• Save
Pulpotomi pada Gigi Permanen yang Mengalami Karies Profunda dengan Menggunakan Mineral Trioxide Aggregate
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Pulpotomi pada Gigi Permanen yang Mengalami Karies Profunda dengan Menggunakan Mineral Trioxide Aggregate

on

  • 908 views

I UPLOAD THIS JUST FOR EDUCATION NOT FOR COMMERCIAL ...

I UPLOAD THIS JUST FOR EDUCATION NOT FOR COMMERCIAL
Terjemahan dari jurnal : Pulpotomy of Symptomatic Permanent Teeth with Carious
Exposure Using Mineral Trioxide Aggregate (Iranian Endodontic Journal 2013;8(2):65-68) by Imad Hassan Barngkgei, Esam Saleh Halboub, Roula Safouh Alboni

Statistics

Views

Total Views
908
Views on SlideShare
908
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
0
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

CC Attribution-NonCommercial LicenseCC Attribution-NonCommercial License

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Pulpotomi pada Gigi Permanen yang Mengalami Karies Profunda dengan Menggunakan Mineral Trioxide Aggregate Pulpotomi pada Gigi Permanen yang Mengalami Karies Profunda dengan Menggunakan Mineral Trioxide Aggregate Document Transcript

  • Pulpotomi pada Gigi Permanen yang Mengalami Karies Profunda dengan Menggunakan Mineral Trioxide Aggregate (Pulpotomy of Symptomatic Permanent Teeth with Carious Exposure Using Mineral Trioxide Aggregate) Imad Hassan Barngkgei, Esam Saleh Halboub, Roula Safouh Alboni ABSTRAK Pendahuluan: Untuk mengevaluasi hasil klinis dan radiografi perawatan pulpotomi dengan menggunakan mineral trioxide aggregate (MTA) pada gigi permanen dewasa bergejala yang terkena karies. Bahan dan Metode: Sepuluh pasien berusia 27-54 tahun yang diwakili dengan 11 gigi permanen bergejala (n = 11). Setiap gigi yang terkena karies ditentukan gambarannya secara klinis dan radiografi. Kami mengeluarkan jaringan karies secara konservatif sebisa mungkin, namun pulpa yang terbuka tidak dapat dihindari. ProRoot MTA pulpotomi dilakukan pada gigi ini. Pasien dipantau secara klinis dan radiografi selama 24-42 bulan. Hasil: Terjadi keringanan gejala yang segera pada pasien. Selain itu, respon gigi terhadap tes elektrik pulpa berada dalam rentang normal pada kunjungan lanjutan dan pada gambaran radiografi tidak ditemukan adanya kelainan/lesi di daerah periapikal. Kesimpulan: Pulpotomi dengan menggunakan MTA bisa menjadi alternatif yang baik untuk terapi saluran akar (RCT) untuk menangani gigi permanen dewasa bergejala yang terkena karies, namun skala besar uji klinis lebih multicenter sangat dianjurkan untuk mengkonfirmasi hipotesis ini. Kata kunci: Pulpa gigi yang terkena; Endodontik; Mineral Trioxide Aggregate; Gigi permanen; Pulpotomi; Terapi saluran akar 1
  • 1. Pendahuluan Terapi pulpa vital bertujuan untuk menjaga vitalitas gigi, fungsi dan untuk membuat gigi tanpa gejala [1]. Pulpotomi, misalnya, adalah prosedur dimana pulpa pada korona yang diduga meradang dan/atau terinfeksi dikeluarkan dengan pembedahan, dan pulpa radikular gigi yang tersisa ditutup pada orifisium dengan bahan yang cocok yang melindungi pulpa dari cedera lebih lanjut dan mengizinkan dan meningkatkan penyembuhan [2, 3]. Secara tradisional, istilah "pulpotomi" berarti penghilangan jaringan pulpa sampai batas servikal, harus dibedakan dari "Cvek type" pulpotomi atau "pulpotomi parsial" di mana hanya sebagian dari pulpa koronal