Your SlideShare is downloading. ×
  • Like
Kecerdasan nurani dan spiritual
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Now you can save presentations on your phone or tablet

Available for both IPhone and Android

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

Kecerdasan nurani dan spiritual

  • 1,340 views
Published

 

Published in Spiritual
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
1,340
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
59
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. KECERDASAN NURANI DAN SPIRITUAL Oleh M. Shobrie H.W., SE, CPHR, CPTr.
  • 2. Kecerdasan Nurani dan Spiritual KECERDASAN NURANI DAN SPIRITUAL Di dalam diri setiap manusia selalu ada suara hati yang yang ingin menyeimbangkan antara kepentingan dunia dengan kepentingan akhirat karena suara hati datang dari Allah secara given (sudah ada sejak awal). Suara hati itu tentunya timbul dari hati nurani manusia yang paling dalam yang berperan sebagai fitrah manusia itu sendiri. Hati nurani selalu ingin menyeimbangkan antara spiritualisme dengan materialisme, dan antara faktor insaniyah (kemanusiaan) dengan faktor illahiyah (ketuhanan). Selama ini orang biasanya hanya mengenal berbagai jenis kecerdasan konvensional yang sudah ada, yang di antaranya adalah : kecerdasan intelegensi (IQ), kecerdasan emosi (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ), sementara kecerdasan daya juang (AQ) belum banyak diketahui orang. Begitu juga dengan kecerdasan nurani (Qolb Quotient - QQ), masih sangat sedikit sekali orang yang mengenalnya apalagi memahaminya. Padahal, kecerdasan nurani ini adalah kecerdasan yang sama tuanya dengan kecerdasan intelegensi (IQ). Kecerdasan nurani (QQ) telah dianugerahkan Allah kepada manusia sejak pertama kali manusia berada dalam kandungan ibu, yang disebut dengan af-idah. Af-idah ini adalah kecerdasan yang berpasangan antara IQ (akal) dan QQ (budi), oleh karena itu sering disebut dengan akal-budi. Budi itulah sebenarnya yang disebut dengan hati nurani. Hati nurani ini merupakan salah satu unsur paling utama dari fitrah diri manusia. Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 1
  • 3. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Perhatikan Gambar berikut ini : Kecerdasan Nurani (QQ) adalah sesuai dengan prinsipprinsip keseimbangan di antara : Manusia dengan manusia (hablum minan naas), Manusia dengan lingkungannya (hablum minal makhluq), dan Manusia dengan Tuhannya (hablum minallah). Orientasi hubungan antar manusia (hablum minan naas) bersifat horisontal, begitu juga orientasi hubungan manusia dengan lingkungannya (hablum minal makhluq). Sedangkan orientasi hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah) bersifat vertikal, yakni hubungan antara manusia sebagai makhluq (inferior) dan Allah sebagai kholiqnya (superior). Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 2
  • 4. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Mekanisme hubungan antara manusia dengan lingkungannya (hablum minal makhluq) adalah dengan menggerakkan segenap kecerdasan konvensional (IQ, EQ, dan AQ) bersama dengan kecerdasan nurani (QQ) sebagai inisiator dan mediatornya. Kecerdasan nurani inilah yang sepatutnya meng-inisiasi, mengatur dan menggerakkan IQ, EQ, dan AQ sebelum ketiga kecerdasan ini bergerak, yakni dalam hal hubungan antar manusia dan hubungan antar makhluq. Sedangkan dalam hubungan antar manusia dengan Allah (hablum minallah) peran QQ adalah sebagai inisiator dan sekaligus sebagai trigger (pemicu) bagi kecerdasan spiritual (SQ) untuk mulai bergerak. Oleh sebab itu, kecerdasan nurani yang dapat berfungsi dengan baik secara otomatis juga akan meningkatkan kecerdasan spiritual seseorang. Kecerdasan spiritual ini merupakan kecerdasan yang “berkedudukan paling tinggi” sesudah kecerdasan hati nurani, karena hanya dengan kecerdasan spiritual-lah seseorang akan mampu memahami dan menangkap sinyalsinyal Ilahiyah yang maujud (ada tetapi tak nampak) dengan hati nuraninya, bukan dengan panca inderanya. Kecerdasan spiritual juga bersifat transendental dan hollistik sedangkan kecerdasan nurani bersifat inherent (bawaan sejak lahir) sebagai fitrah manusia. Kecerdasan nurani yang pada gambar di atas letak posisinya berada di tengah-tengah (pusat) “segitiga sama sisi” menunjukkan bahwa ia mempunyai kedudukan (posisi) penting dan strategis sebagai inisiator, mediator dan bahkan sebagai pemicu (trigger) untuk menggerakkan kecerdasan-kecerdasan lainnya yakni : IQ, EQ, AQ, dan SQ yang terdapat pada diri setiap manusia. Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 3
