dan serempak terhadap kinerja dosen dikinerja dosen. Universitas Gresik, (5) motivasi Sehubungan dengan latar belakang mempunyai pengaruh yang dominanpermasalahan di atas, maka dalam hal ini terhadap kinerja dosen di Universitaspenulis berusaha untuk mengamati tingkat Gresikpengaruh kepemimpinan terhadap kinerjadosen dan pemberian insentif memotivasi METODEdosen untuk dapat meningkatkan kinerja Populasi dalam penelitian ini adalahdosen di Universitas Gresik, maka yang dosen tetap Yayasan di Universitas Gresikdituangkan dalam judul penelitian : yang diambil dari seluruh fakultas kecuali"Pengaruh Perilaku Kepemimpinan dan Program Pascasarjana. Sedangkan jumlahMotivasi terhadap Kinerja Dosen di populasinya adalah 49 orang.TeknikUniversitas Gresik”. pengambilan sampel yang dipakai dalam Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penelitian ini adalah dengan menggunakandiambil suatu rumusan masalah untuk teknik proportionate random sampling.penelitian ini, yaitu : (1) adakah pengaruh dengan menggunakan rumus dari Tarosecara parsial antara perilaku Yamane atau Slovin. Berdasarkankepemimpinan terhadap kinerja dosen di perhitungan jumlah sampel menurut rumusUniversitas Gresik, (2) adakah pengaruh di atas maka jumlah sampel yang diambilsecara parsial antara motivasi terhadap sejumlah 33 orang, dapat dilihat pada tabelkinerja dosen di Universitas Gresik, (3) di bawah ini :adakah pengaruh secara serempak antaraperilaku kepemimpinan dan motivasi 40
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN Jumlah No Dimensi ItemNo Fakultas Populasi Sampel 4 Perilaku kesadaran 14 1 F. Ekonomi 9 6 5 Perilaku persuasif 15 2 F. Hukum 7 5 6 Perilaku konseptualisasi 16 3 F. KIP 8 5 7 Perilaku kemampuan, 17 4 F. Keperawatan 11 7 meramalkan 5 F. Sastra Inggris 4 3 8 Perilaku kemampuan 18 6 F. Teknik 10 7 melayani Jumlah 49 33 9 Perilaku komitmen pada 19 pertumbuhan manusia Variabel yang diteliti adalah (1) 10 Perilaku membangun 20Variabel bebas adalah perilaku (memberdayakan)kepemimpinan (X1) dan motivasi (X2 ), (2)Variabel terikat adalah kinerja dosen (Y). Instrumen motivasi dengan alternatifSedangkan metode pengumpulan data jawaban sebagai berikut :dengan menggunakan metode angket. 5 = Sangat setujuUntuk instrumen perilaku kepemimpinan, 4 = setuju 3 = ragu-raguinstrumen motivasi dan instrumen kinerja 2 = tidak setujudosen. Dalam mengumpulkan data ini 1 = sangat tidak setujudigunakan skala Likert untuk mengukursikap, pendapat dan persepsi seseorang Instrumen Angket penelitian Motivasiatau kelompok orang dengan bobot skor Dosenmulai dari 1 sampai dengan 5. No Dimensi Item Instrumen perilaku kepemimpinan 1. Motivator 1-10dengan alternatif jawaban sebagai berikut : 2. Hygiene 11-285 = Sangat Tinggi/ Sangat penting Instrumen kinerja dosen dengan alternatif4 = Tinggi / Penting jawaban sebagai berikut :3 = Cukup Tinggi/Cukup Penting 5 = Sangat setuju2 = Rendah/ Kurang Penting 4 = Setuju1 = Rendah sekali/ Tidak Penting 3 = Tidak TahuKisi-kisi Angket Penelitian Perilaku 2 = Tidak setuju 1 = Sangat Tidak SetujuKepemimpinan Kisi-kisi Angket Penelitian Kinerja Dosen No Dimensi Item No Dimensi Item 1 Perilaku mendengarkan 1-5 1 Kemampuan 1-2 2 Perilaku empati 6-11 2 Inisiatif 3-5 3 Perilaku menyembuhkan 12-13 3 Ketepatan waktu 6 41
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN No Dimensi Item pengumpulan data yaitu : Perilaku 4 Kualitas hasil kerja 7-8 Kepemimpinan (X1), Motivasi (X2) dan 5 Komunikasi 9-11 Kinerja Dosen (Y) dapat dilihat pada tabel di bawah ini :TEKNIK ANALISIS DATA Teknik analisis data yang digunakan No (X1) (X2) (Y) No (X1) (X2) (Y)dalam penelitian ini : 1 62 103 40 18 61 96 43Regresi Ganda : Y = a + b1 X1 + b2 X2 2 60 111 32 19 39 84 49 3 87 111 54 20 61 74 32Pengujian Hipotesis 4 64 93 44 21 59 76 421) Pengujian secara Simultan/ serempak 5 55 104 38 22 51 96 38 (uji F) 6 57 102 42 23 74 96 39Pengujian integritas dilakukan dengan 7 60 96 48 24 59 119 52menggunakan uji F dimana tingkat 8 68 96 40 25 81 114 52 9 68 119 52 26 73 91 36kepercayaan α = 0,05 dengan nilai kritis : 10 94 131 38 27 83 106 38F (α ; k ; n - k -1) sedangkan kriteria : Fhit 11 52 82 39 28 81 129 54> Ftab , maka Ho ditolak. 12 73 111 50 29 56 107 41Rumus uji F : F = 13 52 99 43 30 71 95 462) Pengujian secara Parsial (Uji t) 14 64 114 47 31 72 95 51 15 75 84 33 32 61 96 43 Dalam pengujian hipotesis ini level 16 76 109 38 33 33 75 43signifikansi yang digunakan sebesar (5%) 17 72 95 51dengan derajat kebebasan sebesar n – 1.sedangkan kriteria : Jika t hit > t tab , makaHo ditolak Uji koefisien korelasi parsial Analisis Hipotesisdapat dihitung dengan rumus : Hasil analisis mengenai koefisient hitung = model regresi adalah seperti yang tercantum dalam tabel berikut ini. Untuk mengetahui seberapa besar Koefisien Regresi Linier Bergandapengaruh variabel bebas terhadap variabelterikat maka digunakan koefisien Coefficients(a) Unstandardized Standardizeddeterminasi (R²) dengan bantuan program Model Coefficients Coefficients TSPSS versi 14.0. Std. B Error Beta 1 (Constant) 27.362 7.841 3.489HASIL DAN ANALISA DATA Kepemimpinan -.053 .101 -.107 -.527 Motivasi .193 .092 .429 2.102 Berdasarkan rumusan masalah dan a Dependent Variable: kinerjatujuan dari penelitian, maka dari hasil 42
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN Berdasarkan Tabel tersebut, maka ditolak.model regresi yang diperoleh adalah Artinya : Perilaku Kepemimpinan secarasebagai berikut : parsial tidak mempunyai pengaruh yang signifikan Y = 27,362 X ,193 X2 terhadap kinerja. Sedangkan untuk mengetahui seberapa Dari persamaan tersebut dapat dilihat besar perilaku kepemimpinanbahwa nilai koefisien regresi untuk mempengaruhi kinerja dosen. Maka dapatmotivasi lebih besar daripada koefisien dicari koefisien determinasi (R² = Rregresi untuk kepemimpinan. Dengan Square).demikian dapat diketahui bahwa jika Model Summarykepemimpinan dan Motivasi mengalamisuatu peningkatan atau semakin baik, maka R Adjusted Rkinerja juga akan mengalami peningkatan, Model R Square Square Change Statistics Rsebaliknya jika kepemimpinan dan Square F Sig. F Change Change df1 df2 Changemotivasi mengalami suatu penurunan, 1 .132(a) .018 -.014 .018 .554 1 31 .462maka kinerja juga akan mengalami a Predictors: (Constant), kepemimpinanpenurunan. Jadi dapat disimpulkan bahwahubungan yang searah .antara variabelbebas X1 dan X2 dengan variabel terikat Y R² yx1 = 0,018b. Pengujian Hipotesis Artinya proporsi variabilitas kinerja dosen Pengujian hipotesis ini dilakukan 1,8% dapat dijelaskan oleh perilakudengan cara pengujian secara parsial kepemimpinan. Sedangkan 98,2% lainnyamaupun pengujian secara serempak dijelaskan oleh variabel lainnya dalam1) Pengujian secara parsial penelitian ini.Ho Perilaku Kepemimpinan tidak Untuk mengetahui apakah variabel berpengaruh secara parsial terhadap bebas motivasi (X2) berpengaruh secara Kinerja Dosen di Universitas Gresik. parsial terhadap variabel terikat yaituHa Perilaku Kepemimpinan berpengaruh kinerja dosen (Y) yaitu : secara parsial terhadap Kinerja Ho : Motivasi tidak berpengaruh secara Dosen di Universitas Gresik. parsial terhadap Kinerja Dosen diDengan menggunakan SPSS versi 14.0 Universitas Gresik.didapat t hitung sebesar -0,527 sedangkan t Ha : Motivasi berpengaruh secara parsialtabel dengan α = 0,05 dan derajat kebebasan terhadap Kinerja Dosen di(dk) = n – 1 = 32 maka ttabel = 2,042 Universitas Gresik.Dapat dilihat bahwa t hitung < ttabel (0,527 Dengan menggunakan SPSS versi 14.0< 2,042 ), maka Ho diterima dan Ha 43
