Your SlideShare is downloading. ×
Dunia dalam pandangan islam
Dunia dalam pandangan islam
Dunia dalam pandangan islam
Dunia dalam pandangan islam
Dunia dalam pandangan islam
Dunia dalam pandangan islam
Dunia dalam pandangan islam
Dunia dalam pandangan islam
Dunia dalam pandangan islam
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Dunia dalam pandangan islam

13,250

Published on

msw98.blogspot.com

msw98.blogspot.com

1 Comment
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
13,250
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
105
Comments
1
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Dunia Dalam Pandangan IslamDunia Dalam Pandangan Islam“Sesungguhnya dunia ini manis lagi hijau. Sesungguhnya Allah SWT menitipkan duniaini kepada kalian lalu Dia akan melihat apa yang kalian perbuat terhadapnya. Makawaspadalah terhadap dunia dan waspadalah terhadap wanita.” Demikian pesanRasulullah SAW kepada umatnya.Ada tiga sikap manusia dalam memandang kenikmatan dunia:Pertama: mereka yang memandang kesenangan dunia sebagai tujuan hidupnya. Olehkarena itu, mereka bekerja keras siang malam untuk mencari harta. Dengan harta itumereka bersenang-senang dan menikmati berbagai kenyamanan dunia. Mereka lupabahwa di balik kehidupan dunia ini ada kehidupan yang jauh lebih besar dan lebih kekal.Kehidupan akhirat yang tak berkesudahan.Kedua: mereka yang memandang kesenangan dunia sebagai sesuatu yang tercela danhina. Tidak hanya sampai di situ, mereka bahkan mengharamkan berbagai kenikmatandunia. Paham seperti ini dianut oleh sebagian kalangan sufi. Di antara mereka ada yangmenjauhi nikah alias tidak mau kawin sepanjang hidup. Sebagian lagi ada yangmenghindari penggunaan teknologi, dan sebagainya. Mereka berpandangan bahwamenikmati kesenangan dunia akan menjauhkan seseorang dari Allah SWT. Juga, siapayang menginginkan kenikmatan akhirat ia mesti menjauhi kenikmatan dunia. Dalampandangan mereka hanya ada dua pilihan: dunia atau akhirat. Dan tidak mungkinmenggabungkan antara keduanya.Ketiga: mereka yang memandang dunia sebagai sarana meraih akhirat. Bagi merekaakhirat adalah tujuan hidup, tetapi bukan berarti meninggalkan dunia. Mereka bekerjamencari dunia dengan semangat dan etos kerja yang tinggi. Sebagian mereka kayaraya dan pengusaha yang sukses. Akan tetapi itu semua bukanlah tujuan. Tujuanmereka adalah meraih ridha Allah SWT dan surga-Nya. Inilah cara pandang yang benaryang sesuai dengan tuntunan Islam. Golongan inilah yang selamat lagi beruntung.Bahaya tertipu dengan kesenangan duniaSejak dahulu hingga kini tidak sedikit orang-orang yang tertipu oleh dunia. Demi dunia,tidak sedikit manusia yang rela mengorbankan segala-galanya. Karena dunia, kawanbisa menjadi musuh, saudara tidak lagi disapa, anak jadi durhaka, dan serentetantindak kriminal lainnya. Oleh karena itu, setiap muslim wajib waspada agar tidak tertipuoleh dunia. Terpedaya oleh dunia akan mendatangkan banyak petaka, di antaranya:1. Mengabaikan kehidupan akhirat yang jauh lebih kekal. Akibatnya, lupa bersiap bekaluntuk kehidupan akhirat. Mereka memburu kesenangan dunia yang fana danmelalaikan kenikmatan surga yang baqa. Akibatnya, tidak ada bagian untuk mereka diakhirat selain neraka. Mereka ini adalah golongan yang benar-benar merugi.