  • 5. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Oleh karena (pada gambar) posisi SQ berada paling atas dan paling dekat dengan “posisi” Allah sebagai kholiq, maka SQ mampu memaksimalkan probabilitas ketercapaian keinginan manusia lewat doa-doa yang dipanjatkan, berkat campur tangan Tuhan (Allah SWT) dalam hidup. SQ juga merupakan sarana bagi manusia untuk mencapai Keridhoan Allah (Mardhotillah). SQ mampu menimbulkan hal-hal positif seperti : ketenangan jiwa, ketentraman bathin, perasaan relaksasi yang mendalam, bahkan suatu keadaan perasaan kenyamanan bathin yang tiada tara pada sebagian orang yang tingkat spiritualnya sudah sangat tinggi seperti : Para Nabi, Thabi’in, Wali, Ulama’ serta orang-orang Sholeh. Sudut-sudut segitiga sama sisi tersebut yang besarnya sama 60o antara IQ+EQ+AQ dengan SQ adalah menunjukkan “keharusan diterapkannya skala prioritas yang sama” antara kepentingan duniawi (yang tercermin dalam IQ, EQ, dan AQ) dan kepentingan ukhrowi (yang tercermin dalam SQ), disinilah tercapainya suatu keselarasan dan kesetimbangan (tawazun) atau “balance” dalam kehidupan. Mengenai Hati ini Rasulullah SAW pernah bersabda : “Ketahuilah bahwasannya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, yang mana jika ia baik maka akan baik pulalah tubuh itu, dan jika ia rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuh itu. Segumpal daging itu ialah Hati”. (H.R. Bukhari & Muslim) Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 4
  • 6. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Dan Firman Allah SWT : “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan HATI, semuanya itu akan dimintakan pertanggung-jawabannya” (Q.S. Al-Isra’: 36) Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Para Ilmuwan di seluruh dunia mengenai Brain Hemisphere (Belahan Otak pada Manusia), maka telah ditemukan, diketahui dan disepakati bahwasannya pada Otak Kiri manusia terletak Rational Intelligence (kecerdasan rasio), sedangkan pada Otak Kanan manusia terdapat Emotional Intelligence (kecerdasan emosi). Begitu pula setelah Penulis mempelajari dari berbagai literatur kajian mengenai Hati Nurani dari Para Ilmuwan dan Pakar Manajemen Qolbu, baik lokal maupun internasional maka Penulis mendapati bahwasannya perbandingan antara Hati Nurani (Hati) dengan Akal (Otak) pada Manusia dapatlah ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut : “Left Brain is working on The System, while Right Brain is working in The System, but Only HEART is working in The Entire of The System of Our Life” (Otak Kiri manusia bekerjanya di atas sistem, sedangkan Otak Kanan bekerjanya di dalam sistem, namun hanya HATI yang berkerja pada seluruh sistem di dalam sistem kehidupan manusia) Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 5
  • 7. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Berikut ini adalah beberapa lagi kutipan Firman Allah, Hadits Nabi, maupun Para Pakar berkaitan dengan Hati Nurani : “Bencana besarlah bagi mereka yang HATI nya telah mengeras”. (Q.S. Az-Zumar : 22) “Dan janganlah kamu seperti orang-orang Ahlul Kitab sebelum kamu yang diturunkan Kitab kepadanya kemudian berlalulah waktu yang panjang kepada mereka, lalu hati mereka menjadi keras”. (Q.S. Al-Hadid: 16) “Sesungguhnya Langit dan Bumi tak dapat Menjangkau KU, tapi AKU dapat dijangkau oleh HATI Orang yang Beriman”. (Hadits Qudsi) “Wahai Washibah, Mintalah Nasehat (fatwa) pada HATI mu !”. (H.R. Ahmad) “Janganlah terlalu banyak tertawa karena terlalu banyak tertawa akan mengeraskan HATI !”. (Al-Hadits) “Pleasure without CONSCIENCE is A Deadly Sin”. (Kesenangan tanpa HATI NURANI adalah Dosa yang amat Fatal). (Mahatma Gandhi) “Seringkali Hatimu mengetahui sesuatu jauh sebelum Pikiranmu !”. (Polly Adler) “Management is Tangible, Leadership is Intangible, but only CONSCIENCE is Feelable !”. (Manajemen kasat mata, Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 6
  • 8. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Kepemimpinan tak kasat mata, tetapi hanya HATI NURANI yang dapat Anda rasakan !). (Hard-Hi Smart Consulting) “The Balance between The Left and The Right Brain lies at The HEART”. (Keseimbangan antara Otak Kiri dan Otak Kanan adalah terletak pada HATI). (Hard-Hi Smart Consulting) “Manage from the Left Brain, Lead from the Right Brain, but Command and Execute only from the HEART !”. (Menatalah dari Otak Kiri, Memimpinlah dari Otak Kanan, namun Memerintah dan Melaksanakan dengan baik hanyalah dimungkinkan melalui HATI). (Hard-Hi Smart Consulting) Menurut Kitab terkenal Al-Maraghi bahwasannya Hati merupakan salah satu Hidayah (petunjuk) yang Allah berikan kepada manusia. Ada 5 (lima) macam Hidayah yang Allah berikan kepada Manusia bersama dengan Hati, yaitu : 1). Ghorizah (naluri/insting) 2). Hawasi (indera) 3). „Aqli (akal) 4). Qolbi (hati) 5). Diin (agama) 6). Taufiq (pertolongan Allah yang menggerakkan hati manusia untuk berbuat kebajikan) Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 7
