Usul fiqih 1

6,151 views

Published on

Kaidah, Hukum, Islam

Published in: Education
1 Comment
5 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
6,151
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
138
Actions
Shares
0
Downloads
278
Comments
1
Likes
5
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Usul fiqih 1

  1. 1. USHUL FIQH 1 A. Muslimin, Lc., M.H.I
  2. 2. TA’RIf ( ) dari segi bahasa : (dalil) : landasan hukum (kaidah) : dasar atau fondasi (rajih) : yang terkuat (far‟un) : cabang (mustashab) : memberlakukan hukum asal selama tidak ada dalil yang merubah
  3. 3. Definisi Fiqh  :  “Mengetahui hukum-hukum syara‟ yang bersifat „amaliyah yang diperoleh melalui dalil-dalilnya yang terperinci”.
  4. 4. TA’RIf Ilmu Usul al-Fiqh “Ilmu tentang kaedah-kaedah yang digunakan untuk mengistinbatkan hukum-hukum syara‟ yang amali (praktikal) dari dalil-dalil yang tafsiliy (terperinci)”.
  5. 5. Ilmu Usul al-Fiqh…  Ilmu yg dikaji – Kaedah-kaedah umum (kulliy) utk mengeluarkan hukumhukum dari dalil-dalil yg khusus (tafsili) (Qur‟an & Hadits)  Maksud hukum-hukum – Hukum amali termasuk perbuatan hati – Hukum-hukum akidah – tidak termasuk  Cth. kaidah usul fiqh – Dari kaidah ini banyak afrad yg datang dari shari’ – – –
  6. 6. objek Ilmu Ushul Fiqh  Dalil-dalil syara‟ yang umum Dalil yg Disepakati – Qur‟an, Hadits, Ijma‟, Qiyas Dalil yg Tidak disepakati – Istihsan, istislah, istishab dll  Hukum-hukum syara‟ yang umum Hukum Taklifiy Hukum Wad’iy    Ijtihad, syarat dan kriteria mujtahid al-Ta’arud dan al-Tarjih al-Dilalat atau al-Dalalat Cara tentukan madlul & hukum dari Qur‟an & Sunnah Bahagian-bahagiannya.
  7. 7. Faedah dan Fungsi Ushul Fiqh  Aplikasi kaidah umum utk suatu hukum  Alat, sarana dan metode  Mengetahui dasar pembinaan hukum syara‟ serta maqasid (tujuan) syara‟  Mampu mengistinbatkan hukum dengan tepat  Mengetahui hukum yg telah diistimbat, membuat perbandingan, dan mentarjih  Memelihara agama  Mengetahui keunggulan dan kelemahan mujtahid  Pengertian dasar dan metodologi mujtahid
  8. 8. Sejarah Perkembangan Ushul al-Fiqh  Zaman Rasulullah Saw – Baginda Rasul adalah rujukan utama – Dalil Al-Qur‟an dan Al-Hadits – Belum ada Ushul Fiqh dalam disiplin ilmu – Kasus Shalat Ashar di Bani Quraidhah – Kasus Tawanan Perang – Kasus Tayamum Ibnu Mas‟ud dan Umar Ibn Khatab
  9. 9. Lanjutan… Zaman Sahabat – Mereka musyawarah dgn Rasul – Setiap isu dibicarakan sesama mereka Umar Ibn Khatab – Kasus tanah Sawad di Iraq (Ghanimah) – Kasus tidak memberi zakat muallaf – Kasus tidak memotong tangan pencuri Ali KW - Mengqiyaskan pemimnum Khamr dengan Qadzaf
  10. 10. Lanjutan…  Zaman Tabi‟in – Walaupun sudah meluas, upaya ulama tinggi – Mulai berlaku perubahan – Lahir dua kelompok ahli fiqh – Madinah : Sa‟id bin Musayyab – Iraq : An-Nakhai dan Al-Laits – Madinah disebut fiqh ahli Hadits – Iraq disebut dengan fiqh ahli ra‟yi
