Psikologi.1

17,498 views

Published on

psikologi

Published in: Education
2 Comments
1 Like
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
17,498
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
75
Actions
Shares
0
Downloads
212
Comments
2
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Psikologi.1

  1. 1. PSIKOLOGI, PENDIDIKAN, DAN PENGAJARANA. Definisi Psikologi, Pendidikan, dan Psikologi Pendidikan1. Definisi Psikologi Psikologi yang dalam istilah lama disebut ilmu jiwa itu berasal dari kata bahasa Inggris psychology. Kata psychology merupakan dua akar kata yang bersumber dari bahasa Greek (Yunani), yaitu: 1) psi/che yang berarti jiwa; 2) logos yang berarti ilmu. Jadi, secara harfiah psikologi memang berarti ilmu jiwa. Karena beberapa alasan tertentu (seperti timbulnya konotasi/arti lain yang menganggap psikologi sebagai ilmu yang langsung menyelidiki jiwa), sekurang-kurangnya selama dasawarsa terakhir ini menurut hemat penyusun istilah ilmu jiwa itu sudah sangat jarang dipakai orang. Kini, berbagai kalangan profesional baik yang berkecimpung dalam dunia pendidikan maupun dalam dunia-dunia profesi lainnya yang menggunakan layanan “jasa kejiwaan” itu lebih terbiasa menyebut psikologi daripada ilmu jiwa. Kaidah saintifik dan patokan etika filosofis ini tak dapat dibebankan begitu saja sebagai muatan psikologi (Reber, 1988). Sebelum menjadi disiplin ilmu yang mandiri, psikologi memiliki akar-akar yang kuat dalam ilmu kedokteran dan filsafat yang hingga sekarang masih tampak pengaruhnya. Dalam ilmu kedokteran, psikologi berperan menjelaskan apa- apa yang terpikir dan terasa oleh organ-organ biologis (jasmaniah). Sedangkan dalam filsafat—yang sebenarnya “ibu kandung” psikologi itu-psikologi berperan serta dalam memecahkan masalah-masalah rumit yang berkaitan dengan akal, kehendak, dan pengetahuan. Karena kontak dengan berbagai disiplin itulah, maka timbul bermacam-macam definisi psikologi yang satu sama lain berbeda, seperti:
  2. 2. 1. psikologi adalah ilmu mengenai kehidupan mental (the science of mental life);2. psikologi adalah ilmu mengenai pikiran (the science of mind),3. psikologi adalah ilmu mengenai tingkah laku (the science of behavior); dan lain-lain definisi yang sangat bergantung pada sudut pandang yang mendefinisikannya. Pada asasnya, psikologi menyentuh banyak bidang kehidupan diri organisme baik manusia maupun hewan.Ketika psikologi melepaskan diri dari filsafat dan menjadidisiplin yang mandiri pada tahun 1879, saat William Wundt(1832-1920) mendirikan laboratorium psikologinya, ruhdikeluarkan dari studi psikologi. Para ahli, antara lain WilliamJames (1842-1910), menganggap psikologi sebagai ilmupengetahuan mengenai kehidupan mental. Namun, John B.Watson (1878-1958), tokoh aliran behaviorisme yang radikalitu, tidak puas dengan definisi James tersebut lalumengubahnya menjadi “ilmu pengetahuan tentang tingkah laku(behavior) organisme” dan sekaligus menafikan (menganggaptidak ada) eksistensi ruh dan kehidupan mental. Eksistensi(keberadaan) ruh dan kehidupan internal manusia, menurut B.Watson dan kawan-kawan tak dapat dibuktikan karena tidakada, kecuali dalam khayalan belaka. Alhasil, dapat kita katakanbahwa psikologi behaviorisme adalah aliran ilmu jiwa yangtidak berjiwa.Chaplin (1972) dalam Dictionary of Psychologymendefinisikan psikologi sebagai.. . the science of human andanimal behavior, the study of the organism in all its variety andcomplexity as it responds to the flux and flow of the physicaland social events which make up the environment. (Psikologiialah ilmu pengetahuan mengenai perilaku manusia danhewan, juga penyelidikan terhadap organisme dalam segalaragam dan kerumitannya ketika mereaksi arus dan perubahan
  3. 3. alam sekitar dan peristiwa-peristiwa kemasyarakatan yangmengubah lingkungan.) Sementara itu, Edwin G. Boring danHerbert S. Langfeld seperti yang dikutip Sarwono (1976)mendefinisikan psikologi jauh lebih sederhana daripadadefinisi di atas, yakni psikologi ialah studi tentang hakikatmanusia.Selanjutnya, dalam Ensiklopedia Pendidikan, Poerbakawatjadan Harahap (1981) membatasi arti psikologi sebagai “cabangilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan atas gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa”. Dalam ensiklopedia inidibatasi pula bahwa gejala dan kegiatan jiwa tersebut meliputirespons organisme dan hubungannya dengan lingkungan.Dalam definisi-definisi di atas tampak jelas persamaan-persamaan di samping perbedaan-perbedaan pandangan paraahli. Namun, terlepas dari persamaan dan perbedaan tersebut,pendapat yang lebih relevan (berkaitan dengan kepentingan)untuk dipedomani sehubungan dengan topik-topik pembahasandalam buku ini adalah pendapat Gleitman dan Boring &Langfeld. Pendapat mereka itu selain singkat dan tidakberbelit-belit, juga hanya menitikberatkan pada kepentinganorganisme manusia.Pendapat-pendapat itu sesuai dengan kenyataan yang adaselama ini, yakni para ahli pada umumnya lebih banyakmenekankan penyelidikan terhadap tingkah laku manusia yangbersifat jasmaniah (aspek psikomotor) maupun yang bersifatrohaniah (aspek kognitif dan afektif). Tingkah laku psikomotor(ranah karsa) bersifat terbuka. Tingkah laku terbuka meliputiperbuatan berbicara, duduk, berjalan, dan seterusnya.Sedangkan tingkah laku tertutup meliputi berpikir,berkeyakinan, berperasaan, dan seterusnya.Alhasil, secara ringkas dapat kita tarik sebuah kesimpulanbahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki
  4. 4. dan ‘membahas tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia, baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Lingkungan dalam hal ini meliputi semua orang, barang, keadaan, dan kejadian yang ada di sekitar manusia.2. Definisi Pendidikan Pendidikan berasal dari kata “didik”, lalu kata ini mendapat awalan me sehingga menjadi “mendidik”, artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tun-tunan, dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran (lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991: 232). Selanjutnya, pengertian “pendidikan” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Dalam bahasa Inggris, education (pendidikan) berasal dari kata educate (mendidik) artinya memberi peningkatan {to elicit, to give rise to), dan mengembangkan (to evolve, to develop). Dalam pengertian yang sempit, education atau pendidikan berarti perbuatan atau proses perbuatan untuk memperoleh pengetahuan (McLeod, 1989). Sebagian orang memahami arti pendidikan sebagai pengajaran karena pendidikan pada umumnya selalu membutuhkan pengajaran (lihat definisi dari KBBI di atas). Jika pengertian seperti ini kita pedomani, setiap orang yang berkewajiban mendidik (seperti guru dan orangtua) tentu harus melakukan perbuatan mengajar. Padahal, mengajar pada umumnya di- artikan secara sempit dan formal sebagai kegiatan menyampaikan materi pelajaran kepada siswa agar ia menerima dan menguasai materi pelajaran tersebut, atau dengan kata lain agar siswa tersebut memiliki ilmu
  5. 5. pengetahuan. Tentang bagaimana dan di mana letak perbedaandan persamaan kedua istilah tadi dapat anda lihat pada bagianakhir bab ini.Dalam Dictionary of Psychology (1972) pendidikan diartikansebagai . . . the institutional procedures whicli are employed inaccomplishing the development of knowledge, habits,attitudes, etc. Usually the term is applied to formal institution.Jadi, pendidikan berarti tahapan kegiatan yang bersifatkelembagaan (seperti sekolah dan madrasah) yangdipergunakan untuk menyempur-nakan perkembanganindividu dalam menguasai pengetahuan, kebiasaan, sikap, dansebagainya. Pendidikan dapat berlangsung secara informal dannonformal di samping secara formal seperti di sekolah,madrasah, dan institusi-institusi lainnya. Bahkan, menurutdefinisi di atas, pendidikan juga dapat berlangsung dengan caramengajar diri sendiri (self-instruction’).Selanjutnya, menurut Poerbakawatja dan Harahap (1981)pendidikan adalah:... usaha secara sengojo dari orang dewasa untuk denganpengaruhnya meningkatkan si anak ke kedewasaan yang selaludiartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moril darisegala perbuatannya. . . . orong dewasa itu adalah orang tuo sianak atau orong yang atas dasar tugas dan kedudukannyamempunyai kewajiban untuk mendidik, misalnya gurusekolah, pendeta atau kiai dalam lingkungan keagamaan,kepalo-kepala asroma dan sebagainya.Dalam definisi yang panjang ini terdapat dua kata kunci yangmenurut hemat penyusun perlu disoroti yakni “kedewasaan”dan “tanggung jawab moril”. Kedewasaan, meskipun sudahsangat populer di kalangan para pendidik kita, sebetulnyamerupakan istilah yang sangat umum dan hanya bisadigunakan setelah diberi batasan yang tegas. Adakemungkinan, kedewasaan diartikan sebagai kondisi orang
  6. 6. yang sudah akil balig atau sudah berusia cukup tua (entah berapa tahun) atau masih bcrusia muda tetapi berkecakapan sama dengan orang yang berusia cukup tua. Rangkaian kata-kata “yang selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moril dari segala perbuatannya” (mungkin bermaksud: mampu bertanggung jawab atas segala perbuatannya secara moral), juga terasa kurang memadai. Tanggung jawab moral itu bersifat nisbi (dapat begini atau begitu), karenanya perlu pula pembatasan yang tegas, apakah moral kemasyarakatan, moral hukum, ataukah moral keagamaan. Seorang pejabat, yang sudah tentu terdidik, yang melakukan kolusi (persekongkolan jahat) atau korupsi bisa saja karena ingin disebut memiliki tanggung jawab moral, ia mengundurkan diri dari jabatannya sebelum terjaring hukum. Padahal, seorang yang cukup terdidik seharusnya tidak hanya memiliki tanggung jawab moral yang nisbi seperti pejabat itu, tetapi juga tanggung jawab memikul risiko hukum yang timbul karena ulahnya. Oleh karena itu, istilah dewasa dan tanggung jawab moral perlu diberi batas-batas yang jelas dan konkret, umpamanya dengan cara mengacu pada tujuan pendidikan nasional, yakni: ... beriman don bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ke+erampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang man+ap dan mandiri serta rasa tanggung Jawab kemasyarakatan dan kebangsoan (UUSPN/1989 Bob II Pasal 2).3. Definisi Psikologi Pendidikan Psikologi pendidikan menurut sebagian ahli adalah subdisiplin psikologi, bukan psikologi itu sendiri. Mereka menganggap psikologi pendidikan tidak memiliki teori, konsep, dan metode
  7. 7. sendiri. Hal ini konon terbukti dengan banyaknya hasil-hasilriset psikologi-psikologi lain yang diangkat menjadi teori,konsep, dan metode psikologi pendidikan. Benarkahdemikian? Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat andatemukan pada akhir pembahasan ini.Salah seorang ahli yang menganggap psikologi pendidikansebagai subdisiplin psikologi terapan (applicable) adalahArthur S. Reber (1988) seorang guru besar psikologi padaBrooklyn College, University of New York City, University ofBritish Columbia Canada, dan juga pada University ofInnsbruck Austria. Dalam pandangannya, psikologi pendidikanadalah sebuah subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitandengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalamhal-hal sebagai berikut.1. Penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas.2. Pengembangan dan pembaruan kurikulum.3. Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan.4. Sosialisasi proses-proses dan interaksi proses-proses tersebut dengan pendayagunaan ranah kognitif.5. Penyelenggaraan pendidikan keguruan.Secara lebih sederhana dan praktis. Barlow (1985)mendefinisikan psikologi pendidikan sebagai: . . . a body ofknowledge grounded in psychological research winch providesa repertoire of resources to aid you in functioning moreeffectively in teaching learning process. Psikologi pendidikanadalah sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologis yangmenyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantuanda melaksanakan tugas sebagai seorang guru dalam prosesbelajar-mengajar secara lebih efektif. Tekanan definisi inisecara lahiriah hanya berkisar sekitar proses interaksiantarguru-siswa dalam kelas.
