Makalah kelompok 6

9,410 views
9,195 views

Published on

Published in: Sports, Technology
1 Comment
15 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
9,410
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
1
Likes
15
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah kelompok 6

  1. 1. MAKALAHBAHASA DALAM PENULISAN KARYA ILMIAHDiajukan untuk memenuhi Tugas Terstruktur Mata Kuliah Bahasa IndonesiaProgram Studi Tadris MatematikaDosen Pengampu : Indrya Mulyaningsih, S.PdiKelas / Semester : C / 2 (dua)INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERISYEKH NURJATI CIREBONJl. Perjuangan By Pass Sunyaragi Cirebon - Jawa Barat 45132Telp : (0231) 481264 Faxs : (0231) 489926
  2. 2. Disusun Oleh Kelompok 6 :1. Lupi Nurmawan (14121510616)2. Musyfiah (14121520519)3. Pupung Kurniawan (14121510619)4. Rini Sri Rahayu (14121510620)5. Risna Nilam Lutfia (14121530632)
  3. 3. BAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangKarya tulis ilmiah menuntut kecermatan bahasa karena karya tersebut harusdisebarluaskan kepada pihak yang tidak secara langsung berhadapan dengan penulisbaik pada saat tulisan diterbitkan atau pada beberapa tahun sesudah itu. Kecermatanbahasa menjamin bahwa makna yang ingin disampaikan penulis akan sama persisseperti makna yang ditangkap pembaca tanpa terikat oleh waktu. Kesamaaninterpretasi terhadap makna akan tercapai kalau penulis dan pembaca mempunyaipemahaman yang sama terhadap kaidah kebahasaan yang digunakan. Lebih dari itu,komunikasi ilmiah juga akan menjadi lebih efektif kalau kedua pihak mempunyaikekayaan yang sama dalam hal kosakata. Ciri bahasa keilmuan adalah kemampuanbahasa tersebut untuk mengungkapkan gagasan dan pikiran yang kompleks danabstrak secara cermat. Kecermatan gagasan dan buah pikiran hanya dapat dilakukankalau struktur bahasa (termasuk kaidah pembentukan istilah) sudah canggih danmantap.Kemampuan berbahasa yang baik dan benar merupakan persyaratan mutlakuntuk melakukan kegiatan ilmiah sebab bahasa merupakan sarana komunikasi ilmiahyang pokok. Bahasa juga bisa dikatakan sebagai alat yang dipakai untukmempengaruhi dan dipengaruhi.Fungsi bahasa yang dilengkapi oleh sederetan pengertian untuk karya ilmiahtidak perlu diperdebatkan lagi. Bahasa di dalam proses berpikir tidak sekedarmenjadi bumbu, tetapi mempunyai fungsi yang menetukan. Karena itu bahasa yangterpelihara di dalam karya ilmiah adalah alat yang terbaik untuk menyampaikantingkatan dan proses berpikir, argumentasi dan penalaran.
  4. 4. BAB IIPEMBAHASANDalam dunia akademik, karya tulis ilmiah didefinisikan sebagai tulisan yangdidasari oleh pengamatan, peninjauan, penelitian, dan perenungan dalam bidangkeilmuan tertentu; disusun menurut metode tertentu dengan penulisan yang santun,baik, dan benar; atau berdasarkan kaidah baku ragam bahasa tulis. Kebenaran isinyapun harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Berdasarkan kedalamankajian permasalahannya, karya tulis ilmiah dapat dibedakan menjadi beberapabentuk:a. Laporan penelitian, yaitu tulisan yang merupakan hasil percobaan, peninjauan,atau observasi sementara.b. Karya tulis akademik, berupa skripsi tesis, dan disertasi.c. Buku teks, yakni diktat atau buku-buku ilmiah yang digunakan sebagai penunjangbahan ajar (Ekosusilo, 1991; Wibowo, 2008)Berkenaan dengan hal di atas, maka suatu tata permainan bahasa tidakmungkin dilepaskan dari hakikat bahasa sebagaimana diyakini oleh aliran FilsafatBahasa Biasa bahwa makna sebuah kata adalah penggunaannya dalam kalimat,makna kalimat adalah penggunaannya dalam bahasa, dan makna bahasa adalahpenggunaannya dalam hidup.2.1. Penggunaan Bahasa dalam Penulisan karya ilmiahBahasa ilmiah merupakan ragam bahasa berdasarkan pengelompokan menurutjenis pemakaiannya dalam bidang kegiatan sesuai dengan sifat keilmuan. BahasaIndonesia harus memenuhi syarat di antaranya benar (sesuai dengan kaidah bahasaIndonesia baku) logis, cermat dan sistematis.Pada bahasa ragam ilmiah, bahasa, bentuk, dan ide yang di sampaikan melaluibahasa itu sebagai bentuk dalam, tdiak dapat di pisahkan. Hal ini terlihat pada ciribahasa ilmiah sebagai berikut :