  • 2. 2. Mengenyampingkan norma-norma halal dan haram. Bagi para pemburu dunia tidakada istilah haram. Semua cara akan mereka tempuh demi memuaskan nafsu mereka.Akibatnya, mereka banyak berbuat kerusakan di muka bumi.3. Memicu permusuhan, persengketaan dan bahkan peperangan. Sejarah telahmencatat bahwa perang dunia pertama dan kedua dipicu oleh persaingan dalammemperebutkan dunia dan kekuasaan.4. Lupa akan tujuan hidup yang sebenarnya. Sesungguhnya tujuan Allah mencipatakanmanusia dan jin adalah agar mereka beribadah kepada-Nya. Inilah tujuan hidup yangsejati. Akan tetapi para pemburu dunia lupa dengan tujuan besar ini karena terbius olehkelezatan dunia. Mereka terkecoh dengan perhiasan dunia sehingga lupa denganKhaliq-nya. Sehingga, keadaan mereka tak ubahnya binatang ternak. Allah Stberfirman:“Orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan makan seperti makannyabinatang ternak. Neraka adalah tempat tinggal mereka. (QS. Muhammad: 12).Semua kesenangan dunia itu akan lenyap tanpa bekas manakala seseorang dicelupkanke dalam neraka. (Na‟udzu billahi min dzalik). Rasulullah Sw bersabda:“Kelak pada hari kiamat akan didatangkan orang yang paling senang hidupnya di duniadari kalangan penghuni neraka. Kemudian ia dicelupkan ke neraka sekali celup laludikatakan kepadanya, „Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakankesenangan ketika di dunia dahulu?‟ Ia menjawab, „Tidak, demi Allah wahai Rabb-ku.‟Lalu didatangkan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia dari kalangan penghunisurga. Kemudian ia dicelupkan ke surga sekali celup lalu dikatakan kepadanya, „Wahaianak Adam, apakah engkau pernah merasakan kesusahan atau penderitaan ketika didunia dahulu?‟ Ia menjawab, „Tidak, demi Allah, aku tidak pernah merasakankesusahan atau penderitaan sedikitpun.‟” (HR. Muslim).Demikianlah perbandingan antara kehidupan dunia dengan akhirat.Peringatan Allah St tentang pesona duniaDi dalam al-Qur‟an berulang kali Allah St mengingatkan kita agar tidak terpedaya olehpesona dunia yang memang memukauini. Sesungguhnya kehidupan dunia ini sangatlahfana dan singkat, sedangkan di akhirat kelak tersedia surga dengan segalakenikmatannya dan neraka dengan segala penyiksaannya. Kampung akhirat adalahkehidupan yang sejati, kekal dan tidak ada akhirnya. Marilah kita renungkan pesan-pesan Ilahi berikut ini:“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatuyang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan serta berbangga-banggaantentang banyaknya harta dan anak. Ia bagaikan hujan yang tanamannya mengagumkanpara petani, kemudian tanaman itu mengering dan kamu lihat warnanya kuning lalumenjadi hancur. Sedangkan di akhirat (kelak) ada azab yang keras dan ampunan dari
  • 3. Allah serta keridhaan-Nya. Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan kesenanganyang menipu.” (QS. Al-Hadiid: 20)“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlahkehidupan dunia ini memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yangpandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS. Faathir: 5)Dan firman-Nya:“Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Merekabergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan)kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (QS. Ar-Ra‟du: 26).Yakin kepada hari AkhirPesona dunia dan kemilaunya hanyalah berpengaruh pada jiwa-jiwa yang tidakmeyakini hari akhir dengan segala peristiwa dahsyatnya. Hal ini karena hari akhir (surgadan neraka) adalah sesuatu yang ghaib dan tidak kasat mata. Sedangkan jiwa manusiasangat condong dengan sesuatu yang nampak, nyata dan dekat. Padahal pesona duniaini jika dibandingkan dengan pesona surga, sangatlah tidak ada artinya. Akan tetapipesona surga tersebut tidak nampak, tidak bisa dibuktikan di dunia, dan tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Nah di sinilah pentingnya beriman kepada hari akhir.