Your SlideShare is downloading. ×
Pendidikan dan-lap-kerja
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Pendidikan dan-lap-kerja

5,516
views

Published on


0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
5,516
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
86
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. LAPORANPENELITIAN TENTANG KETERKAITAN PENDIDIKAN DAN PENYEDIAAN LAPANGAN KERJA DI JAWA TENGAH BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PROVINSI JAWA TENGAH 2008
  • 2. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan informasi tentang: (1)Penyelenggaraan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) RekayasaPELMO; (2) Implementasi kebijakan ”link and match” yang telah dilaksanakan SekolahMenengah Kejuruan (SMK) Rekayasa pada bidang studi PELMO; (3) Jumlah dankemampuan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Rekayasa pada bidang studiPELMO; (4) Kondisi kebutuhan dan penyerapan tenaga kerja di industri yangberhubungan dengan lulusan SMK Rekayasa pada bidang studi PELMO; serta (5)Pelaksanaan sertifikasi yang dilakukan SMK, industri dan Lembaga Sertifikasi Profesi(LSP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Prakerin yang dilaksanakan oleh SMKdi Jawa Tengah rata-rata menggunakan sistem blok. Hanya saja sistem yang digunakantidak sepenuhnya model blok atau dapat dikatakan sebagai sistem blok modifikasi. (2)Jumlah lulusan SMK Negeri dan swasta di Jawa Tengah antara 95% sampai dengan100%, dari rentang kelulusan tersebut yang terserap ke lapangan kerja yang cocokdengan program keahliannya adalah 30% sampai dengan 50%,; masa tunggumendapatkan pekerjaan pertama rata-rata adalah 1-6 bulan; sisanya melanjutkan kePerguruan Tinggi, serta sebagian tidak diketahui kegiatannya; (3) Lulusan SMKPELMO yang dibutuhkan oleh industri adalah operator mesin perkakas manual,operator mesin CNC, las listrik, las argon, pengecoran logam serta telematika atau ICT,di samping itu di butuhkan soft skill berupa ketekunan, komitmen, disiplin, sertakemampuan bekerjasama (team work); (4) Sertifikat keahlian siswa SMK Negeri danswasta di Jawa Tengah diperoleh melalui tiga cara, yaitu Prakerin/PSG, Proyek TugasAkhir (PTA), serta uji kompetensi yang diselenggarakan oleh Lembaga SertifikasiProfesi (LSP) Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Sertifikat yang diperoleh daripelaksanaan Prakerin/PSG dan sertifikat yang diperoleh dari PTA digunakan sebagaipelengkap Ujian Nasional. Sementara itu sertifikat yang diperoleh dari LSP merupakanbekal tambahan siswa dalam rangka melamar pekerjaan. Rekomendasi yang dapat diberikan : (1) Penyelarasan kurikulum (2) TugasAkhir (TA) disusun di tempat prakerin dengan mengamati salah satu permasalahan diindustri dan diuji dengan melibatkan pihak industri (3) Komunikasi antara BKK,Disnakertrans dan Dinas Pendidikan perlu ditingkatkan kembali. Rekomendasi untuksekolah : (1) bahwa penyelenggaraan pembelajaran teori kejuruan dan praktik kejuruandilaksnakan secara fleksibel, tidak perlu mengikuti kelaziman, untuk mengoptimalkanpemanfaatan bengkel (2) Model magang untuk SMK Negeri dapat menggunakan blockrelease modifikasi (3) Meningkatkan kemitraan dengan berbagai pihak, terutamadengan industri dan asosiasi yang kompeten; (4) Memberdayakan semua komponensekolah kearah pencapaian visi dan misi sekolah. Rekomendasi untuk pemerintah (1)Memberikan fasilitasi aksesibilitas kemitraan antara sekolah dan industri (2)Memberikan fasilitasi guru untuk melakukan in service training dalam bidangketerampilan produktif.Kata kunci : Sekolah Menengah Kejuruan (SMK); PELMO; Penyerapan Tenaga Kerja 1
  • 3. BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Penyelenggaraan pendidikan kejuruan, termasuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saat ini memasuki fase penting, yaitu fase lulusan pendidikan kejuruan akan dipertaruhkan kesiapannya dalam percaturan tenaga kerja di wilayah regional Asia, baik dalam konteks Asean Free Trade Association (AFTA) maupun Asean Free Labor Association (AFLA). Untuk ini upaya yang harus dilakukan adalah melakukan penataan dan pembenahan semaksimal mungkin dalam sektor pendidikan kejuruan, baik penataan dalam pola rekrutmen, pengembangan program pendidikan dan pelatihan atau kurikulum, inovasi proses pendidikan dan pelatihan, pengembangan evaluasi serta sertifikasi (Suryadi,1999 ) Isu penting yang harus selalu dikedepankan dalam konteks ini adalah seberapa besar penyelenggaraan pendidikan kejuruan (SMK) sejalan dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, terutama kebutuhan tenaga kerja, dunia usaha maupun industri. Dalam bahasa yang populer, seberapa besar dan kuat “link and match” antara keduanya. Jika pertanyaan mendasar ini terjawab, maka pada dasarnya bentuk pendidikan kejuruan apapun akan sangat ”matching” dan mendukung kebutuhan dunia usaha atau industri, khususnya dalam penyediaan lulusan yang terampil. Fakta di lapangan saat ini mengindikasikan bahwa penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kejuruan berjalan dengan programnya sendiri, di sisi lain dunia kerja/industri dan asosiasi profesi sering mengeluh bahwa kualitas tenaga (lulusan) belum memenuhi tuntutan keahlian (kompetensi) yang diharapkan. Gejala “mismatch” antara lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan dengan dunia usaha/industri, pada akhirnya melahirkan lulusan “underqualified”. Keadaan seperti ini sudah cukup lama terjadi, bahkan sampai saat ini (Samsudi, 2004). Gejala “mismatch” antara program keahlian SMK di Jawa Tengah dengan dunia usaha/industri saat ini masih juga dirasakan, termasuk program keahlian Perkayuan, Elektronika dan Listrik, Mesin, serta Otomotif (Samsudi, 2004)., 2
  • 4. Program keahlian PELMO SMK di Jawa Tengah merupakan unggulan, hal inidibuktikan dengan ditetapkannya program keahlian ini sebagai Rintisan SekolahBertaraf Internasional (RSBI) oleh Depdiknas. Gejala di atas memperlihatkanadanya paradoks antara penetapan program keahlian unggulan dengan fakta adanya“mismatch”, sehingga muncul pertanyaan bagaimanakah sesungguhnya kualitaspenyelenggaraan pendidikan program keahlian PELMO SMK di Jawa Tengah?. Data program keahlian yang menjadi unggulan SMK di Jawa Tengah sepertitersaji dalam Tabel I.1 di bawah ini. Tabel I.1 Data program keahlian unggulan SMK RSBI Tahun 2007 No Propinsi Kab. / Kota SMK Program Unggulan 1. Jawa Tengah Kota Salatiga SMKN 2 a. Mekanik Otomotif Salatiga b. Elektronika Industri c. Perkayuan 2. Jawa Tengah Kabupaten Tegal SMKN 1 Mekanik otomotif Adiwerna Tegal 3. Jawa Tengah Kota Surakarta SMKN 5 Mesin Perkakas Surakarta 4. Jawa Tengah Kabupaten SMK Muh. a. Otomotif Kudus Kudus b. TKJ 5. Jawa Tengah Kabupaten SMK Muh. I Otomotif Sukoharjo Sukoharjo Sumber: Depdiknas 2007 Keterkaitan antara pendidikan dengan kebutuhan dan ketersediaan lapangankerja di industri merupakan kombinasi pengaruh antara variabel-variabel pengatur,peserta pendidikan, penyelenggara pendidikan serta dunia kerja. Keterkaitan antarvariabel-variabel itu bersifat timbal balik, dan masing-masing berpengaruh terhadapvariabel yang lain. Ketimpangan partisipasi atau keterlibatan secara aktif di salahsatu variabel, misalnya variabel penyelenggara pendidikan dapat menyebabkansistem tidak bekerja optimal yang akan mengakibatkan hubungan antara pendidikandan dunia kerja tidak harmonis, artinya secara fisik akan terjadi pengangguransecara berkelanjutan. Hubungan timbal balik diantara keempat variabel-variabel itudisajikan dalam Gambar 1 di bawah ini. 3
  • 5. Gambar 1. Hubungan timbal balik antar empat variabel relevansi pendidikan kejuruan (SMK) dan dunia kerja Sumber : Balitbang Provinsi Jawa Timur, 2006 Merujuk uraian di atas, maka penelitian tentang ”Keterkaitan pendidikan dan Penyediaan lapangan Kerja di Jawa Tengah” penting untuk dilaksanakan.B. Masalah Penelitian Berdasarkan uraian latar belakang di atas dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimanakah penyelenggaraan pendidikan di Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) Rekayasa pada bidang studi Perkayuan, Elektronika, Listrik, Mesin dan Otomotif (PELMO) dilakukan untuk mempersiapkan lulusan yang terampil? 2. Bagaimanakah implementasi kebijakan ”link and match” yang telah dilakukan oleh Dinas Pendidikan terhadap Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Rekayasa pada bidang studi Perkayuan, Elektronika, Listrik, Mesin dan otomotif (PELMO)? 3. Bagaimanakah jumlah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Rekayasa pada bidang studi Perkayuan, Elektronika, Listrik, Mesin dan otomotif (PELMO)? 4. Bagaimanakah kemampuan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Rekayasa pada bidang studi Perkayuan, Elektronika, Listrik, Mesin dan otomotif (PELMO)? 4
  • 6. 5. Bagaimanakah sertifikasi yang dilakukan sehingga diperoleh tenaga terlatih yang standar? 6. Bagaimanakah kondisi kebutuhan tenaga kerja di industri yang berhubungan dengan lulusan SMK Rekayasa pada bidang studi Perkayuan, Elektronika, Listrik, Mesin dan otomotif (PELMO)? 7. Bagaimanakah kondisi penyerapan tenaga kerja di industri yang berhubungan dengan lulusan SMK Rekayasa pada bidang studi Perkayuan, Elektronika, Listrik, Mesin dan otomotif (PELMO)?C. Tujuan Berdasarkan masalah penelitian di atas, maka tujuan penelitian adalah menyediakan informasi tentang: 1. Penyelenggaraan pendidikan di Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) Rekayasa pada bidang studi Perkayuan, Elektronika, Listrik, Mesin dan Otomotif (PELMO); 2. Implementasi kebijakan ”link and match” yang telah dilaksanakan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Rekayasa pada bidang studi Perkayuan, Elektronika, Listrik, Mesin dan otomotif (PELMO); 3. Jumlah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Rekayasa pada bidang studi Perkayuan, Elektronika, Listrik, Mesin dan otomotif (PELMO); 4. Kemampuan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Rekayasa pada bidang studi Perkayuan, Elektronika, Listrik, Mesin dan otomotif (PELMO); 5. Pelaksanaan sertifikasi yang dilakukan SMK, industri dan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP); 6. Kondisi kebutuhan tenaga kerja di industri yang berhubungan dengan lulusan SMK Rekayasa pada bidang studi Perkayuan, Elektronika, Listrik, Mesin dan Otomotif (PELMO); 7. Kondisi penyerapan tenaga kerja di industri yang berhubungan dengan lulusan SMK Rekayasa pada bidang studi Perkayuan, Elektronika, Listrik, Mesin dan Otomotif (PELMO)? 5
  • 7. D. Manfaat Manfaat hasil penelitian adalah sebagai masukan untuk Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Tengah mengenai kondisi (1) penyelenggaraan pendidikan di SMK Rekayasa pada bidang studi PELMO; (2) implementasi kebijakan ”link and match” yang telah dilaksanakan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Rekayasa pada bidang studi PELMO; (3) Jumlah dan kemampuan lulusan SMK Rekayasa pada bidang studi PELMO; (4) pelaksanaan sertifikasi yang dilakukan SMK, industri dan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP); (5) Kondisi kebutuhan dan penyerapan tenaga kerja di industri yang berhubungan dengan lulusan SMK Rekayasa pada bidang studi PELMO; dengan demikian dapat segera mengambil kebijakan operasional dalam rangka mengurangi kelima persoalan tersebut.E. Hasil yang Diharapkan Adanya data dan kajian hasil penelitian yang dapat digunakan sebagai rekomendasi mengenai upaya menjembatani antara dunia pendidikan (SMK) dengan lapangan kerja di industri, terutama pada bidang Perkayuan, Elektronika, Listrik, Mesin dan Otomotif (PELMO) termasuk kesesuaian kompetensi kebutuhan oleh industri, peluang kerja dan pengajaran di sekolah dan industri.F. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian meliputi sepuluh wilayah yang memiliki SMK yang telah mampu menerapkan program ”Link and Match” diantaranya : 1. Kota Magelang 2. Kota Surakarta 3. Kota Salatiga 4. Kabupaten Klaten 5. Kabupaten Kudus 6. Kabupaten Pati 7. Kabupaten Tegal 8. Kabupaten Banyumas 9. Kabupaten Cilacap 10. Kabupaten Kendal 6
  • 8. G. Definisi Operasional Pendidikan dalam penelitian ini adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) khususnya untuk kategori atau kelompok teknologi, yang berada di Jawa Tengah. Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 15 diuraikan bahwa SMK sebagai bentuk satuan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Dalam PP 29/1990, pendidikan kejuruan dijelaskan pada tiga tempat. Pasal 1 Ayat 3 menyatakan "pendidikan menengah kejuruan adalah pendidikan pada jenjang pendidikan menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk melaksanakan jenis pekerjaan tertentu". Sementara itu, pada Pasal 3 Ayat 2 disebutkan bahwa pendidikan menengah kejuruan mengutamakan penyiapan siswa untuk memasuki lapangan kerja serta mengembangkan sikap profesional. Kemudian, pada Pasal 7 diatur syarat-syarat pendirian sekolah menengah kejuruan. Di samping itu definisi SMK merujuk kepada Keputusan Mendikbud No. 323/U/1997. Keputusan ini isinya lebih lengkap dibanding PP 29/90 yang meliputi komponen-komponen dalam penyelenggaraan pendidikan sistem ganda, yang terdiri dari ketentuan umum, tujuan, penyelenggaraan, program, kerjasama, peserta, instruktur, Majelis Pertimbangan Kejuruan, penilaian dan sertifikasi, pengelolaan, pengawasan, insentif, serta pengembangan dan peningkatan mutu. Lapangan kerja yang dimaksud dalam penelitian ini adalah industri atau perusahaan yang berpasangan dengan SMK PELMO di Jawa Tengah maupun di luar Jawa Tengah sekaligus merekrut lulusannya. Hal ini dikarenakan tidak semua lulusan SMK PELMO di Jawa Tengah dapat diserap oleh industri di provinsi ini, sehingga lapangan kerja mencakup industri di tingkat nasional yang berada di Jakarta, misalnya PT. KOMATSU, PT. Hanken, PT. United Tracktor, serta PT. Karya Hidup Sentoso yang berada di Yogyakarta. 7
  • 9. H. Kerangka Pikir Kerangka pikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut : Gambar 2. Kerangka Pikir Penelitian Guru dan Tenaga Kependidikan Diklat Industri Siswa Proses Kualitas SMK Pembelajaran Lulusan Disnaker Sarana dan - Industri prasarana - Wirausaha Dinas Pendidikan 8
  • 10. BAB II KAJIAN PUSTAKAA. Fase Penting Pendidikan Kejuruan Pada awal millenium ketiga ini dunia pendidikan Indonesia khususnya pendidkan kejuruan, dihadapkan pada tiga tantangan utama, yaitu tantangan global, internal, dan praksis pendidikan kejuruan itu sendiri. Dengan berlakunya pasar bebas pada tingkat regional Asia melalui AFTA yang dimulai pada tahun 2003 dan tingkat dunia pada tahun 2020, berimplikasi pada terjadinya interaksi antar negara dalam investasi, bisnis barang dan jasa, sehingga memperketat dan mempertajam persaingan (Suryadi, 1999). Di samping itu pendidikan kejuruan di Indonesia juga berhadapan dengan tantangan internal seperti terjadinya pergeseran struktur ekonomi sebagai akibat dari krisis ekonomi yang berkepanjangan. Kalau pada dekade 1970 hingga menjelang akhir tahun 1990-an struktur ekonomi bergeser dari sektor pertanian menuju pada sektor industri manufakturing dan jasa, kini tengah mengalami distorsi dan mulai ada kecenderungan untuk dikembangkan kearah “resourse based”, dan itu akan mengalami “set back” (Sidi, 2002). Sementara itu dari praksis pendidikan kejuruan yang berkembang selama ini belum mampu memenuhi harapan masyarakat dan para pengguna lulusan. Hal ini dapat dibaca dari setidaknya tiga hal, yaitu; (1) tamatan SMK masih sering dikritik kurang mampu mengikuti perubahan, karena kurang memperoleh bekal keterampilan dasar untuk belajar – “basic learning tools” (Indra Djati Sidi,2002); (2) system pendidikan di sekolah kejuruan sering kurang sesuai dengan tuntutan dunia usaha/industri, masih ada mismatch antara keluaran sistem pendidikan dan kebutuhan dunia kerja (Sukamto, 1998), dan (3) masih banyak kebiasaan salah yang dilakukan oleh guru SMK yang tidak disadari, misalnya; tidak mengajarkan pelajaran praktek dasar sesuai dengan prinsip dasar yang benar, membiarkan siswa menghasilkan karya asal jadi, bekerja tanpa bimbingan dan pengawasan, serta tanpa memperhatikan keselamatan kerja (Sidi,2002). Sementara itu dipertajam pendapat dalam banyak hal misalnya, aspek pendidikan seperti pengelolaan dan pelayanan pendidikan. Menurut Tilaar yang 9
