• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
E  jurnal penelitian
 

E jurnal penelitian

on

  • 6,557 views

 

Statistics

Views

Total Views
6,557
Views on SlideShare
6,501
Embed Views
56

Actions

Likes
1
Downloads
196
Comments
0

2 Embeds 56

http://beagoodadministrator.blogspot.com 45
http://fkipuniversitasgresik.ac.id 11

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    E  jurnal penelitian E jurnal penelitian Document Transcript

    • ISSN 2089-5933 Diterbitkan Oleh : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresik e- JURNAL Vol. 1 No. I Hlm. Gresik ISSNPENDIDIKAN 1-66 Juni - 2089-5933 Nopember
    • e- JURNAL JENDELA PENDIDIKAN JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN Di Terbitkan oleh : Ketua Penyuting Rektor Universitas Gresik Wakil Penyuting Dekan FKIP Penyuting Pelaksana Dra. Eka Sri Rahayu, M.Pd Dra. Adrijanti, M.Pd Etiyasningsih, S.Pd., M.Pd Sri Sundari, S.Pd.,M.Pd Drs. Agus Tri Sulaksono, M.Pd Penyuting Ahli Prof. Dr. H. Sukiyat.SH.,M.Si Dra. Hj. Bariroh, M.Pd Drs. Syaiful Khafid, M.Pd Mitra Bestari Prof. Dr. Marhamah, M.Pd (Universitas Islam Jakarta) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd (Universitas Negeri Malang) Prof. Dr. H. Sukiyat, SH.,M.Si (Universitas Gresik ) Pelaksana Ahmad Faizin, SS Alamat Penerbit/Redaksi Kampus Universitas Gresik Jl. Arif Rahman Hakim No. 2B Gresik Telp /Fax (031) 3978628Terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Nopember . Berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian dan kajian analitis-kritis di bidang administrasi pendidikan
    • KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat danhidayah, sehingga Jurnal Jendela Pendidikan versi elektronik bisa hadir di Masyarakatkhususnya kalangan pemerhati dan pemangku pendidikan. Jurnal Jendela Pendidikan versi elektronik ( e-Journal) akan mendampingi JurnalJendela Pendidikan versi cetak yang lebih dulu hadir, Jurnal Jendela Pendidikan ini berisitentang sejumlah artikel penelitian baik artikel bersifat empiris atau laporan penelitianmaupun artikel yang bersifat kajian teori atau artikel konseptual. Penulis artikel berasal darikalangan akademisi atau dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresikyang akan dipublish masyarakat luas khususnya para pemerhati pendidikan. Hal ini sesuaidengan misi utama keberadaan e-Journal Pendidikan sebagai media komunikasi daninformasi yang bersifat ilmiah. Kami berharap partisipasi berbagai kalangan baik akademisi, praktisi, maupunbirokrasi untuk menulis dalam jurnal ini, sehingga berbagai temuan, pemikiran dan ide sertagagasan dapat terkomunikasi dalam jurnal ini semoga terbitan pertama Jurnal JendelaPendidikan versi elektronik bermanfaat bagi kita semua. Gresik, Desember 2011 Tim Redaksi
    • ISSN 2089-5933 DAFTAR ARTIKEL SUPERVISI PENGAJARAN SEBAGAI PEMBINAAN PROFESIONALISME GURU 1-09 Rochmanu Fauzi PENGARUH BIMBINGAN ORANG TUA TERHADAP PRESTASI SISWA PADA BIDANG STUDI BAHASA INDONESIA DI SDN BANGSAL SURABAYA 10 - 18 Etiyasningsih PENGARUH PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DAN GAYA KOGNITIF TERHADAP PEMAHAMAN UNIFLYING GEOGRAPHY 19-29 Syaiful Khafid IKLIM KERJA LEMBAGA DI PONDOK PESANTREN AL FUTUHIYAH GENDONGKULON BABAT LAMONGAN 30-38 Sri Sundari PENDIDIKAN KARAKTER : WACANA KONSEP DAN IMPLEMENTASINYA 39 - 59 Soesetijo PENGARUH DISIPLIN GURU TERHADAP PRESTASI SISWA DI SDN BANJARSARI GRESIK 60 - 78 Etiyasningsih STUDI TENTANG PENGARUH PELAKSANAAN SUPERVISI KEPALA SEKOLAH TERHADAP KEDISIPLINAN GURU DALAM PELAKSANAAN PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SDN NGAGELREJO SURABAYA 79 - 87 Sri Sundari TELAAH KRITIS PENDIDIKAN UNTUK SEMUA (EDUCATION FOR ALL)DALAM KONTEKS MANAJEMEN PENDIDIKAN 88 - 106 Soesetijo E - Jurnal Vol. No. Hlm. Gresik ISSN JENDELA 01 01 1 - 106 Juni - 2089-4554PENDIDIKAN Nopember
    • Supervisi Pengajaran sebagai Pembinaan Profesionalisme Guru Oleh Rochmanu Fauzi Abstraksupervisi pengajaran adalah untuk meningkatkan kemampuan danketerampilan guru dalam melaksanakan tugas pokoknya sehari -hari yaitumengajar. Ada tiga pendekatan dalam supervisi pengajaran, yaitu (1)pendekatan langsung, (2) pendekatan tidak langsung, dan (3) kolaboratif.Teknik-teknik supervisi pengajaran yang paling bermanfaat adalahkunjungan kelas, pembicaraan individual, Diskusi kelompok,demonstrasi mengajar, dan sebagainya. Para guru lebih menghargaisupervisor yang hangat dan menghargai guru. Dalam praktiknyasupervisi pengajaran masih berorientasi pada aspek administratif saja.Berdasarkan uraian tersebut disarankan para supervisor perlu adapenyegaran secara rutin, dalam pelaksanaan supervisi pengajaran parasupervisor sebaiknya menggunakan pendekatan supervisi klinis, perluada pertemuan seusai supervisi yang telah dilakukan oleh Kepala Sekolahatau Pengawas Sekolah, sebagai upaya untuk tindak lanjut setelahpelaksanaan supervisi dilaksanakan.Kata kunci: mutu pendidikan, supervisi pengajaran.
    • Cara hidup suatu bangsa sangat terkait satu sama lain danerat kaitannya dengan tingkat seyogyanya ini dijadikan acuanpendidikannya, Pendidikan bukan dalam proses peningkatan mutuhanya sekedar melestaiikan pendidikan. Oleh karena itu,kebudayaan dan meneruskan dari mutu sebagai salah satugenerasi ke generasi. Akan tetapi paradigma yang harus ditatajuga diharapkan akan dapat secara terus menerus danmengubah dan mengembangkan berkelanjutan. Menurut Mastuhupengetahuan. (2003) dalam pengelolaan suatu unit pendidikan, mutu dapat Sementara itu, salah satu dilihat dari "masukan", "proses",fenomena di bidang pendidikan dan "hasil".yang banyak disoroti oleh para Permasalahan pendidikanpemerhati, cendekiawan maupun yang diidentifikasi (Depdikbud,masyarakat pada umumnya 1983), sampai saat ini,adalah masalah mutu pendidikan. formulasinya tetap sama, yaituMembahas masalah mutu masalah (1) masalah kuantitatif,pendidikan, sebenarnya (2) masalah kualitatif, (3)membahas masalah yang sangat masalah relevansi, (4) masalahkompleks. Oleh karena masalah efisiensi, (5) masalah efektivitas,mutu pendidikan selalu kait- dan (6) masalah khusus.mengkait dengan indikator- Uraian secara singkatindikator lainnya. Salah satu masalah-masalah tersebut adalahinstrumen yang dianggap cukup sebagai berikut ini.efektif untuk meningkatkan mutupendidikan adalah dengan 1. Masalah Kuantitatifsupervisi pengajaran oleh Kepala Masalah kuantitatif adalahSekolah maupun Pengawas. masalah yang timbul sebagai Untuk itu perlu adanya akibat hubungan antarapergeseran dari paradigma lama pertumbuhan sistem pendidikanmenuju ke paradigma yang baru. pada satu pihak dan pertumbuhanParadigma baru manajemen penduduk Indonesia pada pihakpendidikan tinggi, terdiri dari lain. Untuk mengatasi masalah iniakreditasi, akuntabilitas, perlu adanya suatu sistemevaluasi, otonomi dan mutu. pendidikan nasional yangKelima paradigma baru memungkinkan setiap wargapendidikan tersebut saling ncgara Indonesia memperoleh
    • pendidikan yang layak sebagai peningkatan kualitas tidak sampaibekal dasar kehidupannya sebagai menghambat peningkatanwarga negara. Dalam rangka kuantitas dan sebaliknya.pemerataan pendidikan ini, perludilaksanakan kewajiban belajar 3. Masalah relevansidengan segala konsekuensinya Masalah relevansi adalahdalam bidang pembiayaan, masalah yang timbul dariketenagaan, dan peralatan. hubungan antara sistem pendidikan dan pembangunan2. Masalah kualitatif nasional serta antara kepentingan Masalah kualitatif adalah perorangan, keluarga, danmasalah bagaimana peningkatan masyarakat, baik dalam jangkakualitas sumber daya manusia pendek maupun dalam jangkaIndonesia gara bangsa Indonesia panjang. Hal ini meminta adanyadapat meinpertahankan keterpaduan di dalameksistcnsinya. Dalam masalah ini perencanaan dan pelaksanaantercakup pula masalah pembangunan nasional agarketinggalan bangsa Indonesia dan pendidikan merupakan wahanaperkembangan modern. Ditinjau penunjang yang efektif bagidari latar bclakang ini, masalah proses pembangunan dankualitas pendidikan merupakan ketahanan nasional. Masalah inimasalah yang memprihatinkan dengan sendirinya mempunyaidalam rangka kelangsungan hidup kaitan pula dengan masalahbangsa dan negara. Dalam sistem pokok di dalam pembangunanpendidikan ini sendiri, masalah nasional, seperti masalah tatakualitas menyangkut nilai, industri. pembangunan banyak hal, antara lain pertanian, perencanaan tenagakualitas calon anak didik, guru kerja, dan pertumbuhan wilayah.dan tenaga kependidikan lainnya, 4. Masalah efisiensiprasarana, dan sarana. Masalah efisiensi padaPenanganan aspek kualitatif ini hakikatnya adalah masalahberhubungan erat dengan pengelolaan pendidikan nasional.penanganan aspek kuantitatif Adanya keterbalasan dana dansehingga perlu sekali adanya daya manusia sungguh-sungguhkeseimbangan yang dinamis memerlukan adanya sistemdalam proses pengembangan pengelolaan efisien dan terpadu.pendidikan nasional, sehingga Keterpaduan pengelolaan tidak
    • hanya tercermin di dalam menyangkut soal pengadaan dihubungan antara negeri dan lembaga-lembaga pendidikanswasta, antara pendidikan guru, pembinaan sistem karir dansekolah dan pendidikan luar prestasi kerja, pengangkatan,sekolah, antara departemen yang pemerataan dan penyebaransatu dan departemen yang lain, di menurut wilayah dan bidangdalam lingkungan jajaran studi, pembinaan karir danDepartemen Pendidikan Nasional prestasi, status, dansendiri, tetapi juga di antara kesejahteraan. Masalah yangsemua unsur dan unit lersebut. kompleks ini menyangkut banyak lembaga dan unit serta koordinasi5. Masalah efektifitas dan kerjasama antara lembaga Masalah efektifitas adalah dan unit tersebut.masalah yang menyangkut Esensi dari permasalahan-keampuhan pelaksanaan permasalahan pendidikan padapendidikan nasional. Dalam hakekatnya adalah bermuarahubungan dengan permasalahan pada satu istilah yaitu kualitaskeseimbangan yang dinamis pendidikan atau mutuantara kualitas dan kuantitas, di pendidikan. Mastuhu (2003)samping keterbalasan sumber mengemukakan bahwa kata kuncidana dan tenaga, efektivitas untuk menggambarkan Sistemproses pendidikan amat penting. Pendidikan Nasional yangHal ini berkaitan dengan bagaimana yang diperlukan dalamkurikulum, termasuk aspek abad-abad mendatang ialahmetodologi dan evaluasi, serta pendidikan yang bermutu.masalah guru, pengawas, dan Selanjutnya, Mastuhumasukan instrumental lainnya. mengatakan bahwa mutu6. Masalah khusus (quality) merupakan suatu Di samping masalah- istilah yang dinamis yang turusmasalah umum yang telah bergerak; jika bergerak majudibicarakan di atas, perlu dikatakan mutunya bertambahdibicarakan pula beberapa baik, sebaliknya jika bergerakmasalah khusus sebagai berikut. mundur dikatakan mutunyaGuru sebagai pelaksana merosot. Mutu dapat berartipendidikan faktor kunci di dalam superiority atau excellencepelaksanaan sistem pendidikan yaitu melebihi standar umumnasional. Masalah guru yang berlaku. Sedangkan sesuatu
    • dikatakan bermutu jika terdapat oleh Watson (dalam Taroeratjeka,kecocokan antara syarat-syarat 2000) bahwa suatu upaya pencarianyang dimiliki oleh benda yang mutu secara terus-menerus demidikehendaki dengan maksud dari mendapatkan cara kerja yang lebihorang yang menghendakinya baik agar mampu tampil bersaing(Idrus, dkk., 2002). melampui standar umum. Dalam pengelolaan suatu Menurut Supriadi (2000) kitaunit pendidikan, mutu dapat tidak perlu dipusingkan olehdilihat dari: "masukan", "proses", pertanyaan-pertanyaan mengenaidan "hasil". Masukan" meliputi: validitas metodologisnya atau berusahasiswa. Tenaga pengajar, mencari excuse apabila ternyata adaadministrator, dana, sarana, hasil-hasil studi yang tidak sesuaiprasarana, kurikulum, buku-buku dengan harapan kita. Sikap optimisperpustakaan, laboratorium, dan perlu untuk dikembangkan bagialat-alat pembelajaran, baik pendidikan di Indonesia, walaupunperangkat keras maupun hasil surveinya tidak menyenangkanperangkat lunak. "Proses" sesuai dengan yang diharapkan.meliputi, pengelolaan lembaga, langkah selanjutnya membuat visi kepengelolaan program studi, depan untuk meningkatkan kualitaspengelolaan program studi. manajemen pendidikan.pengelolaan kegiatan belajar- Suatu saran yang dikemukakanmengajar, interaksi akademik oleh Supriadi dalam menghadapiantara civitas akademika, seminar permasalahan rendahnya kualitasdialog, penelitian, wisata ilmiah, pendidikan di Indonesia adalahevaluasi dan akreditasi. Sedangkan memiliki visi global dan kehendak"hasil": meliputi lulusan. penerbitan- untuk bersaing secara internasional,penerbitan, temuan-temuan ilmiah, maka insan pendidikan mulai paradan hasil-hasil kinerja lainnya. pengajar dan peneliti di lembaga Ketiga unsur di atas (input, pendidikan tenaga kependidikan diproses, dan output) terus berproses perguruan tinggi dan pengambilatau berubah-ubah. Oleh karena itu, keputusan dituntut untuk membukapengelola unit pendidikan atau sekolah wacana terhadap studi-studiperlu menetapkan patokan atau internasional.benchmark, yaitu standar target yang KONSEP DASAK SUPERVISIharus dicapai dalam suatu periode PENGAJARAIN DI SEKOLAHwaktu tertentu dan terus berusaha Di antara masalah-masalahmelampuinya. Seperti dikemukakan pendidikan yang sedang mendapat
    • pcrhatian pemerintuh salah salunya melaksanakan pembinaanadalah puningkatan mutu pendidikan terhadap guru agar lebih(Benly, IW2). Dalam PROPENAS profesional, maka instrumen yang(2002) dijelaskan bahwa sampai sangat relevan dan tepat adalahdengan awal abad ke-21 pembangunan dengan melalui supervisipendidikan masih menghadapi krisis pengajaran. Oleh karena supervisiekonomi berbagai bidang kcliidupan. pengajaran pada hakikatnyaWalaupun sejak tahun 2000, ekonomi adalah untuk meningkatkanIndonesia telah mulai tumbuh positif kemampuan dan keterampilan(4,8 persen), akibat krisis dalam guru dalam melaksanakan tugaskehidupan sosial, politik dan pokoknya sehari-hari yaitukepercayaan dikawatirkan masih akan mengajar para peserta didik dimemberi yang kurang kelas.menguntungkan terutama bagi Dari berbagai kajianupaya peningkatan kualitas SDM. mengenai rumusan definisiProgram peningkatan mutu mengenai supervisi, Mantjapendidikan di sekolah dasar dapat (1998) menuliskan formulasidicapai manakala proses belajar tentang supervisi pengajaranmengajar dapat berlangsung adalah semua usaha yang sifatnyadengan baik. berdayaguna dan membantu guru atau melayaniberhasil guna. guru agar ia dapat memperbaiki, Dalam mengkaji risalah mengembangkan, dan bahkanmutu pendidikan, tidak dapat meningkatkan pengajarannya,lepas dari penyelenggaraan serta dapat pula menyediakansistem pendidikan. Dari berbagai kondisi belajar murid yang efekiffaktor penyebab rendahnya mutu dan efisien demi pertumbuhanpendidikan, ditinjau dari aspek jabatannya untuk mencapaimanajemen pendidikan dapat tujuan pendidikan dandikelompokkan ke dalam tiga meningkatkan mutu pendidikan.faktor, yaitu: (a) faktor Definisi yang dirumuskan olehinstrumental sistem pendidikan, Mantja ini sudah mewakili konsep(b) faktor sistem manajemen supervisi pengajaran.pendidikan, termasuk di Apabila dikaji daridalamnya sistem pembinaan tujuannya supervisi padaprofesional guru, dan (c) faktor hakikatnya adalah untuksubstansi manajemen pendidikan membantu guru untuk(Mantja, 1998). Untuk dapat meningkatkan kualitas proses
    • belajar mengajarnya. proses belajar mengajar yang tepat.Harsosandjojo (1999) Tujuan tersebut ditambah dengan (4)mengemukakan tujuan supervisi tujuan perantara ialah membina guru-yaitu membantu guru dalam hal guru agar dapat mendidik para siswa(1) membimbing pengalaman dengan baik, atau menegakkan disiplinbelajar sisvva, (2) menggunakan kerja secara manusiawi.sumber-sumber pengalaman Dalam kaitannya dengan tugas-belajar, (3) menggunakan metode- tugas supervisor, secara lebih khususmetode yang baru dan alat-alal Nurtain (1989) membagi 10 (sepuluh)pelajaran modern, (4) memenuhi bidang tugas supervisor yang dirincikebutuhan belajar para siswa, (5) sebagai berikut ini. Tugasmenilai proses pembelajaran dan I , pengembangan kurikulum. Tugashasil belajar siswa, (6) mcmbina 2, pengorganisasian pengajaran.reaksi mental atau moral kerja Tujuan 3, pengadaan staf. Tugas 4,guru-guru dalam rangka penyediaan fasilitas. Tugas 5,pertumbuhan pribadi dan jabatan pcnycdiaan bahan-bahan. Tugas 6,mereka, (7) melihat dengan jelas penyusunan penataran pendidikan.tujuan-tujuan pendidikan, dan (8) Tugas 7, pemberian orientasimengguaakan waktu dan tenaga anggota-anggota staf. Tugas 8,mereka dalam pembinaan sekolah. berkaitan dengan pelayanan muridTujuan supervisi ini pada akhirnya khusus. Tugas 9, pengembanganadalah ditujukan untuk meningkatkan hubungan masyarakat. Dan yangkualitas para siswa. Hal ini terakhir tugas 10, penilaiansebagaimana dikemukakan oleh pengajaran.Sergiovanni (1983) bahwa tujuan Mengkaji tugas-tugas supervisisupervisi ialah (1) tujuan akhir adalah pengajaran tersebut di atas, dapatuntuk mencapai pertumbuhan dan ditelaah dari tujuan supervisiperkembangan para siswa (yang pengajaran itu sendiri. Sesuai denganbersifat total). Dengan demikian fungsi pokok supervisi, yaitusekaligus akan dapat memperbaiki memperbaiki dan mengembangkanmasyarakat, (2) tujuan kedua ialah situasi belajar mengajar dalam rangkamembantu kepala sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan nasional,menyesuaikan program pendidikan maka tujuan supervisi pendidikandari waktu ke waktu secara kontinyu mencakup tujuan dasar, tujuan umum(dalam rangka menghadapi tantangan dan tujuan khusus.perubahan zaman), (3) tujuan dekat Tujuan dasar supervisiialah bekerjasama mengembangkan pendidikan, adalah membantu
    • tercapainya tujuan pendidikan nasional (coordinating), dan (4) kegiatandan tujuan pendidikan institusional. pengawasan (controlling).Tujuan pendidikan nasional secara Berdasarkan uraianrinci dan jelas dirumuskan dalam tersebut di atas, dapatGBHN. Sedangkan tujuan institusional dikemukakan bahwa untukdapat dilihat di dalam kurikulum yang meningkatkan kualitas belajarmemuat landasan, program dan mengajar, guru adalah faktorpengembangan. sentral yang perlu mendapatkan Tujuan umum supervisi perhatian secara optimal. Mediapendidikan, adalah membantu untuk meningkatkanmemperbaiki dan profesionalisme guru adalahmengembangkan administrasi melalui supervisi pengajaran.pendidikan. Administrasi yang Supervisi pengajaran padadimaksud adalah meliputi baik hakikatnya adalah ditujukanadministrasi sebagai substansi untuk meningkatkan kualitasmaupun administrasi sebagai pembelajaran yang dilakukan olehproses. guru di kelas, sehingga tujuan Administrasi sebagai akhirnya adalah kualitas hashsubstansi meliputi hal-hal sebagai belajar siswa dapat ditingkatkanberikut: (1) administrasi secara optimal.kesiswaan, (2) administrasiketenagaan, (3) administrasi SUPERVISI PENGAJARANkurikulum, (4) administrasi Dalam pemakaiannya secarakeuangan, (5) administrasi umum supervisi diberi arti samasarana/prasarana, dan (6) dengan director, manager. Dalamadministrasi hubungan bahasa umum ini adamasyarakat. Sedangkan kecenderungan untuk membatasiadministrasi sebagai proses pemakaian istilah supervisormeliputi hal-hal terkait dengan kepada orang-orang yang beradaunsur-unsur manajemen, antara dalam kedudukan yang lebihlain (1) kegiatan perencanaan bawah dalam hicrarkhi(planning), (2) kegiatan manajemen.pengorganisasian (organizing), (3) Dalam sistem sekolah,kegiatan pengarahan (actuating) khususnya dalam sistem sckolahyang meliputi kegiatan yang ialah berkembang,pengarahan (directing) dan situasinya agak lain. Dalam Goodkegiatan pengkoordinasian (1976) supervisi didefinisikan
    • sebagai segala usaha dari para Memperhatikan penting danpejabat sekolah yang diangkat peranannya pendidikan dasar danyang diarahkan kepada menengah yang demikian besar, makapenyediaan kepemimpinan bagi pendidikan dasar dan menengah haruspara guru dan tenaga dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.kependidikan lain dalam Oleh karena itu, pembinaan terhadapperbaikan pengajaran, melihat para guru di sekolah dasar merupakanstimulasi pertumbuhan suatu kebutuhan yang tidak dapatprofessional dan perkembangan ditunda-tunda lagi. Pembinaandari para guru, seleksi dan revisi terhadap guru sekolah dasar, terutamatujuan-tujuan peudidikan, bahan diarahkan pada pembinaan prosespengajaran, dan metoda-metoda belajar mengajar. Pembinaan prosesmengajar, dan evaluasi pengajaran. belajar mengajar adalah usahaWiles (1982) menjelaskan bahwa memberi bantuan pada guru untuksupervisi sebagai bantuan dalam memperluas pengetahuan,pengembangan situasi belajar- meningkatkan keterampilan mengajarmengajar yang lebih baik; ia adalah dan menumbuhkan sikap profesional,suatu kegiatan pelajaran yang schingga guru menjadi lebih ahli dalamdisediakan untuk membantu para guru mengelola KBM untuk membclajarkanmenjalankan pekerjaan mereka dengan anak didik dalam rangka mencapailebih baik. Peranan supervisor adalah tujuan pembelajaran dan tujuanmendukung, membantu, dan membagi, pendidikan di SD (Depdikbud,bukan menyuruh. Wiles (1982) 1999/2000).selanjutnya mengatakan bahwa Supervisi pendidikan di sekolahsupervisi yang baik hendaknya dasar lebih diarahkan untukmengembangkan kepemimpinan di meningkatkan kemampuan gurudalam kelompok, membangun program sekolah dasar dalam rangkalatihan dalam jabatan untuk peningkatan kualitas proses belajarmeningkatkan keterampilan guru, dan mengajar. Supervisi ini dapatmembantu guru meningkatkan dilakukan oleh siapa saja, baik Kepalakemampuannya dalam menilai hasil Sekolah maupun Pengawas Sekolahpekerjaannya. yang bertugas sebagai supervisor melalui pemberian bantuan yang bercorak pelayanan dan bimbinganSUPERVISI PENGAJARAN profesional, sehingga guru dapatSEBAGAI PEMBINAAN melaksanakan tugasnya dalam prosesPROFESIONAL GURU
    • belajar mengajar dengan lebih baik meningkatkan proses belajar -dari prestasi sebelumnya. mengajar di kelas. SupervisorSupervisi pendidikan di atau pembina, yaitu Peng awassekolah pada hakekatnya Sekolah, Kepala Sekolah, atauadalah dalam rangka semua pejabat yang terlibatpembinaan terhadap para guru. dalam layanan supervisi,Adapun sasaran pembinaannya, adalah pihak yang selama i niantara lain (1) merencanakan dipandang berwe wenang, dankegiatan belajar mengajar karena itu pula di anggap palingsesuai dengan st rategi belajar bertanggung jawab dalamaktif, (2) menge lola kegiatan kegiatan supervisi.belajar mengajar yang Kilas balik kaji historismenantang dan menarik, (3) supervisi pengajaran, padamenilai kemajuan anak belajar, awalnya istilah yang(4) memberikan umpan balik dimunculkan adalah supervisiyang bermakna, (5) pendidikan (Kuri kulum 1975).memanfaatkan lingkungan Kemudian. pada Kurikul umsebagai sumber dan media 1984 dan 1994 digunakanpengajaran, (6) membimbing istilah pembinaan profesionaldan melayani siswa yang guiu atau pembinaan gurumengalami kesul itan belajar, untuk jenjang sekolah dasar.terutama bagi anak lamban dan Walaupun demi kian istilahanak pandai, (7) mengelola supervisi pendidikan dalamkelas sehingga tercipta Kurikulum SMU 1994 masihlingkungan be lajar yang tetap digunakan. Denganmenyenangkan, dan (8) demikian dapat disimpulkanmenyusun dan mengelola bahwa kegiatan supervisicatatan kemajuan anak (record pendidikan maup un pembinaankeeping) (Depdikbud, profesional merupakan nama1999/2000). layanan yang digunakan secara Menurut Mantja (1990) bergantian dal am praktiksupervisi atau pembinaan pendidikan pada sek olah-profesional adalah bantuan sekolah di Indonesia.atau layanan yang diberikan Dengan de mikian dapatkepada guru, agar ia belajar dikemukakan bahwa supervisibagaimana mengembangkan (pembinaan profe sional guru )kemampuannya untuk dimaksudkan untuk
    • meningkatkan ke mampuan dan approach), (2) pendekatan tidakketerampilan guru dalam langsung (non directive approach),melaksanakan tugas pokoknya dan (3) pendekatan kolaboratifsehari-hari yaitu mengel ola (collaborative approach).proses belajar -mengajar Pendekatan langsung adal ahdengan segala aspek sebuah pendekatan supervisi,pendukungnya sehingga di mana dalam upayaberjalan dengan baik peningkatan ke mampuan gurukhususnya dalam kegiatan peran kepala sekolah dasar,belajar mengajar, sehingga pengawas TK/SD, dan pembinatujuan pendidikan dasar dapat lainnya lebih besar dari padatercapai secara optimal. peran guru yang bersangkutan. Pada hakikatnya kegiatan Pendekatan tidak langsungpembinaan menyangkut dua adalah sebuah pendekatanbelah pihak yaitu pihak yang supervisi, di mana dalam upayadilayani atau pihak yang dibina peningkatan ke mampuan gurudan pihak yang melayani atau peran kepala sekolah,yang membina (Ekosusilo, pengawas TK/SD, dan Pembina2003). Baik yang dibina lainnya lebih kecil daripadamaupun pembina harus sama - peran guru yang bersangkutan.sama me miliki kemampuan Pendekatan kolaboratif adalahyang berkembang secara serasi sebuah pendekatan supervisi,sesuai dengan ke dudukan dan di mana dalam upayaperan masing-masing. Oleh peningkatan ke mampua n gurusebab itu, sasaran pembi naan peran kepala sekolah,profesional ini adalah kedua pengawas TK/SD, dan pembinabelah pihak yaitu guru sebagai lainnya sama besarnya denganpihak yang dibina dan kepala peran guru yang bersangkutan.sekolah atau pengawas sekolah Penggunaan pendekatansebagai pihak yang membina. tersebut disesuaikan dengan dua karakteristik guru yangBEBERAPA PENDEKATAN akan diberi supervisi, yaituDALAM SUPERVISI PENDIDIKAN tingkat abstraksi guru (level of Secara garis be sar ada teacher abstraction) dan tingkattiga pendekatan dalam komitme n guru (level of teachersupervisi pendidikan, yaitu (1) commitment). Daya abstraksi gurupendekatan langsung (directive bisa tinggi, sedang, dan bisa
    • juga rendah. D emikian pula mengenal dan mempraktekkandengan komitme n guru bisa teknik-teknik supervisitinggi, sedang, dan rendah. pendidikan yang lazimPendekatan sup ervisi yang digunakan dalam pelaksanaandigunakan harus dises uaikan supervisi pengajaran. Adadengan tinggi -re ndahnya daya tersedia sejumlah teknikabstraksi dan komitmen guru supervisi yang dipandangyang disupervisi. bermanlaat untuk merangsang1. Guru yang memiliki daya dan me ngarahkan perhatian abstraksi dan komitmm yang guru-guru terhadap kurikulum rendah sebai knya dan pengajaran, untuk disupervisi dengan mengidentifikasi masalah - pendekatan langsung. masalah yang ber talian dengan2. Guru yang memiliki daya mengajar dan belajar, dan abstraksi yang rendah, untuk menganal isis kondisi - tetapi komitmennya tinggi, kondisi yang mengelilingi sebaiknya disupervisi mengajar dan belajar. Yang dengan pendekatan berikut ini pada umumnya kolaboiatif. dipandang teknik yang paling3. Guru yang memiliki daya bermanfaat bagi supervisi. abstraksi yang tinggi tetapi komitme nnya rendah, 1. Kunjungan kolas. sebaiknya disupervisi Kunjungan kelas (sering dengan pendekatan disebut kunjungan supervisi) kolaboratif. yang dilakukan kepala sekolah4. Guru yang memiliki daya (atau pengawas/p enilik) adalah abstraksi dan komitme n teknik paling efektif untuk yang tinggi sebaiknya mengamati guru bekerja, alat, disupervisi dengan metode, dan teknik mengajar pendekatan tidak langsung tertentu yang dipakainya, dan (Bafadal, 2003). untuk me m-pelajari situasi belajar secara keseluruhan dengan memperhatikan semuaTEKNIK-TEKNIK SUPERVISI faktor yang mempengaruhi Bagaimana Kepala pertumbuhan murid. DenganSekolah dalam mensupervisi menggunakan h asil analisispara guru ?. Dalam konteks ini, observasinya, ia bersamamaka Kepala Sekolah perlu
    • dengan guru dapat menyusun membantu guru mengembangkan arahsuatu program yang baik unt uk diri dan tumbuh dalam pekerjaan.memperbaiki kondisi yangmelingkari menga jar-belajar d i 3. Diskusi Kclompokkelas tertentu. Sudan tentu, Dengan diskusi kelompok (ataukunjungan kelas, agar efektif, sering pula disebut pertemuanhendaknya dipersiapkan kelompok) dimaksud sualu kegiatandengan teliti dan dilaksanakan dimana sekelompok orang berkumpuldengan sangat berhati -hati dalam situasi bcrlatap muka dandengan disertai budi bahasa melalui interaksi lisan bertukaryang baik pula. informasi atau berusaha untuk mencapai suatu keputusan tentangPada umumnya kunjungan kelas masalah-masalah bersama. Kegiatanhendaknya diikuti oleh pembicaraan diskusi ini dapal mengambil beberapaindividual antara kepada sekolah bentuk pertemuan staf pengajar,dengan guru. seperti: diskusi panel, seminar,2. Pembicaraan individual lokakarya, konperensi, kelompok studi, Pembicaraan individual pekerjaan komisi, dan kegiatan lainmerupakan teknik supervisi yang yang bertujuan untuk bersama-samasangat penting karena kesempatan membicarakan dan menilai masalah-yang diciptakannya bagi kepala sekolah masalah tentang pendidikan dan(pengawas/penilik) untuk bekerja pengajaran. Pertemuan-pertemuansecara individual dengan guru serupa ini dipadang suatu kegiatansehubungan dengan masalah-masalah yang begitu penting dalam programprofesional pribadinya. Masalah- supervisi modern, sehingga gurumasalah yang mungkin dipecahkan sebenarnya hidup dalam suasanamelalui pembicaraan individual bisa pelbagai jenis pertemuan kelompok.macam-macam: masalah-masalah yang 4. Demonstrasi mengajarbertalian dengan mengajar, dengan Demonstrasi mengajarkebutuhan yang dirasakan oleh guru, merupakan teknik yang berharga pula.dengan pilihan dan pemakaian alat Rencana demonstrasi yang telahpengajaran, teknik dan prosedur, atau disusun dengan teliti dan dicetak lebihbahkan masalah-masalah yang oleh dulu, dengan menekankan pada hal-halkepala sekolah dipandang perlu untuk yang dianggap penting atau pada nilaidimintakan pendapat guru. Apapun teknik mengajaryang dijadikan pokok pembicaraan, iamewakili teknik yang sangat baik untuk
    • tertentu, akan sangat membantu. sekolah untuk menciptakanPembicaraan sehabis demonstrasi perhatian dan keinginan bagibisa menjelaskan banyak aspek. pekerjaan penting dan terus-Suatu analisis observasi adalah menerus itu. Penyesuaian danperlu. pengembangan kurikulum dilakukan di sekolah dengan5. Kunjungan kelas antar guru mengembangkan materi muatanSejumlah studi telah lokal. Muatan lokal ini sesuaimengungkapkan bahwa dengan potensi lingkungankunjungan kelas yang dilakukan sekitar sekolah.guru-guru di antara mereka 6. Buletin supervisisendiri adalah efektif dan disukai. Buletin supervisiKunjungan ini biasanya merupakan alat komunikasi yangdirencanakan atas permintaan efektif. Ia bisa berisiguru-guru. Teknik ini akan lebih pengumuman-pengumuman,efektif lagi jika tiap observasi ikhtisar tentang penelitian-diikuti oleh suatu analisis yang penelitian, analisis presentasiberhati-hati. dalam pertemuan-pertemuan6. Pengembangan kurikulum organisasi professional, dan Perencanaan penyesuaian perkembangan dalam berbagaidan pengembangan kurikulum bidang studi.menyediakan kesempatan yangsangat baik bagi partisipasi guru.Pentingnya relevansi kurikulum 7. Perpustakaan Profesionaldengan kebutuhan murid dan Perpustakaan professionalmasyarakat bagi pemeliharaan sekolah merupakan sumberdan peningkatan kualitas informasi yang sangat membantupendidikan di negara kita diakui. kepada peitumbuhan professionalTetapi dalam prakteknya, personil pengajar di sekolah.sekolah-sekolah secara individual Perpustakaan professionaltidak banyak melakukan usaha menyediakan tidak saja suatuuntuk menyesuaikan dan sumber informasi, tapi ia jugamengembangkan kurikulum suatu rangsangan bagi kepuasanstandar itu dengan kebutuhan pribadi. Buku-buku tentangmurid dan masyarakat terus pandangan professional, bacaanberubah. Terserah kepada kepala suplementer yang lebih baru, dan majalah professional yang banyak