  5. 5. 1. Baku.Struktur bahasa yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesiabaku, baik mengenai struktur kalimat maupun kata. Ragam bahasa baku memilikidua sifat sebagai berikut :• Kecendekiawan: sanggup mengungkapkan proses pemikiran yang rumitdiberbagai ilmu dan teknologi.• Seragam: pada hakikatnya, proses pembakuan bahasa ialah prosespenyeragaman bahasa. Dengan kata lain, pembakuan bahasa adalah pencariantitik-titik keseragaman.Demikian juga pemilihan kata istilah dan penulisan yang sesuai dengan kaidahejaan, untuk ejaan dan peristilahan berpedoman pada EYD dan pedomanpembentukan istilah.2. Kuantitatif.Keterangan yang dikemukan pada kalimat dapat di ukur secara pasti.Contoh: Da’i di Gunung Kidul “kebanyakan” lulusan perguruan tinggi. Arti kata“kebanyakan” relatif , mungkin bisa lima, enam atau sepuluh orang. Jadi, dalamtulisan ilmiah tidak benar memilih kata “kebanyakan” kalimat di atas dapat kitabenahi menjadi Da’i di Gunung Kidul lima orang lulusan perguruan tinggi, danada tiga orang lagi dari lulusan pesantren.3. Tepat.Ide yang di ungkapkan harus sesuai dengan ide yang dimaksudkan olehpemutus atau penulis dan tidak mengandung makna ganda. Contoh : “ Jambanpesantren yang telah rusak itu sedang di perbaiki.” Kalimat tersebut memilikimakna ganda, yang rusaknya itu mungkin jamban atau mungkin juga pesantren.4. Denotatif.Kata yang digunakan atau dipilih sesuai dengan arti yang sesungguhnya dantidak diperhatikan perasaan karena sifat ilmu yang obyektif.5. Jelas.Maksudnya adalah mengetahui bagian-bagian mana saja yang merupakansubjek, predikat, objek, keterangan dan setiap kalimat memenuhi kaidah bahasa.
  6. 6. 6. LugasMaksudnya adalah tidak menimbulkan tafsir ganda dan langsung menunjukke pokok persoalan.7. KomunikatifMaksudnya adalah apa yang ditangkap pembaca dari tuisan yang disajikansama dengan yang dimaksud penulis. Tulisan disajikan secara logis (masuk akal)dan bersistem(teratur). Oleh karena itu, tata permainan bahasa di dalam karya tulisilmiah yang komunikatif dapat disimak melalui ciri-ciri berikut :a. KoherenKoheren dapat pula dipahami sebagai “harmonis”, “integral”, “kompak”,“terintegrasi”, dan “terpadu”. Dalam hal mengungkapkan suatu masalah danpemecahannya, koherensi memang sangat diperlukan.Gorys Keraf, dalam buku klasiknya, Komposisi (1971), menegaskanbahwa koherensi adalah adanya hubungan yang jelas antara unsur-unsur yangmembentuk suatu kalimat; bagaimana hubungan antara subjek dan predikat;hubungan antara predikat dan objek; serta keterangan yang menjelaskan setiapunsur-unsur tersebut. Dalam ungkapan lain, koherensi menekankan segistruktur atau interrelasi antara kata-kata yang menduduki sebuah kata dalamkalimat. Oleh karena itu, bisa terjadi sebuah kalimat atau alinea ditengarai telahmengandung kesatuan pikiran atau mengandung suatu ide pokok yang tunggal,namun koherensinya kurang baik. Akan tetapi, pendapat Keraf patut diermatisecara kritis, karena dalam perspektif Filsafat Bahasa Biasa akan segera terihatbahwa koherensi di dalam tata permainan bahasa karya tulis ilmiah yangkomunikatif tidak semata-mata berhubungan dengan penggunaan struktur atauantar unsur pembentuk kalimat, tetapi terutama mempresentasikan suatupikiran penulisnya yang mengandung kesatuan dan ktuhanan (Wibowo, 2007).Dapat ditegaskan bahwa, pikiran seorang penulis pada dasarnya mengandugnilai estetik, namun nilai estetik itu muncul bila hubungan timbal balik dianatara unsur-unsur pendukungnya berjalan secara satu dan utuh (WahyuWibowo, 2010)
