Silvikultur   laporan praktikum silvikultur kehutanan
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Silvikultur laporan praktikum silvikultur kehutanan

on

  • 2,743 views

laporan praktikum silvikultur kehutanan

laporan praktikum silvikultur kehutanan

Statistics

Views

Total Views
2,743
Views on SlideShare
2,743
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
44
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Silvikultur   laporan praktikum silvikultur kehutanan Silvikultur laporan praktikum silvikultur kehutanan Document Transcript

  • LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM MATA KULIAH SILVIKULTUR Disusun Oleh : Nama : Rio Rusandi Nim : 1106121095 JURUSAN KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS RIAU 2012
  • KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan Laporan akhir Praktikum mata kuliah Silvikultur Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Riau. Dalam Penulisan laporan ini penulis menyadari masih banyak kekurangankekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan laporan ini. Dalam penulisan laporan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan Laporan Akhir Praktikum Silvikultur ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amin. Pekanbaru, Desember 2012 Penulis Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • DAFTAR ISI Halaman Kata Pengantar. ...................................................................................................i Daftar isi ..............................................................................................................ii BAB I. Pendahuluan ...........................................................................................1  1.1. Latar Belakang ...............................................................................1  1.2. Tujuan ............................................................................................4 BAB II. Tinjauan Pustaka ..................................................................................5 BAB III. Metodelogi Praktikum .........................................................................14 BAB IV. Hasil dan Pembahasan .........................................................................20  4.1. Hasil ...............................................................................................20 4.1.1. Hasil Pengamatan Cabutan .......................................................20 4.1.2. Pengaruh Komposisi Media Tanam ...........................................21 4.1.3. Pengaruh Ukuran Container/Polybag .........................................27 4.1.4. Stratifikasi Benih .......................................................................33 4.1.5. Pengamatan Pada Persemaian.....................................................33  4.2. Pembahasan....................................................................................34 4.2.1. Cabutan .....................................................................................34 4.2.2. Pengaruh Komposisi Media Tanam ...........................................35 4.2.3. Pengaruh Ukuran Container/Polybag .........................................36 4.2.4. Stratifikasi Benih .......................................................................37 4.2.5 Persemaian ...................................................................................38 BAB V. Penutup .................................................................................................39  5.1. Kesimpulan ....................................................................................39  5.2. Saran ..............................................................................................40 Daftar pustaka .....................................................................................................41 Lampiran .............................................................................................................42 Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Silvikultur merupakan cara-cara mempermudaan hutan secara alami dan buatan, serta pemeliharaan tegakan sepanjang hidupnya. Termasuk kedalam sivikultur ialah pengetian tentang persyaratan tapak atau tempat tumbuh pohon perilakunnya terhadap berbagai intensitas cahaya matahari, kemampuannya untuk tumbuh secara murni atau campuran, dan hal-hal lain yang mempengaruhi pertumbuhan pohon. Jadi sangatlah pentig untuk mengetahui silvikultur masingmasing jenis pohon, sebelum kita dapat mengelolah suatu hutan dengn baik. Silvikultur dapat dianalogikan dengan ilmu agronomi dan holtikultura di pertanian, karena silvikultur dapat juga membicarakan cara-cara membudidayakan tumbuhan,dalam hal pohon – pohon hutan . Dalam pengertian lebih luas , silvikultur dapat disebut Ilmu pembinaan hutan, dengan ruang lingkup mulai dari pembijian , persemaian, penanaman lapangan, pemeliharaan hutan, dan cara-cara permudaannya. Untuk itu, seorang ahli sivikultur perlu mempelajari berbagai ilmu dasar yang mendukungnya, misalnya ilmu tanah, ilmu iklim, ilmu tumbuhan (botani) ,dendrologi, fisiologi, genetika, serta ekologi. Sekarang, ahli silvikultur pada hakikatnya adalah seorang pemraktek ekologi. Kita menanam dan memelihara hutan, tidaklah hanya untuk dikagumi keidahannya, tetapi yang utama untuk dapat memanfaatkan hutan secara lestari. Dengan demikian ,aspek ekonomi termasuk kedalam pengertian sivikultur sejak dini. Meskipun demikian, alam tetap merupakan guru kita yang tebaik. Karena itu kaidah-kaidah dalam hukum alam harus selalu diperhatikan. Hal ini sangat terlihat bika kita hendak membangun hutan tanaman, dan Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • menggunakan jenis pohon asing yang didatangkan dari luar kawasan , atau dari luar negeri. Sementara penulis, seperti Baker (1950) dan Hawley and Smith (1962), membagi ilmu silvikultur atas dua bagian, yaitu silvik dan silvikultur. Demikian pula pembagian tersebut dapat diartikan sebagai dasar teori silvik dan penerapan praktek silvikultur. Tanpa memahami dasar teori, memang sulit untuk mengembangkan penerapan sivikultur di lapangan. Dengan uraian diatas, maka sekarang dapat diberikan batasan pengertian atau definisi