    • jumlah-nya itu hendaknya akan memenuhi kebutuhan dantersedia bagi semua guru. Juga kepentingan murid.sumbangan-sumbangan dari guru Sebenarnya ada teknik-dapat menjadi bagian dari teknik lain, tetapi yang"gudang" informasi ini. diterapkan di atas dengan singkat adalah teknik-teknik yang dalam8. Lokakarya sejumlah penelitian dipandang Lokakarya menyediakan telah menunjukkan manfaatnyakesempatan untuk Kerjasama, bagi supervisi. Untuk pembahasanuntuk memperteukan ide-ide, yang lebih terurai pembacauntuk mendiskusikan masalah- disarankan untuk membacamasalah bersama alau khuais, dan sumber-sumber lain.untuk pertumbuhan pribadi dan Pada hakekatnya tidak adaprofessional dalam berbagai satu teknik tunggal yang bisabidang studi. Ada banyak jenis memenuhi segala kebutuhan; danlokakarya itu. Dalam lokakarya bahwa sualu teknik tidaklah baikseni, barangkali sebagian bcsar alau buruk pada umumnya,waktu akan diisi dengan melainkan dalam kondisipartisipasi sungguh dengan tertentu. Masalah yang utamamempelajari keterampilan dan adalah menetapkan kebutuhan.teknik-teknik kegiatan scni. Beberapa teknik hubungan antaraDalam lokakarya matematika sekolah dengan masyarakat yanglebih banyak tckanan mungkin diperkenalkan oleh Sahertiandiberikan kepada menganalisis (1989) antara lain adalah seperti:dan memilih pengalaman belajar (1) laporan kepada orang tuayang sesuai, menemukan bahan murid, (2) majalah sekolah, (3)teknologi pengajaran dan metode- surat kabar sekolah, (4) pameranmetode presentasi ini, dan sekolah, (5) open house, (6)menilai program-program baru. kunjungan ke sekolah, (7) kunjungan ke rumah murid, (8)9. Survey sekolah-masyarakat melalui penjelasan yang Suatu studi yang diberikan ole h personilkomprehensif tentang masyarakat sekolah, (9) gambaran keadaanakan membantu guru dan kepala sekolah melalui murid -murid,sekolah untuk memahami dengan (10) melalui radio dan televisi,lebih jelas program sekolah yang (11) laporan tahunan, (12) organisasi perkumpulan alumni
    • sekolah, (13) melalui kegiatan dengan baik, supervisorekstra kurikulum, dan (14) menunjukkan sifat membantupendekatan secara akrab. dan menyediakan model -model pengajaran yang efektif, (7) supervisor memberikan peranRESPON DAN SIKAP GURU serta yang cukup tinggi kepadaTERHADAP SUPERVISI guru unt uk pengambilanPENGAJARAN keputusan dalam wawancara Kajian tentang si kap guru supervisi, (8) supervisorterhadap supervisi menjadi mengutamakan p engembanganperhatian Neagley & Evans keterampilan hubungan insani ,(dalam Mantja, 1998) dengan seperti halnya denganmerujuk sejumlah hasil keterampilan teknis dan (9)penelitian beberapa pakar supervisor seharusnyasupervisi pengajaran. Te muan - menciptakan iklimtemuan yang dilaporkan, organisasional yang t erbuka,antara lain (1) supervisi yang yang memungkinkanefektif harus didasarkan atas pemantapan hubungan yangprinsip-prinsip yang sesuai saling menunjang (supportive).dengan perubahan sosial dan Dalam praktiknyadinamika kelompok, (2) para supervisi pengajaran yangguru menghendaki supervisi dilaksanakan selama ini masihdari kepala sekolah, cenderung berorientasi padasebagaimana yang seharusnya administratif saja. Walaupundikerjakan ol eh tenaga sudah dirumuskan dalampersonel yang berjabatan kegiatan supervisi ba hwa aspeksupervisor, (3) kepala sekolah yang disupervisi adalahtidak melakukan supervisi administratif dan edukatif,dengan baik, (4) semua guru namun pada kenyataannyamembutuhkan supervisi dan masih cenderung le bihmengharapkan untuk domi nan aspek administratif.disupervisi, (5) p ara guru le bih Fenome na ini dikaji secaramenghargai dan menilai secara khusus dalam Konferensipositif perilaku supervisi yang Pendidikan di Indonesia:"hangat", saling mempercayai, Mengatasi Kri sis Menujubersahabat, dan menghargai Pembaruan, yang dii kuti paraguru, (6) supervisi dianggap pakar yang kompclen. Salalibermanfaat bila direncanakan
    • satu rekomendasi dari konferensi saja dan monoton itu-itu saja,ini, khususnya yang berkaitan bahkan nampak diacuhkan.langsung dengan masalah Namun guru tidak menampakkansupervisi dikemukakan sebagai ketidak-setujuannya di hadapanberikut ini. supervisor, karena dilandasi rasa Rekomendasi 23 hormat sekaligus tidak ingin Fungsi-fungsi pengawasan menimbulkan konflik. Penelitian pada semua jenjang yang dilakukan Mantja (1989) pendidikan dioptimalkan juga menyimpulkan bahwa respon seba-gai sarana untuk dan sikap guru terhadap supervisi memacu mutu pendidikan. ditentukan oleh kemanfaatan, Pengawasan dimaksud data pengamatan yang obyektif, dengan mengutamakan kesempatan menanggapi balikan, aspek-aspek akademik perhatian supervisor terhadap daripada administratif gagasan guru. Supervisi yang sebagaimana berlaku teratur dan hubungan yang selama ini (Jalal & Supriadi, diciptakan dapal mengurangi 2001). ketegangan emosional guru. Guru Keefektifan penerapan lebih menyukai pendekatanorientasi dan pendekptan supervisi kolaboratif atau nonsupervisi di atas, tidak hanya direktif.tergangung pada supervisor saja,melainkan juga sangat KENDALA-KENDALA PELAKSANAANdipengaruhi oleh persepsi, SUPERVISI PENGAJARANrespon, dan sikap guru terhadap Dalam pelaksanaannya,orientasi dan supervisi yang supervisi pengajaran di sekolahdilakukan oleh supervisor. banyak menghadapi kendala.Penelitian mengenai sikap guru Mantja (1990) dalam temuanterhadap supervisi dikemukakan disertasinya meuyalakan bahwaoleh Ekosusilo (2003) bahwa guru kendala-kendala yang kurangtidak terlalu positif terhadap menunjang keefektifan supervisi,supervisi yang dilakukan antara lain: sikap personilsupervisor. Selanjutnya sekolah yang kurang positifdikemukakan oleh Ekosusilo terhadap supervisi pengeloladalam simpulan penelitiannya teknis edukatif; kurangnyabahwa supervisi yang dilakukan keterampilan supervisi kepalasupervisor dianggap biasa-biasa
    • sekolah; pengendalian emosional kepada para guru sebagai subyeksupervisor dalam menerima supervisi, (2) fokus supervisirespons guru; kepala sekolah yang hanya terarah pada aspekkarena kurangnya tenaga guru administrasi, kurang menyentuhharas memegang kelas atau pada pengembangan kemampuanbidang studi tertentu, sehingga guru dalam mengelola prosessupervisi menjadi kurang efektif; belajar mengajar, (3) supervisordan adanya guru yang tingkat tidak melaksanakan kunjunganpendidikannya lebih tinggi dari kelas secara serius, (4) supervisorkepala sekolahnya. Temuan mendominasi pembicaraan danMantja ini, nampaknya berjalan satu arah, (5) tidak adamempunyai kadar transferabilitas penilaian umpan balik, dan (6)yang cukup tinggi, karena supervisor tidak pernah memintakendala-kendala di jenjang pada guru untuk meminta padapendidikan dasar berkisar pada guru untuk memberikanpermasalahan-permasalahan komentar maupun penilaiantemuan tersebut di atas. Isvanto terhadap supervisi yang telah(1999) mengemukakan bahwa dilaksanakan. Kendala-kendalapermasalahan pendidikan, antara inilah yang mengakibatkanlain adalah manajemen sekolah supervisi pengajaran yangyang tidak efektif, dan dilaksanakan oleh Pengawaskemampuan manajemen kepala Sekolah di sekolah dasar tidaksekolah pada umumnya rendah dapat optimal, sehingga tujuanterutama di sekolah negeri dan pokok pelaksanaan supervisipembinaan karier dan untuk meningkatkan kualitaskesejahteraan guru yang tidak kegiatan belajar mengajar tidakkonsisten. dapat tercapai. Temuan Ekosusilo Mengkaji perihal kendala- (2003) ini memberikan gambarankendala dalam pelaksanaan bahwa pembinaan profesionalsupervisi, temuan Ekosusilo guru masih perlu ditingkatkan(2003) menarik untuk lebih lanjut.dikemukakan di sink Temuanpenelitian Ekosusilo tentangpelaksanaan supervisi antaralain: (1) supervisor tidakmengkomunikasikanrencana/program supervisinya
    • (b) pembicaraan individual, (c) diskusi kelompok, (d)SIMPULAN DAN SARAN demonstrasi mengajar, (e)Simpulan kunjungan kelas antar guru, (1) Berdasarkan uraian tentang pengembangan kurikulum, (g)peningkatan mutu pendidikan bulletin supervisi, (h)melalui supervisi pengajaran di perpustakaan profcsioml, (i)atas, maka dapatlah disimpulkan lokakarya, (j) survey sekolah-hal-hal sebagai berikut: (1) masyarakat; (6) para guru lebihmasalah-masalah dalam bidang menghargai dan menilai secarapendidikan adalah (a) masalah positif perilaku supervisi yangkuantitatif, (b) masalah kualitatif, "hangat", saling mempercayai,(e) masalah relevansi, (d) bersahabat, dan menghargaimasalah efisiensi, (e) masalah guru; dan (7) dalam praktiknyaefektivitas, dan (f) masalah supervisi pengajaran yangkhusus; (2) supervisi pengajaran dilaksanakan selama ini masihpada hakikatnya adalah untuk cenderung berorientasi padameningkatkan kemampuan dan administratif saja.keterampilan guru dalam Saran-saranmelaksanakan tugas pokoknya Berdasarkan simpulan disehari-hari yaitu mengajar para atas, maka dapatlah dikemukakanpeserta didik di kelas; (3) saran-saran sebagai berikut: (1)supervisor atau pembina, yaitu untuk meningkatkan kemampuanPengawas Sekolah, Kepala supervisor, maka perlu secaraSekolah, atau semua pejabat yang rutin ada program penyegaranterlibat dalam layanan supervisi, bagi para supervisor, sehinggaadalah pihak yang dianggap dalam melaksanakan tugasnyapaling bertanggung jawab dalam sesuai dengan tujuau supervisikegiatan supervisi; (4) ada tiga dan sesuai dengan keinginan parapendekatan dalam supervisi guru; (2) arah supervisi perlupengajaran, yaitu (a) pendekatan difokuskan/ditekankan kepadalangsung, (b) pendekatan tidak aspek akademik tanpalangsung, dan (c) pendekatan mengabaikan faktor administratifkolaboratif; (5) teknik-teknik sebagai pelengkap pelaksanaansupervisi pendidikan yang paling supervisi tcrhadap para guru dibermanfaat bagi supervisi antara sekolah; (3) dalam pelaksanaanlain adalah: (a) kunjungan kelas, supervisi di sekolah, para
    • supervisor perlu membekali merekam dan mencatat kegiatanformat dokumen yang dapat guru dalam melaksanakan tugas- tugasnya di sekolah; (4)dalam melaksanakan supervisipengajaran disarankan untukmenggunakan prosedur supervisiklinis, dan (5) perlu adapertemuan sesuai supervisi untukmendiskusikan hasil supervisiyang telah dilakukan oleh KepalaSekolah atau Pengawas Sekolah,sebagai upaya tindak lanjutsetelah pelaksanaan supervisidilaksanakan.
    • DAFTAR RUJUKANBafadal, I. 2003. Seri Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar, Dalam Kerangka Manaje men Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: PT Bumi Aksara.Benty, D.D.N. 1992. Kemampuan Kepila Sekolah Dasar Membant u Guru dalam Mengembangkan Pengajaran Menurut Persepsi Guru - Guru SD Negeri di Kecamatan Lowokwaru Kodya Malnng. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Program Pasa Sarjana, Institut Keguruan dan Ilmu pendidikan Malang.Depdikbud. 1976. Kurikulum Sekolah Dasar 1975, Garis -Garis Besar Program Pengajaran Buku III D Pedoman Admini strasi dan Supervisi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Depdikbud. 1994/1995. Pedoman Kerja Pelaksanaan Sup ervisi. Jakarta: Proyek Peningkatan Mutu SD, TK dan SLB, Direktorat Pendidikan Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menenga,., Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Depdikbud. 1995. Pedoman Pembi naan Profesional Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Depdiknas. 2000. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.Ekosusilo, M. 2003. Iiasil Penelitian Kualitatif, Supervisi Pengajaran Dalam Latar Budaya Jawa, Studi Kasus Pembi naan Guru SD di Kralon Surakarta. Sukoharjo: Penerbit Uvitet Bantara Press.Indrafachrudi, S.(Koordinator). 1989. Administrasi Pendidikan. Malang: Penerbit IKIP Malang.Idrus, N., dkk. 2000. Quality Assurance, Handbook. 3 -Edition. Jakarta: Engineering Education Development Project, Du Malcomlm Jones (ed)., Director General of Higher Education.Iswanto, B. 1999. Olonomi Daerah: Implikasi bagi Pengelolaan Pendidikan. Makalah disajikan dalam seminar nasional Formula Manajemen Pendidikan dalam Kerangka Otonomi Daerah di Bidang Pendidikan pada tanggal 23 Aeustus 1999 di Universitas Neseri Malane.Jalal, F. & Supriadi, D. 2001. Reformasi Penclidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Jakarta: Diterbitkan atas kerjasama Depdiknas -Bappenas-Adicita Karya Nusa.Mantja, W. 1998. Manajemen Pembinaan Profesional Guru Berwawasan Pengembangan Sumber Daya Manusia: Suatu Kajian Ko.tseptual-
    • historik dan Empirik. Pidalo Pengukuhan Guru Besar [KIP Malang. Making: Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Mastuhu. 2003. Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21 (The New Mind Set of National Education in the 21 s Century). Yogyakarta: Safiria Insania Press bekerjasama dengan Magister Studi Islam Universitas Islam Indonesia (MSI UII).Sahertian, P.A. & Mataheru, F. 1982. Prinsip & Tehnik Supervisi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.Supriadi, D. 2004. Satuan Biaya Pendidikan, Dasar dan Menengah: Rujukan Bagi Penetapan Kebijakan Pendidikan Pada Era Otonomi dan Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT Lemadja Rosdakarya.
    • ISSN 2089-5933 Diterbitkan Oleh : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas GresikE - JURNAL Vol. No. Hlm. Gresik ISSN JENDELA 01 0I 1-106 Juni - 2089-5933 NopemberPENDIDIKAN
    • PENGARUH BIMBINGAN ORANG TUA TERHADAP PRESTASI BELAJARSISWA PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SD TUNAS BANGSA WONOKROMO SURABAYA Etiyasningsih*)Abstrak, Bahasa Indonesia dipakai di sekolah dari tingkat paling rendah sampai perguruantinggi, dipakai juga dalam acara resmi pada pemerintahan termasuk kehakiman pengadilan,serta di segala bentuk komunikasi tingkat nasional. Dari segi ilmiah dapat dijadikan kunciuntuk membuka pintu untuk mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya, dengan pertimbangantersebut maka yang perlu diperjatikan adalah bimbingan orang tua dalam menunjangprestasi anak di sekolah. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua,guru dan masyarakat. Namun berperan serta orang tua dan masyarakat dalam menunjangprestasi belajar anaknya belum tampak menggembirakan, apabila status pendidikan orangtuanya atau masyarakat pada umumnya masih rendah, maka semata-mata pendidikananaknya diserahkan kepada guru di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuipengaruh bimbingan orang tua terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran BahasaIndonesia. Penelitian dilakukan di SD Tunas Bangsa Kecamatan Wonokromo Surabaya. Populasisebanyak 34 anak dan orang tua. Sampel diambil dengan teknik total sampling diperoleh 34responden anak dan orang tua siswa. Pengumpulan data dengan dokumentasi dan kuesioner,selanjutnya dilakukan uji regresi sederhana untuk mengetahui pengaruh bimbingan orangtua terhadap prestasi belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan Fhitung = 16,995 > Ftabel = 4,17. Oleh karena Fhitung >Ftabel maka Ha diterima dan Ho ditolak yang berarti terdapat pengaruh signifikan bimbinganorang tua terhadap prestasi belajar siswa. Terlihat pula signifikan hasil hitung αhitung = 0,000jauh di bawah 0,05, yang menandakan pengaruh yang signifikan. Berdasarkan hasil penelitian d iharapkan orang tua lebih banyak memberikanbimbingan kepada anaknya terutama dalam belajar bahasa Indonesia, bimbingan di keluargahendaknya mencakup bantuan belajar, pengawasan, pengaturan waktu belajar danketeladanan yang ditunjukkan secara rutin, dan orang tua wali murid selalu mengawasi carabelajar anaknya dan selalu berkonsultasi dengan guru atau orang lain. Pihak sekolahdiharapkan dapat sering mengadakan hubungan dan konsultasi mengenai perkembanganbelajar anak dan juga memecahkan kesulitan yang timbul dalam bimbingan belajar anakdengan wali murid atau orang tua siswaKata Kunci : Bimbingan Orang Tua terhadap Prestasi Belajar Siswa
    • Pendidikan yang berlangsung seumur harus ada kerjasama yang baik sehinggahidup dan dilaksanakan sedini mungkin merupakan tri tunggal yang tidak dapatmerupakan tanggung jawab keluarga, dipisahkan. Sehubungan dengan hal tersebut,masyarakat dan pemerintah. Banyak orang jika ditinjau ari segi waktu belajar antaratua berpendapat bahwa tugas mencerdaskan pendidikan sekolah dan ada dirumah, makaanak adalah tugas guru dan institusi waktu belajar tersebut lebih banyak dirumah.pendidikan, sementara mereka selaku orang Oleh sebab itu sebagai orang tua harus benar-tua asyik dengan profesinya sendiri, implikasi benar dapat membantu dan mengarahkandari pendapat semacam ini adalah putra putrinya, memahami lebih jauh danmemunculkan ketidakpedulian orang tua mendalam tentang pola dan upayaterhadap spiritual, intelektual dan moral mencerdaskan. Orang tua harus mengertianaknya sendiri. Masih banyak di antara tentang dasar-dasar pendidikan, psikologiorang tua yang lalai akan tugasnya dalam perkembangan, proses belajar mengajar danmembantu perkembangan dan pemahaman pengetahuan lain guna mencapai tujuan yangdiri putra putrinya, mereka menyibukkan sesuai dengan harapan dan cita-citanya.dirinya dengan urusan masing-masing. Negara Indonesia merupakan Negara Bagi orang tua yang taraf ekonominya yang sedang berkembang, dan sedang getol-kuat, waktunya banyak digunakan untuk getolnya membangun, seiring denganacara-acara yang dianggap sesuai dengan pembangunan itu, maka di segala bidangmartabat sosialnya, sementara bagi orang tua harus dikembangkan pemerintah. Di dalamyang taraf ekonominya lemah, waktunya persiapan pembangunan yang siap dipakaibanyak digunakan kegiatan untuk memenuhi perlu sumber daya manusia yang handal,kebutuhan sehari-hari. Sehingga dengan maka pemerintah menggalakkankeadaan ini timbulah berbagai kesulitan yang pembangunan di bidang pendidikan.dihadapi oleh anak terutama kesulitan alambelajar yang mengakibatkan prestasi belajar Maka tidaklah mengherankan apabilamereka semakin menurun. pemerintah selalu berusaha dengan getol untuk meningkatkan pendidikan baik secara Ketika anaknya gagal memenuhi kuantitatif maupun kualitatif, gunaharapannya, pihak pertama yang dituding mempercepat tercapainya tujuan pendidikanadalah guru dan institusi pendidikan, kalau yang telah ditetapkan. Untuk itu di dalamkita renungkan anggapan orang tua bahwa merealisir tujuan pendidikan itu, makapencapaian itu hanyalah tergantung pada diseluruh jalur, jenis dan jenjang pandidikanlembaga sekolah, pendapat seperti ini kurang baik dengan jalur formal maupun non formaltepat, dan akan merugikan diri sendiri. berkewajiban untuk segera mendukung danBagaimanapun guru, sekolah, dan institusi mewujudkannya. Bahkan dilingkunganpendidikan yang lainnya hanyalah pihak yang keluargapun di harapkan peran sertamembantu mencerdaskan peserta didik. aktifnya, karena suatu program akan berhasilSedangkan keberhasilan dalam suatu dengan baik apabila aktifitas di dukung olehpendidikan itu ditentukan oleh tiga semua pihak.komponen, yaitu orang tua (keluarga), guru(pemerintah), dan masyarakat (lingkungan). Di dalam Undang-undang pendidikan Nomor 2 tahun 1989, disebutkan bahwa Dalam mendidik seseorang anak tidak tujuan pendidikan di Indonesia adalahakan berhasil tanpa ada kerjasama yang baik sebagai berikut : ―Pendidikan nasionalantara orang tua yang mendidik di rumah, bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsadengan guru yang mendidik di sekolah. dan mengembangkan manusia yang berimanDemikian juga dengan lingkungan di dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esasekitarnya juga menunjang. Antara orang tua, dan berbudi pekerti yang luhur, memilikiguru dan lingkungan dalam menangani anak pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan
    • jasmani dan rohani, kepribadian yang Kesadaran bahwa tugas utama memberimantap dan mandiri serta rasa tanggung bimbingan anak adalah tugas orang tua,jawab kemasyarakatan dan kebangsaan‖. maka akan memberikan pengaruh positifPendidikan Nasional harus juga dalam pembentukan tanggung jawab danmenumbuhkan jiwa patriotic dan mendorong motivasi belajar, mempermudahmempertebal rasa cinta tanah air, proses belajar pada anak danmeningkatkan semangat kebangsaan dan pengkoordinasian lingkungan keluarga untukkesetiakawanan social serta kesadaran mewujudkan anak-anak cerdas danpendidikan sejarah perjuangan bangsa dan berprestasi terutama pada bidang studisikap menghargai jasa para pahlawan serta bahasa Indonesia. Pemikiran inilah yangberorientasi ke masa depan. Iklim belajar menjadikan penulis mengangkat judul skripsimengajar yang dapat menumbuhkan rasa ini dengan harapan dapat mengetahuipercaya diri dan budaya belajar di lingkungan pengaruh bimbingan orang tua terhadapmasyarakat, terus juga di kembangkan agar prestasi belajar siswa pada Bidang Studitumbuh sikap dan perilaku yang kreatif, dan Bahasa Indonesia di SD Tunas Bangsaberkeinginan untuk maju. Kecamatan Wonokromo Surabaya. Dan sebagai bangsa Indonesia harusberkomunikasi di antara suku satu dengansuku yang lainnya dengan baik, agar tetap METODE PENELITIANterpelihara rasa persatuan dan kesatuanbangsa. Berkomunikasi antara suku kitaharus menggunakan bahasa Indonesia yang Penelitian ini dilakukan denganbaik dan benar. Dalam hal ini termuat dalam mengambil populasi seluruh siswa kelas IVdokumen resmi Negara, seperti : Sumpah SD Tunas Bangsa Kecamatan WonokromoPemuda dan dalam Undang-undang Dasar Surabaya. Sampel diambil dengan teknik1945, Bab XV pasal 36 : Bahasa Negara total sampling diperoleh responden sebanyakadalah bahasa Indonesia. 34 siswa. Bahasa Indonesia dipakai di sekolah dari Variabel bebas (X) dalam penelitian initingkat paling rendah sampai perguruan yakni bimbingan orang tua, yang dimaksudtinggi, dipakai juga dalam acara resmi pada bimbingan orang tua adalah suatu prosespemerintahan termasuk kehakiman pemberi bentuan secara terus menerus danpengadilan, serta di segala bentuk sistematik dari pembimbing kepada pesertakomunikasi tingkat nasional. Dari segi ilmiah bimbingan agar tercapai pemahaman daridapat dijadikan kunci untuk membuka pintu penerima diri, pengarahan diri danuntuk mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya, perwujudan diri dalam mencapai tingkatdengan pertimbangan tersebut maka yang perkembangan yang optimal sehingga dapatperlu diperjatikan adalah bimbingan orang menyesuaikan diri dengan lingkungan dantua dalam menunjang prestasi anak memperoleh kebahagian hidup. Variabeldisekolah. Pendidikan merupakan tanggung prestasi belajar Bahasa Indonesia (Y) yaitujawab bersama antara orang tua, guru dan suatu suatu hasil yang teah dicapai setelahmasyarakat. Namun berperan serta orang tua kegiatan belajar mengajar Bahasa Indonesia.dan masyarakat dalam menunjang prestasi Dalam penelitian ini, indikator yangbelajar anaknya belum tampak digunakan adalah nilai ulangan matamenggembirakan, apabila status pendidikan pelajaran Bahasa Indonesia.orang tuanya atau masyarakat padaumumnya masih rendah, maka semata-mata Data yang telah terkumpul kemudianpendidikan anaknya diserahkan kepada guru dilakukan analisis. Uji hipotesis dilakukandi sekolah. untuk menjawab hipotesa yang telah diajukan sebelumnya. Uji yang digunakan
    • dalam penelitian ini adalah uji Regresi Pernya- Corrected item KetSederhana dengan rumus persamaan regresi taan total correlationsederhana : 9 0,642 Valid 10 0,620 ValidY = a + bX 11 0,686 ValidY = Prestasi Belajar Bahasa Indonesia 12 0,355 Valid 13 0,677 ValidX = Bimbingan Orang Tua 14 0,793 Valid 15 0,543 Valida = Nilai konstanta 16 0,439 Validb = Nilai arah sebagai penentu ramalan 17 0,354 Valid (prediksi) yang menunjukkan nilai 18 0,495 Valid peningkatan (+) atau nilai penurunan 19 0,535 Valid (–) variabel Y. 20 0,651 Valid Sumber : Hasil Olah Data SPSS Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa untuk item pernyataan variabel bimbinganHASIL PENELITIAN orang tua, corrected item total correlation yang diperoleh untuk seluruh item pernyataan adalah lebih besar dari 0,339 (untuk jumlah responden 34 orang), halHasil Pengujian Validitas tersebut berarti bahwa secara keseluruhan Validitas menunjukkan sejauh mana item pernyataan mengenai bimbingan orangalat ukur yang digunakan mengukur apa yang tua adalah valid.diinginkan dan mengungkap data darivariabel yang diteliti secara tepat. Instrument Hasil Uji Reliabilitasvalid berarti alat ukur yang digunakan untukmendapat data itu valid. Dalam uji validitas Suatu alat ukur dikatakan reliabelini suatu butir pernyataan dikatakan valid atau handal, jika alat itu dalam mengukurjika corrected item total correlation lebih suatu gejala pada waktu yang berbedabesar dari 0,339 (untuk jumlah responden 34 senantiasa menunjukkan hasil yang relatiforang) sebagaimana tabel r produk momen sama. Untuk menguji reliabilitas suatuterlampir. Hasil pengujian validitas terhadap instrument dapat digunakan uji statisticvariabel bimbingan orang tua (X) dan Cronbach Alpha (α), dimana suatu alat ukurPrestasi Belajar Siswa (Y) dapat dilihat dikatakan reliabel jika nilai Cronbach Alphasebagai berikut : lebih besar dari 0,60. Hasil pengujian Tabel 1 Hasil Uji Validitas Variabel Prestasi reliabilitas terhadap variabel bimbingan Belajar Siswa (X) orang tua (X) diperoleh alpha sebesar 0,7483 Pernya- Corrected item Ket lebih besar dari 0,6 sehingga dapat taan total correlation diputuskan bahwa item kuesioner telah 1 0,843 Valid reliabel. 2 0,372 Valid 3 0,638 Valid 4 0,601 Valid 5 0,540 Valid Uji Asumsi Klasik 6 0,541 Valid 7 0,767 Valid Uji normalitas 8 0,476 Valid
    • Dalam penelitian ini uji normalitas Scatterplot kriterianya adalah jika distribusi data adalah Dependent Variable: Prestasi Belajar Siswa normal, maka garis yang menggambarkan 2,0 data sesungguhnya akan mengikuti garis Regression Studentized Residual 1,5 diagonalnya. 1,0 ,5 Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual 0,0 Dependent Variable: Prestasi Belajar Siswa -,5 1,0 -1,0 -1,5 ,8 -2,0 -3 -2 -1 0 1 2 Regression Standardized Predicted ValueExpected Cum Prob ,5 Gambar 2 Grafik Scatterplot ,3 0,0 0,0 ,3 ,5 ,8 1,0 Dari grafik scatterplot di atas terlihat titik menyebar secara acak dan tersebar di Observed Cum Prob atas maupun di bawah angka 0 pada suhu Y, hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi Gambar 1 Grafik Normalitas Standar sehingga model regresi layak dipakai untuk Residual Regresi mengetahui pengaruh bimbingan orang tua terhadap prestasi belajar siswa. Sesuai kriterianya grafik normal plot di Hasil Pengujian Regresi Linier atas terlihat titik-titik menyebar di sekitar Sederhana garis diagonalnya, serta penyebarannya mengikuti arah garis diagonal. Dengan Untuk mengetahui ada atau tidaknya demikian menunjukkan bahwa model regresi pergaruh antara variabel bebas bimbingan layak dipakai karena memenuhi asumsi orang tua terhadap variabel terikat yang normalitas. dalam hal ini adalah prestasi belajar siswa (Y), maka digunakan analisis model agresi linier sederhana dengan model persamaan Uji Heteroskedastisitas sebagai berikut : Indikator uji ini adalah melihat grafik Y = α + bX1 Scatterplot, jika titik-titik menyebar secara Dimana : acak serta tersebar di atas maupun di bawah angka 0 pada suhu Y, maka tidak terjadi Y = Prestasi Belajar Siswa heteroskedastisitas. X = Bimbingan Orang Tua b3 = Koefisien regresi X Output perhitungan dengan program SPSS for Windows seperti terlihat dalam gambar berikut.
    • Coefficientsa ANOVAb Unstandardized Standardized Sum of Coefficients Coefficients Correlations Model B Std. Error Beta t Sig. Zero-order Partial Part Model Squares df Mean Square F Sig. 1 (Constant) 35,537 3,292 10,797 ,000 1 Regression 151,891 1 151,891 16,995 ,000a Bimbingan Orang Tua ,190 ,046 ,589 4,123 ,000 ,589 ,589 ,589 Residual 285,991 32 8,937 a. Dependent Variable: Prestasi Belajar Siswa Total 437,882 33 a. Predictors: (Constant), Bimbingan Orang Tua b. Dependent Variable: Prestasi Belajar Siswa Gambar 4 Uji t Gambar 3 Uji F Sebagaimana Uji F di atas yang menunjukkan adanya pengaruh, Uji t juga Gambar 3 di atas menunjukkan hasil uji seperti pada Gambar 4.5 memperlihatkanF dengan program SPSS for Windows, thitung sebesar 4,123 > ttabel sebesar 2,042dengan Fhitung sebesar 16,995. Angka ini (sebagaimana Critical Value for the tselanjutnya dibandingkan dengan Ftabel df = Distribution terlampir) artinya terdapat32 sebagaimana Tabel F pada lampiran pengaruh bimbingan orang tua terhadap(Critical Values for the F Distribution prestasi belajar siswa.α=0,05). Tabel F dengan df = 32 dan n =1 Untuk menunjukkan besarnya pengaruhdiperoleh Ftabel = 4,17. Sehingga Fhitung = atau kontribusi tingkat pendidikan terhadap16,995 > Ftabel = 4,17. perkembangan perusahaan dapat dilihat Oleh karena Fhitung > Ftabel maka Ha koefisien regresi (standarized coefficientsditerima dan Ho ditolak yang berarti terdapat Beta) pada gambar 4.2 sebesar 0,589.pengaruh signifikan bimbingan orang tua Selanjutnya sesuai dengan rumus regresiterhadap prestasi belajar siswa. Terlihat pula sederhana dapat dimasukkan angka-angkasignifikan hasil hitung αhitung = 0,000 jauh di tersebut sebagai berikut :bawah 0,05, yang menandakan pengaruh Y = a + bXyang signifikan. Selain adanya pengaruh yang signifikan, = 35,537 + 0,190pada uji korelasi juga terlihat adanya korelasipositif antar kedua variabel yang diperoleh Selanjutnya berdasarkan persamaan diPearson Correlation sebesar 0,589 lebih dari atas deskripsi pengaruh bimbingan orang tuartabel sebesar 0,339 (Sebagaimana r tabel terhadap prestasi belajar siswa berdasarkanProduct Moment pada df = 32 terlampir). unstandarized coeffisients beta adalah sebagai berikut: Correlations 1) Konstanta sebesar 35,537 menyatakan bahwa jika variabel tingkat pendidikan Prestasi Bimbingan Belajar Siswa Orang Tua Pearson Correlation Prestasi Belajar Siswa 1,000 ,589 Bimbingan Orang Tua ,589 1,000 dianggap konstan (tidak ada upaya Sig. (1-tailed) Prestasi Belajar Siswa Bimbingan Orang Tua ,000 , ,000 , membimbing), maka prestasi belajar N Prestasi Belajar Siswa Bimbingan Orang Tua 34 34 34 34 siswa sebesar 35,537 point. 2) Koefisien regresi tingkat pendidikan Gambar Pearson Correlations sebesar 0,190 menyatakan bahwa setiap peningkatan 1 poin bimbingan orang tua akan meningkatkan prestasi belajar siswa Besarnya pengaruh atau kontribusi sebesar 0,190 poin. Jika angka tersebuttingkat pendidikan terhadap perkembangan dikalikan 1000, deskripsinya menjadiperusahaan dapat dilihat pada gambar Uji t setiap ada upaya bimbingan orang tuaberikut ini. sebesar 1000 poin maka akan meningkatkan prestasi belajar siswa sebesar 190 point.
