Your SlideShare is downloading. ×
Modul IISkenario: Telinga berairAn. Z, 10 th, mengunjungi poliklinik THT dengan keluhan utama telinga berair disertai dema...
B. Topic tree                                     THT (Telinga Hidung Tenggorokan )        Pemeriksaan                    ...
telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga (meatus akustikuseksternus) berbentuk huruf S, dengan r...
Gambar 2.1: Telinga luar, telinga tengah, telinga dalam. Potongan Frontal Telingab) Telinga Tengah   Telinga tengah berben...
flaksida hanya berlapis dua, yaitu bagian luar ialah lanjutan epitel kulit liang telinga danbagian dalam dilapisi oleh sel...
Gambar 2.2 : Membran Timpani1,2,3        Telinga tengah berhubungan dengan rongga faring melalui saluran eustachius(tuba a...
timpani berisi perilimfa, sedangkan skala media berisi endolimfa. Dasar skala vestibulidisebut sebagai membrane vestibuli ...
Gambar2.3 : Gambar labirin bagian membrane labirin bagian tulang, Telinga DalamKoklea                bagian koklea labirin...
Didalam lamina membranasea terdapat 20.000 serabut saraf.Pada membaranabasilaris (lamina spiralis membranasea) terdapat al...
endolimfatikus yang berakhir pada suatu lilpatan dari duramater, yang terletak padabagian belakang os piramidalis. Lipatan...
tulang pendengaran yang akan mengimplikasi getaran melalui daya ungkit tulangpendengaran dan perkalian perbandingan luas m...
Anatomi dan fisiologi hidunga) Anatomi hidung                             Gambar 2.7 : Anatomi hidung       Hidung merupak...
Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi olehkulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil ...
Di bagian atap dan lateral dari rongga hidung terdapat sinus yang terdiri atas sinusmaksilla, etmoid, frontalis dan spheno...
dibelakang ujung posterior konka media.Bagian depan hidung mendapat pendarahan daricabang-cabang arteri fasialis.       Pa...
lateral.Rongga hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari nervusmaksila melalui ganglion sfenopalati...
Gambar2.10 :gambaran histology mukosahidungb) Epitel       Epitel mukosa hidung terdiri dari beberapa jenis, yaitu epitel ...
luar. Masing-masing mikrotubulus dihubungkan satu sama lain oleh bahan elastis yangdisebut neksin dan jari-jari radial. Ti...
sepenuhnya.Lapisan      superfisial   ini   merupakan   gumpalan    lendir   yang   tidakberkesinambungan yang menumpang p...
dibawahnya. Silia lebih banyak dekat ostium, gerakannya akan mengalirkan lendir kearah hidung melalui ostium masing-masing...
Kecepatan gerakan mukus oleh kerja silia berbeda di berbagai bagian hidung.Padasegmen hidung anterior kecepatan gerakan si...
mendapatkan nilai rata-rata adalah 12-15 menit. Elynawaty (2002) dalam penelitianmendapatkan nilai normal pada kontrol ada...
esophagus setinggivertebra servikalis ke enam. Ke atas, faring berhubungan denganrongga hidung melalui koana,ke depan berh...
yang ekstensif ini keluar untuk otot-otot faring kecuali m.stilofaringeus yang dipersarafilangsung oleh cabangn.glossofari...
b) Orofaring   Disebut juga mesofaring dengan batas atasnya adalah palatum mole, batas bawahnya   adalah tepi atas epiglot...
kriptus.Di dalam kriptus biasanya biasanya ditemukan leukosit, limfosit, epitel yangterlepas, bakteri dan sisa makanan.   ...
Dibawah valekula terdapat epiglotis. Pada bayi epiglotis ini berbentuk omega danperkembangannya akan lebih melebar, meskip...
nasofaring m.levator veli palatini menarik palatum mole ke atas belakang hampir        mengenai dinding posterior faring. ...
dipandang kadang kala menimbulkan masalah psikis sehingga perlu dilakukan       operasi otoplasti.   2) Kelainan yang dida...
2) Otitis eksterna akut       Otitis eksterna sirkumskripta (furunkel=bisul)       Oleh karena kulit disepertiga luar lian...
Herpes Zoster Otikus       Herpes Zoster Otikus adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus       varicella zoster....
Otitis Media                      Otitis Media akut       Otitis Media sub akut        Otitis media kronik                ...
Otitis media adalah     peradangan pada sebagian atau seluruh dari selaput permukaan telinga tengah, tuba eustachius, antr...
1. Membrane tymphani merah, sering menggelembung tanpa tonjolan tulang yang   dapat dilihat, tidak bergerak pada otoskopi ...
Pada kontak pertama dengan alergen atau tahap sensitisasi, makrofag ataumonosit yang berperan sebagai sel penyaji (Antigen...
Pada RAFC, sel mastosit juga akan melepaskan molekul kemotaktik yangmenyebabkan akumulasi sel eosinofi dan netrofil di jar...
Sinusitis dapat menjadi berbahaya karena menyebabkan komplikasi ke orbita dan intracranial, serta menyebabkan peningkatan ...
post nasal drip, batuk kronik, gangguan tenggorok, gangguan telinga akibatsumbatan kronik muara tuba Eustachius, gangguan ...
peningkatan tekanan dalam sistem ataupun ruptur membran telinga dalam dapat         terjadi dan menimbulkan gejala Meniere...
MANIFESTASI KLINIS   Gejalanya berupa seangan vertigo tak tertahankan episodic yang sering   disertai mual dan/atau muntah...
Kehilangan pendengaran sensorineural berfluktuasi       tinitus       Penyakit Meniere kokleac. Penyakit Meniere koklea   ...
Faringitis yang disebabkan oleh HIV-1 menimbulkan keluhan nyeri tenggorok,nyeri menelan, mual, dan demam.Pada pemeriksaan ...
Pasien mengeluh tenggorok kering dan tebal serta mulut                     berbau.Pada pemeriksaan tampak mukosa faring di...
influenza merupakan penyebab tonsillitis akut Supuratif. Jika terjadi infeksi   virus coxschakie, maka pada pemeriksaan ro...
Gambaran klinik dibagi dalam tiga golongan yaitu gelaj umum, gejala   local daan gejala akibat eksotoksin.   a. Gejala umu...
Demam sampai 390C, nyeri kepala, badan lemah dan kadang-kadang       terdapat gangguan pencernaan.Rasa nyeri di mulut, hip...
Karena proses radang berulang yang timbul maka selain epitel mukosa jugajaringan limfoid terkikis, sehingga pada proses pe...
3. Patofisiologi gangguan THT   a. Otitis Media Akut      PATOFISIOLOGI         Otitis Media Akut (OMA) biasanya disebabka...
Komplikasi dari infeksi saluran pernapasan atas                           Tuba eusthachii disfungsi                       ...
b. Faringitis    PARINGITIS           InfflamasiDemam                                 Edema mukosa                        ...
c. Patofisiologi tonsilitis               Bakteri                                          Virus     (dalam udara & makana...
d. Sinusitis   PATOFISIOLOGI      Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-astium sinus dan lancarnya   klirens muk...
4. Jenis-jenis pemeriksaan pada THT   TELINGA   Anamnesis       Anamnesis yang terarah diperlukan untuk menggali lebih dal...
otoskop untuk melihat lebih jelas bagian-bagian membrane timpani.Otoskop dipegangdengan tangan kanan untuk memeriksa telin...
HIDUNGKeluhan utama penyakit atau kelainan di hidung adalah   1) Sumbatan hidung   2) Sekret di hidung dan tenggorokan   3...
ini dimasukkan, suhu kaca dites dulu dengan menempelkannya pada kulit belakangtangan kiri pemeriksa.Pasien diminta membuka...
posisi lateral.Untuk menilai kompleks osteomeatal dilakukan pemeriksaan dengan CT  scan.  FARING DAN RONGGA MULUT  Keluhan...
Kontra Indikasi:       Penderita yang hipersensitif terhadap Chloramphenicol dan Lidocaine.- Perforasi       membran timpa...
Hati-hati penggunaan pada penderita dengan otitis media supuratif kronis.Aturan Pakai:Dewasa dan anak-anak:2 - 3 tetes, 2 ...
Cara Pemakaian:Teteskan de dalam lubang telinga 2-3 tetes, 3 kali sehari atau menurut petunjuk dokter.Peringatan dan Perha...
Overdosis       Jika terjadi overdosis, segera hubungi dokter dan bawa ke rumah sakit terdekat.       Ear Wax Removal Kit ...
Baru laporan modul 2 3
Baru laporan modul 2 3
Baru laporan modul 2 3
Baru laporan modul 2 3
Baru laporan modul 2 3
Baru laporan modul 2 3
Baru laporan modul 2 3
Baru laporan modul 2 3
Baru laporan modul 2 3
Baru laporan modul 2 3
Baru laporan modul 2 3
Baru laporan modul 2 3
Baru laporan modul 2 3
Baru laporan modul 2 3
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Baru laporan modul 2 3

7,717

Published on

laporan modul

1 Comment
2 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
7,717
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
76
Comments
1
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Baru laporan modul 2 3"

  1. 1. Modul IISkenario: Telinga berairAn. Z, 10 th, mengunjungi poliklinik THT dengan keluhan utama telinga berair disertai demam,keadaan ini dialami sejak 1 minggu yang lalu. Tidak ada riwayat trauma sebelumnya.Klienmengatakan nyeri pada saat menelan, ibu klien mengatakan nyeri pada saat menelan.Ibu klienmengatakan anaknya sering mengalami pilek yang berkepanjangan.Dari hasil pemeriksaantelinga ditemukan bahwa klian mengalami penurunan fungsi pendengaran, tonsil bengkak.A. Kata Kunci: Umur 10 tahun Telinga berair Demam Dialami sejak 1 minggu yang lalu Tidak ada riwayat trauma Nyeri pada saat menelan Sering mengalami pilek yang berkepanjangan Penurunan fungsi pendengaran Tonsil bengkak
  2. 2. B. Topic tree THT (Telinga Hidung Tenggorokan ) Pemeriksaan Anatomi fisiologi Gangguan THT Pemeriksaan fisik Etiologi Pemeriksaan diagnostik Patofisiologi Pemeriksaan Lab. Manifestasi klinik Penatalaksaan  Farmako  Non farmako AskepC. Pertanyaan penting 1. Jelaskan anatomi fisiologi THT (Telinga Hidung Tenggorokan)! 2. Jelaskan macam-macam gangguan THT (Telinga Hidung Tenggorokan)! 3. Jelaskan patofisiologi gangguan THT (Telinga Hidung Tenggorokan)! 4. Jelaskan jenis-jenis pemeriksaan pada THT! 5. Jelaskan penatalaksanaan dari gangguan THT! 6. Jelaskan AKSEP dari gangguan THT sesuai skenario!D. Jawaban pertanyaan penting 1. Anatomi fisiologi Anatomi dan Fisiologi Telinga Anatomi telinga dibagi atas telinga luar,telinga tengah,telinga dalam: a) Telinga Luar Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran tympani. Telinga luar atau pinna merupakan gabungan dari tulang rawan yang diliputi kulit. Daun
  3. 3. telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga (meatus akustikuseksternus) berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar, disepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjarserumen(modifikasikelenjar keringat = Kelenjar serumen) dan rambut. Kelenjar keringatterdapat pada seluruh kulit liang telinga. Pada dua pertiga bagian dalam hanya sedikitdijumpai kelenjar serumen, dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang.Panjangnya kira-kira 2,5 - 3 cm. Meatus dibatasi oleh kulit dengan sejumlah rambut,kelenjar sebasea, dan sejenis kelenjar keringat yang telah mengalami modifikasi menjadikelenjar seruminosa, yaitu kelenjar apokrin tubuler yang berkelok-kelok yangmenghasilkan zat lemak setengah padat berwarna kecoklat-coklatan yang dinamakanserumen (minyak telinga). Serumen berfungsi menangkap debu dan mencegah infeksi.
  4. 4. Gambar 2.1: Telinga luar, telinga tengah, telinga dalam. Potongan Frontal Telingab) Telinga Tengah Telinga tengah berbentuk kubus dengan :  Batas luar : Membran timpani  Batas depan : Tuba eustachius  Batas Bawah : Vena jugularis (bulbus jugularis)  Batas belakang : Aditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis.  Batas atas : Tegmen timpani (meningen / otak )  Batas dalam : Berturut-turut dari atas ke bawah kanalis semi sirkularis horizontal,kanalis fasialis,tingkap lonjong (oval window),tingkap bundar (round window) dan promontorium. Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telingadan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Bagian atas disebut Pars flaksida(Membran Shrapnell), sedangkan bagian bawah Pars Tensa (membrane propia). Pars
  5. 5. flaksida hanya berlapis dua, yaitu bagian luar ialah lanjutan epitel kulit liang telinga danbagian dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia, seperti epitel mukosa saluran napas. Parstensa mempunyai satu lapis lagi ditengah, yaitu lapisan yang terdiri dari serat kolagen dansedikit serat elastin yang berjalan secara radier dibagian luar dan sirkuler pada bagiandalam. Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membrane timpani disebutumbo. Dimembran timpani terdapat 2 macam serabut,sirkuler dan radier. Serabut inilahyang menyebabkan timbulnya reflek cahaya yang berupa kerucut.Membran timpanidibagi dalam 4 kuadran dengan menarik garis searah dengan prosesus longus maleus dangaris yang tegak lurus pada garis itu di umbo, sehingga didapatkan bagian atas-depan,atas-belakang, bawah-depan serta bawah belakang, untuk menyatakan letak perforasimembrane timpani. Didalam telinga tengah terdapat tulang-tulang pendengaran yang tersusun dariluar kedalam, yaitu maleus, inkus, dan stapes. Tulang pendengaran didalam telingatengah saling berhubungan . Prosesus longus maleus melekat pada membrane timpani,maleus melekat pada inkus dan inkus melekat pada stapes. Stapes terletak pada tingkaplonjong yang berhubungan dengan koklea. Hubungan antar tulang-tulang pendengaranmerupakan persendian. Telinga tengah dibatasi oleh epitel selapis gepeng yang terletak pada laminapropria yang tipis yang melekat erat pada periosteum yang berdekatan. Dalam telingatengah terdapat dua otot kecil yang melekat pada maleus dan stapes yang mempunyaifungsi konduksi suara. maleus, inkus, dan stapes diliputi oleh epitel selapis gepeng. Padapars flaksida terdapat daerah yang disebut atik. Ditempat ini terdapat aditus ad antrum,yaitu lubang yang menghubungkan telinga tengah dengan antrum mastoid. Tubaeustachius termasuk dalam telinga tengah yang menghubungkan daerah nasofaringdengan telinga tengah.
