Pio pengembangan dan budaya organisasi - Cimut

  • 176 views
Uploaded on

 

More in: Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
176
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2

Actions

Shares
Downloads
4
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. Pengertian Desain Organisasi Jenis-jenis Organisasi Pengembangan Organisasi Budaya Organisasi
  • 2. Dalam kehidupan sehari-hari seseorang tidak akan terlepas dari lingkungannya. Kepribadian seseorang akan dibentuk pula oleh lingkungannya dan agar kepribadian tersebut mengarah kepada sikap dan perilaku yang positif tentunya harus didukung oleh suatu norma yang diakui tentang kebenanrannya dan dipatuhi sebagai pedoman dalam bertindak. Pada dasarnya manusia atau seseorang yang berada dalam kehidupan organisasi berusaha untuk menentukan dan membentuk sesuatu yang dapat mengakomodasi kepentingan semua pihak, agar dalam menjalankan aktivitasnya tidak berbenturan dengan berbagai sikap dan perilaku dari masing-masing individu. Sesuatu yang dimaksud tidak lain adalah budaya dimana individu berada, seperti nilai, keyakinan, anggapan, harapan dan sebagainya.
  • 3. Organisasi terdiri dari kelompok orang-orang atau dapat dikatakan juga terdiri dari kelompok-kelompok tenaga kerja (dalam hal organisasi perusahaan) yang bekerja untuk mencapai tujuan organisasinya. Untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi dikembangkan dan dipertahankan pola-pola perilaku tertentu yang cukup stabil dan dapat diperkirakan sebelumnya. Pengembangan dan pertahanan pola-pola tersebut akan tetap berlangsung, meskipun orang-orangnya berganti atau anggota organisasinya berubah-ubah. Tiga dimensi dari organisasi ialah : kemajemukan (complexity), formalisasi (formalization), dan pemusatan (centralization).
  • 4. Kemajemukan atau complexity diartikan bergamnya kegiatan, fungsi, pekerjaan dan jumlah lapis dalam organisasi. Dalam organisasi ini akan dijumpai masalah-masalah kendali dan koordinasi yang lebih banyak. Makin berkembangnya perusahaan akan terjadi pembedaan mendatar dan tegak. Pada pembedaan mendatar terjadi pengkhususan kerja, tugas-tugas dalam organisasi dipisah-pisahkan ke dalam pekerjaan-pekerjaan yang lebih khusus, pekerjaan- pekerjaan dikelompokkan fungsi tertentu. Pada pembedaan tegak terjadi penambahan tingkat organisasi, sekelompok pekerja di supervisi oleh seorang supervisor, seorang supervisor dipimpin oleh seorang manajer. Makin tinggi kedudukannya dalam tingkat organisasi makin majemuk dan besar tanggung jawabnya.
  • 5. Formalisasi atau formalization mengacu pada adanya kebijakan, prosedur, dan aturan yang membatasi pilihan dari para anggotanya. Para anggotanya diharapkan berperilaku sesuai dengan kebijakan, prosedur dan aturan yang berlaku. Makin organisasi formalized, semakin terbatas kebebasan anggota utuk mengambil keputusan. Selama organisasi masih merupakan organisasi kecil atau usaha perorangan, maka derajat formalisasinya masih rendah. Semakin organisasinya besar, makin majemuk organisasinya, cenderung makin besar pula derajat formalisasinya. Ada pekerjaan-oekerjaan tertentu yang memang perlu diformalisasi, perlu ada aturan-aturan tertentu yang harus diikuti. Namun ada pekerjaan lain yang pelaksanaan tugas-tugas pekerjaannya tidak dapat diatur secara ketat.