  • 11. dikutip oleh Suryadi (1991) proses menuju masyarakat industri modern bergerakdalam suatu jalinan beberapa poros transformasi seperti globalisasi, perubahanstruktur ekonomi, pemantapan kehidupan politik dan ideologi bangsa, kebudayaannasional, termasuk pendidikan nasional. Pendidikan nasional dalam hal ini berfungsiuntuk mempersiapkan manusia dan masyarakat Indonesia untuk kehidupan masa kinidan masa mendatang, dimana hal tersebut merupakan suatu proses yang kontinum.Lebih lanjut, Tilaar yang dikutip oleh Suryadi (1991) menyatakan bahwa pendidikannasional kini mengalami beberapa krisis yang bersumber pada (1) kualitaspendidikan yang masih rendah, (2) pendidikan yang belum relevan dengankebutuhan pembangunan akan tenaga terampil, (3) pendidikan yang masih bersifatelitisme serta (4) manajemen pendidikan yang belum ditata secara efisien. Berdasar sumber krisis tersebut, ada beberapa indikator yang dapatdipergunakan sebagai rambu-rambu untuk mengukur kualitas pendidikan danpelatihan, misalnya mutu pengajar yang masih rendah serta alat bantu mengajar(buku teks, peralatan laboratorium dan bengkel kerja yang belum memadai). Dalamhal relevansi diklat atau efisiensi eksternal suatu sistem diklat dapat diukur dengan”sampai sejauh mana sistem diklat dapat memasok kebutuhan tenaga-tenaga terampildalam jumlah yang memadai yang diperlukan oleh berbagai sektor-sektorpembangunan?” Khusus dalam hal masalah tidak relevansinya diklat kejuruan, bukansaja disebabkan oleh adanya kesenjangan antara ”supply ” dan ”demand” semata,namun bisa jadi disebabkan oleh isi kurikulum kurang mengacu pada kompetensiketerampilan serta kurang sesuai dengan tuntutan dunia kerja, perkembangan Iptekdan perkembangan ekonomi. Secara umum keberhasilan dalam melaksanakan program latihan kejuruan tidakhanya tergantung pada kurikulum, namun faktor lain yang terkait seperti kualitas danjumlah tenaga pengajar/instruktur, sarana dan prasarana praktek yang memadai sertaefektivitas penggunaan jam mengajar di kelas/laboratorium/bengkel yang dapatmempengaruhi. 10
  • 12. B. Arah Pengembangan Pendidikan Kejuruan dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pendidikan kejuruan memiliki karakteristik yang berbeda dengan pendidikan umum, baik ditinjau dari kriteria pendidikan, substansi pelajaran, maupun lulusannya. Kriteria yang melekat pada sistem pendidikan kejuruan menurut Finch dan Crunkilton (1984: 12-13) antara lain (1) orientasi pendidikan dan pelatihan; (2) justifikasi untuk eksistensi dan legitimasi; (3) fokus pada isi kurikulum; (4) kriteria keberhasilan pembelajaran; (5) kepekaan terhadap perkembangan masyarakat; dan 6) hubungan kerjasama dengan masyarakat. Nolker (1983), menyatakan bahwa dalam memilih substansi pelajaran, pendidikan kejuruan harus selalu mengikuti perkembangan IPTEK, kebutuhan masyarakat, kebutuhan individu, dan lapangan kerja. Karakteristik di atas menegaskan bahwa pendidikan kejuruan harus dirancang dan dikelola sesuai dengan visi dan orientasi yang jelas, terutama berkaitan dengan kebutuhan individu, masyarakat dan perkembangan IPTEK. Arah baru pengembangan pendidikan kejuruan merujuk kepada rumusan ”Kompetensi Menjelang 2020” seperti yang tergambarkan oleh Tabel II.1 di bawah ini. Tabel II.1 Kompetensi menjelang 2020 Keterampilan menjelang 2020 No. Masa lalu Masa Depan 1. Supply driven Demand driven 2. Berbasis sekolah Berbasis kompetensi 3. Alur dan proses kaku Alur lentur dan prinsip ”multy entry dan multy exit” 4. Tidak mengakui keterampilan Mengakui kemampuan sebelumnya sebelumnya 5. Orientasi program studi Diklat mengacu kepada profesi dan keterampilan kejuruan 6. Pendidikan dan pelatihan Diklat berfokus pada sektor formal berfokus pada sektor formal dan informal 7. Pemisahan antara pendidikan dan Mengintegerasikan pendidikan dan pelatihan pelatihan 8. Sistem pengelolaan terpusat Pengelolaan terdesentralisasi Sumber: Depdiknas 1999, Keterampilan Menjelang 2020 Untuk menghadapi persaingan keahlian tenaga kerja pada era persaingan bebas, pendidikan kejuruan melalui SMK dituntut meningkatkan kualitas pendidikan serta mengembangkan konsep pembelajaran yang memberikan hasil signifikan terhadap 11
  • 13. peningkatan keahlian atau kompetensi. SMK, sebagai salah satu satuan pelaksana pendidikan, perlu melakukan pembenahan dalam proses pembelajaran atau diklat. Salah satu aspek pokok yang perlu dilakukan pembenahan secara dinamik adalah kurikulum dan pembelajaran. Beberapa pembenahan sampai saat ini memang telah dilakukan, namun baru dapat dijangkau oleh sebagian kecil sekolah. Hal ini akibat kendala struktural dan kultural, sebagian besar SMK belum dapat mengimplementasikan perbaikan dalam kurikulum maupun pembelajaran.C. Kurikulum SMK dan Diklat berbasis Kompetensi Kompetensi, secara substansial mengandung beberapa ciri dan cakupan yang bersifat spesifik. Seperti dijelaskan Syaodih (1997:6), bahwa kompetensi setidaknya ditunjukkan oleh tiga ciri sebagai berikut: (1) menunjukkan kebiasaan, kemampuan nyata, tindakan aktivitas dan performansi dalam bidang atau keahlian tertentu; (2) dinyatakan dalam tujuan pembelajaran (TPU) yang harus dikuasai atau ditampilkan peserta didik setelah selesai proses pembelajaran; (3) dirumuskan dalam kalimat yang terdiri atas kata kerja/verb dan obyek seperti, melakukan pemetaan wilayah, menganalisis masalah lingkungan, serta menyusun rencana kerja. Lingkup dan cakupan kompetensi (profesional) dijelaskan oleh Burke (1995:13) sebagai berikut: (1) kompetensi didasarkan pada analisis peran profesional dan formulasi teoritis tanggungjawab profesional; (2) kompetensi menjelaskan hasil belajar yang ditunjukkan oleh kinerja (performansi) yang ditunjukkan secara profesional; (3) aspek kompetensi menjelaskan kriteria penilaian; (4) kompetensi diciptakan sebagai prediktor tentatif tentang keefektifan profesional dan mengarah kepada prosedur validasi. Pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi secara substansial berimplikasi terhadap pengembangan kurikulum dan pembelajaran. Implikasi ini secara tegas menyebut bahwa perlu dikembangkan kurikulum yang mendukung proses pendidikan dan pelatihan serta memberikan kontribusi terhadap hasil pembelajaran siswa. Pengembangan kurikulum dan pembelajaran dalam rangka competency based education and training (CBET), setidaknya akan menyentuh prinsip relevansi dan fleksibilitas. Prinsip relevansi menjadi demikian penting dalam kurikulum pendidikan kejuruan berbasis kompetensi, karena menyangkut kesesuaian isi 12
  • 14. kurikulum dengan kebutuhan dunia usaha atau industri, serta kesesuaian mutu lulusan dengan standar pengguna. Prinsip ini sejalan dengan arah pembaharuan pendidikan kejuruan yang bersifat demand driven dan market driven. Fleksibilitas atau kelenturan kurikulum pendidikan kejuruan sangat perlu diwujudkan, terutama dalam kaitan melayani keragaman kebutuhan pengguna (dunia usaha/industri), serta kelenturan dalam melayani perbedaan kemampuan dan pengalaman peserta didik. Prinsip fleksibilitas akan memberikan arahan untuk melahirkan beberapa program pembelajaran yang sesuai, misalnya pola multyentry-multyexit, program eklektif, serta pembelajaran bervariasi. Kaitannya dengan penyelenggaraan pendidikan kejuruan, kompetensi lebih spesifik mengarah kepada ukuran-ukuran kinerja dan performansi lulusan dalam menghadapi tugas profesionalnya. National training board Australia (1995) mendeskripsikan bahwa Competency based Educational and Training (CBET) adalah pendidikan dan pelatihan yang menitikberatkan pada penguasaan suatu pengetahuan dan keterampilan khusus serta penerapannya di lapangan kerja. Pengetahuan dan keterampilan ini harus dapat didemonstrasikan dengan standar industri yang ada, bukan standar relatif yang ditentukan oleh keberhasilan seseorang di dalam suatu kelompok. Pengukuran keberhasilannya menggunakan ”criterion referenced” bukan ”norm referenced”.D. Kompetensi Produktif dalam Pengembangan Kurikulum SMK Penerapan prinsip pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi, memiliki konsekuensi adanya pengembangan kurikulum SMK dengan menggunakan beberapa pendekatan. Dua diantaranya yang pokok adalah pendekatan kompetensi dan pendekatan produktif. Dalam pelaksanaannya, kedua pendekatan ini pada dasarnya terintegerasi menjadi satu dalam bentuk paket keahlian produktif, terutama diberikan pada kelas 3 SMK. Bentuk pembelajaran dalam pendekatan ini adalah pelatihan keahlian yang mengarah pada pencapaian kompetensi lulusan, dengan memberikan pengalaman produksi (pada lini produksi) bagi siswa, baik dalam praktik kerja industri, maupun pengembangan unit produksi sekolah. Integrasi pendekatan di atas, memerlukan kemampuan dan sikap proaktif sekolah (SMK) terutama dalam 13
  • 15. menggalang kerjasama dengan stakeholders untuk bersama-sama menyelaraskankurikulum yang akan diimplementasikan di sekolah. Kompetensi produktif dengan demikian adalah pendekatan pendidikan danpelatihan yang merujuk kepada kriteria keahlian dunia usaha/industri yangpencapaiannya melalui pelatihan pada proses produksi atau menggunakan prosesproduksi sebagai wahana pembelajaran, Pelatihan ini dapat berlangsung di industri,melalui keterlibatan langsung siswa dalam proses produksi, atau di sekolah melaluiketerlibatan siswa dalam proses produksi di unit produksi. Untuk mencapai sasaran pendekatan di atas, diperlukan rancangan program(kurikulum) yang sinkron dan relevan, sebagai panduan dan pedoman pembelajaran.Upaya-upaya sinkronisasi kurikulum memerlukan model yang teruji, baik secarakonsepsional maupun operasional, sehingga dapat menjadi acuan bagi sebagian besarSMK, yang ternyata sampai dengan saat ini belum memiliki pola yang efektif danefisien. Salah satu kelemahan pelaksanaan pendidikan menengah kejuruan sampai saatini masih berkisar pada relevansi dan fleksibilitas isi program kurikulum. StudiSamsudi (1999) menemukan bahwa sering program atau kurikulum pendidikan danpelatihan masih disusun sepihak oleh penyelenggara, belum melibatkan dunia usahaatau industri. Penelitian Sudana (1998) menyimpulkan bahwa (1) dalam halimplementasi kurikulum, SMK masih bersifat sentralistik, artinya masih bertumpupada kurikulum nasional, belum banyak terjadi pengembangan kurikulum dilapangan yang melibatkan DU/DI; (2) SMK masih memiliki penafsiran yangbervariasi tentang pola sinkronisasi kurikulum pembelajaran; (3) SMK belummemiliki pola yang efektif dan efisien dalam pengembangan kurikulum, khususnyadalam bersinergi dengan dunia usaha/industri Dua studi di atas setidaknya menggambarkan betapa sinkronisasi kurikulumyang melibatkan stakeholders (DU/DI) belum banyak dilakukan oleh kalangan SMK.Walaupun dalam penelitian Sudana disebutkan ada satu dua SMK yang melakukansinkronisasi, namun belum secara intens melibatkan DU/Di. Dikemukakan bahwakendala yang menyolok adalah pemahaman pihak sekolah yang masih mengambang,di samping rasa kurang percaya diri, terutama karena terbatasnya peralatan SMK jikaharus menyelaraskan program pembelajarannya dengan DU/DI. 14
  • 16. E. Model Sinkronisasi Kurikulum SMK dengan Industri Secara eksplisit perancangan kurikulum SMK edisi 1999 dan kurikulum SMK 2004 memberikan arahan perlunya dilakukan penyelarasan terhadap kurikulum sebagai program pembelajaran atau mata diklat. Arahan itu memberikan pengertian bahwa kurikulum, sebagai suatu program pembelajaran/diklat, untuk dapat diimplementasikan di lapangan, perlu dilakukan penyelarasan dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan khususnya dunia kerja. Dengan demikian penyelarasan kurikulum pada dasarnya merupakan bagian dari proses pengembangan kurikulum SMK sehingga menjadi kurikulum yang siap dilaksanakan. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa penyelarasan kurikulum memiliki kaitan yang erat dengan konsepsi model pengembangan kurikulum , seperti yang dikenal dalam berbagai literatur. Dalam beberapa literatur (Syaodih, 1997:161-170), dapat dijelaskan bahwa model pengembangan kurikulum pada dasarnya dapat digolongkan menjadi dua kelompok besar, yaitu pertama, model pengembangan yang berkaitan dengan sistem pendidikan/pengelolaan kurikulum yang diterapkan. Dalam hubungan ini dikenal tiga model, yaitu (a) the administrative/line staff model; (b) the demonstrative model. Line staff atau administrative model pada umumnya diterapkan pada sistem pendidikan yang bersifat sentralistik. Dalam model ini inisiatif dan gagasan pengembangan datang dari para administratur pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi. Dengan wewenang adminsitrasinya, administratur pendidikan membentuk suatu komisi atau tim pengarah pengembangan kurikulum. Tugas tim ini adalah merumuskan konsep-konsep dasar, landasan-landasan, kebijakan dan strategi utama dalam pengembangan kurikulum. Sebaliknya, grass-root dan The demonstration model pada umumnya diterapkan pada sistem pendidikan yang bersifat desentralistik. Dalam model ini seorang guru, sekelompok guru atau keseluruhan guru di suatu sekolah mengadakan upaya-upaya pengembangan kurikulum. Penyempurnaan dan pengembangan kurikulum, satu atau beberapa bidang studi ataupun seluruh bidang studi dan seluruh komponen kurikulum. Kedua, model pengembangan kurikulum yang berkaitan dengan fokus isi atau substansi kurikulum. Dalam hubungan ini dikenal beberapa model yaitu: (a) Subject academic curriculum, yang terfokus pada bahan pelajaran 15
  • 17. yang berasal dari disiplin ilmu; (b) humanistic curriculum, yang menekankan kebutuhan pribadi, serta kurikulum didasarkan atas minat dan kebutuhan siswa; (3) technological/competence based curriculum, menekankan penguasaan kompetensi, dan dalam proses pembelajaran/diklat dibantu dengan alat-alat teknologi; dan (4) social reconstruction curriculum, yang berfokus pada masalah sosial dan dalam pembelajarannya menekankan belajar kelompok. Mendasarkan penjelasan di atas, maka penyelarasan kurikulum SMK berbasis kompetensi produktif, dipandang dari sistem pendidikan/pengelolaan kurikulum, pada dasarnya merupakan Grass-root model, serta dipandang dari sisi fokus isi/substansi merupakan competence-based curriculum. Ciri grass root model, karena dalam penyelarasan kurikulum SMK diterapkan semangat kolaborasi dengan lapangan, komite sekolah dan dunia industri, khususnya dalam menyepakati rumusan-rumusan kurikulum yang siap dilaksanakan di depan kelas. Demikian juga ciri competence-based, ditunjukkan oleh kesesuaiannya dengan karakteristik kurikulum SMK yang berbasis kompetensi.F. Penyerapan Dunia Industri terhadap Lulusan SMK Sedikitnya terdapat tiga alasan untuk memprioritaskan pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Pertama, pendidikan adalah alat untuk perkembangan ekonomi dan bukan sekedar pertumbuhan ekonomi. Pada praksis manajemen pendidikan modern, salah satu dari lima fungsi pendidikan adalah fungsi teknis- ekonomis baik pada tataran individual hingga tataran global. Fungsi teknis-ekonomis merujuk pada kontribusi pendidikan untuk perkembangan ekonomi. Misalnya pendidikan dapat membantu siswa untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk hidup dan berkompetisi dalam ekonomi yang kompetitif. Secara umum terbukti bahwa semakin berpendidikan seseorang maka tingkat pendapatannya semakin baik. Hal ini dimungkinkan karena orang yang berpendidikan lebih produktif bila dibandingkan dengan yang tidak berpendidikan. Produktivitas seseorang tersebut dikarenakan dimilikinya keterampilan teknis yang diperoleh dari pendidikan. Oleh karena itu salah satu tujuan yang harus dicapai oleh pendidikan adalah mengembangkan keterampilan hidup. Inilah sebenarnya arah 16
  • 18. kurikulum berbasis kompetensi, pendidikan life skill dan broad based education yangdikembangkan di Indonesia akhir-akhir ini. Di Amerika Serikat (1992) seseorangyang berpendidikan doktor penghasilan rata-rata per tahun sebesar 55 juta dollar,master 40 juta dollar, dan sarjana 33 juta dollar. Sementara itu lulusan pendidikanlanjutan hanya berpanghasilan rata-rata 19 juta dollar per tahun. Pada tahun yangsama struktur ini juga terjadi di Indonesia. Misalnya rata-rata, antara pedesaan danperkotaan, pendapatan per tahun lulusan universitas 3,5 juta rupiah, akademi 3 jutarupiah, SLTA 1,9 juta rupiah, dan SD hanya 1,1 juta rupiah. Kedua, investasi pendidikan memberikan nilai balik (rate of return) yanglebih tinggi dari pada investasi fisik di bidang lain. Nilai balik pendidikan adalahperbandingan antara total biaya yang dikeluarkan untuk membiayai pendidikandengan total pendapatan yang akan diperoleh setelah seseorang lulus dan memasukidunia kerja. Di negara-negara sedang berkembang umumnya menunjukkan nilaibalik terhadap investasi pendidikan relatif lebih tinggi dari pada investasi modal fisikyaitu 20 % dibanding 15 %. Sementara itu di negara-negara maju nilai balik investasipendidikan lebih rendah dibanding investasi modal fisik yaitu 9 % dibanding 13 %.Keadaan ini dapat dijelaskan bahwa dengan jumlah tenaga kerja terdidik yangterampil dan ahli di negara berkembang relatif lebih terbatas jumlahnyadibandingkan dengan kebutuhan sehingga tingkat upah lebih tinggi dan akanmenyebabkan nilai balik terhadap pendidikan juga tinggi. Ketiga, investasi dalam bidang pendidikan memiliki banyak fungsi selainfungsi teknis-ekonomis yaitu fungsi sosial-kemanusiaan, fungsi politis, fungsibudaya, dan fungsi kependidikan. Fungsi sosial-kemanusiaan merujuk padakontribusi pendidikan terhadap perkembangan manusia dan hubungan sosial padaberbagai tingkat sosial yang berbeda. Misalnya pada tingkat individual pendidikanmembantu siswa untuk mengembangkan dirinya secara psikologis, sosial, fisik danmembantu siswa mengembangkan potensinya semaksimal mungkin. Kontribusi pendidikan dalam pertumbuhan ekonomi terjadi melaluikemampuan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja yang ada. Pertumbuhanekonomi tidak hanya ditentukan oleh investasi modal, tetapi juga tenaga kerja yangmemiliki fleksibilitas dalam menguasai keterampilan baru untuk melaksanakanpekerjaan baru, sejalan dengan perubahan struktur ekonomi dan lapangan kerja (The 17