  • 9. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Manusia yang memiliki Kecerdasan Nurani (QQ) dan Kecerdasan Spiritual (SQ) akan selalu berusaha keras untuk mecapai hal-hal berikut ini : 1). Hati yang Bersih. 2). Jujur dan Ber-Akhlaq Mulia. 3). Taat kepada Allah dan Rasul-Nya. 4). Memperbanyak Ilmu yang Bermanfaat. 5). Bersabar terhadap Ujian dan Cobaan. 6). Memiliki Jiwa yang Tenang dan Ikhlas. 7). Menjadi Manusia Pewaris Syurga Firdaus. 8). Menjauhkan Diri dari Dosa-dosa yang Fatal. 9). Menjauhkan Diri dari Sifat-sifat orang Munafiq. 10). Menerapkan Strategi Hidup yang Baik dan Benar. Kesepuluh hal tersebut akan penulis bahas satu per-satu dengan lebih rinci agar pemahaman para pembaca lebih komprehensif dan lebih mendalam atas hal-hal yang ingin dibahas pada bagian ini. 1. HATI YANG BERSIH Sebagai manusia yang dikatakan memiliki Kecerdasan Hati Nurani dan Kecerdasan Spiritual maka kita harus berusaha agar Hati kita mencapai status “Qolbun Salim”, yakni hati yang bersih dari segala macam penyakit hati, baik yang kecil maupun yang besar, apalagi yang dahsyat. Mengapa kita harus mencapai Hati yang Qolbun Salim ? Bila Hati kita termasuk ke dalam “Qolbun Maridh“ (Hati yang Berpenyakit), apalagi bila termasuk ke dalam “Qolbun Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 8
  • 10. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Mayyit” (Hati yang Mati/Beku) maka pemiliknya juga akan tergolong orang-orang yang dikategorikan oleh Allah SWT sebagai “Pembuat Kerusakan di muka Bumi (Mufsidin)”. Adapun jenis-jenis penyakit hati ini berdasarkan tingkat kronisnya diklasifikasikan sebagai berikut :  Ringan : iri, riya‟, ujub, sum‟ah, ghibah.  Berat : sombong, dengki, hasad, menentang Allah.  Dahsyat : mempersekutukan Allah (syirik). Penyakit-penyakit hati yang ringan dan berat tersebut akan menghapus pahala-pahala amal ibadah yang telah kita kerjakan laksana air hujan mengguyur bumi (bersih tanpa sisa). Sedangkan penyakit hati yang paling berat (dahsyat) merupakan Dosa yang Teramat Besar yang akan menyebabkan para pelakunya dilemparkan oleh Allah SWT ke dalam Api Neraka dengan kekal di dalamnya selamalamanya. Na‟udzubillaahi Min Dzalik… Bahaya Syirik itu sendiri telah dijelaskan oleh Allah SWT dengan Firman-Nya di dalam Al-Qur’an, di antara FirmanNya adalah sebagai berikut : 1). Syirik adalah Dosa yang Amat Besar : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah (syirik) maka sesungguhnya ia telah berbuat dosa yang teramat besar”. (Q.S. An-Nisa’: 48) Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 9
  • 11. Kecerdasan Nurani dan Spiritual 2). Syirik adalah Kesesatan yang Amat Jauh : “Barangsiapa yang mempersekutukan Allah (syirik) maka sesungguhnya ia telah tersesat dengan kesesatan yang teramat jauhnya”. (Q.S. An-Nisa’: 116) 3). Syirik adalah Kejahatan yang Amat Dahsyat : “Janganlah kamu mempersekutukan Allah (syirik), sesungguhnya mempersekutukan Allah itu adalah kejahatan yang sangat teramat dahsyat”. (Q.S. Luqman : 13) Kita mungkin semua sudah tahu bahwa sebenarnya Iblis adalah makhluq Allah yang paling ta’at dan berbakti kepada Allah SWT sebelum ia diperintahkan untuk bersujud kepada Adam. Namun karena Iblis mempunyai penyakit hati, maka Allah mengkategorikan Iblis tersesat dan termasuk ke dalam golongan yang Kafir, sebagaimana yang telah dijelaskan AlQur’an tentang Hukuman Allah terhadap Iblis tersebut. Marilah kita lihat penyakit-penyakit hati apa sajakah yang menghinggapi Iblis sehingga ia dikategorikan oleh Allah sebagai golongan yang Kafir : 1). Membangkang, Sombong / Arogan / Takabbur : “Dan ketika Kami katakan kepada Para Malaikat : „Sujudlah kalian kepada Adam‟, maka bersujudlah mereka (para malaikat) kecuali Iblis, ia Enggan (=membangkang) Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 10
  • 12. Kecerdasan Nurani dan Spiritual dan Takabbur (=sombong / arogan), maka ia termasuk golongan yang Kafir”. (Q.S. Al-Baqarah : 34) 2). Merasa Diri lebih Hebat : “Allah berfirman (kepada Iblis) : „Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?‟. Berkatalah Iblis : „Aku lebih baik daripada dia, Engkau ciptakan aku dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah‟“. (Q.S. Al-A’raf : 12) 3). Iri, Dengki, Dendam Kesumat dan Hasad : “Iblis berkata : „Karena Engkau telah menghukumiku tersesat maka aku akan benar-benar menghalang-halangi mereka (manusia) dari Jalan Engkau yang lurus“. (Q.S. Al-A’raf : 16) Lalu perhatikan pula kutipan Hadits Nabi SAW tentang Hati di bawah ini : “Wahai Washibah, tanyalah pada Hatimu ! Mintalah pendapat pada Hatimu !”. (Kalimat itu diucapkan Nabi sebanyak 3x) Lalu Rasulullah melanjutkan Sabdanya : “Kebaikan adalah sesuatu yang Hati merasa tenang ketika mengerjakannya, dan Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 11
  • 13. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Dosa adalah sesuatu yang membuat perasaan gelisah (tidak tenteram) dan Hati ragu ketika melakukannya, meskipun semua orang sepakat mengatakan bahwa yang engkau lakukan itu adalah baik dan benar”. (H.R. Ahmad) Jadi dengan demikian dapat disimpulkan bahwasannya bila Hati kita merasa tenang dan mantap dalam melakukannya maka tandanya perbuatan itu benar dan halal untuk dilakukan. Tetapi bila Hati kita merasa ragu-ragu (atau bahkan menentangnya) maka tandanya perbuatan itu adalah salah (tidak dibenarkan oleh Allah) dan haram serta berdosa bila kita tetap meakukannya. Agar Hati kita senantiasa tenteram dan damai maka jalan satu-satunya bagi kita adalah dengan memperbanyak Dzikirullah (mengingat Allah) baik di kala susah maupun senang, dan di kala sempit maupun lapang, karena hanya dengan berdzikirlah Hati kita menjadi tenang, sebagaimana yang dijanjikan Allah SWT dalam Surat Ar-Ra’d ayat 28 : “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah (Dzikir) sajalah yang membuat Hatimu menjadi tenang dan tenteram”. Allah SWT menghendaki kita untuk senantiasa menjadi orang yang “Mufariddun”, yakni orang yang selalu mengingat Allah SWT di manapun, kapanpun dan di manapun kita berada dan dalam keadaan apapun. Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Qur’an surat AlAhzab ayat 41-42 : Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 12
