Psikologi pendidikan.

8,411 views
8,285 views

Published on

2 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
8,411
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
338
Comments
2
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Psikologi pendidikan.

  1. 1. PSIKOLOGI PENDIDIKAN A.     PendahuluanPsikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar (Whiterington, 1982:10). Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif. B.     Mendorong Tindakan Belajar             Pada umumnya orang beranggapan bahwa pendidik adalah sosok yang memiliki sejumlah besar pengetahuan tertentu, dan berkewajiban menyebarluaskannya kepada orang lain. Demikian juga, subjek didik sering dipersepsikan sebagai sosok yang bertugas mengkonsumsi informasi-informasi dan pengetahuan yang disampaikan pendidik. Semakin banyak informasi pengetahuan yang mereka serap atau simpan semakin baik nilai yang mereka peroleh, dan akan semakin besar pula pengakuan yag mereka dapatkan sebagai individu terdidik.Anggapan-anggapan seperti ini, meskipun sudah berusia cukup tua, tidak dapat dipertahankan lagi. Fungsi pendidik menjejalkan informasi pengetahuan sebanyak-banyakya kepada subjek didik dan fungsi subjek didik menyerap dan mengingat-ingat keseluruhan  informasi itu, semakin tidak relevan lagi mengingat bahwa pengetahuan itu sendiri adalah sesuatu yang dinamis dan tidak terbatas. Dengan kata lain, pengetahuan-pengetahuan (yang dalam perasaan dan pikiran manusia dapat dihimpun) hanya bersifat sementara dan berubah-ubah, tidak mutlak (Goble, 1987 : 46). Gugus pengetahuan yang dikuasai dan disebarluaskan saat ini, secara relatif, mungkin hanya berfungsi untuk saat ini, dan tidak untuk masa lima hingga sepuluh tahun ke depan. Karena itu, tidak banyak artinya menjejalkan informasi pengetahuan kepada subjek didik, apalagi bila hal itu terlepas dari konteks pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.Namun demikian bukan berarti fungsi traidisional pendidik untuk menyebarkan informasi pengetahuan harus dipupuskan sama sekali. Fungsi ini, dalam batas-batas tertentu, perlu dipertahankan, tetapi harus dikombinasikan dengan fungsi-fungsi sosial yang lebih luas, yakni membantu subjek didik untuk memadukan informasi-informasi yang terpecah-pecah dan tersebar ke dalam satu falsafah yang utuh. Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa menjadi seorang pendidik dewasa ini berarti juga menjadi “penengah” di dalam perjumpaan antara subjek didik dengan himpunan informasi faktual yang setiap hari mengepung kehidupan mereka.Sebagai penengah, pendidik harus mengetahui dimana letak sumber-sumber informasi pengetahuan tertentu dan mengatur mekanisme perolehannya apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh subjek didik.Dengan perolehan informasi pengetahuan tersebut, pendidik membantu subjek didik untuk mengembangkan kemampuannya mereaksi dunia sekitarnya. Pada momentum inilah tindakan belajar dalam pengertian yang sesungguhya terjadi, yakni ketika subjek didik belajar mengkaji kemampuannya secara realistis dan menerapkannya untuk mencapai kebutuhan-kebutuhannya.Dari deskripsi di atas terlihat bahwa indikator dari satu tindakan belajar yang berhasil adalah : bila subjek didik telah mengembangkan kemampuannya sendiri. Lebih jauh lagi, bila subjek didik berhasil menemukan dirinya sendiri ; menjadi dirinya sendiri. Faure (1972) menyebutnya sebagai “learning to be”.Adalah tugas pendidik untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi berlangsungnya tindakan belajar secara efektif. Kondisi yang kondusif itu tentu lebih dari sekedar memberikan penjelasan tentang hal-hal yang termuat di dalam buku teks, melainkan mendorong, memberikan inspirasi, memberikan motif-motif dan membantu subjek didik dalam upaya mereka mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan (Whiteherington, 1982:77). Inilah fungsi motivator, inspirator dan fasilitator dari seorang pendidik. C.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil BelajarAgar fungsi pendidik sebagai motivator, inspirator dan fasilitator dapat dilakonkan dengan baik, maka pendidik perlu memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar subjek didik. Faktor-faktor itu lazim dikelompokkan atas dua bahagian, masing-masing faktor fisiologis dan faktor psikologis (Depdikbud, 1985 :11).1.   Faktor FisiologisFaktor-faktor fisiologis ini mencakup faktor material pembelajaran, faktor lingkungan, faktor instrumental dan faktor kondisi individual subjek didik.Material pembelajaran turut menentukan bagaimana proses dan hasil belajar yang akan dicapai subjek didik. Karena itu, penting bagi pendidik untuk mempertimbangkan kesesuaian material pembelajaran dengan tingkat kemampuan subjek didik ; juga melakukan gradasi material pembelajaran dari tingkat yang paling sederhana ke tingkat lebih kompeks.Faktor lingkungan, yang meliputi lingkungan alam dan lingkungan sosial, juga perlu mendapat perhatian. Belajar dalam kondisi alam yang segar selalu lebih efektif dari pada sebaliknya. Demikian pula, belajar padapagi hari selalu memberikan hasil yang lebih baik dari pada sore hari. Sementara itu, lingkungan sosial yang hiruk pikuk, terlalu ramai, juga kurang kondisif bagi proses dan pencapaian hasil belajar yang optimal.Yang tak kalah pentingnya untuk dipahami adalah faktor-faktor instrumental, baik yang tergolong perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Perangkat keras seperti perlangkapan belajar, alat praktikum, buku teks dan sebagainya sangat berperan sebagai sarana pencapaian tujuan belajar. Karenanya, pendidik harus memahami dan mampu mendayagunakan faktor-faktor instrumental ini seoptimal mungkin demi efektifitas pencapaian tujuan-tujuan belajar.Faktor fisiologis lainnya yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar adalah kondisi individual subjek didik sendiri. Termasuk ke dalam faktor ini adalah kesegaran jasmani dan kesehatan indra. Subjek didik yang berada dalam kondisi jasmani yang kurang segar tidak akan memiliki kesiapan yang memadai untuk memulai tindakan belajar.2.   Faktor Psikologis     Faktor-faktor psikologis yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar            jumlahnya banyak sekali, dan masing-masingnya tidak dapat dibahas secara      terpisah.Perilaku individu, termasuk perilaku belajar, merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas yang lahir sebagai hasil akhir saling pengaruh antara berbagai gejala, seperti perhatian, pengamatan, ingatan, pikiran dan motif.2.1.   PerhatianTentulah dapat diterima bahwa subjek didik yang memberikan perhatian intensif dalam belajar akan memetik hasil yang lebih baik. Perhatian intensif ditandai oleh besarnya kesadaran yang menyertai aktivitas belajar. Perhatian intensif subjek didik ini dapat dieksloatasi sedemikian rupa melalui strategi pembelajaran tertentu, seperti menyediakan material pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan subjek didik, menyajikan material pembelajaran dengan teknik-teknik yang bervariasi dan kreatif, seperti bermain peran (role playing), debat dan sebagainya.Strategi pemebelajaran seperti ini juga dapat memancing perhatian yang spontan dari subjek didik. Perhatian yang spontan dimaksudkan adalah perhatian yang tidak disengaja, alamiah, yang muncul dari dorongan-dorongan instingtif untuk mengetahui sesuatu, seperti kecendrungan untuk mengetahui apa yang terjadi di sebalik keributan di samping rumah, dan lain-lain. Beberapa hasil penelitian psikologi menunjukkan bahwa perhatian spontan cendrung menghasilkan ingatan yang lebih lama dan intensif dari pada perhatian yang disengaja.2.2.  PengamatanPengamatan adalah cara pengenalan dunia oleh subjek didik melalui penglihatan, pendengaran, perabaan, pembauan dan pengecapan. Pengamatan merupakan gerbang bai masuknya pengaruh dari luar ke dalam individu subjek didik, dan karena itu pengamatan penting artinya bagi pembelajaran.Untuk kepentingan pengaturan proses pembelajaran, para pendidik perlu memahami keseluruhan modalitas pengamatan tersebut, dan menetapkan secara analitis manakah di antara unsur-unsur modalitas pengamatan itu yang paling dominan peranannya dalam proses belajar. Kalangan psikologi tampaknya menyepakati bahwa unsur lainnya dalam proses belajar. Dengan kata lain, perolehan informasi pengetahuan oleh subjek didik lebih banyak dilakukan melalui penglihatan dan pendengaran.Jika demikian, para pendidik perlu mempertimbangkan penampilan alat-alat peraga di dalam penyajian material pembelajaran yang dapat merangsang optimalisasi daya penglihatan dan pendengaran subjek didik. Alat peraga yang dapat digunakan, umpamanya ; bagan, chart, rekaman, slide dan sebagainya.2.3.  IngatanSecara teoritis, ada 3 aspek yang berkaitan dengan berfungsinya ingatan, yakni (1) menerima  kesan, (2) menyimpan kesan, dan (3) memproduksi kesan. Mungkin karena fungsi-fungsi inilah, istilah “ingatan” selalu didefinisikan sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan dan mereproduksi kesan.Kecakapan merima kesan sangat sentral peranannya dalam belajar. Melalui kecakapan inilah, subjek didik mampu mengingat hal-hal yang dipelajarinya.Dalam konteks pembelajaran, kecakapan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya teknik pembelajaran yang digunakan pendidik. Teknik pembelajaran yang disertai dengan penampilan bagan, ikhtisar dan sebagainya kesannya akan lebih dalam pada subjek didik. Di samping itu, pengembangan teknik pembelajaran yang mendayagunakan “titian ingatan” juga lebih mengesankan bagi subjek didik, terutama untuk material pembelajaran berupa rumus-rumus atau urutan-urutan lambang tertentu. Contoh kasus yang menarik adalah mengingat nama-nama kunci nada g (gudeg), d (dan), a (ayam), b (bebek) dan sebagainya.Hal lain dari ingatan adalah kemampuan menyimpan kesan atau mengingat. Kemampuan ini tidak sama kualitasnya pada setiap subjek didik. Namun demikian, ada hal yang umum terjadi pada siapapun juga : bahwa segera setelah seseorang selesai melakukan tindakan belajar, proses melupakan akan terjadi. Hal-hal yang dilupakan pada awalnya berakumulasi dengan cepat, lalu kemudian berlangsung semakin lamban, dan akhirnya sebagian hal akan tersisa dan tersimpan dalam ingatan untuk waktu yang relatif lama.Untuk mencapai proporsi yang memadai untuk diingat, menurut kalangan psikolog pendidikan, subjek didik harus mengulang-ulang hal yang dipelajari dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Implikasi pandangan ini dalam proses pembelajaran sedemikian rupa sehingga memungkinkan bagi subjek didik untuk mengulang atau mengingat kembali material pembelajaran yang telah dipelajarinya. Hal ini, misalnya, dapat dilakukan melalui pemberian tes setelah satu submaterial pembelajaran selesai.Kemampuan resroduksi, yakni pengaktifan atau prosesproduksi ulang hal-hal yang telah dipelajari, tidak kalah menariknya untuk diperhatikan. Bagaimanapun, hal-hal yang telah dipelajari, suatu saat, harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan tertentu subjek didik, misalnya kebutuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam ujian ; atau untuk merespons tantangan-tangan dunia sekitar.Pendidik dapat mempertajam kemampuan subjek didik dalam hal ini melalui pemberian tugas-tugas mengikhtisarkan material pembelajaran yang telah diberikan.2.4.  