  7. 7. b. KonsistenDalam mengungkapkan masalah dan pemecahannya secara ilmiah kitamemang harus bersikap konsisten, yaitu teguh dan bertanggung jawab dalamartian dapat memikul dan bersedia menyuguhkan bahwa jalan yang kitatempuh dalam baik dan benar. Oleh karena itu, karya tulis ilmiah yangkomunikatif harus didukung oleh fakta atau data yang cukup dan tepercaya(Soeparno, 1997;Wibowo, 2001). Dalam penyusunan kalimat, kita tidakdiperkenankan melakukan peloncatan ide, atau bahkan menghubungkan ide-ideyang tidak ada pertalian atau hubungannya.c. SistematisKarya tulis ilmiah yang komunikatif harus disusun berdasarkan proseduryang sistematis pula, yaitu teratur, runtut, berkesinambungan, metodis, danterorganisir. Sistematika sebuah tulisan pada umumnya terbagi ke dalam tigabagian pokok, yaitu pendahuluan, isi, dan simpulan. Serta bagian lain yangdijadikan sebagai penunjang seperti kover, judul, daftar pustaka, dan indeks.Sehubungan dengan hal di atas, dapat ditegaskan bahwa sistematikakarya tulis ilmiah yang sebenarnya adalah halaman-halaman pendahuluan,pendahuluan, bab-bab, simpulan, daftar pustaka, dan indeks.d. KonseptualKonsep adalah kesan mental, suatu pemikiran, ide, atau suatu gagasanyang memiliki derajat kekonkretan dan abstraksi yang digunakan dalampemikiran abstrak (Bagus, 2002). Di dalam penulisan karya tulis ilmiah yangkomunikatif, prosedur atau aturan yang teratur dan runtut harus dilakukanmelalui langkah-langkah perencanaan yang konseptual, karena melaluilangkah-langkah yang terkonsep ini akan menjadikan satu karya tulis ilmiahyang terarah dan terfokus.e. KomprehensifKarya tulis ilmiah yang komunikatif harus ditulis secara komprehensifyaitu tuntas dan menyeluruh, penelaahannya harus jelas, lengkap, dan rinci.Hal ini berkesinambugan dengan prinsip koherensi yaitu mengandung pikiranutama yang jelas. Karena apabila diibaratkan, pikiran utama itu ibarat pintu
  8. 8. gerbang yang akan membawa pembacanya ke keseluruhan isi tulisan. Selainitu, dengan menghidangkan satu pikiran utama yang jelas berarti penulisnyatelah menghargai pembacanya. Dengan demikian, maka dengan tulisan kitaakan menimbulkan simpati pembaca.f. LogisLogika adalah apa pun termasuk ucapan yang dapat dimengerti atau akalbudi yang berfungsi baik, teratur, sistematis dan dipahami (Wahyu Wibowo,2010). Oleh karena itu, logika haruslah menjadi satu hal pokok di dalampenulisan karya ilmiah yang komunikatif, karena segala hal yang menjadipenjelas di dalam karya tulis ilmiah harus memiliki argumentasi yang dapatditerima oleh nalar yang sehat, valid, dan analitis.Implikasi dari hal di atas yaitu, karya tulis ilmiah dapat diujikebenarannya baik berdasarkan data dan fakta maupun diuji kembali olehilmuwan lain. Di sisi lain, karya tulis ilmiah harus bersifat terbuka agarpendapat penulis dapat diubah apabila muncul bukti atau pendapat baru yangdidukung oleh data dan fakta.g. BebasBebas, rasa bebas, atau kebasan dapat dimaknai juga dengan merdeka,mandiri, independen, atau leluasa. Dalam konteks ini kebebasan tidak diartikansebagi kebebasan ilmuwan yang leluasa atau merdeka berbuat apa pun, tetapikebebasan yang eksistensial yaitu kebebasan yang menyeluruh yang terkonteksdalam kepribadian bangsa, yang oleh karena itu dapat membedakannya dengannilai-nilai kebebasan yang dianut oleh bangsa lain. Orang yang bebas secaraeksistensial akan mencapai tiarap kedewasaan, otentisitas, dan kematanganrohani, hal yang mestinya memang dimiliki seorang penulis karya tulis ilmiahyang komunikatif.h. Bertanggung JawabDalam perspektif etika berarti dapat menjawab jika ditanyai tentangperbuatan-perbuatannya (Bertens, 2002). Dengan hubungannya dengan karyatulis ilmiah, bertanggung jawab dapat dimaknai sebagai tulisan yang etis,elegan, dan berwawasan yang mencerminkan bahwa penulisnya dapatmenjawab jika ditanya apa pun tentang tulisanya tanpa menonjolkan segi-segi
