Rekayasa genetika

10,020 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
10,020
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
139
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Rekayasa genetika

  1. 1. Rekayasa Genetika IkanNovember 8, 2009 pada 10:27 am | Ditulis dalam AQUACULTURE | 5 Komentar Ikan Bercahaya Hasil Rekayasa Genetik diolah dari berbagai sumber Klik Disini Informasi Rekayasa Genetika Sejenis ikan tropis yang memancarkan cahayamerah akan menjadi binatang peliharaan pertama yang direkayasa, demikian diungkapkan parailmuwan. Ikan jenis zebra ini sesungguhnya dirancang sebagai detektor adanya racun-racun yangada di alam.“Ikan ini semula dikembangkan untuk membantu menanggulangi polusi lingkungan,” kata AlanBlake dan rekan-rekannya dari Yorktown Technologies, perusahaan yang mendaftarkan ikantersebut sebagai ikan peliharaan. “Mereka direkayasa agar memancarkan cahaya bila berada dilingkungan yang beracun atau tidak sehat.”Ikan zebra (Brachydanio rerio) biasanya berwarna perak dengan garis-garis hitam keunguan.Dengan rekayasa genetis, ikan ini dapat memendarkan warna hijau atau merah dari tubuhnya.Warna merah atau hijau yang bersinar itu diambil dari warna ubur-ubur yang disuntikkan ketelur-telur ikan zebra.Dengan gen ubur-ubur itu, tubuh ikan zebra dapat memancarkan cahaya. Nah, agar bisadigunakan sebagai indikator polusi, maka para peneliti memasukkan gen pemicu yang akanmengaktifkan pancaran cahaya pada ikan bila ikan berada dalam lingkungan yang mengandungzat tertentu.Menurut Blake, sejauh ini tidak ada bukti bahwa ikan-ikan hasil rekayasa tersebut akanmenimbulkan ancaman pada lingkungan. “Ikan-ikan ini hanya akan memancarkan warna terangdi bawah segala macam sinar, namun tidak akan mencemari lingkungan.”Ikan yang kini disebut Glofish ini mulanya dikembangkan oleh Zhiyuan Gong dari NationalUniversity of Singapore. Menurut Gong, meski saat ini ikan tersebut hanya memiliki dua warna
  2. 2. tambahan, namun sebenarnya ia bisa dikembangkan untuk memiliki lima warna berbeda, dimanamasing-masing warna akan bersinar sesuai dengan jenis bahan polutan yang dijumpai ikan.“Ikan zebra (Brachydanio rerio) berfluoresens pertama hasil rekayasa genetika berhasildikembangkan oleh para ilmuwan untuk mendeteksi adanya polutan, bahkan mulai dipasarkansebagai binatang peliharaan.”Cuplikan informasi tersebut hanyalah salah satu contoh bagaimana teknologi DNA telahmeluncurkan revolusi dalam bidang bioteknologi, yakni teknologi rekayasa genetika.Keberhasilan ini tentunya membawa angin segar dan kontribusi yang sangat besar, terutamadalam bidang rekayasa genetika ikan dan akuakultur karena selain bermanfaat bagi penelitiandasar juga dapat ditujukan untuk penggunaan komersial.Rekayasa genetika atau genetic engineering pada dasarnya adalah seperangkat teknik yangdilakukan untuk memanipulasi komponen genetik, yakni DNA genom atau gen yang dapatdilakukan dalam satu sel atau organisme, bahkan dari satu organisme ke organisme lain yangberbeda jenisnya. Dalam upaya melakukan rekayasa genetika, para ilmuwan menggunakanteknologi DNA rekombinan. Sementara organisme yang dimanipulasi dengan menggunakanteknik DNA rekombinan disebut genetically modified organism (GMO) yang memiliki sifatunggul bila dibandingkan dengan organisme asalnya. Seiring dengan kemajuan biologimolekuler sekarang ini memungkinkan ilmuwan untuk mengambil DNA suatu spesies karenaDNA mudah diekstraksi dari sel-sel. Kemudian disusunlah suatu konstruksi molekuler yangdapat disimpan di dalam laboratorium. DNA yang telah mengalami penyusunan molekulerdinamakan DNA rekombinan sedangkan gen yang diisolasi dengan metode tersebut dinamakangen yang diklon.Semenjak ditemukannya struktur DNA oleh Watson dan Crick (1953), kemudian mulaiberkembanglah teknologi rekayasa genetika pada tahun 1970-an dengan tujuan untuk membantumenciptakan produk dan organisme baru yang bermanfaat. Sejarah membuktikan bahwa teknikrekayasa genetika terus-menerus mengalami perkembangan dan penyempurnaan dari metode-metode sebelumnya. Awal mulanya digunakan teknik konservatif yang dipelopori oleh GregorMendel dalam proses perkawinan silang (breeding) untuk mendapatkan bibit unggul yangbersifat hibrid. Proses ini memakan waktu lama dan memiliki kekurangan, yakni muncul sifatyang tak dinginkan dari tanaman atau hewan tetuanya. Sampai akhirnya lahirlah rekayasagenetika modern menggunakan teknologi DNA rekombinan. Rekombinasi dilakukan secara invitro (di luar sel organisme), sehingga dimungkinkan untuk memodifikasi gen-gen spesifik danmemindahkannya di antara organisme yang berbeda seperti bakteri, tumbuhan dan hewanataupun dapat mencangkok (kloning) hanya satu jenis gen yang diinginkan dalam waktu cepat.Sejak dimulainya perkembangan rekayasa genetika, beberapa teknik terus diperbaiki danditingkatkan dalam rangka menuju teknologi DNA rekombinan yang lebih maju. Teknik-teknikyang telah dikembangkan tersebut antara lain: (1) poliploidisasi, (2) androgenesis dan (3)ginogenesis. (4) kloning, (5) chimeras, serta (6) transgenik.Beberapa tahapan yang perlu dilakukan dalam melakukan rekayasa genetika atau teknologi DNArekombinan sebagai berikut:
  3. 3. 1. Isolasi DNA yang mengandung gen target atau gen of interest (GOI).2. Isolasi plasmid DNA bakteri yang akan digunakan sebagai vektor.3. Manipulasi sekuen DNA melalui penyelipan DNA ke dalam vektor. (a.) Pemotongan DNAmenggunakan enzim restriksi endonuklease. (b.) Penyambungan ke vektor menggunakan DNAligase.4. Transformasi ke sel mikroorganisme inang.5. Pengklonan sel-sel (dan gen asing).6. Identifikasi sel inang yang mengandung DNA rekombinan yang diinginkan7. Penyimpanan gen hasil klon dalam perpustakaan DNA.Rekayasa genetika telah merambah di berbagai bidang, tidak terkecuali bidang perikanan yangmenghasilkan ikan kualitas unggul, sebagai contoh antara lain: Ikan zebra yang biasanya berwarna perak dengan garis-garis hitam keunguan, setelah disisipi dengan gen warna ubur-ubur yang disuntikkan ke telur ikan-ikan zebra maka dapat memendarkan warna hijau atau merah dari tubuhnya. Gen pemicu dari ubur-ubur akan mengaktifkan pancaran cahaya pada ikan bila ikan berada dalam lingkungan yang mengandung bahan polutan tertentu. Ikan karper transgenik dengan pertumbuhan mencapai tiga kali dari ukuran normalnya karena memiliki gen dari hormon pertumbuhan ikan salmon (rainbow trout) yang ditransfer secara langsung ke dalam telur ikan karper. Begitu pula penelitian lainnya memberikan hasil yang serupa, yakni seperti pada ikan kakap (red sea bream) dan salmon Atlantik yang juga sama-sama disisipi oleh gen growth hormone OPAFPcsGH. Ikan