1
Kantin Jujur dalam Perspektif Islam
A. Identify Problem
1. Pengertian Kantin Jujur
Kantin kejujuran adalah kantin yang m...
2
pembayar di kotak yang telah disediakan, jika berlebih siswa juga mengambil
sendiri uang kembaliannya sesuai dengan nomi...
3
b. Yang berkaitan dengan objek/barang yang diperjualbelikan, syarat-syaratnya yaitu:
 Objek jual beli (baik berupa bara...
4
(berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah
menghalalkan jual beli dan mengharamkan ...
5
Pada mulanya kantin jujur diharapkan dapat menjadi fasilitas dalam
memenuhi kebutuhan, serta diharapkan dapat membentuk ...
6
D. Identify Possible Solution
Berikut ini beberapa solusi yang memungkinkan untuk menghindari
kerugian/bangkrut dalam pr...
7
F. Plan For Implementation
Perencanaan pelaksanaan yang dapat dilakukan untuk melaksanakan solusi diatas
yakni:
1. Bagi ...
8
8) Mengkomunikasikan rencana penjualan yang telah di setujui pada pihak lain
yang berkepentingan.
c. Penyusunan Rencana
...
9
H. Review
1. Bagi penjual
Dalam proses pelaksanaannya, jual beli bukanlah hal mudah yang dengan begitu
saja dapat dilaku...
10
Daftar Pustaka
Lubis, S. K., & Wajdi, F. (2012). Hukum Ekonomi Islam. Jakarta: Sinar Grafika.
Budgeting. (2012). Diakse...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Kantin jujur menurut persfektif islam

935 views

Published on

Kantin Jujur menurut Perspektif Islam

Published in: Science
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
935
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
7
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Kantin jujur menurut persfektif islam

  1. 1. 1 Kantin Jujur dalam Perspektif Islam A. Identify Problem 1. Pengertian Kantin Jujur Kantin kejujuran adalah kantin yang menjual makanan kecil dan minuman. Kantin kejujuran tidak memiliki penjual dan tidak dijaga. Makanan atau minuman dipajang dalam kantin disertai dengan daftar harga yang telah ditetapkan. Dalam kantin tersebut tersedia kotak uang, yang berguna menampung pembayaran dari yang membeli makanan atau minuman. Bila ada kembalian, pembeli mengambil dan menghitung sendiri uang kembalian dari dalam kotak tersebut. Di kantin ini, kesadaran pembeli sangat dituntut untuk berbelanja dengan membayar dan mengambil uang kembalian sesuai dengan apa yang dibeli dan berapa jumlah yang harus dibayar jika memang berlebih, tanpa harus diawasi oleh pegawai kantin atau penjual. Salah satu motto yang ditanamkan di kantin ini adalah Allah Melihat Malaikat Mencatat. Kantin Kejujuran merupakan salah satu bentuk kegiatan dalam pendidikan Antikorupsi. 2. Sejarah Kantin Jujur Kehadiran kantin kejujuran, yang ide awalnya berasal dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang tujuannya untuk membentuk karakter siswa- siswa agar memliki karakter yang jujur. Seperti yang telah kita ketahui bahwa tingkat korupsi di Indonesia ini sangat tingga sekali, oleh karena itu, dari KPK sendiri mengusulkan adanya kantin kejujuran untuk membentuk karakter siswa- siswa yang jujur sedari dini mungkin. Pada tahun 2009 pemerintah DKI sendiri telah menetapkan kepada seluruh sekolah negeri untuk mengadakan kantin jujur, selanjutnya diikuti oleh seluruh sekolah yang lainnya di seluruh Indonesia. 3. Teknik Kantin Jujur Teknik dan pelaksanaan kantin kejujuran dilaksanakan secara mandiri. Para siswa atau para pembeli itu mengambil sendiri aneka minuman dan makanan ringan atau pun barang yang diinginkan. Di sana tak ada petugas yang berjaga atau penjual maupun yang mencatat apa saja yang dibeli siswa. Setelah siswa atau pembeli mengambil barang yang diinginkan, siswa meletakan sendiri uang untuk
  2. 2. 2 pembayar di kotak yang telah disediakan, jika berlebih siswa juga mengambil sendiri uang kembaliannya sesuai dengan nominal yang dibutuhkan. B. Collect Information 1. Pengertian Jual Beli Secara etimologi, jual beli berarti mengambil dan memberikan sesuatu, dan merupakan derivat (turunan) dari depa karena orang Arab terbiasa mengulurkan depa mereka ketika mengadakan akad jual beli untuk saling menepukkan tangan sebagai tanda bahwa akad telah terlaksana atau ketika mereka saling menukar barang dan uang. 2. Syarat Syah Jual Beli a. Persyaratan yang berkaitan dengan pelaku praktek jual beli, baik penjual maupun pembeli, yaitu:  Hendaknya kedua belah pihak melakukan jual beli dengan ridha dan sukarela, tanpa ada paksaan. Allah ta’ala berfirman: Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dengan jalan perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu” (QS. An-Nisa:29)  Kedua belah pihak berkompeten dalam melakukan praktek jual beli, yakni dia adalah seorang mukallaf dan rasyid (memiliki kemampuan dalam mengatur uang), sehingga tidak sah transaksi yang dilakukan oleh anak kecil yang tidak cakap, orang gila atau orang yang dipaksa.