yang dikeluarkan [4]. Indikasi pulpotomi termasuk gigi sulung dengan pulpitis irreversible pada koronal atau pulpa vital yang sudah terkena karies. Pulpotomi dianggap sebagai pengobatan untuk gigi permanen muda dengan pulpa yang terkena karies atau trauma yang memberikan bukti dari pulpitis pulpitis koronal yang luas, dan juga sebagai prosedur darurat untuk gigi permanen dewasa sampai perawatan saluran akar dapat dilakukan [2]. Ketidaksepakatan muncul mengenai pulp capping dan pulpotomi sebagai pilihan pengobatan permanen pada gigi permanen dewasa. Hal ini diterima secara universal, namun, terapi pulpa vital diindikasikan untuk pulpa yang terbuka pada gigi dengan akar yang belum terbentuk sempurna. Tapi setelah pembentukan akar telah selesai, terapi saluran akar (RCT) harus dilakukan [2]. Pengisian saluran akar terbaik adalah jaringan pulpa yang sehat, dan tidak boleh diasumsikan bahwa setiap pulpa yang rusak harus diekstirpasi dan konservasi pulpa adalah prosedur yang tidak memuaskan [5]. Namun, pulpa yang terkena karies dalam, khususnya, biasanya gigi dewasa membutuhkan RCT. Ini adalah satu-satunya prosedur yang menjamin penghilangan bakteri yang menyerang pulpa [6]. MTA telah menarik perhatian sejak diperkenalkan di bidang Endodontik [7]. Bahan ini memiliki banyak keuntungan bila dibandingkan dengan bahan endodontik konvensional lainnya, misalnya kemampuan penyembuhan yang sangat baik [8], biokompatibilitas [9], pembentukan 2
  • dentin bridge dalam kasus pulp capping [10, 11] dan pulpotomi [12] sebagai tambahan untuk merangsang proliferasi sel-sel pulpa [13]. Meskipun banyak penelitian menunjukkan bahwa MTA adalah bahan pilihan untuk terapi pulpa vital pada gigi sulung dan gigi permanen muda, [14-17] penelitian lain tidak menemukan perbedaan yang signifikan [18, 19]. Penelitian mengenai penanganan karies pada gigi dewasa (telah terbentuk sempurna) yang menakutkan dan bertentangan. Dengan demikian, tujuan dari uji klinis adalah untuk mengevaluasi hasil klinis dan radiografi mineral trioxide aggregate (MTA) pulpotomi sebagai perawatan permanen pada gigi permanen dewasa bergejala yang terkena karies. 2. Bahan dan Metode Penelitian ini dilakukan pada 10 pasien (4 laki-laki dan 6 perempuan, berusia 17-54 tahun) yang berobat di klinik operative dentistry and endodontic dari Damaskus dental school antara tahun 2007 dan 2008 karena merasakan sakit pada makanan/minumanan manis dan/atau dingin. Pada pemeriksaan klinis, gigi yang terkena (n = 11) karies dalam atau memiliki restorasi besar. Stimulasi dengan tes elektrik pulpa (CIR Anthos, Imola, Italia) menghasilkan respon yang lebih intensif pada gigi yang terserang dibandingkan dengan gigi yang berdekatan dan berlawanan. Gejala klinis ini konsisten dengan pulpitis reversible. Selain itu, diagnosis periodontitis apikal dikeluarkan dengan pemeriksaan palpasi perkusi. Apalagi gambaran radiografi mengungkapkan "struktur periapikal normal" diberi skor 1 menurut indeks Ørstavik periapikal (PAI) [20] (Angka 1A, 2A). Pasien diberitahu mengenai pengobatan pulpotomi menggunakan MTA dalam kasus terkenanya pulpa. Departemen mengadopsi prosedur ini sebagai alternatif RCT di kasus tersebut. Setiap pasien menandatangani informed consent. Setelah anestesi lokal dengan lidokain 2% 1:80000 epinefrin (Kwang Myung, Korea) dan, bila mungkin, diisolasi dengan rubber dam, karies/restorasi dikeluarkan dengan menggunakan motor udara kecepatan 3
