Buku ayam
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Buku ayam

on

  • 1,092 views

 

Statistics

Views

Total Views
1,092
Views on SlideShare
1,092
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
9
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Buku ayam Buku ayam Document Transcript

  • Saat ini umur Prof. S.M. Naquib al-Attas sudah menginjak 80 tahun. Beliaulahir di Bogor, tahun 1931. S.M. Naquib al-Attas adalah cucu seorang ulamabesar di Bogor, Abdullah bin Muhsin al-Attas, yang juga guru sejumlah ulamaterkenal di Jabodetabek, seperti KH Abdullah Syafii, dan sebagainya. Tapi, diusianya yang sudah sangat lanjut itu, Prof al-Attas masih berhasilmenerbitkan sebuah buku yang luar biasa, berjudul Historical Fact andFiction. Hingga kini, buku ini tampaknya merupakan puncak karya Naquib al-Attas tentang sejarah Melayu selama ini. Sama dengan buku Islam dalamSejarah Kebudayaan Melayu, seolah menegaskan pendapatnya selama ini,buku Historical Fact and Fiction ini pun bergambar sampul kaligrafi “ayamjago”, simbol awal kehidupan baru.Buku ini memang fantastis, melihat ketajaman analisis dan kekayaan referensiyang digunakannya. Melalui buku ini, al-Attas berhasil membalik berbagaipandangan umum tentang sejarah Islam dan Melayu yang sudah dianggapmapan, sebagaimana yang selama ini diteorikan oleh sejarawan lain.Al-Attas, misalnya, memperjelas kembali gambaran bagaimana keberhasilanpara pendakwah Islam (digunakan istilah “misionaris Islam”) dalammengangkat dan mengislamkan bahasa Melayu, sehingga berhasil menjadibahasa persatuan di wilayah Nusantara.Bahasa Melayu yang semula hanya digunakan oleh sebagian kecilmasyarakat Sumatra, kemudian diangkat, di-Islamisasi, dan digunakansebagai bahasa pengantar dalam dunia ilmiah di wilayah Nusantara ini.Karena itulah, simpul al-Attas, bahasa Melayu dan agama Islam,merupakandua faktor penting yang berjasa dalam upaya penciptaan semangatkebangsaan dan persatuan di wilayah Nusantara. (The spread of the new andvibrant Malay language and literature as a vehicle of Islam and knowledgepresently used by more than two hundred million people in the MalayArchipelago is one of the most important factors in the creation of nationhood,the other factor being the religion of Islam itself. Historians of the Archipelagohave never considered language as an important source material for the studyof history. hal. xvi).Analisis al-Attas itu menarik. Sebab, selama ini bangsa Indonesia sudahsangat akrab dengan satu “dogma” pelajaran sejarah, bahwa yang berjasabesar dalam penyatuan Nusantara adalah Kerajaan Hindu Majapahit,terutama di era pemerintahan Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Berbagai bukusejarah menulis, bahwa hanya pernah ada dua Kerajaan di Indonesia yangbersifat Nasional, yaitu Kerajaan Sriwijaya (Budha) dan Kerajaan Majapahit(Hindu). Islam belum pernah menyatukan Nusantara. Itulah informasi yangmudah kita jumpai di berbagai buku sejarah.Tokoh Kristen di Indonesia, TB Simatupang, pernah menulis bahwa Indonesiatidak pernah mengalami sebuah kerajaan Islam yang mencakup seluruhIndonesia, seperti di zaman Mogul di India. Menurutnya, Kerajaan Sriwijaya
  • yang Budha dan Majapahit yang Hindu, pernah mempersatukan sebagianbesar wilayah Nusantara.“Tetapi tidak pernah ada jaman Islam dalam arti kerajaan yang mencakupseluruh negeri,” tulis TB Simatupang. Begitulah, lanjutnya, dalam arti tertentu,yang menggantikan Majapahit adalah pemerintahan kolonial Belanda danyang menggantikan yang terakhir tersebut adalah pemerintahan RepublikIndonesia. (Lihat, T.B. Simatupang, Iman Kristen dan Pancasila, (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1997). hal. 11).Pendeta Dr. Eka Darmaputera, balam bukunya, mengakui, dibandingkandengan kebudayaan asli dan Hindu, Islam jauh lebih berhasil menanamkanpengaruhnya pada seluruh lapisan masyarakat. Ia berhasil mencapai rakyatbiasa dan menjadi agama dari mayoritas penduduk Indonesia. “Namundemikian, ia tidak menciptakan