  • 19. World Bank, 1991). Sementara itu, Hicks (1991), dengan menggunakan data dariBank Dunia, menyimpulkan bahwa, negara-negara dengan tingkat pendidikan yanglebih tinggi, memiliki tingkat income yang lebih tinggi pula. Hicks (1991) menjelaskan bagaimana memahami kontribusi pendidikandalam pertumbuhan ekonomi, dengan cara mengetahui sebab-sebab pertumbuhanserta proses pertumbuhan itu sendiri. Menurut Hicks, para ahli ekomomimengidentifikasikan tiga faktor produksi, yaitu lahan, tenaga kerja, dan modal.Dalam proses pertumbuhan ekonomi, lahan diasumsikan tidak mengalamiperubahan. Sehingga, dua faktor kunci dalam pertumbuhan ekonomi adalah tenagakerja dan modal. Pemerintah terus mendorong minat lulusan SLTP untuk melanjutkan studi disekolah menengah kejuruan (SMK) namun sejauh ini daya serap lapangan kerjaterhadap lulusan SMK masih relatif rendah. Dosen Fakultas Teknik UniversitasNegeri Semarang (Unnes) Dr. Samsudi dalam pidato Dies Natalis ke-43 Unnes,mengatakan, idealnya secara nasional lulusan SMK yang bisa langsung memasukidunia kerja sekitar 80-85%, sedangkan selama ini yang terserap baru 61%. Iamenyebutkan, pada tahun 2006 lulusan SMK di Indonesia mencapai 628.285 orang,sedangkan proyeksi penyerapan atau kebutuhan tenaga kerja lulusan SMK tahun2007 hanya 385.986 orang atau sekitar 61,43%. "Jumlah ini belum ideal, harusdiupayakan peningkatan daya serap untuk memasuki lapangan kerja maupunmenciptakan peluang kerja," kata Samsudi. Menurutnya, daya serap ideal lulusanSMK seharusnya mencapai 80-85%, sedangkan sekitar 15-20% lulusan SMK lainnyadimungkinkan melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Ia menjelaskan,kecenderungan daya serap lapangan kerja menurut program keahlian sejak tahun2000 hingga 2007 berubah-ubah, menyesuaikan dengan kondisi lapangan kerja padawaktu tertentu. Pada tahun 2000, misalnya, lulusan Jurusan Teknik Elektronika dayaserapnya 87% namun melorot menjadi 50,5% pada 2006 sebelum akhirnya sedikitnaik menjadi 62%. Daya serap lulusan Jurusan Teknik Mesin juga mengalami nasibsama, dari 84,86% pada tahun 2000 melorot daya serapnya pada tahun 2007 tinggal76,52%. Daya serap tinggi ditunjukkan lulusan Jurusan Teknik Perkapalan, yangmencapai 94,69%. Ia memperkirakan, daya serap lulusan Jurusan TeknologiInformasi dan Komunikasi masih cukup tinggi. Kebutuhan SDM di bidang teknologi 18
  • 20. komunikasi dan informasi (ICT) di berbagai jenjang, mulai dari menengah, ahli,hingga profesional, menurut dia, terus membengkak di masa mendatang. Mengutipdata Aizirman Djusan, kebutuhan tenaga ICT pada tahun 2008 diperkirakanmencapai 32,6 juta orang, sedangkan tenaga ICT yang tersedia hanya 19,8 juta ataubaru terisi 61%. 19
  • 21. BAB III METODOLOGI PENELITIANA. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif, induktif, lebih menonjolkan proses dan makna, serta laporan dirancang dalam bentuk narasi, dan mendalam. Namun demikian penelitian ini juga menggunakan data-data yang sifatnya kuantitatif, misalnya dalam bentuk nilai-nilai statistik serta tabel-tabel silang. Dengan demikian penelitian ini menggunakan metode kualitatif.B. Sumber dan Informan Penelitian Sumber data penelitian ini dapat berupa orang, dokumen, atau laboratorium. Dokumen dapat berupa teks, gambar, film, cetakan, ataupun sketsa. Laboratorium dapat berupa ruang praktek, praktikum berserta kelengkapan yang ada di dalamnya. Laboratorium dapat berada di sekolah, industri, atapun bengkel-bengkel yang digunakan praktik magang oleh siswa dan guru praktik. Informan adalah sumber data yang berupa orang, yaitu orang yang diharapkan dapat memberikan keterangan yang diperlukan untuk melengkapi atau memperjelas jawaban subyek penelitian. Pada penelitian ini informan kadang- kadang juga bertindak sebagai subyek penelitian. Keabsahan informasi tidak cukup jika hanya berasal dari satu informan saja, oleh karena itu, informasi digali dari beberapa informan yang memahami secara luas dan dalam subyek penelitian. Subyek penelitian ini adalah keterkaitan antara pendidikan dengan ketenagakerjaan. Oleh karena itu, subyek penelitian ini adalah sekolah dan industri beserta pengelola yang ada di dalamnya. Jika subyek penelitian ini adalah kurikulum maka informan yang berkaitan dengan hal ini adalah Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, pengelola Bursa Kerja Khusus (BKK) serta guru-guru yang ada di sekolah itu. Jika subyek penelitian adalah laboratorium, maka informan yang kompeten adalah Kepala Bengkel, guru praktik, foreman, serta siswa. 20
  • 22. C. Langkah-langkah Penelitian Gambar 3. Langkah-langkah penelitian Pengumpulan Data Dinas Pendidikan - Disnaker Sekolah - Industri/Wirausaha Diklat dan Produksi Seminar Penyusunan LaporanD. Metode dan Alat Pengumpulan Data Fakta dan data yang akan digali dalam penelitian ini bermacam-macam, oleh karena itu dibutuhkan metode dan alat pengumpul data (instrument) yang bervariasi juga, misalnya adalah teknik dan lembar wawancara, teknik dan lembar observasi, check list, serta dokumentasi dan dokumen. Uraian detil masing-masing metode dan alat pengumpulan data yang digunakan seperti tersaji di bawah ini. 21
  • 23. a. Wawancara Wawancara adalah percakapan yang mempunyai maksud tertentu, percakapan ini dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberi jawaban atas pertanyaan. Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara yang tidak terstruktur atau wawancara bebas terpimpin. b. Obeservasi Penelitian ini menerapkan metode observasi langsung, yaitu di sekolah, industri, Dinas Pendidikan, serta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Pengamatan dilakukan sendiri menggunakan lembar pengamatan secara langsung ditempat subyek penelitian dengan menggunakan daftar pertanyaan. c. Dokumentasi Metode dokumentasi adalah cara memperoleh informasi mengenai hal-hal yang berwujud catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, paper, lagger, serta agenda. Metode ini digunakan karena beberapa alasan (1) dokumen merupakan sumber yang stabil dan kaya, (2) berguna sebagai bukti untuk suatu pengujian, (3) sesuai dengan metode penelitian kualitatif, sebab mempunyai sifat alamiah, dan (4) hasil pengkajian isi akan membuka kesempatan untuk lebih memperluas pengetahuan terhadap subyek yang diteliti. Dalam penelitian ini dokumen yang dibutuhkan adalah semua yang berkaitan dengan kebijakan Dinas Pendidikan terhadap SMK, proses pembelajaran di SMK, proses magang di industri, serta kemampuan lulusan SMK dalam bekerja di industri.E. Pengecekan Keabsahan Data Keabsahan data sangat mendukung dalam menentukan hasil akhir penelitian, oleh sebab itu, teknik untuk memeriksa keabsahan data adalah memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan atau perbandingan atas data yang telah dikoleksi. Keabsahan data dalam penelitian ini diperiksa dengan menggunakan teknik trianggulasi sumber. Trianggulasi ini berarti membandingkan dan memeriksa balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berlainan. Hal ini dapat dicapai dengan 22
  • 24. langkah (1) membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara, (2) membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi, (3) membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu, (4) membandingkan perspektif seseorang dengan berbagai pandangan orang sebagai rakyat biasa, orang-orang yang berpendidikan, orang kaya, pemerintah, serta (5) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan. Pada proses pengumpulan data, keikutsertaan peneliti menjadi suatu hal yang sangat penting dan menentukan dalam pengumpulan data. Keikutsertaan peneliti membutuhkan waktu yang relatif lama dengan tujuan agar data yang digali menjadi jenuh. Perpanjangan keikutsertaan berarti peneliti tinggal di lapangan penelitian sampai kejenuhan pengumpulan data tercapai. Jika hal ini dilakukan maka akan membatasi (1) gangguan peneliti terhadap konteks, (2) bias, (3) dari kejadian-kejadian yang tidak lazim atau sesat.F. Analisis Data Pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan melalui empat tahap, yaitu (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) sajian data, dan (4) penarikan kesimpulan atau verifikasi data. Keempat tahapan itu digambarkan dalam bagan di bawah ini. Gambar 4. Alur teknik analisis data Pengumpulan Data Reduksi Data Sajian Data Emik dan Etik Verifikasi Data dan Penarikan Kesimpulan 23
  • 25. F. RUANG LINGKUP PEKERJAAN 1. Fokus (substansi) Penelitian ini difokuskan kepada relevansi atau keterkaitan pendidikan dengan kebutuhan dan ketersediaan lapangan kerja di industri, yang lebih khusus pada bidang Perkayuan, Elektronika, Listrik, Mesin dan Otomotif (PELMO). Kesesuaian kompetensi kebutuhan oleh industri, peluang kerja dan pengajaran di sekolah dan industri. 2. Lokasi Penelitian ini dilakukan di sekolah, industri, serta lembaga pemerintah yang berkaitan langsung dengan ketenagakerjaan. Sekolah yang dijadikan populasi adalah SMK bidang rekayasa, terutama untuk program studi Perkayuan, Elektronika, Listrik, Mesin dan Otomotif. Penentuan lokasi mendasarkan pada asumsi bahwa memiliki SMK yang maju serta didukung oleh adanya industri- industri yang selaras dengan program studi PELMO, meliputi 10 lokasi di Jawa Tengah. Industri yang dijadikan populasi penelitian bisa berada di Jawa Tengah maupun di luar Jateng. Lembaga pemerintah dalam penelitian ini adalah Disnakertrans dan Dinas Pendidikan baik propinsi maupun kabupaten/kota serta Kota tertentu pusat industri penampung lulusan SMK. 24
  • 26. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANA. HASIL PENELITIAN 1. PENYELENGGARAAN PEMBELAJARAN SMK DI JAWA TENGAH Program normatif adalah kelompok mata diklat yang berfungsi membentuk peserta didik menjadi pribadi yang utuh, yang memiliki norma-norma kehidupan sebagai mahkluk individu maupun mahkluk sosial baik sebagai warga negara Indonesia maupun sebagai warga dunia. Program ini berisi mata diklat yang lebih menitikberatkan pada norma sikap dan perilaku yang harus diajarkan, ditanamkan dan dilatihkan pada peserta didik, di samping kandungan pengetahuan dan keterampilan di dalamnya. Mata diklat pada kelompok normatif berlaku sama untuk semua program keahlian. Pada penelitian ini disajikan contoh untuk pelajaran Bahasa Indonesia. Pelajaran Bahasa Indonesia mempunyai tujuan untuk mendidik siswa agar dapat bersikap positif, bertutur bahasa yang halus serta menghargai orang lain. Bersikap positif adalah bersikap yang mempunyai manfaat untuk kepentingan orang lain dan terbuka untuk menerima masukan atau kritik yang membangun. Bertutur bahasa yang halus adalah bertutur kata yang tidak menyinggung perasaan orang lain yang sedang kita ajak bicara. Media yang digunakan untuk menunjang kelancaran pembelajaran bahasa Indonesia adalah buku cetak, CD pembelajaran, papan tulis, kapur dan penghapus. Buku cetak adalah buku yang yang berisi materi pelajaran Bahasa Indonesia guna menunjang proses transfer pengetahuan dari guru kepada siswa. CD pembelajaran untuk Bahasa Indonesia berisi materi pembelajaran yang ditampilkan dalam bentuk materi-materi inti, yang penjelasannya akan disampaikan oleh guru. Contoh materi yang disampaikan adalah cara pembuatan surat permohonan atau surat ijin melaksanakan Prakerin di industri. Di samping media pembelajaran di atas, dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia juga disiapkan ruang perpustakaan. Di dalam perpustakaan selain menyediakan fasilitas peminjaman buku teks dan buku paket juga disediakan satu 25
  • 27. ruangan yang dilengkapi dengan televisi untuk menanyangkan CD pembelajaranyang akan disampaikan guru. Metode yang digunakan untuk menunjang kelancaran pembelajaran matadiklat Bahasa Indonesia adalah ceramah, diskusi, serta penugasan. Sifatpenugasan adalah mandiri, kelompok serta tugas yang harus diselesaikan dirumah. Metode ceramah digunakan oleh guru dalam menjelaskan suatu materi,sifatnya searah, yaitu siswa mendengarkan terlebih dahulu materi yangdisampaikan. Metode diskusi digunakan pada saat setelah materi disampaikanoleh guru, yang selanjutnya dibuka tanya jawab, atau guru memberikanpertanyaan kepada dan siswa memberikan tanggapan. Guru akan meluruskanjawaban yang diberikan siswa jika jawaban siswa masih belum lengkap ataumenyimpang. Pemberian tugas dilakukan agar siswa secara berkelompok atausendiri memperdalam pemahaman materi yang disajikan pada hari itu. Tugasrumah diberikan agar siswa mempunyai pemahaman yang lebih dalam terhadappermasalahan-permasalahan yang kompleks. Evaluasi pembelajaran Bahasa Indonesia dilakukan pada akhir pertemuanpada setiap pokok bahasan, hal ini tergantung dari sempit dan luasnya materi yangada. Di samping itu evaluasi dilakukan pada akhir semester yang berbentuk testertulis dalam bentuk pilihan ganda serta tes uraian. Kadang-kadang tes dilakukansecara lesan, yaitu dalam bentuk tes tanya jawab secara langsung antara guru dansiswa secara individual. Nilai minimal yang harus diperoleh siswa adalah 7,00,jika kurang maka guru memberikan tugas tambahan kepada siswa yang belumdapat mencapainya. Siswa yang belum mencapai nilai minimal dianggap belumtuntas dalam mengikuti mata diklat Bahasa Indonesia. Tugas tambahan lazimdisebut sebagai remedial. Program adaftif adalah kelompok mata diklat yang berfungsi membentukpeserta didik sebagai individu agar mempunyai dasar pengetahuan yang luas sertakuat dalam menyesuaikan diri atau mempunyai kemampuan untuk menyesuaikandiri serta beradaftasi dengan perubahan yang terjadi di lingkungannya, di sampingitu mampu mengembangkan diri sesuai dengan perkembangan IPTEKS. Programadaftif berisi mata diklat yang lebih menitikberatkan pada pemberian kesempatan 26
  • 28. kepada peserta didik untuk memahami dan menguasai konsep/prinsip dasar ilmuserta teknologi yang dapat diterapkan dalam kehidupan. Program adaftif diberikan agar siswa tidak hanya memahami dan menguasai”apa” dan ”bagaimana” suatu pekerjaan itu dilakukan, tetapi juga memberikanpemahaman dan penguasaan tentang ”mengapa”. Program adaftif terdiri darikelompok mata diklat yang berlaku sama bagi semua program keahlian dan matadiklat yang hanya berlaku bagi program keahlian tertentu sesuai dengankebutuhan masing-masing program keahlian. Dalam penelitian ini diberikan contoh mata diklat Keterampilan Komputerdan Pengolahan Informasi (KKPI). Mata diklat ini mempunyai tujuan untukmembekali siswa agar dapat menggunakan teknologi komputer dalam kehidupansehari-hari dan memiliki kemampuan aplikasi komputer sesuai StandarKompetensi Kerja Nasional (SKKNI) pada bidang permesinan. Media yang dipakai dalam pembelajaran ini berupa buku cetak, kapur,papan tulis, modul, serta seperangkat komputer. Modul diberikan oleh gurusebagai panduan saat pelaksanaan pembelajaran, yang mana berisi carapengoperasian komputer. Buku penunjang mata diklat ini tersedia diperpustakaan, sedangkan komputer tersedia di laboratorium. Pembelajaranlangsung dilakukan di dalam laboratorium yang sudah dilengkapi dengan audiovisual, sehingga pembelajaran dapat dilakukan secara optimal. Metode pembelajaran yang diterapkan dalam mata diklat KKPI ini adalahceramah, diskusi, serta tugas mandiri. Metode ceramah digunakan pada saat gurumenjelaskan langkah-langkah pengoperasian komputer, metode ini dilengkapidengan media audio visual yang telah tersedia. Metode diskusi dilakukanlazimnya pada saat siswa menemukan hambatan dalam mengoperasikan kompuetratau perangkat lunak yang diajarkan, di samping itu jika pada saat ceramah olehguru ada beberapa materi yang dirasakan belum jelas. Tugas mandiri diterapkansetelah pokok bahasa tertentu selesai, hal ini mempunyai tujuan agar siswamemahami materi dan terampil dalam mengoperasikan perangkat lunak yangdiajarkan oleh guru. Mata diklat ini bersifat keterampilan, sehingga evaluasi yang dilakukanadalah berupa praktik mengoperasikan piranti lunak yang diajarkan. Evaluasi 27
  • 29. dilakukan dengan cara melihat tugas yang telah dikerjakan, untuk kemudian diberikan penilaian. Di samping itu pada akhir semester dilakukan ujian yang berupa penugasan, yaitu guru memberikan soal yang selanjutnya diselesaikan oleh siswa. Siswa yang mempunyai nilai minimal 7,00 dianggap telah mencapai tugas ketuntasan mata diklat KKPI, bagi siswa yang belum mencapai nilai minimal akan diberikan tugas tambahan oleh guru untuk dikerjakan di rumah.2. IMPLEMENTASI KEBIJAKAN LINK AND MATCH SMK DI JAWA TENGAH a. Prosedur Penyelarasan Kurikulum SMK Negeri dan Swasta di Jawa Tengah Program produktif adalah kelompok mata diklat yang berfungsi membekali peserta didik agar memiliki kompetensi kerja sesuai Standar Kompetensi Nasional Indonesia (SKKNI). Program produktif bersifat melayani permintaan pasar kerja, karena itu lebih banyak ditentukan oleh dunia industri atau asosiasi profesi. Program produktif diajharkan secara spesifik sesuai dengan kebutuhan tiap program keahlian. Evaluasi dalam pembelajaran produktif ini dilakukan pada setiap satu pokok bahasan atau setiap jenis pekerjaan yang diberikan selesai dikerjakan dengan tujuan untuk mengukur atau mengetahui sejauh mana siswa telah menguasai bidang keahlian yang diajarkan sesuai dengan target kelulusan.Lazimnya nilai yang menjadi patokan adalah 7,00, jika kurang dari nilai ini maka siswa yang bersangkutan diwajibkan untuk melakukan remidial. Waktu remidial lazimnya dilakukan pada saat liburan semester, sehingga nilainya menjadi 70. Kurikulum yang digunakan untuk mata diklat produktif ini disusun bersama antara sekolah dan industri. Kegiatan ini lazimnya diwadahi dalam bentuk kegiatan berupa In House Training (IHT), yaitu suatu wadah untuk mensinkronkan antara kurikulum sekolah dengan keterampilan yang sama di industri, sehingga ditemukan suatu kurikulum terstandar. Kurikulum inilah yang biasanya digunakan untuk pembelajaran produktif. 28