  3. 3. 3 b. Yang berkaitan dengan objek/barang yang diperjualbelikan, syarat-syaratnya yaitu:  Objek jual beli (baik berupa barang jualan atau harganya/uang) merupakan barang yang suci dan bermanfaat, bukan barang najis atau barang yang haram, karena barang yang secara dzatnya haram terlarang untuk diperjualbelikan.  Objek jual beli merupakan hak milik penuh, seseorang bisa menjual barang yang bukan miliknya apabila mendapat izin dari pemilik barang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah engkau menjual barang yang bukan milikmu.” (HR. Abu Dawud 3503, Tirmidzi 1232, An Nasaa’i VII/289, Ibnu Majah 2187, Ahmad III/402 dan 434; dishahihkan Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly)  Objek jual beli dapat diserah terimakan, sehingga tidak sah menjual burung yang terbang di udara, menjual unta atau sejenisnya yang kabur dari kandang dan semisalnya. Transaksi yang mengandung objek jual beli seperti ini diharamkan karena mengandung gharar (spekulasi) dan menjual barang yang tidak dapat diserahkan.  Objek jual beli dan jumlah pembayarannya diketahui secara jelas oleh kedua belah pihak sehingga terhindar dari gharar. Selain itu, tidak diperkenankan seseorang menyembunyikan cacat/aib suatu barang ketika melakukan jual beli. c. Terakhir, Jual Beli Bukanlah Riba, Allah ta’ala berfirman: Artinya : “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata
  4. 4. 4 (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah: 275) 3. Rukun Jual Beli Adapun rukun jual beli adalah sebagai berikut: a. Akad (ijab qabul) Ialah ikatan kata antara penjual dan pembeli. Jual beli belum dikatakan sah sebelum ijab dan qabul dilakukan sebab ijab qabul menunjukkan kerelaan (keridhaan). Ijab qabul boleh dilakukan dengan lisan dan tulisan.Ijab qabul dalam bentuk perkataan dan/atau dalam bentuk perbuatan yaitu saling memberi (penyerahan barang dan penerimaan uang).Menurut fatwa ulama Syafi’iyah, jual beli barang-barang yang kecilpun harus ada ijab qabul tetapi menurut Imam an-Nawawi dan ulama muta’akhirin syafi’iyah berpendirian bahwa boleh jual beli barang-barang yang kecil tidak dengan ijab qabul.Jual beli yang menjadi kebiasaan seperti kebutuhan sehari-hari tidak disyaratkan ijab qabul, ini adalah pendapat jumhur (al-Kahlani, Subul al-Salam, hal. 4). b. Orang-orang yang berakad (subjek) Ada 2 pihak yaitu bai’ (penjual) dan mustari (pembeli). c. Ma’kud ‘alaih (objek) Ma’kud ‘alaih adalah barang-barang yang bermanfaat menurut pandangan syara’. d. Ada nilai tukar pengganti barang Nilai tukar pengganti barang yaitu dengan sesuatu yang memenuhi 3 syarat yaitu bisa menyimpan nilai (store of value), bisa menilai atau menghargakan suatu barang (unit of account) dan bisa dijadikan alat tukar (medium of exchange). Lubis dan Wajdi (2012) 4. Kantin Jujur Menurut Perspektif Islam Pada prakteknya, kantin jujur tidak seperti aktivitas jual beli pada umumnya dimana penjual dan pembeli saling bertemu satu sama lain. Seperti yang telah dijelas pada teknik kantin jujur diatas bahwa penjual hanya memberikan keterangan harga dan kotak uang untuk meletakan uang pembayaran dari pembeli sehingga tidak adanya pertemuan antara penjual dan pembeli menyebabkan salah satu rukun jual beli tidak terpenuhi, yakni adanya akad yang jelas antara penjual dan pembeli.