  • 14. Kecerdasan Nurani dan Spiritual "Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan Dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepadaNya setiap pagi dan petang". Kemudian Rasulullah SAW juga bersabda di dalam Hadits Beliau sebagai berikut : "Maukah aku beritahukan kepada kalian amalan yang paling baik dan paling suci di mata Raja (=Allah) kalian, dan lebih baik daripada menginfakkan emas dan uang serta lebih baik daripada berperang di Jalan Allah? Yaitu, Dzikir kepada Allah". Lebih lanjut di dalam Hadits-hadits Rasulullah SAW diterangkan beberapa Bacaan Dzikir dan Faedahnya bagi kita sebagai orang yang beriman, yakni di antara bacaan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Barangsiapa yang membaca : "Subhanallah, Walhamdulillah, Walaailaahaillallah, Wallahu Akbar", maka orang itu akan ditanamkan oleh Allah SWT pohon buah-buahan yang banyak di dalam Syurga. 2. Barangsiapa yang membaca : "Subhanallah Wabihamdih" sebanyak 100 kali, maka orang itu akan dihapuskan dosa-dosanya walaupun dosa-dosanya sebanyak buih yang ada di lautan. 3. Barangsiapa yang membaca : "Asyhadu AnLaailaahaillallah, Wahdahu Lasyariikalah Wa-asyhadu anna Muhammadan 'Abduhu Warosuuluh", maka Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 13
  • 15. Kecerdasan Nurani dan Spiritual orang itu akan dibukakan 8 (delapan) Pintu Syurga, sehingga ia dapat masuk Syurga dari pintu manapun yang ia kehendaki. 4. Barangsiapa yang membaca : "Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billah", maka orang itu dibukakan salah satu pintu Syurga untuknya. 5. Barangsiapa yang membaca : "Asyhadu AnLaailaahaillallah", maka orang itu diberikan Kunci Syurga oleh Allah SWT. 6. Barangsiapa yang membaca : "Laa Ilaaha Illallah AlMalikul Haqqul Mubiin", maka orang itu apabila meninggal dunia ia tidak akan merasa seram di dalam kubur (=alam barzakh), sehingga ia aman dan sentosa di dalam kubur. 7. Barangsiapa yang membaca : Sayyidul Istighfar yaitu "Allahumma Anta Robbi Laailahailla Anta Kholaqtani Wa ana 'Abduka Wa ana 'Ala 'Ahdika Wawa'dika Mastatho'tu A'udzubika Min Syarrima Shona'tu Abu ulaka Bini'matika 'Alaiyya Wa abu-u Bidzambi Faghfirli Fainnahu Laa Yaghfirudz Dzunuba Illa Anta", maka : a. Jika dibaca siang hari (sesudah Subuh), kemudian ia meninggal dunia sebelum Sore (sebelum 'Ashar), maka ia pasti akan termasuk "Ahli Syurga". b. Jika dibaca pada malam hari (sesudah Maghrib), kemudian ia meninggal dunia sebelum pagi (sebelum Subuh), maka ia pasti akan termasuk "Ahli Syurga". Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 14
  • 16. Kecerdasan Nurani dan Spiritual 8. Barangsiapa yang membaca : "Alhamdulillah", maka akan dipenuhi timbangan Amal Solehnya. 9. Barangsiapa yang membaca : "Allahumma Sholli 'Ala Muhammad Wa 'Ala Aali Muhammad Wa 'Ala Ahli Baitihi" sebanyak 100 kali setiap harinya, maka akan didatangkan/dikabulkan Allah SWT kepada orang itu sebanyak 70 “Hajatnya” (= maksud/niat/do'a mengenai hal-hal dunia) dengan cepat di Dunia ini, dan akan didatangkan serta dikabulkan kepada orang itu sebanyak 30 Hajatnya untuk Urusan di Akhirat kelak. 10. Barangsiapa yang membaca : Sholawat Nariyah sebanyak 11 kali setiap hari sesudah Sholat 'Ashar, maka akan dimudahkan, dilapangkan dan dilimpahkan Rezekinya di dunia ini dengan tiada putus-putusnya, serta diberikan Rezeki yang berlimpah pula di Akhirat kelak. Rasulullah SAW juga menerangkan bahwasannya ada 5 (lima) Perkara yang menjadikan sebagai Obat bagi Hati yang kotor atau berpenyakit, obat tersebut adalah : 1). Membaca Al-Qur’an dan menghayati maknanya. 2). Sholat Malam (mis: Tahajud atau Sholat Hajat). 3). Berpuasa Sunnah (mis: Senin-Kamis, atau Puasa Daud). 4). Memperbanyak Dzikir (mengingat) kepada Allah. 5). Bergaul hanya dengan orang-orang yang Baik (Sholeh). Itulah 5 (lima) hal/perkara yang dapat membersihkan Hati kita dari kotoran-kotoran atau penyakit yang mungkin saja bercokol di dalam hati tanpa kita ketahui dan kita sadari. Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 15