  • 30. Gambar 5. Prosedur Penyelarasan Kurikulum Program Adaftif dan Produktif SMK Negeri di Jawa Tengah KELOMPOK GURU PRODUKTIF PROGRAM KEAHLIAN MESIN PERKAKAS KTSP MAPEL KONDISI DAN ADAFTIF DAN KEBUTUHAN PRODUKTIF INDUSTRI IN HOUSE TRAINING (IHT) KEPALA INDUSTRISEKOLAH PASANGAN KURIKULUM ALTERNATIF WAKA SEKOLAH KURIKULUM TERSTANDAR YANG DILAKSANAKAN 29
  • 31. Gambar 6. Prosedur Penyelarasan Kurikulum Program Adaftif dan Produktif di SMK Mikail Surakarta KELOMPOK GURU PRODUKTIF PROGRAM KEAHLIAN MESIN PERKAKAS KTSP MAPEL ATMI INDUSTRI ADAFTIF DAN SURAKARTA MILIK PRODUKTIF YAYASAN MIKAILKUNJUNGANKE INDUSTRI KEPALAPERMESINAN KURIKULUM SEKOLAH ALTERNATIF WAKA SEKOLAH KURIKULUM TERSTANDAR YANG DILAKSANAKAN 30
  • 32. b. Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) di Beberapa SMK Negeri di Jawa Tengah 1) Kasus SMK Mikail Surakarta Di SMK Mikael, pengembangan kurikulum tidak dilakukan dengan industri di luar kampus. Artinya sinkronisasi kurikulum dilakukan secara internal bersama-sama dengan ATMI. Di kampus ini, sekolah mempunyai perusahaan atau industri, lazim disebut juga sebagai ”unit produksi”. Unit produksi yang sifatnya sudah pabrikasi ini mengerjakan order dari luar. Pekerjaaanya berkisar pada produk-produk mesin industri beserta komponen-komposekolah secara otomatis dapat langsung terserap, sehingga SMK Mikael tidak harus membutuhkan masukan dari industri di luar unit produksinya. Namun demikian, pada akhir-akhir ini, SMK Mikael melakukan sinkronisasi secara tidak langsung yaitu pada saat mereka berkunjung di Pabrik Rokok Gudang Garam, yaitu bahwa siswa-siswa mereka seharusnya belajar juga mengenai kelistrikan industri. Masukan ini diakomodasikan di dalam kurikulum, yang saat ini sudah diajarkan di SMK Mikael. SMK Mikael Solo memiliki unit produksi yang terintegrasi dengan pembelajaran mata pelajaran produktif di sekolah. Sejak 2002 sekolah memperoleh sertifikat Sistem Manajemen Mutu Standar Internasional ISO 9001-2000. Sekolah juga dipercaya menjadi Sister dari Indonesian German Institute (IGI) untuk pengembangan kualitas sumber daya manusia di Indonesia melalui Program Pendidikan SMK dan Social Grassroot Training Center (SGTC). Di samping itu sekolah memiliki tim penjamin mutu, yaitu Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI). SMK yang mempunyai kerjasama dengan dunia usaha dan industri, unit produksi, sistem manajemen mutu standar internasional ISO Siswa SMK Mikael tidak ada pemagangan layaknya SMK negeri atau swasta yang lain. Saat ini pemagangan disebut sebagai kegiatan Prakerin (Praktik Kerja Industri). Siswa SMK Mikael melaksanakan Prakerin di unit produksi sekolah yang mekanismenya adalah 5 siswa dikirim ke unit produksi selama tiga minggu, setelah itu ganti kelompok berikutnya sebesar 31
  • 33. 5 siswa juga selama tiga minggu. Pelaksanaan Prakerin seperti ini disebut sebagai sistem blok, yaitu 3 minggu di unit produksi dan selanjutnya di kelas teori.2) Kasus SMK Cilacap, Pati, Tegal, Magelang dan Kudus Pelaksanaan Prakerin pada keahlian mesin Perkakas SMKN 2 Cilacap, SMKN 2 Pati, SMKN 2 Slawi , keahlian otomotif di SMKN 1 Magelang dan SMKN 2 Kudus di lakukan pada semester pertama di kelas tiga selama tiga bulan penuh di industri. Pelaksanaan Prakerin dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap pertama pada bulan Juli sampai dengan September; dan tahap kedua bulan November sampai dengan Januari. Pengaturan hari dan jam kerja disesuaikan dengan kesepakatan antara sekolah dengan industri. Sebelum pelaksanaan Prakerin di industri, siswa memperoleh pembekalan dari sekolah dan industri. Biasanya kegiatan ini dilakukan di sekolah. Industri didatangkan ke sekolah untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang profil industri mereka, serta gambaran kegiatan siswa pada saat ada di industri. Di samping itu, disampaikan juga norma, keselamatan kerja dan aturan selama pelaksanaan Prakerin. Pembekalan dilaksanakan selama dua hari. Setelah memperoleh pembekalan di sekolah siswa diberangkatkan ke industri atau perusahaan. Pada tahun 2006, 2007, dan 2008 ini tempat prakerin siswa dilkat mesin perkakas adalah PT. PERMIKO Cilacap, PT. Karya Hidup Sentosa (KHS) Yogyakarta, PT. Saka Nusantara Cilacap, CV. Sederhana Cilacap, bengkel bubut Prima Teknik Cilacap, PT. Safari Jaya Cilacap, CV. Bubut Batas Jaya Cilacap, PT. Katshiro Indonesia jakarta, PT. Sinar Pratama CilacapBengkel bubut Men Jaya Purbalingga, PT. Daihatsu Motor Pati, PT. NIKOO MAS Cikarang, PT. Komatsu Cikarang, PT. Polytron Kudus, Pabrik Kacang Garuda Pati, pabrik pengecoran logam di Adiwerna Kabupaten Tegal, dan Karoseri New Armada Magelang Di bawah ini disajikan Gambar IV.4 tentang pola pelaksanaan Prakerin yang diterapkan di SMKN 2 Cilacap, SMKN 2 Pati dan SMKN 2 Slawi, SMKN 1 Magelang dan SMKN 2 Kudus. 32
  • 34. Gambar 7. Pola pelaksanaan Prakerin yang diterapkan di SMK N 2 Cilacap, SMK N 2 Pati, SMK N 2 Slawi, SMKN 1 Magelang dan SMKN 2 Kudus tahun ajaran 2006/2007 dan 2007/2008 I II III (1) (1) (3c) (2) (2) (3a) (3a) (1) (3b) (3b) (2) Pada tahun ajaran 2008/2009, khusus untuk SMKN 2 Cilacap pola pelaksanaan prakerin diubah menjadi empat gelombang, yaitu gelombang pertama pada tanggal 30 Juni 2008 sampai dengan 27 September 2008, gelombang kedua 29 September 2008 sampai dengan 27 Desember 2008, gelombang ketiga 29 Desember 2008 sampai dengan Maret 2009, serta gelombang keempat 30 Maret 2009 sampai dengan 27 Juni 2009. Pola penyelenggaraannya seperti tersaji dalam Gambar 8. di bawah ini.Gambar 8. Pola pelaksanaan Prakerin yang diterapkan di SMK 2 Cilacap tahun ajaran 2008/2009 I II III (1) (3c) (1) (2) (3c) (2) (3a) (1) (3a) (3b) (2) (3b) Prakerin dilaksanakan sejak kelas dua, yaitu pada bulan Desember sampai dengan bulan Juni bergantian, artinya diadakan dua gelombang yaitu Desember sampai dengan Maret dan Maret sampai dengan Juni. Prakerin dibimbing oleh tiga sampai dengan empat guru pembimbing, yaitu satu koordinator dan dua atau tiga gur pembimbing yang berasal dari kelompok Kerja PSG (Pendidikan Sistem Ganda). Guru pembimbing melaksanakan monitoring lazimnya dilakukan dua kali, untuk tempat prakerin yang jauh, misalnya Jakarta dan Yogyakarta dilakukan sekali. Monitoring dilakukan untuk mengamati permasalahan siswa di industri, hal in lebih ke permasalahan mental dan psikologis siswa. 33
  • 35. Evaluasi kemampuan siswa di industri diserahkan langsung kepada pembimbing lapangan. Dalam hal ini industri atau perusahaan sudah mempunyai format penilaian masing-masing yang tidak jauh dari tuntutan sekolah. Bagi industri yang belum memiliki format penilaian, biasanya menggunakan format yang dimiliki oleh sekolah yang merujuk kepada buku panduan penyelenggraan prakerin dari Direktorat pendidikan Menengah Kejuruan.3) Kasus SMKN 2 Salatiga dan SMKN 2 Kendal Pelaksanaan Prakerin pada keahlian teknik perkayuan SMKN 2 Salatiga dan SMKN 2 Kendal di lakukan pada semester pertama di kelas tiga selama tiga bulan penuh di industri. Pelaksanaan Prakerin dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap pertama pada bulan Juli sampai dengan September; dan tahap kedua bulan November sampai dengan Januari. Pengaturan hari dan jam kerja disesuaikan dengan kesepakatan antara sekolah dengan industri. Sebelum pelaksanaan Prakerin di industri, siswa memperoleh pembekalan dari sekolah dan industri. Biasanya kegiatan ini dilakukan di sekolah. Industri didatangkan ke sekolah untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang profil industri mereka, serta gambaran kegiatan siswa pada saat ada di industri. Di samping itu, disampaikan juga norma, keselamatan kerja dan aturan selama pelaksanaan Prakerin. Pembekalan dilaksanakan selama dua hari. Pelaksanaan prakerin di SMK 2 Salatiga dan SMKN 2 Kendal untuk program keahlian teknik perkayuan menggunakan sistem blok. Artinya siswa selama tiga bulan berada di industri perkayuan, tidak ada kegiatan pembalajaran di kelas, siswa tinggal di sekitar industri, lazimnya adalah kost. Sistem ini digunakan agar keterampilan yang diperoleh di industri tidak terganggu oleh mata diklat yang ada di sekolah, sehingga diharapkan keterampilan yang diperoleh adalah bulat. Setelah masa tiga bulan terpenuhi siswa dikembalikan ke sekolah. Di bawah ini disajikan model 34
  • 36. penyelenggaraan prakerin yang dilakukan oleh program keahlian teknik perkayuan SMK 2 Salatiga dan SMKN 2 Kendal. Kegiatan monitoring yang dilakukan sekolah hanya dilakukan sekali selama tiga bulan, hal ini dilakukan agar sekolah tidak mengganggu proses pembelajaran di industri. Di samping itu pembimbing dari sekolah biasanya menanyakan mengenai hambatan yang dialami siswa di industri, ada permasalahan tidak dalam beradaptasi. Demikian juga sekolah menanyak hal itu kepada industri, apakah siswa dari sekolahnya mengalami permasalahan, etika, moral atau semangat kerja misalnya. Guru pembimbing tidak mempunyai wewenang membarikan penilaian keterampilan siswa. Kegiatan penilaian dilakukan sepenuhnya oleh industri.Gambar 9. Pola pelaksanaan Prakerin yang diterapkan di SMK 2 Salatiga dan SMKN 2 Kendal program keahlian Teknik Perkayuan I II III (1) (1) (3c) (2) (2) (1) (3a) (3a) (2) (3b) (3b) (3a) dan (3b) Bentuk penilaian yang dilakukan oleh industri adalah berkaitan dengan kinerja siswa dalam menyelesaikan bahan menjadi produk jadi. Penilaian dilakukan sesuai dengan kompetensi yang ditempuh siswa di industri. Misalnya untuk industri yang bergerak di bidang permebelan, kompetensi yang dinilai antara lain adalah hasil kerja siswa menggunakan kerja bangku dan mesin. Di samping itu diberikan juga penilaian mengenai menegenai sikap, etika, semangat kerja, yang mana penilaian ini dimasukkan dalam jurnal harian, yang nantinya dari industri diberikan kepada sekolah. Setelah penarikan, siswa biasanya diminta sekolah untuk membuat laporan pelaksanaan prakerin di industri. Setelah laporan jadi, selanjutnya siswa diuji oleh pembimbing yang berasal dari sekolah. Siswa memperoleh hasil nilai prakerin dari sekolah, yang mana nilai dari siswa merupakan 35
  • 37. rerata dari kedua nilai itu, yaitu nilai ujian prakerin dan nilai dari pembimbing lapangan.4) Kasus di SMK TELKOM Sandhy Putra Purwokerto Berdasarkan naskah perjanjian kerjasama yang tertuang dalam perjanjian kerjasama antara PT. TELKOM dengan Yayasan Sandhykara Putra Telkom (YSPT) No. Tel.518/PD000/SDM-23/1999 dan nomor: 01/PDD/DPP-YSPT, tanggal 2 November 1999, tentang Pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda (PSG), yang mana PT. TELKOM sebagai salah satu institusi pasangan dan telah sepakat mengikat diri untuk membantu penyelenggaraan/pengelolaan pendidikan SMK TELKOM, sehingga pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) dengan cara Praktik kerja Industri dapat terwujud. Tujuan Umum PSG di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto adalah: (1) menghasilkan lulusan yang memiliki keahlian profesional yaitu lulusan yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan etos kerjasama dengan tuntutan lapangan kerja yang makin kompetitif; (2) keterkaitan dan kesepadanan (Link and Match) antara sekolah dengan dunia usaha atau industri dapat tercapai; (3) meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang berkualitas dan profesional; dan (4) memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan. Tujuan khusus adalah (1) mempersiapkan siswa untuk belajar, bekerja mandiri, bekerjasama dalam bentuk tim dan mengembangkan potensi dan kreativitas sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing; (2) meningkatkan status dan kepribadian siswa sehingga mampu berorientasi, berkomunikasi dan meiliki rasa tanggungjawab serta disiplin yang tinggi; dan (3) memberi kesempatan bagi siswa yang berpotensi untuk menjadi tenaga terampil dan produktif berdasarkan pengakuan standar profesi. Kerjasama antara SMK dengan dunia industri dan usaha dilaksanakan dalam prinsip saling membantu, saling mengisi dan saling melengkapi untuk keuntungan bersama. Berdasarkan prinsip ini, pelaksanaan PSG akan 36
  • 38. memberikan nilai tambah bagi pihak-pihak yang bekerjasama, sepertidijelaskan beberapa paragraf di bawah ini. Nilai tambah bagi industri atau perusahaan adalah (1) industri dapatmengenal kualitas peserta PSG yang belajar dan bekerja di perusahaannya;(2) pada umumnya peserta PSG telah mengikuti proses produksi secaraaktif, sehingga pada penegertian tertentu peserta PSG adalah tenaga kerjayang memberikan keuntungan; (3) selama proses pendidikan melalui kerjadi industri, peserta PSG lebih mudah diatur dalam al disiplin berupakepatuhan terhadap aturan industri, karena itu sokap peserta PSG dapatdibentuk sesuai ciri khas tertentu dari perusahaan yang mana pesertamelaksanakan PSG; (4) industri dapat memberi tugas kepada peserta PSGuntuk mencari pengetahuan dan teknologi (sekolah) untuk kepentinganperusahaan; dan (5) memberikan kepuasan bagi industri atau perusahaankarena diakui ikut serta menentukan hari depan bangsa, melalui PSG. Nilai tambah bagi sekolah adalah (1) tujuan pendidikan untukmemberi keahlian profesional bagi peserta didik lebih terjaminpencapaiannya; (2) terdapat kesesuaian yang lebih tinggi antara programpendidikan dengan kebutuhan lapangan kerja, hal ini sesuai dengan prinsiplink and match; (3) memberi kepuasan bagi penyelenggara pendidikan atausekolah karena tamatannya lebih terjamin memperoleh bekal yangbermakna, baik untuk kepentingan tamatan, industri, serta bangsa. Nilai tambah bagi peserta praktik PSG adalah (1) hasil belajar pesertadi industri akan lebih bermakna, karena setelah tamat akan betul-betulmemiliki keahlian profesional sebagai bekal untuk meningkatkan tarafhidup dan sebagai bekal untuk mengembangkan dirinya secaraberkelanjutan; dan (2) keahlian profesional yang diperoleh dapatmengangkat harga diri dan rasa percaya diri tamatan yang selanjutnya akanmendorong siswa untuk meningkatkan keahlian profesionalnya pada tingkatyang lebih tinggi. Pelaksanaan Prakerin pada keahlian teknik informatika dan teknikjaringan di lakukan pada semester pertama di kelas dua selama dua bulanpenuh di industri (Bulan Januari sampai dengan Februari). Prakerin lanjutan 37
  • 39. dilaksanakan pada kelas tiga selama tiga bulan penuh (Juli, Agustus, dan September). Pengaturan hari dan jam kerja disesuaikan dengan kesepakatan antara sekolah dengan industri. Sebelum pelaksanaan Prakerin di industri, siswa memperoleh pembekalan dari sekolah dan industri (PT. TELKOM). Biasanya kegiatan ini dilakukan di sekolah. Industri (PT. TELKOM) didatangkan ke sekolah untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang profil industri mereka, serta gambaran kegiatan siswa pada saat ada di industri. Di samping itu, disampaikan juga norma, keselamatan kerja dan aturan selama pelaksanaan Prakerin. Pembekalan dilaksanakan selama tiga hari. Di bawah ini disajikan Tabel IV. 1. tentang materi pembekalan dalam rangka PSG di PT. TELKOM Tabel IV.1 Materi pembekalan dalam rangka PSG di PT. TELKOM No. Hari ke- Materi Petugas 1. Pertama 1. Teknik pelaksanaan PSG Sekolah 2. Pengantar umum tentang Teknik PT. TELKOM Jaringan dan Akses Pelanggan; 3. Pengantar umum tentang Teknik Komputer Jaringan. PT. TELKOM 2. Kedua 1. Penyampaian project work untuk Sekolah proyek tugas akhir; 2. Etika pergaulan dan penyesuaian Psikolog diri di lingkungan kerja; 3. Penyampaian format penilaian PSG dan pembagian surat pengantar Sekolah PSG 3. Ketiga 1. Pengarahan pelaksanaan PSG; Kepala Sekolah 2. Pengenalan PT. TELKOM; PT. TELKOM 3. Pembagian dan pengambilan surat Sekolah pengantar PSG.Sumber: Program PSG SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto Pelaksanaan prakerin SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto untuk program keahlian teknik jaringan menggunakan sistem semi blok. Penyelenggaraan prakerin dibagi menjadi dua tahapan, yaitu yang pertama dilaksanakan pada kelas dua, di samping itu diadakan juga pada kelas tiga. Kelas dua dilaksanakan selama dua bulan, sedangkan kelas tiga dilaksanakan selama tiga bulan. Semi blok disini merupakan bentuk dari 38