  8. 8. Dalam buku Educational Psychology: The Teaching LearningProcess, Daniel Lenox Barlow (1985), seorang profesor dandirektur program pascasarjana School of Education padasebuah perguruan tinggi di Virginia Amerika Serikat, jugamenguraikan secara luas hal-hal di luar apa yang telahpenyusun kutip di atas seperti proses perkembangan dan prosesbelajar siswa. Selam itu, dia membahas juga masalah-masalahaktual yang dihadapi guru dan pengembangan profesikariernya.Sementara itu, Tardif (1987) mendefinisikan psikologipendidikan mirip dengan takrif di atas dalam arti cenderungrnenganggapnya semata-mata sebagai ilrnu terapan. Baginya,psikologi pendidikan adalah “. . . sebuah bidang studi yangberhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilakumanusia untuk usaha-usaha kependidikan”. Adapun ruangling-kupnya, meliputi:1. context of teaching and learning (situasi atau tempat yang berhubungan dengan mengajar dan belajar);2. process of teaching and learning (tahapan-tahapan dalam mengajar dan belajar); dan3. outcomes of teaching and learning (hasil-hasil yang dicapai oleh proses mengajar dan belajar).Selanjutnya, Witherington dalam bukunya EducationalPsychology terjemahan M. Buchori (1978) memberikandefinisi psikologi pendidikan sebagai “A systematic study ofthe process and factors involved in the education of humanbeing is called educational psychology”, yakni bahwapsikologi pendidikan adalah studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikanmanusia.Istilah “proses” dalam definisi-definisi di atas terutama proses yang disebutkan dalam definisi Witherington itu sesungguhnya amat sulit dipahami substansinya (watak
  9. 9. isinya), karena sifatnya yang abstrak. Oleh sebab itu, menurut sebagian ahli, definisi yang langsung menyebutkan penyelidikan terhadap proses belajar atau proses mengajar akan lebih pas jika diganti dengan “manusia” yang belajar atau mengajar. Alasannya, apabila anda sedang mempelajari atau memantau seorang siswa yang sedang berpikir untuk memecahkan masalah matematika misalnya, maka yang anda pelajari sesungguhnya adalah siswa tersebut, bukan prosesnya, karena proses memikirkan soal matematika tersebut tak mungkin dapat anda pelajari, lebih-lebih jika secara langsung. Anda hanya bisa menarik kesimpulan bahwa siswa tersebut sedang berpikir (memecahkan soal-soal matematika) dari fenomena (gejala-gejala) yang tampak pada diri siswa yang sedang anda pantau itu. Selanjutnya, perlu penyusun kemukakan bahwa berdasarkan pertim-bangan definisi-definisi di atas dan diperkuat kenyataan sehari-hari, dapat dipastikan bahwa disiplin psikologi pendidikan pada dasarnya mencurahkan perhatiannya pada perbuatan atau tindak-tanduk orang-orang yang belajar dan mengajar. Oleh karenanya, psikologi pendidikan mempunyai dua objek riset dan kajian.1. Siswa, yaitu orang-orang yang sedang belajar, termasuk pendekatan, strategi, faktor yang mernpengaruhi, dan prestasi yang dicapai2. Guru, yaitu orang-orang yang berkewajiban atau bertugas mengajar, termasuk metode, model, strategi dan lain-lain yang berhubungan dengan aktivitas penyajian materi pelajaran.Apakah psikologi pendidikan termasuk cabang psikologi yangindependen (berdiri sendiri), baik secara teoretis maupunpraktis? Berikut ini penyusun uraikan pandangan-pandangan,khususnya pandangan dari seorang ahli psikologi pendidikan
  10. 10. yang tergolong senior di antara ahli-ahli psikologi pendidikanlainnya, yakni H.C. Witherington. Pakar yang satu ini menjadipopuler di kalangan para peminat/’psikologi pendidikankhususnya para mahasiswa karena bukunya EducationalPsychology, yang diterjemahkan M. Buchori itu telahmenyemarakkan kajian psikologi pendidikan di tanah air.Memang tak dapat dipungkiri bahwa psikologi pendidikanoleh banyak ahli psikologi termasuk ahli psikologi pendidikansendiri, cenderung dianggap sebuah subdisiplin psikologi yangbersifat praktis, bukan teoretis. Psikologi-psikologi lain yangjuga dianggap sebagai psikologi terapan antara lain psikologiindustri dan psikologi klinis. Namun, kedua cabang psikologiini dipandang telah memiliki konsep-konsep, teori-teori, danmetode-metode sendiri sehingga tidak lagi dianggap sebagaisubdisiplin tetapi disiplin (cabang ilmu) yang mandiri.Ditinjau dari sudut pengaplikasiannya, kecenderunganpandangan terhadap psikologi pendidikan seperti di atasmemang cukup beralasan. Kita ambil contoh, misalnyapsikologi perkembangan dan psikologi abnormal yang jelasbersifat teoretis dan lebih berguna sebagai alat bantu danpendukung psikologi-psikologi lainnya. Konsep dan teoripsikologi abnormal sangat berguna untuk penerapan psikologiklinis, sedangkan psikologi perkembangan berperan pentingdalam pembahasan aplikasi psikologi pendidikan.Walaupun begitu, Witherington (Buchori, 1978) menegaskanpen-diriannya bahwa psikologi pendidikan itu bukan hanyasebagai psikologi terapan yang seolah-olah tidak memiliki hakhidup sendiri. Alasan yang dikemukakannya adalah psikologipendidikan sebagai sebuah sains telah memiliki sendiri hal-halberikut.1. Susunan prinsip-prinsip dan kebenaran-kebenaran dasar yang tersendiri.