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANdidapat t hitung sebesar 2,102 sedangkan t ANOVA(b)tabel dengan α = 0,05 dan derajat kebebasan Sum of Mean Model Squares df Square F Sig.(dk) = n – 1 = 32 maka t tabel = 2,042 1 Regression 189.458 2 94.729 2.517 .098(a)Dapat dilihat bahwa t hitung > t tabel Residual 1129.087 30 37.636 Total 1318.545 32(2,102>2,042), maka Ho ditolak dan Ha a Predictors: (Constant), kepemimpinan, motivasiditerima. b Dependent Variable: kinerjaArtinya : Motivasi secara parsial mempunyai pengaruh yang Dengan menggunakan SPSS versi 14.0 signifikan terhadap kinerja. didapat F hitung sebesar 2,517 sedangkan F Sedangkan untuk mengetahui seberapa tabel dengan α = 0,05 dan (dk) pembilang =besar motivasi mempengaruhi kinerja k= 2 dan dk penyebut = n-k-1=30 maka Fdosen. Maka dapat dicari koefisien tabel = 3,32 Dapat dilihat bahwa F hitung <determinasi (R² = R Square). F tabel (2,517 < 3,32 ), maka Ho diterima dan Ha ditolak. Model Summary Artinya Perilaku Kepemimpinan dan R Adjusted Squa R motivasi secara serempak tidakModel R re Square Change Statistics R mempunyai pengaruh yang Square F Sig. F signifikan terhadap kinerja Change Change df1 df2 Change1 .368(a) .136 .108 .136 4.870 1 31 .035 Sedangkan untuk mengetahui seberapaa Predictors: (Constant), motivasi besar perilaku kepemimpinan dan motivasi bersama-sama mempengaruhi kinerjaR² yx2 = 0,136 dosen. Maka dapat dicari koefisienArtinya : Proporsi variabilitas kinerja determinasi (R² = R Square). dosen 13,6% dapat dijelaskan Model Summary oleh motivasi. Sedangkan 86,4% R Adjusted dapat dijelaskan oleh variabel Model R Square R Square Change Statistics R lainnya dalam penelitian ini. Square F Sig. F Change Change df1 df2 Change2) Pengujian secara serempak 1 .379(a) .144 .087 .144 2.517 2 30 .098Ho : Perilaku Kepemimpinan dan a Predictors: (Constant), kepemimpinan, motivasi Motivasi tidak berpengaruh secara serempak terhadap Kinerja Dosen di R² yx2 = 0,144 Universitas Gresik. Artinya Proporsi variabilitas kinerja dosenHa : Perilaku Kepemimpinan dan 14,4% dapat dijelaskan oleh Motivasi berpengaruh secara perilaku kepemimpinan dan serempak terhadap Kinerja Dosen di motivasi. Sedangkan 85,6% dapat Universitas Gresik. dijelaskan oleh variabel lainnya dalam penelitian ini. 44
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN Dengan melihat nilai dari koefisien pemenuhan pada kebutuhan ekonominya,determinasi, maka yang paling berupa insentif baik yang bersifat formalberpengaruh antara perilaku maupun non formal, disamping itu jugakepemimpinan dan motivasi terhadap diperlukan pula adanya pelatihan-kinerja dosen di Universitas Gresik adalah pelatihan dalam rangka peningkatanmotivasi. kompetensinya, guna menunjang dalam proses pembelajaran sehingga kemauan,KESIMPULAN DAN SARAN kemampuan dan semangat kerja dosen akan meningkat dengan sendirinya. Berdasarkan hasil penelitian yang Dorongan dan semangat ini akan membuattelah dipaparkan tersebut, maka dapat dosen memahami serta sadar akan tugasdiperoleh kesimpulan sebagai berikut : dan kewajiban yang harus ia lakukan.(1) berdasarkan uji hipotesis secara parsial Tujuan pemberian insentif pada dasarnyatidak terdapat pengaruh yang signifikan adalah berfungsi dalam memotivasi dosendari Perilaku Kepemimpinan terhadap agar terus menerus berusaha memperbaikikinerja Dosen di Universitas Gresik, (2) dan meningkatkan kemampuannya dalamBerdasarkan uji hipotesis secara parsial melaksanakan tugas-tugas yang menjaditerdapat pengaruh yang signifikan dari kewajiban serta tanggung jawabnya demiMotivasi terhadap kinerja dosen di mencapai tujuan pembelajaran untukUniversitas Gresik, (3) berdasarkan uji menghasilkan mutu lulusan sesuai denganhipotesis secara simultan Perilaku apa yang diharapkan.kepemimpinan dan motivasi secaraserempak tidak mempunyai pengaruh yang DAFTAR PUSTAKAsignifikan terhadap kinerja dosen diUniversitas Gresik, (4) berdasarkan nilai Hamzah. (2007). Teori Motivasi dandari koefisien determinasi (R Square) nilai Pengukurannya . Jakarta : Radjawalivariabel perilaku kepemimpinan lebih kecildaripada variabel Motivasi. Maka dapat Nawawi, H. (1998). Manajemen Sumberdisimpulkan bahwa variabel motivasi Daya Manusia. Yogyakarta : Gajahmerupakan variabel yang berpengaruh Mada Univ Press.paling dominan terhadap kinerja dosen di Riduwan.(2009). Metode dan TeknikUniversitas Gresik. Menyusun Proposal Penelitian. Sesuai dengan hasil penelitian Bandung Alfabetamaka disarankan dalam rangka Riduwan (2007). Skala Pengukuranmeningkatkan kinerja Dosen di Universitas variabel-variabel penelitian.Gresik diperlukan pula peningkatan Bandung: Alfabeta.motivasinya melalui pemberian atau 45
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANSardiman. (2003), Interaksi dan Motivasi Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Belajar Mengajar. Jakarta : Pendidikan. Alfabeta : Bandung Radjawali. Sukiyat. (2009). Kepemimpinan dalamSugiyono. (2010). Statistik untuk Kependidikan. Surabaya : LP2I Penelitian. Alfabeta : Bandung 46
    • ISSN 2089-4554 Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN “JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN” Diterbitkan Oleh : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresik Gresik Jendela Volume Nomor Halaman DesemberPendidikan 1 47 1 1-59 2011
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PENERAPAN MODEL PENGEMBANGAN INSTRUKSIONAL (MPI) DAN GAYA BELAJAR MAHASISWA, TERHADAP HASIL BELAJAR MATAKULIAH MICROTEACHING PADA MAHASISWA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS GRESIK Siti Bariroh*) Abstrak, Upaya meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran, diperlukanadanya perancangan dan pengembangan materi pembelajaran, yang merupakan fungsi yangsangat penting dalam teknologi pembelajaran. Seels Richey (dalam Amir, 2000) mengatakanbahwa kawasan teknologi pembelajaran meliputi desain, pengembangan, pemanfaatan,pengelolan dan evaluasi. Pengembangan desain materi pembelajaran microteaching ini adalahupaya untuk memenuhi salah satu fungsi ranah teknologi pembelajaran, yaitu ranahpengelolaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan"Apakah ada perbedaan hasil belajar, yang diajarkan dengan menggunakan ModelPengembangan Instruksional (MPI) dan yang non MPI?". Apakah Model PengembanganInstruksional dengan Gaya Belajar yang dimiliki mahasiswa, membedakan hasil belajarmereka? Dan apakah ada interaksi antara gaya mengajar dan MPI terhadap hasil belajarmatakuliah Microteaching, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UniversitasGresik. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode angket gaya belajar, dan test hasilbelajar. Analisa data yang digunakan adalah analisis varian (ANAVA) dua jalur, yaitu untukmenguji hipotesa 1, hipotesa 2 dan hipotesa 3. Dari hasil penelitian diketahui adanyaperbedaan hasil belajar dengan menggunakan MPI dan non MPI, dan perbedaan gaya belajarmenyebabkan perbedaan hasil belajar, serta terdapat pula interaksi antara gaya belajar denganMPI. Hasil penelitian ini dapat direkomendasikan sebagai alternatif model pengembangan pembelajaran, dengan lebih memperhatikan perbedaan individu (gaya belajar) untukmengakomodasi kebutuhan belajar mereka, sehingga tercapai hasil belajar yang baik.Keyword : Model Pengembangam Instruksional (MPI), Gaya Belajar, dan Hasil BelajarPENDAHULUAN adalah faktor eksternal, yang menyangkut pengembangan program pembelajaran danHasil belajar seseorang, tidak terlepas dari strategi penyampaian atau prosespengaruh berbagai faktor, di antaranya pembelajaran.*) Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresik 48