  11. 11. NexT…  Zaman Itba‟ al-Tabi‟in (Imam Mujtahid) – Banyak masalah baru dgn adat & budaya – Wilayah Islam makin luas – Murid-murid Imam Madzhab mengklaim guru mereka penyusun pertama ushul fiqh – Lahir usul fiqh – dipelopori Imam Syafi‟I – Kitabnya al-Risalah
  12. 12. NexT…  Pasca Imam Syafi‟i - Tahap Awal (3 H) - Al-Risalah sebagai rujukan - Aktifitas pensyarahan Ushul Fiqh Itsbat al-Qiyas : Isa Ibnu Hibban An-Nakht : Ibrahim An-Nazzam Kitab Ushul : Daud al-Dzahiry - Muncul dua aliran; Kalam dan Fuqoha
  13. 13. Lanjut… - Tahap Pertengahan (4 H) - Pintu Ijtihad di tutup - Mensyarah; memperjelas illat hukum - Mentarjih - Corak Filsafat Kitab Fushul fil Ushul : Al-Jishash Kitab Ushul al-Kharkhy : Abu Hasan Ubaidillah
  14. 14. NexT…  Tahap Penyempurnaan (5-6 H) - Penulisan Ushul Fiqh Terpesat Al-Mu‟tamad fi Ushul Fiqh : Abu Al-Husain Al-Bashri Al-Burhan fi Ushul Fiqh : Al-Juwaini Imam Haramain Al-Mustasfa fi Ilm Al-Ushul : Abu Hamid Al-Ghazali - Kristalisasi aliran Ushul Ulama Mutaakhirin memperdalam ilmu Ushul Fiqh dengan lintas madzhab
  15. 15. Lanjut…  Masa Modern dan Kontemporer - Al-Muwafaqat : Al-Syatibi (Abad 8 H) - Ushulul Fiqh : Khudary Bek (1927 M) - Tahshilul Wushul ila Ilmi Al-Ushul : AlMahlawy (1920 M) - Irsyadul Fuhul ila Tahqiq al-Haqqi min Ilmi al-Ushul : Al-Syaukani (1250 M)
  16. 16. Aliran-aliran Ushul Fiqh  Aliran Kalam ( Aliran Syafi’iyah dan Jumhur Mutakallimin)  membangun teori tanpa terpengaruh masalah furu’  Ijtihad menggunakan ra’yu / akal dan LOGIKA  Falsafah dan mantiq  MENGEDEPANKAN KAJIAN BAHASA  kitab-kitab yang dijadikan rujukan : Ar-Risalah = Imam Syafi’i Al-Mu’taMad = Abu Husain M. ibn Ali al-Bashri Al-Burhan fi ushul fiqh = Imam Haramain al-Juwaini Al-Mustashfa fi ilm ushl = Al-Gazali.
  17. 17. Aliran Ke 2  Aliran Fuqaha (ulama mazhab Hanafi)      membangun teori TIDAK Berdasarkan masalah furu’ Ijtihad dengan menggunakan hadisT PRAKTIS Memperkuat madzhab mereka kitab-kitab : Al-Ushul = Abu Bakar Al-Jashasu Kasyaf al-Asrar = Imam Al-Bazdawi
  18. 18. Aliran Ke 3  Aliran Mutaakhirin (penggabungan dua aliran)  Kitab Ushul Fiqh yang menggabungkan antara teori Mutakallimin dengan teori Fuqoha – – – – tanqih al-Ushul = Shadr al-Syari’ah at-Tahrir = Kamal al-din al-Humam al Hanafi jaM’u al-jawami = Subkhi al Syafi’i Mussalam al-tsubut = Muhibullah bin Abd al-Syakur
  19. 19. Dalil-dALIL SyARA’ Ta‟rif dalil : Maksudnya : “Sesuatu yang diperoleh dengan benar dari hukum syara‟ amali dengan dilakukan kajian yang sah terhadapnya baik secara qath‟y maupun dzanniy”
  20. 20. Dalil-dalil Yang Disepakati  Al-Qur‟an al-Karim  Lafaz yang berbahasa Arab, diturunkan kepada Muhammad Saw melalui Jibril, sebagai mukjizat, diriwayatkan secara mutawatir, membacanya ibadah, diawali dg fatihah dan diakhiri dg al-nass