BerfikirDefinisi yang paling umum dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep (Bochenski, dalam Suriasumantri (ed), 1983:52) di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam didi seseorang yang berupa pengertian-perngertian. Dari gambaran ini dapat dilihat bahwa berfikir pada dasarnya adalah proses psikologis dengan tahapan-tahapan berikut : (1) pembentukan pengertian, (2) penjalinan pengertian-pengertian, dan (3) penarikan kesimpulan.Kemampuan berfikir pada manusia alamiah sifatnya. Manusia yang lahir dalam keadaan normal akan dengan sendirinya memiliki kemampuan ini dengan tingkat yang reletif berbeda. Jika demikian, yang perlu diupayakan dalam proses pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan ini, dan bukannya melemahkannya. Para pendidik yang memiliki kecendrungan untuk memberikan penjelasan yang “selengkapnya” tentang satu material pembelajaran akan cendrung melemahkan kemampuan subjek didik untuk berfikir. Sebaliknya, para pendidik yang lebih memusatkan pembelajarannya pada pemberian pengertian-pengertian atau konsep-konsep kunci yang fungsional akan mendorong subjek didiknya mengembangkan kemampuan berfikir mereka. Pembelajaran seperti ni akan menghadirkan tentangan psikologi bagi subjek didik untuk merumuskan kesimpulan-kesimpulannya secara mandiri.2.5.  MotifMotif adalah keadaan dalam diri subjek didik yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu. Motif boleh jadi timbul dari rangsangan luar, seperti pemberian hadiah bila seseorang dapat menyelesaikan satu tugas dengan baik. Motif semacam ini sering disebut motif ekstrensik. Tetapi tidak jarang pula motif tumbuh di dalam diri subjek didik sendiri yang disebut motif intrinsik. Misalnya, seorang subjek didik gemar membaca karena dia memang ingin mengetahui lebih dalam tentang sesuatu.Dalam konteks belajar, motif intrinsik tentu selalu lebih baik, dan biasanya berjangka panjang. Tetapi dalam keadaan motif intrinsik tidak cukup potensial pada subjek didik, pendidik perlu menyiasati hadirnya motif-motif ekstrinsik. Motif ini, umpamanya, bisa dihadirkan melalui penciptaan suasana kompetitif di antara individu maupun kelompok subjek didik. Suasana ini akan mendorong subjek didik untuk berjuang atau berlomba melebihi yang lain.Namun demikian, pendidik harus memonitor suasana ini secara ketat agar tidak mengarah kepada hal-hal yang negatif.Motif ekstrinsik bisa juga dihadirkan melalui siasat “self competition”, yakni menghadirkan grafik prestasi individual subjek didik.Melalui grafik ini, setiap subjek didik dapat melihat kemajuan-kemajuannya sendiri. Dan sekaligus membandingkannya dengan kemajuan yang dicapai teman-temannya.Dengan melihat grafik ini, subjek didik akan terdorong untuk meningkatkan prestasinya supaya tidak berada di bawah prestasi orang lain.  <br />Arti Penting Psikologi Pendidikan Bagi Guru<br />Posted on 2 Februari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT <br />Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada salah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung.<br />Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.<br />Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji perilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam situasi khusus, diantaranya :<br />Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perkembangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat.<br />Psikologi Kepribadian; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek kepribadiannya.<br />Psikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis)<br />Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal.<br />Psikologi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia industri.<br />Psikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan<br />Disamping jenis – jenis psikologi yang disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya, bahkan sangat mungkin ke depannya akan semakin terus berkembang, sejalan dengan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks.Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :<br />Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.<br />Epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.<br />Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan.<br />Dengan demikian, psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan.<br />Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari psikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Proses Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupakan beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya tidak bisa dilepaskan dari psikologi.<br />Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogyanya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilakunya secara efektif.<br />Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing, pendidik dan pelatih bagi para peserta didiknya, tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya,–terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya–, sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah.<br />Di sinilah arti penting Psikologi Pendidikan bagi guru. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru, yakni kompetensi pedagogik. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa “diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik”<br />Dengan memahami psikologi pendidikan, seorang guru melalui pertimbangan – pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat :<br />1. Merumuskan tujuan pembelajaran secara tepat.<br />Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru akan dapat lebih tepat dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran. Misalnya, dengan berusaha mengaplikasikan pemikiran Bloom tentang taksonomi perilaku individu dan mengaitkannya dengan teori-teori perkembangan individu.<br />2. Memilih strategi atau metode pembelajaran yang sesuai.<br />Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru dapat menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami siswanya.<br />3. Memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling.<br />Tugas dan peran guru, di samping melaksanakan pembelajaran, juga diharapkan dapat membimbing para siswanya. Dengan memahami psikologi pendidikan, tentunya diharapkan guru dapat memberikan bantuan psikologis secara tepat dan benar, melalui proses hubungan interpersonal yang penuh kehangatan dan keakraban.<br />4. Memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik.<br />Memfasilitasi artinya berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa, seperti bakat, kecerdasan dan minat. Sedangkan memotivasi dapat diartikan berupaya memberikan dorongan kepada siswa untuk melakukan perbuatan tertentu, khususnya perbuatan belajar. Tanpa pemahaman psikologi pendidikan yang memadai, tampaknya guru akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator maupun motivator belajar siswanya.<br />5. Menciptakan iklim belajar yang kondusif.<br />Efektivitas pembelajaran membutuhkan adanya iklim belajar yang kondusif. Guru dengan pemahaman psikologi pendidikan yang memadai memungkinkan untuk dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas, sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan.<br />6, Berinteraksi secara tepat dengan siswanya.<br />Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan memungkinkan untuk terwujudnya interaksi dengan siswa secara lebih bijak, penuh empati dan menjadi sosok yang menyenangkan di hadapan siswanya.<br />7. Menilai hasil pembelajaran yang adil.<br />Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan dapat mambantu guru dalam mengembangkan penilaian pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis penilaian, pemenuhan prinsip-prinsip penilaian maupun menentukan hasil-hasil penilaian.<br />SILABUS MATA KULIAH<br />Program Studi: Pendidikan Agama Islam<br />Kode Mata Kiliah:<br />Nama Mata Kuliah: Psikologi Pendidikan<br />Jumlah SKS: 2<br />Semester: 3<br />Mata Kuliah Pra Syarat: Psikologi Umum dan Psikologi Perkembangan<br />Deskripsi Mata Kuliah:<br />Psikologi Pendidikan termasuk salah satu Mata Kuliah yang wajib ditempuh oleh setiap mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam. Dengan Mata Kuliah ini mahasiswa akan memperoleh bekal untuk menjadi seorang guru yang profesional, karena di dalamnya akan mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan belajar dalam pendekatan psikologis. Hal itu sangat penting bagi calon guru, bahkan bagi guru yang belum pernah mempelajarinya, karena tugas utama seorang guru adalah membuat peserta didik belajar atau pembelajaran, sehingga perlu mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan belajar.<br />Standar Kompetensi:<br />Memahami teori-teori belajar, kematangan anak, pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap anak dengan pendekatan psikologis serta implikasinya terhadap aktivitas pendidikan dan pembelajaran.<br />Kompetensi DasarIndikatorPengalaman BelajarMateri AjarWaktuAlat/Bahan/Sum ber BelajarPenilaian Memahami pengertian Psikologi Pendidikan, sejarah, cakupan serta metodenya. Menjelaskan pengertian psikologi pendidikan Menguraikan sejarah perkembangan psikologi pendidikanMenjelaskan ruang lingkup psikologi pendidikan Menjelaskan metode yang digunakan dalam pengembangan psikologi pendidikan dan penerapannyaMengkaji pengertian psikologi pendidikanMengkaji sejarah perkembangan psikologi pendidikanMengkaji ruang lingkup psikologi pendidikanMendiskusikan metode yang digunakan dalam pengembangan psikologi pendidikan dan penerapannyaDefinisi psikologi pendidikanSejarah, cakupan, dan metode psikologi pendidikan100’LCD, laptopMuhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (2004).M. Dalyono, Psikologi Pendidikan (2007).Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan: Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan (2007).Tes essay2. Mendeskripsi-kan teori-teori belajar dan implikasinyaa. Menguraikan teori belajar dan tingkah laku EL. Thorndike, Ivan Pavlov, JB. Watson, dan BF. Skinner b. Menjelaskan penerapan teori tingkah laku di dalam kelasc. Menguraikan teori kognitif Jerome Bruner dan David Ausubeld. Menjelaskan penerapan teori kognitif di dalam kelase. Menguraikan teori humanistik Arthur Combs, Maslow, dan Rogersf. Menjelaskan penerapan teori humanistik di dalam kelas1) Mengkaji teori belajar dan tingkah laku EL. Thorndike, Ivan Pavlov, JB. Watson, dan BF. Skinner2) Mendiskusikan langkah-langkah penerapan teori tingkah laku di dalam kelas3) Mengkaji teori kognitif Jerome Bruner dan David Ausubel4) Mendiskusikan langkah-langkah penerapan teori kognitif di dalam kelase. Mengkaji teori humanistik Arthur Combs, Maslow, dan Rogersf. Mendiskusikan langkah-langkah penerapan teori humanistik di dalam kelasTeori belajar dan penerapan dalam pembelajaran:Teori belajar dan tingkah laku EL. Thorndike, Ivan Pavlov, JB. Watson, dan BF. Skinner b) Teori kognitif Jerome Bruner dan David Ausubelc) Teori humanistik Arthur Combs, Maslow, dan Rogers100’ x 3LCD, laptopSri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan (2006).M. Dalyono, Psikologi Pendidikan (2007).Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan: Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan (2007).Portofolio dan tes essay3. Mendeskripsi-kan aktivitas belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhia. Menjelaskan macam-macam aktivitas belajarb. Menguraikan faktor-faktor yang mempengaruhi belajarMengidentifikasi macam-macam aktivitas belajarMendiskusikan faktor-faktor yang mempengaruhi belajarAktivitas belajarFaktor-faktor yang mempengaruhi belajar100’ LCD, laptopAbdul Rahman Shaleh&Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam (2004).Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (2004).M. Dalyono, Psikologi Pendidikan (2007).Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan: Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan (2007).Portofolio dan tes essay4. Memahami ciri-ciri kematangan dan pengaruhnya terhadap readinessa. Mengidentifikasi ciri-ciri kematangan intelektualb. Menjelaskan pengaruh kematangan terhadap readiness 1) Mendiskusikan ciri-ciri kematangan intelektual2) Mendiskusikan pengaruh kematangan terhadap readinessa) Ciri-ciri kematangan intelektualb) Pengaruh kematangan terhadap readiness100’LCD, laptopM. Dalyono, Psikologi Pendidikan (2007).Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan: Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan (2007).Kinerja dan tes essay7. Mendeskripsi-kan mengenai penyebab lupa dan kiat mengurangi lupa a. Menjelaskan perbedaan lupa dengan hilang dari ingatanb. Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab lupac. Mengidentifikasi usaha-usaha yang dapat mengurangi lupad. Menjelaskan transfer dalam belajar dan faktor-faktor yang berperan1) Mengkaji perbedaan lupa dengan hilang dari ingatan2) Mendiskusikan faktor-faktor penyebab lupa3) Mendiskusikan usaha-usaha yang dapat mengurangi lupa4) Mendiskusikan transfer dalam belajar dan faktor-faktor yang berperanPerbedaan lupa dengan hilang dari ingatanPenyebab lupaUsaha-usaha mengurangi lupaTransfer belajar dan faktor-faktor yang berperan100’LCD, laptopSri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan (2006).WS. Winkel, Psikologi Pengajaran (1987).Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (2004).Kinerja dan tes essay5. Mendeskripsi-kan hereditas dan lingkungan serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan individua. Menjelaskan pengertian hereditas dan lingkungan b. Menguraikan pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap pertumbuhan dan pekembangan individuc. Mengidentifikasi sikap guru terhadap perbedaan perilaku anak sebagai akibat dari perngaruh hereditas dan lingkungan1) Mengkaji pengertian hereditas dan lingkungan 2) Mendiskusikan pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap pertumbuhan dan pekembangan individu3) Mendiskusikan sikap guru terhadap perbedaan perilaku anak sebagai akibat dari perngaruh hereditas dan lingkunganPengertian hereditas dan lingkunganPengaruh hereditas dan lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan individuc) Sikap guru terhadap perbedaan perilaku anak sebagai akibat dari pengaruh hereditas dan lingkungan100’LCD, laptopLester D. Crow dan Alice Crow, Psikologi Pendidikan. Buku 1 (1984).M. Dalyono, Psikologi Pendidikan (2007).Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan: Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan (2007).Kinerja dan tes essay6. Mendeskripsi-kan orientasi psikologis pembelajaran di sekolah dan pra sekolaha. Menguraikan orientasi psikologis pembelajaran di Taman Kanak-kanakb. Menguraikan orientasi psikologis pembelajaran di Sekolah Dasarc. Menguraikan orientasi psikologis pembelajaran di SMTP dan SMTA1) Mendiskusikan orientasi psikologis pembelajaran di Taman Kanak-kanak2) Mendiskusikan orientasi psikologis pembelajaran di Sekolah Dasar3) Mendiskusikan orientasi psikologis pembelajaran di SMTP dan SMTAOrientasi psikologis pembelajaran di Taman Kanak-kanakOrientasi psikologis pembelajaran di Sekolah DasarOrientasi psikologis pembelajaran di SMTP dan SMTA100’ x 2LCD, laptopSri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan (2006).Kinerja dan tes essay7. Mendeskripsi-kan model-model pembelajaran yang efektif dan penerapannya a. Menguraikan model pembelajaran Mastery learning, QAIT, Model Popham dan Bakerb. Menguraikan cara-cara penerapannya1) Mengkaji model pembelajaran Mastery learning, QAIT, Model Popham dan Baker2) Mendiskusikan cara-cara penerapannyaModel-model pengajaran yang efektif:Model Mastery learningModel QAITModel Popham dan BakerCara penerapannya100’ x 2LCD, laptopSri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan (2006).Portofolio dan tes essay8. Mendeskripsi-kan profil guru yang ideal dengan pendekatan psikologis a. Mengidentifikasi karakteristik kepribadian gurub. Menguraikan kompetensi profesionalisme guruc. Menguraikan fungsi dan ragam guru dalam proses belajar mengajard. Menentukan sikap yang ideal sebagai calon guru1) Mendiskusikan karakteristik kepribadian guru2) Mendiskusikan kompetensi profesionalisme guru3) Mendiskusikan fungsi dan ragam guru dalam proses belajar mengajar4) Mendiskusikan sikap yang harus diambil sebagai calon guruKarakteristik kepribadian guruKompetensi profesionalisme (kognitif, afektif, psikomotor) guruFungsi dan ragam guru dalam proses belajar mengajar100’LCD, laptopMuhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (2004).Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan (2006).Portofolio, kinerja dan tes essay<br />SILABUS<br />Mata Kuliah : Psikologi Pendidikan <br />Kode Mata Kuliah : DKIP03<br />Bobot : 2 SKS<br />Dosen : Drs. Subangun, M.KPd.<br />Program Studi : S-1 Pendidikan Bahasa Inggris<br />Waktu Perkuliahan : Semester IV<br />I. Tujuan Perkuliahan<br />Setelah menempuh mata kuliah Psikologi Pendidikan diharapkan mahasiswa menguasai konsep-konsep psikologi pendidikan terutama berkaitan dengan konsep kepribadian; pertumbuhan dan perkembangan; emosi, perkembangan sosial dan pembentukan karakter; teori kognitif; psikologi behavioristik; faktor <br />II. Deskripsi Materi<br />2.1 Psikologi: pengertian, pendekatan, jenis, psikologi pendidikan, peranannya dalam pendidikan (Surya, 2004: 1-6) <br />2.2 Karakteristik Peserta Didik: pengertian individu, karakteristik individu (Fatimah, 2006: 11-18) <br />2.3 Kepribadian: pengertian, teori, tokoh, dan faktor penentu perubahan kepribadian (Farozin, 2004: 11-42)<br />2.4 Pertumbuhan dan Perkembangan: pengertian pertumbuhan dan perkembangan, pertumbuhan dan perkembangan individu, perbedaan individual (Djaali, 2007: 1-15; Fatimah, 2006: 19-46)<br />2.5 Implikasi Pertumbuhan dan Perkembangan: pertumbuhan fisik, perkembangan intelek, perkembangan bakat khusus, perkembangan hubungan sosial, perkembangan bahasa, perkembangan emosi, perkembanagn nilai, moral, dan sikap, pembentukan karakter (Djaali, 2007: 37-36; Fatimah, 2006: 47-128)<br />2.6 Kebutuhan dan implikasinya: kebutuhan individu, kemandirian, kepercayaan diri, dan pemenuhan kebutuhan (Fatimah, 2006: 129-158) <br />2.7 Tugas Perkembangan pada usia sekolah: tugas perkembangan, hukum pertumbuhan dan perkembangan, karakteristik pertumbuhan dan perkembangan (Fatimah, 2006: 159-192 <br />2.8 Penyesuaian Diri: pengertian, karakteristik, proses, aspek, implikasi, dan permasalahannya (Fatimah, 2006: 193-266) <br />2.9 Psikologi Behavioristik: aliran psikolgi behavioristik, teori belajar kondisioning, faktor dari dalam, faktor dari luar (Djaali, 2007: 78-100; Farozin, 2004: 72-80; Rasyad, 2003: 42-88; Surya, 2004: 1-6; Syah, 2003: 92-108)<br />2.10 Teori Kognitif: Intelegensi, perkembangan intelegensi, faktor yang mempengaruhi, teori belajar kognitif (Djaali, 2007: 62-77; Surya, 2004: 21-46; Syah, 2003: 1-58)<br />2.11 Faktor yang mempengaruhi belajar: motivasi, sikap, minat, kebiasaan belajar, konsep diri (Djaali, 2007: 101-132; Rasyad, 2003: 89-108 ; Surya, 2004: 61-76; Syah, 2003: 133-158)<br />III. Evaluasi<br />1. Kehadiran dan Keaktifan : 20%<br />2. Tugas : 20%<br />3. UTS : 30%<br />4. UAS : 30%<br />IV. Teknik Perkuliahan<br />Perkuliahan dilaksanakan dengan ceramah, duskusi, penugasan, tanya jawab.<br />V. Sumber Pustaka<br />Djaali. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Numi Aksara. <br />Farozin, Muh. dan Kartika Nur Fathiyah. 2004. Pemahaman Tingkah Laku. Jakarta: Rineka Cipta.<br />Fatimah, Enung. 2006. Psikologi Perkembangan. Bandung: Pustaka Setia.<br />Rasyad, Aminuddin. 2003 (Cet. 4). Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Uhamka.<br />Surya, Mohamad. 2004. Psikologi Pembelajaran & Pengajaran. Bandung: Pustaka Bani Quraisy<br />Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta: RajaGrafinso Persada<br />Komentar (2) <br />Suka<br />Be the first to like this post.<br />Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing, pendidik dan pelatih bagi para peserta didiknya, tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya,--terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya--, sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. <br />Di sinilah arti penting Psikologi Pendidikan, dengan memahami psikologi pendidikan, seorang guru melalui pertimbangan-pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat : (a) merumuskan tujuan pembelajaran, (b) memilih strategi atau metode pembelajaran, (c) memilih alat bantu dan media pembelajaran yang tepat, (d) memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling kepada peserta didiknya, (e) memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik, (f) menciptakan iklim belajar yang kondusif, (g) berinteraksi secara bijak dengan peserta didiknya, (h) menilai hasil pembelajaran, dan (i) dapat mengadministrasikan pembelajaran secara efektif dan efisien. <br />Selain itu, dengan memahami Psikologi Pendidikan para guru juga dapat memahami dan mengembangkan diri-pribadinya untuk menjadi seorang guru yang efektif dan patut diteladani. <br />Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru, yakni kompetensi pedagogik. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik. <br />2. Perilaku Individu <br />Salah satu tugas utama guru adalah berusaha mengembangkan perilaku peserta didiknya. Dalam hal ini, Abin Syamsuddin Makmun (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai pengubah perilaku peserta didik (behavioral changes). Oleh karena itu itu, agar perilaku peserta didik dapat berkembang optimal, tentu saja seorang guru seyogyanya dapat memahami tentang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku para peserta didiknya. Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua pendekatan, yang saling bertolak belakang, yaitu: (1)behaviorisme dan (2)holistik atau <br />humanisme. Kedua pendekatan ini memiliki implikasi yang luas terhadap proses <br />pendidikan, baik untuk kepentingan pembelajaran, pengelolaan kelas, pembimbingan serta berbagai kegiatan pendidikan lainnya. Di bawah ini akan diuraikan mekanisme pembentukan perilaku dilihat dari kedua pendekatan tersebut dengan merujuk pada tulisan Abin Syamsuddin Makmun (2003). <br />a.Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behaviorisme <br />Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau menciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. <br />Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku <br />individu dapat digambarkan dalam bagan berikut : <br />S = stimulus (rangsangan); R = Respons (perilaku, aktivitas) dan O=organisme <br />(individu/manusia). <br />Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga ditujukan kepadanya, maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini : <br />Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua <br />jenis yaitu : <br />(1)Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu dan <br />secara potensial dapat melahirkan S). <br />(2)Lingkungan efektif (umwelt=segala sesuatu yang aktual merangsang organisme <br />karena sesuai dengan pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada <br />diri organisme dan ia meresponsnya) <br />Perilaku yang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut <br />dengan perilaku spontan. <br />Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa panas, secara spontan mahasiswa tersebut mengipas- ngipaskan buku untuk meredam kegerahannya. <br />Ruangan kelas yang panas merupakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (O), secara spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang dilakukan mahasiswa. Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku. <br />Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut: <br />Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung, ada seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas, sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan. <br />Ruangan kelas yang gelap, waktu sore hari, dan cuaca mendung merupakan <br />lingkungan (W), ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow), -- <br />S <br />R atau S <br />O <br />R <br />W <br />S <br />O <br />R <br />W <br />W <br />S <br />Ow <br />R <br />W Dia tidak begitu berminat mengikuti perkuliahan mata kuliah kependidikan, <br />termasuk mata kuliah Psikologi Pendidikan (kurang merasakan adanya kebutuhan <br />dan kekurangan motivasi). Pikirannya selalu terganggu bahwa seolah-olah dia <br />sedang kuliah pada Fakutas Ekonomi di Perguruan Tinggi yang diidam-idamkannya dan dia merasa seolah-olah bakal menjadi Ekonom (fantasi). Dia sering tidak masuk kuliah, sekalipun dia masuk kuliah hanya sebatas takut dimarahi oleh dosen yang bersangkutan dan takut dinyatakan tidak lulus (kebutuhan rasa aman). Tugas-tugas yang diberikan dosen pun jarang dikerjakan, kalaupun dikerjakan hanya alakadarnya dan selalu telat disetorkan. Dia dihadapkan pada perang batin antara terus melanjutkan studi yang tidak sesuai dengan cita-citanya atau keluar dari kuliah dengan resiko orang tua akan marah besar terhadap dirinya (conflict). <br />Selama satu semester mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan, dia hanya memperoleh sebagian kecil saja pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan dan pada akhirnya dia dinyatakan tidak lulus dan terpaksa harus mengikuti remedial. Sambil menangis (regresi), dia menyalahkan dosen bahwa dosennya tidak becus mengajar (proyeksi). <br />3. Taksonomi Perilaku Individu <br />Kalau perilaku individu mencakup segala pernyataan hidup, betapa banyak kata yang harus dipergunakan untuk mendeskripsikannya. Untuk keperluan studi tentang perilaku kiranya perlu ada sistematika pengelompokan berdasarkan kerangka berfikir tertentu (taksonomi).Dalam konteks pendidikan, Bloom mengungkapkan tiga kawasan (domain) perilaku individu beserta sub kawasan dari masing-masing kawasan, yakni : <br />a. Kawasan Kognitif; yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau <br />berfikir/nalar. <br />1)Pengetahuan (knowledge); <br />Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling mendasar. Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali suatu objek, ide prosedur, konsep, definisi, nama, peristiwa, tahun, daftar, rumus, teori, atau kesimpulan. Dilihat dari objek yang diketahui (isi) pengetahuan dapat digolongkan sebagai berikut : <br />a)Mengetahui sesuatu secara khusus; terdiri dari : <br />Mengetahui terminologi yaitu berhubungan dengan mengenal atau <br />mengingat kembali istilah atau konsep tertentu yang dinyatakan dalam <br />bentuk simbol, baik berbentuk verbal maupun non verbal. <br />Mengetahui fakta tertentu yaitu mengenal atau mengingat kembali <br />tanggal, peristiwa, orang tempat, sumber informasi, kejadian masa lalu, kebudayaan masyarakat tertentu, dan ciri-ciri yang tampak dari keadaan alam tertentu. <br />b) Mengetahui tentang cara untuk memproses atau melakukan sesuatu. <br />Mengetahui kebiasaan atau cara mengetengahkan ide atau pengalaman <br />Pada tahap ini yang bersangkutan tidak hanya menginternalisasi satu nilai tertentu seperti pada tahap komitmen, tetapi mulai melihat beberapa nilai yang relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai. Proses ini terjadi dalam dua tahapan, yakni : <br />a) Konseptualisasi nilai, yaitu keinginan untuk menilai hasil karya orang lain, <br />atau menemukan asumsi-asumsi yang mendasari suatu moral atau kebiasaan. <br />b) Pengorganisasian sistem nilai, yaitu menyusun perangkat nilai dalam suatu sistem berdasarkan tingkat preferensinya. Dalam sistem nilai ini yang bersangkutan menempatkan nilai yang paling disukai pada tingkat yang amat penting, menyusul kemudian nilai yang dirasakan agak penting, dan seterusnya menurut urutan kepentingan.atau kesenangan dari diri yang bersangkutan. <br />5)Karakterisasi (characterization). <br />Karakterisasi yaitu kemampuan untuk menghayati atau mempribadikan sistem nilai Kalau pada tahap pengorganisasian di atas sistem nilai sudah dapat disusun, maka susunan itu belum konsisten di dalam diri yang bersangkutan. Artinya mudah berubah-ubah sesuai situasi yang dihadapi. Pada tahap karakterisasi, sistem itu selalu konsisten. Proses ini terdiri atas dua tahap, yaitu : <br />a) Generalisasi, yaitu kemampuan untuk melihat suatu masalah dari suatu sudut <br />pandang tertentu. <br />b) Karakterisasi, yaitu mengembangkan pandangan hidup tertentu yang <br />memberi corak tersendiri pada kepribadian diri yang bersangkutan. <br />c.Kawasan Psikomotor; yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek <br />keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular <br />system) dan fungsi psikis. Kawasan ini terdiri dari : (a) kesiapan (set); (b) peniruan <br />(imitation); (c) membiasakan (habitual); (d) menyesuaikan (adaptation) dan (e) <br />menciptakan (origination) <br />1) Kesiapan yaitu berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha untuk melaporkan kehadirannya, mempersiapkan alat, menyesuaikan diri dengan situasi, menjawab pertanyaan. <br />2) Meniru adalah kemampuan untuk melakukan sesuai dengan contoh yang diamatinya walaupun belum mengerti hakikat atau makna dari keterampilan itu. Seperti anak yang baru belajar bahasa meniru kata-kata orang tanpa mengerti artinya. <br />3) Membiasakan yaitu seseorang dapat melakukan suatu keterampilan tanpa harus <br />melihat contoh, sekalipun ia belum dapat mengubah polanya. <br />4) Adaptasi yaitu seseorang sudah mampu melakukan modifikasi untuk disesuaikan <br />dengan kebutuhan atau situasi tempat keterampilan itu dilaksanakan. <br />5) Menciptakan (origination) di mana seseorang sudah mampu menciptakan sendiri <br />suatu karya. <br />Sementara itu, Abin Syamsuddin Makmun( 2003) memerinci sub kawasan ini <br />dengan tahapan yang berbeda, yaitu : <br />1)Gerakan refleks (reflex movements). Basis semua perilaku bergerak atau respons <br />terhadap stimulus tanpa sadar, misalnya : melompat, menunduk, berjalan, dan <br />sebagainya. <br />2)Gerakan dasar biasa (Basic fundamental movements) yaitu gerakan yang muncul <br />tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik, yang terpola dan dapat <br />ditebak. <br />3)Gerakan Persepsi (Perceptual abilities) yaitu gerakan sudah lebih meningkat <br />karena dibantu kemampuan perseptual. <br />4)Gerakan fisik (Physical Abilities) yaitu gerakan yang menunjukkan daya tahan <br />(endurance), kekuatan (strength), kelenturan (flexibility) dan kegesitan. <br />5)Gerakan terampil (skilled movements) yaitu <br />dapat <br />mengontrol <br />berbagai tingkatan gerak secara terampil, tangkas, dan cekatan dalam melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks). <br />6)Gerakan indah dan kreatif <br />(Non-discursive communication)ya itu <br />mengkomunikasikan perasan melalui gerakan, baik dalam bentuk gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah maupun gerak kreatif: gerakan- gerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran. <br />4. Peranan dan Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan dan Perkembangan <br />Perilaku <br />Pendidikan memang sejak zaman dahulu kala menjadi salah satu bentuk usaha manusia dalam rangka mempertahankan keberlangsungan eksistensi kehidupan maupun budaya manusia itu