  6. 6. Gambar 2.2 : Membran Timpani1,2,3 Telinga tengah berhubungan dengan rongga faring melalui saluran eustachius(tuba auditiva), yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan tekanan antara kedua sisimembrane tympani. Tuba auditiva akan membuka ketika mulut menganga atau ketikamenelan makanan. Ketika terjadi suara yang sangat keras, membuka mulut merupakanusaha yang baik untuk mencegah pecahnya membran tympani. Karena ketika mulutterbuka, tuba auditiva membuka dan udara akan masuk melalui tuba auditiva ke telingatengah, sehingga menghasilkan tekanan yang sama antara permukaan dalam danpermukaan luar membran tympani.c) Telinga Dalam Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengahlingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis.Ujung ataupuncak koklea disebut holikotrema,menghubungkan perilimfa skala timpani dengan skalavestibuli. Kanalis semi sirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan membentuklingkaran yang tidak lengkap. Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibuli sebelah atas, skala timpanisebelah bawah dan skala media (duktus koklearis) diantaranya. Skala vestibuli dan skala
  7. 7. timpani berisi perilimfa, sedangkan skala media berisi endolimfa. Dasar skala vestibulidisebut sebagai membrane vestibuli (Reissner’s membrane) sedangkan dasar skala mediaadalah membrane basalis. Pada membran ini terletak organ corti. Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut membrantektoria, dan pada membran basal melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam,sel rambut luar dan kanalis corti, yang membentuk organ corti.
  8. 8. Gambar2.3 : Gambar labirin bagian membrane labirin bagian tulang, Telinga DalamKoklea bagian koklea labirin adalah suatu saluran melingkar yang pada manusia panjangnya 35mm. koklea bagian tulang membentuk 2,5 kali putaran yang mengelilingi sumbunya. Sumbu ini dinamakan modiolus, yang terdiri dari pembuluh darah dan saraf. Ruang di dalam koklea bagian tulang dibagi dua oleh dinding (septum). Bagian dalam dari septum ini terdiri dari lamina spiralis ossea. Bagian luarnya terdiri dari anyaman penyambung, lamina spiralis membranasea. Ruang yang mengandung perilimf ini dibagi menjadi: skala vestibule (bagian atas) dan skala timpani (bagian bawah). Kedua skala ini bertemu pada ujung koklea. Tempat ini dinamakan helicotrema. Skala vestibule bermula pada fenestra ovale dan skala timpani berakhir pada fenestra rotundum. Mulai dari pertemuan antara lamina spiralis membranasea kearah perifer atas, terdapat membrane yang dinamakan membrane reissner. Pada pertemuan kedua lamina ini, terbentuk saluran yang dibatasi oleh: 1. membrane reissner bagian atas 2. lamina spiralis membranasea bagian bawah 3. dinding luar koklea saluran ini dinamakan duktus koklearis atau koklea bagian membrane yang berisi endolimf. Dinding luar koklea ini dinamakan ligamentum spiralis.disini, terdapat stria vaskularis, tempat terbentuknya endolimf. Gambar2.4 :Koklea
  9. 9. Didalam lamina membranasea terdapat 20.000 serabut saraf.Pada membaranabasilaris (lamina spiralis membranasea) terdapat alat korti.Lebarnya membrane basilarisdari basis koklea sampai keatas bertambah dan lamina spiralis ossea berkurang.Nadadengan frekuensi tinggi berpengaruh pada basis koklea.Sebaliknya nada rendahberpengaruh dibagian atas (ujung) dari koklea. GAMBAR 2.5 : Organ korti 2,3 Pada bagian atas organ korti, terdapat suatu membrane, yaitu membrane tektoria.Membrane ini berpangkal pada Krista spiralis dan berhubungan dengan alat persepsi padaalat korti. Pada alat korti dapat ditemukan sel-sel penunjang, sel-sel persepsi yangmengandung rambut. Antara sel-sel korti ini terdapat ruangan (saluran) yang berisikortilimf. Duktus koklearis berhubungan dengan sakkulus dengan peralatan duktusreunions. Bagian dasar koklea yang terletak pada dinding medial cavum timpanimenimbulkan penonjolan pada dinding ini kearah cavum timpani. Tonjolan inidinamakan promontorium.Vestibulum Vestibulum letaknya diantara koklea dan kanalis semisirkularis yang juga berisiperilimf. Pada vestibulum bagian depan, terdapat lubang (foramen ovale) yangberhubungan dengan membrane timpani, tempat melekatnya telapak (foot plate) daristapes. Di dalam vestibulum, terdapat gelembung-gelembung bagian membrane sakkulusdan utrikulus. Gelembung-gelembung sakkulus dan utrikulus berhubungan satu sama laindengan perantaraan duktus utrikulosakkularis, yang bercabang melalui duktus
  10. 10. endolimfatikus yang berakhir pada suatu lilpatan dari duramater, yang terletak padabagian belakang os piramidalis. Lipatan ini dinamakan sakkus endolimfatikus. Saluran inibuntu. Sel-sel persepsi disini sebagai sel-sel rambut yang di kelilingi oleh sel-selpenunjang yang letaknya pada macula. Pada sakkulus, terdapat macula sakkuli.Sedangkan pada utrikulus, dinamakan macula utrikuli.Kanalis semisirkularisanlis Di kedua sisi kepala terdapat kanalis-kanalis semisirkularis yang tegak lurus satusama lain. didalam kanalis tulang, terdapat kanalis bagian membran yang terbenamdalam perilimf. Kanalis semisirkularis horizontal berbatasan dengan antrum mastoideumdan tampak sebagai tonjolan, tonjolan kanalis semisirkularis horizontalis (lateralis). Kanalis semisirkularis vertikal (posterior) berbatasan dengan fossa crania mediadan tampak pada permukaan atas os petrosus sebagai tonjolan, eminentia arkuata. Kanalissemisirkularis posterior tegak lurus dengan kanalis semi sirkularis superior. Kedua ujungyang tidak melebar dari kedua kanalis semisirkularis yang letaknya vertikal bersatu danbermuara pada vestibulum sebagai krus komunis. Kanalis semisirkularis membranasea letaknya didalam kanalis semisirkularisossea. Diantara kedua kanalis ini terdapat ruang berisi perilimf. Didalam kanalissemisirkularis membranasea terdapat endolimf. Pada tempat melebarnya kanalissemisirkularis ini terdapat sel-sel persepsi. Bagian ini dinamakan ampulla. Sel-sel persepsi yang ditunjang oleh sel-sel penunjang letaknya pada Kristaampularis yang menempati 1/3 dari lumen ampulla. Rambut-rambut dari sel persepsi inimengenai organ yang dinamakan kupula, suatu organ gelatinous yang mencapai atap dariampulla sehingga dapat menutup seluruh ampulla.Fisiologi pendengaran Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energy bunyi oleh daun telingadalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang kekoklea. Getarantersebut menggetarkan membran timpani diteruskan ketelinga tengah melalui rangkaian
  11. 11. tulang pendengaran yang akan mengimplikasi getaran melalui daya ungkit tulangpendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkaplonjong.Energi getar yang telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yangmenggerakkan tingkap lonjong sehingga perilimfa pada skala vestibule bergerak. Getaranditeruskan melalui membrane Reissner yang mendorong endolimfa,sehingga akanmenimbulkan gerak relative antara membran basilaris dan membran tektoria. Proses inimerupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-selrambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi penglepasan ion bermuatan listrik daribadan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehinggamelepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksipada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nucleus auditorius sampai ke kortekspendengaran (area 39-40) di lobus temporalis. Gambar 2.6 : Fisiologi Pendengaran
  12. 12. Anatomi dan fisiologi hidunga) Anatomi hidung Gambar 2.7 : Anatomi hidung Hidung merupakan organ penting yang seharusnya mendapat perhatian lebih daribiasanya dan hidung merupakan salah satu organ pelindung tubuh terhadap lingkunganyang tidak menguntungkan. Hidung terdiri atas hidung luar dan hidung dalam. Hidungluar menonjol pada garis tengah diantara pipi dengan bibir atas, struktur hidung luardapat dibedakan atas tiga bagian yaitu: paling atas kubah tulang yang tak dapatdigerakkan, dibawahnya terdapat kubah kartilago yang sedikit dapat digerakkan dan yangpaling bawah adalah lobolus hidung yang mudah digerakkan. Bagian puncak hidung biasanya disebut apeks.Agak keatas dan belakang dariapeks disebut batang hidung (dorsum nasi), yang berlanjut sampai kepangkal hidung danmenyatu dengan dahi.Yang disebut kolumela membranosa mulai dari apeks, yaitudiposterior bagian tengah pinggir dan terletak sebelah distal dari kartilago septum.Titikpertemuan kolumela dengan bibir atas dikenal sebagai dasar hidung.Disini bagian bibiratas membentuk cekungan dangkal memanjang dari atas kebawah yang disebut filtrum.Sebelah menyebelah kolumela adalah nares anterior atau nostril(Lubang hidung)kanandan kiri, sebelah latero-superior dibatasi oleh ala nasi dan sebelah inferior oleh dasarhidung.
  13. 13. Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi olehkulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan ataumenyempitkan lubang hidung.Bahagian hidung dalam terdiri atas struktur yangmembentang dari os internum disebelah anterior hingga koana di posterior, yangmemisahkan rongga hidung dari nasofaring. Rongga hidung atau kavum nasi berbentukterowongan dari depan kebelakang, dipisahkan oleh septum nasi dibagian tengahnyamenjadi kavum nasi kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk kavum nasi bagian depandisebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana)yangmenghubungkan kavum nasi dengan nasofaring. Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai ala nasi, tepat dibelakang naresanterior, disebut dengan vestibulum.Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang banyakkelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut dengan vibrise.Tiap kavumnasi mempunyai 4 buah dinding yaitu dinding medial, lateral, inferior dansuperior.Dinding medial hidung ialah septum nasi. Septum nasi ini dibentuk oleh tulangdan tulang rawan, dinding lateral terdapat konkha superior, konkha media dan konkhainferior. Yang terbesar dan letaknya paling bawah ialah konkha inferior, kemudian yanglebih kecil adalah konka media, yang lebih kecil lagi konka superior, sedangkanyangterkecil ialah konka suprema dan konka suprema biasanya rudimenter. Konkainferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin etmoid,sedangkan konka media, superior dan suprema merupakan bagian dari labirinetmoid.Celah antara konka inferior dengan dasar hidung dinamakan meatus inferior,berikutnya celah antara konkha media dan inferior disebut meatus media dan sebelah ataskonkha media disebut meatus superior. Meatus medius merupakan salah satu celah yang penting dan merupakan celahyang lebih luas dibandingkan dengan meatus superior.Disini terdapat muara dari sinusmaksilla, sinus frontal dan bahagian anterior sinus etmoid. Dibalik bagian anterior konkamedia yang letaknya menggantung, pada dinding lateral terdapat celah yang berbentukbulat sabit yang dikenal sebagai infundibulum. Ada suatu muara atau fisura yangberbentuk bulan sabit menghubungkan meatus medius dengan infundibulum yangdinamakan hiatus semilunaris.Dinding inferior dan medial infundibulum membentuktonjolan yang berbentuk seperti laci dan dikenal sebagai prosesus unsinatus.
