Your SlideShare is downloading. ×
Feses
Feses
Feses
Feses
Feses
Feses
Feses
Feses
Feses
Feses
Feses
Feses
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Feses

10,417

Published on

0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
10,417
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
160
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Sisti Nurrahmah, Amd.AK ( Parasitologi, Bakteriologi ) Feses ( Tinja/Tahi ) Sumber : www.analismuslim.blogspot.com http://analiskesehatan-indonesia.blogspot.com/2011/06/helmintologi-medik-bagian-i.html http://anggraheniheksaningtyas.blogspot.com/2011/03/pemeriksaan-feses.html Biomedika.co.id http://growupclinic.com/2012/04/04/interpretasi-hasil-laboratorium-feses/ http://kesmas-unsoed.info/2011/02/laporan-praktikum-parasitologi-pemeriksaan-feses.html http://naqsehat.blogspot.com/2010/02/pemeriksaan-tinja.html http://ritapoltekkes.blogspot.com/2012/05/laporan-praktikum-parasitologi.html http://www.scribd.com/doc/42059095/Pemeriksaan-Patologi-Klinik-2 dari dr. Banundari Rachmawati, (SpPK) http://yurrypenceng.blogspot.com/2012/05/pemeriksaan-tinja-feses.html Gandosoebrata,R.2010.Penuntun Laboratorium Klinik.Dian Rakyat:Jakarta Timur Iqbal, Mochamad.2012.Laporan Praktikum Parasitologi: Universitas Jenderal Soedirman Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Kesehatan Masyarakat, Purwokerto. Feses| 1 dll.
  • 2. Sisti Nurrahmah, Amd.AK Pengertian Feses Feses adalah sisa makanan yang telah dicerna dan belum dicerna oleh usus yang dikeluarkan tubuh dalam bentuk benda padat. Pada keadaan abnormal atau adanya kelainan di dalam saluran cerna, feses dapat menunjukkan perubahan bentuk serta hasil pemeriksaan yang abnormal. Maka dari itu feses dapat dijadikan salah satu parameter yang digunakan untuk membantu dalam penegakan diagnosis suatu penyakit serta menyelidiki suatu penyakit secara lebih mendalam. Pemeriksaan feses adalah salah satu pemeriksaan laboratorium yang telah lama dikenal untuk membantu klinisi menegakkan diagnosis suatu penyakit. Meskipun saat ini telah berkembang berbagai pemeriksaan laboratorium yang canggih, dalam beberapa kondisi pemeriksaan feses masih sangat penting yang tidak dapat digantikan oleh pemeriksaan lain. Pengetahuan mengenai berbagai macam penyakit yang memerlukan pemeriksaan feses, cara pengumpulan sampel yang benar serta pemeriksaan dan interpretasi yang benar akan menentukan ketepatan diagnosis yang dilakukan oleh klinisi. Sehingga feses merupakan spesimen yang penting untuk diagnosis adanya kelainan pada system traktus gastrointestinal seperti diare, infeksi parasit, pendarahan gastrointestinal, ulkus peptikum, karsinoma dan sindroma malabsorbsi. Feses terdiri dari Dalam keadaan normal dua pertiga tinja terdiri dari air dan sisa makanan, zat hasil sekresi saluran pencernaan, epitel usus, bakteri apatogen, asam lemak, urobilin, gas indol, skatol dan sterkobilinogen. Menurut dr. Banundari Rachmawati, (SpPK), feses terdiri dari Sisa makanan yang tidak dapat dicerna, pigmen dan garam empedu, sekresi intestinal termasuk mucus, leukosit yang bermigrasi dari aliran darah, epitel, bakteri, material inorganic terutama kalsium dan fosfat, makanan yang tercerna (dalam jumlah yang sangat sedikit) dan gas. Pada keadaan patologik seperti diare didapatkan peningkatan sisa makanan dalam feses, karena makanan melewati saluran pencernaan dengan cepat dan tidak dapat diabsorpsi secara sempurna. Bahan pemeriksaan feses sebaiknya berasal dari defekasi spontan, jika pemeriksaan sangat diperlukan contoh feses dapat diambil dengan jari bersarung dari rektum. Bahan ini selalu harus dianggap bahan yang mungkin mendatangkan infeksi, berhati-hatilah dalam bekerja. Untuk pemeriksaan biasa dipakai feses sewaktu, jarang diperlukan feses 24 jam untuk pemeriksaan tertentu. Feses hendaknya diperiksa dalam keadaan segar karena bila dibiarkan mungkin sekali unsur-unsur dalam tinja menjadi rusak. Untuk pemeriksaan feses, wadah yang sebaiknya ialah yang terbuat dari kaca atau dari bahan lain yang tidak dapat ditembus seperti plastik. Kalau konsistensi feses keras, dos karton berlapisan parafin juga boleh dipakai dan wadah harus bermulut lebar. Jika akan memeriksa feses, pilihlah selalu sebagian dari feses itu yang memberi kemungkinan sebesar-besarnya untuk menemui kelainan, umpamanya bagian yang bercampur darah atau lendir, dsb. Oleh karena unsur-unsur patologik biasanya tidak merata, maka hasil pemeriksaan mikroskopik tidak dapat dinilai derajat kepositifannya dengan tepat, cukup diberi tanda negatif (-) , +, ++, atau +++ saja. Pemeriksaan feses dibagi menjadi 3 macam pemeriksaan yaitu pemeriksaan makroskopis, mikroskopis dan kimia. Pemeriksaan makroskopis terdiri dari Pemeriksaan jumlah, pemeriksaan warna, pemeriksaan bau, pemeriksaan konsistensi, pemeriksaan lendir, pemeriksaan darah, pemeriksaan nanah, pemeriksaan parasit dan pemeriksaan adanya sisa makanan. Pemeriksaan kimia meliputi pemeriksaan darah samar, urobilin, urobilinogen dan bilirubin. Pemeriksaan mikroskopis feses terdiri dari pemeriksaan terhadap protozoa, telur cacing, epitel, kristal, makrofag, amilum, lemak, sel ragi, dan jamur selain itu juga leukosit, eritrosit apabila ada perdarahan. Perdarahan