Artikel ptk
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Artikel ptk

on

  • 4,003 views

 

Statistics

Views

Total Views
4,003
Views on SlideShare
4,003
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
82
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Artikel ptk Artikel ptk Document Transcript

  • Artikel PTK (Pembelajaran Matematika CTL Untuk Meningkatkan Kemampuan PenalaranPEMBELAJARAN MATEMATIKA KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARANSISWA SD KELAS IV(Penelitian Tindakan Kelas Pada Pokok Bahasan Bilangan Bulat di Kelas IV SD Negeri PancasilKecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat)OlehDedi Purwanto0610785ABSTRAKLatar belakang dilakukan penelitian ini adalah adanya kenyataan dilapangan (kelas IV-A SD NegeriPancasila Lembang) yang menunjukan rendahnya kemampuan penalaran matematik siswa. Untuk itupenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan penalaran matematik siswa dan jugabagaimana respon siswa melalui pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual yangdikembangkan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di kelas IV-ASD Negeri Pancasila Lembang.Pengumpulan data dilakukan dengna menggunakan beberapa instrument baik itu instrument tesyaitu tes formatif dan tes sumatif maupun instrument non tes yaitu lembaran penilaian, angketataupun pedoman wawancara. Hasil penelitian ini diantaranya menyimpulkan bahwa pembelajaranmatematika kontekstual mampu meningkatkan kemampuan penalaran matematik siswa SD kelas IV-A SD Negeri Pancasila Lembang. Selain itu, penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar siswamemberi respon positif terhadap pembelajaran matematika kontekstual.I. PENDAHULUAN1. Latar Belakang MasalahDewasa ini dalam kegiatan pembelajaran matematika, siswa hanya berdasarkan pada perintah atautugas-tugas yang di berikan oleh guru. Pada pembelajaran ini siswa akan menyelesaikan soal latihanyang di perintahkan oleh gurunya. Karena guru bertindak sebagai pengendali dari aktifitas siswadalam belajarnya, siswa kurang diberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya terutamadalam memecahkan masalah matematika dan metode atau pendekatan tidak dipadukan dengankonteks dunia siswa. Cara ini tentu akan mengakibatkan siswa tidak mampu melaksanakan kegiatanproses matematika (doing matematics), sedangkan kegiatan pembelajaran menjadi kurang efektifdan efisien, selain itu pembelajaran ini mengakibatkan siswa SD tidak mampu berpikir tinggi, hal inidi dukung oleh: Sumarmo (1994: 11) bahwa “sebagian besar guru menyajikan materi hanya bersifatAlgoritmis dan kurang menggali kemampuan siswa untuk bernalar”.
  • Untuk mencapai tujuan di atas diperlukan pendekatan pembelajaran yang tepat. Salah satupendekatan yang dianggap tepat adalah pendekatan pembelajaran matematika kontekstual. Untukmembuktikannya maka dilakukanlah penelitian ini pada salah satu sekolah dasar di kecamatanLembang kabupaten Bandung Barat yaitu SDN Pancasila.2. Rumusan Masalaha. Apakan penggunaan pendekatan kontekstuan (CTL) dapat menumbuh kembangkan penalaranmatematik siswa kelas IV SDb. Bagai mana respon siswa terhadap pembelajaran matematika untuk meningkatkan penalaran3. Manfaat Penelitiana. Bagi siswa yaitu dapat membiasakan siswa bepikir kritis dalam memecahkan masalah yangdihadapinya, dapat mengubah bentuk nalar, sikap dan perilaku siswa dalam kegiatan pembelajaran.b. Bagi Guru yaitu dapat mememberikan pengalaman pada guru dalam menentukan solusi untukmemecahkan masalah yang sedang dihadapi dalam pembelajaran, mengembangkan kemampuanguru untuk mengembanngkan dan mengevaluasi pembelajaran matematika dengan menggunakanpendekatan kontekstual.c. Bagi PenelitiDapat mengembangkan pendekatan pembelajaran kontekstual (CTL) untuk meningkatkanpemahaman siswa terhadap suatu materi, sehingga diharapkan siswa dapat lebih kreatif dan mampuberpikir lebih kritis terhadap suatu masalah.4. Definisi Operasionala. Pendekatan pembelajaran kontekstual (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guruuntuk mengkaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorongsiswa membuat hubungan antar pengetahuan yang di milikinya dengan penerapannya dalamkehidupan