  • 17. Kecerdasan Nurani dan Spiritual 2. KEJUJURAN DAN AKHLAQ MULIA Kejujuran merupakan salah satu simbol dari Akhlaq Mulia, sehingga kita mungkin pernah mendengar ada kata mutiara dari orang-orang tua kita dahulu bahwasannya “Kejujuran adalah Mata Uang yang Berlaku di mana saja”, bahkan di dunia kejahatan seperti “MAFIA” (Mafioso – dari Italia) pun masih tetap dibutuhkan adanya sifat kejujuran. Mengapa demikian? Karena untuk menjalankan organisasi mafia mereka tersebut tentunya dibutuhkan orang yang akan diserahi tugas untuk mengurusi keuangan organisasi mereka, dan yang pasti akan dipilih tentulah orang-orang yang jujur dalam hal mengelola dan mengurusi keuangan organisasi mereka, karena jika tidak, mereka akan berlaku sangat kejam dan sadis terhadap orang-orang yang berusaha membohongi dan menipu mereka, meskipun sebenarnya mereka juga adalah kumpulan para penipu, pembohong, perampok dan bahkan pembunuh. Betul ? Begitu juga, banyak sekali di antara orang-orang yang bukan beragama Islam yang tidak pernah tahu dan tidak mengerti tentang Islam namun sangat menjunjung tinggi kejujuran dan akhlaq mulia tersebut. Marilah kita coba simak beberapa kutipan sebagian dari kata-kata mutiara yang sempat mereka lontarkan dan kemukakan : “Honesty is the first chapter in the book of wisdom” (Kejujuran adalah bab pertama dalam buku kebajikan). (Thomas Jefferson) “It is not about aptitude but your attitude that will determine your altitude” Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 16
  • 18. Kecerdasan Nurani dan Spiritual (Bukanlah kepandaian otakmu, akan tetapi akhlaqmu yang akan menyebabkan kamu mempunyai kedudukan yang amat tinggi dan terhormat). (Jessie Jackson) Urusan akhlaq bukanlah urusan yang hanya sepele saja akan tetapi merupakan “Perkara Besar” yang bisa menyebabkan suatu bangsa menjadi berantakan dan porak-poranda disebabkan oleh dampak kejahatan dan kebiabadan manusia itu sendiri. Lihat saja contohnya, betapa korupsi dan manipulasi sudah menjadi budaya dan merajalela di manamana di negeri ini yang notabene sebagian besar rakyatnya adalah beragama Islam. Bukanlah salah ajaran Agamanya akan tetapi oknum-oknum (orang-orang) nya-lah yang tidak memiliki Kejujuran dan Akhlaq yang Karimah. Kemudian, dampak dari akhlaq yang buruk juga dapat menyebabkan suatu ummat terperosok ke jurang kenistaan, dan bahkan yang paling buruk, dapat menyebabkan seseorang pelakunya mengalami Suul Khotimah (akhir hidup yang buruk – Bad Ending of Life) pada saat kematiannya (misalnya: bunuh diri, saling bunuh, dsb). Naudzubillahi Min Dzalik semoga kita tidak termasuk golongan orang-orang yang demikian. Hal ini sesuai dengan Hadits Nabi SAW yang berbunyi : “Sesungguhnya aku (Muhammad) ini diutus Allah SWT untuk kalian, terutamanya adalah untuk memperbaiki dan memuliakan Akhlaq”. (Al-Hadits) Perhatikan pula beberapa kutipan Hadits Beliau berikut ini : Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 17
  • 19. Kecerdasan Nurani dan Spiritual “Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaqnya”. (H.R. Bukhari - Muslim) “Makhluq (manusia) yang terbaik adalah yang terbaik akhlaqnya”. (Al-Hadits) “Apabila kalian berakhlaq hendaklah seperti Akhlaqnya Para Nabi”. (Al-Hadits) Adalah seorang Pakar Ilmu Manajemen dari Amerika Serikat yang bernama Stephen R. Covey yang mengutip tentang Kejujuran dan Integritas dengan demikian indah dan bagus di dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People (Tujuh Kebiasaan Orang-orang yang sangat Berhasil-guna). Di dalam bukunya tersebut ia mendefinisikan “Kejujuran” dan “Integritas” sebagai berikut :  HONESTY (Kejujuran) : is conforming our words to reality (adalah kesesuaian kata-kata kita dengan kenyataan). Jadi, Kejujuran berarti : Bisa Dipercaya (Trustable)  INTEGRITY (Integritas) : is conforming reality to our words (adalah kesesuaian kenyataan atas kata-kata kita) Maksud dari definisi Integritas di atas adalah : “adanya kesesuaian antara kata-kata yang kita ucapkan dengan setiap perbuatan yang kita lakukan”. Dengan kata lain juga dapat diartikan sebagai : “tidak munafiq (unhypocrite)”. Jadi, Integritas berarti : Bisa Diandalkan (Reliable) Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 18
  • 20. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Menurut Stephen R. Covey, untuk menjadi Manusia yang Berhasil-guna maka seseorang haruslah memiliki sifat keduaduanya, yakni “Kejujuran” dan sekaligus “Integritas”. Namun, bila seseorang hanya memiliki Kejujuran tetapi tidak memiliki Integritas, berarti ia “Bisa Dipercaya tetapi Tidak Bisa Diandalkan”. Sebaliknya, apabila seseorang hanya memiliki Integritas saja, maka berarti ia “Hanya Bisa Diandalkan tetapi Tidak Bisa Dipercaya”. Pada tahun 2002 lalu tepatnya tanggal 11-12 April 2002, Para Top Executive (CEO) dari berbagai Perusahaan Internasional datang berbondong-bondong untuk menghadiri sebuah Leadership Discussion Forum (Forum Diskusi tentang Kepemimpinan) yang diadakan oleh Lembaga Pendidikan Harvard Business School yang mengambil Tema “Does Spirituality Drive Success?” (Apakah Spiritualitas mampu menghasilkan Kesuksesan?). Mereka berdiskusi membahas bagaimana nilai-nilai spiritualitas tersebut dapat membantu mereka menjadi pemimpin perusahaan yang berpengaruh di tengah-tengah lingkungan bisnis yang mereka jalankan. Diskusi berjalan dengan hangat selama dua hari di lembaga pendidikan bisnis paling bergengsi di Amerika Serikat tersebut. Pada akhir Forum Diskusi mereka seluruhnya sepakat menyatakan bahwasannya Nilai-nilai Spiritualitas mampu menghasilkan 5 (lima) hal, yaitu : 1. Integritas dan Kejujuran. 2. 3. 4. 5. Energi dan Semangat. Inspirasi, Ide dan Inisiatif. Wisdom (Kebajikan/Kebijaksanaan) Keberanian dalam Mengambil Keputusan. Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 19