  • tinggi dengan pendingin air. Motor udara kecepatan rendah dengan pendingin air digunakan dengan hati-hati untuk mengeluarkan karies dentin. Gigi yang dimasukkan dalam penelitian hanya jika terkena karies dan terjadi perdarahan pulpa saat di ekskavasi, ini adalah kriteria inklusi yang paling penting untuk kasus. Atap ruang pulpa bersama dengan jaringan pulpa pada koronal dikeluarkan menggunakan motor udara kecepatan tinggi dengan air pendingin. Perdarahan dikontrol dengan menggunakan cotton pellet kecil steril selama sekitar 5 menit. MTA (ProRoot, Dentsply, Tulsa,OK, USA) dicampur berdasarkan instruksi pabrik dan diaplikasikan pada lantai ruang pulpa dengan ketebalan sekitar 2-3 mm dan orifisium saluran akar, kemudian cotton pellet basah ditempatkan pada lapisan MTA. Tambalan sementara (Litark, Lascod, Italia) diaplikasikan sampai pertemuan berikutnya dalam 2 hari. Dalam pertemuan berikutnya, pasien melaporkan ketidaknyamanan secara bertahap semakin berkurang dan makanan/minuman dingin dan/atau manis tidak menimbulkan sakit lagi. MTA diperiksa untuk mengkonfirmasi pengerasannya dengan menggunakan burniser bundar kecil. Kemudian, sesuai, pengisian permanen semen polikarboksilat (Spofa Gigi, Adhesor ® carbofine, Republik Ceko) dan restorasi amalgam (GK amalgam kapsul, Cina) digunakan. Dua gigi diindikasikan untuk restorasi mahkota karena kurangnya struktur gigi yang tersisa. Mereka dimahkotai 1 bulan dan 1 tahun postpulpotomy (Tabel 1). Pasien dievaluasi kembali setelah 1, 3 dan 6 bulan, kemudian setiap enam bulan. Tanda dan gejala termasuk nyeri, bengkak, saluran sinus, kelembutan terhadap perkusi yang diperiksa secara klinis sementara bukti periapikal atau furcal pathosis atau resorpsi akar dievaluasi dengan radiografi periapikal (Angka 1B-1F, 2B-2F). Semua pasien diminta apakah mereka pernah mengalami nyeri spontan, nyeri pada saat mengunyah atau nyeri dirangsang oleh panas / dingin. Tes elektrik pulpa dilakukan, yang memungkinkan, pada semua kunjungan lanjutan. 4
  • 3. Hasil Usia rata-rata pasien adalah 29 tahun; berkisar antara 17 sampai 54 tahun dan rata-rata masa kunjungan lanjutan adalah 30,5 bulan; berkisar 2442 bulan (Tabel 1). Pemeriksaan klinis selama periode kunjungan lanjutan mengungkapkan bahwa semua pasien tanpa gejala dan bebas dari klinis tanda/gejala termasuk nyeri, pembengkakan, kehadiran saluran sinus, kelembutan terhadap perkusi. Dilakukan tes listrik pulpa pada kunjungan lanjutan, mengukur tinggi skor untuk semua gigi yang dirawat dibandingkan dengan yang berlawanan atau gigi tetangga. Semua pasien yang tanpa gejala pada satu bulan, 3 bulan dan 6 bulan dan kemudian setiap 6 bulan kunjungan lanjutan (6-9 kunjungan lanjutan). Tes listrik pulpa, ketika dilakukan, menunjukkan respon positif yang lambat dari semua gigi diuji dalam semua kunjungan lanjutan, tes listrik pulpa tidak dapat dilakukan pada dua gigi yang memiliki dimahkota (Tabel 1). Namun, selama persiapan mahkota, anestesi lokal digunakan karena disertai rasa sakit. Semua pengobatan dianggap sukses karena tidak adanya tanda-tanda klinis dan radiografi. Tidak ada perubahan dalam status periapikal dari gigi dirawat pada semua kunjungan lanjutan radiografi periapikal (Angka 1B-1F, 2B-2F). 