  9. 9. emosinya. Itu sebabnya, sebuah karya tulis ilmiah yang komunikatif harusditulis secara seksama, yakni ditulis secara teliti, sehingga mengurangikemungkinan terjadinya kesalahan. Dalam pernyataan lain, sebuah karya tulisilmiah dapat dikatakan mencerminkan tanggung jawab penulisnya bila ditulissecara jelas, jernih, gamblang, konsisten, dan konsekuen.2.2. Ragam Penulisan Karya Ilmiah1. Ragam Bahasa TulisRagam bahasa merupakan variasi penggunaan bahasa. Ragam bahasa dapatdibedakan berdasar pada1. pokok pembicaraan2. media yang digunakan3. hubungan antara komunikator dengan komunikan.Selanjutnya dalam tulisan ini hanya akan dibahas ragam bahasa dari sudutmedia yang digunakan yakni ragam bahasa tulisdan dari sudut hubungan antarakomunikator dengan komunikan.Hal kedua yang membedakan ragam tulis dan lisan berkaitan denganbeberapa upaya yang digunakan dalam ujaran, misalnya tinggi rendah, panjangpendek, dan intonasi kalimat yang tidak terlambang dalam tata tulis maupunejaan. Dengan demikian, penulis perlu merumuskan kembali kalimatnya jika inginmenyampaikan jangkauan makna yang sama lengkapnya. Lain halnya denganragam lisan, penutur dapat memberikan tekanan atau jeda pada bagian tertentuagar maksud ujarannya dapat dipahami. Jadi, ragam bahasa tulis memilikikarakteristik khusus dibandingkan ragam bahasa lisan.Karakteristik tersebut antara lain :1. ragam bahasa tulis memiliki banyak penanda metalingual,2. kalimat berstruktur lengkap, dan3. klausanya sederhana tetapi memiliki kepadatan kata dan isi (Brown,1985;Ansari,1999).2. Sifat-Sifat Bahasa yang Digunakan dalam Karya Ilmiah
  10. 10. Secara umum penggunaan bahasa dalam karya ilmiah harus mengacu padasifat-sifat bahasa, meliputi sifat :a. ObjektifBahasa yang objektif adalah bahasa yang menggambarkan sesuatupengalaman yang bagi semua khalayak pemakai bahasa, representasipengalaman linguistik itu dipandang sama. Sebaliknya bahasa subjektifmenggambarkan sesuatu pengalaman (oleh penulisnya) yang berbeda denganpengalaman yang dipahami oleh khalayak dalam memahami representasipengalaman itu karena penulis membawa pertimbangan sikap, pendapat, dankomentar pribadi. Jadi, keobjektifan bahasa dapat ditingkatkan denganmeniadakan atau meminimalkan pendapat dan sikap pribadi tersebut. Karenabahasa subjektif wujud dalam bentuk epitet atau ekspresi emosional, modalitas,proses mental, dan makna konotatif maka keobjektifan dapat dicapai denganmeniadakan atau meminimalkan penggunaan bahasa dengan ciri subijektif diatas.b. ImpersonaKeimpersonaan bahasa memperlihatkan ketidakterlibatan penulis artikeldalam teks artikel ilmiah yang disusunnya. Pada teks artikel ilmiah tidakdigunakan bentuk pronomina saya, kami, kita, atau penulis dengan tujuanuntuk menghindari paparan persona (subjektif). Meskipun kita akui bahwakarya ilmiah tidak wujud tanpa keterlibatan penulis, retotika ilmu menuntutagar dalam teks keterlibatan itu tidak ditampilkan. Untuk mempertahankankeimpersonaan teks sehingga tidak terlihat keterlibatan penulis, TeknisDengan kespesifikannya, istilah teknis digunakan dalam Karya ilmiah.Tidak ada satu disiplin ilmu tanpa istilah teknis. Teknis maksudnya dalamkonteks tulisan istilah yang digunakan berhubungan dengan istilah dalam satudisiplin ilmu. Akan tetapi, penggunaan singkatan (akronim) yang belum lazimdisarankan tidak digunakan. Penggunaan singkatan dilakukan denganmenampilan bentuk penuh terlebih dulu dari uraian akronim yang akan dibuatdiikuti bentuk singkatan dalam tanda kurung pertama. Dalam teks berikutnyabentuk singkatan itu dapat digunakan secara konsisten.