pada saluran cerna tidak selalu memberikan warna merah pada tinja khususnya pada perdarahan saluran cerna bagian atas, darah akan diubah oleh asam lambung yang berubah menjadi warna coklat kehitaman. Adanya darah dalam tinja dipastikan dengan pemeriksaan laboratorium. Alasan paling umum pengujian feses adalah untuk menentukan apakah ada satu jenis bakteri atau parasit yang menginfeksi usus. Banyak organisme sangat kecil yang hidup di dalam usus. Hal ini normal saja karena organisme ini memang diperlukan untuk pencernaan. Tetapi, kadang usus dapat terinfeksi oleh bakteri atau parasit jahat yang menjadi penyebab beberapa macam kondisi seperti diare berdarah. Jika begitu, mungkin akan diperlukan pemeriksaan terhadap feses di bawah mikroskop, membiakkannya (kultur), dan melakukan tes-tes lain untuk mencari penyebab dari masalah yang terjadi. Terkadang feses juga dianalisa untuk mengetahui zat-zat yang terkandung di dalamnya. Contoh dari analisa feses juga untuk memeriksa kandungan lemak dalam feses. Normalnya lemak akan habis diserap dari usus sehingga feses sama sekali tidak mengandung lemak. Namun di beberapa gangguan pencernaan, lemak tidak sepenuhnya diserap dan terbuang bersama feses. Feses| 2
  • 3. Sisti Nurrahmah, Amd.AK Syarat pengumpulan feces : Tempat harus bersih, kedap, bebas dari urine, diperiksa 30–40 menit sejak dikeluarkan. Bila pemeriksaan ditunda simpan pada almari es. Ada 2 metode pengawetan tinja sebagai bahan pemeriksaan parasitologi, yaitu: 1. Pengawetan kimiawi Ada 3 teknik pengawetan yang sering digunakan : a. Pengawet formalin 10% Yang dapat diawetkan : kista protozoa, telur dan tempayak Helminthes, Lebih baik dipertahankan pada suhu 60oC agar telur tidak terus bertumbuh. b. Pengawet M.I.F(Merthiolate Iodine Formaldehyde/Formalin) Dapat mengawetkan dan mewarnai : bentuk tropozoit dan kista dari protozoa, telur dan tempayak dari helminthes ; dapat mengawetkan tinja dalam bentuk apapun. Pengawet ini terdiri dari atas 2 larutan : larutan 1 berisi merthiolate dan formaldehyde; larutan 2 berupa lugol. Disimpan terpisah, dicampur pada saat digunakan c. Pengawet P.V.A (Poly Vinyl Alcohol) Mengawetkan : bentuk tropozoit dan kista dari protozoa (beberapa kista mungkin akan berubah bentuknya) Pengawet untuk tinja cair , bahan pemeriksaan dari duodenum dan colon sigmoid. Sering dipakai untuk pembuatan sediaan pewarnaan permanent/ 2. Pengawetan fisis Pada pengawetan metode ini, tinja diawetkan dalam lemari es dengan suhu 2-6 derajat Celsius. Bentuk telur, tempayak dan kista dapat bertahan, tetapi bentuk tropozoit akan rusak dengan pendinginan. Pasien dilarang menelan barium, bismuth, dan minyak dalam 5 hari sebelum pemeriksaan. Diambil dari bagian yang paling mungkin memberi kelainan. Paling baik dari defekasi spontan (boleh menggunakan pencahar) atau Rectal Toucher (pemeriksaan tinja sewaktu) Alur pemeriksaan : pengumpulan bahan Pemeriksaan, pengiriman dan pengawetan bahan tinja, pemeriksaan tinja, serta pelaporan hasil pemeriksaan. Mengambil sediaan feses : Tidak seperti kebanyakan tes laboraturium lain, contoh feses harus diambil di rumah oleh pihak keluarga dari anak yang sedang sakit, bukan oleh petugas medis. Berikut adalah beberapa tips untuk mengambil contoh feses dari anak Anda : Mengambil feses dapat merepotkan, jadi gunakan sarung tangan latex dan cuci tangan Anda dan anak Anda setelahnya. Banyak anak kecil yang menderita diare tidak selalu dapat memberitahu orangtuanya ketika ia akan mengeluarkan tinjanya. Penutup plastik berbentuk topi dapat digunakan untuk mengambil sediaan feses. Alat pengumpul ini dapat dengan cepat diletakkan di atas toilet atau di dubur anak untuk mengambil feses. Menggunakan alat pengumpul seperti ini dapat mencegah feses terkontaminasi oleh air atau kotoran lain. Jika feses terkontaminasi dengan urin maka pengambilan contoh feses perlu diulang. Selain itu, jika Anda tidak dapat mengambil feses anak Anda sebelum feses menyentuh bagian dalam toilet, maka pengambilan perlu diulang. Mengambil feses yang sudah masuk ke dalam toilet tidak memberikan sediaan tinja yang bersih untuk dianalisa. Cara lain mengambil sampel feses adalah dengan menempatkan pembungkus plastik di bawah penutup toilet. Kemudian pindahkan contoh feses ke tempat yang bersih dan tertutup untuk dibawa ke laboraturium. Plastik pembungkus juga dapat digunakan untuk melapisi popok bayi atau anak yang belum bisa menggunakan toilet. Koleksi sample feses - Minta pasien untuk mengeluarkan sampel tinja langsung ke karton atau cangkir plastik bertutup. - Sekitar 20-40 gram atau 5-6 sendok tinja sudah cukup untuk pemeriksaan rutin. - Menelan obat (Tetrasiklin, sulfonamid,antiprotozoal agen, pencahar, antasida, minyak jarak, hidroksida magnesium, barium sulfat, senyawa kaolin bismut dan garam hipertonik dll) sebelum koleksi feses dapat mengganggu deteksi parasit. - Semua spesimen harus diberi label dengan nama pasien, usia, jenis kelamin, dan tanggal pengumpulan. - Spesimen harus mencapai laboratorium dalam waktu 30 menit karena trofozoit amuba mati dan menjadi sulit dikenali setelah itu. Feses| 3