“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamudan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya(kehidupan) akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 4)Dengan menyakini hari akhir maka jiwa seorang muslim tidak terlalu silau dengangemerlapnya dunia. Sebab dia yakin bahwa setelah kehidupan dunia ini ada suatukehidupan yang jauh lebih bermakna lagi kekal. Dan itulah kehidupan yang sejati.Lihatlah para tukang sihir Fir‟aun. Sebelum beriman, mereka adalah para pemburudunia. Mereka berkata kepada Fir‟aun, “Wahai Fir‟aun, seandainya kami menangmenghadapi Musa, apakah engkau akan memberikan upah kepada kami?” Fir‟aunmenjawab, “Jangan khawatir, kalian akan mendapat upah yang besar dariku dan kalianakan aku jadikan orang-orang terdekat di sisiku.”Tetapi setelah mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, yakni setelah melihat sihirmereka dikalahkan oleh mukjizat Musa As, mereka berubah seratus delapan puluhderajat. Yang tadinya pemburu dunia, kini pemburu akhirat. Yang tadinya mengharapharta dan pangkat, kini menantang Fir‟aun terlaknat. Maka dengan penuh murka,Fir‟aun berkata kepada mereka:"Apakah kalian telah beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepada kalian.Sesungguhnya ia adalah pemimpin kalian yang mengajarkan sihir kepada kalian. Makasesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kalian dengan secara bersilang,dan aku akan menyalib kalian pada pangkal-pangkal pohon kurma, sehingga kalian
  • 4. akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya". (QS.Thaha: 71).Tetapi dengan mantap para tukang sihir itu menjawab:"Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan engkau daripada bukti-bukti nyata(mukjizat), yang telah datang kepada kami, demi Allah yang telah menciptakan kami,maka putuskanlah apa yang hendak engkau putuskan (wahai Fir‟aun), sesungguhnyaengkau hanya dapat memutuskan pada kehidupan dunia ini saja. Sesungguhnya kamitelah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kamidan sihir yang telah engkau paksakan kepada kami. Allah lebih baik (pahala-Nya) danlebih kekal (azab-Nya)". (QS. Thaha: 71-73).Demikianlah, seorang muslim yang senantiasa mengingat akhirat niscaya akanmenganggap remeh dunia ini. Akan waspada dari godaan dunia. Tidak terpedayadengan pesona dunia, tidak sedih ketika kehilangan dunia, dan tidak iri dengankesenangan dunia yang Allah berikan kepada sebagian hamba-Nya.Orang yang seperti ini, jiwanya akan dipenuhi oleh qana‟ah (merasa puas denganpemberian Allah St), hatinya bersih dari kerakusan terhadap dunia, dengki, benci, dansebagainya. Karena, seorang yang hidup dengan pikiran tertambat ke akhirat niscayatidak akan dirisaukan oleh dunia yang sempit ini. Dalam pandangannya, dunia takubahnya lubang yang sempit. Lantas buat apa ia bersaing atau mendengki orang lainhanya karena sebuah lubang yang sempit lagi cepat berlalu? Ia hidup di ufuk yang luasnan lapang. Ufuk akherat beserta kehidupannya yang abadi. Keyakinan seperti ini akanmembuahkan rasa tentram, bahagia dan ridha. Sedangkan rasa tentram (thuma‟ninah)dan ridha adalah surganya dunia. Oleh karena itu, keyakinan kepada hari akhir adalahnikmat yang besar yang Allah St berikan kepada hamba-hamba-Nya.Catatan PentingDengan uraian di atas yang menjelaskan tentang betapa remehnya kesenangan duniajika dibandingkan akhirat, bukan berarti kita harus meninggalkan dunia atau tidakbersungguh-sungguh dalam mencari dunia. Sama sekali bukan. Kita harus bekerjasebaik mungkin dan berprestasi dalam urusan dunia kita, akan tetapi ia tidak bolehmenjadi tujuan hidup kita. Kita harus memposisikan dunia sebagai sarana meraihakhirat. Sebagaimana kata seorang bijak:“Dunia adalah ladang akhirat”Dalam hal ini para sahabat Rasulullah Sw adalah contoh yang baik. Mereka semuabekerja mengurus dunianya. Kaum muhajirin bekerja sebagai pedagang sedangkanmayoritas kaum Anshar bekerja sebagai pekebun. Di antara mereka ada yang kayaraya seperti: Utsman bin Affan, Abdurrahman bin „Auf, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umarbin Khatthab Rd, dan lain-lain. Akan tetapi mereka menjadikan dunia itu di tanganmereka, bukan di hati mereka. Sehingga, mereka kaya raya namun tidak sampai cinta
  • 5. dunia. Bagi mereka harta adalah sarana untuk meraih pahala. Kekayaan adalah jalanuntuk meraih ridha ar-Rahmaan.