istilah-istilah yang digunakan. Silvik ialah ilmu yang mempelajari sejarah hidup dan ciri-ciri umum pohon dan tegakan hutan dalam kaitannya dengan factor-faktor lingkungannya. Silvikultur ialah ilmu dan seni menghasilkan dan memelihara hutan dengan menggunakan pengetahuan silvik untuk memperlakukan hutan serta mengendalikan susunan dan pertumbuhannya. Teknik penyemaian secara langsung juga dapat memanfaatan cabutan anakan alam (wildling). Benih yang jatuh di lantai hutan mudah berkecambah dan dapat di manfaatkan untuk pembuatan bibit. Pencabutan sebaiknya setelah turun hujan dengan cara mencabut bagian leher akar untuk menghindari kerusakan daerah perakaran. Pada lokasi persemaian yang tergolong jauh sebaiknya memprakondisikan wildling/cabutan di bungkus dalam karung basah atau pelepah pisang serta dapat menggunakan ice box. Tujuannya adalah menjaga kesegaran cabutan dan menjaga kelembapan selama pengangkutan dan kalau perlu di siram selama 4-6 jam sekali dengan air bersih. Cabutan di bentuk dengan memotong 2/3 daun, untuk mengurangi penguapan daun akar yang terlalu panjang di bentuk untuk memudahkan penyemaian di kantong plastik. Media tanam merupakan komponen utama ketika akan bercocok tanam. Media tanam yang akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang ingin ditanam. Menentukan media tanam yang tepat dan standar untuk jenis tanaman yang berbeda habitat asalnya merupakan hal yang sulit. Hal ini dikarenakan setiap daerah memiliki kelembapan dan kecepatan angin yang berbeda. Secara umum, Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • media tanam harus dapat menjaga kelembapan daerah sekitar akar, menyediakan cukup udara, dan dapat menahan ketersediaan unsur hara. Penggunaan bahan organik sebagai media tanam jauh lebih unggul dibandingkan dengan bahan anorganik. Hal itu dikarenakan bahan organik sudah mampu menyediakan unsur-unsur hara bagi tanaman. Selain itu, bahan organik juga memiliki pori-pori makro dan mikro yang hampir seimbang sehingga sirkulasi udara yang dihasilkan cukup baik serta memiliki daya serap air yang tinggi. Keuntungan menggunakan polybag diantaranya yaitu biaya lebih murah untuk pembelian polybag dibandingkan pot, mudah dalam perawatan, pengontrolan/pengawasan per individu tanaman lebih jelas untuk pemeliharaan tanaman seperti serangan hama/penyakit, kekurangan unsur hara, tanaman terhindar dari banjir, tertular hama/penyakit, polybag mampu ditambahkan bahan organik/pupuk kandang sesuai takaran, menghemat ruang dan tempat penanaman, komposisi media tanam dapat diatur, serta nutrisi yang diberikan dapat langsung diserap oleh akar tanaman. Adapun kerugiannya adalah benda bermaterial plastik menyisakan masalah bagi lingkungan. Selain itu, kelemahan menggunakan polybag adalah polybag mempunyai daya tahan terbatas (maksimal 2-3 tahun) atau 2-3 kali pemakaian untuk media tanam, kurang cocok untuk usaha skala besar, produktivitas tidak maksimal dibandingkan pada lahan, media tanam akan terkuras/berkurang unsur organik dan media lainnya. Kebanyakan polybag terbuat dari polyethylene yang merupakan produk dari industri minyak bumi. Tidak hanya ada masalah dengan daya urai kantong plastik ini, tetapi juga masalah bahan kimia yang dilepaskan sebagai bagian dari proses pembusukan, organo-chlorine (sangat beracun), methane (gas rumah kaca yang memberikan kontribusi untuk pemanasan global) dan nitrous oxide Skarifikasi benih merupakan perlakukan pendahuluan terhadap benih, sehingga benih akan cepat berkecambah secara optimal. Ada benih yang mampu tumbuh tanpa skarifikasi, tetatpi ada pula yang memerlukan skarifikasi, baru dapat Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • tumbuh. Skarifikasi dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu skarifikasi fisik, skafifikasi kimia, dan skarifikasi fisiologis untuk menentukan tipe skarifikasi yang tepat, tentunya harus dicermati sifat-sifat dari suatu benih. Suatu benih dapat mengalami dormansi yaitu suatu keadaan berhenti tumbuh yang dialami organisme hidup atau bagiannya sebagai tanggapan atas suatu keadaan yang tidak mendukung pertumbuhan normal. Dengan demikian, dormansi merupakan suatu reaksi atas keadaan fisik atau lingkungan tertentu. Pemicu dormansi dapat bersifat mekanis, keadaan fisik lingkungan, atau kimiawi. Persemaian adalah tempat atau areal untuk kegiatan memproses benih (atau bahan lain dari tanaman) menjadi bibit/semai yang siap ditanam di lapangan. Kegiatan di persemaian merupakan kegiatan awal di lapangan dari kegiatan penanaman hutan karena itu sangat penting dan merupakan kunci pertama di dalam upaya mencapai keberhasilan penanaman hutan. Penanaman benih ke lapangan dapat dilakukan secara langsung dan secara tidak langsung yang berarti harus disemaikan terlebih dahulu di tempat persemaian. Penanaman secara langsung ke lapangan biasanya dilakukan apabila biji-biji (benih) tersebut berukuran besar dan jumlah persediaannya melimpah. Meskipun ukuran benih besar tetapi kalau jumlahnya terbatas, maka benih tersebut seyogyanya disemaikan terlebih dulu. Pemindahan/penanaman bibit berupa semai dari persemaian ke lapangan dapat dilakukan setelah semai-semai dari persemaian tersebut sudah kuat (siap ditanam). 1.2. Tujuan Praktikum Tujuan penulisan laporan praktikum ini adalah sebagai tugas akhir dalam praktikum silvikultur dan juga sebagai syarat mengikuti ujian praktikum silvikultur. Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Cabutan Teknik pemindahan tanaman yaitu, dengan cara cabutan, dimana bibit yang sudah tumbuh dipindahkan dari dalam polybag yang telah disediakan kemudian diukur tinggi tiap tanaman setelah satu minggu pengamanan dan menghitung jumlah tanaman yang mati (Manan, 1995). Menurut Suheti, Dkk (1996), benih cabutan harus segera drtanaman setelah dikumpulkan pelaksanaan. Pelaksanaan penanaman sebaiknya dilakukan di bawah naugan tahapan kegitan penanaman sebagai berikut:  Akar yang terlalu panjang sebagian dipotong, daun dikuarangi beberapa lembaratau dipotong sebagian. Hal ini ditakukan untuk mengurangi penguapan dan mempercepat pertumbuhan akar.  