  • 4. Sisti Nurrahmah, Amd.AK A. Parasitologi Penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing masih tinggi prevelansinya terutama pada penduduk di daerah tropik seperti di Indonesia, dan merupakan masalah yang cukup besar bagi bidang kesehatan masyarakat. Hal ini dikarenakan Indonesia berada dalam kondisi geografis dengan temperatur dan kelembaban yang sesuai, sehingga kehidupan cacing ditunjang oleh proses daur hidup dan cara penularannya. Prinsip dasar untuk diagnosis infeksi parasit adalah riwayat yang cermat dari pasien. Teknik diagnostik merupakan salah satu aspek yang penting untuk mengetahui adanya infeksi penyakit cacing, yang dapat ditegakkan dengan cara melacak dan mengenal stadium parasit yang ditemukan. Sebagian besar infeksi dengan parasit berlangsung tanpa gejala atau menimbulkan gejala ringan. Oleh sebab itu pemeriksaan laboratorium sangat dibutuhkan karena diagnosis yang hanya berdasarkan pada gejala klinik kurang dapat dipastikan. Misalnya, infeksi yang disebabkan oleh cacing gelang (Ascaris lumbricoides). Infeksi ini lebih banyak ditemukan pada anak-anak yang sering bermain di tanah yang telah terkontaminasi, sehingga mereka lebih mudah terinfeksi oleh cacain-cacing tersebut. Biasanya hal ini terjadi pada daerah di mana penduduknya sering membuang tinja sembarangan sehingga lebih mudah terjadi penularan. Pengalaman dalam hal membedakan sifat berbagai spesies parasit, kista, telur, larva, dan juga pengetahuan tentang bentuk pseudoparasit dan artefak yang dikira parasit, sangat dibutuhkan dalam pengidentifikasian suatu parasit (Kadarsan, 1983). Pemeriksaan feces dapat dilakukan dengan metode kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif dilakukan dengan metode natif, metode apung, metode harada mori, dan Metode kato. Metode ini digunakan untuk mengetahui jenis parasit usus, sedangkan secara kuantitatif dilakukan dengan metode kato untuk menentukan jumlah cacing yang ada didalam usus (Gandahusada.dkk, 2000). Kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi dalam pemeriksaan feses diantaranya adalah : Kesalahan pemeriksa/praktikan (human error) Kesalahan yang termasuk antara lain kesalahan saat melakukan pemeriksaan/melaksanakan praktikum, kesalahan dalam menggunakan alat dan bahan, dan kesalahan dalam pengambilan feses saat praktikum. Kesalahan saat awal pengambilan feses Kesalahan yang dimaksud yakni kesalahan saat pengambilan feses dari manusia/hospes, apakah diambil pada tempat pembuangan/kloset atau tidak langsung dari perianal, apakah tercampur dengan urin. Kesalahan penyimpanan feses Kemungkinan kesalahan saat proses penyimpana feses tidak dalam suhu rendah dan ruangan yang tidak steril.  Pemeriksaan Kualitatif Yaitu pemeriksaan yang didasarkan pada ditemukkan telur pada masing-masing metode pemeriksaan tanpa dihitung jumlahnya. 1) Metode Natif (direct slide) Metode ini dipergunakan untuk pemeriksaan secara cepat dan baik untuk infeksi berat, tetapi untuk infeksi yang ringan sulit ditemukan telur-telurnya. Cara pemeriksaan ini menggunakan larutan NaCl fisiologis (0,9%) atau eosin 2%. Penggunaa eosin 2% dimaksudkan untuk lebih jelas membedakan telur-telur cacing dengan kotoran disekitarnya. Maksud : Menemukan telur cacing parasit pada feces yang diperiksa. Tujuan : Mengetahui adanya infeksi cacing parasit Dasar teori : Eosin memberikan latar belakang merah terhadap telur yang berwarna kekuningkuningan dan untuk lebih jelas memisahkan feces dengan kotoran yang ada. Kekurangan : Dilakukan hanya untuk infeksi berat, infeksi ringan sulit terditeksi. Kelebihan : Mudah dan cepat dalam pemeriksaan telur cacing semua spesies, biaya yang di perlukan Feses| 4
  • 5. Sisti Nurrahmah, Amd.AK sedikit, peralatan yang di gunakan sedikit. Alat dan Bahan : Gelas obyek, Pipet tetes, Lidi, Cover glass, Mikroskop, Tinja kecil dan Eosin 2%. Cara kerja : 1. Gelas obyek yang bersih di teteskan 1-2 tetes NaCl fisiologi atau eosin 2% 2. Dengan lidi, di ambil sedikit tinja dan taruh pada larutan tersebut 3. Dengan lidi tadi, kita ratakan /larutkan, kemudian di tutup dengan gelas beda/cover glass. 2) Metode Apung (Flotation method) Metode ini digunakan larutan NaCl jenuh atau larutan gula atau larutan gula jenuh yang didasarkan atas BJ (Berat Jenis) telur sehingga telur akan mengapung dan mudah diamati. Metode ini digunakan untuk pemeriksaan feses yang mengandung sedikit telur. Cara kerjanya didasarkan atas berat jenis larutan yang digunakan, sehingga telur-telur terapung dipermukaan dan juga untuk memisahkan partikel-partikel yang besar yang terdapat dalam tinja. Pemeriksaan ini hanya berhasil untuk telur-telur Nematoda, Schistostoma, Dibothriosephalus, telur yang berpori-pori dari famili Taenidae, telur-telur Achantocephala ataupun telur Ascaris yang infertil. Maksud : Mengetahui adanya telur cacing parasit usus untuk infeksi ringan. Tujuan : Mengetahui adanya infeksi cacing parasit usus Dasar teori : Berat jenis NaCl jenuh lebih berat dari berat jenis telur. Kekurangan : Penggunaan feses banyak dan memerlukan waktu yang lama, perlu ketelitian tinggi agar telur di permukaan larutan tidak turun lagi Kelebihan : Dapat di gunakan untuk infeksi ringan dan berat, telur dapat terlihat jelas. Alat dan Bahan : Obyek glass, Mikroskop, Cover glass, Penyaring teh, Tabung reaksi, Pengaduk, beker glass, Tinja, Larutan NaCl jenuh (33%) dan Aquades Cara kerja : 1. 