  • 6. Makna Hidup Dalam Pandangan IslamHIDUP ini sebuah misteri dan penuh rahasia! Manusia memiliki keterbatasan dalammemahami makna hidup. Pada umumnya, manusia tidak mengetahui banyak haltentang sesuatu, yang mereka ketahui hanyalah realitas yang nampak saja (Q.S 30: 6-7). Tidak ada seorang pun yang tahu berapa lama ia akan hidup, di mana ia akan mati,(Q.S 31: 34) dalam keadaan apa ia akan mati, dan dengan cara apa ia akan mati,sebagian manusia menyangka bahwa hidup ini hanya satu kali dan setelah itu matiditelan bumi. Mereka meragukan dan tidak percaya bahwa mereka akan dibangkitkankembali setelah mati (Q.S An-Naml: 67). Adapun mengenai kepercayaan adanyakehidupan setelah mati pandangannya sangat beragam tergantung pada agama dankepercayaan yang dipeluk dan diyakini.Islam menjelaskan makna hidup yang hakiki melalui perbandingan dua ayat yangsangat kontras, seperti dicontohkan di dalam Alquran. Seorang yang telah mati menurutmata lahir kita, bahkan telah terkubur ribuan tahun, jasadnya telah habis dimakancacing dan belatung lalu kembali menjadi tanah, namanya sudah hampir dilupakanorang. Tetapi yang mengherankan, Allah SWT memandangnya masih hidup danmendapat rezeki di sisi-Nya serta melarang kepada kita menyebut mati kepada orangtersebut. Hal ini dapat kita lihat dalam (Q.S 3: 169). "Janganlah kalian menyangkaorang-orang yang gugur di jalan Allah itu telah mati, bahkan mereka itu hidup danmendapat rezeki di sisi Allah." Sebaliknya ada orang yang masih hidup menurut matalahir kita, masih segar-bugar, masih bernapas, jantungnya masih berdetak, darahnyamasih mengalir, matanya masih berkedip, tetapi justru Allah menganggapnya tidak adadan telah mati, seperti disebutkan dalam firmannya "Tidak sama orang yang hidupdengan orang yang sudah mati. Sesungguhnya Allah SWT mendengar orang yangdikehendaki-Nya, sedangkan kamu tidak bisa menjadikan orang-orang yang di dalamkubur bisa mendengar," (QS Al-Fathir 22). Maksud ayat ini menjelaskan NabiMuhammad tidak bisa memberi petunjuk kepada orang-orang musyrikin yang telah matihatinya.Dua ayat ini memberikan perbandingan yang terbalik, di satu sisi orang yang telah matidianggap masih hidup, dan di sisi lain orang yang masih hidup dianggap telah mati. Laluapa hakikat makna hidup menurut Islam?
  • 7. Seorang filusuf Yunani Descartes pernah mendefinisikan, manusia ada dan dinyatakanhidup di dunia bila ia melakukan aktivitas berpikir. Kemudian Karl Marx menyatakan,manusia ada dan dinyatakan hidup jika manusia mampu berusaha untukmengendalikan alam dalam rangka mempertahankan hidupnya. Sedangkan Islammenjelaskan manusia ada dan dianggap hidup jika ia telah melakukan aktivitas "jihad"seperti yang telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam Q.S. Ali Imron: 169 di atas. Tentusaja jihad dalam pengertian yang sangat luas. Jihad dalam pengertian bukan hanyasebatas mengangkat senjata dalam peperangan saja, tetapi jihad dalam konteksberusaha mengisi hidup dengan karya dan kerja nyata. Jihad dalam arti berusahamemaksimalkan potensi diri agar hidup ini berarti dan bermanfaat bagi diri, keluarga,masyarakat, dan bangsa. Misalnya, seseorang yang berusaha mencari danmenemukan energi alternatif ketika orang sedang kesulitan BBM itu juga sudahdipandang jihad karena ia telah mampu memberikan manfaat kepada orang lain.Seseorang yang keluar dari sifat malas, kemudian bekerja untuk memerangikemiskinan, kebodohan, itu juga termasuk jihad karena ia telah mampu mengalahkanhawa nafsunya sendiri, dan bukankah ini jihad yang paling besar karena Rasulullahsendiri menyatakan bahwa jihad yang paling akbar adalah melawan hawa nafsu sendiri.Hidup dalam pandangan Islam adalah kebermaknaan dalam kualitas secaraberkesinambungan dari kehidupan