sendiri. <br />Bagi kalangan behaviorisme, pendidikan dipahami sebagai sebagai alat pembentukan watak, alat pelatihan keterampilan, alat mengasah otak, serta media untuk meningkatkan keterampilan. Sementara kalangan humanisme, pendidikan lebih diyakini sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan, atau sebagai wahana untuk memanusiakan manusia, serta wahana untuk pembebasan manusia. <br />Penyelenggaraan pendidikan selanjutnya menjadi kewajiban kemanusiaan dalam rangka mempertahankan kehidupannya. Melihat begitu pentingnya pendidikan bagi umat manusia, banyak peradaban manusia yang “mewajibkan” masyarakatnya untuk tetap<br />meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak menyadari terhadap keadaan sekelilingnya--. berjalan ke depan, meminta ijin ke dosen, dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sadar tersebut (R), suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyaman dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W). <br />Sebenarnya, masih ada dua unsur penting lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitureceptors (panca indera sebagai alat penerima stimulus) daneffectors (syaraf, otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak R). <br />Selengkapnya mekanisme perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut : <br />Dengan mengambil contoh perilaku sadar tadi, bagan di atas dapat dijelaskan bahwa mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjadi tidak jelas, sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik. Menggerakkan kaki menuju ke depan, mengucapkan minta izin kepada dosen, tangan menekan saklar lampu merupakaneffector. <br />b.Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme) <br />Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan, yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat, motif, tekad) dari dalam diri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku, meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. Holistik atau humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu dalam kontekswhat (apa),how (bagaimana), danwhy (mengapa).What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/ purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu.Ho w (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose), yakni perilakunya itu sendiri. Sedangkan <br />why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya dan <br />berlangsungnya perilaku (how), baik bersumber dari diri individu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (motivasi ekstrinsik). Secara skematik rangkaian, proses dan mekanisme terjadinya perilaku menurut pandangan Holistik, dapat dijelaskan dalam bagan berikut : <br />Kebutuhan kepribadian, guru akan berhadapan dengan ciri-ciri kepribadian para peserta didiknyanya <br />yang khas atau unik. <br />Berhadapan dengan peserta didik yang memiliki kecepatan belajar dan memiliki ciri-ciri kepribadian yang positif, guru mungkin akan menganggap seolah-olah tidak ada hambatan. Namun ketika berhadapan dengan peserta didik yang lambat dalam belajar atau ciri-ciri kepribadian yang negatif, adakalanya guru dibuat frustrasi. Ujung-ujungnya dia langsung saja akan menyimpulkan bahwa peserta didiklah yang salah. Peserta didik dianggap kurang rajin, bodoh, malas, kurang sungguh-sungguh dan sebagainya. <br />Jika saja guru tersebut dapat memahami tentang keragaman individu, belum tentu dia akan langsung menarik kesimpulan bahwa peserta didiklah yang salah. Terlebih dahulu mungkin dia akan mempelajari latar belakang sosio-psikologis peserta didiknya, sehingga akan diketahui secara akurat kenapa peserta didik itu lambat dalam belajar, selanjutnya dia berusaha untuk menemukan solusinya dan menetukan tindakan apa yang paling mungkin bisa dilakukan agar peserta didik tersebut dapat mengembangkan perilaku dan pribadinya secara optimal. <br />Membicarakan tentang keragaman individu secara luas dan mendalam sebetulnya sudah merupakan kajian tersendiri yaitu dalam bidang Psikologi Diferensial. Untuk kepentingan pengetahuan guru dalam memahami peserta didiknya, di bawah ini akan diuraikan dua jenis keragaman individu yaitu keragaman dalam kecakapan dan kepribadian. <br />a.Keragaman Individu dalam Kecakapan <br />Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan nyata (actual <br />ability) dan kecakapan potensial (potential ability). <br />Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecakapan yang diperoleh melalui belajar (achivement atau prestasi), yang dapat segera didemonstrasikan dan diuji sekarang. Misalkan, setelah selesai mengikuti proses perkuliahan (kegiatan tatap muka di kelas), pada akhir perkuliahan mahasiswa diuji oleh dosen tentang materi yang disampaikannya (tes formatif). Ketika mahasiswa mampu menjawab dengan baik tentang pertanyaan dosen, maka kemampuan tersebut merupakan atau kecakapan nyata (achievement). <br />Sedangkan kecakapan potensial merupakan aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh dari faktor keturunan (herediter). Kecakapan potensial dapat dibagi ke dalam dua bagian yaitu kecakapan dasar umum (inteligensi ataukecerdasan) dan kecakapan dasar khusus (bakat atauaptitudes). <br />C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian inteligensi sebagai <br />kemampuan <br />menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. <br />Pada awalnya teori inteligensi masih bersifat unidimensional (kecerdasan tunggal), yakni hanya berhubungan dengan aspek intelektual saja, seperti teori inteligensi yang dikemukakan oleh Charles Spearman (1904) dengan teori “Two Factors”-nya. Menurut pendapatnya bahwa inteligensi terdiri dari kemampuan umum yang diberi <br />kode “g” (genaral factor) dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific <br />factor). <br />Selanjutnya, Thurstone (1938) mengemukakan teori “Primary Mental Abilities”, bahwa inteligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer, yaitu : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension); (2) kemampuan <br />mengingat (memory); (3) kemampuan nalar atau berfikir (reasoning); (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor); (5) kemampuan bilangan (numerical ability); (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency); dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed). <br />Sementara itu, J.P. Guilford mengemukakan bahwa inteligensi dapat dilihat dari tiga <br />kategori dasar atau “faces of intellect”, yaitu : <br />1. Operasi Mental (Proses Befikir) <br />a.Cognition (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang <br />baru). <br />b.Memory Retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari).c.Memory Recording (ingatan yang segera).d.Divergent Production (berfikir melebar=banyak kemungkinan jawaban/<br />alternatif). <br />e.Convergent Production (berfikir memusat= hanya satu kemungkinan <br />jawaban/alternatif). <br />f.Evaluation (mengambil keputusan tentang apakah suatu itu baik, akurat, atau <br />memadai). <br />2. Content (Isi yang Dipikirkan) <br />a.Visual (bentuk konkret atau gambaran).b.Auditory.c.Word Meaning (semantic).d.Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata atau angka dan notasi<br />musik). <br />e.Behavioral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan, <br />ekspresi muka atau suara). <br />3. Product (Hasil Berfikir) <br />a.Unit (item tunggal informasi).b.Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama).c.Relasi (keterkaitan antar informasi).d.Sistem (kompleksitas bagian saling berhubungan).<br />e.Transformasi (perubahan, modifikasi, atau redefinisi informasi). <br />f.Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain). <br />Belakangan ini banyak orang menggugat tentang kecerdasan intelektual <br />(unidimensional), yang konon dianggap sebagai anugerah yang dapat mengantar<br />dirasakan <br />(felt needs) <br />Dorongan <br />tampang, hormon, segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh, sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. <br />Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu, terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal, diantaranya : teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud, teori Analitik dari Carl Gustav Jung, teori Sosial Psikologis dari Adler, Fromm, Horney dan Sullivan, teori Personologi dari Murray, teori Medan dari Kurt Lewin, teori Psikologi Individual dari Allport, teori Stimulus-Respons dari Throndike, Hull, Watson, teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. <br />Sementara itu, Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek <br />kepribadian, yang di dalamnya mencakup : <br />a.Karakter; yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsiten <br />tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. <br />b.Temperamen; yaitu disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya mereaksi <br />terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. <br />c.Sikap; sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif atau ambivalen <br />d.Stabilitas emosi; yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan <br />dari lingkungan. Seperti mudah tidaknya tersinggung, marah, sedih, atau putus <br />asa <br />e.Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan <br />atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau menerima resiko secara wajar, cuci <br />tangan, atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. <br />f.Sosiabilitas; yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan <br />interpersonal. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan <br />berkomunikasi dengan orang lain. <br />Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian tersendiri, mulai dari yang menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang sehat sampai dengan ciri-ciri kepribadian yang tidak sehat. Dalam hal ini, Elizabeth Hurlock (Syamsu Yusuf, 2003) mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat atau tidak sehat, sebagai berikut : <br />KEPRIBADIAN YANG SEHAT <br />KEPRIBADIAN YANG TIDAK <br />SEHAT <br />1.Mampu menilai diri sendiri secara <br />realistik <br />2.Mampu menilai situasi secara <br />realistik <br />3.Mampu menilai prestasi yang <br />diperoleh secara realistik <br />4.Menerima tanggung jawab5.Kemandirian6.Dapat mengontrol emosi7.Berorientasi tujuan8.Berorientasi keluar (ekstrovert)<br />1. Mudah marah <br />2. Menunjukkan kekhawatiran dan <br />kecemasan <br />3. Sering merasa tertekan (stress <br />atau depresi) <br />4. Bersikap kejam <br />5. Ketidakmampuan untuk <br />menghindar dari perilaku <br />menyimpang <br />6. Kebiasaan berbohong <br />7. Hiperaktif <br />(motivation) <br />Aktivitas yang <br />dilakukan <br />(Instrumental <br />behavior) <br />Tujuandihayati(goals/<br />incentive) reproduksi, yaitu memunculkan kembali mengenai apa yang sudah ada pada hasil perpaduan benih saja, dan bukan didasarkan pada perilaku orang tua yang diperolehnya melalui hasil belajar atau hasil berinteraksi dengan lingkungannya. <br />2. Asas Variasi <br />Bahwa penurunan sifat pembawaan dari orang tua kepada anak-anaknya akan bervariasi, baik mengenai kuantitas maupun kualitasnya. Hal ini disebabkan karena pada waktu terjadinya pembuahan komposisi gen berbeda-beda, baik yang berasal dari ayah maupun ibu. Oleh karena itu, akan didapati beberapa perbedaan sifat dan ciri-ciri perilaku individu dari orang yang bersaudara, walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama, sehingga mungkin saja kakaknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ayahnya sedangkan adiknya lebih banyak menyerupai sifat dan ciri-ciri perilaku ibunya atau sebaliknya. <br />3. Asas Regresi Filial <br />Terjadi pensurutan sifat atau ciri perilaku dari kedua orangtua pada anaknya yang disebabkan oleh gaya tarik-menarik dalam perpaduan pembawaan ayah dan ibunya, sehingga akan didapati sebagian kecil dari sifat-sifat ayahnya dan sebagian kecil pula dari sifat-sifat ibunya. Sedangkan perbandingannya mana yang lebih besar antara sifat-sifat ayah dan ibunya ini sangat tergantung kepada daya kekuatan tarik menarik dari pada masing-masing sifat keturunan tersebut. <br />4. Asas Jenis Menyilang <br />Menurut asas ini bahwa apa yang diturunkan oleh masing-masing orang tua kepada anak-anaknya mempunyai sasaran menyilang jenis. Seorang anak perempuan akan lebih banyak memilki sifat-sifat dan tingkah laku ayahnya, sedangkan bagi anak laki-laki akan lebih banyak memilki sifat pada ibunya. <br />5. Asas konformitas <br />Berdasarkan asas konformitas ini bahwa seorang anak akan lebih banyak memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku yang diturunkan oleh kelompok rasnya atau suku bangsanya.Misalnya, orang Eropa akan menyerupai sifat-sifat dan ciri-ciri tingkah laku seperti orang-orang Eropa lainnya dibandingkan dengan orang-orang Asia. <br />b. Environment; lingkungan tempat di mana individu itu berada dan berinteraksi, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis, termasuk didalamnya adalah belajar. <br />Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai empirik yang berarti pengalaman, karena dengan lingkungan itu individu mulai mengalami dan mengecap alam sekitarnya. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mutlak dari pada pengaruh lingkungan itu, karena lingkungan itu senantiasa tersedia di sekitarnya. <br />Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri individu, dapat kita ikuti pada uraian <br />berikut : <br />1. Lingkungan membuat individu sebagai makhluk sosial <br />Ow <br />W <br />S <br />r <br />e <br />R <br />W <br />memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga sesuai dengan dirinya. Sedangkan penyesuaian diri autoplastis, penyesusian diri yang dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya. Contoh : seorang juru rawat di rumah sakit, pada awalnya dia merasa mual karena bau obat-obatan, namun lama-kelamaan dia menjadi terbiasa dan tidak menjadi gangguan lagi, karena dirinya telah sesuai dengan lingkungannya. <br />c.Maturity; kematangan yang mengacu pada tahap-tahap atau fase-fase perkembangan <br />yang dijalani individu. Kematangan pada awalnya merupakan hasil dari adanya perubahan-perubahan tertentu dan penyesuaian struktural pada diri individu, seperti adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh, otot, syaraf dan kelenjar. Kematangan seperti ini disebut kematangan biologis. Kematangan terjadi pula pada aspek-aspek psikis, seperti : kemampuan berfikir, emosi, sosial, moral, dan kepribadian, religius. Kematangan aspek psikis ini diperlukan adanya latihan dan belajar tertentu. <br />Ketiga faktor tersebut di atas dapat dibuat formulasi sebagai berikut : <br />P= Pribadi atau perilakuf = fungsiH= Herediter (pembawaan)E=Environment (lingkungan, termasuk belajar)M=Maturity (tingkat kematangan)<br />D. Latihan <br />Soal : <br />Pilihan Ganda <br />Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat, dengan cara memberikan tanda <br />silang (X) ! <br />1. Kecakapan khusus individu yang merupakan hasil pembawaan. <br />a. Achievement <br />b. Aptitude <br />c. Inteligensi <br />d. Kepribadian <br />2. Untuk mengenali tingkat kecerdasan peserta didiknya, seorang guru dapat melakukan <br />pengamatan dengan melihat indikator sebagai berikut : <br />a. hasil belajar yang diperoleh peserta didik, terutama dalam mata pelajaran Matematika <br />dan bahasa Inggris <br />b. kecepatan ketepatan, dan kemudahan peserta didiknya dalam menyelesaikan tugas- <br />tugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulangan atau ujian. <br />P= f (H.E.M) <br />5. Peduli akan self fulfillment6. Ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal7. Respek terhadap kemandirian orang lain8. Sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain9. Mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan<br />keceriaan <br />Dengan memperhatikan fase dan ciri-ciri perkembangan di atas, Sunaryo, dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak tugas-tugas perkembangan individu. Yang dikenal dengan sebutan Inventori Tugas Perkembangan (ITP). <br />Selanjutnya, dengan merujuk pada pemikiran Syamsu Yusuf (2003), di bawah ini <br />dikemukakan tahapan perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis: <br />a. Masa Usia Pra Sekolah <br />Masa Usia Pra Sekolah terbagi dua yaitu (1) Masa Vital dan (2) Masa Estetik <br />1. Masa Vital; pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Untuk masa belajar pada tahun pertama dalam kehidupan individu , Freud menyebutnya sebagai masa oral (mulut), karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat untuk melakukan eksplorasi dan belajar.Pada tahun kedua anak belajar berjalan sehingga anak belajar menguasai ruang, mulai dari yang paling dekat sampai dengan ruang yang jauh. Pada tahun kedua umunya terjadi pembiasaan terhadap kebersihan. Melalui latihan kebersihan, anak belajar mengendalikan impuls- impuls atau dorongan-dorongan yang datang dari dalam dirinya. <br />2. Masa Estetik; dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Anak bereksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. Pada masa ini panca indera masih sangat peka. <br />b. Masa Usia Sekolah Dasar <br />Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual, atau masa keserasian bersekolah pada umur 6-7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Masa Usia Sekolah Dasar terbagi dua, yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah dan (b) masa kelas tinggi. <br />Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) : <br />1.Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi2.Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional.3.Adanya kecenderungan memuji diri sendiri4.Membandingkan dirinya dengan anak yang lain5.Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak<br />penting. <br />Establishment <br />Trial and stabilization trhough work <br />experiences <br />(25 – 44) <br />Maintenance <br />A continual adjustment process to <br />improve working position and situation <br />(45 – 64) <br />Decline <br />Preretirement consideration, work out <br />put, and eventual retirement. <br />(65 - …) <br />5. Tugas – Tugas Perkembangan Individu <br />Salah satu prinsip perkembangan bahwa setiap individu akan mengalami fase perkembangan tertentu, yang merentang sepanjang hidupnya fase-fase perkembangan tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut ini : <br />Masa Dewasa : <br />Masa Tua <br />Tengah Baya <br />Masa Dewasa Awal <br />Masa Remaja (Adolesence) :(1) Late Adolesence (18 – 21 th)(2) Early Adolesence (16 – 17 th)(3) Pre Adolesence (11 – 13 th)<br />Masa Kanak-Kanak (2 th – Remaja) <br />Masa Bayi (2 Minggu s.d. 2 th) <br />Masa Orok (10 –14 hari) <br />Masa Konsepsi (Pranatal) (0-9 bln) <br />Pada setiap fase perkembangan menuntut untuk tertuntaskannya tugas-tugas perkembangan. Tugas–tugas perkembangan ini berkenaan dengan sikap, perilaku dan keterampilan yang seyogyanya dikuasai sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. Havighurst (1961) memberikan pengertian tugas-tugas perkembangan bahwa : “A <br />developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual, succesful achievement of which leads to his happiness and to success with later task, while failure leads to unhappiness in the individual, disaproval by society, difficulty with later task. <br />Tugas perkembangan bersumber pada faktor – faktor : <br />(1) <br />kematangan fisik; (2) tuntutan masyarakat secara kultural; (3) tuntutan dan dorongan <br />dan cita-cita individu iru sendiri; dan (4) norma-norma agama. <br />Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengantarkan individu mencapai kedewasaan. Yang dimaksud dengan kedewasaan adalah dapat terpenuhinya tugas-tugas perkembangan, sehingga dapat bertindak wajar sesuai dengan tingkat usianya. Oleh karena itu segenap proses pendidikan seyogyanya diarahkan untuk tercapainya tugas- tugas perkembangannya para peserta didik. <br />Di bawah ini dikemukakan tugas-tugas perkembangan dari setiap fase menurut <br />Havighurst. <br />a. Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-Kanak Awal <br />(0,0–6.0) <br />1.Belajar berjalan pada usia 9.0 – 15.0 bulan.2.Belajar memakan makan padat.3.Belajar berbicara.4.Belajar buang air kecil dan buang air besar.5.Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin.6.Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis.7.Membentuk konsep-konsep sederhana kenyataan sosial dan alam.8.Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua, saudara, dan orang<br />lain. <br />9.Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk dan pengembangan kata hati. <br />b. Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir dan Anak Sekolah (6,0-12.0) <br />1.Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan. <br />2.Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk <br />biologis. <br />3.Belajar bergaul dengan teman sebaya.4.Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya.5.Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung.6.Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari-hari.7.Mengembangkan kata hati.8.Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi.9.Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial.<br />c. Tugas Perkembangan Masa Remaja (12.0-21.0) <br />1.Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya.2.Mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita.3.Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif.4.Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.5.Mencapai jaminan kemandirian ekonomi.6.Memilih dan mempersiapkan karier.7.Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga.8.Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan<br />bagi warga negara. <br />9.Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial. <br />10.Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam <br />berperilaku. <br />d. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal <br />1.Memilih pasangan.2.Belajar hidup dengan pasangan.3.Memulai hidup dengan pasangan.<br />4.Memelihara anak.5.Mengelola rumah tangga.6.Memulai bekerja.7.Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara.8.Menemukan suatu kelompok yang serasi.<br />Sementara itu, Depdiknas (2003) memberikan rincian tentang tugas perkembangan masa remaja untuk usia tingkat SLTP dan SMTA, yang dijadikan sebagai rujukan Standar Kompetensi Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah, yaitu : <br />a.Tugas Perkembangan Tingkat SLTP <br />1.Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada <br />Tuhan Yang Maha Esa. <br />2.Mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap <br />perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang <br />sehat. <br />3.Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya <br />sebagai pria atau wanita. <br />4.Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam <br />kehidupan sosial yang lebih luas. <br />5.Mengenal kemampuan bakat, dan minat serta arah kecenderungan karier dan <br />apresiasi seni. <br />6.Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhannya <br />untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan atau mempersiapkan karier serta <br />berperan dalam kehidupan masyarakat. <br />7.Mengenal gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, <br />sosial dan ekonomi. <br />8.Mengenal sistem etika dan nilai-nilai sebagai pedoman hidup sebagai pribadi, <br />anggota masyarakat dan minat manusia. <br />b.Tugas Perkembangan Peserta didik SLTA <br />1.Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha <br />Esa <br />2.Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya, serta kematangan dalam <br />perannya sebagai pria dan wanita. <br />3.Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat <br />4.Mengembangkan penguasaan ilmu, teknologi, dan kesenian sesuai dengan <br />program kurikulum, persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta <br />berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. <br />5.Mencapai kematangan dalam pilihan karir <br />6.Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara <br />emosional, sosial, intelektual dan ekonomi. <br />7.Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang berkehidupan berkeluarga, <br />bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. <br />8.Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual serta apresiasi <br />seni. <br />9.Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai. <br />6. Perkembangan Pada Masa Remaja <br />a. Pengetian dan Makna Masa Remaja <br />Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai dengan awal masa dewasa. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang amat kritis yang mungkin dapat merupakan the best of <br />time and the worst of time. <br />Para ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 11- 13 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin, 2003). Pada rentangan periode ini (sekitar 6 – 7 th) terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Oleh karena itu, para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s.d. <br />14- <br />15 th); dan (2) remaja akhir (14-16 th s.d.18-20 th). <br />Kita menemukan berbagai tafsiran dari para ahli tentang masa remaja : <br />1. Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang <br />mempunyai bentuk yang definitif. <br />2. Charlotte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi. <br />3. Spranger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan <br />perubahan struktur kejiwaan yang fundamental. <br />4. Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa pembentukan sikap- <br />sikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu. <br />5.G. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai <br />dan topan). <br />b. Karakteristik Perilaku dan Pribadi Pada Masa Remaja <br />Dengan merujuk pada berbagai ciri-ciri dari aspek perkembangan individu sebagaimana telah dikemukakan terdahulu, di bawah ini disajikan berbagai karakteristik perilaku dan masa remaja, yang terbagi ke dalam bagian dua kelompok yaitu remaja awal (11-13 s.d. 14-15 tahun) dan remaja akhir (14-16 s.d. 18-20 tahun) meliputi aspek : fisik, psikomotor, bahasa, kognitif, sosial, moralitas, keagamaan, konatif, emosi afektif dan kepribadian. <br />Remaja Awal <br />(11-13 Th s.d.14-15 Th) <br />Remaja Akhir <br />(14-16 Th.s.d.18-20 Th) <br />Fisik <br />1. Laju <br />perkembangan <br />secara <br />umum <br />berlangsung pesat. <br />1. Laju perkembangan secara umum <br />kembali menurun, sangat lambat. <br />2. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan <br />sering- kali kurang seimbang. <br />2. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang mendekati kekuatan orang dewasa. <br />3.Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu <br />pada pubic region, otot mengembang pada bagian – bagian tertentu), disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day dreaming pada laki-laki. <br />3. Siap <br />berfungsinya <br />organ-organ <br />reproduktif seperti pada orang dewasa. <br />Psikomotor <br />1. Gerak – gerik tampak canggung dan kurang <br />terkoordinasikan. <br />1. Gerak gerik mulai mantap. <br />2. Aktif dalam berbagai <br />jenis cabang <br />permainan. <br />2. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif dan terbatas pada keterampilan yang menunjang kepada persiapan kerja. <br />Bahasa <br />1. Berkembangnya penggunaan bahasa sandi dan mulai tertarik mempelajari bahasa asing. <br />1. Lebih memantapkan diri pada bahasa <br />asing tertentu yang dipilihnya. <br />2. Menggemari literatur yang bernafaskan dan mengandung segi erotik, fantastik dan estetik. <br />2. Menggemari literatur yang bernafaskan dan mengandung nilai-nilai filosofis, ethis, religius. <br />Perilaku Kognitif <br />1. Proses <br />berfikir <br />sudah <br />mampu <br />mengoperasikan <br />kaidah-kaidah <br />logika formal (asosiasi, diferen-siasi, komparasi, kausalitas) yang bersifat abstrak, meskipun relatif terbatas. <br />1. Sudah mampu meng-operasikan kaidah- kaidah logika formal disertai kemampuan membuat generalisasi yang lebih bersifat konklusif dan komprehensif. <br />2. Kecakapan dasar intelektual menjalani laju <br />perkembangan yang terpesat. <br />2.Tercapainya titik puncak kedewasaan <br />bahkan mungkin mapan (plateau) yang <br />suatu saat (usia 50-60) menjadi deklinasi. <br />3. Kecakapan dasar khusus (bakat) mulai <br />menujukkan <br />kecenderungan-kecende- <br />rungan yang lebih jelas. <br />3. Kecenderungan bakat tertentu mencapai <br />titik puncak dan kemantapannya <br />Perilaku Sosial <br />1. Diawali dengan kecenderungan ambivalensi keinginan menyendiri dan keinginan bergaul dengan banyak teman tetapi bersifat temporer. <br />1. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). <br />2. Adanya kebergantungan yang kuat kepada <br />kelompok <br />sebaya <br />disertai <br />semangat <br />konformitas yang tinggi. <br />2. Kebergantungan <br />kepada <br />kelompok sebaya berangsur fleksibel, kecuali dengan teman dekat pilihannya yang banyak memiliki kesamaan minat. <br />Moralitas <br />1. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. <br />1. Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. <br />2. Dengan sikapnya dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku <br />sehari-hari <br />oleh <br />para <br />pendukungnya. <br />2. Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau sistem nilai yang dipilih dan dianutnya sesuai dengan hati nuraninya. <br />3. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas <br />yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. <br />3. Mulai dapat memelihara jarak dan batas- batas kebebasan- nya mana yang harus dirundingkan dengan orang tuanya. <br />Perilaku Keagamaan <br />1. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis. <br />1. Eksistensi dan sifat kemurah-an dan keadilan Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut sistem kepercayaan atau agama yang dianutnya. <br />2. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari- hari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. <br />2. Penghayatan <br />kehidupan <br />keagamaan sehari-hari mulai dilakukan atas dasar kesadaran <br />dan <br />pertimbangan <br />hati <br />nuraninya sendiri secara tulus ikhlas <br />3. Masih mencari dan mencoba menemukan <br />pegangan hidup <br />3. Mulai menemukan pegangan hidup <br />Konatif, Emosi, Afektif dan Kepribadian <br />1. Lima kebutuhan dasar (fisiologis, rasa aman, kasih sayang, harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya <br />1. Sudah menunjukkan arah kecenderungan tertentu yang akan mewarnai pola dasar kepribadiannya. <br />2. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan <br />marah, <br />gembira <br />atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat <br />2. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosinalnya tampak mulai terkendali dan dapat menguasai dirinya. <br />3. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap nilai mulai tampak (teoritis, ekonomis, estetis, sosial, politis, dan religius), meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba- coba. <br />3. Kecenderungan titik berat ke arah sikap nilai tertentu sudah mulai jelas seperti yang <br />akan <br />ditunjukkan <br />oleh kecenderungan minat dan pilihan karier atau pendidikan lanjutannya; yang juga akan memberi warna kepada tipe kepribadiannya. <br />4. Merupakan masa kritis dalam rangka meng- <br />hadapi krisis identitasnya yang sangat <br />4. Kalau kondisi psikososialnya menunjang <br />secara positif maka mulai tampak dan <br />Bottom of Form<br />M_Syerif_Foud_3385left a comment<br />piye downlodte...?