Masukkan anakan aidalam wadah yang sudah diisi media sebagian, di usahkan agar lebar berada kurang lebih 2 cm di bawah permukaan wadah. Cabutan adalah teknik pemindahan semai yang berasal dari anakan alam dengan cara mencabutnya tanpa menyertai tanah sekitarnya. Cabutann juga merupakan teknik pemindahan tanaman yaitu, dengan cara cabutan, dimana bibit yang sudah tumbuh dipindahkan kedalam polybag ynag telah di sediakan kemudian diukur tinggi tiap tanaman setelah satu minggu pengamanan dan menghitung jumlah tanaman yang mati (Manan, 1995) Pengadaan bibit dari anakan alam dapat dilakukan dengan cabutan dan stump. Ditingkat lokal, khususnya pada tingkatan masyarakat yang masih belum mengerti teknik budidaya dengan benih, hingga saat ini masih banyak orang yang Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • menggunakan cabutan anakan alami yang memang tumbuh disekitar pohon induk atau terbawa air atau hewan seperti kelelawar (Mansur dan Tuheteru, 2010). 2.2. Pengaruh Komposisi Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Tanaman Media tanam merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap perbanyakan tanaman dan pertumbuhan awalnya. Agar pertumbuhan bibit dapat baik, media tanam diharapkan mempunyai sifat-sifat sebagai:  Media hendaknya gembur agar pertumbuhan akar tidak terganggu dan akar dapat leluas menembus.  Kelembaban media harus cukup dan ini dapat diatasi dengan penyiraman, karena air sangat diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.  Media hendaknya bersifat sarang sehingga oksigen dapat masuk untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Media hendaknya bebas dari gulma, nematoda dan berbagai penyakit. Sebaiknya kadar salinitas rendah. Media hendaknya mengandung hara yang diperlukan bagi tanaman. Berdasarkan persyaratan tersebut diatas maka media yang digunakan adalah pasir, tanah, sekam padi, dan pupuk kandang (Sumiarsih, 1999). Media tanam berfungsi sebagai tempat akar melekat, mempertahankan kelembaban dan sebagai sumber makanan. Media yang baik dapat menyimpan air untuk kemudian dapat dilepaskan sedikit demi sedikit dan dimanfaatkan oleh tanaman (Budiyati,1994). Meskipun kerusakan tanah dapat dicegah dengan memperbaiki struktur tanah tetapi penggunaan pestisida dan conditioner dalam sekala besar tidak dapat dibenarkan. Hal ini dapat mempengaruhi dalam hal konservasi tanah dan penyerapan nutrisi dalam tanah. Dengan pupuk organik tanah tidak akan miskin hara dan tanaman akan memperoleh keuntungan dengan menyerap nutrisi dari dalam tanah (Buurman,1980). Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • Unsur-unsur yang penting dan harus tersedia adalah N,P,K. N berfungsi mempercepat pertumbuhan klorofil ,menambah lebar daun, besarnya benih. Dosis yang digunakan tergantung pada varietas benih dan keadaan tanah. Pupuk P berfungsi untuk pembentukan akar, pertumbuhan tanaman, menstimulasi pembentukan buah dan mempercepat panen. Unsur P berpengaruh untuk kandungan total benih terutama dalam bentuk Fitin. Fitin berfungsi sebagai cadangan fosfor dan untuk pemeliharaan energi yang diperlukan untuk perkecambahan (Anderson dan Bernard, 1952). Media tanam dapat didefinisikan sebagai kumpulan bahan atau substrat tempat tumbuh benih yang disebarkan atau ditanam. Media tanam banyak macam ragamnya, dapat merupakan campuran dari bermacam-macam bahan atau satu jenis bahan saja asalkan memenuhi beberapa persyaratan, antara lain cukup baik dalam memegang air, bersifat porous sehingga air siraman tidak menggenang (becek), tidak bersifat toksik (racun) bagi tanaman, dan yang paling penting media tanam tersebut cukup mengandung unsur-unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman (Widarto, 1996). Disamping memberikan dukungan secara fisik pada tanaman, tanah merupakan sumber mineral dan air bagi tanaman. Kondisi tanah dan mineral dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Lingkungan atmosfer harus tersedia pada kedalaman yang cukup dalam tanah sehingga akar tanaman dapat memperoleh oksigen yang dibutuhkan untuk respirasi secara langsung dari udara (Villareal dan Donald, 1969). Pemberian pupuk kandang yang berupa pupuk kotoran ayam diharapkan akan dapat membantu menetralkan pH tanah, menetralkan racun akibat adanya logam berat dalam tanah, memperbaiki struktur tanah menjadi lebih gembur, membantu penyerapan hara dari pupuk kimia yang ditambahkan, membantu mempertahankan suhu tanah sehingga fluktuasi tidak tinggi, mendorong kehidupan jasad renik, dan sebagai sumber unsur mikro yang dibutuhkan tanaman, sehingga keseimbangan unsur hara di dalam tanah menjadi lebih baik. Semakin baiknya kondisi fisik tanah dan Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • semakin meningkat kandungan unsur hara di dalam tanah menyebabakan laju pertumbuhan fotosintesis meningkat dan tersedia fotosintat yang cukup untuk meningkatkan jumlah polong isi per tanaman (Nurjen, 2002). 2.3. Pengaruh Ukuran Container / Polybag Terhadap Pertumbuhan Tanaman Polybag yang mempunyai bahan dasar plastik dapat merusak lingkungan tanah. Polybag memerlukan waktu yang sangat lama untuk dapat didegradasi oleh mikroorganisme di dalam tanah. Meskipun polybag dapat digunakan sebagai media tanam untuk tanaman, saat ini penggunaan polybag sangatlah tidak ramah lingkungan. Hal ini dikarenakan bahan dasar polybag ini terbuat oleh polyethylene, yaitu molekul polimer yang sangat panjang dan besar serta terikat dengan sangat kuat sehingga sulit dipisahkan atau diasimilasi oleh bakteri dekomposer (Marzoeki 1995). Penggunaan polybag sebagai wadah bibit sudah banyak dilakukan dan merupakan wadah yang paling umum digunakan oleh produsen bibit maupun oleh peneliti, karena harganya murah dan mudah diperoleh. Ukuran polybag yang digunakan dapat disesuaikan dengan kebutuhan / sesuai umur tanaman / bibit. Kaitannya dengan penelitian ini, ternyata polybag memberikan pertumbuhan yang lebih baik bagi bibit tanaman, mungkin disebabkan pertumbuhan akar yang ada dalam polybag lebih leluasa berkembang ( Rostiwati et al, 2007). Menurut Aminuddin (2003) semakin besar wadah atau ukuran polybag yang digunakan, jumlah media atu bobot media yang digunakan semakin banyak sehingga dapat membuat akar leluasa untuk berkembang. Selanjutnya dia menyatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan tanaman dan media tanaman berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Kondisi media yang mampu menahan air serta kemampuan akar menyerap air dan mineral. Berdasarkan pengamatan secara visual terhadap akar pada akhir pengamatan, perlakuan ukuran polybag 40 cm x 40 cm memberikan pertumbuhan yang baik terhadap akar. Hal ini terlihat dari kondisi rambut akar yang berpengaruh menyebar, yang artinya polybag 40 cm x 40 cm memberikan ruang untuk menyediakan oksigen dan air hingga akhir pertumbuhan tanaman. Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • Ukuran polybag bermacam – macam disesuaikan dengan jenis dan umur tanaman. Keuntungan penggunaan polybag antara lain komposisi media dapt diatur, efesien dalam penyiraman dan pemupukan, tanaman dapat berpindah – pindah, pertumbuhan gulma dapat dikendalikan dan tidak memerlukan lahan yang luas, serta nutrisi yang diberikan dapat diserap oleh akar secara optimal. Penentuan ukuran polybag yang cocok untuk pertumbuhan tanaman diharapkan dapt meningkatkan produktivitas tanaman dan efisiensi dalam penggunaan media dan nutrisi. Kontainer mempunyai beberapa fungsi sehubungan dengan usaha untuk mendapatkan pertumbuhan semai yang baik, yaitu : a. Fungsi secara biologis, antara lain sebagai wadah bagi media yang merupakan sumber hara, air, dan udara bagi semai, pelindung perakaran semai dari ganggauan luar baik secara mekanis maupun non mekanis : membentuk perakaran menjadi lebih baik, meningkatkan daya tahan bibit. b. Fungsi secara operasional atau teknis adalah sebagai pembungkus perakaran semai dalam bentuk dan ukuran standar sehingga memudahkan dalam penanganan selanjutnya, selam dalam persemaian, pengangkutan dan penanaman nanti. Pada dasarnya container dibedakan menjadi dua, yaitu : kontainer yang nantinya akan ditanam bersama dengan semainya, container ini terbuat dari bahan yang dapt terurai. Dan yang kedua adalah container yang harus dilepas bila semai ditanam. 2.4. Skarifikasi Benih Pemecahan dormansi dan penciptaan lingkungan yang cocok sangat perlu untuk memenuhi proses perkecambahan. Benih yang mempunyai kulit biji tidak permeable dapat dirangsang dengan mengubah kulit biji untuk membuat permeable terhadap gas–gas dan air (Lita Sutopo, 1985). Perkecambahan benih dipengaruhi oleh dua faktor (S. Sadjad, 1980) yaitu faktor dari dalam (faktor genetik) berupa tingkat Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • pemasakan benih dan kulit benih dari luar (faktor lingkungan) yaitu pengaruh suhu, cahaya, air dan media tumbuh. Dormansi dapat disebabkan oleh berbagi faktor antara lain impermeabilitas kulit biji baik terhadap air atau gas ataupun karena resistensi kulit biji terhadap pengaruh mekanis, embrio rudimenter, dormasi sekunder dan bahan – bahan penghambat perkecambahan. Tetapi dengan perlakuan khusus maka benih dorman dapat dirangsang untuk berkecambah (Lita Sutopo, 2002). Benih dikatakan dorman apabila benih tersebut sebenarnya hidup tetapi tidak berkecambah waalaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum dinggap telah memenuhi persyaratan bagi suatu perkecambahan. (Sutopo, 1984) Dormansi pada benih dapat berlangsung selama beberapa hari, semusim bahkan sampai beberapa tahun tergantung pada jenis tanaman dan dormansinya. Pertumbuhan tidak akan pernah terjadi selama benih belum melalui masa dormansinya, atau sebelum dikenakan suatu perlakuan khusus terhadap benih tersebut. Dormansi dapat dipandang sebagai salah satu keuntungan biologis dari benih daalam mengadaptasikan siklus pertumbuhan tanaman terhadap keadaan lingkungannya, baik musim maupun variasi-variasi yang kebetulan terjadi. Sehingga secara tidak langsung benih dapat menghindarkan dirinya dari kemusnahan alam. Dormansi pada benih dapat disebabkan oleh keadaan fisik kulit biji ataupun keadaan fisiologi dari embrio atau kombinasi dari kedua keadaan tersebut. Sebagai contoh kulit biji yang impermeable terhadap air dan gas sering dijumpai pada benih-benih dari famili Legumnoseae (Sutopo, 1984). Tipe-tipe dormansi antara lain, dormansi yang disebabkan oleh impermeabilitas kulit biji terhadap air, resistensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan embrio, permeabilitas yang rendah dari kulit biji terhadap gas-gas. Dormansi fisiologi yang disebabkan oleh immaturity embrio, after ripening, dormansi sekunder, dormansi yang disebabkan oleh hambatan metabolis pada embrio (Kamil, 1986). Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • Skarifikasi mampu mempercepat proses perkecambahan karena adanya penipisan kulit benih agar lebih mudah melakukan imbibisi, sementara KNO3 berperan dalam mengaktifkan metabolisme sel dan mempercepat perkecambahan. Skarifikasi manual kulit biji dapat dilakukakan melalui penusukan, penggoresan, pemecahan, pengikiran atau pembakaran, dengan bantuan pisau, jarum, kikir, kertas gosok, atau lainnya adalah cara yang paling efektif untuk mengatasi dormansi fisik. Karena setiap benih yang ditangani secara manual, dapat diberikan perlakuan individu sesuai dengan ketebalan biji. Pada hakekatnya semua benih dibuat permeable dengan resiko kerusakan yang kecil, asalkan dearah radikel tidak rusak. Seluruh permukaan kulit biji dapat dijadikan titik penyerapan air. Pada benih legume, lapisan sel palisade dari kulit biji menyerap air dan proses pelunakan menyebar dari titik ini keseluruh permukaan kulit biji dalam beberapa jam. Pada saat yang sama embrio menyerap air. Skarifikasi manual efektif pada seluruh permukaan biji tetapi daerah microphylar dimana terdapat radicle, harus dihindari. Kerusakan pada daerah ini dapat merusak benih, sedangkan kerusakan pada kotiledon tidak akan mempengaruhi perkecambahan. (Kremer, 1990). 