  14. 14. Di bagian atap dan lateral dari rongga hidung terdapat sinus yang terdiri atas sinusmaksilla, etmoid, frontalis dan sphenoid. Dan sinus maksilla merupakan sinus paranasalterbesar diantara lainnya, yang berbentuk pyramid iregular dengan dasarnya menghadapke fossa nasalis dan puncaknya kearah apek prosesus zigomatikus os maksilla. Dasar cavum nasi dibentuk oleh os frontale da os palatinus sedangkan atap cavumnasi adalah celah sempit yang dibentuk oleh os frontale dan os sphenoidale. Membranamukosa olfaktorius, pada bagian atap dan bagian cavum nasi yang berdekatan,mengandung sel saraf khusus yang mendeteksi bau. Dari sel-sel ini serat saraf melewatilamina cribriformis os frontale dan kedalam bulbus olfaktorius nervus cranialis Iolfaktorius. Perdarahan hidungSecara garis besar perdarahan hidung berasal dari 3 sumber utama yaitu: 1. Arteri Etmoidalis anterior 2. Arteri Etmoidalis posterior cabang dari arteri oftalmika 3. Arteri Sfenopalatina, cabang terminal arteri maksilaris interna yang berasal dari arteri karotis eksterna. Gambar 2.8 : Sistem Vaskularisasi Hidung Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang arteri maksilarisinterna, diantaranya ialah ujung arteri palatina mayor dan arteri sfenopalatina yang keluardari foramen sfenopalatina bersama nervus sfenopalatina dan memasuki rongga hidung
  15. 15. dibelakang ujung posterior konka media.Bagian depan hidung mendapat pendarahan daricabang-cabang arteri fasialis. Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang arterisfenopalatina, arteri etmoid anterior, arteri labialis superior dan arteri palatina mayor,yang disebut pleksus kieesselbach (little’s area). Pleksus Kiesselbach letaknyasuperfisialis dan mudah cedera oleh truma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis. Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingandengan arterinya. Vena divestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke venaoftalmika yang berhubungan dengan sinus kavernesus. Persyarafan hidung Gambar 2.9 :PersarafanHidung Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari nervusetmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari nervus nasosiliaris, yang berasal darinervus oftalmikus. Saraf sensoris untuk hidung terutama berasal dari cabang oftalmikusdan cabang maksilaris nervus trigeminus.Cabang pertama nervus trigeminus yaitu nervusoftalmikus memberikan cabang nervus nasosiliaris yang kemudian bercabang lagimenjadi nervus etmoidalis anterior dan etmoidalis posterior dan nervusinfratroklearis.Nervus etmoidalis anterior berjalan melewati lamina kribrosa bagiananterior dan memasuki hidung bersama arteri etmoidalis anterior melalui foramenetmoidalis anterior, dan disini terbagi lagi menjadi cabang nasalis internus medial dan
  16. 16. lateral.Rongga hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari nervusmaksila melalui ganglion sfenopalatinum.Ganglion sfenopalatina, selain memberipersarafan sensoris, juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosahidung.Ganglion ini menerima serabut serabut sensorid dari nervus maksila.Serabutparasimpatis dari nervus petrosus profundus.Ganglion sfenopalatinum terletak dibelakangdan sedikit diatas ujung posterior konkha media. Nervus Olfaktorius turun melalui lamina kribosa dari permukaan bawah bulbusolfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidupada mukosaolfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.b) Fisiologi hidung Hidung berfungsi sebagai indra penghidu , menyiapkan udara inhalasi agar dapatdigunakan paru serta fungsi filtrasi. Sebagai fungsi penghidu, hidung memiliki epitelolfaktorius berlapis semu yang berwarna kecoklatan yang mempunyai tiga macam sel-selsyaraf yaitu sel penunjang, sel basal dan sel olfaktorius. Fungsi filtrasi, memanaskan danmelembabkan udara inspirasi akan melindungi saluran napas dibawahnya dari kerusakan.Partikel yang besarnya 5-6 mikrometer atau lebih, 85 % -90% disaring didalam hidungdengan bantuan TMS. Fungsi hidung terbagi atas beberapa fungsi utama yaitu (1)Sebagaijalan nafas, (2) Alat pengatur kondisi udara, (3) Penyaring udara, (4) Sebagai indrapenghidu, (5) Untuk resonansi suara, (6) Turut membantuproses bicara,(7) Reflek nasal.Sistem Mukosiliara) Histologi mukosa Luas permukaan kavum nasi kurang lebih 150 cm2 dan total volumenya sekitar15 ml. Sebagian besar dilapisi oleh mukosa respiratorius.Secara histologis, mukosahidung terdiri dari palut lendir (mucous blanket), epitel kolumnar berlapis semu bersilia,membrana basalis, lamina propria yang terdiri dari lapisan subepitelial, lapisan media danlapisan kelenjar profunda.
  17. 17. Gambar2.10 :gambaran histology mukosahidungb) Epitel Epitel mukosa hidung terdiri dari beberapa jenis, yaitu epitel skuamous komplekspada vestibulum, epitel transisional terletak tepat di belakang vestibulum dan epitelkolumnar berlapis semu bersilia pada sebagian mukosa respiratorius.Epitel kolumnarsebagian besar memiliki silia.Sel-sel bersilia ini memiliki banyak mitokondria yangsebagian besar berkelompok pada bagian apeks sel. Mitokondria ini merupakan sumberenergi utama sel yang diperlukan untuk kerja silia.Sel goblet merupakan kelenjaruniseluler yang menghasilkan mukus, sedangkan sel basal merupakan sel primitif yangmerupakan sel bakal dari epitel dan sel goblet.Sel goblet atau kelenjar mukus merupakansel tunggal, menghasilkan protein polisakarida yang membentuk lendir dalamair.Distribusi dan kepadatan sel goblet tertinggi di daerah konka inferior sebanyak 11.000sel/mm2 dan terendah di septum nasi sebanyak 5700 sel/mm2.Sel basal tidak pernahmencapai permukaan.Sel kolumnar pada lapisan epitel ini tidak semuanya memiliki silia.Kavum nasi bagian anterior pada tepi bawah konka inferior 1 cm dari tepi depanmemperlihatkan sedikit silia (10%) dari total permukaan. Lebih kebelakang epitel bersiliamenutupi 2/3 posterior kavum nasi. Silia merupakan struktur yang menonjol dari permukaan sel. Bentuknya panjang,dibungkus oleh membran sel dan bersifat mobile. Jumlah silia dapat mencapai 200 buahpada tiap sel. Panjangnya antara 2-6 μm dengan diameter 0,3 μm. Struktur silia terbentukdari dua mikrotubulus sentral tunggal yang dikelilingi sembilan pasang mikrotubulus
  18. 18. luar. Masing-masing mikrotubulus dihubungkan satu sama lain oleh bahan elastis yangdisebut neksin dan jari-jari radial. Tiap silia tertanam pada badan basal yang letaknyatepat dibawah permukaan sel. Pola gerakan silia yaitu gerakan cepat dan tiba-tiba ke salah satu arah (activestroke) dengan ujungnya menyentuh lapisan mukoid sehingga menggerakan lapisanini..Kemudian silia bergerak kembali lebih lambat dengan ujung tidak mencapai lapisantadi (recovery stroke). Perbandingan durasi geraknya kira-kira 1 : 3. Dengan demikiangerakan silia seolah-olah menyerupai ayunan tangan seorang perenang. Silia ini tidakbergerak secara serentak, tetapi berurutan seperti efek domino (metachronical waves)pada satu area arahnya sama. Gerak silia terjadi karena mikrotubulus saling meluncur satu sama lainnya.Sumber energinya ATP yang berasal dari mitokondria.ATP berasal dari pemecahan ADPoleh ATPase.ATP berada di lengan dinein yang menghubungkan mikrotubulus dalampasangannya. Sedangkan antarapasangan yang satu dengan yang lain dihubungkandengan bahan elastis yang diduga neksin. Mikrovilia merupakan penonjolan dengan panjang maksimal 2 μm dandiameternya 0,1 μm atau 1/3 diameter silia. Mikrovilia tidak bergerak seperti silia.Semuaepitel kolumnar bersilia atau tidak bersilia memiliki mikrovilia pada permukaannya.Jumlahnya mencapai 300-400 buah tiap sel. Tiap sel panjangnya sama. Mikrovilia bukanmerupakan bakal silia.Mikrovilia merupakan perluasan membran sel, yang menambahluas permukaan sel. Mikrovilia ini membantu pertukaran cairan dan elektrolit dari dan kedalam sel epitel.Dengan demikian mencegah kekeringan permukaaan sel, sehinggamenjaga kelembaban yang lebih baik dibanding dengan sel epitel gepeng.c) Palut lendir Palut lendir merupakan lembaran yang tipis, lengket dan liat, merupakan bahanyang disekresikan oleh sel goblet, kelenjar seromukus dan kelenjar lakrimal.Terdiri daridua lapisan yaitu lapisan yang menyelimuti batang silia dan mikrovili (sol layer) yangdisebut lapisan perisiliar.Lapisan ini lebih tipis dan kurang lengket.Kedua adalah lapisansuperfisial yang lebih kental (gel layer) yang ditembus oleh batang silia bila sedang tegak
  19. 19. sepenuhnya.Lapisan superfisial ini merupakan gumpalan lendir yang tidakberkesinambungan yang menumpang pada cairan perisiliar dibawahnya. Cairan perisiliar mengandung glikoprotein mukus, protein serum, protein sekresidengan berat molekul rendah.Lapisan ini sangat berperanan penting pada gerakan silia,karena sebagian besar batang silia berada dalam lapisan ini, sedangkan denyutan siliaterjadi di dalam cairan ini.Lapisan superfisial yang lebih tebal utamanya mengandungmukus.Diduga mukoglikoprotein ini yang menangkap partikel terinhalasi dandikeluarkan oleh gerakan mukosiliar, menelan dan bersin.Lapisan ini juga berfungsisebagai pelindung pada temperatur dingin, kelembaban rendah, gas atau aerosol yangterinhalasi serta menginaktifkan virus yang terperangkap. Kedalaman cairan perisiliar sangat penting untuk mengatur interaksi antara siliadan palut lendir, serta sangat menentukan pengaturan transportasi mukosiliar. Padalapisan perisiliar yang dangkal, maka lapisan superfisial yang pekat akan masuk ke dalamruang perisiliar. Sebaliknya pada keadaan peningkatan perisiliar, maka ujung silia tidakakan mencapai lapisan superfiasial yang dapat mengakibatkan kekuatan aktivitas siliaterbatas atau terhenti sama sekali (Sakakura 1994).d) Membrana basalis Membrana basalis terdiri atas lapisan tipis membran rangkap dibawah epitel.Dibawah lapisan rangkap ini terdapat lapisan yang lebih tebal yang terdiri dari atas kolagendan fibril retikulin.e) Lamina propria Lamina propria merupakan lapisan dibawah membrana basalis. Lapisan ini dibagiatas empat bagian yaitu lapisan subepitelial yang kaya akan sel, lapisan kelenjarsuperfisial, lapisan media yang banyak sinusoid kavernosus dan lapisan kelenjarprofundus. Lamina propria ini terdiri dari sel jaringan ikat, serabut jaringan ikat,substansi dasar, kelenjar, pembuluh darah dan saraf. Mukosa pada sinus paranasal merupakan lanjutan dari mukosa hidung.Mukosanyalebih tipis dan kelenjarnya lebih sedikit.Epitel toraknya berlapis semu bersilia, bertumpupada membran basal yang tipis dan lamina propria yang melekat erat dengan periosteum
  20. 20. dibawahnya. Silia lebih banyak dekat ostium, gerakannya akan mengalirkan lendir kearah hidung melalui ostium masing-masing. Diantara semua sinus paranasal, maka sinusmaksila mempunyai kepadatan sel goblet yang paling tinggi.f) Transportasi mukosiliar Transportasi mukosiliar hidung adalah suatu mekanisme mukosa hidung untukmembersihkan dirinya dengan mengangkut partikel-partikel asing yang terperangkappada palut lendir ke arah nasofaring.Merupakan fungsi pertahanan lokal pada mukosahidung.Transportasi mukosiliar disebut juga clearance mukosiliar. Transportasi mukosiliar terdiri dari dua sistem yang merupakan gabungan darilapisan mukosa dan epitel yang bekerja secara simultan.Sistem ini tergantung darigerakan aktif silia yang mendorong gumpalan mukus.Lapisan mukosa mengandungenzim lisozim (muramidase), dimana enzim ini dapat merusak beberapa bakteri.Enzimtersebut sangat mirip dengan imunoglobulin A (Ig A), dengan ditambah beberapa zatimunologik yang berasal dari sekresi sel. Imunoglobulin G (Ig G) dan interferon dapatjuga ditemukan pada sekret hidung sewaktu serangan akut infeksi virus.Ujung siliatersebut dalam keadaan tegak dan masuk menembus gumpalan mukus kemudianmenggerakkannya ke arah posterior bersama materi asing yang terperangkap didalamnyake arah faring. Cairan perisilia dibawahnya akan dialirkan ke arah posterior oleh aktivitassilia, tetapi mekanismenya belum diketahui secara pasti. Transportasi mukosilia yangbergerak secara aktif ini sangat penting untuk kesehatan tubuh. Bila sistem ini tidakbekerja secara sempurna maka materi yang terperangkap oleh palut lendir akanmenembus mukosa dan menimbulkan penyakit. Karena pergerakan silia lebih aktif pada meatus media dan inferior maka gerakanmukus dalam hidung umumnya ke belakang, silia cenderung akan menarik lapisan mukusdari meatus komunis ke dalam celah-celah ini. Sedangkan arah gerakan silia pada sinusseperti spiral, dimulai dari tempat yang jauh dari ostium.Kecepatan gerakan siliabertambah secara progresifsaat mencapai ostium, dan pada daerah ostium silia tersebutberputar dengan kecepatan 15 hingga 20 mm/menit.