goldfish yang disisipi dengan ocean pout antifreeze protein gene diharapkan dapat meningkatkan toleransi terhadap cuaca dingin. Ikan medaka transgenik yang mampu mendeteksi adanya mutasi (terutama yang disebabkan oleh polutan) sangat bermanfaat bagi kehidupan hewan akuatik lainnya dan di bidang kesehatan manusia. Ikan tersebut setelah disisipi dengan vektor bakteriofag mutagenik, kemudian vektor DNA dikeluarkan dan disisipkan ke dalam bakteri pengindikator yang dapat menghitung gen mutan. Ikan transgenik menjadi tahan lama dan tidak cepat busuk dalam penyimpanan setelah ditransplantasikan gen tomat. Namun bisa juga sebaliknya apabila penerapan ditujukan untuk dunia pertanian, maka gen ikan yang hidup di daerah dingin dapat dipindahkan ke dalam tomat untuk mengurangi kerusakan akibat dari pembekuan.Berbagai kontroversi menyelimuti produk-produk hasil rekayasa genetika. Kekhawatiran-kekhawatiran mengenai produk rekayasa genetik yang memiliki kemungkinan bersifat racun,menimbulkan alergi serta terjadi resistensi terhadap bakteri dan antibiotik selalu terjadi dalammasyarakat. Memang DNA rekombinan yang diproduksi dengan cara buatan itu dapat berbahayajika tidak disimpan secara layak dan tindakan pencegahan yang ketat perlu diterapkan pada
  4. 4. pekerjaan semacam ini. Jadi hanya galur-galur non-patogenik yang dipergunakan sebagai inangatau galur-galur lain yang dapat tumbuh dalam kondisi laboratorium. Namun demikian, hal initidaklah menyurutkan para saintis untuk terus memperbaiki kualitas penelitian di bidangrekayasa genetika semata-mata adalah demi kemaslahatan bersama. Pada akhirnya, kita harusmempertimbangkan masalah-masalah sosial, etika dan moral ketika teknologi gen menjadi lebihampuh.dikutip darihttp://regeni.wordpress.com/tugas-terstruktur/rekayasa-genetika/Sumber: http://www.kompas.com/teknologi/INDUCE BREEDING Budidaya ikan grass carp (Ctenopharingodonidella) sudah berkembang sejak 25 tahun yang lalu. Ikan yang berasal dari China ini merupakanikan musiman atau bertelur pada musim hujan. Pemijahan ikan grasscarp hanya bisa dilakukansecara buatan, bisa secara induced breeding (streefing), bisa juga secara induced spawning(pemijahan semi alami).Pematangan Gonad di kolam tanahPematangan gonad ikan grass carp dilakukan di kolam tanah. Caranya, siapkan kolam ukuran200 m2; keringkan selama 2 – 4 hari dan perbaiki seluruh bagian kolam; isi air setinggi 50 – 70cm dan alirkan secara kontinyu; masukan 150 ekor induk ukuran 3 – 5 kg; beri pakan tambahanberupa rumput sebanyak 5 persen/hari; menjelang musim hujan, pakan tambahan ditambahdengan pelet sebanyak satu persen. Catatan : induk jantan betina dipelihara terpisah.SeleksiSeleksi induk ikan grass carp dilakukan dengan melihat tanda-tanda pada tubuh. Tanda indukbetina yang matang gonad : perut gendut; belakang sirip dada kasar; gerakan lamban dan lubangkelamin kemerahan. Tanda induk jantan : gerakan lincah, lubang kelamin kemerahan, bila dipijit
  5. 5. ke arah lubang kelamin, keluar cairan berwarna putih. Usahakan saat seleksi mengangkap indukjantan dan betina lebih dari satu, sebagai cadangan.PemberokanPemberokan induk bawal air tawar dilakukan di bak selama semalam. Caranya, siapkan baktembok ukuran panjang 4 m, lebar 3 dan tinggi 1 m; keringkan selama 2 hari; isi dengan airbersih setinggi 40 – 50 dan mengalir secara kontinyu; masukan 5 – 8 ekor induk. Catatan :Pemberokan bertujuan untuk membuang sisa pakan dalam tubuh dan mengurang kandunganlemak. Karena itu, selama pemberokan tidak diberi pakan tambahan.Penyuntikan dengan ovaprimPenyuntikan adalah kegiatan memasukan hormon perangsang ke tubuh induk betina. Hormonperangsang yang umum digunakan adalah ovaprim. Caranya, tangkap induk betina yang sudahmatang gonad; sedot 0,6 ml ovaprim untuk setiap kilogram induk; suntikan bagian punggunginduk tersebut; masukan induk yang sudah disuntik ke dalam bak lain dan biarkan selama 10 –12 jam.Catatan : penyuntikan dilakukan dua kali, dengan selang waktu 6 jam. Penyuntikan pertamasebanyak 1/3 dosis dari dosis total (atau 0,2 ml/kg induk) dan penyuntikan kedua sebanyak 2/3dosis total (atau 0,4 ml/kg induk betina). Induk jantan disuntik satu kali, berbarenganpenyuntikan kedua dengan dosis 0,2 ml/kg induk jantan.Penyuntikan dengan hypopisaPenyuntikan bisa juga dengan larutan kelenjar hypopisa ikan mas. Caranya, tangkap induk betinayang sudah matang gonad; siapkan 2 kg ikan mas ukuran 0,5 kg untuk setiap kilogran indukbetina; potong ikan mas tersebut secara vertikal tepat di belakang tutu insang; potong bagiankepala secara horizontal tepat di bawah mata; buang bagian otak; ambil kelenjar hypopisa;masukan kelenjar hipofisa tersebut ke dalam gelas penggerus dan hancurkan; masukan 1 ccaquabides dan aduk hingga rata; sedot larutan hypopisa itu; suntikan ke bagian punggung indukbetina; masukan induk yang sudah disuntik ke bak lain dan biarkan selam 10 – 12 jam.Catatan : penyuntikan dilakukan dua kali, dengan selang waktu 6 jam. Penyuntikan pertamasebanyak 1/3 dosis dari dosis total (atau 0,6 kg ikan mas/kg induk betina) dan penyuntikan keduasebanyak 2/3 dosis total (atau 1,4 kg ikan mas/kg induk betina). Induk jantan disuntik satu kali,berbarengan penyuntikan kedua dengan dosis 0,6 ml/kg induk jantan.Pemijahan secara induced breedingPengambilan spermaPengambilan sperma dilakukan setengah jam sebelum pengeluaran telur. Caranya, tangkap 1ekor induk jantan yang sudah matang kelamin; lap hingga kering; bungkus tubuh induk denganhanduk kecil; pijit ke arah lubang kelamin; tampung sperma ke dalam mangkuk plastik atau
  6. 6. cangkir gelas; campurkan 200 cc Natrium Clhorida (larutan fisiologis atau inpus); aduk hinggahomogen. Catatan : pengeluaran sperma dilakukan oleh dua orang. Satu orang yang memegangkepala dan memijit dan satu orang lagi memegang ekor dan mangkuk plastik. Jaga agar spermatidak terkena air.Pengeluaran telurPengeluaran telur dilakukan setelah 10 – 12 jam setelah penyuntikan, namun 9 jam sebelumnyadilakukan pengecekan. Cara pengeluaran telur : siapkan 3 buah baskom plastik, sebotol Natriumchlorida (inpus), sebuah bulu ayam, kain lap dan tisu; tangkap induk dengan sekup net;keringkan tubuh induk dengan handuk kecil atau lap; bungkus induk dengan handuk dan biarkanlubang telur terbuka; pegang bagian kepala oleh satu orang dan pegang bagian ekor oleh yanglainnya; pijit bagian perut ke arah lubang telur oleh pemegang kepala; tampung telur dalambaskom plastik; campurkan larutan sperma ke dalam telur; aduk hingga rata dengan bulu ayam;tambahkan Natrium chrorida dan aduk hingga rata; buang cairan itu agar telur-telur bersih daridarah; telur siap ditetaskan.Pemijahan