  • 6. Pemusatan atau centralization berkaitan dengan penyebaran dari daya (power) dan wewenang (authority). Pada centralization organizations, daya (power) dan wewenang (authority) ada pada kedudukan tinggi dalam organisasi. Pada decentralized organizations, hak dan tanggung jawab mengambil keputusan didelegasikan ke tingkat-tingkat lebih rendah dari organisasi.
  • 7. Pendapat Bliss (1999) mengatakan bahwa didalam budaya terdapat kesepakatan yang mengacu pada suatu sistem makna secara bersama, dianut oleh anggota organisasi dalam membedakan organisasi yang satu dengan yang lainnya. Lain halnya dengan Robbins (1996:289); budaya organisasi merupakan suatu persepsi bersama yang dianut oleh anggota- anggota organisasi, dan merupakan suatu sistem makna bersama.
  • 8. DESAIN ORGANISASI Organisasi Struktur Sederhana Organisasi Birokrasi Organisasi Matriks
  • 9. Organisasi Struktur Sederhana Dengan struktur sederhana ditandai oleh departementalization, yang sedikit, span of control yang lebar, kewenangan dipegang terpusat pada satu orang, dan formalisasi sedikit. Rancangan ini biasanya dapat ditemukan pada organisasi usaha yang kecil, dimana pemimpinya juga menjadi pemilik.
  • 10. Birokrasi Adalah satu struktur dengan tugas-tugas yang beroperasi sangat rutin yang dicapai melalui spesialisasi. Pelaksanaan tugas-tugas administrasi kepegawaian misalnya, tugas perhitugan penggajian setiap bulan ditambah dengan tambahan intensif yang dihitung berdasarkan peraturan- peraturan tertentu, yang telah diformalisasi, merupakan tugas rutin yang setiap bulan harus dilakukan. Disamping itu dapat ditemukan tugas-tugas yang dikelompokkan ke dalam bagian-bagian fungsional tertentu, misalnya bagian produksi, bagian distribusi, bagian keuangan, bagian akuntansi dan sebagainya.
  • 11. Struktur Matriks Merupakan rancangan organisasi lain yang populer. Bila pada kedua rancangan organisasi di atas berlaku prinsip “one man, one boss” bahwa setiap bawahan hanya memiliki satu atasan. Pada struktur matriks, setiap bawahan memiliki dua atasan, Matriks mengkombinasi dua bentuk departementalisasi, yaitu fungsional dan produk. Struktur matriks dapat ditemukan dalam organisasi periklanan, perguruan tinggi, rumah sakit, perusahaan konsultan management dan sebagainya.
  • 12. Tosi, Rizzo, Carroll membedakan empat jenis generic organisasi, diantaranya : Organisasi Mekanistik (OM) Organisasi Organik (OO) Organisasi Campuran Dominansi Teknologi (OCDT) Organisasi Campuran Dominansi Pasar (OCDP)
  • 13. Satu organisasi yang formalisasinya tinggi. Ciri-cirinya antara lain: kerja yang berulang-ulang, pembagian kerja yang ketat, tingkat keterampilan rendah, pekerjaan terumuskan dengan jelas dan baik, saluran distribusi yang terpatok, sumber supply yang jelas dan mantap, sistem yang sederhana, sumber informasi yang baik dan lengkap, perangkat peraturan untuk menafsirkan lingkungan, anggaran yang distandarisasi, data yang standar dan biaya yang lampau, pengambilan keputusan secara terpusat, tata tingkat yang kaku, konflik antara eselon tinggi dan rendah.
  • 14. Organisasi yang formalisasinya rendah. Ciri-cirinya antara lain: Kerja tidak rutin, Batasan pekerjaan tidak ketat, Beragam sistem untuk distribusi, Memerlukan orang dengan keterampilan tinggi, Keterampilan klinikal diperlukan untuk menilai perubahan-perubahan, Penggunaan minimal dari data sejarah, Pengambilan keputusan yang decentralized, struktur dan tugas-tugas kerja yang lentur, konflik antar para profesional