  • 40. pelaksanaan PSG tipe blok yang dimodifikasi, jika sistem blok pelaksanaan PSG dilakukan pada kelas tiga selama tiga bulan penuh, maka semi blok merupakan modifikasinya. Dalam hal ini pada tahap pertama yang dilakukan di kelas dua siswa selama dua bulan berada di PT. TELKOM, tidak ada kegiatan pembelajaran di kelas, siswa tinggal di sekitar industri, lazimnya adalah kost. Sistem ini digunakan agar keterampilan yang diperoleh di industri tidak terganggu oleh mata diklat yang ada di sekolah, sehingga diharapkan keterampilan yang diperoleh adalah bulat. Setelah masa dua bulan terpenuhi siswa dikembalikan ke sekolah. Kegiatan ini diulangi lagi pada saat siswa kelas tiga, bahkan waktunya lebih lama lagi yaitu selama tiga bulan penuh di PT. TELKOM. Di bawah ini disajikan model penyelenggaraan prakerin yang dilakukan oleh program keahlian teknik jaringan di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto.Gambar 10. Pola pelaksanaan Prakerin yang diterapkan di SMK Telkom Sandy Putra Purwokerto Klas I Klas II Klas III (1) (3c) (1) (3c) (1) (2) (2) (2) (3a) (3a) (3c) (3c) (3c) (3b) (3b) (3a) dan (3b) Tata tertib siswa yang melaksanakan PSG di lingkungan Divre IV Jawa Tegah dan Daerah Istimewa Yogyakarta adalah (1) hari dan jam kerja praktik siswa disesuaikan dengan jam kerja pegawai yaitu untuk hari Senin sampai dengan Kamis mulai pukul 07.30 sampai dengan 17.00 WIB, sedangkan hari Jumat mulai pukul 08.00 sampai dengan 16.00, hari Sabtu libur; (2) siswa diharuskan memakai pakaian seragam OSIS atau pakaian kerja lapangan dan tidak diperkenankan memakai pakaian lain di luar pakain tersebut; (3) siswa diwajibkan menyerahkan laporan PSG dalam bentuk makalah, dibuat rangkap tiga; (4) siswa dilarang menyebarkan hasil 39
  • 41. laporan atau penelitiannya kepada pihak lain; (5) siswa di lokasi PSG harusmenandatangani surat pernyataan di atas materai Rp. 6000,-; (6)menyerahkan dua lembar pas foto hitam putih ukuran 3x4; (7)melaksanakan dan mengisi daftar hadir setiap hari serta diparaf oleh KepalaUnit kerja atau pembimbing lapangan; (8) menjaga nama abaik sekolah,selalu bersikap santun dan ramah terhadap sesama; dan (9) dilarangmenggunakan fasilitas atau sarana PT. TELKOM tanpa ijin, seperti telepon,foto copy, komputer untuk kepentingan pribadi. Kegiatan monitoring yang dilakukan sekolah hanya dilakukan sekaliselama tiga bulan, hal ini dilakukan agar sekolah tidak mengganggu prosespembelajaran di PT. TELKOM. Di samping itu pembimbing dari sekolahbiasanya menanyakan mengenai hambatan yang dialami siswa di industri,ada permasalahan tidak dalam beradaptasi. Demikian juga sekolahmenanyakan hal itu kepada industri, apakah siswa dari sekolahnyamengalami permasalahan, etika, moral atau semangat kerja misalnya. Gurupembimbing tidak mempunyai wewenang memberikan penilaianketerampilan siswa. Kegiatan penilaian dilakukan sepenuhnya oleh industri. Bentuk penilaian yang dilakukan oleh industri adalah berkaitandengan kinerja siswa dalam menyelesaikan bahan menjadi produk jadi.Penilaian dilakukan sesuai dengan kompetensi yang ditempuh siswa diindustri. Misalnya untuk PT. TELKOM yang bergerak di bidang jaringan,kompetensi yang dinilai antara lain adalah hasil kerja siswa dalam bidangsistem penyambungan kabel. Di samping itu diberikan juga penilaianmengenai menegenai sikap, etika, semangat kerja, yang mana penilaian inidimasukkan dalam jurnal harian, yang nantinya dari industri diberikankepada sekolah. Aspek yang dinilai dalam laporan kemajuan siswa peserta PSG di PT.TELKOM seperti tersaji dalam Tabel IV. 2 di bawah ini. 40
  • 42. Tabel IV.2. Aspek penilaian PSG siswa SMK Telkom Sandhy Putra PurwokertoNo. Aspek yang Kriteria Penilaian Bobot Dinilai1. Disiplin a. Ketentuan jam kerja 40 b. Penggunaan pakaian seragam dan 30 atribut; c. Sikap sopan santun 30 Sub Total 1002. Kerjasama a. Kemampuan bekerjasama; 40 b. Penyesuaian pendapat; 30 c. Pertimbangan dan penerimaan usul 30 orang lain Sub Total 1003. Inisiatif a. Mencari tata kerja baru; 25 b. Pemberian saran yang baik; 25 c. Mampu mengemukakan pendapat 50 Sub Total 1004. Kerajinan a. Mempelajari setiap hal baru; 40 b. Membentu pelaksanaan tugas 30 kelompok; c. Membantu pelaksanaan tugas 30 pembimbing Sub Total 1005. Tanggungjawab a. Memelihara barang milik perusahaan; 40 b. Penyelesaian tugas sampai tuntas; 30 c. Tidak melempar tanggungjawab 30 Sub Total 1006. Sikap a. Keiklasan dalam melaksanakan tugas; 30 b. Penghargaan terhadap bidang tugas orang lain; 30 c. Jujur dan bertanggungjawab 40 Sub Total 1007. Prestasi a. Kesungguhan; 30 b. Kecakapan; 30 c. Hasil kerja 40 Sub Total 100Sumber: Program PSG SMK Telkom Shandy Putra Purwokerto Setelah penarikan, siswa biasanya diminta sekolah untuk membuat laporan pelaksanaan prakerin di PT. TELKOM Setelah laporan jadi, selanjutnya siswa diuji oleh pembimbing yang berasal dari sekolah. Siswa memperoleh hasil nilai prakerin dari sekolah, yang mana nilai dari siswa merupakan rerata dari kedua nilai itu, yaitu nilai ujian prakerin dan nilai dari pembimbing lapangan. 41
  • 43. 5).Kasus SMKN 2 Klaten Pelaksanaan Prakerin pada keahlian mesin Perkakas SMKN 2 Klaten di lakukan pada semester kedua di kelas tiga selama tiga bulan penuh di industri. Pelaksanaan Prakerin dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap pertama pada bulan Juli sampai dengan September; dan tahap kedua bulan November sampai dengan Januari. Pengaturan hari dan jam kerja disesuaikan dengan kesepakatan antara sekolah dengan industri. Program Keahlian Mesin Perkakas di SMKN 2 Klaten dirancang dalam empat tahun. Klas satu sampai dengan klas tiga muatan kurikulumnya sama dengan Program Keahlian Mesin Perkakas di SMK tiga tahun. Pada kelas empat siswa melaksanakan prakerin di industri selama satu tahun, di samping Prakerin yang diadakan di kelas tiga. Pada siswa yang tidak memperoleh tempat Prakerin, atau mengikuti Prakerin tetapi sebelum masa satu tahun sudah selesai, maka SMK membekali mereka dengan praktik produktif hingga mencapai satu tahun. Pada akhir semester delapan siswa yang memiliki keterampilan kategori sangat baik, didaftarkan mengikuti ujian kompetensi di ATMI Surakarta. Biasanya jumlah peserta yang diikutsertakan ujian kompetensi sekiutar 10 siswa. Hal ini dilakukan, karena biaya untuk ujian kompetensi sangat besar untuk ukuran sekolah, yaitu per peserta adalah 1,5 juta rupiah. Jika pihak panitia ujian kompetensi dalam hal ini ATMI Surakarta meminta sekolah menyediakan mesin ujinya, maka jumlah pesertanya menjadi berkurang, karena jumlah mesin yang memenuhi syarat untuk ujian kompetensi hanya tiga unit. Pada tahun 2007 jumlah siswa yang lulus ujian kompetensi adalah tiga orang. Siswa yang mengikuti Prakerin selama di kelas empat di PT. KHS, biasanya memperoleh sertifikat yang setara dengan hasil ujian kompetensi. Namun demikian menurut guru SMKN 2 Klaten Program Keahlian Mesin Perkakas, kualitas sertifikat dari PT. KHS masih di bawah sertifikat yang diperoleh dari ATMI Surakarta. Selanjutnya dikatakan bahwa, nilai rata-rata hasil uji kompetensi dari ATMI sebesar 5,5 lebih dihargai dibanding nilai delapan atau sembilan yang diperoleh dari PT. KHS. Hal ini disebabkan 42
  • 44. industri tempat Prakerin merasa “hutang budi” kepada siswa karena sudah dibantu, sehingga ketika memberikan nilai dalam sertifikat cenderung tinggi yaitu antara delapan sampai dengan sembilan. Siswa yang melaksanakan Prakerin di sekolah juga memperoleh sertifikat yang dikeluarkan oleh sekolah. Hal ini sangat dimungkinkan, karena salah satu guru Program Keahlian Mesin Perkakas di SMKN2 Klaten telah memiliki sertifikat asesor sebagai penguji ujian kompetensi. Meskipun kualitas sertifikat yang dikeluarkan oleh sekolah masih kurang dihargai, namun dirasakan sangat berarti bagi siswa. Sebelum pelaksanaan Prakerin di industri, siswa memperoleh pembekalan dari sekolah dan industri. Biasanya kegiatan ini dilakukan di sekolah. Industri didatangkan ke sekolah untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang profil industri mereka, serta gambaran kegiatan siswa pada saat ada di industri. Di samping itu, disampaikan juga norma, keselamatan kerja dan aturan selama pelaksanaan Prakerin. Pembekalan dilaksanakan selama dua hari. Setelah memperoleh pembekalan di sekolah siswa diberangkatkan ke industri atau perusahaan. Pada tahun 2006, 2007, dan 2008 ini tempat prakerin siswa dilkat mesin perkakas adalah PT. Karya Hidup Sentosa (KHS) Yogyakarta, PT. Katshiro Indonesia jakarta. Pada tahun 2006, 2007 siswa diberangkatkan dalam dua gelombang secara bersama-sama, namun pada tahun 2008 ini jumlah gelombang lebih banyak lagi, semua itu tergantung kepada industri pasangan. Di bawah ini disajikan gambar tentang pola pelaksanaan Prakerin yang diterapkan di SMKN2 Klaten.Gambar 11. Prakerin Model 1 yaitu pada siswa yang mengikuti Prakerin di PT. KHS Gelombang pertama I II III IV (1) (1) (1) (3c) (2) (2) (2) (3a) (3a) (3c) (3b) (3b) (3b) 43
  • 45. Gambar 12. Prakerin Model 2 yaitu pada siswa yang mengikuti Prakerin di PT. KHS Gelombang kedua I II III IV (1) (1) (1) (3c) (2) (2) (2) (3a) (3a) (3b) (3b) (3b) (3c) Gambar 13. Prakerin Model 3 yaitu pada siswa yang mengikuti Prakerin di sekolah dan mengikuti ujian kompetensi di ATMI Surakarta atau di sekolah I II III IV (1) (1) (1) (3c) (2) (2) (2) (3a) (3a) (3c) (3b) (3b) (3b) Gambar 14. Prakerin Model 4 yaitu pada siswa yang mengikuti Prakerin di sekolah dan mengikuti ujian kompetensi di ATMI Surakarta atau di sekolah I II III IV (1) (1) (1) (3c) (2) (2) (2) (3a) (3a) (3b) (3b) (3b) (3c)Keterangan: : Prakerin di industri : Ujian kompetensi dengan ATMI atau dengan SMK 3 : Prakerin di industri atau di sekolah Pada saat kelas tiga, semua siswa mengikuti Ujian Nasional (UN). Jadi UN tidak dilaksanakan pada klas empat. Pada kelas tiga itulah siswa memperoleh ijasah atau STTB, namun demikian mereka belum dianggap tamat, sebab masih ada waktu satu tahun untuk menyelesaikan studi di Program Keahlian Mesin perkakas. Pada tahun keempat itulah mereka melaksanakan Prakerin yang kedua, sedapat mungkin sampai memperoleh 44
  • 46. sertifikat kompetensi dari industri ataupun dari lembaga tempat uji kompetensi, misalnya ATMI Surakarta.3. JUMLAH DAN KEMAMPUAN LULUSAN SMK DI JAWA TENGAH a. Kasus SMK St. Mikail Surakarta Di SMK Mikael Solo tingkat angka mengulang kelas sebesar 0,8% dan terjadi pada tahun pelajaran 2005/2006, sedangkan pada tahun pelajaran 2004/2005 dan 2006/2007 angka mengulang kelas nol persen. Nilai rerata UN Bahasa Inggris tiga tahun terakhir (2004/2005, 2005/2006, dan 2006/2007) berturut-turut 6,82; 8,04; dan 8,29. Nilai rerata UN untuk mata pelajaran Matematika tiga tahun terakhir (2004/2005, 2005/2006, dan 2006/2007) berturut-turut 7,75; 7,68; dan 8,23. Persentase lulusan empat tahun terakhir (2004, 2005, 2006, dan 2007) berturut-turut 95%; 97,5%; 100%; dan 100%. Dengan demikian angka pengulang kelas, jumlah DO, nilai UN, dan jumlah lulusan yang demikian di kedua sekolah tersebut menjadi salah satu good practice dan ciri keberhasilan pengelolaan SMK bertaraf internasional. Di SMK Mikael Solo jumlah lulusan empat tahun terakhir (2004, 2005, 2006, dan 2007) yang mengisi kesempatan kerja sesuai dengan program studinya berturut-turut sebanyak 43 orang, 57 orang, 59 orang, 60 orang. Sisanya lebih kurang 50% lulusan dari tahun 2004, 2005, 2006, dan 2007 melanjutkan ke perguruan tinggi. Mayoritas ke Akademik Teknik Mesin dan Industri (ATMI) Solo, Universitas Sanata Dharma, Atmajaya Yogyakarta, dan sejumlah perguruan tinggi negeri. Masa tunggu untuk mendapatkan pekerjaan pertama maksimal 1-3 bulan. Di samping itu permintaan tenaga kerja oleh industri selama empat tahun terakhir (2004, 2005, 2006, dan 2007) berturut- turut 42 orang, 50 orang, 43 orang, dan 50 orang. Dari permintaan tersebut hanya dapat dipenuhi sebanyak 10 orang, 16 orang, 13 orang, dan 15 orang, sehingga terdapat surplus permintaan sebesar 32 orang, 34 orang, 30 orang, dan 35 orang tenaga kerja. Dengan demikian banyaknya lulusan yang terserap oleh dunia kerja, surplus permintaan tenaga kerja, dan masa tunggu yang relatif pendek untuk mendapatkan pekerjaan pertama merupakan good practice pengelolaan SMK bertaraf internasional. 45
  • 47. b. Kasus SMKN 2 Cilacap Gambaran kemampuan lulusan SMKN Negeri 2 Cilacap dapat diprediksi dari data lulusan, serta status kelulusannya. Di bawah ini disajikan Tabel IV. Tentang data lulusan SMKN Negeri 2 Cilacap tahun ajaran 2004/2005; 2005/2006; dan 2006/2007. Tabel IV.3. Data lulusan SMKN Negeri 2 Cilacap tahun ajaran 2004/2005; 2005/2006; dan 2006/2007 No. Tahun Jumlah Jumlah Status Pekerjaan Pelajaran Peserta Lulusan Dikontrak Bekerja Tidak tahu Ujian sebelum Setelah lulus Lulus 1. 2004/2005 395 393 (99,5) 116 (29,5) 132 (33,6) 145 2. 2005/2006 400 396 (99) 67 (16,9) 101 (25,5) 228 3. 2006/2007 397 394 97 (24,6) 2 (0,5) 295 (99,25)Sumber: Data lulusan SMK Negeri 2 Cilacap Tahun 2007 Berdasarkan tabel di atas nampak bahwa jumlah lulusan berturut-turut mulai tahun 2004 sampai dengan 2007 adalah 99,5%; 99% dan 99,25%, ini berarti bahwa terdapat fluktuasi prosentase jumlah lulusan, meskipun fluktuasinya sangat kecil. Meskipun demikian prosentase jumlah siswa yang lulus dibandingkan angka kelulusan Propinsi Jawa Tengah adalah lebih besar, sebab tahun 2005/2006 (99%>87,46%), serta tahun pelajaran 2006/2007 (99,25%>91,88%). Hal ini menunjukkan bahwa proses belajar mengajar di SMK Negeri 2 Cilacap relatif baik. Berdasarkan tabel di atas nampak juga bahwa prosentase siswa yang dikontrak bekerja di industri terjadi fluktuasi yaitu naik turun antara tahun 2004 sampai dengan 2007. Secara agregatif nampak bahwa pada tahun 2004/2005 lulusan yang dikontrak bekerja di industri sebesar 29,5%, sementara lulusan tahun pelajaran 2005/2006 menurun menjadi 16,9% serta pada tahun pelajaran 2006/2007 naik lagi menjadi 24,6%. Hal ini selaras dengan kondisi industri di bidang rekayasa yang berfluktuatif antara tahun 2004 sampai dengan 2007. Hal ini menunjukkan bahwa usaha yang dilakukan sekolah dalam berkomunikasi dengan industri terjadi cukup baik, sehingga belum lulus pun siswa sudah banyak yang dikontrak oleh industri. 46
  • 48. Secara kasus per kasus, di alinea di bawah ini akan disajikan dinamikaperekrutan tenaga kerja yang dilakukan oleh BKK SMK Negeri 2 Cilacap.Sebanyak 310 siswa kelas III Bidang Keahlian Teknik Mesin dan Listrik dariSMK negeri dan SMK swasta di Kabupaten Cilacap mengikuti seleksi calonkaryawan yang diselenggarakan perusahaan shock absorber PT ShowaIndonesia MFG Industri.Seleksi yang berlangsung di aula SMK Negeri 2 JlBudi Utomo 8, Cilacap itu dilaksanakan secara ketat. Setiap siswa harusmengikuti ujin tertulis sesuai dengan bidang keahliannya, tes fisik, sikapmental, dan penampilan. Selain itu, setiap peserta juga harus memenuhipersyaratan bebas narkoba, tidak bertato, dan tidak ada lubang tindik ditelinganya. Seleksi berlangsung selama dua hari dan baru berakhir Rabu petang31 Maret 2008. Selain diikuti 310 siswa kelas III, proses seleksi calonkaryawan PT Showa Indonesia MG Industri juga diikuti 28 alumni SMKNegeri 2 Cilacap. Peserta sebanyak itu yang dinyatakan lolos seleksi 106 anak.Mereka sekarang hanya tinggal mengikuti medical test. Dalam usianya yangmasih muda, saya kira mereka akan lolos medical test semua, kataKoordinator Bursa Kerja Khusus (BKK) SMK Negeri 2 Cilacap, SudirmanSPd. Sampai tahun 2008 sudah ada lima perusahaan yang mengadakan seleksicalon karyawan bekerja sama dengan BKK SMK Negeri 2. Yaitu, PT Paraso,PT Astra Motor, PT Berjaya Bintang Samudera, PT Kinoria Gayu Mukti, danPT Showa Indonesia MFG Industri. Jumlah siswa yang telah berhasil direkrutsebagai karyawan di perusahaan tersebut sebanyak 414 anak yang terdiri atas243 siswa kelas III yang belum lulus dan 171 alumni. Lima orang yang lulusseleksi yang diadakan oleh PT Berjaya Bintang Samudera akan dipekerjakan diJepang. Mereka seluruhnya berasa dari Program Keahlian Nautika PerikananLaut, katanya. BKK SMK Negeri 2 Cilacap, mulai melakukan kerja sama dengan pihakketiga dalam hal penyaluran lulusan SMK sejak 2001. Sampai saat ini jumlahlulusan SMK, baik negeri maupun swasta, yang telah berhasil ditempatkan disejumlah industri di Jakarta 1.913 orang. Dari jumlah itu, 782 di antaranya dariSMK Negeri 2 Cilacap. Kepala SMK Negeri 2 Drs H Kisyamto MM 47