secara induced spawningPada pemijahan secara induce spawning, telur dan sperma tidak dikeluarkan, tetapi induk danbetina dibiarkan memijah sendiri. Pemijahan ini dilakukan di bak tembok. Caranya, siapkansiapkan bak tembok ukuran panjang 4 m, lebar 3 m dan tinggi 1 m; bersihkan lumpur dankotoran lainnya; keringkan selama 3 – 4 hari; isi air setinggi 80 cm; pasang hapa dengan ukuransama dengan bak; suntik induk betina pada pukul 06.00 (dosis lihat penyuntikan); suntik kembaliinduk tadi pada pukul 12.00 dan masukan ke bak pemijahan; suntik induk jantan pada pukul12.00 dan satukan dengan induk betina; alirkan air lebih besar lagi; biarkan memijah. Catatan :Pemijahan biasanya mulai terjadi pukul 24.00 dan berakhir pagi hari.Penetasan di akuariumPenetasan telur ikan grasscar dilakukan di akuarium. Caranya : siapkan 20 buah akuarium ukuranpanjang 60 cm, lebar 40 cm dan tinggi 40 cm; keringkan selama 2 hari; isi air bersih setinggi 30cm; pasang empat buah titik aerasi untuk setiap akuarium dan hidupkan selama penetasan;tebarkan tebar secara merata ke permukaan dasar akuarium; 2 – 3 hari kemudian buang sebagianairnya dan tambahkan air baru hingga mencapai ketinggian semula. Telur akan menetas dalam 2– 3 hari.Pendederan I di kolamPendederan I ikan grasscarp dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2;keringkan selama 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalir dengan lebar 40 cmdan tinggi 10 cm; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 5 – 7 karung kotoran ayam atau puyuh; isi airsetinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 50.000 ekor larva pada pagihari; setelah 2 hari, beri 1 – 2 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; panenbenih dilakukan setelah berumur 3 minggu.
  7. 7. Pendederan IIPendederan kedua juga dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2;keringkan 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalir dengan lebar 40 cm dan tinggi10 cm; ratakan tanah dasar; tebarkan 5 – 7 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 40.000 ekor benih hasil pendederan I(telah diseleksi); beri 2 – 4 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; panenbenih dilakukan setelah berumur sebulan.Pendederan IIIPendederan ketiga dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2; keringkan4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalirnya; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 2karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidakdialirkan); tebar 30.000 ekor hasil dari pendederan II (telah diseleksi); beri 4 – 6 kg pelet; panenbenih dilakukan sebulan kemudian.PembesaranPembesaran ikan grasscarp dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan sebuah kolam ukuran500 m2; perbaiki seluruh bagiannya; tebarkan 6 – 8 karung kotoran ayam atau puyuh; isi airsetinggi 40 – 60 cm dan rendam selama 5 hari; masukan 10.000 ekor benih hasil seleksi daripendederan III; beri pakan 3 persen setiap hari, 3 kg di awal pemeliharaan dan bertambah terussesuai dengan berat ikan; alirkan air secara kontinyu; lakukan panen setelah 2 bulan. Sebuahkolam dapat menghasilkan ikan konsumsi ukuran 125 gram sebanyak 400 – 500 kg.SEX REVERSALMengubah Kelamin Ikan HiasUSAHA budidaya ikan hias bisa dibilang tidak terpengaruh krisis moneter. Seberapa pun nilaitukar rupiah, tidak jadi masalah bagi para pembudidaya. Karena usaha ini tak begitu tergantungpada produk-produk impor, terutama untuk jenis ikan air tawar, yang hanya menggunakan pakanalami seperti cacing sutra atau jentik nyamuk.Yang masih menjadi persoalan, bagaimana melempar produknya. Dalam kaitan ini,pembudidaya harus jeli melihat pasar. Sejauh ini, pembeli lebih menyukai ikan hias jantan, apapun jenisnya, sebab bentuk tubuh dan warnanya yang lebih menarik daripada betina. Tidak herankalau harga ikan hias jantan lebih mahal daripada betina.Melihat selera pasar seperti itu, beberapa peneliti acapkali memikirkan usaha-usaha untukmemproduksi ikan hias jantan. Salah satu temuan terbaru yang dapat diterapkan melalui teknikpengubahan kelamin (sex reversal), yang bukan hanya bisa dilakukan pada ikan hias, tapi jugapada ikan konsumsi.
  8. 8. Teknik ini dilakukan melalui perlakuan hormonal, sehingga bisa diperoleh lebih banyak ikanjantan daripada betina. Beberapa spesies ikan pernah mengalami uji hormonal seperti ini, danberhasil dengan baik, antara lain ikan nila, tawes, grass crap, guppy, kongo tetra, maskoki, dancupang.Ikan cupang (Betta Splendens Regan) merupakan jenis ikan hias yang cukup digemarimasyarakat luas. Jantannya dikenal sebagai ikan aduan.Cupang jantan strip memiliki warna yang sangat menarik. Sementara yang betina tidak menarik,dan harga jualnya rendah. Bahkan sering dijadikan pakan untuk ikan-ikan besar, seperti Arwana.Di kota-kota besar, harga ikan cupang jantan dewasa bervariasi antara Rp 1.000 hingga Rp5.000,00 per ekor. Bandingkan dengan ikan betina yang hanya Rp 50-Rp 100. Sehingga selisihharga yang sangat menyolok itu perlu disiasati dengan penerapan teknologi tersebut.Sex ReversalTeknologi sex reversal merupakan teknik pengubahan kelamin dari betina menjadi jantan, atausebaliknya, melalui pemberian hormon dan teknik perendaman. Kalau yang diberikan hormonandrogen, ikan diarahkan untuk berkelamin jantan. Tetapi jika yang diberikan hormon estrogen,jenis kelamin diarahkan menjadi betina. Jadi, jika pembudidaya ingin menghasilkan ikan-ikancupang jantan, maka proses sex reversal yang diterapkan di sini menggunakan hormon androgen.Hormon androgen yang digunakan adalah 17-a Metiltestosteron (C20H30O2). Hormon yangberwarna putih, dan berbentuk serbuk halus (powder), itu diproduksi Sigma Chemical Co., Ltd.,AS, tetapi dapat dibeli di toko-toko bahan kimia, terutama kota-kota besar di Indonesia.Jumlah bahan yang dibutuhkan 20 mg/liter larutan perendam telur ikan. Tiap 300 butir telur ikanmemerlukan 0,2 liter larutan. Cara membuat larutan perendaman yaitu melarutkan 10 mghormon Metiltestosteron dalam 0,5 ml alkohol 70%, lalu diencerkan dengan aquades destilatasebanyak 495 ml.Persiapan induk1. Induk jantan dan betina dipelihara dalam akuarium berbeda, dengan diberi makan berupa larvaChironomus (cuk merah) atau kutu air.2. Pilihlah induk jantan dan betina, yang telah matang (gonad) dan siap untuk dipijahkan.3. Siapkan pula akuarium untuk pemijahan. Selanjutnya masukkan ikan jantan dan tanamaneceng gondok untuk tempat menempel sarang (busa).4. Masukkan ikan betina ke dalam toples. Tempatkan ke dalam akuarium pemijahan yang telahberisi ikan jantan. Ini dimaksudkan untuk merangsang ikan jantan agar membuat sarang,sekaligus menghindari per-kelahian.