    • mencapai tingkat perkembangan yang optimal sehingga dapat menyesuaikan diriINTERPRETASI dengan lingkungan dan memperoleh Bimbingan orang tua sangat kebahagian hidup (Totok Santoso, 1986:25).berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Pertolongan dalam bimbinganMemang bimbingan orang tu sangat menurut Slamet (1989:25) antara lain (1)diperlukan oleh siswa mengingat belajar di Pertolongan di arahkan peningkatansekolah tanpa diulang di rumah kemampuan dalam menghadapi hidupkemungkinan lupa atau kurang memahami. dengan segala persoalan, (2) PertolonganJika orang tua mau dan mampu membimbing yang kontinyu yang diberikan atas dasaranaknya maka anak akan lebih mengingat perencanaan dan pemikiran yang ilmiah, (3)dan memahami pelajaran yang diberikan oleh Pertolongan yang proses pemecahan dariguru di sekolah. persoalan yang membutuhkan aktivitas dan Secara umum hal ini sesuai dengan Ketut tanggung jawab bersama antara yangSukardi bahwa bimbingan adalah suatu menolong dan yang ditolong, (4) Pertolonganproses bantuan yang diberikan pada yang isi, bentuk dan caranya disesuaikanseseorang agar mengembangkan potensi- kebutuhan tiap-tiap kasus.potensi yang dimiliki, mengenali dirinyasendiri, mengatasi persoalan sehingga Secara spesifik tujuan bimbingan olehmereka dapat menentukan sendiri jalan orang tua ataupun pihak tertentu adalahhidupnya, secara bertanggung jawab tanpa dapat mengetahui keadaan pribadi siswabergantung pada seseorang atau orang lain. untuk membantu kesulitan belajar yangSelain itu bimbingan merupakan suatu proses mungkin dihadapi. Tujuan bimbingan belajarpemberi bantuan yang terus menerus dan yang dimaksudkan adalah untuk memperolehsistematis terhadap individu dalam tingkat perkembangan belajar yang optimalmemecahkan masalah yang dihadapi agar bagi setiap siswa sesuai dengantercapai kemampuan untuk memahami kemampuannya agar dapat menyesuaikandirinya (self undertanding), kemampuan diri terhadap lingkungannya.untuk menerima dirinya (self aceptaince),kemampuan untuk mencurahkan dirinya (self Selain itu bimbingan bertujuan untukdirection), sesuai dengan potensi atau membantu siswa agar mencapaikemampuan dalam mencapai penyesuaian perkembangan yang optimal yaitu siswadiri dengan lingkungan, baik keluarga, dapat menemukan dirinya sendiri, mengenalsekolah maupun masyarakat. Bantuan yang lingkungan, dan merencanakan masa depandiberikan orang-orang yang memiliki sehingga dapat mewujudkan dirinya sebagaikeahlian dan pengalaman khusus dalam pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab,bidang tertentu yaitu bidang pendidikan. pelajar yang kreatif dan pekerja yang Bimbingan mencakup pertolongan yang produktif. Drs. Bimo Walgito menyatakandiberikan seseorang dengan tujuan untuk bahwa tujuan utama bimbingan belajar agarmenolong orang itu kemana ia ingin atau masing-masing siswa dapat mengembangkanharus pergi, apa yang ia inginkan dilakukan kemampuan yang ada pada mereka sehinggadan bagaimana cara yang sebaik-baiknya tercapai prestasi yang optimal.tersebut memecahkan masalah yang timbul Dengan demikian jelaslah bahwadalam kehidupan. Dari uraian diatas maka tujuan belajar adalah untuk mengenalidapat disimpulkan mengenai bimbingan, kemampuan-kemampuan yang terendamyaitu: Bimbingan ialah suatu proses pemberi dalam diri anak sehingga dapat diharapkanbentuan secara terus menerus dan sistematik anak tersebut dapat mengembangkan bakatdari pembimbing kepada peserta bimbingan atau kemampuan yang terpendam, jadiagar tercapai pemahaman dari penerima diri,pengarahan diri dan perwujudan diri dalam
    • bimbingan belajar sangat penting untukkeberhasilan siswa. Sutrisno Hadi, 1983. Metodologi Research I Tujuan bimbingan orang tua terhadap dan II, Fakultas Psikologi UGManaknya antara lain (1) Untuk mengetahui Yogyakarta.keadaan pribadi anak yang dianggapmempunyai masalah, (2) Untuk memahami Undang-undang No. 2 tahun 1989 tentangjenis atau sifat kesulitan belajar yang Sistem Pendidikan Nasional.dihadapi, (3) Untuk mengetahui faktorpenyebab kesulitan anak dalam pelajaran, (4) Winamo Surahmad, Drs. Msc. 1976.Untuk mengetahui baik secara kuratif Pengantar Penyelidikan Ilmiah. CV.(penyembuhan) maupun secara prefentif Jenmars Bandung.(pencegahan) kelemahan-kelemahan belajaryang dihadapi oleh anak. Wjs. Poerwodarminto, 1961. Kamus Bahasa Indonesia. Penerbit Balai Pustaka Jakarta.DAFTAR PUSTAKADrs. Bimo Walgito. 1982. Bimbingan dan Penyuluhan Sekolah. Yayasan penerbit Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta.Dep. Dik. Bud. 1984. Prosedur Penelitian. Rineka Cipta Jakarta.Dewa Ketut Sukerdi, Drs . 1983 . Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di Sekolah. Penerbit Indonesia.GBHN, Ketetapan MPR RI No. 11/MPR/1008, Bima Pustaka Surabaya.I. Djumhur dan Moh. Surya. 1975 Bimbingan dan Penyulahan di Sekolah (Guiedence Counseling). Penerbit CV. Ilmu Bandung.Ngalim Purwanto MP, Drs. 1997. Psikologi Pendidikan. Remaja Resdakarya Bandung.Suhartini Arikunto. 1981. Prosedur Penelitian , Rineka Cipta Jakarta.Siti Rahaju Hadi Noto, 1982. Prinsip-prinsip Bimbingan dan Penyuluhan. Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta.
    • ISSN 2089-5933 Diterbitkan Oleh : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas GresikE - JURNAL Vol. : No. : Hlm. Gresik ISSN 1 JENDELA 01 I 1-106 Juni - 2089-4554 NopemberPENDIDIKAN
    • Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah dan Gaya Kognitif terhadap Pemahaman Uniflying Geography Syaiful Khafid Email: syaiful.khafid@yahoo.co.idAbstract: Penelitian ini dilaksanakan untuk membandingkan pemaha-man‗uniflying geography‘ antara siswa yang diajar dengan menggu-nakanpembelajaran berbasis masalah dan siswa yang diajar secara konvensional,dan antara siswa bergaya kognitif field independent dan siswa yang bergayakognitif field dependent yang menggunakan desain kuasi eksperimental.Penelitian ini menunjukkan bahwa siswa yang diajar dengan menggunakanpembelajaran berbasis masalah mempe-roleh skor signifikan lebih tinggidalam bidang geografi dari siswa yang diajar secara konvensional. Lagi pula,siswa dengan gaya field inde-pendent ternyata memperoleh skor signifikanlebih tinggi daripada siswa dengan gaya kognitif field dependent, Akantetapi, penelitian tersebut tidak menunjukkan pengaruh interaksional darimodel pembe-lajaran dan gaya kognitif terhadap pemahaman ‗uniflyinggeography‘ siswa.Kata kunci: pembelajaran berbasis masalah, gaya kognitif, pemahaman geografi 2
    • Geografi sebagai mata pelajaran ‗uniflying geography‘ yang dilakukanformal pertama yang membawa guru geografi di kelas hanyasiswa kontak dengan realitas menekankan ranah kognitif dankehidupan seharusnya dapat hafalan serta kurang mendorongmenjadi satu mata pelajaran yang siswa berpikir kritis dan kreatifcukup menarik. Bahkan arti penting (Khafid, 2008:19) Menurutgeografi bagi kehidupan diakui juga penilaian Sudradjat (dalamoleh tokoh atau pejabat dari Daldjoeni, 1997:129) permasalahankalangan ketentaraan maupun yang menonjol adalah rendahnyapemerintahan. Kalau dalam partisipasi siswa dalam mempelajarikenyataan geografi menjadi kurang geografi baik secara intelektualmenarik sebagian besar siswa tentu maupun emosional. Pertanyaan yangada faktor-faktor penyebab yang berasal dari siswa yang berupamenjadikan demikian (Suharyono gagasan atau sanggahan jarangdan Amien, 1994) sehingga muncul. Jikapun ada yangberakibat rendahnya pemahaman berpendapat jarang diikuti olehgeografi (Khafid, 2010). gagasan lain, sehingga sebagian siswa merasakan bahwa Rendahnya pemahaman pembelajaran geografi‗uniflying geography‘ disebabkan membosankan, kering, tidak jelas,paradigma pendidikan konvensional dan sulit dipahami.yang menggunakan metodepembelajaran klasikal dan ceramah, Ada lima faktor penyebabtanpa diselingi aneka metode rendahnya kualitas pemahamanpembelajaran inovatif, termasuk ‗uniflying geography‘, yaitu: (1) siswaadanya penyekat ruang struktural belum mampu menerapkan objekantara guru dan siswa. Pembelajaran formal studi geografi ketika 1
    • mengkaji fenomena geosfer (objek memperhatikan gaya kognitif belajarmaterial studi geografi), (2) siswa siswa.kurang memiliki kemampuan untuk Untuk meningkatkanmerumuskan gagasan sendiri, (3) pemahaman ‗uniflying geography‘siswa kurang memiliki keberanian diperlukan perubahan paradigmauntuk menyampaikan pendapat yang digunakan sebagai landasankepada orang lain, (4) siswa belumterbiasa menggunakan media peta dalam pembelajaran. Perubahanketika belajar geografi. dan (5) siswa paradigma perlu memikirkanbelum terbiasa bersaing bagaimana siswa belajar danmenyampaikan pendapat dengan bagaimana guru mengelolateman yang lain (Khafid, 2008:19). pembelajaran, bukan hanyaDi samping itu, ada tiga faktor yang berfokus pada hasil belajar.mempengaruhi hasil belajar siswa, Menurut Degeng (2001a) tujuanyaitu: (a) faktor endogen, berasal utama pembelajaran adalahdari siswa, (b) faktor eksogen, mengembangkan kemampuanberasal dari lingkungan, dan (c) mental yang memungkinkanfaktor jenis gaya kognitif yang seseorang dapat belajar. Riyantodigunakan siswa (Syah, 2001:130).Hasil belajar geografi yang rendah (2005:98) mengatakan bahwatersebut bukan hanya dibebankan peran guru adalah memberikankepada siswa, melainkan yang kemudahan kepada siswa untukpertama bertanggung jawab adalah membangun sendiri pengetahuanguru geografi. Karena itu, guru perlu dalam benaknya. Guru memberimerefleksi model pembelajaran yang siswa anak tangga yangpernah diterapkan untuk mengubah membawa siswa ke pemahamanparadigma pembelajaran dengan 2
    • yang lebih tinggi dengan catatan fasilitas yang diperlukan siswa.siswa sendiri harus memanjat Selain itu, guru memberikananak tangga tersebut. Jadi, dukungan dalam upayabelajar itu sendirilah yang meningkatkan temuan danmenjadi tujuan pembelajaran. perkembangan intelektual siswa.Keaktifan siswa menjadi unsur Beberapa kelebihanyang sangat penting dalam penerapan pembelajaran berbasismenentukan kesuksesan belajar. masalah di antaranya: (1) siswaSebenarnya target yang harus lebih memahami konsep yangdipenuhi guru adalah siswa diajarkan sebab mereka sendirimampu merekonstruksi sebuah yang menemukan konsepkejadian yang Model tersebut, (2) melibatkan secarapembelajaran berbasis masalah aktif memecahkan masalah danmenurut Mustaji (2004:73) menuntut keterampilan berikirpenggunaannya di dalam siswa yang lebih tinggi, (3)pengembangan tingkat berpikir pengetahuan tertanamyang lebih tinggi dalam situasi berdasarkan skemata yangyang berorientasi pada masalah, dimiliki siswa sehinggatermasuk pembelajaran pembelajaran lebih bermakna,bagaimana belajar. Pada (4) siswa dapat merasakanpembelajaran ini, guru bereran manfaat pembelajaran sebabmengajukan permasalahan atau masalah-masalah yangpertanyaan, memberikan diselesaikan langsung dikaitkandorongan, memotivasi dan dengan kehidupan nyata, hal inimenyediakan bahan ajar, dan dapat meningkatkan motivasi 3
    • dan ketertarikan siswa terhadap dideskripsikan sebagai carabahan yang dipela-jari, (5) bagaimana seseorang siswamenjadikan siswa lebih mandiri mengolah informasi,dan lebih dewasa, mampu sehingga ia dapat mencapai prestasimemberi aspirasi dan menerima belajar yang maksimal (Degeng,pendapat orang lain, 2001b:1).menanamkan sikap sosial yang Pendapat Atkinson sebagaimanapositif di antara siswa, dan (6) dikutip Lamba (2006:124)pengondisian siswa dalam belajar membedakan gaya kognitif, yaitukelompok yang saling gaya kognitif field independentberinteraksi terhadap guru dan (articulated) dan field dependent (global). Siswa yang bergaya kognitiftemannya sehingga pencapaian field independent mempunyaiketuntasan belajar siswa dapat kecenderungan untuk mencapaidiharapkan. prestasi lebih tinggi daripada Gaya kognitif dapat kecenderungannya menghindaridikonsepsikan sebagai sikap, pilihan kegagalan. Mereka selalu optimisatau strategi yang secara stabil akan berhasil dan cenderung akanmenemukan cara-cara siswa yang mencapai prestasi yang maksimal.khas dalam menerima, mengingat, Pendapat Witkin sebagaimanaberpikir, dan memecahkan masalah. dikutip Degeng (2001b:3) siswa yangMenurut Slameto (2003:162) gaya bergaya kognitif field independentkognitif adalah ‖variabel penting cenderung melakukan analisis dandalam pilihan-pilihan yang dibuat sintesis terhadap informasi yangoleh siswa dalam sejumlah hal dipelajari. Sebaliknya, siswa yangberhubungan dengan perkembangan bergaya kognitif field dependentakademik‖. Jadi, gaya kognitif 4
    • lebih cenderung mengantisipasi tantangan, kegairahan, dan kerjakegagalan dengan memilih tugas- keras.tugas yang mudah dan sifatnya Kemungkinan berhasil atauharus banyak bimbingan, serta gagal dalam konsep gaya kognitifkurang mampu memisahkan hal-hal ada dua kecenderungan yaituyang relevan dan tidak relevan kecenderungan mendekatidalam suatu situasi. Individu yang keberhasilan dan kecenderunganmempunyai gaya kognitif field menjauhi kegagalan. Gaya kognitifindependent jika dihadapkan pada sebagai gaya usaha untuk berhasiltugas-tugas yang kompleks dan dan menganggapnya sebagaibersifat analisis cenderung dorongan dengan kecenderunganmelakukannya dengan baik, dan mendekati suatu keberhasilan atauapabila berhasil, antusias untuk suatu yang berkaitan denganmelakukan tugas-tugas yang lebih prestasi. Gaya kognitif seseorangberat lebih baik lagi dan mereka individu ditentukan oleh kedualebih senang untuk bekerja secara kecenderungan tersebut.mandiri. Gaya kognitif sebagaikeinginan untuk mengalami Gaya kognitif memiliki landasankeberhasilan dan peran serta dalam teoretik dan empirik yang kokoh.kegiatan di mana keberhasilan Perilaku ini telah banyak diamatibergantung pada upaya dan pada bidang bisnis, pendidikan, dankemampuan seseorang (Slavin, latar lainnya. Kajian Heller (1992)1995). Gaya kognitif seseorang dapat menyimpulkan ada enamdilihat dari sikap dan perilaku, karakteristik gaya kognitif yangmisalnya keuletan, ketekunan, daya konsisten ditemukan dalam kontekstahan, keberanian menghadapi sekolah yaitu: (1) siswa yang bergaya kognitif field independent lebih 5
    • menyukai terlibat dalam situasi ada Kajian tingkat gaya kognitifrisiko kegagalan. Sebaliknya, siswa dalam penelitian ini terbatas padayang bergaya kognitif field tingkat gaya kognitif yang dapatdependent cenderung memilih dilihat dari perilaku subjek.tugas-tugas mudah, (2) faktor kunci Misalnya, siswa mudah dipengaruhiyang memotivasi siswa bergaya oleh lingkungannya ataupun sulitkognitif field independent adalah dipengaruhi oleh lingkungan dikepuasan intrinsik dari keberhasilan mana siswa itu berada, harapanitu sendiri, bukan pada ganjaran untuk sukses, bekerja keras,ekstrinsik, seperti uang atau kekhawatiran akan gagal, danprestise. Siswa yang bergaya kognitif keinginan memperoleh nilai yangfield independent akan bekerja keras tinggi (Lamba, 2006)agar berhasil, (3) cenderung Mata pelajaran geografimembuat pilihan atau tindakan yang membangun dan mengembangkanrealistis, dalam menilai pemahaman siswa tentang variasikemampuannya dengan tugas-tugas dan organisasi spasial masyarakat,yang dikerjakan, (4) siswa yang tempat, dan lingkungan dibergaya kognitif field independent permukaan bumi. Denganmenyukai situasi yang dapat menilai karakteristik yang kompleks inisendiri kemajuan dan pencapaian merupakan tantangan bagi siswa,tujuannya, (5) siswa yang bergaya sehingga siswa yang bergaya kognitifkognitif field independent perspektif field independent akan lebih tekunwaktu jauh ke depan, dan (6) siswa belajar, bekerja keras, berusahayang bergaya kognitif field semaksimal mungkin, dan tidakindependent tidak selalu membuang-buang waktu karenamenunjukkan rata-rata nilai yang merasa tertantang, mereka ingintinggi di sekolah. 6
    • berprestasi. Siswa yang bergayakognitif field dependent tidak begiturela untuk melibatkan dirisepenuhnya dalam mengerjakantugas-tugas yang kompleks, karenatakut gagal tidak mau menanggungrisiko. Untuk menjadi geografi terpadu(unifying geography) perluditegaskan komponen inti geografi.Matthews dan Herbert (2004:379) Gambar 1. Konsep ‗Uniflyingmengusulkan empat komponen inti Geography‘geografi, yaitu: (1) ruang (space), Berdasarkan uraian di atas,tempat (place), lingkungan permasalahan penelitian ini dapat(environment), dan peta (maps). dirumuskan sebagai berikut: (1)Ruang, tempat, lingkungan, dan peta adakah perbedaan pemahamanmenjadi label geografi. Keempat ‗uniflying geography‘ secarakomponen tersebut mempunyai signifikan antara pembelajarankedudukan yang sama dalam kajian berbasis masalah dan pembelajarangeografi, baik kajian geografi fisik konvensional?, (2) adakahmaupun geografi manusia. Demikian perbedaan pemahaman ‗uniflyingjuga dapat menjadi dasar konsep geography‘ secara signifikan antarauntuk disiplin geografi terpadu. siswa yang bergaya kognitif field independent dan siswa yang bergaya kognitif field dependent?, dan (3) adakah interaksi antara metode 7
    • pembelajaran dan gaya kognitif pembelajaran berbasis masalah danterhadap pemahaman ‗uniflying pembelajaran konvensional, (2)geography‘? variabel moderator yaitu gaya kognitif yang dikategorikan atas gaya Penelitian ini bertujuan untuk kognitif field independent dan gaya(1) menguji signifikansi pemahaman kognitif field dependent, dan (3)‗uniflying geography‘ yang berbeda variabel terikat yaitu pemahamanantara pembelajaran berbasis ‗uniflying geography‘. Populasimasalah dan pembelajaran penelitian ini adalah siswa kelas Xkonvensional, (2) menguji SMAN 1 Sidayu semester genapperbedaan pemahaman ‗uniflying tahun pelajaran 2010/2011 dengangeography‘ secara signifikan antara jumlah siswa 280 orang. Sampelsiswa yang bergaya kognitif field penelitian berjumlah 64 siswaindependent dan siswa yang bergaya diambil dengan teknik random yangkognitif field dependent, dan (3) terdiri atas 32 siswa yang bergayamenguji interaksi antara metode kognitif field independent dan 32pembelajaran dan gaya kognitif siswa yang bergaya kognitif fieldterhadap pemahaman ‗uniflying dependent.geography‘ Instrumen penelitian yang digunakan dalam pengumpulan dataMETODE terdiri atas dua yaitu (a) tes gaya Jenis penelitian ini adalah kognitif, dan (b) tes pemahamanpenelitian kuasi eksperimental geografi. Instrumen gaya kognitifdengan desain faktorial 2 x 2. terdiri dari 20 soal yang berbentukVariabel-variabel yang diteliti adalah gambar-gambar yang rumit. Dalam(1) variabel bebas yaitu metode gambar-gambar yang rumit itupembelajaran yang terdiri atas 8
    • ditempatkan gambar yang Analisis data dalam penelitian inisederhana. Sebagai jawabannya menggunakan teknik analisissiswa disuruh mencari gambar yang kovarian (anakova).sederhana itu di dalam gambar yangrumit dengan jalan menebalkan HASIL DAN PEMBAHASANgambar yang sederhana tersebut. Hasil analisis dan pengujianTes gaya kognitif dilaksanakan pada hipotesis menunjukkan bahwa adaminggu pertama bulan Januari 2011. perbedaan pemahaman ‗uniflying Tes pemahaman ‗uniflying geography‘ secara signifikan antarageography‘ dengan menggunakan 40 pembelajaran berbasis masalah dansoal pilihan ganda yang setelah pembelajaran konvensional. Temuandiujicobakan diperoleh soal yang ini membuktikan bahwa hipotesismemenuhi syarat valid dan reliabel yang diajukan dalam penelitian inisebanyak 35 soal untuk setiap soal yaitu ada perbedaan pemahamanterdapat lima kemungkinan ‗uniflying geography‘secarajawaban. Sebelum dilakukan signifikan antara pembelajaranpengujian hipotesis, terhadap semua berbasis masalah dan pembelajarandata dilakukan uji prasyarat dengan konvensional siswa kelas X SMAN 1uji normalitas dan uji homogenitas. Sidayu. Jadi, hipotesis yang diajukanUji normalitas digunakan uji dalam penelitian ini diterima.Kolmogorov-Smirnov. Uji Maksudnya, metode pembelajaranhomogenitas menggunakan berbasis masalah lebih unggulperangkat analisis Levene Statistic. daripada metode pembelajaranDari pengujian ternyata bahwa konvensional dalam mempengaruhisemua kelompok data memenuhi pemahaman ‗uniflying geography‘.asumsi normalitas dan homogenitas. 9
    • geography‘. Jadi, hipotesis yang diajukan dalam penelitian yaitu ada interaksi antara metode Hasil analisis dan pengujian pembelajaran dan gaya kognitifhipotesis menunjukkan bahwa ada terhadap pemahaman ‗uniflyingperbedaan pemahaman ‗uniflying geography‘ siswa kelas X SMAN 1geography‘ secara signifikan antara Sidayu ditolak.siswa yang bergaya kognitif fieldindependent dan siswa yang bergaya Pengaruh Metodekognitif field dependent siswa kelas Pembelajaran terhadapX SMAN 1 Sidayu. Temuan ini Pemahaman „Uniflyingmenunjukkan bahwa siswa yang Geography‟bergaya kognitif field independentrerata hasil belajarnya lebih tinggi Hasil analisis dan pengujiandaripada siswa yang bergaya kognitif hipotesis menunjukkan bahwa adafield dependent. Jadi, hipotesis yang perbedaan pemahaman ‗uniflyingdiajukan dalam penelitian ini grography‘ secara signifikan antaraditerima. Maksudnya, siswa yang metode pembelajaran berbasisbergaya kognitif field independent masalah dan metode pembelajaranlebih baik pemahaman geografinya konvensional. Temuan inidaripada siswa yang bergaya kognitif membuktikan bahwa hipotesis yangfield dependent. diajukan dalam penelitian ini yaitu ada perbedaan pemahaman Hasil analisis dan pengujian .uniflying geography‘ siswa kelas Xhipotesis menunjukkan bahwa tidak SMAN 1 Sidayu.ada interaksi antara metodepembelajaran dan gaya kognitif Geografi merupakan ilmuterhadap pemahaman ‗uniflying integratif yang mempelajari 10
    • fenomena geografis mencakup Gambar 2. Geografi dan bidang-dimensi fisik dan sosial di bidang ilmu bantunya (Haggett,permukaan bumi dalam perspektif 2001:766).keruangan untuk pembangunanwilayah supaya manusia hidupsejahtera. Geografi sebagai disiplinilmu dan mata pelajaran dengankajian fenomena geografis yangcukup luas, kompleks, dan sulit Geografi dan bidang-bidang ilmusehingga menuntut kemampuan bantunya dapat dikuasai oleh siswa,siswa memecahkan masalah untuk antara lain jika digunakan metodedapat memahami fenomena fisik pembelajaran berbasis masalah. Haldan sosial secara komprehensif ini menurut Khafid (2010:77) karenadengan pendekatan spasial maka siswa akan lebih banyak kesempatanguru geografi harus melakukan untuk berpartisipasi, memberi danpembelajaran berbasis masalah menerima bantuan dalamdengan melibatkan siswa secara menjelaskan dan meningkatkanaktif. Untuk dapat memahami belajar dalam kelompok,fenomena fisik dan sosial di meningkatkan motivasi untuk suksespermukaan bumi dalam perspektif karena sukses tidak hanya untukspasial maka siswa perlu mendalami dirinya sendiri tetapi juga untukilmu geografi dan ilmu bantu kelompoknya. Motivasi yang baikgeografi dengan bimbingan guru dalam mengerjakan tugas akanmelalui kajian Gambar 2. membantu perkembangan belajar, siswa tidak terisolasi, siswa diberi lebih banyak tanggung jawab. 11
    • Metode pembelajaran berbasis siswa yang bergaya kognitif fieldmasalah menggunakan level yang independent dan siswa yang bergayalebih tinggi dalam berpikir. kognitif field dependent. Temuan iniBerinteraksi dengan teman atau menunjukkan bahwa siswa yangorang lain mendorong orang untuk bergaya kognitif field independentmembangun kembali pikiran mereka rerata hasil belajarnya lebih tinggiseperti merangkum, menguraikan, daripada siswa yang bergaya kognitifdan menjelaskan. Ketidaksetujuan, field dependent. Jadi, hipotesis yangjika ditangani dengan baik akan diajukan dalam penelitian inimembantu dalam kejernihan diterima dan siswa yang bergayaberpikir dan meningkatkan untuk kognitif field independent lebih baikmembangun kembali pengetahuan pemahaman geografinya daripadayang baru. Mendengarkan perspektif siswa yang bergaya kognitif fieldorang lain, terutama dalam dependent. Temuan ini memperkuatkelompok yang heterogen, penelitian McCelland (dalammeningkatkan kesadaran bahwa Slameto, 2003) yang menyatakanbanyak cara pandang, menghargai bahwa seorang yang bergaya kognitifkeberagaman sebagaimana tuntutan field independent lebih baik hasilstudi geografi. belajarnya (pemahaman geografi) dibandingkan dengan yang bergaya kognitif field dependent.Pengaruh Gaya Kognitifterhadap ‟Uniflying Geography‟ Dalam rangka belajar di sekolah gaya kognitif terwujud sebagai daya Hasil analisis dan pengujian penggerak siswa, sikap, dan perilakuhipotesis menunjukkan ada untuk mengusahakan kemajuanperbedaan pemahaman ‘uniflying belajar dan berprestasi yanggeography‘ secara signifikan antara 12
    • maksimal. Siswa yang bergaya dengan teman-teman. Siswa yangkognitif field independent keinginan bergaya kognitif field dependentuntuk sukses benar-benar berasal dengan mudah dipengaruhi olehdari dalam diri sendiri. Siswa ini lingkungannya, baik lingkungantetap bekerja keras baik dalam belajar maupun lingkungansituasi bersaing dengan orang lain, hidupnya. Ia ingin menghindarimaupun dalam bekerja sendiri. kegagalan dan bersamaan dengan ituSiswa yang bergaya kognitif field memiliki aspirasi yang tidakindependent untuk memperoleh realistis, menentukan target yangprestasi baik, dia mencapai sesuai sebenarnya terlalu rendah ataudengan taraf kemampuannya. Untuk terlalu tinggi untuk mencari jaminanitu, lebih tekun belajar, bekerja tidak akan mengalami kegagalan.keras, ingin berkompetisi sehingga Siswa yang bergaya kognitif fieldtidak pernah membuang-buang independent memiliki harapanwaktu. Pengalamannya bersukses untuk sukses dan bekerja secarameningkatkan usaha untuk sukses mandiri. Mereka tidak mudahlagi dikemudian hari. Sebaliknya, dipengaruhi oleh lingkungannyasiswa yang bergaya kognitif field sehingga selalu mau belajar terusdependent untuk berprestasi baik sepanjang hayat.tidak begitu rela untuk melibatkandiri sepenuhnya dalam mengerjakan Interaksi Metode Pembelajarantugas belajar yang dihadapinya. dan Gaya Kognitif terhadapPada siswa yang bergaya kognitif Pemahaman „Uniflyingfield independent berusaha secara Geography‟maksimal, ukuran mengenai prestasibanyak ditentukan oleh usaha Hasil analisis dan pengujian hipotesis menunjukkan bahwa tidakmereka sendiri ataupun belajar 13
    • ada interaksi antara metode terhadap pemahaman belajarpembelajaran dan gaya kognitif geografi. Atau dengan kata lainterhadap pemahaman ‗uniflying metode pembelajaran berbasisgeography‘. Jadi, hipotesis yang masalah dan metode pembelajarandiajukan dalam penelitian yaitu ada konvensional membawa suatu akibatinteraksi antara metode terhadap hasil belajar geografi siswapembelajaran dan gaya kognitif kelas X SMAN 1 Sidayu apapun jugaterhadap pemahaman ‗uniflying tingkat gaya kognitifnya. Demikiangeography‘ siswa kelas X SMAN 1 dengan gaya kognitif, gaya kognitifSidayu terbukti tidak ada interaksi. field independent dan gaya kognitif field dependent membawa suatu Interaksi dalam penelitian ini akibat terhadap pemahamandiartikan kerja sama dua variabel ‗uniflying geography‘ siswa kelas Xbebas atau lebih dalam SMAN 1 Sidayu apapun juga metodemempengaruhi suatu variabel pembelajarannya.terikat. Interaksi terjadi manakalasuatu variabel bebas memiliki efek- Belajar adalah penyusunanefek yang berbeda terhadap suatu pengetahuan dari pengalamanvariabel terikat pada berbagai konkrit, aktivitas kolaborasi, refleksi,tingkat dari suatu variabel bebas dan interpretasi. Aktivitas belajarlainnya. Dalam penelitian ini lebih banyak didasarkan data primerterungkap bahwa tidak ada interaksi, dan bahan manipulatif denganini berarti bahwa metode penekanan pada keterampilanpembelajaran bekerja sendiri-sendiri berpikir kritis dan kompleks.memengaruhi pemahaman belajar Karakteristik siswa begitu sangatgeografi, demikian juga dengan gaya kompleks meliputi antara lainkognitif bekerja sendiri-sendiri intelegensia, sikap, gaya belajar, 14
    • gaya kognitif, gaya berpikir, dan bagaimana membelajarkan pesertamotivasi. didik di sekolah supaya mereka memiliki kecakapan hidup dan Gaya kognitif hanyalah salah berkembang kecerdasansatu bagian dari sekian banyak majemuknya.karakter sehingga kalau interaksibelum tampak dalam penelitian ini,hal itu dapat dimaklumi, masih SIMPULAN DAN SARANmemerlukan pengkajian lebih Ada perbedaan pemahamanmendalam dengan memasukkan ‗uniflying geography‘ secaravariabel-variabel lain sebagai signifikan antara pembelajaranvariabel kovarian atau berbasis masalah dan pembelajaranmengeliminasi variabel-variabel konvensional siswa kelas X SMAN 1tersebut dalam penelitian. Demikian Sidayu. Motode pembelajaranjuga metode pembelajaran, begitu berbasis masalah lebih unggulbanyaknya model-model daripada metode pembelajaranpembelajaran dan memang harus konvensional dalam mempengaruhidiakui bahwa tidak ada ketentuan pemahaman ‗uniflying geography‘.yang pasti mengenai metode Ada pemahaman ‗uniflyingpembelajaran yang cocok untuk satu geography‘ yang berbeda secaramata pelajaran tertentu dalam signifikan antara siswa yang bergayapembelajaran, sehingga tujuan kognitif field independent dan siswapembelajaran dapat tercapai. Proses yang bergaya kognitif fieldbelajar itu sendiri merupakan suatu dependent di kelas X SMAN 1sistem pembelajaran yang secaraotomatis terjadi dalam diri Sidayu. Siswa yang bergaya kognitif field independent pemahamanseseorang. Tugas pendidik adalah belajar geografinya lebih tinggi 15
    • daripada siswa yang bergaya kognitif meningkatkan prestasi akademik,field dependent. kecakapan sosial, dan kecakapan komunikasi, siswa menjadi lebih Tidak ada interaksi antara aktif, aktivitas belajarmetode pembelajaran (metode menyenangkan, dan menggairahkan.pembelajaran berbasis masalah dan Guru geografi disarankan untukmetode pembelajaran konvensional) memulai dengan modeldan gaya kognitif (gaya kognitif field pembelajaran berbasis masalah,independent dan gaya kognitif field karena model pembelajaran inidependent) terhadap pemahaman adalah sebagai salah satu metode‗uniflying geography‘ siswa kelas X yang mampu memahami konsepSMAN 1 Sidayu. Metode esensial geografi dan memecahkanpembelajaran (metode pembelajaran permasalahan spasial global.berbasis masalah dan metodepembelajaran konvensional) Gaya kognitif adalah salah satumembawa suatu akibat terhadap karakteristik siswa yang perlupemahaman belajar geografi apapun mendapat perhatian guru di sekolah.juga tingkat gaya kognitif siswa. Siswa yang bergaya kognitif fieldGaya kognitif (gaya kognitif field independent berikanlah tugas-tugasindependent dan gaya kognitif field yang menantang namundependent) membawa suatu akibat memungkinkan untuk sukses,terhadap pemahaman ‗uniflying mulailah dengan tugas-tugas yanggeography‘ apapun juga metode sedang. Sebaliknya, siswa yangpembelajarannya. bergaya kognitif field dependent berikanlah motivasi terutama dalam Pembelajaran berbasis masalah hal tujuan belajar di sekolah,adalah salah satu model mulailah dengan tugas-tugas yangpembelajaran yang dapat 16
    • mudah. Peningkatan kualitas belajarbukan merupakan kegiatan yanginsidental, melainkan harusmerupakan suatu proses yangberkelanjutan. Tidak ada ketentuan yang pastimengenai metode pembelajaranyang paling tepat digunakan. Tepattidaknya suatu metode baru terbuktidari hasil belajar siswa melaluievaluasi yang berkelanjutan danberagam yang mampu memahamikonsep geografi yang satu (uniflyinggeography) dan fenomena geosferatau masalah kegeografian melaluipendekatan spasial dengan sudutpandang ekologi manusia danregional. Guru geografi disarankanmelakukan penelitian denganmencoba berbagai metodepembelajaran inovatif 17