  21. 21. Kecepatan gerakan mukus oleh kerja silia berbeda di berbagai bagian hidung.Padasegmen hidung anterior kecepatan gerakan silianya mungkin hanya 1/6 segmen posterior,sekitar 1 hingga 20 mm/menit. Pada dinding lateral rongga hidung sekret dari sinus maksila akan bergabungdengan sekret yang berasal dari sinus frontal dan etmoid anterior di dekat infundibulumetmoid, kemudian melalui anteroinferior orifisium tuba eustachius akan dialirkan ke arahnasofaring. Sekret yang berasal dari sinus etmoid posterior dan sfenoid akan bergabungdi resesus sfenoetmoid, kemudian melalui posteroinferior orifisium tuba eustachiusmenuju nasofaring. Dari rongga nasofaring mukus turun kebawah oleh gerakan menelan.g) Pemeriksaan fungsi mukosiliar Fungsi pembersih mukosiliar atau transportasi mukosiliar dapat diperiksa denganmenggunakan partikel, baik yang larut maupun tidak larut dalam air. Zat yang bisa larutseperti sakarin, obat topikal, atau gas inhalasi, sedangkan yang tidak larut adalah lampblack, colloid sulfur, 600-um alluminium disc atau substansi radioaktif seperti humanserum albumin, teflon, bismuth trioxide. Sebagai pengganti partikel dapat digunakan sakarin yang disebut uji sakarin.Ujiini telah dilakukan oleh Anderson dan kawan pada tahun 1974dan sampai sekarangbanyak dipakai untuk pemeriksaan rutin.Uji sakarin cukup ideal untuk penggunaan diklinik.Penderita di periksa dalam kondisi standar dan diminta untuk tidak menghirup,makan atau minum, batuk dan bersin.Penderita duduk dengan posisi kepala fleksi 10derajat. Setengah mm sakarin diletakkan 1 cm di belakang batas anterior konka inferior,kemudian penderita diminta untuk menelan secara periodik tertentu kira-kira 1/2-1 menitsampai penderita merasakan manis. Waktu dari mulai sakarin diletakkan di bawah konkainferior sampai merasakan manis dicatat dan disebut sebagai waktu transportasimukosiliar atau waktu sakarin. Dengan menggunakan bahan celupan, warna dapat dilihatdi orofaring. Transportasi mukosiliar normal sangat bervariasi.Mahakit (1994) mendapatkanwaktu transportasi mukosiliar normal adalah 12 menit. Sedangkan pada penderitasinusitis, waktu transportasi mukosiliar adalah 16,6 ± 7 menit. Waguespack (1995)
  22. 22. mendapatkan nilai rata-rata adalah 12-15 menit. Elynawaty (2002) dalam penelitianmendapatkan nilai normal pada kontrol adalah 7,61 menit untuk wanita dan 9,08 menituntuk pria.Anatomi dan fisiologi tenggorokana) Anatomi Tenggorokan Tenggorokan merupakan bagian dari leher depan dan kolumna vertebra, terdiridari faringdan laring. Bagian terpenting dari tenggorokan adalah epiglottis, ini menutupjika ada makanandan minuman yang lewat dan menuju esophagus. Rongga mulut dan faring dibagi menjadi beberapa bagian. Rongga mulut terletakdi depanbatas bebas palatum mole, arkus faringeus anterior dan dasar lidah.Bibir dan pipiterutamadisusun oleh sebagian besar otot orbikularis oris yang dipersarafi oleh nervusfasialis. Vermilionberwarna merah karena ditutupi lapisan sel skuamosa. Ruangandiantara mukosa pipi bagiandalam dan gigi adalah vestibulum oris. Palatum dibentuk oleh dua bagian: premaksila yang berisi gigi seri dan berasalprosesusnasalis media, dan palatum posterior baik palatum durum dan palatum mole,dibentuk olehgabungan dari prosesus palatum, oleh karena itu, celah palatum terdapatgaris tengah belakangtetapi dapat terjadi kearah maksila depan. Lidah dibentuk dari beberapa tonjolan epitel didasar mulut. Lidah bagian depanterutamaberasal dari daerah brankial pertama dan dipersarafi oleh nervus lingualis dengancabang kordatimpani dari saraf fasialis yang mempersarafi cita rasa dan sekresi kelenjarsubmandibula. Saraf glosofaringeus mempersarafi rasa dari sepertiga lidah bagianbelakang.Otot lidah berasal darimiotom posbrankial yang bermigrasi sepanjang duktustiroglosus ke leher. Kelenjar liur tumbuhsebagai kantong dari epitel mulut yang terletakdekat sebelah depan saraf-saraf penting. Duktussub mandibularis dilalui oleh saraflingualis. Saraf fasialis melekat pada kelenjar parotis. Faring bagian dari leher dan tenggorokan bagian belakang mulut.Faring adalahsuatukantong fibromuskuler yang bentuknya seperti corong, yang besar di bagian atasdan sempit dibagian bawah.Kantong ini mulai dari dasar tengkorak terus menyambung ke
  23. 23. esophagus setinggivertebra servikalis ke enam. Ke atas, faring berhubungan denganrongga hidung melalui koana,ke depan berhubungan dengan rongga mulut melaluiisthmus orofaring, sedangkan dengan laringdibawah berhubungan melalui aditus laringdan kebawah berhubungan dengan esophagus.Panjang dinding posterior faring padaorang dewasa kurang lebih empat belas centimeter; bagianini merupakan bagian dindingfaring yang terpanjang. Dinding faring dibentuk oleh selaput lender, fasia faringobasiler,pembungkus otot dan sebagian fasia bukofaringeal.Faring terbagi atas nasofaring,orofaring, dan laringofaring (hipofaring). Pada mukosa dinding belakang faring terdapat dasar tulang oksiput inferior,kemudianbagian depan tulang atas dan sumbu badan, dan vertebra servikalis lain.Nasofaring membuka kearah depan hidung melalui koana posterior. Superior, adenoidterletak pada mukosa atap nasofaring.Disamping, muara tuba eustachius kartilaginosaterdapat didepan lekukan yangdisebut fosa rosenmuller.Otot tensor velipalatini,merupakan otot yang menegangkan palatumdan membuka tuba eustachius masuk kefaring melalui ruangan ini. Orofaring kearah depan berhubungan dengan rongga mulut. Tonsila faringealdalamkapsulnya terletak pada mukosa pada dinding lateral rongga mulut. Didepantonsila, arcus faringanterior disusun oleh otot palatoglossus, dan dibelakang dari arkusfaring posterior disusun olehotot palatofaringeus, otot-otot ini membantu menutupnyaorofaring bagian posterior. Semuadipersarafi oleh pleksus faringeus.b) Vaskularisasi. Berasal dari beberapa sumber dan kadang-kadang tidak beraturan.Yang utamaberasal daricabang a. Karotis ekstern serta dari cabang a.maksilaris interna yakni cabangpalatine superior.c) Persarafan Persarafan motorik dan sensorik daerah faring berasal dari pleksus faring yangekstensif.Pleksus ini dibentuk oleh cabang dari n.vagus, cabang dari n.glosofaringeus danserabut simpatis.Cabang faring dari n.vagus berisi serabut motorik.Dari pleksus faring
  24. 24. yang ekstensif ini keluar untuk otot-otot faring kecuali m.stilofaringeus yang dipersarafilangsung oleh cabangn.glossofaringeus.d) Kelenjar Getah Bening Aliran limfe dari dinding faring dapat melalui 3 saluran yaitu superior,media daninferior. Saluran limfe superior mengalir ke kelenjar getah bening retrofaring dan kelenjargetah bening servikal dalam atas.Saluran limfe media mengalir ke kelenjar getah beningjugulodigastrik dan kelenjar getah bening servikal dalam atas, sedangkan saluran limfeinferior mengalir ke kelenjar getah bening servikal dalam bawah.Berdasarkan letak, faring dibagi atas:a) Nasofaring Berhubungan erat dengan beberapa struktur penting misalnya adenoid, jaringan limfoid pada dinding lareral faring dengan resessus faring yang disebut fosa rosenmuller, kantong rathke, yang merupakan invaginasi struktur embrional hipofisis serebri, torus tubarius, suatu refleksi mukosa faring diatas penonjolan kartilago tuba eustachius, konka foramen jugulare, yang dilalui oleh nervus glosofaring, nervus vagus dan nervus asesorius spinal saraf kranial dan vena jugularis interna bagian petrosus os.tempolaris dan foramen laserum dan muara tuba eustachius. Gambar 2.11. Anatomi faring dan struktur sekitarnya
  25. 25. b) Orofaring Disebut juga mesofaring dengan batas atasnya adalah palatum mole, batas bawahnya adalah tepi atas epiglotis kedepan adalah rongga mulut sedangkan kebelakang adalah vertebra servikal.Struktur yang terdapat dirongga orofaring adalah dinding posterior faring, tonsil palatina fosa tonsil serta arkus faring anterior dan posterior, uvula, tonsil lingual dan foramen sekum.e) Dinding Posterior Faring Secara klinik dinding posterior faring penting karena ikut terlibat pada radangakut atau radang kronik faring, abses retrofaring, serta gangguan otot bagiantersebut.Gangguan otot posterior faring bersama-sama dengan otot palatum moleberhubungan dengan gangguan n.vagus.f) Fosa tonsil Fosa tonsil dibatasi oleh arkus faring anterior dan posterior.Batas lateralnyaadalah m.konstriktor faring superior.Pada batas atas yang disebut kutub atas (upper pole)terdapat suatu ruang kecil yang dinamakan fossa supratonsil.Fosa ini berisi jaringan ikatjarang dan biasanya merupakan tempat nanah memecah ke luar bila terjadi abses.Fosatonsil diliputi oleh fasia yang merupakan bagian dari fasia bukofaring dan disebu kapsulyang sebenar- benarnya bukan merupakan kapsul yang sebena-benarnya.g) Tonsil Tonsil adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang olehjaringanikat dengan kriptus didalamnya. Terdapat macam tonsil yaitu tonsil faringal (adenoid), tonsil palatina dan tonsillingual yang ketiga-tiganya membentuk lingkaran yang disebut cincin waldeyer.Tonsilpalatina yang biasanya disebut tonsil saja terletak di dalam fosa tonsil.Pada kutub atastonsil seringkali ditemukan celah intratonsil yang merupakan sisa kantong faring yangkedua.Kutub bawah tonsil biasanya melekat pada dasar lidah. Permukaan medial tonsil bentuknya beraneka ragam dan mempunyai celah yangdisebut kriptus.Epitel yang melapisi tonsil ialah epitel skuamosa yang juga meliputi
  26. 26. kriptus.Di dalam kriptus biasanya biasanya ditemukan leukosit, limfosit, epitel yangterlepas, bakteri dan sisa makanan. Permukaan lateral tonsil melekat pada fasia faring yang sering juga disebut kapsultonsil. Kapsul ini tidak melekat erat pada otot faring, sehingga mudah dilakukan diseksipada tonsilektomi.Tonsil mendapat darah dari a.palatina minor, a.palatina ascendens,cabang tonsil a.maksila eksterna, a.faring ascendens dan a.lingualis dorsal. Tonsil lingual terletak di dasar lidah dan dibagi menjadi dua oleh ligamentumglosoepiglotika. Di garis tengah, di sebelah anterior massa ini terdapat foramen sekumpada apeks, yaitu sudut yang terbentuk oleh papila sirkumvalata. Tempat ini kadang-kadang menunjukkan penjalaran duktustiroglosus dan secara klinik merupakan tempatpenting bila ada massa tiroid lingual (lingual thyroid) atau kista duktus tiroglosus. Infeksi dapat terjadi di antara kapsul tonsila dan ruangan sekitar jaringandan dapatmeluas keatas pada dasar palatum mole sebagai abses peritonsilar.h) Laringofaring (hipofaring) Batas laringofaring disebelah superior adalah tepi atas yaitu dibawah valekulaepiglotis berfungsi untuk melindungi glotis ketika menelan minuman atau bolus makananpada saat bolus tersebut menuju ke sinus piriformis (muara glotis bagian medial danlateral terdapat ruangan) dan ke esofagus, nervus laring superior berjalan dibawah dasarsinus piriformis pada tiap sisi laringofaring.Sinus piriformis terletak di antara lipatanariepiglotika dan kartilago tiroid.Batas anteriornya adalah laring, batas inferior adalahesofagus serta batas posterior adalah vertebra servikal.Lebih ke bawah lagi terdapat otot-otot dari lamina krikoid dan di bawahnya terdapat muara esofagus. Bila laringofaring diperiksa dengan kaca tenggorok pada pemeriksaan laring tidaklangsung atau dengan laringoskop pada pemeriksaan laring langsung, maka strukturpertama yang tampak di bawah dasar lidah ialah valekula. Bagian ini merupakan duabuah cekungan yang dibentuk oleh ligamentum glosoepiglotika medial dan ligamentumglosoepiglotika lateral pada tiap sisi. Valekula disebut juga kantong pil´ ( pill pockets),sebab pada beberapa orang, kadang-kadang bila menelan pil akan tersangkut disitu.