  5. 5. 5 Pada mulanya kantin jujur diharapkan dapat menjadi fasilitas dalam memenuhi kebutuhan, serta diharapkan dapat membentuk karakter siswa yang jujur sejak dini mungkin. Namun pada kenyataannya, dikarenakan tidak terpenuhinya beberapa rukun dalam jual beli, seperti; tidak adanya pertemuan antara pembeli dan penjual, serta tidak terjadinya akad yang jelas maka, tidak sedikit kantin jujur yang malah gulung tikar alias bangkrut karena para siswa atau pembeli yang tidak diawasi tersebut malah berlaku curang karena seolah- olah diberikannya kesempatan untuk melakukan kecurangan. C. Decide Cause Dari keterangan diatas, dapat disimpulkan bahwa kantin jujur tidak dapat terlaksana dengan baik seperti apa yang diinginkan mulanya. Penyebab terjadinya kegagalan dalam praktek kantin jujur adalah tidak terpenuhinya rukun jual beli yang baik dan benar menurut pandangan islam, seperti: 1. Tidak bertemunya antara panjual dan pembeli. Pada kantin jujur pembeli bertemu langsung dengan penjual, pembeli hanya berinteraksi dan melakukan transaksi dengan kotak barang daganga, daftar harga barang dagangan serta kotak tempat penyimapanan uang saja. Tidak adanya penjaga atau penjual yang menunggu atau menjual barang dagangan, sehingga tidak sedikit kantin jujur yang pada akhirnya bangkrut dikarenakan siswa atau pembeli yang tidak jujur mengambil/mencuri barang dagangan tersebut, mengambil kembalian yang lebih dari seharusnya, atau malah mencuri barang dagangan dan uang dagangan. 2. Tidak adanya akad yang jelas. Dikarenakan tidak bertemunya antara penjual dan pembeli tidak terlaksanakannya rukun jual beli yang jelas, kantin jujur hanya menuliskan daftar harga barang yang dapat memungkinkannya terjadi keliru oleh pembeli dikarenakan ada banyak barang yang dijual di kantin tersebut. hal ini juga dapat menyebabkan terjadi kerugian padakantin jujur apabila pembeli kurang dalam membayar dagangan ataupun tidak sengaja mengambil lebih uang kembalian dari yang seharusnya.
  6. 6. 6 D. Identify Possible Solution Berikut ini beberapa solusi yang memungkinkan untuk menghindari kerugian/bangkrut dalam praktek jual beli: 1. Mengklasifikasikan Barang Dagangan Penjual atau pemilik barang dagangan yang ada di kantin jujur sebaiknya mengklasifikasi barang dagangan berdasarkan dengan harga barang-barang dagangan yang ada, misalnya; barang dagangan yang haraganya Rp. 500,- dikelompokan dengan barang lain yang juga harganya sama. 2. Memasang CCTV Sekolah memasang CCTV agar jika diketahui ada kecurangan yang terjadi saat praktek kantin jujur. 3. Membeli dan Menjual Barang Dagangan Seperti Biasa pada Umumnya Dengan membeli dan menjual barang dagangan seperti praktek jual beli pada umunya bisa sangat meminimalisir atau malah menghindari terjadinya kerugian baik itu dari pihak yang menjual maupun pembeli, serta terpenuhinya rukun jual beli yang sesuai dengan syariat islam. E. Select Best Solution Menurut analisis saya terhadap apa yang terjadi di lapangan, sering terjadi sekali kesalahan-kesalahan pada praktek jual beli kantin jujur ini, misalnya saja penjual yang mengalami kerugian dikarenakan juamlah uang yang terkumpul tidak sesuai dengan jumlah uang yang seharusnya didadapatkan, hal ini bisa jadi dikarenakan beberapa factor seperi; pembeli yang mengambil uang kembalian berlebih dari seharusnya, pembeli yang kurang dalam membayar barang dagangan dan pembeli yang tidak jujur. selain itu, dari pembeli Jadi, solusi terbaik untuk menghindari kerugian/bangkrut pada praktek jual beli ini adalah membeli dan menjual barang dagangan seperti praktek jual beli biasa pada umunya. Selain itu, jika rukun akad terpenuhi dengan baik sesuai syariat yang telah ditetapkan, tidak akan terjadi kerugian baik dari penjual maupun pembeli, keduanya mendapatkan keuntungan dengan dapat memenuhi kebutuhan dari masing- masing pihak, penjual mendapatkan keutungan yang sesuai dan pembeli mendapatkan barang yang dibutuhkan.