  9. 9. 5. Setelah ikan jantan membuat sarang, tangkaplah ikan betina yang berada di dalam toples.Masukkan ke akuarium pemijahan untuk dipasangkan dengan jantan. Lalu tangkap kedua induk,dan biarkan telur beserta sarangnya tetap berada di dalam akuarium pemijahan, kemudiandiaerasi.6. Sekitar 10 jam setelah pemijahan, pisahkan telur dari sarang (busa), dengan cara menempatkanaerasi di bawahnya, sehingga telur terpisah dan tenggelam di dasar akuarium.7. Setelah embrio mencapai stadium bintik mata (sekitar 10-30 jam; tergantung temperatur),lakukan perendaman dalam larutan hormon yang telah dibuat selama 24 jam sambil tetapdiaerasi.8. Pisahkan embrio dari larutan hormon. Kalau perendaman selesai, tetaskan di akuariumpenetasan.9. Burayak yang menetas dipelihara dan dibesarkan hingga siap dijual.Produksi MassalBanyak keuntungan diperoleh melalui penerapan teknologi ini. Misalnya, dapat menghasilkanikan-ikan cupang jantan secara massal, dan dengan biaya relatif rendah. Artinya, biaya yangdiperlukan tidak terlalu besar dibandingkan dengan hasil yang diperolehnya.Dengan demikian, keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan ikan-ikan jantan jugabertambah. Teknologi ini juga digunakan untuk mendapatkan induk jantan super (YY), yangselanjutnya menghasilkan anak-anak ikan dengan jenis kelamin semuanya jantan.Yang harus diingat, teknologi ini bersifat spesifik, sehingga penerapannya pun harus tepat.Terutama jenis dan dosis hormon, lama perendaman, dan waktu untuk memulai perendaman.Kalau dosisnya kurang, maka jenis kelamin ikan tidak bakal berubah. Tapi jika dosisnyaberlebihan, justru bisa menyebabkan kematian ikan-ikan tersebut. Kalau pun tidak mati,keturunannya cenderung steril (mandul).Selain itu, ikan jantan yang dihasilkan melalui proses sex reversal ini tidak baik apabila dijadikaninduk. Makanya, induk yang bertugas menghasilkan telur-telur ini harus bebas dari perlakuan sexreversal ini. Bagaimana pun, ada keuntungan juga selalu terdapat kerugian.Yang penting, kita berusaha kuat agar bisa meraih keuntungan dan mencegah kemunculanpotensi-potensi kerugian dengan menerapkan teknologi secara tepat. (Moch Achid Nugroho-35).Sex Reversal Pada Ikan Nila (Oreochromis sp.) Dengan 17α-MetiltestosteronCROSS BREEDING PADA IKAN NILA
  10. 10. Sumber daya alam yang ada di negara kita sangatmelimpah, termasuk dalam bidang perikanan dan kelautan. Namun dalam hal pemanfaatan danpongelolaannya kuarg optimal, banyak penangkapan-penangkapan liar yang dilakukan sehinggaapabilahal ini dilakukan ters-enerus maka kekayaan alam kita khususnya perikanan akanmengalami pengurangan yang drastis. Dalam bidang budidaya perikanan, untuk melakukanmengurangi dampak dari kegiatan tersebut, dilakukanlah berbagai teknologi untuk meningkatkanproduksi perikanan tanpa melakukan penangkapan yang akan merusak kelestarian ikan yang adadi perairan Indonesia.Salah satu teknologi yang dilakukan untuk meningkatkan produksi perikanan ini adalah denganmelakukan kegiatan produksi benih ikan berkualitas (unggul) melalui proses persilangan yangmenguntungkan.Penggunaan benih yang berkualitas dan kuantitasnya mencukupi pada saat proses budidaya,merupakan hal yang pokok untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Hal ini tengah dilakukanoleh balai risert dan teknologi yang ada di Indonesia supaya bisa memenuhi kualitas dankuantitas yang dibutuhkan, dengan cara melakukan breeding program yaitu melakukan selektifbreeding, hibridisasi/out breeding/croos breeding, inbreeding, monosex/sereversal, sertakombinasi dari beberapa program tersebut. Tujuan dari beberapa program breeding adalah :- Menghasilan benih yang unggul yang dapat diperoleh dari induk hasil seleksi agar dapatmeningkatkan produktifitas.- Memperoleh induk-induk yang murni, yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya kepadaketurunannya serta memperpendek waktu dalam mencapai turunan filialnya dengan caraGynogenesis.Tujuan dari pelaksanaan praktikum yang dilakukan pada mata kuliah ini dalah agarmahasiswa/praktikan dapat :1. Memahami prosedur kerja pada masing masing program breeding2. Melakukan kegiatan/mengaplikasikan seleksi ikan atau pemuliaan ikan secara baik dan benarserta mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang diharapan.
  11. 11. 3. Menggunakan alat-alat yang digunakan dalam kegiatan pemuliaan ikan secara baik dan benar.4. Menghitung dosis penggunaan obat atau bahan-bahan tertentu yang sesuai dengan proseduryang telah direkomendasikanTINJAUAN PUSTAKASeleksi ikan disebut juga perbaikan genetik (Genetic improvement) merupakan aplikasi genetikdimana informasi genetik dapat diketahui dengan cara ini untuk melakukan pemuliaan. Tujuandari pemuliaan itu sendiri adalah menghasilkan benih yang unggul yang diperoleh dari indukhasil seleksi agar dapat meningkatkan produktifitas.Produktifitas dalam budidaya ikan dapat ditingkatkan dengan beberpa cara yaitu ektensifikasidan intensifikasi. Ektensifikasi adalah meningkatkan hasil dengan memperluas lahan budidaya,sedangkan intensifikasi ialah meningkatkan hasil persatuan luas dengan melakukan manipulasiterhadap faktor internal dan faktor eksternal.Menurut Tave (1995), seleksi adalah program breeding yang memanfaatkan phenotypic variane(keragaman fenotipe) yang diteruskan dari orang tua kepada keturunannya, keragaman fenotipemerupakan penjumlahan dari keragaman genetik, keragaman lingkungan dan interaksi antaravariasi lingkungan dan genetik.Pelaksanaan seleksi ikan ada dua cara yaitu seleksi terhadap fenotipe kualitatif yang dilihat dariwarna tubuh, tipe sirip, polasisik, bentuk punggung sedangkan seleksi terhadap fenotipekuantitatif yang dilihat dari pertumbuhan, fikunditas, daya tahan terhadap penyakit dansebagainya. Pelaksanaan pemuliaan pada ikan dapat dilakukan dengan beberapa cara dariprogram breeding salah satunya adalah cross breeding.Cross Breeding atau hibridisasi merupakan program persilangan yang dapat diaplikasikan padasemua makhluk hidup yang bertujuan untuk mengumpulkan sifat-sifat unggul yang dimiliki padamasing-masing induk yang diwariskan pada keturunannya, terkadang hasil croos breedingditemukan strain baru yang berbeda dengan masing masing induknya.Hibridisasi akan mudah dilakukan apabila dapat dilakukan pemijahan seacara buatan sepertihalnya pada ikan lele dan patin, dengan melihat marfologi ikan lele dan ikan patin khususnya alatreproduksinya sangat memungkinkan untuk dilakukan reproduksi buatan yang terdiri dari prosespematangan gonad, teknik pemngambilan sperma dan telur serta pencampurannya.METODOLOGIA. Waktu dan TempatPelaksanaan praktikum seleksi ikan “Croos breeding “ dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober2006, yang dilaksanakan di Hatchery Departemen Perikanan Budidaya VEDCA Cianjur.B. Alat dan Bahan
  12. 12. - Spuit- Bulu ayam- Mangkok- Bak fiber- Bak beton- Akuarium- Timbangan- Kakaban Kain lap- Alat tulis- Air bersih- Induk ikan patin jantan- Induk ikan lele betina- Ovaprin- Aquabides- Larutan fisiologisC. Prosedur KerjaProsedur kerja praktikum croos breeding ini adalah:a. Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakanb. Seleksi induk jantan ikan patin dan induk betina ikan lele yang matang gonadc. Masukan induk-induk terseut dalam bak fiber secara terpisahd. Lakukan penyuntikan pada kedua induk jantan dan betina dengan ovaprin. Dosis penyuntikandisesuaikan dengan kebutuhan yang diperlukan yaitu jantan 0,02 cc dan betina 0,03 cc setelah itumasukan kembali induk-induk tyersebut dalam bak.e. Bersihkan 6 buah akuarium yang akan digunakan untuk proses penetasan dari hasilpenyuntikan serta bersihkan kakaban secukupnya untuk tempat penempelan telur.