  11. 11. 2. Faktor-faktor yang bersifat objektif dan dapat diperiksa kebenarannya. 3. Teknik-teknik khusus yang berguna untuk melakukan penyelidikan dan risetnya sendiri. Perdebatan mengenai apakah psikologi pendidikan bersifat praktis, teoretis, atau praktis-teoretis, sebenarnya tidak begitu penting. Namun menurut hemat penyusun, psikologi pendidikan pada asasnya adalah sebuah disiplin psikologi (atau boleh juga disebut subdisiplin psikologi) yang menyelidiki masalah-masalah psikologis yang terjadi dalam dunia pendidikan. Lalu, hasil-hasil penyelidikan ini dirumuskan ke dalam bentuk konsep, teori, dan metode yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah yang berhubungan dengan proses belajar, proses mengajar, dan proses belajar- mengajar. Alhasil, psikologi pendidikan dapat digunakan sebagai pedoman praktis, di samping sebagai kajian teoretis.B. Arti Penting Psikologi Pendidikan Keharusan yang tak dapat ditawar-tawar bagi setiap pendidik yang kom-peten dan profesional adalah melaksanakan profesinya sesuai dengan ke-adaan peserta didik (lihat arti kompetensi dan profesionalisme pada halaman 230). Dalam hal ini, tanpa mengurangi peranan didaktik dan metodik psikologi sebagai ilmu perigetahuan yang berupaya memahami keadaan dan perilaku manusia, termasuk para siswa yang satu sama lainnya berbeda itu, amat penting bagi para guru di semua jenjang kependidikan. Jenjang kependidikan ini meliputi wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun dan pendidikan menengah 3 tahun yang diselenggarakan dalam institusi sekolah dan madrasah. Para ahli psikologi dan pendidikan pada umumnya berkeyakinan bahwa dua orang anak (yang kembar sekalipun) tak pernah memiliki respons yang sama persis terhadap situasi
  12. 12. belajar-mengajar di sekolah. Keduanya sangat mungkinberbeda dalam hal pembawaan, kematangan jasmani,intelegensi, dan keterampilan motor/jasmaniah. Anak-anak itu,seperti juga anak-anak lainnya, relatif berbeda dalamberkepribadian sebagaimana yang tampak dalam penampilandan cara berpikir atau memecahkan masalah mereka masing-masing.Pendidikan, selain merupakan prosedur seperti yang telahpenyusun singgung, juga merupakan lingkungan yang menjaditempat terlibatnya individu yang saling berinteraksi. Dalaminteraksi antarindividu ini baik antara guru dengan para siswamaupun antara siswa dengan siswa lainnya, terjadi proses danperistiwa psikologis. Peristiwa dan proses psikologis ini sangatperlu untuk dipahami dan dijadikan landasan oleh para gurudalam memperlakukan para siswa secara tepat.Para pendidik, khususnya para guru sekolah, sangatdiharapkan memiliki-kalau tidak menguasai—pengetahuanpsikologi pendidikan yang sangat memadai agar dapatmendidik para siswa melalui proses belajar-mengajar yangberdaya guna dan berhasil guna. Pengetahuan mengenaipsikologi pendidikan bagi para guru berperan penting dalammenyelenggarakan pendidikan di sekolah-sekolah. Hal inidisebabkan eratnya hubungan antara psikologi khusus tersebutdengan pendidikan, seerat metodik dengan kegiatanpengajaran.Pengetahuan yang bersifat psikologis mengenai peserta didikdalam proses belajar dan proses belajar-mengajarsesungguhnya tidak hanya diperlukan oleh calon guru atauguru yang sedang bertugas di lembaga-lembaga pendidikanformal. Para dosen di perguruan tinggi pun, bahkan paraorangtua dan mereka yang berkecimpung dalam duniapendidikan informal seperti para kiai di pesantren, parapendeta dan pastur di gereja, dan para instruktur di lembaga-
  13. 13. lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan, pada prinsipnyajuga memerlukan pengetahuan psikologi pendidikan.Di samping psikologi pendidikan, dalam beberapa dasawarsaterakhir mi berkembang pula pengetahuan sejenis tetapi lebihsempit yang disebut “didaksologi”. Didaksologi agaknyamerupakan subdisiplin psikologi pengajaran (instructionalpsycliology). Psikologi pengajaran sendiri sesungguhnyahanya bagian dari psikologi pendidikan.Didaksologi sebagai sebuah disiplin ilmu kependidikan yangmasih muda belia dan belum dikenal secara luas itu padadasarnya lebih banyak menggali dan membahas struktur dasarinteraksi dalam proses belajar-mengajar yang sebelumnyatidak disentuh olch ilmu didaktik tradisional (Winkel, 1991).Didaksologi, seperti juga psikologi pengajaran, dikembang-kan dan digunakan dalam tradisi dunia pendidikan di EropaBarat, sedang-kan psikologi pendidikan dikembangkan dandigunakan di Amerika Serikat, bahkan di Eropa Barat jugadipelajari orang.Dari Amerika Serikat, psikologi pendidikan kemudianmelebarkan sayapnya ke Kanada, Australia, dan Selandia Baruserta Benua Asia hingga ke Indonesia. Penyusun tidak tahupasti apakah psikologi pendidikan juga dikembangkan diBcnua Afrika, tetapi di beberapa negara Afrika tertentu sepertiAfrika Selatan dan Mesir (berdasarkan literatur yang ada)psikologi khusus itu dikembangkan orang pula.Berbeda dengan psikologi pendidikan, psikologi pengajaranlebih menekankan aspek-aspek penyajian materi pelajaran dankomunikasi antara guru dengan para siswa dalam prosesinstruksional dan proses belajar-mengajar. Di Australia kajianmengenai komunikasi instruksional seperti ini biasanyaterdapat dalam mata kuliah yang disebut psychology andinstruction (psikologi dan pengajaran). Ruang lingkung kajian
  14. 14. psychology and instruction lebih sempit daripada psikologipendidikan, tetapi masih lebih luas daripada didaksologi.Ada beberapa hal penting yang perlu penyusun kemukakanmengenai kajian psikologi pendidikan, antara lain:1. psikologi pendidikan adalah pengetahuan kependidikan yang didasarkan atas hasil-hasil temuan riset psikologis;2. hasil-hasil temuan riset psikologis tersebut kemudian dirumuskan sedemikian rupa hingga menjadi konsep-konsep, teori-teori, dan metode-metode serta strategi-strategi yang utuh;3. konsep, teori, metode, dan strategi tersebut kemudian disistematisasir kan sedemikian rupa hingga menjadi “repertoire of resources”, yakni rangkaian sumber yang berisi pendekatan yang dapat dipilih dan digunakan untuk praktik-praktik kependidikan khususnya dalam proses belajar-mengajar.Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa pendekatanpsikologi pendidikan adalah pendekatan ilmiah (scientificapproach). Oleh karenanya di samping sebagai psikologipraktis, psikologi pendidikan juga bersifat teoretis.Kembali ke masalah belajar-mengajar dan hubungannyadengan psikologi pendidikan, unsur utama dalam pelaksanaansebuah sistem pendidikan di mana pun adalah proses belajar-mengajar. Di tengah-tengah proses edukatif (bersifatkependidikan) ini tak terkecuali apakah di tempat pendidikanformal atau informal, terdapat seorang tokoh yang disebutguru. Sumber pengetahuan yang dapat membantu ataumenolong guru dalam mengelola belajar-mengajar tersebutadalah psikologi praktis, psikologi pendidikan.Sudah tentu, masih ada sumber-sumber pengetahuan lainnyayang juga berhubungan dengan proses belajar-mengajar.Pemahaman dan kemampuan guru yang kompeten danprofesional dalam memanfaatkan teknik-teknik psikologi
  15. 15. pendidikan merupakan hal yang tak pantas ditawar-tawar. Para ahli psikologi melakukan riset tingkah laku manusia berdasarkan metodologi ilmiah. Mereka menarik kesimpulan dan merumuskan teori-teori dan asumsi-asumsi berdasarkan hasil temuan riset ilmiah itu. Namun, harus diakui antara satu teori dengan teori lainnya sering muncul perten-tangan- pertentangan dan ketidakajegan (inconsistency) seperti yang tampak jelas dalam teori-teori belajar. Anda, baik selaku calon guru maupun guru yang sedang bertugas, tidak perlu memandang psikologi pendidikan sebagai satu-satunya gudang penyimpan jawaban-jawaban yang benar dan pasti atas persoalan-persoalan kependidikan yang anda hadapi. Namun sebaliknya, anda tetap perlu tahu bahwa dalam psikologi pendidikan terdapat serangkaian stok informasi mengenai teori-teori dan praktik belajar, mengajar, dan belajar- mengajar yang dapat anda pilih. Dalam hal ini, pilihan anda seyogianya diseleraskan dengan kebutuhan kontekstual sesuai dengan tuntutan ruang dan zaman. Dengan kata lain, pilihan psikologis anda tersebut harus cocok dengan keperluan ke- kini-an dan kc-disini-an, baik ditinjau dari sudutKetiga, Cara Menghubungkan Mengajar dengan BelajarTugas utama guru sebagai pendidik sebagaimana ditetapkan olehUndang-Undang Sistem Pendidikan Nasional kita adalahmcngnjar. Secara singkat, mengajar adalah kegiatanmenyampaikan materi pelajaran, melatih keterampilan, danmenanamkan nilai-nilai moral yang terkandung dalam materipelajaran tersebut kepada siswa. Agar kegiatan mengajar iniditerima oleh para siswa, guru perlu berusaha membangkitkangairah dan minat belajar mereka. Kebangkitan gairah dan minatbelajar para siswa akan mempermudah guru dalammenghubungkan kegiatan mengajar dengan kegiatan belajar.