  11. 11. c. PraktisKepraktisan bahasa artikel ilmiah ditandai dengan penggunaan teks yangekonomis dan tidak taksa (ambigiuous). Sebagai contoh kata diteliti dandigalakkan berdasarkan prinsip ini dapat digunakan sebagai penggantimengadakan penelitian dan naik daun karena bentukan pertama lebihekonomis dan tidak mengandung ketaksaan. Namun, bentuk frase berdasarpada, terdiri atas, sesuai dengan, bergantung pada tidak dapat diubah menjadiberdasar, terdiri, sesuai, dan bergantung walaupun bentuk tersebut lebihsingkat dan hemat karena bentuk yang pertama merupakan bentuk yang sudahdibakukan dalam bahasa Indonesia (Gay, 1981; Saragih.1999).3. Syarat-Syarat Penggunaan Bahasa dalam Karya IlmiahPenggunaan bahasa dalam bentuk tulisan formal seperti karya tulis ilmiahharus mengikuti syarat-syarat tertentu.a. Secara morfologis bahasa dalam artikel ilmiah harus lengkap. Dalam hal iniwujud setiap kata yang dipakai harus mengandung afiksasi yang lengkapseperti: diuraikan, mempertentangkan, memiliki dan sebagainya. Kata-kata lainyang tanpa afiksasi juga harus dimunculkan dalam bentuk yang lengkap.Kata-kata seperti tidak, sudah dan sebagainya tidak dapat ditulis dengan bentuktak atau udah.b. Secara sintaksis bahasa dalam artikel ilmiah harus lengkap yakni memuatunsur-unsur subjek, predikat, dan objek yang dinyatakan secara eksplisit.Sering ditemukan dalam tulisan ilmiah bentuk pelesapan subjek dalam kalimatkompleks padahal secara sintaksis subjek tersebut tidak memiliki rujukan yangsama dengan subjek pada kalimat induknya atau subjek kedua ini telah jauhterpisah dari subjek pertamanya pada subjek pada paragraf sebelumnya. Satukalimat kompleks dapat saja memiliki satu subjek dengan dua dua predikatbilamana subjek yang dilesapkan itu mempunyai hubungan anaforik dengansubjek yang masih dipertahankan.
  12. 12. c. Bahasa dalam artikel ilmiah harus tepat makna dan tunggal arti. Penulis artikelilmiah harus menimbang-nimbang secara seksama setiap kata, ungkapan danbentuk sintaksis sehingga apa yang dimengerti pembaca sama dengan yangdimaksud penulis. Istilah-istilah kembar seperti fonologi- fonetikfonemik harusdipilih penggunaannya sehingga tidak menimbulkan makna yang keliru sepertiterlihat dalam kalimat Katz dan Postal (1999) mengemukakan pendapatnyabahwa bahasa terdiri atas tiga komponen; sintaksik, fonetik, dan semantik.Komponen kedua dalam kalimat di atas seharusnya fonologi bukan fonetikkarena kedua kata tersebut memiliki pengertian yang berbeda.d. Bahasa dalam artikel harus mengikuti kaidah–kaidah sintaktik. Penggunaankalimat dalam karangan ilmiah harus berupa kalimat yang efektif yakni kalimatyang memenuhi kriteria jelas, sesuai dengan kaidah tatabahasa, tidak berbelit-belit, tidak bertentangan dengan kebenaran nalar, dan ringkas. Salah satucontoh kesalahan sintaktis adalah pemakaian kata daripada di belakang verba.Kesalahan ini terjadi karena penulis atau pembicara tidak dapat membedakansubkategori verba secara intuitif menjadi transitif-taktransitif sehingga apayang seharusnya langsung diikuti objek disisipi penyeling daripada.Pengertian fungsi sintaktik seperti subjek, predikat, dan objek tampaknyamasih belum jelas.e. Bahasa artikel ilmiah harus padat isi dan bukan padat kata. Dalammengungkapkan pikiran ke dalam bentuk bahasa, hal pertama yang harus jelasadalah konsep utama yang ingin dikemukakan penulis. Selanjutnya konseputama ini dilengkapi dengan subkonsep lain yang relevan. Setelah semua itusampailah pada pemilihan kata, frase, dan bentuk sintaksis yang akan dapatmengungkapkan gambaran ide penulis sejelas mungkin dengan penggunaankata yang seekonomis mungkin.2.3. Pengaruh penggunaan bahasa dalam penulisan karya ilmiahAda 2 pengaruh penggunaan bahasa dalam penulisan karya ilmiah yaitusebagai berikut :1) Pengaruh bahasa asing