2.5. Persemaian Salah satu usaha untuk memperoleh hasil pertumbuhan semai secara optimal ialah dengan cara pemupukan. Pemupukan dimaksudkan supaya kadar unsur hara dalam tanah/medium semai dipertinggi; dan dapat merubah keadaan fisik, kimiawi dan hayati dari tanah sehingga sesuai dengan tuntutan semai atau secara sederhana, pemupukan persemaian bertujuan untuk meningkatkan produkfitas tanah agar diperoleh hasil semai yang meningkat ( Suharriyanto dan Wasitohadi, 1980). Adanya sumber air dan persediaan dalam jumlah yang cukup di dekat persemaian sangat memudahkan keberhasilan persemaian. Pada umumnya sumber air di dalam kawasan hutan adalah berupa sungai, mata air dan air dalam tanah, juga sumber air berupa air hujan merupakan sumber air yang banyak diharapkan oleh para pengelola persemaian. Kebutuhan air untuk persemaian tidaklah sama, tergantung Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • pada jenis tanaman yang disemaikan. Sebagai contoh, kebutuhan air untuk menyiram dan persemaian dapat diperkirakan sebagai berikut ( Darjadi dan Haryono, 1972) :  Pinus merkusii - 60 m3 /Ha/hari  Swietenia macrophylla - 60 m3 Ha/hari  Tectona grandis - 20 m3 Ha/hari  Shorea Sp - 60 m3 Ha/hari  Eucalyptus spp - 40 m3 Ha/hari Perkecambahan adalah proses pertumbuhan embrio dan komponen-komponen biji yang memiliki kemampuan untuk tumbuh secara normal menjadi tumbuhan baru. Komponen biji tersebut adalah bagian kecambah yang terdapat didalam biji, misalnya radikula dan plumula. (Bogod Sudjadi, 2006) Benih yang dipanen sebelum tingkat kemasakan fisiologinya tercapai tidak mempunyai viabilitas yang tinggi karena belum mempunyai cadangan makanan yang cukup serta pembentukan embriobelum sempurna (Sutopo, 2002). Pada umunya sewaktu kadar air biji menurun dengan cepat sekitar 20 persen, maka benih tersebut juga telah mencapai masak fisiologis atau masak fungsional dan pada saat itu benih mencapai berat kering maksimum, daya tumbuh maksimum (vigor) dan daya kecaambah maksimum (viabilitas) atau dengan kata lain benih mempunyai mutu tertinggi. (Kamil,1979). Benih yang berukuran besar dan berat mengandung cadangan makanan yang lebih banyak dibandingkan dengan yang kecil pad jenis yang sama. Cadangan makanan yang terkandung dalam jaringan penyimpan digunakan sebagai sumber energi baagi embrio pada saat perkecambahan (Sutopo, 2002). Berat benih berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan dan produksi karena berat benih menentukan besarnya kecambah pada saat permulaan dan berat tanaman pada dipanen (Blackman dalam Sutopo, 2002). Menurut Kuswanto (1996), penghambat perkecambahan benih dapat berupa kehadiran inhibitor baik dalam benih maupun dipermukaan benih, adanya larutan dengan nilai osmotic yang tinggi serta bahan yang menghambat lintasan metabolic Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • atau menghambat laju respirasi. Penyerapan air oleh benih di pengaruhi oleh sifat benih itu sendiri terutama kulit pelindungnya dan jumlah air yang tersedia pada media disekitarnya, sedangkan jumlah air yang diperlukan bervariasi tergantung kepda jenis benihnya, dan tingkat pengambilan air turut dipengaruhi oleh suhu (Sutopo, 2002). Kebutuhan benih akan cahaya untuk perkecambahannya bervariasi tergantung pada jenis tanaman (Sutopo, 2002). Adapun besar pengaruh cahaya terhadap perkecambahan tergantung pada intensitas cahaya, kualitas cahaya, lamanya penyinaran (Kamil, 1979). Medium yang baik untuk perkecambahan haruslah memiliki sifat fisik yang baik, gembur, mempunyai kemampuan menyerap air dan bebas dari organisme penyebab penyakit terutama cendawan (Sutopo, 2002). Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • BAB III METODELOGI 3.1. Cabutan A. Tujuan Praktikum 1. Praktek mengenai perbanyakan secara alam yaitu dengan menggunakan cabutan dan menhitung persentase keberhasilan dari cabutan. B. Alat dan Bahan Adapun alat yang digunakan : 1. Cangkul 2. Kantong Plastik 3. Ember 4. Polybag Adapun bahan yang digunakan : 1. Cabutan yang diambil dari Arboretum UR 2. Air 3. Media Tanam (Top Soil) Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • C. Prosedur kerja 1. Pilih lokasi tempat pengambilan anakan alam / cabutan (di Arboretum) 2. Tentukan jenis cabutan yang akan diambil sebagai anakan. 3. Pilih cabutan yang baik (Akar, batang, daun yang jelas) 4. Gunakan kantong plastik yang telah di isi dengan air dengan tujuan agar cabutan dapat bertahan hidup dan tidak rusak. 5. Kemudian cabutan yang telah didapat tersebut ditanam pada media yang telah disiapkan. 6. Hitunglah persentase hidup cabutan dengan rumus : Persentase hidup = 𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒄𝒂𝒃𝒖𝒕𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑 𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒄𝒂𝒃𝒖𝒕𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒕𝒂𝒏𝒂𝒎 𝒙 𝟏𝟎𝟎 % 3.2. Pengaruh Komposisi Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Tanaman A. Tujuan Praktikum 1. Untuk melihat pengaruh berbagai jenis media tanam terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman. B. Alat dan Bahan Adapun alat yang digunakan : 1. Polybag Sedang 2. Cangkul 3. Ember Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • 4. Gayung Adapun bahan yang digunakan : 1. Media Tanam (Top Soil) 2. Air 3. Tanaman C. Prosedur kerja 1. Tentukan polybag yang akan digunakan pada praktikum komposisi media tanam yang digunakan adalah polybag sedang. 2. Tentukan media tanah yang digunakan pada praktikum ini adalah top soil + kompos. 3. Lakukan pengamatan diameter dan tinggi tanaman selama 5 kali pengamatan dengan selan waktu 1 minggu 1 kali pengamatan. 3.3. Pengaruh Ukuran Container/Polybag Terhadap Pertumbuhan Tanaman A. Tujuan Praktikum 1. Untuk melihat pengaruh berbagai ukuran container/polybag terhadap pertambahan tinggi dan diameter tanaman. B. Alat dan Bahan Adapun alat yang digunakan : 1. Polybag (Kecil, sedang, besar) 2. Cangkul Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • 3. Ember 4. Gayung Adapun bahan yang digunakan : 1. Media Tanam (Top Soil) 2. Air 3. Tanaman C. Prosedur kerja 1. Tentukan polybag yang akan digunakan pada praktikum tentang container ini adalah polybag ukuran (Kecil, sedang, besar) 2. Tentukan media tanah yang digunakan pada praktikum ini adalah top soil + kompos. 3. Kemudian tanam tanaman pada media tanam yang telah disiapkan. 4. Setelah penanaman dilakukan pengamatan tinggi dan diameter sebanyak 5 kali pengamatan dengan selang waktu1 minggu 1 kali pengamatan. 