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN Dalam aktivitas pengajaran terkan- Faktor lain yang juga dapatdung aktivitas (1) Merancang pembela- mempengaruhi hasil belajar adalah faktorjaran, (2) Menyajikan pembelajaran, (3) internal dari dalam siswa / mahasiswa ituMengevaluasi pembelajaran. Ketiganya sendiri. Salah satu dari faktor internal ituakan terkait dalam satu proses dan saling adalah karakteristik siswa yangmempengaruhi terhadap hasil belajar. berhubungan dengan cara merekaUpaya meningkatkan efisiensi dan menerima dan mengolah informasi, danefektivitas pembelajaran, diperlukan merespons informasi serta berinteraksiadanya perancangan dan pengembangan dalam proses pembelajaran.materi pembelajaran, yang merupakan Setiap orang mempunyai potensi yangfungsi yang sangat penting dalam sama untuk unggul dalam pembelajaran,teknologi pembelajaran. yang diperlukan adalah menemukan gaya Seels Richey (dalam Amir, 2000) belajar yang sesuai dan tepat bagi sesorangmengatakan bahwa kawasan teknologi untuk memaksimalkan efisiensipembelajaran meliputi desain, pengem- pembelajarannya. Deporter dan Hernackibangan, pemanfaatan, pengelolan dan (2000), Syahid (2002), mengungkapkanevaluasi. Pengembangan desain materi bahwa , gaya belajar adalah kunci untukpembelajaran microteaching ini adalah mengembangkan kinerja dalam pekerjaan,upaya untuk memenuhi salah satu fungsi di sekolah dan dalam situasi antar pribadi.ranah teknologi pembelajaran, yaitu ranah Gaya belajar akan dapat memberipengelolaan. Dick dan Carey (1990) kemudahan kepada seseorang untukmengungkapkan bahwa desain materi menyerap dan mengelola informasi.pembelajaran sebaiknya menarik, isinya Keinginan untuk membantu mahasiwasesuai dengan tujuan khusus pembelajaran, dalam memahami materi matakuliahurutannya tepat, ada petunjuk penggunaan Microteaching, dan untuk memudahkanbahan ajar, ada soal latihan, jawaban penyampaian bahan ajar kepadalatihan, test, petunjuk bagi siswa menuju mahasiswa secara lengkap dan sistematis,kegiatan berikutnya. serta ingin mengetahui pengaruh desain Penggunaan model pengembangan materi pembelajaran berdasarkan ModelInstruksional (MPI) didasarkan atas Pengembangan Instruksional dan gayapemikiran bahwa model ini menggunakan belajar terhadap hasil belajar mahasiswa,pendekatan sistem, dengan langkah mendorong peneliti ingin meneliti masalahlangkah yang lengkap, sehingga dapat tersebut. Ada beberapa alasan utamadigunakan untuk merancang pembelajaran peneliti memilih masalah ini :baik untuk pembelajaran klasikal maupun 1) Peneliti terlibat langsung membinaindividual. matakuliah Microteaching, di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan 49
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN Universitas Gresik. Sehingga atau disebut dengan "real teaching" memungkinkan untuk terlibat langsung (AAllen and Ryan,1969). Jumlah dalam interaksi dengan mahasiswa . pesertanya berkisar antara 5 sampai 102) Sejauh ini, masalah desain materi orang, ruang kelasnya terbatas, waktu pembelajaran, khususnya di pelaksanaannya berkisar antara 10 sampai Universitas Gresik belum banyak 15 menit, terfokus pada ketrampilan diteliti, sementara peneliti meyakini mengajar tertentu, dan pokok bahasannya bahwa perbaikannya kualitas disederhanakan. Pembelajaran dapat diawali dari Tujuan diselenggarakannya pembela- pengembangan desain pembelajaran. jaran micro menurut T. Gilarso, dibagi dua3) Literatur yang berkaitan dengan yaitu untuk melatih kemampuan dan penelitian ini, cukup mendukung ketrampilan keguruan (tujuan umum), dan peneliti dalam mengkaji landasan- untuk melatih calon guru supaya trampil landasan teori. dalam membuat desin pembelajaran,4) Hasil penelitian akan memberikan mendapatkan profesi keguruan dan manfaat nyata bagi peneliti sendiri,atau menumbuhkan rasa percaya diri (tujuan pihak lain yang seprofesi dalam usaha khusus). meningkatkan Kualitas pembelajaran Dwigh Allen, mengatakan, tujuan dalam arti yang luas. Microteaching bagi calon guru adalah : 1) Memberi pengalaman mengajar yangKERANGKA TEORITIS nyata dan latihan sejumlah ketrampilanMicroteaching diartikan sebagai cara dasar mengajar.latihan ketrampilan mengajar dalam 2) Calon guru dapat mengembangkanlingkup kecil/ terbatas. MC Laughlin & ketrampilan mengajarnya sebelumMoulton mengemukakan " Microteaching mereka terjun ke lapangan.has been performent part of teaching 3) Memberikan kemungkinan bagi calonprocess, so that the traince can master guru untuk mendapatkan bermacam-each component one By one in a simplifed macam ketrampilan dasar mengajar.teaching situation". Fungsi microteaching adalah sebagai MC .Knight (1979) mengemukakan sarana latihan dalam mempraktekkan"Microteaching has been described AS ketrampilan mengajar, dan juga sebagaiscaled down teaching encounter desingned salah satu syarat bagi mahasiswa yangto developernya new skill and refine old akan mengikuti Praktek Mengajar dione". lapangan (PPL). Sasaran akhir yang akan Dari pengertian di atas, dapat dicapai dalam microteaching adalahdipahami bahwa microteaching adalah terbinanya calon guru memilikisebuah model pengajaran yang dikecilkan pengetahuan tentang proses pembelajaran, 50
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANserta memiliki sikap dan perilaku baik hasilnya. Hal ini diperjelas dengansebagai seorang guru. pendapat Suparman (1997:31), suatu proses yang sistematik dalamLangkah-Langkah Prosedur Pembela- mengidentifikasikan masalah, mengem-jaran Micro bangkan bahan dan strategi Instruksional,Ada lima langkah yang dapat ditempuh serta mengevaluasi efektivitas dandalam pembelajaran micro yaitu: efisiensinya dalam mencapai tujuan1) Pengenalan (pemahaman) konsep Instruksional. pembelajaran micro Rohani (2004:69) mendefinisikan2) Penyajian model dan diskusi pengertian desain pengajaran sebagai suatu3) Perencanaan/persiapan mengajar pemikiran atau persiapan untuk4) Praktek mengajar melaksanakan tugas mengajar / aktivitas5) Diskusi feed back / umpan balik. pengajaran dengan menerapkan prinsip prinsip pengajaran melalui langkahMODEL PENGEMBANGAN langkah pengajaran, perencanaan,INSTRUKSIONAL pelaksanaan dan penilaian, dalam rangka Beberapa definisi mengenai desain pencapaian tujuan pengajaran yang telahpembelajaran antara lain Reigeluth (1983:7 ditentukan.dalam Boy Soedarmadji, 2002) Pengertian Desain Pembelajaranmenyatakan bahwa desain pembelajaran Model Pembelajaran Instruksional (MPI)lebih memperhatikan pada pemahaman , adalah suatu bentuk model pembelajaranpengubahan, dan penerapan metode- yang menunjukkan urutan kegiatan yangmetode pembelajaran. Hal ini ditempuh orang dalam mendesain sistemmengarahkan kita, bahwa sebagai seorang Instruksional, yang terdiri dari 8 langkah,profesional, maka kita mempunyai tugas yaitu menentukan kebutuhan Instruksionaluntuk memilih dan menentukan metode umum, dan merumuskan tujuan umum,apa yang dapat dipergunakan, dan melakukan analisis instruksional,mempermudah penyampaian bahan ajar, mengidentifikasi perilaku dan karakteristikagar dapat diterima dengan mudah oleh awal mahasiswa, merumuskan TIK,siswa. menulis tes acuan patokan, menyusun Lebih lanjut, Shaner (dalam strategi Instruksional, mengembangkanSuparman, 1997:29) menytakan bahwa bahan instruksional, mendesain dandesain Instruksional adalah perencanaan melaksanakan sistem Instruksional.secara akal sehat untuk mengidentifikasimasalah tersebut , dengan menggunakan GAYA BELAJARsuatu rencana terhadap perencanaan, Thomas L Madden (2002) mengemu-evaluasi, uji coba, umpan balik, dan kakan bahwa salah satu cara untuk 51