  13. 13. f. Setelah 6 jam dari penyuntikan, lakukan striping pada induk betina ikan lele dan setelahtelurnya semuanya keluar dan ditampung dalam mangkok atau baki kemudian lakukan stripinginduk patin jantan dan masukan sperma pada telur tersebut kemudian campur sperma dengantelur yang ditambahi dengan larutan fisiologis secukupnya.g. Setelah itu masukan telur yang telah dicampur dengan sperma kedalam akuarium yang telahdisiapkan sebelumnya dengan pemberian kakaban sebagai substratnya.h. Setelah 24 jam telur menetas angkat kakaban dari dalam akuarium dan bersihkan telur yangtidak menetasi. Pelihara larva tersebut dan lakukan pengamatan serta lakukan pergantian air dan pemberianpakan.HASILHasil praktikum Cross Breeding yaitu dari perkawinan silang antara ikan Lele (betina) dan ikanpatin (jantan) mengalami tingkat fertilisasi 1 %. Pada kegiatan penetasan, dilakukan pengukuranparameter kualitas air (suhu, pH dan Oksigen) yang dilakukan pada pagi, siang dan sore hariyang dilakukan selama dua hariTabel pengukuran parameter kualitas airHari ke- Suhu pH Oksigen terlarut (DO)pagi siang sore pagi siang sore pagi siang sore1 26 30 31 7.5 7,8 8 2,5 8 32 27 31 32 8 8 8 3 3 3Induk yang digunakan pada praktikum croos breeding mempunyai ukuran dan dosis yangdigunakan seagai berikut :No Jenis induk Berat(kg) Dosis ovaprim (ml)1 Betina lele dumbo 0,8 0,22 Jantan patin 0,7 0,1PEMBAHASANCroos breeding merupakan menyilangkan pada satu rumpun ataupun jauh yang bertujuan untukmelakukan hibridisasi, sehingga akan diperoleh individu yang unggul ataupun strain baru.
  14. 14. Aplikasi croos breeding tidaklah rumit sehingga sangat mudah untuk diaplikasikan, yang perludierhatikan jika melakukan croos breeding dengan berbeda jenis adalah ukuran dari lubangmikrofil dengan ukuran kepala sperma sehingga akan mudah diperhitungkan factor-faktorterjadinya kegagalan dan terjadinya pertumbuhan.Praktikum cross breeding yang dilakukan mengalami kegagalan yang disebabkan oleh factorkematangan telur yang belum merata dan kualitas air yang fluktuatif. Kematangan gonad dalammelakukan proses pembuahan secara buatan adalah hal pokok yang harus diperhatikan sehinggaproses pembuahan akan terjadi dengan baik.Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu pemijahan. Faktor-faktor tersebit adalahfaktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal meliputi hormon, kematangan gonad danvolume kuning telur. Hormon yang mempengaruhi dalam proses pemijahan ini adalah hormonyang dihasilkan kelenjar Hipofisa dan Tyroid yang berperan dalam proses metamorfosa.Kematangan gonad khususnya pada ikan betina terlihat dari keseragaman ukuran dan besarkecilnya ukuran telur yang ada, dalam praktek ini terjadi kegagalan karena ukuran telur yangtidak seragam dan tingkat kematangan yang masih rendah terlihat dari ukuran telur yang kecil-kecil. Sedangkan kuning telur berkaitan dengan pasokan makanan untuk larva apabila telahmenetas sedangkan fakto eksternal adalah kualitas dan kuantitas air serta SDM yang menguasaiteknik ini atau tidak. Dari seg kuantitas air, dalam pelaksanaan praktik ini sudah cukupmemenuhi standart, namun dari segi kualitas, terjadinya fluktuasi suhu yang sangat tinggi hinggamembuat telur yang akan ditetaskan mengalami kematian. Dari segi SDN, kemingkinan kegiatanini tidak bersil dikarenakan tingkat kemampuan praktikan yang melaksanakan praktik ini sangatrendah.Croos breeding merupakan menyilangkan pada satu rumpun ataupun jauh yang bertujuan untukmelakukan hibridisasi, sehingga akan diperoleh individu yang unggul ataupun strain baru.Aplikasi croos breeding tidaklah rumit sehingga sangat mudah untuk diaplikasikan, yang perludierhatikan jika melakukan croos breeding dengan berbeda jenis adalah ukuran dari lubangmikrofil dengan ukuran kepala sperma sehingga akan mudah diperhitungkan factor-faktorterjadinya kegagalan dan terjadinyaperumbuhan.KESIMPULAN DAN SARANKesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah :1. Dalam suatu pemijahan kita harus sangat memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhitingkat pemijahan.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu pemijahan adalah fakor internal yangterdiri dari : kematangan gonad, hormon dan kuning telur. Dan faktor esternal yang terdiri dari :kualitas dan kuantitas air serta kualitas SDM yang memadai.3. Kegiatan cross breeding dapat berjalan apabila, lubang micrifil telur lebih besar dari ukuransperma, sehingga sperma dapat masuk kedalam telur.