  27. 27. Dibawah valekula terdapat epiglotis. Pada bayi epiglotis ini berbentuk omega danperkembangannya akan lebih melebar, meskipun kadang-kadang bentuk infantil (bentukomega) ini tetap sampai dewasa. Dalam perkembangannya, epiglotis ini dapat menjadidemikian lebar dan tipisnya sehingga pada pemeriksaan laringoskopi tidak langsungtampak menutupi pita suara.Epiglotis berfungsi juga untuk melindungi (proteksi) glotisketika menelan minuman atau bolus makanan, pada saat bolus tersebut menuju ke sinuspiriformis dan ke esofagus.2Nervus laring superior berjalan dibawah dasar sinuspiriformis pada tiap sisi laringofaring.Hal ini penting untuk diketahui pada pemberiananestesia lokal di faring dan laring pada tindakan laringoskopi langsung.i) Fisiologi Tenggorokan Fungsi faring yang terutama ialah untuk respirasi, waktu menelan, resonasi suaradan untuk artikulasi. Proses menelan Proses penelanan dibagi menjadi tiga tahap. Pertama gerakan makanan dari mulut ke faring secara volunter.Tahap kedua, transport makanan melalui faring dan tahap ketiga, jalannya bolus melalui esofagus, keduanya secara involunter. Langkah yang sebenarnya adalah: pengunyahan makanan dilakukan pada sepertiga tengah lidah. Elevasi lidah dan palatum mole mendorong bolus ke orofaring.Otot supra hiod berkontraksi, elevasi tulang hioid dan laring intrinsik berkontraksi dalam gerakan seperti sfingter untuk mencegah aspirasi. Gerakan yang kuat dari lidah bagian belakang akan mendorong makanan kebawah melalui orofaring, gerakan dibantu oleh kontraksi otot konstriktor faringis media dan superior. Bolus dibawa melalui introitus esofagus ketika otot konstriktor faringis inferior berkontraksi dan otot krikofaringeus berelaksasi. Peristaltik dibantu oleh gaya berat, menggerakkan makanan melalui esofagus dan masuk ke lambung. Proses Berbicara Pada saat berbicara dan menelan terjadi gerakan terpadu dari otot-otot palatum dan faring.Gerakan ini antara lain berupa pendekatan palatum mole kearah dinding belakang faring.Gerakan penutupan ini terjadi sangat cepat dan melibatkan mula-mula m.salpingofaring dan m.palatofaring, kemudian m.levator veli palatine bersama-sama m.konstriktor faring superior.Pada gerakan penutupan
  28. 28. nasofaring m.levator veli palatini menarik palatum mole ke atas belakang hampir mengenai dinding posterior faring. Jarak yang tersisa ini diisi oleh tonjolan (fold of) Passavant pada dinding belakang faring yang terjadi akibat 2 macam mekanisme, yaitu pengangkatan faring sebagai hasil gerakan m.palatofaring (bersama m,salpingofaring) oleh kontraksi aktif m.konstriktor faring superior. Mungkin kedua gerakan ini bekerja tidak pada waktu bersamaan.2. Macam-macam gangguan THT a. Kelainan Telinga Luar DAUN TELINGA 1) Kelainan congenital Perkembangan daun telinga dimulai pada minggu ketiga kehidupan embrio dengan terbentuknya arkus brakialis pertama atau arkus mandibula dan arkus brakialis kedua atau arkus hyoid.Pada minggu keenam arkus brakialis ini mengalami diferensiasi menjadi enam buah tuberkeler. Secara bertahap daun telinga akan terbentuk dari penggabungan keenam tuberkeler ini. Pada keadaan normal dibulan ketiga daun telinga sudah lengkap terbentuk. Bila penggabungan tuberkeler tidak sempurna maka timbul fistel preaurikuler Fistula Preaurikula Terjadi bila terdapat kegagalan penggabungan tuberkeler kesatu atau dua teberkeler ke dua.Fistel jenis ini merupakan kelainan herediter yang bersifat dominan. Sering ditemukan di depan tragus berbentuk bulat atau lonjong dengan ukuran seujunga pensil. Mikrotia dan Atresia Liang Telinga Pada mikrotia, daun telinga bentuknya lebih kecil dan tak sempurna. Kelainan bentuk ini sering kali disertai dengan tidak terbentuknya (atresia) liang telinga dan kelainan tulang pendengaran. Telinga camplang Daun telinga tampak lebih besar dan lebih menonjol.Fungsi pendengaran tidak terganggu.Namun karena bentuknya yang tidak normal serta tidak enak
  29. 29. dipandang kadang kala menimbulkan masalah psikis sehingga perlu dilakukan operasi otoplasti. 2) Kelainan yang didapat Hematoma Hematoma daun telinga biasanya disebabkan oleh trauma.Terdapat kumpulan darah diantara perikondrium dan tulang rawan. Kumpulan darah ini harus dikeluarkan secara steril guna mencegah terjadinya infeksi yang nantinya dapat menyebabkan terjadinya perikondritis. Perikondritis Perikondritis adalah radang pada tulang rawan yang menjadi kerangka daun telinga.Biasanya terjadi karena trauma akibat kecelakaan, operasi daun telinga yang terinfeksi dan sebagai komplikasi pseudokista daun telinga. Pseuodokista Terdapat benjolan di daun telinga yang disebabkan oleh adanya kumpulan cairan kekuningan diantara lapisan perikondrium dan tulang rawan telinga.LIANG TELINGA1) Otitis ekterna Otitis eksterna ialah radang liang telinga akut maupun kronis yang disebabkan infeksi jamur, bakteri dan virus. Faktor yang mempermudah radang telinga luar ialah perubahan pH di liang telinga, yang biasanya normal atau asam. Bila pH menjadi basa, proteksi terhadap infeksi menurun.Pada keadaan udara yang hangat dan lembab, kuman dan jamur mudah tumbuh. Predisposisi otitis eksterna yang lain adalah trauma ringan ketika mengorek telinga.
  30. 30. 2) Otitis eksterna akut Otitis eksterna sirkumskripta (furunkel=bisul) Oleh karena kulit disepertiga luar liang telinga mengandung adneksa kulit, seperti folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar serumen, maka ditempat itu dapat terjadi infeksi pada pilosebaseus, sehingga membentuk furunkel.Kuman penyebab biasanya staphylococcus aureus atau staphylococcus albus. Gejalanya ialah rasa nyeri yang hebat, tidak sesuai dengan besar bisul. Hal ini disebabkan karena kulit liang telinga tidak mengandung jaringan longgar dibawahnya, sehingga rasa nyeri timbul pada penekanan perikondrium. Rasa nyeri dapat juga timbul spontan pada waktu membuka mulut (sendi temporomandibula).Selain itu terdapat juga gangguan pendengaran, bila furukel besar dan menyumbat daun telinga. Otitis eksterna difus Biasanya mengenai kulit liang telinga duapertiga dalam. Tampak kulit liang telinga hiperemis dan edema yang tidak jelas batas-batasnya.Kuman penyebab biasanya golongan Pseudomonas. Kuman lain yang dapat sebagai penyebab ialah Staphylococcus albus, Escherichia coli dan sebagainya. Otitis eksterna difus dapat juga terjadi sekunder pada otitis media supuratif kronis. Gejalanya adalah nyeri tekan tragus, liang telinga sangat sempit, kadang kelenjar getah bening regional membesar dan nyeri teka, terdapat secret yang berbau. Secret ini tidak mengandung musin (lendir) seperti secret yang keluar dari kavum timpani pada otitis media. Otomikosis Infeksi jamur di liang telinga dipermudah oleh kelembaban yang tinggi di daerah tersebut. Yang tersering ialah Pityrosporum, Aspergilus. Kadang-kadang ditemukan juga kandida albikans atau jamur lain. Pityrosporum menyebabkan terbentuknya sisik yang menyerupai ketombe dan merupakan predisposisi otitis eksterna bakterialis. Gejala biasanya berupa rasa gatal dan rasa penuh di liang telinga, tetapi sering pula tanpa keluhan.
  31. 31. Herpes Zoster Otikus Herpes Zoster Otikus adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varicella zoster.Virus ini menyerang satu atau lebih dermatom saraf cranial.Dapat mengenai sarsf trigeminus, ganglion genikulatum dan radiks servikalis bagian atas.Keadaan ini disebut juga sindroma Ramsay Hunt. Tampak lesi kulit yang vesikuler pada kulit di daerah muka sekitar liang telinga, otalgia dan terkadang disertai paralisis otot wajah. Pada keadaan yang berat ditemukan gangguan pendengaran berupa tuli sensorineuralb. Kelainan telinga tengah 1) Barotrauma (Aerotitis) Baritrauma adalah keadaan dengan terjadinya perubahan tekanan yang tiba-tiba diluar telinga tengah sewaktu di pesawat terbang atau menyelam, yang menyebabkan tuba gagal untuk membuka. Apabila perbedaan tekanan melebihi 90 cmHg, maka otot yang normal aktivitasnya tidak mampu membuka tuba.Pada keadaan ini terjadi tekanan negative di rongga telinga tengah, sehingga cairan keluar dari pembuluh darah kapiler mukosa dan kadang-kadang disertai dengan keadaan rupture pembuluh darah, sehingga cairan di telinga tengah dan rongga mastoid tercampur darah.Keluhan pasien berupa kurang dengar, rasa nyeri dalam telinga, autofoni, perasaan ada air dalam telinga dan kadang-kadang tinitus dan vertigo. 2) Otitis Media Otitis media ialah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid.
  32. 32. Otitis Media Otitis Media akut Otitis Media sub akut Otitis media kronik Resiko rendah, resiko tinggi Tipe aman, tipe bahaya Patogenesis terjadi otitis Media (OMA-OME-OMSK) Sembuh / normal f.tuba tetap terganggu Gangguan Tuba Tekanan Efusi OME negative Infeksi (-) ETIOLOGI telinga tengahPerubahan tekanan Tuba tetap tergangguudara tiba + ada infeksiAlergiInfeksiSumbatan (secret, OMATampon, dan Tumor sembuh OME OMSK Otitis Media Akut Telinga tengah biasanya steril, meskipun terdapat mikroba di nasofaring dan faring. Secara fisiologik terdapat mekanisme pencegahan masuknya mikroba kedalam telinga tengah oleh silia mukosa tuba Eustachius enzim dan antibody. Otitis media akut (OMA) terjadi karena faktor pertahanan tubuh ini terganggu. Sumbatan tuba eustachius merupakan faktor penyebab utama dari otitis media.Karena fungsi tuba eusctachius terganggu, pencegahan invasi kuman kedalam telinga juga terganggu, sehingga kuman masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi peradangan.
  33. 33. Otitis media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh dari selaput permukaan telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid.Otitis Media Akut (OMA) : otitis media yang berlangsung selama tiga minggu atau kurang karena infeksi bakteri patogenik. ETIOLOGI : Penyebabnya adalah bakteri piogenik seperti streptococcus haemolyticus, staphylococcus aureus, pneumococcus , haemophylus influenza, escherecia coli, streptococcus anhaemolyticus, proteus vulgaris, pseudomonas aerugenosa. Disebabkan juga karena infeksi saluran napas atas. Inflamasi jaringan disekitarnya. Gangguan faktor pertahanan tubuh. Faktor pertahanan tubuh seperti silia dari mukosa tuba Eustachius, enzim, dan antibodi. Faktor ini akan mencegah masuknya mikroba ke dalam telinga tengah. Tersumbatnya tuba Eustachius merupakan pencetus utama terjadinya otitis media supuratif akut (OMA). Usia pasien. Bayi lebih mudah menderita otitis media supuratif akut (OMA) karena letak tuba Eustachius yang lebih pendek, lebih lebar dan lebih horisontal. Benturan keras pada bagian telinga atau terjadi trauma pada daerah telinga. Memasukkan sesuatu terlalu dalam ke dalam lubang telinga seperti cotton bud, bulu ayam dan lain – lain. Perubahan tekanan udara seperti pada saat naik pesawat terbang, menyelam, scuba diving dsb. Mendengar bunyi – bunyian yang terlalu kencang dan terlalu dekat seperti bunyi ledakan.MANIFESTASI KLINIS Gejala otitis media dapat bervariasi menurut beratnya infeksi dan bisasangat ringan dan sementara atau sangat berat.
  34. 34. 1. Membrane tymphani merah, sering menggelembung tanpa tonjolan tulang yang dapat dilihat, tidak bergerak pada otoskopi pneumatic ( pemberian tekanan positif atau negative pada telinga tengah dengan insulator balon yang dikaitkan ke otoskop ), dapat mengalami perforasi.2. Otorrhea, bila terjadi rupture membrane tymphani.3. Keluhan nyeri telinga ( otalgia )4. Demam (suhunya 39 derajat celcius)5. Anoreksia6. Limfadenopati servikal anterior7. Pada remaja atau orang dewasa biasanya selain nyeri terdapat gangguan pendengaran dan telinga tersa perih.8. Pada bayi gejala khas otitis media akut adalah panas yang tinggi, anak gelisah, sukar tidur, kejang-kejang, diare, rewel, dan sering memegang telingnya yang sakit. Rinitis Alergi Rhinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tesensitasi dengan alergen yang sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut (von Pirquet, 1986) Definisi menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001 adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh Ig E. Patofisiologi Rinitis Alergi Rhinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap sensitisasi dan diikuti dengan tahap provokasi/reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari 2 fase yaitu Immediate Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Cepat yang berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahnya dan Late Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8 jam (fase hipe-reaktifitas) setelah pemaparan dan dapat berlangsung sampai 24-48 jam.