  16. 16. Oleh karena itu, sebagai calon guru atau guru yang sedangbertugas, anda sangat diharapkan mengerti benar seluk-belukmengajar baik dalam arti individual (seperti ivmediiil te7C/un^/mengajar perbaikan bagi siswa bermasalah) maupun dalam artiklasikal. Dalam hal ini, anda tentu dituntut pula untukmemahami model-model mengajar, metode-metode mengajar,dan strategi-strategi mengajar. Kemudian, metode-metode danstrategi ini anda terapkan secara cermat dalam proses belajar-mengajar yang anda kelola. Untuk memenuhi kebutuhan andaakan hal-hal tersebut, sengaja penyusun sajikan pembahasan-pembahasan esencial mengenai mengajar, guru, dan hubunganguru dengan proses mengajar seperti dapat anda lihat pada Bab 7dan Bab 8 yang merupakan bab-bab terakhir dalam buku ini.Keempat, Pengambilan Keputusan untuk Pengelolaan PBMDalam mengelola sebuah proses belajar-mengajar (PBM),seorang guru , dituntut untuk menjadi figur sentral (tokoh inti)yang kuat dan berwibawa, namun tetap bersahabat. Sebelummengelola sebuah proses belajar-mengajar, anda perlumerencanakan terlebih dahulu satuan bahan atau materi dantujuan-tujuan yang hendak dicapai (lihat halaman 243). Sesuaiperencanaan materi dan tujuan penyajiannya, anda perlumenetapkan kiat yang tepat untuk menyampaikan materi tersebutkepada para siswa dalam ‘situasi belajar-mengajar yang efisien.Untuk memenuhi kebutuhan yang berkaitan dengan kegiatan diatas, anda dituntut untuk menempatkan diri sebagai pengambilatau pembuat keputusan {decision maker) yang penuhperhitungan untung-rugi ditinjau dari sudut kajian psikologis.Jika tidak, pengelolaan tahap-tahap interaksi belajar-mengajarakan tersendat-sendat dan boleh jadi akan gagal mencapaitujuannya.Agar sebuah pengelolaan proses belajar-mengajar mencapaisukses, seorang guru hendaknya memandang dirinya sendirisebagai seorang profesional yang efektif. Lalu, pandangan positif
  17. 17. ini diejawantahkan dalam bentuk upaya-upaya pengambilankeputusan mengenai materi pelajaranyang sesuai dengan kebutuhan para siswa dan penegasan tujuan-tujuan penyajian materi tersebut secara eksplisit, yakni tersuratdan gamblang. Keputusan lain yang harus diambil selanjutnyaadalah penetapan model, metode, dan strategi mengajar yangmenurut tinjauan psikologis sesuai dengan jenis dan sifat materi,tugas yang akan diberikan kepada para siswa dan situasi belajar-mengajar yang diharapkan.Namun dalam hal pengambilan keputusan-keputusan di atasperiu penyusun utarakan hambatan-hambatan yang urnumdialami para guru. Faktor-faktor penghambat—atau paling tidakpembatas gerak—pembuatan keputusan-keputusan instruksionalyang sering merintangi para guru pada umumnya meliputi:1. kurangnya kesadaran guru terhadap masalah-masalah belajaryang mungkin sedang dihadapi para siswa;2. kesetiaan terhadap gagasan lama yang sebenarnya sudah takdapat diberlakukan lagi;3. kurangnya sumber-sumber informasi yang diperlukan; dan4. ketidakcermatan observasi terhadap situasi belajar-mengajar.Selain hal-hal di atas, hambatan mungkin pula muncul dariperbedaan harapan guru dan siswa. Beberapa orang siswa dalamsebuah kelas misal-i-iya, mungkin memiliki cita-cita memenuhikebutuhan masa depannya yang sama sekali berbeda denganrekan-rekannya atau bahkan menyimpang dari karakteristiksekolah yang mereka ikuti. Perbedaan seperti ini akanmengakibatkan munculnya perbedaan gaya belajar, sikap, danperilaku mereka selama membaur dalam proses belajar-mengajar. Selanjutnya, tekanan dari luar dapat pulamempengaruhi kemulusan pengambilan keputusan oleh guru.Tekanan luar ini bisa datang dari orangtua siswa, aturanadministratif sekolah, fasilitas yang tersedia, dan sebagainya.C. Sejarah, Cakupan, dan Metode Psikologi Pendidikan
  18. 18. Pada bagian ini akan penyusun uraikan secara singkat sejarahlahirnya disiplin ilmu psikologi pendidikan dan ruang lingkupatau bidang-bidang garapannya. Selain itu, pada bagian ini akanpenyusun utarakan pula metode-metode pokok yang digunakanoleh para ahli dalam melakukan penclitian psikologis yangberkaitan dengan proses-proses belajar, mengajar, dan belajar-mengajar. Temuan-temuan hasil riset dalam psikologipendidikan sebagian ditujukan untuk kegunaan praktis, sebagianlagi dipakai untuk bahan kajian teoretis dan juga sebagai buktimasih valid atau tidaknya sebuah teori atau penemuan yangsebelumnya telah didokumentasikan. Penelitian untuk tujuanpengkajian pada umumnya dilakukan oleh para dosen danmahasiswa fakultas pendidikan dan fakultas psikologi.Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan digunakannyahasil temuan riset para civitas akademika tersebut untukdipraktikkan di sekolah-sekolah latihan. Kemudian, jika ternyatapenerapan hasil riset itu menunjukkan hasil yang positif bagikemajuan belajar atau belajar-mengajar, maka temuan hasil risettadi diformulasikan ke dalam bentuk konsep dan teori baru.Konsep dan teori baru ini kemudian dipublikasikan(disebarluaskan) melalui jurnal atau majalah ilmiah yang bertarafnasional atau internasional. Tujuannya, agar konsep dan teoriyang ditawarkan tersebut mendapat komentar, kritik, danperbaikan dari para ahli yang berkompeten. Tradisi keilmuanseperti ini sudah umum diberlakukan di kampus-kampusperguruan tinggi di negara-negara maju, sehingga ikiimpersaingan ilmiah di perguruan tinggi khususnya di kalanganpara dosen tampak semarak dan bergairah serta mendatangkanmanfaat bagi umat manusia.1. Sejarah Singkat Psikologi PendidikanSejarah khusus yang mengungkapkan secara cermat dan luastentang psikologi pendidikan, hingga kini sesungguhnya masihperlu dicari. Hal ini terbukti karena kebanyakan karya tulis yang
  19. 19. mengungkapkan “riwayat hidup” psikologi pendidikan masihsangat langka. Karya tulis yang mem-bahas riwayat psikologiyang ada sekarang pada umumnya tentang pelbagai psikologiyang dicampur aduk menjadi satu, sehingga menyulitkanidentifikasi terhadap jenis psikologi tertentu yang irigin kitaketahui secara spesifik.Uraian kesejarahan yang khusus berkaitan dengan psikologipendidikan konon pernah dilakukan secara alakadarnya olehbeberapa or-ang ahli seperti Boring & Murphy pada tahun 1929dan Burt pada tahun 1957, tetapi terbatas untuk psikologipendidikan yang berkembang di wilayah Inggris (David, 1972).Sudah tentu riwayat psikologi pendidikan yang mereka tulis itutak dapat kita jadikan acuan bukan saja karena keterbatasanwilayah pengembangan, melainkan juga karena kedaluarsakarya-karya tulis tersebut.Kenyataan yang tak dapat dipungkiri bahwa penggunaanpsikologi dalam dunia pendidikan sudah berlangsung sejakzaman dahulu meskipun istilah psikologi pendidikan sendiri padamasa awal pemanfaatannya belum dikenal orang. Namun, seiringdengan perkembangan saiiis dan tek-nologi, akhirnya lahir danberkembanglah secara resmi (entah tahun berapa) sebuah cabangkhusus psikologi yang disebut psikologi pendidikan itu.Kemudian, menurut David (1972) pada umumnya para ahlimemandang bahwa Johann Friedrich Herbart adalah bapakpsikologi pendidikan yang konon menurut sebagian ahli masihmerupakan disiplin sempalan psikologi lainnya itu.Herbart adalah seorang filosof dan pengarang kenamaan yanglahir di Oldenburg, Jerman, pada tanggal 4 Mei 1776. Pada usia29 tahun ia menjadi dosen filsafat di Gottingen dan mencapaipuncak kariernya pada tahun 1809 ketika dia diangkat menjadiketua Jurusan Filsafat di Konisberg sampai tahun 1833. lameninggal di Gottingen pada tanggal 14 Agustus 1841.
  20. 20. Nama Herbart kemudian diabadikan sebagai nama sebuah aliranpsikologi yang disebut Herbartianisme pada tahun 1820-an.Konsep utama pemikiran Herbartianisme ialah apperceptivemass, sebuah istilah yang khusus diperuntukkan bagipengetahuan yang telah dimiliki individu. Dalam pandanganHerbart, proses belajar atau memahami sesuatu bergantung padapengenalan individu terhadap hubungan-hubungan antara ide-idebaru dengan pengetahuan yang telah dia miliki. Konsep inisampai sekarang masih digunakan secara luas dalam duniapengajaran, yakni apa yang kita kenal dengan istilah apersepsisebagai salah satu tahapan dalam kegiatan belajar-mengajar(lihat Bab 8 Subbab E).Aliran pemikiran Herbartianisme, menurut Reber (1988), adalahpen-dahulu pemikiran psikoanalisis Freud dan berpengaruh besarterhadap pemikiran psikologi eksperimental Wundt. la jugadianggap sebagai pen-cetus gagasan-gagasan pendidikan gayabaru yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang.Buku Pedagogics (ilmu mengajar) adalah karyanya yangdianggap monumental, “sesuatu yang agung”. Karya besarlainnya yang berhu-bungan dengan psikologi pendidikan.Application of Psychology to the Science of Education(penerapan psikologi untuk ilmu pendidikan).Sebagai catatan pelengkap mengenai ilmuwan besar yangberpengaruh tersebut, penyusun kutipkan sebagianpandangannya yang berhubungan dengan pendidikan, yaitu: . . .regards history the most potent to study in developing childcharacter, next to it he classes nature studies, and lastly he placesformal studies such as reading, writing, arithmetic (David, 1972).Dalam pandangan Herbart, mata pelajaran yang paling jitu untukmengembangkan watak anak adalah sejarah. Kemudian untukpengajaran selanjutnya adalah ilmu-ilmu alam, dan sebagaipelajaran akhir yang perlu diberikan kepada anak adalah bidang-bidang studi formal seperti membaca, menulis, dan berhitung.
  21. 21. Selanjutnya, psikologi pendidikan lebih pesat berkembang diAmerika Serikat, meskipun tanah kelahirannya sendiri di Eropa.Kemudian, dari negara adidaya tersebut psikologi pendidikanmenyebar ke seluruh benua hingga sarnpai ke Indonesia.Meskipun perkembangan psikologi pendidikan di Eropadianggap tidak seberapa, kenyataannya psikologi tersebut tidaklenyap atau tergeser oleh perkembangan psikologi pengajarandan didak-sologi seperti yang telah penyusun singgung di muka.Salah satu bukti masih dipakai dan dikembangkannya psikologitersebut di Eropa, khususnya di Inggris adalah masih tetapditerbitkannya sebuah jurnal internasional yang berjudul BritishJournal of Educational Psychology.Sekarang, semakin dewasa usia psikologi pendidikan, semakinbanyak pakar psikologi dan pendidikan yang berminatmengembangkannya. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknyafakultas psikologi dan fakultas pendidikan di universitas-universitas terkenal di dunia yang membuka jurusan atauspesialisasi keahlian psikologi pendidikan dengan fasilitasbelajar yang lengkap dan modern. Di negara kita pun jurusanpsikologi pendidikan—yang biasanya digabung denganbimbingan dan penyuluhan (BP)—masih diselenggarakan padabanyak fakultas keguruan baik negeri maupun swasta.Kenyataan lain yang menunjukkan kepesatan perkembanganpsikologi pendidikan adalah semakin banyaknya ragam cabangpsikologi dan aliran pemikiran psikologis yang turut berkiprahdalam riset-riset psikologi pendidikan. Cabang dan aliranpsikologi yang datang silih berganti menanamkan pengaruhnyaterhadap psikologi pendidikan, di antaranya yang palingmenonjol adalah:1. aliran humanisme dengan tokoh-tokoh utama J.J. Rousseau,Abraham Maslow, C. Rogers;2. aliran behaviorisme dengan tokoh-tokoh utama J.B. Watson,E.L. Thorndike, dan B.F. Skinner;
  22. 22. 3. aliran psikologi koginitif dengan tokoh-tokoh utama J. Piaget,J. Bruner, dan D. Ausubel;Uraian lebih lanjut mengenai aliran-aliran psikologi kognitifdapat anda temukan pada Bab 4 Subbab D. Sedangkan uraianmengenai aliran humanisme dapat anda can dalam Bab 8.2. Cakupan Psikologi PendidikanPsikologi pendidikan pada asasnya adalah sebuah disiplinpsikologi yang khusus mempelajari, meneliti, dan membahasseluruh tingkah laku manusia yang terlibat dalam prosespendidikan itu meliputi tingkah laku belajar (oleh siswa), tingkahlaku mengajar (oleh guru), dan tingkah laku belajar-mengajar(oleh guru dan siswa yang saling berinteraksi).Inti persoalan psikologis dalam psikologi pendidikan, tanpameng-abaikan persoalan psikologi guru, terletak pada siswa.Pendidikan pada hakikatnya adalah pelayanan yang khususdiperuntukkan bagi siswa. Oleh kareria itu, ruang lingkup pokokbahasan psikologi pendidikan, selain teori-teori psikologipendidikan sebagai ilmu, juga berbagai aspek psikologis parasiswa khususnya ketika mereka terlibat dalam proses belajar danproses belajar-mengajar.Secara garis besar, banyak ahli yang membatasi pokok-pokokbahasan psikologi pendidikan menjadi tiga macam.1. Pokok bahasan mengenai “belajar”, yang meliputi teori-teori,prinsip-prinsip, dan ciri-ciri khas perilaku belajar siswa, dansebagainya.2. Pokok bahasan mengenai “proses belajar”, yakni tahapanperbuatan dan peristiwa yang terjadi dalam kegiatan belajarsiswa.3. Pokok bahasan mengenai “situasi belajar”, yakni suasana dankeadaan lingkungan baik bersifat fisik maupun nonfisik yangberhubungan dengan kegiatan belajar siswa.