3.4. Skarifikasi Benih A. Tujuan Praktikum 1. Praktikum skarifikasi benih ini bertujuan untuk mematahkan dormansi pada biji. B. Alat dan Bahan Adapun alat yang digunakan : Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • 1. Jepit kuku 2. Pisau 3. Toples 4. Gunting 5. Timbangan Adapun bahan yang digunakan : 1. Biji tanam 2. Air hangat C. Prosedur kerja 1. Pilih 100 biji yang baik 2. Kemudian timbang dengan timbangan analitik. 3. Setelah itu rendamlah biji tersebut kedalam air hangat selama 24 jam. 4. Selanjutnya semai kedalam media yang telah disiapkan. 3.5. Persemaian A. Tujuan Praktikum 1. Praktikum layout persemaian 2. Untuk menghitung tenaga kecambah, persen kecambah dan daya kecambah Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • B. Alat dan Bahan Adapun alat yang digunakan : 1. Cangkul 2. Bedeng pasir 3. Air Adapun bahan yang digunakan : 1. Benih yang sudah di Skarifikasi. C. Prosedur kerja 1. Disiapkan media persemaiannya dimana medianya adalah pasir. 2. Disiapkan benih yng akan di semaikan, disini benih yang sudah di Skarifikasi 3. Setelah itu tanam pada media yang telah disiapkan. Amati pertumbuhan benih setiap harinya. 4. Hitunglah tenga kecambah, persen kecambah dan daya kecambah. Tenaga kecambah = Persen kecambah = Daya kecambah = 𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒏𝒊𝒉 𝒃𝒆𝒓𝒌𝒆𝒄𝒂𝒎𝒃𝒂𝒉 𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒏𝒊𝒉 𝒅𝒊𝒕𝒂𝒃𝒖𝒓 𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒏𝒊𝒉 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑 𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒏𝒊𝒉 𝒅𝒊𝒕𝒂𝒃𝒖𝒓 𝒙 𝟏𝟎𝟎 % 𝒙 𝟏𝟎𝟎 % 𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒏𝒊𝒉 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒓𝒌𝒆𝒄𝒂𝒎𝒃𝒂𝒉 𝒉𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂 𝒂𝒌𝒉𝒊𝒓 𝒅𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒏𝒊𝒉 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒕𝒖𝒎𝒃𝒖𝒉 𝒏𝒂𝒎𝒖𝒏 𝒎𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒃𝒂𝒊𝒌 𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒏𝒊𝒉 𝒅𝒊𝒕𝒂𝒃𝒖𝒓 Laporan Akhir Praktikum Silvikultur 𝒙 𝟏𝟎𝟎 %
  • BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. HASIL 4.1.1. Hasil Pengamatan Cabutan Berdasarkan pengamatan selama praktikum jumlah cabutan yang hidup adalah 22 cabutan, sedangkan jumlah cabutan yang mati adalah 2 cabutan. Sehingga jika dihitung dengan menggunakan rumus akan diperoleh hasil, sebagai berikut : Persentase hidup cabutan dengan rumus : Persentase hidup = Persentase hidup = 𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒄𝒂𝒃𝒖𝒕𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑 𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒄𝒂𝒃𝒖𝒕𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒕𝒂𝒏𝒂𝒎 22 24 𝒙 𝟏𝟎𝟎 % 𝑥 100 % = 91.7 % Jadi, persentase hidup pada praktikum cabutan adalah 91.7 % 4.1.2. Pengaruh Komposisi Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Tanaman A. Grafik Pertambahan Diameter Dengan Media Tanam A (Tanah  Grafik Pertambahan Tinggi Dengan Media Tanam A (Tanah) B. Grafik Pertambahan Diameter Dengan Media Tanam B (Kompos)  Grafik Pertambahan Tinggi Dengan Media Tanam B (Kompos) C. Grafik Pertambahan Diameter Dengan Media Tanam C (Tanah + Kompos)  Grafik Pertambahan Tinggi Dengan Media Tanam C (Tanah + Kompos) Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • 4.1.3. Pengaruh Ukuran Container / Polybag Terhadap Pertumbuhan Tanaman A. Grafik Pengaruh Ukuran Container/Polybag Kecil (Diameter)  Grafik Pengaruh Ukuran Container/Polybag Kecil (Tinggi) B. Grafik Pengaruh Ukuran Container/Polybag Sedang (Diameter)  Grafik Pengaruh Ukuran Container/Polybag Sedang (Tinggi) C. Grafik Pengaruh Ukuran Container/Polybag Besar (Diameter)  Grafik Pengaruh Ukuran Container/Polybag Besar (Tinggi) 4.1.4. Skarifikasi Benih Dalam praktikum tentang skarifikasi, benih yang diberi perlakuan adalah benih akasia mangium yang didapat disekitar kawasaan Universitas Riau. Jumlah benih yang di Skarifikasi adalah 100 benih tiap kelompok. Persentase nilai tenaga kecambah, daya kecambah, dan persen kecambah dapat dilihat pada hasil perhitungan pengamtan pada persemaian. 4.1.5. Pengamatan Pada Persemaian Dari hasil pengamatan praktikum persemaian yang telah dilakukan maka diperoleh data sebagai berikut : - Jumlah benih berkecambah 40 benih - Jumlah benih hidup 27 benih - Jumlah benih tidak tumbuh tapi masih hidup 15 benih Maka jika dihitung dengan menggunakan rumus dibawah ini akan mendapatkan hasil sebagai berikut : Tenaga kecambah = 𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒏𝒊𝒉 𝒃𝒆𝒓𝒌𝒆𝒄𝒂𝒎𝒃𝒂𝒉 Laporan Akhir Praktikum Silvikultur 𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒏𝒊𝒉 𝒅𝒊𝒕𝒂𝒃𝒖𝒓 𝒙 𝟏𝟎𝟎 %
  • = 𝟒𝟎 𝟏𝟎𝟎 𝒙 𝟏𝟎𝟎 % = 40 % Persen kecambah = = 𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒏𝒊𝒉 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑 𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒏𝒊𝒉 𝒅𝒊𝒕𝒂𝒃𝒖𝒓 𝟐𝟕 𝟏𝟎𝟎 𝒙 𝟏𝟎𝟎 % 𝒙 𝟏𝟎𝟎 % = 27 % Daya kecambah = 𝟏𝟓 𝟏𝟎𝟎 𝒙 𝟏𝟎𝟎 % = 15 % 4.2. PEMBAHASAN 4.2.1. Cabutan Cabutan adalah teknik pemindahan semai yang berasal dari anakan alam dengan cara mencabutnya tanpa menyertai tanah sekitarnya. Pada praktikum pertama tentang cabutan ini jumlah anakan/bibit cabutan dari setiap kelompok berjumlah 4 cabutan, jumlah kelompok pada praktikum silvikultur di bagi atas 6 kelompok jadi jumlah keseluruhannya adalah 24 cabutan. Anakan alam yang ditanam oleh kelompok lima adalah anakan Marapuyan (Rhodamnea cerenea) yang didapat dari sekitaran Arboretum Universitas Riau. Dalam praktikum tentang cabutan ini, anakan alam yang diambil adalah anakan yang sehat dan ukuranya tidak terlalu besar, dalam proses pencabutan kita harus hatihati untuk menghindari kerusakan pada akar. Sebaiknya setelah anakan diambil dari tempat tumbuhnya, anakan/cabutan sebaiknya disiram untuk menghindari terjadinya stress pada tanaman. Berikut gambar anakan alam/cabutan yang telah ditanam dalam polybag : Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • Gambar 1. Anakan alam yang telah dipindahkan ke polybag. 4.2.2. Pengaruh Komposisi Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Tanaman Media tanam merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap perbanyakan tanaman dan pertumbuhan awalnya. Pada praktikum kedua yaitu tentang pengaruh komposisi media tanam terhadap pertumbuhan tanaman, media yang digunakan untuk tempat tumbuh tanaman adalah media tanah dan kompos serta perpaduan antara kompos dan tanah. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai jenis media tanam terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman. Setelah melakukan praktikum kedua ini dapat dilihat tingkat pertumbuhan tanaman dan pertambahan diameter batang yang bervariasi pada tiap jenis media tanam yang digunakan. Jika dilihat berdasarkan tabel tingkat penambahan tinggi dan diameter pada media campuran antara tanah dan kompos lebih cenderung pesat penambahan tinggi dan diameternya dibandingkan dengan yang menggunakan media kompos ataupun tanah. Berikut tabel perbandingan pertumbuhan pada tiap jenis media tanam : Pengukuran Tanah T D 1 10 0.11 2 10 0.11 Laporan Akhir Praktikum Silvikultur Kompos T D 10.6 0.14 11 0.14 Tanah + Kompos T D 11.9 0.16 12 0.23