  15. 15. DIFERENSIASI KELAMIN IKAN MASJenis kelamin pada ikan mas, dan juga jenis kelamin pada beberapa jenis kan lainnya memilikitingkat pertumbuhan yang berbeda. Studi tentang adanya perbedaan tingkat pertumbuhan itusudah lama dilakukan, terutama di Jepang, di Eropa dan negara-negara lainnya. Hasilnya sudahdiketahui dengan pasti, dan telah berdampak positip pada kegiatan usaha perikanan.Ikan nila GIFT contohnya. Pada nila GIFT, pertumbuhan jantan lebih cepat dari betina. Padaumur 6 bulan, jantan nila GIFT bisa mencapai 300 gram. Sedangkan betina hanya mencapai 250gram (Arie, 1999). Adanya perbedaan ini disebabkan faktor internal, salah satunya adalahaktivitas gonad. Faktor internal lainnya, tentu saja disebabkan karena gen.Aktivitas gonad pada ikan nila tidak berhenti sejak matang gonad, baik pada jantan maupunbetina. Pada umur 5 bulan, ikan nila sudah memijah. Itu terus terjadi sepanjang tahun denganinterval 3 minggu pada betina, dan seminggu pada jantan. Tetapi energi yang diperlukan untukmemproduksi telur lebih banyak daripada energi yang diperlukan untuk memproduksi sperma.Ini berpengaruh pada kecepatan pertumbuhan.Ikan nila memijah sepanjang tahun, baik jantan maupun betina. Interval pemijahan keduanyaberbeda. Pada betina, interval itu berlangsung sangat cepat, yaitu selama 3 minggu. Sedangkanpada jantan berlangsung selama seminggu. Karena itu, pada ikan nila, jenis kelamin jantan lebihdiutamakan dari betina. Sebab, hasil panen yang diperoleh lebih tinggi dari betina. Tentu saja,keuntungannya juga lebih banyak.Pada ikan mas terjadi sebaliknya. Ikan yang berkelamin betina lebih cepat tumbuh dar betina.Pada umur setahun, ikan betina bisa mencapai berat 1 – 1,2 kg. Sedangkan jantan pada umuryang sama hanya mencapai 800 gram. Betina 5 – 10 persen lebih cepat tumbuh dari jantan(Kessler, 1961 dalam Nagy et al., 1978). Karena itu, pada ikan mas, jenis kelamin betina lebihdiutamakan dari jantan.Pembuatan jenis kelamin pada ikan nila, mas dan ikan lainnya dapat dilakukan denganpengubahan kelamin, atau dikenal dengan istilah diferensiasi kelamin. Menurut Yatim (1980),diferensiasi kelamin adalah perubahan jenis kelamin dari betina ke jantan atau dari jantan kebetina yang disebabkan oleh faktor lingkungan, dimana perubahan ini hanya terjadi padakarakter kelaminnya saja, sedangkan susunan genetiknya tidak berubah.D’Ancona dan Yamamoto dalam Brusle dan Brusle (1983) membagi proses diferensiasi kedalam dua bagian, yaitu diferensiasi secara langsung dan diferensiasi secara tidak langsung.Deiferensiasi langsung umumnya terjadi pada ikan-ikan gonochorisme. Pada proses ini sudahterdapat sel benih jantan atau betina sebelum terjadinya diferensiasi gonad. Sedangkandiferensiasi tidak langsung umumnya terjadi pada ikan-ikan hermaprodit, seperti belut (Flutaalba). Di awal, ikan-ikan hermaprodit berkelamin betina, kemudian 50 persen berubah menjadijantan (Brusle dan Brusle, 1983).
  16. 16. Menurut D’Ancona, 1950 dalam Brusle dan Brusle, 1983, menyebutkan bahwa pada awalpembentukan gonad terdapat sepasang somatic, yaitu cortex dan modulla yang sangat berperanpenting dalam pembentukan kelamin jantan atau betina, sehingga perubahan jenis kelamin padaikan merupakan pengaruh rangsangan cortex dan modulla yang akan menghasilkan gynogeninatau androgenin.Pada umumnya phenotip jenis kelamin ikan sesuai dengan genotipnya, tetapi dapat terjadipenyimpangan. Penyimpangan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor ekternal, (yaitu suhu dansalinitas), dan penggunaan hormone steroid (Brusle dan Brusle 1983). Pada suhu 26 o C banyakdijumpai gonad ikan Rivulus yang berkembang menjadi ovotestis, tetapi pada suhu 10 o Cmenjadi testis. Pada Anguilla yang hidup di salinitas tinggi, banyak dijumpai jan tan. Sedangkanpada salinitas rendah betina lebih dominan (Colombo dan Rossi dalam Brusle dan Brusle 1983)Penggunaan steroid sintesis pada ikan untuk mengubah kelamin akan berhasil apabila diberikanpada masa diferensiasi gonad (Nakamura dan Takashi dalam Machintosh, Vargeshe danSatyanarayanan Rov, 1984). Masa diferensiasi gonad ikan berbeda-beda untuk setiap jenis ikan.Bisa terjadi selama berlangsungnya proses penetasan, bisa juga terjadi saat larva.Pada ikan mas, masa diferensiasi terjadi sampai ikan berumur 65 setelah menetas (Brusle danBrusle 1983). Pendapat itu tidak jeuh berbeda dengan pendapat Davies dan Takashiwa dalamHunter dan Donalson (1983) yang menyatakan bahwa pada suhu 21,7 – 23,5 o C prosesdiferensiasi kelamin berlasung selama dua bulan setelah telur menetas.Sementara itu Yamazaki (1983) menyatakan bahwa penggunaan hormone steroid akan lebihberhasil merubah kelamin apabila digunakan selama mas pertumbuhan gonad, yaitu sebelumatau sesudah ikan mula makan. Dari penelitiannya dia menyimpulkan bahwa :- Pemberian hormone akan efektif apabila diberikan pada ikan mulai makan. Frekwensi jantanseringkali relative tinggi jika diberikan setelah 1 – 2 minggu dari mulai makan.- Periode sensitive untuk diberi pakan terjadi pada waktu ikan berumur 2 – 4 minggu. Namun halini sangat tergantung pada species ikan itu sendiri.Berkaitan dengan pendapat Yamazaki di atas, Nagy et al., mencoba memberikan 100 mg/kgmetilteststeron selama 36 hari yang diberikan pada benih yang berumur 8, 26, 44, 62 dan 80 harisetelah fertilisasi untuk mendapatkan jantan hasil genogenesis dengan menggunakan suhu 20 –25 o C. hasilnya, pada suhu 25 o C, ikan mas yang diberikan hormone metiltestosteron padaumur 8 – 62 hari didapat 71,4 – 88,9 persen jantan. Sedangkan pemberian hormon pada umur 80hari hanya didapa 20 persen saja.Pengaruh pemberian hormone pada diferensiasi kelamin akan mengubah fenotif kelamin tanpamengubah genotipnya. Ikan jantan memiliki kromosom XY dan ikan betina XX. Denganmemberikan hormone androgen pada stadia tertentu dapat berkembang menjadi fenotif jantan.Pada ikan yang gonadnya sedang berdiferensiasi menjadi testis atau ovari dengan adanyapemberian hormone, kemungkinan akan memberikan hasil yang permanent (Martin, 1979),