suatu peradaban baru. Sebaliknya, dalam artitertentu, ia harus menyesuaikan diri dengan peradaban yang telah ada,” tulisEka Darmaputera. (Lihat, Eka Darmaputera, Pancasila: Identitas danModernitas, (Jakarta: Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia, 1997), hal. 34).Doktrin tentang “penyatuan Nusantara” oleh Kerajaan Budha dan Hinduseperti itulah yang selama ini diajarkan di sekolah-sekolah, bahkankadangkala juga di berbagai pondok pesantren, melalui pengajaran Sejarah.Kita pernah mengungkap contoh, sebuah buku Sejarah untuk SMA Kelas X,(Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), yang menulis, bahwa saat pelantikannyasebagai Patih Amangkubhumi Majapahit, Gajah Mada mengucapkansumpahnya yang terkenal dengan nama Sumpah Palapa (Tan Amukti Palapa)yang menyatakan bahwa Gajah Mada tidak akan hidup mewah sebelumNusantara berhasil disatukan di bawah Panji Kerajaan Majapahit.Ditulis: “Bahkan Kerajaan Majapahit dapat disebut sebagai kerajaan nasionalsetelah Kerajaan Sriwijaya. Selama hidupnya, Patih Gajah Mada menjalankanpolitik persatuan Nusantara. Cita-citanya dijalankan dengan begitu tegas,sehingga menimbulkan Peristiwa Sunda yang terjadi tahun 1351 M.” (hal. 48).Jadi, disimpulkan, bahwa Indonesia pernah jaya dan hebat di zaman Hindu.Kemudian, dikatakan, datanglah Islam, yakni Kerajaan Demak di bawahkepemimpinan Raden Patah, untuk menghancurkan kejayaan Indonesia itu.Jadi, Islam datang untuk menghancurkan kejayaan Indonesia. Logikanya,kalau mau mengalami kejayaan, Islam harus disingkirkan dari simbol-simboldan lambang kenegaraan. Kembalilah ke Majapahit! Kembalilah ke Hindu, jikaingin meraih kejayaan! Islam ditempatkan sebagai “musuh persatuan”.Raden Patah digambarkan sebagai penghancur prestasi Gajah Mada yangberhasil menyatukan Nusantara! Itulah yang ditulis oleh Buya Hamka dalamTafsir al-Azhar, bahwa bangsa Indonesia selama ini dididik untuk menjauhkannasionalisme dengan Islam dan hendaklah bangsa ini lebih mkencintai GajahMada ketimbang Raden Patah. “Diajarkan secara halus apa yang dinamai
  • Nasionalisme, dan hendaklah Nasionalisme diputuskan dengan Islam. Sebabitu bangsa Indonesia hendaklah lebih mencintai Gajah Mada daripada RadenPatah.” (Lihat, Hamka, Tafsir al-Azhar -- Juzu’ VI, (Jakarta: Pustaka Panjimas,1984), hal. 300.)Cobalah tanyakan kepada siswa atau anak-anak kita, apakah mereka lebihkenal dan kagum pada Gajah Mada atau Raden Patah? Sekitar 50 tahun lalu,Buya Hamka sudah menulis dalam Tafsir al-Azhar-nya tentang fenomenapendidikan sejarah di Indonesia tersebut! Bagaimana agar anak-anak kitalebih mengenal dan mencintai Gajah Mada ketimbang Raden Patah, SultanAgung, dan sebagainya!Pada 29 Oktober 2011 lalu, kepada sekitar 1.000 mahasiswa pesertaSarasehan Nasional Lembaga Dakwah Kampus (LDK) di Universitas GajahMada, Yogyakarta, saya tanyakan, mengapa kampus besar ini diberi nama“Universitas Gajah Mada” dan bukan “Universitas Sultan Agung”. Padahal,Raja Mataram Yogya tersebut memiliki prestasi besar dalam mengusirPenjajah Portugis dari Batavia! Kita bukan ingin mengecilkan Gajah Mada.Tetapi, sebagai Muslim, kita diajarkan untuk bersikap adil dan beradab,mampu memandang dan menempatkan segala sesuatu sesuai dengan harkatdan martabat yang ditentukan Allah SWT.Karena opini tentang kehebatan Majapahit tersebut sudah begitu dominan,bisa dimaklumi, bahwa sebagian kaum Hindu di Indonesia berpikir, bahwabangsa ini harus kembali menjadi Hindu, bila ingin menjadi bangsa besar.Majalah Media Hindu (edisi Oktober 2011), menurunkan laporan utamaberjudul: “KEMBALI KE HINDU, BILA INDONESIA INGIN BERJAYAKEMBALI SEPERTI MAJAPAHIT”. Menurut majalah ini, agama Islamdianggap sebagai agama yang menggusur nilai-nilai budaya bangsa,sehingga menghambat kemajuan Indonesia. “Namun atas dasar pendapattersebut di atas, mustahil suatu bangsa menjadi maju apabila meyoritasrakyatnya masih menganut agama yang faktanya menggusur budaya dannilai-nilai luhur bangsa.” Lalu, disimpulkan oleh Media Hindu: “Kembalimenjadi