10 gram tinja di campur dengan 200 ml NaCl jenuh (33%), kemudian di aduk sehingga larut. Bila terdapat serat-serat selulosa di saring menggunakan penyaring teh. 2. Di diamkan selama 5-10 menit, kemudian dengan lidi di ambil larutan permukaan dan di taruh di atas gelas obyek, kemudian di tutup dengan cover glass. Di periksa di bawah mikroskop. 3. Di tuangkan ke dalam tabung reaksi sampai penuh, yaitu rata dengan permukaan tabung, didiamkan selama 5-10 menit dan di tutup/di letakkan gelas obyek dan segera angkat. Selanjutnya di letakkan di atas gelas preparat dengan cairan berada di antara gelas preparat dan gelas penutup, kemudian di periksadi bawah mikroskop. 3) Metode Harada Mori Metode ini digunakan untuk menentukan dan mengidentifikasi larva cacing Ancylostoma duodenale, Necator americanus, Srongyloides stercolaris dan Trichostronngilus yang didapatkan dari feses yang diperiksa. Teknik ini memungkinkan telur cacing dapat berkembang menjadi larva infektif pada kertas saring basah selama kurang lebih 7 hari, kemudian larva ini akan ditemukan didalam air yang terdapat pada ujung kantong plastik. Maksud : Mengidentifikasi larva cacing Ancylostoma duodenale, Necator Americanus, Srongyloides stercolaris dan Trichostronngilus spatau mencari larva cacing-cacing parasit usus yang menetas diluar tubuh hospes. Tujuan : Mengetahuia adanya infeksi cacing tambang Dasar teori : Hanya cacing-cacing yang menetas di luar tubuh hospes akan menetas 7 hari menjadi larva dengan kelembaban yang cukup. Kekurangan : Dilakukan hanya untuk identifikasi infeksi cacing tambang, waktu yang dibutuhkan lama dan memerlukan peralatan yang banyak. Kelebihan : Lebih mudah dilakukan karena hanya umtuk mengidentifikasi larva infektif mengingat bentuik larva jauh lebih besar dibandingkan dengan telur. Alat dan Bahan : Kantong plastik ukuran 30x200mm, Kertas saring ukuran 3x15cm, Lidi bambu, Penjepit, Feses| 5
  • 6. Sisti Nurrahmah, Amd.AK Mikroskop, Tinja dan Aquades steril Cara kerja : 1. Plastik di isi aquades steril kurang lebih 5ml. 2. Dengan lidi bambu, tinja di oleskan pada kertas saring sampai mengisi sepertiga bagiannya tengahnya. 3. Kertas saring di masukkan ke dalam plastik tersebut diatas. Cara memasukkan kertas saring dilipat membujur dengan ujung kertas menyentuh permukaan aquades dan tinja jangan sampai terkena aquades. 4. Tabung di tutup plastik/dijepret. 5. Simpan selama 3-7 hari. 6. Disentrifuge dan dimbil dengan pipet tetes kemudian diamati dibawah mikroskop.  Pemeriksaan Kuantitatif Yaitu pemeriksaan feces yang didasarkan pada penemuan telur pada tiap gram feces. Metode Kato-Katz Teknik sediaan tebal (cellaphane covered thick smear tecnique) atau disebut teknik Kato. Metode ini digunakan untuk menemukan adanya telur cacing parasit dan menghitung jumlah telur cacing yang terdapat pada feses. Pengganti kaca tutup seperti teknik digunakan sepotong “cellahane tape”. Teknik ini lebih banyak telur cacing dapat diperiksa sebab digunakan lebih banyak tinja. Teknik ini dianjurkan untuk Pemeriksaan secara massal karena lebih sederhana dan murah. Morfologi telur cacing cukup jelas untuk membuat diagnosa. Pada metode ini diadakan penambahan melachite green untuk memberi latar belakang hijau. Anak-anak mengeluarkan tinja kurang lebih 100 gram/hari, dewasa mengeluarkan tinja kurang lebih 150 gram/hari. Jadi, misalnya dalam 1 gram feces mengandung 100 telur maka 150 gram tinja mengandung 150.000 telur. Maksud : Menemukan adanya telur cacing parasit dan menghitung jumlah telur. Tujuan : Mengetahui adanya infeksi cacing parasit dan untuk mengetahui berat ringannya infeksi cacing parasit usus. Dasar teori : Dengan penambahan melachite green untuk memberi latar belakang hijau. Anak-anak mengeluarkan tinja kurang lebih 100 gram/hari, dewasa mengeluarkan tinja kurang lebih 150 gram/hari. Jadi, misalnya dalam 1 gram feces mengandung 100 telur maka 150 gram tinja mengandung 150.000 telur. Kekurangan : Bahan feses yang di gunakan banyak. Kelebihan : Dapat mengidentifikasi tingkat cacing pada penderita berdasar jumlah telur dan cacing, baik di kerjakan di lapangan, dapat digunakan untuk pemeriksaan tinja masal karena murah dan sederhana, cukup jelas untuk melihat morfologi sehingga dapat di diagnosis. Alat : Selophane, Gelas preparat, Karton berlubang, Soket bambu, Kawat saring, Kertas minyak. Bahan : Bahan yang di gunakan adalah larutan untuk memulas selophane terdiri dari 100 bagian aquades (6%), 100 bagian gliserin, 1 bagian melachite green 3% dan tinja 30mg. Cara kerja : 1. Sebelum pemakaian, pita selophane di masukkan ke dalam larutan melachite green selam kurang lebih 24 jam. 2. Di atas kertas minyak, di taruh tinja sebesar butir kacang, selanjutnya di atas tinja tersebut di tumpangi dengan kawat saringan dan ditekan-tekan sehingga di dapatkan tinja yang kasar tertinggal di bawah kawat dan tinja yang halus keluar di atas penyaring. 3. Dengan lidi, tinja yang sudah halus tersebut di ambil di atas kawat penyaring kurang lebih 30mg, dengan menggunakan cetakan karton yang berlubang di taruh gelas preparat yang bersih. 4. Selanjutnya ditutup dengan pita selophane dengan meratakan tinja di seluruh permukaan pita sampai sama tebal, dengan bantuan gelas preparat yang lain. 5. Di biarkan dengan temperatur kamar selama 30-60 menit supaya menjadi transparan. 6. Seluruh permukaan di periksa dengan menghitung jumlah semua telur yang ditemukan dengan perbesaran lemah. Feses| 6