    • DAFTAR RUJUKAN Kognitif, dan Hasil Belajar Geografi. Jurnal Ilmu Pendidikan, 17 (1): 73-78.Daldjoeni, N. 1997. Pengantar Geografiuntuk Mahasiswa dan Guru Sekolah Lamba, H.A. 2006. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Model STAD dan Gaya Bandung: Alumni. Kognitif terhadap Hasil Belajar FisikaDegeng, I.N.S. 2001a. Teori Belajar dan Siswa SMA. Jurnal Ilmu Pendidikan,Pembelajaran. Malang: LP3 UM. 13 (2): 122-128.Degeng, I.N.S. 2001b. Karakteristik BelajarMahasiswa: Kajian Temuan Peneli- Matthews, J.A. and Herbert, D.T. 2004. Unifying Geography Common Heritage, Tian dan Terapannya dalam RancanganPembelajaran. Malang: LP3 UM. Shared Future. London: Routledge.Heller, P.1992. Teaching Problem Solving Mustaji. 2004. Pembelajaran BerbasisThrough Cooperative Grouping, Part I: Konstruktivistik. Surabaya: Unesa Univer-sity Press. Group versus Individual Problem Nur, M. dan Wikandari, P.R. 1999.Solving. New York: McGraw-Hill. Pengajaran Berpusat kepada Siswa danHaggett, P. 2001. Geography A Global Pendekatan Konstruktivis dalamSynthesis. London: Prentice Hall. Pengajaran. Surabaya: Unesa University Press.Khafid, S. 2003. PengembanganRancangan Pembelajaran dengan Riyanto, Y. 2005. ParadigmaPendekatan Pembelajaran. Surabaya: Unesa University Press. Konstruktivistik pada Mata PelajaranGeografi. Tesis tidak diterbitkan. Sura- Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: baya: PPS Teknologi PembelajaranUniversitas PGRI Adi Buana Surabaya. Rineka Cipta.Khafid, S. 2007. Pengaruh Pembelajaran Slavin, R.E. 1995. Cooperative LearningKooperatif Model Jigsaw dan Gaya Research, Theory and Practice. Boston: Kognitif terhadap Prestasi Belajar Allyn and Bacon.Geografi Siswa Kelas X SMAN 1 Sidayu. Suharyono dan Amien, M. 1994. Pengantar Jurnal Forum Pendidikan & Ilmu Filsafat Geografi. Jakarta: Dirjen.Pengetahuan, II (04): 31-40. Dikti. Depdikbud.Khafid, S. 2008. Peningkatan PemahamanKonsep Geografi melalui Implementasi Suparno, P. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Ayat-Ayat Pembelajaran Kontekstual Yogyakarta:Siswa SMAN 1 Sidayu. Jurnal Kajian Kanisius. Teori dan Praktik Kependidikan, 35 (1):17-28. Syah, M. 2001. Psikologi Belajar. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.Khafid, S. 2010. Pembelajaran KooperatifModel Investigasi Kelompok, Gaya 18
    • ISSN 2089-4554 19
    • Diterbitkan Oleh : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas GresikE – JURNAL Vol. : No.: Hlm. Gresik ISSN JENDELA 01 I 1-106 Juni - 2089-4554PENDIDIKAN Nopember IKLIM KERJA LEMBAGA DI PONDOK PESANTREN AL-FUTUHIYAH 20
    • GENDONGKULON-BABAT LAMONGAN Sri Sundari *)Abstrak, Iklim kerja yang kondusif adalah suatu kondisi, keadaan atau suasana kerja yangdirasakan menyenangkan oleh setiap individu yang ada dalam lembaga sehingga orang-orang di dalamnya selalu terdorong untuk terlibat secara produktif guna mencapai tujuanyang telah ditetapkan secara efektif dan efisien. Lembaga penyelenggara pendidikan salahsatunya memiliki fungsi dalam usaha-usaha mengembangkan pendidikan dalam rangka ikutdalam meningkatkan kualitas pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuikeadaan iklim kerja di Pondok Pesantren Al Futuhiyah Gendongkulon Babat Lamongan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan fokus penelitian adalah iklim kerja diPondok Pesantren Al Futuhiyah Gendongkulon Babat Lamongan. Data dikumpulkan dengankuesioner selanjutnya data ditampilkan dengan tabel dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklim kerja organisasi yang meliputi, suasanakerja, orientasi nilai, citra diri, gaya kepemimpinan, daya dorong, daya tanggap, dan sistemganjaran dirasakan nyaman, kondusif, penuh keakraban dan kekeluargaan, salingmenghargai oleh pegawainya, dan terlaksananya kepemimpinan dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan pimpinan pesantren dapat mempertahankandan meningkatkan iklim kerja yang ada khususnya suasana kerja, orientasi nilai, gayakepemimpinan, daya dorong, daya tanggap, ganjaran dan meningkatkan citra diri orgaisasidi Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan.Kata Kunci : Iklim KerjaPENDAHULUAN mempunyai pandangan bahwa ―Keseluruhan lebih berarti dan bagian‖. Peningkatan prestasi kerja dalam Sebagai faktor utama dalam lembaga,suatu lembaga merupakan tujuan yang kelangsungan hidup dan keberhasilandiinginkan oleh lembaga. Sebagai satu lembaga bergantung pada manusia yangkesatuan yang kompleks dimana di berperan dibalik alat-alat ataupundalamnya terdapat sekelompok manusia sumber-sumber daya lainnya. Oleh sebabyang memiliki kesamaan tujuan dan itu, seharusnyalah lembaga sebagai wadahkepentingan, mereka kurang bekerja manusia beraktifitas mempunyaisecara produktif jika tidak disertai dengan tanggungjawab penuh untukadanya iklim kerja yang menyenangkan. mengembangkan kualitas sumber dayaLembaga sebagai suatu proses, di manusia yang dimiliki serta selaludalamnya terdapat kerjasama antara menciptakan iklim kerja yang kondusifpimpinan dan pegawai dalam pencapaian dalam pencapaian tujuan yang telahtujuan lembaga. Kerjasama dapat tercipta ditetapkan.dengan baik, apabila setiap personil yangada baik pimpinan maupun staf 21
    • Lingkungan tempat bekerja terpupuk apabila para individumerupakan faktor penting yang dapat mempunyai kesempatan untukmempengaruhi kinerja pegawai di berinteraksi dengan para anggotadalamnya, walaupun ada faktor-faktor lain kelompoknya sendiri maupun denganyang menentukan maupun kelompok-kelompok kerja lainnya.mempengaruhinya. Orang-orang yang Interaksi semacam ini mendorongberada di dalam lembaga, tempat bekerja terjadinya pertukaran informasi yangharuslah mampu menciptakan iklim kerja bermanfaat, arus gagasan yang bebas danyang memberikan rasa aman, pengakuan perspektif yang sehat mengenai masalahdan penghargaan serta menjanjikan yang ada.kepuasan kerja kepada anggotanyasehingga nanti pada akhirnya mampu Berkenaan dengan iklim kerjaberkinerja dengan baik. Iklim lembaga lembaga menurut Stoner (1982) ada duayang menyenangkan akan tercipta, golongan yang mempengaruhi situasibilamana hubungan antar manusia pekerjaan, yaitu lingkungan kerja(human relationship) berkembang dengan langsung di dalamnya termasuk sistemharmonis. Lingkungan kerja yang imbalan lembaga dan kebijakan sertaharmonis yang mendukung lembaga tindakan lembaga. Sedangkan Cribbin,dibutuhkan oleh orang-orang dalam (1981) menjelaskan salah satu unsur iklimlembaga baik atasan maupun bawahan. kerja lembaga yang kondusif adalah gayaHal ini sejalan dengan pemikiran Stoner kepemimpinan. Dengan demikian iklimdalam Mulyono (1993:88) iklim kerja / kerja yang kondusif adalah suatu kondisi,suasana lembaga (work situation keadaan atau suasana kerja yangcharacteristic) adalah faktor lingkungan dirasakan menyenangkan oleh setiapkerja individu. Di dalam lembaga individu yang ada dalam lembaga sehinggahendaknya timbul dinamika kerjasama. orang-orang di dalamnya selalu terdorongKerja sama ini adalah bagian yang vital untuk terlibat secara produktif gunadalam kehidupan berlembaga. Adanya mencapai tujuan yang telah ditetapkaninteraksi dan proses kerja sama anggota secara efektif dan efisien.satu dengan anggota lainnya, antara Sebagai lembaga penyelenggarabagian satu dengan bagian yang lainnya pendidikan, Pondok Pesantren Al-maupun antara atasan dan pegawainya Futuhiyah Gendongkulon-Babatakan menimbulkan pemahaman terhadap Lamongan memiliki fungsi yang urgensuatu kondisi dan lingkungan kerja dalam usaha-usaha mengembangkansehingga mudah untuk mencrima pendidikan di daerah dalam rangka ikutinformasi dan arus gagasan (ide) dalam dalam meningkatkan pendidikan daerah.melakukan kerjasama guna mencapai Secara keseluruhan keadaan iklim kerja ditujuan. lingkungan Pondok Pesantren Al- Pentingnya kebebasan berinteraksi Futuhiyah Gendongkulon-Babatdan menjalin hubungan dalam lembaga Lamongan dapat dikatakan kondusif. Haluntuk menciptakan iklim kerja yang ini bisa dilihat bagaimana masing-masingkondusif telah dikemukakan oleh Stoner unit kerja begitu berhati-hati dalam(dalam Mulyono, 1993:67) yang mana menjalankan tugas dan wewenang yangiklim kerja yang permisifdan kreatifakan diberikan oleh. Contohnya, informasi 22
    • internal lembaga benar-benar dijaga Penelitian ini berupa penelitiankerahasiaannya, meskipun berusaha deskriptif karena penelitian ini bertujuanmendapatkannya dengan prosedur yang untuk mencatat, mendeskripsikan,benar. Setiap unit menjalankan tugasnya menganalisis dan menginterpretasikandengan sistem birokrasi lembaga yang keadaan-keadaan yang ada tentang objekbaik sesuai dengan fungsi tiap-tiap yang akan diteliti (Mardalis, 1990: 26).unit/bagian yang terdapat pada struktur Dengan melihat variabel yang ada dilembaga. Dengan kata lain tiap-tiap dalam penelitian ini, penelitian iniunit/bagian bekerja benar-benar merupakan penelitian deskriptif denganmengikuti aturan sistem ―pintu ke pintu‖ menggunakan pendekatan kuantitatif.(door to door). Begitu juga hubunganantar rekan kerjanya yang terjalin denganbaik antara satu dengan yang lain, Populasi dan Sampel Penelitianmeskipun masih terdapat hubungan yangkurang baik. Populasi Populasi sebagai ―keseluruhan subjek yang diteliti yang didapat dan suatuMETODE PENELITIAN informasi tentang masalah penelitian yang akan dilakukan‖ (Arikunto. 1992:102). Latunussa (1988:11) menjelaskan ―Rancangan Penelitian populasi adalah sekumpulan objek yang diteliti‖. Dalam penelitian ini, yang Rancangan penelitian pada dasarnya menjadi populasi adalah seluruh staf dimerupakan keseluruhan proses dan Pondok Pesantren Al-Futuhiyahpenentuan secara matang hal-hal yang Gendongkulon-Babat Lamongan yangdilakukan untuk dijadikan pedoman berjumlah 67 orang. Lebih jelasnya dapatselama pelaksanaan penelitian. Suatu dilihat pada tabel berikut.penelitian diselenggarakan untukmencapai tujuan yang telah dirumuskan.Untuk mencapai tujuan tersebut,diperlukan metode penelitian yang sesuai. Tabel 1Berkaitan dengan metode penelitian, Jumlah Staf Pondok Pesantren Al-Surakhmad (1982: 131) mengemukakan Futuhiyah Gendongkulon-Babattiga macam metode penelitian yaitu : Lamonganhistoris, deskriptif dan eksperimen.Ditinjau dan masalah dan tujuan No Sub. Bagian Jumlahpenelitian, maka penelitian inimenggunakan rancangan penelitian 1. Penasehat 4deskriptif yang bertujuan untukmendeskripsikan kejadian-kejadian masa 2. Penanggungjawab 1lalu dan sekarang dengan melihat variabel 3. Pimpinan 4yang ada. 4. Staf Pengajar 25 23
    • 5. Tata Usaha 5 penelitian populasi, selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil 6. Dewan Pengurus 10 antara 10-15% atau 20-50 atau lebih‖. 7. Bendahara 2 Dengan melihat penjelasan di atas untuk mendapatkan sampel yang 8. Sekretaris 2 representatif maka sampel yang 9. Pegawai 8 digunakan dalam penelitian ini adalah sampel total. Dengan kata lain semua Jumlah 67 populasi akan menjadi subjek penelitian.Sumber Pondok Pesantren AI-FutuhiyahGendongkulon Babat Lamongan Instrumen PenelitianSampel Penelitian Instrumen penelitian adalah alat Tujuan pengambilan sampel yang digunakan oleh seorang penelitipenelitian dimaksudkan untuk mengatasi dalam pengumpulan data. Instrumenketerbatasan tenaga, waktu dan biaya, penelitian yang digunakan untuknamun sampel harus mewakili atau menyimpulkan data dari lapangan untukmencerminkan seluruh populasi yang variabel iklim kerja lembaga adalahmenjadi objek penelitian. angket. Alasan menggunakan angket adalah karena pertimbangan keterbatasan Definisi sampel penelitian banyak waktu, tenaga dan biaya.dikemukakan oleh para ahli, Arikunto(1996:117) menjelaskan sampel adalah―Sebagian atau wakil populasi yangditeliti‖. Sedangkan Hadi (1997:21) Prosedur Pengembangan Instrumenmengemukakan bahwa sampel adalah Berkaitan dengan pengembangan―Sejumlah penduduk yang jumlahnya instrumen, maka langkah berikutnya yaitukurang dari populasi‖. Sampel penelitian menyusun instrumen masing-masingini diambil acuan sebagai wakil populasi variabel yang berpedoman pada indikatoryang representatif. Ukuran besarnya yang disajikan pada jabaran-jabaran.sampel yang pasti memang tidak ada, Kemudian jabaran masing-masingnamun untuk menjaga validitas data variabel ditetapkan dan disajikan dalampenelitian harus mempunyai pedoman bentuk matrik jabaran variabel, subtertentu. Seperti yang dikemukakan oleh variabel dan indikator penelitian. SebaranArikunto (1996: 120) ―Apabila subjeknya nomer item instrumen penelitian ini dapatkurang dari 100, lebih baik diambil dilihat pada tabel 2 berikut.:seluruhnya, sehingga merupakan Tabel 2 24
    • Jabaran variabel, sub variabel, indikator penelitian san nomor item dalam instrumen penelitian (sebelum uji coba)Variabel Sub Variabel Indikator No. ItemIklim kerja a. Suasana kerja a. Suasana kerja yang hangat, ramah, santai dan penuh 1,2,3lembaga kesungguhan b. Saling menghargai c. Saling menolong d. Terbuka terhadap gagasan baru 4 5 6 b. Orientasi a. Mengerjakan yang baik-baik 7 nilai b. Kerjasama dengan orang lain c. Perlakuan etis 8 d. Memperbaiki prestasi e. Memutuskan tujuan unit atau lembaga 9 10 11 c. Citra diri a. Cakap 12 b. Percaya diri c. Sangat konservatif dan hati-hati 13 14 d. Gaya a. Konsultatif dan partisipatif 15,16 kepemimpina b. Berorientasi pada pemecahan masalah bersama n c. Memberikan pengarahan dan pengendalian 17 d. Berorientasi pada manusia e. Banyak membantu dan memudahkan 18 f. Adil g. Inovatif 19 h. Berorientasi pada kebaikan dan terpusat pada perspektif jangka pendek dan jangka panjang 20 21 22 23,24 25,26,27,28 e. Daya tolak a. Tumbuh sesuai rencana 29 atau daya b. Mempertahankan kedudukan dorong c. Menekan inovasi dan teknologi 30 d. Menekannkan sumber daya manusia dan manajemen 25
    • Variabel Sub Variabel Indikator No. Item 31,32,33 34,35 f. Daya tangkap a. Kecepatan lembaga yang tinggi 36 b. Tidak tergesa-gesa c. Direncanakan 37 38 g. Ganjaran a. Ganjaran materi 1. Gaji 2. Tunjangan 39 b. Ganjaran psikologis 1. Pengakuhan dan penghargaan 40,41,42,43 2. Perhatian dan tanggung jawab 44 45 26
    • Analisis Data Katagori Penafsiran Skor interval kelas skala sikap Analisis data merupakan bagian metodepenelitian yang sangat penting dalam Sangat tinggi Selalu 3,24 – 4mencari makna data untuk memecahkan Tinggi Sering 2,6 – 3,25masalah penelitian. Ada beberapa teknikyang dapat digunakan dalam penelitian ini. Cukup Kadang- 1,76 – 2,5Untuk menentukan teknik analisis yang kadangtepat, maka harus memperhatikan tujuan Kurang Tidak pernah 1 – 1,75penelitian dan data yang tersedia. Teknik analisis data yang digunakandalam penelitian ini adalah teknik analisis Menentukan besarnya persentasedeskriptif. Teknik ini digunakan untukmendeskripsikan atau menggambarkan Untuk menyatakan kondisi masing-masingkondisi yang ada/tingkat iklim kerja lembaga variabel dengan rumus :yang dirasakan oleh pegawai di LingkunganPondok Pesantren Al-Futuhiyah %=Gendongkulon-Babat Lamongan (tujuanumum) serta keadaan/tingkat lingkungan Keterangan : f = Frekuensi N = Jumlahkerja langsung, orientasi nilai, citra diri, gaya subyekkepemimpinan, daya dorong, daya tanggapdan pemberian kompensasi pegawai diLingkungan Pondok Pesantren Al-Futuhiyah HASIL PENELITIANGendongkulon-Babat Lamongan (tujuankhusus). Adapun langkah-langkah yang perludilaksanakan adalah : Tabel 4 Deskripsi Data Variabel Iklim Kerja LembagaMenentukan kualifikasi B. Kelas No. Kualifikasi f % Langkah ini dilakukan untuk intervalmenentukan kualifikasi penilaian terhadap 1. Sangat tinggi 131 – 160 25 37,31variabel penelitian, yang harus ditentukanterlebih dahulu lebar kelas intervalnya. 2. Tinggi 101 – 130 39 58,20Sedangkan untuk menentukan lebar kelasinterval (i) adalah rentang (R)= skor tertinggi 3. Cukup 71 – 100 3 4,47dikurangi dengan skor terendah, dibagi 4. Kurang 40 – 70 - -dengan banyaknya interval (k). Dengandemikian rumus untuk menentukan panjang Total 67 100interval (i) adalah : Berdasar hasil pengolahan data variabel iklim kerja lembaga di Pondok Pesantren Al-Banyaknya interval/kategori kelas dalam Futuhiyah Gendongkulon-Babat Lamonganpenelitian ini ditetapkan berjumlah 4 yaitu: menunjukkan bahwa secara umum berada Tabel 3 pada kategori tinggi yaitu sebesar 58,20% atau sebanyak 39 dari 67 responden Kategori dan Penafsiran Skala Sikap menyatakan bahwa iklim kerja lembaga di Pondok Pesantren Al- Futuhiyah 27
    • Gendongkulon-Babat Lamongan beradadalam kategori tinggi. Hal ini sesuai denganpendapat Kossen (1986) menjelaskan bahwa Tabel 6hubungan manusiawi merupakan Deskripsi Data untuk Sub Variabeltanggungjawab setiap orang dalam lembaga. Orientasi NilaiManajer mempunyai tanggung jawab utarnauntuk menegakkan iklim hubungan D. Kelas No. Kualifikasi f %manusiawi yang menyenangkan, demikian intervalpula para anggota (sub ordinal) dan para 1. Sangat tinggi 16,26 – 20 12 17,91karyawan operasional lembaga jugamempunyai pengaruh terhadap iklim dan 2. Tinggi 12,51 – 16,25 43 64,17seyogyanya berbagi tanggungjawab. 3. Cukup 8,76 – 12,50 12 17,91 4. Kurang 5 – 8,75 - - Tabel 5 Total 67 100 Deskripsi Data untuk Sub Variabel Suasana Kerja Hasil pengolahan data untuk sub variabel orientasi nilai dengan menggunakan teknik C. Kelas persentase menunjukkan bahwa secaraNo. Kualifikasi f % interval umum orientasi nilai di Pondok Pesantren Al- Futuhiyah Gendongkulon-Babat Lamongan 1. Sangat tinggi 16,26 – 20 8 11,95 berada pada kategori tinggi yaitu sebesar 2. Tinggi 12,51 – 16,25 51 76,12 64,17% atau sebanyak 43dari 67 responden menyatakan bahwa orientasi nilai pegawai di 3. Cukup 8,76 – 12,50 8 11,95 Pondok Pesantren Al-Futuhiyah 4. Kurang 5 – 8,75 - - Gendongkulon-Babat Lamongan berada dalam kategori tinggi. Sedangkan masing- Total 67 100 masing 15 responden dengan persentase sebesar 17,91% menyatakan bahwa orientasi nilai di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan berada dalam kategori sangat Tabel 5 menunjukkan bahwa secaraumum suasana kerja di Pondok Pesantren Al- tinggi dan kategori cukupFutuhiyah Gendongkulon-Babat Lamonganberada pada kategori tinggi yaitu sebesar76,12% atau sebanyak 51 dan 67 responden Tabel 7menyatakan bahwa suasana kerja di PondokPesantren Al-Futuhiyah Gendongkulon-Babat Deskripsi Data untuk Sub VariabelLamongan berada dalam kategori tinggi. Citra DiriSedangkan 8 sponden dengan persentase11,95% menyatakan bahwa suasana kerja diPondok Pesantren Al-Futuhiyah E. Kelas No. Kualifikasi f %Gendongkulon-Babat Lamongan berada intervaldalam kategori sangat tinggi dan 8 orang 1. Sangat tinggi 9,76 – 12 17 25,37reponden lainnya dengan persentase sebesar11,95% menyatakan bahwa suasana kerja di 2. Tinggi 7,51 – 9,75 10 14,93Pondok Pesantren Al-FutuhiyahGendongkulon Babat Lamongan berada 3. Cukup 5,26 – 7,50 30 44,78dalam kategori cukup. 4. Kurang 3 – 5,25 10 14,93 28
    • Total 67 100 pegawai merasa puas dengan gaya pemimpinan atasannya, mereka merasa diperhatikan, diarahkan dan dilibatkanTabel 7 menunjukkan bahwa secara umum dalam setiap pemecahan masalah di dalamcitra diri di Pondok Pesantren Al-Futuhiyah lembaga, selain itu mereka merasaGendongkulon-Babat Lamongan berada pada dimudahkan dan dibantu oleh atasan.kategori cukup dengan persentase sebesar Sedangkan 23 responden dengan persentase44,80% atau 30 dari 67 responden sebesar 34,32% menyatakan bahwa gayamenyatakan bahwa citra din lembaga di kepemimpinan atasan berada dalam kategoriPondok Pesantren Al-Futuhiyah tinggi dan 8 responden dengan prentaseGendongkulon-Babat Lamongan berada sebesar 11,94% menyatakan dalam kategoridalam kategori cukup. Sedangkan 17 cukup. Semakin efektif gaya kepemimpinanresponden dengan persentase sebesar yang dilakukan maka akan mempermudah23,90% menyatakan bahwa citra diri lembaga pencapaian tujuan lembaga yang ditetapkan.berada dalam kategori sangat tinggi, 10responden dengan persentase sebesar 14,92%menyatakan berada dalam kategori tinggi dan10 responden dengan persentase yang samasebesar 14.92% menyatakan berada padakategori kurang Tabel 8 Deskripsi Data untuk Sub Variabel Tabel 9 Gaya Kepemimpinan Deskripsi Data untuk Sub Variabel Daya Dorong F. Kelas No. Kualifikasi f % interval G. Kelas 1. Sangat tinggi 40 – 48 36 53,73 No. Kualifikasi f % interval 2. Tinggi 31 – 39 23 34,33 1. Sangat tinggi 19,51 – 24 37 55,22 3. Cukup 22 – 30 8 11,94 2. Tinggi 15,01 – 19,50 23 34,33 4. Kurang 12 – 21 - - 3. Cukup 10,51 – 15,00 7 10,45 Total 67 100 4. Kurang 6 – 10,50 - - Total 67 100 Tabel 8 menunjukkan bahwa secaraumum gaya kepemimpinan di pondokPesantren Al-Futuhiyah Gendongkulon-Babat Tabel 9 menunjukkan bahwa secaraLamongan berada pada kategori sangat tinggi umum daya dorong di Pondok Pesantren Al-dengan persentase 53,73% atau sebanyak 36 Futuhiyah Gendongkulon-Babat Lamongandari 67 responden menyatakan bahwa gaya berada pada kategori sangat tinggi dengankepemimpinan di kantor Dinas Penididikan persentase sebesar 55,22% atau 37dari 67Kabupaten Situbondo berada dalam kategori responden menyatakan bahwa daya dorongsangat tinggi. Ini menunjukkan bahwa para lembaga di Pondok Pesantren Al-Futuhiyah 29
    • Gendongkulon-Babat Lamongan berada I. Kelas No. Kualifikasi f %dalam kategori sangat tinggi. Sedangkan 23 intervalresponden dengan persentase sebesar 34,32% 1. Sangat tinggi 19,51 – 24 31 46,27menyatakan bahwa daya dorong lembagaberada dalam kategori tinggi dan 7 responden 2. Tinggi 15,01 – 19,50 21 31,34dengan persentase 10,44% menyatakanbahwa daya dorong lembaga berada dalam 3. Cukup 10,51 – 15,00 15 22,39kategori cukup. 4. Kurang 6 – 10,50 - - Total 67 100 Tabel 10 Deskripsi Data untuk Sub Variabel Daya Tanggap Tabel 4.11 menunjukkan bahwa secara umum pemberian ganjaran di Pondok Pesantren Al- Futuhiyah Gendongkulon-Babat Lamongan H. Kelas berada pada kategori sangat tinggi denganNo. Kualifikasi f % persentase sebesar 46,27% atau sebanyak 31 interval dan 67 responden menyatakan bahwa 1. Sangat tinggi 9,76 – 12 57 85,07 pemberian ganjaran di Pondok Pesantren Al- Futuhiyah Gendongkulon-Babat Lamongan 2. Tinggi 7,51 – 9,75 9 13,43 berada dalam kategori sangat tinggi. 3. Cukup 5,26 – 7,50 1 1,50 Sedangkan 21 reponden dengan persentse sebesar 31,34% menyatakan pemberian 4. Kurang 3 – 5,25 - - ganjaran/kompensasi berada dalam kategori Total 67 100 tinggi dan 15 responden dengan persentase 22,39% menyatakan pemberian ganjaran berada dalam kategori cukup. Tabel 10 menunjukkan bahwa secaraumum daya tanggap lembaga di PondokPesantren Al-Futuhiyah Gendongkulon-BabatLamongan berada pada kategori sangat tinggi KESIMPULANdengan persentase sebesar 85,07% atau 57dari 67 responden menyatakan bahwa dayatanggap lembaga berada dalam kategorisangat tinggi. Sedangkan 9 responden dengan 1. Iklim kerja organisasi di Pondokpersentase sebesar 13,43% menyatakan Pesantren Al-Futuhiyah Gendongkulo Babat Lamongan para pegawainya merasabahwa daya tanggap lembaga berada dalam nyaman dengan suasana kerja,kategori tinggi dan 1 responden dengan kepemimpinan dan ganjaran.persentase sebesar 1,50% menyatakan berada 2. Suasana kerja di kantor menunjukkanpada kategori cukup. para pegawainya benar-benar merasakan adanya suasana kerja yang penuh keakraban, saling menghargai, saling menolong dan penuh kekeluargaan. Tabel 4.11 3. Orientasi nilai menunjukkan bahwa para pegawai memiliki rasa tanggungjawab, Deskripsi Data untuk Sub Variabel disiplin, berusaha meningkatkan prestasi Ganjaran kerja dan loyal. 4. Citra diri menunjukkan bahwa kurangnya kecakapan pegawai dalam bekerjasama dengan orang dan luar organisasi. 30
    • 5. Gaya kepemimpinan menunjukkan Arikunto, S. 1996. Prosedur Penelitian, Suatu bahwa pegawainya merasa pimpinan Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka telah melaksanakan kepemimpinan Cipta. dengan baik.6. Daya dorong menunjukkan bahwa Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian, pegawai dalam menjalankan Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : tanggungjawabnya penuh dengan Rineka Cipta. perencanaan, dapat memanfaatkan teknologi dengan baik dan mau mengikuti Burhanuddin. 1994. Analisis Administrasi peraturan. Manajemen dan Kepemimpinan7. Daya tanggap menunjukkan para Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara. pegawainya bekerja sesuai dengan perintah atasan tanpa cenderung Cribbin, J.J. 1981. Kepemimpinan Strategi menunda pekerjaan. Mengefektifkan Organisasi. Jakarta :8. Sistem menunjukkan para pegawai Pustaka Binaman Pressindo. diperhatikan dan diberi kemudahan untuk kesejahteraannya. Faisal, S. 1981. Dasar dan Teknik Menyusun Angket. Surabaya : Usaha Nasional. Furchan. 1982. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional. Hadi, S. 1997. Statistik Jilid I. Yogyakarta : Andi Offset. Hakim. 1994. Pengantar Sederhana Penelitian Pendidikan. Jakarta : Proyek Pengembangan Pendidikan Guru. Hamzah, R. 1990. Kepemimpinan Strategi Mengefektifkan Organisasi. Jakarta : Gramedia. Handoko. 1987. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia Jilid 2. Yogyakarta : BPFE. Indrawijaya. 1986. Pertumbuhan dan Pengembangan Organisasi. Bandung : Sinar Baru.DAFTAR PUSTAKA Kamalluddin. 1982. Manajemen. Jakarta : Dirjen Dikti P2LPTK.Adair, J. 1993. Membina Colon Pimpinan Kossen, S. 1986. Aspek Manusia Dalam (Sepuluh Prinsip Pokok). Jakarta : Organisasi. Bandung : Rineka Cipta. Bumi Aksara. Latif, A.G. 1988. Memberikan PimpinanAlbert. K. 1983. Pengemhangan Organisasi. dengan Kerja Sama. Jakarta : UI Press. Bandung : PT. Angkasa. Latunussa. 1988. Penelitian Pendidikan,Anwar. 1985. Pengembangan Organisasi. Suntu Pengantar. Jakarta : P2LPTK. Bandung : PT. Angkasa. Mardalis. 1990. Mefodologi Penelitian SuatuArikunto, S. 1992. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta : Bumi Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Aksara. Cipta. 31
    • Marzuki. 1989. Metodologi Penelitian. Jakarta : Militon.Muhyadi. 1989. Organisasi Teori, Struktur dan Proses. Jakarta : Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi.Mulyono, M. 1993. Penerapan Produktivitas dalam Organisasi. Jakarta : Bumi Aksara - UI.Owens. 1981. Organizational Behaviour in Education. Boston : Allyn Bacon.Prayitno. 2003. Korelasi Antara lklim Organisasi Dan Motivasi Berprestasi Dengan Unjuk Kerja Guru Pada Sekolah Menengah Umum Negeri Di Kabupaten Pasuruan. Tesis tidak diterbitkan.Purwanto, N. 1988. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Jakarta : CV. RemajaKarya.Santoso. 2001. Latihan SPSS Statistik Parametrik. Jakarta : PT. Elex Media KomputindoSari, D.N. 2003. Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Rangka Penciptaan lklim Kerja Organisasi Di Sekolah Dasar Negeri Se-Kecamatan Sukun Kota Malang. Skripsi tidak diterbitkan.Sari, L. 2000. Iklim Organisiasi Hubungannya Dengan Unjuk Kerja Dosen Dalam Mengajar Di IKIP Budi Utomo Malang. Tesis tidak diterbitkan.Soepardi. 1988. Dasar-DasarAdministrasi Pendidikan. Jakarta : Dirjen Dikti P2LPTK. 32
    • ISSN 2089-5933 Diterbitkan Oleh : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresik PENDIDIKAN KARAKTER: Vol. No. Hlm. Gresik ISSNe- JURNAL 01 I 1 - 106 Juni - 2089-5933 Nopember JENDELA 1PENDIDIKAN
    • WACANA KONSEP DAN IMPLEMENTASINYA Soesetijo *)Abstrak: pendidikan karakter menjadi perhatian serius untuk diimplementa-sikan di sekolah. Fenomena menunjukkan bahwa banyak keluhan masyarakattentang menurunnya tata krama, etika dan kreativitas siswa, karenamelemah-nya pendidikan budaya dan karakter bangsa. Sebagai langkah awalpendidikan karakter harus dimulai sejak dini, yakni pada jenjang pendidikansekolah da-sar. Pada jenjang sekolah dasar, ini porsinya mencapai 60 persendibandingkan dengan jenjang pendidikan lainnya. Menurut Wamendiknastelah terdapat 5 dari 8 potensi peserta didik yang implementasinya sangatlekat dengan tujuan pembentukan karakter. Kelekatan inilah yang menjadidasar hukum begitu pentingnya pelaksanaan pendidikan karakter. Pendidikanbudaya dan karakter bangsa ini memang harus dipraktekkan, titik beratnyabukan pada teori. Pendidikan budaya dan karakter bangsa seperti kurikulumyang tersembunyi. Bukan berarti akan diterapkan secara teoritis, tetapimenjadi penguat kuri-kulum yang sudah ada, yaitu denganmengimplementasikanya dalam mata pelajaran dan keseharian peserta didik.Permasalahannya, mayoritas guru be-lum punya kemauan untukmelaksanakan. Kesadaran sudah ada, hanya saja belum menjadi sebuah aksinyata. Oleh karena itu diperlukan buku pinter se-bagai acuan untukimplementasi pendidikan karakter di lembaga pendidikan, mulai dari sekolahdasar sampai dengan perguruan tinggi serta perlu segera disosialisasikangrand design pendidikan karakter.Kata-kata kunci: pendidikan karakter, wacana konsep, implementasi 2
    • Indonesia memerlukan sumberdaya University Amerika Serikat (Ali Ibrahimmanusia dalam jumlah dan mutu yang Akbar, 2000 dalam Mendiknas, 2010)memadai sebagai pendukung utama ternyata kesuksesan seseorang tidakdalam pembangunan. Untuk memenuhi ditentukan semata-mata olehsumberdaya manusia tersebut, kemampuan mengelola diri dan orangpendidikan memiliki peran yang sangat lain (soft skills). Penelitian inipenting. Hal ini sesuai dengan UU No. 20 mengungkapkan, kesuksesan hanyaTahun 2003 tentang Sistem Pendidikan ditentukan sekitar 20 persen oleh hardNasional pada Pasal 3 yang menyebutkan skills dan sisanya 80 persen soft skills.bahwa pendidikan nasional berfungsi Bahkan orang-orang tersukses di duniamengembangkan kemampuan dan bisa berhasil dikarenakan lebih banyakmembentuk karakter serta didukung kemampuan soft skills daripada hard skills. Hal ini mengisyaratkanperadaban bangsa yang bermartabat bahwa mutu pendidikan karakter pesertadalam rangka mencerdaskan kehidupan didik sangat penting untuk ditingkatkan.bangsa. Pendidikan Nasional bertujuan Oleh karena itu, Kementerian Pendidikanuntuk berkembangnya potensi peserta Nasional (Kemendiknas) telah menyusundidik agar menjadi manusia yang grand design pendidikan karakterberiman dan bertakwa kepada Tuhan bangsa. Ditargetkan, seluruh satuanYang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, pendidikan telah mengembangkannyaberilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan pada tahun 2014.(Media Indonesia.com,menjadi warga Negara yang demokratis 15-9-2010).serta bertanggung jawab. Data dan fakta menunjukkan,*)Soesetijo, staf pengajar Universitas bahwa dari hasil penelitian psikologi Gresik. sosial menun-jukkan bahwa orang yang Berdasarkan fungsi dan tujuan sukses di dunia ditentukan oleh perananpendidikan nasional, jelas bahwa ilmu sebesar 18%. Sisanya, 82%pendidikan di setiap jenjang pendidikan dijelaskan oleh keterampilan emosional,selalu mengacu pada tujuan pendidikan soft skills dan sejenisnya.(Elfindri, 2010).nasional tersebut di atas. Hal tersebut Ini menunjukkan bahwa soft skillsberkaitan dengan pembentukan karakter memberikan kontribusi bagi keberhasilanpeserta didik sehingga mampu bersaing, karir seseorang.beretika, bermoral, sopan santun danberinteraksi dengan masyarakat. Wacana pendidikan karakter padaBerdasarkan penelitian di Harvard akhir-akhir ini memperoleh perhatian 3