  35. 35. Pada kontak pertama dengan alergen atau tahap sensitisasi, makrofag ataumonosit yang berperan sebagai sel penyaji (Antigen Presenting Cell/APC) akanmenangkap alergen yang menempel di permukaan mukosa hidung. Setelahdiproses, antigen akan membentuk fragmen pendek peptide dan bergabungdengan molekul HLA kelas II (Major Histocompability Complex) yangkemudian dipresentasikan pada sel T helper (Th 0). Kemudian sel penyaji akanmelepas sitokin seperti interleukin 1 (IL 1) yang akan mengaktifkan Th 0berproliferasi menjadi Th 1 dan Th 2. Th 2 akan menghasilkan berbagai sitokinseperti IL 3, IL4, IL5, dan IL 13. IL 4 dan IL 13 dapat diikat oleh reseptornya dipermukaan sel limfosit B, sehingga sel limfosit B menjadi aktif dan akanmemproduksi Imunoglobulin E (Ig E). Ig E di sirkulasi darah akan masuk kejaringan dan diikat oleh reseptor Ig E di permukaan sel mastosit atau basofil ( selmediator) sehingga ke dua sel ini menjadi aktif. Proses ini disebut sensitisasiyang menghasilkan sel mediator yang tersensitisasi. Bila mukosa yang sudahtersentisisasi terpapar dengan alergen yang sama, maka kedua rantai IgE akanmengikat alergen spesifik dan terjadi degranulasi (pecahnya dinding sel)mastosit dan basofil dengan akibat terlepasnya mediator kimia yang sudahterbentuk (Preformed Mediators) terutama histamin. Selain histamine jugadikeluarkan Newly Formed Mediators antara lain Prostaglandin D2 (PGD2),leukotrien D4 (LT D4), Leukotrien C4 (LT D4), Leukotrien c4 (LT C4) ,Bradikinin, Platelet Activating Factor (PAF) dan berbagai sitokin. (IL3, IL4,IL5, IL6, GM-CSF( granulocyte Macrophage Colony Stimulating Faktor ).Inilah yang disebut sebagai reaksi alergi fase cepat (RAFC).Histamine akan merangasang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus sehinggamenimbulkan rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin. Histamine juga akanmenyebabkan kelenjar mukosa dan sel goblet mengalami hiperseksresi danpermeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi rinore. Gejala lain ini adalahhidung tersumbat akibat vasodilatasi sinusoid. Selain histamine merangsangujung saraf Vidianus, juga menyebabkan rangsangan pada mukosa hidungsehingga terjadi pengeluaran Inter Cellular Adhesion Moleculle 1 (ICAM 1)
  36. 36. Pada RAFC, sel mastosit juga akan melepaskan molekul kemotaktik yangmenyebabkan akumulasi sel eosinofi dan netrofil di jaringan target. Respon initidak berhenti sampai disini saja, tetapi gejala akan berlanjut dan mencapaipuncak 6-8 jam setelah pemaparan. Pada RAFL ini ditandai dengan penambahanjenis dan jumlah sel inflamasi seperti eosinofil, limfosit, netrofil, basofil danmastosit di mukosa hidung serta peningkatan sitokin seperti IL 3, IL 4, IL 5 danGranulocyte Makrophag Colony stimulating faktor (GM-CSF) dan ICAM 1 padasecret hidung. Timbulnya gejala hiperaktif atau hiperesponsif hidung adalahakibat peranan eosinofil dengan mediator inflamasi dari granulnya sepertiEosinophilic Cationic Protein, (ECP), Eosiniphilic Derived Protein (EDP),Major basic Protein (MBP) dan Eosinophilic Peroxidase (EPO). Pada fase ini,selain faktor spesifik (alergen), iritasi oleh faktor non spesifik dapatmemperberat gejala seperti asap rokok, bau yang merangsang, perubahan cuacadan kelembaban udara yang tinggiSinusitisSinusitis merupakan penyakit yang sering ditemukan dalam praktek doktersehari-hari, bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab gangguan kesehatantersering diseluruh dunia.Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal.Umumnyadisertai atau dipicu oleh rhinitis sehingga sering disebut ninosinusitis. Penyebabutamanya adalah selesma (common cold) yang merupakan infeksi virus , yangselanjutnya dapat diikuti oleh infeksi bakteri.Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenaisemua sinus paranasal disebut pansinusitis.Yang paling sering terkena adalah sinus etmoid dan maksila, sedangkan sinusfrontal lebih jarang dan sinus sphenoid lebih jarang lagi.Sinus maksila disebut juga antrum highmore, letaknya dekat akar gigi rahangatas, maka infeksi gigi mudah menyebar ke sinus, disebut sinusitis dentogen.
  37. 37. Sinusitis dapat menjadi berbahaya karena menyebabkan komplikasi ke orbita dan intracranial, serta menyebabkan peningkatan serangan asma yang sulit diobati. Etiologi dan faktor predisposisi Beberapa faktor etiologi dan predisposisi antara lain ISPA akibat virus, bermacam rhinitis terutama rhinitis alergi, rhinitis hormonal pada wanita hamil, polip hidung, kelainan anatomi seperti deviasi septum atau hipertrofi konka, sumbatan kompleks ostio-meatal (KOM), infeksi tonsil, infeksi gigi, kelainan imunologik, diskinesia silia seperti pada sindroma Kartagener, dan di luar negeri adalah penyakit fibrosis kistik.Pada anak, hipertrofi adenoid merupakan faktor penting penyebab sinusitissehingga perlu dilakukan adenoide/ktomi untuk menghilangkan sumbatan danmenyembuhkan ninosinusitisnya. Faktor lain yang juga berpengaru adalahlingkungan berpolusi, udara dingin dan kering serta kebiasaan merokok. Keadaanini lama-lama menyebabkan perubahan mukosa dan merusak silia.Gejala sinusitis Keluhan utama rinosinusitis akut ialah hidung tersumbat disertai nyeri/rasatekanan pada muka dan ingus purulen yang sering kali turun ketenggorok (postnasal drip) dapat disertai gejala sistemik seperti demam dan lesu. Keluhan nyeri atau rasa tekanan di daerah sinus yang terkena merupakancirri khas sinistis akut, serta kadang-kadang nyeri juga terasa di tempat lain(referred pain). Nyeri pipi menandakan sinusitis maksila, nyeri diantara ataudibelakang kedua bola mata menandakan sinusitis etmoid, nyeri di dahi atauseluruh kepala menandakan sinusitis frontal. Pada sinusitis sphenoid, nyeridirasakandi vertex, oksipital, belakang bola mata dan daerah mastoid.Padasinusitis maksila kadang-kadang ada nyeri alih ke gigi dan telinga. Gejala lain adalah sakit kepala, hiposmia/anosmia, halitosis, post nasaldrip yang menyebabkan batuk dan sesak pada anak. Keluhan sinusitis kronik tidak khas sehingga sulit didiagnosis. Kadang-kadang hanya 1 atau 2 dari gejal-gejala di bawah ini yaitu sakit kepala kronik,
  38. 38. post nasal drip, batuk kronik, gangguan tenggorok, gangguan telinga akibatsumbatan kronik muara tuba Eustachius, gangguan ke paru seperti bronchitis(sino-bronkhitis), bronkiektasis dan yang penting adalah serangan asma yangmeningkat dan sulit diobati. Pada anak, mukopus yang tertelan dapatmenyebabkan gastroenteritis. MENIERE Penyakit Meniere adalah suatu sindrom yang terdiri dari serangan vertigo, tinnitus, dan berkurangnya pendengaran secara progresif. Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya, dapat disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja, melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik (nistagmus, unstable), otonomik (pucat, peluh dingin, mual, muntah) dan pusing. Tinnitus merupakan gangguan pendengaran dengan keluhan selalu mendengar bunyi, namun tanpa ada rangsangan bunyi dari luar.Sumber bunyi tersebut berasal dari tubuh penderita itu sendiri, meski demikian tinnitus hanya merupakan gejala, bukan penyakit, sehingga harus di ketahui penyebabnya. ETIOLOGI Penyebab penyakit Meniere tidak diketahui namun terdapat berbagai teori,termasuk pengaruh neurokimia dan hormonal abnormal pada aliran darah yangmenuju ke labirin, gangguan elektrolit dalam cairan labirin, reaksi alergi, dangangguan autoimun. Penyakit Meniere masa kini dianggap sebagai keadaandimana terjadi ketidakseimbangan cairan telinga tengah yang abnormal yangdisebabkan oleh malapsorbsi dalam sakus endolimfatikus.Namun, ada buktimenunjukkan bahwa banyak orang yang menderita penyakit Meniere mengalamisumbatan pada duktus endolimfatikus.Apapun penyebabnya, selalu terjadi hidropsendolimfatikus, yang merupakan pelebaran ruang endolimfatikus.Baik
  39. 39. peningkatan tekanan dalam sistem ataupun ruptur membran telinga dalam dapat terjadi dan menimbulkan gejala Meniere.PATHWAY PENYAKIT MENIERE
  40. 40. MANIFESTASI KLINIS Gejalanya berupa seangan vertigo tak tertahankan episodic yang sering disertai mual dan/atau muntah, yang berlangsung selama 3-24 jam dan kemudian menghilang secara perlahan. Secara periodik, penderita merasakan telinganya penuh atau merasakan adanya tekanan di dalam telinga. Kehilangan pendengaan sensorineural progresif dan fluktuatif.Tinnitus bisa menetap atau hilang-timbul dan semakin memburuk sebelum, setelah maupun selama serangan vertigo. Pada kebanyakan penderita, penyakit ini hanya menyerang 1 telinga dan pada 10-15% penderita, penyakit ini menyerang kedua telinga.TIPE PENYAKIT MENIEREa. Penyakit Meniere vestibular Penyakit Meniere vestibular ditandai dengan adanya vertigo episodic sehubungan dengan tekanan dalam telinga tanpa gejala koklear. Tanda dan gejala: Vertigo hanya bersifat episodic Penurunan respons vestibuler atau tak ada respons total pada telinga yang sakit Tak ada gejala koklear Tak ada kehilangan pendengaran objektif Kelak dapat mengalami gejala dan tanda koklearb. Penyakit Meniere klasik Tanda dan gejala: Mengeluh vertigo
  41. 41. Kehilangan pendengaran sensorineural berfluktuasi tinitus Penyakit Meniere kokleac. Penyakit Meniere koklea Penyakit Meniere koklea dikenali dengan adanya kehilangan pendengaran sensorineural progresif sehubungan dengan tnitus dan tekanan dalam telinga tanpa temuan atau gejala vestibuler. Tanda dan gejala: Kehilangan pendengaran berfluktuasi Tekanan atau rasa penuh aural Tinnitus Kehilangan pendengaran terlihat pada hasil uji Tak ada vertigo Uji labirin vestibuler normal Kelak akan menderita gejala dan tanda vestibulerFaringitis1. Faringitis akut a. Faringitis viral Gejala dan tanda Demam disertai rinorea, mual, nyeri tenggorokan ,sulit menelan. Padapemeriksaan tampak faring dan tonsil hiperemis. Virus influenza , coxsachievirusdan cyitomegalovirus tidak menghasilkan eksudat. Coxsachievirus dapatmenimbulkan lesi vesicular di orofaring dan lesikulit berupa maculopapular rash.Adenovirus selain menimbulkan gejala faringitis juga menimbulkan gejalakonjungtivitis pada anak. Epstein barr virus (EBV) menyebabkan faringitis yang disertai produksieksuddat pada faring yang banyak.Terdapat pembesaaran kelenjar limfa di seluruhtubuh terutama retroservical dan hepatos plenomegali.