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANmembuka potensi luar biasa yang telah memperhatikan perilaku ketika menghadiriterkunci dalam otak adalah dengan seminar atau lokakarya. Apakahmenemukan cara memasukkan informasi tampaknya seseorang menyerap lebihke dalam otak. Masuknya informasi ini banyak informasi dari membaca makalahdicapai melalui gaya belajar. atau mendengarkan penyajinya? Mengutip Deporter dan Hernacki Berdasarkan uraian di atas(2000), Syahid (2002) mengungkapkan dapatkah ditarik suatu pemahaman bahwabahwa gaya belajar adalah kunci untuk gaya belajar adalah suatu kecenderunganmengembangkan kinerja dalam pekerjaan, yang dimiliki oleh seseorang dalam haldisajikan dan dalam situasi antar pribadi. bagaimana ia belajar dengan mudah,Gaya belajar akan dapat memberi menyenangkan dan efisien dalamkemudahan kepada seseorang untuk menyerap, mengatur dan mengolahmenyerap dan mengelola informasi. informasi, serta berinteraksi denganSeseorang akan lebih mudah belajar dan lingkungan.berkomunikasi dengan gayanya sendiri.Degeng (2000) dalam Syahid (2002) Macam macam Gaya Belajarmengemukakan bahwa gaya belajar, Para ahli mempunyai pandanganrentangan perhatian, ingatan, tahap berbeda dalam mengklasifikasikan gayaperkembangan, dan kecerdasan pelajar, belajar. Keefe (1987) membagi gayasangat bervariasi belajar menjadi cognitive styles, affective Para ahli di bidang gaya belajar styles, dan psysiological styles. Sedangkansepakat membagi secara umum ke dalam DePorter dan Hernacki (2002), dandua katagori utama tentang bagaimana Madden (2002) membagi gaya belajar keseseorang belajar. Pertama, bagaimana dalam tiga macam gaya belajar, yaitu :seseorang menyerap informasi dengan 1. Gaya belajar visual, merupakanmudah, dan kedua adalah cara seseorang kecenderungan seseorang akan lebihdalam mengatur dan mengolah informasi. mudah belajar atau menyerap informasiCara pertama disebut modalitas dan yang apabila materi pembelajarannyakedua disebut dominasi otak. Gaya belajar dikemas dalam uraian tertulis (naratif)seseorang adalah bagaimana cara maupun dalam bentuk matriks (gambarseseorang menyerap, kemudian mengatur dan skema).dan mengolah informasi. Bagaimana cara 2. Gaya belajar auditorial, merupakanmenemukan modalitas yang disukai? kecenderungan individu akan lebihDeporte dan Hernacki (2002) menjelaskan mudah dalam belajar atau menyerapsatu cara sederhana adalah dengan informasi apabila materi pembelajaranmendengarkan petunjuk-petunjuk dalam dikemas dalam bentuk uraian secarapembicaraan. Cara lain adalah lesan. 52
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN3. Gaya belajar kinestetik, merupakan c) Dapat mempraktekkan berbagai tehnik kecenderungan individu akan lebih mengajar dengan benar dan tepat. mudah dalam belajar bila materi pem- d) Dapat mewujudkan situasi belajar belajaran dikemas dengan memprak- mengajar yang efektif, produktif dan tekkan sesuatu secara langsung. efisien. e) Dapat bersifat profesional Keguruan.HASIL BELAJAR Skor (nilai) hasil belajar mahasiswa pada Dalam membicarakan pengertian hasil matakuliah microteaching ini, ditentukanatau prestasi belajar, tidak terlepas dari dengan Ujian Tengah Semester( M),pengertian belajar, karena hasil belajar Tugas( T), dan Ujian Akhir (A) ditetapkanmerupakan hasil perubahan yang dialami dengan rumus:dalam peristiwa belajar. Menurut WJS N=Purwadarminta, dalam Kamus BahasaIndonesia menyatakan, bahwa belajaradalah berusaha, berlatih dan sebagainya,untuk mendapatkan kepndaian. METODE PENELITIAN Hasil Belajar adalah kemampuanyang diperoleh seorang pembelajar dari Rancangan Penelitianproses belajar yang ditempuh di suatu Penelitian ini merupakan jenissekolah atau lembaga pendidikan, yang penelitian kuantitatif, yaitu untukdiperoleh melalui evaluasi belajar. membuktikan hipotesis. penelitian ini, menggunakan 3 variabel,Hasil Belajar Matakuliah Microteaching yaitu desain model pembelajaran MPI, dan Tujuan umum mata kuliah gaya belajar sebagai variabel bebas, danmicroteaching adalah mempersiapkan hasil belajar sebagai varaiabel terikat.mahasiswa calon guru untuk menghadapi Rancangan ini dimaksudkan untuktugas mengajar sepenuhnya di depan kelas mengetahui perbedaan hasil belajar antaradengan memiliki pengetahuan, ketram- yg menggunakan MPI dan Non MPI danpilan, kecakapan, dan sikap sebagai Guru juga untuk mengetahui perbedaan hasilyang profesional. belajar dari perbedaan gaya belajar, serta Sedangkan tujuan khusus nya untuk mengetahui interaksi antara gayaadalah: belajar dengan MPI dan non MPI.a) Menganalisa tingkah laku mengajar Kegiatan penelitian terdiri dari test kawan kawan nya dan dirinya sendiri. macam gaya belajar, pengelompokanb) Dapat melaksanakan ketrampilan subyek, perlakuan dan pemberian test dan khusus dalam mengajar. ujian praktek. Ada 3 kelompok belajar 53
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANyang menjadi fokus kajian dalam 1. Menghitung jumlah kuadrat total, antarpenelitian ini, yaitu kelompok visual (V), A,antar B,interaksi A xB dan dalamkelompok auditorial (A) dan kelompok kelompok.kinestetik (K). 2. Menghitung derajat kebebasan total, antara A,B dan interaksi AB dan dalamPopulasi dan Sampel kelompok Sebagai populasi dalam penelitian 3. Menghitung rata rata kuadrat antar A,ini adalah mahasiswa semester VII, FKIP B, dan AB. Dan dalam kelompokUniversitas Gresik, angkatan 2006, tahun 4. Menghitung rasio F ( A,B,dan AB).akademik 2009/2010 kelas A,B,C, denganjumlah 155 mahasiswa. Adapun Sampeldalam penelitian ini adalah sebanyak 70 HASIL PENELITIANmahasiswa, diambil secara randomsampling dengan cara undian. Uji Normalitas Uji normalitas sebaran skor, dilaku-Teknik Pengumpulan Data kan terhadap hasil belajar matakuliah Data mengenai gaya belajar didapat microteaching dengan menggunakandari test berupa angket untuk dijawab (test model pengembangan Instruksional, dangaya belajar), dan hasil belajar didapat dari tanpa menggunakan model pengembanganhasil test ujian tertulis maupun ujian Instruksional, dengna Kolmogorov-praktek microteaching. Smirnov. Hasil perhitungan uji normalitas sebaran skor variabel adalah normal, atauTeknik Analisa Data memenuhi persyaratan normalitas. Hasil Uji prasyarat analisis, sebelum belajar dengan MPI, N = 0,773. P = 0,589.dilakukan analisa data, terlebih dulu signifikan 5% = 0,025 (normal). Hasildilakukan uji prasyarat analisis yang belajar dengan non MPI, N= 0,921, P = 0,meliputi : a) uji normalitas data sampel, 384. Signifikan 5% = 0,025 (normal).dan b) uji homogenitas sampel. UjiHipotesis, dilakukan analisa data yang Uji Homogenitasdiperoleh dari hasil penelitian, dengan Residu skor variabel terikat untukmenggunakan metode statistik, yaitu tiap skor variabel bebas sudah homogen.metode pengolahan data kuantitatif untuk Hasil belajar dengan MPI, Nilai = 0,653. Pmengetahui perbedaan hasil tes. Analisis = 0,422, Signifikan 5% = 0,05 (homogen).yang digunakan adalah metode statistik Hasil belajar dengan gaya belajar. Nili =Analisis Varians (ANAVA) dua jalur, 0,913. P = 0,406, Signifikan 5 % = 0,05dengan rumus sebagai berikut: (homogen). 54