  • 7. Sisti Nurrahmah, Amd.AK Pemeriksaan Makroskopik 1) Jumlah Dalam keadaan normal rata-rata jumlah tinja pada anak-anak berkisar 100 gram/hari. Sedangkan orang dewasa yang dikeluarkan setiap harinya adalah 80-170 gram (rata-ratanya 100 gram). Banyaknya tinja dipengaruhi jenis makanan bila banyak makan sayur jumlah tinja meningkat. Pada orang yang mengkonsumsi banyak sayuran bisa sampai 350 gram setiap harinya, terdiri atas 75 gram zat padat dan sisanya dalam bentuk air. Sementara itu orang yang kelaparan mengeluarkan tinja hitam kehijauan seberat 7-8 gram. Zat padat hanya terdiri atas 25 persen dari seluruh tinja yang seluruhnya terdiri atas sisa makanan, Sisa dari usus dan sekrosi saluran cerna, bakteri yang terdiri atas l/3 berat tinja kering, elemen dari bermacam-macam sel, zat yang di ekskresikan ke usus. Pada mukus normal ada dalam jumlah kecil, tapi bisa sampai banyak sekali pada pasien disentri. 2) Konsistensi Pada keadaan normal ukuran feses dan konsistensi menggambarkan keadaan lumen dan mortalitas kolon. Pada masing-masing orang keadaan ini berbeda, dipengaruhi oleh kebiasaan seseorang. Jenis makanan serta gerak peristaltik pun mempengaruhi bentuk dan jumlah maupun konsistensi feses. Tinja berkonsistensi keras apabila ditusuk lidi, lidi tersebut tidak dapat masuk, pada penderita obstipasi bentuknya seperti batu kecilkecil bulat. Pada tinja dikatakan normal apabila ditusuk lidi, lidi tersebut masuk dan tetap tegak, sedangkan yang lembek apabila ditusuk lidi, lidi condong bila dilepaskan dan untuk yang setengah cair lidi akan rebah apabila dilepas. Jika tinja tersebut seperti air cucian beras berarti tinja tersebut berkonsistensi cair. Tinja normal mempunyai konsistensi agak lunak dan berbentuk. Tinja yang cair seperti bubur atau tajin adalah selalu patologis. Juga lembek seperti spon dapat mengandung protozoa blastocyste, yeast sel dll. Pada diare konsistensi menjadi sangat lunak atau cair dan apabila disertai dengan lendir dan darah menunjukkan adanya amoebiasis, typhoid, thypus abdominalis, cholera. Jika cair seperti tajin dijumpai pada penyakit cholera. sedangkan sebaliknya tinja yang keras atau skibala didapatkan pada konstipasi disebabkan karena absorbs cairan yang meningkat, intake cairan yang tidak adekuat atau karena defekasi ditahan. Cair dan bergas dijumpai pada gastroenteritis oleh Salmonella dll. Pada peragian karbohidrat dalam usus juga menghasilkan tinja yang lunak dan bercampur gas. Konsistensi tinja berbentuk pita ditemukan pada penyakit hisprung. Feses yang sangat besar dan berminyak menunjukkan alabsorpsi usus. Adanya lendir berarti rangsangan atau radang dinding usus. Kalau lendir itu hanya terdapat di bagian luar tinja letaknya rangsangan itu mungkin usus besar. Kalau bercampur baur mungkin di usus kecil. Jika seperti adonan tepung disebabkan karena lemak yang berlebihan. 3) Warna Tinja normal berwarna kuning coklat apabila tinja dibiarkan pada udara menjadi lebih tua karena terbentuknya urobilin lebih banyak dan urobilinogen yang diekskresikan lewat usus. Selain urobilin warna tinja dipengaruhi oleh berbagai jenis makanan, kelainan dalam saluran pencernaan dan obat yang dimakan. Warna kuning dapat disebabkan karena susu, jagung, lemak dan obat santonin. Orange juga bisa disebabkan diet susu. Tinja yang berwarna hijau dapat disebabkan oleh sayuran yang mengandung khlorofil atau pada bayi yang baru lahir disebabkan oleh biliverdin dan porphyrin dalam mekonium juga pemakaian kalomel pada obat. Kelabu mungkin Feses| 7
  • 8. Sisti Nurrahmah, Amd.AK disebabkan karena tidak ada urobilinogen dalam saluran pencernaan yang didapat pada ikterus obstruktif, tinja tersebut disebut akholis. Keadaan tersebut mungkin didapat pada defisiensi enzim pankreas seperti pada steatorrhoe yang menyebabkan makanan mengandung banyak lemak yang tidak dapat dicerna dan juga setelah pemberian garam barium setelah pemeriksaan radiologik. Tinja yang berwarna merah dapat disebabkan oleh perdarahan yang segar dibagian distal atau kaudal, mungkin pula oleh makanan seperti bit atau tomat. Warna coklat mungkin disebabkan adanya perdarahan dibagian proksimal saluran pencernaan atau karena makanan seperti coklat, kopi dan lain-lain. Warna coklat tua disebabkan urobilin yang berlebihan seperti pada anemia hemolitik. Sedangkan warna hitam seperti teer dapat disebabkan obat yang yang mengandung besi, arang atau bismuth dan mungkin juga oleh melena ataupun akibat perdarahan usus dibagian atas. Faeces yang berwarna abu-abu sampai putih seperti dempul atau tak berwarna menunjukkan tentang adanya sesuatu kelainan penyakit hati atau saluran empedu tersumbat. 