  21. 21. Nama-nama Al-QUR’AN       Al-Kitab Al-Furqon Al-Dzikr Al-Huda At-Tibyan Al-Burhan : Tulisan atau Buku : Pembeda : Peringatan : Petunjuk : Penjelas : Dalil
  22. 22. Ciri-ciri al-QUR’AN     Lafaz dan makna dari Allah Menggunakan lafadz dan gaya bahasa Arab Diriwayatkan secara mutawatir Kandungannya tidak ada pengurangan atau penambahan  Mengandung mukjizat  Membaca setiap kata mendapat pahala
  23. 23. KeMU’JIzATAN AL-QUR’AN  Al-Qur’an memilki mu’jizat pada 5 bidang : 1. Pada lafadz dan susunan kalimat 2. Pada keterangannya 3. Pemberitaan tentang Ghaib 4. Pada ilmu pengetahuan 5. Pada penetapan hukum
  24. 24. Fungsi dan Tujuan Al-QUR’AN 1. Sumber pokok dan utama 2. Penuntun dalam merumuskan hukum 3. Petunjuk 4. Mu’jizat
  25. 25. Pokok Ajaran Al-QUR’AN 1. Akidah 2. Ibadah dan Muamalah 3. Hukum 4. Akhlak 5. Kisah-kisah umat terdahulu 6. Isyarat pengembangan Iptek
  26. 26. Keistimewaan Dan Keutamaan Al-QUR’AN 1. Pedoman dan petunjuk hidup 2. Memiliki ayat-ayat yang mengagumkan 3. Memberi gambaran umum ilmu alam untuk merangsang perkembangan berbagai ilmu 4. Memiliki ayat-ayat yang menghormati akal 5. Manusia sama di hadapan Tuhan 6. Melepas kehinaan dan menanamkan tauhid dalam jiwa.
  27. 27. Perintah dan larangan Al Quran 1. Suruhan, yang berarti keharusan untuk mengerjakan atau meninggalkan. 2. Janji baik dan buruk, pahala dan dosa serta pujian dan celaan. 3. Ibarat, contohnya Anisa istri yang ditalak harus menjalankan masa iddah.
  28. 28. Hal-hal tentang al-QUR’AN        30 juz, 114 surat, 6666 ayat Makiyah 86 surat Madaniyah 28 surat Pertama turun al-‟Alaq 1-5 Terakhir turun al-Maidah 3 Turunnya al-Qur‟an 22 Th 2 Bln 22 Hr (23 Thn) Makiyah : diawali dg yaa ayyuha al nass ayatnya pendek-pendek Madaniyah : diawali dg ya ayyuha alladzina amanu dan ayatnya panjang-panjang
  29. 29. Al-Sunnah  Bahasa :  Qorib (dekat)  Jadid (baru)  Khabar (Berita)  Cara yang dibiasakan  Cara yang terpuji
  30. 30. al-Sunnah  Ta‟rif “Sesuatu yang muncul dari Rasulullah s.a.w. bukan al-Qur‟an baik dalam bentuk perkataan, perbuatan atau taqrir (ketetapan) “
  31. 31. Ciri-ciri al-Sunnah  Datang dari Rasulullah Saw tetapi bukan al-Qur’an  Tidak bermukjizat  Berlaku dalam bentuk perkataan, perbuatan, atau taqrir dari Rasulullah Saw  Berlaku setelah Rasulullah diutus sebagai Rasul
  32. 32. Pembagian al-Sunnah     al-Sunnah al-qawliyyah al-Sunnah al-fi’liyyah al-Sunnah al-taqririyyah al-Sunnah al-Wahmiyah
  33. 33. Pembagian Hadits dari Segi Periwayatan  Mutawatir : “Diriwayatkan dari Nabi Saw pada masa sahabat, tabi‟in dan itba‟ tabi‟in oleh orang banyak dan tidak dusta”.  Masyhur : “Diriwayatkan dari Nabi Saw pada masa sahabat tidak mutawatir dan masa tabi‟in dan itba‟ tabi‟in secara mutawatir”.  Ahad : “Diriwayatkan dari Nabi Saw tidak secara mutawatir dalam tiga masa.