dunia sampai akhirat, hidup yang penuh arti danmanfaat bagi lingkungan. Hidup seseorang dalam Islam diukur dengan seberapa besaria melaksanakan kewajiban-kewajiban sebagai manusia hidup yang telah diatur olehDienull Islam. Ada dan tiadanya seseorang dalam Islam ditakar dengan seberapa besarmanfaat yang dirasakan oleh umat dengan kehadiran dirinya. Sebab Rasul pernahbersabda "Sebaik-baiknya manusia di antara kalian adalah yang paling banyakmemberikan manfaat kepada orang lain. (Alhadis). Oleh karena itu, tiada dipandangberarti (dipandang hidup) ketika seseorang melupakan dan meninggalkan kewajiban-kewajiban yang telah diatur Islam.Dengan demikian, seorang muslim dituntut untuk senantiasa meningkatkan kualitashidup sehingga eksistensinya bermakna dan bermanfaat di hadapan Allah SWT, yangpada akhirnya mencapai derajat Al-hayat Al-thoyyibah (hidup yang diliputi kebaikan).Untuk mencapai derajat tersebut maka setiap muslim diwajibkan beribadah, bekerja,berkarya berinovasi atau dengan kata lain beramal saleh. Sebab esensi hidup itu sendiriadalah bergerak (Al-Hayat) kehendak untuk mencipta (Al-Khoolik), dorongan untukmemberi yang terbaik (Al-Wahhaab) serta semangat untuk menjawab tantangan zaman
  • 8. (Al-Waajid).Makna hidup yang dijabarkan Islam jauh lebih luas dan mendalam dari pada pengertianhidup yang dibeberkan Descartes dan Marx. Makna hidup dalam Islam bukan sekadarberpikir tentang realita, bukan sekadar berjuang untuk mempertahankan hidup, tetapilebih dari itu memberikan pencerahan dan keyakinan bahwa. Hidup ini bukan sekali,tetapi hidup yang berkelanjutan, hidup yang melampaui batas usia manusia di bumi,hidup yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan sang Kholik. Setiap orangberiman harus meyakini bahwa setelah hidup di dunia ini ada kehidupan lain yang lebihbaik, abadi dan lebih indah yaitu alam akhirat (Q.S. Adl-dluha: 4).Setiap muslim yang aktif melakukan kerja nyata (amal saleh), Allah menjanjikan kualitashidup yang lebih baik seperti dalam firmannya "Barang siapa yang melakukan amalsaleh baik laki-laki maupun wanita dalam keadaan ia beriman, maka pasti akan kamihidupkan ia dengan al-hayat al-thoyibah (hidup yang berkualitas tinggi)." (Q.S. 16: 97).Ayat tersebut dengan jelas sekali menyatakan hubungan amal saleh dengan kualitashidup seseorang.Aktualisasi diri!Salah satu kebutuhan manusia yang paling mendasar adalah pengakuan darikomunitas manusia yang disebut masyarakat. Betapa menderitanya seseorang,sekalipun umpamanya ia seorang kaya raya, berkedudukan, mempunyai jabatan,namun masyarakat di sekitarnya tidak mengakui keberadaannya bahkanmenganggapnya tidak ada, antara ada dan tiada dirinya tidak berpengaruh bagimasyarakat. Dan hal ini adalah sebuah fenomena yang terjadi pada masyarakatmuslim. Terlebih rugi lagi jika keberadaan kita tidak diakui oleh Allah SWT, berartialamat sebuah kemalangan yang akan menimpa. Ketika usia kita tidak menambahkebaikan terhadap amal-amal, ketika setiap amal perbuatan tidak menambah dekatnyadiri dengan Sang Pencipta, berarti hidup kita sia-sia belaka. Allah menganggap kitasudah mati sekalipun kita masih hidup.Oleh karena itu, seorang muslim "diwajibkan" untuk mengaktualisasikan dirinya dalamsegenap karya nyata (amal saleh) dalam kehidupan. "Sekali berarti, kemudian mati"begitulah sebaris puisi yang diungkapkan penyair terkenal Chairil Anwar. Walaupun iameninggal dalam keadaan masih muda dan telah lama dikubur di pemakaman Karet
  • 9. Jakarta, tetapi nama dan karya-karyanya masih hidup sampai sekarang. Kalau ChairilAnwar telah "berjihad" selama hidupnya di bidang sastra. Bagaimana dengan kita? Mariberjihad dengan amal saleh di bidang-bidang yang lain. Agar kita dipandang hidup olehAllah SWT. Amin.***

×