4) Bau Indol, skatol, H2S (asam butirat) menyebabkan bau normal pada tinja. Bau busuk seperti bau bacin didapatkan jika dalam usus terjadi pembusukan protein yang tidak dicerna dan dirombak oleh kuman dan ini disebabkan adanya peradangan disentri baciler. Reaksi tinja menjadi lindi oleh pembusukan semacam itu. Tinja yang berbau tengik atau asam disebabkan oleh peragian (fermentasi) zat-zat gula yang tidak dicerna seperti pada diare. Reaksi tinja pada keadaan itu menjadi asam karena asam lemak yang menguap. Bau tengik juga dikarenakan oleh tinja yang lunak dan bercampur gas (CO2). Kemudian bau amis dikarenakan penderita mengalami askariasis. Selain itu konsumsi makanan dengan rempah-rempah dapat mengakibatkan rempah-rempah yang tercerna menambah bau tinja. 5) Darah dan Nanah Perhatikan apa darah itu segar (merah muda), cokelat, atau hitam dan apakah bercampur-baur atau hanya di bagian luar tinja saja?? Pada perdarahan proksimal saluran pencernaan darah akan bercampur dengan tinja dan semakin proksimal terjadi perdarahan maka, warna merah tersebut akan semakin menghitam warnanya pada tinja tersebut. Warna hitam, ini disebut melena seperti pada tukak lambung atau varices dalam oesophagus. Sedangkan pada perdarahan di bagian distal saluran pencernaan darah terdapat di bagian luar tinja yang berwarna merah muda yang dijumpai pada hemoroid atau karsinoma rektum. Pemeriksaan Nanah Pada pemeriksaan feses dapat ditemukan nanah. Hal ini terdapat pada pada penyakit Kronik ulseratif Kolon, Fistula colon sigmoid, Lokal abses. Pada penyakit disentri basiler tidak didapatkan nanah dalam jumlah yang banyak. 6) Lendir Dalam keadaan normal didapatkan sedikit sekali lendir dalam tinja. Terdapatnya lendir yang banyak berarti ada rangsangan atau radang pada dinding usus. Kalau lendir itu hanya didapat di bagian luar tinja, lokalisasi iritasi itu mungkin terletak pada usus besar. Sedangkan bila lendir bercampur baur dengan tinja mungkin sekali iritasi terjadi pada usus halus. Pada disentri, intususepsi dan ileokolitis bisa didapatkan lendir saja tanpa tinja. Kalau lendir berisi banyak leukosit terjadi nanah. Lendir transparan yang menempel pada luar feces diakibatkan spastik kolitis, mucous colitis pada anxietas. Tinja dengan lendir dan bercampur darah terjadi pada keganasan serta peradangan rektal anal. Tinja dengan lendir bercampur nanah dan darah dikarenakan adanya ulseratif kolitis, disentri basiler, divertikulitis ulceratif, intestinal TBC. Tinja dengan lendir yang sangat banyak dikarenakan adanya vilous adenoma colon. 7) Parasit Diperiksa pula adanya cacing ascaris, anylostoma dan lain-lain yang mungkin didapatkan dalam tinja. 8) Sisa makanan Secara makroskopis, sisa makanan dapat dilihat berupa serat atau sayur yang tidak tercerna. Feses| 8
  • 9. Sisti Nurrahmah, Amd.AK 9) pH Bau khas pada feses sangat dipengaruhi pH feses, pada keadaan normal pH feses adalah netral sampai sedikit basa, sedangkan pH sangat dipengaruhi oleh fermentasi usus dan proses pembusukan, di mana akan dihasilkan indol, skatol yang akan menyebabkan bau pada feses. Makanan yang mengandung karbohidrat akan mengubah pH menjadi asam, sehingga feses akan berbau asam, protein akan mengubah pH menjadi basa dan akan menyebabkan bau yang lebih tajam, sedangkan lemak akan menyebabkan bau tengik. Pemeriksaan Mikroskopi Pemeriksaan mikroskopik meliputi pemeriksaan protozoa, telur cacing, leukosit, eritosit, sel epitel, kristal makrofag, sel ragi dan sisa makanan. Dari semua pemeriksaan ini yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap protozoa (terutama amoeba) dan telur cacing. Sediaan hendaknya tipis agar unsur-unsur jelas terlihat dan dapat dikenal, meskipun begitu selalu akan dijumpai unsur-unsur yang telah rusak sehingga sukar/tidak mungkin lagi diidentifikasi. Pada umumnya pemeriksaan feses ini menggunakan pewarnaan : 1. NaCl 0,9% untuk pemeriksaan feses rutin 2. Eosin 1-2% untuk melihat amoeba dan pergerakannya 3. Lugol 1-2 untuk melihat amylum dan morfologi amoeba 4. Sudan III dan IV untuk melihat lemak (Oval Fat Bodies) 5. Asam Asetat 10% untuk melihat leukosit lebih jelas Berikut hasil pemeriksaan feses dengan menggunakan mikroskopis : a. Protozoa Biasanya didapati dalam bentuk kista, bila konsistensi tinja cair baru didapatkan bentuk trofozoit. Transportasi sampel : Jika mencari trofozoit, spesimen tinja harus dikrim segera ke laboratorium untuk menghindari disintegrasi trofozoit. sampel feses harus diperiksa dalam waktu 30 menit dari koleksi. spesimen feses tidak boleh dibekukan dan dicairkan atau ditempatkan dalam inkubator karena bentuk parasit memburuk dengan sangat cepat. Untuk fiksasi permanen dari spesimen tinja, digunakan pengawet 10% formol-garam (dibuat dengan menambahkan formalin 100 ml hingga 900 ml natrium klorida 0,85%). Polivinil alkohol (PVA) adalah juga pengawet yang banyak digunakan. b. Telur cacing dan larva cacing Dalam sediaan feses, ada empat jenis telur cacing yang biasa ditemukan yaitu telur cacing gelang (Ascaris lumbricoides), telur cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale), telur cacing cambuk (Trichuris trichiura) dan telr cacing pita (Taenia saginata dan Taenia solium) (Tjokronegoro.2003). Feses| 9