  34. 34. Kehujahan al-Sunnah  Al-Qur‟an  Al-Sunnah  Ijma‟  Logika/Qiyas
  35. 35. Kedudukan al-Sunnah Sebagai Dalil Hukum  Tempat kedua setelah al-Qur‟an
  36. 36. Fungsi al-Sunnah Terhadap al-QUR’AN  Penjelas al-Qur‟an  Membuat syari‟at yang belum ada di al-Qur‟an  Menguatkan hukum-hukum alQur’an, mendetailkan hukum yang ijmal (ringkas)  Menghadkan (taqyid) hukum-hukum yang mutlaq  Mengkhususkan (khas) hukum umum („am)  Menjawab segala permasalahan dalam al-Qur’an  Menasakh beberapa hukum dalam al-Qur’an  Menentukan hukum yang tidak disebut al-Qur’an  Membuat aturan tambahan yang bersifat teknis
  37. 37. Ijma’  Ta‟rif  Bahasa : Kesepakatan, Sependapat tentang sesuatu, Berkumpul.  Istilah :  Maksudnya: Kesepakatan para mujtahid dari kalangan umat Muhammad s.a.w. terhadap hukum syara‟ pada zaman selain zaman Rasul Saw.
  38. 38. Ciri-ciri Ijma’  Kesepakatan semua ulama yang layak untuk berijtihad (Mujtahid)  Kesepakatan berlaku di kalangan umat Muhammad S.a.w.  Kesepakatan berlaku terhadap hukum syara‟ (Hukum Islam)  Kesepakatan berlaku setelah wafatnya Rasulullah S.a.w.
  39. 39. Syarat-syarat Ijma’ Syarat disepakati a) b) c) d) e) f) Adil Mujtahid Semua sepakat Ada lebih dari seorang mujtahid Secara sharih atau i’tibariyy Tidak menarik kembali persetujuan
  40. 40. Pembagian Ijma’  Sharih (Jelas/terus terang/keseluruhan)  Sukutiy (Diam/sebagian)
  41. 41. Dalil Kehujjahan Ijma’   Dan siapa yang menentang (ajaran) Rasulullah sesudah terang nyata kepadanya kebenaran pertunjuk (yang dibawanya), dan ia pula mengikut jalan yang lain dari jalan orang-orang yang beriman, Kami akan memberikannya kuasa untuk melakukan (kesesatan) yang dipilihnya, dan (pada hari akhirat kelak) Kami akan memasukkannya ke dalam neraka jahanam; dan neraka jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali
  42. 42. Dalil Kehujjahan Ijma’  Umatku tidak akan bersepakat terhadap perkara-perkara yang sesat
  43. 43. QIYAS Bahasa : Membandingkan Menganalogikan Menyamakan Mengukur
  44. 44. Qiyas   Menetapkan sesuatu hukum pada sesuatu perkara ke dalam suatu perkara lain karena persamaan keduanya dari segi illah hukum menurut pandangan orang yang menetapkannya
  45. 45. Kehujjahan Qiyas   Maka ambilah pelajaran (iktibar) (dari peristiwa itu) wahai orangorang yang berakal fikiran serta jeli mata hatinya.
  46. 46. Kehujjahan Qiyas  Nabi Muhammad S.a.w. sendiri pernah melakukan qiyas  Ijma‟  Logika/Qiyas
  47. 47. Rukun Qiyas     Al-aslu (Asal) Hukmu al Asly (Hukum asal) Furu’ (cabang) ‘Illah (alasan)
  48. 48. Syarat-syarat Qiyas  Hukm al-asl tidak khusus untuk sebab-sebab yang menjadi faktor adanya sesuatu nash  Perkara yang akan diqiyaskan harus perkaraperkara yang ma’qul (masuk akal)  Hukum al-asl hendaklah tsabit (tetap) melalui alQur’an, hadits atau ijma’  Natijah (hasil) dari qiyas yang dilakukan haruslah tidak bertentangan dengan nash (qhot’y)
  49. 49. MACAM-MACAM QIYAS  Qiyas Jally/Awla  Qiyas Musawwy  Qiyas Khaffy/Adna (Lebih tinggi) (Sama) (Lebih Rendah)
  50. 50. Dalil-dalil Yang Diperselisihkan         Al-Masalih al-Mursalah ( Al-Istihsan ( ) Al-Istishab ( ) Syari‟ah sebelum kita ( Al-’Urf ( ) „Illat ( ) Sadd al-Dhara’i’ ( ) Mazhab al-Sahabiyy ( ) ) )
  51. 51. Al-Masalih al-Mursalah  Definisi – Sesuatu yang mendatangkan kebaikan – Diutus, dikirim atau dipakai Maslahah Mursalah berarti prinsip kemaslahatan yang dipergunakan menetapkan suatu hukum Islam atau perbuatan yang bernilai baik.