  23. 23. Sementara itu, Samuel Smith sebagaimana yang dikutipSuryabrata (1984), menetapkan 16 topik bahasan yangrinciannya sebagai berikut.1. Pengetahuan tentang psikologi pendidikan (the science ofeducational psychology).2. Hereditas atau karakteristik pemb’awaan sejak lahir(heredity);3. Lingkungan yang bersifat fisik (physical structure).4. Perkembangan siswa (growth).5. Proses-proses tingkah laku (behavior process).6. Hakikat dan ruang lingkup belajar (nature and scope oflearning).7. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar (factors thatcondition learning).8. Hukum-hukum dan teori-teori belajar (laws and theories oflearning).9. Pengukuran, yakni prinsip-prinsip dasar dan batasan-batasanpengu-kuran/evaluasi (measurement: basic principles anddefinitions).10. Transfer belajar, meliputi mata pelajaran (transfer oflearning: subject matters}.11. Sudut-sudut pandang praktis mengenai pengukuran (practicalaspects of mesurement).12. Ilmu statistik dasar (element of statistics).13. Kesehatan rohani (mental hygiene).14. Pendidikan membentuk watak (character education).15. Pengetahuan psikologi tentang mata pelajaran sekolahmenengah (psychology of secondary school subjects).16. Pengetahuan psikologi tentang mata pelajaran sekolah dasar(psychology of elementary school subjects).Keenam belas pokok bahasan di atas, konon telah dikupas olehhampir semua ahli yang telah diselidiki Smith, walaupun porsi
  24. 24. (jumlah bagian/ jatah) yang diberikan dalam pengupasan tersebuttidak sama.Dari rangkaian pokok-pokok bahasan versi Smith dan tiga pokokyang sebelum ini telah penyusun singgung di muka, tampaksangat jelas bahwa masalah belajar (learning) adalah masalahyang paling sentral dan vital, (inti dan amat penting) dalampsikologi pendidikan. Dari seluruh proses pendidikan, kegiatanbelajar siswa merupakan kegiatan yang paling pokok. Hal inibermakna bahwa berhasil-tidaknya pencapaian tujuan pendidikanbanyak terpulang kepada proses belajar siswa baik ketika iaberada di dalam kelas maupun di luar kelas.Masalah pokok kita sekarang adalah apa dan bagaimana belajaritu sesimgguhnya? Samakah dengan latihan, menghapal,mengumpulkan fakta dan sebagainya? Untuk menjawabpertanyaan penting ini, silakan anda telaah uraian pada Bab 4Subbab A dan D yang terdapat dalam buku ini.Selanjutnya, walaupun masalah belajar merupakan pokokbahasan sentral dan vital, tidak berarti masalah-masalah laintidak perlu dibahas oleh psikologi pendidikan. Masalah mengajar(teaching) dan proses belajar-mengajar (teaching-learningprocess) seperti telah penyusun tekankan sebelum ini, jugadibicarakan dengan porsi yang cukup besar dan luas dalampsikologi pendidikan. Betapa pentingnya masalah proses belajar-mengajar tersebut, terbukti dengan banyaknya penelitian yangdilakukan dan buku-buku psikologi pendidikan yang secarakhusus membahas masalah interaksi instruksional (hubunganbersifat pengajaran) antara guru dengan siswa.Khusus mengenai proses belajar-mengajar, para ahli psikologipendidikan seperti Barlow (1985) dan Good & Brophy (1990)mengelompokkan pembahasan ke dalam tujuh bagian.1. Manajemen ruang belajar (kelas) yang sekurang-kurangnyameliputi pengendalian kelas dan penciptaan ikiim kelas.2. Metodologi kelas (metode pengajaran).
  25. 25. 3. Motivasi siswa peserta kelas.4. Penanganan siswa yang berkemampuan luar biasa.5. Penanganan siswa yang berperilaku menyimpang.6. Pengukuran kinerja akademik siswa.7. Pendayagunaan umpan balik dan penindaklanjutanDalam hal penanganan manajemen (proses penggunaan sumberdaya untuk mencapai tujuan) yakni menajemen ruang belajaratau kelas, tugas utama guru adalah: 1) melakukan kontrolterhadap seluruh keadaan dan akti vitas kelas; 2) menciptakanikiim ruang belajar (classroom climate) sedemikian rupa agarproses belajar-mengajar dapat berjalan wajar dan lancar.Pengendalian atau kontrol yang dilakukan guru, menuruttinjauan psikologi pendidikan harus senantiasa diorientasikanpada tercapainya disiplin. Disiplin dalam hal ini berarti segalasikap, penampilan, dan per-buatan siswa yang wajar dalammengikuti proses belajar-mengajar. Adapun dalam halpenciptaan ikiim kelas, guru sangat diharapkan mampu menatalingkungan psikologis ruang belajar sehingga mengandungatmosfer (baca:suasana perasaan) ikiim yang memungkinkan para siswamengikuti proses belajar dengan tenang dan bergairah.Selanjutnya, mengenai hal-hal yang berhubungan dengan topik-topik proses belajar-mengajar lainnya seperti metode pengajaran,motivasi siswa/ dan topik-topik lain sebagaimana tersebut diatas, dapat anda ketahui setelah melacak uraian dan isi Bab 7Subbab D dan Bab 8 Subbab C dan D dalam buku ini.•3. Metode Psikologi PendidikanKebanyakan psikolog menganggap kegiatan belajar-mengajarmanusia adalah topik paling penting dalam studi psikologi.Demikian pentingnya arti belajar sehingga nyaris tak satu punaspek kehidupan manusia yang terlepas dari belajar. Namun,perbedaan persepsi, (pemahaman atas dasar tanggapan)
  26. 26. mengenai arti dan seluk-beluk belajar selalu muncul dari waktuke waktu dan dari generasi ke generasi berikutnya.Kenyataan yang tak terelakkan bahwa perbedaan generasipsikolog sering pula membawa perbedaan persepsi terhadapbelajar. Kurang-lebih 45 tahun yang lalu persepsi orangkhususnya para pendidik profesional sangat dipengaruhi olehaliran behaviorisme yang didasarkan pada hasil eksperimendengan menggunakan hewan-hewan percobaan.Akhir-akhir ini, persepsi tersebut sudah banyak berubah seiringdengan perubahan pandangan para ahli psikologi pendidikanterhadap keabsahan (validity) dan kecermatan (accuracy) temuanriset yang menggunakan hewan-hewan itu (Lazerson, 1975).Para peneliti bidang psikologi khususnya psikologi pendidikankini telah semakin sadar betapa dalam dan rumitnya prosesberpikir siswa ketika ia belajar, sehingga gejala perilaku hewanpercobaan tak layak lagi digunakan sebagai bahan kiasan(analog!) yang memadai. Perubahan ini mengakibatkanberubahnya pola riset dan peng-gunaan metode untukmenghimpun data psikologis di bidang kependidikan.Data sebenarnya dapat diangkat dari sumbernya dengan metodeapa saja asal cocok dengan jenis, sifat, dan sumber atau asal-usuldata tersebut. Namun, kebanyakan ahli psikologi pendidikanmembatasi penggunaan metode sesuai dengan wilayah riset(aspek psikologis) dan sifat pertanyaan penelitian yang benar-benar relevan dengan kebutuhan kajian atau kebutuhankependidikan.Metode, seperti yang penyusun uraikan pada bagian lain bukuini, secara singkat dapat dipahami sebagai cara atau jalan yangditempuh seseorang dalam melakukan sebuah kegiatan. Dalampsikologi pendidikan, metode-metode tertentu dipakai untukmengumpulkan berbagai data dan informasi penting yangbersifat psikologis dan berkaitan dengan kegiatan pendidikan danpengajaran.