  13. 13. Untuk menciptakan kalimat yang logis kerapkali terhalangi oleh suatudugaan bahwa kadang-kadang bahasa yang dipergunakan itu mempunyaikekurangan-kekurangan dalam istilah-istilah atau ungkapan-ungkapan. Pengaruhdan pengambilan bahasa atau kata-kata asing terasa semakin deras dan nyata.Proses ini dapat memperkaya bahasa Indonesia. Pengaruh bahasa asing dapatterlihat jika penulis itu tidak mampu mendapatkan istilah dalam bahasa Indonesia.Ia seolah-olah kehabisan kata-kata dalam kamus. Pemungutan kata-kata atauistilah istilah-istilah asing pada dasarnya karena keperluan akan kata-kata atauistilah-istilah yang tidak diperoleh dalam bahasa indonesia.2) Gaya BahasaGaya dapat diartikan sebagai keistimewaan atau karakteristik penyajian,konstruksi, atau penyelenggaraan dalam setiap karya Ilmiah. Pada umumnyaorang menganggap bahwa tulisan ilmiah tidak memerlukan gaya manapun.Penulis ilmiah sebaiknya tidak mengikuti pendapat bahwa karya ilmiah itu mestikering dan berat. Banyak orang berpendapat bahwa karya ilmiah yang semakintidak dapat dipahami berarti semakin ilmiahlah karya itu. Karya ilmiah bukanlahpementasan rahasia tertutup yang menetapkan bahwa hanya penulisnya sendirilahyang boleh membeli karcis untuk menonton karyanya itu. Dan mudah-sukarnyakarya ilmiah untuk dipahami bukanlah ukuran untuk menetapkan nilai karya itutetapi yang diutamakan dalam penulisan karya ilmiah adalah kebenaran akanfakta-fakta yang diteliti2.4. Unsur-unsur Bahasa Dalam Penulisan Karya IlmiahBahasa adalah alat komunikasi. Dalam suatu karangan, apa pun itu,penggunaan unsur-unsur bahasa yang tepat, memegang peran yang amat penting.Jika hendak menyusun suatu karya tulis ilmiah atau makalah, maka sebaiknya tidakmemakai ragam bahasa yang biasa digunakan untuk menyusun puisi atau karya fiksi.Demikian pula sebaliknya.Ini artinya, perlu menggunakan bahasa secara efektif. Menggunakan bahasasecara efektif berarti menggunakan unsur-unsur bahasa secara efektif juga. Dengandemikian, bila ingin menyusun suatu karya ilmiah, maka unsur-unsur bahasa ini
  14. 14. harus kita perhatikan: (a) penggunaan ejaan, (b) penggunaan imbuhan, (c)pemilihandan penempatan kata, serta (c) penggunaan kata dalam kalimat.A. Penggunaan EjaanMenurut kurun waktu penetapannya, usia ejaan yang disempurnakan (EYD)telah mencapai lebih dari dua dasawarsa. Akan tetapi, sampai sekarang masihdapat kita jumpai penggunaan ejaan yang salah-salah. Tidak saja dalam karyailmiah, tetapi juga dalam surat-surat resmi.Yang dimaksud dengan ejaan adalah kaidah-kaidah cara menggambarkanbunyi-bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf)serta penggunaan tanda baca (KBBI).Kesalahan ejaan yang paling sering dijumpai adalah penggunaan kata depandan awalan. Penulisan awalan kadang-kadang sama dengan cara penulisan katadepan. Bagi penulis pemula atau mahasiswa ini penting diperhatikan.Contoh masalah penggunaan awalan dan kata depan:Penulisan awalan di-Salah Benara. Semua perabotrumahnya habis di lalap api.b. Cara yang praktis untukmengelola sampah telah ditemukan.a. Semua perbotrumahnya habis dilalap api.b. Cara yang paling praktisuntuk mengelola sampah telahditemukan.Penulisan kata depanSalah Benara. Rumah-rumah dipinggirjalan itu beratap jerami.b. Pagi-pagi ibu pergikepadaa. Rumah-rumah dipinggir jalan itu beratap jerami.b. Pagi-pagi ibu pergi kepasarCara penulisan awalan adalah merangkainya dengan kata dasar yangdibubuhinya. Sedangkan kata depan, penulisannya harus dipisahkan dari kata
  15. 15. yang mengikutinya. Kata yang diikuti awalan di- menunjukkan kata kerja.Sedangkan kata yang diikuti kata depan di menunjukkan arah tempat.Perhatikan contoh penulisan awalan dan kata depan berikut ini !Penulisan awalanSalah Benardi lihat dilihatdi teliti ditelitidi coba dicobaPenulisan kata depanSalah Benarditoko di tokokekiri ke kiridisamping di sampingKata kepada dan daripada juga sering salah penulisannya seperti dalam contohberikut:a. Ke pada saya diserahkan mandat itu.b. Dari pada menderita, lebih baik mati.Penulisan kata kepada dan daripada harus dirangkaikan sebagai berikut :a. Kepada saya diserahkan mandat itu.b. Daripada menderita, lebih baik mati.B. Penggunaan ImbuhanImbuhan adalah bubuhan (yang berupa awalan, sisipan, akhiran) pada katadasar untuk membentuk kata baru. Proses pembentukan kata, dari kata dasardengan pemberian imbuhan seperti awalan atau akhiran disebut pengimbuhan.Hampir semua pelajar mengetahui proses pengimbuhan, namun sebagian besarpelajar kurang memperhatikan cara penulisan kata berimbuhan sesuai ketentuan.Berikut ini adalah beberapa ketentuan penulisan kata yang memperolehimbuhan:1. Imbuhan harus dituliskan serangkai dengan kata dasarnya.