    • yang cukup intens dari pemerhati (kewarganegaraan), (7) self-disciplinependidikan. Pemerintah menyatakan, (disiplin diri), (8) caring (peduli), dan (9)bahwa pendidikan budaya dan karakter perseverance (ketekunan).bangsa selama ini telah diterapkan dan Penyelenggaraan pendidikanmenjadi kesatuan dengan kurikulum nasional tidak semata mentransfer ilmupendidikan yang sesungguhnya telah dan pengetahuan serta teknologi kepadadipraktekkan dalam kegiatan belajar peserta didik. Lebih dari itu, pendidikanmengajar di sekolah. Menurut Direktur harus bisa menumbuhkan semangatPembinanan SMP, Ditjen Manajemen kebangsaan sebagai warga bangsa denganPendidikan Dasar dan Menengah, Didik karakter ke-Indonesia-an.(Rumapea,Suhardi (KOMPAS.Com, Jumat, 15 2010).Januari 2010) pendidikan budaya dankarakter bangsa ini memang harus Karakter merupakan nilai-nilaidipraktekkan, titik beratnya bukan pada perilaku manusia yang berhubunganteori. Pendidikan budaya dan karakter dengan Tuhan Yang Maha Esa, diribangsa seperti kurikulum yang sendiri, sesama manusia, lingkungan, dantersembunyi. kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdsarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.Konsep Pendidikan Karakter Pendidikan karakter adalah suatu Karakter adalah ―cara berpikir dan sistem penanaman nilai-nilai karakterberperilaku yang menjadi ciri khas setiap kepada warga sekolah yang meliputiindividu untuk hidup dan bekerjasama, komponen pengetahuan, kesadaran ataubaik dalam lingkup kehidupan keluarga, kemauan, dan tindakan untukmasyarakat, bangsa dan melaksanakan nilai-nilai tersebut, baikNegara.(Suparlan, 2010). terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun Pendidikan karakter meliputi 9 kebangsaan sehingga menjadi manusia(sembilan) pilar yang saling kait insan kamil. Dalam pendidikan karaktermengkait, yaitu: (1) responsibility di sekolah, semua komponen(tanggung jawab), (2) respect (rasa (stakeholders) harus dilibatkan, termasukhormat), (3) fairness (keadilan), (4) komponen-komponen pendidikan itucourage (keberanian), (5) honesty sendiri, yaitu isi kurikulum, proses(kejujuran), (6) citizenship 4
    • pembelajaran dan penilaian, kualitas konteks totalitas proses psikologis danhubungan, penanganan atau pengelolaan social-kultural tersebut dikelompokkanmata pelajaran, pengelolaan sekolah, dalam: Olah Hati (Spiritual andpelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko- emotional development), Olah Pikirkurikuler, pemberdayaan sarana (intellectual development), Olah Ragaprasarana, pembiayaan, dan ethos kerja dan Kinestetik (Physical and kinesteticseluruh warga dan lingkungan sekolah. development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). Terlepas dari berbagai kekurangan Pengembangan danimplementasidalam praktik pendidikan di Indonesia, pendidikan karakter perlu dilakukanapabila dilihat dari standar nasional dengan mengacu pada grand designpendidikan yang menjadi acuan tersebut.pengembangan kurikulum (KTSP), danimplementasi pembelajaran dan Menurut UU No. 20 Tahun 2003penilaian di sekolah, tujuan di lembaga tentang Sistem Pendidikan Nasional padapendidikan sebenarnya dapat dicapai 13 ayat 1 menyebutkan bahwa jalurdengan baik. Pembinaan karakter juga pendidikan terdiri dari atas pendidikantermasuk dalam materi yang harus formal, nonformal, dan informal yangdiajarkan dan dikuasai serta saling melengkapi dan memperkaya.direalisasikan oleh peserta didik dalam Pendidikan informal adalah jalurkehidupan sehari-hari. Menurut Dr. pendidikan keluarga dan lingkungan.Anita Lie (2010) syarat menghadirkan Pendidikan informal sesungguhnyapendidikan karakter dan budaya di memiliki peran dan kontribusi yangsekolah harus dilakukan secara holistik. sangat besar dalam keberhasilan pendidikan. Peserta didik mengikuti Sebagai upaya untuk pendidikan di sekolah hanya sekitar 7 jammeningkatkan kesesuaian dan mutu per hari, atau kurang dari 30%.pendidikan karakter, Kementerian Selebihnya (70%), peserta didik beradaPendidikan Nasional mengembangkan dalam keluarga dan lingkungangrand design pendidikan karakter untuk sekitarnya. Jika dilihat dari aspeksetiap jalur, jenjang, dan jenis satuan kuantitas waktu, pendidikan di sekolahpendidikan. Grand design menjadi berkontribusi hanya sebesar 30%rujukan konseptual dan operasional terhadap hasil pendidikan peserta didik.pengembangan, pelaksanaan, danpenilaian pada setiap jalur dan jenjang Selama ini, pendidikan informalpendidikan. Konfigurasi karakter dalam terutama dalam lingkungan keluarga 5
    • belum memberikan kontribusi berarti pengalaman nyata dalam kehidupandalam mendukung pencapaian peserta didik sehari-hari di masyarakat.kompetensi dan pembentukan karakter Kegiatan ekstra kurikuler yangpeserta didik. Kesibukan dan aktivitas selama ini diselenggarakan sekolahkerja orang tua yang relative tinggi, merupakan salah satu media yangkurangnya pemahaman orang tua dalam potensial untuk pembinaan karakter danmendidik anak di lingkungan keluarga, peningkatan mutu akademik pesertapengaruh pergaulan di lingkungan sekitar didik. Kegiatan ekstra kurikulerdan pengaruh media elektronik ditengarai merupakan kegiatan pendidikan di luarbisa berpengaruh negatif terhadap mata pelajaran untuk membantuperkembangan dan pencapaian hasil pengembangan peserta didik sesuaibelajar peserta didik. Salah satu alternatif dengan kebutuhan, potensi, bakat, danuntuk mengatasai permasalahan tersebut minat mereka melalui kegiatan yangadalah melalui pendidikan karakter secara khususterpadu, yaitu memadukan danmengoptimalkan kegiatan pendidikan Pendidikan karakter di sekolahinformal lingkungan keluarga dengan juga sangat terkait dengan manajemenpendidikan formal di sekolah. Dalam hal atau pengelolaan sekolah. Pengelolaanini, waktu belajar peserta didik di sekolah yang dimaksud adalah bagaimanaperlu dioptimalkan agar peningkatan pendidikan karakter direncanakan,mutu hasil belajar dapat dicapai, dilaksanaan dan dikendalikan dalamterutama dalam pembentukan karakter kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolahpeserta didik. secara memadai. Pengelolaan tersebut antara lain mengikuti, nilai-nilai yang Pendidikan karakter dapat perlu ditanamkan, muatan kurikulum,diintegrasikan dalam pembelajaran pada pembelajaran, penilaian, pendidik dansetiap mata pelajaran. Materi tenaga kependidikan, dan komponenpembelajaran yang berkaitan dengan terkait lainnya. Dengan demikian,norma atau nilai-nilai pada setiap mata manajemen sekolah merupakan salahpelajaran perlu dikembangkan, satu media yang efektif dalam pendidikandieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks karakter di sekolah.kehidupan sehati-hari. Dengan demikian,pembelajaran nilai-nilai karakter tidakhanya pada tataran kognitif, tetapi Pendidikan Karakter yangmenyentuh pada internalisasi, dan Efektif 6
    • Menurut Lickona, dkk. (2007) sejauh mana siswa memanifestasikanterdapat 11 pinsip agar pendidikan karakter yang baik.karakter dapat berjalan efektif: (1) Dalam pendidikan karakterkembangkan nilai-nilai etika inti dan penting sekal dikembangkan nilai-nilainilai-nilai kinerja pendukungnya sebagai etika inti seperti kepedulian, kejujuran,fondasi karakter yang baik, (2) keadilan, tanggung jawab, dan rasadefinisikan ‗karakter‘ secara hormat terhadap diri dan orang lainkomprehensif yang mencakup pikiran, bersama dengan nilai-nilai kerjaperasaan, dan perilaku, (3) gunakan pendukungnya seperti ketekunan, etospendekatan yang komprehensif, kerja yang tinggi, dan kegigihan—sebagaidisengaja, dan proaktif dalam basis karakter yang baik. Sekolah haruspengembangan karakter, (4) ciptakan berkomitmen untuk mengembangkankomunitas sekolah yang penuh perhatian, karakter peserta didik berdasarkan nilai-(5) beri siswa kesempatan untuk nilai dimaksud mendefinisikan-nyamelakukan tindakan moral, (6) buat dalam bentuk perilaku yang dapatkurikulum akademik yang bermakna dan diamati dalam kehidupan sekolah sehari-menantang yang menghormati semua hari, men-contohkan nilai-nilai itu,peserta didik, mengembangkan karakter, mengkaji dan mendiskusikannya,dan membantu siswa untuk berhasil, (7) menggunakannya sebagai dasar dalamusahakan mendorong motivasi diri siswa, hubungan antarmanusia, dan(8) libatkan staf sekolah sebagai mengapresiasi manifestasi nilai-nilaikomunitas pembelajaran dan moral yang tersebut di sekolah dan masyarakat. Yangberbagi tanggung jawab dalam terpenting, semua komponen sekolahpendidikan karakter dan upaya untuk bertanggung jawab terhadap standar-mematuhi nilai-nilai inti yang sama yang standar perilaku yang konsisten sesuaimembimbing pendidikan siswa, (9) dengan nilai-nilai inti.tumbuhkan kebersamaan dalamkepemimpinan moral dan dukungan Karakter yang baik mencakupjangka panjangbagi inisiatif pendidikan pengertian, kepedulian, dan tindakankarakter, (10) libatkan keluarga dan berdasarkan nilai-nilai etika inti.anggota masyarakat sebagai mitra dalam Karenanya, pendekatan holistik dalamupaya pembangunan karakter, (11) pendidikan karakter berupaya untukevaluasi karakter sekolah, fungsi staf mengembangkan keseluruhan aspeksekolah sebagai pendidik karakter, dan kognitif, emosional, dan perilaku dari kehidupan moral. Siswa memahami nilai- 7
    • nilai inti dengan mempelajari dan pelayanan, dan kegiatan-kegiatan setelahmendiskusikannya, mengamati perilaku jam sekolah).model, dan mempraktekkan pemecahan Di samping itu, sekolah danmasalah yang melibatkan nilai-nilai. keluarga perlu meningkatkan efektivitasSiswa belajar peduli terhadap nilai-nilai kemitraan dengan merekrut bantuan daninti dengan mengembangkan keteram- komunitas yang lebih luas (bisnis,pilan empati, membentuk hubungan yang organisasi pemuda, lembaga keagamaan,penuh perhatian, membantu pemerintah, dan media) dalammenciptakan komunitas bermoral, mempromosikan pembangunan karakter.mendengar cerita ilustratif dan inspiratif, Kemitraan sekolah-orang tua ini dalamdan merefleksikan pengalaman hidup. banyak hal seringkali tidak dapat berjalan Sekolah yang telah berkomitmen dengan baik karena terlalu banyakuntuk mengembangkan karakter melihat menekankan pada penggalangandiri mereka sendiri melalui lensa moral, dukungan financial, bukan padauntuk menilai apakah segala sesuatu yang dukungan program. Berbagai pertemuanberlangsung di sekolah mempengaruhi yang dilakukan tidak jarang terjebakperkembangan karakter siswa. kepada tawar menawar sumbangan,Pendekatan yang komprehensif bukan bagaimana sebaiknya pendidikanmenggunakan semua aspek persekolahan karakter dilakukan bersama antarasebagai peluang untuk pengembangan keluarga dan sekolah.karakter. Ini mencakup apa yang sering Pendidikan karakter yang efektifdisebut dengan istilah kurikulum harus menyertakan usaha untuk menilaitersembunyi, hidden curriculum (upacara kemajuan. Terdapat tiga hal penting yangdan prosedur sekolah; keteladanan guru; perlu mendapat perhatian: (1) karakterhubungan siswa dengan guru, staf sekola sekolah: sampai sejauh mana sekolahlainnya, dan sesama mereka sendiri; menjadi komunitas yang lebih peduli danproses pengajaran; keanekaragaman saling menghargai?, (2) pertumbuhan stafsiswa; penilaian pembelajaran; sekolah sebagai pendidik karakter:pengelolaan lingkungan sekolah; sampai sejauh mana staf sekolahkebijakan disiplin); kurikulum akademik, mengembangkan pemahaman tentangacademic curriculum (mata pelajaran apa yang dapat mereka lakukan untukinti, termasuk kurikulum kesehatan mendorong pengembangan karakter?, (3)jasmani), dan program-program Karakter siswa: sejauh mana siswaekstrakurikuler, extracurricular memanifestasikan pemahaman,programs (tim olahraga, klub, proyek 8
    • komitmen, dan tindakan atas nilai-nilai mencoba membangun kultur sekolahetis inti? Hal seperti itu dapat dilakukan yang mampu membentuk karakter anakdi awal pelaksanaan pendidikan karakter didik dengan bantuan pranata sosialuntuk mendapatkan baseline dan diulang sekolah agar nilai tertentu terbentuk danlagi di kemudian hari untuk menilai terbatinkan dalam diri siswa. Untukkemajuan.(http://www.mediaindonesia.c menanamkan nilai kejujuran tidak cukupom, diakses tanggal 14 September 2010). hanya dengan memberikan pesan-pesan modal kepada anak didik. Pesan moral ini Menurut Doni Koesoemo A (2010) mesti diperkuat dengan penciptaan kulturpendidikan karakter jika ingin efektif dan kejujuran melalui pembuatan tatautuh mesti menyertakan tiga basis desain peraturan sekolah yang tegas dandalam pemrogramannya. Tanpa tiga basis konsisten terhadap setiap perilakuitu, program pendidikan karakter di ketidakjujuran.sekolah hanya menjadi wacana semata. Ketiga, desain pendidikan Pertama, desain pendidikan karakter berbasis komunitas. Dalamkarakter berbasis kelas. Desain ini mendidik, komunitas sekolah tidak hanyaberbasis pada relasi guru sebagai berjuang sendirian. Masyarakat di luarpendidik dan siswa sebagai pembelajar di lembaga pendidikan, seperti keluarga,dalam kelas. Konteks pendidikan karakter masyarakat umum, dan Negara, jugaadalah proses relasional komunitas kelas memiliki tanggung jawab moral untukdalam konteks pembelajaran. Relasi mengintegrasikan pembentukan karakterguru-pembelajar bukan monolog, dalam konteks kehidupan mereka. Ketikamelainkan dialog dengan banyak arah lembaga Negara lemah dalam penegakansebab komunitas kelas terdiri dari guru hukum, ketika mereka yang bersalahdan siswa yang sama-sama berinteraksi tidak pernah mendapatkan sanksi yangdengan materi. Memberikan pemahaman setimpal, Negara telah mendidikdan pengertian akan keutamaan yang masyarakatnya untuk menjadi manusiabenar terjadi dalam konteks pengajaran yang tidak menghargai makna tatananini, termasuk di dalamnya pula adalah sosial bersama.ranah noninstruksional, sepertimanajemen kelas, konsensus kelas, dan Pendidikan karakter hanya akanlain-lain, yang membantu terciptanya bisa efektif jika tiga desain pendidikansuasana belajar yang nyaman. karakter ini dilaksanakan secara simultan dan sinergis. Tanpanya, pendidikan kita Kedua, desain pendidikan karakterberbasis kultur sekolah. Desain ini 9
    • hanya akan bersifat parsial, inkonsisten diupayakan di berbagai negara sepertidan tidak efektif. Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Australia, dan Indonesia.Implementasi PendidikanKarakter di Lembaga 1. Pengalaman di Taiwan Taiwan sebagai salah satu NegaraPendidikan yang memandang kemajuan Pendidikan karakter yang bakal pembangunan Ilmu Pengetahuan danditerapkan di sekolah-sekolah tidak Teknologi hasilnya dirasakan tanpadiajarkan dalam mata pelajaran khusus. meningkatkan harkat dan martabat dariNamun, pendidikan karakter tersebut manusia. Moral menjadi salah satuakan diintegrasikan dengan mata tuntutan yang ingin dilengkapi seiringpelajaran yang sudah ada serta melalui dengan kemajuan dari ranahkeseharian pembelajaran di sekolah. pengetahuan.Menurut Wakil Menteri Pendidikan Upaya ini dilakukan melaluiNasional, Fasli Jalal, dikemukakan bahwa berbagai pendekatan, diantaranya adalahpendidikan karakter yang didorong dengan membentuk komite disiplin danpemerintah untuk dilaksanakan di moral di bawah Kementerian Pendidikan.sekolah-sekolah tidak akan membebani Komite disiplin kemudian mencobaguru dan siswa. Sebab, hal-hal yang menetapkan berbagai standar etika yangterkandung dalam pendidikan karakter mesti diterapkan di masing-masingsebenarnya sudah ada dalam kurikulum, satuan pendidikan, termasuk memonitortetapi selama ini tidak dikedepankan dan implementasinya.diajarkan secaratersurat.(http://bukuohbuku.wordpress.c Kemudian mengembangkanom, 1 September 2010). kurikukum moral dan etika yang nantinya diterapkan dalam system pembelajaran. Tahap selanjutnya adalah denganBeberapa Upaya Pencarian Soft mengimplementasikan aturan di sekolahSkills di Beberapa Negara sebagai cara meningkatkan nilai-nilai Upaya di berbagai Negara moral dan etika. Taiwan menyadarimengenai pentingnya solft skills juga bahwa berpikir kritis adalah pentingberagam. Dari berbagai liteatur yang maka arah pengembangan ditujukandisarikan dalam modul bahan ajar oleh pada ranah ini, termasuksuatu Tim di Dirjen Dikti (2008) telah kewarganegaraan, dan nilai-nilai sosial. 10
    • Sebagai catatan tambahan, Korea2. Pengalaman di Korea Selatan Selatan tercatat sebagai salah satu Negara Di Korea Selatan, sebagai salah dimana tingkat akses masyarakatsatu Negara yang juga mengalami mudanya terhadap pendidikan tinggikemajuan kemajuan yang pesat termasuk tertinggi di dunia. Memulaipendidikannya, juga sadar akan kerja kerasnya semenjak tahun 1945.pentingnya soft skills. Ini dikembangkan Sekarang komitmen anggaran dandengan seperangkat upaya. Secara makro, dukungan masyarakat adalah sangatmeningkatkan anggaran pendidikan dan besar dalam memajukan pendidikan.mempertahankan kebijakan komitmenyang tinggi semenjak tahun 1945. 3. Pengalaman di JepangSemangat dan komitmen ini dilahirkan Merespons akan tuntutansebagai akibat dari Korea Selatan juga pentingnya membangun karakter anak,ingin me-nyaingi perkembangan maka di Jepang menurut Scribner (2007)kemajuan ilmu dan teknologi yang dalam Tim Dikti (2008) untuk memenuhidihasilkan oleh Jepang, sebagai sebuah aspek soft skills, dimasukkan ke dalamNegara tetangga yang lebih dulu berhasil. kegiatan-kegiatan ko-kurikuler di sekolah Diantaranya adalah dengan dan di rumah.mengupayakan perbaikan metode Anak-anak Jepang diberi rasapengajaran dan pe-nyampaian materi tanggungjawab yang tinggi dalamajar, misalnya dengan menekankan mengembangkan fungsinya kepada adik-kesadaran guru akan pentingnya ka- adik sewilayahnya, dimulai dengan prosesrakter; mulai dari suasana, kemampuan, datang ke sekolah, metode belajar didan fasilitas yang mengarah kepada sekolah sampai pada menanamkan rasapembentukan karakter. kemandirian yang tinggi dan semangat untuk menang. Kemudian terbiasa untuk Hasil dari upaya ini telah mengembangkan kreativitas di dalammenyebabkan Korea Selatan tampil kelas, Sudah menjadi motto bagi anaksebagai salah satu Negara yang memiliki didik Jepang, bahwa kerja kelompokkarakter khas, untuk tampil menyaingi menjadi salah satu yang perlu dibiasakan.Jepang. Dengan karakter kerja keras, Karakter kerja keras dan mandirisalah satunya, telah pula menghasilkan yang dibangun dalam prinsip bushido,produk manufaktur yang mampu masuk menyebabkan bangsa Jepangke kancah internasional. menghasilkan generasi yang sanggup 11
    • menguasai berbagai iptek untuk berbagai bekerja dan hidup berkelompok. Itulahbidang dan proses industrialisasi. pemandangan pada sekolah-sekolah Sayang sekali, Jepang dalam dasar sampai menengah yangmembangun karakter bangsa masih dikembangkan.dibatasi oleh berbagai kendala. Dimanakendala utama dari proses pembangunanmanusia di Jepang masih belum sanggup 5. Pengalaman di Indonesiamengkikis kebiasaan ―bunuh diri‖ dari Kesadaran akan soft kills jugasebagian dari mereka yang frustasi. berkembang di Indonesia, namun dalam waktu yang terlalu lama dan metode yang tidak tepat. Upaya menekankan4. Pengalaman di Australia pentingnya pendidikan P-4 sewaktu Sementara di Australia, zaman Presiden Suharto telah didesainpengembangan soft skills dilakukan kegiatan-kegiatan yang lebih terpusat.semenjak usia dini, melalui system Oleh karena penekanan hanya kepadapenyampaian dan desain pemebelajaran. civic education, atau pendidikan civic,Desain pembelajaran yang menyebabkan maka hasil dari usaha P-4 hanya sebatasunsur-unsur soft skills terintegrasi bagaimana hidup bermasyarakat dandalam setiap proses pembelajaran. bernegara saja. Di Australia pembentukan Kelemahan utama yang dirasakankepercayaan diri anak-anak mulai pada bahwa pengembangan soft skills lebihpra sekolah. Pembiasaan anak-anak bersifat indoktrinasi. Dengan kata lainuntuk mengisi masa akhir minggu upaya Indonesia dalam mendorong softdengan orang tua, baik untuk skills selama berpuluh-puluh tahunkepentingan olah raga dan rekreasi. melalui penataran P-4 dianggap gagal, mengingat model itu saat sekarang sudah Anak-anak Australia terbiasa tidak dipakai lagi. Bahkan dianggappercaya diri. Karena setiap minggu kegiatan P-4 dapat saja menyimpang darimereka didorong untuk sanggup yang dipahami oleh kebanyakan paramenyampaikan pengalaman kepada ilmuwan. Diantaranya bahkan yangteman se kelasnya. Dan model seperti ini diberikan lebih kepada ilmuwan,dilaksanakan secara terus menerus. bukanlah bagaimana membentuk Guru sangat berperan dalam keterampilan perangkat lunak wargamengkomunikasikan soft skills di Negara. Selain dari itu para instruktursekolah. Anak-anak diajarkan akan hak banyak yang tidak terbekali dengan baik.dan tanggungjawabnya. Termasuk share 12
    • Sehingga kegatan soft skills semacam itu didik kita semakin berilmu dia sadarlebih diartikan kepada proyek-proyek semakin sadar akan eksistensinya,kegiatan oleh mereka yang berkuasa. posisinya dengan Sang Pencipta. Hal Akselerasi adat juga merupakan inilah yang menyebabkan bahwa dimensiupaya-upaya untuk mempertahankan soft trancedental skills menjadi bahan yangskills, mengingat kandungan budaya lokal mesti disadari penting masuk sebagaiadalah menuntun soft skills. Misalnya salah satu taksonomi soft skills.(Elfindri,bagaimana budaya dalam bertutur kata dkk, 2010).sepantasnya. Maka proses tutur katamasyarakat adat mesti dipertahankan. Penerapan Pendidikan KarakterUpaya ini dilakukan oleh kaum adat. Dimulai SDNamun hal ini belum terlalu baik Pendidikan karakter yangdiupayakan dalam mendiseminasikan dicanangkan Kementerian Pendidikansoft skills. Nasional (Kemendiknas) akan diterapkan Demikian juga, bagaimana pada semua jenjang pendidikan, namunkehidupan bergotong-royong diupayakan porsinya akan lebih besar diberikan padamasih eksis. Sayang sekali kehidupan Sekolah Dasar (SD). Menurut Menteriyang semacam itu semakin sirna. Singkat Pendidikan Nasional (Mendiknas)kata soft skills belum secara konsisten Muhammad Nuh, mengatakanuntuk digarap dan dipelajari. pendidikan karakter harus dimulai sejak Apa yang dapat dimaknai dari dini yakni dari jenjang pendidikansegala upaya untuk mencari solf skills di sekolah dasar SD). Pada jenjang SD iniberbagai Negara ? Negara maju Asia porsinya mencapai 60 persenTimur serta Indonesia ? Maka upaya dibandingkan dengan jenjang pendidikanuntuk mengembangkan karakter masih lainnya. Hal ini agar lebih mudahdalam batas keterbasan. Keterbatasan diajarkan dan melekat di jiwa anak-anakterutama masih menganggap bahwa itu hingga kelak ia dewasa. Pendidikantaksonomi ranah keilmuan menjadi karakter harus dimulai dari SD karenamenonjol. jika karakter tidak terbentuk sejak dini Sekalipun ada upaya untuk maka akan susah untuk merubahmeningkatkan ranah soft skills, namun karakter seseorang. Pendidikan karakterjuga kelihatannya sangat beragam dalam tidak mendapatkan porsi yang besar padamelihat komponen-komponennya. tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) atauDiantaranya, masih luputnya sejenisnya karena TK bukan merupakanmemasukkan unsur bagaimana anak sekolah tetapi taman bermain. TK itu 13
    • taman bermain untuk merangsang sebagai anggota masyarakat menjadikreativitas anak, bukan tempat belajar. bermakna baik bagi dirinya maupunOleh karena itu, jika ada guru yang orang lain. Esensinya pembinaanmemberikan tugas atau PR maka guru karakter harus dilakukan pada semuatersebut tidak memahami tugasnya. tingkat pendidikan hinga PerguruanSedangkan dalam menanamkan karakter Tinggi (PT) karena PT harus mampupada seseorang yang paling penting berperan sebagai mesin informasi yangadalah kejujuran, karena kejujuran membawa bangsa ini menjadi bangsabersifat universal. yang cerdas, sejahtera dan bermanfaat serta mampu bersaing dengan bangsa Pertimbangan yang rasional manapun.tentang mengapa penerapan pendidikankarakter harus dimulai pada siswa SD,karena siswa SD masih belum Model Pendidikan Karakter diterkontaminasi dengan sifat yang kurang Sekolah Menengah Pertama (SMP)baik sangat memungkinkan untuk Menurut Mochtar Buchori (2007)ditanamkan sifat-sifat atau karakter dalam Kemendiknas (2010) ―Pembinaanuntuk membangun bangsa. Oleh karena Karakter di Sekolah Menengah Pertama‖,itu, selain orang tua, guru SD juga bahwa pendidikan karakter seharusnyamempunyai peranan yang sangat vital membawa peserta didik ke pengenalanuntuk menempuh karakter siswa. nilai secara kognitif, penghayatan nilaiPembinaan karakter yang termudah di- secara afektif, dan akhirnya kelakukan adalah ketika anak-anak masih di pengamalan nilai secara nyata.bangku SD. Itulah sebabnya kita Permasalahan pendidikan karakter yangmemprioritas-kan pendidikan karakter di selama ini ada di SMP perlu segera lebihtingkat SD. Bukan berarti pada jenjang operasional sehingga mudahpendidikan lainnya tidak mendapat diimplementasikan di sekolah.perhatian namun porsinya saja yangberbeda. Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu Dengan demikian maka penyelenggaraan dan hasil pendidikan didiharapkan dunia pendidikan dapat sekolah yang mengarah pada pencapaiansebagai motor pengge-rak untuk pembentukan katakter dan akhlak muliamemfasilitasi peserta didik menjadi peserta didik secara utuh, terpadu, dancerdas, juga mempunyai budi pekerti dan seimbang, sesuai standar kompetensisopan santun sehingga keberadaannya lulusan. Melalui pendidikan karakter 14
    • diharapkan peserta didik SMP mampu kompetensi akademik yang utuh dansecara mandiri meningkatkan dan terpadu, sekaligus memiliki kepribadianmenggunakan pengetahuannya, mengkaji yang baik sesuai norma-norma dandan menginternalisasi serta budaya Indonesia. Pada tataran yangmempersonalisasi nilai-nilai karakter dan lebih luas, pendidikan karakter nantinyaakhlak mulia sehingga terwujud dalam diharapkan menjadi budaya sekolah.perilaku sehari-hari. Keberhasilan program pendidikan Pendidikan karakter pada karakter dapat diketahui melaluitingkatan institusi mengarah pada pencapaian indicator oleh peserta didikpembentukan budaya sekolah, yaitu nilai- sebagaimana tercantum dalam Standarnilai yang melandasi perilaku, tradisi, Kompetensi Lulusan SMP, yang antarakebiasaan keseharian, dan simbol-simbol lain meliputi sebagai berikut :yang dipratikkan oleh semua warga 1. Mengamalkan ajaran agamasekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. yang dianut sesuai denganBudaya sekolah merupakan ciri khas, tahap perkembangan remaja;karakter atau watak, dan citra sekolah 2. Memahami kekurangan dantersebut di mata masyarakat luas. kelebihan diri sendiri; Sasaran pendidikan karakter 3. Menunjukkan sikap percayaadalah seluruh Sekolah Menengah diri;Pertama (SMP) di Indonesia negeri 4. Mematuhi aturan-aturan socialmaupun swasta. Semua warga sekolah, yang berlaku dalam lingkunganmeliputi para peserta didik, guru, yang lebih luas;karyawan administrasi, dan pimpinan 5. Menghargai keragaman agama,sekolah menjadi sasaran program ini. budaya, suku, ras, danSekolah-sekolah yang selama ini telah golongan social ekonomi dalamberhasil melaksanakan pendidikan lingkup nasional;karakter dengan baik dijadikan sebagai 6. Mencari dan menerapkanbest practices, yang menjadi contoh informasi dari lingkunganuntuk disebarluaskan ke sekolah-sekolah sekitar dan sumber-sumber lainlainnya. secara logis, kritis dan kreatif; 7. Menunjukkan kemampuan Memalui program ini diharapkan berpikir logis, kritis, kreatif,lulusan SMP memiliki keimanan dan dan inovatif;ketaqwaan kepada Tuhan Yang MahaEsa, berakhlak mulia, berkarakter mulia, 15
    • 8. Menunjukkan kemampuan 18. Menunjukkan kegemaran belajar secara mandiri sesuai membaca dan menulis naskah dengan potensi yang pendek sederhana; dimilikinya; 19. Menunjukkan keterampilan9. Menunjukkan kemampuan menyimak, berbicara, menganalisis dan memecahkan membaca, dan menulis dalam masalah dalam kehidupan bahasa Indonesia dan bahasa sehari-hari; Inggris sederhana;10. Mendeskripsikan gejala alam 20. Menguasai pengetahuan yang dan social; diperlukan untuk mengikuti11. Memanfaatkan lingkungan pendidikan menengah; secara bertanggung jawab; 21. Memiliki jiwa kewirausahaan.12. Menerapkan nilai-nilai Pada tataran sekolah, kriteria kebersamaan dalam kehidupan pencapaian pendidikan karakter adalah bermasyarakat, berbangsa, dan terbentuknya budaya sekolah yaitu bernegara demi terwujudnya perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, persatuan dalam Negara dan simbol-simbol yang dipratikkan oleh kesatuan Republik Indonesia; semua warga sekolah, dan masyarakat13. Menghargai karya seni dan sekitar sekolah harus berlandaskan nilai- budaya nasional; nilai tersebut.(Kemendiknas, 2010).14. Menghargai tugas pekerjaan Penyelenggaraan pendidikan dan memiliki kemampuan nasional tidak semata mentransfer ilmu untuk berkarya; dan pengetahuan serta teknologi kepada15. Menerapkan hidup bersih, peserta didik. Lebih dari itu, pendidikan sehat, bugar, aman, dan harus bisa menumbuhkan semangat memanfaatkan waktu luang kebangsaan sebagai warga bangsa dengan dengan baik; karakter ke-Indonesia-an. Bangsa ini16. Berkomunikasi dan harus kembali kepada bangsa yang berinteraksi secara efektif dan berbudi. Mampu memiliki budi pekerti santun; yang luhur yang diajarkan oleh para17. Memahami hak dan kewajiban leluhur bangsa. Caranya, dengan diri dan orang lain dalam mengajarkan pendidikan karakter kepada pergaulan di masyarakat; anak-anak mulai dari bangku sekolah. menghargai adanya perbedaan Memberikan mereka pemahaman yang pendapat; 16
    • jelas tentang karakter yang harus dimiliki Pendekatan parsial yang tidakmanusia Indonesia di masa depan. didasari pendekatan pedagogi yang kokoh Dengan olah raga, olah raga, dan alih-alih menanamkan nilai-nilaiolah jiwa sekolah kami terus menerus keutamaan dalam diri anak, malahmenanamkan nilai-nilai luhur yang harus menjerumuskan mereka pada perilakudimiliki manusia Indonesia. Oleh karena kurang bermoral. Selama ini, jika kitaitu, kami mengemasnya dalam berbagai berbicara tentang pendidikan karakter,bentuk kegiatan kesiswaan yang dimulai yang kita bicarakan sesungguhnya adalahdari saat siswa pertama kali masuk sebuah proses penanaman nilai yangsekolah sampai keluar (lulus) dari seringkali dipahami secara sempit, hanyasekolah. terbatas pada ruang kelas, dan seringkali Pembangunan karakter dan pendekatan ini tidak didasari prinsippendidikan karakter menjadi suatu pedagogi pendidikan yang kokoh.keharusan, karena pendidikan tidak Sebagai contoh, untukhanya menjadikan peserta didik menjadi menanamkan nilai kejujuran, banyakcerdas, tetapi juga mempunyai budi skolah beramai-ramai membuat kantinpekerti dan sopan santun, sehingga kejujuran. Di sini, anak diajak untuk jujurkeberadaannya sebagai anggota dalam membeli dan membayar barangmasyarakat menjadi bermakna baik bagi yang dibeli tanpa ada yangdirinya maupun orang lain. mengontrolnya. Dengan praksis iniMenanamkan karaker pada seseorang diharapkan anak-anak kita akanyang paling penting adalah kejujuran, menghayati nilai kejujuran dalam hidupkarena kejujuran bersifat universal. mereka. Namun, sayang, gagasan yang(Mahatma, 2010). tampaknya relevan dalam mengembangkan nilai kejujuran iniPendidikan Karakter Integral mengabaikan prinsip dasar pedagogi Pendidikan karakter hanya akan pendidikan berupa kedisiplinan sosialmenjadi sekadar wacana jika tidak yang mampu mengarahkan dandipahami secara lebih utuh dan membentuk pribadi anak didik.menyeluruh dalam konteks pendidikan Alih-alih mendidik anak menjadinasional kita. Bahkan, pendidikan jujur, dibanyak tempat anak yang baikkarakter yang dipahami secara parsial malah tergoda menjadi pencuri dandan tidak tepat sasaran justru malah kantin kejujuran malah bangkrut. Inibersifat kontraproduktif bagi terjadi karena kultur kejujuran yang inginpembentukan karakter anak didik. dibentuk tidak disertai dengan 17