  • 10. Sisti Nurrahmah, Amd.AK c. d. e. f. g. h. Leukosit Dalam keadaan normal dapat terlihat beberapa leukosit dalam seluruh sediaan. Pada disentri basiler, kolitis ulserosa dan peradangan didapatkan peningkatan jumlah leukosit. Eosinofil mungkin ditemukan pada bagian tinja yang berlendir pada penderita dengan alergi saluran pencenaan. Eritrosit Eritrosit hanya terlihat bila terdapat lesi dalam kolon, rektum atau anus. Sedangkan bila lokalisasi lebih proksimal eritrosit telah hancur. Adanya eritrosit dalam tinja selalu berarti abnormal. Epitel Dalam keadaan normal dapat ditemukan beberapa sel epitel yaitu yang berasal dari dinding usus bagian distal. Sel epitel yang berasal dari bagian proksimal jarang terlihat karena sel ini biasanya telah rusak. Jumlah sel epitel bertambah banyak kalau ada perangsangan atau peradangan dinding usus bagian distal. Kristal Kristal dalam tinja tidak banyak artinya. Dalam tinja normal mungkin terlihat kristal tripel fosfat, kalsium oksalat dan asam lemak. Kristal Tripel Fosfat dan Kalsium Oksalat didapatkan setelah memakan bayam atau strawberi, sedangkan kristal asam lemak didapatkan setelah banyak makan lemak. Sebagai kelainan mungkin dijumpai kristal Charcoat Leyden, tinja lugol, butir-butir amilum dan kristal hematoidin. Kristal Charcoat Leyden didapat pada ulkus saluran pencernaan seperti yang disebabkan amubiasis. Pada perdarahan saluran pencernaan mungkin didapatkan kristal hematoidin. Sel Ragi Hampir selalu dapat ditemukan juga pada keadaan normal, tetapi dalam keadaan tertentu jumlahnya meningkat dan hal ini dihubungkan dengan keadaan abnormal. Sisa makanan sebagian berasal dari makanan daun-daunan (sayur) dan sebagian lagi berasal dari hewan seperti serat otot, serat elastis dan lain-lain. Untuk identifikasi lebih lanjut emulsi tinja dicampur dengan larutan lugol untuk menunjukkan adanya amilum (karbohidrat) yang tidak sempurna dicerna akan tampak butiran biru. Larutan jenuh Sudan III atau IV dipakai untuk menunjukkan adanya lemak netral seperti pada steatorrhoe akan tampak butiran jingga. Dan untuk protein menggunakan reagen asam asetat 30 % akan tampak butiran kuning muda. Sisa makanan ini akan meningkat jumlahnya pada sindroma malabsorpsi. Makrofag Makrofag Sel besar berinti satu dengan daya fagositosis, dalam sitoplasmanya sering dapat dilihat bakteri selain eritrosit, lekosit .Bentuknya menyerupai amuba tetapi tidak bergerak. Sel ragi khusus blastocystis hominis jarang didapat. Untuk membedakan antara candida dalam keadaan normal dengan Kandidiasis adalah pada kandidiasis, selain gejala kandidiasis, dari hasil pemeriksaan dapat ditemukan bentuk pseudohifa yang merupakan bentuk invasif dari Candida pada sediaan tinja. Timbulnya kandidiasis juga dapat dipermudah dengan adanya faktor risiko seperti diabetes melitus, AIDS, pengobatan antikanker, dan penggunaan antibiotika jangka panjang. Cara Pemeriksaan Telur Cacing Dan Protozoa Prinsip : Larutan pengencer akan memberikan warna pada latar belakangnya serta memberikan kotoran yang melekat pada parasit sehingga mudah dibedakan. Alat : Mikroskop, Kaca sediaan (kaca obyek), Lidi, Kaca penutup dan Botol berlisol Reagen : NaCl 0,85 % atau Eosin 1 – 2 % atau Lugol 1 – 2 % Pelaksanaan : 1. Siapkan kaca sediaan yang bersih dan kering 2. Tetesi 1 tetes larutan NaCl atau Eosin 3. Dengan ujung batang lidi ambil sedikit tinja yang akan diperiksa. 4. Tinja tadi diaduk-aduk dengan lidi tersebut dalam tetesan larutan sampai diperoleh suspensi yang tipis dan rata. Bagian-bagian yang keras seperti serabut-serabut atau pasir dibuang. 5. Tutuplah sediaan dengan kaca penutup 6. Lidi bekas buang ke botol berlisol 7. Periksalah sediaan di bawah mikroskop dengan perbesaran 10 x atau 40 x. Interpretasi Hasil : Pemeriksaan Makroskopik Pemeriksaan Mikroskopik : Warna, bau, bentuk, ada darah atau tidak, ada lendir atau tidak : Ditemukan atau tidaknya telur cacing atau amoeba. Feses| 10
  • 11. Sisti Nurrahmah, Amd.AK Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Feses Makroskopi dan Mikroskopi 1. Butir, kecil, keras, warna tua 2. Volume besar, berbau dan mengambang 3. Rapuh dengan lendir tanpa darah 4. Rapuh dengan darah dan lendir (darah nyata) 5. Hitam, mudah melekat seperti ter 6. Volume besar, cair, sisa padat sedikit 7. Rapuh mengandung nanah atau jaringan nekrotik 8. Agak lunak, putih abu-abu sedikit 9. Cair bercampur lendir dan eritrosit 10. Cair bercampur lendir dan leukosit 11. Lendir dengan nanah dan darah Interpretasi 1. Konstipasi. 2. Malabsorbsi zat lemak atau protein. 3. Sindroma usus besar yang mudah terangsang inflamasi dangkal dan difus, adenoma dengan jonjotjonjot. 4. Inflamasi usus besar, tifoid, shigella, amubiasis, tumor ganas. 5. Perdarahan saluran cerna bagian atas. 6. Infeksi non-invasif (kolera, E.coli keadaan toksik, kkeracunan makanan oleh stafilokokus, radang selaput osmotic (defisiensi disakharida, makan berlebihan). 7. Divertikulitis / abses lain, tumor nekrotik, parasit. 8. Obstruksi jaundice, alkoholik. 9. Tifoid, kolera, amubiasis. 