  27. 27. Pada umumnya, para ahli psikologi pendidikan melakukan risetpsikologis di bidang kependidikan dengan memanfaatkanbeberapa metode penelitian tertentu seperti: a) eksperimen; b)kuesioner; c) studi kasus; d) penyelidikan klinis; dan e) observasinaturalistik. Di samping lima macam metode di atas, H.C.Witherington menyebut satu metode lagi yang bernama metodefilosofis atau spekulatif. Namun, penyusun tidak merasa perlumemperbincangkannya lebih jauh mengingat metode tersebutkurang populer dan belum dapat diterima eksistensinya olehbanyak ahli.A. Metode eksperimenPada asasnya, metode eksperimen merupakan serangkaianpercobaan yang dilakukan eksperimenter (peneliti yangbereksperimen) di dalam sebuah laboratorium atau ruangantertentu lainnya. Teknis pelaksanaannya disesuaikan dengan datayang akan diangkat, misalnya data pendengaran siswa,penglihatan siswa, dan gerak mata siswa ketika sedangmembaca. Selain itu, eksperimen dapat pula dipakai untukmengukur kecepatan be-reaksi seorang siswa terhadap stimulustertentu. Alat utama yang paling sering dipakai dalameksperimen pada jurusan psikologi pendidikan atau fakultaspsikologi di universitas-universitas terkemuka adalah komputerdengan pelbagai programnya seperti program cognitivepsychology test.Metode eksperimen sering digunakan dalam penelitian psikologipendidikan dengan tujuan untuk menguji keabsahan dankecermatan kesimpulan-kesimpulan yang ditarik dari hasiltemuan penelitian dengan metode lain. Contoh: apabila sebuahkesimpulan yang ditarik dari sebuah penelitian dengan metodeobservasi misalnya, menimbulkan keraguan atau masalah baru,maka dilakukan percobaan atau eksperimen.Metode eksperimen bagi para psikolog, termasuk psikologpendidikan, dianggap sebagai metode pilihan dalam arti lebih
  28. 28. utama untuk digunakan dalam riset-riset. Karena data daninformasi yang dihimpun melalui metode ini lebih bersifatdefinitif (pasti) dan lebih saintifik (ilmiah) jika dibandingkandengan data dan informasi yang dihimpun melalui penggunaan-penggunaan metode lainnya.Anggapan itu sesungguhnya tidak sepenuhnya benar, sebabsering ter-jadi perilaku subjek yang terekam dalam eksperimenternyata berlawanan dengan perilaku subjek tersebut dalamkehidupan sehari-harinya. Jadi, subjek tadi mungkin telahberpura-pura ketika diteliti karena ingin mem-bantu ataumengacaukan rancangan operasional penelitian eksperimenter.Untuk mengantisipasi hal yang bakal terjadi yang tidak sesuaidengan harapan peneliti, rancangan eksperimen (experimentaldesign) biasanya dibuat sedemikian rupa, sehingga, seluruhunsur penelitian termasuk penggunaan laboratorium/tempat dansubjek yang akan diteliti betul-betui memenuhi syarat penelitianeksperirnental.Dalam penelitian eksperimental objek yang akan diteliti dibagike dalam dua kelompok, yakni: 1) kelompok percobaan(eksperimental group); 2) kelompok pembanding (controlgroup). Kelompok percobaan terdiri atas sejumlah orang yangtingkah lakunya diteliti dengan perlakukan khusus dalam artisesuai dengan data yang akan dihimpun. Kelompok pembandingjuga terdiri atas objek yang jumlah dan karakteristiknya samadengan kelompok percobaan, tetapi tingkah lakunya tidak ditelitidalam arti tidak diberi perlakuan (treatment) seperti yangdiberikan kepada kelompok percobaan. Setelah eksperimen usai,data dari kelompok percobaan tadi dibandingkan dengan datadari kelompok pembanding, lalu dianalisis, ditafsirkan, dandisimpulkan dengan teknik statistik tertentu.B. Metode kuesionerMetode kuesioner (auestionaire) lazim juga disebut sebagaimetode surat-menyurat (mail survey). Kuesioner disebut “mail
  29. 29. survey” karena pelaksanaan penyebaran dan pengembaliannyasering dikirimkan ke dan dari responden melalui jasa pos.Namun, sebelum kuesioner disebarkan atau dikirimkan kepadaresponden yang sesungguhnya, seorang peneliti psikologipendidikan biasanya melakukan uji coba (try out). Caranya,sejumlah kuesioner dibagi-bagikan kepada sejumlah orangtertentu yang memiliki karakterisktik sama dengan calonresponden yang sesungguhnya. Tujuannya, untuk memastikanapakah pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner itu cukup jelasdan relevan untuk dijawab, dan untuk memperoleh masukanyang mungkin bermanfaat bagi penyempurnaan kuesionertersebut.Penggunaan metode kuesioner dalam riset-riset sosial termasukbidang psikologi pendidikan relatif lebih menonjol biladibandingkan dengan penggunaan metode-metode lainnya.Gejala dominasi (penguasaan/ kemenonjolan) penggunaanmetode ini muncul karena lebih banyak sampel yang bisadijangkau di samping unit cost (biaya satuan) per respondenlebih murah. Contoh data yang dapat dihimpun dengan carapenyebaran adalah sebagai berikut.1. Karakteristik pribadi siswa seperti jenis kelamin, usia, danseterusnya tapi tidak termasuk nama.2. Latar belakang keadaan siswa seperti latar belakang keluarga,latar belakang pendidikan, dan sebagainya.3. Perhatian siswa terhadap mata pelajaran tertentu.4. Faktor-faktor pendorong dan penghambat siswa dalammengikuti pelajaran tertentu.5. Aplikasi (penerapan) mata pelajaran tertentu dalam kehidupansehari-. hari siswa (seperti salat dalam pelajaran agama).6. Pengaruh aplikasi mata pelajaran tertentu terhadapperikehidupan siswa.C. Metode studi kasus
  30. 30. Studi kasus (case study) ialah sebuah metode penelitian yangdigunakan untuk memperoleh gambaran yang rinci mengenaiaspek-aspek psikologis seorang siswa atau sekelompok siswatertentu. Metode ini, selain dipakai oleh para peneliti psikologipendidikan, juga sering dipakai oleh peneliti ilmu-ilmu sosiallainnya karena lebih memungkinkan peneliti melakukaninvestigasi (penyelidikan dengan mencatat fakta) dan penafsiranyang lebih luas dan mendalam.Instrumen atau alat pengumpul data (APD) yang digunakandalam studi kasus bisa bermacam-macam terutama yang dapatmengungkapkan variabel yang sukar ditentukan dalam satuanjumlah tertentu (Tardif, 1987). Selanjutnya karena kesimpulan-kesimpulan yang ditarik dari hasil studi kasus biasanya sulitdijadikan tolak ukur yang berlaku umum (digenerali-sasikan),studi tersebut sering diikuti dengan investigasi dan suvey lainyang berskala lebih besar. Tetapi, dalam hal subjek yang diteliti,studi kasus relatif sama dengan metode penyelidikan klinis yaknihanya terdiri atas seorang individu atau kelompok kecil individu.Fenomena dan peristiwa yang diselidiki dengan metode inilazimnya terus-menems diikuti perkembangannya selama kurunwaktu tertentu. Bahkan seorang peneliti psikologi pendidikanterkadang memerlukan waktu bertahun-tahun untukmenghimpun bahan-bahan berupa data dan informasi yangakurat, yang tepat dan cermat, mengenai seorang individu atausekelompok kecil individu. Studi kasus akan memerlukan waktuyang lebih lama lagi apabila dipakai untuk menyelidikifenomena genetika (karakteristik keturunan) yang dihubungkandengan aktivitas pendidikan. Dalam hal ini, studi biasanyadimulai sejak seorang anak berusia muda (balita umpamanya)hingga berusia tertentu (remaja misalnya) untuk mendapatkanpengertian yang tepat mengenai aspek-aspek perkembanganyang perlu diperhatikan demi kepentingan praktik kependidikanuntuk anak tersebut.
  31. 31. D. Metode penyelidikan klinisPada mulanya, metode penyelidikan klinis atau sebut sajametode klinis (clinical method) hanya digunakan oleh para ahlipsikologi klinis atau psikiater. Dalam metode ini terdapatprosedur diagnosis dan penggolongan penyakit kelainan jiwaserta cara-cara memberi perlakuan pemulihan (psychologicaltreatment) terhadap kelainan jiwa tersebut.Jean Piaget adalah yang mula-mula memanfaatkan metodepenyelidikan klinis tersebut untuk kepentingan pendidikan.Piaget telah sering menggunakan metode mi untukmengumpulkan data dengan cara yang unik yakni interaksi semualamiah, (quasi-natural) antara peneliti dengan anak yang diteliti(Reber, 1988).Dalam hal pelaksanaan penggunaannya, peneliti menyediakanbenda-benda dan memberi tugas-tugas serta pertanyaan-pertanyaan tertentu yang boleh diselesaikan oleh anak secarabebas menurut persepsi dan kehen-daknya. Kemudian, setelahdata dari hasil penyelidikan pertama diangkat dan diberiperlakuan khusus (misalnya dianalisis sekilas), peneliti me-ngajukan lagi pertanyaan atau tugas tambahan untuk mendukungdata yang terhimpun sebelumnya.Selanjutnya perlu dicatat bahwa metode penyelidikan klinis padaumumnya hanya diberlakukan untuk menyelidiki anak atau siswayang mengalami penyimpangan psikologis tak terkecualipenyimpangan perilaku (maladaptive behavior/misbehavior).Oleh karenanya, penggunaan sarana dan cara yang dikaitkandengan metode tersebut selalu memper-hatikan batas-bataskesanggupan siswa. Sama halnya dengan metode eksperimenyang dilakukan dalam laboratorium, metode klinis jugamementingkan intensitas dan ketelitian yang sungguh-sungguh.Sasaran yang akan dicapai oleh penelitian dengan penggunaanmetode klinis terutama untuk memastikan sebab-sebabtimbulnya ketidaknormalan perilaku seorang siswa atau