  • 21. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Kemudian lagi, pada Tahun 1987, 1995 dan 2002 yang lalu secara berturut-turut sebuah leadership institution (lembaga kepemimpinan) internasional yang bernama The Leadership Challenge melakukan Survey mengenai “karakteristik” para pemimpin (CEO) perusahaan dari 5 (lima) Benua yakni : Amerika, Australia, Asia, Eropah dan Afrika. Dalam survey tersebut masing-masing responden diminta untuk memilih sebanyak 7 dari 20 karakter yang menurut mereka Paling Ideal bagi CEO pilihan perusahaan mereka. Ke-20 karakter yang harus dipilih tersebut adalah sbb : 1. Honest (jujur) 2. Forward Looking (berpikiran maju) 3. Competent (kompeten/mampu) 4. Inspiring (memberi inspirasi) 5. Intelligent (cerdas) 6. Fair-minded (adil) 7. Broad-minded (berwawasan luas) 8. Supportive (mendukung) 9. Straight Forward (berterus terang) 10. Dependable (bisa diandalkan) 11. Cooperative (dapat bekerjasama) 12. Determined (tegas) 13. Imaginative (berdaya-imajinasi) 14. Ambitious (berambisi) 15. Courageous (mendorong/berani) 16. Caring (peduli) 17. Mature (matang/dewasa) 18. Loyal (setia) 19. Self-controlled (menguasai diri) 20. Independent (mandiri) Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 20
  • 22. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Maka Hasilnya mencatat bahwa dari seluruh ke-3 Event Survey (1987, 1995 dan 2002) tersebut Karakter/sifat “Honest (Jujur)” selalu berada pada “Urutan (ranking) Pertama” secara berturut-turut selama tiga kali diadakan survey tersebut, sementara jenis karakter-karakter yang lain selalu berubah-ubah posisi urutan (ranking) nya. Hal ini berarti para pebisnis itupun sangat menyadari dan mengetahui bahwa kejujuran adalah faktor yang sangat penting dalam menjalankan bisnis mereka. Disamping itu, sekaligus membuktikan kita bahwasannya “Kejujuran” merupan faktor yang amat sangat dibutuhkan oleh siapapun dalam kehidupannya di dunia ini, tak peduli apakah mereka seorang spiritualis, penulis, negarawan, moralis atau bahkan seorang pebisnis sekalipun sangatlah membutuhkan yang namanya “Kejujuran”. Namun kita mungkin sering atau pernah mendengar setidaknya bahwa di dalam “Dunia Bisnis” ada suatu Ungkapan yang sangat populer sekali, yang berbunyi kurang lebih demikian : “If you only talk about honesty, nobody will come to you talking about business” (Jika anda banyak bicara tentang kejujuran, maka tak akan ada orang yang datang kepada anda untuk bicara tentang bisnis). Pernyataan dalam ungkapan tersebut di atas sangatlah “Berbau SEKULER” dan “PARADOXAL” sekali dengan Hasil Survey The Leadership Challenge serta dengan banyak Tokoh-tokoh Spiritual, Negarawan dan Pebisnis Jujur yang sangat tidak setuju atau tidak sepaham bahkan menentang dengan keras ungkapan tersebut. Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 21
  • 23. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Beberapa Tokoh dan Organisasi yang tidak setuju/sepaham (bertentangan) dengan ungkapan tersebut, di antaranya :  Mahatma Gandhi, seorang Spiritualis dari India, yang membuat statement (pernyataan) di dalam bukunya yang berjudul The Seven Deadly Sins bahwasannya “Commerce without Morality is A Deadly Sin” (Bisnis tanpa disertai Akhlaq adalah Dosa yang Amat Fatal).  Thomas Jefferson, seorang Negarawan dan salah satu mantan Presiden Amerika Serikat yang pernyataannya banyak dikutip oleh Tokoh-tokoh Politik dan Negarawan dari berbagai Negara juga mengatakan “Honesty is the first chapter in the book of wisdom” (Kejujuran adalah Bab pertama di dalam Buku Kebajikan/Kebijaksanaan). Yang maksudnya adalah apabila kita ingin berbuat kebaikan atau kebajikan maka tanamkan terlebih dahulu kejujuran di dalam diri kita, tanpa itu niscaya kita tidak akan bisa dikatakan telah berbuat kebaikan dan kebajikan.  American Business Concern, sebuah Organisasi Media Perkumpulan Bisnis terkemuka di Amerika Serikat pernah menerbitkan Hasil Poling dan Survey yang diadakan bagi Para Pebisnis Dunia (CEO Perusahaan) dari sebanyak 500 Perusahaan Multinational Besar Dunia Paling Sukses yang disebut sebagai “Fortune 500” yang isinya menyatakan bahwa sebanyak 94% Para Pemimpin (CEO) perusahaan-perusahaan besar tersebut berhasil mencapai kesuksesan bisnis pada bidang-bidang usahanya berkat diterapkannya Faktor “Kejujuran” dan “Perilaku/Akhlaq yang Terpuji” di dalam menjalankan bisnis mereka. Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 22