    • pemangunan perangkat sosial yang contoh sebanyak 10 sekolah di semuadibutuhkan dalam kehidupan bersama. jenjang pendidikan di Nusa TenggaraTiap orang bisa tergoda menjadi pencuri Barat mendapatkan bantuan darijika ada kesempatan. Kementerian Pendidikan Nasional untuk Masifnya perilaku ketidakjujuran mengembangkan pendidikan karakter.itu telah menyerambah dalam diri para Setiap sekolah yang mendapatkanpendidik, siswa dan anggota komunitas percontohan menerima bantuan sebesarsekolah lain. Untuk itu, pendekatan yang Rp. 10.000.000,00 untuk menerapkanlebih utuh dan integrallah yang dan membina pengembangan pendidikandibutuhkan untuk melawan budaya tidak karakter.(http://www.antaranews.com,jujur ini. diakses tanggal 7 September 2010). Pendidikan karakter semestinya Sementara itu, Mendiknas,terarah pada pengembangan kultur Muhammad Nuh mengemukakan bahwaedukatif yang mengarahkan anak didik intinya pembinaan karakter harusuntuk menjadi pribadi yang integral. dilakukan pada semua tingkat pendidikanAdanya bantuan sosial untuk hingga Perguruan Tinggi (PT) karena PTmengembangkan keutamaan merupakan harus mampu berperan sebagai mesinciri sebuah lembaga pendidikan. informasi yang membawa bangsa ini Dalam konteks kantin kejujuran, menjadi bangsa yang cerdas, santun,bantuan sosial ini tidak berfungsi, sebab sejahtera dan bermartabat serta mampuanak malah tergoda menjadi pencuri. bersaing dengan bangsa manapun.Kegagalan kantin kejujuran adalahsebuah indikasi, bahwa para pendidik Simpulan dan Saranmemiliki kesalahan pemahaman tentang Simpulanmakna kejujuran dalam konteks Berdasarkan pemaparan tersebutpendidikan. Mereka tidak mampu di atas, maka dapatlah dikemukakanmelihat persoalan yang lebih mendalam beberapa simpulan sebagai berikut: (1)yang menggerogoti sendi pendidikan karakter adalah cara berpikir dankita.(Doni Koesoema A, 2010). berperilaku yang menjadi ciri khas setiap Sementara itu, untuk individu untuk hidup dan bekerjasama,mengembangkan pendidikan karakter di baik dalam lingkup kehidupan keluarga,sekolah, Kementerian Pendidikan masyarakat, bangsa dan Negara; (2)Nasional (Kemendiknas) memberikan Pendidikan karakter meliputi 9bantuan kepada sekolah-sekolah yang (sembilan) pilar yang saling kaitditunjuk sebagai percontohan. Sebagai mengkait, yaitu: (a) responsibility (tanggung jawab), (b) respect (rasa 18
    • hormat), (c) fairness (keadilan), (d) pelosok nusantara, terutama ke lembaga-courage (keberanian), (e) honesty lembaga pendidikan, dan (10) program(kejujuran), (f) citizenship pendidikan karakter tidak hanya(kewarganegaraan), (g) self-discipline dilakukan satu sampai dua tahun, namun(disiplin diri), (h) caring (peduli), dan (i) secara berkesinambungan hingga 2025.perseverance (ketekunan); (3) Saranpembinaan karakter harus dilaksanakan Berdasarkan butir-butir simpulanpada semua tingkat pendidikan hingga di atasa, maka untukPerguruan Tinggi (PT), (4) pembangunan mengimplemetasikan pendidikankarakter dan pendidikan karakter karakter di lembaga pendidikanmenjadi suatu keharusan karena dikemukakan saran sebagai berikut : (1)pendidikan tidak hanya menjadikan untuk implementasikan pendidikanpeserta didik menjadi cerdas, juga karakter di sekolah dasar (SD), sebagaimempunyai budi pekerti dan sopan porsi yang cukup besar (60%), makasantun, sehingga keberadaannya sebagai perlu disusun buku petunjuk pelaksanaananggota masyarakat menjadi bermakna (juklak) yang dapat digunakan sebagaibaik bagi dirinya maupun orang lain, (5) acuan para tenaga kependidikan padapendidikan karakter yang didalamnya ada jenjang pendidikan dasar, (2)akhlak mulia akan menjadi jati diri sebagaimana telah dikemukakan di atas,bangsa untuk mencapai kejayaan dan bahwa penerapan pendidikan karakterkemajuan di dunia internasional, (6) dapat diimplementasikan mulai padapendidikan budaya dan karakter bangsa jenjang pendidikan dasar sampai denganharus dipraktekkan, titik beratnya bukan pendidikan tinggi. Oleh karena itu, untukteori, (7) menghadirkan pendidikan mempersiapkan semuanya secara cermat,karakter dan budaya di sekolah harus perlu diterbitkan buku pinter yangdilakukan secara holistik, karena tidak memberikan acuan kepada guru danbisa terpisah dengan pendidikan sifatnya dosen agar pendidikan karakter dapatkognitif atau akademik, (8) diterapkan sesuai dengan yangpermasalahannya, mayoritas guru belum diharapkan, (3) dalam kontekspunya kemauan untuk melaksanakan pembelajaran di kelas atau ruang kuliah,pendidikan karakter, kesadaran sudah pendidikan karakter dapat diintegrasikanada hanya saja belum menjadi sebuah pada mata pelajaran atau mata kuliahaksi nyata, (9) grand design tentang yang relevan, (4) agar tenagapendidikan karakter sudah tersusun, kependidikan (guru dan dosen)hanya belum disosialisasikan ke seluruh mempunyai acuan yang baku tentang 19
    • penerapan pendidikan karakter, makaperlu segera disosialisasikan granddesign tentang pendidikan karakter, (5)pendidikan karakter harus diwujudkanuntuk kepentingan anak-anak Indonesiadalam konteks kehidupan social danbuaya masyarakat, (6) perlu diadakanTOT (Training of Trainer) untukpendidikan karakter bagi seluruh tenagatenaga kependidikan, baik guru maupundosen, (7) pelaksanaan pendidikankarakter di sekolah jangan hanya bersifatinstan, karena pemerintah saat ini sedangintens dengan soal ini, tantangannyajustru bagaimana pendidikan di sekolahitu berjalan seimbang antara penguasaanpengetahuan dan pembentukan karaktersiswa, dan (8) perlu segeradisosialisiasikannya grand designpendidikan karakter di lembagapendidikan mulai jenjang pendidikanTaman Kanak-Kanak sampai denganperguruan tinggi. 20
    • ISSN 2089-5933 fffffffffDi Terbitkan Oleh : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresik e- JURNAL Vol. 1 No. I Hlm. Gresik ISSNPENDIDIKAN 1-66 Juni - 2089-5933 21 Nopember
    • DI SDN BANJARSARI CERME GRESIK Etiyasningsih*)Abstrak, Disiplin merupakan salah satu faktor yang sangat penting. Agar guru dapat berhasildalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, maka guru tersebut harus mentaati danmenyadari akan pentingnya kedisiplinan. Kedisiplinan guru tentunya akan berimbas kepadapara siswa, guru yang tidak atau kurang disiplin, siswanya pun akan cenderung tidak displindan sebaliknya. Kedisplinan tidak hanya pada kehadiran guru semata, namun lebih dari itudisiplin dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Dalam hal ini misalnya guru disiplindalam membuat persiapan mengajar, Silabus, RPP, menyiapkan buku-buku paketpenunjang, alat peraga dan lain-lain. Dengan kedisiplinan guru yang tinggi siswa akan lebihsemangat belajar dan mendapatkan urutan materi pelajaran yang sistematis, hal ini akanmeningkatkan prestasi belajarnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh disiplinguru terhadap prestasi belajar. Penelitian ini merupakan jenis regresional. Populasinya adalah seluruh guru di SDNBanjarsari Cerme Gresik berjumlah 20 orang. Sampel diambil dengan teknik purposivesampling yaitu sesuai dengan kebutuhan dan yang tidak diikutkan adalah guru komputer,diperoleh responden sebanyak 19 orang. Data dikumpulkan dengan observasi, dokumentasidan wawancara dengan instrumen check list. Selanjutnya untuk mengetahui pengaruhdisiplin guru terhadap prestasi belajar digunakan uji regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan Fhitung = 6,171. > Ftabel = 4,45. Oleh karena Fhitung > Ftabelmaka Ha diterima dan Ho ditolak yang berarti terdapat pengaruh signifikan disiplin guruterhadap prestasi belajar siswa. Terlihat pula signifikan hasil hitung αhitung = 0,024 jauh dibahwa 0,05, yang menandakan pengaruh yang signifikan. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan para guru dapat menjalankan tugas denganpenuh rasa tanggung jawab, disiplin, jujur, dan penuh didekasi, karena dengan sikap-sikaptersebut sangat membantu dalam tercapainya prestasi belajar siswa, selain itu hendaknyajuga lebih memperhatikan kehadiran, persiapan mengajar dan proses kegiatan belajarmengajar. Bagi kepala sekolah dapat memberi motivasi agar para guru lebih disiplin denganmemberi stimulus yang proporsional.Kata Kunci : Disiplin Guru, Prestasi Belajar Siswa 22
    • PENDAHULUAN Pada dasarnya sekarang ini banyak para guru yang kurang siap dalam Kita semua menyadari bahwa untuk mengajar, dikarenakan guru tersebutmencapai tujuan pendidikan sangatlah belum membuat persiapan mengajar, danberat, lebih-lebih pada saat sekarang ini. juga melanggar tata tertib.Sebenarnya telah banyak usahapemerintah, dan aspek pendukung, guna Disiplin merupakan salah satu faktorterwujudnya tujuan pendidikan tersebut. yang sangat penting. Agar guru dapat berhasil dalam melaksanakan tugas dan Untuk mewujudkan tujuan kewajibannya, maka guru tersebut haruspendidikan tersebut pemerintah berusaha mentaati dan menyadari akan pentingnyamelak-sanakan kegiatan antara lain, (1) kedisiplinan. Karena gurulah yang ikutMenyempurnakan sistem pendidikan, (2) bertanggung jawab dalam keberhasilanMemperluas kesempatan untuk mem- penyelenggaraan kegiatan belajarperoleh pendidikan, (3) Sarana dan mengajar di sekolah, agar selalu berupayaprasarana pendidikan terus untuk meningkatkan keberhasilan prestasidisempurnakan dan ditingkatkan serta belajar siswa. Selain itu para gurulebih didayagu-nakan, (4) Meningkatkan hendaknya selalu memberikan bimbinganjumlah guru dan mutunya, baik formal dan pengajaran secara baik dengan selalumaupun non formal serta terus berpedoman pada petunjuk danditingkatkan pengembangan karier dan peraturan-peraturan yang telah ditetapkankesejahteraannya. oleh pemerintah, dalam hal ini Mengelola pendidikan tidak semudah Departemen Pendidikan Nasional.yang kita bayangkan selama ini, sebab Kedisiplinan guru tentunya akanpendidikan berperan penting sebagai alat berimbas kepada para siswa, guru yangatai tempat untuk membentuk manusia tidak atau kurang disiplin, siswanya punIndonesia dan sebagai warga masyarakat akan cenderung tidak displin dansekaligus sebagai warga Negara yang sebaliknya. Kedisplinan tidak hanya padaberbudi pekerti luhur, beriman dan taqwa kehadiran guru semata, namun lebih dariterhadap Tuhan Yang Maha Esa, serta itu disiplin dalam melaksanakan prosesberkemampuan dan mempunyai belajar mengajar. Dalam hal ini misalnyaketrampilan dasar untuk bekal pendidikan guru disiplin dalam membuat persiapanselanjutnya dan bekal hidup di mengajar, Silabus, RPP, menyiapkanmasyarakat. buku-buku paket penunjang, alat peraga dan lain-lain. Dengan kedisiplinan guru Guru kelas sebagai administrator yang tinggi siswa akan lebih semangatmenempati posisi yang sangat penting belajar dan mendapatkan urutan materikarena memikul tanggung jawab untuk pelajaran yang sistematis, hal ini akanmeningkatkan dan mengembangkankemajuan sekolah secara keseluruhan. meningkatkan prestasi belajarnya.Sedangkan murid dan guru yang menjadikomponen penggerak aktifitas kelas harusdidayagunakan secara maksimal agar METODE PENELITIANdapat tercapai suatu kesatuan yangdinamis di dalam organisasi sekolah. 23
    • Deskripsi Populasi Rumus untuk menghitung ukuran sampel dari populasi yang diketahui jumlahnya Arikunto (2002) menyatakan bahwa adalah :populasi adalah obyek yang akan ditelitihasilnya, dianalisis, disimpulkan dankesimpulan itu berlaku untuk seluruh s =populasi itu. Sudjana (1996) menjelaskanpopupasi adalah totalitas semua nilai yang 2dengan dk = 1, taraf kesalahan bisa 1%, 5%,mungkin, hasil menghitung atau 10%pengukuran, kuantitatif, atau kualitatif P = Q = 0,5 d = 0,05 s = jumlah sampelmengenai karateristik tertentu dari semuaanggota kumpulan yang lengkap dan jenisyang ingin dipelajari sifat-sifatnya. Namun dari rumus tersebut telah Penelitian ini dilakukan dengan dihitung untuk populasi-populasi denganmengambil populasi seluruh guru di SDN jumlah tertentu mulai 10 hinggaBanjarsari Cerme Gresik berjumlah 20 1.000.000 oleh Sugiono (2009:126)orang. sebagaimana tabel terlampir. Untuk jumlah populasi 20 orang dengan taraf signifikan 0,05 diperoleh sampel sebanyakPenentuan Sampel 19 orang. Oleh karena itu dalam penelitian Pengambilan sampel ini didasari ini Dari 19 orang ini dipilih dengan teknikpendapat Arikunto (1998:120-121) berikut purposive sampling yaitu sesuai dengan: ―Untuk sekedar ancer-ancer maka kebutuhan dan yang tidak diikutkanapabila subjeknya kurang dari 100, lebih adalah guru komputer.baik diambil semua sehinggapenelitiannya merupakan penelitian Definisi Operasional Variabelpopulasi. Selanjutnya jika jumlahsubyeknya besar dapat diambil antara 10- Agar tujuan penelitian dapat tercapai15% atau lebih tergantung setidak- maka variabel harus didefinisikan dengantidaknya dari : a) kemampuan peneliti dari jelas dan menyebutkan indikator-waktu, tenaga dan dana, b) Sempit luasnya dindikatornya, cara pengukurannya, danwilayah pengamatan dari setiap subyek, skala atau kategori penilaian yangkarena hal ini menyangkut banyak digunakan. Berikut ini adalah definisisedikitnya data, c) Besar kecilnya risiko operasional masing-masing variabel.yang ditanggung oleh peneliti. Untuk 1. Variabel bebas (X) yakni disiplinpenelitian yang risikonya besar, tentu saja guru adalah suatu sikap mental seoangjika sampel besar, hasilnya akan lebih guru yang mengandung kesadaran danbaik.‖ kerelaan untuk mematuhi semua Sugiyono (2009:124) menyatakan ketentuan, peraturan dan norma yangjumlah sampel tergantung dari tingkat berlaku dalam menunaikan tugas danketelitian atau kesalahan yang tanggung jawab. Disiplin guru tersebutdikehendaki, misalnya tingat kesalahan diukur dengan indikator-indikator1%, 5%, 10% atau lainnya. Makin besar sebagai berikut :tingkat kesalahan makin kecil sampel. a. Kehadiran di sekolah 24
    • b. Ketepatan waktu mengajar secara berhadapan muka dengan c. Persiapan mengajar yaitu silabus, secara individu, orang yang RPP diinterview memberikan informasi- d. Kegiatan belajar mengajar antara informasi yang diperlukan secara lain alat peraga, buku penunjang, ilmiah dalam suatu relasi face to face‖ buku absen siswa, daftar nilai, dan (Drs. Amatembun MA, supervise lain-lain. Pendidikan, 1975:191).2. Variabel terikat prestasi belajar (Y) yaitu suatu suatu hasil yang teah Pengumpulan data yang dicapai setelah kegiatan belajar dilakukan dengan wawancara adalah mengajar. Dalam penelitian ini, meyakinkan hasil observasi tentang indikator yang digunakan adalah nilai disiplin guru. Wawancara dilakukan rata-rata hasil ulangan tiap mata kepada masing-masing guru yang pelajaran bagi guru mata pelajaran dan bersangkutan dan kepala sekolah. tiap kelas pada guru kelas.Teknik Pengumpulan Data Teknik Analisis Data Adapun proses pengumpulan datadalam penelitian ini dilakukan dengan Data yang telah terkumpulprosedur sebagai berikut : kemudian dilakukan analisis dengan1. Survey Pendahuluan urutan analisa sebagai berikut : Dalam kegiatan ini, penelitian dilakukan dengan mengumpulkan 1. Coding, adalah memberi kode pada data-data intern perusahaan di lembar check list sesuai dengan antaranya adalah profil SDN kategori yang telah ditentukan. Banjarsari Cerme Gresik. 2. Tabulating, adalah mentabulasi2. Dokumentasi seluruh data hasil chek list ke dalam Teknik dokumentasi adalah tabel-tabel yang diperlukan sehingga mencari data mengenai hal-hal atau mudah dibaca. variabel yang berupa catatan, 3. Skoring, adalah memberi skor dari transkrip, buku, surat kabar, majalah, kategori-kategori tersebut sesuai skor prasasti, notulen rapat, legger, agenda yang telah ditentukan. Disiplin guru dan sebagainya (Suharsimi, 2002 : diberi skor tinggi, sedang dan rendah. 236). Skor tinggi jika penjumlahan dari hasil Dalam penelitian ini teknik penilaian mencapai >75%, skor sedang dokumentasi digunakan untuk jika penjumlahan dari hasil penilaian memperoleh data nilai siswa. Dalam mencapai 56-75%, dan rendah jika data sekunder yang diperoleh dengan penjumlahan dari hasil penilaian teknik dokumentasi ini, peneliti juga <56%. menggunakan lembar cek list untuk 4. Uji Hipotesis mencatat indikator disiplin guru. Uji hipotesis berfungsi untuk menjawab3. Wawancara hipotesa yang telah diajukan sebelumnya. Wawancara atau interview Uji ini sekaligus juga menjawab rumusan adalah suatu metode yang tujuannya masalah yang telah ditulis pada Bab I. Uji untuk memperoleh data evaluasi, yang digunakan dalam penelitian ini 25
    • adalah uji Regresi Sederhana dengan Tabel 1 Disiplin Guru di Sekolah Dasarrumus persamaan regresi sederhana : Negeri Banjarsari Kec. Cerme Kabupaten Y = a + bX GresikY = Prestasi siswaX = Disiplin gurua = Nilai konstanta Persentaseb = Nilai arah sebagai penentu ramalan No Daftar Nilai Jumlah (%) (prediksi) yang menunjukkan nilai peningkatan (+) atau nilai 1 Kurang 1 5,2 penurunan (–) variabel Y. 2 Cukup 4 21,1Dalam penelitian ini perhitungan regresi 3 Baik 14 73,7dilakukan dengan bantuan program SPSSfor Windows. Langkah menguji hipotesis : Jumlah 19 1001) Membuat Ha dan Ho dalam bentuk kalimat : Ha : Terdapat pengaruh disiplin guru dengan prestasi siswa Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa Ho : Tidak terdapat pengaruh disiplin guru dalam melaksanakan disiplin guru dengan prestasi tugasnya sebagian besar (73,7%) baik, siswa 21,1% cukup, dan 5,2% kurang.2) Kaidah pengujian signifikansi : Jika Fhitung ≥ Ftabel maka Ha diterima dan Ho ditolak artinya Sedangkan Prestasi belajar siswa terdapat pengaruh disiplin guru diukur dari nilai rata-rata mata pelajaran dengan prestasi siswa. dari guru yang bersangkutan jika guru Jika Fhitung < Ftabel maka Ha tersebut adalah guru mata pelajaran, dan ditolak dan Ho diterima artinya tidak nilai rata-rata kelas jika guru yang terdapat pengaruh disiplin guru bersangkutan adalah guru kelas. Nilai dengan prestasi siswa. tersebut diperoleh selama 6 kali evaluasi terakhir yang datanya diperoleh dari dokumentasi pada guru mata pelajaranHASIL DAN PEMBAHASAN atau guru kelas masing-masing. Terdapat 8 indikator dalam Tabel 2 Nilai Nilai Rata-Rata Kelas ataumenjelaskan disiplin guru yang diperoleh Nilai Rata-rata Mata Pelajaran (6 xdatanya melalui observasi dan evaluasi terakhir)dokumentasi yaitu, kehadiran, ketepatanwaktu mengajar, silabus, RPP, alat peraga,buku, absensi murid, buku penunjang,daftar nilai. 26
    • Nilai Rata-Rata Kelas atau Nilai Data yang terkumpul sebagaimana Rata-rata Mata Pelajaran paparan sebelumnya selanjutnya dianalisis No untuk mengetahui pengaruh disiplin guruResp (6 x evaluasi terakhir) dengan prestasi belajar siswa. . Koding, skoring, dan tabulating telah Rata 1 2 3 4 5 6 - dilaksanakan peneliti yang hasilnya tertera Rata pada lampiran. Pada analisa data ini akan dipaparkan uji hipotesis dengan regresi 1 7,60 7,90 7,95 8,10 8,20 8,64 8,07 linier sederhana. Output perhitungan dengan program SPSS for Windows 2 6,54 5,95 7,00 7,10 6,52 6,43 6,59 seperti terlihat dalam gambar berikut. 3 8,00 8,50 7,93 7,87 8,30 8,00 8,10 4 8,20 7,50 7,90 7,60 7,90 7,42 7,75 ANOVAb Sum of Model Squares df Mean Square F Sig. ,024a 5 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 1 Regression 1,918 1 1,918 6,171 Residual 5,282 17 ,311 Total 7,200 18 a. Predictors: (Constant), Disiplin Guru 6 7,20 7,56 7,85 7,98 8,20 8,20 7,83 b. Dependent Variable: Prestasi Siswa 7 8,60 8,40 8,00 8,21 7,58 7,49 8,05 Gambar 1 Uji F 8 7,98 7,12 7,59 7,87 8,67 8,12 7,89 9 7,90 7,92 8,00 8,20 8,40 8,50 8,15 Gambar 4.2 di atas menunjukkan hasil uji F dengan program SPSS for 10 6,90 6,90 6,65 6,00 7,15 7,26 6,81 Windows, dengan Fhitung sebesar 6,171. 11 6,70 6,80 6,90 6,23 6,50 6,21 6,56 Angka ini selanjutnya dibandingkan dengan Ftabel pada df = 17 sebagaimana 12 8,00 8,50 8,50 8,00 7,90 9,40 8,38 Tabel F pada lampiran (Critical Values for the F Distribution α=0,05). Tabel F 13 7,50 7,60 7,70 7,54 7,80 8,00 7,69 dengan df = 13 dan n =1 diperoleh Ftabel = 14 6,10 6,00 6,58 6,98 7,16 7,90 6,79 4,45. Sehingga Fhitung = 6,171 > Ftabel = 4,45. 15 8,20 8,00 8,10 8,23 8,21 8,60 8,22 Oleh karena Fhitung > Ftabel maka Ha diterima dan Ho ditolak yang berarti 16 7,59 8,00 8,10 8,20 8,50 8,42 8,14 terdapat pengaruh signifikan disiplin guru terhadap prestasi belajar siswa. Terlihat 17 8,50 8,40 8,60 8,21 8,24 8,21 8,36 pula signifikan hasil hitung αhitung = 0,024 18 6,80 7,10 6,85 6,98 6,85 6,20 6,80 jauh di bahwa 0,05, yang menandakan pengaruh yang signifikan. 19 7,23 8,00 8,00 8,20 8,10 8,65 8,03 Selain adanya pengaruh yang signifikan, pada uji korelasi juga terlihat adanya korelasi positif (Gambar 4.3) antar kedua variabel yang diperoleh PearsonUji Regresi Linier Sederhana Correlation sebesar 0,516 lebih dari rtabel 27
    • sebesar 0,456 (Sebagaimana r tabel Y = a + bXProduct Moment pada df = 17 terlampir). = 6,191 + 0,560 Correlations Selanjutnya berdasarkan persamaan Prestasi Siswa Disiplin Guru di atas deskripsi pengaruh tingkat Pearson Correlation Prestasi Siswa 1,000 ,516 pendidikan terhadap perkembangan Disiplin Guru ,516 1,000 Sig. (1-tailed) Prestasi Siswa , ,012 perusahaan berdasarkan unstandarized Disiplin Guru ,012 , coeffisients beta adalah sebagai berikut: N Prestasi Siswa 19 19 Disiplin Guru 19 19 1) Konstanta sebesar 6,191 menyatakan bahwa jika variabel disiplin guru Gambar 2 Uji Korelasi dianggap konstan (tidak ada upaya meningkatkan disiplin guru), maka prestasi belajar siswa sebesar 6,191point. Besarnya pengaruh atau kontribusi 2) Koefisien regresi disiplin guru sebesardisiplin guru terhadap prestasi belajar 0,560 menyatakan bahwa setiapsiswa dapat dilihat pada gambar Uji t peningkatan 1 poin tingkat disiplinberikut ini. guru akan meningkatkan perkembangan perusahaan sebesar Coefficientsa 0,560 poin. Jika angka tersebut Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Correlations dikalikan 1000, deskripsinya menjadi Model 1 (Constant) B 6,191 Std. Error ,619 Beta t 10,003 Sig. ,000 Zero-order Partial Part setiap ada upaya peningkatan disiplin Disiplin Guru ,560 ,226 ,516 2,484 ,024 ,516 ,516 ,516 guru sebesar 1000 poin maka akan meningkatkan prestasi belajar siswa a. Dependent Variable: Prestasi Siswa sebesar 560 point. Gambar 3 Uji t Sebagaimana Uji F di atas yang PEMBAHASANmenunjukkan adanya pengaruh, Uji t jugaseperti pada Gambar 4.4 memperlihatkanthitung sebesar 2,484 > ttabel sebesar 2,110(sebagaimana Critical Value for the t Hasil penelitian menunjukkan disiplinDistribution terlampir untuk df = 17) guru dipengaruhi oleh tanggung jawabartinya terdapat pengaruh disiplin guru yang dibebankan kepadanya. Tanggungterhadap prestasi belajar siswa. jawab tersebut berasal dari pemerintah karena para guru adalah Pegawai Negeri Untuk menunjukkan besarnya Sipil yang mempunyai tugas pokok danpengaruh atau kontribusi disiplin guru fungsi yang jelas.terhadap prestasi belajar siswa dapatdilihat koefisien regresi (unstandarized Selain itu para guru juga bertanggungcoefficients Beta) pada gambar 4.4 di atas jawab atas prestasi belajar para siswanya.sebesar 0,560. Selanjutnya sesuai dengan Guru cera umum akan merasa banggarumus regresi sederhana dapat apabila siswanya dapat berprestasi dandimasukkan angka-angka tersebut sebagai memiliki kemampuan yang baik.berikut : 28
    • Disebutkan bahwa faktor-faktor yang cukup baik. Masyarakat memandangkesehatan jasmani dan rohani, ekonomi, guru sebagai orang yang patut dihargai,status sosial, kepemimpinan dan karena mereka menyadari bahwa guruperaturan dan tata tertib juga berpengaruh memegang peranan penting dalamterhadap disiplin guru. pelaksanaan pembangunan di bidang pendidikan, karena pendidikan akan Kesehatan seluruh guru secara umum berjalan lancar dan berkembang baikterlihat sehat jasmani maupun rohaninya. apabila guru secara aktif ikut memajukanDikatakan bahwa kesehatan seorang guru pendidikan di dalam masyarakat.mempengaruhi terhadap tugas sehari-hari.Sudah sewajarnyalah bila setiap guru Faktor kepemimpinan merupakanmenginginkan rasa aman dalam faktor penting dalam membentuk disiplinkehidupannya sehingga akan terhindar para guru. Kepemimpinan yang dimaksuddari segala gangguan kesehatan. Sehingga ini adalah kepemimpinan kepala sekolah.ia dapat melaksanakan tugas-tugasnya Dikatakan bahwa kepala sekolah, jikadengan yang akhirnya dapat membawa kepemimpinannya efektif, maka guru-hasil yang baik pula. guru akan memperoleh sumbangan yang berharga dalam merumuskan tujuan- Selanjutnya masalah ekonomi secara tujuan pendidikan, berlangsungumum Pegawai Negeri Sipil telah pengajaran yang efektif, terciptanyamendapatkan penghasilan yang cukup suasana yang kondusif (berguna) sehinggauntuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. hal demikian itu akan mendukungPemerintah melalui Presiden terciptanya kedisiplinan guru yang baik.Abdurrahman Wahid pada tahun 2001 Dengan demikian maka factormenaikkan gaji Pegawai Negeri Sipil kepemimpinan dapat mempengaruhimencapai 200% atau dua kali lipat, kedisiplinan guru. Di SDN Banjarsari Kecsehingga jika dibandingkan dengan Cerme Kabupaten Gresik, kepemimpinanpenghasilan rata-rata penduduk di kepala sekolah sukup baik, danIndonesia Pegawai Negeri Sipil sudah komunikasi kepala sekolah dengan paracukup baik. Memang masalah ekonomi guru juga berlangsung dengan baik.sangat penting terhadap disiplin guru.Dikatakan bahwa faktor ekonomi Tidak kalah penting adalah peraturanmenambah beban bagi guru-guru dan dan tata tertib sekolah yangmenjadi persoalan pribadi yang dapat mempengaruhi disiplin guru. Disiplinmemungkinkan terganggunya tugas-tugas guru dan tata tertib sekolah merupakandi sekolah. Padahal guru-guru dua hal yang saling terkait. Artinyamenginginkan rasa aman, tentram dalam disiplin guru tidak akan tercapai bila tidakkehidupannya yang antara lain yaitu ada peraturan atau ketentuan-ketentuanpenerimaan gaji lancar, segala haknya yang mengikat, sehingga menyebabkandapat diterima dengan baik dan tepat pada guru untuk berbuat semaunya sendiri yangwaktunya, juga memiliki tempat tinggal mengarah terciptanya sekolah yang tidakuntuk keluarganya dan lain-lain. teratur/tertib. Tata tertib yang ada di SDN Banjarsari sudah cukup baik dan tercatat Kemudian tentang status sosial guru dan ditempatkan di posisi yang mudahdi dalam masyarakat mempunyai status dilihat. 29
    • Hasil uji menunjukkan pengaruh yangsignifikan disiplin guru terhadap prestasibelajar siswa. DAFTAR PUSTAKAKetika belajar di sekolah, faktor guru dancara mengajarkannya merupakan faktor Ametembun, Drs.M.A, “Supervisiyang paling penting pula. Bagaimana sikap Pendidikan”, Penerbit IKIPdan kepribadiannya guru, disiplinnya, Bandung, 1975tinggi rendahnya pengetahuan yangdimiliki guru, dan bagaimana cara guru itu Ametembun, Drs.M.A, “Manajemenmengajarkan pengetahuan kepada anak Kelas”, Terbitan Ketiga Penerbitdidiknya, turut menentukan bagaimana IKIP Bandung, 1981hasil belajar yang dapat dicapai oleh siswa. Hendyat Sutopo, Dr., “Ikhtiar Teknik Penilaian Pendidikan”, PenerbitKesimpulan IKIP Bandung, 1984 Ismed Syarif, Drs dan Nawas Riza, Drs., “Administrasi Pendidikan Dasar”,1. Disiplin guru di SDN Banjarsari Penerbit Departemen Pendidikan Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik dan Kebudayaan, 1976 sebagian besar baik.2. Terdapat pengaruh positif disiplin M. Ngalim Purwanto, Drs.M.P., “Pyskologi guru terhadap prestasi belajar siswa di Pendidikan”, Penerbit PT. Rosda SDN Banjarsari Kecamatan Cerme Karya Bandung 1990 Kabupaten Gresik. M. Dimyati Mahmud, “Psykologi Pendidikan”, Suatu PendekatanSaran-saran Terapan Edisi I Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Yogyakarta1. Para guru diharapkan agar dapat menjalankan tugas dengan penuh rasa Sutrisno Hadi, Prof. Dr. M.A., “Metodologi tanggung jawab, disiplin, jujur, dan Reseach”, Jilid II Penerbit FKP penuh didekasi, karena dengan sikap- IKIP Yogyakarta 1967 sikap tersebut sangat membantu dalam tercapainya prestasi belajar Suhertin, Drs. Dan Nata Her, Drs siswa. “Supervisi Pendidikan”, Dalam2. Para guru hendaknya juga lebih Rangka Program Insenvice memperhatikan kehadiran, persiapan Education, Penerbit IKIP Malang mengajar dan proses kegiatan belajar 1971 mengajar.3. Bagi kepala sekolah dapat memberi S. Nasution, Prof.Dr.M.A “Didaktik dan motivasi agar para guru lebih disiplin Azas-Azas Kurikulum”, Penerbit dengan memberi stimulus yang Jemara Bandung 1989 proporsional. 30
    • Westy Sumanto, Drs dan Hendyat Sutopo “Kepemimpinan Pendidikan”, Peberbit Usaha Nasional Surabaya 1982Subari, Drs “Supervisi Pendidikan”, Dalam Rangka Perbaikan Situasi Mengajar Penerbit Bumi Aksara Jakarta 1994Departeman Pendidikan dan Kebudayaan “Buku II Petunjuk Administrasi Sekolah Dasar”, tahun 1989Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah Jawa Timur “Media Pendidikan”, Nomor 3 Edisi Mei 1991Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia “Kamus Besar Bahasa Indonesia”, Penerbit Balai Pustaka 1989TAP MPR No. II/MPR/1993 “Garis-Garis Besar Haluan” Negara 1993-1998, Penerbit Bina Pustaka Surabaya 1989 31
    • ISSN 2089-5933 Diterbitkan Oleh : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresik e- JURNAL Vol. 1 No. I Hlm. Gresik ISSNPENDIDIKAN 1-66 Juni - 2089-5933 Nopember 32
    • PENGARUH PELAKSANAAN SUPERVISI KEPALA SEKOLAH TERHADAP KEDISIPLINAN GURU DALAM PELAKSANAKAN PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SDN NGAGELREJO WONOKROMO KOTA SURABAYA Sri Sundari *) Abstrak, Untuk mencapai tujuan pendidikan, guru juga perlu menaruh perhatianterhadap kemajuan murid di samping evaluasi belajar memecahkan masalah atauproblem yang dihadapi murid dan lain-lainnya. Di dalam memperbaiki danmensukseskan proses belajar mengajar serta memecahkan masalah lain, banyakdipengaruhi oleh pelaksanaan supervisi kepala sekolah terhadap guru danlingkungan sekolahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruhpelaksanaan supervisi kepala sekolah terhadap kedisiplinan guru dalampelaksanakan proses belajar mengajar. Penelitian ini merupakan jenis regresional. Populasinya adalah seluruh guru di SDNNgagelrejo II/397 Kec. Wonokromo Kota Surabaya berjumlah 18 orang. Sampel diambildengan teknik total sampling diperoleh responden sebanyak 18 orang. Data dikumpulkandengan kuesioner, observasi, dan dokumentasi. Selanjutnya untuk mengetahui pengaruhpelaksanaan supervisi kepala terhadap disiplin guru digunakan uji regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan Fhitung = 5,975 > Ftabel = 4,49. Oleh karena Fhitung > Ftabelmaka Ha diterima dan Ho ditolak yang berarti terdapat pengaruh pelaksanaan supervisikepala sekolah terhadap disiplin guru. Terlihat pula signifikan hasil hitung αhitung = 0,026jauh di bawah 0,05, yang menandakan pengaruh yang signifikan. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan supervisi kepala sekolah dilaksanakan sebaik-baiknya sehingga lebih meningkatkan disiplin guru. Guru hendaknya ikut mensukseskanpelaksanaan supervisi kepala sekolah agar kegiatan proses belajar mengajar lebih meningkatdan bermutu. Bagi pihak-pihak terkait khususnya pemerintah hendaknya memperhatikanpelaksanaan supervisi kepala sekolah dan membantu memberikan instrumen yang valid danhandal.Kata Kunci : Pelaksanaan Supervisi Kepala Sekolah, Kedisiplinan Guru 33
    • 34