  • 15. Formalisasi di bidang pemasaran tinggi, dibidang teknologi rendah. Ciri-cirinya antara lain: Teknologi yang intensif dan tepat guna (mediating), Staf yang sangat terampil, R & D yang luas dan sangat berpengaruh, Kendali dalam fungsi-fungsi teknikal didesentralisasi, Kendali bertata tingkat dalam pemasaran, Interface management problems.
  • 16. Formalisasi di bidang teknologi tinggi, di bidang pemasaran rendah. Ciri-cirinya antara lain: Teknologi dengan jaringan panjang dan/atau repetitif, Saluran-saluran distribusi dipengaruhi oleh perubahan-perubahan ‘gaya’, Lebih menjadi promoters daripada sales person, R & D sedikit, Pemasaran berpengaruh besar, Biaya baku dalam bidang teknikal dan produksi, Kendali yang disentralisasi dalam fungsi pemasaran, Kendali yang disentralisasi dalam bidang-bidang lain, Interface management problems.
  • 17. Pengembangan Organisasi adalah suatu proses sadar dan trencana untuk mengembangkan kemampuan suatu organisasi, sehingga mencapai dan mempertahankan suatu tingkat optimum prestasi yang diukur berdasarkan efisien, efektivitas dan kesehatan.
  • 18. Pengembangan organisasi dirumuskan dalam berbagai cara: (1) Yang direncanakan, (2) Yang dampaknya mencangkup seluruh organisasi, (3) Yang dimanajemeni oleh puncak, (4) Meningkatkan efektivitas dan kesehatan organisasi melalui intervensi-intervensi yang direncanakan ke dalam proses-proses organisasi dengan menggunakan pengetahuan keperilakuan.
  • 19. Efisiensi menurut McGill dapat di ukur dengan perbandingan antara masukan dan keluaran dan dirumuskan sebagai “Minimaks” masukan minimum dan keluaran maksimum. Sedangkan efektivitas adalah suatu tingkat prestasi organisasi dalam mencapai tujuannya, artinya sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai. Efektivitas dapat dirumuskan sebagai “Maksimaks”. Memaksimumkan tujuan dan memaksimumkan pencapaian tujuan.
  • 20. Budaya organisasi terdiri dari asumsi-asumsi dasar yang dipelajari baik sebagai hasil memecahkan masalah yang timbul dalam proses penyesuaian dengan lingkungannya, maupun sebagai hasil memecahkan masalah yang timbul dari dalam organisasi, antar unit-unit organisasi yang berkaitan dengan integrasi. Budaya timbul sebagai hasil belajar bersama dari para anggota organisasi agar dapat tetap bertahan.
  • 21. Menurut Tosi, Rizzo, Carroll (1994) budaya organisasi adalah cara-cara berpikir, berperasaan dan bereaksi berdasarkan pola-pola tertentu yang ada dalam organisasi atau yang ada pada bagian-bagian organisasi. Merupakan satu mental programming dari organisasi, yang merupakan pencerminan dari ‘modal’ kepribadian organisasi. ‘Modal’ kepribadian organisasi ialah derajat homogenitas dan kekuatan dari satu orientasi kepribadian khusus dalam satu organisasi.
  • 22. Disimpulkan bahwa budaya organisasi dapat diungkapkan sebagai cara berpikir, cara bekerja, cara laku para karyawan satu perusahaan dalam melakukan tugas pekerjaan mereka masing- masing. Budaya organisasi dapat diungkapkan berubah, yaitu bila asumsi dasar yang digunakan dalam memecahkan masalah (eksternal dan internal) ternyata tidak absah dan perlu diganti dengan asumsi dasar lain. Tinggi rendahnya produktivitas satu perusahaan dihasilkan oleh asumsi-asumsi dasar dari budaya organisasi yang dimiliki perusahaan tersebut.
  • 23. Zuliana Zookefli, Khalil Md Nor. (2008). Hubungan Budaya Organisasi Dengan Perkongsian Pengetahuan. Journal of Humanity. HT, Koesmono. (2006). Jurnal Managemen dan Kewirausahaan, 16362. http://myrahdika.ueuo.com/jurnal/Hubung an%20budaya%20organisasi.pdf