Hindu adalah mutlak perlu bagi bangsa Indonesia apabila inginmenjadi Negara Adidaya ke depan, karena hanya Hindu satu-satunya agamayang dapat memelihara & mengembangkan Jatidiri bangsa sebagai modaldasar untuk menjadi negara maju.”Prof. Hamka pernah menulis sebuah artikel berjudul “Islam dan Majapahit”,yang dimuat dalam buku Dari Perbendaharaan Lama (Jakarta: PustakaPanjimas, 1982). Hamka menulis: “Marilah kita jadikan saja segala kejadianitu, menjadi kekayaan sejarah kita, dan jangan dicoba memutar balikkeadaan, agar kokohkan kesatuan bangsa Indonesia, di bawah lambaianMerah Putih! Kalau tuan membusungkan dada menyebut Gajah Mada, makaorang di Sriwijaya akan berkata bahwa yang mendirikan Candi Borobudur ituialah seorang Raja Budha dari Sumatra yang pernah menduduki pulau
  • Jawa… Kalau tuan membanggakan Majapahit, maka orang Melayu akanmembuka Sitambo lamanya pula, menyatakan bahwa Hang Tuah pernahmengamuk dalam kraton sang Prabu Majapahit dan tidak ada kstaria Jawayang berani menangkapnya. Memang, di zaman jahiliyah kita bermusuhan,kita berdendam, kita tidak bersatu! Islam kemudiannya adalah sebagaipenanam pertama jiwa persatuan. Dan Kompeni Belanda kembali memakaialat perpecahannya, untuk menguatkan kekuasaannya.”Begitulah imbauan Buya Hamka. Penyesalan dan dendam tentangpengislaman Nusantara seyogyanya tidak perlu dipelihara. Apalagi, kemudianmengikuti kemauan dan skenario penjajah untuk mengerdilkan peran Islamdan memposisikan Islam sebagai agama yang “anti-budaya bangsa”, sebabbudaya bangsa sudah dipersepsikan identik dengan ke-Hindu-an atau ke-Budha-an. Hukum adat dan warisan kolonial dianggap sebagai pemersatu,sebaliknya syariat Islam diposisikan sebagai pemecah belah bangsa. Kini,sebagian kalangan, masih saja berpikir, bahwa Islam bukanlah jatidiri bangsaIndonesia. Islam tidak bersifat universal. Islam hanya untuk orang Islam. Yangbersifat universal adalah nilai-nilai sekular di luar agama.Upaya untuk menjauhkan Islam dari kaum Muslim akan berujung kepadapengerdilan bangsa Indonesia sendiri. Itulah teori kaum orientalis,sebagaimana pernah ditulis oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas:“Banyak sarjana yang telah memperkatakan bahwa Islam itu tidak meresap kedalam struktur masyarakat Melayu-Indonesia; hanya sedikit jejaknya di atasjasad Melayu, laksana pelitur di atas kayu, yang andaikan dikorek sedikit akanterkupas menonjolkan kehinduannya, kebudhaannya, dan animismenya.(Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dalam Sejarah dan KebudayaanMelayu, (Bandung: Mizan, 1990, cet. Ke-4), hal. 41.)Jika nilai-nilai Islam disingkirkan, dan “nilai-nilai di luar Islam” ditempatkansebagai jati diri dan simbol-simbol kebangsaan Indonesia, maka MuslimIndonesia didorong untuk tidak memiliki perasaan memiliki terhadap negeri ini.Padahal, mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim. Itulah yang –misalnya – selama ini terjadi dalam kasus Pancasila. Banyak kaum Muslimtidak merasa memiliki Pancasila karena Pancasila diajarkan di sekolah-sekolah dalam perspektif sekular untuk menggantikan Islam.Tuhan Yang Maha Esa dalam Pancasila (dan Pembukaan UUD 1945) jelas-jelas bernama Allah SWT, dikaburkan makna dan nama-Nya, menjadi “Tuhanapa pun”. Padahal, Allah SWT adalah Tuhan kaum Muslim. Satu-satu-Nyakitab suci di Indonesia yang sejak awal hingga kini memuat nama Tuhanbernama Allah, hanya al-Quran. Kaum Kristen di Indonesia kemudianmeminjam kata Allah itu untuk menyebut Tuhan mereka dengan Allah. Tetapi,Allah yang disebut kaum Kristen memiliki sifat yang sangat berbeda denganAllah-nya orang Islam. Sebab, Allah dalam al-Quran tidak pernah mengangkatmanusia menjadi Tuhan. Jadi, Tuhan yang resmi disebut nama-Nya dalam