  16. 16. Contoh:Salah Benardi berlakukan diberlakukandi berlaku kanpeneliti an penelitianpe nelitian2. Gabungan kata (seperti: tanggung jawab, serah terima, nomor dua, nonaktifdan sejenisnya) yang mendapat awalan dan akhiran bersama-sama, harusdituliskan serangkai.Contoh:Salah Benarpertanggungan jawab pertanggungjawabandipertanggungjawab kan dipertanggungjawabkandinomor duakan dinomorduakandi nonaktif kan dinonaktifkanKata berimbuhan lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah:penglepasan, mengetapkan, diketemukan. Penulisan kata-kata tersebut kurangtepat. Penulisannya yang benar adalah pelepasan, menerapkan, ditemukan.Sementara itu, partikel pun ada yang dituliskan serangkai, ada juga yangdituliskan terpisah dari kata yang diikutinya. Partikel pun yang mengikuti katakerja, kata benda, dan kata sifat harus ditulis terpisah dari kata-kata tersebut.Contoh:Kata bendadi sekolah pun bukan di sekolahpundi rumah pun bukan di rumahpundi kantor pun bukan di kantorpunKata sifatSakit pun bukan sakitpunTingginya pun bukan tingginyapun
  17. 17. Kata kerjaberjalan pun bukan berjalanpunberlari pun bukan berlaripunKata bilanganseribu pun bukan seribupunseratus pun bukan seratuspunsetahun pun bukan setahunpunNamun ada beberapa perkecualian. Beberapa kata seperti adapun,ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun,sekalipun, sungguhpun, dan walaupun, penulisan partikel pun telah diterimaserangkai.Pelajar perlu membaca pedoman ejaan yang disempurnakan. Dalampedoman itu dapat dibaca berbagai kaidahmengenai penempatan titik, koma, titikkoma, titik dua, penulisan awalan dan kata depan, penulisan kata depan, penulisankata dasar yang memperoleh imbuhan, dan sebagainya.C. Pemilihan dan Penempatan KataKata merupakan faktor penting dalam merancang tulisan. Tulisan yang baikditentukan oleh cara penulisan dan penempatan kata. Pemilihan dan penempatankata mempengaruhi sekaligus memberikan warna sebuah tulisan.Menurut Drs. Mustakim (1993:70), ketepatan dalam pemilihan kata perlumemperhatikan komponen situasi, bentuk, dan makna. Komponen tersebut salingmempengaruhi. Komponen bentuk disesuaikan dengan situasi, situasi tidakterlepas dengan makna, makna tidaka terlepas dengan bentuk.Hal yang perlu diperhatikan saat menyusun karangan yaitu bahasa yangdipergunakan. Dalam konteks menyusun makalah atau karya ilmiah, bahasa yangdipergunakan hendaknya mencerminkan ragam yang resmi. Artinya, bahsa gaul,bahasa daerah, atau bahasa asing yang bukan pada tempatnya harus dihindari.
  18. 18.  Pemakaian Kata bentuk jamakDalam karangan atau tulisan ilmiah sering ditemukan penggunaan katabentuk jamak yang salah, baik yang mengandung makna jamak maupun yangdinyatakan dalam bentuk ulang.Contoh kata bermakna jamak:semua, para, banyak, beberapa.Contoh kata dalam bentuk ulang yang bermakna jamak:negara-negara, ibu-ibu, hasil-hasil.Perhatikan penggunaanya dalam kalimat berikut:Salaha. Semua siswa kelas III SMA 1 Kota Bima dijadikan sampel.b. Para hadirin dipersilahkan berdiri.c. Para ibu-ibu pengurus PKK Kota Bima siap mengikuti lomba.d. Banyak orang-orang Oi Foo yang menderita demam berdarah.e. Beberapa wakil-wakil dari negara-negara sahabat menghadiri acarapelantiakan presiden Republik Indonesia.Benara. Siswa kelas III SMA 1 Kota Bima dijadikan sampel.b. Hadirin dipersilahkan berdiri.c. Ibu-ibu pengurus PKK Kota Bima siap mengikuti lomba.d. Banyak orang Oi Foo yang menderita demam berdarah.e. Beberapa wakil dari negara-negara sahabat menghadiri acarapelantiakan presiden Republik Indonesia. Pemakaian kata yang memiliki makna yang samaPerhatikan dua contoh kalimat dibawah ini:1. Kebudayaan daerah adalah merupakan sumber kebudayaan nasional.2. Parit-parit dibersihkan agar supaya tidak tergenang air.Pemakaian kata yang memiliki makna yang sama, seperti agar supayadan adalah merupakan dalam kalimat di atas, sebaiknya dihindari. Dengandemikian, penulisan kalimat yang benar adalah:
  19. 19. a. Kebudayaan daerah merupakan sumber kebudayaan nasional.b. Parit-parit dibersihkan agar tidak tergenang air.D. Penggunaan Kata Dalam KalimatMenyusun kata menjadi kalimat adalah merangkai beberapa kata untukmembentuk satu pengertian atau makna yang lengkap. Maksudnya, kata-kata yangterdapat dalam sebuah kalimat bukanlah sederetan kata-kata yang tidak berarti.Perhatikan sederetan kat di bawah ini:Ali buku buku di toko membeliSederetan kata-kata di atas tidak membentuk suatu pengertianyang lengkap.Untuk memperoleh sebuah pengertian yang lengkap, kita perlu mengubah urutankata-kata tersebut menjadi:Ali membeli buku di tokoSetelah urutan kata-katanya diatur, susunan kata-kata itu kini telahmemberikan suatu pengertian. Dengan demikian, setiap pertanyaan yang diajukanberdasarkan pengertian yang dimaksud, akan memperoleh jawabannya:Siapa membeli buku di toko?Ali membeli apa di toko?Di mana Ali membeli buku?Melihat uraian di atas, berarti kita dapat membentuk sebuah kalimat denganmengawalinya melalui pengajuan beberapa pertanyaan terlebih dahulu. Dengancara ini, kita menghindari mendaftar sejian banyak kata dan mengurutkannya.Misalnya:a. Apakah Ali membeli majalah?Jawabannya: Tidak.Ali tidak membeli majalah.b. Apakah Ali membaca buku?Jawabannya: Tidak.Ali membeli bukuJawaban di atas pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan suatu kalimat.
  20. 20. BAB IIIPENUTUP3.1. Kesimpulan Bahasa memiliki kontribusi yang sangat penting dalam penulisan karyailmiah, hal tersebut dapat dilihat dari ciri-ciri sebagai berikut :a. Bakub. Lugasc. Jelasd. Kuantatife. Denotatiff. Tepatg. KomunikatifUntuk menciptakan suatu karya tulis ilmiah yang komunikatifdiperlukan beberapa hal, yaitu:• Koheren• Konsisten• Sistematis• Konseptual• Komprehensif• Logis• Bebas• Bertanggung Jawab Sifat Bahasa Karya Tulis IlmiahSifat bahasa dalam penulisan karya ilmiah meliputi, sebagai berikut:a. Objektifb. Impersonac. Praktis Syarat Bahasa Karya Ilmiah
  21. 21. Syarat bahasa dalam karya ilmiah meliputi sebagai berikut:a. Lengkap secara morfologisb. Lengkap secara sintaksisc. Tepat makna dan tunggal artid. Berkaidah sintaktike. Padat isi Unsur-unsur bahasa dalam penulisan karya ilmiaha. Penggunaan ejaanb. Penggunaan imbuhanc. Pemilihan dan penempatan katad. Penggunaan kata dalam kalimat Pengaruh bahasa dalam penggunaan bahasa karya ilmiahBahasa di dalam penulisan karya ilmiah dipengaruhi oleh dua hal, yaitu:a. Pengaruh bahasa asingb. Pengaruh gaya bahasa
  22. 22. DAFTAR PUSTAKAAchmad. A Aleka. 2010. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta:Kencana Prenada Media Group.Hendry.Tarigan, 2008. Menulis sebagai keterampilan berbahasa. Bandung:Angkasa.Hasnun, Anwar. 2006. Pedoman Menulis Untuk Siswa SMP dan SMA. Yogyakarta:C.V Andi Offset.Komaruddin. 1974. Metode Penulisan Skripsi dan Tesis. Bandung: Angkasa.Mulyono, Datu dkk. 2000. Metode Penulisan dan Penyajian Karya Ilmiah. Jakarta:Buku Kedokteran EGC.Nurdin, Irman Mokhamad, dkk. 2008. Bahasa Indonesia 3 Untuk SMK/MAK SemuaProgram Kejuruan. Jakarta: Pusat Perbukuan Kementrian PendidikanNasional.Rasjid Lamuddin, Dkk. 1984. Bahasa Indonesia. Jakarta: Nina Dinamika.Sofyan, Agus Nero, dkk. 2007. Bahasa Indonesia Dalam Penulisan Karya Ilmiah.Bandung: Badan Perkuliahan Dasar Umum.Wibowo, Wahyu. 2010. Tata Permainan Bahasa Karya Tulis Ilmiah. Jakarta: BumiAksara

×