sehari-hari.b. Penalaran bukanlah kegiatan berpikir yang menghasilkan pengetehuan secra tiba-tiba, tetapipenalaran ditandai dengan adanya langkah-langkah proses berpikir, dimana tiap langkah-langkah ituselalu bersandar atas kratria yang berlaku. Penalaran merupakan suatu peoses penemuankebenaran yang setiap jenisnya mempunyai krateria kebenaran masing-masing.II. KAJIAN PUSTAKAa. Pembelajaran Matematika Kontekstual (CTL)Ketrkaitan kehidupan nyata dalam pembelajaran bila dimulai dari sesuatu yang dekat dngan siswa,sederhana, dan sesuai dengan kemampuan berpikir mereka. Pembelajaran bisa dikaitkan denganpermasalahan keluarga, pertanian, lingkungan sekitar, lingkungan teman atau keluraga lain yangterdkat. Kegiatan pembelajaran dalam tahap operasional kongkrit, di antaranya dapat menggunakan
  • benda asli, model atau alat praga dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu operasional kongkritdapat di presentasikan sebagai kemampuan yang di miliki siswa dalam mengkaitkan antara topikyang di ajarkan, dgna pengalaman dam aktifitas yang pernah di miliki dan di ketehui oleh siswasebelmnya. Sehingga siswa dpat mengkaitkan antara satu topik pembelajara dngan tindakan atauperbuatan kehidupan nyata (Ruseffendi, 1991: 143).Alwasilah. C A menyimpulkan sistim CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolongpara siswa ,melihat makna dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitudengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka. Untuk mencapai tujuan ini, sistemtersebut meliputi delapan komponen berikut: membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna,melakukan pekerjaan yang berarti, melakukan pembelajaran yang dilakukan sendiri, melakukankerja sama, berpikir kritis dan kreatif, membantu individu untuk tumbuh dan berkembang, mencapaistandar yang tinggi, dan menggunakan penilaian yang autentik.b. Penalaran Matematik Dalam pembelajaran matematika perlu dikembangkan daya nalar. Sumarmo (2002: 15)mengemukakan bahwa penalaran matematik atau penalaran dalam matematika meliputi beberapaindikator yaitu: menarik kesimpulan logik, memberikan penjelasan dengan menggunakan model,sifat-sifat dan hubungan, mempekirakan jawaban dan proses solusi, menggunakan pola dan hunganuntuk menganalisis situasi matematik, menarik analogi dan generalisasi, menyusun dan mengujikonjektur, memberikan lawan contoh (counter examples), mengikuti aturan iferensi, memeriksavaliditas argumen, menyusun argumen yang valid, menyusun pembuktian langsung danmenggunakan induksi matematika.Untuk memunculkan aspek penalaran, siswa perlu dihadapkan pada sebuah permasalahanmatematika. Menurut Ruseffendi (1991: 336-337), suatu persoalan merupakan masalah bagiseorang jika: Persoalan itu tidak dikenalnya, siswa harus mampu menyelesaikannya bak kesiapanmentalnya maupun pengetahuan siapnya, terlepas daripada apakah akhirnya ia sampai atau tidakkepada jawabannya, sesuatu itu merupakan pemecahan merupakan pemecahan masalah itu baginyabila ia ada niat menyelesaikannya.III. METODELOGI PENELITIAN1. Metode PenelitianPenelitian yangdilakukan menggunakan model kemmis dan Mc. Target dengna melakukan sistemspiral. Siklus ini siklus inidigunakan penulis karena sesuai dengna tahapan penelitian tindakan.Tahapan-tahapan itu diantaranya: 1) persiapan perencanaan tindakan, 2) tahapan pelaksanaantindakan, 3) tahapan obsevasi 4) tahapan analisis dan refleksi, dan 5) tahapan perencanaan tindaklanjut. Penelitian ini menggunakan tiga siklus karena hasil yang diperoleh dari siklus I, siklus II, dansiklus III menunjukan siswa mengalami perubahan dalam pembelajaran dan adanya peningkatandalam kemampuan penalaran.2. Subyek Penelitian