  7. 7. 7 F. Plan For Implementation Perencanaan pelaksanaan yang dapat dilakukan untuk melaksanakan solusi diatas yakni: 1. Bagi Penjual, menyusun perencanaan penjualan yang baik sesuai syariat. a. Penentuan dasar-dasar anggaran untuk penjualan  Penentuan relevan variabel yang mempengaruhi penjualan.  Penentuan tujuan umum dan khusus yang diinginkan.  Penentuan strategi pemasaran yang dipakai. b. Penyusunan rencana penjualan 1) Analisa ekonomi, dengan mengadakan proyeksi terhadap aspek- aspek makro, seperti:  Moneter;  Kependudukan;  Kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah di bidang ekonomi;  Teknologi dan menilai akibatnya terhadap permintaan industri. 2) Melakukan analisa industri, analisa ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan masyarakat menyerap produk sejenis yang dihasilkan oleh industri. 3) Melakukan analisa prestasi penjualan yang lalu, analisa ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan masyarakat menerap produk sejenis yang dihasilkan oleh industri. 4) Analisa penentuan prestasi penjualan yang akan datang, analisa ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan perusahaan mencapai target penjualan di masa depan, dengan memperhatikan faktor- faktor produksi, seperti;  Bahan mentah  Tanaga kerja  Kapasitas produksi  Keadaan pemodalan 5) Menyusun forecast (perkiraan) penjualan, yaitu meramalkan jumlah penjualan yang diharapkan dengan anggapan segala sesuatu berjalan seperti masa yang lalu (forecasted sales). 6) Menentukan jumlah penjualan yang di anggarkan (budgeted sales). 7) Menghitung rugi/ laba yang mungkin di peroleh (budgeted profit).
  8. 8. 8 8) Mengkomunikasikan rencana penjualan yang telah di setujui pada pihak lain yang berkepentingan. c. Penyusunan Rencana 1) Penyusunan anggaran penjualan yang dapat berubah (Tentative Sales Budget) 2) Penyusunan laporan laba rugi yang diproyeksikan (Projected Income Statement) 3) Komunikasi antar departemen, untuk menyesuaikan masing – masing anggaran. 2. Bagi pembeli, melakukan transaksi pembelian sesuai syariat dengan memilih toko atau tempat penjualan yang baik, barang dagangan yang halal dan baik serta penjual yang jujur. G. Implemend and Test Untuk melaksanakan perancanaan tersebut berikut ini adalah adalah cara-caranya: 1. Bagi penjual a. Penjual menyiapkan barang dagangan dan lokasi tempat berjualan b. Meletakan/menyusun barang dagang dengan klasifikasi barang dagangan berdasarkan dafatar harga ataupun jenis barang. c. Menjual barang dagangan dengan transaksi yang sesuai dengan syariat, yakni dengan memenuhi syarat sah jual beli dan rukun jual beli yang telah ditetapkan. 2. Bagi Pembeli a. Memilih toko/tempat penjualan barang yang ingin dituju sesuai dengan kebutuhan barang yang akan dibeli b. Memilih barang dagangan yang baik dan halal c. melakukan transaksi jual beli yang sesuai dengan syariat, yakni dengan memenuhi syarat sah jual beli maupun rukun jual beli yang telah ditetapkan.
  9. 9. 9 H. Review 1. Bagi penjual Dalam proses pelaksanaannya, jual beli bukanlah hal mudah yang dengan begitu saja dapat dilakukan. Proses pelaksanaan jual beli haruslah dilakukan sesuai dengan syariat islam yang telah ditetapkan, harus terpenuhi syarat sah dan rukun jual belinya. Mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan tentu saja akan banyak mengalami hambatan-hambatan yang mungkin dapat memperlambat atau bahkan menggagalkan pelaksanaan jual beli. Hambatan-hambatan tersebut misalnya: a. Barang yang akan dijual rusak, patah atau hancur. b. Lokasi tempat penjualan yang tidak strategis c. Adanya kecelakaan saat pengiriman atau penerimaan barang, seperti kebakaran atau kecopetan, dll d. Pembeli yang tidak cocok dengan barang yang dijual e. Daya jual barang yang kurang f. Barang kadaluarsa atautidak layak pakai g. Penjual suulit untuk menjualkan barang, malu-malu dan lain sebagaianya h. Daya saing dengan penjual lain, dan hambatan-hambatan lainnya. 2. Bagi Pembeli Begitu pula dengan pembeli, dalam proses pelaksanaan jual beli haruslah dilakukan sesuai dengan syariat islam yang telah ditetapkan, yakni terpenuhinya syarat sah jual beli dan rukun jual beli. dalam proses jual beli, hambatan yang dialami pembeli antara lain: a. Sulitnya mendapatkan barang yang sesuai dengan syariat, halal dan baik b. Adanya kecelakaan saat proses pelaksanaan transaksi, seperti kebakaran atau kecopetan, dll c. Penjual yang menawarkan harga barang terlampau tinggi d. barang dangan yang cacat, rusak atau patah e. Lokasi toko/tempat penjualan yang jauh, dan hambatan-hambatan lainnya.
  10. 10. 10 Daftar Pustaka Lubis, S. K., & Wajdi, F. (2012). Hukum Ekonomi Islam. Jakarta: Sinar Grafika. Budgeting. (2012). Diakses dari https://sites.google.com/site/. Fransori. (2012). Diakses dari https://nenggelisfransori.wordpress.com. Muhammad Nur Ichwan Muslim. (2008). Diakses dari http://muslim.or.id/.

×