10. Kolitis ulseratif, enteritis, shigellosis, salmonellosis, TBC usus. 11. Kolitis ulseratif, disentri basiler, karsinoma ulseratif colon, diverticulitis akut, TBC. Pemeriksaan Kimia Pemeriksaan kimia tinja yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap darah samar. Tes terhadap darah samar untuk mengetahui adanya perdarahan kecil yang tidak dapat dinyatakan secara makroskopik atau mikroskopik. Adanya darah dalam tinja selalu abnormal. Pada keadaan normal tubuh kehilangan darah 0,5–2 ml/hari. Pada keadaan abnormal dengan tes darah samar positif (+) tubuh kehilangan darah > 2 ml/ hari. Pemeriksaan darah samar dalam tinja dapat dilakukan dengan menggunakan tablet reagens. Tablet Reagens banyak dipengaruhi beberapa faktor terutama pengaruh makanan yang mempunyai aktifitas sebagai peroksidase sering menimbulkan reaksi positif palsu seperti daging, ikan sarden dan lain lain. Menurut kepustakaan, pisang dan preparat besi seperti Ferrofumarat dan Ferro Carbonat dapat menimbulkan reaksi positif palsu dengan tablet reagens. Maka dianjurkan untuk menghindari makanan tersebut diatas selama 3-4 hari sebelum dilakukan pemeriksaan darah samar. Prinsip pemeriksaan ini hemoglobin yang bersifat sebagai peroksidase akan menceraikan hidrogen peroksida menjadi air dan 0 nascens (On). On akan mengoksidasi zat warna tertentu yang menimbulkan perubahan warna. a. Cara Kerja (Metode Benzidine Basa) 1. Buat emulsi tinja dengan air atau dengan larutan garam kurang lebih 10 ml kemudian panaskan hingga mendidih. 2. Saring emulsi dan biarkan filtrat smpai dingin kembali. 3. Masukkan benzidine basa 1 g (sepucuk pisau). 4. Tambah 3 ml asam asetat glasial, kocok hingga larut dengan meninggalkan beberapa kristal. 5. Tambahkan 2 ml filtrat emulsi tinja kemudian campur. 6. Tambahkan 1 ml larutan Hydrogen Peroksida 3% campur, kemudian hasil dibaca dalam waktu 5 menit (jangan lebih lama). Catatan : Hasil dinilai dengan cara seperti telah diterangkan dulu : Negatif (-) tidak ada perubahan warna atau warna yang samar-samar hijau Positif (+) hijau Positif 2 (++) biru bercampur hijau Positif 3 (+++) biru Positif 4 (++++) biru tua Feses| 11
  • 12. Sisti Nurrahmah, Amd.AK b. Metode benzidine dihidrochlorida Jika hendak memakai benzidine dihidrochloride sebagai pengganti benzidine basa dengan maksud supaya test menjadi kurang peka dan kurang menghasilkan yang positif palsu, maka caranya sama juga seperti diterangkan di atas. c. Metode guajac 1. Buatlah emulsi tinja sebanyak 5 ml dalam tabung reaksi dan tambah 1 ml asam asetat glasial : campur. 2. Dalam tabung reaksi lain dimasukkan sepucuk pisau serbuk guajac dan 2ml alkohol 95% : campur. 3. Tuanglah secara hati-hati isi tabung kedua ke dalam tabung yang berisi emulsi tinja sehingga kedua jenis campuran tetap sebagai lapisan terpisah. 4. Hasil positif kelihatan dari warna biru yang terjadi pada batas kedua lapisan itu. Derajat kepositifan dinilai dari warna itu. B. Bakteriologi Pemeriksaan bilirubin akan beraksi negatif pada tinja normal, karena bilirubin dalam usus akan berubah menjadi urobilinogen dan kemudian oleh udara akan teroksidasi menjadi urobilin. Reaksi mungkin menjadi positif pada diare dan pada keadaan yang menghalangi perubahan bilirubin menjadi urobilinogen, seperti pengobatan jangka panjang dengan antibiotik yang diberikan peroral, mungkin memusnakan flora usus yang menyelenggarakan perubahan tadi. Untuk mengetahui adanya bilrubin dapat digunakan metode pemeriksaan Fouchet. Pemeriksaan bilirubin akan beraksi negatif pada tinja normal, karena bilirubin dalam usus akan berubah menjadi urobilinogen dan kemudian oleh udara akan teroksidasi menjadi urobilin. Reaksi mungkin menjadi positif pada diare dan pada keadaan yang menghalangi perubahan bilirubin menjadi urobilinogen, seperti pengobatan jangka panjang dengan antibiotik yang diberikan peroral, mungkin memusnakan flora usus yang menyelenggarakan perubahan tadi. Dalam tinja normal selalu ada urobilin. Jumlah urobilin akan berkurang pada ikterus obstruktif, jika obstruktif total hasil tes menjadi negatif, tinja berwarna kelabu disebut akholik. Penetapan kuantitatif urobilinogen dalam tinja memberikan hasil yang lebih baik jika dibandingkan terhadap tes urobilin, karena dapat menjelaskan dengan angka mutlak jumlah Urobilinogen yang diekskresilkan per 24 jam sehingga bermaknadalam keadaan seperti Anemia Hemolitik dan Ikterus Obstruktif. Cara kerja pemeriksaan Urobilin : 1. Taruh beberapa gram tinja dalam sebuah mortil dan campur dan larutkan mercurichlorida (HgCl2) 10% yang volumenya sama banyaknya dengan tinja itu. 2. Campurlah baik-baik dengan memakai alunya. 3. Tuanglah bahan itu ke dalam cawan datar agar lebih mudah menguap dan biarkan selama 6-24 jam. 4. Adanya Urobilin nyata oleh timbul warna merah. Catatan : Dalam tinja normal selalu ada urobilin, hasil test ini yang merah berarti positif. Jumlah urobilin berkurang pada ikterus obstruktif, jika obstruksif itu total, hasil test menjadi berarti negatif. Tinja dengan warna kelabu disebut akholik. Test terhadap urobilin ini sangat inferiur jika dibandingkan dengan penetepan kuantitatif urobilinogen dalam tinja. Penetapan urobilinogen dalam tinja memberikan hasil yang lebih baik jika dibandingkan terhadap tes urobilin, karena kuantitatif itu dapat menjelaskan dengan angka mutlak jumlah urobilinogen yang diekskresikan per 24 jam sehingga bermakna dalam keadaan seperti anemia hemolitik, ikterus obstruktif, dan ikterus hepatoseluler. Tetapi pelaksanaan untuk tes tersebut sangat rumit dan sulit, karena itu jarang dilakukan di laboratorium. Bila masih diinginkan penilaian ekskresi urobilin dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan urobilin urin. Feses| 12

×