<br />12 / 23 / 2010 <br />Joko Winarnoleft a comment<br /><a title="View Psikologi Pendidikan on Scribd" href="Psikologi Pendidikan" style="margin: 12px auto 6px auto; font-family: Helvetica,Arial,Sans-serif; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none; display: block; text-decoration: underline;"><br />08 / 18 / 2010 <br />hudzaifah_r342598left a comment<br />how to download<br />06 / 10 / 2010 <br />asnawi_16left a comment<br />tlong donk d ksiah tau cara downlode<br />05 / 01 / 2010 <br />Budi Agungleft a comment<br />developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual, succesful achievement of which leads to his happiness and to success with later task, while failure leads to unhappiness in the individual, disaproval by society, difficulty with later task. <br />Tugas perkembangan bersumber pada faktor – faktor : <br />(1) <br />kematangan fisik; (2) tuntutan masyarakat secara kultural; (3) tuntutan dan dorongan <br />dan cita-cita individu iru sendiri; dan (4) norma-norma agama. <br />Pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengantarkan individu mencapai kedewasaan. Yang dimaksud dengan kedewasaan adalah dapat terpenuhinya tugas-tugas perkembangan, sehingga dapat bertindak wajar sesuai dengan tingkat usianya. Oleh karena itu segenap proses pendidikan seyogyanya diarahkan untuk tercapainya tugas- tugas perkembangannya para peserta didik. <br />Di bawah ini dikemukakan tugas-tugas perkembangan dari setiap fase menurut <br />Havighurst. <br />a. Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-Kanak Awal <br />(0,0–6.0) <br />1.Belajar berjalan pada usia 9.0 – 15.0 bulan.2.Belajar memakan makan padat.3.Belajar berbicara.4.Belajar buang air kecil dan buang air besar.5.Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin.6.Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis.7.Membentuk konsep-konsep sederhana kenyataan sosial dan alam.8.Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua, saudara, dan orang<br />lain. <br />9.Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk dan pengembangan kata hati. <br />b. Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir dan Anak Sekolah (6,0-12.0) <br />1.Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan. <br />2.Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk <br />biologis. <br />3.Belajar bergaul dengan teman sebaya.4.Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya.5.Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung.6.Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari-hari.7.Mengembangkan kata hati.8.Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi.9.Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial.<br />c. Tugas Perkembangan Masa Remaja (12.0-21.0) <br />1.Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya.2.Mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita.3.Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif.4.Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.5.Mencapai jaminan kemandirian ekonomi.6.Memilih dan mempersiapkan karier.7.Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga.8.Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan<br />bagi warga negara. <br />9.Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial. <br />10.Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam <br />berperilaku. <br />d. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal <br />1.Memilih pasangan.2.Belajar hidup dengan pasangan.3.Memulai hidup dengan pasangan.<br />4.Memelihara anak.5.Mengelola rumah tangga.6.Memulai bekerja.7.Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara.8.Menemukan suatu kelompok yang serasi.<br />Sementara itu, Depdiknas (2003) memberikan rincian tentang tugas perkembangan masa remaja untuk usia tingkat SLTP dan SMTA, yang dijadikan sebagai rujukan Standar Kompetensi Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah, yaitu : <br />a.Tugas Perkembangan Tingkat SLTP <br />1.Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada <br />Tuhan Yang Maha Esa. <br />2.Mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap <br />perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang <br />sehat. <br />3.Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya <br />sebagai pria atau wanita. <br />4.Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam <br />kehidupan sosial yang lebih luas. <br />5.Mengenal kemampuan bakat, dan minat serta arah kecenderungan karier dan <br />apresiasi seni. <br />6.Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhannya <br />untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan atau mempersiapkan karier serta <br />berperan dalam kehidupan masyarakat. <br />7.Mengenal gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, <br />sosial dan ekonomi. <br />8.Mengenal sistem etika dan nilai-nilai sebagai pedoman hidup sebagai pribadi, <br />anggota masyarakat dan minat manusia. <br />b.Tugas Perkembangan Peserta didik SLTA <br />1.Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha <br />Esa <br />2.Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya, serta kematangan dalam <br />perannya sebagai pria dan wanita. <br />3.Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat <br />4.Mengembangkan penguasaan ilmu, teknologi, dan kesenian sesuai dengan <br />program kurikulum, persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta <br />berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. <br />5.Mencapai kematangan dalam pilihan karir <br />6.Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara <br />emosional, sosial, intelektual dan ekonomi. <br />7.Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang berkehidupan berkeluarga, <br />bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. <br />8.Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual serta apresiasi <br />seni. <br />9.Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai. <br />6. Perkembangan Pada Masa Remaja <br />a. Pengetian dan Makna Masa Remaja <br />Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai dengan awal masa dewasa. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang amat kritis yang mungkin dapat merupakan the best of <br />time and the worst of time. <br />Para ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 11- 13 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin, 2003). Pada rentangan periode ini (sekitar 6 – 7 th) terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Oleh karena itu, para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s.d. <br />14- <br />15 th); dan (2) remaja akhir (14-16 th s.d.18-20 th). <br />Kita menemukan berbagai tafsiran dari para ahli tentang masa remaja : <br />1. Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang <br />mempunyai bentuk yang definitif. <br />2. Charlotte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi. <br />3. Spranger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan <br />perubahan struktur kejiwaan yang fundamental. <br />4. Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa pembentukan sikap- <br />sikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu. <br />5.G. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai <br />dan topan). <br />b. <br />suatu saat (usia 50-60) menjadi deklinasi. <br />3. Kecakapan dasar khusus (bakat) mulai <br />menujukkan <br />kecenderungan-kecende- <br />rungan yang lebih jelas. <br />3. Kecenderungan bakat tertentu mencapai <br />titik puncak dan kemantapannya <br />Perilaku Sosial <br />1. Diawali dengan kecenderungan ambivalensi keinginan menyendiri dan keinginan bergaul dengan banyak teman tetapi bersifat temporer. <br />1. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih lama (teman dekat). <br />2. Adanya kebergantungan yang kuat kepada <br />kelompok <br />sebaya <br />disertai <br />semangat <br />konformitas yang tinggi. <br />2. Kebergantungan <br />kepada <br />kelompok sebaya berangsur fleksibel, kecuali dengan teman dekat pilihannya yang banyak memiliki kesamaan minat. <br />Moralitas <br />1. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua. <br />1. Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai – nilai atau normatif yang universal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan. <br />2. Dengan sikapnya dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku <br />sehari-hari <br />oleh <br />para <br />pendukungnya. <br />2. Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau sistem nilai yang dipilih dan dianutnya sesuai dengan hati nuraninya. <br />3. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas <br />yang dipandang tepat dengan tipe idolanya. <br />3. Mulai dapat memelihara jarak dan batas- batas kebebasan- nya mana yang harus dirundingkan dengan orang tuanya. <br />Perilaku Keagamaan <br />1. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis. <br />1. Eksistensi dan sifat kemurah-an dan keadilan Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut sistem kepercayaan atau agama yang dianutnya. <br />2. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari- hari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya. <br />2. Penghayatan <br />kehidupan <br />keagamaan sehari-hari mulai dilakukan atas dasar kesadaran <br />dan <br />pertimbangan <br />hati <br />nuraninya sendiri secara tulus ikhlas <br />3. Masih mencari dan mencoba menemukan <br />pegangan hidup <br />3. Mulai menemukan pegangan hidup <br />Konatif, Emosi, Afektif dan Kepribadian <br />1. Lima kebutuhan dasar (fisiologis, rasa aman, kasih sayang, harga diri dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya <br />1. Sudah menunjukkan arah kecenderungan tertentu yang akan mewarnai pola dasar kepribadiannya. <br />2. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti pernya-taan <br />marah, <br />gembira <br />atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat <br />2. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosinalnya tampak mulai terkendali dan dapat menguasai dirinya. <br />3. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap nilai mulai tampak (teoritis, ekonomis, estetis, sosial, politis, dan religius), meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba- coba. <br />3. Kecenderungan titik berat ke arah sikap nilai tertentu sudah mulai jelas seperti yang <br />akan <br />ditunjukkan <br />oleh kecenderungan minat dan pilihan karier atau pendidikan lanjutannya; yang juga akan memberi warna kepada tipe kepribadiannya. <br />4. Merupakan masa kritis dalam rangka meng- <br />hadapi krisis identitasnya yang sangat <br />4. Kalau kondisi psikososialnya menunjang <br />secara positif maka mulai tampak dan <br />

×