  52. 52. NexT…  Imam Al-Ghazaly Maslahah pada dasarnya ialah meraih manfaat dan menolak mudharat Setiap manfaat yang termasuk di dalam sasaran al-Shari‟ (Allah) tanpa ada bukti (dari nash) yang mengakuinya atau membatalkannya.
  53. 53. Al-Masalih al-Mursalah  Ciri-ciri – Berdasarkan prinsip, mengambil maslahah dan menolak mudharat – Kemaslahatan yang menjadi asasnya tidak terdapat ketentuan  Jenis-jenis maslahah – Yang diakui oleh nash (mu’tabarah) – Yang dibatalkan oleh nash (mulgha) – Yang tidak ada ketentuan nash (mursalah)
  54. 54. Al-Masalih al-Mursalah  Syarat-syarat - Maslahat harus hakikat bukan dugaan - Maslahat harus menyeluruh dan umum - Maslahat harus sesuai dengan tujuan syara‟ - Maslahat itu harus benar tidak bertentangan dengan nash
  55. 55. Al-Masalih al-Mursalah  Macam Maslahah Al-Dharuriyah : Perkara tegaknya kehidupan, bila ditinggalkan rusak kehidupan, timbul fitnah. Al-Hajiyah : Perbuatan selain dharury yang dibutuhkan untuk menghindari kesulitan Al-Tahsiniyah : Mempergunakan semua yang layak yang dibenarkan adat yang baik dan mencakup mahasinul akhlaq
  56. 56. NexT…  Maslahah Dharuriyah - Agama : Kewajiban Jihad - Jiwa : Usaha Mencari makan, minum dan pakaian - Akal : Meninggalkan minum khamr - Keturunan : Kewajiban Nikah, larangan zina - Harta : Menjauhi Pencurian  Maslahah Hajiyah - Qashar, berburu, buka bagi musafir  Maslahah Tahsiniyah - Bersuci, menutup aurat, akhlaq dan adab
  57. 57. Kehujahan  Tidak Jadi Hujjah : Syafi‟iyah, Hanafiyah dan sebagian Malikiyah  Mejadi Hujjah : Sebagian Malikiyah, sebagian Syafi‟iyah dengan ketentuan dan syarat  Imam Al-Qarafy : Sesungguhnya seluruh madzhab berhujjah dengan maslahah, karena mereka melakukan qiyas dengan ketentuan berbeda-beda
  58. 58. Al-Istihsan  Definisi – – Mencari Kebaikan Memberlakukan kemaslahatan juz‟i ketika berhadapan dengan kaidah umum
  59. 59. Al-Istihsan  Definisi   Maksudnya: Berpaling daripada qiyas jaliyy kepada qiyas khafiyy atau mengecualikan masalah juz‟iyah daripada asal yang kulliy atau kaedah yang umum berdasarkan kepada dalil yang menuntut peralihan ini.
  60. 60. Al-Istihsan  Ciri-ciri al-Istihsan – Menggunakan qiyas jaliyy kepada qiyas khafiyy – Mengecualikan suatu masalah daripada asal atau kaidah umum  Jenis al-Istihsan – Mentarjihkan qiyas khafiyy terhadap qiyas jaliyy – Mengecualikan perkara juz’iyyat daripada asal atau kaedah umum
  61. 61. Al-Istihsan  Menjadi Hujjah : Hanafiyah, Malikiyah dan sebagian Hanabilah  Tidak Jadi Hujjah : Syafi‟iyah
  62. 62. Al-Istishab  Bahasa - Menemani, menyertai, kebersamaan - Mengikuti secara terus menerus - Mencari sesuatu yang ada hubungannya.  Ulama Fiqh : Tetapnya hukum pada masa lalu, sampai ada dalil yang mengubah ketetapan hukum tersebut.