  17. 17. sebab kerja gen kelamin terbatas pada periode yang relative singkat, yaitu selama awalperkembangan gonad dan tidak aktif lagi setelah gonad berdiferensiasi (Yamazaki, 1983).Daftar Pustaka :Donalson, E. M, U.H.M Fagerlund., DA. Hggs dan J.R Mc Bride 1978. Hormonal enchament ofgrowt. Dalam W.S. Hoar, D.J. Randal dan J.R. Bret (ed.). Fish Physiology Vol. VIII. AcademicPress, Newyork 456 – 597Hunter. G.A. E.M. Donalson. J. Stoss dan I. Baker, 1983. Production of monosex female groupsof chinoox salmon (Onchorhynchus ishawytscha) by the fertilization of normal ova with spermfrom sex-reversed female. Jour. Aquac., 33 : 355 – 364Martin, C.R. 1979. Texbook of endocrine physiology. City University of Newyork City. 561 hal.Nagy, A., K. Rajki. L. Horvart dan V. Csanyi. 1978. Investigation on carp (Cyprinus carpio L)ginogenesis. Jour. Fish. Biol. 13 : 215 – 224.Yamazaki, F. 1983. Sex control and manipulation in fish. Jour. Aquac. 33 : 329 – 354.Yatim, W. 1986. Genetika. Tarsito Bandung. 397 hal.Induk murni ikan mas sulit dicari di Indonesia, atau bisa jadi sudah tidak ada. Padahalkeberadaannya sangat penting dalam dunia usaha. Karena dari induk yang murni dapatmelahirkan keturunan yang unggul, yaitu tumbuh cepat, rentan terhadap serangan penyakit danperubahan lingkungan. Bila dipelihara dapat diperoleh hasil yang maksimal dengan tingkatkehidupannya (SR) yang tinggi.Menurut Ditjen Perikanan (1985) dan Sumantadinata (1988), menurunnya sifat-sifat kemurnianikan mas disebabkan bebagai faktor, 1 ) kurangnya pengertian para pembudidaya ikan tentangpentingnya ketersediaan induk-induk murni untuk produksi benih unggul. 2 ) jarang pakarperikanan yang berminat dan bekerja untuk melakukan seleksi karena membutuhkan waktu yanglama, fasilitas yang memadai, dan biaya yang tinggi. 3 ) Adanya pemijahan yang berulang kaliantar ras tanpa pola tertentu, akibat kurangnya pengontrolan di lingkungan petani pembenih ikandi daerha tersebut. GINOGENESIS IKAN MAS
  18. 18. Dahulu tercatat ada delapan varitas ikan mas yangtersebar di beberapa daerah tanah air. Dari varitas-varitas itu sudah terbukti kelebihannya Bacadelapan varitas ikan mas. pada delapan-varitas-ikan-mas-dan-tanda. Namun dari semua varitasitu belum ditemukan kemurniannya berdasarkan sifat-sifat, dan morfologi dengan kelengkapansejarahnya.Kemurnian induk ikan mas harus dikembalikan. Salah satu cara yang bisa dilakukan untukmengembalikan kemurniannya adalah dengan melakukan persilangan-persilangan dalam (inbreeding). Namun cara ini membutuhkan lebih dari enam generasi. Satu generasi membutuhkanwaktu 2 tahun, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan induk. Jadi cara inimembutuhkan waktu selama 12 tahun.Untuk memperpendek masa pemurnian dapat dilakukan dengan cara ginogenesis. Cara ini bisamerubah dari 6 generasi menjadi 2 generasi, strain murni sudah dapat diperoleh pada generasikedua. Keberhasilan cara ini tergantung dari ketelitian perlakuan dan kesuburan betina ginigenesi(Nagy, Bersenyi dan Csanyi, 1981 : Sumantadinata).Nagy et al,. 1978 ; Hollebeck et al,. 1986: Sumantadinata, 1988), menyebutkan ginogenesisadalah terbentuknya zigot 2n (diploid) tanpa peranan genetic gamet jantan. Jadi gamet jantanhanya berfungsi secara fisik saja, sehingga prosesnya hanya merupakan perkembanganpathenogenetis betina (telur). Untuk itu sperma diradiasi. Radiasi pada ginogenesis bertujuanuntuk merusak kromososm spermatozoa, supaya pada saat pembuahan tidak berfungsi secaragenetic (Sumantadinata, 1988). Nagy et al,. 1981, menyebutkan pemijahan dengan caraginogenesis akan menghasilkan selurunya berkelamin jantan. Lihat artikel penyimpanan spermapada : penyimpanan-sperma.html.Ginogenesis merupakan reproduksi seksual yang jarang terjadi pada pembuahan, karena nukleussperma yang masuk ke dalam telur dalam keadaan tidak aktif, sehingga perkembangan telurnyahanya dikontrol oleh sifat genetik betina saja. Oleh karena itu, keturunannya merupakan replikadari induk betina baik secara marfologi maupun susunan genetiknya (Purdon, 1983). Lihatpengubahan kelamin diferensiasi-kelamin-pada-ikan-mas.htmlGinogenesis buatan dilakukan melalui beberapa perlakuan pada tahapan pembuahan dan awalperkembangan embrio. Perlakuan ini bertujuan 1) membuat supaya bahan genetik jantan menjaditidak aktif 2) mengupayakan terjadinya diploisasi agar telur dapat menjadi zigot (Nagy, et al,.
  19. 19. 1979). Bahan genetik dalam spermatozoa dibuat tidak aktif dengan radiasi sinar gama, sinar Xdan sinar ultraviolet (Purdon, 1983). Sinar ultraviolet banyak digunakan, karena murah.Prosedur percobaan ginogenesis : Telur berasal dari induk betina ikan mas. Agar bisa ovulasi,induk disuntik dengan ovaprim atau ekstrak kelenjar hipophisa. Sperma diambil dari ikan tawessebanyak 1 ml, lalu diencerkan 100 kali dengan larutan garam (Sodium Chloride 0,9 %). Setelahdiencerkan di radiasi dengan sinar ultraviolet selama 10 menit. Telur dan sperma dicampurkan,sehingga terjadi pembuahan. Setelah terjadi pembuahan disebat dalam ayakn plastic dandirendam dalam air dengan suhu 25 o C. Setelah 2 menit pembuahan di beri kejutan panas (heatshock) pada suhu 40 o C selama 1,5 – 2 menit. Untuk menghilangkan daya lekat telur diberilarutan tannin, setelah itu diinkubasi pada suhu 28 o C hingga menetas. Skema prosedurginogenesis menyusul.Daftar Pustaka :Direktorat Jenderal Perikanan, 1988. Status dan Permasalahan pembenihan ikan dan udang diIndonesia. Seminar Nasional Pembenihan Ikan dan Udang 5 – 6 Juli Direktorat Bina Produksi,Jakarta. 18 hal.Donalson, E. M, U.H.M Fagerlund., DA. Hggs dan J.R Mc Bride 1978. Hormonal enchament ofgrowt. Dalam W.S. Hoar, D.J. Randal dan J.R. Bret (ed.). Fish Physiology Vol. VIII. AcademicPress, Newyork 456 – 597Hamid, A.R. 1991. Pemberian Metiltestosteron Di dalam Proses Diferensiasi Kelamin Ikan Mas(Cyprinus carpio L) Hasil Ginogenesis. Universitas Padjadjaran, Fakultas Perikanan, JurusanPerikanan, Bandung.Hunter. G.A. E.M. Donalson. J. Stoss dan I. Baker, 1983. Production of monosex female groupsof chinoox salmon (Onchorhynchus ishawytscha) by the fertilization of normal ova with spermfrom sex-reversed female. Jour. Aquac., 33 : 355 – 364Martin, C.R. 1979. Texbook of endocrine physiology. City University of Newyork City. 561 hal.Nagy, A., K. Rajki. L. Horvart dan V. Csanyi. 1978. Investigation on carp (Cyprinus carpio L)ginogenesis. Jour. Fish. Biol. 13 : 215 – 224.Sumantadinata, K. 1988. Teknologi ginogenesis, percepatan pemurnian ikan peliharaan, Kompas23 Nopember 1988.Yamazaki, F. 1983. Sex control and manipulation in fish. Jour. Aquac. 33 : 329 – 354.Yatim, W. 1986. Genetika. Tarsito Bandung. 397 hal