  • 49. mengatakan, kerja sama dengan pihak ketiga itu dilakukan sebagai wujud kontribusi sekolah terhadap Cilacap, khususnya dalam hal menyalurkan tenaga kerja. Dia juga mengatakan, para pelaku industri sengaja melakukan perekrutan sejak siswa masih duduk di kelas III. Tujuannya agar setelah lulus mereka tidak bekerja di tempat lain. Alumni yang sudah bekerja lebih dulu ternyata mampu menunjukkan etos kerja yang tinggi dan mau bekerja lembur. Berhubung mereka mau bekerja lembur maka setiap bulan gaji yang diterima pun dapat mencapai Rp 1,8 juta.c. Kasus SMKN 2 Salatiga Gambaran kemampuan lulusan SMK Negeri 2 Salatiga dapat diprediksi dari data lulusan, serta status kelulusannya. Di bawah ini disajikan Tabel IV. Tentang data lulusan SMK Negeri 2 Salatiga tahun ajaran 2004/2005; 2005/2006; 2006/2007, dan 2007/2008. Pada UN tahun 2008 ini SMK Negeri 2 Salatiga berhasil meluluskan 100% siswa tingkat 3-nya dengan nilai yang memuaskan. 200 siswa, pada mata pelajaran yang di UAN-kan, pelajaran matematika : nilai rata-ratanya 8,87 dengan nilai tertinggi yang berhasil dicapai oleh 11 orang, adalah 10,00. Pelajaran Bahasa Indonesia, nilai tertinggi yang diraih 9,40, dengan rata-rata keseluruhan 8,02, sedangkan untuk pelajaran bahasa Inggris, nilai rata-rata 8,08, dan nilai tertinggi adalah 9,40. Kabar ini sungguh membanggakan dan menggembirakan bagi seluruh civitas akademika SMK Negeri 2 Salatiga. Dengan demikian pada tahun 2008 ini SMK 2 Salatiga rerata jumlah siswa yang lulus di atas rerata jumlah siswa SMK yang lulus di Jawa Tengah. Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran di SMK 2 Salatiga dalam kategori baik. Ditunjukkan juga bahwa dalam setiap tahun prosentase jumlah siswa yang tersalur ke tempat pekerjaan selalu meningkat yaitu mulai dari 47%, 55% dan data terakhir adalah 66%. Hal ini memperkuat dugaan bahwa pembelajaran yang berlangsung cenderung mengarah ke kemampuan yang dituntut oleh kurikulum. 48
  • 50. Tabel IV.4 Data lulusan SMK Negeri 2 Salatiga tahun ajaran 2004/2005; 2005/2006; 2006/2007 dan 2007/2008 Tahun No. Jumlah yang Lulus Jumlah yang Tersalur Pelajaran 1. 2004/2005 199 95 (47%) 2. 2005/2006 198 110 (55%) 3. 2006/2007 200 132 (66%) 4. 2007/2008 260 Belum diketahuiSumber: Data lulusan SMK Negeri 2 Salatiga Tahun 2008 Ujian kompetensi keahlian tahun 2007 ini akan menjadi bagian dari Ujian Nasional (UN) bagi para siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pada tahun sebelumnya UN untuk SMK hanya meliputi tiga mata pelajaran, yakni matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Sedangkan ujian kompetensi keahlian masuk dalam ujian sekolah. Jadi nilai UN untuk SMK berasal dari nilai matematika ditambah dengan nilai Bahasa Indonesia, nilai Bahasa Inggris dan nilai ujian kompetensi keahlian dibagi empat. UN kompetensi keahlian diselenggarakan paling lambat seminggu sebelum dilaksanakannya UN teori. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 2 Salatiga Jurusan Teknik Perkayuan mendapat kepercayaan dari Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG) Teknologi Bandung sebagai tempat pelaksanaan Uji Kompetensi Siswa (UKS). Sebanyak 18 siswa membuktikan kepiawaian membuat mebel berstandar industri. hasil karya mereka langsung dinilai oleh beberapa staf manajemen perusahaan mebel. "Kami mampu menghasilkan tenaga perkayuan yang siap diserap oleh industri. Di Indonesia hanya ada lima SMK yang dipilih sebagai pelaksanaan uji kompetensi, salah satunya sekolah kami ini," kata Kepala SMK 2 Salatiga, Drs Reza Pahlevi. Kemampuan siswa dan lulusan program keahlian teknik perkayuan ditunjukkan dengan perolehan berbagai kejuaraan tingkat propinsi, nasional maupun internasional. Di bawah ini disajikan mengenai catatan prestasi kejuaraan yang telah dicapai sekolah itu. 49
  • 51. Tabel IV.5 Prestasi yang dicapai siswa pragram teknik perkayuan SMK 2 Salatiga No. Tahun Jenis Lomba Skala Kejuaraan Ranking 1. 2002 Teknik Perkayuan Provinsi 2 2. 2003 Teknik Perkayuan Provinsi 2 3. 2004 Teknik Perkayuan Provinsi 2 4. 2004 Teknik Perkayuan Provinsi 2 5. 2005 Teknik Perkayuan Provinsi 1 6. 2006 Cabinet Making Asia Tenggara 1 7. 2007 Cabinet Making Provinsi 2 Sumber:Profil SMK 2 Salatiga Siswa yang mampu mengukir sejarah sebagai juara lomba Cabinet Making adalah Asba’i, yang akan maju pada ajang world skill compwtition pada 15 sampai 22 November 2007 di Jepang, yang pada akhirnya menjadi juara dunia. Saat ini asba’i melanjutkan kuliah di program Studi Teknik Sipil Universitas Negeri Yogyakarta. 50
  • 52. 4. PENYELENGGARAAN SERTIFIKASI SMK DI JAWA TENGAH Gambar 15. Proses dan variasi sertifikasi SMK Negeri dan Swasta di Jawa Tengah Siswa SMK PSG di Institusi Proyek Tugas Akhir LSP (Lembaga Pasangan Sertifikasi Profesi) Tidak Lulus Tidak Lulus Hasil Penilaian di Tempat Prakerin Diuji Uji Kompetensi Penyusunan Laporan Lulus PSG Lulus Diuji Sertifikat Sertifikat Sertifikat 51
  • 53. Gambar 16. Proses dan variasi sertifikasi di SMK Mikail Surakarta Siswa SMK Mikail Surakarta PSG di Bidang Mesin Proyek Tugas Akhir Perkakas/Industri Milik Yayasan ATMI Hasil Penilaian/uji Diuji kompetensi Lulus Penyusunan Laporan PSG Diuji Sertifikat Sertifikata. Kasus di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto Berdasarkan Gambar di atas, sertifikat keahlian yang diperoleh oleh siswa SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto melalui tiga cara, yaitu melalui PSG, melalui proyek Tugas Akhir, serta melalui uji kompetensi yang diselenggarakan oleh LSP BNSP. Sertifikat yang diperoleh dari pelaksanaan PSG dan sertifikat yang diperoleh dari PTA digunakan sebagai pelengkap Ujian Nasional. Artinya kedua sertifikat masuk dalam hasil UN. Sementara itu sertifikat yang diperoleh dari LSP merupakan bekal tambahan siswa dalam rangka melamar pekerjaan. Sertifikat yang diperoleh dari PSG melalui tahapan-tahapan sebagai berikut: (1) siswa melaksanakan PSG di PT. TELKOM; (2) siswa memperoleh nilai dari PT. TELKOM; (3) siswa menyusun laporan PSG; (4) siswa diuji oleh sekolah berkaitan dengan laporan PSG; (5) siswa dinyatakan lulus ujian laporan
  • 54. PSG; (6) nilai yang diperoleh dari PT. TELKOM dan ujian laporan PSG dirata-ratakan; (7) siswa memperoleh sertifikat. Surat keterangan ini ditandatanganiatau disyahkan oleh Kepala Kandatel serta Kepala Sekolah. Proyek Tugas Akhir (PTA) merupakan pendekatan ujian nasionalproduktif pada akhir masa pendidikan SMK, yang merupakan integerasi danaktualisasi terhadap penguasaan kompetensi atau subkompetensi yang telahdikuasai. Strategi ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan relevansi. Ujikompetensi jenis ini masuk ke dalam kategori internal. Melalui PTA inidiharapkan siswa mampu menciptakan suasana pembelajaran yang kondusifuntuk menghasilkan produk sesuai dengan kebutuhan pasar, persyaratan standarmutu, serta standar operasional prosedur (SOP). Produk PTA disesuaikan dengan karakteristik paket atau programkeahlian, yang dapat berupa: (1) produk barang, misalnya Program SistemInformasi Akademik berbasis Web, program PSB on-line, Bidang Pertanian,Bidang Kesenian, dan lain-lain; (2) produk jasa misalnya pemasangan server,Mail server, Gateway, pemasangan jaringan lokal untuk warung internet, bidangteknik survei dan pemetaan, otomotif, serta lain-lain. Pelaksanaan kegiatan PTA melalui beberapa tahapan masing-masingadalah (1) penyusunan proposal; (2) proses pelaksanaan; (3) kegiatan kulminasi;(4) proses verifikasi; dan (5) pemberian sertifikat. Pada tahap penyusunan proposal, guru pembimbing dan penguji bersama-sama menentukan judul proyek tugas akhir, selanjutnya ditindaklanjuti denganpenyusunan rancangan kerja tugas akhir/proposal. Proses pelaksanaan adalahproses kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rambu-rambu yang telahditetapkan dalam proposal, dengan bimbingan dan pengawasan. Proses inimenekankan pada pencapaian kompetensi yang dibuktikan dengan bukti belajar(learning evidence) dan diorganisir dalam portofolio sebagai bahan verifikasi.Kegiatan kulminasi PTA oleh penguji dapat dilakukan dengan cara presentasi,penyajian, pengujian, serta display. Proses verifikasi internal dan eksternalterhadap penguasaan kompetensi penguji dilaksanakan pada akhir prosespelaksanaan proyek tugas akhir dengan cara verifikasi portofolio, presentasiproposal, wawancara, demonstrasi serta unjuk kerja. Tahapan yang terakhir 2
  • 55. adalah pemberian sertifikat yaitu kegiatan setelah dilakukan verifikasi eksternal.Sertifikat PTA disyahkan oleh verifikator eksternal yang biasanya adalah PT.TELKOM serta Kepala Sekolah. Sertifikat yang diperoleh dari LSP, dicapai dengan tahapan yang lebihrumit. Sertifikasi ini tidak diikuti oleh seluruh siswa SMK, hanya kepada siswayang berminat atau menurut pilihan sekolah. Sertifikasi ini dikenakan biayaadminstrasi, bagi siswa yang tidak dipilih oleh sekolah biasanya membayarsendiri. Besaran biaya yang sesungguhnya adalah Rp. 250.000,- namundemikian hal ini tergantung pada kekompleksan keterampilan yang diujikan.Besaran yang dipatok oleh LSP lazimnya mencapai nilai Rp. 1.500.000,-, Tahapan pertama dari uji kompetensi yang dilaksanakan oleh LSP adalah(1) sekolah menentukan siswa yang akan mengikuti uji kompetensi ini; (2)sekolah menyiapkan alat-alat yang akan digunakan dalam rangka ujikompetensi; (3) sekolah juga menyiapkan ruangan yang akan digunakan; (4)sekolah menentukan LSP yang akan melaksanakan uji kompetensi, tahapan inibiasanya sekolah berhubungan dengan BKSP yang ada di Provinsi Jawa Tengah;(5) BKSP menunjuk kepada LSP yang telah diberikan wewenang; (6) LSP yangrelevan dan telah ditunjuk melaksanakan uji kompetensi; (7) LSP yang ditunjukmemutuskan siswa yang berhak lulus atau yang gagal; dan (8) siswa yang lulusdiberikan sertifikat keahlian tertentu. Sertifikat dari LSP tidak wajib bagi lulusan SMK. Biasanya industri tidakmensyaratkan sertifikat ini. Industri lazimnya melaksanakan rekrutmen dengancara melaksanakan seleksi sendiri. Lulusan yang lolos seleksilah yang kemudiandirekrut oleh industri, meskipun yang bersangkutan tidak memiliki sertifikatkeahlian yang diperoleh dari LSP. Namun demikian sebagian industri ada yangmensyaratkan sertifikat yang berasal dari LSP ini, hanya saja jumlahnya sedikit. Kendala yang dialami siswa berkaitan dengan sertifikat yang berasal dariLSP ini adalah besarnya biaya yang harus dibayar oleh siswa, yaitu Rp. 1,5 juta.Sementara Depdiknas hanya membantu lima puluh ribu rupiah per siswa,sisanya harus dibayar sendiri. Oleh karena itu, jumlah pesertanya menjadisedikit. Padahal peralatan dan tempat penyelenggaraan disediakan oleh sekolah.Hal inilah yang menyebabkan minat siswa rendah. Di samping itu, sekolah juga 3
  • 56. menakar kemampuan keterampilan siswanya, sekolah mempunyai target semua yang ikut uji kompetensi harus lulus, hal ini demi prestise sekolah. Oleh karena itu, siswa yang mempunyai kemampuan produktif yang tinggi saja yang dipilih dan dibiayai oleh sekolah. Hal ini menjadi tidak adil.b. Kasus SMK St. Mikail Berdasarkan Gambar 16. di atas, sertifikat keahlian yang diperoleh oleh siswa SMK St. Mikail Surakarta melalui dua cara, yaitu melalui prakerin dan melalui proyek Tugas Akhir. Sertifikat yang diperoleh dari pelaksanaan PSG dan sertifikat yang diperoleh dari PTA digunakan sebagai pelengkap Ujian Nasional. Artinya kedua sertifikat masuk dalam hasil UN. Sertifikat yang diperoleh dari prakerin melalui tahapan-tahapan sebagai berikut: (1) siswa melaksanakan prakerin di industri milik yayasan; (2) siswa memperoleh nilai dari hasil prakerin; (3) siswa menyusun laporan prakerin; (4) siswa diuji oleh sekolah berkaitan dengan laporan prakerin; (5) siswa dinyatakan lulus ujian laporan prakerin; (6) siswa memperoleh sertifikat. Proyek Tugas Akhir (PTA) merupakan pendekatan ujian nasional produktif pada akhir masa pendidikan SMK, yang merupakan integerasi dan aktualisasi terhadap penguasaan kompetensi atau subkompetensi yang telah dikuasai. Strategi ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan relevansi. Uji kompetensi jenis ini masuk ke dalam kategori internal. Melalui PTA ini diharapkan siswa mampu menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif untuk menghasilkan produk sesuai dengan kebutuhan pasar, persyaratan standar mutu, serta standar operasional prosedur (SOP). Pelaksanaan kegiatan PTA melalui beberapa tahapan masing-masing adalah (1) penyusunan proposal; (2) proses pelaksanaan; (3) kegiatan kulminasi; (4) proses verifikasi; dan (5) pemberian sertifikat. Pada tahap penyusunan proposal, guru pembimbing dan penguji bersama- sama menentukan judul proyek tugas akhir, selanjutnya ditindaklanjuti dengan penyusunan rancangan kerja tugas akhir/proposal. Proses pelaksanaan adalah proses kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rambu-rambu yang telah ditetapkan dalam proposal, dengan bimbingan dan pengawasan. Proses ini 4
  • 57. menekankan pada pencapaian kompetensi yang dibuktikan dengan bukti belajar (learning evidence) dan diorganisir dalam portofolio sebagai bahan verifikasi. Kegiatan kulminasi PTA oleh penguji dapat dilakukan dengan cara presentasi, penyajian, pengujian, serta display product. Proses verifikasi internal dan eksternal terhadap penguasaan kompetensi penguji dilaksanakan pada akhir proses pelaksanaan proyek tugas akhir dengan cara verifikasi portofolio, presentasi proposal, wawancara, demonstrasi serta unjuk kerja. Tahapan yang terakhir adalah pemberian sertifikat yaitu kegiatan setelah dilakukan verifikasi eksternal.5. KONDISI KEBUTUHAN TENAGA KERJA LULUSAN PELMO DI INDUSTRI Menurut Kepala Human Resources Development (HRD) PT. KOMATSU Jakarta bahwa pada tahun 2008 dan 2009, PT. KOMATSU sudah menerima pesanan alat berat yang sangat besar. Kebutuhan alat berat yang sangat besar ini diduga bukan merupakan perilaku konsumen yang spekulatif, namun merupakan kebutuhan riil di lapangan, misalnya sebentar lagi akan dicanangkan proyek trans Kalimantan, trans Papua, dan proyek jalan yang sangat besar di Pakanbaru. Staff HRD PT. KOMATSU mengatakan bahwa saat ini terjadi permasalahan ‘Bottle Neck’ di produksi, sebab tenaga kerja bidang mesin produksi jumlahnya sedikit sehingga pekerjaanya menumpuk, ia harus segera melakukan ‘set up’ tenaga kerja agar dicapai efektifitas kerja. Penumpukan terjadi karena komponen-komponen yang masih kasar sudah banyak diproduksi, namun tenaga dalam bidang mesin produksi belum mampu mengimbanginya. Di samping itu komponen-komponen penting alat berat tidak dapat dikerjakan oleh tangan manusia, tetapi harus dikerjakan dengan mesin, namun tenaga terampil dalam bidang mesin produksi masih sangat terbatas oleh karena itu terjadi penumpukan. Oleh karena itu dibutuhkan tenaga operator mesin perkakas manual dan operator mesin Computer Numerical Control (CNC) yang sangat besar. Di sisi lain, PT. KOMATSU membutuhkan juga tenaga lulusan yang terampil dalam pengecoran logam. 5
  • 58. Menurut Kepala Human Resources Development (HRD) PT. HANKENJakarta bahwa pada tahun 2008 dan 2009, mereka memperoleh pesanankomponen alat berat yang sangat besar. Komponen itu untuk mendukung pabrikalat berat yang ada di Jakarta. Pada saat ini, mereka masih kekurangan tukanglas listrik. Lulusan SMK yang memiliki keterampilan las listrik masih sangatdibutuhkan. Di samping itu, lulusan SMK yang memiliki keterampilan lastambahan misalnya las argon lebih diutamakan. Kebutuhan tenaga kerja bidang perkayuan agak unik. Banyak lulusanPIKA dalam usia yang masih sangat muda (23 tahun) sudah diberikantanggungjawab oleh perusahaan untuk menjadi supervisor. Hal ini disebabkanrekam jejak mereka dalam proses produksi mempunyai kualitas yang sangatbaik. Prestasi inilah yang justru menjadi permasalahan. Pada saat merekamenimba ilmu di PIKA bekal kemampuan berkomunikasi dengan orang lain,misalnya karyawan, konsumen, dan rekanan tidak diperoleh. Di SMK PIKA,siswa hanya dididik untuk menjadi operator ahli. Dengan demikian kesenjanganini menjadi penghambat karir mereka. Keadaan ini membuat pengelola SMKPIKA untuk memasukkan mata pelajaran ”Keterampilan Berkomunikasi” kedalam kurikulumnya. Berdasarkan wawancara dengan Romo Kepala Sekolah SMK PendidikanKayu Atas (PIKA) dikatakan bahwa kebutuhan tenaga operator mesin kayumasih sangat tinggi. Tiga perusahaan mebel besar di Indonesia diantaranyaOlympic dan LIGNA, masih membutuhkan tenaga ini. Kompetensi tambahanyang diinginkan adalah kompetensi personal seperti disiplin, tanggungjawab,kemampuan bekerjasama, dan rapi. Menurut staff Human Resources Development (HRD) PT. Karya HidupSantoso (PT. KHS) Yogyakarta, jumlah tenaga kerja operator lulusan SMKsebanyak 800 orang. Mereka tersebar ke dalam berbagai pekerjaan misalnya las,perkakas, pengecoran logam, serta pengecatan atau finishing. Rata-rata kualitaspekerjaan lulusan SMK memenuhi persyaratan produk, artinya tamatanmempunyai keterampilan yang sudah cukup. Semua operator yang masih baruselalu diberikan pelatihan, sebelum mereka bekerja menghasilkan produk,lamanya dua minggu sampai dengan dua bulan. Dikatakan selanjutnya, justru 6