  63. 63. Al-Istishab  Definisi  Maksudnya: Hukum sesuatu berdasarkan hukum yang sudah ada pada hukum tersebut dalam bentuk sabit atau nafi karena tiada dalil yang menunjukkan sebaliknya
  64. 64. macam  Pembagian al-Istishab – Hukum Ibahah al-Asliyah – Menurut akal dan syara‟ hukumnya tetap dan berlangsung terus (Wasf al-tsabit li al-hukm hatta yutsbita khilafuhu) – – – – Dalil umum sebelum datang dalil yang mengkhususkan Hukum akal sebelum datang hukum syara‟ Ditetapkan berdasar ijma‟ dan diperselisihkan Istishab hukum harus atau al-bara‟ah al-asliyyah ketika tiada dalil yang menunjukkan sebaliknya – Istishab hukum syara‟ yang terbukti satu dalil atau tiada dalil lain yang mengubahnya
  65. 65. Kehujahan  Kebanyakan ahl al-kalam : Tidak dianggap sebagai hujjah  Kebanyakan ulama Hanafi mutakhir : Hanya hujjah untuk menolak dan menafikan, bukan untuk menetapkan dan memberikan hak  Kebanyakan ulama Maliki, Shafi‟i dan Hambali : Hujjah untuk menafi (hilang) dan mentsabitkan (tetap).
  66. 66. Kaidah-kaidah    
  67. 67. SyAR’U man qablana  Syar‟u : Syari‟at, hukum, peraturan  Man Qoblana : Sebelum Nabi Muhammad Saw  Definisi : Hukum-hukum yang disyari‟atkan oleh Allah bagi umat sebelum kita (ajaran Nabi Muhammad Saw).
  68. 68. pembagian  Telah dihapus oleh syari‟at kita Contoh : Musa, Pakaian najis, dipotong  Ajaran yang ditetapkan oleh syari‟at kita Contoh : Perintah puasa  Ajaran yang tidak ditetapkan syari‟at kita - Ada di al-Qur‟an dan al-Hadits tetapi tidak tegas sebagaimana sebelum kita - Tidak ada dalam syari‟at kita
  69. 69. Al-’Urf  Bahasa : Mengaku, mengetahui, kebaikan  Definisi  Maksudnya: Apa yang menjadi kebiasaan manusia dan dilakukan mereka berdasarkannya sama ada dalam bentuk perkataan, perbuatan atau tinggalan
  70. 70. Al-`Urf  Ciri-ciri – Tidak bertentangan dengan nash – Kebiasaan dan amalan manusia – Merujuk kepada persepakatan manusia umumnya  Pembahagian al-`Urf – Dari segi bentuk: Qawly/Lafdzi & fi‟ly – Dari segi kelompok: Am & khas – Dari segi sah dan batal: Sahih & fasid
  71. 71. ‘Illat  Bahasa : Sakit, yang menyusahkan, sebab, udzur, alasan  Istilah : - Sesuatu yang keberadaannya maka hukum menjadi ada - Perkara yang memunculkan hukum
  72. 72. macam ‘Illat  Syurahatan (jelas)  Nash secara Dilalah (penunjukan)  Nash secara Istimbath (penetapan/kesimpulan)  Melalui Qiyas (membandingkan)
  73. 73. Fungsi ‘Illat     Penyebab atau penetap adanya hukum Penolak (dafi‟ah) keberadaan hukum Pencabut (rafi‟at) kelangsungan hukum Penolak sekaligus pencabut suatu hukum
  74. 74. ‘Illat  Illat adalah sebab hukum   Dasar ada atau tidak adanya sebuah hukum  Contoh : - Membunuh perempuan dalam perang - Shalat Jum‟at bagi Perempuan - Minuman memabukkan
  75. 75. Sadd al-dhARA’I’     Bahasa Sad : Menutup, mencegah Dzari‟ah : Jalan ke suatu tujuan Sad-Dzari‟ah : Menutup jalan ke suatu tujuan yang tidak baik
  76. 76. Sadd al-dhARA’I’  Istilah  Maksudnya: Menghalang sesuatu sampai kepada perkara yang rusak  Ciri-ciri – Menghalang keburukan – Membuka ruang untuk kebaikan – Penetapannya berdasarkan natijah (hasil) sesuatu perkara, sekalipun tidak menjadi pengetahuan pelakunya