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANPengujian Hipotesa 75,26 lebh baik dari pada yang diajar1. Terdapat perbedaan hasil belajar dengan Non MPI. Dengan demikian menggunakan MPI dan yang Non MPI. dapat dikatakan bahwa pembelajaran Diperoleh F hitung = 7,629, matakuliah Microteaching dengan MPI probabikitas sebesar 0,001 lebih kecil dapat meningkatkan hasil belajar dari a=0,05. mahasiswa.2. Terdapat perbedaan hasil belajar dari 2. Hasil penelitian tentang Model gaya belajar visual, Auditorial dan Pengembangan Instruksional (MPI), kinestetik dengan model pengem- dengan gaya belajar Visual, Auditori bangan Instruksional matakuliah dan Kinestetik, yang dimiliki Microteaching. Diperoleh F hitung = mahasiswa membedakan hasil belajar 17, 658, sedang probabilitas sebesar mahasiswa FKIP Unigres. Hasil 0,007 lebih kecil dari 0,05. perhitungan menunjukkan hasil belajar3. Terdapat interaksi antara gaya belajar Visual, rata rata sebesar 78,54. Hasil mahasiswa dengan model belajar dengan gaya Auditorial rata rata Pengembangam Instruksional (MPI), sebesar 71,85, sedangkan hasil belajar terhadap hasil belajar matakuliah dengan gaya belajar Kinestetik rata- Microteaching. Diperoleh F hitung = rata sebesar 75,44. Hasil perhitungan F 3,311, dengan nilai probabilitas sebesar hitung = 17,658, P = 0,007, a = 0,05, 0,043 lebih kecil dari a= 0,05. Dengan demikian dapat dikatakan gaya belajar yang dimiliki mahasiswaPEMBAHASAN HASIL PENELITIAN dengan pembelajaran MPI, membedakan hasil belajarnya, (tipe1. Pembahasan tentang perbedaan hasil visual memiliki rata rata tertinggi dari belajar yang diajarkan dengan MPI dan tipe lainnya) diterima dengan taraf Non MPI matakuliah Microteaching signifikansi 5%. pada mahasiswa FKIP Universitas 3. Hasil penelitian tentang interaksi antara Gresik. Hasil perhitungan yang gaya belajar mahasiswa dengan model diperoleh (F hitung=7,629, P=0,001, pengembangan Instruksional (MPI) a=0,05) maka dapat dikatakan bahwa terhadap hasil belajar matakuliah ada perbedaan hasil belajar yang Microteaching. Hasil perhitungan diajarkan dengan MPI dan Non MPI, Fhitung = 3,311 dengan P = 0,043, dan matakuliah Microteaching FKIP a = 0,05. Dengan demikian dapat Unigres, diterima dengan taraf dikatakan ada interaksi antara gaya signifikansi 5%. Hasil analisis statistik belajar mahasiswa dengan Model juga menunjukkan bahwa mahasiswa Pengembangan Instruksional terhadap yang diajar dengan MPI, nilai rata rata 55
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN hasil belajar matakuliah Microteaching membuat model pengajaran yang mahasiswa FKIP Universitas Gresik. cocok diharapkan prestasi belajar mahasiswa bisa lebih baik. 3. Menindak lanjuti penelitian ini, kiranyaKESIMPULAN perlu diadakan kajian atau penelitian1. Ada perbedaan hasil belajar, yang lebih lanjut, dan dengan sasaran yang diajarkan dengan Model Pengem- lebih luas, agar model ini benar-benar bangan Instruksional (MPI) dan yang bisa dilakukan di wilayah manapun. non MPI matakuliah Microteaching pada mahasiswa FKIP Universitas DAFTAR PUSTAKA Gresik. Anto Dajan, 1986, Pengantar Metode2. Terdapat perbedaan hasil belajar dari Statistik II, Jakarta, LP3ES. Arief S. Sudiman,Dkk, 1997, Media gaya belajar Visual, Auditorium dan Pendidikan DIKBUD dan CV Kinestetik dengan Model Pengem- Rajawali, Jakarta. bangan Instrukdional matakuliah Atwi Suparman, 1997. Program Microteaching pada mahasiwa FKIP Pengembangan Krtrampilan Dasar Tehnik Instruksional (PEKERTI) untuk Universitas Gresik. Dosen Muda, Dirjen DIKTI Jakarta.3. Ada interaksi antara gaya belajar Degeng, INS, 1989, Ilmu Pengajaan; mahasiswa dengan Model Taksonomi Variabel, Jakarta, Prngembangan Instrukdional ( MPI) P2LPTK. Degeng, INS, 1997, Strategi terhadap hasil belajar matakuliah Pembelajaran: Mengorganisasi Isi Microteaching mahasiswa FKIP Pembelajaran dengan Model Universitas Gresik. Elaborasi. Desertasi Bahasan Tentang Temuan Penelitian, Malang, IKIP Malang.SARAN Deporter, B, dan Hernacki, M, 2002,Berdasarkan kesimpulan diatas, dapat Quantum Learning ( Terjemahan)penulis ajukan saran saran sebagai berikut: Bandung Kaifa.1. Model Pengembangan Instruksional Nasution,1992, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar, (MPI) direkomendasikan sebagai Jakarta, Bina Aksara. alternatif model pengembangan bahan Riyanto,Y,1996, Metodologi Penelitian bahan pembelajaran. Pendidikan, Suatu Tinjauan Dasar,2. Proses pembelajaran hendaknya lebih Bandung, SIC. Rohani, Ahmad 2004, Pengelolaan memperhatikan perbedaan individu, Pengajaran, Jakarta, Rineka Cipta. karena masing-masing individu Undang Undang no 20 tahun 2003, memiliki gaya belajar sendiri sendiri. tentang Sistem Pendidikan Nasional, Dengan lebih memperhatikan Internet. perbedaan individu dan dengan 56
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ISSN 2089-4554 “JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN” Diterbitkan Oleh : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresik Gresik Jendela Volume Nomor Halaman 57 DesemberPendidikan 1 1 1-59 2011
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANANALISIS PENERAPAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) OLEH GURU DALAM PROSES BELAJAR-MENGAJAR DI SD NU REJODADI CAMPUREJO PANCENG GRESIK Eka Srirahayu Ar.*) Abstrak, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dikembangkan berdasarkanUndang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 36 Ayat (2)ditegaskan bahwa kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan denganprinsip diversikasi (perbedaan) sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan pesertadidik. Guru dituntut untuk lebih kreatif memahami serta mengejawantahkan kurikulum yangada karena kurikulum tersebut dikembangkan salah satunya adalah dengan prinsip perbedaanpeserta didik (guru & siswa). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapanKurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) oleh guru. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, dilaksanakan di SD NU rejodadiCampurejo Panceng Gresik. Data dikumpulkan dengan kuesioner, observasi dan wawancara.Informan penelitian adalah para guru dan kepala sekolah. Data yang terkumpul kemudiandianalisis secara deskriptif kualitatif untuk mengetahui penerapan Kurikulum Tingkat SatuanPendidikan (KTSP) oleh guru SD NU rejodadi Campurejo Panceng Gresik. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan guru tentang pengertian KTSP, tujuan, ciri-ciri dan perbedaan KTSP dengan kurikulum sebelumya sebagian besar cukup. Sebagian besarguru dapat menerapkan dengan tepat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagaiejawantah dari KTSP. Kendala yang dihadapi adalah kurangnya kesiapan dan kreafifitas paraguru sebelum melaksanakan proses pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan bagi sekolah dan pihak terkait mewujudkanupaya memberi kesempatan untuk mendalami KTSP dan jika perlu diberi fasilitas untukkepentingan tersebut. Hendaknya guru menggunakan metode yang lebih kreatif agar prosespembelajaran lebih menarik dan menciptakan kreatifitas dan kesenangan belajar siswa, danpembelajaran tidak hanya menggunakan materi dari buku teks bacaan dan LKS saja,melainkan dari sumber dan media yang lain. Selain itu guru hendaknya selalu menyiapkanhal-hal yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran.Kata Kunci : Penerapan KTSP, Belajar Mengajar. Kegiatan belajar-mengajar (KBM) di komponen-komponen pembelajaran yangsekolah yang diselenggarakan oleh guru tersurat dalam kurikulum. Pernyataan iniselalu bermula dan bermuara pada didasarkan pada kenyataan bahwa kegiatan*) Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresik 58