  • Lokasi yang menjadi subyek dalam penelitian adalah siswa kelas IV SD Negeri Pancasila yang beradadi jalan peneropong bintang Desa Gudang Kahuripan Kecamatan Lembang Kabupaten BandungBarat. Kelas yang diambil sebagai subjek penelitian yaitu kelas IV-A dengan jumlah siswa 33 orang.3. Prosedur Penelitian Prosedur Penelitian Tindakan Kelas ini terdiri dari tiga siklus. Tiap siklus dilaksanakan denganperubahan yang ingin dicapai. Untik mengetahui sampai sejauh mana kemampuan penalaran siswadapat meningkat dengan pendekatan kontekstual maka dilakukan observasi awal untuk mengetahuitindakan apa yang harus diberikan secara tepat dalam rangka mengoptimalakan kemampuanpenalaran siswa.Gambaran tahap-tahap penelitian yang akan dilaksanakan yaitu:1. Studi pendahuluanMelaksanakan orientasi kegiatan lapangan, yaitu tahap studi pendahuluan sebelum tidakanpembelajaran dan observasi terhadap kegiatan pembelajaran matematika untuk mengetahuigambaran awal pelaksanaan pembelajaran matematika selama ini. Mengidentifikasi proritasmasalah yang dihadapi berdasarkan hasil orientasi dan observasi peneliti.2. Perencanaan atau persiapan tindakanPembuatan rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pembuatan tes Formatif dan tes Sumatif.Pembutatan pedoman observasi, pedoman wawancara, dan angket.3. Pelaksanaan tindakanMelaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Melakukan tes formatif setelah setiapakhir siklus. Melakukan tes sumatif setelah semua siklus dilaksanakan. Menyebarkan angket untuksiswa mewawancarai guru dan siswa tentang pembelajaran dengan pendekatan kontekstual4. Analisis dan RefleksiData yang diperoleh dianalisis sesegera mungkin berdasarkan krateria-karateria yang telahditentukan. Setelah dianalisis kemudian direfleksikan untuk mengevaluasi, mengoreksi danperbaikan untuk siklus selanjutnya.5. Membuat kesimpulan hasil penelitianData-data yang diperoleh dalam penelitian kemudian dibahas secara mendalam sehingga penelitimendapatkan suatu kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan.4. Instrumen PenelitianAdapun instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua jenis,yaitu: instrumen pembelajaran dan instrumen pengumpulan data. Instrumen pembelajaran terdiridari rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan bahan ajar berupa lembar kerja siswa (LKS).Sedangkan instrumen pengumpulan data masih dibedakan lagi menjadi dua jenis instrumen, yaitu:
  • instrumen tes dan instrumen non tes. Instrumen tes terdiri dari tes formatif dan tes subsumatif.Instrumen non tes terdiri dari angket, lembar observasi dan pedoman wawancara.4. Pengumpulan Dan Pengolahan DataData yang diperoleh diolah menjadi dua jenis yaitu data kuantitatif dan kualitatif.a. Data KuantitatifData kuantitatif berasal dari hasil tes formatif yang dilakukan pada setiap akhir siklus dan hasil tessubsumatif yang dilakukan setelah semua siklus berakhir. Hal ini dilakukan untuk mengetahuipeningkatan kemampuan penalaran siswa dalam pembelajaran matematika pada pokok bahasanyang menjadi bahan penelitian.b. Data KualitatifData kualitatif diperoleh melalui angket, lembar observasi dan hasil wawancara dengan siswa. Hal inidilakukan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan dari pembelajaran yang telah dilaksanakan.Data hasil jurnal harian siswa dan hasil angket kemudian dihitung, ditabulasi dan diinterpretasikandalam kalimat pada pembahasan hasil penelitian.IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANA. Hasil Penelitian1. Kemampuan Penalaran Matematika. Perbandingan Skor Rata-Rata Tes Formatif Dengan Tes Sumatif Kemampuan Penalaran MatematikDilihat dari Setiap IndikatorGambaran perbandingan rata-rata skor tes formatif dengan tes sumatif untuk kemampuanpenalaran matematik disajikan pada Tabel 4.1 berikut:Tabel 4.1Skor Rata-Rata Tes Formatif Dengan Tes Sumatif Kemampuan PenalaranJenis Indikator Skor Rata-RataTes Formatif Skor Rata-Rata Tes Sumatif GainIndikator 1 30.36 33.18 2.82Indikator 2 22.66 23.03 0.37Indikator 3 15.35 17.72 2.37
  • Dari Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa untuk setiap indikator penalaran terjadi peningkatan hal ini dapatdilihat dari masing-masing gain setiap indikator. Untuk indikator 1 peningkatannya sebesar 2.82;untuk indikator 2 peningkatannya sebesar 0.37; dan untuk indikator 3 peningkatannya sebesar 2.37.b. Kriteria Kemampuan Penalaran Matematik Siswa Pada Setiap SiklusGambaran tentang kriteria kemampuan penalaran matematik siswa pada setiap sisklus tindakanpembelajaran dapat dilihat pada Diagram 4.2 berikut:Diagram 4.1Kemampuan Penalaran Matematik Siswa Dari Diagram 4.1 diatas dapat dilihat porsentase kriteria sangat baik tingkat kemampuan penalaransiswa pada siklus I dan II mencapai 18,18%, dan