    • PENDAHULUAN pendidikan, karena pendidikan modal paling utama dalam menciptakan manusia yang cerdas dalam arti terampil, dapat berdiri sendiri serta bertanggung jawab terhadap bangsa dan negara. Perkembangan ilmu pengetahuandan teknologi meliputi seluruh bidang Dalam pendidikan ataukehidupan, misalnya bidang pengajaran, warga negara Indonesiakomunikasi, transportasi serta dijamin haknya untuk mendapatkanpembangunan fisik lainnya. Karena pengajaran sebagaimana tercantumperkembangan ilmu pengetahuan dan dalam Batang Tubuh UUD 1945 Babteknologi semakin canggih, maka XIII pasal 31 ayat 1 yang berbunyihubungan antara negara-negara di ―Tiap-tiap warga negara berhakdunia ini semakin berkembang. Jarak mendapatkan pengajaran‖. Untukantara negara yang satu dengan negara pelaksanaan tersebut diatas, makayang lainnya seolah-olah semakin pemerintah berupaya sertadekat. Perkembangan ilmu mempunyai tanggung jawab dalampengetahuan dan teknologi pendidikan. Hal ini diperkuat denganmendekatkan dan menyatukan negara ayat berikutnya (pasal 31 ayat 2) yangyang satu dengan negara yang lain berbunyi : ―Pemerintah mengusahakansehingga seolah-olah dunia ini dan menyelenggarakan satu sistemmengglobal. pengajaran nasional yang diatur oleh Undang-undang‖. Oleh karena itu, bangsa Indonesiajuga berusaha untuk meningkatkan Dengan melihat pernyataan diatas,ilmu pengetahuan dan teknologi agar maka pendidikan mencetuskansesuai dengan perkembangan jaman. harapan, karena harapan terletak padaHal ini sesuai dengan cita-cita dan pendidikan, harapan juga menjiwaitujuan negara yang tercantum dalam perjuangan kemerdekaan. Karena ituUUD 1945 alinea 4 yang berbunyi: pendidikan merupakan bagian mutlak“Mencerdaskan kehidupan bangsa dari perjuangan dan merupakandan ikut melaksanakan ketertiban investasi yang paling utama dari setiapdunia berdasarkan kemerdekaan, bangsa.perdamaian abadi dan keadilan Oleh karena itu, mutu pendidikansosial”. lebih banyak cenderung dan Untuk melaksanakan hal tersebut tergantung pada guru dalamdiatas, maka salah satu bidang yang membimbing/mendidik proses belajarharus diutamakan dalam rangka mengajar, serta kedisiplinan dalammeningkatkan kualitas sumber daya pelaksanaan kegiatan belajar mengajarmanusia adalah dalam bidang di sekolah. Kedisiplinan perlu sekali ditingkatkan untuk mencapai 35
    • keberhasilan pendidikan, baik disiplin Jenis Penelitianwaktu maupun tugas. Penelitian ini menggunakan metode Sebagai tenaga pendidik di penelitian explanatory survey.sekolah, guru harus ikut aktif dalam Pendekatan explanatory survey ini,rangka pencapaian tujuan pendidikan sebagaimana simpulan Cooper dannasional, sebagaimana yang tercantum Pamela (2003:13), Masri Singarimbun dandalam Ketetapan MPR No. 11/83 Sofyan Effendi (1995:3) terbukti mampu dengan baik menjelaskan hubungan antartentang GBHN halaman 93 yang aspek yang diamati dan bukan hanyaberbunyi : ―Pendidikan nasional sekedar descriptive, sedangkan bentukberdasarkan Pancasila bertujuan untuk penelitian verifikatif menurut Moh. Nazirmeningkatkan ketaqwaan terhadap (1988:63) digunakan untuk menguji―Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan hipotesis yang menggunakan perhitungan-dan ketrampilan, mempertinggi budi perhitungan statistik.pekerti, memperkuat kepribadian,mempertebal semangat kebangsaanseta cinta tanah air agar dapat Deskripsi Populasi dan Penentuanmembangun dirinya sendiri serta Sampelbersama-sama bertanggung jawab ataspembangunan bangsa dan negara‖. Deskripsi Populasi Untuk mencapai tujuan Arikunto (2002) menyatakan bahwapendidikan tersebut diatas, maka tugas populasi adalah obyek yang akan ditelitiguru juga perlu menaruh perhatian hasilnya, dianalisis, disimpulkan dan kesimpulan itu berlaku untuk seluruhterhadap hal-hal lain. Laporan tentang populasi itu. Sudjana (1996) menjelaskankemajuan murid di samping evaluasi popupasi adalah totalitas semua nilai yangbelajar memecahkan masalah atau mungkin, hasil menghitung atauproblem yang dihadapi murid dan lain- pengukuran, kuantitatif, atau kualitatiflainnya. mengenai karateristik tertentu dari semua Di dalam memperbaiki dan anggota kumpulan yang lengkap dan jenismensukseskan proses belajar mengajar yang ingin dipelajari sifat-sifatnya.serta memecahkan masalah lain Penelitian ini dilakukan dengansebagaimana tersebut, banyak dipengaruhi mengambil populasi seluruh guru di SDNoleh pelaksanaan supervisi Kepala Sekolah Ngagelrejo II Wonokromo Surabayaterhadap guru dan lingkungan sekolahnya. berjumlah 18 orang. Penentuan SampelMETODE PENELITIAN Pengambilan sampel ini didasari pendapat Arikunto (1998:120-121) ―Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila 36
    • subjeknya kurang dari 100, lebih baik Variabel Penelitiandiambil semua sehingga penelitiannyamerupakan penelitian populasi. Dalam penelitian yang dilakukan ini,Selanjutnya jika jumlah subyeknya besar variabel yang digunakan terdiri dari satudapat diambil antara 10-15% atau lebih variabel bebas yaitu disiplin guru dan satutergantung setidak-tidaknya dari : a) variabel terikat yaitu prestasi belajar.kemampuan peneliti dari waktu, tenagadan dana, b) Sempit luasnya wilayahpengamatan dari setiap subyek, karena hal Definisi Operasional Variabelini menyangkut banyak sedikitnya data, c)Besar kecilnya risiko yang ditanggung oleh Agar tujuan penelitian dapat tercapaipeneliti. Untuk penelitian yang risikonya maka variabel harus didefinisikan denganbesar, tentu saja jika sampel besar, jelas dan menyebutkan indikator-hasilnya akan lebih baik.‖ dindikatornya, cara pengukurannya, dan skala atau kategori penilaian yang Sugiyono (2009:124) menyatakan digunakan. Berikut ini adalah definisijumlah sampel tergantung dari tingkat operasional masing-masing variabel.ketelitian atau kesalahan yang 1. Variabel bebas (X) yaknidikehendaki, misalnya tingat kesalahan pelaksanaan supervisi kepala sekolah1%, 5%, 10% atau lainnya. Makin besar adalah suatu usaha untuk mewujudkantingkat kesalahan makin kecil sampel. kemajuan sekolah yang bersifat teraturRumus untuk menghitung ukuran sampel dan kontinyu dengan jalan membina,dari populasi yang diketahui jumlahnya memperbaiki, meningkatkanadalah : kedisiplinan guru dalam pelaksanaan proses belajar mengajar untuk s = mempertinggi mutu pendidikan yang diberikan kepada siswa. Pelaksanaan supervisi kepala sekolah diukur 2dengan dk = 1, taraf kesalahan bisa 1%, 5%, dengan indikator-indikator sebagai10% berikut :P = Q = 0,5 d = 0,05 s = jumlah sampel a. Prinsip konstruktif b. Prinsip kreatifitas Namun dari rumus tersebut telah c. Prinsip kooperatifdihitung untuk populasi-populasi dengan d. Prinsip demokrasijumlah tertentu mulai 10 hingga e. Prinsip kontinyuitas1.000.000 oleh Sugiono (2009:126) f. Prinsip ilmiahsebagaimana tabel terlampir. Untukjumlah populasi 18 orang dengan tarafsignifikan 0,05 diperoleh sampel sebanyak 2. Variabel terikat (Y) yakni disiplin18 orang. Oleh karena itu dalam penelitian guru adalah suatu sikap mental seoangini Dari 19 orang ini dipilih dengan teknik guru yang mengandung kesadaran dantotal sampling yaitu mengambil seluruh kerelaan untuk mematuhisemuaguru menjadi responden. ketentuan, peraturan dan norma yang berlaku dalam menunaikan tugas dan tanggung jawab. Disiplin guru tersebut 37
    • diukur dengan indikator-indikator untuk megambil data tentang sebagai berikut : pelaksanaan supervisi kepala sekolah. a. Kehadiran di sekolah b. Ketepatan waktu mengajar c. Persiapan mengajar yaitu silabus, Teknik Analisis Data RPP d. Kegiatan belajar mengajar antara Data yang telah terkumpul lain alat peraga, buku penunjang, kemudian dilakukan analisis dengan buku absen siswa, daftar nilai, dan urutan analisa sebagai berikut : lain-lain. 1. Coding, adalah memberi kode pada lembar check list sesuai denganTeknik Pengumpulan Data kategori yang telah ditentukan. 2. Tabulating, Tabulating adalah Adapun proses pengumpulan data mentabulasi seluruh data hasil chekdalam penelitian ini dilakukan dengan list ke dalam tabel-tabel yangprosedur sebagai berikut : diperlukan sehingga mudah dibaca.1. Survey Pendahuluan 3. Skoring, Skoring adalah memberi skor Dalam kegiatan ini, penelitian dari kategori-kategori tersebut sesuai dilakukan dengan mengumpulkan skor yang telah ditentukan. data-data intern perusahaan di Pelaksanaan supervisi kepala sekolah antaranya adalah profil SDN dan disiplin guru diberi skor tinggi, Ngagelrejo II Wonokromo Surabaya. sedang dan rendah. Skor tinggi jika2. Dokumentasi penjumlahan dari hasil penilaian Teknik dokumentasi adalah mencapai >75%, skor sedang jika mencari data mengenai hal-hal atau penjumlahan dari hasil penilaian variabel yang berupa catatan, mencapai 56-75%, dan rendah jika transkrip, buku, surat kabar, majalah, penjumlahan dari hasil penilaian prasasti, notulen rapat, legger, agenda <56%. dan sebagainya (Suharsimi, 2002 : 4. Uji Hipotesis 236). Uji hipotesis berfungsi untuk Dalam penelitian ini teknik menjawab hipotesa yang telah dokumentasi digunakan untuk diajukan sebelumnya. Uji ini sekaligus mencatat indikator disiplin guru. juga menjawab rumusan masalah yang3. Kuesioner telah ditulis pada Bab I. Uji yang Dalam penelitian ini digunakan digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup dengan skala uji Regresi Sederhana dengan rumus Likert. Menurut Arikunto (1998:151) persamaan regresi sederhana : kuesioner tertutup adalah Y = a + bX kuesioner yang telah disediakan Y = Disiplin guru jawabannya sehingga responden X = Pelaksanaan supervisi kepala tinggal memilih jawaban pada kolom sekolah yang sudah disediakan dengan a = Nilai konstanta memberi tanda cross (x). Dalam b = Nilai arah sebagai penentu penelitian ini kuesioner digunakan ramalan (prediksi) yang 38
    • Pelaksanaan Supervisi Kepsek menunjukkan nilai peningkatan Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent (+) atau nilai penurunan (–) Valid Kurang 3 16,7 16,7 16,7 variabel Y. Cuku 13 72,2 72,2 88,9 Baik 2 11,1 11,1 100,0 Total 18 100,0 100,0 Dalam penelitian ini perhitungan regresi dilakukan dengan bantuan Tabel 1 menunjukkan dari 18 guru program SPSS for Windows. sebagai responden dalam menanggapi Langkah menguji hipotesis : pelaksanaan supervisi kepala sekolah a. Membuat Ha dan Ho dalam bentuk 72,2% menyatakan cukup, 16,7% kalimat : menyatakan kurang, dan 11,1% masing Ha : Terdapat pengaruh menyatakan baik. pelaksanaan supervisi kepala sekolah terhadap disiplin guru Tabel 2 Disiplin Guru di SDN Ngagelrejo Ho : Tidak terdapat pengaruh II/397 Kec. Wonokromo Kota Surabaya pelaksanaan supervisi kepala sekolah terhadap disiplin guru Disiplin Guru b. Kaidah pengujian signifikansi : Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Jika Fhitung ≥ Ftabel maka Ha Valid Cukup 3 16,7 16,7 16,7 Baik 15 83,3 83,3 100,0 diterima dan Ho ditolak artinya Total 18 100,0 100,0 terdapat pengaruh pelaksanaan supervisi kepala sekolah terhadap Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa disiplin guru. disiplin guru dalam melaksanakan Jika Fhitung < Ftabel maka Ha tugasnya sebagian besar (83,3%) baik, dan ditolak dan Ho diterima artinya 16,7% cukup. tidak terdapat pengaruh pelaksanaan supervisi kepala sekolah terhadap disiplin guru. Analisis Data Hasil Pengujian Validitas Validitas menunjukkan sejauh mana alat ukur yang digunakan mengukur apa yang diinginkan dan mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Instrument valid berarti alat ukur yangHASIL PENELITIAN digunakan untuk mendapat data itu valid. Dalam uji validitas ini suatu butir pernyataan dikatakan valid jika corrected Tabel 1 item total correlation lebih besar dari 0,468 (untuk jumlah responden 18 orang Pelaksanaan Supervisi Kepala Sekolah df = 16) sebagaimana tabel r produk momen terlampir. Hasil pengujian validitas terhadap variabel pelaksanaan 39
    • supervisi kepala sekolah dapat dilihat Hasil Pengujian Regresi Liniersebagai berikut : Sederhana Untuk mengetahui ada atau tidaknya Tabel 3 Hasil Uji Validitas Variabel pergaruh antara variabel bebas Pelaksanaan Supervisi Kepala Sekolah pelaksanaan supervisi kepala sekolah (X) terhadap variabel terikat yang dalam hal Corrected ini adalah disiplin guru (Y), maka Pernya- Keterangan item total digunakan analisis model regresi linier taan correlation sederhana dengan model persamaan 1 0,720 Valid sebagai berikut : 2 0,692 Valid 3 0,623 Valid 4 0,668 Valid Y = α + bX1 5 0,612 Valid 6 0,622 Valid Dimana :Sumber : Hasil Olah Data SPSS Y = Disiplin guru Dari tabel di atas dapat diketahuibahwa untuk item pernyataan variabel X = Pelaksanaan supervisi kepalapelaksanaan supervisi kepala sekolah, sekolahcorrected item total correlation yangdiperoleh untuk seluruh item pernyataan b = koefisien regresi Xadalah lebih besar dari 0,468 hal tersebutberarti bahwa secara keseluruhan itempernyataan mengenai pelaksanaan Output perhitungan dengan programsupervisi kepala sekolah adalah valid. SPSS for Windows seperti terlihat dalam gambar berikut.Hasil Uji Reliabilitas ANOVAb Sum of Model Squares df Mean Square F Sig. Suatu alat ukur dikatakan reliabel 1 Regression ,680 1 ,680 5,975 ,026a Residual 1,820 16 ,114atau handal, jika alat itu dalam mengukur Total 2,500 17suatu gejala pada waktu yang berbeda a. Predictors: (Constant), Pelaksanaan Supervisi Kepsek b. Dependent Variable: Disiplin Gurusenantiasa menunjukkan hasil yang relatifsama. Untuk menguji reliabilitas suatu Gambar 1 Uji Finstrument dapat digunakan uji statisticCronbach Alpha (α), dimana suatu alatukur dikatakan reliabel jika nilai Cronbach Gambar 4.3 di atas menunjukkanAlpha lebih besar dari 0,60. Hasil hasil uji F dengan program SPSS forpengujian reliabilitas terhadap variabel Windows, dengan Fhitung sebesar 5,975.pelaksanaan supervisi kepala sekolah Angka ini selanjutnya dibandingkandiperoleh alpha sebesar 0,8773 lebih besar dengan Ftabel df = 16 sebagaimana Tabel Fdari 0,6 sehingga dapat diputuskan bahwa pada lampiran (Critical Values for the Fitem kuesioner telah reliabel. Distribution α=0,05). Tabel F dengan df = 40
    • 16 dan n =1 diperoleh Ftabel = 4,49.Sehingga Fhitung = 5,975 > Ftabel = 4,49. Sebagaimana Uji F di atas yang Oleh karena Fhitung > Ftabel maka Ha menunjukkan adanya pengaruh, Uji t jugaditerima dan Ho ditolak yang berarti seperti pada Gambar 4.3 memperlihatkanterdapat pengaruh pelaksanaan supervisi thitung sebesar 2,444 > ttabel sebesar 2,120kepala sekolah terhadap disiplin guru. (sebagaimana Critical Value for the tTerlihat pula signifikan hasil hitung αhitung Distribution terlampir) artinya terdapat= 0,026 jauh di bawah 0,05, yang pengaruh pelaksanaan supervisi kepalamenandakan pengaruh yang signifikan. sekolah terhadap disiplin guru. Selain adanya pengaruh yang Untuk menunjukkan besarnyasignifikan, pada uji korelasi juga terlihat pengaruh atau kontribusi pelaksanaanadanya korelasi positif antar kedua supervisi kepala sekolah terhadap disiplinvariabel seperti tampak pada Gambar 4.2. guru dapat dilihat koefisien regresiHasil Pearson Correlation sebesar 0,521 (unstandarized coefficients Beta) padalebih dari rtabel sebesar 0,468 gambar 4.2 sebesar 0,589. Selanjutnya(Sebagaimana r tabel Product Moment sesuai dengan rumus regresi sederhanapada df = 16 terlampir). dapat dimasukkan angka-angka tersebut sebagai berikut : Correlations Pelaksanaan Y = a + bX Supervisi Disiplin Guru Kepsek Pearson Correlation Disiplin Guru 1,000 ,521 = 2,112 + 0,371 Pelaksanaan ,521 1,000 Supervisi Kepsek Sig. (1-tailed) Disiplin Guru , ,013 Selanjutnya berdasarkan persamaan Pelaksanaan Supervisi Kepsek ,013 , di atas deskripsi pengaruh pelaksanaan N Disiplin Guru Pelaksanaan 18 18 supervisi kepala sekolah terhadap disiplin Supervisi Kepsek 18 18 guru berdasarkan unstandarized coeffisients beta adalah sebagai berikut: Gambar 4.2 Pearson Correlations 1) Konstanta sebesar 2,112 menyatakan bahwa jika variabel pelaksanaan supervisi kepala sekolah dianggap Besarnya pengaruh atau kontribusi konstan (tidak ada upaya supervisi),tingkat pendidikan terhadap maka disiplin guru sebesar 2,112 point.perkembangan perusahaan dapat dilihat 2) Koefisien regresi pelaksanaanpada gambar Uji t berikut ini. supervisi kepala sekolah sebesar 0,371 Coefficientsa menyatakan bahwa setiap peningkatan Unstandardized Standardized 1 poin pelaksanaan supervisi kepala sekolah akan meningkatkan disiplin Coefficients Coefficients Model B Std. Error Beta t Sig. 1 (Constant) Pelaksanaan 2,112 ,305 6,915 ,000 guru sebesar 0,371 poin. Jika angka ,371 ,152 ,521 2,444 ,026 Supervisi Kepsek a. Dependent Variable: Disiplin Guru tersebut dikalikan 1000, deskripsinya menjadi setiap ada upaya pelaksanaan Gambar 4.3 Uji t supervisi kepala sekolah sebesar 1000 41
    • poin maka akan meningkatkan disiplin semakin jelas hasilnya terhadap disiplin guru sebesar 371 point. guru. Prinsip konstruktif misalnya, bahwa pelaksanaan bersifat membangun yaitu harus tampak perbedaan antara sebelum Hasil uji regresi linier sederhana diadakan supervisi dengan sesudahmenunjukkan adanya pengaruh supervisi yaitu makin majunya dalampelaksanaan supervisi kepala sekolah suatu hal pengetahuan, sikap atau nilaiterhadap disiplin guru. Adanya pengaruh dan ketrampilan, profesi. Makaini menunjukkan betapa pentingnya maksudnya, supervisor hendaknyapelaksanaan supervisi kepala sekolah. menyadari sepenuhnya bahwa setiap guru pasti mempunyai kelebihan dan Dalam kaitan pentingnya pelaksanaansupervisi kepala sekolah terhadap disiplin kekurangan.guru, Soewadji (1980:33) menyatakan Prinsip kreativitas juga tidak kalahsupervisi merupakan rangsangan, penting, Dolok Saribu dan Berlian T.bimbingan atau bantuan yang diberikan Simbolon (1984:236) mengemukakankepada guru-guru agar kemampuan bahwa supervisi hendaknya mendorongprofesionalnya semakin bertambah, guru untuk berinisiatif, melalui supervisisehingga situasi belajar mengajar lebih hendaknya guru dapat memperolehefektif dan efisien. Kemampuan pengetahuan, juga berkreasi atauprofesional tidak lepas dari disiplin guru, mencipta dengan sikap atau nilai dandikatakan profesional berarti seorang guru ketrampilan guru atas inisiatif sendirijuga bisa melaksanakan disiplin dengan tidak bergantung kepada kepala sekolahbaik. atau pemimpinannya. Baharudun Harahap menjelaskan Sedangkan prinsip kooperatif, jugamasalah supervisi dalam administrasi telah dikembangkan oleh kepala sekolahpendidikan adalah pembinaan yang dilaksanakan atas kerja sama antaraadministrasi atau kepegawaian, yaitu kepala sekolah dan guru, sehingga terjalinmasalah pengaturan, penyusunan dan kehamonisan kerja yang baik, salingpenyimpanan data sebagai dasar mengisi dan menyadari kekurangandukungan keputusan mutasi yang masing-masing. Supervisor tidak dianggapmenyangkut kepentingan pegawai dalam momok yang menakut-nakuti, namun dikedudukan sebagai seorang Pegawai sini sebagai pemimpin mereka yang harusNegeri Sipil. Sedangkan yang dimaksud bias membantu kelancaran tugas paradata di sini meliputi dokumen perorangan guru.maupun data hasil olahan atau laporan.Laporan yaitu kartu merah, Daftar Prinsip demokrasi dilaksanakan olehPenilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) kepala sekolah tidak hanya atasdan selain itu untuk mengetehui kemampuannya, tetapi juga ternyata perlubagaimana kenaikan pangkat para guru mempertimbangkan kemauan/pendapatatau pegawai dan pembagian tugasnya. para guru. Kepala Sekolah sebagai supervisor menghargai kepribadian guru, Apalagi jika pelaksanaan supervisi dalam pembicaraan bersama ia haruskepala sekolah yang memenuhi prinsip- memberi kesempatan kepada guru untukprinsip yang telah ditentukan maka 42
    • mengeluarkan pendapatnya dalammengambil keputusan. Keputusan yangdiambil hendaknya dengan jalanmusyawarah. Prinsip kontinyuitas yaitumelaksanakan terus-menerus secarateratur, tidak hanya karena akan adainspeksi atasan, sehingga para guru sudahterbiasa bekerja dengan teratur disertaidengan rasa disiplin dan tanggung jawab. Prinsip ilmiah menurut MadePidharta (1986:39) bahwa supervisidilaksanakan hendaknya dengansistematika, objektif dan berdasarkan dataatau informasi. Dalam hal ini tugassupervisi diharuskan pada pembinaanguru-guru. Supervisi berpegang padatujuan sekolah, koordinasi merode belajardan kualifikasi dengan segala aktifitasnyayang sudah ditentukan secara jelas.SARAN DAFTAR PUSTAKA1. Pelaksanaan supervisi kepala sekolah seyogyanya dilaksanakan sebaik- baiknya sehingga lebih meningkatkan Ametembun, Drs.M.A, “Supervisi disiplin guru. Pendidikan”, Penerbit IKIP2. Guru hendaknya ikut mensukseskan Bandung, 1975 pelaksanaan supervisi kepala sekolah Ametembun, Drs.M.A, “Manajemen agar kegiatan proses belajar mengajar Kelas”, Terbitan Ketiga Penerbit lebih meningkat dan bermutu. IKIP Bandung, 19813. Bagi pihak-pihak terkait khususnya pemerintah hendaknya Ghozali, Imam. Aplikasi Analisis memperhatikan pelaksanaan supervisi Multivariate dengan Program kepala sekolah dan membantu SPSS. Badan Penerbit Undip, memberikan instrumen yang valid dan Semarang. 2002. handal. Hendyat Sutopo, Dr., “Ikhtiar Teknik Penilaian Pendidikan”, Penerbit IKIP Bandung, 1984 43
    • Ismed Syarif, Drs dan Nawas Riza, Drs., Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan “Administrasi Pendidikan Dasar”, dan Pengembangan Bahasa Penerbit Departemen Pendidikan Indonesia “Kamur Besar Bahasa dan Kebudayaan, 1976 Indonesia”, Penerbit Balai Pustaka 1989M. Ngalim Purwanto, Drs.M.P., “Pyskologi Pendidikan”, Penerbit PT. Rosda TAP MPR No. II/MPR/1993 “Garis-Garis Karya Bandung 1990 Besar Haluan” Negara 1993-1998, Penerbit Bina Pustaka SurabayaM. Dimyati Mahmud, “Psykologi 1989. Pendidikan”, Suatu Pendekatan Terapan Edisi I Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP YogyakartaSutrisno Hadi, Prof. Dr. M.A., “Metodologi Reseach”, Jilid II Penerbit FKP IKIP Yogyakarta 1967Suhertin, Drs. Dan Nata Her, Drs “Supervisi Pendidikan”, Dalam Rangka Program Insenvice Education, Penerbit IKIP Malang 1971S. Nasution, Prof.Dr.M.A “Didaktik dan Azas-Azas Kurikulum”, Penerbit Jemara Bandung 1989Westy Sumanto, Drs dan Hendyat Sutopo “Kepemimpinan Pendidikan”, Peberbit Usaha Nasional Surabaya 1982Subari, Drs “Supervisi Pendidikan”, Dalam Rangka Perbaikan Situasi Mengajar Penerbit Bumi Aksara Jakarta 1994Departeman Pendidikan dan Kebudayaan “Buku II Petunjuk Administrasi Sekolah Dasar”, tahun 1989Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah Jawa Timur “Media Pendidikan”, Nomor 3 Edisi Mei 1991 44
    • ISSN 2089-5933 Diterbitkan Oleh : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas GresikE – JURNAL Vol. : No.: Hlm. Gresik ISSN JENDELA 01 I 1-106 1 Juni - 2089-5933PENDIDIKAN Nopember
    • TELAAH KRITIS PENDIDIKAN UNTUK SEMUA (EDUCATION FOR ALL) DALAM KONTEKS MANAJEMEN PENDIDIKAN Soesetijo *)Abstrak: pendidikan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber dayamanusia (SDM). Undang-Undang Dasar 1945 menjamin hak setiap warga Negara Indonesiauntuk mendapatkan pengajaran. Indonesia juga merupakan salah satu Negara yang menan-datangani “Education for All”. Oleh karena itu, Indonesia mencanang-kan Wajib Belajar 6tahun pada tahun 1984 dan Wajib Belajar 9 tahun pada tahun 1994. Hakikat dari“Pendidikan untuk Semua dan Semua un-tuk Pendidikan” adalah mengupayakan agar setiapwarga Negara dapat memenuhi haknya. Untuk mewujudkan program PUS (PendidikanUntuk Semua) tersebut, semua komponen bangsa, baik pemerintah, swasta, lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan, maupun warganegara secara individual, secara bersama-sama atau sendiri-sendiri, berkomitmen untuk barpartisipasi aktif dalam menyukseskanpendidikan untuk semua. Agar program PUS dapat memenuhi target ca-paian sesuai denganyang diharapkan, maka perlu dikelola secara profe-sional. Dalam konteks menejemenpendidikan, secara struktural penge-lolaan PUS perlu ada kosistensi dan komitmen yangsama dalam pelak-sanaannya, terutama dalam penerapannya di lembaga-lembaga pendi-dikan yang terkait. Kata-kata kunci: telaah kritis, pendidikan untuk semua, manajemen pendidikan. 2
    • Manusia membutuhkan bangsa wajib mencerdaskan kehidupanpendidikan dalam kehidupannya. bangsa yang merupakan salah satuPendidikan merupakan usaha agar tujuan negara Indonesia.manusia dapat mengembangkan Indonesia merupakan salah satupotensi dirinya melalui proses Negara yang menandatangi deklarasipembelajaran dan/atau cara lain yang “Education for All”. Berkaitan dengandikenal dan diakui oleh masyarakat. deklarasi ini dan sekaligus juga sebagaiUndang-Undang Dasar Negara wujud keseriusan IndonesiaRepublik Indonesia Tahun 1945 Pasal mensukseskannya, maka Indonesia31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap telah mencanangkan Wajib Belajar 6warga Negara berhak mendapat Tahun pada tahun 1984 dan 10 tahunpendidikan, dan ayat (3) menegaskan berikutnya, yaitu pada tahun 1994,bahwa Pemerin-tah mengusahakan Indonesia mencanangkan Wajibdan menyelenggarakan satu sistem Belajar 9 Tahun. Melalui Wajib Belajarpendidikan nasional yang 6 Tahun diharapkan anak-anak usiameningkatkan keimanan dan Sekolah Dasar (7-12 tahun) dapatketakwaan serta akhlak mulia dalam menikmati layanan pendidikanrangka mencerdaskan Sekolah Dasar (SD). Artinya, anak-kehidupan bangsa yang diatur anak usia SD dapat menyelesaikandengan undang-undang. Untuk itu, pendidikan SD. Demikian juga halnyaseluruh komponen melalui pencanangan Wajib Belajar 9 Tahun diharapkan anak-anak usia SMP (13-15 tahun) dapat*) Soesetijo, staf pengajar Universitas menyelesaikan pendidikan SMP. Gresik. Dalam lingkungan masyarakat Indonesia yang pluralistis di mana setiap anak yang mengalami berbagai jenis kebudayaan diharapkan belajar beradaptasi terhadap kebudayaan utama Indonesia (mainstream 3
    • culture), upaya pendekatan belajar masuk ke dalam kelompok tenagabagi setiap anak harus lebih banyak kerja kasar.dikaji secara mendalam sesuai denganperkembangan dan tuntutan zaman Konsep Pendidikan untuk Semuadan sesuai dengan kebutuhan (PUS)perkembangan anak (Developmentally Hakekat dari ―Pendidikan untukAppropriate Practice, DAP). Sejak Semua dan Semua untuk Pendidikan‖kemerdekaan bangsa ini maka telah adalah mengupayakan agar setiapdisebutkan dalam UUD 1945 pasal 31 warga Negara dapat memenuhiayat 1 bahwa setiap anak Indonesia haknya, yaitu setidak-tidaknya untukberhak untuk belajar. UUD ini mendapatkan layanan pendidikandilandasi oleh filsafat yang serasi dasar (Wajib Belajar 9 Tahun). Untukdengan hak asasi manusia yang dapat mewujudkan ―Pendidikan untukmenjaga kedaulatan manusia yang Semua dan Semua untuk Pendidikan‖,memiliki hak untuk belajar. semua komponen bangsa, baik Berbagai program yang pemerintah, swasta, lembaga-lembagadiarahkan untuk mendukung sosial kemasyarakatan, maupun wargakeberhasilan pelaksanaan Wajib Negara secara individual, secaraBelajar 6 Tahun dan 9 Tahun telah bersama-sama atau sendiri-sendiri,dilaksanakan secara terencana dan berkomitmen untuk berpartisipasibertahap. Berkaitan dengan hal ini, aktif dalam menyukseskansatu hal yang menjadi keprihatinan di ―Pendidikan untuk Semua dan Semuaberbagai Negara adalah mengenai untuk Pendidikan‖ sesuai dengananak-anak yang karena satu dan lain potensi dan kapasitas masing-masing.hal terpaksa tidak dapat Sebagai unit organisasi terkecil,menyelesaikan pendidikan SD, orang tua dari setiap keluarga tergugahsehingga mereka ini menjadi warga dan ter-panggil untuk setidak-tidaknyaNegara yang buta aksara. Demikian membimbing dan membelajarkanjuga dengan anak-anak yang terpaksa anak-anaknya, baik melaluitidak dapat menyelesaikan pendidikan pendidikan formal persekolahan,SMP, maka mereka akan cenderung lembaga pendidikan non-formal, 4
    • maupun melalui lembaga pendidikan pendidikan dan pengetahuan yanginformal. Mengirimkan anak untuk dimiliki, dapat membimbing danbelajar melalui lembaga pendidikan membelajarkan anak-anaknyasekolah sudah jelas yaitu mulai dari sehingga pada akhirnya sang anakTaman Kanak-Kanak (TK) sampai dapat mengikuti ujian persamaandengan pendidikan tinggi. (Upers), baik pada satuan pendidikan Apabila karena satu dan lain SD, SMP atau SMA.hal, seorang anak tidak Pendidikan untuk Semua (PUS)memungkinkan untuk mengikuti Pada tanggal 5-9 Maret 1990 dipendidikan persekolahan, maka orang Jomtien, Thailand , 115 negara damtua dapat mengirimkan anaknya untuk 150 organi-sasi saling bertemu danmengikuti kegiatan pembelajaran pada mengadakan Konferensi Duniapendidikan non-formal, seperti Paket membahas Education for All (EFA)A setara SD, Paket B setara SMP, dan atau Pendidikan Untuk Semua (PUS).Paket C setara SMA. Seandainya Dalam rangka mewujudkan tujuanseorang anak tidak memungkinkan terse-but, perlu koalisi yang luas darijuga mengikuti pendidikan melalui pemerintah nasional, masyarakat sipilpendidikan formal dan non-formal, kelompok, dan lembaga pembangunanmaka masih ada model pendidikan seperti UNESCO dan Bank Dunia.alternatif yang dapat ditempuh, yaitu Mereka berkomitmen untuk mencapai―Sekolah di Rumah‖ (Home enam tujuan pendidikan yaitu :Schooling). Dalam kaitan ini, orang tua 1. Memperluas dan meningkatkandapat mengidentifikasi lembaga- perawatan anak usia dini yanglembaga sosial kemasyarakatan atau komprehensif dan pendidikan,unit-unit pendidikan prakarsa anggota terutama bagi yang palingmasyarakat yang menyelenggarakan rentan dan anak-anak yangSekolah di Rumah‖ dan kemudian kurang beruntung.mengirimkan anaknya untuk 2. Memastikan bahwa pada 2015mengikuti pendidikan di lembaga atau semua anak, khususnya anakunit pendidikan tersebut. Atau, orang perempuan, yang dalamtua sendiri dengan latar belakang keadaan sulit, dan mereka yang 5
    • termasuk etnik minoritas, diakui dan diukur hasil memiliki akses lengkap dan pembelajaran yang dicapai oleh bebas ke wajib pendidikan dasar semua, khususnya dalam yang berkualitas baik. keaksaraan, berhitung dan3. Memastikan bahwa kebutuhan kecakapan hidup yang esensial. belajar semua pemuda dan Setelah satu dekade, karena dewasa dipenuhi me-lalui akses lambatnya kemajuan dan banyaknya adil untuk pembelajaran yang Negara yang jauh dari keharusan tepat dan program keterampilan untuk mencapai tujuan tersebut, hidup. masyarakat internasonal menegas-kan4. Mencapai 50% peningkatan kembali komitmennya terhadap dalam keaksaraan orang dewasa Pendidikan Untuk Semua di Dakar, pada tahun 2015, khususnya Senegal, pada 26-28 April 2000 dan bagi perempuan, dan akses ke sekali lagi pada bulan September tahun pendidikan dasar dan itu. Pada pertemuan terakhir, 189 pendidikan ber-kelanjutan bagi negara dan mitra mereka mengadopsi semua orang dewasa secara adil. dua dari delapan tujuan Pendidikan5. Menghilangkan perbedaan Untuk Semua yang dikenal dengan gender pada pendidikan dasar nama Millenium Development Goals dan menengah pada tahun (MDG) yaitu MDG 2 mengenai 2005, dan mencapai kesetaraan pendidikan dasar dan universal serta gender dalam pendidikan MDG 3 mengenai kesetaraan jender dengan 2015, dengan fokus dalam pendidikan pada tahun 2015. pada perempuan bahwa mereka Indonesia, sebagai anggota dipastikan mendapat akses Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) penuh dan sama ke dalam turut menyepa-kati komitmen dunia pendidikan dasar dengan untuk menyelenggarakan program kualitas yang baik. Education for All (EFA) atau6. Meningkatkan semua aspek Pendidikan untuk Semua (PUS). kualitas pendidikan dan Komitmen dunia itu telah menjamin semua, sehingga dikumandangkan pada kon-ferensi 6
    • dunia di Jomtien, Thailand, pada Indonesia merasatahun 1990. Namun baru berkepentingan menandatanganidideklarasikan seba-gai sebuah konvensi tersebut untuk memperkuatgerakan dunia pada pertemuan di komitmen bersama sebagai bangsaDakar, Senegal, pada 26-28 April dalam memenuhi hak-hak setiap anak2000. The Dakar Framework for memperoleh pendidikan. UpayaAction berisikan enam tujuan utama: mencapai target EFA merupakan1) memperluas pendi-dikan untuk bagian dari upaya pembangunananak usia dini; 2) menuntaskan wajib pendidikan nasional secarabelajar untuk semu (2015); 3) keseluruhan. Sudah banyak yang dapatmengembangkan proses dica-pai dalam pembangunanpembelajaran/keahlian untuk orang pendidikan sejak kemerdekaan. Tapimuda dan dewasa; 4) me-ningkatnya juga besar pekerjaan ru-mah dan50% orang dewasa yang melek huruf tantagan era sekarang dalam rangka(2015) khususnya perempuan; 5) me- menghasilkan sumber daya manusianingkatkan mutu pendidikan; dan (6) yang unggul untuk pembangunan.menghapuskan kesenjangan gender. Kaitannya dengan Kerangka Target pencapaian EFA pada Aksi Dakar Pendidikan untuk Semua,2015 itu kemudian disepakati untuk seluruh war-ga yang menandatanganidipercepat. Komitmen mempercepat deklarasi termasuk Indonesia,target EFA digaungkan E-9 Ministerial berupaya memegang komitmenReview Meeting on Educationfor All memperluas dan memperbaikiatau para menteri pendidikan dari pendidikan. Indonesia telah menyusunSembilan Negara berpenduduk Rencana Aksi Nasional Pendidikanterbesar dunia, pada pertemuan di Untuk Semua (RAN-PUS), yangDenpasar, Bali, 12 Maret 2008. dijabarkan ke dalam Rancangan AksiAnggota E-9 adalah Negara dengan Daerah Pendidikan Untuk Semuajumlah penduduk sekitar 60% populasi (RAD-PUS) pada semua provinsi dandunia. Selain Indonesia, anggota E-9 sebagian besar kabupaten/kota.adalah Bangladesh, Brazil, Cina, Mesir, Sebagian dari komitmenIndia, Meksiko, Nigeria, dan Pakistan. menjalankan Pendidikan untuk 7