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANpembelajaran yang diselenggarakan guru pergantian menteri pendidikan sejalanmerupakan bagian utama dari pendidikan dengan pergantian kurikulum pendidikanformal (sekolah) yang syarat mutlaknya yang ada.adalah adanya kurikulum sebagai Realitas di atas tentunya berimbaspedoman. Dengan demikian guru dalam pada penerapan kurikulum oleh guru.merancang program pembelajaran dan Adanya KBK (Kurikulum Berbasismelaksanakan proses pembelajaran akan Kompetensi) banyak “kasus” yang munculselalu berpedoman pada kurikulum. bahwa guru kesulitan dalam Dalam penerapannya, ada tiga variabel menerapkannya. Belum paham betul akanutama yang saling berkaitan dalam strategi KBK guru sudah “disuguhi” lagi denganpelaksanaan pendidikan di sekolah. kurikulum KTSP. Tentunya kita bisaMenurut Sudjana (1987:1) ketiga variabel membayangkan apa jadinya pelaksanaantersebut adalah kurikulum, guru dan proses kurikulum tersebut di lapangan?kegiatan belajar-mengajar (KBM). Guru Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikanmenempati posisi utama (sentral), sebab (KTSP) dikembangkan berdasarkanperanannya sangat menentukan. Ia harus Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003dapat menterjemahkan dan menjabarkan tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasalnilai-nilai yang ada dalam kurikulum, 36 Ayat (2) ditegaskan bahwa kurikulumkemudian mentrasformasikan nilai-nilai pada semua jenjang dan jenis pendidikantersebut kepada siswa melalui proses dikembangkan dengan prinsip diversikasikegiatan belajar-mengajar (KBM). Guru (perbedaan) sesuai dengan satuantidak membuat atau menyusun kurikulum pendidikan, potensi daerah, dan pesertatetapi guru menggunakan kurikulum, didik.menjabarkan, serta melaksanakannya Berdasarkan undang-undang tersebutmelalui proses kegiatan belajar mengajar guru dituntut untuk lebih kreatif(KBM). memahami serta mengejawantahkan Pada perkembangan selanjutnya, kurikulum yang ada karena kurikulumsejalan dengan perubahan paradigma tersebut dikembangkan salah satunyapendidikan dari sentralisasi ke adalah dengan prinsip perbedaan pesertadesentralisasi mendorong perubahan aspek didik (guru & siswa). Padahal kalau kitapendidikan, salah satunya adalah merujuk pada paparan awal yangkurikulum (Depdiknas, 2006; 1). Di tahun diutarakan bahwa kurikulum merupakan2004 kita mengenal adanya KBK bagian yang tak terpisahkan dari(Kurikulum Berbasis Kompetensi), tidak pembelajaran. Tidak dapat kita bayangkan,begitu lama yakni di tahun 2006 muncul bentuk pelaksanaan suatu pembelajaran diKTSP (Kurikulum Tingkat Satuan sekolah tanpa adanya penerapanPendidikan). Seakan-akan terkesan kurikulum. 59
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN Kurikulum yang ditentukan oleh pihak pendidikan, potensi sekolah, daerah,atasan, misalnya Depdikbud masih berupa karakteristik sekolah/daerah, sosial budayabarang cetakan “mati” hanya guru yang masyarakat setempat, dan karakteristikmemberi “hidup” kepada pedoman peserta didik.kurikulum yang diterbitkan itu. Karena itu, Ahiri (2007:6) mengatakan bahwaguru merupakan tokoh utama untuk KTSP adalah kurikulum operasional yangmewujudkan kurikulum itu agar terjadi disusun dan dilaksanakan oleh setiapperubahan kelakuan siswa menurut apa satuan pendidikan yang terdiri dari tujuanyang diharapkan. pendidikan, tingkat satuan pendidikan, Pada akhirnya, kreativitas guru yang struktur dan muatan KTSP, kalenderdituntut dalam penerapan KTSP tersebut. pendidikan dan silabus.Guru hendaknya dapat menciptakan Kunandar (2007:103) mengemukakanpembelajaran yang menyenangkan dan bahwa KTSP adalah kurikulummengasikkan bagi siswa. Hal yang operasional yang disusun dandemikian tentunya dapat dijadikan dilaksanakan oleh masing-masing satuanstimulus (rangsangan) bagi terciptanya pendidikan. Lebih lanjut beliauaktivitas dan kreativitas siswa. Hasil menambahkan, KTSP adalah kurikulumakhirnya diharapkan mampu menjadikan yang merefleksikan pengetahuan,siswa mengerti dan memahami akan materi keterampilan dan sikap sehingga dapatyang telah disampaikan oleh guru. meningkatkan potensi siswa secara utuh.Berdasarkan uraian di atas maka peneliti Dari beberapa pendapat di atas dapatdalam penelitian ini tertarik membuat judul disimpulkan bahwa Kurikulum Tingkat“Analisis Penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalahSatuan Pendidikan (KTSP) Oleh Guru kurikulum operasional yang disusun danDalam Proses Belajar-Mengajar di SD NU dilaksanakan sesuai dengan satuanRejodadi Campurejo Panceng Gresik”. pendidikan potensi sekolah, daerah, karakteristik sekolah/daerah, sosial budayaTINJAUAN PUSTAKA masyarakat setempat, dan karakteristik peserta didik. KTSP merupakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pengembangan KBK yang bercirikan, (1)adalah kurikulum operasional yang disusun orientasi pencapaian hasil dan dampak; (2)oleh dan dilaksanakan di masing-masing berbasis standar kompetensi dansatuan pendidikan (Depdikbud, 2006:01). kompetensi dasar yang tertuang padaSedangkan menurut Mulyasa (2006:08) standar isi; (3) bertolak dari standarKurikulum Tingkat Satuan Pendidikan kompetensi lulusan; (4) memperhatikan(KTSP) adalah kurikulum yang pengembangan kurikulum berdiversifikasi;dikembangkan sesuai dengan satuan (5) mengembangkan kompetensi secara 60
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANutuh dan menyeluruh; (6) menerapkan kemandirian dan inisiatif sekolah dalamprinsip ketuntasan belajar. mengembangkan kurikulum, mengelola Mengenai tujuan KTSP Mulyasa dan memberdayakan sumberdaya yang(2006:22) mengatakan bahwa secara tersedia.umum tujuan ditetapkannya KTSP adalah Hal penting dalam kegiatanuntuk mendirikan dan memberdayakan penyusunan KTSP meliputi, (1) Analisissatuan pendidikan melalui pemberian potensi dan kekuatan/kelemahan yang adawewenangan (otonomi) kepada lembaga di sekolah : siswa, guru dan tenagapendidikan dan mendorong sekolah untuk kependidikan, sarana prasarana, biaya danmelakukan pengambilan keputusan secara program-program yang ada di sekolah; (2)partisipatif dalam mengembangkan Analisis peluang dan tantangan yang ada dikurikulum. Secara khusus tujuan masyarakat dan lingkungan sekitar :ditetapkan KTSP adalah untuk, (1) komite sekolah, dewan pendidikan, dinasMeningkatkan kepedulian warga sekolah pendidikan, asosiasi propesi, dunia industridan masyarakat dalam pengembangan dan dunia kerja, sumberdaya alam dankurikulum melalui pengambilan keputusan sosial budaya; (3) Mengidentifikasibersama; (2) Meningkatkan kompetensi Standar Isi dan Standar Kompetensiyang sehat antar satuan pendidikan tentang Lulusan sebagai acuan dalam penyusunankualitas pendidikan yang dicapai; (3) KTSP.Meningkatkan mutu pendidikan melelui Tabel Perbedaan Kurikulum 1994, KBK 2004, dengan KTSP 2006No Jenis Kurikulum Penjelasan 1. Seluruhnya berada di tangan pusat dan daerah hanya kebagian pengembangan kurikulum lokal dengan porsi 80% pusat dan 20% daerah. 2. Pengembangan kurikulum dilakukan secara sentralisasi. 3. Materi yang dikembangkan dan diajarkan di sekolah sering kali tidak sesuai1. Kurikulum 1994 kebutuhan dan kemampuan siswa serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah. 4. Pembelajaran cenderung hanya dilakukan di dalam kelas 5. Evaluasi nasional yang tidak dapat menyentuh aspek-aspek kepribadian siswa. 1. Seluruhnya berada di tangan pusat dan daerah hanya mengembangkan kompetensi sebagai standar dan kalender pendidikan. 2. Pengembangan kurikulum dilakukan secara desentralisasi Kurikulum KBK2. 3. Sekolah diberi kekuasaan untuk menyusun dan mengembangkan silabus mata 2004 pelajaran sehingga dapat mengakomodasi potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan siswa, serta kebutuhan masyarakat sekitar. 4. Pembelajaran yang dilakukan mendorong terjadinya kerjasama antara 61