  42. 42. Faringitis yang disebabkan oleh HIV-1 menimbulkan keluhan nyeri tenggorok,nyeri menelan, mual, dan demam.Pada pemeriksaan tampak faring hiperemisterdapat eksudat, limfadenopati akut dileher dan pasien tampak lemah. b. Faringitis bacterial Gejala dan tanda Nyeri kepala yang hebat, muntah, kadang-kadang disertai demam jarangdisertai batuk.Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar, faring dan tonsilhiperamis dan terdapat eksudat dipermukaaanya.Beberapa hari kemudian timbulbercak petechiae pada palatum dan faring.Kelenjar limfa leher anterior membesar,kenyal dan nyeri pada penekanan. c. Faringitis fungal Gejala dan tandaKeluhan nyeri tenggorok dan nyeri menelan. Pada pemeriksaan tampak plak puthdi orofaring dan mukosa faring lainnya hipremis .Pembiakan jamur ini dilakukan dalam agar sabouroud dextrose. d. Faringitis gonorea Faringitis ini hanya terdapat pada pasien yang melakukan kontak orogenital. 1. Faringitis kronik Terdapat dua bentuk yaitu Faringitis kronik hiperplastik dan faringitis kronik atropi. Faktor predisposisi proses radang kronik di faring ini ialah rhinitis kronik, sinusitis, iritasi kronik oleh rokok, minum alcohol, inhalasi uap yang merangsang mukosa faring dan debu. Faktor penyebab terjadinya faringitis kronis adalah pasien yang biasa bernafas melalui mulut karena hidungnya tersumbat. a. Faringitis kronik hiperplastik Gejala Pasien mengelu mula-mula tenggorok kering, gatal dan akhirnya batuk bereak. b. Faringitis kronik atropi Gejala dan tanda
  43. 43. Pasien mengeluh tenggorok kering dan tebal serta mulut berbau.Pada pemeriksaan tampak mukosa faring ditutupi oleh lendir yang kental dan bisa di angkat tampak mukosa kering. 2. Faringitis spesifik a. Faringitis luetika Treponema palidum dapat menimbulkan infeksi pada faring serta juga penyakit lues di organ lain. Gambaran kliniknya tergantung pada stadium penyakit primer, sekunder atau tersier. b. Faringitis tuberklosis Faringitis tuberklosis merupakan proses skunder dari dari tuberklosis paru. Pada infeksi kuman tahan asam jenis bovinum dapat timbul tuberklosis faring primer. Cara infeksi eksogen yaitu kontak dengan seputum yang mengandung kuman atau inhalasi kuman maupun udara.Cara infeksi endogen yaitu penyebaran melalui darah pada tuberklosis miliaris. Bila infeksi timbul secara hematogen maka tonsil dapat terkena opada kedua sisi dan lesi sering ditemukan pada dinding posterior faring, arkus faring anterior, dinding lateral hipofaring, palatum mole dan palatum durum.TonsilitisTonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakann bagian dari cincinWaldeyer.Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang terdapat ronggamulut yaitu tonsil fariingeal (adenoid), tonsil palatina (tonsil faucial), tonsil lingual(tonsil pangkal lidah), tonsil tuba Eustachius (lateral band dinding faring/gerlach’stonsil).A. Tonsilitis Akut 1. Tonsilitis viral Gejala tonsillitis viral lebih menyerupai common could yang disertai rasa nyeri tenggorok. Penyebab yang sering adalah virus Epstein Barr. Hemofilus
  44. 44. influenza merupakan penyebab tonsillitis akut Supuratif. Jika terjadi infeksi virus coxschakie, maka pada pemeriksaan rongga mulut akan tampak luka-luka kecil pada palatum dan tonsil yang sangat nyeri yang dirasakan pasien. 2. Tonsilitis bacterial Gejala dan tanda masa inkubasi 2-4 hari. Gejala dan tanda yang sering ditemukan adalah nyeri tenggorok dan nyeri menelan, demam dengan suhu tubuh yang tinggi, rasa lesu, rasa nyeri di sendi-sendi, tidak nafsu makan dan rasa nyeri ditelinga(otalgia). Rasa mnyeri ditelinga ini karena nyeri alih melalui saraf N. Glosofaringeus (N. IX).Pada pemeriksaan tonsil tampak tonsil membengkak, hiperemis dan terdapat detritus berbentuk folikel, lakuna atau tertutup poleh membran semu.B. Tonsilitis membranosa Penyakit yang termasuk dalam golongan tonsillitis septik(Septic sore throat), (c) Angina Plaut Vincent. (d) Penyakit kelainan darah seperti leukemia akut, anemia pernisiosa, neutron maligna serta infeksi mono-nukleosis., (e) proses spesifik lues dan tuber- kulosis, (f) infeksi jamur monoliasis, aktinomikosis dan blastomikosis, (g) infeksi virus morbili, pertusis dan skarlatina. 1. Tonsilitis difteri Frekuensi penyakit ini sudah menurun berkat keberhasilan imunisasi pada bayi dan anak. Penyebab tonsiilitis difteri adalah kuman coryne bacterium diphteriae, kuman yang termasuk Gram positif dan hidung di saluran nafas bagian atas yaitu hidung, faring dan laring. Tidak semua orang yang terinfeksi oleh kuman ini akan menjadi sakit. Keadaan ini tergantung pada titer antitoksin dalam darah seseorang. Titer anti toksin sebesar 0,03 saluran per/cc darah dapat dianggap cukup memberikan dasar imunitas. Hal inilah yang di pakai pada test Schick. Tonsilitis difteri sering ditemukan anak berusia kurang dari 10 tahun dan frekuensi tertinggi pada usia 2-5 tahun walaupun pada orang dewasa masih mungkn masih menderita penyakit ini. Gejala dan tanda
  45. 45. Gambaran klinik dibagi dalam tiga golongan yaitu gelaj umum, gejala local daan gejala akibat eksotoksin. a. Gejala umum, seperti juga gejala infeksi lainnya yaitu kenaikan suhu tubuh biasanya subfebris, nyeri kepala, tidak napsu makan, badan lemah, nadi lambat serta keluhan nyeri menelan b. Gejala local, yang tampak berupa tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor yang makin lama makin meluas dan bersatu membentuk membrane semu. Membrane ini dapat meluas ke platum mole, uvula, nasofaring, laring, trakea, dan brongkus dan dapat menyunbat saluran napas. Membrane semu ini melekat erat pada dasarnya, sehingga bila diangkat akan mudah berdarah. Pada perkembangan penyakit ini bila infeksinya berjalan terus, kelenjar limfa leher akan membengkak sedemikan besarnya sehingga leher menyerupai leher sapi (bull neck), atau disebut juga Burgemeester’s hals. c. Gejala akibat eksotoksin, yang dikeluarkan oleh kuman difteri ini akan menimbulkan kerusakan jaringan tubuh yaitu pada jantung dapat terjadi niokarditis sampai decompensatio cordis, mengenai saraf cranial menyebabkan kelumpuhan otot palatum dan otot-otot pernapasan dan pada ginjal menimbulkan albuminuria.2. Tonsilitis Septik Penyebab dari tonsillitis septic ialah Streptop kokus hemolitikus yang terdapat dalam susu sapi sehingga dapat timbul epidemi. Oleh karena di Indonesia susu sapi dimasak dulu dengan cara pasteurisasi sebelum di minum maka penyakit ini jarang ditemukan.3. Angina Plaut Vincent (Stomatitis Ulseros membranosa) Penyebab penyakit ini adalah bakteri spirochaeta atau triponema yang didapatkan pada penderita dengan hygiene mulut yang kurang dan defisiensi vitamin C. Gejala
  46. 46. Demam sampai 390C, nyeri kepala, badan lemah dan kadang-kadang terdapat gangguan pencernaan.Rasa nyeri di mulut, hipersalivasi, gigi dan gusi mudah berdarah. 4. Penyakit kelainan darah Tidak jarang tanda pertama leukemia akut, angina agranulositosis dan infeksi mononucleosis timbul di faring atau tonsil yang tertutup membrane semu. Kadang-kadang terdapat pendarahan di selaput lender, mulut dan faring serta membesaran kelenjar submandibula. a. Leukemia akut, gejala pertama sering berupa epistaksis, perdarahan dimukosa mulut, gusi dan dibawah kuulit sehingga kulit tampak bercak kebiruan. Tonsil membengkak ditutupi membrane semu tetapi tidak hiperemis dan rasa nyeri yang hebat di tenggorok. b. Angina agranulositoosis Penyebabnya adalah keracunan obat dari golongan obat abinopirin, sulfa dan arsen. Pada pemeriksaan tampak ulkus di mukosa mulut dan faring serta di sekitar ulkus tampak gejala radang. Ulkus ini juga dapat ditemukan di genitalia dan saluran cerna. c. Infeksi mononucleosis Pada penyakit ini terjadi tonsilo faringitis ulsero yang menutupi ulkus mudah diangkat tanpa timbul pendarahan.Terdapat pembesaran kelenjar limfa leher, ketiak dan regioinguinal.Gambaran darah khas yaitu terdapat leukosit mononukleus dalam jumlah yang besar. Tanda khas yang lain ialah kesanggupan serum pasien untuk beraglutinasi terdapap sel darah domba(reaksi Paul Bunnel).C. Tonsilitis Kronik Faktor predisposisi timbulnya tonsillitis kroniik adalah rangsangan yang menahun dari rokok beberapa jenis makanan hygiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik, dan pengobatan tonsillitis akut yyang tidak adekuat. Kuman penyebabnya sama dengan tonsiilitis akut tetapi kadang-kadang kuman menjadi kuman golongan Gram negative. Patologi
  47. 47. Karena proses radang berulang yang timbul maka selain epitel mukosa jugajaringan limfoid terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoiddiganti oleh garingan parut yang akan mengalami pengerutan sehingga kriptimelebar. Secara klinik kripti ini tampak diisi oleh detritus. Proses berjalan terussehingga menembus kapsul tonsil dan akhirnya menimbulkan perlekatan denganjaringan di sekitar fosa tonsiliaris. Pada anak proses ini disertai denganpembesaran kelenjar submandibula.Gejala dan tanda Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar dengan permukaan yang tidakrata, kriptus melebar dan bebrapa kripti terrisi oleh detritus.Rasa ada yangmenganjal di tenggorok, dirasakan kering di tenggorok dan nafas berbau.Hipertropi Adenoid Aenoid adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid yang terletakdiding posterior nasofaring, termasuk dalam rangkaian cincin Waldeyer. Secarafisiologi adenoid ini membesar pada anak 3 tahun dan kemudian mengecil danhilang sama sekali pada usia 14 tahun. Bila sering terjadi infeksi saluran nafasbagian atas, maka akan terjadi hipertropi adenoid. Akibat fdari hhipertropi iniakan timbul sumbatan koana dan sumbatan tuba Eustachius. Akibat sumbatan koana, pasien akan bernafas melaui mulut sehinggaterjadi , (a) Fasies adenoid yaitu tampak hidung kecil, gigi insisivuskedepan(prominem), arkus faring tinggi yang menyebabkan kesan wajah pasientampak seperti orang bodoh,(b) Faringitis dan brongkitis, (c) Gangguan ventilasidan dreinase sinus paranasal sehingga menimbulakan sinusitis kronik. Akibatsumbatan Tuba Eustachius akan terjadi otitis media akut berulang, otitis medaiakronik dan akhirnya dapat terjadi otitis media supuratif kronik. Akibat hipertropiadenoid juga akan menimbulkan gangguan tidur, tidur ngorok, retardasi mentaldan pertumbuhan.
  48. 48. 3. Patofisiologi gangguan THT a. Otitis Media Akut PATOFISIOLOGI Otitis Media Akut (OMA) biasanya disebabkan karena adanya komplikasi dari infeksi saluran pernafasan bagian atas.Sekresi dan inflamasi dari infeksi saluran pernafasan bagian atas ini dapat menyebabkan terjadnya oklusi tuba Eustachii. Normalnya, mukosa dari telinga bagian tengah mengabsorpsi udara di liang telinga bagian tengah. Jika udara tersebut tidak terabsorpsi karena adanya obstruksi tuba Eustachii, maka akan timbul suatu tekanan negativeyang menyebabkan terjadinya suatu produksi secret yang serous. Sekret di telinga bagian tengah ini merupakan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri dan mikroba.Dan dengan adanya infeksi saluran pernafasan bagian atas, memudahkan masuknya virus atau bakteri ke telinga tengah. Jika pertumbuhannya cepat, maka hal ini akan menyebabkan terjadinya infeksi telinga bagian tengah. Jika infeksi dan inflamasi ini terjadi secara terus menerus, hal ini dapat menyebabkan perforasi pada membran thympani
  49. 49. Komplikasi dari infeksi saluran pernapasan atas Tuba eusthachii disfungsi ( obstruksi ) Udara tidak terabsorpsi Tekanan (-) di telinga tengahProduksi secret Virus / bakteri masuk Infeksi telinga tengah ( inflamasi ) Perforasi pada membrane timpani Kehilangan pendengaran konduktifNyeri akibatinflamasi Perubahan persepsi sensori
  50. 50. b. Faringitis PARINGITIS InfflamasiDemam Edema mukosa Batuk Mukosa Nyeri Kemerahan 2 5 Penguapan Gangguan Menelan Kesulitan nutrisi Sputum mukosa 1 3Resti defisit volume cairan Pembersihan jl nafas tidakDroplet  4 Resti penularan efektif Kurangnya pengetahuan6
  51. 51. c. Patofisiologi tonsilitis Bakteri Virus (dalam udara & makanan) (dalam udara & makanan) Peradangan tonsil Prod. Secret berlebih Tonsillitis Bersihan jln nafas tidak efektif Pembesaran tonsil Peningkatan suhu tubuhBenda asing di jln nafas Diprose s Obst. Jln nafas Kekurangan vol. cairan Obs. mekanik Gangguan rasa nyaman (nyeri) Bersihan jln nafas tdk efektif Resiko kerusakan menelan Tonsilektomi anoreksiaKurang pemahaman Resiko perdarahan Resiko perub. Nutrisi kurang dari kebutuhanKurang pengetahuan Darah di sal. nafas Bersihan jln nafas tidak efektif
  52. 52. d. Sinusitis PATOFISIOLOGI Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-astium sinus dan lancarnya klirens mukosiliar (muccociary clearance) di dalam KOM. Mucus juga mengandung substansi antimicrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan. Organ-organ yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi edema, mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergeral dan ostium tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negative di dalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi, mula-mula serous . kondisi ini bisa dianggap sebagai ninosinitis non-bakterial dan biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa pengobatan. Bila kondisi ini menetap, secret yang terkumpul dalam sinus merupakan media baik untuk tumbuhnya dan multipikasi bakteri.Secret menjadi purulen.Keadaan ini disebut sebagai rinosinisitis akut bacterial dan memerlukan terapi antibiotic. Jika terapi tidak berhasil (misalnya karena ada faktor predisposisi) inflamasi berlanjut, terjadi hipoksia dan bakteri anaerob berkembang. Mukosa makin membengkak dan ini merupakan rantai siklus yang terus berputar sampai akhirnya perubahan mukosa menjadi kronik yaitu hipertrofi, polipoid, atau pembentukan polip dan kista. Menurut berbagai penelitian, bakteri utama yang ditemukan pada sinusitis akut adalah streptococcus pneumonia (30-50%).Hemophylus influenza 920-40%) dan Moraxella catarrahalis (4%).Pada anak, M.Catarrhalis lebih banyak ditemukan (20%). Pada sinusitis kronik, faktor predisposisi lebih berperan tetapi umumnya bakteri yang ada lebih condong kea rah bakteri gram negative dan anaerob.