  • 59. yang sangat dibutuhkan dalam pekerjaan adalah kualitas personal, artinya orangyang memegang teguh komitmen, disiplin, serta mampu bekerjasama.Berdasarkan hal ini, pengelaman selama ini justru tamatan SMK yangmempunyai kategori biasa-biasa saja mempunyai kualitas yang lebih baik, halini diduga mereka berusaha lebih keras untuk meningkatkan kualitas hasilkerjanya. PT. KHS menerima karyawan lulusan SMK terakhir pada bulan Novembertahun 2008, sampai saat ini belum menerima karyawan baru lagi, sebeb masihdilanda krisis keuangan. Batas waktunya tidak ditentukan. Biasanya PT. KHSmenerima karyawan setiap bulan sampai dengan 30 orang dari berbagaiketerampilan. Kebutuhan yang sangat besar ada di pengecoran logam. Disamping itu kebutuhan untuk operator mesin atau robot las dan mesin ComputerNumerical Control (CNC) juga sangat besar. Pengecoran logam bahkan tidakmensyaratkan lulusan dari program keahlian ini, semua program keahlianditerima, setelah mereka menjadi karyawan barulah dididik dalam keterampilanini di perusahaan. Menurut staff HRD dikatakan juga bahwa yang terutama dari calonkaryawan adalah kualitas atau kualifikasi pribadi. Karakter karyawan yangmempunyai ketekunan, komitmen, disiplin, serta mampu bekerjasama yang lebihdibutuhkan. Keterampilan yang masih agak rendah, oleh perusahaan akanditingkatkan melalui pelatihan. Dengan demikian sesungguhnya bekal yangberasal dari sekolah sudah cukup untuk bekal bekerja di PT. KHS. Menurut direktur Formulatrix Salatiga, krisis keuangan global tidakmemberikan dampak terhadap aktivitas perusahaannya yang bergerak dalambidang industri telematika. Menurut Kepala Bidang Perindustrian , Perdagangan,dan Usaha Kecil Menengah Kota Salatiga bidang telematika masih menjadiandalan pengembangan industri di Kotanya. Telematika yang dimaksud adalahintegerasi antara sistem telekomunikasi dan informatika yang dikenal denganInformation and Communications Technology (ICT). Industri ini berhubungandengan komputer, telekomunikasi, atau multimedia. Keterampilan yang masihsangat dibutuhkan itu selaras dengan kurikulum pada program keahlian TeknikKomputer dan Jaringan di SMK Telkom Shandy Putra Purwokerto. 7
  • 60. 6. DESKRIPSI PERANAN DISNAKER KABUPATEN/KOTA DALAM PEMBINAAN BKK SMK DI JAWA TENGAH a. Proses Penempatan Lulusan SMK Di Industri yang Diinginkan Disnakertrans Proses penempatan siswa lulusan SMK di industri, dimulai dari keinginan industri untuk merekrut mereka. Industri berkomunikasi dengan Disnakertrans Kabupaten/Kota asal mereka berdomisili, sampai dengan diperoleh surat ijin. Industri selanjutnya berkomunikasi dengan Disnakertrans tempat lokasi asal tenaga kerja dalam hal ini adalah lulusan SMK. Industri juga berkomunikasi dengan SMK. Biasanya antara SMK dengan industri sudah lama berpasangan. Disnakertrans Kabupaten/Kota asal tenaga kerja saling memberitahukan dengan SMK. Gambar 17. Proses Penempatan Lulusan SMK Di Industri yang Diinginkan Disnakertrans Industri/perusahaan Surat Disnaker asal industri/perusahaan Disnakertrans SMK Terlibat Seleksi Kontrak perjanjian Hak-hak pekerja Persiapan penempatan Asuransi Penempatan Monitoring Bekerja di Industri Laporan Perkembangan Pekerjaan oleh lulusan SMK 8
  • 61. SMK melalui Bursa Kerja Khsusus (BKK) mempersikapkan KartuKuning untuk setiap siswa. Industri selanjutnya melakukan seleksi denganmelibatkan Disnakertrans, bukan sebagai undangan, tetapi aktif terlibat dalamproses seleksi. Biasanya materi seleksi adalah tes keterampilan dan tespsikologi, jika kedua tes lolos, selanjutnya diadakan tes kesehatan. Tesketerampilan lazimnya lulusan SMK lolos, tes psikologi banyak yang mulaigugur, dan tes yang paling berat adalah tes kesehatan. Setelah beberapa siswa lolos ketiga tes tersebut di atas, sekolahmempersiapkan penempatan. Dalam proses penempatan Disnakertransmempersiapkan beberapa hal mengenai hak-hak karyawan, pemahamanindustri tentang perlindungan tenaga kerja, serta asuransi. Sekolah danindustri mempersiapkan kontrak kerja. Setelah semua syarat pekerjaandipersiapkan selanjutnya lulusan SMK siap untuk ditempatkan. Penempatan yang pertama lazimnnya sekolah mengantarkan sisnya keindustri, selanjutnya diserahkan kepada pihak industri. Dalam proses bekerja,siswa diharapkan selalu berkomunikasi dengan sekolah, sementara sekolahberkomunikasi dengan Disnakertrans. Lulusan SMK yang sudah bekerjadiharapkan selalu memberikan laporan perkembangan kondisi mereka, jikaterdapat permasalahan maka sekolah harus mencoba untuk menemukansolusinya. Di samping itu, jika terdapat permasalahan yang agak rumit,Disnakertrans terlibat dalam menyelesaikannya. Pada kondisi yang baik, jikaindustri nampak membutuhkan tenaga kerja baru, maka lulusan SMKdiharapkan selalu memberitahukan sekolah agar adik-adik kelas dapat ikutmelamar. Kasus yang sering terjadi adalah adanya ketidaksetujuan masyarakat disekitar industri dalam menerima karyawan baru di industri yangbersangkutan. Industri biasanya beralasan, keterampilan warga sekitar tidakmemenuhi syarat kompetensi, sehingga industri tidak merekrut mereka.Biasanya masyarakat sekitar tidak terima, bahkan kadang-kadang masyarakatsekitar secara langsung mengadakan razia. Kadang-kadang razia jugadilakukan ditempat penginapan, untuk selanjutnya mengusir pekerja. Hal 9
  • 62. inilah yang menyebabkan Disnakertrans Kabupaten/Kota mensyaratkan surat ijin dari Disnakertrans asal domisili industri itu. b. Proses Penempatan Lulusan SMK Di Industri yang Dilakukan SMK Pada kenyataannya industri tidak menginginkan kerepotan, lazimnya mereka langsung berkomunikasi dengan sekolah. Hal ini dilakukan dengan alasan takut birokrasi yang berbelit-belit. Mereka menginginkan prosedur yang sederhana, ke sekolah, rekrutmen melalui tes keterampilan, tes psikologi, serta tes kesehatan, maka siswa lolos menjadi karyawan. Selanjutnya, perusahaan menyiapkan kontrak kerja dengan siswa yang diketahui oleh sekolah. Berikutnya siswa menjadi karyawan.Gambar 18. Proses Penempatan Lulusan SMK Di Industri yang Dilakukan SMK Industri/perusahaan Disnakertrans SMK Kartu Kuning Tamu Undangan Seleksi Karyawan Kontrak Persiapan Penempatan Penempatan 10
  • 63. Industri enggan berkomunikasi dengan Disnakertrans Kabupaten/kota,sebab mereka pasti akan dikenai prosedur Angkatan kerja Antar Propinsi(AKAP) atau Angkatan Kerja Antar Daerah (AKAD), yang manamengharuskan perusahaan untuk lebih rumit dan terinci menyiapkanadministrasi. Nampaknya, sekolah berkeinginan seperti industri, sekolahharus segera menyalurkan lulusannya, sehingga segera mendapatkanpekerjaan. Jika sekolah terlalu rumit mengurusi administrasi, mengakibatkanberlarut-larut dan siswa tidak segera mendapatkan pekerjaan, ini merupakanbeban mental tersendiri bagi sekolah. Sesungguhnya, prosedur seperti yang dirancang oleh Disnakertranssangat baik, terutama berkaitan dengan perlindungan kerja bagi masyarakat diKabupaten/Kota yang memiliki sekolah. Banyak kasus yang menimpa tenagakerja yang berasal dari daerahnya, misalnya permasalahan pemutusanhubungan kerja, atau kecelakaan kerja, banyak industri yang akhirnya lepastangan atau tidak bertanggungjawab, sehingga yang dirugikan adalah lulusanSMK sendiri. Muara akhirnya lazimnya mereka, orang tua, sekolah bahkanlulusan SMK sendiri yang memohon pertimbangan Disnakertrans. Sekolahdalam kasus seperti ini, biasanya hanya mencoba untuk menjembatani antaraindustri dan lulusan SMK, tetapi sering tidak memuaskan kedua belahpihak.Oleh karena itu, langkah pemerintah dalam hal ini Disnakertrans sangatdimaklumi. Contoh kasus penyimpangan yang dilakukan oleh BKK sekolahj yaituSMK Bina Tunas Bakti Juwana kontak dengan Daihatsu dalam hal perekrutancalon karyawan, ternyata sekolah itu merekrut SMK luar kota juga, kebetulanadalah SMK di Salatiga.Hal ini barangkali karena tuntutan perusahaan yaitumengenai jumlah yang direkrut. Sebab, kalau nanti tidak memenuhi targetakan membuat tidak simpatik pihak Daihatsu. Kenyataan di atas yaitu mengenai dilema antara mengikuti peraturanpemerintah dan ketatnya kompetisi dalam meraih lapangan kerja perludiantisipasi oleh sekolah. Pemerintah dalam hal ini DisnakertransKabupaten/Kota perlu lebih menyederhanakan prosedur, tanpa mengurangikerugian yang diderita oleh kedua belah pihak, yaitu industri dan pekerja. 11
  • 64. Hal-hal yang sifatnya krusial, misalnya perijinan dari Disnakertrans domisili industri wajib untuk dipenuhi. Hal ini untuk menjaga terjadinya kasus razia yang dilakukan oleh penduduk setempat industri terhadap karyawan dari lulusan SMK luar domisili industri. Hal ini untuk menjaga kenyamanan, keamanan dan produktivitas pekerja. Hal-hal yang sifatnya tidak penting misalnya permasalahan keikutsertaan dalam rekrutmen, serta disederhanakannya prosedur AKAP atau AKAD tanpa mengurangi hal-hal prinsip, rasanya dapat dilakukan.c. Pembinaan yang Dilakukan Oleh Disnakertrans kepada BKK SMK Pembinaan yang dilakukan Disnaker wujudnya adalah menginformasikan ke sekolah. Namun demikian industri kadang-kadang ada yang langsung ke sekolah. Hal ini terjadi sebab Eks siswa mereka pernah diterima di suatu industri, selanjutnya mereka langsung datang ke sekolah. Mereka langsung bekerjasama, mereka datang ke SMK sendiri. Kalau salah satu SMK yang di Juwana masih ikut tes ditempat kami. Di Pati terdapat 11 unit BKK, selama ini mereka sudah melibatkan rekan-rekan pengawas dari Disnaker. Bentuk pembinaan yang lain adalah dalam hal bimbingan tes psikologi bagi calon tenaga kerja, kabupaten Pati meminta bantuan propinsi dalam penyelenggaraanya. Hal ini penting dilakukan yaitu untuk mengatasi kesulitan pada saat tes bakat dan minat. Di samping itu, pengumuman atau informasi lowongan pekerjaan lewat radio dan BKK masing-masing sekolah. Hal ini dilakukan agar informasi segera cepat diterima oleh siswa. Siswa SMK yang belum lulus uji kompetensi, biasanya mengulangi, dan ini diwadahi oleh sekolah ke dalam LPKS (Lembaga Pelatihan Keterampilan Sekolah) yang dikoordinatori oleh BKK sekolah itu. Misalnya di SMK Muhamadyah Pati, memiliki LPKS “Surya Komputer”, lembaga inilah yang melakukan uji kompetensi dan bekerjasama dengan Disnaker. Pihak Disnaker nantinya yang akan memberikan sertifikat keterampilan bagi siswa sekolah itu. Dalam hal ini LATAS (latihan dan produktivitas) dan IPK Disnaker dilibatkan sebagai penguji. Mereka menggunakan peraturan yang ada di Disnaker, misalnya standar kelulusan, serta standar penilaiannya 12
  • 65. menggunakan tata tertib Disnaker, yang pada kenyataanya berbeda dengan uji kompetensi yang dilakukan oleh SMK regular. Menurut Pak Kusno (Disnaker Kabupaten Pati) , kalau kita bisa mengoperasikan komputer kita dapat menguji siswa SMK untuk memperoleh sertifikat, meskipun kami belum bersertifikat sebagai penguji”.B. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Materi pendidikan yang dipelajari di sekolah meliputi (1) komponen pendidikan umum (normatif), dimaksudkan untuk membentuk siswa menjadi warga negara yang baik, yang memiliki watak dan kepribadian sebagai warga negara bangsa Indonesia; (2) komponen pendidikan dasar (Adaftif), untuk memberi bekal penunjang bagi penguasaan keahlian dan bekal kemampuan pengembangan diri untuk mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi; (3) komponen pendidikan dan pelatihan kejuruan, berisi materi yang berkaitan dengan pembentukan kemampuan keahlian sesuai program keahlian untuk bekal memasuki lapangan kerja, yang mempunyai subkomponen teori kejuruan dan praktik dasar kejuruan. Teori kejuruan untuk membekali pengetahuan tentang teori kejuruan bidang keahlian, sementara itu praktik dasar kejuruan berupa latihan dasar untuk menguasai dasar-dasar teknik bekerja secara baik dan benar sesuai dengan persyaratan keahlian. Mata diklat komponen pendidikan normatif terdiri dari Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Pendidikan Jasmani Olah Raga dan Kesehatan, serta Seni dan Budaya yang memiliki total jam pelajaran sebesar 896 jam waktu. Mata diklat komponen adaftif terdiri dari Matematika, Bahasa Inggris, Ilmu Pengetahuan Alam, Fisika, Kimia, Ilmu Pengetahuan Sosial, KKPI, dan Kewirausahaan yang memiliki total jam pelajaran sebesar 2138 jam waktu. Mata diklat komponen produktif yang terdiri dari Dasar Kompetensi kejuruan sebesar 140 jam waktu serta Kompetensi Kejuruan sebesar 1320 jam waktu. Komponen muatan local sebanyak 192 jam waktu, serta kompoinen pengembangan diri sebesar 192 jam waktu. Jumlah jam keseluruhan sebesar 4686 jam waktu. Komponen pendidikan normatif, adaftif, serta komponen dasar kompetensi kejuruan tidak dikembangkan sendiri oleh sekolah. Namun, kurikulum yang berisi komponen-komponen di atas dikembangkan secara bersama dengan industri. 13
  • 66. Kegiatan ini diwadahi dalam In House Training (IHT). Kegiatan ini dilakukan setiaplima tahun sekali, yang idealnya dilakukan dalam setiap tahun. Namun, berhubungketersediaan waktu serta kepadatan industri serta sekolah, maka tidak dapatdilakukan per tahun. Ganti dari kegiatan itu adalah guru berkunjung ke industridengan membawa instrument atau perangkat lunak silabus, untuk selanjutnyameminta industri mengkritisinya. Hasil kritikan industri untuk kemudian digunakansebagai bahan untuk memperbaiki kurikulum dalam komponen di atas. Dalam pelaksanaan pembelajaran mata diklat produktif di sekolah ditemukanbeberapa pendekatan yaitu (1) pembelajaran berbasis kompetensi; (2) pembelajaranberbasis produksi, serta (3) pembelajaran berbasis di dunia kerja. Ketiga pendekatanpembelajaran telah dilaksanakan, yang penerapannya dilakukan di sekolah danindustri. Pembelajaran berbasis produksi dan dunia kerja sebagian besardilaksanakan di industri dalam situasi nyata. Pembelajaran berbasis kompetensidilakukan di sekolah dalam wujud simulasi dan industri dalam kondisi nyata. Siswayang tidak mempunyai kompetensi dalam keterampilan membubut, tidak mungkindiberikan tanggungjawab mengoperasikan mesin bubut. Pembelajaran yang menerapkan tiga pendekatan sekaligus tidak dirancang olehsekolah tanpa melibatkan industri. Sekolah tidak mungkin mampu merancangkurikulum sendirian, sebab sekolah tidak berhadapan dengan kebutuhan nyata dilapangan pekerjaan. Industri memiliki pengalaman, berhadapan dengan kebutuhanmasyarakat dalam produksi barang. Oleh karena itu, dibutuhkan kegiatanpenyelarasan kurikulum atau sinkronisasi kurikulum, yang mana kegiatan ini sudahdilakukan oleh SMK di Jawa Tengah. Penyelarasan kurikulum pada program produktif pada dasarnya tidak sekedarpermasalahan administratif, melainkan yang lebih esensial adalah permasalahankomitmen guru, Ka prodi, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum dan KepalaSekolah. Di samping itu, penyelarasan kurikulum merupakan permasalahan industrisebagai institusi pasangan sekolah. Dalam kenyataannya, penyelarasan kurikulum inidilakukan dalam waktu yang lama, rata-rata dalam waktu lima tahun; padahalperubahan keterampilan dan kebutuhan masyarakat atas suatu produk berubah dalamsatu tahun. Dengan demikian, kurikulum sekolah selalu saja ketinggalandibandingkan dengan industri, yang tentu saja ketinggalan juga dalam sarana 14
  • 67. praktiknya. Hal ini berkaitan dengan pola lama penyelenggaran pendidikan kejuruanyang menerapkan prinsip supply driven dan school-based program. Prinsip lamatersebut beranggapan bahwa menghasilkan lulusan sebanyak-banyaknya adalah suatuprestasi bagi sekolah, tanpa perlu merujuk kesesuaiannya dengan kebutuhan industri. Saat ini, sekolah sebagian sudah menerapkan paradigma baru pengembanganpendidikan kejuruan, terjadi perubahan mendasar terutama dalam orientasipendidikan, yaitu yang semula supply driven menjadi demand driven, serta semulamenerapkan kurikulum berbasis sekolah menjadi berbasis kompetensi. Orientasi inimenyebabkan kegiatan penyelarasan kurikulum menjadi langkah yang penting dantelah dilakukan oleh sekolah, namun demikian kegiatan ini tidak saja dalam rangkamenuju ke prinsip demand driven tetapi juga menjadi dasar dalam pelaksanaanpembelajaran yang berbasis kompetensi, produksi, serta dunia kerja. Langkah-langkah penyelarasan kurikulum sudah dilakukan secara sistematik,yang telah mempertimbangkan keberadaan guru program produktif, KTSP, StandarKompetensi Lulusan (SKL), serta kondisi industri dan kebutuhannya. Di samping itu,telah mempertimbangkan juga asosiasi profesi, Kepala Sekolah, serta KomiteSekolah. Tahapan itu dimulai dari kelompok guru produktif dan Ketua ProgramDiklatnya, yang mana mereka menjadi inisiator penyelarasan kurikulum programproduktif. Hal ini dikarenakan merekalah yang setiap kali bersingungan dengankurikulum. Pada kegiatan penyelarasan, guru dan ka prodi, mempertimbangkankeberadaan KTSP, SKL, serta kondisi kebutuhan institusi pasangan. Peran KepalaSekolah dan Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum yaitu dalam halmengkoordinasi dan menjembatani pengembangan kurikulum di tingkat programkeahlian. Peran Kepala Sekolah tidak saja dalam melegalisasi hasil penyelarasankurikulum, tetapi fungsi yang sesungguhnya adalah motor dan manajer secarakeseluruhan di sekolah yang mencakup beberapa program diklat. Tahapan pelaksanaan praktik industri (prakerin) terdiri dari lima kegiatan yaituperencanaan, persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan monitoring, serta penarikan siswadan pemberian sertifikat oleh industri. Di bawah ini diuraikan masing-masingtahapan kegiatan prakerin. Pada tahapan perencanaan sekolah melaksanakan kegiatan (1) mengumpulkandata-data industri yang dapat digunakan sebagai tempat prakerin; (2) sekolah 15