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANNo Jenis Kurikulum Penjelasan sekolah, masyarakat dan dunia kerja dalam membentuk kompetensi siswa. 5. Evaluasi berbasis kelas yang menekankan pada proses dan hasil belajar, evaluasi pencapaian kompetensi dasar siswa dilakukan berdasarkan indikator. 1. Guru membuat rencana pembelajaran pusat hanya mengembangkan potensi sebagai standar, sedangkan elaborasi kompetensi diserahkan daerah/sekolah dalam bentuk silabus. 2. Pengembangan kurikulum dan perangkat pembelajaran dibuat oleh masing- masing satuan pendidikan berdasarkan visi, misi dan tujuan sekolah. 3. Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi dasar dengan mempertimbangkan : potensi siswa, relevasi dengan karakteristik daerah, tingkat pengembangan fisik, intelektual,3. Kurikulum KTSP emosional sosial dan spiritual siswa sesuai tuntutan lingkungan dan alokasi waktu. 4. Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antara siswa, siswa dengan guru, lingkungan dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. 5. Evaluasi dengan menggunakan tes dan nontes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan atau produk penggunaan portofolio dan penilaian diri.METODE Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Deskriptif.Pendekatan dan Jenis Penelitian Penelitian diskriptif adalah penelitian yang Pada penelitian ini pendekatan yang dilakukan dengan tujuan untukdipergunakan adalah pendekatan kualitatif. mendeskripsikan fenomena yang diselidikiPendekatan kualitatif adalah pendekatan dengan cara melukiskan danyang tidak menggunakan analisis angka- mengklasifikasikan fakta atau karakteristikangka statistik dalam pengolahan datanya fenomena tersebut secara faktual dan(Hadjar, 1996:30). Artinya, hasil yang cermat (Hadjar, 1996:274). Berdasarkandiberikan berupa deskripsi naratif tidak pendapat tersebut maka dalam penelitianberupa hasil angka-angka statistik. Dalam ini nantinya akan mendeskripsikankaitannya dengan penelitian ini maka penerapan KTSP oleh guru dalam prosespenelitian ini nantinya akan memaparkan belajar mengajar di SD NU Rejodadidan menarasikan data hasil penerapan secara faktual dan cermat.KTSP oleh Guru dalam proses belajar-mengajar di SD NU Rejodadi CampurejoPanceng Gresik. Fokus Penelitian 62
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANFokus dalam penelitian ini adalah informasi tertentu, seperti preferensi,penerapan KTSP dengan indikator : keyakinan, minat, dan perilaku. Pada1. Pengetahuan guru tentang KTSP penelitian ini peneliti memberikan meliputi, (1) Pengertian; (2) Tujuan; angket kepada guru SD NU Rejodadi (3) Ciri-ciri; dan (4) perbedaan KTSP Campurejo Panceng Gresik untuk mendapatkan informasi tentang dengan kurikulum sebelumnya. pengetahuan KTSP.2. Aplikasi Rencana Pelaksanaan Pembe- 2. Observasi (pengamatan) yaitu lajaran (RPP) meliputi, (1) Menerapkan mengamati sebagian kecil perilaku Penulisan Identitas Mata Pelajaran; (2) yang berhubungan dengan penelitian. Penulisan Kompetensi Dasar (KD) dan Dalam kaitannya dengan penelitian ini, SK (standar Kompetensi); (3) peneliti mengamati penerapan KTSP Penulisan Indikator Pencapaian oleh guru dalam proses belajar Kompetensi; (4) Merumuskan Tujuan mengajar di SD NU Rejodadi Pembelajaran; (5) Merumuskan Materi Campurejo Panceng Gresik. Pokok Pembelajaran; (6) Metode 3. Interview (wawancara) adalah Pembelajaran; (7) Pelaksanaan menggali informasi secara lisan dengan kegiatan pembelajaran; (8) Penentuan cara mengajukan pertanyaan- Media / Alat dan Sumber Belajar; (9) pertanyaan kepada guru dan kepala Menentukan Prosedur Penilaian. sekolah SD NU dalam kaitannya3. Kendala penerapan meliputi, (1) dengan penerapan KTSP dalam proses kesiapan guru; (2) kreativitas guru. belajar-mengajar di SD NU Rejodadi Campurejo Panceng Gresik.Informan PenelitianYang menjadi informan dalam penelitian Teknik Analisis Dataini adalah guru-guru dan kepala sekolah di Data dalam penelitian ini dianalisisSDNU Rejodadi Campurejo Panceng secara deskriptif kualitatif. Artinya, dalamGresik. penelitian ini akan dipaparkan hasil data yang ada (Bukan wujud angka statistik)Teknik Pengumpulan data tapi berupa : penerapan KTSP oleh guru Teknik yang digunakan dalam dalam proses belajar-mengajar di SD NUpenelitian ini diantaranya: 1). Angket, 2). Rejodadi Campurejo Panceng Gresik.Observasi (pengamatan), dan 3). Interview HASIL PENELITIAN(wawancara).1. Angket merupakan suatu daftar pertanyaan atau pernyataan tentang Pengetahuan guru tentang KTSP topik tertentu yang diberikan kepada Pengetahuan guru tentang KTSP subyek, baik secara individual atau merupakan hal penting dalam kaitannya kelompok, untuk mendapatkan dengan penerapan kurikulum tersebut. 63
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANHasil penelitian ini menunjukkan secara Tabel Pengetahuan Guru tentangumum guru-guru tidak dapat menyebutkan Perbedaan KTSP dengan Kurikulumdengan lengkap baik pengertian, tujuan, Sebelumnyaciri-ciri, dan perbedaan KTSP dengan Pengetahuan tentang Jumlah %kurikulum sebelumnya. Perbedaan KTSP Kurang 4 28,6Tabel Pengetahuan Guru tentang Cukup 9 64,3 Baik 1 7,1Pengertian KTSP Sangat Baik 0 0,0 Pengetahuan tentang Jumlah % Jumlah 14 100 Pengertian KTSP Kurang 2 14,2 Cukup 8 57,1 Keempat tabel di atas menunjukkan Baik 4 28,6 dari responden yang ada sebagian besar Sangat Baik 0 0,0 berpengetahuan cukup tentang Kurikulum Jumlah 14 100 Tingkat Satuan Pendididikan (KTSP). Hal ini menunjukkan perlunya upaya memberiTabel Pengetahuan Guru tentang Tujuan kesempatan untuk mendalami KTSP. JikaKTSP perlu diberi fasilitas untuk kepentingan Pengetahuan tentang tersebut. Jumlah % Tujuan KTSP Kurang 3 21,4 Aplikasi Rencana Pelaksanaan Cukup 9 64,3 Pembelajaran (RPP) Baik 3 14,2 Sangat Baik 0 0,0 Penerapan Kurikulum Tingkat Jumlah 14 100 Satuan Pendidikan (KTSP) oleh Guru dalam proses belajar-mengajarTabel Pengetahuan Guru tentang Ciri-ciri diaplikasikan dalam wujud Silabus danKTSP selanjutnya diejawantahkan dalam bentuk Pengetahuan tentang Jumlah % Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Ciri-Ciri KTSP oleh sebab itu RPP merupakan “garda Kurang 4 28,6 Cukup 7 50,0 terdepan” pelaksanaan KTSP dalam proses Baik 2 14,3 belajar-mengajar. Berdasarkan pemahaman Sangat Baik 1 7,1 tersebut maka secara garis besar hasil Jumlah 14 100 penelitian ini akan dideskripsikan (dipaparkan dan diuraikan) penerapan RPP tersebut. 64
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANTabel Penerapan RPP sebagai ejawantah Guru SD NU dapat memilih kata kerjadari KTSP yang operasional dalam penulisan Penerapan RPP Jumlah % Indikator Pencapaian Kompetensi. Contoh Tidak Tepat 1 7,1 dari indikator pencapaian kompetensi yang Kurang Tepat 2 14,3 ditulis oleh guru: memahami dan Tepat 10 71,5 menghitung penjumlahan angka desimal, Sangat Tepat 1 7,1 memahami dan menyebutkan ciri-ciri Jumlah 14 100 mahluk hidup. 4. Merumuskan Tujuan PembelajaranTabel di atas menunjukkan hasil kerja guru Guru SD NU Rejodadi dapatdalam membuat dan menerapkan RPP menuliskannya dengan benar. Hal inisebagai ejawantah dari KTSP. Terlihat didasarkan pada penulisan mereka yangsebagian besar sudah tepat dalam merumuskan pencapaian kompetensipenerapan Rencana Pelaksanaan Pem- dengan menggunakan kata kerjabelajaran. Pembahasan secara detail operasional (yang dapat diamati dantentang penerapan tersebut sebagaimana diukur). Misalnya, siswa dapat membacauraian di bawah ini. dengan baik, siswa mampu menulis bentuk karangan dengan baik. Siswa mampu1. Menerapkan Penulisan Identitas Mata menyusun angka bilangan dari bilangan Pelajaran terkecil ke bilangan terbesar dengan baik. Penulisan identitas mata pelajaran 5. Merumuskan Materi Pokokmencakup: a). Penulisan satuan Pembelajaranpendidikan, kelas, b) kelas/tingkat, c) Para Guru SD NU Rejodadi sudahsemester, d) nama mata pelajaran, jumlah dapat merinci materi pokok pembelajaranpertemuan ke....Guru SD NU Rejodadi yang berisikan fakta, konsep, prinsip,dapat menerapkannya dengan baik dan prosedur yang dipilih yang relevan. Rujuanbenar karena berdasarkan buku panduan materi pokok pembelajaran yang ada,dan silabus yang sudah ada. mereka rujuk dari buku materi yang2. Penulisan Kompetensi Dasar (KD) dan mereka pergunakan. SK (standar Kompetensi). 6. Metode Pembelajaran Kedua penulisan tersebut juga dapat Dalam menggunaan metodedijabarkan dengan baik oleh guru pembelajaran di kelas, Guru di SD NUberdasarkan buku panduan dan silabus Rejodadi kebanyakan menggunakanyang sudah ada. metode ceramah dan tanya jawab. Guru3. Penulisan Indikator Pencapaian kurang menggembangkan metode-metode Kompetensi. yang lain. Hal ini mengakibatkan pembelajaran di kelas “monoton” 65