  • 24. Kecerdasan Nurani dan Spiritual  Harvard Business School pernah mengadakan Penelitian pada Tahun 1993 mengenai faktor-faktor Penentu Keberhasilan dan Kesuksesan atas diri sesorang, yang kemudian ditemukan dalam penelitian tersebut bahwasannya sebesar 85% Penyebab Keberhasilan dan Kesuksesan seseorang adalah Faktor “Akhlaq”. 3. TAAT KEPADA PERINTAH ALLAH DAN RASUL Di dalam suatu organisasi, apapun namanya, di manapun adanya serta di bidang apapun kegiatannya, pastilah selalu ada yang namanya : “Perintah” (Command – dalam Bahasa Inggrisnya). Perintah ini sangat diperlukan guna menjalankan sistem yang ada di dalam organisasi tersebut. Perintah sangat mutlak diperlukan bagi kelancaran suatu organisasi untuk mempermudah dan memperjelas hal-hal yang berkaitan dengan :  Stratata/Tingkatan (Level) Jabatan para anggotanya.  Satuan Komando/Perintah (Unity of Command); dan  Jenjang Tingkatan Komando/Perintah (Hierarchy of Command) dalam organisasi. Hanya dengan ke-3 hal tersebut di atas itulah suatu organisasi dapat dimungkinkan berjalan dengan baik dan lancar tanpa adanya saling “Tumpang-tindih (Overlapping)” dan saling “Langgar (Outbreaking)” terhadap Otoritas masing-masing jabatan yang ada di antara para anggota organisasi di dalamnya. Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 23
  • 25. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Begitu juga halnya dengan “Sistem” (Manhaj) yang ada di dalam Agama Allah (cq. Islam), terdapat juga yang namanya “Perintah” (Am‟r – dalam Bahasa Arabnya). Di dalam Agama Islam, ketiga hal yang telah disebutkan di atas telah dicanangkan oleh Allah SWT dengan Urutan Prioritas dan Kedudukannya sebagai berikut :  Perintah Allah SWT  Paling Utama (Top Urgent)  Perintah Rasulullah SAW  Utama/Tinggi (Urgent)  Perintah Pemimpin  Penting (Important) Adapun Kedudukan Hukum (Legal Standing) dari Skala Prioritas tersebut di atas telah ditetapkan oleh Allah SWT yang tertuang di dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa’ ayat 59 : “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taati pula Rasul, serta Para Pemimpin di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang segala sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah (cq. Al-Qur‟an) dan Rasul (cq.Hadits) bila kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan baik pula akibatnya”. (Q.S. An-Nisa’ : 59) Taat kepada Allah SWT merupakan suatu kewajiban yang tidak dapat kita ganggu-gugat karena ketika seseorang telah mengucapkan Dua Kalimat Syahadat atau telah berada di dalam naungan Agama Islam, maka wajib baginya untuk taat kepada segala bentuk perintah dan larangan dari Allah SWT. Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 24
  • 26. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Lalu, apakah dengan taat kepada Allah SWT berarti kita tidak boleh taat kepada yang lain selain Allah ? Satu-satunya hamba Allah yang wajib untuk ditaati pula oleh Umat Islam adalah Rasulullah Muhammad SAW. Beliau adalah suri teladan bagai seluruh umat hingga akhir zaman. Hanya Beliaulah yang memiliki hak untuk ditaati oleh seluruh umat manusia, khususnya umat Islam. Perintah untuk taat kepada Rasulullah SAW ini merupakan salah satu bentuk ketaatan kita kepada Allah SWT, karena perintah tersebut terdapat di dalam Al-Qur’an : “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedangkan kamu mendengar (perintah-perintah-Nya)”. (Q.S. Al-Anfal : 20) “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taati pula Rasul…”. (Q.S. An-Nisa’ : 59) Adapun orang-orang, golongan, atau aliran-aliran yang tidak percaya kepada Rasulullah SAW atau tidak mau mematuhi sunnah-sunnahnya, maka mereka sama saja dengan tidak mentaati perintah Allah SWT. Orang-orang yang semacam inilah yang disebut dengan orang-orang yang ingkar, durhaka (fasiq) atau kafir. Taat kepada Allah SWT berarti harus pula diiringi dengan ketaatan kepada Rasulullah SAW. Perintah tersebut banyak sekali terdapat di dalam Al-Qur’an dan senantiasa selalu berpasangan dan berdampingan. Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 25
  • 27. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Jika seseorang tidak mau mentaati perintah dan larangan Rasul, maka sudah bisa dipastikan bahwasannya ia juga sama saja dengan tidak mentaati perintah dan larangan Allah SWT. Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa setiap muslim harus taat kepada Rasulullah SAW, bukan hanya kepada Allah SWT saja : 1. Perintah untuk taat kepada Rasulullah merupakan perintah dari Allah SWT. 2. Rahmat Allah hanya akan diberikan kepada orang-orang yang bertaqwa dan beriman kepada Allah dan mentaati Rasul-Nya. 3. Ketaatan kita kepada Rasulullah SAW merupakan sebuah jalan untuk mendapatkan Taufiq (pertolongan) dan Hidayah (petunjuk) dari Allah SWT. 4. Allah SWT akan menimpakan adzab yang sangat pedih kepada mereka yang menentang atau menyalahi perintah Allah. Menentang atau menyalahi perintah Rasulullah merupakan salah satu bentuk pengingkaran terhadap perintah Allah SWT. 5. Ketaatan dan kepatuhan seseorang terhadap ketetapan Rasulullah SAW merupakan salah satu syarat syahnya iman seseorang kepada Allah SWT. 6. Hanya dengan mengikuti atau mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya sajalah maka kita akan memperoleh limpahan kasih sayang dan ampunan dari Allah SWT. Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 26