  32. 32. sekelompok kecil siswa. Kemudian, berdasar-kan kepastianfaktor penyebab itu penelitian berupaya memilih danmenentukan cara-cara yang tepat untuk mengatasi penyimpangantersebut.E. Metode observasi naturalistikMetode observasi naturalistik (naturalistic observation) adalahsejenis observasi yang dilakukan secara alamiah. Dalam hal ini,peneliti berada di luar objek yang diteliti atau ia tidakmenampakkan diri sebagai orang yang sedang melakukanpenelitian.Pada mulanya, observasi naturalistik lebih banyak digunakanoleh para ahli ilmu hewan (ethologist) untuk mempelajariperilaku hewan tertentu, misalnya perkembangan perilaku ikanjantan terhadap ikan betina (Lazerson, 1975). Kemudian, metodeobservasi naturalistik digunakan oleh psikolog sosial untukmeneliti peranan kepemimpinan dalam sebuah masyarakat atauuntuk meneliti sekelompok orang yang memerlukan terapi,(perawatan dan pemulihan) yang bersifat kemasyarakatan.Selanjutnya, metode ini juga digunakan oleh para psikologperkembangan, para psikolog kognitif, dan para psikologpendidikan.Dalam hal penggunaannya bagi kepentingan penelitian psikologpendidikan, seorang peneliti atau guru yang menjadi asistennyadapat mengaplikasikan metode observasi ilmiah itu lewatkegiatan pengajaran atau belajar-mengajar dalam kelas-kelasregular, yakni kelas tetap dan biasa, bukan kelas yang diadakansecara khusus. Selama proses belajar-mengajar berlangsung,jenis perilaku siswa yang diteliti (misalnya, kecepatannyamembaca) dicatat dalam lembar format observasi yang khususdirancang sesuai dengan data dan informasi yang akan dihimpun(lihat format observasi pada Bab 6 Subbab A sebagai contoh).D. Hakikat dan Hubungan Antara Pendidikan - Pengajaran
  33. 33. Berikut akan penyusun bahas pandangan para ahli psikologimengenai hakikat dan hubungan antara pendidikan danpengajaran. Selanjutnya sebagai bahan perbandingan kajian,pada bagian ini akan penyusun bahas pula mengenai keduaproses yang sangat penting dalam kehidupan manusia itu.Namun sebelum sampai pada pembahasan pokok terlebihdahulu, perlu penyusun uraikan aneka ragam arti pendidikan danpengajaran baik secara harfiah maupun secara istilah. Uraian inipenyusun anggap penting karena dapat berperan sebagai peretas,(perintis dan penembus) jalan ke arah pemahaman yang lebihmudah mengenai hakikat hubungan dan persa-maan antarapendidikan dan pengajaran yang sering diperdebatkan orang itu.1. Ragam Arti Pendidikan dan PengajaranAkar kata pendidikan adalah “didik” atau “mendidik” yangsecara harfiah artinya memelihara dan member! latihan.Sedangkan “pendidikan”, seperti yang pernah penyusunsinggung sebelum ini adalah tahapan-tahapan kegiatanmengubah sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok orangmelalui upaya pengajaran dan pelatihan.Dalam bahasa Arab, pendidikan disebut “tarbiyah” yang berartiproses persiapan dan pengasuhan manusia pada fase-fase awalkehidupannya yakni pada tahap perkembangan masa bayi dankanak-kanak (Jalal, 1988). Dalam sebuah Kamus Arab-InggrisModern disebutkan bahwa kata rabba, dan tarabbaba, dantambbabal walada memiliki arti yang sama yakni to fostet atau tobring up (Elias & Elias, 1982), artinya memelihara/mengasuhanak.Dalam bahasa Inggris, pendidikan disebut education yang katakerjanya to educate. Padanan kata ini adalah to civilize, todevelop, artinya memberi peradaban dan mengembangkan.Istilah education memiliki dua arti, yakni arti dari sudut orangyang menyelenggarakan pendidikan dan arti dari sudut orangyang dididik. Dari sudut pendidik, education berarti perbuatan
  34. 34. atau proses memberikan pengetahuan atau mengajarkanpengetahuan. Sedangkan dari sudut peserta didik, educationberarti proses atau perbuatan memperoleh pengetahuan.Sementara itu, Poerbakawatja & Harahap (1981), Poerwanto(1985), dan Winkel (1991) masing-masing mengartikanpendidikan dengan ungkapan yang maksudnya relatif samabahwa pendidikan adalah usaha yang disengaja dalam bentukperbuatan, bantuan, dan pimpinan orang dewasa kepada anak-anak agar mencapai kedewasaan. Tekanan mereka dalam hal iniialah bahwa pendidikan itu harus dilakukan oleh orang dewasa,sedangkan yang dididik harus orang yang belum dewasa (anak-anak).Adapun mengenai istilah “pengajaran” menurut Kamus BesarBahasa Indonesia (1991) berasal dari kata “ajar”, artinyapetunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut).Kata “mengajar” berarti memberi pelajaran. Contoh: “Guru itumengajar murid matematika.” Sedangkan kata “mengajarkan”berarti memberikan pelajaran. Contoh: Siapa yang mengajarkansejarah kepada murid-murid kelas VI?” Berdasarkan arti-arti ini,kemudian Kamus Besar Bahasa Indonesia itu mengartikanpengajaran sebagai “proses perbuatan, cara mengajar ataumengajarkan”.Selanjutnya, dalam bahasa Arab, pengajaran disebut “taklim”(terkadang ditulis “ta’lim”) yang berasal dari kata ‘allama, danpadanannya “hazzaba” (terkadang ditulis “hadzdzaba”). DalamKamus Arab-Inggris susunan Elias & Elias (1992), kata-katatersebut berarti: to educate; to train; to teach; to instruct, yaknimendidik, melatih, dan mengajar. Ungkapan kata ‘“allamaal-’ilma” berarti to teach atau to instruct (mengajar).Ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pengajaran disebutfannu al-taklim, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkandengan kata pedagogy dan pedagogics yang artinya ilmumengajar. Pedagogi dan pedagogik adalah dua kata yang sama
  35. 35. artinya yakni ilmu pengetahuan, seni, prinsip, dan perbuatanmengajar (Tardif, 1987; Reber, 1988; McLeod, 1989).Sedangkan orang yang mengaplikasikan pedagogi ataupedagogik tersebut dikenal dengan nama pedagog (pedagogue)yang berarti guru atau pendidik. Alhasil, perbedaan arti pedagogisebagai pendidikan dengan pedagogik sebagai ilmu pendidikanyang selama ini kita pahami itu, masih perlu dipertanyakankesahihannya.Selanjutnya, istilah pengajaran dalam bahasa Inggris disebutinstruction atau teaching. Akar kata instruction adalah to instruct,artinya to direct to do something; to teach to do something; tofurnish with information, yakni memberi pengarahan agarmelakukan sesuatu; mengajar agar melakukan sesuatu;memberi informasi. Istilah instruction (pengajaran) menurutReber (1988) berarti: pendidikan atau proses perbuatanmengajarkan pengetahuan.Sementara itu, Tardif (1987) memberi arti instruction secaralebih rinci yaitu: A preplanned, goal directed educational processdesigned to facilitate learning. Artinya, pengajaran adalah sebuahproses kependidikan yang sebelumnya direncanakan dandiarahkan untuk mencapai tujuan serta dirancang untukmempermudah belajar.2. Hakikat Hubungan Pendidikan dengan PengajaranPendidikan, menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989tentang Sistem ‘ Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1, adalahusaha sadar yang dilakukan untuk menyiapkan peserta didikmelalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan agarpeserta didik tersebut berperan dalam kehidupan masa depannya.Pengertian ini, secara implisit menafikan atau mengingkari/menampik kehadiran orang dewasa sebagai satu-satunya orangyang berhak menjadi penyelenggara pendidikan atau menjadiguru/pendidik sebagaimana yang dikehendaki para ahli yang
  36. 36. terkesan masih berpikiran tradisional itu.iKonsep “orang dewasa” sebagai pendidik dan pengajar dalamdunia pendidikan modern mi memang semakin kabur, apalagijika dikaitkan dengan pendidikan tinggi atau pendidikankedinasan. Para peserta didik dalam institusi-institusikependidikan tersebut dapat dikatakan terdiri atas orang-orangdewasa semua, bahkan sebagian di antaranya ada yang sudahberusia setengah baya. Dalam keadaan demikian, tak bolehkahorang yang masih muda (tetapi berkemampuan memadai)mendidik mereka yang pada umumnya lebih tua? Jawabnya,tentu saja tak ada masalah. Sebab, yang lebih dipentingkandalam dunia pendidikan dan pengajaran bukan soal usia,melainkan kemampuan psikologis yang memadai.Selama pendidik memiliki kemampuan psikologis kependidikanyang dapat dipertanggungjawabkan, meskipun usianya masihmuda atau mungkin jauh lebih muda daripada yang dididik, diatetap berhak untuk diakui sebagai pendidik. Pada zamansekarang ini, cukup banyak asisten dosen dan dosen yang brilianberusia muda apalagi di perguruan tinggi terkemuka di negara-negara maju. Mereka itu, walaupun relatif masih muda, bahkankonon ada yang belum genap 20 tahun, penguasaannya atasmateri dan metodologi sangat meyakinkan. Mereka bahkanmampu berpenampilan lebih dewasa daripada paramahasiswanya yang relatif berusia lebih tua.Tenaga pendidik yang tugas utamanya mengajar, baik gurumaupun dosen sebagaimana yang disyaratkan oleh undang-undang, tidak memer-lukan syarat usia. Kriteria yang membatasiusia tertentu untuk menjadi tenaga pengajar atau pendidik dalampsikologi pendidikan masa kini hampir tak pernah lagidisinggung-singgung. Tetapi hal ini tentu tidak berarti anak-anakatau remaja yang nyata-nyata tidak memenuhi syarat psikologisboleh menjadi pendidik atau guru.