  20. 20. ANDROGENESIS IKAN MASKeberhasilan budidaya ikan mas, terutama pada tahap pembesaran salah satunya ditentukan olehkualitas benih. Karena benih tersebut dapat hidup dengan baik, tumbuh dengan cepat, serta tahanterhadap perubahan lingkungan dan serangan penyakit. Namun benih ikan mas yang berkualitasbaik, sulit ditemukan di Indonesia. Karena kualitas induk sudah jauh menurun dibandingkan duapuluh tahun yang lalu.Karena itu genetik pada ikan mas sekarang harus dikembalikan. Salah satu cara perbaikangenetik adalah dengan pemurnian induk. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah denganmelakukan persilangan-persilangan dalam (in breeding). Namun cara ini membutuhkan lebihdari enam generasi. Satu generasi membutuhkan waktu 2 tahun, yaitu waktu yang dibutuhkanuntuk mendapatkan induk. Jadi cara ini membutuhkan waktu selama 12 tahun.Cara yang praktis adalah dengan melalukan ginogenesis. Dengan cara ini waktu pemurnianinduk bisa diperpendek menjadi enam tahun. Cara praktis lainnya adalah dengan androgenesis,yaitu suatu teknologi yang memanfaatkan sifat-sifat genetik ikan dengan menggunakan prinsip-prinsip bioteknologi. Teknik ini memberikan kemungkinan untuk mempercepat waktupemurnian dalam seleksi ikan. Androgenesis dapat dilakukan dengan memanipulasi beberapaproses pembuahan yaitu membuat agar material genetik gamet betina menjadi tidak aktif danmengupayakan supaya terjadi diploisasi (NAGY dkk., 1978).Material genetik gamet betina dapat dibuat tidak aktif dengan radiasi sinar gamma, sinae-x atausinar ultra violet (PURDON, 1983). Dewasa ini sinar ultra violet lebih banyak digunakan karenalebih praktis dan lebih aman. Radiasi sinar ultra violoet dapat menyebabkan rusaknya kromosom.Berdasarkan penelitian adrogenesis yang dilakukan ARIFIN (1994) diperoleh hasil, bahwaradiasi dengan menggunakan dua buah lampu TUV 15 wat berjarak 30 cm dari telur selama 3 – 5menit telah mampu me-non-aktikan material gamet betina.Pemberian kejutan dilakukan untuk mempertahankan diploiditas embrio pada tahap awalperkembangannya. Diploidisasi dapat dilakukan dengan cara menghambat pembelahan mitosis I
  21. 21. (CHOURROUT, 1984). Derajat homozigositas yang tinggi dapat dicapai dengan kejutan padapembelahan mitosis I (NAGY 1986 dalam SULARTO dkk., 1992), karena pada pembelahanmitosis pasangan kromosom yang dihasilkan bersifat identik yang berasal dari genom haploidpaternal yang membelah menjadi dua (PENMAN, 1993). Tanpa proses diploidisasi embrio yangdihasilkan pada pembuahan sel telur non-aktif akan bersifat haploid yang berkarakter abnormal.Jenis kejutan yang dapat dilakukan antara lain kejutan suhu (panas dan dingin), kejutan tekanan,kejutan dengan menggunakan bahan kimia dan kejutan listrik. Kejutan suhu merupakan salahsatu metode yang banyak dilakukan karena mudah diterapkan (CARMAN, 1990). ARAI danWILKINS (1987) menjelaskan bahwa penggunakaan kejutan suhu ternyata lebih mudahdibandingkan dengan kejutan tekanan. PURDON dan LINCOLN (1973) menyatakan bahwakejutan panas telah umum dilakukan untuk menduplikasi seperangkat kromosom.Pada penelitian androgenesis ikan mas yang dilakukan EDDY (1994), didapat hasil, bahwa lamawaktu kejutan panas yang dilakukan 40 menit setelah pembuahan pada suhu 40 O C yang terbaikadalah dua menit. Penelitian pada ginogenesis ikan mas menunjukan benih homozigot diploidyang dihasilkan tertinggi oleh kejutan panas 36 – 37 menit setelah pembuahan (GUSTIANTOdanDHARMA, 1991). SUMANTADINATA (1998), menyatakan bahwa umumnya waktu awalkejutan panas yang menekan saat pembelahan mitosis I pada ginogenesis adalah 40 dapatdilakukan selama 1,5 – 2,0 menit.Penelitian ginogenesis ikan mas dengan menggunakan induk jantan ikan tawes berhasilmemproduksi benih ginogenetik, dengan kejutan panas pada suhu 40 O C setelah 40 menitinkubasi (PRIHADY dan SUBAGYO, 1992). Menurut SULARTO dkk (1992), produksiginigenetik nikan mas tertinggi diperoleh dengan pemberian kejutan panas selama satu menitpada saat 40 menit setelah pembuayhan.Menurut SUMANTADINATA (1988), androgenesisi adalah proses terbentuknya embrio darigamet jantan tanpa kontribusi genetis gemet betina. Proses reproduksi ini tidak umum terjadi,sehingga pada androgenesis dilakukan proses buatan yaitu menon-aktifkan bahan-bahan genetikyang terdapat pada telur dengan cara meradiasi telur tersebut (THORGAARD dkk., 1990).Akibat perlakuan tersebut tanpa peranan gemet betina dan bersifat haploid.Individu haploid memiliki ciri-ciri yang abnormal misalnya bentuk punggung dan ekor yangbengkok, mata atau mulut yang tidak sempurna, ukuran tubuh yang kecil, sistem peredaran darahyang tidak normal dan ketidakmampuan melakukan aktifitas renang dan makan (CHERVAS,1981 ; PURDOM, 1983). Agar embrio ini tetap hidup menurut NAGY dkk. (1978) perludilakukan diploidisasi pada tahap awal perkembangan telur.Pada androgenetis yang dilakukan oleh ARIFIN (1994) pada ikan mas berhasil memperoleh 89,4persen benih diploid androgenetik, sedangkan EDDY (1994) memperoleh 89,05 benihandrogenetik ikan mas. SHCEERE dkk. (1986) dan THORGARRD dkk. (1990) yang melakukanpercobaan androgenesis ikan rainbow menghasilkan tingkat kelangsungan hidup ikan masing-masing sebesar 6,8 persen dan 0,8 persen setelah berumur 59 hari.Daftar Pustaka :
  22. 22. Rohadi, D.S, 1996. Pengaruh Berbagai Waktu Awal Kejutan Panas Terhadap Persentase LarvaDiploid Mitoandrogenetik Ikan Mas (Cyprinus carpio L). Universitas Padjadjaran, FakultasPertanian, Jurusan Perikanan, Jatinangor, BandungDaftar Pustaka Tambahan :Arai, K. dan N.P. Wilkins. 1987. Triplidization of brown trout (Salmon trutta) bay heat shock.Aquaculture, 64 : 97 – 103.Arifin, O.Z. 1994. Pengaruh lama Radiasi sinar ultra violet terhadap keberhasilan androgenetisikan mas majalaya (Cyprinus carpio L). Skripsi Fakultas Pertanian Unida, Bogor (Tidakdipublikasikan, 40 hal).Carman, O. 1990. Ploidy manipulation in some warm water fish. Thesis, Sumited in PartialFulfiment of Requirements for Degree of Master in Fisheries Science at The Tokyo University ofFisheries, 87 hal.Cherfas, N.B. 1981. Ginogenesis in fishes. Dalam V.S. Khirpichnikov (ed:) : Genetic bases offish selection. Springer, Verlag, Berlin, Heidelberg, New York. Hal 223 – 273.Chourout, D. 1984. Pressure induced retention of second polar body by suppression of firstcleavage in rainbow trout; Production of all-triploid – all tetraploid, and heterozygousgynogenetic. Aquaculture, 26; 111 – 126.Eddy, M. 1994. Pengaruh lama kejutan panas terhadap androgenesis pada ikan mas (Cyprinuscarpio L). Skripsi. Fakultas Pertanian, Unida Bogor. (Tidak dipublikasikan).Hardjamulia, A. 1979. Budidaya Perikanan. Budidaya ikan mas (Cyprinus carpio L), ikan tawes(Puntius javanicus), ikan nilem (Osteochilus hasselti). SUPM Bogor. Badan Pendidikan danLatihan Penyuluhan Perikanan, Depatemen Pertanian, hal 1 – 7.

×