    • Semua, pemerintah mencanangkan 1. UUD 1945 (amandemen) pasal 31penuntasan program Wajib Belajar ayat 1 : ―setiap warga NegaraPendidikan Dasar 9 Tahun. Wajar berhak mendapat pendidikan.‖Dikdas 9 Tahun mencakup jenjang 2. UU No. 20 tahun 2003 tentangpendidikan SD/MI/pendidikan setara Sistem Pendidikan Nasionaldan SMP/MTs/ pendidikan setara. (Sisdiknas) :Program ini secara resmi dicanangkan a) Kewajiban bagi orangtua untukPresiden Soeharto pada tanggal 2 Mei memberikan pendidikan dasar1994. Saat itu, Presiden Soeharto bagi anaknya (pasal 7 ayat 2)menargetkan program tersebut tuntas b) Kewajiban bagi masyarakatpada tahun 2004, dengan indikator memberikan dukungan sumberutama berupa angka partisipasi kasar daya dalam penyelenggaraan(APK) SMP/ MTs/pendidikan setara pendidikan (pasal 9)minimal 95%. Pada tahun 2004, Angka c) Pendanaan pendidikan menjadiPartisipasi Murni (APM) SD/MI tanggung jawab bersamasebesar 94,12% dan Angka Partisipasi pemerintah, pemerintah daerah,Kasar (APK) SMP/MTs 81,22%. Han- dan masyarakat (pasal 46 ayattaman krisis ekonomi yang merangsek 1).sejak akhir tahun 1997 itu, membuat Kebijakan Pendidikan ditarget dire-visi menjadi akhir tahun Indonesia2008. Keputusan menjadwal ulang itu Bangsa yang maju adalahdilakukan pada tahun 2000, saat bangsa yang memperlihatkanAbdurrahman Wahib menjadi Presiden pendidikan dalam pembangunannya.RI. Karena pendidikan merupakan prosesLandasan Pendidikan Untuk Proses pendidikan merupakanSemua di Indonesia upaya sadar manusia yang tidak Landasan yuridis pelaksanaan pernah ada hentinya. Sebab, jikapendidikan untuk semua atau manusia berhenti melakukaneducation for all di Indonesia didasari pendidikan, sulit dibayangkan apaoleh beberapa hal, diantaranya adalah: yang akan terjadi pada sistem peradaban dan budaya (Suyanto, 8
    • 2006) manusia. Dengan ilustrasi ini, pemerataan pendidikan diharapkanmaka baik pemerintah maupun dapat memberikan kesempatan yangmasyarakat berupaya untuk sama dalam memperoleh pendidikanmelakukan pendidikan dengan bagi semua usia sekolah (Nana Fatahstandar kualitas yang diinginkan Natsir, dalam Hujair AH. Sanaky,untuk memberdayakan manusia. 2003). Dari sini, pendidikan―Sistem pendidikan yang dibangun dipandang sebagai katalisator yangharus disesuaikan dengan tuntutan dapat menunjang faktor-faktor lain.zamannya, agar pendidikan dapat Artinya, pendidikan sebagai upayamenghasilkan outcome yang relevan pengembangan sumberdaya manusiadengan tuntutan zaman (Suyanto, (SDM) menjadi semakin penting2006). dalam pembangunan suatu bangsa. Indonesia, telah memiliki Untuk menjamin kesempatansebuah sistem pendidikan dan telah memperoleh pendidikan yang meratadikokohkan dengan UU No. 20 tahun disemua kelompok strata dan wilayah2003. Pembangunan pendidikan di tanah air sesuai dengan kebutuhan danIndonesia sekurang-kurangnya tingkat perkembangannya perlumenggunakan empat strategi dasar, strategi dan kebijakan pendidikan,yakni; pertama, pemerataan yaitu : (a) menyelenggarakankesempatan untuk memperoleh pendidikan yang relevan dan bermutupendidikan, kedua, relevansi sesuai dengan kebutuhan masyarakatpendidikan, ketiga, peningkatan Indonesia dalam menghadapikualiutas pendidikan, dan keempat, tantangan global, (b)efesiensi pendidikan. Secara umum menyelenggarakan pendidikan yangstrategi itu dapat dibagi menjadi dua dapat dipertanggungjawabkandimensi yakni peningkatan mutu dan (accountasle) kepada masyarakatpemerataan pendidikan. sebagai pemilik sumberdaya dan danaPembangunan peningkatan mutu serta pengguna hasil pendidikan, (c)diharapkan dapat meningkatkan menyelenggarakan proses pendidikanefisiensi, efektivitas dan produktivitas yang demokratis secara profesionalpendidikan. Sedangkan kebijkan sehingga tidak mengorbankan mutu 9
    • pendidikan, (d) meningkatkan efisiensi Dengan demikian, tuntutaninternal dan eksternal pada semua peningkatan kualitas pendidikan,jalur, jenjang, dan jenis pendidikan, (e) relevansi pendidikan, efesiensimemberi peluang yang luas dan pendidikan, dan pemerataanmeningkatkan kemampuan kesempatan untuk memperolehmasyarakat, sehingga terjadi pendidikan, belum terjawab dalamdiversifikasi program pendidikan kebijakan pendidikan kita. Kondisi inisesuai dengan sifat multikultural semakin mempersulit mewujudkanbangsa Indonesia, (f) secara bertahap pendidikan yang egalitarian danmengurangi peran pemerintah menuju SDM yang semakin merata dike peran fasilitator dalam implementasi berbagai daerah.sistem pendidikan, (g) Merampingkan Proses menuju perubahan sistembirokrasi pendidikan sehingga lebih pendidikan nasional banyak menuailentur (fleksibel) untuk melakukan kendala serius. Apalagi ketikapenyesuaian terhadap dinamika membicarakan konteks pendidikanperkembangan masyarakat dalam nasional sebagai bagian darilingkungan global (Kelompok Kerja pergumulan ideologi dan politikPengkajian, dalam Hujair AH. Sanaky, penguasa. Problem-problem yang2003). dihadapi seringkali berkaitan dengan kebijakan-kebijakan (policies) yang Empat strategi dasar kebijakan sangat strategis. Maka, dalampendidikan yang dikemukakan di atas konteks kebijakan pendidikancukup ideal. Tetapi Muchtar Bukhori, nasional, menurut Suyanto, banyakseorang pakar pendidikan Indonesia, pakar dan praktisi pendidikanmenilai bahwa kebijakan pendidikan mengkritisi pemerintah, dianggapkita tak pernah jelas. Pendidikan kita tidak memiliki komitmen yang kuathanya melanjutkan pendidikan yang untuk membenahi sistem pendidikanelite dengan kurikulum yang elitis nasional‖.(Suyanto,2006). Artinya,yang hanya dapat ditangkap oleh 30 kebijakan-kebijakan pendidikan kita,% anak didik‖, sedangkan 70% kurang menggambarkan rumusan-lainnya tidak bisa mengikuti rumusan permasalahan dan(Kompas, 4 September 2004). 10
    • ―prioritas‖ yang ingin dicapai dalam Kebijakan tersebut masih sangat baru,jangka waktu tertentu. Hal ini, maka sudah barang tertentu banyak―terutama berkaitan dengan anggaran kendala yang masih belumpendidikan nasional yang semestinya terselesaikan.sebesar minimal 20%, daimbil dari Otonomi yang didasarkan padaAPBN dan APBD (pasal 31 ayat 4 UU No. 22 tahun 1999, yaituUUD Amandemen keempat). Tetapi, memutuskan suatu keputusan dansampai sekarang kebijakan strategi atau kebijakan secara mandiri.belum dapat diwujudkan sepenuhnya, Otonomi sangat erat kaitanya denganpendidikan nasional masih desentralisasi. Dengan dasar ini,menyisihkan kegetiran-kegetiran bagi maka otonomi yang ideal dapatrakyat kecil yang tidak mampu tumbuh dalam suasana bebas,mengecap pendidikan di sekolah‖ demokratis, rasional dan sudah(Suyanto, 2006). barang tentu dalam kalangan insan- Pasca Reformasi tahun 1998, insan yang ―berkualitas‖. Oleh karenamemang ada perubahan fundamental itu, rekonstruksi dan reformasi dalamdalam sistem pendidikan nasional. Sistem Pendidikan Nasional danPerubahan sistem pendidikan Regional, yang tertuang dalam GBHNtersebut mengikuti perubahan sistem 1999, juga telah dirumuskan misipemerintah yang sentralistik menuju pendidikan nasional kita, yaitudesentralistik atau yang lebih dikenal mewujudkan sistem dan iklimdengan otonomi pendidikan dan pendidikan nasional yang demokratiskebijakan otonomi nasional itu dan bermutu, guna memperteguhmempengaruhi sistem pendidikan akhlak mulia, kreatif, inovatif,kita (Suyanto, 2006). Sistem berwawasan kebangsaan, cerdas,pendidikan kita pun menyesuaikan sehat, berdisiplin, bertanggung jawab,dengan model otonomi. Kebijakan berketerampilan serta menguasaiotonomi di bidang pendidikan iptek dalam rangka mengembangkan(otonomi pendidikan) kemudian kualitas manusia Indonesia.banyak membawa harapan akan (Soedjiarto,1999).perbaikan sistem pendidikan kita. 11
    • Untuk mewujudkan misi ―komersialisasi pendidikan‖. Hal ini,tersebut mesti diterapkan arah menurut Suyanto, semakin dikuatkankebijakan sebagai berikut, yaitu : (1) dengan terbentuknya Badan Hukumperluasan dan pemerataan Pendidikan (BHP) yang oleh beberapapendidikan, (2) meningkatkan pengamat dianggap sebagaikemampuan akademik dan pengejawantahan dari sistem yangprofesionalitas serta kesejahteraan mengarah pada ―liberalisasitenaga kependidikan, (3) melakukan pendidikan‖ (Suyanto, 2006).pembaharuan dalam sistem Persoalan sekarang, apakahpendidikan nasional termasuk dalam sistem pendidikan yang ada saat inibidang kurikulum, (4) telah efektif untuk mendidik bangsamemberdayakan lembaga pendidikan Indonesia menjadi bangsa yangformal dan PLS secara luas, (5) dalam modern, memiliki kemampuan dayarealisasi pembaharuan pendidikan saing yang tinggi di tengah-tengahnasional mesti berdasarkan prinsip bangsa lain? Jawabannya tentudesentralisasi, otonomi keilmuan, dan belum. Menurut Suyanto, berbicaramanajemen, (6) meningkatkan kemampuan, kita sebagai bangsakualitas lembaga pendidikan yang nampaknya belum sepenuhnya siapdikembangkan oleh berbagai pihak benar menghadapi tantangansecara efektif dan efisien terutama persaingan (Suyanto, 2006).dalam pengembangan iptek, seni dan Sementara, disatu sisi, bidangbudaya sehingga membangkitkan pendidikan kita menjadi tumpuansemangat yang pro-aktif, kreatif, dan harapan bagi peningkatan kualitasselalu reaktif dalam seluruh Sumber Daya Manusia (SDM)komponen bangsa. (Soedjiarto, 1999). Indonesia. Tetapi disisi lain, sistem Beberapa kalangan pakar dan pendidikan kita masih melahirkanpraktisi pendidikan, mencermati mismatch terhadap tuntutan duniakebijakan otonomi pendidikan sering kerja, baik secara nasional maupundipahami sebagai indikasi kearah regional. (Suyanto, 2006).―liberalisasi‖ atau lebih parah lagi Berbagai problem fundamentaldikatakan sebagai indikasi kearah yang dihadapi pendidikan nasional 12
    • saat ini, yang tercermin dalam sistem pendidikan (Suyanto, 2006) di―realitas‖ pendidikan yang kita jalan. Indonesia.Seperti persoalan anggaran Posisi Indonesia dalam PUSpendidikan, kurikulum, strategi Indonesia merupakan salah satupembelajaran, dan persoalan output Negara yang menandatanganipendidikan kita yang masih sangat deklarasi “Education for All.”rendah kualitasnya. Problem- Berkaitan dengan deklarasi ini danproblem pendidikan yang bersifat sekaligus juga sebagai wujudmetodik dan strategik yang keseriusan Indonesiamembuahkan output yang sangat mensukseskannya, maka Indonesiamemprihatinkan. Output, pendidikan telah mencnangkan Wajib Belajar 9kita memiliki mental yang selalu Tahun pada tahun 1984 dan 10 tahuntergantung kepada orang lain. Output berikutnya, yaitu pada tahun 1994,pendidikan kita tidak memiliki mental Indonesia mencanangkan Sekolahyang bersifat mandiri, karena Dasar (7-12 tahun) dapat menikmatimemang tidak kritis dan kreatif. layanan pendidikan Sekolah DasarAkhirnya, output yang pernah (SD). Artinya, anak-anak usia SD dapatmengenyam pendidikan, malah menyelesaikan pendidikan SD.menjadi ―pengangguran terselubung‖. Demikian juga halnya melaluiIni artinya, setiap tahunnya, pencanangan Wajib Belajar 9 Tahunpendidikan nasional kita diharapkan anak-anak usia SMP (13-15memproduksi pengangguran Tahun) dapat menyelesaikanterselubung. Mereka itu, adalah penddikan SMP.korban dari ketidakberesan sistem Jalal dan Supriadi (2001)pendidikan kita yang masing sedang mengemukakan meskipun strategimerangka berbenah. Mungkin saja, perluasan dan pemerataan kesempatankita sebagai insan yang pendidikan terfokus kepada programberpendidikan, tentu saja terus atau wajib belajar pendidikan dasarbanyakan berharap akan datangnya sembilan tahun, jenis dan jenjangperubahan ―fundamental‖ terhadap pendidikan lainnya yang tercakup. Indikator-indikator keberhasilannya 13
    • adalah: (a) mayoritas penduduk 3. Mengembangkan layananberpendidikan minimal SMP dan pendidikan alternatif tanpapartisipasi pendidikan meningkat yang mengorbankan mutu program;ditunjukkan dengan APK-SD 15%, APK 4. Menetapkan standar kompetensiSMP mencapai 80%, APK SLTA minimal keluaran pendidikan;mencapai 47%, dan APK PT sebesar 5. Melanjutkan program PMTAS12% dengan perluasan terkendali secara terseleksi dan terkendaliuntuk bidang-bidang unggulan dan bagi yang benar-benarteknologi, (b) meningkatnya budaya memerlukan;belajar di kalangan masyarakat yang 6. Melanjutkan program beasiswaditunjukkan antara lain dengan bagi kalangan anak-anak miskin;meningkatnya peserta program 7. Meningkatkan anggaranpendidikan berkelanjutan seperti pemerintah untuk pendidikankursus-kursus, program pendidikan secara bertahap dan terencana; danmasyarakat, meningkatnya penduduk 8. Meningkatkan partisipasi keluargamelek huruf hingga mencapai 88% dan masyarakat dalam membiayaipada tahun 2005; (c) meningkatnya pendidikan.proporsi penduduk kurang beruntung Sebagai wujud komitmenyang memperoleh kesempatan pemerintah terhadap pentingnyapendidikan. program Pendidikan Untuk Semua Kebijakan program yang harus (Education for All/EFA), Kementeriandilakukan adalah: Pendidikan Nasional menggelar1. Memperluas kesempatan sejumlah kegiatan melalui Pekan Aksi pendidikan dengan prioritas pada Global Pendidikan Untuk Semua 2010. pendidikan dasar; Tema aksi tahun ini adalah2. Meningkatkan layanan pendidikan ―Pembiayaan Pendidikan Bermutu Hak kepada kelompok yang kurang untuk Semua‖. Aksi ini yang beruntng, termasuk kaum dipusatkan di tiga kota, yaitu di perempuan; Jakarta, Bandung, dan Makasar pada 19-25 April 2010. 14
    • Menurut Ela Yulaciawati kecakapan hidup. Pendidikan ini(2010), aspek pembiayaan dalam bertujuan mempersiapkan orang-program Pendidikan untuk Semua orang menjelang usia lanjut agar bisacukup problematik. Sejumlah hidup mandiri dan sehat pada saatpertanyaan muncul menyangkut aspek mereka telah berusia lanjut. Jikapembiaya-annya, terutama mengenai mereka bisa mandiri dan sehat di usiastandar biaya pendidikan bermutu senja, maka biaya hidup me-reka akanuntuk semua orang. Berapa biaya bisa lebih ditekan. Jadi arahnya untukuntuk pendidikan anak-anak yang efisiensi bagi Negara.terpinggirkan (marjinal). Kemudian, Dalam waktu yang bersamaanapakah pembiayaan itu akan juga diselenggarakan kegiatanbermanfaat atau malah mubazir? workshop layanan pendidikan bagiUntuk mendidik anak-anak yang anak-anak terpinggirkan, yaitumarjinal, pemerintah tidak cukup keluarga korban eksploitasi seksualhanya memikirkan aspek anak (ESA), anak perempuan jalanan,pendidikannya saja, melainkan juga dan anak dari para pekerja rumahmemikirkan aspek kebutuhan dasar tangga. Seluruh rangkaian acaramereka. tersebut merupakan bagian dari Dikemukakan lebih lanjut oleh kampanye tahunan dunia yang dise-Ela (2010) tidak semua program lenggarakan Kampanye Globalpendidikan yang diberikan bagi Campaign for Education, sebuahkelompok marjinal dapat koalisi internasional organisasimenghasilkan produk pendidikan nonpemerintah dan serikatseperti yang diharapkan. Kegiatan lain guru.(http://bataviase.co.id, diaksesdari pecan aksiglobal program tanggal 16 September 2010).Pendidikan untuk Semua adalah Identifikasi Kendala-kendalaworkshop layanan pendidikan bagi Implementasi Progeram PUSpara orang lanjut usia. Masih menurut Dalam implementasi PUS diEla (2010) orang berusia lanjut Indonesia tidak berjalan mulus,umumnya tidak bisia mandiri, oleh banyak kendala yang ditemui dikarena itu perlu ada materi pendidikan lapangan. Dari sisi structural birokrasi 15
    • di Kementerian Pendidikan Nasional mempertanggungjawabkan suatu(2007) masih dirasa perlu program/kebijakan baik prosesdioptimalkan masalah peningkatan maupun hasilnya, serta untukkinerja, peningkatan kerjasama, memenuhi standar criteria yang sudahkoordinasi dan komunikasi dengan ditetapkan oleh pemerintah. Namunberbagai instansi dan unit kerja dalam pelaksanaan program wajibterkait, baik di pusat maupun di belajar sembilan tahun di kabupatendaerah. Disamping itu masalah lainnya Malang terlihat bahwa instansiadalah menyesuaikan jadwal sesuai (sekolah-sekolah) tidak melaksanakantarget, memberdayakan dan akuntabilitas administrasinya. Untukmengoptimalkan tenaga yang tersedia mengatasi permasalahan ini Dinasmelalui pembentukan tim kerja Pendidikan berupaya untuksebagai wujud koordinasi fungsional, mengembangkan berbagai kebijakandan mengoptimakan sarana dan terkait dengan implementasi Programfasilitas yang ada. Wajib Belajar Sembilan tahun. Namun Temuan lainnya, dapat hal inipun ternyata tidak membawadiidentifikasi dari riset yang dilakukan perubahan yang signifikan, sebaboleh Choiri (2006) dalam dalam pelaksanaannya masih terdapatpenelitiannya yang berjudul berbagai penyimpangan. Adapun‗Akuntabilitas Kinerja Dinas faktor pendukungnya adalah:Pendidikan Kabupaten Malang (Studi tersusunnya kurikulum dengan baik,Kasus tentang Akuntabilitas koordinasi yang baik diantara pihak-Adminitrasi Pelaksana Program Wajib pihak yang terlibat, serta partisipasiBelajar Pendidikan Dasar Sembilan masyarakat. Sedangkan faktor-faktorTahun di Kecamatan Bululawang yang menghambat diantaranya:Kabupaten Malang). Berdasarkan kapasitas dan kemampuan tenagapenelitiannya, Choiri (2006) pelaksana rendah, kemampuan danmemaparkan hasil penelitiannya motivasi tenaga pelaksana rendah,sebagai berikut: alasan perlunya dukungan dana operasional rendah,dilakukan akuntabilitas administrasi respon orang tua yang belumoleh Dinas Pendidikan adalah untuk maksimal, sikap moral masyarakat 16
    • serta lingkungan sosial yang tidak tangan pada penyelenggarasehat. akuntabilitas sendiri, bagaimana Hasil analisis terhadap mereka-mereka bisa mengelola potensiPelaksanaan Akuntabilitas maupun tantangan yang dihadapinya.Administrasi adalah sebagai berikut: Sementara itu, diprediksikandalam pelaksanaan program wajib pendidikan untuk semua (PUS) yangbelajar Sembilan tahun di kabupaten telah dicanangkan oleh pemerintahMalang terlihat bahwa instansi (Kementerian Pendidikan Nasional).(sekolah-sekolah) tidak melaksanakan Sebagaimana diekspos dalam harianakuntabilitas administrasinya. Hal ini Kompas, Rabu, 7 Juli 2010 bahwaterlihat misalnya tidak ada laporan target Pendidikan Untuk Semuapemberian beasiswa diberikan. ataupun Education for All, terutamaSekolah-sekolah tidak merasa perlu pendidikan dasar universal,memberikan laporan kepada instansi dikhawatirkan tidak tercapai padadiatasnya yakni Dinas Pendidikan tahun 2015 saat tenggat TujuanKabupaten Malang. Mereka justru Pendidikan Milenium. Krisis ekonomihampir semua membuat kebijakan global menjadi sala satu hambatansendiri terkait dengan penyaluran dana besar pencapaian target tersebut. Halbeasiswa yang tidak sesuai dengan ini terungkap dalam pembukaan 1stpedoman yang diberikan oleh Dinas General Assembly Forum of AsiaPendidiikan. Dilihat dari perspektif Pasific Parliamentarians forempat jenis Akuntabilitas, belum Education (FASPED) atau Forumsatupun jenis akuntabilitas yang dapat Parlemen untuk Pendidikan Asiadipenuhi sesuai standar oleh Dinas Pasifik, Selasa (6 Juli 2010). SidangPendidikan Kabupaten Malang, pertama yang diikuti oleh 26 parlemensehingga hal ini perlu mendapatkan dan dua parlemen diwakili olehperhatian dari berbagai pihak yang perwakilannya di Jakarta. Dalamterlibat. Sedangkan faktor pendukung sambutannya, Presiden FASPEDmaupun penghambat lebih merupakan Marzuki Alie mengatakan, krisisfaktor-faktor yang memberikan keuangan global pada 2008penekanan. Semuanya justru berada di merupakan rintangan terbesar untuk 17
    • pencapaian tujuan Education for All pemulihan dari tingginya harga(EFA). pangan yang telah mengakibatkan 175 Dampak krisis finansial global juta kasus malnutrisi tahun 2007 dantelah mengancam akses pendidikan 2008. Pendidikan juga tidak kebal daribagi jutaan anak di seluruh dunia. Saat pengaruh-pengaruh tersebut karenaini sekitar 72 juta anak usia sekolah hal-hal itu kemudian rentandasar belum mendapatkan pendidikan dikebelakangan.dasar. Kombinasi kemiskinan, Kekhawatiran serupa jugalambatnya pembangunan ekonomi, diungkapkan Director of UNESCOdan krisis finansial global akan Bangkok Office, Regional Bureau formenggerogoti pencapaian Negara- Education in The Asia Pasific, Gwang-negara pada dekade sebelumnya. Hal Jo Kim. ―Kita tetap belum on the tracktersebut berarti turut mengganggu (dalam jalur) untuk memenuhi targettarget pencapaian Tujuan EFA pada tahun 2015. Akan nada 56Pembangunan Milineum nomor dua, juta anak di luar sekolah jika kita tidakyang indikatornya antara lain angka melipatgandakan upaya kita, yangpartisipasi dasar angka melek huruf sebagiannya di wilayah Asia Pasifik.‖umur 15-25 tahun. Ujarnya. Dia mencontohkan, pada Ancaman tentang melesetnya tahun 1999 kawasan Asia Timur danpencapaian target terutama terjadi di Pasifik merupakan tempat tinggal 6Negara berkembang yang sebagian juta anak usia pendidikan dasar yangbesar di kawasan Asia Pasifik. Menurut tidak bersekolah. Tahun 2007,Education for All Global Monitoring jumlahnya meningkat menjadi 9 jutaReport 2010, target EFA tercancam anak. Sementara sejumlah Negara,gagal tercapai di Negara berkembang. terutama India, mencapai kemajuanResesi ekonomi yang terjadi pada sangat baik. ―Waktu yang tersisatahun 2008 diperkirakan telah tinggal lima tahun lagi,― katanya.menjerumuskan sekitar 90 juta orang Wakil Menteri Pendidikanke dalam kemiskinan ekstrem. Saat ini Nasional Fasli Jalal mengatakan,sebagian Negara yang terkena dampak Indonesia masih dalam jalursangat besar masih dalam proses pencapaian target EFA. Di tengah 18
    • krisis ekonomi dunia, Indonesia tetap Dalam upayanya mencapaimemprioritaskan anggaran tujuan ―Pendidikan untuk Semua‖pendidikan, bantuan operasional pada 2015, peme-rintah Indonesia saatsekolah guna mengurangi hambatan ini menekankan pelaksanaan programbiaya anak ke sekolah, buku pelajaran wajib belajar sembilan tahun bagionline, program pendidikan seluruh anak Indonesia usia 6 sampaikesetaraan, dan peningkatan 15 tahun. Dalam hal ini, UNICEF dankualifikasi guru. Ini merupakan UNESCO member dukungan teknisbeberapa upaya pemerintah yang terus dan dana.dilakukan. Sementara itu anggaran Bersama dengan pemerintahuntuk fungsi pendidikan dalam APBN daerah, masyarakat dan anak-anak ditahun 2010 telah mencapai sekitar Rp delapan propinsi di Indonesia,209,5 triliun. UNICEF mendukung program Marzuki Alie mengatakan, perlu Menciptakan Masyarakat Peduliperan aktif anggota parlemen untuk Pendidikan Anak (CLCC). Proyek iniikut aktif dalam proses pembangunan berkembang pesat dari 1.326 sekolahpendidikan. Di tengah sulitnya pada tahun 2004 menjadi 1.496 padaekonomi dunia dan berbagai tekanan, tahun 2005. Kondisi ini membantupemerintah telah menghadapi berbagai 45.454 guru dan menciptakanpilihan kebijakan yang sulit. Parlemen lingkungan belajar yang lebihberkewajiban meminta pemerintah menantang bagi sekitar 275.078 siswa.mengalokasikan dana yang cukup Dalam 20 tahun terakhiruntuk pendidikan dan memonitor Indonesia telah mengalami kemajuanpemerintah dalam di bidang pendidikan dasar. Terbuktimengimplementasikan tujuan rasio bersih anak usia 7-12 tahun yangpembangunan nasional bersekolah mencapai 94 persen.pendidikan.(KOMPAS, Rabu, 7 Juli Meskipun demikian, negeri ini masih2010). menghadapi masalah pendidikan yangKontribusi Pemerintah cq berkaitan dengan sistem yang tidakKementerian Pendidikan efisien dan kualitas yang rendah.Nasional Indonesia dalamProgram PUS Terbukti, misalnya, anak yang putus 19
    • sekolah diperkirakan masih ada dua Indonesia telah mengalamijuta anak. Indonesia tetap belum kemajuan di bidang pendidikan dasarberhasil memberikan jaminan hak atas dalam 20 tahun terakhir ini. Terbuktipendidikan bagi semua anak. Apalagi, rasio bersih anak usia 7-12 tahun yangmasih banyak masalah yang harus bersekolah mencapai 94 persen. Tetapidihadapi, seperti misalnya kualifikasi Indonesia tetap belum berhasilguru, metode pengajaran yang efektif, memberikan jaminan hak atasmanajemen sekolah dan keterlibatan pendidikan bagi semua anak. Apalagi,masyarakat. Sebagian besar anak usia masih banyak masalah yang harus3 sampai 6 tahun kurang mendapat dihadapi, masalah tersebut antara lainakses aktifitas pengembangan dan :pembelajaran usia dini terutama anak- - Anak putus sekolah diperkirakananak yang tinggal di pedalaman dan masih ada dua juta anak.pedesaan. Anak-anak Indonesia yang - Kualifikasi guru yang masihberada di daerah tertinggal dan kurang.terkena konflik sering harus belajar di - Metode pengajaran yang tidakbangunan sekolah yang rusak karena efektif. Yaitu masih beroientasialokasi anggaran dari pemerintah kepada guru dan anak didik tidakdaerah dan pusat yang tidak memadai. diberi kesempatan memahamiMetode pengajaran masih berorientasi sendiri.pada guru dan anak tidak diberi - Manajemen sekolah yang buruk.kesempatan memahami sendiri. - Kurangnya keterlibatanMetode ini masih mendominasi masyarakat.sekolah-sekolah di Indonesia. - Kurangnya akses pengembanganDitambah lagi, anak-anak dari dan pembelajaran usia dini bagigolongan ekonomi lemah tidak sebagian besar anak usia 3 sampaitermotivasi dari pengalaman 6 tahun terutama anak-anak yangbelajarnya di sekolah. Apalagi biaya tinggal di pedalaman dan pedesaan.pendidikan sudah relatif tak - Alokasi anggaran dari pemerintahterjangkau bagi mereka.(UNICEF, daerah dan pusat yang tidak2010). memadai. 20
    • - Biaya pendidikan yang tinggi. di delapan propinsi di Indonesia, Untuk mencapai Pendidikan UNICEF mendukung programUntuk Semua, pemerintah Indonesia Menciptakan Masyarakat Pedulidibantu oleh UNICEF dan UNESCO Pendidikan Anak (CLCC). Proyekmelakukan kegiatan-kegiatan antara ini berkembang pesat dari 1.326lain : sekolah pada 2004 menjadi 1.4961. Sistem Informasi Pendidikan pada 2005. Kondisi ini membantu Berbasis Masyarakat 45.454 guru dan menciptakan UNICEF mendukung langkah- lingkungan belajar yang lebih langkah pemerintah Indonesia menantang bagi sekitar 275.078 untuk meningkatkan akses siswa. pendidikan dasar melalui Sistem Di samping itu, yang tidak kalah Informasi Pendidikan Berbasis pentingnya adalah peran Kepala Masyarakat. Dengan system ini Sekolah dan Pengawas Sekolah dalam memungkinkan penelusuran semua menyukseskan program PUS yang anak usia dibawah 18 tahun yang dicanangkan pemerintah. Hal ini tidak bersekolah. sebagaimana dikemukakan oleh2. Program Wajib Belajar 9 Tahun Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Dalam upaya mencapai tujuan Pendidik dan tenaga Kependidikan, ―Pendidikan untuk Semua‖ pada Kementerian Pendidikan Nasional 2015, pemerintah Indonesia saat ini (Dirjen PMPTK Kemendiknas) menekankan pelaksanaan program Baedhowi yang mengatakan bahwa wajib belajar Sembilan tahun bagi peran Kepala Sekolah dan Pengawas seluruh anak Indonesia usia 6 Sekolah juga sangat penting guna sampai 15 tahun. Dalam hal ini, meningkatkan kualitas dan pelayanan UNICEF dan UNESCO member pendidikan saat ini. Apabila dukungan teknis dan dana. kompetensi Kepala Sekolah baik, maka3. Program Menciptakan Masyarakat hubungan yang signifikan terhadap Peduli Pendidikan Anak (CLCC) peningkatan mutu pendidikan di Bersama dengan pemerintah sekolah. Apabila Kepala Sekolahnya daerah, masyarakat dan anak-anak baik dan memiliki kompetensi bagus, 21
    • maka kepala sekolah itu diyakini bisa pedalaman dan pedesaan, (g) alokasimelakukan pengelolaan sekolah anggaran dari pemerintah daerah dandengan baik pusat yang tidak memadai, dan (h)pula.(http://bataviase.co.id, diakses biaya pendidikan yang tinggi; (3)tanggal 16 September 2010). untuk mencapai Pendidikan Untuk Semua, pemerintah Indonesia dibantuSimpulan dan Saran oleh UNICEF dan UNESCO melakukanSimpulan kegiatan-kegiatan antara lain: (a) Berdasar pemaparan tersebut di Sistem Informasi Pendidikan Berbasisatas, maka dapatlah disimpulkan Masyarakat, (b) Program Wajib Belajarsebagai berikut: (1) hakekat dari 9 Tahun, dan (c) Program―Pendidikan untuk Semua dan Semua Menciptakan Masyarakat Peduliuntuk Pendidikan‖ adalah Pendidikan Anak (CLCC); (4) dalam 20mengupayakan agar setiap warga tahun terakhir Indonesia telahNegara dapat memenuhi haknya, yaitu mengalami kemajuan di bidangsetidak-tidaknya untuk mendapatkan pendidikan dasar, terbukti rasio bersihlayanan pendidikan dasar (Wajib anak usia 7-12 tahun yang bersekolahBelajar 9 Tahun); (2) masalah yang mencapai 94 persen; (5) pembangunanharus dihadapi dalam program PUS, pendidikan di Indonesia sekurang-antara lain: (a) anak putus sekolah kurangnya menggunakan empatdiperkirakan masih ada dua juta anak, strategi dasar, yakni; pertama,(b) kualifikasi guru yang masih kurang, pemerataan kesempatan untuk(c) metode pengajaran yang tidak memperoleh pendidikan, kedua,efektif itu masih beroientasi kepada relevansi pendidikan, ketiga,guru dan anak didik tidak diberi peningkatan kualiutas pendidikan, dankesempatan memahami sendiri, (d) keempat, efesiensi pendidikan, (6)manajemen sekolah yang buruk, (e) Indonesia tetap belum berhasilkurangnya keterlibatan masyarakat, (f) memberikan jaminan hak ataskurangnya akses pengembangan dan pendidikan bagi semua anak; apalagi,pembelajaran usia dini bagi sebagian masih banyak masalah yang harusbesar anak usia 3 sampai 6 tahun dihadapi, seperti misalnya kualifikasiterutama anak-anak yang tinggal di 22
    • guru, metode pengajaran yang efektif, sektor secara keseluruhan, olehmanajemen sekolah dan keterlibatan karena itu pembangunan pendidikan harus sensitif danmasyarakat, dan (7) peran Kepala tanggap terhadap dinamikaSekolah dan Pengawas Sekolah sangat pembangunan sektor-sektorpenting guna meningkatkan kualitas lainnya; (4) perlu peran aktif anggota parlemen untuk ikutdan pelayanan pendidikan. aktif dalam proses pembangunan pendidikan, parlemenSaran berkewajiban memintaBerdasarkan butir-butir pemerintah mengalokasikansimpulan di atas, maka dapatlah dana yang cukup untukdikemukakan saran-saran pendidikan dan memonitorsebagai berikut: (1) dari sisi pemerintah dalamstruktural birokrasi di mengimplementasikan tujuanKementerian Pendidikan pembangunan nasionalNasional masih dirasa perlu pendidikan, dan (5) pemerintahdioptimalkan masalah (Negara) harus menyiapkanpeningkatan kinerja, seluruh sarana dan prasaranapeningkatan kerjasama, dalam rangka menuntaskankoordinasi dan komunikasi pendidikan Sembilan tahun.dengan berbagai instansi danunit kerja terkait, baik di pusatmaupun di daerah, (2) untukdapat mewujudkan programPUS, semua komponen bangsa,baik pemerintah, swasta,lembaga-lembaga sosialkemasyarakatan, maupun wargaNegara secara individual, secarabersama-sama atau sendiri-sendiri, berkomitmen untukberpartisipasi aktif dalammenyukseskan “Pendidikanuntuk Semua dan Semua untukPendidikan” sesuai denganpotensi dan kapasitas masing-masing; (3) pembangunanpendidikan makin disadarisebagai sektor yang strategisuntuk menunjang pembangunan 23
    • 24
    • 25
    • 26