  77. 77. Kaidah-kaidah     
  78. 78. Sadd al-dhARA’I’  Contoh – Boleh membayar uang tebusan kepada kafir harbiyy – Diharamkan qadhi menjatuhkan hukuman berdasarkan pengetahuannya – Haram menjual senjata kepada orang kafir – Melihat aurat – Menggali sumur depan pintu – Menjual anggur untuk khamr
  79. 79. kehujjahan  Malikiyah dan Hanabilah menjadikan hujjah dan dalil  Hanafiyah, Syafi‟iyah dan Syi‟ah menjadikan hujjah dalam masalah tertentu dan menolak dalam masalah lain. (menerima apabila kemafsadatan akan muncul dengan kemungkinan besar „Ghalabah al-Dzan‟)
  80. 80. Mazhab al-Sahabiy  Definisi sahabat (Qoulu Shahabat)  Maksudnya: Siapa yang melihat Rasulullah s.a.w. dalam keadaan beriman kepadanya dan mendampinginya untuk tempo masa yang memadai untuk dikatakan sebagai sahabat dari segi adat
  81. 81. Mazhab al-Sahabiyy  Ciri-ciri sahabat – Melihat Rasulullah dalam keadaan iman – Pernah berdampingan dengannya  Kehujjahan – Ulama sepakat mengatakan pendapat sahabat yang bukan berdasarkan pendapat adalah hujjah begitu juga ijma‟ mereka. Para ulama juga mengatakan bahwa seorang sahabat tidak wajib mengikuti sahabat lain – Sementara pendapat sahabat yang berdasarkan pendapat mereka, terdapat perselisihan
  82. 82. Contoh  Aisyah : Batas wanita hamil adalah 2 tahun  Abu Bakar : Warisan nenek 1/6 Memerangi penolak zakat  Umar : Haram menikahi wanita dlm „iddah Tidak Jum‟at pada hari raya  Anas bin Malik : Minimal haidl 3 hari  Ibn Abbas : Tdk diterima saksi anak kecil  Haram lelaki (poligami) dengan bibik istri
  83. 83. Hukum Taklifi dan WAd’I  Hukum Taklifi : Khitab/Firman Allah yang berhubungan dengan segala perbuatan mukallaf atas dasar iqtidha atau takhyir.  Hukum Wad‟i : Hukum yang menjadikan sesuatu sebagai syarat, sebab atau mani‟.
  84. 84. Macam-macam Taklifi      Wajib Sunnah Mubah Makruh Haram
  85. 85. Pembagian Wajib  Wajib : Waktu mengerjakan (Muwassa‟, Mudhayya‟ dan Syibhain)  Wajib : Orang yang mengerjakan (Wajib „Ain dan Wajib Kifayah)  Wajib : Kadar Tuntutan (Muhaddad dan Ghairu Muhaddad)  Wajib : Tertentu dan Pilihan (Mu‟ayyan dan Mukhayyar)  Wajib : Waktu Segera (Faur dan Tarakhi)
  86. 86. Haram - Haram Li Dzatihi - Haram Lighairi Dzatihi Sunnah  Muakkad  Ghairu Muakkad  Zaidah Makruh  Makruh li Tahrim  Makruh li Tanzih
  87. 87. Hukum WAd’I Pokok  Sebab  Syarat  Mani‟ Cabang      Shahih Batil Fasad Rukhshoh Azimah
  88. 88. MACAM POKOK  Sebab : Jalan yang menyampaikan sesuatu kepada tujuan Cth : Pembunuhan dalam qishas  Syarat : Sesuatu yang harus dikerjakan sebelum melakukan pekerjaan Cth : Wudlu sebelum shalat  Mani‟ : Penghalang dari sesuatu Cth : Pembunuhan dalam waris
  89. 89. MACAM CABANG  Sah : Hukum yang sesuai dengan syara‟ Cth : Terpenuhinya syarat, sebab dan mani‟  Batal : Perbuatan yang tidak sesuai syara‟ Cth : Tidak terpenuhinya syarat rukun  Azimah : Hukum yang berlaku dalam segala kondisi dan situasi Cth : Shalat, zakat, puasa  Rukhsoh : Hukum peringanan bebandalam kondisi tertentu Cth : Makan bangkai / binatang haram

×