4. Diskusi Penanganan keries pulpa pada orang dewasa telah menjadi isu kontroversial. Meskipun RCT diindikasikan untuk penanganan gigi permanen dewasa bergejala yang terkena karies.[2], memiliki prognosis yang baik [21]. Namun, mahal, rumit dan lama [22, 23]. Selain itu, RCT bukan prosedur yang bebas dari kerumitan. Bentuk saluran yang tidak biasa (misalnya bentuk saluran c), dilaserasi, jumlah saluran yang tidak biasa atau kalsifikasi di saluran akar sangat menyulitkan perawatan endodontik [24]. RCT membuat banyak konsekuensi seperti membuat gigi menjadi nonvital, mengeluarkan banyak struktur gigi, dan kerapuhan struktur yang tersisa. Akibatnya, ekonomi, konservatif, dan kesederhana diinginkan [22]. Sebuah tinjauan 5
  • sistematis terbaru menyimpulkan bahwa terapi pulpa vital harus dipertimbangkan sebagai pengobatan alternatif [25]. Secara keseluruhan, keberhasilan teknik terapi pulpa vital dalam gigi yang terkena karies tergantung pada teknik kerja, status inflamasi dari jaringan pulpa, periode pengamatan, kriteria yang digunakan untuk menentukan keberhasilan dan jenis (biokompatibilitas) agen terapi pulpa yang digunakan [26]. Hasil yang baik telah ditunjukkan pada pulpotomi parsial CH pada gigi permanen muda yang terkena. Dentin bridging dan pulpa yang sehat lebih dapat diprediksi dengan menggunakan MTA pada pulpotomi [18, 27]. Namun, hanya ada dua penelitian yang mengevaluasi hasil MTA pulpotomi dalam gigi permanen dewasa bergejala yang terkena karies. Eghbal dkk. mempelajari hasil klinis dan histologis jangka pendek dari pulpotomi MTA dari 12 molar permanen dewasa dengan pulpitis irreversible [28]. Secara klinis, tidak ada keluhan ketidaknyamanan atau nyeri di hari berikutnya. Gigi diekstraksi dua bulan pasca pengobatan untuk studi histologis mana dentinal bridge jelas dalam semua kasus. Witherspoon dkk.[29] di sisi lain, mengungkapkan hasil klinis dan radiografi yang baik pada pulpotomi MTA untuk 19 gigi permanen simptomatik pada 14 pasien. Meskipun, rata-rata periode kunjungan lanjutan agak lama (19,7 bulan), hanya 4 gigi yang dewasa karena pasien masih muda (usia berkisar 7-16 tahun). Pengaruh dari usia pasien pada hasil perawatan adalah masalah yang masih kontroversi. Berbeda dengan Aguilar dan Linsuwanont [25], Bjorndal dkk. mengamati bahwa pasien yang lebih muda dihubungkan dengan tingkat keberhasilan yang lebih tinggi pada terapi pulpa vital [30]. Gigi dewasa bergejala dengan karies dalam biasanya dirawat dengan indirect pulp capping kecuali karies yang dikeluarkan dengan cara konservatif menyebabkan terbukanya pulpa diindikasikan untuk dilakukan RCT [22, 31-33]. Selama periode antara 2007 dan 2008, ratusan gigi dewasa bergejala dengan karies dalam dirawat. Namun, 10 pasien, dengan gigi yang terkena setuju (informed consent) dirawat dengan pulpotomi MTA. Pada 6
  • penelitian ini, keberhasilan diamati dengan terapi pulpa vital MTA membuka cakrawala baru dalam endodontik, hasil 24-42 bulan menunjukkan efisiensi pulpotomi MTA dalam menjaga vitalitas gigi permanen bergejala yang terkena karies dengan mengeluarkan gejala-gejala pasien. 5. Simpulan Sebagai kesimpulan, pulpotomi menggunakan MTA bisa menjadi alternatif yang baik untuk RCT untuk mengelola gigi permanen dewasa bergejala yang terkena karies. Karena sampel yang dirawat dalam penelitian ini jumlahnya terbatas, uji klinis multicenter skala besar sangat dianjurkan. Benturan kepentingan: 'Tidak ada menyatakan'. 7