  • 28. Kecerdasan Nurani dan Spiritual Demikian di antaranya beberapa alasan mengapa kita selaku Umat Islam harus juga berlaku taat kepada Rasulullah SAW karena ketaatan kepada Allah SWT dan ketaatan kepada Rasulullah SAW adalah bukti Cinta kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya yang merupakan suatu keharusan bagi setiap pemeluk Islam (Muslim) yang senantiasa selalu beriringan dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Berikut ini adalah beberapa keterangan tambahan lagi dari Allah SWT yang berkaitan dengan perintah taat dan cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, yang terdapat di dalam Al-Qur’anul Karim : “Patuhilah olehmu Allah dan Rasul agar supaya kamu diberi rahmat (disayang)”. (Q.S. Ali Imran : 132) “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberikan kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”. (Qs. Al Anfaal : 24) “Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah mendapatkan kemenangan yang besar”. (Q.S. Al-Ahzab : 71) “Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat, sesungguhnya kami Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 27
  • 29. Kecerdasan Nurani dan Spiritual kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: „Siksa-Ku akan Kutimpahkan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orangorang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami‟". (Q.S. Al-A’raf : 156) “Katakanlah : „Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang “ummi” yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitabNya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk‟”. (Q.S. Al-A’raf : 158) “Katakanlah : „Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul adalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas". (Q.S. An-Nur : 54) Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 28
  • 30. Kecerdasan Nurani dan Spiritual ”Janganlah kamu jadikan sebutan kepada Rasul diantara kamu seperti sebutan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang melanggar perintah-Nya takut akan ditimpah cobaan atau ditimpah adzab yang amat pedih”. (Q.S. An-Nur : 63) “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan sama sekali dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuh hati”. (Q.S. An-Nisa’ : 65) “Katakanlah : „Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu‟; Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Ali Imran : 31) Adapun Dalil (Nash) yang memerintahkan taat kepada Para Pemimpin di antara manusia, adalah sebagai berikut : “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taati pula Rasul, serta Para Pemimpin di antara kalian”. (Q.S. An-Nisa’ : 59) Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 29
  • 31. Kecerdasan Nurani dan Spiritual “Patuhilah olehmu, walaupun yang memimpin di antara kalian adalah seorang budak Ethiopia yang bentuk kepalanya seperti biji kurma”. (H.R. Bukhari) Lalu, bagaimana bila seandainya ada perintah dari para pemimpin (atasan) kita yang tidak sesuai atau bahkan melanggar sama sekali Perintah Allah dan Rasul-Nya ? Bila hal itu terjadi, berarti perintah pemimpin tersebut mempunyai status sebagai yang : “Important BUT NOT Urgent!” (Penting tetapi Sangat Tidak Utama/Mendesak) dan perintah tersebut hanya memiliki Jenjang Tingkatan Perintah (Hierarchy of Command) yang “Paling Bawah” (prioritas terakhir) dalam Skala Urutan Prioritas Perintah yang telah dicanangkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat AnNisa’ ayat 59. Jadi dalam hal ini perintah pemimpin (atasan) tersebut haruslah dikaji ulang dengan lebih seksama lewat pertimbangan Hati Nurani kita yang mendalam. Bila memang perintah tersebut sangat melanggar Perintah Allah dan RasulNya maka perintah pemimpin (atasan) tersebut HARUS “diabaikan” dan “tidak boleh sama sekali kita patuhi”. Adapun Kedudukan Hukumnya sangat lengkap sekali, yakni terdapat di dalam Al-Qur’anul Karim dan juga di dalam AlHadits Rasulullah SAW, di antaranya sebagai berikut : “Katakanlah : „Sesungguhnya aku hanya diperintahkan untuk berbakti kepada Allah dengan Ikhlas”. (Q.S. Az-Zumar : 11) “Janganlah kalian mematuhi perintah orang-orang yang melampaui batas. Yaitu Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 30
  • 32. Kecerdasan Nurani dan Spiritual orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi”. (Q.S. Asy-Syu’ara : 151-152) “Mendengarkan serta patuh kepada pemimpin adalah wajib selama tidak diperintah untuk berbuat maksiat. Bila pemimpin menyuruh berbuat maksiat maka janganlah kamu patuhi”. (H.R. Bukhari) “Tak ada kewajiban mengikuti suatu perintah yang dalam perintah itu berisikan kemaksiatan/kedurhakaan kepada Allah”. (H.R. Bukhari) Demikianlah Allah SWT telah memberikan bimbingannya yang jelas kepada kita selaku umat manusia khususnya Umat Islam untuk senantiasa taat kepada-Nya dan juga taat kepada Rasulullah karena taat kepada Allah SWT dan juga taat kepada Rasulullah SAW merupakan perintah yang harus dilaksanakan secara “kaffah” (menyeluruh). Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE, CPHR, CPTr. Page 31