  53. 53. 4. Jenis-jenis pemeriksaan pada THT TELINGA Anamnesis Anamnesis yang terarah diperlukan untuk menggali lebih dalam dan lebih luas keluhan utama pasien. Keluhan utama telinga dapat berupa: 1) Gangguan pendengaran/pekak (tuli) 2) Suara berderimg/berdengung (tinitus) 3) Rasa pusing yang berputar (vertigo) 4) Rasa nyeri didalam telinga (otalgia) 5) Keluar cairan dari telinga(otore) Pemeriksaan telinga Alat yang diperlukan untuk pemeriksaan telinga adalah lampu kepala, corong telinga, otoskop, pelilit kapas, pengait serumen, pinset telinga dan garpulata. Pasien dengan posisi badan condong sedikit kedepan dan kepala lebih tinggi sedikit dari kepala pemeriksa untuk memudahkan melihat liang telinga dan membrane timpani. Mula-mula dilihat keadaan dan bentuk daun telinga, daerah belakang daun telinga (retro-aurikuler) apakah terdapat tanda peradangan atau sikatriks bekas operasi. Dengan menarik daun telinga ke atas dan ke belakang, liang telinga menjadi lebih lurus dan akan mempermudah untuk melihat keadaan liang telinga dan membrane timpani. Pakailah
  54. 54. otoskop untuk melihat lebih jelas bagian-bagian membrane timpani.Otoskop dipegangdengan tangan kanan untuk memeriksa telinga kanan pasien dan dengan tangan kiri bilamemeriksa telinga kiri.Supaya posisi otoskop ini stabil maka jari kelingking tangan yangmemegang otoskop ditekankan pada pipi pasien. Bila terdapat serumen dalam liang telinga yang menyumbat maka serumen iniharus dikeluarkan. Jika konsistensinya cair dapat dengan kapas yang dililitkan, bilakonsistensinya lunak atau liat dapat dikeluarkan dengan pengait dan bila berbentuklempengan dapat dipegang dan dikeluarkan dengan pinset. Jika serumen ini sangat kerasdan menyumbat seluruh liang telinga maka lebih baik dilunakkan dulu dengan minyakatau korbagliserin. Uji pendengaran dilakukan dengan memakai garputala dan dari hasil pemeriksaandapat diketahui jenis ketulian apakah tuli konduktif atau tuli perseptif (sensorineural).Ujipenala yang dilakukan sehari-hari adalah uji pendengaran Rinne dan Weber.Uji rinnedilakukan dengan menggetarkan garputala 512 Hz dengan jari atau mengetukkannyapada siku dan lutut pemeriksa.Kaki garputala tersebut diletakkan pada tulang mastoidtelinga yang diperiksa selama 2-3 detik. Kemudian dipindahkan ke depan liang telingaselama 2-3 detik. Pasien menentukan ditempat mana yang terdengar lebih keras. Jikabunyi terdengar lebih keras bila garputala diletakkan di depan liang telinga berartitelinga yang diperiksa normal atau menderita tuli sensorineural. Keadaan seperti inidisebut rinne positif.Bila bunyi yang terdengar lebih keras di tulang mastoid, makatelinga yang diperiksa menderita tuli konduktif dan biasanya lebih dari 20 dB.Hal inidisebut rinne negative. Uji weber dilakukan dengan meletakkan kaki penala yang telah digetarkan padagaris tengah wajah atau kepala.Ditanyakan pada telinga mana yang terdengar lebihkeras.Pada keadaan normal pasien mendengar suara di tengah atau tidak dapatmembedakan telinga mana yang mendengar lebih keras.Bila pasien mendengar lebihkeras pada telinga yang sehat (lateralisasi ke telinga yang sehat) berarti pasien yang sakitmenderita tuli sensorineural.Bila pasien mendengar lebih keras pada telinga yang sakit(lateralisasi ke telinga yang sakit) berarti telinga yang sakit menderita tuli konduktif.
  55. 55. HIDUNGKeluhan utama penyakit atau kelainan di hidung adalah 1) Sumbatan hidung 2) Sekret di hidung dan tenggorokan 3) Bersin 4) Rasa nyeri di daerah muka dan kepala 5) Perdarahan dari hidung dan 6) Gangguan penghiduPemeriksaan hidung Bentuk luar hidung diperhatikan apakah ada deviasi atau depresi tulanghidung.Adakah pembengkakan di daerah hidung dan sinus paranasal.Dengan jari dapatdipalpasi adanya krepitasi tulang hidung pada fraktus os nasal atau rasa nyeri tekan padaperadangan hidung dan sinus paranasal. Memeriksa rongga hidung bagian dalam daridepan disebut rinoskop anterior. Diperlukan spekulum hidung.Pada anak dan bayikadang-kadang tidak diperlukan.Otoskop dapat dipergunakan untuk melihat bagiandalam hidung terutama untuk mencari benda asing.Spekulum dimasukkan ke dalamlubang hidung dengan hati-hati dan dibuka setelah spekulum berada di dalam dan waktumengeluarkannya jangan ditutup dulu di dalam, supaya bulu hidung tidakterjepit.Vestibulum hidung, septum terutama bagian anterior, konka inferior, konkamedia, konka superior serta meatus sinus paranasal dan keadaan mukosa rongga hidungharus diperhatikan. Begitu juga rongga hidung sisi lain. Kadang-kadang rongga hidungini sempit karena adanya edema mukosa. Pada keadaan seperti ini untuk melihat organ-organ yang disebut di atas lebih jelas perlu dimasukkan tampon kapas adrenalinpantokain beberapa menit untuk mengurangi edema mukosa dan menciutkan konka,sehingga rongga hidung lebih lapang. Untuk melihat bagian belakang hidung dilakukan pemeriksaan rinoskopi posteriorsekaligus untuk melihat keadaan nasofaring. Untuk melakukan pemeriksaan rinoskopiposterior diperlukan spatula lidah dan kaca nasofaring yang telah dihangatkan dengan apilampu spiritus untuk mencegah udara pernapasan mengembun pada kaca. Sebelum kaca
  56. 56. ini dimasukkan, suhu kaca dites dulu dengan menempelkannya pada kulit belakangtangan kiri pemeriksa.Pasien diminta membuka mulut, lidah dua pertiga anterior ditekandengan spatula lidah.Pasien bernafas dengan mulut supaya uvula terangkat ke atas dankaca nasofaring yang menghadap ke atas dimasukkan melalui mulut, ke bawah uvulasampai nasofaring. Setelah kaca berada di nasofaring pasien diminta bernapas bisamelalui hidung, uvula akan turun kembali dan rongga nasofaring terbuka. Mula-muladiperhatikan bagian belakang septum dan koana. Kemudian kaca diputar ke lateral sedikituntuk melihat konka superior, konka media dan konka inferior serta meatus superior danmeatus media. Kaca diputar lebih ke lateral lagi sehingga dapt diidentifikasi torustubarius, muara tuba Eustachius dan fosa Rossenmuler, kemudian kaca diputar ke sisilainnya. Daerah nasofaring lebih jelas terlihat bila pemeriksaan dilakukan denganmemakai nasofaringoskop. Udara melalui kedua lubang hidung lebih kurang sama dan untuk mengujinyadapat dengan cara meletakkan spatula lidah dari metal di depan kedua lubang hidung danmembandingkan kiri dan kanan.Pemeriksaan sinus paranasal Dengan inspeksi, palpasi dan perkusi daerah sinus paranasal serta pemeriksaanrinoskopi anterior dan posterior saja, diagnosis kelainan sinus sulitditegakkan.Pemeriksaan transiluminasi mempunyai manfaat yang sangat terbatas dantidak dapat menggantikan peranan pemeriksaan radiologik.Pada pemeriksaantransiluminasi sinus maksila dan sinus frontal, dipakai lampu khusus sebagai sumbercahaya dan pemeriksaan dilakukan pada ruangan yang gelap.Transiluminasi sinusmaksila dilakukan dengan memasukkan sumber cahaya ke rongga mulut dan bibirdikatupkan sehingga sumber cahaya tidak tampak lagi.Setelah beberapa menit tampakdaerah infra orbita terang seperti bulan sabit.Untu pemeriksaan sinus frontal, lampudiletakkan di daerah bawah sinus frontal dekat kantus medius dan di daerah sinus frontaltampak cahaya terang. Pemeriksaan radiologik untuk menilai sinus maksila dengan posisi Water, sinusfrontalis dan sinus etmoid dengan posisi postero anterior dan sinus sphenoid dengan
  57. 57. posisi lateral.Untuk menilai kompleks osteomeatal dilakukan pemeriksaan dengan CT scan. FARING DAN RONGGA MULUT Keluhan kelainan di daerah faring umumnya adalah 1) Nyeri tenggorok 2) Nyeri menelan (odinofagia) 3) Rasa banyak dahak ditenggorok 4) Sulit menelan (disfagis) 5) Rasa ada yang menyumbat atau mengganjal. Pemeriksaan faring dan rongga mulut Dengan lampu kepala yang diarahkan ke rongga mulut, dilihat keadaan bibir, mukosa rongga mulut, lidah dan gerakan lidah.Dengan menekan bagian tengah lidah memakai spatula lidah maka bagian-bagian rongga mulut lebih jelas terlihat.Pemeriksaan dimulai dengan melihat keadaan dinding belakang faring serta kelenjar limfanya, uvula, arkus faring serta gerakannya, tonsil, mukosa pipi, gusi dan gigi geligi. Palpasi rongga mulut diperlukan bila ada massa tumor, kista dan lain-lain. Apakah ada rasa nyeri di sendi temporo mandibula ketika membuka mulut.5. Penatalaksanaan dari gangguan THT Colme tetes telinga Indikasi: Pengobatan infeksi superfisial pada telinga luar oleh bakteri Gram-negatif dan Gram-positif yangpeka terhadap Chloramphenicol.
  58. 58. Kontra Indikasi: Penderita yang hipersensitif terhadap Chloramphenicol dan Lidocaine.- Perforasi membran timpani.Komposisi: Chloramphenicol (10%) Lidocaine (4%)Khasiat:Chloramphenicol merupakan antimikroba spektrum luas yang aktifterhadapbakteri Gram-positif dan bakteri Gram-negatif.Mekanisme kerjanya adalahmenghambat sintesis protein sel mikroba.Efek Samping:Iritasi local seperti gatal- gatal, rasa terbakar, urtikaria, dermatitis vesicular, dermatitismakulopapularPeringatan/Perhatian:Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan pertumbuhan berlebihan darimikroorganisme yang tidak peka termasuk fungi, bila terjadi superinfeksi pengobatandihentikan.Hanya bermanfaat untuk infeksi yang sangat superfisial, infeksi dalammemerlukan terapi sistemik.
  59. 59. Hati-hati penggunaan pada penderita dengan otitis media supuratif kronis.Aturan Pakai:Dewasa dan anak-anak:2 - 3 tetes, 2 - 3 kali sehari.Penyimpanan: derajat. CelsiusWadah disimpan dalam kondisi tertutup rapat dan hinari terjadinya kontaminasi darijangkauan anak-anak.Simpan di bawah 25 derajat.Celsius terlindung dari cahayamatahari.Jangan disimpan dalam lemari pembeku.ERLAMYCETIN Tetes TelingaIndikasi:Infeksi superfisial pada telinga luar oleh kuman gram positif atau gram negative yangpeka terhadap chloramphenicolKontra Indikasi: Bagi penderita yang sensitif terhadap Chloramphinicol.- Perforasi membran timpani.Komposisi:Tetes telinga erlamycetin mengandung 1 % chloramphenicol base di dalam larutan tetestelinga.Aksi dan Pemakaian:Sebagai broad spektrum antibiotika, bekerja sebagai bakteriostatikterhadapbeberapa species dan pada keadaan tertentu bekerjanya sebagai bakterisid.
  60. 60. Cara Pemakaian:Teteskan de dalam lubang telinga 2-3 tetes, 3 kali sehari atau menurut petunjuk dokter.Peringatan dan Perhatian:Hindarkan penggunaan jangka lama karena dalam meransang hipersensitivitas olehkuman yang resisten.Obat tetes ini hanya untuk infeksi yang sangat superfisial.Infeksiyang dalam memerlukan terapi sistemik.Efek samping:Iritasi lokal, seperti gatal, rasa panas, dermatitis vesikuler dan mukolopapular.Penyimpanan:Simpan di tempat yang sejuk, kering dan terlindung dari cahaya.Ear Wax Removal KitPeroksida carbamideIndikasi :Ear wax removal kit digunakan untuk mengobati penumpukan kotoran telinga olehpelunakan, melonggarkan dan menghapuskan telinga tersebutPenyimpanan :Simpan pada suhu antara 2 hingga 30 serjat celcius dan hindari terkena sinar mataharisecara langsung.
  61. 61. Overdosis Jika terjadi overdosis, segera hubungi dokter dan bawa ke rumah sakit terdekat. Ear Wax Removal Kit berbahaya jika tertelan. Menggunakan Ear Wax Remonal Gunakan Ear Wax Removal Kit untuk telinga, gunakan 2 kali sehari atau dengan petunjuk dokter. Jangan gunakan Ear Wax Removal Kit lebih dari 4 hari. Untuk lebih aman, biarkan orang lain yang membantu anda untuk menggunakan obat tersebut. Untuk menghindari kontaminasi, jangan menyentuh ujung pipet atau membiarkannya menyentuh telinga anda atau permukaan lainnya. Berbaring di samping atau memiringkan telinga dala pemakaian obatselama 2 menit. Jangan bilas pipet dan tutup obat penetes setelah menggunakannya.Efek samping : Telinga drainase, sakit telinga, iritasi atau ruam di telinga, serta dapatterjadi pusing Hubungi dokter jika terjadi efek samping Ear Wax Removal Kit dapat menyebabkan bunyi berderak di telinga. Efek ini bersifat sementara dan tidak berbahaya karena obat berbuih dan melonggarkan kotoran telinga tersebutPeringatan : Beritahu dokter riwayat kesehatan anda, termasuk: alergi, masalah telinga lainnya (misalnya, berlubang atau rusak gendang telinga, infeksi telinga/luka operasi) Katakan kepada dokter Anda jika Anda sedang hamil sebelum menggunakanEar Wax Removal Kit.

×