  • 68. menyiapkan lembar ketersediaan industri untuk bekerjasama; (3) kesiapan industrimenerima siswa prakerin ditandai dengan surat kesediaan; (4) sekolah menyiapkansurat undangan untuk industri sebagai salah satu tutor dalam pembekalan prakerin. Pada tahapan persiapan sekolah mengadakan pembekalan prakerin, adapuntujuannya adalah untuk memberikan pengetahuan mengenai kondisi di industri. Padatahap pembekalan ini perwakilan dari industri menyampaikan materi tentangmanajemen kerja serta keselamatan kerja di industri. Pada tahap ini juga wali kelassebagai wakil sekolah menyampaikan materi tentang etika dan tata tertib mengikutiprakerin serta menyampaikan menegenai cara pengisian jurnal dan cara menyusunlaporan prakerin. Pada tahapan ini sekolah telah menyiapkan surat tugas danperjalanan dinas dalam proses monitoring guru ke industri. Sekolah juga menyiapkanformat sertifikat setelah siswa menyelesaikan prakerin, hal ini dilakukan jika industribelum menyediakannya. Pada faktanya, banyak industri yang telah memiliki sendiriformat sertifikat. Di samping itu, sekolah telah menyiapkan juga rancangan ujikompetensi yang melibatkan industri yang sudah ditunjuk oleh BNSP atau BKSP. Setelah tahap perencanaan dan persiapan dilaksanakan maka siswa pesertaprakerin diberangkatkan ke industri. Pemberangkatan prakerin ini didampingi olehpembimbing dari sekolah. Berdasarkan hasil penelitian, kegiatan ini dilaksanakanpada awal semester satu kelas tiga selama waktu kerja tiga bulan penuh di industri.Model yang digunakan dengan demikian disebut sebagai sistem blok modifikasi. Prakerin yang dilaksanakan oleh SMK di Jawa Tengah rata-rata menggunakansistem blok. Hanya saja sistem yang digunakan tidak sepenuhnya model blok ataudapat dikatakan sebagai sistem blok modifikasi. Pada sistem blok murni, pelaksanaanprakerin selama delapan bulan, namun pada praktiknya banyak yang melaksanakanselama tiga bulan saja. Pelaksanaan prakerin selama tiga bulan ini adalah persyaratanminimal, jika dilaksnakan lebih dari tiga bulan malahan dianjurkan oleh kurikulum.Beberapa sekolah melaksanakan prakerin sampai dengan enam bulan bahkan adayang sampai dengan satu tahun. Pada sekolah empat tahun misalnya SMK Negeri 3Klaten, prakerin dilaksanakan selama satu tahun, bahkan sampai dilaksanakan ujikompetensi yang dilakukan sekolah dan industri tempat prakerin. Pada prakerin yangdilaksanakan selama tiga bulan, industri lazimnya belum mampu melaksanakan ujikompetensi. Industri hanya mampu memberikan sertifikat sebagai tanda terselesainya 16
  • 69. kegiatan prakerin, meskipun demikian di dalamnya telah dilengkapi nilai-nilaiketerampilan siswa. Setelah tahap pelaksanaan, pada pertengahan kegiatan prakerin, sekolahmengadakan monitoring. Guru pembimbing tidak berhak memberikan nilai prakerin.Pemberian nilai mutlak diberikan oleh industri. Guru pembimbing hanyamelaksanakan monitoring, kegiatannya adalah menanyakan mengenai kesulitan dankendala yang dihadapi siswa di industri. Di samping itu, guru pembimbing memintainformasi kepada industri tentang etika dan moral siswa mereka di industri, jikaterdapat permasalahan maka pada saat itu juga dicarikan solusinya. Pada tahap itujuga guru pembimbing memeriksa jurnal masing-masing siswa dari sekolahnya,selanjutnya memberikan saran-saran jika terdapat perbedaan antara prakerin dan tatatertib yang telah diatur oleh sekolah. Pada tahap terakhir adalah pemberian nilai atau sertifikat tanda siswa telahmelaksanakan prakerin. Sertifikat ini diberikan oleh industri. Format sertifikat dapatberasal dari sekolah atau industri tempat prakerin telah memiliki sendiri formatsertifikat. Format yang berasal dari industri yang justru dianjurkan, sebab lebihmempunyai kredibilitas, terutama pada saat digunakan untuk melamar pekerjaansetelah siswa lulus. Pada industri yang telah ditunjuk oleh BNSP sebagai tempat ujikompetensi, biasanya kegiatan prakerin dilanjutkan uji kompetensi. Sertifikat yangdikeluarkan berbeda, artinya setiap siswa bias memperoleh dua sertifikat sekaligusyaitu sertifikat prakerin dan sertifikat kompetensi. Pada industri yang tidak ditunjukoleh BNSP sebagai tempat uji kompetensi, maka siswa hanya memperoleh sertifikattelah melaksanakan prakerin. Lulusan SMK Mikael Surakarta, kurang lebih 50% terserap di dunia kerjasesuai dengan program keahliannya dan sisanya melanjutkan ke perguruan tinggi danmasa tunggu untuk mendapatkan pekerjaan pertama maksimal 1-3 bulan. Di sampingitu permintaan tenaga kerja oleh industri belum dapat terpenuhi atau terdapat surpluspermintaan tenaga kerja. Artinya, outcome di SMK St. Mikail Surakarta merupakankriteria keberhasilan sekolah kejuruan (out-of-school success). Banyaknya lulusan diSMK St. Mikail Surakarta yang terserap oleh dunia kerja, surplus permintaan tenagakerja, dan masa tunggu yang relatif pendek untuk mendapatkan pekerjaan pertama 17
  • 70. merupakan good practice, sehingga wajar jika termasuk dalam kategori SMKbertaraf internasional. Sementara itu, lulusan SMK 2 Salatiga yang terserap ke lapangan kerja sesuaidengan program keahliannya adalah 34%, sedangkan lulusan SMK 2 Cilacap adalah30%, sisanya melanjutkan ke Perguruan Tinggi, serta sebagian tidak diketahui,karena sampai saat ini informasi dengan mereka belum kembali tersambung. Masatunggu mendapatkan pekerjaan pertama untuk kedua SMK rata-rata adalah 1-6bulan. Jika dibandingkan dengan SMK Mikail Surakarta, nampak kemampuan keduaSMK masih jauh, oleh karena itu ke depan sekolah harus berusaha secara keras agarkemampuan mereka makin meningkat, sehingga keterserapan lulusan menjadi makintinggi. Bursa Kerja Khusus (BKK) SMK di Jawa Tengah berdasarkan penelitian telahmelaksanakan fungsinya yaitu memberikan informasi pasar kerja kepada siswa,mendaftar siswa pencari kerja, memberikan penyuluhan dan bimbingan jabatankepada siswa serta menyalurkan dan menempatkan siswa di industri. Permasalahanyang dihadapi BKK sekolah dan Dinas Tenaga Kerja Kota atau Kabupaten adalahtidak tertibnya sekolah dalam memberikan laporan. Laporan dalam 1 tahun harusdisampaikan oleh sekolah sebanyak empat kali, atau laporan secara triwulanan. Padapraktiknya sekolah hanya memberikan laporan satu kali dalam satu tahun. Disamping itu terdapat pelanggaran yang dilakukan oleh sekolah berkaitan denganPasal 5 tentang Petunjuk Teknis BKK bahwa BKK disuatu sekolah dilarangmenyalurkan pencari kerja yang bukan berasal dari satuan pendidikan dan lembagapelatihan kerjanya. Pada praktiknya banyak SMK dalam proses seleksi calonkaryawan di suatu industri misalnya di PT. Daihatsu Motor, mengundang SMKbahkan dari luar kabupaten atau kota. Proses rekrutmen seperti dijelaskan di atassampai sekarang tetap dilaksanakan oleh sekolah, namun demikian disisi yang lainDisnaker kabupaten dan kota tetap membiarkan pelanggaran itu. Dengan demikianpelanggaran ini dianggap legal. Struktur organisasi BKK SMK di Jawa Tengah rata-rata tidak lengkap.Biasanya BKK tidak dilengkapi dengan tata usaha. TU BKK biasanya melekat padatata usaha sekolah. Kondisi ini merupakan pelanggaran terhadap Pasal 2 ayat 5tentang Petunjuk Teknis BKK, bahwa struktur organisasi BKK terdiri dari pimpinan, 18
  • 71. urusan pendaftaran dan lowongan, urusan informasi pasar kerja dan kunjunganperusahaan, urusan penyuluhan bimbingan jabatan, serta urusan analisis jabatan sertatata usaha BKK. Beberapa sekolah bahkan tidak memiliki struktur organisasi, BKKhanya dikelola oleh satu guru saja. 19
  • 72. BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASIA. SIMPULAN 1. Materi pendidikan yang dipelajari di sekolah meliputi (1) komponen pendidikan umum (normatif), dimaksudkan untuk membentuk siswa menjadi warga negara yang baik, yang memiliki watak dan kepribadian sebagai warga negara bangsa Indonesia; (2) komponen pendidikan dasar (Adaftif), untuk memberi bekal penunjang bagi penguasaan keahlian dan bekal kemampuan pengembangan diri untuk mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi; (3) komponen pendidikan dan pelatihan kejuruan, berisi materi yang berkaitan dengan pembentukan kemampuan keahlian sesuai program keahlian untuk bekal memasuki lapangan kerja, yang mempunyai subkomponen teori kejuruan dan praktik dasar kejuruan. Teori kejuruan untuk membekali pengetahuan tentang teori kejuruan bidang keahlian, sementara itu praktik dasar kejuruan berupa latihan dasar untuk menguasai dasar-dasar teknik bekerja secara baik dan benar sesuai dengan persyaratan keahlian. Pola penyelenggaraan mata pelajaran normatif dan adaftif dilaksanakan menggunakan berbagai metode antara lain tugas kelompok dan mandiri; digunakan media pembelajaran berupa CD, buku teks, dan buku ajar; di samping itu, menerapkan evaluasi pembelajaran yang berupa tes essay, atau pilihan berganda; 2. Langkah-langkah penyelarasan kurikulum sudah dilakukan secara sistematik, yang telah mempertimbangkan keberadaan guru program produktif, KTSP, Standar Kompetensi Lulusan (SKL), serta kondisi industri dan kebutuhannya. Di samping itu, telah mempertimbangkan juga asosiasi profesi, Kepala Sekolah, serta Komite Sekolah. Tahapan itu dimulai dari kelompok guru produktif dan Ketua Program Diklatnya, yang mana mereka menjadi inisiator penyelarasan kurikulum program produktif. Hal ini dikarenakan merekalah yang setiap kali bersingungan dengan kurikulum. Pada kegiatan penyelarasan, guru dan ka prodi, mempertimbangkan keberadaan KTSP, SKL, serta kondisi kebutuhan institusi pasangan. Peran Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum 20
  • 73. yaitu dalam hal mengkoordinasi dan menjembatani pengembangan kurikulum di tingkat program keahlian. Peran Kepala Sekolah tidak saja dalam melegalisasi hasil penyelarasan kurikulum, tetapi fungsi yang sesungguhnya adalah motor dan manajer secara keseluruhan di sekolah yang mencakup beberapa program diklat;3. Prakerin yang dilaksanakan oleh SMK di Jawa Tengah rata-rata menggunakan sistem blok. Hanya saja sistem yang digunakan tidak sepenuhnya model blok atau dapat dikatakan sebagai sistem blok modifikasi. Pada sistem blok murni, pelaksanaan prakerin selama delapan bulan, namun pada praktiknya banyak yang melaksanakan selama tiga bulan saja. Pelaksanaan prakerin selama tiga bulan ini adalah persyaratan minimal, jika dilaksnakan lebih dari tiga bulan malahan dianjurkan oleh kurikulum. Beberapa sekolah melaksanakan prakerin sampai dengan enam bulan bahkan ada yang sampai dengan satu tahun. Pada sekolah empat tahun misalnya SMK Negeri 3 Klaten, prakerin dilaksanakan selama satu tahun, bahkan sampai dilaksanakan uji kompetensi yang dilakukan sekolah dan industri tempat prakerin. Pada prakerin yang dilaksanakan selama tiga bulan, industri lazimnya belum mampu melaksanakan uji kompetensi. Industri hanya mampu memberikan sertifikat sebagai tanda terselesainya kegiatan prakerin, meskipun demikian di dalamnya telah dilengkapi nilai-nilai keterampilan siswa;4. Jumlah lulusan SMK Negeri dan swasta di Jawa Tengah antara 95% sampai dengan 100%, dari rentang kelulusan tersebut yang terserap ke lapangan kerja yang cocok dengan program keahliannya adalah 30% sampai dengan 50%,; masa tunggu mendapatkan pekerjaan pertama rata-rata adalah 1-6 bulan; sisanya melanjutkan ke Perguruan Tinggi, serta sebagian tidak diketahui kegiatannya;5. Lulusan SMK PELMO yang dibutuhkan oleh industri adalah operator mesin perkakas manual, operator mesin CNC, las listrik, las argon, pengecoran logam serta telematika atau ICT, di samping itu di butuhkan soft skill berupa ketekunan, komitmen, disiplin, serta kemampuan bekerjasama (team work);6. Sertifikat keahlian siswa SMK Negeri dan swasta di Jawa Tengah diperoleh melalui tiga cara, yaitu Prakerin/PSG, Proyek Tugas Akhir (PTA), serta uji kompetensi yang diselenggarakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Badan 21
  • 74. Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Sertifikat yang diperoleh dari pelaksanaan Prakerin/PSG dan sertifikat yang diperoleh dari PTA digunakan sebagai pelengkap Ujian Nasional. Artinya kedua sertifikat masuk dalam hasil UN. Sementara itu sertifikat yang diperoleh dari LSP merupakan bekal tambahan siswa dalam rangka melamar pekerjaan.B. REKOMENDASI 1. Penyelarasan kurikulum dalam komponen normatif, adaftif, dan dasar kejuruan sebaiknya dilaksanakan dalam waktu dua tahun sekali agar terjadi pembaharuan materi pembelajaran sehingga tidak ketinggalan dibandingkan kondisi di industri. Wadah kegiatan ini sebaiknya adalah IHT, industri diundang ke sekolah untuk bersama-sama menyusun kurikulum; 2. Penyelarasan kurikulum dalam komponen produktif, sebaiknya dilaksanakan dalam setiap tahun, sebab perkembangan keterampilan di industri sangat cepat, metode yang digunakan adalah guru produktif berkunjung ke industri dengan membawa draft kurikulum yang selama ini telah dilaksanakan, industri diminta memberikan masukan, yang kemudian digunakan sebagai rujukan untuk perubahan kurikulum; 3. Tugas Akhir (TA) yang disusun oleh siswa sebaiknya berasal dari industri tempat prakerin, siswa diminta untuk mengamati salah satu permasalahan di industri untuk diselesaikan dalam TA, selanjutnya penguji TA salah satunya berasal dari industri tempat siswa prakerin; tidak seperti yang selama ini dilakukan yaitu TA tidak berhubungan dengan prakerin; 4. Komunikasi antara BKK dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi sebaiknya ditingkatkan kembali, dengan cara BKK secara tertib memberikan laporan yaitu tiga bulan sekali, di sisi yang lain Disnakertrans secara rutin melakukan monitoring ke sekolah untuk mengumpulkan informasi tentang dinamika BKK. 5. Rekomendasi untuk Sekolah a. Penyelenggaraan pembelajaran teori kejuruan dan praktik kejuruan dasar dapat dilaksanakan di awal semester, tidak perlu mengikuti kelaziman, hal ini berkaitan dengan jadwal pemanfaatan bengkel, yaitu agar optimal, sebab 22
  • 75. kadang-kadang sebagaian alat dan mesin ada yang rusak di permulaan semester; b. Model Prakerin untuk SMK Negeri dapat digunakan block release modifikasi, yaitu diadakan mulai klas satu pada akhir semester genap, selama satu bulan dalam tiga tahun, khususnya untuk keterampilan yang tidak menuntut sekuens materi yang sistematik, jumlah waktu magang tetap selama tiga bulan; c. Meningkatkan kemitraan dengan berbagai pihak, terutama dengan industri dan asosiasi yang kompeten; d. Memberdayakan semua komponen sekolah kearah pencapaian visi dan misi sekolah6. Rekomendasi untuk Pemerintah a. Memberikan fasilitasi aksesibilitas kemitraan antara sekolah dan industri, terutama dalam proses magang dan penempatan lulusan; b. Memberikan fasilitasi guru untuk melakukan in service training dalam bidang keterampilan produktif.7. Komunikasi antara BKK dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi sebaiknya ditingkatkan kembali, dengan cara BKK secara tertib memberikan laporan yaitu tiga bulan sekali, di sisi yang lain Disnakertrans secara rutin melakukan monitoring ke sekolah untuk mengumpulkan informasi tentang dinamika BKK. 23
  • 76. DAFTAR PUSTAKABailey, Kenneth B, 1989, Methods of Social Research, The Free Press, Collier Macmillan, LondonBalitbang Provinsi Jawa Timur, 2004, “Peluang dan Tantangan Mengatasi Pencaker di Jatim” Jurnal Cakrawala, Edisi I, Bulan ke-6.Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, PP No 31 2006 tentang Sistem Pelatihan Kerja nasional.Depdiknas, 2001, Reposisi Pendidikan Kejuruan Menjelang 2020, Jakarta, Ditjen, Dikdasmen, Dit Dikmenjur.Dunn, William, 2004, Public Policy Analyisis : An Introduction, Prentice Hall, Simin & Shuster Company Engelwood Clifts, New York.Finch, Curtis R. and Crunkilton, John R., 1984, Curriculum Development in Vocational and Technical Education: Planning, Content, and Implementation. Boston: Allyn and Bacon, Inc.Gatot PH 2000 “Pendidikan Kejuruan” Makalah pada Konvensi Pendidikan Nasional di UNJ.Gusrizal 2002, “Pelaksanaan Uji Kompetensi SMK dan Implikasinya pada Instrumen Mata Uji” dalam Buletin Pembelajaran No. 02 Tahun 25 Juni 2002.Nolker, H., 1983, Pendidikan Teknologi Kejuruan : Pengajaran, kurikulum, dan perencanaan, Jakarta, PT. Gramedia.PP No. 23 Th. 2004 tentang “Badan Nasional Sertifikat Profesi”, Lembaran Negara R.I. Tahun 2004 No 78, Tambahan Lembaran Negara R.I. No. 4408.Purwadi, A. 1998, “Beberapa Gagasan tentang Reformasi Pendidikan Menengah Kejuruan” Kajian Pendidikan dan Kebudayaan No. 014/V/September 1998 Jakarta, Balitbang, Depdikdbud.Samsudi, 2004, “Pengembangan Model Sinkronisasi Kurikulum Berbasis Kompetensi Produktif SMK Bidang Rekayasa”, Laporan Penelitian Hibah Bersaing XII, Lembaga Penelitian UNNES, Semarang.Sidi, I., 2002 Menuju Masyarakat Pembelajar, Menggagas Paradigma Baru Pendidikan, Jakarta, Paramadina bekerjasama dengan Logos Wacana Ilmu.Syaodih, N., 1997, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, Bandung, PT. Remaja Rosda Karya. 24
  • 77. Sudana, I Made, 1998, Pola Sinkronisasi Kurikulum SMK di Jawa Tengah, Laporan Penelitian BBI, Jakarta, DP2M.Sukamto, 1988, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Teknologi Kejuruan, Jakarta, Proyek P2LPTK.Suryadi, A., 1999, Pendidikan, Investasi SDM dan Pembangunan, Jakarta, Balai Pustaka.Walter W. McMahon dan Terry G. Geske, Financing Education: Overcoming Inefficiency and Inequity, USA, University of Illionis, 1982, h.121.Yin Cheong Cheng, 1996, School Effectiveness and School-Based Management: A Mechanism for Development, Washington D.C, The Palmer Press. 25

×