  37. 37. Syarat psikologis yang lengkap, utuh, dan menyeluruh bagiseorang calon guru untuk setiap jenjang pendidikan meliputikompetensi profe-sionalisme keguruan, yakni kompetensi ranahcipta (kognitif); kompetensi ranah rasa (afektif); kompetensiranah karsa (psikomotor). Asal kompetensi profesionalismekeguruan ini terpenuhi, berapa pun usia guru tentu layak untukdiangkat menjadi guru (lihat tabel 14 halaman 238). Prinsip yangbersifat psikologis ini selain luwes dan menghargai potensianugerah Tuhan, juga tidak berlawanan dengan prinsipkonstitusional yang sama sekali tidak menetapkan usia tertentuuntuk diangkat menjadi pendidik.Selanjutnya pengertian pendidikan menurut UUSPN di atas jugamenafikan keharusan adanya anak-anak atau orang yang belumdewasa sebagai satu-satunya kelompok yang berhak memperolehpendidikan. Penafian ini jelas dapat dinilai tepat baik ditinjaudari sudut psikologi pendidikan maupun dari sudut kenyataanlapangan. Dari sudut kenyataan yang ada dan berkembang dalamtatanan dunia pendidikan modern sekarang, peserta didik bisasaja terdiri atas pelbagai kelompok usia mulai kanak-kanaksampai dewasa, bahkan kelompok yang mendekati lanjut usia.Ambillah contoh pendidikan kedinasan. Pendidikan kedinasanjelas bukan pendidikan anak-anak, melainkan untuk parapegawai atau para calon pegawai instansi pemerintah dalammeningkatkan kemampuan pelaksanaan tugas kedinasan mereka.Contoh lain misalnya pendidikan profesional. Jalur pendidikanini diarahkan pada kesiapan penerapan keahlian atau profesitertentu, yang kalau pesertanya anak-anak tentu tak mungkindapat mengikuti pendidikan tersebut.Alhasil, pendidikan pada hakikatnya seperti yang dinyatakanpara ahli psikologi dan pendidikan antara lain Chaplin (1972),Tardif (1987), dan Reber (1988), adalah pengembangan potensiatau kemampuan manusia secara menyeluruh yang
  38. 38. pelaksanaannya dilakukan dengan cara mengajarkan pelbagaipengetahuan dan kecakapan yang dibutuhkan oleh manusia itusendiri. Hakikat pendidikan yang dikemukan para ahli di atasternyata juga sama dengan persepsi para penyusun Kamus BesarBahasa Indonesia (1991). Dalam kamus ini, secara tegasdinyatakan bahwa pendidikan adalah tahapan pengubahan sikapdan tingkah laku manusia baik sebagai individu maupun sebagaikelompok melalui ikhtiar pengajaran dan pelatihan. Dalamperspektif psikologi, pelatihan sebenarnya masih berada dalamruang lingkup pengajaran. Artinya, pelatihan adalah salah satuunsur pelaksanaan proses pengajaran terutama dalam pengajaranketerampilan ranah karsa.Selain pengajaran dan pelatihan, dalam pendidikan jugadiperlukan adanya bimbingan sebagaimana tersebut dalamkutipan dari UUSPN di muka. Bimbingan, seperti juga latihan,adalah bagian penting dari pengajaran. Sebuah upaya pengajarantanpa bimbingan bukanlah pengajaran yang ideal karena akanberdampak terabaikannya penanggulangan kesulitan belajar danpelaksanaan remedial teaching yang secara psikologis didaktismerupakan salah satu keharusan bagi guru (lihat halaman 176).Berdasarkan uraian di atas, dan juga uraian mengenai ragam artipendidikan dan pengajaran, jelas sekarang betapa eratnya hakikathubungan antara pendidikan dengan pengajaran. Namun,benarkah pendidikan lebih utama daripada pengajaran? Dapatkahpendidikan berjalan tanpa pengajaran? Apakah penyelenggaraanpengajaran tidak berarti juga penyelenggaraan pendidikan?Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang sering mengusiksebagian besar mahasiswa psikologi pendidikan khususnya yangpenyusun kelola sendiri.Selain itu, ada pula beberapa macam persepsi sumbang yangmuncul di kalangan mahasiswa mengenai hakikat hubunganpendidikan dengan pengajaran, antara lain yang paling menonjolbahwa pendidikan itu:
  39. 39. 1) jauh berbeda dengan pengajaran;2) lebih penting daripada pengajaran;3) karena pengajaran hanya menanamkan pengetahuan ke dalamaspek kognitif (ranah cipta) dan s’edikit memberikanketerampilan psiko-motor, sedangkan aspek afektif (ranah rasa)tak pernah tersentuh.Persepsi-persepsi seperti di atas, tentu tidak akan ada dalam dirimahasiswa kalau bukan karena pengalaman belajar merekadan/atau karena kesaksian mereka terhadap kenyataan yangtampak di lapangan. Namun apa pun alasannya, mengubahpersepsi yang kurang selaras dengan prinsip-prinsip psikologipendidikan itu ternyata tidak gampang. Kesukaran yangpenyusun hadapi acapkali semakin parah ketika merekamenyatakan bahwa persepsi tersebut “pas benar” denganpenjelasan beberapa staf pengajar mata kuliah lain yang diantaranya ternyata lebih senior daripada penyusun.Apabila pendidikan dianggap jauh berbeda dengan pengajaranadalah persepsi yang keliru. Pengajaran boleh jadi tidak samapersis dengan pendidikan, tetapi tidak berarti di antara keduanyaterdapat jurang pemisah yang mengakibatkan timbulnyaperbedaan yang mencolok. Pendidikan boleh juga dipandanglebih utama daripada pengajaran dalam arti sebagai konsep ideal(sebagai landasan hukum). Namun, sulit dipercaya apabila adasebuah sistem pendidikan dapat berjalan tanpa pengajaran. Olehkarena itu, pengajaran dengan segala bentuk per-wujudannyaseyogianya dipandang sebagai konsep operasional yang berposisikurang lebih setara—kalau bukan persis—dengan pendidikansebagai konsep ideal. Alhasil, menurut hemat penyusun, hakikathubungan antara pendidikan dengan pengajaran itu kira-kiraibarat dua sisi mata uang logam yang satu sama lain salingmemerlukan.Selanjutnya, istilah pendidikan memang mengandung arti yangluas, yakni meliputi semua upaya menumbuhkembangkan
  40. 40. seluruh kemampuan ranah psikologis individu manusia yangterkadang dapat dilakukan dengan cara self-instruction(mengajar diri sendiri). Cara melaksanakan pendidikan disebutmendidik. Jadi, seorang guru yang sehari-harinya mengajaragama misalnya, ia dapat juga disebut sebagai pendidik agamaselain pengajar agama.Di pihak lain, jika orang tua berkehendak mendidik anaknyadalam bidang agama, maka ia tak akan terlepas dari upayapengajaran agama dengan cara dan kemampuannya sendiri.Dalam hal ini, pengajaran agama orang tua itu tentu tidak harusdilaksanakan dengan cara berceramah seperti guru kelas, tetapidengan memberi wejangan, teladan, dan bimbingan praktissesuai dengan ajaran agama yang diyakininya.Sebagai catatan penguat uraian mengenai peranan pengajaran,pe-nyusun utarakan sebuah asumsi bahwa dalam pelaksanaansehari-hari, proses pengajaran itu (taklim) sudah lebih dahulu adadan lebih universal daripada pendidikan (tarbiyah). Sebagaibukti, ketika Rasulullah Saw. mengajarkan Tilawatil Qurankepada para sahabatnya, beliau tidak membatasi sampai merekapandai membaca kitab suci secara fasili tetapi lebih jauh lagi,mereka diajari sampai pandai membaca Al-Qur’an denganrenungan, pemahaman, tanggung jawab, dan penanaman amanah(Jalal, 1988).Berdasarkan alasan-alasan di atas, nyatalah bahwa pengajaran itumemiliki signifikansi yang vital dalam proses pendidikan.Bahkan karena demikian pentingnya arti pengajaran (taklim)maka Al-Qur’an mengung-kapkan istilah ini berkali-kali, antaralain:1) dalam Al Baqarah: 31,Dan Allah telah ‘mengajarkan’ kepada Adam nama-nama(benda-benda) seluruhnya2) dalam Al Baqarah: 151,
  41. 41. Allah telah ‘mengajarkan’ kepada kamu apa yang belum kamuketahui.Kemudian, perhatikanlah Al Baqarah: 282, Al Kahfi: 65, dan AlRahman:2 dan 4.Sementara itu, kata “tarbiyah” (pendidikan) dalam Al-Qur’anhanya terdapat dalain:1) surat Bani Israil: 24 “dan ucapkanlah: ‘Ya Tuhan, kasihanilah mereka berduasebagaimana inereka telah ‘mendidik’ aku (rabbayani) waktukecil2) surat Asy Syu’ara: 18Fir’aun menjawab: ‘Bukankah kami telah ‘mengasuhmu’(nurabbika) di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dariumurmuKata “waktu kecil” (shaghiran) dan kata “kanak-kanak”(waUdan) dalam ayat-ayat di atas menunjukkan bahwapendidikan itu terutama merupakan kewajiban keluarga,khususnya ketika anak-anak dalam fase perkembangan awalyakni masa bayi dan kanak-kanak.Selanjutnya, untuk memperjelas hakikat hubungan antarapendidikan dengan pengajaran sebagaimana yang telah diuraikandi atas, berikut ini penyusun sajikan sebuah model. Dalam modelini tampak konsep-konse]:ideal (pendidikan) dan operasional (pengajaran) sama-samaberfungsi se-bagai alat pencetak sumber daya manusia (SDM)dan sama-sama bertujuar menciptakan SDM yang berkualitas.Bedanya, konsep operasional merupa kan penjabaran dari konsepideal, oleh karenanya pengajaran berhubungai langsung denganfungsi dan tujuan.Hakikat Hubungan Pendidikan dengan Pengajaran
  42. 42. - = hubunganlangsung- = hubungan tak langsung PSIKOLOGI PENDIDIKANRangkuman1. Psikologi ialah disiplin ilmu yang membahas perilakumanusia, baik sebagai individu maupun kelompok dalamhubungannya dengan lingkungan.2. Pendidikan ialah proses menumbuhkembangkan seluruhkemampuan dan perilaku manusia melalui pengajaran.3. Pendidikan merupakan konsep ideal, sedangkan pengajaranadalah konsep operasional, dan keduanya berhubungan eratibarat dua sisi koin yang tak mungkin terpisahkan.4. Psikologi pendidikan ialah disiplin psikologi yangberhubungan dengan masalah-masalah kependidikan.5. Psikologi pendidikan mencakup semua hal yang bersifatkependidikan terutama hal belajar, mengajar, dan belajar-mengajar6. Psikologi pendidikan memiliki objek riset dan kajian berupasiswa dan guru selaku peserta didik dan pendidik.7. Psikologi pendidikan mula-mula muncul di Jerman berkatkepeloporan Johann Friedrich Herbart (1766-1841), seorangfilosof dan psikolog yang namanya diabadikan sebagai aliranpemikiran kependidikan “Herbartianisme”.8. Psikologi pendidikan berkembang berkat pengaruh aliranpsikologi lain, di antaranya yang menonjol ialah aliranhumanisme, behaviorisme, dan psikologi kognitif.9. Manfaat psikologi pendidikan ialah untuk membantu paraguru dan calon guru dalam memahami proses dan masalahkependidikan serta mengatasi masalah tersebut dengan metodesaintifik psikologis.10. Prinsip, konsep, dan metode psikologi pendidikan merupakanlandasan berpikir dan bertindak bagi guru dalam mengelolaproses belajar-mengajar yang selaras dengan keadaan dankebutuhan siswa.
  43. 43. 11. Guru seyogianya memahami proses perkembangan dalamhubungannya dengan belajar, mengajar, dan proses belajar-mengajar; cara belajar siswa; cara menghubungkan mengajardengan belajar; cara mengambil keputusan untuk mengelolaPBM.

×