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN(menjemuhkan) hanya menggunakan halaman.....” dilanjutkan dengankedua metode tesebut. pemberian materi dengan metode Semestinya guru bisa menggunakan ceramah.metode-metode yang lain. Hal ini dirasa b. Kegiatan Intiperlu karena sejatinya pembelajaran yang Pada kegiatan ini Guru SD NUberlandaskan pada KTSP diharapkan guru Rejodadi belum mampumampu menciptakan pembelajaran yang mengembangkan pembelajaran secaramenyenangkan dan mengasikkan sehingga optimal. Artinya, pada kegiatan inipembelajaran di kelas lebih menarik. guru diharapkan mampu menyuguhkanContoh metode lain yang mungkin bisa pemberian materi dan strukturdipergunakan, metode sosiodrama pembelajaran, dan pengaktivan kerja(bermain peran), metode karyawisata, siswa, akan tetapi pada aplikasinyametode demonstrasi (eksperimen) dan lain- guru hanya memberikan materi denganlain. model metode ceramah dan tanya7. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran. jawab, dan tugas-tugas yang diberikana. Kegiatan awal pada siswa hanya berdasarkan pada 1) sebagian guru sudah dapat soal buku teks saja tanpa adanya membangkitkan motivasi siswa kekreativan dan pengembangan dari dalam pembelajaran, akan tetapi guru. sebagian lagi guru masih belum c. Kegiatan Akhir bisa memberikan motivasi dan Pada kegiatan ini, Guru SD NU membangkitkan perhatian siswa Rejodadi belum dapat merangkum agar terlibat aktif dalam proses materi pembelajaran yang sudah pembelajaran. Contoh : guru diberikan, akan tetapi dari segi membuka pelajaran dengan penilaian dan tindak lanjut bentuk langsung menyebutkan materi pembelajaran remedial, penugasan sekarang, tanpa adanya sudah dilakukan oleh guru dengan cara “pancingan” kemarin kita sudah memberikan tugas kelompok atau membahas materi tentang apa? / individu. masih ingat tentang materi 8. Penentuan Media / Alat dan Sumber kemarin.... Belajar 2) Sebagian guru belum mampu Dalam bentuk media pembelajaran menyampaikan materi awal yang guru belum dapat mengoptimalkan dikaitkan dengan relevansinya penerapan media kreatif yang menunjang dengan kehidupan sehari-hari. pembelajaran di kelas. Media yang ada Contoh : guru langsung membuka papan tulis, guru mestinya berani pelajaran dengan berkata “buka menggunakan media penunjang bisa 66
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANmenggunakan media gambar, televisi, waktu guna mempersiapkan segala halataupun media kretif buatan guru sendiri. yang besok akan dilakukan pada proses Dalam segi sumber belajar, guru pun pembelajaran di kelas.terfokus hanya pada buku teks ataupunLKS (Lembar Kerja Siswa) saja, semes- KESIMPULAN DAN SARANtinya guru dapat menggunakan referensilain, atau pun nara sumber yang menarik Kesimpulanyang relevan dengan SK (Standart Kompe- 1. Pengetahuan guru tentang pengertiatensi dan Kompetensi Dasar) yang ada. KTSP, tujuan, ciri-ciri dan perbedaan9. Menentukan Prosedur Penilaian KTSP dengan kurikulum sebelumya Dalam menentuan prosedur penilaian, sebagiab besar cukup.kesemuanya guru yang ada dapat menerap- 2. Sebagian besar guru dapat menerapkankannya dengan baik, yaitu dengan cara dengan tepat Rencana Pelaksanaanmenyusun instrumen penilaian sesuai Pembelajaran (RPP) sebagai ejawantahdengan indikator pencapaian kompetensi dari KTSP meliputi, penerapan penu-dasar. lisan identitas mata pelajaran, penulis- an kompetensi dasar (KD) dan SKKendala-kendala dalam penerapan (standar kompetensi), penulisan indika-KTSP di SD NU Rejodadi Campurejo tor pencapaian kompetensi, perumusanPanceng Gresik tujuan pembelajaran, perumusan materi Kendala-kendala penerapan KTSP pokok pembelajaran, penggunaan me-dalam proses belajar-mengajar di SD NU tode pembelajaran, pelaksanaan kegiat-di antaranya : an pembelajaran, penentuan media /1. Kreativitas Guru alat dan sumber belajar, dan penentuan Guru kurang mampu mengembangkan prosedur penilaian.kreativitasnya dalam memilih menggu- 3. Kendala yang dihadapi adalahnakan jenis-jenis metode yang menarik, kurangnya kesiapan dan kreafifitasbelum mampu menyuguhkan media para guru.pembelajaran yang menarik bagi siswa(media yang dipergunakan adalah buatan Saranguru sendiri). 1. Bagi sekolah dan pihak terkait dapat2. Kesiapan Guru mewujudkan upaya memberi Semestinya guru mampu mempersiap- kesempatan untuk mendalami KTSPkan materi, media, ataupun hal-hal lain dan jika perlu diberi fasilitas untukyang diperlukan pada proses pembelajaran kepentingan tersebut.yang akan dilaksanakan besok harinya. 2. Hendaknya guru menggunakan metodeKebanyakan guru tidak dapat meluangkan yang lebih kreatif agar proses 67
    • Jendela Pendidikan, JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN pembelajaran lebih menarik dan Hasan, Chalijah. 1994. Dimensi-Dimensi menciptakan kreatifitas dan kese- Psikologi Pendidikan. Surabaya ; Al- nangan belajar siswa. Ikhlas3. Bagi guru hendaknya pembelajaran Hadjar, lbnu. 1996. Dasar-Dasar tidak hanya menggunakan materi dari Metodogi Penelitian Kwantitatif buku teks bacaan dan LKS saja, Dalam Pendidikan. Jakarta: PT Raja melainkan Grafindo Persada4. Guru hendaknya selalu menyiapkan Hasibuan. J.J dan Moedjiono. 1985. Proses hal-hal yang akan dilakukan dalam Belajar-Mengajar. Bandung: PT proses pembelajaran. Remaja Rosdakarya Indrakusuma, Ainier Daien. 1973.DAFTAR PUSTAKA Pengantar Ilmu Pendidikan. Surabaya: Usaha NasionalArikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Purwanto, M. Ngalim. 1987. Psikohgi Penelitian Suatu Pendekatan Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Praktek. Jakarta: Rineka Cipta RosdakaryaDepdiknas Dirjen Manpendasmen Sardiman. 1986. Interaksi dan Motivasi Direktorat Pembinaan Taman Kanak- Belajar-Mengajar. Jakarta: CV. Kanak dan Sekolah Dasar. 2006. Rajawali Pedoman Penyusunan Kwikuium Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-Faktor Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah yang Mempengaruhinya.Jakarta: Dasar. Depdiknas Rineka CiptaDjamarah, Syaifu Bahri.l991. Prestasi Sudjana, Nana. 1987. Dasar-Dasar Belajar dan Kompetenst Guru. Proses Belajar-Mengajar. Bandung: Surabaya: Usaha Nasional Sinar Baru Algensindo OffsetPure ban, Arief. 1982. Pengantar Syarief, Hamid. 1996. Pengembangan Penelitiun Dalam Pendidikan. Kurikulum. Surabaya: PT. Bina llmu Surabaya: Usaha Nasional Suryo Subroto. 2002. Proses Belajar-Hadi, Sutrisno, 1987. Metodology Mengajar di Sekolah. Jakarta: Bina Research 1. Yogyakarta: Fakultas Ilmu. Psikologi UGM 68