  • Kosntitusi UUD 1945 adalah Allah SWT.Guru besar Ilmu hukum Universitas Indonesia, Prof. Hazairin (alm.), dalambukunya, Demokrasi Pancasila, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990, cet.ke-6),menulis: “bahwa yang dimaksud dengan Tuhan Yang Maha Esa itu ialahAllah, dengan konsekuensi (akibat mutlak) bahwa “Ketuhanan Yang MahaEsa” berarti “Kekuasaan Allah” atau “Kedaulatan Allah”. (hal. 31). “Negara RI,wajib menjalankan syariat Islam bagi orang Islam, syariat Nasrani bagi orangNasrani dan syariat Hindu Bali bagi orang Bali, sekedar menjalankan syariattersebut memerlukan perantaraan kekuasaan Negara.” (hal. 34).Penafsiran Pancasila seperti Prof. Hazairin tersebut sejalan dengan uraianProf. al-Attas dalam kajiannya tentang sejarah Islam di wilayah Melayu, yangmenempatkan Islam sebagai factor penting dalam perjalanan sejarah bangsaini. Kedatangan Islam-lah yang telah memberikan makna yang sangat tinggibagi Melayu di wilayah Nusantara ini. “Together with the historical factor, thereligious and language factors began setting in motion the process towards anational consciousness. It is the logical conclusion of this process that createdthe evolution of the greater part of the Archipelago into the modern Indonesiannation with Malay as its national language… The coming of Islam constitutedthe inauguration of a new period in the history of the Malay-IndonesianArchipelago” (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism,(Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), hal. 178)Sejarah menunjukkan, penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasaPersatuan sempat ditolak oleh kaum Kristen. J.D. Wolterbeek dalam bukunya,Babad Zending di Pulau Jawa, mengatakan: “Bahasa Melayu yang erathubungannya dengan Islam merupakan suatu bahaya besar untuk orangKristen Jawa yang mencintai Tuhannya dan juga bangsanya.” Senada denganini, tokoh Yesuit Frans van Lith (m. 1926) menyatakan: “Melayu tidak pernahbisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-sekolah, tetapihanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi bahasapertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasapertama di Nusantara. (Seperti dikutip oleh Karel A. Steenbrink, dalambukunya, Orang-Orang Katolik di Indonesia. Lihat juga buku Van Lith,Pembuka Pendidikan Guru di Jawa, Sejarah 150 th Serikat Jesus di Indonesia(2009).Salah satu kesimpulan penting dari buku Historical Fact and Fiction adalah,bahwasanya penyebaran Islam di Nusantara ini utamanya bukan dilakukanoleh pedagang, tarekat sufi, atau kaum Syiah, secara sambilan atau asal-asalan. Dengan bukti-bukti yang kuat dari karya para penulis Muslim klasik,sumber-cumber China dan Eropa, al-Attas sampai pada kesimpulan bahwaIslamisasi di Nusantara ini dilakukan dengan cara yang sistematis, terencana,konsisten, dan dilakukan oleh para misionaris Islam yang hebat. Islamisasi diwilayah seluas ini bukanlah pekerjaan sambilan dan asal-asalan: “the spreadof Islam by these Arab missionaries in the Malay world was not a haphazard
  • matter, a disorganized sporadic affair … It was a gradual process, but it wasplanned and organized and executed in accordance with timelines andsituation.” (hal. 32).Buku Historical Fact and Fiction ini diakui oleh Prof. Wan Mohd Nor WanDaud sebagai salah satu karya besar dari al-Attas. Dengan karya ini, menurutProf Wan Mohd Nor, al-Attas pantas disebut sebagai salah satu ahli falsafahsejarah di dunia Islam. Tokoh lain adalah Almarhum Malek Bennabi dariAljazair (m. 1973). “Buku terbaru SMN al-Attas, Historical Fact and Fiction(HFF), meneguhkan kembali kepeloporan dan kependekaran beliau dalammasalah sejarah, khususnya sejarah di alam Melayu, yang dipeganginyaselama lebih 40 tahun secara penuh istiqamah,” tulis Prof. Wan Mohd Nor(Republika, 20 Oktober 2011).Melalui buku terbarunya, Prof. Naquib al-Attas kembali menegaskan bahwajati diri bangsa Melayu-Indonesia sejatinya adalah Muslim. Mereka adalahbangsa Muslim. Identitas dan jati diri Melayu-Islam itu seharusnyadimanfaatkan oleh bangsa Melayu-Indonesia untuk membangun negerimereka secara sungguh-sungguh sehingga mampu tampil sebagai salah satuperadaban yang kuat di muka bumi. Wallahu a’lam bil-shawab.*/Jakarta, 8zulhijjah 1432/4 November 2011