pada siklus ke II terjadi penurunan 15,15%.Sedangkan untuk krateria baik pada siklus I dan II tingkat kemampuan penalaran siswa mencapai12,12%, dan pada siklus ke III terjadi peningkatan yang sangat bagus yaitu mencapai 33,33%.Sedangkan pada krateria cukup tingkat kemampuan penalaran siswa dibanding dari kriteria SangatBaik (SB) dan Baik (B) yaitu pada siklus I mencapai 39,39%, pada siklus II meningkat mencapai48,48%, dan pada siklus III mencapai 45,45%. Sedangkat pada krateria kurang porsentase tingkatkemampuan penalaran siswa sangat menurun dimana pada siklus I mencapai 27,27%, pada siklus IImencapai 15,15%, dan pada siklus III mencapai 6,06%. Sedangkan pada krateria jelek porsentasetingkat kemampuan penalaran siswa sangant menurun dimana pada siklus I mencapai 3,03%, padasiklus II mencapai 6,06% dan pada siklus III tidak ada siswa yang mencapai krateria jelek.2. Respon Siswa Terhadap Pembelajarana. Respon Siswa Berdasarkan AngketRespon siswa terhadap pendekatan kontekstual, dan respon siswa terhadap penalaran dapatdirangkum pada tabel 4. 2Tabel 4.2 Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Berdasarkan AngketNo Kategori Porsentase1 Tanggapan positif 87,812 Tanggapan Negatif 12,19
  • Dari Tabel 4.2 diatas dapat dilihat bahwa respon siswa terhadap pembelajaran dimana didalamnyamenyangkut pembelajaran kontekstual dan peningkatan kemampuan penalaran. Siswa yangbertanggapan positif hampir mencapai seluruh siswa dengan porsentase mencapai 87,81%,sementara siswa yang bertanggapan negatif yaitu sebagian kecil dengan porsentase mencapai12,19%. Hal ini mengindikasikan bahwa siswa menyenangi pembelajaran matematika denganpendekatan kontekstual untuk meningkatkan penalaran.b. Respon siswa berdasarkan wawancaraHasil wawancara yang dilakukan adalah dapat disajikan menjadi beberapa kelompok diantaranya:Tanggapan siswa mengenai pembelajaran yang telah dilakukan dan dibandingkan denganpembelajaran sebelumnya, untuk kategori siswa yang berkemampuan tinggi menanggapipembelajaran sekarang lebih enak karena mudah dimengerti, membuat kita berpikir keras untukmenjawab dan mengerjakan soal, pembelajaran seperti ini membuat kita lebih mengerti karenadikaitkan dengan masalah kehidupan sehari-hari, dengan pembelajaran seperti ini lebih aktif dantermotivasi.Tanggapan siswa mengenai pembelajaran yang telah dilakukan dan dibandingkan denganpembelajaran sebelumnya, untuk kategori siswa berkemampuan sedang, pembelajaran sekarangsering diskusi sehingga membuat kita lebih paham, dalan belajar kita dituntut untuk berpikir,pembelajaran seperti ini membuat kita lebih aktif, pembelajaran seperti ini guru hanya mengarahkansaja. Tanggapan siswa mengenai pembelajaran yang telah dilakukan dan dibandingkan denganpembelajaran sebelumnya, untuk kategori siswa berkemampuan rendah, pembelajaran sekarangjadi lebih mengerti darisebelumnya, suasanakelas jadi lebih aktif.B. Pembahasan1. Peningkatan Kemampuan Penalaran Matematik siswa Secara keseluruhan kemampuan penalaran siswa meningkat hal ini terlihat dari porsentase skorrata-rata kemampuan penalaran untuk setiap indikator siklus demi siklus meningkat walaupupeningkatannya belum mempunyai peningkatan yang lebih besar. Peningkatan penalaran juga dapatdilihat dari perbandingan porsentase peningkatan penalaran tes formatif dan tes sumatif pada tessumatif porsentase rata-rata kemampuan penalaran meningkat. Sementara untuk mengukur secarakeseluruhan peningkatan kemampuan penalaran siswa dapat dilihat dari porsentase peningkatanpenalaran setiap siklus untuk setiap indikator, hal ini terlihat ada peningkatan secara signifikan baikitu untuk krateria cukup, kriteria baik maupun kariteria sangat baik siklus demi siklusnya meningkatdengan baik. Untuk kriteria kurang dan jelek silus demi siklus makin kurang bahkan pada siklus IIItidak ada siswa yang masuk pada kriteria jelek.Hal ini mengindikasikan pemanfaatan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematikadapat meningkatkan penalaran. Pengkondisian watu yang efektif, pengelolaan kelas yang baik, danmerancang materi pembelajaran kedalam kegiatan siswa dan dikaitkan dengan lingkungan ataudunia siswa menjadi faktor pendukung peningkatan penalatan siswa.