  • 3 10 0.12 11 0.15 12 0.27 4 11 0.14 11 0.17 12.1 0.30 5 11 0.16 17.3 0.18 12.7 0.31 6 11.1 0.16 17.4 0.20 14.1 0.32 Tabel.1. perbandingan pertambahan tinggi dan diameter Dapat dilihat perbandingan penambahan tinggi dan penambahan diameter tanaman yang ditanam pada media tanah + kompos lebih pesat pertumbuhannya hal ini kemungkinan disebabkan karena media tanah + kompos tersebut dapat menyediakan unsur-unsur penting yang dibutuhkan oleh tanaman dan juga dapat disebabkan oleh tanaman itu sendiri yang memang memiliki kecenderungan pertumbuhan yang cepat. Pada pengukuran dua dan tiga pertambahan tinggi dan diameter cenderung tetap baik pada media tanah, media kompos dan media campuran antara tanah + kompos. Grafik pada media tanah + kompos pada pengukuran 1 dan 2 menunjukkan rata-rata pertambahan tingginya adalah 0.1 cm dan pertambahan diameternya 0.07 cm selama 1 minggu pengamatan. Dalam hal ini pertambahan tinggi ataupun diameter sangat dipengaruhi oleh bahan-bahan organic yang terkandung dalam media, unsure Nitrogen dalam hal ini juga berpengaruh terhadap pertumbuhan fase vegetative tanaman tersebut. 4.2.3. Pengaruh Ukuran Container / Polybag Terhadap Pertumbuhan Tanaman Hasil pengukuran terhadap pengukuran pengaruh ukuran container / polybag terhadap pertumbuhan tanaman pada media top soil + kompos yang menggunakan anakan Marapuyan (Rhodamnea cerenea). Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan selama 1 minggu menunjukkan bahwa ukuran container / polybag sangat berpengaruh dalam pertumbuhan tanaman baik tinggi tanaman maupun diameternya. Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • Dari grafik hasil pengukuran pengaruh container / polybag terhadap tanaman menunjukkan perbandingan pertumbuhan antara polybag kecil, sedang dan besar. Perbedaan tersebut disebabkan oleh ukuran polybag besar lebih luas dibandingkan dengan polybag yang ukurannya kecil dan sedang, sehinnga berpengaruh pada ruang tumbuh akar tanaman yang lebih mudah dalam penyerapan unsure hara dalam media tanamnya. Interaksi antara polybag kecil dengan tanaman Marapuyan menunjukkan nilai yang paling tinggi tanaman. Pada tanaman nomor 2, sedangkan nomor 3 tanamannya mati pada minngu ketiga, kemungkinan matinya tanaman disebabkan oleh kerusakan akar pada saat pencabutan ataupun disebabkan oleh gangguan hama dan penyakit. Sementara pada polybag kecil tanaman nomor 4 tingginya mengalami penurunan pada grafik. Pada pengamatan yang telah dilakukan penurunan tinggi ini disebabkan oleh kerusakan pada ujung tanaman. Pada polybag yang berukuran sedang pada grafik tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan. Hal ini diduga karena kondisi pertumbuhan tanaman yang tidak optimal dan kurangnya kebutuhan air untuk tanaman tersebut. Analisa dari grafik untuk container besar menunjukkan bobot yang terkesan tinggi dan diameter terlihat pada tanaman nomor 2 dan tanaman nomor 3, penambahan tinggi selama lima minggu pengamatan menunjukkan kenaikan sebesar 3 cm dan pertambahan diameter juga mengalami pertambahan ukuran. 4.2.4. Skarifikasi Benih Skarifikasi merupakan salah satu upaya dari perawatan awal pada benih yang ditunjukkan untuk mematahkan masa dormansi pada benih, serta mempercepat terjadinya perkecambahan biji yang seragam. Pada semua benih akasia dibuat permeable dengan resiko kerusakan yang kecil, seluruh permukaan kulit bisa dijadikan sebagai titik penyerapan air. Pada benih akasia lapisan sel palisade pada kulit menyerap air dan proses pelunakan menyebar keseluruh permukaan kulit. Dalam skarifikasi benih akasia yang telah dipraktekkan jumlah benih pada setiap kelompok berjumlah 100 benih yang telah diberikan perlakuan yaitu dipotong Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • atau dilukain menggunakan penjepit kuku, dan kemudian dilakukan perendaman dengan menggunakan air hangat selama 24 jam. Kegunaan perendaman pada biji benih akasia ini adalah untuk mematahakan dormansi fisik. Perendaman yang terlalu lama juga tidak dianjurkan karena dapat merusak embrio pada benih, khususnya untuk benih yang memiliki permukaan kulit yang tidak terlalu tebang dan peka terhadap panas yang terlalu tinggi. Umumnya benih kering yang masak atau kulit biji/benihnya relative tebal toleran terhadap perendaman sesaat dalam air mendidih. 4.2.5. Persemaian Pada praktikum kelima yaitu tentang persemaian yang menggunakan benih akasia sebagai benih yang semai dalam media pasir menunjukkan nilai yang relative rendah pada perhitungan tenaga kecambah sebesar 40 %, angka ini terbilang rendah karena tidak sampai separuh dari kemampuan benih untuk tumbuh dan berkembang dalam suatu media tanam. Pada perhitungan persen kecambah nilai pertumbuhan benih sebesar 27 % , angka ini juga terbilang rendah karena tidak mencapai separuh dari kemampuan benih untuk bekecambah. Dan perhitungan daya kecambah juga menunjukkan angka yang juga relative rendah yaitu sebesar 15 %. Kemampuan benih dalam berkecambah sangat dipengaruhi oleh faktor dalam dan faktor luar, Faktor dalam terdiri dari : Tingkat kemasakan benih, ukuran benih, dormansi, dan penghambat perkecambahan. Sedangkan faktor luar yang mempengaruhi perkecambahan antara lain : Air, suhu, oksigen, cahaya, dan medium. Kegiatan di persemaian merupakan kegiatan awal di lapangan dari kegiatan penanaman oleh karena itu kegiatan persemaian sangatlah penting dan merupakan kunci utama di dalam upaya mencapai keberhasilan penanaman, maka dalam kegiatan persemaian pemilihan jenis benih yang baik sangat diperlukan agar hasil bibit yang didapatkan juga baik. Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan, bahwa ; 1. Silvikultur merupakan cara-cara mempermudaan hutan secara alami dan buatan, serta pemeliharaan tegakan sepanjang hidupnya. 2. Cabutan adalah teknik pemindahan semai yang berasal dari anakan alam dengan cara mencabutnya tanpa menyertai tanah sekitarnya. 3. Media tanam merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap perbanyakan tanaman dan pertumbuhan awalnya. Agar pertumbuhan bibit dapat baik, media tanam diharapkan mempunyai sifat-sifat sebagai: Media hendaknya gembur dan kelembaban media harus cukup. 4. Kontainer mempunyai beberapa fungsi sehubungan dengan usaha untuk mendapatkan pertumbuhan semai yang baik, yaitu : Fungsi secara biologis, dan fungsi secara operasional atau teknis. 5. Perlakuan skarifikasi berpengaruh nyata terhadap, daya kecambah, panjang hipokotil, tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, volume akar, berat segar brangkasan dan berat kering brangkasan, berpengaruh tidak nyata terhadap kecepatan kecambah benih. 6. Dalam hasil pengamatan yang dijelaskan menggunakan grafik menunjukkan tingkat variasi pertumbuhan tanaman baik tinggi dan diameter dalam pengamatan tentang pengaruh media tanam maupun pengaruh ukuran container/ polybag. Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • 5.2. Saran Silvikultur merupakan mata kuliah wajib bagi mahasiswa kehutanan, untuk itu dibutuhkan praktikum agar dapat menunjang pengetahuan mahasiswa. Dan setelah melakukan praktikum ini, banyak terdapat kekurangan yang kedepannya dibutuhkan perbaikan supaya kelak praktikum silvikultur lebih efisien dan efektif. Saran saya pada praktikum silvikultur ini, alat-alat untuk praktikum harus dilengkapi dan saat praktikum mahasiswa lebih serius lagi mengikuti praktikum dan akan lebih baik sebelum praktikum dilaksanakan mahasiswa dapat membagi tugas, supaya ketika dilapangan mahasiswa dapat bekerja sesuai dengan pembagian tugas yang telah disepakati. Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2009. http://www.kebonkembang.com/panduan-dan-tip-rubrik-35/145.html (Diakses tanggal 20/11/2012) _______. 2010. http://baskara90.wordpress.com/2010/12/02/persemaian/ (Diakses tanggal 21/11/2012) _______.2011.Perbanyakan Tanaman Dengan Stump/Cabutan. From : Http://Dendodaus.Blogspot.Com/2011/04/Perbanyakan-Tanaman-DenganStumpcabutan.Html (Diakses tanggal 20/11/2012) _______.2012.http://www.agrotima.com/menu.php?idx=48 (Diakses tanggal 21/11/2012) _______. 2012. http://id.wikipedia.org/wiki/Dormansi. (Diakses tanggal 21/11/2012) _______. 2012. http://forestisourbreath.wordpress.com/2012/06/27/laporansilvikultur-tehnik-pemindahan-anakan-dan-penanaman/ (Diakses tanggal 21/11/2012) _______.2012.http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/51927/E11tsy.p df?sequence=1 (Diakses tanggal 25/11/2012) Benyamin Lakitan, 2000. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : Raja Grafindo Persada Hardjowigeno, Sarwono. 2003. Ilmu Tanah. Jakarta : Akademika Pressindo. Yufazz. 2010.http://bonsaiyusufclub.blogspot.com/2010/05/media-tanam-bonsai.html (Diakses tanggal 20/11/2012). Mardiansyah, M dan Rosmimi. 2012. Penuntun Praktikum Silvikultur. Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Riau, Pekanbaru. Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • Lampiran 1. Tabel Pengaruh Komposisi Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Tanaman.  Media Tanah Peng Media Tanam ukuran Tanah ke 1 2 3 4 T D T D T D T D 1 10 0.11 30.6 0.24 30.6 0.33 32.5 0.30 2 10 0.11 30.6 0.24 31 0.35 32.7 0.36 3 10 0.12 31 0.26 31.6 0.38 31 0.40 4 11 0.14 31 0.29 31.6 0.40 31.5 0.41 5 11 0.16 31.5 0.33 33 0.40 32.2 0.42 6 11.1 0.16 31.8 0.30 34.9 0.40 34.2 0.43  Media Kompos Peng Media Tanam ukuran Kompos ke 1 2 3 4 T D T D T D T D 1 10.6 0.14 31.2 0.31 16 0.23 22.4 0.16 2 11 0.14 31.4 0.36 16 0.28 22.4 0.26 3 11 0.15 32 0.40 16.1 0.28 22.5 0.40 4 11 0.17 32 0.41 17 0.28 - - 5 17.3 0.18 32 0.42 17 0.35 - - 6 17.4 0.20 34.5 0.42 18.8 0.35 - - Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  •  Media Campuran Kompos + Tanah Peng Media Tanam ukuran Kompos + Tanah ke 1 2 3 4 T D T D T D T D 1 11.9 0.16 15.4 0.15 23.4 0.19 20.4 0.22 2 12 0.23 15.5 0.17 23.5 0.26 20.6 0.24 3 12 0.27 16.5 0.21 23.5 0.31 20.7 0.31 4 12.1 0.30 16.5 0.23 23.5 0.31 20.9 0.33 5 12.7 0.31 16.5 0.24 23.8 0.34 21.6 0.36 6 14.1 0.32 16.6 0.25 24.5 0.34 22.9 0.36 2. Tabel Pengaruh Ukuran Polybag/Kontainer Terhadap Pertumbuhan Tanaman  Ukuran Kontainer Besar Peng Ukuran Kontainer ukuran Besar ke 1 2 3 4 T D T D T D T D 1 28.7 0.29 35 0.36 22.4 0.15 26.3 0.30 2 27.5 0.31 35 0.37 22.5 0.17 26.8 0.30 3 29 0.33 35.5 0.40 23 0.21 27 0.33 4 29 0.34 37.7 0.45 23.2 0.25 27 0.33 5 29 0.35 38 0.46 24 0.26 27.5 0.36 6 - - 38 0.46 25.4 0.26 27.5 0.43 Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  •  Ukuran Kontainer Sedang Peng Ukuran Kontainer ukuran Sedang ke 1 2 3 4 T D T D T D T D 1 13 0.34 22 0.34 15 0.27 28.4 0.27 2 13 0.34 23.5 0.37 15 0.28 28.9 0.28 3 14 0.35 23.5 0.38 15.6 0.30 29 0.31 4 14 0.35 23.6 0.39 16 0.32 29.5 0.34 5 14.2 0.38 24.3 0.46 17 0.37 29.5 0.38 6 14.7 0.38 24.7 0.46 17.3 0.37 29.9 0.38  Ukuran Kontainer Kecil Peng Ukuran Kontainer ukuran Kecil ke 1 2 3 4 T D T D T D T D 1 12.5 0.13 17 0.16 15 0.11 26.4 0.23 2 12.6 0.16 17 0.17 15 0.14 26.5 0.24 3 13 0.24 17.2 0.21 - - 25.6 0.33 4 13.6 0.27 17.5 0.21 - - 24.7 0.34 5 15.6 0.28 21.1 0.21 - - 24 0.35 6 15.6 0.37 21.4 0.26 - - 24 0.36 Keterangan :  Tabel yang kosong diakibatkan tanaman yang diamati mati. Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  •  Pada polybag yang berukuran kecil no 4 terjadi penurunan tinggi bibit yang dikarenakan pucuknya mati.  Pad tabel media tanah no 4 terjadi penurunan tinggi dikarenakan pucuk tanaman mati. Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • Lampiran a. Gambar Cabutan/Anakan Alam Laporan Akhir Praktikum Silvikultur
  • b. Gambar media tanam yang di gunakan untuk persemaian Laporan Akhir Praktikum Silvikultur