  • 2. Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan PenalaranBerdasarkan hasil observasi, angket, dan wawancara respon siswa terhadap pembelajaranmatematika kontestual untuk meningkatkan penalaran meningkat, pada umumnya siswa lebihmenyukai pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual daripada pembelajarandengan menggunakan metode ceramah saja. Dengan pembelajaran yang dikembangkan, motivasi siswa cukup tinggi dan siswa lebih semangatuntuk belajar. Selain itu, kualitas siswa dalam merepresentasikan persoalan-persoalan matematiksemakin baik. Pembelajaran yang dikembangkan memudahkan siswa untuk mengungkapkan danmenuliskan jawaban dari persoalan matematik sehingga siswa lebih bisa memahami materi danpeersoalan-persoalan matematika. Soal-soal pemecahan masalah yang dikaitkan dengan konteksdunia siswa dijadikan tantangan dan sangat menarik bagi sebagian besar siswa dan pada umumnyasiswa siswa menyukai pembelajaran matemati dengan pendekatan kontekstual seperti ini.V. KESIMPULAN DAN SARANA. KesimpulanBerdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada sebelumnya, pada bab ini dikemukakanbeberapa kesimpulan sebagai berikut :Dengan pembelajaran matematika melalui pendekatan kontekstual dapat meningkatkan penalaramatematika siswa. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual mampumembangkitkan minat, motivasi serta dapat meningkatkan penalaran matematik siswa dapatberpikir kritis dan kreatif dalam belajar matematika karena memberi pengalaman yang menyeluruh.Selain itu pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan kontekstual dapatmerangsangsang siswa dalam menumbuhkan motivasi yang timbul dari diri siswa itu sendiri(intrinsik).Dengan pendekatan kontekstual pada pembelajaran matematika mendorong siswa untuk membuathubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari,sehingga siswa belajar dari mengalami sendiri dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, rasasenang belajar berpikir mandiri dan mampu mengambil keputusan. Penkatan kontekstual dalampembelajaran matematika ternyata berhasil meningkatkan kemampuan penalaran matematik siswa.B. SaranUntuk mencapai tujuan pembelajaran dan hasil belajar yang ingin dicapai hendaknya menggunakanpendekatan kontekstual karena akan mendorong terciptanya proses belajar yang efektif, kondusif,bermakna dan menyenangkan serta akan menumbuhkan motivasi siswa sehingga dapatmeningkatkan penalaran matematik siswa. Dalam mengajarkan pembelajajaran matematika denganpendekatan kontekstual hal yang harus diperhatikan adalah penggunaan waktu harus benar-benardiperhitungkan dan pengelolaan kelas terutama dalam diskusi kelas harus lebih diperhatikan.Libatkan siswa sepenuhnya dalam proses pembelajaran terutama dalam pemecahan masalahmatematika sehingga siswa dapat menemukan konsepnya sendiri dan merasakan manfaat belajar.
  • Hendaknya dalam menggunakan pendekatan kontekstual guru tidak hanya pada mata pelajaranmatematika saja tetapi pada mata pelajaran yang lain dapat diterapkan. Guru hendaknya memberikebebasan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan dan pengetahuan yang dimilikinyapada setiap pembelajaran.Daftar pustakaAlwasilah.C A. (2007). Contextual Teaching & Learning Menjadikan Kegiatan Belajar-MengajarMengasikan dan Bermakna. Bandung: Mizan Learning Center.Ruseffendi. (1991). Pengantar kepada membantu guru mengembangkankemampuannya dalam pengajaran matematika untuk meningkatkanCBSA. Bandung: Taristo.Sumarmo, U. (1987) Kemampuan Pemahaman dan Penalaran Matematika Siswa Sekolah MenengahAtas (SMA) dikaitkan dengan Kemampuan Panalartan Logik Siswa dan beberapa Unsur Proses BelajarMengajar